MANAJEMEN RUANG TERBUKA HIJAU di KOTA SEMARANG Ferdinand Harianja, Hesti Lestari

dokumen-dokumen yang mirip
BAB III PENYAJIAN DATA HASIL PENELITIAN. Di dalam penelitian ini yang dikaji oleh peneliti berkenaan dengan Manajemen

ANALISIS IMPLEMENTASI STANDAR AKUNTANSI PEMERINTAHAN BERBASIS AKRUAL BERDASARKAN PP NO

ANALISIS KEBUTUHAN RUANG TERBUKA HIJAU PUBLIK DI KOTA BITUNG

PERAN PENGEMBANG PERUMAHAN DALAM PENGELOLAAN RUANG TERBUKA HIJAU DI PERUMAHAN KEMANG PRATAMA KOTA BEKASI TESIS

BAB II GAMBARAN UMUM Gambaran Umum Dinas Koperasi dan Usaha Mikro Kota Semarang

ANALISIS PEMBANGUNAN PERKOTAAN DALAM PERSPEKTIF GREEN ECONOMIC DEVELOPMENT

BAB V PENUTUP. publik dan alokasi RTH 10% untuk privat. Sekarang ini DKP dalam upaya

Analisis Ketersediaan Dan Kebutuhan Ruang Terbuka Hijau Pada Kawasan Pusat Pelayanan Kota (Studi Kasus Kecamatan Palu Timur, Kota Palu)

EVALUASI PELAKSANAAN PROGRAM REHABILITASI PENYANDANG CACAT

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN. Dari uraian program dan kegiatan DAK pada Dinas Kehutanan Pasaman

IMPLEMENTASI KEBIJAKAN ALOKASI DANA DESA DI DESA MPANAU KECAMATAN SIGI BIROMARU KABUPATEN SIGI

ARTIKEL STRATEGI PENANGANAN KEBENCANAAN DI KOTA SEMARANG (STUDI BANJIR DAN ROB) Penyusun : INNE SEPTIANA PERMATASARI D2A Dosen Pembimbing :

BAB VIII RANCANGAN PROGRAM STRATEGIS

REVIEW-INDIKATOR KINERJA UTAMA (IKU) BADAN LINGKUNGAN HIDUP KOTA PRABUMULIH TAHUN

PEMERINTAH KOTA TANGERANG

REKRUTMEN DAN PENEMPATAN PEGAWAI

PROSEDUR PENGELOLAAN ARSIP DINAMIS DI KANTOR ARSIP DAN PERPUSTAKAAN DAERAH KOTA SURAKARTA

Arahan Optimalisasi RTH Publik Kecamatan Kelapa Gading, Jakarta Utara

PROFILE DINAS CIPTA KARYA

ANALISIS EFEKTIVITAS PROGRAM KESEHATAN IBU YANG DIDANAI BANTUAN OPERASIONAL KESEHATAN DI PUSKESMAS BANDARHARJO KOTA SEMARANG

ANALISIS KINERJA PEGAWAI DINAS PERHUBUNGAN KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA KOTA SEMARANG

PERATURAN DAERAH KOTA BONTANG NOMOR 11 TAHUN 2002 TENTANG

I. PENDAHULUAN. Sejak diberlakukannya Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang. mengembangkan otonomi daerah kepada pemerintah daerah.

BUPATI BANYUMAS PERATURAN BUPATI BANYUMAS NOMOR 23 TAHUN 2010 TENTANG PENJABARAN TUGAS DAN FUNGSI DINAS PETERNAKAN DAN PERIKANAN KABUPATEN BANYUMAS

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

WALIKOTA TASIKMALAYA

BAB VI KESIMPULAN DAN REKOMENDASI. Adapun kesimpulan yang dapat diambil dari penelitian ini adalah :

Jurnal Sosialisasi Pendidikan Sosiologi-FIS UNM

KONSEP PENYEDIAAN RUANG TERBUKA HIJAU KOTA BUKITTINGGI DENGAN KETERBATASAN LAHAN PENGEMBANGAN

WALIKOTA BLITAR PROVINSI JAWA TIMUR

WALIKOTA PEKANBARU PROVINSI RIAU

BAB II KANTOR KECAMATAN MEDAN DENAI. Sumatera Utara pada tanggal 2 September 1992 Kecamatan Medan Denai terbentuk

RENCANA STRATEGIS DINAS CIPTA KARYA TATA RUANG DAN KEBERSIHAN KABUPATEN GROBOGAN Tahun 2011 sd Tahun 2016

IMPLEMENTASI KEBIJAKAN REVITALISASI DAN KONSERVASI BANGUNAN BERSEJARAH KAWASAN KOTA LAMA DI KOTA SEMARANG

IMPLEMENTASI PRINSIP PELAYANAN PUBLIK DI KELURAHAN TASIKMADU BERDASARKAN PERATURAN PEMERINTAH NO 96 TAHUN 2012 TENTANG PELAYANAN PUBLIK

13. Untuk pencapaian kinerja program yang terbagi dalam 2 (dua) program, terlihat nilai pencapaian kinerjanya sebagai berikut :

BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG

PENGARUH KEPEMIMPINAN DAN BUDAYA ORGANISASI TERHADAP KINERJA PEGAWAI PADA BADAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN DAERAH (BAPPEDA) KOTA BANDUNG DRAFT SKRIPSI

Bab II Perencanaan Kinerja

Laporan Akuntabilitas Kinerja Kantor Camat Tualang Kabupaten Siak Tahun 2016

BUPATI CILACAP PROVINSI JAWA TENGAH PERATURAN BUPATI CILACAP NOMOR 91 TAHUN 2016 TENTANG KEDUDUKAN, SUSUNAN ORGANISASI, TUGAS DAN FUNGSI SERTA TATA

PERAWATAN DAN PELESTARIAN BAHAN PUSTAKA DI PERPUSTAKAAN FAKULTAS SASTRA DAN BUDAYA UNIVERSITAS UDAYANA

KESIMPULAN DAN SARAN

BAB 1 PENDAHULUAN. dapat mengatur dan mengelola sumber daya produktif, serta melayani,

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Kantor Pelayanan Perijinan Terpadu Satu Pintu Kabupaten Garut GAMBARAN UMUM ORGANISASI

PENDAHULUAN. Kota adalah suatu wilayah yang akan terus menerus tumbuh seiring

KEBIJAKAN PENGEMBANGAN TAMAN SEBAGAI PELESTARIAN RUANG TERBUKA HIJAU (RTH) DI KOTA JAMBI OLEH DINAS LINGKUNGAN HIDUP KOTA JAMBI

Studi Peran & Efektifitas RTH Publik di Kota Karanganyar Isnaeny Adhi Nurmasari I BAB I PENDAHULUAN

PERENCANAAN SISTEM PENDATAAN DAN PELAPORAN KEGIATAN PEMBANGUNAN

: BRIGGIE PETRONELLA ANGRAINIE

STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR (SOP) PELAYANAN LEGALISIR

BAB I PENDAHULUAN. terhadap penduduk kota maupun penduduk dari wilayah yang menjadi wilayah

MEMUTUSKAN : PERATURAN WALIKOTA TENTANG KEDUDUKAN, SUSUNAN ORGANISASI, TUGAS, FUNGSI, DAN TATA KERJA BADAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN DAERAH

PERATURAN BUPATI SRAGEN NOMOR 98 TAHUN 2016 TENTANG TUGAS DAN FUNGSI SERTA TATA KERJA DINAS PERUMAHAN DAN KAWASAN PERMUKIMAN KABUPATEN SRAGEN

STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR (SOP) PELAYANAN PERMOHONAN DATA KEPENDUDUKAN

LAPKIN SEKRETARIAT DAERAH KOTA TANGERANG SELATAN TAHUN 2015 BAB II

PERATURAN BUPATI GARUT NOMOR 541 TAHUN 2012 TENTANG TUGAS POKOK, FUNGSI DAN TATA KERJA DINAS SUMBER DAYA AIR DAN PERTAMBANGAN KABUPATEN GARUT

BAB I PENDAHULUAN. keseimbangan ekosistem di bumi, dimana kehendak bebas dan kuasa untuk mengelola bumi

USULAN PENDEKATAN DAN METODOLOGI RENCANA KERJA DAN JADWAL KEGIATAN CALON TENAGA AHLI PEMASARAN PARTISIPATIF

I. PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Kota diartikan sebagai suatu sistem jaringan kehidupan manusia yang

Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan BAB III Urusan Desentralisasi

LAPORAN AKUNTABILITAS KINERJA INSTANSI PEMERINTAH (LAKIP)

BAB 5 PENUTUP. Sub Bagian Kepegawaian dan Umum Dinas Kebersihan dan Pertamanan selaku. Kota Surabaya sudah cukup baik. Meskipun belum maksimal, namun

Pelaksanaan Public Relations... (Tusri Suharyadi)

T A Y O G R T A WALIKOTA YOGYAKARTA PROVINSI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA

ŀlaporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerinta IKHTISAR EKSEKUTIF

BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG

MATA KULIAH PRASARANA WILAYAH DAN KOTA I (PW ) Jur. Perencanaan Wilayah dan Kota FTSP INSTITUT TEKNOLOGI SEPULUH NOPEMBER SURABAYA

I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

RENCANA KERJA (RENJA)

WALIKOTA BATU KOTA BATU PERATURAN WALIKOTA BATU NOMOR 42 TAHUN 2013 TENTANG CIPTA KARYA DAN TATA RUANG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

WALIKOTA YOGYAKARTA DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA O G K A R T A PERATURAN WALIKOTA YOGYAKARTA NOMOR 28 TAHUN 2015

WALIKOTA PEKANBARU PROVINSI RIAU

Laporan Kinerja Instansi Pemerintah Kantor Camat Kandis Kabupaten Siak Tahun 2016

BAB II TELAAH PUSTAKA DAN MODEL PENELITIAN

WALIKOTA MATARAM PROVINSI NUSA TENGGARA BARAT PERATURAN WALIKOTA MATARAM NOMOR : 51 TAHUN 2016 TENTANG

KARAKTERISTIK RUANG TERBUKA HIJAU PADA KAWASAN PERMUKIMAN DI KELURAHAN TANDANG, KECAMATAN TEMBALANG TUGAS AKHIR

BAB V KESIMPULAN DAN REKOMENDASI Ringkasan Evaluasi atas implementasi sistem pengukuran kinerja di organisasi sektor

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang. 1.2 LANDASAN HUKUM.

Matrik Cascading Kinerja Dinas Tata Bangunan dan Kebersihan tahun 2016

EVALUASI KEBIJAKAN PENGELOLAAN PEMAKAMAN DI KOTA SEMARANG

Keywords: Performance, Timeliness, Accountability

WALIKOTA BANDUNG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA BANDUNG,

BAB I PENDAHULUAN. Perkembangan kondisi global yang semakin maju membawa dampak

IMPLEMENTASI KEBIJAKAN PEMBANGUNAN INFRASTRUKTUR LINGKUNGAN DENGAN POLA ORGANISASI MASYARAKAT

KEPUTUSAN WALIKOTA TASIKMALAYA NOMOR : 64 TAHUN 2004 TENTANG URAIAN TUGAS JABATAN STRUKTURAL PADA DINAS PEKERJAAN UMUM KOTA TASIKMALAYA

KINERJA PENDAMPING DESA DALAM PEMBANGUNAN DESA DI KECAMATAN JIPUT KABUPATEN PANDEGLANG

BERITA DAERAH KABUPATEN CIREBON

PEMERINTAH KOTA SALATIGA DAFTAR INFORMASI PUBLIK RINGKASAN EVALUASI KINERJA DINAS CIPTA KARYA DAN TATA RUANG KOTA SALATIGA TAHUN 2017

PENERAPAN SISTEM INFORMASI AKUNTANSI PENGGAJIAN DAN PENGUPAHAN DI PT.(PERSERO) ANGKASA PURA II BANDARA SOEKARNO-HATTA JAKARTA SKRIPSI

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang

BUPATI BLORA PROVINSI JAWA TENGAH PERATURAN BUPATI BLORA NOMOR 23 TAHUN 2016 TENTANG

BAB I PENDAHULUAN. perkembangan pesat di seluruh wilayah Indonesia. Pembangunan-pembangunan

DINAS TATA RUANG DAN PERMUKIMAN KABUPATEN GARUT RENCANA KERJA

SCAFFOLDING 1 (2) (2012) SCAFFOLDING. IDENTIFIKASI RUANG TERBUKA HIJAU PUBLIK KOTA REMBANG

RENCANA STRATEGIS BADAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN DAERAH TAHUN

BAB V PENUTUP. 1. Adapun hal-hal yang telah dilaksanakan oleh Badan Pelayanan Perijinan. dan cepat serta biaya ringan, meliputi:

BAB II GAMBARAN PELAYANAN KANTOR LINGKUNGAN HIDUP KOTA MADIUN

KABUPATEN BADUNG LAPORAN KINERJA INSTANSI PEMERINTAH BADAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN DAERAH PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN TAHUN 2014

Transkripsi:

MANAJEMEN RUANG TERBUKA HIJAU di KOTA SEMARANG Ferdinand Harianja, Hesti Lestari Departemen Administrasi Publik Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Diponegoro Jl. Prof. Soedharto SH, Kampus Tembalang, Semarang Email : ferdinandharianja05@gmail.com ABSTRACK The problems encountered in Open Green Space Management in the city of Semarang is the absence of good planning, organizing and mobilization in the field of human resources. This study aims to determine the management of open green space of Semarang City which includes planning, organizing, mobilizing and supervision as well as knowing the obstacles faced by the Office of Housing and Settlement Area of Semarang City in managing open green space. This research use desciptive qualitative approach. Data collection techniques used were interview, observation and document study. The results showed that Semarang open green space management is not optimal yet. This is because there is still a problem in planning where the shortage of expert experts lanskape so that without a lanskape expert of park development will be less adequate, organizing where the placement of employees is still less appropriate with the educational background and positions are diemban and mobilization that is the potential development of subordinates are still rare do. Recommendations that can be done to improve Poen Green Space Management in Semarang City is to plan by looking for experts of landscape planning of garden development, organizing by improving coordination with local government related to human resource problem and recruiting employees in accordance with competence, The development of potential employees through the provision of educational opportunities. Keywords: Management and Open Green Space. 1. PENDAHULUAN Kota Semarang merupakan ibukota Provinsi Jawa Tengah yang dikategorikan sebagai kota metropolitan berpenduduk sekitar 1.691.534 jiwa dengan luas wilayah 37.370,390 hektar (373,7 km2) diharapkan mampu mempertahankan ruang terbuka hijau (RTH) sebagai upaya menciptakan pengembangan mutu kesehatan lingkungan bagi masyarakat kota Semarang, kelestarian lingkungan, paru-paru kota dan menjamin keseimbangan ekosistem kota maupun untuk ruang publik. Diharapkan, dengan adanya Peraturan Daerah Kota Semarang No 7 Tahun 2010 tersebut, warga Kota Semarang bisa lebih menyadari akan pentingnya Ruang Terbuka Hijau di kawasan Kota Semarang. Pembangunan gedung-gedung maupun bangunan lainnya diharapkan bisa memperhatikan penataan ruangnya tanpa mengambil bagian lahan yang sebenarnya digunakan untuk Ruang Terbuka Hijau Publik.

Banyak upaya yang dilakukan untuk meningkatkan kualitas Ruang Terbuka Hijau yang belum menunjukkan hasil yang menggembirakan. Kegagalan demi kegagalan antara lain disebabkan oleh masalah manajemen yang belum efektif. Permasalahan yang terdapat dalam Manajemen Ruang Terbuka Hijau di kota Semarang adalah belum adanya perencanaan, pengorganisasian dan penggerakan yang baik di bidang SDM. Hal ini dapat dibuktikan melalui penelitian yang dilakukan yaitu : permasalahan dalam perencanaan adalah kekurangan SDM tenaga pakar lanskape pembangunan taman, permasalahan dalam pengorganisasian adalah penempatan pegawai masih kurang sesuai, permasalahan dalam penggerakan adalah pengembangan potensi bawahan masih kurang optimal. 2. KERANGKA TEORI 2.1 Paradigma Administrasi Publik Paradigma juga diartikan sebagai sebuah konsensus dari hasil pemikiran yang merupakan bentuk perubahan dari ilmu pengetahuan yang telah ada, dari orangorang yang mempunyai perhatian yang sama terhadap suatu masalah krisis (Suwitri, 2008:16). Menurut Henry, 2004; 29, Islamy, 1986; 3-7) dalam Suwitri (2008:16) Paradigma Ilmu Administrasi Negara (Publik) sebagai berikut : 1) Dikotomi Politik dan Administrasi, 2) Prinsip- prinsip administrasi, 3) Administrasi negara sebagi ilmu politik, 4) Administrasi publik sebagai administrasi publik (1970 sampai sekarang), 5) Reiventing goverment, 6) Good governance 2.2 Manajemen 2.2.1 Perencanaan Perencanaan merupakan susunan langkahlangkah secara sistematik dan teratur untuk mencapai suatu tujuan organisasi atau memecahkan masalah tertentu. Perencanaan juga diartikan sebagai upaya memanfaatkan sumber-sumber yang sudah tersedia dengan memperhatikan segala keterbatasan guna mencapai tujuan secara efektif dan efisien. Perencanaan merupakan langkah awal dalam proses manajemen, karena dengan merencanakan aktivitas organisasi kedepan, maka segala sumber daya dalam suatu organisasi difokuskan pada pencapaian tujuan organisasi 2.2.2 Pengorganisasian Pengorganisasian diartikan sebagai kegiatan pembagian tugas-tugas pada orang yang terlibat dalam aktivitas organisasi, sesuai dengan kompetensi SDM yang dimiliki. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa kegiatan ini merupakan keseluruhan proses memilih orang-orang serta mengalokasinya sarana dan prasarana untuk menunjang tugas orang-orang itu dalam organisasi, serta mengatur mekanisme kerjanya sehingga dapat menjamin pencapaian tujuan organisasi. 2.2.3 Penggerakan Penggerakan atau Actuating sangat erat kaitannya dengan koordinasi. Dengan adanya koordinasi dapat menghindari kemungkinan terjadinya persaingan yang tidak sehat dan kesimpangsiuran didalam bertindak antara orang-orang yang terlibat dalam mencapai tujuan. Koordinasi mengajak semua SDM yang tersedia untuk bekerjasama dalam mencapai tujuan organisasi. 2.2.4 Pengawasan Pengawasan bukanlah hanya sekedar mengendalikan pelaksanaan program dan aktifitas organisasi, namun juga mengawasi seluruh kegiatan organisasi, sehingga bila perlu dapat mengadakan tindakan koreksi. Inti dari pengawasan adalah proses memastikan pelaksanaan agar sesuai dengan rencana.

2.3 Ruang Terbuka Hijau Ruang Terbuka Hijau pada hakikatnya merupakan salah satu unsur ruang kota yang mempunyai peran penting setara dengan unsur-unsur kota yang lain. Berbagai referensi menunjukkan bahwa Ruang Terbuka Hijau merupakan lahanlahan alami yang ada di wilayah perkotaan. Bentuk Ruang Terbuka Hijau yang berupa fasilitas umum/ publik, sebagai tempat beraktivitas adalah taman kota, taman pemakaman, lapangan olahraga, hutan kota, dan lain-lain yang memerlukan area lahan/ peruntukan lahan hijau secara definitif. Fungsi Ruang Terbuka Hijau meliputi fungsi pelayanan fasilitas umum bagi masyarakat untuk melakukan kegiatan kegiatan aktif di dalamnya, seperti berinteraksi/ berekreasi, berolahraga, berwisata hutan dan lain-lain; fungsi pengaman, peneduh, dan keindahan kota secara proporsional pada ruang ruang kota; dan fungsi budidaya pertanian bagi kegiatan pertanian kota. 3. METODE PENELITIAN Manajemen Ruang Terbuka Hijau di Kota Semarang ini menggunakan metode penelitian pendekatan deskriptif kualitatif, sebab ingin mengetahui pola pengelolaan serta manajemen ruang terbuka hijau di Kota Semarang. Adapun situs penelitian dilakukan di Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman Kota Semarang, sedangkan pemilihan informan dilakukan dengan sistem purposive sample, yakni sampel yang didasarkan atas tujuan tertentu. Informan dalam penelitian ini terdiri dari : 1) Kepala Bagian Pertamanan dan Pemakaman, 2) Kepala Seksi Perencanaan, Pengawasan dan Pengendalian Pertamanan dan Pemakaman, 3) Kepala Seksi Penyelenggara Pertamanan Jenis data yang digunakan adalah data primer yang diperoleh langsung dari subjek penelitian dengan menggunakan alat pengukuran atau alat pengambilan data langsung pada subjek sebagai sebagai sumber informasi yang dicari. Didalam penelitian ini data primer yang dipergunakan ialah data dan informasi dari Permukikan Kota Semarang, sedangkan data sekunder data yang diperoleh dari pihak lain tidak langsung diperoleh oleh peneliti dari subjek penelitiannya. Data sekunder berupa data dokumentasi atau laporan yang telah tersedia dari lembagalembaga/ instansi (Pasolong, 2010:70). Model analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis model interaktif yaitu data yang telah terkumpul akan di analisa melalui tiga tahap yaitu reduksi data, penyajian data, menarik kesimpulan dan verifikasi (Sugiyono, 2009:246-253). 4. PEMBAHASAN Dalam penelitian ini, Manajemen Ruang Terbuka Hijau di Kota Semarang akan dibahas dan dianalisis melalui data-data yang berasal dari wawancara yang telah dilakukan dengan informan-informan, pengamatan-pengamatan, dan data-data existing di lapangan. Data-data yang diperoleh akan disesuaikan dengan fenomena-fenomena manajamen yang telah ditentukan yaitu perencanaan, pengorganisasian, penggerakan, dan pengawasan. 4.1 Perencanaan Perencanaan yang dilakukan Dinas Kota Semarang di dalam mengelola ruang terbuka hijau belum optimal. Hal ini dapat diketahui dari langkah-langkah proses perencanaan yang dilakukan Dinas Kota Semarang dalam mengelola ruang terbuka hijau, yaitu : 1) Menentukan tujuan, sasaran atau visi misi

Permukiman Kota Semarang dalam mengelola ruang terbuka hijau sudah menentukan tujuan, sasaran atau visi misi dengan baik. Hal ini dapat diketahui dari tujuan, sasaran atau misi yang ingin mewujudkan kesejahteraan masyarakat dengan adanya RTH yang memadai, bersih dan bebas dari polusi, dan ingin meningkatkan mutu kualitas lingkungan hidup di kota Semarang. 2) Merumuskan/ membuat kebijakan Masih rendahnya kualitas Ruang Terbuka Hijau di Kota Semarang, Dinas Perumahan dalam meningkatkan kualitas Ruang Terbuka Hijau di kota Semarang belum mempunyai kebijakan yang jelas dan terarah. Hal ini dapat diketahui dengan adanya permasalahan kekurangan SDM tenaga pakar lanskape dari komponen SDM di bidang pertamanan dan pemakaman, oleh kare itu kedepannya bidang pertamanan dan pemakaman akan mencari dan menambah tenga-tenaga lanskape untuk perencanaan pembangunan taman yang ada di kota Semarang. 3) Menyusun target atau skala prioritas. Permukiman Kota Semarang di dalam mengelola Ruang Terbuka Hijau Kota Semarang sudah menyusun target atau skala prioritas dengan baik. Adapun yang menjadi prioritas Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman Kota Semarang dalam pengelolaan Ruang Terbuka Hijau adalah pembangunan kawasan pinggiran, susunan target sesuai perencanaan, artinya perencanaan muncul sesuai dengan kebutuhan masyarakat, mengikuti saran dan usul masyarakat, pengalihan kawasan industri 4.2 Pengorganisasian Pengorganisasian yang dilakukan Dinas Kota Semarang di dalam mengelola ruang terbuka hijau dapat dikatakan belum optimal. Hal ini dapat diketahui dari beberapa kegiatan pengorganisasian yang dilakukan Permukiman Kota Semarang dalam mengelola ruang terbuka hijau. 1) Membagi pekerjaan dalam tugas operasional Permukiman Kota Semarang mempunyai tugas membantu walikota dalam melaksanakan urusan pemerintahan di bidang penataan ruang melalui bidang pertamanan dan pemakaman. Pembagian kerja di Permukiman Kota Semarang khususnya Bidang Pertamanan dan Pemakaman di dalam mengelola Ruang Terbuka Hijau sudah sesuai dengan tugas dan bidang masing-masing dan semuanya saling mengawasi. 2) Menempatkan orang pada pekerjaan atau posisi yang tepat Tataran kepegawaian di Dinas Perumahan khususnya Bidang Pertamanan dan Pemakaman sendiri sudah banyak orang yang berlatar belakang pendidikan yang tinggi namun pada kenyataan di lapangan masih ada pegawai tersebut yang tidak sesuai latar belakang pendidikan dengan jabatan yang diembannya. 3) Menciptakan struktur yang sesuai secara fungsional dan sosial Dengan adanya prospek yang besar di Bidang Penataan Ruang maka guna mengoptimalkan hal tersebut dibentuklah Permukiman Kota Semarang. Pembentukan struktur yang ada di Dinas Kota Semarang telah disesuaikan dengan kepentingan dan kebutuhan saat ini. Dinas Kota Semarang mempunyai tugas

membantu walikota dalam melaksanakan urusan pemerintahan di bidang penataan ruang melalui Bidang Pertamanan dan Pemakaman. 4) Koordinasi semua pekerjaan bawahan Koordinasi antar pegawai di Dinas Kota Semarang khususnya Bidang Pertamanan dan Pemakaman sudah berjalan dengan baik. Hal ini diakibatkan adanya semacam penilaian SKP yang dilakukan tidak hanya setahun sekali tetapi dilakukan setiap hari, setiap bulan, dan setiap tahun ada laporannya 4.3 Penggerakan Penggerakan yang dilakukan Dinas Kota Semarang belum optimal. Hal ini dapat diketahui dengan kegiatan penggerakan yang dilakukan Dinas Kota Semarang dalam mengelola ruang terbuka hijau. 1) Mengupayakan adanya partisipasi dari semua pihak yang terlibat Permukiman Kota Semarang di bidang Pertamanan dan Pemakaman senantiasa selalu mengupayakan adanya partisipasi dari semua stakeholder agar tercipta kondisi yang harmonis yang pada akhirnya akan menunjang perkembangan RTH di Kota Semarang. Hal ini dapat diketahui dengan melakukan kegiatan antara lain : memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk mengelola sebagian taman di Kota Semarang, memberikan sosialisasi pembinaan terhadap masyarakat secara langsung melalui kelurahan/ kecamatan maupun lewat media-media. 2) Memberikan motivasi Motivasi yang terjadi di Dinas Perumahan khususnya bidang Pertamanan dan Pemakaman dalam pengelolaan Ruang Terbuka Hijau di Kota Semarang sudah optimal. Hal ini dikarenakan pimpinan sering mendatangi dengan tujuan memberikan pengawasan terhadap bawahan, pimpinan ikut turun ke lapangan mendampingi staf, dan memberikan arahan-arahan pembinaan melalui pimpinan agar pekerjaan sesuai dengan job description. 3) Mengembangkan potensi bawahan secara optimal Pola pengembangan potensi bawahan di Permukiman Kota Semarang khususnya bidang Pertamanan dan Pemakaman masih kurang optimal. Hal ini berdasarkan wawancara dengan salah satu pegawai yang mengatakan sangat jarang pemeberian kesempatan pendidikan bagi pegawai. 4.4 Pengawasan Pengawasan yang dilakukan Dinas Kota Semarang dalam mengelola ruang terbuka hijau sudah optimal. Hal ini dapat dilihat dari kegiatan pengawasan yang dilakukan Permukiman Kota Semarang. Dibawah ini merupakan kegiatan yang dilakukan dalam proses pengawasan : 1) Menetapkan standar atau ukuran Standar yang ditetapkan oleh Dinas kota Semarang khususnya bidang Pertamanan dan Pemakaman di dalam pengelolaan Ruang Terbuka Hijau Kota Semarang sudah optimal. Hal ini dapat diketahui dengan mengadakan rapat pertemuan seminggu sekali yang bertujuan untuk mengetahui keluhan-keluhan yang ada dan inovasi-inovasi yang ada, dan membentuk tim pengawas di lapangan. Hal ini juga terbukti saat selesai melakukan wawancara informan langsung ikut menghadiri rapat pertemuan yang dilakukan seminggu sekali. 2) Menciptakan perubahan dalam mencapai tujuan

Bentuk perubahan yang dilakukan oleh Permukiman Kota Semarang khususnya bidang Pertamanan dan Pemakaman di dalam pengelolaan Ruang Terbuka Hijau sudah optimal. Hal ini dapat diketahui dari melakukan pembangunan di kawasan pinggiran dan tidak hanya berfokus di kawasan perkotaan, melakukan pembangunan taman baru yang disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat, dan melakukan pengembangan di bidang SDM dengan menambah jumlah personel pengelola taman. 3) Proses akuntabilitas Akuntabilitas di Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman Kota Semarang sudah baik. Hal ini dapat dilihat dari setiap tahun akan membuat Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintahan (LAKIP) baik untuk anggarannya maupun pelaksanaannya, selain itu bisa tercermin dari komitmen atasan dan staf dalam menaati hal tersebut. Di samping itu Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman Kota Semarang telah memiliki Rencana Kerja (Renja) dan mengadakan pertemuan yang dilakukan setiap seminggu sekali. 4) Mengevaluasi kinerja Berdasarkan hasil yang diperoleh melalui wawancara dengan pegawai di lingkungan dinas, maka dapat diperoleh hasil bahwa tahap pelaksanaan Pengelolaan Ruang Terbuka Hijau yang sudah dilaksanakan hingga saat ini sudah cukup sebanding dengan rencana yang ditetapkan, karena adanya peningkatan dari kualitas Ruang Terbuka Hijau di Kota Semarang dari tahun sebelumnya. 4.5 Hambatan-hambatan yang dihadapi Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman Kota Semarang dalam Pengelolaan Ruang Terbuka Hijau Kota Semarang Faktor internal yaitu berkaitan dengan kondisi Permukiman Kota Semarang itu sendiri khusunya bidang Pertamanan dan Pemakaman. Masalah utama adalah faktor Sumber Daya Manusia yang ada pada bidang Pertamanan dan Pemakaman, karena masih terbatasnya kualitas dan kuantitas dari sumber daya manusia manusia yang ada. Masalah kualitas bidang Pertamanan dan Pemakaman kekurangan sumber daya manusia di bidang lanskape pembangunan taman atau tenaga ahli pakar di bidang taman, sedangkan masalah kuantitas bidang Pertamanan dan Pemakaman kekurangan jumlah personel pengelola taman. Faktor eksternal yaitu kebudayaan dari masyarakat di Kota Semarang, belum adanya kesadaran dari masyarakat sendiri, karena orang Semarang bukan hanya orang Semarang semua tetapi ada juga urban dari beberapa wilayah. Seperti misalnya, banyak demodemo dari masyarakat/ LSM yang tidak bertanggungjawab merusak taman, adanya pencurian tanaman-tanaman bagus di perkotaan yang dilakukan oleh orang yang tidak bertanggung jawab. 5. KESIMPULAN dan SARAN 5.1 Kesimpulan Kegiatan Manajemen Pengelolaan Ruang Terbuka Hijau Kota Semarang di Dinas Kota Semarang secara keseluruhan belum optimal. Hal ini terbukti dari hasil penelitian terhadap empat fungsi manajamen terdapat permasalahan pada fungsi manajemen perencanaan, pengorganisasian dan penggerakan. Permasalahan dalam fungsi manajamen perencanaan adalah aspek merumuskan/ membuat kebijakan masih kurang optimal diakibatkan kekurangan SDM tenaga pakar lanskape pembangunan taman, sehingga tanpa adanya tenaga ahli pakar lanskape pembangunan taman akan kurang memadai. Permasalahan dalam fungsi manajemen pengorganisasian adalah aspek penempatan pegawai masih kurang sesuai. Tataran kepegawaian sudah banyak yang

berlatar pendidikan yang tinggi namun pada kenyataan di lapangan masih ada pegawai tersebut yang tidak sesuai latar belakang pendidikan dengan jabatan yang diembannya. Permasalahan dalam fungsi manajemen penggerakan adalah aspek pengembangan potensi bawahan masih kurang optimal. Hambatan-hambatan yang dihadapi Permukiman Kota Semarang dalam pengelolaan Ruang Terbuka Hijau Kota Semarang adalah faktor internal dan eksternal. Faktor internal, masih terbatasnya kuantitas dari sumber daya manusia yang ada. Untuk masalah kuantitas yaitu kekurangan jumlah personel pengelola taman. Faktor eksternal, kebudayaan dari masyarakat kota semarang sendiri. Belum adanya kesadaran dari masyarakat sendiri. Seperti misalnya merusak taman dan adanya pencurian tanaman-tanaman bagus di perkotaan yang dilakukan oleh orang yang tidak bertanggung jawab. Hal ini menjadi kendala yang sangat berpengaruh dalam proses pengelolaan Ruang Terbuka Hijau Kota Semarang. 5.2 Saran Berdasarkan kesimpulan di atas terdapat saran dan rekomendasi yang penulis berikan, yaitu : Dalam meningkatkan Manajemen Pengelolaan Ruang Terbuka Hijau Kota Semarang di Dinas Perumahan perlu upaya sebagai berikut : kompetensi dan posisi yang dibutuhkan untuk dapat meningkatkan proses penempatan pegawai. c. Penggerakan Melakukan pengembangan potensi pegawai melalui pemberian kesempatan pendidikan agar dapat meningkatkan pengetahuan dan keterampilan pegawai. Di dalam mengatasi hambatanhambatan yang dihadapi Dinas Perumahan dalam pengelolaan Ruang Terbuka Hijau Kota Semarang terdapat rekomendasi dan saran sebagai berikut : a. Faktor internal Meningkatkan kuantitas Sumber daya manusia melalui penambahan jumlah personel pengelola taman. b. Faktor eksternal Meningkatkan koordinasi dengan tim pengawas lapangan atau tim BUSER untuk menjaga kualitas lingkungan di Kota Semarang dan memberlakukan sistem laporan tiap hari dalam laporan pengawasan lapangan setiap bulannya, serta memberikan sanksi kepada masyarakat yang merusak taman dan mencuri tanaman-tanaman bagus di perkotaan guna memberikan efek jera. a. Perencanaan Mencari dan menambah tenaga-tenaga ahli lanskape untuk perencanaan pembangunan taman yang ada di kota Semarang, sehingga pembangunan taman yang ada di kota Semarang dapat memadai atau berjalan dengan baik. b. Pengorganisasian Meningkatkan koordinasi dengan pemerintah daerah terkait dengan masalah sumber daya manusia dan merekrut pegawai sesuai dengan