Psikologi Kepribadian I

dokumen-dokumen yang mirip
Psikologi Kepribadian I Teori Interpersonal Harry Stack Sullivan

Pendahuluan. Struktur Kepribadian

PROGRAM STUDI BIMBINGAN DAN KONSELING FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS PANCASAKTI TEGAL

Psikologi Kepribadian I Sejarah Psikoanalisa Dasar & Teori Sigmund Freud

Harry Stack Sullivan (Psikiatri Interpersonal)

Psikologi Kepribadian I Teori Personologi Henry Murray

Psikologi Kepribadian I Teori Psikososial Erik Erikson

Psikologi Kepribadian I Object Relation Theories

HARRY STACK SULLIVAN ( )

Psikologi Kepribadian I Trait Factor Theories

Pandangan Teori Perkembangan Psikoanalisis menurut Sigmund Freuds

Psikologi Kepribadian I Analytical Psychology Carl Gustav Jung

Bab 2. Landasan Teori. Tokoh-tokoh tersebut tidak saja berfungsi untuk memainkan cerita, tetapi juga berperan

FASE PENGEMBANGAN KEPRIBADIAN MANUSIA

MOTIVASI DALAM BELAJAR. Saifuddin Azwar

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Freud s Psychoanalytic Theories

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan

Psikologi Kepribadian I

APLIKASI KONSEP-KONSEP PSIKOANALAISIS DALAM KONSELING KELUARGA

HARRY STACK SULLIVAN

Psikologi Kepribadian I. Psikologi Psikologi

BAB II KONSEP, LANDASAN TEORI, DAN TINJAUAN PUSTAKA. yang ada di luar bahasa yang digunakan oleh akal budi untuk memahami hal-hal

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. ketersediaan sumber dukungan yang berperan sebagai penahan gejala dan

PSIKOLOGI UMUM 1. Aliran Psikoanalisa

BAB II KONSEP, LANDASAN TEORI, DAN TINJAUAN PUSTAKA. Ada empatkonsep yang dikemukakan dalam penelitian ini yaitu pergolakan

Psikologi Kepribadian I. Psikologi Psikologi

MODEL TERAPI KONSELING. Teori dan Praktek

BAB I PENDAHULUAN. Masa remaja merupakan saat yang penting dalam mempersiapkan

1. Disosiasi: Pemisahan suatu kelompok proses mental atau perilaku dari kesadaran atau identitasnya.

dan menghasilkan pertumbuhan serta kreativitas.

Psikologi muncul sebagai ilmu pengetahuan di Jerman (psikologi asosiasi) Filsafat Descartes: cogito ergo sum saya berfikir maka saya ada.

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Destalya Anggrainy M.P, 2013

Periodisasi Perkembangan Peserta Didik

HUBUNGAN ANTARA DUKUNGAN KELUARGA DENGAN PRESTASI BELAJAR SISWA. Skripsi

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

MODUL PERKULIAHAN. Kesehatan Mental. Kesehatan Mental yang Berkaitan dengan Kesejahketaan Psikologis (Penyesuaian Diri)

Pengertian psikologi dan psikologi komunikasi_01. Rahmawati Z, M.I.Kom

Psikologi Kepribadian I Humanistic Psychoanalysis

BAB I PENDAHULUAN. Manusia adalah individu yang selalu belajar. Individu belajar berjalan, berlari,

BERBAGAI PENDEKATAN DALAM PSIKOLOGI

TINJAUAN PUSTAKA. mendorong keinginan individu untuk melakukan kegiatan-kegiatan tertentu

Kepribadian dan Perilaku Konsumen

JOHN DOLLARD & NAEL E MILLER STRUKTUR KEPRIBADIAN

BAB I PENDAHULUAN. Masa remaja merupakan masa transisi dari anak-anak menuju masa. lainnya. Masalah yang paling sering muncul pada remaja antara lain

erotis, sensual, sampai perasaan keibuan dan kemampuan wanita untuk menyusui. Payudara juga dikaitkan dengan kemampuan menarik perhatian pria yang

Karakteristik manusia komunikan. Rahmawati Z

BAB I PENDAHULUAN. berbeda dengan keadaan yang nyaman dalam perut ibunya. Dalam kondisi ini,

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. mencapai kedewasaan sesuai dengan norma-norma yang ada dalam

BAB II KONSEP, LANDASAN TEORI, DAN TINJAUAN PUSTAKA. Berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia yang diterbitkan oleh Pusat Bahasa

BAB II LANDASAN TEORI. Psikologi Tokoh Eko Prasetyo dalam Novel Jangan Ucapkan Cinta Karya

KONSEP SEHAT SAKIT. Disampaikan Pada Perkuliahan Konsep Dasar Keperawatan II Program Studi Ilmu Keperawatan FIKES UMM Semester Ganjil 2010/2011

BAB II LANDASAN TEORI. tersebut mempelajari keadaan sekelilingnya. Perubahan fisik, kognitif dan peranan

Psikologi Kepribadian I. Psikologi Psikologi

SATUAN ACARA PERKULIAHAN FAKULTAS PSIKOLOGI UNIVERSITAS GUNADARMA MATA KULIAH : PSIKOLOGI KEPRIBADIAN 1 KODE MATAKULIAH / SKS = MKK / 2 SKS

PSIKOLOGI UMUM 2. Stress & Coping Stress

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Permasalahan. latin adolensence, diungkapkan oleh Santrock (2003) bahwa adolansence

BAB I PENDAHULUAN. dengan harapan. Masalah tersebut dapat berupa hambatan dari luar individu maupun

2.1 Perkembangan anak sekolah dasar. Perkembangan anak usia sekolah disebut juga perkembangan masa

BAB II KAJIAN TEORITIS DAN HIPOTESIS

Manusia makhluk sosial sehingga membutuhkan interaksi dengan manusia lain. Kemampuan manusia berinteraksi menjadi tolak ukur keberhasilan penyesuaian

HUBUNGAN ANTARA KEBUTUHAN BERAKTUALISASI DIRI DAN KONFLIK PERAN DENGAN CITRA DIRI. Skripsi

BAB I PENDAHULUAN. Perguruan Tinggi merupakan salah satu jenjang yang penting dalam

Psikologi Konseling Psychoanalysis Therapy and Person Center Therapy

BAB I PENDAHULUAN. Masa remaja merupakan masa yang penting dalam kehidupan seseorang,

Carl Jung. Analytical Psychology. Asumsi

BAB II KAJIAN PUSTAKA, KONSEP, KERANGKA TEORI

BAB 2 LANDASAN TEORI. yang memuaskan sehingga banyak sastrawan yang mencoba membuat batasan-batasan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. A. Penyesuaian Sosial. Manusia adalah makhluk sosial.di dalam kehidupan sehari-hari manusia

BAB I PENDAHULUAN. Manusia adalah individu yang unik dan terus mengalami perkembangan di

BAB I PENDAHULUAN. A. Konteks Penelitian (Latar Belakang Masalah) Perkawinan merupakan salah satu titik permulaan dari misteri

BAB I PENDAHULUAN. lingkungan luar. Perubahan-perubahan tersebut menjadi tantangan besar bagi

MENGENAL MODEL PENGASUHAN DAN PEMBINAAN ORANGTUA TERHADAP ANAK

BAB I PENDAHULUAN. sebagai contoh kasus tawuran (metro.sindonews.com, 25/11/2016) yang terjadi. dengan pedang panjang dan juga melempar batu.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. A. Kecerdasan Emosional pada Remaja Akhir. 1. Pengertian Kecerdasan Emosional Pada remaja Akhir

Sejarah dan Aliran-Aliran Psikologi

BAB II LANDASAN TEORI. mau dan mampu mewujudkan kehendak/ keinginan dirinya yang terlihat

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

Psikologi Kepribadian

AJI SARAS WANTO ( ENO RINAWATI ( ) MEGA AYU SETYANA ( ) RAHARDHIKA ADHI N ( )

Avoiding Reality in Counseling (Menghindari Realita Dalam Konseling)

BAB I PENDAHULUAN. pengalaman pertama. Sekolah juga sebagai salah satu lingkungan sosial. bagi anak yang dibawanya sejak lahir.

KONSEP PERAWATAN KESEHATAN JIWA

BAB I PENDAHULUAN. masa kanak-kanak, masa remaja, masa dewasa yang terdiri dari dewasa awal,

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB II. Tinjauan Pustaka

Sejarah dan Aliran Psikologi

ANXIETY. Joko Purwanto. Oleh : FAKULTAS ILMU KEOLAHRAGAAN UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA

Hubungan antara Persepsi Anak Terhadap Perhatian Orang Tua dan Intensitas Komunikasi Interpersonal dengan Kepercayaan Diri pada Remaja Difabel

Perkembangan Emosi Pada Bayi

BAB I PENDAHULUAN. Negara Indonesia adalah sebuah negara berkembang yang terbebas dari

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

BAB II KAJIAN TEORETIS. Motivasi berasal dari kata motif yang artinya daya upaya yang mendorong seseorang

BAB I PENDAHULUAN. permasalahan, persoalan-persoalan dalam kehidupan ini akan selalu. pula menurut Siswanto (2007; 47), kurangnya kedewasaan dan

HUBUNGAN ANTARA POLA ASUH ORANG TUA DENGAN KECEMASAN KOMUNIKASI PADA REMAJA DI JAKARTA BAB 1 PENDAHULUAN

TAHAPAN PERKEMBANGAN MANUSIA

BAB I PENDAHULUAN. Coping Mechanism adalah tingkah laku atau tindakan penanggulangan

Transkripsi:

MODUL PERKULIAHAN Psikologi Kepribadian I Psikologi Kepribadian I Fakultas Program Studi Tatap Muka Kode MK Disusun Oleh Psikologi Psikologi 12 61101 Agustini, M.Psi., Psikolog Abstract Dalam perkuliahan ini akan didiskusikan mengenai pembahasan Pandangan Harry Stack Sullivan mengenai ciri khusus, struktur, dan dinamika kepribadian manusia. Kompetensi Mampu memahami tentang Teori Interpersonal Harry Stack Sullivan.

Latar Belakang Struktur Kepribadian Sullivan tegas memandang sifat dinamik kepribadian, sehingga merendahkan konsep idego - super ego dan lain-lain yang membuat kepribadian menjadi stabil atau statis. Namun ternyata ia juga memberi tempat penting dalam teorinya beberapa aspek kepribadian yang nyata stabil dalam waktu yang lama, dinamisme, personifikasi, sistem self, dan proses kognitif. Dinamisme (The Dynamism) Dinamisme adalah pola khas tingkah laku (transformasi energi) yang menetap dan berulang terjadi yang menjadi ciri khusus seseorang. Transformasi energi atau tingkah laku bisa terbuka (dapat diamati) atau tersembunyi (dalam pikiran atau khayalan). Pola tingkah laku itu menetap dan berulang sehingga kurang lebih sama dengan kebiasaan. Menurut Sullivan, pola adalah sampul yang menutupi perbedaan-perbedaan kecil yang tidak berati. Ini berarti suatu ciri baru dapat ditambahkan pada suatu pola tanpa mengubah pola itu sejauh ciri itu dapat ditutupi, tidak nyata-nyata berbeda dengan ciri lainnya. Dinamisme adalah pola yang spesifik dan berulang dari tingkah laku yang menjadi ciri khas seseorang. Dinamisme yang melayani kebutuhan kepuasan organisme melibatkan bagian tubuh yakni alat reseptor, efektor, dan system syaraf. Misalnya dinamisme makan melibatkan mulut dan otot leher, dinamisme seks melibatkan organ genital. Dinamisme yang menjadi pembeda antar manusia tidak berhubungan dengan bagian tubuh, tetapi menjadi ciri khas hubungan antar pribadi. Suatu kebiasaan bagaimana mereaksi orang lain, baik dalam bentuk perasaan, sikap, maupun tingkah laku terbuka. Dinamisme dengki (memusuhi orang atau kelompok orang tertentu), dinamimis ketakutan (anak yang bersembunyi dibelakang ibunya setiap menghadapi orang asing), dan dinamisme sistem self. Personifikasi (Personificaton) Personifikasi adalah suatu gambaran mengenai diri atau orang lain yang dibangun berdasarkan pengalaman yang menimbulkan kepuasaan atau kecemasan. Hubungan interpersonal yang memberi kepuasan cenderung membangkitkan image positif, sebaliknya yang melibatkan kecemasan membangkitkan image negatif. Misalnya personifikasi yang dikembangkan bayi megenai ibunya adalah gambaran ibu baik (good mother) yang 2 Agustini, M.Psi., Psikolog http://www.mercubuana.ac.id

diperoleh dari pegalaman ibu menyusui dan merawatnya atau ibu buruk (bad mother) yang diperoleh dari pengalaman pendekatan ibu yang menimbulkan kecemasan dan takut. Dua gambaran itu pada bayi mula-mua terpisah, namun kemudian muncul personifikasi lainnya tetang ibu (ibu melindungi, ibu sibuk, dll) dan semua personifikasi itu bergabung membentuk gambaran yang kompleks dan realistik tentang ''ibu''. Personifikasi mengenai ibu diikuti personifikasi orang dekat dan penting lainnya. Gambaran awal mengenai orang-orang itu jarang yang deskripsipnya akurat. Akurat gambaran itu dibentuk dalam rangka memahami dan merespon orang itu dalam rangka memahami dan memahami orang itu dalam situasi yang cenderung terpisah. Namun gambaran itu cenderung menetap dan mempengaruhi sikap orang itu kepada orang-orang lain pada masa yang akan datang. Misal: seorang pengacara yang mempunyai personifikasi ''ayah'' sebagai orang yang kejam dan otoriter, mungkin memberi reaksi marah luar biasa ketika diperlakukan tidak adil oleh hakim, orang lain yang berposisi otoriter (seperti ayahnya). Mudah untuk melihat transfer personifikasi pada awal kehidupan mempengaruhi hubungan interpersonal pada masa dewasa. Sistem Self (Selt System) Sistem self merupakan bagian dinamise yang paling kompleks. Suatu pola tingkah laku yang konsisten yang mempertahankan keamanan interpersonal dengan menghindari atau mengecilkan kecemasan. Sistem ini mulai berkembang pada usis 12-18 bulan, usia ketika anak mulai belajar tingkah laku yang berhubungan, meningkat atau menurunkan kecemasan. Pada mulanya bayi hanya mengenal keadaan takut dan sakit sebagai hal yang tidak menyenangkan. Ibu atau pemeran keibuan mengajari anak dengan ganjaran dan hukuman dan dari hukuman inilah muncul kecemasan. Ketika sistem self mulai berkembang, orang mulai membentuk gambaran diri atau personifikasi diri yang konsisten. Setiap pengalaman interpersonal yang dipandang bertentangan dengan sistem dirinya berarti mengancam keamanan diri. Dampaknya, orang berusaha mempertahankan diri melawan ketegangan interpersonal untuk memakai operasi keamanan, suatu proses yang bertujuan untuk mereduksi perasaan tidak aman atau perasaan akibat dari ancaman terhadap sistem self. Orang cenderung tidak mengakui atau mengubah pengalaman interpersonalnya yang bertentangan dengan personifikasi dirinya. Misal: Orang yang menganggap dirinya cerdas, ternyata dianggap tidak kompeten (oleh orang lain). Ia akan mengatakan bahwa orang itu bodoh atau sedang bergurau. Ada beberapa macam operasi keamanan yang dipakai sejak usia bayi, Ssperti disosiasi 3 Agustini, M.Psi., Psikolog http://www.mercubuana.ac.id

(dissociation), inatensi (innatention), apati (apathy), dan pertahanan tidur (somnolent datachment). Disosiasi adalah mekanisme menolak impuls, keinginan, dan kebutuhan muncul ke kekesadaran. Banyak pengalaman bayi yan disosiasi karena pengalaman itu tidak mendapat hadiah dan juga tidak mendapat hukuman, sehingga pengalaman itu tidak menjadi bagian dari sistem self. Pengalaman yang terlalu jauh perbedaannya dengan standar sistem self biasanya juga akan di disosiasi. Disosiasi tidak hilang tetapi ditekan ketidaksadaran dan mempengaruhi kepribadian dan tingkah laku, tetapi ditekan ke ketidaksadaran dan mempengaruhi kepribadian dan tingkah laku dari sana, misalnya melalui mimpi, lamunan, dan aktivitas tidak sengaja yang semuanya diarahkan untuk mempertahankan keamanan interpersonal. Terhadap pengalaman yang mengancam personifikasi diri, orang dapat berpura-pura tidak merasakannya. orang memilih mana pengalaman yang akan diperhatikan dan mana yang tidak perlu diperhatikan. Inilah inatensi yang sangat membantu karena orang tidak perlu disibukkan dengan sesuatu yang tidak berguna, semuanya berjalan sebagaimana mestinya. Apati (aphaty) dan pertahanan dengan tidur mirip dengan inatensi, pada apatis bayi tidak memilih obyek mana yang harus diperhatikan, semuanya diserahkan kepada pihak luar. Pada pertahanan tidur bayi tidak perlu memperhatikan stimulasi yang manapun. Namun apabila orang mengabaikan semua stimulasi termasuk hal yang berguna, sistem self menjadi terisolir dari bagian kepribadian lainnya. Agar sistem self dapat melindungi diri dari kecemasan, informasi yang terseleksi atau diabaikan akan menjadi semakin banyak. Ini bisa berakibat orang gagal mempelajari hal baru, gagal mendapatkan keuntungan dari pengalaman, dan gagal mengembangkan pandangan ke depan (foresight) sehingga tidak memiliki kemampuan mengantisipasi event dan mengarahkan tingkah laku secara adaptif. Proses Kognitif (Cognitive Process) Proses kognitif atau pengalaman kognitif manusia menurut Sullivan dapat dikelompokkan menjadi tiga macam, mengikuti alur perkembangan dan kemasakan organisme yakni prototaksis, parataksis, dan sintaksis. 1. Prototaksis (Prototaxis) Adalah rangakaian pengalaman yang terpisah-pisah yang dialami pada masa bayi, dimana arus kesadaran (pengindraan, bayangan, dan perasaan) mengalir ke dalam jiwa 4 Agustini, M.Psi., Psikolog http://www.mercubuana.ac.id

tanpa pengertian ''sebelum'' dan ''sesudah''. Semua pengetahuan bayi adalah pengetahuan saat itu, disini, dan sekarang. Semua pengalaman berdiri sendiri-sendiri, sensasi sederhana mungkin terus dan tetap menjadi bagian dari kehidupan mental orang dewasa, namun orang selalu menghubungkan elemen-elemen itu menjadi kesatuan pengalaman. Pada usia dewasa, dominasi pengalaman prototaksis hampir tidak ditemui. 2. Parataksis (Parataxis) Kira-kira pada awal tahun kedua, bayi mulai mengenali persamaan-persamaan dan perbedaan peristiwa-peristiwa disebut pengalaman parataksis atau pengalaman asosiai. Pada tahap ini, bayi mengembangkan cara berpikir melihat hubungan sebab akibat, asoasiasional peristiwa yang terjadi pada saat yang bersamaan atau peristiwa-pwristiwa yang mempunyai detail yang sama, tetapi hubungan itu tidak logis. Misal: bayi yang diberi makan saus apel memakai sendok yang terlalu panas (karena disiram air panas) sehngga lidahnya menjadi sakit. Bayi itu menolak makan, bukan karena rasa saus apel tetapi karena sendok. Parataxis ini dialami dan difikirkan sehingga sering dilakukan orang dewasa. Misal: orang yang masuk ke ruangan yang ada banyak orang didalamnya yang sedang berbicara. Orang-orang itu tiba-tiba berhenti berbicara sesudahnya melihatnya, ini menimbulkan perasaan bahwa mereka membicarakan dirinya. 3. Sintaksis (Syntaxis) Berpikir logik dan realistik menggunakan lambang-lambang yang diterima bersama, khususnya bahasa - kata - bilangan. Ketika anak mulai belajar berbicara, mempelajari ''kata'' yang secara umum diterima sebagai wakil dari suatu peristiwa, saat itulah anak mulai berpikir sintaksis. Sintaksis menghailkan hubungan logis antar pengalaman dan memungkinkan orang berkomunikasi satu dengan lainnya, melalui proses validasi konsesus. Tiga mode pengalaman kognitif itu terjadi sepanjang hayat. Normalnya, sintaksis mulai mendominasi sejak usis 4-10 tahun. Sullivan menekankan pentingnya tinjauan ke masa depan alam fungsi kognitif. Manusia dimasa lampau, masa sekarang, dan masa depan yang semuanya jelas relevan dalam menerangkan fikiran dan perbuatannya. Tinjauan ke masa depan bergantung kepada ingatan orang kepada masa lampau dan interpretasinya terhadap masa sekarang. Dinamika Kepribadian Seperti Freud dan Jung, Sullivan memandang kehidupan manusia sebagai sistem energi dimana perhatian utamanya adalah bagaimana menghilangkan tegangan yang ditimbulkan 5 Agustini, M.Psi., Psikolog http://www.mercubuana.ac.id

oleh keinginan dan kecemasan. Energi dapat terwujud dalam bentuk tegangan (tension) atau dalam bentuk tinkahlaku itu sendiri (energy transformation). 1. Tegangan (Tension) Tension adalah potensi untuk tingkah aku yang disadari atau tidak disadari. Jadi tidak semua tension disadari, banyak tension seperti kecemasan, mengantuk, lapar, dan kepuasan seksual, dirasakan tetapi tidak selalu dalam tingkat sadar. Setiap saat orang selalu berada dalam tingkat tegangan tertentu dari tegangan yang sangat rendah atau relaksasi mutlak (euphoria) sampai tegangan yang sangat kuat. Misal: tegangan dalam situasi teror. Sumber tegangan terdapat dua, yaitu: a. Kebutuhan (Need) Kebutuhan yang pertama muncul adalah tegangan yang timbul akibat ketidakseimbangan biologis di dalam diri individu dan ketidakseimbangan fisikokimia antara individu dengan lingkungannya. Need biologis dipuaskan dengan memberi pasokan yang dapat mengembalikan keseimbangan. Kepuasan bersifat episodik, sesudah memperoleh kepuasan, tegangan menurun atau hilang tetapi sesudah lewat waktu tertentu tegangan yang sama akan muncul kembali. Kebutuhan interpersonal yang terpenting adalah kelembutan kasih sayang (tenderness). b. Kecemasan (Anxiety) Kecemasan menurut Sullivan merupakan pengaruh pendidikan yang paling besar sepanjang hayat, disalurkan mula-mula oleh pelaku keibuan kepada bayinya. Jika ibu mengalami kecemasan, ia akan menyatakannya pada wajah, irama kata, dan tingkah laku dan bayi akan terinduksi sehingga merasakan kecemasan seperti yag dirasakan ibunya. Proses ini oleh Sullivan dinamakan empati. Bayi tidak mempunyai kemampuan untuk mengurangi kecemasan begitu pula orangtua tidak mempunyai cara efektif untuk menangani kecemasan bayi. 2. Transformasi Energi (Energy Transformations) Tegangan yang ditransformasikan menjadi tingkah laku, baik tingkah laku yang terbuka maupun tertutup, disebut transformasi energi. Inilah yang agak dicari-cari untuk sesuatu yang sederhana, tingkah laku yang ditunjukkan untuk memuaskan kebutuhan dan mengurangi kecemasan, dua sumber utama tegangan. Tingkah laku hasil transformasi itu meliputi gerakan yang kasat mata dan kegiatan mental seperti perasaan dan pikiran, 6 Agustini, M.Psi., Psikolog http://www.mercubuana.ac.id

persepsi dan ingatan. Bentuk-bentuk kegiatan yag dapat mengurangi tegangan, menurut Sullivan dipelajari dan ditentukan oleh masyarakat dimana orang itu dibesarkan. Apa yang dapat ditemukan pada masa lalu setiap orang adalah tegangan-tegangan dan pola transformasi energi untuk meredakannya yang menjadi sarana pendidikan menyiapkan anak menjadi anggota masyarakatnya. Insting memang ada dan menjadi pemicu kebutuhan yang menimbulkan tegangan tetapi transformasi energi tidak lagi dipengaruhi insting dan lebih sebagai hasil belajar. Perkembangan Kepribadian Sullivan membagi usia manusia menjadi tujuh perkembangan, masing-masing mempunyai sumbangan penting dalam membetuk kepribadian. disetiap tahap perkembangan orang menghadapi masalah hubungan interpersonal yang berbeda-beda sehingga bentuk bahaya yang berasal dari hubungan interpersonal itu juga berbeda-beda. Perubahan kepribadian dapat terjadi kapan saja, tetapi yang paling sering terjadi pada masa transisi dari tahap satu ketahap berikutnya. Garis batas antar tahap itu ditunjuk karena secara umum pada saat itu terjadi perubahan kepribadian yang signifikan sehingga dalam kenyataan lebih penting dari tahap itu sendiri. Pengalaman disosiasi dan inatensi selektif yang terjadi sepanjang periode tertentu pada periode transisi mungkin masuk dalam sistem self, dan siap mempengaruhi perkembangan pada periode berikutnya. Bayi menjadi manusia berkat kelembutan kash sayang yang diterima dari pemeran keibuan. Bayi tidak mungkin bertahan hidup tanpa pemeran keibuan yang memberinya makanan, kehangatan, kontak fisik, dan menjaga kebersihannya. Perhatian utama bayi adalah makan, sehingga obyek pertama yag menjadi pusat perhatiannya adalah puting susu ibu (outing botol). Puting yang mewakili ibu itu menimbulkan paling tidak tiga image sesuai dengan pengalaman bayi itu dengan puting itu. 1. Puting bagus (good nipple): Puting yang lembut penuh kasih sayang dan menjajikan kepuasan fisik (bisa terjadi good nipple tidak memuaskan karena diberikan kepada bayi yang tidak lapar). 2. Bukan puting (not nipple) atau puting yang salah karena tidak mengeluarkan air susu bahkan merupakan tanda penolakan dan isyarat mencari puting yang lain. 3. Puting buruk (bad nipple) puting dari ibu yang cemas tidak memberi kasih sayang dan kepuasan fisik. 7 Agustini, M.Psi., Psikolog http://www.mercubuana.ac.id

Pengalaman makan akan membentuk personifikasi ibu, puting bagus menjadi ibu baik (good mother). Personifikasi ibu menjadi awal dari personifikasi diri sendiri. Bayi mulai membentuk gambaran saya baik, bukan saya dan saya buruk (good me- not me - bad me) yang menjadi dasar pemahaman diri. Tabel Tahap - Tahap Perkembangan dari Sullivan Periode Orang Penting Proses Interpersonal Pencapaian Utama Perkembangan Negatif Invancy 0-1.5 tahun. Lahir- berbicara Pemeran keibuan. Kelembutan kasih sayang. Awal mengorganisasi pengalaman, belajar memuaskan beberapa kebutuhan diri. Rasa aman beroperasi melalui apathy dan detachment. Childhood 1.5-4 tahun Orangtua. Melindungi rasa aman melalui imaji teman sebaya. Belajar melalui identifikasi dengan orangtua, belajar sublimasi mengganti suatu kepuasan dengan kepuasan yang lain. Performansi, rasionalisasi, preokupasi, transformasi jahat. Juvenil 4-8/10 tahun. Hubungan sebaya. Teman bermain seusia. Orientasi menuju kehidupan sebaya. Belajar bekerjasama dan bersaing dengan orang lain, belajar berurusan dengan figur otoritas. Stereotipe. Ostrasisme. Disparejemen. Pra adolesen 8/10-12 tahun. Pubertas awal. Chum tunggal. Intimasi. Belajar mecintai orang lain seperti atau melebihi mencintai diri sediri. Loneliness. Adolesen awal 12-16 tahun. Pubertas seks mantap Chum jamak Intimasi dan nafsu seks ke orang yang berbeda. Integrasi kebutuhan intimasi dengan kepuasan seksual. Pola tingkah laku seksual yang tidak terpuaskan. Adolesen akhir Kekasih. Menggabung intimasi dan Integrasi dalam ke Personifikasi 8 Agustini, M.Psi., Psikolog http://www.mercubuana.ac.id

16-20 tahun. Seks mantap. Tanggung jawab sosial. nafsu. masyarakat dewasa, respect. self yang tidak tepat. Keteterbatasan. hidup. Maturity 20 tahun lebih Konsolidasi pencapianan setiap tahap sebelumnya. Perkembangan pada masa bayi sangat kompleks. Berikut enam ciri penting perkembangan menurut Sullivan: 1. Timbulnya dinamisme apati, pertahan tidur, disosiasi, dan inatensi. 2. Peralihan dari prototaxis ke parataxis. 3. Organisasi personifikasi-personifikasi, baik personifikasi ibu maupun personifikasi diri. 4. Organisasi pengalaman melalui belajar dan munculnya dasar-dasar sistem diri. 5. Direfensiasi tubuh bayi sendiri, mengenal dan memanipulasi tubuh. 6. Belajar bahasa, dimulai dengan bahasa autisme. 7. Belajar melakukan gerakan yang terkoordinasi, melibatkan mata, tangan, mulut, telinga, serta organ tubuh lainnya. 9 Agustini, M.Psi., Psikolog http://www.mercubuana.ac.id

Daftar Pustaka Alwisol (2012). Psikologi Kepribadian. Edisi Revisi. Malang: UPT Penerbitan Universitas Muhammadiyah-Malang. Feist, J., & Feist G (2012). Theories of Personality (7 th ed.) USA: MC Graw Hill. 10 Agustini, M.Psi., Psikolog http://www.mercubuana.ac.id