LANDASAN TEORI. pendapat investor (P. 3).

dokumen-dokumen yang mirip
BAB II LANDASAN TEORI. Dalam melakukan investasi pada saham, seorang investor atau trader

BAB II LANDASAN TEORI

BAB II LANDASAN TEORI. Dalam melakukan perdagangan saham, diperlukan analisis untuk memprediksi

MANUAL CANDLESTICK Versi 1.0 Oleh Fabianto Wangsamulya

ANALISIS PERDAGANGAN SAHAM PT ADARO ENERGY TBK DENGAN METODE CANDLESTICK DAN MOVING AVERAGE PERIODE 1 JUNI DESEMBER 2010

BAB II LANDASAN TEORI

SEKOLAHFOREX.WEEBLY.com MODUL 3 SEKOLAHFOREX.WEEBLY.COM

21 NAMA CANDLESTICK YANG HARUS DIKETAHUI OLEH TRADER

Session 2: M2: Method - Analisa Teknikal

Bab IV PEMBAHASAN. membuat rencana perdagangan (trading plan), tujuannya sebagai dasar acuan penulis

ANALISIS POLA GRAFIK CANDLESTICK PADA PERGERAKAN EUR/USD

BAB IV PEMBAHASAN. Dalam bab ini akan diuraikan penerapan indikator Bollinger Bands, RSI dan

Chart Bagi Para Trader

Analisa Teknikal PRINSIP DASAR ANALISIS TEKNIKAL. Ada tiga prinsip yang digunakan sebagai dasar dalam melakukan analisis teknikal, yaitu :

Analisis Teknikal Menggunakan Grafik Candlestick Untuk Menentukan Daerah Beli dan Jual Pada Treding Saham PT. Unilever Indonesia, Tbk

BAB II LANDASAN TEORI. tempat judi. Benarkah demikian? Memang banyak investor yang bertransaksi saham

Definisi dan asumsi dasar analisa teknikal Tipe grafik dan penggunaannya Konsep indikator dan oscillator

ANALISA TEKNIKAL. Beberapa 'peralatan populer' yang digunakan dalam analisa teknikal adalah : 1. Chart. - Line - Candlesticks.

Analisis teknikal adalah studi tentang perilaku pasar yang digambarkan melalui grafik, untuk memprediksi kecenderungan (trends) harga dimasa yang

TEKNIK ANALISA FOREX - 1

ANALISIS TEKNIKAL GRAFIS POLA GRAFIK LILIN (CANDLESTICK)

TEKNIK ANALISA FOREX - 1 CANDLESTICK CHART SUPPORT & RESISTANCE PIVOT POINT BREAKOUT STRATEGY POLA REVERSAL

INDOTRADERPEDIA BULETIN TRADER INDONESIA - Dalam trading, istilah momentum

6 POLA CANDLESTICK YANG PALING MENGUNTUNGKAN

The direction of market the way the market is moving

INDOTRADERPEDIA MENENTUKAN BREAK POINT PADA CHART PATTERN INSIDE THIS ISSUE : KOMBINASI DOJI & GAP. Hal. 7 TIGA TIPS TRADING MARKET YANG SIDEWAYS

mengambil keputusan kapan beli atau kapan jual saham.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Fundamental Vs Technikal Psikologi Trading Scalper,Swinger,Investor. Chart Asumsi dalam Technical Analysis Support & Resistance Penentuan Trend

BAB II DASAR TEORI. 2.1 Saham Pengertian Saham Jenis-Jenis Saham

Ikhtisar Analisis Pasar. oleh Admiral Markets Trading Camp

BAB II DASAR TEORI. 2.1 Saham Pengertian Saham Jenis-Jenis Saham

SEKOLAH FOREX SEMESTER 2

Teori Portofolio ANALISIS TEKNIKAL. 1

II. ANALISA TENIKAL Pengertian Analisa teknikal Prinsip Analisa teknikal

BAB II LANDASAN TEORI. Valuta asing atau foreign exchange (forex) atau foreign currency diartikan

BAB II LANDASAN TEORI. Pasar modal merupakan kegiatan yang berhubungan dengan penawaran umum dan

BAB I PENDAHULUAN. Para pelaku pasar modal telah menyadari bahwa sebelum melakukan investasi

BAB II LANDASAN TEORI. instrument pasar uang adalah jangka pendek, mudah diperjual belikan serta likuid.

INDOTRADERPEDIA BULETIN TRADER INDONESIA - Volume 4, Issue 2 : Maret April 2016

Bab II LANDASAN TEORI

BAB II LANDASAN TEORI. keuangan yang dikemukakan oleh para pakar ekonomi yang berbeda antara satu. ekonomi dalam memandang manajemen keuangan.

MEMPREDIKSI TREND HARGA SAHAM DENGAN ANALISIS TEKNIKAL

How to Become a Swing Trader?

BAB II LANDASAN TEORI

MATERI 11 ANALISIS TEKNIKAL. Prof. DR. DEDEN MULYANA, SE., M.Si.

Strategi EMA-50 Williams. oleh Admiral Markets Trading Camp

TEORI INVESTASI DAN PORTFOLIO MATERI 12.

Step-by-Step Analisa Teknikal & Swing Trading untuk Pemula

Candle Pattern. Part Introduction 2. Doji 3. Piercing Dark Cloud Cover 4. Hanging Man dan Shooting Star 5. Bullish and Bearish Engulfing

BAB IV PEMBAHASAN. IV. 1 Saldo Awal Minimal (Minimum Opening Balance) untuk melakukan perdagangan valas dibutuhkan langkah langkah awal

Bab 3 LANDASAN TEORI. modal, yaitu Analisa fundamental dan Analisa Teknikal. Analisa Fundamental adalah studi tentang ekonomi, industri, dan kondisi

TEKNIK ANALISA FOREX - 3

BAB 1 PENDAHULUAN Latar Belakang

BAB II DASAR TEORI. 2.1 Saham Pengertian Saham Fungsi Saham

ANALISIS TEKNIKAL UNTUK MEMPREDIKSI HARGA SAHAM PT. ASIA PACIFIC FIBERS, TBK PADA BURSA EFEK INDONESIA

BAB II LANDASAN TEORI

ANALISIS PERUBAHAN HARGA SAHAM DENGAN MENGGUNAKAN GRAFIK CANDLESTICK. Ida Hendarsih

MY-4X TRADING SYSTEM. Identifikasi trend, support dan resistance. Kenali peluang beli atau menjual dengan analisa teknikal

INDOTRADERPEDIA BULETIN TRADER INDONESIA - Volume 4, Issue 4 : Juli Agustus 2016

Technical Analisys Dan Bitcoin Traders

FOREX TRADING GUIDE TEHNIKAL ANALYS

BAB V SIMPULAN DAN SARAN. dilakukan dengan menggunakan grafik Candlestick dan pola Elliott Wave yang

BAB 2 LANDASAN TEORI

BAB IV PEMBAHAS AN. terkait pada periode 1 Desember 31 Januari Tahun dan pola-pola grafik

BAB IV PEMBAHAS AN. Pada bab ini akan diuraikan mengenai penerapan indikator Bollinger Bands dan RSI

ANALISIS MARKET TIMING DENGAN ELLIOTT WAVE PADA SAHAM BUMI PERIODE 1 DESEMBER 31 JANUARI TAHUN

SIMPLE TRADE WITH POWER CANDLE AUTHOR: ANDRO BEDJO OZORA -=ZORK SOROSS=-

SIMULASI PERDAGANGAN SAHAM PT TAMBANG BATUBARA BUKIT ASAM, Tbk. DENGAN MACD DAN WILLIAMS % RANGE

ILMU TRADING. Untuk SAHAM, FOREX, KOMODITI dan INDEX. Muhamad Makky Dandytra

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah

KUMPULAN TRADING STRATEGY

TIPS. Membaca Pola Grafik. Pola Pembalikan Arah

Buletin Compiled by

BAB III ANALISIS DAN PERANCANGAN

BAB III METODE PENELITIAN. keuangan yang diperlukan, data ini diperlukan untuk penganalisisan secara

Analisa Investasi. Analisa Fundamental. Analisa Fundamental. Objek Analisa. Laporan Keuangan 3/19/2015. Analisa Teknikal. Analisa Fundamental

ANALISIS TEKNIKAL PRINSIP DAN GRAFIS

2.6. Tipe Chart Line Charts Bar Charts

SEKOLAH FOREX SEMESTER PENDEK

BAB 2 LANDASAN TEORI

Habits Candlestick. Rule entry nya yaitu :

Dian Dwi Parama Asthri Topowijono Sri Sulasmiyati Fakultas Ilmu Administrasi Universitas Brawijaya Malang

BAB III ANALISIS DAN PERANCANGAN

BAB 4 PEMBAHASAN. 4.1 Analisis Teknikal Pergerakan Harga Saham BHIT

Bab 4 METODOLOGI PENELITIAN. Penelitian dilakukan secara studi literatur, dan dengan mengikuti seminarseminar

LAPORAN TEKNIKAL HARIAN

BAB II LANDASAN TEORI

Bollinger Bands. Gambar 1. Bollinger Bands, MA 20 & STD 2

LAPORAN TEKNIKAL HARIAN

LAPORAN TEKNIKAL HARIAN

Teori Dow dalam Analisis Teknikal

I. Trend. The Secret Technical Analysis Direct You To Be A Professional Trader

Asas Candlestick Corak

Mypip Education Program

Data yang digunakan dalam penelitian ilmiah ini adalah data pergerakan harga

1) Petakan Trend dan Ikuti

Bagian 1 Keajaiban Lilin

LAPORAN TEKNIKAL HARIAN

Transkripsi:

BAB II LANDASAN TEORI II.1 Analisis Saham Dedhy Sulistiawan dan Liliana (2007) menjelaskan pergerakan harga saham dipengaruhi oleh teori ekonomi yang paling dasar, yaitu hukum permintaan dan penawaran. Saham akan naik jika semakin banyak yang ingin membeli suatu saham, sedangkan saham akan turun jika semakin banyak yang ingin menjual saham. Harga saham ditentukan oleh investor yang bertransaksi di pasar modal dan harga tersebut mewakili pendapat investor (P. 3). Meskipun harga saham adalah konsensus dan ekspektasi pasar, bukan berarti harga saham tidak bisa berubah. Harga saham bisa berubah setiap saat karena ekspektasi para investor berubah sesuai dengan informasi yang mereka dapatkan. Faktor persepsi menjadi masalah yang krusial dalam perdagangan saham, di mana jenis informasi yang sama bisa menghasilkan keputusan transaksi yang berbeda karena cara pandang yang berbeda. II.2 Analisis Teknikal Menurut Edianto Ong (2008) disebutkan bahwa analisis teknikal adalah suatu metode pengevaluasian saham, komoditas ataupun sekuritas lainnya dengan cara menganalisis statistik yang dihasilkan oleh aktivitas 9

pasar di masa lampau tujuannya untuk memprediksikan pergerakan harga di masa mendatang (P. 1). Menurut Murphy (1999) dan Luca (2000) terdapat tiga pemikiran yang menjadi dasar pada teknikal analisis, yaitu : 1. Market action discounts everything (pergerakan harga yang terjadi di pasar telah mewakili semua faktor lain). Pengguna analisis ini percaya bahwa semua peristiwa bisa berpengaruh terhadap harga saham. Peristiwa tersebut akan tercermin pada harga sahamnya. Hal itu terjadi karena harga pasar saham tersebut secara alami ditentukan oleh permintaan dan penawaran para pelaku pasar. Jika mayoritas investor memiliki persepsi yang buruk terhadap suatu saham dalam suatu waktu, maka saham akan turun. Begitu pula sebaliknya, harga saham akan naik jika mayoritas investor memiliki persepsi yang baik. Sebagai konsekuensinya, analis tidak akan memperhatikan alasan mengapa harga naik atau turun tetapi hanya mempelajari perubahaan harga pada market saja. 2. Prices move in trends (terdapat suatu pola kecenderungan dalam pergerakan harga). Harga saham akan bergerak dalam suatu tren. Prinsip dasar dalam penggunaan analisis teknis adalah jangan pernah mengambil keputusan transaksi yang melawan tren harga. Pengguna analisis ini percaya bahwa semua informasi tercermin pada harga pasar saham, sehingga tren tersebut menunjukkan sikap para pelaku pasar. Pahami tren yang ada dan ikuti kemana 10

tren tersebut akan bergerak agar kita bisa memanfaatkan pergerakan harga tersebut untuk meningkatkan hasil investasi. 3. History repeats itself (sejarah akan terulang). Menggambarkan faktor psikologis para pelaku pasar, maka pergerakan historis dapat dijadikan acuan untuk memprediksi pergerakan harga di masa yang akan datang. Pola historis ini dapat terlihat dari waktu ke waktu dalam grafik. Pola-pola ini mempunyai makna yang dapat diinterpretasikan untuk memprediksi pergerakan harga. Dalam analisis teknikal, terdapat istilah-istilah yang penting untuk diketahui, yaitu: Chart Trend Support and resistance II.2.1 Chart Menurut Edianto Ong (2008) Chart adalah sebuah gambar atau grafik yang fungsi utamanya menunjukkan riwayat pergerakan nilai saham pada suatu periode tertentu, sehingga dibutuhkan sebagai alat utama untuk melakukan analisis teknikal (p. 13). Dalam analisis teknikal, dikenal beberapa macam chart, diantaranya : Line chart, yang menggambarkan harga penutupan per hari. 11

Bar chart, yang menggambarkan harga open, high, low, dan closing price. Candlestick chart, yang menggambarkan harga open, high, low, dan closing price. II.2.2 Trend Menurut Achelis (2000) A trendline is a sloping line that is drawn between two or more prominent points on a chart (p. 106). Sementara Menurut Hendra Syamsir (2004), Tren adalah kecenderungan pergerakan dalam satu arah (p. 10). Trend adalah salah satu indikator yang penting dalam melakukan analisis teknikal, karena tujuan analisis teknikal itu sendiri salah satunya adalah untuk mendapatkan indikasi apakah trend harga itu muncul, berakhir, berlanjut atau berbalik arah. Garis tren dapat dibagi menjadi 3, yaitu : 1) Tren naik (uptrend). Uptrend adalah garis yang memiliki kemiringan (slope) positif. Kecenderungan harga akan naik. Grafik II.1. Contoh Up Trend Line Uptrend : BUMI 12

2) Tren menurun (downtrend). Downtrend adalah kebalikan dari uptrend, yaitu garis yang memiliki kemiringan negatif. Kecenderungan harga akan turun. Grafik II.2. Contoh Down Trend Line Downtrend : BUMI 3) Tren menyamping (horizontal trend). Horizontal trend, atau disebut juga sideways trend, adalah garis yang menggambarkan trend yang bergerak secara mendatar. Grafik II.3. Contoh Horizontal Trend 13

II.2.3 Support dan Resistance Menurut Edianto Ong (2008) Support line adalah level dimana terdapat kecenderungan harga akan naik, karena pembeli yang lebih banyak dari pada penjual, atau demand lebih besar daripada supply. Sedangkan resistance line adalah level di mana terdapat kecenderungan harga akan turun, karena penjual yang lebih dari pada pembeli, atau supply lebih besar daripada demand. (p. 49). Support dan resistance merupakan batas psikologis kenaikan atau penutunan suatu saham. Karena merupakan batas psikologis, penentuan support dan resistance oleh tiap investor atau metode akan berbeda. Grafik II.4. Contoh Support Resistance II.3 Pola Grafik II.3.1 Candlestick Candlestick pertama kali ditemukan oleh orang Jepang dan digunakan dalam perdagangan beras di awal abad ke-16. Kemudian di 14

tahun 1700-an dikembangkan oleh seorang pengusaha beras bernama Munehisa Homma. Homma menyadari bahwa hukum supply and demand sangat mempengaruhi pergerakan harga di pasar, sehingga dia secara khusus mendalami psikologi dari pada pedangang ( traders) beras di era tersebut, dan menformulasikannya menjadi beberapa prinsip kunci pola dalam candlestick yang digunakan sampai saat ini. Ilmu ini lama tertutup selama ratusan tahun di Jepang. Baru pada tahun 1990-an, candlestick untuk pertama kalinya diperkenalkan kepada dunia Barat oleh seorang pelopor bernama Steve Nison. Nama formasi candlestick dalam bahasa Jepang tersebut diterjemahkan oleh Steve Nison menjadi istilah dalam bahasa Inggris, yang kemudian dijadikan standar internasional hingga saat ini. Namanya disebut sebagai candlecharts atau candlestick karena bentuknya yang menyerupai batang lilin (candlestick). Candlestick dengan cepat menjadi populer di kalangan technicalist Barat, yang aslinya menggunakan Bar Charts, karena candlestick dapat dengan cepat menafsirkan sentiment pasar yang merupakan salah satu pion terpenting dalam charting atau technical analysis. Candlestick merupakan molekul terkecil dalam technical analysis. Hanya dengan satu batang candle atau beberapa batang candle saja technicalist sudah bisa mendapatkan sinyalsinyal yang di pancarkan pola tersebut, sehingga bisa mengambil langkah-langkah persiapan yang tepat (Edianto Ong 2008 P. 211). 15

II.3.1.1 Bentuk Dasar Candlestick Edianto Ong (2008) candlestick dapat memberikan sinyal yang terpancar dari formasi yang terbentuk di dalamnya. Formasi itu dikatagorikan menjadi pola 1 candle sampai 5 candle. Masing-masing bisa memberikan sinyal jual ataupun sinyal beli, yang disebut dengan reversal candle Patterns. Di samping itu, dalam pola candlestick juga dikenal pola kelanjutan (continuation candle patterns). Pada sebuah tercermin 4 komponen harga yaitu: nilai harga pembukaan (opening price), nilai harga tertinggi (highest price), nilai harga terendah (lowest price), dan nilai harga penutupan (closing price) dari sebuah saham dalam sebuah periode yang hendak ditampilkan dalam candlestick tersebut (p. 213) Gambar II.1. Tubuh dan ekor Candlestick Bagian yang kosong atau yang berwarna tersebut disebut dengan tubuh dari candle atau disebut juga the real body. Garis 16

tipis pada atas atau bawah dari the real body mewakili nilai harga tertinggi atau terendah yang disebut dengan ekor atau shadows. Nilai harga tertinggi yang terjadi pada suatu jenis saham yang terbentuk pada candlestick di sesi perdagangan yang terjadi di bursa diwakili oleh ekor atas. Sementara nilai harga terendah yang terjadi pada suatu jenis saham diwakili oleh ekor bawah. Candlestick berwarna putih berarti harga saham ditutup lebih tinggi dari harga pembukaan yang menunjukkan besarnya keinginan membeli, sementara candlestick berwarna hitam berarti harga saham ditutup lebih rendah dari nilai harga pembukaan, yang berarti menunjukkan besarnya keinginan untuk menjual. II.3.1.2 Formasi Umum Grafik Candlestick a. Long Candle dan Short Candle Panjang pendeknya body candlestick yang terbentuk mencerminkan seberapa kuat dominasi bull maupun bear pada sesi perdagangan. Body candle putih yang panjang berarti demand yang jauh lebih besar dibandingkan dengan supply, atau menandakan dorongan beli sangat kuat. Sebaliknya body candlestick hitam yang panjang berarti supply jauh lebih besar dibandingkan demand, menandakan tekanan jual yang sangat besar. 17

Gambar II.2. Long Candle dan Short Candle b. Doji Star Doji merupakan salah satu candlestick yang penting untuk menunjukkan informasi dan bentuk dari doji itu sendiri merupakan bagian penting dari grafik. Bentuk dari doji menunjukkan bahwa nilai dari pembukaan dan penutupan sepanjang sesi adalah sama. Gambar II.3 Doji Star 18

II.3.1.3 Pola Candlestick (Reversal Candle Patterns) Edianto Ong (2008) pola candlestick terdiri dari 3 pola candle. Dan ke 3 candle di bagi menjadi bullish reversal dan bearish reversal. II.3.1.3.1 Pola 1 candle a) Bullish Reversal - Southern Doji Keterangan : format 1 candle, diawali downtrend, open price dan close price hampir sama, candle tampak seperti tidak memiliki body. Gambar II.4 Southern Doji - Southern Long-Leg Doji Keterangan : format 1 candle, diawali downtrend, open price dan close price hampir sama, candle tampak seperti tidak memiliki body, perbedaan dengan southern doji terletak pada panjang shadow, memiliki upper shadow maupun lower shadow yang lebih panjang. 19

Gambar II.5 Southern Long-Leg Doji - Dragonfly Keterangan : format 1 candle, diawali downtrend, candle memiliki lower shadow yang panjang, open price, close price dan high price hampir sama, sehingga candle tampak seperti tidak memiliki body. Gambar II.6 Dragonfly - Hammer Keterangan : format 1 candle, diawali downtrend, candle memiliki lower shadow yang panjang, open price dan close price berjauhan 20

sehingga candle tampak memiliki body yang kecil, candle boleh berwarna hitam ataupun putih. Gambar II.7 Hammer - Inverted Hammer Keterangan : format 1 candle, diawali downtrend, candle memiliki upper shadow yang panjang, open price dan close price berdekatan sehingga candle tampak memiliki body yang kecil, candle boleh berwarna hitam ataupun putih. Gambar II.8 Inverted Hammer 21

- Bullish Belt Hold Keterangan : format 1 candle, diawali downtrend, open candle ini gap-down dari candle sebelumnya, tapi kemudian close price ditutup menguat jauh di atas open price, candle tampak memiliki body yang kecil, body candle berwarna putih dan panjang, mirip white morubazu. Gambar II.9 Bullish Belt Hold b) Bearish Reversal - Northern Doji Keterangan : format 1 candle, diawali uptrend, open price dan close price hampir sama, candle tampak seperti tidak memiliki body. Gambar II.10 Northern Doji 22

- Northern Long-Leg Doji Keterangan : format 1 candle, diawali uptrend, open price dan close price hampir sama, candle tampak seperti tidak memiliki body, perbedaan dengan northern doji hanya terletak pada panjang shadow, memiliki upper shadow maupun lower shadow yang lebih panjang. Gambar II.11 Northern Long-Leg Doji - Gravestone Keterangan : format 1 candle, diawali uptrend, candle memiliki upper shadow yang panajng, open price, close price dan low price hampir sama, candle tampak seperti tidak memiliki body. Gambar II.12 Gravestone 23

- Shooting Star Keterangan : format 1 candle, diawali uptrend, candle memiliki upper shadow yang panajng, open price dan close price berdekatan sehingga candle tampak memiliki body yang kecil, candle boleh berwarna hitam maupun putih. Gambar II.13 Shooting Star - Hanging Man Keterangan : format 1 candle, diawali uptrend, candle memiliki lower shadow yang panjang, open price dan close price berdekatan sehingga candle tampak memiliki body yang kecil, candle berwarna hitam ataupun putih. Gambar II.14 Hanging Man 24

- Bearish Belt Hold Keterangan : format 1 candle, diawali uptrend, open candle ini gad up dari close candle sebelumnya, kemudian close price ditutup melemah jauh di bawah open price, sehingga body candle berwarna hitam dan panjang mirip black marubozu. Gambar II.15 Bearish Belt Hold II.3.1.3.2 Pola 2 candle a. Bullish Reversal - Bullish Pregnant Keterangan : nama lain dari bullish harami, format 2 candle, diawali downtrend, candle pertama berwarna hitam, candle kedua berwarna putih, body candle kedua berada di dalam body candle pertama. Gambar II.16 Bullish Pregnant 25

- Bullish Pregnant Cross Keterangan : nama lain dari bullish harami cross, format 2 candle, diawali downtrend, candle pertama berwarna hitam, candle kedua berbentuk doji, doji tersebut berada di dalam body candle pertama. Gambar II.17 Bullish Pregnant Cross - Bullish Homing Pigeon Keterangan : format 2 candle, diawali downtrend, candle pertama berwarna hitam, candle kedua juga berwarna hitam, body candle kedua berada di dalam body candle pertama. Gambar II.18 Bullish Homing Pigeon 26

- Matching Low Keterangan : format 2 candle, diawali downtrend, candle pertama berwarna hitam, candle kedua juga berwarna hitam, sangat mirip dengan bullish homing pigeon, perbedaannya hanya terletak pada close candle kedua yang sama dengan close pertama pada pola mactcing low ini. Gambar II.19 Bullish Homing Pigeon - Bullish Engulfing Keterangan : format 2 candle, diawali downtrend, candle pertama berwarna hitam, candle kedua berwarna putih, body candle pertama berada di dalam body candle kedua. Gambar II.20 Bullish Engulfing 27

- Piercing Line Keterangan : format 2 candle, diawali downtrend, candle pertama berwarna hitam, candle kedua berwarna putih, open candle kedua berada di bawah close candle pertama, kemudian close candle kedua melewati (di atas) pertengahan body candle pertama. Gambar II.21 Piercing Line - Tweezer Bottom Keterangan : format 2 candle, diawali downtrend, candle pertama berwarna hitam, candle kedua berwarna putih, yang diperhatikan pada pola ini adalah low candle pertama dan low candle kedua yang sama. Gambar II.22 Tweezer Bottom 28

b. Bearish Reversal - Bearish Pregnant Keterangan : nama lain dari bearish harami, format 2 candle, diawali uptrend, candle pertama berwarna putih, candle kedua berwarna hitam, body candle kedua berada di dalam body candle pertama. Gambar II.23 Bearish Pregnant - Bearish Pregnant Cross Keterangan : nama lain dari bearish harami cross, format 2 candle, diawali uptrend, candle pertama berwarna putih, candle kedua berbentuk doji, doji tersebut berada di dalam body candle pertama. Gambar II.24 Bearish Pregnant Cross 29

- Bearish Homing Pigeon Keterangan : format 2 candle, diawali uptrend, perbedaan dengan bearish pregnant hanya terletak pada warna candle kedua, candle pertama berwarna putih, candle kedua juga berwarna putih, body candle kedua berada di dalam body candle pertama. Gambar II.25 Bearish Homing Pigeon - Matching High Keterangan : format 2 candle, diawali uptrend, candle pertama berwarna putih, candle kedua juga berwarna putih, sangat mirip dengan bearish homing pigeon, perbedaannya terletak pada close candle kedua yang sama dengan close candle pertama pada pola matching high ini. Gambar II.26 Matching High 30

- Bearish Engulfing Keterangan : format 2 candle, diawali uptrend, candle pertama berwarna putih, candle kedua berwarna hitam, body candle pertama berada di dalam body candle kedua. Gambar II.27 Bearish Engulfing - Dark Cloud Cover Keterangan : format 2 candle, diawali uptrend, candle pertama berwarna putih, candle kedua berwarna hitam, open candle kedua berada di atas close candle pertama, namun kemudian close candle kedua melewati (di bawah) pertengahan body candle pertama. Gambar II.28 Dark Cloud Covers 31

- Tweezer Top Keterangan : format 2 candle, diawali uptrend, candle pertama berwarna putih, candle kedua berwarna hitam, yang diperhatikan pada pola ini adalah high candle pertama dan high candle kedua yang sama. Gambar II.29 Tweezer Top II.3.1.3.3 Pola 3 candle a. Bullish Reversal - Morning Star Keterangan : formasi terbentuk dari 3 candle, diawali downtrend, candle pertama berwarna hitam, candle kedua memiliki body yang kecil dan gap down dari candle pertama boleh berwarna hitam ataupun putih, candle ketiga harus ditutup menguat atau berwarna putih. 32

Gambar II.30 Morning Star - Morning Doji Star Keterangan : formasi terbentuk dari 3 candle, diawali downtrend, candle pertama berwarna hitam, candle kedua berbentuk doji dan gap down dari candle pertama, candle ketiga harus ditutup menguat atau berwarna putih. Gambar II.31 Morning Doji Star - Bullish Abandoned Baby Keterangan : formasi 3 candle, diawali downtrend, candle pertama berwarna hitam, candle kedua gap down dari candle pertama boleh berwarna 33

putih ataupun hitam, candle ketiga berwarna putih dan gap up dari candle kedua. Gambar II.32 Bullish Abandoned Baby - Morning Tri Star Keterangan : formasi 3 candle, diawali downtrend, candle pertama, candle kedua maupun candle ketiga berbentuk doji atau memiliki body yang kecil. Gambar II.33 Bullish Abandoned Baby - Three White Soldiers Keterangan : formasi 3 candle, diawali downtrend, candle pertama, kedua dan ketiga semuanya berwarna putih dan umumnya memiliki 34

body yang panjang, open candle kedua dan ketiga berada di bawah close candle sebelumnya, namun close candle kedua dan ketiga ditutup di atas candle sebelumnya. Gambar II.34 Three White Soldiers b. Bearish Reversal - Evening Star Keterangan : format 3 candle, diawali uptrend, candle pertama berwarna putih, candle kedua memiliki body yang kecil, gap up dari candle pertama, boleh berwarna putih ataupun hitam, candle ketiga harus melemah atau berwarna hitam. Gambar II.35 Evening Star 35

- Evening Doji Star Keterangan : format 3 candle, diawali uptrend, candle pertama berwarna putih, candle kedua berbentuk doji (long leg doji) dan gap up candle pertama, candle ketiga harus melemah dan berwarna hitam. Gambar II.36 Evening Doji Star - Bearish Abandoned Baby Keterangan : format 3 candle, diawali uptrend, candle pertama berwarna putih, candle kedua gap up dari candle pertama boleh putih ataupun hitam, candle ketiga berwarna hitam dan gap down dari candle kedua. Gambar II.37 Bearish Abandoned Baby 36

- Evening Tri Star Keterangan : format 3 candle, diawali uptrend, candle pertama, kedua, ketiga berbentuk doji atau memiliki body yang kecil. Gambar II.38 Evening Tri Star - Three Black Crows Keterangan : format 3 candle, diawali uptrend, candle pertama, kedua dan ketiga semuanya berwarna hitam dan memiliki body yang panjang, open candle kedua dan ketiga berada di atas close candle sebelumnya, namun close candle kedua dan ketiga ditutup di bawah close candle sebelumnya. Gambar II.39 Three Black Crows 37

II.3.1.4 Pola Kelanjutan Candlestick (Continuation Candle Patterns) II.3.1.4.1 Bullish Continuation Patterns - Upward Gap Tasuki Keterangan : format 2 candle, diawali uptrend, candle pertama berwarna putih dan gap up dari candle sebelumnya, candle kedua berwarna hitam, low candle kedua tidak menembus high candle sebelum candle pertama. Gambar II.40 Upward Gap Tasuki - Rising Three Keterangan : format 5 candle, diawali uptrend, candle pertama berwarna putih dan memiliki body yang panjang, diikuti 3 candle lebih pendek di dalam range candle pertama, candle kedua, ketiga dan keempat boleh berwarna putih maupun hitam, candle kelima harus berwarna putih dan memiliki body yang panjang, close candle kelima di atas high candle pertama. 38

Gambar II.41 Rising Three II.3.1.4.2 Bearish Continuation Patterns - Downward Gap Tasuki Keterangan : format 2 candle, diawali downtrend, candle pertama berwarna hitam dan gap down dari candle sebelumnya, candle kedua berwarna putih, high candle kedua tidak menembus low candle sebelum candle pertama. Gambar II.42 Downward Gap Tasuki 39

- Falling Three Keterangan : format 5 candle, diawali downtrend, candle pertama berwarna hitam dan memiliki body yang panjang, diikuti 3 candle lebih pendek di dalam range candle pertama, candle kedua, ketiga dan keempat boleh berwarna putih maupun hitam, candle kelima harus berwarna hitam dan memiliki body yang panjang, close candle kelima di bawah low candle pertama. Gambar II.43 Falling Three II.4 Moving Average (MA) Menurut Edianto Ong (2008) moving average (MA) adalah indikator yang paling luas digunakan oleh para teknikal karena sangat mudah digunakan ataupun dianalisis. Berdasarkan indikator ini nantinya berkembang menjadi banyak varian. 40

Data pergerakan harga saham digunakan pada suatu formula dan hasilnya ditampilkan sebagai sebuah garis pada charts. Garis ini digunakan untuk mendeteksi tren pergerakan harga saham, yaitu memberikan sinyal suatu tren baru atau sebagai konfirmasi bahwa tren yang sedang berlangsung akan reversal. Garis moving average (MA) juga dapat digunakan sebagai pengganti garis tren konvensional dalam fungsi menentukan support dan resistance. Fungsi lain pada moving average (MA) adalah untuk meredam fluktuasi yang terlalu liar pada harga saham maupun indicator lainnya (P.277). Moving average (MA) terbagi menjadi tiga jenis yaitu : 1. SMA (simple moving average) 2. WMA (weighted moving average) 3. EMA (exponential moving average ) Namun dalam skripsi ini hanya dibahas mengenai metode simple moving average. II.4.1 SMA (Simple Moving Average) Simple moving average mencerminkan harga rata-rata dari nilai pergerakan suatu saham di dalam rentang waktu tertentu secara sederhana. Harga rata-rata yang paling umum digunakan adalah harga penutupan. Semakin singkat periode waktu yang digunakan maka akan menghasilkan sinyal yang semakin sensitif. Sisi negatifnya akan terdapat lebih banyak whipsaws. Sedangkan semakin panjang periode waktu yang digunakan sebaliknya akan 41

menghasilkan sinyal yang lebih lambat namun efektif meredam whipsaws. Menurut Dedhy Sulistiawan dan Liliana (2007) simple moving average adalah indikator analisis teknikal modern yang paling sederhana cara perhitungannya dan mudah dipelajari. Simple moving average dihitung dari penjumlahan harga saham X hari sebelumnya dibagi dengan X hari. Harga saham yang biasa dipakai adalah harga penutupan, namun harga rata-rata maupun pembukaan juga dapat digunakan. Dalam analisis teknikal ini simple moving average yang digunakan adalah MA5 dan MA20. MA5 dan MA20 digunakan sebagai indikator untuk memprediksi trend harga pergerakan saham dari saham BUMI yang akan mendatang. MA5 adalah harga rata-rata 5 hari perdagangan sebelumnya. MA20 adalah harga rata-rata 20 hari perdagangan sebelumnya. Rumus MA5 adalah : Keterangan : MA (5) = (P5+P4+P3+P2+P1) / 5 MA (5 ) P5 P4 P3 P2 : rata-rata bergerak sederhana 5 periode : harga saham 5 hari sebelumnya : harga saham 4 hari sebelumnya : harga saham 3 hari sebelumnya : harga saham 2 hari sebelumnya 42

P1 : harga saham 1 hari sebelumnya Contoh : harga saham BUMI dari tanggal 1-7 September 2009 ( dengan catatan tanggal atau hari kerja bursa efek) adalah 2825, 2725, 2900,2875, 2925 dan n = 5. MA (5) = (2825+2725+2900+2875+2925) / 5 = 2850 Rumus MA20 adalah : MA (20) = (P20+P19+P18+...+P5+P4+P3+P2+P1) / 20 Nilai-nilai perhitungan tersebut ditampilkan menjadi sebuah garis dalam charts yang dapat memberikan sinyal kepada traders. Sinyal tersebut bisa berupa sinyal beli maupun sinyal jual tergantung pada pergerakan harga saham yang melintasi garis SMA tersebut. Bila harga bergerak dari bawah memotong ke atas garis SMA maka menghasilkan sinyal beli. Sebaliknya bila harga bergerak dari atas memotong ke bawah garis SMA maka menghasilkan sinyal jual. Bila MA5 memotong dari atas kebawah MA20 maka harga akan turun (death cross) menghasilkan sinyal beli, bila MA5 memotong dari bawah ke atas MA20 maka harga akan naik dan menghasilkan harga naik (golden cross) menghasilkan sinyal jual. Moving Average dinyatakan telah tertembus (valid break) bila harga penutupan telah berada di luar garis MA. 43

Garis SMA mempunyai periode lebih singkat akan menempel lebih dekat dengan harga saham. Artinya garis SMA tersebut lebih cocok digunakan untuk traders yang memiliki time horizon lebih short term. Contoh analisis moving average dapat dilihat pada gambar berikut ini. Grafik II.5 Contoh Moving Average Bila diperhatikan maka terlihat jelas bahwa semua moving average adalah lagging indicator yang selalu berada di belakang harga. Dalam kategori sebagai trend following indicators, bila harga saham sedang uptrend maka garis MA akan membayangi dari bawah, bila harga sedang downtrend maka garis MA akan membayangi dari atas. 44

Rangkuman SMA (Simple Moving Average): - Menentukan trend, support dan resistance. - Menandakan sinyal bullish dan sinyal bearish. - Bila harga saham di atas garis SMA = buliish. - Bila harga saham di bawah garis SMA = bearish. - Sebagai filter pada pergerakan harga/ indikator lain. 45