ANALISIS ORBIT SATELIT GSO
|
|
|
- Sugiarto Sutedja
- 9 tahun lalu
- Tontonan:
Transkripsi
1 ANALISIS ORBIT SATELIT GSO Abd. Rachman dan Neflia Peneliti Pusat Pemanfaatan Sains Antariksa, LAPAN ABSTRACT Analysis of GSO satellite has been done by using data from 57 satellites. It contains analysis on distortion of satellite's orbit due to perturbation forces and analysis on the station keeping maneuvers which have been done to keep the orbit on its ideal condition. Result of the analysis shows that it is not always a satellite located near the stable points (79 E dan E) will oscillate about that longitudes. Ten among the postoperational satellites do oscillate about the stable points but the rest of them drift their longitudes from 0 to 360. The analysis also shows that orbital prediction using SDP4 model can only be accurate for prediction of inclination. Prediction of longitude, semimajor axis, and period based on TLE data are very sensitive to the related TLE. ABSTRAK Dengan menggunakan data dari 57 satelit telah dibuat analisis orbit satelit GSO. Analisis ini meliputi analisis terhadap perubahan inklinasi dan bujur satelit akibat gaya-gaya pengganggu dan analisis pengendalian orbit yang dilakukan untuk menjaga orbit satelit tersebut pada kondisi idealnya. Hasil analisis antara lain menunjukkan bahwa tidaklah mutlak bagi satelit - satelit yang berada di sekitar titik kescimbangan (79 BT dan BT) untuk berosilasi di sekitar titik tersebut. Di antara satelit yang tidak beroperasi lagi 10 diantaranya berosilasi di sekitar titik keseimbangan sedang selebihnya bergeser bujurnya dari 0 hingga 360. Diketahui pula bahwa prediksi orbit dengan model SDP4 hanya bisa dikatakan akurat untuk prediksi inklinasi. Hasil prediksi bujur, setengah sumbu panjang, dan periode memakai data TLE sangat sensitif terhadap TLE bersangkutan. Kata kunci: Satelit, Orbit Geostasioner, Gangguan Orbit, TLE, SDP4 1 PENDAHULUAN Satelit yang berada pada orbit geostasioner (GSO, geostationary orbifj idealnya memiliki inklinasi nol, eksentrisitas nol, dan terletak pada bujur yang tetap. Pada kenyataannya, kondisi ideal ini tidak mungkin karena adanya berbagai gangguan orbit. Gangguan orbit ini mengakibatkan bergesernya parameter orbit dari kondisi idealnya. Penyebab utama 27
2 gangguan ini mulai dari yang terbesar adalah massa Bulan, massa Matahari, ketidakbulatan Bumi, dan radiasi Matahari (Morgan, 1989). Menyimpangnya satelit dari orbit yang direncanakan tentu saja bukan hal yang diharapkan. Karena itu untuk menjaga agar satelit tetap menjalankan misi sesuai objektifnya, secara rutin dilakukan manuver pengendalian satelit {station keeping maneuver). Manuver ini akan dilakukan apabila dari hasil penentuan orbit dan propagasi efemeris diidentifikasi satelit akan menyimpang dari kondisi idealnya melewati limit orbit yang telah ditetapkan (Wibisono, 2002). Satelit GSO memegang peran penting terutama dalam dunia komunikasi dewasa ini. Kebanyakan satelit komunikasi adalah satelit GSO. Satelit yang dimiliki Indonesia (sebelum diluncurkannya LAPAN-TUBSAT) seluruhnya adalah satelit GSO baik yang masih beroperasi maupun yang tidak lagi. Dengan demikian, pemahaman yang baik tentang orbit satelit GSO termasuk gangguan dan pengendalian orbitnya sangat diperlukan untuk menjelaskan perilaku orbit satelit-satelit GSO tersebut. Tujuan penelitian ini adalah memahami pengaruh lingkungan antariksa terhadap perilaku orbit satelit GSO berikut aktivitas pengendaliannya. Hasil penelitian ini diharapkan dapat membantu dalam menjelaskan permasalahan orbit yang dialami satelit GSO. 2 DATA DAN PENGOLAHANNYA 2.1 Perolehan Data Sebanyak 57 buah satelit diteliti dalam penelitian ini (Tabel 3-1). Data orbit satelit-satelit tersebut diperoleh dari NORAD TLE {Space Track, 2006) yang di-download secara ascending menurut waktu. Data masing-masing satelit disimpan dalam file teks misalnya file telkoml.txt yang berisi TLE satelit Telkom 1 dari tanggal 12 Agustus 1999 (tanggal peluncuran) hingga 8 Nopember 2006 (tanggal data di-download). Tabel 2-1: DAFTAR SATELIT YANG DITELITI AnikF2 Apple Arabsat 1A Arabsat IB GMS2 GMS 3 GMS 4 GMS 5 Insat 1A Insat IB Insat 1C Insat 2A Intelsat 4-F8 Intelsat 502 Kiku2 LES8 Palapa 2 Palapa Bl Palapa B2 Palapa B2P STTW4 STTWT2 TDRS6 Telkom 1 Arabsat 1DR GOES 4 AKM Insat 2B Meteosat 3 Palapa B2R Telkom 2 ATS1 GStar 1 Insat 2C Olympus 1 Palapa B4 Westar 3 Ayame 2 GStar 2 Insat 2D Optus Al Palapa CI Yuri Chinasat 5 Garuda 1 GStar 3 HGS 1 Intelsat 1-F1 Intelsat 2-F1 Optus A2 Optus A3 Palapa C2 Sakura 2A GMS 1 Indostar 1 Intelsat 2-F2 Palapa 1 STTW3 28
3 NORAD TLE [North American Aerospace Defense Command Two Line Eiementy dipublikasikan di internet melalui NASA/Goddard dan dapat diakses melalui atau Satu 'set elemen TLE' (disingkat elset) terdiri dari dua baris data dengan format khusus. Di dalam sebuah elset tersimpan berbagai data mengenai orbit satelit bersangkutan (Rachman, 2007). 2.2 Pengolahan Data Proses pengolahan data dilakukan dengan memanfaatkan program NORAD TLE Translation yang dikembangkan menggunakan SGP4 Pascal Library (Kelso, 1999). Masukan program ini adalah TLE satelit sedang keluarannya adalah parameter-parameter orbit (yang diekstrak dari TLE) yang masing-masing tersusun dalam kolom tertentu sehingga memudahkan pengolahan data selanjutnya. Di samping itu beberapa parameter turunan (yang tidak ada dalam TLE) juga dapat dihitung misalnya bujur satelit. Program ini mampu menampilkan keluarannya dalam bentuk tabel dan grafik (Rachman, 2007). Program kedua adalah program station keep yang penulis kembangkan untuk menghitung berbagai besaran yang terkait dengan gangguan orbit satelit dan pengendalian orbitnya. Masukan program ini adalah toleransi inklinasi, bujur yang dipertahankan, toleransi bujur, dan tanggal. Sedang keluarannya adalah presesi akibat Matahari, presesi akibat Bulan, presesi akibat Matahari dan Bulan, interval waktu manuver pengendalian utaraselatan, besar kecepatan yang dibutuhkan untuk tiap manuver pengendalian utara-selatan, percepatan geser [drift acceleration) akibat kelonjongan Bumi, laju geser maksimum akibat kelonjongan Bumi, perubahan kecepatan untuk tiap manuver pengendalian timur-barat, interval waktu manuver pengendalian timur-barat, dan besar kecepatan yang dibutuhkan untuk tiap manuver pengendalian timur-barat. Program ketiga adalah GSO Prediction yang penulis kembangkan menggunakan SGP4 Pascal Library (Kelso, 1999). Program ini menggunakan model SDP4 dengan masukan data TLE sedang keluarannya adalah inklinasi, bujur, eksentrisitas, setengah sumbu panjang, ketinggian, dan periode. Prediksi memakai program GSO Prediction untuk satelit yang masih beroperasi hanya berlaku sebelum dilakukan manuver pengendalian orbit berikutnya. Untuk satelit yang tidak lagi beroperasi, lama prediksi bisa mencapai beberapa tahun. Dalam penelitian ini, program NORAD TLB Translation digunakan untuk mengetahui dinamika inklinasi dan bujur satelit. Dari profil inklinasi dan bujur tersebut dapat diketahui apakah satelit yang ditinjau masih dikendalikan atau tidak lagi. Apabila nilai inklinasi masih sekitar nol derajat dan bujur masih tetap di sekitar suatu nilai berarti satelit masih dikendalikan. Dapat diketahui pula berapa nilai bujur satelit yang 29
4 dipertahankan (bagi satelit yang masih beroperasi) atau semula dipertahankan (bagi satelit yang tidak lagi beroperasi). Program station keep digunakan dalam analisis pengaruh gaya-gaya perturbasi terhadap inklinasi dan bujur satelit sehingga terbentuk profil inklinasi dan bujur sedemikian rupa. Program GSO Prediction digunakan untuk mengkaji prediktibilitas orbit. Karena program ini tidak memperhitungkan faktor pengendalian orbit maka prediksi hanya dapat dilakukan untuk satelit yang tidak lagi dikendalikan. 3 HASIL DAN PEMBAHASAN 3.1Hasil Tabel 3-1 memperlihatkan hasil pengolahan data TLE terhadap 57 buah satelit GSO yang ditinjau. Kolom dinamika inklinasi menunjukkan perubahan inklinasi satelit dan waktu yang diperlukan. Sebagai contoh, satelit nomor 6 di Tabel 3-1 yakni ATS 1 mengalami kenaikan inklinasi dari 0 hingga 15 dalam waktu 28 tahun kemudian mengalami penurunan inklinasi dari 15 hingga 10 dalam waktu 106 tahun. Semula ATS1 mengorbit di bujur 211 BT namun kemudian bujurnya bergeser dari 0 hingga 360. Pergeseran membentuk siklus ini berlangsung hingga data terakhir yang diperoleh. Apabila ditemukan kelainan pada profil inklinasi maupun bujur maka dikolom bersangkutan diberikan keterangan "anomali" seperti yang dialami inklinasi satelit nomor 19 yakni HGS 1 yang semula bernilai 56 lalu secara tiba-tiba menurun drastis menjadi 8. Lebih detil tentang profil parameter orbit satelit yang ditinjau dapat dilihat dari grafik profil tersebut yang ditampilkan oleh program NORAD TLE Translation. Tabel 3-1: HASIL PENGOLAHAN DATA No* l Nasxta Satelit AnikF2 Apple Arabsat 1A Arabsat IB Arabsat 1DR ATS1 Ayame 2 Chin as at 5 Garuda 1 GMS 1 GMS2 GMS 3 GMS 4 GMS 5 Data awal 17-Jul Jun Feb Jun Jul Dec Feb May Feb Jul Aug Aug Sep Mar-1995 Data Akhir 8-Jul May Nov Nov Nov Nov Nov Nov Nov Dinamika Inklinasi pj 0-14 (24thn) 0-11 (16 thn) 0-10 (14 thn) 0-10 (13 thn) (28, 10.6 thn) 0-8(10 thn) (21 thn) 0-14 (23 thn) 0-12 (20 thn) 0-10 (12 thn) 0-5 (7 thn) Dinamika 20, , , , , , , 145, 120, , 120, , 120, ,
5 15. GOES 4 AKM 8-Sep Mar (24 thn) GStar 1 8-May May (7 thn) 257, GStar2 GStar 3 29-Mar-1986 ll-sep May May (10 thn) 0-12 (17 thn) 255, 235, , HGS 1 25-Dec May ,8-0 (anomali) 205, 298, Indostar 1 12-Nov Nov (1.5 thn) Insat 1A 10-Apr () () 22. Insat IB 31-Aug Nov (16 thn) 74, 94, Insat 1C 27-Jul (17 thn) 93.5, Insat 2A Insat 2B 10-Jul Jul Nov Nov (9 thn) (6 thn) 74, 48, ,112, Insat 2C 7-Dec (5 thn) 94, 48, Insat 2D 3-Jun Nov (9 thn) (anomali) Intelsat 1-F1 Intelsat 2-F1 7-Sep Jul May May (27, 12 thn) anomali (data kurang) anomali Intelsat 2-F2 Intelsat 4-F8 11-Jan Jan Nov Nov (25, 10 thn) 0-12 (16 thn) () 174, Intelsat Dec May (16 thn) 320, Kiku2 23-Feb (29 thn) 130, LES8 24-Jan May-2005 anomali anomali Meteosat 3 Olympus 1 21-Jun Jul Jun May (13 thn) 0-9 (13 thn) 360, 310,285, , Optus Al Optus A2 28-Aug Nov Nov Feb (13 thn) 0-9 (13 thn) 160, , 164, Optus A3 Palapa 1 15-Sep Feb Nov Apr (10.5 thn) 0-13 (20 thn) 164, 156, 152, 164, () 41. Palapa 2 26-Dec Mar (19 thn) () 42. Palapa B1 19-Jun Jun (16.5 thn) 108, 118, 134, Palapa B2 6-Feb Nov-1984 anomali anomali 44. Palapa B2P 22-Mar May (9 thn) 113, 144, Palapa B2R l-apr Apr (5 thn) 108, Palapa B4 14-May Jun (1.5 thn) 118, Palapa CI l-feb May , 0 (anomali) 150, 50, Palapa C2 Sakura 2A 15-May Feb Jun Nov (19.5 thn) , 128, STTW3 24-Dec Nov (12 thn) 110.5, STTW4 5-Feb (11.5 thn) 98, STTWT2 8-Apr Nov (22 thn) 125, TDRS6 13-Jan Nov ,0-7 (anomali) 313, 186 (anomali) 54. Telkom 1 12-Aug Jun Telkom 2 16-Nov Jun Westar 3 24-Aug May (17 thn) 269, Yuri 9-Apr Nov (22 thn) 110,
6 3.2 Pembahasan Idealnya orbit satelit GSO harus memenuhi tiga persyaratan sebagai berikut (Roddy, 2001): Satelit pada orbit tersebut harus bergerak ke arah timur [eastward) dengan kecepatan revolusi yang sama dengan kecepatan rotasi Bumi. Dengan kata lain periode orbit satelit sama dengan rotasi Bumi yakni 23 jam, 56 menit, 4 detik waktu Matahari rata-rata. Orbit harus lingkaran dengan setengah sumbu-panjang sekitar km. Ini berarti ketinggian satelit sekitar km dari permukaan Bumi. Inklinasi orbit harus nol. Ini berarti orbit satelit terletak pada bidang ekuator Bumi. Secara prinsip, hanya ada satu orbit yang memenuhi persyaratan tersebut yakni orbit yang memenuhi persamaan P - 2, ^ -,3-1) dengan P adalah periode orbit, a adalah setengah sumbu-panjang, dan \x adalah konstanta gravitasi Bumi (besarnya * m 3 dtk 2 ) dengan periode 23 jam, 56 menit, 4 detik dan terletak pada bidang ekuator Bumi. Orbitnya yang unik menyebabkan satelit GSO terlihat tetap di atas sebuah lokasi di ekuator. Ini memungkinkan antena stasiun di Bumi dapat tetap mengarah ke satelit tanpa melakukan penjejakan [tracking). Seperti halnya jenis orbit yang lain, orbit GSO juga mengalami gangguan akibat gaya-gaya perturbasi. Tabel 3-2 memperlihatkan perturbasi utama pada orbit GSO dengan gangguan terbesar karena benda ketiga (Matahari dan Bulan) diikuti gangguan akibat ketidakbulatan Bumi lalu gangguan akibat tekanan Matahari (Morgan, 1989). Dari tabel terlihat perbandingan besar kebutuhan bahan bakar [hydrazine) untuk mengoreksi gangguan akibat benda ketiga (13% massa wahana) dengan gangguan lainnya. Tabel 3-2: PERTURBASI UTAMA PADA ORBIT SATELIT GSO Peayekab Efek Orbit Magnitude Bervaria&i dexlgan &tmtuha* 7-tlwx AV lydbrazin* Bulan-Matahari Ketidakbulatan Bumi Tekanan Matahari Osilasi utaraselatan Pergeseran timur-barat Osilasi timur-barat Inklinasi Setengah sumbu panjang Eksentrisi tas per thn ±0.002 per hari2 Tahun Bujur Luas per massa 320 m/dtk 15m/dtk
7 Gangguan yang dialami satelit bisa darj Bulan saja, Matahari saja, atau kombinasi Bulan dan Matahari. Tabel 3-2 memperlihatkan bahwa efek dari gangguan ini adalah berubahnya inklinasi orbit satelit sekitar 0.85 /thn. Jika tidak dilakukan koreksi orbit, gangguan ini bersama dengan gangguan akibat ketidakbulatan bentuk Bumi akan mengakibatkan berubahnya inklinasi dari 0 hingga dalam 26.6 tahun lalu kembali ke nol dan siklus pun terulang kembali (Roddy, 2001). Besar presesi yang diakibatkan oleh Matahari dan Bulan pada satelit GSO terlihat pada Gambar 3-1 kiri. Presesi ini bernilai dari 0.75 hingga 0.94 per tahun tergantung dari nilai deklinasi Bulan. Besarnya percepatan geser [drift acceleration) yang dialami orbit satelit akibat kelonjongan ekuator Bumi diperlihatkan pada Gambar 3-1 kanan. Tabel 3-3: DAFTAR SATELIT YANG MASIH DIKENDALIKAN HINGGA DATA TERAKHIR YANG DIPEROLEH Noma AnikF2 Garuda 1 Palapa C2 Bujur f Nama Telkom 1 Telkom 2»ujur { \ Hasil pengolahan data dengan jelas memperlihatkan bagaimana perubahan inklinasi dan bujur satelit ketika tidak dikendalikan lagi (Tabel 3-1). Sebagian besar satelit pada Tabel 3-1 adalah satelit yang tidak dikendalikan lagi. Hanya lima buah satelit yang masih dikendalikan seperti terlihat di Tabel 3-1. Tabel ini khusus memperlihatkan satelit-satelit yang masih dikendalikan hingga data terakhir yang diperoleh. Semuanya adalah milik Indonesia kecuali Anik F2. K i i! \j \j~ lb.1. J T I l,i, i i 0 X D Bujur timur f) Gambar 3-1: Gangguan pada orbit satelit GSO akibat Matahari dan Bulan (kiri) dan kelonjongan ekuator Bumi (kanan) 33
8 Untuk menjaga agar inklinasi tidak melebihi batas yang diperbolehkan maka dilakukan manuver pengendalian orbit yang dinamakan pengendalian utara-selatan [north-south station keeping). Tekniknya dengan memberikan impuls (memakai thruster) pada waktu dan arah yang tepat untuk mengembalikan satelit pada inklinasi nol. Karena benda ketiga cenderung menggerakkan normal orbit satelit ke arah Titik Aries (asensiorekta 0 ) maka manuver inklinasi menggerakkan normal orbit ke arah yang berlawanan (asensiorekta 180 ). Jika inklinasi nol telah didapatkan maka kembali impuls diberikan pada arah berlawanan dengan semula untuk menghentikan perubahan inklinasi. Batas toleransi inklinasi yang dibolehkan sebelum dilakukan pengendalian utara-selatan ini adalah ±0.1 untuk satelit pada C band dan ± 0.05 untuk satelit pada Ku band. Pengendalian inklinasi ini adalah pengendalian yang paling banyak memerlukan bahan bakar di banding pengendalian elemen orbit lainnya. Efek samping dari pengendalian utara-selatan adalah terjadinya perubahan eksentrisitas orbit (Morgan, 1989). Gambar 3-2 menunjukkan interval waktu manuver pengendalian utara-selatan dan besar tambahan kecepatan yang diperlukan ditiap manuver. 100 BE ----JX; \ I 60 > < 40 " D D.B Tolaranai bujur (") 20 S i i i i FJ.3 CM B B Toleransi bujur (*) Gambar 3-2: Interval waktu manuver pengendalian orbit untuk satelit GSO (kiri) dan besar tambahan kecepatan yang dibutuhkan untuk pengendalian orbit tersebut (kanan) akibat gangguan Matahari dan Bulan Telah dikemukakan bahwa satelit GSO juga mengalami gangguan akibat ketidakbulatan bentuk Bumi. Faktor ini bisa berasal dari kepepatan {flattening] kutub-kutub Bumi maupun dari kelonjongan ekuator Bumi. Lebih pendeknya radius kutub Bumi ( km) dari pada radius ekuatornya ( km) sebesar 21 km mengakibatkan satelit merasakan adanya tarikan tambahan dari equatorial bulge Bumi tersebut. Akibatnya, secara umum, tarikan gravitasi pada satelit tidak mengarah tepat ke pusat Bumi 34
9 tapi agak tertarik ke arah equatorial bulge tersebut. Efek kepepatan ini pada satelit ada dua (Morgan, 1989): Bertambahnya radius orbit karena adanya penambahan percepatan gravitasi pada satelit. Jika inklinasi satelit tidak sama dengan nol maka orbit normal satelit (garis yang tegak lurus terhadap bidang orbit) akan mengalami presesi mengitari sumbu rotasi Bumi. Ini terjadi karena adanya gaya yang menarik satelit menuju bidang ekuator. Kombinasi dari gangguan ini dengan gangguan benda ketigalah yang dikoreksi dengan pengendalian utara-selatan (telah dijelaskan sebelumnya). Secara lebih tepat, Bumi digambarkan berbentuk triaxial ellipsoid dengan kelonjongan ekuator yang cukup kecil (beda titik-titik sepanjang ekuator kurang dari 100 m). Kendati demikian, perbedaan yang kecil ini ternyata mengakibatkan tarikan gravitasi tidak mengarah tepat ke pusat Bumi (atau sumbu rotasi) melainkan agak tertarik ke arah equatorial bulge yang terdekat. Ini menimbulkan komponen gaya yang bekerja searah atau berlawanan arah dengan kecepatan satelit. Akibatnya percepatan geser (drift acceleration) satelit akan mengarah ke sumbu pendek elips terdekat. Pergeseran ini tiada lain adalah pergeseran bujur satelit yang mengarah ke dua titik yang hampir tepat berseberangan yakni 79 BT (dekat negara Sri Lanka) dan 252,4 BT (di Samudera Pasifik dekat pantai Ekuador). Satelit yang berada pada kedua titik tadi akan tetap berada pada tempatnya sedang satelit yang berada di sekitar kedua titik tadi akan berosilasi di sekitar titik tersebut sedang satelit di tempat lainnya akan bergeser ke salah satu dari dua titik tadi. Percepatan yang dialami ke arah titik-titik keseimbangan di atas (79 BT dan BT) diperlihatkan pada Gambar 3-1 kanan. Percepatan ini bernilai dari deg/day 2 hingga deg/day 2 tergantung dari bujur satelit bersangkutan. Untuk mengoreksi pergeseran bujur satelit, diberikan impuls pada satelit tiap 2 atau 3 minggu dengan arah berlawanan dengan arah pergeseran. Manuver ini dinamakan pengendalian timur-barat (east-west station keeping). Batas toleransi pergeseran bujur yang dibolehkan sebelum dilakukan pengendalian timur-barat ini adalah ±0.1 untuk satelit pada C band dan ±0.05 untuk satelit pada Ku band (sama dengan batas toleransi pengendalian utara-selatan). Pengendalian bujur ini adalah pengendalian yang paling penting dilakukan. Sama halnya dengan pengendalian utaraselatan, efek samping dari pengendalian timur-barat adalah berubahnya eksentrisitas satelit (Morgan, 1989). Gambar 3-3 menunjukkan interval waktu manuver pengendalian timur-barat dan besar tambahan kecepatan yang diperlukan di tiap manuver. 35
10 ISO «100 I an, drift SCCBI =0.001 Vday : dnl accel = O.OOOS'/day 2 " t.-.^^jfr...^ ^. i'""" :! i :-, i ^" : I" > < 0.3,...-- dirt accel = U.HWoaf 1 drift sccel = d«y 2 drift sccel = Vd«j! : v : : so fy ' > "-- ; \ i Toleransi bujur f) r i! i i i Toleransi bujur [") Gambar 3-3: Interval waktu manuver pengendalian orbit untuk satelit GSO (kiri) dan besar tambahan kecepatan yang dibutuhkan untuk pengendalian orbit tersebut (kanan) akibat gangguan kelonjongan bentuk Bumi Profil bujur satelit yang diperoleh dalam penelitian ini menunjukkan bahwa tidak mutlak bujur satelit yang tidak dikontrol lagi akan berosilasi di sekitar titik keseimbangan (79 BT dan BT). Banyak satelit yang bujurnya bergeser dari 0 hingga 360. Contohnya adalah Palapa B2P seperti terlihat pada Gambar 3-4. Daftar satelit yang berosilasi di sekitar 79 BT diperlihatkan pada Tabel 3-4. Perhatikan bahwa bujur awal pada Tabel 3-4 hingga Tabel 3-6 hanya menunjukkan nilai bujur sebelum terjadi osilasi sehingga tidak mutlak menyatakan bujur operasional satelit. Daftar satelit yang berosilasi di sekitar BT diperlihatkan pada Tabel 3-5. Daftar satelit yang bujurnya bergeser dari 0 hingga 360 (berputar mengelilingi Bumi) diperlihatkan pada Tabel 3-6. AGILA 1 {PALAPA B2P) Time [year] O4.0O Gambar 3-4: Profil bujur satelit Palapa B2P yang kini bergeser dari 0 hingga
11 Tabel 3-4: SATELIT YANG BEROSILASI DI SEKITAR 79 BT Kama Yuri Insat 1 A Insat 1 B Insat 1 C Bujur awal ( Q ) Nama Insat 1 D STTW3 STTW4 STTWT2 Bujur&waJn Tabel 3-5: SATELIT YANG BEROSILASI DI SEKITAR BT :i5i:i?j i$^ HGS 1 Intelsat 1-F1 HHHHBII Tabel 3-6: SATELIT YANG BUJURNYA BERGESER DARI 0 HINGGA 360 I^^^PiS^iis^ii^ii^ii i Apple Arabsat 1A Arabsat IB Arabsat 1DR ATS1 Chinasat 5 GMS 1 GMS2 GMS 3 GMS 4 GMS 5 GOES 4 AKM GStar2 Insat 2A Insat 2B Insat 2C l^islll^i^^isp Insat 2D Intelsat 2-F2 Intelsat 4-F8 Intelsat 502 Kiku2 Meteosat 3 Olympus 1 Optus Al Optus A2 Palapa 1 Palapa 2 Palapa B1 Palapa B2P Palapa B4 Sakura 2A Westar 3 li^iril^pyi Berikut ini analisis terhadap pengaruh gaya-gaya perturbasi terhadap inklinasi dan bujur satelit STTW 3 (NORAD number 19710). Diasumsikan bahwa satelit ini dipertahankan pada bujur BT dengan batas toleransi inklinasi dan bujur sama yakni ±0.1. Profil inklinasi dan bujur satelit yang dihasilkan program NORAD TLE Translation (berdasarkan data) diperlihatkan pada Gambar
12 19SC.0Q * W2.Q0 IWCO C04DO Gambar 3-5: Profil inklinasi dan bujur satelit STTW 3 Program station keep dengan masukan toleransi inklinasi sebesar 0.1, bujur yang dipertahankan 110.5, toleransi bujur 0.1, dan tanggal 4 Januari 1999 memberikan hasil sebagai berikut: presesi akibat Matahari dan Bulan /thn. interval waktu manuver pengendalian utara-selatan hari. kecepatan yang dibutuhkan untuk tiap manuver pengendalian utaraselatan m/dtk. percepatan geser {drift acceleration) akibat kelonjongan Bumi /hari 2. interval waktu manuver pengendalian timur-barat hari. kecepatan yang dibutuhkan untuk tiap manuver pengendalian timur-barat m/dtk. Program GSO Prediction dengan memakai TLE tanggal 18 April 2000 (setelah satelit tidak dikendalikan) memberikan inklinasi dan bujur yang ditunjukkan pada Gambar 3-6. \ ^ >? ^>; ndksi sow -*- nu n > - " : Pri**3G*4 -*-D*U TIE ^ > ^ r 2001 N> N02 OC Z»3M SOW BD I0O5 00 3CM 03 JOO* 00 20M 00 Gambar 3-6: Hasil prediksi inklinasi dan bujur untuk satelit STTW 3 dibandingkan dengan data Perhitungan pada tanggal 4 Januari 1999 (ketika STTW 3 masih dikontrol) memberikan presesi akibat Matahari dan Bulan sebesar /thn. Ini akan mengakibatkan kenaikan inklinasi sekitar 7.5 dalam waktu 10 tahun jika tidak dilakukan pengendalian utara-selatan. Untuk menjaga 38
13 inklinasi tetap di bawah 0.1 diperlukan manuver pengendalian utara-selatan dengan periode sekitar 95 hari dengan penambahan kecepatan sebesar m/dtk di tiap manuver. Dari data diketahui bahwa sejak awal tahun 1995 inklinasi satelit tidak dikontrol lagi sehingga inklinasinya meningkat menjadi sekitar 7.5 pada tahun 2005 (Gambar 3-5 kiri). Di sini terlihat ada kecocokan antara data dan teori yang dipahami. Model SDP4 dengan masukan TLE tanggal 18 April 2000 dapat memprediksi inklinasi dengan baik hingga akhir tahun 2002 (Gambar 3-6 kiri). Nilai negatif pada percepatan geseryakni /hari 2 berarti satelit mengalami percepatan ke arah barat ke arah titik 79 BT. Ketika satelit tidak dikendalikan lagi geraknya ia akan bergerak menuju titik tersebut, ketika mencapai titik tersebut laju geser yang masih dimiliki ketika itu mengakibatkan satelit terus bergerak melewati titik tersebut kemudian laju gesernya mulai berkurang hingga mendekati nol di sekitar bujur 40 BT. Satelit kemudian bergeser kembali ke arah bujur BT dan siklus berulang. Untuk menjaga bujur tetap di antara dan BT diperlukan manuver pengendalian timur-barat dengan periode manuver sekitar 30 hari dengan tambahan kecepatan sebesar m/dtk di tiap manuver. Dari data diketahui bahwa sejak akhir 1999 bujur satelit tidak dikontrol lagi sehingga bujur satelit bergeser hingga sekitar 40 BT kemudian berbalik menuju BT kembali (Gambar 3-5 kanan). Di sini terlihat ada kecocokan antara data dan teori yang dipahami. Model SDP4 dengan masukan TLE tanggal 18 April 2000 tidak cukup baik memprediksi bujur satelit meskipun berhasil diperoleh profil yang mirip dengan data (lihat Gambar 3-6 kanan). Prediksi bujur, setengah sumbu panjang, dan periode satelit memakai program GSO Prediction (berdasarkan model SDP4) sangat sensitif terhadap masukan data TLE-nya. Harus dimasukkan TLE yang "tepat" agar diperoleh hasil prediksi yang logis. Sebagai contoh, prediksi bujur dan setengah sumbu panjang satelit STTW 3 memakai TLE tanggal 18 April 2000 pukul 17:10:01 UTC memberikan hasil seperti terlihat pada Gambar 3-7. Sedang prediksi bujur dan setengah sumbu panjang satelit STTW 3 memakai TLE tanggal 18 April 2000 pukul 22:30:20 UTC memberikan hasil seperti terlihat pada Gambar 3-8. Kedua TLE memberikan hasil prediksi yang sangat jauh berbeda meski selisih waktu antara keduanya tidak lebih dari 5 V2 jam. Gangguan tekanan Matahari adalah gangguan yang paling kecil dari tiga jenis gangguan orbit yang dialami satelit GSO (Tabel 3-2). Efek dari gangguan ini adalah berubahnya eksentrisitas satelit. Dibanding parameter orbit lainnya, eksentrisitas merupakan elemen orbit yang paling mudah untuk dikendalikan. Sering pengendalian eksentrisitas dapat digabung dengan pengendalian bujur dengan sedikit bahkan tanpa penambahan bahan bakar (Morgan, 1989). 39
14 ; : \ PrM*Ji SOW ~»~ Data TLE 6 ( « I V 4% A'v V""' '""* *»^V V : i / f jf I : i f * ii * \\... if...* $'... ; m J''. : / i V 1 \ -\ * wr " ' 1 %'i! iv-'/-i :' % I; Prittn SOP4 -*- DM n± /"\ ' ' >' -v : t : ;/ \ i! \ I / \ : V f* \ :»\ m^ * V i ffi '\ %\ /'";' V" V- /'' ; «, // -: ;-V- W : v v O0 3006JOO OOB00 Gambar 3-7: Prediksi bujur dan setengah sumbu panjang satelit STTW 3 dengan masukan TLE tanggal 18 April 2000 pukul 17:10:01 UTC Timetyttrl 340J0O ;eono. :«o.oo 240jOO a 220 on X S 160 HO CC 120 JOO B0 JOO \ : ;.... \.;.\ ;.:.. : \ "'i : ', '"::'s^r : S : : ". -!.- : \ -:. \fr... x \. :; " % : : : :...'i ': J 2003 :.\ GO : : : : : : V ;.-.-N \ --; ;-^Xji^^fe. Tine [year] - - Predikai SOP* - * - Data TLE v...!\ \ ; \..\: 5..V. A,.; ;...\. \ \ *. r - " \! - : V s ^^^. s jr... N. - JF Prniikji S0P4 - * - Date TLE / \ : A / - \ / v '< ; y ; - \ > 'z:izz ZXJ ":S?z T/z: "^ :i\ -r-v E M Gambar 3-8: Prediksi bujur dan setengah sumbu panjang satelit STTW 3 dengan masukan TLE tanggal 18 April 2000 pukul 22:30:20 UTC Time [reer 40
15 4 KESIMPULAN Idealnya satelit GSO memiliki inklinasi nol, eksentrisitas nol, dan posisi bujur yang tetap namun gaya-gaya perturbasi melencengkan satelit dari orbit ideal tersebut. Tiap satelit GSO mengalami presesi orbit akibat Matahari dan Bulan sebesar 0.75 hingga 0.94 per tahun tergantung dari nilai deklinasi Bulan. Jika pergeseran inklinasi dibiarkan saja tanpa dilakukan manuver pengendalian maka dalam kurun waktu sekitar 26 tahun inklinasi satelit akan bergeser dari 0 hingga Setelah itu kembali menuju 0 dalam waktu yang sama. Satelit juga mengalami percepatan dalam arah bujur [longitudinal acceleration) sebesar deg/day 2 hingga deg/day 2 tergantung dari bujur satelit tersebut. Satelit-sate lit yang berada di sekitar wilayah Indonesia akan mengalami percepatan ke arah barat. Apabila bujur satelit dibiarkan saja tanpa dilakukan manuver pengendalian maka satelit akan berosilasi di sekitar salah satu dari dua titik tertentu yakni 79 BT atau BT atau bergeser dari 0 hingga 360 (satu siklus penuh). Satelit-satelit milik Indonesia yang tidak beroperasi lagi yakni Palapa 1, Palapa 2, Palapa Bl, Palapa B2P, dan Palapa B4 semuanya saat ini bergeser bujurnya dari 0 hingga 360. Agar satelit terhindar dari pergeseran orbit yang dapat mengacaukan misinya maka dilakukan pengendalian orbit oleh operator satelit bersangkutan. Pengendalian inklinasi disebut pengendalian utara-selatan {north-south station keeping) sedangkan pengendalian bujur disebut pengendalian timurbarat (east-west station keeping). Pada umumnya pengendalian utara-selatan membutuhkan tambahan kecepatan yang jauh besar dari pada pengendalian timur-barat. Ini berarti penambahan bahan bakar yang lebih banyak. Namun, frekuensi untuk melakukan pengendalian utara-selatan lebih sedikit dibanding frekuensi pengendalian timur-barat. Orbit satelit GSO dapat diprediksi memakai program GSO Prediction yang dikembangkan dalam penelitian ini. Program ini menggunakan model SDP4 dengan asumsi masukannya adalah data TLE. Karena GSO Prediction tidak memperhitungkan faktor pengendalian satelit maka untuk satelit yang masih beroperasi prediksi ini hanya berlaku sebelum dilakukan manuver pengendalian orbit berikutnya. Untuk satelit yang tidak lagi beroperasi, GSO Prediction bisa memprediksi hingga beberapa tahun ke depan. Dari penelitian ini diketahui bahwa prediksi bujur, setengah sumbu panjang, dan periode satelit memakai model SDP4 sangat sensitif terhadap masukan data TLEnya. Trial and error perlu dilakukan agar diperoleh masukan TLE yang "tepat" sehingga diperoleh hasil prediksi yang raaional. 41
16 DAFTAR RTJJUKAN Kelso, T.S., Documentation for NORAD SGP4/SDP4 Units version 2.60, download 10 April Morgan, Walter L; and Gary D. Gordon, Communication Satellite Handbook, John Wiley & Sons, Inc. Rachman, Abd., Karakteristik Data TLE dan Pengolahannya, Majalah Sains dan Teknologi Dirgantara LAPAN vol. 2 no. 2. Roddy, Denis, Satellite Communication, McGraw-Hill. Space-track, Data TLE, download Mei 2005 hingga Nopember Wibisono, Kunto, Aktivitas Pengendalian Satelit Cakrawarta 1, Studi Kelayakan Tingkat Kebutuhan Informasi Orbit Satelit dan Gangguannya. LAPAN. 42
GANGGUAN PADA SATELIT GSO
GANGGUAN PADA SATELIT GSO Neflia dan Abd. Rachman Peneliti Pusat Pemanfaatan Sains dan Antariksa, LAPAN AB STRACT A truly geostationery orbit will have zero inclination and zero eccentricities and the
KARAKTERISTIK DATA TLE DAN PENGOLAHANNYA
KARAKTERISTIK DATA TLE DAN PENGOLAHANNYA Abd. Rachman Peneliti Pusat Pemanfaatan Sains Antariksa, LAPAN Email: [email protected] ABSTRACT Data processing for historical two line element data from
Analisis dan Kontrol Optimal Sistem Gerak Satelit Menggunakan Prinsip Minimum Pontryagin
JURNAL SAINS DAN SENI POMITS Vol. 6, No.2, (2017) 2337-3520 (2301-928X Print) A 45 Analisis dan Kontrol Optimal Sistem Gerak Satelit Menggunakan Prinsip Minimum Pontryagin Putri Saraswati, Mardlijah, Kamiran
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Konstelasi satelit beredar mengelilingi bumi dalam ilmu astrodinamika dipandang sebagai masalah dua benda langit. Seperti halnya bulan, satelit mengelililngi bumi dengan
MENGENAL ORBIT SUNSINKRONUS SEBAGAI ORBIT SATELIT LAPAN TUBSAT
MENGENAL ORBIT SUNSINKRONUS SEBAGAI ORBIT SATELIT LAPAN TUBSAT Errya Satrya Peneliti Pusat Teknologi Wahana Dirgantara, LAPAN RINGKASAN Sampai saat ini, telah lebih dari 2 tahun satelit LAPAN-TUBSAT beroperasi
KARAKTERISTIK ORBIT SATELIT MIKRO Dl KETINGGIAN LEO
KARAKTERISTIK ORBIT SATELIT MIKRO Dl KETINGGIAN LEO Nizam Ahmad Peneliti Pusat Pemanfaatan Sains Aniariksa, LAPAN Email: nlzam@bdg,lapan.go.id ABSTRACT The Micro satellite is commonly placed in Low Earth
ANALISIS ALTERNATIF PENEMPATAN SATELIT LAPAN A2 DI ORBIT
Jurnal Sains Dirgantara Vol. 7 No. 2 Juni 2010 :132-145 ANALISIS ALTERNATIF PENEMPATAN SATELIT LAPAN A2 DI ORBIT Nizam Ahmad Peneliti Bidang Matahari dan Antariksa, LAPAN E-mail:[email protected] ABSTRACT
FASE-FASE BULAN DAN JARAK BUMI-BULAN PADA TAHUN 2014
FASE-FASE BULAN DAN JARAK BUMI-BULAN PADA TAHUN 2014 Bulan mengelilingi Bumi dalam bentuk orbit ellips sehingga pada suatu saat Bulan akan berada pada posisi terdekat dari Bumi, yang disebut perigee, dan
PEMANTAUAN BENDA JATUH ANTARIKSA DAN ANALISISNYA
Jurnal Sains Dirgantara Vol. 7 No. 1 Desember 2009 : 230-244 PEMANTAUAN BENDA JATUH ANTARIKSA DAN ANALISISNYA Abdul Rachman dan T. Djamaluddin Peneliti Pusat Pemanfaatan Sains Antariksa, LAPAN Email: [email protected]
Horizon Lokal Dan Jam Matahari
Horizon Lokal Dan Jam Matahari Rosa M. Ros International Astronomical Union Technical University of Catalonia, Barcelona, Spain Tujuan Memahami gerak harian Matahari Memahami gerak tahunan Matahari Memahami
FASE-FASE BULAN DAN JARAK BUMI-BULAN PADA TAHUN 2015
FASE-FASE BULAN DAN JARAK BUMI-BULAN PADA TAHUN 2015 adalah benda langit yang mengorbit Bumi. Karena sumber cahaya yang terlihat dari Bumi adalah pantulan sinar Matahari, bentuk yang terlihat dari Bumi
TATA KOORDINAT BENDA LANGIT. Kelompok 6 : 1. Siti Nur Khotimah ( ) 2. Winda Yulia Sari ( ) 3. Yoga Pratama ( )
TATA KOORDINAT BENDA LANGIT Kelompok 6 : 1. Siti Nur Khotimah (4201412051) 2. Winda Yulia Sari (4201412094) 3. Yoga Pratama (42014120) 1 bintang-bintang nampak beredar dilangit karena bumi berotasi. Jika
ANALISIS PERILAKU HAMBATAN ATMOSFER DARI MODEL ATMOSFER DAN DATA SATELIT
ANALISIS PERILAKU HAMBATAN ATMOSFER DARI MODEL ATMOSFER DAN DATA SATELIT Neflia dan Santi Sulistiani Peneliti Pusat Pemanfaatan Sains Antariksa, LAPAN ABSTRACTS Atmospheric drag's behaviour can be shown
DISTRIBUSI ANOMALI SATELIT SELAMA SIKLUS MATAHARI KE-23 BERDASARKAN ORBITNYA
DISTRIBUSI ANOMALI SATELIT SELAMA SIKLUS MATAHARI KE-23 BERDASARKAN ORBITNYA 84 NEFLIA 2. Data dan metode Data satelit yang digunakan dalam analisis ini adalah satelit yang mengalami anomali selama siklus
BAB IV ANALISIS KUAT MEDAN PADA PENERIMAAN RADIO AM
BAB IV ANALISIS KUAT MEDAN PADA PENERIMAAN RADIO AM 4.1 ANALISIS PERHITUNGAN KUAT MEDAN PADA PROPAGASI GROUND WAVE Langkah yang pertama kali dilakukan dalam analisis ini ialah mencari nilai s 1 dan s 2
GERAK BUMI DAN BULAN
MATERI ESENSIAL IPA SEKOLAH DASAR (Pengayaan Materi Guru) KONSEP ILMU PENGETAHUAN BUMI DAN ANTARIKSA GERAK BUMI DAN BULAN Agus Fany Chandra Wijaya DIGITAL LEARNING LESSON STUDY JAYAPURA 2010 GERAK BUMI
Jika sebuah sistem berosilasi dengan simpangan maksimum (amplitudo) A, memiliki total energi sistem yang tetap yaitu
A. TEORI SINGKAT A.1. TEORI SINGKAT OSILASI Osilasi adalah gerakan bolak balik di sekitar suatu titik kesetimbangan. Ada osilasi yang memenuhi hubungan sederhana dan dinamakan gerak harmonik sederhana.
1. Tekanan Udara 2. Radiasi Surya 3. Lama Penyinaran 4. Suhu Udara 5. Kelembaban Udara 6. Curah Hujan 7. Angin 8. Evapotranspirasi Potensial
Unsur-unsur Iklim 1. Tekanan Udara 2. Radiasi Surya 3. Lama Penyinaran - 4. Suhu Udara 5. Kelembaban Udara 6. Curah Hujan 7. Angin 8. Evapotranspirasi Potensial Puncak Atmosfer ( 100 km ) Tekanan Udara
KAJIAN HASIL UJI PREDIKSI FREKUENSI HF PADA SIRKIT KOMUNIKASI RADIO DI LINGKUNGAN KOHANUDNAS
Kajian Hasil Uji Prediksi Frekuensi HF pada Sirkit Komunikasi... (Jiyo) KAJIAN HASIL UJI PREDIKSI FREKUENSI HF PADA SIRKIT KOMUNIKASI RADIO DI LINGKUNGAN KOHANUDNAS Jiyo Peneliti Bidang Ionosfer dan Telekomunikasi,
PERANGKAT LUNAK UNTUK PERHITUNGAN SUDUT ELEVASI DAN AZIMUTH ANTENA STASIUN BUMI BERGERAK DALAM SISTEM KOMUNIKASI SATELIT GEOSTASIONER
PERANGKAT LUNAK UNTUK PERHITUNGAN SUDUT ELEVASI DAN AZIMUTH ANTENA STASIUN BUMI BERGERAK DALAM SISTEM KOMUNIKASI SATELIT GEOSTASIONER Veni Prasetiati Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik, Universitas
3. ORBIT KEPLERIAN. AS 2201 Mekanika Benda Langit. Monday, February 17,
3. ORBIT KEPLERIAN AS 2201 Mekanika Benda Langit 1 3.1 PENDAHULUAN Mekanika Newton pada mulanya dimanfaatkan untuk menentukan gerak orbit benda dalam Tatasurya. Misalkan Matahari bermassa M pada titik
BAB II LANDASAN TEORITIS
BAB I PENDAHULUAN Pengaruh pemanasan global yang sering didengungkan tidak dapat dihindari dari wilayah Kalimantan Selatan khususnya daerah Banjarbaru. Sebagai stasiun klimatologi maka kegiatan observasi
SAINS BUMI DAN ANTARIKSA
SAINS BUMI DAN ANTARIKSA NAMA NIM : 15034038 FISIKA B 2015 : PUTI AULIA MARDIAH GERAK SEMU TAHUNAN MATAHRI A. Latar Belakang di beberapa kasus pada belahan bumi, terjadi perbedaan musim dan perbedaan lama
STATISTIKA. Tabel dan Grafik
STATISTIKA Organisasi Data Koleksi data statistik perlu disusun (diorganisir) sedemikian hingga dapat dibaca dengan jelas. Salah satu pengorganisasian data statistik adalah dengan: tabel grafik Organisasi
SOAL UJIAN PRAKTEK ASTRONOMI OLIMPIADE SAINS NASIONAL 2014 CALON PESERTA INTERNATIONAL EARTH SCIENCE OLYMPIAD (IESO) 2015
SOAL UJIAN PRAKTEK ASTRONOMI OLIMPIADE SAINS NASIONAL 2014 CALON PESERTA INTERNATIONAL EARTH SCIENCE OLYMPIAD (IESO) 2015 Bidang : KEBUMIAN SUB BIDANG ASTRONOMI Materi : ANALISIS DATA (Langit Mendung)
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Perkembangan berbagai macam teknologi sekarang ini tidak terlepas dari berkembangnya teknologi satelit. Mulai dari teknologi informasi dan komunikasi, teknologi penginderaan
TELEKOMUNIKASI SATELIT
TELEKOMUNIKASI SATELIT Asep Munawarudin [email protected] Abstrak Satelit adalah salah satu media komunikasi yang banyak digunakan saat ini. Sebagai salah satu media yang banyak digunakan,
IPA TERPADU KLAS VIII BAB 14 BUMI, BULAN, DAN MATAHARI
IPA TERPADU KLAS VIII BAB 14 BUMI, BULAN, DAN MATAHARI KOMPETENSI INTI 3. Memahami dan menerapkan pengetahuan (faktual, konseptual, dan prosedural) berdasarkan rasa ingin tahunya tentang ilmu pengetahuan,
PEMBANGUNGAN SISTEM INFORMASI ANOMALI SATELIT (SIAS)
Pembangunan Sistem Informasi... (Nizam Ahmad et al.) PEMBANGUNGAN SISTEM INFORMASI ANOMALI SATELIT (SIAS) Nizam Ahmad, Abd. Rachman Peneliti Pusat Pemanfaatan Sains Antariksa, LAPAN Email : [email protected]
PENUNTUN PRAKTIKUM OSEANOGRAFI FISIKA
PENUNTUN PRAKTIKUM OSEANOGRAFI FISIKA DISUSUN OLEH Heron Surbakti dan Tim Assisten Praktikum Oseanografi Fisika LABORATORIUM OSEANOGRAFI PROGRAM STUDI ILMU KELAUTAN FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN
Abdul Rachman dan Thomas Djamaluddin Peneliti Matahari dan Antariksa Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN)
Abdul Rachman dan Thomas Djamaluddin Peneliti Matahari dan Antariksa Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) Disampaikan pada Diseminasi Hisab Rukyat di BPPR- LAPAN Pameungpeuk 30 Juli 2011
SELEKSI TINGKAT PROVINSI CALON PESERTA INTERNATIONAL ASTRONOMY OLYMPIAD (IAO) TAHUN 2009
DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL DIRJEN MANAJEMEN PENDIDIKAN DASAR DAN MENENGAH DIREKTORAT PEMBINAAN SEKOLAH MENENGAH ATAS SELEKSI TINGKAT PROVINSI CALON PESERTA INTERNATIONAL ASTRONOMY OLYMPIAD (IAO) TAHUN
KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN
SOAL OLIMPIADE SAINS NASIONAL ASTRONOMI Ronde : Analisis Data Waktu : 240 menit KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN DIREKTORAT JENDERAL PENDIDIKAN MENENGAH DIREKTORAT PEMBINAAN SEKOLAH MENENGAH ATAS
indahbersamakimia.blogspot.com
Tes Seleksi Olimpiade Astronomi Tingkat Provinsi 2007 Materi Uji : Astronomi Waktu : 150 menit Tidak diperkenankan menggunakan alat hitung (kalkultor). Di bagian akhir soal diberikan daftar konstanta yang
Magister Pengelolaan Air dan Air Limbah Universitas Gadjah Mada. 18-Aug-17. Statistika Teknik.
Magister Pengelolaan Air dan Air Limbah Universitas Gadjah Mada Statistika Teknik Tabel dan Grafik Organisasi Data Koleksi data statistik perlu disusun (diorganisir) sedemikian hingga dapat dibaca dengan
SATELIT I WAYAN ANGGA MEI SEDANA YOGA TEKNIK ELEKTRO
SATELIT I WAYAN ANGGA MEI SEDANA YOGA 1115313002 TEKNIK ELEKTRO Pengertian satelit Satelit adalah benda yang mengorbit benda lain dengan periode revolusi dan rotasi tertentu. Satelit juga dapat disebut
SMA/MA IPS kelas 10 - GEOGRAFI IPS BAB 3. Mengenal Planet Bumilatihan soal 3.2
SMA/MA IPS kelas 10 - GEOGRAFI IPS BAB 3. Mengenal Planet Bumilatihan soal 3.2 1. Pergerakan bumi sebagai benda angkasa yang menempuh waktu 365 hari disebut. gerak presesi gerak rotasi gerak revolusi gerak
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Sungai Banjaran merupakan anak sungai Logawa yang mengalir dari arah
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Deskripsi Lokasi Studi Sungai Banjaran merupakan anak sungai Logawa yang mengalir dari arah Utara ke arah Selatan dan bermuara pada sungai Serayu di daerah Patikraja dengan
GAYA GESEK. Gaya Gesek Gaya Gesek Statis Gaya Gesek Kinetik
GAYA GESEK (Rumus) Gaya Gesek Gaya Gesek Statis Gaya Gesek Kinetik f = gaya gesek f s = gaya gesek statis f k = gaya gesek kinetik μ = koefisien gesekan μ s = koefisien gesekan statis μ k = koefisien gesekan
ANALISA KEJADIAN LUBANG KORONA (CORONAL HOLE) TERHADAP NILAI KOMPONEN MEDAN MAGNET DI STASIUN PENGAMATAN MEDAN MAGNET BUMI BAUMATA KUPANG
ANALISA KEJADIAN LUBANG KORONA (CORONAL HOLE) TERHADAP NILAI KOMPONEN MEDAN MAGNET DI STASIUN PENGAMATAN MEDAN MAGNET BUMI BAUMATA KUPANG 1. Burchardus Vilarius Pape Man (PMG Pelaksana Lanjutan Stasiun
Bulan Basah (BB) : Bulan dengan curah hujan lebih dari 100 mm (jumlah curah hujan bulanan melebihi angka evaporasi).
1. Klasifikasi Iklim MOHR (1933) Klasifikasi iklim di Indonesia yang didasrakan curah hujan agaknya di ajukan oleh Mohr pada tahun 1933. Klasifikasi iklim ini didasarkan oleh jumlah Bulan Kering (BK) dan
Physic Work sheet Grade XI Semester I. 2. Newton s Law of Gravitation
. Newton s Law of Gravitation the gravitational force between two objects is the attractive force which its magnitude is directly proportional to the mass of each object and inversely proportional to the
ANALISIS KETINGGIAN ORBIT SATELIT LAPAN-TUBSAT SETELAH SATU TAHUN BEROPERASI
ANALISIS KETINGGIAN ORBIT SATELIT LAPAN-TUBSAT SETELAH SATU TAHUN BEROPERASI Chusnul Tri Judianto Peneliti Pusat Teknologi Elektronika Dirgantara, LAPAN ABSTRACT LAPAN-TUBSAT satellite is one of the national
Cladius Ptolemaus (abad 2) Geosentris
ROTASI DAN REVOLUSI BUMI Cladius Ptolemaus (abad 2) Geosentris Bumi sebagai pusat tata surya Planet-planet (termasuk Mth.) berputar mengelilingi bumi Sambil mengelilingi Bumi, planet-planet bergerak melingkar
BAB IV STUDI KASUS GUNUNG API BATUR - BALI
BAB IV STUDI KASUS GUNUNG API BATUR - BALI IV.1 Sekilas Tentang Gunung Api Batur Area yang menjadi kajian (studi) untuk dilihat sinyal deformasinya (vertikal) melalui Teknologi InSAR selama kurun waktu
BIDANG STUDI : FISIKA
BERKAS SOAL BIDANG STUDI : MADRASAH ALIYAH SELEKSI TINGKAT PROVINSI KOMPETISI SAINS MADRASAH NASIONAL 013 Petunjuk Umum 1. Silakan berdoa sebelum mengerjakan soal, semua alat komunikasi dimatikan.. Tuliskan
RANCANG BANGUN SIMULATOR ORBIT SATELIT NON-GEOSTASIONER LANDSAT 7 TUGAS AKHIR
RANCANG BANGUN SIMULATOR ORBIT SATELIT NON-GEOSTASIONER LANDSAT 7 TUGAS AKHIR ADHE PRIYAMBODO NRP. 2499100080 JURUSAN TEKNIK FISIKA FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI INSTITUT TEKNOLOGI SEPULUH NOPEMBER SURABAYA
3. MEKANIKA BENDA LANGIT
3. MEKANIKA BENDA LANGIT 3.1. ELIPS Sebelum belajar Mekanika Benda Langit lebih lanjut, terlebih dahulu perlu diketahui salah satu bentuk irisan kerucut yaitu tentang elips. Gambar 3.1. Geometri Elips
3. (4 poin) Seutas tali homogen (massa M, panjang 4L) diikat pada ujung sebuah pegas
Soal Multiple Choise 1.(4 poin) Sebuah benda yang bergerak pada bidang dua dimensi mendapat gaya konstan. Setelah detik pertama, kelajuan benda menjadi 1/3 dari kelajuan awal benda. Dan setelah detik selanjutnya
EVALUASI MUSIM HUJAN 2007/2008 DAN PRAKIRAAN MUSIM KEMARAU 2008 PROVINSI BANTEN DAN DKI JAKARTA
BADAN METEOROLOGI DAN GEOFISIKA STASIUN KLIMATOLOGI PONDOK BETUNG-TANGERANG Jln. Raya Kodam Bintaro No. 82 Jakarta Selatan ( 12070 ) Telp: (021) 7353018 / Fax: 7355262, Tromol Pos. 7019 / Jks KL, E-mail
Teknik Pengolahan Data
Universitas Gadjah Mada Jurusan Teknik Sipil dan Lingkungan Prodi Magister Teknik Pengelolaan Bencana Alam Teknik Pengolahan Data Tabel dan Grafik Organisasi Data Koleksi data sta;s;k perlu disusun (diorganisir)
ANTIREMED KELAS 11 FISIKA
ANTIREED KELAS 11 FISIKA Hukum Newton dan ravitasi - Latihan Soal Doc. Name: AR11FIS001 Version: 01-07 halaman 1 01. Perhatikan 3 buah massa yang berinteraksi berikut ini. Resultan gaya gravitasi pada
4. Orbit dalam Medan Gaya Pusat. AS 2201 Mekanika Benda Langit
4. Orbit dalam Medan Gaya Pusat AS 2201 Mekanika Benda Langit 4. Orbit dalam Medan Gaya Pusat 4.1 Pendahuluan Pada bab ini dibahas gerak benda langit dalam medan potensial umum, misalnya potensial sebagai
PEKERJAAN RUMAH SAS PERTEMUAN-1 DAN PERTEMUAN-2 A.Pilihan Ganda
PEKERJAAN RUMAH SAS PERTEMUAN-1 DAN PERTEMUAN-2 A.Pilihan Ganda 1. Tinggi bintang dari bidang ekuator disebut a. altitude b. latitude c. longitude d. deklinasi e. azimut 2. Titik pertama Aries, didefinisikan
PEMODELAN POLA ARUS LAUT PERMUKAAN DI PERAIRAN INDONESIA MENGGUNAKAN DATA SATELIT ALTIMETRI JASON-1
PEMODELAN POLA ARUS LAUT PERMUKAAN DI PERAIRAN INDONESIA MENGGUNAKAN DATA SATELIT ALTIMETRI JASON-1 RAHMA WIDYASTUTI(3506 100 005) TEKNIK GEOMATIKA ITS - SURABAYA Pembimbing : Eko Yuli Handoko,ST.MT Ir.
KINEMATIKA. Fisika. Tim Dosen Fisika 1, ganjil 2016/2017 Program Studi S1 - Teknik Telekomunikasi Fakultas Teknik Elektro - Universitas Telkom
KINEMATIKA Fisika Tim Dosen Fisika 1, ganjil 2016/2017 Program Studi S1 - Teknik Telekomunikasi Fakultas Teknik Elektro - Universitas Telkom Sasaran Pembelajaran Indikator: Mahasiswa mampu mencari besaran
BAB 2 DATA DAN METODA
BAB 2 DATA DAN METODA 2.1 Pasut Laut Peristiwa pasang surut laut (pasut laut) adalah fenomena alami naik turunnya permukaan air laut secara periodik yang disebabkan oleh pengaruh gravitasi bendabenda-benda
PERUBAHAN KLIMATOLOGIS CURAH HU]AN DI DAERAH ACEH DAN SOLOK
PERUBAHAN KLIMATOLOGIS CURAH HU]AN DI DAERAH ACEH DAN SOLOK Junlartl Visa PenelW Pusat Pwnanfeatan Sains Atmosfer dan IkHm, LAPAN ABSTRACT The analysis of rainfall climatologic change of Aceh and Solok
PERTUMBUHAN SIMPANAN *) BANK UMUM POSISI JANUARI 2012
Jan-07 Apr-07 Jul-07 Oct-07 Jan-08 Apr-08 Jul-08 Oct-08 Jan-09 Apr-09 Jul-09 Oct-09 Jan-10 Apr-10 Jul-10 Oct-10 Jan-11 Apr-11 Jul-11 Oct-11 PERTUMBUHAN SIMPANAN *) BANK UMUM POSISI JANUARI 2012 I. TOTAL
GRAVITASI B A B B A B
23 B A B B A B 2 GRAVITASI Sumber: www.google.co.id Pernahkah kalian berfikir, mengapa bulan tidak jatuh ke bumi atau meninggalkan bumi? Mengapa jika ada benda yang dilepaskan akan jatuh ke bawah dan mengapa
Endang Mugia GS. Peneliti Bidang Teknologi Avionik, Lapan ABSTRACT
Pengaruh Nilai Koefisien Aerodinamika... (Endang Mugia GS.) PENGARUH NILAI KOEFISIEN AERODINAMIKA DAN PADA KESTABILAN TERBANG GERAK PERIODE PENDEK (SHORT PERIOD) RKX-200 LAPAN [EFFECT OF AERODYNAMICS COEFFICIENT
Benda B menumbuk benda A yang sedang diam seperti gambar. Jika setelah tumbukan A dan B menyatu, maka kecepatan benda A dan B
1. Gaya Gravitasi antara dua benda bermassa 4 kg dan 10 kg yang terpisah sejauh 4 meter A. 2,072 x N B. 1,668 x N C. 1,675 x N D. 1,679 x N E. 2,072 x N 2. Kuat medan gravitasi pada permukaan bumi setara
ANALISIS POLA DAN INTENSITAS CURAH HUJAN BERDASAKAN DATA OBSERVASI DAN SATELIT TROPICAL RAINFALL MEASURING MISSIONS (TRMM) 3B42 V7 DI MAKASSAR
JURNAL SAINS DAN PENDIDIKAN FISIKA (JSPF) Jilid Nomor, April 205 ISSN 858-330X ANALISIS POLA DAN INTENSITAS CURAH HUJAN BERDASAKAN DATA OBSERVASI DAN SATELIT TROPICAL RAINFALL MEASURING MISSIONS (TRMM)
BAB III METODOLOGI PENELITIAN
BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Metode Penelitian Metode penelitian yang digunakan oleh penulis pada penelitian ini adalah studi literatur, pembuatan program komputer, dan simulasi. Studi literatur yaitu
Memantau apa saja dengan GPS
Memantau apa saja dengan GPS (Global Positioning System) Dalam film Enemy of The State, tokoh pengacara Robert Clayton Dean (diperankan oleh Will Smith) tiba-tiba saja hidupnya jadi kacau-balau. Ke mana
Bab III Aplikasi Efek Radiasi Termal Pada Asteroid
Bab III Aplikasi Efek Radiasi Termal Pada Asteroid Main Belt Asteroids (MBAs) adalah asteroid-asteroid yang mendiami daerah diantara Mars dan Jupiter, yakni 2.0 3.3 AU, yang ditaksir berjumlah sekitar
PENGARUH AKTIVITAS MATAHARI DAN GEOMAGNET TERHADAP KETINGGIAN ORBIT SATELIT
PENGARUH AKTIVITAS MATAHARI DAN GEOMAGNET TERHADAP KETINGGIAN ORBIT SATELIT Nizam Ahmad Peneliti Pusat Pemanfaatan Sains Antariksa, LAPAN Email: [email protected] ABSTRACT The sun is the main source
NASKAH SOAL POST-TEST. Mata Pelajaran: Fisika Hari/Tanggal : Kelas : XI/IPA Waktu :
NASKAH SOAL POST-TEST Mata Pelajaran: Fisika Hari/Tanggal : Kelas : XI/IPA Waktu : PETUNJUK: 1) Tulislah terlebih dahulu nama, nomor, dan kelas pada lembar jawaban yang tersedia! 2) Bacalah terlebih dahulu
TELAAH ORBIT SATELIT LAPAN-TUBSAT
TELAAH ORBIT SATELIT LAPAN-TUBSAT Nizam Ahmad dan Thomas Djamaluddin Pusat Pemanfaaian Sains Aniariksa LAPAN Email: [email protected] ABSTRACT The study of orbit characteristics of LAPAN-TUBSAT can
JAWABAN DAN PEMBAHASAN
JAWABAN DAN PEMBAHASAN 1. Dalam perjalanan menuju Bulan seorang astronot mengamati diameter Bulan yang besarnya 3.500 kilometer dalam cakupan sudut 6 0. Berapakah jarak Bulan saat itu? A. 23.392 km B.
Materi Bumi dan Antariksa)
(Pendalaman Materi Bumi dan Antariksa) Hari/Tanggal : Rabu & Kamis,, 19 & 20 Sep 2007 Waktu : 13.55 11. 45 Penyaji : Drs. Yamin Winduono, M.Pd Tempat : Ruang Plato Brainstorming / Diskusi /Tanya jawab
DINAMIKA BENDA LANGIT
DINAMIKA BENDA LANGIT CHATIEF KUNJAYA KK A S T R O N O M I, I N S T I T U T T E K N O L O G I B A N D U N G TPOA, Kunjaya 2014 KOMPETENSI DASAR X.3.3 Menganalisis besaran-besaran fisis pada gerak lurus
Materi Komputer 2. Mahasiswa menuliskan contoh soal / kasus distribusi frekuensi berikut dengan microsoft excel pada sheet 1
Pertemuan 3 (frekuensi dan korelasi) Bagian 1 : Menentukan distribusi frekuensi Penjelasan singkat : Dalam latihan ini akan dilakukan penghitungan distribusi frekuensi atau seberapa sering kemunculan suatu
ANALISIS KONDISI ANTARIKSA DI ORBIT LAPAN A2 MENJELANG PUNCAK AKTIVITAS MATAHARI SIKLUS 24
Analisis Kondisi Antariksa di Orbit...(Nizam Ahmad et al.) ANALISIS KONDISI ANTARIKSA DI ORBIT LAPAN A2 MENJELANG PUNCAK AKTIVITAS MATAHARI SIKLUS 24 Nizam Ahmad dan Neflia Peneliti Pusat Sains Antariksa,
HASIL DAN PEMBAHASAN . BP D-1
13 a. Ambil contoh acak (n s =n) X, X,.., X dari n data original. Pengambilan sampel dilakukan tanpa pemulihan. b. Berdasarkan bootstrap sample, hitung bootstrap CUSUM, notasikan S, S,, S c. Hitung S,
Bintang Ganda DND-2006
Bintang Ganda Bintang ganda (double stars) adalah dua buah bintang yang terikat satu sama lain oleh gaya tarik gravitasi antar kedua bintang tersebut. Apabila sistem bintang ini lebih dari dua, maka disebut
VENERA 9. Venera 9 (Russian: Венера-9 artinya Venus 9 dengan manufacturer s designation: 4V-1 No.661) Pembuat
VENERA 9 1. Tentang Venera 9 Nama Wahana Venera 9 (Russian: Венера-9 artinya Venus 9 dengan manufacturer s designation: 4V-1 No.661) Pembuat Lavochkin (a Rusian Aerospace Company) Misi Venus orbiter/lander
BAB II MEMBUAT DATABASE DAN TABEL
BAB II MEMBUAT DATABASE DAN TABEL Capaian Pembelajaran: Setelah membaca dan mengkaji bab ini, pembaca akan mampu: Menjalankan aplikasi program Microsoft Access Membuat file database, memberi nama database,
Meridian Greenwich. Bujur
5. TATA KOORDINAT Dalam astronomi, amatlah penting untuk memetakan posisi bintang atau benda langit lainnya, dan menerapkan system koordinat untuk membakukan posisi tersebut. Prinsip dasarnya sama dengan
Pokok Bahasan 7. Satelit
Pokok Bahasan 7 Satelit Pokok Bahasan 7 Pokok Bahasan Sistem komunikasi satelit Sub Pokok Bahasan Jenis-jenis satelit Link budget Segmen bumi Segmen angkasa Kompetensi Setelah mengikuti kuliah ini mahsiswa
X-TRA Fixed Rate Market Linked Deposit Denomination USD & IDR
X-TRA Fixed Rate Market Linked Deposit Denomination USD & IDR Tanggal Laporan 2-Nov-15 FOR MORE INFORMATION: Call Center CIMB NIAGA 14041 www.cimbniaga.com PERFORMANCE Product Code Issue Date Maturity
Momen Inersia. distribusinya. momen inersia. (karena. pengaruh. pengaruh torsi)
Gerak Rotasi Momen Inersia Terdapat perbedaan yang penting antara masa inersia dan momen inersia Massa inersia adalah ukuran kemalasan suatu benda untuk mengubah keadaan gerak translasi nya (karena pengaruh
UM UGM 2017 Fisika. Soal
UM UGM 07 Fisika Soal Doc. Name: UMUGM07FIS999 Version: 07- Halaman 0. Pada planet A yang berbentuk bola dibuat terowongan lurus dari permukaan planet A yang menembus pusat planet dan berujung di permukaan
FISIKA I. OSILASI Bagian-2 MODUL PERKULIAHAN. Modul ini menjelaskan osilasi pada partikel yang bergerak secara harmonik sederhana
MODUL PERKULIAHAN OSILASI Bagian- Fakultas Program Studi atap Muka Kode MK Disusun Oleh eknik eknik Elektro 3 MK4008, S. M Abstract Modul ini menjelaskan osilasi pada partikel yang bergerak secara harmonik
PRINSIP PENGENDALIAN ATTITUDE SATELIT LAPAN-TUBSAT
PRINSIP PENGENDALIAN ATTITUDE SATELIT LAPAN-TUBSAT Widodo Slamet Peneliti Bidang Bus Satelit, LAPAN e-mail: [email protected] RINGKASAN Attitude satelit terhadap bumi harus bisa dikendalikan agar dapat
DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL DIREKTORAT JENDRAL PENDIDIKAN DASAR DAN MENENGAH DIREKTORAT PEMBINAAN SMA
Dapatkan soal-soal lainnya di http://forum.pelatihan-osn.com DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL DIREKTORAT JENDRAL PENDIDIKAN DASAR DAN MENENGAH DIREKTORAT PEMBINAAN SMA Solusi Tes Olimpiade Sains Nasional
BAB 3 ASTEROID DAN POTENSI BENCANA
BAB 3 ASTEROID DAN POTENSI BENCANA Sebagian besar asteroid tipe AAA kini diklaim sebagai kelompok PHA (Potentially Hazardous Asteroids), yaitu kelompok yang berpotensi membahayakan berdasarkan parameter
GRAVITASI. Gambar 1. Gaya gravitasi bekerja pada garis hubung kedua benda.
GAVITASI Pernahkah anda berfikir, mengapa bulan tidak jatuh ke bumi atau meninggalkan bumi? engapa jika ada benda yang dilepaskan akan jatuh ke bawah dan mengapa satelit tidak jatuh? Lebih jauh anda dapat
PRISMA FISIKA, Vol. I, No. 1 (2013), Hal. 1-7 ISSN : Visualisasi Efek Relativistik Pada Gerak Planet
PRISMA FISIKA, Vol. I, No. 1 (13), Hal. 1-7 ISSN : 337-8 Visualisasi Efek Relativistik Pada Gerak Planet Nurul Asri 1, Hasanuddin 1, Joko Sampurno 1, Azrul Azwar 1 1 Program Studi Fisika, FMIPA, Universitas
Oleh : Kunjaya TPOA, Kunjaya 2014
Oleh : Kunjaya Kompetensi Dasar X.3.5 Menganalisis besaran fisis pada gerak melingkar dengan laju konstan dan penerapannya dalam teknologi X.4.5 Menyajikan ide / gagasan terkait gerak melingkar Pengertian
BAB I PENDAHULUAN I.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN I.1 Latar Belakang Pasang surut laut (pasut) merupakan suatu fenomena pergerakan naik turunnya permukaan air laut secara berkala yang diakibatkan oleh kombinasi gaya gravitasi dan gaya
ANALISIS POTENSI ENERGI ANGIN DALAM MENDUKUNG KELISTRIKAN KAWASAN PERBATASAN STUDI KASUS : DESA TEMAJUK KECAMATAN PALOH KABUPATEN SAMBAS
ANALISIS POTENSI ENERGI ANGIN DALAM MENDUKUNG KELISTRIKAN KAWASAN PERBATASAN STUDI KASUS : DESA TEMAJUK KECAMATAN PALOH KABUPATEN SAMBAS M. Husni Tambrin D0110702 Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik
SOAL SELEKSI OLIMPIADE SAINS TINGKAT KABUPATEN/KOTA 2014 CALON TIM OLIMPIADE ASTRONOMI INDONESIA 2015
HAK CIPTA DILINDUNGI UNDANG-UNDANG SOAL SELEKSI OLIMPIADE SAINS TINGKAT KABUPATEN/KOTA 2014 CALON TIM OLIMPIADE ASTRONOMI INDONESIA 2015 Bidang Astronomi Waktu : 150 menit KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN
SOAL SELEKSI OLIMPIADE SAINS TINGKAT KABUPATEN/KOTA 2014 CALON TIM OLIMPIADE FISIKA INDONESIA 2015
HAK CIPTA DILINDUNGI UNDANG-UNDANG SOAL SELEKSI OLIMPIADE SAINS TINGKAT KABUPATEN/KOTA 2014 CALON TIM OLIMPIADE FISIKA INDONESIA 2015 Bidang Fisika Waktu : 180 menit KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN
MEKANIKA BENDA LANGIT MARIANO N., S.SI.
MEKANIKA BENDA LANGIT MARIANO N., S.SI. MEKANIKA BENDA LANGIT Adalah ilmu yang mempelajari gerakan benda-benda langit secara kinematika maupun dinamika : Posisi Kecepatan Percepatan Interaksi Gaya Energi
PENGARUH AKTIVITAS MATAHARI PADA KALA HIDUP SATELIT
PENGARUH AKTIVITAS MATAHARI PADA KALA HIDUP SATELIT Thomas DJamaluddJn PenelW BI dang Matahari dan Antariksa, LAPAN ABSTRACT It has been known the effects of solar activities on satellite orbits. However,
III PEMBAHASAN. Berdasarkan persamaan (2.15) dan persamaan (2.16), fungsi kontinu dan masing-masing sebagai berikut : dan = 3
8 III PEMBAHASAN Pada bagian ini akan dibahas penggunaan metode iterasi variasi untuk menyelesaikan suatu persamaan diferensial integral Volterra orde satu yang terdapat pada masalah osilasi berpasangan.
BAHAN AJAR FISIKA GRAVITASI
BAHAN AJAR FISIKA GRAVITASI OLEH SRI RAHMAWATI, S.Pd SMA NEGERI 5 MATARAM Pernahkah kalian berfikir, mengapa bulan tidak jatuh ke bumi atau meninggalkan bumi? Mengapa jika ada benda yang dilepaskan akan
