BAB III METODOLOGI PENELITIAN Pada bab ini akan dipaparkan mengenai objek pembahasan dalam Group Field Project serta kerangka kerja yang digunakan dalam melakukan Group Field Project ini. 3.1 Objek Pembahasan Group Field Project Tujuan dari Group Field Project ini adalah terbentuknya Business Consultant sebagai evolusi dari peran Salesman tradisional yang menjadi real frontliner UT selama ini, dimana Business Consultant tersebut nantinya akan mampu menjadi partner dan memberikan solusi yang bernilai tambah bagi customer. Berdasarkan tujuannya, maka Group Field Project akan ini melibatkan: Divisi Sales, Scania dan Mining selaku real frontliner UT yang menjadi objek perubahan pada Group Field Project ini. Divisi Sales sendiri dibagi menjadi 4 sektor, yaitu Forestry, Agribusiness dan Construction yang berada di Head Office, serta Branches/cabang yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia. Sedangkan Divisi Mining dikhususkan untuk menangani sector pertambangan, dan Divisi Scania khusus untuk menangani distribusi produk merk Scania. Divisi Human Capital dan Learning Center selaku pelaksana atau fasilitator yang menyusun dan mempersiapkan konsep, deskripsi posisi, ruang lingkup
pekerjaan, profil kompetensi, serta menyiapkan program pengembangan dan trainingnya. Divisi Corporate Planning & Management Development (CPMD) serta Divisi Marketing yang diwakili oleh Departemen Application Engineer selaku subject matter expert yang memberikan masukan maupun saran bagi pengembangan Group Field Project ini. Sesuai dengan teori perubahan yang telah disajikan pada Bab 2, diketahui bahwa sebuah perubahan yang sukses itu haruslah meliputi perubahan pada paradigma, kompetensi, proses/cara kerja dan skema remunerasi yang mencakup sistem penilaian. Penulis menyadari bahwa perubahan ini tidak akan lengkap dan berjalan dengan baik apabila salah satu dari hal tadi tidak dilakukan, namun karena Group Field Project ini terletak di bawah Divisi Human Capital, maka objek pembahasannya dibatasi hanya meliputi pendefinisian konsep, peran dan tanggung jawab, kompetensi, serta program pengembangan dari Business Consultant saja. Perubahan dalam skema remunerasi untuk Business Consultant yang mencakup sistem penilaian prestasinya akan dilaksanakan dalam proyek yang berbeda dan tidak merupakan pembahasan dari Group Field Project ini karena merupakan bagian yang lebih strategis dan akan melibatkan komite yang lebih besar sebagai pelaksana atau fasilitatornya. Pada halaman berikut adalah bagan ruang lingkup atau objek pembahasan pada Group Field Project ini.
UT Business Consultant Project Role & Responsibility Competency Development Program Reward Management UT BUSINESS CONSULTANT Gambar 3.1 Objek Pembahasan Proyek Business Consultant Dengan ruang lingkup atau objek pembahasan seperti pada bagan diatas, maka proyek Business Consultant ini bersifat spesifik dan mendalam karena yang menjadi objek perubahan hanya divisi yang berhubungan dengan customer di lini depan (frontliner) dan melakukan penjualan saja, yaitu Divisi Sales, Scania dan Mining. Dalam pembahasan Group Field Project ini nanti akan dipaparkan secara detil konsep, deskripsi posisi ideal untuk Business Consultant yang merupakan evolusi dari Salesman saat ini, profil kompetensi yang diperlukan untuk mengerjakan tugastugas yang tertera pada deskripsi posisi sesuai dengan peran barunya tersebut, serta program pengembangan yang paling tepat bagi Salesman saat ini untuk mencapai posisi Business Consultant tersebut. 3.2 Kerangka Kerja Tahapan-tahapan kerja yang akan dilakukan oleh penulis akan dijabarkan sebagai berikut:
1. Jenis dan Sumber Data Jenis Data Tabel 3.1 Jenis dan Sumber Data Sumber Data Digunakan Untuk Identifikasi Masalah I-1 I-2 I-3 I-4 Position Description Salesman Human Capital Division V V Unit Sales Process Flow Sales Division V V Profil Kompetensi Salesman Human Capital Division V V V Syllabus Program Magang Salesman Human Capital Division V V TNA Standar Salesman Human Capital Division V V Visi & Misi Perusahaan CPMD Division V V SK001 tentang Salesman Sales Division V V V Konsep Umum Tentang Consultant Data Primer V Daftar Pemain di Industri Alat Berat Data Primer V Data Produksi Batubara Indonesia Departemen ESDM V Keterangan: I-1, I-2, I-3 dan I-4 adalah identifikasi masalah pada Group Field Project ini (lihat bagian 1.2) 2. Metode Pengumpulan Data Melakukan wawancara awal terhadap level Direksi, General Manager dan Manager untuk mendapatkan gambaran umum perusahaan saat ini beserta visi misinya, serta untuk mendapatkan insight dan inputan dari pihak manajemen mengenai konsep Business Consultant yang sesuai dengan visi perusahaan, termasuk seberapa luas cakupan perubahan yang diharapkan untuk dilakukan. Melakukan wawancara terhadap para Sales Manager yang berasal dari Divisi Sales, Mining dan Scania untuk mendapatkan gambaran mengenai konsep, peran dan tanggung jawab termasuk ruang lingkup pekerjaan yang tepat untuk posisi Business Consultant bagi perusahaan distributor alat berat.
Melakukan wawancara terhadap para subject matter expert yang berasal dari dalam perusahaan, meliputi Divisi Corporate Planning & Management Development (CPMD) dan Divisi Marketing yang diwakili oleh Departemen Application Engineer untuk mendapatkan informasi mengenai konsep, peran dan tanggung jawab termasuk ruang lingkup pekerjaan yang tepat untuk posisi Business Consultant bagi perusahaan distributor alat berat. Melakukan observasi atau pengamatan terhadap para Salesman dari Divisi Sales, Mining dan Scania yang merupakan lini depan (frontliner) perusahaan yang berhubungan dengan customer untuk mengetahui kondisi dari pekerjaan serta metode pendekatan terhadap customer yang dilakukan oleh Salesman UT saat ini dengan cara mengikuti mereka pada saat melakukan kunjungan kepada customer, serta melakukan pengamatan terhadap seluruh aktifitas kerja yang mereka lakukan selama satu hari kerja. Mengumpulkan seluruh data sekunder yang sudah tersedia di dalam perusahaan untuk mengetahui gambaran umum perusahaan dan profil kompetensi dari Salesman UT saat ini. Mengumpulkan semua data sekunder yang diperoleh dari media internet untuk mendukung penelitian. Melakukan wawancara terhadap beberapa responden yang memiliki jabatan Business Consultant di perusahaan lain (di luar UT) yang
bergerak di bidang industri teknologi informasi, telekomunikasi, konsultasi manajemen/bisnis, perbankan sebagai subject matter expert untuk mendapatkan informasi acuan mengenai peran dan tanggung jawab serta ruang lingkup pekerjaan dari posisi Business Consultant yang dijalankan di perusahaan-perusahaan lain. 3. Metode Analisis Penulis akan menganalisa dan mengulas seluruh data yang telah terkumpul, baik primer maupun sekunder, untuk menghasilkan Konsep, peran dan tanggung jawab UT Business Consultant dengan menggunakan metode riset, benchmarking dan brainstorming. Deskripsi posisi baru bagi Business Consultant yang merupakan pengembangan dari deskripsi posisi Salesman UT saat ini dengan menggunakan teknik penyusunan job description. Profil kompetensi yang paling tepat untuk posisi Business Consultant dengan menggunakan model kompetensi UT. Membandingkan kondisi Salesman UT saat ini dengan kondisi Business Consultant yang diharapkan setelah perubahan nanti untuk mengidentifikasikan seberapa besar celah/gap yang ada. Metode analisis yang digunakan dikaitkan dengan masing-masing identifikasi masalah seperti yang terlihat pada tabel di halaman berikut ini:
Tabel 3.2 Metode Analisis Identifikasi Masalah Metode Analisis I-1 Analisis Deskriptif I-2 Analisis Deskriptif I-3 Analisis Deskriptif I-4 Analisis Deskriptif Keterangan: I-1, I-2, I-3 dan I-4 adalah identifikasi masalah pada Group Field Project ini (lihat bagian 1.2) 4. Perencanaan, Pengembangan dan Penerapan Pada tahap ini, penulis akan menghasilkan konsep, deskripsi posisi, ruang lingkup pekerjaan, profil kompetensi yang dibutuhkan untuk jabatan Business Consultant. Setelah semua hal tersebut diatas didefinisikan dan disusun, langkah selanjutnya adalah melakukan perbandingan antara profil Business Consultant dengan profil yang dimiliki oleh Salesman UT pada saat ini melalui suatu metode penilaian/ assessment untuk melihat celah/ gap yang ada diantaranya. Langkah terakhir adalah menyusun program pengembangan yang paling tepat untuk membentuk dan merubah paradigma/ mindset seorang Salesman menjadi Business Consultant berdasarkan hasil penilaian/ assessment masing-masing sumber daya manusia yang menjadi objek perubahan. Metode perencanaan, pengembangan dan penerapan Group Field Project ini dapat dilihat pada gambar berikut ini:
Menentukan dan menyusun competencies requirement untuk Business Consultant Melakukan penilaian/ assesment dan profiling terhadap Salesman UT untuk memotret level kompetensi mereka yang dimiliki saat ini Menentukan development plan untuk masing masing kandidat Business Consultant Gambar 3.2 Siklus Pengembangan seorang Business Consultant Bandingkan hasil assesment setiap kandidat Business Consultant dengan competencies requirement untuk mengidentifikasikan lh/ d Kemudian semua hal tersebut diatas akan diinternalisasi kembali ke dalam objek perubahan, yakni Divisi Sales, Scania dan Mining melalui sosialisasi dan pengimplementasian program pengembangan yang telah disusun, dimana akan diawali melalui pilot project sebelumnya untuk melihat dan menilai keakuratan serta tingkat kesuksesan dari Group Field Project ini.