BAB II GAMBARAN PELAYANAN SKPD

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "BAB II GAMBARAN PELAYANAN SKPD"

Transkripsi

1 BAB II GAMBARAN PELAYANAN SKPD 2.1. Struktur Organisasi,Tugas, dan Fungsi Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur Secara umum Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur mengemban tanggung jawab bagi tercapainya keberhasilan pembangunan bidang pendidikan sesuai dengan visi dan misi yang dicanangkan oleh Pemerintah Provinsi Jawa Timur. Mengacu pada Peraturan Daerah Provinsi Jawa Timur Nomor 9 tahun 2008 tentang Organisasi dan Tata Kerja Dinas Daerah Provinsi Jawa Timur, struktur organisasi Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur sebagai berikut: STRUKTUR ORGANISASI DINAS PENDIDIKANPROVINSI JAWA TIMUR (II-1) RENSTRA Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur

2 Komponen Organisasi Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur adalah sebagai berikut: 1. Kepala Dinas; 2. Sekretariat; 3. Bidang Pendidikan TK/SD dan pendidikan khusus; 4. Bidang Pendidikan Pendidikan Menengah Pertama dan Pendidikan Menengah Atas; 5. Bidang Pendidikan Menengah Kejuruan dan Perguruan Tinggi; 6. Bidang Pendidikan Non Formal, Informal dan Nilai Budaya; 7. Bidang Tenaga Pendidikan dan kependidikan Bagian Sekretariat dan masing masing bidang dipimpin oleh Kepala Bidang dan Kepala Seksi yang berada di bawah dan bertanggung jawab kepada Kepala Dinas. Berdasarkan Peraturan Gubernur Jawa Timur Nomor 81 Tahun 2008 tentang Uraian Tugas Sekretariat, Bidang, Sub Bagian, dan Seksi Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur, dapat diuraikan tugas masing-masing komponen organisasi sebagai berikut: 1. Kepala Dinas Kepala Dinas memiliki tugas yaitu memimpin, mengkoordinasi, mengawasi dan mengendalikan penyelenggaraan kegiatan bidang pendidikan. Dalam melaksanakan tugasnya, Kepala Dinas berada di bawah dan bertanggung jawab kepada Gubernur melalui Sekretaris Daerah. 2. Sekretariat a. Sekretariat mempunyai tugas merencanakan, melaksanakan, mengkoordinasikan dan mengendalikan kegiatan administrasi umum, kepegawaian, perlengkapan, penyusunan program, keuangan, hubungan masyarakat dan protokol. b. Untuk melaksanakan tugas sebagaimana dimaksud pada ayat (1) sekretaris mempunyai fungsi: 1. Pengelolaan administrasi umum; 2. Pengelolaan administrasi kepegawaian; (II-2) RENSTRA Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur

3 3. Pengelolaan administrasi keuangan; 4. Pengelolaan administrasi perlengkapan; 5. Pengelolaan urusan rumah rumah tangga, hubungan masyarakat dan protokol; 6. Pelaksanaan koordinasi penyusunan program dan tugas-tugas bidang; 7. Pengelolaan kearsipan dan perpustakaan Dinas; 8. Pelaksanaan monitoring dan evaluasi organisasi dan tatalaksana; 9. Pelaksanaan tugas-tugas lain yang diberikan oleh Kepala Dinas. c. Susunan Organisasi Sekretariat, terdiri atas: 1. Sub Bagian Tata Usaha; 2. Sub Bagian Penyusunan Program; 3. Sub Bagian Keuangan d. Masing-masing Sub Bagian dipimpin oleh kepala sub bagian yang berada dibawah dan bertanggung jawab kepada sekretaris. 3. Bidang Pendidikan Taman Kanak-Kanak, Sekolah Dasar Dan Pendidikan Khusus. a. Bidang Pendidikan Taman Kanak-Kanak, Sekolah Dasar dan Pendidikan Khusus mempunyai tugas melaksanakan penyiapan kebijakan operasional perluasan kesempatan dan pemerataan memperoleh pendidikan, peningkatan mutu dan relevansi pendidikan serta peningkatan efisiensi dan efektifitas pengelolaan Pendidikan Taman Kanak-Kanak, Sekolah Dasar Dan Pendidikan Khusus. b. Untuk melaksanakan tugas sebagaimana dimaksud pada ayat (1) Bidang Pendidikan Taman Kanak-Kanak, Sekolah Dasar Dan Pendidikan Khusus, mempunyai fungsi: 1. Perumusan kebijakan operasional perluasan dan pemerataan memperoleh pendidikan pada jenjang pendidikan Taman Kanak-Kanak, Sekolah Dasar dan Pendidikan Khusus; 2. Perumusan kebijakan operasional peningkatan mutu dan relevansi penyelenggaraan pendidikan Taman Kanak-Kanak, Sekolah Dasar dan Pendidikan Khusus; (II-3) RENSTRA Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur

4 3. Perumusan kebijakan operasional peningkatan efisiensi dan efektifitas penyelenggaraan dan pengelolaan pendidikan Taman Kanak-Kanak, Sekolah Dasar dan Pendidikan Khusus; 4. Pemantauan, evaluasi dan bimbingan teknis penyelenggaraan dan pengelolaan Taman Kanak-Kanak, Sekolah Dasar, Sekolah Dasar SSN dan Sekolah Dasar Bertaraf Internasional dan Pendidikan Khusus; 5. Pelaksanaan penyiapan standar kompetensi dan kurikulum Taman Kanak-Kanak, Sekolah Dasar dan Pendidikan Khusus, termasuk pelaksanaan sosialisasi dan bimbingan teknis implementasinya; 6. Pelaksanaan koordinasi penyelengaraan pendidikan Taman Kanak- Kanak, Sekolah Dasar dan Pendidikan Khusus; 7. Pelaksanaan koordinasi pembinaan penyelengaraan pendidikan Taman Kanak-Kanak, Sekolah Dasar dan Pendidikan Khusus; 8. Pelaksanaan koordinasi pengembangan dan pengadaan sarana dan prasarana pendidikan Taman Kanak-Kanak, Sekolah Dasar dan Pendidikan Khusus; 9. Pelaksanaan tugas-tugas lain yang diberikan oleh Kepala Dinas. c. Bidang pendidikan Taman Kanak-Kanak, Sekolah Dasar Dan Pendidikan Khusus terdiri atas: 1. Seksi Pendidikan Taman Kanak-Kanak; 2. Seksi Sekolah Dasar; 3. Seksi Pendidikan Khusus. d. Masing-masing seksi dipimpin Kepala Seksi yang berada dibawah dan bertanggung jawab kepada Kepala Bidang. 4. Bidang Sekolah Menengah Pertama Dan Sekolah Menengah Atas a. Bidang Sekolah Menengah Pertama dan Bidang Sekolah Menengah Atas mempunyai tugas melaksanaan penyiapan kebijakan operasional perluasan kesempatan dan pemerataan memperoleh pendidikan, peningkatan mutu dan relevansi pendidikan serta peningkatan efisiensi dan efektifitas pengelolaan pendidikan Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan Sekolah Menengah Atas (SMA). (II-4) RENSTRA Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur

5 b. Untuk menyelenggarakan tugas sebagaimana dimaksud pada ayat (1), Bidang Sekolah Menengah Pertama dan Sekolah Menengah Atas mempunyai tugas: 1. Perumusan kebijakan operasional perluasan dan pemerataan memperoleh pendidikan pada jenjang pendidikan SMP dan SMA; 2. Perumusan kebijakan operasional peningkatan mutu dan relevansi penyelenggaraan pendidikan SMP dan SMA; 3. Perumusan kebijakan operasional peneningkatan efisiensi dan efektifitas penyelenggaraan dan pengelolaan pendidikan SMP dan SMA; 4. Pelaksanaan, pembiayaan, pemantauan, evaluasi dan bimbingan teknis penyelenggaraan dan pengelolaan SMP dan SMA bertaraf internasional; 5. Pelaksanaan penyiapan standar kompetensi dan kurikulum pendidikan SMP dan SMA; 6. Pelaksanaan koordinasi pembinaan penyelenggaraan pendidikan SMP dan SMA; 7. Pelaksanaan penyelenggaran ujian nasional SMP dan SMA; 8. Pelaksanaan koordinasi pengembangan dan pengadaan sarana prasarana pendidikan SMP dan SMA; 9. Pelaksanaan koordinasi penilaian dan akreditasi SMP dan SMA; 10. Penyusunan rencana peningkatan mutu manajemen lembaga SMP dan SMA; 11. Penyusunan pedoman penulisan buku pelajaran/modul SMP dan SMA; 12. Perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi pengadaan buku pelajaran/modul pendidikan, buku paket dan media pendidikan; 13. Pelaksanaan tugas-tugas lain yang diberikan oleh Kepala Dinas. c. Bidang Sekolah Menengah Pertama dan Sekolah Menengah Atas terdiri atas: 1. Seksi Manajemen; 2. Seksi Kurikulum; 3. Seksi Sarana Pendidikan. (II-5) RENSTRA Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur

6 d. Masing-masing Seksi dipimpin Kepala Seksi yang berada dibawah dan bertanggung jawab kepada Kepala Bidang. 5. Bidang Pendidikan Menengah Kejuruan Dan Perguruan Tinggi a. Bidang Pendidikan Menengah Kejuruan dan Perguruan Tinggi mempunyai tugas melaksanaan penyiapan kebijakan operasional perluasan kesempatan dan pemerataan memperoleh pendidikan peningkatan mutu dan relevansi pendidikan serta peningkatan efisiensi dan efektifitas pengelolaan pendidikan menengah kejuruan serta pemberian dukungan sumber daya terhadap penyelenggaraan perguruan tinggi. b. Untuk penyelenggaraan tugas sebagaimana dimaksud pada ayat (1) Bidang Pendidikan Menengah Kejuruan dan Perguruan Tinggi mempunyai fungsi: 1. Pelaksanaan perumusan rencana pembinaan penyelenggaraan pendidikan menengah kejuruan; 2. Pelaksanaan pengembangan penyelenggaraan pendidikan menengah kejuruan; 3. Pelaksanaan, pembiayaan, pemantauan, evaluasi dan bimbingan teknis penyelenggaraan dan pengelolaan Sekolah Menengah Kejuruan bertaraf internasional; 4. Pelaksanaan pengendalian pembinaan dan pengembangan penyelenggaraan Sekolah Menengah Kejuruan; 5. Pelaksanaan perumusan pedoman dan evaluasi pelaksanaan penerimaan siswa baru, mutasi siswa, kalender pendidikan, evaluasi hasil belajar, standar kompetensi dan sertifikasi siswa serta pengembangan kurikulum dan pembelajaran Sekolah Menengah Kejuruan; 6. Pelaksanaan koordinasi dan sinkronisasi pembinaan penyelenggaraan pendidikan Sekolah Menengah Kejuruan; 7. Pelaksanaan pembinaan standarisasi kurikulum, ketenagaan, sarana prasarana, pembelajaran, evaluasi dan manajemen Sekolah Menengah Kejuruan; (II-6) RENSTRA Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur

7 8. Pelaksanaan perumusan pedoman evaluasi pelaksanaan pembukaan dan penutupan sekolah, pengelolaan sekolah, penilaian sekolah dan penilaian pelaksanaan tugas Kepala Sekolah Menengah Kejuruan; 9. Pelaksanaan perumusan rencana peningkatan mutu guru dan Kepala Sekolah dan penetapan kualifikasi jabatan fungsional Kepala Sekolah serta perumusan rencana dari pelaksanaan peningkatan profesionalisme guru, kepala sekolah, instruktur dan Pengawas Sekolah Menengah Kejuruan; 10. Pelaksanaan perumusan pedoman penulisan buku/modul dan peralatan pendidikan Sekolah Menengah Kejuruan; 11. Pelaksanaan perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi pengadaan buku pelajaran/modul dan sarana-prasarana/peralatan pendidikan Sekolah Menengah Kejuruan; 12. Pelaksanaan penyelenggaraan ujian nasional Sekolah Menengah Kejuruan; 13. Pelaksanaan pemberian dukungan sumber daya terhadap penyelenggaraan perguruan tinggi; 14. Pelaksanaan tugas-tugas lain yang diberikan oleh Kepala Diknas. c. Bidang Pendidikan Menengah Kejuruan dan Perguruan Tinggi terdiri atas: 1. Seksi Manajemen; 2. Seksi Kurikulum; 3. Seksi Sarana-Prasarana. d. Masing-masing seksi dipimpin oleh Kepala Seksi yang berada dibawah dan bertanggung jawab kepada Kepala Bidang. 6. Bidang Pendidikan Non Formal, Informal, Dan Nilai Budaya a. Bidang Pendidikan Non Formal, Informal Dan Nilai Budaya mempunyai tugas melaksanakan penyiapan kebijakan operasional perluasan kesempatan dan pemerataan memperoleh pendidikan, peningkatan mutu dan relevansi pendidikan serta peningkatan efisiensi dan efektifitas pengelolaan pendidikan non formal, informal dan nilai budaya. (II-7) RENSTRA Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur

8 b. Untuk menyelenggarakan tugas sebagaimana dimaksud pada ayat (1), Bidang Pendidikan Non Formal, Informal Dan Nilai Budaya mempunyai fungsi: 1. Pelaksanaan perumusan kebijakan operasional perluasan dan pemerataan memperoleh pendidikan non formal, informal dan nilai budaya. 2. Pelaksanaan perumusan kebijakan operasional penyelenggaraan dan pengelolaan pendidikan non formal, informal dan nilai budaya; 3. Pelaksanaan, pembiayaan, pemantauan, evaluasi dan bimbingan teknis penyelenggaraan dan pengelolaan pendidikan non formal, informal dan nilai budaya; 4. Pelaksanaan penyiapan standar kompetensi pendidikan non formal, informal dan nilai budaya termasuk pelaksanaan sosialisasi dan bimbingan teknis impelementasinya; 5. Pelaksanaan koordinasi penyelenggaraan ujian nasional pendidikan kesetaraan dan uji kompetensi pendidikan non formal, informal dan pengembangan nilai budaya; 6. Pelaksanaan koordinasi penyelenggaraan ujian nasional pendidikan kesetaraan dan uji kompetensi pendidikan non formal, informal dan nilai budaya meliputi pengelolaan kelembagaan, kemitraan peserta didik, sarana prasarana, standarisasi, kurikulum dan pembelajaran; 7. Pelaksanaan koordinasi pengembangan dan pengadaan sarana dan prasarana pendidikan non formal, informal dan nilai budaya; 8. Pelaksanaan penyiapan rumusan kebijakan standar, norma, kriteria dan prosedur serta pemberian bimbingan teknis dan evaluasi di bidang pendidikan karakter dan pekerti bangsa; 9. Pelaksanaan koordinasi pembangunan dan sosialisasi nilai-nilai luhur budaya bangsa; 10. Pelaksanaan koordinasi revitalisasi nilai-nilai luhur budaya bangsa; 11. Pelaksanaan tugas-tugas lain yang diberikan oleh Kepala Dinas. (II-8) RENSTRA Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur

9 c. Bidang Pendidikan Non Formal, Informal Dan Nilai Budaya terdiri atas: 1. Seksi Pendidikan Anak Usia Dini; 2. Seksi Pendidikan Masyarakat (Dikmas) Dan Kesetaraan; 3. Seksi Pendidikan Karakter Dan Pekerti Bangsa. d. Masing-masing Seksi dipimpin Kepala Seksi yang berada dibawah dan bertanggung jawab kepada Kepala Bidang. 7. Bidang Tenaga Pendidik dan Kependidikan a. Bidang tenaga pendidik dan kependidikan mempunyai tugas melaksanakan penyiapan kebijakan operasional pembinaan karir, peningkatan mutu dan profesionalisme, pelayanan serta perlindungan profesi tenaga pendidik dan tenaga kependidikan lainnya. b. Untuk menyelenggarakan tugas sebagaimana dimaksud pada ayat (1) Bidang Tenaga Pendidik dan Kependidikan mempunyai fungsi: 1. Pelaksanaan perumusan kebijakan operasional peningkatan mutu dan profesionalisme pendidik dan tenaga kependidikan lainnya; 2. Pelaksanaan perumusan kebijakan peningkatan karir pendidik dan tenaga kependidikan lainnya; 3. Pelaksanaan pembinaan dan peningkatan kompetensi terhadap tugas pokok pendidik dan tenaga kependidikan lainnya; 4. Pelaksanaan pelayanan dan peningkatan kesejahteraan pendidik dan tenaga kependidikan lainnya; 5. Pelaksanaan pemetaan dan pendataan pendidik dan tenaga kependidikan lainnya; 6. Pelaksanaan monitoring dan evaluasi program tenaga kependidikan; 7. Melaksakana tugas-tugas yang diberikan oleh Kepala Dinas. c. Bidang Tenaga Pendidik dan Kependidikan terdiri dari: 1. Seksi Tenaga Pendidik; 2. Seksi Tenaga Kependidikan; 3. Seksi Tenaga Pendidikan Non Formal Dan Informal. d. Masing-masing Seksi dipimpin Kepala Seksi yang berada dibawah dan bertanggung jawab kepada Kepala Bidang. (II-9) RENSTRA Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur

10 2.2. Sumber Daya Manusia Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur Berdasarkan Daftar Urut Kepangkatan (DUK) Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur, diketahui jumlah Pejabat Struktural (Eselon II, III dan IV) di lingkungan Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur sebanyak 36 orang, Staf sebanyak 520 orang, dan kelompok fungsional yang terdiri dari guru dan pengawas sebanyak 157 orang. Dengan demikian totalpegawai negeri yang ada di Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur sebanyak 713orang. Berdasarkan tingkat pendidikan, berikut ini jumlah pegawaisesuai dengan kualifikasinya. Tabel 2.1 Jumlah pegawai sesuai dengan kualifikasi pendidikan Kualifikasi Pejabat Struktural Staf Guru Pengawas Total SD SMP SMA Diploma III S S S Jumlah Sumber : Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur Sumberdaya manusia di Dinas Pendidikan sebagaimana digambarkan pada Tabel 2.1, diharapkan Dinas Pendidikan mampu memberikan pelayanan yang berkualitas dalam upaya pembangunan pendidikan di Jawa Timur.Sebagai catatan untuk sumberdaya yang lain belum dapat dipaparkan karena ketersediaan data Kinerja Pelayanan Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur Untuk menggambarkan kinerja layanan Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur, dapat dilakukan dengan menguraikan berbagai capaian pembangunan pendidikan yang berhasil diraih Provinsi Jawa Timur hingga akhir periode pembangunan pendidikan Berbagai indikator yang digunakan untuk menggambarkan keberhasilan pembangunan pendidikan di Jawa Timur, meliputi: 1. Angka Partisipasi Sekolah (APS), Rata-rata lama sekolah, dan Angka Pendidikan yang Ditamatkan (APT) (II-10) RENSTRA Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur

11 2. Angka Partisipasi Kasar (APK) 3. Angka Partisipasi Murni (APM) 4. Angka Putus Sekolah (APuS) 5. Angka Kelulusan (AL) 6. Angka Melanjutkan (AM) 7. Fasilitas Pendidikan 8. Rasio Siswa/Kelas dan Rasio Guru/Siswa 9. Rasio Buta Aksara 10. Pendidikan Anak Usia Dini. Pembangunan pendidikan di Jawa Timur tidak luput dari perhatian terhadap indikator-indikator pendukung di atas.oleh karena itu, sebaiknya terdapat uraian penjelasan mengenai indikator-indikator tersebut.berikut ini akan dibahas lebih detail mengenai masing-masing indikator. 1. Angka Partisipasi Sekolah, Rata-rata Lama Sekolah, dan Angka Pendidikan yang Ditamatkan Angka Partisipasi Sekolah (APS) adalah jumlah murid kelompok usia pendidikan dasar (7-12 tahun, tahun, dan tahun) yang masih menempuh pendidikan dasar dan menengah atau sedang sekolah (SD, SLTP, dan SLTA) per penduduk usia pendidikan dasar dan menengah. Untuk jenjang pendidikan SD/MI, pada tahun 2013 sebesar 999, untuk jenjang SMP/MTs sebesar 989.Secara keseluruhan untuk jenjang pendidikan dasar (SD/MI dan SMP/MTs) sebesar 994. Artinya ada 994anak dari setiap anak usia sekolah 7-15 tahun menempuh pendidikan dasar, dan 6 anak per anak tidak bersekolah. Untuk jenjang pendidikan menengah (SMA/SMK/MA) sebesar 598, artinya ada 598 anak dari setiap anak usia sekolah tahun menempuh pendidikan menengah, sisanya sebesar 402 anak tidak bersekolah.(catatan: data yang terpaparkan di atas bersumber dari BPS, Susenas, sedangkan data yang ada di Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur, untuk APS SMP/MTs sebesar 983 dan untuk SMA/SMK/MA sebesar 630). Dilihat dari sebaran data di tingkat kabupaten/kotapada tahun 2012, tingkat APS yang dicapai bervariasi. (II-11) RENSTRA Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur

12 Angka Partisipasi Sekolah Pendidikan Dasar Kab Sampang Kab Lumajang Kab Bangkalan Kab Gresik Kota Kediri Kab Madiun Gambar 2.1 Angka Partisipasi Sekolah Pendidikan Dasar untuk kelompok tertinggi dan terendah di Kab/Kota Berdasarkan Gambar 2.1, tertinggi dicapai oleh Kabupaten Madiun dengan APS 997, menyusul berikutnya Kota Kediri dengan APS 995, dan pada urutan ketiga Kabupaten Gresik dengan APS 987. Sementara pada tiga daerah yang terendah, Kabupaten Bangkalan dengan APS 938, Kabupaten Lumajang dengan APS 935, dan yang terendah Kabupaten Sampang dengan APS 920. Secara ratarata APS dari berbagai kabupaten/kota di Jawa Timur pada tahun 2012, sebesar 965, dan masih ada 12 kabupaten yang memiliki APS sama atau dibawah angka rata-rata tersebut. Angka Partisipasi Sekolah Pendidikan Menengah Kab Sampang Kab Probolinggo Kab Bangkalan Kab Sidoarjo Kota Madiun Kota Pasuruan Gambar 2.2 Angka Partisipasi Sekolah Pendidikan Menengah untuk kelompok tertinggi dan terendah di Kab/Kota (II-12) RENSTRA Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur

13 Berdasarkan Gambar 2.2, untuk jenjang pendidikan menengah sebaran data APS di tingkat kabupaten/kota di tahun 2012 juga bervariasi. Rata-rata APS dari berbagai kabupaten/kota di Jawa Timur pada tahun 2012, sebesar 539.Terdapat 14 kabupaten yang memiliki APS dibawah angka rata-rata tersebut. Daerah yang memiliki APS jenjang pendidikan menengah tertinggi adalah Kota Pasuruan sebesar 714, berikutnya Kota Madiun dengan APS 700, menyusul Kabupaten Sidoarjo dengan APS 687. Pada kelompok rendah, ada Kabupaten Bangkalan dengan APS 377, berikutnya Kabupaten Probolinggo dengan APS 371, dan yang terendah Kabupaten Sampang dengan APS 332. Mencermati kinerja layanan pendidikan Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur melalui indikasi APS, ada dua hal yang masih memerlukan perhatian, pertama masih rendahnya APS pada jenjang pendidikan menengah. Terbukti lebih dari 40% dari setiap anak usia tahun di Jawa Timur tidak bersekolah di jenjang pendidikan menengah. Kedua, masih tingginya disparitas APS di antara kabupaten/kota di Jawa Timur. Terbukti pada jenjang pendidikan dasar masih ada 13 kabupaten yang memiliki APS dibawah rata-rata provinsi, sementara untuk di jenjang pendidikan menengah ada 14 kabupaten. Rentang perbedaan APS antara kabupaten/kota dengan APS tertinggi dan terendah juga masih besar. Untuk jenjang pendidikan dasar Kabupaten Madiun memiliki APS 997, yang berarti hanya ada 3 anak dari setiap anak usia 7-15 tahun yang tidak bersekolah. Sementara Kabupaten Sampang APSnya 920, artinya ada 80 anak dari setiap anak usia 7-15 tahun tidak sekolah. Pada jenjang pendidikan menengah kondisinya tidak berbeda, Kota Pasuruan yang tertinggi memiliki APS 714, sementara Kabupaten Sampang yang memiliki APS terendah sebesar 332. Rata-rata lama sekolah dihitung dari jumlah penduduk usia 15 tahun ke atas. Pada tahun 2012 sesuai data dari BPS, angka rata-rata lama sekolah sebesar 7,48 tahun. Artinya secara rata-rata penduduk Jawa Timur yang berusia 15 tahun ke atas, menempuh pendidikan hingga kelas 1 SLTP. Bila dijabarkan lebih lanjut pada kelompok-kelompok umur dengan rentang 5 tahunan, nampak bahwa angka rata-rata lama sekolah makin menurun pada kelompok usia yang makin tua. Tertinggi pada kelompok usia tahun, angka rata-rata lama sekolah sebesar 10,08 tahun, dan pada kelompok usia yang lebih tua hingga 65 tahun ke atas, (II-13) RENSTRA Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur

14 angkanya makin menurun. Hal ini membuktikan bahwa pada masa-masa yang lebih kini dibandingkan dengan masa yang lebih lama, layanan pendidikan Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur makin meningkat, atau dapat pula dimungkinkan kondisi tersebut menggambarkan makin meningkatnya tuntutan masyarakat untuk dapat menempuh pendidikan pada jenjang yang lebih tinggi. Pada tahun 2013 sesuai dengan data dari Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur angka rata-rata lama sekolah sebesar 7,5 tahun, atau setingkat dengan kelas 2 SLTP. Lama Sekolah di Kab/Kota Kota Malang Kota Madiun Kota Kediri Kab Bangkalan Kab Sumenep Kab Sampang Gambar 2.3Lama Sekolah untuk kelompok tertinggi dan terendah di Kab/Kota Berdasarkan dari Gambar 2.3 dapat dikaji bahwa sebaran data rata-rata lama sekolah pada kabupaten/kota, terbukti disparitasnya cukup tinggi. Tiga kota yang memiliki angka rata-rata lama sekolah berturut-turut Kota Malang dengan angka rata-rata lama sekolah sebesar 10,87 tahun, atau hampir setingkat kelas 2 SLTA, disusul Kota Madiun sebesar 10,46, dan berikutnya Kota Kediri dengan angka 10,24 tahun. Pada tingkatan yang rendah, ada Kabupaten Bangkalan dengan angka rata-rata lama sekolah sebesar 5,74, berikutnya Kabupaten Sumenep sebesar 5,71 tahun, dan yang paling rendah Kabupaten Sampang sebesar 4,22 tahun. Pada ketiga kabupaten tersebut, terbukti bahwa rata-rata lama sekolah penduduknya berada pada tingkatan tidak lulus SD. Secara keseluruhan perkembangan capaian kinerja pendidikan di Provinsi Jawa Timur terkait dengan Rata-rata Lama Sekolah dari tahun 2009 hingga 2013, dapat digambarkan sebagai berikut: (II-14) RENSTRA Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur

15 Gambar 2.4 Rata-rata Lama Sekolah Penduduk Usia 15 tahun ke atas ,6 7,5 7,4 7,3 7,2 7,1 7 Rata-rata Lama Sekolah Tahun 2009 Tahun 2010 Tahun 2011 Tahun 2012 Tahun 2013 Sumber: Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur dan BPS Provinsi Jawa Timur Angka Pendidikan yang Ditamatkan (APT) merupakan persentase jumlah penduduk, baik yang masih sekolah ataupun tidak sekolah lagi, menurut pendidikan tertinggi yang telah ditamatkan.indikator pendidikan ini bermanfaat untuk menunjukkan capaian hasil pembangunan pendidikan di suatu daerah, selain itu berguna pula untuk menyusun perencanaan penawaran tenaga kerja, terutama untuk mengetahui kualifikasi pendidikan angkatan kerja di suatu wilayah. Prosentase Tamat Sekolah 29,27% 20,13% 20,56% 5,95% Tamat SD Tamat SMP Tamat SMA Tamat PT Gambar 2.5Prosentase tamatan sekolah Sesuai dengan data dari BPS pada tahun 2012, jumlah penduduk usia 15 tahun ke atas yang tidak sekolah atau tidak menamatkan SD sebesar 24,09%, tamat SD sebesar 29,27%, tamat SLTP sebesar 20,13%, tamat SLTA sebesar (II-15) RENSTRA Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur

16 20,56%, dan tamat Perguruan Tinggi (PT) sebesar 5,95%. Bila dicermati hampir seperempat dari penduduk Jawa Timur yang berusia 15 tahun ke atas, tidak memiliki ijasah, dan lebih dari separonya (53,36%) hanya berkualifikasi tertinggi sebagai lulusan SD. Cukup mengherankan dimana yang tamat pendidikan SLTA persentasenya lebih tinggi dibandingkan dengan yang menamatkan pendidikan SLTP. Hal ini bisa terjadi karena angka melanjutkan ke jenjang SLTA lebih besar dibandingkan dengan angka melanjutkan dari SD ke SLTP. Bisa pula dimungkinkan bahwa jenjang pendidikan SLTP memiliki makna yang tidak beda dengan pendidikan SD, utamanya terkait dengan kebutuhan lapangan pekerjaan. Sementara dalam perkembangan terakhir dunia kerja lebih banyak mempersyaratkan tingkat pendidikan SLTA untuk rekruitmen pekerja. Data APT untuk kabupaten/kota memperlihatkan tingkat disparitas antar daerah, seperti hal dengan data indikator yang lain. Di daerah perkotaan persentase penduduk usia 15 tahun ke atas yang menamatkan pendidikan pada jenjang menengah dan PT lebih tinggi, dibandingkan dengan daerah kabupaten.daerah yang persentase penduduknya menamatkan pendidikan SLTA paling tinggi adalah Kota Madiun sebesar 39,95%. Sementara yang paling rendah Kabupaten Sampang, sebesar 6,1%. Prosentase Tamatan PT di Kab/Kota 17,86% Kota Malang Kab Sumenep 2,74% 2,65% 2,56% Kab Bojonegoro Kab Pasuruan Kab Sampang 1,62% Gambar 2.6Prosentase Tamatan PT untuk kelompok tertinggi dan terendah di Kab/Kota Untuk jenjang PT, daerah yang memiliki persentase penduduk usia 15 ke atas menamatkan PT adalah Kota Malang, sebesar 17,86%, dan paling rendah adalah Kabupaten Sampang, hanya sebesar 1,62%. Beberapa daerah lain yang (II-16) RENSTRA Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur

17 persentasenya juga rendah, misalnya Kabupaten Pasuruan, sebesar 2,56%, Kabupaten Bojonegoro sebesar 2,65%, dan Kabupaten Sumenep sebesar 2,74%. Mencermati kondisi tersebut, seharusnya diambil kebijakan untuk memperluas akses pendidikan bagi masyarakat, khususnya pada jenjang pendidikan menengah dan perguruan tinggi. Secara keseluruhan perkembangan capaian kinerja pendidikan di Provinsi Jawa Timur terkait dengan Angka Partisipasi Sekolah (APS) dari tahun 2009 hingga 2013, dapat ditabulasikan sebagai berikut: Tabel 2.2 Perkembangan Angka Partisipasi Sekolah (APS) Jenjang Pendidikan SD/MI (7-12 tahun) Usia 7-12 thn sedang sekolah Jumlah penduduk kelompok usia 7-12 tahun APS SD/MI per SMP/MTs (13-15 tahun) Jumlah murid usia thn Jumlah penduduk kelompok usia tahun APS SMP/MTs per Pendidikan Dasar SD/MI-SMP/MTs (7-15 tahun) Jumlah murid usia 7-15 thn Jumlah penduduk kelompok usia 7-15 tahun APS Pendidikan Dasar per SLTA sederajat (16-18 tahun) Jumlah murid usia thn Jumlah penduduk kelompok usia tahun APS Pendidikan Menengah (16-19 tahun) per Sumber : Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur dan BPS Provinsi Jawa Timur Secara keseluruhan perkembangan capaian kinerja pendidikan di Provinsi Jawa Timur terkait dengan Angka Pendidikan yang Ditamatkanpenduduk usia 15 tahun ke atas, dari tahun 2009 hingga 2013, dapat ditabulasikan sebagai berikut: (II-17) RENSTRA Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur

18 Tabel 2.3 Angka Pendidikan yang Ditamatkan Uraian * Tidak/belum sekolah 10,05 10,91 9,80 9,06 - Tidak tamat SD 16,52 13,95 15,48 15,03 - SD 26,65 30,96 29,51 29,27 - SLTP 19,10 19,62 20,11 20,13 - SLTA 21,24 19,20 19,55 20,56 - PT 6,44 5,36 5,55 5,95 - Jumlah 100,00 100,00 100,00 100,00 - Populasi (000jiwa) *) Data tidak tersedia Sumber: Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur dan BPS Provinsi Jawa Timur 2. Angka Partisipasi Kasar (APK) Angka Partisipasi Kasar (APK) dimaknai sebagairasio jumlah siswa pada jenjang pendidikan SD/SLTP/SLTA atau yang sederajat dibagi dengan jumlah penduduk berusia 7 hingga 18 tahun (7-12 tahun untuk SD atau yang sederajat, tahun untuk SLTP atau yang sederajat dan tahun untuk SLTA atau yang sederajat), berapapun usianya yang sedang sekolah di tingkat pendidikan tertentu terhadap jumlah penduduk kelompok usia yang berkaitan dengan jenjang pendidikan tertentu. Angka APK menunjukkan tingkat partisipasi penduduk secara umum di suatu tingkat pendidikan. APK merupakan indikator yang paling sederhana untuk mengukur daya serap penduduk usia sekolah di masing-masing jenjang pendidikan.meskipun demikian APK merupakan salah satu indikator kinerja utama dalam melihat keberhasilan pembangunan pendidikan yang telah dilakukan Pemerintah Provinsi Jawa Timur. Sampai dengan tahun 2013, APK pada jenjang pendidikan dasar dan menengah di Jawa Timur adalah sebagai berikut: (1) untuk jenjang pendidikan SD/MI/Paket A, sebesar 112,7; (2) untuk jenjang pendidikan SMP/MTs/Paket B, sebesar 102,22, dan (3) untuk jenjang pendidikan SMA/SMK/MA/Paket C, sebesar 78,21. Dibandingkan dengan APK rata-rata secara nasional, untuk jenjang pendidikan dasar (SD/MI/Paket A dan SMP/MTs/Paket B) capaian APK Jawa Timur dapat dikatakan baik, karena telah berada di atas APK rata-rata secara nasional. Meskipun demikian bila dibandingkan dengan APK dari provinsi lain (II-18) RENSTRA Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur

19 yang ada di Jawa, tingkat APK Jawa Timur berada pada posisi paling rendah. Sementara untuk jenjang pendidikan menengah, capaian APK Jawa Timur masih berada di bawah rata-rata nasional. Selain itu bila dikaitkan dengan target kinerja yang dirumuskan dalam Renstra Kementerian Pendidikan Nasional, terbukti capaian APK Jawa Timur masih berada dibawah angka yang ditargetkan. APK Jenjang SD/MI di Kab/Kota 141,66 141,17 134,09 105,78 105,05 105,04 Kota Blitar Kota Kediri Kota Madiun Kab Jombang Kab Blitar Kab Sidoarjo Gambar 2.7 APK Jenjang SD/MI kelompok tertinggi dan terendah di Kab/Kota Dilihat dari sebaran data untuk masing-masing kabupaten/kota pada Gambar 2.7, capaian APK pada jenjang SD/MI/Paket A untuk tahun 2013 yang tertinggi adalah Kota Blitar dengan APK sebesar 141,66, menyusul kemudian Kota Kediri dengan APK sebesar 141,17, dan diikuti oleh Kota Madiun dengan APK sebesar 134,09. Pada tingkatan rendah, Kabupaten Jombang dengan APK sebesar 105,78, berikutnya Kabupaten Blitar dengan APK 105,05, dan yang terendah Kabupaten Sidoarjo dengan APK sebesar 105,04. (II-19) RENSTRA Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur

20 APK Jenjang SMP/MTs di Kab/Kota 137,20 137,13 125,68 94,17 94,11 94,03 Kota Kediri Kota Blitar Kota Pasuruan Kab Sumenep Kab Sampang Kab Probolinggo Gambar 2.8 APK Jenjang SMP/MTs kelompok tertinggi dan terendah di Kab/Kota APK Jenjang SMA/SMK/MA di Kab/Kota 117,52 115,20 106,57 59,83 58,34 48,38 Kota Blitar Kota Kediri Kota Madiun Kab Probolinggo Kab Bangkalan Kab Sampang Gambar 2.9 APK Jenjang SMA/SMK/MA kelompok tertinggi dan terendah di Kab/Kota Untuk jenjang SMP/MTs/Paket B,yang memiliki APK tertinggi adalah Kota Kediri sebesar 137,20, menyusul Kota Blitar dengan APK sebesar 137,13, kemudian Kota Pasuruan dengan APK sebesar 125,68. Untuk kelompok rendah berturut-turut Kabupaten Sumenep dengan APK sebesar 94,17, kemudian Kabupaten Sampang dengan APK sebesar 94,11, dan terendah adalah Kabupaten Probolinggo dengan APK sebesar 94,03. Untuk jenjang SMA/SMK/MA/Paket C, APK tertinggi dicapai oleh Kota Blitar sebesar 117,52, berikutnya Kota Kediri dengan APK sebesar 115,20, kemudian Kota Madiun dengan APK sebesar 106,57. Untuk kelompok rendah ada Kabupaten Probolinggo dengan APK sebesar 59,83, kemudian Kabupaten Bangkalan dengan APK sebesar 58,34, dan yang paling rendah Kabupaten Sampang dengan APK sebesar 48,38. (II-20) RENSTRA Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur

21 Di samping itu pada tahun 2013 seluruh Kabupaten/Kota di Jawa Timur telah mencapai APK untuk jenjang SD/MI/Paket A di atas 100. Kondisi ini membuktikan bahwa banyak anak yang sekolah di jenjang SD/MI/Paket Aberumur lebih tinggi atau lebih rendah dari rentang 7-12 tahun, dan diduga banyak anak yang sekolah di jenjang SD/MI/Paket A masih kurangdari usia 7 tahun. Dampak dari banyaknya anak yang belum usia 7 tahun sudah bersekolah di jenjang SD/MI/Paket A, adalah meningkatnya APK di jenjang SMP/MTs/Paket B. Oleh karena kondisi tersebut mengakibatkan pula banyak anak yang belum berusia 13 tahun telah bersekolah di jenjang SMP/MTs/Paket B. Hal ini terbukti dari data yang ada APK jenjang SMP/MTs/Paket B di semua kabupaten/kota mendekati 100, dan rata-rata APK SMP/MTs/Paket B sebesar 102,22. Sementara itu APK jenjang SMA/SMK/MA/Paket Cmasih rendah, dan hal tersebut pada dasarnya disebabkan oleh banyaknya anak tamatan SMP/MTs/Paket B yang tidak melanjutkan sekolah kejenjang SMA/SMK/MA/Paket C.Dari data sebaran APK kabupaten/kota di Jawa Timur tahun 2013, dapat pula dipahami bahwa terdapat keterkaitan antara capaian APK pendidikan pada jenjang tertentu dengan jenjang di atasnya. Hal tersebut memberikan menyarankan bahwa untuk meningkatkan APK pada jenjang pendidikan tertentu, diperlukan upaya untuk menaikan APK pada jenjang pendidikan yang ada di bawahnya. Terkait dengan program Wajib belajar 12 tahun, keberhasilannya amat ditentukan oleh adanya peningkatan APK pada jenjang SMP/MTs/Paket B. Berdasarkan capaian APK pada semua jenjang seperti diuraikan di atas, ada dua hal yang perlu mendapatkan perhatian, pertama capaian APK di Jawa Timur masih berada di bawah angka target yang dicanangkan di tingkat nasional, selain itu dibandingkan dengan provinsi lain yang ada di Pulau Jawa, APK Jawa Timur berada pada posisi terendah. Untuk itu pengembangan program peningkatan akses terhadap pendidikan utamanya pada jenjang pendidikan menengah (SMA/SMK/MA/Paket C) perlu dilakukan secara intensif.kedua, masalah disparitas tingkat APK pada kabupaten/kota yang masih tinggi, memerlukan pengembangan program yang memprioritaskan peningkatan APK pada kabupaten yang APKnya masih rendah dan berada di bawah APK rata-rata Jawa Timur. (II-21) RENSTRA Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur

22 Secara keseluruhan perkembangan capaian kinerja pendidikan di Provinsi Jawa Timur terkait dengan Angka Partisipasi Kasar (APK) untuk jenjang pendidikan dasar dan menengah, dari tahun 2009 hingga 2013, dapat ditabulasikan sebagai berikut: Tabel 2.4 Angka Partisipasi Kasar (APK) Jenjang Pendidikan Dasar dan Menengah tahun Jenjang Pendidikan SD/MI 113,30 113,82 112,67 112,69 112,70 SMP/MTs 102,69 103,55 102,12 102,15 102,22 SMA/MA/SMK 71,43 73,70 73,78 74,21 78,21 Sumber: Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur dan BPS Provinsi Jawa Timur 3. Angka Partisipasi Murni (APM) Angka Partisipasi Murni (APM) merupakan jumlah penduduk usia sekolah yang sedang bersekolah dengan jumlah penduduk kelompok usia yang berkaitan dengan jenjang sekolah tersebut. Seperti APK, APM juga merupakan indikator daya serap penduduk usia sekolah di setiap jenjang pendidikan, danjuga merupakan salah satu indikator utama keberhasilan pembangunan pendidikanataspemerataan serta perluasan akses pendidikan.pada tahun 2013 APM untuk jenjang pendidikan SD/MI/Paket A sebesar 97,83, untuk jenjang SMP/MTs/Paket B sebesar 86,36, sementara untuk jenjang SMA/SMK/MA/Paket C sebesar 59,78. Berbeda dengan APK, capaian APM di Jawa Timur lebih tinggi dari rata-rata nasional dan juga target APM yang dicanangkan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.Meskipun demikian dilihat dari peningkatannya dari tahun ke tahun sejak tahun 2009, terbukti lamban, bahkan untuk jenjang SD/MI/Paket A justru terjadi penurunan pada tahun 2010 hingga Pada tahun 2009 APM janjang SD/MI/Paket A sebesar 97,71, dan pada tahun 2010 hingga 2012, APM janjang SD/MI/Paket A, berturut-turut 97,08, 97,16, dan 97,23. Pada prinsipnya sulit menjelaskan apa yang menyebabkan terjadinya penurunan APM jenjang SD/MI/Paket A tersebut. Peningkatan yang cukup signifikan sebenarnya terjadi pada jenjang pendidikan SMA/SMK/MA/Paket C, tetapi secara keseluruhan masih berada pada tingkatan yang rendah. (II-22) RENSTRA Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur

23 Untuk sebaran data pada kabupaten/kota, sama seperti indikator keberhasilan pembangunan pendidikan yang lain, disparitasnya masih tinggi. Dari rata-rata APM di Jawa Timur seperti telah dipaparkan di atas, untuk jenjang SD/MI/Paket A, ada 17 kabupaten yang memiliki tingkat APM di bawahnya.untuk jenjang SMP/MTs/Paket B, terdapat 15 kabupaten yang memiliki tingkat APM di bawah rata-rata provinsi. Sementara untuk jenjang SMA/SMK/MA/Paket C, ada 17 kabupaten dengan APM di bawah rata-rata provinsi. Tiga daerah dengan APM jenjang SD/MI/Paket A tertinggi berturut-turut adalah Kota Blitar dengan APM sebesar 146,06, berikutnya Kota Madiun dengan APM sebesar 130,07, dan kemudian Kota Mojokerto dengan APM sebesar 121,31. Kelompok rendah ada pada Kabupaten Sampang dengan APM sebesar 93,16, berikutnya Kabupaten Situbondo dengan APM sebesar 93,00, dan paling rendah Kabupaten Madiun dengan APM sebesar 87,72. Pada jenjang pendidikan SMP/MTs/Paket B, tiga daerah dengan APM tinggi adalah Kota Kediri dengan APM sebesar 115,43, berikutnya Kota Madiun dengan APM sebesar 114,17, dan kemudian Kota Pasuruan dengan APM sebesar 103,37. Untuk kelompok APM rendah ada Kabupaten Jember dengan APM sebesar 73,72, berikutnya Kabupaten Sampang dengan APM sebesar 72,50, dan yang terendah Kabupaten Sumenep dengan APM sebesar 72,32. Pada jenjang pendidikan SMA/SMK/MA/Paket C, tiga daerah dengan APM tinggi adalah Kota Pasuruan sebesar 93,58, menyusul Kota Mojokerto sebesar 88,63, dan kemudian Kota Madiun sebesar 79,26. Untuk tiga daerah yang memiliki APM rendah, adalah Kabupaten Malang dengan APM sebesar 43,28, berikutnya Kabupaten Kediri dengan APM sebesar 38,30, dan yang paling rendah Kabupaten Sampang dengan APM sebesar 21,99. Mencermati pembangunan pendidikan melalui indikasi APM, memberikan pemahaman bahwa persoalan APM pada dasarnya terkait dengan upaya untuk meningkatkannya pada jenjang pendidikan SMA/SMK/MA/Paket C. Selain itu permasalahan juga terkait dengan tinggnya disparitas capaian APM antar kabupaten/kota di Jawa Timur. Kesenjangan terlihat pada lebarnya rentang perbedaan antara Kota dengan angka APM tertinggi dan Kabupaten dengan angka APM terendah. Hal tersebut terjadi pada semua jenjang pendidikan, dan yang (II-23) RENSTRA Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur

24 paling memprihatinkan adalah jenjang SMA/SMK/MA/Paket C, dimana Kabupaten Sampang dengan APM terendah sebesar 21,99 memiliki perbedaan lebih dari empat kali lebih rendah dibandingkan Kota Pasuruan yang memiliki capaian APM tertinggi sebesar 93,58. Secara keseluruhan perkembangan capaian kinerja pendidikan di Provinsi Jawa Timur terkait dengan Angka Partisipasi Murni (APM) untuk jenjang pendidikan dasar dan menengah, dari tahun 2009 hingga 2013, dapat ditabulasikan sebagai berikut: Tabel 2.5 APM SD, SLTP, dan SLTA Jawa Timur Jenjang Pendidikan SD/MI 97,71 97,81 97,16 97,23 97,83 SMP/MTs 85,44 85,94 85,96 86,07 86,36 SMA/MA/SMK 51,96 53,37 54,97 55,94 59,78 Sumber: Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur dan BPS Provinsi Jawa Timur 4. Angka Putus Sekolah (APuS) Angka Putus Sekolah (APuS)-(Singkatan dipergunakan untuk membedakan dengan singkatan Angka Partisipasi Sekolah) - merupakan perbandingan siswa yang tidak tuntas menyelesaikan jenjang pendidikan tertentu dengan jumlah siswa pada jenjang yang bersangkutan dikalikan 100%. Pada prinsipnya APuS memberikan gambaran tentang persentase jumlah anak pada jenjang pendidikan tertentu yang tidak menyelesaikan belajarnya hingga lulus.pembangunan pendidikan diarahkan untuk mengurangi APuS pada semua jenjang pendidikan. Pada tahun 2013, angka putus sekolah pada jenjang pendidikan SD/MI/Paket A, sebesar 0,12, artinya sebesar 0,12% siswa SD/MI/Paket A, tidak dapat menuntaskan sekolahnya di jenjang pendidikan tersebut. Untuk jenjang pendidikan SMP/MTs/Paket B, APuS sebesar 0,37, atau sebesar 0,37% siswa SMP/MTs/Paket B tidak berhasil lulus pada jenjang pendidikan tersebut. Untuk jenjang pendidikan SMA/SMK/MA/Paket C, lebih besar dibanding jenjang di bawahnya, yaitu sebesar 0,68, yang juga memiliki arti sama, ada 0,68% siswa yang tidak menuntaskan pendidikan menengahnya. Dilihat dari pencapaian pembangunan pendidikan APuS pada berbagai jenjang pendidikan di Jawa Timur (II-24) RENSTRA Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur

25 relatif rendah, dan memberikan kesimpulan bahwa penanganan masalah putus sekolah (drop out) di Jawa Timur berhasil dengan baik. Sebaran data APuS untuk kabupaten/kota di Jawa Timur pada dasarnya memberikan gambaran kondisi yang sama dengan indikator keberhasilan pendidikan yang lain. Disparitas antar kabupaten/kota persentase angka putus sekolah relatif masih tinggi. Untuk jenjang SD/MI/Paket A, daerah yang paling berhasil menekan APuS adalah Kabupaten Madiun dan Lamongan, serta Kota Blitar, Mojokerto, dan Madiun, dengan APuS sebesar 0,02. Pada peringkat berikutnya ada Kabupaten Sidoarjo, dan Kota Surabaya, dengan APuS sebesar 0,03, kemudian ada Kabupaten Jombang, Magetan, dan Bojonegoro, serta Kota Kediri dengan APuS sebesar 0,04. Sementara yang kurang berhasil menekan APuS adalah Kabupaten Bondowoso dengan APuS sebesar 0,25, berikutnya Kabupaten Sumenep dengan APuS sebesar 0,31, dan yang paling tinggi Kabupaten Sampang dengan APuS sebesar 0,44. Pada jenjang pendidikan SMP/MTs/Paket B, kondisinya secara umum tidak berbeda dengan jenjang SD/MI/Paket A, disparitasnya juga masih tinggi. Daerah yang paling berhasil mengatasi masalah putus sekolah adalah Kota Surabaya dengan APuS sebesar 0,04, menyusul Kabupaten Lamongan dengan APuS sebesar 0,08, kemudian Kabupaten Ngawi dengan APuS sebesar 0,10. Pada tingkatan rendah, ada Kabupaten Situbondo dengan APuS sebesar o,68, berikutnya Kabupaten Probolinggo dengan APuS sebesar 0,72, dan Kabupaten dengan angka putus sekolah tertinggi pada jenjang SMP/MTs/Paket B, adalah Kabupaten Sampang dengan APuS sebesar 0,78. Sementara pada jenjang pendidikan SMA/SMK/MA/Paket C, dengan ratarata APuS Jawa Timur 0,68, beberapa daerah memiliki APuS di atas 1%. Daerah yang memiliki APuS paling rendah adalah Kabupaten Pacitan dengan APuS sebesar 0,15, berikutnya Kabupaten Bondowoso dengan APuS sebesar 0,36, kemudian Kabupaten Banyuwangi dengan APuS sebesar 0,38. Sementara daerah dengan APuS tinggi adalah Kota Blitar dengan APuS sebesar 1,27, menyusul Kota Surabaya dengan APuS sebesar 1,30, dan daerah yang angka putus sekolahnya paling tinggi adalah Kota Madiun dengan APuS sebesar 1,32. Fenomena menarik pada APuS jenjang menengah, tidak seperti pada jenjang (II-25) RENSTRA Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur

26 pendidikan dasar, APuS di jenjang menengah tinggi tingkatnya pada wilayah perkotaan. Dari 9 (sembilan) kota yang ada di Jawa Timur, 6 (enam) diantaranya memiliki APuS di atas 1%. Sementara di wilayah kabupaten, hanya Kabupaten Sumenep yang angka putus sekolahnya lebih dari 1%.Terbukti bahwa masalah APuS untuk jenjang pendidikan menengah lebih banyak ditemui di wilayah perkotaan, dibandingkan dengan wilayah kabupaten. Secara keseluruhan perkembangan capaian kinerja pendidikan di Provinsi Jawa Timur dalam menurunkan Angka PutusSekolah (APuS) untuk jenjang pendidikan dasar dan menengah, dari tahun 2009 hingga 2013, dapat dikatakan masih bersifat fluktuatif. Untuk jenjang SMP/MTs pada tahun 2011 terjadi lonjakan ApuS dari 0,19 di tahun sebelumnya menjadi 0,41, dan pada tahun-tahun berikutnya menurun perlahan hingga pada tahun 2013 sebesar 0,37. Demikian pula untuk jenjang pendidikan menengah, pada tahun 2011 juga terjadi lonjakan angka putus sekolah. Dari semula ditahun sebelumnya sebesar 0,55 melonjak menjadi 0, ,13 0,37 0, ,13 0,18 0,4 0,41 0,8 0,84 SMA/MA/SMK SMP/MTs ,19 0,15 0,55 SD/MI ,26 0,24 0,56 0 0,2 0,4 0,6 0,8 1 Sumber: Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur Gambar 2.10 Angka Putus Sekolah (ApuS) Jenjang Pendidikan Dasar dan Menengah Di samping ada kemungkinan terjadinya kesalahan dalam pendataan, perlu dilakukan kajian yang cermat untuk menjawab terjadinya lonjakan angka putus sekolah di jenjang SMP/MTs dan SMA/SMK/MA pada tahun Mengingat pada tahun tersebut pada dasarnya tidak ada peristiwa sosial ekonomi yang (II-26) RENSTRA Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur

27 berarti, besar kemungkinan lonjakan tersebut terjadi karena adanya koreksi data atas capaian ApuS pada tahun-tahun sebelumnya. 5. Angka Kelulusan (AL) Angka Kululusan (AL) menunjukkan rasio perbandingan siswa yang berhasil lulus pada jenjang pendidikan tertentu dengan seluruh siswa pada jenjang yang bersangkutan. Pada tahun 2013 pada berbagai jenjang pendidikan capaian hasilnya membanggakan. Untuk jenjang SD/MI/Paket A sebesar 99,92, untuk jenjang SMP/MTs/Paket B sebesar 98,99, dan untuk jenjang SMA/SMK/MA/ Paket C, sebesar 98,27. Meskipun demikian bila dicermati perkembangannya dari tahun ke tahun ternyata AL berfluktuasi dari tahun ke tahun terutama pada jenjang SMP/MTs/Paket B. Untuk jenjang SMA/SMK/MA/ Paket C relatif baik, oleh karena dari tahun ke tahun terus mengalami peningkatan. Kondisi ini dapat dipahami, karena seperti diketahui AL yang dicapai banyak sekali dipengaruhi oleh beberapa faktor, selain variasi kualitas pendidikan yang ada berbagai berbagai lembaga penyelenggara pendidikan,dipengaruhi pula oleh kualitas pelaksanaan Ujian Nasional pada setiap tahunnya. Untuk sebaran data yang ada pada tingkat kabupaten/kota pada tahun 2013, disparitas relatif kecil antar kabupaten/kota. Bahkan untuk jenjang SD/MI/Paket A, perbedaan capaiannya relatif kecil, perbedaan yang layak dikemukakan hanya pada kemampuan untuk mencapai kelulusan 100% ataukah tidak, karena hampir semua kabupaten/kota mencapai AL mendekati angka rata-rata provinsi. Untuk jenjang SD/MI/Paket A, kabupaten/kota yang mampu mencapai AL 100% adalah Kabupaten Pacitan, Trenggalek, Malang, Lumajang, Pasuruan, Sidoarjo, Megetan, Ngawi, Bojonegoro, Lamongan, Gresik, dan Kota Kediri, Blitar, Mojokerto, Madiun, dan Surabaya. Ada 15 (lima belas) kabupaten/kota di Jawa Timur yang mampu mencapai AL 100% untuk jenjang SD/MI/Paket A. Sebagai tambahan, kabupaten/kota yang mencapai AL 100% cenderung sama dari tahun ke tahun. Hal ini membuktikan bahwa ada upaya kabupaten/kota yang telah mencapai AL 100% untuk mempertahankannya pada tahun-tahun berikutnya. Untuk jenjang SMP/MTs/Paket B, disparitasnya antar kabupaten/kota hampir sama dengan jenjang SD/MI/Paket A. Perbedaan yang mencolok pada (II-27) RENSTRA Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur

28 tahun 2013, tidak ada satupun kabupaten/kota yang mencapai AL 100%, bahkan sejak tahun Disparitas hanya terlihat pada capaian AL antara wilayah kota dan kabupaten, pada semua kota yang ada di Jawa Timur capaian ALnya di atas 99%, bahkan Kota Batu capaiannya mendekati 100%, yaitu sebesar 99,98%. Tidak adanya kabupaten/kota yang mampu mencapai AL 100% pada jenjang pendidikan SMP/MTs/Paket B, memerlukan pemikiran dan upaya-upaya kreatif. Pada jenjang SMA/SMK/MA/ Paket C, kondisinya hampir sama dengan jenjang SMP/MTs/Paket B. Pada jenjang pendidikan menengah tersebut, selama 3 tahun terakhir juga belum satupun kabupaten/kota yang mencapai AL 100%. Perbedaan terjadi pada disparitas antara kota dan kabupaten. Bila pada jenjang SMP/MTs/Paket B, wilayah kota rata-rata AL capaiannya tinggi, di atas 99%, pada jenjang SMA/SMK/MA/ Paket C capaian AL pada wilayah perkotaan tidak menggembirakan, bahkan Kota Batu dengan AL sebesar 93,33% terendah di Jawa Timur. Terkait dengan indikator angka kelulusan, masih ada permasalahan yang perlu diselesaikan, utamanya untuk jenjang SMP/MTs/Paket B dan SMA/SMK/MA/ Paket C.Secara keseluruhan Angka Kelulusan (AL) untuk jenjang pendidikan dasar dan menengah, dari tahun 2009 hingga 2013, dapat ditabulasikan sebagai berikut: Gambar 2.11 Angka Kelulusan (AL) Jenjang Pendidikan Dasar dan Menengah ,27 98,99 99, ,14 98,88 99,91 97,73 98,31 99,45 SMA/MA/SMK SMP/MTs ,16 97,6 99,38 SD/MI ,05 99,65 99, Sumber: Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur (II-28) RENSTRA Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur

29 6. Angka Melanjutkan (AM) Angka Melanjutkan (AM) merupakan rasio perbandingan jumlah siswa baru kelas 1 pada jenjang pendidikan tertentu dengan jumlah lulusan jenjang pendidikan sebelumnya.indikator capaian pembangunan ini penting terkait dengan program wajib belajar 12 tahun. Tingkat AM amat dipengaruhi oleh keberhasilan pendidikan pada masing-masing jenjang dan penyediaan fasilitasnya belajar pada jenjang pendidikan selanjutnya, serta bantuan pembiayaan untuk siswa yang kan melanjutkan dan terkendala oleh biaya. Pada tahun 2013 AM untuk Jawa Timur dari jenjang SD/MI/Paket A ke jenjang SMP/MTs/Paket B cukup tinggi, sebesar 98,92, artinya hanya 1,08 siswa yang telah menamatkan pendidikan di jenjang SD/MI/Paket A, tidak melanjutkan ke jenjang pendidikan selanjutnya. Untuk AM dari SMP/MTs/Paket B ke jenjang SMA/SMK/MA/ Paket C, sebesar 87,89, berarti masih ada 12,11% siswa lulusan SMP/MTs/Paket B yang tidak melanjutkan ke jenjang pendidikan selanjutnya.sebaran data AM untuk kabupaten/kota pada jenjang SD/MI/Paket Ake jenjang SMP/MTs/Paket B dapat dikatakan homogen, tingkatannya hampir sama antar kabupaten/kota, dan mendekati angka rata-rata Jawa Timur, bahkan sebagaian besar kabupaten/kota memiliki AM di atas 99%. Sementara AM untuk jenjang SMP/MTs/Paket B ke SMA/SMK/MA/ Paket C lebih variatif. Ada yang memiliki AM sebesar 96,72 yaitu Kabupaten Kediri, ada pula yang capaian AMnya sebesar 79,02, yaitu Kota Batu. Terkait dengan fenomena tersebut, bagi keberhasilan program wajib belajar 12 tahun, diperlukan upaya-upaya untuk memfasilitasi anak-anak lulusan SMP/MTs/Paket B melanjutkan pendidikan ke jenjang SMA/SMK/MA/ Paket C. Secara keseluruhan perkembangan capaian kinerja pendidikan di Provinsi Jawa Timur terkait dengan Angka Melanjutkan (AM) dari SD/MI ke jenjang SMP/MTs dan dari jenjang SMP/MTs ke jenjang SMA/MA/SMK dari tahun 2009 hingga 2013, dapat ditabulasikan sebagai berikut: Tabel 2.6 Angka Melanjutkan (AM) Jawa Timur Uraian SD/MI ke SMP/MTs 97,48 98,61 98,67 98,85 98,92 SMP/MTs ke SMA/SMK/MA 86,11 87,59 87,69 87,78 87,89 Sumber: Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur (II-29) RENSTRA Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur

30 7. Fasilitas Pendidikan Capaian kinerja layanan Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur terkait dengan fasilitas belajar diindikasikan oleh persentase jumlah ruang kelas yang baik dan rusak ringan dari keseluruhan jumlah ruang kelas.jumlah ruang kelas pada tahun 2013 untuk sekolah jenjang SD dan yang sederajat sebanyak Dari jumlah tersebut sebanyak ruang kelas dalam kondisi rusak berat.dengan demikian lebih dari 14% ruang kelas yang tersedia untuk kegiatan belajar di jenjang pendidikan SD dan yang sederajat dalam kondisi rusak berat. Untuk jenjang pendidikan SLTP dan yang sederajat, kondisinya lebih baik, oleh karena ruang kelas yang kondisinya rusak berat hanya sebesar 2,62%, atau sebanyak 912 ruang kelas, dari jumlah keseluruhan ruang kelas sebanyak Dengan demikian untuk jenjang pendidikan SLTP atau yang sederajat, persentase jumlah ruang kelas yang berada dalam kondisi baik dan rusak ringan sebesar 97,38%. Untuk jenjang pendidikan SLTA atau yang sederajat, persentase ruang kelas yang berada dalam kondisi baik dan rusak ringan, lebih tinggi dibandingkan dengan jenjang pendidikan sebelumnya, yaitu sebesar 97,52%. Berdasarkan data tersebut, dapat disimpulkan bahwa fasilitas pendidikan yang memerlukan pemikiran untuk peningkatannya ada pada jenjang pendidikan SD dan yang sederajat. Sebaran data untuk kabupaten/kota pada semua jenjang pendidikan bersifat homogen.artinya tidak ada kabupaten/kota yang persentase ruang kelas yang dalam kondisi baik dan rusak ringan berada jauh lebih rendah atau lebih tinggi dari angka rata-rata di tingkat provinsi.meskipun demikian sejalan dengan peningkatan jumlah warga masyarakat yang membutuhkan layanan pendidikan, diperlukan peningkatan jumlah ruang kelas. Selain itu diperlukan pula peningkatan penyediaan dana untuk pemeliharaan ruang kelas yang kondisinya baik, dan dana perbaikan untuk ruang kelas yang mengalami kerusakan ringan. 8. Rasio Siswa/Sekolah dan Rasio Guru/Siswa Untuk Rasio Siswa/Kelas dan Rasio Guru/Siswa di Provinsi Jawa Timur tahun 2013, dapat dikatakan baik dan telah memenuhi persyaratan sesuai dengan standar proses. Meskipun demikian oleh karena angka rasio yang dihitung dari (II-30) RENSTRA Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur

31 jumlah ruang kelas dibagi dengan jumlah siswa per jenjang pendidikan, maka pada dasarnya angka rasio siswa/kelas dan rasio guru/siswa, belum menggambarkan variasi yang ada pada masing-masing lembaga yang menyelenggarakan pendidikan. Rasio siswa/kelas untuk jenjang SD/MI sebesar 23, artinya masing-masing kelas yang ada di lembaga pendidikan dipergunakan oleh 23 orang siswa SD/MI dalam proses belajar-mengajar. Untuk jenjang SMP/MTs rasio siswa/kelas sebesar 30, dan untuk jenjang SMA/SMK/MA sebesar 33. Sementara itu bila dilihat dari rasio ketersediaan sekolah yang dimaknai sebagai jumlah sekolah jenjang pendidikan tertentu per jumlah penduduk usia pendidikan pada jenjang pendidikan yang bersangkutan, dan sesuai dengan pengembangan program wajar 12 tahun, pada tahun 2013 rasio ketersediaan sekolah untuk jenjang pendidikan menengah sebesar 31, artinya pada setiap penduduk usia tahun, tersedia 31 sekolah. Untuk rasio guru/siswa kondisinya juga telah menunjukkan keberhasilan pembangunan di Jawa Timur. Pada jenjang SD/MI rasio guru/siswa sebesar 13, untuk jenjang SMP/MTs sebesar 12 dan pada jenjang SMA/SMK/MA sama dengan jenjang sebelumnya sebesar 12. Persoalan ketersediaan guru sebenarnya bukan semata persoalan jumlah, akan tetapi lebih dari itu terkait dengan masalah kualifikasi guru, baik dari segi kualifikasi pendidikan maupun status sertifikasinya. Untuk jenjang SD/MI persentase guru yang berkualifikasi akademik D4/S1 sebesar 70,25%, untuk jenjang SMP/MTs sebesar 90,28%, dan untuk jenjang SMA/SMK/MA sebesar 91,90%. Untuk status sertifikasi, pada jenjang SD/MI persentase guru yang telah bersertifikasi sebesar 59,89%, untuk jenjang SMP/MTs 74,20%, dan untuk jenjang SMA/SMK/MA sebesar 66,64%. Secara keseluruhan perkembangan capaian kinerja pendidikan di Provinsi Jawa Timur terkait dengan Rasio Siswa/Sekolah untuk jenjang pendidikan dasar dan menengah, dari tahun 2009 hingga 2013, dapat ditabulasikan sebagai berikut: Tabel 2.7 Rasio Siswa/Sekolah Jenjang Pendidikan Dasar dan Menengah Jenjang Pendidikan Pendidikan Dasar (SD/MI - SMP/ MTs) Jumlah gedung sekolah Jml. Penduduk Kel. Usia 7-15 tahun Rasio (Per ) (II-31) RENSTRA Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur

32 Pendidikan Menengah (SMA/MA/SMK) Jumlah sekolah Jml. Penduduk Kel. Usia tahun Rasio (per ) Sumber: Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur Secara keseluruhan perkembangan capaian kinerja pendidikan di Provinsi Jawa Timur terkait dengan Rasio Siswa/Guru untuk jenjang pendidikan dasar dan menengah, dari tahun 2009 hingga 2013, dapat ditabulasikan sebagai berikut: Tabel 2.8 Rasio Siswa/Guru Jenjang Pendidikan Dasar dan Menengah Jenjang Pendidikan Pendidikan Dasar SD/MI - SMP/ MTs Jumlah Guru Jml. Penduduk Kel. Usia 7-15 tahun (Sedang Sekolah) Rasio (per 1.000) Pendidikan Menengah (SLTA ) usia Tahun Jumlah Guru Jml. Penduduk Kel. Usia tahun (Sedang Sekolah) Rasio (per ) Sumber: Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur 9. Rasio Buta Aksara Capaian hasil layanan pendidikan Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur terkait dengan pemberantasan buta huruf pada dasarnya masih belum maksimal. Oleh karena capaian angka rasio buta aksara ataupun rasio jumlah penduduk usia di atas 15 tahun yang tidak menyandang buta huruf belum sesuai dengan target yang ditetapkan oleh Kementerian Pendidikan Nasional dalam RPJMN tahun Secara berurutan rasio buta huruf pada tahun 2013 untuk penduduk usia tahun sebesar 0,59, untuk penduduk usia tahun sebesar 2,24, dan untuk penduduk usia 65 tahun ke atas sebesar 12,00. Secara keseluruhan rasio buta huruf untuk penduduk usia 15 tahun ke atas sebesar 9,65. Dari sebaran data untuk kabupaten/kota, dapat diketahui kantong-kontong daerah yang masih memerlukan upaya intensif untuk kegiatan pemberantasan buta huruf, yaitu Kabupaten Situbondo, Probolinggo, Bangkalan, Sampang dan Sumenep yang (II-32) RENSTRA Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur

33 rasio buta hurufnya masih berada di atas 20. Secara keseluruhan perkembangan capaian kinerja pendidikan di Provinsi Jawa Timur terkait dengan Rasio Buta Aksara, dari tahun 2009 hingga 2013, dapat ditabulasikan sebagai berikut: Tabel 2.9 Perkembangan Angka Melek Huruf Penduduk Usia 15 tahun ke atas Uraian Jumlah penduduk usia diatas 15 tahun yang bisa membaca dan menulis Jumlah penduduk usia 15 tahun keatas Angka melek huruf (persen) 87,8 88,34 88,79 89,0 90,35 Angka buta Huruf (persen) 12,20 11,66 11,21 11,0 9,65 Sumber: Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur 10. Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) Di Jawa Timur Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) pertumbuhan cukup pesatdi kabupaten/kota. Jumlah lembaga PAUD terus mengalami peningkatan dan pada tahun 2013 mencapai lembaga.sejalan dengan peningkatan lembaganya jumlah siswa PAUD juga mengalami peningkatan dari tahun ke tahun.pada tahun dan pada tahun 2012 jumlahnya sebanyak orang.angka Partisipasi Kasar (APK) PAUD sebesar 86,36. Sementara rasio pendidik/murid PAUD sebesar 9,30. Dari sebaran data untuk kabupaten/kota di Jawa Timur, memberikan gambaran tentang masih tingginya disparitas capaian keberhasilan PAUD antar kabupaten/kota di Jawa Timur. Untuk jumlah lembaga PAUD yang paling banyak Kota Surabaya dengan jumlah lembaga, sementara yang paling kota Mojokerto sebanyak 59 lembaga. Perbedaan ini sebenarnya lebih disebabkan oleh luas wilayah dan jumlah penduduk di kedua daerah tersebut.untuk rasio tenaga pendidik PAUD pada setiap 100 murid, angka tertinggi didapati pada Kota Surabaya sebesar 22, dan yang paling kecil adalah Kabupaten Trenggalek. Terkait dengan rasio tersebut, diperlukan segera penambahan tenaga pendidik PAUD, disertai dengan kebijakan untuk pemerataan (II-33) RENSTRA Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur

34 penempatannya di berbagai kabupaten/kota. Secara keseluruhan perkembangan capaian kinerja pendidikan di Provinsi Jawa Timur terkait dengan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) dari tahun 2009 hingga 2013, dapat ditabulasikan sebagai berikut: Tabel 2.10 Jumlah Lembaga, Murid, Tenaga Pendidikan PAUDdi Jawa Timur Tahun Uraian Jumlah Lembaga PAUD Jumlah Tenaga Pendidik PAUD Jumlah Murid PAUD (4-6 Tahun) Jumlah Anak Usia 4-6 Tahun Angka Partisipasi PAUD 42,59 45,01 44,77 40,98 - Rasio Tenaga Pendidik dan Murid 7,08 7,15 7,96 9,30 - APK PAUD ,36 Sumber: Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur 11. Prestasi dan Penghargaan Pendidikan Provinsi Jawa Timur Di samping capaian kinerja pendidikan seperti telah diungkapkan, perlu pula dipaparkan prestasi dan penghargaan di bidang pendidikan (akademis, seni dan olah raga) yang berhasil diraih oleh siswa, guru, kepala sekolah maupun pengawas. Prestasi dan penghargaan yang dimaksud adalah sebagai berikut: a. Juara II Lomba Karya Cipta Seni (Membatik) pada Acara Hari Anak Tingkat Nasional di Istana Cipanas Jawa Barat (Juli 2013); b. Juara III Lomba Karya Cipta Seni (Seni Lukis) pada Acara Hari Anak Tingkat Nasional di Istana Cipanas Jawa Barat (Juli 2013); c. Juara Umum dalam rangka Olimpiade Olahraga Siswa Nasional (02SN) Tingkat Nasional jenjang SD/MI; d. Juara Umum dalam rangka Lomba Lingkungan Sekolah Sehat (LLSS) Tingkat Nasional jenjang SD/MI; e. Juara III Tingkat Nasional dalam rangka Olimpiade Sains Nasional (OSN) jenjang SD/MI; f. Juara Umum Parade Musik Tradisi (Perkusi) Tingkat Nasional Tahun 2013 di Jakarta; (II-34) RENSTRA Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur

35 g. Juara Umum Karnaval Prajurit Nusantara Tahun 2013 di Jakarta; h. Juara I lomba Bola Voly Putra/Putri O2SN tingkat Nasional di Kalimantan Timur 30 Juli 2013; i. Juara I lomba Bulutangkis Putra O2SN tingkat Nasional di Kalimantan Timur 30 Juli 2013; j. Lomba Kompetensi Siswa (LKS) tingkat Nasional Juara I Welding, plumbing and heating dan Wall and floor tiling Tanggal 22 s.d 28 Bulan September Tahun 2013 di Jakarta; k. Lomba Kompetensi Siswa (LKS) tingkat Nasional Juara II Welding, plumbing and heating dan Wall and floor tiling Tanggal 22 s.d 28 Bulan September Tahun 2013 di Jakarta; l. Juara I Cabang Olahraga Volli Pantai dalam ajang Asia Pasific, AVC Beach Tour India U21 Championship, Chennai Mei 2013; m. Juara III Cabang Olahraga Panjat Tebing dalam ajang Pumpose Singapore (Asia), Singapura 6-9 Juni 2013; n. Juara I, II dan III Cabang Olahraga Judo dalam ajang GHANESHA CUP OPEN INTERNATIONAL, Tri Sakti Jakarta Mei 2013; o. Juara I, II dan III Cabang Olahraga Volli Pantai dalam ajang GHANESHA CUP OPEN INTERNATIONAL, Tri Sakti Jakarta Mei 2013; p. Juara II Cabang Olahraga Volli Pantai dalam ajang Islamic Solidaritas Games (ISG), Palembang September 2013; q. Juara II Cabang Olahraga Volli Pantai dalam ajang Islamic Solidaritas Games (ISG), Palembang September 2013; r. Juara II dan Juara III Cabang Olahraga Atletik dalam ajang Piala Panglima TNI Ke 2, GOR Padjajaran Bandung, Januari 2013; s. Penghargaan Mutu Pendidikan Terbaik Capaian Target Pendidikan Untuk Semua (PUS) Tahun 2013; t. Juara Umum dalam rangka Olimpiade Olahraga Siswa Nasional (O2SN) Dikmen Tingkat Nasional Siswa PK-LK; u. Juara Umum Jambore ABK (Anak Berkebutuhan Khusus) PK-LK Dikdas Tingkat Nasional; (II-35) RENSTRA Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur

36 v. Juara I Festival dan Lomba Seni Siswa Nasional (FLS2N) PK-LK Dikdas Tingkat Nasional; w. Juara I Festival dan Lomba Seni Siswa Nasional (FLS2N) PK-LK Dikmen Tingkat Nasional; x. Juara I Olimpiade Sains Nasional (OSN) PK-LK Dikdas Tingkat Nasional; y. Juara I Bidang IPA SMP, Agus Joko Sungkono, S.Pd, SMPN 1 Mejayan Kab. Madiun dalam event Olimpiade Sains Nasional Guru Tingkat Nasional Tahun 2013; z. Juara III Bidang KIMIA SMA, Drs. Sugiyono, M.Si, SMAN 1 Nganjuk dalam event Olimpiade Sains Nasional Guru Tingkat Nasional Tahun 2013; aa. Juara I Kategori Guru TK, Ratna Sari Dewi, S.Pd AUD, TK. Negeri Pembina Pringkuku Kab. Pacitan dalam event Forum Ilmiah Guru Tingkat Nasional Tahun 2013; bb. Juara II Kategori Guru TK, Sri Rahayu, S.Pd, TK. Aisyiyah Pelangi Kab. Tulungagung dalam event Forum Ilmiah Guru Tingkat Nasional Tahun 2013; cc. Juara I Kategori Guru SD, Enik Chairul Umah, S.Pd, M.Si, SD Muhammadiyah I Kab. Sidoarjo dalam event Forum Ilmiah Guru Tingkat Nasional Tahun 2013; dd. Juara II Kategori Guru SD, Citra Kurnia Rizkyanti, S.Pd, SDN Sukoharjo I Klojen Kota Malang dalam event Forum Ilmiah Guru Tingkat Nasional Tahun 2013; ee. Juara I Kategori Guru SMP, Rida Syamsiah, S.Pd, M.Pd, SMP Negeri 3 Kab. Bondowoso dalam event Forum Ilmiah Guru Tingkat Nasional Tahun 2013; ff. Juara II Kategori Guru SMP, Netti Lastiningsih, S.Pd, SMPN 6 Kab. Sidoarjo dalam event Forum Ilmiah Guru Tingkat Nasional Tahun 2013; gg. Juara I Kategori Guru SMP, Rida Syamsiah, S.Pd, M.Pd, SMP Negeri 3 Kab. Bondowoso dalam event Forum Ilmiah Guru Tingkat Nasional Tahun Berdasarkan uraian di atas, capaian kinerja pelayanan Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur adalah sebagai berikut. (II-36) RENSTRA Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur

37 Tabel 2.11 Realisasi Capaian Renstra Tahun TARGET REALISASI CAPAIAN INDIKATOR RPJMD No INDIKATOR LEMBAGA RPJMD SATUAN Angka SD/MI % 97,71 97,81 97,16 97,23 97,83 1 Partisipasi SMP/MTs % 85,44 85,94 85,96 86,07 86,36 Murni SMA/SMK/MA % 51,96 53,37 54,97 55,94 59,78 Angka SD/MI % 113,30 113,82 112,67 112,69 112,70 2 Partisipasi SMP/MTs % 102,69 103,55 102,12 102,15 102,22 Kasar SMA/SMK/MA % 71,43 73,70 73,78 74,21 78,21 3 SD/MI % Angka SMP/MTs % 97,48 98,61 98,67 98,85 98,92 Transisi SMA/SMK/MA % 86,11 87,59 87,69 87,78 87,89 4 SD/MI % 0,22 0,20 0,18 0,13 0,12 Angka Putus SMP/MTs % 0,29 0,29 0,41 0,40 0,37 Sekolah SMA/SMK/MA % 0,84 0,73 0,84 0,80 0,68 5 SD/MI % 3,09 2,56 2,59 2,13 1,93 Angka murid SMP/MTs % 0,12 0,12 0,20 0,15 0,14 mengulang SMA/SMK/MA % 0,24 0,20 0,19 0,19 0,17 6 SD/MI % 99,65 99,38 99,45 99,91 99,92 Angka SMP/MTs % 98,72 98,01 98,31 98,88 98,99 Lulusan SMA/SMK/MA % 97,05 97,45 97,73 98,14 98,27 7 SD/MI 1: Rasio SMP/MTs 1: Murid/kelas SMA/SMK/MA 1: SD/MI 1: 1,03 1,10 1,07 1,04 1,03 Rasio Kelas/ SMP/MTs 1: 0,86 0,96 0,98 0,78 0,98 R.Belajar SMA/SMK/MA 1: 0,99 1,02 1,10 1,10 1,02 9 SD/MI 1: Rasio SMP/MTs 1: murid/guru SMA/SMK/MA 1: SD/MI 1: Rasio murid/ SMP/MTs 1: sekolah SMA/SMK/MA 1: Tantangan dan Peluang Pengembangan Pelayanan Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur Analisis atas tantangan yang dihadapi dan peluang bagi pengembangan layanan Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timurmemerlukan analisis atas kondisi internal dan eksternal. Untuk itu diperlukan analisis atas kekuatan(strength), (II-37) RENSTRA Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur

38 kelemahan(weakness), peluang(opportunity), tantangan (Threat), atau analisis SWOT atas kondisi pendidikan di Jawa Timur yang pada dasarnya merupakan gambaran tentang kinerja layanan Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur. Faktor-faktor internal yang menjadi kekuatan (Strength) dalam upaya pengembangan layanan Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timuradalah sebagai berikut: 1. Tersedianya pendanaan yang besar untuk pengembangan program-program layanan pendidikan beserta realisasinya, sejalan dengan komitmen Pemerintah Daerah Provinsi Jawa Timur untuk mengalokasikan 20% dari APBD, ditambah dengan pendanaan yang besar pula bersumber dari APBN; 2. Kuantitas dan kualitas sumberdaya manusia yang dimiliki oleh Dinas Pendididikan Provinsi Jawa Timur sangat memadai, dengan jumlah yang cukup sesuai dengan kebutuhan untuk menjalankan pekerjaan berdasarkan tupoksi organisasi, dilengkapi dengan kualifikasi akademik dan keterampilan yang sesuai bagi upaya pengembangan layanan pendidikan; 3. Ketersediaan sarana dan prasarana yang sangat memadai sebagai faktor pendukung bagi pengembangan program-program layanan pendidikan; 4. Efektivitas dan efisiensi pengelolaan organisasi yang mampu menciptakan budaya kerja yang produktif dan iklim organisasi yang kondusif di lingkungan Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur; 5. Penguasaan dan penerapan teknologi dalam pelaksanaan tugas dan pekerjaan yang mampu meningkatkan produktivitas sumberdaya manusia di lingkungan Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur. Faktor-faktor internal yang menjadi kelemahan (weakness) dalam upaya pengembangan layanan Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timuradalah sebagai berikut: 1. Pemerataan penempatan dan alokasi sumberdaya manusia pada berbagai bidang dan sub bagian yang kurang memperhatikan jenjang karir dan tingkat kemampuan serta keterampilan, mengakibatkan adanya perbedaan produktivitas dan hasil kerja pada masing-masing bidang dan sub bagian di lingkungan Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur; (II-38) RENSTRA Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur

39 2. Intensitas komunikasi dan kerjasama antar bidang dan sub bagian masih memerlukan peningkatan terutama terkait dengan implementasi program yang pelaksanaannya membutuhkan kerjasama dan kebersamaan antar bidang maupun antar sub bagian; 3. Pengembangan program kerja tahunan masih belum mengacu pada perencanaan strategis jangka menengah, mengakibatkan kontinyuitas dan keberlanjutan program dari tahun ke tahun sesuai dengan rencana jangka menengah kurang tercapai dan mampu mengantisipasi perkembangan yang berlangsung di masyarakat; 4. Pada beberapa implementasi program masih dijumpai kekurangjelasan dan kekurangtegasan dalam pelimpahan wewenang dari tingkat pimpinan kepada bawahan, serta kekurangsesuaian penunjukan bidang atau sub bagian untuk melaksanakan program-program kerja yang dilaksanakan; 5. Perbedaan struktur organisasi antara Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur dengan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, mengakibatkan efektivitas pananganan program-program layanan pendidikan yang diintrodusir oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan kurang memadai, karena ditempatkan dan ditangani oleh bidang atau sub bagian yang kurang relevan; 6. Masih ada satu bidang yang lokasi kantornya terpisah dengan lokasi kantor pusat Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur, yaitu Bidang Tenaga Pendidik dan Kependidikan (Tendik). Kondisi ini tentu berpengaruh pada efektivitas koordinasi dan pemberian layanan kepada tenaga pendidik dan kependidikan dari kabupaten/kota. Faktor-faktor eksternal yang merupakan peluang (opportunity) dalam upaya pengembangan layanan Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timuradalah sebagai berikut: 1. Makin meningkatnya kebutuhan, kesadaran dan perhatian masyarakat akan pentingnya pendidikan sebagai faktor penentu untuk meningkatkan kesejahteraan hidup dan harapan untuk meraih keberhasilan di masa depan; 2. Bidang pendidikan menjadi prioritas utama dalam pengembangan programprogram pembangunan baik pada skala nasional maupun regional di tingkat provinsi, sejalan dengan makin meningkatnya kesadaran bahwa upaya (II-39) RENSTRA Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur

40 peningkatan kualitas sumberdaya manusia melalui pendidikan menjadi kunci keberhasilan untuk meningkatkan harkat dan martabat bangsa; 3. Pertumbuhan ekonomi dan peningkatan kesejahteraan masyarakat serta perkembangan sosial dan budaya dalam kehidupan masyarakat, menumbuhkembangkan kebutuhan akan sumberdaya manusia dengan pengetahuan dan keterampilan yang beragam, dan pada gilirannya meningkatkan perluasan kebutuhan akan jasa layanan pendidikan; 4. Makin meningkatnya peran serta masyarakat dalam memberikan layanan pendidikan, sejalan dengan makin meningkatnya kebutuhan akan pendidikan di kalangan masyarakat. Lembaga-lembaga pendidikan yang dikelola dan diselenggarakan oleh masyarakat makin meningkat keberagaman maupun kualitasnya; 5. Arus globalisasi, keterbukaan dan makin meningkatnya persaingan antar negara pada kawasan regional maupun internasional menumbuhkan kerjasama antar negara maupun antar lembaga dalam pengembangan dan peningkatan kualitas penyelenggaraan pendidikan. Di sisi yang lain juga menumbuhkan kesadaran akan penting peningkatan kualitas pendidikan untuk menghadapi penigkatan persaingan antar bangsa di segala sendi kehidupan; 6. Peningkatan ilmu pengetahuan dan teknologi membawa dampak yang positif bagi peningkatan efektivitas dan efisiensi pada pengelolaan dan pelaksaaan pendidikan pada berbagai jalur dan jenjang pendidikan. Berbagai riset dalam bidang pendidikan telah membawa peningkatan kualitas pendidikan melalui temuan-temuan inovatif dalam praktek pembelajaran. Selain itu pemanfaatan teknologi dalam praktek pendidikan memiliki pengaruh yang signifikan dalam peningkatan kualitas pendidikan. Faktor-faktor eksternal yang merupakan tantangan (threat) dalam upaya pengembangan layanan Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timuradalah sebagai berikut: 1. Tuntutan kebutuhan masyarakat atas layanan pendidikan baik dari sisi kuantitas dan kualitas yang makin meningkat, serta makin meningkatnya sikap kritis masyarakat atas berbagai kebijakan dan implementasi program-program pendidikan, memerlukan kepekaan untuk memahami dinamika perkembangan (II-40) RENSTRA Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur

41 kehidupan di masyarakat dan pengambilan kebijakan serta pengembangan program-program pendidikan yang memadai untuk memenuhinya; 2. Arah kebijakan yang kurang menentu dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan yang mengakibatkan banyak perubahan keputusan berlangsung dalam waktu yang relatif singkat, dan pengembangan serta implementasi program yang terkesan kurang mengacu pada perencanaan jangka menengah dan bersifat parsial kurang memiliki keterkaitan yang komprehensif dengan visi dan misi yang telah dikembangkan. Hal ini memerlukan fleksibilitas dan tanggapan yang cepat untuk memvasilitasi pelaksanaannya di tingkat provinsi, dan seringkali menganggu kontinyuitas implementasi program dan pelaksanaan kerja yang dikembangkan di provinsi; 3. Kurangnya koordinasi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dengan Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur dalam implementasi program-program yang pelaksanaan dan sasarannya pada tingkat Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota di wilayah Provinsi Jawa Timur. Selain mengganggu efektivitas dan efisiensi implementasi program-program yang dikembangkan oleh Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur di kabupaten/kota, hal tersebut juga menumbuhkan iklim kerja yang kurang kondusif di wilayah Provinsi Jawa Timur; 4. Kesenjangan yang masih tinggi pada tingkat produktivitas kinerja secara kuantitatif dan kualitatif antar kabupaten/kota di Jawa Timur berpengaruh pada terjadinya variabilitas pencapaian target kinerja dalam implementasi program di tingkat kabupaten/kota. Di samping itu dengan disparitas kondisi pendidikan di berbagai wilayah Provinsi Jawa Timur, menuntut dirumuskannya prioritasprioritas program untuk meniadakan atau paling tidak mengurangi disparitas yang dimaksud. Disparitas kondisi pendidikan tersebut diperberat oleh kurang intensnya respon Dinas Kabupaten/Kota dalam berbagai kegiatan koordinasi terkait dengan implementasi program yang dikembangkan oleh Dinas Pendidikan Provinsi dan pelaksanaannya melibatkan atau dilakukan di kabupaten/kota; 5. Belum tersedianya Peraturan Daerah Bidang Pendidikan di Provinsi Jawa Timur yang dapat dijadikan payung hukum dan menjamin legalisasi kebijakan yang diputuskan Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur. Selain itu dengan (II-41) RENSTRA Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur

42 tersedianya Peraturan Daerah di Bidang Pendidikan berarti tersedia pula pedoman formal yang dapat dijadikan acuan bagi Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur untuk mengelola layanan pendidikan bagi masyarakat di seluruh wilayah Provinsi Jawa Timur. 2.5 Tata Nilai Dinas Pendidikan Jawa Timur Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur menyadari bahwa usaha-usaha mewujudkan visi dan misi tersebut memerlukan dukungan tata nilai yang luhur, utuh, dan cocok. Tata nilai yang luhur, utuh, dan cocok akan menjadi landasan, arah, dan pemandu pikiran, sikap, dan perilaku seluruh aparatur dan pemimpin aparatur dalam menjalankan tugas, peran, dan fungsi untuk mencapai visi dan melaksanakan misi. Di samping itu, tata nilai yang luhur, utuh, dan cocok akan menyatukan, menyerasikan, dan menggerakkan jiwa, pikiran, hati, dan tindakan seluruh aparatur dan pemimpin aparatur untuk memberikan pelayanan prima pendidikan kepada semua warga Provinsi Jawa Timur. Tata nilai yang luhur, utuh, dan cocok yang dimaksud adalah nilai integritas, komitmen, kejujuran, keadilan, tanggung jawab, cepat tanggap, inklusiff, demokratis, visioner, dan profesionalitas yang berasal dari lubuk hati paling dalam pada satu pihak dan pada pihak lain menjadi panggilan hati seluruh aparatur dan pemimpin aparatur untuk mewujudkannya dalam memberikan pelayanan prima pendidikan di Provinsi Jawa Timur. Tata nilai tersebut dapat dirangkum dalam satu moto sebagai berikut. Sepenuh Hati Melayani Semua (II-42) RENSTRA Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur

Laporan Eksekutif Pendidikan Provinsi Jawa Timur 2013 Berdasarkan Data Susenas 2013 BADAN PUSAT STATISTIK PROVINSI JAWA TIMUR Laporan Eksekutif Pendidikan Provinsi Jawa Timur 2013 Nomor Publikasi : 35522.1402

Lebih terperinci

GUBERNUR JAWA TIMUR PERATURAN GUBERNUR JAWA TIMUR NOMOR 81 TAHUN 2008 TENTANG

GUBERNUR JAWA TIMUR PERATURAN GUBERNUR JAWA TIMUR NOMOR 81 TAHUN 2008 TENTANG GUBERNUR JAWA TIMUR PERATURAN GUBERNUR JAWA TIMUR NOMOR 81 TAHUN 2008 TENTANG URAIAN TUGAS SEKRETARIAT, BIDANG, SUB BAGIAN DAN SEKSI DINAS PENDIDIKAN PROVINSI JAWA TIMUR GUBERNUR JAWA TIMUR MENIMBANG :

Lebih terperinci

BAB VI INDIKATOR KINERJA DINAS PENDIDIKAN PROVINSI JAWA TIMUR YANG MENGACU PADA RPJMD PROVINSI JAWA TIMUR

BAB VI INDIKATOR KINERJA DINAS PENDIDIKAN PROVINSI JAWA TIMUR YANG MENGACU PADA RPJMD PROVINSI JAWA TIMUR BAB VI INDIKATOR KINERJA DINAS PENDIDIKAN PROVINSI JAWA TIMUR YANG MENGACU PADA RPJMD PROVINSI JAWA TIMUR Berdasarkan Rencana Pembangunan Jangkah Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi Jawa Timur Tahun 2014-2019,

Lebih terperinci

Bab I Pendahuluan A. LATAR BELAKANG

Bab I Pendahuluan A. LATAR BELAKANG Bab I Pendahuluan A. LATAR BELAKANG Penyelenggaraan pemerintahan dan pelaksanaan pembangunan yang tepat, jelas, terukur dan akuntabel merupakan sebuah keharusan yang perlu dilaksanakan dalam usaha mewujudkan

Lebih terperinci

Bab I Pendahuluan A. LATAR BELAKANG

Bab I Pendahuluan A. LATAR BELAKANG Bab I Pendahuluan A. LATAR BELAKANG Penyelenggaraan pemerintahan dan pelaksanaan pembangunan yang tepat, jelas, terukur dan akuntabel merupakan sebuah keharusan yang perlu dilaksanakan dalam usaha mewujudkan

Lebih terperinci

Tabel 2.25 Pertumbuhan Ekonomi Jawa Timur Tahun Keterangan (1) (2) (3) (4) (5) (6)

Tabel 2.25 Pertumbuhan Ekonomi Jawa Timur Tahun Keterangan (1) (2) (3) (4) (5) (6) 2.2. Aspek Kesejahteraan Rakyat Kondisi Kesejahteraan Masyarakat Jawa Timur dapat dielaborasi kedalam tiga fokus utama, yaitu Fokus Kesejahteraan Masyarakat dan Pemertaan Ekonomi, Fokus Kesejahteraan Masyarakat,

Lebih terperinci

Tabel 2.26 Pertumbuhan Ekonomi di Provinsi Jawa Timur Tahun Keterangan

Tabel 2.26 Pertumbuhan Ekonomi di Provinsi Jawa Timur Tahun Keterangan 2.2. Aspek Kesejahteraan Masyarakat Kondisi Kesejahteraan Masyarakat Jawa Timur dapat dielaborasi kedalam tiga fokus utama, yaitu Fokus Kesejahteraan Masyarakat dan Pemertaan Ekonomi, Fokus Kesejahteraan

Lebih terperinci

GUBERNUR JAWA TIMUR PERATURAN GUBERNUR JAWA TIMUR NOMOR 125 TAHUN 2008

GUBERNUR JAWA TIMUR PERATURAN GUBERNUR JAWA TIMUR NOMOR 125 TAHUN 2008 GUBERNUR JAWA TIMUR PERATURAN GUBERNUR JAWA TIMUR NOMOR 125 TAHUN 2008 TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA UNIT PELAKSANA TEKNIS DINAS PEKERJAAN UMUM BINA MARGA PROVINSI JAWA TIMUR GUBERNUR JAWA TIMUR MENIMBANG

Lebih terperinci

Grafik 3.2 Angka Transisi (Angka Melanjutkan)

Grafik 3.2 Angka Transisi (Angka Melanjutkan) Grafik 3.2 Angka Transisi (Angka Melanjutkan) Grafik 3.2 memperlihatkan angka transisi atau angka melanjutkan ke SMP/sederajat dan ke SMA/sederajat dalam kurun waktu 7 tahun terakhir. Sebagaimana angka

Lebih terperinci

GUBERNUR JAWA TIMUR PERATURAN GUBERNUR JAWA TIMUR NOMOR 94 TAHUN 2016

GUBERNUR JAWA TIMUR PERATURAN GUBERNUR JAWA TIMUR NOMOR 94 TAHUN 2016 GUBERNUR JAWA TIMUR PERATURAN GUBERNUR JAWA TIMUR NOMOR 94 TAHUN 2016 TENTANG NOMENKLATUR, SUSUNAN ORGANISASI, URAIAN TUGAS DAN FUNGSI SERTA TATA KERJA CABANG DINAS PENDIDIKAN PROVINSI JAWA TIMUR DENGAN

Lebih terperinci

BAB II GAMBARAN PELAYANAN DINAS PENDIDIKAN KOTA PONTIANAK

BAB II GAMBARAN PELAYANAN DINAS PENDIDIKAN KOTA PONTIANAK BAB II GAMBARAN PELAYANAN DINAS PENDIDIKAN KOTA PONTIANAK 2.1. Tugas Pokok, Fungsi dan Struktur Organisasi SKPD Dinas Pendidikan Kota Pontianak merupakan unsur pelaksana bidang pendidikan dipimpin oleh

Lebih terperinci

EVALUASI/FEEDBACK KOMDAT PRIORITAS, PROFIL KESEHATAN, & SPM BIDANG KESEHATAN

EVALUASI/FEEDBACK KOMDAT PRIORITAS, PROFIL KESEHATAN, & SPM BIDANG KESEHATAN EVALUASI/FEEDBACK PRIORITAS, PROFIL KESEHATAN, & SPM BIDANG KESEHATAN MALANG, 1 JUNI 2016 APLIKASI KOMUNIKASI DATA PRIORITAS FEEDBACK KETERISIAN DATA PADA APLIKASI PRIORITAS 3 OVERVIEW KOMUNIKASI DATA

Lebih terperinci

Tabel 2.19 Pertumbuhan Ekonomi Jawa Timur Tahun

Tabel 2.19 Pertumbuhan Ekonomi Jawa Timur Tahun 41 2.1.2 Aspek Kesejahteraan Masyarakat 2.1.2.1 Fokus Kesejahteraan dan Pemerataan Ekonomi 2.1.2.1.1 Otonomi Daerah, Pemerintahan Umum, Administrasi Keuangan Daerah, Perangkat Daerah, Kepegawaian dan Persandian

Lebih terperinci

BAB II GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN. 2.1 Gambaran Umum Badan Ketahanan Pangan Provinsi Jawa Timur

BAB II GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN. 2.1 Gambaran Umum Badan Ketahanan Pangan Provinsi Jawa Timur BAB II GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN 2.1 Gambaran Umum Badan Ketahanan Pangan Provinsi Jawa Timur Berikut dijelaskan tentang tugas pokok dan fungsi, profil, visi misi, dan keorganisasian Badan Ketahanan Pangan

Lebih terperinci

per km 2 LAMPIRAN 1 LUAS JUMLAH WILAYAH JUMLAH KABUPATEN/KOTA (km 2 )

per km 2 LAMPIRAN 1 LUAS JUMLAH WILAYAH JUMLAH KABUPATEN/KOTA (km 2 ) LAMPIRAN 1 LUAS WILAYAH,, DESA/KELURAHAN, PENDUDUK, RUMAH TANGGA, DAN KEPADATAN PENDUDUK MENURUT LUAS RATA-RATA KEPADATAN WILAYAH RUMAH JIWA / RUMAH PENDUDUK DESA KELURAHAN DESA+KEL. PENDUDUK (km 2 ) TANGGA

Lebih terperinci

PENETAPAN KINERJA TAHUN 2013 DINAS PENDIDIKAN PROVINSI JAWA TIMUR Manajemen Pendidikan TK / RA 915,000,000

PENETAPAN KINERJA TAHUN 2013 DINAS PENDIDIKAN PROVINSI JAWA TIMUR Manajemen Pendidikan TK / RA 915,000,000 PENETAPAN KINERJA TAHUN 2013 DINAS PENDIDIKAN PROVINSI JAWA TIMUR No. SASARAN STRATEGIS INDIKATOR KINERJA UTAMA (IKU) TARGET 1 Meningkatnya aksesbilitas dan kualitas Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), Pendidikan

Lebih terperinci

GUBERNUR JAWA TIMUR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR JAWA TIMUR,

GUBERNUR JAWA TIMUR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR JAWA TIMUR, GUBERNUR JAWA TIMUR PERATURAN GUBERNUR JAWA TIMUR NOMOR 73 TAHUN 2016 TENTANG KEDUDUKAN, SUSUNAN ORGANISASI, URAIAN TUGAS DAN FUNGSI SERTA TATA KERJA DINAS ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL PROVINSI JAWA

Lebih terperinci

Jumlah Penduduk Jawa Timur dalam 7 (Tujuh) Tahun Terakhir Berdasarkan Data dari Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kab./Kota

Jumlah Penduduk Jawa Timur dalam 7 (Tujuh) Tahun Terakhir Berdasarkan Data dari Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kab./Kota Jumlah Penduduk Jawa Timur dalam 7 (Tujuh) Tahun Terakhir Berdasarkan Data dari Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kab./Kota TAHUN LAKI-LAKI KOMPOSISI PENDUDUK PEREMPUAN JML TOTAL JIWA % 1 2005 17,639,401

Lebih terperinci

GUBERNUR JAWA TIMUR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR JAWA TIMUR,

GUBERNUR JAWA TIMUR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR JAWA TIMUR, GUBERNUR JAWA TIMUR PERATURAN GUBERNUR JAWA TIMUR NOMOR 114 TAHUN 2016 TENTANG NOMENKLATUR, SUSUNAN ORGANISASI, URAIAN TUGAS DAN FUNGSI SERTA TATA KERJA UNIT PELAKSANA TEKNIS DINAS PEKERJAAN UMUM BINA

Lebih terperinci

SISTEM INFORMASI PEMBANGUNAN BERBASIS MASYARAKAT (SIPBM) Rangga Perdhana, SE Kasubbid Pendidikan dan Pemerintahan BAPPEDA KAB.

SISTEM INFORMASI PEMBANGUNAN BERBASIS MASYARAKAT (SIPBM) Rangga Perdhana, SE Kasubbid Pendidikan dan Pemerintahan BAPPEDA KAB. SISTEM INFORMASI PEMBANGUNAN BERBASIS MASYARAKAT (SIPBM) Rangga Perdhana, SE Kasubbid Pendidikan dan Pemerintahan BAPPEDA KAB. SITUBONDO S I PENDIDIKAN B M Sistem Informasi Pendidikan Berbasis Masyarakat

Lebih terperinci

GUBERNUR JAWA TIMUR PERATURAN GUBERNUR JAWA TIMUR NOMOR 69 TAHUN 2014 TENTANG

GUBERNUR JAWA TIMUR PERATURAN GUBERNUR JAWA TIMUR NOMOR 69 TAHUN 2014 TENTANG GUBERNUR JAWA TIMUR PERATURAN GUBERNUR JAWA TIMUR NOMOR 69 TAHUN 2014 TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA UNIT PELAKSANA TEKNIS DINAS PEKERJAAN UMUM PENGAIRAN PROVINSI JAWA TIMUR GUBERNUR JAWA TIMUR, Menimbang

Lebih terperinci

Bagian Kedua Kepala Dinas

Bagian Kedua Kepala Dinas BAB X DINAS PENDIDIKAN Bagian Kesatu Susunan Organisasi Pasal 180 Susunan Organisasi Dinas Pendidikan, terdiri dari: a. Kepala Dinas; b. Sekretaris, membawahkan: 1. Sub Bagian Umum dan Kepegawaian; 2.

Lebih terperinci

GUBERNUR JAWA TIMUR TIMUR

GUBERNUR JAWA TIMUR TIMUR GUBERNUR JAWA TIMUR TIMUR PERATURAN DAERAH PROVINSI JAWA TIMUR NOMOR 16 TAHUN 2016 TENTANG PEMBENTUKAN DAN SUSUNAN BADAN KOORDINASI WILAYAH PEMERINTAHAN DAN PEMBANGUNAN PROVINSI JAWA TIMUR DENGAN RAHMAT

Lebih terperinci

GUBERNUR JAWA TIMUR PERATURAN GUBERNUR JAWA TIMUR NOMOR 72 TAHUN 2012 TENTANG UPAH MINIMUM KABUPATEN / KOTA DI JAWA TIMUR TAHUN 2013

GUBERNUR JAWA TIMUR PERATURAN GUBERNUR JAWA TIMUR NOMOR 72 TAHUN 2012 TENTANG UPAH MINIMUM KABUPATEN / KOTA DI JAWA TIMUR TAHUN 2013 GUBERNUR JAWA TIMUR PERATURAN GUBERNUR JAWA TIMUR NOMOR 72 TAHUN 2012 TENTANG UPAH MINIMUM KABUPATEN / KOTA DI JAWA TIMUR TAHUN 2013 GUBERNUR JAWA TIMUR, Menimbang : a. bahwa dalam upaya meningkatkan kesejahteraan

Lebih terperinci

Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur. Ringkasan Eksekutif

Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur. Ringkasan Eksekutif Ringkasan Eksekutif Pendidikan telah menjadi sebuah kekuatan bangsa khususnya dalam proses pembangunan di Jawa Timur. Sesuai taraf keragaman yang begitu tinggi, Jawa Timur memiliki karakter yang kaya dengan

Lebih terperinci

GUBERNUR JAWA TIMUR KEPUTUSAN GUBERNUR JAWA TIMUR NOMOR 188/359/KPTS/013/2015 TENTANG PELAKSANAAN REGIONAL SISTEM RUJUKAN PROVINSI JAWA TIMUR

GUBERNUR JAWA TIMUR KEPUTUSAN GUBERNUR JAWA TIMUR NOMOR 188/359/KPTS/013/2015 TENTANG PELAKSANAAN REGIONAL SISTEM RUJUKAN PROVINSI JAWA TIMUR GUBERNUR JAWA TIMUR KEPUTUSAN GUBERNUR JAWA TIMUR NOMOR 188/359/KPTS/013/2015 TENTANG PELAKSANAAN REGIONAL SISTEM RUJUKAN PROVINSI JAWA TIMUR GUBERNUR JAWA TIMUR, Menimbang : bahwa dalam rangka meningkatkan

Lebih terperinci

5. URAIAN TUGAS DAN FUNGSI DINAS PENDIDIKAN KOTA MADIUN

5. URAIAN TUGAS DAN FUNGSI DINAS PENDIDIKAN KOTA MADIUN 5. URAIAN TUGAS DAN FUNGSI DINAS PENDIDIKAN KOTA MADIUN No. Jabatan 1. Kepala Dinas memimpin, mengoordinasikan dan mengawasi pelaksanaan otonomi daerah di bidang pendidikan sesuai dengan ketentuan peraturan

Lebih terperinci

GUBERNUR JAWA TIMUR PERATURAN GUBERNUR JAWA TIMUR NOMOR 78 TAHUN 2013 TENTANG UPAH MINIMUM KABUPATEN/KOTA DI JAWA TIMUR TAHUN 2014

GUBERNUR JAWA TIMUR PERATURAN GUBERNUR JAWA TIMUR NOMOR 78 TAHUN 2013 TENTANG UPAH MINIMUM KABUPATEN/KOTA DI JAWA TIMUR TAHUN 2014 GUBERNUR JAWA TIMUR PERATURAN GUBERNUR JAWA TIMUR NOMOR 78 TAHUN 2013 TENTANG UPAH MINIMUM KABUPATEN/KOTA DI JAWA TIMUR TAHUN 2014 GUBERNUR JAWA TIMUR, Menimbang : a. bahwa dalam upaya meningkatkan kesejahteraan

Lebih terperinci

DINAS PENDIDIKAN KABUPATEN BOJONEGORO. Jl. Pattimura No. 09 Bojonegoro

DINAS PENDIDIKAN KABUPATEN BOJONEGORO. Jl. Pattimura No. 09 Bojonegoro DINAS PENDIDIKAN KABUPATEN BOJONEGORO Jl. Pattimura No. 09 Bojonegoro VISI DINAS PENDIDIKAN KABUPATEN BOJONEGORO TERWUJUDNYA INSAN CERDAS, KOMPERHENSIP DAN BERBUDAYA BERLANDASKAN IMAN DAN TAQWA UNTUK MENOPANG

Lebih terperinci

GUBERNUR JAWA TIMUR PERATURAN GUBERNUR JAWA TIMUR NOMOR 68 TAHUN 2015 TENTANG UPAH MINIMUM KABUPATEN/KOTA DI JAWA TIMUR TAHUN 2016

GUBERNUR JAWA TIMUR PERATURAN GUBERNUR JAWA TIMUR NOMOR 68 TAHUN 2015 TENTANG UPAH MINIMUM KABUPATEN/KOTA DI JAWA TIMUR TAHUN 2016 GUBERNUR JAWA TIMUR PERATURAN GUBERNUR JAWA TIMUR NOMOR 68 TAHUN 2015 TENTANG UPAH MINIMUM KABUPATEN/KOTA DI JAWA TIMUR TAHUN 2016 GUBERNUR JAWA TIMUR. Menimbang : a. bahwa dalam upaya meningkatkan kesejahteraan

Lebih terperinci

Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur. Kata Pengantar

Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur. Kata Pengantar Kata Pengantar Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena atas perkenan-nya kami dapat menyelesaikan penyusunan Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (LAKIP) Dinas Pendidikan

Lebih terperinci

GUBERNUR JAWA TIMUR PERATURAN GUBERNUR JAWA TIMUR NOMOR 110 TAHUN 2016

GUBERNUR JAWA TIMUR PERATURAN GUBERNUR JAWA TIMUR NOMOR 110 TAHUN 2016 GUBERNUR JAWA TIMUR PERATURAN GUBERNUR JAWA TIMUR NOMOR 110 TAHUN 2016 TENTANG NOMENKLATUR, SUSUNAN ORGANISASI, URAIAN TUGAS DAN FUNGSI SERTA TATA KERJA UNIT PELAKSANA TEKNIS DINAS KEHUTANAN PROVINSI JAWA

Lebih terperinci

BERITA RESMI STATISTIK

BERITA RESMI STATISTIK BERITA RESMI STATISTIK BPS KABUPATEN LAMONGAN PROFIL KEMISKINAN DI LAMONGAN MARET 2016 No. 02/06/3524/Th. II, 14 Juni 2017 RINGKASAN Jumlah penduduk miskin (penduduk dengan pengeluaran per kapita per bulan

Lebih terperinci

GUBERNUR JAWA TIMUR PERATURAN GUBERNUR JAWA TIMUR NOMOR 72 TAHUN 2014 TENTANG UPAH MINIMUM KABUPATEN/KOTA DI JAWA TIMUR TAHUN 2015

GUBERNUR JAWA TIMUR PERATURAN GUBERNUR JAWA TIMUR NOMOR 72 TAHUN 2014 TENTANG UPAH MINIMUM KABUPATEN/KOTA DI JAWA TIMUR TAHUN 2015 GUBERNUR JAWA TIMUR PERATURAN GUBERNUR JAWA TIMUR NOMOR 72 TAHUN 2014 TENTANG UPAH MINIMUM KABUPATEN/KOTA DI JAWA TIMUR TAHUN 2015 GUBERNUR JAWA TIMUR. Menimbang : a. bahwa dalam upaya meningkatkan kesejahteraan

Lebih terperinci

GUBERNUR JAWA TIMUR PERATURAN GUBERNUR JAWA TIMUR NOMOR 69 TAHUN 2009 TENTANG UPAH MINIMUM KABUPATEN / KOTA DI JAWA TIMUR TAHUN 2010

GUBERNUR JAWA TIMUR PERATURAN GUBERNUR JAWA TIMUR NOMOR 69 TAHUN 2009 TENTANG UPAH MINIMUM KABUPATEN / KOTA DI JAWA TIMUR TAHUN 2010 GUBERNUR JAWA TIMUR PERATURAN GUBERNUR JAWA TIMUR NOMOR 69 TAHUN 2009 TENTANG UPAH MINIMUM KABUPATEN / KOTA DI JAWA TIMUR TAHUN 2010 GUBERNUR JAWA TIMUR, Menimbang Mengingat : a. bahwa dalam upaya meningkatkan

Lebih terperinci

PEMERINTAH PROVINSI JAWA TIMUR

PEMERINTAH PROVINSI JAWA TIMUR PEMERINTAH PROVINSI JAWA TIMUR PERATURAN DAERAH PROVINSI JAWA TIMUR NOMOR 12 TAHUN 2008 TENTANG ORGANISASI DAN TATAKERJA BADAN KOORDINASI WILAYAH PEMERINTAHAN DAN PEMBANGUNAN JAWA TIMUR DENGAN RAHMAT TUHAN

Lebih terperinci

GUBERNUR JAWA TIMUR PERATURAN GUBERNUR JAWA TIMUR NOMOR 121 TAHUN 2016 TENTANG UPAH MINIMUM KABUPATEN/KOTA DI JAWA TIMUR TAHUN 2017

GUBERNUR JAWA TIMUR PERATURAN GUBERNUR JAWA TIMUR NOMOR 121 TAHUN 2016 TENTANG UPAH MINIMUM KABUPATEN/KOTA DI JAWA TIMUR TAHUN 2017 \ PERATURAN NOMOR 121 TAHUN 2016 TENTANG UPAH MINIMUM KABUPATEN/KOTA DI JAWA TIMUR TAHUN 2017 DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA. Menimbang : a. bahwa dalam upaya meningkatkan kesejahteraan masyarakat khususnya

Lebih terperinci

GUBERNUR JAWA TIMUR PERATURAN GUBERNUR JAWA TIMUR NOMOR 9 TAHUN 2011 TENTANG

GUBERNUR JAWA TIMUR PERATURAN GUBERNUR JAWA TIMUR NOMOR 9 TAHUN 2011 TENTANG GUBERNUR JAWA TIMUR PERATURAN GUBERNUR JAWA TIMUR NOMOR 9 TAHUN 2011 TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA UNIT PELAKSANA TEKNIS DINAS PERHUBUNGAN DAN LALU LINTAS ANGKUTAN JALAN PROVINSI JAWA TIMUR GUBERNUR

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Indonesia merupakan salah satu negara berkembang yang memiliki

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Indonesia merupakan salah satu negara berkembang yang memiliki BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Indonesia merupakan salah satu negara berkembang yang memiliki pertumbuhan ekonomi yang terus meningkat dari tahun ketahun. Pertumbuhan ekonomi dapat didefinisikan sebagai

Lebih terperinci

PEMERINTAH PROPINSI JAWA TIMUR PERATURAN DAERAH PROPINSI JAWA TIMUR NOMOR 5 TAHUN 2001 TENTANG BADAN KOORDINASI WILAYAH PROPINSI JAWA TIMUR

PEMERINTAH PROPINSI JAWA TIMUR PERATURAN DAERAH PROPINSI JAWA TIMUR NOMOR 5 TAHUN 2001 TENTANG BADAN KOORDINASI WILAYAH PROPINSI JAWA TIMUR PEMERINTAH PROPINSI JAWA TIMUR PERATURAN DAERAH PROPINSI JAWA TIMUR NOMOR 5 TAHUN 2001 TENTANG BADAN KOORDINASI WILAYAH PROPINSI JAWA TIMUR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR JAWA TIMUR, Menimbang:

Lebih terperinci

INDIKATOR KINERJA UTAMA DINAS PENDIDIKAN PROVINSI JAWA TIMUR

INDIKATOR KINERJA UTAMA DINAS PENDIDIKAN PROVINSI JAWA TIMUR INDIKATR KINERJA UTAMA DINAS PRVINSI JAWA TIMUR Visi : Terwujudnya insan yang cerdas, berakhlak, profesional, dan berbudaya Misi Tujuan : 1. Mewujudkan pemerataan aksesbilitas dan kualitas pendidikan pada

Lebih terperinci

B. PRIORITAS URUSAN WAJIB YANG DILAKSANAKAN

B. PRIORITAS URUSAN WAJIB YANG DILAKSANAKAN B. PRIORITAS URUSAN WAJIB YANG DILAKSANAKAN Pembagian urusan pemerintahan sesuai asas desentralisasi dalam sistem pemerintahan yang mensyaratkan adanya pembagian urusan yang jelas antara Pemerintah dengan

Lebih terperinci

PEMBANGUNAN PERPUSTAKAAN DESA/KELURAHAN DI JAWA TIMUR 22 MEI 2012

PEMBANGUNAN PERPUSTAKAAN DESA/KELURAHAN DI JAWA TIMUR 22 MEI 2012 PEMBANGUNAN PERPUSTAKAAN DESA/KELURAHAN DI JAWA TIMUR 22 MEI 2012 OLEH : Drs. MUDJIB AFAN, MARS KEPALA BADAN PERPUSTAKAAN DAN KEARSIPAN PROVINSI JAWA TIMUR DEFINISI : Dalam sistem pemerintahan di Indonesia

Lebih terperinci

INDIKATOR KINERJA UTAMA

INDIKATOR KINERJA UTAMA INDIKATOR KINERJA UTAMA INSTANSI : DINAS PENDIDIKAN KABUPATEN JOMBANG VISI : TERWUJUDNYA PENDIDIKAN YANG MERATA, BERMUTU, AGAMIS DAN BERDAYA SAING MISI : 1. Mewujudkan ketersediaan, keterjangkauan dan

Lebih terperinci

GUBERNUR JAMBI PERATURAN GUBERNUR JAMBI NOMOR 30 TAHUN 2008 TENTANG URAIAN TUGAS POKOK DAN FUNGSI DINAS DAERAH PROVINSI JAMBI

GUBERNUR JAMBI PERATURAN GUBERNUR JAMBI NOMOR 30 TAHUN 2008 TENTANG URAIAN TUGAS POKOK DAN FUNGSI DINAS DAERAH PROVINSI JAMBI GUBERNUR JAMBI PERATURAN GUBERNUR JAMBI NOMOR 30 TAHUN 2008 TENTANG URAIAN TUGAS POKOK DAN FUNGSI DINAS DAERAH PROVINSI JAMBI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR JAMBI Menimbang : 1. bahwa dengan

Lebih terperinci

RENCANA STRATEGIS DINAS PENDIDIKAN TAHUN

RENCANA STRATEGIS DINAS PENDIDIKAN TAHUN RENCANA STRATEGIS DINAS PENDIDIKAN TAHUN 2016 2021 DINAS PENDIDIKAN KABUPATEN KENDAL TAHUN 2016 Rencana Strategis Dinas Kab. Kendal Tahun 2016-2021 KATA PENGANTAR Rencana Strategis Dinas Kabupaten Kendal

Lebih terperinci

PERATURAN WALIKOTA TASIKMALAYA

PERATURAN WALIKOTA TASIKMALAYA WALIKOTA TASIKMALAYA PERATURAN WALIKOTA TASIKMALAYA NOMOR : 23 TAHUN 2006 TENTANG STANDAR PELAYANAN MINIMAL BIDANG PENDIDIKAN DI KOTA TASIKMALAYA WALIKOTA TASIKMALAYA Menimbang : a. bahwa berdasarkan ketentuan

Lebih terperinci

Bandar Lampung, Desember 2015 KEPALA DINAS PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN PROVINSI LAMPUNG,

Bandar Lampung, Desember 2015 KEPALA DINAS PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN PROVINSI LAMPUNG, Rencana Strategis (Renstra) Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Lampung 2015-2019 ini disusun melalui beberapa tahapan dengan mengacu kepada visi RPJMD Provinsi Lampung tahun 2015-2019, yaitu Lampung

Lebih terperinci

Grafik Skor Daya Saing Kabupaten/Kota di Jawa Timur

Grafik Skor Daya Saing Kabupaten/Kota di Jawa Timur Grafik Skor Daya Saing Kabupaten/Kota di Jawa Timur TOTAL SKOR INPUT 14.802 8.3268.059 7.0847.0216.8916.755 6.5516.258 5.9535.7085.572 5.4675.3035.2425.2185.1375.080 4.7284.4974.3274.318 4.228 3.7823.6313.5613.5553.4883.4733.3813.3733.367

Lebih terperinci

W A L I K O T A Y O G Y A K A R T A

W A L I K O T A Y O G Y A K A R T A W A L I K O T A Y O G Y A K A R T A PERATURAN WALIKOTA YOGYAKARTA NOMOR 71 TAHUN 2008 TENTANG FUNGSI, RINCIAN TUGAS DAN TATA KERJA DINAS PENDIDIKAN KOTA YOGYAKARTA WALIKOTA YOGYAKARTA, Menimbang : a. bahwa

Lebih terperinci

BAB VI INDIKATOR KINERJA SKPD YANG MENGACU PADA TUJUAN DAN SASARAN RPJMD

BAB VI INDIKATOR KINERJA SKPD YANG MENGACU PADA TUJUAN DAN SASARAN RPJMD BAB VI INDIKATOR KINERJA SKPD YANG MENGACU PADA TUJUAN DAN SASARAN RPJMD Indikator Kinerja Dinas Pendidikan Kota Pontianak yang mendukung visi, misi, tujuan dan sasaran Rencana Pembangunan Jangka Menengah

Lebih terperinci

BAB V RENCANA PROGRAM, KEGIATAN, INDIKATOR KINERJA, KELOMPOK SASARAN DAN PENDANAAN INDIKATIF PENDIDIKANJAWA TIMUR

BAB V RENCANA PROGRAM, KEGIATAN, INDIKATOR KINERJA, KELOMPOK SASARAN DAN PENDANAAN INDIKATIF PENDIDIKANJAWA TIMUR BAB V RENCANA PROGRAM, KEGIATAN, INDIKATOR KINERJA, KELOMPOK SASARAN DAN PENDANAAN INDIKATIF PENDIDIKANJAWA TIMUR 5.1. Matriks Rencana Program, Kegiatan, Indikator Kinerja, dan Pendanaan Indikatif Berdasarkan

Lebih terperinci

SASARAN Uraian Sasaran Indikator Satuan 1 2. Formulasi perhitungan: (Jumlah siswa usia tahun dijenjang SD/MI/Paket A,

SASARAN Uraian Sasaran Indikator Satuan 1 2. Formulasi perhitungan: (Jumlah siswa usia tahun dijenjang SD/MI/Paket A, Lampiran Keputusan Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Banjar Nomor : 420/Kpts.203-Disdikbud Tanggal : 27 Oktober 2014 Tentang Penetapan Indikator Kinerja Utama (IKU) Dilingkungan Dinas Pendidikan

Lebih terperinci

GUBERNUR JAWA TIMUR PERATURAN GUBERNUR JAWA TIMUR NOMOR 2 TAHUN 2014 TENTANG

GUBERNUR JAWA TIMUR PERATURAN GUBERNUR JAWA TIMUR NOMOR 2 TAHUN 2014 TENTANG GUBERNUR JAWA TIMUR PERATURAN GUBERNUR JAWA TIMUR NOMOR 2 TAHUN 2014 TENTANG PERKIRAAN ALOKASI DANA BAGI HASIL CUKAI HASIL TEMBAKAU KEPADA PROVINSI JAWA TIMUR DAN KABUPATEN/KOTA DI JAWA TIMUR TAHUN ANGGARAN

Lebih terperinci

PEMERINTAH PROPINSI JAWA TIMUR PERATURAN DAERAH PROPINSI JAWA TIMUR NOMOR 5 TAHUN 2001 TENTANG BADAN KOORDINASI WILAYAH PROPINSI JAWA TIMUR

PEMERINTAH PROPINSI JAWA TIMUR PERATURAN DAERAH PROPINSI JAWA TIMUR NOMOR 5 TAHUN 2001 TENTANG BADAN KOORDINASI WILAYAH PROPINSI JAWA TIMUR PEMERINTAH PROPINSI JAWA TIMUR PERATURAN DAERAH PROPINSI JAWA TIMUR NOMOR 5 TAHUN 2001 TENTANG BADAN KOORDINASI WILAYAH PROPINSI JAWA TIMUR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR JAWA TIMUR, Menimbang

Lebih terperinci

PEMERINTAH PROPINSI JAWATIMUR PERATURAN DAERAH PROPINSI JAWA TIMUR NOMOR 21 TAHUN 2000 TENTANG DINAS PEKERJAAN UMUM BINA MARGA PROPINSI JAWATIMUR

PEMERINTAH PROPINSI JAWATIMUR PERATURAN DAERAH PROPINSI JAWA TIMUR NOMOR 21 TAHUN 2000 TENTANG DINAS PEKERJAAN UMUM BINA MARGA PROPINSI JAWATIMUR PEMERINTAH PROPINSI JAWATIMUR PERATURAN DAERAH PROPINSI JAWA TIMUR NOMOR 21 TAHUN 2000 TENTANG DINAS PEKERJAAN UMUM BINA MARGA PROPINSI JAWATIMUR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR JAWA TIMUR Menimbang

Lebih terperinci

KEPUTUSAN GUBERNUR JAWA TIMUR NOMOR 188/ 557 /KPTS/013/2016 TENTANG PENETAPAN KABUPATEN / KOTA SEHAT PROVINSI JAWA TIMUR TAHUN 2016

KEPUTUSAN GUBERNUR JAWA TIMUR NOMOR 188/ 557 /KPTS/013/2016 TENTANG PENETAPAN KABUPATEN / KOTA SEHAT PROVINSI JAWA TIMUR TAHUN 2016 KEPUTUSAN GUBERNUR JAWA TIMUR NOMOR 188/ 557 /KPTS/013/2016 TENTANG PENETAPAN KABUPATEN / KOTA SEHAT PROVINSI JAWA TIMUR TAHUN 2016 GUBERNUR JAWA TIMUR, Menimbang : a. bahwa dalam rangka tercapainya kondisi

Lebih terperinci

PEMERINTAH KOTA TANGERANG

PEMERINTAH KOTA TANGERANG RINGKASAN RENSTRA DINAS PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN KOTA TANGERANG PERIODE TAHUN 2014-2018 Penyusunan Rencana Strategis Dinas Pendidikan dan Kebudayaan periode 2014-2019 merupakan amanat perundang-undangan

Lebih terperinci

BUPATI SUKAMARA PERATURAN BUPATI SUKAMARA NOMOR 15 TAHUN 2008 TENTANG

BUPATI SUKAMARA PERATURAN BUPATI SUKAMARA NOMOR 15 TAHUN 2008 TENTANG BUPATI SUKAMARA PERATURAN BUPATI SUKAMARA NOMOR 15 TAHUN 2008 TENTANG RINCIAN TUGAS POKOK DAN FUNGSI DINAS PENDIDIKAN, PEMUDA DAN OLAH RAGA KABUPATEN SUKAMARA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI SUKAMARA

Lebih terperinci

INDEKS PEMBANGUNAN MANUSIA (IPM) JAWA TIMUR TAHUN 2015

INDEKS PEMBANGUNAN MANUSIA (IPM) JAWA TIMUR TAHUN 2015 BPS PROVINSI JAWA TIMUR No. 40/06/35/Th. XIV, 15 Juni 2016 INDEKS PEMBANGUNAN MANUSIA (IPM) JAWA TIMUR TAHUN 2015 IPM Jawa Timur Tahun 2015 Pembangunan manusia di Jawa Timur pada tahun 2015 terus mengalami

Lebih terperinci

BAB II GAMBARAN UMUM INSTANSI. 2.1 Sejarah Singkat PT PLN (Persero) Distribusi Jawa Timur

BAB II GAMBARAN UMUM INSTANSI. 2.1 Sejarah Singkat PT PLN (Persero) Distribusi Jawa Timur BAB II GAMBARAN UMUM INSTANSI 2.1 Sejarah Singkat PT PLN (Persero) Distribusi Jawa Timur PT PLN (Persero) Distribusi Jawa Timur merupakan salah satu unit pelaksana induk dibawah PT PLN (Persero) yang merupakan

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI BANYUWANGI,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI BANYUWANGI, BUPATI BANYUWANGI PROVINSI JAWA TIMUR SALINAN PERATURAN BUPATI BANYUWANGI NOMOR 4 TAHUN 2018 TENTANG KEDUDUKAN, SUSUNAN ORGANISASI, TUGAS DAN FUNGSI SERTA TATA KERJA DINAS PENDIDIKAN KABUPATEN BANYUWANGI

Lebih terperinci

BIODATA. : Dr. SAIFUL RACHMAN, MM, M.Pd

BIODATA. : Dr. SAIFUL RACHMAN, MM, M.Pd BIODATA Nama Lengkap : Dr. SAIFUL RACHMAN, MM, M.Pd NIP : 19590503 198503N1 018 Pangkat/Golongan: Pembina Utama Madya (IV/d) Tempat/Tgl Lahir : Surabaya, 03-05-1959 Agama : Islam Jabatan : Kepala Dinas

Lebih terperinci

DAFTAR ISI. Halaman Judul Surat Keputusan Kepala Dinas Pendidikan

DAFTAR ISI. Halaman Judul Surat Keputusan Kepala Dinas Pendidikan DAFTAR ISI Halaman Judul Surat Keputusan Kepala Dinas Pendidikan DAFTAR ISI BAB I PENDAHULUAN 1 A. LATAR BELAKANG 1 B. LANDASAN HUKUM 4 C. MAKSUD DAN TUJUAN 6 D. SISTEMATIKA PENULISAN 6 BAB II GAMBARAN

Lebih terperinci

P E N U T U P P E N U T U P

P E N U T U P P E N U T U P P E N U T U P 160 Masterplan Pengembangan Kawasan Tanaman Pangan dan Hortikultura P E N U T U P 4.1. Kesimpulan Dasar pengembangan kawasan di Jawa Timur adalah besarnya potensi sumberdaya alam dan potensi

Lebih terperinci

BAB III AKUNTABILITAS KINERJA

BAB III AKUNTABILITAS KINERJA BAB III AKUNTABILITAS KINERJA Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (LKjIP) Dinas Pendidikan Kota Probolinggo Tahun 2016 ini disusun untuk mengukur tingkat keberhasilan atau kegagalan dalam

Lebih terperinci

Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Kutai Timur KATA PENGANTAR

Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Kutai Timur KATA PENGANTAR KATA PENGANTAR Puji syukur kita panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena atas rahmat dan perkenan-nya maka Rencana Strategis (Renstra) Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Kutai Timur Tahun

Lebih terperinci

EVALUASI TEPRA KABUPATEN/KOTA PROVINSI JAWA TIMUR OKTOBER 2016

EVALUASI TEPRA KABUPATEN/KOTA PROVINSI JAWA TIMUR OKTOBER 2016 EVALUASI TEPRA KABUPATEN/KOTA PROVINSI JAWA TIMUR OKTOBER 2016 Realisasi belanja APBD Provinsi dan Kabupaten/Kota se-provinsi Jawa Timur Oktober 2016 PROVINSI KABUPATEN/KOTA Provinsi Gorontalo Provinsi

Lebih terperinci

INDIKATOR KINERJA UTAMA (IKU) & INDIKATOR KINERJA INDIVIDU (IKI)

INDIKATOR KINERJA UTAMA (IKU) & INDIKATOR KINERJA INDIVIDU (IKI) INDIKATOR (IKU) & INDIKATOR KINERJA INDIVIDU (IKI) PEMERINTAH KABUPATEN NGAWI DINAS PENDIDIKAN Jalan Ahmad Yani No. 05 Ngawi Kode Pos : 63202, Tromol Pos 09 Tlp. (0351) 79198 Fax. (0351) 79078 Email :

Lebih terperinci

1.1. KONDISI KETENAGAKERJAAN, KETRANSMIGRASIAN DAN KEPENDUDUKAN DI JAWA TIMUR

1.1. KONDISI KETENAGAKERJAAN, KETRANSMIGRASIAN DAN KEPENDUDUKAN DI JAWA TIMUR BAB I PENDAHULUAN 1.1. KONDISI KETENAGAKERJAAN, KETRANSMIGRASIAN DAN KEPENDUDUKAN DI JAWA TIMUR Pembangunan suatu negara ditujukan untuk kepentingan penduduk termasuk tenaga kerja yang menjadi objek pembangunan.

Lebih terperinci

GUBERNUR DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA

GUBERNUR DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA SALINAN GUBERNUR DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA PERATURAN GUBERNUR DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA NOMOR 56 TAHUN 2015 TENTANG RINCIAN TUGAS DAN FUNGSI DINAS PENDIDIKAN, PEMUDA DAN OLAHRAGA DENGAN RAHMAT TUHAN

Lebih terperinci

BERITA RESMI STATISTIK BPS PROVINSI JAWA TIMUR

BERITA RESMI STATISTIK BPS PROVINSI JAWA TIMUR BERITA RESMI STATISTIK BPS PROVINSI JAWA TIMUR No. 25/04/35/Th. XV, 17 April 2016 INDEKS PEMBANGUNAN MANUSIA (IPM) JAWA TIMUR TAHUN 2016 IPM Jawa Timur Tahun 2016 Pembangunan manusia di Jawa Timur pada

Lebih terperinci

BAB VI INDIKATOR KINERJA SKPD YANG MENGACU PADA TUJUAN DAN SASARAN RPJMD

BAB VI INDIKATOR KINERJA SKPD YANG MENGACU PADA TUJUAN DAN SASARAN RPJMD BAB VI INDIKATOR KINERJA SKPD YANG MENGACU PADA TUJUAN DAN SASARAN Untuk mengukur kinerja Kabupaten Barru, disusun indikator kinerja sesuai Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah, yang meliputi: (1)

Lebih terperinci

SISTEM INFORMASI PEMBANGUNAN DAERAH KABUPATEN PANGANDARAN

SISTEM INFORMASI PEMBANGUNAN DAERAH KABUPATEN PANGANDARAN Nama SKPD : Dinas Dikbudpora Tahun : 2016 PENDIDIKAN A. Pendidikan Umum * Nama Nilai Satuan Ketersediaan Sumber Data 1 2 3 4 5 1. Jumlah Sekolah * 249 Sekolah Ada Disdikbudpora 1). Taman Kanak-Kanak (TK)

Lebih terperinci

Pasal 2. permen_14_2008

Pasal 2. permen_14_2008 SALINAN PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR 14 TAHUN 2008 TENTANG INDIKATOR KINERJA KUNCI DI LINGKUNGAN DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA Menimbang

Lebih terperinci

INDIKATOR KINERJA UTAMA (IKU)

INDIKATOR KINERJA UTAMA (IKU) INDIKATOR KINERJA UTAMA (IKU) Nama SKPD : DINAS PENDIDIKAN PEMUDA DAN OLAHRAGA Visi : Terwujudnya Layanan Pendidikan, Pemuda Olahraga Rote Ndao yang berkembang, bermutu, unggul terjangkau Misi : 1 Memperluas

Lebih terperinci

BAB IV GAMBARAN UMUM OBJEK PENELITIAN. sebuah provinsi yang dulu dilakukan di Indonesia atau dahulu disebut Hindia

BAB IV GAMBARAN UMUM OBJEK PENELITIAN. sebuah provinsi yang dulu dilakukan di Indonesia atau dahulu disebut Hindia BAB IV GAMBARAN UMUM OBJEK PENELITIAN A. Profil Eks Karesidenan Madiun Karesidenan merupakan pembagian administratif menjadi kedalam sebuah provinsi yang dulu dilakukan di Indonesia atau dahulu disebut

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. LATAR BELAKANG MASALAH Dinamika yang terjadi pada sektor perekonomian Indonesia pada masa lalu

BAB I PENDAHULUAN. A. LATAR BELAKANG MASALAH Dinamika yang terjadi pada sektor perekonomian Indonesia pada masa lalu BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG MASALAH Dinamika yang terjadi pada sektor perekonomian Indonesia pada masa lalu menunjukkan ketidak berhasilan dan adanya disparitas maupun terjadinya kesenjangan pendapatan

Lebih terperinci

RENCANA STRATEGIS (RENSTRA) DINAS PENDIDIKAN PERIODE

RENCANA STRATEGIS (RENSTRA) DINAS PENDIDIKAN PERIODE RENCANA STRATEGIS (RENSTRA) DINAS PENDIDIKAN PERIODE 2013-2018 PEMERINTAH KABUPATEN BOGOR Jalan Nyaman Nomor 01 Kelurahan Tengah Kecamatan Cibinong Tahun 2014 RENCANA STRATEGIS (RENSTRA) DINAS PENDIDIKAN

Lebih terperinci

GUBERNUR JAWA TIMUR PERATURAN GUBERNUR JAWA TIMUR NOMOR 75 TAHUN 2015 TENTANG

GUBERNUR JAWA TIMUR PERATURAN GUBERNUR JAWA TIMUR NOMOR 75 TAHUN 2015 TENTANG GUBERNUR JAWA TIMUR PERATURAN GUBERNUR JAWA TIMUR NOMOR 75 TAHUN 2015 TENTANG PERKIRAAN ALOKASI DANA BAGI HASIL CUKAI HASIL TEMBAKAU KEPADA PROVINSI JAWA TIMUR DAN KABUPATEN/KOTA DI JAWA TIMUR TAHUN ANGGARAN

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Isu mengenai ketimpangan ekonomi antar wilayah telah menjadi fenomena

BAB I PENDAHULUAN. Isu mengenai ketimpangan ekonomi antar wilayah telah menjadi fenomena BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Isu mengenai ketimpangan ekonomi antar wilayah telah menjadi fenomena global. Permasalahan ketimpangan bukan lagi menjadi persoalan pada negara dunia ketiga saja. Kesenjangan

Lebih terperinci

PARTISIPASI KASAR ( APK ) MENURUT JENJANG PENDIDIKAN, JENIS KELAMIN DAN KECAMATAN DI KABUPATEN KULON PROGO TAHUN

PARTISIPASI KASAR ( APK ) MENURUT JENJANG PENDIDIKAN, JENIS KELAMIN DAN KECAMATAN DI KABUPATEN KULON PROGO TAHUN No III. BIDANG PENDIDIKAN TABEL 3.1.a ANGKA PARTISIPASI KASAR ( APK ) MENURUT JENJANG PENDIDIKAN, JENIS KELAMIN DAN KECAMATAN TAHUN 2015 KECAMATAN SD SLTP SLTA L P L + P L P L+P L P L+P 1.365 1.191 2.556

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL NOMOR 8 TAHUN 2005 TENTANG

PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL NOMOR 8 TAHUN 2005 TENTANG SALINAN PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL NOMOR 8 TAHUN 2005 TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA DIREKTORAT JENDERAL PENINGKATAN MUTU PENDIDIK DAN TENAGA KEPENDIDIKAN DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL DENGAN

Lebih terperinci

Banyuwangi Tahun telah ditetapkan melalui surat. : 421/ 159/ /2014 tanggal 23 September Berdasarkan

Banyuwangi Tahun telah ditetapkan melalui surat. : 421/ 159/ /2014 tanggal 23 September Berdasarkan KATA PENGANTAR Rencana Strategis (Renstra) Dinas Pendidikan Kabupaten Banyuwangi Tahun 2010-2015 telah ditetapkan melalui surat Keputusan Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Banyuwangi Nomor : 421/ 159/429.101/2014

Lebih terperinci

C. ANALISIS CAPAIAN KINERJA

C. ANALISIS CAPAIAN KINERJA C. ANALISIS CAPAIAN KINERJA Analisis capaian kinerja dilaksanakan pada setiap sasaran yang telah ditetapkan dalam pelaksanaan setiap urusan pemerintahan daerah baik urusan wajib maupun urusan pilihan.

Lebih terperinci

BERITA DAERAH KABUPATEN SUMEDANG NOMOR 4 TAHUN 2009 PERATURAN BUPATI SUMEDANG NOMOR 4 TAHUN 2009 TENTANG

BERITA DAERAH KABUPATEN SUMEDANG NOMOR 4 TAHUN 2009 PERATURAN BUPATI SUMEDANG NOMOR 4 TAHUN 2009 TENTANG BERITA DAERAH KABUPATEN SUMEDANG NOMOR 4 TAHUN 2009 PERATURAN BUPATI SUMEDANG NOMOR 4 TAHUN 2009 TENTANG URAIAN TUGAS JABATAN STRUKTURAL PADA DINAS PENDIDIKAN KABUPATEN SUMEDANG SEKRETARIAT DAERAH KABUPATEN

Lebih terperinci

GUBERNUR JAWA TIMUR PERATURAN GUBERNUR JAWA TIMUR NOMOR 72 TAHUN 2012 TENTANG UPAH MINIMUM KABUPATEN / KOTA DI JAWA TIMUR TAHUN 2013

GUBERNUR JAWA TIMUR PERATURAN GUBERNUR JAWA TIMUR NOMOR 72 TAHUN 2012 TENTANG UPAH MINIMUM KABUPATEN / KOTA DI JAWA TIMUR TAHUN 2013 GUBERNUR JAWA TIMUR PERATURAN GUBERNUR JAWA TIMUR NOMOR 72 TAHUN 2012 TENTANG UPAH MINIMUM KABUPATEN / KOTA DI JAWA TIMUR TAHUN 2013 Menimbang: a. Bahwa dalam upaya meningkatkan kersejahteraan rakyat khususnya

Lebih terperinci

PEMERINTAH KABUPATEN SAMPANG

PEMERINTAH KABUPATEN SAMPANG PEMERINTAH KABUPATEN SAMPANG PERATURAN BUPATI SAMPANG NOMOR : 41 TAHUN 2008 TENTANG TUGAS, FUNGSI DAN TATA KERJA DINAS PENDIDIKAN KABUPATEN SAMPANG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI SAMPANG, Menimbang

Lebih terperinci

BUPATI MAGETAN PERATURAN BUPATI MAGETAN NOMOR 58 TAHUN 2008 TENTANG TUGAS POKOK DAN FUNGSI DINAS PENDIDIKAN KABUPATEN MAGETAN BUPATI MAGETAN,

BUPATI MAGETAN PERATURAN BUPATI MAGETAN NOMOR 58 TAHUN 2008 TENTANG TUGAS POKOK DAN FUNGSI DINAS PENDIDIKAN KABUPATEN MAGETAN BUPATI MAGETAN, BUPATI MAGETAN PERATURAN BUPATI MAGETAN NOMOR 58 TAHUN 2008 TENTANG TUGAS POKOK DAN FUNGSI DINAS PENDIDIKAN KABUPATEN MAGETAN BUPATI MAGETAN, Menimbang : a. bahwa dalam rangka melaksanakan ketentuan Pasal

Lebih terperinci

WALIKOTA BATU PERATURAN WALIKOTA BATU NOMOR 37 TAHUN 2013 TENTANG PENJABARAN TUGAS DAN FUNGSI DINAS PENDIDIKAN KOTA BATU

WALIKOTA BATU PERATURAN WALIKOTA BATU NOMOR 37 TAHUN 2013 TENTANG PENJABARAN TUGAS DAN FUNGSI DINAS PENDIDIKAN KOTA BATU SALINAN WALIKOTA BATU PERATURAN WALIKOTA BATU NOMOR 37 TAHUN 2013 TENTANG PENJABARAN TUGAS DAN FUNGSI DINAS PENDIDIKAN KOTA BATU DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA BATU, Menimbang : bahwa untuk

Lebih terperinci

BUPATI MANDAILING NATAL

BUPATI MANDAILING NATAL - 1 - BUPATI MANDAILING NATAL PERATURAN BUPATI MANDAILING NATAL NOMOR 24 TAHUN 2011 TENTANG RINCIAN TUGAS DAN FUNGSI DINAS PENDIDIKAN KABUPATEN MANDAILING NATAL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. mengurus dan mengatur keuangan daerahnya masing-masing. Hal ini sesuai

BAB I PENDAHULUAN. mengurus dan mengatur keuangan daerahnya masing-masing. Hal ini sesuai BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pemerintah pusat memberikan kebijakan kepada pemerintah daerah untuk mengurus dan mengatur keuangan daerahnya masing-masing. Hal ini sesuai dengan Undang-undang Nomor

Lebih terperinci

GUBERNUR KEPALA DAERAH TINGKAT I JAWA TIMUR KEPUTUSAN NOMOR 159 TAHUN 1980

GUBERNUR KEPALA DAERAH TINGKAT I JAWA TIMUR KEPUTUSAN NOMOR 159 TAHUN 1980 GUBERNUR KEPALA DAERAH TINGKAT I JAWA TIMUR KEPUTUSAN GUBERNUR KEPALA DAERAH TINGKAT I JAWA TIMUR NOMOR 159 TAHUN 1980 TENTANG PEMBENTUKAN, TUGAS POKOK, FUNGSI, SUSUNAN ORGANISASI DAN TATA KERJA CABANG

Lebih terperinci

PEMERINTAH KOTA SALATIGA DAFTAR INFORMASI PUBLIK RINGKASAN RENCANA KERJA DINAS PENDIDIKAN PEMUDA DAN OLAHRAGA KOTA SALATIGA TAHUN 2017

PEMERINTAH KOTA SALATIGA DAFTAR INFORMASI PUBLIK RINGKASAN RENCANA KERJA DINAS PENDIDIKAN PEMUDA DAN OLAHRAGA KOTA SALATIGA TAHUN 2017 PEMERINTAH KOTA SALATIGA DAFTAR INFORMASI PUBLIK RINGKASAN RENCANA KERJA DINAS PENDIDIKAN PEMUDA DAN OLAHRAGA KOTA SALATIGA TAHUN 2017 1 PERENCANAAN KINERJA A. PERENCANAAN STRATEJIK VISI DAN MISI 1. Pernyataan

Lebih terperinci

PAPARAN SAKIP SISTEM AKUNTABILITAS KINERJA INSTANSI PEMERINTAH TAHUN 2017

PAPARAN SAKIP SISTEM AKUNTABILITAS KINERJA INSTANSI PEMERINTAH TAHUN 2017 PAPARAN SAKIP SISTEM AKUNTABILITAS KINERJA INSTANSI PEMERINTAH TAHUN 2017 Oleh : Drs. ABIMANYU, M.Si DINAS PENDIDIKAN KABUPATEN NGAWI Selaras 1 VISI MISI KE 2 NGAWI SEJAHTERA, BERAKHLAK, BERBASIS PEDESAAN

Lebih terperinci

Lampiran 1 LAPORAN REALISASI DAU, PAD TAHUN 2010 DAN REALISASI BELANJA DAERAH TAHUN 2010 KABUPATEN/KOTA DI JAWA TIMUR (dalam Rp 000)

Lampiran 1 LAPORAN REALISASI DAU, PAD TAHUN 2010 DAN REALISASI BELANJA DAERAH TAHUN 2010 KABUPATEN/KOTA DI JAWA TIMUR (dalam Rp 000) Lampiran 1 LAPORAN REALISASI DAU, PAD TAHUN 2010 DAN REALISASI BELANJA DAERAH TAHUN 2010 KABUPATEN/KOTA DI JAWA TIMUR (dalam Rp 000) Kabupaten/Kota DAU 2010 PAD 2010 Belanja Daerah 2010 Kab Bangkalan 497.594.900

Lebih terperinci

MEMUTUSKAN : : PERATURAN BUPATI TENTANG KEDUDUKAN, SUSUNAN ORGANISASI, TUGAS DAN FUNGSI SERTA TATA KERJA DINAS PENDIDIKAN. BAB I KETENTUAN UMUM

MEMUTUSKAN : : PERATURAN BUPATI TENTANG KEDUDUKAN, SUSUNAN ORGANISASI, TUGAS DAN FUNGSI SERTA TATA KERJA DINAS PENDIDIKAN. BAB I KETENTUAN UMUM BUPATI BANJAR PROVINSI KALIMANTAN SELATAN PERATURAN BUPATI BANJAR NOMOR 55 TAHUN 2016 TENTANG KEDUDUKAN, SUSUNAN ORGANISASI,TUGAS DAN FUNGSI SERTA TATA KERJA DINAS PENDIDIKAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA

Lebih terperinci

KATA PENGANTAR. Kepala Pusat Data dan Informasi Kementerian Kesehatan. drg. Oscar Primadi, MPH NIP

KATA PENGANTAR. Kepala Pusat Data dan Informasi Kementerian Kesehatan. drg. Oscar Primadi, MPH NIP KATA PENGANTAR Keberhasilan pembangunan kesehatan membutuhkan perencanaan yang baik yang didasarkan pada data dan informasi kesehatan yang tepat dan akurat serta berkualitas, sehingga dapat menggambarkan

Lebih terperinci