PERUBAHAN KATA KERJA

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "PERUBAHAN KATA KERJA"

Transkripsi

1 PERUBAHAN KATA KERJA O L E H ZULNAIDI,SS,M.Hum NIP: DEPARTEMEN SASTRA JEPANG DEPARTEMEN SASTRA JEPANG FAKULTAS SASTRA UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN 2007 i

2 KATA PENGANTAR Alhamdulillah, segala puji dan syukur penulis panjatkan ke hadirat Allah SWT, serta salawat dan salam penulis sampaikan kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW, atas segala rahmat dan karunia Nya lah sehingga karya ilmiah ini dapat diselesaikan. Karya ilmiah ini ditulis untuk menugkatkan salah satu bidang pengetahuan bahasa Jepang bagi penulis maupun mahaiswa yang mempelajari bahasa Jepang pada umumnya dan Departemen Sastra Jepang USU Medan khususnya. Adapun yang menjadi topik penelitian dalam karya ilmiah ini adalah suatu analisis perubahan kata kerja dalam bahasa Jepang. Penulis sangat menyadari bahwa disana-sini masih banyak terdapat kekurangan yang perlu disempurnakan terutama yang berkaitan dengan isi tesis ini, untuk itu dengan segala kerendahan hati penulis mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun dari para pembaca. Medan, Januari 2007 ii

3 DAFTAR ISI KATA PENGANTAR...i DAFTAR ISI.ii BAB I PENDAHULUAN.1 BAB II KATA KERJA Jenis Perubahan Kata Kerja Bentuk Perubahan Kata Kerja Jidooshi dan Tadooshi Kanoo Dooshi Hojo Dooshi Onbin dari Godan Katsuyoo Dooshi BAB III KESIMPULAN Kesimpulan..16 DAFTAR PUSTAKA iii

4 BAB I PENDAHULUIAN Kata kerja dalam bahasa Jepang mempunyai perubahan (kunjugasi) menurut pemakainnya dalam kalimat. Konjugasi ini disebut katsuyoo. Kunjugasi atau katsuyoo dalam bahasa Jepang tidak sama dengan dengan konjugasi bahasa Inggeris. Kata kerja dalam bahasa Jepang teridri dari bagian yaitu : bagian depan yang disebut Gokan dan bagian belakang yang disebut Gobi. Contoh Gokan dan Gobi dalam Kata Kerja Contoh (kata kerja) Gokan Gobi Arti Kaku Ka Ku Menulis Nomu No Mu Minum Asobu Aso Bu Bermain Au A U Bertemu Shinu Tabe Ru Makan Wakaru Oki Ru Bangun Hanasu Hana Su Bercerita Matsu Ma Tsu Menunggu Oyogu Oyo Gu Berenang Taberu Tabe Ru Makan Okiru Oki Ru Bangun Suru Su Ru Melakukan Kuru Ku Ru Datang iv

5 Contoh Perubahan Ka-ku Ka-kimasu Ka-kimashita Ka-kanai Ka-ite imasu menulis menulis (sopan) sudah menulis tidak menulis sedang menulis Dooshi adalah jenis kata yang termasuk salah satu yoogen dan menyatakan kegiatan/aktifitas (nani ga dou suru). Biasanya pada waktu akhir, katanya selalu diakhiri dengan suara u. Contoh: kaku menulis yomu membaca Miru melihat suru melakukan Hanasu berbicara kuru datang Dooshi dapat mengalami perubahan. Contoh: kaku >kakimasu, kaku toki, kakeba, kako, dan lain-lain. Dari contoh di atas dapat diketahui bahwa pada kerja terdapat bagian yang berubah dan bagian yang tidak berubah. Bagian yang berubah (suku kata akhir) disebut gobi. Bagian yang tidak berubah (suku kata awal) disebut gokan. v

6 BAB II KATA KERJA 2.1. Jenis Perubahan Kata Kerja Menurut perubahannya dooshi dapat dibagi menjadi 5 jenis, yaitu: a. Godan Katsuyoo Dooshi. Adalah kata kerja yang berakhiran u, tsu, ru, bu, nu, mu, ku, gu, su. b. Kami Ichidan Katsuyoo Dooshi. Kata kerja yang berakhiran IRU c. Shimo Ichidan Katsuyoo Dooshi. Kata kereja yang berakhiran ERU d. Henkaku Katsuyoo Dooshi (Kahen Dooshi). Hanya satu kata kerja yaitu kuru e. Sagyoo Henkaku Katsuyoo Dooshi (Sahen Dooshi). Hanya satu kata kerja yaitu suru a. Godan Katsuyoo Dooshi. Yang dimaksud dengan Godan Katsuyoo Dooshi adalah kelompok kata kerja dimana gobi (suku akhir) dari kata kerja tersebut dapat berubah melalui 5 tingkat kata suara yaitu a, i, u, e, o menurut gojuuonzu. vi

7 Contoh: Bentuk Suku kata Mizen Renyoo Shuushi Rentai Katei Meirei kamus awal(gobi) Kaku Ka Ka-ka Ka- ki Ka-ku Ka-ku Ka-ke Ka- ke Ka- ku - nai - masu - hito - ba - reru - mashita - mono - seru - masen - toki - tai - te - ta Beberapa contoh kata kerja yang termasuk pada Godan Katsuyoo Dooshi menurut gyoo (a, ka, sa, ta, na, ha, ma, ya, ra, wa, n). pada bentuk perubahannya disebut nangyoo, nandan katsuyoo no dooshi. Contoh: kata kaku disebut kagyoo godan katsuyoo dooshi. Renyoo pada Godan Katsuyoo Dooshi kalau disambungkan dengan Jodooshi ta atau joshi te, tari, pada umumnya gobi-nya banyak berubah menjadi t atau n. Contoh: kaku-kakite-kaite Furu-furite-futte Yomu-yomite-yonde. vii

8 Meirei pada Godan Katsoyoo biasanya berubah menurut tingkatan suara e. akan tetapi pada kata kerja berikut ini berubah menjadi i. Contoh: Irassharu-irasshai = ada, pergi, datang. Ossharu-osshai = berbicara Nasaru-nasai = melakukan b. Kami Ichidan Katsuyoo Dooshi. Yang dimaksud kelompok kata kerja Kami Ichidan Katsuyoo Dooshi adalah kata kerja yang gobi-nya mengalami perubahan suara i menurut gojuuonzu. Contoh: Bentuk Suku kata Mizen Renyoo Shuushi Rentai Katei Meirei kamus awal(gobi) Okiru Oki Oki Oki Oki-ru Oki-ru Oki-re Oki-ro Oki-ru - nai - masu - hito - ba Okiyo - rareru - mashita - mono - saseru - masen - toki - yo - tai - te - ta viii

9 Beberapa contoh kata kerja yang termasuk Kami Ichidan Katsuyoo Dooshi: Oriru Okiru Miru turun bangun melihat c. Shimo Ichidan Katsuyoo Dooshi. Yang disebut Shimo Ichidan Katsuyoo Dooshi adalah kelompok kata kerja yang suku akhir (gobi) kata kerja tersebut berubah melalui tingkat suara e menurut gojuuonzu. Contoh: Bentuk Suku kata Mizen Renyoo Shuushi Rentai Katei Meirei kamus awal(gobi) Taberu Tabe Tabe Tabe Tabe-ru Tabe-ru Tabe-re Tabe-ro Tabe-ru - nai - masu - hito - ba Tabe-yo - rareru - mashita - mono - saseru - masen - toki - yo - tai - te - ta ix

10 Beberapa contoh kata kerja yang termasuk pada Kami Ichidan KatsuyooDooshi: Deru Taberu Oshieru Neru Shimeru Atsumeru keluar makan mengajar tidur menutup mengumpulkan d. Kagyoo Henkaku Katsuyoo Dooshi. Kelompok kata kerja Kagyoo Henkaku Katsuyoo Dooshi terdiri dari satu kata kerja, yaitu kuru. Istilah Kagyoo Henkaku Katsuyoo Dooshi disingkat menjadi Kahen Dooshi yang mengalami perubahan seperti berikut: Contoh: Bentuk Suku kata Mizen Renyoo Shuushi Rentai Katei Meirei kamus awal(gobi) Kuru Ku Konai Kimasu Kuru Kuru Kure Koi Korareru Kimashita - hito - ba Koyo Kosaseru Kimasen - mono Koyo Kitai - toki Kite Kita x

11 Untuk kata kerja Kagyoo Henkaku Katsuyoo Dooshi tidak dapat pembagian gokan dan gobi. e. Sagyoo Henkaku Katsuyoo Dooshi. Kata Sagyoo Henkaku Katsuyoo Dooshi disingkat menjadi Sahen Dooshi dan kata ini juga terdiri dari satu kata kerja yaitu suru yang mengalami perubahan seperti berikut: Contoh: Bentuk Suku kata Mizen Renyoo Shuushi Rentai Katei Meirei kamus awal(gobi) Suru Su Shinai Shimasu Suru Suru Sure Shiro Dekiru Shimashita - hito - ba shiyo Saseru Shimasen - mono Shiyo Shitai - toki Shite Shita Untuk Sahen tidak juga terdapat pembagian gokan dan gobi. Walaupun Kagyoo ini hanya memiliki satu kata kerja, yaitu suru tetapi banyak pula kata-kata yang disambungkan dengan kata suru, sehingga membentuk Fukugo Dooshi (kata kerja jadian). Contoh: Benkyou suru belajar Renshuu suru latihan Nokku suru mengetuk Shuppatsu suru berangkat. xi

12 2.2. Dooshi no katsuyou (Bentuk perubahan kata kerja). Bentuk bentuk perubahan katsuyou biasanya dibagi menjadi 6 macam perubahan seperti berikut ini: Mizen, Renyou, Shushi, Rentai, Katei, Meirei. a. Mizen Mizen ini selalu bersambung dengan jodooshi nai dan menyatakan arti yang menyangkal. Namun selain dari itu ada juga yang bersambung dengan jodooshi u, yoo dan menyatakan suatu perkiraan, niat, atau kehendak hati. Contoh: kaku (menulis) kakanai (tidak menulis) Kakoo (mari menulis) Okiru (bangun) okinai (tidak bangun). Okiyoo (mari bangun). Kangaeru (berpikir) kangaenai (tidak berpikir) Kangaeyoo (mari berpikir). b. Renyoo Bentuk ini biasanya seperti mengakhiri bacaan dan selain bersambung dengan yoogen lain, juga bersambung dengan jodooshi masu, ta dan lain-lain. Contoh: Yang bersambungan dengan ta dan masu. Kaku-kakimasu (akan menulis) Kaita (telah menulis) Okiru-okimasu (akan bangun) Okita (telah bangun) xii

13 Kangaeru- kangaemasu (akan berpikir) Kangaeta (telah berpikir) Yang bersambung dengan Yoogen lain: Kaku-kaki owari (selesai menulis) Yomu-yomi owari (selesai membaca) Kaku-kaki hajime (mulai menulis) Yomu-yomi hajime (mulai membaca) Renyoo dapat juga digunakan sebagai tanda berhenti (koma) pada tengah kalimat. Cara ini disebut Chuushihoo. Contoh: Hana ga saki, tori ga naku. (Bunga mekar, burung bernyanyi). Ani ga ongaku o narai, One wa e o kaku. (Kakak laki-laki belajar musik, kakak perempuan menggambar). c. Shuushi Shuushi digunakan pada saat berakhirnya kalimat, biasanya kata kerja tersebut dalam bentuk kamus. Contoh: kaku-menulis Kuru datang miru- melihat suru melakukan d. Rentai Rentai digunakan pada waktu disambungkan dengan Taigen. Contoh: kaku kakeba Okiru okiru waktu menulis waktu bangun Kangaeru kangaeru toki waktu berpikir xiii

14 e. Katei Katei bersambung dengan jodoushi ba dan menyatakan arti dugaan. Contoh: kaku kakeba Okiru okireba Kangaeru kangaereba Suru sureba Kuru kureba kalau menulis kalau bangun kalau berpikir kalau melakukan kalau datang. f. Meirei Meirei digunakan pada saat akan memerintah. Contoh: kaku kake tulislah Okiru okiyo, okiro bangunlah Taberu tabeyo, tabero makanlah 2.3. Jidooshi dan Tadooshi Jidooshi adalah kata kerja yang dapat menyatakan aktivitasnya dengan tanpa pelengkap (objek), dalam bahasa Indonesia disebut kata kerja Intransitif. Contoh: Okiru Hajimaru Naoru Saku Naku bangun mulai sembuh berkembang menangis Hana ga saku bunga mekar. Tori ga naku burung berkicau. xiv

15 Pada kalimat di atas, kata saku (mekar) dan naku (berkicau) tanpa ditambah kata lain dapat menyatakan aktivitas atau kegiatan dari subjek hana (bunga) serta tori (burung). Maka kata kerja tersebut dinamakan Jidooshi. Selanjutnya dalam contoh kalimat berikut ini: Kare ga denki o kesu. = Dia memadamkan listrik Tori ga esa o sagasu = Burung mencari makanan Kata kesu (memadamkan) dan sagasu (mencari) pada kalimat di atas tanpa ada kata lain yang menjadi objek tidak dapat menyatakan kegiatan/aktivitas dengan sempurna. Kata seperti ini disebut Tadooshi. Jadi Tadooshi adalah kata kerja yang menyatakan sesuatu dengan memerlukan pelengkap, dalam bahasa Indonesia disebut kata kerja transitif. Beberapa contoh kata kerja yang termasuk Tadooshi: Okosu = membangunkan Dasu = mengeluarkan Naosu = menyembuhkan dan lain-lain Dilihat dari bentuknya Jidooshi dan Tadooshi dapat dibedakan menjadi 3 kelompok: 1. Kata kerja yang bentuknya sama, hanya dibedakan fungsi dan pengertiannya oleh kata bantu (joshi). Contoh: benkyoo ga owaru (jidooshi) = pelajaran selesai Benkyoo o owaru (tadooshi) = menyelesaikan pelajaran Gakko ga yasumu (jidooshi) = sekolah libur Gakko o yasumu (tadooshi) = libur sekolah xv

16 2. Yang berlainan perubahannya. Okiru bangun (jidooshi) Deru keluar (jidooshi) Naoru sembuh ( jidooshi) Okosu membangunkan (tadooshi) Dasu mengeluarkan (tadooshi) Naosu menyembuhkan (tadooshi) 3. Yang bentuknya berlainan sama sekali Shinu mati Korosu membunuh 2.4. Kanoo Dooshi Cara pengucapan bentuk Kanoo Dooshi (bentuk dapat) pada kata kerja dalam bahasa Jepang ada beberapa macam. Kata kerja dalam bentuk dapat ini disebut kata kerja Kanoo atau Kanoo Dooshi. 1. Kata kerja bentuk kamus + koto ga dekiru Kaku (menulis) Neru ( tidur) Kuru (datang) kaku + koto ga dekiru (dapat menulis) neru + koto ga dekiru (dapat tidur). kuru + koto ga dekiru (dapat datang) Benkyoo suru (belajar) benkyoo suru + koto ga dekiru (dapat belajar). 2. Godan Katsuyoo Dooshi diubah menjadi Shimo Ichidan Dooshi. Kaku (menulis) Hanasu (berbicara) kakeru (dapat menulis) hanaseru (dapat berbicara) 3. Godan Katsuyoo Dooshi + kata kerja kopula reru. Iku (pergi ) Hairu (masuk) ika + reru (dapat pergi) haira + reru (dapat masuk) xvi

17 4. Ichidan Katsuyoo Dooshi + kata kerja kopula rareru. Okiru (bangun) oki + rareru (dapat bangun) 5. Kahenkaku Katsuyoo Dooshi + kata kerja kopula rareru Kuru (datang) ko + rareru (dapat datang) 6. Bentuk suru dekiru Unten suru (menyetir) unten dekiru (dapat menyetir). Semua cara pengucapan di atas dapat dipakai secara bebas, berarti Si pembicara boleh mempergunakan cara yang manapun menurut kemauannya. Misalnya untuk mengatakan dapat pergi kita dapat menggunakan 3 cara pengucapan yaitu: Iku koto ga dekiru Ikareru Ikeru 2.5. Hojo Doushi (Kata Kerja Pelengkap) Kata kerja aru, iru, ageru, morau, hajimeru, owaru, yaru sering ditempelkan atau disambungkan pada bentuk -te suatu kata kerja yang lain, sebagai penekan. Kata-kata tersebut di atas disebut hojo dooshi atau kata kerja pelengkap. Contoh: Hanashiteiru (sedang berbicara) Tabetemiru (mencoba makan) Kaitearu (tertulis) xvii

18 2.6. Onbin dari Godan Katsuyoo Dooshi Pada kata kerja Godan Katsuyoo dalam Renyoo bentuk te, terjadi asimilasi bunyi pada kata-kata yang ber-gobi: u, ku, gu, bu, tsu, mu, nu, su, ru. Asimilasi ini disebut onbin. Dalam kata kerja ini terdapat 3 Onbin yaitu: 1. I onbin Untuk kata-kata yang ber-gobi ku dan gu Contoh: kaku > kakite > kaite Oyogu > oyogite > oyoide 2. Hatsu onbin (n) Untuk kata-kata yang ber-gobi bu, mu, nu Contoh: nomu > nomite > nonde Shinu > shinite > shinde 3. Soku onbin (konsonan rangkap) Untuk kata-kata yang ber-gobi u, tsu, ru Contoh: Tatsu > tachite > tatte Toru -> torite -> totte Kau -> kaite ->katte xviii

19 BAB III KESIMPULAN Jenis perubahan kata kerja menurut perubahannya dapat dibagi menjadi 5 jenis, yaitu: Godan Katsuyoo Dooshi adalah kata kerja yang berakhiran u, tsu, ru, bu, nu, mu, ku, gu, su. Kami Ichidan Katsuyoo Dooshi. adalah kata kerja yang berakhiran iru, Shimo Ichidan Katsuyoo Dooshi adalah kata kereja yang berakhiran eru, Henkaku Katsuyoo Dooshi hanya satu kata kerja yaitu kuru, Henkaku Katsuyoo Dooshi hanya satu kata kerja yaitu suru. Bentuk perubahan kata kerja biasanya dibagi menjadi 6 macam perubahan seperti berikut ini: Mizen, Renyou, Shushi, Rentai, Katei, Meirei., Mizen. Mizen ini selalu bersambung dengan jodooshi nai dan menyatakan arti yang menyangkal. Renyoo bentuk ini biasanya seperti mengakiri bacaan dan selain bersambung dengan yoogen lain, juga bersambung dengan jodooshi masu, ta dan lain-lain. Renyoo dapat juga digunakan sebagai tanda berhenti (koma) pada tengah kalimat. Shuushi digunakan pada saat berakhirnya kalimat, biasanya kata kerja tersebut dalam bentuk kamus. Rentai digunakan pada waktu disambungkan dengan Taigen. Katei bersambung dengan jodoushi ba dan menyatakan arti dugaan. Meirei digunakan pada saat akan memerintah. xix

20 D A F T A R P U S T A K A Harimurti Kridalaksana, Pembentukan Kata Dalam Bahasa Indonesia. Jakarta: Gramedia Hiroshi Kabaya, dkk Keigo Hyougen. Tokyo: Kabushiki Kaisha Taishuu Shoso. Himeno. Masako, Fukugo Doushi. Tokyo : Yugen Kaisha. J. Vance Thimoty dalam Rahayu Ratna Ningsih. 1993, Prefiks dan Sufiks dalam Bahasa Jepang. Jakarta: Kesaint Blanc. Katamba Francis Morphology; Modern Linguistics. London : The MacMillan Press. Moeliono Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka. Ramlan, M Morfologi Suatu Tinjauan Deskriptif. (Edisi ke 12). Jogyakarta: Karyono. Spencer Andrew Morphology Theory; An Introduction to Word Structure in Generative Grammar. Cambridge: Basil Blackwell. Sudjianto Gramatika Bahasa Jepang Modern.Jakarta : Kesaint Blanc. Shinjiro Muraki Nihon Go Bunpou Nyuumon. Japan. Yuugen Kaisha. Reoproduct. Taro Kageyama Doushi Imiron. Tokyo : Kuroshio Shuppan. Yoshikawa Taketoki Nihon Go Bunpou Nyuumon. Tokyo : Kabushiki Kaisha. xx

BAB II GAMBARAN UMUM. kalimat sangat bervariasi dan tidak ada aturan-aturan khusus. Predikat dalam

BAB II GAMBARAN UMUM. kalimat sangat bervariasi dan tidak ada aturan-aturan khusus. Predikat dalam BAB II GAMBARAN UMUM 2.1 Kata Kerja Bahasa yang kita gunakan diungkapkan dalam bentuk kalimat. Bentuk kalimat sangat bervariasi dan tidak ada aturan-aturan khusus. Predikat dalam sebuah kalimat merupakan

Lebih terperinci

BAB II GAMBARAN UMUM TENTANG PEMBENTUKAN KATA DALAM BAHASA JEPANG. kata daigaku universitas terdiri atas dua huruf kanji yaitu dai dan gaku.

BAB II GAMBARAN UMUM TENTANG PEMBENTUKAN KATA DALAM BAHASA JEPANG. kata daigaku universitas terdiri atas dua huruf kanji yaitu dai dan gaku. BAB II GAMBARAN UMUM TENTANG PEMBENTUKAN KATA DALAM BAHASA JEPANG 2.1 Morfem Dalam Bahasa Jepang Morfem (keitaiso) merupakan satuan bahasa terkecil yang memiliki makna dan tidak bisa dipecahkan lagi ke

Lebih terperinci

ANALISIS MATERI AJAR VERBA BENTUK TE. Kun M. Permatasari, Juariah, Riri Hendriati Sastra Jepang Fakultas Sastra. Abstrak

ANALISIS MATERI AJAR VERBA BENTUK TE. Kun M. Permatasari, Juariah, Riri Hendriati Sastra Jepang Fakultas Sastra. Abstrak ANALISIS MATERI AJAR VERBA BENTUK TE Kun M. Permatasari, Juariah, Riri Hendriati Sastra Jepang Fakultas Sastra Abstrak Penelitian ini dilakukan karena adanya keluhan dari mahasiswa tingkat dasar dalam

Lebih terperinci

Ekor Verba -u/-ru sebagai Konstituen Penyambung dalam Bahasa Jepang, Sebuah Pemikiran

Ekor Verba -u/-ru sebagai Konstituen Penyambung dalam Bahasa Jepang, Sebuah Pemikiran HUMANIORA INOVASI Vol.16/XXII/Maret 2010 Ekor Verba -u/-ru sebagai Konstituen Penyambung dalam Bahasa Jepang, Sebuah Pemikiran R o n i Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Surabaya Fakultas Sastra

Lebih terperinci

INTRODUCTORY JAPANESE. Session 7 Session 9

INTRODUCTORY JAPANESE. Session 7 Session 9 INTRODUCTORY JAPANESE Session 7 Session 9 Session 7: Bentuk ~ta dan contoh pemakaiannya dalam kalimat Bentuk ini digunakan secara umum untuk menunjukkan bentuk lampau, misalnya: telah datang (kimashita

Lebih terperinci

keinginan kepada seseorang baik secara lisan maupun tertulis, orang adalah alat yang digunakan seseorang untuk melahirkan pikiran-pikiran

keinginan kepada seseorang baik secara lisan maupun tertulis, orang adalah alat yang digunakan seseorang untuk melahirkan pikiran-pikiran BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Bahasa memegang peranan penting sebagai alat komunikasi dalam kehidupan manusia, ketika kita menyampaikan ide, pikiran, hasrat dan keinginan kepada seseorang

Lebih terperinci

FUKUGOOGO DALAM BAHASA JEPANG. Justien R.Wuisang. Abstrak

FUKUGOOGO DALAM BAHASA JEPANG. Justien R.Wuisang. Abstrak Justien R.Wuisang Abstrak Artikel ini membahas dan memaparkan contoh-contoh dari salah satu unsur bahasa yang masuk dalam kategori kosa kata bahasa Jepang yaitu fukugoogo 複合語 atau gabungan kata. Gabungan

Lebih terperinci

PDF created with FinePrint pdffactory trial version YUK BELAJAR NIHONGO

PDF created with FinePrint pdffactory trial version  YUK BELAJAR NIHONGO 1 YUK BELAJAR NIHONGO PENGANTAR Saat ini sedang bekerja di sebuah perusahaan Jepang? Atau barangkali sedang kuliah jurusan Bahasa Jepang, atau suatu saat anda ingin pergi ke Jepang baik untuk belajar atau

Lebih terperinci

ELIPSIS PARTIKEL (JOSHI) DALAM BAHASA JEPANG PADA DIALOG FILM BOKURA GA ITA PART I KARYA TAKAHIRU MIKI SKRIPSI

ELIPSIS PARTIKEL (JOSHI) DALAM BAHASA JEPANG PADA DIALOG FILM BOKURA GA ITA PART I KARYA TAKAHIRU MIKI SKRIPSI ELIPSIS PARTIKEL (JOSHI) DALAM BAHASA JEPANG PADA DIALOG FILM BOKURA GA ITA PART I KARYA TAKAHIRU MIKI SKRIPSI OLEH: AYU PUJANING ARDAENU 105110203111003 PROGRAM STUDI SASTRA JEPANG JURUSAN BAHASA DAN

Lebih terperinci

BAB II PROSES MOROLOGIS DAN VERBA BAHASA JEPANG. 消除 kejo atau penghapusan, 重複. Sedangkan morfem adalah potongan terkecil dari kata yang memiliki arti.

BAB II PROSES MOROLOGIS DAN VERBA BAHASA JEPANG. 消除 kejo atau penghapusan, 重複. Sedangkan morfem adalah potongan terkecil dari kata yang memiliki arti. BAB II PROSES MOROLOGIS DAN VERBA BAHASA JEPANG 2.1. Morfologis Verba Bahasa Jepang 2.1.1. Pengertian Proses Morfologis Proses morfologis adalah apabila dua buah morfem disatukan, mengakibatkan terjadinya

Lebih terperinci

KALA DAN ASPEK DALAM BAHASA JEPANG Bayu Aryanto Universitas Dian Nuswantoro

KALA DAN ASPEK DALAM BAHASA JEPANG Bayu Aryanto Universitas Dian Nuswantoro KALA DAN ASPEK DALAM BAHASA JEPANG Bayu Aryanto Universitas Dian Nuswantoro Abstract: Tense and aspect are two important variables in determining meaning of sentence in any language. Tense and aspect in

Lebih terperinci

no ni digunakan untuk menunjukkan tujuan kegunaan, cara penggunaan,dll. Memiliki arti "memiliki kegunaan untuk...".

no ni digunakan untuk menunjukkan tujuan kegunaan, cara penggunaan,dll. Memiliki arti memiliki kegunaan untuk.... no ni no ni digunakan untuk menunjukkan tujuan kegunaan, cara penggunaan,dll. Memiliki arti "memiliki kegunaan untuk...". pembentukannya: bentuk kamus + no ni... biasanya setelah no ni di gunakan kata

Lebih terperinci

UNGKAPAN DALAM BAHASA JEPANG YANG MENUNJUKKAN KERAMAHAN DAN KEAKRABAN. Oleh Fenny Febrianty. Abstrak

UNGKAPAN DALAM BAHASA JEPANG YANG MENUNJUKKAN KERAMAHAN DAN KEAKRABAN. Oleh Fenny Febrianty. Abstrak UNGKAPAN DALAM BAHASA JEPANG YANG MENUNJUKKAN KERAMAHAN DAN KEAKRABAN Oleh Fenny Febrianty Abstrak Ungkapan yang menunjukkan keramahan dan keakraban dalam bahasa Jepang dapat ditunjukkan dengan berbagai

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. lambang bunyi yang arbitrer, yang digunakan oleh anggota suatu masyarakat untuk

BAB 1 PENDAHULUAN. lambang bunyi yang arbitrer, yang digunakan oleh anggota suatu masyarakat untuk BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kamus Besar Bahasa Indonesia (2005:88) mengartikan bahasa sebagai, sistem lambang bunyi yang arbitrer, yang digunakan oleh anggota suatu masyarakat untuk bekerja sama,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. makhluk lain dimuka bumi ini. Semua orang menyadari betapa pentingnya

BAB I PENDAHULUAN. makhluk lain dimuka bumi ini. Semua orang menyadari betapa pentingnya BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Penggunaan Bahasa merupakan salah satu kelebihan manusia dari makhluk lain dimuka bumi ini. Semua orang menyadari betapa pentingnya peranan bahasa sebagai

Lebih terperinci

PERBANDINGAN VERBA TRANSITIF DAN INTRANSITIF BAHASA INDONESIA DAN BAHASA JEPANG: TINJAUAN ANALISIS KONTRASTIF

PERBANDINGAN VERBA TRANSITIF DAN INTRANSITIF BAHASA INDONESIA DAN BAHASA JEPANG: TINJAUAN ANALISIS KONTRASTIF PERBANDINGAN VERBA TRANSITIF DAN INTRANSITIF BAHASA INDONESIA DAN BAHASA JEPANG: TINJAUAN ANALISIS KONTRASTIF Diana Kartika Jurusan Sastra Jepang Fakultas Ilmu Budaya Universitas Bung Hatta [email protected]

Lebih terperinci

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

BAB III METODOLOGI PENELITIAN 20 BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. Metode Penelitian Metode dapat diartikan sebagai cara atau prosedur yang harus ditempuh untuk menjawab masalah penelitian mulai dari perencanaan, pelaksanaan, dan pengambilan

Lebih terperinci

AFIKSASI BAHASA JEPANG DALAM CERITA PENDEK MOMOTARO. Rahtu Nila Sepni Jurusan Sastra Jepang Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas

AFIKSASI BAHASA JEPANG DALAM CERITA PENDEK MOMOTARO. Rahtu Nila Sepni Jurusan Sastra Jepang Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas AFIKSASI BAHASA JEPANG DALAM CERITA PENDEK MOMOTARO Rahtu Nila Sepni Jurusan Sastra Jepang Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk menemukan bentuk, proses dan makna

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. makna kausatif. Meskipun demikian kausatif dalam masing-masing bahasa

BAB I PENDAHULUAN. makna kausatif. Meskipun demikian kausatif dalam masing-masing bahasa 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Setiap bahasa memiliki ungkapan yang digunakan untuk menyampaikan makna kausatif. Meskipun demikian kausatif dalam masing-masing bahasa dinyatakan dengan

Lebih terperinci

[~temo ii] & [~nakutemo ii]

[~temo ii] & [~nakutemo ii] [~temo ii] & [~nakutemo ii] oleh Belajar Bahasa Jepang - Nihongo o Benkyoushimasu pada 26 Februari 2011 pukul 16:33 [~temo ii] [~temo ii] menunjukkan izin/persetujuan, dalam bahasa indo berarti "boleh~"

Lebih terperinci

Universitas Bina Nusantara. Jurusan Teknik Informatika Program Studi Ilmu Komputer Skripsi Sarjana Komputer Semester Ganjil 2007 / 2008

Universitas Bina Nusantara. Jurusan Teknik Informatika Program Studi Ilmu Komputer Skripsi Sarjana Komputer Semester Ganjil 2007 / 2008 Universitas Bina Nusantara Jurusan Teknik Informatika Program Studi Ilmu Komputer Skripsi Sarjana Komputer Semester Ganjil 2007 / 2008 ANALISIS DAN PERANCANGAN APLIKASI PENERJEMAH BAHASA INDONESIA KE DALAM

Lebih terperinci

BAB II KAJIAN PUSTAKA, KONSEP, DAN KERANGKA TEORI. Beberapa penelitian mengenai morfologi sudah banyak dilakukan. Berikut

BAB II KAJIAN PUSTAKA, KONSEP, DAN KERANGKA TEORI. Beberapa penelitian mengenai morfologi sudah banyak dilakukan. Berikut BAB II KAJIAN PUSTAKA, KONSEP, DAN KERANGKA TEORI 2.1 Kajian Pustaka Beberapa penelitian mengenai morfologi sudah banyak dilakukan. Berikut ini akan dipaparkan mengenai beberapa tulisan yang berkaitan

Lebih terperinci

ANALISIS KESALAHAN PENGGUNAAN GAIRAIGO PADA MAHASISWA SASTRA JEPANG ANGKATAN 2010 UNIVERSITAS BRAWIJAYA SKRIPSI OLEH IKA MILA PRATIWI

ANALISIS KESALAHAN PENGGUNAAN GAIRAIGO PADA MAHASISWA SASTRA JEPANG ANGKATAN 2010 UNIVERSITAS BRAWIJAYA SKRIPSI OLEH IKA MILA PRATIWI ANALISIS KESALAHAN PENGGUNAAN GAIRAIGO PADA MAHASISWA SASTRA JEPANG ANGKATAN 2010 UNIVERSITAS BRAWIJAYA SKRIPSI OLEH IKA MILA PRATIWI 105110200111065 PROGRAM STUDI S1 SASTRA JEPANG JURUSAN BAHASA DAN SASTRA

Lebih terperinci

BENTUK NEGASI VERBA DIALEK OSAKA

BENTUK NEGASI VERBA DIALEK OSAKA BENTUK NEGASI VERBA DIALEK OSAKA (SATU TINJAUAN MORFOFONOLOGI) REGINA FEBRIA 180610070088 UNIVERSITAS PADJADJARAN FAKULTAS ILMU BUDAYA JURUSAN SASTRA JEPANG AGUSTUS 2012 2 Bentuk Negasi Verba Dialek Osaka

Lebih terperinci

BAB II GAMBARAN UMUM TENTANG PARTIKEL GURAI DAN GORO. Menurut Drs. Sugihartono ( 2001:178 ), joshi adalah jenis kata yang tidak

BAB II GAMBARAN UMUM TENTANG PARTIKEL GURAI DAN GORO. Menurut Drs. Sugihartono ( 2001:178 ), joshi adalah jenis kata yang tidak BAB II GAMBARAN UMUM TENTANG PARTIKEL GURAI DAN GORO 2.1 Pengertian Partikel Menurut Drs. Sugihartono ( 2001:178 ), joshi adalah jenis kata yang tidak mengalami perubahan dan tidak bisa berdiri sendiri

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Dalam mempelajari bahasa asing, tata bahasa, kosakata dan huruf adalah

BAB I PENDAHULUAN. Dalam mempelajari bahasa asing, tata bahasa, kosakata dan huruf adalah BAB I PENDAHULUAN 1. LATAR BELAKANG MASALAH Formatted: Indonesian (Indonesia) Dalam mempelajari bahasa asing, tata bahasa, kosakata dan huruf adalah hal yang patut diperhatikan. Kosakata adalah salah satu

Lebih terperinci

Artikel ini sudah dimuat dalam jurnal Sastra Jepang Fakultas Sastra Universitas Kristen Maranatha vol. 4 no. 2 edisi Februari 2005

Artikel ini sudah dimuat dalam jurnal Sastra Jepang Fakultas Sastra Universitas Kristen Maranatha vol. 4 no. 2 edisi Februari 2005 Artikel ini sudah dimuat dalam jurnal Sastra Jepang Fakultas Sastra Universitas Kristen Maranatha vol. 4 no. 2 edisi Februari 2005 Gramatika Bahasa Jepang Renariah Abstrak : Pada umumnya orang berpendapat

Lebih terperinci

Yarimorai (memberi dan menerima)

Yarimorai (memberi dan menerima) Yarimorai (memberi dan menerima) oleh Belajar Bahasa Jepang - Nihongo o Benkyoushimasu pada 21 Februari 2011 pukul 13:11 Penggunaan ~ageru, ~kureru, ~morau I. AGERU, KURERU, MORAU AGERU ageru artinya memberi

Lebih terperinci

ANALISIS JODOUSHI ~SOUDA DAN ~YOUDA DALAM BAHASA JEPANG DITINJAU DARI SEGI SEMANTIK DAN SINTAKSIS

ANALISIS JODOUSHI ~SOUDA DAN ~YOUDA DALAM BAHASA JEPANG DITINJAU DARI SEGI SEMANTIK DAN SINTAKSIS ANALISIS JODOUSHI ~SOUDA DAN ~YOUDA DALAM BAHASA JEPANG DITINJAU DARI SEGI SEMANTIK DAN SINTAKSIS SKRIPSI Diajukan kepada Fakultas Pendidikan Bahasa Universitas Muhammadiyah Yogyakarta untuk Memenuhi Sebagian

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. satu objek kesalahan dalam mempelajari bahasa Jepang yaitu dalam membuat

BAB I PENDAHULUAN. satu objek kesalahan dalam mempelajari bahasa Jepang yaitu dalam membuat BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Perbedaan karakteristik bahasa Jepang dan bahasa Indonesia melahirkan kesalahan berbahasa dalam berbagai aspek keterampilan bahasa Jepang. Salah satu objek kesalahan

Lebih terperinci

PENGGUNAAN PARTIKEL TO, BA, TARA DAN NARA SEBAGAI PENANDA BENTUK KONDISIONAL DALAM BUKU MINNA NO NIHONGO

PENGGUNAAN PARTIKEL TO, BA, TARA DAN NARA SEBAGAI PENANDA BENTUK KONDISIONAL DALAM BUKU MINNA NO NIHONGO PENGGUNAAN PARTIKEL TO, BA, TARA DAN NARA SEBAGAI PENANDA BENTUK KONDISIONAL DALAM BUKU MINNA NO NIHONGO TUGAS AKHIR Diajukan dalam rangka menyelesaikan Studi Diploma III Untuk mencapai gelar Ahli Madya

Lebih terperinci

VERBAL CLAUSAL STRUCTURE IN INDONESIAN AND JAPANESE: CONTRASTIVE ANALYSIS

VERBAL CLAUSAL STRUCTURE IN INDONESIAN AND JAPANESE: CONTRASTIVE ANALYSIS STRUKTUR KLAUSA VERBAL DALAM BAHASA INDONESIA DAN BAHASA JEPANG: SUATU ANALISIS KONTRASTIF Wahya, Nani Sunarni, Endah Purnamasari Fakultas Sastra Universitas Padjadjaran Jatinangor, Bandung 40600 ABSTRAK

Lebih terperinci

UNGKAPAN MAKNA VERBA SHIKARU DAN OKORU SEBAGAI SINONIM

UNGKAPAN MAKNA VERBA SHIKARU DAN OKORU SEBAGAI SINONIM UNGKAPAN MAKNA VERBA SHIKARU DAN OKORU SEBAGAI SINONIM Nandi S. Departemen sastra Jepang Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara ABSTRAK Tulisan ini bertujuan untuk mengetahui persamaan dan perbedaan

Lebih terperinci

ANALISIS KONTRASTIF PROSES MORFOLOGIS BAHASA KANGEAN DAN BAHASA INDONESIA SKRIPSI. Oleh: Ummu Atika

ANALISIS KONTRASTIF PROSES MORFOLOGIS BAHASA KANGEAN DAN BAHASA INDONESIA SKRIPSI. Oleh: Ummu Atika ANALISIS KONTRASTIF PROSES MORFOLOGIS BAHASA KANGEAN DAN BAHASA INDONESIA SKRIPSI Oleh: Ummu Atika 201010080311056 PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

Lebih terperinci

JURUSAN PENDIDIKAN BAHASA JEPANG FAKULTAS PENDIDIKAN BAHASA DAN SENI UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA

JURUSAN PENDIDIKAN BAHASA JEPANG FAKULTAS PENDIDIKAN BAHASA DAN SENI UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA No.: FPBS/FM-7.1/07 SILABUS NIHONGOGAKU (JP304) NAMA DOSEN: DRS. H. SUDJIANTO, M.HUM. (0685) JURUSAN PENDIDIKAN BAHASA JEPANG FAKULTAS PENDIDIKAN BAHASA DAN SENI UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA 2013 LEMBAR

Lebih terperinci

ANALISIS KESALAHAN PENGGUNAAN UNGKAPAN YANG MENUNJUKKAN WAKTU (KALA DAN ASPEK) DALAM KARANGAN BAHASA JEPANG

ANALISIS KESALAHAN PENGGUNAAN UNGKAPAN YANG MENUNJUKKAN WAKTU (KALA DAN ASPEK) DALAM KARANGAN BAHASA JEPANG ANALISIS KESALAHAN PENGGUNAAN UNGKAPAN YANG MENUNJUKKAN WAKTU (KALA DAN ASPEK) DALAM KARANGAN BAHASA JEPANG Lispridona Diner Universitas Negeri Semarang 130 Lingua V/2 Juli 2009 Abstrak Dalam bahasa Jepang,

Lebih terperinci

BAB 6 KESIMPULAN DAN SARAN

BAB 6 KESIMPULAN DAN SARAN BAB 6 KESIMPULAN DAN SARAN 3.13. Kesimpulan Berdasarkan pembahasan pada analisis, desain, implementasi dan pengujian yang telah dilakukan pada 30 responden, maka dapat ditarik kesimpulan yaitu: 1. Aplikasi

Lebih terperinci

Chi e: Journal of Japanese Learning and Teaching

Chi e: Journal of Japanese Learning and Teaching CHI E 1 (1) (2012) Chi e: Journal of Japanese Learning and Teaching http://journal.unnes.ac.id/sju/index.php/chie PENGGUNAAN METODE INDUKTIFDALAM PENGAJARAN KATA KERJA BENTUK ~TE DI SMA NEGERI 7 CIREBON

Lebih terperinci

BENTUK DAN PERBEDAAN MAKNA [UCHI NI], [AIDA NI], DAN [KAGIRI] YANG BERFUNGSI SEBAGAI SETSUZOKUSHI DALAM NOVEL RYOMA GA YUKU KARYA RYŌTARŌ SHIBA.

BENTUK DAN PERBEDAAN MAKNA [UCHI NI], [AIDA NI], DAN [KAGIRI] YANG BERFUNGSI SEBAGAI SETSUZOKUSHI DALAM NOVEL RYOMA GA YUKU KARYA RYŌTARŌ SHIBA. BENTUK DAN PERBEDAAN MAKNA [UCHI NI], [AIDA NI], DAN [KAGIRI] YANG BERFUNGSI SEBAGAI SETSUZOKUSHI DALAM NOVEL RYOMA GA YUKU KARYA RYŌTARŌ SHIBA oleh K. Nastya Anggaraini 1001705008 Program Studi Sastra

Lebih terperinci

DOSEN : TEAM TEACHING Drs. AHMAD DAHIDI, M.A. LINNA MEILIA.R, M. Pd. JUJU JUANGSIH, M.Pd. NOVIYANTI. A, M. Pd.

DOSEN : TEAM TEACHING Drs. AHMAD DAHIDI, M.A. LINNA MEILIA.R, M. Pd. JUJU JUANGSIH, M.Pd. NOVIYANTI. A, M. Pd. Silabus 1 08/09 SILABUS SHOKYU SAKUBUN I TAHUN AKADEMIK 2008/ DOSEN : TEAM TEACHING Drs. AHMAD DAHIDI, M.A. LINNA MEILIA.R, M. Pd. JUJU JUANGSIH, M.Pd. NOVIYANTI. A, M. Pd. JURUSAN PENDIDIKAN BAHASA JEPANG

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. tukar informasi dengan manusia lainnya. Dalam hal ini, keberadaan suatu bahasa

BAB I PENDAHULUAN. tukar informasi dengan manusia lainnya. Dalam hal ini, keberadaan suatu bahasa 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Manusia sebagai makhluk sosial diharuskan untuk saling berinteraksi dan saling tukar informasi dengan manusia lainnya. Dalam hal ini, keberadaan suatu bahasa

Lebih terperinci

BENTUK, FUNGSI DAN MAKNA JODOUSHI {~NAKEREBANARAI}, {~BEKIDA} DAN {~ZARU O ENAI } DALAM NOVEL TOBU GA GOTOKU VOLUME 1-10 KARYA RYOUTAROU SHIBA.

BENTUK, FUNGSI DAN MAKNA JODOUSHI {~NAKEREBANARAI}, {~BEKIDA} DAN {~ZARU O ENAI } DALAM NOVEL TOBU GA GOTOKU VOLUME 1-10 KARYA RYOUTAROU SHIBA. 1 BENTUK, FUNGSI DAN MAKNA JODOUSHI {~NAKEREBANARAI}, {~BEKIDA} DAN {~ZARU O ENAI } DALAM NOVEL TOBU GA GOTOKU VOLUME 1-10 KARYA RYOUTAROU SHIBA Oleh : Ni Wayan Rusprianti 1001705026 Program Studi Sastra

Lebih terperinci

Ungkapan Kata Hanasu, Iu, dan Shaberu dalam Bahasa Jepang

Ungkapan Kata Hanasu, Iu, dan Shaberu dalam Bahasa Jepang Ungkapan Kata Hanasu, Iu, dan Shaberu dalam Bahasa Jepang Oleh Nandi S. Departemen Sastra Jepang Fakultas Ilmu Budaya USU Abstrak Di dalam bahasa Jepang banyak sekali terdapat ungkapan (hyougen) kata-kata

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI

BAB II LANDASAN TEORI DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL... HALAMAN PERNYATAAN KEASLIAN... HALAMAN NOTA PERSETUJUAN PEMBIMBING... HALAMAN PENGESAHAN... HALAMAN PERSEMBAHAN... HALAMAN MOTTO... HALAMAN KATA PENGANTAR... HALAMAN DAFTAR

Lebih terperinci

TRANSLITERASI ARAB LATIN.

TRANSLITERASI ARAB LATIN. DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL... i HALAMAN PERNYATAAN... ii HALAMAN PENGESAHAN... iii NOTA DINAS... iv MOTTO... v HALAMAN PERSEMBAHAN... vi ABSTRAK... vii KATA PENGANTAR... ix DAFTAR ISI... xi DAFTAR TABEL...

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI. ). Huruf hiragana dan katakana disebut huruf kana ( ). 1946, pemerintah Jepang mengeluarkan daftar 1850 Kanji Masa Kini (

BAB II LANDASAN TEORI. ). Huruf hiragana dan katakana disebut huruf kana ( ). 1946, pemerintah Jepang mengeluarkan daftar 1850 Kanji Masa Kini ( BAB II LANDASAN TEORI 2.1. Kanji sebagai Aksara Bahasa Jepang Seperti yang telah diungkapkan sebelumnya, aksara yang dipakai dalam penulisan bahasa Jepang disebut moji ( ). Moji mencakup hurufhuruf yang

Lebih terperinci

NIHONGO NO BAKARI NO JOUDOUSHI NO

NIHONGO NO BAKARI NO JOUDOUSHI NO NIHONGO NO BAKARI NO JOUDOUSHI NO SHIYOU KERTAS KARYA Dikerjakan O L E H MARIANI SARI NIM 062203016 UNIVERSITAS SUMATERA UTARA FAKULTAS SASTRA PROGRAM PENDIDIKAN NON-GELAR SASTRA BUDAYA BIDANG STUDI BAHASA

Lebih terperinci

BAB II GAMBARAN UMUM TENTANG JOSHI

BAB II GAMBARAN UMUM TENTANG JOSHI BAB II GAMBARAN UMUM TENTANG JOSHI 2.1 Pengertian Joshi Joshi memiliki beberapa pengertian. Salah satu pengertian joshi dapat dilihat dari penulisannya. Istilah joshi ditulis dengan dua buah huruf kanji.

Lebih terperinci

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN 70 71 72 RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN Mata Pelajaran : Bahasa Indonesia Satuan Pendidikan : SD Negeri 02 Ngenden Tema : Diri Sendiri Kelas / Semester : I / 2 Alokasi Waktu : 2 x 35 menit (pertemuan

Lebih terperinci

JENIS, STRUKTUR, SERTA VARIASI TERJEMAHAN HATSUWA DAN DENTATSU NO MODARITI DALAM NOVEL KOGOERU KIBA KARYA ASA NONAMI

JENIS, STRUKTUR, SERTA VARIASI TERJEMAHAN HATSUWA DAN DENTATSU NO MODARITI DALAM NOVEL KOGOERU KIBA KARYA ASA NONAMI JENIS, STRUKTUR, SERTA VARIASI TERJEMAHAN HATSUWA DAN DENTATSU NO MODARITI DALAM NOVEL KOGOERU KIBA KARYA ASA NONAMI Sarah Mayung Sarungallo Program Studi Sastra Jepang Fakultas Sastra dan Budaya Universitas

Lebih terperinci

PENGEMBANGAN BAHAN AJAR BERMAIN DRAMA DENGAN MODEL PEMBELAJARAN SAVI

PENGEMBANGAN BAHAN AJAR BERMAIN DRAMA DENGAN MODEL PEMBELAJARAN SAVI TESIS PENGEMBANGAN BAHAN AJAR BERMAIN DRAMA DENGAN MODEL PEMBELAJARAN SAVI (SOMATIS, AUDITORI, VISUAL, DAN INTELEKTUAL) PADA SISWA KELAS VIII SMP NEGERI 2 SINGAPARNA KABUPATEN TASIKMALAYA TAHUN PEMBELAJARAN

Lebih terperinci

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN 89 BAB V KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan Kalimat pasif bahasa Jepang secara garis besar dibagi menjadi dua yaitu kalimat pasif langsung atau chokusetsu ukemi dan kalimat pasif tidak langsung atau kansetsu

Lebih terperinci

PENGGUNAAN MEDIA KARTU BERGAMBAR UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN BERBICARA SISWA KELAS II SDN SUKOSARI 01 KUNIR SKRIPSI. Oleh:

PENGGUNAAN MEDIA KARTU BERGAMBAR UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN BERBICARA SISWA KELAS II SDN SUKOSARI 01 KUNIR SKRIPSI. Oleh: PENGGUNAAN MEDIA KARTU BERGAMBAR UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN BERBICARA SISWA KELAS II SDN SUKOSARI 01 KUNIR SKRIPSI Oleh: INDAH WAHYUNINGSIH NIM 070210204207 PROGRAM STUDI PENDIDIDKAN GURU SEKOLAH DASAR

Lebih terperinci

VERBA DENOMINAL BAHASA JAWA PADA MAJALAH DJAKA LODHANG EDISI JULI SAMPAI SEPTEMBER TAHUN 2008

VERBA DENOMINAL BAHASA JAWA PADA MAJALAH DJAKA LODHANG EDISI JULI SAMPAI SEPTEMBER TAHUN 2008 VERBA DENOMINAL BAHASA JAWA PADA MAJALAH DJAKA LODHANG EDISI JULI SAMPAI SEPTEMBER TAHUN 2008 Zuly Qurniawati, Santi Ratna Dewi S. Universitas Muhammadiyah Purworejo ABSTRAK Majalah merupakan bagian dari

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Bahasa Jepang merupakan salah satu bahasa yang semakin diminati oleh

BAB I PENDAHULUAN. Bahasa Jepang merupakan salah satu bahasa yang semakin diminati oleh BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Bahasa Jepang merupakan salah satu bahasa yang semakin diminati oleh masyarakat Indonesia selain Bahasa Inggris dan Bahasa Mandarin. Dalam proses pembelajarannya,

Lebih terperinci

PEDOMAN TRANSLITERASI ARAB LATIN

PEDOMAN TRANSLITERASI ARAB LATIN PEDOMAN TRANSLITERASI ARAB LATIN Transliterasi adalah pengalihan tulisan dari satu bahasa ke dalam tulisan bahasa lain. Dalam skripsi ini transliterasi yang dimaksud adalah pengalihan tulisan bahasa Arab

Lebih terperinci

KAKUJOSHI NI IN JAPANESE SENTENCES

KAKUJOSHI NI IN JAPANESE SENTENCES 1 KAKUJOSHI NI IN JAPANESE SENTENCES Suci Ramdani, Hana Nimashita, Nana Rahayu [email protected], [email protected], [email protected] Number Phone: 085272517366 Japanese Language Study

Lebih terperinci

THE FUNCTION AND MEANING OF THE FORMS ~ ていく ( ~ TE IKU) AND ~ てくる ( ~TE KURU) AT ANIME SKET DANCE

THE FUNCTION AND MEANING OF THE FORMS ~ ていく ( ~ TE IKU) AND ~ てくる ( ~TE KURU) AT ANIME SKET DANCE 1 THE FUNCTION AND MEANING OF THE FORMS ~ ていく ( ~ TE IKU) AND ~ てくる ( ~TE KURU) AT ANIME SKET DANCE Rizka Septialis, Zuli Laili Isnaini, Nana Rahayu Email: [email protected], [email protected],

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. membedakannya dari bahasa lain. Contohnya adalah mengenai konstruksi kausatif,

BAB I PENDAHULUAN. membedakannya dari bahasa lain. Contohnya adalah mengenai konstruksi kausatif, BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Bahasa bersifat universal dan unik, bahasa mempunyai ciri khas tersendiri yang membedakannya dari bahasa lain. Contohnya adalah mengenai konstruksi kausatif,

Lebih terperinci

PENERAPAN EJAAN YANG DISEMPURNAKAN PADA SURAT PRIBADI PESERTA DIDIK KELAS VII SMP NEGERI 6 GORONTALO TAHUN PELAJARAN 2012/2013

PENERAPAN EJAAN YANG DISEMPURNAKAN PADA SURAT PRIBADI PESERTA DIDIK KELAS VII SMP NEGERI 6 GORONTALO TAHUN PELAJARAN 2012/2013 PENERAPAN EJAAN YANG DISEMPURNAKAN PADA SURAT PRIBADI PESERTA DIDIK KELAS VII SMP NEGERI 6 GORONTALO TAHUN PELAJARAN 2012/2013 OLEH Murniyati Gobel Dakia N. Djou Asna Ntelu JURUSAN PENDIDIKAN BAHASA DAN

Lebih terperinci

SKRIPSI Diajukan untuk memenuhi sebagian persyaratan guna memperoleh gelar Sarjana Ekonomi Islam Program Studi Ekonomi Islam

SKRIPSI Diajukan untuk memenuhi sebagian persyaratan guna memperoleh gelar Sarjana Ekonomi Islam Program Studi Ekonomi Islam PENGARUH TINGKAT RISIKO PEMBIAYAAN MUSYARAKAH TERHADAP TINGKAT PROFITABILITAS BMT BERINGHARJO (PERIODE 2010-2014) The Influence to the Level of Musharaka Financing Risk towards BMT Beringharjo Level of

Lebih terperinci

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN. mengenai makna, fungsi, dan pemakaian masing-masing dari kibou hyougen ~tai

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN. mengenai makna, fungsi, dan pemakaian masing-masing dari kibou hyougen ~tai BAB V KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan Dalam analisis pada bab sebelumnya, telah diuraikan secara khusus mengenai makna, fungsi, dan pemakaian masing-masing dari kibou hyougen ~tai dan ~hoshii dalam

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. sosial tidak dapat hidup tanpa adanya komunikasi dengan sesama. seseorang dengan status sosial dan budaya dalam masyarakat itu

BAB 1 PENDAHULUAN. sosial tidak dapat hidup tanpa adanya komunikasi dengan sesama. seseorang dengan status sosial dan budaya dalam masyarakat itu 1 BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Di dalam sebuah kehidupan bermasyarakat, saling berkomunikasi dan berinteraksi adalah hal yang selalu terjadi setiap saat. Manusia sebagai makhluk sosial tidak dapat

Lebih terperinci

LAMPIRAN 1 RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP) SIKLUS 1 Satuan Pendidikan : SD Negeri I Kedungrejo

LAMPIRAN 1 RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP) SIKLUS 1 Satuan Pendidikan : SD Negeri I Kedungrejo 32 33 LAMPIRAN 1 RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP) SIKLUS 1 Satuan Pendidikan : SD Negeri I Kedungrejo Mata Pelajaran : Bahasa Indonesia Kelas / Semester : I / I Alokasi Waktu : 6 x 35 menit ( 3 x

Lebih terperinci

ANALISIS FUNGSI DAN MAKNA VERBA BENTUK TE IKU DAN [PIITAA PAN TO WENDI] NO SHOUSETSU NO -TE IKU TO -TE SKRIPSI. Oleh: LISAMAYASARI NIM:

ANALISIS FUNGSI DAN MAKNA VERBA BENTUK TE IKU DAN [PIITAA PAN TO WENDI] NO SHOUSETSU NO -TE IKU TO -TE SKRIPSI. Oleh: LISAMAYASARI NIM: ANALISIS FUNGSI DAN MAKNA VERBA BENTUK TE IKU DAN TE KURU DALAM NOVEL PIITAA PAN TO WENDI [PIITAA PAN TO WENDI] NO SHOUSETSU NO -TE IKU TO -TE KURU TO IU DOUSHI NO KINOU TO IMI NO BUNSEKI SKRIPSI Skripsi

Lebih terperinci

AFIKSASI DALAM BAHASA NIAS

AFIKSASI DALAM BAHASA NIAS AFIKSASI DALAM BAHASA NIAS SKRIPSI OLEH FEBRIANI LAOLI 070701006 DEPARTEMEN SASTRA INDONESIA FAKULTAS ILMU BUDAYA UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN 2011 AFIKSASI DALAM BAHASA NIAS OLEH FEBRIANI LAOLI 070701006

Lebih terperinci

SKRIPSI. Oleh: Wahyu Eko Permadi NIM

SKRIPSI. Oleh: Wahyu Eko Permadi NIM PENERAPAN PEMBELAJARAN MATEMATIKA RELISTIK UNTUK MENINGKATKAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR POKOK BAHASAN JARAK, WAKTU DAN KECEPATAN SISWA KELAS VB SDN TEGALGEDE 01 JEMBER SEMESTER GASAL TAHUN PELAJARAN

Lebih terperinci

Kesuma, Tri Mastoyo Jati Pengantar (Metode) Penelitian Bahasa. Yogyakarta: Penerbit Carasvatibooks. Kridalaksana, Harimurti

Kesuma, Tri Mastoyo Jati Pengantar (Metode) Penelitian Bahasa. Yogyakarta: Penerbit Carasvatibooks. Kridalaksana, Harimurti 133 DAFTAR PUSTAKA Alwi, Hasan, Soenjono Dardjowidjojo, Hans Lapoliwa, dan Anton M. Moeliono. 2003. Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka. Alwi, Hasan. 2005. Kamus Besar Bahasa Indonesia.

Lebih terperinci

DAFTAR PENILAIAN PELAKSANAAN PEKERJAAN PEGAWAI NON AKADEMIK UKSW

DAFTAR PENILAIAN PELAKSANAAN PEKERJAAN PEGAWAI NON AKADEMIK UKSW Lampiran 1 : Daftar Penilaian Pelaksanaan Pekerjaan Pegawai Non Akademik - UKSW DAFTAR PENILAIAN PELAKSANAAN PEKERJAAN PEGAWAI NON AKADEMIK UKSW Waktu Penilaian : YANG DINILAI a. Nama b. NIP c. Pangkat,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Bahasa merupakan salah satu alat komunikasi dan interaksi diantara dua

BAB I PENDAHULUAN. Bahasa merupakan salah satu alat komunikasi dan interaksi diantara dua BAB I PENDAHULUAN I.1.Latar Belakang Masalah Bahasa merupakan salah satu alat komunikasi dan interaksi diantara dua orang atau lebih, yang berfungsi untuk menyampaikan suatu pesan, pemikiran, kehendak

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. sendiri. Definisi bahasa menurut Kridalaksana (2001 : 27) adalah sistem lambang

BAB I PENDAHULUAN. sendiri. Definisi bahasa menurut Kridalaksana (2001 : 27) adalah sistem lambang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Bahasa merupakan alat komunikasi makhluk hidup di seluruh dunia. Bahasa adalah sarana pokok yang digunakan oleh manusia dalam berkomunikasi untuk menyampaikan

Lebih terperinci

AIZUCHI YANG DIGUNAKAN ANAK-ANAK DALAM FILM SAYONARA BOKUTACHI NO YOUCHIEN SKRIPSI OLEH: DINDA ZINUL MISRI NIM

AIZUCHI YANG DIGUNAKAN ANAK-ANAK DALAM FILM SAYONARA BOKUTACHI NO YOUCHIEN SKRIPSI OLEH: DINDA ZINUL MISRI NIM AIZUCHI YANG DIGUNAKAN ANAK-ANAK DALAM FILM SAYONARA BOKUTACHI NO YOUCHIEN SKRIPSI OLEH: DINDA ZINUL MISRI NIM 105110201111048 PROGRAM STUDI SASTRA JEPANG JURUSAN BAHASA DAN SASTRA FAKULTAS ILMU BUDAYA

Lebih terperinci

PERATURAN WALIKOTA JAMBI NOMOR 37 TAHUN 2014 TENTANG LAGU MARS DAN HYMNE KOTA JAMBI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA JAMBI,

PERATURAN WALIKOTA JAMBI NOMOR 37 TAHUN 2014 TENTANG LAGU MARS DAN HYMNE KOTA JAMBI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA JAMBI, PERATURAN WALIKOTA JAMBI NOMOR 37 TAHUN 2014 TENTANG LAGU MARS DAN HYMNE KOTA JAMBI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA Menimbang : a. bahwa dalam rangka membangkitkan semangat kebersamaan persatuan dan

Lebih terperinci

SKRIPSI. Oleh : AGUS WIRAHADI KUSUMA NIM

SKRIPSI. Oleh : AGUS WIRAHADI KUSUMA NIM PENINGKATAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR SISWA MELALUI MODEL PEMBELAJARAN BERBASIS MASALAH PELAJARAN IPS POKOK BAHASAN KERAGAMAN SOSIAL DAN BUDAYA BERDASARKAN KENAMPAKAN ALAM KELAS IV SDN KEMUNING LOR 04

Lebih terperinci

BAB V SIMPULAN DAN SARAN

BAB V SIMPULAN DAN SARAN BAB V SIMPULAN DAN SARAN A. Simpulan Berikut ini adalah kesimpulan yang berdasarkan pada data kalimat dan analisis idiom di Bab IV, serta mengacu pada setiap butir tujuan penelitian ini. Oleh karena itu,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. diperhatikan dan dikuasai. Di antaranya, diatesis (tai), aspek (sou), kala (jisei), dan

BAB I PENDAHULUAN. diperhatikan dan dikuasai. Di antaranya, diatesis (tai), aspek (sou), kala (jisei), dan BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Dalam bahasa Jepang juga terdapat banyak kategori gramatikal verba yang harus diperhatikan dan dikuasai. Di antaranya, diatesis (tai), aspek (sou), kala (jisei),

Lebih terperinci

DAFTAR ISI KATA PENGANTAR DAFTAR GRAFIK.. DAFTAR LAMPIRAN. A. Latar Belakang Masalah 1. B. Rumusan Masalah. 7. C. Tujuan Penelitian..

DAFTAR ISI KATA PENGANTAR DAFTAR GRAFIK.. DAFTAR LAMPIRAN. A. Latar Belakang Masalah 1. B. Rumusan Masalah. 7. C. Tujuan Penelitian.. DAFTAR ISI Halaman KATA PENGANTAR ABSTRAK.. DAFTAR ISI DAFTAR TABEL DAFTAR GRAFIK.. DAFTAR LAMPIRAN i iii iv vii viii ix BAB I : Pendahuluan A. Latar Belakang Masalah 1 B. Rumusan Masalah. 7 C. Tujuan

Lebih terperinci

FUNGSI DAN PERAN SINTAKSIS PADA KALIMAT TRANSITIF BAHASA JEPANG DALAM NOVEL CHIJIN NO AI KARYA TANIZAKI JUNICHIRO

FUNGSI DAN PERAN SINTAKSIS PADA KALIMAT TRANSITIF BAHASA JEPANG DALAM NOVEL CHIJIN NO AI KARYA TANIZAKI JUNICHIRO FUNGSI DAN PERAN SINTAKSIS PADA KALIMAT TRANSITIF BAHASA JEPANG DALAM NOVEL CHIJIN NO AI KARYA TANIZAKI JUNICHIRO Ni Kadek Nomi Dwi Antari Program Studi Sastra Jepang Fakultas Sastra dan Budaya Universitas

Lebih terperinci

SKRIPSI. Oleh ELOK FAIQOH

SKRIPSI. Oleh ELOK FAIQOH PENINGKATAN KEMAMPUAN MENULIS: MELENGKAPI CERITA RUMPANG DENGAN BANTUAN MEDIA GAMBAR PADA SISWA KELAS IV SDN MLOKOREJO 03 KECAMATAN PUGER KABUPATEN JEMBER TAHUN PELAJARAN 2011-2012 SKRIPSI diajukan guna

Lebih terperinci

DAFTAR TABEL. 3.1 Data Jumlah Kalimat dan Topik Karangan Lembar Penskoran Hasil Tes Gaya Berpikir... 93

DAFTAR TABEL. 3.1 Data Jumlah Kalimat dan Topik Karangan Lembar Penskoran Hasil Tes Gaya Berpikir... 93 DAFTAR ISI PERSETUJUAN... ii PERNYATAAN... v KATA PENGANTAR... vi ABSTRAK...x ABSTRACT... xi DAFTAR ISI... xii DAFTAR TABEL... xv DAFTAR BAGAN... xviii DAFTAR LAMPIRAN... xix BAB I PENDAHULUAN... 1 1.1

Lebih terperinci

2. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Komunikasi Interpersonal Dimensi Komunikasi Interpersonal C. Komitmen Organisasi

2. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Komunikasi Interpersonal Dimensi Komunikasi Interpersonal C. Komitmen Organisasi DAFTAR ISI Halaman HALAMAN JUDUL... i SURAT PERNYATAAN... ii PERSEMBAHAN... iii NOTA PERSETUJUAN PEMBIMBING... iv PENGESAHAN TESIS... v MOTTO... vi KATA PENGANTAR... vii DAFTAR ISI... ix DAFTAR TABEL...

Lebih terperinci

` SILABUS MATA KULIAH Jurusan Pendidikan Bahasa Jepang

` SILABUS MATA KULIAH Jurusan Pendidikan Bahasa Jepang ` SILABUS MATA KULIAH Jurusan Pendidikan Bahasa Jepang A. Identitas Mata Kuliah Mata Kuliah/Kode : Shokyu (JP 111) Bobot : 2 SKS Semester : 2 Jenjang : S-1 Dosen/Kode : Linna Meilia. R, S. Pd., M. Pd.

Lebih terperinci

KATA PENGANTAR. Pertama dan paling utama peneliti panjatkan puji syukur ke hadirat Allah SWT

KATA PENGANTAR. Pertama dan paling utama peneliti panjatkan puji syukur ke hadirat Allah SWT vi KATA PENGANTAR Pertama dan paling utama peneliti panjatkan puji syukur ke hadirat Allah SWT karena atas rahmat dan karunia-nya peneliti dapat menyelesaikan tesis ini. Seiring dengan itu tentunya tidak

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. sehingga pesan dimaksud dapat dipahami. (KBBI:1998:445) dengan adanya penggunaan joshi atau kata bantu dalam kalimat.

BAB I PENDAHULUAN. sehingga pesan dimaksud dapat dipahami. (KBBI:1998:445) dengan adanya penggunaan joshi atau kata bantu dalam kalimat. BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Bahasa merupakan sarana manusia untuk berkomunikasi. Komunikasi adalah pengiriman pesan berita antara dua orang atau lebih dengan cara yang tepat sehingga pesan dimaksud

Lebih terperinci

MANAJEMEN KEPALA SEKOLAH DALAM PENINGKATAN KUALITAS PROSES PEMBELAJARAN DI SMK ISLAM AL-AMANAH SALEM KABUPATEN BREBES TAHUN PELAJARAN 2015/2016

MANAJEMEN KEPALA SEKOLAH DALAM PENINGKATAN KUALITAS PROSES PEMBELAJARAN DI SMK ISLAM AL-AMANAH SALEM KABUPATEN BREBES TAHUN PELAJARAN 2015/2016 MANAJEMEN KEPALA SEKOLAH DALAM PENINGKATAN KUALITAS PROSES PEMBELAJARAN DI SMK ISLAM AL-AMANAH SALEM KABUPATEN BREBES TAHUN PELAJARAN 2015/2016 SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Sebagian Syarat Mencapai

Lebih terperinci

FUNGSI DAN MAKNA YAHARI/YAPPARI DALAM NOVEL RYUSEI NO KIZUNA KARYA KEIGO HIGASHINO (SUATU TINJAUAN DESKRIPTIF) Abstract

FUNGSI DAN MAKNA YAHARI/YAPPARI DALAM NOVEL RYUSEI NO KIZUNA KARYA KEIGO HIGASHINO (SUATU TINJAUAN DESKRIPTIF) Abstract FUNGSI DAN MAKNA YAHARI/YAPPARI DALAM NOVEL RYUSEI NO KIZUNA KARYA KEIGO HIGASHINO (SUATU TINJAUAN DESKRIPTIF) oleh Ida Ayu Kade Raga Adiputri 1001705019 Program Studi Sastra Jepang, Fakultas Sastra dan

Lebih terperinci

MENINGKATKAN KEMAMPUAN MEMBACA CERITA SISWA KELAS III SDN GAMBIRONO 02 MELALUI PENGGUNAAN BUKU KOMIK SKRIPSI

MENINGKATKAN KEMAMPUAN MEMBACA CERITA SISWA KELAS III SDN GAMBIRONO 02 MELALUI PENGGUNAAN BUKU KOMIK SKRIPSI MENINGKATKAN KEMAMPUAN MEMBACA CERITA SISWA KELAS III SDN GAMBIRONO 02 MELALUI PENGGUNAAN BUKU KOMIK SKRIPSI diajukan guna melengkapi tugas akhir dan memenuhi salah satu syarat untuk menyelesaikan Program

Lebih terperinci

SUSI ARYATI A

SUSI ARYATI A PENGARUH PERMAINAN ULAR TANGGA TERHADAP KEMAMPUAN MENGENAL BILANGAN PADA ANAK KELOMPOK B DI RA MISBAHUL FALAH KLAYUSIWALAN KECAMATAN BATANGAN KABUPATEN PATI SKRIPSI Untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan

Lebih terperinci

PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN WORD SQUARE

PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN WORD SQUARE PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN WORD SQUARE UNTUK MENINGKATKAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR SISWA KELAS V MATA PELAJARAN PKn POKOK BAHASAN KEPUTUSAN BERSAMA DI SDN UMBULREJO 01 JEMBER, TAHUN PELAJARAN 2013/2014

Lebih terperinci