TUGAS MANAJEMEN LINTAS BUDAYA

dokumen-dokumen yang mirip
Berbagai macam bentuk penetrasi pasar luar negeri: Ekspor Lisensi Waralaba Perusahaan multinasional Perusahaan global BAB 12.

MSDM INTERNASIONAL. Dosen : Drs. Heru Susilo, M.A. Detha Alfrian Fajri, S.AB., M.M. Disusun oleh : Abiyasa

MANAGEMENT LINTAS BUDAYA

Bab 13 PENGATURAN SDM PADA PERUSAHAAN MULTINASIONAL. (Bagian Kedua)

MANAJEMEN SDM PADA PERUSAHAAN MULTINASIONAL Kerja Yang Secara Mental Menantang Ganjaran Yang Pantas Kondisi Kerja Yang Mendukung Rekan Kerja Yang Mend

MANAJEMEN SUMBER DAYA MANUSIA MSDM INTERNASIONAL. Makalah Untuk Memenuhi Tugas Kelompok 12 Manajemen Sumber Daya Manusia Kelas A

1. 1 LATAR BELAKANG MASALAH

MANAJEMEN LINTAS BUDAYA EMPLOYEE AND EXPATRIATE ASSIGNMENT

BAB V SIMPULAN DAN SARAN. khususnya dalam pencapaian target pendapatan. Deskripsi pekerjaan yang. mencapai tujuan kinerja organisasi.

BAB I PENDAHULUAN. langsung atau Foreign Direct Investment-FDI. Investasi yang dilakukan oleh

MAKALAH INDIVIDUAL MANAJEMEN SUMBER DAYA MANUSIA. TENTANG MANAJEMEN SDM GLOBAL: KEBERAGAMAN SDM YAMAHA MOTOR Co. Ltd

MANAJEMEN OPERASIONAL

BAB I PENDAHULUAN. menjadi semakin penting bagi kelangsungan sebagian besar perusahaan.

MASALAH INTERNASIONAL DALAM AKUNTANSI MANAJEMEN. HARIRI, SE., M.Ak Universitas Islam Malang 2017

BAB I PENDAHULUAN. Sumber Daya Manusia yang berkualitas merupakan modal dasar bagi pembangunan

BAB I PENDAHULUAN. Sejak pasca Perang Dunia II fenomena ekonomi politik nasional ditandai dengan

Total Quality Purchasing

Beri putra putri Anda awal yang tepat untuk masuk universitas

BAB 2 TINJAUAN TEORETIS Perencanaan Pengembangan Karier

Apa Arti Kinerja / Performance?

TUGAS MANAJEMEN LINTAS BUDAYA

EKONOMI DALAM INDUSTRI OLAHRAGA. Oleh: Dr.Or.Mansur,MS

BAB I PENDAHULUAN. Orientasi karir merupakan salah satu bagian penting dalam upaya untuk membantu siswa

MANAJEMEN SDM INTERNASIONAL ANDRI HELMI M, SE., MM BISNIS INTERNASIONAL

MSDM. Performance Management and Appraisal. Peran Strategis MSDM. Peluang yang sama dan Hukum. Mengelola Karir. Menetapkan rencana upah strategis

Oleh: Egrita Buntara Widyaiswara Muda Balai Diklat Kepemimpinan

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah. Pada saat ini sumber daya manusia adalah kunci sukses suatu organisasi

BAB I PENDAHULUAN. global (Nasution, 2015:17). Berubahnya lingkungan global telah membawa

Modul ke: Fakultas EKONOMI & BISNIS. Program Studi MANAJEMEN

BAB I PENDAHULUAN. Pada jaman globalisasi seperti sekarang, persaingan antar perusahaan semakin

BAB I PENDAHULUAN. perhatian peneliti untuk melakukan penelitian. Fenomena inilah yang diangkat

KEBIJAKAN DAN PRAKTEK SUMBER DAYA MANUSIA

MANAJEMEN SDM INTERNASIONAL

1. Mempraktikkan kesadaran budaya dalam praktikkerja. 2. Menerima keragaman budaya sebagai dasar hubungan kerja profesional yang efektif

BAB I PENDAHULUAN. Penataan SDM perlu terus diupayakan secara bertahap dan berkesinambungan

ID No EQUIS Input Proses Output Predecessors. Membuat Visi. 3 N/A Membuat Misi 2

I. PENDAHULUAN. penelitian, kegunaan penelitian, dan diakhiri dengan ruang lingkup penelitian.

BAB 1 PENDAHULUAN. Setiap perusahaan didirikan dengan tujuan tertentu untuk dapat memberikan

BAB I PENDAHULUAN. Perkembangan bisnis dan persaingan antar perusahaan pada masa

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Memasuki Abad 21, perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang

BAB I PENDAHULUAN. Komunikasi menduduki suatu tempat yang utama dalam tatanan

Proposal Bisnis untuk Investor

Kuesioner. Dalam rangka penelitian ilmiah, saya memerlukan informasi untuk mendukung penelitian yang saya

Panduan wawancara Perencanaan Sumber Daya Manusia

Rencana Pemasaran LEO 8 Maret 2014

Fakultas Komunikasi dan Bisnis Inspiring Creative Innovation. Pengembangan Pendidikan dan Pelatihan

Bab 9: PELATIHAN DAN PENGEMBANGAN. Hak cipta 2005 South-Western. Semua hak dilindungi undangundang.

PELUANG BISNIS MAHASISWA DAN PELAJAR

Internasionalisasi Bahasa Indonesia melalui Program Pembelajaran BIPA Berbasis Budaya

BAB I PENDAHULUAN. Pada awal tahun 2000 istilah Hallyu atau Korean Wave menjadi populer di

Kode Etik. .1 "Yang Harus Dilakukan"

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Universitas Bhayangkara Jaya

Kode Perilaku VESUVIUS: black 85% PLC: black 60% VESUVIUS: white PLC: black 20% VESUVIUS: white PLC: black 20%

UNIVERSITAS BRAWIJAYA FAKULTAS ILMU ADMINISTRASI JURUSAN ADMINISTRASI BISNIS

BAB I PENDAHULUAN. hal ini menjadi langkah awal untuk meniti masa depan yang lebih baik. Setiap

KEKUATAN TENAGA KERJA DAN MANAJEMEN SUMBER DAYA MANUSIA TINGKAT GLOBAL. Bisnis Internasional >> Raswan Udjang

BAB I PENDAHULUAN. terhadap tugas yang dikerjakan sehingga tujuan organisasi tercapai.

RENCANA PROGRAM & KEGIATAN PEMBELAJARAN SEMESTER (RPKPS)

Kode Etik Insinyur (Etika Profesi)

BAB II URAIAN TEORITIS. Herfina (2006), Kualitas Sumber Daya Manusia dan Pengaruhnya

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

1. Peran individu dalam organisasi olahraga. 2. Menjelaskan tentang perilaku organisasi.

Pengambilan Keputusan

HOGANDEVELOP INSIGHT. Laporan untuk: John Doe ID: HC Tanggal: 4 November HOGAN ASSESSMENT SYSTEMS INC.

Muhlis Tahir PTIK A 09 UNM

BAB I PENDAHULUAN. kerja selalu dipenuhi oleh para pelamar setiap harinya. Pekerjaan adalah suatu aspek

KARYA ILMIAH LINGKUNGAN BISNIS PELUANG JASA PENYEDIAAN INFORMASI DALAM PERKEMBANGAN IPTEK

PENGABDIAN MASYARAKAT

APA ARTI KINERJA / PERFORMANCE?

MANAJEMEN KINERJA. Paradigma Baru Dalam Memanajemeni. Oleh: Rojuaniah Dosen FE - UIEU

BAB I PENDAHULUAN. Teras, 2009), hlm Sulistyorini, Manajemen Pendidikan Islam: Konsep, Strategi dan Aplikasi, (Yogyakarta:

Kode Etik. .1 "Yang Harus Dilakukan"

BAB I PENDAHULUAN. pergeseran industri dan perubahan perilaku karyawan. Sumber daya manusia (SDM)

BAB I PENDAHULUAN. luar pendidikan formal yang teroganisasi, sistematis, dan berjenjang.

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Keberadaan manusia sebagai sumber daya sangat penting dalam perusahaan, karena

OPQ Profil OPQ. Sales Report. Nama Sdr Sample Candidate. Tanggal 20 September

BAB VI SIMPULAN DAN SARAN

KATA PENGATAR. Kudus, Juni 2013 Penulis, Ttd. Sutiyono, S.Pd.SD NIP

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

Bisnis Internasional. Pengaturan SDM pada Perusahaan Multinasional (MNC) Andi Youna Bachtiar, M.Ikom. Modul ke: Fakultas FEB. Program Studi Akuntansi

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

1. PE DAHULUA. Universitas Indonesia. Perbedaan Fokus..., Marchantia Andranita, FPSIUI, 2008

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. Salah satu bisnis yang bergerak di bidang jasa adalah perbankan. Di era

PERSEPSI MAHASISWA AKUNTANSI TERHADAP UJIAN SERTIFIKASI AKUNTAN PUBLIK (USAP)

Pemahaman mengenai proses perencanaan sumber daya manusia. Pemahaman mengenai proses rekrutmen. Pemahaman mengenai sumber-sumber rekrutmen

Australia Awards Indonesia. Paket Aplikasi Studi Singkat

Ivan Susanto PANDUAN MEMBUKA USAHA TAMAN PENITIPAN ANAK / DAYCARE

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian

PENGARUH KECERDASAN EMOSIONAL (EQ) TERHADAP. PRESTASI KERJA KARYAWAN PADA PT. PLN (Persero) APJ DI SURAKARTA

Menyusun Rencana Bayaran Strategis

Transkripsi:

TUGAS MANAJEMEN LINTAS BUDAYA Kelompok IV 1. Haritsya Khulud 105030300111047 2. Ragil Yuda 1050303001110 3. Wigih Sarono 105030300111063 4. Muhammad Dhyahulhaq 1050303001110 FAKULTAS ILMU ADMINISTRASI UNIVERSITAS BRAWIJAYA MALANG 2011

Bab I PENDAHULUAN Pelatihan dan Pengembangan Tenaga Kerja di Luar Negeri Para tenaga kerja yang bekerja di luar negeri atau biasa disebut sebagai expatriat bermain dalam peran yang semakin penting dalam strategi bisnis internasional dan perkembangan manager global, memerlukan pelatihan yang efektif untuk para expatriate dalam menentukan strategi yang penting untuk kesuksesan secara keseluruhan pada MNC. Meskipun pentingnya penugasan expatriate dan Biaya tinggi yang terkait dengan mereka, menemukan beberapa survey memperlihatkan banyaknya jaringan perusahaan yang satu diantaranya tidak cukup persiapan sebelum kedatangan para expatriat tersebut atau tidak ada pelatihan yang formal semua. Ketika MNC biasanya membantu mengadakan pelatihan, perumahan, dll, dan persiapan tugas untuk syarat pekerjaan mereka, beberapa expatriat ditawari program pelatihan menyeluruh untuk mempertinggi pemahaman budaya luar dan memperbaiki skill cross cultural. Tung(1982) menemukan fakta-fakta dari MNC yang berasal dari Eropa dan Japan lebih sedikit yang sadar tentang pentingnya pelatihan lintas budaya daripada Perusahaan USA. Bagaimanapun survey terbau dari HR manager dari MNC Eropa menemukan hanya 40% dari perusahaan yang ditawarkan beberapa jenis persiapan sebelum pemberangkatan,perusahaan kedua, hanya setengah yang memasukan beberapa elemen orientasi budaya di dalam program mereka (Brewster, 1991). Dalam gambaran terlihat masa suram bila expatriate di survey pd HR manager, dalam beberapa kasus setidaknya memelihara angka inflasi. Pada umumnya, perusahaan melakukan penawaran progam pelatihan lintas budaya untuk persiapan. Banyak program menekankan uraian orientasi area dan bahasa tetapi sangat kecil dalam mengadakan pelatihan skill lintas budaya(downing et al, a994; Hiltrop and Janssens, 1990; Mendenhal et al, 1987). Juga, durasi program latihan lintas budaya relative pendek mengingat banyaknya pengalaman dan skill yang harus dibutuhkan agar dapat sukses dalam penugasan internasional-sebagian besar program memakan waktu 1 minggu atau kurang(baliga and Baker, 1985; Brewster, 1991) Bab II PEMBAHASAN Keadaan dimana banyak para expatriate yang tidak bisa beradaptasi dengan situasi kerjanya akan mengakibatkan kerugian bagi perusahaan-perusahaan yang mereka tempati. Perlu di adanya kerja sama baik dari Negara asal expatriate tersebut maupun dari perusahaan tempat mereka bekerja yang berada di luar negeri. Sehingga beberapa hal perlu di perhatikan dalam membangun situasi kerja yang efektif bagi para expatriate tersebut. Hal-hal tersebut adalah:

A. Memperbaiki Pelatihan Dan Perkembangan Expatriat Metodologi yang tersedia untuk pelatihan dan pengembangan manajer expatriat dapat diklasifikasikan ke dalam empat kategori berdasarkan pendekatan yang digunakan dan isi dari pelatihan (Gudykunst, Guzley, and Hammer, 1996; Gudykunst and Hammer, 1983): 1. Pelatihan yang mendidik tentang budaya umum: Kuliah akademis tentang pengaruh terhadap perilaku 2. Memberi pengalaman tentang budaya umum: Workshop komunikasi lintas budaya, Penugasan tentang budaya kecil 3. Pelatihan yang mendidik tentang spesifikasi budaya: Pengarahan orientasi wilayah, analysis study kasus 4. Memberi pengalaman tentang spesifikas budaya: Simulasi spesifikasi budaya, dan peraturan bermain, serta perjalanan di host country Bagaimana pelatihan expatriate yang berkualitas dapat bertambah baik? Pertama, tampaknya perlu bahwa lintas-budaya program pelatihan menggunakan pendekatan bertingkat untuk merangsang proses belajar di daerah kognitif, afektif, dan perilaku. di samping pendekatan murni didactical atau analitis, sebuah program pelatihan yang komprehensif juga harus mencakup unsur yang mendorong pengalaman belajar, seperti bermain peran, simulasi negosiasi, dan lapangan experinces(baumgarten, 1995;Mendenhall, 1994). Kedua, tampaknya penting bahwa pelatihan tidak dipandang sebagai obat ditembak satu sesaat sebelum keberangkatan.program pra keberangkatan dapat melengkapi expatriat dengan pengetahuan dan keterampilan dasar untuk bertahan hidup, tetapi pelatihan harus berlanjut selama assigment luar negeri untuk membantu ekspatriat mengatasi kesulitan yang dihadapi.(black et al, 1999; Grove and Torborn, 1985) Ketiga, karena keberhasilan penugasan ekspatriat tidak hanya bergantung pada asing sendiri / herselft tetapi juga pada orang-orang setempat ia / dia harus bekerja dengan, perusahaan harus melatih staf negara tuan rumah untuk interaksi lintas budaya serta.(baumgarten, 1995; Dowling et al, 1994) Keempat, beberapastudi empiris menunjukkanbahwapeningkatan realistis pratinjau peker jaan penyesuaian secara keseluruhan dan peformance pekerjaan luar negeri. Memberikanasing dengan dengan expetation pekerjaan yang akurat dan rasayang jelas tentang apa yang dia / dia adalah "masuk ke" tampaknya membantu proses penyesuaian, dan dapat dengan mudah ditambahkan sebagai unsur program pelatihanekspatriat.(feldman and Tompson, 1993; Stroh, Dennis, and Cramer, 1994) Akhirnya, sebagai pasangan sering menghadapi kesulitan penyesuaian lebih serius daripada ekspatriat sendiri lakukan, mereka juga harus dimasukkan dalam pelatihan.(adler, 1997: Briody and Chrisman, 1991: De Cieri et al., 199; Harvey, 1985; Osland, 1995) B. Dukungan Yang Tidak Berhenti Bagi Expatriat dan Keluarga Mereka Dalam tugas luar negeri, ekspatriat dan keluarga mereka harus menemukan cara untuk mengatasi perubahan yang pekerjaan baru dan lingkungan yang asing membutuhkan.

Bahkan persiapan secara menyeluruh untuk tugas tidak dapat sepenuhnya melindungi ekspatriat dari masalah penyesuaian, kebingungan karena perilaku tak terduga, pengalaman ketidakpastian, dan perasaan ditinggalkan dan isolasi. Tugas-tugas internasional sering melibatkan konflik peran antara keluarga dan karier atau antara rumah-harapan dan negaranegara tuan tuntutan pekerjaan. Dibutuhkan ekspatriat sampai 12 bulan untuk merasa nyaman di posisi baru di luar negeri dan dalam lingkungan yang asing (Tung, 1998). Dalam jangka waktu kritis kinerja dan kesejahteraan ekspatriat (dan keluarganya) yang terpengaruh (black dan Mendenhall, 1991; Church, 1982; Grove dan Torbiorn, 1985). Hal ini menunjukkan bahwa perusahaan multinasional harus memberikan dukungan untuk ekspatriat dan keluarga mereka tidak hanya dalam tahap persiapan tetapi juga selama waktu yang sebenarnya di luar negeri. Alasan utama mengapa perusahaan multinasional memberikan ekspatriat mereka dengan dukungan yang berkelanjutan adalah (Fortaine, 1996; Schroder, 1995): (1) meningkatkan kinerja kerja, (2) dukungan adjustmentto kondisi hidup baru dan lingkungan budaya, dan (3) membantu mempertahankan kontak dengan negara asal. Dua gol terakhir berlaku untuk kedua ekspatriat dan keluarga mereka. C. Memperbaiki Prestasi Kerja Ekspatriat menghadapi tantangan bahwa gaya mereka bekerja atau mengelola bervariasi dari apa host-negara rekan digunakan untuk. Untuk mengatur perilaku expatrietes 'untuk lingkungan kerja baru mereka, perusahaan memberikan keterampilan berorientasi dukungan. Praktek umum adalah sebagai berikut (Debrus, 1995; Fontaine, 1996; Haris dan Moran, 1991): pelatihan kerja oleh pendahulunya dari rumah atau negara tuan rumah; berlanjut dengan pendidikan bahasa atau penilaian prestasi sebelum penugasan, dan pelatihan di dalam negeri. Penilaian prestasi memiliki spesifikasi special, tujuan mereka tidak hanya untuk menambah prestasi dalam dukungan penugasan tapi juga membentuk informasi dasar untuk keputusan berkarir setelah kembali ke Negara asalnya. Tapi system penilaian digunakan untuk expatriate oleh MNC memiliki beberapa kelemahan, Contohnya(Gregersen, Black, dan Hite, 1995; Black, Gregersen, dan Mendenhall, 1992; Harvey, 1997); Kriteria kinerja tidak memasukkan tujuan strategis dari tugas dan tujuan tertentu untuk penilaian (evaluasi, pengembangan, kompensasi dll). Kriteria kinerja dan standar tidak disesuaikan dengan konteks lokal dari tugas asing. MNC sedikit mengambil pengaruh kontekstual (kondisi ekonomi, kendala hukum, karyawan dll kualifikasi) menjadi pertimbangan ketika menilai kinerja ekspatriat itu. Penilaian asing cenderung mencakup sejumlah kecil raters kemudian penilaian domestik. Untuk sebagian besar hanya pengawas lokal terlibat, yang mungkin tidak akrab dengan aspek-aspek unik dari tugas internasional. Sebagian besar perusahaan multinasional tidak melakukan penilaian kinerja ekspatriat lebih dari sekali setahun. D. Penyesuaian Kondisi Tempat Tinggal dan Lingkungan Budaya Sebagian besar instrumen dukungan secara tradisional berfokus pada membantu ekspatriat dan keluarga mereka untuk mengatasi kesulitan hidup di sekitarnya. Berbagai instrumen yang digunakan: Relokasi layanan (bantuan dengan paspor, pajak perbankan,, bergerak, dan pengaturan perumahan);

Merancang gaji yang memadai termasuk biaya-of-hidup tunjangan, pajakpemerataan, mengambil-alih pembayaran sewa dll: Mempermudah akses ke jaringan sosial (klub, amal); Orientasi antarbudaya dan pelatihan selama penugasan; Bantuan untuk perkerjaan pasangan suami istri Bimbingan perseorangan atau hubungan pekerjaan MENJAGA HUBUNGAN DENGAN NEGARA RUMAH Tugas di luar negeri memiliki ujung didefinisikan. Ekspatriat akan perlu dan ingin pulang. Oleh karena itu, penerima pengalihan serta keluarga mereka harus menjaga hubungan pribadi dan profesional dalam negeri. Tinggal di kontak. Ikatan keluarga dan persahabatan memudar dan asing menjadi terlupakan di perusahaan rumah sementara di luar negeri. Oleh karena itu perusahaan multinasional menawarkan berbagai layanan untuk membina hubungan yang ada antara ekspatriat dan rumah negara / perusahaan. Umumnya memberikan dukungan meliputi (Wirth, 1992; Kendall, 1981; Blocklyn, 1989): Mailing jurnal profesional dan surat kabar; Informasi tentang perubahan pribadi dan organisasi dalam perusahaan rumah; Kunjungan dari manajer HR; Partisipasi dalam progras melanjutkan pendidikan di negara asal; Sponsor daun rumah; Nominasi seorang mentor dalam perusahaan rumah. Ungkapan "Dari tanda, keluar dari pikiran" menggambarkan perhatian yang paling penting di antara ekspatriat (Adler, 1997; Horsch, 1995; Tung, 1988). Oleh karena itu, pencalonan seorang mentor di perusahaan rumah relevansi tertentu. Seorang mentor yang sebelumnya telah bekerja di negara tuan rumah dan akrab dengan pekerjaan orang asing bisa mengurangi ragu dengan menawarkan informasi dan memperkenalkan ekspatriat kepada rekan-rekan di negara tuan rumah. Mentor adalah orang dari kontak untuk semua pertanyaan yang berkaitan dengan perusahaan induk dan menjaga informasi asing tentang perubahan dan perkembangan sementara ia dan keluarganya di luar negeri. Idealnya, mentor adalah manajer tingkat senior yang memiliki koneksi dan pengaruh untuk menemukan pekerjaan yang cocok untuk yang kembali tersebut. Selain itu mentor harus memastikan bahwa kebutuhan ekspatriat adalah dipertimbangkan dalam personil Bab III KESIMPULAN Penugasan para tenaga kerja ke luar negeri harus memperhatikan beberapa hal yang sangat penting dalam mencapai ke efektifan pekerjaan. Apabila para tenaga kerja yang bekrja di luar negeri atau biasa disebut expatriat tidak bisa beradaptasi dengan lingkungan dan pekerjaan mereka tentu akan merugikan perusahaannya. Oleh sebab itu perlu adanya pelatihan dan persiapan yang matang kepada para expatriate tersbut, baik perusahaan di host

country maupun home country. Pelatihan pun harus disusun program-progam yang memang dibutuhkan para expatriate bila mereka berada di Negara lain. Selama ini masih banyak perusahaan-perusahaan asing atau MNC yang kesadaran dalam melakukan pelatihan masih kurang. Mereka jarang sekali memberikan pelajaran dalam lintasbudaya dan pengaruh budaya terhadap perilaku. Perlu bahwa lintas-budaya program pelatihan menggunakan pendekatan bertingkat untuk merangsang proses belajar di daerah kognitif, afektif, dan perilaku. di samping pendekatan murni didactical atau analitis, sebuah program pelatihan yang komprehensif juga harus mencakup unsur yang mendorong pengalaman belajar, seperti bermain peran, simulasi negosiasi, dan lapangan experinces. Tampaknya penting bahwa pelatihan tidak dipandang sebagai obat ditembak satu sesaat sebelum keberangkatan.program pra keberangkatan dapat melengkapi expatriat dengan pengetahuan dan keterampilan dasar untuk bertahan hidup, tetapi pelatihan harus berlanjut selama assigment luar negeri untuk membantu ekspatriat mengatasi kesulitan yang dihadapi. Selain itu beberapa hal perlu di perhatikan dalam membangun situasi kerja yang efektif bagi para expatriate tersebut. Seperti dukungan yang berlanjut kepada expatriate dan keluarganya, memperbaiki prestasi kerja, penyesuaian lingkungan hidup dan budaya lingkungan. Ekspatriat akan perlu dan ingin pulang. Oleh karena itu, penerima pengalihan serta keluarga mereka harus menjaga hubungan pribadi dan profesional dalam negeri. Dengan begitu para expatriate itu bekerja dengan efektif dan prestasi mereka akan terus meningkat.