KINETIKA REAKSI ENZIMATIS

dokumen-dokumen yang mirip
PRODUKSI ENZIM AMILASE

1 ml enzim + 1 ml larutan pati 1% (dalam bufer) Diinkubasi (suhu optimum, 15 menit) + 2 ml DNS. Dididihkan 5 menit. Didinginkan 5 menit

III. METODOLOGI PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN. dengan mengadakan manipulasi terhadap objek penelitian serta adanya kontrol

Lampiran 1. Prosedur Analisa Karakteristik Tepung Empulur Sagu

METODOLOGI PENELITIAN

1. Pengertian Enzim. Makalah Baru Amilase I. PENDAHULUAN

dimana a = bobot sampel awal (g); dan b = bobot abu (g)

METODE PENELITIAN. Penelitian ini di laksanakan di Laboratorium Mikrobiologi Jurusan Biologi

PRODUKSI ENZIM MANANASE

BAB 4 HASIL PERCOBAAN DAN PEMBAHASAN

METODELOGI PENELITIAN. Penelitian ini akan dilakukan pada bulan Mei-November 2013 di Laboraturium

III METODELOGI PENELITIAN. Penelitian ini telah dilakukan pada bulan Februari sampai Juni 2014 bertempat di

III. METODELOGI PENELITIAN. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Mei-November 2013 di Laboratorium

LAPORAN PRAKTIKUM METABOLISME DAN INFORMASI GENETIK PERCOBAAN 2 UJI AKTIVITAS SUKSINAT DEHIDROGENASE

Ekstraksi dan Pengujian Aktivitas Enzim Amilase (Hidrolisis Pati secara Enzimatis)

III. METODE PENELITIAN

4 Hasil dan Pembahasan

LAMPIRAN A PROSEDUR ANALISIS. A.1. Pengujian Daya Serap Air (Water Absorption Index) (Ganjyal et al., 2006; Shimelis el al., 2006)

KONVERSI ENZIMATIK (ENZ)

METODOLOGI PENELITIAN. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Januari sampai Juni 2014 bertempat di

III. METODE PENELITIAN. Waktu penelitian dilakukan pada bulan Februari Oktober. penelitian dilakukan di Laboratorium Biokimia Universitas Lampung.

II. MATERI DAN METODE PENELITIAN. 1. Materi Penelitian, Lokasi dan Waktu Penelitian

III. METODOLOGI PENELITIAN. Penelitian ini dilakukan pada bulan Juli 2012 sampai bulan Desember 2012 di

III. METODOLOGI PENELITIAN. Penelitian ini dilaksanakan dari bulan Maret sampai bulan Agustus 2013 di

III. METODE PENELITIAN. Penelitian dilaksanakan pada Desember 2014 Mei 2015 di. Laboratorium Mikrobiologi FMIPA Universitas Lampung.

III. BAHAN DAN METODE

Metode Pengukuran Spektrofotometri (Bergmeyer et al. 1974) Pembuatan Media Heterotrof Media Heterotrof Padat. Pengaruh ph, Suhu, Konsentrasi dan

Lampiran 1. Analisis Kadar Pati Dengan Metode Luff Schroll (AOAC, 1995)

Kecepatan Reaksi Hidrolisis Amilum Oleh Enzim Amilase

ABSTRAK. Kata Kunci : Amilase, Zea mays L., Amonium sulfat, Fraksinasi, DNS.

BAB III MATERI DAN METODE. Penelitian tentang Sintesis Protein Mikroba dan Aktivitas Selulolitik Akibat

Lampiran 1 Lokasi pengambilan sampel tanah di Pulau Gili Meno, Lombok Utara

METODOLOGI PENELITIAN. Penelitian ini dilakukan pada bulan April 2012 sampai dengan bulan Juni 2012 di

4 Hasil dan Pembahasan

III. METODE. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Januari - April 2015 di Laboratorium

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

3 Metodologi Percobaan

Lampiran 1. Kriteria penilaian beberapa sifat kimia tanah

Ind. J. Chem. Res., 2015, 2, KINETIC PARAMETERS DETERMINATION OF GLUCOAMYLASE ON HYDROLYSIS REACTION OF SAGOO STARCH (Metroxylon sp)

PENENTUAN DAYA CERNA PROTEIN IN VITRO DAN PENGUKURAN DAYA CERNA PATI SECARA IN VITRO

Uji Kualitatif Karbohidrat dan Hidrolisis Pati Non Enzimatis

II. MATERI DAN METODE PENELITIAN. 1. Materi Penelitian, Lokasi dan Waktu Penelitian

Bab IV Hasil dan Pembahasan

Lampiran 1 Prosedur uji aktivitas protease (Walter 1984, modifikasi)

III. METODE PENELITIAN. Penelitian dilakukan di Laboratorium Biokimia dan Laboratorium Instrumentasi

Lampiran 1. Prosedur Analisis Karakteristik Pati Sagu. Kadar Abu (%) = (C A) x 100 % B

3. METODOLOGI PENELITIAN

METODOLOGI PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN. A. Waktu dan Tempat Penelitian. Penelitian dilaksanakan pada bulan Maret-November 2012 di

setelah pengeringan beku) lalu dimasukan ke dalam gelas tertutup dan ditambahkan enzim I dan enzim II masing-masing sebanyak 1 ml dan aquadest 8

1. Filtrat enzim mananase didapatkan dari hasil produksi kapang Eupenisilium javanicum pada substrat bungkil kelapa 3%. 2. Pereaksi yang digunakan ada

III. METODELOGI PENELITIAN. Penelitian ini dilakukan pada bulan Mei sampai Agustus 2013 di Laboratorium

III. METODE. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Januari-April 2015 di Laboratorium

PENGAMBILAN GLUKOSA DARI TEPUNG BIJI NANGKA DENGAN CARA HIDROLISIS ENZIMATIK KECAMBAH JAGUNG

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN. Enzim α-amilase dari Bacillus Subtilis ITBCCB148 diperoleh dengan

PERCOBAAN VII PENGARUH ph TERHADAP KEAKTIFAN SUATU ENZIM : RR. DYAH RORO ARIWULAN NIM : H

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

Lampiran 1. Prosedur Karakterisasi Komposisi Kimia 1. Analisa Kadar Air (SNI ) Kadar Air (%) = A B x 100% C

III. METODOLOGI PENELITIAN. Penelitian ini dilakukan pada bulan Juni-November Penelitian ini

III. METODOLOGI PENELITIAN. Penelitian ini akan dilakukan pada bulan Juli sampai September 2012,

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian ini dimulai dari bulan April 2010 sampai dengan bulan Januari

III. METODE PENELITIAN. Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Mikrobiologi Jurusan Biologi

METODE PENELITIAN. Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Analisis Hasil Pertanian Jurusan THP

THE ADDITION EFFECT OF THE METAL ION K + ON THE PAPAIN ENZYME ACTIVITIES

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

I. PENDAHULUAN. pengepresan (Abbas et al., 1985). Onggok yang dihasilkan dari proses pembuatan

III. METODE PENELITIAN. Penelitian ini dilaksanakan di Balai Riset dan Standarisasi Industri Bandar

METODE PENELITIAN. Penelitian ini telah dilakukan pada bulan Januari-Mei 2015 di Laboratorium

Lampiran 1 Metode pengujian aktivitas protease (Walter 1984)

UJI KUALITATIF ETANOL YANG DIPRODUKSI SECARA ENZAMATIS MENGGUNAKAN Z. MOBILIS PERMEABEL

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. dalam sistem biologis makhluk hidup. Menurut deman (1989) enzim merupakan

BAB III METODE PENELITIAN. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian eksperimen. Termasuk

x100% LAMPIRAN PROSEDUR ANALISIS A.1. Pengujian Daya Serap Air (Ganjyal et al., 2006; Shimelis et al., 2006)

Sampel air panas. Pengenceran 10-1

LAPORAN PRAKTIKUM BIOKIMIA. Penentuan Kadar Glukosa Darah

PENENTUAN KADAR PROTEIN SECARA SPEKTROFOTOMETRI

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

ISOLASI DAN PENGUJIAN AKTIVITAS ENZIM α AMILASE DARI Aspergillus niger DENGAN MENGGUNAKAN MEDIA CAMPURAN ONGGOK DAN DEDAK

Kurva Kalibrasi Larutan Standar Bovine Serum Albumine (BSA) Absorbansi BSA pada berbagai konsentrasi untuk menentukan kurva standar protein yaitu:

Air Panas. Isolat Murni Bakteri. Isolat Bakteri Selulolitik. Isolat Terpilih Bakteri Selulolitik. Kuantitatif

Nama-nama dan jenis-jenis Enzim dalam Sistem Pencernaan

Tabel 3. Hubungan antara berbagai tingkat kejenuhan ammonium sulfat (0-80%) dengan aktivitas spesifik enzim selulase. Aktivitas Unit (U/mL)

Definisi Umum Enzim yg berfungsi sbg biokatalisator

BAB III METODE PENELITIAN

Protein ENZIM Mempercepat reaksi dengan jalan menurunkan tenaga aktivasi Tidak mengubah kesetimbangan reaksi Sangat spesifik

II. TINJAUAN PUSTAKA. dan mempunyai fungsi penting sebagai katalisator reaksi biokimia

BAB I PENDAHULUAN. digunakan menjadi energi melalui tahapan metabolisme, dimana semua proses

METODA AKTIVASI ZEOLIT ALAM DAN APLIKASINYA SEBAGAI MEDIA AMOBILISASI ENZIM α-amilase. Skripsi Sarjana Kimia. Oleh WENI ASTUTI

HASIL DAN PEMBAHASAN

BAHAN DAN METODE. Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Pengolahan Hasil Pertanian dan

III. BAHAN DAN METODE. laboratorium Biomassa, laboratorium Analisis Hasil Pertanian, Jurusan Teknologi

BAB III. METODE PENELITIAN. Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Mikrobiologi Jurusan Biologi

BAB III METODE PENELITIAN

I. METODOLOGI PENELITIAN. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan April - Juli 2012 di Laboratorium. Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Lampung.

SMA Negeri 1 Nunukan Selatan METABOLISME. Pertemuan 2. Oleh. SUPARMUJI, S.Pd

Rangkaian reaksi biokimia dalam sel hidup. Seluruh proses perubahan reaksi kimia beserta perubahan energi yg menyertai perubahan reaksi kimia tsb.

AKTIVITAS ENZIM AMILASE

Transkripsi:

LAPORAN PRAKTIKUM REKAYASA BIOPROSES KINETIKA REAKSI ENZIMATIS KHAIRUL ANAM P051090031/BTK BIOTEKNOLOGI SEKOLAH PASCASARJANA INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2010

KINETIKA REAKSI ENZIMATIS 1. Pendahuluan Amilase merupakan enzim yang penting dalam bidang pangan dan bioteknologi. Amilase merupakan enzim yang mengkatalisis reaksi hidrolisis pati menjadi gula gula sederhana. Amilase mengubah karbohidrat yang merupakan polisakarida menjadi maltosa (alfa dan beta) ataupun glukosa (glukoamilase). Amilase dapat diperoleh dari berbagai sumber seperti tanaman, binatang dan mikroorganisme. Saat ini sejumlah enzim amilase telah diproduksi secara komersial. Penggunaan mikroba dianggap lebih prosepektif karena mudah tumbuh, cepat menghasilkan dan kondisi lingkungan dapat dikendalikan (wordpress.com, 2010). Untuk produksi enzim amilase dapat menggunakan berbagai sumber karbon, seperti molase, amilum, tepung jagung, tepung tapioka, dan sebagainya. Amilase sendiri adalah enzim yang merupakan biokatalisator yang mempercepat jalannya reaksi tampa ikut bereaksi. Pada umumnya enzim bekerja mengkatalis reaksi satu arah, meskipun ada yang mengkatalis reaksi dua arah. Enzim bekerja secara spesifik, karena sisi aktif enzim setangkup dengan permukaan subtrat tertentu. Umumnya enzim tidak dapat bekerja tanpa adanya suatu zat non protein tambahan yang disebut kofaktor. Enzim bersifat thermolabil, mudah rusak bila dipanaskan lebih dari 60 C. Enzim merupakan senyawa protein, sehingga sifat protein masih melekat pada enzim. Enzim dibutuhkan dalam jumlah sedikit, sbg biokatalisator, rekasinya menjadi sangat cepat dan berulang ulang. Enzim dapat bekerja didalam sel (endoenzim) dan diluar sel (ektoenzim). Enzim bekerja dengan membentuk kompleks substrat sebelum membentuk produk. Reaksi enzimatis sintesis glukosa dari substrat amilum dengan enzim amilase diasumsikan mengikuti mekanisme Michaelis Menten sebagai berikut: Notasi E dan S adalah enzim dan substrat, P merupakan produk, dan.notasi ES merupakan enzimsubstrat kompleks. Untuk mengendalikan aktivitas enzim tersebut dalam kegiatan proses, maka perlu dipahami dasar dasar kinetika reaksi yang dikatalisis oleh enzim, baik dalam satu substrata tau lebih. Oleh karena itu tujuan praktikum kali ini adalah untuk Mempelajari kinetika reaksi enzimatik enzim alpha amilase terhadap substrat amilum.

2. Bahan dan Metode 2.1. Bahan Enzim a amilase, substrat (larutan amilum), dengan konsentrasi 0.1 %, 0.2 %, 0.3 %, 0.4 %, 0.5 % buffer fosfat sitrat ph 7.00 50 mm, standar glukosa, pereaksi DNS (garam Na K tartarat +NaOH + akuades + DNS) 2.2. Alat Water bath (suhu 90 95 C), spektrofotometer, tabung reaksi, gelas ukur, timbangan, vortex, erlenmeyer dan stop watch. 2.3. Metode 2.3.1. Pembuatan Kurva Standar Standar glukosa dibuat dengan menyiapkan larutan glukosa murni dengan konsentrasi 0.0 0.35 mg/ml dengan selang 0.05. Sebanyak 1 ml dari masing masing larutan glukosa mumi dimasukkan ke dalam tabung reaksi dan ditambah 3 ml pereaksi DNS. Larutan divortex untuk homogenisasi kemudian dipanaskan dalam air mendidih selama tepat 5 menit (gunakan stop watch). Blanko dibuat dengan mengganti sampel. dengan akuades dan diperlakukan sama. Setelah itu diukur absorbansinya pada spektrofotometer dengan panjang gelombang (X) 550nm. Kurva standar dibuat dengan memplot data konsentrasi glukosa mural (sumbu X) versus absorbansinya (sumbu Y). 2.3.2. Pengukuran kecepatan reaksi Enzim a amilase terhadap substrat amilum pada beberapa konsentrasi substrat Sebanyak 10 ml substrat amilum dengan konsentrasi 0.1 %, 0.2 %, 0.3 %, 0.4 %, 0.5 % dibuat dengan melarutkan amilum sesuai konsentrasi pada bufer fosfat sitrat ph 7. Substrat tersebut diinkubasi pada suhu 90 95 C. Pada masingmasing tabung substrat tersebut ditambahkan larutan enzim + bufer (0.1 ml enzim ditambah 0.9 ml bufer fosfat sitrat ph 7 50mM, kemudian dipanaskan pada suhu 90 95 C selama 5 menit) Campuran enzim substrat diiinkubasi kembali pada suhu 90 95 C dan setiap 5 menit diambel sampel sebanyak 1 ml. Sampel tersebut ditambah 3 ml DNS, dipanaskan dalam air mendidih selama 5 menit dan diukur absorbansinya pada λ 550 nm. 3. Hasil dan Pembahasan 3.1. Hasil Pada pembuatan kurva standar glukosa diperoleh data seperti yang terlihat pada tabel 1. Kemudian dari data tersebut, diolah menjadi persamaan garis linear sehingga diperoleh persamaan matematis x = (y +

0.094)/0.002 dimana x adalah konsentrasi glukosa dan y merupakan nilai absorbansi dari glukosa pada panjang gelombang 550 nm. Dari persamaan ini, maka diperoleh perhitungan kadar glukosa sebagai produk dari reaksi reaksi enzim α amilase terhadap substrat amilum pada beberapa konsentrasi substrat dengan menggunakan data hasil pengamatan nilai absorbansi dari tiap sampel seperti pada tabel 2. Data perhitungan kadar glukosa dapat dilihat pada tabel 3. Tabel 1. Nilai absorbansi standar maltosa ppm absorbansi 50 0.021 100 0.120 150 0.223 200 0.351 absorbansi 0.4 0.3 0.2 0.1 0 y = 0.002x 0.094 R² = 0.996 0 50 100 150 200 250 kadar glukosa (ppm) Gambar 1. Kurva standar maltosa Tabel 2. Nilai absorbansi dari sampel amilum yang telah ditambahkan dengan enzim pada beberapa konsentrasi substrat dari menit ke 10 hingga menit ke 30 pada panjang gelombang 550 nm Waktu konsentrasi amilum sebagai substrat (%) (menit) 0.1 0.2 0.3 0.4 0.5 10 0.042 0.102 0.106 0.108 0.133 15 0.077 0.111 0.113 0.114 0.143 20 0.098 0.156 0.122 0.118 0.119 25 0.111 0.191 0.138 0.120 0.131 30 0.240 0.384 0.309 0.214 0.293 Tabel 3. Nilai kadar glukosa dari sampel amilum yang telah ditambahkan dengan enzim pada beberapa konsentrasi substrat dari menit ke 10 hingga menit ke 30 pada panjang gelombang 550 nm kadar glukosa (ppm) pada beberapa konsentrasi amilum Waktu sebagai substrat (menit) 0.1 % 0.2 % 0.3 % 0.4 % 0.5 % 10 680 980 1000 1010 1135 15 855 1025 1035 1040 1185 20 960 1250 1080 1060 1065 25 1025 1425 1160 1070 1125 30 1670 2390 2015 1540 1935

Dari data kadar glukosa sampel, maka dapat dibuat persamaan garis pada masing masing kadar substrat berdasarkan daripada waktu inkubasi dari enzim amilase yang dapat dilihat pada gambar 2. kadar glukosa (ppm) 3000 2500 2000 1500 1000 500 y = 43x + 178 y = 64.4x + 126 y = 43.1x + 396 y = 21.8x + 708 y = 30.8x + 673 0.1 0.2 0.3 0.4 0.5 0 0 5 10 15 20 25 30 35 waktu (menit) Gambar 2. Kurva konsentrasi glukosa pada beberapa konsentrasi substrat terhadap waktu inkubasi Dari persamaan yang diperoleh dari perhitungan kadar glukosa di beberapa titik waktu pada beberapa konsentrasi substrat, dapat dinyatakan bahwa y = a + bx, dimana b adalah slope dan dapat dinyatakan sebagai kecepatan reaksi dari masing masing konsentrasi substrat. Apabila s adalah substrat (s) dan b adalah kecepatan reaksi (v) dan dengan pengalihan persamaan Michelis Menten, maka dapat diperoleh data seperti yang dapat dilihat pada tabel 4. Tabel 4. Nilai kadar substrat amilum (s) terhadap kecepatan reaksi enzimatis (v) dan pengalihan persamaan Michelis Menten (1/s dan 1/v) s (%) v(ppm/mnt) 1/s 1/v 0.1 43.0 10.00 0.023 0.2 64.4 5.00 0.016 0.3 43.1 3.33 0.023 0.4 21.8 2.50 0.046 0.5 30.8 2.00 0.032 Dari data pengalihan persamaan yaitu dengan menggunakan nilai 1/s dan 1/v, dibuat lagi persamaan untuk mendapatkan nilai Km dan Vm dari proses reaksi enzimatis α amilase terhadap substrat amilum sehingga diperoleh kurva seperti yang terlihat pada gambar 3.

1/v 0.050 0.045 0.040 y = 0.001x + 0.036 0.035 0.030 0.025 0.020 0.015 0.010 0.005 0.000 0.00 2.00 4.00 6.00 8.00 10.00 12.00 1/s Gambar 3. Kurva perbandingan antara nilai 1/s dan 1/v Dari gambar 3. diperoleh persamaan yaitu y = 0.001x + 0.036 dimana nilai a = 0.036 dan nilai b = 0.001. Dari pengalihan persamaan Michelis Menten (1/v=[(Km/Vmax)(1/s)]+1/Vmax) dapat diketahui bahwa nilai a = 1/Vmax dan nilai b = Km/Vmax. Sehingga dari persamaan tersebut dapat diperoleh bahwasanya nilai Vmax adalah 1/a dimana nilai a adalah 0.036, maka nilai Vmax = 27.78 ppm/menit, sedangkan nilai Km dapat diketahui dengan metode subtitusi nilai Vmax ke persamaan nilai b = Km/Vmax, sehingga Km = b* Vmax, maka nilai Km adalah 0.0278. 3.2. Pembahasan Seperti reaksi kimia pada umumnya, maka reaksi enzimatik dipengaruhi oleh suhu. Kenaikan suhu sampai optimum akan diikuti pula oleh kenaikan kecepatan reaksi enzimatik. Kepekaan enzim terhadap suhu pada keadaan suhu melebihi optimum disebabkan terjadinya perubahan fisikokimia protein penyusun enzim. Umumnya enzim mengalami kerusakan (denaturasi) pada suhu diatas 50 C. Walaupun demikian ada beberapa enzim yang tahan terhadap suhu tinggi. Pada praktikum kali ini, inkubasi dilakukan pada suhu 90 95 C, mungkin diharapkan enzim yang ditambahkan pada praktikum kali ini adalah enzim amilase yang termostabil atau tahan panas yang dapat bereaksi dengan substrat pada suhu tinggi. Protein adalah bagian utama enzim yang dihasilkan sel, maka semua hal yang dapat mempengaruhi protein dan sel akan berpengaruh terhadap reaksi enzimatik.kecepatan reaksi enzimatik umumnya dipengaruhi kadar substrat. Penambahan kadar substrat sampai jumlah tertentu dengan jumlah enzim yang tetap, akan mempercepat reaksi enzimatik sampai mencapai maksimum.

Penambahan substrat selanjutnya tidak akan menambah kecepatan reaksi. Kecepatan reaksi enzimatik juga dipengaruhi kadar enzim, jumlah enzim yang terikat substrat (ES) dan konstanta Michaelis (Km). Km menggambarkan kesetimbangan disosiasi kompleks ES menjadi enzim dan substrat. Nilai Km kecil berarti enzim mempunyai afinitas tinggi terhadap substrat maka kompleks ES sangat mantap, sehingga kesetimbangan reaksi kearah kompleks ES. Apabila nilai Km besar berarti enzim mempunyai afinitas rendah terhadap substrat, sehingga kesetimbangan reaksi kearah E + S. nilai Km yang diperoleh pada praktikum kali ini adalah 0.0278. nilai ini bisa dikatakan sangat kecil sehingga enzim amilase pada praktikum kali ini mempunyai afinitas yang tinggi terhadap substrat amilum sehingga kesetimbangan reaksi lebih kea rah pembentukan kompleks substrat enzim sehingga produk yang diperoleh mempunyai yield yang tinggi. Dari data yang diperoleh bahwa pada menit ke 30, kadar glukosa pada beberapa tingkatan substrat meningkat secara signifikan dan mencapai produk tertinggi. Mungkin hal ini dikarenakan waktu optimum yang dibutuhkan oleh enzim amilase adalah pada menit ke 30 untuk membentuk produk dengan yield yang lebih besar. Vmax atau kecepatan maksimum dari reaksi enzimatis ini diperoleh dengan nilai 27.78 ppm/menit yang artinya pada kondisi optimum, enzim amilase dapat mengubah substrat amilum menjadi glukosa sebesar 27.28 ppm tiap menitnya. Akan tetapi perlu diingat, peningkatan konsentrasi substrat belum tentu meningkatkan kecepatan laju reaksi, karena ada saatnya semua enzim telah terjenuhi oleh substrat sehingga kecepatan enzim menjadi tetap. 4. Kesimpulan 1. enzim amilase pada praktikum kali ini adalah enzim yang termostabil karena dapat bereaksi dengan substrat pada suhu inkubasi 90-95 C 2. Km enzim amilase pada praktikum kali ini kecil (-0.0278) sehingga afinitas dari enzim amilase dapat dikatakan tinggi. 3. Vmax enzim amilase pada praktikum kali ini adalah 27.28 ppm/menit Daftar Pustaka 1. http://ptp2007.wordpress.com/2008/05/15/amilase/. Diunduh pada tanggal 8 April 2010 2. Mangunwidjaja, D. dan Suryani, A., 1994, Teknologi Bioproses, Jakarta: Penebar Swadaya.

3. Heri Hermansyah, Rita Arbianti, Aji Nur Widyanto, Anondho Wijanarko. 2008. Kinetika Sintesis Biodiesel Menggunakan Biokatalis Novozyme 435. JURNAL TEKNOLOGI, Edisi No. 3 Tahun XXII, September 2008, 109 114 ISSN 0215 1685 4. http://sumarsih07.files.wordpress.com/2008/11/iv enzim mikroba.pdf. Diunduh pada tanggal 11 April 2010