BAB IV PENYAJIAN DAN ANALISIS DATA

dokumen-dokumen yang mirip
BAB IV PENYAJIAN DAN ANALISIS DATA

BAB 4 ANALISIS DAN PEMBAHASAN

BAB IV PENYAJIAN DAN ANALISIS DATA. PT. Masa Manunggal Mandiri yang menjadi subjek dalam penelitian

BAB IV PEMBAHASAN. IV.1 Analisis Biaya Pada Laporan Laba Rugi PT. DS. Pada prinsipnya terdapat perbedaan pengakuan penghasilan dan beban antara

BAB IV PENYAJIAN DAN ANALISIS DATA Gambaran Umum Perusahaan PT. Sehat Sukses Sentosa

LAPORAN KEUANGAN KONSOLIDASI PT INDO EVERGREEN. UNTUK TAHUN YANG BERAKHIR 31 DESEMBER 2011 dan 2010

BAB IV EVALUASI PAJAK PENGHASILAN PASAL 25 PADA PT TGS

BAB III METODOLOGI ANALISIS

BAB III PROSES PENGUMPULAN DATA. pesat guna meningkatkan standar hidup berbangsa dan bernegara. Semua pihak baik

BAB IV ANALISIS HASIL DAN PEMBAHASAN

EVALUASI ATAS PAJAK PENGHASILAN PASAL 25 PADA PT SNI. Dalam rangka pemanfaatan Undang undang Perpajakan secara optimal untuk

BAB IV PEMBAHASAN. IV.1. Evaluasi Pada Laporan Laba Rugi PT Rysban Jaya Agung

BAB IV ANALISIS DATA DAN HASIL PENELITIAN. perusahaan perlu mendapat perhatian khusus dalam penetapan kebijakan baik

BAB IV PEMBAHASAN. Penjelasan mengenai akun akun dalam laporan keuangan PT Mitra Wisata Permata

BAB IV PEMBAHASAN. CV Scala Mandiri akan memperoleh beberapa manfaat, antara lain: 1. Dapat menyusun laporan keuangannya sendiri.

BAB IV ANALISIS DAN PEMBAHASAN

BAB IV ANALISIS HASIL DAN PEMBAHASAN. berhubungan dengan penghasilan juga berhubungan dengan Pajak

BAB IV PENYAJIAN DAN ANALISIS DATA

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 42 TAHUN 1985 TENTANG PELAKSANAAN UNDANG-UNDANG PAJAK PENGHASILAN 1984 PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

BAB IV PENYAJIAN DAN ANALISIS DATA dengan akta notaris Adri Dwi Purnomo, SH. Nomor 24/2006. Yang

BAB IV PEMBAHASAN. Evaluasi Pendapatan dan Beban pada Laporan Laba Rugi PT MMS

BAB IV PEMBAHASAN. IV.I Analisis Rekonsiliasi Laporan Laba Rugi Pada PT.NRI

BAB IV PEMBAHASAN. 4.1 Kewajiban Perpajakan PT.Klinik Sejahtera PT.Klinik Sejahtera adalah salah satu klien dari KKP Adiyanto Consultant

BAB IV ANALISIS HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV ANALISIS HASIL DAN PEMBAHASAN. A. Perencanaan Pajak Penghasilan Dalam Rangka Meminimalkan Beban

BAB III OBJEK PENELITIAN DAN METODE PENELITIAN. PT UG didirikan dengan akta notaris Abdul Latief, SH, No.104 tertanggal 29

BAB III METODE PENELITIAN. dan kemudian menguraikannya secara keseluruhan. Data yang digunakan

BAB IV ANALISIS HASIL DAN PEMBAHASAN. A. Penerapan Perencanaan Pajak Penghasilan Pada PT Multi Indocitra Tbk

BAB IV. EVALUASI PERHITUNGAN PPh BADAN PADA MPT. EVALUASI PERHITUNGAN PPh BADAN PADA MPT

kini dan pajak tangguhan yang sajikan telah benar sesuai dengan

BAB IV PENYAJIAN DAN ANALISIS DATA. design penelitian menyatakan, baik struktural masalah penelitian maupun. mengenai hubungan hubungan dalam masalah.

BAB IV PENYAJIAN DAN ANALISIS DATA. dengan direktur bernama FENNY PHITOYO yang beralamat di jalan HR.

BAB IV ANALISIS HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV PENYAJIAN DAN ANALISIS DATA

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 42 TAHUN 1985 TENTANG PELAKSANAAN UNDANG-UNDANG PAJAK PENGHASILAN 1984 PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

BAB IV ANALISIS HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV EVALUASI PENERAPAN PERENCANAAN PAJAK PPH BADAN PT LAM. diwajibkan untuk memenuhi kewajiban perpajakannya. Sebagai Wajib Pajak badan, PT

BAB IV ANALISIS HASIL DAN PEMBAHASAN

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 42 TAHUN 1985 TENTANG PELAKSANAAN UNDANG-UNDANG PAJAK PENGHASILAN 1984 PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

BAB IV REKONSILIASI KEUANGAN FISKAL UNTUK MENGHITUNG PAJAK. TERUTANG PADA PT. KERAMIKA INDONESIA ASSOSIASI. Tbk

BAB 4 ANALISIS DAN BAHASAN. Perbandingan Perlakuan Akuntansi PT Aman Investama dengan

BAB IV ANALISIS HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV PEMBAHASAN. Analisis Biaya Pada Laporan Laba Rugi pada PT QN

BAB IV PENYAJIAN DAN ANALISIS DATA

BAB IV ANALISA DAN PEMBAHASAN. Berikut ini adalah laporan laba rugi PT XYZ tahun 2009 :

BAB IV ANALISIS HASIL DAN PEMBAHASAN. A. Laporan laba rugi fiskal Sebagai Dasar penghitungan Pajak Penghasilan

BAB III PROSES PENGUMPULAN DATA. III. 1. Sejarah Singkat Perkembangan Perusahaan. PI adalah perusahaan yang berbadan hukum CV (Commanditaire

BAB IV EVALUASI DAMPAK PERENCANAAN PAJAK TERHADAP OPTIMALISASI BEBAN PAJAK PT ARTHA DAYA COALINDO.

BAB IV ANALISIS HASIL DAN PEMBAHASAN. A. Laporan laba rugi fiskal Sebagai Dasar penghitungan Pajak Penghasilan

PT HARTADINATA ABADI, Tbk LAPORAN KEUANGAN. Untuk periode enam bulan yang berakhir pada tanggal 30 Juni 2017 dan 2016

BAB IV PEMBAHASAN. komersial, namun untuk menjadi dasar pelaporan SPT Tahunan, PT. Dipta Adimulia

PT HARTADINATA ABADI, Tbk LAPORAN KEUANGAN. Untuk periode enam bulan yang berakhir pada tanggal 30 Juni 2017 dan 2016

TUGAS TERSTRUKTUR MATAKULIAH AUDITING 2 CONTOH AUDIT PLAN PERUSAHAAN DEALER

BAB IV ANALISIS DAN PEMBAHASAN

BAB IV PEMBAHASAN. Peraturan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) yang bertujuan untuk menyajikan

Kunci Jawaban Siklus Akuntansi_LKS Akuntansi Kota Tangerang Tahun 2014

BAB IV REKONSILIASI FISKAL UNTUK MENGHITUNG PAJAK TERUTANG PADA PERUSAHAAN KONTRAKTOR PT. MANDIRI CIPTA

BAB IV ANALISIS HASIL DAN PEMBAHASAN. A. Laporan Laba/Rugi Komersial PT Persada Aman Sentosa. sesuai dengan Standar Akuntansi Keuangan (SAK).

KANTOR JASA PENILAI PUBLIK (KJPP) O, P, Q DAN REKAN. LAPORAN POSISI KEUANGAN (NERACA) KOMPARATIF 31 DESEMBER 2013 DAN 2014 (Dinyatakan dalam Rupiah)

BAB IV ANALISIS HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV EVALUASI PERHITUNGAN PAJAK PENGHASILAN PASAL 25 PADA PT NANO INFORMATION TECHNOLOGY

BAB III GAMBARAN UMUM ATAS PT MMS. Sejarah Singkat dan Perkembangan Perusahaan

BAB IV ANALISIS HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB II LANDASAN TEORI

BAB IV EVALUASI ATAS PERENCANAAN PAJAK PENGHASILAN BADAN (STUDI KASUS PADA PT BANK MAJU) Rekonsiliasi Laporan Keuangan Fiskal pada PT Bank MAJU.

BAB. 1V MANAJEMEN PAJAK SEBAGAI UPAYA UNTUK MEMINIMALKAN BEBAN PAJAK PENGHASILAN PADA PERUSAHAAN PI

TUGAS PRAKTIK AUDITING MODUL 1 DISUSUN OLEH : DAULAT HASIBUAN AKBAR ANWARI LUBIS MUCHTI WIRAHADINATA

PERPAJAKAN II. Penyajian Laporan Keuangan dan Pengaruhnya terhadap Perpajakan

BAB IV PEMBAHASAN. IV.1. Analisis Pengakuan, Pengukuran, dan Penyajian Pajak Tangguhan. beserta Akun-akun Lainnya pada Laporan Keuangan PT UG

BAB IV PENYAJIAN DAN ANALISIS DATA. pembahasan mengenai perbandingan dan perhitungan PPh pasal 21 Metode

I. UMUM II. PASAL DEMI PASAL. Pasal 1. Cukup jelas. Pasal 2

PRAKTIKUM PENGAUDITAN & PDE MODUL 1: KERTAS KERJA NERACA, KERTAS KERJA LABA RUGI, SURAT PERIKATAN, RENCANA PEMERIKSAAN

ASSETS = LIABILITIES + EQUITY

CONTOH SOAL DAN JAWABAN REKONSILIASI FISKAL

KLASIFIKASI BIAYA DAN KOMPENSASI KERUGIAN. Aris Munandar, SE., M.Si

BAB II LANDASAN TEORI. Suatu unit usaha atau kesatuan akuntansi, dengan aktifitas atau kegiatan ekonomi dari

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB II TINJAUAN TEORITIS. merupakan hal yang paling penting dalam meningkatkan pembangunan nasional dan

BAB IV ANALISIS HASIL DAN PEMBAHASAN

PT PETA DAFTAR JURNAL KOREKSI DAN REKLASIFIKASI TAHUN 2012 No. Keterangan Ref. KK Debit 1 Bank BINI C 13,500,000 Piutang dagang

BAB IV. Analisis Hasil Dan Pembahasan

ANALISIS KOREKSI FISKAL ATAS LAPORAN KEUANGAN KOMERSIAL PADA CV. SRIDADI PURWOREJO TAHUN PAJAK Oleh : NgestiWahyu S Caecilia Rosma Widiyohening

MODUL V REKONSILIASI FISKAL

Neraca 1. Perhitungan Hasil Usaha 2. Laporan Perubahan Ekuitas 3. Laporan Arus Kas 4. Catatan Atas Laporan Keuangan 5

IKATAN AKUNTANSI INDONESIA LATIHAN AKUNTANSI PERPAJAKAN Oleh : Purno Murtopo, S.E., M.Si.

BAB IV EVALUASI PERENCANAAN PAJAK UNTUK MENGEFISIENSIKAN BIAYA PAJAK BADAN PADA PT. UB. IV.1. Analisis Biaya Pada Laporan Laba Rugi PT.

BAB II LANDASAN TEORI

BAB III GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN

PT SIANTAR TOP Tbk LAPORAN KEUANGAN UNTUK ENAM BULAN YANG BERAKHIR PADA TANGGAL 30 JUNI 2007 DAN 2006 (TIDAK DIAUDIT)

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Yayasan Dana Pensiun PT. Merpati Nusantara Airlines. Yayasan tersebut

BAB IV PERENCANAAN PAJAK DALAM RANGKA MENGEFISIENKAN PAJAK PENGHASILAN BADAN PADA PT PRIMA SINDO

Akuntansi Pajak Atas Liabilitas (Kewajiban)

BAB IV PEMBAHASAN. IV.1. Perbedaan antara Laba Komersial dan Laba Fiskal. Perusahaan dalam melaksanakan kegiatan usaha diwajibkan untuk menyusun

RUGI LABA BIAYA FISKAL

PENYAJIAN DAN ANALISIS DATA. Pada bab empat akan dijelaskan mengenai sejarah singkat perusahaan,

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

Oleh Iwan Sidharta, MM.

PT. AKBAR INDO MAKMUR STIMEC Tbk CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN Untuk tahun yang berakhir pada tanggal-tanggal 31 Desember 2009 dan 2008

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

By Afifudin PSP FE Unisma 2

Transkripsi:

49 BAB IV PENYAJIAN DAN ANALISIS DATA 4.1. Penyajian Data Pada bab empat akan dijelaskan mengenai sejarah singkat perusahaan, struktur organisasi dan tujuan perusahaan serta kebijakan perusahaan, sehingga didapat gambaran yang jelas mengenai deskripsi penelitian. Dilakukan juga pembahasan mengenai analisis rekonsiliasi fiskal atas laporan keuangan komersial untuk menentukan pajak penghasilan yang diterapkan PT. Cahaya Adin Abadi Surabaya. 4.1.1. Sejarah Singkat Perusahaan PT. Cahaya Adin Abadi pada awal bisnisnya menggunakan nama CV. Sekar Agung Jaya berdiri tahun 1997 di Surabaya dan merupakan salah satu pelopor jasa penempatan tenaga kerja di Jawa Timur. Dengan adanya tuntutan regulasi dan komitmen untuk memberikan pelayanan yang terbaik bagi klien, maka perusahaan yang sebelumnya berbentuk CV (Commanditairre Vennotschaap) berubah menjadi badan hukum PT (Perseroan Terbatas). PT. Cahaya Adin Abadi telah dirintis pendiriannya sejak tanggal 02 Maret 2005 dihadapan notaris di Surabaya saudara Rina Rustianing Warni, SH. Dengan akta pendirian nomor 03 sebagai perusahaan yang bergerak dibidang jasa penyaluran tenaga kerja.

50 Cakupan bisnis operasional perusahaan merupakan penanganan dan pengelolaan ketenagakerjaan pengamanan serta tenaga kerja umum seperti administrasi, office boy/girl, karyawan pabrik, helper, mekanik dan lainnya. Berbekal pengalaman dan kemampuan dalam pengelolaan tenaga kerja dan selalu responsif dalam penanganan sebuah komplain klien hingga menjadikannya zero complain. Perusahaan berusaha mengedepankan cara profesional setiap adanya komplain dari klien dalam waktu singkat dan memberikan solusi terbaik bagi segala permasalahan ketenagakerjaan. Dengan demikian klien dapat lebih leluasa untuk mengembangkan tujuan perusahaan tanpa harus terbebani oleh permasalahan tenaga kerja umum maupun pengamanan. Secara historis perusahaan telah mempunyai pengalaman yang cukup dalam pengelolaan tenaga kerja, hingga kini mempunyai klien yang tersebar dari Pulau Sumatera, Jawa, Bali, Kalimantan dan Papua. Mengenai kualitas, perusahaan mempunyai komitmen jelas untuk memberikan pelayanan yang terbaik karena memiliki sumber daya manusia yang profesional. Tenaga kerja umum selalu diberikan materi pelatihan dan pengarahan sesuai standar kerja yang dibutuhkan klien. Untuk tenaga pengamanan dibekali dengan keterampilan standard security sehingga menguasai servis keamanan dengan baik serta

51 memiliki pusat pelatihan dengan instruktur yang kompeten dengan berbagai peralatan dan perlengkapan untuk operasional pengamanan. 4.1.2. Bidang Usaha Perusahaan Outsourcing Tenaga Kerja merupakan aktifitas pengalihan sebagian suatu keputusan dan kegiatan fungsi operasional dan administratif manejemen sumber daya manusia dari suatu perusahaan atau organisasi kepada pihak lain yang diikat melalui suatu perjanjian secara win-win solution dengan tujuan untuk mendapatkan kinerja pekerjaan yang berfokus pada produktifitas, pelayanan, dan kualitas. Adapun jasa yang diberikan outsourcing PT. Cahaya Adin Abadi adalah sebagai berikut: a. Security Berdasarkan spesialisasi dan legalitas yang dimiliki sampai saat ini perusahaan mampu memberikan solusi pelayanan yang berharga mengenai keamanan dan pengamanan area suatu perusahaan, gedung perkantoran, perumahan real estate, pergudangan, sekolah, area pertambangan dan proyek - proyek lainnya. Menjamin keamanan, menumbuhkan kepercayaan bahwa klien dapat melakukan tugas dan meraih tujuan tanpa rasa khawatir.

52 b. Cleaning Service and Gardening Service Membantu dan berinisiatif melayani segala kebutuhan karena perusahaan percaya bahwa bantuan sekecil apapun dapat menjadi pendukung bagi kesuksesan klien.menciptakan suasana area pabrik atau kantor yang senantiasa bersih dan nyaman. Sapaan dan senyum ketulusan yang mengiringi kesungguhan kerja merupakan komitmen untuk membangkitkan semangat di area tugas sepanjang hari. c. Driver Pribadi dan Pengiriman barang Memastikan setiap perjalanan menjadi nyaman dan aman, Selalu menawarkan sahabat yang komunikatif, berinisiatif tinggi serta memahami rute-rute perjalanan dan rambu lalu-lintas. Tak hanya mengantar sampai ke tujuan, tetapi juga bertanggungjawab menjaga aset yang menjadi bagian dalam perjalanan. d. Mekanik Bertugas untuk memberikan pelayanan kepada pihak produksi terkait dengan peralatan yang digunakan di lapangan. Menjaga agar peralatan yang dipergunakan untuk menjalankan roda produksi mampu bekerja secara maksimal. Termasuk memperbaiki peralatan bahkan sampai dengan mengganti peralatan tersebut.

53 e. Karyawan Borongan dan Helper Memiliki tenaga kerja yang jujur, disiplin, berdedikasi dan loyalitas tinggi sehingga mampu meningkatkan produktifitas perusahaan. 4.1.3. Struktur Organisasi Perusahaan Struktur organisasi merupakan kerangka dan susunan perwujudan pola tetap hubungan-hubungan diantara fungsi, bagian atau posisi maupun orang-orang yang menunjukkan kedudukan, tugas, wewenang dan tanggung jawab yang berbeda dalam suatu organisasi. Struktur organisasi PT. Cahaya Adin Abadi berbentuk bagan dengan tipe organisasi lini yang menghubungkan langsung secara vertikal antara atasan dengan bawahan, dari pemimpin tertinggi sampai jabatan yang terendah yang masing-masing dihubungkan dengan garis wewenang atau komando. Tugas dan tanggung jawab setiap jabatan disesuaikan dengan tingkatan dalam struktur organisasi perusahaan.

54 Gambar 4.1 Struktur Organisasi PT. Cahaya Adin Abadi Komisaris Direktur Utama Manager Accounting Manager HRD Manager Security Kasir Asisten Manager HRD Asisten Manager HRD Administrasi Administrasi Administrasi Collector Supervisor Koordinator Wilayah Purchasing Security Office Resepsionis Office Boy/Girl Driver Sumber : PT. Cahaya Adin Abadi

55 a. Komisaris Membawahi direktur Utama. Tugas : Memberikan nasihat kepada direktur utama dalam melaksanakan pengurusan perusahaan. Melakukan pengawasan atas jalannya usaha perusahaan. Bertindak sebagai wakil pemegang saham. Wewenang : Komisaris dapat diamanatkan dalam anggaran dasar untuk melaksanakan tugas-tugas tertentu direktur, apabila berhalangan atau dalam keadaan tertentu menghadiri rapat direksi dan memberikan pandangan-pandangan untuk kemajuan perusahaan. Mengetahui segala kebijakan dan tindakan yang telah dan akan dijalankan direktur. b. Direktur Utama Dalam pelaksanaan tugasnya, bertanggung jawab kepada komisaris. Membawahi manager accounting, manager HRD dan manager security. Tugas : Membuat rencana pengembangan dan usaha perusahaan dalam jangka pendek dan jangka panjang memberikan laporan pertanggungjawaban kepada Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) bertanggungjawab

56 penuh atas tugasnya untuk kepentingan perseroan dalam mencapai tujuan perusahaan. Wewenang : Mengawasi serta mengurus kekayaan perusahaan. Menunjuk, mengangkat dan memberhentikan direktur. Menandatangi permintaan pengeluaran kas yang jumlahnya besar dan sifatnya penting. Menetapkan pencapaian tujuan jangka panjang. Mengambil keputusan strategis bagi perusahaan. c. Manager Accounting Bertanggung jawab kepada direktur utama serta membawahi asisten manager accounting, kasir, administrasi dan collector. Tugas : Mengkoordinir, menganalisa, mengelola data-data sehingga tersusun suatu laporan keuangan. Ikut serta dalam mengamankan aset perusahaan. Mengatur masalah yang berhubungan dengan penyediaan dan penggunaan dana. Menyediakan laporan keuangan untuk internal maupun eksternal perusahaan.

57 Wewenang : Mengatur kebijaksanaan dan pengendalian keuangan untuk penghematan biaya pengeluaran. d. Manager HRD Bertanggung jawab kepada direktur utama, membawahi asisten manager HRD, administrasi, supervisor dan pegawai umum. Tugas : Membuat perencanaan pegawai sesuai kebutuhan dari setiap divisi dan kebutuhan klien untuk pegawai umum. Bertanggung jawab dalam memilih dan mendapatkan pegawai yang sesuai kriteria. Memberikan pelatihan kepada pegawai agar mempunyai motivasi kerja dan menemukan solusi untuk setiap persoalan yang dihadapi oleh pegawai perusahaan. Wewenang ; Menilai dan mengukur kinerja pegawai, memberikan sanksi kepada pegawai yang melanggar aturan perusahaan. Memberikan saran-saran dan pertimbangan kepada direktur utama. e. Manager Security Bertanggung jawab kepada direktur utama, membawahi asisten manager security, administrasi, koordinator wilayah dan security.

58 Tugas : Menetapkan dan mengevaluasi upaya strategi dan kebijakan dalam perekrutan security berdasarkan kriteria terutama untuk kebutuhan klien. Memberikan pengarahan kepada koordinator wilayah mengenai tugas pokok dan fungsi security agar sesuai standar operasional pengamanan. Menilai dan menentukan peralatan penunjang pengamanan yang dibutuhkan disetiap area. Wewenang : Menilai dan mengukur kinerja koordinator wilayah. Memberikan sanksi kepada security yang melanggar aturan. Memberikan saran dan pertimbangan kepada direktur utama. 4.2. Analisis Data 4.2.1. Laporan Keuangan Perusahaan PT. Cahaya Adin Abadi dalam operasional pembuatan laporan keuangannya menggunakan pendekatan komersial untuk kepentingan perusahaan atau manajemen. Laporan keuangan yang dihasilkan adalah laporan laba rugi, neraca, arus kas dan perubahan modal. Bagi kepentingan perpajakan, laporan laba rugi yang selanjutnya disebut dengan laporan laba rugi komersial digunakan sebagai dasar penentuan pajak terutang. Dalam rangka menentukan besarnya pajak terutang maka harus dilakukan rekonsiliasi fiskal.

59 Berikut ini laporan keuangan perusahaan pada tahun 2012 yang diperlukan untuk penyusunan laporan keuangan fiskal, yang terdiri dari neraca dan laporan laba rugi. Tabel 4.1 PT. Cahaya Adin Abadi Laporan Neraca Untuk Per 31 Desember 2012 Keterangan Jumlah (Rp) Keterangan Jumlah (Rp) Aktiva Aktiva Lancar : Kewajiban dan Modal Saham Kewajiban: Kas & Setara Kas 7,114,781,020 Hutang Pajak 886,902,400 Piutang Usaha 2,788,211,075 Hutang Bank 905,000,000 Piutang Lain-Lain 122,384,954 Jumlah Kewajiban 1,791,902,400 Jumlah Aktiva Lancar 10,025,377,049 Aktiva Tidak Lancar : Modal Saham : Aktiva Tetap 989,297,000 Modal Disetor 500,000,000 Akm. Penyusutan (190,135,120) Akumulasi Laba 8,532,636,529 Jumlah Aktiva Tidak Total Modal Lancar 799,161,880 Saham 9,032,636,529 Total Aktiva 10,824,538,929 Total Kewajiban dan Modal Saham 10,824,538,929 Sumber : PT. Cahaya Adin Abadi

60 Tabel 4.2 PT. Cahaya Adin Abadi Laporan Laba Rugi Untuk Per 31 Desember 2012 Keterangan Jumlah (Rp) Pendapatan Gaji Karyawan Outsourcing Laba Kotor 32,498,029,339 (23,741,127,872) 8,756,901,467 Beban Usaha Laba (Rugi) Usaha 3,149,086,826 5,607,814,641 Pendapatan (Beban) Lain-lain Laba Bersih Sebelum Pajak (77,060,135) 5,530,754,506 Sumber : PT. Cahaya Adin Abadi 4.2.2. Kebijakan Akuntansi Ikhtisar kebijakan akuntansi penting yang dianut oleh perusahaan adalah sebagai berikut : a. Laporan keuangan yang disajikan dalam bentuk Rupiah disusun sesuai dengan pernyataan Standar Akuntansi Keuangan yang diterbitkan oleh Ikatan Akuntan Indonesia (IAI) dan praktek akuntansi yang berlaku umum.

61 b. Laporan arus kas disusun dengan menggunakan metode langsung. Karena arus kas dari kegiatan operasional dirinci menjadi arus kas masuk dan arus kas keluar. Selanjutnya dilakukan perincian lebih lanjut dalam beberapa jenis penerimaan atau pengeluaran kas. c. Penerimaan dana perusahaan berasal dari penagihan kepada klien sesuai nilai kontrak yang telah disepakati. Pengeluaran dana tidak hanya berupa gaji karyawan outsourcing tetapi juga berupa beban seragam beserta sepatu safety untuk karyawan pabrik dan satpam, juga adanya beban BBM untuk motor patroli hingga pembelian alat tulis untuk kebutuhan laporan satpam. Keseluruhan beban pembelian tersebut wajib dipenuhi karena termasuk dalam point perjanjian kerjasama yang didaftarkan secara resmi ke Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) d. Pendapatan dan beban diakui secara cash basis karena pendapatan diakui apabila terlah benar-benar diterima dan perusahaan mencatat beban di dalam laporan ketika kas telah dikeluarkan atau dibayarkan oleh kasir. e. Pemberian fee yang dilakukan oleh perusahaan harus berkaitan langsung dengan kegiatan operasional perusahaan dan terkait dengan jangka waktu yang telah disepakati dalam perjanjian. Jika nilainya lebih dari Rp. 5.000.000 (lima juta rupiah) maka diperlakukan sebagai beban fee dan diamortisasi secara

62 Jenis Aktiva Meja, Kursi, Almari sistematis selama periode jangka waktunya. Namun jika fee kurang dari nilai tersebut diatas maka diakui sebagai beban fee pada periode yang sama dengan pengeluaran perjanjian. f. Pada penilaian aktiva tetap dakui sebesar jumlah nilai jual, beban perijinan, beban angkut dan beban lainnya hingga aktiva tetap tersebut diperoleh. Untuk perhitungan penyusutannya menggunakan metode garis lurus dan manajemen memberikan kebijakan nilai sisa dengan rincian sebagai berikut : Tabel 4.3 PT. Cahaya Adin Abadi Daftar Penyusutan Aktiva Tetap Komersial Untuk Per 31 Desember 2012 Harga Perolehan (Rp) Nilai Residu (Rp) 13,940,000 1,394,000 Komputer Set 41,040,000 3,988,000 Sepeda Motor 12,000,000 3,000,000 AC & Kipas Angin 16,308,000 3,261,600 Bangunan I (HRD &Div. Security) Bangunan II (Bag. Keuangan) 225,000,000 311,000,000 Sumber : PT. Cahaya Adin Abadi Tahun Perolehan Masa Manfaat Nilai Penyusutan (Rp) 2005 5 Tahun - 2005 5 Tahun - 2005 8 Tahun 1,125,000 2005-2005 - 2011 10 Tahun 20 Tahun 20 Tahun 1,304,640 11,250,000 15,550,000 Total Penyusutan 29,229,640

63 4.3. Interpretasi 4.3.1. Evaluasi Pengakuan Pendapatan dan Beban Berdasarkan analisa data terdapat beberapa transaksi usaha yang memerlukan koreksi fiskal karena ada biaya-biaya dan pendapatan yang menurut laporan laba rugi komersial dapat dibebankan dan diakui sebagai pendapatan tetapi dalam laporan laba rugi fiskal tidak diperbolehkan untuk dibebankan dan tidak dapat diakui sebagai biaya dan pendapatan. sebagaiman yang disajikan dalam tabel berikut ini :

Tabel 4.4 PT. Cahaya Adin Abadi Rekonsiliasi Laporan Laba Rugi Komersial ke Laporan Laba Rugi Fiskal Untuk Per 31 Desember 2012 (Dinyatakan Dalam Rupiah) 64

Sumber : Data diolah 65

66 Adapun penyebab dari koreksi masing-masing rekening tersebut adalah antara lain : Koreksi fiskal positif a. Beban gaji staf Dalam beban gaji staf terdapat gaji office girl yang merangkap sebagai asisten rumah tangga di rumah tinggal direktur. Selain itu, terdapat pula memberian uang lembur collector yang mendapat tugas menjemput anak direktur bimbingan belajar dan uang lembur driver ketika mengantar keluarga direktur bepergian. Sesuai Pasal 9 UU Pajak Penghasilan (UUPPh) tentang biaya yang tidak dapat dikurangkan dari penghasilan bruto, menyatakan bahwa biaya yang dikeluarkan untuk keperluan pribadi pemegang saham, sekutu atau anggota dianggap sebagai pembagian laba terselubung. Maka atas biaya tersebut diatas harus dikoreksi sebesar Rp. 10.772.800 b. Beban telepon dan pulsa Pada beban telepon dan pulsa perusahaan terdapat pencatatan beban pulsa untuk jajaran direksi. Pengeluaran tersebut menurut ketentuan SAK diperbolehkan untuk mengurangi laba kotor tetapi dalam keputusan Dirjen Pajak nomor KEP-220/PJ./2002 jo. SE- 09/PJ.42/2002 atas biaya berlangganan atau pengisian ulang pulsa dan perbaikan telepon seluler milik perusahaan yang digunakan pegawai karena jabatannya, dapat dibebankan sebagai biaya

67 perusahaan sebesar 50%. Oleh karena itu perlu dilakukan koreksi 50% dari Rp. 48.611.918 yaitu sebesar Rp. 5.273.000 c. Beban Bahan Bakar Minyak (BBM) Berdasarkan Pasal 9 ayat 1 huruf b UUPPh Nomor 36 tahun 2008, tentang biaya yang tidak dapat dikurangkan dari penghasilan bruto, menyatakan bahwa biaya yang dibebankan untuk kepentingan pribadi pemegang saham, sekutu atau anggota tidak dapat dikurangkan dalam penentuan besarnya pajak terutang. Maka pembelian BBM untuk mobil pribadi direktur beserta istri dan mobil pribadi komisaris yang juga merupakan orangtua direktur sebesar Rp. 15.600.00 harus dikoreksi positif yang artinya menambah besarnya penghasilan kena pajak. d. Beban reparasi dan pemeliharaan kendaraan Perusahaan mengakui beban reparasi dan pemeliharaan kendaraan sebesar Rp. 9.385.580 ditahun 2012. Tetapi dalam beban tersebut sebesar Rp. 4.114.000 digunakan untuk pemeliharaan motor Harley Davidson milik direktur. Didalam peraturan pajak Pasal 9 UUPPh, biaya kendaraan yang dikeluarkan untuk kepentingan pribadi tidak boleh dibebankan sebagai biaya. e. Rekreasi / gathering keluarga staf Pengakuan beban rekreasi oleh perusahaan pada laporan laba rugi tahun 2012 menimbulkan adanya koreksi fiskal positif penuh

68 yaitu sebesar Rp. 59.061.000. Karena rekreasi atau gathering keluarga staf bukan termasuk biaya untuk mendapatkan, menagih dan memelihara penghasilan yang telah dibebankan sebagai pengurang penghasilan oleh perusahaan. f. Beban penyusutan PT. Cahaya Adin Abadi menggunakan metode penyusutan yang telah sesuai dengan peraturan perpajakan yaitu metode garis lurus. Namun perusahaan menetapkan kebijakan nilai sisa pada aktiva, hal tersebut tidak sesuai dengan peraturan perpajakan. Sehingga mengakibatkan adanya beda waktu yang artinya secara keseluruhan beban atas pendapatan akuntansi maupun perpajakan sebenarnya sama tetapi alokasi tiap tahunnya yang berbeda. Oleh karena itu pada pos penyusutan perlu dilakukan penyesuaian. Pada tabel berikut ini tersaji perhitungan penyusutan berdasarkan Pasal 11 ayat 6 UU Pajak Penghasilan :

69 Tabel 4.5 PT. Cahaya Adin Abadi Daftar Penyusutan Aktiva Tetap Fiskal Untuk Per 31 Desember 2012 Sumber : Data diolah Dari penyajian tabel 4.5 tersebut terlihat bahwa nilai penyusutan menurut fiskal adalah Rp.28.838.500, sedangkan menurut data perhitungan penyusutan aktiva tetap perusahaan yang tersaji pada tabel 4.3 diakui senilai Rp. 29.229.640. Perbedaan nilai tersebut dikoreksi positif yaitu sebesar Rp. 391.140 untuk tahun 2012.

70 g. Denda PPN Berdasarkan Pasal 9 UUPPh tentang biaya yang tidak dapat dikurangkan dari penghasilan bruto menyebutkan bahwa sanksi pidana berupa denda yang berkenaan dengan pelaksanaan perundang-undangan di bidang perpajakan tidak diperbolehkan mengurangi penghasilan kena pajak. Sehingga dikoreksi positif keseluruhan bebannya yaitu sebesar Rp. 57.200.000. Karena dalam rangka meningkatkan kepatuhan perpajakan maka UUPPh bersikap tidak toleran atas ketidak patuhan wajib pajak. h. Kegiatan amal Dalam laporan laba rugi perusahaan mengakui sumbangan atau disebut sebagai kegiatan amal menjadi pengurang penghasilan. Namun menurut UU perpajakan Pasal 9 ayat 1 huruf g, biaya sumbangan atau iuran termasuk kepada lingkungan, keagamaan dan sumbangan-sumbangan yang diberikan kepada instansi pemerintah tidak boleh sebagai pengurang karena bagi yang menerima sumbangan atau bantuan tersebut tidak dikenai pajak penghasilan sehingga pada laporan laba rugi komersial perlu dilakukan koreksi sebesar Rp. 8.100.000. i. Pengangkutan kayu jati Menurut Pasal 13 (a) PP 94 Tahun 2010 menjelaskan bahwa tidak memperbolehkan pengurangan pengeluaran dan biaya dari

71 penghasilan kena pajak atas biaya untuk mendapatkan, menagih dan memelihara penghasilan yang bukan merupakan objek pajak. Sedangkan pada laporan perusahaan beban pengangkutan kayu jati diakui sebagai beban lain-lain. Maka harus dikoreksi sebesar Rp. 4.310.000 agar sesuai dengan peraturan perpajakan. Koreksi fiskal negatif j. Dividen PT. Cahaya Adin Abadi sebagai penerima dividen dari PT. Sekawan Jaya Bahagia karena merupakan salah satu pemegang saham badan dengan kepemilikan sebesar 30%. Pada laporan laba rugi telah tercatat penerimaan dividen dari perusahaan garment tersebut untuk tahun 2012 adalah sebesar Rp. 32.000.000. Tetapi berdasarkan Pasal 4 ayat 3 UU Pajak Penghasilan Tahun 2008 menjelaskan bahwa ada kondisi dividen bukan merupakan objek pajak ketika dividen atau bagian laba yang diperoleh perseroan terbatas atas kepemilikan saham pada badan lebih dari 25% (dua puluh lima persen) dari jumlah modal yang disetor. Oleh karena itu, perusahaan harus melakukan koreksi fiskal negatif sebesar Rp. 32.000.000 pada laporan laba rugi komersialnya. Secara ekonomis laba sumber pembagian dividen telah dikenakan pajak penghasilan badan, pengenaan pajak penghasilan atas penerimaan dividen mengakibatkan pemajakan berganda

72 ekonomis. Untuk memberikan keringan beban pajak atas kepemilikan saham lebih dari 25 % maka dividen antar badan dianggap bukan merupakan objek pajak penghasilan. k. Penghasilan sewa bangunan Dalam penghasilan sewa bangunan milik direktur di wilayah Gresik telah diakui menjadi penghasilan lain-lain pada laporan laba rugi perusahaan. Namun berdasarkan peraturan perpajakan segala penghasilan dari aktifitas persewaan tanah dan bangunan tidak boleh dianggap penghasilan perusahaan. Maka harus dikoreksi sebesar Rp.41.00.000 atas penghasilan sewa bangunan untuk tahun pajak 2012. l. Bunga bank Pengakuan bunga bank sebagai penghasilan lain-lain dalam laporan keuangan perusahaan harus dilakukan koreksi fiskal negatif sebesar Rp. 18.441.441. Karena menurut peraturan dalam Undang-Undang pajak penghasilan Pasal 4 ayat 2, bahwa semua pendapatan yang bersifat final tidak dapat dimasukkan kedalam penghasilan perusahaan tetapi hanya dilaporkan saja, sehingga tidak dapat dijadikan sebagai penghasilan kena pajak.

73 4.3.2. Evaluasi Perhitungan Laba Bersih Fiskal atau Penghasilan Kena Pajak Berdasarkan koreksi fiskal yang telah dilakukan atas akunakun biaya pada PT. Cahaya Adin Abadi di Surabaya, dapat dihitung besarnya laba kena pajak perusahaan, sebagai berikut : LABA BERSIH KOMERSIAL Pendapatan / Peredaran Bruto Rp. 32.498.029.339 Gaji karyawan outsourcing Rp. (23.741.127.872) Laba Kotor Rp. 8.756.901.467 Beban usaha Rp. 3.149.086.826 Laba (rugi) usaha Rp. 5.607.814.641 Pendapatan (beban) lain-lain Rp. (77.060.135) Laba bersih komersial sebelum pajak Rp. 5.530.754.506 KOREKSI FISKAL Koreksi Positif : a. Beban gaji staf Rp. 10.772.800 b. Beban telepon dan pulsa Rp. 5.273.000 c. Beban Bahan Bakar Minyak (BBM) Rp. 15.600.000 d. Beban reparasi dan pemeliharaan Rp. kendaraan 4.114.000 e. Biaya rekreasi / gathering keluarga Rp. staf 59.061.000 f. Beban penyusutan Rp. 391.140 g. Denda PPN Rp. 57.200.000 h. Kegiatan amal Rp. 8.100.000 i. Pengangkutan kayu jati Rp. 4.310.000 Jumlah Koreksi Positif Rp. 164.821.940

74 Koreksi Negatif : j. Pendapatan dividen Rp. 32.000.000 k. Penghasilan sewa bangunan Rp. 41.000.000 l. Bunga bank Rp. 18.441.441 Jumlah Koreksi Negatif Rp. 91.441.441 Total Koreksi Fiskal Rp. 73.380.499 Laba Bersih Fiskal Sebelum Pajak Rp. 5.604.135.005 Penghasilan Kena Pajak (Pembulatan) Rp. 5.604.135.000 4.3.3. Evaluasi Perhitungan Pajak Penghasilan Terutang Tahun 2012 Sesuai dengan isi Pasal 31 E Undang-undang No.36 Tahun 2008 tentang Pajak Penghasilan yang menyebutkan bahwa Wajib Pajak badan dalam negeri dengan peredaran bruto sampai dengan Rp 50.000.000.000,00 mendapat fasilitas berupa pengurangan tarif sebesar 50% (lima puluh persen) dari tarif 25% atas tahun pajak 2012 yang dikenakan atas Penghasilan Kena Pajak dari bagian peredaran bruto sampai dengan Rp 4.800.000.000,00, maka berikut ini perhitungan pajak terutangnya : Peredaran Bruto Rp. 32.498.029.339 Penghasilan Kena Pajak Rp. 5.604.135.000 Jumlah Penghasilan Kena Pajak dari bagian peredaran bruto yang memperoleh fasilitas : 4.800.000.000 X Rp.5.604.135.000 = Rp.827.737.822 32.498.029.339

75 Jumlah Penghasilan Kena Pajak dari bagian peredaran bruto yang tidak memperoleh fasilitas : Rp. 5.604.135.000 - Rp. 827.737.822 = Rp. 4.776.397.179 Pajak Penghasilan Terutang : (50% X 25%) X Rp.827.737.822 = Rp. 103.467.228 25% X Rp. 4.776.397.179 = Rp. 1.194.099.295 + Total Pajak Terutang Tahun 2012 = Rp. 1.297.566.522 Setelah dilakukan perhitungan pajak penghasilan terutang, terlihat adanya selisih beban pajak yaitu : Setelah dikoreksi fiskal = Rp. 1.297.566.522 Sebelum dikoreksi fiskal = Rp. 1.178.463.769 - Selisih = Rp. 119.102.753 Jurnal Koreksi : Beban PPh Terutang Rp. 119.102.753 Hutang PPh Rp. 119.102.753 Jurnal saat PPh terutang diakui di akhir tahun akan dicatat dengan : Beban PPh Terutang Rp. 1.297.566.522 Hutang PPh Rp. 1.297.566.522

76 Saat memperhitungkan pajak penghasilan terutang dengan uang muka PPh yang dapat dijadikan sebagai kredit pajak, jurnalnya sebagai berikut : Beban PPh Terutang Rp. 1.297.566.522 Uang Muka Pasal PPh 23 Rp. 187.155.385 Uang Muka Pasal PPh 25 Rp. 982.053.141 Hutang PPh Pasal 29 Rp. 128.357.996 Jurnal pada saat perusahaan melakukan angsuran pembayaran Pajak Penghasilan Terutang setiap bulan yaitu : Hutang PPh Pasal 25 Rp. 10.696.500 Kas Rp. 10.696.500 4.3.4. Evaluasi Laba Bersih Fiskal Berdasarkan perhitungan rekonsiliasi fiskal yang telah dilakukan, maka terdapat adanya peningkatan nilai laba bersih fiskal pada laporan laba rugi tahun 2012 dibandingkan dengan laba bersih sebelum dilaksanakan rekonsiliasi fiskal, dengan rincian sebagai berikut : Laba fiskal = Rp. 5.604.135.005 Laba komersial = Rp. 5.530.754.506 - Selisih = Rp. 73.380.499 Hal tersebut disebabkan oleh adanya pengakuan pada akun beban maupun pendapatan perusahaan selama tahun 2012 yang tidak sesuai dengan ketentuan Undang-Undang pajak penghasilan.