Kuliah 8 KONVOLUSI DAN KORELASI

dokumen-dokumen yang mirip
KULIAH 9 FILTER DIGITAL

SISTEM PENGOLAHAN ISYARAT

TEKNIK PENGOLAHAN CITRA. Kuliah 4 Neighborhood Processing. Indah Susilawati, S.T., M.Eng.

TKE 3105 ISYARAT DAN SISTEM. Kuliah 5 Sistem LTI. Indah Susilawati, S.T., M.Eng.

TEKNIK PENGOLAHAN CITRA. Kuliah 5 Neighboorhood Processing. Indah Susilawati, S.T., M.Eng.

PRAKTIKUM ISYARAT DAN SISTEM TOPIK 2 SISTEM LINEAR TIME-INVARIANT (LTI)

TEKNIK PENGOLAHAN CITRA. Kuliah 8 Filtering in Frequency Domain. Indah Susilawati, S.T., M.Eng.

TEKNIK PENGOLAHAN CITRA. Kuliah 4 Pengolahan Titik (2) Indah Susilawati, S.T., M.Eng.

TEKNIK PENGOLAHAN CITRA. Kuliah 7 Transformasi Fourier. Indah Susilawati, S.T., M.Eng.

TEKNIK PENGOLAHAN CITRA. Kuliah 6 Restorasi Citra (Image Restoration) Indah Susilawati, S.T., M.Eng.

TEKNIK PENGOLAHAN CITRA. Kuliah 5 Edge Sharpening. Indah Susilawati, S.T., M.Eng.

TEKNIK PENGOLAHAN CITRA. Kuliah 2 Point Processing. Indah Susilawati, S.T., M.Eng.

TEKNIK PENGOLAHAN CITRA. Kuliah 9 Filtering in Frequency Domain. Indah Susilawati, S.T., M.Eng.

TEKNIK PENGOLAHAN CITRA. Kuliah 3 Pengolahan Titik (Point Processing) Indah Susilawati, S.T., M.Eng.

BAB IV PENGUJIAN DAN ANALISIS

SISTEM PENGOLAHAN ISYARAT. Kuliah 2 Sinyal Acak

BAB II LANDASAN TEORI

TEKNIK PENGOLAHAN CITRA. Kuliah 8 Transformasi Fourier. Indah Susilawati, S.T., M.Eng.

PENGENALAN KONSEP DASAR SINYAL S1 TEKNIK TELEKOMUNIKASI SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI TELEMATIKA TELKOM PURWOKERTO 2015

TEKNIK PENGOLAHAN CITRA. Kuliah 10 Mathematical Morphology. Indah Susilawati, S.T., M.Eng.

TEKNIK PENGOLAHAN CITRA. Kuliah 9 Removal of Periodic Noise. Indah Susilawati, S.T., M.Eng.

Bab Persamaan Beda dan Operasi Konvolusi

TEKNIK PENGOLAHAN CITRA. Kuliah 7 Restorasi Citra (Image Restoration) Indah Susilawati, S.T., M.Eng.

TKE 3105 ISYARAT DAN SISTEM. B a b 2 S i s t e m. Indah Susilawati, S.T., M.Eng.

TEKNIK TELEKOMUNIKASI DASAR. Kuliah 6 Modulasi Digital

PRAKTIKUM ISYARAT DAN SISTEM TOPIK 1 ISYARAT DAN SISTEM

BAB III METODE PENELITIAN DAN PERANCANGAN SISTEM. Metode penelitian yang digunakan pada penelitian ini adalah denoising

Kuliah 5 Pemrosesan Sinyal Untuk Komunikasi Digital

Pada Sinyal Kontinyu dan Diskrit

Sistem Transmisi Telekomunikasi Kuliah 2 Penjamakan Digital

TEKNIK TELEKOMUNIKASI DASAR. Kuliah 5 Modulasi Pulsa

ESTIMATOR FUNGSI PDF. Pertemuan 4

Penggunaan Tapis Adaptif Dalam Proses Editing suara Pada Pembuatan Film Layar Lebar

BAB III SINYAL DAN SISTEM WAKTU DISKRIT

BAB III METODE PENELITIAN DAN PERANCANGAN SISTEM

SISTEM WAKTU DISKRIT, KONVOLUSI, PERSAMAAN BEDA. Pengolahan Sinyal Digital

TEKNIK TELEKOMUNIKASI DASAR. Kuliah 7 Telefoni

BAB III SINYAL DAN SISTEM WAKTU DISKRIT

BAB III PERANCANGAN SISTEM PENYAMA

SISTEM PENGOLAHAN ISYARAT

BAB II PENCUPLIKAN DAN KUANTISASI

MODUL 2 PENGHITUNGAN ENERGI PADA SINYAL WICARA

SISTEM PENYAMA ADAPTIF DENGAN ALGORITMA GALAT KUADRAT TERKECIL TERNORMALISASI

TEKNIK TELEKOMUNIKASI DASAR. Kuliah 4 Modulasi Frekuensi

MODUL 5 EKSTRAKSI CIRI SINYAL WICARA

SINYAL DISKRIT. DUM 1 September 2014

Aplikasi Komputer 2. Catatan Kuliah. Lusiana Prastiwi. Prodi Pendidikan Matematika Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan. Universitas Dr.

LAPORAN APLIKASI DIGITAL SIGNAL PROCESSING EKSTRAKSI CIRI SINYAL WICARA. Disusun Oleh : Inggi Rizki Fatryana ( )

MODUL 2 PEMBANGKITKAN SINYAL

SOAL UAS PENGOLAHAN SINYAL DIGITAL WADARMAN JAYA TELAUMBANUA

TEKNIK PENGOLAHAN CITRA. Kuliah 10 Removal of Periodic Noise Dan Segmentasi

MODUL 5 FILTER FIR DAN WINDOW

SISTEM PENGOLAHAN ISYARAT. Kuliah 1 Sinyal Deterministik

BAB III METODE PENELITIAN DAN PERANCANGAN SISTEM

ANALISIS PERFORMANSI FILTER DIGITAL IIR DARI PROTOTYPE BUTTERWORTH DAN CHEBYSHEV 1

SIMULASI TAPIS FINITE IMPULSE RESPONSE (FIR) DENGAN DISCRETE COSINE TRANSFORM (DCT)

Sistem Transmisi Telekomunikasi. Kuliah 6 Jalur Gelombang Mikro

SINYAL DISKRIT. DUM 1 September 2014

LAPORAN PRAKTIKUM PENGOLAHAN SINYAL DIGITAL. No. Percobaan : 01 : Pengenalan Matlab Nama Praktikan : Janita Dwi Susanti NIM :

Isyarat dan Sistem TE200

ANALISIS SINYAL SEISMIK GUNUNG MERAPI, JAWA TENGAH - INDONESIA MENGGUNAKAN METODE ADAPLET (TAPIS ADAPTIF BERBASIS WAVELET)

Batra Yudha Pratama

MODUL 4 PEMFILTERAN PADA SINYAL WICARA

TEKNIK PENGOLAHAN CITRA. Kuliah 14 Pemrosesan Warna. Indah Susilawati, S.T., M.Eng.

Karena deret tersebut konvergen pada garis luarnya, kita dapat menukar orde integrasi dan penjumlahan pada ruas kanan.

Fuzzy Clustering. Logika Fuzzy

APLIKASI TAPIS LOLOS RENDAH CITRA OPTIK MENGGUNAKAN MATLAB

A. Kompetensi Setelah mengiktui mata kuliah ini, mahasiswa diharapkan dapat memahami dan bisa melakukan:

Departemen Teknik Elektro dan Teknologi Informasi, Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta

BAB I PENDAHULUAN. Tuntutan kebutuhan manusia untuk dapat berkomunikasi di segala tempat,

TEKNIK PENGOLAHAN CITRA. Kuliah 11 Mathematical Morphology. Indah Susilawati, S.T., M.Eng.

ANALISIS UNJUK KERJA EKUALIZER PADA SISTEM KOMUNIKASI DENGAN ALGORITMA STOP AND GO

OPTIMASI RERATA DALAM PROSES KORELASI SILANG UNTUK MENENTUKAN LOKASI RADIO TRANSMITTER

Pada dasarnya lebih sulit drpd classifier berdasar teori bayes, terutama untuk data dimensi tinggi.

SISTEM PENGOLAHAN ISYARAT

Analisa Hasil Perbandingan Metode Low-Pass Filter Dengan Median Filter Untuk Optimalisasi Kualitas Citra Digital

MODUL 3 SINYAL WAKTU DISKRIT DALAM KAWASAN FREKUENSI

MODUL 5 OPERASI KONVOLUSI


BAB II DASAR TEORI. Dalam bab ini penulis akan menjelaskan teori teori yang diperlukan untuk

LAPORAN AKHIR MATA KULIAH FISIKA KOMPUTASI

BAB III METODE PENELITIAN DAN PERANCANGAN SISTEM. penelitian laboratorium. Studi kepustakaan dilakukan untuk mencari teori atau

LAMPIRAN A. File ini merupakan fungsi utama untuk menjalankan simulasi standar IS-95 untuk forward link.

FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA LAB SHEET 1 (TEKNIK KOMPUTASI)

ACOUSTIC ECHO CANCELLATION MENGGUNAKAN ALGORITMA NLMS Rizal Ali Sahar [1], Achmad Hidayatno ST, MT [2], Darjat ST, MT [2]

DETEKSI TEPI MENGGUNAKAN OPERATOR ISOTROPIK DENGAN PENGOLAHAN AWAL MENGGUNAKAN PENGATURAN INTENSITAS

BAB I PENDAHULUAN. menganalisis citra menggunakan bantuan komputer yang bertujuan untuk

PRAKTIKUM ISYARAT DAN SISTEM TOPIK 0 TUTORIAL PENGENALAN MATLAB

ACOUSTIC ECHO CANCELLATION MENGGUNAKAN ALGORITMA NLMS Rizal Ali Sahar [1], Achmad Hidayatno ST, MT [2], Darjat ST, MT [2]

REKAYASA GEMPA. Respon Struktur SDOF Akibat Beban Umum. Oleh Resmi Bestari Muin

Korelasi Linier Berganda

MODUL 6 ANALISA SINYAL DALAM DOMAIN FREKUENSI

MATERI PENGOLAHAN SINYAL :

LAPORAN PRAKTIKUM DSP

Catatan Kuliah AK5161 Matematika Keuangan Aktuaria Insure and Invest! Dosen: Khreshna I.A. Syuhada, MSc. PhD.

Konvolusi. Esther Wibowo Erick Kurniawan

ANALISIS KINERJA SPECTRUM SENSING MENGGUNAKAN METODE MATCHED FILTER PADA COGNITIVE RADIO

RUNTUN MAKSIMAL SEBAGAI PEMBANGKIT RUNTUN SEMU PADA SISTEM SPEKTRUM TERSEBAR. Dhidik Prastiyanto 1 ABSTRACT

Transkripsi:

TEKNIK PENGOLAHAN ISYARAT DIGITAL Kuliah 8 KONVOLUSI DAN KORELASI Indah Susilawati, S.T., M.Eng. Program Studi Teknik Elektro Program Studi Teknik Informatika Fakultas Teknik dan Ilmu Komputer Universitas Mercu Buana Yogyakarta 2009 1

Kuliah 8 Teknik Pengolahan Isyarat Digital Teknik Elektro UMBY KONVOLUSI DAN KORELASI Contoh 1: Diberikan dua isyarat diskrit sbb x[n] = [3 11 7 0-1 4 2] dengan -3 n 3 dan h[n] = [2 3 0-5 2 1] dengan -1 n 4 maka tentukanlah konvolusi kedua isyarat yaitu y[n] = x[n] * h[n] Penyelesaian: Kedua isyarat dapat digambarkan pada kedua gambar berikut ini. 12 10 x(n) 8 6 4 2 0-2 -3-2 -1 0 1 2 3 y( 1) = k = 3 ( 5) + 11 0 + 7 3 + 0 2 = 6 x[ k] h[ 1 k] 2

y(2) = x[ k] h[2 k] k = 11 1+ 7 2 + 0 ( 5) + ( 1) 0 + 4 3 + 2 2 = 41 3 2 h(n) 1 0-1 -2-3 -4-5 -1-0.5 0 0.5 1 1.5 2 2.5 3 3.5 4 Dengan mencari semua nilai y[n] yang ada maka akan dihasilkan isyarat y[n] sbb: y[n] = [6 31 47 6-51 -5 41 18-22 -3 8 2] Bilangan bergaris bawah menyatakan data yang berada pada posisi n = 0. Untuk mencari nilai n terendah dan tertinggi pada y[n] dimana y[n] ada digunakan rumus dengan nyb = nxb + nhb nye = nxe + nhe nyb : nilai n terendah pada y[n] nye : nilai n tertinggi pada y[n] nxb : nilai n terendah pada x[n] nxe : nilai n tertinggi pada x[n] nhb : nilai n terendah pada h[n] nhe : nilai n tertinggi pada h[n] Sehingga dapat diketahui nyb = -3 + (-1) = -4 atau nye = 3 + 4 = 7 3

ny = [-4-3 -2-1 0 1 2 3 4 5 6 7] Hasil konvolusi dapat digambarkan sbb: 60 hasil konvolusi, y[n] 40 20 0-20 -40-60 -4-2 0 2 4 6 8 Contoh soal di atas dapat diselesaikan menggunakan bantuan program Matlab. Matlab menyediakan fungsi untuk melakukan operasi konvolusi yaitu conv.m. Sintaks penulisannya adalah y = conv(x,h) dengan y adalah hasil konvolusi, x dan h adalah dua isyarat yang dikonvolusikan. Untuk contoh soal di atas dapat diselesaikan dengan program Matlab sbb. % Konvolusi menggunakan Matlab % x[n] = [3 11 7 0-1 4 2] % h[n] = [2 3 0-5 2 1] clear all; % membersihkan semua variabel clc; % membersihkan editor command window x = [3 11 7 0-1 4 2]; % isyarat x[n] h = [2 3 0-5 2 1]; % isyarat h[n] y = conv(x,h) % operasi konvolusi y[n]=x[n]*h[n] Hasil eksekusi program tsb adalah 4

y = 6 31 47 6-51 -5 41 18-22 -3 8 2 Namun Matlab menganggap bahwa semua isyarat dimulai pada saat n = 0, dan pada kenyataannya tidak selalu demikian (seperti pada contoh soal di atas). Untuk mengetahui pewaktuannya maka dapat digunakanrumus untuk mencari nilai n terendah dan tertinggi pada y[n] seperti telah dijelaskan di atas. Dapat dibuat fungsi untuk melakukan operasi konvolusi sekaligus mengetahui pewaktuannya. function [y ny] = conv_m(x,nx,h,nh) % Fungsi untuk memodifikasi rutin konvolusi conv % [y ny] = hasil konvolusi % [x nx] = sinyal pertama % [h nh] = sinyal kedua nyb = nx(1) + nh(1) nye = nx(length(x)) + nh(length(h)) ny = [nyb:nye] y = conv(x,h) % n terendah dari y[n] % n tertinggi dari y[n] % jaungkauan n dari y[n] % mencari y[n]= x[n]*h[n] Fungsi yang telah dibuat dapat dipanggil dalam program lain, seperti contoh berikut untuk memanggil fungsi conv_m.m. % Konvolusi menggunakan fungsi yang telah dimodifikasi % x[n] = [3 11 7 0-1 4 2] % h[n] = [2 3 0-5 2 1] clear all; % membersihkan semua variabel clc; % membersihkan editor x = [3 11 7 0-1 4 2]; % isyarat x[n] nx = [-3:3]; % jangkauan x[n] h = [2 3 0-5 2 1]; % isyarat h[n] nh = [-1:4]; % jangkauan h[n] [y ny] = conv_m(x, nx, h, nh) % konvolusi y[n]=x[n]*h[n] stem(ny, y) % menggambar y[n] Hasil eksekusi program sama dengan hasil konvolusi yang telah dilakukan di atas. 5

KORELASI ANTARA DUA SEKUENS Korelasi adalah operasi yang digunakan dalam berbagai aplikasi dalam bidang pengolahan isyarat secara digital. Korelasi merupakan ukuran derajat kesamaan antara dua isyarat atau sekuens. Jika diketahui x[n] dan y[n] dengan energi yang terbatas maka kros-korelasi antara x[n] dan y[n] didefinisikan sbb x, y ( ) = x[ n] y[ n l n= r l ] (8.1) Indeks l disebut parameter pergeseran. Jika y[n] = x[n] maka diperoleh autokorelasi dan dinyatakan sbg = n= r ( l ) = x[ n] x[ n l] (8.2) xx Autokorelasi menyatakan ukuran kesamaan terhadap dirinya sendiri (antara beberapa penjajaran yang berbeda). Konvolusi antara dua isyarat x[n] dan h[n] dinyatakan sbb y[ n] = x[ n]* h[ n] k = x[ k] h[ n k] (8.3) Dengan membandingkan ketiga persamaan di atas, maka kros-korelasi dapat dinyatakan kembali dalam bentuk r yx ( l) = y( l) * x( l) (8.4) Dan autokorelasi dapat dinyatakan dalam bentuk r xx ( l) = x( l) * x( l) (8.5) Hal ini berarti bahwa korelasi dapat dihitung menggunnakan operasi konvolusi jika isyarat atau sekuens merupakan sekuens dengan durasi yang berhingga. Contoh 2: Jika x[n] = [3 11 7 0 1 4 2] dan y[n] adalah isyarat x[n] yang telah bergeser dan tercampur derau yang dinyatakan dengan y[n] = x[n 2] w[n], dengan w[n] adalah derau Gaussian dengan rerata nol dan varians 1. Tentukan kros-korelasi antara y[n] dan x[n]. 6

Penyelesaian: Dengan memperhatikan isyarat y[n] maka dapat diperkirakan bahwa y[n] adalah sangat mirip dengan x[n-2] dan dengan demikian dapat diperkirakan pula bahwa kros-korelasi akan memperlihatkan kesamaan tertinggi saat l = 2. % Menghitung korelasi antara dua sekuens % x[n] = [3 11 7 0-1 4 2] % y[n] = x[n-2] + w[n] clear all; clc; x = [3 11 7 0-1 4 2]; % sinyal x[n] nx = [-3:3]; % jangkauan n dari x[n] [y ny] = sigshift(x,nx,2); % menggeser x[n] sebanyak 2 satuan w = randn(1,length(y)); % membangkitkan derau Gaussian nw = ny; % panjang w[n] = panjang y[n] [y ny] = sigadd(y,ny,w,nw); % menambahkan sinyal y[n] dan w[n] [x nx] = sigfold(x,nx); % membalikkan sinyal x[n] [rxy nrxy] = conv_m(y,ny,x,nx); % mencari kros-korelasi x[n] & y[n] stem(nrxy,rxy) % menggambar hasil kros-korelasi axis([-5,10,-50,250]) xlabel('variabel pergeseran l') ylabel('rxy') title('kros-korelasi x[n] dan y[n]') Hasil eksekusi program: 250 Kros-korelasi x[n] dan y[n] 200 150 rxy 100 50 0-50 -5 0 5 10 variabel pergeseran l 7

Gambar hasil perhitungan menunjukkan bahwa kros-korelasi tertinggi pada saat l = 2. Berikut adalah fungsi-fungsi yang digunakan pada program penyelesaian contoh 2. % Membuat fungsi untuk menggeser sinyal x[n] % y[n] = x[n-n0] % m adalah jangkauan sinyal x[n ] % n0 adalah besarnya pergeseran function [y n]=sigshift(x,m,n0) n = m + n0; y = x % Membuat fungsi untuk menambah sinyal x1[n] dan x2[n] % y[n] = x1[n]+x2[n] % n adalah jangkauan sinyal y[n] % n1 adalah jangkauan sinyal x1[n] % n2 adalah jangkauan sinyal x2[n] function [y n]=sigadd(x1,n1,x2,n2) n = (min(min(n1),min(n2)):max(max(n1),max(n2))); y1 = zeros(1,length(n)); y2 = y1; y1(find((n>=min(n1))&(n<=max(n1))==1))=x1 y2(find((n>=min(n2))&(n<=max(n2))==1))=x2 y = y1 + y2 % Membuat fungsi untuk membalik sinyal x[n] % y[n] = x[-n] % n adalah jangkauan sinyal x[n] function [y n]=sigfold(x,n) y = fliplr(x); n = -fliplr(n) 8