Terbentuknya Bhikkhunī Sāsana Kemunculannya kembali di era modern Pariyatti Sāsana Yunior 2 www.pjbi.or.id; hp.0813 1691 3166; pin 2965F5FD
Sejarah Kemunculan Cūḷavagga Vinaya (V2:253ff) merekam kronologi kemunculan bhikkhunī: Di Nigrodhārāma -Kapilavatthu, Mahāpajāpatī sedih menerima 3 kali penolakan dari Buddha atas keinginannya untuk menjadi bhikkhunī. Dia dengan mengenakan jubah dan mencukur rambutnya mengejar Buddha sampai di Vesālī bersama dengan beberapa wanita suku Sakya.
Sejarah Kemunculan YM. Ānanda bertanya kepada Gotamī kenapa berdiri di luar gerbang dengan kaki bengkak, tubuh kotor dan berurai air mata. Setelah menolak permintaan Ānanda 3 kali dan atas pertanyaan YM. Ānanda, Buddha menegaskan bahwa wanita yang telah meninggalkan kehidupan duniawi dan berlatih sesuai Dhamma-dan-Vinaya dapat mencapai sotāpattiphala sd arahattaphala. Ānanda menyampaikan bahwa Gotamī telah melakukan banyak kebajikan: dia adalah bibi, ibu-tiri, perawat, pemberi susu setelah ibu Buddha meninggal dunia.
Sejarah Kemunculan Ānanda, apabila Mahāpajāpatī Gotamī menerima aṭṭhagarudhamma (delapan peraturan yang harus dihormati), maka hal tersebut menjadi penahbisan dia. Aṭṭhagarudhamma (catatan: garu bisa berarti berat atau yg dihormati ) yg harus dihormati dan tidak dilanggar seumur hidup: 1. Bhikkhunī yg sudah ditahbis bahkan selama 100 tahun harus menyapa dg penuh hormat, bangkit dari tempat duduk, beranjali dan melakukan penghormatan yang pantas kepada bhikkhu yang bahkan baru ditahbis hari itu juga.
Sejarah Kemunculan Aṭṭhagarudhamma yg harus dihormati dan tidak dilanggar seumur hidup: 2.Seorang bhikkhunī tidak diperbolehkan menjalankan vassa tanpa bhikkhu. 3.Setiap 2 minggu, seorang bhikkhunī harus meminta 2 hal dari bhikkhu saṅgha: menanyakan hari uposatha dan nasehat (ovāda). 4.Setelah vassa, seorang bhikkhunī harus mengundang (pavāraṇā) 3 hal ini didepan dua saṅgha mengenai: apa yang telah dilihat, apa yang telah didengar, dan apa yang telah dicurigai.
Sejarah Kemunculan Aṭṭhagarudhamma yg harus dihormati dan tidak dilanggar seumur hidup: 5.Seorang bhikkhunī yang melanggar peraturan yang berat (garudhamma merujuk pada pelanggaran saṅghādisesa, V 2:255) harus menjalani hukuman (mānatta) dihadapan dua saṅgha untuk setengah bulan. 6.Ketika ia sebagai calon bhikkhunī telah berlatih 6 peraturan selama 2 tahun, dia hendaknya meminta penahbisan didepan 2 saṅgha (ubhatosaṅgha). 7.Seorang bhikkhu hendaknya tidak dilecehkan dan dimaki dengan alasan apapun oleh seorang bhikkhunī. 8.Mulai hari ini, peringatan untuk bhikkhu oleh bhikkhunī dilarang, peringatan untuk bhikkhunī oleh bhikkhu tidak dilarang.
Kontroversi Interpretasi Aṭṭhagarudhamma No. 6 6.Ketika ia sebagai calon bhikkhunī telah berlatih 6 peraturan selama 2 tahun, dia hendaknya meminta penahbisan didepan 2 saṅgha (ubhatosaṅgha). Pasang-surut Bhikkhunī Saṅgha Bhikkhunī saṅgha berkembang di India sd abad 8. Raja Sri Lanka yg baru saja mengenal Buddhism memohon bhikkhu Mahinda (misionaris yang dikirim raja Asoka) untuk menahbiskan istrinya, ratu Anulā (Dip 15.76) Bhikkhu Mahinda, Akappiyā mahārāja itthipabbajjā bhikkhuno (Maharaja, tidaklah pantas untuk seorang bhikkhu memberikan pabbajjā kepada seorang wanita). Beliau kemudian menjelaskan perlunya mengundang bhikkhunī dari India. (Catatan: Di VN tidak ada larangan buat seorang bhikkhu memberikan pabbajjā pada wanita. Akan tetapi Samantapāsādikā [kitab komentar VN] menyatakan berbeda)
Pasang-surut Bhikkhunī Saṅgha Bhikkhunī Saṅghamittā dkk membentuk saṅgha bhikkhunī Sri Lanka, yang berkembang sd abad 11 (musnah karena situasi politik yg tidak menentu). Pada abad ke-5 bhikkhunī saṅgha Sri Lanka menanamkan benih silsilah penahbisan di China (ref: Taishō [CBETA] L 939c) yang kemudian diikuti dengan penerjemahan Vinaya Theravāda walaupun belakangan hilang dikarenakan ketidakstabilan situasi politik saat itu. Awal abad ke-8, bhikkhu dan bhikkhunī di China mengikuti vinaya Dharmaguptaka atas perintah penguasa setempat (Taishō L 793c).
Pasang-surut Bhikkhunī Saṅgha Bhikkhunī saṅgha Theravāda dianggap telah punah dari abad ke-11. Pada tahun 1998, silsilah penahbisan bhikkhunī Theravāda di Sri Lanka kembali dihidupkan oleh bhikkhunī dari Taiwan dan Barat (Mahāyāna) bersama dengan bhikkhu dari berbagai tradisi melalui upacara penahbisan-ganda di Bodhgayā. Vinaya Dharmaguptaka berasal dari tradisi Vibhajyavāda, yg juga asal dari Theravāda. Setelah menerima penahbisan di Bodhgayā, bhikkhunī baru SL tsb kemudian menerima penahbisan ulang di depan para bhikkhu Theravāda (SL) di Sarnath.
Kemunculan Kembali Bhikkhunī Saṅgha: Pro dan Kontra Kontra: dengan punahnya saṅgha bhikkhunī di Sri Lanka pada abad ke-11, maka garudhamma no.6 sudah tidak bisa dilaksanakan lagi, dengan demikian penahbisan bhikkhunī yang membutuhkan 2 saṅgha tidak bisa dilaksanakan lagi. Pro: Penahbisan di depan 2 saṅgha bisa dilakukan dengan menahbiskan calon bhikkhunī di depan saṅgha bhikkhunī dengan tradisi Dharmaguptaka (Taiwan) terlebih dahulu baru kemudian di depan saṅgha bhikkhu Theravāda. Keinginan Buddha untuk membentuk Catuparisā (empat perkumpulan).
Kajian Garudhamma No.6 Arti garudhamma (1): peraturan berat yang merujuk kepada peraturan saṅghādisesa. Seorang bhikkhunī yang telah melanggar garudhamma harus menjalani hukuman (mānatta) selama setengah bulan di hadapan 2 saṅgha (V 2:255). Kemudian ia harus menjalani proses rehabilitasi (abbhāna). Arti garudhamma (2): peraturan yang harus dihormati. 8 peraturan bukan termasuk dalam pelanggaran saṅghādisesa. GD 2 = pācittiya 56 di Bhikkhunīvibhaṅga (V 4:313); GD 3 = pācittiya 59 (V 4:315); GD 4 = pācittiya 57 (V 4:314); GD 7 = pācittiya 52 (V 4:309) ==> bukan pelanggaran saṅghādisesa (berat)
Apakah 8 Garudhamma merupakan peraturan disiplin? Peraturan pācittiya ditetapkan sebagai jawaban atas pelanggaran yang dilakukan oleh bhikkhunī (Bhikkhunīvibhaṅga). Dengan demikian maka peraturan pācittiya muncul setelah 8 garudhamma (yg dibuat sebelum ada bahkan 1 bhikkhunī pun). Ciri dari vinaya, untuk pelanggaran pācittiya maka pelanggar pertama (ādikammika) tidak dianggap melakukan pelanggaran apapun. Dg kata lain pelanggar garudhamma 2,3,4 dan 7 tidak melakukan pelanggaran apapun. Kesimpulan: kecuali GD 5, 8 garudhamma bukan peraturan disiplin yg memberikan hukuman buat mereka yg melanggar. 8 garudhamma adalah anjuran untuk dipuja (sakkatvā), dihormati (garukatvā), dijunjung tinggi (mānetvā) dan dihormati dengan penuh bhakti (pūjetvā). Dengan demikian garudhamma berarti peraturan untuk dihormati.
Bagaimana dengan Garudhamma No. 6? Seorang calon bhikkhunī harus telah melatih 6 peraturan selama 2 tahun tercantum dalam pācittiya 63 bhikkhunīvibhaṅga (V 4:319); sementara keharusan untuk ditahbiskan dihadapan 2 saṅgha tidak ditemukan padanannya di peraturan pātimokkha. Saṅgha bhikkhunī dengan tradisi Dharmaguptaka: Silsilah yg tidak terputus sejak abad ke-5 yg dibawa oleh bhikkhunī dari Sri Lanka, walaupun kemudian mereka mengikuti vinaya Dharmaguptaka yg membuat mereka menjadi nānasaṃvāsa (komunitas yg berbeda [dengan Theravāda]).
Nānasaṃvāsa dan Samānasaṃvāsa Pada saat perselisihan paham ttg peraturan vinaya bisa diselesaikan maka mereka menjadi samānasaṃvāsa (bagian dari komunitas). Mahāvagga Vinaya mengajukan cara untuk menjadi samānasaṃvāsa (V 1:340) / bhikkhunī Theravāda: Atas inisiatif sendiri, seseorang membuat dirinya menjadi bagian dari komunitas yang sama (Attanā vā attānaṃ samāsanasaṃvāsakaṃ karoti.): ketika seseorang menyadari kekeliruannya dan bersedia mematuhi pandangan / peraturan dari komunitas yang berbeda. Hal ini terjadi pada saat bhikkhunī yang baru saja ditahbis di Bodhgayā kemudian meminta penahbisan di depan saṅgha bhikkhu Theravāda SL di Sarnath. Daḷhikamma (menguatkan).
Penahbisan Tunggal oleh Saṅgha Bhikkhu Setelah ditahbiskan menjadi bhikkhunī, Mahāpajāpatī Gotamī bertanya kepada Buddha, Bhante, bagaimana saya menjalaninya kaitannya dengan wanita2 Sākya itu? Para bhikkhu, Aku ijinkan penahbisan bhikkhunī oleh bhikkhu [anujānāmi, bhikkhave, bhikkhūhi bhikkhuniyo upasampādetun ti]. (V 2:257) Perintah ini diberikan setelah 8 garudhamma. Bisa diartikan apabila tidak terdapat saṅgha bhikkhunī maka penahbisan bhikkhunī oleh bhikkhu sah. Perintah ini tidak pernah dihapus oleh Buddha. Para bhikkhu, sejak hari ini Aku menghapus penahbisan dengan tiga perlindungan yang pernah Aku tetapkan; para bhikkhu, Aku menetapkan penahbisan dengan ñatticatuttha kamma. (V 1:56)
Kesimpulan Penahbisan bhikkhunī di Bodhgayā sah sesuai dengan vinaya Theravāda. Apabila penahbisan oleh saṅgha bhikkhunī dari tradisi Dharmaguptaka dianggap tidak sah maka alternatif untuk menjadikannya sah: 1. Atas inisiatif sendiri, seseorang membuat dirinya menjadi bagian dari komunitas yang sama (samānasaṃvāsa): menghadap saṅgha bhikkhu Theravāda. 2. Para bhikkhu, Aku ijinkan penahbisan bhikkhunī oleh bhikkhu [anujānāmi, bhikkhave, bhikkhūhi bhikkhuniyo upasampādetun ti]. (V 2:257)
Bungkus Vs Isi Bungkus: Jubah merah muda membangkitkan nafsu. Sayalay adalah bentuk penindasan terhadap kaum perempuan. Isi: Memberikan ruang buat kaum perempuan, bhikkhunī, sayalay, sāmaṇeri untuk mempelajari Tipiṭaka dan kitab komentar. Memberikan kesempatan kepada mereka untuk melatih sīla samādhi - paññā.
Standar Kanon Pāḷi Attanomatito ācariyavādo balavataro ācariyavādato hi suttānulomaṃ balavataraṃ (ajaran guru di masa lalu [kitab komentar] lebih kuat daripada ajaran pribadi suttānuloma [kanon] lebih kuat daripada ajaran para guru).[va 1:231] Attanomati: penarikan kesimpulan atau ajaran individu yang tidak sesuai dengan sutta, suttānuloma dan ācariyavāda. Suttānuloma: cattāro mahāpaddesa (empat otoritas besar) Ācariyavāda: kitab-kitab komentar Pāḷi. Vinayo nāma buddhassa sāsanassa āyu. Vinaye ṭhite sāsanaṃ ṭhitaṃ hoti (Vinaya adalah jantung kehidupan Buddha sāsana. Sāsana berdiri tegak selama vinaya juga berdiri tegak) [VA. 1:13] Appaññattaṃ na paññapessanti, paññattaṃ na samucchindissanti tidak membuat peraturan atas apa yg tidak ditetapkan, tidak menghancurkan apa yang sudah ditetapkan. (D 2:77)
Pariyatti dan paṭipatti adalah dua sayap seekor burung rajawali Bhikkhunī dan sāmaṇeri SAGIN yang belajar di Sri Lanka Sumber materi: Digital Pali Reader Book of the Discipline Part V The Legality of Bhikkhunī Ordination oleh Bhikkhu Anālayo
Selesai