SPEKTROMETRI MASSA (MASS SPECTROMETRY, MS)

dokumen-dokumen yang mirip
SPEKTROMETRI MASSA. Kuliah Kimia Analisis Instrumen Pertemuan Ke 7.

SPEKTROMETRI MASSA (MASS SPECTROMETRI, MS)

SPEKTROMETRI MASSA INTERPRETASI SPEKTRA DAN APLIKASI. Interpretasi spektra dan aplikasi

Kromatografi gas-spektrometer Massa (GC-MS)

Prinsip dasar alat spektroskopi massa: ANALISIS MASSA. Fasa Gas (< 10-6 mmhg)

MODUL IV : SPEKTROSKOPI MASSA

KROMATOGRAFI PENUKAR ION Ion-exchange chromatography

III. METODELOGI PENELITIAN. Penelitian ini akan dilakukan pada bulan Mei-Desember 2013, bertempat di

Air adalah wahana kehidupan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Spektrometer massa A. Garis besar tentang apa yang terjadi dalam alat spektrometer massa Ionisasi Percepatan Pembelokan Pendeteksian

Pokok Bahasan. Teori tentang asam, basa dan garam Kesetimbangan asam-basa Skala ph Sörensen (Sörensen ph scale) Konstanta keasaman

LATIHAN SOAL IKATAN KIMIA

4019 Sintesis metil asetamidostearat dari metil oleat

LARUTAN ELEKTROLIT DAN NON ELEKTROLIT

LATIHAN SOAL IKATAN KIMIA

Bab V Ikatan Kimia. B. Struktur Lewis Antar unsur saling berinteraksi dengan menerima dan melepaskan elektron di kulit terluarnya. Gambaran terjadinya

SOAL SELEKSI OLIMPIADE SAINS TINGKAT KABUPATEN/KOTA 2004 CALON TIM OLIMPIADE KIMIA INDONESIA

MODUL KIMIA SMA IPA Kelas 10

4006 Sintesis etil 2-(3-oksobutil)siklopentanon-2-karboksilat

KROMATOGRAFI. Adelya Desi Kurniawati, STP., MP., M.Sc.

Reaksi dalam larutan berair

kimia ASAM-BASA III Tujuan Pembelajaran

4001 Transesterifikasi minyak jarak menjadi metil risinoleat

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

BAB VI LARUTAN ELEKTROLIT DAN NON ELEKTROLIT

HASIL DAN PEMBAHASAN

LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA ORGANIK PERCOBAAN II SIFAT-SIFAT KELARUTAN SENYAWA OGANIK

ALAT UKUR RADIASI. Badan Pengawas Tenaga Nuklir. Jl. MH Thamrin, No. 55, Jakarta Telepon : (021)

Skala ph dan Penggunaan Indikator

Uraian Materi 1. Prinsip dasar kromatografi gas 2. Instrumentasi kromatografi gas

LAMPIRAN C CCT pada Materi Ikatan Ion

5004 Asetalisasi terkatalisis asam 3-nitrobenzaldehida dengan etanadiol menjadi 1,3-dioksolan

Bab IV Hasil dan Pembahasan. IV.2.1 Proses transesterifikasi minyak jarak (minyak kastor)

Peranan elektron dalam pembentukan ikatan kimia

Ion Exchange Chromatography Type of Chromatography. Annisa Fillaeli

ANALISIS KADAR METANOL DAN ETANOL DALAM MINUMAN BERALKOHOL MENGGUNAKAN KROMATOGRAFI GAS. Abstrak

PRODUKSI BIO-ETANOL DARI DAGING BUAH SALAK ( Salacca zalacca ) PRODUCTION OF BIO-ETHANOL FROM FLESH OF SALAK FRUIT ( Salacca zalacca )

Senyawa Alkohol dan Senyawa Eter. Sulistyani, M.Si

I. PENDAHULUAN. Penggunaan plastik sebagai pengemas telah mengalami perkembangan

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. 4:1, MEJ 5:1, MEJ 9:1, MEJ 10:1, MEJ 12:1, dan MEJ 20:1 berturut-turut

4023 Sintesis etil siklopentanon-2-karboksilat dari dietil adipat

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

AFLATOKSIN dan BAHAN PENGAWET

5013 Sintesis dietil 2,6-dimetil-4-fenil-1,4-dihidropiridin-3,5- dikarboksilat

BAB 2 TI NJAUAN PUSTAKA. Gas alam sering juga disebut sebagai gas bumi atau gas rawa yaitu bahan bakar fosil


BAHAN DAN METODE Tempat dan Waktu Penelitian Alat dan Bahan Desain dan Sintesis Amina Sekunder

III. METODOLOGI PENELITIAN. Penelitian ini dilaksanakan dari bulan Januari sampai Juni 2010 di Laboratorium

Kromatografi Gas-Cair (Gas-Liquid Chromatography)

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. akan berlangsung selama sintesis, serta alat-alat yang diperlukan untuk sintesis.

LARUTAN ELEKTROLIT DAN NON- ELEKTROLIT

Bab VI Larutan Elektrolit dan Nonelektrolit

D. 8 mol S E. 4 mol Fe(OH) 3 C. 6 mol S Kunci : B Penyelesaian : Reaksi :

LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA ANALITIK DASAR PENENTUAN KADAR NIKEL SECARA GRAVIMETRI. Pembimbing : Dra. Ari Marlina M,Si. Oleh.

LAPORAN PRAKTIKUM BIOKIMIA II KLINIK

Chapter 7 Larutan tirtawi (aqueous solution)

Bab IV Hasil dan Pembahasan

BAB I Pengantar kromatografi Sejarah dan perkembangan kromatografi Teknik pemisahan yang sebenarnya dapat dikatagorikan teknik kromatografi adalah

Soal ini terdiri dari 10 soal Essay (153 poin)

PENGANTAR. Berdasarkan wujud fasa diam, Kromatografi gas-padat (gas-solid chromatography) Kromatografi gas-cair (gas-liquid chromatography)

GALAT TITRASI. Ilma Nugrahani

Tabel Periodik. Bab 3a. Presentasi Powerpoint Pengajar oleh Penerbit ERLANGGA Divisi Perguruan Tinggi 2010 dimodifikasi oleh Dr.

Presentasi Powerpoint Pengajar oleh Penerbit ERLANGGA Divisi Perguruan Tinggi. Bab 16. Asam dan Basa

FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA BAHAN AJAR KIMIA DASAR BAB VI IKATAN KIMIA

BAB 7. ASAM DAN BASA

Elektrokimia. Tim Kimia FTP

SOAL DAN KUNCI JAWABAN LARUTAN ELEKTROLIT DAN NON ELEKTROLIT

Untuk mengetahui pengaruh ph medium terhadap profil disolusi. atenolol dari matriks KPI, uji disolusi juga dilakukan dalam medium asam

Bab III Metodologi III.1 Alat dan Bahan III.1.1 Alat yang digunakan

PEMBAHASAN. a. Pompa Vakum Rotary (The Rotary Vacuum Pump) Gambar 1.10 Skema susunan pompa vakum rotary

SEJARAH. Pertama kali digunakan untuk memisahkan zat warna (chroma) tanaman

LAPORAN RESMI PRAKTIKUM KIMIA ORGANIK DASAR I SENTESIS BENZIL ALKOHOL DAN ASAM BENZOAT

KROMATOGRAFI FLUIDA SUPERKRITIS

ASAM -BASA, STOIKIOMETRI LARUTAN DAN TITRASI ASAM-BASA

High Performance Liquid Chromatography (HPLC) Indah Solihah

Jilid 1. Penulis : Citra Deliana D.S, M.Si. Copyright 2013 pelatihan-osn.com. Cetakan I : Oktober Diterbitkan oleh : Pelatihan-osn.

Kimia UMPTN Tahun 1981

STOIKIOMETRI Konsep mol

Partikel Materi. Partikel Materi

PAKET UJIAN NASIONAL 7 Pelajaran : KIMIA Waktu : 120 Menit

D. Ag 2 S, Ksp = 1,6 x E. Ag 2 CrO 4, Ksp = 3,2 x 10-11

LOGO TEORI ASAM BASA

PENENTUAN KADAR KARBONAT DAN HIDROGEN KARBONAT MELALUI TITRASI ASAM BASA

High Performance Liquid Chromatography (HPLC) Indah Solihah

DAFTAR ISI. HALAMAN PENGESAHAN... i. LEMBAR PERSEMBAHAN... ii. KATA PENGANTAR... iii. DAFTAR GAMBAR... viii. DAFTAR TABEL... ix. DAFTAR LAMPIRAN...

Gambar Rangkaian Alat pengujian larutan

Pembahasan Soal-soal Try Out Neutron, Sabtu tanggal 16 Oktober 2010

4002 Sintesis benzil dari benzoin

4028 Sintesis 1-bromododekana dari 1-dodekanol

REAKSI SAPONIFIKASI PADA LEMAK

K13 Revisi Antiremed Kelas 10 KIMIA

I. Judul : Membandingkan Kenaikan Titik Didih Larutan Elektrolit dan Non-Elektrolit.

BENDA WUJUD, SIFAT DAN KEGUNAANNYA

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. 4.1 Isolasi sinamaldehida dari minyak kayu manis. Minyak kayu manis yang digunakan dalam penelitian ini diperoleh dari

Kromatografi. Imam santosa, MT

III. METODOLOGI. C. Metode Penelitian

Rangkuman Materi Larutan Elektrolit dan Non elektrolit

Bab IV Hasil dan Pembahasan

SIFAT KOLIGATIF LARUTAN

Transkripsi:

Revisi 03 April 2010 SPEKTROMETRI MASSA (MASS SPECTROMETRY, MS) Hendig Winarno S2-UP/MS/Hendig Winarno 1

I. Introductions II. Sample Handling III. Instrumentation & Theory IV. Interpretation of Mass Spectra & Characteristic Peaks S2-UP/MS/Hendig Winarno 2

spektrometri massa meliputi : pemisahan dan pengukuran ion, baik ion negatif maupun ion positif dalam fasa gas berdasarkan rasio massa terhadap muatan (m/z) Oleh karena cuplikan biasanya bermuatan netral, maka cuplikan pertama-tama harus diionisasi. Ionisasi molekul senyawa sering diikuti dengan seri reaksi peruraian atau fragmentasi kompetitif secara spontan yang menghasilkan ion-ion tambahan. Produksi ion fragmen akan memberikan informasi yg berguna berhubungan dng struktur molekul induk. Pola fragmentasi setiap senyawa umumnya unik atau berbeda dr yg lain, shg umumnya senyawa dpt diidentifikasi melalui MS. Metode ini sangat popular, karena berat molekul (BM) dan rumus molekul dengan cepat dapat ditentukan. S2-UP/MS/Hendig Winarno 3

intensitas relatif (%) spektrum massa: sajian intensitas spesi / fragmen bermuatan sebagai fungsi massa,atau rasio massa (m/z) Posisi dan intensitas nilai m/z memberikan informasi kualitatif perihal bentuk senyawanya. Contoh spektrum asam karboksilat alifatik butil asetat (M.W. 116) 30 40 50 60 70 80 90 100 110 120 m/z S2-UP/MS/Hendig Winarno 4

Informasi kuantitatif diperoleh dengan pengamatan ion tertentu yang karakteristik sebagai fungsi jumlah cuplikan, dibandingkan dengan standar. Spektrometri massa sangat penting diantara metoda penentuan struktur yang lain karena informasi yang diperoleh berupa informasi kimiawi. S2-UP/MS/Hendig Winarno 5

58 44 73 S2-UP/MS/Hendig Winarno 6

137 S2-UP/MS/Hendig Winarno 7

Skema sederhana EI-Mass Spectrometer S2-UP/MS/Hendig Winarno 8

Instrumentasi yang diperlukan untuk ini terdiri 4 komponen utama : 1. sistem inlet untuk penguapan, 2. sumber yang mengionisasi dan menahan ionion untuk sementara waktu (biasanya sekitar 1 sec) agar fragmentasi dapat terjadi, 3. sistem analisis massa, dan 4. sistem deteksi S2-UP/MS/Hendig Winarno 9

SISTEM INLET Sistem inlet harus mampu menguapkan molekul senyawa. Sejumlah kecil cuplikan padat atau cair (sekitar 10-100 g) dimasukkan menggunakan tabung cuplikan (bisa dibukatutup) ke dalam ruang inlet. Karena banyak senyawa tidak mempunyai tekanan uap keseimbangan cukup besar pada suhu kamar, maka inlet harus beroperasi pada Heated Inlet (untuk sampel murni, mudah menguap) Cairan volatil umumnya diinjeksikan melalui septum ke dalam reservoir panas pada tekanan 10-2 Torr yang dihubungkan ke sumber ion pada 10-6 Torr. S2-UP/MS/Hendig Winarno 10

Direct Inlet (untuk sampel murni, tidak mudah menguap) Cairan non volatil atau padatan diinjeksikan ke dalam sumber ion dengan cara ditempatkan dalam mini cup yang terbuat dari gelas, kuarsa, stainless steel, atau emas dan diletakkan pada ujung probe dengan melewati vaccum lock. Sampel masuk hingga mencapai ion chamber yang umumnya dipanaskan 150-250 o C. S2-UP/MS/Hendig Winarno 11

Posisi probe dibuat tepat sehingga memberikan kecepatan evaporasi sampel yang sesuai yang dapat dimonitor pada TIC (total ion current) recorder. Waktu yang diperlukan untuk mendapatkan spektra pada umumnya tidak lebih dari 5 menit, meskipun untuk mengeluarkan probe harus menunggu suhu mencapai kurang lebih 50 o C. Skema DIP dan vaccun lock S2-UP/MS/Hendig Winarno 12

Kromatografi Gas, GC (sampel murni / campuran) Sampel diinjeksikan ke dalam GC, setelah terpisah, masing masing puncak (senyawa) masuk ke dalam sumber ion melalui interface/transfer line. Sering juga, molekul sukar menguap diubah dulu menjadi derivat mudah menguap sebelum dimasukkan ke dalam spektrometer. Contoh termasuk derivat trimetilsilil alkohol atau molekul yang mengandung gugus karbohidrat, atau derivat ester asam organik. Metoda derivatisasi telah mapan dan mudah dilakukan. S2-UP/MS/Hendig Winarno 13

Kromatografi Cair, HPLC (sampel murni / campuran) Sampel diinjeksikan ke dalam HPLC, setelah terpisah, masing masing puncak (senyawa) masuk ke dalam sumber ion. Dalam LC-MS, sampel dapat diintroduksikan secara langsung, direct liquid introduction (DLI), dari kolom LC sebagian sampel langsung masuk ke dalam MS detektor tanpa perlakukan khusus. Umumnya untuk sampel volatil. Packed column GC carrier gas He, molekul ditarik lebih cepat ke vakum karena massanya kecil. Komponen yang terpisah langsung masuk ke spektrometer. S2-UP/MS/Hendig Winarno 14

Cara lain untuk memasukkan sampel ke dalam ion souce yaitu termospray method. Sampel setelah malalui pemisahan dengan LC, disemburkan ke dalam sistem vacum MS dalam flow rate yang tinggi, kmd diionisasi. Skema thermospray interface S2-UP/MS/Hendig Winarno 15

Contoh TIC yang diintroduksi mengg. reverse phase coloumn dan thermospray interface Methoxy polyethylene glycol oligomer Spektrum (PCI) puncak 8 min 14 s S2-UP/MS/Hendig Winarno 16

1.2. SISTEM IONISASI ELECTRON IMPACT (EI) mode (positive) electron impact merupakan mode yang umum dipakai. Molekul sampel M masuk ke dalam ruang ion yang bekerja dengan sistem vakum tinggi (10-4 ~10-6 Torr). Molekul M akan ditumbuk oleh elektron (e)yang berasal dari filamen panas (biasanya terbuat dari Tungsten atau Rhenium), sehingga elektron terlempar keluar dari molekul menghasilkan radikal kation [M] +.. + M + e M + 2e Energi yang bertanggung jawab terhadap proses ionisasi hanya 10-12 ev, tetapi dalam kenyataannya digunakan energi sebesar 70 ev. S2-UP/MS/Hendig Winarno 17

Kelebihan energi dapat menyebabkan ion molekul mengalami fragmentasi lebih lanjut. Dua buah tipe fragmentasi yang penting : + M A + B + (kation) (radikal) + M C + D + (radikal kation) (molekul netral) Hanya spesi yang bermuatan positif akan dideteksi berdasarkan perbandingan massa/muatan (m/z), dan spektrum massa akan menunjukkan sinyal tidak hanya [M] +., tetapi juga A +, dan C +., hingga ion fragmen yang berasal dari fragmentasi lebih lanjut dari A + dan C +.. S2-UP/MS/Hendig Winarno 18

Contoh: Hept-6-ynol, DIP, EI-MS mode S2-UP/MS/Hendig Winarno 19

Contoh: Methyl dodecanoate, EI-MS mode S2-UP/MS/Hendig Winarno 20

(positive) CHEMICAL IONIZATION (PCI) mode Teknik ini dipopulerkan th 1966 setelah EI. Perlu ditambahkan senyawa-antara (metana, isobutana) dengan konsentrasi lebih tinggi daripada senyawa yang dianalisis. Memerlukan tekanan tinggi (~1 Torr) dari gas reagen dala ion source, tetapi energi yang diperlukan < 5 ev. Gas pembawa diionisasi, selanjutnya sampel diionisasi dengan cara ditumbuk oleh ion dari gas pembawa. Salah satu teknik CI adalah atmospheric pressure CI (APCI), yang merupakan simtem inletnya dari HPLC. Dalam CI, ion reagen dapat ion molekul, ion fragmen, produk hasil reaksi ion-molekul dari ion-ion dan molekul reagen gas S2-UP/MS/Hendig Winarno 21

Tahap I: interaksi metana dengan elektron (dari filamen) menghasilkan ion primer/mayor. Tahap II: ion primer bereaksi dengan kelebihan gas menghasilkan ion sekunder. Tahap III: ion sekunder bereaksi dengan molkl. sampel (RH) menghasilkan ion sampel + CH 5 + + CH 4 + C 2 H 5 + RH RH RH 2 + RH 2 + C 2 H 4 S2-UP/MS/Hendig Winarno 22 +

Contoh spektrum PCI-MS Methyl stearate [288] dengan + etana Methyl stearate [288] dengan + isobutan S2-UP/MS/Hendig Winarno 23

(negative) CHEMICAL IONIZATION (NCI) mode Dalam kondisi CI, reagen gas menghasilkan reagen ion positif, bersama dengan elektron dari energi termal dan ion reagen bermuatan negatif, jika anion stabil dpt terbentuk dari gas reagen. Jadi reaksi lebih lanjut untuk menghasilkan ion negatif dari sampel melalui e kategori, yaitu tangkapan elektron termal oleh molekul sampel dan reaksi ion-molekul antara sampel dan ion gas reagen. Pembentukan ion negatif oleh interaksi elektron dan molekul dapat terjadi melalui 3 mekanisme sbb: S2-UP/MS/Hendig Winarno 24

Contoh spektrum NCI senyawa purpureaglycoside A S2-UP/MS/Hendig Winarno 25

Fast Atomic Bombardment (FAB) mode Untuk sampel dengan titik didih tinggi, misalnya peptida, karbohidrat; sampel yang mudah terurai; senyawa garam; senyawa dengan BM tinggi, misalnya glikosida Senyawa polar, misalnya polifenol Atom cepat dihasilkan dari sumber ion, dengan cara memasukkan accelerated ion beam ke dalam collision chamber dan bertukar energi dengan atom netral. + Xe (fast) + Xe + Xe + Xe (fast) S2-UP/MS/Hendig Winarno 26

Skema diagram sumber ion pada FAB-MS S2-UP/MS/Hendig Winarno 27

Umumnya digunakan Ar atau Xe. Xe : massanya >>> energi >>> produksi ion smpel >>> Atom cepat yang dihasilkan diarahkan langsung ke sampel dalam cairan matriks (umumnya gliserol). Dengan mengatur potensial sumber ion, maka terbentuk muatan positif atau negatif. Pada (positive) FAB-MS, akan terdeteksi m/z (M+1) + dan seringkali muncul (M+G+1) + atau (2M+1) + ; G = gliserol = 92. Pada (neg.) FAB-MS, akan terdetekdi (M-1) - dan (M+G-1) -. Senyawa polar lebih mudah dianalisis dengan FAB, karena mudah menerima atau melepas proton. S2-UP/MS/Hendig Winarno 28

Preparasi sampel adalah sebagai berikut: Ujung logam dibersihkan dengan solven atau asam agar tidak ada impuritis. Satu mikroliter (1 l) lrt sampel dalam solven yang sesuai (air, metanol, asetonitril (1 g/ l), bersama dengan aditif (asam, TFA, garam kationik) ditambahkan ke dalam gliserol 2-3 l (sbg matriks) yang telah didispersikan pada ujung probe. Kemudian probe diintroduksikan MS dan dihasilkan spektra. Selain gliserol, m-nitrobenzil alkohol (m-nba) juga dapat digunakan sbg matriks. Untuk nefative FAB-MS, 3-aminopropane-1,2-diol, triethanolamine, dan diethanolamine umum digunakan. S2-UP/MS/Hendig Winarno 29

Dalam kondisi normal, FAB-MS akan memberikan hasil yang baik jika senyawa yang dianalisis mempunyain pusat asam/basa relatif, misalnya mampu beraksi sbg donor atau akseptor proton. Atau senyawa yg telah memiliki pusat muatan, misal garam -NH 4, garam Na, asam karboksilat. Senyawa aditif dapat mempromosikan terbentuknya ion dalam fase kondensasi, sehingga menghasilkan spektra yang lebih intens. TFA, acetic acid, p-toluenesufonic acid memperbesar intensitas (M+H) + bagi senyawa yng mempunyai basic center, sedangkan NH 4 OH, NaOH, t- Buthylammonium hydroxide memperbesar intensitas (M-H) -. Aditif garam: NaCl, Li+, K+, juga sering digunakan untuk menghasilkan (M+Na) +, (M+Li) +, (M+K) +. S2-UP/MS/Hendig Winarno 30

Contoh 1: (positive) FAB-MS; Matrix : Glycerine (M+H )+ (M+G+1) + MW=276 COOH octadeca-8,10-diynoic acid [276] (2M+H )+ S2-UP/MS/Hendig Winarno 31

Contoh 2: (positive) FAB-MS; Matrix : Glycerine (M+H) + (M+Na) + S2-UP/MS/Hendig Winarno 32

Lanjutan contoh 2: (positive) FAB-MS; Matrix : Glycerine COOCH 3 octadeca-8,10-diynoic acid methyl ester [290] IR,UV Full data NMR C 19 H 31 O 2 [291.2324] S2-UP/MS/Hendig Winarno 33