FISIOLOGI DAN PENGUKURAN KERJA. tutorial 8 STOPWATCH

dokumen-dokumen yang mirip
FISIOLOGI DAN PENGUKURAN KERJA

FISIOLOGI DAN PENGUKURAN KERJA. tutorial 7. work sampling

Rating Factor Masing-masing Stasiun Kerja

BAB 2 LANDASAN TEORI

LAMPIRAN Universitas Sumatera Utara

LAMPIRAN. Universitas Sumatera Utara

By: Amalia, S.T., M.T. PENGUKURAN KERJA: FAKTOR PENYESUAIAN DAN ALLOWANCE

PENYESUAIAN DAN KELONGGARAN TEKNIK TATA CARA KERJA II

LAMPIRAN. Universitas Sumatera Utara

WORK SAMPLING. Modul Work Sampling Praktikum Genap 2011/2012 I. TUJUAN PRAKTIKUM

BAB II LANDASAN TEORI

LAMPIRAN. Universitas Sumatera Utara

Tugas dari Presiden Direktur, antara lain : Adapun tanggung jawab dari Presiden Direktur adalah:

BAB II. Activity-Based Management. Activity Based Management (ABM) adalah suatu pendekatan di seluruh

BAB II LANDASAN TEORI

LAMPIRAN. Universitas Sumatera Utara

PENGUKURAN WAKTU KERJA

PENGUKURAN WAKTU. Nurjannah

Analisis Efisiensi Operator Pemanis CTP dengan Westing House System s Rating

Pengukuran Kerja Langsung (Direct Work Measurement)

BAB II LANDASAN TEORI

BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN KERANGKA PEMIKIRAN

BAB 2 LANDASAN TEORI

Perhitungan Waktu Baku Menggunakan Motion And Time Study

BAB II ACTIVITY BASED MANAGEMENT

BAB II LANDASAN TEORI

BAB III LANDASAN TEORI

ERGONOMI & APK - I KULIAH 8: PENGUKURAN WAKTU KERJA

Pengukuran Waktu (Time Study) Jam Henti

MODUL 1 PERANCANGAN PRODUK MODUL 1 ANALISA DAN PERANCANGAN KERJA (MOTION AND WORK MEASUREMENT)

BAB 2 LANDASAN TEORI

Dalam menjalankan proses ini permasalahan yang dihadapi adalah tidak adanya informasi tentang prediksi kebutuhan material yang diperlukan oleh produks

PERENCANAAN JUMLAH OPERATOR PRODUKSI DENGAN METODE STUDI WAKTU (STUDI KASUS PADA INDUSTRI PENGOLAHAN PRODUK LAUT)

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II LANDASAN TEORI

UNIVERSITAS INDONESIA

pekerja normal untuk menyelesaikan suatu pekerjaan yang dijalankan dalam sistem

BAB 2 LANDASAN TEORI

Lampiran-1: Tabel Westinghouse System's Rating A1 Superskill 0.13 A A B1 Excellent 0.08 B B C1 Good 0.03 C2 0.

BAB II LANDASAN TEORI

BAB 2 LANDASAN TEORI

EPSIKER LABORATORY 2016

BAB 2 LANDASAN TEORI DAN KERANGKA PEMIKIRAN

practicum apk industrial engineering 2012

Universitas Mercubuana

BAB 3 LANDASAN TEORI

PERANCANGAN SISTEM KESEIMBANGAN LINTASAN PRODUKSI UNTUK MENGURANGI BALANCE DELAY GUNA MENINGKATKAN OUTPUT PRODUKSI

PENENTUAN WAKTU BAKU PRODUKSI KERUPUK RAMBAK IKAN LAUT SARI ENAK DI SUKOHARJO

BAB II LANDASAN TEORI. Pengukuran waktu ini akan berhubungan dengan usaha-usaha untuk

By: Amalia, S.T., M.T. PENGUKURAN WAKTU KERJA: METODE PENGUKURAN LANGSUNG

BAB 2 LANDASAN TEORI

PENINGKATAN PRODUKTIVITAS DI BPPT URIP MAKASAR PT. H. KALLA MELALUI OPTIMALISASI METODE KERJA, SOP, PERALATAN DAN SKILL

BAB III LANDASAN TEORI. pekerjaan yang dijalankan dalam sistem kerja terbaik.

LAPORAN RESMI PRAKTIKUM ANALISIS PERANCANGAN KERJA DAN ERGONOMI ACARA 1 PENGUKURAN WAKTU KERJA DENGAN JAM HENTI

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. selesai sesuai dengan kontrak. Disamping itu sumber-sumber daya yang tersedia

BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB II LANDASAN TEORI

BAB VI PENENTUAN JUMLAH TENAGA KERJA. Pada Stasiun Kerja Pemotongan dan Sortasi CV. Agrindo Suprafood. Menggunakan Studi Waktu

BAB 2 LANDASAN TEORI

FISIOLOGI DAN PENGUKURAN KERJA

BAB 3 LANDASAN TEORI

PENENTUAN KEBUTUHAN JURU MASAK DI SKADIK 502 WINGDIKUM DENGAN MENGGUNAKAN PENDEKATAN METODE WORK LOAD ANALYSIS

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA DAN DASAR TEORI

BAB II LANDASAN TEORI

III. METODOLOGI A. KERANGKA PEMIKIRAN

IMPLEMENTASI METODE WORK SAMPLING GUNA MENGUKUR PRODUKTIVITAS TENAGA KERJA DI CV.SINAR KROM SEMARANG

Analisis Beban Kerja dan Jumlah Pekerja pada Kegiatan Pengemasan Tepung Beras

WORK SAMPLING STUDI KASUS PEKERJAAN BERTENDER PADA SEBUAH CAFE TUTI SARMA SINAGA ST MEILITA TRYANA SEMBIRING, ST

BAB 3 METODE PENELITIAN. Berikut ini adalah diagram alir yang digunakan dalam penyelesaian studi kasus ini: Mulai

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA DAN DASAR TEORI

Seminar Nasional IENACO ISSN: APLIKASI METODE WORK SAMPLING UNTUK MENGHITUNG WAKTU BAKU DAN KAPASITAS PRODUKSI PADA INDUSTRI KERAMIK

BAB II LANDASAN TEORI. Menurut Patrick ( 2001, p407), Rekondisi adalah suatu kegiatan untuk. operasi produksi agar sesuai dengan perencanaan yang ada.

practicum apk industrial engineering 2012

practicum apk industrial engineering 2012

PENENTUAN WAKTU STANDAR DAN JUMLAH TENAGA KERJA OPTIMAL PADA PRODUKSI BATIK CAP (STUDI KASUS: IKM BATIK SAUD EFFENDY, LAWEYAN)

BAB I PENDAHULUAN. dijalankan dengan prinsip keuntungan dalam bidang ekonomi. Pencapaian

BAB II LANDASAN TEORI

By: Amalia, S.T., M.T. PENGUKURAN KERJA: METODE PENGUKURAN LANGSUNG

TEKNIK TATA CARA KERJA MODUL MICROMOTION AND TIME STUDY

DESKRIPSI TIME AND MOTION STUDY UNTUK MENGETAHUI WAKTU BAKU DI PRODUKSI SAMBAL PT. HEINZ ABC INDONESIA KARAWANG

Lakukan Pekerjaanmu secara Efektif & Efisien

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

ANALISIS PENGARUH WAKTU BAKU TERHADAP PENCAPAIAN TARGET PRODUKSI PROSES PEMBUATAN GREEN TIRE DI PT. GAJAH TUNGGAL, Tbk

BAB 2 LANDASAN TEORI

BAB 2 LANDASAN TEORI

BAB II LANDASAN TEORI

PERBAIKAN SISTEM PRODUKSI DI PT. X DENGAN MEMPERHATIKAN LINTASAN PERAKITAN DAN TATA LETAK FASILITAS

TUGAS AKHIR MENGHITUNG WAKTU BAKU PADA PERUBAHAN KEMASAN DAN PENGARUHNYA TERHADAP UPAH OPERATOR

BAB 2 LANDASAN TEORI

PENGUKURAN BEBAN KERJA TENAGA KERJA DENGAN METODE WORK SAMPLING (Studi Kasus di PT. XY Yogyakarta)

ANALISA PENENTUAN WAKTU BAKU UNTUK MEMPERSINGKAT PROSES PELAYANAN BONGKAR MUAT DI PELABUHAN TRISAKTI BANJARMASIN

MODUL II WORK MEASUREMENT

BAB II LANDASAN TEORI

BAB II LANDASAN TEORI. Perkembangan organisasi dan perubahan struktur dalam organisasi

BAB 5 HASIL DAN PEMBAHASAN. Pada dasarnya pengumpulan data yang dilakukan pada lantai produksi trolly

Lamp n (menit) x/n

Transkripsi:

FISIOLOGI DAN PENGUKURAN KERJA tutorial 8 STOPWATCH Prodi Teknik Industri Fakultas Teknologi Industri Universitas Islam Indonesia Tahun Ajaran 2016/2017 www.labdske-uii.com

TIME STUDY: METODE STOPWATCH A. DESKRIPSI Metode Stopwatch (jam henti) merupakan pengukuran waktu kerja secara langsung yang biasa diaplikasikan untuk pekerjaan-pekerjaan yang berlangsung singkat dan berulangulang/repetitive(wignjosoebroto, 2003). Pengukuran metode stopwatch ini diperkenalkan pertama kali oleh Frederick W.Taylor sekiar abad 19. Hasil pengukuran metode ini adalah waktu baku untuk menyelesaikan suatu siklus pekerjaan, dimana waktu ini akan dipergunakan sebagai standard penyelesaian pekerjaan bagi semua pekerja yang akan melaksanakan pekerjaan yang sama. B. Tujuan Tutorial 1. Memperkenalkan kepada praktikan metode Stopwatch dalam aplikasipengukuran waktu kerja secara langsung. 2. Praktikan mampu menghitung waktu normal dan waktu baku suatu pekerjaan dengan mengidentifikasi serta mengukur elemen-elemen pekerjaannya. 3. Praktikan mampu menentukan jumlah siklus kerja dengan menghitung uji kecukupan dan keseragaman data. 4. Praktikan mampu menentukan ratingfactorsertaallowance seorang operator dengan menganalisa performansi kerja dan keadaan lingkungan operator. C. INPUT DAN OUTPUT Input : a) Elemen-elemen kerja pada suatu pekerjaan. b) Durasi pada masing-masing elemen pekerjaan. c) Jumlah data pengamatan Output : a) Uji Kecukupan Data b) Uji Keseragaman Data c) Waktu normal d) Waktu baku

D. PERALATAN TUTORIAL STOPWATCH Alat Tutorial Stopwatch a) Stopwatch b) Lembar Pengamatan c) Pulpen/ Alat tulis d) Kalkulator

E. PROSEDUR PELAKSANAAN TUTORIAL Berikut ini adalah alur pelaksanaan tutorial stopwatch: Mulai Pengamat menghitung waktu & mengamati operator Menentukan Pengamat & Operator Operator melakukan perakitan Salah Menentukan elemen kerja Konsultasi elemen kerja kepada asisten Benar Operator melakukan perakitan produk Pengamat menghitung waktu setiap elemen kerja Praktikan melakukan pengolahan data beserta penentuan RF & allowance Tidak Melakukan konsultasi dengan asisten pembimbing Acc? Selesai Ya Gambar 8.1 Alur Tutorial Stopwatch

LANDASAN TEORI Stopwatch 1. Konsep Pengukuran Waktu Kerja Menurut Wignjosoebroto (2003), Niebel dan Freivalds (1999) dan Barnes (1997), pengukuran waktu kerja dapat diklasifikasikan sesuai dengan bagan dibawah ini: Langsung Work Sampling Pengukuran Waktu Kerja Stopwatch Metode Standard Data Tidak Langsung Metode Analisa Regresi Gambar 8.2 Metode Pengukuran Kerja (Sumber: Barnes, 1980) Penetapan Waktu Baku dengan Data Waktu Gerakan Menurut Wignjosoebroto (2003), pengukuran kerja (time study) adalah suatu aktivitas untuk menentukan waktu yang dibutuhkan oleh seorang operator (yang memiliki ketrampilan rata rata dan terlatih baik) dalam melaksanakan sebuah kegiatan kerja dalam kondisi dan tempo kerja yang normal. Untuk mengetahui apakah suatu sistem kerja yang diterapkan sudah baik, maka diperlukan prinsip-prinsip pengukuran kerja yang meliputi teknik-teknik pengukuran mengenai waktu yang dibutuhkan, tenaga yang dikeluarkan, pengaruh psikologis dan fisiologis. Salah satu pengukuran kerja adalah pengukuran waktu kerja (time study). Pengukuran waktu kerja bertujuan untuk mendapatkan waktu standar/waktu baku penyelesaian pekerjaan secara wajar, tidak terlalu cepat dan juga tidak terlalu lambat, oleh pekerja normal untuk menyelesaikan pekerjaannya dalam suatu sistem kerja yang telah berjalan dengan baik(barnes, 1980).Manfaat dari menghitung waktu baku ini adalah (Wignjosoebroto, 2003): 1. Untuk merencanakan kebutuhan tenaga kerja

2. Untuk menentukan standar biaya dalam mempersiapkan anggaran 3. Untuk menentukan pemanfaatan mesin, jumlah mesin yang dapat dioperasikan seorang operator dan embantu dalam menyeimbangkan lintasan produksi. 4. Perencanaan system pemberian bonus dan intensif bagi karyawan. 5. Indikasi keluaran (output) yang mampu dihasilkan oleh seorang pekerja. 2. Metode Pengukuran Waktu Kerja Stopwatch Metode Stopwatch (jam henti) merupakan pengukuran waktu kerja secara langsung yang biasa diaplikasikan untuk pekerjaan-pekerjaan yang berlangsung singkat dan berulangulang/repetitive(wignjosoebroto, 2003). Pengukuran metode stopwatch ini diperkenalkan pertama kali oleh Frederick W.Taylor sekiar abad 19. adalah: Menurut Barnes (1980), metode pembacaan stopwatch yang sering digunakan continuous timing repetitive timing accumulative timing Gambar 8.3 Metode pembacaan (Sumber: Barnes, 1980) a) Continuous Timing Pada metode ini stopwatch dijalankan terus menerus selama pengamatan.stopwatch baru akan dihentikan pada saat pengamatan selesai dilakukan dan pada akhir pengamatan waktu yang telah didapat dicatat. Selain itu untuk mendapatkan masingmasing waktu individu maka perlu dilakukan proses pengurangan.pada pengukuran ini stopwatch tidak di STOP hingga semua produk selesai dilakukan.

Tabel 8.1 Contoh hasil pengambilan data metode continuous timing NO Elemen Kerja Detik Ke- Waktu 1 Memasang Badan Atas 15 15 Detik 2 Memasang Kunci Body 18 3 Detik 3 Memasang Sayap 23 5 Detik 4 Packing 31 8 Detik b) Repetitive Timing Untuk metode ini cara menggunakan stopwatch, stopwatch ini dibaca secara simultan dan angka pada stopwatch dikembalikan ke angka nol setelah setiap proses selesai. Metode ini dapat dilakukan pencatatan langsung tanpa perlu mengurangi waktu. Pada pengukuran ini stopwatch di STOP setelah elemen kerja 1 selesai dikerjakan, START kembali dalam posisi jarum Stopwatch diangka NOL ketika elemen ke-2 mulai dikerjakan. Tabel 8.2 Contoh hasil pengambilan data metode repetitive timing NO Elemen Kerja Waktu 1 Memasang Badan Atas 15 Detik 2 Memasang Kunci Body 3 Detik 3 Memasang Sayap 5 Detik 4 Packing 8 Detik c) Accumulative Timing Pada metode ini cara menggunakan stopwatch melibatkan dua atau lebih stopwatch, hal ini dikarenakan metode yang digunakan yaitu ketika stopwatch yang pertama berhenti kemudian stopwatch yang kedua mulai dijalankan dan ketika stopwatch yang kedua berhenti maka stopwatch yang ketiga dijalankan.pengukuran ini menggunakan 2 atau lebih stopwatch. Stopwatch beroperasi secara bergantian per tiap elemen kerja.

Tabel 8.3 Contoh hasil pengambilan data metode accumulative timing Stopwatch Elemen Kerja Waktu Keterangan 1 Memasang Badan Atas 15 Detik Stopwatch 1 2 Memasang Kunci Body 3 Detik Stopwatch 2 3 Memasang Sayap 5 Detik Stopwatch 1 4 Packing 5 Detik Stopwatch 2 3. Langkah-langkah Menurut Sutalaksana (1979), beberapa langkah yang perlu diperhatikan dalam melaksanakan metode stopwatch adalah 1. Penetapan tujuan pengukuran 2. Melakukan Penelitian 3. Menentukan operator. Beberapa kriteria operator yang tidak dianjurkan adalah : Orang yang tercepat dalam melakukan pekerjaan Orang yang paling lambat dalam melakukan pekerjaan Pekerja dengan kelakuan yang wajar ketika sedang diamati. Objek pengamatan haruslah memiliki waktu pengerjaan yang tepat dantelah terlatih dengan baik (Meyers, 1999). 4. Menguraikan pekerjaan menjadi beberapa elemen kerja. 5. Menyiapkan alat-alat pengukuran 1. Stopwatch 2. Papan Pengamatan 3. Kalkulator 4. Pena atau pensil Gambar 8.4 Alat Studi Waktu

4. Pelaksanaan Pengukuran Metode Stopwatch Setelah dilakukan langkah-langkah persiapan pada D.1.3, kemudian dilaksanakan pengukuran kerja. Adapun langkah-langkah yang dikerjakan selama pengukuran waktu kerja berlangsung, yaitu (Sutalaksana, 1979): 1. Pengukuran Pendahuluan Pengukuran pendahuluan dimaksudkan untuk mengetahui berapa kali pengukuran harus dilakukan untuk tingkat-tingkat ketelitian dan keyakinan yang didapat dari hasil perhitungan waktu pengamatan. Biasanya pengukuran waktu dilakukan sebanyak 25 kali pengukuran. 2. Uji kecukupan data Ada 2 faktor yang mempengaruhi kecukupan data : 1. Tingkat kepercayaan (Confidence Level). 2. Tingkat ketelitian (Degree of Accuracy). Asumsikan operator adalah manusia normal, sehingga kecukupan data dapat dihitung dengan (Barnes, 1980) : N = Dimana: k = tingkat keyakinan k / s ( N. X 2 X ) ( X ) Jika tingkat keyakinan99%,maka k =2,58 3 Jika tingkat keyakinan95%,maka k = 1,96 2 Jika tingkat keyakinan68%,maka k = 1 s=derajat ketelitian Kesimpulan dari perhitungan yang diperoleh yaitu : a. Apabila N N (jumlah pengamatan teoritis lebih kecil atau sama dengan pengamatan yang sebenarnya dilakukan), maka data tersebut dinyatakan telah mencukupi untuk tingkat keyakinan dan derajat ketelitian yang diinginkan tersebut, sehingga data tersebut dapat diolah untuk mencari waktu baku. 2 2

b. Tetapi jika sebaliknya, dimana N > N (jumlah pengamatan teoritis lebih besar dari jumlah pengamatan yang ada), maka data tersebut dinyatakan tidak cukup. Dan agar data tersebut dapat diolah untuk mencari waktu baku, maka data pengamatan harus ditambah lagi sampai lebih besar dari jumlah data pengamatan teoritis. 3. Uji Keseragaman Data Proses analisa keseragaman data ini dilakukan dengan menggunakan control yang diperoleh dari pengamatan. Data-data yang didapat dari pengamatan kemudian dikelompokkan kedalam beberapa sub grup dan diselidiki apakah rata-rata sub grup tersebut berada dalam batas kontrol. Formulasi uji keseragaman data : UCL/LCL= x ± kσ Dimana: x = rata rata waktu elemen kerja k= tingkat keyakinan σ = standar deviasi n = jumlah pengamatan Catatan: Jika nilai p berada pada batas kontrol, maka semua data tersebut dapat diproses. Sebaliknya, jika ada nilai p yang berada di luar batas kontrol, maka datapengamatan yang melewati batas yang bersangkutan harus dibuang, karena data dikatakan seragam apabila data tersebut berada dalam batas kontrol. Berikut ini adalah data seragam dan tidak seragam yang ditunjukkan pada gambar 8.5 dan gambar 8.6.

Rata-rata waktu penyelesaian (detik) Rata-rata waktu penyelesaian (detik) Stopwatch 2016 Uji Keseragaman Data Elemen X 10 8 6 4 2 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Pengamatan ke-n BKA Operator BKB Gambar 8.5 Data Seragam Uji Keseragaman Data Elemen Y 10 8 6 4 2 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Pengamatan ke-n BKA Operator BKB Gambar 8.6 Data Tidak Seragam 4. RatingFactor Rating Factor merupakan proses penyesuaian waktu yang dilakukan kepada pekerja agar sesuai dengan pekerja yang bekerja normal (Meyers, 1999). Salah satu metode tertua dalam menentukan performance erating adalah metode yang dikembangkan oleh Westinghouse Electric Corporation. Berikut pada tabel 8.4 adalah nilai-nilai faktor yang diperhitungkan dalam perhitungan.

Tabel 8.4 TabelWestinghouse SKILL EFFORT +0,15 A1 +0,13 A1 +0,13 A2 Superskill +0,12 A2 Superskill +0,11 B1 +0,10 B1 +0,08 B2 Excellent +0,08 B2 Excellent +0,06 C1 +0,05 C1 +0,03 C2 Good +0,02 C2 Good 0,00 D Average 0,00 D Average -0,05 E1-0,04 E1-0,10 E2 Fair -0,08 E2 Fair -0,16 F1-0,12 F1-0,22 F2 Poor -0,17 F2 Poor CONDITION CONSISTENCY +0,06 A Ideal +0,04 A Ideal +0,04 B Excellent +0,03 B Excellent +0,02 C Good +0,01 C Good 0,00 D Average 0,00 D Average -0,03 E Fair -0,02 E Fair -0,07 F Poor -0,04 F Poor Terdapat tiga kondisi faktor penyesuaian yaitu operator bekerja dalam kondisi normal (P=1), operator bekerja diatas normal (P>1) dan operator bekerja dibawah normal (P<1) (Purnomo, 2014). Rating factor dapat dihitung dengan cara: P = rating normal operator + rating performance Sebagai contoh, apabila diketahui bahwa waktu rata-rata yang diukur terhadap suatu elemen kerja adalah 0,05 menit dan rating factoroperator adalah memenuhi klasifikasi berikut: - Excellent Skill (B2) : + 0,08 - Good Effort (C2) : + 0,02 - Good Condition (C) : + 0,01 - Good Consistency (C) : + 0,01 + Maka, rating factor nya adalah: Total : + 0.13 P = 1 + 0,13 = 1,13

Untuk keperluan penyesuaian keterampilan dibagi menjadi enam kelas dengan ciri ciri dari setiap kelas seperti yang dikemukakan berikut ini: 5. Allowance Kelonggaran diberikan untuk tiga hal yaitu untuk kebutuhan pribadi, menghilangkan rasa fatique, dan hambatan hambatan yang tidak dapat dihindarkan. Ketiganya ini merupakan hal yang secara nyata dibutuhkan oleh pekerja, dan yang selama pengukuran tidak diamati, diukur, dicatat, ataupun dihitung. Karenanya sesuai pengukuran dan setelah mendapatkan waktu normal, kelonggaran perlu ditambahkan (Barnes, 1980). 6. Menghitung Waktu Baku a) Menghitung waktu per elemen kerja Tabel 8.5 Hasil Rekap Data Pengamatan No Elemen Kerja 1 2. N Ratarata RF 1 Mengambil 5 s 1.14 body bawah 5 s 2 Memasang besi 7 s 1.02 12 s 5 Mengencangkan 5 s 0.99 skrup 20s b) Waktu Normal Rerata Waktu Elemen Kerja x Rating c) Waktu Baku Waktu normal + (Allowance x Waktu Normal) = Waktu normal 100 100 All

5. Contoh Soal Seorang karyawan perusahaan elektronik, mempunyai tugas untuk merakit steker. Untuk menilai apakah kinerja karyawannya sudah efektif maka dilakukan analisis time study dalam perakitan steker tersebut menggunakan metode stopwatch. Dalam pengamatan ini dilakukan 10 perakitan untuk mengetahui seberapa lama pekerja menyelesaikan perakitan untuk 1 unit steker. Dalam penelitian ini dilakukan pembagian elemen kerja menjadi memasang body bawah, memasang besi 1, memasang besi 2, memasang body atas dan mengencangkan sekrup pada steker. Selain pembagian elemen kerja juga dilakukan pemberian ratingfactor untuk tiap-tiap elemen, untuk elemen 1 sebesar 1.13, elemen 2 sebesar 1.15, elemen 3 sebesar 1.08, elemen 4 sebesar dan elemen 5 sebesar 1.12. Tabel 8.6 Contoh Rekap Data Pengamatan Elemen Kerja Memasang body bawah Memasang besi 1 Memasang besi 2 Memasang body atas Mengencangkan sekrup Pengamatan ke-(detik) Ratarata 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 RF 3 3 3 2 3 2 2 3 2 2 2.5 1.13 3 28 51 78 100 123 145 165 186 210 1 2 3 3 2 2 2 1 1 1 1.8 1.15 4 30 54 81 102 125 147 166 187 211 4 3 4 3 2 4 2 2 5 3 3.2 1.08 8 33 58 84 104 129 149 168 192 214 4 3 2 3 3 2 2 3 2 2 2.6 1.13 12 36 60 87 107 131 151 171 194 216 13 12 16 10 14 12 11 13 14 13 12.8 1.12 25 48 76 97 121 143 162 184 208 229 Jawaban: Dari data pengamatan diatas, selanjutnya dilakukan perhitungan untuk mencari waktu normal untuk tiap elemen kerja. - Waktu normal elemen kerja 1 = 2.5 x 1.13 = 2.825 detik - Waktu normal elemen kerja 2 = 1.8 x 1.15 = 2.07 detik - Waktu normal elemen kerja 3 = 3.2 x 1.08 = 3.456 detik

- Waktu normal elemen kerja 4 = 2.6 x 1.13 = 2.938 detik - Waktu normal elemen kerja 5 = 12.8 x 1.12 = 14.336 detik Total waktu normal = 25.625 detik - Waktu standar untuk kegiatan perakitan dengan allowance 15%. Waktu baku = Waktu normal x Waktu baku = 25.625 x 100 100 15 100 100 Allowance = 30.15 detik

REFERENSI Barnes, R.M. 1980. Motion and time study.new York: John Wiley& Sons. Meyers, F.E. 1999. Motion and Time Study. Prentice-Hall. Niebel, B.W., Freivalds, A. 1999. Methods, Standards, and Work Design.Singapore : McGraw- Hill. Purnomo, Hari. 2004. Pengantar Teknik Industri. Edisi kedua.yogyakarta : Graha Ilmu. Purnomo, H. 2014. Metode Pengukuran Kerja. Yogyakarta: CV Sigma. Sutalaksana, Iftikar Z, dkk. 2006. Teknik Perancangan Sistem Kerja. Bandung: ITB. Wignjosoebroto, S., 2003.Ergonomi, Studi Gerak dan Waktu.Edisi ketiga. Jakatrta: Penerbit PT. Guna Widya.

Faktor Penyesuaian LAMPIRAN Tabel 1. Westinghouse Table SKILL EFFORT +0,15 A1 Super skill +0,13 A1 Excessive +0,13 A2 +0,12 A2 +0,11 B1 Excellent +0,10 B1 Excellent +0,08 B2 +0,08 B2 +0,06 C1 Good +0,05 C1 Good +0,03 C2 +0,02 C2 0,00 D Average 0,00 D Average -0,05 E1 Fair -0,04 E1 Fair -0,10 E2-0,08 E2-0,16 F1 Poor -0,12 F Poor -0,22 F2-0,17 F2 CONDITION CONSISTENCY +0,06 A Idea +0,04 A Ideal +0,04 B Excellent +0,03 B Excellent +0,02 C Good +0,01 C Good 0,00 D Average 0,00 D Average -0,03 E Fair -0,02 E Fair -0,07 F Poor -0,04 F Poor

Skill Stopwatch 2016 Untuk keperluan penyesuaian keterampilan dibagi menjadi enam kelas dengan ciri ciri dari setiap kelas seperti yang dikemukakan berikut ini: SUPER SKILL : 1. Secara bawaan cocok sekali dengan pekerjaannya. 2. Bekerja dengan sempurna 3. Tampak seperti telah terlatih dengan sangat baik 4. Gerakan gerakannya halus tetapi sangat cepat sehingga sulit untuk diikuti. 5. Kadang kadang terkesan tidak berbeda dengan gerakan gerakan mesin. 6. Perpindahan dari satu elemen pekerjaan ke elemen lainnya tidak terlampau terlihat karena lancarnya. 7. Tidak terkesan adanya gerakan gerakan berpikir dan merencanakan dan merencanakan tentang apa yang dikerjakan (sudah sangat otomatis) 8. Secara umum dapat dikatakan bahwa pekerjaan bersangkutan adalah pekerjaan yang baik. EXELLENT SKILL : 1. Percaya pada diri sendiri 2. Tampak cocok dengan pekerjaannya. 3. Terlihat telah terlatih baik. 4. Bekerjanya teliti dengan tidak banyak melakukan pengukuran pengukuran atau pemeriksaan pemeriksaan. 5. Gerakan gerakan kerja beserta urutan urutannya dijalankan tanpa kesalahan. 6. Menggunakan peralatan dengan baik. 7. Bekerjanya cepat tanpa mengorbankan mutu. 8. Bekerjanya cepat tetapi halus. 9. Bekerja berirama dan terkoordinasi.

GOOD SKILL : 1. Kwalitas hasil baik. 2. Bekerjanya tampak lebih baik dari pada kebanyakan pekerjaan pada umumnya. 3. Dapat memberikann petunjuk petunjuk pada pekerja lain yang keterampilannya lebih rendah. 4. Tampak jelas sebagai kerja yang cakap. 5. Tidak memerlukan banyak pengawasan. 6. Tiada keragu - raguan 7. Bekerjanya stabil 8. Gerakannya gerakannya terkoordinasi dengan baik. 9. Gerakan gerakannya cepat. AVERAGE SKILL : 1. Tampak adanya kepercayaan pada diri sendiri. 2. Gerakannya cepat tetapi tidak lambat. 3. Terlihatnya ada pekerjaan pekerjaan yang perencana. 4. Tampak sebagai pekerja yang cakap. 5. Gerakan gerakannya cukup menunjukan tidak adanya keragu raguan. 6. Mengkoordinasikan tangan dan pikiran dengan cukup baik. 7. Tampak cukup terlatih dan karenanya mengetahui seluk beluk pekerjaannya. 8. Bekerjanya cukup teliti. 9. Secara keseluruhan cukup memuaskan.

FAIR SKILL : 1. Tampak terlatih tetapi belum cukup baik. 2. Mengenal peralatan dan lingkuan secukupnya. 3. Terlihat adanya perencanaan perencanaan sebelum melakukan gerakan. 4. Tidak mempunyai kepercayaan diri yang cukup. 5. Tampaknya seperti tidak cocok dengan pekerjaannya tetapi telah ditempatkan dipekerjaan itu sejak lama. 6. Mengetahui apa yang dilakukan dan harus dilakukan tetapi tampak selalu tidak yakin. 7. Sebagian waktu terbuang karena kesalahan kesalahan sendiri. 8. Jika tidak bekerja sungguh sungguh outputnya akan sangat rendah 9. Biasanya tidak ragu ragu dalam menjalankan gerakan gerakanya. POOR SKILL : 1. Tidak bisa mengkoordinasikan tangan dan pikiran. 2. Gerakan gerakannya kaku. 3. Kelihatan ketidak yakinannya pada urutan urutan gerakan. 4. Seperti yang tidak terlatih untuk pekerjaan yang bersangkutan. 5. Tidak terlihat adanya kecocokan dengan pekerjaannya. 6. Ragu ragu dalam menjalankan gerakan gerakan kerja. 7. Sering melakukan kesalahan kesalahan 8. Tidak adanya kepercayaan pada diri sendiri. 9. Tidak bisa mengambil inisiatif sendiri. Untuk usaha atau Effort cara Westinghouse membagi juga kedalam kelas kelas dengan ciri masing - masing. Yang dimaksud dengan usaha disini adalah kesungguhan yang ditunjukan atau diberikan operator ketikan melakukan pekerjaannya. Berikut ini ada enam kelas usaha dengan ciri cirinya.

Effort EXCESSIVE EFFORT : 1. Kecepatan sangat berlebihan. 2. Usahanya sangat besungguh sungguh tetapi dapat membahayakan kesehatannya. 3. Kecepatan yang ditimbulkannya tidak dapat dipertahankan sepanjang hari kerja. EXELLENT EFFORT : 1. Jelas terlihat kecepatan kerjannya yang tinggi 2. Gerakan gerakan lebih ekonomis daripada operator operator biasa. 3. Penuh perhatian pada pekerjaannya. 4. Banyak memberi saran - saran. 5. Menerima saran saran dan petunjuk dengan senang. 6. Percaya pada kebaikan maksud pengukuran waktu. 7. Tidak dapat bertahan lebih dari beberapa hari. 8. Bangga atas kelebihannya. 9. Gerakan gerakan yang salah terjadi sangat jarang sekali. 10. Bekerja sitematis. 11. Karena lancarnya, perpindahan dari satu element keelemen lainnya tidak terlihat. GOOD EFFORT : 1. Bekerja berirama 2. Saat saat menganggur sangat sedikit, bahkan kadang kadang tidak ada. 3. Penuh perhatian pada pekerjaan. 4. Senang pada pekerjaannya 5. Kecepatannya baik dan dapat dipertahankan sepanjang hari. 6. Percaya pada kebaikan maksut pengukuran waktu.

7. Menerima saran saran dan petunjuk petunjuk dengan senang. 8. Dapat memberikan saran saran untuk perbaikan kerja. 9. Tempat kerjanya diatur dengan baik dan rapi. 10. Menggunakan alat alat yang tepat dengan baik. 11. memelihara dengan baik kondisi peralatan. AVERAGE EFFORT : 1. Tidak sebaik good, tetapi lebih baik dari poor. 2. Bekerja dengan Stabil. 3. Menerima saran saran tetapi tidak melaksanakannya. 4. Set Up dilakukan dengan baik. 5. Melakukan kegiatan kegiatan perencanaan. FAIR EFFORT : 1. Saran saran yang baik diterima dengan kesal. 2. Kadang kadang perhatian tidak ditujukan pada pekerjaanya. 3. Kurang sungguh sungguh. 4. Tidak mengeluarkan tenaga dengan secukupnya. 5. Terjadi sedikit penyimpangan dari cara kerja baku. 6. Alat alat yang dipakainya tidak selalu yang terbaik. 7. Terlihatadanyakecenderungan kurang perhatian pada pekerjaanya. 8. Terlampau hati hati. 9. Sitematika kerjanya sedang sedang aja. 10. Gerakan gerakan tidak terencana. POOR EFFORT 1. Banyak membuang buang waktu. 2. Tidak memperhatikan adanya minat bekerja. 3. Tidak mau menerima saran saran. 4. Tampak malas dan lambat bekerja.

5. Melakukan gerakan gerakan yang tidak perlu untuk mengambil alat alat dan bahan bahan. 6. Tempat kerjanya tidak diatur rapi. 7. Tidak perduli pada cocok/ baik tidaknya peralatan yang dipakai. 8. Mengubah ubah tata letak tempat kerja yang telah diatur. 9. Set Up kerjanya terlihat tidak baik.

Tabel Allowance Stopwatch 2016

Tabel Allowance Stopwatch 2016

Say: Ya Rabb, increase me in knowledge QS. Thaha: 114 www.labdske-uii.com