PERSEDIAAN
PSAK NO 14 Aktiva yang tersedia untuk dijual dalam kegiatan usaha normal, dalam proses produksi dan atau perjalanan atau dalam bentuk perlengkapan bahan atau perlengkapan (supplies) untuk digunakan dalam proses produksi atau pemberian jasa Donald E Kieso, Jerry J Weygandt dan Terry D Warfield: Aktiva yang dimiliki untuk dijual dalam operasi bisnis normal atau barang yang akan digunakan atau dikonsumsi dalam memproduksi barang yang akan dijual
Masalah Kepemilikan Persediaan Barang-barang Dalam Perjalanan (good in transit) Syarat pengiriman barang yang umum digunakan antara lain : Free On Board (FOB) Shipping Point Free On Board (FOB) Destination Barang-barang Yang Dipisahkan (segregate goods) Barang-barang Konsinyasi (consignment goods) Penjualan Angsuran
Persediaan Barang Dagangan Metode Pencatatan Transaksi persediaan barang dagangan Metode penentuan harga perolehan persediaan dan harga pokok penjualan Metode penilaian persediaan akhir
Metode Pencatatan Transaksi persediaan barang dagangan Metode Physical Metode Perpetual
Physical Utang piutang dicatat sebesar nilai bersih Metode Pencatatan Persediaan Barang Dagangan Perpetual Utang-piutang dicatat sebesar nilai kotornya: a. Cara langsung b. Cara cadangan Utang-piutang dicatat sebesar nilai bersih Utang-piutang dicatat sebesar nilai kotornya: a.cara langsung b.cara cadangan
Bila Utang-piutang dicatat sebesar Nilai Bersihnya TRANSAKSI METODE PHYSICAL METODE PERPETUAL 2 April 2008 dibeli barang dagangan Rp.4.500.000 syarat pembayaran 2/10,n/60 Pembelian Rp.4.410.000 Utang usaha Rp.4.410.000 Persed.Brg Dag. Rp.4.410.000 Utg usaha Rp.4.410.000 2 April 2008 dibayar biaya angkut pembelian Rp.250.000 Beban angkut Pembelian Rp.250.000 Kas Rp.250.000 Persed.Brg Dag. Rp.250.000 Kas Rp.250.000 4 April retur pembelian Rp.100.000 Utang usaha Rp.98.000 Retur pembelian Rp.98.000 a) Bila harga faktur pembelian dibayar dalam masa tunai. Tgl 12 April 2008 dibayar harga faktur pembelian tgl 2/4 2008 setelah dikurangi retur tgl 4/4 2008 Utang usaha Kas Rp.4.312.000 Rp.4.312.000 Utang usaha Rp.98.000 Persed.Brg Dag. Rp.98.000 Utang usaha Rp.4.312.000 Kas Rp.4.312.000 b) Bila harga faktur pembelian dibayar lewat masa tunai. Tgl 22 April 2008 dibayar harga faktur pembelian tgl 2/4 2008 setelah dikurangi retur tgl 4/4 2008 (D) Utang usaha (D) Rugi atas pot Pemb. yg tdk diambil (k) Kas Rp.4.312.000 Rp.88.000 Rp.4.400.000 Utang usaha Rp.4.312.000 Rugi atas pot Pemb.yg tdk diambil Rp.88.000 Kas Rp.4.400.000
B. Transaksi Penjualan TRANSAKSI METODE PHYSICAL METODE PERPETUAL 2 April 2008 dijual barang Dagangan Rp.4.500.000 syarat 2/10,n/60 Laba kotor 20% dari harga jual Piutang usaha Rp.4.410.000 Penjualan Rp.4.410.000 (D)Piutang usaha (K)Penjualan (D)Harga pokok penj (K)Persed.Brg Dag Rp.4.410.000 Rp.4.410.000 Rp.3.600.000 Rp.3.600.000 2 April 2008 dibayar Beban angkut Penj Beban angkut biaya angkut kirim Rp.250.000 penjualan Rp.250.000 Rp.250.000 Kas Rp.250.000 Kas Rp.250.000 4 April retur penjualan Rp.100.000 Retur penjualan Rp.98.000 Piutang usaha Rp.98.000 (D)Retur penjualan Rp.98.000 (K)Piutang usaha Rp.98.000 (D)Persed.Brg Dag. Rp.80.000 (K)Harga pokok penjualan Rp.80.000
a) Bila harga faktur penjualan dibayar dalam masa tunai. Tgl 12 April 2008 diterima pembayaran harga faktur penjualan tgl 2/4 2008 setelah dikurangi retur tgl 4/4 2008 Kas Rp.4.312.000 Piutang usaha Rp.4.312.000 Kas Rp.4.312.000 Piutang usaha Rp.4.312.000 b) Bila harga faktur penjualan dibayar lewat masa tunai. Tgl 22 April 2008 diterima pembayaran harga faktur penjualan tgl 2/4 2008 setelah dikurangi retur tgl 4/4 2008 Kas Rp.4.400.000 Laba atas pot Penj yg tdk Diambil Rp.88.000 Piutang usaha Rp.4.312.000 Kas Rp.4.400.000 Laba atas pot Penj yg tdk diambil Rp.88.000 Piutang usaha Rp.4.312.000
2a. Bila Utang-Piutang Dicatat sebesar Nilai Kotor: Cara Langsung TRANSAKSI METODE PHYSICAL METODE PERPETUAL 2 April 2008 dibeli barang dagangan Rp.4.500.000 syarat pembayaran 2/10,n/60 2 April 2008 dibayar biaya angkut pembelian Rp.250.000 Pembelian Rp.4.500.000 Utang usaha Rp.4.500.000 Beban angkut pembelian Rp.250.000 Kas Rp.250.000 Persed.Brg Dag. Rp.4.500.000 Utang usaha Rp.4.500.000 Persed.Brg Dag. Rp.250.000 Kas Rp.250.000 4 April 2008 retur pembelian Utang usaha Rp.100.000 Utang usaha Rp.100.000 Rp.100.000 Retur pembelian Rp.100.000 Persed.brg.dag Rp.100.000 a) Bila harga faktur pembelian dibayar dalam masa tunai. Tgl 12 April 2008 dibayar harga faktur pembelian tgl 2/4 2008 setelah dikurangi retur tgl 4/4/08 b) Bila harga faktur pembelian dibayar lewat masa tunai Tgl 22 April 2008 dibayar harga faktur pembelian tgl 2/4 2008 setelah Utang usaha Rp.4.400.000 Pot pembelian Rp. 88.000 Kas Rp.4.312.000 Utang usaha Rp.4.400.000 Kas R.4.400.000 Utang usaha Rp.4.400.000 Pot pembelian Rp. 88.000 Kas Rp.4.312.000 Utang usaha Rp.4.400.000 Kas Rp.4.400.000
Transaksi Penjualan TRANSAKSI METODE PHYSICAL METODE PERPETUAL 2 April 2008 dijual barang dagangan Rp.4.500.000 Syaratpembayaran2/10,n/60 Laba kotor 20% dari harga jual 2 April 2008 dibayar biaya angkut kirim Rp.250.000 (D) Piutang usaha Rp.4.500.000 (K) Penjualan Rp.4.500.000 (D) Beban ankut Penjualan (K) Kas Rp.250.000 Rp.250.000 (D) Piutang usaha Rp.4.500.000 (K) Penjualan Rp.4.500.000 (D) Harga pokok penjualan Rp.3.600.000 (K) Persed.brg dag Rp.3.600.000 (D) Beban ankut Penjualan Rp.250.000 (K) Kas Rp.250.000 4 April 2008 retur penjualan (D) Retur penjualan Rp.100.000 (D) Retur penjualan Rp.100.000 Rp.100.000 (K) Piutang usaha Rp.100.000 (K) Piutang usaha Rp.100.000 a) Bila harga faktur penjualan dibayar dalam masa tunai.tgl 12 April 08 diterima pembayaran harga faktur penjualan tgl 2/4/08 stelah dikurangi retur tgl 4/4 2008 (D) Kas Rp.4.312.000 (D) Pot.penjualan Rp. 88.000 (K) Piutang usaha Rp.4.400.000 (D) Persed.brg dag Rp.80.000 (K) Harga pokok penjualan Rp.80.000 (D) Kas Rp.4.312.000 (D) Pot.penjualan Rp. 88.000 (K) Piutang usaha Rp.4.400.000
b) Bila harga faktur penjualan dibayar lewat masa tunai Tgl 22 April 2008 diterima pembayaran harga faktur penjualan tgl 2/4 2008 setelah dikurangi retur tgl 4/4 2008 (D) Kas Rp.4.400.000 (K) PiutangusahaRp.4.400.000 (D) Kas Rp.4.400.000 (K) Piutang usaha Rp.4.400.000
2b. Bila Utang-Piutang Dicatat sebesar Nilai Kotor : Cara Cadangan TRANSAKSI METODE PHYSICAL METODE PERETUAL 2 April 2008 dibeli barang dagangan Rp.4.500.000 syarat 2/10,n/60 2 April 2008 dibayar biaya angkut pembelian Rp.250.000 4 April retur pembelian Rp.100.000 a) Bila harga faktur pembelian dibayar dalam masa tunai Tgl 12 April 2008 dibayar harga faktur pembelian tgl 2/4 2008 setelah dikurangi retur tgl 4/4 2008 b) Bila harga faktur pembelian dibayar lewat masa tunai Tgl 22 April 2008 dibayar harga faktur pembelian tgl 2/4 2008 setelah dikurangi tgl 4/4 2008 (D) Pembelian Rp.4.410.000 (D) Cad.pot pemb Rp. 90.000 (K) Utang usaha Rp.4.500.000 (D) Beban angkut pemb Rp.250.000 (K) Kas Rp.250.000 (D) Persed.brg dag Rp.4.410.000 (D) Cad.pot pemb Rp. 90.000 (K) Utang usaha Rp.4.500.000 (D)Persed.brg.dag (K)Kas Rp.250.000 Rp.250.000 (D) Utang usaha Rp.100.000 (D) Utang usaha Rp.100.000 (K) Cad.pot.pemb Rp. 2.000 (K) Cad.pot.pemb Rp. 2.000 (K) Retur pemb Rp. 98.000 (K) Persed.brg.dag Rp.98.000 (D) Utang usaha Rp.4.400.000 (K) Cad.pot pemb Rp. 88.000 (K) Kas Rp.4.312.000 (D) Utang usaha (K) Kas Rp.4.400.000 Rp.4.400.000 (D) Rugi cad.pot. Pemb tdk diambil Rp.88.000 (K) Cad.pot.pemb Rp 88.000 (D) Utang usaha Rp.4.400.000 (K) Cad.pot.pemb Rp. 88.000 (K) Kas Rp.4.312.000 (D) Utang usaha Rp.4.400.000 (K) Kas Rp.4.400.000 (D) Rugi cad.pot.pemb tdk diambil Rp.88.000 Cad.pot.pemb Rp.88.000
B. Transaksi Penjualan TRANSAKSI METODE PHYSICAL METODE PERPETUAL 2 April 2008 dijual barang dagangan Rp.4.500.000 syarat 2/0,n/60 Laba kotor 20% dari harga jual (D) Piutang usaha Rp.4.500.000 (K) Cad.pot.penj Rp. 90.000 (K) Penjualan Rp.4.410.000 (D) Piutang usaha Rp.4.500.000 (K) Cad.pot.penj Rp.90.000 (K) Penjualan Rp.4.410.000 (D) Hg pokok Penj Rp.3.600.000 (K) Persed.brg.dag Rp.3.600.000 2 April 2008 dibayar (D) Beban angkut penjualan Rp.250.000 (D) Beban angkut penj Rp.250.000 biaya angkut kirim Rp.250.000 (K) Kas Rp.250.000 (K) Kas Rp.250.000 4 April retur penjualan Rp.100.000 (D) Retur penjualan Rp. 98.000 (D) Cad.pot.penj Rp. 2.000 Piutang usaha Rp.100.000 (D) Retur penjualan Rp. 98.000 (D) Cad.pot.penj Rp. 2.000 (K) Piutang usaha Rp.100.000 Persed.brg.dag Rp.80.000 Harga pokok Penj Rp. 80.000
a) Bila harga faktur penjualan dibayar masa dalam tunai. Tgl 22 April 2008 diterima pembayaran harga faktur penjualan tgl 2/4 2008 setelah dikurangi retur tgl 4/4 2008 b) Bila harga faktur penjualan dibayar lewat masa tunai Tgl 22 April 2008 diterima pembayaran harga faktur penjualan tgl 2/4 2008 setelah dikurangi retur tgl 4/4 2008 (D) Kas Rp.4.312.000 (D) Cad.pot.penj 88.000 (K) Piutang usaha Rp.4.400.000 (D) Kas Rp.4.400.000 (K) Piut usaha Rp.4.400.000 Rp (D) Cad.pot.penj Rp.88.000 (K) Laba cad.pot penj yg tdk diambil Rp.88.000 (D) Kas Rp.4.312.000 (D) Cad.pot.penj Rp. 88.000 (K) Piutang usaha Rp.4.400.000 (D) Kas Rp.4.400.000 (K) Piutang usaha Rp.4.400.000 (D) Cad.pot.penj Rp.88.000 (K) Laba cad.pot penj yg tdk diambil Rp.88.000
Metode Penentuan Harga Perolehan Persediaan Penentuan harga perolehan persediaan dan harga pokok penjualan dilakukan berdasarkan asumsi arus biaya (cash flow assumption) bukan berdasarkan arus fisik persediaan.
metode penentuan harga perolehan persediaan dan harga pokok penjualan yang dapat diaplikasikan 1. Metode penentuan harga perolehan pada perusahaan dagang : a. Metode identifikasi khusus b. Metode Masuk Pertama Keluar Pertama (MPKP) c. Metode Masuk Terakhir Keluar Pertama (MTKP) d. Metode rata-rata e. Metode harga beli terakhir f. Metode nilai penjualan relative g. Metode harga jual eceran h. Metode laba kotor 2. Metode penentuan harga perolehan pada perusahaan manufaktur a. Metode biaya variable (variable casting) b. Metode biaya penuh (full casting) c. Metode biaya standar (standard casting) 3. Penentuan harga perolehan pada perusahaan konstruksi a. Metode kontrak selesai b. Metode persen penyelesaian
Metode Penentuan Harga Perolehan Persediaan Pada Perusahaan Dagang Metode Identifikasi Khusus (Specific Cost Identification Method) Penggunaan metode ini mengharuskan dilakukannya penandaan (identifikasi) terhadap setiap barang yang masuk pada kartu identitas dan mencantumkan harga pokoknya Penentuan harga pokok persediaan yang tersisa dan harga pokok penjualan dapat dilakukan berdasarkan catatan-catatan dalam kartu persediaan dan berdasarkan perhitungan fisik.
Metode ini jarang sekali digunakan disebabkan antara lain : Memerlukan banyak pekerjaan tambahan. Memerlukan tempat penyimpanan yang lebih luas Memerlukan biaya yang lebih tinggi
Metode Masuk Pertama Keluar Pertama (MPKP) Metode ini dikembangkan berdasarkan asumsi bahwa barang dagangan yang pertama dibeli adalah barang dagangan yang pertama dijual (the first merchandise purchased is the first merchandise sold).
Kelebihan Menguntungkan rentabilitas perusahaan Secara umum harga barang selalu naik dari waktu ke waktu. Laba yang besar parallel dengan perbaikan tingkat rentabilitas perusahaan. Menguntungkan likuiditas dan solvabilitas perusahaan Harga pokok persediaan yang tersisa pada akhir periode didasarkan pada harga pokok persediaan yang terakhir masuk sehingga persediaan di neraca dilaporkan dengan nilai yang tinggi. Tingginya nilai persediaan yang dilaporkan di neraca mengakibatkan tingginya rasio likuiditas dan rasio solvabilitas perusahaan. Persediaan akhir sesuai dengan harga faktual Karena dinilai berdasarkan harga perolehan yang terakhir masuk, maka persediaan akhir yang dilaporkan di neraca lebih mencerminkan perkembangan harga pasar secara aktual. Arus pembebanan harga pokok sesuai dengan arus fisik barang Untuk menghindari kerusakan barang maka umumnya persediaan yang pertama dibeli adalah persediaan yang pertama dikeluarkan pada saat terjadi penjualan.
Kelemahan Tidak menguntungkan arus kas. Perolehan laba bersih yang diperhitungkan lebih tinggi mempunyai konsekuensi tingginya kewajiban yang harus dipenuhi oleh perusahaan kepada pemerintah (beban pajak) dan kewajiban kepada pemegang saham (deviden) Harga pokok penjualan tidak parallel dengan hasil penjualan. Hal ini disebabkan karena harga pokok penjualan dihitung berdasarkan harga pokok barangbarang yang pertama ma suk, sehingga harga pokok penjualan tidak mencerminkan harga pokok persediaan pada saat dilakukan penjualan, sehingga semestinya harga pokok penjualan yang ditentukan metode ini tidak dapat dipertemukan dengan hasil penjualannya.
Metode MPKP secara Physical Penentuan harga perolehan persediaan menurut metode ini dilakukan secara berkala pada setiap akhir periode. Penentuan harga perolehan persediaan yang tersisa pada akhir periode dilakukan dengan cara mengalikan kuantitas yang tersisa dengan harga perolehan barangbarang yang terakhir dibeli. Harga pokok penjualan ditentukan dengan cara mengurangkan harga perolehan dari persediaan yang tersisa dari harga perolehan persediaan yang siap dijual.
Ilustrasi. UD. Kharis Wyeth Supplier adalah perusahaan distributor untuk suatu produk susu olahan. Berdasarkan catatan fisik persediaan susu olahan Merk Sugem kemasan kaleng 800 gr selama periode Desember 2008 diketahui data-data berikut : Tanggal 1 : Persediaan awal 250 kaleng @ Rp.150.000 3 : Pembelian 300 kaleng @ Rp.155.000 7 : Penjualan 350 kaleng @ Rp.180.000 15 : Pembelian 200 kaleng @ Rp.157.000 17 : Retur pembelian 20 kaleng atas pembelian tanggal 15 Desember 2008 26 : Penjualan 300 kaleng @ Rp.190.000 27 : Retur penjualan 30 kaleng atas penjualan tanggal 26 Desember 2008 30 : Pembelian 260 kaleng @ Rp.160.000
Dari data-data tersebut maka penentuan harga perolehan persediaan dapat dilakukan melalui perhitungan berikut : Tgl 1 : Persediaan awal = 250 kaleng @ Rp.150.000 3 : Pembelian = 300 kaleng @ Rp.155.000 7 : Pembelian (200-20) = 180 kaleng @ Rp.157.000 30 : Pembelian = 260 kaleng @ Rp.160.000 Persediaan siap dijual = 990 kaleng 7 : Penjualan 350 kaleng 26 : Penjualan (300-30) = 270 kaleng Terjual = 620 kaleng Tersisa = 370 kaleng Harga perolehan persediaan akhir terdiri dari : 260 kaleng @ Rp.160.000 = Rp.41.600.000 110 kaleng @ Rp.157.000 = Rp.17.270.000 Rp.58.870.000
Harga pokok penjualan periode Desember 2008 dihitung sebagai berikut : Tgl 1 : Persediaan awal 250 kaleng @ Rp.150.000 = Rp. 37.500.000 3 : Pembelian 300 kaleng @ Rp.155.000 = Rp. 46.500.000 15 : Pembelian (200-20) 180 kaleng @ Rp.157.000 = Rp. 28.260.000 30 : Pembelian 260 kaleng @ Rp.160.000 = Rp. 41.600.000 Persediaan siap dijual 990 kaleng = Rp.153.860.000 Perseediaan akhir = Rp. 58.870.000 Harga pokok penjualan = Rp.94.990.000 Sedangkan laba kotor periode Des 2008 adalah sbb : Tgl 7 : Penjualan 350 kaleng @ Rp. 180.000 = Rp. 63.000.000 26 : Penjualan (300-30) 270 kaleng @ Rp. 190.000 = Rp. 51.300.000 Hasil penjualan periode Desember 2008 = Rp.114.300.000 Harga pokok penjualan = Rp. 94.990.000 Laba kotor penjualan = Rp. 19.310.000
Metode MPKP secara Perpetual Untuk tiap-tiap jenis persediaan harus dibuatkan kartu persediaan sendiri-sendiri. Kartu persediaan ini dapat difungsikan sebagai buku pembantu persediaan. contoh transaksi mutasi persediaan susu olahan merk Sugem kemasan kaleng 800 gr
Jenis barang : Susu Sugem 80 gr Suplier utama : PT. Total Wyeth Utama Lokasi barang : Gudang A3 R34 Suplier kedua : PT. Adi Nutrisi Satuan produk : Kaleng Batas min : 600 kaleng, max : 1.500 kaleng Tgl KARTU PERSEDIAAN Periode : Desember 2008 Masik Pertama Keluar Pertama (MPKP) Jumlah dalam ribuan Pembelian Penjualan Saldo Qty Harga Jumlah Qty Harga Jumlah Qty Harga Jumlah 1 250 150.000 37.500 3 300 155.000 46.500 250 150.000 37.500 7 250 150.000 37.500 300 155.000 46.500 100 155.000 15.500 200 155.000 31.000 15 200 157.000 31.400 200 155.000 31.000 200 157.000 31.400 17 (20) 157.000 (3.140) 200 155.000 31.000 26 200 155.000 31.000 180 157.000 28.260 100 157.000 15.700 80 157.000 12.560 27 (30) 157.000 (4.710) 110 157.000 17.270 30 260 160.000 41.600 110 157.000 17.270 260 160.000 41.600 Jumlah Pembelian 116.360 Jumlah HPP 94.990 Persed Akhir 58.870
Jurnal yang harus dibuat untuk mencatat transaksi-transaksi tersebut bila utang-piutang dicatat sebesar nilai kotornya menurut cara langsung adalah 3/12 Persediaan barang dagangan Rp.46.500.000,00 Utangdagang 7/12 Piutang usaha Rp.63.000.000,00 Penjualan Harga pokok penjualan Persediaan barang dagangan Rp.53.000.000,00 15/12 Persediaan barang dagangan Rp.31.400.000,00 Utang dagang 17/2 Utang dagang Rp.3.140.000,00 Rp.46.500.000,00 Rp.63.000.000,00 Rp.53.000.000,00 Rp.31.400.000,00 Persediaan barang dagangan 20 x Rp.157.000,00 = Rp.3.140.000,00 Rp.3.140.000,00
26/12 Piutang dagang Rp.57.000.000,00 Penjualan Rp.57.000.000,00 Harga pokok penjualan Rp.46.740.000,00 Persediaan barang dagangan Rp.46.740.000,00 27/12 Retur penjualan Rp.5.700.000,00 Piutang dagang Rp.5.700.000,00 Persediaan barang dagangan Rp.4.710.000,00 Harga pokok penjualan.4.710.000,00 30/12 Persediaan dagangan Rp.41.600.000,00 Utang dagang Rp.41.600.000,00
Metode Masuk Terakhir Keluar Pertama (MTKP) harga pokok penjualan dinilai berdasarkan harga pokok persediaan yang terakhir masuk maka harga pokok persediaan yang tersisa terdiri dari harga perolehan persediaan yang pertama masuk.
Kelebihan metode ini antara lain : Karena harga perolehan barang yang dijual dinilai berdasarkan harga perolehan persediaan yang terakhir masuk maka harga perolehan yang diperhitungkan dalam harga pokok penjualan dapat dipertemukan secara aktual dengan hasil penjualannya. Pada saat kondisi sangat fluktuatif, penggunaan metode ini dapat mengeliminasi pengaruh negatif pada perhitungan laba- rugi perusahaan yang disebabkan karena adanya fluktuasi harga. Fluktuasi harga tersebut dapat langsung terserap dalam harga pokok penjualan. Penggunaan metode ini menguntungkan arus kas keluar perusahaan. Hal ini dapat terjadi karena metode ini cenderung mengakibatkan laba bersih perusahaan yang lebih kecil tentunya mengakibatkan kewajiban perusahaan kepada negara dan kepada pemegang saham juga lebih kecil.
Kelemahan metode ini antara lain Rendahnya tingkat rentabilitas karena metode ini cenderung menghasilkan laba akutansi yang lebih kecil dari pada kalau digunakan metode lainnya. Rasio likuiditas dan rasio solvabilitas cenderung lebih rendah dikarenakan persediaan yang dilaporkan di neraca cenderung lebih kecil dibandingkan bila digunakan metode lainnya. Rendahnya rasio likuiditas, solvabilitas dan rasio rentabilitas dapat menimbulkan penilaian yang kurang menguntungkan dimata investor dan kreditor perusahaan.
Metode MTKP secara physical Tgl 1: Persediaan awal = 250 kaleng @ Rp.150.000 3: Pembelian = 300 kaleng @ Rp.155.000 15: Pembelian (200-20) = 180 kaleng @ Rp.157.000 30: Pembelian = 260 kaleng @ Rp.160.000 Persediaan siap dijual = 990 kaleng 7: Penjualan = 350 kaleng 26: Penjualan (300-30) = 270 kaleng Terjual = 620 kaleng Tersisa = 370 kaleng Harga perolehan persediaan akhir terdiri dari : 250 kaleng @ Rp.150.000 = Rp.37.500.000 120 kaleng @ Rp.155.000. = Rp.18.600.000 Rp.56.100.000
Harga pokok penjualan periode Desember 2008 dihitung sebagai berikut : Tgl 1: Persediaan awal 250 kaleng @ Rp.150.000 = Rp. 37.500.000 3: Pembelian 300 kaleng @ Rp.155.000 = Rp. 46.500.000 15: Pembelian (200-20)180 kaleng @ Rp.157.000 = Rp. 28.260.000 30: Pembelian 260 kaleng @ Rp.160.000 = Rp. 41.600.000 Persediaan siap dijual 990 kaleng = Rp.153.860.000 Persediaan akhir = Rp. 56.100.000 Harga pokok penjualan = Rp. 97.760.000
Sedangkan laba kotor periode Desember 2008 adalah sebagai berikut : Tgl 7 : Penjualan 350 kaleng @ Rp.180.000 = Rp. 63.000.000 26 : Penjualan (300-30)= 270 kaleng @ Rp.190.000 = Rp. 51.300.000 Hasil penjualan periode Desember 08 = Rp.114.300.000 Harga pokok penjualan = Rp. 97.760.000 Laba kotor penjualan = Rp 16.540.000 Metode MTKP secara Perpetual Slide berikut ini adalah kartu persediaan yang dibuat berdasarkan metode MTKP yang diselenggarakan dengan menggunakan metode perpetual.
Jenis barang : Susu Sugem 800 gr Suplier utama : PT. Total Wyeth Utama Lokasi barang : Gudang A3 R34 Suplier kedua : PT. Adi Nutrisi Satuan produk : Kaleng Batas min : 600 kaleng, max : 1.500 kaleng Tgl KARTU PERSEDIAAN Periode : Desember 2008 Masik Terakhir Keluar Pertama (MTKP) Jumlah dalam ribuan Pembelian Penjualan Saldo Qty Harga Jumlah Qty Harga Jumlah Qty Harga Jumlah 1 250 150.000 37.500 3 300 155.000 46.500 250 150.000 37.500 7 300 155.000 46.500 300 155.000 46.500 50 150.000 7.500 200 150.000 30.000 15 200 157.000 31.400 200 150.000 30.000 200 157.000 31.400 17 (20) 157.000 (3.140) 200 150.000 30.000 26 180 157.000 28.260 180 157.000 28.260 120 150.000 18.000 80 150.000 12.000 27 (30) 150.000 (4.500) 110 150.000 16.500 30 260 160.000 41.600 110 150.000 16.560 260 160.000 41.600 Jumlah Pembelian 116.400 Jumlah HPP 95.030 Persed Akhir 58.160
Sedangkan laba kotor periode Desember 2008 adalah sebagai berikut : Tgl 7 : Penjualan 350 kaleng @ Rp.180.000 = Rp. 63.000.000 26 : Penjualan (300-30) = 270 kaleng @ Rp.190.000 = Rp. 51.300.000 Hasil penjualan periode Desember 2008 = Rp.114.300.000 Harga pokok penjualan = Rp. 95.030.000 Laba kotor penjualan = Rp 19.270.000 Jurnal yang harus dibuat untuk mencatat transaksi-transaksi tersebut bila utang-piutang dicatat sebesar nilai kotornya menurut cara langsung dapat dilihat pada slide berikut ini
3/12 Persediaan barang dagangan Rp.46.500.000,00 Utang dagang Rp. 46.500.000,00 7/12 Piutang dagang Rp.63.000.000,00 Penjualan Rp. 63.000.000,00 Harga pokok penjualan Rp.54.000.000,00 Persediaan barang dagangan Rp. 54.000.000,00 15/12 Persediaan barang dagangan Rp.31.400.000,00 Utang dagang Rp. 31.400.000,00 17/2 Utang dagang Rp. 3.140.000,00*) Selisih persediaan Rp. 140.000,00 Persediaan barang dagangan Rp. 3.000.000,00 *) 20 x Rp.157.000,00 = Rp.3.140.000,00 26/12 Piutang dagang Rp.57.000.000,00 Penjualan Rp. 57.000.000,00 Harga pokok penjualan Rp.46.260.000,00 Persediaan barang dagangan Rp. 46.260.000,00 27/12 Retur penjualan Rp.5.700.000,00 Piutang dagang Rp. 5.700.000,00 Persediaan barang dagangan Rp.4.50 0.000,00 Harga pokok penjualan Rp. 4.50 0.000,00 30/12 Persediaan dagangan Rp.41.600.000,00 Utang dagang Rp. 41.600.000,00
Metode MTKP Nilai Uang (Rupiah) Metode MTKP juga dapat diselenggarakan perhitungannya berdasarkan nilai uang disamping berdasarkan mutasi persediaan. Langkah-langkah penggunaan metode ini dalam penentuan harga perolehan persediaan antara lain : Semua barang harus dikelompokan-kelompokan menurut jenisnya atau criteria tertentu yang ditetapkan, Menentukan harga perolehan persediaan akhir periode berdasarkan harga barang pada saat dilakukan perhitungan (current price) Menentukan persentase index harga, yaitu dengan cara membagi harga sekarang (current price) dengan harga tahun dasar (base-year price) Menentukan nilai persediaan akhir periode berdasarkan harga tahun dasar, yaitu dengan jalan membagi nilai persediaan pada akhir periode berdasarkan harga barang saat dilakukan perhitungan (current price) dengan index harga (2 : 3) Menentukan nilai persediaan akhir periode berdasarkan metode MTKP, yaitu dengan jalan mengalikan nilai persediaan pada akhir periode berdasarkan harga tahun dasar dengan index harga (4 x 3).
PT.Salsa Inti Pangan Tbk adalah distributor Gula di kota Gresik, manajemen perusahaan menetapkan menggunakan metode MTKP Nilai Rupiah dalam menentukan harga perolehan persediaan dan menetapkan harga gula tahun 2004 sebagai harga tahun dasar. Dibawah ini adalah informasiinformasi yang terkait dengan persediaan barang dagangan setiap akhir periode mulai tahun 2004 sampai dengan 2008. Tahun Persediaan berdasarkan harga akhir tahun Index Harga 2004 Rp.22.550.000 100 2005 Rp.28.450.000 105 2006 Rp.32.300.000 110 2007 Rp.28.200.000 115 2008 Rp.30.440.000 120
Berdasarkan data-data tersebut diatas maka perhitungan untuk menentukan harga perolehan persediaan barang dagangan menurut metode ini adalah : Tahu n Persediaan akhir menuut harga tahun dasar Persediaan berdasar harga akhir tahun Index Har ga Persediaan berdasar harga tahun dasar 2004 Rp.22.550.000 100 Rp.22.550.000,00 2005 Rp.28.450.000 105 Rp.27.095.238,00 2006 Rp.32.300.000 110 Rp.29.363.636,00 2007 Rp.28.200.000 115 Rp.24.521.739,00 2008 Rp.30.440.000 120 Rp.25.366.666,67
Bagian lapisan penentuan harga perolehan persediaan metode MPKP Nilai Uang
Harga perolehan persediaan barang dagangan per 31 Dsember 2004 adalah sebesar Rp.22.500.000 yang dihitung dengan cara sebagai berikut Persediaan menurut harga dasar Lapisan persediaan menurut harga dasar Index Harga Harga perolehan persediaan menurut MTKP Nilai Uang Rp.22.550.000 Rp.22.550.000 100% Rp.22.550.000 Harga perolehan persediaan barang dagangan per 31 Dsember 2005 adalah sebesar Rp.27.322.500 yang dihitung dengan cara sebagai berikut Persediaan menurut harga dasar Lapisan persediaan menurut harga dasar Index Harga Harga perolehan persediaan menurut MTKP Nilai Uang Rp.27.095.238 Rp.22.550.000 100% Rp.22.550.000 Rp.4.545.238 105% Rp.4.772.500 Jumlah Rp.27.095.238 Rp.27.322.500
Harga perolehan persediaan barang dagangan per 31 Desember 2006 adalah sebesar Rp.29.817.738 yang dihitung dengan cara sebagai berikut : Persediaan menurut harga dasar Lapisan persediaan menurut harga dasar Index Harga Harga perolehan persediaan menurut MTKP Nilai Uang Rp.29.363.636 Rp.22.550.000 100% Rp.22.550.000 Rp.4.545.238 105% Rp. 4.772.500 Rp.2.268.398 110% Rp.2.495.238 Jumlah Rp.29.363.636 Rp.29.817.738
Harga perolehan persediaan barang dagangan per 31 Dsember 2007 adalah sebesar Rp.24.620.326 yang dihitung dengan cara sebagai berikut Persediaan menurut harga dasar Lapisan persediaan menurut harga dasar Index Harga Harga perolehan persediaan menurut MTKP Nilai Uang Rp.24.521.739 Rp.22.550.000 100% Rp.22.550.000 Rp.1.971.739 105% Rp.2.070.325 110% Jumlah Rp24.521.739 Rp.24.620.326
Harga perolehan persediaan barang dagangan per 31 Dsember 2008 adalah sebesar Rp.25.634.237 yang dihitung dengan cara sebagai berikut Persediaan menurut harga dasar Lapisan persediaan menurut harga dasar Index Harga Harga perolehan persediaan menurut MTKP Nilai Uang Rp.25.366.666 Rp.22.550.000 100% Rp.22.550.000 Rp.1.971.739 105% Rp.2.070.325 Rp.844.927 120% Rp.1.013.912 Jumlah Rp25.366.666 Rp.25.634.237
Metode Rata-rata (Average) Metode ini dikembangkan untuk memberikan solusi tengah ekstrimitas metode MPKP dengan metode MTKP. Pada metode rata-rata, penentuan harga perolehan persediaan tidak didasarkan pada harga perolehan persediaan yang pertama masuk atau yang terakhir masuk melainkan diantara keduanya. Dengan begitu kelebihan dan kelemahan dari metode MPKP dan metode MTKP tereliminasi pada posisi rata-rata. Terdapat 2 (dua) cara perhitungan harga perolehan persediaan menurut metode rata-rata, yaitu 1) Rata-rata tertimbang (weighted average), dan 2) Rata-rata bergerak (moving average).
Metode Rata-rata (Average) Harga perolehan rata-rata per unit = Harga perolehan persediaan siap dijual Jumlah persediaan siap dijual
Ilustrasi, berdasarkan transaksi persediaan tersebut diatas (lihat pada metode MPKP), maka penentuan harga perolehan persediaan menurut metode rata-rata tertimbang adalah Tgl. 1 : Persediaan awal 250 kaleng @Rp. 150.000 = Rp.37.500.000 3 : Pembelian 300 kaleng @Rp. 155.000 = Rp.46.500.000 15 : Pembelian (200-20) = 180 kaleng @Rp. 157.000 = Rp.10.260.000 30 : Pembelian 260 kaleng @Rp. 160.000 = Rp.41.600.000 pembelian siap dijual 990 kaleng Rp.135.860.000 7 : Penjualan 350 kaleng 26 : Penjualan (300-30) = 270 kaleng Terjual 620 kaleng Tersisa 370 kaleng Harga rata-rata tertimbang = Rp. 135.860.000 : 990 = Rp.137.232,32 Harga perolehan persediaan per 31 Desember 2008 = 370 x Rp. 137.232,32 = Rp.50.775.958,40 Persediaan siap dijual = Rp.135.860.000,00 Persediaan akhir Harga pokok penjualan = Rp.50.775.958,00 = Rp.85.084.042,00
Laba kotor Des 2008 Tgl. 7: Penjualan 350 kaleng @Rp. 180.000 = Rp. 63.000.000 26: Penjualan (300-30) = 270 kaleng @Rp. 190.000 = Rp. 51.300.000 Hasil penjualan perilode Desember 2008 = Rp.114.300.000 Harga pokok penjualan Rp.85.084.042 Laba kotor penjualan Rp.29.215.958
Metode penentuan harga perolehan persediaan ini merupakan metode rata-rata yang diselenggarakan secara perpetual. Setiap terjadi transaksi pembelian atau masuknya persediaan maka harus dihitung harga perolehan rata-rata yang baru. Harga pokok penjualan merupakan hasil perkalian antara banyaknya persediaan yang dijual dengan harga perolehan rata-rata pada saat itu. Berdasarkan kasus tersebut diatas maka kartu persediaan yang dibuat untuk penentuan harga perolehan persediaan dengan menggunakan metode rata-rata bergerak seperti nampak dibawah ini :
Tgl Pembelian Penjualan Saldo Qty Harga Jumlah Qty Harga Jumlah Qty Harga Jumlah 1 250 150.000 37.500.000 3 300 155.000 46.500.000 550 152727,27 84.000.000 7 350 152727,27 53.454.695 200 152727,27 30.545.305 15 200 157.000 31.400.000 400 154.863,26 61.945.304 17 (20) 154.863,26 (3.097.265,20) 380 154.863,26 58.848.033,80 26 300 154.863,26 46.458.978 80 154.863,26 12.389.055,80 27 (30) 154.863,26 (4.645.897,80) 110 154.863,26 17.034.953,60 30 260 160.000 41.600.000 370 158.472,85 58.634.953,60 Jml. Pembelian 116.402.728,80 Jumlah HPP 95.267.775,20 Prsdiaan. akhr 58.634.953,60
Tgl. 7 : Penjualan 350 kaleng @Rp. 180.000 = Rp. 63.000.000,00 26 : Penjualan (300-30) = 270 kaleng @Rp. 190.000 = Rp. 51.300.000,00 Hasil penjualan perilode Desember 2008 = Rp.114.300.000,00 Harga pokok penjualan Rp. 95.267.775,20 Laba kotor penjualan Rp. 19.032.224,80
3/12 Persediaan barang dagangan 40.500.000,00 Utang dagang 40.500.000,00 7/12 Piutang dagang 63.000.000,00 Penjualan 63.000.000,00 Harga pokok penjualan 53.454.695,00 Persediaan barang dagangan 53.454.695,00 15/12 Persediaan barang dagangan 31.400.000,00 Utang dagang 31.400.000,00 17/12 Utang dagang 3.140.000,00 Selisih persediaan 42.818,22 Persediaan barang dagangan 3.097.271,20 *) 20 x Rp. 157.000 = Rp. 3.140.000 26/12 Piutang dagang 57.000.000,00 Penjualan 57.000.000,00 Harga pokok penjualan 46.458.978,00 Persediaan barang dagangan 46.458.978,00 27/12 Retur penjualan 5.700.000,00 Piutang dagang 5.700.000,00 Persediaan barang dagangan 4.645.897,80 Harga pokok penjualan 4.645.897,80 30/12 Persediaan barang dagangan 41.600.000,00 Utang dagang 41.600.000,00
Metode Harga Beli Terakhir Metode penentuan harga perolehan persediaan ini merupakan metode penentuan harga perolehan yang apriori terhadap mutasi persediaan dan perubahan harga, penentuan harga perolehan terhadap persediaan yang tersisa dilakukan berdasarkan harga beli yang terakhir tanpa harus memperhatikan apakah jumlah barang yang tersisa itu melebihi jumlah pembelian terakhir atau tidak.
Ilustrasi, dari contoh kasus tersebut diatas, bila penentuan harga perolehan menggunakan metode harga beli berakhir, maka perhitungan penentuan harga perolehan tersebut nampak sebagai berikut : Tgl. 1: Persediaan awal 250 kaleng @Rp.150.000= Rp.150.000.000 3: Pembelian 300 kaleng @Rp.155.000=Rp. 55..000 15: Pembelian (200-20) =180 kaleng @Rp.157.000=Rp. 10.260.000 30: Pembelian 260 kaleng @Rp.160.000=Rp. 41.600.000 pembelian siap dijual990 kaleng Rp.135.860.000 7: Penjualan 350 kaleng 26: Penjualan (300-30) = 270 kaleng Terjual 620 kaleng Tersisa 370 kaleng Harga perolehan persediaan akhir = 370 x Rp. 160.000 = Rp. 59.200.000
Metode Nilai Penjualan Relatif Metode ini digunakan untuk mengalokasikan harga perolehan bersama (joint cost) kepada harga perolehan masing-masing persediaan atau produk yang diperoleh dalam satu harga perolehan.
Ilustrasi PT. Kharis Jaya Abadi, Tbk adalah perusahaan importir bawang putih curah dari Tiongkok, selama periode 2008 telah mengimport 100 ton bawang putih dengan harga 1.250 per Kg, biaya angkut dan ongkos kuli Rp. 1.500.000 dan biaya sortir Rp.1.450.000 setelah disortir diperoleh bawang putih kualitas A sebanyak 50 ton, kualitas B sebanyak 30 ton dan kualitas C sebanyak 20 ton. Harga jual bawang putih kualitas A ditetapkan Rp. 2.500 per kg. bawang putih kualitas B Rp. 2.250 per kg dan bawang putih kualitas C Rp. 1.950 per kg. Untuk bawang putih kualitas A telah terjual 40 ton, kualitas B telah terjual seluruhnya dan kualitas C telah terjual 13 ton. Berdasarkan data-data tersebut diatas maka perhitungan penentuan harga perolehan yang terserap dalam persediaan yang telah terjual dan yang melekat pada persediaan yang tersisa serta perhitungan laba kotor periode 2008 adalah sebagai berikut :
Hasil penjualan relatif : Bawang putih kualitas A = 50 x 1.000 x Rp. 2.500 = Rp.125.000.000 54% Bawang putih kualitas B = 30 x 1.000 x Rp. 2.250 = Rp. 67.500.000 29% Bawang putih kualitas C = 20 x 1.000 x Rp. 1.950 = Rp. 39.000.000 17% Jumlah hasil penjualan relatif Rp.231.500.000 100% Hasil perolehan : Bawang putih kualitas A = 54% x 1.250 x 100.000 = Rp. 67.500.000 Bawang putih kualitas B = 29% x 1.250 x 100.000 = Rp. 36.250.000 Bawang putih kualitas C = 17% x 1.250 x 100.000 = Rp. 21.250.000 Jumlah harga perolehan Rp.125.000.000 Hasil penjualan periode 2008 Bawang putih kualitas A = 40 x 1.000 x Rp. 2.500 = Rp. 100.000.000 Bawang putih kualitas B = 30 x 1.000 x Rp. 2.250 = Rp. 67.500.000 Bawang putih kualitas C = 13 x 1.000 x Rp. 1.950 = Rp. 25.350.000 Jumlah hasil penjualan Rp. 192.850.000 Hasil pokok penjualan periode 2008 Bawang putih kualitas A = (Rp. 67.500.00 : 50.000) x 40.000 = Rp. 54.000.000 Bawang putih kualitas B = (Rp. 36.250.00 : 30.000) x 30.000 = Rp. 36.250.000 Bawang putih kualitas C = (Rp. 21.250.00 : 20.000) x 13.000 = Rp. 13.812.500 Jumlah harga pokok penjualan Rp.104.062.500
Harga perolehan persediaan per 31 Desember 2008 Bawang putih kualitas A = (Rp. 67.500.00 Rp. 54.000.000 = Rp. 13.500.000 Bawang putih kualitas B = (Rp. 36.250.00 - Rp. 36.250.000= Rp. 0 Bawang putih kualitas C = (Rp. 21.250.00 - Rp. 13.812.500= Rp. 7.437.500 Jumlah harga perolehan Rp. 20.937.500 Laba kotor periode Desember 2008 Hasil penjualan periode Desember 2008 = Rp. 192.850.000 Jumlah harga pokok penjualan = Rp. 104.062.500 Laba kotor penjualan periode Desember 2008 Rp. 88.787.500
Metode Laba Kotor Dalam penggunaan metode penentuan harga perolehan ini selalu diasumsikan bahwa rasio laba kotor tahun sekarang adalah sama/sebesar rasio laba kotor th sbl nya/periode tertentu. Rasio laba kotor tidak lain adalah persentase laba kotor dari penjualan bersih. Langkah-langkah penentuan harga perolehan persediaan menurut metode ini adalah : Tentukan rasio laba kotor tahun sebelumnya atau rasio rata-rata laba kotor. Tentukan besarnya harga pokok penjualan dengan cara mengalikan rasio laba kotor dengan penjualan bersih periode sekarang. Tentukan nilai persediaan siap dijual berdasarkan catatan-catatan dalam akuntansi perusahaan. Persediaan akhir dapat ditentukan dengan cara mengurangkan persediaan siap dijual terhadap harga pokok penjualan.
Ilustrasi : Gudang PT. Reksa pada tanggal 15 Mei 2008 terbakar, berdasarkan catatan-catatan dalam akuntansi PT. Reksa diketahui hal-hal sebagai berikut ; Persediaan barang dagangan per 31/12/07 Rp. 25.300.000 Penjualan Rp.325.800.000 Retur penjualan Rp. 14.500.000 Potongan penjualan Rp. 20.400.000 Pembelian Rp.145.000.000 Biaya angkut pembelian Rp.12.600.000 Retur pembelian Rp.22.600.000 Potongan pembelian Rp.10.900.000
Bila rasio laba kotor rata-rata selama lima tahun terakhir sebesar 40%, maka perhitungan untuk menentukan harga perolehan persediaan per tanggal 15 Mei 2008 sesaat sebelum terjadinya musibah kebakaran adalah : Penjualan Rp.325.800.000 Retur penjualan Rp. 14.500.000 Potongan penjualan Rp. 20.400.000 + Rp. 34.900.000 - Penjualan bersih Rp.290.900.000 Harga pokok penjualan = 60% x Rp. 290.900.000= Rp.174.540.000 Persediaan barang dagang per 1 Januari Rp. 25.300.000 Pembelian Rp.145.000.000 Biaya angkut pembelian Rp. 12.600.000 + Rp.157.600.000 Retur dan pot. Pembelian Rp. 33.500.000 - Pembelian bersih Rp.124.100.000 Persediaan siap dijual Rp.149.400.000 Persediaan barang dagangan per 15 Mei 2008 Rp. 25.140.000
Metode Harga Jual Eceran Perusahaan dagang eceran (retailer) pada umumnya mempunyai persediaan barang dagangan yang sangat heterogen baik dari segi macam barang yang diperdagangkan maupun harga barang yang bersangkutan, dan dalam harga jual eceran masing-masing mungkin diperhitungkan laba kotor yang berbeda-beda. Metode penentuan harga perolehan yang lebih tepat digunakan pada perusahaan yang mempunyai karakteristik demikian adalah metode harga jual eceran.
Cost ratio Harga pokok persediaan siap dijual Jumlah jual eceran persediaan siap dijual Ilustrasi. Dari catatan dalam kartu persediaan barang dagangan pada Salsa Outlet. Co untuk periode 2008 diketahui hal-hal berikut : Harga Jual Eceran Harga Pokok Persediaan per 1 Januari 2008 Rp. 25.600.000 Rp. 32.750.000 Pembelian bersih Rp. 129.400.000 Rp. 162.800.000 Persediaan Siap Dijual Rp. 155.000.000 Rp. 195.550.000 Dari catatan dalam buku besar Salsa Outlet Co diketahui Penjualan Rp. 178.650.000,00 Retur Rp. 2.750.000,00 Potongan penjualan Rp. 4.860.000,00
Berdasarkan data data tersebut diatas perhitungan penentuan harga perolehan persediaan per 31 Desember 2008 adalah sebagai berikut : Harga Pokok Harga Jual Eceran Persediaan per 1 Januari 2008 Rp. 25.600.000,00 Rp. 32.750.000,00 Pembelian bersih Rp. 129.400.000,00 Rp. 162.800.000,00 Persediaan siap dijual Rp. 155.000.000,00 Rp. 195.550.000,00 Penjualan Rp. 178.650.000,00 Retur Penjualan Rp. 2.750.000,00 Pot. Penjualan Rp. 4.860.000,00 Rp. 7.610.000,00 Penjualan bersih Rp. 171.040.000,00 Persediaan barang dagangan per 31 Desember menurut harga jual eceran Rp. 24.510.000,00 Cost ratio = ( 155.000.000 / 195.550.000 ) x 100 % = 79.26 % Harga perolehan Persediaan Barang Dagangan per 31 Desember adalah : 79,26% x Rp. 24.510.000,00 = 19.426.626,00
Metode Harga Jual Eceran dalam hal terdapat tambahan Markup atau Markdown Markup merupakan kenaikan harga ( laba kotor ) yang ditambahkan pada harga perolehan (cost) untuk membentuk harga jual eceran semula ( original sales price ). Harga jual eceran semula ini yang digunakan sebagai patokan apakah terhadap harga jual eceran telah dilakukan tambahan markup ataupun markdown.
Cost Markup Harga Jual eceran semula Tambahan Markup (Markup additional) Pembatalan Markdown (Markdown concellation) Markdown Pembatalan tambahan markup (Markup additional concellation)
FIFO/MPKP Penentuan harga perolehan persediaan akhir dengan mengunakan metode harga eceran dalam hal terdapat tambahan kenaikan harga atau penurunan harga jual eceran dapat dilakukan dengan menggunakan salah satu dari keempat dasar perhitungan di bawah ini : FIFO/MPKP, bila digunakan dasar perhitungan menurut metode FIFO maka harga perolehan dan harga jual eceran dari persediaan awal tidak ikut diperhitungkan dalam menentukan besarnya rasio harga perolehan (cost ratio), sebab perhitungan harga diperoleh persediaan akhir berdaar FIFO dilakukan pembelian yang dilakukan selama metode berjalan. Jadi rasio harga perolehan menurut dasar perhitungan FIFO menujukan hubungan antara harga perolehan dengan harga jual eceran dari persediaan yang dibeli selama periode berjalan. Rasio harga perolehan = (FIFO) Harga perolehan pembelian bersih Harga jual eceran dari pembelian + net markup net markdown Harga perolehan Persediaan Akhir = Rasio harga perolehan x Persed. Akhir menurut harga jual eceran
Rata rata /Average Rata rata /Average,bila rasio harga di peroleh dihitung atas dasar rata rata, maka besarnya rasio harga perolehan dihitung berdasarkan perbandingan antara harga perolehan dengan harga jual eceran dengan harga jual eceran dari persediaan siap dijual. Jadi rasio harga perolehan yang dihitung secara rata rata merefleksikan hubungan antara harga perolehan dengan harga jual eceran dari persediaan barang siap jual, termasuk persediaan awal. Rasio harga perolehan (rata-rata)= Harga perolehan pembelian bersih Harga jual eceran persediaan siap jual + net markup net markdown Harga perolehan Persediaan Akhir = Rasio harga perolehan x Persed. Akhir menurut harga
Harga Terendah Antara Harga Perolehan dengan Harga Pasar (LCOM) Rata rata /Average,bila rasio harga di peroleh dihitung atas dasar rata rata, maka besarnya rasio harga perolehan dihitung berdasarkan perbandingan antara harga perolehan dengan harga jual eceran dengan harga jual eceran dari persediaan siap dijual. Jadi rasio harga perolehan yang dihitung secara rata rata merefleksikan hubungan antara harga perolehan dengan harga jual eceran dari persediaan barang siap jual, termasuk persediaan awal. Rasio harga perolehan = (LCOM dengan MPKP) Harga perolehan pembelian bersih Harga jual eceran pembelian + net markup Rasio harga perolehan= (LCOM dengan MPKP rata-rata) Harga perolehan (persediaan awal+pembelian bersih) Harga jual eceran +(persediaan siap jual+pembelian bersih) + net markup
LIFO/MTKP bila digunakan dasar perhitungan menurut metode LIFO maka harga perolehan dan harga perolehan dan harga jual eceran dari persediaan awal tidak ikut diperhitungkan dalam menentukan besarnya rasio harga diperoleh (cost ratio). Harga perolehan persediaan akhir dihitung berdasarkan persediaan awal menurut harga perolehannya ditambah harga perolehan dari selisih antara persediaan awal menurut harga jual eceran dengan persediaan akhir menurut harga jual eceran. Harga perolehan pembelian bersih Rasio harga perolehan = Harga jual eceran dari pembelian + net markup net markdown Rasio harga perolehan= persediaan akhir Harga perolehan (persediaan awal+ (rasio harga perolehan x selisih harga jual eceran (persediaan akhir persediaan awal))
Dari catatan dalam kartu persediaan barang dagangan pada Salsa Outlet.Co untuk periode 2008 diketahui hal hal berikut : Harga Pokok Harga Jual Eceran Persediaan per 1 Januari 2008 Rp. 25.600.000,00 Rp. 32.750.000,00 Pembelian bersih Rp. 129. 400.000,00 Rp. 162.800.000,00 Tambahan kenaikan harga Rp. 22.500.000,00 Pembatalan tambahan kenaikan harga (Rp. 8.500.000,00) Penurunaan harga (Rp. 10.200.000,00) Pembatalan penurunan harga (Rp. 4.300.000,00) Pemberian potongan harga (Rp. 1.200.000,00) Persediaan Siap Dijual Rp. 155.000.000,00 Rp. 202.450.000,00 Dari catatan dalam buku besar Salsa Outlet.Co diketahui Penjulan Rp. 178.650.000,00 Retur penjualan Rp. 2.750.000,00 Potongan penjualan Rp. 4.860.000,00
Berdasarkan data data diatas perhitungan penentuan harga perolehan persediaan akhir periode 2008 adalah : Bila dihitung atas dasar metode FIFO/MPKP, maka : Harga Pokok Harga Jual Eceran Persediaan per Januari 2008 Rp. 25.600.000,00 Rp. 32.750.000,00 Pembeliaan bersih Rp. 129.400.000,00 Rp. 162.800.000,00 Tambahan kenaikan harga Rp. 22.500.000,00 Pembatalan tambahan kenaikan harga (8.500.000,00) Tambahan kenaikan harga bersih Rp. 14.000.000,00 Penurunan harga (10.200.000,00) Pembatalan penurunan harga 4.300.000,00 Penurunan harga bersih (5.900.000,00) Pototongan harga khusus (1.200.000,00) Persediaan Siap Dijual Rp. 155.000.000,00 Rp. 202.450.000,00 Penjualan 178.650.000,00 Retur dan potongan penjulan Rp. 2.750.000,00 (2.750.000,00) Penjualan bersih (175.900.000,00) Persediaan barang dagangan per 31 Desember menurut harga jual eceran 26.550.000,00 Cost ratio FIFO = {129.400.000,00/ (162.800.000,00 + 14.000.000,00 5.900.000,00-1.200.000,00)}x 100% = 72,25% Harga perolehan Persediaan Barang Dagangan per 31 Desember adalah : 75,25% x Rp. 26.550.000,00 = Rp. 19.978.875,00
Bila dihitung atas dasar metode Rata rata (Average), maka : Harga Pokok Harga Jual Eceran Persediaan per Januari 2008 Rp. 25.600.000,00 Rp. 32.750.000,00 Pembeliaan bersih Rp. 129.400.000,00 Rp. 162.800.000,00 Tambahan kenaikan harga Rp. 22.500.000,00 Pembatalan tambahan kenaikan harga (8.500.000,00) Tambahan kenaikan harga bersih Rp. 14.000.000,00 Penurunan harga (10.200.000,00) Pembatalan penurunan harga 4.300.000,00 Penurunan harga bersih (5.900.000,00) Pototongan harga khusus (1.200.000,00) Persediaan Siap Dijual Rp. 155.000.000,00 Rp. 202.450.000,00 Penjualan 178.650.000,00 Retur dan potongan penjulan Rp. 2.750.000,00 (2.750.000,00) Penjualan bersih (175.900.000,00) Persediaan barang dagangan per 31 Desember menurut harga jual eceran 26.550.000,00 Cost ratio Average = (155.000.000,00 / 202.450.000,00) x 100% = 76,56% Harga perolehan Persediaan Barang Dagangan per 31 Desember adalah : 76,56% x Rp. 26.550.000,00 = Rp. 20.326.680,00
a. bila dihitung atas dasar metode LCOM dengan MPKP, maka : Harga Pokok Harga Jual Eceran Persediaan per Januari 2008 Rp. 25.600.000,00 Rp. 32.750.000,00 Pembeliaan bersih Rp. 129.400.000,00 Rp. 162.800.000,00 Tambahan kenaikan harga Rp. 22.500.000,00 Pembatalan tambahan kenaikan harga (8.500.000,00) Tambahan kenaikan harga bersih Rp. 14.000.000,00 Jumlah salain persediaan awal Rp. 155.000.000,00 Rp. 202.450.000,00 Penjulan 178.650.000,00 Retur dan potongan penjualan (2.750.000,00) Penjualan bersih 175.900.000,00 Penurunan harga Rp. 10.200.000,00 Pembatalan penurunan harga (Rp. 4.300.000,00) 5.900.000,00 Penurunan harga bersih 1.200.000,00 Persediaan barang dagangan per 31 Desember menurut harga jual eceran 183.000.000,00 26.550.000,00 Cost ratio LCOM dengan MKPK = (129.400.000,00 /(162.800.000+ 14.000.000,00) x 100% = 73.19% Harga perolehan Persediaan Barang Dagangan per 31 Desember adalah : 73,19 % x Rp. 26.550.000,00 = Rp. 19.431.945,00
b. Bila dihitung atas dasar metode LCOM dengan Average, maka Harga Pokok Harga Jual Eceran Persediaan per Januari 2008 Rp. 25.600.000,00 Rp. 32.750.000,00 Pembeliaan bersih Rp. 129.400.000,00 Rp. 162.800.000,00 Tambahan kenaikan harga Rp. 22.500.000,00 Pembatalan tambahan kenaikan harga (8.500.000,00) Tambahan kenaikan harga bersih Rp. 14.000.000,00 Jumlah salain persediaan awal Rp. 155.000.000,00 Rp. 209.550.000,00 Penjulan 178.650.000,00 Retur dan potongan penjualan (2.750.000,00) Penjualan bersih 175.900.000,00 Penurunan harga Rp. 10.200.000,00 Pembatalan penurunan harga (Rp. 4.300.000,00) 5.900.000,00 Penurunan harga bersih 1.200.000,00 Persediaan barang dagangan per 31 Desember menurut harga jual eceran Cost ratio LCOM dengan Average = (155.000.000,00/209.550.000,00) x 100 % = 73,97% Harga perolehan Persediaan Barang Dagangan per 31 Desember adalah : 73,97 % x Rp. 26.550.000,00 = Rp. 19.639.035,00 183.000.000,00 26.550.000,00
Bila dihitung atas dasar metode LIFO/MTKP, maka : Harga Pokok Harga Jual Eceran Persediaan per Januari 2008 Rp. 25.600.000,00 Rp. 32.750.000,00 Pembeliaan bersih Rp. 129.400.000,00 Rp. 162.800.000,00 Tambahan kenaikan harga Rp. 22.500.000,00 Pembatalan tambahan kenaikan harga (8.500.000,00) Tambahan kenaikan harga bersih Rp. 14.000.000,00 Penurunan harga 10.200.000,00) Pembatalan penurunan harga 4.300.000,00 Penurunan harga bersih (5.900.000,00) Pototongan harga khusus (1.200.000,00) Persediaan Siap Dijual Rp. 155.000.000,00 Rp. 202.450.000,00 Penjualan 178.650.000,00 Retur dan potongan penjulan Rp. 2.750.000,00 (2.750.000,00) Penjualan bersih (175.900.000,00) Persediaan barang dagangan per 31 Desember menurut harga jual eceran 26.550.000,00
Cost ratio (LIFO) = (129.400.000,00/ (162.800.000,00 + 14.000.000,00 5.900.000,00 1.200.000,00) x 100% = 75,25% Harga perolehan Persediaan Barang Dagangan per 1 Januari 2008 = Rp. 25.600.000,00 Persediaan akhir menurut harga jual eceran = Rp. 26.550.000,00 Persediaan awal menurut harga jual eceran = Rp. 32.750.000,00 _ Penurunan persediaan menurut harga eceran = Rp. 6.200.000,00 Rasio harga perolehan = Rp. 75,25% =(Rp. 4.665.500,00) Harga Perolehan Persediaan Per 31 Desember 2008 = Rp. 20.934.500,00
Metode penilaian persediaan Dua metode yang umum digunakan: Metode harga perolehan Metode harga terendah antara harga perolehan dengan harga pasar
Metode harga perolehan Nilai persediaan yang dilaporkan dalam laporan keuangan adalah sebesar harga perolehannya yang dihitung dengan menggunakan salah satu metode penentuan harga perolehan persediaan yang telah dibahas
Metode harga terendah antara harga perolehan dengan harga pasar Harga perolehan Harga pasar Batas atas harga pasar Harga pokok pengganti Nilai persediaan akhir menurut metode LCOM Batas bawah harga pasar
Contoh Jenis barang Batas atas harga pasar Harga pokok pengganti Batas bawah harga pasar Harga pasar Barang A Rp.2.500 Rp.2.600 Rp.2.000 Rp.2.500 Barang B Rp.2.500 Rp.1.900 Rp.2.000 Rp.2.000 Barang C Rp.2.500 Rp.2.200 Rp.2.000 Rp.2.200
Metode penilaian persediaan dapat dilakukan dengan 3 cara Cara individual Cara kolektif Cara agregatif
Contoh PT. Salsa Tbk merupakan perush distribusi makanan olahan. Pad tanggal 31/12/2008 perusahaan akan melakukan penilaian persediaan dengan menggunakan metode harga terendah antara harga perolehan dengan harga pasar. Dari penentuan harga perolehan dan penentuan harga pasar terhadap persediaan yang tersisa diperoleh data2 sbb
Jenis barang Haraga perolehan Harga pasar Frozen food Chiken nugget Rp.3.150.000 Rp.3.000.000 Meat ball kecil Rp.3.400.000 Rp.3.510.000 Meat ball sedang Rp.5.600.000 Rp.5.625.000 Meat ball besar Rp.6.050.000 Rp.6.200.000 Frozen vegetables Spinach Rp.3.350.000 Rp.3.277.500 Kool Rp.2.760.000 Rp.2.820.000 carrot Rp.3.375.000 Rp.3.750.000
Maka penilaian per 31/12/28 adalah sbb Jenis barang Harga perolehan Harga pasar Harga terendah antara harga pasar dengan harga pasar Frozen foods individual kolektif agregat Chiken nugget Rp.3.150.000 Rp.3.000.000 Rp.3.000.000 Meat ball kecil Rp.3.400.000 Rp.3.510.000 Rp.3.400.000 Meat ball sedang Rp.5.600.000 Rp.5.625.000 Rp.5.600.000 Meat ball besar Rp.6.050.000 Rp.6.200.000 Rp.6.050.000 Frozen vegetables Rp.18.200.000 Rp.18.335.000 Rp.18.050.000 Rp.18.200.000 Spinach Rp.3.350.000 Rp.3.277.500 Rp.3.277.000 Kool Rp.2.760.000 Rp.2.820.000 Rp.2.760.000 Carrot Rp.3.375.000 Rp.3.750.000 Rp.3.375.000 Rp.9.485.000 Rp.9.347.500 Rp.9.347.000 Jumlah Rp27.685.000 Rp.27.682.500 Rp.27.337.500 Rp.27.547.000 Rp.27.682.500
Perlakuan akuntansi terhadap penurunan nilai persediaan Dilakukan dengan metode pencatatan transaksi persediaan yang telah digunakan perusahaan Kerugian atas penurunan nilai persediaan jika dipisahkan dari HPP harus dibuatkan rek tersendiri
Ada 3 Prosedur Yang dapat digunakan untuk mencatat aturan harga pokok atau nilai realisasi bersih yang lebih rendah Metode pengurangan persediaan langsung dimana kerugian penurunan harga persediaan tidak dilaporkan tersendiri Metode pengurangan persediaan langsung dimana hanya kerugian penurunan harga persediaan akhir yang dilaporkan tersendiri Metode cadangan persediaan dimana kerugian penurunan harga persediaan awal dan akhir dilaporkan tersendiri
Tgl Harga pokok Hg pokok atau nilai realisasi bersih yg lebih rendah Selisih/Rugi 1/1/05 Rp.300.000 Rp.300.000-31/12/05 320.000 280.000 Rp.40.000 31/12/06 240.000 224.000 16.000
Metode FISIK Tahun 2005 HPP Rp.300rb Persediaan barang Rp.300 rb (menutup persediaan awal) Persediaan barang HPP Rp.280rb Rp. 280rb (mencat persed akhir dengan jumlah harga pokok atau nilai realisasi yang lebih rendah Tahun 2006 HPP Rp.280rb Persediaan barang (menutup persediaan awal) Rp.280rb Persediaan barang Rp. 224rb HPP Rp. 224rb (Mencat persediaan akhir dg jml hg pokok atau nilai realisasi yg lbh rendah
Metode Buku Tahun 2005 HPP Rp.40rb Persediaan barang Rp.40 rb (mengurangi nilai persed akhir menjadi jumlah hg pokok atau nilai realisasi bersih yg lbh rendah) Tahun 2006 HPP Rp.16rb Persediaan barang Rp.16rb (mengurangi nilai persed akhir menjadi jumlah hg pokok atau nilai realisasi bersih yg lbh rendah)
Contoh dengan metode fisik Di neraca 31/12/2008 Nama perkiraan Debet Kredit Persediaan per 1 Jan 08 Pembelian Return dan pot pembelian Rp.22.700.000 Rp.87.000.000 Rp.2.500.000 Persediaan barang dag menurut perhit metode MPKP physical Rp.18.000.000 sedang berdasar LCOM Rp.16.500.000
Kerugian penurunan nilai persediaan dicart secara tidak terpisah dari hg pokok penj Kerugian penurunan nilai persediaan dicat sec terpisah dari hg pokok penj (D) Hg pokok penj Rp22.700.000 (K) Persed brg dag Rp.22.700.000 Cara langsung (D) Hg pokok penj Rp22.700.000 (K) Persed brg dag Rp.22.700.000 Cara tdk lgs (D) Hg pokok penj Rp22.700.000 (K) Persed brg dag Rp.22.700.000 (D) Hg pokok penjualan Rp.87jt (K) Pembelian Rp.87jt (D) Hg pokok penjualan Rp.87jt (K) Pembelian Rp.87jt (D) Hg pokok penjualan Rp.87jt (K) Pembelian Rp.87jt (D) Return&pot Pemb Rp.2.500.000 (K) Hg pokok penj Rp.2.500.000 (D) Return pot Pemb Rp.2.500.000 (K) Hg pokok penj Rp.2.500.000 (D) Return pot Pemb Rp.2.500.000 (K) Hg pokok penj Rp.2.500.000 (D) Persedi brg dag Rp.16.500.000 (K) Hg pokok penj Rp.16.500.000 (D) Persed brg dag Rp.16.500.000 (D) Rugi penurunan nilai persed Rp. 1.500.000 (K) Hg pokok penj Rp.18.000.000 (D) Persed brg dag Rp.16.500.000 (K) Hg pokok penj Rp.16.500.000 (D) Rugi penurunan nilai persed Rp.1.500.000 (K) Cad penurunan nilai persed Rp.1.500.000
Nama perkiraan Debet Kredit Persediaan per 1 Jan 08 Pembelian Rp.22.700.000 Rp.87.000.000 Persediaan barang dagangan per 31 Desember 2008 menurut kartu Persediaan barang dagangan per 31 Desember 2008 menurut kartu persediaan periode Desember dengan metode MPKP Rp.18.000.000 sedangkan berdasarkan penilaian yang dilakukan dengan menggunakan metode harga yang terendah antara harga perolehan dengan harga pasarnya ditetapkan nilai persediaan per 31 Desember sebesar Rp.16.500.000
Kerugian penurunan nilai persediaan dicart secara tidak terpisah dari hg pokok penj Kerugian penurunan nilai persediaan dicat sec terpisah dari hg pokok penj Cara langsung Cara tdk lgs (D) Hg pokok penj Rp1.500.000 (K) Persed brg dag Rp1.500.000 (D) Rugi penurunan Nilai persd Rp1.500.000 (D) Rugi penurunan Nilai persd (K) Persed brg dag Rp1.500.000 (K) Cad penurunan Nilai persd Rp1.500.000 Rp1.500.000