USULAN PERBAIKAN KUALITAS DENGAN PENERAPAN METODE SIX SIGMA

dokumen-dokumen yang mirip
USULAN PERBAIKAN KUALITAS DENGAN PENERAPAN METODE SIX SIGMA

BAB 4 PEMBAHASAN. Pengumpulan data dilakukan sebagai bahan pengolahan data yang perlu

BAB 4 PENGUMPULAN DAN ANALISA DATA

IDENTIFIKASI KUALITAS PRODUK GENTENG BETON DENGAN METODE DMAIC DI UD.PAYUNG SIDOARJO. Dedy Ermanto Jurusan Teknik Industri FTI UPN Veteran Jawa Timur

BAB III LANGKAH PEMECAHAN MASALAH

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

BAB 3 LANGKAH PEMECAHAN MASALAH

KUALITAS PRODUK BEDAK TWO-WAY CAKE DENGAN METODE STATISTICAL PROCESS CONTROL (SPC) DAN FMEA PADA PT UNIVERSAL SCIENCE COSMETIC

BAB 3 METODOLOGI PEMECAHAN MASALAH

BAB 3 METODOLOGI PENELITIAN

BAB 3 METODOLOGI PENELITIAN

BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN

DAFTAR ISI. HALAMAN PENGAKUAN... ii. SURAT PENGAMBILAN DATA DARI PERUSAHAAN... iii. HALAMAN PENGESAHAN PEMBIMBING... iv. HALAMAN PERSEMBAHAN...

BAB 3 LANGKAH PEMECAHAN MASALAH

BAB III LANGKAH PEMECAHAN MASALAH. Gramedia Cikarang yaitu dengan menggunakan metode DMAIC (Define,

BAB 3 METODOLOGI PEMECAHAN MASALAH

Seminar Nasional IENACO 2016 ISSN:

BAB V ANALISA DAN INTEPRETASI

DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL... SURAT PERNYATAAN... LEMBAR PENGESAHAN PEMBIMBING... LEMBAR PENGESAHAN PENGUJI... HALAMAN PERSEMBAHAN... MOTTO...

METODOLOGI PEMECAHAN MASALAH

BAB 3 METODOLOGI PEMECAHAN MASALAH

DAFTAR ISI LEMBAR PENGESAHAN... ii SURAT PERNYATAAN HASIL KARYA PRIBADI... iii ABSTRAK... iv KATA PENGANTAR DAN UCAPAN TERIMA KASIH... v DAFTAR ISI...

BAB 3 METODOLOGI PENELITIAN

Sejarah Six Sigma Jepang ambil alih Motorola produksi TV dng jumlah kerusakan satu dibanding duapuluh Program Manajemen Partisipatif Motorola (Partici

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. merupakan UKM yang bergerak dibidang produksi furniture.

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III PENGUMPULAN DATA

BAB III METODE PENELITIAN

Implementasi Metode Six Sigma DMAIC untuk Mengurangi Paint Bucket Cacat di PT X

ABSTRAK Kata Kunci: Six Sigma, Sigma Level, Kualitas Produk, DMAIC, Quality Control.

BAB V ANALISA PEMECAHAN MASALAH

BAB IV PERANCANGAN SISTEM TERINTEGRASI

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

Oleh Didik Samanhudi Teknik Industri FTI-UPV Veteran Jatim ABSTRAK

UPAYA PERBAIKAN KUALITAS PROSES PACKING SEMEN UNTUK MENGURANGI JUMLAH CACAT KANTONG PECAH DENGAN METODE SIX SIGMA DMAIC

KATA PENGANTAR DAN UCAPAN TERIMAKASIH DAFTAR ISI

2.2 Six Sigma Pengertian Six Sigma Sasaran dalam meningkatkan kinerja Six Sigma Arti penting dari Six Sigma...

ABSTRAK. Kata Kunci: Slide Bracket, Kualitas, Six Sigma, DMAIC, DPMO, Usulan Peningkatan Kualitas

ABSTRAK. Universitas Kristen Maranatha

IDENTIFIKASI DAN SIMULASI FAKTOR PENYEBAB CACAT PRODUK BOTOL KONTAINER DENGAN METODE SIX SIGMA PADA PT INDOVASI PLASTIK LESTARI

BAB 3 METODOLOGI PEMECAHAN MASALAH

Prosiding Teknik Industri ISSN:

Oleh : Miftakhusani

BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN

ABSTRAK. Universitas Kristen Maranatha

PERBAIKAN KUALITAS DUDUKAN JOK MOTOR DENGAN METODE ENAM SIGMA

BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN

Analisis Six Sigma untuk Mengurangi Jumlah Cacat di Stasiun Kerja Sablon (Studi Kasus: CV. Miracle)

USULAN PERBAIKAN KUALITAS PRODUK DUDUKAN MAGNET DENGAN METODE ENAM SIGMA

BAB 3 METODE PEMECAHAN MASALAH

BAB 4 METODOLOGI PEMECAHAN MASALAH

BAB3 METODOLOGI PEMECAHAN MASALAH

ANALISIS REJECT PART TYPE KYL PADA PROSES ASSEMBLY UNIT SEPEDA MOTOR DENGAN METODE FAULT TREE ANALYSIS DAN SIX SIGMA (Study Kasus Pada PT.

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

ABSTRACT. Keywords: Six Sigma, DMAIC, FMEA

ANALISIS DATA. Universitas Indonesia. Peningkatan kualitas..., Wilson Kosasih, FT UI, 2009

Perbaikan Produktivitas Perusahaan Rokok Melalui Pengendalian Kualitas Produk dengan Metode Six Sigma

BAB IV ANALISIS DAN PEMBAHASAN

Reduksi Cacat pada Produk Kaca Lembaran dengan Metode Six Sigma

3.1 Persiapan Penelitian

ABSTRAK. Universitas Kristen Maranatha

BAB III SIX SIGMA. Six Sigma pertama kali digunakan oleh perusahaan Motorola pada tahun

BAB 3 METODOLOGI PEMECAHAN MASALAH

BAB 3 METODOLOGI PENELITIAN

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

Oleh : ERLANGGA PUTRANDIE W JURUSAN TEKNIK INDUSTRI FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL VETERAN JAWA TIMUR 2010

BAB I PENDAHULUAN. Saat ini, persaingan antara perusahaan-perusahaan tidak hanya terjadi di

BAB V PENGOLAHAN DATA DAN PERBAIKAN. pada define dan hasil pengukuran (measure) pada permasalahan yang telah

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

PENGUKURAN KEMAMPUAN PROSES MENGGUNAKAN PENDEKATAN SIX SIGMA PADA PROSES PENCETAKAN PRODUK PAPERBAG (STUDI KASUS PT. X) Abstrak.

USULAN PERBAIKAN KUALITAS PINTU DEPAN KANAN KIJANG INNOVA PADA LINI PERAKITAN PT. TOYOTA MOTOR MANUFACTURING INDONESIA DENGAN MENGGUNAKAN METODE DMAIC

Pengukuran Kapabilitas Proses produksi kacang garing Cont d.

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Metodologi penelitian yang dilakukan dalam penyusunan tugas akhir ini mencakup langkah-langkah sebagai berikut :

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. faktor-faktor, unsur-unsur bentuk, dan suatu sifat dari fenomena di masyarakat.

BAB 3 METODOLOGI PEMECAHAN MASALAH

BAB I PENDAHULUAN. perusahaan menerapkan berbagai macam cara agar produk-produk mereka dapat

BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN

: defect, six sigma, DMAIC,

ISSN : e-proceeding of Engineering : Vol.4, No.2 Agustus 2017 Page 2773

PENINGKATAN MUTU PRODUK KAIN GREY DI CV X DENGAN MENGGUNAKAN METODE SIX SIGMA DMAIC

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Dalam bab ini dijelaskan mengenai tahapan-tahapan yang dilakukaan oleh

UNIVERSITAS BINA NUSANTARA

DAFTAR ISI. LEMBAR PENGESAHAN PENGUJI...iii. HALAMAN MOTTO.. v. DAFTAR ISI... viii. DAFTAR TABEL xiv. DAFTAR GAMBAR...xv. 1.1 Latar Belakang Masalah.

Reduksi Cacat pada Produk Kaca Lembaran dengan Metode Six Sigma

ANALISA KUALITAS PRODUK SEPEDA PHOENIX DENGAN METODE SIX SIGMA UNTUK MEMINIMUMKAN KECACATAN PRODUK DI PT RODA LANCAR ABADI - SIDOARJO SKRIPSI.

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA DAN DASAR TEORI

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

ANALISIS USULAN PERBAIKAN KUALITAS PADA PROSES PERAKITAN PINTU MOBIL PADA PT. MERCEDES-BENZ INDONESIA DENGAN MENGGUNAKAN DMAIC

Universitas Bina Nusantara

PERBAIKAN PROSES STRIPING DENGAN METODE DMAIC PADA PT SIP

ANALISA PENGENDALIAN KUALITAS AEROSOL CAN DENGAN MENGGUNAKAN METODE DMAIC PADA LINE ABM 1 DI PERUSAHAAN PERKALENGAN INDONESIA

ABSTRAK. Kata Kunci: Punch, Kualitas, DMAIC, Upaya Menekan Variasi Kualitas Produk

PENGENDALIAN KUALITAS PRODUK TEH HIJAU MENGGUNAKAN PENDEKATAN SIX SIGMA

PENGENDALIAN CACAT PRODUK DENGAN PENDEKATAN SIX SIGMA

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

Diajukan Guna Melengkapi Sebagian Syarat Dalam Mencapai Gelar Sarajana Strata Satu (S1)

PERBAIKAN KUALITAS FUEL TANK PADA DIVISI WELDING DENGAN METODE SIX SIGMA PADA PT. XYZ

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian ini dilakukan di PT. Coca Cola Bottling Indonesia Central Java Semarang

BAB II LANDASAN TEORI. Persyaratan utama untuk mencapai kepuasan pelanggan (customer

SKRIPSI. Disusun Oleh : LUKMAN HAKIM

Transkripsi:

Jurnal Ilmiah Teknik Industri (203), Vol. No. 2, 9 USULAN PERBAIKAN KUALITAS DENGAN PENERAPAN METODE SIX SIGMA DAN FMEA (FAILURE MODE AND EFFECT ANALYSIS) PADA PROSES PRODUKSI ROLLER CONVEYOR MBC DI PT XYZ Lithrone Laricha¹ ), Rosehan 2) dan Cynthia 3),3) Program Studi Teknik Industri, Fakultas Teknik Universitas Tarumanagara 2) Program Studi TeknikMesin, Fakultas Teknik Universitas Tarumanagara E-mail: kho_cynthia@yahoo.com ABSTRAK Setiap perusahaan harus mampu menghasilkan produk yang memiliki kualitas yang baik, sehingga perusahaan dapat bersaing dengan perusahaan lain dan memuaskan pelanggan. Penelitian ini dilakukan di PTXYZ, salah satu perusahaan yang memproduksi rol conveyor jenis MBC. Metode penelitian yang digunakan pada penelitian ini adalah dengan menggunakan metode Six Sigma dengan DMAIC sedangkan faktor kegagalan proses dianalisis dengan menggunakan metode FMEA (Failure Mode and Effect Analysis). Usulan perbaikan ditentukan berdasarkan hasil penilaian SOD dan nilai RPN dalam analisis. Berdasarkan perhitungan dari data produk cacat, nilai-nilai DPMO adalah 3 unit dengan tingkat sigma dari 3, sigma. Berdasarkan analisis yang dilakukan dengan menggunakan fishbone diagram dan metode FMEA, diperoleh usulan perbaikan kualitas bagi perusahaan Kata kunci: Kualitas,Six Sigma, DMAIC, FMEA ABSTRACT Every company should be able to produce products that are of good quality, so that the company can compete with other companies and satisfy customers. The research was conducted in PT XYZ, one of the companies that produce roller conveyor type MBC. The method used in this research is to use Six Sigma DMAIC method factor is the failure of the process was analyzed using FMEA (Failure Mode and Effect Analysis). Proposed improvement are determined based on the assessment results and SOD RPN value in the analysis. Based on calculations from the data product defects, DPMO values are 3 units with sigma sigma level of 3.. Based on the analysis performed by using fishbone diagrams and FMEA method, obtained by the proposed improvements to the quality of the company Keywords: Quality, Six Sigma, DMAIC, FMEA PENDAHULUAN Setiap industri kini berusaha dan bersaing untuk mendapatkan perhatian dan kepercayaan dari konsumen di tengah persaingan yang ketat. Salah satu cara yang dilakukan adalah melalui usaha peningkatan kualitas produk. PT XYZ merupakan salah satu perusahaan yang bergerak di bidang manufaktur. Perusahaan ini merakit sistem konveyor serta memproduksi saringan kawat baja (wire screen) dan roller conveyor. Salah satu kendala yang masih dihadapi perusahaan saat ini adalah masalah cacat pada proses produksi roller conveyor. Produk juga sering dikembalikan oleh konsumen karena terdapat cacat dan ketidaksesuaian warna produk dengan permintaan. Kendala tersebut mengakibatkan perusahaan harus melakukan rework dari produk yang cacat, dimana ada beberapa jenis cacat yang dapat diperbaiki dan ada jenis cacat yang tidak dapat diperbaiki. Untuk mengurangi cacat produk diperlukan suatu upaya perbaikan. Penelitian dilakukan pada bulan Oktober 202 di PT XYZ yang berlokasi di Kapuk, Jakarta Barat, dengan fokus penelitian hanya dilakukan pada produk roller conveyor MBC ukuran 20 x 330 x Ø20 mm karena ukuran tersebut yang paling banyak diproduksi perusahaan setiap bulan serta memiliki total cacat paling besar. Data cacat produk yang digunakan dalam pengamatan adalah data historis pada bulan Januari 202 sampai dengan September 202. Penelitian hanya dilakukan sampai di tahap pemberian usulan (Improve). Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui jenisjenis cacat yang terjadi pada proses produksi produk roller conveyor, mengetahui proses produksi yang menghasilkan jenis cacat paling besar, mengetahui faktor-faktor yang

Jurnal Ilmiah Teknik Industri (2), 203; 9 mempengaruhi cacat pada produk roller conveyor, mengetahui kapabilitas proses dan levelsigma dari produk roller conveyor yang cacat, serta memberikan usulan perbaikan kualitas bagi perusahaan untuk mengurangi cacat produk berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan. Manfaat dari penelitian ini bagi perusahaan adalah sebagai bahan pertimbangan dalam pengendalian kualitas produk. TINJAUAN PUSTAKA H.L. Gilmore mendefinisikan mutu sebagai suatu kondisi dimana produk sesuai dengan desain spesifikasi tertentu []. Menurut Feigenbaum (2009), TQM kendali mutu terpadu merupakan suatu sistem yang efektif untuk memadukan pengembangan mutu, pemeliharaan mutu, dan upaya perbaikan mutu berbagai kelompok dalam sebuah organisasi agar pemasaran, kerekayasaan, produksi, dan jasa dapat berada pada tingkatan yang paling ekonomis agar pelanggan mendapat kepuasan penuh [2]. Six Sigma adalah suatu visi peningkatan kualitas menuju target 3, kegagalan persatu juta kesempatan untuk setiap transaksi produk barang dan jasa[3]. Ada lima tahap langkah dasar dalam menerapkan strategi Six Sigma yaitu Define-Measure-Analyze-Improve-Control (DMAIC). Define adalah langkah awal dalam peningkatan kualitas dimana masalah mulai diidentifikasi. Measure merupakan aktifitas pengukuran proses sebelum, yang bertujuan untuk mengevaluasi berdasarkan goals yang telah ada. Analyze merupakan tahap dimana dilakukan identifikasi akar penyebab masalah dengan berdasarkan pada analisis data. Improve adalah tahap dimana pengujian dan implementasi dari solusi dilakukan untuk mengeliminasi penyebab masalah yang ada dan improve dari proses yang ada. Control adalah tahap terakhir yang dilakukan untuk melakukan kontrol dalam setiap kegiatan, sehingga memeperoleh hasil yang baik. Langkah perhitungan DPMO dalam Six Sigma adalah sebagai berikut[]:. Unit (U), jumlah produk yang diperiksa dalam inspeksi. 2. Opportunities (OP), karakteristik kritis bagi kualitas adalah karakteristik yang berpotensi untuk cacat. 3. Defect (D), jumlah kecacatan yang terjadi dalam produksi.. Defect per Unit (DPU), DPU = D/U 5. Total Opportunities (TOP), TOP = U x OP. Defect per Opportunities (DPO), DPO = D/TOP. Defect per Million Opportunities (DPMO), DPMO = DPO x 000000. Tingkat Sigma. Tingkat Sigma dapat dihitung dengan bantuan aplikasi software menggunakan formula sebagai berikut. [] Tingkat Sigma = NORMSINV ( dpmo/e+0) + SHIFT () FMEA (Failure Mode and Effect Analysis) adalah metodologi yang digunakan untuk mengidentifikasi potensi kegagalan, efek yang ditimbulkan pada operasi dari produk dan mengidentifikasi aksi untuk mengatasi masalah tersebut. Faktor penilaian dalam FMEA terdiri atas [5]:. Severity (S), merupakan kuantifikasi seberapa serius kondisi yang diakibatkan jika terjadi kegagalan. Menurut tingkat keseriusan, severity dinilai pada skala -0. 2. Occurance (O), merupakan tingkat kemungkinan terjadinya kegagalan. Ditunjukkan dalam skala -0 dari yang hampir tidak pernah terjadi () sampai yang paling mungkin terjadi sulit dihindari (0). 3. Detection (D). Menunjukkan tingkat kemungkinan penyebab kegagalan dapat lolos dari kontrol yang sudah dipasang. Level untuk detection juga dari -0, dimana angka menunjukkan kemungkinan pasti terdeteksi, dan 0 menunjukkan kemungkinan tidak terdeteksi adalah sangat besar.. Risk Priority Number (RPN). Berdasarkan definisi, RPN merupakan hasil perkalian dari nilai rankingseverity, occurance,dan detection: [5] RPN = (S) X (O) X (D) (2)

Usulan perbaikan kualitas dengan penerapan metode six sigma dan FMEA pada proses produksi roller conveyor MBC di PT XYZ Lithrone Laricha, Rosehan dan Cynthia METODE PENELITIAN Penelitian dilakukan dengan mengikuti tahapan DMAIC dalam proses Six Sigma. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara dan pengamatan langsung di pabrik. Penelitian diawali dengan memilih jenis produk yang akan menjadi fokus penelitian, dilanjutkan dengan pembuatan Diagram SIPOC (Supplier Input Process Output Customer). Kemudian dilakukan identifikasi Critical to Quality (CTQ) untuk mengidentifikasi karakteristik cacat yang penting dalam menentukan kualitas produk. Pengolahan data cacat produk dilakukan dengan pembuatan peta kendali yang dilanjutkan dengan analisis kapabilitas proses, perhitungan nilai DPMO, dan penentuan tingkat sigma. Penyebabpenyebab cacat dianalisis dengan menggunakan fishbone diagram, sedangkan faktor kegagalan proses dianalisis dengan menggunakan metode FMEA (Failure Mode and Effect Analysis). Usulan perbaikan ditentukan berdasarkan hasil penilaian SOD dan nilai RPN dalam analisis FMEA.Tahapan-tahapan penelitian dapat dilihat pada Gambar. HASIL DAN PEMBAHASAN Usulan perbaikan kualitas dilakukan dengan menerapkan fase DMAIC dalam metode Six Sigma. Tahap Define Pada tahap pertama ini dilakukan identifikasi terhadap produk untuk memilih produk yang akan diteliti dalam usaha peningkatan kualitas. PT XYZ memproduksi dua tipe roller conveyor, yaitu tipe MBC dan tipe Medium. Berdasarkan pengamatan data produksi diperoleh bahwa produk roller conveyor MBC ukuran 20 x 330 x Ø20 mm merupakan produk yang paling banyak diproduksi setiap bulan serta memiliki total cacat paling besar, sehingga fokus penelitian akan dilakukan terhadap produk ini. Kemudian dilanjutkan dengan pembuatan diagram SIPOC untuk mengidentifikasi segala unsur penting dalam suatu proses produksi berupa informasiinformasi mengenai Suppliers, Inputs, Process, Outputs, dan Customers. Diagram SIPOC untuk proses produksi roller conveyor MBC di PT XYZ dapat dilihat pada Gambar 2. Gambar. Tahapan Penelitian

Jurnal Ilmiah Teknik Industri (2), 203; 9 Tahap Measure Pada tahap ini, dilakukan pengukuran terhadap proses dan mengukur kinerja dan performansi yang ada, dimulai dari penentuan Critical to Quality (CTQ) dan dilanjutkan dengan perhitungan Statistical Process Control (SPC). Penentuan CTQ bertujuan untuk mengidentifikasi karakteristik-karakteristik yang berpotensi menjadi cacat pada hasil akhir. CTQ tree untuk produk roller conveyor berkualitas tinggi dapat dilihat pada Gambar 3. Perhitungan SPC dilakukan dengan pembuatan peta kendali untuk menganalisis apakah hasil produk roller conveyor MBC ukuran 20 x 330 x Ø20 (mm) sudah berada dalam pengendalian statistikal tidak. Peta kendali yang digunakan adalah peta kendali p karena data cacat yang digunakan berupa data atribut. Data yang digunakan adalah data pada bulan Januari sampai dengan September 202. Perhitungan dengan peta kendali p dapat dilihat pada Gambar. Setelah menganalisis produk Gambar 2. Diagram SIPOC Gambar 3. CTQ Tree 9

Usulan perbaikan kualitas dengan penerapan metode six sigma dan FMEA pada proses produksi roller conveyor MBC di PT XYZ Lithrone Laricha, Rosehan dan Cynthia menggunakan peta kendali p, kemudian dilanjutkan dengan menghitung nilai DPMO dan level sigma. Proportion 0.0 0.0 0.0 0.05 0.0 0.03 2 3 P Chart of Jumlah Cacat 5 Sample Tests performed with unequal sample sizes Gambar. Peta Kendali p Jumlah Cacat 2500 2000 500 000 500 0 Jenis Cacat Pecah Pareto Chart of Jenis Cacat Warna Tidak Sesuai Penyok Jumlah Cacat 3 500 22 9 Percent 3.2 22. 20... 3. Cum % 3.2.0. 92.2 9. 00.0 Bearing House NG NG 9 As Bengkok UCL=0.0095 _ P=0.050 LCL=0.02 Gambar 5. Diagram Pareto Jenis Cacat Berdasarkan peta kendali p, dapat dilihat bahwa proporsi cacat tahun 202 pada bulan Januari, Maret, April, Mei, Juli, dan September berada di luar batas kendali karena titik proporsi cacat berada di luar batas UCL dan LCL. Ketidaknormalan ini disebabkan oleh defect yang masih terjadi dalam proses produksi. Diagram Pareto untuk jenis dan total defect yang terjadi dapat dilihat pada Gambar 5. Perhitungan DPMO untuk produk roller conveyor MBC ukuran 20 x 330 x Ø20 mm adalah sebagai berikut:. Unit (U) Unit adalah jumlah produk (20 mm x 330 mm x Ø20 mm) yang diproduksi selama bulan Januari 202 sampai September 202. U = 225 00 0 0 0 20 0 Percent 2. Opportunities (OP) Karakteristik kritis bagi kualitas yaitu karakteristik yang berpotensi untuk menjadi cacat. OP = 3. Defect (D) Jumlah produk yang cacat selama bulan Januari 202 sampai September 202. D = 290. Defect Per Unit (DPU) DPU = D / U = 290 / 225 = 0,050 5. Total Opportunities (TOP) TOP = U x OP = 225 x = 25350. Defect Per Opportunities (DPO) DPO = D / TOP = 290/25350 = 0,003. Defect Per Million Opportunities (DPMO) DPMO = DPO x 000000 = 0,003 x 000000 = 3 unit. Tingkat Sigma Perhitungan konversi nilai DPMO menjadi nilai sigma = (normsinv (000000 DPMO)/000000) +,5) = 3, sigma Perhitungan kapabilitas proses untuk proses produksi roller conveyor MBC ukuran 20 x 330 x Ø20 (mm) adalah sebagai berikut :. Cp % proporsi cacat a = 00x2 0,55x00 = = 0,09 00x2 Berdasarkan Tabel Z = 0, Cp = Titik Z / 3 = 0, / 3 = 0,2 Nilai Cp <.00 menunjukkan bahwa kapabilitas proses rendah. 2. Cpk % proporsi cacat a = 00 0,55x00 = = 0,59 00 Berdasarkan Tabel Z = 0, Cpk = Titik Z / 3= 0, / 3 = 0,03 Nilai Cpk < menunjukkan bahwa proses menghasilkan produk yang tidak sesuai dengan spesifikasi. Tahap Analyze Pada tahap ketiga ini dilakukan identifikasi terhadap akar-akar penyebab cacat dan kegagalan pada proses pembuatan Roller Conveyor MBC ukuran 20 x 330 x Ø20 mm. 90

Jurnal Ilmiah Teknik Industri (2), 203; 9 Proses dianalisis dengan menggunakan diagram sebab akibat (Cause and Effect Diagram), kemudian dilanjutkan dengan mencari penyebab utama dan perencanaan perbaikan dengan menggunakan metode FMEA (Failure Mode and Effect Analysis). Diagram sebab akibat untuk empat jenis cacat yang paling berpengaruh dapat dilihat pada Gambar sampai Gambar 9. Gambar. Diagram Sebab Akibat untuk Bearing House NG Gambar. Diagram Sebab Akibat untuk Pecah Gambar 9. Diagram Sebab Akibat untuk NG Gambar. Diagram Sebab Akibat untuk Penyok Penentuan rank dari Severity (S), Occurance (O), dan Detectability (D) untuk FMEA dapat dilihat pada Tabel. Berdasarkan urutan rank terbesar maka diperolehlima urutan rank yang memiliki nilai RPN terbesar yang akan menjadi prioritas perbaikan dalam tahap Improve:. Rank, RPN 20. Dies mesin press yang tidak sesuai dengan ukuran pipa dapat menyebabkan cacat pada pipa. 2. Rank 2, RPN 20. Setting mal mesin cutting yang tidak pas dapat menyebabkan ukuran pemotongan berubah, sehingga ukuran hasil potong menjadi tidak sesuai. 9

Usulan perbaikan kualitas dengan penerapan metode six sigma dan FMEA pada proses produksi roller conveyor MBC di PT XYZ Lithrone Laricha, Rosehan dan Cynthia Fungsi Proses Cutting Press Housing Bearing Press Painting Modus Potensial Mata potong tumpul Mata potong patah berubah Material handling tidak tepat Material telah penyok Diameter bearing dan diameter housing bearing tidak pas Settinghousing bearing di mesin tidak pas Dies tidak diganti Dies aus Setting pipa di mesin tidak tepat Pencampuran warna salah Tabel. Failure Mode and Effect Analysis Penyebab Pemakaian sudah cukup lama O 5 Sering digunakan Mata potong yang sudah tumpul tidak diganti dan terus digunakan Pengaturan kecepatan mesin potong tidak tepat Setting mal tidak pas bertumpuk dan terbentur Kurang inspeksi di bagian penerimaan raw material Operator tidak bekerja sesuai instruksi Mal housing bearing dan dies mesin tidak centre diameter hampir sama Tidak dilakukan maintenance berkala Mal pipa tidak centre dengan dies mesin Thiner cuci digunakan untuk campuran cat Cat duco dan cat ½ duco dicampur Cat duco dan cat ½ duco dicampur 5 5 Akibat Proses penyok penyok Housing Bearing pecah Housing Bearing pecah pecah pecah S pecah Kontrol yang pemeriksaan sebelum proses Mata potong diasah / diganti dengan yang baru Diganti dengan mata potong baru Operator diawasi dan diberi pelatihan Pemeriksaan posisi mal sebelum proses Operator diberi teguran Pelaksanaan inspeksi yang lebih detail Diganti dengan housing bearing yang baru pengawasan Melakukan pemeriksaan diameter pipa sebelum proses Dies diganti dengan yang baru pengawasan Wadah thiner cuci dan thiner campuran cat diberi label Diberi keterangan jenis cat yang sedang digunakan Diberi keterangan jenis cat yang sedang digunakan D RPN Rank 5 5 5 2 3 2 0 3 05 0 5 20 2 3 9 3 2 9 3 5 20 2 5 3 92 2 5 20 9 5 20 9 92

Jurnal Ilmiah Teknik Industri (2), 203; 9 Fungsi Proses Painting (Lanjutan) Modus Potensial Cat tidak menempel Pergesekan antar roller Penyebab Tidak diberi cat dasar/primer Proses pencucian dengan thiner cuci tidak bersih Packing beberapa roller sekaligus dalam karung O Akibat Proses S Kontrol yang Operator diberi pengawasan Pemeriksaan permukaan roller sebelum dicat Sebelum packing di dalam karung, setiap roller dibungkus plastik D RPN Rank 3 5 0 3 9 2 3. Rank 3, RPN 9 Material yang telah cacat dan lolos dalam pemeriksaan karena kurang inspeksi di bagian penerimaan raw material dapat mengakibatkan cacat berupa pipa penyok. Jika pipa yang telah penyok digunakan, maka roller tidak dapat berputar dengan seimbang.. Rank, RPN 92 Peletakan mal pipa yang tidak centre dengan dies mesin press dapat mengakibatkan pipa pecah ketika proses press berlangsung. Operator harus bekerja dengan teliti agar jenis kesalahan ini tidak sering terjadi. 5. Rank 5, RPN 5 Mata potong mesin yang tumpul karena pemakaian yang sudah cukup lama dapat mengakibatkan hasil pemotongan menjadi tidak rata tidak beraturan dan kasar.jika mata potong yang tumpul tidak segera diganti dan terus digunakan, mata potong dapat patah. Oleh sebab itu, operator harus rutin memeriksa kondisi mesin dan mata potong setiap kali proses berlangsung. Tahap Improve Tahap ini merupakan tahap keempat dalam peningkatan kualitas Six Sigma. Pada tahap ini akan diberikan solusi bagi masalah yang terjadi, yaitu:.. Penambahan rak untuk meletakkan dies mesin press dan pipa yang akan diproses di mesin press dari proses assembly. Penempatan dies dan pipa yang biasa diletakkan di atas lantai tidak efektif dan dapat mengakibatkan operator lupa untuk mengganti dan memeriksa ukuran dies sebelum proses. Setelah diberi rak, pengambilan dies akan menjadi lebih mudah dan jelas karena setiap tempat penempatan dies akan diberi label keterangan ukuran diameter. 2. Untuk posisi mal mesin potong yang tidak pas, dibuat standar setiap 5 sampai 0 kali proses pemotongan, dilakukan pemeriksaan ukuran hasil pemotongan dan pemeriksaan posisi mal. Kekencangan baut mal juga harus diperiksa. 3. Setelah material diangkut dengan menggunakan crane dan hoist, material harus diperiksa kembali karena proses transportasi dengan menggunakan crane dan hoist yang tidak tepat dapat mengakibatkan material terbentur dan bertumpuk, sehingga menjadi penyok.. Mesin press pipa dimodifikasi dengan diberi tambahan sensor cahaya yang dapat mendeteksi posisi pipa dan housing bearing di mesin press. 5. Membuat standar untuk penggunaan mata potong mesin cutting, misalnya setiap 00 500 kali proses pemotongan setiap bulan mata potong diperiksa dan diganti dengan yang baru agar mata potong tidak patah dan mesin tidak cepat rusak.. Membuat jadwal untuk maintenance setiap satu dua bulan sekali agar mesin lebih terawat dan tahan lama. Maintenance secara rutin dilakukan untuk menghindari pengeluaran cost yang tinggi akibat kerusakan yang terjadi pada mesin. KESIMPULAN Berdasarkan data historis pada bulan Januari sampai dengan September 202 terdapat 93

Usulan perbaikan kualitas dengan penerapan metode six sigma dan FMEA pada proses produksi roller conveyor MBC di PT XYZ Lithrone Laricha, Rosehan dan Cynthia enam jenis cacat pada roller conveyor MBCukuran 20 x 330 x Ø20 mm, yaitu pipa pecah, warna tidak sesuai (kesalahan warna), pipa penyok, bearing house NG, ukuran pipa NG, dan as bengkok. Proses press pipa menghasilkan jenis cacat terbesar, yaitu pipa pecah. Faktor-faktor yang mempengaruhi cacat pada produk roller conveyor berasal dari kesalahan operator dan metode. Dari perhitungan yang dilakukan pada tahap measure, diperoleh nilai DPMO sebanyak 3 unit dengan level sigma sebesar 3, sigma. Untuk perhitungan kapabilitas proses diperoleh nilai Cp sebesar 0,2 dan nilai Cpk sebesar 0,03. Berdasarkan hasil nilai Cp dan Cpk, diperoleh bahwa kapabilitas proses masih rendah dan proses yang dilakukan saat ini belum mampu menghasilkan produk yang sesuai dengan spesifikasi yang ada. Berdasarkan analisis yang dilakukan dengan menggunakan fishbone diagram dan metode FMEA, diperoleh usulan perbaikan kualitas bagi perusahaan, yaitu penambahan rak untuk meletakkan dies mesin press dan pipa yang akan diproses di mesin press dari proses assembly, membuat standar agar setiap 5 sampai 0 kali proses pemotongan dilakukan pemeriksaan ukuran hasil pemotongan dan pemeriksaan posisi mal, serta melakukan inspeksi material setelah proses transportasi dengan menggunakan crane dan hoistagar material yang penyok karena terbentur dapat segera dideteksi. DAFTAR PUSTAKA []. Ariani, Dorothea Wahyu., 999, Manajemen Kualitas, Universitas Atma Jaya, Yogyakarta. [2]. Feigenbaum, A.V., 2009, Kendali Mutu Terpadu, Edisi Ketiga, Erlangga, Jakarta. [3]. Gaspersz, Vincent, 2005, Total Quality Management, Gramedia Pustaka Utama, Jakarta. []. Evans, James R., dan Lindsay, William M., 2005, An Introduction to Six Sigma & Process Improvement, Thomson. [5]. Besterfield, Dale H., 2003, Total Quality Management, Third Edition, Pearson Education, New Jersey. 9