Bab 5 Analisis dan Usulan Perbaikan
|
|
|
- Hartanti Sumadi
- 9 tahun lalu
- Tontonan:
Transkripsi
1 70 Bab 5 Analisis dan Usulan Perbaikan 5.1. Analisis Analisis merupakan tahap selanjutnya dalam melakukan penelitian, berdasarkan hasil pengumpulan dan pengolahan data dari penelitian yang telah dilakukan di PT. WIKA INTRADE Majalengka. Pada mesin CNC Type TMV-760 sering terjadi pemberhentian sementara yang disebabkan karena kerusakan pada mesin atau peralatan. Hal ini sangat merugikan perusahaan, maka pada bagian ini akan dilakukan analisis dan pembahasan mengenai usulan penerapan Autonomous Maintenance Analisis Nilai Availability Mesin CNC Type TMV-760 Availability adalah rasio yang menunjukkan lamanya waktu yang digunakan oleh suatu mesin pada suatu pabrik terhadap waktu yang sudah ditentukan sebelumnya. Availability juga dapat menunjukkan ukuran sejauh mana sebuah mesin dapat berfungsi dengan baik atau dapat juga dikatakan sebagai probabilitas suatu sistem beroperasi sesuai fungsinya dalam suatu waktu tertentu dalam kondisi operasi yang telah ditetapkan. Adapun nilai dari hasil perhitungan Availability adalah dapat dilihat pada Tabel 5.1. dan Tabel 5.2. sebagai berikut: Bulan Loading Time (mnt) Tabel 5.1. Nilai hasil perhitungan Availability Total Downtime (mnt) Operation Time (mnt) Availability Ratio (%) Standard Keterangan Januari % Belum Ideal Februari % Belum Ideal Maret % Belum Ideal April % Ideal Mei % Ideal Juni % Ideal Juli % Ideal Agustus % Belum Ideal September % Ideal
2 71 Tabel 5.2. Lanjutan nilai hasil perhitungan Availability Bulan Loading Time (mnt) Total Downtime (mnt) Operation Time (mnt) Availability Ratio (%) Standard Keterangan Oktober % Ideal November % Ideal Desember % Belum Ideal Berdasarkan nilai dari hasil perhitungan Availability (Tingkat Ketersediaan) di PT. WIKA INTRADE Majalengka pada penggunaan mesin CNC Type TMV-760 selama bulan Januari 2010 bulan Desember 2010 terhadap proses machining produk Pipe Intake EON40 HINO diperoleh nilai availability yang berkisar diantara 86.12% %. Berdasarkan hasil tersebut, nilai Availability pada bulan Januari, bulan Februari, bulan Maret, bulan Agustus dan bulan Desember dapat dikatakan belum ideal. Dapat dilihat dari nilai Availability dari ketetapan nilai Availability ideal yaitu lebih besar dari 90%. Sehingga dapat dikatakan bahwa mesin CNC Type TMV- 760 pada bulan tersebut tidak mempunyai nilai availability yang baik Analisis Nilai Performance Efficiency Mesin CNC Type TMV-760 Performance Efficiency merupakan perhitungan Ideal Cycle Time. Ideal Cycle Time merupakan waktu siklus ideal mesin dalam melakukan proses machining terhadap produk Pipe Intake EON40 HINO di mesin CNC Type TMV-760. Untuk menghitung ideal cycle time maka perlu diperhatikan persentase jam kerja terhadap delay, dimana delay sama dengan total downtime. Performance Efficiency dihitung dengan mengalikan processed amount dengan ideal cycle time kemudian dibagi dengan operation time yang hasilnya dinyatakan dalam persentase.
3 72 Adapun nilai dari hasil perhitungan Performance Efficiency adalah sebagai berikut: Bulan Processed Amount (unit) Tabel 5.3. Nilai hasil perhitungan Performance Efficiency Ideal Cycle Time (mnt/unit) Operation Time (mnt) Performance Efficiency (%) Standard Keterangan Januari % Ideal Februari % Ideal Maret % Ideal April % Ideal Mei % Ideal Juni % Ideal Juli % Ideal Agustus % Ideal September % Ideal Oktober % Ideal November % Ideal Desember % Ideal Berdasarkan hasil perhitungan, didapatkan nilai Performance Effeciency dari bulan Januari 2010 bulan Desember 2010 yang berkisar diantara 97.40% %. Dapat dilihat hasil perhitungan tersebut, nilai Performance Effeciency sudah dapat dikatakan ideal, semua komponen sudah memenuhi ketetapan nilai Performance Effeciency ideal yaitu lebih besar dari 95% Analisis Nilai Rate Quality Product Mesin CNC Type TMV-760 Rate of Quality Product merupakan suatu rasio yang menggambarkan kemampuan peralatan/mesin dalam menghasilkan produk yang sesuai dengan standar. Rumus yang digunakan untuk menghitung Rate of Quality Product yaitu pengurangan processed amount dengan defect amount kemudian dibagi dengan processed amount yang hasilnya dinyatakan dalam persentase. Adapun nilai dari hasil perhitungan Rate of Quality Product adalah sebagai berikut:
4 73 Bulan Tabel 5.4. Nilai hasil perhitungan Rate of Quality Product Gross Product (unit) Reject Product (unit) Rate Quality Product (%) Standard Keterangan Januari % Belum Ideal Februari % Belum Ideal Maret % Belum Ideal April % Belum Ideal Mei % Belum Ideal Juni % Belum Ideal Juli % Belum Ideal Agustus % Belum Ideal September % Belum Ideal Oktober % Belum Ideal November % Belum Ideal Desember % Belum Ideal Berdasarkan hasil tersebut, nilai Rate of Quality Product belum bisa dikatakan ideal, karena dari semua bulan pada tahun 2010 nilai Rate of Quality Product kurang dari nilai Rate of Quality Product ideal yaitu lebih dari 99%. Hal ini disebabkan dari jumlah Reject Product masih besar Analisis Nilai Overall Equipment Effectiveness (OEE) Mesin CNC Type TMV-760 Overall Equipment Effectiveness (OEE) adalah tingkat keefektifan fasilitas secara menyeluruh yang merupakan perkalian antara Availability, Performance Efficiency dan Rate Quality Product. Overall Equipment Effectiveness (OEE) merupakan rasio ukuran yang menunjukan apakah peralatan yang digunakan semaksimal mungkin atau belum maksimal. Adapun nilai dari hasil perhitungan Overall Equipment Effectiveness (OEE) adalah sebagai berikut:
5 74 Tabel 5.5. Nilai hasil perhitungan Overall Equipment Effectiveness (OEE) Rate Availability Performance Quality OEE Bulan Ratio Efficiency Standard Keterangan Product (%) (%) (%) (%) Januari % Belum Ideal Februari % Belum Ideal Maret % Belum Ideal April % Ideal Mei % Ideal Juni % Ideal Juli % Ideal Agustus % Belum Ideal September % Ideal Oktober % Ideal November % Ideal Desember % Belum Ideal Berdasarkan hasil tersebut, nilai Overall Equipment Effectiveness (OEE) tidak bisa dikatakan ideal pada bulan Januari, bulan Februari, bulan Maret, bulan Agustus dan bulan Desember, karena nilai OEE nya kurang dari nilai OEE ideal yaitu lebih dari 85%. Sedangkan pada yang lainnya nilai Overall Equipment Effectiveness (OEE) bisa dikatakan ideal, karena nilai OEE lebih dari nilai OEE ideal yaitu lebih dari 85%.. Hal ini disebabkan dari nilai Avaibility dan nilai Rate Quality Product masih ada yang kurang dari nilai idealnya. Penyebab yang paling mendasar adalah terlalu lama downtime dan masih banyaknya produk yang reject, jika nilai ini bisa diperbaiki dengan memperkecil downtime dan produk rejectnya diperendah, maka ini akan memperbaiki nilai dari Avaibility dan nilai dari Rate Quality Product yang sekaligus dapat memperbaiki nilai dari Overall Equipment Effectiveness (OEE).
6 Usulan Perbaikan Setelah kita mengetahui nilai Overall Equipment Effectiveness (OEE) dari mesin CNC Type TMV-760 dalam melakukan proses machining terhadap produk Pipe Intake EON40 HINO dan ternyata nilainya masih ada yang dibawah dari nilai ideal dikarenakan oleh lama downtime mesin disebabkan operator tidak bisa memperbaiki sendiri terhadap kerusakan pada mesin CNC Type TMV-760 dan dari hasil pengamatan matinya listrik dari PLN, Servo Alarm dan setting jig terhadap tools mesin merupakan penyebab cacat pada produk Usulan Perbaikan Nilai Overall Equipment Effectiveness (OEE) Dengan Menerapkan Metode Autonomous Maintenance Perawatan mandiri (Autonomous Maintenance) oleh operator merupakan ciri khas yang unik dari TPM, yaitu pengorganisasian yang merupakan sentral dari promosi TPM dalam perusahaan. Dalam kegiatan produksi di PT. WIKA INTRADE Majalengka, bagian logistik dan peralatan bertugas dalam menajemen perawatan dan menangani mesin-mesin yang mengalami masalah khususnya mesin CNC Type TMV-760. Sedangkan operator mesin belum terlibat langsung dalam menangani mesin-mesin, bagian logistik dan peralatan serta operator mesin masih belum beranjak dari konsep lama yaitu Saya memperbaiki mesin dan Anda menjalankan mesin, artinya perawatan dan perbaikan mesin masih dilakukan bagian logistik dan peralatan, hal ini sangat merugikan karena akan memerlukan waktu yang lama. Melihat dari konsep diatas, oleh karena itu direkomendasikan penerapan konsep autonomous maintenance terhadap operator pada mesin CNC Type TMV-760. Adapun susunan usulan organisasi promosi autonomous maintenance yang dapat dibentuk secara umum dapat dilihat pada gambar di bawah ini.
7 76 Penasehat (Top Management) Pimpinan PT. WIKA INTRADE Tim Pengarah dan Pengasuh (Middle Management) - Bagian Teknik - Bagian Logistik dan Peralatan - Bagian Administrasi - Bagian Supervisor Kepala Regu (Leaders) Operator Mesin Gambar 5.1. Bagan Organisasi Promosi Autonomous Maintenance Pembagian fungsi pokok: 1. Penasehat Dapat dibawahi oleh pimpinan PT. WIKA INTRADE, dengan tugas-tugas sebagai berikut: a. Membantu mempromosikan program autonomous maintenance. b. Membantu dalam menyusun fasilitas dan mengadakan hubungan komunikasi antar bagian. 2. Tim Pengarah dan Pengasuh Dapat dibawahi oleh bagian teknik, bagian logistik dan peralatan, bagian administrasi dan bagian supervisor. Dengan tugas sebagai berikut: a. Menyiapkan serta menyusun konsep yang akan dipakai dalam sistem pelaksanaan autonomous maintenance. b. Memberikan pengarahan terhadap pelaksanaan aktivitas autonomous maintenance, sehingga sasaran autonomous maintenance itu sendiri dapat dicapai secara optimal dalam waktu yang relative cepat. c. Mengawasi pelaksanaan autonomous maintenance secara terus menerus.
8 77 d. Menyusun kondisi dasar (basic condition) serta dasar-dasar perawatan (basic maintenance). e. Menyusun langkah dan menyiapkan materi-materi serta menyiapkan form data untuk pelaksanaan autonomous maintenance. f. Mempelajari setiap adanya penyimpangan dari kondisi dasar dan masalahmasalah yang timbul selama aktivitas autonomous maintenance berlangsung. g. Mengevaluasi kembali dasar-dasar perawatan yang telah diterapkan untuk meningkatkan nilai OEE. 3. Kepala Regu (Leaders) Tugas kepala regu diantaranya yaitu: a. Sebagai kepala regu aktivitas dan ketua persiapan aktivitas lapangan. b. Sebagai koodinator pelaksanaan aktivitas autonomous maintenance. c. Mengorganisir dan menggerakan pelaksanaan aktivitas autonomous maintenance. 4. Operator Mesin Tugas operator mesin diantaranya yaitu: a. Melaksanakan kegiatan perawatan sesuai dengan aturan-aturan yang telah dibuat. b. Bertanggung jawab dengan tugasnya dilapangan. Usulan penerapan Metode Autonomous Maintenance pada operator terhadap mesin CNC Type TMV-760 memiliki tujuh tahap, yaitu: Tahap Initial Cleaning atau Pembersihan Awal Operator melakukan inpeksi dan pembersihan terhadap bagian-bagian mesin CNC Type TMV-760 yaitu diantaranya meliputi bagian filter udara, exhaust fan, panel operator, bak sracpt, meja mesin, cover atas mesin, motor pompa hidrolik, tempat finishing rotary dan lain-lain. Adapun gambar-gambar sebagian komponen mesin CNC Type TMV-760 yang harus dibersihkan sebagai berikut:
9 78 Gambar 5.2. Sebagian Komponen Mesin CNC Type TMV-760 yang Harus Dibersihkan Pada kegiatan cleaning akan menemukan secara otomatis kondisi abnormal mesin. Sebelumnya operator sudah melakukan pelatihan tentang bagianbagian mesinnya. Dari hasil waktu pengamatan dilapangan terjadi kondisi abnormal terhadap soket coupler angin dan spindle head. Bisa dilihat pada Gambar 5.3. sebagai berikut: Gambar 5.3. Kondisi Abnormal Terhadap Soket Coupler Angin dan Spindle Head
10 79 Pada tahap pembersihan awal juga operator bisa mengguanakan metode 5S (Seiri, Seiton, Seiso, Seiketsu dan Shitsuke), yaitu: Seiri (Ringkas) yaitu operator membedakan atau memisahkan peralatan yang diperlukan dan yang tidak diperlukan di area mesin. Seiton (Rapi) yaitu operator harus menyimpan peralatan kerja yang tepat sehingga pada saat digunakan tidak kesulitan mecarinya. Seiso (Resik) yaitu operator melakukan pembersihan dan pemeriksaan bagian-bagian mesin dan area sekitar mesin. Seiketsu (Rawat) yaitu operator memelihara kondisi terstandarisasi dalam melakukan kegiatan pembersihan mesin dan area sekitar mesin. Shitsuke (Rajin) yaitu operator rajin membersihkan serta melakukan pemeriksaan bagian-bagian mesin dan area sekitar mesin. Mengisi check sheet abnormal list yang telah dibuat, contoh format tabel check sheet abnormal list yaitu dapat dilihat pada tabel 5.5. Operator mesin CNC Type TMV-760 juga melakukan pemeriksaan rutin harian per shift yaitu seharinya ada tiga shift, dengan usulan format tabel check sheet harian sebagai berikut dapat dilihat pada tabel 5.6.
11 80 Tabel 5.6. Contoh Format Check Sheet Abnormal List Cause Chategory (CC) Team : WIKA INTRADE 1. Dirt 2. M/C Trouble ABNORMALITY LIST Leader : Enan 3. Defective Product 4. Accident Unit : Machining No Date CC SHOP M/C ABNORMALITY COUNTER MEASURE IN CHARGE RESULT 1 06/01/2010 Cacat produk - CNC Type TMV-760 Servo alarm berakibat mata bor patah Penggantian/Perbaikan Teknisi Penggantian mata bor 2 08/02/2010 M/C Trouble - CNC Type TMV-760 Tools pahat jenis facing Ø100 Penggantian/Perbaikan Teknisi Penggantian facing Ø /07/2010 M/C Trouble - CNC Type TMV-760 Z axis tidak bisa pada posisi Zero Penggantian/Perbaikan Teknisi Penggantian Limit Switch
12 81 Tabel 5.7. Contoh Format Check Sheet Harian untuk Mesin CNC Type TMV-760 JUDUL : LEMBAR PEMELIHARAAN HARIAN NO. DOKUMEN : NAMA MESIN : CNC REVISI : TGL DIBERLAKUKAN : 01 Januari 2011 TYPE MESIN LOKASI MESIN Shift : 1 : TMV-760 : MACHINING LAMPIRAN PEMBUAT ATASAN PEMB. PENANGGUNG JAWAB (tanda tangan) (tanda tangan) (tanda tangan) BULAN/TAHUN : JANUARI/2011 Saprudin Enan.,ST M. Syamyarto.,ST Keterangan untuk pengisian check sheet yaitu: Catatan : : Baik : Tidak Baik/Tidak Normal No URAIAN CARA PENGERJAAN STANDAR 1 Periksa tekanan angin Lihat press. Gauge angin Mpa 2 Periksa oli samping, oli hidrolik dan oli pneumatik Lihat dan tambah jika kurang Berada di batas maximum 3 Periksa suara getaran meja Dengarkan dan raba saat digerakan Tidak berisik dan tidak bergetar 4 Periksa baud-baud pengikat jig tidak kendor Lihat dan kecangkan Kencang 5 Periksa switch dan lampu panel bekerja normal Lihat dan coba Berfungsi baik 6 Periksa break Z axis Lihat saat mesin off Z axis tidak turun Aktifkan dan 7 Periksa suara spindle gerakan Tidak berisik 8 Periksa getaran ATC Periksa tombol 9 emergency Coba aktifkan ATC dengan hati-hati Ditekan tombolnya Berfungsi dan tidak bersuara keras Mesin tidak bisa dioperasikan 10 Periksa tools mata bor Lihat Tools tajam TANGGAL
13 82 2. Tahap Elemenasi Sumber Kontaminasi dan Bagian yang tidak Terjangkau Area perawatan pada mesin CNC Type TMV-760 yang terbuka atau bagian luar mesin memungkinkan debu dan kotoran masuk dan bisa menjadi salah satu penyebab kerusakan pada mesin. Sehingga operator dituntut untuk bisa selalu menjaga mesin dari sumber kontaminasi dan mengindentifikasi penyebab yang ditimbulkan oleh sumber kontaminasi tersebut. Bagian-bagian mesin CNC type TMV-760 yang tidak terjangkau diantaranya: slinder, solenoid valve dan magazine tool ini diharapkan operator bisa mencegah terkena sumber kontaminasi dari debu dan kotoran. Apabila terkena kotoran dan mengakibatkan bagian ini rusak membutuhkan waktu yang cukup lama untuk memperbaikinya. Leaders menindak lanjuti dari kondisi abnormal yang ditemukan dengan membuat ide improvement yang mengetahui penyebab timbulnya kerusakan pada kasus kerusakan tools yang akibat dari matinya listrik PLN dan servo alarm sehingga spindle head turun menghantam produk di jig yang sering terjadi, mengakibatkan cacat pada produk dan downtime mesin. Operator bisa menggunakan diagram sebab akibat. Dalam diagram sebab akibat pada Gambar 5.4. berikut ini akan diketahui penyebab tingginya faktor cacat pada produk akibat dari kerusakan mesin.
14 Gambar 5.4. Diagram Sebab Akibat Cacat Produk 83
15 84 Diagram sebab akibat untuk faktor cacat produk adalah sebagai berikut: Mesin Proses produksi yang berjalan secara kontinu menyebabkan pemakaian mesin secara terus menerus dan sistem pendingin mesin tidak berfungsi dengan baik menyebabkan over heat mesin dan umur mesin sehingga terjadi servo alarm serta matinya listrik PLN, breack Z axis sudah kendor harus disetting ulang dan kanpas rem spindle sudah tipis mengakibatkan spindle head turun menghantam produk. Aus pada tools juga menyebabkan cacat pada produk. Manusia Operator mesin tidak melakukan tindakan pengganjalan memakai kayu pada saat spindle head turun menghantam produk yang berakibat cacat terhadap produk. Kurangnya ketelitian dan traning dari operator. Metode Kesalahan dari melakukan setting jig karena seringnya turun naik jig dan juga kesalahan dari mengatur ulang program mesin CNC type TMV-760. Material Kerasnya bahan material produk yang disebabkan karbon (kotoran sisa tungku) yang menempel di produk mengakibatkan pada saat machining mata bor patah menancap diproduk. Langkah-langkah perbaikan yang dapat dilakukan untuk meminimasi produk cacat akibat dari mesin, yaitu dapat dilihat pada Tabel 5.8. dibawah ini: Aspek Mesin Manusia Metode Tabel 5.8. Perbaikan yang Dapat Dilakukan Untuk Meminimasi Cacat Produk Perbaikan yang dapat dilakukan Melakukan pemeliharaan rutin terhadap mesin terutama pada tools yang digunakan pada proses machining dan bagian sistem pendingin mesin (exhaust fan) supaya tidak terjadi over heat mesin mengakibatkan servo alarm. Melakukan perbaikan dengan segera pada mesin yang mengalami kerusakan, terutama pada bagian kanpas rem spindle supaya spindle head tidak turun ke jig. Memberikan pendidikan dan pelatihan kedapa operator terutama tentang pengoperasian mesin, setting mesin dan pemeliharaan mesin. Operator diharapkan cekatan apabila terjadi abnormal pada mesin. Melakukan dengan teliti setting jig dan pemograman mesin sesuai dengan standar
16 85 Material Pemilihan produk dari proses casting, jangan sampai produk yang mengalami kontaminasi karbon (kotoran sisa tungku) pada saat proses casting bisa masuk ke proses machining yang bisa berakibat tools mesin patah karena kerasnya bahan. Dilihat dari data breackdown mesin, gangguan servo alarm sangat sering terjadi terhadap mesin CNC type TMV-760 yaitu 361 kali selama bulan Januari 2010 bulan Desember 2010 dan mempengaruhi tidak idealnya nilai OEE. Leaders juga bisa menggunakan metode WWA (Why-why Analisis) untuk mengetahui penyebab terjadinya servo alarm. Adapun diagram dari analisis tersebut dapat dilihat pada gambar 5.5. Diagram ini menyajikan penyebab-penyebab yang dapat menimbulkan suatu mesin mengalami kerusakan, penyebab permasalah di identifikasi dan dilakukan pengecekan dengan kondisi aktual dilapangan yang menyebabkan servo alarm. Jika penyebab permasalahan tersebut termasuk kedalam faktor utama masalah maka akan ditandai dengan Ya dan dilakukan perbaikan pada kondisi tersebut agar kerusakan pada mesin atau alat dapat diperkecil, tetapi jika penyebab permasalahan tersebut bukan termasuk faktor utama masalah maka akan ditandai dengan Tidak, untuk kondisi Tidak jangan diabaikan tetapi harus juga diperhatikan dan dijaga agar penyebab dari permasalahan tidak menjadi lebih banyak, serta harus dilakukan perbaikan dan perawatan dengan tetap memprioritaskan perbaikan pada kondisi Ya. Adapun diagram dari WWA (Why-why Analisis) adalah sebagai berikut:
17 Why1 Why2 Why3 Why4 Kondisi Aktual Kerusakan pada komponen rangkaian listrik Stop kontak rusak Kerusakan pada rangkaian listrik Kabel putus Rangkaian elektronik rusak Tidak Tidak Mungkin 86 Kerusakan Servo Alarm Kerusakan pada bagian exhaust fan Exhaust fan, tidak dapat berputar Tidak Fisik exhaust fan rusak Tidak Sistem pendinginan mesin tidak berfungsi dengan baik Over Heat Mesin Ya Gambar 5.5. Diagram WWA (Why-why Analisis)
18 87 Pada diagram diatas dapat dilihat ada yang ditandai dengan kondisi Mungkin yaitu pada rangkaian elektronik rusak. Hal ini dapat diartikan bahwa pada rangkaian elektronik rusak bisa dikategorikan sebagai faktor masalah atau bukan, karena pada rangkaian elektronik rusak terjadi servo alarm karena arus listrik yang masuk ke mesin dari PLN bisa tidak stabil jika rangkaian elektronik rusak. Dengan penyelesaian permasalahan tersebut maka permasalah rangkaian elektronik rusak tidak menjadi faktor permasalahan karena dapat dikondisikan dengan Ya atau Tidak. Dari diagram WWA diatas terlihat permasalahan yang mengakibatkan terjadi servo alarm pada mesin CNC type TMV-760 adalah pada system pendinginan mesin sudah tidak berfungsi dengan baik ditandai dengan kondisi Ya. Hal tersebut yang sering mengakibatkan berhentinya proses produksi, sehingga memperbesar downtime mesin. Untuk menanggulagi permasalah tersebut agar tidak sering mengalami servo alarm ditekankan kepada operator yang melakukan pengoperasian mesin untuk selalu memperhatikan system pendinginan mesin apakah berfungsi dengan baik atau tidak. Agar kegiatan produksi dapat berjalan dengan baik sehingga efektivitas kerja bisa ditingkatkan. Dari data kerusakan mesin CNC type TMV-760, kerusakan tools pahat jenis facing Ø100 paling banyak frekuensi kerusakannya yaitu sebanyak 4 kali. Untuk memperbaiki kerusakan atau meminimasi waktu pengerjaan perbaikan tersebut perlu diketahui apa yang menjadi target utama dari perbaikan tersebut, alasan kegunaaan rencana perbaikan tersebut, lokasi aktivitas, urutan aktivitas, orang dan metode perbaikannya. Adapun metode yang digunakan adalah metode 5W-1H. Perbaikan terhadap kerusakan tools pahat jenis facing Ø100 dapat dilakukan dengan merencanakan tindakan-tindakan guna mencapai tujuan utama dengan berbagai metode perbaikan yang secara jelas disajikan dalam Tabel 5.9. berikut ini:
19 88 Tujuan Utama Alasan Kegunaan Lokasi What (Apa) Why (Mengapa) Where (Dimana) Tabel 5.9. Perbaikan Tools Pahat Jenis Facing Ø100 Menggunakan Metode 5W-1H. 5W-1H Jawaban Usulan Apa yang harus dilakukan? Pergantian tools pahat jenis facing Ø100 - Memberikan prioritas perbaikan atau pemeliharaan tehadap tools pahat jenis facing Ø Melihat pergantian atau perbaikan tools pahat jenis facing Ø100 agar proses perbaikan dapat lebih dapat maksimal dan menghasilkan lebih sedikit waktu perbaikan. Mengapa harus Karena - Bagian tools pahat yang dirawat secara berkala akan menghasilkan kinerja yang dilakukan? menghambat optimal dimana apabila kinerja mesin optimal, maka diharapkan kualitas proses produksi produk yang diinginkan akan tercapai. - Perbaikan dilakukan fokus dalam penyelesaian masalah sehingga kecacatan yang diakibatkan rusaknya tools pahat jenis facing Ø100 yang terjadi dapat diminimasi.. 1. Dimana melakukan 1. Di area Mesin - Rencana perbaikan ini dilakukan di area mesin CNC untuk mempersingkat perbaikannya? CNC waktu perbaikannya. 2. Dimana terjadi 2. Di daerah - Operator langsung mengetahui posisi letak tools pahat jenis facing Ø100 yang kerusakannya? magazine tools rusak dan dimana tempat spare partnya, sehingga segera melakukan tindakan 3. Dimana tempat 3. Di ruangan perbaikan. spare part baru? tool store
20 89 When Bilamana dikerjakan Membutuhkan - Lamanya waktu mesin mengalami delay perbaikan tools pahat jenis facing (Bilamana) tidak sesuai dengan banyak waktu Ø100 yang disebabkan harus menunggu bagian maintenance memperbaikinya Urutan tugasnya? karena operator belum mempunyai keahlian dalam perbaikan tools pahat jenis facing Ø Rencana tindakan ini akan dilaksanakan secepatnya, setelah mengetahui dan menemukan faktor-faktor penyebab kerusakan tools pahat jenis facing Ø100. Who Siapa yang Bagian - Permasalahan kerusakan tools pahat jenis facing Ø100 sering ditangani (Siapa) melakukannya dan maintenance terlambat oleh bagian maintenance sehingga menyebabkan waktu perbaikannya siapa yang berwenang tetapi yang menjadi lama. Disebabkan bagian operator belum mempunyai keahlian melakukannya? berwenangnya perbaikan tools pahat jenis facing Ø100 padahal operator yang berwenang Orang adalah operator melakukannya. - Bagian maintenance harus melakukan pelatihan terhadap operator dalam melakukan perbaikan tools pahat jenis facing Ø100. Jadi bila terjadi kerusakan operator langsung bisa melakukan perbaikan, tidak harus menunggu bagian maintenance melakukan perbaikan.
21 90 How Bagaimana cara Sesuai prosedur - Usulan prosedur penggantian tools pahat jenis facing Ø100 yaitu: (Bagaimana) melakukan 1) Pertama-tama operasikan mesin di normal mode. perbaikannya? 2) Selanjutnya posisikan tools pahat jenis facing Ø100 yang mau diganti dan harus ready di spindle. 3) Kemudian pegang tools pahat jenis facing Ø100 dan lepaskan tools pahat jenis facing Ø100 dengan menekan tombol clamp un clamp yang berwana merah. 4) Ambil tools pahat jenis facing Ø100 yang rusak, kemudian lepaskan tools pahat jenis facing Ø100 dari collet. Metode 5) Selanjutnya check tools pahat jenis facing Ø100 yang baru, jika kondisi bagus pasangkan tools pahat jenis facing Ø100 yang baru ke collet, kemudian pasangkan ke spindle dengan menekan tombol clamp un clamp. 6) Kemudian melakukan trial check pada produk, apakah hasilnya bagus atau tidak. 7) Jika tidak check ulang tools pahat jenis facing Ø100 dan jika bagus mesin siap dioperasikan. - Panduan standar yang diberikan sangat berguna sebagai pedoman perawatan oleh operator agar bisa melakukannya tanpa menunggu bagian maintenance melakukan perbaikan.
22 91 3. Mengembangkan Cleaning dan Standard Lubrikasi. Setelah melakukan pembersihan awal dan mengidentifikasi sumber-sumber masalah kerusakan mesin, pada tahap ini selanjutnya dapat ditetapkan standar untuk pekerjaan pemiliharaan dasar yang efektif dan cepat untuk mencegah kerusakan yang lebih patal akibat dari salah satunya kesalahan pelumasan, seperti pergantian atau penambahan terhadap hidrolic oil dan slide oil. Cleaning Standards Pembersihan kotoran yang melekat pada bagian mesin Pembersihan ceceran scrap dilantai sisa produksi Pembersihan scrap di bak scrap Contoh usulan format tabel cleaning and lubrication yang dibuat untuk mesin CNC type TMV-760 pada tahapan ini. Tabel Cleaning and Lubrication CLEANING AND LUBRICATION NO. DOKUMEN : NAMA MESIN : CNC REVISI : TGL DIBERLAKUKAN : 01 Januari 2011 TYPE MESIN : TMV-760 PEMBUAT ATASAN PENANGGUNG PEMB. JAWAB LOKASI MESIN : MACHINING LAMPIRAN (tanda tangan) (tanda tangan) (tanda tangan) SHIFT : 1 BULAN/TAHUN : JANUARI/2011 Saprudin Enan.,ST M. Syamyarto.,ST Cleaning Methods Cleaning Tools Cleaning Time Cleaning Cycle Bersihkan dengan kain Kain 10 min Per shift Bersihkan dengan sapu Sapu 3 min Per shift Membuang ketempat pembuangan scrap min Per shift Pembersihan magazine scrap Bersihkan dengan sapu Sapu scrap 2 min Per shift Pembersihan scrap di tempat Bersihkan dengan sapu Sapu, finishing rotary dan angin Compressor 2 min Per shift Pembersihan scrap di meja mesin Bersihkan dengan angin Compressor 3 min Per shift Pembersihan slide oil pump Bersihkan dengan angin Compressor 10 min Per 3 hari Lubrication Standards Mengecek level oli samping dan tempatnya Mengecek level oli hidrolik dan tempatnya Melakukan pengisian oli samping Melakukan penambahan oli hidrolik Melakukan penggantian oli hidrolik Keterangan : Lubrication Methods Lubrication Equipment Lubrication Time Dilihat min Dilihat min Dituangkan memakai corong Dituangkan memakai corong Bersihkan tempatnya dari oli yang lama menggunakan angin, kemudian tuangkan oli yang baru. - Oli samping (slide oil) menggunakan oli RS68 - Oli hidrolik menggunakan oli Turalic 48 Corong oli Corong oli Compressor, corong oli 10 min 25 min Lubrication Cycle Per shift Per shift Per 3 hari Per 6 bulan 30 min Per 1 tahun
23 92 Contoh format tag service oil yang diusulkan buat mesin CNC type TMV- 760 dan ditempel didepan bagian mesin, supaya operator bisa langsung melihat jika sudah waktunya servis oli berikutnya, yaitu sebagai berikut: Gambar 5.6. Contoh Tag Servis Oli Hidrolik yang Diusulkan 4. General Inspection (Inspeksi Umum) Langkah 1 sampai 3 dilakukan untuk mencegah kerusakan, melakukan identifikasi penyebab kerusakan dan mengontrol kondisi dasar pemeliharaan peralatan (pembersihan, pelumasan dan pengencangan baut/mur). pada langkah 4, kita mencoba untuk mengukur kerusakan dengan pemeriksaan umum peralatan. Apalagi, dalam bekerja operator dituntut untuk menjaga komponen mesin dalam kondisi operasi yang baik.
24 93 Pertama-tama, pemimpin anggota TPM dilatih dalam prosedur pemeriksaan (inspeksi satu kategori pada suatu waktu) menggunakan manual pemeriksaan umum disiapkan oleh supervisor dan staf. para pemimpin ini kemudian berbagi apa yang telah mereka pelajari dengan bagian operator. Anggota tim bekerja sama untuk menargetkan area masalah ditemukan pada saat melakukan general inspection pada komponen mesin. Selanjutnya, mengambil tindakan untuk memperbaiki daerah kerusakan dengan bantuan bagian staf maintenance jika diperlukan oleh operator. Gambar 5.7 menunjukkan langkah-langkah yang diperlukan untuk melatih keterampilan operator dan menerapkan inspeksi peralatan umum. Pada umumnya pelatihan pemeriksaan harus dilakukan satu kategori pada suatu waktu, dimulai dengan pengembangan keterampilan. Efektivitas diaudit dan diperkuat dengan pelatihan tambahan dan aplikasi praktis. Siklus pelatihan, audit aplikasi dan dimodifikasi ulang untuk setiap kategori inspeksi. Langkah ke empat ini bisa memakan waktu lama, karena semua operator harus mengembangkan kemampuan untuk mendeteksi kelainan. itu adalah metode terbaik untuk menghasilkan operator yang kompeten, bagaimanapun langkah ini tidak boleh terburu-buru. Hasil positif tidak bisa dicapai sampai setiap pekerja memperoleh semua keterampilan yang diperlukan. Bagian Logistik dan peralatan (Bagian Maintenance) harus sudah menyiapkan maintenance teaching manual atau pemeliharaan mesin manual untuk operator sehingga dapat melakukan inspeksi umum dengan baik. Perusahaan dianjurkan mengadakan pelatihan terhadap operator supaya operator bisa mengembangkan kemampuannya untuk menghasilkan operator yang berkompeten dalam bidang perawatan mesin CNC type TMV-760, sehingga tidak hanya mahir dalam mengoperasikannya saja.
25 94 Tiga langkah pertama autonomous maintenance fokus pada pemenuhan kebutuhan dasar, oleh karena itu upaya pada tahap awal mungkin tidak selalu menunjukkan hasil yang dramatis. pada akhir langkah 4, bagaimanapun, perusahaan harus melihat perubahan yang menakjubkan, seperti pengurangan kegagalan mesin atau tingkat efektivitas mesin secara keseluruhan lebih dari 85 persen. Jika hasilnya belum tercapai saat ini, Keterampilan yang diajarkan dalam langkah-langkah awal mungkin belum menguasai sepenuhnya dan itu juga mungkin menunjukkan rendahnya tingkat keahlian teknis. Jika hal ini terjadi, lebih baik untuk memulai kembali dan mulai dengan bekerja untuk meningkatkan tingkat keahlian teknisnya.
26 95 Tahap Kategori General Inspection Tahap General Inspection Tahap Pelatihan Tahap Persiapan Gambar 5.7. Prosedur Untuk Mengembangkan Pendidikan dan Pelatihan inspeksi
27 96 5. Autonomous Maintenance Inspection Pada step sebelumnya sudah membuat beberapa usulan yaitu pada step pertama telah dibuat tabel check sheet harian, pada step ke tiga telah dibuat tabel cleaning and lubrication. Pada tahapan ini bagian yang berwenang diperusahaan yaitu bagian logistik & peralatan dan supervisor melakukan evaluasi kembali terhadap standar pemeliharaan, cleaning dan lubrikasi yang telah dibuat dengan membandingkan dengan standar pemeliharaan guna melakukan perbaikan penyederhanaan perawatan mesin serta menghilangkan tumpang tindih pada masing-masing kategori. STANDAR AWAL - Tabel Check Sheet Harian (Pada tahap ke 1) - Tabel Cleaning and Lubrication (Pada tahap ke 3) Tahapan ke 5 Maintenance Inspection Bagian Logistik dan Peralatan melakukan evaluasi serta koreksi terhadap standar inspeksi, cleaning dan lubrikasi. Revisi STANDAR BARU - Tabel Check Sheet Harian yang telah direvisi(pada tahap ke 1) - Tabel Cleaning and Lubrication yang telah direvisi(pada tahap ke 3) Gambar 5.8. Skema Perbaikan Standar Inspeksi, Cleaning and Lubrication 6. Workplace Organization and House Keeping Operator dianjurkan untuk meningkatkan penyederhanaan pengaturan tempat kerja dengan mengacu pada 5S (Seiri, Seiton, Seiso, Seiketsu dan Shitsuke), yaitu: Seiri (Ringkas) yaitu operator dituntut operator bisa membedakan atau memisahkan alat-alat yang diperlukan dan yang tidak diperlukan di tempat kerja.
28 97 Seiton (Rapi) yaitu operator harus menyimpan alat-alat di tempat kerja yang tepat sehingga pada saat diperlukan mendadak tidak kesulitan mecarinya. Seiso (Resik) yaitu operator melakukan pembersihkan dan pemeriksaan tempat kerja dan lingkungan tempat kerja. Seiketsu (Rawat) yaitu operator memelihara kondisi terstandarisasi dalam melakukan pekerjaannya. Shitsuke (Rajin) yaitu operator dituntut mempunyai dedikasi terhadap pekerjaannya. Bagian logistik dan peralatan melakukan evaluasi peraturan operator dan klarifikasi tanggung jawab. Serta bagian logistik dan peralatan dapat menetapkan standar kategori tempat kerja operator. Selain memelihara kondisi dasar serta memelihara peralatan, operator juga mempunyai tugas untuk: Menetapkan standar operasi dan pemasangan material yang benar. Melaporkan ke bagian casting jika terjadi kelainan terhadap produk dari proses sebelumnya. Mendeteksi dan memperbaiki kondisi yang tidak normal. Menganalisis data mengenai operasi, kualitas dan kondisi-kondisi pemrosesan mesin. Melakukan servis kecil terhadap mesin dan alat-alat lainnya. 7. Penerapan Program Autonomous Maintenance Melalui aktivitas ini operator mesin CNC type TMV-760 dapat mengembangkan kemampuannya dan mempertinggi moral untuk menjadi operator yang mandiri, terampil dan percaya diri, serta diharapkan untuk memonitor pekerjaan mereka kemudian melakukan perbaikan secara mandiri. Pada tahap ini juga kegiatan kelompok difokuskan pada penghapusan six big losses, serta mengimplementasikan perbaikan-perbaikan di tempat kerja.
29 98 Selain itu, keahlian operator dibagian peralatan dan logistik di PT. WIKA INTRADE Majalengka perlu diperbaiki. Hal tersebut ditunjukan dengan lamanya proses perbaikan yang semestinya dapat diperbaiki dengan cepat tapi dikarenakan motivasi dan pengetahuan masih kurang. Audit Autonomous Maintenance Audit kegiatan staf oleh supervisor dan bagian maintenance, selanjutnya staf memainkan peran penting dalam keberhasilan pengembangan sistem autonomous maintenance. Bagaian supervisor dan bagian maintenance mengaudit kegiatan dengan melihat laporan dari hasil penerapan autonomous maintenance yang telah dilakukan. Audit yang dilakukan oleh bagian supervisor diantaranya: a) supervisor harus menyediakan edaran dengan instruksi yang tepat dan dorongan untuk memberikan motivasi rasa keberhasilan kepada pekerja (operator) saat mereka menyelesaikan setiap langkah. b) Memeriksa keefektifan implementasi Tagging. c) Memeriksa keefektifan implementasi cleaning and inspection. d) Memeriksa kedisiplinan dan kepatuhan implementasi. Audit yang dilakukan oleh bagian maintenance diantaranya: a) Memeriksa hasil laporan audit harian. b) Mempelajari trend keefektifan kegiatan harian. c) Menindaklanjuti hal-hal yang belum terselesaikan, pemecahan masalah, pembuatan keputusan bagi penghilangan penyebab pemborosan dan ketidak efektifan kegiatan cleaning and inspection. d) Mempresentasikan hasil audit harian dan keefektivan pelaksanaan Auntonomous Maintenance, untuk memotivasi kinerja yang lebih baik e) Mengaudit keahlian dan kompentensi operator dalam melakukan tindak lanjut pada temuan kerusakan mesin.
30 Usulan Visual Kontrol Pada Sebagian Komponen Mesin CNC type TMV-760 Visual Control adalah alat bantu visual yang akan memudahkan setiap orang di area kerja, baik pihak manajemen maupun pelaku di area kerja untuk memantau proses dan permasalahannya dengan tepat dalam waktu sekejap. Usulan-usulan visual kontol pada mesin CNC type TMV-760, yaitu: 1. Usulan visual kontrol pada tempat oli samping (slide oil pump) mesin yang tidak adanya batas maksimal dan minimal serta keterangan tempatnya bahwa tempat itu diisi oli samping, bisa dilihat pada Gambar 5.9 dibawah ini.
31 100
32 101 Gambar sebelum dan seseudah melakukan usulan visual kontrol pada tempat oli samping (slide oil pump) gabar Sebelum Gambar 5.9. Sebelum dan sesudah melakukan usulan visual kontrol pada tempat oli samping (slide oil pump) Sesudah
33 Usulan visual kontrol pada tempat oli hidrolik mesin yang tidak adanya keterangan tempat oli hidroliknya. Gambar sebelum dan sesudah melakukan usulan visual kontrol pada tempat oli hidrolik Sebelum Gambar Sebelum dan sesudah melakukan usulan visual kontrol pada tempat oli hidrolik Sesudah
34 103
Bab 3 Metodologi Pemecahan Masalah
Bab 3 Metodologi Pemecahan Masalah 3.1. Flowchart Pemecahan Masalah Pada bagian ini akan diuraikan langkah-langkah pemecahan masalah yang dihadapi dan dapat digambarkan pada flowchart di bawah ini: Gambar
BAB II LANDASAN TEORI
13 BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Total Productive Maintenance Total Productive Maintenance (TPM) adalah teknik silang fungsional yang melibatkan beberapa bagian fungsional perusahaan bukan hanya pada Bagian
No HP : Trainer Agri Group Tier-2
No HP : 082183802878 Tujuan training : Mengubah paradigma operator mesin bahwa kinerja mesin tidak hanya ditentukan oleh departemen maintenance tetapi oleh operator mesin juga. Mesinnya Rusak Kamu Merusak
ANALISIS EFISIENSI PRODUKSI MESIN RING FRAME DENGAN TOTAL PRODUCTIVE MAINTENANCE DI PT INDORAMA SYNTHETICS Tbk
ANALISIS EFISIENSI PRODUKSI MESIN RING FRAME DENGAN TOTAL PRODUCTIVE MAINTENANCE DI PT INDORAMA SYNTHETICS Tbk Disusun Oleh : Nama : Gabriella Aningtyas Varianggi NPM : 33412072 Jurusan : Teknik Industri
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
9 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Overall Equipment Effectiveness ( OEE ) Overall Equipment Effectiveness (OEE) adalah tingkat keefektifan fasilitas secara menyeluruh yang diperoleh dengan memperhitungkan
BAB III METODOLOGI PENELITIAN
BAB III METODOLOGI PENELITIAN Pada bagian ini akan dijelaskan macam-macam langkah yang digunakan dalam melakukan penelitian ini. 3.1 Studi Literatur Studi literatur merupakan tahapan penyusunan landasan
BAB V ANALISA HASIL PERHITUNGAN. Equipment Loss (Jam)
BAB V ANALISA HASIL PERHITUNGAN 5.1 Analisa Nilai Availability Table 5.1 Nilai Availability Mesin Steam Ejector Planned Equipment Loss Time Availability Januari 42 6 36 85.71 Februari 44 7 37 84.09 Maret
PRESENTASI SIDANG SKRIPSI. September
PRESENTASI SIDANG SKRIPSI 1 ANALISIS KINERJA DAN KAPABILITAS MESIN DENGAN PENERAPAN TOTAL PRODUCTIVE MAINTENANCE (TPM) DI PT. X Disusun oleh Nama : Teguh Windarto NPM : 30408826 Jurusan : Teknik Industri
Prosiding SNATIF Ke-1 Tahun ISBN:
Prosiding SNATIF Ke-1 Tahun 201 4 ISBN: 978-602-1180-04-4 ANALISIS PENERAPAN TOTAL PRODUCTIVE MAINTENANCE (TPM) MENGGUNAKAN OVERALL EQUIPMENT EFECTIVENESS (OEE) DAN SIX BIG LOSSES PADA MESIN CAVITEC DI
BAB III METODOLOGI PENELITIAN
27 BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.1. Lokasi Penelitian Penelitian dilakukan pada PT. Kakao Mas Gemilang dan pengambilan data dilakukan pada department teknik dan produksi. 3.2. Pelaksanaan Penelitian
BAB 2 LANDASAN TEORI. Pendapat tersebut sejalan dengan pendapat Stephens (2004:3), yang. yang diharapkan dari kegiatan perawatan, yaitu :
BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1. Definisi maintenance Maintenance (perawatan) menurut Wati (2009) adalah semua tindakan teknik dan administratif yang dilakukan untuk menjaga agar kondisi mesin/peralatan tetap
BAB V ANALISA HASIL Analisis Perhitungan Overall Equipment Effectiveness (OEE)
48 BAB V ANALISA HASIL 5.1. Analisis Perhitungan Overall Equipment Effectiveness (OEE) Analisis perhitungan overall equipment effectiveness di PT. Inkoasku dilakukan untuk melihat tingkat efektivitas penggunaan
BAB V ANALISA HASIL. fokus di dalam program peningkatan kualitas Lean Six Sigma sehingga cacat
BAB V ANALISA HASIL 5.1 Analisa Hasil Pengolahan Data Untuk mencari akar penyebab masalah maka data harus dianalisa untuk menghasilkan perbaikan yang tepat. Hasil pengolahan data pada bab IV dijadikan
BAB V ANALISIS PEMECAHAN MASALAH Analisis Perhitungan Overall Equipmenteffectiveness (OEE).
BAB V ANALISIS PEMECAHAN MASALAH 5.1. Analisis Perhitungan Overall Equipmenteffectiveness (OEE). Analisis perhitungan overall equipment effectiveness pada PT. Selamat Sempurna Tbk. dilakukan untuk melihat
BAB II LANDASAN TEORI
BAB II LANDASAN TEORI 2.1. Pendahuluan Total Productive Maintenance (TPM) merupakan salah satu konsep inovasi dari Jepang, dan Nippondenso adalah perusahaan pertama yang menerapkan dan mengembangkan konsep
AUTONOMOUS MAINTENANCE FOR OPERATORS. Fasilitator: MASDUKI ASBARI
AUTONOMOUS MAINTENANCE FOR OPERATORS Fasilitator: MASDUKI ASBARI PENGANTAR Hukum HEINRICH: Jika tidak ada small problem, maka breakdown akan menjadi zero Sebagian besar breakdown dapat dicegah oleh diri
Jl. Kaliurang Km 14.4 Sleman, DIY 55184 1,2)Email: [email protected] ABSTRAK
Penerapan Metode Total Productive Maintenance (TPM) untuk Mengatasi Masalah Six-Big Losess dalam Mencapai Efisiensi Proses Produksi (Studi Kasus pada PT. Itokoh Ceperindo) Aldila Samudro Mukti 1, Hudaya
Kesimpulan dan Saran BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN
BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN 6.1 Kesimpulan Dengan penerapan total productive maintenance (TPM) menggunakan pengukuran efektivitas dengan melakukan pengukuran dengan cara overall equipment effectiveness
BAB IV METODE PENELITIAN
BAB IV METODE PENELITIAN Metode penelitian ini merupakan cara atau prosedur yang berisi tahapantahapan yang jelas yang disusun secara sistematis dalam proses penelitian. Tiap tahapan maupun bagian yang
Analisa Total Productive Maintenance pada Mesin Machining Center pada PT. Hitachi Power System Indonesia (HPSI) Dengan Menggunakan Metode
Analisa Total Productive Maintenance pada Mesin Machining Center pada PT. Hitachi Power System Indonesia (HPSI) Dengan Menggunakan Metode Overall Equipment Effectiveness (OEE) Achmad Nur Fauzi Program
BAB IV PENGUMPULAN DAN PENGOLAHAN DATA
BAB IV PENGUMPULAN DAN PENGOLAHAN DATA 4.1 Pengumpulan Data Mesin atau peralatan yang menjadi objek penelitian adalah pada bagian pengeringan di PT. XYZ yaitu pada mesin Dryer Twind. Karena mesin ini bersifat
BAB III METODELOGI PENELITIAN
BAB III METODELOGI PENELITIAN Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat Effektivitas dari pada mesin mesin m/c.cr.shaft yaitu mesin : Grinding,Fine Boring,dan Gun drilling. Sebagai langkah di dalam
BAB IV ANALISIS HASIL PENGOLAHAN DATA
BAB IV ANALISIS HASIL PENGOLAHAN DATA 4.1. Analisis Perhitungan Overall Equipment Effectiveness (OEE) Analisa perhitungan overall equipment effectiveness di PT. Sulfindo Adi Usaha dilakukan untuk melihat
BAB V ANALISA. Value added time Leadtime. = 3,22jam. 30,97 jam x 100% = 10,4%
BAB V ANALISA 5.1 Analisa Current State Value Stream Mapping (CVSM) Value stream mapping merupakan sebuah tools untuk memetakan jalur produksi dari sebuah produk yang didalamnya termasuk material dan informasi
BAB V ANALISA PEMECAHAN MASALAH
BAB V ANALISA PEMECAHAN MASALAH 5.1 Analisa Perhitungan Overall Equipment Effectiveness (OEE) Analisa perhitungan Overall Equipment Effectiveness di PT. Gramedia Printing Group dilakukan untuk melihat
BAB III METODOLOGI PENELITIAN
BAB III METODOLOGI PENELITIAN Gambar 3.1 Flow Chart Metodologi Penelitian Metodologi penelitian perlu ditentukan terlebih dahulu, agar di dalam mencari solusi untuk memecahkan masalah lebih terarah dan
METODE PENELITIAN. Penelitian ini dilaksanakan di PT. Perkebunan Nusantara VII Unit Usaha Way
15 III. METODE PENELITIAN A. Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di PT. Perkebunan Nusantara VII Unit Usaha Way Berulu Pesawaran jenis Karet Remah (Crumb Rubber) dari bulan Desember
BAB 3 METODOLOGI PENELITIAN
48 BAB 3 METODOLOGI PENELITIAN Dalam melakukan suatu penelitian perlu dibuat urut-urutan proses pengerjaan yang dilakukan. Urut-urutan proses pengerjaan tersebut disebut Metodologi Penelitian. Hal ini
BAB II LANDASAN TEORI
BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Pendahaluan Total Produktive Maintenance (TPM) merupakan salah satu konsep inovasi dari Jepang, dan Nippondenso adalah perusahaan pertama yang menerapkan dan mengembangkan konsep
AKTIVITAS UNTUK MENINGKATKAN MACHINE AVAILABILITY
AKTIVITAS UNTUK MENINGKATKAN MACHINE AVAILABILITY Meningkatkan Output 1.03-AM Support-R2 1/20 PERUBAHAN PERAN PERAWATAN PERAN LAMA PERAWATAN PERAN BARU PERAWATAN Peran perawatan sebagai pakar PERAN OPERATOR
BAB V ANALISIS HASIL
BAB V ANALISIS HASIL 5.1.Analisis Perhitungan Overall Equipment Effectiveness (OEE) Analisa perhitungan OEE di PT. XYZ dilakukan untuk melihat tingkat efektivitas penggunaan mesin di mesi reaktor R-102
BAB V ANALISA HASIL. sebelumnya menggunakan metode OEE maka dapat disimpulkan bahwa hasil
BAB V ANALISA HASIL Berdasarkan hasil analisa dan perhitungan yang telah dilakukan di bab sebelumnya menggunakan metode OEE maka dapat disimpulkan bahwa hasil pencapain OEE setiap bulannya adalah tidak
3 BAB III METODOLOGI PENELITIAN
3 BAB III METODOLOGI PENELITIAN Bagian ketiga dari laporan skripsi ini menggambarkan langkah-langkah yang akan dijalankan dalam penelitian ini. Metodologi penelitian dibuat agar proses pengerjaan penelitian
Pengenalan 5R (Ringkas, Rapi, Resik, Rawat, Rajin) Universitas Muhammadiyah Sidoarjo 6 Maret 2017
Pengenalan 5R (Ringkas, Rapi, Resik, Rawat, Rajin) Universitas Muhammadiyah Sidoarjo 6 Maret 2017 Apa itu 5R? 5R merupakan kegiatan menata tempat kerja sehingga diperoleh lingkungan kerja yang nyaman dan
BAB 3 METODOLOGI PENELITIAN
BAB 3 METODOLOGI PENELITIAN 3.1. Metode penelitian Berikut ini merupakan flowchart kerangka keseluruhan untuk melakukan penelitian. Menentukan Tema Identifikasi Masalah Menentukan latar belakang masalah
BAB V ANALISIS PEMECAHAN MASALAH
80 N < N, (25.69 < 30 ) maka jumlah data dianggap cukup karena jumlah data atau pengamatan yang teoritis sudah dilampaui oleh jumlah data yang sebenarnya atau aktual. BAB V ANALISIS PEMECAHAN MASALAH 5.1.
Total Productive Maintenance (TPM) Sistem Perawatan TIP FTP UB Mas ud Effendi
Total Productive Maintenance (TPM) Sistem Perawatan TIP FTP UB Mas ud Effendi Total Productive Maintenance Program perawatan yang melibatkan semua pihak yang terdapat dalam suatu perusahaan untuk dapat
LAMPIRAN 1 SURAT KETERANGAN PABRIK
L1 LAMPIRAN 1 SURAT KETERANGAN PABRIK L2 LAMPIRAN 2 Struktur Organisasi L3 LAMPIRAN 3 FOTO PROSES PRODUKSI DAN INSPEKSI 1. First process pemotongan awal material 2. Second process pengeboran diameter luar
PENGUKURAN PRODUKTIFITAS MESIN UNTUK MENGOPTIMALKAN PENJADWALAN PERAWATAN (STUDI KASUS DI PG LESTARI)
PENGUKURAN PRODUKTIFITAS MESIN UNTUK MENGOPTIMALKAN PENJADWALAN PERAWATAN (STUDI KASUS DI PG LESTARI) Fitri Agustina Jurusan Teknik Industri, Universitas Trunojoyo Madura Jl. Raya Telang Po Box 2 Kamal,
Evaluasi Efektivitas Mesin Creeper Hammer Mill dengan Pendekatan Total Productive Maintenance (Studi Kasus: Perusahaan Karet Remah di Lampung Selatan)
Evaluasi Efektivitas Mesin Creeper Hammer Mill dengan Pendekatan Total Productive Maintenance (Studi Kasus: Perusahaan Karet Remah di Lampung Selatan) Melani Anggraini *1), Rawan Utara *2), dan Heri Wibowo
Evaluasi Efektivitas Mesin Filter Press
Petunjuk Sitasi: Yusrizal, & Mesra, T. (2017). Evaluasi Efektivitas Mesin Filter Press. Prosiding SNTI dan SATELIT 2017 (pp. C175-180). Malang: Jurusan Teknik Industri Universitas Brawijaya. Evaluasi Efektivitas
BAB V ANALISIS. Total Waktu (menit)
BAB V ANALISIS 5.1 Analisis Availability Rate Availability Rate mencerminkan seberapa besar waktu loading time yang tersedia yang digunakan disamping yang terserap oleh down time losses. Berikut adalah
BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN
BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN 6.1. Kesimpulan Dari hasil penelitian dan pembahasan yang sudah dijelaskan dalam Bab V, bisa disimpulkan hal-hal sebagai berikut: 1. Kinerja mesin high pressure die casting
BAB III METODOLOGI PENELITIAN
BAB III METODOLOGI PENELITIAN Pada bab ini akan diuraikan metodologi penelitian atau tahapan-tahapan penelitian yang akan dilalui dari awal sampai akhir. Metodologi penelitian perlu ditentukan terlebih
BAB III METODOLOGI PENELITIAN
BAB III METODOLOGI PENELITIAN Gambar 3.1 Flow Chart Metodologi Penelitian Metodologi penelitian perlu ditentukan agar di dalam mencari solusi untuk memecahkan masalah lebih terarah dan mempermudah proses
BAB 3 METODOLOGI PEMECAHAN MASALAH
BAB 3 METODOLOGI PEMECAHAN MASALAH Flow diagram yang dilakukan untuk melakukan pemecahan permasalahan yang terjadi dalam penyusunan skripsi ini adalah sebagai berikut : Mulai Studi Pendahuluan Studi Kepustakaan
ANALISIS EFEKTIVITAS PERALATAN PRODUKSI PADA PT. BAHARI DWIKENCANA LESTARI KABUPATEN ACEH TAMIANG
ANALISIS EFEKTIVITAS PERALATAN PRODUKSI PADA PT. BAHARI DWIKENCANA LESTARI KABUPATEN ACEH TAMIANG Dewi Mulyati Jurusan Teknik Manajemen Industri, Fakultas Teknik Universitas Serambi Mekkah Banda Aceh,
BAB III METODE PENELITIAN. ada sekarang secara sistematis dan faktual berdasarkan data-data. penelitian ini meliputi proses
BAB III METODE PENELITIAN 3.1.Jenis Penelitian Berdasarkan sifatnya, maka penelitian ini digolongkan sebagai penelitian deskritif yaitu penelitian yang berusaha untuk memaparkan pemecahan masalah terhadap
BAB V ANALISA DAN PEMECAHAN MASALAH
BAB V ANALISA DAN PEMECAHAN MASALAH 5.1 Analisa Kerusakan Mesin dan Keputusan Modifikasi Filter Oli Dari data data yang ada di BAB sebelumnya, sudah bisa diketahui bahwa kerusakan mesin khususnya komponen
Total Productive Maintenance (TPM) Sistem Perawatan TIP FTP UB Mas ud Effendi
Total Productive Maintenance (TPM) Sistem Perawatan TIP FTP UB Mas ud Effendi Total Productive Maintenance Program perawatan yang melibatkan semua pihak yang terdapat dalam suatu perusahaan untuk dapat
BAB III METODOLOGI PENELITIAN
BAB III METODOLOGI PENELITIAN Metodologi penelitian adalah suatu paradigma untuk memecahkan masalah yang terjadi agar penelitian ini lebih sistematis dan terarah. Bab ini berisi langkahlangkah pembahasan
BAB III METODOLOGI.
BAB III METODOLOGI Metodologi penelitian merupakan gambaran langkah langkah secara sistematis yang dilakukan penulis dari awal hingga akhir penelitian sehingga pelaksanaan penelitian menjadi jelas dan
BAB IV PEMBAHASAN DAN ANALISIS
BAB IV PEMBAHASAN DAN ANALISIS 4.1. Material dan Bahan Baku Material merupakan bagian yang penting dalam kegiatan produksi yang sedang berlangsung. Material yang digunakan oleh PT. Braja Mukti Cakra dalam
BAB V ANALISIS PEMECAHAN MASALAH
42 BAB V ANALISIS PEMECAHAN MASALAH 5.1. Analisa Hasil Data Dari hasil pembahasan pada bab pengumpulan dan pengolahan data, dapat diketahui beberapa point penting dalam mengetahui jenis-jenis cacat yang
BAB II LANDASAN TEORI
BAB II LANDASAN TEORI 2.1. Pengertian dan Tujuan Maintenance 2.1.1. Pengertian Maintenance Maintenance merupakan suatu fungsi dalam suatu industri manufaktur yang sama pentingnya dengan fungsi-fungsi lain
BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Langkah-langkah yang dilakukan dalam penelitian, adalah sebagai berikut :
BAB III METODOLOGI PENELITIAN Metodelogi penelitian merupakan cara atau prosedur yang berisi tahapatahapan yang jelas yang disusun secara sistematis dalam proses penelitian. Pada bab sebelumnya telah dijelaskan
BAB I PENDAHULUAN. I.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN I.1 Latar Belakang Perkembangan peradaban manusia juga telah memacu peningkatan kebutuhan dan keinginan baik dalam jumlah, variasi jenis, dan tingkat mutu. Perkembangan ini menimbulkan
BAB II LANDASAN TEORI. diarahkan pada tujuan untuk menjamin kelangsungan fungsional dari suatu sistem
7 BAB II LANDASAN TEORI 2.1. Pemeliharaan atau Maintenance Pada dasarnya perawatan (maintenance) merupakan suatu kegiatan yang diarahkan pada tujuan untuk menjamin kelangsungan fungsional dari suatu sistem
BAB V ANALISA. pengambilan keputusan untuk menyelesaikan permasalahan.
BAB V ANALISA Dari hasil pengumpulan dan pengolahan data pada bab sebelumnya maka selanjutnya dilakukan analisa. Analisa yang dilakukan harus lebih terarah sehingga hasilnya menjadi baik dan benar. Atas
BAB II LANDASAN TEORI
BAB II LADASA TEORI Dalam penulisan tugas akhir ini diperlukan teori-teori yang mendukung, diperoleh dari mata kuliah yang pernah didapat dan dari referensi-referensi sebagai bahan pendukung. Untuk mencapai
BAB 3 LANDASAN TEORI
BAB 3 LANDASAN TEORI 3.1. Pengukuran Performansi Pengukuran performansi sering disalah artikan oleh kebanyakan perusahaan saat ini. Indikator performansi hanya dianggap sebagai indikator yang menunjukkan
BAB V ANALISA HASIL. mengetahui tingkat efektivitas penggunaan mesin AU L302,dari data hasil. Availability Ratio (%)
BAB V ANALISA HASIL 5.1 Pembahasan Analisa perhitungan Overal Equipment Effectiveness (OEE) dilakukan untuk mengetahui tingkat efektivitas penggunaan mesin AU L302,dari data hasil perhitungan availability
PERHITUNGAN DAN ANALISIS NILAI OVERALL EQUIPMENT EFFECTIVENESS (OEE) PADA MESIN MESPACK DI PT. UNILEVER INDONESIA DEA DERIANA
PERHITUNGAN DAN ANALISIS NILAI OVERALL EQUIPMENT EFFECTIVENESS (OEE) PADA MESIN MESPACK DI PT. UNILEVER INDONESIA DEA DERIANA 39410112 LATAR BELAKANG Peningkatan Produktivitas Overall Equipment Effectiveness
1. Tingkat efectivitas dan efisiensi mesin yang diukur adalah dengan Metode Overall
1. Tingkat efectivitas dan efisiensi mesin yang diukur adalah dengan Metode Overall Equipment Effectiveness (OEE) dan Six Big Losses sesuai dengan prinsip TPM (Total Produktive Maintenance) untuk mengetahui
dalam pembahasan sehingga hasil dari pembahasan sesuai dengan tujuan yang
BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Identifikasi Masalah Tahap identifikasi masalah adalah tahap dimana peneliti ingin menemukan masalah yang akan menjadi fokus penelitian. Tahap ini merupakan penggabungan dari
Sistem Manajemen Maintenance
Sistem Manajemen Maintenance Pembukaan Yang dimaksud dengan manajemen maintenance modern bukan memperbaiki mesin rusak secara cepat. Manajemen maintenance modern bertujuan untuk menjaga mesin berjalan
JURNAL REKAYASA DAN MANAJEMEN SISTEM INDUSTRI VOL. 3 NO. 1 TEKNIK INDUSTRI UNIVERSITAS BRAWIJAYA
ANALISA OVERALL EQUIPMENT EFFECTIVENESS UNTUK MEMPERBAIKI SISTEM PERAWATAN MESIN DOP BERBASIS TOTAL PRODUCTIVE MAINTENANCE (Studi Kasus: PT XYZ Malang) THE ANALYSIS OF OVERALL EQUIPMENT EFFECTIVENESS TO
BAB III METODOLOGI PENELITIAN
BAB III METODOLOGI PENELITIAN Metodologi penelitian merupakan gambaran dari tahapan yang dilalui dalam menyelesaikan suatu masalah yang ditemui dalam sebuah penelitian, dimana dibuat berdasarkan latar
Implementasi Metode Overall Equipment Effectiveness Dalam Menentukan Produktivitas Mesin Rotary Car Dumper
Implementasi Metode Overall Equipment Effectiveness Dalam Menentukan Produktivitas Mesin Rotary Car Dumper Melani Anggraini* 1), Marcelly Widya W 2), Kujol Edy F.B. 3) 1,2,3) Program Studi Teknik Industri
BAB V PEMBAHASAN. 5.1 Temuan Utama Temuan utama dari Penelitian ini adalah sebagai berikut:
BAB V PEMBAHASAN Tujuan dari penelitian dengan judul Analisis Pengendalian Dan Perbaikan Kualitas Proses Produksi Dengan Metode Statistical Process Control (SPC) di PT. Surya Toto Indonesia, Tbk. adalah
BAB I PENDAHULUAN. yang digunakan sebagai bahan bakar tungku alternatif baik skala kecil maupun
BAB I PENDAHULUAN 1. Latar Belakang Masalah Semua jenis industri khususnya industri manufaktur membutuhkan suatu kelancaran proses produksi dalam memenuhi tuntutan yang harus dipenuhi untuk menjaga kinerja
ANALISIS TOTAL PRODUCTIVE MAINTENANCE PADA LINI PRODUKSI MESIN PERKAKAS GUNA MEMPERBAIKI KINERJA PERUSAHAAN
ANALISIS TOTAL PRODUCTIVE MAINTENANCE PADA LINI PRODUKSI MESIN PERKAKAS GUNA MEMPERBAIKI KINERJA PERUSAHAAN Achmad Said, Joko Susetyo Jurusan Teknik Industri Fakultas Teknologi Industri Institut Sains
USULAN PENINGKATANOVERALL EQUIPMENT EFFECTIVENESS (OEE) PADA MESINTAPPING MANUAL DENGAN MEMINIMUMKAN SIX BIG LOSSES *
Reka Integra ISSN: 2338-5081 Jurusan Teknik Industri Itenas No.03 Vol.03 Jurnal Online Institut Teknologi Nasional Juli 2015 USULAN PENINGKATANOVERALL EQUIPMENT EFFECTIVENESS (OEE) PADA MESINTAPPING MANUAL
Iyain Sihombing, Novie Susanto*, Hery Suliantoro
ANALISIS EFEKTIVITAS MESIN RENG DENGAN MENGGUNAKAN METODE OVERALL EQUIPMENT EFFECTIVENESS (OEE) DAN FAULT TREE ANALYSIS (FTA) DI CV. ALI GRIYA, SEMARANG Iyain Sihombing, Novie Susanto*, Hery Suliantoro
BAB 4 PENGUMPULAN, PENGOLAHAN DAN ANALISIS DATA
28 BAB 4 PENGUMPULAN, PENGOLAHAN DAN ANALISIS DATA 4.1 Identifikasi masalah Pada bagian produksi di Stamping Plant PT. Astra Daihatsu Motor, banyak masalah yang muncul berkaitan dengan kualitas yang dihasilkan
4 BAB V ANALISIS. Bagian kelima dari dari laporan skripsi ini menjelaskan tentang penulis
4 BAB V ANALISIS 4.1 Analisa Bagian kelima dari dari laporan skripsi ini menjelaskan tentang penulis melakukan analisa dan hasil dari laporan skripsi, dan menguraikan tentang data-data yang telah dikumpulkan
BAB IV METODE PENELITIAN
BAB IV METODE PENELITIAN 4.1. Jenis/Desain Penelitian Berdasarkan tingkat eksplanasi, penelitian dibedakan menjadi tiga, yaitu deskriptif, komparatif, dan asosiatif. Penelitian ini menggunakan pendekatan
STUDI PENERAPAN TOTAL PRODUCTIVE MAINTENANCE (TPM) UNTUK PENINGKATAN EFESIENSI PRODUKSI DI PT. SINAR SOSRO
STUDI PENERAPAN TOTAL PRODUCTIVE MAINTENANCE (TPM) UNTUK PENINGKATAN EFESIENSI PRODUKSI DI PT. SINAR SOSRO TUGAS SARJANA Diajukan untuk Memenuhi Sebagian dari Syarat-Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Teknik
BAB I PENDAHULUAN. masalah dalam mesin/peralatan produksi, misalnya mesin berhenti secara tiba-tiba,
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Terhentinya suatu proses pada lantai produksi sering kali di sebabkan adanya masalah dalam mesin/peralatan produksi, misalnya mesin berhenti secara tiba-tiba,
BAB II LANDASAN TEORI
Tugas Akhir 8 BAB II LANDASAN TEORI 2.1. Pendahuluan Total productive Maintenance (TPM) merupakan salah satu konsep inovasi dari Jepang dan Nipondenso adalah perusahaan pertama yang menerapkan konsep TPM
NASKAH PUBLIKASI ILMIAH ANALISIS TOTAL PRODUCTIVE MAINTENANCE PENINGKATAN EFISIENSI PRODUK MESIN B-3 MELALUI OVERALL EQUIPMENT EFFECTIVENEES (OEE)
NASKAH PUBLIKASI ILMIAH ANALISIS TOTAL PRODUCTIVE MAINTENANCE PENINGKATAN EFISIENSI PRODUK MESIN B-3 MELALUI OVERALL EQUIPMENT EFFECTIVENEES (OEE) Diajukan Sebagai Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Teknik
Pengendalian (Manajemen) Vis ual Dalam Penerapan 5R ( 5S) di Tempat Kerja
Pengertian, T u j uan dan Manfaat Penerapan 5 R ( 5S) di Tempat Kerja Langka h- Langka h P enerapan 5R ( 5S) di Tempat Kerja Pengendalian (Manajemen) Vis ual Dalam Penerapan 5R ( 5S) di Tempat Kerja Pengertian,
Trainer Agri Group Tier-2
No HP : 082183802878 PERAWATAN / MAINTENANCE kegiatan untuk memelihara atau menjaga fasilitas atau peralatan mesin kegiatan pemeliharaan, perbaikan penyesuaian, maupun penggantian sebagian peralatan yang
Analisis Overall Equipment Effectiveness pada Mesin Wavetex 9105 di PT. PLN Puslitbang
Analisis Overall Equipment Effectiveness pada Mesin Wavetex 9105 di PT. PLN Puslitbang Yustine Intan Dwi Wijaya1), Ilham Priadythama2) 1,2) Program Studi Teknik Industri, Fakultas Teknik, Universitas Sebelas
BAB I PENDAHULUAN. Pembuatan dies dilakukan pada Departemen Machinery in Die Section. menjadi surface part yang diinginkan dilakukan disini.
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang PT. RKN Forge Indonesia merupakan perusahaan yang bergerak dibidang manufaktur dengan forging atau penempaan sebagai proses produksinya. Part yang dihasilkan merupakan
Analisis Efektivitas Mesin Stripping Menggunakan Metode Overall Equipment Effectiveness dan Failure Mode and Effect Analysis
Petunjuk Sitasi: Himawan, R., Choiri, M., & Saputra, B. (2017). Analisis Efektivitas Mesin Stripping Menggunakan Metode Overall Equipment Effectiveness dan Failure Mode and Effect Analysis. Prosiding SNTI
Universitas Widyatama I -1
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Sebuah pabrik atau manufaktur selalu menginginkan target produksi yang direncanakan dapat terpenuhi dengan baik. Akan tetapi karena berbagai faktor baik secara
KEPEKAAN TERHADAP ADANYA LOSSES
FOCUSED IMPROVEMENT Definisi Semua kegiatan yang diarahkan untuk melakukan improvement pada kinerja dan kapabilitas mesin dan tidak terbatas pada merawat kondisi dasar mesin saja Pada umumnya diarahkan
BAB V ANALISA HASIL. 5.1 Analisa Diagram Sebab Akibat. Setelah penulis melakukan observasi ke lapangan serta wawancara secara
BAB V ANALISA HASIL 5.1 Analisa Diagram Sebab Akibat Setelah penulis melakukan observasi ke lapangan serta wawancara secara langsung dan mendapatkan data lengkap. Kemudian penulis melakukan analisa masalah
BAB V ANALISA PEMECAHAN MASALAH
BAB V ANALISA PEMECAHAN MASALAH 5.1 Analisa hasil data Berdasarkan hasil pengumpulan dan pengolahan data maka akan dianalisa untuk menentukan prioritas perbaikan item dari problem sehingga akan diperoleh
BAB III METODOLOGI PENELITIAN
Tugas Akhir 35 BAB III METODOLOGI PENELITIAN Metodologi penelitian atau kerangka pemecahan masalah merupakan tahap tahap penelitian yang harus ditetetapkan terlebih dahulu, sebelum melakukan penelitian
PENERAPAN METODE SIX SIGMA DENGAN KONSEP DMAIC SEBAGAI ALAT PENGENDALIAN KUALITAS PRODUK BUSI MOBIL KIJANG 2000cc
PENERAPAN METODE SIX SIGMA DENGAN KONSEP DMAIC SEBAGAI ALAT PENGENDALIAN KUALITAS PRODUK BUSI MOBIL KIJANG 2000cc Perusahaan Kualitas Six Sigma Mengurangi Resiko Produk Gagal DMAIC Berdasarkan latar belakang
Bab 4 Pengumpulan dan Pengolahan Data
Bab 4 Pengumpulan dan Pengolahan Data 4.1. Pengumpulan Data Pengumpulan data pada tugas akhir ini, secara garis besar terdiri dari gambaran umum perusahaan, data-data perusahaan yang dibutuhkan berhubungan
BAB IV PERHITUNGAN DAN ANALISA DATA
BAB IV PERHITUNGAN DAN ANALISA DATA 4.1. Menentukan Nilai Severity, Occurrence, Detection dan RPN 4.1.1 Oli dan Filter Hidrolik Kotor Kerusakan pada oli dan filter hidrolik dapat menyebabkan kenaikan temperature
Spektrum Industri, 2012, Vol. 10, No ISSN : UPAYA PENINGKATAN PERFORMANSI MESIN PADA INDUSTRI MANUFAKTUR
UPAYA PENINGKATAN PERFORMANSI MESIN PADA INDUSTRI MANUFAKTUR Ahmad Kholid Al-Ghofari, Muchlison Anis, Ayub As Ari Program Studi Teknik Industri UMS Jl. Ahmad Yani Tromol Pos 1 Pabelan Surakarta [email protected]
BAB 3 METODOLOGI PEMECAHAN MASALAH
61 BAB 3 METODOLOGI PEMECAHAN MASALAH 3.1. Model dan Teknik Penyelesaian Masalah Model pengatasan masalah reject dapat digambarkan sebagai berikut: STUDI PUSTAKA TUJUAN PENELITIAN OBSERVASI PERUSAHAAN
Penurunan Tingkat Kecacatan dan Analisa Biaya Rework (Studi Kasus di Sebuah Perusahaan Plastik, Semarang)
Penurunan Tingkat Kecacatan dan Analisa Biaya Rework (Studi Kasus di Sebuah Perusahaan Plastik, Semarang) Debora Anne Y. A., Desy Gunawan Jurusan Teknik Industri, Fakultas Teknologi Industri, Universitas
Penerapan Total Productive Maintenance Pada Mesin Electric Resistance Welding Menggunakan Metode Overall Equipment Effectiveness
Penerapan Total Productive Maintenance Pada Mesin Electric Resistance Welding Menggunakan Metode Overall Equipment Effectiveness Friendy Negarawan 1, Ja far Salim 2, Wahyu Susihono 3 1, 2, 3 Jurusan Teknik
