5 HASIL DAN PEMBAHASAN

dokumen-dokumen yang mirip
C E =... 8 FPI =... 9 P

5 HASIL PENELITIAN. Tahun. Gambar 8. Perkembangan jumlah alat tangkap purse seine di kota Sibolga tahun

VII. POTENSI LESTARI SUMBERDAYA PERIKANAN TANGKAP. Fokus utama estimasi potensi sumberdaya perikanan tangkap di perairan

4. HASIL PENELITIAN 4.1 Keragaman Unit Penangkapan Ikan Purse seine (1) Alat tangkap

TINJAUAN PUSTAKA. dimana pada daerah ini terjadi pergerakan massa air ke atas

Keragaan dan alokasi optimum alat penangkapan cakalang (Katsuwonus pelamis) di perairan Selat Makassar

SELEKSI UNIT PENANGKAPAN IKAN DI KABUPATEN MAJENE PROPINSI SULAWESI BARAT Selection of Fishing Unit in Majene Regency, West Celebes

Gambar 6 Peta lokasi penelitian.

PERIKANAN TUNA SKALA RAKYAT (SMALL SCALE) DI PRIGI, TRENGGALEK-JAWA TIMUR

METODOLOGI 3.1 Waktu dan Tempat 3.2 Alat dan Bahan 3.3 Metode Penelitian 3.4 Metode Pengumpulan Data

Lampiran 1 Layout PPN Prigi

2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Usaha Perikanan Tangkap

seine yang digunakan sebagai sampel, ada 29 (97%) unit kapal yang tidak

4 KEADAAN UMUM. 4.1 Letak dan Kondisi Geografis

8 SELEKSI ALAT TANGKAP DAN TEKNOLOGI YANG TEPAT DALAM PEMANFAATAN SUMBERDAYA LEMURU (Sardinella lemuru Bleeker 1853) DI SELAT BALI

PENDAHULUAN. Sumberdaya perikanan di laut sifatnya adalah open acces artinya siapa pun

4 KEADAAN UMUM LOKASI PENELITIAN

BEBERAPA JENIS PANCING (HANDLINE) IKAN PELAGIS BESAR YANG DIGUNAKAN NELAYAN DI PPI HAMADI (JAYAPURA)

5 HASIL DAN PEMBAHASAN

7 PEMBAHASAN 7.1 Pemilihan Teknologi Perikanan Pelagis di Kabupaten Banyuasin Analisis aspek biologi

4 HASIL. Gambar 18 Grafik kurva lestari ikan selar. Produksi (ton) Effort (trip) MSY = 5.839,47 R 2 = 0,8993. f opt = ,00 6,000 5,000 4,000

6 PEMBAHASAN 6.1 Unit Penangkapan Bagan Perahu 6.2 Analisis Faktor Teknis Produksi

TINJAUAN PUSTAKA, LANDASAN TEORI, KERANGKA PEMIKIRAN DAN HIPOTESIS PENELITIAN

PENGAMATAN ASPEK OPERASIONAL PENANGKAPAN PUKAT CINCIN KUALA LANGSA DI SELAT MALAKA

TOTAL BIAYA. 1. Keuntungan bersih R/C 2, PP 1, ROI 0, BEP

TEKNIK PENANGKAPAN IKAN PELAGIS BESAR MEMAKAI ALAT TANGKAP FUNAI (MINI POLE AND LINE) DI KWANDANG, KABUPATEN GORONTALO

4 HASIL. 4.1 Kondisi Perikanan Ikan Layang di Maluku Utara

3 METODOLOGI PENELITIAN

5 HASIL DAN PEMBAHASAN

6 KELAYAKAN USAHA PERIKANAN

PENGGUNAAN PANCING ULUR (HAND LINE) UNTUK MENANGKAP IKAN PELAGIS BESAR DI PERAIRAN BACAN, HALMAHERA SELATAN

V. GAMBARAN UMUM PERAIRAN SELAT BALI

EVALUASI USAHA PERIKANAN TANGKAP DI PROVINSI RIAU. Oleh. T Ersti Yulika Sari ABSTRAK

EVALUASI ASPEK SOSIAL KEGIATAN PENANGKAPAN IKAN TUNA (THUNNUS SP) OLEH NELAYAN DESA YAINUELO KABUPATEN MALUKU TENGAH

6 HASIL DAN PEMBAHASAN

1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang.

Analisis usaha alat tangkap gillnet di pandan Kabupaten Tapanuli 28. Tengah Sumatera Utara

VIII. PEMANFAATAN SUMBERDAYA PERIKANAN TANGKAP YANG BERKELANJUTAN. perikanan tangkap di perairan Kabupaten Morowali memperlihatkan jumlah alokasi

2 GAMBARAN UMUM UNIT PERIKANAN TONDA DENGAN RUMPON DI PPP PONDOKDADAP

5 HASIL DAN PEMBAHASAN

PENDAHULUAN. yang lokasinya di pantai Timur Sumatera Utara yaitu Selat Malaka. Kegiatan

PENDUGAAN STOK IKAN TONGKOL DI SELAT MAKASSAR SULAWESI SELATAN

KAPAL IKAN PURSE SEINE

PURSE SEINE (PUKAT CINCIN)

ANALISIS USAHA PURSE SEINE DI PELABUHAN PERIKANAN NUSANTARA SIBOLGA KABUPATEN TAPANULI TENGAH PROVINSI SUMATERA UTARA

3 METODE PENELITIAN. 3.1 Tempat dan Waktu Penelitian

Penangkapan Tuna dan Cakalang... Pondokdadap Sendang Biru, Malang (Nurdin, E. & Budi N.)

FISHING GEAR PERFORMANCE ON SKIPJACK TUNA IN BONE BAY DISTRICT LUWU

II. TINJAUAN PUSTAKA Penelitian Terdahulu. Penelitian terdahulu yang dilakukan oleh Saskia (1996), yang menganalisis

STUDI PEMANFAATAN TEKNOLOGI RUMPON DALAM PENGOPERASIAN PURSE SEINE DI PERAIRAN SUMATERA BARAT. Oleh : Universitas Bung Hatta Padang

ANALISIS PERBANDINGAN PENDAPATAN NELAYAN PUKAT CINCIN (PURSE SEINE) DAN PANCING TONDA (TROLL LINE) DI PPP TAMPERAN PACITAN, JAWA TIMUR

PEMBAHASAN 5.1 Tingkat pemanfaatan sumberdaya dan peluang pengembangannya di Maluku

LAMPIRAN. Universitas Sumatera Utara

4. KEADAAN UMUM 4.1 Kedaan Umum Kabupaten Banyuwangi Kedaan geografis, topografi daerah dan penduduk 1) Letak dan luas

5 EVALUASI UPAYA PENANGKAPAN DAN PRODUKSI IKAN PELAGIS KECIL DI PERAIRAN PANTAI BARAT SULAWESI SELATAN

6 KEBERLANJUTAN PERIKANAN TANGKAP PADA DIMENSI EKONOMI

2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Pelabuhan Perikanan Nusantara 2.2 Kegiatan Operasional di Pelabuhan Perikanan

KAJIAN UNIT PENANGKAPAN PURSE SEINE DI PELABUHAN PERIKANAN SAMUDERA BELAWAN (Catching Unit Studies of Purse Seine in Ocean Fishing Port of Belawan)

SAMBUTAN. Jakarta, Nopember Kepala Pusat Penyuluhan Kelautan dan Perikanan

4. GAMBARAN UMUM WILAYAH

5 TINGKAT KEBUTUHAN ES UNTUK KEPERLUAN PENANGKAPAN IKAN DI PPS CILACAP

1 PENDAHULUAN 1. 1 Latar Belakang

3 METODE PENELITIAN. Gambar 2 Peta lokasi penelitian PETA LOKASI PENELITIAN

2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Perikanan Tangkap Kapal / Perahu

4 KERAGAAN PERIKANAN DAN STOK SUMBER DAYA IKAN

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

Produksi (Ton) Trip Produksi (Ton) Pukat Cincin ,

4 HASIL. Gambar 4 Produksi tahunan hasil tangkapan ikan lemuru tahun

Jaring Angkat

4 HASIL TANGKAPAN IKAN PELAGIS KECIL DI PERAIRAN PANTAI BARAT SULAWESI SELATAN

SAMBUTAN. Jakarta, Nopember Kepala Pusat Penyuluhan Kelautan dan Perikanan

4 KEADAAN UMUM DAERAH PENELITIAN

KAJIAN UNIT PENANGKAPAN PURSE SEINE DAN KEMUNGKINAN PENGEMBANGANNYA DI INDRAMAYU

4 HASIL DAN PEMBAHASAN

SELEKSI JENIS ALAT TANGKAP DAN TEKNOLOGI YANG TEPAT DALAM PEMANFAATAN SUMBERDAYA LEMURU DI SELAT BALI

I. PENDAHULUAN. dalam upaya pengelolaan sumberdaya perikanan laut di Kabupaten Malang Jawa

2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Unit Penangkapan Payang Alat tangkap payang

ANALISIS TEKNIS DAN FINANSIAL USAHA PERIKANAN TANGKAP PAYANG DI PELABUHAN PERIKANAN PANTAI (PPP) WONOKERTO KABUPATEN PEKALONGAN

STRUKTUR ONGKOS USAHA PERIKANAN TAHUN 2014

ANALISIS KELAYAKAN USAHA PERIKANAN PUKAT CINCIN DI PELABUHAN PERIKANAN PANTAI (PPP) LAMPULO BANDA ACEH PROPINSI ACEH

ALAT PENANGKAPAN IKAN. Riza Rahman Hakim, S.Pi

PERIKANAN PANCING TONDA DI PERAIRAN PELABUHAN RATU *)

BUPATI JEMBRANA KEPUTUSAN BUPATI JEMBRANA NOMOR 656 TAHUN 2003

4 KONDISI UMUM DAERAH PENELITIAN

TINJAUAN PUSTAKA. Alat ini umumnya digunakan untuk menangkap ikan menhaden (Brevoortia

3. METODE PENELITIAN

III. METODE PENELITIAN

: Perikanan Tangkap Udang Nomor Sampel Kabupaten / Kota : Kecamatan : Kelurahan / Desa Tanggal Wawancara : Nama Enumerator :..

Produktivitas dan Kelayakan Usaha Bagan Perahu di Pelabuhan Perikanan Nusantara Kwandang Kabupaten Gorontalo Utara

: biomassa, jumlah berat individu-individu dalam suatu stok ikan : biomassa pada periode t

THE FEASIBILITY ANALYSIS OF SEINE NET THE MOORING AT PORT OF BELAWAN NORTH SUMATRA PROVINCE

5 HASIL DAN PEMBAHASAN

4 KEADAAN UMUM LOKASI PENELITIAN

BAB III BAHAN DAN METODE

TINJAUAN PUSTAKA. jenis merupakan sumber ekonomi penting (Partosuwiryo, 2008).

VI. KARAKTERISTIK PENGELOLAAN PERIKANAN TANGKAP. Rumahtangga nelayan merupakan salah satu potensi sumberdaya yang

ANALISIS KELAYAKAN FINANSIAL USAHA PERIKANAN TANGKAP DOGOL DI PANGKALAN PENDARATAN IKAN (PPI) UJUNG BATU JEPARA

ANALISIS USAHA JARING INSANG HANYUT (Drift Gill Net) TAMBAT LABUH KAPAL DI PELABUHAN PERIKANAN NUSANTARA SIBOLGA TAPANULI TENGAH SUMATERA UTARA

Transkripsi:

5 HASIL DAN PEMBAHASAN 5.1 Alat Tangkap 5.1.1 Penangkapan ikan pelagis besar Unit penangkapan ikan pelagis besar di Kabupaten Aceh Jaya pada umumnya dilakukan oleh nelayan dengan menggunakan alat penangkapan yang masih tradisional, kondisi ini terlihat dari perlengkapan maupun alat bantu penangkapan yang digunakan masih terbatas, sehingga kapal-kapal yang ada di Kabupaten Aceh Jaya dalam mencari daerah penangkapan masih terbatas, hal tersebut ditandai masih banyaknya kapal-kapal yang ada di Kabupaten Aceh Jaya dalam melakukan penangkapan masih one day fishing. Penangkapan ikan pelagis besar di Kabupaten Aceh Jaya belum menggunakan alat bantu penangkapan yang dapat mengumpulkan ikan seperti rumpon, penangkapan pelagis besar yang dilakukan oleh nelayan pada umumnya mengejar gerombolan dengan memperhatikan tanda-tanda alam dan mencari kayu yang terapung di tengah laut sebagai tempat berkumpulnya ikan-ikan pelagis besar. Unit penangkapan yang dominan digunakan oleh nelayan untuk penangkapan ikan pelagis besar yaitu dengan unit penangkapan pancing tonda dengan mesin pengerak motor tempel dan unit penangkapan gill net, sedangkan purse seine masih sangat terbatas (1) Jaring insang (Gill net) Jaring insang hanyut permukaan (gill net) adalah suatu alat tangkap yang berbentuk empat persegi panjang terdiri dari satu lembar jarring (PA). Pelampung jaring, tali ris pelampung. Untuk menjadi suatu alat tangkap yang utuh diperlukan 20 sampai 30 piece webbing yang digabungkan sehingga alat tangkap tersebut berbentuk suatu alat tangkap yang sempurna dengan panjang 500 sampai 750 meter. Jaring insang hayut permukaan adalah jaring insang permukaan yang cara pengoperasiannya dioperasikan dengan cara dihanyutkan di suatu perairan dan setelah 3-4 jam baru di lakukan penarikan. Alat tangkap gill net permukaan tersebut di operasikan pada malam hari mulai dari sore hari jam 18.00 sampai 6.00 pagi. Dalam satu malam operasi penangkapan dengan gill net dapat di lakukan 2-3 kali penarikan. Ilustrasi jaring insang yang digunakan di Kabupaten Aceh Jaya disajikan pada Gambar 14 dan jenis kapal gill net yang digunakan disajikan pada Gambar 15.

Sumber: Martasuganda, S (2002) Gambar 14 Ilustrasi pengoprasian alat tangkap gill net permukaan. Gambar 15 Jenis armada penangkapan gill net di Kabupaten Aceh Jaya. (2) Pancing tonda (trolling lines) Pancing tonda adalah suatu alat tangkap yang terdiri dari main line, tali perambut, hook, dan umpan palsu, dimana pengoperasiannya dengan cara ditarik oleh perahu atau kapal melintasi gerombolan ikan di suatu perairan. Alat tangkap ini termasuk ke dalam kelompok pancing (Subani dan Barus, 1989). Sedangkan menurut klasifikasi Von Brandt (1984) mengklasifikan alat tangkap ini termasuk dalam kelompok lines dan troll lines. Sedangkan dari cara pengoprasiannya termasuk jenis alat tangkap dengan pengoprasian secara aktif. Pancing tonda (trolling lines) umumnya menggunakan umpan buatan tetapi ada juga yang menggunakan umpan asli (natural bait). Umpan buatan bisa terbuat dari bulu ayam, bulu domba, kain berwarna, plastik atau karet berwarna, berbentuk miniatur menyerupai aslinya. Penangkapan dengan pancing tonda dilakukan pada siang hari dan kegiatan penangkapan dapat menggunakan perahu tempel (out boat) maupun kapal (in boat ). Pada umumnya daerah penangkapan dengan alat tangkap pancing tonda ± 12 25 mil. Alat tangkap yang diturunkan pada saat operasi penangkapan dengan pancing

tonda terdiri dari 2 alat tangkap yang ditarik pada lambung kiri maupun kanan kapal. Untuk penangkapan ikan tongkol jumlah mata pancing yang diserat mencapai 20-30 mata pancing sedangkan untuk penangkapan ikan cakalang dan madidihang, satu alat tangkap masing-masing satu mata pancing dalam satu alat tangkap. Penondaan dilakukan dengan mengulur tali pancing 30-35 meter dari buritan kapal. Hasil tangkapan dari pacing tonda adalah jenis ikan pelagis besar seperti tongkol, madidihang, tenggiri, cakalang, situhuk. Secara umum kapal dan alat tangkat pancing tonda (trolling line) disajikan pada Gambar 16. Gambar 16 Armada penangkapan pancing tonda dan alat tangkap pancing tonda (3) Pukat cincin (Purse seine) Purse seine adalah suatu alat tangkap yang berbentuk empat persegi panjang terdiri dari beberapa bagian, kantong, badan, sayap, serta dilengkapi beberapa bagian lain seperti, tali ris pelampung, tali ris pemberat, pelampung jaring, pemberat, cincin, tali kolor, sehingga alat tangkap tersebut dapat dioperasikan secara melingkar terhadap gerombolan ikan secara maksimal. Di Kabupaten Aceh Jaya purse seine dikenal juga dengan nama pukat langgar atau pukat dimana spesifikasi alat tangkap purse seine yang ada di Aceh Jaya memiliki panjang 1000-1200 m dengan kedalam alat tangkap 30-35 meter. Metode penangkapan purse seine yang berkembang di Aceh Jaya umumnya dengan cara mengejar gerombolan ikan yang dilakukan pada siang hari, sedangkan pada malam hari dengan menggunakan bantuan lampu untuk mengumpulkan ikan. Metode lain yang digunakan oleh nelayan dengan alat tangkap purse seine adalah dengan mencari kayu hanyut di tengah laut bebas yang merupakan tempat ikan berkumpul yang nantinya dilakukan penangkap dengan jarak daerah penangkapan 35-45 mil dari fishing base. Pengoperasian pukat cicin dilakukan dengan menggunakan kapal motor

bermesin diesel dengan PK 140-160 PK dengan lama penangkapan yang dilakukan oleh nelayan 3-4 hari di laut. Dalam pengoprasian purse seine pada malam hari dapat dilakukan 1-2 kali setting sedangkan pada siang hari dapat dilakukan 3-5 kali setting dengan jumlah ABK dalam satu unit penangkapan 17-20 orang. Alat tangkap purse seine di Kabupaten Aceh Jaya lebih dominan menangkap jenis ikan pelagis seperti ikan cakalang, tongkol, madidihang, tengigiri, kembung, dan layang. Dalam mengoperasikan alat tangkap purse seine daerah penangkapan yang menjadi tujuan penangkapan lebih banyak berdasarkan pada pengalaman dengan memperhatikan keadaan kondisi perairan setempat maupun dengan memperhatikan tanda-tanda alam baik kondisi arus maupun kondisi oseanografi yang berpengaruh terhadap pengoprasian alat tangkap purse seine. Secara umum penarikan alat tangkap purse seine di Kabupaten Aceh Jaya disajikan pada Gambar 17 berikut dan spesifikasi unit penangkapan ikan pelagis besar dapat dilihat pada Tabel 12. Gambar 17 Ilustrasi penarikan alat tangkap pukat cincin (purse seine).

Tabel 12 Spesifikasi tiga unit penangkapan ikan pelagis besar di Kabupaten Aceh Jaya tahun 2008 Jenis kapal Armada Penangkapan Alat Alat tangkap Jenis Jumlah Jenis Jarak mesin Abk tangkapan fishing ground P L D Ms P T (m) (m) (m) (cm) (m) (m) P.tonda 7-8 1,30 0,60-200 - Yamaha 2 tongkol 15-30 25 pk madidihang cakalang Purse 20 5 1,70 1-4 1200 32 Mitsubisi 18-22 tongkol 15-35 seine 140.pk madidihang cakalang Gill net 12 2,30 110 4 700 8 Yanmar 3-4 sda 10-20 25.pk Sumber: Hasil penelitian 2008 5.1.2 Produksi Ikan Pelagis Besar 5.1.2.1 Produksi ikan cakalang hasil tangkapan ikan pelagis besar yang dominan di Kabupaten Aceh Jaya adalah jenis ikan pelagis diantaranya ikan cakalang, madidihang, dan tongkol. Hasil tangkapan ikan cakalang dari tahun ke tahun cendrung meningkatan, dimana pada tahun 2002 hasil tangkapan ikan cakalang sebesar 239,2 ton, pada tahun 2003 sebesar 236,7 ton kondisi ini mengalami penurunan produksi sebesar 2,4 ton, sedangkan pada tahun 2004 sebesar 283,3 hal tersebut mengalami peningkatan sebesar 46,6 ton, selanjutnya pada tahun 2005 mengalami penurunan drastis. Sedangkan hasil tangkapan tahun 2006-2008 mengalami peningkatan, dimana produksi hasil tangkapan ikan cakalang tertinggi pada tahun 2008 sebesar 280,328 ton. Kondisi ini dipengaruhi oleh adanya bantuan alat tangkap, kapal dan jenis sarana dan parasarana perikanan tangkap di Kabupaten Aceh Jaya, serta didukung oleh kondisi roda pemerintahan Kabupaten Aceh Jaya sudah berjalan normal. 5.1.2.2 Produksi ikan madidihang Hasil tangkapan madidihang pada tahun 2002 sebesar 173,2 ton dan pada tahun 2004 turun menjadi sebesar 130,9 ton. Hal ini dipengaruhi oleh dipengaruhi oleh musim ikan, kondisi perairan di Kabupaten Aceh Jaya. Namun pada tahun 2005 hasil tangkapan menurun sebesar 32,9 ton. Selanjutnya pada tahun 2006 sampai 2007 sebesar 310,7 (mengalami peningkatan sebesar 278 ton) dan tahun 2008 sebesar 280,3 atau menurun sebesar 30,4 ton.

5.1.2.3 Produksi ikan tongkol Pada produksi hasil tangkapan ikan tongkol selama tujuh tahun di Kabupaten Aceh Jaya sangat rendah dibandingkan dengan jenis ikan cakalang dan madidihang dimana pada tahun 2002 produksi tertinggi sebesar 157,5 ton, penurunan produksi hasil tangkapan terhadap ikan cakalang, madidihang dan tongkol pada tahun 2005 di Kabupaten Aceh Jaya dipengaruhi oleh faktor tsunami yang mengakibatkan sarana dan prasarana perikanan tangkap di Kabupaten Aceh Jaya mengalami kerusakan, namun pada tahun berikutnya hasil tangkapan meningkat, faktor tersebut dipengaruhi oleh adanya bantuan berupa alat tangkap, kapal dan kebutuhan lainya kepada nelayan, sehingga aktivitas perikanan tangkap di Kabupaten Aceh Jaya sudah berjalan normal kembali. Hasil tangkapan terendah terjadi pada tahun 2005 sebesar 36,5 ton dan tertinggi pada tahun 2008 sebesar 287,7 ton. Berdasarkan data yang ada produksi tertinggi dari 3 jenis ikan pelagis besar selama 7 tahun di Kabupaten Aceh Jaya yaitu pada ikan cakalang sebesar 1595,5 ton dengan rata-rata 227,9, madidihang sebesar 1129,8 ton dengan rata-rata 161,4 dan tongkol sebesar 1083,3 ton dengan rata-rata 154,8. Perkembangan produksi hasil tangkapan ikan cakalang, madidihang, dan tongkol disajikan pada Gambar 18 dan perkembangan hasil tangkapan ikan pelagis besar selama kurun waktu 2002-2008 disajikan pada Lampiran 22 dan 24. 400 Produksi (ton) 300 200 100 0 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 Tahun Cakalang Madidihang Tongkol Gambar 18 Perkembangan produksi ikan pelagis besar di Kabupaten Aceh Jaya 2002-2008.

5.1.2.4 Alat tangkap ikan pelagis besar Alat tangkap merupakan suatu alat yang digunakan untuk menangkap jenis ikan yang sesuai dengan tingkah laku ikan, baik jenis ikan pelagis, ikan pertengahan maupun jenis ikan demersal. Alat tangkap yang dominan digunakan oleh nelayan untuk menangkap jenis ikan pelagis besar seperti ikan cakalang, madidihang, dan tongkol pada umumnya di Kabupaten Aceh adalah purse seine, pancing tonda, dan gill net (Tabel 12). Alat tangkap tersebut dioperasikan secara aktif yaitu mengejar gerombolan ikan, menghadang pergerakan ikan, sehingga ikan dapat terkurung dan tertangkap. Perkembangan armada penangkapan ikan pelagis besar di Kabupaten Aceh Jaya sangat disajikan pada Gambar 19. Perkembangan armada 120 100 80 60 40 20 0 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 Tahun Purse seine Pancing tonda Gill net Gambar 19 Perkembangan armada penangkapan ikan pelagis besar di Kabupaten Aceh Jaya 2002-2008. 5.1.3 Upaya Penangkapan Ikan Pelagis Besar 5.1.3.1 Upaya penangkapan ikan cakalang (1) Standarisasi alat tangkap Secara umum setiap alat tangkap mampu menangkap berbagai jenis ikan di suatu daerah penangkapan, namun kemampuan dari masing-masing alat tangkap tersebut berbeda-beda dalam menangkap suatu jenis ikan disuatu perairan. Standarisasi upaya penangkapan perlu dilakukan sebelum melakukan perhitungan catch per unit effort (CPUE) yaitu dengan menbandingkan hasil tangkapan per unit upaya masing-masing alat tangkap. Berdasarkan analisis standarisasi dari tiga alat tangkap pada penangkapan ikan cakalang menunjukkan jumlah CPUE alat tangkap purse seine sebesar 248,110 ton

dengan nilai rata-rata CPUE 35,4 ton, pancing tonda sebesar 21,4 ton dengan nilai rata-rata 3,061 ton, dan gill net 6,522 dengan nilai rata-rata 0,932. Alat tangkap yang dijadikan sebagai pedoman atau standar yang sesuai dari ketiga alat tangkap tersebut adalah purse seine, dimana alat tangkap tersebut memiliki fishing power index (FPI) sama dengan satu (1). Hasil standarisasi alat tangkap tersebut disajikan pada Tabel 13 berikut. Sedangkan proses standarisasi disajikan pada Lampiran 1. Tabel 13 Hasil standarisasi alat tangkap purse seine pada ikan cakalang Tahun FPI Cakalang Purse seine PancingTonda Gill net 2002 1 0,0325 0,111 2003 1 0,039 0,128 2004 1 0,0467 0,103 2005 1 0,055 0,103 2006 1 0,0137 0,128 2007 1 0,0064 0,073 2008 1 0,0048 0,031 Rata-rata 1 0,0283 0,097 (2) Produksi, upaya penangkapan dan CPUE standar ikan cakalang Berdasarkan analisis data standarisasi pada ikan cakalang dimana produksi, effort dan CPUE standar pada alat tangkap purse seine tahun 2002-2008 diperoleh nilai produksi terendah tahun 2005 sebasar 50,78 ton dimana effot 2,37 unit dan CPUE sebesar 21,40 ton. Sedangkan nilai produksi tertinggi pada tahun 2007 sebasar 310,68 ton, effot 10,213 unit dan CPUE sebesar 61,2 ton. Sedangkan effort tertinggi terjadi pada tahun 2003 dengan jumlah 10 unit, sedangkan CPUE tertinggi pada tahun 2008 sebesar 63 ton. Sedangkan hasil analisis CPUE standar ikan cakalang pada alat tangkap purse seine disajikan pada Tabel 14. Tabel 14 Produksi, upaya penangkapan dan CPUE standar ikan cakalang pada alat tangk purse seine Tahun C total (ton) E Std (unit) CPUE std 2002 239,16 9,722 24,600 2003 236,68 10,213 23,175 2004 283,26 9,594 29,525 2005 50,78 2,373 21,400 2006 194,60 4,784 40,680 2007 310,68 5,076 61,212 2008 280,33 4,448 63,025 Jumlah 1595,49 46,209 263,617 Rata-rata 227,927 6,601 37,660 Sumber: Data sekunder diolah

(3) Potensi lestari ikan cakalang Berdasarkan hasil analisis dengan menggunakan 4 model pendekatan schaefer diperoleh nilai validasi yang terendah maupun yang terbaik adalah diperoleh pada pendekatan model equilibrium Schaefer dari pendekatan Walter Hilborn, disequilibrium, dan schunte. Model equilibrium merupakan model best fit yang diandalkan karena nilai rata-rata dari validasinya lebih rendah daripada model yang lain. Untuk mengetahui pembandingan model best fit pada keempat model pendekatan disajikan pada Tabel 15 berikut dan hasil secara keseluruhan dapat dilihat pada Lampiran 2. Tabel 15 Hasil pendekatan empat model surplus produksi pada ikan cakalang. Equilibrium Walter hilborn Disequilibrium Schnute Kesesuaian tanda Sesuai Koefisien determinasi R 2 0,180229 0,66987 0,271429 0,704544 Intercept 53,61045-25,5227 0,66538 1,113309 X variabel -2,416,36 4,244497-0,00953-0,01029 X variabel 2 - -3,91728-0,03265-0,09085 Validasi model 0,1614-3,8715 0,45107 2,45978 Sumber: Data sekunder diolah Selanjutnya kurva hubungan antara produksi (catch), upaya penangkapan (effort), tingkat pemanfaatan dan pengupayaan unit penangkapan ikan di Kabupaten Aceh Jaya menunjukkan pada tahun 2002 sampai 2004 masih pada batas penangkapan lestari, sedangkan penangkapan pada tahun 2007 sebesar 280,33 ton dan tahun 2008 sebesar 310,68 ton sudah melewati penangkapan lestari (Gambar 20). Hasil analisis produksi penangkapan ikan menggunakan model Schaefer menunjukkan upaya penangkapan optimum hasil tangkapan optimum (CMSY) sebesar 297,3 ton/tahun (EMSY) sebesar 11,099222 unit/tahun. Kurva keberlanjutan penangkapan disajikan pada Gambar 20.

Produksi (ton) 350 300 250 200 150 100 2007 2008 2006 2002 2004 CMSY = 297,3564 ton/tahun 2003 50 2005 EMSY = 11,099222 trip/thn 0 0 2 4 6 8 10 12 14 16 18 20 22 24 Effot Gambar 20 Status produksi dan upaya penangkapan ikan cakalang di Kabupaten Aceh Jaya 2002-2008. 5.1.3.2 Upaya Penangkapan Ikan Madidihang (1) Standarisasi alat tangkap Secara umum setiap alat tangkap mampu menangkap berbagai jenis ikan di suatu daerah penangkapan. Namun kemampuan dari masing-masing alat tangkap tersebut berbeda-beda dalam menangkap suatu jenis ikan. Standarisasi upaya penangkapan perlu dilakukan sebelum melakukan perhitungan catch per unit effort (CPUE) yaitu dengan membandingkan hasil tangkapan per unit upaya masing-masing alat tangkap. Berdasarkan analisis standarisasi pada tiga alat tangkap pelagis besar pada ikan madidihang menunjukkan CPUE alat tangkap purse seine sebesar 198,6 ton dengan nilai rata-rata CPUE 28,4 ton, pancing tonda 3,4 ton dengan nilai rata-rata 0,5 ton, dan gill net 14,6 dengan nilai rata-rata 2,1 ton. Terkait dengan ini,alat tangkap yang dijadikan sebagai pedoman atau standar yang sesuai dari ketiga alat tangkap tersebut yaitu alat tangkap purse seine, dimana alat tangkap tersebut memiliki fishing power index (FPI) sama dengan satu (1). Hasil standarisasi alat tangkap purse seine pada ikan madidihang disajikan pada Tabel 16. Sedangkan proses standarisasi alat tangkap dapat dilihat pada Lampiran 3.

Tabel 16 Standarisasi alat tangkap purse seine pada ikan madidihang Tahun FPI madidihang Purse seine PancingTonda Gill net 2002 1 0,0225 0,1028 2003 1 0,0323 0,1290 2004 1 0,00186 0,0991 2005 1 0,0503 0,0995 2006 1 0,0175 0,1323 2007 1 0,0101 0,0610 2008 1 0,0099 0,0308 Rata-rata 1 0,0283 0,0935 Sumber: Data sekunder diolah (2) Produksi, upaya penangkapan dan CPUE standar ikan madidihang Berdasarkan analisis data standarisasi pada ikan cakalang dimana produksi, effort dan CPUE standar pada alat tangkap purse seine tahun 2002-2008 diperoleh nilai produksi terendah tahun 2005 sebasar 32,88 ton effort 2,299 unit dan CPUE sebesar 14,300 dan tertinggi pada tahun 2008 sebasar 332,88 ton dengan CPUE sebesar 67,6. ton. Sedangkan effort tertinggi pada tahun 2003 dengan jumlah 9,779 unit, dengan jumlah CPUE mencapai 198,6 ton dan nilai rata-rata CPUE sebesar 28,4 ton. Hasil analisis CPUE standar ikan madidihang pada alat tangkap purse seine disajikan pada Tabel 17. Tabel 17 Produksi, Upaya penangkapan dan CPUE standar purse seine Tahun C total (ton) E Std (unit) CPUE std 2002 173,22 8,880 19,685 2003 138,71 9,779 14,185 2004 130,83 7,856 16,653 2005 32,88 2,299 14,300 2006 110,26 5,035 21,900 2007 216,552 4,894 44,250 2008 332,88 4,924 67,600 Jumlah 1135,33 43,587 198,573 Rata-rata 162,190 6,227 28,368 (3) Potensi lestari ikan madidihang Berdasarkan hasil analisis dengan menggunakan 4 model pendekatan Schaefer diperoleh nilai validasi yang terendah maupun yang terbaik adalah diperoleh pada pendekatan model equilibrium Schaefer paling rendah nilai validasinya dari pendekatan Walter Hilborn, disequilibrium, dan Schunte. Model equilibrium merupakan model best fit yang diandalkan karena nilai rata-rata dari validasinya lebih rendah dari pada model yang lain. Untuk mengetahui pembandingan model best fit pada keempat model pendekatan disajikan pada Tabel 18, sedangkan hasil analisi dari keseluruhan dapat dilihat pada Lampiran 4.

Tabel 18 Hasil pendekatan empat model surplus produksi pada ikan madidihang Equilibrium Walter Hilborn Disequilibrium Shunute Kesesuaian tanda sesuai Koefisien determinasi R 2 0,099074 0,950607 0,269356 0,504805 Intercept 43,28376 7,143197 0,752777 0,701977 X variabel -2,39554 2,597616-0,00701 0,004318 X variabel 2 - -2,04889-0,006638-0,09166 Nilai validasi 0,320481 29,68731 2,059502-2,14694 Sumber: Data sekunder diolah Selanjutnya kurva hubungan antara produksi (catch), upaya penangkapan (effort), tingkat pemanfaatan dan pengupayaan unit penangkapan ikan madidihang di Kabupaten Aceh Jaya menunjukkan pada tahun 2002 hasil tangkapan mencapai 173,22 ton, tahun 2003 mencapai 138,71 ton dan tahun 2004 mencapai 130,83 ton, tahun 2005 hasil tangkapan menurun dratis menjadi 32,88 ton, tahun 2006 mncapai 110,26 ton tahun 2007 mencapai 216,55 ton dan tahun 2008 mencapai 332,88 ton. (Gambar 21). Hasil analisis produksi ikan menggunakan empat model penduga menunjukkan upaya penangkapan optimum EMSY sebesar 9,034247 unit/tahun, sedangkan hasil tangkapan optimum CMSY sebesar 195,5 ton/tahun. Bila mengacu kepada hasil tangkapan optimum (CMSY) tersebut, maka hasil tangkapan pada tahun 2002-2006 masih dalam batas lestari, sedangkan hasil tangkapan pada tahun 2007-2008 sudah melebihi batas lestari atau CMSY tersebut. Kurva keberlanjutan penangkapan ikan madidihang disajikan pada Gambar 21.

350 2008 300 Produksi (t0n) 250 200 150 100 2007 2006 2004 2002 CMSY = 195, 518114 ton/tahun 2003 50 EMSY = 9,03424751ton/tahun 2005 0 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 Effot Gambar 21 Status produksi dan upaya penangkapan ikan madidihang di Kabupaten Aceh Jaya. 5.1.3.3 Upaya Penangkapan Ikan Tongkol (1) Standarisasi alat tangkap Secara umum setiap alat tangkap mampu menangkap berbagai jenis ikan di suatu daerah penangkapan. Namun kemampuan dari masing-masing alat tangkap tersebut berbeda-beda dalam menangkap suatu jenis ikan. Standarisasi upaya penangkapan perlu dilakukan sebelum melakukan perhitungan catch per unit effort (CPUE) yaitu dengan menbandingkan hasil tangkapan per unit upaya masing-masing alat tangkap. Berdasarkan analisis standarisasi tiga alat tangkap pada penangkapan ikan cakalang menunjukkan jumlah CPUE alat tangkap purse seine sebesar 248,105 ton dengan nilai rata-rata CPUE 35,44 ton, pancing tonda 21,428 dengan nilai rata-rata 3,1 ton, dan gill net 6,5 dengan nilai rata-rata 0,932. sehingga terkait dengan ini maka alat tangkap yang dijadikan sebagai pedoman atau standar yang sesuai dari ketiga alat tangkap tersebut adalah purse seine, dimana alat tangkap tersebut memiliki fishing power index (FPI) sama dengan satu (1). Standarisasi alat tangkap disajikan pada Tabel 19.

Tabel 19 Standarisasi alat tangkap purse seine pada ikan tongkol Tahun FPI tngkol Purse seine PancingTonda Gill net 2002 1 0,0340 0,1159 2003 1 0,0311 0,1392 2004 1 0,0340 0,1376 2005 1 0,1515 0,2221 2006 1 0,0427 0,1667 2007 1 0,0171 0,0895 2008 1 0,0115 0,0387 Jumlah 7 0,3219 0,9096 Rata-rata 1 0,0460 0,1299 (2) Produksi, upaya penangkapan dan CPUE standar ikan tongkol Berdasarkan analisis data standarisasi pada ikan cakalang dimana produksi, effort dan CPUE standar pada alat tangkap purse seine tahun 2002-2008 diperoleh nilai produksi terendah tahun 2005 sebasar 8,5 ton dimana effort 1 unit dan CPUE sebesar 8,5 ton dan catch pada tahun 2006 sebasar 36,3 ton dengan CPUE sebesar 81,15 ton. Sedangkan effort tertinggi pada tahun 2002 dan 2004 dengan jumlah 4 unit, jumlah total CPUE pada ikan tongkol sebesar 159,9 ton dan nilai rata-rata CPUE sebesar 22,9 ton. Analisis CPUE standar ikan tongkol pada alat tangkap purse seine disajikan pada Tabel 20. Tabel 20 Produksi, upaya penangkapan dan CPUE standar purse seine Tahun C total (ton) E Std (unit) CPUE std 2002 157,5 9,984 15,775 2003 144,96 9,980 14,525 2004 130,83 9,828 13,313 2005 36,48 4,292 8,500 2006 122,64 6,757 18,150 2007 243,79 6,403 38,075 2008 287,712 5,573 51,625 Jumlah 1123,91 52,817 159,963 Rata-rata 160,559 7,545 22,852 (3) Potensi lestari ikan tongkol Berdasarkan hasil analisis dengan pendekatan empat model Schaefer diperoleh nilai validasi yang terendah maupun yang terbaik adalah diperoleh pada pendekatan model equilibrium Schaefer dari pendekatan Walter Hirborn, disequilibrium, dan Shunte. Model equilibrium merupakan model best fit yang diandalkan karena nilai rata-rata dari validasinya lebih rendah dari pada model yang lain. Untuk mengetahui pembandingan model best fit pada keempat model pendekatan disajikan pada Tabel 21 berikut dan hasil secara keseluruhan dapat dilihat pada Lampiran 6.

Tabel 21 Hasil pendekatan empat model surplus produksi pada ikan tongkol Equilibrium Walter hilborn Disequilibrium Shunute Kesesuaian tanda Sesuai Koefisien determinasi R 2 0,37457 0,956667 0,261479 0,971089 Intercept 41,56285 22,98709 1,050523 1,684382 X variabel -2,47986 2,301895-0,01089-0,00287 X variabel 2 - -2,97986-0,09046-0,18223 Nilai validasi 0,390073-1,01343 1,0056674 5,554039 Sumber: Data sekunder diolah Selanjutnya kurva hubungan antara produksi (catch), upaya penangkapan (effort), tingkat pemanfaatan dan pengupayaan uni penangkapan ikan di Kabupaten Aceh Jaya menunjukkan pada tahun 2002 sampai 2004 masih pada batas penangkapan lestari, sedangkan pada tahun 2005 catch mencapai 36,48 ton dan tahun 2006 sebesar 122,64 ton, kondisi ini masih dalam penangkapan lestari, sedangkan pada tahun 2007 sebesar 243,79 ton dan 2008 287,7 ton/tahun kondisi ini pada ikan pelagis sudah melebihi tingkat produksi optimum (Gambar 22). Hasil analisis produksi ikan menggunakan model Schaefer menunjukkan upaya penangkapan optimum EMSY sebesar 8,83008 unit/tahun, sedangkan hasil tangkapan optimum CMSY sebesar 174,2 ton/tahun. Kurva keberlanjutan penangkapan ikan tongkol disajikan pada Gambar 22. 300 250 2008 2007 y = -2,4799x 2 + 41,563x - 2E-13 R 2 = 1 Produksi (ton) 200 150 100 2006 CMSY = 174,15 ton/tahun 2002 2003 2004 50 0 2005 EMSY = 8,3800799 unit/thn 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 Effot unit/thn Gambar 22 Status produksi dan upaya penangkapan ikan tongkol di Kabupaten Aceh Jaya.

5.2 Urutan Keunggulan Unit Penangkapan Ikan Pelagis Besar 5.2.1 Keunggulan berdasarkan aspek biologi Keunggulan unit penangkapan ikan pelagis besar dilihat dari aspek biologi penilainya difokuskan pada kriteria komposisi jenis hasil tangkapan (X1), Hasil tangkapan utama (X2), Produksi tangkapan (X3), lama musim ikan (X4), lama musim penangkapan (X5), dan ukuran ikan yang tertangkap (X6), Tabel 26. Penilaian keunggulan unit penangkapan ikan pelagis besar berdasarkan aspek biologi (X1) pancing tonda menempatkan pada urutan prioritas pertama pada (UP1) dan untuk kriteria hasil tangkapan utama (X2) alat tangkap purse seine dan gill net menempatkan urutan pertama pada (UP2), untuk kriteria produksi hasil tangkapan (X3) purse seine menempati urutan pertama pada (UP3), lama musim ikan (X4) alat tangkap gill net pada posisi pertama pada (UP4), lama musim penangkapan (X5) purse seine menempati urutan pertama pada (UP5) sedangkan pada ukuran ikan yang tertangkap (X6) dari ketiga alat tangkap pelagis besar di Kabupaten Aceh Jaya alat tangkap purse seine memiliki pada posisi pertama pada (UP6). Alat tangkap yang termasuk ke dalam jenis line fishing seperti pancing tonda sangat baik dikembangkan kerena memiliki selektifitas yang tinggi. Penilaian aspek biologi unit penangkapan disajikan pada Tabel 22. Tabel 22 Penilaian aspek biologi unit penangkapan ikan pelagis besar No Variabel (Xi) Pancing Gill net Purse seine tonda 1 Komposisi jenis hasil tangkapan (X1) 6 3 5 UP1 1 3 2 2 Hasil tangkapan utama (X2) 5 6 6 Up2 2 1 1 3 Produksi tangkapan (X3) 5 6 10 Up3 3 2 1 4 Lama musim ikan (X4) 3 4 3 Up4 2 1 2 5 Lama musim penangkapan ikan (X5) 5 4 6 Up5 2 3 1 6 Ukuran relatif ikan tertangkap (X6) 4 3 6 Up6 2 3 1 UP: Urutan Prioritas

Tabel 23 Standarisasi aspek biologi unit penangkapan ikan pelagis besar No Fungsi Nilai Variabel (V(Xi)) Pancing Gill net Purse seine Tonda 1 FN Komposisi jenis hasil tangkapan (V(X1)) 1.000 0.000 0.667 2 FN Hasil tangkapan utama (V(X2)) 0.000 1.000 1.000 3 FN Produksi tangkapan (V(X3)) 0.000 0.200 1.000 4 FN Lama musim ikan (V(X4)) 0.000 1.000 0.000 5 FN Lama musim penangkapan ikan (V(X)) 0.500 0.000 1.000 6 FN Ukuran relatif ikan yang tertangkap (V(X)) 0.333 0.000 1.000 Total fungsi nilai (V(A)) 1.833 2.200 4.667 Rataan fungsi nilai 0.306 0.367 0.778 Rangking 3 2 1 Penilaian aspek biologi secara keseluruhan setelah distandarisasi Tabel 23 menempatkan unit penangkapan purse seine pada urutan proiritas pertama dengan nilai 4,667, kemudian secara berurutan gill net sebesar 2,200, dan pancing tonda menempati urutan 3 (ketiga) sebesar 1,833. 5.2.2 Keunggulan berdasarkan aspek teknis Keunggulan unit penangkapan berdasarakan aspek teknis meliputi penilaian panjang kapal (X1), lebar kapal (X2), tinggi kapal (X3), bahan kapal (X4), ukuran GT (X5), daya tahan mesin (X6), sampai pada urutan (X20) secara keseluruhan pada masing-masing tiga alat tangkap pancing tonda, gill net, purse seine tersebut dimana alat tangkap purse seine memiliki urutan prioritas pertama dengan nilai 14 urutan prioritas (UP) dan prioritas kedua diikuti alat tangkap pancing tonda dengan nilai 13 urutan prioritas (UP) ketiga pancing tonda dengan jumlah nilai prioritas 11 (UP). Penilaian keunggulan aspek teknis yang sangat berbeda dari ketiga alat tangkap dimana purse seine menempati urutan prioritas utama diantaranya adalah Panjang kapal (UP1), lebar kapal (UP2), bahan kapal (UP4), alat bantu penangkapan (UP10), ukuran mata jaring (UP11), durasi dalam satu kali houlling (UP15). Selanjutnya penilaian aspek teknis disajikan pada Tabel 24.

Tabel 24 Penilaian aspek teknis unit penangkapan ikan pelagis besar No Variabel (Xi) Pancing Gill net Purse seine tonda 1 Panjang kapal (X1) 4 6 10 UP1 3 2 1 2 Lebar kapal (X2) 2 6 10 UP2 3 2 1 3 Tinggi apal (X3) 2 1 2 UP3 1 2 1 4 Bahan kapal (X4) 2 2 1 UP4 1 1 2 5 Ukuran GT kapal 2 4 6 UP5 3 2 1 6 Umur kapal (X6) 4 4 3 UP6 2 3 1 7 Persepsi nelayan jika diberlakaukan jalur Penangkapan/wilayah penangkapan ikan (X7) 6 6 5 UP7 1 1 2 8 Pendapatan nelayan (X8) 10 6 5 UP8 1 2 3 9 Perlengkapan alat navigasi (X9) 4 3 4 UP9 1 2 2 10 Alat bantu penangkapan (X10) 2 2 4 UP10 2 2 1 11 Ukuran mata jaring (X11) 4 3 4 UP11 1 2 2 12 Karakteristik alat penangkapan ikan (X12) 5 6 6 UP12 2 1 1 13 Tipe unit penangapan ikan (X13) 4 4 3 UP13 1 1 1 14 Teknik dam metode operasional (14) 10 6 4 UP14 1 2 3 15 Durasi dalam satu kali houlling (X15) 2 4 4 UP15 2 1 1 16 Frekuensi hauling dalam 1 trip (X16) 4 2 2 UP16 1 2 2 17 Lokasi daerah penangkapan ikan (X17) 6 5 6 UP17 1 2 1 18 Alasan nelayan mengoperasikan alat tangkap (X18) 4 6 6 UP18 2 1 1 19 Alasan nelayan menangkap ikan (X19) 4 3 4 UP19 1 2 1 20 Persepsi nelayan terhadap pengembangan (X20) 6 6 5 UP20 1 1 2 Up: Urutan prioritas

Tabel 25 Standarisasi aspek teknis unit penangkapan ikan pelagis besar No Fungsi nilai Variabel (V (Xi) Pancing Gill net Purse tonda seine 1 FN panjang kapal (V(X1) 1.000 0.250 0.000 2 FN lebar kapal (V(X2) 1.000 0.500 0.000 3 FN Tinggi kapal (V(X3) 1.000 1.000 0.000 4 FN Bahan kapal (V(X4) 1.000 1.000 0.000 5 FN Ukuran GT kapal (X5) 1.000 0.750 0.000 6 FN Umur kapal (V(X6) 0.750 1.000 0.000 7 FN Daya tahan mesin (V (X7) 1.000 0.571 0.000 8 FN Perlengkapan alat navigasi (V (X8) 1.000 0.500 0.000 9 FN Perlengkapan kapal (V(X9) 1.000 1.000 0.000 10 FN Alat bantu penangkapan (X10) 1.000 1.000 0.000 11 FN Ukuran mata jaring (V(X11) 0.75 0.000 1.000 12 FN Karakteristik ala penangkapan ikan (V(12) 0.000 0.500 1.000 13 FN Tipe unit penagkapan ikan (V (X13) 0.000 1.000 0.000 14 FN Teknik dan metode opersi PI (V(14) 1.000 0.333 0.000 15 FN Durasi dalam satu kali hauliing (V(15) 0.000 1.000 1.000 16 FN Frekuensi hauling dalam 1 trip (V(X16)) 1.000 0.000 0.000 17 FN Frekuensi hauling dalam 1 trip (V(X16)) 1.000 0.000 1.000 18 FN Alasan nelayan mengoperasikan 0.000 1.000 1.000 alat tangkap 19 FN Alasan nelayan menangkap ikan (V(X19)) 1.000 0.000 1.000 20 FN Persepsi nelayan terhadap pengembangan 1.000 0.000 1.000 Total Fungsi nilai (V(A)) 12.000 9.367 13.000 Rataan fungsi nilai 0.600 0.468 0.650 Rangking 1 2 3 Dimana: Urutan terbaik adalah satu (1) sedangkan yang terburuk adalah 3 Skor tertinggi untuk masing-masing kriteria dijadikan skor baku bernilai 1,00 Setelah dilakukan standarisasi dengan menggunakan fungsi nilai Tabel 25. menempatkan unit penangkapan purse seine berada pada urutan pertama dengan nilai sebesar 13.000, pancing tonda sebesar 12.000 dan unit penangkapan gill net sebesar 9.367, artinya alat tangkap purse seine lebih baik fungsi nilai aspek teknisnya dari alat tangkap ketiga tersebut karena memiliki beberapa keunggulan secara teknis. 5.2.3 Keunggulan berdasarkan aspek sosial Keunggulan aspek sosial unit penangkapan pelagis besar penilaiannya dilakukan berdasarkan pada kriteria dianatarnya adalah jumlah nelayan yang terserap (X1), tingkat pendidikan (X2), pengalaman kerja nelayan (X3), Penerimaan nelayan tentang Teknologi baru (X4), kepemilikan unit penangkapan (X5), adanya konflik antar nelayan (X6), persepsi tentang adanya wilayah penangkapan (X7), pendapatan nelayan (X8). Penilaian aspek sosial disajikan pada Tabel 26.

Tabel 26 Penilaian aspek sosial unit penangkapan ikan pelagis besar No Variabel (Xi) Pancing tonda Gill net purse seine 1 Jumlah nelayan yang terserap (X1) 2 2 10 UP1 2 2 1 2 Tingkat pendidikan (X2) 4 4 6 UP2 2 2 1 3 Pengalaman kerja sebagai nelayan (X3) 6 6 5 UP3 1 1 2 4 Penerimaan nelayan pada teknologi baru (X4) 6 4 5 UP4 1 3 2 5 Kemungkinan kepemilikan unit penangkapan 4 4 3 UP5 1 1 2 6 Ada tidaknya konflik antar nelayan (X6) 8 7 10 UP6 2 3 1 7 Persepsi nelayan jika diberlakaukan jalur Penangkapan/wilayah penangkapan ikan (X7) 6 6 5 UP7 1 1 2 8 Pendapatan nelayan (X8) 10 6 5 UP7 1 2 3 Up: Urutan prioritas Penilaian keunggulan unit penangkapan ikan pelagis besar berdasarkan aspek sosial menempatkan purse seine pada urutan prioritas pertama untuk kriteria jumlah nelayan yang terserap (X1) dan tingkat pendidikan (X2). Selanjutnya untuk unit penangkapan kriteria penerimaan nelayan (4) pada unit penangkapan maupun pengalaman kerja (X5) pancing tonda dan gill net menempati pada urutan prioritas pertama (UP3 dan UP4), dan kemungkinan kepemilikan (X5) unit penangkapan alat tangkap gill net, pancing tonda mendapat prioritas pertama pada (UP5). Sedangkan untuk kriteria adanya konflik antar nelayan (X6) purse seine pada urutan prioritas pertama (UP6), berikutnya untuk kriteria persepsi nelayan diberlakukan wilayah penangkapan (X7) purse seine dan gill net mendapat urutan pertama pada (UP7), serta pendapatan nelayan (X8) pancing tonda menempati urutan pertama pada (UP8).

Tabel 27 Standarisasi aspek sosial unit penangkapan ikan pelagis besar No Fungsi Nilai Variabel (V(Xi) Pancing Gill net Purse seine tonda 1 Jumlah nelayan yang terserap (V(X1) 0.000 0.000 1.000 2 Tingkat pendidikan (V(X2) 0.000 0.000 1.000 3 Pengalaman erja sebagai nelayan (X3) 1.000 1.000 0.000 4 Penerimaan nelayan pada teknologi baru (X4) 1.000 0.000 0.500 5 Kemungkinan kepemilikan unit penangkapan 1.000 1.000 0.000 6 Ada tidaknya konflik antar nelayan (X6) 0.333 0.000 1.000 7 Persepsi nelayan jika diberlakaukan jalur Penangkapan/wilayah penangkapan ikan (X7) 1.000 1.000 0.000 8 Pendapatan nelayan (X8) 1.000 0.200 0.000 Total Fungsi nilai (V(A)) 5.333 3.200 3.500 Rataan fungsi nilai 0.667 0.400 0.438 Rangking 1 3 2 Dimana: Urutan terbaik adalah 1 sedangkan yang terburuk adalah 3 Skor tertinggi untuk masing-masing kriteria dijadikan skor baku bernilai 1,00 Setelah penilaian aspek sosial dilakukan standarisasi secara keseluruhan diperoleh proiritas masing-masing dari unit penangkapan Tabel 27. Urutan prioritas pertama yaitu unit penangkapan pancing tonda dengan nilai sebear 5.333. Kemudian secara berurutan yaitu purse seine dengan nilai sebesar 3.500, dan gill net berada pada urutan kerakhir dengan nilai sebesar 3.200. 5.2.4 Keunggulan berdasarkan aspek Kelayakan Keunggulan masing-masing unit penangkapan berdasarkan aspek finansial meliputi penilaian terhadap kriteria biaya investasi kapal (X1), alat tangkap (X2), biaya mesin (X3), biaya BBM (X4), biaya operasional (X5), biaya perawatan kapal (X6), perawatan alat tangkap (X7), perdapatan kotor per jam (X8), biaya penangganan ikan (X9), pendapatan kotor per tahun (X10), pendapatan kotor per trip (11) sampai pada urutan (X14). Penilaian aspek kelayakan terhadap tiga unit penangkapan disajikan pada Tabel 28 berikut.

Tabel 28 Penilaian aspek kelayakan unit penangkapan pelagis besar No Fungsi Nilai Variabel (V(Xi) Pancing Gill net Purse tonda seine 1 Biaya investasi kapal (X1) 10 4 2 UP1 1 2 3 2 Biaya investasi (X2) 10 6 2 UP2 1 2 3 3 Biaya investasi mesin (X3) 6 6 5 UP3 1 1 2 4 Biaya operasional (BBM dan es) (X4) 10 10 6 UP4 1 1 2 5 Biaya logistik (X5) 10 8 2 UP5 1 2 3 6 Biaya perawatan (X6) 5 6 2 UP6 2 1 3 7 Biaya perawtan alat tangkap (X7) 9 6 2 UP7 1 2 3 8 Biaya perawtan mesin (X8) 10 6 2 UP8 1 2 1 9 Biaya penangganan ikan (X9) 10 10 2 UP9 1 1 2 10 Pendapatan kotor per tahun (X10) 10 10 8 UP10 1 1 2 11 Pendapatan kotor per trip (X11) 9 6 10 UP11 2 3 1 12 Pendapatan per jam operasi (12) 4 5 6 UP12 3 2 1 13 Pendapatan kotor per tenaga kerja (X13) 6 6 5 UP13 1 1 4 14 Harga BBM di lokasi (X14) 4 2 2 UP14 1 2 2 UP: Urutan prioritas Penilaian terhadap masing-masing unit penangkapan berdasakan aspek finansial dari 14 kriteria tersebut diatas adalah aspek biaya investasi kapal (X1), dan (X2) pancing tonda menempati sebagai unit penangkapan prioritas utama pada (UP1) dan UP2), pada kriteria biaya investasi mesin (X3), biaya operasiaonal BBM (X4) pancing tonda dan gill net sebagai prioritas utama pada (UP3 dan UP4) dibanding dengan nilai prioritas purse seine, selanjutnya kriteria biaya operasional perbekalan (X5) pancing tonda menempati urutan pertama pada (UP5) karena pada unit penangkapan tersebut memiliki kapal yang kecil dan jumlah tenaga kerja yang sedikit maupun jumlah trip/hari penangkapan, kriteria perawatan kapal (X6) ditempati oleh gill net untuk prioritas utama pada (UP6). Sedangkan pada (X7), (X8) pancing tonda sebagai urutan pertama pada (UP7,UP8) dimana alat tangkap pancing tonda memiliki harga yang lebih murah maupun dari segi perawatan mesin kapal dari kedua unit penangkapan, dimana mesin yang digunakan oleh pancing tonda yaitu mesin stempel (out boat) sedangkan untuk

gill net dan purse seine menggunakan mesin mobil atau yang disebut dengan mesin dalam (In Boat) sehingga diperlukan biaya lebih banyak dibandingkan dengan unit penangkapan pancing tonda. Untuk (X9), (X10) pancing tonda dan gill net menempatkan pada urutan prioritas utama pada (UP9) dan (UP10) dimana biaya-biaya yang dikeluarga untuk kegiatan operasional unit penangkapan tersebut tidak terlalu besar, karena jumlah ABK maupun kebutuhan yang diperlukan lebih kecil dari pada unit penangkapan purse seine, dan untuk kriteria pendapatan kotor per trip (X11), pendapatan per jam operasi (X12) purse seine menempati urutan prioritas utama pada (UP11) dan (UP12), karena unit penangkapan tersebut memiliki spesifikasi yang berbeda dari kontruksi alat tangkap gill net dan pancing tonda seperti panjang alat tangkap, kedalam jaring, sehingga alat tangkap tersebut mampu menangkap ikan dalam jumlah besar, sehingga pendapatan per jam operasi dari unit penangkapan akan berpengaruh pada pendapatan yang diterima oleh masing-masing unit penangkapan. Selanjutnya pada kriteria (X13) pancing tonda dan gill net menempati urutan prioritas utama pada (UP13) dimana jumlah ABK dari unit penangkapan gil net (2-3 orang) sedangkan untuk alat tangkap purse seine (17-20 orang), begitu juga dengan (X14) pancing tonda menempatkan urutan prioritas utama pada (UP14) karena jumlah nilai bahan bakar dari masing-masing unit penangkapan ikan pancing tonda lebih sedikit dibanding alat tangkap gill net dan purse seine. Tabel 29 Standarisasi aspek kelayakan unit penangkapan ikan pelagis besar No Fungsi nilai Variabel (V (Xi) Pancing Gill net Purse tonda seine 1 Biaya investasi kapal (X1) 1.000 0.250 0.000 2 Biaya investasi (X2) 1.000 0.500 0.000 3 Biaya investasi mesin (X3) 1.000 1.000 0.000 4 Biaya operasional (BBM dan es) (X4) 1.000 1.000 0.000 5 Biaya logistik (X5) 1.000 0.750 0.000 6 Biaya perawatan (X6) 0.750 1.000 0.000 7 Biaya perawtan alat tangkap (X7) 1.000 0.571 0.000 8 Biaya perawtan mesin (X8) 1.000 0.500 0.000 9 Biaya penangganan ikan (X9) 1.000 1.000 0.000 10 Pendapatan kotor per tahun (X10) 1.000 1.000 0.000 11 Pendapatan kotor per trip (X11) 0.75 0.000 1.000 12 Pendapatan per jam operasi (12) 0.000 0.500 1.000 13 Pendapatan kotor per tenaga kerja (X13) 1.000 1.000 0.000 14 Harga BBM di lokasi (X14) 1.000 0.000 0.000 Total Fungsi nilai (V(A)) 12.500 9.071 2.000 Rataan fungsi nilai 0.983 0.648 0.143 Rangking 1 2 3

Selanjutnya setelah penilaian aspek sosial dilakukan standarisasi secara keseluruhan diperoleh prioritas masing-masing dari unit penangkapan Tabel 29. Urutan prioritas pertama yaitu unit penangkapan pancing tonda dengan nilai sebesar 11.500. Kemudian secara berurutan yaitu gill net dengan nilai sebesar 10.071, dan purse seine berada pada urutan terakhir dengan nilai sebesar 3.000. 5.2.5 Rangkuman Keunggulan Berdasarkan aspek biologi, teknis, sosial, dan kelayakan Rangkuman keunggulan berdasarkan aspek biologi (X1), teknis (X2), sosial (X3), finansial (X4) unit penangkapan yang merupakan cakupan keseluruh aspek yang menjadi fokus penilaian. Tujuan penilaian keunggulan unit penangkapan adalah untuk mendapatkan jenis alat tangkap yang mempunyai keunggulan secara menyuluruh berdasarkan aspek-aspek tersebut sehingga cocok untuk dikembangkan. Hasil analisis skoring dilakukan terhadap tiga unit penangkapan yang dioperasikan di Kabupaten Aceh Jaya menempatkan unit penangkapan purse seine berada pada urutan prioritas pertama untuk aspek biologi (X1), aspek teknis (X2), sementara pancing tonda menempati urutan prioritas pertama untuk aspek sosial (X3) dan finansial (X4). Rangkuman unit penangkapan disajikan pada Tabel 30. Tabel 30 Rangkuman penilaian aspek biologi, teknis, sosial, dan kelayakan No Jenis unit Kriteria penangkapan X1 Up X2 Up X3 Up X4 Up 1 P.tonda 1.833 3 12.000 2 5,333 1 11.50 1 2 Gill net 2.200 2 9.367 3 3.200 3 10.071 2 3 Purse seine 4.667 1 13.000 1 3.500 2 3.000 3 keterangan : X1 = Biologi X2 = Teknis X3 = Sosial X4 = Finansial UP = Urutan Prioritas Tabel 31 Standarisasi aspek biologi, teknis, sosial, dan finansial pada unit penangkapan ikan pelagis besar No Jenis unit Kriteria Penangkapan V1(X1) V2(X2) V3(X3) V4(X4) V(X) UP 1 P.tonda 0,000 0,725 1,000 1,000 2,725 1 2 Gill net 0,129 0,000 0,000 0,832 0,961 3 3 Purse seine 1,000 1,000 0,141 0,000 2,141 2

Rangkuman penilaian terhadap aspek biologi, teknis, sosial, dan finansial setelah distandarisasi menempatkan unit penangkapan pancing tonda pada urutan prioritas pertama dengan nilai sebesar 2,725. Kemudian prioritas pengembangan kedua diikuti alat tangkap purse seine dengan nilai sebesar 2,141 dan ketiga alat tangkap gill net sebesar 0,961 5.3 Kondisi Kelayakan Usaha Perikanan Tangkap 5.3.1 Analisis kelayakan Kabupaten Aceh Jaya merupakan basis usaha perikanan tangkap yang sangat diperhitungkan di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam. Adapun jenis usaha perikanan tangkap yang cukup diperhitungkan dan diusahakan cukup signifikan di Kabupaten Aceh Jaya adalah usaha perikanan purse seine, gill net, pancing tonda,. usaha perikanan tangkap tersebut berkembang secara turun-temuran. Usaha perikanan gill net, pancing tonda, purse seine merupakan usaha perikanan cukup dominan dan diusahakan oleh nelayan di Kabupaten Aceh Jaya. Hasil analisis finansial terkait pembiayaan usaha perikanan tangkap di Kabupaten Aceh Jaya disajikan pada Tabel 32. Tabel 32 Kondisi pembiayaan (cost) usaha perikanan tangkap di Kabupaten Aceh Jaya. Akhir Tahun Biaya (Rp) Purse seine Gill net Pancing tonda 0 693,000,000 83,000,000 23,000,000 1 810,550,000 85,450,000 83,200,000 2 780,450,000 81,600,000 82,300,000 3 750,470,000 75,450,000 78,900,000 4 745,200,000 69,360,000 77,300,000 5 739,930,000 63,270,000 75,700,000 6 709,950,000 57,120,000 72,300,000 7 679,850,000 53,270,000 71,400,000 Untuk pembiayaan awal (investasi) usaha perikanan purse seine, gill net, pancing tonda di Kabupaten Aceh Jaya membutuhkan modal berturut-turut adalah Rp.693.000.000 Rp.83.000.000. Rp.23.000.000 Pembiayaan awal ini dibutuhkan untuk pengadaan alat tangkap, kapal, dan kelengkapan lainnya. Untuk usaha unit penangkapan purse seine dan gill net, modal awal tersebut lebih banyak digunakan

untuk pengadaan kapal, alat tangkap, mesin kapal dan perlengkapan kapal yang dibutuhkan untuk kegiatan operasi penangkapan, sehingga kapal yang disiapkan tersebut mampu menjangkau daerah penangkapan yang lebih jauh antara 15-45 mil laut, dengan demikian diharapkan Kapal purse seine mampu beroperasi selama 4-5 hari dilaut, gill net 1-2 hari dan pancing tonda satu hari. Manfaat (benefit) ketiga alat tangkap disajikan pada Tabel 33. Tabel 33 Kondisi manfaat (benefit) usaha perikanan tangkap di Kabupaten Aceh Jaya Akhir Tahun Biaya (Rp) Purse seine Gill net Pancing tonda 0 - - - 1 1,632,400,000 178,350,000 142,700,000 2 1,675,650,000 183,650,000 145,600,000 3 1,681,600,000 185,750,000 151,500,000 4 1,684,800,000 188,100,000 158,400,000 5 1,688,000,000 190,450,000 165,300,000 6 1,688,000,000 192,550,000 171,200,000 7 1,737,200,000 197,850,000 174,100,000 Bila melihat jumlah pembiayaan setelah investasi dikeluarkan (Tabel 33), pembiayaan usaha perikanan tangkap di Kabupaten Aceh Jaya terus mengalami peningkatan setiap tahunnya. purse seine merupakan usaha perikanan tangkap dengan kenaikan biaya operasi yang paling tinggi. Pada tahun ke-2, usaha perikanan purse seine, gill net dan pancing terus mengalami kenaikan biaya sampai ke 7. Hasil analisis finansial terhadap manfaat (benefit) ketiga usaha perikanan tangkap di Kabupaten Aceh Jaya pada Tabel 24 menunjukkan usaha penangkapan purse seine, gill net dan pancing tonda termasuk usaha dengan manfaat yang paling baik dilihat dari manfaat yang diterima oleh masing-masing unit penangkapan yang melakukan penangkapan di Aceh Jaya.. Perkembangan perbandingan manfaat (benefit) dan cost pengusahaan unit penangkapan purse seine disajikan pada Gambar 23.

Perbandingan Benefit (Bt) dan Cost (Ct) Pengusahaan Alat Tangkap Purse Seine Nilai Bt atau Ct (Rp) 2,000,000,000 1,800,000,000 1,600,000,000 1,400,000,000 1,200,000,000 1,000,000,000 800,000,000 600,000,000 400,000,000 200,000,000-0 1 2 3 4 5 6 7 8 Waktu Operasi (Tahun) Bt Ct Gambar 23 Perbandingan manfaat (Bt) dan pembiayaan (Ct) penguasaan alat tangkap purse seine di Kabupaten Aceh Jaya. Pada alat tangkap gill net (Gambar 26) cost yang dikeluarkan dari tahun ketahun cendrung meningkat. Penurunan hanya terjadi pada tahun kedua karena daerah penangkapan yang dijangkau oleh alat tangkap gill net tidak jauh serta pada tersebut adanya musim ikan di wilayah penangkapan, sehingga kebutuhan biaya operasional dapat dikurangi. Sedangkan kondisi manfaat yang terjadi dari tahun ke tahun mengalami peningkatan, dimana pada tahun pertama 178,350,000 dan kedua 183,650.000 dan sampai pada tahun ke tujuh mengalami peningkatan. Perbandingan benefit dan cost pengusahaan alat tangkap gill net disajikan pada Gambar 26 dan perbandingan benefit dan cost pengusahaan alat tangkap pancing tonda disajikan pada Gambar 24. Perbandingan Benefit (Bt) dan Cost (Ct) Pengusahaan Alat Tangkap Gillnet 250,000,000 Nilai Bt atau Ct (Rp) 200,000,000 150,000,000 100,000,000 50,000,000-0 1 2 3 4 5 6 7 Waktu Operasi (Tahun) Bt Ct Gambar 24 Perbandingan perilaku manfaat (benefit) dan cost pengusahaan alat tangkap gill net di Kabupaten Aceh Jaya.

Perbandingan Benefit (Bt) dan Cost (Ct) Pengusahaan Alat Tangkap Pancing Tonda 200,000,000 Nilai Bt atau Ct (Rp) 150,000,000 100,000,000 50,000,000-0 1 2 3 4 5 6 7 Waktu Operasi (Tahun) Bt Ct Gambar 25 Perbandingan perilaku manfaat (benefit) dan cost pengusahaan alat tangkap pancing tonda di Kabupaten Aceh Jaya. 5.3.2 Analisis NPV Hasil analisis finansial lanjutan menggunakan parameter NPV, B/C ratio, IRR, ROI, RTO dan RTL untuk setiap usaha perikanan tangkap yang ada di Kabupaten Aceh Jaya. Berdasarkan hasil analisis tersebut terlihat bahwa usaha penangkapan tersebut mempunyai NPV yang positif terhadap alat tangkap masing-masing yaitu purse seine Rp. (0,095) 4,021,356,705, Gill net Rp (0,095) 505,226,479. Pancing tonda Rp. (0,095) 375,453,615 selama 7 tahun waktu operasinalnya. Terkait dengan parameter NPV dari ke tiga alat tangkap tersebut nilai NPV Pancing tonda lebih rendah dibandingkan dengan purse seine dan gill net dimana NPV yang tertinggi terdapat pada unit penangkapan purse seine sebesar Rp. 4.021.356.705 diikuti gill net Rp. 505.226.479, yang berarti ketiga unit penangkapan tersebut memberikan keuntungan cukup menjanjikan selama waktu pengoprasiannya dengan kondisi suku bunga mengacu pada Bank Indonesia yaitu sebesar 9,5 %. Hasil analisis finansial disajikan pada Tabel 34. Tabel 34 Hasil kelayakan usaha perikanan tangkap di Kabupaten Aceh Jaya No Kriteria kelayakan usaha Alat tangkap Purse seine Gill net Pancing tonda 1 NPV (0,095) 4,021,356,705 505,226,479 375,453,615 2 IRR 124,142 % 119,974% 267,163 % 3 B/C 2,00 2,32 1,97 4 ROI 17,02 15,86 48,21 5 RTO 02,353,680,00 02,353,680,00 217,880,000 6 RTL 207,677,647 299,272,000 163,410,000

5.3.3 Analisis B/C ratio Hasil analisis terhadap parameter B/C ratio menunjukkan bahwa usaha penangkapan purse seine, gill net, pancing tonda mempunyai B/C ratio yang besar. Dimana analisis B/C ratio merupakan perbandingan antara total penerimaan dengan total biaya, Semakin besar B/C ratio maka akan semakin besar pula keuntungan yang diperoleh. Terkait dengan ini, maka dapat dikatakan bahwa ketiga usaha penagkapan ini memberikan manfaat lebih dari biaya yang dikeluarkan yaitu masing-masing pada unit penangkapan purse seine sebesar 2.0, unit penangkapan gill net 2,32 dan Pancing tonda sebesar 1.97 maka dengan demikian bahwa nilai keuntungan (manfaat) tersebut menunjukkan lebih besar dari pada jumlah pembiayaan yang dikeluarkan selama waktu pengoperasian usaha tersebut, artinya setiap biaya yang dikeluarkan melebihi dari satu. Usaha penangkapan pancing tonda merupakan usaha unit penangkapan dengan B/C ratio terendah dibandingkan dengan purse seine dan gill net di Kabupaten Aceh Jaya, hal tersebut disebabkan karena cara penangkapan dari alat tangkap tersebut dengan cara mengejar terhadap gerombolan ikan, disamping itu penggunaan jenis bahan bakar yang digunakan adalah bensin dan minyak tanah serta pada kondisi saat itu adanya kenaikan BBM. 5.3.4 Analisis IRR Usaha unit penangkapan purse seine, gill net, pancing tonda termasuk usaha perikanan tangkap dengan nilai IRR masing-masing unit penangkapan purse seine sebesar 124.142 %, Gill net 119,974 %, dan pancing tonda sebesar 267,163 %. Hasil analisis dari ketiga unit penangkapan tersebut menujukkan bahwa menginvestasikan uang pada usaha penangkapan purse seine, gill net, pancing tonda, akan mendatangkan keuntungan yang relatif besar dan lebih tingi daripada disimpan di bank (dengan suku bunga hanya 9,5 % per tahun), yaitu masing-masing 124.142 %, 119,974 %, dan 267,163 % per tahunnya. Oleh karena itu, menginvestasi di bank sebaiknya lebih mengusahakan usaha perikanan purse seine, gill net dan pancing tonda di Kabupaten Aceh Jaya. 5.3.5 Analisis ROI Hasil analisis terhadap parameter ROI sesuai pada Tabel 34 menunjukkan bahwa usaha penangkapan purse seine, gill net, pancing tonda termasuk usaha penangkapan

yang mempunyai tingkat pengembalian investasi (ROI) yang lebih baik yaitu masingmasing unit penangkapan purse seine 17,02, gill net 15,86, dan pancing tonda 48,21, karena ROI merupakan parameter finansial yang paling dalam menyeleksi tingkat pengembalian investasi dari suatu usaha. 5.3.6 Analisis RTO dan RTL Berdasarkan hasil analisis RTO dan RTL menunjukkan usaha penangkapan pancing tonda paling tinggi ROI-nya, bahwa usaha ini dapat mengembalikan investasi sebesar 48,21 kali dari investasi yang ditanam. Selajutnya hasil analisis terhadap parameter RTO menunjukkan bahwa usaha penangkapan purse seine, gill net, pancing tonda yang diterima masing-masing pemilik pada unit penangkapan purse seine sebesar 2,353,680,000, gill net 299,272,000, dan pancing tonda sebesar 217,880,000. dimana kondisi ini sangat layak dan sangat perlu dikembangkan terhadap ketiga alat tangkap di Kabupaten Aceh Jaya. Dan parameter RTL terhadap penerimaan buruh selama tujuh tahun operasional terhadap ABK menunjukkan bahwa usaha penangkapan purse seine sebesar 207,677,647, gill net 149,636,000, dan pancing tonda sebesar 163,410,000. maka dengan demikian perlu dikembangkan dan layak diusahakan. Untuk hasil finansial tiga alat tangkap dapat dilihat pada Lampiran 7, 8 dan 9. 5.4 Pembahasan 5.4.1 Perkembangan perikanan ikan pelagis besar Kabupaten Aceh Jaya memiliki perairan laut yang luas dimana nelayan dalam memanfaatkan sumberdaya ikan pelagis besar berada pada perairan zona 9 (sembilan) atau yang disebut dengan Wilayah perairaan Samudera Hindia. Penangkapan ikan pelagis besar yang ada di Kabupeten Aceh Jaya masih terbatas baik dari segi jenis alat tangkap yang digunakan, ukuran kapal, alat bantu penangkapan, sarana dan prasarana perikanan tangkap, serta jumlah nelayan maupun tingkat smberdaya nelayan dalam memanfaatkan sumberdaya ikan pelagis besar di wilayah Samudera Hindia masih sangat rendah. Ikan pelagis besar merupakan hasil tangkapan yang paling dominan tertangkap oleh nelayan di Kabupaten Aceh Jaya dengan menggunakan unit penangkapan pukat cincin (purse seine), jaring insang permukaan (gill net), dan pancing tonda. Dilihat dari produksi hasil tangkapan dari ketiga jenis ikan pelagis besar seperti ikan cakalang

pada tahun 2002 mencapai 239,160 ton per/tahun dan meningkat pada tahun 2004 sebesar 283,260 ton/tahun. Kondisi ini dipengaruhi oleh adanya kapal lain yang melakukan penangkapan di wiliyah perairan Aceh Jaya sehingga kapal tersebut menurunkan hasil tangkapannya, selanjutnya adanya permintaan masyarakat tentang kebutuhan ikan di Kabupaten Aceh Jaya yang merupakan Kabupaten baru (Aceh Jaya) pemekaran dari Kabupaten Meulaboh di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam. Pada tahun 2005 produksi menurun drastis akibat adanya bencana tsunami dan pada tahun 2006 sampai 2008 meningkat disebabkan karena sarana dan parasarana perikanan tangkap berupa kapal, alat tangkap dan kebutuhan pendukung lainya yang ada di Kabupaten Aceh Jaya, dari sisi lain sudah normalny roda pemerintah sehingga masyarakat sudah kembali melakukan aktivitasnya dilaut, begitu juga terhadap jenis ikan madidihang pada tahun 2002 sebesar 173,22 ton per/tahun dan tahun 2005 menurun, selajutnya pada tahun 2006-2008 setelah adanya bantuan kapal maupun alat tangkap di Kabupaten Aceh Jaya produksi hasil tangkapan meningkat sebesar 332,88 ton/tahun, kondisi ini terjadi juga seperti pada ikan tongkol dari tahun 2002 sebesar 157,50 ton dan menurun sampai tahun 2004 menjadi 127,80 ton sedangkan tahun 2005 menurun drastis kondisi ini sama yang terjadi pada jenis ikan cakalang dan madidihang akibat bencaa stunami, namun pada tahun 2006 sampai tahun 2008 mengalami peningkatan. Peningkatan produksi dari tiga jenis ikan pelagis besar tesebut sangat dipengaruhi oleh faktor cuaca, musim ikan dan sumberdaya ikan, daerah penangkapan, dan jumlah alat tangkap yang ada di Kabupaten Aceh Jaya. Dilihat dari perkembangan jenis unit penangkapan ikan pelagis besar di Kabupaten Aceh Jaya unit penangkapan purse seine pada tahun 2002 sebesar 4 unit dan tahun 2006 sampai 2008 sebesar 2 unit. kondisi ini lebih rendah di bandingkan dengan alat pacing tonda dan giil net, karena unit penangkapan purse seine membutuhkan biaya lebih besar dari pada pancing tonda dan gill net. Selanjutnya unit penangkapan purse seine di wilayah Kabupaten Aceh Jaya belum memiliki fasilitas tambat labuh (pelabuhan) untuk bongkar muat hasil tangkapan, pengisian BBM, dan bahan kebutuhan logistic melaut. Sehingga kapal-kapal purse seine tersebut harus berlabuh jangkar lebih jauh dari daratan. Pada unit penangkapan pancing tonda pada tahun 2002 sebesar 67 unit sedangkan pada tahun 2005 menurun akibat bencana tsunami, pada tahun 2008 sebesar 96 unit. Perkembangan pancing tonda di Aceh Jaya karna adanya bantuan dari

BRR dan NGO internasiaonal, unit penangkapan pancing tonda dengan menggunakan mesin tempel dalam menangkap ikan pelagis besar lebih efektif dari segi bentuk alat tangkap maupun mesin yang digunakan oleh nelayan di daerah tersebut, karena nelayan pada saat selesai melaut kapal langsung dinaikkan kedarat agar lebih mudah dalam menjaga dan merawat. Pancing tonda yang digunakan Kabupaten Aceh Jaya sudah merupakan tradisi turun temurun dalam menangkap jenis ikan pelagis besar seperti cakalang, madidihang, tongkol dan jenis ikan pelagis lainnya. Penggunaan kapal motor stempel di Aceh Jaya juga dipengaruhi oleh faktor kondisi perairan dan geografi maupun topografi dari wilayah tersebut. Sedangkan unit penangkapan gill net pada tahun 2002 sebesar 32 unit dan menurun pada tahun 2004 menjadi 28 unit, tahun 2005 menurut drastis, namum tahun 2005 sampai 2008 terjadi peningkatan karena adanya bantuan dari BRR dan NGO international. Peningkatan armada pancing tonda maupun gill net sangat berbeda disebabkan oleh biaya kapal, alat tangkap yang cukup mahal sehingga masyarakat lebih memilih alat tangkap pancing tonda dan gill net, selanjutnya bantuan BRR maupun NGO yang ada di Kabupoaten Aceh Jaya lebih banyak mengalokasi jenis bantuan pancing tonda dan gill net di banding alat tangkap purse seine. Unit penangkapan pelagis besar yang ada di Kabupaten Aceh Jaya baik dilihat dari waktu penangkapan, alat bantu penangkapan, kapal maupun produksi hasil tangkapan sangat diperlukan pengembangan tentang teknologi penangkapan, penyediaan sarana dan prasarana perikanan tangkap, penggunaan rumpon sebagai tempat berkumpulnya ikan, dan perlengkapan alat bantu penangkapan navigasi maupun fish faider dalam memanfaatkan sumberdaya ikan pelagis besar di wilayah Samudera Hindia, sehingga sumberdaya tersebut dapat dimanfaatkan secara optimal mungkin dengan tanpa menggangu kelestarian sumberdaya, maka perlu mengetahui informasi tentang status tingkat pemanfaatan sumberdaya yang tersedia, kemampuan alat tangkap, teknologi yang digunakan dan sumberdaya manusia. Nikijuluw (2001) mengatakan bahwa pemamfaatan sumberdaya ika perlu kehati-hatian agar tidak sampai pada kondisi kelebihan penangkapan ikan (over fishing). 5.4.2 Standarisasi alat tangkap Secara umum setiap alat tangkap mampu menangkap berbagai jenis ikan disuatu daerah penangkapan, namun kemampuan dari masing-masing alat tangkap tersebut berbeda-beda dalam menangkap suatu jenis ikan, baik cara penangkapan

maupun kontruksi alat tangkap yang digunakan sangat beragam. Standarisasi yang dilakukan terhadap alat tangkap purse seine, pancing tonda dan gill net yang ada di Kabupaten Aceh Jaya menempatkan alat tangkap purse seine sebagai alat tangkap yang standar untuk menangkap jenis ikan pelagis besar. Salah satu faktor bahwa alat tangkap yang standar yaitu mempunyai laju tangkapan CPUE terbesar yaitu pada purse seine jenis ikan cakalang sebesar 248,105 ton dengan rata-rata 35,44 memiliki fishing power indek (FPI) sama dengan satu, (Tampubolon dan Sutejo, 19983 Vide Tiennasari, 2000), sedangkan pacing tonda laju tangkap CPUE dengan jumlah 6,522 ton, FPI rata-rata 0,0283 dan gill net memiliki CPUE dengan jumlah 21,428 ton, FPI rata-rata 0,097. Sedangkan pada ikan madidihang CPUE yang paling tinggi sebesar 198,573 ton dengan rata-rata CPUE 28,367 dengan FPI satu, selanjutnya pada ikan tongkol CPUE sebesar 159,96 ton dengan rata-rata 22,85, FPI satu. Dari hasil standarisasi tiga jenis alat tangkap dari tiga jenis ikan purse seine merupakan alat tangkap yang standar untuk menangkap ikan pelagis besar di Kabupaten Aceh Jaya, karena alat tangkap tersebut memiliki jumlah CPUE yang tinggi dan fishing power indek (FPI) satu. Maka alat tangkap tersebut dapat dianalogikan hasil tangkapan ikan pelagis besar dari alat tangkap pancing tonda dan gill net seperti ikan cakalang, madidihang dan tongkol merupakan hasil tangkapan dari alat tangkap purse seine. Faktor-faktor yang merupakan purse seine sebagai alat yang standar dan lebih baik dalam menangkap ikan pelagis besar sangat di pengaruhi oleh panjang alat tangkap, kedalaman alat tangkap, cara pengoperasian, daerah penangkapan, alat bantu penangkapan, dan kemampuan tangkap itu sendiri, sehingga alat tangkap tersebut sangat dipengaruhi terhadap produksi yang dihasilkan. 5.4.3 Status Produksi Ikan Pelagis Besar 1. Status produksi ikan cakalang Hasil analisis produksi ikan dengan menggunakan model surplus produksi Schaefer pada ikan cakalang menunjukkan nilai cacth maximum sustainable yield (CMSY) sebesar 297,4 ton/tahun dengan EMSY sebesar 11,093 unit/tahun. Hasil tangkapan pada tahun 2008 sebesar 280,33 ton dengan effot standar sebesar lima unit. Hal tersebut berarti bahwa tingkat pemanfaatan sumberdaya ikan di Kabupaten Aceh Jaya pada tahun 2008 memcapai 94,27 %.

Pemanfaatan sumberdaya ikan cakalang di Kabupaten Aceh Jaya dalam kurun waktu 2002-2004 belum mencapai titik maximum sustainable yield (CMSY) sebagai mana di sajikan pada Gambar 20 tetapi pada tahun 2007 produksi ikan pelagis sebesar 310,68 ton dan 2008 sebesar 280,33 ton, pemanfaatan sumberdaya ikan cakalang pada tahun tersebut sudah melebihi batas titik maximum. Salah satu faktor tersebut diatas sangat dipengaruhi oleh adanya bantuan kapal di Kabupaten Aceh Jaya baik dari NGO dan Pemerintah. Sedankan dari sisi lain terdapatnya armada penagkapan yang melakukan penagkapan di perairan Aceh Jaya, sehingga hasil tangkapan dari armada tersebut sebagian besar diturunkan di TPI Kabupaten Aceh Jaya serta bertambah permitaan akan kebutuhan ikan bagi masyarakat sebagai Kabupaten baru di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam. 2. Status produksi pada ikan madidihang Berdasarkan hasil pendekatan empat model penduga ikan madidihang CMSY sebesar 195,51 ton/thn dengan EMSY sebesar 9 unit/tahun. Hal ini berarti bahwa tingkat pemanfaatan sumberdaya ikan madidihang di Kabupaten Aceh Jaya pada tahun 2008 memcapai 65.08 %. Pemanfaatan sumberdaya ikan madidihang di Kabupaten Aceh Jaya dalam kurun waktu 2002-2006 belum mencapai titik catch Maximum Sustainable Yield (CMSY) Gambar 21 tetapi pada tahun 2007 produksi ikan pelagis besar yaitu 216,6 ton dan 2008 sebesar 332,88 ton, pemanfaatan sumberdaya ikan cakalang pada tahun tersebut sudah melebihi batas titik maximum penangkapan. Salah satu faktor melebihi batas optimun pada tahun 2007 dan 2008 yaitu adanya bantuan armada penangkapan di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam dan meningkatnya saran dan prasarana penangkapan di setiap Kabupaten akibat bencana tsunami oleh NGO dan Pemerintah. 3. Status produksi pada ikan tongkol Pada ikan tongkol CMSY sebesar 174,15 ton/trip dan EMSY sebesar 8 unit/tahun. Hasil tangkapan pada tahun 2008 sebesar 287,712 ton dan effot stndar sebesar 5,573 trip/tahun sedangkan tahun 2007 sebesar 243,79 ton/tahun dan effot standar sebsar 6,4 unit/tahun. Hal ini berarti bahwa tingkat pemanfaatan sumberdaya ikan pelagis besar di Kabupaten Aceh Jaya pada tahun 2007 dan 2008 melebihi batas optimum. Pemanfaatan sumberdaya ikan tongkol di Kabupaten Aceh Jaya dalam kurun waktu 2002-2006 belum mencapai titik maximum sustainable yield (CMSY) Gambar

22, kondisi ikan pelagis besar di Kabupaten Aceh Jaya pada tahun 2002-2006 belum melebihi batas tangkap hal tersebut masih minimnya armada penangkapan, sarana dan prasarana penangkapan serta kurangnya perhatian Pemerintah Provinsi dalam hal pengembangan perikanan tangkap di setiap Kabupaten khususnya di Aceh Jaya yang merupakan Kabupaten pemekaran dari Meulaboh. Sedangkan tujuan di lakukan pendekatan dari empat model penduga dalam mengetahui status ikan pelagis besar adalah agar data yang ada dengan hasil analisis tersebut lebih mendekati kebenaran. 5.4.4 Kriteria Keunggulan Unit Penangkapan 1 Aspek biologi Keunggulan unit penangkapan dari aspek biologi fokus penilaian pada, komposisi jenis hasil tangkapan, hasil tangkapan utama, produksi tangkapan, lama musim ikan dan lama musim penangkapan ikan maupu ukuran ikan tertangkap (Tabel 22 dan 23). Berdasarkan penilaian aspek biologi unit penangkapan ikan dengan menggunkan fungsi nilai purse seine menempatkan sebagai prioritas utama jaring insang (gill net) pada posisi kedua dan pancing tonda pada urutan ketiga. Komposisi hasil tangkapan pancing tonda menjadi proiritas utama. Hal ini berkaitan dengan kondisi fisik daerah penangkapan berada pada zona Samudera Hindia, dimana perairan tersebut terdapat banyaknya karang-karang yang merupakan daerah produktifitas ikan-ikan kecil yang menjadi bahan makanan bagi ikan pelagis besar. Dari sisi lain pemanfaatan sumberdaya ikan pelagis besar di Kabupaten Aceh tidak menggunakan alat bantu penangkapan yang berupa rumpon, sehingga komposisi ikan yang tertangkap lebih besar dengan alat tangkap pancing tonda, faktor lain yang mendukung daerah penangkapan tersebut merupakan jalur migrasi jenis ikan pelagis besar yang datang dari wilayah zona satu selat malaka maupun dari zona tiga yaitu dari laut jawa. Hasil tangkapan utama dari ketiga alat tangkap yang paling dominan dan kemampuan tangkap lebih besar dalam menangkap jenis ikan pelagis besar yaitu purse seine menempatkan pada urutan proritas utama, karena purse seine dalam mengoperasikan alat tangkap harus mengetahui jenis ikan yang ditangkap dalam bentuk bergerombol dengan species yang sama, sedangkan gill net pada urutan proiritas kedua, dan pancing tonda pada urutan ketiga. Unit penangkapan pada kriteria produksi hasil tangkapan dari ketiga alat tangkap purse seine menempatkan pada ururtan prioritas utama, karena purse seine

memiliki alat tangkap yang panjang maupun kedalaman yang cukup, serta memiliki kemampuan tangkap lebih besar dan mampu beroperasi siang maupun malam, sehingga jenis ikan-ikan yang berbentu bergerombol dalam jumlah banyak dapat tertangkap semaksimal mungkin. Gill net pada urutan proiritas kedua sedangkan pancing tonda berada pada urutan ketiga. Pada unit penangkapan gill net dioperasikan setiap saat karena daerah penangkapan yang dijangkau tidak terlalu jauh dari fishing base lebih kurang 10-15 mill laut sehingga kebutuhan BBM, kebutuhan es, bahan makanan tidak membutuhkan biaya yang besar. Daerah penangkapan yang mejadi tujuan penangkapan bagi alat tangkap tersebut cukup luas sehingga alat tangkap dapat dioperasikan lebih maksimal. Salah satu faktor kendala pada pengorasian dengan alat tangkap gill net yaitu diantaranya adalah bulan terang dan gelombang karena gill net dioperasikan pada malam hari. Sehingga gill net pada kriteria ini mendapat prioritas utama pada lama musim ikan. Selanjutnya pada unit penangkapan pancing tonda tidak jauh berbeda fator-faktor yang menjadi kendala dalam mengoperasikan alat tangkap, namun pada pancing tonda operasi penangkapan dilakukan pada siang hari. Unit penangkapan purse seine walaupun memiliki kontruksi kapal yang besar, memiliki lampu pengumpul ikan, kebutuhan es, bahan makanan, BBM, dan memiliki kapasitas palkah yang cukup, karena purse seine dalam melakukan penangkapan tidak menggunakan alat bantu rumpon, sehingga sangat berpengaruh pada kondisi keadaan laut, bulan terang maupun biaya yang dikeluarkan untuk operasi penangkapan. Pada kriteria lama musim ikan purse seine dan pancing tonda menjadi proiritas kedua pada lama musim ikan. Musim penangkapan merupakan kurun waktu tertentu ada tidaknya hasil tangkapan pada waktu proses penangkapan. Musim penangkapan berhubungan erat dengan aktifitas penangkapan sehingga musim dapat berpengaruh terhadap jumlah tangkapan. Oleh karena itu musim menjadi salah satu faktor yang berpengaruhi produktifirtas unit penangkapan. Unit penangkapan yang menjadi unggulan utama pada kriteria ini adalah purse seine menempatkan pada prioritas utama karena alat tangkap tersebut mampu beroperasi pada siang hari maupun malam hari sehingga waktu penangkapan lebih banyak, selanjutnya pancing tonda pada urutan kedua. Masing-masing unit penangkapan tersebut dioperasikan selama 11 bulan pertahun. Dilihat dari musim penangkapan ikan rata-rata 4-6 bulan pertahun kondisi ini sangat dipengaruhi oleh

keadaan musim barat dan musim timur yang selama ini peralihan musim tersebut tidak sesuia dengan kondisi sehingga perubahan tersebut selalu berubah-rubah. Faktor utama karena desakan ekonomi untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Dari ketiga alat tangkap ukuran ikan yang tertangkap berbeda-beda karena masing-masing alat tangkap memiliki karakteristik alat tangkap yang berbeda-beda, baik dilihat dari cara pengoprasian alat tangkap, daerah penangkapan, maupun ukuran mata jaring. Pada ukuran ikan yang tertangkap dengan purse seine terdapat ukuran yang lebih baik karena daerah penagkapan ikan purse seine lebih jauh dari alat tangkap gill net dan pancing tonda, sehingga alat tangkap purse seine menjadi prioritas utama pada kriteria ukuran ikan yang tertangkap, sedangkan pada pancing tonda pada urutan kedua dan gill net pada urutan ketiga. 2 Aspek teknis Aspek teknis merupakan aspek yang berhubugan dengan pengoperasian alat tangkap ikan, purse seine sebagai unit penangkapan yang paling produktif menangkap ikan dan layak untuk dikembangkan. Keunggulan purse seine pada beberapa kriteria panjang kapal, lebar, GT, bahan kapal, perlengkapan kapal dan alat bantu penangkapan. Haluan dan Nurani (1988) menyatakan unit penangkapan purse seine adalah unit penangkapan ikan pelagis yang paling produktif. Lebih lanjut Dahuri (2003) mengatakan salah satu ciri teknologi penangkapan ikan modern adalah memiliki produktifitas yang tinggi. Keunggulan lain pada purse seine adalah karakteristik alat tangkap penangkapan ikan alasan nelayan mengoprasikan alat tangkap, dimana alat tangkap tersebut dapat diopersikan pada siang hari maupun malam hari sehingga nelayan dapat memancing ikan pada malam hari untuk mencari tambahan diluar penghasilan tetap pada alat angkap purse seine. Rendahnya persepsi nelayan terhadap pengembangan alat penangkapan ikan disebabkan karena alat tangkap tersebut membutuhkan biaya investasi yang sangat mahal diantara jenis alat tangkap yang dioperasikan di Kabupaten Aceh Jaya. Investasi yang demikian tinggi berdampak pada terhadap kemampuan dan jumlah kepemilikan alat tangkap dimana hanya pada pengusaha perikanan tertentu yang dapat menjangkau investasi tersebut. Oleh karena itu kepemilikan alat tangkap purse seine tanpa dukungan pemerintah sangat sulit bagi nelayan skala kecil dapat berinvestasi pada usaha penangkapan purse seine.

3 Aspek sosial Secara umum pada aspek sosial pancing tonda sebagai prioritas unggulan utama pada fokus kriteria tingkat pendidikan, pengalaman kerja sebagai nelayan, kemungkinan kepemilikan dan pendapatan nelayan. Karena pancing tonda merupakan alat tangkap yang paling dominan diterima oleh nelayan di Kabupaten Aceh Jaya secara turun temurun serta secara teknis mudah dioperasikan. Hal yang terpenting salah satu faktor yang membuat pancing tonda lebih menonjol dari alat tangkap lain yaitu unit penangkapan tersebut dapat digunakan untuk menangkap ikan pelagis besar, tetapi juga dapat dialihkan berbagai jenis alat tangkap yang dapat dioperasikan dengan kapal tersebut seperti tramel net, hand line, rawai dasar, dan gil net sehingga mengakibatkan tingginya angka kepemilikan pada pancing tonda. Disamping hal tersebut kurangnya perhatian pemerintah daerah terhadap pengembangan perikanan tangkap seperti sarana dan prasarana yang mendukung perikanan tangkap di Kabupaten Aceh Jaya, baik bentuk kapal maupun jenis alat tangkap yang lebih efektif dan sesuai dengan alat tangkap yang digunakan, sehingga pemamfaatan sumberdaya ikan di perairan aceh jaya dapat dimanfaatkan secara optimal. Hasil standarisasi fungsi nilai pada kriteria aspek sosial pancing tonda sebagai prioritas utama kriteria kedua pada unit penangkapan gill net dan ketiga pada unit penangkapan purse seine. 4 Aspek Finansial Fokus utama pada kriteria finansial secara umum meliputi biaya invstasi kapal, alat tangkap, biaya operasional, biaya perawatan, pendapatan per tahun, pendapatan kotor per tenaga kerja. Berdasarkan hasil pada Tabel 28 pancing tonda merupakan unit penangkapan yang paling unggul dan menjadi prioritas utama. Hal ini dapat dipahami karena pancing tonda merupakan unit penangkapan yang paling efektif dari segi biaya-biaya yang dikeluarkan lebih kecil dibandingkan dengan unit penangkapan lainnya. Pada unit penangkapan gill net kriteria-kriteria yang unggul dari unit penangkapan pancing tonda yaitu hanya kriteria harga BBM dilokasi, selanjutnya kriteria yang lainnya hampir mendekati kriteria yang unggul pada unit penangkapan pacing tonda. Sedangkan pada unit penangkapan purse seine kriteria yang lebih unggul yaitu kriteria pendapatan kotor, pendapatan perjam, dan harga BBM dilokasi.

Berdasarkan hasil standarisasi fungsi nilai pada kriteria aspek finansial pancing tonda sebagai prioritas utama sedangkan pada kriteria kedua pada unit penangkapan gill net dan prioritas ketiga pada unit penangkapan purse seine. Untuk hasil analisis skoring secara keseluruhan dapat dilihat pada lampiran 10. Berdasarkan hasil surplus produksi terhadap ikan pelagis besar yaitu cakalang, madidihang dan tongkol memiliki jumlah effot yang berbeda-beda baik yang tertangkap dengan unit penangkapan purse seine, gill net dan pancing tonda. Pada analisis surplus produksi dengan pendekatan empat model penduga purse seine merupakan unit penangkapan yang standar, selanjutnya terhadap unit penangkapan unggulan pancing tonda merupakan unit penangkapan yang layak untuk dikembangnkan di Kabupaten Aceh Jaya berdasarkan beberapa aspek tersebut diatas. Sedangkan untuk pengembangan unit penangkapan terhadap ikan pelagis besar berdasarkan analisis tersebut dapat dikembangkan pancing tonda sebesar 117 unit, gill net 19 unit dan purse seine 3 unit. 5.4.5 Kelayakan Usaha Unit Penangkapan Ikan Hasil kelayakan pengembangan setiap usaha perikanan tangkap yang banyak dilakukan di Kabupaten Aceh Jaya setelah dilakukan analisis terhadap beberapa parameter kelayakan disajikan pada Tabel 34 Berdasarkan tiga unit penangkapan dari usaha perikanan tangkap tersebut layak dikembangkan di Kabupaten Aceh jaya. Dari tiga usaha perikanan tangkap yang layak tersebut usaha perikanan gill net dan merupakan usaha perikanan yang sangat bagus kelayakan finansialnya. Ketiga usaha unit penangkapan ikan pelagis besar nilai sebagai berikut pancing tonda yaitu NPV Rp 375,453,615 dan IRR Rp 267,163 % untuk B/C ratio, 1,97, selanjutnya untuk ROI 48,21, dan RTO 217,880,000 RTL 163,410,000 dengan jumlah ABK 2 orang. Pada analisis NPV nilai yang didapat dari unit penangkapan pancing tonda manfaat investasi > 0 artinya usaha penangkapan pada pancing tonda layak dilanjutkan. Sedangkan pada IRR tingkat suku bunga yang dibebankan 9,5 % pada pancing tonda mampu mengembalikan tingkat suku bunga sebesar 124,142 %. Pada unit penangkapan pancing tonda B/C ratio yang diterima selama operasi penangkapan sebesar 1,97, hal tersebut layak dan menguntungkan karena nilai B/C ratio tersebut lebih besar dari satu, kondisi ini sangat baik dikembangkan bagi usaha pancing tonda dari pada uang tersebut disimpan di Bank. Ada beberapa kemungkinan besar pancing tonda untuk dimasa akan datang tidak layak untuk dijadikan unit

penangkapan pelagis besar karena bahan bakar yang digunakan pancing tonda menggunakan bahan bakar bensin dan minyak tanah, serta terkait dengan harga BBM semakin tinggi, sedangkan dari sisi teknis unit penangkapan tersebut dalam melakukan penangkapan bahan bakar lebih banyak terserap untuk mencari gerombolan ikan. Selanjutnya pada analisis ROI tingkat pengembalian dari investasi sebesar 48,21 selama operasi penangkapan berarti usaha pada unit penangkapan tersebut mampu mengembalikan selama lebih kurang 3 bulan. Dan penerimaan pemilik (RTO) yang diterima selama operasi penangkapan memberikan nilai yang baik sebesar 217,880,000 kondisi ini lebih besar nilai yang diterima dari pada nilai yang dikeluarkan. Sedangkan pada penerimaan buruh (RTL) pada unit penangkapan pancing tonda juga memberikan nilai sebesar 163,410,000 nilai tersebut cukup layak diterima oleh buruh selama operasi penangkapan berjalan sebesar 1,945,350 per bulan. Sedangkan untuk unit penangkapan gill net NPV Rp 505,226,479, IRR 119,974 %, B/C ratio 2,32, selanjutnya untuk ROI 15,86 dan RTO 299,272,000, selanjutnya RTL 149,636,000 dengan jumlah ABK 2-4 ABK. Sedangkan pada unit penangkapan gill net B/C ratio sebesar 2,32 kondisi ini lebih tinggi dibandingkan dengan pancing tonda dan purse seine, hal tersebut dipengaruhi oleh kondisi daerah penangkapan dari gill net lebih dekat dengan fishing base yaitu lebih kurang 8-12 mill laut dengan waktu tempuh 1-1.5 jam, sehingga bahan bakar yang dikeluarkan lebih sedikit. Sedangkan dari metode penangkapan gill net alat tangkap yang sudah di turunkan (setting) dibiarkan sehingga bahan bakar yang digunakan lebih sedikit, dalam operasi penagkapan gill net bahan bakar digunakan lebih besar digunakan untuk menuju ke daerah penangkapan dan kembali ke fishing base, dari sisi lain bahan makanan lebih sedikit karena unit penangkapan tersebut tidak melakukan penangkapan berhari-hari. Selanjutnya pada unit penangkapan purse seine NPV Rp 4,021,356,705, IRR 124,142 %, B/C ratio 2,00, selanjutnya untuk ROI 17,02 dan RTO 2.353,680,000, RTL 207,677,647 dengan jumlah ABK 17-20 orang. Ketiga usaha perikanan tangkap ini terandalkan dan sangat menguntungkan di Kabupaten Aceh Jaya. Salah satu faktor tersebut diantaranya adalah fishing ground dari unit penangkapan gill net, pancing tonda yang luas dan tidak jauh dari fishing base. Selanjutnya minimnya alat tangkap purse seine di Kabupaten Aceh Jaya.