BAB IV ANALISIS HASIL DAN PEMBAHASAN

dokumen-dokumen yang mirip
BAB 4 ANALISIS DAN PEMBAHASAN

BAB IV ANALISIS DATA DAN HASIL PENELITIAN. perusahaan perlu mendapat perhatian khusus dalam penetapan kebijakan baik

BAB IV ANALISIS HASIL DAN PEMBAHASAN. A. Laporan laba rugi fiskal Sebagai Dasar penghitungan Pajak Penghasilan

BAB IV PEMBAHASAN. Peraturan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) yang bertujuan untuk menyajikan

BAB IV ANALISIS HASIL DAN PEMBAHASAN. A. Laporan laba rugi fiskal Sebagai Dasar penghitungan Pajak Penghasilan

BAB IV PEMBAHASAN. IV.I Analisis Rekonsiliasi Laporan Laba Rugi Pada PT.NRI

BAB IV PEMBAHASAN. IV.1 Analisis Biaya Pada Laporan Laba Rugi PT. DS. Pada prinsipnya terdapat perbedaan pengakuan penghasilan dan beban antara

BAB IV REKONSILIASI KEUANGAN FISKAL UNTUK MENGHITUNG PAJAK. TERUTANG PADA PT. KERAMIKA INDONESIA ASSOSIASI. Tbk

BAB I PENDAHULUAN. sendiri. Agar tujuan perusahaan dapat tercapai, maka semua faktor-faktor

BAB IV EVALUASI PAJAK PENGHASILAN PASAL 25 PADA PT TGS

BAB IV. EVALUASI PERHITUNGAN PPh BADAN PADA MPT. EVALUASI PERHITUNGAN PPh BADAN PADA MPT

BAB IV ANALISIS HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV ANALISIS DAN PEMBAHASAN

BAB IV ANALISIS HASIL DAN PEMBAHASAN. A. Perencanaan Pajak Penghasilan Dalam Rangka Meminimalkan Beban

BAB IV PEMBAHASAN. Analisis Biaya Pada Laporan Laba Rugi pada PT QN

EVALUASI ATAS PAJAK PENGHASILAN PASAL 25 PADA PT SNI. Dalam rangka pemanfaatan Undang undang Perpajakan secara optimal untuk

BAB IV ANALISIS HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV ANALISIS HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV PEMBAHASAN. IV.1. Evaluasi Pada Laporan Laba Rugi PT Rysban Jaya Agung

BAB IV PEMBAHASAN. 4.1 Kewajiban Perpajakan PT.Klinik Sejahtera PT.Klinik Sejahtera adalah salah satu klien dari KKP Adiyanto Consultant

BAB IV ANALISIS HASIL DAN PEMBAHASAN. A. Analisis Perencanaan Pajak (Tax Planning) Pada PT. Yusonda

BAB IV ANALISIS HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN. Perencanaan pajak (tax planning) merupakan proses pengorganisasian yang

PERLAKUAN PAJAK PENGHASILAN ATAS BIAYA PEMAKAIAN TELEPON SELULER DAN KENDARAAN PERUSAHAAN KEPUTUSAN DIREKTUR JENDERAL PAJAK NOMOR KEP - 220/PJ.

BAB IV ANALISIS DAN PEMBAHASAN

BAB IV ANALISIS HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV PENYAJIAN DAN ANALISIS DATA. PT. Masa Manunggal Mandiri yang menjadi subjek dalam penelitian

BAB IV ANALISIS HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV PEMBAHASAN. Penjelasan mengenai akun akun dalam laporan keuangan PT Mitra Wisata Permata

BAB IV PERBANDINGAN LABA BERSIH MENURUT STANDAR AKUNTANSI KEUANGAN DENGAN PENGHASILAN KENA PAJAK SEBELUM PAJAK

BAB IV EVALUASI ATAS PAJAK PENGHASILAN PASAL 25 PADA PT. JASA RAHARJA (PERSERO)

Nama : Farah Fadhilah NPM : Jurusan : Akuntansi Pembimbing : Dr. Budi Prijanto, SE., MM

BAB IV ANALISIS HASIL DAN PEMBAHASAN. A. Penerapan Perencanaan Pajak Penghasilan Pada PT Multi Indocitra Tbk

BAB IV ANALISIS HASIL DAN PEMBAHASAN. A. Laporan Keuangan Fiskal Sebagai Dasar Penghitungan Penghasilan

BAB IV EVALUASI PENERAPAN PERENCANAAN PAJAK PPH BADAN PT LAM. diwajibkan untuk memenuhi kewajiban perpajakannya. Sebagai Wajib Pajak badan, PT

BAB. 1V MANAJEMEN PAJAK SEBAGAI UPAYA UNTUK MEMINIMALKAN BEBAN PAJAK PENGHASILAN PADA PERUSAHAAN PI

KLASIFIKASI BIAYA DAN KOMPENSASI KERUGIAN. Aris Munandar, SE., M.Si

BAB IV EVALUASI PERENCANAAN PAJAK UNTUK MEMINIMALKAN BEBAN PAJAK PADA PT ADIS

BAB IV ANALISIS HASIL DAN PEMBAHASAN. A. Laporan Laba/Rugi Komersial PT Persada Aman Sentosa. sesuai dengan Standar Akuntansi Keuangan (SAK).

BAB V SIMPULAN DAN SARAN. untuk Tahun 2008, 2009, dan 2010 atas laporan keuangan, Surat Pemberitahuan (SPT)

BAB 4 PEMBAHASAN 4.1 Pelaksanaan Ketentuan Formal Perpajakan PT Cipta Sukma Mandiri Nomor Pokok Wajib Pajak

BAB IV REKONSILIASI FISKAL UNTUK MENGHITUNG PAJAK TERUTANG PADA PERUSAHAAN KONTRAKTOR PT. MANDIRI CIPTA

BAB V SIMPULAN DAN SARAN. penghasilan badan yang dilakukan oleh PT Bank MAJU, maka dengan hasil penelitian

BAB V SIMPULAN DAN SARAN. Berdasarkan hasil perhitungan dan pembahasan yang terdapat pada bab 4,

RUGI LABA BIAYA FISKAL

BAB IV EVALUASI LAPORAN KEUANGAN KOMERSIAL. UNTUK MENGEFISIENSIKAN PPh BADAN PADA PT AIDC

BAB IV PEMBAHASAN. Dalam rangka pemanfaatan Undang-Undang Perpajakan secara optimal untuk

BAB IV EVALUASI PERHITUNGAN PAJAK PENGHASILAN PASAL 25 PADA PT NANO INFORMATION TECHNOLOGY

BAB IV ANALISIS HASIL DAN PEMBAHASAN. berhubungan dengan penghasilan juga berhubungan dengan Pajak

BAB IV PEMBAHASAN. Evaluasi Pendapatan dan Beban pada Laporan Laba Rugi PT MMS

BAB IV PERENCANAAN PAJAK DALAM RANGKA MENGEFISIENKAN PAJAK PENGHASILAN BADAN PADA PT PRIMA SINDO

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV EVALUASI PERENCANAAN PAJAK UNTUK MENGEFISIENSIKAN BIAYA PAJAK BADAN PADA PT. UB. IV.1. Analisis Biaya Pada Laporan Laba Rugi PT.

BAB IV PEMBAHASAN. Perhitungan Laba Kena Pajak Berdasarkan Penerapan Akuntansi

pajak terutang oleh suatu perusahaan antara perhitungan pajak berdasarkan

BAB IV PEMBAHASAN. Analisis Pada Laporan Laba Rugi PT Anugrah Setia Lestari

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Yayasan Dana Pensiun PT. Merpati Nusantara Airlines. Yayasan tersebut

BAB IV PENYAJIAN DAN ANALISIS DATA

BAB IV PEMBAHASAN. melakukan perubahan-perubahan pada peraturan perpajakan di Indonesia. Perubahan

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 138 TAHUN 2000 TENTANG

BAB IV PEMBAHASAN. maksud agar perkembangan usaha pada akhir periode tertentu dapat diketahui.

BAB 5 SIMPULAN DAN SARAN. Setelah pembahasan pada bab sebelumnya dimana dilakukan evaluasi

EVALUASI PERENCANAAN PAJAK DALAM BEBAN PAJAK PENGHASILAN PADA PT.APT

PERTEMUAN 5 PPh WAJIB PAJAK BADAN (4)

By Afifudin PSP FE Unisma 2

BAB IV ANALISIS HASIL DAN PEMBAHASAN

Oleh Iwan Sidharta, MM.

BAB IV ANALISIS HASIL DAN PEMBAHASAN. Pada Tahun 2002, perusahaan mempunyai 618 karyawan tetap dan

BAB IV ANALISIS HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV PEMBAHASAN. IV.1. Analisis Pengakuan, Pengukuran, dan Penyajian Pajak Tangguhan. beserta Akun-akun Lainnya pada Laporan Keuangan PT UG

BAB IV ANALISIS HASIL DAN PEMBAHASAN. A. Evaluasi atas Perencanaan Pajak Penghasilan Pada PT.Cipta Dermato.

BAB 4 PEMBAHASAN. 4.1 Laporan Keuangan Perusahaan Tahun 2010, 2011, dan 2012 PT. PAS merupakan perusahaan yang bergerak dibidang distribusi

Oleh Iwan Sidharta, MM.

Oleh Iwan Sidharta, MM.

BAB I PENDAHULUAN. kriteria untuk menentukan apakah suatu pengeluaran, biaya atau kerugian dapat dapat

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

bambang kesit, 2010 halaman 1 dari 10 perpajakan, prodi akuntansi-feuii MODUL : TEKNIK REKONSILIASI FISKAL UNTUK MENGHITUNG PPh Badan

BAB IV PERENCANAAN PAJAK DALAM RANGKA MENGEFISIENKAN PAJAK PENGHASILAN BADAN PADA PERUM DAMRI. Rekonsiliasi Laporan Fiskal pada PERUM DAMRI

BAB II LANDASAN TEORI

BAB IV ANALISIS HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV. EVALUASI PROSES PEMOTONGAN, PENYETORAN DAN PELAPORAN PPh PASAL 23/26 PADA PT. FEDERAL INTERNATIONAL FINANCE

BAB IV EVALUASI DAMPAK PERENCANAAN PAJAK TERHADAP OPTIMALISASI BEBAN PAJAK PT ARTHA DAYA COALINDO.

BAB IV PEMBAHASAN. IV.1. Perbedaan antara Laba Komersial dan Laba Fiskal. Perusahaan dalam melaksanakan kegiatan usaha diwajibkan untuk menyusun

BAB III GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN

PERLAKUAN PAJAK PENGHASILAN ATAS PERUBAHAN BENTUK USAHA (STUDI KASUS DI RESTORAN T)

AKUNTANSI PERPAJAKAN. Akuntansi Pajak atas Aktiva Tidak Berwujud

LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA

ANALISIS PERHITUNGAN PENYUSUTAN AKTIVA TETAP MENURUT STANDAR AKUNTANSI KEUANGAN DAN UNDANG UNDANG PAJAK SERTA DAMPAKNYA TERHADAP PENGHASILAN

Modul ke: Manajemen Perpajakan

BAB IV PENYAJIAN DAN ANALISA DATA

BAB IV. Analisis Hasil Dan Pembahasan

BAB IV PEMBAHASAN. komersial, namun untuk menjadi dasar pelaporan SPT Tahunan, PT. Dipta Adimulia

BAB 4 EVALUASI ATAS EFEKTIFITAS PERHITUNGAN PAJAK PENGHASILAN BADAN DALAM MEMINIMALISASIKAN BEBAN PAJAK UNTUK MENGOPTIMALISASIKAN LABA

ANALISIS KOREKSI FISKAL DAN PENGARUHNYA TERHADAP PERHITNGAN PPH BADAN PT. SAMSUNG PRINT AND PACK INDONESIA NUR ARIFAH EKONOMI AKUNTANSI

BAB IV EVALUASI ATAS PERENCANAAN PAJAK PENGHASILAN BADAN (STUDI KASUS PADA PT BANK MAJU) Rekonsiliasi Laporan Keuangan Fiskal pada PT Bank MAJU.

SPT TAHUNAN PAJAK PENGHASILAN WP BADAN 1771

BAB II KAJIAN PUSTAKA. Menurut Undang-Undang No. 6 Tahun 1983 tentang Ketentuan. Umum dann Tata Cara Perpajakan sebagaimana telah diubah dengan

BAB IV ANALISIS HASIL DAN PEMBAHASAN. A. Penerapan Tax Planning pada Rumah Sakit Pondok Indah

BAB III ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN. 1. Alasan Perusahaan dalam Strategi tax planning PPh 21 Lebih. Memilih Menggunakan Natura dan kenikmatan.

Perhitungan Pajak Penghasilan Terutang Wajib Pajak Orang Pribadi - pembukuan

Transkripsi:

BAB IV ANALISIS HASIL DAN PEMBAHASAN A. Kebijakan Perusahaan Dalam Menghitung Penyusutan. 1. Dasar Penyusutan Masing Masing Aktiva dan Metode Penyusutan Yang Digunakan Oleh Perusahaan Setiap aktiva yang dibeli, aktiva tersebut harus dicatat sesuai dengan harga perolehannya, yaitu sebesar harga beli aktiva yang bersangkutan diikuti dengan biaya biaya lain yang terkait sebelum aktiva tersebut dapat digunakan oleh perusahaan. Dasar perhitungan penyusutan untuk setiap aktiva tetap berwujud yang dimilki oleh PT. Hyundai Mobil Indonesia Cabang Arteri Pondok Indah adalah berdasarkan harga perolehan, taksiran umur manfaat dan persentasenya. Sebelum menghitung besarnya penyusutan perusahaan juga telah mengelompokkan aktiva yang dimiliki sesuai dengan ketentuan perpajakan. Dalam menghitung beban penyusutan, perusahaan menggunakan metode garis lurus (straight line method) menurut akuntansi dan juga ketentuan perpajakan. Perusahaan menggolongkan masing masing aktiva tetap berwujud ke dalam kelompok, taksiran manfaat dan tarif penyusutan aktiva tetap berwujud yang bertujuan untuk menyediakan laporan keuangan yang ditampilkan dalam tabel berikut :

No. Tabel.1 Pengelompokkan Aktiva Tetap Berwujud Perusahaan Secara Komersial Keterangan 1 Peralatan Bengkel Equipment Tools 2 Perlengkapan Kantor AC Komputer & Printer Mesin Kantor Peralatan Perlengkapan Kantor 3 Kendaraan Mobil Motor Furniture & Fixture Golongan I Golongan II Masa Manfaat 8 Tahun Tahun 8 Tahun 8 Tahun Tahun Tahun Tahun 8 Tahun 8 Tahun Persentase Tahun 8 Tahun Sumber Data : Daftar Aktiva Tetap Berwujud Perusahaan ( 2010 ) 2. Penentuan Harga Perolehan Aktiva Tetap Berwujud Perusahaan mencatat nilai pengorbanan yang sesungguhnya dikeluarkan sehubungan dengan perolehan aktiva tersebut sebesar seluruh harga yang dibayarkan perusahaan seperti harga beli beserta biaya biaya lain yang dikeluarkan sampai aktiva tersebut siap digunakan, pada saat pembelian atau pengadaan aktiva tetap berwujud (keadaan awal). Dengan berjalannya waktu (periode waktu setelah pembelian atau pengadaan aktiva tetap berwujud), harga perolehan aktiva tetap ini ikut dipengaruhi oleh besarnya biaya biaya lain yang dikeluarkan sehubungan dengan aktiva tetap berwujud (baik berupa pengeluaran modal dan

pengeluaran pendapatan ). Dalam hal ini dimungkinkan karena adanya kebijakan perusahaan yang menganggap bahwa setiap pengeluaran atau biaya sehubungan dengan suatu aktiva secara langsung dapat dikapitalisasi ke harga perolehan aktiva yang bersangkutan dengan syarat biaya atau pengeluaran tersebut melebihi Rp 100.000 tanpa dilihat dan ditelaah terlebih dahulu apakah biaya atau pengeluaran tersebut akan memberikan manfaat pada masa masa yang akan datang atau tidak. Jika terjadi hal demikian, maka harga perolehan aktiva tetap berwujud menjadi lebih besar daripada yang seharusnya dan begitu juga beban penyusutan selama masa manfaat akan dibebankan lebih besar. B. Aktiva Tetap Berwujud Yang Dapat Disusutkan Dalam menghitung besarnya penghasilan kena pajak (PKP), perusahaan membebankan penyusutan seluruh aktiva tetap berwujudnya baik yang dapat disusutkan maupun yang tidak dapat disusutkan. Apabila hal ini dilakukan, maka secara otomatis besarnya biaya ( khususnya biaya penyusutan ) akan lebih besar. Ada beberapa contoh penyusutan yang tidak dapat disusutkan, misalnya telfon seluler dan kendaraan dinas yang dikuasai oleh Direktur atau Pemegang Saham, sesuai dengan ketentuan Pasal 9 ayat (1) huruf e Undang Undang PPh, dimana jumlah penyusutan tidak dapat dibebankan atau dikeluarkan penggantian atau imbalan sehubungan dengan pekerjaan atau jasa yang diberikan dalam bentuk natura dan kenikmatan, kecuali penyediaan

makanan dan minuman bagi seluruh pegawai serta penggantian atau imbalan dalam bentuk natura dan kenikmatan di daerah tertentu dan yang berkaitan dengan pelaksanaan pekerjaan yang diatur dengan atau berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan. Beban penyusutan aktiva tetap berwujud yang dikuasai oleh direktur tersebut tidak boleh dibebankan sebagai biaya dalam menentukan besarnya jumlah penghasilan kena pajak menurut ketentuan perpajakan. Dalam kasus PT. Hyundai Mobil Indonesia Cabang Arteri Pondok Indah, penulis tidak menemukan adanya aktiva tetap yang dibeli bukan untuk kegiatan usaha. Dalam wawancara yang sudah dilakukan penulis terhadap karyawan PT. Hyundai Mobil Indonesia Cabang Arteri Pondok Indah, semua aktiva yang dimiliki merupakan aktiva yang digunakan untuk kegiatan usaha. Tetapi ada beberapa aktiva yang biaya penyusutannya tidak sepenuhnya diperbolehkan untuk dibebankan, melainkan hanya 50% nya saja. Misal : kendaraan mobil (sedan) yang dibeli dan digunakan perusahaan untuk antar jemput pegawai atau untuk kegiatan seperti pertemuan dengan klien. Sesuai dengan KEP 220/PJ./2002 pasal 3 dimana : Atas biaya perolehan atau pembelian atau perbaikan besar kendaraan sedan atau yang sejenis yang dimiliki dan dipergunakan perusahaan untuk pegawai tertentu karena jabatan atau pekerjaannya, dapat dibebankan sebagai biaya perusahaan sebesar 50% (lima puluh persen) dari jumlah biaya perolehan atau pembelian atau perbaikan besar melalui penyusutan aktiva tetap kelompok II sebagaimana dimaksud dalam Keputusan Menteri Keuangan Nomor

520/KMK.03/2000 Lampiran II butir I huruf b sebagaimana telah diubah dengan Keputusan Menteri Keuangan Nomor 138/KMK.03/2002. Dengan demikian, atas beban penyusutan aktiva tetap berwujud tersebut, tidak boleh sepenuhnya dibebankan sebagai biaya dalam rangka menghitung Penghasilan Kena Pajak ( PKP ). Adapun perincian aktiva yang dapat disusutkan dan tidak dapat disusutkan adalah sebagai berikut : Tabel.2 Aktiva Tetap Berwujud yang Dapat Disusutkan No. Keterangan 1 Peralatan Bengkel Equipment Tools 2 Perlengkapan Kantor AC Komputer & Printer Mesin Kantor Peralatan Perlengkapan Kantor 3 Kendaraan Mobil Motor Furniture & Fixture Golongan I Golongan II Masa Manfaat Thn % 8 8 8 8 Sumber Data : Hasil Olahan Penulis (2011) Harga Perolehan th 2010 Rp 360.36.1 Rp 11.250.000 Rp 1.069.500 Rp 7.938.905 Rp 5.300.000 Rp 99.380.20 Rp 7.675.000 Rp 1.025.182.609 Rp 17.55.55 Rp 119.102.375 Rp 19.25.000 Penyusutan th 2010 Rp 2.290.93 Rp 5.501.625 Rp 1.29.375 Rp 2.768.750 0 Rp 56.03.610 Rp 51.563 Jika diperhatikan secara terperinci, daftar aktiva tetap berwujud yang dapat disusutkan berdasarkan ketentuan perpajakan, maka terlihat bahwa aktiva tersebut memang dimiliki perusahaan tetapi beban penyusutannya tidak boleh sepenuhnya dibebankan seperti halnya kendaraan mobil (sedan dan sejenisnya) tersebut yang digunakan perusahaan. Oleh karena itu,

perusahaan harus melakukan pembedaan terhadap aktiva tetap berwujud ke dalam aktiva tetap yang dapat disusutkan dan yang tidak dapat disusutkan untuk tujuan perhitungan Penghasilan Kena Pajak ( PKP ). Dalam rangka memberikan keseragaman kepada Wajib Pajak selama melakukan penyusutan, maka Menteri Keuangan Republik Indonesia mengeluarkan suatu ketentuan yang menetapkan jenis jenis aktiva yang termasuk dalam setiap kelompok masa manfaat yang harus diikuti oleh Wajib Pajak. Ketentuan yang dimaksud adalah keputusan Menteri Keuangan RI Nomor : 520/KMK.0/2000 Lampiran II butir I huruf b sebagaimana telah diubah dengan Keputusan Menteri Keuangan Nomor 138/KMK.03/2002. Untuk dapat melihat lebih jelasnya penulis telah melampirkan di dalam lampiran I. C. Penyusutan Menurut Akuntansi Yang Diterapkan Oleh Perusahaan Untuk tujuan laporan keuangan komersil pada tahun 2010, kebijakan akuntansi perusahaan dalam menghitung beban penyusutan adalah semua aktiva tetap berwujud yang dimilki oleh perusahaan disusutkan dengan menggunakan metode garis lurus dan penghitungannya dimulai pada saat aktiva tersebut diperoleh ( sesuai tanggal perolehan masing masing ) dengan contoh kebijakan sebagai berikut : Untuk aktiva berupa Komputer & Printer : 1. LCD Samsung 732 NW dengan taksiran manfaat 8 tahun dan persentase penyusutan, dsb.

2. PC & Monitor Samsung B1930N dengan taksiran manfaat 8 tahun dan persentase penyusutan, dsb. Untuk mengetahui lebih rinci dan memperjelas penerapannya perhitungan beban penyusutan akuntansi (secara komersial) aktiva tetap berwujud dapat dilihat pada tabel.3. Dari tabel.3 tersebut dapat diketahui jumlah beban penyusutan masing masing aktiva menurut akuntansi selama tahun 2010 sebagai berikut: Tabel. Beban Penyusutan Menurut Standar Akuntansi Keuangan No. Keterangan 1 Peralatan Bengkel Equipment Tools 2 Perlengkapan Kantor AC Komputer & Printer Mesin Kantor Peralatan Perlengkapan Kantor 3 Kendaraan Mobil Motor Furniture & Fixture Golongan I Golongan II Masa Manfaat Thn % 8 8 8 8 8 8 Sumber : Hasil Olahan Penulis (2011) Harga Perolehan th 2010 Rp 360.36.1 Rp 11.250.000 Rp 1.069.500 Rp 7.938.905 Rp 5.300.000 Rp 99.380.20 Rp 7.675.000 Rp 1.025.182.609 Rp 17.55.55 Rp 119.102.375 Rp 19.25.000 Penyusutan th 2010 Rp 2.290.93 Rp 5.501.625 Rp 3.827.81 Rp 2.768.750 0 Rp112.087.220 Rp 51.563 Berikut ini contoh perhitungan beban penyusutan menurut akuntansi berdasarkan tabel.3 di dalam lampiran :

Kasus I : harta berupa LCD Samsung 732 NW yang diperoleh pada tanggal 31 Desember 2008 dengan nilai Rp 3.10.000 dan taksiran manfaat 8 tahun serta dengan persentase penyusutan disusutkan dengan menggunakan metode garis lurus. Ditanya : Hitung beban penyusutan tahun 2010! Jawab : = Rp 26.250,- Catatan : Untuk lebih rinci dapat dilihat dalam tabel.3 kolom 30 kelompok harta Komputer & Printer. D. Penyusutan Menurut Undang Undang Pajak Yang Diterapkan Oleh Perusahaan Dalam kasus PT. Hyundai Mobil Indonesia Cabang Arteri Pondok Indah, Undang Undang PPh yang dijadikan acuan adalah UU No. 17 Tahun 2000 dan perubahannya yaitu : UU No. 36 Tahun 2008 yang selanjutnya disebut Undang - Undang PPh. Menurut aturan dalam pasal 11 ayat (3) dan ayat () Undang - Undang PPh, penyusutan aktiva tetap berwujud dimulai pada bulan dilakukannya pengeluaran, kecuali untuk harta yang masih dalam proses pengerjaan, penyusutannya dimulai pada bulan selesainya pengerjaan

harta tersebut. Dengan persetujuan Direktur Jenderal Pajak, Wajib Pajak diperkenankan melakukan penyusutan mulai pada bulan harta tersebut digunakan untuk mendapatkan, menagih, dan memelihara penghasilan atau pada bulan harta yang bersangkutan mulai menghasilkan. Penyusutan menurut peraturan perpajakan dihitung atas dasar jumlah bulan pemanfaatan dalam satu tahun. Dalam kasus ini, perusahaan hanya melaporkan satu daftar laporan aktiva tetapnya. Perusahaan dalam menghitung penyusutan terhadap aktiva yang dimiliki pada saat dibeli telah mengelompokkan aktiva tersebut ke dalam kelompok yang telah sesuai dengan ketentuan atau Undang Undang Pajak. Hasil observasi dan wawancara penulis terhadap karyawan PT. Hyundai Mobil Indonesia Cabang Arteri Pondok Indah, menunjukkan bahwa perusahaan tidak memisahkan perhitungan aktiva tetapnya dengan cara Standar Akuntansi Keuangan (Komersial) ataupun dengan cara Undang Undang Pajak (Fiskal). Perusahaan memasukkan nilai beban penyusutan ke dalam laporan SPT Tahunan hanya dengan satu laporan yaitu yang terlampir dalam Tabel.3. Walaupun perusahaan telah mengelompokkan aktiva tetap yang dimilikinya sesuai Undang Undang Pajak, penulis mencoba untuk menganalisis lebih dalam tentang kasus ini. Dan ternyata, walaupun perusahaan telah mengelompokkan daftar aktivanya sesuai dengan Undang Undang Pajak, penulis masih menemukan beberapa daftar aktiva yang tidak

sesuai dengan Undang Undang Pajak yaitu masalah pengelompokkan daftar aktiva tetap Komputer & Printer dan Kendaraan Bermotor. Untuk lebih jelasnya, penulis mencoba untuk mengelompokkan daftar aktiva tetap yang sesuai dengan Keputusan Mentri Keuangan Republik Indonesia No. 138/KMK.03/2002. Pengelompokkan dan persentase penyusutan aktiva tetap berwujud PT. Hyundai Mobil Indonesia Cabang Arteri Pondok Indah menurut ketentuan perpajakan untuk tahun pajak 2010 dengan menggunakan metode garis lurus seluruhnya dapat dilihat pada tabel berikut ini : Tabel.5 Pengelompokkan Aktiva Tetap Berwujud Perusahaan Menurut Perpajakan No. Keterangan Masa Manfaat Persentase 1 Peralatan Bengkel Equipment Tools 8 Tahun Tahun 12.5 % 25 % 2 Perlengkapan Kantor AC, Komputer & Printer 8 Tahun Tahun 12.5 % 25 % Mesin Kantor Tahun 25 % Peralatan Tahun 25 % Perlengkapan Kantor Tahun 25 % 3 Kendaraan Mobil Motor 8 Tahun Tahun 12.5 % 25 % Furniture & Fixture Golongan I Golongan II Tahun 8 Tahun 25 % 12.5 % Sumber Data : Hasil Analisis Penulis Menurut UU Pajak ( 2011 ) Dengan adanya perbedaan pengelompokkan di atas terhadap daftar aktiva tetap yang ada, penulis mencoba membuat ringkasan perincian daftar penyusutan aktiva tetap yang berbeda tersebut serta menyertakan hasil

perhitungan terhadap aktiva yang dapat disusutkan yang telah dijelaskan pada sub bab sebelumnya yang telah sesuai dengan Undang Undang Pajak dalam tabel berikut ini: Tabel.6 Beban Penyusutan Menurut Undang Undang Pajak No. Keterangan 1 Peralatan Bengkel Equipment Tools 2 Perlengkapan Kantor AC Komputer & Printer Mesin Kantor Peralatan Perlengkapan Kantor 3 Kendaraan Mobil Motor Furniture & Fixture Golongan I Golongan II Masa Manfaat Thn % 8 8 8 8 Sumber : Hasil Olahan Penulis (2011) Harga Perolehan th 2010 Rp 360.36.1 Rp 11.250.000 Rp 1.069.500 Rp 7.938.905 Rp 5.300.000 Rp 99.380.20 Rp 7.675.000 Rp 1.025.182.609 Rp 17.55.55 Rp 119.102.375 Rp 19.25.000 Penyusutan th 2010 Rp 2.290.93 Rp 5.501.625 Rp 1.29.375 Rp 2.768.750 0 Rp 56.03.610 Rp 51.563 Dari hasil analisis yang telah dilakukan, terdapat perbedaan pada aktiva tetap komputer & printer dan mobil antara perhitungan yang sudah dilakukan oleh perusahaan dengan perhitungan hasil analisis penulis dengan mengacu pada Undang Undang Pajak. Dimana pada aktiva tetap : 1. Komputer & Printer Perusahaan sebelumnya mengelompokkan aktiva tetap komputer & printer 8 tahun. Setelah dianalisis sesuai dengan Keputusan Mentri Keuangan No. 138/KMK.03/2002, bahwa aktiva tetap komputer &

printer termasuk di dalam kelompok I yaitu tahun. Maka penulis memasukkan nilai beban penyusutan pada aktiva tetap komputer & printer tahun 2010 sebesar Rp 1.29.375, yang sebelumnya menurut perusahaan nilai beban penyusutan aktiva tetap komputer & printer sebesar Rp 3.827.81. Maka nanti, akan adanya koreksi fiskal positif pada akun beban penyusutan aktiva tetap perlengkapan kantor khususnya komputer & printer sebesar Rp 2.523.39. 2. Kendaraan Mobil Sesuai dengan KEP 220/PJ./2002 pasal 3 dimana : Atas biaya perolehan atau pembelian atau perbaikan besar kendaraan sedan atau yang sejenis yang dimiliki dan dipergunakan perusahaan untuk pegawai tertentu karena jabatan atau pekerjaannya, dapat dibebankan sebagai biaya perusahaan sebesar 50% (lima puluh persen) dari jumlah biaya perolehan atau pembelian atau perbaikan besar melalui penyusutan aktiva tetap kelompok II sebagaimana dimaksud dalam Keputusan Menteri Keuangan Nomor 520/KMK.03/2000 Lampiran II butir I huruf b sebagaimana telah diubah dengan Keputusan Menteri Keuangan Nomor 138/KMK.03/2002. Maka nilai beban penyusutan aktiva tetap kendaraan mobil tahun 2010 sebesar Rp 112.087.220 x 50% = Rp 56.03.610. Akan terjadi koreksi fiskal positif sebesar Rp 56.326.658. Dengan melihat nilai koreksi fiskal positif yang cukup besar ini, kemungkinan hal ini akan memperbesar nilai Penghasilan Kena Pajak ( PKP ) perusahaan, untuk lebih jelasnya dapat dilihat dalam tabel.7.

E. Analisis Perhitungan Penyusutan Aktiva Tetap Berwujud Menurut Standar Akuntansi Keuangan dan Undang Undang Pajak Serta Dampaknya Dalam Penentuan Penghasilan Kena Pajak ( PKP ). Seperti yang telah diungkapkan pada sub bab sebelumnya bahwa perusahaan telah melaksanakan kewajiban perpajakannya sehubungan dengan perhitungan penyusutan aktiva tetap, tetapi belum secara benar secara keseluruhan dalam pengelompokkan aktiva tetap Komputer & Printer serta Kendaraan Motor yang berakibat salahnya tarif penyusutan yang digunakan untuk pembebanan dalam rangka penentuan besarnya Penghasilan Kena Pajak (PKP). Selain itu, tidak melakukan pembedaan antara aktiva tetap berwujud yang disusutkan dengan aktiva yang tidak dapat disusutkan (perusahaan menghitung penyusutan atas semua aktivanya untuk tujuan pajak). Berdasarkan uraian di atas penulis menghitung dan menganalisis seberapa besar dampak ditimbulkannya sebagai akibat kesalahan pengenaan tarif penyusutan, kesalahan memperhitungkan harga perolehan atau nilai buku aktiva tetap berwujud yang tidak dapat disusutkan sebagai dasar perhitungan beban penyusutan. Tabel.8 menampilkan perbandingan besarnya penyusutan aktiva tetap berwujud tahun pajak 2010 menurut Standar Akuntansi Keuangan dan Undang Undang Pajak yang bersumber pada tabel.3 dan tabel.7.

Tabel.8 Perbandingan Beban Penyusutan Secara Komersial dan Fiskal No. Keterangan 1 Peralatan Bengkel Equipment Tools 2 Perlengkapan Kantor AC Komputer & Printer Mesin Kantor Peralatan Perlengkapan Kantor 3 Kendaraan Mobil Motor Furniture & Fixture Golongan I Golongan II Menurut Komersial Rp 2.290.93 Rp 5.501.625 Rp 3.827.81 Rp 2.768.750 0 Rp112.087.220 Rp 51.563 Sumber : Hasil Olahan Penulis ( 2011 ) Menurut Fiskal Rp 2.290.93 0 Rp 5.501.625 Rp 1.29.375 Rp 2.768.750 0 Rp 56.03.610 Rp 51.563 Perbedaan Rp 2.533.39 Rp 56.03.610 Hal yang menyebabkan terjadinya perbedaan dalam ketentuan perpajakan tersebut tidak hanya berupa selisih berapa besarnya tarif penyusutan melainkan juga terdapat aktiva tetap berwujud yang tidak dapat disusutkan menurut ketentuan pepajakan tetapi penyusutannya dibebankan kepada penghasilan. Contoh : kasus penyusutan Kendaraan Mobil dan Komputer & Printer. Besarnya perbedaan sementara dan tetap tersebut untuk tahun pajak tahun 2010 akan mempengaruhi penentuan Penghasilan Kena Pajak ( PKP) tahun yang bersangkutan, jumlah keseluruhan perbedaan positif adalah Rp 58.860.098,-. Penyebab perbedaan sementara adalah perbedaan tarif yang digunakan untuk menghitung penyusutan antara komersial dan fiskal dimana seiring dengan berjalannya waktu perbedaan tersebut akan nihil. Sedangkan

penyebab perbedaan tetap antara lain karena perusahaan membebankan penyusutan aktiva tetap berwujud yang merupakan aktiva tetap yang tidak dapat disusutkan sepenuhnya, dimana beban penyusutannya menurut ketentuan perpajakan hanya dapat dibebankan 50% nya saja dalam rangka menghitung Penghasilan Kena Pajak ( PKP ) tahun 2010. Kedua perbedaan tersebut akan menyebabkan Penghasilan Kena Pajak tahun 2010 meningkat sebesar Rp 58.860.098,-. Secara otomatis terdapat perbedaan beban penyusutan atas tiap tiap jenis aktiva tetap berwujud dalam tahun pajak yang bersangkutan sehingga akan mempengaruhi distribusi beban penyusutan dan laporan laba rugi perusahaan menurut perpajakan. Berdasarkan laporan laba rugi komersial perusahaan beban penyusutan yang merupakan komponen dari biaya operasi perusahaan adalah sebesar Rp.80.698.18,-. Sedangkan berdasarkan laporan laba rugi fiskal yang telah dianalisis beban penyusutan yang merupakan komponen dari biaya operasi perusahaan adalah sebesar Rp.22.121.105,-. Yang kemudian akan dilaporkan dalam SPT Tahunan Pajak 2010. Seperti yang terlihat di bawah ini:

PT HYUNDAI MOBIL INDONESIA LAPORAN LABA/RUGI ( Komersial ) Per 31 Desember 2010 AREA :HMI-API PENJUALAN Unit 66.670.629.538 Suku cadang.586.369.999 Service 1.257.057.513 Jumlah Penjualan 72.51.057.050 BEBAN POKOK PENJUALAN Unit Harga Dasar 63.986.615.258 Optional dan lain-lain 36.902.79 Suku Cadang 3.810.52.165 Service 5.955.000 Jumlah Beban Pokok Penjualan 68.208.015.172 LABA (RUGI) BRUTO.306.01.878 BEBAN USAHA Beban Penjualan dan Pemasaran Gaji dan tunjangan 1.689.765.63 Beban karyawan lainnya 205.72.58 Transportasi 11.37.198 Perjalanan dinas dalam negeri 190.000 Asuransi 87.59.225 Sewa 726.2.6 Perlengkapan kantor 3.013.850 Penyusutan aktiva tetap Kendaraaan Rp 112.087.220 Perlengkapan Bengkel Rp 2.290.758 15.377.973 Perbaikan dan pemeliharaan 38.276.600 Komunikasi 0.33.120 Utilitas dan energi 162.575.857 Jasa profesional 1.275.000 Pajak dan ijin-ijin 19.0.21 Representasi dan jamuan 0.300 Iuran / retribusi 2.700.000 Langganan 1.65.000 Pengiriman dokumen 87.000 Penerimaan karyawan 7.131.750 Kebersihan 27.91.100

Iklan & Promosi 152.321.9 Sebelum Penyerahan 6.195.000 Expedisi 7.393.000 Warranty Claim 1.193.11 Pelayanan Purna Jual 21.717.725 Pengurusan Surat Kendaraan 21.536.000 Perlengkapan Kendaraan 1.271.33 Peralatan dan Perlengkapan Bengkel 996.800 Pemakaian Material 73.809.976 Jumlah Beban Penjualan dan Pemasaran 3.712.530.780 Beban Umum dan Administrasi Gaji dan tunjangan 520.695.09 Beban karyawan lainnya 50.310.866 Transportasi 280.782 Perjalanan dinas dalam negeri 256.500 Perjalanan dinas luar negeri 1.099.00 Asuransi 82.130.881 Perlengkapan kantor 2.816.200 Penyusutan aktiva tetap Perlengkapan Kantor Rp 12.098.189 Furniture & Fixture Rp 51.563 12.59.752 Perbaikan dan pemeliharaan 1.09.000 Komunikasi 118.000 Jasa profesional 83.910.253 Pajak dan ijin-ijin 12.906.000 Jumlah Beban Umum dan Administrasi 768.167.368 Jumlah Beban Usaha.80.698.18 LABA (RUGI) USAHA -17.656.270 PENDAPATAN (BEBAN) LAIN-LAIN Pendapatan lain-lain Pendapatan Bunga 326.256 Pendapatan lainnya 26.697.879 Jumlah Pendapatan lain-lain 27.02.135 Beban lain-lain Beban administrasi bank -51.620.008 Baban Lain-lain -1.799.601 Jumlah Beban Lain-lain -53.19.609 Pendapatan (Beban) lain-lain Bersih -26.395.7 LABA (RUGI) SEBELUM PAJAK -201.051.7

PT HYUNDAI MOBIL INDONESIA LAPORAN LABA/RUGI ( Fiskal ) Per 31 Desember 2010 AREA :HMI-API PENJUALAN Unit 66.670.629.538 Suku cadang.586.369.999 Service 1.257.057.513 Jumlah Penjualan 72.51.057.050 BEBAN POKOK PENJUALAN Unit Harga Dasar 63.986.615.258 Optional dan lain-lain 36.902.79 Suku Cadang 3.810.52.165 Service 5.955.000 Jumlah Beban Pokok Penjualan 68.208.015.172 LABA (RUGI) BRUTO.306.01.878 BEBAN USAHA Beban Penjualan dan Pemasaran Gaji dan tunjangan 1.689.765.63 Beban karyawan lainnya 205.72.58 Transportasi 11.37.198 Perjalanan dinas dalam negeri 190.000 Asuransi 87.59.225 Sewa 726.2.6 Perlengkapan kantor 3.013.850 Penyusutan aktiva tetap Kendaraaan Rp 56.03.610 Perlengkapan Bengkel Rp 2.290.758 98.33.369 Perbaikan dan pemeliharaan 38.276.600 Komunikasi 0.33.120 Utilitas dan energi 162.575.857 Jasa profesional 1.275.000 Pajak dan ijin-ijin 19.0.21 Representasi dan jamuan 0.300 Iuran / retribusi 2.700.000 Langganan 1.65.000 Pengiriman dokumen 87.000 Penerimaan karyawan 7.131.750 Kebersihan 27.91.100

Iklan & Promosi 152.321.9 Sebelum Penyerahan 6.195.000 Expedisi 7.393.000 Warranty Claim 1.193.11 Pelayanan Purna Jual 21.717.725 Pengurusan Surat Kendaraan 21.536.000 Perlengkapan Kendaraan 1.271.33 Peralatan dan Perlengkapan Bengkel 996.800 Pemakaian Material 73.809.976 Jumlah Beban Penjualan dan Pemasaran 3.656.87.176 Beban Umum dan Administrasi Gaji dan tunjangan 520.695.09 Beban karyawan lainnya 50.310.866 Transportasi 280.782 Perjalanan dinas dalam negeri 256.500 Perjalanan dinas luar negeri 1.099.00 Asuransi 82.130.881 Perlengkapan kantor 2.816.200 Penyusutan aktiva tetap Perlengkapan Kantor Rp 9.56.750 Furniture & Fixture Rp 51.563 10.016.313 Perbaikan dan pemeliharaan 1.09.000 Komunikasi 118.000 Jasa profesional 83.910.253 Pajak dan ijin-ijin 12.906.000 Jumlah Beban Umum dan Administrasi 765.633.929 Jumlah Beban Usaha.22.121.105 LABA (RUGI) USAHA -116.079.227 PENDAPATAN (BEBAN) LAIN-LAIN Pendapatan lain-lain Pendapatan Bunga 326.256 Pendapatan lainnya 26.697.879 Jumlah Pendapatan lain-lain 27.02.135 Beban lain-lain Beban administrasi bank -51.620.008 Baban Lain-lain -1.799.601 Jumlah Beban Lain-lain -53.19.609 Pendapatan (Beban) lain-lain Bersih -26.395.7 LABA (RUGI) SEBELUM PAJAK -12.7.701

Dari kedua laporan laba rugi di atas dapat dibandingkan bahwa dengan penyusutan menurut Undang Undang PPh akan memperkecil rugi usaha perusahaan dari pada penyusutan menurut akuntansi. Oleh karena adanya perbedaan rugi tersebut, maka harus dilakukan koreksi fiskal. Koreksi fiskal terhadap rugi menurut akuntansi disajikan dalam bentuk table.9 berikut ini ( asumsikan : item lain selain beban penyusutan jumlah sama antara komersial dan fiskal )

Tabel.9 Perbandingan Laporan Laba Rugi Komersial dan Fiskal Item PENJUALAN Unit Suku cadang Service Jumlah Penjualan BEBAN POKOK PENJUALAN Unit Harga Dasar Optional dan lain-lain Suku Cadang Service Jumlah Beban Pokok Penjualan LABA (RUGI) BRUTO BEBAN USAHA Beban Penjualan dan Pemasaran Gaji dan tunjangan Beban karyawan lainnya Transportasi Perjalanan dinas dalam negeri Asuransi Sewa Perlengkapan kantor Penyusutan aktiva tetap Kendaraan Peralatan Bengkel Perbaikan dan pemeliharaan Komunikasi Utilitas dan energi Jasa profesional Pajak dan ijin-ijin Representasi dan jamuan Iuran / retribusi Langganan Pengiriman dokumen Penerimaan karyawan Kebersihan Menurut Komersial 66.670.629.538.586.369.999 1.257.057.513 72.51.057.050 63.986.615.258 36.902.79 3.810.52.165 5.955.000 68.208.015.172.306.01.878 1.689.765.63 205.72.58 11.37.198 190.000 87.59.225 726.2.6 3.013.850 112.087.220 2.290.758 38.276.600 0.33.120 162.575.857 1.275.000 19.0.21 0.300 2.700.000 1.65.000 87.000 7.131.750 27.91.100 Menurut Fiskal 66.670.629.538.586.369.999 1.257.057.513 72.51.057.050 63.986.615.258 36.902.79 3.810.52.165 5.955.000 68.208.015.172.306.01.878 1.689.765.63 205.72.58 11.37.198 190.000 87.59.225 726.2.6 3.013.850 56.03.610 2.290.758 38.276.600 0.33.120 162.575.857 1.275.000 19.0.21 0.300 2.700.000 1.65.000 87.000 7.131.750 27.91.100 Koreksi Fiskal 56.03.610 0

Iklan & Promosi Sebelum Penyerahan Expedisi Warranty Claim Pelayanan Purna Jual Pengurusan Surat Kendaraan Perlengkapan Kendaraan Peralatan dan Perlengkapan Bengkel Pemakaian Material Jumlah Beban Penj. dan Pemasaran Beban Umum dan Administrasi Gaji dan tunjangan Beban karyawan lainnya Transportasi Perjalanan dinas dalam negeri Perjalanan dinas luar negeri Asuransi Perlengkapan kantor Penyusutan aktiva tetap Perlengkapan Kantor Furniture & Fixture Perbaikan dan pemeliharaan Komunikasi Jasa profesional Pajak dan ijin-ijin Jumlah Beban Umum dan Administrasi Jumlah Beban Usaha LABA (RUGI) USAHA PENDAPATAN (BEBAN) LAIN-LAIN Pendapatan lain-lain Pendapatan Bunga Pendapatan lainnya Jumlah Pendapatan lain-lain Beban lain-lain Beban administrasi bank Baban Lain-lain Jumlah Beban Lain-lain Pendapatan (Beban) lain-lain Bersih LABA (RUGI) SEBELUM PAJAK Sumber Data : Hasil Olahan Penulis ( 2011 ) 152.321.9 6.195.000 7.393.000 1.193.11 21.717.725 21.536.000 1.271.33 996.800 73.809.976 3.712.530.780 520.695.09 50.310.866 280.782 256.500 1.099.00 82.130.881 2.816.200 12.098.189 51.563 1.09.000 118.000 83.910.253 12.906.000 768.167.368.80.698.18-17.656.270 326.256 26.697.879 27.02.135-51.620.008-1.799.601-53.19.609-26.395.7-201.051.7 152.321.9 6.195.000 7.393.000 1.193.11 21.717.725 21.536.000 1.271.33 996.800 73.809.976 3.656.87.176 520.695.09 50.310.866 280.782 256.500 1.099.00 82.130.881 2.816.200 9.56.750 51.563 1.09.000 118.000 83.910.253 12.906.000 765.633.929.22.121.105-116.079.227 326.256 26.697.879 27.02.135-51.620.008-1.799.601-53.19.609-26.395.7-12.7.701 2.533,39 0

Pada tahun 2010, koreksi fiskal yang dilakukan adalah koreksi fiskal positif yang menambah jumlah pajak terutang. Karena dalam kasus ini perusahaan mengalami kerugian sebesar Rp 201.051.7 dan setelah adanya koreksi fiskal positif terhadap akun beban penyusutan sebesar Rp 58.860.098,- maka rugi sebelum pajak menjadi sebesar Rp 12.7.701. Dalam konteks Pajak, apabila keuntungan yang diperoleh perusahaan, maka perusahaan tersebut akan dikenakan pajak penghasilan. Sebaliknya jika terjadi kerugian, maka Wajib Pajak (Perusahaan) tidak akan dikenakan Pajak Penghasilan. Kerugian yang didapatkan dalam satu tahun pajak dapat digunakan untuk menutupi keuntungan pada tahun-tahun berikutnya sehingga pada tahun - tahun tersebut Pajak Penghasilannya menjadi lebih kecil atau tidak terutang sama sekali. Proses membawa kerugian dalam satu tahun pajak ke tahun-tahun pajak berikutnya ini dinamakan sebagai Kompensasi Kerugian (Carrying Loss).