JIIA, VOLUME 4 No. 1, JANUARI 2016

dokumen-dokumen yang mirip
III. METODOLOGI PENELITIAN Metodologi Penelitian dan Pengumpulan Data. tempat dan waktu btertentu. Metode pengumpulan dengan melakukan

I. PENDAHULUAN. Hutan kemasyarakatan (HKm) sebagai sistem pengelolaan hutan yang

III. METODOLOGI PENELITIAN

III. METODE PENELITIAN. untuk mendapatkan data melakukan analisa-analisa sehubungan dengan tujuan

BAB III. METODOLOGI PENELITIAN. Konsep dasar merupakan pengertian yang digunakan untuk memperoleh

III. METODE PENELITIAN. mengenai variabel yang akan diteliti untuk memperoleh dan menganalisis data

III. METODE PENELITIAN

III. METODE PENELITIAN. Konsep dasar dan definisi operasional meliputi pengertian yang digunakan

IV. METODE PENELITIAN

JIIA, VOLUME 3 No. 1, JANUARI 2015 ANALISIS RANTAI PASOK DAN NILAI TAMBAH AGROINDUSTRI KOPI LUWAK DI PROVINSI LAMPUNG

III. METODE PENELITIAN. langsung terhadap gejala dalam suatu masyarakat baik populasi besar atau kecil.

PEMBUKTIAN PENERAPAN SCOR MODEL VERSI 10.0 PADA PERUSAHAAN DISTRIBUTOR (PT SURYA PERDANA LESTARI) DENGAN PERUSAHAAN PRODUKSI

Pengukuran Kinerja Manajemen Rantai Pasokan dengan SCOR Model 9.0 (Studi Kasus di PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk)

Seminar Nasional IENACO ISSN: ANALISIS PERFORMANSI RANTAI PASOK DENGAN MODEL SUPPLY CHAIN OPERATIONS REFERENCE DI PD.

5 KINERJA, SUMBER RISIKO, DAN NILAI TAMBAH RANTAI PASOK BUAH MANGGIS DI KABUPATEN BOGOR

KINERJA USAHA AGROINDUSTRI KELANTING DI DESA KARANG ANYAR KECAMATAN GEDONGTATAAN KABUPATEN PESAWARAN

III. METODE PENELITIAN. Konsep dasar dan definisi operasional merupakan pengertian dan petunjuk

IV. METODE PENELITIAN. Lokasi penelitian ini adalah di Kecamatan Leuwiliang dan Leuwisadeng,

Analisis Performansi Supply Chain Management Menggunakan Model Supply Chain Operation Reference (SCOR)

DIVERSIFIKASI NILAI TAMBAH DAN DISTRIBUSI KEREPIK UBI KAYU DI KECAMATAN SARONGGI KABUPATEN SUMENEP

PENDAPATAN DAN NILAI TAMBAH USAHA KOPI BUBUK ROBUSTA DI KABUPATEN LEBONG (STUDI KASUS PADA USAHA KOPI BUBUK CAP PADI)

METODE PENELITIAN. Klaster adalah konsentrasi spasial dari industri industri yang sama atau

BAB V HASIL DAN ANALISIS

SUPPLY CHAIN MANAGEMENT

IV METODE PENELITIAN 4.1. Lokasi dan Waktu Penelitian 4.2. Jenis, Sumber, dan Metode Pengumpulan Data

JIIA, VOLUME 1 No. 3, JULI 2013

Lampiran 1. Sebaran Bulanan Kebutuhan dan Ketersediaan Beras Tahun 2011 (ARAM II) Sumber : Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 2011

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah

ANALISIS NILAI TAMBAH BAWANG MERAH LOKAL PALU MENJADI BAWANG GORENG DI KOTA PALU

PENGUKURAN DAN PENINGKATAN KINERJA RANTAI PASOKAN DENGAN PENDEKATAN SCOR (SUPPLY CHAIN DI PT. XYZ TUGAS SARJANA DEA DARA DAFIKA SIAGIAN NIM.

VII NILAI TAMBAH RANTAI PASOK BERAS ORGANIK

ANALISIS NILAI TAMBAH INDUSTRI KERIPIK TEMPE SKALA RUMAH TANGGA (Studi Kasus Desa Lerep Kecamatan Ungaran Barat Kabupaten Semarang)

ABSTRAK. PENDAHULUAN Latar Belakang. GaneÇ Swara Vol. 10 No.1 Maret 2016 IDA BGS. EKA ARTIKA, 2) IDA AYU KETUT MARINI

Oleh : Edi Sugiarto, S.Kom, M.Kom. Edi Sugiarto, M.Kom - Supply Chain Management dan Keunggulan Kompetitif

Deskripsi Mata Kuliah

SCM dalam E-Business. 1. Mahasiswa dapat menjelaskan tentang SCM pada e-business

BAB V ANALISIS Analisis SCOR (Supply Chain Operation Reference)

ANALISIS NILAI TAMBAH PELAKU RANTAI PASOK GAMBIR DENGAN METODE HAYAMI TERMODIFIKASI ABSTRAK

EVALUASI SUPPLY CHAIN MANAGEMENT DENGAN PENDEKATAN SCOR MODEL VERSI 8.0 (Studi Kasus di PT. XYZ)

BAB IV METODOLOGI PENELITIAN

III. METODE PENELITIAN. Konsep dasar dan definisi operasional mencakup pengertian yang

ANALISIS PERBANDINGAN PENDAPATAN PETANI KOPI ATENG YANG MENJUAL DALAM BENTUK GELONDONG MERAH (Cherry red) DENGAN KOPI BIJI

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah

ANALISIS NILAI TAMBAH USAHA AGROINDUSTRI DAN PEMASARAN PRODUK GULA AREN DI KECAMATAN GUNUNGSARI KABUPATEN LOMBOK BARAT ABSTRAK

ANALISIS USAHA AGROINDUSTRI KERUPUK SINGKONG (Studi Kasus di Desa Mojorejo, Kecamatan Junrejo, Kota Wisata Batu)

ANALISIS USAHA DAN NILAI TAMBAH PRODUK KERUPUK BERBAHAN BAKU IKAN DAN UDANG (Studi Kasus Di Perusahaan Sri Tanjung Kabupaten Indramayu)

III. METODE PENELITIAN

PENGUKURAN KINERJA SCOR PADA PERENCANAAN BAHAN BAKU DI IKM TPT ABC DAN XYZ DENGAN PENDEKATAN OBJECTIVE MATRIX

PENGGUNAAN MODEL SUPPLY CHAIN OPERATIONS REFERENCES (SCOR) DALAM PENGUKURAN KINERJA SUPPLY CHAIN PADA PT. GUNA KEMAS INDAH

BAB 2 LANDASAN TEORI

ANALISIS EFISIENSI DAN NILAI TAMBAH AGROINDUSTRI TAHU DI KOTA PEKANBARU

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. output. Manajemen operasi dapat di terapkan pada perusahan manufaktur maupun jasa.

BAB VIII. PENGUKUFUN KINERJA FUNTAI PASOK SAYURAN LETTUCE HEAD DENGAN PENDEKATAN DEA

RANTAI NILAI BERAS IR64 DI KECAMATAN WANAREJA KABUPATEN CILACAP

Gambar 4.1 Tipper Vessel

ANALISIS NILAI TAMBAH AGROINDUSTRI KECAP (Studi Kasus pada Pengusaha Kecap Cap Jago di Desa Cibenda Kecamatan Parigi Kabupaten Pangandaran)

PENGUKURAN KINERJA SUPPLY CHAIN DI PT XYZ DENGAN MENGGUNAKAN METODE SCOR

BAB I PENDAHULUAN. majunya gizi pangan, masyarakat semakin sadar akan pentingnya sayuran sebagai

KINERJA PROSES INTI RANTAI PASOK AGROINDUSTRI DENGAN PENDEKATAN SUPPLY CHAIN OPERATIONS REFERENCE (SCOR) PENDAHULUAN

ANALISIS NILAI TAMBAH PENGOLAHAN NANAS MENJADI KERIPIK DAN SIRUP (Kasus: Desa Sipultak, Kec. Pagaran, Kab. Tapanuli Utara)

ANALISIS NILAI TAMBAH, KEUNTUNGAN, DAN TITIK IMPAS PENGOLAHAN HASIL RENGGINANG UBI KAYU (RENGGINING) SKALA RUMAH TANGGA DI KOTA BENGKULU

II. TINJAUAN PUSTAKA 1.1. Definisi Supply Chain dan Supply Chain Management

BAB I PENDAHULUAN. Supply chain (rantai pasok) merupakan suatu sistem yang

PENDAHULUAN. Nurmedika 1, Marhawati M 2, Max Nur Alam 2 ABSTRACT

PENGUKURAN KINERJA DENGAN MENGGUNAKAN SUPPLY CHAIN MELALUI PENDEKATAN SCOR MODEL DI PT. LASER JAYA SAKTI,Tbk GEMPOL, PASURUAN SKRIPSI

ANALISIS AGROINDUSTRI KERIPIK TEMPE BU SITI DI DESA BULUH RAMPAI KECAMATAN SEBERIDA KABUPATEN INDRAGIRI HULU

BAB I PENDAHULUAN I.1 Latar Belakang Masalah

I. PENDAHULUAN. Menurut Saragih (2001), pengembangan sektor agribisnis pada. masa yang akan datang menghadapi sejumlah tantangan besar yang

Bab I Pendahuluan I.1 Latar Belakang

II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Definisi Rantai Pasokan dan Manajemen Rantai Pasokan

ANALISIS NILAI TAMBAH BUAH PISANG MENJADI KERIPIK PISANG PADA INDUSTRI RUMAH TANGGA SOFIE DI KOTA PALU

ANALISIS EKONOMI PAKAN TERNAK TERFERMENTASI BERBASIS LIMBAH AGROINDUSTRI PISANG DI KABUPATEN LUMAJANG

Pengukuran Kinerja SCM

Pengukuran Performansi Perusahaan dengan Menggunakan Metode Supply Chain Operation Reference (SCOR)

ANALISIS PENDAPATAN DAN NILAI TAMBAH AGROINDUSTRI TAPE SINGKONG DI KOTA PEKANBARU

EVALUASI MANAJEMEN RANTAI PASOK DENGAN MODEL SUPPLY CHAIN OPERATION REFERENCE (SCOR) DI PT. INDOTURBINE TESIS ERI MARLAPA

Oleh : Iif Latifah 1, Yus Rusman 2, Tito Hardiyanto 3. Fakultas Pertanian Universitas Galuh 2. Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran

V. PENGUKURAN KINERJA PELAKU RANTAI PASOK KOPI ORGANIK DENGAN PENDEKATAN DEA

MANAJEMEN RANTAI PASOKAN. Suhada, ST, MBA

1. PENDAHULUAN. Universitas Kristen Petra

DAFTAR ISI DAFTAR TABEL DAFTAR GAMBAR DAFTAR LAMPIRAN

PENGUKURAN KINERJA AKTIFITAS SUPPLY CHAIN PADA INDUSTRI MINUMAN JUS DENGAN SCOR (STUDY KASUS PT. API)

PENGUKURAN KINERJA MANAJEMEN RANTAI PASOKAN DENGAN PENDEKATAN SCOR MODEL 9.0 (STUDI KASUS DI PT INDOCEMENT TUNGGAL PRAKARSA Tbk) Oleh

I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Untuk mengatasi krisis ekonomi, Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia telah membuat Ketetapan MPR Nomor

Pembahasan Materi #1

BAB I PENDAHULUAN. meningkatkan fungsi dan peran supply chain management (SCM) pada. sebuah perusahaan agar menjadi lebih efisien dan produktif?

PERFORMANCE MEASUREMENT (Pengukuran Kinerja) Supply Chain Management. Ir. Dicky Gumilang, MSc. Universitas Esa Unggul July 2017

Julian Adam Ridjal PS Agribisnis UNEJ.

4. METODOLOGIPENELITIAN. Lokasi dan Waktu Penelitian. Jenis dan Sumber Data. Metode Penentuan Responden

BAB III METODE PENELITIAN. 3.1 Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di Kecamatan Wajak Kabupaten Malang, tepatnya di

ANALISIS NILAI TAMBAH PISANG NANGKA (Musa paradisiaca,l) (Studi Kasus di Perusahaan Kripik Pisang Krekes di Loji, Wilayah Bogor)

ANALISIS USAHA DAN NILAI TAMBAH DARI USAHA PENGOLAHAN MARNING DAN EMPING JAGUNG DI KABUPATEN GROBOGAN

BAB I PENDAHULUAN. untuk mendukung pembangunan ekonomi nasional. Namun potensi tersebut. dengan pasokan produk kelautan dan perikanan.

ANALISA INVENTORY TURNOVER PADA PRODUK EKSPOR PADA PT. SCHERING PLOUGH INDONESIA

BAB I PENDAHULUAN. terus menciptakan berbagai inovasi-inovasi baru untuk tetap dapat unggul dan

III. METODOLOGI PENELITIAN. Penelitian ini dilaksanakan di Kabupaten Lampung Timur. Lokasi penelitian

ANALISIS NILAI TAMBAH DAN MARGIN PEMASARAN PISANG MENJADI OLAHAN PISANG ANALYSIS OF ADDED VALUE AND MARKETING MARGIN OF PROCESSED BANANA PRODUCTS

Steffi S. C. Saragih, Salmiah, Diana Chalil Program StudiAgribisnisFakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara

Transkripsi:

ANALISIS KINERJA RANTAI PASOK DAN NILAI TAMBAH PRODUK OLAHAN KELOMPOK WANITA TANI MELATI DI DESA TRIBUDISYUKUR KECAMATAN KEBUN TEBU LAMPUNG BARAT (Supply Chain Performance Analysis and Value Added Analysis of Women Farmer Group Products in Tribudisyukur Village Kebun Tebu Subdistrict West Lampung) Sartika Lestari, Zainal Abidin, Suarno Sadar Jurusan Agribisnis, Fakultas Pertanian, Universitas Lampung, Jl. Prof. Dr. Soemantri Brojonegoro No.1 Bandar Lampung 35141, Telp 08996420959, e-mail: sartikaklestari@gmail.com ABSTRACT This study purposed to measure supply chain performance of KWT Melati products and analyze value added of KWT Melati products. This Research was conducted in Tribudisyukur Village at Kebun Tebu Subdistrict, West Lampung. The research data was collected on April 2015 using survey method. Sample size was 25 respondents who were selected using purposive sampling. Analysis Data Method used for supply chain management performance was Supply Chain Operation References (SCOR) 9,0 and for value added analysis was Hayami method. The result of this study showed that (1) Based on the result of this study, there is an ineffectiveness on management cost especially on Total Supply Chain Management Cost (TSMC) metric for all products of KWT Melati, this is caused by the amount of cost spent on producing (2) The most profitable product of KWT Melati is coffee package 25gr with value added ratio 55,68% and gave added value Rp52.400,00 for every kg coffee production. Key words : women farmer group, supply chain performance, value added analysis PENDAHULUAN Agroindustri dapat didefinisikan sebagai suatu usaha atau kegiatan pengolahan bahan baku menjadi barang yang memiliki nilai tambah yang tinggi melalui proses transformasi dengan menggunakan perlakuan fisik dan kimia, penyimpanan, pengemasan dan distribusi. Kegiatan agroindustri membutuhkan manajemen usaha yang moderen, pencapaian skala usaha yang optimal dan efisien karena kegiatan agroindustri tidak tergantung kepada musim (Hasyim dan Zakaria 1995). Rantai pasok adalah proses sebuah produk sampai kepada konsumen setelah melewati beberapa proses dari pencarian bahan baku, proses produksi dan proses distribusi yang melibatkan berbagai pihak (Sheikh 2002), selanjutnya menurut Tunggal (2009) manajemen rantai pasok adalah pengintegrasian antara aktivitas pengadaan bahan dan pelayanan, pengubahan menjadi barang setengah jadi dan produk akhir, serta pengiriman produk hingga ke pelanggan. Rantai pasok merupakan jaringan yang terdri dari beberapa pelaku usaha dimana didalamnya terdapat aliran produk, informasi dan finansial (Sari 2013). Isu rantai pasok produk hasil pertanian semakin meluas dan merupakan rantai pasok yang sangat mengglobal, maka dari itu dibutuhkan alat untuk membantu dalam melakukan kontrol dan audit dalam manajemen rantai pasokan untuk meningkatkan kepercayaan konsumen untuk itu dibutuhkan manajemen rantai pasok yang kritis untuk pemerintah, organisasi dan komunitas (Yakovleva 2009). Manajemen rantai pasok terkait dengan pengelolaan aset-aset rantai pasok serta aliran produk, informasi dan aliran uang untuk memaksimumkan keuntungan dari rantai pasok itu sendiri, maka tujuan dari rantai pasok seharusnya adalah memaksimumkan keseluruhan nilai yang diperoleh dari seluruh pihak yang terkait dalam pembuatan produk (Chopra dan Meindle 2007). Manajemen rantai pasok dilatarbelakangi oleh kesadaran akan pentingnya peran semua pihak dalam menciptakan produk yang murah, berkualitas dan cepat. Dalam manajemen rantai pasok juga melibatkan pihak-pihak eksternal seperti pemasok yang terlibat dan dituntut untuk memiliki kinerja yang bagus agar berjalan dengan baik, dengan memilih pemasok yang tepat maka perusahaan akan terhindar dari kekosongan atau kerusakan barang (Indrajit 2002). 24

Rantai pasok berperan penting dalam hubungan KWT Melati dan pemasok untuk menciptakan suatu produk yang bernilai dan bermutu untuk bersaing di pasaran. Pemasok dapat meningkatkan atau menurunkan kualitas produk KWT Melati melalui penyediaan bahan mentah. Perlu diperhatikan manajemen suplai dan pembelian, yaitu bagian dari manajemen rantai pasok yang fokus terhadap pengaturan aliran barang dan jasa dari pemasok menuju ke perusahaan. Hal ini dilakukan untuk meningkatkan kualitas bahan baku dari para pemasok untuk menciptakan produk berkualitas. Menurut (Frohlich 2001), banyak industri yang tidak memiliki kontrol yang baik terhadap rantai pasokannya, untuk meminimalisir hal tersebut, hal pertama yang harus dilakukan adalah menentukan rantai pasok itu sendiri. Pengukuran kinerja rantai pasok akan memberikan peluang besar untuk memperbaiki dan mengembangkan manajemen rantai pasok pada semua industri (Bolstorff 2003). Pengukuran dan evaluasi kinerja manajemen rantai pasok KWT Melati perlu dilakukan agar sistem rantai pasok yang menghubungkan KWT Melati dengan para pemasok lebih optimal dan efektif. Keefektifan manajemen rantai pasok akan membantu KWT Melati dalam pencapaian tujuan industri secara luas yaitu unggul dalam persaingan global dengan produk yang berkualitas. Selain pengukuran kinerja rantai pasok, perlu diperhatikan diversifikasi olahan produk KWT Melati untuk meningkatkan nilai tambah usaha yang diikuti dengan peningkatan pendapatan. Terdapat empat olahan produk utama KWT Melati yaitu: Kopi Bubuk, Gula Aren Kristal, Gula Aren Cetak dan Madu Alam, dengan diversifikasi produk tersebut dibutuhkan analisis nilai tambah untuk perbandingan terhadap keseluruhan produk olahan untuk mengetahui produk yang paling menguntungkan bagi KWT Melati sebagai pemenuhan tujuan industri yaitu memaksimalkan keuntungan. Berdasarkan uraian tersebut, maka tujuan dari penelitian ini adalah (1) Melakukan pengukuran kinerja rantai pasok produk olahan KWT Melati dan (2) Menganalisis nilai tambah produk olahan KWT Melati METODE PENELITIAN Penelitian dilakukan di Desa Tribudisyukur, Kecamatan Kebun Tebu, Kabupaten Lampung Barat. Penentuan lokasi penelitian dilakukan secara sengaja (purposive) dengan pertimbangan bahwa Kabupaten Lampung Barat merupakan salah satu sentra produksi produk HKm di Provinsi Lampung. KWT Melati memiliki sistem pengolahan hasil produk HKm yang cukup baik terutama untuk produk kopi bubuk. HKm Binawana merupakan mitra KWT Melati sebagai pemasok bahan baku. Jumlah sampel yang dipilih dalam penelitian sebanyak 25 responden yang terdiri dari 1 orang pengurus KWT Melati dan 24 mitra tani yang merupakan anggota dari KWT Melati terdiri dari 10 orang pemasok kopi, 10 orang pemasok aren dan 4 orang pemasok madu alam. Pemilihan mitra tani berdasarkan pada petani yang memiliki keberlanjutan budidaya bahan baku untuk produk olahan KWT Melati. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian adalah metode studi kasus yaitu pengamatan yang bersifat spesifik dan terbatas pada suatu kasus, tempat dan waktu yang telah ditentukan. Metode pengumpulan data menggunakan kuesioner dan wawancara dengan ketua KWT Melati dan mitra tani. Metode analisis data yang digunakan untuk menghitung kinerja rantai pasok adalah Supply Chain Operation References (SCOR) 9.0 version yang merupakan model pengukuran kinerja yang dikeluarkan oleh Supply Chain Council (2009). Supply Chain Council adalah dewan rantai pasok internasional yang terdiri dari peneliti dan perusahaan yang memiliki pengalaman dan minat dalam pengembangan rantai pasok secara global. Terdapat empat level dalam pengukuran kinerja rantai pasok dengan SCOR 9.0 version, untuk skala industry kecil hanya dilakukan pengukuran pada level satu. Guna mengukur kinerja manajemen rantai pasok KWT Melati, terdapat empat atribut dan lima metrik yang telah ditentukan untuk pengukuran kinerja yang terlihat pada Tabel 1. - Order Fulfillment Cycle-Time (OFCT) Aktualsiklus waktu pesanan terkirim.. (1) Total jumlah pesanan dikirim - Total Supply Chain Management Cost (TSCMC) Penjualan - Keuntungan - Biaya pelayanan.. (2) - Cost of Goods Sold (COGS) Biaya Var. Biaya T. Kerja Biaya Tetap.. (3) 25

Tabel 1. Parameter atribut dan metrik kinerja rantai pasok Atribut Metrik Kinerja Superior Advantage Parity Reliabilitas POF % % % Responsivitas OFCT Hari Hari Hari Biaya COGS % % % Manajemen TSCMC % % % Aset Manajemen CTCCT Hari Hari Hari (Sumber : Bolstorff 2003). - Cash to Cash Cycle Time (CTCCT). Nilai CTCCT diperoleh dengan cara menjumlahkan hasil pengurangan rata-rata piutang hari dan ratarata hutang harian dengan persediaan pasokan harian. Setelah dihitung kinerja aktual rantai pasok KWT Melati, selanjutnya dibandingkan dengan benchmark yang telah ditetapkan oleh Supply Chain Council (2008) untuk industri makanan. Berdasarkan benchmark tersebut, menurut Bolstroff (2003) dapat ditentukan target kinerja untuk periode selanjutnya. Dalam melakukan benchmarking, data yang diperoleh adalah data produksi bulan April 2015, untuk menyesuaikan benchmark dilakukan perhitungan untuk periode satu tahun dengan menggunakan asumsi bulan produksi terendah, bulan produksi tertinggi dan bulan prouksi reguler untuk KWT Melati selama periode Mei 2014 April 2015. Analisis nilai tambah digunakan untuk mengetahui besarnya nilai tambah dalam pengolahan produk. Dalam melakukan Analisis nilai tambah digunakan data produksi pada bulan April 2015. Analisis nilai tambah menggunakan metode Hayami (Tabel 2). HASIL DAN PEMBAHASAN Kinerja Rantai Pasok Produk Olahan KWT Melati Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, kinerja rantai pasok produk olahan KWT Melati terdiri dari kinerja rantai pasok kopi bubuk (kemasan 25gr, 50 gr dan 1kg), kinerja rantai pasok gula aren (gula aren cetak dan gula aren kristal) dan madu. Kinerja Rantai Pasok Kopi Bubuk Kopi Bubuk Cap Semut yang merupakan salah satu produk olahan KWT Melati yang dibagi ke dalam tiga kemasan, yaitu kemasan 25gr, 50gr dan 1kg (kemasan reguler). Pembagian output produksi kopi bubuk ke dalam tiga jenis kemasan tersebut berdasarkan perkiraan dengan porsi kemasan reguler 90 persen, kemasan 50 gr 6 persen dan kemasan 25gr 4 persen. Kinerja rantai pasok kopi bubuk kemasan 25gr tertera pada Tabel 3. Dari Tabel 3 terlihat kinerja kemasan 25gr pada atribut reliabilitas dengan metrik POF berada pada target klasifikasi advantage untuk kinerja selanjutnya. Kinerja untuk atribut biaya manajemen yang terdiri dari metrik COGS dan TSMC berada dibawah target kinerja, sehingga untuk kinerja selanjutnya ditargetkan pada klasifikasi parity. Kinerja responsivitas dan aset manajemen tidak dapat dihitung karena data tidak tersedia di KWT Melati. Tabel 2. Analisis nilai tambah dengan Metode Hayami No Variabel Nilai Output, Input, Harga 1. Output/ total produksi (Kg/periode) A 2. Input bahan baku (Kg/periode) B 3. Input Tenaga kerja (HOK/periode) C 4. Rendemen (1) / (2) D = A/B 5. Koefesien tenaga kerja (3) / (2) E = C/B 6. Harga produk (Rp/ Kg) F 7. Upah rata-rata tenaga kerja per HOK G (Rp/HOK) Pendapatan dan Keuntungan 8. Harga input bahan baku (Rp/ Kg) H 9. Sumbangan input lain (Rp/Kg) I 10. Nilai produk (4) x (6) (Rp/Kg) J = D X F 11. a) Nilai tambah (10) - (8) (9) (Rp/ Kg) K = J-H-I b) Rasio nilai tambah (11a) / (10) (%) L % = (K/J) 12. a) Pendapatan Tenaga kerja ( Rp/ Kg) M = E x G b) Imbalan tenaga kerja (12a)/(11a) N % = (M/K) (%) 13. a) Keuntungan (11a) ( 12a) (Rp/Kg) O = K M b) Tingkat keuntungan (13a) / (10) P % = (O -J) (%) Balas Jasa Untuk Faktor produksi 14. Marjin (10) - (8) ( Rp/ Kg) Q = J H a) Pendapatan tenaga kerja (12a) / R % = (M/Q) (14) (%) b) b. Sumbangan input lain (9) / (14) S % = (I/Q) (%) c) Keuntungan perusahaan (13a) / (14) (%) T % = (O/Q) (Sumber : Hayami dalam Munawar 2010) Keterangan : a = Output/total produksi yang dihasilkan oleh pengolah KWT Melati b = Input/bahan baku yang digunakan untuk produksi c = Tenaga kerja yang digunakan dalam produksi dihitung dalam bentuk HOK (Hari Orang Kerja) dalam satu periode analisis f = Harga produk yang berlaku pada satu periode analisis g = Jumlah upah rata rata yang diterima oleh pekerja dalam setiap satu periode produksi yang dihitung berdasarka per HOK (Hari Orang Kerja) h = Harga input bahan baku utama yaitu ikan per kilogram pada saat periode analisis i = Sumbangan/biaya input lainnya yang terdiri dari biaya bahan penolong, biaya penyusutan biaya sewa dan biaya administrasi. 26

Kinerja untuk kemasan 50 gr pada atribut reliabilitas dengan metrik POF telah mencapai target kinerja, sehingga untuk kinerja selanjutnya ditargetkan tetap berada pada klasifikasi superior. Kinerja atribut biaya manajemen dengan metrik COGS telah mencapai target kinerja pada klasifikasi advantage sehingga untuk kinerja selanjutnya ditargetkan pada klasifikasi superior. Sedangkan metrik TSMC berada dibawah target kinerja, sehingga untuk kinerja selanjutnya ditargetkan pada klasifikasi parity. Kinerja untuk kemasan 1 kg (kemasan reguler) pada atribut reliabilitas dengan metrik POF telah mencapai target kinerja, sehingga untuk kinerja klasifikasi superior. Kinerja atribut biaya manajemen dengan metrik COGS telah mencapai target kinerja pada klasifikasi advantage sehingga untuk kinerja selanjutnya ditargetkan pada klasifikasi superior. Sedangkan, metrik TSMC berada dibawah target kinerja, sehingga untuk kinerja selanjutnya ditargetkan pada klasifikasi parity. Secara keseluruhan dari ketiga kemasan kopi, kinerja yang perlu diperhatikan adalah kinerja atribut aset manajemen yaitu pada metrik TSMC. Dari ketiga kemasan kopi, metrik TSMC memiliki gap (kesenjangan) yang tinggi antara kinerja aktual dengan kinerja klasifikasi minimal (parity). Hal ini berarti bahwa biaya manajemen yang dikeluarkan oleh KWT Melati dari pengadaan bahan baku sampai ke penjualan termasuk tidak efektif, karena sebagian besar biaya penerimaan digunakan untuk biaya manajemen rantai pasok daripada untuk keuntungan industri. Penelitian ini sejalan dengan Rofik (2010) bahwa untuk pengukuran kinerja rantai pasok industri skala UKM (Usaha Kecil Menengah) tidak perlu dilakukan breakdown pada SCOR 9.0 dari level 1 sampai level 4, cukup dengan pengukuran kinerja rantai pasok pada level 1. Kinerja Rantai Pasok Gula Aren Kinerja Rantai Pasok gula aren KWT Melati dibagi menajdi gula aren cetak dan gula aren kristal. Hal ini dikarenakan untuk setiap produk gula aren memiliki harga produk, output kemasan dan bahan penolong yang berbeda sehingga analisis kinerja rantai pasok untuk gula aren dibedakan. Kinerja rantai pasok gula aren cetak terlihat pada Tabel 4. Berdasarkan Tabel 4 kinerja gula aren cetak pada atribut reliabilitas dengan metrik POF telah mencapai target kinerja, sehingga untuk kinerja klasifikasi superior. Kinerja atribut biaya manajemen dengan metrik COGS dan TSMC berada dibawah target kinerja, sehingga untuk kinerja selanjutnya ditargetkan pada klasifikasi parity. Kinerja gula aren kristal pada atribut reliabilitas dengan metrik POF telah mencapai target kinerja, sehingga untuk kinerja selanjutnya ditargetkan tetap berada pada klasifikasi superior. Kinerja atribut biaya manajemen dengan metrik COGS telah mencapai target, seharusnya kinerja klasifikasi superior. Hal ini sejalan dengan penelitian Mutakin (2010) dimana tidak boleh ada dua kinerja superior untuk satu produk yang diukur kinerjanya, sehingga untuk target COGS gula aren kristal selanjutnya ditetapkan pada klasifikasi advantage. Tabel 3. Hasil analisis kinerja rantai pasok kopi KWT Melati No Atribut Kinerja Metrik Kinerja Aktual 25gr 50gr Reguler Parity Advantage Superior 1. Reliabilitas POF 79,17% 92,19% 94,19% 74,0% 81,0% 88,0% 2. Responsivitas OFCT - - - - - - 3. Biaya Manajemen COGS 76,43% 54,49% 60,52% 69,0% 61,0% 53,0% TSMC 76,14% 54,34% 60,49% 9,50,% 6,7% 3,9% 4. Aset Manajemen CCCT - - - - - - Tabel 4. Hasil analisis kinerja rantai pasok gula aren KWT Melati No Atribut Kinerja Metrik Kinerja Aktual Aren Cetak Aren Kristal Parity Advantage Superior 1. Reliabilitas POF 97,33% 98,3% 74,0% 81,0% 88,0% 2. Responsivitas OFCT - - - - - 3. Biaya Manajemen COGS 98,56% 57,23% 69,0% 61,0% 53,0% TSMC 98,49% 53,46% 9,50,% 6,7% 3,9% 4. Aset Manajemen CCCT - - - - - 27

Kinerja metrik TSMC berada dibawah target kinerja, sehingga untuk kinerja selanjutnya ditargetkan pada klasifikasi parity. Kinerja untuk metrik TSMC gula aren kristal dan gula aren cetak serupa dengan kopi, yaitu kinerja berada jauh dibawah target kinerja, sehingga untuk selanjutnya ditetapkan kinerja pada klasifikasi parity, hal ini berarti bahwa untuk kinerja gula aren terdapat ketidakefektifan dalam biaya manajemen yang dikeluarkan oleh KWT Melati. Kinerja Rantai Pasok Madu Kinerja rantai pasok madu KWT tertera pada Tabel 5. Berdasarkan Tabel 5, kinerja madu pada atribut reliabilitas dengan metrik POF telah mencapai target kinerja, sehingga untuk kinerja klasifikasi superior. Kinerja atribut biaya manajemen dengan metrik COGS dan TSMC berada dibawah target kinerja, sehingga untuk kinerja selanjutnya ditargetkan pada klasifikasi parity. Berdasarkan hasil penelitian untuk produk KWT Melati, kinerja yang kurang efektif adalah pada atribut biaya manajemen khususnya metrik TSMC di mana kinerja aktual berbanding jauh dengan target kinerja minimal (parity), hal ini sejalan dengan penelitian Gunasekaran (2004) bahwa efektifitas dan efisiensi manajemen rantai pasok dapat dilihat dari manajemen biaya yang dilakukan oleh industri, karena biaya terkait hampir pada semua bagian manajemen rantai pasok dimana biaya menempati rating ke dua dalam strategi pengembangan metrik kinerja rantai pasok setelah nilai produk yaitu sebesar 14,23 persen. Selanjutnya, penelitian Ahmad (2013) mengemukakan untuk meningkatkan kinerja biaya dapat dilakukan dengan penekanan biaya material atau meningkatkan efektifitas penggunaan mesin dan tenaga kerja.. Tabel 5. Hasil analisis kinerja rantai pasok madu No Atribut Kinerja Metrik Kinerja Madu Parity Advangtage Superior 1. Reliabilitas POF 96,5% 74,0% 81,0% 88,0% 2. Responsivitas OFCT - - - - 3. Biaya Manajemen COGS 77,8% 69,0% 61,0% 53,0% TSCMC 77,1% 9,50% 6,7% 3,9% 4. Aset Manajemen CCCT - - - - Tabel 6. Analisis nilai tambah produk olahan KWT Melati dengan Metode Hayami Variabel Kopi 25gr Kopi 50gr Kopi 1kg Aren Kristal Aren Cetak Output, Input, Harga Output/ total produksi (Kg/bulan) 216,00 288,00 1.548,00 40,00 40,00 200,00 Input bahan baku (Kg/bulan) 76,50 410,40 2.213,10 40,00 40,00 200,00 Input TK (HOK/bulan) 11,03 11,03 11,03 4,00 1,60 0,40 Rendemen 2,82 0,70 0,70 1,00 1,00 1,00 Koefesien TK 0,14 0,03 0,005 0,10 0,04 0,002 Harga produk (Rp/Kg) 3.3333,33 50.000,00 50.000,00 38.000,00 15.000,00 10.6250,00 Upah rata-rata TK per HOK (Rp/HOK) 31.667,00 31.667,00 31.667,00 22.500,00 20.000,00 20.000,00 Pendapatan dan Keuntungan Harga input bahan baku (Rp/Kg) 20.000,00 20.000,00 20.000,00 12.000,00 12.000,00 80.000,00 Sumbangan input lain (Rp/Kg) 21.717,00 10.116,00 1.311,00 5.679,00 3.125,00 79,00 Nilai produk (Rp/Kg) 94.117,64 35.087,72 34.973,57 38.000,00 15.000,00 10.6250,00 a. Nilai tambah (Rp/Kg) 52.400,64 4.971,72 13.662,57 20.321,00-125,00 26.171,00 b. Rasio nilai tambah (%) 55,68 14,17 39,07 53,48-0,83 24,63 a. Pendapatan TK (Rp/Kg) 4.563,77 850,70 157,76 3.600,00 800,00 40,00 b. Imbalan tenaga kerja (%) 8,71 17,11 1,15 17,72-640,32 0,15 a. Keuntungan (Rp/Kg) 47.836,86 4.121,02 13.504,81 16.721,00-925,00 26.131,00 b. Tingkat keuntungan (%) 50,83 11,74 38,61 44,00-6,17 24,59 Balas Jasa Faktor produksi Marjin (Rp/Kg) 74.117,64 15.087,72 14.973,57 26.000,00 3.000,00 26.250,00 a. Pendapatan TK (%) 6,16 5,64 1,05 13,85 26,67 0,15 b. Sumbangan input lain (%) 29,30 67,05 8,76 21,84 104,17 0,30 c. Keuntungan perusahaan (%) 64,54 27,31 90,19 64,31-30,83 99,55 Madu 28

Analisis Nilai Tambah Produk Olahan KWT Analisis nilai tambah produk KWT Melati terlihat pada Tabel 6. Berdasarkan Tabel 6, produk yang memberikan nilai tambah terbesar adalah kopi bubuk kemasan 25gr. Kopi bubuk kemasan 25 gr dapat memberi nilai tambah sebesar Rp52.400,00 untuk setiap kg pengolahan biji kopi menjadi kopi bubukpada pengolahan produk KWT Melati terdapat satu produk yang tidak memberikan nilai tambah, yaitu gula aren cetak. Hal ini dikarenakan KWT Melati tidak memperhitungkan biaya penyusutan dalam pembuatan produk. KESIMPULAN Berdasarkan hasil pengukuran kinerja produk KWT Melati dapat disimpulkan bahwa terdapat ketidakefektifan pada atribut biaya manajemen khususnya metrik TSMC pada semua produk olahan. Selain itu, disimpulkan pula bahwa produk olahan produk yang memberikan nilai tambah terbesar adalah kopi bubuk kemasan 25gr dengan rasio nilai tambah sebesar 55,68% dan memberikan nilai tambah sebesar Rp52.400,00 untuk setiap kg pengolahan kopi bubuk. DAFTAR PUSTAKA Ahmad N. 2013. Analisa pengukuran dan perbaikan kinerja supply chain di PT XYZ. Jurnal Teknik Industri: 6 (2), 179-186. Fakultas Teknologi Industri Institut Teknologi Adhitama. Surabaya. Bolstorff P and Rosenbaum R. 2003. Supply Chain Excellence: a Handbook for Dramatic Improvement Using the SCOR Model. AMACOM. United State of America. Chopra S, Meindl P. 2004. Supply Chain Management: Strategy, Planning, and Operation. Pearson Prentice Hall. United State of America. Frohlich MT and Westbrook R. 2001. Arc of integration: an international study of supply chain strategies. Journal of Operations Management: 19 (2), 185-200. Elseiver Science. United Kingdom. Gunasekaran A, Patel C, and Mc Gaughey RE. 2004. A framework for supply chain performance measurement. International Journal of Production Economics, 87: 333-347. Hasyim H dan Zakaria WA. 1995. Pengembangan agribisnis di Provinsi Lampung dalam era pasca GATT. Jurnal Sosial Ekonomika: 1 (1). Fakultas Pertanian Universitas Lampung. Bandar Lampung. Indrajit R dan Djokopranoto R.. 2002. Konsep Manajemen Supply Chain: Cara Baru Memandang Mata Rantai Penyediaan Barang. Grassindo. Jakarta. Munawar A. 2010. Analisis Nilai Tambah Dan Pemasaran Kayu Sengon Gergajian (Studi Kasus di Kecamatan Cigudeg Kabupaten Bogor). Skripsi. Fakultas Ekonomi dan Manajemen Institut Pertanian Bogor. Bogor. Mutakin A. 2010. Pengukuran Kinerja Manajemen Rantai Pasokan dengan Pendekatan Score Model 9.0 (Studi Kasus di PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk). Skripsi. Fakultas Ekonomi dan Manajemen Institut Pertanian Bogor. Bogor. Rofik A. 2010. Kinerja Rantai Pasok Pada Industri Seafood (Studi Kasus PT. Kelola Mina Laut, Gresik). Skripsi. Fakultas Teknologi Pertanian Institut Pertanian Bogor. Bogor. Sari P. 2013. Manajemen rantai pasok pada rantai pasok berjaring beras organik. Jurnal Agribisnis: 3 (2). Departemen Agribisnis Institut Pertanian Bogor. Bogor. Sheikh K. 2002. Manufacturing Resource Planning (MRPII ), with Introduction to ERP, SCM, and CRM. McGraw-Hill. New York. Supply Chain Council. 2008. Supply Chain Operations Reference Model SCOR version 9.0 Metric, Washington DC. http://id.scribd. com/doc/4780677/supply-chain-op eration- SCOR-9#scribd. [3 Desember 2014].. 2009. Supply Chain Operations Reference Model SCOR version 9.0 overview. Washington DC. http://tinyurl.com /hd4d5ju. [3 Desember 2014]. Tunggal A. 2009. Dasar-Dasar Operation and Supply Chain Management. Havarindo. Jakarta. Yakovleva N. 2009. Sustainable benchmarking of food supply chains. Working Paper. Clark University. Universitas State of America. 29