BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

dokumen-dokumen yang mirip
LAMPIRAN 1 QUESTIONNAIRE

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

VI. MEKANISME PENYALURAN KUR DAN KARAKTERISTIK RESPONDEN

RINGKASAN EKSEKUTIF : : :

DAFTAR PUSTAKA. Ahmad Ifham Solihin Ini Lho, Bank Syariah!, PT. Karya Kita, Bandung.

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB V HASIL PENGAMATAN DAN PEMBAHASAN

BAB IV PEMBIAYAAN MURABAHAH PADA PRODUK MODAL USAHA DI KJKS BMT BINAMA SEMARANG

Akuntansi Modal Bank K E L O M P O K 4 : H A F I L I A P O N G G O H O N G S U S A N T I A S S A S A R W I N D A S A R I R I K I K U M A U N A N G

Apply now! GRATIS HP Motorola W175. *

BAB II LANDASAN TEORI. lembaga keuangan yang kegiatannya adalah dalam bidang jual beli uang.

PERANAN BPR UNTUK MASYARAKAT

Kuisioner Penelitian untuk Debitur ANALISIS MANAJEMEN RISIKO KREDIT PRODUK KREDIT MASYARAKAT DESA KOMERSIL DI BANK X BOGOR

CAKUPAN DATA. AKSES DATA Data Antar Bank Aktiva dapat di akses dalam website BI :

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

V. DAMPAK PERGULIRAN DANA SPP TERHADAP UMKM. 5.1 Keragaan Penyaluran Pinjaman Dana Bergulir SPP

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. menghimpun dana dari masyarakat (tabungan, giro, deposito) dan menyalurkan

memenuhi kriteria kekayaan bersih atau hasil penjualan tahunan serta diatur dalam Pasal 1 Undang-Undang No.20 Tahun 2008.

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 9 TAHUN 1995 TENTANG PELAKSANAAN KEGIATAN USAHA SIMPAN PINJAM OLEH KOPERASI PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

BAB II LANDASAN TEORI. Istilah kredit berasal dari bahasa yunani (credere) yang berarti. disepakati yaitu dapat berupa barang, uang, atau jasa.

BAB II KAJIAN PUSTAKA. (Mulyadi, 2010:5). Prosedur adalah suatu urutan pekerjaan klerikal (clerical),

PERSYARATAN MENGAJUKAN KREDIT DI BANK

SURAT EDARAN. Kepada SEMUA BANK PERKREDITAN RAKYAT DI INDONESIA. Perihal : Fasilitas Pendanaan Jangka Pendek Bagi Bank Perkreditan Rakyat

BAB II LANDASAN TEORI. Menurut Kasmir (2010:11) Bank adalah lembaga keuangan yang kegiatan. kemasyarakat serta memberikan jasa bank lainnya.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. tidak terlepas dari kaitannya dengan uang. Sebab untuk menjalankan

LAMPIRAN 1 SURAT IJIN PENELITIAN. Dari PT. BANK NEGARA INDONESIA (PERSERO) Tbk. KANTOR CABANG PONOROGO

PERATURAN PEMERINTAH NOMOR 9 TAHUN 1995 TENTANG PELAKSANAAN KEGIATAN USAHA SIMPAN PINJAM OLEH KOPERASI PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

BAB IV PEMBAHASAN. A. Pengertian pembiayaan mikro dan prosedur pembiayaan mikro. menambah modal usaha nasabah dengan harapan agar usahanya lebih

BAB II KAJIAN PUSTAKA DAN KERANGKA PEMIKIRAN

PEDOMAN PENYUSUNAN LAPORAN BATAS MAKSIMUM PEMBERIAN KREDIT BANK PERKREDITAN RAKYAT

LAMPIRAN I SURAT EDARAN OTORITAS JASA KEUANGAN NOMOR 41 /SEOJK.03/2017 TENTANG BATAS MAKSIMUM PEMBERIAN KREDIT BANK PERKREDITAN RAKYAT

BAB III PELAKSANAAN KERJA PRAKTEK. Dalam pelaksanaan Kerja Praktek di PD.BPR BKK TAMAN. KAB.PEMALANG penulis ditempatkan pada Bagian Kredit pada aspek

BAB III DESKRIPSI LEMBAGA

DAFTAR WAWANCARA Jawab

BAB II KAJIAN PUSTAKA

BAB III ANALISIS SISTEM

BAB IV KESIMPULAN DAN SARAN. A. Syarat-syarat Pemberian Kredit Umum BPR Nusamba

No. 8/ 28 /DPBPR Jakarta, 12 Desember 2006 SURAT EDARAN. Kepada SEMUA BANK PERKREDITAN RAKYAT DI INDONESIA

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

BAB IV PEMBAHASAN. pembiayaan untuk beragam keperluan, baik produktif (investasi dan modal

PermataKPR Bijak Biarkan Uang Anda yang Bekerja

- 2 - OTORITAS JASA KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA

VI. MEKANISME PENYALURAN KREDIT BNI TUNAS USAHA (BTU) PADA UKC CABANG KARAWANG

BAB II DESKRIPSI PERUSAHAAN

FORMULIR APLIKASI PEMBUKAAN REKENING INDIVIDU

II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Ketentuan Umum Perkreditan Bank 2.2. Unsur-unsur dan Tujuan Kredit

BAB II PROSES BISNIS. 11 Sumber: Dendawijaya, 2005: 55.

POLA KEBIJAKAN TAHUN BUKU 2017 KOPDIT PADAT ASIH

PERATURAN BANK INDONESIA NOMOR: 8/19/PBI/2006 TENTANG KUALITAS AKTIVA PRODUKTIF DAN PEMBENTUKAN PENYISIHAN PENGHAPUSAN AKTIVA PRODUKTIF

TINJAUAN ATAS PROSEDUR PEMBERIAN KREDIT MIKRO UTAMA PADA BANK BJB KANTOR CABANG CIANJUR

BAB IV HASIL PENELITIAN. A. Prosedur Pengikatan Jaminan Pada Pembiayaan Murabahah di BPRS

ANALISIS KELAYAKAN PEMBERIAN KREDIT TERHADAP CALON DEBITUR

BAB IV PEMBAHASAN. IV. 1 Penerapan dan Perhitungan Akad Sewa-Menyewa Ijarah Pada Bank DKI

BAB IV ANALISIS HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

BAB I PENDAHULUAN. yang mencolok agar anak-anak tertarik untuk mengisinya dengan tabungan

Dengan Bersama, Cicilan KPR Jadi Ringan

POIN ISI SURAT EDARAAN USULAN PERBARINDO. Matriks Rancangan Surat Edaran OJK Tentang Rencana Bisnis BPR dan BPRS

Asset Liabilities Management (ALMA) Muniya Alteza

Financial Check List. Definisi Pembiayaan. Mengapa Masyarakat. Memerlukan Jasa. Pembiayaan? Kapan Masyarakat. Memerlukan Jasa. Pembiayaan?

Keuntungan Penggunaan Kredit

PENGURUS DEWAN PIMPINAN KETUA WAKIL KETUA SKRETARIS WAKIL SEKRETARIS BENDAHARA 3 ORANG ANGGOTA MENEJER KABID KEUANGAN ANGGOTA DILAYANI

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN. Pada Bab V ini, berdasarkan hasil penelitian terhadap analisis sumber dan

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 9 TAHUN 1995 TENTANG PELAKSANAAN KEGIATAN USAHA SIMPAN PINJAM I OLEH KOPERASI

SALINAN SURAT EDARAN OTORITAS JASA KEUANGAN NOMOR 41 /SEOJK.03/2017 TENTANG BATAS MAKSIMUM PEMBERIAN KREDIT BANK PERKREDITAN RAKYAT

PERATURAN BANK INDONESIA NOMOR 13/26/PBI/2011 TENTANG

BAB 4 ANALISIS KREDIT KONSUMTIF BANK X DENGAN INTERNAL MODEL CREDITRISK Gambaran Umum Kredit Konsumtif pada Bank X

PERATURAN BANK INDONESIA NOMOR: 6/ 19 /PBI/2004 TENTANG PENYISIHAN PENGHAPUSAN AKTIVA PRODUKTIF BAGI BANK PERKREDITAN RAKYAT SYARIAH

2. Bagaimana prosedur dalam penerbitan kartu kredit sendiri? kartu kredit, dapat dijelaskan sebagai berikut :

Analisis Sistem Pengendalian Intern atas Pemberian Kredit Pemilikan Rumah. (Studi Kasus pada PT. Bank Central Asia, Tbk Cabang Tulungagung) Oleh:

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Salah satu ukuran untuk melihat kinerja keuangan perbankan adalah melalui

BAB II KAJIAN PUSTAKA. keuangan yang pada akhirnya akan berpengaruh terhadap laporan keuangan.

FORMULIR APLIKASI PEMBUKAAN REKENING INDIVIDU

INTERNAL CONTROL QUESTIONNAIRES PADA PENGENDALIAN INTERN ATAS PEMBERIAN KREDIT PADA KOPERERASI PATRA. Pemberian Kredit

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Penelitian. Bank merupakan salah satu bagian penting dalam suatu perekonomian. Bank

BAB IV ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN Tinjauan Umum Bank Perkreditan Rakyat Gamping Artha Raya

BAB II KAJIAN PUSTAKA. Sistem adalah sekelompok dua atau lebih komponen-komponen yang saling berkaitan

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. Dana kas besar ialah bagian dari persediaan uang tunai yang tidak langsung

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

2. Bagaimanakah pelaksanaan (di Kantor Pusat dan Kantor Cabang) kebijakan perkreditan tersebut?

BAB 1 PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Pembangunan nasional suatu bangsa mencakup di dalamnya

BAB IV ANALISIS SITEM PEMBERIAN PEMBIAYAAN PADA KJKS BMT AMANAH USAHA MULIA MAGELANG. A. Sistem dan Prosedur Pemberian pembiayaan

Petunjuk : Berilah tanda (X) pada salah satu jawaban anda

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN. memenuhi sejumlah persyaratan yang telah ditentukan oleh Bank BTN, adapun

BAB 10 Membeli Rumah

BAB I PENDAHULUAN. Dewasa ini, masyarakat perlu melakukan usaha untuk memenuhi. kebutuhan hidup dan meningkatkan kesejahteraannya. Tetapi tidak semua

SURAT EDARAN OTORITAS JASA KEUANGAN NOMOR /SEOJK.03/2016 TENTANG RENCANA BISNIS BANK PERKREDITAN RAKYAT

BAB IV MEKANISME PENILAIAN BARANG JAMINAN PEMBIAYAAN MURABAHAH PADA KSPPS BINAMA SEMARANG

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB III PELAKSANAAN KERJA PRAKTEK. Dengan melihat uraian diatas maka penulis menyusun laporan kerja

BAB II LANDASAN TEORI. Menurut Undang-Undang RI Nomor 10 Tahun 1998 Tanggal 10 November 1998

BAB 3 METODOLOGI PENELITIAN

Transkripsi:

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Analisis Perhitungan Model scoring ini adalah model perhitungan yang cepat dan mudah untuk mengidentifikasikan keputusan yang mempunyai beragam criteria. Perhitungan dalam model ini dilakukan dengan cara mengkuantitatifkan data kualitatif menjadi score tertentu, dan selanjutnya adalah menjumlahkan nilainilai yang diperoleh tersebut. Total score yang dihasilkan akan menjadi acuan untuk keputusan kredit yang akan dibuat. Apabila total score melebihi tingkat cutoff score batas atas yang ditetapkan, maka aplikasi calon debitur disetujui, apabila total score yang di dapat berada diantara cutoff score batas atas dan batas bawah, maka aplikasi dapat dipertimbangkan, sedangkan apabila total score yang di dapat berada di bawah cutoff score batas bawah maka aplikasi kredit dapat ditolak atau dipertimbangkan kembali dengan melihat situasi dan kondisi yang ada.

49 4.2 Cara Mengkuantitatifkan Data Berdasarkan formulir aplikasi yang diperoleh dari BPR GM, maka penulis menggunakan pengalaman dari BPR GM itu sendiri di dalam pengembangan scoring system. Atribut-atribut yang terdapat di dalam formulir permohonan kredit digunakan sebagai dasar dalam penilaian scoring ini, di mana setiap atribut diberikan bobot tertentu, dengan menggunakan bobot dari angka minus seratus sebagai angka terendah, sampai dengan angka lima sebagai angka tertinggi. Bobot tersebut akan berubah sesuai dengan kondisi atribut tersebut. Pemberian score dilakukan dengan beberapa cara, yaitu : 1. Setiap atribut yang memiliki kondisi yang lebih baik dari atribut sebelumnya, nilainya akan bertambah satu. 2. Setiap atribut yang memiliki kondisi yang dianggap kurang baik dari atribut sebelumnya, maka nilainya dikurangi satu. 3. Khusus untuk atribut kredibilitas, jika statusnya adalah tidak baik, maka score atribut itu adalah -100. 4. Setiap atribut dikelompokan ke dalam beberapa interval sesuai dengan ketentuan pihak manajemen dari BPR GM. Atribut-atribut tersebut dapat dikelompokkan berdasarkan 5 C dan keterangan lainnya, namun hanya diambil empat diantara lima bagian tersebut. Atribut dan keterangan tersebut meliputi : 1. Kondisi jaminan.

50 2. 3. 4. 5. Pribadi pemohon. Penghasilan bersih. Analisis risiko kredit. Kekayaan lain. Kriteria tersebut akan dibagi lagi menjadi beberapa atribut lain yang akan diberi bobot. Untuk bobotnya sendiri dan maksimum score yang didapat untuk masing-masing kategori dapat kita lihat dari table di bawah ini : Tabel 4.1 Kriteria dan Bobot Score-nya Kriteria Bobot persentase Maksimum Score Kondisi Jaminan 30% 30 Data pribadi 25% 25 Penghasilan Bersih 20% 20 Analisis Risiko kredit 20% 20 Kekayaan lain 5% 5 Total Score 100 Untuk mendapatkan score dari masing-masing kategori, maka dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut Jumlah score atribut Total Maksimum score perkategori x Maksimum score perkategori Contoh perhitungan score: Untuk kategori data pribadi, maksimum score-nya adalah 42 point. Jika jumlah atribut untuk kategori data pribadi adalah 30 point, maka score-nya adalah : 30 42 x 25 = 17.86 point

51 Setelah mendapatkan seluruh score untuk perkategorinya, maka langkah selanjutnya adalah menjumlahkan seluruh score yang didapat dan dibandingkan dengan cutoff score-nya. Hasil dari perhitungan yang didapat jika pointnya berupa pecahan, maka secara otomatis dibulatkan ke atas. Atribut-atribut yang ada di dalamnya itu akan kita kuantitatifkan berdasarkan formulir aplikasi kredit adalah sebagai berikut: 1. Kondisi Jaminan Kondisi jaminan ini merupakan faktor yang terpenting di dalam memberikan keputusan kredit. Tanpa adanya jaminan, maka kredit tidak akan disetujui. Jumlah jaminan yang dijaminkan harus lebih besar dibandingkan dengan kredit yang diajukan. Keadaan ini digunakan untuk berjaga-jaga apabila calon debitur tidak dapat melakukan kewajiban kreditnya kepada bank. Atribut-atribut kondisi jaminan ini terdiri dari: a. Kredit dengan Jaminan Kendaraan Bermotor Harga Mobil berdasarkan penilaian BPR GM Jaminan berupa mobil ini merupakan jaminan yang paling penting dalam permintaan kredit. Jaminan ini dialokasikan terhadap harga mobil yang dimiliki oleh calon debitur pada BPR tersebut. Semakin mahal harga mobil, yang dijadikan sebagai jaminan maka bobotnya pun akan semakin tinggi.

52 Tabel 4.2 Interval Harga Mobil Interval Harga Mobil Perkiraan Bobot > Rp 300 juta 5 Rp 200 300 juta 4 Rp 100 200 juta 3 Rp 50 100 juta 2 < Rp 50 juta 1 Surat-surat Mobil dan Motor Jaminan yang dijaminkan selain berbentuk fisik, jaminan tersebut juga harus disertai adanya bukti pendukung yang berupa surat-surat atas kepemilikan mobil atau motor tersebut. Bila surat mobil dan motor atas nama calon debitur tersebut, maka bobotnya pun akan semakin tinggi. Sedangkan bila surat-surat tersebut atas nama orang lain, maka bobotnya pun akan berkurang. Tabel 4.3 Interval Surat Mobil dan Motor Interval Surat Mobil dan Motor Perkiraan Bobot Surat-surat Mobil a.n calon debitur 5 Surat-surat Motor a.n calon debitur 4 Surat-surat Mobil a.n orang lain 3 Kondisi Kendaraan Kondisi kendaraan ini membedakan antara kendaraan biasa dan angkutan kota. Di mana jika kendaraan dalam keadaan baru maka bobot nilainya akan semakin tinggi. Kondisi keadaan dibagi menjadi lima kategori.

53 Tabel 4.4 Interval Kondisi Kendaraan Interval Kondisi Kendaraan Perkiraan Bobot Kendaraan baru plat hitam 5 Angkutan Kota Baru 4 Kend bekas plat hitam a.n sendiri 3 Angkutan Kota Bekas 2 Kend bekas a.n orang lain plat hitam (termasuk anggota keluarga) 1 Deposito / Giro Deposito atau giro merupakan faktor tambahan di dalam penilaian kredit dengan jaminan kendaraan bermotor. Karena dengan adanya deposito / giro maka bank akan lebih aman karena apabila debitur tidak melakukan pembayaran angsuran / menunggak maka bank memiliki cadangan jaminan. Apabila debitur memiliki deposito pada bank tersebut akan diberi bobot tertinggi sedangkan apabila debitur memiliki giro dari bank lain akan diberi bobot terendah karena ada kemungkinan bahwa giro tersebut tidak dapat dicairkan (giro kosong). Tabel 4.5 Interval Deposito/Giro Interval Deposito/Giro Perkiraan Nilai Deposito bank sendiri 5 Deposito bank lain 4 Giro 3 Tidak ada 0

54 b. Kredit dengan jaminan Rumah / Tanah Harga Rumah Menurut Penilaian BPR GM Jaminan penting lainnya dapat berupa rumah. Harga rumah dapat dilihat dari luas tanah, lokasi rumah, sertifikat rumah/struk pembayaran PBB dan survei atas rumah tersebut. Seharusnya semakin mahal harga rumah itu, maka bobotnya pun akan semakin tinggi, dan sebaliknya. Namun, bobot akan diberikan nilai tertinggi bila harga rumah berkisar antara Rp 250 juta sampai 1 milyar, dibandingkan bila harga rumah di atas satu milyar. Karena semakin mahal harga rumah, maka pihak bank akan cukup sulit juga untuk menemukan calon pembeli yang benar-benar berminat akan rumah tersebut. Tabel 4.6 Interval Harga Rumah Interval Harga Rumah Perkiraan Bobot > Rp 3 milyar 3 Rp 1 3 milyar 4 Rp 250 juta 1 milyar 5 Rp 150 juta 250 juta 2 < Rp 150 juta 1 Status Tanah Selain harga rumah, maka status tanah juga harus diperhatikan. Karena jika rumah tersebut tidak memiliki status yang jelas, maka harga rumah tersebut akan turun. Bila status tanah merupakan hak milik calon debitur, maka bobotnya akan

55 semakin tinggi. Sedangkan untuk bobot terendah, kami berikan untuk status tanah Hak Pakai Atas Tanah Negara, karena pemerintah dapat menarik kembali dan tanpa uang pengganti. Tabel 4.7 Interval Status Tanah Interval Status Tanah Perkiraan Bobot Hak Milik 5 Hak Guna Bangunan (HGB) 4 Strata Title 3 HGB di atas Hak Kelolaan 2 Hak Pakai Atas Tanah Negara 1 Lokasi Rumah Lokasi rumah memerankan peran yang cukup penting. Atribut ini berhubungan dengan atribut harga rumah. Bila rumah tersebut berada di lokasi dan lingkungan yang strategis, dan fasilitas yang lengkap, maka harga rumah tersebut pun akan dihargai lebih mahal. Tabel 4.8 Interval Lokasi Rumah Interval Lokasi Rumah Perkiraan Bobot Perum menengah / real estate 5 Perum mewah / real estate 4 Di luar real estate (jalan protokol) 3 Di luar real estate (jalan kelas 1) 2 Di luar tersebut di atas 1

56 c. Kredit dengan Jaminan Deposito atau Giro Deposito dan Giro Selain jaminan berupa mobil, rumah, maka jaminan calon debitur dapat berupa deposito dan giro yang dimilikinya pada BPR maupun pada bank lain. Semakin besar jumlah yang dimiliki pada BPR tersebut dan bank lain, maka semakin besar pula bobotnya, dan sebaliknya. Tabel 4.9 Interval Deposito dan Giro Interval Deposito dan Giro Perkiraan Bobot Deposito Bank Sendiri 5 Deposito Bank Lain 4 Giro 3 2. Pribadi Pemohon Jenis Kelamin Jenis kelamin berkaitan dengan sikap dalam pembayaran kredit. Berdasarkan pengalaman dalam pemberian kredit, debitur wanita memiliki sikap lebih taat dalam pembayaran angsuran, selain itu, prosentase kredit bermasalah debitur wanita lebih sedikit dibandingkan debitur pria. Tabel 4.10 Interval Jenis Kelamin Interval Jenis Kelamin Perkiraan Bobot Pria 1 Wanita 2

57 Usia pada Saat Pengajuan Kredit Atribut umur sangat menentukan di dalam pemberian kredit. Karena mencerminkan tingkat kedewasaan berpikir dan semangat dalam berusaha. Sehingga semakin berumur seseorang, maka semakin dewasa. Namun, di sisi lain, semakin tua akan menurunkan semangatnya. Semakin tinggi umur seseorang, maka semakin besar score yang diperoleh, namun sampai batas umur tertentu, score yang diperoleh akan menurun. Berdasarkan hukum yang berlaku di Indonesia, seseorang dianggap cakap hukum apabila telah berumur minimal 21 tahun atau telah menikah. Sehingga dengan adanya pertimbangan tersebut, maka umur 21 tahun tersebut dianggap sebagai nilai terendah. Ada usia tertentu di mana seseorang sanggup untuk bekerja dengan baik dan membayar angsuran kreditnya. Usia tersebut dinamakan usia produktif. Dan di dalam usia tertentu pula, seseorang dapat dikelompokkan menjadi professional, maupun tetap menjadi karyawan biasa. Di mana umur yang berkisar antara 26 sampai 40 tahun merupakan umur yang produktif sehingga bobotnya pun cukup tinggi.

58 Tabel 4.11 Interval Usia pada Saat Pengajuan Kredit Interval Usia pada Saat Pengajuan Perkiraan Bobot Kredit 1. Wiraswasta & Professional < 25 tahun 1 26 40 tahun 5 41 51 tahun 3 > 51 tahun 2 2. Karyawan < 25 tahun 1 26 40 tahun 5 41 51 tahun 3 > 51 tahun 1 Pendidikan Pendidikan berkaitan dengan kesempatan kerja dan penghasilan yang akan diperoleh seseorang. Semakin tinggi tingkat pendidikan seseorang, maka akan semakin mudah memperoleh pekerjaan dan semakin besar pula penghasilannya. Sehingga dengan pendidikan yang semakin tinggi, maka bobotnya pun akan semakin tinggi. Tabel 4.12 Interval Pendidikan Interval Pendidikan Perkiraan Bobot SLTP 1 SLTA 2 Akademi (D3) 3 S1 4 S2 5

59 Status Tempat Tinggal Status rumah mencerminkan kekayaan yang dimiliki oleh calon debitur dan kemudahan memperoleh informasi keberadaan calon debitur apabila terjadi tunggakan angsuran. Apabila rumah tersebut diperoleh dengan cara kredit maka performance calon debitur dalam ketepatan pembayaran dapat diketahui. Bila rumah tersebut merupakan milik calon debitur sendiri dan dijaminkan, maka bobotnya diberikan nilai tertinggi. Tabel 4.13 Interval Status Tempat Tinggal Interval Status Tempat Tinggal Perkiraan Bobot Milik Sendiri 5 Milik Keluarga 3 Milik Perusahaan 2 Sewa atau Kos 1 Status Perkawinan Status perkawinan mencerminkan tanggung-jawab pemohon terhadap keluarga dan keberanian dalam pengambilan keputusan. Keputusan yang akan dilakukan oleh seseorang dalam kondisi menikah, akan dipengaruhi juga oleh pendapat dari pasangannya, dan keluarga yang dimiliki. Sedangkan seseorang yang belum menikah, keputusan yang dilakukan akan lebih dominan dipengaruhi oleh pertimbangan secara pribadi. Status perkawinan dikelompokkan ke dalam tiga interval. Di mana status

60 duda atau janda diberikan bobot terendah. Sedangkan status menikah diberikan bobot tertinggi. Tabel 4.14 Interval Status Perkawinan Interval Status Perkawinan Perkiraan Bobot Belum Menikah 2 Menikah 3 Janda atau Duda 1 Lama Usaha atau Pengalaman Bekerja Pengalaman kerja berkaitan dengan skill yang dimiliki oleh seseorang. Semakin lama orang tersebut bekerja dengan spesifikasi tertentu yang ada padanya, maka akan semakin mengetahui pekerjaan dan pengalamannya dengan baik. Pengetahuan dan pengalaman dalam bekerja berkaitan dengan penghasilan yang akan diperolehnya. Tabel 4.15 Interval Lama Usaha atau Pengalaman Bekerja Interval Lama Usaha atau Pengalaman Perkiraan Bobot Bekerja 1. Wiraswasta & Professional < 3 tahun 2 3 6 tahun 3 6 10 tahun 4 > 10 tahun 5 2. Karyawan < 3 tahun 2 3 6 tahun 3 6 10 tahun 4 > 10 tahun 5

61 Jabatan atau Pekerjaan Atribut ini kami bagi menjadi dua kelompok, yaitu berdasarkan jenis pekerjaannya. Jenis pekerjaannya kita bagi menjadi dua, yaitu : o Karyawan Untuk karyawan, jabatan dibagi menjadi tiga posisi, yaitu staff, managerial dan direktur. Dengan mengetahui jabatan calon debitur, maka dapat dilihat apakah calon tersebut memenuhi kualifikasi atau tidak untuk diberikan kredit. o Wiraswasta/Professional Untuk wiraswasta atau professional, bobot penilaian dilakukan berdasarkan besarnya omset selama setahun. Semakin tinggi omsetnya maka semakin tinggi pula bobot nilainya. Tabel 4.16 Interval Jabatan atau Pekerjaan Interval Jabatan atau Pekerjaan Perkiraan Bobot 1. Untuk Karyawan Staff Biasa 2 Manager 3 Direktur 5 2. Untuk Pengusaha < Rp 50 juta 2 Rp 50 juta Rp 100 juta 3 Rp 100 juta Rp 200 juta 4 > Rp 200 juta 5

62 NPWP NPWP ini merupakan atribut yang dapat menjadi acuan dalam scoring system ini karena dengan adanya NPWP, maka calon debitur akan dapat lebih mudah dalam mendapat kredit. Karena dengan adanya NPWP, maka orang tersebut dapat dipastikan memiliki suatu usaha. Tabel 4.17 Interval NPWP Interval NPWP Perkiraan Bobot Ada a.n. sendiri dan alamat sama 5 Ada a.n. suami / istri dan alamat sama 4 Ada a.n. suami / istri dan alamat beda 3 Tidak ada 1 Kartu Kredit Kartu kredit merupakan salah satu alat pembayaran yang dapat mempermudah transaksi para penggunanya. Namun demikian, untuk mendapatkan Kartu kredit tersebut, seseorang harus memenuhi beberapa syarat yang ditetapkan oleh perusahaan pembuat Kartu kredit. Sehingga dalam menentukan bobot kelayakan calon debitur menerima pemberian kredit, maka dapat dilihat dari jumlah, kevalidan, dan jumlah tunggakan dari Kartu kredit tersebut. Bila seseorang mempunyai Kartu kredit cukup banyak dan dengan jenis yang berbeda, maka orang tersebut dianggap cukup berpotensi, sehingga diberikan bobot yang tinggi.

63 Dan sebaliknya, bila orang tersebut tidak memiliki Kartu kredit, maka orang tersebut diberikan bobot terendah. Tabel 4.18 Interval Kartu Kredit Interval Kartu Kredit Perkiraan Bobot Ya 1 Tidak 0 Kredibilitas Atribut kredibilitas ini menunjukkan adanya hubungan yang baik antara calon debitur dengan orang yang terdekat dengannya, misalnya saja dengan adik, orang tua, saudara, atasan, dan orang terdekat lainnya. Bila kredibilitas dari relasi dengan orang terdekatnya adalah istimewa, maka bobotnya pun akan tinggi, karena calon debitur tersebut dianggap mempunyai gambar diri yang baik menurut pandangan orang terdekatnya dan sebaliknya bobotnya akan rendah, bila calon debitur tersebut tidak mempunyai hubungan yang baik dengan orang di sekitarnya, maupun dengan pihak bank. Kredibilitas juga diperlukan dalam penilaian, untuk menilai apakah calon debitur dapat dipercaya dalam melakukan pembayaran kredit. Penilaian tersebut dapat juga didapat dari informasi informasi dari bank lain atau pula dari Bank Indonesia.

64 Tabel 4.19 Interval Kredibilitas Interval Kredibilitas Perkiraan Bobot Baik 5 Tidak Diketahui 0 Tidak Baik -100 Bank Referensi (Hubungan dengan BPR GM) Catatan pengalaman calon debitur dalam berhubungan dengan bank merupakan sumber informasi yang cukup penting sebagai pertimbangan dalam pengambilan keputusan. Apabila calon debitur merupakan nasabah lama yang pernah mengajukan kredit dan tidak bermasalah dalam pembayaran angsurannya, maka nasabah tersebut akan memperoleh kredit baru dengan lebih mudah dan lebih mendapat prioritas. Selain pernah menjadi nasabah lama, yang menjadi criteria dalam menentukan seseorang menjadi nasabah prioritas antara lain, nasabah tersebut memiliki rekening di bank tersebut. Misalnya tabungan atau deposito. Di sisi lain apabila seorang debitur pernah masuk ke dalam pinjaman bermasalah atau daftar hitam, maka bank akan menanggung resiko lebih besar di masa yang akan datang. Nasabah lama atau yang memiliki prioritas diberikan score yang tinggi, karena nasabah tersebut merupakan asset bagi bank, sedangkan untuk nasabah yang memiliki catatan negative maka akan diberi nilai terendah.

65 Tabel 4.20 Interval Bank Referensi Interval Bank Referensi Perkiraan Bobot Nasabah Lama 1 Nasabah Baru 0 3. Penghasilan Bersih Penghasilan Bersih Calon Debitur Bobot kredit dapat dilihat pula pada penghasilan yang dihasilkan calon debitur setiap bulannya. Semakin besar penghasilan yang didapatnya, dibandingkan dengan angsuran yang harus dibayarnya, maka semakin besar pula bobotnya. Sehingga calon debitur tersebut dianggap mampu untuk meminjam sejumlah uang tertentu yang akan digunakan untuk keperluannya. Tabel 4.21 Interval Penghasilan Bersih Calon Debitur Interval Penghasilan Bersih Calon Perkiraan Bobot Debitur < 2x Angsuran 1 2x 3x Angsuran 2 3x 4x Angsuran 3 4x 6x Angsuran 4 > 6x Angsuran 5 Penghasilan Suami / Istri per Bulan Selain penghasilan calon debitur itu sendiri, bila diketahui penghasilan pasangannya, maka akan memberi nilai lebih lagi. Karena akan berpengaruh terhadap debt ratio. Selain itu, akan terdapat kepastian adanya pembayaran angsuran tepat waktu.

66 Konsep penilaiannya sama dengan konsep penilaian penghasilan calon debitur di atas. Tabel 4.22 Interval Penghasilan Suami / Istri per Bulan Interval Penghasilan Suami / Istri per Perkiraan Bobot Bulan Tidak Ada 1 < 2x Angsuran 2 2x 3x Angsuran 3 3x 5x Angsuran 4 > 5x Angsuran 5 Penghasilan Lain-lain Selain penghasilan calon debitur dan pasangannya, bila calon debitur tersebut memiliki penghasilan lain di luar pekerjaannya tersebut, maka bobotnya pun akan semakin tinggi. Tabel 4.23 Interval Penghasilan Lain-lain Interval Penghasilan Lain-lain Perkiraan Bobot Tidak Ada 1 < 2x Angsuran 2 2x 3x Angsuran 3 3x 5x Angsuran 4 > 5x Angsuran 5 Tanggungan Jumlah tanggungan berpengaruh terhadap sisa penghasilan yang akan dipakai untuk pembayaran angsuran seseorang. Semakin banyak jumlah tanggungan, maka semakin banyak jumlah pengeluarannya. Semakin kecil sisa penghasilan yang dipakai untuk menutup angsuran, maka score yang dimiliki

67 semakin kecil. Di sisi lain, jumlah tanggungan ini juga berhubungan dengan status perkawinan seseorang, di mana orang yang belum menikah tentunya belum memiliki tanggungan, sehingga memiliki bobot tinggi. Tabel 4.24 Interval Tanggungan Interval Tanggungan Perkiraan Bobot > 3 Orang 1 3 Orang 2 2 Orang 3 1 Orang 4 Tidak Ada 5 Kewajiban Angsuran Lainnya Calon debitur biasanya memiliki kewajiban angsuran lainnya. Bila ia memiliki angsuran lain, maka bobotnya pun akan semakin rendah karena jumlah penghasilan tersebut akan dikurangi untuk pembayaran angsuran lainnya. Tabel 4.25 Interval Kewajiban Angsuran Lainnya Interval Kewajiban Angsuran Perkiraan Bobot Lainnya Ada 0 Tidak Ada 1 Pengeluaran perbulan Pengeluaran merupakan biaya yang harus dikeluarkan setiap bulannya. Pengeluaran ini dapat berupa pengeluaran untuk listrik, air, telepon, kebutuhan hidup, dan pengeluaran lainnya.

68 Semakin konsumtif seseorang, maka semakin banyak pula pengeluarannya. Sehingga bila pengeluaran lebih besar dibandingkan penghasilan yang dihasilkannya, maka akan mendapat bobot yang rendah, karena calon debitur tersebut tidak dapat membayar angsurannya. Tabel 4.26 Interval Pengeluaran per Bulan Interval Pengeluaran per Bulan Perkiraan Bobot > 50% Total Penghasilan 1 35% 50% Total Penghasilan 3 < 35% Total Penghasilan 5 4. Analisis Risiko Kredit Debt Ratio Debt ratio adalah rasio angsuran dibagi dengan penghasilan bersih. Berdasarkan kebijakan kredit yang berlaku saat ini debt ratio merupakan faktor yang sangat penting dalam penilaian kelayakan kredit. Saat ini kebijakan yang berlaku adalah total angsuran dibagi dengan total penghasilan maksimumnya hanya 1/3. Berdasarkan penelitian analisis kredit bahwa 50% penghasilan digunakan untuk pengeluaran kebutuhan sehari-hari, tentunya ada standar minimum untuk pengeluaran kebutuhan sehari-hari sesuai dengan UMR. Semakin rendah debt ratio yang dimiliki seseorang maka akan semakin besar sisa penghasilan yang digunakan untuk kebutuhan berjaga-jaga. Dalam hal ini berkaitan

69 juga dengan risiko pembayaran angsuran yang ditanggung oleh bank. Interval di atas 50% diberikan angka satu, karena dianggap mempunyai tingkat hutang yang cukup besar sehingga akan mempengaruhi kemampuan membayar debitur tersebut. Sedangkan interval 0% - 10% diberikan bobot tertinggi, karena dianggap sedikit dalam penggunaan hutang. Tabel 4.27 Interval Debt Ratio Interval Debt Ratio Perkiraan Bobot 0% - 10% 5 11% - 20% 4 21% - 30% 3 30% - 50% 2 > 50% 1 Debt Service Coverage Rasio debt service coverage menggambarkan besarnya angsuran dibagi dengan sisa penghasilan setelah dikurangi seluruh pengeluaran termasuk angsuran. Sebagai ilustrasi untuk rasio ini adalah seseorang dengan penghasilan Rp 15 juta per bulan dengan pengeluaran sehari-hari sebesar Rp 2 juta. Yang bersangkutan mengajukan kredit dengan angsuran Rp 5,5 juta. Debt ratio yang bersangkutan 36,6% atau lebih besar dari 1/3 gaji. Dengan mempertimbangkan debt service coverage, maka yang bersangkutan akan memperoleh tambahan score karena sisa penghasilannya masih mencukupi untuk menutup angsurannya,

70 yaitu Rp 5,5 juta dibagi dengan Rp 7,5 juta atau sebesar 73%. Semakin kecil rasio debt service coveragenya maka semakin kecil risiko yang ditanggung oleh bank, dan semakin besar pula bobotnya. Tabel 4.28 Interval Debt Service Coverage Interval Debt Service Coverage Perkiraan Bobot 0% - 10% 5 11% - 20% 4 21% - 30% 3 30% - 50% 2 > 50% 1 Loan to Value (LTV) LTV mencerminkan besarnya hutang dibandingkan dengan nilai jaminan yang diberikan. LTV ini secara tidak langsung menunjukkan besarnya modal yang dimiliki seseorang dalam aktiva tetap yang menjadi agunan. Semakin kecil nilai LTV, maka semakin besar modal yang ditanamkan dalam aktiva tersebut dan secara psikologis seseorang akan lebih merasa takut kehilangan aktiva yang menjadi agunan karena telah memasukkan modal yang besar. Orang tersebut akan berusaha memenuhi kewajibannya. Disisi lain semakin besar modal yang ada di aktiva tetap yang menjadi agunan juga menunjukkan kemampuan keuangan seseorang, sehingga pembayaran lebih terjamin atau risiko lebih rendah. Standar interval untuk LTV adalah 60%. Presentasi lebih

71 kecil akan memiliki score yang semakin tinggi, demikian pula nilai yang semakin besar akan memiliki score yang lebih rendah. Tabel 4.29 Interval Loan to Value Interval Loan to Value Perkiraan Bobot 0% - 40% 5 41% - 50% 4 51% - 60% 3 > 61% 1 Term of Loan Term of Loan menggambarkan lamanya jangka waktu kredit yang dijalankan debitur. Bagi bank sendiri semakin panjang jangka waktu kredit yang diberikan maka akan semakin besar pula risiko kredit bermasalah dikemudian hari. Begitu juga sebaliknya apabila semakin pendek jangka waktu kreditnya maka resiko kredit bermasalah yang harus ditanggung bank akan lebih kecil. Hal tersebut juga berkaitan dengan kondisi masa depan yang penuh dengan ketidakpastian sehingga risiko kredit bermasalah yang akan ditanggung oleh bank akan semakin besar jika term of loannya semakin panjang. Tabel 4.30 Interval Term of Loan Interval Term of Loan Perkiraan Bobot =< 6 bulan 5 7 12 bulan 4 12 24 bulan 3 24 36 bulan 2 > 36 bulan 1

72 Pemakaian Jaminan Dalam pemberian kredit, terdapat jaminan atas pengajuan kredit tersebut. Pemakaian jaminan untuk kredit tersebut dapat bervariasi, tergantung kemauan dari calon debitur. Bila pemakaian itu digunakan untuk dipakai sendiri maka bobotnya pun akan tinggi, karena orang tersebut akan lebih berhati-hati. Tetapi bila pemakaian jaminan dipakai untuk usaha, maka bobotnya akan lebih rendah. Tabel 4.31 Interval Pemakaian Jaminan Interval Pemakaian Jaminan Perkiraan Bobot Dipakai Sendiri 5 Usaha 4 Disewakan 3 Lain-lain 2 5. Kekayaan Lainnya. Tanah atau Rumah Penilaian kredit akan diberikan lebih tinggi lagi, bila calon debitur tersebut memiliki tanah atau rumah lainnya. Tanah atau rumah dipengaruhi oleh luas dan lokasi. Bila luas dan lokasinya bagus, maka harga tanah atau rumah tersebut akan mahal. Karena itu akan diberikan bobot yang cukup tinggi.

73 Tabel 4.32 Interval Tanah atau Rumah Interval Tanah atau Rumah Perkiraan Bobot > Rp 1 milyar 4 Rp 250 juta 1 milyar 3 Rp 150 juta 250 juta 2 < Rp 150 juta 1 Rekening Giro / Tabungan / Deposito Selain kekayaan lainnya berupa tanah atau rumah, yang perlu diperhatikan juga adalah adanya rekening giro, tabungan, dan deposito di bank lain. Atribut ini juga menjadi faktor penting karena cukup liquid apabila sewaktu-waktu diperlukan. Meskipun cukup liquid, dan calon debitur mempunyai sejumlah rekening, tetap harus diperhatikan pula jumlah yang ada di dalamnya. Bila jumlahnya cukup besar, maka bobot yang akan diberikan besar pula. Tabel 4.33 Interval Rekening Giro / Tabungan / Deposito Interval Rekening Giro / Tabungan / Perkiraan Bobot Deposito Saldo rata-rata < 1x angsuran 1 Saldo rata-rata 1 2x angsuran 2 Saldo rata-rata 3 4x angsuran 3 Saldo rata-rata > 4x angsuran 4 Setelah memperoleh credit table, langkah selanjutnya adalah uji model dan akan kita analisa

74 4.3 Penentuan Cutoff Score Berdasarkan hasil questionnaire dan wawancara dengan pihak BPR GM, maka cara penentuan cutoff score yang digunakan adalah : Sebesar lebih dari atau sama dengan 60% dari total score yang didapat dari hasil perhitungan atribut form pengajuan kredit diterima. Sebesar 50% sampai dengan 60% dari total score dipertimbangkan. Sebesar kurang dari 50% dari total score ditolak. 4.4 Uji Model Scoring Pengujian model dilakukan dengan menggunakan data dari Januari sampai Agustus 2005. Pengujian juga dibantu dengan custom software (aplikasi Lotus Notes) untuk mempermudah pengujian. Data yang diambil sejumlah 104 debitur Kredit Angsuran Berjangka (KAB) yang telah disetujui secara manual dan merupakan data yang paling lengkap. Dari model scoring yang penulis usulkan, maksimum score yang di dapat dari seluruh credit table adalah 100 point, untuk form daftar score dapat dilihat pada lampiran 2. Tetapi formulir pengajuan kredit dari BPR GM tidak mencakup semua atribut yang penulis sarankan. Selain itu, beberapa atribut yang didapatkan dari BPR GM ternyata tidak lengkap. Oleh karena itu, maksimum score setelah dikurangi jika atribut tersebut tidak ada datanya..

75 berikut : Atribut-atribut yang tidak ada datanya dari BPR GM adalah sebagai Penghasilan suami/istri. Penghasilan lain-lain. Pengeluaran Kartu kredit Kekayaan lain (Rumah/Tanah/Deposito/Giro) Debt Service Coverage Setelah semua data dimasukan ke dalam aplikasi credit scoring, maka hasilnya akan dicocokan dengan pihak BPR GM sebagai pengguna aplikasi ini. 4.5 Hasil Uji Model Scoring Dari penentuan cutoff score yang diusulkan BPR GM, maka didapatkan hasil sebagai berikut : Tabel 4.34 Hasil perhitungan menurut Credit Scoring Application Total Score Jumlah Debitur Hasil Total score >= 60 64 Diterima Total score 50-59 38 Dipertimbangkan Total score < 50 2 Ditolak 104

76 Hasil Perhitungan Credit Scoring Application 37% 2% 61% Diterima (CR >= 60) Dipertimbangkan (CR= 50-59) Ditolak (CR < 50) Gambar 4.1 Hasil Perhitungan Credit Scoring Application Berdasarkan hasil analisis diatas (Gambar 4.1), nilai persentase yang didapatkan dari 104 sample adalah 61% dinyatakan memenuhi kriteria, 37% dipertimbangkan dan 2% debitur yang ditolak..