BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

dokumen-dokumen yang mirip
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

Model Hipotetik Bimbingan dan konseling Kemandirian Remaja Tunarungu di SLB-B Oleh: Imas Diana Aprilia 1. Dasar Pemikiran

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Komunikasi merupakan suatu proses atau kegiatan yang sukar dihindari

BAB I PENDAHULUAN. Manusia merupakan mahluk sosial yang tidak pernah terlepas dari

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Destalya Anggrainy M.P, 2013

BAB V PENUTUP. terhadap permasalahan kekerasan pasangan suami isteri, yakni: 1. Peran Pendeta sebagai Motivator terhadap Permasalahan Ekonomi

2015 POLA ASUH PANTI ASUHAN AL-FIEN DALAM PENANAMAN KEMANDIRIAN ANAK

BAB V PENUTUP. A. Kesimpulan. keluarga telah mencapai resiliensi sebagaimana dilihat dari proses sejak

BAB I PENDAHULUAN. kebutuhan anak yang berbeda-beda. Begitu pula dengan pendidikan dan

BAB I PENDAHULUAN. yang sehat, pintar, dan dapat berkembang seperti anak pada umumnya. Namun, tidak

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

BAB I PENDAHULUAN. permasalahan, tujuan penelitian, manfaat penelitian, definisi terminologi, dan

SEKOLAH IDEAL. Oleh: Damar Kristianto

BAB II TINJAUAN PUSTAKA Pengertian Family Centered Care

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Erna Victoria Noli, 2014

BAB I PENDAHULUAN. masyarakat menjadi salah satu ruang penting penunjang terjadinya interaksi sosial

BAB V PENUTUP A. Kesimpulan

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah. Anak merupakan generasi penerus dan aset pembangunan. Anak menjadi

BAB I LATAR BELAKANG MASALAH. kerja, mendorong perguruan tinggi untuk membekali lulusannya dengan kemampuan

BAB I PENDAHULUAN. perilaku, komunikasi dan interaksi sosial (Mardiyono, 2010). Autisme adalah

SEKOLAH UNTUK ANAK AUTISTIK

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. dilihat dari fisik, tetapi juga dilihat dari kelebihan yang dimiliki.

BAB I PENDAHULUAN. Retardasi mental adalah suatu gangguan yang heterogen yang terdiri

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. merasa senang, lebih bebas, lebih terbuka dalam menanyakan sesuatu jika berkomunikasi

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. sempurna, ada sebagian orang yang secara fisik mengalami kecacatan. Diperkirakan

POLA INTERAKSI SOSIAL ANAK AUTIS DI SEKOLAH KHUSUS AUTIS. Skripsi Diajukan untuk memenuhi salah satu persyaratan. Mencapai derajat Sarjana S-1

BAB I PENDAHULUAN. Dalam kehidupannya, keberhasilan seseorang tidak hanya ditentukan oleh

BAB V KESIMPULAN DAN REKOMENDASI

BAB 1 PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG. Kehadiran seorang bayi dalam keluarga merupakan berkah yang luar

Disusun oleh Ari Pratiwi, M.Psi., Psikolog & Unita Werdi Rahajeng, M.Psi., Psikolog

BAB I PENDAHULUAN. terjadi pada waktu dan tempat yang kadang sulit untuk diprediksikan. situasi

BAB I PENDAHULUAN. orang tua. Anak bisa menjadi pengikat cinta kasih yang kuat bagi kedua orang

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN. rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi

BAB I PENDAHULUAN. I. A. Latar Belakang. Anak yang dilahirkan secara sehat baik dalam hal fisik dan psikis

BAB II TINJAUAN TEORI. (dalam Setiadi, 2008).Menurut Friedman (2010) keluarga adalah. yang mana antara yang satu dengan yang lain

IbM TERAPI PRAKTIS BAGI KELUARGA ANAK TUNARUNGU

BAB III ANALISIS. Komunitas belajar dalam Tugas Akhir ini dapat didefinisikan melalui beberapa referensi yang telah dibahas pada Bab II.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Komunikasi adalah proses penyampaian gagasan, harapan, dan pesan yang

BAB I PENDAHULUAN. ingin dicapai dari proses pendidikan yaitu menghasilkan manusia yang terdidik

POLA ASUH DAN PENDAMPINGAN ORANGTUA BAGI ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS. Aini Mahabbati, M.A PLB FIP UNY HP:

BAB I PENDAHULUAN. Orang tua merupakan sosok yang paling terdekat dengan anak. Baik Ibu

LAYANAN PENDIDIKAN UNTUK ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS dan PENDIDIKAN INKLUSIF

THE COUNSELING INTERVIEW

BAB I PENDAHULUAN. Departemen Kesehatan RI pada tahun 2010 jumlah anak usia dini (0-4 tahun) di

BAB I PENDAHULUAN. atau interaksi dengan orang lain, tentunya dibutuhkan kemampuan individu untuk

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Menurut Mulyana (2010:108), salah satu prinsip komunikasi adalah

BAB I PENDAHULUAN. Menolong merupakan salah satu tindakan yang diharapkan muncul dalam

BAB I PENDAHULUAN. Sesuai kodratnya manusia adalah makhluk pribadi dan sosial dengan

BAB I PENDAHULUAN. masyarakat. Di era sekarang perceraian seolah-olah menjadi. langsung oleh Direktorat Jenderal Badan Peradilan Agama Mahkamah

BK KELOMPOK Diana Septi Purnama HUBUNGAN INTERPERSONAL

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Manusia sebagai makhluk holistik dipengaruhi oleh lingkungan dari dalam

BAB I PENDAHULUAN. kepada para orang tua yang telah memasuki jenjang pernikahan. Anak juga

Edukasi Kesehatan Mental Intensif 15. Lampiran A. Informed consent (Persetujuan dalam keadaan sadar) yang digunakan dalam studi ini

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

BAB II LANDASAN TEORI

BAB I PENDAHULUAN. Sebagai mahluk sosial, manusia senantiasa hidup bersama dalam sebuah

BAB I PENDAHULUAN. Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat menunjukkan bahwa anak berkebutuhan

BAB V PENUTUP. orang lain, memiliki otonomi, dapat menguasai lingkungan, memiliki. tujuan dalam hidup serta memiliki pertumbuhan pribadi.

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Tita Nurhayati, 2013

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Masa remaja merupakan masa transisi dari masa anak-anak menuju masa dewasa yang

BAB I PENDAHULUAN. A. Konteks Penelitian (Latar Belakang Masalah) Perkawinan merupakan salah satu titik permulaan dari misteri

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB I. Kekerasan Dalam Rumah Tangga atau KDRT diartikan setiap perbuatan. terhadap seseorang terutama perempuan yang berakibat timbulnya kesengsaraan

BAB I PENDAHULUAN. diskriminatif, dan menjangkau semua warga negara tanpa kecuali. Dalam

Intervensi Kelompok (pengantar II) Danang Setyo Budi Baskoro, M.Psi

BAB I PENDAHULUAN. penting. Keputusan yang dibuat individu untuk menikah dan berada dalam

PELATIHAN KONSELING PERKAWINAN BERBASIS KOMUNITAS

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Iding Tarsidi, 2013

BAB I PENDAHULUAN. diberikan dibutuhkan sikap menerima apapun baik kelebihan maupun kekurangan

BAB V KESIMPULAN DAN REKOMENDASI

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Vivit Puspita Dewi, 2014

KEBAHAGIAAN SAUDARA KANDUNG ANAK AUTIS. Skripsi

I. PENDAHULUAN. untuk mencapai tujuan yang diinginkan dalam kehidupannya. Pendidikan

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Sosialisasi merupakan suatu proses di dalam kehidupan seseorang yang

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang

BAB IV ANALISIS PROBLEMATIKA PENGAJIAN TAFSIR AL-QUR AN DAN UPAYA PEMECAHANNYA DI DESA JATIMULYA KEC. SURADADI KAB. TEGAL

I. PENDAHULUAN. selalu berhubungan dengan tema tema kemanusiaan, artinya pendidikan

BAB V KESIMPULAN DAN REKOMENDASI

BAB II LANDASAN TEORI. rendah atau tinggi. Penilaian tersebut terlihat dari penghargaan mereka terhadap

I. PENDAHULUAN. bukan hanya dari potensi akademik melainkan juga dari segi karakter

INTERVENSI DALAM PSIKOLOGI KLINIS. DITA RACHMAYANI, S.Psi., M.A dita.lecture.ub.ac.id

KONSEP INTERAKSI KOMUNIKASI PENDAHULUAN

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. lingkungan. Ketika remaja dihadapkan pada lingkungan baru misalnya lingkungan

Transkripsi:

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan 1. Persepsi keluarga terhadap anak dengan ID Keluarga dapat memiliki persepsi yang benar maupun salah terhadap anak dengan ID, khususnya terkait dengan disabilitas dan penyebab disabilitas mereka. Beberapa faktor yang menyebabkan munculnya persepsi yang salah yaitu: (1) terbatasnya ketersediaan sumber informasi dan kurangnya usaha untuk mencari informasi tentang ID, (2) pengaruh dari persepsi masyarakat sekitar yang salah tentang ID, dan (3) adanya hambatan untuk mendapatkan informasi yang benar, yaitu masalah ekonomi. Ketika ditelusuri ke belakang, benar atau salahnya persepsi yang dimiliki keluarga berawal dari benar atau tidaknya dan cukup atau tidaknya pengetahuan tentang ID yang dimiliki. Karena itu sebelum berbicara panjang lebar tentang intervensi terhadap keluarga dari anak dengan ID dan keluarganya, hal pertama yang harus dibenahi dan ditingkatkan adalah pengetahuan keluarga tentang ID. Persepsi yang salah akan memunculkan penanganan atau intervensi yang salah juga. Sebaliknya, persepsi yang benar seharusnya melahirkan penanganan atau intervensi yang benar juga. Tetapi, dalam realitas di lapangan, persepsi yang benar pun tidak otomatis selalu membawa pada penanganan atau intervensi yang benar. Ketidakmampuan untuk berbuat sesuatu menindaklanjuti persepsi yang sudah benar itu,baik dengan alasan keterbatasan waktu, biaya, tenaga, keahlian dan sebagainya, memunculkan sikap pasrah pada keadaan atau menunggu dan melihat (wait and see). 109

Salah satu pengaruh faktor kultur, norma, dan nilai yang diyakini oleh komunitas tempat tinggal keluarga yang memiliki anak dengan ID terhadap persepsi keluarga adalah terkait dengan penyebab kondisi disabilitas anak. Keyakinan yang berangkat dari tradisi atau budaya masyarakat, yaitu ketidakselarasan antara anak dengan nama yang disandangnya diyakini sebagai penyebab kondisi disabilitas anak sehingga penanganan yang dilakukan adalah mengubah nama anak tersebut. 2. Proses penerimaan keluarga terhadap kehadiran anak dengan ID Proses menuju penerimaan yang sepenuhnya atas kehadiran anak dengan ID merupakan proses pembelajaran seumur hidup karena dampak dari hambatan yang dialami anak akan menjadi bagian kehidupannya seumur hidup. Penerimaan yang sepenuhnya mencakup penerimaan dalam tiga aspek individualitas seseorang, yaitu kognitif, afektif, dan perilaku. Penerimaan secara kognitif berarti keluarga memiliki pengetahuan yang benar dan cukup tentang kondisi disabilitas anak. Secara afektif berarti keluarga sudah menyadari dan mengakui realitas kondisi disabilitas anak sehingga tidak tampak lagi reaksi emosional yang tinggi intensitasnya ketika mendengar omongan negatif dari lingkungan tentang anak. Secara perilaku berarti perlakuan yang diberikan kepada anak dengan ID tidak berbeda dengan perlakuan terhadap anak-anak pada umumnya, yang terekspresi secara fisik maupun verbal. Reaksi emosional awal yang biasanya ditunjukkan oleh orangtua ketika mengetahui kondisi disabilitas anak adalah kesedihan, kekecewaan, dan kadang kala kemarahan. Selanjutnya, kehadiran anak dengan ID di tengahtengah keluarga dipastikan akan menyebabkan terjadinya banyak perubahan dalam pola dan dinamika kehidupan keluarga sehingga menimbulkan tekanan 110

psikologis tersendiri. Untuk itu keluarga sangat membutuhkan kemampuan beradaptasi yang cukup. Beberapa faktor yang mempengaruhi intensitas reaksi emosional awal keluarga dan tinggi rendahnya kemampuan beradaptasi keluarga, khususnya orangtua adalah: (1) waktu terjadinya disabilitas, (2) waktu pertama kali mendapat informasi, menyadari, dan mengakui kondisi disabilitas anak, (3) diskrepansi antara ekspektasi dengan realitas kondisi faktual anak, (4) dukungan dari pasangan dan keluarga, dan (5) masalah perilaku sebagai dampak dari disabilitas anak. Selain itu faktor pemahaman agama berperan penting dalam menjalani proses penerimaan. 3. Dampak pada keluarga atas kehadiran anak dengan ID Kehadiran anak dengan ID di tengah-tengah keluarga akan memunculkan berbagai dampak negatif dan positif, baik secara personal, interpersonal dalam satu keluarga, maupun interaksional keluarga dengan lingkungan sekitar. Dampak secara personal adalah: (1) terbatasinya ruang sosial atau pergaulan orangtua, (2) munculnya berbagai tekanan psikologis, baik yang berasal dari dalam diri sendiri maupun dari lingkungan sekitar, (3) terbentuknya pola kepribadian tertentu, baik yang positif seperti kesabaran maupun yang negatif seperti kecenderungan berasumsi negatif terhadap perkataan atau tindakan orang lain, dan (4) terhiburnya keluarga dengan karakteristik yang unik dari masing-masing anak. Secara interpersonal, kehadiran anak dengan ID akan membawa dampak sebagai berikut: (1) penurunan kualitas relasi pernikahan orangtua, bahkan ada yang berujung pada perceraian, (2) kekecewaan pada diri anak-anak yang lain karena perlakuan spesial orangtua terhadap anak dengan ID, (3) terisolirnya orangtua dari keluarga besar karena masalah perilaku anak, (4) peningkatan kualitas relasi keluarga besar. 111

Secara interaksional dengan lingkungan sekitar, kehadiran anak dengan ID akan memunculkan berbagai komentar dan perlakuan negatif dari lingkungan sekitar karena perilaku non-adaptif anak. Sebaliknya, kadangkala kehadiran anak dengan ID dengan keunikannya justru membawa keceriaan tersendiri bagi lingkungan sekitarnya. 4. Pengharapan masa depan keluarga terkait kondisi anak dengan ID Persepsi yang salah tentang anak-anak dengan ID akan memunculkan pengharapan yang tidak realistis tentang masa depan mereka. Pesimistis semakin dirasakan oleh keluarga karena melihat bahwa pengharapan mereka tidak pernah datang. Semua keluarga yang menjadi subjek penelitian ini berpandangan serupa bahwa sulitnya kondisi perekonomian keluarga merupakan hambatan utama untuk merealisasikan pengharapan keluarga atau dengan kata lain keterbatasan kondisi perekonomian memudarkan pengharapan keluarga. Sebenarnya ada beberapa modal penting yang berpotensi untuk dapat mewujudkan masa depan yang optimal bagi anak-anak dengan ID yaitu: (1) kepedulian dan dukungan keluarga besar secara emosional, (2) kebersamaan salah satu orangtua hampir sepanjang waktu setiap hari dengan anak, (3) penerimaan masyarakat terhadap kondisi disabilitas anak, (4) keberadaan SLB dengan biaya pendidikan yang sangat terjangkau, dan (5) semakin banyaknya ketersediaan bantuan dana pendidikan. Semua keluarga mengawatirkan masa depan anak dengan ID kalau orangtuanya sudah tua atau meninggal. Kekhawatiran ini paling tidak mempunyai dua implikasi yaitu yang pertama, keraguan orangtua atas 112

kemampuan diri mengasuh anak terkait dengan usia yang terus bertambah. Kedua, pesimistis orang tua untuk terwujudnya pengharapan mereka bagi masa depan anak. Beberapa faktor yang mempengaruhi perasaan mampu mengasuh orangtua (feelings of parenting competence)yaitu: (1) kemunculan dan intensitas masalah perilaku sebagai salah satu dampak dari disabilitas anak-anak dengan ID, (2) dukungan secara emosional dari keluarga besar, (3) kerelaan anak-anak yang lain untuk mendukung, dan (4) kondisi perekonomian keluarga. Keempat fokus penelitian ini memiliki keterkaitan satu sama lain, yaitu: (1) persepsi keluarga terhadap anak dengan ID mempengaruhi proses penerimaan keluarga, dampak yang dialami keluarga, dan pengharapan masa depan keluarga, (2) proses penerimaan keluarga, dampak yang dialami keluarga, dan pengharapan masa depan keluarga saling terkait satu sama lain, baik hubungan yang saling mempengaruhi antara proses penerimaan dengan dampak; hubungan berbanding lurus antara proses penerimaan dan pengharapan masa depan; dan hubungan berbanding terbalik antara dampak negatif dengan pengharapan masa depan, (3) konstruksi persepsi keluarga terhadap anak dengan ID berbahan dasar pengetahuan yang dimiliki keluarga tentang ID, karena itu fokus yang pertama dan terutama dalam intervensi terhadap keluarga dari anak-anak dengan ID, khususnya di lingkungan pedesaan, adalah rekonstruksi persepsi keluarga yang salah. B. Saran Berdasarkan temuan penelitian ini, berikut beberapa hal yang disarankan kepada semua pihak yang terkait dengan penanganan anak dengan ID, baik secara langsung maupun tidak langsung. 113

1. Keluarga dari anak-anak dengan ID, sekolah, para profesional, dan pemerintah. Keempat unsur ini harus dipandang sebagai satu kesatuan yang saling melengkapi dalam mengoptimalkan penanganan anak-anak dengan ID.Layanan terhadap anak-anak dengan ID dan keluarganya membutuhkan sebuah program intervensi yang bersifat kolaboratif-integratif dan aplikatifsolutif. Bersifat kolaboratif-integratif berarti perlu melibatkan semua pihak terkait, yaitu pemerintah (beberapa institusi pemerintah yang menaungi masalah pendidikan, sosial, tenaga kerja dan sebagainya), masyarakat (para profesional yang terkait dengan penanganan anak dengan ID dan keluarganya, seperti konsultan pendidikan bagi anak-anak berkebutuhan khusus, dokter anak, para terapis, konselor keluarga, trainer di berbagai bidang pekerjaan dan sebagainya), sekolah, dan keluarga, untuk duduk bersama dan memikirkan secara intensif sampai terumuskan sebuah program yang aplikatif-solutif. Program yang aplikatif-solutif memberikan penekanan pada penerapan program, bukan sekedar rencana yang sangat ideal di atas kertas, yang sangat sulit untuk diaplikasikan di lapangan karena tidak jelas tujuan-prosedur-strategi-evaluasinya. Tetapi betul-betul menjadi solusi untuk membantu keluarga dari anak dengan ID dengan segala problematikanya, khususnya menjawab kebingungan dan kekhawatiran keluarga ketika berbicara tentang masa depan anak-anak mereka. Keterbatasan kondisi perekonomian masyarakat pedesaan sering kali menjadi alasan dan hambatan untuk anak-anak dengan ID dan keluarganya mendapatkan penanganan atau intervensi yang benar dan tepat. Dari hasil penelitian ini ditemukan bahwa di dalam berbagai keterbatasannya seperti kemiskinan, masyarakat pedesaan sebenarnya memiliki banyak modal penting yang sangat dibutuhkan untuk mendukung dilakukannya intervensi yang benar dan tepat, yang justru sangat sulit ditemukan di masyarakat 114

perkotaan yang cenderung individualistis. Kepedulian dan dukungan keluarga besar yang pada umumnya tinggal berdekatan, penerimaan masyarakat, dan besarnya kesempatan orangtua untuk memberikan waktu dan perhatian yang cukup bagi anak menjadi tiga modal penting yang bisa jauh lebih bermakna bila betul-betul dikelola dengan baik dibandingkan kemampuan secara finansial. Misalnya, keluarga khususnya para orangtua dapat diberdayakan secara optimal untuk mengembangkan suatu program intervensi dini berbasis keluarga. Tentu saja untuk pengembangannya dibutuhkan dukungan dari berbagai pihak. Karena itu di atas sangat ditekankan sebuah program intervensi yang kolaboratif-integratif. 2. Para pimpinan dan guru di SLB yang ada di pedesaan serta lembaga-lembaga pendidikan yang menghasilkan para guru tersebut. Keberadaan SLB di daerah pedesaan perlu dioptimalkan karena merupakan tempat berkumpulnya salah satu sumber informasi yang kredibel untuk dapat memberikan informasi yang benar tentang ID kepada masyarakat. Para guru yang berlatar belakang Pendidikan Luar Biasa (PLB) dan berpengalaman mengajar anak-anak dengan ID menjadi sumber daya yang harus dioptimalkan untuk memberikan edukasi kepada masyarakat tentang ID, agar secara perlahan tapi pasti, pengetahuan masyarakat berkembang. Tentunya pengetahuan yang berkembang akan berefek pada perubahan persepsi, yang akhirnya tujuan yang diharapkan tercapai, yaitu anak-anak dengan ID dan keluarganya mendapatkan intervensi yang benar dan tepat. Perlu dipikirkan cara yang efektif dan efisien bagaimana para sumber informasi ini dapat masuk ke masyarakat dan mempengaruhi pemikiran dan persepsi masyarakat secara luas dan mendalam, bukan hanya sekedar bimbingan dan arahan kepada orangtua per individu yang sudah menjadi rutinitas di sekolah. Walaupun demikian, rutinitas ini pun harus diseriuskan dan dioptimalkan karena rutinitas inilah yang menjadi cikal bakal distribusi pengetahuan yang 115

benar tentang ID di tengah-tengah masyarakat. Di sinilah peran penting lembaga-lembaga pendidikan yang menjadi tempat para guru ini dibekali. Kemampuan untuk dapat berinteraksi dan diterima oleh masyarakat tempat para guru ini mengabdi, khususnya di daerah pedesaan, bagaimana berbagi pengetahuan dan pengalaman yang mereka miliki, serta akhirnya bagaimana mempengaruhi persepsi masyakarat yang salah tentang berbagai hal terkait dengan anak-anak berkebutuhan khusus, khususnya anak-anak dengan ID, harus menjadi salah satu concern lembaga-lembaga pendidikan dalam mempersiapkan para guru tersebut. 3. Para pemuka agama sebagai salah satu tokoh masyarakat. Faktor pemahaman agama tampaknya cukup kuat mempengaruhi dan membentuk persepsi masyarakat pedesaan tentang berbagai isu dan problem kehidupan, termasuk kehadiran anak-anak dengan ID di tengah-tengah keluarga. Karena itu, salah satu figur penting di dalam masyarakat pedesaan yang harus diberdayakan secara optimal adalah para pemuka agama, ulama, ustad, guru mengaji dan sebagainya. Rutinitas kegiatan-kegiatan keagamaan masyarakat termasuk anak-anak, seperti pengajian, menjadi wadah yang sangat baik untuk menyosialisasikan berbagai pengetahuan tentang ID. Sebelumnya, para ulama ini dapat dibekali oleh para profesional yang berkecimpung dalam layanan bagi anak-anak dengan ID seperti para guru PLB untuk membantu memperluas pemahaman mereka tentang ID. Di sinilah salah satu contoh konkret letak pentingnya program intervensi yang kolaboratif-integratif seperti yang sudah dibahas di atas. 4. Para profesional yang bergerak dalam penanganan anak-anak dengan ID seperti konsultan pendidikan bagi anak-anak berkebutuhan khusus, dokter anak, terapis, konselor keluarga dan sebagainya. Keluarga dari anak-anak dengan ID, baik para orangtua dan anggota-anggota keluarga yang lain, adalah individu-individu yang perlu mendapatkan 116

pendampingan dari para profesional dalam menghadapi berbagai problematika mereka. Tetapi, yang tidak boleh dilalaikan lagi, keluarga juga harus diberdayakan, diperlengkapi, dan diajak berperan serta dalam penanganan anak-anak mereka. Pemahaman tentang problematika keluarga dari anak-anak dengan ID sangat penting dimiliki para profesional untuk dapat memberikan pertolongan yang efektif dan efisien, dengan tujuan membantu keluarga kembali memiliki daya dan dapat diberdayakan untuk akhirnya dapat berkolaborasi dengan para profesional dan berbagai pihak terkait dalam menolong anak-anak mereka. 117