BAB I SEGMENTASI PASAR Dalam perancangan produk, segmentasi pasar digunakan untuk melakukan pengkategorian pelanggan ke dalam segmentasi yang berbeda-beda dengan tujuan untuk membagi pasar yang berbeda-beda (heterogen) menjadi kelompok-kelompok pasar yang homogen, di mana setiap kelompoknya bisa ditargetkan untuk memasarkan suatu produk sesuai dengan kebutuhan, keinginan, ataupun karakteristik pembeli yang ada di pasar tersebut. Pembagian suatu pasar menjadi segmen-segmen ini dilakukan perusahaan untuk mempertimbangkan kebijakan yang harus diambil terhadap pesaing dan untuk menentukan kekuatan produk perusahaan sekarang berdasarkan kelompok pelanggan yang jelas. Dengan memetakan produk-produk pesaing dan produk milik perusahaan sendiri dalam segmen-segmen, perusahaan dapat memperkirakan peluang produk yang mana yang menyebabkan kelemahan lini produksi dan produk mana yang mampu memanfaatkan kelemahan tersebut. 1.1 Jenis-Jenis Segmentasi Pasar Berikut ini merupakan jenis-jenis dari segmentasi pasar menurut Philip Kohler. 1. Segmentasi Pasar berdasarkan Geografi Pada segmentasi ini, pasar dibagi ke dalam beberapa bagian geografi seperti negara, wilayah, kota, dan desa. Daerah geografi yang dipandang potensial dan menguntungkan akan menjadi target operasi perusahaan. 2. Segmentasi Pasar berdasarkan Demografi Pada segmentasi ini pasar dibagi menjadi kelompok-kelompok dengan dasar pembagian usia, jenis kelamin, tingkat ekonomi, dan tingkat pendidikan. 3. Segmentasi Pasar berdasarkan Sociocultural Segmentasi sosiokultural yang memiliki variabel sosiologis (kelompok) dan antropologis (budaya) dibagi dalam segmen yang sesuai tahap pada: daur hidup keluarga, kelas sosial, budaya dan sub budaya, lintas budaya atau segmentasi pemasaran global. 4. Segmentasi Pasar berdasarkan Tingkah Laku Segmentasi ini dikelompokkan berdasarkan pengetahuan, sikap, penggunaan, atau reaksi pembeli terhadap suatu produk. 1
1.2 Manfaat Segmentasi Banyaknya perusahaan yang melakukan segmentasi pasar atas dasar pengelompokkan variabel tertentu. Dengan menggolongkan atau mensegmentasikan pasar seperti itu, dapat dikatakan bahwa secara umum perusahaan mempunyai motivasi untuk mempertahankan dan meningkatkan tingkat penjualan dan yang lebih penting lagi agar operasi perusahaan dalam jangka panjang dapat berkelanjutan dan kompetitif (Porter, 1991). Manfaat yang lain dengan dilakukannya segmentasi pasar, antara lain: 1. Perusahaan akan dapat mendeteksi secara dini dan tepat mengenai kecenderungankecenderungan dalam pasar yang senantiasa berubah. 2. Dapat mendesain produk yang benar-benar sesuai dengan permintaan pasar. 3. Dapat menentukan kampanye dan periklanan yang paling efektif. 4. Dapat mengarahkan dana promosi yang tersedia melalui media yang tepat bagi segmen yang diperkirakan akan menghasilkan keuntungan yang lebih besar. 5. Dapat digunakan untuk mengukur usaha promosi sesuai dengan masa atau periodeperiode dimana reaksi pasar cukup besar. 1.3 Langkah Pengerjaan Segmentasi Pasar Untuk melakukan segmentasi pasar, yang dilakukan adalah: 1. Menentukan produk 2. Menetapkan segmentasinya 3. Melakukan benchmark 4. Menaruh di peta segmentasi Dalam buku Ulrich diberikan contoh bahwa untuk bentuk segmentasi dari beberapa produk Xerox, di mana segmentasinya berdasarkan jumlah pengguna yang berbagi peralatan kantor. Pada guide book perancangan produk ini, produk yang digunakan adalah meja setrika. Segmentasi pasar yang kami gunakan dalam pengembangan produk meja setrika ini dilihat berdasarkan demografi dan tingkah laku. Segmentasi pasar berdasarkan demografi, dari segi usia meja setrika ditujukan bagi remaja hingga dewasa dan dari segi jenis pekerjaan ditujukan bagi ibu rumah tangga dan pekerja laundry serta dari segi tingkat ekonomi ditujukan bagi semua kalangan yang terbagi atas tingkat ekonomi bawah, menengah dan ekonomi atas. Dan untuk segmentasi pasar berdasarkan tingkah laku yaitu produk meja setrika ini ditujukan untuk seseorang yang melakukan kegiatan setrika. 2
Pada tahun 2012 muncul kompetitor pertama yaitu Affga dan pada tahun 2015 muncul kembali kompetitor kedua yang memiliki desain meja setrika yang lebih inovatif yaitu Modera Clio. Meskipun begitu, produk meja setrika Affga tetap memiliki harga yang lebih murah dari pada meja setrika Modera Clio. Selain memiliki harga yang lebih murah, meja setrika juga memiliki kelebihan pada fungsi kepraktisannya karena dapat dilipat, namun sayangnya memiliki tempat penyimpanan baju yang telah disetrika berukuran kecil. Sedangkan meja setrika Modera Clio memiliki kelebihan tempat penyimpanan baju yang berukuran cukup besar. Namun desain yang lebih inovatif dan menarik tersebut tidak dilengkapi dengan adanya lipatan sehingga meja setrika dapat lebih fleksibel karena dapat dilipat dan harga yang relatif mahal. Dan berikut merupakan contoh segmentasi untuk produk meja setrika. > 300.000 Kayu Partikel Board + Kain Aterja 100.000 300.000 Produk Baru < 100.000 Kayu + Kain 2012 2014 2016 2018 Gambar 1.1 Peta Segmentasi Pasar Keterangan: : Kompetitor Affga : Kompetitor Modera Clio : Produk meja setrika yang kita keluarkan 3
POIN PENTING - Segmentasi bertujuan membagi pasar yang berbeda-beda ditargetkan untuk memasarkan suatu produk sesuai dengan kebutuhan, keinginan, ataupun karakteristik pembeli yang ada di pasar tersebut. - Pada saat melakukan segmentasi pasar, hal yang perlu dilakukan adalah menentukan produk, melakukan benchmark, menetapkan segmentasinya, dan menerapkan pada kurva segmentasi. - Pada kurva segmentasi pasar, kita terapkan hasil segmentasi pasar yang telah dilakukan sebelumnya dengan membandingkan satu atau lebih kompetitor sehingga bisa diketahui produk baru yang akan dibuat berada di posisi mana. 4
BAB II IDENTIFIKASI PELUANG Ide-ide untuk produk baru atau detail produk berasal dari beberapa sumber, di antaranya : 1. Personal pemasaran dan penjualan 2. Penelitian dan organisasi pengembangan teknologi 3. Tim pengembangan produk saat ini 4. Manufaktur dan operasional organisasi 5. Pelanggan sekarang atau potensial 6. Serta pihak ketiga seperti pemasok, pencipta, dan partner-partner bisnis. Proses identifikasi peluang pengembangan produk berhubungan dengan kegiatan mengidentifikasi kebutuhan pelanggan. Beberapa pendekatan yang dapat dilakukan yaitu: 1. Mencatat kegagalan dan keluhan yang dialami pelanggan dengan produk yang ada. 2. Mewawancarai pengguna utama, dengan memfokuskan pada proses inovasi oleh pengguna dan modifikasi-modifikasi yang dilakukan oleh para pengguna terhadap produk yang ada. 3. Mempertimbangkan implikasi terdahap adanya kecenderungan-kecenderungan dalam gaya hidup, demografis, dan teknologi untuk kategori produk yang ada dan peluangpeluang kategori produk baru. 4. Beberapa usulan pelanggan sekarang dikumpulkan secara sistematis melalui tenaga penjualan dan sistem pelayanan pelanggan. 5. Studi para pesaing produk dilakukan secara hati-hati dengan berdasarkan pada basis sekarang (keunggulan-keunggulan pesaing). 6. Status teknologi yang muncul dilihat kembali untuk memfasilitasi perpindahan teknologi yang tepat dari penelitian kearah pengembangan produk. 2.1 Tahap-Tahap Identifikasi Peluang Berikut merupakan tahap-tahap dalam mengidentifikasi peluang: 2.1.1 Mengumpulkan Data Mentah Tahap ini bertujuan untuk mendapatkan data-data yang nantinya dapat diolah sebagai kebutuhan pelanggan untuk menetapkan produk baru. Berikut merupakan metode yang biasa digunakan untuk mengidentifikasi peluang. 5
1. Interview 2. Focus Group 3. Survei tertulis (Kuesioner) 4. Observasi produk saat ini Dalam melakukan metode-metode tersebut, salah satu contohnya dapat menggunakan kuesioner sebagai alat bantu. Kuesioner adalah daftar pertanyaan untuk mendapatkan keterangan dari sampel atau sumber yang beranekaragam (agar sampel dapat mewakili populasi). Ada 2 jenis kuisioner, yaitu: a. Kuisioner terbuka Kuesioner ini memberikan kesempatan penuh memberi jawaban menurut apa yang dirasa perlu oleh responden. Peneliti hanya memberikan sejumlah pertanyaan berkenaan dengan masalah penelitian dan meminta responden menguraikan pendapat atau pendiriannya dengan panjang lebar bila diinginkan. b. Kuisioner tertutup Kuesioner tertutup terdiri atas pertanyaan atau pernyataan dengan sejumlah jawaban tertentu sebagai pilihan. Responden mengecek jawaban yang paling sesuai dengan pendiriannya Responden adalah orang yang memberi informasi melalui kuesioner. Sebaiknya responden adalah pengguna utama atau stakeholder yang berhubungan dengan produk tersebut. 2.1.1.1 Metode Sampling Dalam pembahasan metode sampling ini akan dibahas tentang definisi populasi dan sampel, metode sampling serta teknik penentuan jumlah sampel. 1. Populasi dan Sampel Populasi adalah seluruh kumpulan objek-objek atau orang-orang yang akan dipelajari atau diteliti. Karakteristik populasi dinamakan parameter. Sedangkan sampel adalah bagian dari populasi yang diambil melalui cara-cara tertentu yang dianggap mewakili populasi. Karakteristik sampel dinamakan statistik. 2. Metode Sampling Metode sampling adalah cara pengumpulan data yang hanya mengambil sebagian elemen populasi atau karakteristik yang ada dalam populasi. Berbeda dengan sensus, sensus merupakan cara pengumpulan data yang mengambil setiap elemen populasi atau karakteristik yang ada dalam populasi. Alasan dipilihnya sampling yaitu objek penelitian yang homogen, objek penelitian yang mudah rusak, penghematan biaya dan waktu, 6
masalah ketelitian, ukuran populasi, dan faktor ekonomis. Berikut merupakan jenis-jenis metode sampling: a. Sampling Random 1) Sampling Random Sederhana Sampling random sederhana dilakukan apabila elemen populasi (dianggap) homogen dan tidak diketahui elemen-elemen populasi yang terbagi ke dalam golongan- golongan serta ukuran populasi yang relatif kecil. Berikut langkahlangkah melakukan sampling random sederhana. a) Susun kerangka sampling b) Tetapkan jumlah sampel c) Tentukan jumlah sampel d) Tentukan alat pengambilan sampel e) Pilih sampel sampai dengan jumlah sampel terpenuhi Sampling random sederhana ini dipilih ketika tiap sampel yang berukuran sama memiliki probabilitas sama untuk terpilih dari populasi. Terdapat dua metode pengacakan sampel yaitu metode undian dan tabel random. 2) Sampling Random Berlapis Sampling random berlapis adalah bentuk sampling random yang populasi atau elemen populasinya dibagi dalam kelompok-kelompok yang disebut strata. Sampling random berlapis ini dilakukan bila: a) Elemen populasi heterogen. b) Ada kriteria yang digunakan sebagai dasar untuk mengklasifikasn populasi ke dalam stratum-stratum. c) Ada data pendahuluan dari populasi mengenai kriteria yang akan digunakan untuk stratifikasi. d) Dapat diketahui dengan tepat jumlah satuan-satuan individu dari setiap statum dalam populasi. 3) Sampling Random Sistematis Sampling sistematis adalah bentuk sampling random yang mengambil elemenelemen yang akan diselidiki berdasarkan urutan tertentu dari populasi yang telah disusun secara teratur. Sampling sistematis ini dilakukan apabila identifikasi atau nama dari elemen-elemen dalam populasi itu terdapat dalam suatu daftar dan populasi memiliki pola beraturan. Berikut merupakan langkah-langkah untuk melakukan sampling sistematis: 7
a) Jumlah elemen populasi dibagi dengan jumlah elemen sampel, sehingga didapatkan subpopulasi-subpopulasi yang memiliki jumlah elemen sama (memilihi interval sama). b) Dari subpopulasi pertama dipilih sebuah anggota dari sampel yang dikehendaki, biasanya menggunakan tabel bilangan random. c) Anggota dari subsampel pertama yang terpilih, digunakan sebagai titik acuan untuk memilih sampel berikutnya, pada setiap jarak/interval tertentu. 4) Sampling Random Kelompok Sampling random kelompok adalah bentuk sampling random yang populasinya dibagi menjadi beberapa kelompok (cluster) dengan menggunakan aturan-aturan tertentu, seperti batas alam dan wilayah administrasi pemerintah. Berikut langkahlangkah untuk melakukan sampling kelompok. a) Membagi populasi ke dalam beberapa kelompok. b) Memilih satu atau sejumlah kelompok dari kelompok-kelompok tersebut secara random. c) Menentukan sampel dari satu atau sejumlah kelompok yang terpilih secara random. b. Sampling Non Random 1) Sampling Kuota Sampling kuota adalah teknik untuk menentukan sampel dari populasi yang mempunyai ciri-ciri tertentu hingga jumlah (kuota) yang diinginkan. Anggota populasi manapun yang akan diambil, tidak menjadi masalah, yang penting mempunyai ciri-ciri tertentu dan sesuai dengan jumlah kuota yang ditetapkan. Hal yang terlebih dahulu dilakukan pada sampling kuota ini adalah menetapkan berapa jumlah kuota sebagai jumlah sampelnya. 2) Convenience Sampling Merupakan teknik dalam memilih sampel, peneliti tidak mempunyai pertimbangan lain kecuali berdasarkan kemudahan saja. Seseorang diambil sebagai sampel karena kebetulan orang tersebut berada di situ atau kebetulan dia mengenal orang tersebut. Oleh karena itu, ada beberapa penulis menggunakan istilah accidental sampling - tidak disengaja - atau juga captive sample (man-onthe-street). Jenis sampel ini sangat baik jika dimanfaatkan untuk penelitian penjajakan, yang kemudian diikuti oleh penelitian lanjutan yang sampelnya diambil secara acak (random). Beberapa kasus penelitian yang menggunakan jenis 8
sampel ini, hasilnya ternyata kurang obyektif. 3) Snowball Sampling Merupakan teknik sampling yang banyak dipakai ketika peneliti tidak banyak tahu tentang populasi penelitiannya. Dia hanya tahu satu atau dua orang yang berdasarkan penilaiannya bisa dijadikan sampel. Karena peneliti menginginkan lebih banyak lagi, lalu dia minta kepada sampel pertama untuk menunjukan orang lain yang kira-kira bisa dijadikan sampel. Satuan sampling dipilih atau ditentukan berdasarkan informasi dari responden sebelumnya. 4) Judgment Sampling Merupakan teknik sampling yang satuan sampling-nya dipilih berdasarkan pertimbangan tertentu dengan tujuan untuk memperoleh satuan sampling yang memiliki karakteristik atau kriteria yang dikehendaki dalam pengambilan sampel. Sesuai dengan namanya, sampel diambil dengan maksud dan tujuan yang diinginkan peneliti atau sesuatu diambil sebagai sampel karena peneliti menganggap bahwa seseorang atau sesuatu tersebut memiliki atau mengetahui informasi yang diperlukan bagi penelitian yang dia buat. Pengambilan sampel ini dapat dibagi dua yaitu judgment sampling dan quota sampling. 3. Teknik Penentuan Jumlah Sampel a. Pendapat Slovin Asumsinya bahwa populasi berdistribusi normal. Dengan rumus: n = N 1+Ne Dimana: 2 untuk populasi kecil (< 10.000) n N E = ukuran sampel = ukuran populasi = persen kelonggaran ketidaktelitian karena kesalahan pengambilan sampel 9
b. Pendapat Gay Ukuran minimum sampel yang dapat diterima berdasarkan pada desain penelitian yang digunakan, yaitu sebagai berikut: 1) Metode deskriptif : 10% populasi, untuk populasi relatif kecil minimal 20 % populasi. 2) Metode deskriptif korelasional, minimal 30 subjek. 3) Metode eksperimental, minimal 15 subjek per kelompok. 2.1.1.2 Rancangan Kuesioner Terbuka Kuesioner disebarkan dengan menggunakan metode sampling random kelompok sesuai dengan kelompok yang menunjang segmentasi yang disasar. Jumlah kuesioner yang disebarkan minimal 30 kuesioner yaitu berdasarkan pendapat Gay metode deskriptif korelatif. Kuesioner bermaksud untuk mengetahui 6 hal mengenai kebutuhan dan keinginan pelanggan yaitu, alasan menggunakan produk, pengalaman selama menggunakan produk, yang disukai dan tidak disukai dari produk yang sekarang, pertimbangan dalam memilih produk, serta perbaikan atau inovasi baru terhadap produk yang sekarang. Berikut merupakan contoh kuesioner terbuka yang digunakan 10
Nama Pekerjaan Usia : : KUESIONER TERBUKA : Meja setrika merupakan alat bantu yang digunakan untuk kita dalam melakukan kegiatan menyetrika pakaian agar lebih mudah dan praktis. Kuesioner ini dibuat untuk mengetahui inovasi apa yang dibutuhkan dari meja setrika. Berikut gambar macam-macam meja setrika. Apakah Anda sering menggunakan meja setrika? Jawab:...... Apakah dengan produk yang sekarang ada, Anda pernah mengalami kecelakaan atau cidera saat menggunakannya? Jelaskan jika pernah? Jawab:...... Apa yang Anda sukai pada saat menggunakan meja setrika? Jawab:...... Apa yang tidak Anda sukai pada saat menggunakan meja setrika? Jawab:...... Inovasi apa yang Anda inginkan pada saat menggunakan terhadap meja setrika? Jawab:...... Gambar 2.1 Kuesioner Terbuka Hasil interaksi dengan responden harus didokumentasikan sebagai bukti bahwa pengambilan data telah dilakukan. Metode untuk dokumentasi di antaranya adalah: a. Rekaman Video b. Rekaman suara c. Catatan d. Foto 2.1.1.3 Uji Kecukupan Data Uji kecukupan data diperlukan untuk memastikan bahwa yang telah dikumpulkan dan disajikan dalam laporan penimbangan tersebut adalah cukup secara obyektif. Berikut macammacam metode uji kecukupan data. 11
1. Uji Kecukupan Data dengan Data Pengamatan Dalam hal ini uji kecukupan data menggunakan data hasil pengamatan bukan jumlah kuesioner. data hasil pengamatan itu contohnya tinggi pertumbuhan anak, lebar kepala anak, waktu pengamatan dan yang lainnya yang bersifat eksperimen. Untuk uji kecukupan data ini menggunakan rumus berikut: 2 k N s = [ N X i 2 ( X i ) 2 ] X i Dimana: N = Jumlah pengamatan yang seharusnya dilakukan k = Tingkat kepercayaan dalam pengamatan Jika tingkat keyakinan 99%,maka k=2,58 3 Jika tingkat keyakinan 95%,maka k=1,96 2 Jika tingkat keyakinan 68%,maka k 1 s = Derajat ketelitian dalam pengamatan. Jika tingkat keyakinan 99% maka s=1% Jika tingkat keyakinan 95% maka s=5%, dst. N X i = Jumlah Pengamatan yang sudah dilakukan = Data Pengamatan (1-1) 2. Uji Kecukupan Data dengan Jumlah Data Cacat yakni: Untuk uji kecukupan data dengan memakai jumlah data cacat memiliki rumus tersendiri N = Z2 pq e2 (1-2) Dimana: N Z p q e = Jumlah pengamatan yang seharusnya dilakukan. = Z (tabel normal) yang berhubungan dengan tingkat ketelitian = Persentase kuesioner layak dengan p = (total kuesioner yang disebar - total kuesioner cacat)/total kuesioner yang disebar = Persentase kuesioner cacat dengan q = 1- p = Persentase kelonggaran ketelitian 12
3. Slovin's Formula Digunakan untuk menghitung ukuran sampel dengan jumlah populasi (N) dan error (e). Ini adalah teknik random sampling untuk mengetahui ukuran sampel. Banyak digunakan jika pertanyaan yang diajukan bersifat kategorikal. n = N 1+Ne 2 Dimana: (1-3) N e n = jumlah populasi; = error yang diharapkan = jumlah sampel Setelah didapatkan hasil dari kuisioner terbuka, dilakukan uji kecukupan data terlebih dahulu. Uji kecukupan data untuk kuesioner terbuka adalah Uji Slovin. Untuk menggunakan rumus ini, pertama ditentukan berapa batas toleransi kesalahan. Batas toleransi kesalahan ini dinyatakan dengan persentase ditentukam toleransi kesalahan 10 % dan proporsi pengguna meja setrika 30 orang. Dengan menggunakan rumus Slovin: n = N 1 + Ne 2 = 30 = 23,07692 23 1 + (30)(0,1) 2 Dengan demikian, jumlah sampel yang dibutuhkan adalah 23. 2.1.2 Menginterpretasikan Data Mentah Menjadi Kebutuhan Pelanggan Selanjutnya hasil kuesioner yang didapat direkap per sub bahasan. Hasil direkap dengan menggunakan tabel agar lebih informatif. Berikut contoh tabel rekap kuesioner mengenai pertimbangan dalam membeli meja setrika. 13
Pertanyaan Tabel 2.1 Rekap Hasil Kuesioner Terbuka Jawaban Jumlah Responden Apakah anda sering menggunakan meja setrika? Sering 22 Lumayan sering 8 Tidak pernah 19 Apakah dengan produk yang sekarang ada, anda pernah mengalami kecelakaan/cidera saat menggunakannya? Jelaskan jika pernah Cidera punggung 3 Setrika jatuh 3 Tangan terkena setrika 3 Lengan sakit 1 Meja Terjungkal 1 Nyaman 8 Apa yang anda sukai pada saat menggunakan meja setrika? Menyetrika jadi lebih mudah 9 Bentuknya yang datar/besar 7 Praktis 3 Biasa aja 3 Kurang panjang/luas 8 Alas meja menggunakan bahan yang tidak tahan panas 2 Apa yang tidak anda sukai pada saat menggunakan meja setrika? Capek 3 Tidak adjustable 2 Meja kurang kuat 3 Mahal 2 Tidak ada tempat untuk meletakkan setrika 3 Tidak praktis 7 Alas dipertebal agar tidak membutuhkan kain tambahan 1 Inovasi apa yang anda inginkan pada saat menggunakan meja setrika? Permukaan meja di perluas 8 Diberi tempat untuk meletakkan baju yang sudah dan sebelum disetrika 3 Tinggi meja dibuat adjustable 6 14
Pertanyaan Jawaban Jumlah Responden Meja bisa dilipat 3 Meja di beri bantalan empuk dan tahan panas 1 Meja diberi gantungan pakaian 1 Diberi tempat duduk yang empuk 1 Colokan listrik ada pada meja setrika 1 Permukaan meja dibuat lebih panjang 1 Permukaan meja dibuat licin 1 Meja diberikan penyangga untuk kaki 2 Warna yang menarik 1 2.1.3 Memfilter Kebutuhan Pelanggan Kemudian dilakukan penyaringan (filter) kebutuhan pelanggan terhadap produk yang akan diproduksi. Berikut ini merupakan tabel filter kebutuhannya. Membuat mudah lelah Mudah capek Tabel 2.2 Filter Kebutuhan Pelanggan Raw Oppurtunities Filter I (Exceptional Oppurtunities) Dapat menyebabkan cidera punggung Tangan terkena setrika Desain meja ergonomis Lengan sakit Tinggi meja tidak adjustable Permukaan meja kurang luas Permukaan meja kurang panjang Permukaan meja setrika luas Alas meja diperlebar 15
Raw Oppurtunities Filter I (Exceptional Oppurtunities) Meja tidak praktis Meja bisa dilipat Meja setrikatidak praktis Meja praktis Tidak ada tempat untuk meletakkan setrika Memiliki tempat untuk meletakkan pakaian Meja diberi tempat untuk menggantung pakaian Memiliki tempat penyimpanan Meja memiliki rak untuk pakaian Bantalan meja empuk Alas meja terbuat dari bahan tidak tahan panas Alas meja dipertebal Material alas permukaan meja tebal Memerlukan kain tambahan pada setiap permukaan meja Nyaman Memiliki penyangga kaki Meja setrika nyaman digunakan Memiliki tempat duduk Meja kurang kuat Material kerangka meja kuat POIN PENTING - Tahap-tahap identifikasi peluang yaitu mulai dari mengumpulkan data mentah, menginterpretasikan data mentah menjadi kebutuhan pelanggan, dan memfilter kebutuhan pelanggan. - Pada tahap mengumpulkan data mentah terdapat 4 metode yang digunakan untuk identifikasi peluang yaitu interview, focus group, survei tertulis (kuesioner), dan observasi produk saat ini yang ditujuka sesuai dengan segmentasinya - Tahap terakhir adalah memfilter kebutuhan pelanggan yang sejenis menjadi lebih global. 16
BAB III IDENTIFIKASI KEBUTUHAN PELANGGAN 3.1 Identifikasi Kebutuhan Pelanggan Proses identifikasi kebutuhan pelanggan merupakan bagian yang integral dari proses pengembangan produk, dan merupakan tahap yang mempunyai hubungan paling erat dengan proses diferensiasi konsep, seleksi konsep, benchmark dengan pesaing, dan menetapkan spesifikasi produk. 3.2 Daftar Pernyataan dan Kebutuhan Pelanggan Berikut ini merupakan syarat-syarat penyusunan kuesioner tertutup yang benar: 1. Sesuaikan jumlah pertanyaan atau pernyataan (jangan terlalu banyak/sedikit) 2. Semakin banyak responden akan mempermudah dalam melakukan uji validitas dan reliabilitas 3. Setiap pertanyaan atau pernyataan tidak boleh ambigu 4. Gunakan kalimat positif Dibawah ini adalah contoh transformasi pernyataan pelanggan menjadi pernyataan kebutuhan. Tabel 3.1 Daftar Pernyataan dan Kebutuhan Pelanggan No Pernyataan Pelanggan Pernyataan Kebutuhan 1 Penggunaan meja setrika cepat membuat lelah Penggunaan meja setrika tidak cepat membuat lelah 2 Permukaan meja setrika yang sempit Permukaan meja setrika luas 3 Meja setrika tidak praktis Meja setrika praktis 4 5 6 7 Meja setrika memiliki tempat penyimpanan yang terbatas Material alas permukaan meja setrika tipis Material kerangka meja kurang kuat / ringkih Meja setrika kurang nyaman digunakan Meja setrika memiliki tempat penyimpanan yang cukup Material alas permukaan meja setrika tebal Material kerangka meja kuat Meja setrika nyaman digunakan 3.3 Rancangan Kuisioner Tertutup Setelah didapatkan daftar kebutuhan pelanggan, maka dilakukan kuisioner tertutup guna mendapatkan apa yang menjadi kebutuhan pelanggan, nilai kepentingan dari masing- masing 17
kebutuhan, serta sebagai perbandingan dengan competitor. Rancangan kuisioner tertutup untuk produk meja setrika adalah sebagai berikut: 18
3.4 Pengujian Data Setelah kuisioner disebarkan, kuisioner perlu dilakukan pengujian data guna data pada instrument bisa digunakan untuk menilai dan mengukur isi dari kuisioner yang disebarkan. Sebelum digunakan untuk keperluan pengembangan produk, hasil kusioner dilakukan uji validitas dan reliabilitas terlebih dahulu. 1. Validitas Validitas berarti sejauh mana ketepatan dan kecermatan alat ukur tertentu dalam melakukan fungsi ukurannya. Uji validitas yang digunakan adalah validitas internal berupa validitas konstruk karena kuisioner digunakan untuk mengukur gejala sesuai dengan yang didefinisikan. Adapun pengujian yang dilakukan adalah menggunakan korelasi. Langkah pengujian validitas menggunakan software SPSS ialah sebagai berikut: a. Buka Variabe View pada SPSS, definisikan semua variable yang akan digunakan. b. Buka Data View, masukkan data yang akan diuji. c. Klik Analyze Correlate Bivariate d. Masukkan seluruh variable beserta jumlah total variable kedalam kotak variable, pilih pearson pada correlation coefficients, Klik OK Berikut merupakan hasil pengujian validitas kuisioner tertutup untuk produk meja setrika. 19
Tabel 3.2 Uji Validitas Kuisioner Correlations P1 P2 P3 P4 P5 P6 Pearson Correlation 1.677 **.737 **.505 **.450 **.819 ** P1 Sig. (2-tailed).000.000.000.001.000 N 53 53 53 53 53 53 Pearson Correlation.677 ** 1.663 **.554 **.515 **.654 ** P2 Sig. (2-tailed).000.000.000.000.000 N 53 53 53 53 53 53 Pearson Correlation.737 **.663 ** 1.639 **.560 **.714 ** P3 Sig. (2-tailed).000.000.000.000.000 N 53 53 53 53 53 53 Pearson Correlation.505 **.554 **.639 ** 1.620 **.606 ** P4 Sig. (2-tailed).000.000.000.000.000 N 53 53 53 53 53 53 Pearson Correlation.450 **.515 **.560 **.620 ** 1.602 ** P5 Sig. (2-tailed).001.000.000.000.000 N 53 53 53 53 53 53 Pearson Correlation.819 **.654 **.714 **.606 **.602 ** 1 P6 Sig. (2-tailed).000.000.000.000.000 N 53 53 53 53 53 53 Pearson Correlation.764 **.627 **.718 **.506 **.574 **.862 ** P7 Sig. (2-tailed).000.000.000.000.000.000 N 53 53 53 53 53 53 Pearson Correlation.843 **.805 **.863 **.768 **.762 **.900 ** TP Sig. (2-tailed).000.000.000.000.000.000 N 53 53 53 53 53 53 **. Correlation is significant at the 0.01 level (2-tailed). *. Correlation is significant at the 0.05 level (2-tailed). 20
Berdasarkan tabel di atas, terlihat bahwa setiap data memiliki nilai lebih dari 0.3 dan memiliki nilai korelasi yang signifikan baik antara level 0.01 dan 0.05 sesuai dengan tanda yang ditunjukkan pada tabel. Hal ini menunjukkan bahwa setiap item pertanyaan valid untuk mengukur apa yang seharusnya diukur. 2. Reliabilitas Reliabilitas adalah sejauh mana hasil pengukuran dapat dipercaya atau diandalkan. Keandalan disini bisa berarti beberapa kali pun variable-variabel pada kuisioner tersebut ditanyakan kepada responden maka hasilnya tidak menyimpang terlalu jauh dari rata-rata jawaban responden. Pengujian reliabilitas dilakukan secara internal dengan menganalisis konsistensi butir- butir yang ada pada kuisioner dengan menggunakan teknik Cronbach-Alfa. Langkah pengujian validitas menggunakan software SPSS ialah sebagai berikut: a. Buka Variabe View pada SPSS, definisikan semua variable yang akan digunakan. b. Buka Data View, masukkan data yang akan diuji. c. Klik Analyze Scale- Reability Analysis d. Masukkan seluruh variable kedalam kolom item, lalu Klik Statistics, centang scale if item deleted, Klik OK Berikut merupakan hasil pengujian reliabilitas kuisioner tertutup untuk produk meja setrika. Tabel 3.3 Tabel uji Reliabilitas Reliability Statistics Cronbach's Alpha N of Items.921 7 21
Berdasarkan tabel diatas, nilai dari Chronbach Alpha bernilai lebih adri 0.6, maka dapat dikatakan bahwa item pertanyaan dalam kuision reliable untuk digunakan. 3.4 Rekap Hasil Kuisioner Tertutup (Nilai Kepentingan) Berikut merupakan rekap hasil kuisioner tertutup untuk produk otoped yang akan dikembangkan No Pernyataan Kebutuhan Tabel 3.4 Hasil Rekap Kuisioner Tertutup Rata-rata nilai ekspektasi produk Rata-rata nilai ekspektasi produk Affga Rata-rata nilai ekspektasi produk Modera Clio 1 Desain meja sesuai postur tubuh (ketinggian dapat diatur) 3.868 3.057 3.453 2 Permukaan meja setrika luas 3.774 3.245 3.189 3 Meja setrika praktis 3.792 3.396 2.830 4 Memiliki tempat penyimpanan 3.623 2.453 3.566 5 Material alas permukaan meja tebal 3.472 3.302 3.164 6 Material kerangka meja kuat 3.811 3.189 3.491 7 Meja setrika nyaman digunakan 3.906 3.226 3.340 Poin Penting: Pada proses identifikasi kebutuhan pelanggan, input yang digunakan merupakan pernyataan pelanggan hasil dari kuesioner terbuka, kemudian dirubah menjadi kebutuhan pelanggan. Setelah membuat daftar kebutuhan pelanggan, maka dibuat rancangan kuesioner tertertutup, yang kemudian disebarkan kepada pelanggan. Melakukan uji validitas dan uji reabilitas terhadap hasil kesioner yang telah disebarkan. Pernyataan kebutuhan pelanggan digunakan sebagai input pada rancangan spesifikasi 22