BAB 2 KONSEP DAN TEORI

dokumen-dokumen yang mirip
BAB 1 PENDAHULUAN. sosial tidak dapat hidup tanpa adanya komunikasi dengan sesama. seseorang dengan status sosial dan budaya dalam masyarakat itu

PROGRAM TAHUNAN. Kompetensi Dasar Materi Pokok Alokasi Waktu. Salam. Mengucapkan salam : おはようございます こんにちは こんばんは. Mengucapkan salam ketika berpisah :

UJIAN NASIONAL TAHUN PELAJARAN 2007/2008

Bab 1. Pendahuluan. hasrat, dan keinginan (Sutedi, 2003:2). Selain bahasa tentunya dalam, berkomunikasi

3. Dimasa mendatang, saya bermaksud menjadi pelukis terkenal. ~ つもりです. 4. Sekarang, pertandingan baseball dapat ditonton di televisi.

ABSTRAK. lambang tertentu ada yang dilambangkan. Maka yang dilambangkan disini yaitu

UJIAN NASIONAL TAHUN PELAJARAN 2006/2007

BAB 2. Landasan Teori

UPAYA PENINGKATAN KEMAMPUAN PERCAKAPAN BAGI PENGAJAR BAHASA JEPANG

Bab 2. Landasan Teori. Istilah sintaksis dalam bahasa Jepang disebut dengan togoron 続語論 atau

BAB I PENDAHULUAN. Bahasa merupakan sistem informasi dan sistem komunikasi. Dengan

Bab 2. Landasan Teori. Mengenai definisi kelas kata Jepang (hinshi) Noda (1991 : 38) mengatakan :

BAB IV KESIMPULAN. Penulis berkesimpulan bahwa di dalam penerjemahan kata tanya doko dan

Bab 2. Landasan Teori. perubahan dan dengan sendirinya dapat menjadi predikat. Contoh : 歩く 倒れる 話す.

BAB II SOFTWERE JLOOK UP. Softwere kamus Jlook up adalah softwere kamus Jepang yang cukup

Bab 2. Landasan Teori. Pada bab ini penulis akan menjabarkan teori-teori yang akan digunakan dalam

membahas dari penggunaan dan arti tiga kata kerja tersebut,...ok,...he,.,he,.,he,.,.

PERLUASAN MAKNA PARTIKEL DE UNTUK MENYATAKAN BAHAN DASAR PRODUKSI DALAM MAJALAH KYOU NO RYOURI ABSTRAK

MEDIA PEMBELAJARAN BAHASA JEPANG

BAB I PENDAHULUAN. secara lisan maupun tertulis. Dalam komunikasi secara lisan, makna yang

ENJO KOUSAI SEBAGAI SALAH SATU BENTUK PENYIMPANGAN REMAJA DI JEPANG SKRIPSI DIAJUKAN SEBAGAI SALAH SATU PRASYARAT MENDAPAT GELAR SARJANA SASTRA

PENERAPAN STUDENT CENTERED LEARNING PADA MATA KULIAH DOKKAI SEMESTER 5 Riri Hendriati Fakultas Sastra / Jurusan Sastra Jepang.

SILABUS. Kegiatan Pembelajaran

SATUAN ACARA PERKULIAHAN JITSUYO KAIWA I (JP 301) SEMESTER 6 /TINGKAT III

Dikerjakan O L E H SUNITA BR

BAB 1 PENDAHULUAN. Pengertian bahasa dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (1989) adalah sistem

ANALISIS KONTRASTIF PENGGUNAAN KONJUNGSI /-TARA/ BAHASA JEPANG DENGAN KONJUNGSI /KALAU/ BAHASA INDONESIA

Bab 2. Landasan Teori. Dalam KBBI, definisi dari tanda baca adalah tan da n 1 yang menjadi alamat

BAB IV ANALISIS DAN INTERPRETASI DATA. pemahaman mahasiswa terhadap Kotowari Hyōgen. Proses pengumpulan data

Bab 2. Tinjauan Pustaka

Bab 2. Landasan Teori. Menurut Minami dalam Hinata ( 1990: 1 ), danwa dapat disebut juga discourse

Keyword : Speech Act, Refusal,Keigo

映画 野ブタをプロデュース における社会的 現象 苛め の分析

BAB III METODE PENELITIAN. Metode penelitian adalah tatacara bagaimana suatu penelitian dilaksanakan. (method =

BAB I PENDAHULUAN. dapat menyampaikan informasi yang ingin disampaikan kepada orang. salah satunya adalah mempelajari bahasa Asing.

PENGGUNAAN FUKUSHI DALAM SURAT KABAR ONLINE ASAHI SHIMBUN EDISI 9 DAN 10 FEBRUARI 2015

ANALISIS PENGGUNAAN STRATEGI PENOLAKAN TIDAK LANGSUNG DALAM BAHASA JEPANG OLEH MAHASISWA BAHASA JEPANG STBA YAPARI ABA BANDUNG

ANALISIS KESALAHAN BAHASA JEPANG DILIHAT DARI LATAR BELAKANG CARA PEMEROLEHAN BAHASANYA. Oleh: Juju Juangsih, M.Pd

BAB 2 LANDASAN TEORI

ビナ ヌサンタラ大学日本語科三年生にみられる ~ てある と ~ ておく という動詞の使用能力の分析

TEMA 5 JADWAL PELAJARAN じかんわり

Hasil Technical Meeting Lomba Benron Umum Nihongo no Hi 2018

BAB 4 KESIMPULAN. Universitas Indonesia

BAB 2 TEORI TINDAK TUTUR

Pergi kemana? どこへ行きますか

BAB 3 ANALISIS DATA Drama Televisi Jepang sebagai Sumber Data 1. drama yang berjudul Seigi no Mikata (Pembela Keadilan).

(Asari-chan buku no: 28, halaman: 40) あさり ガンバレ! bersemangat. Berusaha Asari! Pada situasi di atas, penggunaan katakana ada pada kata ガンバレ.

ぽん ぼん. Morfem. Kata. Alomorf adalah. morfem. Morfem Bebas. Morfem Terikat 形態素 自由形態素 拘束形態素. Contoh. bagan. Definisi. Alomorf. Contoh.

PENGGUNAAN SHUUJOSHI JOSEIGO DAN DANSEIGO DALAM KOMIK NIHONJIN NO SHIRANAI NIHONGO VOLUME 1 DAN 2 KARYA HEBIZOU DAN UMINO NAGIKO SKRIPSI

BAB I PENDAHULUAN. orang lain, manusia akan melakukan sebuah komunikasi. Saat berkomunikasi

BAB 3 PENGGUNAAN KATA HAI DALAM KOMIK KOBO-CHAN

Bab 4. Simpulan dan Saran. Pada bab ini penulis akan memberikan Simpulan dari hasil analisis mengenai makna

BAB 3 ANALISIS DATA. instrumen. Dan kemudian akan dilanjutkan dengan pemaparan hasil jawaban setiap soal

Bab 3. Analisis Data. Sebagaimana yang telah diceritakan secara singkat mengenai dongeng Urashima

KARAOKE SEBAGAI MEDIA UNTUK DEALING BISNIS DAN RELAKSASI BAGI PELAKU BISNIS DAN WISATAWAN ASING DI JUN EXECUTIVE KARAOKE HOTEL SAVOY HOMANN

SILABUS PERKULIAHAN CHUKYU BUNPO I (JP 201) SEMESTER 3 /TINGKAT II

BAB I PENDAHULUAN. Di dalam suatu bahasa terdapat bermacam macam jenis kata, di antaranya,

Bab 2. Landasan Teori. dasar analisis yang akan diuraikan pada bab selanjutnya.

BAB 2. Tinjauan Pustaka

Bab 2. Landasan Teori. 2.1 Definisi Makna Peribahasa Menurut Orang Jepang dan Orang Indonesia Definisi Makna Peribahasa Menurut Orang Jepang

LANDASAN TEORI. Menurut Niwa saburo (1998 : 2005/03/18 ) bahwa: とも や っけ って か. menurut gendai nihongo bunpo gaisetsu adalah sebagai berikut :

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

FILOSOFI DAN FUNGSI GENKAN DALAM BANGUNAN JEPANG DITINJAU DARI SUDUT PANDANG UCHI-SOTO

ANALISIS PEMAKAIAN PARTIKEL ~NI DAN ~DE DALAM BAHASA JEPANG (Studi kasus pada Mahasiswa Semester III)

BAB I PENDAHULUAN. Bahasa adalah perilaku mengekspresikan, menyampaikan, dan

ANALISIS KESALAHAN PENGGUNAAN PRONOMINA DEMONSTRATIVA SISWA KELAS XII BAHASA TAHUN AJARAN 2013/2014 DI SMA NEGERI 1 BATU SKRIPSI

BAB I PENDAHULUAN. maksud hati yang tersembunyi (Grice, 1975) Grice (1975:41-47) dalam bukunya Logic and Conversation menyatakan

BAB I PENDAHULUAN. Manusia tidak pernah lepas dari apa yang dinamakan interaksi atau

Bab 2. Landasan Teori. Dalam penelitian Analisis Fungsi Kata Doumo dalam Komik Detektif Conan seri

SILABUS MATA KULIAH PROGRAM STUDI MANAJEMEN RESORT & LEISURE

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Seperti yang diketahui komunikasi adalah sesuatu yang telah dilakukan

ABSTRAK. tujuan. Ketika kita berbahasa, orang lain dapat mengerti apa maksud, ide, pesan,

PENGGUNAAN SHUUJOSHI RAGAM BAHASA WANITA DALAM DRAMA SHOKOJO SEIRA EPISODE 1,2,3 SKRIPSI OLEH: ANINDYA PURI PRIMASWARI NIM

JEPANG ANGKATAN 2013 UNIVERSITAS BRAWIJAYA SKRIPSI

ABSTRAK JUDUL: PEMAKAIAN GAIRAIGO DALAM TEXT BACAAN BUKU. INTERMEDIATE JAPANESE, bahasa adalah alat komunikasi antar anggota

BAB I PENDAHULUAN. Banyak ahli yang sudah mengemukakan definisi bahasa dengan caranya masingmasing.

BAB I PENDAHULUAN. Untuk berkomunikasi, masyarakat sebagai makhluk sosial membutuhkan

BAB 1 PENDAHULUAN. dipelajari sebagai ilmu dasar bagi ilmu-ilmu lain seperti kesusastraan, filologi,

BAB I PENDAHULUAN. pemikirannya, maka manusia menciptakan bahasa. Bahasa adalah sistem lambang

Rencana Pelaksanaan Pembelajaran

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN. responden, dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut: mitra tutur, ungkapan yang digunakan responden disesuaikan dengan

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah

Bab 3. Analisis Data. oleh tokoh ibu, yang tercermin melalui drama Freeter, Ie wo Kau. Dalam drama ini

BAB I PENDAHULUAN. sehari-hari. Salah satu fungsi bahasa yaitu dengan berbahasa manusia dapat

KISI KISI SOAL POSTTEST. Kompetensi Dasar 毎日の生活

BAB I PENDAHULUAN. satu kendala yang selalu terjadi kepada pembelajar bahasa asing pada. kemampuan berkomunikasi adalah memiliki kemampuan dalam hal

BAB I PENDAHULUAN. kehidupan sosial masyarakat yang digunakan di berbagai negara sangat beragam.

sosial pada masa Edo yang terdiri dari samurai ataushi ( 士 ), petani atau nō ( 農 ), buruh

HALAMAN PERNYATAAN KEASLIAN SKRIPSI

DAYA ILOKUSI TINDAK TUTUR DIREKTIF LANGSUNG DALAM CERITA ANAK OSHIIRE NO BOUKEN KARYA FURUTA TARUHI DAN TABATA SEIICHI NASKAH JURNAL

BAB I. Pada perang dunia II tahun 1945 Jepang mengalami kekalahan yang. setelah pasca perang dunia II diantaranya kekurangan pangan yang

BAB I PENDAHULUAN. dimiliki suatu bangsa. Cerita rakyat dapat diartikan sebagai ekspresi budaya suatu

ABSTRAK. Kata Kunci : tindak tutur tidak langsung literal, perubahan fungsi kalimat, deklaratif, imperatif, interogatif

PENGGUNAAN KANJOU HYOUGEN KATA TANOSHII, URESHII, DAN YOROKOBU DALAM SERIAL DRAMA ITAZURA NA KISS LOVE IN TOKYO KARYA TADA KAORU SKRIPSI

BAB I PENDAHULUAN. sehingga dapat dimengerti oleh lawan bicara. Kata-kata tersebut terkadang

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. manusia dikenal sebagai makhluk sosial. Seperti yang dikatakan oleh P.W.J

PENGGUNAAN UNGKAPAN BAHASA JEPANG TULIS (Studi kasus pada mahasiswa Jurusan Jepang Univ.Darma Persada)

SILABUS MATA KULIAH. Jurusan Pendidikan Bahasa Jepang

Transkripsi:

8 BAB 2 KONSEP DAN TEORI Untuk mendukung analisis permasalahan yang menjadi tema skripsi ini, digunakan beberapa konsep pemikiran maupun teori pendukung. Teori yang digunakan adalah teori pragmatik dan teori solidaritas. Dan konsep pemikiran yang akan digunakan adalah konsep aisatsu. 2.1 Pengertian Aisatsu Dalam berkomunikasi, terdapat dua jenis komunikasi yang berlaku pada seluruh bahasa yang digunakan di seluruh dunia. Jenis yang pertama adalah information oriented. Ini berarti pembicara meminta informasi dari mitra tutur. Jenis kedua yaitu socially oriented, dimana suatu ujaran hanya berfungsi untuk bersosialisasi (Okamoto, 1988). Dan aisatsu termasuk ke dalam jenis komunikasi socially oriented. Misalnya, ketika bertemu dengan seseorang di jalan, dan ia bertanya dochira e どちらへ (Mau ke mana?) kita tidak perlu menjawab tujuan yang sebenarnya. ini hanya sekedar aisatsu yang biasa digunakan ketika menyapa seseorang. Penutur tidak ingin mengetahui informasi yang dimiliki oleh mitra tutur, atau dalam contoh ini, ke mana sesungguhnya mitra tutur akan pergi. Ketika menggunakan aisatsu, bukan fungsi informatif yang ingin dipenuhi, melainkan fungsi sosial dari suatu bahasa, yaitu menjalin hubungan, memelihara hubungan, memperlihatkan perasaan bersahabat atau solidaritas sosial (Chaer&Agustina, 2004, hal.16) Dengan demikian, aisatsu berperan penting dalam kehidupan bermasyarakat,

9 tidak hanya di dalam masyarakat Jepang, melainkan seluruh masyarakat di dunia. Aisatsu, atau yang dalam bahasa Indonesia disebut dengan salam, termasuk ke dalam kategori kata fatis. Kridalaksana (1986) menyatakan bahwa kategori fatis adalah kategori yang bertugas memulai, atau mengukuhkan pembicaraan antara pembicara dan lawan bicara. Sehingga kata-kata yang termasuk ke dalam kategori ini tidak berfungsi sebagai sarana transmisi pemikiran, tetapi lebih pada sarana untuk memenuhi fungsi sosial dalam melakukan komunikasi. Sebagian besar kategori fatis merupakan ciri ragam lisan, karena ragam lisan umumnya ragam tidak baku, maka kategori fatis sangat lazim ditemukan dalam kalimat-kalimat tidak baku yang banyak mengandung unsur daerah/ dialek regional 1. Dalam bahasa Indonesia, salam (greetings) adalah kalimat minor berupa klausa atau bukan, bentuknya tetap, yang dipakai dalam pertemuan antara pembicara untuk memulai percakapan, minta diri, dsb. Misalnya: Selamat!, Apa kabar?, dsb. (Kridalaksana, 1993) Menurut kamus Kojien 2 terdapat bermacam-macam pengertian aisatsu. Salah satunya adalah kata atau suatu tindakan yang dilakukan ketika bertemu atau berpisah dengan seseorang. Sedangkan menurut buku Aisatsu to Kotoba 3, pengertian aisatsu adalah あいさつを広く取れば 日常私たちが家族の者や知人と交わす おはよう さよなら のたぐいから初対面の人同士の自己紹介 そして公式の席における祝詞や答辞のようなもの 更には 特殊な社会で用 1 Sutami, Hermina. (2004). Ungkapan fatis dalam pelbagai bahasa. Depok: FIB Universitas Indonesia. 2 Shinmura, Izuru. (1991. Kojien. Jepang: Iwanami Bunsho. 3 Bunkacho. (1988). Kotoba Series 14: Aisatsu to Kotoba. Tokyo: Okura shoinsatsukyoku

10 いられる仁義などまで どれもあいさつとみなすことができる (1988, hal.34) Aisatsu dalam artian luas, tidak hanya berupa kata-kata seperti ohayō, sayonara, dsb. yang diucapkan ketika bertemu dengan anggota keluarga atau kenalan, perkenalan diri ketika pertama kali bertemu dengan seseorang, dan tidak hanya kata-kata yang diucapkan pada acara-acara resmi, seperti acara pembberian doa, dan sebagainya. Singkatnya, aisatsu dapat juga diartikan norma-norma yang berlaku di dalam kehidupan bermasyarakat. (1988, hal.34) もくれいほうよう黙礼や会釈 あるいはお辞儀や握手 抱擁などが たとえ言葉を伴わ なくても あいさつと考えられることからして あいさつ行動とは 音声 手振り 身振り 表情 態度といった人間の全行動様式にかか こうはんわる極めて広汎な表れかたを持つ一種の表現活動として理解すべき ものなのである (1988, hal.35) Gerakan seperti membungkuk, mengangguk, bersalaman, berpelukan, dan semacamnya, dapat digolongkan sebagai aisatsu meskipun tidak disertai dengan kata-kata. Yang disebut dengan tindakan aisatsu adalah seluruh tindakan yang berhubungan dengan cara mengekspresikan sesuatu, seperti suara, gerakan tangan, gerakan tubuh, ekspresi, dan sikap. (1988, hal.35) Dengan demikian, dapat dipahami bahwa aisatsu tidak hanya kata-kata

11 verbal yang diucapkan ketika bertemu ataupun berpisah dengan seseorang, ada juga aisatsu nonverbal yang dapat diwujudkan dengan suara, gerakan tangan, gerakan tubuh, bahkan sikap dari penutur. Sedangkan, bila mengacu pada aisatsu menurut pengertian Mizutani Osamu (1983), aisatsu adalah membuka hati dan mendekatkan diri kepada mitra tutur. Aisatsu merupakan hubungan timbal balik, dimana setiap aisatsu yang diucapkan menuntut mitra tutur untuk merespon. Aisatsu juga digunakan sebagai pembuka sebuah percakapan atau memperkenalkan kepada topik yang akan dibicarakan. 2.1.1 Fungsi Aisatsu Aisatsu, selain berfungsi sebagai sebuah pembuka dalam sebuah percakapan juga memiliki fungsi lainnya. Mizutani (1979) menyatakan bahwa fungsi dari aisatsu adalah untuk menjaga kelancaran dalam pergaulan, dan juga salah satu cara untuk berkomunikasi yang dibutuhkan dalam pergaulan. Schleicher (1997) menyatakan bahwa semakin seseorang memahami latar belakang budaya dalam penggunaan aisatsu di masyarakat tersebut, semakin masyarakat menghargainya, dan semakin besar pula penghargaan yang akan diterimanya. Yang perlu ditekankan adalah fungsi dari aisatsu bukanlah untuk membuat suatu hubungan baru dengan seseorang, melainkan lebih untuk menjaga hubungan yang selama ini telah dibangun. (Mizutani, 1979, hal.63) Ibuki Hajime (1981) menyebutkan bahwa setidaknya terdapat 5 fungsi aisatsu.

12 きょうどうたい 1. 共同体意識 いしきかくにんの確認 (kyōdotai ishiki no kakunin) yaitu penegasan kesadaran hidup bermasyarakat. 2. ねぎらい (negirai), yaitu penghargaan. Dengan mengucapkan aisatsu berarti penutur menunjukkan penghargaan kepada mitra tutur. こういひょうじ 3. 好意の表示 こうふくきがん 4. 幸福の祈願 (kōi no hyoji), yaitu menunjukkan niat baik penutur. (kōfuku no kigan), yaitu mendoakan kebahagiaan mitra tutur, dan きょようせいがん 5. 許容の請願 (kyoyō no seigan), yaitu bukti dari adanya toleransi bermasyarakat. 2.1.2 Jenis-jenis Aisatsu Bahasa Jepang Berdasarkan pada pengertian aisatsu yang terdapat pada kamus Kojien, aisatsu dibedakan menjadi deai no aisatsu, yaitu aisatsu yang diucapkan ketika bertemu dengan seseorang, dan wakare no aisatsu, aisatsu yang diucapkan ketika berpisah dengan seseorang. yaitu: Sedangkan Mizutani Osamu (1983) membagi aisatsu menjadi 3 jenis, 1. Aisatsu ketika bertemu dengan seseorang. Misal, ketika bertemu o h a y o u seseorang di pagi hari maka akan mengucapkan おはよう g o z a i m a s u ございます. 2. Aisatsu yang berhubungan dengan awal atau akhir dari suatu peristiwa. Sebagai contoh, orang Jepang akan mengucapkan

13 sayonara さよなら ketika berpisah dengan lawan bicaranya. 3. Aisatsu yang digunakan dalam acara-acara formal seperti pidato ucapan selamat ataupun ucapan bela sungkawa. Aisatsu dikelompokan dengan lebih rinci oleh Okuyama 4 yang dituliskan ke dalam bukunya, Aisatsu Go Jiten. Di dalam buku ini, Okuyama membagi aisatsu menjadi 6 jenis, yaitu: 1. Nichijō Aisatsu atau Aisatsu yang digunakan di dalam kehidupan sehari-hari. Aisatsu ini dapat dibagi menjadi dua, yaitu aisatsu yang digunakan di dalam rumah dan aisatsu yang digunakan di luar rumah. Contoh aisatsu yang termasuk kategori ini antara lain: a. おはよう Ohayō. Selamat pagi! b. こんにちは Konnichiwa. Selamat siang! 2. Aisatsu yang berhubungan dengan bahasa sopan. Ini digunakan misalnya ketika bertemu dengan seseorang untuk pertama kalinya ataupun dengan seseorang yang status sosialnya lebih tinggi daripada si pembicara. a. この度はどうもありがとうございました Kono tabi wa dōmo arigatō gozaimashita. Terima kasih banyak atas bantuan Anda ketika itu. b. お先へ失礼します Osaki e shitsureishimasu. Saya permisi terlebih dahulu. 3. Aisatsu berupa kata ganti panggil dan sahutan. 4 Okuyama, Masurō. (2001). Aisatsu Go Jiten. Jepang; Tokyōtō Shuppan

14 a. オイオイ Oi oi. Oi oi! b. もしもし Moshi moshi. Halo! 4. Aisatsu yang berhubungan dengan profesi. Misalnya aisatsu yang diucapkan oleh pembaca berita di televisi untuk menyapa pemirsa atau aisatsu yang digunakan pada pengumuman di pusat-pusat perbelanjaan, dan sebagainya. a. 本日はご来店くださいましてありがとうございます Honjitsu wa goraiten kudasaimashite arigatō gozaimasu. Terima kasih Anda telah mengunjungi toko kami. b. ただいまから本日の社内ニュースをお伝えします Tadaima kara honjitsu no shanai nyūsu o otsutaeshimasu. Saya akan menyampaikan berita hari ini. 5. Aisatsu yang digunakan oleh pedagang. Aisatsu kategori ini dibedakan dari kategori yang berhubungan dengan profesi, karena penggunaan kata-kata yang sama sekali berbeda. a. パンやパン 出来たてのホヤホヤ Pan ya pan. dekitate no hoya hoya. Roti, roti. Roti hangat yang baru saja dibuat lho. b. おはようさん お花は要りませんか お花はどうですか Ohayōsan, ohana wa irimasenka. ohana wa dōdesuka. Selamat pagi. Bu, beli bunganya Bu. 6. Aisatsu berupa kata ganti panggil. a. お父さん Otōsan. Ayah! b. ゆみさん Yumi san. Yumi!

15 2.1.3 Jenis-Jenis Aisatsu Bahasa Indonesia Berikut adalah contoh aisatsu menurut Yohanni Johns 5 yang sering digunakan dalam bahasa Indonesia. Di bawah ini adalah aisatsu yang digunakan berdasarkan waktu terjadinya peristiwa. Waktu terjadi peristiwa Pagi (digunakan hingga11.30 ) Siang (digunakan hingga 16.00) Sore (digunakan sejak siang hingga Aisatsu yang diucapkan Selamat Pagi Selamat Siang Selamat Sore matahari tenggelam) Malam (digunakan malam hari, Selamat Malam setelah gelap) Pada awalnya, tidak ada aisatsu seperti ini di dalam bahasa Indonesia. Aisatsu seperti Selamat Pagi dan sebagainya, adalah aisatsu yang muncul sebagai akibat dari pengaruh budaya Eropa. Aisatsu asli bahasa Indonesia yang sering digunakan antara lain adalah Apa kabar yang diucapkan ketika bertemu seseorang yang sudah lama tidak bertemu, dan aisatsu Mau ke mana? dan Dari mana?, biasa diucapkan ketika bertemu seseorang di jalan yang bertujuan untuk menanyakan aktivitas dari mitra tutur. Dan aisatsu ini tidak membutuhkan jawaban yang sesungguhnya, 2.2 Teori Pragmatik Kris budiman (1999) menyatakan bahwa pragmatik merupakan salah satu sub-bidang semiotik yang khusus mempelajari hubungan antara tanda-tanda dan 5 Johns, Yohanni. (1977). Bahasa Indonesia book one: Introduction to Indonesian. Australia: Periplus Edition.

16 interpreter-interpreternya. Yang dimaksud dengan tanda adalah satuan ujaran. Sebagai bagian dari kajian semiotik, pragmatik mengacu kepada aspek-aspek komunikasi yang berupa fungsi-fungsi situasional yang melatari tuturan, khususnya yang menyangkut hubungan antara penutur dan mitra tutur. Untuk mengkaji pragmatik dalam suatu bahasa tertentu, sebelumnya diperlukan pemahaman mengenai budaya pengguna bahasa itu (Kushartanti, Yuwono, Lauder, 2005). Didalam bidang kajian pragmatik ada yang disebut dengan tindak tutur (speech act). Austin (1962) menyatakan bahwa to say something is to do something or in saying something we do something (hal.94). Ini berarti suatu ujaran bukanlah hanya sebuah ujaran, melainkan terdapat suatu tindakan yang terkandung di dalam ujaran tersebut. Dan ketika suatu ujaran diucapkan, secara bersamaan penutur juga melakukan suatu tindakan tertentu. Kalimat yang di dalamnya terkandung suatu tindakan tertentu disebut dengan kalimat performatif. Austin menyatakan bahwa di dalam tiap kalimat performatif tersebut terdapat tiga peristiwa tindakan, yaitu: 1. Tindak tutur lokusi (Locutionary act) : yaitu penuturan sebuah kalimat yang mengandung pengertian dan acuan tertentu. 2. Tindak tutur ilokusi (Illocutionary act) : yaitu suatu tindakan yang terjadi ketika mengujarkan sebuah kalimat berdasarkan atas daya konvensional yang diasosiasikan dengannya atau dengan adanya kalimat performatif yang eksplisit. Tindakan yang termasuk ke dalam kategori ini adalah menjanjikan, menawarkan, pemberian izin, mengucapkan terima kasih, dan sebagainya. 3. Tindak tutur perlokusi (Perlocutionary act) : yaitu suatu tindak tutur yang menimbulkan dampak atau akibat bagi mitra tutur. Misalnya meyakinkan,

17 mengajak, memberi saran, dan sebagainya. Sebagai contoh, dalam sebuah kalimat berbahasa Inggris Shoot her!, tindak ilokusinya adalah shoot berarti tembak dan her berarti dia (perempuan). Sedangkan tindak ilokusinya adalah penutur menyuruh saya untuk menembak dia (perempuan). Dan tindak perlokusinya adalah penutur meyakinkan saya untuk menembak dia (perempuan). 2.3 Konsep Power dan Distance Brown dan Levinson (1987) menyatakan bahwa tindakan-tindakan seperti memberi salam, meminta, mengundang, dan menolak termasuk kedalam kategori FTAs (Face Threatening Acts). Face disini memiliki arti keinginan dasar manusia ketika melakukan interaksi sosial. Face dibagi menjadi dua, yaitu positive face, seperti keinginan untuk diterima, dimengerti, disukai, dan sebagainya, dan negative face, seperti keinginan manusia dewasa untuk dapat terus maju tanpa ada yang menghentikan langkahnya. (Usami, 2002, hal.12) Menurut Brown dan Levinson bahwa FTAs berperan besar dalam menentukan strategi pemilihan bentuk sopan. Dan faktor-faktor yang mempengaruhi pemilihan startegi tersebut adalah Power, Distance, dan Ranking of Imposition. Karena pada analisis data akan dibahas mengenai penggunaan aisatsu dilihat dari power dan distance, berikut akan dijelaskan lebih lanjut mengenai kedua konsep tersebut. Power dapat diartikan sebagai umur dan status sosial dari penutur dan mitra tutur. Adanya perbedaan umur mempengaruhi penggunaan kata-kata atau bahasa. Sedangkan Distance adalah solidaritas atau keintiman antara penutur dan mitra tutur. Distance juga dapat berupa hubungan uchi (di dalam grup) dan soto

18 (di luar grup).(usami, 2002, hal. 5) Menurut Makino Seichi (1996) yang dimaksud dengan uchi adalah tempat yang mengelilingi penutur, keluarga, di dalam rumah, orang yang memiliki keturunan langsung, kerabat, hal-hal yang bersifat pribadi. sedangkan soto adalah lawan dari uchi, yaitu yang berada di luar rumah, orang yang tidak termasuk kedalam keluarga (hal. 10). Dalam artian yang lebih luas, uchi dapat berarti seseorang yang berada di dalam satu lingkup, tidak hanya lingkup keluarga, melainkan lingkup sekolah, tempat kerja dan sebagainya. Misalnya, dalam sebuah perusahaan, Menurut Marjory dan Miller (2005) bahasa yang digunakan oleh seorang penutur dapat merefleksikan hubungan kekuasaan (power) dan solidaritas (distance) dari si penutur dan mitra tutur. Sama seperti yang diungkapkan oleh Miyekawa di dalam bukunya Minimum Essential Politeness 6, menyatakan bahwa berdasarkan hubungan power dan distance antara penutur dan mitra tutur, ragam bahasa dapat dibedakan menjadi 2, yaitu ragam bahasa formal yang ditandai dengan -です/ ます, dan ragam bahasa informal yang ditandai dengan bentuk だ. Kepada seeorang yang memiliki hubungan solidaritas (distance) yang dekat dengan penutur, misalnya kepada teman, keluarga, dan semacamnya, lebih umum digunakan ragam bahasa informal. Sebaliknya kepada seseorang yang memiliki hubungan solidaritas yang jauh, dan juga kepada seseorang yang kedudukannya (power) lebih tinggi daripada penutur, lebih banyak digunakan ragam bahasa formal. (hal. 38) Contoh perbedaan penggunaan ragam bahasa formal dan informal tersebut dapat dilihat pada contoh di bawah ini. 6 Niyekawa, Agnes M. (1991). Minimun essential politeness: A guide to Japanese honorifics language. Jepang: Kondansha.

19 それ sore は wa k i r e i da きれいだ (Kalimat informal yang biasa diucapkan kepada mitra tutur dengan solidaritas erat; keluarga dan teman) それ sore は wa k i r e i desu きれいです (Kalimat formal yang biasa diucapkan kepada mitra tutur dengan solidaritas jauh dan yang memiliki kedudukan lebih tinggi)