Analisis Reduksi Model pada Sistem Linier Waktu Diskrit

dokumen-dokumen yang mirip
IDENTIFIKASI VARIABEL PADA SISTEM TEREDUKSI LINIER WAKTU KONTINU

ANALISIS REDUKSI MODEL PADA SISTEM LINIER WAKTU DISKRIT TAK STABIL DENGAN METODE SINGULAR PERTURBATION APPROXIMATION

IDENTIFIKASI DAN ESTIMASI VARIABEL KEADAAN DARI SISTEM TEREDUKSI DENGAN METODE PEMOTONGAN SETIMBANG PADA MODEL KONDUKSI PANAS

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

KARAKTERISTIK PERSAMAAN ALJABAR RICCATI DAN PENERAPANNYA PADA MASALAH KENDALI

REDUKSI RANK PADA MATRIKS-MATRIKS TERTENTU

ALGORITMA ADAPTIVE COVARIANCE RANK UNSCENTED KALMAN FILTER UNTUK ESTIMASI KEADAAN PADA PERSAMAAN AIR DANGKAL

ON SOLUTIONS OF THE DISCRETE-TIME ALGEBRAIC RICCATI EQUATION. Soleha Jurusan Matematika, Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya

REDUKSI MODEL SISTEM LINEAR WAKTU DISKRIT TIDAK STABIL MENGGUNAKAN METODE PEMOTONGAN SETIMBANG

Reduksi Rank pada Matriks-Matriks Tertentu

Teori kendali. Oleh: Ari suparwanto

EKSISTENSI PENGENDALI SUBOPTIMAL. Widowati Jurusan Matematika FMIPA UNDIP Semarang. Abstrak

KAJIAN MATRIKS JORDAN DAN APLIKASINYA PADA SISTEM LINEAR WAKTU DISKRIT

Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya. Keterkendalian (Controlability)

Simulasi Perpindahan Panas pada Lapisan Tengah Pelat Menggunakan Metode Elemen Hingga

MATRIKS JORDAN DAN APLIKASINYA PADA SISTEM LINIER WAKTU DISKRIT. Soleha, Dian Winda Setyawati Jurusan Matematika, FMIPA Institut Teknologi Surabaya

Penyelesaian Penempatan Kutub Umpan Balik Keluaran dengan Matriks Pseudo Invers

Penyelesaian Penempatan Kutub Umpan Balik Keluaran dengan Matriks Pseudo Invers

Analisis dan Kontrol Optimal Sistem Gerak Satelit Menggunakan Prinsip Minimum Pontryagin

STABILISASI SISTEM KONTROL LINIER DENGAN PENEMPATAN NILAI EIGEN

KETEROBSERVASIAN SISTEM LINIER DISKRIT

Pengendalian Populasi Hama pada Model Mangsa-Pemangsa dengan Musuh Alaminya

Perbandingan Algoritma Golub Kahan dan QR Simetri untuk Dekomposisi Nilai Singular

REDUKSI ORDE MODEL PADA SISTEM LINEAR WAKTU KONTINU DENGAN PENDEKATAN TRANSFORMASI RESIPROKAL SKRIPSI

KONTROL TRACKING FUZZY UNTUK SISTEM PENDULUM KERETA MENGGUNAKAN PENDEKATAN LINEAR MATRIX INEQUALITIES

Analisis Kestabilan Pada Model Transmisi Virus Hepatitis B yang Dipengaruhi Oleh Migrasi

ANALISA SIFAT-SIFAT ANTRIAN M/M/1 DENGAN WORKING VACATION

BAB II LANDASAN TEORI

Penerapan Persamaan Aljabar Riccati Pada Masalah Kendali Dengan Waktu Tak Berhingga

KETERCAPAIAN DARI RUANG EIGEN MATRIKS ATAS ALJABAR MAKS-PLUS. 1. Pendahuluan

Kontrol Tracking Fuzzy untuk Sistem Pendulum Kereta Menggunakan Pendekatan Linear Matrix Inequalities

JURNAL SAINS DAN SENI ITS Vol. 6, No.1, (2017) ( X Print) A 6

KAJIAN MODEL MARKOV WAKTU DISKRIT UNTUK PENYEBARAN PENYAKIT MENULAR PADA MODEL EPIDEMIK SIR. Oleh: RAFIQATUL HASANAH NRP.

g(x, y) = F 1 { f (u, v) F (u, v) k} dimana F 1 (F (u, v)) diselesaikan dengan: f (x, y) = 1 MN M + vy )} M 1 N 1

REALISASI POSITIF STABIL ASIMTOTIK SISTEM LINIER DISKRIT DENGAN POLE KONJUGAT KOMPLEKS

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah

APLIKASI METODE PANGKAT DALAM MENGAPROKSIMASI NILAI EIGEN KOMPLEKS PADA MATRIKS

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah

REALISASI POSITIF STABIL ASIMTOTIK DARI SISTEM LINIER DISKRIT

STABILISASI SISTEM KONTROL LINIER INVARIANT WAKTU DENGAN MENGGUNAKAN METODE ACKERMANN

Trihastuti Agustinah

Kontrol Fuzzy Takagi-Sugeno Berbasis Sistem Servo Tipe 1 Untuk Sistem Pendulum Kereta

STABILISASI SISTEM DESKRIPTOR DISKRIT LINIER POSITIF

SISTEM KONTROL LINIER

Analisis dan Perancangan Sistem Pengendali pada Sistem Pembangkit Listrik Tenaga Uap dengan Pengendali Robust Melalui Optimasi H

APLIKASI DEKOMPOSISI NILAI SINGULAR PADA KOMPRESI UKURAN FILE GAMBAR

Optimasi Jumlah Pelanggan Perusahaan Daerah Air Minum Surya Sembada Kota Surabaya Berdasarkan Jenis Pelanggan dengan Metode Fuzzy Goal Programming

Watermarking dengan Metode Dekomposisi Nilai Singular pada Citra Digital

II LANDASAN TEORI. Contoh. Ditinjau dari sistem yang didefinisikan oleh:

Analisis Model Penyebaran Penyakit Menular Dengan Bakteri dan Hospes

Estimasi Solusi Model Pertumbuhan Logistik dengan Metode Ensemble Kalman Filter

Oleh Nara Riatul Kasanah Dosen Pembimbing Drs. Sri Suprapti H., M.Si

ANALISIS KESTABILAN SISTEM GERAK PESAWAT TERBANG DENGAN MENGGUNAKAN METODE NILAI EIGEN DAN ROUTH - HURWITZ (*) ABSTRAK

STABILISASI SISTEM DESKRIPTOR LINIER KONTINU

BAB II LANDASAN TEORI. eigen dan vektor eigen, persamaan diferensial, sistem persamaan diferensial, titik

PENGGUNAAN METODE LYAPUNOV UNTUK MENGUJI KESTABILAN SISTEM LINIER

Perbandingan Skema Numerik Metode Finite Difference dan Spectral

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah

SATUAN ACARA PERKULIAHAN UNIVERSITAS GUNADARMA

LOGO SEMINAR TUGAS AKHIR. Oleh : Rifdatur Rusydiyah Dosen Pembimbing : DR. Subiono, M.Sc

PENGENDALIAN OPTIMAL PADA SISTEM STEAM DRUM BOILER MENGGUNAKAN METODE LINEAR QUADRATIC REGULATOR (LQR) Oleh : Ika Evi Anggraeni

IMPLEMENTASI ENSEMBLE KALMAN FILTER PADA ESTIMASI KECEPATAN KAPAL SELAM

Perbandingan Metode Kalman Filter, Extended Kalman Filter, dan Ensemble Kalman Filter pada Model Penyebaran Virus HIV/AIDS

Sifat-Sifat Sistem Pendulum Terbalik dengan Lintasan Berbentuk Lingkaran

BAB II LANDASAN TEORI. yang biasanya dinyatakan dalam bentuk sebagai berikut: =

Pengkajian Metode Extended Runge Kutta dan Penerapannya pada Persamaan Diferensial Biasa

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah

BAB II LANDASAN TEORI

PENGGUNAAN MATLAB DALAM PENYELESAIAN SISTEM PERSAMAAN LINEAR MENGGUNAKAN JARINGAN HOPFIELD LINEAR ABSTRAK

PENDUGAAN FUNGSI INTENSITAS PROSES POISSON PERIODIK DENGAN TREN FUNGSI PANGKAT MENGGUNAKAN METODE TIPE KERNEL

METODE PSEUDO ARC-LENGTH DAN PENERAPANNYA PADA PENYELESAIAN SISTEM PERSAMAAN NONLINIER TERPARAMETERISASI

Menentukan Nilai Eigen Tak Dominan Suatu Matriks Definit Negatif Menggunakan Metode Kuasa Invers dengan Shift

Implementasi Ensemble Kalman Filter (Enkf) Untuk Estimasi Ketinggian Air Dan Temperatur Uap Pada Steam Drum Boiler

ANALISIS REDUKSI DATA CITRA MENGGUNAKAN METODE DEKOMPOSISI NILAI SINGULAR

DESAIN SISTEM KENDALI TEMPERATUR UAP SUPERHEATER DENGAN METODE FUZZY SLIDING MODE CONTROL

Proceeding Tugas Akhir-Januari

Perluasan Teorema Cayley-Hamilton pada Matriks

Pasangan Baku Dalam Polinomial Monik

Modifikasi Kontrol untuk Sistem Tak Linier Input Tunggal-Output Tunggal

BAB 2 LANDASAN TEORI

SOLUSI POSITIF DARI PERSAMAAN LEONTIEF DISKRIT

Waktu Optimal Dalam Diversifikasi Produksi Sumber Energi Terbarukan dan Tidak Terbarukan dengan Menggunakan Prinsip Minimum Pontryagin

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah

Konvergensi Barisan dan Teorema Titik Tetap

KESTABILAN MODEL BIOEKONOMI SISTEM MANGSA PEMANGSA SUMBER DAYA PERIKANAN DENGAN PEMANENAN PADA POPULASI PEMANGSA

BAB II LANDASAN TEORI. selanjutnya sebagai bahan acuan yang mendukung tujuan penulisan. Materi-materi

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Model Linear Kuadratik untuk Sistem Deskriptor Berindeks Satu dengan Factor Discount dan Output Feedback

KONVERGENSI DAN KELENGKAPAN PADA RUANG QUASI METRIK

BAB II LANDASAN TEORI

DEKOMPOSISI NILAI SINGULAR DAN DISCRETE FOURIER TRANSFORM UNTUK NOISE FILTERING PADA CITRA DIGITAL

BAB I PENDAHULUAN. himpunan vektor riil dengan n komponen. Didefinisikan R + := {x R x 0}

OBSERVER UNTUK SISTEM KONTROL LINIER KONTINU

NILAI EIGEN DAN VEKTOR EIGEN disebut vektor eigen dari matriks A =

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah

TUGAS AKHIR. ESTIMASI POSISI MAGNETIC LEVITATION BALL MENGGUNAKAN METODE ENSEMBLE KALMAN FILTER (EnKF) Oleh: ARIEF RACHMAN

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah

PENGHITUNGAN VEKTOR-KHARAKTERISTIK SECARA ITERATIF MENGGUNAKAN TITIK TETAP BROUWER

Transkripsi:

JURNAL SAINS DAN SENI ITS Vol. 5 No. 2 (216) 2337-352 (231-928X Print) A-25 Analisis Reduksi Model pada Sistem Linier Waktu Diskrit Yunita Indriana Sari dan Didik Khusnul Arif Jurusan Matematika, Fakultas MIPA, Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Jl. Arief Rahman Hakim, Surabaya 6111 Indonesia e-mail: didik@matematika.its.ac.id Abstrak Reduksi Model adalah penyederhanaan sistem yang berorde besar agar sistem tersebut memiliki orde yang lebih kecil tanpa kesalahan yang signifikan. Pada Tugas Akhir ini, dibahas mengenai reduksi model dengan menggunakan metode Pemotongan Setimbang dengan menganalisis sistem awal, mengkaji pembentukan sistem setimbang, dan konstruksi model tereduksi. Proses reduksi model diawali dengan membentuk sistem setimbang dari sistem awal yang bersifat stabil, terkendali, dan teramati dengan matriks transformasi T. Setelah didapatkan sistem setimbang, selanjutnya dilakukan pemotongan nilai singular Hankel yang kecil. Setelah itu dilakukan simulasi reduksi model menggunakan MATLAB. Hasil simulasi menunjukkan bahwa model tereduksi yang dihasilkan memiliki sifat yang sama dengan sistem awal, yaitu sifat stabil, terkendali, teramati. Selain itu, pemotongan nilai singular Hankel dapat dilakukan sesuai kebutuhan dalam pengaplikasian reduksi model pada permasalahan di kehidupan nyata. Selanjutnya, dilakukan perbandingan model awal dan model tereduksi dengan menggunakan respon frekuensi. Kata Kunci Metode Pemotongan Setimbang, Reduksi Model, Singular Hankel, Sistem Diskrit. S I. PENDAHULUAN istem yang terdapat di alam semesta seringkali memiliki orde yang besar. Sehingga dihasilkan model matematika yang memiliki banyak variabel keadaan. Semakin banyak variabel yang digunakan, model matematika yang digunakan semakin mendekati nilai fenomena ataupun sistem nyata yang sebenarnya. Tentunya hal ini mempengaruhi waktu komputasi karena semakin besar ukuran sistem, waktu komputasi yang dibutuhkan semakin lama pula. Dan juga permasalahan yang ada pada sistem semakin besar dan kompleks. Tentunya penyelesaian sistem yang memiliki orde besar lebih rumit dibanding sistem yang memiliki orde lebih kecil. Oleh karena itu, dibutuhkan penyederhanaan sistem yang berorde besar agar sistem tersebut memiliki orde yang lebih kecil tanpa kesalahan yang signifikan. Penyederhanaan sistem inilah yang dinamakan reduksi model[1]. Terdapat banyak metode reduksi model, diantaranya adalah metode Pemotongan Setimbang, aproksimasi Norma Hankel dan Aproksimasi Perturbasi Singular. Diantara metode reduksi model tersebut, metode Pemotongan Setimbang merupakan metode reduksi model yang paling sederhana. Selain itu, metode Pemotongan Setimbang menjamin sifat-sifat dari sistem awal selalu dipertahankan. Sistem hasil reduksi dengan metode Pemotongan Setimbang akan mempunyai sifat yang sama dengan sifat sistem semula yaitu stabil, terkendali dan teramati[2]. Berdasarkan latar belakang di atas, pada penelitian ini akan dilakukan analisis reduksi model pada sistem diskrit dengan menggunakan metode pemotongan setimbang. Setelah didapatkan model hasil reduksi, kemudian akan dilakukan analisis terhadap sifat-sifat model hasil reduksi. Setelah itu akan dilakukan simulasi untuk model awal dan model hasil reduksi dengan menggunakan aplikasi MATLAB. II. METODE PENELITIAN Tahap Studi Literatur Pada tahap ini dilakukan identifikasi permasalahan dengan cara mencari referensi mengenai teori-teori yang menunjang penelitian. Tahap Analisis Sifat Model Awal Pada tahap ini dilakukan analisis mengenai sifatsifat model awal, meliputi analisis sifat dan perilaku sistem, yaitu analisis kestabilan, keterkendalian dan keteramatan pada sistem tersebut. Tahap Reduksi Model Pada tahap ini dilakukan reduksi model sistem awal dengan menggunakan metode Pemotongan Setimbang agar menghasilkan model setimbang dengan variabel keadaan yang jumlahnya lebih sedikit namun dengan karakteristik yang sama. Tahap Analisis Sifat Model Tereduksi Pada tahap ini dilakukan analisis sifat model yang telah direduksi, yaitu analisis sifat kestabilan, keterkendalian dan keteramatan. Tahap Simulasi dan Analisis Pada tahap ini dilakukan simulasi dan analisis model awal dan model reduksi dengan menggunakan software MATLAB. Tahap Penarikan Kesimpulan Pada tahap ini dilakukan penarikan kesimpulan dan saran berdasarkan pada hasil simulasi dan analisis pada tahap sebelumnya. III. ANALISIS DAN PEMBAHASAN Kajian Sistem Awal Misalkan diberikan suatu sistem linear waktu diskrit sebagai berikut: x k+1 = Ax k + Bu k (1)

A-26 JURNAL SAINS DAN SENI ITS Vol. 5 No. 2 (216) 2337-352 (231-928X Print) z k = Cx k + Du k (2) dengan x k R n : variabel keadaan pada waktu k u k R m : vektor masukan deterministik pada waktu k z k R P : vektor pengukuran pada waktu k A, B, C, D : matriks-matriks konstan dengan ukuran yang bersesuaian. Dari Persamaan (1) dan (2) dapat dibentuk sebuah fungsi transfer[3]. G(z) = C(zI A) 1 B + D (3) Melalui fungsi transfer dapat diketahui hubungan antara masukan dan keluaran. Selanjutnya, untuk menyelidiki sifat kestabilan Persamaan (1) dan (2) digunakan teorema berikut. Teorema 3.1[4] Sistem linear diskrit adalah stabil asimtotik jika dan hanya jika λ i (A) < 1 untuk i = 1,, n dengan λ i (A) adalah nilai eigen matriks A. Sedangkan jika λ i (A) 1, untuk i = 1,, n maka sistem diskrit adalah stabil. Sedangkan untuk mengetahui sifat keterkendalian Persamaan (1) dan (2) digunakan teorema berikut. Teorema3.2[4] Sistem diskrit terkendali jika dan hanya jika rank (B AB A n 1 B) = n, dengan (B AB A n 1 B) disebut sebagai matriks keterkendalian. Didefinisikan gramian keterkendalian, W, pada sistem (A, B, C, D) adalah sebagai berikut[5]. W = k= A k BB T (A T ) k (4) Berikut merupakan teorema yang menjelaskan hubungan antara sifat keterkendalian sistem dengan gramian keterkendalian. Teorema 3.3[2] Pernyataan berikut ekuivalen. (i) Sistem (A, B, C, D) terkendali, (ii) Gramian keterkendalian, W, adalah definit positif, (iii) Matriks keterkendalian,(b AB A n 1 B), mempunyai rank baris penuh. Untuk mengetahui sifat keteramatan digunakan teorema berikut. Teorema 3.4[4] Sistem diskrit teramati jika dan hanya jika rank (C T A T C T (A T ) n 1 C T ) = n, dengan (C T A T C T (A T ) n 1 C T ) disebut sebagai matriks keteramatan. Didefinisikan gramian keteramatan, M, pada sistem (A, B, C, D) adalah sebagai berikut[5]. M = (A T ) k C T CA k k= (5) Berikut merupakan teorema yang menjelaskan hubungan antara sifat keteramatan sistem dengan gramian keteramatan. Teorema 3.5[2] (i) Sistem (A, B, C, D) teramati, (ii) Gramian keteramatan, M, adalah definit positif, Matriks keteramatan, (C T A T C T (A T ) n 1 C T ), mempunyai rank kolom penuh. Kajian Sistem Setimbang Sistem setimbang merupakan sistem baru sebagai bentuk pendekatan dari sistem awal yang mempunyai gramian keterkendalian sistem setimbang, W, dan gramian keteramatan sistem setimbang, M, yang sama dan merupakan matriks diagonal (W = M ).Konsep sistem setimbang berdasarkan gramian keterkendalian, W, dan gramian keteramatan, M, diberikan pada definisi berikut. Definisi 3.1[2] Sistem (A, B, C, D) disebut sistem setimbang dari sistem (A, B, C, D) jika sistem (A, B, C, D) mempunyai gramian keterkendalian, W, dan gramian keteramatan, M, yang merupakan solusi tunggal dari persamaan Lyapunov A W A T + B B T W = (6) A T M A + C T C M = (7) sedemikian sehingga memenuhi W = M = diag(σ 1, σ 2,, σ n ) (8) σ 1 σ r σ n > dengan σ i menyatakan nilai singular Hankel dari sistem (A, B, C, D) yang dapat didefinisikan sebagai σ i = λ i (WM) (9) i = 1, 2,, n. Dengan λ i adalah nilai-nilai eigen dari WM. Untuk mendapatkan sistem setimbang, diperlukan matriks transformasi T. Matriks transformasi T adalah matriks yang mentransformasikan sistem awal menjadi sistem setimbang. Algoritma untuk mendapatkan matriks transformasi T adalah sebagai berikut: Gambar. 1. Konstruksi Matriks T Misal diberikan suatu matriks transformasi T yang memenuhi[6]. x k = Tx k (1) dengan, x k : variabel keadaan dari sistem (A, B, C, D) x k : variabel keadaan dari sistem setimbang (A, B, C, D) T : matriks transformasi yang non singular dan berukuran n n Selanjutnya, Persamaan (1) dapat dituliskan sebagai berikut.

JURNAL SAINS DAN SENI ITS Vol. 5 No. 2 (216) 2337-352 (231-928X Print) A-27 x k = T 1 x k (11) Untuk k = k + 1, diperoleh x k+1 = T 1 x k+1 (12) Jika sistem awal disubstitusikan pada Persamaan diatas maka diperoleh hasil sebagai berikut. A = T 1 AT, B = T 1 B, C = CT, dan D = D Apabila A, B, C, D disubstitusikan pada Persamaan awal maka diperoleh hasil sebagai berikut. x k+1 = A x k + B u k (13) y k = C x k + D u k (14) Kajian Model Tereduksi Setelah didapatkan sistem setimbang (A, B, C, D) yang mempunyai gramian kesetimbangan Σ. Berdasarkan urutan nilai singular Hankel, maka gramian kesetimbangan Σ dapat dipartisi menjadi = ( 1 2 ) (15) dengan, 1 = diag (σ 1, σ 2,, σ r ) 2 = diag (σ r+1, σ r+2,, σ n ), dan σ r > σ r+1 Partisi yang terjadi pada Σ menyebabkan terjadinya partisi pada sistem setimbang (A, B, C, D), yaitu A 11 A 12 B 1 G = ( A 21 A 22 B 2 ) (16) C 1 C 2 D dengan, A 12 A = ( A 11 ), B = ( B 1 ), dan C = (C 1 C 2) (17) A 21 A 22 B 2 Selanjutnya, pada sistem setimbang (A, B, C, D) dilakukan pemotongan terhadap variabel keadaan yang sulit untuk dikendalikan dan sulit diamati sehingga terbentuk sistem tereduksi yang mempunyai variabel keadaan lebih sedikit daripada variabel keadaan pada sistem semula. Pemotongan terhadap variabel keadaan yang sulit untuk dikendalikan dan sulit diamati ini dapat dijelaskan melalui teorema berikut. Teorema 3.6[2] Diberikan sistem (A, B, C, D) yang stabil, terkendali, teramati dan setimbang dengan gramian W = M = diag(σ 1, σ 2,, σ n ), σ 1 σ 2 σ n > (18) Jika σ r > σ r+1 maka sistem tereduksi dengan order r juga akan stabil, terkendali dan teramati serta memenuhi G z G z r 2(σ r+1 + + σ n ) (19) dengan G z dan G masing-masing z r adalah fungsi transfer sistem (A, B, C, D) dan sistem tereduksinya. Menurut Teorema 3.6, maka pemotongan variabel keadaan pada sistem setimbang dapat dilakukan dengan menentukan urutan nilai singular Hankel dimana terjadi loncatan yang besar atau dipilih urutan singular Hankel ke-r dimana σ r σ r+1. Akhirnya diperoleh sistem tereduksi yang berukuran r yang dapat dinyatakan dalam bentuk: x rk+1 = A 11 x rk + B 1u k (2) y rk = C 1x rk + Du k (21) Untuk selanjutnya sistem tereduksi pada Persamaan (2) dan (21) disebut sebagai sistem (A 11, B 1, C 1, D). Simulasi Pada subbab ini akan dilakukan simulasi reduksi model. menggunakan metode pemotongan setimbang. Sebagai langkah awal, diberikan suatu sistem linear waktu diskrit dengan n = 8. x k+1 = [,2,5 1,8 2,7,5,2 2 1 3,4,6,81 1,9] x k + 4 1 3 3 2 1 4 [ 1 ] y k = [1 5 3 7 3 2 4 6]x k + [1]u k Sistem tersebut memiliki sifat stabil, terkendali, dan teramati. Didapat sistem (A, B, C, D ) sebagai berikut.,963,118,24,87,118,5633,4411,63,24,4411,834,835,87,63,835,8972 A =,148,1315,142,37,11,1,17,95,489,6,6,8 [,3,3,6 9,2733 12,2348 1,181 1,3131 B = 2,374,1318,19 [,56 ],148,1315,142,37,347,3154,4,7,11,17,95,489,3154,1,1268,72,1,6,6,8,4,1268,7454,2847 u k,3,3,6,7,72,2847,3364] C = [9,273 12,235 1,18 1,313 2,37,132,11,6] D = [1] Selanjutnya, didapatkan nilai Singular Hankel. Berikut merupakan nilai singular Hankel dari sistem (A, B, C, D ). Gambar. 2. Grafik Nilai Singular Hankel Pemotongan variabel keadaan dilakukan ketika terjadi loncatan nilai singular Hankel, σ i, yang besar. Berikut dilakukan beberapa pemotongan nilai Singular Hankel. Kasus 1 keadaan menjadi model tereduksi orde 1. Berikut x rk+1 = [,963]x rk + [ 9,273]ũ k ỹ r k = [9,273]x rk + [1]ũ k awal dan model tereduksi orde 1.

A-28 JURNAL SAINS DAN SENI ITS Vol. 5 No. 2 (216) 2337-352 (231-928X Print) Gambar. 3. Grafik Respon Frekuensi Sistem Awal dan Model Tereduksi Orde 1 Berdasarkan Gambar 3, respon frekuensi untuk Kasus 2 keadaan menjadi model tereduksi orde 2. Berikut,963,118 = [ ] + [ 9,273 x rk+1,118,5633 x rk 12,23 ] ũ k ỹ r k = [9.273 12.23]x rk + [1]ũ k awal dan model tereduksi orde 2. Gambar. 5. Grafik Respon Frekuensi Sistem Awal dan Model Tereduksi Orde 3 Berdasarkan Gambar 5, respon frekuensi untuk Kasus 4 keadaan menjadi model tereduksi orde 4. Berikut,963 x rk+1 = [,118,236,8654 9,273 12,23 + [ ] ũ 1,18 k 1,313,118,5633,4411,632,236,4411,834,8347,8654,632,8347,8972 ] x rk ỹ r k = [9,273 12,23 1,18 1,313]x rk + [1]ũ k awal dan model tereduksi orde 4. Gambar. 4. Grafik Respon Frekuensi Sistem Awal dan Model Tereduksi Orde 2 Berdasarkan Gambar 4, respon frekuensi untuk Kasus 3 keadaan menjadi model tereduksi orde 3. Berikut,963,118,236 9,273 x rk+1 = [,118,5633,4411 ] x rk + [ 12,23] ũ k,236,4411,834 1,18 ỹ r k = [9,273 12,23 1,18]x rk + [1]ũ k awal dan model tereduksi orde 3. Gambar. 6. Grafik Respon Frekuensi Sistem Awal dan Model Tereduksi Orde 4 Berdasarkan Gambar 6, respon frekuensi untuk Kasus 5 keadaan menjadi model tereduksi orde 5. Berikut

JURNAL SAINS DAN SENI ITS Vol. 5 No. 2 (216) 2337-352 (231-928X Print) A-29 x rk+1 =,963,118,236,8654 [,1485,118,5633,4411,632,1315,236,4411,834,8347,142,8654,632,8347,8972,37,1485,1315,142 x rk,37,3469] + 9,273 12,23 1,18 1,313 u k [ 2,37 ] = [9,273 y rk 12,23 1,18 1,313 2,37]x rk + [1]u k awal dan model tereduksi orde 5. Gambar. 8. Grafik Respon Frekuensi Sistem Awal dan Model Tereduksi Orde 6 Berdasarkan Gambar 8, respon frekuensi untuk Gambar. 7. Grafik Respon Frekuensi Sistem Awal dan Model Tereduksi Orde 5 Berdasarkan Gambar 7, respon frekuensi untuk Kasus 6 keadaan menjadi model tereduksi orde 6. Berikut x rk+1 = +,963,118,24,87,149 [,11,118,5633,4411,63,1315,17,24,4411,834,835,142,95,87,63,835,8972,37,489,149,1315,142,37,347,3154,11,17,95,489 x rk,3154,99] 9,273 12,23 1,18 1,313 u k 2,37 [,1318] = [9,273 12,23 1,18 1,313 2,37 +,1318]x rk y rk [1]u k awal dan model tereduksi orde 6. Gambar. 9. Grafik Perbandingan Respon Frekuensi Model Awal dan Model Tereduksi Berdasarkan Gambar 9, terlihat bahwa model awal dan model tereduksi memiliki perilaku yang sama. Hal ini menunjukkan bahwa model tereduksi memiliki perilaku dan karakteristik yang sama dengan sistem awal. Pada Gambar 8 juga terlihat bahwa model tereduksi yang paling mendekati dengan sistem awal adalah model tereduksi orde 6 karena memiliki variabel keadaan yang hampir sama jumlahnya dengan sistem awal. Selanjutnya dilakukan penghitungan error model tereduksi terhadap model awal. Didapatkan hasil sebagai berikut. Tabel 1. Nilai Error Model Tereduksi Model Tereduksi Nilai Error Orde 1,333731 Orde 2,16822536 Orde 3,1233625 Orde 4 8,47 1 14 Orde 5 8,47 1 14 Orde 6 8,47 1 14

A-3 JURNAL SAINS DAN SENI ITS Vol. 5 No. 2 (216) 2337-352 (231-928X Print) Berikut merupakan grafik perbandingan error model tereduksi. IV. KESIMPULAN 1. Dari hasil analitik, model tereduksi memiliki sifat yang sama dengan model awal, yaitu sifat kestabilan, keterkendalian, dan keteramatan. 2. Dari hasil simulasi, pemotongan variabel keadaan untuk mendapatkan model tereduksi dapat dilakukan sesuai kebutuhan dalam pengaplikasian reduksi model pada permasalahan dalam kehidupan nyata. DAFTAR PUSTAKA Gambar. 1. Grafik Perbandingan Error Model Tereduksi Berdasarkan Gambar 9, terlihat bahwa error paling besar dimiliki oleh model tereduksi orde 1. Hal ini dikarenakan pada model tereduksi tersebut bekerja hanya menggunakan 1 variabel keadaan saja sehingga hasil yang didapatkan tidak semaksimal apabila model bekerja dengan menggunakan variabel keadaan lebih dari 1. Sedangkan error paling kecil dimiliki oleh model tereduksi orde 4, 5, dan 6. Hal ini dikarenakan model tereduksi tersebut memiliki variabel keadaan yang lebih banyak dibanding model tereduksi yang lain sehingga dapat bekerja lebih maksimal dibandingkan dengan model tereduksi yang lain. [1] Gregoriadis, K. M. (1995). Optimal H Model Reduction via Linear Matrix inequalities: Continuous and Discrete-Time Cases. System and Control Letter 26, 321-333. [2] Arif, D. K. (214). Konstruksi dan Implementasi Algoritma Filter Kalman pada Model Tereduksi. Yogyakarta: Universitas Gadjah Mada. [3] Staffans, O. 29. Transfer Function. Abo Akademi University Press, Finlandia. [4] Ogata, Katsuhiko. (1995). Discrete-Time Control Systems. New Jersey. Prentice Hall. [5] Arif, D.K. dkk. (214). Construction of the Kalman Filter Algorithm on the Model Reduction. International Journal Control and Automation (IJCA), Vol 7. No 9, 257-27. [6] Zhou, K., Doyle, J. C., & Glover, K. (1996). Robust and Optimal Control. New Jersey: Prentice-Hall.