BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN

dokumen-dokumen yang mirip
BAB 3 METODOLOGI PENELITIAN

BAB V ANALISA PEMBAHASAN

BAB 3 METODOLOGI PENELITIAN

BAB 3 METODOLOGI PENELITIAN

BAB 4 PENGUMPULAN DAN ANALISA DATA

BAB V ANALISIS DAN INTERPRETASI HASIL

BAB V PEMBAHASAN. A. Analisis Postur Kerja Berdasarkan Metode REBA. area Die Casting dapat dijelaskan sebagai berikut:

BAB V ANALISA HASIL 5.1 ANALISA KONDISI YANG ADA. Untuk menemukan suatu masalah yang mempengaruhi afkir label pada produk

III. HASIL DAN PEMBAHASAN

UPAYA PENURUNAN KEJADIAN KEHILANGAN GELAS BERUKURAN SEDANG MELALUI PENERAPAN METODE QUALITY CONTROL CIRCLE (QCC) DI UNIT GIZI, RS ABC, JAKARTA

BAB I PENDAHULUAN I-1

BAB V HASIL DAN ANALISA

BAB 4 HASIL dan ANALISIS PENELITIAN

BAB IV PENGUMPULAN DAN PENGOLAHAN DATA

BAB V ANALISA DAN PEMBAHASAN

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

Disusun Oleh: Roni Kurniawan ( ) Pembimbing: Dr. Ina Siti Hasanah, ST., MT.

BAB 3 METODOLOGI PEMECAHAN MASALAH

BAB V HASIL DAN ANALISA

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB V ANALISA PEMECAHAN MASALAH

BAB III METODE PENELITIAN

BAB V ANALISA HASIL Tahap Analyze. Pada tahap ini penyusun akan menganalisis hambatan dan kendala

ANALISIS ERGONOMI PADA PRAKTIK MEMELIHARA RODA DAN BAN MENGGUNAKAN METODE REBA

BAB V ANALISIS DAN INTERPRETASI HASIL

8 Step Aktivitas QCC. Oleh: Toyota Indonesia Institute

BAB V ANALISIS PEMECAHAN MASALAH

BAB IV PENGUMPULAN DAN PENGOLAHAN DATA

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB 4 PENGUMPULAN, PENGOLAHAN DAN ANALISIS DATA

ABSTRAK. Universitas Kristen Maranatha

PT. BRAJA MUKTICAKRA THE PRECISION'S VALUE

BAB IV PENGUMPULAN DAN PENGOLAHAN DATA

BAB 4 PENGUMPULAN, PENGOLAHAN DAN ANALISA DATA

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB 7 KESIMPULAN DAN SARAN. Berdasarkan survai ergonomi yang dilakukan pada 3 grup pekerjaan yaitu.

Ergonomic Assessment Pada Home Industri (Studi Kasus Industri Tempe)

BAB IV HASIL DAN PENGUMPULAN DATA : MENURUNKAN RATIO NG. HURT ON HEAD DI MESIN COLD FORGING 1

PERANCANGAN ULANG ALAT PENUANG AIR GALON GUNA MEMINIMALISASI BEBAN PENGANGKATAN DENGAN METODE QUALITY FUNCTION DEPLOYMENT

MODUL 10 REBA. 1. Video postur kerja operator perakitan

BAB IV PENGUMPULAN DAN PENGOLAHAN DATA

ABSTRAK. v Universitas Kristen Maranatha

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

BAB 7 KESIMPULAN. 7-1 Universitas Kristen Maranatha

ANALISIS KESELAMATAN KERJA (JOB SAFETY ANALYSIS)/PROSEDUR JSA

BAB 6 KESIMPULAN DAN SARAN

V. PENERAPAN SISTEM ERGONOMI DALAM PROSES PRODUKSI

Keselamatan Kerja. Garis Besar Bab Bab ini menjelaskan dasar-dasar pengoperasian yang aman. Keselamatan Kerja

Analisis Postur Kerja dengan Rapid Entire Body Assesment (REBA) di Industri Pengolahan Tempe

Evaluasi Postur Kerja Operator Pengangkatan Pada Distributor Minuman Kemasan ABSTRAK

BAB II GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN

AKTIVITAS UNTUK MENINGKATKAN MACHINE AVAILABILITY

BAB IV PENGUMPULAN DAN PENGOLAHAN DATA

Pengembangan Sistem & Produktivitas

BAB V ANALISA HASIL. 5.1 Analisa Hasil Pengolahan Data Analisa Histogram. Apabila dilihat dari hasil pengolahan data, berdasarkan histogram

ABSTRAK. Universitas Kristen Maranatha

BAB IV PENGUMPULAN DAN PENGOLAHAN DATA

LEMBAR KUESIONER HUBUNGAN POSISI KERJA DENGAN KELUHAN NYERI PINGGANG BAWAH PADA PEKERJA PEMELIHARAAN TERNAK BALAI EMBRIO TERNAK CIPELANG

Seminar Nasional IENACO 2016 ISSN: DESAIN ALAT BANTU PADA AKTIVITAS PENUANGAN MATERIAL KEDALAM MESIN PENCAMPUR DI PT ABC DENGAN METODE REBA

MENURUNKAN KLAIM MIS-DELIVERY PADA DELIVERY FINISH GOODS YAMAHA EKSPOR AKBT DI PT. AKEBONO BRAKE ASTRA INDONESIA

ANALISIS POSTUR KERJA PADA TENAGA KERJA DENGAN METODE REBA AREA WORKSHOP PT X JAKARTA TIMUR

BAB V ANALISA HASIL. 5.1 Analisa Diagram Sebab Akibat. Setelah penulis melakukan observasi ke lapangan serta wawancara secara

ABSTRAK. Universitas Kristen Maranatha

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

Lampiran 1. Format Standard Nordic Quetionnaire

BAB V HASIL DAN ANALISA

BAB 1 PENDAHULUAN. unutk menunjang aktifitas sehari-hari seperti bekerja, mengantar anak pergi sekolah

BAB V ANALISA HASIL. sebelumnya telah dibahas pada bab sebelumnya (Bab IV). Dimana cacat yang terjadi

BAB 4 PENGUMPULAN DAN ANALISA DATA

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

Jurnal Ilmiah Widya Teknik Volume 16 Nomor ISSN

Sumber : PQM Consultant QC Tools Workshop module.

Gambar 3.1 Metodologi Penelitian

BAB 2 LANDASAN TEORI

BAB V ANALISA HASIL. 5.1 Analisa Pembuatan Diagram Sebab Akibat. Diagram sebab akibat memperlihatkan hubungan antara permasalahan

PERANCANGAN ALAT BANTU UNTUK MEMPERBAIKI POSTUR KERJA PADA AKTIVITAS PEMELITURAN DALAM PROSES FINISHING (Studi Kasus: Home Industry Waluyo Jati)

BAB V ANALISIS DAN INTERPRETASI HASIL

Continuous Improvement Culture

BAB 4 PENGUMPULAN DAN ANALISA DATA

Penurunan Tingkat Kecacatan dan Analisa Biaya Rework (Studi Kasus di Sebuah Perusahaan Plastik, Semarang)

BAB V ANALISIS PEMECAHAN MASALAH

4 BAB IV PENGUMPULAN DAN PENGOLAHAN DATA

USULAN PERBAIKAN KUALITAS PRODUK DUDUKAN MAGNET DENGAN METODE ENAM SIGMA

BAB V ANALISA PEMBAHASAN

METODOLOGI PENELITIAN

PROFIL PT. KIEC. Dibuat Oleh : KAMALLUDIN NIK :

Tabel 4.1 Hasil Skor RPN. No. Moda Kegagalan (Failure Mode) Skor RPN

Perkapalan Negeri Surabaya, Surabaya Abstrak

BAB 4 ANALISIS DAN BAHASAN

BAB V ANALISA DAN HASIL. Dalam bab ini akan dibahas tentang analisis hasil pengamatan proses yang

Dengan cara pemakaian yang benar, Anda akan mendapatkan manfaat yang maksimal selama bertahun-tahun.

PENGURANGAN MUDA DALAM PROSES PRODUKSI DENGAN PENDEKATAN DMAIC. Jl. Glagahsari, Umbulharjo, Yogyakarta *

BAB V ANALISA HASIL. membandingkan jumlah kecacatan produk proses produksi Lightening Day Cream

BAB I PENDAHULUAN. Manusia dalam beraktifitas membutuhkan suatu alat yang dirancang atau

Rahmat Hidayattullah, Gunawarman Hartono

Penyebab Buncis Ditolak Eksportir

BAB 1 PENDAHULUAN. 1-1 Universitas Kristen Maranatha

Transkripsi:

BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Menentukan Tema Pada langkah ini beberapa data dikumpulkan melalui cara genba (datang untuk melihat langsung kondisi lapangan) dan wawancara kepada teknisi di workshop Sudirman. Adapun data-data yang telah dikumpulkan melalui genba lapangan yaitu proses pengerjaan pengisian penggantian oli transmisi otomatis (ATF) seperti dapat dilihat pada gambar 4.1. Hasil wawancara yang telah dilakukan kepada teknisi workshop Sudirman berupa keluhan-keluhan yang dirasakan seperti dapat dilihat pada gambar 4.1. 1 2 Teknisi menaikkan kendaraan di lift Membuang ATF melalui drain plug 4 3 Teknisi mengisi ATF melalui Inlet Transmisi Teknisi menurunkan kendaraan di Lift Gambar 4.1 Langkah Proses Pengisian Penggantian Oli Transmisi Otomatis

60 Pada gambar 4.1 yaitu proses pengisian penggantian oli transmisi dapat dilihat pada gambar nomor 1 yaitu kendaraan dinaikkan ke lift oleh teknisi. Pada gambar nomor 2, dimana setelah kendaraan berada di lift kemudian lift dinaikkan hingga teknisi dengan posisi bawah kendaraan berada diatas kepala dari teknisi. Hal ini dimaksudkan agar teknisi dapat berdiri dengan tegak pada bagian bawah kendaraan untuk memudahkan proses pembuangan oli transmisi dalam kendaraaan melalui drain plug. Setelah teknisi menunggu sampai drain plug tidak mengeluarkan tetesan oli transmisi (ATF) kembali, kemudian teknisi menurunkan lift hingga kendaraan berada dilantai stall seperti ditunjukkan pada gambar nomor 3. Pada gambar nomor 4 menunjukkan proses penggisian oli tranmisi dilakukan dengan menuangkan oli transmisi (ATF) dari kaleng kemasan ke Transmisi Inlet dengan bantuan corong plastik. Data yang di kumpulkan adalah data hasil wawancara selama bulan Februari Maret tahun 2010 di PT. Toyota-Astra Motor pada workshop Sudirman, Jakarta. Dari hasil wawancara, didapati data rata-rata keluhan sebagai berikut: Tabel 4.1 Keluhan Teknisi Bulan Februari Maret Tahun 2010 Bulan Februari Maret Total Rata Rata Jenis Problem (Keluhan) (Keluhan) (Problem) Keluahan Sakit pada bagian pinggang 7 6 13 6.50 Waktu menunggu lama 6 5 11 5.50 Lantai stall licin 6 4 10 5.00 Ruang transmisi sulit dicapai 6 3 9 4.50 Total 25 18 43 21.50 Berdasarkan data keluhan yang telah dikumpulkan sebelumnya, dibuatlah diagram pareto untuk menentukan prioritas.

61 Diagram Pareto 120% 100% 100% % Keluhan Kumulatif 80% 60% 40% 56% 80% 30% 20% Jumlah Keluhan 0% Sakit pada bagian pinggang Waktu menunggu lama Lantai stall licin Ruang transmisi sulit dicapai % Keluhan Kumulatif Jumlah Keluhan 30% 27% 23% 20% % Keluhan Kumulatif 30% 56% 80% 100% Diagram 4.1 Diagram Pareto atas keluhan teknisi pada pengisian ATF Berdasarkan gambar diagram Pareto di atas, maka ditetapkan prioritas penanganan masalah atas keluhan yang ada akan di fokuskan mengurangi jumlah keluhan teknisi sakit pinggang di workshop Sudirman, Jakarta. Hal tersebut dikarenakan keluhan sakit pada bagian pinggang berada pada urutan pertama dengan nilai presentase keluhan sebesar 30%. Berikut adalah tabel jadwal kegiatan QCC yang akan dilakukan pada periode Februari Juni 2010. Tabel 4.2 Jadwal Kegiatan QCC Periode Februari Juni Tahun 2010 No. Aktifitas 1 Menetukan tema 2 Menetapakan target 3 Analisa kondisi yang ada 4 Analisa sebab akibat 5 Rencana penanggulangan 6 Pelaksanaan penanggulangan 7 Evaluasi hasil 8 Standarisasi dan tindak lanjut Februari Maret April Mei Juni 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4

62 Pada jadwal kegiatan diatas, dapat dilihat bahwa penelitian dimulai pada bulan Februari tahun 2010 dan akan berakhir pada bulan Juni tahun 2010. 4.2 Menetapkan Target Pada proses penggantian oli transmisi (ATF) melalui Transmisi Inlet, dimana posisi kerja teknisi membungkuk selama proses tersebut berlangsung. Hal tersebut bukanlah posisi kerja yang ergonomi, sehingga perlu diperbaiki. Adapun target yang ingin dicapai sehingga proses penggantian oli transmisi (ATF) sesuai dengan pendekatan ergonomi kerja adalah menurunkan jumlah rata-rata keluhan sakit pinggang pada saat proses penggantian oli transmisi (ATF) dari nilai rata-rata keluhan 6.50 pada bulan Februari Maret 2010 menjadi menjadi rata-rata 0 keluhan pada bulan Juni 2010. Grafik Penetapan Target 100% 80% 60% 40% 6.5 20% 0% Sebelum Perbaikan 0 Sesudah perbaikan Keluhan rata-rata Grafik 4.1 Target Penurunan Jumlah Rata-rata Keluhan Sakit Pinggang

63 4.3 Analisa Kondisi yang Ada Pada tahap ini merupakan hasil dari genba di workshop Sudirman di stall express maintenance. Pada penggantian oli transmisi ATF terdapat beberapa faktor yang mempengaruhinya proses tersebut, antara lain: Tabel 4.3 Analisa Kondisi yang Ada Menggunakan Faktor 4M (Man, Method, Machine dan Material) +1E (Environment) Faktor 4M + 1E Man Method Penyebab Teknisi membungkuk terlalu lama saat mengisi ATF Teknisi Jatuh Teknisi menahan beban jerigen terlalu lama Tabel 4.4 Analisa Kondisi yang ada Menggunakan Aspek QCDSMPEE (Quality, Cost, Delivery, Safety, Moral, Productivity, Ergonomi dan Environment) Aspek QCDSMPE Dampak Safety Terjadi kecelakaan kerja Moral Banyak teknisi yang mengeluh kondisi kerja Ergonomi Kondisi kerja memiliki resiko tinggi terhadap sakit pinggang (angka REBA = 12) Tabel 4.5 Perhitungan REBA Sebelum dilakukan Perbaikan Range Alasan Grup A Punggung 3 Leher 4 +1 karena kepala memutar/miring Kaki 2 Load Score 0 karena beban pada range 0-5 kg Score 7 Hasil pada Tabel A + Load Score Grup B Pergelangan Lengan Atas 4 Pergelangan Lengan Bawah 2 Pergelangan Tangan 1 Coupling 3 Dipaksakan, genggaman yang tidak aman Score 8 Hasil pada Tabel B + Coupling Grup C Nilai tabel C (Grup A + Grup B) 10 Activity Score 2 Karena lebih dari 1 atau lebih bagian tubuh statis, ditahan lebih dari 1 menit dan gerakan menyebabkan perubahan pergeseran postur yang cepat dari awal Hasil Akhir 12

64 4.4 Analisa Sebab Akibat Dalam melakukan analisa penyebab, tools yang digunakan fishbone diagram untuk mendapatkan penyebab yang paling dominan dalam suatu masalah. Adapun fishbone diagram dari masalah yang diangkat dalam penelitian ini dapat dilihat pada gambar berikut. Tidak ada alat bantu Tidak ada gantungan jerigen Man Teknisi harus menjangkau letak ATF Inlet Teknisi membungkuk terlalu lama saat mengisi Jerigen tidak dapat ditinggal Teknisi menahan beban jerigen terlalu lama Terdapat ceceran oli Teknisi Jatuh terpeleset Oli Transmisi (ATF) luber Tidak ada indikator pengisian T eknisi tidak mengetahui bahwa oli transmisi telah terisi penuh (Mengingat kapasitas jerigen lebih besar daripada kapasitas transmisi) Keluhan Sakit pinggang Methode Diagram 4.2 Diagram Sebab Akibat Berdasarkan diagram sebab akibat yang telah dibuat, dimana terdapat masalah utama yanitu keluhan sakit pingganng dan terdapat 3 pokok permasalahan yang menjadi akar masalah, yaitu : 1. Tidak adanya alat bantu dalam penggantian oli transmisi (ATF) menyebabkan teknisi harus menjangkau letak ATF Inlet. Kondisi dimana teknisi harus menjangkau letak ATF menyebabkan teknisi harus membungkuk terlalu lama saat penggantian oli transmisi (ATF). Teknisi membungkuk terlalu lama menyebabkan keluhan sakit pinggang.

65 2. Tidak adanya indikator pengisian menyebabkan teknisi tidak mengetahui bahwa oli transmisi (ATF) telah terisi penuh. Kondisi ketidaktahuan teknisi bahwa kondisi oli transmisi telah penuh menyebabkan oli tranmisi (ATF) terisi sampai luber. Kondisi oli transmisi (ATF) yang luber menyebabakan terdapat ceceran oli. Ceceran oli di lantai stall ini menyebebakan teknisi jatuh terpeleset. Teknisi jatuh terpeleset menyebabkan keluhan sakit pinggang. 3. Tidak adanya gantungan jerigen menyebabkan jerigen tidak dapat ditinggal. Jerigen yang tidak dapat ditinggal menyebabkan teknisi harus menahan beban jerigen terlalu lama. Teknisi menahan jerigen terlalu lama menyebabkan keluhan sakit pinggang. 4.5 Rencana Penanggulangan Berdasarkan akar masalah yang telah digali pada tahap sebelumnya, maka dibuatlah rencana penanggulangan untuk menangani masalah yang muncul. Adapun rencana penanggulangan yang akan dibuat dapat lihat pada tabel 4.6.

66 Tabel 4.6 Rencana Penanggulangan No. 1 2 3 Aktifitas Alasan Langkah pembuatan PIC Tempat Due Date Biaya Tujuan What Why How Ilustrasi Who Where When How Much Target Membuat alat bantu untuk pengisian oli transmisi (ATF) Membuat gantungan untuk jerigen Membuat indikator pengisian oli transmisi (ATF) Supaya teknisi tidak membungkuk terlalu lama saat pengisian oli transmisi Teknisi tidak perlu menahan beban jerigen terlalu lama Supaya pengisian oli transmisi tidak luber 1 Galon Long Life Coolent LLC (nomor 1.)bekas dicuci menggunakan air panas untuk menghilangkan kandungan LLC pada galon. 2 Galon LLC dilubangi (nomor 1.) sebesar diameter selang plastik yang digunakan 3 Setelah dilubangi, connecting selang (nomor 2.) dipasang antara selang (nomor 3.) antara plastik dengan jerigen. 4 Setelah terpasang, kemudian ring (nomor 6.) dipasang pada sambungan conneting untuk mengencangkan sambungan dan alat bantu telah selesai. 1 Kawat besi dilipat menjadi 2 (nomor 4.), kemudian dilipat menjadi 2 kembali hingga membentuk lipatan dengan panjang 10 cm. 2 Kemudian lipatan besi tersebut (hasil langkah 1) dibuat menjadi bentuk pengait dengan satu sisi dibuat lipatan condong ke arah dalam membentuk huruf G. 3 Lipatan besi sisi bawah huruf G (hasil langkah 2), dililit ke pegangan pada jerigen. Gunakan tang agar lilitan kuat.gantungan jerigen telah siap digunakan. 1 SST ATF Inlet (hasil aktifitas 1) diberi marking liter dengan skala 0-3 liter (Pokayoke sehingga oli transmisi tidak tumpah). 2 Buat label seperti marking yang telah dibuat pada langkah 1 dan tempel pada salah satu sisi dari jerigen tersebut. 3 Tempel tulisan itu mengikuti tanda goresan yang telah dibuat pada jerigen (hasil aktifitas 1), maka selesailah pembuatan indikator pengisian oli transmisi (ATF) 5 SST ATF Inlet Keterangan Gambar : 1. Penampung oli transmisi (jerigen) 2. Connecting selang 3. Selang plastik, panjang 1 m 4. Kawat besi, panjang 40 cm 5. Ring 6. Label indikator Teknisi Workshop Sudirman 25 April 2010 28 April 2010 29 April 2010 - Galon LLC bekas Rp. 0 - Connecting selang Rp. 2500 - Selang plastik Rp. 7000 - Ring Rp. 2000 Total biaya / buah Rp. 11.500 Total Biaya SST ATF Inlet : 8 x Rp. 11.500 = RP. 92.000 - Kawat besi bekas Rp. 0 Biaya Pembuatan 8 indikator jerigen - Kertas A4 warna (8 lembar) Rp. 5400 - Isolasi bening (kecil) Rp. 1500 Total biaya Rp. 6900 1 Membuat SST ATF Inlet sebanyak 8 buah dengan rincian sebagai berikut : - 4 buah SST ATF Inlet untuk Dextron - 4 buah SST ATF Inlet untuk T-IV - 8 buah gantungan jerigen - 8 lembar indikator pengisian ATF Keterangan : Jumlah stall EM = 4 stall - SST ATF Inlet = Rp. 92.000 - Gantungan Jerigen = Rp. 0 - Indikator Jerigen = RP. 6900 2 Total biaya pembuatan SST ATF Inlet : SST ATF Inlet Rp. 92.000 Gantungan jerigen Rp. 0 Indikator ATF Rp. 6.900 Rp. 98.900

67 Berdasarkan rencana penanggulangan yang dibuat, dapat dilihat bahwa dilakukan 3 perbaikan untuk menangani keluhan sakit pinggang pada teknisi antara lain: 1. Untuk menangani keluhan teknisi bekerja dalam posisi membungkuk, maka dibuatlah SST ATF Inlet. Dengan SST ATF Inlet, teknisi tidak mengisi dalam posisi membungkuk karena isi oli transmisi (ATF) dalam kaleng telah dituang terlebih dahulu ke dalam jerigen. 2. Untuk menangani keluhan teknisi menahan beban jerigen selama pengisian maka dibuatlah gantungan untuk jerigen oli transmisi (ATF). Dengan pembuatan gantungan jerigen, teknisi tidak lagi memegang jerigen selama pengisian tetapi digantungkan ke engine hood sehingga teknisi dapat meneruskan pekerjaan lainnya. 3. Untuk menangani keluhan teknisi jatuh terpeleset yang disebabkan oleh ceceran oli transmisi pada lantai stall maka dibuatlah indikator pengisian oli transmisi (ATF) sehingga teknisi dapat mengetahui kapan oli transmisi (ATF) tersebut sudah penuh. Untuk melakukan perbaikan terhadap resiko ergonomi pada kegiatan pengisian ATF, berikut adalah perhitungan REBA untuk kegiatan pengisian oli transmisi.

68 Tabel 4.7 Perhitungan REBA Setelah Perbaikan Range Alasan Grup A Punggung 1 Leher 2 +1 karena kepala memutar/miring Kaki 1 Load Score 0 karena beban pada range 0-5 kg Score 1 Hasil pada Tabel A + Load Score Grup B Pergelangan Lengan Atas 1 Pergelangan Lengan Bawah 1 Pergelangan Tangan 1 Coupling 0 Karena pegangan pas dan kuat Score 1 Hasil pada Tabel B + Coupling Grup C Nilai tabel C (Grup A + Grup B) 1 Activity Score 0 Karena gerakan menyebebakan perubahan atau pergeseran postur yang cepat dari posisi awal Hasil Akhir 1 Berdasarkan hasil akhir dari perhitungan REBA yang telah dilakukan, maka kesimpulan REBA atas pengisian oli transmisi (ATF) dengan skor hasil akhir adalah 1 yang berarti bahwa dapat diabaikan. 4.6 Pelaksanaan Penanggulangan Pada tahap ini dilakukan pembuatan dari rencana penanggulangan yang telah dibuat sebelumnya. Untuk melihat pelaksanaan penanggulangan yang dibuat, dapat dilihat pada tabel 4.8.

69 Tabel 4.8 Pelaksanaan Penanggulangan Masalah Akar Permasalahan Solusi Why / Alasan Hasil PICA Ilustrasi Teknisi membungkuk Tidak ada alat bantu pengisian ATF Pembuatan alat bantu pengisian ATF berupa jerigen yang disertai selang - SST ATF Inlet = 8 buah - Ketika teknisi menuang oli Supaya teknisi tidak transmisi, selang pada membungkuk terlalu bagian paling ujung lama saat pengisian mengeluarkan tetesan oli transmisi karena tidak adanya pengatur aliran oli transmisi (NOT OK) Memasang kran pada pertemuan antara selang dengan jerigen yang berfungsi sebagai pengatur aliran oli Teknisi menahan Tidak ada jerigen terlalu gantungan jerigen lama Pembuatan gantungan jerigen dari kawat, guna menggantungkan jerigen Teknisi tidak perlu ATF di engine hood menahan beban sehingga teknisi tidak jerigen terlalu lama perlu memegangi jerigen selama pengisian ATF Gantungan jerigen = 8 buah (OK) Teknisi jatuh karena ada ceceran ATF di lantai Tidak ada tanda indikator ATF penuh Membuat tulisan Batas oli tranmisi tidak takaran ATF dengan terlihat sehingga teknisi Supaya pengisian oli disesuaikan dengan jenis tidak tahu telah menuang oli transmisi tidak luber kendaraan dan tipe ATF transmisi berapa liter (NOT yang digunakan OK) Mengganti galon LLC dengan jerigen berwarna putih

70 Pada langkah pelaksanaan penanggulangan, dilakukan pembuatan solusi yaitu pembuatan alat bantu pengisian oli transmisi (ATF) yaitu SST ATF Inlet. SST ATF Inlet berupa jerigen yang disertai dengan selang dan indikator pengisian. Pembuatan alat ini dimaksudkan membantu agar posisi kerja teknisi tidak membungkuk ketika mengisi oli transmisi langsung dari jerigen melalui corong. Alat dibuat sesuai dengan langkah-langkah pembuatan seperti tertera pada tabel 4.6. SST ATF Inlet dibuat sebanyak 8 buah, jumlah ini mengikuti banyaknya stall express maintenance. Adapun cara penggunaan SST ATF Inlet yaitu: a. Tuangkan oli transmisi dari kaleng kemasan sesuai dengan kebutuhan jenis kendaraan yang akan diisi dengan menggunakan bantuan corong plastik untuk mencegah terjadinya tumpah. b. Setelah oli tertuang sesuai kebutuhan kendaraan, maka corong plastik dilepaskan. c. Jerigen yang telah diisi, dibawa menuju bagian depan kendaraan dimana transmisi Inlet tersimpan. Gantungan jerigen dikaitkan ke pengait yang berada pada bagian dalam engine hood. d. Masukkan selang plastik ke Transmisi Inlet dan pastikan selang telah masuk ke bagian dalam transmisi dengan baik (dengan cara mencolok-colokkan selang plastik untuk mengukur dalamnya jangkauan selang). e. Putar kran ke arah kanan, maka oli tranmisi akan mengalir masuk ke dalam ruang tranmisi.

71 f. Setelah oli pada jerigen telah habis maka kran kembali diputar sampai sejajar dengan arah sejajar. Kemudian jerigen dilepas dari engine hood dan diletakkan pada caddy. Maka telah selesailah proses pengisian oli transmisi. 4.7 Evaluasi Hasil Perbaikan Tahap ini adalah tahapan dimana dilakukan evaluasi sejauh mana hasil perbaikan dapat menangani masalah yang muncul pada analisa kondisi yang ada dan mengecek apakah target dapat terpenuhi oleh penanggulangan yang dibuat. Grafik Evaluasi Hasil 100% 80% 60% 40% 6.5 20% 0% Sebelum Perbaikan 0 Sesudah perbaikan Sebelum Perbaikan Sesudah perbaikan Grafik 4.2 Evaluasi Hasil Pada tahap ini dilakukan evaluasi dari sudut QCDSMPEE, adapun evalasi tersebut antara lain: 4.7.1 Safety Pada evaluasi hasil perbaikan dari segi safety, perbaikan dengan menggunakan indikator pengisian oli transmisi (ATF) menjadikan teknisi

72 dapat mengukur jumlah liter oli tranmisi (ATF) yang dibutuhkan sesuai dengan repair manual setiap kendaraan sebelum oli tranmisi (ATF) tersebut dimasukkan ke dalam transmisi Inlet. Selain itu teknisi dapat melakukan pengecekan secara visual ketika jerigen oli transmisi (ATF) telah berkurang, sehingga teknisi dapat mengangkat selang plastik ketika oli transmisi (ATF) telah mencapai tepi dalam transmisi Inlet. Dengan demikian, ceceran oli transmisi (ATF) pada lantai stall dapat dihindarkan seperti ditunjukkan pada gambar berikut. Tabel 4.9 Perbandingan Kondisi Lantai Stall Sebelum dan Sesudah Perbaikan Sebelum perbaikan Sesudah perbaikan Kondisi lantai stall yang dipenuhi ceceran oli transmisi (ATF) Kondisi lantai stall yang bersih 4.7.2 Moral Evaluasi yang dilakukan setelah perbaikan dilakukan mendapatkan hasil sebagai berikut:

73 Tabel 4.10 Perbandingan Moral Teknisi Sebelum dan Sesudah Perbaikan Sebelum perbaikan Banyak teknisi yang mengeluh kondisi kerja yang tidak nyaman Setelah perbaikan Teknisi merasa nyaman dengan kondisi kerja 4.7.3 Ergonomi Hasil penelitian ini dilihat dari aspek ergonomi adalah menghilangkan kondisi kerja dalam posisi membungkuk. Adapun perbandingan kondisi sebelum dan sesudah perbaikan dapat dilihat pada tabel berikut: Tabel 4.11 Perbandingan Posisi Kerja Sebelum dan Sesudah Perbaikan Sebelum perbaikan Sesudah perbaikan Teknisi membungkuk selama pengisian oli transmisi (ATF) Teknisi tidak membungkuk ketika pengisian oli transmisi (ATF)

74 4.8 Standarisasi dan Tindak Lanjut 4.8.1 Standarisasi Pada tahap standarisasi atas hasil perbaikan yang telah dilakukan, yakni pembuatan alat bantu penggantian ATF Inlet maka dibuatlah Service Operational Procedures (SOP) penggunaan alat tersebut. Adapun SOP penggunaan SST ATF Inlet adalah sebagai berikut:

75 Tabel 4.12 SOP Penggunaan SST ATF Inlet STANDARD OPERATIONAL PROCEDURE (SOP) PT TOYOTA-ASTRA MOTOR TECHNICAL SERVICE DIVISION TITLE / PROCESS : Penggunaan SST ATF INLET DEPARTMENT : Workshop P. I. C : AREA : Sudirman SOP NO. : S O P W S S D M G R 0 1 3 DATE : 1 0 0 0 9 1 W/S Head Sec Head SHE Prepared S I G N E D Darma B Agoes S Jamal Krisjianto NO PROCEDURE DURATION ILUSTRATION REMARK 1 AMBIL SST ATF INLET DARI TEMPATNYA DAN CEK BAHWA KERAN ATF INLET PADA POSISI TERTUTUP Min Sec 1 Pilihlah SST ATF Inlet sesuai dengan jenisnya T IV atau DEXTRON II 2 TUANGKAN ATF KEDALAM SST ATF INLET SESUAI DENGAN TIPE ATF DEXTRON II ATAU T IV DAN JUMLAH YANG SUDAH DITENTUKAN LIST YANG TERDAPAT DI SISI JERIGEN ATF INLET 2 Gunakan corong saat penuangan dari galon ATF ke SST ATF Inlet 3 GANTUNGKAN PENGAIT SST ATF INLET DI LOCK KAP MESIN DAN POSISINYA MIRING KE ARAH SELANG 3 4 Pastikan pengait karabiner mengunci sempurna 4 TARIK DEEP STICK AUTOMATIC TRANSMISSION DAN TARUH DI CADDY KEMUDIAN MASUKAN SELANG SST ATF INLET KEDALAM PIPA INLET AUTOMATIC TRANSMISSION 5 PUTAR KERAN SST ATF INLET PADA POSISI MEMBUKA AGAR ATF DAPAT MENGALIR MENUJU AUTOMATIC TRANSMISSION 5 6 Masukkan selang minimal 5 cm ke dalam inlet automatic transmission 6 TUNGGU BEBERAPA SAAT HINGGA ATF YANG BERADA DI DALAM SELANG SST ATF INLET HABIS 7 PUTAR KERAN KE POSISI MENUTUP, BUKA PENGAIT SST DI LOCK KAP MESIN DAN RAPIKAN SELANG SST ATF INLET 7 8 8 KEMBALIKAN SST ATF INLET KE TEMPAT SEMULA Gunakanlah tongkat penahan e/g Hood jika penahan e/g Hood sudah lemah. REVISE No No Working Tools Document SAFETY TOOLS APPROVED NO DATE ITEM CHECKED PREPARED SST Pengisian ATF Sarung Tangan 1 Safety Shoes 2 3 4 5

76 4.8.2 Tindak Lanjut Pada langkah tindak lanjut, hal yang dilakukan adalah membuat tema berikutnya sebagai wujud kesinambungan dari Circle ini. Adapun tema yang diangkat berikutnya adalah menurunkan temperatur workshop dengan jadwal kegiatan QCC pada periode Juli November 2010 adalah sebagai berikut: Tabel 4.13 Jadwal Kegiatan Tema Berikutnya No. Aktifitas 1 Menetukan tema 2 Menetapakan target 3 Analisa kondisi yang ada 4 Analisa sebab akibat 5 Rencana penanggulangan 6 Pelaksanaan penanggulangan 7 Evaluasi hasil 8 Standarisasi dan tindak lanjut Juli Agustus September Oktober November 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4