Kebijakan Pembangunan Neo-liberal

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "Kebijakan Pembangunan Neo-liberal"

Transkripsi

1

2 Kebijakan Pembangunan Neo-liberal

3

4 Kebijakan Pembangunan Neo-liberal di Asia Pasca-Konsensus Washington TOBY CARROLL

5 Diterbitkan oleh: INFID (International NGO Forum on Indonesian Development) Jl. Jati Padang Raya Kav. 3 No. 105 Pasar Minggu, Jakarta INDONESIA Website: Telp : Fax :

6 Daftar isi Pendahuluan: Kebijakan Pembangunan Neo-liberal di Asia Pasca-Konsensus Washington 7 Bekerja terhadap Negara, melalui Negara, dan tanpa Keterlibatan Langsung Negara: International Finance Corporation (IFC) dan Marketisasi Mendalam pada Pembangunan di Asia-Pasifik 19 Politik Baru Pembangunan serta Munculnya Respon Kebijakan Pembangunan yang Mendorong Sektor Swasta 53 Pembangunan Sosial sebagai Kuda Troya Neoliberal Bank Dunia dan Program Pengembangan Kecamatan di Indonesia 63 5

7 6

8 Journal of Contemporary Asia Vol. 42, No. 3, Agustus 2012 Pendahuluan: Kebijakan Pembangunan Neo-liberal di Asia Pasca-Konsensus Washington TOBY CARROLL Pusat Kajian Asia dan Globalisasi, Lee Kuan Yew School of Public Policy, National University of Singapore, Singapore. ABSTRAK Makalah ini membahas sebuah isu khusus tentang kebijakan pembangunan neo-liberal kontemporer di Asia. Makalah ini mengkontekstualisasikan kondisi terkini kebijakan pembangunan neo-liberal yang telah berubah melampaui dua fase pendahulunya: yakni yang ingin membatasi peran negara dan melepaskan kekuatan-kekuatan pasar dan, selanjutnya, yang berorientasi ke arah pembentukan kembali negara dalam bentuk pasar liberal yang ideal. Sembari membangun dari leluhurnya, kebijakan neoliberal kontemporer apa yang kita sebut sebagai bangunan pasar menampilkan sebuah bentuk baru dari berbagai forum dan modalitas yang tidak hanya terus melanjutkan untuk menargetkan negara sabagai ajang dari perubahan (meski sering dengan berbagai cara baru) tapi yang juga yang secara teratur bekerja di ranah negara guna menyemaikan kegiatan sektor swasta. Selain itu, sebagai produk pada masanya, bangunan pasar menggabungkan peningkatan pengaruh atas risiko dan managemen risiko dengan risiko pelaksanaan program dan modal merupakan pusat perhatian utama dalam agenda neo-liberal saat ini. Namun, seperti halnya dengan fase awal neo-liberal, agenda bangunan-pasar adalah keduanya dikendalikan dan memproduksi pola tertantu dari politik. Sebagaimana makalah-makalah di edisi spesial ini menunjukkan, barangkali tiada tempat lain yang lebih menarik daripada realitas di Asia, di mana pola baru dan berani dari akumulasi modal begitu nyata dan dimana juga, Negara-negara bangsa tidak lagi secara material tergantung pada organisasi seperti Bank Dunia seperti sebelumnya. Kata kunci: Bangunan pasar, neo-liberalism, pasca-konsensus Washington, Konsesus Washington Edisi khusus Journal of Contemporary Asia menyatukan enam artikel yang meneliti berbagai aspek mutakhir dari upaya-upaya neo-liberal untuk memberi gambaran tentang hubungan pasar: upaya kita sebut sebagai bangunan pasar. 1 Setiap kontribusi melihat pada contoh bangunan pasar di Asia dengan badan-badan multilateral dan bilateral yang mengatasnamakan pembangunan. Setiap kontribusi juga mengambil serius gagasan bahwa berbagai ukuran bangunan pasar adalah bagian dari dorongan baru guna mewujudkan hubungan sosial kapitalis, menurut gambaran neoliberal tertentu, dalam skala yang benar-benar global, dan, lebih jauh, bahwa dorongan baru ini menuntut perhatian analitis kritis yang segar (lihat Cam- Toby Carroll 7

9 mack, 2009; Cammack, 2012; Carroll 2012). Dioperasikan melalui pelembagaan disiplin pasar kompetitif untuk area baru dan, di mana sudah ada, untuk derajat baru, bangunan pasar dengan cepat, meskipun sering diam-diam, mentransformasikan gagasan-gagasan pembangunan. Di sini, penanaman peraturan sektor pro-swasta secara konsisten, semakin pentingnya ditempatkan pada pengelolaan konsepsi risiko tertentu, advokasi berbasis luas dari kemitraan publik-swasta, dan peningkatan dramatis dalam dukungan perantara keuangan untuk menciptakan sektor perusahaan mikro, kecil dan menengah, semua fitur menonjol dalam menekan bangunan pasar. Lebih dari sekedar membandingkan perubahan untuk membiarkan kekuatan pasar bekerja atau membangun institusi untuk pasar, unsur-unsur di dalam liputan edisi khusus ini mencakup semua agenda teknokratis yang dioperasionalisasikan atas nama pembangunan. Pentingnya lagi, meskipun beberapa sirine lonceng kematian neo-liberalisme menggema akhir-akhir ini, fase baru ini telah mendapatkan dukungan meningkat dalam era darurat ekonomi permanen (Zizek, 2010). Bagi mereka yang terlibat dalam pembangunan pasar atas nama pembangunan, konstitusi kapitalisme yang tidak sempurna dalam ilustrasi tertentu memerlukan upaya pengobatan kuat untuk mendorong berbagai ilmu pengetahuan (melalui bantuan teknis), membentuk berbagai lembaga tertentu dan membesarkan semua ruang baru kegiatan sektor swasta lewat mitigasi risiko dan instrumen baru berupa bantuan keuangan (sering langsung ke sektor swasta). Tidak hanya dibatasi pada negara yang berorientasi reformasi (pro-pasar), sebagaimana yang terjadi di masa lalu, berbagai upaya pembaruan ini - mencerminkan peralihan dalam ekonomi politik global dan bersamaan dengan pembaruan politik pembangunan (dibahas di bawah) - bekerja pada, melalui dan di seluruh negara, dengan setiap komponen reformasi saling mengacu dan melengkapi yang lain. Secara krusial, meskipun tidak dapat disangkal bahwa berbagai upaya neo-liberal, bangunan pasar baru bergerak lebih dalam ketimbang fase terdahulu kebijakan pembangunan neoliberal - kenyataan yang tidak sesuai realita untuk menganalisa terjebak pada cara sederhana negara/ non-negara dalam memahami bentuk neo-liberalisme dan pengaruhnya. Jika Konsensus Washington dan strategi penyesuaian struktural pada 1980-an semua tentang mengurangi peran negara untuk membebaskan pasar, dan pasca- Konsensus Washington berikutnya pada 1990 dan awal 2000-an adalah mengembalikan peran negara untuk mendukung pasar, bangunan pasar sebagai sebuah proyek pembangunan dalam kapitalisme akhir merupakan pemanfaatan gagasan ide pembangunan en vogue dengan pendekatan masyarakat secara keseluruhan yang menggabungkan sektor publik dan swasta di dalam pelembagaan aturan propasar yang kuat di mana risiko terhadap modal diprioritaskan dan dikurangi, dan di mana risiko semakin dibebankan ke masyarakat dan individu. Sementara dorongan 8 Toby Carroll

10 ini tidak hanya menyebar dari negara transnasional/supranasional ke ranah domestik di negara berkembang (politik membuat mewujudkan tujuan akhir ideal dari bangunan pasar tidak mungkin), realita nyata, lebih rumit dan kontestasi sekarang menjadi fokus perhatian. Realitas ini melukiskan kembali hubungan antara negara dan warga negara dan menjerat keduanya dalam pola pikir cari untung/akumulatif/ kompetitif global yang dijual atas dasar peningkatan kesejahteraan dalam kondisikondisi material obyektif akan tetapi menghasilkan ketimpangan yang besar. Dalam konteks geografis dan politik, Asia merupakan kasus paripurna untuk konsepsi dan penelitian proses bangunan pasar di bawah kapitalisme akhir, bukan hanya karena unsur-unsur dalam penyelidikan sedang dikerahkan di wilayah ini tetapi juga karena Asia merupakan tuan rumah bagi 60% dari populasi dunia, mayoritas penduduk miskin di dunia, dan - secara bersamaan dan berhubungan merupakan pusat produksi global dan mata rantai konsumsi. Selanjutnya, analisa pengukur bangunan pasar dalam konteks Asia juga memerlukan keterlibatan baik implisit dan eksplisit dengan berbagai kebangkitan Asia /tesis dunia multi-polar yang populer sekarang. Dalam poin akhir ini, berbagai sumbangsih atas isu ini menunjukkan bahwa sementara Asia bisa menjadi kutub penting dalam kancah dunia baru, khususnya dalam hal pertumbuhan (Cammack, 2012), maksud sebenarnya ini (bersama dengan konsep pasar itu sendiri) perlu dibongkar untuk mengungkap basis yang sebenarnya dan dinamika pertumbuhan di wilayah ini, pola operasi tata kelola pemerintah dan berbagai perjuangan dan berbagai hasil terkait dengan hal tersebut. Proses-proses dan aktor-aktor yang disebut dalam berbagai artikel edisi khusus ini jelas menampakkan kondisi di mana sebuah pergolakan besar sedang berlangsung dimana struktur pemerintahan dan hubungan sosial yang lebih luas dianggap sebagai penghubung atau penghalang untuk memperdalam pola tertentu dari pertumbuhan dan akumulasi sebuah proses yang memerlukan perjuangan yang signifikan sebagai kekuatan sosial dengan berbagai cara menolak, membantu dan / atau mengkapitalisasi nilai bangunan pasar. Dengan kata lain, sementara modalitas institusionalisasi pasar baru yang sedang diteliti merupakan wujud nyata dari gagasan ideal tatanan sosial, politik, dan ekonomi di bawah kapitalisme akhir, susunan dan fungsi dari modalitas ini sangat diperebutkan di ranah hukum, yang secara teratur menghasilkan ketidakstabilan, (untuk sebagian) tidak terduga dan hasil yang semu (etsatz). Selanjutnya, edisi khusus ini menyertakan enam artikel-artikel kritis yang mengkonsepsikan dan meneliti secara empiris peran baru, proses dan perjuangan terkait dengan organisasi-organisasi multilateral dan bilateral dan bangunan pasar di Asia. Semua kontributor memandang berbagai proses terkait bangunan pasar sebagai fokus analitis sentral dalam kapitalisme akhir, serta setiap penulis menyadari bahwa organisasi-organisasi dalam penelitian di edisi ini sangat sentral dalam mengoperasikan proyek bangunan pasar dan bahwa aktor negara dan non-negara, seperti Toby Carroll 9

11 Lembaga Swadaya Masyarakat, telah menjadi sasaran reformasi bangunan pasar baru dan juga menjadi komprador/pembelanya. Yang juga diakui semua kontributor adalah bahwa organisasi karib neo-liberal, seperti Bank Dunia, kini memainkan peran agak aneh dalam mendorong pembangunan dan memang, gagasan tentang apa yang disebut pembangunan sedang disusun ulang. Di sini, dukungan sektor swasta dan operasi mitigasi risiko yang sangat dikuasai oleh badan-badan multilateral sangat terkait dengan pendekatan baru yang mana organisasi publik seperti Bank Dunia sedang bermain dalam pembangunan pasar-pasar dengan kesan tertentu di Asia. Dalam banyak hal, modalitas bangunan pasar baru dalam penelitian ini bermula dari kemunculan politik pembangunan - politik yang mendorong aktor-aktor pembangunan ternama untuk mengubah cara mereka mengatur reformasi negara dan campur tangan yang pro-pasar lainnya. Ini terutama diperlukan dalam arti politik untuk lembaga multilateral dan bilateral dalam lingkungan di mana kisah sukses pembangunan yang dicapai dari reformasi neo-liberal secara matang telah ambigu dan pengaruh yang dimiliki lembaga-lembaga tersebut atas negara secara teratur menjadi tantangan pembangunan terkini dalam ekonomi politik global. Di sini, kemunculan (yang harus diletakkan dalam konteks yang lebih bijak/tidak angkuh) dari negara-negara yang mulai terlibat atau Pasar Baru, seperti yang disebut BRIC (Brasil, Rusia, India dan Cina), sebagai kontributor penting dalam pertumbuhan ekonomi global; gudang cadangan devisa asing; dan peserta dalam bantuan pembangunan resmi, kegiatan penggusuran, mengubah banyak hal terutama untuk lembaga multilateral dan reformasi pasar. Pergeseran - yang telah dideskripsikan sebagai pergeseran ke multipolaritas (Lin, 2011: xiii) sebagian tercermin dengan desakan untuk representasi yang lebih besar negara-negara yang sebelumnya selaras dengan pengambilan keputusan di lembaga-lembaga multilateral. Namun, perubahan itu juga tercermin dalam pergeseran pengaruh di ranah domestik, dimana negaranegara tersebut sekarang kurang membutuhkan pendanaan multilateral dibanding saat sebelumnya. Bahkan, negara-negara seperti Cina kini menjadi pesaing sengit bagi sumber pembangunan resmi tradisional karena mereka telah menjadi sumber keuangan dan infrastruktur dalam suasana di mana pasar modal juga lebih dalam dan lebih mengglobal. Fakta terakhir ini penting dalam menentukan arah politik pembangunan baru dan ukuran bangunan pasar, yang sepadan dengan kenyataan berkurangnya peluang meraup keuntungan untuk modal di banyak negara maju dan pencarian ladang baru di tempat lain. Meski yang pasti, untuk semua pembahasan tentang multi-polaritas dan pertumbuhan tinggi (yang terakhir bukanlah hal baru bagi banyak negara Asia), sebagian besar negara di kawasan ini masih menghadapi tantangan besar dalam meningkatkan kesejahteraan. Sementara Pendapatan Nasional Bruto (PNB) di negara anggota Organisasi Kerja Sama Ekonomi dan pembangunan (OECD) berada sekitar US $41 10 Toby Carroll

12 triliun (PNB dunia sekitar US$60 triliun) atau sekitar US$ per kapita, PNB untuk semua Asia Timur dan Pasifik sekitar US$12,5 triliun atau US$5.953 per kapita atau sekitar sepertujuh dari negara-negara OECD. Untuk beberapa kalangan, angka-angka ini mungkin tampak tinggi, namun angkanya agak menipu dan jika anggota OECD Jepang dan Korea dihilangkan. Sesungguhnya, Jepang dan Korea memiliki 176 juta populasi - atau 8% - di kawasan dengan populasi 2,1 miliar tapi memiliki lebih dari US$6 triliun dari GNI regional. Menghilangkan dua ekonomi negara tersebut menurunkan per kapita regional menjadi sekitar US$ Bahkan angka ini menutupi angka pendapatan per kapita yang lebih rendah, misalnya, Laos dan Kamboja dengan GNIs per kapita masing-masing US$880 dan US$650).2 Tentu saja, nilai agregat PNB melukiskan gambaran yang sumir yang sering tidak bisa memuaskan mereka yang bergelut dengan kondisi kualitatif di lapangan. Memang, di seluruh Asia, isu-isu pembangunan - terkadang bergeser ke bentuk yang mereka inginkan - tampaknya hanya meningkat besar ukuran saja. Misalnya, ketimpangan dan dampak politik dan ekonomi (konsumsi yang terlalu rendah dan perampasan, kohesi sosial) melimpah. Di Cina, hasil pertumbuhan ekonomi yang sangat asimetris adalah fakta yang memisahkan tidak cuma desa-kota tetapi juga meningkatkan kesenjangan kota/kota yang semakin nyata, dengan kaum elit baru yang mampu mengkonsumsi super dan banyak pekerja (terutama pekerja migran staf perusahaan yang mendukung pertumbuhan China) terjerembab ke konsumsi rendah dan bentuk peminggiran warga negara yang hanya memperkeruh keadaan. Indikasi kondisi ini adalah ketimpangan Cina yang meningkat pesat, dengan koefisien Gini naik dari 0,28 pada 1983 menjadi 0,473 pada 2009 (Selden dan Wu, 2011: 3, 6). Di tempat lain di Asia potret pertumbuhan yang mengesankan ini dengan masalah yang terus ada dan persoalan yang semakin dalam bagi kebanyakan orang adalah bukti dalam perjuangan mencari uang dalam keluarga Jawa ketika anggota keluarga membutuhkan perawatan medis atau ketidakmampuan bagi kebanyakan orang untuk pulih setelah bencana alam, seperti Tsunami 2004 yang melanda daerah Aceh dan area sekitarnya. Lalu lintas macet dan infrastruktur yang sangat tidak memadai yang merupakan bagian tak terpisahkan dari kehidupan di kota besar seperti Jakarta atau Manila, jangan lupakan degradasi lingkungan dan alinasi yang menyertai pembangunan di sebagian besar Asia, hanya memperindah citra ini. Untuk banyak negara di kawasan Asia dan di luarnya, kenyataan ini telah menyebabkan semua jadi lebih buruk oleh berbagai krisis kapitalisme akhir, dengan arus modal yang terkadang membeku sementara dan goyahnya permintaan eksport (kondisi yang mungkin paling tepat dicirikan dengan kosongnya pabrik-pabrik di Cina tidak lama setelah krisis ekonomi global melanda). Negara-negara di Asia juga menghadapi persoalan besar dalam kaitannya dengan perubahan kondisi iklim dan meroketnya harga pangan, yang terkadang membulatkan racikan spekuliasi najis, pen- Toby Carroll 11

13 imbunan, dan perampasan tanah. Khususnya terkait hal terakhir, ekspor tanaman untuk bahan bakar seperti kelapa sawit saat ini masyhur di Asia untuk menghasilkan kekayaan yang sangat banyak bagi segelintir di atas lahan yang dulunya hutan tropis yang dimanfaatkan oleh masyarakat adat (isu-isu ini, lihat Gellert, 2010 dan Westra, 2011). Semua ini berfungsi baik untuk meningkatkan pengaruh politik baru pembangunan sebagaimana dijelaskan di atas dan menyajikan titik awal bagi upaya responsif baru yang berasal dari organisasi-organisasi yang menjadi fokus di edisi khusus ini. Seperti yang akan dijelaskan, tanggapan tersebut meneruskan orientasi terhadap perubahan yang dipicu pasar yang dalam banyak kasus telah secara langsung dan tidak langsung terkait dengan berbagai masalah yang disorot di atas. Namun, bukannya persoalan tersebut secara fundamental mengancam neo-liberalisme, modalitas bangunan pasar baru yang diselidiki dalam edisi ini menunjukkan kemampuan neo-liberalisme berkembang dalam menghadapi tantangan atas legitimasinya. Memang, karena banyak kontribusi dalam edisi ini menjelaskan, krisis dan kontradiksi neo-liberalisme dan pola akumulasi modal yang menyertainya telah menghasilkan tekanan yang kuat untuk sebuah evolusi dalam reformasi neoliberal reformasi - suatu realitas tercermin dalam standar ukuran bangunan pasar kontemporer. Sebagaimana telah disebutkan dengan singkat di atas, istilah bangunan pasar digunakan di sini dan di seluruh edisi khusus sebagai istilah umum untuk menunjukkan berbagai proses pelembagaan pasar. Proses ini harus dipahami sebagai bagian dari evolusi neo-liberalisme yang sedang berlangsung dan yang memiliki akar langsung fase tengah neo-liberalisme - fase sering mengacu pasca-konsensus Washington (PKW) (Carroll, 2010; Stiglitz, 2001). Sebelum PKW, kegiatan neo-liberalisasi meliputi penyesuaian struktural dan Konsensus Washington berupaya untuk memasung atau mengerdilkan peran negara melalui privatisasi, liberalisasi, deregulasi dan penghematan fiskal dalam suatu proses yang telah dijuluki oleh para ekonom politik kritis sebagai menarik kembali neo-liberalisme (Brenner dan Theodore, 2002: 26; Williamson, 1990; WilliamSon, 2000). Beranjak dari hal ini dan beragamnya reaksi dari dalam neo-liberalisme atas pertentangan mengikuti Konsensus Washington dan krisis legitimasi yang dihasilkan, pendukung PKW seperti Joseph Stiglitz mendorong peran yang lebih luas bagi negara sebagai pengawas peraturan aktivitas pasar, bagian penting dari apa yang sebagian orang sebut sebagai membuka neo-liberalisme (Brenner dan Theodore, 2002: 27; Carroll, 2010; Stiglitz, 2001). Simbol dari PKW adalah persyaratan tanpa henti oleh Bank Dunia tentang bentuk dan fungsi negara dengan cara melengkapi pasar, kecenderungan ini tampak nyata dalam seri Laporan Pembangunan Dunia tahunan (lihat laporan 1997 dan 2002 sebagai contoh). Spesifikasi bentuk dan fungsi negara ini didampingi beragam prakarsa yang dirancang untuk menargetkan negara tidak sebagai musuh dari pasar (seperti yang terjadi dengan, misalnya, penyesuaian struktural) melainkan sebagai 12 Toby Carroll

14 pijakan reformasi di mana negara perlu dibangun kembali (rolling out) dalam citra pasar yang kompatibel. Krusial, citra ini - yang dirancang dengan cara yang sangat teknokratis - menuntut bahwa negara, terisolasi dari politik, menyediakan fungsifungsi dan pengaturan lainnya yang dipandang oleh pasar sebagai syarat untuk biaya transaksi dan informasi asimetris yang harus dikurangi dan efisiensi pasar bisa direalisasikan. Mengingat bahwa PKW melibatkan bentuk tertentu dari negara - apa yang Jayasuriya (2000) dan teman-temannya sebut sebagai negara pengatur - perlu dipahami bahwa PKW menyaratkan dampak signifikan bagi hubungan antara negara dan warga negara. Sementara proses pengerjaan ulang hubungan antara negara dan warga negara telah dituangkan dalam bentuk yang brutal di bawah penyesuaian struktural (dimana negara sering dipaksa untuk meninggalkan pemenuhan layanan penting bagi masyarakat), PKW menyaratkan konstitusi yang lebih dalam untuk mendikte pasar ke dalam kelembagaan aparatur negara. Salah satu capaiannya adalah bahwa hasilnya terkadang tidak jelas kelihatan ketimbang di bawah penyesuaian struktural. Namun, untuk memastikan, putaran pembangunan institusi - bagian dari apa Gill (2000) tangkap dengan menawan dalam konsep konstitusionalisme baru - menyaratkan masyarakat untuk menerima tidak hanya bahwa hubungan pasar dan kompetisi sosial bukanlah satu-satunya pilihan namun susunan lembaga-lembaga tersebut secara normatif baik. Dilihat dalam konteks ini, lembaga pengatur independen yang menguasai pelaksanaan layanan swasta secara khusus dihargai. Namun, agak menawan dan membingungkan bagi sebagian orang, adalah dimasukkannya penekanan pada jaring pengaman sosial, kesehatan dasar dan pendidikan, dengan dua yang awal dianggap penting dalam menjaga reformasi pasar dan yang terakhir penting dalam meningkatkan sumber daya manusia. Secara singkat, agenda PKW dikembangkan dan dijalankan dengan cetak biru yang muncul untuk mengatur negara apa yang boleh dilakukan dan yang tidak, sementara juga menetapkan tuntutan, harapan dan hak-hak yang warga negara akan miliki terkait dengan negara baru dan secara normatif baik. Di sini, warga mempertahankan haknya untuk terlibat dalam membangun institusi baru dari pasar, dengan kemitraan dan proses partisipatif dari PKW penting dalam menyusun ulang kewarganegaraan, mengembangkan konstituensi untuk perubahan dan mengkarantina lembaga yang bukan konstituen neoliberal (lihat Jayasuriya dan Hewison, 2004). Selain itu, warga negara, tentu saja, dikonseptualisasikan lebih jauh sebagai konsumen, klien, buruh dan produsen dalam sebuah masyarakat kompetitif. Namun, di luar ini, dengan absennya keputusan kelembagaan yang dibuat selain yang berkenaan dengan mewujudkan negara pasar, batas-batas pasar kewarganegaraan menjadi sangat sempit dan perlu ditilik secara teknokratis. Namun, berbagai kontribusi dalam edisi ini membuat jelas, modalitas neo-liberalisme dan bangunan pasar saat ini tidak tinggal diam dengan peraturan PKW Toby Carroll 13

15 negara mereka. Memang, mereka jauh dari itu. Sementara banyak bangunan pasar era kontemporer memperluas proses fase awal neo-liberalisme, misalnya dengan meneruskan pola marketisasi melalui dukungan kemitraan publik-swasta dan pengembangan aturan hukum baru untuk sektor-sektor tertentu, banyak yang berubah. Sebagaimana Paulus Cammack tunjukkan dalam makalah pertama di edisi ini, bangunan pasar harus dilihat sebagai bagian dari proyek yang lebih besar, yang berakar dalam Adam Smith dan diakui oleh Marx dan Engels (1978), untuk mengembangkan kapitalisme dalam skala yang benar-benar global. Manifestasi terkini dari proyek ini, yang hanya diperoleh dalam momentum, saat ini menempatkan risiko sebagai pusat strategi untuk menciptakan pasar global. Karena alasan inilah kontribusinya Cammack untuk memahamkan bangunan pasar membuat perbedaan penting antara risiko negatif (risiko yang mengancam takaran bangunan pasar dan proyek neo-liberal yang lebih luas) dan risiko positif (risiko yang takaran bangunan pasar coba untuk bangkitkan dan dorong melalui penanaman hubungan sosial kompetitif). Cammack menunjukkan bagaimana pengertian tentang risiko yang tertanam dalam literatur berpengaruh pada politik ekonomi reformasi dan dalam strategi manajemen risiko sosial dari dua inti pembangun pasar: Bank Pembangunan Asia dan Bank Dunia. Sama pentingnya dengan makalah Cammack untuk edisi ini, dalam artikel kedua saya rinci bagaimana kadar bangunan pasar sekarang bekerja pada, melalui dan di sekitar negara dalam proses menciptakan pasar kapitalisme global dan yang penting, pergeseran pola pemerintahan dan akumulasi modal di Asia. Makalah ini menekankan bahwa meskipun bentuk-bentuk awal dari neo-liberalisme bekerja pada dan melalui negara, konstitusi pasar dalam citra neo-liberal sekarang sering langsung ke sektor - yakni langsung ke ranah swasta. Saya mengkonsepsikan proses kekuatan sektor swasta Bank Dunia, Kerjasama Keuangan Internasional (International Finance Corporation), dan sektor swasta lainnya--dana organisasi publik terlibat dalam pendalaman pemasaran pembangunan. Muncul pendekatan di dalam praktik pengarusutamaan pembangunan yang berpusat pada mitigasi risiko untuk modal dalam mengejar terbukanya dan memperluas lingkup akumulasi. Mitigasi risiko ini dan kreasi pasar yang ada melibatkan strategi baru dan instrumen yang dioperasionalkan di dunia berkembang, termasuk memprioritaskan ukuran patokan kompetitif baru dan penyebaran investasi ekuitas dan pinjaman kepada entitas seperti perantara keuangan. Sementara strategi ini dengan cepat menjadi gaya pembangunan terakhir, saya menasihatkan bahwa imbalan dari inisiatif tersebut akan rendah dan potensi untuk merusak bentuk perlindungan pemerintahan dan menciptakan gelembung ekonomi yang besar tinggi. Dalam makalah ketiga, Shahar Hameiri menunjukkan bagaimana kadar bangunan negara telah mengadopsi gagasan kegagalan negara sebagai pintu masuk untuk menyebarkan serangkaian tindakan yang bertujuan membangun kapasitas 14 Toby Carroll

16 negara tertentu dan, melalui struktur kelembagaan yang pasar dipandang perlu, mendukung pengembangan pasar liberal. Fokus pada Misi Bantuan Regional untuk Kepulauan Solomon (RAMSI) intervensi Australia di Kepulauan Solomon, Hameiri menyajikan nuansa analisis tentang bagaimana logika teknokratik bangunan negara telah diterapkan dan bagaimana, kemudian, lintasan pembangunan telah berjalan, dengan hasil yang tidak diinginkan jelas kelihatan. Dia menjelaskan bahwa sementara berbagai upaya terkait dengan RAMSI telah membantu dalam meningkatkan kegiatan ekonomi, mereka dengan tanpa sadar bertindak untuk mengurangi risiko untuk akumulasi primitif, yang paling menonjol di sektor kehutanan. Di sini, kekhawatiran yang sangat nyata ada bahwa pola kegiatan ekonomi tidak hanya sangat tidak berkelanjutan dalam hal menguras sumber daya pokok tetapi itu juga bisa berfungsi sebagai dasar menumbuhkan bentuk konflik sosial dari bawah. Fokus pada sumber daya alam dan bangunan pasar juga menjadi tema untuk artikel keempat dalam edisi khusus oleh Pascale Hatcher. Hatcher membuat catatan usaha Grup Bank Dunia (GBD), menyusul Review Industri Ekstraktif 2003, untuk tetap terlibat di negara berkembang, tapi sangat kaya sumber daya ekonominya. Berfokus pada Filipina, Papua New Guinea dan Laos, tiga negara yang mendapat dana hibah besar untuk sumber daya alam, Hatcher melukiskan cara di mana GBD memainkan peran penting dalam tata kelola ulang pertambangan, mencoba untuk membangun rezim pemerintahan tertentu untuk ekstraksi sumber daya. Rezim-rezim, yang meliputi jaminan sosial dan lingkungan, bertugas, pertama dan terutama, menuju mitigasi risiko pada industri di atas dan di bawah yang dihadapi oleh penduduk lokal. Namun, sementara rezim baru membantu penetrasi modal ke negaranegara kaya sumber daya alam, mengubah pengertian risiko dan tanggung jawab, permusuhan lokal dan nasional yang ekstraksi sumberdaya hasilkan tidak begitu mudah dipahami oleh kaum teknokratis dari GBD. Sebagaimana Hatcher jelaskan, kenyataan ini mungkin, memang, berarti bahwa dalam jangka panjang upaya GBD mungkin tidak dapat dipertahankan. Dalam makalah kelima, Andrew Rosser dan Thomas Wanner melanjutkan penyelidikan tentang hubungan antara risiko dan bangunan pasar dengan memberikan analisis kritis atas kerja Australian Agency for International Development (AusAID). Identifikasi risiko sebagai fokus baru dalam ukuran bangunan pasar, Rosser dan Wanner menunjukkan bahwa agenda ini muncul dari kepentingan politik dan sosial tertentu. Mereka berpendapat bahwa sementara kebijakan dan pedoman AusAID berorientasi pada pengelolaan luasnya susunan risiko, poin yang lebih penting adalah bahwa manajemen risiko telah ditargetkan pada persoalan utama dari pengembangan pasar neo-liberal dan mengamankan tujuan kebijakan luar negeri Australia secara lebih luas. Study menunjukkan bahwa upaya mitigasi risiko AusAID telah merugikan konstituen miskin yang tinggal di negara tempatnya beroperasi. Dipertajam dengan program Kemitraan Filipina-Australia untuk Reformasi Toby Carroll 15

17 Tata Kelola Ekonomi sebagai wujud nyata dari fusi manajemen risiko dan bangunan pasar dalam bantuan pembangunan resmi, Rosser dan Wanner meminta perhatian jauh lebih besar yang harus dibayar dengan isu inklusi dan masyarakat sipil. Dalam makalah keenam dan terakhir untuk edisi khusus ini, Darryl Jarvis memandang upaya untuk menanamkan negara hukum di Indonesia dan, khususnya, tata kelola sektor kelistrikan. Sebagai contoh unggulan bangunan pasar, Jarvis menantang ortodoksi pembangunan dengan menanyakan apakah, dalam cara penuh makna, negara hukum bisa hadir di negara seperti Indonesia dan apakah, memang, kita menginginkan mereka. Di sini, perhatian utama Jarvis tidak hanya kemungkinan penerapan negara hukum tapi yang terpenting, logika menggabungkan negara hukum dengan peningkatan kesejahteraan sosial. Jarvis membongkar gagasan tentang negara hukum yang secara kritis dan empiris membumi, mendetailkan bahwa banyak dari apa yang membentuk pemerintahan yang baik untuk yang semisal Bank Dunia, secara khusus mendukung penetapan lembaga-lembaga standardisasi dan aturan yang akan diadopsi oleh negara, bisa jadi membantu dalam melindungi kemunduran negara-negara terbelakang. Setiap makalah dalam edisi khusus ini mencoba untuk mengkonsepsikan proses marketisasi di Asia yang kadang ruwet dan berjumlah besar dan politik ini - baik politik yang menghasilkan ukuran marketisasi baru di awal tempatnya dan apa yang standard marketisasi, pada gilirannya, hasilkan dan jumpai. Pada dasarnya kumpulan makalah ini bertanya secara kolektif apa arti neo-liberalisme di bawah kapitalisme akhir dan apa, yang terpenting, itu berarti di wilayah yang paling dinamis di dunia: Asia. Mengingat ciri khas fokus edisi khusus ini, diharapkan bahwa ide dan analisis yang disajikan di setiap artikel ini akan menjadi titik penting untuk putaran baru analisis berorientasi pada pemahaman lintasan neo-liberalisme dalam ekonomi politik global yang penuh gejolak dan, khususnya, pengaruhnya dalam ekonomi dan masyarakat menghadapi tantangan pembangunan besar. Catatan 1 Makalah-makalah berasal dari lokakarya yang diselenggarakan di Sekolah Lee Kuan Yew of Public Policy di Universitas Nasional Singapura pada April Lokakarya, bagian dari proyek berjudul Pendekatan Baru untuk Pasar Pembangunan di Asia, ini didanai oleh Kementerian Pendidikan Singapura Tier 1 Dana Penelitian Akademik Pemberian judul yang sama. 2 Angka-angka GNP yang ada di sini dihitung secara manual oleh penulis menggunakan alat Data- Bank, Bank Dunia. Angka untuk 2009 dalam US$ dan berasal dari daftar negara-negara Bank Dunia di kawasan Asia dan Pasifik (EaaP) demarkasi regional. Pendapatan per kapita sub-region dihitung dengan menjumlahan total GNP tiap negara yang mana Bank ada datanya untuk membaginya sesuai dengan jumlah populasi. Untuk negara-negara tertentu (misalnya Brunei, Korea Utara, Myanmar, Timor-Leste dan Tuvalu) di kawasan ini ada baik data yang tidak lengkap atau tidak ada dalam databank Dunia untuk periode waktu yang dicakup. Oleh karena itu, angka-angka untuk negara-negara ini tidak termasuk dalam perhitungan di atas. 16 Toby Carroll

18 Referensi Brenner, N. and N. Theodore (2002) Cities and the Geographies of Actually Existing Neoliberalism, in N. Brenner and N. Theodore (eds), Spaces of Neoliberalism, Malden: Blackwell, pp Cammack, P. (2009) All Power to Global Capital!, com/e-space/ bitstream/2173/67573/1/all%20power%20to%20global%20capital. pdf, (downloaded 20 June 2011). Cammack, P. (2012) Risk, Social Protection and the World Market, Journal of Contemporary Asia, 42, 3, pp Carroll, T. (2010) Delusions of Development: the World Bank and the post-washington Consensus in Southeast Asia, London: Palgrave-MacMillan. Carroll, T. (2012) The Cutting Edge of Accumulation: Neoliberal Risk Mitigation, the Baku-Tbilisi- Ceyhan Pipeline and its Impact, Antipode, 44, 2, pp Gellert, P. (2010) Rival Transnational Networks, Domestic Politics and Indonesian Timber, Journal of Contemporary Asia, 40, 4, pp Gill, S. (2000) The Constitution of Global Capitalism, press/010gill.htm (downloaded 29 June 2011). Jayasuriya, K. (2000) Authoritarian Liberalism, Governance and the Emergence of the Regulatory State in Post-Crisis East Asia, in R. Robison, M. Beeson, K. Jayasuriya and H. R. Kim (eds), Politics and Markets in the Wake of the Asian Crisis, London: Routledge, pp Jayasuriya, K. and K. Hewison (2004) The Antipolitics of Good Governance: From Global Social Policy to a Global Populism? Critical Asian Studies, 36, 4, pp Lin, J. (2011) Foreword, in World Bank, Global Development Horizons 2011 Multipolarity: The New Global Economy, Washington DC: World Bank, pp. xi xiii. Marx, K. and F. Engels (1978) Manifesto of the Communist Party, in R. Tucker (ed.), The Marx-Engels Reader, New York: W.W. Norton, pp Selden, M. and J. Wu (2011) The Chinese State, Incomplete Proletarianization and Structures of Inequality in Two Epochs, Japan Focus, Jieh_min-Wu/3480 (downloaded 29 June 2011). Stiglitz, J. (2001) More Instruments and Broader Goals: Moving Towards a Post- Washington Consensus, in H.-J Chang (ed.), Joseph Stiglitz and the World Bank, The Rebel Within, London: Anthem Press, pp Westra, R. (2011) Renewing Socialist Development in the Third World, Journal of Contemporary Asia, 41, 4, pp Williamson, J. (1990) What Washington Means by Policy Reform, in J. Williamson (ed.), Latin American Adjustment: How Much has Happened?, Washington: Institute for International Economics, pp Williamson, J. (2000) What Should the World Bank Think About the Washington Consensus, The World Bank Research Observer, 15, 2, pp Zizek, S. (2010) A Permanent Economic Emergency, New Left Review, 64, pp Toby Carroll 17

19 18 Toby Carroll

20 Journal of Contemporary Asia Vol. 42, No. 3, Agustus 2012 Bekerja terhadap Negara, melalui Negara, dan tanpa Keterlibatan Langsung Negara: International Finance Corporation (IFC) dan Marketisasi Mendalam pada Pembangunan di Asia- TOBY CARROLL Pusat Kajian Asia dan Globalisasi, Departemen Kebijakan Publik Lee Kuan Yew, Universitas Nasional Singapura ABSTRAK: Makalah ini menjelaskan tentang adanya suatu desakan baru dari lembaga keuangan internasional untuk memperluas dan memperdalam hubungan sosial kapitalis di negara-negara kurang maju dengan cara-cara yang melampaui konsensus penyesuaian struktural Washington atau bahkan pascakesepakatan Washington (Post-Washington Consensus, PWC) dengan berbagai bentuk neoliberalisme partisipatif yang berorientasi kelembagaan. Disebutkan di sini sebagai marketisasi mendalam atas pembangunan (deep marketisation of development) atau cukup dengan sebutan marketisasi mendalam, proses ini dapat menarik semakin banyak sumber daya yang secara formal dialokasikan langsung bagi aktor swasta tanpa keterlibatan langsung negara. Proses ini juga menuntut dan mendorong pergeseran bentuk dan fungsi negara dalam upaya membina lingkungan yang mendukung penciptaan modal dan memfasilitasi akses terhadap pembiayaan. Makalah ini dimulai dengan penjabaran konsep marketisasi mendalam dan menempatkannya dalam konteks historis dan politik. Bagian kedua makalah ini menyajikan beberapa contoh marketisasi mendalam yang berlangsung di wilayah Asia-Pasifik sehubungan dengan kegiatan kerja unit sektor swasta dari Bank Dunia, yaitu International Finance Corporation.1 Makalah ini diakhiri dengan menyoroti beberapa masalah serius, terkait agenda marketisasi mendalam. Kata Kunci: Doing Business, lingkungan yang mendukung, International Finance Corporation, marketisasi, kemitraan publik-swasta, risiko PENDAHULUAN Meskipun praktik Pembangunan2 sepertinya terhenti pada reformasi neoliberal yang berorientasi pada negara dari pascakesepakatan Washington (lihat bagian pendahuluan dari topik ini), dalam makalah ini saya mengemukakan bahwa sebenarnya evolusi dan ekspansi yang signifikan jelas terlihat dalam kebijakan Pembangunan neoliberal, khususnya dalam kerja organisasi berorientasi sektor swasta, seperti unit sektor swasta dari Bank Dunia, yaitu International Finance Corporation (IFC). Evolusi ini harus dilihat dalam kaitannya dengan berbagai dinamika utama yang terjadi pada kapitalisme tingkat lanjut (termasuk dampak neoliberalisme) -dinamika yang telah mengubah lanskap tem- Toby Carroll 19

21 pat Pembangunan berlangsung. Secara khusus, pergeseran kutub-kutub pertumbuhan global dan pertentangan terkait reformasi neoliberal dan kapitalisme tingkat lanjut secara lebih luas dalam beberapa tahun terakhir telah melatarbelakangi pertumbuhan pesat pada dukungan sektor swasta yang berasal dari organisasi Pembangunan, serta meningkatnya jumlah dan bentuk modalitas Pembangunan yang dikerahkan. Di balik ekspansi dan evolusi ini, IFC kini harus dilihat sebagai protagonis penting, tidak hanya dalam Kelompok Bank Dunia (World Bank Group, WBG), tetapi juga dalam proyek neoliberal yang lebih luas untuk mendirikan sebuah pasar dunia, yang terpusat pada hubungan sosial yang kompetitif dan pada akumulasi (Cammack, 2009; 2011; Gill, 2000; Marx dan Engels, 1888: 475). Argumen yang saya kemukakan dalam tulisan ini adalah bahwa IFC sekarang memainkan peran penting, meskipun seringkali diremehkan, dalam memperkuat aktivitas pasar tanpa keterlibatan langsung negara, sementara secara bersamaan mendorong pergeseran pada negara yang dianggap kondusif bagi berlangsungnya pola akumulasi modal yang telah dirancang secara ideal. Atau, jika kita menggunakan istilah Pembangunan yang populer saat ini, IFC sekarang menjadi aktor utama yang berupaya menciptakan lingkungan [kelembagaan] yang mendukung bagi modal serta memfasilitasi dan menyediakan akses terhadap pembiayaan sebagai perpanjangan dari akumulasi modal. Dalam hal ini, salah satu bagian proyek yang dijalankan IFC dan badan-badan sejenis (seperti European Bank for Reconstruction and Development, EBRD) lebih tidak bersifat teknokratis/kelembagaan dibanding bentuk-bentuk awal kebijakan Pembangunan neoliberal, yang mewujud melalui cara-cara yang bersifat sangat instrumental dan langsung (dalam hal ini langsung ke sektor ). Yang pasti, elemen lain dari upaya baru ini yang melibatkan modalitas sebagaimana tahap awal kebijakan neoliberal yang bekerja terhadap negara dan melalui negara (work on and through the state) masih menunjukkan kecenderungan teknokratik klasik dari pendekatan membangun lembaga-lembaga untuk pasar yang berorientasi pada negara dari pascakesepakatan Washington (Post- Washington Consensus, PWC), dengan adanya berbagai penambahan dan pengurangan dari pendekatan tersebut (Carroll, 2010; Stiglitz, 2001a, 2001b; Bank Dunia, 1997; 2002). Namun demikian, tidak seperti pendekatan tradisional dari kebijakan Pembangunan neoliberal yang terikat secara tidak sempurna melalui persyaratan untuk pengalokasian uang berbagai upaya baru dari badan seperti IFC dilakukan dengan lebih memberi perhatian atau tidak terlalu memberi perhatian pada pembangunan kelembagaan yang terkait PWC, tetapi sebaliknya berupaya mewujudkan akuntabilitas individu dan organisasi melalui mekanisme kedisiplinan langsung dari pasar dan profitabilitas (bergantung pada unsur pengamanan yang diterapkan) dari investasi tertentu. Singkatnya, apa yang sedang diteliti di sini adalah pendekatan baru untuk mengembangkan, memperluas, dan memperdalam hubungan sosial yang kompetitif, dan secara bersamaan, pola akumulasi dengan cara mengurangi ketergantungan pada upaya yang dilakukan melalui negara sebagai tempat terjadinya reformasi dan lebih kepada upaya untuk secara langsung mengembangkan aktivitas pasar yang nyata (dimana upaya secara langsung mengembangkan aktivitas pasar yang secara nyata digunakan untuk mendorong transformasi negara sebagai hasil sampingnya). 20 Toby Carroll

22 Merujuk pendekatan materialis historis untuk memahami kemunculan kapitalisme tingkat lanjut (bdk. Cammack, 2003; Gill, 2000; Harvey, 2006), makalah ini dimulai dengan menempatkan proyek yang dilakukan IFC dan lainnya dalam konteks historis dan politik, serta menguraikan berbagai aspek inti proyek. Saya berpendapat bahwa dorongan dalam kebijakan Pembangunan neoliberal apa yang saya sebut sebagai marketisasi mendalam atas pembangunan atau singkatnya marketisasi mendalam menjadi semakin menonjol seiring munculnya politik pembangunan yang baru. Politik baru ini ditandai pergeseran pola akumulasi, terutama terhadap kapitalisme tingkat lanjut dan keselarasannya dengan kepentingan kelembagaan dari berbagai entitas, seperti WBG dan negara-negara anggotanya (baik donor maupun klien). Secara lebih spesifik, marketisasi mendalam memiliki kesesuaian yang tepat dengan berbagai kepentingan utama kapitalisme tingkat lanjut, serta kepentingan ideologis yang mendukung kepentingan-kepentingan utama tersebut, sehingga membantu munculnya pola-pola baru yang lebih mendalam dari akumulasi melalui apa yang mungkin ahli geografi politik menyebutnya sebagai penyelesaian tata ruang (spatial fixes) suatu solusi spasial (atau sementara) untuk berbagai hambatan dan krisis yang terkait akumulasi (Harvey, 2006: ). Permintaan terhadap solusi spasial seperti ini sangat tinggi, terutama pada situasi dimana pengembalian modal sangat diharapkan dan sumber daya semakin sulit ditemukan di negara maju, serta pemerintah sangat membutuhkan solusi bagi berbagai masalah berkepanjangan terkait infrastruktur, penyediaan layanan, dan keterbelakangan secara lebih umum. Guna mencapai berbagai tujuan ini, tidak mengherankan apabila modalitas marketisasi mendalam meliputi bantuan teknis (yang tanpa henti mendukung kemitraan publik-swasta (public-private partnerships, PPP) dalam segala bentuk dan ukuran misalnya), berbagai pola baru untuk investasi saham, pembinaan terhadap perantara keuangan untuk mendorong sektor usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM), serta tolok ukur yang kompetitif ditargetkan pada negara yang belum berkembang yang ternyata seringkali memiliki pertumbuhan ekonomi pesat. Namun demikian, jangan sampai dilupakan bahwa marketisasi mendalam juga melayani kepentingan kelembagaan dari organisasi Pembangunan (kepentingan material serta kepentingan ideologi dan legitimasi) yang dalam hal ini menghindari terjadinya berbagai kesulitan yang dihadapi langsung oleh organisasi seperti Bank Dunia yang terkait agenda reformasi tata kelola yang baik yang secara signifikan bergantung pada kerja terhadap negara dan melalui negara. Bagian kedua makalah ini menyajikan tiga contoh marketisasi mendalam di kawasan Asia-Pasifik sebagaimana dilaksanakan oleh protagonis yang paling penting: IFC. Setiap contoh telah dipilih untuk menunjukkan, melalui analisis kualitatif dari modalitas tertentu, cara yang berbeda namun saling melengkapi dimana marketisasi mendalam bekerja terhadap negara, melalui negara, dan (secara khas) tanpa keterlibatan langsung negara dalam upaya untuk memperluas lingkup hubungan pasar. Contoh pertama dari marketisasi mendalam terfokus pada aspek tolok ukur/penetapan indikator/kedisiplinan proyek yang sedang dikaji melalui analisis seri laporan Doing Business dan operasionalisasinya di Asia. Analisis ini menunjukkan cara dimana Doing Business semakin mempertegas IFC dan WBG sebagai lembaga pemeringkat kuasi dari Toby Carroll 21

23 pemerintah serta kemampuan (atau sebaliknya) bagi pembangunan lingkungan yang mendukung untuk modal. Ini bukan tugas yang pasif, dimana Doing Business dirancang untuk menyatukan negara dan warganya ke dalam suatu dinamika yang kompetitif terkait penerimaan mereka (atau sebaliknya) terhadap suatu bentuk negara tertentu, terutama bagi kepentingan sektor swasta. Contoh pertama marketisasi mendalam ini merupakan contoh dimana marketisasi mendalam bekerja terhadap negara dan merupakan keberlanjutan dari PWC. Contoh kedua marketisasi mendalam dapat dilihat pada komodifikasi layanan air bersih kota Manila. Kasus ini merupakan contoh pendekatan yang semakin sering dipromosikan IFC untuk mewujudkan kepemilikan swasta atas layanan publik dan fasilitas umum suatu pendekatan yang juga banyak merujuk pada PWC namun telah banyak mengalami perkembangan dan semakin canggih. Pada dasarnya, dengan merujuk pada preferensi PWC terhadap penyediaan layanan umum sektor swasta yang diatur secara independen, pendekatan ini memadukannya dengan jasa konsultasi yang mendorong PPP sebagai kebijakan yang dianjurkan, seringkali atas perintah para teknokrat dan politisi yang mencari jawaban terhadap berbagai masalah terkait layanan umum. Namun demikian, kecenderungan untuk mendorong PPP ini sering dipadukan dengan pemberian pinjaman dan modal untuk penyedia swasta agar dapat menstabilkan, mempertahankan, dan memperluas pengaturan privatisasi tersebut, dimana pinjaman dan modal seringkali disediakan hanya bagi perusahaan yang tercatat di bursa efek (persyaratan ini sendiri merupakan langkah lebih lanjut untuk pendalaman pasar). Contoh kedua ini menunjukkan bagaimana marketisasi mendalam bekerja terhadap negara, melalui negara, dan tanpa keterlibatan langsung negara untuk mengubah hubungan antara negara dan warganya dari waktu ke waktu. Contoh terakhir marketisasi mendalam mengkaji secara seksama peran baru yang dimainkan IFC dan pihak lain dalam membuka lingkup produksi dan akumulasi dengan bekerja tanpa keterlibatan langsung negara sejak tahapan awal. Ulasan berikut adalah dua contoh berbeda yang menggambarkan marketisasi mendalam yang mendukung berbagai bentuk modal (internasional dan domestik). Contoh pertama akan menyoroti peran IFC dalam upaya pengurangan risiko penting (pengamanan) terkait modal untuk proyek-proyek dunia berskala besar (contoh kasusnya pipa BTC) di berbagai wilayah atau pasar yang belum digarap dan yang baru berkembang. Dalam contoh kedua, kita akan melihat bagaimana IFC bekerja melalui organisasi keuangan mikro dan organisasi perantara keuangan lainnya, terutama dalam mempromosikan keuangan mikro sebagai modalitas penting yang berorientasi pada penanaman disiplin pasar di negara-negara seperti Timor-Leste dan Indonesia. Makalah ini akan menyimpulkan bahwa karena marketisasi mendalam didasarkan pada asumsi-asumsi neoliberal yang memiliki kontradiksi terkait hubungan antara negara dengan modal, maka potensi pendekatan baru ini untuk dapat ikut memperbaiki kondisi material kebanyakan negara akan tetap rendah. Berdasarkan situasi ini, maka di masa mendatang, pihak wirausahawan serta fasilitator dan penerima manfaat dari pihak birokrat dan politikus (baik di negara maju maupun negara kurang maju) pasti akan memanfaatkan gagasan marketisasi mendalam dengan baik dan juga beranggapan bahwa marketisasi mendalam bagi pasar yang sedang berkembang/masih baru merupakan bagian yang penting bahkan kadangkala sebagai katalisator. Selanjutnya, fakta 22 Toby Carroll

24 bahwa marketisasi mendalam sepertinya merupakan solusi legitimasi bagi neoliberalisme dan solusi spasial bagi modal (merupakan solusi berbagai hambatan sebelumnya dari akumulasi) akan menjamin ekspansinya (Harvey, 2006: ; Arrighi, 2003). Namun demikian, berbagai kontradiksi yang melekat, baik pada neoliberalisme maupun kapitalisme tingkat lanjut itu sendiri (hasil reformasi yang bersifat semu dan tak terduga, krisis kelebihan produksi, dll.) menunjukkan bahwa marketisasi mendalam sebagai upaya utama menuju penyempurnaan pasar dunia akan lebih memungkinkan untuk ikut lebih berperan memperluas penyebaran akibat krisis kapitalis, bentuk-bentuk baru hubungan sosial yang tidak setara, dan pola tata kelola pemerintahan (seringkali merusak) yang mengambil manfaat hubungan ini. Selain itu, kita tidak boleh meremehkan fungsi marketisasi mendalam dalam mengaburkan sumber-sumber utama keterbelakangan dan juga politik untuk mengatasi hal ini. Marketisasi Mendalam sebagai Respon terhadap Politik Baru Pembangunan Di bagian pertama ini, secara singkat saya menempatkan marketisasi mendalam pada konteks historis dan politik dan memberikan rincian tentang logika inti dan modalitasnya. Saya telah melakukan hal ini bersama-sama (meskipun dalam urutan tertentu) untuk menunjukkan adanya politik tertentu bagi kebijakan Pembangunan di bawah kapitalisme tingkat lanjut yang hingga tingkat tertentu menjelaskan penyebab marketisasi mendalam telah berkembang begitu pesatnya akhir-akhir ini. Upaya ini layak diberi ruang yang memadai karena berbagai tindakan dan kepentingan di balik marketisasi mendalam kurang memperoleh perhatian dari yang semestinya bahkan dalam literatur penting. Secara historis dan politik, marketisasi mendalam harus dipahami sebagai bentuk terbaru kebijakan Pembangunan neoliberal yang seperti bentuk-bentuk awal kebijakan Pembangunan neoliberal, merupakan produk signifikan kepentingan material dan ideologis yang dominan dari kapitalisme tingkat lanjut dan (berbagai) upaya dari berbagai macam kepentingan tersebut untuk merespon kontradiksi dan kebutuhan guna melanjutkan dan memperluas pola akumulasi. Dengan demikian, marketisasi mendalam merupakan tahap terakhir dari tiga fase umum dalam kebijakan Pembangunan neoliberal yang telah berusaha menanamkan hubungan sosial kapitalis yang kompetitif pada skala yang benar-benar global (lihat Cammack, pada terbitan ini). Tahap pertama yang membidik negara dengan cara yang seringkali kejam telah diwujudkan dalam program penyesuaian struktural (structural adjustment programs, SAPs) dari Dana Moneter Internasional (IMF) dan Bank Dunia pada tahun 1980-an dan awal 1990-an, serta berbagai kebijakan yang kemudian disebut sebagai kesepakatan Washington. Mengingat perhatian ilmiah yang cukup besar yang diberikan di tahap awal dari kebijakan Pembangunan neoliberal, maka cukup dikatakan di sini bahwa pendekatan ini (sebagian dari pendekatan ada yang menyebutnya sebagai neoliberalisme roll back (Brenner dan Theodore, 2002: 26)) memerlukan kebijakan yang berorientasi pada pembatasan dan perampingan negara secara kasar (untuk membiarkan kekuatan pasar bekerja ) melalui intervensi yang mencakup privatisasi, liberalisasi perdagangan, dan seringkali langkah- Toby Carroll 23

25 langkah kaku yang terkesan mendadak (Mosley, Harrigan dan Toye, 1991; Williamson, 1990). Kebijakan-kebijakan yang semakin mencuat sejak awal tahun 1980-an ini, berasal dari kontra-revolusi dalam kebijakan pembangunan yang menyatu dengan perlambatan pertumbuhan global secara jangka panjang, krisis utang yang masif di dunia ketiga, dan hadirnya pemerintah sayap kanan di Inggris, Amerika Serikat, dan Republik Federal Jerman (Colclough, 1991: 5-6; Leys, 1996: 21; Mosley, Harrigan dan Toye, 1991: 7; Toye, 1987: 23). Namun demikian, pada awal hingga pertengahan tahun 1990-an, kegagalan besar kesepakatan Washington terlihat lebih jelas, bahkan lazim diterima dengan hasil buruk dan sungguh mengerikan, terutama jelas terjadi di negara Afrika Sub-Sahara dan bekas negara komunis. Ketegangan yang dihasilkan berbagai pembaharuan (ditambah efek samping proyek multilateral tertentu), berakibat pada krisis legitimasi yang dialami Bank Dunia dan IMF yang semakin tampak dari waktu ke waktu. Hal penting adalah bahwa perjuangan berkelanjutan para aktivis dari berbagai kalangan (kiri, hijau, dan anarkis) diiringi peningkatan pengawasan kaum konservatif di Amerika Serikat yang terus-menerus merasa skeptis terhadap multilateralisme dan dukungan publik terhadap upaya pembangunan liberal secara umum (Pincus dan Winters, 2002: 2 4 ; Carroll, 2010: 175-6). Bagi Bank Dunia sebagai lembaga kebijakan Pembangunan neoliberal terkemuka dan penghasil utama pengetahuan pembangunan agar dapat tetap kredibel menghadapi krisis legitimasi yang besar ini dan memastikan suntikan reguler uang dari negara-negara anggota utamanya untuk program pinjaman lunaknya, maka lembaga ini minimal harus menunjukkan adanya pergeseran dalam cara kerjanya. Selanjutnya, karena masih terkendala politik pro-pasar/konservatif yang telah menghasilkan tahap pertama kebijakan Pembangunan neoliberal, Bank Dunia tidak menekankan pada upaya untuk meluruhkan neoliberalisme, tetapi lebih pada penanganan masalah terkait bagaimana melembagakan hubungan sosial yang kompetitif dan menaklukkan masalah pelaksanaan reformasi resmi yaitu fokus utama kebijakan Pembangunan neoliberal tahap kedua (Cammack, 2009: 2-3; Carroll, 2010). Bagi mereka yang terlibat dalam pengembangan upaya ini, hal ini bukan mengenai masalah pertentangan neoliberalisme (dan kapitalisme) yang mengakibatkan munculnya berbagai masalah Pembangunan dan bahkan masalah keterbelakangan itu sendiri. Sebaliknya, permasalahan utama yang akan melegitimasi seluruh intervensi baru yang akan dijalankan kader pakar teknokratis yang dibayar tinggi dengan mobilitas global adalah cara pasar dihadirkan dan dipelihara dalam arti kelembagaan. Bagi kader teknokratis yang bertugas melakukan reorientasi kebijakan Pembangunan neoliberal, penyesuaian struktural kesepakatan Washington tidak hanya berlangsung tanpa mempedulikan perlunya membangun dukungan konstituensi yang luas, tetapi juga tanpa mekanisme pengaturan dan struktur penting lainnya (yang seringkali merupakan bagian dari negara yang sebelumnya rusak dan hancur) yang kini dianggap perlu bagi pasar. Selanjutnya, Laporan Pembangunan Dunia dan pejabat senior Bank Dunia menyatakan sangat pentingnya tata kelola yang baik pada dasarnya adalah pembentukan sebuah negara tertentu (didepolitisasi dan terisolasi secara politik pada saat pembentukannya) yang dianggap penting untuk mengurangi biaya transaksi dan asimetri informasi (World Bank, 1993; 1997; 2002; Stiglitz, 2001a; 2001b). Bahkan, lembaga-lembaga sosial yang 24 Toby Carroll

26 tampaknya begitu dikesampingkan dalam kebanyakan kebijakan Pembangunan dan ekonomi ortodoks yang mendasarinya telah menarik perhatian, karena kontribusinya dalam memanfaatkan pasar secara maksimal dan memperkuat dan memelihara pasar tersebut (Harriss, 2002: 76-96; Carroll, 2010, 88-89, ). Tahap kedua, yaitu bagian yang telah digambarkan sebagai neoliberalisme roll out (Brenner dan Theodore, 2002: 27) dan telah mendominasi wacana dan praktik pembangunan selama lima belas tahun terakhir, merupakan apa yang sering digambarkan sebagai PWC. Namun demikian, pelaksanaan neoliberalisme roll out juga telah dihadapkan pada tantangan berat, dimana ada beberapa pihak (mungkin agak terlalu bersemangat) yang mengisyaratkan bahwa neoliberalisme dan ekonomi politik global kini berada di titik yang secara fatal dapat merusak legitimasi neoliberalisme (Peck, Theodore dan Brenner, 2009: 95). Krisis keuangan global pada akhir dasawarsa pertama abad ke-21 (yang berubah menjadi krisis ekonomi global yang lebih luas dan berkepanjangan), stagnasi ekonomi serta utang publik dan swasta yang semakin membumbung yang terjadi di negara-negara maju di perekonomian global, dan bangkitnya negara Cina dan negara lain yang muncul atas pertumbuhan yang sangat asimetris, telah mengubah (meskipun tidak secara keseluruhan) keseimbangan hegemoni, baik dalam ekonomi politik global maupun neoliberalisme yang berkaitan. Namun demikian, tanpa perlu melawan kebijakan Pembangunan neoliberal secara fundamental, berbagai dinamika ini mungkin lebih tepatnya telah membawa pada politik pembangunan yang baru menyesuaikan kembali berbagai tuntutan dan tekanan yang terus membentuk kebijakan dan praktik Pembangunan neoliberal. Sangat jelas bahwa politik pembangunan yang baru merupakan tantangan bagi neoliberalisme yang berorientasi pada negara dari PWC dengan pasar-pasar berkembang dengan pertumbuhan tinggi yang telah melewati masa ketergantungan berlebihan pada pinjaman berbagai pihak, seperti Bank Dunia, dan di beberapa kasus bersaing dengan organisasi multilateral sebagai sumber keuangan dan kegiatan yang menggantikan pembiayaan. Sebagai contoh, beberapa negara berpendapatan menengah yang biasanya meminjam dari berbagai lembaga Bank Dunia, baik yang bersifat lunak, yaitu International Development Association (IDA), maupun tidak lunak, yaitu International Bank for Reconstruction and Development (IBRD), tidak begitu terpengaruh oleh pinjaman dari organisasi multilateral beserta segala persyaratannya. Kenyataan ini tercermin dalam pinjaman neto yang menurun dari IBRD pada dekade terakhir menjelang terjadinya krisis (kenyataan yang terutama tampak di wilayah Asia Timur, Pasifik, Eropa Timur, dan Asia Tengah), sedikit penurunan dalam ketergantungan bantuan di negara berpenghasilan menengah secara keseluruhan, dan penurunan tajam dalam total hutang yang dinyatakan sebagai persentase ekspor barang dan jasa, baik di negara-negara berpenghasilan rendah maupun menengah (Bank Dunia, 2010: 392, , 408).3 Gambaran keseluruhan tantangan terhadap pengaruh organisasi Pembangunan yang mengupayakan reformasi pasar yang membidik negara/pro-liberal juga didukung peningkatan besar dalam obligasi publik dan swasta yang diterbitkan pasar-pasar berkembang sejak akhir 1990-an dan aliran penanaman modal asing (PMA) yang (sempit), namun semakin deras ke negara berkembang, yang telah meningkat dari hanya kurang dari AS $100 miliar pada tahun 1995 menjadi hampir AS $600 ratus miliar pada tahun Toby Carroll 25

27 2008. Persentase PMA yang mengalir ke negara berkembang tumbuh pesat sebesar 10% antara tahun 2007 dan 2008, sementara negara maju terpukul krisis dan permodalan terpaksa mencari sumber alternatif dari surplus. Tentu saja, tidak mengherankan bahwa banyak dari PMA tersebut ditujukan kepada negara BRICS yang mencetak performa dahsyat yang terdiri dari Brasil, Rusia, India, Cina, dan Afrika Selatan, dan mewakili separuh lebih dari seluruh PMA bagi dunia terbelakang (Bank Dunia, 2010: ; Bank Dunia, 2011, 98). Namun demikian, angka di atas menunjukkan memudarnya pengaruh berbagai organisasi pembangunan kelembagaan PWC terhadap beberapa klien utama mereka. Situasi ini digabung dengan tantangan berkelanjutan yang terkait legitimasi organisasi Pembangunan dalam bentuk berbagai permasalahan serius yang berkenaan pelaksanaan (penolakan terhadap reformasi, korupsi yang terus terjadi, dll.), dan adanya kenyataan bahwa banyak contoh keberhasilan pembangunan yang terikat persyaratan seperti Cina dan Vietnam sesungguhnya tidak dapat disebut sebagai suri teladan bagi pembangunan kelembagaan neoliberal dan kelebihan dari tata kelola yang baik (lihat Carroll, 2010: 167). Sementara, politik pembangunan yang baru merupakan tantangan bagi legitimasi PWC dan pembenarannya terhadap pengaturan kelembagaan tertentu sebagai aspek penting pembangunan. Politik pembangunan baru juga menyediakan kondisi yang kondusif bagi organisasi yang melakukan marketisasi mendalam. Hal ini karena marketisasi mendalam adalah suatu dorongan yang bertujuan memenuhi kepentingan permodalan yang haus akan tingkat pengembalian dan sumber daya yang semakin tidak terjangkau di negara maju (elemen solusi spasial) dan tampaknya, merupakan jalan keluar bagi pemerintah di bagian selatan dunia yang menghadapi berbagai dilema pembangunan berkepanjangan (penyediaan infrastruktur, layanan, dan akses terhadap pembiayaan). Yang pasti, marketisasi mendalam dibangun dan dilengkapi berdasarkan berbagai tema PWC, misalnya menyertakan penilaian dampak sosial dan lingkungan, proses konsultasi dan partisipasi, dan penekanan pada lembaga pendukung pasar yang seringkali tercermin dalam istilah-istilah ala PWC, seperti enabling state atau negara yang mendukung. Namun demikian, lebih dari sekedar sebagai perpanjangan yang sederhana dari PWC, marketisasi mendalam menggunakan bahasa sektor swasta dan memperoleh banyak perhatian dari sektor swasta, khususnya terkait masalah keuangan yang menekankan pada mitigasi risiko dan hubungannya dengan pengerahan modal atau akses terhadap keuangan. Hal lain yang berhubungan langsung adalah bahwa marketisasi mendalam menitikberatkan pada penciptaan lingkungan yang mendukung bagi modal yang seakan-akan merupakan paket kelembagaan ideal (bentuk-bentuk negara) yang diklaim sebagai hal yang khususnya kondusif untuk menarik modal (dengan mengurangi risiko serta biaya lainnya), sehingga memberikan berbagai manfaat bagi pasar. Bukan hanya sekadar terciptanya hubungan sentral antara pemberi pinjaman publik multilateral dengan peminjam berdaulat (negara anggota), namun hubungan yang menyertakan persyaratan programatik untuk mempromosikan pasar, mengupayakan marketisasi mendalam untuk meleburkan pihak publik dan swasta ke dalam realitas pasar liberal yang belum pernah terjadi sebelumnya, yang secara beragam bekerja terhadap negara, melalui negara, dan tanpa keterlibatan langsung negara. Dalam upaya ini, pen- 26 Toby Carroll

28 dekatan yang diterapkan menggunakan berbagai instrumen (seperti pinjaman sektor swasta bersyarat dan investasi ekuitas) untuk tidak hanya mencapai hal ini tetapi juga mengunci keadaan dan bahkan memperpanjang proses privatisasi PWC sebelumnya. Selanjutnya, tidak dipersulit masalah legitimasi dan campur tangan politik sebagaimana neoliberalisme yang berorientasi pada negara, upaya marketisasi mendalam dalam banyak kasus dapat berlangsung dengan atau tanpa adanya enabling state, bahkan yang masih pada tahap awal. Hal ini menunjukkan bahwa tidak seperti dua fase pertama kebijakan pembangunan neoliberal, reformasi kelembagaan tidak perlu menjadi prasyarat bagi berlangsungnya berbagai langkah yang membangun pasar. Hal yang seringkali lebih penting dalam proses marketisasi mendalam dibandingkan reformasi klasik PWC bukan karena tolok ukur utama telah terpenuhi terkait reformasi kelembagaan, melainkan karena proyek yang dilakukan langsung mempunyai nilai komersial dan karena telah terbentuknya hubungan sentral tertentu antara pemberi pinjaman dan peminjam (hubungan pribadi/kelembagaan yang regular terpisah dengan yang terpatri dalam kontrak dan perundang-undangan). Bukti yang ada menunjukkan bahwa pendekatan langsung ke sektor ini digunakan untuk mewujudkan transformasi negara neoliberal dari cara yang sebaliknya menciptakan konstituen baru dari reformasi pro-sektor swasta dengan terlebih dahulu menciptakan kegiatan sektor swasta itu sendiri (penjelasan lebih lanjut akan diberikan pada bagian berikut ini). Sangat jelas bahwa marketisasi mendalam masih banyak menggunakan instrumen Pembangunan neoliberal yang berorientasi negara, seperti pinjaman, bantuan teknis, serta upaya pemantauan, evaluasi dan penerapan barometer (Carroll, 2010: ). Namun demikian, dengan adanya marketisasi mendalam, maka pinjaman akan beralih ke sektor swasta dan bantuan teknis secara bersamaan juga akan berpindah, baik ke sektor publik maupun swasta. Selain itu, banyak upaya pengukuran barometer (seperti yang ada pada seri laporan Doing Business yang dibahas pada bagian berikutnya), secara sangat spesifik berorientasi pada negara dan pada kemajuan yang dicapai untuk membentuk kondisi yang dianggap paling kondusif bagi sektor swasta suatu fokus yang jauh lebih sempit dari PWC. Hal selanjutnya yang membedakan marketisasi mendalam dengan praktik Pembangunan yang sudah ada yang tidak hanya terbatas pada pinjaman negara adalah bahwa marketisasi mendalam menyangkut jaminan pengerahan modal (informal dan formal) serta investasi ekuitas. Jaminan dapat bersifat formal sepanjang organisasi seperti IFC menjamin beberapa risiko (seringkali bersifat politik) yang menyertai proyek yang bersangkutan. Jaminan juga dapat bersifat informal, dimana kehadiran IFC dapat mengurangi risiko tertentu terhadap sektor swasta berdasarkan status keadaan suatu negara/status multilateral yang diberikan IFC. Secara krusial, instrumen berbentuk ekuitas, yang sangat berbeda dengan pinjaman yang berorientasi pada negara, memungkinkan organisasi marketisasi mendalam memperoleh kepemilikan saham di dalam perusahaan, baik untuk menyediakan likuiditas maupun untuk mendorong perusahaan yang berada pada masa transisi agar bergerak terus menuju arah marketisasi. Dengan cara ini, marketisasi mendalam memerlukan pengamanan risiko bagi modal dalam proses perluasan pola akumulasi kapitalis. Hal penting adalah bahwa marketisasi mendalam juga menyangkut kegiatan kerja melalui perantara keuangan (financial intermediary, FI) dalam proses pembangunan Toby Carroll 27

29 berbagai ruang baru yang seutuhnya agar tercipta aktivitas pasar tanpa keterlibatan langsung negara. Dalam hal ini, dukungan FI, yang meliputi organisasi pembiayaan mikro, dana ekuitas swasta, dan bank komersial telah menjadi strategi utama marketisasi mendalam, dimana ekuitas dan pinjaman multilateral untuk FI semakin memainkan perannya dalam menopang peningkatan kapitalisasi FI untuk memfasilitasi pinjaman yang bersifat on-lending serta pengembangan sektor UMKM. Karena tidak bersifat lemah dalam menghadapi berbagai masalah yang terkait tata kelola pemerintahan dibanding lembaga neoliberal yang berorientasi negara, marketisasi mendalam dalam banyak hal meskipun tidak secara eksklusif adalah proyek frontier (wilayah pasar yang belum terjamah sebelumnya) (IFC, 2009: 24) yang secara berani diterapkan di wilayah transisi dan pascapenjajahan yang terkenal dengan kegagalan kelembagaannya, permasalahan tata kelola pemerintahan, dan defisit kapasitas mereka. Organisasi marketisasi mendalam semakin menjadi pemain sentral dalam upayanya membuka peluang baru bagi akumulasi di kawasan dengan tingkat risiko/ tingkat pengembalian yang tinggi dalam industri ekstraktif, jasa keuangan, dan sektor sensitif, seperti air dan energi dimana faktor-faktor politik, sosial, ekonomi, dan lingkungan menjadi permasalahan, namun terdapat peluang signifikan untuk meraih keuntungan, dimana motif keuntungan dapat diklaim sebagai kesempatan meningkatkan kondisi sosial. Pada wilayah frontier dan berisiko lainnya bagi modal internasional, keterlibatan organisasi marketisasi mendalam dengan terjalinnya hubungan yang berdaulat dan adanya dukungan finansial akan memberikan keyakinan terhadap pihak sektor swasta (khususnya sektor keuangan swasta), bahwa suatu proyek tertentu akan lebih sedikit menghadapi masalah (renasionalisasi, pengambilalihan/penggunaan laba, dll.) dibanding jika terjadi hal yang sebaliknya. Menurunkan risiko tersebut berarti biaya peminjaman untuk perusahaan swasta akan berkurang, dan adanya (potensi) peningkatan margin. Namun lebih dari itu, marketisasi mendalam mensyaratkan terbentuknya struktur pengaturan tertentu (setidaknya secara formal) dan diterapkannya berbagai langkah pengamanan oleh pelaku sektor swasta untuk mengurangi risiko (termasuk risiko reputasi) terhadap modal. Hal penting adalah bahwa marketisasi mendalam mengaitkan keharusan dan kepentingan modal, khususnya modal keuangan dari negara-negara maju dengan negara-negara kurang maju yang belum pernah terjadi sebelumnya. Dengan demikian, marketisasi mendalam menyebarkan beberapa elemen proses yang lebih luas dari finansialisasi istilah yang diberikan untuk menggambarkan pengalihan dari bentukbentuk produktif ke bentuk-bentuk finansial akumulasi modal ke wilayah-wilayah yang sampai sekarang belum tersentuh oleh tekanan tersebut (Duménil dan Retribusi, 2011: ; Gunnoe dan Gellert, 2010: 7; Foster dan Magdoff, 2009). Dalam hal ini, organisasi seperti IFC secara teratur menerbitkan obligasi, baik dalam dolar maupun dalam mata uang negara berkembang yang dibeli investor kelembagaan dan lainnya (seperti dana pensiun utara) untuk penggalangan dana agar dapat digunakan di wilayah selatan dalam berbagai proyek IFC yang menghasilkan laba, seperti yang terkait dengan keuangan mikro.4 Namun lebih dari itu, keterlibatan organisasi marketisasi mendalam, seperti IFC, 28 Toby Carroll

30 tidak sekedar berarti bahwa proyek-proyek tertentu (termasuk megaproyek) yang sebelumnya tidak mungkin dapat dilaksanakan dapat berlangsung, tetapi juga bahwa organisasi-organisasi tersebut dapat menarik pembiayaan lebih baik dari lembaga keuangan internasional, sehingga dapat menjamin bahwa langkah pengamanan tertentu telah diterapkan, risiko keuangan dan risiko reputasi dapat dikurangi, serta marjin terlindungi dan meningkat. Ketika suatu perusahaan telekomunikasi asing atau perusahaan air minum multinasional bermaksud melakukan investasi dalam suatu kemitraan publik-swasta pada suatu pasar frontier/pasar berkembang masih merasa cemas tentang masalah pengambilalihan keuntungan atau masih ragu tentang bagaimana rezim tertentu di suatu negara tuan rumah akan berdampak pada suatu usaha komersial, maka organisasi seperti IFC dan EBRD siap menyediakan dana riil (dibuat lebih murah karena peringkat AAA atau triple A yang mereka miliki), instrumen penilaian dan mitigasi risiko, ditambah adanya hubungan berdaulat serta kapasitas penetapan sinyal global ( negara ini merupakan/tidak merupakan negara dengan suatu risiko investasi ) dalam upaya mengurangi kecemasan atau keraguan terhadap penanaman modal.5 Yang pasti, di negara-negara kurang maju, mobilisasi modal dalam jumlah besar seringkali menjadi jauh lebih mudah jika suatu organisasi marketisasi mendalam seperti IFC dan EBRD ikut berpartisipasi, baik berperan sebagai investor maupun sebagai penasihat, atau idealnya memainkan kedua peran tersebut. Kenyataan ini terjadi karena berbagai alasan dan hal ini layak dijabarkan untuk membuat lebih jelas tentang hal yang dimaksud marketisasi mendalam. IFC seperti organisasi-organisasi marketisasi mendalam lainnya sering tidak hanya meminjamkan dana untuk proyek tertentu, tetapi juga secara teratur ikut berpartisipasi dalam bentuk ekuitas (kepemilikan saham) di dalam proyek tersebut. Hal ini menempatkan organisasi seperti IFC di posisi agak unik sebagai lembaga multilateral yang mempromosikan dan berinvestasi di perusahaan swasta. Dengan demikian, organisasi-organisasi ini memiliki koneksi kuat dan sangat berpengaruh, baik dengan negara tuan rumah maupun negara-negara besar dimana modal internasional berasal. Selanjutnya, organisasi marketisasi mendalam juga menikmati pengaruh signifikan dan memunculkan posisinya sebagai organisasi ahli yang berpengetahuan tentang masalah sektoral dan pembiayaan, dan sebagai organisasi penetapan sinyal/bermanfaat untuk modal, khususnya modal asing/internasional/ multinasional. Tidak banyak organisasi internasional yang dapat meyakinkan investor bahwa suatu pemerintah atau kepentingan domestik yang kuat di negara-negara kurang maju tidak akan memburu rente atau menggoyang proyek komersial tertentu dengan cara yang dapat dilakukan suatu organisasi sebagaimana dilakukan IFC. Singkatnya, jika pemerintah atau perusahaan tertentu tampak sepertinya melibatkan IFC dan/atau IFC terlibat dalam proyek tertentu, maka risiko terhadap modal menjadi berkurang maka proyek dapat terselenggara dan memberi dampak pada profitabilitas. Dengan demikian, organisasi marketisasi mendalam memainkan peran penting terhadap modal yang berada di bawah kapitalisme tingkat lajut. Dalam hal ini, mereka dapat dianggap sebagai pemberi pinjaman multilateral dan penyedia asuransi kepada sektor swasta, investor multilateral, lembaga pemeringkat, pembangun sektor, dan penegak, semuanya menjadi satu! Dengan memanfaatkan politik baru pembangunan seperti yang dijelaskan di atas, Toby Carroll 29

31 Gambar 1: Komitmen tahunan dan komitmen portofolio kumulatif IFC, untuk tahun fiskal (jumlah dalam AS $ miliar). Disusun oleh penulis dari data laporan tahunan IFC (IFC, 2001; 2005; 2009; 2011a) organisasi-organisasi ini memainkan peran sentral dalam memperluas wilayah kompetitif produksi dan konsumsi yang baru dan mendorong pengaturan regulasi/mitigasi risiko baru untuk membantu hal ini. Hal ini tercermin dengan jelas pada perluasan besar dalam jumlah dan jangkauan geografis atas upaya marketisasi mendalam. Coba perhatikan misalnya, kemunculan IFC organisasi yang berada di garis terdepan dalam mendorong marketisasi mendalam. Baru-baru ini, IFC berada di bawah bayang-bayang IDA dan IBRD (keduanya mencerminkan sisi tradisional WBG).6 Meskipun demikian, baru-baru ini situasi tersebut telah mengalami perubahan signifikan yang ditunjukkan kenaikan besar dalam komitmen dan portofolio IFC. Sejak tahun fiskal 2001, portofolio kumulatif IFC meningkat dari AS $10,9 miliar menjadi lebih dari $42 miliar, dengan komitmen baru tahunan untuk periode yang sama, naik dari AS $2,7 miliar menjadi sekitar AS $12,2 miliar (lebih dari sepertiga jumlah ini dialokasikan bagi negara IDA ). Pada saat yang sama, IFC juga telah meningkatkan jangkauan spasialnya dengan melakukan proyek-proyek baru di 102 negara (naik dari 69 negara di setengah dekade lalu) (IFC 2011a: 9; (lihat gambar 1). Dorongan IFC telah menjadi bagian suatu tren yang menunjukkan peningkatan besar yang pada umumnya terkait dukungan bagi sektor swasta dari jalur multilateral dan bilateral tidak termasuk jumlah yang lebih besar yang dikerahkan organisasi-organisasi tersebut yang telah melonjak sepuluh kali, dari kurang dari AS $4 miliar menjadi lebih dari AS $40 miliar (Bretton Woods Project, 2010b; IFC, 2009). Selanjutnya, dalam setengah dekade terakhir, marketisasi mendalam telah memungkinkan terlaksananya banyak megaproyek yang berada di negara kurang maju proyek seperti jalur pipa Baku-Tbilisi-Ceyhan yang bernilai multimiliar dolar yang dibahas di bagian berikutnya. Selain itu, bentuk baru praktik Pembangunan telah memainkan peran semakin penting 30 Toby Carroll

Kajian Tengah Waktu Strategi 2020. Menjawab Tantangan Transformasi Asia dan Pasifik

Kajian Tengah Waktu Strategi 2020. Menjawab Tantangan Transformasi Asia dan Pasifik Kajian Tengah Waktu Strategi 2020 Menjawab Tantangan Transformasi Asia dan Pasifik Menjawab Tantangan Transformasi Asia dan Pasifik Kajian Tengah Waktu (Mid-Term Review/MTR) atas Strategi 2020 merupakan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Pasca kekalahannya dalam Perang Dunia II, Jepang berusaha untuk bangkit kembali menjadi salah satu kekuatan besar di dunia. Usaha Jepang untuk bangkit kembali dilakukan

Lebih terperinci

Bagian Pertama: PENDEKATAN EKONOMI POLITIK INTERNASIONAL

Bagian Pertama: PENDEKATAN EKONOMI POLITIK INTERNASIONAL Bagian Pertama: PENDEKATAN EKONOMI POLITIK INTERNASIONAL 1 2 BAB I Memahami Ekonomi Politik Internasional A. Pendahuluan Negara dan pasar dalam perkembangannya menjadi dua komponen yang tidak terpisahkan.

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. bebasnya telah menjadi dasar munculnya konsep good governance. Relasi

BAB 1 PENDAHULUAN. bebasnya telah menjadi dasar munculnya konsep good governance. Relasi 1 BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian Eksistensi dan penyebaran ideologi neoliberal dengan ide pasar bebasnya telah menjadi dasar munculnya konsep good governance. Relasi yang terjalin antara

Lebih terperinci

Rio Deklarasi Politik Determinan Sosial Kesehatan Rio de Janeiro, Brasil, 21 Oktober 2011.

Rio Deklarasi Politik Determinan Sosial Kesehatan Rio de Janeiro, Brasil, 21 Oktober 2011. Rio Deklarasi Politik Determinan Sosial Kesehatan Rio de Janeiro, Brasil, 21 Oktober 2011. 1. Atas undangan Organisasi Kesehatan Dunia, kami, Kepala Pemerintahan, Menteri dan perwakilan pemerintah datang

Lebih terperinci

Pemetaan Pendanaan Publik untuk Perubahan Iklim di Indonesia

Pemetaan Pendanaan Publik untuk Perubahan Iklim di Indonesia Pemetaan Pendanaan Publik untuk Perubahan Iklim di Indonesia Juli 2014 Komitmen Pemerintah Indonesia untuk mendorong pertumbuhan ekonomi sekaligus mengurangi risiko perubahan iklim tercermin melalui serangkaian

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. perubahan-perubahan mendasar dalam struktur sosial, tingkah laku sosial, dan

I. PENDAHULUAN. perubahan-perubahan mendasar dalam struktur sosial, tingkah laku sosial, dan I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pembangunan adalah suatu proses multidimensional yang melibatkan berbagai perubahan-perubahan mendasar dalam struktur sosial, tingkah laku sosial, dan institusi sosial,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. mendorong perkembangan dan kemakmuran dunia industri modern Perdagangan

BAB I PENDAHULUAN. mendorong perkembangan dan kemakmuran dunia industri modern Perdagangan BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Saat ini, perdagangan internasional merupakan inti dari ekonomi global dan mendorong perkembangan dan kemakmuran dunia industri modern Perdagangan Internasional dilakukan

Lebih terperinci

Sambutan Pembukaan Gubernur Agus D.W. Martowardojo Pada Joint IMF-Bank Indonesia Conference. Development. Jakarta, 2 September 2015

Sambutan Pembukaan Gubernur Agus D.W. Martowardojo Pada Joint IMF-Bank Indonesia Conference. Development. Jakarta, 2 September 2015 Sambutan Pembukaan Gubernur Agus D.W. Martowardojo Pada Joint IMF-Bank Indonesia Conference The Future of Asia s Finance: Financing for Development Jakarta, 2 September 2015 Yang terhormat Managing Director

Lebih terperinci

SISTEM EKONOMI INDONESIA. Ilmu Hubungan Internasional Semester III

SISTEM EKONOMI INDONESIA. Ilmu Hubungan Internasional Semester III SISTEM EKONOMI INDONESIA Ilmu Hubungan Internasional Semester III Suatu sistem ekonomi mencakup nilai-nilai, kebiasaan, adat istiadat, hukum, norma-norma, peraturan-peraturan yang berkenaan dengan pemanfaatan

Lebih terperinci

Para filsuf Eropa menyebut istilah akhir sejarah bagi modernisasi yang kemudian diikuti dengan perubahan besar.

Para filsuf Eropa menyebut istilah akhir sejarah bagi modernisasi yang kemudian diikuti dengan perubahan besar. Tiga Gelombang Demokrasi Demokrasi modern ditandai dengan adanya perubahan pada bidang politik (perubahan dalam hubungan kekuasaan) dan bidang ekonomi (perubahan hubungan dalam perdagangan). Ciriciri utama

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN UMUM TENTANG MASYARAKAT EKONOMI ASEAN DAN PENGATURAN KEBIJAKAN PERSAINGAN USAHA DI ASEAN Sejarah Masyarakat Ekonomi ASEAN

BAB II TINJAUAN UMUM TENTANG MASYARAKAT EKONOMI ASEAN DAN PENGATURAN KEBIJAKAN PERSAINGAN USAHA DI ASEAN Sejarah Masyarakat Ekonomi ASEAN 22 BAB II TINJAUAN UMUM TENTANG MASYARAKAT EKONOMI ASEAN DAN PENGATURAN KEBIJAKAN PERSAINGAN USAHA DI ASEAN 2.1. Masyarakat Ekonomi ASEAN 2.1.1. Sejarah Masyarakat Ekonomi ASEAN Masyarakat Ekonomi ASEAN

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Penelitian. Di era globalisasi saat ini, tingkat daya saing menjadi tolak ukur yang

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Penelitian. Di era globalisasi saat ini, tingkat daya saing menjadi tolak ukur yang BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Di era globalisasi saat ini, tingkat daya saing menjadi tolak ukur yang wajib dimiliki dalam mewujudkan persaingan pasar bebas baik dalam kegiatan maupun

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Structural Adjustment Programs (SAPs) adalah sebuah program pemberian pinjaman yang dicanangkan oleh IMF. SAPs pada mulanya dirumuskan untuk membendung bencana

Lebih terperinci

Kerja sama ekonomi internasional

Kerja sama ekonomi internasional Meet -12 1 hubungan antara suatu negara dengan negara lainnya dalam bidang ekonomi melalui kesepakatankesepakatan tertentu, dengan memegang prinsip keadilan dan saling menguntungkan. Tujuan umum kerja

Lebih terperinci

SISTEM EKONOMI INDONESIA

SISTEM EKONOMI INDONESIA SISTEM EKONOMI INDONESIA Suatu sistem ekonomi mencakup nilai nilai, kebiasaan, adat istiadat, hukum, norma norma, peraturanperaturan yang berkenaan dengan pemanfaatan sumber daya bagi pemenuhan kebutuhan.

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Keberadaan pasar modal menjadi lebih penting setelah terjadinya krisis

I. PENDAHULUAN. Keberadaan pasar modal menjadi lebih penting setelah terjadinya krisis I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Keberadaan pasar modal menjadi lebih penting setelah terjadinya krisis karena banyak negara berusaha untuk mengurangi ketergantungan tradisional dari lembaga-lembaga

Lebih terperinci

1 PENDAHULUAN Latar Belakang

1 PENDAHULUAN Latar Belakang 1 PENDAHULUAN Latar Belakang Dampak globalisasi di bidang ekonomi memungkinkan adanya hubungan saling terkait dan saling memengaruhi antara pasar modal di dunia. Dampak globalisasi di bidang ekonomi diikuti

Lebih terperinci

KERANGKA STRATEGIS Jejaring Asia-Pasifik untuk Kepemimpinan Global

KERANGKA STRATEGIS Jejaring Asia-Pasifik untuk Kepemimpinan Global KERANGKA STRATEGIS 2012-2015 Jejaring Asia-Pasifik untuk Kepemimpinan Global Pertemuan Tahunan Para Presiden APRU ke 16 Universitas Oregon 27-29 Juni 2012 Draf per 24 Mei 2012 APRU: Sekilas Pandang 42

Lebih terperinci

Kebangkitan Regionalisme Asia. Ringkasan Eksekutif

Kebangkitan Regionalisme Asia. Ringkasan Eksekutif Kemitraan bagi Kemakmuran Bersama Ringkasan Eksekutif www.aric.adb.org/emergingasianregionalism Ringkasan Eksekutif Negara-negara Asia semakin penting bagi satu sama lain dan bagi dunia. Output Asia saat

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. neoliberal melalui proses penerapan diskursus good governance di

BAB III METODE PENELITIAN. neoliberal melalui proses penerapan diskursus good governance di 81 BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Lokus Penelitian Lokus dalam penelitian ini adalah adanya indikasi masuknya ideologi neoliberal melalui proses penerapan diskursus good governance di Indonesia. 3.2 Tipe

Lebih terperinci

RESUME. bagian selatan yang juga merupakan benua terkecil di dunia. Di sebelah. barat Australia berbatasan dengan Indonesia dan Papua New Guinea,

RESUME. bagian selatan yang juga merupakan benua terkecil di dunia. Di sebelah. barat Australia berbatasan dengan Indonesia dan Papua New Guinea, RESUME Australia adalah sebuah negara yang terdapat di belahan bumi bagian selatan yang juga merupakan benua terkecil di dunia. Di sebelah barat Australia berbatasan dengan Indonesia dan Papua New Guinea,

Lebih terperinci

Tahap Konsultasi untuk Mekanisme Akuntabilitas

Tahap Konsultasi untuk Mekanisme Akuntabilitas Tahap Konsultasi untuk Mekanisme Akuntabilitas Mendengarkan Masyarakat yang Terkena Dampak Proyek-Proyek Bantuan ADB Apa yang dimaksud dengan Mekanisme Akuntabilitas ADB? Pada bulan Mei 2003, Asian Development

Lebih terperinci

Pidato Bapak M. Jusuf Kalla Wakil Presiden Republik Indonesia Pada Sidang Majelis Umum Perserikatan Bangsa- Bangsa Ke-71 New York, 23 September 2016

Pidato Bapak M. Jusuf Kalla Wakil Presiden Republik Indonesia Pada Sidang Majelis Umum Perserikatan Bangsa- Bangsa Ke-71 New York, 23 September 2016 Pidato Bapak M. Jusuf Kalla Wakil Presiden Republik Indonesia Pada Sidang Majelis Umum Perserikatan Bangsa- Bangsa Ke-71 New York, 23 September 2016 Bapak Presiden SMU PBB, Saya ingin menyampaikan ucapan

Lebih terperinci

http://www.hadiborneo.wordpress.com/ The Asian Development Bank (Bank Pembangunan Asia) Bank Dunia (World Bank) Dana Moneter Internasional (IMF) ADB merupakan lembaga pengembangan keuangan internasional

Lebih terperinci

E-BISNIS INTERIM MANAGEMENT REPORT ( SAP ) Disusun oleh : Bil Muammar ( ) JURUSAN TEKNIK INFORMATIKA

E-BISNIS INTERIM MANAGEMENT REPORT ( SAP ) Disusun oleh : Bil Muammar ( ) JURUSAN TEKNIK INFORMATIKA E-BISNIS INTERIM MANAGEMENT REPORT ( SAP ) Disusun oleh : Bil Muammar (09.11.3371) Dosen : M. Suyanto, Prof. Dr, M.M. JURUSAN TEKNIK INFORMATIKA SEKOLAH TINGGI MANAJEMEN INFORMATIKA DAN KOMPUTER AMIKOM

Lebih terperinci

Membangun Industri Daerah

Membangun Industri Daerah F Membangun Industri Daerah Perlu Semangat Pembinaan Usaha dan Pembiayaan Dana Di dalam kursus ini, penjelasan berpusat kepada tipe 1, tipe pembinaan industri daerah di antara kategori aktivasi daerah

Lebih terperinci

Perubahan ini telah memberikan alat kepada publik untuk berpartisipasi dalam pembuatan keputusan ekonomi. Kemampuan untuk mengambil keuntungan dari

Perubahan ini telah memberikan alat kepada publik untuk berpartisipasi dalam pembuatan keputusan ekonomi. Kemampuan untuk mengambil keuntungan dari PENGANTAR Sebagai salah satu institusi pembangunan publik yang terbesar di dunia, Kelompok (KBD/World Bank Group/WBG) memiliki dampak besar terhadap kehidupan dan penghidupan jutaan orang di negara-negara

Lebih terperinci

KETERGANTUNGAN DAN KETERBELAKANGAN. Slamet Widodo

KETERGANTUNGAN DAN KETERBELAKANGAN. Slamet Widodo KETERGANTUNGAN DAN KETERBELAKANGAN Slamet Widodo Teori modernisasi ternyata mempunyai banyak kelemahan sehingga timbul sebuah alternatif teori yang merupakan antitesis dari teori modernisasi. Kegagalan

Lebih terperinci

Bab 1: Konteks Menganalisis Lingkungan Indonesia

Bab 1: Konteks Menganalisis Lingkungan Indonesia Bab 1: Konteks Menganalisis Lingkungan Indonesia Nelayan (Koleksi Bank Dunia ) Foto: Curt Carnemark 4 Berinvestasi untuk Indonesia yang Lebih Berkelanjutan 1.1 Karakteristik Utama Tantangan Lingkungan

Lebih terperinci

Asesmen Gender Indonesia

Asesmen Gender Indonesia Asesmen Gender Indonesia (Indonesia Country Gender Assessment) Southeast Asia Regional Department Regional and Sustainable Development Department Asian Development Bank Manila, Philippines July 2006 2

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Negara Kesatuan Republik Indonesia merupakan negara kepulauan. terbesar di dunia yang mempunyai lebih kurang pulau.

I. PENDAHULUAN. Negara Kesatuan Republik Indonesia merupakan negara kepulauan. terbesar di dunia yang mempunyai lebih kurang pulau. I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Negara Kesatuan Republik Indonesia merupakan negara kepulauan terbesar di dunia yang mempunyai lebih kurang 18.110 pulau. Sebaran sumberdaya manusia yang tidak merata

Lebih terperinci

BAB V VISI, MISI, TUJUAN DAN SASARAN

BAB V VISI, MISI, TUJUAN DAN SASARAN BAB V VISI, MISI, TUJUAN DAN SASARAN 5.1 Visi Visi dalam RPJMD Kabupaten Cilacap 2012 2017 dirumuskan dengan mengacu kepada visi Bupati terpilih Kabupaten Cilacap periode 2012 2017 yakni Bekerja dan Berkarya

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Pembangunan ekonomi yang berkelanjutan merupakan tujuan dari suatu negara

BAB I PENDAHULUAN. Pembangunan ekonomi yang berkelanjutan merupakan tujuan dari suatu negara BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Modal manusia berperan penting dalam pembangunan ekonomi. Pembangunan ekonomi yang berkelanjutan merupakan tujuan dari suatu negara maka modal manusia merupakan faktor

Lebih terperinci

Kerangka Kerja Kemitraan Negara Indonesia

Kerangka Kerja Kemitraan Negara Indonesia Kerangka Kerja Kemitraan Negara Indonesia 2016-2020 SIAPA KAMI Dibentuk tahun 1944. Kantor pusat di Washington D.C. Kelompok Bank Dunia terdiri dari lima institusi yang dikelola oleh 188 negara anggota

Lebih terperinci

KERJASAMA EKONOMI INTERNASIONAL. Bab 3

KERJASAMA EKONOMI INTERNASIONAL. Bab 3 KERJASAMA EKONOMI INTERNASIONAL Bab 3 1. Pengertian Kerjasama Ekonomi Internasional Hubungan antara suatu negara dengan negara lainnya dalam bidang ekonomi melalui kesepakatan-kesepakatan tertentu, dengan

Lebih terperinci

DPR TOLAK PEMBERIAN PINJAMAN KEPADA IMF

DPR TOLAK PEMBERIAN PINJAMAN KEPADA IMF DPR TOLAK PEMBERIAN PINJAMAN KEPADA IMF tribunnews.com Rencana pemerintah untuk membeli obligasi i yang dikeluarkan International Monetary Fund (IMF) ii seharga US$1 miliar ditentang Komisi XI DPR. Komisi

Lebih terperinci

Growth and poverty reduction in agriculture s three worlds. Disusun oleh: Restra Pindyawara Hanif Muslih Kahfi Maulana Hanung

Growth and poverty reduction in agriculture s three worlds. Disusun oleh: Restra Pindyawara Hanif Muslih Kahfi Maulana Hanung Growth and poverty reduction in agriculture s three worlds Disusun oleh: Restra Pindyawara Hanif Muslih Kahfi Maulana Hanung Outline 1. Growth and poverty reduction in agriculture s three worlds 2. The

Lebih terperinci

MENINGKATKAN PERAN SEKTOR PERTANIAN DALAM PENANGGULANGAN KEMISKINAN 1

MENINGKATKAN PERAN SEKTOR PERTANIAN DALAM PENANGGULANGAN KEMISKINAN 1 MENINGKATKAN PERAN SEKTOR PERTANIAN DALAM PENANGGULANGAN KEMISKINAN 1 A. KONDISI KEMISKINAN 1. Asia telah mencapai kemajuan pesat dalam pengurangan kemiskinan dan kelaparan pada dua dekade yang lalu, namun

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. moneter terus mengalami perkembangan. Inisiatif kerjasama mulai dikembangkan

I. PENDAHULUAN. moneter terus mengalami perkembangan. Inisiatif kerjasama mulai dikembangkan I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Proses integrasi di berbagai belahan dunia telah terjadi selama beberapa dekade terakhir, terutama dalam bidang ekonomi. Proses integrasi ini penting dilakukan oleh masing-masing

Lebih terperinci

BAB V KESIMPULAN. ini terjadi dan meningkatnya kebutuhan suatu negara akibat berkembangnya

BAB V KESIMPULAN. ini terjadi dan meningkatnya kebutuhan suatu negara akibat berkembangnya BAB V KESIMPULAN Keamanan energi erat hubungannya dengan kelangkaan energi yang saat ini terjadi dan meningkatnya kebutuhan suatu negara akibat berkembangnya industrialisasi dan kepentingan militer. Kelangsungan

Lebih terperinci

PERDAGANGAN INTERNASIONAL DAN PEMBANGUNAN BERKELANJUTAN: SEBUAH KAJIAN ATAS DAMPAK PENERAPAN EKOLABEL

PERDAGANGAN INTERNASIONAL DAN PEMBANGUNAN BERKELANJUTAN: SEBUAH KAJIAN ATAS DAMPAK PENERAPAN EKOLABEL FAKULTAS EKONOMI UNIVERSITAS ANDALAS SKRIPSI PERDAGANGAN INTERNASIONAL DAN PEMBANGUNAN BERKELANJUTAN: SEBUAH KAJIAN ATAS DAMPAK PENERAPAN EKOLABEL Oleh: NANI TUARSIH 0810512064 Mahasiswa Program Strata

Lebih terperinci

Daya Saing Industri Indonesia di Tengah Gempuran Liberalisasi Perdagangan

Daya Saing Industri Indonesia di Tengah Gempuran Liberalisasi Perdagangan Daya Saing Industri Indonesia di Tengah Gempuran Liberalisasi Perdagangan www.packindo.org oleh: Ariana Susanti ariana@packindo.org ABAD 21 Dunia mengalami Perubahan Kemacetan terjadi di kota-kota besar

Lebih terperinci

MENUJU KERANGKA KERJA STRATEGIS MENGENAI PERUBAHAN IKLIM DAN PEMBANGUNAN UNTUK KELOMPOK BANK DUNIA RANGKUMAN

MENUJU KERANGKA KERJA STRATEGIS MENGENAI PERUBAHAN IKLIM DAN PEMBANGUNAN UNTUK KELOMPOK BANK DUNIA RANGKUMAN MENUJU KERANGKA KERJA STRATEGIS MENGENAI PERUBAHAN IKLIM DAN PEMBANGUNAN UNTUK KELOMPOK BANK DUNIA RANGKUMAN 11. Penanggulangan perubahan iklim merupakan tema inti agenda pembangunan dan pengentasan kemiskinan.

Lebih terperinci

Ringkasan Eksekutif: Mengatasi tantangan saat ini dan ke depan

Ringkasan Eksekutif: Mengatasi tantangan saat ini dan ke depan Ringkasan Eksekutif: Mengatasi tantangan saat ini dan ke depan Prospek pertumbuhan global masih tetap lemah dan pasar keuangan tetap bergejolak Akan tetapi, kinerja pertumbuhan ekonomi Indonesia hingga

Lebih terperinci

Rangkuman Eksekutif. Konteks. Seberapa efektif pendekatan atau strategi IFC untuk operasi-operasinya di Indonesia sebelum krisis? RANGKUMAN EKSEKUTIF

Rangkuman Eksekutif. Konteks. Seberapa efektif pendekatan atau strategi IFC untuk operasi-operasinya di Indonesia sebelum krisis? RANGKUMAN EKSEKUTIF Rangkuman Eksekutif Konteks 1. Krisis Asia pada akhir tahun 1990an berdampak lebih besar pada Indonesia dibandingkan negara lainnya di wilayah tersebut. Perubahan-perubahan politik dan ekonomi yang menyusul

Lebih terperinci

Sejarah AusAID di Indonesia

Sejarah AusAID di Indonesia Apakah AusAID Program bantuan pembangunan luar negeri Pemerintah Australia merupakan program yang dibiayai Pemerintah Federal untuk mengurangi tingkat kemiskinan di negaranegara berkembang. Program ini

Lebih terperinci

GROWTH AND RESILIENCY: THE ASEAN STORY. (Nugraha Adi) I. Latar Belakang

GROWTH AND RESILIENCY: THE ASEAN STORY. (Nugraha Adi) I. Latar Belakang GROWTH AND RESILIENCY: THE ASEAN STORY (Catatan Pertemuan the 8 th ASEAN Finance Ministers Investor Seminar (AFMIS), 8 November 2011, Jakarta I. Latar Belakang (Nugraha Adi) Kawasan ASEAN telah menjadi

Lebih terperinci

STRATEGI MEMAJUKAN PERAN & KEBERLANJUTAN ORGANISASI MASYARAKAT SIPIL DI INDONESIA 1

STRATEGI MEMAJUKAN PERAN & KEBERLANJUTAN ORGANISASI MASYARAKAT SIPIL DI INDONESIA 1 STRATEGI MEMAJUKAN PERAN & KEBERLANJUTAN ORGANISASI MASYARAKAT SIPIL DI INDONESIA 1 Handoko Soetomo 2 Peran organisasi masyarakat sipil (OMS) di Indonesia tak dapat dilepaskan dari konteks dan tantangan

Lebih terperinci

PERTUMBUHAN LEBIH BAIK, IKLIM LEBIH BAIK

PERTUMBUHAN LEBIH BAIK, IKLIM LEBIH BAIK PERTUMBUHAN LEBIH BAIK, IKLIM LEBIH BAIK The New Climate Economy Report RINGKASAN EKSEKUTIF Komisi Global untuk Ekonomi dan Iklim didirikan untuk menguji kemungkinan tercapainya pertumbuhan ekonomi yang

Lebih terperinci

Jakarta, 10 Maret 2011

Jakarta, 10 Maret 2011 SAMBUTAN MENTERI PERENCANAAN PEMBANGUNAN NASIONAL/ KEPALA BADAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN NASIONAL DALAM ACARA TEMU KONSULTASI TRIWULANAN KE-1 TAHUN 2011 BAPPENAS-BAPPEDA PROVINSI SELURUH INDONESIA Jakarta,

Lebih terperinci

"Indonesia Bisa Jadi Masalah Baru Bagi Asia"

Indonesia Bisa Jadi Masalah Baru Bagi Asia H T T P : / / U S. A N A L I S I S. V I V A N E W S. C O M / N E W S / R E A D / 2 8 4 0 2 5 - I N D O N E S I A - B I S A - J A D I - M A S A L A H - B A R U - B A G I - A S I A "Indonesia Bisa Jadi Masalah

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Banyak orang telah mengetahui bahwa Indonesia menghadapi era

BAB I PENDAHULUAN. Banyak orang telah mengetahui bahwa Indonesia menghadapi era BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Banyak orang telah mengetahui bahwa Indonesia menghadapi era globalisasi, dimana perbatasan antar negara tidak lagi menjadi hambatan dalam memperoleh apa yang

Lebih terperinci

TATA KELOLA PEMERINTAHAN, KETERBUKAAN INFORMASI PUBLIK. Hendra Wijayanto

TATA KELOLA PEMERINTAHAN, KETERBUKAAN INFORMASI PUBLIK. Hendra Wijayanto TATA KELOLA PEMERINTAHAN, KETERBUKAAN INFORMASI PUBLIK Hendra Wijayanto PERTANYAAN Apa yang dimaksud government? Apa yang dimaksud governance? SEJARAH IDE GOVERNANCE Tahap 1 Transformasi government sepanjang

Lebih terperinci

BAB V KESIMPULAN. A. Kesimpulan. jasa, finansial dan faktor produksi di seluruh dunia. Globalisasi ekonomi dipandang

BAB V KESIMPULAN. A. Kesimpulan. jasa, finansial dan faktor produksi di seluruh dunia. Globalisasi ekonomi dipandang 134 BAB V KESIMPULAN A. Kesimpulan Globalisasi ekonomi adalah proses pembentukan pasar tunggal bagi barang, jasa, finansial dan faktor produksi di seluruh dunia. Globalisasi ekonomi dipandang juga sebagai

Lebih terperinci

BAB IV ANALISIS ISU-ISU STRATEGIS

BAB IV ANALISIS ISU-ISU STRATEGIS BAB IV ANALISIS ISU-ISU STRATEGIS IIV.1 Permasalahan Pembangunan Permasalahan yang dihadapi Pemerintah Kabupaten Ngawi saat ini dan permasalahan yang diperkirakan terjadi lima tahun ke depan perlu mendapat

Lebih terperinci

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN BAB V KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan Dari hasil penelitian tersebut diatas dapat disimpulkan dengan mengacu pada hipotesa yang peneliti tentukan sebelumnya, yaitu sebagai berikut: pertama, Kausalitas

Lebih terperinci

Oleh Sugeng Bahagijo. International NGO Forum on Indonesian Development-INFID

Oleh Sugeng Bahagijo. International NGO Forum on Indonesian Development-INFID MDGs dan Post MDGs: PELUANG UNTUK PEMBANGUNAN YANG LEBIH BERMARTABAT BERKELANJUTAN DAN ADIL PASKA 2015 Presentasi untuk forum Konsultasi Agenda Pembangunan Post 2015 oleh Diselenggarakan oleh Komite Nasional

Lebih terperinci

Mendorong masyarakat miskin di perdesaan untuk mengatasi kemiskinan di Indonesia

Mendorong masyarakat miskin di perdesaan untuk mengatasi kemiskinan di Indonesia IFAD/R. Grossman Mendorong masyarakat miskin di perdesaan untuk mengatasi kemiskinan di Indonesia Kemiskinan perdesaan di Indonesia Indonesia telah melakukan pemulihan krisis keuangan pada tahun 1997 yang

Lebih terperinci

Respon Pemantauan IFC ke. Audit CAO mengenai investasi IFC di

Respon Pemantauan IFC ke. Audit CAO mengenai investasi IFC di AUDIT PEMANTAUAN DAN LAPORAN PENUTUPAN CAO Audit IFC Kepatuhan CAO C-I-R6-Y08-F096 27 Maret 2013 Respon Pemantauan IFC ke Audit CAO mengenai investasi IFC di Wilmar Trading (IFC No. 20348) Delta Wilmar

Lebih terperinci

Investor Indonesia Sangat Mendukung Dinaikkannya Usia Pensiun Resmi dari 55 Tahun Survei Manulife

Investor Indonesia Sangat Mendukung Dinaikkannya Usia Pensiun Resmi dari 55 Tahun Survei Manulife TSX/NYSE/PSE: MFC SEHK:945 Untuk disiarkan segera Investor Indonesia Sangat Mendukung Dinaikkannya Usia Pensiun Resmi dari 55 Tahun Survei Manulife Hampir tiga perempat investor mendukung dinaikkannya

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Pasar modal (capital market) telah terbukti memiliki andil yang cukup. besar dalam perkembangan perekonomian suatu negara.

BAB I PENDAHULUAN. Pasar modal (capital market) telah terbukti memiliki andil yang cukup. besar dalam perkembangan perekonomian suatu negara. BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar belakang penelitian Pasar modal (capital market) telah terbukti memiliki andil yang cukup besar dalam perkembangan perekonomian suatu negara. Pasar modal memiliki beberapa daya

Lebih terperinci

PERKEMBANGAN PERDAGANGAN INDONESIA- SAUDI ARABIA BULAN : JUNI 2015

PERKEMBANGAN PERDAGANGAN INDONESIA- SAUDI ARABIA BULAN : JUNI 2015 PERKEMBANGAN PERDAGANGAN INDONESIA- SAUDI ARABIA BULAN : JUNI 2015 A. Perkembangan Perekonomian Saudi Arabia. 1. Dana Moneter Internasional (IMF) menyatakan pertumbuhan ekonomi di Saudi Arabia diatur melambat

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. gelombang krisis ekonomi di dunia, bahkan berhasil menjadi negara yang meningkat di

BAB I PENDAHULUAN. gelombang krisis ekonomi di dunia, bahkan berhasil menjadi negara yang meningkat di BAB I PENDAHULUAN I.1. Latar Belakang Penelitian Indonesia merupakan salah satu dari segelintir negara yang berhasil menghadapi gelombang krisis ekonomi di dunia, bahkan berhasil menjadi negara yang meningkat

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Dewasa ini, era globalisasi membawa suatu pengaruh yang sangat

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Dewasa ini, era globalisasi membawa suatu pengaruh yang sangat BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Dewasa ini, era globalisasi membawa suatu pengaruh yang sangat besar dalam perekonomian suatu negara. Era globalisasi ini terjadi dikarenakan adanya rasa saling ketergantungan

Lebih terperinci

Perekonimian Indonesia

Perekonimian Indonesia Perekonimian Indonesia Sumber : 2. Presentasi Husnul Khatimah 3. Laporan Bank Indonesia 4. Buku Aris Budi Setyawan 5. Sumber lain yg relevan (Pertemuan 1-11) Peraturan Perkuliahan Hadir dengan berpakaian

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. daerah, masalah pertumbuhan ekonomi masih menjadi perhatian yang penting. Hal ini

I. PENDAHULUAN. daerah, masalah pertumbuhan ekonomi masih menjadi perhatian yang penting. Hal ini I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Dalam menilai keberhasilan pembangunan dan upaya memperkuat daya saing ekonomi daerah, masalah pertumbuhan ekonomi masih menjadi perhatian yang penting. Hal ini dikarenakan

Lebih terperinci

VISI MISI KABUPATEN KUDUS TAHUN

VISI MISI KABUPATEN KUDUS TAHUN VISI MISI KABUPATEN KUDUS TAHUN 2013 2018 Visi Terwujudnya Kudus Yang Semakin Sejahtera Visi tersebut mengandung kata kunci yang dapat diuraikan sebagai berikut: Semakin sejahtera mengandung makna lebih

Lebih terperinci

Presented by: M Anang Firmansyah IMF. system Perserikatan Bangsa-bangsa yang didirikan berdasarkan perjanjian

Presented by: M Anang Firmansyah IMF. system Perserikatan Bangsa-bangsa yang didirikan berdasarkan perjanjian Presented by: M Anang Firmansyah IMF Dana Moneter Internasional adalah Salah satu badan khusus dalam system Perserikatan Bangsa-bangsa yang didirikan berdasarkan perjanjian internasional pada tahun 1945

Lebih terperinci

R a a t f. Sistem Informasi Pedesaan

R a a t f. Sistem Informasi Pedesaan R a a t f Sistem Informasi Pedesaan 1 Ringkasan Eksekutif Mengintegrasikan Gender pada Sistem Informasi Pedesaan di Indonesia Bank Dunia, Unit Sektor Pengembangan Pedesaan dan Sumberdaya Alam, Wilayah

Lebih terperinci

Sudahkah kita memimpin ASEAN?

Sudahkah kita memimpin ASEAN? SudahkahkitamemimpinASEAN? KepemimpinanASEANbukanlahsoalmenangataukalah.Agendaterpentingadalah bagaimanamensejajarkankepentingankemajuanbangsadanliberalisasiregionalmelalui kepemimpinanefektif,memilikivisijelas,danberwibawa

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG

BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG Sistem pasar tenaga kerja di Jepang merupakan salah satu hasil dari nilai-nilai dan jaringan yang rumit dalam hubungan sosial masyarakat Jepang. Dalam sistem tenaga

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Pada tahun 2003, telah diterbitkan sebuah komisi independen untuk

BAB I PENDAHULUAN. Pada tahun 2003, telah diterbitkan sebuah komisi independen untuk BAB I PENDAHULUAN I.1. Latar Belakang Pada tahun 2003, telah diterbitkan sebuah komisi independen untuk Indonesia yang dinamakan Indonesian Commission dan merupakan bagian dari Pusat Tindak Pencegahan

Lebih terperinci

Pengaruh utang luar negeri dan defisit anggaran terhadap kondisi makro ekonomi OLEH: Siti Hanifah NIM.F BAB I PENDAHULUAN

Pengaruh utang luar negeri dan defisit anggaran terhadap kondisi makro ekonomi OLEH: Siti Hanifah NIM.F BAB I PENDAHULUAN Pengaruh utang luar negeri dan defisit anggaran terhadap kondisi makro ekonomi OLEH: Siti Hanifah NIM.F 0102058 BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Dalam menyelenggarakan pemerintahan, suatu negara memerlukan

Lebih terperinci

menjadi katalisator berbagai agenda ekonomi Cina dengan negara kawasan Indocina yang semuanya masuk dalam agenda kerja sama Cina-ASEAN.

menjadi katalisator berbagai agenda ekonomi Cina dengan negara kawasan Indocina yang semuanya masuk dalam agenda kerja sama Cina-ASEAN. BAB V KESIMPULAN Kebangkitan ekonomi Cina secara signifikan menguatkan kemampuan domestik yang mendorong kepercayaan diri Cina dalam kerangka kerja sama internasional. Manuver Cina dalam politik global

Lebih terperinci

Kemandirian Ekonomi Nasional: Bagaimana Kita Membangunnya? Umar Juoro

Kemandirian Ekonomi Nasional: Bagaimana Kita Membangunnya? Umar Juoro Kemandirian Ekonomi Nasional: Bagaimana Kita Membangunnya? Umar Juoro Pendahuluan Kemandirian ekonomi semestinya didefinisikan secara fleksibel dan bersifat dinamis. Kemandirian lebih dilihat dari kemampuan

Lebih terperinci

BAB 2 KAJIAN PUSTAKA. Secara Etimologis, istilah Kebijakan (policy) berasal bahasa Yunani,

BAB 2 KAJIAN PUSTAKA. Secara Etimologis, istilah Kebijakan (policy) berasal bahasa Yunani, BAB 2 KAJIAN PUSTAKA 2.1. Kebijakan Secara Etimologis, istilah Kebijakan (policy) berasal bahasa Yunani, Sangsekerta, dan Latin. Dimana istilah kebijakan ini memiliki arti menangani masalah-masalah publik

Lebih terperinci

Unduh dalam bentuk berkas suara (MP3)

Unduh dalam bentuk berkas suara (MP3) Unduh dalam bentuk berkas suara (MP3) TRANSKRIPSI SAMBUTAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA PADA ACARA PERESMIAN PEMBUKAAN KONFERENSI REGIONAL IACA (INTERNATIONAL ASSOCIATION OF COURT ADMINISTRATOR) TAHUN 2011

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. mengalokasikan dana dari pihak yang mengalami surplus dana kepada pihak yang

BAB I PENDAHULUAN. mengalokasikan dana dari pihak yang mengalami surplus dana kepada pihak yang BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Stabilitas sistem keuangan memegang peran penting dalam perekonomian. Sebagai bagian dari sistem perekonomian, sistem keuangan berfungsi mengalokasikan dana dari pihak

Lebih terperinci

Meninjau Kerjasama Pembangunan bagi Pembiayaan Kesejahteraan

Meninjau Kerjasama Pembangunan bagi Pembiayaan Kesejahteraan Meninjau Kerjasama Pembangunan bagi Pembiayaan Kesejahteraan Mickael B. Hoelman choki.nainggolan@gmail.com Twitter: @ChokiHoelman Naskah disampaikan pada Konferensi PRAKARSA 2014 Akselerasi Transformasi

Lebih terperinci

Statement INFID Menyambut UN High Level Event on MDGs, 25 September 2008

Statement INFID Menyambut UN High Level Event on MDGs, 25 September 2008 ( NGO in Special Consultative Status with the Economic and Social Council of the United Nations, Ref. No : D1035 ) Jl. Mampang Prapatan XI No. 23, Jakarta 12790- Indonesia * Phone (62-21) 79196721, 79196722,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang. Semenjak merdeka 1945 hingga 1966 atau selama pemerintahan Orde Lama,

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang. Semenjak merdeka 1945 hingga 1966 atau selama pemerintahan Orde Lama, BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Semenjak merdeka 1945 hingga 1966 atau selama pemerintahan Orde Lama, ekonomi Indonesia yang bercorak agraris terjerat dalam lingkaran setan kemiskinan atau terjerat

Lebih terperinci

LAPORAN SOSIALISASI HASIL DAN PROSES DIPLOMASI PERDAGANGAN INTERNASIONAL MEDAN, SEPTEMBER 2013

LAPORAN SOSIALISASI HASIL DAN PROSES DIPLOMASI PERDAGANGAN INTERNASIONAL MEDAN, SEPTEMBER 2013 LAPORAN SOSIALISASI HASIL DAN PROSES DIPLOMASI PERDAGANGAN INTERNASIONAL MEDAN, SEPTEMBER 2013 I. PENDAHULUAN Kegiatan Sosialisasi Hasil dan Proses Diplomasi Perdagangan Internasional telah diselenggarakan

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. Proses pembangunan dan pertumbuhan ekonomi yang dilakukan banyak

BAB 1 PENDAHULUAN. Proses pembangunan dan pertumbuhan ekonomi yang dilakukan banyak BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Proses pembangunan dan pertumbuhan ekonomi yang dilakukan banyak negara di berbagai penjuru dunia dilakukan untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat di masing-masing

Lebih terperinci

OPEN DATA + INDUSTRI EKSTRAKTIF. Transparansi dan Akuntabilitas Penerimaan dan Belanja di Sektor Sumberdaya Ekstraktif

OPEN DATA + INDUSTRI EKSTRAKTIF. Transparansi dan Akuntabilitas Penerimaan dan Belanja di Sektor Sumberdaya Ekstraktif OPEN DATA + INDUSTRI EKSTRAKTIF Transparansi dan Akuntabilitas Penerimaan dan Belanja di Sektor Sumberdaya Ekstraktif Transformasi Industri Ekstraktif Melalui Open Data Indonesia, bangsa yang dulunya masih

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Globalisasi adalah suatu fenomena yang tidak bisa dielakkan. Globalisasi

BAB I PENDAHULUAN. Globalisasi adalah suatu fenomena yang tidak bisa dielakkan. Globalisasi BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Globalisasi adalah suatu fenomena yang tidak bisa dielakkan. Globalisasi tidak hanya berelasi dengan bidang ekonomi, tetapi juga di lingkungan politik, sosial, dan

Lebih terperinci

IV. GAMBARAN UMUM NEGARA ASEAN 5+3

IV. GAMBARAN UMUM NEGARA ASEAN 5+3 IV. GAMBARAN UMUM NEGARA ASEAN 5+3 4.1 Gambaran Umum Kesenjangan Tabungan dan Investasi Domestik Negara ASEAN 5+3 Hubungan antara tabungan dan investasi domestik merupakan indikator penting serta memiliki

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. integral dan menyeluruh. Pendekatan dan kebijaksanaan sistem ini telah

BAB I PENDAHULUAN. integral dan menyeluruh. Pendekatan dan kebijaksanaan sistem ini telah 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Pertumbuhan ekonomi merupakan salah satu indikator penting untuk menganalisis pembangunan ekonomi yang terjadi disuatu Negara yang diukur dari perbedaan PDB tahun

Lebih terperinci

Deklarasi Dhaka tentang

Deklarasi Dhaka tentang Pembukaan Konferensi Dhaka tentang Disabilitas & Manajemen Risiko Bencana 12-14 Desember 2015, Dhaka, Bangladesh Deklarasi Dhaka tentang Disabilitas dan Manajemen Risiko Bencana, 14 Desember 2015 diadopsi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. penyatuan dua perusahaan atau lebih menjadi satu kekuatan, pada umumnya

BAB I PENDAHULUAN. penyatuan dua perusahaan atau lebih menjadi satu kekuatan, pada umumnya BAB I PENDAHULUAN 1.1. LATAR BELAKANG MASALAH Persaingan global membuat banyak perusahaan melakukan berbagai upaya untuk bertahan hingga menjadi pemimpin dalam sektor usaha tersebut. Merger dan akuisisi

Lebih terperinci

Renstra Pusat Akreditasi Lembaga Sertifikasi BSN Tahun RENSTRA PUSAT AKREDITASI LEMBAGA SERTIFIKASI TAHUN

Renstra Pusat Akreditasi Lembaga Sertifikasi BSN Tahun RENSTRA PUSAT AKREDITASI LEMBAGA SERTIFIKASI TAHUN RENSTRA PUSAT AKREDITASI LEMBAGA SERTIFIKASI TAHUN 2015-2019 BADAN STANDARDISASI NASIONAL 2015 Kata Pengantar Dalam rangka melaksanakan amanat Undang-Undang No. 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan

Lebih terperinci

Kelembagaan Ekonomi di Indonesia (Ekonomi Pancasila, Ekonomi Kerakyatan)

Kelembagaan Ekonomi di Indonesia (Ekonomi Pancasila, Ekonomi Kerakyatan) Kelembagaan Ekonomi di Indonesia (Ekonomi Pancasila, Ekonomi Kerakyatan) Pokok Bahasan: 1. Indonesia Kapitalis atau sosialis? 2. Kelembagaan ekonomi Indonesia( sistem regulasi, konstitusi, institusi) 3.

Lebih terperinci

perkembangan investasi di Indonesia, baik investasi dalam negeri maupun investasi asing, termasuk investasi oleh ekonomi rakyat. Sementara itu, pada

perkembangan investasi di Indonesia, baik investasi dalam negeri maupun investasi asing, termasuk investasi oleh ekonomi rakyat. Sementara itu, pada ix B Tinjauan Mata Kuliah uku Materi Pokok (BMP) ini dimaksudkan sebagai bahan rujukan utama dari materi mata kuliah Perekonomian Indonesia yang ditawarkan oleh Fakultas Ekonomi Universitas Terbuka. Mata

Lebih terperinci

Strategi Pemberdayaan Lembaga Keuangan Rakyat BPR

Strategi Pemberdayaan Lembaga Keuangan Rakyat BPR Strategi Pemberdayaan Lembaga Keuangan Rakyat BPR Oleh : Marsuki Disampaikan dalam Seminar Serial Kelompok TEMPO Media dan Bank Danamon dengan Tema : Peran Pemberdayaan dalam Pengembangan Ekonomi Daerah.

Lebih terperinci

Kebijakan Pengamanan dan Keberlanjutan di Dunia yang Berubah

Kebijakan Pengamanan dan Keberlanjutan di Dunia yang Berubah IEG (INDEPENDENT EVALUATION GROUP) WORLD BANK IFC MIGA Kebijakan Pengamanan dan Keberlanjutan di Dunia yang Berubah Suatu Evaluasi Independen tentang Pengalaman Grup Bank Dunia Ringkasan Eksekutif Kebijakan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. menimbulkan penderitaan bagi masyarakat Korea. Jepang melakukan eksploitasi

BAB I PENDAHULUAN. menimbulkan penderitaan bagi masyarakat Korea. Jepang melakukan eksploitasi BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Penelitian Sejarah Korea yang pernah berada di bawah kolonial kekuasaan Jepang menimbulkan penderitaan bagi masyarakat Korea. Jepang melakukan eksploitasi sumber

Lebih terperinci

Negara dalam Arus Pendisiplinan Pasar

Negara dalam Arus Pendisiplinan Pasar OPINI-JAWA POS Negara dalam Arus Pendisiplinan Pasar Oleh Adde M Wirasenjaya PADA tahun 1954, seorang antropolog muda dari Amerika ke tanah Jawa. Sang antropolog diberikan tugas meneliti mengapa Jawa tidak

Lebih terperinci

Teori Tahap-Tahap Pertumbuhan Ekonomi Walt Whitman Rostow

Teori Tahap-Tahap Pertumbuhan Ekonomi Walt Whitman Rostow Teori Tahap-Tahap Pertumbuhan Ekonomi Walt Whitman Rostow Teori pembangunan ekonomi versi Rostow ini sangat populer dan paling banyak mendapat kritikan dari para ahli. Teori ini pada mulanya merupakan

Lebih terperinci

STRUKTUR PEKERJAAN DAN STRUKTUR SOSIAL

STRUKTUR PEKERJAAN DAN STRUKTUR SOSIAL UNIVERSITAS INDONESIA STRUKTUR PEKERJAAN DAN STRUKTUR SOSIAL SOSIOLOGI INDUSTRI DAN KETENAGAKERJAAN DISUSUN OLEH KELOMPOK 3 AHMAD MUTSLA Z (1206240234) DETANIA SAVITRI (1206210534) FEBRYAN DWI PUTRA (1206210540)

Lebih terperinci

Ringkasan Eksekutif. Ringkasan Eksekutif. Akhiri KEMISKINAN pada Generasi Saat Ini

Ringkasan Eksekutif. Ringkasan Eksekutif. Akhiri KEMISKINAN pada Generasi Saat Ini Ringkasan Eksekutif Akhiri KEMISKINAN pada Generasi Saat Ini Visi Save the Children untuk Kerangka Kerja Pasca 2015 Mengatasi kemiskinan bukanlah tugas sosial, melainkan tindakan keadilan. Sebagaimana

Lebih terperinci