Psikologi Kepribadian

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "Psikologi Kepribadian"

Transkripsi

1 MODUL PERKULIAHAN Psikologi Kepribadian I Fakultas Program Studi Tatap Muka Kode MK Disusun Oleh Psikologi Psikologi Abstract Dalam perkuliahan ini akan didiskusikan mengenai pembahasan teori Karen Horney mengenai ciri-ciri khusus, struktur & dinamika kepribadian berdasarkan pandangan psychoanalytic social theory. Kompetensi Mampu memahami tentang Psychoanalytic Social Theory dari Karen Horney.

2 Latar Belakang Pendahuluan Karen Horney adalah salah satu murid wanita Freud yang paling terkenal. Teori-teorinya sangat dipengaruhi oleh pemikiran Freud, meskipun juga memiliki beberapa konsep yang merupakan bentuk penentangan terhadap teori gurunya. Sebagai seorang wanita, Horney menunjukkan keberpihakan kepada kaumnya. Keberpihakan ini terefleksi dalam teori-teori yang dikembangkan, misalnya konsep womb envy sebagai konsep tandingan atas konsep penis envy dari Freud. Konsep penis envy merupakan konsep yang merendahkan wanita, karena menunjukkan adanya kekurangan pada wanita yang didasarkan pada perbedaan bagian organ seks. Horney berusaha tidak memberikan penjelasan mengenai penis envy dari sudut pandang organis, tetapi dari sudut pandang budaya. Konsep womb envy yang dikembangkannya menjelaskan perasaan kekurangan dari kaum lelaki yang juga disebabkan oleh ketiadaan rahim yang menjadi tempat tumbuhnya janin yang kemudian menjadi cara untuk melestarikan spesies manusia. Harus diakui bahwa konsep ini juga didasarkan pada perbedaan organ seks. Karen Horney memberikan sumbangan yang besar terhadap psikologi gender karena pembelaannya terhadap wanita. Horney ingin menunjukkan adanya kesamaan antara lelaki dan wanita. Karen Horney mengembangkan teori neurotik tetapi teori yang dikembangkannya berbeda denga teori yang ada sebelumnya. Menurut Horney, neurotik merupakan sesuatu yang biasa dilakukan dalam kehidupan normal. Horney mengidentifikasi sepuluh bentuk neurotik termasuk kebutuhan kekuasaan, kebutuhan akan kasih sayang, kebutuhan akan prestise sosial, dan kebutuhan akan kemerdekaan. Meskipun banyak mengikuti teori Sigmund Freud, tetapi Horney tidak setuju dengan pandangan Freud mengenai psikologi wanita. Horney menolak konsep iri penis (penis envy). Menurutnya, konsp itu tidak akurat dan merendahkan wanita. Horney menyatakan, ''Pria tidak memiliki kekuatan yang luar biasa untuk mengembangkan karya kreatif dalam setiap bidang, mereka hanya memainkan bagian yang relatif kecil dalam penciptaan mahkluk hidup. Hal ini yang mendorong mereka untuk terus-menerus melakukan over kompensensi supaya mencapai prestasi''. Manusia dalam Pandangan Karen D. Horney Gambaran Horney mengenai manusia lebih optimis dibandingkan dengan Freud. Salah satu bentuk optimismenya adalah kepercayaannya mengenai kekuatan biologis yang tidak 2

3 akan menghukum kita dalam bentuk konflik cemas. Neurotik merupakan sesuatu yang universal dalam kepribadian. Menurut Horney, setiap orang itu unik apabila terjadi perilaku neurotik, maka penyebabnya adalah dorongan sosial pada masa kanak-kanak. Hubungan orangtua anak tidak selamanya memuaskan, kadang juga membuat frustasi anak. Jika hubungannya tidak memuaskan, maka anak akan membentuk perilaku neurotik. Kondisi neurotik atau konflik dapat dihindari jika anak dibesarkan dengan, penerimaan, dan kepercayaan. Tujuan utama dalam kehidupan manusia adalah merealisasikan diri dan setiap orang memiliki potensi untuk mencapainya. Kemampuan dan potensi intrinsik ini akan tumbuh sebagai sesuatu yang alamiah. Hanya satu hal yang dapat merintangi perkembangan ini, yaitu hambatan dalam memenuhi kebutuhan rasa aman dan perlindungan ketika pada masa kanak-kanak. Horney percaya bahwa manusia memiliki kapasitas untuk membentuk dan mengubah kepribadian secara sadar, karena pada hakikatnya manusia itu fleksibel. Proses pembentukan kepribadian ini tidak terhenti pada masa kanak-kanak tetapi berlanjut sampai masa dewasa. Karena itu pengalaman masa dewasa sama pentingnya dengan pengalaman masa kanak-kanak. Horney juga meyakini kapasitas manusia dalam pertumbuhan diri. Dalam teknik terapi yang dikembangkannya, Horney menekankan analisis diri seperti yang dilakukanya terhadap diri sendiri. Dalam bukunya yang berjudul self analysis, ia menjelaskan bahwa manusia memiliki kemampuan untuk membantu menyelesaikan semua masalahnya sendiri. Penjelasan ini didasarkan pada adanya kebebasan berkehendak (free will) yang dimiliki manusia sebagai lawan dari ditetapkan (determinism). Horney berpendapat melalui kemampuan ini, manusia dapat membentuk kehidupan sendiri untuk mencapai realisasi diri (self realization). Konsep Utama Psikoanalisis Interpersonal 1. Masa Kanak-Kanak Memerlukan Rasa Aman Horney setuju dengan prinsip Freud mengenai pentingnya kehidupan pada tahun-tahun awal perkembangan anak bagi kepribadian individu dimasa dewasa. Tetapi berbeda dengan Freud, Horney lebih percaya kepada kekuatan sosial pada masa kanak-kanak dalam pembentukan kepribadian dibandingkan dengan kekuatan biologis. Hubungan sosial antara orangtua anak menjadi kunci penting yang dapat menghindarkan konflik pada masa perkembangan yang terjadi pada tahap selanjutnya. Dalam pemikiran Horney, masa kanak-kanak didominasi oleh kebutuhan rasa aman (safety need), artinya anak sangat membutuhkan perlindunag dan kebebasan dari rasa takut 3

4 (Horney, 1937). Perasaan aman atau perasaan takut akan kehilangan dialami oleh semua bayi dan hal ini akan menentukan kenormalan perkembangan kepribadian dikemudian hari. Perasaan aman yang dimiliki anak sepenuhnya bergantung pada cara orangtua memperlakukannya. Penyebab tidak munculnya rasa aman adalah orangtua kurang hangat dan kurang menunjukkan kasih sayang terhadap anak-anaknya. Kondisi inilah yang dirasakan oleh Horney pada masa kanak-kanaknya (orangtuanya hanya sedikit memberikan kasih sayang dan kehangatan). Horney percaya bahwa orang yang mengalami trauma pada masa kanak-kanak, misalnya karena penyapihan yang tiba-tiba, perlakuan kasar dari orangtua, bahkan mungkin pengalaman seksual yang prematur tidak akan memberikan dampak terhadap perasaan aman yang dimiliki anak bahkan mereka dapat bertahan tanpa mengalami kesakitan, sepanjang merasa tetap diinginkan dan dicintai. Secara sadar atau tidak sadar, orangtua dapat saja meruntuhkan perasaan aman dan mengubahnya menjadi perasaan bermusuhan. Adanya pilih kasih antara saudara kandung, menghukum dengan tidak adil, perilaku yang tidak konsisten, tidak menepati janji, mengejek, menghina, dan mengisolasi anak dari teman sebayanya akan memunculkan permusuhan pada anak. Anak mengetahui apakah orangtuanya mencintai dengan tulus atau tidak. Kegagalan dalam menunjukkan kasih sayang dan ketidakjujuran dapat dirasakan oleh anak sehingga tidaklah mudah untuk mengelabui mereka. Anak mungkin akan menekan permusuhan terhadap orangtuanya karena takut merasa bersalah atau masih berharap mendapat cinta yang tulus dari keduanya. Horney sangat menekankan ketidakberdayaan masa bayi dalam perkembangan kepribadian. Namun berbeda dengan Adler, Horney tidak percaya bahwa setiap bayi pada dasarnya merasa tidak berdaya. Tetapi apabila perasaan tidak berdaya tersebut muncul maka akan menyebabkan neurotik. Perasaan tidak berdaya pada anak bergantung pada perilaku orangtuanya. Jika anak bergantung secara berlebihan dan kebergantungan tersebut terus dibiarkan, maka mereka akan mengalami ketidakberdayaan selamanya. Kebanyakan ketidakberdayaan yang dirasakan anak terjadi karena mereka kurang berani utuk melawan dan memberontak terhadap terhadap oangtuanya dan ini akan membuat anak menekan rasa permusuhannya. Anak dengan mudah dibuat ketakutan oleh orangtua melalui hukuman, kekerasan fisik atau intimidasi. Anak yang penakut akan menekan rasa permusuhannya. Secara paradoks, cinta dapat menjadi dasar untuk menekan permusuhan terhadap orangtua. Orangtua yang mengatakan bahwa mereka sangat mencintai anak-anaknya dan betapa besar pengorbanan untuk anak-anaknya, tetapi tidak disertai dengan kasih sayang dan kehangatan yang tulus akan dirasakan anak. Anak mengakui bahwa kata-kata dan 4

5 perilaku yang ditunjukkan orangtua yang berpura-pura tidak dapat mengganti cinta yang tulus dan memberinya rasa aman. Anak akan menekan rasa permusuhan karena takut kehilangan meskipun hal tersebut merupakan ekspresi cinta yang tidak memuaskan. Rasa takut menjadi alasan bagi anak-anak untuk menekan rasa permusuhan. Mereka seringkali dibuat merasa bersalah atas permusuhan atau pemberontakan yang dilakukannya. Mereka dibuat merasa tidak berguna, jahat, dan berdoa untuk menunjukkan kebencian terhadap orangtuanya. Makin besar perasaan bersalah, makin dalam mereka merasakan perasaan permusuhan. Penekanan terhadap sikap permusuhan merupakan hasil dari berbagai perilaku pengasuhan yang selanjutnya akan merusak kebutuhan rasa aman yang dimanisfestasikan menjadi kecemasan dasar (basic anxiety). 2. Kecemasan Dasar: Pondasi dari Neurosis Menurut Horney, kecemasan dasar adalah peningkatan seluruh perasaan kesepian dan tidak berdaya dalam dunia permusuhan yang disembunyikan (Horney, 1937). Kecemasan menjadi dasar dari perkembangan neurotik. Kondisi ini berlaku sama pada setiap orang yang merasa kecil, tidak bermakna, tidak berdaya, ditinggalkan, terancam dalam dunia yang penuh kekerasan, penipuan, serangan, penghinaan, dan pengkhianatan. Menurut Horney, terdapat 4 cara untuk melindungi diri dari kecemasan dasar yaitu: a. Meminta cinta dan kasih b. Menjadi penurut c. Meraih kesuksesan d. Menarik diri Beberapa cara yang dilakukan untuk mendapatkan kasih sayang antara lain dengan mencoba mengerjakan apa saja yang disukai orang lain, mencoba untuk menyuap, bahkan mengancam supaya mendapat kasih sayang yang diinginkan. Menjadi penurut berarti melindungi diri dengan cara mematuhi keinginan seseorang atau setiap orang dalam lingkungan sosial. Orang yang penurut menghindari apapun yang menyebabkan orang membencinya. Mereka takut dikritik atau mendapatkan serangan. Mereka harus menekan hasrat pribadi dan tidak melawan ketika orang lain memakinya karena takut membuat si pemaki semakin membencinya. Kebanyakan orang yang penurut percaya bahwa mereka tidak egois dan suka berkorban. Orang yang menarik diri akan mencapai kemandirian dalam memenuhi kebutuhan internal (psikologisnya) dengan cara menjauhkan diri dari orang lain dan tidak memerlukan 5

6 orang lain untuk memenuhi kepuasan emosionalnya. Orang yang menarik diri akan melindungi diri dari sakit hati yang disebabkan oleh orang lain. Dalam hal ini terjadi penumpulan minimalisasi kebutuhan emosional terhadap orang lain. Empat mekanisme perlindungan diri diatas memiliki satu tujuan yaitu bertahan melawan kecemasan dasar. Mereka memotivasi dirinya untuk mencari keamanan dan ketentraman hati, bukan mencapai kebahagiaan dan kesenangan. Mereka bertahan dari rasa sakit, bukan mengejar kesejahteraan. Mekanisme yang terjadi mungkin bertujuan untuk mengurangi kecemasan, tetapi justru menyebabkan pemiskinan kepribadian. Menurut Horney, kebutuhan orang neurotik terhadap orang lain lebih banyak bersifat fisik, seperti lebih memilih pemenuhan kebutuhan seksual dibandingkan dengan kebutuhan yang lain. Penderita neurotik seringkali mencari keamanan dan perlindungan dengan menggunakan lebih dari satu mekanisme pertahanan meskipun tidak kompatibel. Dari empat mekanisme perlindungan diri tersebut pada dasarnya hanya akan menambahkan masalah. 3. Kebutuhan dan Kecenderungan-Kecenderungan Neurotik Horney percaya bahwa beberapa mekanisme perlindungan diri yang ada akan permanen dan menjadi bagian dari kepribadian. Anggapan ini di dasarkan pada karakteristik dari dorongan atau kebutuhan yang menentukan perilaku individual. Horney telah menyusun sepuluh kebutuhan dan menamakannya sebagai kebutuhan neurotik, karena merupakan solusi yang tidak rasional dalam penyelesaian masalah. Sepuluh kebutuhan neurotik adalah sebagai berikut: a. Kasih sayang dan dukungan. b. Pasangan yang dominan. c. Kekuasaan. d. Eksploitasi. e. Prestise. f. Kekaguman. g. Prestasi dan ambisi. h. Memenuhi kebutuhan sendiri. i. Kesempurnaan. j. Batas sempit untuk hidup. 6

7 Kasih sayang yang muncul pada orang neurotik adalah untuk mendapatkan kasih sayang dan dukungan. Bagi orang neurotik, menjadi penurut termasuk dalam upaya memenuhi kebutuhan tersebut dan mereka memperolehnya dari pasangan yang dominan. Keinginan mencapai kekuasaan berkaitan dengan kebutuhan untuk berkuasa, eksploitasi, prestasi, dan kekaguman. Kecenderungan neurotik berkembang melalui mekanisme perlindungan diri. Kita dapat melihat kesamaan pada deskripsi awal. kecenderungan neurotik melibatkan sikap dan perilaku impulsif yaitu orang neurotik akan dipaksa untuk berperilaku sesuai dengan kecenderungan neurotiknya dalam situasi apapun. Kecenderungan neurotik tersebut dapat dikelompokkan menjadi 3 arah pergerakan. 1). Pergerakan menuju orang lain (kepribadian mengalah). 2). Pergerakan melawan orang lain (kepribadian agresif). 3). Pergerakan menjauhi orang lain (kepribadian terlepas). a). Kepribadian mengalah Orang dengan kepribadian mengalah menampilkan sikap dan perilaku yang merefleksikan hasrat untuk bergerak menuju orang lain. Kebutuhan yang kuat dan terusmenerus untuk mendapatkan kasih sayang dan dukungan, ingin sekali dicintai, diharapkan dan dilindungi. Orang dengan kepribadian yang mengalah menampilkan keinginan terhadap setiap orang, meskipun mereka biasanya memilki keinginan untuk mendapatkan orang yang dominan, seperti teman atau pasangan yang akan mengurusi hidup mereka dan menawarkan perlindungan dan bimbingan. Orang dengan kepribadian yang mengalah selalu memanipulasi orang lain, terutama pasangannya untuk mencapai tujuan tersebut. Mereka seringkali bertingkah laku tertentu untuk menarik orang lain supaya disayangi. Dalam hubungannya dengan orang lain, orang dengan kepribadian mengalah akan menunjukkan sikap mendamaikan dan menempatkan hasrat personalnya lebih rendah dibandingkan dengan keinginan orang lain. Mereka akan menanggung kesalahan dan tunduk kepada orang lain, tidak pernah arsetif, kritis, atau menuntut. Mereka mengerjakan apa saja kalau situasinya membutuhkan dengan tujuan untuk mendapatkan kasih sayang, persetujuan, dan cinta. Cara pandang mereka terhadap diri sendiri secara konsisten tidak berdaya dan lemah. Konsekuensinya, mereka akan melihat dirinya lebih inferior memandang orang lain dan orang lain superior meskipun sebenarnya kompeten. Demi keamanan, orang dengan kepribadian mengalah akan tunduk kepada sikap dan perilaku orang lain terhadap dirinya. Mereka menjadi orang yang sangat bergantung, membutuhkan dukungan yang konstan dan 7

8 ketentraman hati. Adanya penolakan, baik nyata maupun khayalan akan menakutkan mereka dan membuatnya meningkatkan usaha untuk mendapatkan kembali kasih sayang dari orang yang menolaknya. b) Kepribadian Agresif Kepribadian agresif bergerak melawan orang lain. Bagi mereka, setiap orang adalah musuh. Karenanya hanya orang yang sangat memahami dan sangat licik yang dapat bertahan. Bagi mereka, hidup seperti rimba, penuh supremasi, kekuatan, dan kebuasan yang menjadi gunung kebaikan. mmeskipun motivasi mereka adalah sama dengan tipe penurut yaitu untuk meredakan kecemasan dasar, tetapi cara yang dilakukannya tidak dengan menujukkan ketakutan terhadap penolakan. Sebaliknya, mereka keras dan beusaha menguasai serta tidak menghargai orang lain. Bagi mereka, kemampuan untuk mengontrol dan menjadi superior sangat vital dalam hidupnya karenanya harus konsisten untuk tampil pada level tinggi supaya mendapatkan pengakuan dan superior. Mereka mendapatkan kepuasan dengan memperkokoh superioritasnya terhadap orang lain. Orang dengan kepribadian agresif diarahkan untuk melampui orang lain, mereka akan menilai orang lain dalam kerangka kepentingan dirinya sendiri. Mereka tidak berupaya untuk mententramkan orang lain tetapi akan beragumentasi, mengkritik, meminta, dan melakukan apapun untuk mencapai dan mempertahankan superioritas dan kekuasaan. Orang dengan kepribadian agresif mungkin akan tampil percaya diri dengan kemampuannya, tegas, dan berusaha untuk mempertahankan diri sendiri. Namun, semua perilaku yang muncul pada dasarnya memiliki latar belakang yang sama dengan orang yang berkribadian penurut, yaitu diarahkan oleh perasaan tidak aman, kecemasan, dan permusuhan. c). Kepribadian Terpisah Orang yang memiliki kepribadian terpisah perilakunya diarahkan untuk bergerak menjahui orang lain supaya dapat menjaga jarak emosional. Mereka tidak harus mencintai, membenci, bekerjasama, atau terlibat dalam bentuk cara apapun dengan orang lain. Untuk mencapai keterpisahan secara total, mereka berusaha untuk memenuhi kebutuhan sendiri. Mereka menyandarkan diri kepada sumber daya sendiri yang harus mereka bangun dengan baik. Orang dengan kepribadian terpisah berusaha untuk menjaga privasi, mereka memerlukan sebanyak mungkin waktu untuk sendirian, karena kebersamaan akan membuatnya terganggu. Kebutuhan mereka akan kemandirian yang membuatnya peka terhadap berbagai upaya untuk mempengaruhi, memaksa, atau mewajibkan. Kepribadian terpisah harus meghindar dari semua rintangan, termasuk jadwal waktu, dan kegiatan. 8

9 Mereka memerlukan perasaan superior tetapi tidak sama dengan yang dilakukan oleh orang yang berkepribadian agresif, mereka tidak secara aktif bersaing dengan orang lain untuk mencapai superioritasnya karena ini berarti memerlukan keterlibatan bersama orang lain. Mereka percaya bahwa kebesarannya akan diakui secara otomatis tanpa harus bertanding. Orang tersebut akan memanisfestasikan superioritasnya dengan merasa bahwa dirinya unik dan berbeda dengan kebanyakan orang. Orang yang berkepribadian terpisah menekan atau menyangkal semua perasaannya terhadap orang lain, terutama cinta dan kebencian. Baginya, keintiman hanya akan membawa kepada konflik, karenanya harus dihindari. Hal ini terjadi karena penyempitan emosi. Mereka berusaha untuk menekan perasaan-perasaannya dengan mengandalkan logika dan kecerdasan. 4. Citra Diri Ideal Kenormalan dan neurotik menurut Horney bergantug pada penilaian terhadap realtas. Pada orang normal, citra dirinya dibangun atas penilaian realitas terhadap kemampuan, potensi, tujuan, dan hubungannya dengan orang lain. Citra ini menyumbangkan perasaan kesatuan dan integrasi. Jika dapat merealisasikan seluruh potensi, maka harus dapat merefleksikan diri yang sebenarnya. Orang neurotik memiliki konflik dalam bentuk perilaku yang tidak sesuai (incompatible modes), mereka memiliki kepribadian yang terpecah dan tidak harmonis. Mereka sebenarnya membangun citra diri ideal, sama dengan orang yang normal yaitu menyatukan kepribadian. Tetapi perbedaanya, perjuangan mereka dihukum oleh kegagalan karena citra dirinya tidak didasarkan pada penilaian realitas terhadap kekuatan dan kelemahan diri, tetapi didasarkan pada khayalan, pencapaian ideal, dan kesempurnaan mutlak. Orang tersebut berjuang untuk mewujudkan kondisi ideal yang tidak mungkin tercapai. Orang neurotik akan mengikatkan diri kepada tirani keharusan. Ciri diri ideal pada orang neurotik tidak memiliki kesesuaian dengan kenyataan, tetapi bagi mereka adalah sesuatu yang nyata. Orang lain dengan mudah dapat melihat gambaran yang salah tersebut tetapi tidak bagi yang bersangkutan. Mereka percaya bahwa citra dirinya sudah benar, ketidaklengkapan dan kesalahan bagi mereka tidak ada. Citra diri ideal merupakan representasi dari apa yang dipikirkan, diinginkan, dan diharuskan. Sementara citra diri yang realitas bersifat fleksibel dan dinamis, adaptif dengan perkembangan dan perubahan individu, merefleksikan kekuatan, pertumbuhan, dan kesadaran diri. Citra diri realitis merupakan tujuan dan sesuatu yang harus diperjuangkan, karena merefleksikan dan mengarahkan orang. Sebaliknya citra diri neurotik bersifat statis, tidak fleksibel, dan tidak 9

10 bisa dicapai. Ini bukan tujuan, tetapi pikiran yang terfiksasi, tidak mendorong kepada pertumbuhan tetapi menjadi perintang yang membutuhkan ketaatan yang kaku. 5. Psikologi Feminin: Jalur Ibu atau Jalur Karier Horney, secara khusus mengkritik Freud mengenai iri penis (penis envy). Horney percaya bahwa hal tersebut bersumber dari data yang tidak adekuat (Freud menemukannya sebagai hasil dari wawancara terhadap wanita yang neurotik). Freud menawarkan deskripsi dan interpretasi dari fenomena yang tidak terlalu kuat ini didasarkan pada pandangan lakilaki terhadap wanita sebagai warga kelas dua. Ia menyatakan bahwa wanita sebagai korban dari anatominya, selalu iri dan benci kepada laki-laki karena mempunyai penis. Freud juga menyimpulkan bahwa perempuan memiliki perkembangan superego yang miskin (sebagai hasil dari penyelesaian kompleks oedipus yang tidak adekuat), serta citra diri yang inferior karena dipercayai bahwa wanita benar-benar dikebiri oleh laki-laki. a. Iri Rahim (Womb Envy) Horney membalas pemikiran tersebut dengan menyatakan bahwa laki-laki iri terhadap wanita, karena wanita memiliki kapasitas untuk menjadi ibu. Posisi wanita dalam isu ini di dasarkan pada pengalaman yang menyenangkan ketika mereka melahirkan. Horney menyebut jenis iri ini dengan iri rahim (womb envy). Horney tidak menyangkal bahwa banyak wanita yang percaya bahwa dirinya lebih inferior daripada laki-laki. Meskipun wanita memiliki pandangan yang tidak adekuat terhadap dirinya dibandingkan dengan laki-laki, namun mereka memiliki pandangan iri karena didasarkan pada alasan sosial, bukan karena mereka terlahir sebagai wanita. Wanita merasa tidak percaya diri karena mereka diperlakukan demikian oleh budaya yang di dominasi laki-laki. Setelah mengalami diskriminasi sosial, ekonomi, dan budaya dapat dipahami bahwa wanita memiliki pandangan tersebut. b. Oedipus Kompleks Horney tidak setuju dengan Freud mengenai oedipus complex. Horney tidak menyangal keberadaan konflik antara anak dan orangtua. Tetapi ia percaya bahwa hal tersebut bersumber dari seksual. Dengan memindahkan seks dari oedipus kompleks, ia mengintepretasikan ulang situasi yang membuat konflik antara orangtua dan permusuhan terhadap mereka. Impuls permusuhan menjadi dasar pembentukan kecemasan dasar. Bagi Horney gambaran tersebut memperlihatkan kesamaan dengan penjelasan Freud mengenai oedipus kompleks, mencintai salah satu orangtua dan cemburu kepada yang lain (Horney, 1939). Perasaan oedipal berasal dari konflik neurotik yang bersumber dari interaksi 10

11 orangtua-anak. Perasaan ini tidak didasarkan pada dorongan seks atau dorongan biologis dan juga tidak bersifat universal. Hal ini sepenuhnya terjadi pada orangtua yang tindakannya merusak rasa aman anak-anak. 6. Menjadi Ibu atau Meniti Karier? Sebagai seorang feminis awal, Horney banyak terlibat dalam beberapa kegiatan kontemporer. Tahun 1934, ia menulis essay yang menggambarkan konflik psikologis dalam mendefinisikan peran wanita yang berlawanan dengan gambaran ideal tradisional mengenai wanita karena pandangannya lebih modern. Dalam skema tradisional, wanita dipromosikan dan didukung oleh kebanyakan laki-laki. Peran wanita adalah untuk mencintai, mengagumi, dan melayani pasangannya. Identitas yang dimilikinya merupakan refleksi dari suaminya. Horney menyatakan bahwa wanita akan mencari identitasnya seperti yang dilakukannya dengan mengembangkan kemampuannya sendiri serta berusaha mengejar karier. 11

12 Daftar Pustaka Feist, J., & Feist G (2012). Theories of Personality (7 th ed.) USA: MC Graw Hill. Fudyartanta, K., (2012). Psikologi Kepribadian. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Yogyakarta. 12

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA. menimbulkan stress. Keinginan untuk mendapatkan penerimaan (acceptance)

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA. menimbulkan stress. Keinginan untuk mendapatkan penerimaan (acceptance) BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Penolakan Sosial 2.1.1 Konsep Penolakan Sosial Penolakan merupakan keadaan yang sangat umum dan berpotensi untuk menimbulkan stress. Keinginan untuk mendapatkan penerimaan (acceptance)

Lebih terperinci

Alfred Adler. Individual Psychology

Alfred Adler. Individual Psychology Alfred Adler Individual Psychology Manusia lahir dengan tubuh yang lemah dan inferior, suatu kondisi yang mengarah pada perasaan inferior sehingga mengakibatkan ketergantungan kepada orang lain. Manusia

Lebih terperinci

Psikologi Kepribadian I Sejarah Psikoanalisa Dasar & Teori Sigmund Freud

Psikologi Kepribadian I Sejarah Psikoanalisa Dasar & Teori Sigmund Freud Modul ke: Psikologi Kepribadian I Sejarah Psikoanalisa Dasar & Teori Sigmund Freud Fakultas Psikologi Agustini, M.Psi., Psikolog Program Studi Psikologi www.mercubuana.ac.id Pandangan Dasar Manusia Pandangan

Lebih terperinci

PERKEMBANGAN SOSIO-EMOSIONAL PADA MASA DEWASA AWAL

PERKEMBANGAN SOSIO-EMOSIONAL PADA MASA DEWASA AWAL PSIKOLOGI PERKEMBANGAN DEWASA DAN LANSIA PERKEMBANGAN SOSIO-EMOSIONAL PADA MASA DEWASA AWAL Oleh: Dr. Rita Eka Izzaty, M.Si Yulia Ayriza, Ph.D STABILITAS DAN PERUBAHAN ANAK-DEWASA TEMPERAMEN Stabilitas

Lebih terperinci

FASE PENGEMBANGAN KEPRIBADIAN MANUSIA

FASE PENGEMBANGAN KEPRIBADIAN MANUSIA FASE PENGEMBANGAN KEPRIBADIAN MANUSIA Fase fase Kepribadian Sigmund Freud yakin bahwa struktur dasar kepribadian sudah terbentuk pada usia 5 tahun dan perkembangan kepribadian sesuda usia 5 tahun sebagian

Lebih terperinci

Psikologi Kepribadian I Analytical Psychology Carl Gustav Jung

Psikologi Kepribadian I Analytical Psychology Carl Gustav Jung Modul ke: Fakultas Psikologi Psikologi Kepribadian I Analytical Psychology Carl Gustav Jung Agustini, M.Psi., Psikolog Program Studi Psikologi www.mercubuana.ac.id Manusia dalam Pandangan Carl G. Jung

Lebih terperinci

Psikologi Konseling Agustini, M.Psi., Psikolog MODUL PERKULIAHAN. Fakultas Program Studi Tatap Muka Kode MK Disusun Oleh

Psikologi Konseling Agustini, M.Psi., Psikolog MODUL PERKULIAHAN. Fakultas Program Studi Tatap Muka Kode MK Disusun Oleh MODUL PERKULIAHAN Psikologi Konseling Psikologi Konseling Fakultas Program Studi Tatap Muka Kode MK Disusun Oleh Psikologi Psikologi 12 61033 Agustini, M.Psi., Psikolog Abstract Dalam perkuliahan ini akan

Lebih terperinci

BAB II KAJIAN PUSTAKA, KONSEP, KERANGKA TEORI

BAB II KAJIAN PUSTAKA, KONSEP, KERANGKA TEORI 9 BAB II KAJIAN PUSTAKA, KONSEP, KERANGKA TEORI 2.1 Kajian Pustaka Berdasarkan data-data yang telah dikumpulkan, terdapat beberapa hasil penelitian yang dapat dijadikan acuan dalam penelitian ini. Adapun

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Kebutuhan mencari pasangan hidup untuk melanjutkan keturunan akan

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Kebutuhan mencari pasangan hidup untuk melanjutkan keturunan akan BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Kebutuhan mencari pasangan hidup untuk melanjutkan keturunan akan menjadi prioritas dalam hidup jika seseorang sudah berada di usia yang cukup matang dan mempunyai

Lebih terperinci

Freud s Psychoanalytic Theories

Freud s Psychoanalytic Theories Modul ke: 02Fakultas Erna PSIKOLOGI Freud s Psychoanalytic Theories Multahada, S.HI., S.Psi., M.Si Program Studi Psikologi Freud (1856-1939) Pendekatan Dinamis Dinamakan juga : Energi psikis, energi dorongan,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. tentang orang lain. Begitu pula dalam membagikan masalah yang terdapat pada

BAB I PENDAHULUAN. tentang orang lain. Begitu pula dalam membagikan masalah yang terdapat pada BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Wanita merupakan individu yang memiliki keterbukaan dalam membagi permasalahan kehidupan maupun penilaian mereka mengenai sesuatu ataupun tentang orang lain.

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. berbeda dengan keadaan yang nyaman dalam perut ibunya. Dalam kondisi ini,

BAB I PENDAHULUAN. berbeda dengan keadaan yang nyaman dalam perut ibunya. Dalam kondisi ini, BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Manusia merupakan mahluk sosial yang tidak dapat hidup sendiri tanpa kehadiran manusia lainnya. Kehidupan menjadi lebih bermakna dan berarti dengan kehadiran

Lebih terperinci

KAREN HORNEY ( )

KAREN HORNEY ( ) KAREN HORNEY (1885-1952) Latar Belakang Kehidupan Ayah: pelaut serius, taat pada agama, kaku, pendiam Ibu: atraktif, penuh semangat Kagum sekaligus takut pada ayah, mendekati ibu dan mencintai saudara

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI. tersebut mempelajari keadaan sekelilingnya. Perubahan fisik, kognitif dan peranan

BAB II LANDASAN TEORI. tersebut mempelajari keadaan sekelilingnya. Perubahan fisik, kognitif dan peranan BAB II LANDASAN TEORI A. KEMANDIRIAN REMAJA 1. Definisi Kemandirian Remaja Kemandirian remaja adalah usaha remaja untuk dapat menjelaskan dan melakukan sesuatu yang sesuai dengan keinginannya sendiri setelah

Lebih terperinci

MODUL PERKULIAHAN. Kesehatan Mental. Kesehatan Mental yang Berkaitan dengan Kesejahketaan Psikologis (Penyesuaian Diri)

MODUL PERKULIAHAN. Kesehatan Mental. Kesehatan Mental yang Berkaitan dengan Kesejahketaan Psikologis (Penyesuaian Diri) MODUL PERKULIAHAN Kesehatan Mental yang Berkaitan dengan Kesejahketaan Psikologis (Penyesuaian Diri) Fakultas Program Studi Tatap Muka Kode MK Disusun Oleh Psikologi Psikologi 03 MK61112 Aulia Kirana,

Lebih terperinci

Bab 2. Landasan Teori. Tokoh-tokoh tersebut tidak saja berfungsi untuk memainkan cerita, tetapi juga berperan

Bab 2. Landasan Teori. Tokoh-tokoh tersebut tidak saja berfungsi untuk memainkan cerita, tetapi juga berperan Bab 2 Landasan Teori 2.1 Teori Penokohan Penokohan merupakan satu bagian penting dalam membangun sebuah cerita. Tokoh-tokoh tersebut tidak saja berfungsi untuk memainkan cerita, tetapi juga berperan untuk

Lebih terperinci

Psikologi Kepribadian I Object Relation Theories

Psikologi Kepribadian I Object Relation Theories Modul ke: Psikologi Kepribadian I Object Relation Theories Fakultas Psikologi Agustini, M.Psi., Psikolog Program Studi Psikologi www.mercubuana.ac.id Relasi Objek Teori Relasi Objek: 1. Pentingnya pola

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. sebagai contoh kasus tawuran (metro.sindonews.com, 25/11/2016) yang terjadi. dengan pedang panjang dan juga melempar batu.

BAB I PENDAHULUAN. sebagai contoh kasus tawuran (metro.sindonews.com, 25/11/2016) yang terjadi. dengan pedang panjang dan juga melempar batu. BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Tawuran terjadi dikalangan pelajar sudah menjadi suatu hal yang biasa, sebagai contoh kasus tawuran (metro.sindonews.com, 25/11/2016) yang terjadi di tangerang,

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Prestasi Belajar 1. Pengertian Prestasi belajar atau hasil belajar adalah realisasi atau pemekaran dari kecakapan potensial atau kapasitas yang dimiliki seseorang. Penguasaan

Lebih terperinci

HUBUNGAN ANTARA MOTIVASI BERPRESTASI DENGAN. FEAR of SUCCESS PADA WANITA BEKERJA

HUBUNGAN ANTARA MOTIVASI BERPRESTASI DENGAN. FEAR of SUCCESS PADA WANITA BEKERJA HUBUNGAN ANTARA MOTIVASI BERPRESTASI DENGAN FEAR of SUCCESS PADA WANITA BEKERJA Untuk memenuhi sebagian persyaratan dalam mencapai gelar Sarjana-S1 Psikologi Disusun oleh: YULIANA FATMA SARI F 100 040

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. dalam menunjukkan bahwa permasalahan prestasi tersebut disebabkan

BAB I PENDAHULUAN. dalam menunjukkan bahwa permasalahan prestasi tersebut disebabkan BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Permasalahan terbesar yang dihadapi siswa adalah masalah yang berkaitan dengan prestasi, baik akademis maupun non akademis. Hasil diskusi kelompok terarah yang

Lebih terperinci

Perkembangan Sepanjang Hayat

Perkembangan Sepanjang Hayat Modul ke: Perkembangan Sepanjang Hayat Memahami Masa Perkembangan Remaja dalam Aspek Psikososial Fakultas PSIKOLOGI Hanifah, M.Psi, Psikolog Program Studi Psikologi http://mercubuana.ac.id Memahami Masa

Lebih terperinci

Bab 4. Simpulan dan Saran. Melalui analisis yang telah dilakukan oleh penulis, berdasarkan teori psikoanalisis

Bab 4. Simpulan dan Saran. Melalui analisis yang telah dilakukan oleh penulis, berdasarkan teori psikoanalisis Bab 4 Simpulan dan Saran 4.1 Simpulan Melalui analisis yang telah dilakukan oleh penulis, berdasarkan teori psikoanalisis sosial Karen Horney, dapat dipahami kecemasan yang dialami oleh tokoh Aku. Kecemasan

Lebih terperinci

BAB II KONSEP, LANDASAN TEORI DAN TINJAUAN PUSTAKA. bahasa yang digunakan oleh akal budi untuk memahami hal-hal lain (KBBI,edisi

BAB II KONSEP, LANDASAN TEORI DAN TINJAUAN PUSTAKA. bahasa yang digunakan oleh akal budi untuk memahami hal-hal lain (KBBI,edisi BAB II KONSEP, LANDASAN TEORI DAN TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Konsep Konsep adalah gambaran mental dari objek, proses, atau apapun yang ada di luar bahasa yang digunakan oleh akal budi untuk memahami hal-hal

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. lain. Sebagai makhluk sosial manusia dituntut untuk dapat menyesuaikan diri,

BAB I PENDAHULUAN. lain. Sebagai makhluk sosial manusia dituntut untuk dapat menyesuaikan diri, BAB I PENDAHULUAN 1.1.Latar Belakang Masalah Manusia adalah makhluk sosial yang berarti tidak dapat hidup tanpa orang lain. Sebagai makhluk sosial manusia dituntut untuk dapat menyesuaikan diri, baik terhadap

Lebih terperinci

BAB II KAJIAN TEORI. adalah bercintaan atau berkasih-kasihan sehingga dapat disimpulkan. perempuan, adanya komitmen dari kedua belah pihak biasanya

BAB II KAJIAN TEORI. adalah bercintaan atau berkasih-kasihan sehingga dapat disimpulkan. perempuan, adanya komitmen dari kedua belah pihak biasanya 2.1 Kekerasan dalam pacaran 2.1.1 Konsep Pacaran BAB II KAJIAN TEORI Menurut KBBI (1986) pacar adalah teman lawan jenis yang tetap dan mempunyai hubungan berdasarkan cinta kasih. Sedangkan berpacaran adalah

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. dan berfungsinya organ-organ tubuh sebagai bentuk penyesuaian diri terhadap

BAB I PENDAHULUAN. dan berfungsinya organ-organ tubuh sebagai bentuk penyesuaian diri terhadap BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Individu sejak dilahirkan akan berhadapan dengan lingkungan yang menuntutnya untuk menyesuaikan diri. Penyesuaian diri yang dilakukan oleh individu diawali dengan penyesuaian

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Dengan adanya perkembangan dunia yang semakin maju dan persaingan

BAB I PENDAHULUAN. Dengan adanya perkembangan dunia yang semakin maju dan persaingan BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Dengan adanya perkembangan dunia yang semakin maju dan persaingan yang terjadi semakin ketat, individu dituntut untuk memiliki tingkat pendidikan yang memadai

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Sastra merupakan salah satu institusi budaya yang mempengaruhi dan dipengaruhi kenyataan sosial. Seorang seniman atau pengarang akan melibatkan sebuah emosi

Lebih terperinci

BAB I. Kekerasan Dalam Rumah Tangga atau KDRT diartikan setiap perbuatan. terhadap seseorang terutama perempuan yang berakibat timbulnya kesengsaraan

BAB I. Kekerasan Dalam Rumah Tangga atau KDRT diartikan setiap perbuatan. terhadap seseorang terutama perempuan yang berakibat timbulnya kesengsaraan BAB I 1.1 Latar Belakang Masalah Kekerasan Dalam Rumah Tangga atau KDRT diartikan setiap perbuatan terhadap seseorang terutama perempuan yang berakibat timbulnya kesengsaraan atau penderitaan secara fisik,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. pemenuhan hasrat seksual, dan menjadi lebih matang. Pernikahan juga

BAB I PENDAHULUAN. pemenuhan hasrat seksual, dan menjadi lebih matang. Pernikahan juga BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pernikahan merupakan ikatan yang terbentuk antara pria dan wanita yang di dalamnya terdapat unsur keintiman, pertemanan, persahabatan, kasih sayang, pemenuhan hasrat

Lebih terperinci

Psikologi Kepribadian

Psikologi Kepribadian MODUL PERKULIAHAN Psikologi Kepribadian I Fakultas Program Studi Tatap Muka Kode MK Disusun Oleh Psikologi Psikologi 10 61101 Abstract Dalam perkuliahan ini akan didiskusikan mengenai pembahasan teori

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Penelitian Masa remaja adalah masa peralihan dari anak-anak ke dewasa yang jangka

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Penelitian Masa remaja adalah masa peralihan dari anak-anak ke dewasa yang jangka BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Masa remaja adalah masa peralihan dari anak-anak ke dewasa yang jangka waktunya berbeda bagi setiap orang, tergantung faktor sosial dan budaya. Dengan terbentuknya

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. dijalanan maupun ditempat-tempat umum lainnya (Huraerah, 2007).

BAB I PENDAHULUAN. dijalanan maupun ditempat-tempat umum lainnya (Huraerah, 2007). 1 BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Anak jalanan di Indonesia mengalami peningkatan pesat dalam beberapa tahun belakangan. Seseorang bisa dikatakan anak jalanan apabila berumur dibawah 18 tahun, yang

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. sesuai dengan posisi sosial yang diberikan baik secara formal maupun

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. sesuai dengan posisi sosial yang diberikan baik secara formal maupun BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Peran Ayah 1. Definisi Peran Peran adalah serangkaian perilaku yang diharapkan pada seseorang sesuai dengan posisi sosial yang diberikan baik secara formal maupun informal (Supartini,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. dasar perilaku perkembangan sikap dan nilai kehidupan dari keluarga. Salah

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. dasar perilaku perkembangan sikap dan nilai kehidupan dari keluarga. Salah BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Keluarga merupakan lingkungan sosial pertama bagi anak yang memberi dasar perilaku perkembangan sikap dan nilai kehidupan dari keluarga. Salah satunya adalah

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Masa remaja merupakan masa yang penting dalam kehidupan seseorang,

BAB I PENDAHULUAN. Masa remaja merupakan masa yang penting dalam kehidupan seseorang, BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Masa remaja merupakan masa yang penting dalam kehidupan seseorang, karena pada masa ini remaja mengalami perkembangan fisik yang cepat dan perkembangan psikis

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Masa remaja merupakan saat yang penting dalam mempersiapkan

BAB I PENDAHULUAN. Masa remaja merupakan saat yang penting dalam mempersiapkan BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar belakang Masalah Masa remaja merupakan saat yang penting dalam mempersiapkan seseorang memasuki masa dewasa. Masa ini merupakan, masa transisi dari masa anak-anak menuju dewasa.

Lebih terperinci

15 Prinsip dasar Kecerdasan Emosional : Modal Dasar Perawat Profesional

15 Prinsip dasar Kecerdasan Emosional : Modal Dasar Perawat Profesional 15 Prinsip dasar Kecerdasan Emosional : Modal Dasar Perawat Profesional Saat ini kecerdasan emosional tidak bisa dipandang sebelah mata. Sejak munculnya karya Daniel Goleman, Emotional Intelligence: Why

Lebih terperinci

Nomer : Jenis Kelamin : Kuliah di : Usia : Asal daerah : Tempat tinggal di Semarang : PETUNJUK PENGISIAN

Nomer : Jenis Kelamin : Kuliah di : Usia : Asal daerah : Tempat tinggal di Semarang : PETUNJUK PENGISIAN Nomer : Jenis Kelamin : Kuliah di : Usia : Asal daerah : Tempat tinggal di Semarang : PETUNJUK PENGISIAN 1. Bacalah pernyataan-pernyataan pada lembar berikut, kemudian jawablah dengan sungguh-sungguh sesuai

Lebih terperinci

PSIKOLOGI UMUM 1. Aliran Psikoanalisa

PSIKOLOGI UMUM 1. Aliran Psikoanalisa PSIKOLOGI UMUM 1 Aliran Psikoanalisa Sigmund Freud 3 sumber utama yang mempengaruhi gerakan Psikonalisa: 1. Ketidaksadaran Mental events mulai dari yang sama sekali tidak disadari sampai yang jelas disadari.

Lebih terperinci

Pedologi. Penganiayaan Anak dan Kekerasan dalam Rumah Tangga. Yenny, M.Psi. Psikolog. Modul ke: Fakultas Psikologi. Program Studi Psikologi

Pedologi. Penganiayaan Anak dan Kekerasan dalam Rumah Tangga. Yenny, M.Psi. Psikolog. Modul ke: Fakultas Psikologi. Program Studi Psikologi Modul ke: Pedologi Penganiayaan Anak dan Kekerasan dalam Rumah Tangga Fakultas Psikologi Yenny, M.Psi. Psikolog Program Studi Psikologi www.mercubuana.ac.id Tipe-tipe Penganiayaan terhadap Anak Penganiayaan

Lebih terperinci

PELATIHAN BASIC HYPNOPARENTING BAGI AWAM

PELATIHAN BASIC HYPNOPARENTING BAGI AWAM PROGRAM PENGABDIAN PADA MASYARAKAT BAGIAN PSIKOLOGI KLINIS FAKULTAS PSIKOLOGI UNDIP BEKERJASAMA DENGAN RS. HERMINA BANYUMANIK SEMARANG PELATIHAN BASIC HYPNOPARENTING BAGI AWAM SEMARANG, 23 AGUSTUS 2014

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. dialami perempuan, sebagian besar terjadi dalam lingkungan rumah. tangga. Dalam catatan tahunan pada tahun 2008 Komisi Nasional

BAB I PENDAHULUAN. dialami perempuan, sebagian besar terjadi dalam lingkungan rumah. tangga. Dalam catatan tahunan pada tahun 2008 Komisi Nasional BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Kekerasan terhadap perempuan dalam tahun 2008 meningkat lebih dari 200% (persen) dari tahun sebelumnya. Kasus kekerasan yang dialami perempuan, sebagian besar

Lebih terperinci

PSIKOLOGI UMUM 1. Aliran Neo-Freudian

PSIKOLOGI UMUM 1. Aliran Neo-Freudian PSIKOLOGI UMUM 1 Aliran Neo-Freudian Carl Jung Alfred Adler Karen Horney Abraham Maslow Carl Rogers Pemikiran/karakteristik tokoh-tokoh Neo-Freudian: 1. Mengembangkan konsep EGO Tidak hanya memfasilitasi

Lebih terperinci

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA. Beberapa teori akan dipaparkan dalam bab ini sebagai pendukung dari dasar

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA. Beberapa teori akan dipaparkan dalam bab ini sebagai pendukung dari dasar BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA Beberapa teori akan dipaparkan dalam bab ini sebagai pendukung dari dasar pelitian. Berikut adalah beberapa teori yang terkait sesuai dengan penelitian ini. 2.1 Anxiety (Kecemasan)

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. diberikan dibutuhkan sikap menerima apapun baik kelebihan maupun kekurangan

BAB I PENDAHULUAN. diberikan dibutuhkan sikap menerima apapun baik kelebihan maupun kekurangan BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penerimaan diri dibutuhkan oleh setiap individu untuk mencapai keharmonisan hidup, karena pada dasarnya tidak ada manusia yang diciptakan oleh Allah SWT tanpa kekurangan.

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN TEORITIS. A. Karyawan PT. INALUM. capital, yang artinya karyawan adalah modal terpenting untuk menghasilkan nilai

BAB II TINJAUAN TEORITIS. A. Karyawan PT. INALUM. capital, yang artinya karyawan adalah modal terpenting untuk menghasilkan nilai 1 BAB II TINJAUAN TEORITIS A. Karyawan PT. INALUM 1. Pengertian Karyawan Karyawan adalah sumber daya yang sangat penting dan sangat menentukan suksesnya perusahaan. Karyawan juga selalu disebut sebagai

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Di zaman modern ini perubahan terjadi terus menerus, tidak hanya perubahan

BAB I PENDAHULUAN. Di zaman modern ini perubahan terjadi terus menerus, tidak hanya perubahan BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Di zaman modern ini perubahan terjadi terus menerus, tidak hanya perubahan kearah yang lebih baik tetapi perubahan ke arah yang semakin buruk pun terus berkembang.

Lebih terperinci

Psikologi Kepribadian I Teori Psikososial Erik Erikson

Psikologi Kepribadian I Teori Psikososial Erik Erikson Modul ke: Fakultas Psikologi Psikologi Kepribadian I Teori Psikososial Erik Erikson Agustini, M.Psi., Psikolog Program Studi Psikologi www.mercubuana.ac.id Struktur Kepribadian Ego Kreatif Ego kreatif:

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. untuk saling berinteraksi. Melalui interaksi ini manusia dapat memenuhi kebutuhan-kebutuhan

BAB I PENDAHULUAN. untuk saling berinteraksi. Melalui interaksi ini manusia dapat memenuhi kebutuhan-kebutuhan 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Sebagai makhluk sosial, manusia membutuhkan kehadiran orang lain untuk saling berinteraksi. Melalui interaksi ini manusia dapat memenuhi kebutuhan-kebutuhan

Lebih terperinci

KONFLIK ITRAPSIKIS TOKOH UTAMA DALAM NOVEL KERUMUNAN TERAKHIR KARYA OKKY MADASARI (Kajian Psikoanalisis Sosial Karen Horney)

KONFLIK ITRAPSIKIS TOKOH UTAMA DALAM NOVEL KERUMUNAN TERAKHIR KARYA OKKY MADASARI (Kajian Psikoanalisis Sosial Karen Horney) KONFLIK ITRAPSIKIS TOKOH UTAMA DALAM NOVEL KERUMUNAN TERAKHIR KARYA OKKY MADASARI (Kajian Psikoanalisis Sosial Karen Horney) Disusun Oleh: NURUL INTAN MAULUDIYAH - 13010113130106 FAKULTAS ILMU BUDAYA,

Lebih terperinci

Psikologi Kepribadian I Teori Personologi Henry Murray

Psikologi Kepribadian I Teori Personologi Henry Murray Modul ke: Fakultas Psikologi Psikologi Kepribadian I Teori Personologi Henry Murray Agustini, M.Psi., Psikolog Program Studi Psikologi www.mercubuana.ac.id Pendahuluan Pandangan Murray sangat holistik,

Lebih terperinci

Carl Jung. Analytical Psychology. Asumsi

Carl Jung. Analytical Psychology. Asumsi Carl Jung Analytical Psychology Asumsi Fenomena yang berhubungan dengan kekuatan gaib atau magis (Occult) yang diturunkan oleh leluhur bisa dan memang berpengaruh pada kehidupan manusia Manusai bukan hanya

Lebih terperinci

PENERIMAAN DIRI PADA WANITA BEKERJA USIA DEWASA DINI DITINJAU DARI STATUS PERNIKAHAN

PENERIMAAN DIRI PADA WANITA BEKERJA USIA DEWASA DINI DITINJAU DARI STATUS PERNIKAHAN PENERIMAAN DIRI PADA WANITA BEKERJA USIA DEWASA DINI DITINJAU DARI STATUS PERNIKAHAN Skripsi Diajukan Kepada Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Surakarta Untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan Memperoleh

Lebih terperinci

IMPROVING PERSONAL, INTERPERSONAL, & ORGANIZATIONAL COMMUNICATIONS

IMPROVING PERSONAL, INTERPERSONAL, & ORGANIZATIONAL COMMUNICATIONS IMPROVING PERSONAL, INTERPERSONAL, & ORGANIZATIONAL COMMUNICATIONS Part 6 Edy Prihantoro Universitas Gunadarma Pokok Bahasan Understanding your communication style Building high self esteem (self esteem

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Manusia adalah individu yang selalu belajar. Individu belajar berjalan, berlari,

BAB I PENDAHULUAN. Manusia adalah individu yang selalu belajar. Individu belajar berjalan, berlari, BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG MASALAH Manusia adalah individu yang selalu belajar. Individu belajar berjalan, berlari, dan lain-lain. Setiap tugas dipelajari secara optimal pada waktu-waktu tertentu

Lebih terperinci

Pengaruh Urutan Kelahiran pada Kecemasan Mahasiswa Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi X Jakarta

Pengaruh Urutan Kelahiran pada Kecemasan Mahasiswa Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi X Jakarta Pengaruh Urutan Kelahiran pada Kecemasan Mahasiswa Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi X Jakarta Untung Subroto et al. Pengaruh Urutan Kelahiran pada Kecemasan Mahasiswa Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi X Jakarta

Lebih terperinci

Psikologi Kepribadian I. Psikologi Psikologi

Psikologi Kepribadian I. Psikologi Psikologi MODUL PERKULIAHAN Psikologi Kepribadian I Fakultas Program Studi Tatap Muka Kode MK Disusun Oleh Psikologi Psikologi 05 61101 Abstract Dalam perkuliahan ini akan didiskusikan pembahasan teori Melanie Klein,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHALUAN. A. Latar Belakang Masalah. status sebagai orang dewasa tetapi tidak lagi sebagai masa anak-anak. Fase remaja

BAB I PENDAHALUAN. A. Latar Belakang Masalah. status sebagai orang dewasa tetapi tidak lagi sebagai masa anak-anak. Fase remaja BAB I PENDAHALUAN A. Latar Belakang Masalah Remaja adalah fase kedua dalam kehidupan setelah fase anak-anak. Fase remaja disebut fase peralihan atau transisi karena pada fase ini belum memperoleh status

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. tidak bisa menangani masalahnya dapat mengakibatkan stres. Menurut

BAB I PENDAHULUAN. tidak bisa menangani masalahnya dapat mengakibatkan stres. Menurut BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Setiap orang memiliki permasalahan dalam hidupnya, dan mereka memiliki caranya masing-masing untuk menangani masalah tersebut. Ada orang yang bisa menangani masalahnya,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. istri adalah salah satu tugas perkembangan pada tahap dewasa madya, yaitu

BAB I PENDAHULUAN. istri adalah salah satu tugas perkembangan pada tahap dewasa madya, yaitu 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Membangun sebuah hubungan senantiasa menjadi kebutuhan bagi individu untuk mencapai kebahagiaan. Meskipun terkadang hubungan menjadi semakin kompleks saat

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Kesuksesan yang dicapai seseorang tidak hanya berdasarkan kecerdasan

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Kesuksesan yang dicapai seseorang tidak hanya berdasarkan kecerdasan 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Kesuksesan yang dicapai seseorang tidak hanya berdasarkan kecerdasan akademik (kognitif) saja namun juga harus diseimbangkan dengan kecerdasan emosional, sehingga

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. pada anak-anak sedini mungkin agar tidak menghambat tugas-tugas perkembangan anak

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. pada anak-anak sedini mungkin agar tidak menghambat tugas-tugas perkembangan anak BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Kemandirian merupakan salah satu aspek kepribadian manusia yang tidak dapat berdiri sendiri, artinya terkait dengan aspek kepribadian yang lain dan harus dilatihkan

Lebih terperinci

BAB II KONSEP, LANDASAN TEORI, DAN TINJAUAN PUSTAKA. yang ada di luar bahasa yang digunakan oleh akal budi untuk memahami hal-hal

BAB II KONSEP, LANDASAN TEORI, DAN TINJAUAN PUSTAKA. yang ada di luar bahasa yang digunakan oleh akal budi untuk memahami hal-hal BAB II KONSEP, LANDASAN TEORI, DAN TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Konsep Konsep adalah gambaran mental dari suatu objek, proses, atau apapun yang ada di luar bahasa yang digunakan oleh akal budi untuk memahami hal-hal

Lebih terperinci

Teori Sigmund Freud. Sejarah hidup, Struktur Kepribadian dan Perkembangan Psikoseksual. Fitriani, S. Psi., MA. Modul ke: Fakultas PSIKOLOGI

Teori Sigmund Freud. Sejarah hidup, Struktur Kepribadian dan Perkembangan Psikoseksual. Fitriani, S. Psi., MA. Modul ke: Fakultas PSIKOLOGI Modul ke: 08 Wahidah Fakultas PSIKOLOGI Teori Sigmund Freud Sejarah hidup, Struktur Kepribadian dan Perkembangan Psikoseksual Fitriani, S. Psi., MA. Program Studi PSIKOLOGI Bagian Isi Apa itu Kepribadian?

Lebih terperinci

PEDOMAN WAWANCARA. Untuk mengetahui faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi penyesuaian dengan

PEDOMAN WAWANCARA. Untuk mengetahui faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi penyesuaian dengan PEDOMAN WAWANCARA I. Judul Faktor-faktor yang mempengaruhi penyesuaian dengan pihak keluarga pasangan pada pria WNA yang menikahi wanita WNI. II. Tujuan Untuk mengetahui faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi

Lebih terperinci

BAB V HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

BAB V HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN BAB V HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. IDENTIFIKASI FAKTOR-FAKTOR PENYEBAB ANAK TURUN MENJADI ANAK JALANAN Terdapat tiga faktor internal yang disebutkan dalam penelitian ini, yaitu impian bebas, ingin

Lebih terperinci

BAB 3 METODOLOGI PENELITIAN

BAB 3 METODOLOGI PENELITIAN BAB 3 METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Metode Penelitian Penelitian ini menggunakan metode deskriptif, suatu metode analisis dengan penguraian secara sistematis, faktual dan akurat mengenai fakta-fakta dan sifat-sifat

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. manusia pun yang dapat hidup sendiri tanpa membutuhkan kehadiran manusia lain

BAB I PENDAHULUAN. manusia pun yang dapat hidup sendiri tanpa membutuhkan kehadiran manusia lain BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Manusia adalah makhluk sosial. Dalam kehidupan, belum ada seorang manusia pun yang dapat hidup sendiri tanpa membutuhkan kehadiran manusia lain (www.wikipedia.com).

Lebih terperinci

Hubungan antara Persepsi Anak Terhadap Perhatian Orang Tua dan Intensitas Komunikasi Interpersonal dengan Kepercayaan Diri pada Remaja Difabel

Hubungan antara Persepsi Anak Terhadap Perhatian Orang Tua dan Intensitas Komunikasi Interpersonal dengan Kepercayaan Diri pada Remaja Difabel Hubungan antara Persepsi Anak Terhadap Perhatian Orang Tua dan Intensitas Komunikasi Interpersonal dengan Kepercayaan Diri pada Remaja Difabel Thesis Diajukan kepada Program Studi Magister Sains Psikologi

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI A. HARGA DIRI Menurut Coopersmith harga diri merupakan evaluasi yang dibuat oleh individu dan berkembang menjadi kebiasaan

BAB II LANDASAN TEORI A. HARGA DIRI Menurut Coopersmith harga diri merupakan evaluasi yang dibuat oleh individu dan berkembang menjadi kebiasaan BAB II LANDASAN TEORI A. HARGA DIRI Menurut Coopersmith harga diri merupakan evaluasi yang dibuat oleh individu dan berkembang menjadi kebiasaan kemudian dipertahankan oleh individu dalam memandang dirinya

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. KEKERASAN EMOSI 1. Pengertian Kekerasan Emosi Kekerasan emosi didefinisikan sebagai bentuk kekerasan yang dilakukan secara sengaja tujuan untuk mempertahankan dan menguasai individu

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. dalam kehidupan remaja, karena remaja tidak lagi hanya berinteraksi dengan keluarga

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. dalam kehidupan remaja, karena remaja tidak lagi hanya berinteraksi dengan keluarga BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Lingkungan sering menilai seseorang berdasarkan pakaian, cara bicara, cara berjalan, dan bentuk tubuh. Lingkungan mempunyai pengaruh yang sangat besar dalam

Lebih terperinci

SKRIPSI Disusun Untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan dalam Mencapai Derajat Sarjana (S-1) Psikologi

SKRIPSI Disusun Untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan dalam Mencapai Derajat Sarjana (S-1) Psikologi HUBUNGAN ANTARA PENERIMAAN DIRI DENGAN KOMPETENSI INTERPERSONAL PADA REMAJA PANTI ASUHAN SKRIPSI Disusun Untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan dalam Mencapai Derajat Sarjana (S-1) Psikologi Diajukan oleh:

Lebih terperinci

SELF & GENDER. Diana Septi Purnama.

SELF & GENDER. Diana Septi Purnama. SELF & GENDER Diana Septi Purnama Email: [email protected] www.uny.ac.id KONSEP DIRI Penghayatan individu terhadap identitasnya, sekumpulan keyakinan mengenai dirinya sebagai seorang individu

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. yang kaya, miskin, tua, muda, besar, kecil, laki-laki, maupun perempuan, mereka

BAB I PENDAHULUAN. yang kaya, miskin, tua, muda, besar, kecil, laki-laki, maupun perempuan, mereka BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Kebahagiaan adalah hal yang selalu ingin dicapai oleh semua orang. Baik yang kaya, miskin, tua, muda, besar, kecil, laki-laki, maupun perempuan, mereka ingin dirinya

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. dan sosial-emosional. Masa remaja dimulai kira-kira usia 10 sampai 13 tahun

BAB 1 PENDAHULUAN. dan sosial-emosional. Masa remaja dimulai kira-kira usia 10 sampai 13 tahun BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Masa remaja (adolescence) sebagai masa perkembangan transisi antara masa anak dan masa dewasa yang mencakup perubahan biologis, kognitif, dan sosial-emosional.

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. jangka waktunya berbeda bagi setiap orang tergantung faktor sosial dan budaya.

BAB I PENDAHULUAN. jangka waktunya berbeda bagi setiap orang tergantung faktor sosial dan budaya. BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masa remaja adalah masa peralihan antara tahap anak dan dewasa yang jangka waktunya berbeda bagi setiap orang tergantung faktor sosial dan budaya. Dengan terbukanya

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Manusia tidak dapat hidup seorang diri karena manusia merupakan

BAB I PENDAHULUAN. Manusia tidak dapat hidup seorang diri karena manusia merupakan 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Manusia tidak dapat hidup seorang diri karena manusia merupakan makhluk sosial yang membutuhkan kehadiran individu lain dalam kehidupannya. Tanpa kehadiran

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Manusia adalah makhluk hidup yang senantiasa berkembang dan

BAB I PENDAHULUAN. Manusia adalah makhluk hidup yang senantiasa berkembang dan BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Manusia adalah makhluk hidup yang senantiasa berkembang dan mengalami perubahan-perubahan bertahap dalam hidupnya. Sepanjang rentang kehidupannya tersebut,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. masa beralihnya pandangan egosentrisme menjadi sikap yang empati. Menurut Havighurst

BAB I PENDAHULUAN. masa beralihnya pandangan egosentrisme menjadi sikap yang empati. Menurut Havighurst BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Manusia adalah makhluk sosial. Perkembangan sosial masa dewasa awal (young adulthood) adalah puncak dari perkembangan sosial masa dewasa. Masa dewasa awal adalah

Lebih terperinci

3. Emosi subyek ketika menjawab pertanyaan interview. 4. Bagaimana kebudayaan etnis Cina dalam keluarga subyek?

3. Emosi subyek ketika menjawab pertanyaan interview. 4. Bagaimana kebudayaan etnis Cina dalam keluarga subyek? Pedoman Observasi 1. Kesan umum subyek secara fisik dan penampilan 2. Relasi sosial subyek dengan teman-temannya 3. Emosi subyek ketika menjawab pertanyaan interview Pedoman Wawancara 1. Bagaimana hubungan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. atau interaksi dengan orang lain, tentunya dibutuhkan kemampuan individu untuk

BAB I PENDAHULUAN. atau interaksi dengan orang lain, tentunya dibutuhkan kemampuan individu untuk BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Manusia adalah mahluk sosial yang memiliki kebutuhan untuk berinteraksi timbal-balik dengan orang-orang yang ada di sekitarnya. Memulai suatu hubungan atau

Lebih terperinci

Produksi Iklan Multimedia dan Interaktif

Produksi Iklan Multimedia dan Interaktif Modul ke: Produksi Iklan Multimedia dan Interaktif Teori Kepribadian Freud Teori Neo Freud Gaya Hidup Fakultas ILMU KOMUNIKASI Dudi Hartono, S. Komp, M. Ikom Program Studi MARCOMM & ADVERTISING www.mercubuana.ac.id

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Sekolah internasional adalah sekolah yang melayani siswa yang berasal dari sejumlah

BAB I PENDAHULUAN. Sekolah internasional adalah sekolah yang melayani siswa yang berasal dari sejumlah BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Sekolah internasional adalah sekolah yang melayani siswa yang berasal dari sejumlah besar budaya yang berbeda. Siswanya sering berpindah berpindah dari satu

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah. Perubahan zaman yang semakin pesat ini membawa dampak ke berbagai

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah. Perubahan zaman yang semakin pesat ini membawa dampak ke berbagai 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Perubahan zaman yang semakin pesat ini membawa dampak ke berbagai aspek kehidupan terutama dalam bidang pendidikan. Terselenggaranya pendidikan yang efektif

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan dan kemajuan teknologi tidak

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan dan kemajuan teknologi tidak BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan dan kemajuan teknologi tidak selalu membawa kebaikan bagi kehidupan manusia, kehidupan yang semakin kompleks dengan tingkat stressor

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI

BAB II LANDASAN TEORI BAB II LANDASAN TEORI II. A. DUKUNGAN SOSIAL II. A. 1. Definisi Dukungan Sosial Menurut Orford (1992), dukungan sosial adalah kenyamanan, perhatian, dan penghargaan yang diandalkan pada saat individu mengalami

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. individu dengan individu yang lain merupakan usaha manusia dalam

BAB I PENDAHULUAN. individu dengan individu yang lain merupakan usaha manusia dalam BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Manusia adalah makhluk sosial yang tidak bisa hidup tanpa manusia lain dan senantiasa berusaha untuk menjalin hubungan dengan orang lain. Hubungan antara individu

Lebih terperinci

Pengaruh Pengasuhan dalam Keluarga Terhadap Tumbuhnya Narsisisme

Pengaruh Pengasuhan dalam Keluarga Terhadap Tumbuhnya Narsisisme Pengaruh Pengasuhan dalam Keluarga Terhadap Tumbuhnya Narsisisme Keluarga merupakan lingkungan pertama dan utama dalam pembentukan kepribadian seseorang. Dimulai dari keluargalah karakter seseorang dibangun

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. penyesuaian diri di lingkungan sosialnya. Seorang individu akan selalu berusaha

BAB I PENDAHULUAN. penyesuaian diri di lingkungan sosialnya. Seorang individu akan selalu berusaha 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Manusia sebagai makhluk sosial yang selalu hidup berdampingan dengan orang lain tentunya sering dihadapkan pada berbagai permasalahan yang melibatkan dirinya

Lebih terperinci

BAB VI PENUTUP. diketahui bahwa ketiga subjek mengalami self blaming. Kemudian. secara mendalam peneliti membahas mengenai self blaming pada

BAB VI PENUTUP. diketahui bahwa ketiga subjek mengalami self blaming. Kemudian. secara mendalam peneliti membahas mengenai self blaming pada 144 BAB VI PENUTUP A. Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, dapat diketahui bahwa ketiga subjek mengalami self blaming. Kemudian secara mendalam peneliti membahas mengenai self

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. tersebut terbentang dari masa bayi, kanak-kanak, remaja, dewasa, hingga masa

BAB I PENDAHULUAN. tersebut terbentang dari masa bayi, kanak-kanak, remaja, dewasa, hingga masa BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Sepanjang rentang kehidupannya individu mempunyai serangkaian tugas perkembangan yang harus dijalani untuk tiap masanya. Tugas perkembangan tersebut terbentang

Lebih terperinci

Psikologi Kepribadian I. Psikologi Psikologi

Psikologi Kepribadian I. Psikologi Psikologi MODUL PERKULIAHAN Psikologi Kepribadian I Fakultas Program Studi Tatap Muka Kode MK Disusun Oleh Psikologi Psikologi 03 61101 Abstract Dalam perkuliahan ini akan didiskusikan pembahasan mengenai pandangan

Lebih terperinci

Nomer : Fakultas : Usia : Agama :

Nomer : Fakultas : Usia : Agama : Nomer : Fakultas : Usia : Agama : Dengan hormat, Disela-sela kesibukan Anda, perkenankanlah saya mohon kesediaan Anda untuk mengisi skala yang tersedia. Skala ini dibuat dalam rangka memenuhi kelengkapan

Lebih terperinci