LAMPIRAN 1 DATA PERCOBAAN

dokumen-dokumen yang mirip
LAMPIRAN 1 DATA PERCOBAAN

Lampiran 1. Perhitungan pembuatan larutan standar

Lampiran 1 Hasil Determinasi Tanaman

LAMPIRAN. 2. Tabel penentuan konsentrasi dan kadar pada beda variable pelarut Sampel Panjang Gelombang Absorbansi Konsentrasi Kadar (%)

BAB III METODE PENELITIAN. Pengambilan sampel ini dilaksanakan di Pasar modern Kota Gorontalo dan

BAB III METODE PENELITIAN

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Sampel yang digunakan pada penelitian ini adalah kentang merah dan

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Instrumen Jurusan Pendidikan Kimia FPMIPA Universitas Pendidikan

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Maret sampai dengan Juni 2012.

9. Pembuatan Larutan Cr ppm Diambil larutan Cr ppm sebanyak 20 ml dengan pipet volumetri berukuran 20 ml, kemudian dilarutkan dengan

3 METODOLOGI PENELITIAN

Lampiran. Lampiran I. Rancangan Percobaan. Laaitan standar formaldehid. Sampel 2 macam. Persiapan sampel dengan. Penentuan Panjang gelombang optimum

Lampiran 1. Surat Keterangan Determinasi

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian eksperimen.

LAMPIRAN 1 Pola Difraksi Sinar-X Pasir Vulkanik Merapi Sebelum Aktivasi

Lampiran 1. Hasil identifikasi rumput laut Gracilaria verrucosa (Hudson) Papenfus

massa = 2,296 gram Volume = gram BE Lampiran 1. Perhitungan Pembuatan Pereaksi ml Natrium Fosfat 28 mm massa 1 M = massa 0,028 =

BAB 3 METODE PERCOBAAN

LAMPIRAN A DATA PENELITIAN DAN HASIL PERHITUNGAN

ADLN - PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA

STUDI GANGGUAN KROM (III) PADA ANALISA BESI DENGAN PENGOMPLEKS 1,10-FENANTROLIN PADA PH 4,5 SECARA SPEKTROFOTOMETRI UV-TAMPAK

BAB III METODE PENELITIAN. Berdasarkan kerangka teori yang ada, maka dapat disusun kerangka konsep

LAMPIRAN. Lampiran 1 Data kalibrasi piroksikam dalam medium lambung ph 1,2. NO C (mcg/ml) =X A (nm) = Y X.Y X 2 Y 2

Lampiran 1. Data Absorbansi dan Kurva Standar Pada Pengujian Kadar Amilosa

III. METODOLOGI PERCOBAAN. Penelitian ini dilakukan pada bulan Januari 2015 sampai Juni 2015 di

LAMPIRAN A DATA PENELITIAN DAN HASIL PERHITUNGAN

Lampiran 1. Data dan perhitungan analisis proksimat Padina australis

Lampiran 1. Krim Klorfeson dan Chloramfecort-H

BAB III PELAKSANAAN PENELITIAN. Universitas Muhammadiyah Riau dan di Laboratorium Patologi, Entimologi

BAB III METODE PENELITIAN

LAMPIRAN C PERHITUNGAN UMPAN DAN PRODUK

EKSTRAKSI MULTI TAHAP KURKUMIN DARI KUNYIT (Curcuma domestica Valet) MENGGUNAKAN PELARUT ETANOL SKRIPSI. Oleh Rajian Sobri Rezki

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian eksperimen.

III. METODOLOGI PENELITIAN di Laboratorium Kimia Analitik dan Kimia Anorganik Jurusan Kimia

Lampiran 1. Gambar Sediaan Tablet

dimana a = bobot sampel awal (g); dan b = bobot abu (g)

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

Lampiran 1 Pohon mangrove Api-api (Avicennia marina) Lampiran 2 Perhitungan analisis proksimat daun Api-api (Avicennia marina)

Lampiran 1. Perhitungan Pembakuan Natrium Hidroksida 1 N. No. Berat K-Biftalat (mg) Volume NaOH (ml) , ,14 3.

1. Dapat mengerti prinsip-prinsip dasar mengenai teknik spektrofotometri (yaitu prinsip dasar

BAB V METODOLOGI. 1.1 Alat dan bahan yang digunakan Alat yang digunakan. 1. Spektrofotometri Visible. 2. Magnetic Stirer. 3.

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. di Laboratorium Kimia Riset Makanan dan Material Jurusan Pendidikan

BAB III METODE PENELITIAN

Lampiran 1. Sampel Neo Antidorin Kapsul. Gambar 1. Kotak Kemasan Sampel Neo Antidorin Kapsul. Gambar 2. Sampel Neo Antidorin Kapsul

Laporan Praktikum Analisa Tablet Vitamin C dengan HPLC (High Performance Liquid Chromatograph)

BAB III. Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Riset, Jurusan Pendidikan Kimia,

Lampiran 1. Hasil analisis proksimat pakan komersil (% bobot kering) Lampiran 2. Hasil analisis kualitas air hari pertama

Lampiran 1. Data Pengukuran Waktu Kerja Larutan Kuning Metanil

LAPORAN PRAKTIKUM. ISOLASI DNA, Isolasi Protein dan PCR (Elektroforesis agarose dan Acrylamic)

BAB III METODE PENELITIAN

Lampiran 1. Diagram alir proses maserasi

Lampiran 1 Pembuatan Larutan Methyl Violet = 5

Bab III Metodologi III.1 Waktu dan Tempat Penelitian III.2. Alat dan Bahan III.2.1. Alat III.2.2 Bahan

Lampiran 1. Surat Keterangan Identifikasi Spons

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

Cabai rawit. Lampiran 1. Cara Kerja Penelitian. 1. Pengawetan

Lampiran 1. Perhitungan Pembuatan Tablet Asam Folat. Sebagai contoh F1 (Formula dengan penambahan Pharmacoat 615 1%).

METODELOGI PENELITIAN

Lampiran 1. Teknik Pengambilan Parameter Kadar Klorofil

BAB III METODE PENELITIAN

Gambar 6. Kerangka penelitian

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN. salam dan uji antioksidan sediaan SNEDDS daun salam. Dalam penelitian

BAB III METODELOGI PENELITIAN. Dalam kegiatan penelitian ini yang diperlukan adalah peralatan laboratorium,

Lampiran 1. Pembuatan Larutan Methyl Red

BAB III METODE PENELITIAN. Neraca analitik, tabung maserasi, rotary evaporator, water bath,

BAB III METODE PENELITIAN. 3.1 Lokasi Penelitian Penelitian ini dilakukan dari bulan Maret sampai dengan Juni 2010 di

BAB III METODE PENELITIAN. Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Udayana. Untuk sampel

Ektrak KCl 1 N : Sebanyak 74,55 g kristal KCl dilarutkan ke dalam labu takar 1000 ml dengan akuades.

BAB III METODE PENELITIAN

Lampiran 1 Penentuan Kadar Air (Apriyantono et al. 1989)

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. FPMIPA Universitas Pendidikan Indonesia dan Laboratorium Kimia Instrumen

Lampiran 1 Pembuatan Larutan Methylene Blue

Ferry Riyanto Harisman Powerpoint Templates Page 1

Antioksidan dalam Bakso Rumput Laut Merah Eucheuma cottonii

Ditimbang 25 gram Ditambahkan HNO 3 65% b/v sebanyak 25 ml Didiamkan selama 24 jam. Didinginkan

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian ini bersifat eksperimen dengan menggunakan metode

BAB III METODE PENELITIAN. formula menggunakan HPLC Hitachi D-7000 dilaksanakan di Laboratorium

Lampiran 1. Gambar Krim yang Mengandung Hidrokortison Asetat dan Kloramfenikol

METODE PENELITIAN. Penelitian ini dilakukan pada bulan April Juni 2013 di Laboratorium Daya, Alat,

LAMPIRAN A DATA PENGAMATAN. 1. Data Analisis Awal Bahan Baku Pembuatan Pupuk Organik Cair

BAB III METODE PENELITIAN. di Laboratorium Kimia Riset Makanan dan Laboratorium Kimia Analitik

Zubaidi, J. (1981). Farmakologi dan Terapi. Editor Sulistiawati. Jakarta: UI Press. Halaman 172 Lampiran 1. Gambar Alat Pencetak Kaplet

Lampiran 1. Sampel Pulna Forte Tablet

PERBANDINGAN KEMAMPUAN PEREDUKSI Na 2 S 2 O 3 DAN K 2 C 2 O 4 PADA ANALISA KADAR TOTAL BESI SECARA SPEKTROFOTOMETRI VISIBLE

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. (Pandanus amaryllifolius Roxb.) 500 gram yang diperoleh dari padukuhan

Kentang. Dikupas, dicuci bersih, dipotong-potong. Diblender hingga halus. Residu. Filtrat. Endapan. Dibuang airnya. Pati

III. METODOLOGI PERCOBAAN. Penelitian ini telah dilaksanakan pada bulan Juni sampai dengan bulan September

Lampiran 1. Gambar Sampel Kubis Hijau (Brassica oleracea L.)

LAPORAN PRAKTIKUM 8 PRAKTIKUM HPLC ANALISA TABLET VITAMIN C

III. METODOLOGI PENELITIAN. Penelitian ini akan dilaksanakan pada bulan April sampai dengan bulan Juli 2014

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN. Tempat pengambilan sampel dilaksanakan di pasar tradisional dan pasar

LAMPIRAN 1 DATA HASIL PERCOBAAN

Spektrum serapan derivat kedua deksklorfeniramin 20 mcg/ml

BAB III METODE PENELITIAN. Subjek dalam penelitian ini adalah nata de ipomoea. Objek penelitian ini adalah daya adsorpsi direct red Teknis.

Transkripsi:

LAMPIRAN 1 DATA PERCOBAAN L1.1 DATA RENDEMEN EKSTRAK Dari hasil percobaan diperoleh data rendemen ekstrak sebagai berikut: Jumlah Tahap Ekstraksi 2 3 Konsentrasi Pelarut (%) 50 70 96 50 70 96 Tabel L1.1 Data Rendemen Ekstrak Waktu Ekstraksi (menit) Berat Ekstrak (gram) 0,84 1,69 1,84 0,87 2,48 2,68 1,77 1,97 2,05 1,70 1,80 2,22 2,67 2,91 3,27 1,80 1,87 2,42 Rendemen Ekstrak (%) 4,20 8,45 9,20 4,35 12,40 13,40 8,85 9,85 10,25 8,50 9,00 11,10 13,35 14,55 16,35 9,00 9,35 12,10 Pada Tabel L1.1 di atas terlihat besar rendemen ekstrak dari 18 run, yang dinyatakan dalam satuan %. Besar rendemen didapat dengan membandingkan berat produk yang didapat dari setiap run dengan berat bahan baku temulawak awal (yang beratnya 20 gram). Metode perhitungannya dapat dilihat pada Lampiran 3. 47

L1.2 DATA KADAR KURKUMIN Dari hasil percobaan diperoleh data kadar kurkumin sebagai berikut: Jumlah Tahap Ekstraksi 2 3 Tabel L1.2 Data Kadar Kurkumin Konsentrasi Pelarut (%) 50 70 96 50 70 96 Waktu Ekstraksi (menit) Kadar Kurkumin (%) 0,067 0,147 0,078 0,413 0,915 1,201 1,780 2,161 2,175 0,234 0,168 0,342 1,074 1,086 2,041 2,061 2,238 2,617 Pada Tabel L1.2 di atas terlihat besar kadar kurkumin dari seluruh 18 run, yang dinyatakan dalam satuan %. Besar kadar kurkumin ini maksudnya adalah besar kadar kurkumin yang dianalisa dari rendemen ekstrak yang dihasilkan. Metode perhitungan lengkapnya dapat dilihat pada Lampiran 3. 48

LAMPIRAN 2 HASIL ANALISA L2.1 HASIL ANALISA KURKUMIN STANDAR Gambar L2.1 Pemilihan Puncak Spektrum Kurkumin Standar Pada gambar L2.1 di atas terlihat grafik spektrum aktif kurkumin standar, dimana puncaknya adalah pada panjang gelombang 425 nm. Maka, pembacaan absorbansi untuk seterusnya akan dilakukan pada panjang gelombang 425 nm. 49

Gambar L2.2 Grafik Standar Kurkumin Pada gambar L2.2 di atas terlihat titik-titik hasil pembacaan absorbansi menggunakan spektrofotometer UV-Visible terhadap kurkumin standar dengan konsentrasi yang berbeda-beda. Dari titik-titik tersebut ditarik garis, dan didapatkan persamaan y=0,36301x + 0,02124. Persamaan inilah yang akan digunakan untuk menghitung konsentrasi dari sampel-sampel run pada penelitian ini, setelah absorbansi mereka dibaca dengan spektrofotometer UV-Visible. 50

L2.2 HASIL ANALISA KADAR KURKUMIN Gambar L2.3 Hasil Analisa Kadar Kurkumin Pada gambar L2.3 di atas terlihat tabel hasil analisa kadar kurkumin. Terlihat bahwa, misalnya pada run 1, diambil sampel (sebesar 0,0255 gram) dari keseluruhan sampel hasil run 1, kemudian dimasukkan ke kuvet dengan ditambah etanol 10 ml. Kuvet dimasukkan ke spektrofotometer untuk pembacaan absorbansi. Jika hasil pembacaan absorbansi tidak melebihi 1, maka dipakailah pembacaan absorbansi tersebut. Namun, jika hasil pembacaan absorbansi awal melebihi 1, maka kuvet dikeluarkan dan larutan diencerkan dengan kelipatan 10 kali hingga pembacaan absorbansi tidak melebihi 1. Sedangkan di kolom paling kanan terlihat konsentrasi (hasil perhitungan dengan persamaan y = 0,36301x + 0,02124) yang dinyatakan dalam satuan ppm. 51

LAMPIRAN 3 CONTOH PERHITUNGAN L3.1 PERHITUNGAN KEBUTUHAN AIR L3.1.1 Untuk Pembuatan Larutan Etanol 70% dan 50% Kebutuhan air yang digunakan sebagai pengencer untuk pembuatan pelarut etanol dalam proses ekstraksi didapat dari perhitungan. Larutan etanol 96% ingin diencerkan menjadi etanol 70% dan etanol 50%. Perhitungan air yang digunakan sebagai pengencer, dengan rumus : M 1. V 1 = M 2. V 2 Dimana V 1 = volume awal etanol 96% yang akan ditambahkan air Dimana V 2 = volume etanol 96% untuk ekstraksi (80 ml) Dimana ρ = densitas etanol Dimana % = persen berat etanol Untuk perhitungan pengenceran etanol 96% menjadi etanol 70% sebanyak 80 ml: M 1. V 1 = M 2. V 2 96. V 1 = 70. 80 V 1 = 58,33 ml Maka air yang ditambahkan = 80 ml 58,33 ml = 21,67 ml Untuk perhitungan pengenceran etanol 96% menjadi etanol 50% sebanyak 80 ml: M 1. V 1 = M 2. V 2 96. V 1 = 50. 80 V 1 = 41,66 ml Maka air yang ditambahkan = 80 ml 41,66 ml = 38,34 ml Tabel L3.1 menunjukkan jumlah air yang ditambahkan sebagai pengencer, yang diperoleh dari perhitungan. Tabel L3.1 Jumlah Air Sebagai Pengencer Etanol : Air Volume Air (ml) 1:1 (Etanol 50%) 38,34 7:3 (Etanol 70%) 21,67 52

Dari tabel L3.1 pada perbandingan etanol : air = 1 : 1 (etanol 50%) volume air yang ditambahkan adalah 38,34 ml dan pada perbandingan etanol : air = 7 : 3 (etanol 70%) volume air yang ditambahkan adalah 21,67 ml. Masing-masing perbandingan dilakukan sebanyak 6 run, sehingga : Perbandingan etanol : air = 1 : 1 yaitu = 38,34 ml x 6 = 230,04 ml Perbandingan etanol : air = 7 : 3 yaitu = 21,67 ml x 6 = 130,02 ml + Total = 3,06 ml Total = 361 ml Maka banyaknya air yang dibutuhkan adalah sebanyak 361 ml. L3.2 PERHITUNGAN KEBUTUHAN ETANOL L3.2.1 Sebagai Pelarut Proses Ekstraksi Kebutuhan etanol yang digunakan sebagai pelarut proses ekstraksi didapat dari perhitungan. Pada proses ini etanol yang digunakan adalah etanol teknis 96% yang diencerkan menjadi etanol 70% dan etanol 50%. Tabel L3.2 menunjukkan jumlah etanol sebagai pelarut yang diperoleh dari perhitungan. Tabel L3.2 Jumlah Etanol Sebagai Pelarut Ekstraksi Etanol : Air Volume Etanol (ml) 1:1 (Etanol 50%) 41,66 7:3 (Etanol 70%) 58,33 24:1 (Etanol 96%) 80 Dari tabel L3.2 pada perbandingan etanol : air = 1 : 1 (Etanol 50%) volume etanol yang dibutuhkan adalah 41,66 ml, pada perbandingan etanol : air = 7 : 3 (etanol 70%) volume etanol yang dibutuhkan adalah 58,33 ml, dan pada perbandingan etanol : air = 24 : 1 (etanol 96%) volume etanol yang dibutuhkan adalah 80 ml. Masing-masing perbandingan dilakukan sebanyak 6 run, sehingga : Perbandingan etanol : air = 1 : 1 yaitu = 41,66 ml x 6 = 249,96 ml Perbandingan etanol : air = 7 : 3 yaitu = 58,33 ml x 6 = 349,98 ml Perbandingan etanol : air = 24 : 1 yaitu = 80,00 ml x 6 = 480 ml + Total = 1079,94 ml Total = 1080 ml 53

Maka banyaknya etanol yang dibutuhkan adalah sebanyak 1080 ml. L3.3 PERHITUNGAN RENDEMEN EKSTRAK KURKUMIN Perhitungan rendemen dilakukan dengan cara membandingkan antara massa produk yang dihasilkan dengan massa bahan baku awal, dengan rumus : Misal, untuk Run 1 diperoleh berat ekstrak (produk jadi) sebesar 0,84 gram dari berat awal 20 gram, maka perhitungannya adalah : Tabel L3.3 menunjukkan hasil perhitungan rendemen untuk seluruh 18 run : Tabel L3.3 Rendemen untuk Masing-masing Run Run Berat Ekstrak (gm) Berat Awal (gm) Rendemen (%) 1 0,84 20 4,20 2 1,69 20 8,45 3 1,84 20 9,20 4 0,87 20 4,35 5 2,48 20 12,40 6 2,68 20 13,40 7 1,77 20 8,85 8 1,97 20 9,85 9 2,05 20 10,25 10 1,70 20 8,50 11 1,80 20 9,00 12 2,22 20 11,10 13 2,67 20 13,35 14 2,91 20 14,55 15 3,27 20 16,35 16 1,80 20 9,00 17 1,87 20 9,35 18 2,42 20 12,10 L3.4 PERHITUNGAN KURVA STANDAR KURKUMIN Untuk menghitung kadar ekstrak kurkumin, sebelumnya harus dibuat kurva standar kurkumin terlebih dulu. Prosedur pembuatan kurva standar ini telah dicantumkan sebelumnya di Bab 3, dimana hasilnya didapatkan absorbansi dari 11 titik yang digunakan. 54

Pertama dihitung dulu konsentrasi stok standar : Satuan konsentrasi standar ini akan diubah dari mg/l menjadi ppm. Karena ppm adalah satuan perbandingan (satu per sejuta bagian) dan densitas etanol bukanlah 1 kg/l, maka dilakukan pembagian dengan densitas etanol lebih dulu : karena 1 mg adalah 1/1.000.000 kg, maka 1 mg/kg = 1 ppm, sehingga : Konsentrasi masing-masing titik dihitung dengan persamaan : Misal, untuk titik pertama volume pengencerannya 0,025 ml, perhitungannya adalah : maka Setelah itu dihitung konsentrasi untuk 10 titik yang tersisa, yang tercantum pada Gambar L2.2 di Lampiran 2 L3.5 PERHITUNGAN KADAR EKSTRAK KURKUMIN Analisa data dilakukan dengan menggunakan alat spektrofotometer UV Visible. Skala absorbansi dibaca pada panjang gelombang 425 nm. Konsentrasi kurkumin dihitung dengan menggunakan grafik standar absorbansi vs konsentrasi yang ditunjukkan pada gambar L2.2 pada Lampiran 2. Pada gambar tersebut terdapat persamaan garis lurus, yaitu y = ax + b, dimana : a = 0,36301; b = 0,02124 y = skala absorbansi x = konsentrasi (ppm) 55

Tabel L3.4 menunjukkan skala absorbansi, berat sampel, dan pengenceran untuk masing-masing run : Tabel L3.4 Absorbansi, Berat Sampel, dan Pengenceran Masing-masing Run Run Berat Sampel (gm) Pengenceran Abs 425 1 0,0255 1 0,63684 2 0,0210 10 0,13354 3 0,0239 1 0,69507 4 0,0189 10 0,30432 5 0,0226 100 0,09631 6 0,0124 10 0,56189 7 0,0139 100 0,11108 8 0,0111 10 0,89197 9 0,0173 100 0,15784 10 0,0105 1 0,91296 11 0,0235 10 0,16479 12 0,0177 10 0,24084 13 0,0192 10 0,76990 14 0,01 10 0,65186 15 0,0202 100 0,17090 16 0,0155 100 0,13721 17 0,0142 100 0,136 18 0,0183 100 0,19507 Untuk mendapat nilai x (konsentrasi), maka : y = ax + b Untuk mendapat nilai x dalam ppm maka harus dikalikan lebih lanjut dengan : sehingga persamaannya menjadi : dengan volume labu adalah 10 ml. Kita ambil contoh run 2, maka : x = 1473,1327 ppm 56

Nilai konsentrasi dalam satuan ppm ini kemudian dikonversi ke dalam satuan %. Karena ppm adalah satuan rasio satu persejuta bagian dan persen adalah satuan rasio satu perseratus bagian, maka untuk mengubah ppm ke % dilakukan dengan : Maka kadar kurkumin untuk run 9 adalah sebesar 2,175 %. Namun, % kadar kurkumin ini maksudnya adalah besar kadar kurkumin dari rendemen ekstrak yang dihasilkan. Konsentrasi dalam satuan ppm sebenarnya sudah cukup. Dalam penelitian ini, pengubahan ke satuan % dilakukan untuk keperluan membandingkan kadar kurkumin dengan kadar kurkumin yang didapat dari penelitian-penelitian sebelumnya, yang juga dinyatakan dalam satuan %. Cara perhitungan ini lalu digunakan untuk run-run selanjutnya, dimana hasilnya terlihat dalam tabel L3.5 yang menunjukkan hasil perhitungan kadar ekstrak untuk seluruh 18 run : Tabel L3.5 menunjukkan hasil perhitungan kadar ekstrak untuk seluruh 18 run : Tabel L3.5 Kadar untuk Masing-masing Run Run Berat Sampel (gm) Pengenceran Abs 425 Konsentrasi (ppm) Kadar (%) 1 0,0255 1 0,63684 665,03 0,067 2 0,0210 10 0,13354 1473,13 0,147 3 0,0239 1 0,69507 776,67 0,078 4 0,0189 10 0,30432 4126,00 0,413 5 0,0226 100 0,09631 9150,39 0,915 6 0,0124 10 0,56189 10,91 1,201 7 0,0139 100 0,11108 17804,77 1,780 8 0,0111 10 0,89197 219,36 2,161 9 0,0173 100 0,15784 21751,34 2,175 10 0,0105 1 0,91296 2339,49 0,234 11 0,0235 10 0,16479 1682,74 0,168 12 0,0177 10 0,24084 3417,75 0,342 13 0,0192 10 0,76990 10741,50 1,074 14 0,01 10 0,65186 10857,48 1,086 15 0,0202 100 0,17090 20409,66 2,041 16 0,0155 100 0,13721 20610,82 2,061 17 0,0142 100 0,136 22379,39 2,238 18 0,0183 100 0,19507 26167,07 2,617 57

LAMPIRAN 4 DOKUMENTASI PENELITIAN L4.1 FOTO PERSIAPAN BAHAN BAKU Gambar L4.1 Foto Temulawak Gambar L4.2 Foto Temulawak Potong Gambar L4.3 Foto Pengeringan 58

L4.2 FOTO PROSES EKSTRAKSI Gambar L4.4 Foto Proses Ekstraksi L4.3 FOTO PROSES DISTILASI Gambar L4.5 Foto Proses Distilasi 59

L4.4 FOTO PRODUK Gambar L4.6 Foto Produk