Refleksi Kritis Kondisi Pendidikan di Papua Disampaikan pada Forum Kebijakan Strategis untuk Pembangunan Papua: Melacak Akar Ketertinggalan Pendidikan di Provinsi Papua dan Papua Barat, Gugus Tugas Papua UGM, 18 September 2017 Bambang Purwoko Dosen Departemen Politik dan Pemerintahan Fisipol UGM Ketua Gugus Tugas Papua Universitas Gadjah Mada Materi ini (versi Bahasa Inggris) pernah dipresentasikan pada forum The 16 th Indonesian Scholars International Convention: Conference and Workshop on Papua, Promoting Insiders Views on Papua through Collaborative Research and Publication, University of Birmingham, 02 October 2016. Update dilakukan sesuai data tahun 2017 Refleksi Kritis Kondisi Pendidikan di Papua 1
Latar Belakang 1/3 Pendidikan adalah instrumen yang efektif untuk mengajarkan norma, mensosialisasikan nilai, dan menanamkan etos kerja kepada masyarakat. Pendidikan yang berkualitas tidak hanya berorientasi kepada peningkatan pengetahuan dan ketrampilan saja, tetapi juga pada pembentukan karakter masyarakat. Pembangunan daerah akan berhasil jika didukung oleh SDM masyarakat yang memiliki pengetahuan dan ketrampilan tinggi, sekaligus memiliki karakter positif yang kuat (bekerja keras, jujur, inovatif, dan disiplin). Meskipun sejak tahun 2001 Papua mendapatkan kewenangan khusus (UU 21/2001) namun sampai tahun 2017 ini secara umum kondisi pendidikan di Papua masih belum menunjukkan tanda-tanda kemajuan yang signifikan. Refleksi Kritis Kondisi Pendidikan di Papua 2
Memahami Problematika Pendidikan di Papua Tiga cara memahami problematika pendidikan di Papua: Data Mengkaji kondisi pendidikan dengan melihat Data Statistik: Jumlah Sekolah, Sarpras Pendukung, Rasio Murid Guru, Angka Melek Huruf, dsb. Fakta Mengkaji kondisi pendidikan dengan melihat Kondisi Empiris di kabupaten, disrtik dan kampung : Ketersediaan sarana prasarana pendidikan, ketersediaan Guru, metode belajar dan kualitas hasil pendidikan, interaksi dengan masyarakat. Analisis Mengkaji kondisi pendidikan dengan melakukan analisa terhadap Kinerja dan Kebijakan Dinas Pendidikan: Manajemen pendidikan di tingkat lokal, komitmen pejabat pengelola pendidikan, akuntabilitas pengelolaan anggaran. Refleksi Kritis Kondisi Pendidikan di Papua 5
Data Kondisi Pendidikan di Papua 1/3 Refleksi Kritis Kondisi Pendidikan di Papua 6
Data Kondisi Pendidikan di Papua 2/3 Refleksi Kritis Kondisi Pendidikan di Papua 7
Data 3/3 Kondisi Pendidikan di Papua Ibarat foto yang diedit, Data Statistik pendidikan di Papua adalah sesuatu yang lebih indah dari aslinya. Realitas kondisi pendidikan di Papua tidaklah sebaik atau seindah yang ditampilkan dalam data statistik. Di atas kertas rasio Guru : Murid terlihat bagus, dalam realitasnya banyak murid di Papua yang tidak bisa bersekolah karena tak adanya Guru. Presentase dan Jumlah masyarakat penyandang buta aksara juga jauh lebih banyak dibanding yang tercatat dalam data statistik Tingkatan kelas (1,2,3,4,5,6) atau tingkatan pendidikan (SD, SMP, SMA) tidak mencerminkan penguasaan dan penyerapan materi pelajaran yang sesuai dengan standar umum pendidikan nasional. Refleksi Kritis Kondisi Pendidikan di Papua 8
Fakta Tentang Pendidikan di Papua 1/2 Kesenjangan Pantai Gunung Kecenderungan Mengejar Gelar, Bukan Ilmu dan Kemampuan Pendidikan Belum Menjadi Kesadaran Bersama Seluruh Masyarakat Studi Lanjut ke Universitas yang Berkualitas Sangat Rendah Kualitas Pendidikan SD, SMP, SMA Masih Sangat Rendah Refleksi Kritis Kondisi Pendidikan di Papua 11
Alternatif Pengembangan Pendidikan di Papua Fokus pada Pengadaan / Perbaikan Sarpras dan Tenaga Kependidikan Refleksi Kritis Kondisi Pendidikan di Papua 19
Rekomendasi Penguatan Kapasitas dan Perbaikan Manajemen Pendidikan Refleksi Kritis Kondisi Pendidikan di Papua 20
Penguatan Kapasitas Individu 1/2 Pemerintah Provinsi dan Kab/Kota di Papua harus menjamin / memastikan bahwa para Pejabat dan Staf di Dinas Pendidikan memiliki kualifikasi sbb: Memahami problematika mendasar kondisi pendidikan di Papua dan memiliki rencana kerja yang jelas untuk mengatasi masalah tersebut. Memiliki KOMPETENSI (Pengetahuan, Ketrampilan dan Sikap) yang mendukung pengembangan pendidikan di daerahnya. Refleksi Kritis Kondisi Pendidikan di Papua 21
Penguatan Kapasitas Individu 2/2 Memiliki KOMITMEN untuk memajukan pendidikan di daerahnya (misal sanggup tinggal di lokasi tugas minimal 80% dari total masa tugas per tahun). Menandatangani dan melaksanakan Pakta Integritas untuk membangun dan memajukan pendidikan di daerahnya. Sanggup bekerjasama dan selalu berkoordinasi dengan Sekda dan Kepala Daerah. Refleksi Kritis Kondisi Pendidikan di Papua 22
Penguatan Kapasitas Organisasi 1/2 Pemerintah Provinsi dan Kab/Kota di Papua harus memberikan dukungan penuh agar Dinas Pendidikan memiliki kemampuan dan kewenangan untuk melaksanan tugas-tugas sbb: Merancang kegiatan tahunan yang berorientasi kepada peningkatan gairah belajar masyarakat, bukan sematamata pembangunan fisik sarpras pendidikan. Melakukan sosialisasi tentang urgensi pendidikan bagi masyarakat, dan perlunya dukungan orang tua terhadap model pembelajaran di Sekolah. Refleksi Kritis Kondisi Pendidikan di Papua 23
Penguatan Kapasitas Organisasi 2/2 Melakukan pendataan jumlah sekolah, guru dan murid secara akurat serta merancang sistem Manajamen Sekolah yang mendukung PBM. Mengangkat dan menempatkan Guru-guru berdasarkan pertimbangan merit system, mendahulukan pertimbangan komitmen dan kualitas kerja dan bukan semata-mata konektivitas. Menjamin agar alokasi dana pendidikan bisa digunakan sesuai sasaran, dan menjamin pemenuhan hak-hak Guru (administratif dan finansial), termasuk jaminan rasa aman dan ketersediaan hunian (tempat tinggal) yang layak. Merancang dan memastikan agar Manajemen Sekolah bisa dilaksanakan dengan baik. Refleksi Kritis Kondisi Pendidikan di Papua 24
Penguatan Kapasitas Sistem 1/2 Pemerintah Provinsi dan Kab/Kota di Papua harus menjamin / memastikan bahwa: Ada kejelasan regulasi (Perdasus atau Perda Kab/Kota) yang menjamin alokasi dana otsus untuk Pendidikan bisa tersalur dan terserap dengan baik berdasarkan Juklak dan Juknis yang jelas. Terdapat landasan hukum yang jelas untuk menjamin keamanan, kesejahteraan dan kepastian status Guru-Guru yang bertugas di Daerah Terpencil. Ada struktur insentif bagi Sekolah dan Guru di Daerah Terpencil. Refleksi Kritis Kondisi Pendidikan di Papua 25
Penguatan Kapasitas Sistem 2/2 Ada sanksi yang tegas dalam bentuk Peraturan Kepala Daerah bagi Guru-guru yang meninggalkan lokasi tugasnya tanpa ijin khusus dari Kepala Dinas atau Kepala Daerah. Ada sanksi yang tegas bagi Murid dan Orang Tua Murid yang secara sengaja melakukan kecurangan dalam proses pendidikan dan atau melakukan tindak kekerasan / ancaman yang mengganggu proses pendidikan. Refleksi Kritis Kondisi Pendidikan di Papua 26
Terobosan Nyata Gugus Tugas Papua UGM : Kecil Tapi Riil Refleksi Kritis Kondisi Pendidikan di Papua 27
A Penyusunan Rencana Induk Pengembangan Pendidikan 1/2 Pembangunan pendidikan di sebagian besar kabupaten di Papua tidak didasarkan pada perencanaan yang jelas. Pemerintah Daerah dalam hal ini Dinas Pendidikan tidak mempunyai rencana jangka panjang terkait pengembangan pendidikan. Akibatnya, capaian pendidikan belum bisa naik secara signifikan. Kurang maksimalnya perencanaan pendidikan berakibat pada rendahnya kualitas pengajaran, lemahnya komitmen Guru, belum memadainya sarana dan sarana pendidikan, serta belum berkembangnya daya saing pendidikan. Refleksi Kritis Kondisi Pendidikan di Papua 28
A Penyusunan Rencana Induk Pengembangan Pendidikan 2/2 Untuk mengatasi persoalan itu, Gugus Tugas Papua UGM bekerjasama dengan Pemerintah Kabupaten Puncak dan Pemerintah Kabupaten Intan Jaya melakukan studi dalam rangka Penyusunan Rencana Induk Pengembangan Pendidikan. Rekomendasi dari kajian tersebut berkaitan dengan bagaimana layanan pendidikan ditingkatkan dengan fokus pada 3 aspek penting yaitu: availabilitas, aksesibilitas, kualitas. Refleksi Kritis Kondisi Pendidikan di Papua 29
B 1/2 Guru Penggerak Daerah Terpencil Kerjasama UGM dengan Pemkab Puncak, Intan Jaya, Mappi sejak tahun 2013. Sudah diberangkatkan 90 Guru berbagai bidang studi ke Distrik-distrik Pedalaman di Kab Puncak, dan 40 Guru ke Kab Intan Jaya, dan dalam waktu dekat akan memberangkatkan 50 orang guru ke Kabupaten Mappi. Para Guru mengikuti kontrak kerja dengan Pemda untuk waktu 2 tahun dan bagi yang memenuhi syarat bisa diangkat menjadi PNS setempat. Refleksi Kritis Kondisi Pendidikan di Papua 30
B Guru Penggerak Daerah Terpencil 2/2 seluruh daerah di Indonesia, memiliki komitmen untuk tugas-tugas di pedalaman Papua. Mereka mendapatkan pelatihan khusus untuk tugas-tugas pendidikan dan pengabdian di pedalaman Papua. Masyarakat dan anak-anak usia sekolah menyambut dengan antusias kehadiran para Guru PAUD, SD, SMP dan SMA / SMK di daerahnya. Kehadiran para Guru berhasil membangkitkan lagi gairah belajar masyarakat, dan meningkatkan ketersediaan, keterjangkauan, dan kebermutuan pelayanan pendidikan bagi masyarakat Papua. Refleksi Kritis Kondisi Pendidikan di Papua 31
C 1/2 Kajian Kelayakan Sekolah Berpola Asrama Sekolah Berpola Asrama (SBA) menjadi opsi yang banyak dilakukan oleh Pemda-Pemda di Papua untuk meningkatkan akses dan kualitas pendidikan. Beberapa SBA mengalami kegagalan akibat buruknya tata kelola oleh Pemda sehingga tidak ada kepastian anggaran pengelolaan, tidak ada rencana pengembangan pendidikan yang detail, dan bahkan hanya dijadikan sebagai ajang mendapatkan dana proyek. Refleksi Kritis Kondisi Pendidikan di Papua 32
C Kajian Kelayakan Sekolah Berpola Asrama 2/2 Kajian Kelayakan SBA ditujukan untuk melihat kelayakan pada aspek sosial budaya, teknis, anggaran, bahkan feasibilitas politik dan pemerintahan dalam mengelola agar SBA bisa bertahan lama. Dalam merancang pembangunan SBA, Pemerintah Daerah cenderung hanya menyiapkan bangunan fisik tanpa merancang Program Pendidikan secara matang. Model SBA pernah berhasil sebagai model pendidikan ideal di Papua, khususnya di jaman Belanda. Apakah model SBA bisa langsung direplikasi di era pemerintahan sekarang dengan berbagai kompleksitasnya? Refleksi Kritis Kondisi Pendidikan di Papua 33
D KKN PPM Papua 1/2 Kuliah Kerja Nyata Program Pemberdayaan Masyarakat (KKN PPM) adalah kegiatan pengabdian masyarakat wajib bagi setiap mahasiswa UGM semester akhir untuk mempraktekan ilmu di masyarakat dan sekaligus sebagai proses belajar untuk menambah pengetahuan dan ketrampilan empiris sesuai bidang studinya. Sejak tahun 2013 LPPM UGM mengirimkan belasan unit KKN PPm UGM ke kabupaten kota di provinsi Papua dan Papua Barat, baik wilayah pantai maupun pegunungan. Refleksi Kritis Kondisi Pendidikan di Papua 34
D KKN PPM Papua 2/2 Kehadiran mahasiswa KKN PPM UGM di tengahtengah masyarakat di kampung-kampung di wilayah Papua mempunyai arti sangat penting dalam ikut serta memberdayakan masyarakat setempat, termasuk di bidang pendidikan. Refleksi Kritis Kondisi Pendidikan di Papua 35
E Pendampingan Mahasiswa Papua 1/2 Salah satu tanggung jawab Gugus Tugas Papua UGM adalah melakukan pendampingan dan penguatan kapasitas mahasiswa Papua, baik yang kuliah di UGM maupun di Perguruan Tinggi lain. Pendampingan ini dilakukan dalam bentuk penyelenggaran kegiatan bersama, baik yang bersifat akademik (seminar, diskusi, penyambutan mahasiswa baru) maupun kegiatan sosial budaya dalam (festival seni budaya Papua, dialog budaya, dsb). Refleksi Kritis Kondisi Pendidikan di Papua 36
E Pendampingan Mahasiswa Papua 2/2 Para Dosen dan Peneliti yang tergabung dalam Gugus Tugas Papua UGM juga selalusiap jika sewaktu-waktu dibutuhkan oleh para mahasiswa untuk memberikan konsultasi akademik sesuai dengan bidang ilmu masing-masing. Dengan model pendampingan ini diharapkan para mahasiswa Papua di Yogyakarta khususnya bisa merasa nyaman untuk melakukan aktifitas aktifitas akademik maupun aktifitas sosial di lingkungannya, dan diharapkan juga bisa menyelesaikan studinya dengan baik. Refleksi Kritis Kondisi Pendidikan di Papua 37
Cenderawasih dari Irian TERIMA KASIH Cukup Sekian Refleksi Kritis Kondisi Pendidikan di Papua 38
Bambang Purwoko adalah Dosen di Departemen Politik dan Pemerintahan Fisipol UGM. Lulus Sarjana (S1) dari Jurusan Pemerintahan Fisipol UGM (1988) dan Sarjana (S1) dari Jurusan Pendidikan Fisika IKIP Negeri Yogyakarta (1987). Mendapatkan Graduate Diploma of Development Studies dari Murdoch University (1995), dan Master of Arts dari The University of Western Australia, saat ini sedang menempuh pendidikan Doktor Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Gadjah Mada. Bambang Purwoko Dosen Departemen Politik dan Pemerintahan Fisipol UGM -- Ketua Gugus Tugas Papua Universitas Gadjah Mada -- Email : bppurwoko@ugm.ac.id Mulai tahun 1999 sampai sekarang sangat aktif melakukan penelitian, pendampingan pemerintahan dan advokasi kebijakan di provinsi Papua dan Papua Barat, dan pernah menjadi Ketua Tim Percepatan Pembangunan Kabupaten Puncak (2013-2015). Sejak tahun 2008 menjadi Kepala Pusat Pengembangan Kapasitas dan Kerjasama (PPKK) Fisipol UGM, dan sejak tahun 2013 juga menjadi Ketua Gugus Tugas Papua Universitas Gadjah Mada. Refleksi Kritis Kondisi Pendidikan di Papua 39