Dinas Pelayanan Pajak Kota Bandung
|
|
|
- Indra Susman
- 9 tahun lalu
- Tontonan:
Transkripsi
1 KATA PENGANTAR Berdasarkan Instruksi Presiden RI Nomor 7 Tahun 1999 tentang Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah, Dinas Pelayanan Pajak Kota Bandung telah menyusun Laporan Kinerja Instansi Pemerintah (LKIP) tahun 2015 sebagai pertanggungjawaban kinerja yang telah dihasilkan dalam tahun tersebut. LKIP tahun 2015 merupakan laporan hasil kerja atas pelaksanaan tugas, pokok dan fungsi Dinas Pelayanan Pajak Kota Bandung yang telah dilakukan pengukuran atas pencapaiannya, dilakukan evaluasi dan analisis kinerja sehingga memiliki nilai informasi yang bermanfaat bagi para pemangku kepentingan (stakeholders) sebagaimana diamanatkan dalam Peraturan Menteri Negara Pemberdayaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Nomor 53 Tahun 2014 tentang Petunjuk Teknis Perjanjian Kinerja, Pelaporan Kinerja, dan Tata Cara Reviu atas Laporan Kinerja Instansi Pemerintah. Pelaporan atas hasil kinerja berdasarkan pada perencanaan pelaksanaan tugas pokok dan fungsi yang telah dirumuskan dalam dokumen Rencana Strategis Tahun , Rencana Kerja Tahun 2015, serta Anggaran Tahun 2015, dimaksudkan untuk memenuhi dua kebutuhan, Pertama, sebagai media pertanggungjawaban kinerja kepada pihak-pihak yang berkepentingan. Kedua, sebagai sarana untuk mengevaluasi dan menganalisis capaian kinerja Dinas Pelayanan Pajak Kota Bandung secara berkelanjutan dalam rangka memperbaiki kinerja yang akan datang. i
2 Harapan kami semoga LKIP 2015 ini dapat menjadi pedoman dalam mensikapi berbagai tantangan kedepan, dan menjadi bahan evaluasi pimpinan Pemerintah Kota Bandung serta media bagi masyarakat untuk mengetahui kinerja Dinas Pelayanan Pajak Kota Bandung. Bandung, 25 Februari 2015 KEPALA DINAS PELAYANAN PAJAK KOTA BANDUNG Drs.H. EMA SUMARNA.M.Si Pembina Utama Muda NIP ii
3 DAFTAR ISI Kata Pengantar... Daftar Isi... Halaman i iii BAB I PENDAHULUAN Gambaran Umum Organisasi Tugas Pokok dan Fungsi Landasan Hukum Ruang Lingkup 5 BAB II PERENCANAAN KINERJA Renstra Disyanjak Renstra Disyanjak Hasil Reviu Indikator Kinerja Utama (Hasil Reviu) PerjanjianKinerja (Hasil Reviu). 14 BAB III AKUNTABILITAS KINERJA KerangkaPengukuran Kinerja Capaian Indikator Kinerja Utama. 3.3 Pencapaian Kinerja Sasaran Strategis 3.4 Analisis Pencapaian Kinerja 3.5 Akuntabilitas Keuangan Kinerja 3.6 Prestasi dan Penghargaan BAB IV PENUTUP iii
4 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Gambaran Umum Organisasi Pajak Daerah merupakan sumber Pendapatan Asli Daerah (PAD) yang memberikan kontribusi besar bagi Penerimaan Daerah Kota Bandung. Dasar normatif dalam pengelolaan pajak daerah adalah Undang-undang No. 28 Tahun 2009 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah. Lahirnya undang-undang tersebut bertujuan memberikan kepastian hukum melalui penerapan closed-list pungutan daerah serta memperbaiki pengelolaan pajak daerah melalui pengaturan yang jelas tentang pemanfaatan hasil pungutan daerah. Menyikapi hal tersebut Pemerintah Kota Bandung menerbitkan Peraturan Daerah Kota Bandung No. 20 Tahun 2011 Tentang Pajak Daerah yang di dalamnya mengatur mengenai 9 (Sembilan) jenis pajak yang dikelola meliputi : 1. Pajak Hotel 2. Pajak Restoran 3. Pajak Hiburan 4. Parkir 5. Pajak Penerangan Jalan 6. Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan (BPHTB) 7. Pajak Reklame 8. Pajak Air Tanah 9. Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) Berlakunya Peraturan Daerah Kota Bandung No. 20 Tahun 2011 Tentang Pajak Daerah dan adanya penambahan kewenangan pengelolaan pajak daerah dari sektor Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) tentunya akan mengubah pola kerja Dinas Pelayanan Pajak. Sebagaimana diketahui bersama bahwa sektor pajak daerah merupakan sumber pendapatan utama bagi Pemerintah Kota Bandung, dimana pajak daerah memberikan kontribusi seperempat dari total pendapatan pada tahun anggaran 2013, 2014, dan 2015, 1
5 dengan rincian sebagai berikut: Tabel 1.1 Perbandingan Kontribusi Pajak Daerah terhadap Pendapatan Daerah Tahun No TAHUN JUMLAH TOTAL PENDAPATAN (Rp) JUMLAH PAD (Rp) JUMLAH PENDAPATAN SEKTOR PAJAK (Rp) KET Terealisasi 112 % , ,- (32,36 %) ,- (27,45%) dari target pajak Rp.1,063 Trilyun Terealisasi 100,06 % , ,- (33,55%) ,- (26,65%) dari target pajak Rp.1,4 Trilyun Terealisasi 93,50 % , ,- (39,27%) ,- (27,85%) dari target pajak Rp.1,598 Trilyun Sumber : DPKAD 2015(sebelum rekonsiliasi antara DPKAD dan Disyanjak), diolah Data tersebut di atas, terlihat bahwa target pendapatan sektor pajak daerah dari tahun ke tahun mengalami kenaikan. Dalam rangka mencapai target penerimaan pajak tersebut, diperlukan strategi pengelolaan pajak daerah yang dipandang sebagai suatu pendekatan, metoda atau teknik pemanfaatan sumber daya manusia, dan atau teknologi untuk mencapai suatu tingkat kinerja melalui hubungan yang efektif antara sumber daya manusia, teknologi dan lingkungannya Tugas Pokok dan Fungsi Berdasarkan Peraturan Daerah Kota Bandung nomor 05 Tahun 2013 tentang Perubahan kedua atas Peraturan Daerah Kota Bandung nomor 13 tahun 2007 tentang Pembentukan dan Susunan Organisasi Dinas Daerah, struktur organisasi Dinas Pelayanan Pajak Kota Bandung sebagai berikut: 2
6 KEPALA DINAS SEKRETARIS KA SUB BAG UMUM DAN KEPEGAWAIAN KA SUB BAG KEUANGAN KA SUB BAG PROGRAM & ANGGARAN KA BIDANG PERENCANAAN KA BIDANG PAJAK PENDAFTARAN KA BIDANG PAJAK PENETAPAN KA BIDANG PENGENDALIAN KA SEKSI PERENCANAAN PAJAK DAERAH KA SEKSI PENDAFTARAN DAN PENDATAN KA SEKSI PENILAIAN DAN PENGADUAN KA SEKSI PENYULUHAN KA SEKSI DATA & POTENSI KA SEKSI VERIFIKASI, OTORISASI & PEMBUKUAN... KA SEKSI PENETAPAN DAN PEMBUKUAN KA SEKSI PENGAWASAN KA SEKSI ANALISA & PELAPORAN KA SEKSI PENYELESAIA N PIUTANG... KA SEKSI PENAGIHAN KA SEKSI PENINDAKAN UPP Bandung Utara UPP Bandung Selatan UPP Bandung Timur UPP Bandung Barat UPP Bandung Tengah Gambar. 1. SOTK Dinas Pelayanan Pajak Kota Bandung (berdasarkan PERDA No. 05 Tanggal 07 Januari Tahun 2013) Tugas pokok Dinas Pelayanan Pajak adalah melaksanakan sebagian urusan pemerintah daerah di bidang pajak daerah. Untuk melaksanakan tugas pokok tersebut, Dinas Pelayanan Pajak mempunyai fungsi : a. Perumusan kebijakan teknis operasional di bidang pelayanan pajak. b. Pelaksanaan tugas teknis pelayanan pajak yang meliputi: 3
7 perencanaan pajak, pemungutan pajak, dan pengendalian pajak daerah. c. Pelaksanaan teknis administrasi dinas. d. Pelaksanaan tugas lain yang diberikan Walikota sesuai tugas pokok dan fungsinya Landasan Hukum LKIP Kota Bandung ini disusun berdasarkan beberapa landasan hukum sebagai berikut : 1. Undang-Undang Nomor 28 Tahun 1999 tentang Penyelenggaraan NegaraYang Bersih, Bebas Korupsi, Kolusi dan Nepotisme; 2. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah; 3. Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah; 4. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 38 Tahun 2007 tentang Urusan Pemerintahan antara Pemerintah, Pemerintah Daerah Provinsi dan Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota; 5. Peraturan Presiden Nomor 29 Tahun 2014Tentang Sistem Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah; 6. Peraturan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Republik Indonesia Nomor 53 Tahun 2014 tentang Petunjuk Teknis Perjanjian Kinerja, Pelaporan Kinerja dan Tata Cara Reviu Atas Laporan Kinerja Instansi Pemerintah; 7. Peraturan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Republik Indonesia Nomor 12 Tahun 2015 tentang Pedoman Evaluasi atas Implementasi Sistem Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah; 8. Peraturan Daerah Kota Bandung Nomor 03 Tahun 2014 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kota Bandung Tahun
8 1.4. Ruang Lingkup Penyusunan Laporan Kinerja Instansi Pemerintah KotaBandung Tahun 2015 ini menyesuaikan hasil reviu dengan Kemenpan RB dan konsultasi serta koordinasi dengan Bagian Organisasi dan Pemberdayaan Aparatur Daerah Sekretariat daerah Kota Bandung, maka menggunakan sistematika sebagai berikut : BAB I PENDAHULUAN 1.1. GAMBARAN UMUM ORGANISASI 1.2. TUPOKSI ORGANISASI BAB II PERENCANAAN KINERJA 2.1. RENSTRA DISYANJAK 2.2. HASIL REVIU RENSTRA DISYANJAK (HASIL PENYELARASAN DARI IKU DAN PK DARI YANG LAMA KE YANG BARU) 2.3. IKU HASIL REVIU BARU 2.4. PK HASIL REVIU BARU BAB III AKUNTABILITAS KINERJA 3.1. KERANGKA PENGUKURAN KINERJA 3.2. CAPAIAN IKU 3.3. PENCAPAIAN KINERJA SASARAN STRATEGIS 3.4. ANALISIS PENCAPAIAN KINERJA 3.5. AKUNTABILITAS KEUANGAN KINERJA 3.6. PRESTASI DAN PENGHARGAAN BAB IV PENUTUP 5
9 BAB II PERENCANAAN KINERJA 2.1. Renstra Disyanjak Berdasarkan Perda No 03 Tahun 2014tanggal 28 Mei 2014 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Tahun , Rencana Strategis Dinas Pelayanan Pajak Kota Bandung diterjemahkan ke dalam Rencana Kerja pada setiap tahunnya. Ketiga komponen yang terdiri dari RPJMD, Rencana Strategis dan Renja tersebut, saling terkait dan menghasilkan sinergi yang cukup kuat dalam menciptakan pedoman strategis bagi Dinas Pelayanan Pajak Kota Bandung terutama dalam mendukung Visi Kota Bandung yaitu : Mewujudkan Kota Bandung yang Unggul, Nyaman dan Sejahtera dalam rangka pencapaian Misi ke-2 Kota Bandung yaitu MENGHADIRKAN TATA KELOLA PEMERINTAHAN YANG EFEKTIF, BERSIH, DAN MELAYANI, dan Misi ke-4 Kota Bandung yaitu MEMBANGUN PEREKONOMIAN YANG KOKOH, MAJU, DAN BERKEADILAN, sebagai wujud BANDUNG JUARA. Bertitik tolak dari kewenangan tugas dan fungsi Dinas Pelayanan Pajak Kota Bandung sebagaimana diuraikan pada bab terdahulu, maka dirumuskan visi Dinas Pelayanan Pajak Kota Bandung yang mempunyai peran dan fungsi dalam menjembatani keadaan masa kini dan masa datang yang diinginkan serta dapat menggerakkan unsur organisasi untuk bertindak lebih terarah sebagaimana diuraikan di atas terutama dikaitkan dengan pelaksanaan otonomi yang secara mutlak harus didukung oleh sumberdaya manusia aparatur yang mampu mengelola unsur-unsur organisasi secara fungsional, efektif dan efisien serta mampu merumuskan kebijakan-kebijakan yang implementatif yang ditujukan untuk kesejahteraan masyarakat. 6
10 Guna mewujudkan hal-hal tersebut, Dinas Pelayanan Pajak Kota Bandung telah menetapkan Visinya yaitu: Professional dan Prima dalam Pengelolaan Pajak Daerah Menuju Bandung Unggul, Nyaman dan Sejahtera Pengelolaan Pajak Daerah yang dimaksud adalah sesuai dengan Undang - undang Nomor 28 Tahun 2009 sebagai pengganti dari Undang-undang Nomor 34 Tahun 2000 (perubahan atas Undang-undang Nomor 18 Tahun 1997 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah) dan berdasarkan Peraturan Daerah Nomor : 20 Tahun 2011 tentang Pajak Daerah. Misi Untuk mewujudkan visi yang telah disepakati dan ditetapkan, disusun misi organisasi yang merupakan dasarataualasan keberadaan suatu organisasi. Sesuai Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 54 tahun 2010, Misi DISYANJAK merupakan rumusan umum mengenai upayaupaya yang akan dilaksanakan untuk mewujudkan visi DISYANJAK guna menggambarkan tindakan tersebut serta menguraikan upaya-upaya apa yang harus dilakukan oleh DISYANJAK Renstra Disyanjak Hasil Reviu (Hasil Penyelarasan IKU Dan PK Lama Ke Hasil Reviu Tahun 2015) Penyempurnaan Visi dan Misi Disyanjak merupakan hasil reviu serta konsultasi dengan Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara Reformasi Birokrasi yang selanjutnya diuraikan dengan menentukan tujuan, sasaran dan indikator untuk memperjelas jalan, atau langkah yang akan dilakukan dalam rangka mencapai perwujudan visi, misi, 7
11 tujuan dan sasaran DISYANJAK. Atas dasar konsultasi dan arahan tersebut maka diadakan penyerderhanan dan penyempurnaan dengan menggunakan bahasa yang sederhana, ringkas, dan mudah dipahami tanpa mengurangi maksud yang ingin dijelaskan, dengan rincian perbaikan sebagai berikut: a. Rekomendasi Tim Reviu Kemempan-RB Terhadap Misi SKPD 1. Misi Ke 3 dan 4 bisa di drop karena bukan core business-nya Disyanjak. b. Uraian Misi Setelah Reviu 1. Menjadikan Pajak Daerah sebagai Penopang Pembangunan 2. Meningkatkan Kualitas Pelayanan Pajak Daerah MISI Perubahan Misi Sebelum dan Setelah Reviu MISI (sebelum reviu) 1. Menjadikan Pajak Daerah sebagai Penopang Pembangunan 2. Meningkatkan Kualitas Pelayanan Pajak Daerah 3. Menumbuhkembangkan kesadaran dan kepatuhan masyarakat dalam membayar pajak 4. Mewujudkan pertanggungjawaban keuangan yang wajar, akurat, akuntabel dan pelaksanaan kinerja yang optimal MISI (setelah reviu) 1. Menjadikan Pajak Daerah sebagai Penopang Pembangunan 2. Meningkatkan Kualitas Pelayanan Pajak Daerah Di Drop Di Drop 8
12 2.2.2.TUJUAN Uraian Tujuan Sebelum dan Setelah Reviu TUJUAN (sebelum reviu) Optimalisasi penerimaan pajak daerah Melaksanakan kebijakan Insentif dan disinsentif Meningkatkan kepuasan atas Pelayanan Pajak Daerah Terwujudnya Partisipasi dan kepatuhan Masyarakat Terhadap Pentingnya Membayar Pajak Terwujudnya Laporan keuangan SKPD dan Laporan Akuntabilitas kinerja yang wajar dan akuntabel TUJUAN (setelah reviu) Optimalisasi penerimaan pajak daerah. Terpenuhinya aspek keadilan dan kemampuan masyarakat dalam pengenaan pajak daerah. Meningkatkan kepuasan atas Pelayanan Pajak Daerah. Di Drop Di Drop Tujuan dan Indikator Tujuan Uraian Optimalisasi penerimaan pajak daerah. Terpenuhinya aspek keadilan dan kemampuan masyarakat dalam pengenaan pajak daerah. TUJUAN Indikator Jumlah Penerimaan pajak daerah: 1. Pajak Hotel 2. Pajak Restoran 3. Pajak Hiburan 4. Pajak Parkir 5. Pajak BPHTB 6. Pajak Penerangan Jalan 7. Pajak Reklame 8. Pajak Air Tanah 9. PBB Jumlah kelompok sasaran yang mendapatkan insentif pajak Meningkatkan kepuasan atas Pelayanan Pajak Daerah. IKM bidang pelayanan pajak daerah 9
13 2.2.3.SASARAN Uraian Sasaran Sebelum dan Setelah Reviu SASARAN (sebelum reviu) Meningkatnya Pendapatan Asli Daerah agar tercapainya Penerimaan pajak daerah sesuai potensi SASARAN (setelah reviu) Tercapainya target Penerimaan Pajak Daerah Mengembangkan insentif fiskal untuk menarik sektor swasta/masyarakat dalam pembiayaan dan penyediaan fasilitas publik Terwujudnya peningkatan kualitas pelayanan publik. Insentif (pengurangan) pajak bagi wajib pajak kategori tertentu sesuai dengan perundangan yang berlaku sebagai bentuk penghargaan. Terwujudnya peningkatan kualitas pelayanan publik. Meningkatnya kesadaran dan kepatuhan masyarakat membayar pajak. Meningkatnya kesadaran dan kepatuhan masyarakat membayar pajak. Meningkatnya atas pengelolaan daerah. pengawasan pelaksanaan perpajakan Di Drop Meningkatnya danakuntabilitas instansi (birokrasi). kapasitas kinerja pemerintah Meningkatnya kapasitas danakuntabilitas kinerja instansi pemerintah (birokrasi). 10
14 2.2.4.INDIKATOR KINERJA SASARAN Uraian Indikator Kinerja Sasaran Sebelum dan Setelah Reviu INDIKATOR KINERJA (sebelum reviu) Penerimaan pajak daerah Jumlah realisasi penerimaan pajak dibandingkan dengan target tahun berjalan dari 9 Mata Pajak Daerah yaitu : 1. Pajak Hotel 2. PajakRestoran 3. PajakHiburan 4. PajakParkir 5. Pajak BPHTB 6. PajakPeneranganJalan 7. PajakReklame 8. Pajak Air Tanah 9. PBB Jumlah kelompok sasaran/jenis yang mendapatkan insentif pajak IKM bidang pembayaran pajak daerah Prosentase Wajib Pajak yang taat membayar Pajak Daerah Prosentase jumlah Wajib Pajak (WP) yang ditindaklanjuti terhadap nota pengantar yang harus ditindaklanjuti. INDIKATOR KINERJA (setelah reviu) Jumlah Penerimaan pajak daerah: 1. Pajak Hotel 2. Pajak Restoran 3. Pajak Hiburan 4. Pajak Parkir 5. Pajak BPHTB 6. Pajak Penerangan Jalan 7. Pajak Reklame 8. Pajak Air Tanah 9. PBB Di Drop Jumlah kelompok sasaran yang mendapatkan insentif pajak IKM bidang pelayanan pajak daerah Prosentase Wajib Pajak yang membayar Pajak Daerah Prosentase Wajib Pajak yang membayar Pajak Daerah secara tepat waktu Di Drop 11
15 INDIKATOR KINERJA (sebelum reviu) Persentase pengaduan masyarakat yang ditindaklanjuti dibandingkan dengan jumlah pengaduan yang masuk. Prosentase Temuan BPK/ Inspektorat yang ditindaklanjuti. Penilaian AKIP/Lakip SKPD oleh Kementerian PAN /inspektorat. Prosentase tertib Administrasi Barang / Aset Daerah. INDIKATOR KINERJA (setelah reviu) Di Drop Prosentase Temuan BPK/ Inspektorat yang ditindaklanjuti. Nilai hasil evaluasi AKIP SKPD oleh Kemenpan RB /Inspektorat. Di Drop TARGET KINERJA SASARAN Rincian Target Kinerja Sasaran Setelah Reviu INDIKATOR KINERJA SATUAN KONDISI AWAL RENSTRA TARGET KINERJA PADA TAHUN HASIL REVIU TAHUN 2015 KONDISI AKHIR RENSTRA (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) Jumlah Penerimaan Pajak Daerah : 1. Pajak Hotel Triliun Rp. 1,194 1,400 1,613 1,850 2,118 2,426 2, , , Pajak Restoran 118, Pajak Hiburan 37, ,5 66, Pajak Parkir 7, ,5 22,5 5. Pajak BPHTB Miliar Rp. 415, , Pajak Penerangan 275,65 135, ,658 Jalan 8 7. Pajak Reklame 17, , , Pajak Air Tanah 3, , PBB 280, Jumlah kelompok sasaran yang mendapatkan insentif pajak Jumlah Kelompoks asaran
16 INDIKATOR KINERJA SATUAN KONDISI AWAL RENSTRA TARGET KINERJA PADA TAHUN HASIL REVIU TAHUN 2015 KONDISI AKHIR RENSTRA (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) Prosentase Wajib Pajak yang membayar Pajak Daerah Prosentase Wajib Pajak yang membayar Pajak Daerah secara tepat waktu IKM bidang pelayanan pajak daerah Prosentase temuan BPK/Inspektorat yang ditindaklanjuti Nilai Hasil Evaluasi AKIP SKPD oleh Kemenpan RB/ Inspektorat % % Nilai % Nilai INDIKATOR KINERJA UTAMA (HASIL REVIU) Indikator Kinerja Utama merupakan ukuran keberhasilan dari suatu tujuan dan sasaran strategis instansi pemerintah, oleh karena itu Dinas Pelayanan Pajak Kota Bandung melalui Surat Keputusan Dinas Pelayanan Pajak Kota Bandung No. 050/119 Disyanjak tanggal 3 Maret 2015 menetapkan Indikator Kinerja Utama (IKU) Disyanjak sebagai berikut : NO INDIKATOR KINERJA SATUAN TARGET Jumlah Penerimaan Pajak Daerah : ,- 1. Pajak Hotel ,- 2. Pajak Restoran ,- 3. Pajak Hiburan ,- Rp. 4. Pajak Parkir ,- 5. Pajak BPHTB ,- 6. Pajak Penerangan Jalan ,- 7. Pajak Reklame Pajak Air Tanah ,- 9. PBB ,- 13
17 NO INDIKATOR KINERJA SATUAN TARGET 1 2 IKM Bidang Pelayanan Pajak Daerah Nilai 75, PERJANJIAN KINERJA (HASIL REVIU) Perjanjian Kinerja merupakan tekad dan janji yang penting dan perlu dilakukan oleh pimpinan instansi di lingkungan Pemerintahan karena merupakan wahana proses yang akan memberikan perspektif mengenai apa yang diinginkan untuk dihasilkan. Perencanaan kinerja yang dilakukan oleh instansi akan dapat berguna untuk menyusun prioritas kegiatan yang dibiayai dari sumber dana yang terbatas. Dengan perencanaan kinerja tersebut diharapkan fokus dalam mengarahkan dan mengelola program atau kegiatan instansi akan lebih baik, sehingga diharapkan tidak ada kegiatan instansi yang tidak terarah. Penyusunan Perjanjian Kinerja Dinas Pelayanan Pajak Kota Bandung Tahun 2015 mengacu pada dokumen Renstra Dinas Pelayanan Pajak Kota Bandung Tahun , dokumen Rencana Kinerja Tahunan (RKT) Tahun 2015, dokumen Rencana Kerja (Renja) Tahun 2015, dan dokumen Pelaksanaan Anggaran (DPA) Tahun 2015, dengan uraian sebagai berikut: 14
18 Tabel PERJANJIAN KINERJA TAHUN 2015 DINAS PELAYANAN PAJAK KOTA BANDUNG NO SASARAN INDIKATOR KINERJA SATUAN TARGET Jumlah Penerimaan Tercapainya target ,00 Pajak Daerah : penerimaan pajak 1. Pajak Hotel ,00 daerah 2. Pajak Restoran ,00 3. Pajak Hiburan , Pajak Parkir Rp ,00 5. Pajak BPHTB ,00 6. Pajak Penerangan Jalan ,00 7. Pajak Reklame ,00 8. Pajak Air Tanah ,00 9. PBB ,00 Prosentase Wajib Pajak Meningkatnya yang membayar Pajak % 83 Kesadaran dan Daerah 2 Kepatuhan Prosentase Wajib Pajak Masyarakat Dalam yang membayar Pajak Membayar Pajak Daerah secara tepat waktu. % 82 Insentif (pengurangan) pajak bagi wajib pajak katagori tertentu sesuai dengan perundangan yang berlaku sebagai bentuk penghargaan Terwujudnya peningkatan kualitas pelayanan publik Meningkatnya kapasitas dan akuntabilitas kinerja instansi pemerintah (Birokrasi) Jumlah sasaran mendapatkan pajak kelompok yang insentif IKM bidang pelayanan pajak daerah Prosentase temuan BPK/Inspektorat yang ditindaklanjuti Nilai Hasil Evaluasi AKIP SKPD oleh Kemenpan RB/ Inspektorat Jumlah Kelompok Sasaran 13 Nilai 75,5 % 100 Nilai 65 15
19 Program Anggaran 1. Program Perencanaan Pembangunan Daerah. Rp ,- 2. Program Pelayanan Administrasi Perkantoran. Rp ,- 3. Program Peningkatan Sarana dan Prasarana Aparatur. Rp ,- 4. Program Peningkatan Disiplin Aparatur. Rp , Program Peningkatan Kapasitas Sumber Daya Aparatur. Program Peningkatan Pengembangan Sistem Pelaporan Capaian Kinerja dan Keuangan. Program Peningkatan dan Pengembangan pengelolaan Keuangan Daerah. Program Pemeliharaan rutin/berkala sarana dan prasarana kearsipan. Program Perencanaan dan Pengembangan pengelolaan pajak Daerah. Rp ,- Rp ,- Rp ,- Rp ,- Rp ,- 16
20 LAKIP Tahun 2014 Dinas Pelayanan Pajak Kota Bandung 17
21 BAB III AKUNTABILITAS KINERJA Akuntabilitas kinerja adalah kewajiban untuk menjawab dari perorangan, badan hukum atau pimpinan kolektif secara transparan mengenai keberhasilan atau kegagalan dalam melaksanakan misi organisasi kepada pihak-pihak yang berwenang menerima pelaporan akuntabilitas/pemberi amanah. Dinas Pelayanan Pajak Kota Bandung selaku pengemban amanah masyarakat telah melaksanakan kewajiban berakuntabilitas melalui penyajian Laporan Akuntabilitas KinerjaDinas Pelayanan Pajak Kota Bandung yang dibuat sesuai ketentuan yang diamanatkan dalam Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 29 Tahun 2014 tentang Sistem Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah, Peraturan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Republik Indonesia Nomor 53 Tahun 2014 Tentang Petunjuk Teknis Perjanjian Kinerja, Pelaporan Kinerja, dan Tata Cara Reviu Atas Laporan Kinerja Instansi Pemerintah. Laporan tersebut memberikan gambaran penilaian tingkat pencapaian target masing-masing indikator sasaran srategis yang ditetapkan dalam dokumen Renstra Tahun maupun Renja Tahun Sesuai dengan ketentuan tersebut, pengukuran kinerja digunakan untuk menilai keberhasilan dan kegagalan pelaksanaan kegiatan sesuai dengan program, sasaran yang ditetapkan untuk mewujudkan misi dan visi pemerintah Kerangka Pengukuran Kinerja Salah satu fondasi utama dalam menerapkan manajemen kinerja adalah dengan melakukan pengukuran kinerja dalam rangka menjamin adanya peningkatan dalam pelayanan publik dan meningkatkan akuntabilitas dengan melakukan klarifikasi output dan outcome yang akan dan seharusnya dicapai untuk memudahkan terwujudnya organisasi yang akuntabel. 17
22 Pengukuran kinerja dilakukan dengan membandingkan antara kinerja yang seharusnya terjadi dengan kinerja yang diharapkan. Pengukuran kinerja ini dilakukan secara berkala triwulanan dan tahunan. Pengukuran dan pembandingan kinerja dalam laporan kinerja dapat menggambarkan posisi kinerja instansi pemerintah. Pengukuran kinerja dilaksanakan sesuai dengan Peraturan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Republik Indonesia Nomor 53 Tahun 2014 Tentang Petunjuk Teknis Perjanjian Kinerja, Pelaporan Kinerja, dan Tata Cara Reviu Atas Laporan Kinerja Instansi Pemerintah. Indikator kinerja adalah ukuran keberhasilan yang menggambarkan terwujudnya kinerja, tercapainya hasil program dan hasil kegiatan. Indikator kinerja instansi pemerintah harus selaras antar tingkatan unit organisasi. Indikator kinerja yang digunakan harus memenuhi kriteria spesifik, dapat diukur, dapat dicapai, relevan, dan sesuai dengan kurun waktu tertentu. Nilai capaian atas pengukuran kinerja dapat dikategorikan dan diinterprestasikan sebagai berikut: No. Capaian Kinerja Interprestasi 1 >100% Melebihi / melampaui target 2 =100% Tercapai 3 <100% Tidak Tercapai Berdasarkan hasil evaluasi kinerja dilakukan analisis pencapaian kinerja untuk memberikan informasi yang lebih transparan mengenai sebab-sebab tercapai atau tidak tercapainya kinerja yang diharapkan. Dinas Pelayanan Pajak Kota Bandung telah memberikan gambaran penilaian tingkat pencapaian target kegiatan dari masing-masing kelompok indikator kinerja kegiatan, dan penilaian tingkat pencapaian target sasaran dari masing-masing indikator kinerja sasaran yang ditetapkan dalam dokumen Renstra maupun Renja Tahun Sesuai ketentuan 18
23 tersebut, pengukuran kinerja digunakan untuk menilai keberhasilan dan kegagalan pelaksanaan kegiatan sesuai dengan program, sasaran yang telah ditetapkan dalam mewujudkan visi dan misi Dinas Pelayanan Pajak Kota Bandung. Pelaporan Kinerja ini didasarkan pada Penetapan Kinerja SKPD Tahun 2015 dan Indikator Kinerja Utama Tahun 2015 dan hasil review atas Rencana Strategis Dinas Pelayanan Pajak Tahun , telah ditetapkan 5 (lima) sasaran dengan 7 (tujuh) indikator kinerja dengan rincian sebagai berikut : Sasaran 1 terdiri dari 1 indikator Sasaran 2 terdiri dari 2 indikator Sasaran 3 terdiri dari 1 indikator Sasaran 4 terdiri dari 1 indikator Sasaran 5 terdiri dari 2 indikator 3.2. Capaian Indikator Kinerja Utama Mengukur dan peningkatan kinerja akan berpengaruh pada meningkatnya akuntabilitas kinerja pemerintah, maka setiap instansi pemerintah perlu menetapkan Indikator Kinerja Utama (IKU). Untuk itu yang perlu dilakukan instansi pemerintah adalah menentukan apa yang menjadi kinerja utama dari instansi pemerintah yang bersangkutan. Dengan demikian kinerja utama terkandung dalam tujuan dan sasaran strategis instansi pemerintah, sehingga IKU akan menjadi ukuran keberhasilan dari suatu tujuan dan sasaran strategis instansi pemerintah. Dengan kata lain IKU digunakan sebagai ukuran keberhasilan dari instansi pemerintah yang bersangkutan. Upaya untuk meningkatkan akuntabilitas, Dinas Pelayanan PajakKota Bandung juga melakukan reviu terhadap Indikator Kinerja Utama dan ditetapkan berdasarkan Surat Keputusan Kepala Dinas Pelayanan Pajak Kota Bandung Nomor: 050/119-Disyanjak Tentang Penetapan Indikator Kinerja Utama (IKU) dilingkungan Dinas Pelayanan Pajak Kota Bandung, dalam melakukan reviu dengan memperhatikan capaian kinerja, permasalahan dan isu-isu strategis yang sangat 19
24 mempengaruhi keberhasilan suatu organisasi. Hasil pengukuran atas indikator kinerja utama Dinas Pelayanan Pajak Kota Bandung tahun 2015 menunjukan hasil sebagai berikut: Tabel 3.1 Capaian Indikator Kinerja Utama Tahun 2015 Dinas Pelayanan Pajak Kota Bandung NO INDIKATOR KINERJA SATUAN Jumlah Penerimaan pajak daerah : 1. Pajak Hotel TARGET TAHUN 2015 REALISASI TAHUN 2015 CAPAIAN (%) ,94% ,80% 2. Pajak Restoran ,98% Pajak Hiburan ,08% 4. Pajak Parkir Rp ,45% 5. Pajak BPHTB ,40% 6. PPJ ,97% 7. Pajak Reklame ,71% Pajak Air Tanah 9. PBB IKM bidang pelayanan pajak daerah ,12% ,66% Nilai 75,5 80,04 106,01% Rata-rata Capaian IKU 99,48% Kinerja Capaian Sasaran Tidak Tercapai Catatan: Data realisasi pendapatan Tahun 2015 merupakan data rekonsiliasi pendapatan pajak dengan DPKAD Kota Bandung sebelum pemeriksaan BPK. Rata-rata capaian IKU seperti terlihat dalam tabel diatas adalah 99,48% dengan Kinerja Capaian Sasaran tidak tercapai. Karena IKU merupakan ukuran keberhasilan dari suatu SKPD, maka bisa dikatakan Dinas Pelayanan Pajak Kota Bandung tidak berhasil mencapai target yang ditetapkan Pencapaian Kinerja Sasaran Strategis Secara umum Dinas Pelayanan Pajak Kota Bandung telah dapat melaksanakan tugas dalam rangka mencapai tujuan dan sasaran yang 20
25 telah ditetapkan dalam Renstra Jumlah Sasaran yang ditetapkan untuk mencapai visi dan misi Dinas Pelayanan Pajak Kota Bandung Tahun sebanyak 5 (lima) sasaran. Pada tahun 2015 ditetapkan 5 (lima) sasaran strategis dengan 7 (tujuh) indikator kinerja yang ditetapkan melalui Penetapan Kinerja Tahun Dari 5 (lima) sasaran dengan indikator kinerja sebanyak 7 (tujuh) indikator kinerja, pencapaian kinerja sasaran Dinas Pelayanan Pajak Kota Bandung adalah sebagai berikut : Tabel 3.2 Pencapaian Kinerja Sasaran Dinas Pelayanan Pajak Kota Bandung Tahun 2015 NO. SASARAN STRATEGIS CAPAIAN 1 Melebihi Target 2 2 Tercapai 0 3 Tidak Tercapai 3 Jumlah 5 21
26 Tabel 3.3 PENCAPAIAN TARGET SASARAN No A Sasaran Misi 1: Menjadikan Pajak Daerah sebagai Penopang Pembangunan Jumlah Indikator Sasaran Capaian rata-rata kinerja sasaran s/d Tidak Tercapai (<100%) s/d s/d s/d s/d Tercapai (100%) Melebihi Target (>100%) 1 Tercapainya target penerimaan pajak daerah 1 92,94% 1 2 Meningkatnya kesadaran dan kepatuhan masyarakat membayar pajak daerah. 2 98,61% B Insentif (pengurangan) pajak bagi Wajib Pajak kategori tertentu sesuai dengan perundangan yang berlaku sebagai bentuk penghargaan. Misi 2: Meningkatnya Kualitas Pelayanan Pajak Daerah. 1 92,31% 1 4 Terwujudnya peningkatan kualitas pelayanan publik ,01% 1 5 Meningkatnya kapasitas dan akuntabilitas kinerja instansi pemerintah (birokrasi) ,18% 1 1 Jumlah
27 Dari 5 (lima) sasaran diatas, pencapaian realisasi indikator kinerja Misi terhadap target yang sudah ditetapkan sebagai berikut: Tabel 3.4 PENCAPAIAN TARGET MISI Tingkat Pencapaian No. Misi Jumlah Indikator Sasaran Tidak Tercapai (<100%) Tercapai(100%) Melebihi Target (>100%) Jumlah % Jumlah % Jumlah % 1 Menjadikan Pajak Daerah sebagai penopang pembangunan ,62% 1 104,34% 2 Meningkatkan kualitas pelayanan Pajak Daerah % 2 103,18% Jumlah ,62% 1 100% 3 103,76 % 23
28 Pencapaian Kinerja dari lima sasaran dan tujuh indikator kinerja Dinas Pelayanan Pajak Kota Bandung dapat dirinci sebagai berikut: No. A. B. Tabel 3.5 KATEGORI PENCAPAIAN INDIKATOR SASARAN Kategori Misi 1: Menjadikan Pajak Daerah sebagai penopang pembangunan Jumlah Indikator Persentase 4 100% 1 Melebihi Target 1 25% 2 Tercapai 0 0% 3 Tidak Tercapai 3 75% Misi 2: Meningkatkan kualitas pelayanan Pajak Daerah 3 100% 1 Melebihi Target 2 66,67% 2 Tercapai 1 33,33% 3 Tidak Tercapai 0 0% 3.4. Analisis Pencapaian Kinerja Evaluasi bertujuan agar diketahui pencapaian realisasi, kemajuan dan kendala yang dijumpai dalam rangka pencapaian misi, sehingga dapat dinilai dan dipelajari guna perbaikan pelaksanaan program/kegiatan di masa yang akan datang. Selain itu, dalam evaluasi kinerja dilakukan pula analisis efisiensi dengan cara membandingkan antara output dengan input baik untuk rencana maupun realisasi. Analisis ini menggambarkan tingkat efisiensi yang dilakukan oleh instansi dengan memberikan data nilai output per unit yang dihasilkan oleh suatu input tertentu. Selanjutnya dilakukan pula pengukuran/penentuan tingkat efektivitas yang menggambarkan tingkat kesesuaian antara tujuan dengan hasil, manfaat atau dampak. Selain itu, evaluasi juga dilakukan terhadap setiap perbedaan kinerja (performance gap) yang terjadi, baik terhadap penyebab terjadinya gap maupun strategi pemecahan masalah yang telah dan akan dilaksanakan. 24
29 Pernyataan kinerja sasaran strategis, dilakukan analisis capaian kinerja sebagai berikut: 1. Membandingkan antara target dan realisasi kinerja tahun ini; 2. Membandingkan antara realisasi kinerja serta capaian kinerja tahun ini dengan tahun lalu dan beberapa tahun terakhir; 3. Membandingkan realisasi kinerja sampai dengan tahun ini dengan target jangka menengah yang terdapat dalam dokumen perencanaan strategis organisasi; 4. Membandingkan realisasi kinerja tahun ini dengan standar nasional (jika ada); 5. Analisis penyebab keberhasilan/kegagalan atau peningkatan/penurunan kinerja serta alternatif solusi yang telah dilakukan; 6. Analisis atas efisiensi penggunaan sumber daya; 7. Analisis program / kegiatan yang menunjang keberhasilan ataupun kegagalan pencapaian pernyataan kinerja. Pengukuran kinerja terhadap indikator kinerja yang telah dicapai pada tahun 2015 dan membandingkan antara target dan realisasi pada indikator sasaran dari 5 sasaran dan 7 indikator kinerja dari 2 Misi, sebagaimana telah ditetapkan dalam Renstra Dinas Pelayanan Pajak Kota Bandung tahun , analisis pencapaian kinerja dalam pelaksanaan program dan kegiatan secara rinci dapat dilihat sebagai berikut : I. Sasaran 1: TERCAPAINYA TARGET PENERIMAAN PAJAK DAERAH Peraturan Daerah Nomor : 20 Tahun 2011 tentang Pajak Daerah menyatakanbahwa Pajak Daerah adalah kontribusi wajib kepada Daerah yang terutang oleh orang pribadi atau badan yang bersifat memaksa berdasarkan peraturan perundang-undangan, dengan tidak mendapatkan imbalan secara langsung dan digunakan untuk keperluan Daerah yang 25
30 sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat Daerah. Pajak dipungut karena adanya suatu keadaan, kejadian, atau perbuatan yang menurut peraturan perundang-undangan dikenakan pajak. Pajak Daerah di Kota Bandung terdiri dari: A. Pajak Pendaftaran 1. Pajak Hotel, 2. Pajak Restoran, 3. Pajak Hiburan, 4. Pajak Penerangan Jalan, 5. Pajak Parkir, 6. Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan, dan B. Pajak Penetapan 1. Pajak Bumi dan Bangunan Perkotaan. 2. Pajak Reklame, 3. Pajak Air Tanah, Pajak-pajak daerah tersebut telah memberikan kontribusi terbesar terhadap Pendapatan Asli Daerah Kota Bandung, hal ini dapat dibuktikan dengan adanya peningkatan pembangunan baik sarana maupun prasarana yang diperuntukan bagi kesejahteraan masyarakat Kota Bandung. Untuk anggaran tahun 2015 DPRD Kota Bandung telah menetapkan pendapatan pada APBD sebesar Rp. 5,330 Trilyun, dimana pendapatan tersebut digunakan untuk belanja pembangunan Kota Bandung yang besarnya Rp.6,4 trilyun. Dengan komposisinya pendapatan APBD tersebut yang terdiri dari pendapatan asli daerah (PAD) Rp. 2,093 triliun, dana perimbangan Rp. 1,847 triliun, dan pendapatan daerah lainnya yang sah Rp.1,390 triliun. Perbandingan komposisi di atas dapat dilihat bahwa PAD mempunyai porsi cukup besar yaitu hampir mencapai 39,27%, yang sebagian besarnya merupakan pendapatan dari Pajak Daerah sebagaimana telah ditetapkan target pendapatan Rp.1,4 trilyun dari pajak daerah untuk tahun
31 Adanya kenaikan target sebesar 31,7% dari target Tahun 2013 Rp.1,063 trilyun ke penetapan target Rp. 1,4 trilyun di tahun Dari data tersebut terlihat bahwa Pajak Daerah merupakan salah satu pendukung penting pembangunan Kota Bandung. Dengan semakin tinggi pendapatan asli daerah, maka semakin tinggi kemampuan suatu daerah untuk membiayai sendiri penyelenggaraan pembangunan daerahnya. Mencapai target tersebut diperlukan optimalisasi penggalian potensi pajak daerah, serta peningkatan pelayanan terhadap wajib pajak. Pajak daerah seharusnya bersifat visible, dalam arti bahwa pajak seharusnya jelas bagi pembayar pajak daerah, objek dan subjek pajak dan besarnya pajak terutang dapat dengan mudah dihitung sehingga dapat mendorong akuntabilitas daerah. Pajak yang diserahkan kepada daerah seharusnya relatif mudah diadministrasikan atau dengan kata lain perlu pertimbangan efisiensi secara ekonomi berkaitan dengan kebutuhan data, seperti identifikasi jumlah pembayar pajak, penegakkan hukum (law-enforcement) dan sistem informasi. NO 1. INDIKATOR KINERJA Jumlah Penerimaan pajak daerah : Tabel 3.6 Capaian Target Sasaran I Dinas Pelayanan Pajak Kota Bandung SATUAN TARGET TRIWULAN IV REALISASI S/D TRIWULAN IV CAPAIAN (%) ,94% 1. Pajak Hotel ,80% 2. Pajak Restoran ,98% 3. Pajak Hiburan ,08% 4. Pajak Parkir Rp ,45% 5. Pajak BPHTB ,40% 6. PPJ ,97% 7. Pajak Reklame ,71% 8. Pajak Air Tanah ,12% 9. PBB ,66% Capaian Indikator Kinerja 92,94% Kinerja Capaian Sasaran Tidak Tercapai 27
32 Secara keseluruhan target penerimaan pajak daerah tidak dapat tercapai dengan realiasi penerimaan Rp ,- dari target yang ditetapkan sebesar Rp ,- atau sebesar 92,94%, dengan komposisi 2 (dua) mata pajak daerah dapat terpenuhi targetnya dan 7 (tujuh) mata pajak yang tidak dapat tercapai targetnya. Grafik dan penjelasan sebagai berikut: Realisasi Target Pendapatan Pajak Tahun Pajak Hotel Pajak Pajak Restoran Hiburan PPJ Pajak Parkir BPHTB Pajak Pajak Air Reklame Tanah PBB Target Realisasi Pajak Hotel Tabel 3.7 Realisasi Pajak Hotel Tahun JENIS PAJAK REALISASI JANUARI FEBRUARI MARET APRIL MEI JUNI JULI AGUSTUS SEPTEMBER OKTOBER NOVEMBER DESEMBER TOTAL
33 REALISASI PENDAPATAN PAJAK HOTEL J A N FEB M A R A P R M E I J U N J U L A G U SEP O K T NOV D E S Pada Tahun 2015 realisasi pendapatan pajak hotel adalah sebesar Rp ,- dimana target pendapatannya Rp ,-. Melihat realisasi pendapatan pajak hotel masih berada di bawah targetnya, atau capaian kinerjanya masih sangat rendah yaitu hanya sebesar 82,80%. Pajak hotel yang merupakan objek pajak Dinas Pelayanan Pajak ini terdiri dari hotel bintang yang terbagi dalam klasifikasi hotel bintang lima, hotel bintang empat, hotel bintang tiga, hotel bintang dua dan hotel bintang satu. Selain itu terdapat pula hotel melati yang terdiri dari hotel melati tiga, hotel melati dua dan hotel melati satu, serta Rumah Kos. Dari semua klasifiksi pajak hotel/rumah kos, maka hotel bintang 4 memiliki beban target paling besar dari keseluruhan target Pajak Hotel yang telah ditetapkan. Tahun 2015, apabila di lihat dari realisasi bulanan maka perolehan pajak hotel berada pada puncaknya di Bulan Desember pada kisaran 24 Milyar dan pendapatan terendah berada pada bulan April di kisaran 14 Milyar. Hal ini tidak jauh berbeda dari sebelumnya, bahwa puncak penerimaan pajak hotel berada pada Bulan Desember. Salah satu faktor penyebabnya adalah banyak pendatang yang ingin menghabiskan waktu akhir tahunnya di kota Bandung dimana Bandung dikenal sebagai salah satu kota tujuan wisata baik bagi wisatawan domestik maupun bagi wisatawan mancanegara. Untuk besarnya realisasi sub mata pajak hotel, terlihat pada tabel 29
34 dan grafik berikut ini: Tabel 3.8 CAPAIAN KINERJA REALISASI PAJAK HOTEL TAHUN 2015 Uraian Target (Rp) Realisasi (Rp) Kinerja Hotel Bintang ,39% Hotel Bintang ,57% Hotel Bintang ,17% Hotel Bintang ,47% Hotel Bintang ,81% Hotel Melati ,79% Hotel Melati ,54% Hotel Melati ,24% Rumah Kos ,08% JUMLAH ,80% Capaian Kinerja Realisasi Pajak Hotel Tahun ,39% 77,57% 101,17% 94,47% 64,81% 72,79% 72,54% 116,24% 110,08% Hotel Bintang 5 Hotel Bintang 4 Hotel Bintang 3 Hotel Bintang 2 Hotel Bintang 1 Hotel Melati 3 Hotel Melati 2 Hotel Melati 1 Rumah Kos Target Realisasi Capaian Dilihat dari grafik capaian kinerja per sub pajak hotel diatas, terlihat sub pajak hotel yang berhasil mencapai targetnya atau lebih tinggi dari target pendapatannya yaitu hanya pajak Hotel Bintang 3, Hotel Melati 1, dan Rumah Kos yang pencapaiannya berada diatas 100%, sedangkan untuk 30
35 Sub Pajak Hotel lainnya masih belum mencapai target yang telah ditetapkan. Berikut ini alasan ketidaktercapaian target pendapatan Pajak Hotel: 1. Surat Edaran (SE) Menpan Nomor 11/2014 tentang larangan PNS rapat di hotel atau melarang rapat di luar Kantor sejak Bulan November 2014 sampai dengan direvisinya dengan Peraturan Men PAN-RB Nomor 6 Tahun 2015 tentang Pedoman Pembatasan Pertemuan/Rapat di Luar Kantor yang baru diterbitkan per tanggal 1 April Sehingga banyak instansi pemerintah yang tidak menganggarkan kegiatan tersebut dan baru dianggarkan di anggaran perubahan instansi pemerintah. Pelaksanaan rapat-rapat Dinas dihotel menyumbangkan rata-rata 40 % dari ocupansi hotel, sehingga dengan adanya pelarangan tersebut maka terjadi penurunan okupansi hotel. 2. Penurunan tingkat hunian hotel menurut riset properti komersial Bank Indonesia (BI) terjadi sejak kuartal I tahun saat itu tingkat hunian mencapai 77,29% atau 2,27% lebih rendah dibanding pencapaian kuartal IV tahun 2014 yakni 79,08. Merosotnya tingkat hunian, berpengaruh terhadap tarif kamar per malam. dalam catatan BI, tarif rata-rata kamar hotel sekitar Rp ,- per malam. Anjlok 14,41% dibandingkan dengan tarif rata-rata per malamkuartal sebelumnya yakni Rp ,- 3. Penurunan kunjungan wisatawan Malaysia yang masuk melalui Bandara Husen Sastranegara sebanyak 57% menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Barat. 4. Adanya denda/tunggakan pajak daerah dari piutang pajak hotel yang belum dibayarkan oleh wajib pajak hotel. 31
36 Pajak Restoran Tabel 3.9 Realisasi Pendapatan Pajak Tahun 2014 dan 2015 JENIS PAJAK REALISASI JANUARI FEBRUARI MARET APRIL MEI JUNI JULI AGUSTUS SEPTEMBER OKTOBER NOVEMBER DESEMBER TOTAL Realisasi Pendapatan Pajak Tahun Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Agu Sep Okt Nov Des
37 Tabel 3.10 CAPAIAN KINERJA REALISASI PENDAPATAN SUB PAJAK RESTORAN TAHUN 2015 Uraian Target (Rp) Realisasi (Rp) Kinerja Restoran 154,600,000, ,380,861, % Katering 15,400,000,000 10,487,497, % JUMLAH 170,000,000, ,868,358, % Komposisi Realisasi Pendapatan Pajak Restoran Tahun % Pajak Restoran 94% Pajak Katering Pada tahun 2015 perolehan pajak restoran adalah sebesar Rp ,- dapat melampaui target yang ditetapkan sebesar Rp ,- atau capaian kinerjanya sebesar 106,98%. Pajak restoran terdiri dari sub pajak restoran, dan pajak katering, dimana pendapatan terbesar pajak restoran ini disumbang oleh sub pajak restoran sebesar 94%. Bila dilihat dari pendapatan per bulan maka perolehan pajak restoran terbesar berada pada bulan Desember yaitu sebesar ±19 Milyar, hal ini dapat terjadi dengan keterkaitan antara tingginya tingkat hunian hotel di Kota Bandung pada akhir tahun yang diikuti dengan tingginya pendapatan pajak restoran pada bulan Desember, disamping itu pada Bulan Desember bertepatan dengan Libur Natal dan Tahun Baru sehingga banyak masyarakat yang ingin menikmati santapan di luar rumah. Tren ini dapat dilihat dari pendapatan Tahun 2014 yang menunjukkan tren yang 33
38 sama yaitu puncak pendapatan pajak tahunannya berada pada Bulan Desember. Pajak Hiburan JENIS PAJAK Tabel 3.11 Realisasi Pendapatan Pajak Hiburan Tahun REALISASI JANUARI FEBRUARI MARET APRIL MEI JUNI JULI AGUSTUS SEPTEMBER OKTOBER NOVEMBER DESEMBER TOTAL Realisasi Pendapatan Pajak Hiburan Tahun Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Aug Sept Okt Nov Des
39 Pajak hiburan pada tahun 2015 ini mengalami kenaikan realisasi pendapatan dari Tahun 2014 yaitu sekitar 9,7 Milyar, walaupun demikian hasil tersebut tidak dapat membantu dalam perolehan sesuai dengan target yang telah ditetapkan pada tahun 2015, dengan kata lain target kinerja untuk pajak hiburan tidak dapat tercapai dan hanya mampu berada pada capaian 84,05% dari target sebesar 60 Milyar. Pajak hiburan terdiri dari 14 sub mata pajak dengan perolehan tertinggi berasal dari pajak Bioskop sebesar 19,7 Milyar, dimana realisasi sub mata pajak hiburan seperti terlihat pada tabel dan grafik berikut ini: Tabel 3.12 Target dan Realisasi Pendapatan Pajak Hiburan Tahun 2015 Uraian Target Realisasi Capaian (%) Bioskop ,11% Insidentil ,10% Pameran Diskotik ,97% Karaoke ,40% Klab Malam ,96% Billiard ,60% Bowling ,64% MPA ,23% Panti Pijat ,16% Mandi Uap / Spa Fitnes ,95% Olahraga Gedung Kesenian JUMLAH ,08% 35
40 Target dan Realisasi Pendapatan Pajak Hiburan Tahun 2015 Gedung Kesenian Olahraga Fitnes Mandi Uap / Spa Panti Pijat MPA Bowling Billiard Klab Malam Karaoke Diskotik Pameran Insidentil Bioskop 0,00% 0,00% 139,95% 0,00% 65,16% 83,23% 77,64% 101,60% 83,96% 70,40% 18,97% 0,00% 57,10% 105,11% Capaian Realisasi Target Alasan Ketidaktercapaian Penerimaan Pajak Hiburan: 1. Himbauan Kapolda Jawa Barat dan Kapolrestabes Bandung tentang pembatasan jam operasional dari yang tercantum di Perda tutup jam menjadi tutup jam himbauan tersebut baru melonggar setelah Idul Fitri 2015; 2. Pajak Hiburan merupakan pajak self assestment atau wajib pajak yang melaporkan dan menghitung pendapatan/omzet untuk dihitung pajaknya sehingga kita perlu mengadakan verifikasi dan pemeriksaan dari pengenaan tarif pajak hiburan sebesar 35% dari omzet, yang mana dianggap terlalu memberatkan pengusaha; 3. Belum adanya data potensi pajak hiburan untuk menentukan target yang real sesuai dengan realisasi pendapatan pajak Hiburan; 4. Adanya denda/tunggakan pajak daerah dari piutang pajak hiburan yang belum dibayarkan oleh wajib pajak hiburan. 36
41 Pajak Reklame Tabel 3.13 Realisasi Pajak Reklame Tahun 2015 Uraian Target (Rp) Realisasi (Rp) Kinerja Reklame Papan ,26% Reklame Kain ,90% Reklame Berjalan ,41% Reklame Bando Jalan ,67% JUMLAH ,71% Capaian Kinerja Realisasi Pendapatan Pajak Reklame Tahun Reklame Papan Reklame Kain Reklame Berjalan Reklame Bando Jalan Target (Rp) Realisasi (Rp) Column1 37
42 Tabel 3.14 Perbandingan Realisasi Tahun Uraian Realisasi (Rp) Kenaikan / Penurunan Reklame Papan Reklame Kain Reklame Berjalan ( ) ( ) Balon Udara ( ) Reklame Bando Jalan JUMLAH ( ) ( ) Perbandingan Realisasi Pendapatan Pajak Reklame Tahun REKLAME PAPAN REKLAME KAIN REKLAME BERJALAN BALON UDARA REKLAME BANDO JALAN
43 Pajak Reklame merupakan satu dari dua mata pajak yang pada tahun 2015 ini berhasil mencapai target yang ditetapkan yaitu sebesar 15 Milyar, dimana realisasi pendapatan untuk pajak reklame ini sebesar Rp ,- atau terealisasikan sebesar 120,71%. Sayangnya pencapaian target Tahun 2015 ini tidak diikuti dengan kenaikan realisasi pendapatan dari tahun sebelumnya. Pada Anggaran Perubahan Dinas Pelayanan Pajak yang disahkan Bulan November 2015, terdapat penurunan target pendapatan pajak reklame sebesar 15 Milyar, yang awalnya 30 Milyar menjadi 15 Milyar. Hal ini terjadi karena adanya rasionalisasi penetapan target pendapatan pajak reklame yang disebabkan adanya kebijakan dalam penataan estetika kota yang dikeluarkan oleh Walikota Bandung tentang moratorium pemberian ijin reklame baru di tanah Pemerintah Kota. Pajak reklame terdiri dari lima sub mata pajak dimana perolehan terbesar berasal dari sub pajak reklame papan sebesar 17 Milyar seperti yang tergambarkan pada table sebelumnya. Pajak Penerangan Jalan Pajak penerangan jalan pada tahun 2015 dalam realisasi di akhir triwulan ke empat menghasilkan pendapatan sebesar Rp ,- atau tidak mencapai target yang telah ditetapkan sebesar 180 Milyar, bila dilihat dari capaian kinerjanya hanya sebesar 98,97%. Untuk pajak penerangan jalan Dinas Pelayanan Pajak hanya menerima pembayaran dari pihak otoritas kelistrikan nasional yaitu PLN yang besaran pajaknya telah ditetapkan oleh pihak PLN, adapun kenaikan realisasi pajak penerangan jalan selain dari besar/kecilnya listrik yang dikonsumsi oleh warga Bandung pada bulan/tahun tersebut juga dipengaruhi oleh kenaikan tarif daftar listrik, sehingga selama tidak ada kebijakan baru mengenai kenaikan tarif dasar listrik maka realisasi pajak penerangan jalan akan tetap sama/stagnan. Besarnya realisasi mata pajak penerangan jalan, terlihat pada tabel dan grafik berikut ini: 39
44 JENIS PAJAK Tabel 3.15 Perbandingan Realisasi Pendapatan PPJ Tahun REALISASI JANUARI FEBRUARI MARET APRIL MEI JUNI JULI AGUSTUS SEPTEMBER OKTOBER NOVEMBER DESEMBER TOTAL Realisasi Bulanan PPJ Tahun Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Aug Sept Okt Nov Des
45 Alasan Ketidaktercapaian Penerimaan Pajak Penerangan Jalan: 1. Penentuan tarif dan pemungutan pajak penerangan jalan dilakukan oleh PT. PLN sehingga penetapan hasil target berdasarkan pelaporan penerimaan dari PT.PLN saja; 2. Adanya himbauan pemerintah tentang penghematan energi termasuk hemat pemakaian listrik. Pajak Parkir Tabel 3.16 Realisasi Pendapatan Pajak Parkir Tahun JENIS PAJAK REALISASI JANUARI FEBRUARI MARET APRIL MEI JUNI JULI AGUSTUS SEPTEMBER OKTOBER NOVEMBER DESEMBER TOTAL
46 Realisasi Pendapatan Pajak Parkir Tahun Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Agu Sep Okt Nov Des Realisasi Pajak Parkir Tahun 2015 sebesar Rp ,- dari target yang ditetapkan sebesar Rp ,-,. Terdapat beberapa faktor yang menyebabkan target pajak parkir ini tidak tercapai, diantaranya: 1. Meskipun adanya kenaikan tarif parkir sekitar 50% tetapi kenaikan tersebut tidak terlalu signifikan terhadap penerimaan pajak daerah karena tidak dibarengi penambahan luas/lahan parkir; 2. Pajak Parkir merupakan pajak self assestment atau wajib pajak yang melaporkan dan menghitung pendapatan/omzet untuk dihitung pajaknya sehingga kita perlu mengadakan verifikasi dan pemeriksaan lebih mendalam; 3. Belum adanya data potensi pajak parkir untuk menentukan target yang real sesuai dengan realisasi pendapatan pajak parkir; 4. Adanya denda/tunggakan pajak daerah dari piutang pajak parkir yang belum dibayarkan oleh wajib pajak parkir. 42
47 Pajak Air Tanah Tabel 3.17 Realisasi Pendapatan Pajak Air Tanah Tahun JENIS PAJAK REALISASI JANUARI FEBRUARI MARET APRIL MEI JUNI JULI AGUSTUS SEPTEMBER OKTOBER NOVEMBER DESEMBER TOTAL Realisasi Pendapatan PAT Tahun Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Agu Sep Okt Nov Des
48 Tahun 2015 Pajak Air Tanah tidak dapat merealisasikan target pendapatannya sebesar Rp ,-. Dinas Pelayanan Pajak hanya dapat merealisasikan pajak ini sebesar Rp ,-, atau capaian kinerjanya sebesar 92,12%. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor dibawah ini: 1. Tidak semua objek pajak PAT menggunakan meteran digital yang terintegrasi dengan penetapan NPA di BPLH; 2. Belum optimalnya sinergitas data antara disyanjak dan BPLH, berkaitan dengan monitoring data yang dapat memudahkan dan mempercepat proses penetapan NPA menjadi SKPD, serta dapat mempercepat proses pembayaran oleh WP. Pajak Bumi dan Bangunan Tabel 3.18 Realisasi Pajak Bumi dan Bangunan Tahun 2015 Jenis Pajak Realisasi JANUARI FEBRUARI MARET APRIL MEI JUNI JULI AGUSTUS SEPTEMBER OKTOBER NOVEMBER DESEMBER TOTAL
49 Realisasi pendapatan Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) pada Tahun 2015tidak dapat melampaui target yang ditetapkan sebesar Rp ,-. Dinas Pelayanan Pajak hanya dapat merealisasikan pendapatan PBB Rp ,- atau pencapaian kinerjanya hanya sebesar 92,66%. Raihan pendapatan tertinggi yaitu pada bulan September, di saat waktu jatuh tempo pembayaran PBB. Hal ini bisa diprediksi karena masyarakat cenderung membayar PBB-nya pada akhir jatuh tempo. Ketidaktercapaian target penerimaan PBB dikarenakan oleh: 1. Loket pembayaran PBB yang sangat terbatas, baik cara pembayarannya maupun lokasi-lokasi tempat pembayarannya; 2. Adanya wacana penghapusan PBB, yang menyebabkan WP menunda pembayarannya dan lebih memiih menunggu perkembangan dari wacana penghapusan PBB tersebut; 3. Adanya distorsi data dari hasil pemutakhiran data Tahun 2014, yang ternyata tidak sesuai dengan data dan fakta sebenarnya di lapangan. BPHTB Tabel 3.19 Realisasi Pendapatan BPHTB Tahun JENIS PAJAK REALISASI JANUARI FEBRUARI MARET APRIL MEI JUNI JULI AGUSTUS SEPTEMBER OKTOBER NOVEMBER DESEMBER TOTAL
50 Perolehan Pajak Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan pada tahun 2015 tidak mencapai target yang telah ditetapkan yaitu sebesar Rp ,- pencapaian realisasi hingga triwulan ke IV adalah sebesar Rp ,- atau sebesar 93,40%. Berikut ini alasan ketidaktercapaian target pendapatan BPHTB: 1. Pajak BPHTB merupakan penerimaan pajak hasil dari transaksi jual beli/transaksional properti yang dilakukan masyarakat yang tidak bisa diprediksi kejadiannya; 2. Harga transaski hanya Berdasarkan Pelaporan dari pihak Notaris, PPAT atau BPN. 3. Harga jual beli selama ini hanya berdasarkan pada harga NJOP tidak berdasarkan pada harga NOP. Tabel 3.20 Perbandingan Capaian Pendapatan Pajak Daerah Tahun 2015 dengan Tahun 2014 INDIKATOR KINERJA Jumlah Penerimaan pajak daerah : S A T U A N TAHUN 2015 TAHUN 2014 TARGET REALISASI CAPAIAN TARGET REALISASI CAPAIAN ,94% ,07% 1. Pajak Hotel ,80% ,90% 2. Pajak Restoran ,98% ,91% 3. Pajak Hiburan R ,08% ,07% 4. Pajak Parkir p ,45% ,65% 5. Pajak BPHTB ,40% ,81% 6. PPJ ,97% ,71% 7. Pajak Reklame 8. Pajak Air Tanah ,71% ,73% ,12% ,43% 9. PBB ,66% ,49% 46
51 Perbandingan Capaian Pendapatan Pajak Daerah Tahun 2015 dengan Tahun Realisasi Target Realisasi Target Dari hasil perbandingan realisasi penerimaan pajak daerah antara tahun 2014 dengan tahun 2015 maka dapat disimpulkan, capaian kinerja tahun 2015 ini masih berada dibawah capaian kinerja tahun Walaupun capaian kinerjanya tidak mencapai target yang ditetapkan, namun Dinas Pelayanan Pajak pada Tahun 2015 ini berhasil mencapai peningkatan realisasi penerimaan pajak daerah sebanyak 84 Milyar lebih tinggi dibandingkan realisasi penerimaan pajak daerah tahun INDIKATOR KINERJA Jumlah Penerimaan pajak daerah : S A T U A N Tabel 3.21 Perbandingan Capaian Pendapatan Pajak Daerah Tahun 2015 dengan Tahun 2018 TAHUN 2015 TAHUN 2018 TARGET REALISASI CAPAIAN TARGET REALISASI CAPAIAN ,94% ,22% 1. Pajak Hotel ,80% ,51% 2. Pajak Restoran ,98% ,68% 3. Pajak Hiburan 4. Pajak Parkir R p ,08% 67,45% ,99% 89,93% 5. Pajak BPHTB ,40% ,68% 6. PPJ ,97% ,62% 7. Pajak Reklame ,71% ,11% 8. Pajak Air Tanah ,12% ,25% 9. PBB ,66% ,91% 47
52 Dapat dijelaskan bahwa Dinas Pelayanan Pajak pada akhir tahun Renstra (Tahun 2018) menetapkan Target Pendapatan Pajak sebesar Rp ,-. Pencapaian kinerja di Tahun 2015 untuk sasaran pertama yaitu Meningkatnya Pendapatan Asli Daerah apabila dibandingkan dengan Target Kinerja di akhir Tahun 2018 telah mencapai 61,22%. Apabila dilihat dari semua jenis pajak hanya ada satu jenis pajak yang capaiannya masih berada di bawah 50% yaitu Pajak Reklame, seperti terlihat pada tabel 3.21 diatas. Dalam meraih target pendapatan pajak Tahun 2018 sebesar Rp ,- Dinas Pelayanan Pajak masih harus meningkatkan perolehan pendapatan pajaknya sebesar Rp ,-. Tabel di bawah ini akan menggambarkan beban target yang harus diemban oleh tiap mata pajak untuk mencapai target tahun 2018: 100% 90% 80% 70% 60% 50% 40% 30% 20% 10% 0% Perbandingan realisasi pendapatan Tahun 2015 dibandingkan dengan sisa target pendapatan Tahun 2018 Pajak Hotel Pajak Restoran Pajak Hiburan PPJ Pajak Parkir BPHTB Pajak Reklame Pajak Air Tanah Sisa Target 43,49% 30,32% 42,01% 10,07% 40,32% 35,38% 56,89% 32,75% 39,09% Tahun ,51% 69,68% 57,99% 89,93% 59,68% 64,62% 43,11% 67,25% 60,91% PBB Tahun 2015 Sisa Target Dalam rangka mencapai target sasaran yang telah ditetapkan Perjanjian Kinerja, maka Dinas Pelayanan Pajak telah melakukan langkahlangkah intensifikasi penerimaan pajak daerah, sebagai berikut: 1. Sosialisasi dan pendataan yang dilakukan oleh Unit Pelayanan Pajak (UPP) Disyanjak dalam menjaring pelaku usaha untuk mendaftarkan diri 48
53 menjadi wajib pajak daerah. Hal ini bertujuan untuk mendapatkan potensi yang hilang atas pajak daerah; 2. Membuat Surat Edaran yang ditandatangani oleh Walikota Bandung Nomor:973/SE.096-Disyanjak Tentang Pendaftaran Wajib Pajak Hotel, Restoran, Hiburan, dan Parkir se-kota Bandung. Sosialisasi ini dilakukan selama satu bulan, semenjak tanggal 07 September 2015 hingga tanggal 07 Oktober 2015; 3. Membentuk Tim Penertiban Pajak Daerah Kota Bandung Tahun 2015 yang diperkuat oleh Keputusan Walikota Bandung Nomor: 973/Kep.996- Disyanjak/2015 Tentang Tim Penertiban Pajak Daerah Kota Bandung Tahun Tim yang dibentuk ini dengan tujuan: a. Melaksanakan penertiban terhadap pengusaha yang belum mendaftarkan diri sebagai Wajib Pajak; b. Melaksanakan penertiban terhadap Wajib Pajak yang diduga telah melakukan pelanggaran pajak sesuai dengan ketentuan perundang undangan. Semenjak dibentuknya Tim Penertiban Pajak Daerah Kota Bandung, TP4D telah menertibkan 39 usaha perhotelan, restoran, parkir, yang belum mendaftarkan usahanya untuk menjadi objek pajak. Upaya penertiban yang dilakukan ialah dengan memasang media peringatan berupa penempelan stiker. 4.Penindakan terhadap wajib pajak yang menunggak pajaknya dan telah diberikan surat teguran I, II, dan III. Terhadap 199 penunggak wajib pajak Disyanjak telah melakukan proses penindakan kepada 134 wajib pajak atau sebesar 67%; 5. Membangun Sistem Pajak Online dengan Disyanjak Command Centre (DCC) sebagai sumber informasi terpadu Dinas Pelayanan Pajak, di dalamnya terdapat aplikasi yang langsung berinteraksi dengan masyarakat sebagai Wajib Pajak diantaranya adalah aplikasi PEPES (Pelayanan PBB Elektronik Sistem), dimana masyarakat dapat mengakses kebutuhan data mengenai besaran nilai pajak bumi dan bangunan 49
54 berdasarkan Nomor Objek Pajak (NOP),selain itu pemasangan Tapping Box pada wajib pajak self assesment sebagai alat pembanding dengan DSR (Daily Sales Report)/laporan bulanan yang harus dilaporkan oleh wajib pajak sebagai dasar pengenaan pajak daerah. Usaha intensifikasi di atas telah membuahkan hasil berupa masuknya wajib pajak baru sepanjang tahun 2015 sebanyak , yang terdiri dari: OBJEK PAJAK Tabel 3.22 Wajib Pajak Baru Tahun 2015 JUMLAH DIKUKUHKAN Jumlah Realisasi Pendapatan Pajak WP Baru HOTEL RESTORAN HIBURAN PARKIR PBB REKLAME PAT TOTAL WP BARU Penambahan wajib pajak baru yang terdaftar di tahun 2015 ini terdiri dari 7 mata pajak, dengan penambahan tertinggi dicapai oleh PBB yaitu sebanyak wajib pajak baru. Penambahan wajib pajak PBB ini disebabkan adanya kegiatan pemutakhiran basis data PBB untuk 5 wilayah UPP yang memungkinkan tersedianya data yang lebih akurat dari tiap objek pajak PBB. 50
55 Wajib Pajak Baru yang Terdaftar Tahun HOTEL RESTORAN HIBURAN PARKIR PBB REKLAME PAT Jumlah Realisasi Pendapatan Pajak WP Baru HOTEL RESTORAN HIBURAN PARKIR PBB REKLAME PAT Jumlah Realisasi Pendapatan Pajak WP Baru Penambahan wajib pajak baru tentunya memberikan kontribusi terhadap peningkatan pendapatan pajak tahun Hal ini dibuktikan 51
56 dari besarnya penerimaan pajak yang dihasilkan khusus dari wajib pajak baru mencapai 47,5 Milyar. Dapat dilihat dari grafik diatas bahwa untuk wajib pajak baru, peningkatan pendapatan tertinggi dihasilkan dari wajib pajak hotel yang memberikan kontribusi sebesar 13,8 Milyar. Sedangkan PBB walaupun penambahan wajib pajaknya tertinggi tetapi tidak menjamin memberikan kontribusi yang cukup besar bagi penerimaan pajak daerah. Apabila dilihat dari besarnya penerimaan pajak dari wajib pajak baru, tentunya jumlah yang dihasilkan belum maksimal dan tidak sebanding dengan penambahan target yang ditetapkan untuk tahun 2015 ini. Analisa ini dapat dilihat dari tabel dibawah ini: Tabel 3.23 Persentase Pengaruh Pendapatan Pajak WP Baru terhadap Target Pendapatan Pajak Tahun 2015 OBJEK PAJAK Target Pendapatan Pajak 2015 Kenaikan Target Pendapatan Pajak Jumlah Realisasi Pendapatan Pajak WP Baru % Pendapatan Pajak WP Baru Terhadap Kenaikan Target Pendapatan Pajak % Pendapatan Pajak WP Baru Terhadap Target Pendapatan Pajak HOTEL ,25% 5,33% RESTORAN ,79% 8,08% HIBURAN ,54% 3,39% PARKIR ,05% 9,63% PAT ,98% 1,65% REKLAME ,17% 49,90% PBB ,32% 1,66% JUMLAH ,02% 4,80% 52
57 Besarnya target pendapatan pajak untuk 7 mata pajak diatas sebesar 989,8 Milyar, kenaikan target tahun 2015 sebesar 176 Milyar dari target tahun 2014, sedangkan besarnya pendapatan pajak khusus dari wajib pajak baru sebesar 47,5 Milyar. Dari keterangan tersebut dapat dilihat bahwa penambahan wajib pajak baru hanya berkontribusi sebesar 4,80% dari target penerimaan pajak. Sedangkan bila penambahan wajib pajak ini dihubungkan dengan kenaikan target pendapatan, maka pengaruhnya sebesar 27,02%. Hal ini menggambarkan bahwa perlu dicari solusi dan strategi lain dalam rangka pencapaian target pendapatan. Tabel 3.24 Perbandingan Capaian Kinerja dengan Penyerapan Anggaran Indikator Kinerja Satu an Kinerja Anggaran Target Realisasi % Anggaran Penyerapan % Jumlah Penerimaan Pajak Daerah Rp ,94% ,80% Tingkat Efisiensi Capaian Kinerja 9,14% Untuk mencapai Target Penerimaan Pajak Daerah di tahun 2015, Dinas Pelayanan Pajak menyediakan 10 (sepuluh) Program Kegiatan, yaitu: 1. Intensifikasi dan ekstensifikasi sumber-sumber pendapatan daerah. 2. Peningkatan sumber pendapatan daerah dengan pengembangan sistem informasi manajemen. 3. Penyusunan data base pajak daerah. 4. Peningkatan penerimaan PBB melalui informasi teknologi. 5. Intensifikasi dan ekstensifikasi PBB. 6. Penyusunan evaluasi tahunan pendapatan. 7. Fasilitasi penyelesaian piutang pendaftaran. 8. Perencanaan Penerimaan Pajak Daerah dan Perubahannya 9. Penerapan NJOP Klasifikasi Bumi dan Bangunan setiap Kelurahan 10. Survei / Pendataan Potensi Penerimaan Pajak. 53
58 Program kegiatan tersebut secara keseluruhan memiliki anggaran sebesar Rp ,- dan Dinas Pelayanan Pajak hanya menyerap anggaran tersebut sebesar Rp ,- atau sekitar 83,80% dari total anggaran. Dari tabel diatas dapat digambarkan bahwa tingkat efisiensi anggaran dalam mencapai target sasaran yang telah ditetapkan adalah sebesar 9,14%. Hal ini dapat diartikan bahwa program kegiatan yang telah dilaksanakan tahun 2015 dapat menunjang / efektif dalam pencapaian sasaran pertama ini yaitu Tercapainya Target Penerimaan Pajak Daerah. II. Sasaran 2: MENINGKATNYA KESADARAN DAN KEPATUHAN MASYARAKAT MEMBAYAR PAJAK Mewujudkan tercapainya target penerimaan pajak daerah sebesar Rp ,- maka diperlukan peran serta semua pihak, termasuk juga peran serta masyarakat, khususnya wajib pajak daerah. Peran serta Wajib Pajak ini sangat berpengaruh terhadap perolehan penerimaan pajak, terutama bila didukung oleh tingkat kepatuhan Wajib Pajak tersebut dalam membayar pajak. Tingkat kepatuhan ini tidak hanya diukur dari jumlah wajib pajak yang membayar tetapi juga tingkat ketepatan waktu, dalam hal ini dapat terlihat dari pembayaran pajak yang tidak melebihi waktu jatuh tempo. Cara Pengukuran Indikator: % WP yang membayar pajak = Jumlah WP yang membayar pajak Total WP x 100% % WP yang membayar pajak tapat waktu = Jumlah WP yang membayar pajak tapat waktu x 100% Total WP yang membayar pajak 54
59 58,60 68,75 83,36 83,47 82,27 78,25 89,22 82,85 78,86 78,64 87,59 91,49 89,05 86,10 Dinas Pelayanan Pajak Kota Bandung Tabel 3.25 Capaian Target Sasaran 2 No. Indikator Kinerja Utama Satuan Tahun 2015 Target Realisasi % 1 Prosentase Wajib Pajak yang membayar Pajak Daerah % 83,00 77,09 92,88% 2 Prosentase Wajib Pajak yang membayar Pajak Daerah secara tepat waktu % 82,00 85,56 104,34% Rata-rata Capaian Sasaran 98,61% Kinerja Capaian Sasaran Tidak tercapai Tahun 2015 Dinas Pelayanan Pajak tidak berhasil merealisasikan target kepatuhan masyarakat dalam membayar pajak, hal ini dapat terlihat dari indikator pertama yaitu prosentase wajib pajak yang membayar pajak daerah sebesar 77,09%, sedangkan untuk persentase wajib pajak yang membayar secara tepat waktu hanya sebesar 85,56%. Tingkat ketaatan pajak pada tabel diatas merupakan perhitungan dari 7 (tujuh) mata pajak, dimana BPHTB dan Pajak Penerangan Jalan Umum (PPJ) tidak termasuk dalam perhitungan kepatuhan wajib pajak karena cara pembayaran BPHTB tidak ditentukan oleh tanggal jatuh tempo, seperti yang dapat kami gambarkan dalam diagram tingkat kepatuhan wajib pajak per mata pajaknya di bawah ini: TINGKAT KEPATUHAN WAJIB PAJAK PER MATA PAJAK WP Patuh (Tepat Waktu) WP Bayar H O T E L R E S T O R A N H I B U R A N P A R K I R P A T R E K L A M E P B B 55
60 63,13 58,57 58,6 69,91 68,75 87,40 83,47 77,5 83,36 92,48 78,25 76,37 82,27 83,97 82,85 76,63 89,22 89,45 78,64 78,86 82,89 87,59 91,54 89,05 99,13 91,49 90,65 86,1 Dinas Pelayanan Pajak Kota Bandung Tabel 3.26 Perbandingan Capaian Kinerja Tahun 2014 dengan Tahun 2015 No. Indikator Kinerja Utama Satuan Realisasi % 1 Prosentase Wajib Pajak yang taat membayar Pajak Daerah. % 81,90 77,09-4,81 2 Prosentase Wajib Pajak yang membayar Pajak Daerah secara tepat waktu. % 80,90 85,56 4,66 Ketaatan Wajib pajak dalam membayar pajak pada Tahun 2014 sebesar 81,90%, sedangkan untuk Tahun 2015 berkurang menjadi 77,09% atau mengalami penurunan sebesar 4,81%. Sedangkan persentase Wajib Pajak yang membayar Pajak Daerah secara tepat waktu mengalami kenaikan dari Tahun 2014 yang hanya semula sebesar 80,90% menjadi 85,56% atau mengalami kenaikan sebesar 4,66%. Berikut ini ditampilkan perbandingan ketaatan wajib pajak antara Tahun 2013 dengan 2014 per mata pajaknya. Perbandingan ketaatan wajib pajak tahun HOTEL RESTORAN HIBURAN PARKIR PAT REKLAME PBB WP Bayar 2014 WP Bayar 2015 WP Tepat Waktu 2014 WP Tepat Waktu
61 Tabel 3.27 Perbandingan Capaian Kinerja Tahun 2015 dengan Tahun 2018 No. Indikator Sasaran Satuan Realisasi Tahun 2015 Rencana sesuai dengan Renstra Tahun 2018 Persentase Capaian Kinerja 1 2 Prosentase Wajib Pajak yang taat membayar Pajak Daerah. Prosentase Wajib Pajak yang membayar Pajak Daerah secara tepat waktu. % 77, ,64% % 85, ,66% Indikator Kinerja Prosentase Wajib Pajak yang taat membayar Pajak Daerah. Prosentase Wajib Pajak yang membayar Pajak Daerah secara tepat waktu. Tabel 3.28 Perbandingan Capaian Kinerja dengan Penyerapan Anggaran Satuan Kinerja Anggaran Target Realisasi % Anggaran Penyerapan % % 83,00 77,09 93% % 82,00 85,56 104% ,58% Tingkat efisiensi capaian sasaran 16,03% Tahun 2015 penyerapan anggaran untuk menunjang Sasaran Meningkatnya kesadaran dan kepatuhan masyarakat membayar pajak mencapai 82,58%. Apabila dibandingkan dengan capaian kinerja sebesar 98,61%, maka tingkat efisiensi anggaran sebesar 22,28%. Program Kegiatan yang telah dilaksanakan untuk menunjang sasaran ini diantaranya adalah: 1. Penyuluhan Tertib Administrasi Pajak Daerah. 2. Monitoring dan Penyelesaian Tindak Lanjut Temuan Hasil Pemeriksaan Pajak. Program kegiatan yang telah dijalankan pada tahun 2015 ini dapat dikatakan menunjang target sasaran yang telah ditetapkan. Oleh karena itu program kegiatan ini direkomendasikan untuk dijalankan pada tahun yang 57
62 akan datang untuk menunjang sasaran yang akan ditetapkan tahun selanjutnya. III. Sasaran 3: INSENTIF (PENGURANGAN) PAJAK BAGI WAJIB PAJAK KATEGORI TERTENTU SESUAI DENGAN PERUNDANGAN YANG BERLAKU SEBAGAI BENTUK PENGHARGAAN. Dalam kerangka menjalankan amanah RPJMD Kota Bandung Tahun , terdapat indikator jumlah kelompok sasaran/jenis yang mendapatkan insentif pajak. Guna melegalisasi kepentingan tersebut, Dinas Pelayanan Pajak Kota Bandung mengeluarkan kebijakan dalam bentuk Peraturan Walikota (Perwal) Bandung Nomor 1331 Tahun 2014 tentang Perubahan ketiga atas Peraturan Walikota Nomor 887 Tahun 2012 tentang Petunjuk Teknis dan Tata Cara Pemungutan Pajak Bumi dan Bangunan pada pasal 27 Ayat 4 huruf a,b,dan c mengenai pemberian insentif pajak/pengurangan atau Pembebasan PBB. Tabel 3.29 Capaian Target Sasaran 3 No. Indikator Kinerja Utama Satuan Tahun 2014 Target Realis as i % 1 Jumlah kelompok sasaran yang mendapatkan ins entif pajak Jumlah ,31% Kinerja Capaian Sas aran Tidak Tercapai Tahun 2015 Dinas Pelayanan Pajak Kota Bandung tidak dapat merealisasikan target sasaran Insentif (pengurangan) pajak bagi wajib pajak kategori tertentu sesuai dengan perundangan yang berlaku sebagai bentuk penghargaan, dimana pemberian insentif pajak pada kelompok sasaran tertentu dimungkinkan apabila ada permohonan dari masyarakat / wajib pajak, namun hingga akhir tahun tidak ada permohonan penambahan 58
63 kelompok sasaran. Selain itu kebijakan yang mengatur tentang insentif pajak yaitu Peraturan Walikota Bandung Nomor 1331 Tahun 2014 tentang Perubahan ketiga atas Peraturan Walikota Nomor 887 Tahun 2012 tentang Petunjuk Teknis dan Tata Cara Pemungutan Pajak Bumi dan Bangunan, masih dapat mengakomodir terpenuhinya aspek keadilan dan kemampuan masyarakat dalam pengenaan pajak daerah. Dengan beban target yang terus meningkat di Tahun 2015 ini, serta adanya penambahan insentif pajak justru akan menurunkan penerimaan pajak daerah, sehingga Dinas Pelayanan Pajak lebih fokus dalam pemenuhan target pendapatan pajak daerah. Jumlah kelompok sasaran yang mendapatkan insentif pajak berdasarkan kepada Peraturan Walikota (Perwal) Bandung Nomor 1331 Tahun 2014 tentang Perubahan ketiga atas Peraturan Walikota Nomor 887 Tahun 2012 tentang Petunjuk Teknis dan Tata Cara Pemungutan Pajak Bumi dan Bangunan pada pasal 27 Ayat 4 huruf a,b,dan c mengenai pemberian insentif pajak/pengurangan atau Pembebasan PBB, ada 12 kelompok sasaran yang mendapat insentif pajak/pengurangan pajak adalah sebagai berikut: 1) Objek Pajak yang dimiliki, dikuasai dan/atau pemanfaatan/dimanfaatkan oleh Wajib Pajak Pensiunan PNS, TNI/Polri; 2) Objek Pajak yang dimiliki, dikuasai dan/atau pemanfaatan/dimanfaatkan oleh Wajib Pajak Pensiunan BUMN; 3) Objek Pajak yang dimiliki, dikuasai dan/atau pemanfaatan/dimanfaatkan oleh Wajib Pajak yang berpenghasilan rendah; 4) Objek Pajak yang dimiliki, dikuasai dan/atau pemanfaatan/dimanfaatkan oleh Wajib Pajak orang pribadi veteran, pejuang kemerdekaan dan veteran pembela kemerdekaan, termasuk janda/dudanya; 5) Objek Pajak yang dimiliki, dikuasai dan/atau 59
64 pemanfaatan/dimanfaatkan oleh Wajib Pajak orang pribadi tokoh pejuang sosial; 6) Objek Pajak yang mempunyai fungsi pelestarian lingkungan; 7) Objek Pajak yang mempunyai fungsi bangunan yang termasuk cagar budaya yang ditetapkan oleh Walikota, antara lain : a) bangunan cagar budaya kelas A diberikan pengurangan 35% dari besarnya pajak terutang; b) bangunan cagar budaya kelas B diberikan pengurangan 30% dari besarnya pajak terutang; c) bangunan cagar budaya kelas C diberikan pengurangan 25% dari besarnya pajak terutang 8) Objek Pajak yang terkena bencana alam; 9) Wajib Pajak badan yang mengalami kerugian dan kesulitan likuiditas pada tahun sebelumnya; 10) Objek pajak yang dimiliki, dikuasai dan/atau dimanfaatkan oleh wajib pajak yang berbadan hukum yang mengupayakan kantor plastik atau kantong alternatif lain yang ramah lingkungan; 11) Objek Pajak perguruan tinggi swasta; 12) Objek Pajak Rumah Sakit Swasta; Tahun 2015 Dinas Pelayanan Pajak memberikan Insentif (Pengurangan) Pajak kepada 4493 objek pajak PBB, yang terdiri dari: 1. Objek Pajak yang dimiliki, dikuasai dan/atau pemanfaatan/dimanfaatkan oleh Wajib Pajak Pensiunan PNS, TNI/Polri, sebanyak Objek Pajak yang dimiliki, dikuasai dan/atau pemanfaatan/dimanfaatkan oleh Wajib Pajak yang berpenghasilan rendah, sebanyak Objek Pajak yang dimiliki, dikuasai dan/atau pemanfaatan/dimanfaatkan oleh Wajib Pajak orang pribadi veteran, pejuang kemerdekaan dan veteran pembela kemerdekaan, termasuk 60
65 janda/duda, sebanyak Objek Pajak yang mempunyai fungsi pelestarian lingkungan, sebanyak Objek Pajak perguruan tinggi swasta, sebanyak Objek Pajak Rumah Sakit Swasta, sebanyak 3. Kelompok Masyarakat yang Mendapatkan Insentif Pajak 12,80% 0,20% 10,48% 76,52% Pensiunan Berpenghasilan Rendah Veteran Lainnya Pemberian insentif PBB ini didasarkan kepada syarat-syarat yang diberlakukan pada tiap kelompok sasaran tersebut. Adanya sosialisasi tentang Insentif Pajak pada operasi terpadu yang dilaksanakan oleh Bidang Pajak Penetapan, memberikan informasi kepada masyarakat tentang adanya keringanan jumlah PBB terutang yang dibebankan kepada kelompok masyarakat tertentu. 1 Tabel 3.30 Perbandingan Realisasi Tahun No. Indikator Kinerja Satuan Jumlah kelompok sasaran yang mendapatkan insentif pajak Realisasi Kenaikan / Pengurangan % 12,00 12,00 0,00 Pada Tahun 2014, Dinas Pelayanan Pajak merumuskan dan mengusulkan pemberian insentif atau disinsentif pajak daerah sebagai bahan penyusunan Perwal tentang Petunjuk Teknis dan Tata Cara 61
66 Pemungutan Pajak Bumi dan Bangunan. Tabel 3.31 Perbandingan Capaian Indikator dibandingkan dengan Target Tahun 2018 No. Indikator Sasaran Satuan Realisasi Tahun 2015 Rencana sesuai dengan Renstra Tahun 2018 Persentase Capaian Kinerja 1 Jumlah kelompok sasaran yang mendapatkan ins entif pajak Jumlah Kelompok Sas aran ,00% Untuk akhir tahun Renstra (Tahun 2018), Dinas Pelayanan Pajak menargetkan akan memberikan Insentif pajak kepada 15 kelompok sasaran, terutama kepada Wajib Pajak PBB. Insentif pajak yang diberikan ini sebagai upaya Dinas Pelayanan Pajak Kota Bandung dalam memenuhi aspek keadilan sebagai syarat yang diterapkan dalam Undang-Undang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah. Tabel 3.32 Tingkat Efisiensi Anggaran Indikator Kinerja Jumlah kelompok sasaran yang mendapatkan insentif pajak Satuan Jumlah kelompok sasaran Kinerja Anggaran Target Realisasi % Anggaran Penyerapan % ,31% ,27% Tingkat efisiensi anggaran 8,04% Untuk melaksanakan sasaran ke-3 yaitu Insentif (pengurangan) pajak bagi wajib pajak kategori tertentu sesuai dengan perundangan yang berlaku sebagai bentuk penghargaan, Dinas Pelayanan Pajak telah menganggarkan Rp ,-. Untuk kegiatan penyusunan rancangan peraturan daerah tentang pajak daerah dan restribusi dan hanya diserap Rp ,- atau sebesar 84,27%, dengan tingkat efisiensi 8,04%. 62
67 IV. Sasaran 4: TERWUJUDNYA PENINGKATAN KUALITAS PELAYANAN PUBLIK Pelayanan publik oleh aparatur pemerintah dewasa ini masih banyak dijumpai kelemahan sehingga belum dapat memenuhi kualitas yang diharapkan masyarakat. Hal ini ditandai dengan masih adanya berbagai keluhan masyarakat yang disampaikan melalui media masa, sehingga dapat menimbulkan citra yang kurang baik terhadap aparatur pemerintah. Mengingat fungsi utama pemerintah adalah melayani masyarakat maka pemerintah perlu terus berupaya meningkatkan kualitas pelayanan. Tersedianya data IKM secara periodik ini, dapat mengetahui kelemahan atau kekurangan serta kinerja penyelenggaraan pelayanan sebagai bahan evaluasi, sehingga dapat membuat kebijakan yang perlu diambil dan upaya meningkatkan kinerja pelayanan. Dalam penyusunan IKM, digunakan kuesioner sebagai alat bantu pengumpulan data kepuasan masyarakat penerima pelayanan. Berdasarkan Keputusan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara Nomor: KEP/25/M.PAN/2004 tentang Pedomoan Umum Penyusunan Indeks Kepuasan Masyarakat Unit Pelayanan Instansi Pemerintah, maka dikembangkan menjadi 14 unsur pelayanan dalam pengukuran indeks kepuasan masyarakat. Salah satu arah Dinas Pelayanan Pajak dalam memanfaatkan peluang dan menghadapi tantangan yang dihadapi dalam masa lima tahun mendatang adalah meningkatkan kepuasan wajib pajak, maka peningkatan mutu pelayanan menjadi salah satu tolok ukur keberhasilan kinerja Dinas Pelayanan Pajak. Untuk Triwulan II Tahun 2015 ini, Disyanjak menetapkan target 73,5 untuk IKM bidang pelayanan pajak daerah, dengan sasaran terwujudnya peningkatan kualitas pelayanan publik. Dari hasil pengukuran IKM, maka diperoleh skala nilai dan skor nilai sebagai berikut: 63
68 Nilai Nilai Nilai Interval Mutu Persepsi Interval Konversi IKM Pelayanan Kinerja Unit 1 1,00 1,75 25,00 43,75 D Tidak Baik 2 1,76 2,50 43,76 62,50 C Kurang Baik 3 2,51 3,25 62,51 81,25 B Baik 4 3,26 4,00 81,26 100,00 A Sangat Baik Dalam penyusunan IKM, digunakan kuesioner sebagai alat bantu pengumpulan data kepuasan masyarakat penerima pelayanan. Berdasarkan Keputusan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara Nomor: 25/KEP/M.PAN/2004 tentang Pedomoan Umum Penyusunan Indeks Kepuasan Masyarakat Unit Pelayanan Instansi Pemerintah, maka dikembangkan menjadi 14 unsur pelayanan dalam pengukuran indeks kepuasan masyarakat beserta nilai bobot rata-rata seperti terdapat dalam tabel di bawah ini. NO Tabel 3.33 Skor Nilai Unsur Pelayanan UNSUR PELAYANAN bobot rata-rata 1 Prosedur pelayanan Persyaratan pelayanan Kejelasan petugas pelayanan Kedisiplinan petugas pelayanan Tanggungjawab petugas pelayanan Kemampuan petugas pelayanan Kecepatan pelayanan Keadilan mendapatkan pelayanan Kesopanan dan keramahan petugas Kewajaran biaya pelayanan Kepastian biaya pelayanan Kepastian jadwal pelayanan Kenyamanan lingkungan Keamanan pelayanan
69 Tabel 3.34 Perbandingan Capaian Target Sasaran 4 No Indikator Kinerja Satuan 1 IKM bidang pelayanan pajak daerah Tahun 2015 Target Realisasi Nilai 75,5 80,04 106,01% % Nilai Indeks Kepuasan Masyarakat pada semester ke-ii ini mendapatkan nilai 80,04, berhasil melewati target yang telah ditetapkan sebesar 75,50. Hasil IKM ini berasal dari nilai IKM 2 (dua) kantor Dinas Pelayanan Pajak yang berlokasi di Jl. Wastukencana untuk Bidang Pajak Pendafataran dan Jl. Cianjur untuk Bidang Pajak Penetapan. Hasil dari pengukuran Indeks Kepuasan Masyarakat dalam dua semester dapat kami sajikan sebagai berikut : NO Tabel 3.35 Indeks Kepuasan Masyarakat Terhadap Pelayanan Kantor Dinas Pelayanan Pajak Jl. Wastukencana Kota Bandung UNSUR PELAYANAN bobot ratarata Semester 1 Semester 2 NILAI UNSUR PELAYANAN NILAI NILAI UNSUR PELAYANAN 1 Prosedur pelayanan Persyaratan pelayanan Kejelasan petugas pelayanan Kedisiplinan petugas pelayanan Tanggungjawab petugas pelayanan Kemampuan petugas pelayanan Kecepatan pelayanan Keadilan mendapatkan pelayanan Kesopanan dan keramahan petugas Kewajaran biaya pelayanan Kepastian biaya pelayanan Kepastian jadwal pelayanan Kenyamanan lingkungan Keamanan pelayanan TOTAL NILAI BOBOT NILAI DASAR NILAI IKM SETELAH DIKONVERSI MUTU PELAYANAN B B KINERJA PELAYANAN DISYANJAK JL WASTUKENCANA BAIK BAIK NILAI 65
70 Pengukuran IKM pada Kantor Bidang Pajak Pendaftaran Jl.Wastukencana dalam dua semester pada tahun 2015 menunjukkan mutu pelayanan yang meningkat dimana pada semester satu nilai IKM yang diperoleh sebesar 78,475 dan pada semester dua meningkat menjadi 79,307, nilai IKM tersebut bila di konversikan dengan nilai mutu pelayanan berhak memperoleh nilai B atau masuk kategori Baik. Sementara Pengukuran IKM pada Kantor Bidang Pajak Penetapan Jl. Cianjur dalam dua semester ini memiliki kecenderungan kenaikan mutu pelayanan yang ditunjukkan dengan meningkatnya perolehan nilai IKM dari semester dua dibandingkan pada semester satu, dimana nilai IKM pada semester satu sebesar 75,057 sedangkan pada semester dua meningkat sebesar 5,741 Point menjadi 80,798. Nilai IKM tersebut bila di konversikan dengan nilai mutu pelayanan adalah B atau masuk ke dalam kategori Baik. Seperti terlihat pada tabel dibawah ini. Tabel 3.36 Indeks Kepuasan Masyarakat Terhadap Pelayanan Kantor Dinas Pelayanan Pajak Jl. Cianjur Kota Bandung bobot Semester 1 Semester 2 NO UNSUR PELAYANAN ratarata NILAI UNSUR NILAI UNSUR NILAI NILAI PELAYANAN PELAYANAN 1 Prosedur pelayanan Persyaratan pelayanan Kejelasan petugas pelayanan Kedisiplinan petugas pelayanan Tanggungjawab petugas pelayanan Kemampuan petugas pelayanan Kecepatan pelayanan Keadilan mendapatkan pelayanan Kesopanan dan keramahan petugas Kewajaran biaya pelayanan Kepastian biaya pelayanan Kepastian jadwal pelayanan Kenyamanan lingkungan Keamanan pelayanan TOTAL NILAI BOBOT NILAI DASAR NILAI IKM SETELAH DIKONVERSI MUTU PELAYANAN B B KINERJA PELAYANAN DISYANJAK JL CIANJUR BAIK BAIK 66
71 Apabila kita perbandingkan pada dua kantor pelayanan yang dimiliki oleh Dinas Pelayanan Pajak Kota Bandung, jika di rata-ratakan secara kumulatif nilai mutu pelayanannya selama tahun 2015, maka dapat disimpulkan kantor pelayanan Bidang Pajak Pendaftaran yang berlokasi di Jl. Wastukencana memberikan pelayanan yang lebih baik daripada kantor pelayanan Bidang Pajak Penetapan yang berlokasi di Jl. Cianjur sesuai dengan asumsi masyarakat yang di representasikan dengan nilai mutu pelayanan yang di dapat melalui survey Indeks Kepuasan Masyarakat dengan nilai akumulasi sebesar 78,9 berbanding 77,9, atau memiliki selisih sebesar 1.00 point seperti terlihat pada tabel berikut : Tabel 3.37 Perbandingan Indeks Kepuasan Masyarakat antara Kantor Pelayanan Jl. Wastukencana dan Jl. Cianjur NO UNSUR PELAYANAN bobot ratarata Jl. Wastukencana NILAI UNSUR PELAYANAN NILAI Jl. Cianjur NILAI UNSUR PELAYANAN NILAI 1 Prosedur pelayanan Persyaratan pelayanan Kejelasan petugas pelayanan Kedisiplinan petugas pelayanan Tanggungjawab petugas pelayanan Kemampuan petugas pelayanan Kecepatan pelayanan Keadilan mendapatkan pelayanan Kesopanan dan keramahan petugas Kewajaran biaya pelayanan Kepastian biaya pelayanan Kepastian jadwal pelayanan Kenyamanan lingkungan Keamanan pelayanan TOTAL NILAI BOBOT NILAI DASAR NILAI IKM SETELAH DIKONVERSI
72 Secara keseluruhan Dinas Pelayanan Pajak pada tahun 2015, untuk nilai Indeks Kepuasan Masyarakat dalam hal ini kepuasan Wajib Pajak Daerah Kota Bandung terdapat peningkatan yang sangat signifikan dari semester satu sebesar Menjadi pada semester dua, atau meningkat 3,3 point, seperti terlihat pada tabel Dibawah ini; Tabel 3.38 Perbandingan Indeks Kepuasan Masyarakat Semester 1 dan Semester 2 Dinas Pelayanan Pajak Kota Bandung Tahun 2015 Semester I Semester II bobot NO UNSUR PELAYANAN ratarata UNSUR NILAI UNSUR NILAI NILAI NILAI PELAYANAN PELAYANAN 1 Prosedur pelayanan Persyaratan pelayanan Kejelasan petugas pelayanan Kedisiplinan petugas pelayanan Tanggungjawab petugas pelayanan Kemampuan petugas pelayanan Kecepatan pelayanan Keadilan mendapatkan pelayanan Kesopanan dan keramahan petugas Kewajaran biaya pelayanan Kepastian biaya pelayanan Kepastian jadwal pelayanan Kenyamanan lingkungan Keamanan pelayanan TOTAL NILAI BOBOT NILAI DASAR NILAI IKM SETELAH DIKONVERSI MUTU PELAYANAN B B KINERJA PELAYANAN DISYANJAK JL CIANJUR BAIK BAIK Dengan perolehan nilai mutu pelayanan sebesar maka apabila dikonversikan sesuai dengan Keputusan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara Nomor: 25/Kep/M.Pan/2/2004 Tentang Pedoman Umum Penyusunan Indeks Kepuasan Masyarakat, maka Dinas Pelayanan Pajak memperoleh nilai mutu pelayanan B atau apabila dikonversi pada capaian kinerja pelayanan berada pada tataran BAIK. 68
73 Hasil dari empat belas unsur pelayanan terdapat tiga unsur pelayanan yang mengalami lonjakan kenaikan nilai mutu pelayanan, yaitu: 1. Kecepatan Pelayanan; 2. Kejelasan petugas pelayanan; 3. Kepastian biaya pelayanan. Dengan nilai kenaikan yang paling besar adalah unsur kecepatan pelayanan dengan kenaikan sebesar point serta berturut-turut kemudian adalah unsur kejelasan petugas pelayanan dengan point dan unsur kepastian biaya pelayanan dengan point. Terjadinya kenaikan tersebut dikarenakan adanya kegiatan bimbingan teknis mengenai dasar-dasar pelayanan yang dilaksanakan oleh Dinas Pelayanan Pajak pada tahun 2015 sebagai salah satu upaya dalam peningkatan pelayanan terhadap wajib pajak daerah.namun demikian apabila kita perhatikan ada beberapa unsur pelayanan yang mengalami penurunan nilai mutu pelayanannya yaitu: 1. Prosedur Pelayanan; 2. Keadilan mendapatkan pelayanan; 3. Kewajaran biaya pelayanan. Dengan nilai penurunan yang paling besar adalah unsur kewajaran biaya pelayanan sebesar 0,023 point dan kemudian secara berurutan unsur prosedur pelayanan dengan point dan unsur keadilan mendapatkan pelayanan sebesar point. Ada beberapa hal yang perlu dicermati berkaitan dengan penurunan nilai mutu pelayanan yang terjadi pada semester dua ini antara lain : 1. Perlu adanya penjelasan lebih lanjut mengenai prosedur pelayanan seperti apa yang mengalami penurunan nilai mutu pelayanan dimana disisi lainnya terjadi peningkatan nilai mutu untuk unsur kecepatan dan kejelasan petugas pelayanan dalam melayani wajib pajak daerah yang diselenggarakan oleh Dinas Pelayanan Pajak Kota Bandung dimana tentunya kedua unsur tersebut merupakan bagian dari prosedur 69
74 pelayanan yang telah ditetapkan dalam Standar Operasional Prosedur Dinas Pelayanan Pajak Kota Bandung. Tetapi bagaimanapun juga sebagai bahan evaluasi, maka tidak ada salahnya bagi Dinas pelayanan Pajak Kota Bandung untuk melakukan peninjauan kembali mengenai Standar Operasional Prosedur pelayanan terhadap wajib pajak pada bidang pajak pendaftaran dan bidang pajak penetapan, dimana ada wajib pajak merasa kurang puas terhadap prosedur pelayanan yang diberikan oleh petugas di Dinas Pelayanan Pajak Kota Bandung; 2. Demikian pula halnya dengan unsur kewajaran biaya pelayanan yang diselenggarakan oleh Dinas Pelayanan Pajak Kota Bandung, dimana di sisi lain wajib pajak merasakan kepuasan dalam informasi mengenai kepastian biaya pelayanan yang mana biasanya ketika wajib pajak merasa puas atas informasi kepastian biaya pelayanan maka dengan sendirinya mereka pun akan merasa puas dengan kewajaran biaya pelayanan yang diselenggarakan oleh Dinas Pelayanan Pajak Kota Bandung, sehingga penurunan nilai unsur kewajaran biaya pelayanan perlu di telaah lebih lanjut, apakah ini merupakan kasus insidentil atau memang terdapat adanya ketidakwajaran atas biaya pelayanan secara menyeluruh yang ditetapkan oleh Dinas Pelayanan Pajak Kota Bandung; 3. Mengenai unsur keadilan mendapatkan pelayanan, perlu pula dilakukan telaahan lebih lanjut mengenai bentuk ketidakadilan yang seperti apakah yang dirasakan oleh wajib pajak dalam pelayanan yang diperoleh dari petugas pelayanan Dinas Pelayanan Pajak Kota Bandung, apabila dilihat dari segi sarana prasarana Dinas Pelayanan Pajak telah menyediakan nomor antrian dengan fasilitas di dalamnya terdapat petunjuk kejelasan keperluan wajib pajak yang dapat dilayani oleh Dinas Pelayanan Pajak Kota Bandung. Namun demikian dapat dimaklumi apabila wajib pajak merasa kurang mendapatkan keadilan dalam mendapatkan pelayanan ketika masuk pada masa jatuh tempo, yaitu setiap tanggal lima belas setiap bulannya dimana kebanyakan ataupun kebiasaan dari wajib pajak untuk membayar pajak daerah pada masa jatuh tempo tersebut sehingga 70
75 terjadi penumpukan atau membludaknya wajib pajak yang akan membayar pajak daerah. Untuk menghindari terjadinya penumpukan atau membludaknya wajib pajak yang akan membayar pajak, maka Dinas Pelayanan Pajak secara terus menerus diupayakan untuk melakukan sosialisasi maupun himbauan kepada para wajib pajak untuk melakukan pembayaran sebelum tanggal jatuh tempo, dan juga perlu adanya konsep baru guna meminimalisir penumpukan pembayaran wajib pajak dengan membuka titik-titik pembayaran yang tersebar secara luas se Kota Bandung sehingga wajib pajak tidak perlu lagi datang ke kantor pelayanan Dinas pelayanan Pajak hanya untuk membayar pajak daerah, dan perlu juga dikembangkan kemudahan pembayaran pajak bagi wajib pajak daerah untuk membayar pajak dari rumah maupun kantor yang bersangkutan dengan memanfaatkan teknologi informasi yang secara bertahap dilakukan dan disediakan oleh Dinas Pelayanan Pajak dalam rangka memudahkan wajib pajak membayar pajak sesuai dengan moto Dinas Pelayanan Pajak Kota Bandung Bayar Pajak Mudah. Tabel 3.39 Perbandingan Capaian Kinerja Tahun 2014 dengan Tahun 2018 Tahun 2015 Tahun 2018 No Indikator Kinerja Satuan % Target Realisasi Target Realisasi % 1 IKM pelayanan daerah bidang pajak Nilai 75,5 80,04 106,01% 87,5 80,04 91,47% Dalam mengukur IKM pada Triwulan II Tahun 2015, Dinas Pelayanan Pajak mendapatkan hasil IKM 80,04. Untuk memperoleh taget nilai Tahun 2018 sebesar 87,5, maka diperlukan tambahan nilai sebanyak 7,46 poin. Untuk mencapai target IKM pada Tahun 2018, maka dibutuhkan kenaikan nilai IKM sebesar 2,49 per tahunnya. 71
76 Tabel Perbandingan Capaian Kinerja dengan Penyerapan Anggaran Indikator Kinerja Satuan Kinerja Anggaran Target Realisasi % Anggaran Penyerapan % IKM Bidang Pelayanan Pajak Daerah Nilai 75,50 80,04 106,01% ,70% Efisiensi Anggaran Capaian Sasaran 54,31% Dinas Pelayanan Pajak Kota Bandung dalam merealisasikan target sasaran ke-4 ini mendapat dukungan dari Program Perencanaan dan Pengembanngan Pengelolaan Pajak Daerah dengan Kegiatan Analisa dan Evaluasi Pemungutan Pajak Daerah / Survei Kepuasan WP atas Pelayanan Pajak, dengan anggaran sebesar Rp ,-. Jumlah anggaran program ini hanya dapat terserap Rp ,- atau sebesar 51,70%. Apabila dihubungkan dengan anggaran sebagai sarana untuk mencapai sasaran, maka program ini berhasil mencapai tingkat efisiensi sebesar 54,31%. V. Sasaran 5: MENINGKATNYA KAPASITAS DAN AKUNTABILITAS KINERJA INSTANSI PEMERINTAHAN (BIROKRASI) Sistem manajemen pemerintahan yang berfokus pada peningkatan akuntabilitas dan sekaligus peningkatan kinerja yang berorientasi pada hasil (outcome) dikenal sebagai Sistem Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (Sistem AKIP). Sistem AKIP diimplementasikan secara self assesment oleh masing-masing instansi pemerintah, ini berarti instansi pemerintah secara mandiri merencanakan, melaksanakan, mengukur, dan memantau kinerja serta melaporkannya kepada instansi yang lebih tinggi. Untuk mengetahui sejauh mana instansi pemerintah melaksanakan dan memperhatikan kinerjanya, serta sekaligus untuk mendorong adanya peningkatan kinerja instansi pemerintah, maka perlu dilakukan suatu 72
77 pemeringkatan atas hasil evaluasi akuntabilitas kinerja tersebut. Pemeringkatan ini diharapkan dapat mendorong instansi pemerintah di pusat dan daerah untuk secara konsisten meningkatkan akuntabilitas kinerjanya dan mewujudkan capaian kinerja organisasinya sesuai yang diamanahkan dalam RPJM Nasional / RPJM Daerah. Di dalam misi ke-2 RPJMD Kota Bandung yaitu Menghadirkan tata kelola pemerintahan yang efektif, bersih, dan melayani dengan tujuan Terlaksananya Reformasi Birokrasi, memuat Sasaran Meningkatnya Kapasitas dan Akuntabilitas Kinerja Birokrasi. Dinas Pelayanan Pajak Kota Bandung sebagai SKPD yang berada di dalam Pemerintahan Kota Bandung, tentunya memberikan peranan agar target kinerja tersebut dapat tercapai. Oleh karena itu di Tahun 2015 ini Dinas Pelayanan Pajak menargetkan nilai 65 untuk hasil evaluasi atas Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (AKIP). Untuk melihat peningkatan kapasitas dan akuntabilitas kinerja instansi pemerintahan (birokrasi), Dinas Pelayanan Pajak menggunakan 2 (dua) indikator kinerja yaitu: 1. Prosentase temuan BPK / Inspektorat yang ditindaklanjuti. 2. Nilai hasil evaluasi AKIP SKPD oleh Kemenpan RB / Inspektorat. Indikator 1: Prosentase Temuan BPK / Inspektorat yang ditindaklanjuti. Berikut ini cara pengukuran dari 2 (dua) indikator kinerja tersebut: % temuan BPK/Inspektorat yang ditindaklanjuti = Jumlah temuan BPK/Inspektorat yang ditindaklanjuti Total temuan BPK/Inspektorat X 100% Dalam penilaian AKIP SKPD, Inspektorat melakukan evaluasi atas AKIP pada Dinas Pelayanan Pajak Kota Bandung. Sebagai pedoman Evaluasi maka Inspektorat masih menggunakan dasar Peraturan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2013 Tentang Perubahan Lampiran Peraturan 73
78 Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Nomor 25 Tahun 2012 Tentang Petunjuk Pelaksanaan Evaluasi Akhuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah. Evaluasi dilaksanakan terhadap 4 (empat) komponen besar manajemen kinerja, yang meliputi: Perencanaan Kinerja, Pengukuran Kinerja, Pelaporan Kinerja, dan Pencapaian Sasaran / Kinerja Organisasi. Hasil evaluasi yang dituangkan dalam bentuk nilai dengan kisaran mulai dari 0 s.d 100. Nilai hasil akhir dari penjumlahan komponenkomponen akan dipergunakan untuk menentukan tingkat akuntabilitas Dinas Pelayanan Pajak terhadap kinerjanya, dengan kategori sebagai berikut: No Kategori Nilai Angka Interprestasi 1 AA > Memuaskan 2 A >75 85 Sangat Baik 3 B >65 75 Baik, perlu sedikit perbaikan. 4 CC >50 65 Cukup (Memadai), perlu banyak perbaikan yang tidak mendasar. 5 C >30-50 Kurang, perlu banyak perbaikan, termasuk perubahan yang mendasar. 6 D 0-30 Sangat Kurang, perlu banyak sekali perbaikan dan perubahan yang sangat mendasar. Tabel 3.41 Pengukuran Capaian Kinerja Sasaran Ke-5 Tahun 2014 No. Indikator Kinerja Utama Satuan Target Realisasi % 1 Prosentase temuan BPK / Inspektorat yang ditindaklanjuti % 100,00 100,00 100,00% 2 Nilai hasil evaluasi AKIP SKPD oleh Kemenpan RB / Inspektorat Nilai 65,00 65,23 100,35% Rata-rata Capaian Sasaran 100,18% Kinerja Capaian Sasaran Melebihi Target Pada Tahun 2015, berdasarkan kegiatan pengawasan dan pemeriksaan yang dilakukan oleh BPK RI maupun oleh Inspektorat terhadap temuan Tahun 2014, Dinas Pelayanan Pajak telah 74
79 menindaklanjuti seluruh temuan BPK / Inspektorat, sehingga capaian kinerjanya menjadi 100%. Berikut ini hasil temuan BPK / Inspektorat yang telah ditindaklanjuti oleh Dinas Pelayanan Pajak: 1. Laporan Hasil Pemeriksaan BPK RI Atas Laporan Keuangan Pemerintah Daerah Kota Bandung Tahun Anggaran 2014 (Sistem Pengendalian Intern) Nomor: 53B/LHP/XVIII.BDG/05/2015 tanggal 20 Mei 2015, terdapat 2 temuan yang perlu ditindaklanjuti. Terhadap LHP ini, Dinas Pelayanan Pajak telah melakukan tindak lanjut atas Rekomendasi BPK yang terlampir dalam Surat Nomor: a. 900/354-Disyanjak, Perihal: Koordinasi Identifikasi Data-data Piutang Pajak Daerah; b. 900/373-Disyanjak, Perihal: Tindak Lanjut Hasil Pemeriksaan BPK-RI atas Laporan Keuangan Pemerintah Kota Bandung TA Laporan Hasil Pemeriksaan BPK RI Atas Laporan Keuangan Pemerintah Daerah Kota Bandung Tahun Anggaran 2014 (Kerangka Kepatuhan terhadap Peraturan Perundang-undangan) Nomor: 53C/LHP/XVIII.BDG/05/2015 tanggal 20 Mei 2015, terdapat 4 temuan yang perlu ditindaklanjuti. Terhadap LHP ini, Dinas Pelayanan Pajak telah melakukan tindak lanjut atas Rekomendasi BPK yang terlampir dalam Surat Nomor: a. 900/366-Disyanjak, Perihal: Tindak Lanjut Hasil Pemeriksaan BPK RI atas Laporan Keuangan Pemerintah Kota Bandung TA b. 900/357-Disyanjak, Perihal: Tindak Lanjut Hasil Pemeriksaan BPK RI atas Laporan Keuangan Pemerintah Kota Bandung TA c. 900/371-Disyanjak, Perihal: Tindak Lanjut Hasil Pemeriksaan BPK RI atas Laporan Keuangan Pemerintah Kota Bandung TA d. 900/353-Disyanjak, Perihal: Tindak Lanjut Hasil Pemeriksaan BPK RI atas Laporan Keuangan Pemerintah Kota Bandung TA
80 Nilai hasil evaluasi AKIP SKPD oleh Kemenpan RB / Inspektorat Di dalam meningkatnya kapasitas dan akuntabilitas kinerja birokrasi, pada Tahun 2015 Dinas Pelayanan Pajak menargetkan nilai evaluasi SAKIP untuk Tahun 2014 sebesar 65. Hal ini berhasil diraih oleh Dinas Pelayanan Pajak, terbukti dari hasil evaluasi AKIP yang dilakukan oleh Inspektorat Kota Bandung terhadap 5 dokumen, diantaranya adalah: LKIP Tahun 2014, Renstra , RKT 2014, Perjanjian Kinerja Tahun 2014, berhasil mendapatkan nilai 65,23 dengan kategori B atau perlu sedikit perbaikan. Nilai sebagaimana tersebut diatas, merupakan akumulasi penilaian terhadap seluruh komponen manajemen kinerja yang dievaluasi di lingkungan Dinas Pelayanan Pajak Kota Bandung, dengan rincian sebagai berikut: Tabel 3.42 Nilai Evaluasi Manajemen Kinerja Atas AKIP 2014 NO MANAJEMEN KINERJA BOBOT (%) NILAI A PERENCANAAN KINERJA 35 24,93 I. Perencanaan Strategis 12,5 8,75 1. Pemenuhan Renstra 2,08 2. Kualitas Renstra 4,17 3. Implementasi Renstra 2,5 II. Perencanaan Kinerja Tahunan 22,5 16,18 1. Pemenuhan Perencanaan Kinerja Tahunan 4,5 4,28 2. Kualitas Perencanaan Kinerja Tahunan 11,25 7,97 3. Implementasi Perencanaan Kinerja Tahunan 6,75 3,94 B PENGUKURAN KINERJA 20 13,87 I. Pemenuhan Pengukuran 4 3 II. Kualitas Pengukuran 10 7,12 III. Implementasi Pengukuran 6 3,75 C PELAPORAN KINERJA 15 10,1 I. Pemenuhan Pelaporan 3 2,75 II. Penyajian Informasi Kinerja 8 4,82 III. Pemanfaatan Informasi Kinerja 4 2,53 D EVALUASI INTERNAL 10 1,83 I. Pemenuhan Evaluasi 2 0,33 II. Kualitas Evaluasi 5 1,5 III. Pemanfaatan Evaluasi 3 0 E PENCAPAIAN SASARAN / KINERJA ORGANISASI 20 14,5 TOTAL ,23 76
81 NO Tabel 3.43 Perbandingan Hasil Evaluasi AKIP Tahun MANAJEMEN KINERJA BOBOT (%) Nilai A PERENCANAAN KINERJA 35 20,61 20,56 24,93 B PENGUKURAN KINERJA 20 5,38 11,46 13,87 C PELAPORAN KINERJA 15 13,18 12,63 10,1 D EVALUASI INTERNAL ,83 E PENCAPAIAN SASARAN / KINERJA ORGANISASI 20 14,22 19,2 14,5 TOTAL ,41 63,89 65,23 Evaluasi atas AKIP Tahun ,93 20,61 20,56 19,2 13,87 11,46 13,18 12,63 10,1 14,22 14,5 PERENCANAAN KINERJA 5,38 PENGUKURAN KINERJA 1,83 PELAPORAN KINERJA EVALUASI INTERNAL PENCAPAIAN SASARAN Tahun 2015, nilai hasil evaluasi terhadap AKIP Tahun 2014 mengalami peningkatan sebesar 1,34 poin dari penilaian evaluasi AKIP Tahun Peningkatan ini didapat dari meningkatnya nilai Perencanaan Kinerja, yaitu semula 20,56 di tahun 2013 menjadi 24,93 di tahun 2014 sedangkan peningkatan nilai Pengukuran Kinerja, yang awalnya 11,46 di tahun 2013 menjadi 13,87 di tahun Adanya peningkatan pada aspek Perencanaan Kinerja ini dikarenakan adanya penyempurnaan Visi, Misi, Tujuan, Sasaran, dan IKU Disyanjak, dengan melakukan Review atas Renstra Penyempurnaan diatas merupakan hasil dari asistensi dengan Bagian Orpad Kota Bandung dan Kemenpan RB. 77
82 Evaluasi AKIP Tahun 2014, terdapat komponen manajemen kinerja yang baru dinilai pada tahun ini saja, yaitu Evaluasi Internal. Evaluasi Internal ini Dinas Pelayanan Pajak hanya memperoleh nilai 1,83, hal ini terjadi karena tidak terdapat pemantauan mengenai kemajuan pencapaian kinerja beserta hambatannya yang terdokumentasi dan Evaluasi Program belum menyimpulkan keberhasilan atau kegagalan program. Tabel 3.44 Perbandingan Capaian Kinerja Tahun 2014 dengan Tahun 2018 No. Indikator Sasaran Satuan 1 2 Prosentase temuan BPK / Inspektorat yang ditindaklanjuti Nilai hasil evaluasi AKIP SKPD oleh Kemenpan RB / Ins pektorat Realisasi Tahun 2014 Rencana sesuai dengan Renstra Tahun 2018 Persentase Capaian Kinerja % 100, ,00% Nilai 65, ,83% Sebagai upaya dalam meningkatkan akuntabilitas kinerja instansi pemerintahan, Dinas Pelayanan Pajak Kota Bandung selalu berupaya menindaklanjuti temuan BPK maupun Inspektorat. Hal ini terlihat dari capaian indikator kinerja pertama yaitu Prosentase temuan BPK/Inspektorat yang ditindaklanjuti, telah mencapai target kinerja Renstra tahun terakhir (Tahun 2018). Target penilaian evaluasi atas Laporan Akuntabilitas Kinerja Dinas Pelayanan Pajak pada akhir tahun RPJMD atau Tahun 2018 adalah nilai 76. Untuk memperoleh nilai tersebut, Dinas Pelayanan Pajak membutuhkan 10,77 poin lagi atau rata-rata kenaikan nilai evaluasi Laporan Akuntabilitas Kinerja sekitar 3,59 poin per tahunnya. Hal ini dapat dicapai apabila Dinas berhasil melakukan pemantauan mengenai kemajuan pencapaian kinerja beserta hambatannya yang terdokumentasi dan Evaluasi Program belum menyimpulkan keberhasilan atau kegagalan program. 78
83 Dalam mewujudkan sasaran ke-5 ini tentunya harus didukung oleh beberapa faktor, diantaranya: 2 Program Kegiatan, yaitu: - Penyusunan RENSTRA dan RENJA SKPD. - Penyusunan laporan capaian kinerja dan ikhtisar realisasi kinerja SKPD. Anggaran sebesar Rp ,- Adanya pendampingan dari Bagian Organisasi dan Pemberdayaan Aparatur Daerah (Bag. ORPAD) kepada SKPD yang berada di Kota Bandung untuk teknis penyusunan Laporan Akuntabilitas Kinerja SKPD. Adapun faktor-faktor yang menghambat tercapainya pencapaian sasaran, adalah sebagai berikut: Belum adanya kemandirian dari unit kerja (bidang / bagian) untuk mengukur kinerjanya secara akuntabel. Untuk beberapa sasaran, tidak adanya kode rekening program kegiatan yang dapat menunjang sasaran tersebut. Dengan mempertimbangkan faktor pendukung dan faktor penghambat yang ada serta tingkat pencapaian sasaran, maka terdapat beberapa hal untuk direkomendasikan sebagai bahan perbaikan kinerja sasaran ke-5 ini,bahan rekomendasi tersebut antara lain : Inventarisasi dan menindaklanjuti seluruh Laporan Hasil Pemeriksaan (LHP) BPK/Inspektorat; Review Perjanjian Kinerja Dinas dan Perjanjian eselon 3 dan 4, serta review Renstra Dinas dengan jalan pembentukan Tim LAKIP dan Tim Reviu Renstra/Renja; Monitoring dan Evaluasi Capaian Kinerja Bulanan dan Triwulanan; Pemanfaatan LKIP sebagai bahan kebijakan Dinas. 79
84 Tabel 3.45 Perbandingan Capaian Kinerja dengan Penyerapan Anggaran Indikator Kinerja Satuan Kinerja Anggaran Target Realisasi % Anggaran Penyerapan % Prosentase temuan BPK / Inspektorat yang ditindaklanjuti Nilai hasil evaluasi AKIP SKPD oleh Kemenpan RB / Ins pektorat % 100,00 100,00 100% Nilai 65,00 65,23 100,35% Tingkat efisiensi capaian sasaran ,72% 11,45% Di dalam mewujudkan sasaran peningkatan kapasitas dan akuntabilitas kinerja instansi pemerintah (birokrasi), Dinas Pelayanan Pajak menyediakan 2 (dua) Program Kegiatan, yaitu: 1. Program perencanaan pembangunan daerah dengan anggaran sebesar Rp ,- 2. Program peningkatan pengembangan sistem pelaporan capaian kinerja dan keuangan, dengan anggaran sebesar Rp ,- Anggaran yang terserap untuk memenuhi kebutuhan peningkatan kapasitan dan akuntabilitas kinerja instasi pemerintah ini sebesar Rp ,- atau sekitar 88,72% dari total anggaran yang tersedia yaitu Rp ,-. Dengan serapan anggaran yang mendekati 90%, capaian kinerja sasaran ini ternyata dapat melampaui targetnya, hal ini menandakan bahwa program kegiatan yang dilaksanakan sangatlah efektif dalam pencapaian sasaran. 3.5 Akuntabilitas Keuangan Selama tahun 2015 pelaksanaan program dan kegiatan dalam rangka menjalankan tugas pokok dan fungsi serta untuk mewujudkan target kinerja yang ingin dicapai Dinas Pelayanan Pajak Kota Bandung 80
85 dianggarkan melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Kota Bandung DPA Dinas Pelayanan Pajak Kota Bandung dengan total nilai keseluruhan adalah sebesar Rp ,- sedangkan realisasi anggaran mencapai Rp ,-atau dengan serapan dana APBD mencapai 85,89%. Adapun rincian pagu dan realisasi anggaran yang terkait dengan pencapaian target kinerja tujuan dan sasaran pada setiap Misi Renstra Dinas Pelayanan Pajak Kota Bandung pada tahun 2015 dapat dilihat pada tabel berikut : Tabel 3.46 Pagu dan Realisasi Anggaran Dinas Pelayanan Pajak Kota Bandung Tahun 2015 No Misi Pagu Anggaran Realisasi Anggaran % 1 Menjadikan Pajak Daerah sebagai penopang pembangunan ,72% 2 Meningkatkan kualitas pelayanan Pajak Daerah. TOTAL ,68% ,89% Dari tabel diatas dapat diketahui anggaran yang direncanakan dan dimanfaatkan untuk pencapaian misi organisasi serta tingkat efisisensi yang telah dilakukan oleh Dinas Pelayanan Pajak Kota Bandung pada tahun Untuk mengetahui efektifitas anggaran terhadap capaian Misi Dinas Pelayanan Pajak Kota Bandung, dapat diketahui dari capaian kinerja misi dan anggaran yang digunakan pada tahun 2015 sebagaimana tabel berikut: 81
86 Tabel 3.47 Efektifitas Anggaran Terhadap Capaian Misi Dinas Pelayanan Pajak Kota Bandung Tahun 2015 No. Kategori Jumlah Indikator Persentase Anggaran Realisasi % A. Menjadikan Pajak Daerah sebagai penopang pembangunan 3 1 Melebihi Target 1 25,00% Rp ,- 83,72 2 Tercapai 0 0,00% B. 3 Tidak Tercapai 3 75,00% Meningkatkan kualitas pelayanan Pajak Daerah 1 1 Melebihi Target 2 66,67% 2 Tercapai 1 33,33% Rp ,- 87,68 3 Tidak Tercapai 0 0,00% Tabel 3.48 Penyerapan Anggaran s/d 2015 terhadap Pagu Indikatif Renstra Dinas Pelayanan Pajak Kota Bandung No. Misi Pagu Indikatif Renstra (Rp) Realisasi anggaran tahun 2014 Realisasi anggaran tahun 2015 Realisasi anggaran s/d 2015 % (dari Pagu Indikatif) 1 Menjadikan Pajak Daerah sebagai Penopang Pembangunan % 2 Meningkatkan Kualitas Pelayanan Pajak Daerah 82
87 3.6 Prestasi dan Penghargaan Dalam melaksanakan Tugas Pokok dan Fungsi Dinas Pelayanan Pajak Kota Bandung dilakukan secara optimal dengan mengerahkan sumber daya dan potensi yang dimiliki, sehingga Dinas Pelayanan Pajak Kota Bandung telah memperoleh penghargaan yang diberikan oleh pimpinan maupun stakeholder atas prestasi yang dicapai, prestasi dan penghargaan selama kurun waktu 1 (satu) tahun tersebut, sebagai berikut: NO NAMA KEJUARAAN/ KEGIATAN TINGKAT KEJUARAAN/ KEGIATAN PRESTASI TAHUN 2015 KETERANGAN POR PEMKOT BANDUNG 1. POR PEMKOT MEDALI EMAS/ CABOR TENIS LAPANGAN BANDUNG KE IV JUARA KE 1 SINGLE 2. POR PEMKOT BANDUNG CABOR TENIS LAPANGAN DOUBLE 3 POR PEMKOT BANDUNG CABOR FUTSAL 4 POR PEMKOT BANDUNG CABOR CATUR POR PEMKOT BANDUNG KE IV POR PEMKOT BANDUNG KE IV POR PEMKOT BANDUNG KE IV MEDALI EMAS/ JUARA KE 1 MEDALI EMAS/ JUARA KE 1 MEDALI PERAK/ JUARA KE 2 83
88 BAB IV P E N U T U P Laporan Kinerja Instansi Pemerintah (LKIP) Dinas Pelayanan Pajak Kota Bandung Tahun 2015 ini merupakan pertanggung jawaban tertulis atas penyelenggaraan pemerintah yang baik (Good Governance) Dinas Pelayanan Pajak Kota Bandung Tahun Pembuatan LKIP ini merupakan salah satu langkah dalam memenuhi Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 29 Tahun 2014 Tentang Sistem Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah, sebagai upaya untuk penyelenggaraan pemerintahan yang baik sebagaimana diharapkan oleh semua pihak. ini dapat menggambarkan kinerja Dinas Pelayanan Pajak Kota Bandung dan Evaluasi terhadap kinerja yang telah dicapai baik berupa kinerja kegiatan maupun kinerja sasaran, juga dilaporkan mengenai analisis kinerja yang mencerminkan keberhasilan dan kegagalan. Tahun 2015 Dinas Pelayanan Pajak Kota Bandung menetapkan sebanyak 5 (lima) sasaran dengan 7 (tujuh) indikator kinerja sesuai dengan Rencana Kinerja Tahunan dan Dokumen Penetapan Kinerja Tahun 2015 yang ingin dicapai. Secara rinci pencapaian sasaran dapat dijelaskan sebagai berikut : Sasaran 1 terdiri dari 1 indikator dengan nilai 92,94% dengan interpretasi tidak tercapai. Sasaran 2 terdiri dari 2 indikator dengan nilai 98,61% dengan interprestasi tidak tercapai. Sasaran 3 terdiri dari 1 indikator dengan nilai 92,31% dengan interprestasi tidak tercapai. Sasaran 4 terdiri dari 1 indikator dengan nilai 106,01% dengan interprestasi melebihi target. Sasaran 5 terdiri dari 2 indikator dengan nilai 100,18% dengan interprestasi melebihi target. 84
89 Hasil pengukuran terhadap pencapaian sebanyak 5 (lima) sasaran tersebut secara umum mencapai nilai 98,01% yang termasuk dalam Interpretasi Tidak Tercapai. Dalam Tahun Anggaran 2015 untuk pelaksanaan program dan kegiatan pada Dinas Pelayanan Pajak Kota Bandung dalam rangka mencapai target kinerja yang ingin dicapai dianggarkan melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Kota Bandung Tahun Anggaran 2015 sebesar Rp ,- sedangkan realisasi anggaran mencapai Rp ,-atau dengan serapan dana APBD mencapai 85,86%. Tersusunnya Laporan Kinerja Instansi Pemerintah Dinas Pelayanan Pajak Kota Bandung ini, diharapkan dapat memberikan gambaran Kinerja Dinas Pelayanan Pajak Kota Bandung kepada pihak-pihak terkait baik bagi stakeholder ataupun pihak lain yang telah ikut ambil bagian dengan berpartisipasi aktif untuk membangun Kota Bandung. Bandung, 25 Februari 2015 KEPALA DINAS PELAYANAN PAJAK KOTA BANDUNG Drs.H. EMA SUMARNA, M.Si Pembina Utama Muda NIP
LAPORAN KINERJA INSTANSI PEMERINTAH (LKIP) DINAS PELAYANAN PAJAK TAHUN 2015
LAPORAN KINERJA INSTANSI PEMERINTAH (LKIP) DINAS PELAYANAN PAJAK TAHUN 2015 KATA PENGANTAR Berdasarkan Instruksi Presiden RI Nomor 7 Tahun 1999 tentang Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah, Dinas
Dinas Pelayanan Pajak Kota Bandung
KATA PENGANTAR Berdasarkan Instruksi Presiden RI Nomor 7 Tahun 1999 tentang Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah, Dinas Pelayanan Pajak Kota Bandung menyusun Laporan Kinerja Instansi Pemerintah (LKIP)
LAPORAN KINERJA INSTANSI PEMERINTAH (LKIP) DINAS PELAYANAN PAJAK TAHUN 2014
LAPORAN KINERJA INSTANSI PEMERINTAH (LKIP) DINAS PELAYANAN PAJAK TAHUN 2014 KATA PENGANTAR Berdasarkan Instruksi Presiden RI Nomor 7 Tahun 1999 tentang Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah, Dinas
KOTA BANDUNG DOKUMEN RENCANA KINERJA TAHUNAN DINAS PELAYANAN PAJAK KOTA BANDUNG TAHUN 2014
KOTA BANDUNG DOKUMEN RENCANA KINERJA TAHUNAN DINAS PELAYANAN PAJAK KOTA BANDUNG TAHUN 2014 TAHUN 2014 KATA PENGANTAR Puji dan syukur kami panjatkan Kehadapan Tuhan Yang Maha Esa, karena berkat Rahmat dan
DINAS PELAYANAN PAJAK KOTA BANDUNG BAB I PENDAHULUAN
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Terselenggaranya good governance merupakan prasyarat bagi setiap pemerintahan untuk mewujudkan aspirasi masyarakat dan mencapai tujuan serta cita-cita bangsa bernegara
TUJUAN DAN SASARAN JANGKA MENENGAH DINAS PELAYANAN PAJAK PEMERINTAH KOTA BANDUNG
TUJUAN DAN SASARAN JANGKA MENENGAH DINAS PELAYANAN PAJAK PEMERINTAH KOTA BANDUNG A. TUJUAN DINAS PELAYANAN PAJAK Tujuan merupakan implementasi atau penjabaran dari misi yang merupakan suatu (apa) yang
PROFILE DINAS PELAYANAN PAJAK KOTA BANDUNG
PROFILE DINAS PELAYANAN PAJAK KOTA BANDUNG Pajak daerah merupakan pajak yang dipungut oleh pemerintah daerah dan digunakan untuk membiayai rumah tangga daerah. Seiring dengan ditetapkannya otonomi daerah,
Dinas Pelayanan Pajak Kota Bandung KATA PENGANTAR
KATA PENGANTAR Berdasarkan Instruksi Presiden RI Nomor 7 Tahun 1999 tentang Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah, Dinas Pelayanan Pajak Kota Bandung menyusun Laporan Akuntabilitas Kinerja (LAKIP)
BAB III AKUNTABILITAS KINERJA
BAB III AKUNTABILITAS KINERJA Akuntabilitas kinerja adalah kewajiban untuk menjawab dari perorangan, badan hukum atau pimpinan kolektif secara transparan mengenai keberhasilan atau kegagalan dalam melaksanakan
INSPEKTORAT KOTA BANDUNG KATA PENGANTAR
KATA PENGANTAR Puji syukur kita panjatkan kepada Allah SWT yang telah melimpahkan Rahmat dan Kasih sayang-nya sehingga Laporan Inspektorat Kota Bandung Tahun 2015 ini dapat tersusun Laporan ini merupakan
BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Terselenggaranya good governance merupakan prasyarat bagi setiap pemerintahan untuk mewujudkan aspirasi masyarakat dan mencapai tujuan serta cita- cita bangsa bernegara
BAB II PERENCANAAN DAN PERJANJIAN KINERJA
BAB II PERENCANAAN DAN PERJANJIAN KINERJA Pada penyusunan Laporan Akuntabilias Kinerja Tahun 2013 ini, mengacu pada Peraturan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Nomor
PEMERINTAH KOTA BANDUNG KECAMATAN BANDUNG KULON
BAB III AKUNTABILITAS KINERJA Akuntabilitas kinerja adalah kewajiban untuk menjawab dari perorangan, badan hukum atau pimpinan kolektif secara transparan mengenai keberhasilan atau kegagalan dalam melaksanakan
LAKIP LAPORAN AKUNTABILITAS KINERJA INSTANSI PEMERINTAH TAHUN 2014 INSPEKTORAT KOTA BANDUNG JL. TERA NO. 20 BANDUNG
LAKIP LAPORAN AKUNTABILITAS KINERJA INSTANSI PEMERINTAH TAHUN 2014 INSPEKTORAT KOTA BANDUNG JL. TERA NO. 20 BANDUNG INSPEKTORAT KOTA BANDUNG RINGKASAN EKSEKUTIF Laporan Kinerja Inspektorat Kota Bandung
PEMERINTAH KABUPATEN MUSI RAWAS DINAS PENDAPATAN, PENGELOLAAN KEUANGAN DAN ASET DAERAH. LAPORAN KINERJA INSTANSI PEMERINTAH (LKjIP) TAHUN 2016
PEMERINTAH KABUPATEN MUSI RAWAS DINAS PENDAPATAN, PENGELOLAAN KEUANGAN DAN ASET DAERAH LAPORAN KINERJA INSTANSI PEMERINTAH (LKjIP) TAHUN 2016 LKjIP 2016 KATA PENGANTAR Puji syukur kita panjatkan ke hadirat
BAB II PERENCANAAN KINERJA
BAB II PERENCANAAN KINERJA Pada penyusunan Laporan Akuntabilias Kinerja ini, mengacu pada Peraturan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Nomor 53 tentang Petunjuk Teknis
BAB I PENDAHULUAN. a. Kondisi umum Dinas Pendapatan, Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah.
BAB I PENDAHULUAN 1. PENJELASAN UMUM ORGANISASI a. Kondisi umum Dinas Pendapatan, Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah. Dinas Pendapatan, Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah Kabupaten Siak dibentuk berdasarkan
KATA PENGANTAR. Bandung, 2013 KEPALA BPPT KOTABANDUNG. Drs. H. DANDAN RIZA WARDANA, M.Si PEMBINA TK. I NIP
KATA PENGANTAR Puji syukur Alhamdulillah kami panjatkan kehadirat Allah SWT atas berkat dan rahmat-nya, kami dapat menyelesaikan Rencana Kerja (RENJA) Badan Pelayanan Perijinan Terpadu Kota Bandung Tahun
KOTA BANDUNG DOKUMEN RENCANA KINERJA TAHUNAN BPPT KOTA BANDUNG
KOTA BANDUNG DOKUMEN RENCANA KINERJA TAHUNAN BPPT KOTA BANDUNG TAHUN 2015 KATA PENGANTAR Puji dan syukur kami panjatkan Kehadapan Tuhan Yang Maha Esa, karena berkat Rahmat dan Karunianya Reviu Dokumen
BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Terselenggaranya good governance merupakan prasyarat bagi setiap pemerintahan untuk mewujudkan aspirasi masyarakat dan mencapai tujuan serta cita- cita bangsa bernegara
BAB I PENDAHULUAN. dalam lingkungan Pemerintah kabupaten Karanganyar yang berkedudukan
1 BAB I PENDAHULUAN A. Gambaran Objek Penelitian 1. Sejarah DPPKAD Dinas Pendapatan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah (DPPKAD) kabupaten Karanganyar adalah salah satu dari Satuan Kerja Perangkat Daerah
LAPORAN KINERJA INSTANSI PEMERINTAH (LAKIP) TAHUN ANGGARAN 2017
LAPORAN KINERJA INSTANSI PEMERINTAH (LAKIP) TAHUN ANGGARAN 2017 BADAN PENGELOLA PAJAK DAN RETRIBUSI DAERAH TAHUN 2018 KATA PENGANTAR Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan hidayahnya,
BAB II PERENCANAAN KINERJA. mengacu pada Peraturan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara. dan Reformasi Birokrasi Nomor 29 Tahun 2010 tentang Pedoman
BAB II PERENCANAAN KINERJA Pada penyusunan Laporan Kinerja Tahun 2015 ini, mengacu pada Peraturan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Nomor 29 Tahun 2010 tentang Pedoman Penyusunan
BUPATI MALANG PERATURAN BUPATI MALANG NOMOR 20 TAHUN 2011 TENTANG MEKANISME TAHUNAN PENYELENGGARAAN PEMERINTAHAN KABUPATEN MALANG BUPATI MALANG,
1 BUPATI MALANG PERATURAN BUPATI MALANG NOMOR 20 TAHUN 2011 TENTANG MEKANISME TAHUNAN PENYELENGGARAAN PEMERINTAHAN KABUPATEN MALANG BUPATI MALANG, Menimbang : a. bahwa untuk lebih menjamin ketepatan dan
BAB II PERENCANAAN KINERJA 2.1. RENCANA STRATEGIS SEKRETARIAT DPRD KOTA. penyusunan tahapan-tahapan kegiatan yang melibatkan berbagai
BAB II PERENCANAAN KINERJA 2.1. RENCANA STRATEGIS SEKRETARIAT DPRD KOTA BANDUNG Perencanaan pembangunan daerah adalah suatu proses penyusunan tahapan-tahapan kegiatan yang melibatkan berbagai unsur pemangku
BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Terselenggaranya good governance merupakan prasyarat bagi setiap pemerintahan untuk mewujudkan aspirasi masyarakat dan mencapai tujuan serta cita- cita bangsa bernegara
User [Pick the date]
RENCANA KERJA KECAMATAN KIARACONDONG KOTA BANDUNG TAHUN 2016 User [Pick the date] KECAMATAN KIARACONDONG KOTA BANDUNG Jl babakan sari no.177 Bandung telepon (022) 7271101 2015 Rencana Kerja Kecamatan Kiaracondong
KATA PENGANTAR. i Renstra Bapenda Kota Denpasar 2016 ~ 2021
i Renstra Bapenda Kota Denpasar 2016 ~ 2021 KATA PENGANTAR Puji syukur kehadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa, Tuhan Yang Maha Esa yang telah melimpahkan rahmat dan anugerah-nya, sehingga Badan Pendapatan
Dalam upaya memberi pertanggungjawaban terhadap tingkat
B A B I I I A K U N T A B I L I T A S K I N E R J A Dalam upaya memberi pertanggungjawaban terhadap tingkat pencapaian kinerja, berdasarkan visi, misi, tujuan, dan sasaran strategis, yang kemudian dijabarkan
BAB II PERENCANAAN KINERJA 2.1. RENCANA STRATEGIS SEKRETARIAT DPRD KOTA. Rencana strategis merupakan proses yang berorientasi
BAB II PERENCANAAN KINERJA 2.1. RENCANA STRATEGIS SEKRETARIAT DPRD KOTA BANDUNG Rencana strategis merupakan proses yang berorientasi hasil yang ingin dicapai selama kurun waktu satu sampai lima tahun secara
K E C A M A T A N P A N Y I L E U K A N BAB I PENDAHULUAN
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Semakin meningkatnya tuntutan masyarakat terhadap penyelenggaraan pemerintahan yang baik dan bersih (Good Governance dan clean government) telah mendorong pengembangan
Rencana Kinerja Tahunan Dinas Kebudayaan & Pariwisata Kota Bandung Tahun 2016 BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Terselenggaranya good governance merupakan prasyarat bagi setiap pemerintahan untuk mewujudkan aspirasi masyarakat dan mencapai tujuan serta cita- cita bangsa bernegara
KECAMATAN UJUNGBERUNG KOTA BANDUNG KATA PENGANTAR
KATA PENGANTAR Puji dan syukur kami panjatkan Kehadapan Tuhan Yang Maha Esa, karena berkat Rahmat dan Karunianya Reviu Dokumen Rencana Kinerja Tahunan (RKT) Kecamatan Ujungberung Kota Bandung Tahun 2016,
P E M E R I N T A H K O T A M A T A R A M
P E M E R I N T A H K O T A M A T A R A M SEKRETARIAT DAERAH KEPUTUSAN SEKRETARIS DAERAH KOTA MATARAM NOMOR : 188.4/747/Org./X/2017 TENTANG PENETAPAN INDIKATOR KINERJA UTAMA (IKU) SEKRETARIAT DAERAH KOTA
LAPORAN AKUNTABILITAS KINERJA INSTANSI PEMERINTAH (LAKIP) TAHUN 2013
LAPORAN AKUNTABILITAS KINERJA INSTANSI PEMERINTAH (LAKIP) TAHUN 2013 DINAS KEPENDUDUKAN DAN PENCATATAN SIPIL KOTA BANDUNG 2014 KATA PENGANTAR Bidang kependudukan merupakan salah satu hal pokok dan penting
BAB I PENDAHULUAN. 1. Sejarah Berdiri dan Berkembangnya Dinas Pendapatan dan. Pengelolaan Keuangan dan Aset (DPPKA) Kota Surakarta
1 BAB I PENDAHULUAN A. Gambaran Objek Penelitian 1. Sejarah Berdiri dan Berkembangnya Dinas Pendapatan dan Pengelolaan Keuangan dan Aset (DPPKA) Kota Surakarta DPPKA dipimpin oleh kepala dinas yang berkedudukan
LAPORAN KINERJA INSTANSI PEMERINTAH TAHUN 2015 PEMERINTAH KOTA BANDUNG
LAPORAN KINERJA INSTANSI PEMERINTAH TAHUN 2015 PEMERINTAH KOTA BANDUNG 2015 0 1 LAPORAN KINERJA INSTANSI PEMERINTAH TAHUN 2015 PEMERINTAH KOTA BANDUNG 2015 2 2015 LAPORAN KINERJA INSTANSI PEMERINTAH PEMERINTAH
PEMERINTAH KOTA SOLOK LAPORAN KINERJA TAHUN 2016
PEMERINTAH KOTA SOLOK LAPORAN KINERJA TAHUN 2016 BADAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN DAERAH (BAPPEDA) KOTA SOLOK 2017 KATA PENGANTAR Puji dan syukur kita panjatkan kehadirat Allah SWT, karena atas rahmat dan
Laporan Kinerja Instansi Pemerintah Kantor Camat Kandis Kabupaten Siak Tahun 2016
BAB I PENDAHULUAN 1. GAMBARAN UMUM a. Kondisi Umum 1. Kedudukan Kecamatan Kandis merupakan bagian dari Kabupaten Siak, yang dibentuk berdasarkan pemekaran dari kecamatan Minas yang diundangkan sesuai Perda
BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Terselenggaranya good governance merupakan prasyarat bagi setiap pemerintahan untuk mewujudkan aspirasi masyarakat dan mencapai tujuan serta cita- cita bangsa bernegara
LAPORAN KINERJA INSTANSI PEMERINTAH (LKIP)
BAGIAN TATA USAHA SETDA KOTA BANDUNG 2015 LAPORAN KINERJA INSTANSI PEMERINTAH (LKIP) Bagian Tata Usaha Setda Kota Bandug vi KATA PENGANTAR Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, yang telah melimpahkan
KATA PENGANTAR. Bandung, Januari 2015 KEPALA BADAN PENANAMAN MODAL DAN PERIJINAN TERPADU PROVINSI JAWA BARAT
KATA PENGANTAR Sebagai tindaklanjut dari Instruksi Presiden Nomor 7 Tahun 1999 Tentang Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah, yang mewajibkan bagi setiap pimpinan instansi pemerintah untuk mempertanggungjawabkan
MEMUTUSKAN : Menetapkan : PERATURAN WALIKOTA TENTANG KEDUDUKAN, SUSUNAN ORGANISASI, TUGAS, FUNGSI, DAN TATA KERJA BADAN PENDAPATAN DAERAH
PERATURAN WALIKOTA PADANG NOMOR 90 TAHUN 2016 TENTANG KEDUDUKAN, SUSUNAN ORGANISASI, TUGAS, FUNGSI, DAN TATA KERJA BADAN PENDAPATAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA PADANG, Menimbang :
BAB III AKUNTABILITAS KINERJA. Akuntabilitas Kinerja Sekretariat DPRD Kota Bandung. merupakan bentuk pertanggungjawaban kinerja selama tahun
BAB III AKUNTABILITAS KINERJA Akuntabilitas Kinerja merupakan bentuk pertanggungjawaban kinerja selama tahun 2014 yang memuat realisasi kinerja yang diperjanjikan tahun 2014. Dalam bab ini juga akan disajikan
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Rencana kerja Dinas Pendapatan Daerah Kota Palangka Raya yang selanjutnya disingkat RENJA, adalah dokumen perencanaan Dinas Pendapatan Daerah Kota Palangka Raya untuk
BAB III AKUNTABILITAS KINERJA
BAB III AKUNTABILITAS KINERJA Akuntabilitas kinerja adalah kewajiban untuk menjawab dari perorangan, badan hukum atau pimpinan kolektif secara transparan mengenai keberhasilan atau kegagalan dalam melaksanakan
LAPORAN AKUNTABILITAS KINERJA SEKRETARIAT INSPEKTORAT JENDERAL TAHUN 2016
LAPORAN AKUNTABILITAS KINERJA SEKRETARIAT INSPEKTORAT JENDERAL TAHUN 2016 SEKRETARIAT INSPEKTORAT JENDERAL KEMENTERIAN PERINDUSTRIAN JAKARTA, JANUARI 2017 Laporan Akuntabilitas Kinerja Sekretariat Inspektorat
BUPATI KAPUAS PROVINSI KALIMANTAN TENGAH PERATURAN BUPATI KAPUAS NOMOR 35 TAHUN 2015 TENTANG
SALINAN BUPATI KAPUAS PROVINSI KALIMANTAN TENGAH PERATURAN BUPATI KAPUAS NOMOR 35 TAHUN 2015 TENTANG PETUNJUK TEKNIS PERJANJIAN KINERJA, PELAPORAN KINERJA DAN TATA CARA REVIU ATAS LAPORAN KINERJA INSTANSI
KOTA BANDUNG DOKUMEN RENCANA KINERJA TAHUNAN BAPPEDA KOTA BANDUNG TAHUN 2016
KOTA BANDUNG DOKUMEN RENCANA KINERJA TAHUNAN BAPPEDA KOTA BANDUNG TAHUN 2016 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Terselenggaranya good governance merupakan prasyarat bagi setiap pemerintahan untuk mewujudkan
KOTA BANDUNG TAHUN 2016
DOKUMEN RENCANA KINERJA TAHUNAN DINAS PENCEGAHAN DAN PENANGGULANGAN KEBAKARAN TAHUN 2016 Jalan Sukabumi No. 17 Bandung Telp. (022) 7207113 1 KATA PENGANTAR Puji dan syukur kami panjatkan Kehadapan Tuhan
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Terselenggaranya Good Governance merupakan prasyarat utama untuk mewujudkan aspirasi masyarakat dalam mencapai tujuan dan cita-cita bangsa dan negara. Dalam rangka itu
2 2. Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 104, Tamba
BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.491, 2015 KEMENKOMINFO. Akuntabilitas Kinerja. Pemerintah. Sistem. Penyelenggaraan. Pedoman. PERATURAN MENTERI KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA REPUBLIK INDONESIA NOMOR 13
Rencana Kerja Tahunan Kecamatan Rancasari Tahun
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Terselenggaranya good governance merupakan prasyarat bagi setiap pemerintahan untuk mewujudkan aspirasi masyarakat dan mencapai tujuan serta cita- cita bangsa bernegara
BAB I PENDAHULUAN. Perangkat Daerah dalam lingkungan Pemerintah kabupaten Karanganyar
BAB I PENDAHULUAN A. Gambaran Objek Penelitian 1. Sejarah DPPKAD Karanganyar Dinas Pendapatan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah (DPPKAD) kabupaten Karanganyar adalah salah satu dari Satuan Kerja Perangkat
BERITA DAERAH KABUPATEN BANJARNEGARA TAHUN 2015 NOMOR 14
BERITA DAERAH KABUPATEN BANJARNEGARA TAHUN 2015 NOMOR 14 PERATURAN BUPATI BANJARNEGARA NOMOR 14 TAHUN 2015 TENTANG PETUNJUK TEKNIS PERJANJIAN KINERJA, PELAPORAN KINERJA DAN TATA CARA REVIU ATAS LAPORAN
BMKG BADAN METEOROLOGI, KLIMATOLOGI, DAN GEOFISIKA LAPORAN KINERJA INSTANSI PEMERINTAH INSPEKTORAT TAHUN 2015
BMKG BADAN METEOROLOGI, KLIMATOLOGI, DAN GEOFISIKA LAPORAN KINERJA INSTANSI PEMERINTAH INSPEKTORAT TAHUN 2015 Jl. Angkasa I No. 2 Kemayoran, Jakarta 10720 Phone : (62 21) 65866230, 65866231, Fax : (62
WALIKOTA YOGYAKARTA DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA PERATURAN WALIKOTA YOGYAKARTA NOMOR 2 TAHUN 2015 TENTANG
WALIKOTA YOGYAKARTA DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA PERATURAN WALIKOTA YOGYAKARTA NOMOR 2 TAHUN 2015 TENTANG PETUNJUK TEKNIS PERJANJIAN KINERJA, PELAPORAN KINERJA DAN TATA CARA REVIU ATAS LAPORAN KINERJA INSTANSI
KATA PENGANTAR. Bandung, Januari 2017, KEPALA DINAS PERKEBUNAN PROVINSI JAWA BARAT,
KATA PENGANTAR Laporan Kinerja Instansi Pemerintah (LKIP) Tahun 2016 ini disusun berdasarkan Peraturan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokasi Nomor 53 tahun 2014 tentang Petunjuk
RENCANA STRATEGIS BADAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN DAERAH TAHUN
RENCANA STRATEGIS BADAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN DAERAH TAHUN 2016-2021 Kata Pengantar Alhamdulillah, puji syukur kehadirat ALLAH SWT, atas limpahan rahmat, berkat dan hidayahnya sehingga kami dapat menyelesaikan
DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI RISET, TEKNOLOGI, DAN PENDIDIKAN TINGGI REPUBLIK INDONESIA,
SALINAN PERATURAN MENTERI RISET, TEKNOLOGI, DAN PENDIDIKAN TINGGI REPUBLIK INDONESIA NOMOR 40 TAHUN 2016 TENTANG PEDOMAN PENYUSUNAN LAPORAN KINERJA PERGURUAN TINGGI NEGERI BADAN HUKUM DENGAN RAHMAT TUHAN
BADAN PENGELOLAAN KEUANGAN, PENDAPATAN DAN ASSET DAERAH
LAPORAN AKUNTABILITAS KINERJA INSTANSI PEMERINTAH (L A K I P) TAHUN 2016 DINAS PENDAPATAN PENGELOLAAN KEUANGAN DAN ASET DAERAH D I S U S U N O L E H : BADAN PENGELOLAAN KEUANGAN, PENDAPATAN DAN ASSET DAERAH
BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Perubahan paradigma dari manajemen tradisional menjadi manajemen modern menjawab tuntutan percepatan dan keakuratan penyelesaian masalah dan pelayanan sistem birokrasi
BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG.
BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG. Terselenggaranya Good Governance merupakan prasyarat bagi setiap pemerintahan untuk mewujudkan aspirasi masyarakat dan mencapai tujuan serta cita-cita Bangsa Bernegara.
S A L I N A N BERITA DAERAH PROVINSI KALIMANTAN BARAT NOMOR 91 TAHUN No. 91, 2016 TENTANG
- 1 - S A L I N A N BERITA DAERAH PROVINSI KALIMANTAN BARAT NOMOR 91 TAHUN 2016 NOMOR 91 TAHUN 2016 TENTANG PERUBAHAN ATAS PERATURAN GUBERNUR KALIMANTAN BARAT NOMOR 852 TAHUN 2006 TENTANG PEDOMAN PELAKSANAAN
PERENCANAAN KINERJA Rencana Strategis dan Target Tahun L K I P B K D K o t a B a n d u n g T a h u n
PERENCANAAN KINERJA Penyusunan Laporan Kinerja Tahun 2015 ini mengacu pada Peraturan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Nomor 29 Tahun 2010 tentang Pedoman Penyusunan Penetapan
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang B. Tugas Pokok dan Fungsi
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional mengamanatkan bahwa perencanaan pembangunan daerah adalah satu kesatuan dalam sistem
LAPORAN AKUNTABILITAS KINERJA PEMERINTAH (LAKIP)
LAPORAN AKUNTABILITAS KINERJA PEMERINTAH (LAKIP) DINAS PENDAPATAN KOTA DENPASAR TAHUN 2015 BAB I PENDAHULUAN a. Latar Belakang Visi Pemerintah Kota Denpasar dalam membangun Denpasar menekankan pada upaya
BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah. Pajak Daerah, yang selanjutnya disebut Pajak, adalah kontribusi wajib
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Pajak Daerah, yang selanjutnya disebut Pajak, adalah kontribusi wajib kepada Daerah yang terutang oleh orang pribadi atau badan yang bersifat memaksa berdasarkan
KATA PENGANTAR. Puji syukur kita sampaikan ke hadirat Allah SWT, Atas. curahan rahmat dan hidayah-nya. Dokumen Rencana Strategis
` KATA PENGANTAR Puji syukur kita sampaikan ke hadirat Allah SWT, Atas curahan rahmat dan hidayah-nya. Dokumen Rencana Strategis (Renstra) Dinas Pelayanan Pajak Kota Bandung Tahun 20013 2018 dapat diselesaikan
BAB II GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN. misi pembangunan Kabupaten Natuna Tahun , sebagai upaya yang
BAB II GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN A. Kabupaten Natuna Visi Kabupaten Natuna adalah Menuju Natuna yang Sejahtera, Merata dan Seimbang. Sesuai dengan visi tersebut, maka ditetapkan pula misi pembangunan
KEPUTUSAN KEPALA DINAS PENDAPATAN PENGELOLAAN KEUANGAN DAN ASET DAERAH KABUPATEN MUSI RAWAS NOMOR TAHUN 2016
PEMERINTAH KABUPATEN MUSI RAWAS DINAS PENDAPATAN PENGELOLAAN KEUANGAN DAN ASET DAERAH Jln Pangeran Mohammad Amin Komplek Perkantoran Pemkab. Mura Muara Beliti Prov. Sumatera Selatan (Kode Pos 31626) Tel.
INDIKATOR KINERJA UTAMA (IKU) BADAN PENGELOLA PAJAK DAN RETRIBUSI DAERAH
INDIKATOR KINERJA UTAMA (IKU) 2016-2021 BADAN PENGELOLA PAJAK DAN RETRIBUSI DAERAH BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kinerja ( Performance ) menjadi tolak ukur dalam penilaian prestasi suatu pekerjaan,
BAB III AKUNTABILITAS KINERJA
BAB III AKUNTABILITAS KINERJA Konsep dasar akuntabilitas didasarkan pada klasifikasi responsibilitas managerial dalam lingkungan organisasi yang bertujuan untuk mendukung pelaksanaan kegiatan pada tiap
PEDOMAN PENYUSUNAN PK BPS
PEDOMAN PENYUSUNAN PK BPS BADAN PUSAT STATISTIK 2012 D A F T A R I S I hal Daftar Isi i Bab I Pendahuluan A Latar Belakang 1 B Pengertian 2 C Tujuan Penetapan Kinerja 2 D Ruang Lingkup Penetapan Kinerja
BAPPEDA PROVINSI BANTEN
RANCANA KERJA DINAS PEMUDA DAN OLAHRAGA ( DISPORA )PROVINSI BANTEN TAHUN 2016 PEMERINTAH PROVINSI BANTEN TAHUN 2015 RECANA KERJA 2016 DISPORA PROVINSI BANTEN i KATA PENGANTAR Syukur Alhamdulillah Kami
KOTA BANDUNG DOKUMEN RENCANA KINERJA TAHUNAN RUMAH SAKIT KHUSUS IBU DAN ANAK KOTA BANDUNG TAHUN 2016
KOTA BANDUNG DOKUMEN RENCANA KINERJA TAHUNAN RUMAH SAKIT KHUSUS IBU DAN ANAK KOTA BANDUNG TAHUN 2016 TAHUN 2016 KATA PENGANTAR Puji dan syukur kami panjatkan ke hadirat Alloh Subhanahu Wa Ta ala, karena
PENERAPAN SAKIP BAGIAN KEUANGAN DAN ASSET SEKRETARIAT DAERAH KABUPATEN LAMONGAN
PENERAPAN SAKIP BAGIAN KEUANGAN DAN ASSET SEKRETARIAT DAERAH KABUPATEN LAMONGAN Disampaikan oleh : KEPALA BAGIAN KEUANGAN DAN ASET SETDA KABUPATEN LAMONGAN DASAR HUKUM SISTEM AKIP 1. UU No. 23 Tahun 2014
PELAPORAN KINERJA BADAN KESATUAN BANGSA DAN POLITIK KOTA PALEMBANG TAHUN 2017
PELAPORAN KINERJA BADAN KESATUAN BANGSA DAN POLITIK KOTA PALEMBANG TAHUN 2017 PEMERINTAH KOTA PALEMBANG TAHUN 2018 Kata Pengantar Puji dan syukur kita sanjungkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa berkat rahmat,
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional mengamanatkan bahwa perencanaan pembangunan daerah adalah satu kesatuan dalam sistem
BAB I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang
BAB I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Keberhasilan pembangunan pertanian bukan hanya ditentukan oleh kondisi sumberdaya pertanian, tetapi juga ditentukan oleh peran penyuluh pertanian yang sangat strategis
Jambi, Januari 2017 INSPEKTUR KOTA JAMBI, Drs. H. HAFNI ILYAS. Pembina Utama Muda. NIP
KATA PENGANTAR Puji syukur senantiasa kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena hanya dengan petunjuk, taufik dan hidayah-nya, Indikator Kinerja Utama (IKU) Inspektorat Kota Jambi Tahun 2017
Dinas Tata Ruang Dan Cipta Karya Kota Bandung BAB I PENDAHULUAN
BAB I PENDAHULUAN 1.1. GAMBARAN UMUM Dalam rangka meningkatkan penyelenggaraan pemerintahan, pemerintah mewajibkan setiap instansi pemerintah dan unit kerja untuk menyusun laporan kinerjanya sebagai wujud
PEMERINTAH KOTA BANDUNG LAPORAN KINERJA INSTANSI PEMERINTAH (LKIP) SEKRETARIAT DAERAH KOTA BANDUNG TAHUN
PEMERINTAH KOTA BANDUNG LAPORAN KINERJA INSTANSI PEMERINTAH (LKIP) SEKRETARIAT DAERAH KOTA BANDUNG TAHUN 2016 KATA PENGANTAR Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, yang telah melimpahkan rahmat dan
LAPORAN AKUNTABILITAS KINERJA INSTANSI PEMERINTAH (LAKIP) TAHUN 2016
LAPORAN AKUNTABILITAS KINERJA INSTANSI PEMERINTAH (LAKIP) TAHUN 2016 BAGIAN PEMBANGUNAN SEKRETARIAT DAERAH KOTA PADANG TAHUN 2017 D A F T A R I S I KATA PENGANTAR... i DAFTAR ISI... ii I. PENDAHULUAN 1.1
Laporan Kinerja Inspektorat Kabupaten Buleleng Tahun Anggaran 2016
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penyusunan Laporan Kinerja Instansi Pemerintah (LKIP) merupakan amanat dari Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 2006 tentang Pelaporan Keuangan Keuangan dan Kinerja
BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA
BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.1465, 2015 BPKP. Laporan Kinerja. Pemerintah Daerah. Rencana Tindak Pengendalian Penyajian. Asistensi Penyusunan. Pedoman. PERATURAN KEPALA BADAN PENGAWASAN KEUANGAN
2 2015, No Peraturan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara Nomor PER/09/M.PAN/5/2007 tentang Pedoman Umum Penetapan Indikator Kinerja U
No.1465, 2015 BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA BPKP. Laporan Kinerja. Pemerintah Daerah. Rencana Tindak Pengendalian Penyajian. Asistensi Penyusunan. Pedoman. PERATURAN KEPALA BADAN PENGAWASAN KEUANGAN
Sekretariat Daerah Kota Bandung KATA PENGANTAR
KATA PENGANTAR Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, yang telah melimpahkan rahmat dan hidayah-nya, sehingga tugas penyusunan Laporan Kinerja Instansi Pemerintah (LKIP) Sekretariat Daerah Kota Bandung
L A P O R A N K I N E R J A
L A P O R A N K I N E R J A 2 0 1 4 A s i s t e n D e p u t i B i d a n g P e m b e r d a y a a n M a s y a r a k a t Deputi Bidang Kesejahteraan Rakyat Sekretariat Kabinet Republik Indonesia 2014 K a
2016, No Negara Republik Indonesia Tahun 2014 Nomor 216 Tambahan Lembaran Negara Republik IndonesiaNomor 5584); 4. Undang-Undang Nomor 23 Tah
No.1183, 2016 BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA BSN. SAKIP. Pelaksanaan. Pedoman. PERATURAN KEPALA BADAN STANDARDISASI NASIONAL NOMOR 5 TAHUN 2016 TENTANG PEDOMAN PELAKSANAAN SISTEM AKUNTABILITAS INSTANSI
PEMERINTAH KABUPATEN BANYUASIN INSPEKTORAT KABUPATEN TAHUN 2015 BAB I PENDAHULUAN
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Sejak diundangkannya Peraturan Daerah Kabupaten Banyuasin Nomor 30 Tahun 2005 tanggal 16 Nopember 2005, maka Nomenklatur Badan Pengawas Daerah Kabupaten Banyuasin
LAPORAN KINERJA INSTANSI PEMERINTAH INSPEKTORAT KOTA BLITAR TAHUN 2015
LAPORAN KINERJA INSTANSI PEMERINTAH INSPEKTORAT KOTA BLITAR TAHUN 2015 PEMERINTAH KOTA BLITAR INSPEKTORAT Jalan Imam Bonjol Nomor 9 Blitar KATA PENGANTAR Sebagai bentuk telah terlaksananya suatu capaian
DOKUMEN RENCANA KINERJA TAHUNAN DINAS PENCEGAHAN DAN PENANGGULANGAN KEBAKARAN KOTA BANDUNG KOTA BANDUNG TAHUN 2016
DOKUMEN RENCANA KINERJA TAHUNAN DINAS PENCEGAHAN DAN PENANGGULANGAN KEBAKARAN TAHUN 2016 Jalan Sukabumi No. 17 Bandung Telp. (022) 7207113 KATA PENGANTAR Puji dan syukur kami panjatkan Kehadapan Tuhan
Bab II Perencanaan Kinerja
Di kantor Bab II Perencanaan Kinerja 2.1. Perencanaan 2.1.1. Rencana Strategis Tahun 2013-2018 Dalam sistem akuntabilitas kinerja instansi pemerintah, perencanaan stratejik merupakan langkah awal yang
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional mengamanatkan bahwa perencanaan pembangunan daerah adalah satu kesatuan dalam sistem
WALIKOTA YOGYAKARTA PERATURAN WALIKOTA YOGYAKARTA NOMOR 88 TAHUN 2011 TENTANG
PERATURAN NOMOR 88 TAHUN 2011 TENTANG PEDOMAN PENYUSUNAN PENETAPAN KINERJA DAN LAPORAN AKUNTABILITAS KINERJA INSTANSI PEMERINTAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA, Menimbang : a. bahwa dalam rangka penyusunan
