BAB II LANDASAN TEORI

dokumen-dokumen yang mirip
BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

Implementasi QRCode pada Resep Dokter

Sistem Pengamanan Keaslian Ijasah Menggunakan QR-Code dan Algoritma Base64

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB II LANDASAN TEORI

REALISASI APLIKASI PEMINDAI DAN PEMBANGKIT QUICK RESPONSE CODE (QR CODE) PADA SMARTPHONE ANDROID ABSTRAK

BAB III LANDASAN TEORI

PERANCANGAN APLIKASI QR CODE GENERATOR DAN QR CODE READER MENGGUNAKAN METODE STROKE HISTOGRAM

BAB I PERSYARATAN PRODUK

SE (QR) CODE. Universitas Sumatera Utara

Pengertian Data datum

PENGGUNAAN BARCODE UNTUK SISTEM OTOMASI PERPUSTAKAAN

Nama : Pandapotan Harahap Prodi : FISIKA NIM :

DCH1B3 Konfigurasi Perangkat Keras Komputer

MODUL 2 SISTEM PENGKODEAN BILANGAN

MENGENAL DAN MEMPELAJARI BARCODE (Bagian I)

Representasi Bilangan dan Operasi Aritmatika

BAB II SISTEM BILANGAN DAN KODE BILANGAN

Brigida Arie Minartiningtyas, M.Kom

BAB 1 Persyaratan Produk

Representasi Bilangan Digital (Bagian 2)

Kode Sumber dan Kode Kanal

LEBIH DEKAT DENGAN BARCODE

ANALISIS METODE MASKING-FILTERING DALAM PENYISIPAN DATA TEKS

Type Data terdiri dari : - Data Tunggal : Integer, Real, Boolean dan Karakter. - Data Majemuk : String

UNIVERSITAS PGRI SEMARANG

PENGANTAR KOMPUTER & SOFTWARE I REPRESENTASI DATA

Deteksi dan Koreksi Error

PENGANTAR KOMPUTER & SOFTWARE I REPRESENTASI DATA

Representasi Bilangan dan Operasi Aritmatika

MATERI 2 SISTEM BILANGAN DAN REPRESENTASI DATA

BAB II ARITMATIKA DAN PENGKODEAN

1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

PENGKODEAN DATA. Komunikasi Data

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

IV. RANCANG BANGUN SISTEM. Perangkat lunak bantu yang dibuat adalah perangkat lunak yang digunakan untuk

APLIKASI QRSCANNER DAN QR CODE GENERATOR

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

Fitur Matriks Populasi Piksel Untuk Membedakan Frame-frame Dalam Deteksi Gerakan

TEKNIK DIGITAL KODE BILANGAN

KOMPETENSI DASAR : MATERI POKOK : Sistem Bilangan URAIAN MATERI 1. Representasi Data

DETEKSI DAN KOREKSI MULTI BIT ERROR DENGAN PARTITION HAMMING CODE

BAB II DASAR TEORI. 7. Menuliskan kode karakter dimulai dari level paling atas sampai level paling bawah.

BAB 1 PENDAHULUAN. dengan proses pengolahan citra digital (digital image processing), dimana data berupa

Deteksi dan Koreksi Error

Bilangan Desimal bilangan yang memiliki basis 10. Bilangan tersebut adalah 0, 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, dan 9 Bilangan Biner bilanganyang memilikibasis

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB II TEKNIK PENGKODEAN

SISTEM SANDI (KODE) Suatu rangkaian pengubah pesan bermakna (misal desimal) menjadi sandi tertentu (misal biner) disebut enkoder (penyandi).

KEAMANAN LOGIN WEB MENGGUNAKAN METODE 3DES BERBASIS TEKNOLOGI QUICK RESPONSE CODE

PENGANTAR KOMPUTER DAN TEKNOLOGI INFORMASI 1A

Teknik Pengkodean (Encoding) Dosen : I Dewa Made Bayu Atmaja Darmawan

Sifat Dan Karakteristik Kode Reed Solomon Beserta Aplikasinya Pada Steganography

SISTEM PENGENALAN KARAKTER DENGAN JARINGAN SYARAF TIRUAN ALGORITMA PERCEPTRON

TI [2 SKS] OTOMASI INDUSTRI MINGGU KE-4 LOGIKA OTOMASI. disusun oleh: Mokh. Suef Yudha Prasetyawan Maria Anityasari. Jurusan Teknik Industri 1

BAB 3 ANALISIS DAN PERANCANGAN SISTEM PROGRAM APLIKASI HANDS RECOGNIZER

PENERAPAN METODE MOST SIGNIFICANT BIT UNTUK PENYISIPAN PESAN TEKS PADA CITRA DIGITAL

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

REPRESENTASI DATA DATA REPRESENTATION

BAB 2 STANDARD H.264/MPEG-4 DAN ALGORITMA CABAC

BAB 1 PENDAHULUAN. Dewasa ini, lahan parkir menjadi kebutuhan utama pengguna kendaraan,

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

DAFTAR ISI. DAFTAR ISI... vii. DAFTAR GAMBAR... x. DAFTAR TABEL... xii I. PENDAHULUAN Latar Belakang Rumusan Masalah...

MODUL 1 SISTEM BILANGAN

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

PEDOMAN PENGGUNAAN SIMULATOR PENYANDIAN DAN PENGAWASANDIAN SISTEM KOMUNIKASI BERBASIS PERANGKAT LUNAK VISUAL C#

PROGRAM APLIKASI KRIPTOGRAFI PENYANDIAN ONE TIME PAD MENGGUNAKAN SANDI VIGENERE

2. Dasar dari Komputer, Sistem Bilangan, dan Gerbang logika 2.1. Data Analog Digital

MODUL 3 PRAKTIKUM PEMROGRAMAN VISUAL VARIABEL, TIPE DATA, DAN OPERATOR PADA VB.NET

BAB III ANALISIS DAN DESAIN SISTEM

Encoding dan Decoding Kode BCH (Bose Chaudhuri Hocquenghem) Untuk Transmisi Data

BAB II LANDASAN TEORI

Deteksi dan Koreksi Error

Sandi Blok. Risanuri Hidayat Jurusan Teknik Elektro dan Teknologi Informasi FT UGM

2.1 Desimal. Contoh: Bilangan 357.


SISTEM BILANGAN, OPERASI ARITMATIKA DAN PENGKODEAN

MINGGU VI DATA KOMPUTER

BAB I PENDAHULUAN. sebagian besar dalam format digital dan yang dapat diakses dengan komputer.

SIMULASI LOW DENSITY PARITY CHECK (LDPC) DENGAN STANDAR DVB-T2. Yusuf Kurniawan 1 Idham Hafizh 2. Abstrak

BAB II ANALISIS DAN PERANCANGAN. Pengertian dari Java adalah bahasa pemrograman. serbaguna. Java dapat digunakan untuk membuat suatu program

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

REALISASI ERROR-CORRECTING BCH CODE MENGGUNAKAN PERANGKAT ENKODER BERBASIS ATMEGA8535 DAN DEKODER MENGGUNAKAN PROGRAM DELPHI

BAB III METODE PENELITIAN

Yudha Yudhanto, S.Kom

Teknik Konversi Berbagai Jenis Arsip ke Dalam bentuk Teks Terenkripsi

Sistem Digital. Sistem Angka dan konversinya

BAB 2 LANDASAN TEORI

DATA KOMPUTASI & SISTEM BILANGAN

Tugas Pengantar Sistem Operasi (PSO) How It Works

Struktur Program. Rinta Kridalukmana

Struktur dan Organisasi Data 2 STRUKTUR DATA

Representasi Bilangan dan Operasi Aritmatika

WATERMARKING DENGAN QRCODE DIGUNAKAN UNTUK VERIFIKASI PADA WEBSITE

TIPE DATA PADA JAVA. Pertemuan (K-04/L-04)

Dasar Komputer & Pemrograman 2A

Transkripsi:

BAB II LANDASAN TEORI QR code adalah symbol matriks dua dimensi yang terdiri dari sebuah untaian kotak persegi yang disusun dalam sebuah pola persegiyang lebih besar. Kotak persegi ini kemudian disebut sebagai modul. Luasnya pola persegi ini akan menentukan versi dari QR Code(Iso/Iec 18004, 2000) Pada gambar 2.1 di bawah ini didalam QR Code terdiri kotak persegi yang besar kemudian terdapat bagian kotak persegi yang kecil dan terdapat struktur pola dalam penyimpanan data terkandung dalam QR Code tersebut (Iso/Iec 18004, 2000). Gambar 2.1 Sebuah QR Code Selain QR, ada beberapa jenis kode satu dimensi (kode linear) maupun kode dua dimensi (kode matriks). Sebagai perbandingan berikut ini penulis deskripsikan beberapa kode yang lazim di gunakan. 6

7 Tabel 2.1 Kode Satu Dimensi Nama Bentuk Data Code-128 Seluruh karakter ASCII [0..127] Code-11 Karakter[-]dan[0..9] Code-39full Seluruh karakter ASCII ASCII [0..127] Code-93 [0..9A..Z -.$/+%] [spasi] Flattermarken MSI Numerik[0..9] Numerik[0..9] Pharmacode One-Track Pharmacode Two-Track Telepen Alpha Numerik [0..9]dan data generic Numerik [0..9]dan data generic Seluruh karakter ASCII [0..127] Pada tabel 2.1 di atas merupakan perbandingan kode satu dimensi yang dikenal dengan sebutkanbarcode.kode satu dimensi yang terdapat pada sistem barcode memiliki kateristik akan masing-masing yaitu: A. Code 128 adalah bacode dengan kerapatan tinggi, dapat mengkodekan keseluruhan simbol ASCII (128 karakter) dalam luasan yang paling minim dibandingkan dengan barcode jenis lain, hal ini disebabkan karena code 128 menggunakan 4 ketebalan elemen (bar atau spasi) yangberbeda (jenis

8 yang lain kebanyakan menggunakan 2 ketebalan elemen yang berbeda). Setiapkarakter pada code 128 dikodekan oleh 3 bar dan 3 spasi (atau 6 elemen) dengan ketebalanmasing-masing elemen 1 sampai 4 kali ketebalan minimum (module), jika di hitung dengan satuan module maka tiap karakter code 128 terdiri dari 11 module kecuali untuk stop characteryang terdiri dari 11 module kecuali untuk stop character yang terdiri dari 4 bar 3 spasi(13 module). B. Code 39 dapat menyandikan karakter alphanumeric yaitu angka desimal dan huruf besar serta tambahan karakter special -. * $ / % +. Satu karakter dalam Code 39 terdiri dari 9 elemen yaitu 5 bar (garis vertikal hitam) dan 4 spasi (garis vertikal putih) yang disusun bergantian antara bar dan spasi. Sebayak 3 dari 9 elemen tersebut memiliki ketebalan lebih tebal dari yang lainnya oleh karenanya kode ini biasa disebut juga code 3 of 9, 3 elemen yang lebih tebal tersebut terdiri dari 2 bar dan 1 spasi. Elemen yang lebar mewakili digit biner 1 dan elemen yang sempit mewakili digit biner 0. C. Code 11 ITF barcode atau yang sering disebut dengan kode 11 hanya dapat mengkodekan angka saja sering digunakan pada produk-produk yang memiliki kemasan dengan permukaan yang tidak rata (misalnya corugated box), hal ini disebabkan struktur dan cara pengkodean ITF yang unik. Setiap karakter pada ITF barcode disandikan dengan 5 elemen yaitu 2 elemen tebal dan 3 elemen sempit, dimana elemen tebal mewakili digit biner 1 sedangkan elemen tipis mewakili digit biner 0 dengan pe rbandingan ketebalan antara elemen tebal dengan elemen tipis 2:1 s/d 3:1.

9 D. Code 93 merupakanpengembangan atau gabungan fungsi dari Simbologi Barcode CODE 39 dan Extended 39. Simbologi jenis ini ( termasuk Extended CODE 39 dan CODE 39 ) bukan jenis Barcode yang sering digunakan, Jadi apabila anda ingin menggunakan simbologi ini, scanner barcode anda mungkin harus di setting terlebih dahulu. E. MSI dikembangkan oleh perusahaan ini, kode didasarkan pada bahasa asli plessey. Msi. Juga dikenal sebagai, modifikasi plessey tanda yang digunakan terutama untuk menguasai persediaan di rak yang terusmenerus msi merupakan non-self-checking simbologi. Sedangkan panjang dari sebuah bar yang dapat msi lebih panjang, sebuah alat tertentu yang biasanya fixed-length aplikasi. Msi, dan lainnya berdasarkan symbologies pulse-width modulasi, tidak memberikan manfaat yang signifikan atas symbologies yang lebih modern.sementara itu bukan ide yang buruk untuk mendukung msi untuk membangun dan menyediakan kode bar, aplikasi baru yang paling tidak memilih mereka sebagai pilihan simbologi msi. F. One-track pharmacode menggunakan sempit bar dan lebar bar untuk mengkodekan yang kode biner dari sebuah integer dari 3 sampai 131070.Integer terbesar 131070 mengambil 16 lebar bar untuk mewakili. Onetrack pharmacode memiliki standard version dan sebuah miniature versi. Aplikasi untuk ruang terbatas, disarankan untuk menggunakan miniatur one-track pharmacode. G. Two-track pharmacode menggunakan dua setengah bar dan sebuah bar untuk mengkodekan yang penuh kode biner dari integer antara 4 untuk

10 64570080.Ketika setengah bar tinggi adalah 4mm, penuh bar tinggi adalah 8mm.Ketika setengah bar tinggi adalah 6mm, penuh bar tinggi harus 12mm. H. Flattermarken adalah barcode yang hanya dapat memapung numerik saja dan huruf tidak dapat dimasukan sebagai data di dalam flattermarken code tersebut. I. Telepen alpha merupakan barcode yang dapat menampung akan seluruh karakter yang terdapat dalam ASCII yang terkandung di dalamnya. 2.1 Kode Dua Dimensi (Kode Matriks) Biasanya di gunakan dengan tujuan penyimpanan datayang lebih besar hingga ratusan byte data. Kode dua dimensi yang lazim digunakan adalah datamatrix, PDF 417danQR Code.Berikut ini adalah deskripsi untuk beberapa dari kode dua dimensi(denso Wave, 2013). Tabel 2.2 Kode Dua Dimensi Nama Bentuk Data DataMatrix Alfanumerik,karakter Latin-1 dandn bilanganbiner Aztec Alfanumerik (ISO8859-1)dan bilanganbiner

11 Maxicode Alfanumerik, khususnyaupspdata Pdf417 QR Code Alfanumerik,ASCII, ASCIIext, bilangan biner Alfanumerik, latin, kanji,bilanganbiner. Dari tabel 2.2 di atas maka dapat disimpulkan perbedaan dari masing-masing kode dua dimensi terdapat pada tabel 2.3. Tabel 2.3 Perbandingan Kode Dua Dimensi Bar Code Industry Reader/Scanner Code 3 of 9 Mfg Laser, CCD, Wand, Imager UCC/EAN 128 Mfg, Retail Laser, CCD, Wand, Imager Code 128 Mfg, Retail Laser, CCD, Wand, Imager UPC Retail Laser, CCD, Wand, Imager EAN European Laser, CCD, Wand, Imager Interleave 2 of 5 Mfg, Retail Laser, CCD, Wand, Imager PDF 417 Mfg Modified Laser, CCD, Imager Data Matrix 2D Mfg Imager Bumpy Bar Code 3D Mfg Special Reader Technology Kekuatan Kelemahan Jarak

12 Wand Low cost Tethered, limited to 1-D bar codes Contact Laser Scanning range Cost, most limited to 1-D bar codes, some PDF 417 Short to long CCD Cost, reliability Scanning range, 1-D or PDF 417 Short Imaging Reads 2-D bar codes, some have ability to capture images Cost Short 2.2 Perbandingan Kode Satu Dimensi dan Kode Dua Dimensi Perbandingan antara kode satu dimensi dan dua dimensi terdapat adalah sebagai berikut: Tabel 2.4 Perbandingan Kode Satu Dimensi dan Dua Dimensi Jenis Kode Tingkat Kerapatan Kapasitas Informasi JenisInforma si yang dapat ditanam Rendah Kecil HurufdanAngka Tinggi Besar Url, sms,nomor telepon,alamat email, hurufjepang, dsb. Sistem perbandingan pada tabel 2.4 merupakan perbandingan dengan sistem code dengan menggunakan sistem satu dimensi dan sistem dua dimensi dimana code

13 dengan satu dimensi memiliki tingkat kerapatan rendah kapasitas informasi yang kecil dan terbatas dan informasi yang dapat di tanam hanya bersifat terbatas pada huruf dan angka. QR Code memiliki kelebihan tingkat kerapatan tinggi, kapasitas informasi yang dapay di masukan besar dan informasi yang di tanamkan terdiri dari url,sms,alamat email, huruf jepang dsb. Perbandingan sesama kode dua dimensi antara QR Code dengan kode dua dimensi yang umum di gunakan yaitu Pdf 147 dan datamatrix, seperti tabel 2.4 dan 2.5. Bentuk Tabel 2.5 Perbandingan QR Code dengan Data Matrix Pengembang QR Code Numerik 708 9 Alfanumerik 429 6 Bine r Ka nji Kelebihan Denso(Jepang) 295 3 1 8 1 7 Kapasitas besar, Ukuran cetakkecil,scan cepat PDF 147 SymbolTechnology (AmerikaSerikat) 2710 1850 1018 554 Kapasitas besar Pada tabel 2.4 di atas maka Sistem barcode yang paling sering digunakan saat ini adalah QR Code, PDF 147 dan Data Matrix.Pada tabel di atas maka terlihat

14 perbandingan dari segi numerik, alfanumerik, biner dan kanji maka QR Codememiliki kelebihan dibandingkan dengan PDF 147 dan maka dari segi implementasi untuk promosi akan perusahaan banyak menggunakan sistem QR Code dibandingkan dengan PDF 147, Selain itu sistem QR Code banyak di support untuk sistem android yang berkembang saat ini. Sistem barcode yang paling sering digunakan saat ini adalah QR Code, PDF 147 dan Data Matrix.Pada tabel di atas maka terlihat perbandingan dari segi numerik, alfanumerik, biner dan kanji maka QR Code memiliki kelebihan dibandingkan dengan PDF 147 dan maka dari segi implementasi untuk promosi akan perusahaan banyak menggunakan sistem QR Code dibandingkan dengan PDF 147. 2.3 Struktur QR Code QR Code memiliki bagian-bagian yang akan penulis paparkan pada gambar 2.2("What is a QR Code," 2015) di bawah ini. Gambar 2.2 Struktur QR Code Sebuah QR Code terdiri dari beberapa bagian yaitu:

15 Informasi Versi-informasi mengenai Kode QR sendiri, versi dan ukuran. Informasi Format-informasi kesalahan mengkoreksi pola tingkat dan masker (dijelaskan kemudian) di simpan. Data dan Error Correction Keys-ini adalah dimana data yang di kodekan di simpan, pola koreksi kesalahan juga tertanam ke dalam data Posisi atau di gunakan membantu posisi kode pada saat decoding Penyelaras pola-digunakan untuk mencari sudut yang tepat saat decoding. Pola waktu-digunakan untuk membantu menentukan simbol kordinat dalam aplikasi decoder. QR Code dikembangkan sebenarnya adalah untuk mengambil kelebihan dari Pdf 147, kepadatan data yang tinggi dari Datamatrix, dan kecepatan membaca Maxicode.Simbol dua dimensi umumnya berisi lebih banyak data jika di bandingkan dengan simbol linear, kurang lebih 100 lebih banyak. 2.4 Kateristik QR Code Kateristik dari kode dua dimensi QR Code adalah dapat menampung jumlah data yang besar. Secara teori sebanyak 7089 karakter numerik maksimum data dapat tersimpan di dalamnya, Kerapatan tinggi(100 kali lebih tinggi dari kode simbol linear) dan pembacaan kode dengan cepat. QR Code juga memiliki kelebihan lebih baik dalam hal unjuk kerja dan fungsi. QR Code memiliki finding pattern untuk memberitahukan letak simbol matriks dua dimensi QR Code yang disusun pada ketiga sudutnya.hal inilah yang membuat QR Code dapat dibaca dari segala arah atau 360 derajat. Rasio antara modul hitam dan modul putih pada finding pattern-nya selalu 1:1:3:1:1.

16 Seperti pada gambar 2.3 ketika dilihat dari segala arah.dengan ratio ini, finding pattern dapat mendeteksi keberadaan citra yang ditangkap sensor. Sebagai tambahan, dengan adanya ketiga finding pattern maka pengkodean akan lebih cepat dua puluh kali dibandingkan kode matriks lain. Gambar 2.3 Salah satu finding pattern QR Code a) Pembacaan Data dari segala arah(360 ) Pembacaan kode matriks dengan menggunakan sensor kamera CCD(Charged Coupled Device) dimana data akan memindai baris per baris dari citra yang ditangkap dan kemudian disimpan dalam memori. Dengan menggunakan suatu perangkat lunak tertentu, detail citra akan dianalisa, finding pattern akan dikenali dan posisi symbol dideteksi. Setelah itu proses pembacaan kode akan diproses. Sedangkan pada simbol linier ataupun kode dua dimensi dimensi lain akan memakan lebih lama waktu untuk mendeteksi letak atau sudut ataupun besar dari simbol tersebut. b) Ketahanan terhadap Penyimpangan simbol Simbol matriks dua dimensi akan rentan terhadap penyimpangan bentuk ketika di tempatkan pada permukaan yang tidak rata (bergelombang)

17 sehingga sensor pembaca menjadi miring karena sudut antara sensor CCD dan simbol matriks 2 dimensi ini telah berubah. Untuk memperbaiki penyimpangan ini, QR Code memiliki perata pola (aligment pattern) yang menyusun dengan jarak teratur dalam suatu daerah.aligment patternakan memperhitungkan titik pusat dengan daerah terluar dari simbol matiks, sehingga dengan cara ini penyimpangan linear maupun non linear masih terbaca. Gambar 2.4 Jenis Penyimpangan pada QRCode Pada gambar 2.4 terjadi penyimpangan akan pada QR Code sehingga dalam pemrosesan dalam pembacaan data dalam QR Code akan mengalami sedikit masalah dalam pembacaan data yang terdapat dalam sistem QR Code yang ada(soon, Tan Jin, 2008). c) Fungsi Pemulihan Data(Ketahanan terhadap kotoran maupun kerusakan) Pada gambar 2.5 dapat dilihat pada sistem QR Code mempunyai empat tingkatan koreksi error (7%, 15%,, 25%, dan 30%). Dalam mengendalikan kerusakan yang di akibatkan kotor maupun rusak, QR Code memanfaatkan algoritma Reed Salomon yang tahan terhadap kerusakan tingkat tinggi. Jadi, ketika QR Codeakan di gunakan dalam lingkungan yang rawan kerusakan akibat lingkungan, disarankan menggunakan koreksi error 3%.

18 Gambar 2.5 Kerusakan pada QR CODE d) Kemampuan encode karakter kanji dan kana Jepang QR Code berkembang pesat di negara Jepang. Hal ini menyebabkan perkembangan QR Code untuk dapat menerima input data berupa karakter yang non alfabetis. Ketika pembuatan QR Code dengan inputan berupa huruf Jepang, maka data tersebut akan diubah kedalam bentuk biner 16 bit (2 byte) untuk karakter tunggal sedangkan untuk gabungan karakter akan di encode dalam biner 13 bit. Hal ini memberikan keuntungan lain dimana proses encode huruf Jepang akan meningkatkan efisien 20 % lebih banyak dari kode simbol dua dimensi lain. Dimana dengan volume data yang sama akan dapat dibuat pada area pencetakan yang lebih kecil. e) Fungsi Linking pada symbol QR Code memiliki kemampuan dapat dipecah menjadi beberapa bagian dengan maksimum pembagian adalah 16 bagian menurut Tan Jin Soon(2008). Dengan fungsi Linking ini maka QR Code dicetak pada daerah yang tidak terlalu luas untuk sebuah QR Code tunggal. f) Proses Masking Proses Masking pada QR Code berperan sangat penting dalam hal penyusunan modul hitam dan modul putih agar memiliki jumlah yang

19 seimbang. Untuk memungkinkan hal ini di gunakan operasi XOR yang diaplikasikan diantara area data dan daerah mask pattern. Ada sebanyak delapan mask pattern dalam QR Code yang kesemuanya itu dalam bentuk biner tiga bit. 2.5 Spesifikasi Kode Matriks Dua Dimensi QR Code Kapasitas data dalam QR Code cukup banyak, tetapi terkadang hasil cetakan dari QR Code mengalami kerusakan yang di akibatkan atau kotor. Data di dalamnya dapat di pulihkan dalam kisaran tertentu dengan koreksi kesalahan yang bahkan jika sebagian simbol hilang. Pada tabel 2.7 di bawah ini, terdapat empat tingkat koreksi kesalahan dan QR Code dapat memulihkan QR Code. Tabel 2.7 Spesifikasi QR Code Jenis Simbol Minimal 21 x 21 modul dan maksimal 177 x 177 Jenis Informasi Dan Kapasitas Koreksi Error modul dengan peningkatan 1 versi = 4 modul Numerik Alfanumerik Biner Huruf Kanji Level L Level M Level Q Level H Maksimum 7089 karakter Maksimum 4296 karakter Maksimum 2953 karakter Maksimum 1817 karakter Dapat mengembalikan data yang mengalami kerusakan 7% Dapat mengembalikan data yang mengalami kerusakan 15% Dapat mengembalikan data yang mengalami kerusakan 25% Dapat mengembalikan

20 data yang mengalami kerusakan 30% 2.6 Versi Matriks Dua Dimensi QR Code dan ukurannya Ada 40 jenis ukuran dari QR Code yang dinyatakan dengan versi 1, versi 2, hingga versi 40. Vesi 1 berukuran 21 x 21 modul, versi 2 berukuran 25 x 25 modul dan seterusnya dimana apabila versi meningkat satu maka jumlah modul akan meningkat sebanyak 4 x 4 modul. Gambar 2.6 QR Code versi 1 (kiri) dan versi 2 (kanan) Pada gambar 2.6 yang di atas merupakan perbandingan antara QR Code dengan adanya penambahan modul di dalamnya, setiap modul yang ditambahkan dalam QR Code maka dengan otomatis penambahan modul sebanyak 4 x 4 modul dalam peningkatan versi di dalam QR Code tersebut. Perbadingan yang terlihat apabila pada versi yang pertama QR Code terdiri dari 21 x 21 modul maka pada versi yang kedua dari QR Code adalah sebanyak 25 x 25 modul di dalamnya. Menurut (Iso/Iec 18004, 2000) maka terdapat perbedaan akan modul yang terdapat didalam QR Code apabila ada penambahan modul. Pembuatan dan pembacaan QR Code selain dapat mengunakan perangkat lunak juga dapat ditelaah secara manual, pada bagian ini akan dipapar mengenai

21 pembacaan dan pembuat QR Code secara manual dengan tujuan agar dapat dimengerti dan dapar memahami teori QR Code tersebut, sebelum masuk ke proses decoder dan encoder akan lebih baik memahami versi dalam QR Code, yang dapat dilihat digambar 2.7. Gambar 2.7 Versi QR Code Versi dalam QR Code berkisar antara versi 1 (21 x 21 modul) sampai versi 40 (177 x 177 modul).setiap versi dlam QR Code memiliki kapasitas data maksimum dengan jumlah data, jenis karakter, dan koreksi error masing-masing. 2.7 Model Inputan Data Pada sistem QR Code1 modul berarti 1 bit, data hasil dari bagian sebelumnya dikodekan dengan representasi biner dan mengalokasikan data ini dikodekan.model inputan data yang di kenali oleh QR Code ada beberapa macam. Diantaranya: a) Model ECI(Extended Channel Interpretation) Mode ini membolehkan kita untuk mengkodekan sekumpul karakter yang bukan termasuk karakter umum (alphabet), misalnya : Huruf Arab, Huruf Sirilik Serbia, Yunani, Ibrani.

22 b) Mode Numerik Mode numerik mengkodekan data decimal dari 0 sampai 9(ASCII : 30 hex 39 hex) dengan kepadatan pengkodean 3 karakter setiap 10 bit biner. c) Mode Alfanumerik Mode alfanumerik memiliki anggota berjumlah 45 karakter yaitu 10 digit angka dari 0 sampai 9 (ASCII : 30 hex 39 hex), karaker a sampai z (ASCII : 41 hex 5A hex) dan 9 simbol : spasi, $, %, *, +, -,., /, :) dengan pengkodean untuk ASCII : 20 hex 24 hex 2 A hex, 2 B hex, 2 D hex,2 E hex, 2 F hex dan 3 A hex. Kepadatan pengkodean adalah 2 karakter untuk setiap 11 bit biner. d) Mode 8 bit Mode ini menangani 8 bit Bahasa Latin dan karaakter Kana Jepang dan telah distandardisasi dalam bentuk JIS (Japanese Industrial Standarts) X 0201. Dalam ASCII mulai 00hex FF hex. Dalam mode ini, kepadatan data adalah 8 bit setiapkarakter. e) Mode Huruf Kanji Mode ini menangani karakter Kanji Jepang berdasarkan JIS X 0201. Menurut standart ini mode kepadatannya adalah setiap 2 byte karakter kanji di tampung dalam 13 bit biner 2.8 Fungsi Koreksi Error Reed-Solomoncode adalah kode siklik non biner yang siklik non biner yang terbuat dari 2ᵐ bit biner dimana m lebih besar dari 2 (Shongwe, Vinck, Ferreira,

23 2013). Untuk sebuah codeword panjang kode adalah 8 bit maka Reed-Solomon code: 2 8 1= 255. Untuk mengkoreksi kesalahan pada codeword maka di tambahkan Reed Solomon code agar dapat menahan dari kerusakan tanpa harus kehilangan data. Kemampuan koreksi errornya bergantung pada jumlah data yang dikodekan. Reed Solomon code terdiri dari atas dua bagian, yaitu: bagian data dan bagian parity atau penyeimbang. Reed Solomon code dinyatakan dengan kode (n,k) atau RS (n,k) dimana n adalah maksimum codeword yaitu 255. Sedangkan k adalah jumlah codeword data.gambar 2.8 adalah penjelasan mengenai bagian dari Reed Solomon code. Gambar 2.8 Struktur Reed Solomon code 2t atau simbol parity adalah codeword yang digunakan untuk koreksi error dengan nilai maksimum adalah t. Sebagai contoh, RS(255,223) artinya adalah terdapat total 255 codeword yang terdiri atas 223codeword data dan 32 codeword parity. N = 255, k = 223 2t = (255-223) -> t = 16 Sehingga error yang dapat diperbaiki adalah sebanyak 16 codeword. Sebagai informasi 1 codeword adalah 8 bit sehingga total koreksi yang dapat diperbaiki adalah 16 x 8 bit = 128 bit.

24 Ketika panjang Reed Solomon code kurang dari 2^8 1. Sewaktu proses pembacaan kode, padding 0 akan dibuang, hal ini disebut dengan penyingkatan Reed Solomon code. Sebagai contoh : misalkan terdapat 100 codeword data untuk mengkoreksi 8 buah error, sehingga akan di butuhkan 16 codeword parity. Total seluruh codeword adalah 116 yang mana kurang dari 2^8 1 sehingga harus ditambahkan 139 codeword padding 0. 2.9 Operasi Biner Operasi biner adalah proses menghubungkan atau memetakan sebuah himpunan kehinpunan itu sendiri menggunakan proses biner. Operator biner yang dimaksud berupa penjumlahan (+), pengurangan (-), perkalian (x) atau pembagian (/). Proses pengkodean atau enkoding pada QR Code menggunakan dua operasi biner didalamnya yaitu: 2.9.1 Operasi Pengubahan Biner ke Desimal dan Sebaliknya Biner adalah bilangan yang hanya terdiri dari angka 0 dan angka 1. Sedangkan bilangan decimal adalah bilangan yang menggunakan bilangan 0 sampai dengan 9 sebagai basisnya misalkan 01011000 akan di ubah menjadi decimal maka langkah-langkahnya adalah sebagai berikut: 0 x 2 7 = 0 1 x 2 6 = 64 0 x 2 5 = 0

25 1 x 2 4 = 16 1 x 2 3 = 8 0 x 2 2 = 0 0 x 2 1 = 0 0 x 2 0 = 0 ============ 0 + 64 + 0 + 16 + 8 + 0 + 0 + 0 = 88 (desimal) Untuk mengubah bilangan desimal menjadi biner maka dilakukan pembagian oleh 2 dengan memperhatikan sisa hasil baginya.sisa hasil bagi disusun dari bawah keatas. Misalkan 39 akan diubah kedalam bentuk biner maka langkah langkahnya adalah sebagai berikut : 39 : 2 = 19 sisa 1 19 : 2 = 9 sisa 1 9 : 2 = 4 sisa 1 4 : 2 = 2 sisa 0

26 2 : 2 = 1 sisa 0 1 juga merupakan sisa. Jadi bentuk biner dari 39 adalah 100111 2.9.2 Operasi XOR XOR adalah kependekan dari exclusive Or. operasi ini akan menghasilkan true atau 1 Apabila kedua bit memiliki nilai yang berbeda. XOR adalah salah satu operasi logika pada bilangan biner. Operasi ini memiliki nilai hasil 1 apabila dua inputannya berbeda dan 0 apabila dua inputannya bernilai sama. Berikut ini adalah tabel dari operasi XOR. Pada tabel 2.8 merupakan hasil dari proses dengan menggunakan proses aritmatika XOR berupa inputan 1 dan 0 kemudian menghasilkan outputan seperti terdapat pada tabel 2.8. Tabel 2.8 Tabel Kebenaran Operasi Logika XOR input1 input2 hasil 0 0 0 0 1 1 1 0 1 1 1 0 2.10 Sekuriti Sekuriti merupakan faktor yang sangat penting dan tidak dapat diabaikan dalam menyembunyikan source code suatu program atau aplikasi dan mengirimkan data pada jaringan internet. Serangan-serangan yang dilakukan untuk membongkar, mengacak, melihat dan bahkan mencuri isi dari suatu source code mempunyai banyak bentuk misalnya mendekompilasifile, memodifikasi dan lainnya, jika didalam suatu

27 sistem terdapat vunerbilitas yang dapat dieksploitasi, maka akan menyebabkan sistem sekuriti tersebut mudah diserang oleh berbagai ancaman. Ancaman terhadap jaringan internet dapat disebabkan oleh manusia, bencana alam, kesalahan manusia, dan kerusakan perangkat keras atau perangkat lunak. Analisa malware pada QR Code dengan menggunakan Anti Reverse Engineering merupakan salah satu solusi yang bisa digunakan saat ini.anti Reverse Engineering digunakan pada sistem keamanan untuk mencari informasi yang tidak diketahui atau disembunyikan.informasi yang didapat merupakan celah dari sistem pertahanan.sedangkan Anti Reverse Engineering dalam analisis malware terhadap QR Code berguna untuk ekstraksi data yang memuat informasi yang ada didalam malware.implementasi Anti Reverse Engineering dalam analisa malware pada QR Code menjadi masalah tersendiri.hal ini di karenakan masih sedikitnya sumber daya manusia yang bergerak pada bidang teknologi informasi yang mengetahui tehnik Anti Reverse Engineering pada malware terhadap QR Code. Malware yang pertama kali dikembangkan adalah dari jenis worm dan virus. Malware dari jenis worm dan virus menyebar sangat cepat melalui media penyimpanan dan local area network. Malware pada saat diciptakan hanya bertujuan sebagai tindakan jahil dari seseorang yang memiliki kemampuan program khusus untuk menjahili teman atau korban. Namun seiring dengan perkembangan teknologi dan jaringan internet malware menjadi sangat berbahaya. 2.11 Anti Reverse Engineering Anti reverse engineering adalah sebuah tehnik untuk mencegah dilakukannya

28 reverse engineering terhadap setiap serangan yang dilakukan terhadap malware yang ada(eilam, Eldad, 2007). Hal ini dilakukan tentunya untuk berbagai kepentingan seperti untuk menjaga keamanan suatu program atau untuk menjaga keaslian dari sebuah program.contoh dari anti reverse engineering ini salah satunya adalah dengan menggunakan algoritma yang berbeda dari algoritma biasa (dibuat lebih rumit). Beberapa tujuan untuk melakukan anti reverse engineering dapat diklasifikasikan ke dalam beberapa klasifikasi: Masalah kualitas (quality issues), seperti penyederhanaan perangkat lunak yang rumit, meningkatkan kualitas perangkat lunak yang mengandung kesalahan, penghapusan efek samping dari perangkat lunak, dll. Masalah pengelolaan (management issues), seperti membuat standart pemrograman, memfasilitasi tehnik manajemen pemeliharaan perangkat lunak dengan lebih baik, dan lain sebagainya. Masalah teknis (technical issues), seperti memungkinkan perubahan dalam perangkat lunak, menemukan dan merekam desain sistem, menemukan dan merepresentasikan model bisnis yang ada dalam perangkat lunak, dll. Tujuan utama Anti Reverse Engineering adalah untuk menemukan fitur yang mendasari sistem, termasuk persyaratan, spesifikasi, desain dan implementasi. Dengan kata lain, anti reverse engineering itu ditunnjukan untuk memulihkan dan mencatat informasi tingkat tinggi tentang sistem, termasuk: Struktur sistem komponen dan antar hubungan mereka, seperti yang diungkapan oleh antarmuka; fungsionalitas operasi apa yang dilakukan pada komponen apa;

29 perilaku dinamis-sistem pemahaman tentang bagaimana input diubah menjadi output; Alasan - desain melibatkan pengambilan keputusan antara sejumlah alternatif pada setiap desain konstruksi modul, dokumentasi, test suite, dll. Gambar 2.9 Penyimpangan QR Code Pada sistem Anti Reverse Engineering berfungsi untuk mencegah akan QR Code yang di dalamnya atau dibelakang dari sistem utama QR Code tersebut akan link maupun data informasi yang tidak sesuai didapatkan dengan mengscan atau mengakses akan QR Code tersebut.pada gambar 2.9 di atas fungsi dari sistem anti reverse engineering merupakan gerbang pencegahaan apabila ada user pengguna mengakses akan QR Code maka sistem akan berfungsi link maupun sistem yang tidak berhubungan dengan sistem didalamnya maupun informasi yang tidak sesuai dengan informasi yang seharusnya didapatkan oleh customer atau pembeli dari akses akan QR Code. Sistem anti reverse engineering sangat efektif dalam pencegahan akan sistem QR Code yang ditanam akan malware maupun informasi yang tidak sesuai dengan informasi yang harus didapatkan oleh customer dan client yang membutuhkan informasi akan QR Code tersebut.

30 DAFTAR PUSTAKA Baysa, D., Low, R. M., & Stamp, M. (2013). Structural entropy and metamorphic malware. Journal in Computer Virology, 9(4), 179 192. http://doi.org/10.1007/s11416-013-0185-4 Chen, L., Tang, S., & Ma, X. (2013). Progressive algebraic soft-decision decoding of reed-solomon codes. IEEE Transactions on Communications, 61(2), 433 442. Denso Wave Incoporated.2013.Answers to your question about the QR Code. (Online) http:/www.qrcode.com/en/ (1 Maret 2015). Duranti, L., & Encidott-Popovsky, B. (2010). Digital Records forensics: A New science and academic program for forensic readiness. Journal of Digital Forensics, Security and Law, 5(2), 1-12. Eilam,Eldad,2007,Reverse,secret of Reverse Engineering, Indianapolis, Whiley Publishing. Thompson, N., & Lee, K. (2013). INFORMATION SECURITY CHALLENGE OF QR CODES, 8(2), 43 72. Pandya, K. H., & Galiyawala, H. J. (2250). A Survey on QR Codes: in context of Research and Application. International Journal of Emerging Technology and Advanced Engineering Website: Www.ijetae.com ISO Certified Journal, 9001(3), 258 262. Shiang-yen, T. a N., Foo, L. Y., & Idrus, R. (2010). Application of Quick Response ( QR ) Codes in Mobile Tagging System for Retrieving Information about Genetically Modified Food. Proceedings of the 9th WSEAS International Conference on Data Networks, Communications, Computers, DNCOCO, 114 118. Shongwe, T., Vinck, AJH., Ferreira, HC., (2013). Reducing the probability of sync-word false acquisition with reed-solomon codes, In Proceedings of IEEE Pacific Rim Conference on Communications, Computers and Signal Processing, Vancouver, Canada Aug. 27 29, pp. 159 164. Wang X. dan D. Ramsbrock, 2009, The Botnet Problem,J. R. Vacca, Computer and Information SecurityHandbook, Morgan Kaufman, Burlington.

31