MA5032 ANALISIS REAL

dokumen-dokumen yang mirip
BAHAN AJAR ANALISIS REAL 1 Matematika STKIP Tuanku Tambusai Bangkinang 1. SIFAT KELENGKAPAN BILANGAN REAL

BAGIAN PERTAMA. Bilangan Real, Barisan, Deret

Daftar Isi 3. BARISAN ANALISIS REAL. (Semester I Tahun ) Hendra Gunawan. Dosen FMIPA - ITB

MA3231. Pengantar Analisis Real. Hendra Gunawan, Ph.D. Semester II, Tahun

ANALISIS REAL. (Semester I Tahun ) Hendra Gunawan. August 18, Dosen FMIPA - ITB

MA5032 ANALISIS REAL

MA5031 Analisis Real Lanjut Semester I, Tahun 2015/2016. Hendra Gunawan

DASAR-DASAR ANALISIS MATEMATIKA

DASAR-DASAR ANALISIS MATEMATIKA

MA3231 Analisis Real

Daftar Isi 5. DERET ANALISIS REAL. (Semester I Tahun ) Hendra Gunawan. Dosen FMIPA - ITB September 26, 2011

PENGANTAR ANALISIS REAL

DASAR-DASAR ANALISIS MATEMATIKA

5. Sifat Kelengkapan Bilangan Real

MA3231 Analisis Real

ANALISIS REAL. (Semester I Tahun ) Hendra Gunawan. October 3, Dosen FMIPA - ITB

MA3231. Pengantar Analisis Real. Hendra Gunawan, Ph.D. Semester II, Tahun

SISTEM BILANGAN REAL

MA3231 Analisis Real

BAHAN AJAR ANALISIS REAL 1 Matematika STKIP Tuanku Tambusai Bangkinang

MA5031 Analisis Real Lanjut Semester I, Tahun 2015/2016. Hendra Gunawan

11. FUNGSI MONOTON (DAN FUNGSI KONVEKS)

ANALISIS REAL. (Semester I Tahun ) Hendra Gunawan. September 12, Dosen FMIPA - ITB

5 Archimedes Bergelut dengan Lingkaran

BAHAN AJAR ANALISIS REAL 1. DOSEN PENGAMPU RINA AGUSTINA, S. Pd., M. Pd. NIDN

MA3231 Analisis Real

II. SISTEM BILANGAN RIIL. Handout Analisis Riil I (PAM 351)

MA3231. Pengantar Analisis Real. Hendra Gunawan, Ph.D. Semester II, Tahun

DASAR-DASAR ANALISIS MATEMATIKA

3 Antiphon dan Eudoxus Turun Tangan 13

BAGIAN KEDUA. Fungsi, Limit dan Kekontinuan, Turunan

MA5031 Analisis Real Lanjut Semester I, Tahun 2015/2016. Hendra Gunawan

ANALISIS REAL. (Semester I Tahun ) Hendra Gunawan

Sistem Bilangan Real

MA2111 PENGANTAR MATEMATIKA Semester I, Tahun 2015/2016. Hendra Gunawan

Oleh: Naning Sutriningsih

ANALISIS REAL. (Semester I Tahun ) Hendra Gunawan. October 10, Dosen FMIPA - ITB

BAB II KAJIAN TEORI. memahami sifat-sifat dari barisan fungsi. Pada bab ini akan diuraikan materimateri

1 SISTEM BILANGAN REAL

II. LANDASAN TEORI ( ) =

MA1121 Pengantar Matematika

MA5031 Analisis Real Lanjut Semester I, Tahun 2015/2016. Hendra Gunawan

13 Segi-Tak-Terhingga dan Fraktal

KONSTRUKSI SISTEM BILANGAN

URAIAN POKOK-POKOK PERKULIAHAN

TUGAS FILSAFAT ILMU, ETIKA, SEJARAH MATEMATIKA PARADOKS ZENO

3 LIMIT DAN KEKONTINUAN

MA5031 Analisis Real Lanjut Semester I, Tahun 2015/2016. Hendra Gunawan

BAB VI BILANGAN REAL

SISTEM BILANGAN REAL

3 LIMIT DAN KEKONTINUAN

F. RANCANGAN KEGIATAN BELAJAR MENGAJAR

4 Jasa Besar Euclid. 4 Jasa Besar Euclid 19

MA2111 PENGANTAR MATEMATIKA Semester I, Tahun 2015/2016. Hendra Gunawan

BAB II DASAR TEORI. Di dalam BAB II ini akan dibahas materi yang menjadi dasar teori pada

3 LIMIT DAN KEKONTINUAN

1 Preliminaries The Algebra of Sets... 3

1 SISTEM BILANGAN REAL

MA5031 Analisis Real Lanjut Semester I, Tahun 2015/2016. Hendra Gunawan

EKSISTENSI SUPREMUM DAN INFIMUM DENGAN TEOREMA CANTOR DEDEKIND. Nursiya Bito. Staf Dosen Jurusan Matematika dan IPA Universitas Negeri Gorontalo

MA3231. Pengantar Analisis Real. Hendra Gunawan, Ph.D. Semester II, Tahun

G a a = e = a a. b. Berdasarkan Contoh 1.2 bagian b diperoleh himpunan semua bilangan bulat Z. merupakan grup terhadap penjumlahan bilangan.

PEMBAHASAN. Teorema 1. Tidak ada bilangan asli N yang lebih besar dari semua bilangan bulat lainnya.

MA2111 PENGANTAR MATEMATIKA Semester I, Tahun 2015/2016. Hendra Gunawan

2 BILANGAN PRIMA. 2.1 Teorema Fundamental Aritmatika

Coba amati apakah sifat ini mempunyai signifikansi dalam sistem bilangan real.

22/7: Aproksimasi Nilai Π. Freedom Institute, 22 Juli 2013

MA3231 Analisis Real

Pengantar : Induksi Matematika

03/08/2015. Sistem Bilangan Riil. Simbol-Simbol dalam Matematikaa

Archimedes dan Taksiran Bilangan π

1 SISTEM BILANGAN REAL

CATATAN KULIAH ANALISIS REAL LANJUT

Keterbagian Pada Bilangan Bulat

BAB III INTEGRAL LEBESGUE. Pada bab sebelumnya telah disebutkan bahwa ruang dibangun oleh

2 Pythagoras Membuka Jalan 7

BAB V KEKONVERGENAN BARISAN PADA DAN KETERKAITAN DENGAN. Pada subbab 4.1 telah dibahas beberapa sifat dasar yang berlaku pada koleksi

MA2111 PENGANTAR MATEMATIKA Semester I, Tahun 2015/2016. Hendra Gunawan

MA3231 Analisis Real

INF-104 Matematika Diskrit

2 Pythagoras Membuka Jalan 7

BAB 1. PENDAHULUAN KALKULUS

BAB I TEOREMA TEOREMA LIMIT BARISAN

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Permasalahan

Oleh: Anggun Rizki Samsunar *)

14 Menghitung Volume Bangun Ruang

TUGAS ANALISIS REAL OLEH KELOMPOK V KELAS VI A MATEMATIKA FAKULTAS PENDIDIKAN MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM IKIP MATARAM

Gara-Gara Hantu Lingkaran. Hendra Gunawan

MODUL RESPONSI MAM 4222 KALKULUS IV

Implementasi Metode Jumlah Riemann untuk Mendekati Luas Daerah di Bawah Kurva Suatu Fungsi Polinom dengan Divide and Conquer

Fungsi Analitik (Bagian Pertama)

6 Menguak Misteri Bilangan π

BAB III KEKONVERGENAN LEMAH

1 SISTEM BILANGAN REAL

INTEGRAL DARBOUX. Keterbatasan fungsi f dapat menjamin eksistensi dua bilangan ܯ dan tersebut. Selanjutnya untuk ͳǡʹǡǥ ǡ didefinisikan:

Sedangkan bilangan real yang tidak dapat dinyatakan sebagai pembagian dua bilangan bulat adalah bilangan irasional, contohnya

Sistem Bilangan Riil. Pendahuluan

SATUAN ACARA PERKULIAHAN ( SAP ) MATA KULIAH ANALISIS REAL I ( MT403) / 3 SKS KOSIM RUKMANA

SISTEM BILANGAN REAL

Transkripsi:

(Semester I Tahun 2011-2012) Dosen FMIPA - ITB E-mail: hgunawan@math.itb.ac.id. August 17, 2011

Zeno, seorang filsuf dan matematikawan Yunani Kuno (490-435 SM), mengemukakan sebuah paradoks tentang suatu perlombaan lari antara Achilles dan seekor kura-kura. Karena Achilles berlari lebih cepat daripada sang kura-kura, maka sang kura-kura memulai perlombaan x 0 meter di depan Achilles. Menurut Zeno, sekalipun Achilles berlari lebih cepat dan akan semakin mendekati sang kura-kura, namun ia takkan pernah dapat menyalip sang kura-kura. Ketika Achilles mencapai titik di mana sang kura-kura mulai berlari, sang kura-kura telah menempuh x 1 meter; dan ketika Achilles mencapai posisi tersebut beberapa saat kemudian, sang kura-kura telah menempuh x 2 meter lebih jauh; dan seterusnya.

Apa yang salah dengan paradoks Zeno ini? Dengan pengetahuan tentang bilangan real yang kita kenal sekarang, Achilles akan menyalip sang kura-kura ketika ia telah menempuh x meter, dengan x sama dengan bilangan real terkecil yang lebih besar dari semua bilangan x 0, x 0 + x 1, x 0 + x 1 + x 2,.... Sebagai contoh, bila Achilles berlari dengan kecepatan 6 m/detik sementara sang kura-kura berlari dengan kecepatan 3 m/detik (ditarik roda), maka Achilles akan menyalip sang kura-kura setelah 1 2 + 1 4 + 1 8 + = 1 detik.

Hal serupa dijumpai pada metode exhaustion Eudoxus (405-355 SM), yang digunakan oleh Archimedes (287-212 SM) untuk menghampiri luas daerah lingkaran dengan luas daerah segi-n beraturan di dalam lingkaran, yaitu dengan barisan bilangan A 1, A 2, A 3,.... Luas daerah lingkaran kelak didefinisikan sebagai bilangan real terkecil yang lebih besar dari setiap bilangan A i, i = 1, 2, 3,.... Argumen ini bergantung pada sebuah sifat bilangan real yang belum terpikirkan oleh Eudoxus dan Archimedes, serta matematikawan lainnya pada zaman itu.

Sifat bilangan real yang diperlukan untuk membantah paradoks Zeno atau mendukung argumen Eudoxus dan Archimedes adalah Sifat Kelengkapan, yang menjamin eksistensi bilangan real x yang lebih besar dari x 0, x 0 + x 1, x 0 + x 1 + x 2,... (pada paradoks Zeno) dan juga bilangan real A yang lebih besar dari A i, i = 1, 2, 3,... (pada perhitungan Archimedes).

Sifat Kelengkapan bilangan real biasanya tidak diungkapkan secara eksplisit dalam kuliah Kalkulus, namun sesungguhnya merupakan sifat yang sangat penting. (Tanpa Sifat Kelengkapan, Achilles takkan memenangkan perlombaan dan luas daerah lingkaran tak dapat dinyatakan sebagai sebuah bilangan.)

Sebelum membahas Sifat Kelengkapan, kita perlu memperkenalkan sejumlah istilah terlebih dahulu. Misalkan H himpunan bagian dari R. Himpunan H dikatakan terbatas di atas apabila terdapat suatu bilangan real M sedemikian sehingga x M untuk setiap x H. Bilangan M yang memenuhi sifat ini (bila ada) disebut sebagai batas atas untuk himpunan H. Jika M merupakan batas atas untuk H, maka semua bilangan yang lebih besar daripada M juga merupakan batas atas untuk H.

Serupa dengan itu, himpunan H dikatakan terbatas di bawah apabila terdapat suatu bilangan real m sedemikian sehingga m x untuk setiap x H. Bilangan m yang memenuhi sifat ini (bila ada) disebut sebagai batas bawah untuk H. Jika m merupakan batas bawah untuk H, maka semua bilangan yang lebih kecil daripada m juga merupakan batas bawah untuk H. Himpunan H dikatakan terbatas apabila ia terbatas di atas dan terbatas di bawah.

Contoh 1 Daftar Isi (i) Himpunan A := {1, 2, 3} terbatas di atas. Sebagai contoh, 100, 10, 5, dan 3 merupakan batas atas untuk A. Himpunan A juga terbatas di bawah. Sebagai contoh, 5, 1, 0, dan 1 merupakan batas bawah untuk A. (ii) Himpunan I := {x R : 0 x < 1} terbatas di atas. Sebagai contoh, 100, 10, dan 1 merupakan batas atas untuk I. Himpunan I juga terbatas di bawah. Sebagai contoh, 10, 1, dan 0 merupakan batas bawah untuk I. (iii) Himpunan semua bilangan real positif P := {x R : x > 0} terbatas di bawah namun tidak terbatas di atas. Jika M merupakan batas atas untuk P, maka x M untuk setiap x P. Dalam hal ini M mesti merupakan bilangan positif. Sebagai akibatnya M + 1 juga positif dan M + 1 M, sesuatu yang mustahil.

Proposisi 2 Himpunan H R terbatas jika dan hanya jika terdapat suatu bilangan real K sedemikian sehingga untuk setiap x H. x K

Misalkan himpunan H terbatas dan M adalah suatu batas atas untuk H. Bila M b untuk sembarang batas atas b untuk H, maka M disebut sebagai batas atas terkecil untuk H. Serupa dengan itu, misalkan m adalah suatu batas bawah untuk H. Bila a m untuk sembarang batas bawah a untuk H, maka m disebut sebagai batas bawah terbesar untuk H. Sebagai contoh, himpunan A = {1, 2, 3} mempunyai batas atas terkecil 3 dan batas bawah terbesar 1.

Batas atas terkecil untuk H disebut pula sebagai supremum H, ditulis sup H. Serupa dengan itu, batas bawah terbesar untuk H disebut pula sebagai infimum H, ditulis inf H. Jika H mempunyai supremum dan infimum, maka jelas bahwa inf H sup H. Secara umum perlu dicatat bahwa supremum maupun infimum suatu himpunan tidak harus merupakan anggota himpunan itu. Jika H tidak terbatas di atas, kadang kita menuliskan sup H = + ; dan jika H tidak terbatas di bawah, kita dapat menuliskan inf H =.

Contoh 3 Daftar Isi (i) Himpunan A = {1, 2, 3} mempunyai batas atas terkecil 3 dan batas bawah terbesar 1; yakni, sup A = 3 dan inf A = 1. (ii) Misalkan I = {x : 0 x < 1}. Maka, sup I = 1 dan inf I = 0. (iii) Misalkan P = {x : x > 0}. Maka, sup P = + (yakni, P tak terbatas di atas) dan inf P = 0.

Soal Latihan 1 Buktikan bahwa batas atas terkecil himpunan I pada Contoh 1(ii) adalah 1. 2 Buktikan bahwa batas bawah terbesar himpunan P pada Contoh 1(iii) adalah 0. 3 Buktikan Proposisi 2. 4 Verifikasi nilai supremum dan infimum pada Contoh 3(ii) dan (iii). 5 Diketahui H = { 1 n : n N}. Buktikan bahwa sup H = 1 dan inf H 0. (Kelak anda akan diminta membuktikan bahwa inf H = 0.) 6 Diketahui himpunan H terbatas di atas dan M adalah suatu batas atas H. Buktikan bahwa M = sup H jika dan hanya jika untuk setiap ɛ > 0 terdapat x H sedemikian sehingga x > M ɛ.

Sebentar lagi kita akan sampai pada perumusan Sifat Kelengkapan bilangan real, yang kerap kita gunakan pada pembahasan selanjutnya. Catat jika H =, maka H terbatas (!) tetapi tidak mempunyai supremum maupun infimum. Jika H dan terbatas, apakah H pasti memiliki supremum dan infimum? Sebagai contoh, pada sistem bilangan rasional Q, himpunan H = {x Q : x > 0, x 2 < 2} merupakan himpunan tak kosong dan terbatas, namun himpunan ini tidak memiliki supremum. (Andai H memiliki supremum, sebutlah b, maka haruslah b 2 = 2. Namun tidak ada b Q sedemikian sehingga b 2 = 2.)

Selain memenuhi Sifat Lapangan dan Sifat Urutan, sistem bilangan real R memenuhi Sifat Kelengkapan, yakni: C. Setiap himpunan bagian tak kosong dari R yang terbatas di atas mempunyai batas atas terkecil (supremum). Setiap himpunan bagian tak kosong dari R yang terbatas di bawah mempunyai batas bawah terbesar (infimum). Dengan Sifat Kelengkapan, himpunan bilangan real R dapat dinyatakan sebagai sebuah garis, yang kita kenal sebagai garis bilangan real. Sifat Kelengkapan menjamin bahwa setiap titik pada garis tersebut menyatakan sebuah bilangan real, dan sebaliknya setiap bilangan real menempati sebuah titik pada garis tersebut.

Sebagai perbandingan, himpunan bilangan rasional Q tidak memenuhi Sifat Kelengkapan, dan apabila kita memaksakan diri untuk menyatakannya sebagai sebuah garis, maka garis tersebut akan berlubang-lubang (sebagai contoh, bilangan x di antara 1 dan 2 yang memenuhi x 2 = 2 bukan merupakan bilangan rasional, dan karenanya terdapat lubang di antara 1 dan 2).

Teorema 4 (Eksistensi Akar ke-n) Misal a > 0 dan n N. Maka terdapat (tepat satu) bilangan real positif x sedemikian sehingga x n = a. Bukti. Misal H = {t R : t > 0, t n < a}. Maka H karena t = a a+1 H. Juga, jika t > a + 1, maka tn t > a dan karenanya t / H. Karena itu a + 1 merupakan batas atas untuk H. Menurut Sifat Kelengkapan, H mempunyai supremum, sebutlah b. Andaikan b n < a. Pilih h sedemikian sehingga 0 < h < 1 dan h < a bn (1+b) n b. Maka n (b+h) n = n ( n ) b n k h k b n +h[(1+b) n b n ] < b n +(a b n ) = a. k k=0 Akibatnya, b + h H. Ini mustahil mengingat b adalah batas atas untuk H.

Sekarang andaikan b n > a. Dengan trick yang serupa, kita dapat memilih k sedemikian sehingga 0 < k < 1 dan h < bn a (1+b) n b. n Selanjutnya, kita dapat menunjukkan bahwa untuk t b k berlaku t n (b k) n b n k[(1 + b) n b n ] > b n (b n a) = a. Akibatnya, b k merupakan batas atas untuk H. Ini bertentangan dengan fakta bahwa b adalah batas atas terkecil untuk H. Menurut Hukum Trikotomi, mestilah b n = a. Jadi terdapat x = b sedemikian sehingga x n = a. Ketunggalannya jelas, karena jika x < b, maka x n < a; dan jika x > b, maka x n > a. Jadi hanya x = b yang memenuhi x n = a.

Sifat Kelengkapan tidak hanya menjamin eksistensi akar ke-n dari suatu bilangan positif, tetapi juga menjamin bahwa 1 merupakan bilangan real terkecil yang lebih besar dari 1 2 + 1 4 + + 1 2 n, dan terdapat bilangan real π yang menyatakan luas daerah lingkaran berjari-jari 1 dan nilainya lebih besar dari luas daerah segi-n beraturan di dalam lingkaran tersebut, untuk setiap n N. Sifat Kelengkapan pula lah yang menjamin bahwa bilangan yang mempunyai bentuk desimal tak berhenti ataupun berulang (yang dibahas pada Sub-bab 0.2) merupakan bilangan real.

Soal Latihan 1 Dengan menggunakan logika, buktikan bahwa himpunan kosong terbatas. Mengapa ia tidak mempunyai supremum maupun infimum? 2 Buktikan jika himpunan H mempunyai supremum, maka supremumnya tunggal.

Misalkan H R dan c R. Kita definisikan ch := {cx : x H} dan H + c := {x + c : x H}. Sebagai contoh, jika A = {1, 2, 3} dan c = 2, maka 2A = {2, 4, 6} dan A + 2 = {3, 4, 5}.

Proposisi 5 Misalkan H R tak kosong dan terbatas di atas, dan c > 0. Maka ch terbatas di atas dan sup(ch) = c sup H.

Bukti. Misalkan v = sup H. Ambil sembarang y ch. Maka, y = cx untuk suatu x H. Karena x v dan c > 0, kita peroleh y cv. Jadi cv merupakan batas atas ch. Selanjutnya, untuk sembarang ɛ > 0, v ɛ c bukan batas atas H. Karena itu, terdapat x H sedemikian sehingga v ɛ c < x. Kalikan kedua ruas dengan c, kita dapatkan cv ɛ < cx, yang menunjukkan bahwa cv ɛ bukan batas atas ch. Jadi cv merupakan batas atas terkecil ch, yakni cv = sup(ch).

Proposisi 6 Misalkan H R tak kosong dan terbatas di atas, dan c < 0. Maka ch terbatas di bawah dan inf(ch) = c sup H.

Proposisi 7 Misalkan H R tak kosong dan terbatas di atas, dan c R. Maka H + c terbatas di atas dan sup(h + c) = c + sup H.

Soal Latihan 1 Buktikan Proposisi 6. 2 Buktikan Proposisi 7. 3 Misalkan H R tak kosong dan terbatas di atas, dan G H juga tak kosong. Buktikan bahwa G terbatas di atas dan sup G sup H. 4 Diketahui H P = {x R : x > 0}. Definisikan himpunan G = { 1 x : x H}. Buktikan jika H terbatas di atas, maka G terbatas di bawah dan inf G = 1 sup H.