BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN

dokumen-dokumen yang mirip
BAB III PROSES PENGECATAN

BAB 1 PENDAHULUAN 1-1

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN ENGINE STAND. yang diharapkan. Tahap terakhir ini termasuk dalam tahap pengetesan stand

BUKU PANDUAN PROSES PENGECATAN MOBIL & PROBLEM SOLVING

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN ENGINE STAND. hasilnya optimal dan efisien dari segi waktu, biaya dan tenaga. Dalam metode

BAB IV PENGUMPULAN DAN PENGOLAHAN DATA

PROSES PENGECATAN (PAINTING) Dosen : Agus Solehudin, Ir., MT

DAFTAR PUSTAKA. Feigenbaum (terjemahan Kendahjaya Hudaya), Erlangga, Jakarta. Grant Eugene (terjemahan Kendahjaya Hudaya), Erlangga, Jakarta

Epoxy Floor Coating :

BAB III METODOLOGI RANCANGAN

BAB V PENGOLAHAN DATA DAN PERBAIKAN. pada define dan hasil pengukuran (measure) pada permasalahan yang telah

Kayu jati (JA1) dan Mahoni (MaA1) yang difinishing dengan penambahan air 10% untuk sealer dan 30% air untuk top coat.

BAB IV PEMBAHASAN 4.1. Pembentukan Lapisan Film dengan Teknik Batik

PENGECATAN ULANG MOBIL DAIHATSU CHARADE TAHUN 1986 SISI ATAS DAN BELAKANG

BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB V DISKUSI V.1 DEFECT COATING TIPIS

BAB 4 PENGUMPULAN, PENGOLAHAN, DAN ANALISIS DATA

OXYFLOOR Epoxy Floor Coating

BAB III BAHAN DAN METODE

KATA PENGANTAR DAN UCAPAN TERIMAKASIH DAFTAR ISI

PENGECATAN. Oleh: Riswan Dwi Djatmiko

BAB V ANALISA PEMBAHASAN

MINIMASI NG BINTIK PADA PROSES PENGECATAN PART FRONT FENDER 1PA RED MET 7 DENGAN PENDEKATAN SIX SIGMA DI PT. ABC

BAB I PENDAHAHULUAN I.1

BAB 1 PENDAHULUAN. Belum pulihnya kondisi perekonomian yang melanda bangsa Indonesia

HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB III METODE PERANCANGAN. Mulai. Merancang Desain dan Study Literatur. Quality Control. Hasil Analisis. Kesimpulan. Selesai

HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB V ANALISA HASIL. terbanyak dari Transmission Case (XCR) adalah sebagai berikut :

1 MOLDED 2 Panel. 2 Panel. Tipe Rangka ID/SKU/Harga. Prod. ID. SKU Harga. Prod. ID. SKU Harga. Prod. ID. SKU Harga.

BAB IV PENGUMPULAN DAN PENGOLAHAN DATA

Seminar Nasional IENACO 2016 ISSN:

MODUL PRAKTIKUM. Rekayasa Model II (DPK 211) Topik. Rekayasa Model I. Penyusun: Oskar Judianto. SSn., MM., MDs.

BAB V ANALISA HASIL. sebelumnya telah dibahas pada bab sebelumnya (Bab IV). Dimana cacat yang terjadi

BAB I PENDAHULUAN. alat transportasi yang menjawab kebutuhan seseorang untuk melakukan aktifitas

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Penelitian. Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di masa sekarang

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Metode penelitian atau kerangka pemecah masalah merupakan tahap-tahap

UNIVERSITAS BINA NUSANTARA. Jurusan Teknik Industri Tugas Akhir Semester Genap tahun 2007/2008

BAB V ANALISA HASIL Tahap Analyze. Pada tahap ini penyusun akan menganalisis hambatan dan kendala

PENGECATAN MOBIL HONDA LIFE 1974 SISI DEPAN DAN BELAKANG. Oleh: Awang Kurniawan NIM

BAB V ANALISA PEMECAHAN MASALAH

A. HASIL PELAKSANAAN KEGIATAN

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

BAB I PENDAHULUAN. berusaha untuk memberikan kepuasan yang terbaik bagi para konsumennya, dengan

BAB I PENDAHULUAN. Persaingan dunia usaha yang semakin meningkat dalam era globalisasi, era

BAB V ANALISA PEMECAHAN MASALAH

MACAM MACAM EPOXY DAN POLYURETHANE BASED FLOORING SYSTEM BESERTA KINERJANYA

MENGANALISIS DEFECT SANDING MARK UNIT PICK UP TMC DENGAN METODE SEVEN TOOLS PT. ADM ABSTRAK

BAB V ANALISA HASIL. 5.1 Analisa Produk Cacat Part PH 031 Tahun mayor dan minor penyebab terjadinya produk cacat untuk part PH 031 pada tahun

RSNI3 Rancangan Standar Nasional Indonesia

ANALISIS DATA. Universitas Indonesia. Peningkatan kualitas..., Wilson Kosasih, FT UI, 2009

MEMPERSIAPKAN KOMPONEN KENDARAAN UNTUK PERBAIKKAN PENGECATAN KECIL

TUGAS INDUSTRI TEACHING

Tata cara pengecatan kayu untuk rumah dan gedung

MEMPELAJARI PENERAPAN KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA DI PT. HITACHI CONSTRUCTION MACHINERY INDONESIA

BAB IV PENGUMPULAN DAN PENGOLAHAN DATA. Dalam rangka peran serta mewujudkan Pembangunan Nasional, khususnya

BAB V ANALISA HASIL. 5.1 Analisa Diagram Sebab Akibat. Setelah penulis melakukan observasi ke lapangan serta wawancara secara

Analisis Pengendalian Kualitas Cacat Bintik Untuk Produk Hyundai Atoz (Type Mx) Di PT Hyundai Indonesia Motor

BAB V ANALISA PEMECAHAN MASALAH

Pengendalian Kualitas Produk Kantong Plastik dalam Menurunkan Tingkat Kegagalan Produk Jadi

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan November Desember 2013 di

BAB I PENDAHULUAN. Tabel 1.1 Aktual Jumlah Frekuensi Cacat PT. X

BAB V HASIL DAN ANALISA

MATA PELAJARAN : Teknik Perbaikan Bodi Otomotif JENJANG PENDIDIKAN : SMK

Percobaan 1 PENGGUNAAN ALAT DASAR LABORATORIUM

Lakukan Sendiri Aplikasi Peredam Suara Mobil Acourete Paint

BAB IV PROSES PEMBUATAN DESIGNER TOYS KERAMIK. Proses produksi karya akhir memanfaatkan hasil studi terpilih, baik

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

PENGECATAN ULANG MOBIL CHEVROLET TROOPER BAGIAN BODI KANAN PROYEK AKHIR

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

III. METODELOGI PENELITIAN. Penelitian ini berlangsung dalam 2 (dua) tahap pelaksanaan. Tahap pertama

PENULISAN ILMIAH RAHMAT RIYANTO TEKNIK INDUSTRI

TUGAS AKHIR METALURGI PENGUJIAN KETAHANAN PROTEKSI KOROSI CAT ANTI KARAT JENIS RUST CONVERTER, WATER DISPLACING, DAN RUBBER PAINT

Perlindungan kayu. perabotan. Produk Wood Care Putramataram

PERKEMBANGAN JASA TRANSPORTASI

BAB V HASIL DAN ANALISA DATA

Perencanaan Sistem Pengendalian Kualitas di PT. Surya Putra Barutama

Modul ini terdiri atas tiga kegiatan belajar. Kegiatan belajar 1 membahas tentang penggunaan perlengkapan peralatan mencampur warna (colour

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

BAB I PENDAHULUAN. pengendalian kualitas dalam menjalankan proses produksi produk.

BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN

PERBAIKAN KUALITAS PRODUK FURNITURE DENGAN MENGGUNAKAN PENDEKATAN DMAIC DI PT.PROSPEK MANUNGGAL ERA INDUSTRY

UPAYA PENINGKATAN KUALITAS PART UPPER COVER DENGAN METODE PDCA DI PT ASTRA KOMPONEN INDONESIA

Perhitungan Downtime Losses Bulan Oktober dan November me Periode. Penyetelan Penyesuaian Kerusakan Mesin

LAKUKAN SENDIRI APLIKASI PEREDAM SUARA MOBIL ACOURETE PAINT

BAB 1 PENDAHULUAN. Dewasa ini perkembangan perekonomian Indonesia berada pada tingkat

BAB II METODE PERANCANGAN

INTEGRATED CASE MANAGEMENT ACCOUNTING PT STARLIGHT

BAB 5 SIMPULAN & SARAN

BAB V ANALISIS PEMECAHAN MASALAH

BAB V ANALISA HASIL. permukaan material terlihat bercak atau noda keputih-putihan. Bercak atau

ABSTRAK. Universitas Kristen Maranatha

BAB II PENDEKATAN PEMECAHAN MASALAH

Oleh : Miftakhusani

PENGECATAN MOBIL HONDA LIFE H SISI SAMPING KANAN PROYEK AKHIR

BAB IV PENGUMPULAN DAN PENGOLAHAN DATA

BAB I PENDAHULUAN. terlihat pada cepatnya perubahan selera konsumen terhadap suatu produk. Oleh sebab

Transkripsi:

BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN 5.1 JENIS-JENIS CACAT Pada bagian ini akan dijelaskan jenis-jenis cacat yang dominan, yang ditemui selama proses pengecatan front fender JUPITER MX, yaitu : 5.1.1 Berlubang Jenis cacat ini biasanya berawal dari gelembung udara yang terjebak di dalam lapisan cat, sehingga membuat permukaan cat terlihat berlubang yang disebabkan karena : 1. Suhu oven pada proses top coat oven terlalu panas dan berjalan terlalu cepat. Adapun suhu standar oven 150 160 C selama 30 menit. 2. Permukaan cat/top coat tipis, membuat permukaan thinner lambat, sehingga menembus permukaan cat. Adapun ketebalan standar permukaan cat top coat untuk cat solid 40 45 um dan untuk cat metallic 45 52 um. Ukuran nosel 1.8 2.2 mm. 3. Perbandingan campuran antara thinner dan cat dasar pada proses intermediate coat tidak tepat. Terlalu banyak thinner dapat menyebabkan lambatnya penguapan serta terperangkap di bawah permukaan cat (top coat). 4130411-080 46

4. Tekanan udara dari spray gun terlalu rendah dan terlalu jauhnya jarak penyemprotan. Adapun tekanan udara spray gun 50 55 psi dengan jarak penyemprotan 25 30 cm. 5.1.2 Blister Cacat yang terjadi dikarenakan adanya air yang terperangkap di bawah permukaan cat (blistering). Faktor penyebabnya antara lain : 1. Belum bersihnya permukaan yang akan di cat, missal terkontaminasi dengan minyak sebelum dilakukan pengecatan. 2. Tipisnya permukaan cat (top coat) menyebabkan lambatnya penguapan thinner, sehingga menembus permukaan body. Adapun standar permukaan top coat untuk cat solid 40 45 um dan untuk cat metallic 45 52 um. 3. Akibat kondisi basah/kelembaban sangat tinggi sebelum lapisan top coat mongering. Adapun suhu standar oven 150 160 C, selama 30 menit. 5.1.3 Kulit Jeruk Cacat pada permukaan cat yang timbul akibat : 1. Teknik penggunaan spray gun yang salah dalam arti terlalu jauh atau dekatnya penyemprotan. Adapun jarak penyemprotan standar 25 30 cm. 2. Tingginya viscocity/kekentalan dikarenakan perbandingan campuran antara cat dan thinner tidak akurat. Adapun komposisi standar 10 : 6. 4130411-080 47

3. Terlalu tebal/tipisnya lapisan top coat saat aplikasi pengecatan. Adapun tebal top coat standar cat solid 40 45 um dan untuk cat metallic 45 52 um. 4. Thinner terlalu cepat menguap. 5. Tingginya tekanan udara spray gun. Tekanan udara standar 50 55 psi. 5.1.4 Bergelombang Adalah cacat yang terjadi dalam proses pengecatan, dimana cat yang diaplikasikan pada permukaan yang vertical atau miring (slope) gagal melekat sehingga meler (menetes dari panel/body). Hal ini disebabkan : 1. Tekanan udara pada spray gun terlalu rendah (tekanan udara spray gun yang standar adalah 50 sampai 55 psi). 2. Permukaan yang hendak dicat, terkontaminasi (permukaan yang masih berminyak). 3. Jarak semprot spray gun yang terlalu dekat (ukuran standarnya untuk jarak tembak adalah 25 30 cm). 4. Set up spray gun yang salah (nosel berukuran yang besar dengan air cap yang berkapasitas rendah). 5. Waktu pengeringan (drying time) yang salah (untuk proses intermediate coat oven dan top coat oven adalah 30 menit pada suhu 150 C sampai 160 C). 4130411-080 48

6. Campuran antara thinner dan cat dasar pada proses intermediate coat yang tidak akurat (viskositas/kekentalan yang tidak akurat) perbandingan campuran standar untuk thinner dan cat adalah 10 : 6. Dengan melihat diagram pareto pada Gbr. 4.2, terlihat bahwa cacat-cacat seperti ; berlubang, blister, kulit jeruk dan bergelombang memiliki jumlah cacat yang paling tinggi/dominant dibandingkan yang lainnya. Maka dapat disimpulkan cacat tersebut mempunyai prioritas tertinggi untuk dilakukan perbaikan sehingga dapat menurunkan jumlah cacat (defective) pada proses pengecatan ini. Langkah awal untuk penanggulangannya yaitu harus diketahui lebih dulu tentang penyebab-penyebab terjadinya cacat berlubang, blister, kulit jeruk serta bergelombang. Kemudian dicari penyebab-penyebab utama timbulnya cacat-cacat tersebut dengan menggunakan diagram sebab akibat (cause effect diagram). Pembuatan diagram sebab akibat (cause effect diagram) ini dibantu pula oleh para operator dan pengawas quality management, painting department dan new product development department guna mengetahui penyebab utama terjadinya cacat-cacat. Pada halaman berikut adalah diagram sebab akibat yang disusun setelah mengumpulkan masukan-masukan yang didapat, yakni : 4130411-080 49

4130411-080 50

4130411-080 51

4130411-080 52

4130411-080 53

4130411-080 54

4130411-080 55

4130411-080 56

4130411-080 57

4130411-080 58

4130411-080 59

4130411-080 60

Maka setelah dilakukan perbaikan-perbaikan diatas tadi, dapat memperkecil jumlah cacat-cacat yang terjadi selama proses pengecatan front fender JUPITER MX. Sebelum dilakukan perbaikan tersebut, data serta diagram paretonya adalah : Tabel 5.1 Data jumlah cacat sebelum dilakukan perbaikan NO. JENIS CACAT SIMBOL JUMLAH TOTAL % % KOMULATIF KOMULATIF 1 Berlubang A 54 54 3.6 3.6 2 Blister B 42 96 2.8 6.4 3 Kulit Jeruk C 37 133 2.5 8.9 4 Bergelombang D 29 162 1.9 10.8 5 Meleleh E 24 186 1.6 12.4 6 Mengelupas F 15 201 1.0 13.4 7 Lain-lain G 26 227 1.7 15.1 TOTAL PRODUKSI BULAN JULI-SEPTEMBER 2007 TOTAL CACAT % CACAT KOMULATIF 1500 227 15.1 16.0 15.1 250 14.0 13.4 227 12.0 10.8 12.4 186 201 200 % 10.0 8.0 6.0 6.4 96 8.9 133 162 150 100 Total Komulatif 4.0 2.0 3.6 3.6 54 2.8 2.5 1.9 1.6 1.0 1.7 50 0.0 Berlubang Blister Kulit Jeruk Bergelombang Meleleh Mengelupas Lain-lain Prosentase 3.6 2.8 2.5 1.9 1.6 1.0 1.7 Prosentase Akumulatif 3.6 6.4 8.9 10.8 12.4 13.4 15.1 Total Komulatif 54 96 133 162 186 201 227 0 Gbr. 5.1 Diagram pareto % cacat sebelum dilakukan perbaikan. 4130411-080 61

Setelah dilakukan perbaikan pada produksi dibulan Agustus, jumlah cacatcacat tadi dapat berkurang, sehingga didapat table serta diagram paretonya : Tabel 5.2 Data jumlah cacat setelah dilakukan perbaikan bulan Oktober-November 2007 NO. JENIS CACAT FREKUENSI 2007 JUL AGT SEP OKT NOV 1 Berlubang 20 19 15 3 1 2 Blister 17 15 10 1 1 3 Kulit Jeruk 15 10 12 1 0 4 Bergelombang 12 9 8 2 0 5 Meleleh 10 8 6 1 0 6 Mengelupas - 5 10 1 1 7 Sealer bolong 5-5 3 2 8 Gelombang - 5 2 1 0 9 Belang 3 3-2 1 10 Berlebih 0 2-1 0 11 Baret gerinda 1 - - - - JUMLAH 83 76 68 16 6 NO. JENIS CACAT SIMBOL JUMLAH TOTAL % % KOMULATIF KOMULATIF 1 Berlubang A 4 4 0.4 0.4 2 Blister B 2 6 0.2 0.6 3 Kulit Jeruk C 1 7 0.1 0.7 4 Bergelombang D 2 9 0.2 0.9 5 Meleleh E 1 10 0.1 1.0 6 Mengelupas F 2 12 0.2 1.2 7 Lain-lain G 10 22 1.0 2.2 TOTAL PRODUKSI BULAN OKT-NOV 2007 TOTAL CACAT % CACAT KOMULATIF 1000 22 2.2 4130411-080 62

2.5 25 2.2 22 2.0 20 1.5 % 1.0 0.5 0.4 0.4 4 0.2 0.6 6 0.1 0.7 7 0.2 0.9 9 0.1 1.0 10 0.2 1.2 12 1.0 15 10 5 Total Komulatif 0.0 Berlubang Blister Kulit Jeruk Bergelombang Meleleh Mengelupas Lain-lain Prosentase 0.4 0.2 0.1 0.2 0.1 0.2 1.0 Prosentase Akumulatif 0.4 0.6 0.7 0.9 1.0 1.2 2.2 Total Komulatif 4 6 7 9 10 12 22 0 Gbr. 5.2 Diagram pareto % cacat sesudah dilakukan perbaikan. 4130411-080 63