46 BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN A. Gambaran Umum Objek Penelitian Objek penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah perusahaan pembiayaan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode 2010-2013. Sampel dalam penelitian ini ada sebanyak 10 perusahaan dengan menggunakan teknik purposive sampling, dimana sampel penelitian ditentukan berdasarkan kriteria tertentu. Setiap perusahaan pembiayaan yang menjadi sampel, memiliki profil perusahaan masing-masing yang menjelaskan secara detail tentang perusahaan tersebut. Untuk itu, penulis akan menyajikan profil dari perusahaan pembiayaan sebagai berikut : 1. PT Adira Dinamika Multi Finance Tbk. PT Adira Dinamika Multi Finance Tbk atau Adira Finance didirikan pada tahun 1990 dan mulai beroperasi pada tahun 1991. Adira Finance mulai melakukan penawaran umum melalui sahamnya pada tahun 2004 dan Bank Danamon menjadi pemegang saham mayoritas sebesar 75%. Tahun 2009, Bank Danamon kembali mengakuisisi 20% saham Adira Finance sehingga total saham yang dimiliki menjadi 95%. Dengan demikian, Adira Finance menjadi bagian Temasek Holdings yang merupakan perusahaan investasi plat merah asal Singapura. 46
47 2. PT Buana Finance Tbk. PT Buana Finance Tbk. berawal dari pendirian Lembaga Keuangan Swasta Campuran PT BBL Leasing Indonesia (Bangkok Bank Leasing) pada tanggal 7 Juni 1982. Dengan berjalannya waktu perusahaan terus berkembang bersama kemajuan industri pembiayaan di Indonesia. Pada Tahun 2005 Perseroan berubah nama menjadi PT Buana Finance Tbk., dan semakin mengukuhkan eksistensinya di Industri Keuangan dengan dukungan Group Pendiri dari Bank Buana Indonesia. PT. Buana Finance Tbk. merupakan salah satu dari sedikit perusahaan pembiayaan Indonesia yang tercatat sebagai perusahaan publik di Bursa Efek Indonesia sejak tahun 1990 dengan fokus usaha di segmen Leasing (Sewa Guna Usaha) dan pembiayaan konsumen (mobil bekas). 3. PT BFI Finance Indonesia Tbk. Berdiri tahun 1982 sebagai perusahaan patungan dengan Manufacturer Hanover Leasing Corporation, Amerika Serikat, PT BFI Finance Indonesia Tbk. (BFI) merupakan salah satu perusahaan pembiayaan tertua di Indonesia. Pada tahun 1986, PT Bank Umum Nasional dan Essompark Ltd., Hong Kong, mengambil alih kepemilikan Manufacturer Hanover Leasing Corporation dalam Perusahaan. Pada tahun 1990, Perusahaan mengubah izin operasi untuk menjalankan usaha multifinance dan berganti nama menjadi PT Bunas Finance Indonesia. Pada tahun yang sama Perusahaan berganti status menjadi perusahaan publik setelah mencatatkan sahamnya di Bursa Efek Jakarta (BEJ) dan Bursa Efek Surabaya (BES). BFI adalah
48 salah satu perusahaan pembiayaan yang pertama kali menjadi perusahaan publik di tahun 1990. BFI memfokuskan kegiatan bisnisnya pada pembiayaan kendaraan-kendaraan roda empat dan dua, dengan target ke masyarakat golongan ekonomi menengah dan menengah ke bawah. Perusahaan juga membiayai alat-alat berat melalui Sewa Pembiayaan. Secara geografis, bisnis Perusahaan tersebar di seluruh wilayah Indonesia, dan menjadi salah satu dari perusahaan-perusahaan pembiayaan dengan bisnis paling beragam di negeri ini. 4. PT Batavia Prosperindo Finance Tbk. PT Batavia Prosperindo Finance Tbk. (BPF) adalah suatu perusahaan publik yang bergerak di bidang Pembiayaan Konsumen untuk kendaraan bermotor roda empat, terutama kendaraan bekas jenis Penumpang/Pribadi (Passenger) dan Niaga (Commercial). BPF berkantor pusat di Jakarta dan melayani para pelanggannya melalui cabang-cabangnya yang terletak di kota-kota besar di seluruh Indonesia. Sebagai Perusahaan Pembiayaan (Multifinance Company), BPF telah memperoleh ijin usaha Lembaga Pembiayaan dari Departemen Keuangan Republik Indonesia yang mancakup Sewa Guna Pembiayaan (Financial Lease), Anjak Piutang (Factoring), Kartu Kredit (Credit Cards) dan Pembiayaan Konsumen (Consumer Financing) berdasarkan Surat Keputusan Menteri Keuangan Republik Indonesia No. 90/KMK.017/1995 pada tanggal 15 Februari 1995. Pada bulan Juni 2009, BPF menjadi perusahaan publik setelah berhasil melaksanakan Penawaran Umum Perdana (IPO) dan mencatatkan sahamnya di Bursa Efek Indonesia.
49 5. PT Clipan Finance Indonesia Tbk. PT Clipan Finance Indonesia Tbk ( Perseroan atau Clipan Finance ) didirikan pada tahun 1982 sebagai Perseroan berbadan hukum Indonesia dan berkedudukan hukum di Jakarta, yang semula merupakan Perseroan patungan dengan pemegang saham antara lain Credit Lyonnais dari Perancis sebagai pemegang saham mayoritas dan PT Bank Pan Indonesia Tbk ( Panin Bank ). Clipan Finance merupakan salah satu Perseroan pembiayaan tertua di Indonesia yang telah mencatatkan sahamnya di Bursa Efek Jakarta pada tahun 1990. Melalui bursa, pada tahun 1997 Panin Bank mengambil alih kepemilikan saham Perseroan dari Credit Lyonnais yang menjadikan Panin Bank sebagai pemegang saham mayoritas Perseroan hingga kini. Sesuai dengan ketentuan pasal 3 ayat 1 Anggaran Dasar, maksud dan tujuan Perseroan adalah menjalankan usaha sebagai Perseroan Pembiayaan dengan ruang lingkup kegiatan usaha pembiayaan sewa guna usaha, pembiayaan konsumen dan anjak piutang. Saat ini Kegiatan usaha Perseroan lebih difokuskan pada pembiayaan konsumen otomotif retail yang portfolionya telah mencapai 50% dari seluruh total portfolio kegiatan usaha Perseroan. 6. PT Danasupra Erapacific Tbk. PT Danasupra Erapacific Tbk (Defi) mulai operasional pada tahun 1995, dan bergerak dalam leasing, anjak piutang, dan pembiayaan konsumen. Kegiatan usaha Perusahaan dibagi menjadi tiga divisi, yaitu sewa (menyediakan layanan pembiayaan dalam pengadaan barang modal seperti fasilitas dan peralatan produksi), anjak piutang (menyediakan jasa pembiayaan, yang akan membantu pengusaha untuk
50 meningkatkan modal kerja) dan pembiayaan konsumen (menyediakan jasa pembiayaan barang-barang konsumen). 7. PT Mandala Multi Finance Tbk. PT Mandala Multifinance Tbk (Perusahaan) berdiri sejak tahun 1983 dengan nama PT Vidya Cipta Leasing Corporation. Setelah mengalami beberapa perubahan nama, akhirnya pada tanggal 21 Juli 1997 nama PT Mandala Multifinance disahkan berdasarkan Keputusan Menteri Keuangan RI No. 323/KMK.017/1997. Berdasarkan keputusan tersebut, kegiatan usaha Perusahaan meliputi Sewa Guna Usaha, Anjak Piutang, Usaha Kartu Kredit, dan Pembiayaan Konsumen. Sampai saat ini Perusahaan memfokuskan diri pada kegiatan usaha pembiayaan konsumen, khususnya pembiayaan kendaraan roda dua. Perusahaan mencatatkan sahamnya dengan kode [MFIN] di Bursa Efek Indonesia pada tanggal 6 September 2005 dengan menjual sahamnya kepada publik sebesar 24,53%. Kegiatan ini bertujuan untuk memperkuat struktur permodalan serta meningkatkan sumber dana untuk modal kerja Perusahaan. 8. PT Trust Finance Indonesia Tbk. PT Trust Finance Indonesia Tbk (Perusahaan) dahulu PT KIA Asia Finance, didirikan dengan akta notaris Maria Kristiana Soeharyo, S.H., No. 44 tanggal 12 Pebruari 1990. Anggaran Dasar Perusahaan telah mengalami beberapa kali perubahan, terakhir dengan Akta Notaris Robert Purba, S.H., No. 15 tanggal 11 Pebruari 2002 tentang perubahan nama Perusahaan dari PT KIA Asia Finance menjadi PT Trust Finance Indonesia Tbk.
51 Bergabungnya PT KIA Mobil Indonesia (KMI) sebagai salah satu pemegang saham utama Perusahaan sejak tahun 2000, fokus usaha Perusahaan pada pembiayaan pemilikan kendaraan merek KIA. Peralihan usaha utama yang dilakukan Perusahaan tersebut ternyata memberikan hasil yang positif terutama disebabkan karena pada saat yang sama tingkat permintaan masyarakat terhadap mobil KIA cukup tinggi. Pada akhir tahun 2000, KMI melepaskan seluruh kepemilikan sahamnya kepada PT Citratama Cemerlang Persada. Bersamaan waktu dengan Penawaran Umum saham, nama Perusahaan diubah menjadi PT Trust Finance Indonesia, Tbk. Target pasar atas fasilitas pembiayaan yang diberikan Perusahaan yang awalnya hanya membiayai kendaraan khusus merek KIA beralih ke kendaraan merek lain. Namun demikian, Perusahaan tetap menjaga hubungan yang baik dengan agen / distributor KIA. 9. PT Verena Multi Finance Tbk. Pada tahun 2003 PT Verena Oto Finance (Verena), resmi beroperasi sebagai perusahaan pembiayaan otomotif dengan cabang yang tersebar di kota Jakarta. Selanjutnya untuk mengembangkan bisnisnya, maka pada tanggal 25 Juni 2008, PT Verena Oto Finane resmi menjadi Perseroan terbuka dengan nama PT Verena Oto Finance Tbk dimana sahamnya tercatat dan diperdagangkan pada Bursa Efek Indonesia. Untuk mengembangkan usahanya serta memenuhi kebutuhan masyarakat, pada tahun 2010 Perseroan merubah namanya menjadi PT Verena Multi Finance Tbk, dimana fokus pembiayaannya pada pembiayaan otomotif dan sewa guna usaha untuk mesin dan alat berat. Saat ini jumlah cabang Perseroan berjumlah 29 cabang.
52 10. PT Wahana Ottomitra Multiartha Tbk. Sebagai perusahaan pembiayaan sepeda motor terkemuka di Indonesia, PT Wahana Ottomitra Multiartha, Tbk (WOM Finance) memiliki sejarah yang cukup panjang. Perusahaan telah beberapa kali berganti nama. Semula adalah PT Jakarta Tokyo Leasing yang berdiri tahun 1982. Di tahun yang sama namanya berubah menjadi PT Fuji Semeru Leasing. Kemudian di tahun 1997 namanya berubah menjadi PT Wahana Ometraco Multiartha. Mulai tahun 2000, Perusahaan bertransformasi menjadi PT Wahana Ottomitra Multiartha yang dikenal juga dengan "WOM Finance" yang menyediakan pembiayaan untuk sepeda motor baru dan bekas, dengan mayoritas pembiayaan konsumen diberikan untuk sepeda motor merk Honda, Yamaha dan Suzuki. B. Statistik Deskriptif Statistik deskriptif dalam penelitian ini digunakan untuk memberikan informasi mengenai variabel-variabel penelitian seperti OPM, ROE, ROA dan perubahan laba. Analisis memberikan gambaran suatu data yang dilihat dari nilai minimum, maksimum, mean (rata-rata) deviasi standar dari masing-masing variabel. Hasil analisis deskriptif dengan menggunakan eviews 7.2 dari variabel-variabel dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :
53 Tabel 4.1 Statistik Deskriptif Variabel Penelitian Date: 06/29/15 Time: 20:33 Sample: 2010 2013 PERUBAHAN_LABA OPM ROE ROA Mean 40.61225 33.10825 15.52600 5.172000 Median 20.24000 33.44500 14.02000 4.720000 Maximum 769.8900 81.14000 38.68000 19.32000 Minimum -96.09000 0.950000 1.240000 0.140000 Std. Dev. 123.9334 17.86849 8.699154 3.218700 Skewness 5.258268 0.405300 0.674676 2.046138 Kurtosis 31.59251 3.058706 3.370400 10.53208 Observations 40 40 40 40 Cross Section 10 10 10 10 Sumber : Data sekunder yang diolah dengan Eviews 7.2 Hasil analisis deskriptif di atas menunjukkan bahwa jumlah observasi dari penelitian ini adalah 40, penelitian ini menggunakan analisis data panel yaitu gabungan data time series dan cross section, dengan cross section sebanyak 10 perusahaan dan time series selama empat tahun yaitu tahun 2010, 2011, 2012 dan 2013 sehingga diperoleh observasi sebanyak 40. Pada variabel perubahan laba nilai terkecil adalah -96,090000 dan nilai terbesar adalah 769,890000 terdapat pada PT Wahana Ottomitra Multiartha Tbk. Sementara itu diperoleh nilai rata-rata variabel perubahan laba sebesar 40,61225 dan nilai standar deviasi sebesar 123,9334. Pada variabel OPM nilai terkecil adalah 0,950000 yaitu PT Wahana Ottomitra Multiartha Tbk. Nilai terbesar variabel OPM
54 adalah 81,140000 yaitu pada PT Danasupra Erapacific Tbk. Sementara itu diperoleh nilai rata-rata variabel OPM sebesar 33,10825 dan standar deviasi sebesar 17,86849. Pada variabel ROE nilai terkecil adalah 1,240000 yaitu PT Wahana Ottomitra Multiartha Tbk. Nilai terbesar variabel ROE 38,680000 yaitu PT Adira Dinamika Multifinance Tbk. Sementara itu diperoleh nilai rata-rata variabel ROE sebesar 15,526 dan standar deviasi sebesar 8,699154. Pada variabel ROA nilai terkecil adalah 0,140000 yaitu PT Wahana Ottomitra Multiartha Tbk. Nilai terbesar ROA sebesar 19,32 yaitu PT Adira Dinamika Multifinance Tbk. Sementara itu diperoleh nilai ratarata variabel ROA sebesar 5,172000 dan standar deviasi sebesar 3,218700. C. Analisis Regresi Data panel 1. Uji Stasioner Salah satu cara untuk melakukan uji stasioner adalah dengan uji akar unit (Unit Root Test). Uji akar unit yang digunakan dalam penelitian ini adalah uji Augmented Dickey-Fuller (ADF) dan memperoleh hasil sebagai berikut :
55 Tabel 4.2 Uji Akar-Akar Unit Perubahan Laba Null Hypothesis: D(PERUBAHAN_LABA) has a unit root Exogenous: Constant Lag Length: 1 (Automatic - based on SIC, maxlag=9) t-statistic Prob.* Augmented Dickey-Fuller test statistic -5.046199 0.0002 Test critical values: 1% level -3.621023 5% level -2.943427 10% level -2.610263 *MacKinnon (1996) one-sided p-values. Sumber : Data sekunder yang diolah dengan software Eviews 7.2 Tabel 4.3 Uji Akar-Akar Unit OPM Null Hypothesis: D(OPM) has a unit root Exogenous: Constant Lag Length: 0 (Automatic - based on SIC, maxlag=9) t-statistic Prob.* Augmented Dickey-Fuller test statistic -7.331735 0.0000 Test critical values: 1% level -3.615588 5% level -2.941145 10% level -2.609066 *MacKinnon (1996) one-sided p-values. Sumber : Data sekunder yang diolah dengan software Eviews 7.2
56 Tabel 4.4 Uji Akar-Akar Unit ROE Null Hypothesis: ROE has a unit root Exogenous: Constant Lag Length: 0 (Automatic - based on SIC, maxlag=9) t-statistic Prob.* Augmented Dickey-Fuller test statistic -4.141024 0.0024 Test critical values: 1% level -3.610453 5% level -2.938987 10% level -2.607932 *MacKinnon (1996) one-sided p-values. Sumber : Data sekunder yang diolah dengan software Eviews 7.2 Tabel 4.5 Uji Akar-Akar Unit ROA Null Hypothesis: ROA has a unit root Exogenous: Constant Lag Length: 0 (Automatic - based on SIC, maxlag=9) t-statistic Prob.* Augmented Dickey-Fuller test statistic -6.044348 0.0000 Test critical values: 1% level -3.610453 5% level -2.938987 10% level -2.607932 *MacKinnon (1996) one-sided p-values. Sumber : Data sekunder yang diolah dengan software Eviews 7.2 Data yang stasioner dilihat dari nilai probabilitas dibawah 5%. Dari hasil olah data dengan software eviews di atas dapat dilihat bahwa dengan metode Augmented Dickey-Fuller nilai probabilitas perubahan laba sebesar 0,0002,OPM sebesar 0,0000
57, ROE sebesar 0,0024 dan ROA sebesar 0,0000 adalah lebih kecil dari 5% dan informasi tersebut menunjukkan bahwa semua variabel stasioner. 2. Pemilihan Model Estimasi Data Panel Dalam penentuan metode regresi panel dapat dilakukan dengan menggunakan tiga cara yaitu Uji Chow untuk menentukan model terbaik antara common effect dan fixed effect, Uji Hausman untuk menentukan model terbaik antara fixxed effect dan random effect dan Uji Lagrange Multiplier (LM) untuk mengetahui apakah model Random Effect atau model Common Effect (OLS) yang paling tepat digunakan. Berikut hasil Uji chow pada Eviews 7.2 : Tabel 4.6 Uji Chow Redundant Fixed Effects Tests Pool: OLAH_DATA Test cross-section fixed effects Effects Test Statistic d.f. Prob. Cross-section F 0.000000 (39,1557) 1.0000 Cross-section Chi-square 0.000000 39 1.0000 Sumber : Data Sekunder yang Diolah dengan Software Eviews 7.2 Hipotesis dalam uji chow adalah: H0 H1 : Common Effect Model atau Pooled Least Square : Fixed Effect Model
58 Dalam uji Chow membandingkan perhitungan F-statistik dengan F-tabel dan dari perhitungan menggunakan Eviews didapatkan hasil F hitung 0,00000 lebih kecil (<) dari F tabel 1,0000. Dari hasil di atas dapat dilihat bahwa probabilitas data sebesar 1,0000 lebih besar (>) dari 5% sehingga H o diterima berarti model yang digunakan adalah Common Effect (PLS). Dengan demikian jika sudah ditentukan model yang digunakan dari uji chow adalah Common Effect (PLS) maka tidak perlu dilakukan Uji Hausman dan Uji Lagrange Multiplier (LM). Dari hasil estimasi dengan menggunakan model common effect dapat dibentuk persamaan sebagai berikut : PERUBAHAN_LABA = 79.108589-0.995334*OPM + 1.408317*ROE - 5.299321*ROA Persamaan diatas menggambarkan hubungan antara masing-masing variabel independen terhadap variabel dependen. Nilai koefisien regresi OPM sebesar 0,995336 artinya apabila OPM mengalami kenaikan sebesar 1 sedangkan variabel lainnya dianggap konstan, maka perubahan laba mengalami penurunan sebesar 0,995334. Nilai koefisien regresi ROE sebesar 1,408317 artinya apabila ROE mengalami kenaikan sebesar 1 sedangkan variabel lainnya dianggap konstan, maka perubahan laba mengalami kenaikan sebesar 1.408317. Nilai koefisien regresi ROA sebesar 5.299321 artinya apabila ROA mengalami kenaikan sebesar 1 sedangkan variabel lainnya dianggap konstan, maka perubahan laba mengalami penurunan sebesar 5,299321.
59 3. Pengujian Hipotesis a. Uji Simultan (Uji F) Uji F dilakukan untuk mengetahui apakah variabel independen memiliki pengaruh secara bersama-sama (simultan) terhadap variabel dependen. Pengujian ini menggunakan tingkat signifikansi 0,05 (5%). Tabel hasil dari pengujian regresi data panel dengan metode common effect adalah sebagai berikut : Tabel 4.7 Uji Regresi Simultan (Uji F) Dependent Variable: PERUBAHAN_LABA Method: Pooled Least Squares Date: 06/12/15 Time: 22:17 Sample: 2010 2013 Included observations: 40 Cross-sections included: 40 Total pool (balanced) observations: 1600 R-squared 0.054501 Mean dependent var 40.61225 Adjusted R-squared 0.052724 S.D. dependent var 122.4127 S.E. of regression 119.1420 Akaike info criterion 12.40101 Sum squared resid 22654934 Schwarz criterion 12.41445 Log likelihood -9916.805 Hannan-Quinn criter. 12.40600 F-statistic 30.66579 Durbin-Watson stat 1.255084 Prob(F-statistic) 0.000000 Sumber : Data Sekunder yang Diolah dengan Software Eviews 7.2 Dari tabel diatas dapat dilihat nilai probabilitas adalah 0,0000 lebih kecil (<) dari 5% yang menunjukkan bahwa perubahan laba pada perusahaan pembiayaan dipengaruhi oleh OPM, ROE dan ROA. Nilai R 2 sebesar 0,0545 menunjukkan bahwa pengaruh OPM, ROE dan ROA terhadap perubahan laba pada perusahaan pembiayaan yaitu sebesar 5,45 % dan sisanya 94,55% dijelaskan oleh variabel lain.
60 b. Uji Parsial (Uji t) Pengujian ini bertujuan untuk menguji pengaruh OPM, ROE dan ROA terhadap perubahan laba pada tingkat signifikansi 5% secara parsial. Berdasarkan hasil pengujian model common effect, berikut hasil pengujian signifikansi t yang diperoleh dari model ini : Tabel 4.8 Pengaruh OPM terhadap Perubahan Laba Dependent Variable: PERUBAHAN_LABA Method: Pooled Least Squares Date: 06/13/15 Time: 04:34 Sample: 2010 2013 Included observations: 40 Cross-sections included: 40 Total pool (balanced) observations: 1600 Variable Coefficient Std. Error t-statistic Prob. C 91.12581 6.349795 14.35099 0.0000 OPM -1.525709 0.169255-9.014251 0.0000 R-squared 0.048389 Mean dependent var 40.61225 Adjusted R-squared 0.047793 S.D. dependent var 122.4127 S.E. of regression 119.4517 Akaike info criterion 12.40495 Sum squared resid 22801391 Schwarz criterion 12.41167 Log likelihood -9921.960 Hannan-Quinn criter. 12.40745 F-statistic 81.25672 Durbin-Watson stat 1.300558 Prob(F-statistic) 0.000000 Sumber : Data Sekunder yang Diolah dengan Software Eviews 7.2 Dari tabel diatas dapat dilihat bahwa nilai koefisien konstanta adalah 91,1258 dan nilai koefisien OPM adalah -1,5257 yang menjelaskan besar pengaruh OPM terhadap perubahan laba sebesar -1,5257. Nilai probabilitas 0,00 < 0,05 maka
61 dikatakan H 0 ditolak dan H 1 diterima maka dapat disimpulkan OPM berpengaruh negatif dan signifikan terhadap perubahan laba. Tabel 4.9 Pengaruh ROE terhadap Perubahan Laba Dependent Variable: PERUBAHAN_LABA Method: Pooled Least Squares Date: 06/13/15 Time: 04:34 Sample: 2010 2013 Included observations: 40 Cross-sections included: 40 Total pool (balanced) observations: 1600 Variable Coefficient Std. Error t-statistic Prob. C 34.44111 6.321193 5.448515 0.0000 ROE 0.397471 0.356249 1.115711 0.2647 R-squared 0.000778 Mean dependent var 40.61225 Adjusted R-squared 0.000153 S.D. dependent var 122.4127 S.E. of regression 122.4034 Akaike info criterion 12.45377 Sum squared resid 23942169 Schwarz criterion 12.46049 Log likelihood -9961.016 Hannan-Quinn criter. 12.45627 F-statistic 1.244810 Durbin-Watson stat 1.131722 Prob(F-statistic) 0.264714 Sumber : Data Sekunder yang Diolah dengan Software Eviews 7.2 Dari tabel diatas dapat dilihat bahwa nilai koefisien konstanta adalah 34,441 dan nilai koefisien ROE adalah 0,3974 yang menjelaskan besar pengaruh ROE terhadap perubahan laba sebesar 0,3974. Nilai probabilitas 0,2647 > 0,05 maka dikatakan H 0 diterima dan H 1 ditolak maka dapat disimpulkan ROE tidak berpengaruh signifikan terhadap perubahan laba.
62 Tabel 4.10 Pengaruh ROA terhadap Perubahan Laba Dependent Variable: PERUBAHAN_LABA Method: Pooled Least Squares Date: 06/13/15 Time: 04:37 Sample: 2010 2013 Included observations: 40 Cross-sections included: 40 Total pool (balanced) observations: 1600 Variable Coefficient Std. Error t-statistic Prob. C 69.80526 5.783953 12.06878 0.0000 ROA -5.644434 0.952801-5.924041 0.0000 R-squared 0.021489 Mean dependent var 40.61225 Adjusted R-squared 0.020877 S.D. dependent var 122.4127 S.E. of regression 121.1282 Akaike info criterion 12.43283 Sum squared resid 23445915 Schwarz criterion 12.43955 Log likelihood -9944.260 Hannan-Quinn criter. 12.43532 F-statistic 35.09426 Durbin-Watson stat 1.242195 Prob(F-statistic) 0.000000 Sumber : Data Sekunder yang Diolah dengan Software Eviews 7.2 Dari tabel diatas dapat dilihat bahwa nilai koefisien konstanta adalah 69,805 dan nilai koefisien ROA adalah -5,644 yang menjelaskan besar pengaruh ROA terhadap perubahan laba sebesar -5,644. Nilai probabilitas 0,00 < 0,05 maka dikatakan H 0 diterima dan H 1 ditolak maka dapat disimpulkan ROA berpengaruh negatif dan signifikan terhadap perubahan laba.
63 D. Pembahasan 1. Pengaruh Operating Profit Margin terhadap Perubahan Laba Hasil dari pengujian hipotesis menunjukkan bahwa OPM berpengaruh negatif dan pengaruhnya signifikan terhadap perubahan laba. Hal ini menunjukkan peningkatan OPM akan menurunkan perubahan laba dan sebaliknya pada perusahaan pembiayaan yang terdaftar di BEI. Rasio operating profit margin adalah untuk mengukur efisiensi operasi perusahaan dalam menghasilkan laba dengan membandingkan laba operasi atas penjualan. Pengaruh yang negatif dalam penelitian ini mengindikasikan bahwa kemungkinan terjadi kenaikan rasio operating profit margin secara presentase namun secara jumlah laba yang dihasilkan tidak mengalami kenaikan, sehingga menyebabkan penurunan pada perubahan laba. Hasil penelitian ini mendukung penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Siti Syarifah (2014) yang menyatakan OPM berpengaruh negatif dan signifikan terhadap perubahan laba. 2. Pengaruh Return On Equity terhadap Perubahan Laba Hasil dari pengujian hipotesis menunjukkan bahwa ROE bernilai positif namun tidak berpengaruh signifikan terhadap perubahan laba. Hubungan antara ROE dengan perubahan laba yang positif berarti bahwa kenaikan variabel ROE dapat menaikkan perubahan laba walaupun tidak signifikan. Pengaruh yang tidak signifikan berarti kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba dengan
64 memanfaatkan modal saham tidak berpengaruh terhadap perubahan laba. Hal ini mengindikasikan bahwa penggunaan modal saham perusahaan kurang efektif dalam menghasilkan laba pada perusahaan pembiayaan yang terdaftar di BEI. Hasil penelitian ini mendukung penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Hendra Agus Wibowo dan Dyah Pujiati (2011) yang menyatakan ROE tidak berpengaruh signifikan terhadap perubahan laba. 3. Pengaruh Return On Assets (ROA) terhadap Perubahan Laba Hasil dari pengujian hipotesis menunjukkan bahwa ROA berpengaruh negatif dan pengaruhnya signifikan terhadap perubahan laba. Ini berarti kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba dengan memanfaatkan aktiva (dalam hal penjualan) berpengaruh terhadap perubahan laba namun memiliki pengaruh yang berlawanan (negatif). Peningkatan ROA akan menurunkan perubahan laba dan sebaliknya. Hal ini mengindikasikan pada pemanfaatan aset kurang efektif dalam menghasilkan laba. Perusahaan mungkin membeli aset-aset baru namun tidak dimaksimalkan untuk menghasilkan laba (dalam hal penjualan). Hasil penelitian ini berbeda dengan penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Ghazali Syamni dan Martunis (2013) menunjukkan ROA berpengaruh positif dan signifikan terhadap perubahan laba.