BAB II KERANGKA KONSEPTUAL
|
|
|
- Susanti Yuwono
- 9 tahun lalu
- Tontonan:
Transkripsi
1 BAB II KERANGKA KONSEPTUAL Dalam bab ini akan dibahas tentang beberapa pengertian, di antaranya yaitu beberapa pengertian para ahli tentang pastoral, teologi pastoral, tindakan pastoral, dasar tindakan pastoral, tujuan tindakan pastoral, fungsi tindakan pastoral, tahap-tahap proses tindakan pastoral dan aspek pastoral dalam upacara pemakaman Beberapa pengertian a. Pastoral Kata pastor berasal dari bahasa Latin yang berarti gembala. Dalam bahasa Ibrani (Alkitab Perjanjian Lama) digunakan kata ra ah dan dalam bahasa Yunani (Alkitab Perjanjian Baru) digunakan kata poimen. Sejak zaman Reformasi istilah pastoral telah dipakai dalam dua pengertian 1 yakni: (1) Pastoral dipakai sebagai kata sifat dari kata benda pastor. Istilah pastoral merujuk pada tindakan penggembalaan. Dalam hal ini penggembalaan dilihat sebagai apa pun yang dilakukan oleh pastor (gembala). Seorang pastor hendaknya memiliki motivasi, watak dan kerelaan yang kuat sehingga seluruh tindakan yang diperbuatnya tidak terlepas dari sikap penuh perhatian dan kasih sayang kepada seseorang atau sekelompok orang yang dihadapinya. Sikap pastoral berarti suatu kesediaan dan kesegeraan 1 Tjard G. Hommes dan E. Gerrit Singgih (editor), Teologi dan Praksis Pastoral, (Yogyakarta: Kanisius, 1994),
2 tampil kalau dibutuhkan, (2) Dalam pengertian kedua istilah astoral merujuk pada studi tentang penggembalaan (poimenics). Pengertian ini muncul bersamaan dengan sederet fungsi-fungsi penting lain dari pendeta dan gereja, seperti: kateketik, homiletik, pengajaran agama dan lain-lain. Fungsi-fungsi ini bersifat struktural/kategorial. Dari dua pengertian tersebut, penggembalaan/pastoral memiliki tempat yang unik dalam kekristenan. Dalam pengertian bahwa hubungan kita dengan Tuhan (vertikal) dan hubungan kita dengan sesama manusia (horizontal) dianggap tidak terpisahkan. b. Teologi Pastoral 2 Adalah cabang ilmu teologi yang berfokus pada pemeriksaan semua tindakan dan aktifitas dari pendeta dan gereja dalam perspektif penggembalaan. Dengan demikian teologi pastoral adalah cabang teologi yang berpusat pada aktifitasnya, yang dimulai dengan pertanyaan-pertanyaan teologis dan diakhiri dengan jawaban-jawaban yang teologis. c. Tindakan Pastoral Pada bab sebelumnya telah didefinisikan bahwa tindakan pastoral adalah tindakan pendampingan yang dilakukan oleh masyarakat kepada anggota kelompoknya yang sedang berduka karena kematian. Definisi ini kiranya menolong kita untuk memahami maksud penulis sehubungan dengan pemakaian istilah tindakan pastoral dalam tesis ini. Pemakaian kata pastoral dimaksudkan untuk menjelaskan sifat 2 Ibid,
3 dan tujuan tindakan masyarakat ketika terjadi kedukaan di dalam kelompoknya dengan melaksanakan pendampingan. Seward Hiltner berpendapat bahwa pelayanan pastoral haruslah dipandang dari perspektif penggembalaan yaitu penyembuhan, pemeliharaan dan pembimbingan. 3 Penyembuhan berarti membalut luka seperti cerita orang Samaria yang baik hati. Pemeliharaan berarti menghibur, menguatkan atau bersehati dengan orang yang menderita. Pembimbingan berarti membantu menemukan jalan. Dalam tindakan pastoral yang dimaksud penulis sebagaimana tersebut di atas, terdapat aspek mendampingi. Aart van Beek berpendapat bahwa mendampingi merupakan suatu kegiatan menolong orang lain yang karena suatu sebab perlu didampingi. 4 Orang yang melakukan kegiatan mendampingi disebut sebagai pendamping. Antara yang didampingi dan pendamping terjadi suatu interaksi sejajar dan atau relasi timbal balik. Pihak yang paling bertanggungjawab adalah pihak yang didampingi. Dengan demikian, istilah pendampingan memiliki arti kegiatan kemitraan, bahu-membahu, menemani, membagi/berbagi dengan tujuan saling menumbuhkan dan mengutuhkan. Totok S. Wiryasaputra, menambahkan kata psikologi pada kata pendampingan. Ia berpendapat bahwa pendampingan psikologi merupakan semangat, sikap, kepedulian dan tindakan membantu orang 3 Tjard G. Hommes dan E. Gerrit Singgih (editor), Teologi dan Praksis Pastoral, (Yogyakarta: Kanisius, 1994), Aart van Beek, Pendampingan Pastoral, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2012), 9. 16
4 yang sedang mengalami krisis 5. Penggunaan kata psikologi pada kata pendampingan berkaitan dengan pergumulan/penderitaan batin seseorang, yang mungkin saja sangat eksistensial karena menyangkut hidup mati seseorang. Pendampingan mengacu pada hubungan di antara dua subyek, yakni orang yang mendampingi dan orang yang didampingi dalam posisi sederajat. Lebih lanjut, Wiryasaputra berpendapat bahwa pendampingan lahir sebagai akibat langsung dari hakikat manusia sebagai makhluk keperjumpaan. 6 Pendampingan adalah miniatur perjumpaan sejati antar manusia untuk saling menumbuhkan. Dalam keberjumpaan ini, pendampingan dipahami sebagai proses pertolongan kepada sesama untuk secara terbuka dapat menjumpai dirinya sendiri dan menerima dirinya sebagaimana adanya. Pendampingan berarti kesediaan pendamping untuk bersama-sama dengan sesamanya yang ditolong tersebut menghadapi persoalannya. Dengan demikian pendampingan memang dapat dilakukan oleh semua orang Dengan beberapa pengertian di atas, penulis berkesimpulan bahwa pastoral adalah sifat yang melekat dalam setiap tindakan layanan kepada sesama dalam berbagai bentuknya. Tindakan pastoral berarti memperhatikan aspek penggembalaan dan pendampingan. 7 5 Totok S. Wiryasaputra, Ready To Care: Pendampingan dan Konseling Psikologi, (Yogyakarta: Galangpress, 2006), Ibid, Dalam bukunya yang berjudul Pendampingan Pastoral, Aart van Beek mengatakan bahwa seyogianya penggembalaan didefinisikan sebagai pendampingan dan konseling pastoral. Usulan ini didasarkan pada konteks masa kini dimana kata gembala kurang dapat dianggap kontekstual lagi. Mengingat perkembangan masyarakat yang tadinya tradisional-agraris ke arah industrial, alegori domba pun bukan lagi simbol yang terlalu positif. Pendamping adalah orang 17
5 2.2. Dasar Tindakan Pastoral Dasar dilaksanakannya tindakan pastoral adalah pemeliharaan Allah akan manusia. J.L. Ch. Abineno berpendapat bahwa pelayanan pastoral pertama-tama berkata-kata tentang Allah dan tentang pemeliharaan-nya akan manusia dalam keutuhannya. 8 Layanan pastoral dimaksudkan untuk membina dan memampukan anggota jemaat untuk, baik dengan perkataan maupun dengan perbuatan, melayani kedatangan Allah kepada manusia dalam situasi-situasi kehidupannya sendiri. Pemeliharaan Allah inilah yang diwujudkan dalam kepedulian terhadap sesama. Kepedulian yang dimaksud di sini adalah perhatian terhadap manusia sebagai makhluk holistik/utuh. Sehingga secara konkret, apabila menghadapi orang yang sedang mengalami krisis, kita harus melihatnya secara lengkap, utuh dalam keseluruhan sebagai manusia yang perlu hidup sehat secara utuh: fisik, mental, spiritual dan sosial. Keempat aspek ini dapat dibedakan namun tidak dapat dipisahkan. Keempat aspek ini saling berkaitan dan mempengaruhi. Keempat aspek ini jugalah yang secara sistemik dan sinergik membentuk eksistensi manusia sebagai keutuhan yang bertumbuh mencapai kepenuhannya. Aspek fisik berkaitan dengan keberadaan manusia yang kasat mata, dapat dilihat, nyata, dan konkret. Aspek mental berkaitan dengan yang menolong penderita agar ia menolong dirinya sendiri, bukan menjadi pengikut yang pasif seperti domba, yang pada suatu saat dapat berjalan sendiri dengan tegar. Dengan demikian, menurut van Beek, sebetulnya setiap orang dapat menjadi pendamping pastoral, asal dalam pelayanannya ia berangkat dari perspektif pendampingan/menggembalakan. Kesimpulan yang ia berikan adalah, pendampingan sama dengan penggembalaan. Pendampingan/penggembalaan berarti menolong manusia yang menderita ke arah pengutuhan, langkah demi langkah. Konseling pastoral merupakan bagian dari pendampingan pastoral. 8 J.L.Ch. Abineno, Pedoman Praktis Untuk Pelayanan Pastoral, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2010), 1. 18
6 keberadaan manusia yang tak tampak: pikiran, emosi, cipta, rasa, karsa, motivasi, integrasi, dan kepribadian manusia. Dengan aspek mental ini manusia mampu berhubungan dengan diri sendiri dan lingkungannya secara utuh. Manusia yang sehat mentalnya berarti ia memiliki relasi dengan manusia-manusia lain melalui partisipasinya dalam masyarakat. Dengan aspek mental yang sehat berarti aspek sosialnya pun terpenuhi. Aspek spiritual berarti manusia itu memiliki hubungan dengan sesuatu yang berada jauh di luar jangkauannya, yang agung yaitu Allah. Aspek spiritual berkaitan dengan aspek vertikal dari kehidupan manusia. Wiryasaputra berpendapat bahwa semangat kepedulian perlu ditampakkan ketika krisis sejarah dalam perkembangan manusia sedang berlangsung. Krisis tersebut perlu ditangani secara menyeluruh, penuh dan utuh dalam tindakan kependampingan. Dengan demikian ada hubungan yang sangat erat antara keprihatinan, kepedulian dan kependampingan. Terdapat kesediaan untuk bergumul dengan keberadaan manusia yang paling dalam, suka yang paling puncak dan duka yang paling dalam. Mesach Krisetya berpendapat bahwa dalam berbagai kemungkinan, suka maupun duka, layanan pastoral itu dibutuhkan. Manurutnya, seluruh pendampingan bersifat pastoral ketika tindakan menolong orang lain tersebut dilandasi oleh keyakinan agamanya. 9 Sehingga proses pendampingan bersifat pastoral ketika orang yang bermasalah tersebut mencari pertolongan kepada orang lain dan orang lain tersebut bersedia menolong berdasarkan keyakinan agamanya. UKSW, 2008), 1. 9 Mesach Krisetya dalam Seri Pastoral dan Konseling: Teologi Pastoral, (Salatiga: 19
7 Lebih lanjut, Wiryasaputra membagi tiga kategori krisis yaitu krisis perkembangan, situsional dan eksistensial. 10 Krisis perkembangan, yaitu krisis yang dialami sehubungan dengan tahap-tahap perkembangan hidup manusia dari kelahiran sampai kematiaannya. Krisis situasional, yaitu krisis yang disebabkan oleh peristiwa-peristiwa yang tidak diduga sebelumnya, bisa dianggap sebagai kecelakaan. Misalnya kehilangan jabatan/status, harta benda dan kematian. Krisis eksistensial, krisis yang disebabkan oleh kehilangan harga diri yang kemudian bisa menyebabkan konflik dan tekanan batin. Dengan demikian dasar tindakan pastoral adalah kepedulian terhadap sesama yang sedang berada dalam krisis Tujuan Tindakan Pastoral Agar pendampingan tersebut berjalan sebagaimana adanya, maka kita juga perlu mengetahui tujuan dan fungsi pendampingan tersebut. Oleh Wiryasaputra dijelaskan bahwa tujuan pendampingan pastoral adalah membantu orang yang didampingi mampu menggunakan sumber daya yang dimiliki untuk berubah. Ciri-ciri perubahan yang dimaksud adalah mampu menghilangkan gejala yang menganggu, mampu menerima kenyataan, mampu menceritakan kembali peristiwa itu tanpa terhanyut, mampu mengatur kembali hubungan dengan diri sendiri dan sesamanya, mampu mencari atau menerima pertolongan pihak lain bila perlu, mampu berhubungan dengan masa lalu, masa kini dan mendatang secara seimbang, memiliki arah kehidupan yang jelas, mampu meneguhkan 10 Totok S. Wiryasaputra, Ibid,
8 kembali hubungan yang telah rusak, mampu menciptkan hubungan yang baru, mampu memperoleh inspirasi yang baru, mampu menggunakan pengalamannya untuk membantu dirinya sendiri dan orang lain pada masa depan, menciptakan kehidupan yang bernilai tambah, bersifat lebih terbuka, dan mampu melihat dirinya sendiri secara seimbang. Tujuan selanjutnya dari pendampingan adalah mencapai pemahaman diri secara penuh dan utuh. Keutuhan yang dimaksud di sini adalah mampu memahami kekuatan dan kelemahan yang ada dalam dirinya serta kesempatan dan tantangan yang ada di luar dirinya. Tujuan yang ketiga adalah belajar menciptakan komunikasi yang lebih sehat dengan lingkungannya. Tujuan berikutnya adalah berlatih tingkah laku baru yang lebih sehat. Yang kelima adalah belajar mengungkapkan diri secara penuh dan utuh. Tujuan keenam adalah dapat bertahan. Mampu menerima keadaan masa kini dengan lapang dada dan mengatur kembali kehidupannya dengan kondisi yang baru. Tujuan yang terakhir dari pendampingan pastoral adalah menghilangkan gejala-gejala yang disfungsional yang sifatnya patologis. Abineno berpendapat bahwa tindakan pastoral ditujukan untuk membantu banyak orang, yang karena berbagai sebab, hidup dalam situasi yang sulit. 11 Mereka bergumul dengan berbagai persoalan yang terkadang begitu rumit, sehingga mereka hamper-hampir putus asa. Mereka tidak tahu apa yang mereka harus lakukan. Mereka ini, sadar atau tidak sadar, membutuhkan bantuan: bukan saja supaya mereka tidak tenggelam 11 J.L.Ch. Abineno, Ibid,
9 dalam pergumulan mereka, tetapi terutama supaya mereka dapat melanjutkan perjalanan mereka yang sulit itu. Beberapa bantuan yang dimaksud oleh Abineno yaitu: 1. Berusaha membantu mereka dengan perkataan dan perbuatan, supaya pergumulan dan penderitaan mereka tidak bertambah berat. 2. Berusaha menghibur dan menguatkan mereka. 3. Berusaha memobilisasi dan menyusun kembali tenaga-tenaga mereka yang masih ada, supaya mereka dapat menghadapi persoalanpersoalan mereka. 4. Berusaha membantu mereka, supaya mereka dapat memulai lagi suatu hidup yang baru dalam situasi baru, di mana mereka sekarang berada. Salah satu penekanan Abineno sehubungan dengan keempat bantuan tersebut di atas adalah penghiburan. Menurutnya penghiburan tidaklah hanya dengan perkataan tetapi juga lewat perbuatan. Untuk menjelaskan penekanannya tersebut, ia memberikan penjelasannya sebagai berikut 12 : 1. Dalam Perjanjian Lama, istilah yang sering dipakai untuk menghibur ialah nikham, yang berarti: membuat orang bernafas lega dalam situasi yang sulit. Bagi Abineno, penghiburan manusia mempunyai hubungan dengan penghiburan Allah, yang dapat mengambil sifat-sifat seorang ibu atau gembala. 2. Dalam Perjanjian Baru, kata yang sering digunakan ialah parakalein, yang mempunyai dua arti yaitu menasehati dan 12 Ibid,
10 menghibur. Kedua kata ini tidak berbeda pengertiannya yaitu keduanya bermaksud untuk mengangkat orang ke luar dari kesusahannya. Siapa yang mau menghibur orang yang berduka, ia harus menempatkan diri di tempat orang itu. Sebab hanya dengan jalan itu saja ia dapat merasakan apa yang dirasakan orang itu, sehingga ia dapat membantunya untuk mengatasi kedukaannya. Dalam dunia Perjanjian Baru, pelayanan penghiburan ditujukan kepada semua orang yang berada dalam kesusahan, yang sakit dan yang sedang dipenjara. Pelayanan penghiburan ini dilakukan atas nama Allah, yang adalah Sumber Penghiburan. Dengan demikian inti tujuan tindakan pastoral adalah membantu/menolong sesama yang sedang berada di dalam krisis dengan tindakan yang nyata agar mereka dapat melanjutkan perjalanan mereka yang sulit itu Fungsi Tindakan Pastoral Van Beek berpandangan bahwa yang dimaksud dengan fungsi adalah kegunaan atau manfaat yang dapat diperoleh dari pekerjaan pendampingan tersebut. Dengan demikian menurutnya, fungsi pendampingan merupakan tujuan-tujuan operasional yang hendak dicapai dalam memberikan pertolongan kepada orang lain. Ia memahami pendampingan pastoral sebagai tindakan pertolongan kepada sesama yang utuh mencakup jasmani, mental, sosial dan rohani hendaklah bersifat pastoral. 23
11 Bersifat pastoral berarti merujuk pada kelima fungsi penggembalaan yang dikemukakan oleh Howard Clinebell yaitu 13 : 1. Fungsi menyembuhkan. Bagi mereka yang mengalami dukacita dan luka batin akibat kehilangan atau terbuang, biasanya berakibat pada penyakit psikosomatis, suatu penyakit yang secara langsung atau tidak langsung disebabkan oleh tekanan mental yang berat. Emosi/perasaan yang tertekan dan tidak terungkapkan melalui kata-kata atau ungkapan perasaan, misalnya menangis, kemungkinan akan disalurkan melalui disfungsi tubuh, misalnya rasa mual, pusing, dada sesak, sakit perut, dan sebagainya. Tindakan pertolongan yang perlu dilakukan oleh pendamping adalah mengajak penderita untuk mengungkapkan perasaan batinnya yang tertekan. Fungsi ini dipakai oleh pendamping ketika melihat keadaan yang perlu dikembalikan ke keadaan semula atau mendekati keadaan semula. 14 Sehingga orang yang didampingi dapat menciptakan kembali keseimbangan yang baru, fungsional, dan dinamis. 2. Fungsi membimbing. Membimbing berarti memberikan pandu kepada orang yang didampingi untuk menemukan jalan yang benar. Pendamping menolong orang yang didampingi untuk memilih/mengambil keputusan secara mandiri tentang apa yang akan ditempuh atau apa 13 Aart van Beek, Ibid, Totok S. Wiryasaputra, Ibid,
12 yang menjadi masa depannya. Salah satu caranya adalah dengan mengajukan alternatif. Pendamping juga dapat menolong orang yang didampingi untuk melihat: kekuatan dan kelemahan (internal) serta kesempatan dan tantangan (eksternal). Pemberian nasihat juga dapat dimasukkan dalam fungsi membimbing. 3. Fungsi menopang/menyokong. Fungsi ini dilakukan bila orang yang didampingi tidak mungkin kembali ke keadaan semula, misalnya kematian orang yang dikasihi. Fungsi menopang dipakai untuk membantu orang yang didampingi menerima keadaan sekarang sebagaimana adanya, kematian adalah tetap kematian, untuk dapat bertumbuh secara penuh dan utuh. Kehadiran pendamping dalam dukacita adalah topangan kepada mereka untuk dapat bertahan dalam situasi krisis yang bagaimanapun beratnya. Sokongan ini akan membantu mengurangi penderitaan mereka. 4. Fungsi mendamaikan/memperbaiki hubungan. Apabila hubungan sosial dengan orang lain terganggu, maka terjadilah penderitaan yang berpengaruh pada masalah emosional. Konflik sosial yang berkepanjangan akan berpengaruh terhadap fisik. Pendampingan berfungsi sebagai perantara untuk memperbaiki hubungan yang rusak dan terganggu. Pendamping menjadi mediator/penengah yang netral dan bijaksana. 25
13 5. Fungsi mengasuh/memelihara. Pendamping menolong penderita untuk berkembang sesuai dengan potensi dan kekuatan yang dimilikinya. Menolong di sini bermakna mengasuh mereka ke arah pertumbuhan emosional, cara berfikir, motivasi, kelakuan, tingkah laku, interaksi, kehidupan rohani, dan sebagainya. Melengkapi kelima fungsi di atas, van Beek menambahkan fungsi keenam yaitu fungsi mengutuhkan. Fungsi mengutuhkan adalah fungsi pusat karena sekaligus merupakan tujuan utama dari pendampingan pastoral, yaitu pengutuhan kehidupan manusia dalam segala aspek kehidupannya, yakni fisik, sosial, mental dan spiritual. Apabila mengalami penderitaan, keempat aspek ini tercabik. Karena itu perlu tindakan pertolongan untuk mengutuhkan kembali. Terkecuali penderitaan dipandang sebagai faktor yang diperlukan dalam proses pertumbuhan manusia. Menurut Carl G. Jung, keutuhan psikis self/diri hanya dimungkinkan sejauh individu tersebut dapat menerima keadaan hidup yang paradoksal dan ambigu, penuh dengan pertentangan batin yang harus ditahan di dalam pribadi seseorang. Dengan demikian individu dapat menciptakan keseimbangan tanpa menghilangkan salah satu unsur psikis. Keutuhan individu diukur jika ia berhasil dalam pergumulan dengan pertentangan-pertentangan psikologis sampai kemudian ia berhasil memadukan dan menyeimbangkan pertentangan-pertentangan itu. Jadi tujuan proses individuasi, proses menjadi diri sendiri, bukanlah 26
14 kesempurnaan moral dan religius melainkan keutuhan psikis yang terintegrasi. Dari keenam fungsi yang sudah tersebut di atas, Wiryasaputra juga turut menambahkan satu fungsi yaitu fungsi memberdayakan (empowering)/membebaskan (liberating). 15 Yang dimaksudkannya dengan fungsi pembebasan adalah pemberdayaan yaitu membantu konseli untuk menjadi penolong bagi dirinya sendiri di masa depan dan sekaligus membantunya menjadi pendamping bagi orang lain Tahap-tahap Proses Tindakan Pastoral 16 Agar fungsi pendampingan dapat berjalan dengan baik, maka proses pendampingan tersebut perlu melalui tiga tahapan: awal, tengah dan akhir. Pada tahap awal, pendamping perlu menciptakan hubungan kepercayaan dengan orang yang didampingi. Pendampingan hanya dapat dilaksanakan apabila terdapat hubungan kepercayaan antara orang yang didampingi dengan yang mendampingi. Karena itu pendamping perlu menciptakan kepercayaan dengan orang yang didampingi. Pada tahap tengah, pendamping perlu melaksanakan anamnesis, sintesis dan diagnosis, pembuatan rencana tindakan, tindakan pertolongan, review dan evaluasi. Anamnesis adalah tahap mengumpulkan data yang relevan, akurat dan menyeluruh. Sintesis dan diagnosis, adalah tahap dimana pendamping melakukan analisis data, mencari kaitan antara satu gejala dengan gejala yang lain, membuat sintesis dan kemudian menyimpulkan apa yang menjadi permasalahan utama atau keprihatinan 15 Totok S. Wiryasaputra, Ibid, Totok S. Wiryasaputra, Mengapa Berduka,
15 batin pokok yang sedang digumuli oleh orang yang sedang didampingi. Kesimpulan yang telah diambil oleh pendamping dilanjutkan dengan pembuatan rencana tindakan sebagai rencana pertolongan. Perencanaan ini meliputi: tindakan apa yang akan dilakukan, sarana yang akan digunakan, waktu dan pelaksanaan, teknis pertolongan, pihak-pihak yang akan terlibat. Pada tahap selanjutnya adalah tindakan pertolongan yaitu pendamping melakukan tindakan pertolongan yang telah direncanakan. Tindakan pertolongan tersebut haruslah berkesinambungan dan berkelanjutan. Satu tahap berkaitan dan mempengaruhi tahap lain. Pada tahapan ini, pendamping perlu mencatat ada tidaknya perubahan dan pertumbuhan sehubungan dengan tindakan yang dilakukan. Review dan evaluasi dimaksudkan untuk menilai kembali baik proses pendampingan maupun hasil akhirnya. Mungkin diperlukan perubahan untuk perbaikan. Pada tahap akhir, yaitu proses pemutusan hubungan yang utuh dan sempurna. Setelah melaksanakan review dan evaluasi, pendamping perlu mengatur pemutusan hubungan pendampingannya. Dengan adanya rangkaian tahapan proses pendampingan ini, maka arah proses perjumpaan dan pendampingan menjadi jelas Aspek Pastoral Dalam Tradisi Upacara Pemakaman Oleh Koentjaraningrat, kebudayaan yang terdiri dari kumpulan lambang dan simbol serta psikis manusia itu kemudian terwujud dalam ide, tingkah laku dan benda fisik. 17 Ketiga wujud ini tidaklah bisa berdiri 17 Tri Widiarto, Dasar-dasar Antropologi Budaya, (Salatiga: Jurusan Sejarah FKIP UKSW Press, 2000),
16 sendiri. Ketiganya bercampur menjadi satu kesatuan yang utuh. Ide akan mengilhami manusia untuk beraktifitas guna menghasilkan karya. Di dalam kebudayaan itu sendiri terdapat berbagai unsur substansial: pengetahuan, nilai-nilai, pandangan hidup, kepercayaan, persepsi dan etos. Kebudayaan yang terbentuk ini kemudian dapat diidentifikasi lebih lanjut dalam berbagai sistim. Salah satu sistim tersebut adalah sistim kepercayaan/religi. Tri Widiarto berpendapat 18, sistim kepercayaan/religi adalah rangkaian keyakinan dari suatu kelompok masyarakat manusia terhadap sesuatu yang (dianggap mempunyai kekuatan) gaib. Keyakinan ini lahir karena adanya kesadaran akan berbagai misteri kehidupan seperti kelahiran dan kematian. Ada kehidupan di alam gaib setelah kematian. Manusia menginginkan kehidupan yang tentram di dunia dan setelah kematian. Karena itu manusia selalu berusaha untuk berada dalam hubungan yang baik dengan Penguasa alam gaib tersebut. Sistim keyakinan inilah yang kemudian diwariskan secara turun-temurun baik melalui kitab suci maupun mitologi dan upacara-upacara keagamaan/ritus. Menurut Gladys Hunt kematian bukan saja peristiwa biologis atau usang yang direncakan oleh alam. Kematian adalah sebuah pukulan yang dahsyat yang mengakibatkan penderitaan. Sehingga waktu di antara saat kematian, upacara pemakaman dan setelah pemakaman adalah waktu yang sangat berharga untuk mengalami dukungan dari kawan-kawan dan membiasakan diri terhadap fakta kematian. Upacara pemakaman adalah 18 Ibid,
17 masa berkabung bagi keluarga untuk menolong mereka dalam menghadapi kehilangan yang paling kritis yaitu kematian. Upacara pemakaman dilaksanakan untuk memenuhi kebutuhan psikologis keluarga yang berduka, sebagai terapi yang diperlukan oleh keluarga. 19 Upacara pemakaman adalah ungkapan simpati dan pertolongan dari orang-orang lain untuk mengatasi dukacita yang sedang dialami keluarga. Kebutuhan-kebutuhan inilah yang mulai dilenyapkan melalui berbagai tindakan dalam upacara pemakaman. Sehingga upacara pemakaman dapat dikatakan suatu tindakan demi kepentingan orang yang hidup. Upacara pemakaman dilaksanakan guna menghormati orang yang mati, yang dengannya pula kita menyatakan kepada orang-orang yang mengasihinya dan yang ditinggalkannya bahwa kita menghargainya dan menaruh perhatian kepada mereka yang masih hidup. Kematian dapat juga bermakna waktu jeda (time out) bagi sebuah kelompok masyarakat tertentu. Waktu jeda ini dipergunakannya untuk pergi ke rumah duka. Kehadiran di rumah duka bukanlah bertujuan untuk memuliakan jenazah tetapi hadir untuk memberikan dukungan manusiawi yang dibutuhkan keluarga yang ditinggalkan. Peristiwa kematian tanpa adanya luapan emosi dan perhatian terhadap anggota keluarga yang ditinggalkan adalah kesepian yang luar biasa. Di dalam sebuah upacara pemakaman, tersembunyi gambaran keyakinan dan pengharapan sebuah masyarakat. Seperti yang dicatat oleh 2009), Gladys Hunt, Pandangan Kristen Tentang Kematian, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 30
18 Alex Jebadu bahwa orang Mesir kuno memiliki adat kebiasaan yang menyiratkan kasih, penghormatan dan respek mereka yang besar kepada orang-orang mati. 20 Ketiga hal ini mendorong mereka untuk mempersiapkan pemakaman dengan sangat terperinci, membangun makam-makam raksasa (piramida) dan sesajian makanan. Mereka percaya bahwa pemakaman yang baik dan layak sangat penting untuk memungkinkan orang mati itu hidup lagi di dunia akhirat. Menurut Kobong 21, Orang Toraja memahami kehidupan ini sebagai suatu lingkaran siklus yang enmalig, tidak dapat terulang lagi. Kematian adalah proses peralihan hidup dari dunia yang empirik praktis kepada dunia yang mistis transenden tersebut. Sebelum manusia kembali dalam kehidupan semula yang mistis itu, ia masih tetap diikat oleh aluk sola pemali (AsP) melalui kaum kerabatnya. Kehidupan empirik praktis, di sini dan sekarang, bersifat sementara namun memberi warna dan menentukan kehidupan di sana yang mistis transenden. Kehidupan di dalam dunia yang empirik ini dihayati dan diamalkan dengan segala upacara ritual. Kritalisasi AsP mendapat bentuknya dalam kebiasaan-kebiasaan serta tradisi yang kemudian melembaga dalam adat. Sehingga AsP dan adat tidak bisa dipisahkan sebab adat bertalian dengan falsafah hidup orang Toraja yang bersumber pada AsP itu sendiri. AsP inilah yang mengikat dan mengatur bagaimana penganut aluk todolo menghadapi kematian salah seorang anggota kelompoknya. 20 Alex Jebadu, Bukan Berhala! Penghormatan Kepada Leluhur, (Maumere: Seminari Tinggi Ledalero, 2009), Theodorus Kobong, Manusia Toraja : dari mana-bagaimana-ke mana, (TangmentoE- Tana Toraja: Institut Theologia, 1983), 2. 31
19 Wiryasaputra memberikan pandangannya bahwa kedukaan merupakan reaksi manusiawi untuk mempertahankan diri ketika kita sedang menghadapi peristiwa kehilangan. Tanggapan ini bukan hanya bersifat kognitif dan emotif tetapi merupakan tanggapan yang bersifat holistik: fisik, mental, spiritual dan sosial. Kedukaan merupakan sesuatu yang wajar terjadi dalam hidup manusia sehubungan dengan kehilangan. Kedukaan bukan merupakan suatu penyakit. Namun demikian, kedukaan dapat saja berubah menjadi penyakit. Lebih lanjut ia menjelaskan bahwa seringkali kita hanya menangkap kulit luar perangkat dan kebijaksanaan budaya warisan leluhur kita. 22 Tradisi budaya leluhur hanya dianggap sebagai atraksi wisata budaya semata sehingga tidak dipandang sebagai bentuk perwujudan kecerdasan leluhur dalam mengelola kedukaan secara kreatif dan efektif. Akibatnya kemudian adalah tradisi budaya dalam bentuk upacara ritual, misalnya penguburan, dilaksanakan tanpa mampu menangkap nilai dan maknanya yang hakiki. Pemahaman yang ada selama ini bahwa tradisi upacara kematian seolah-olah hanya ditujukan untuk menghormati orang mati, perlu diperbaharui. Tradisi tersebut tidaklah semata-mata ditujukan untuk orang mati, melainkan juga untuk keluarga yang masih hidup. Dalam pengertian bahwa tradisi tersebut dilaksanakan sebagai sarana bagi keluarga untuk melewati dan mengatasi kedukaan mereka. 22 Ibid,
20 Sebagai contoh adalah tradisi slametan dalam masyarakat Jawa yang dilaksanakan sebagai upacara peringatan orang yang meninggal. 23 Wiryasaputra berpendapat bahwa tradisi tersebut dipakai oleh masyarakat sekitar sebagai satu kesatuan (corporate) untuk mengungkapan kedukaan kesatuan mereka (corporate grief), dan sekaligus untuk mendampingi orang-orang yang ditinggalkan. Dengan demikian tradisi upacara pemakaman merupakan alat pendampingan masyarakat (corporate caring) bagi anggotanya yang sedang mengalami kehilangan dan kedukaan. Ia berpendapat bahwa kehadiran dan partisipasi masyarakat dalam upacara peringatan kematian tersebut adalah ungkapan komitmen kebersamaan dan kesesamaannya dalam mendampingi orang yang berduka sehingga masyarakat perlu berkumpul untuk melakukan upacara peringatan kematian. Dalam budaya Kekristenan Barat dikenal adanya tradisi yang sama yaitu ibadah in memoriam yang adalah perwujudan diri komunitas sekitar sebagai caring community bagi keluarga yang ditinggalkan. Secara substansi tradisi slametan dan ibadah memoriam memiliki kesamaan tindakan dan tujuan yaitu kehadiran keluarga dan simpatisan pelayat untuk mendampingi orang yang berduka. Secara psikologis, upacara-upacara in memoriam tersebut adalah ajakan untuk mengingat kembali orang yang meninggal itu dan sekaligus merenggangkan 23 Dalam kebudayaan Jawa, selain dikenal upacara upacara penguburan (geblag), juga dikenal upacara untuk memperingati orang yang meninggal pada hari ketiga, ketujuh, keempat puluh, keseratus, mendak (ulang tahun kematian) pertama, mendak kedua dan keseribu hari. 33
21 hubungan emosional dengannya. 24 Secara kultural, berlahan-lahan dan sistimatis, keluarga yang ditinggalkan diajak untuk sekali lagi mengalami kedukaan atas anggota keluarga yang meninggal dan dalam waktu yang bersamaan pula keluarga diajak untuk melepaskannya. Upacara peringatan kematian ini sangat menolong mereka yang menunda dan memperpanjang masa kedukaannya. Alan D. Wolfelt berpendapat bahwa ada enam tugas berkabung (tasks of mourning) yang bisa kita temukan dalam upacara pemakaman. Ia berpendapat bahwa dengan kehadiran sang penduka dalam upacara perkabungan, kebutuhan sang penduka terpenuhi melalui kerja kesedihan mereka sendiri dan melalui cinta dan kasih sayang dari orang di sekitar mereka. Ia melihat bahwa orang-orang di sekitar penduka adalah justru yang paling sering mampu mendamaikan kesedihan mereka. Sehingga sang penduka kemudian bisa pergi untuk menemukan makna hidup dan kehidupan. Fungsi upacara pemakaman yang dimaksud oleh Alan D. Wolfelt adalah pertama, sebagai tindakan simbolik pengakuan manusia terhadap realitas kematian. Untuk bisa bergerak maju dengan kesedihan yang diakibatkan oleh kematian orang-orang yang kita kasihi, maka sang penduka harus mengakui secara terbuka realitas dan finalitas kematian. Pemakaman mengajarkan kita bahwa seseorang yang kita cintai sekarang sudah meninggal meskipun sampai pemakaman kita mungkin tetap 24 Totok S. Wiryasaputra, Ibid,
22 membantah realitas tersebut. Ketika kita melihat peti mati diturunkan ke dalam liang kubur, kita menyaksikan finalitas kematian itu. Fungsi kedua adalah bergerak menuju rasa sakit. Kesedihan yang sehat berarti mengungkapkan pikiran yang menyakitkan dan perasaan kita, dan upacara pemakaman yang sehat memungkinkan kita untuk melakukan hal itu. Orang cenderung meneteskan air mata menangis, terisak bahkan meratap ketika pemakaman. Pemakaman memaksa kita untuk mengalami rasa sakit, bahwa kematian itu sungguh-sungguh terjadi pada orang yang kita kasihi. Fungsi ketiga adalah mengingat orang yang meninggal. Untuk menyembuhkan kesedihan dalam dukacita, kita perlu menggeser hubungan dengan orang yang meninggal, dari kebersamaan fisik menjadi tinggal kenangan. Upacara pemakaman mendorong kita untuk memulai pergeseran ini dengan menyediakan waktu dan tempat bagi kita untuk berpikir tentang saat-saat kebersamaan dengan orang yang meninggal ketika almarhum masih hidup. Setelah upacara pemakaman itu sendiri, kita masih akan mendapat penghiburan dari pelayat yang tentunya akan berbagi kenangan mereka bersama almarhum kepada sang penduka. Semakin kita dapat menceritakan kisah kematian tersebut sebagai sebuah kenangan, maka semakin besar pula kemungkinan kita akan dapat mendamaikan kesedihan. Menceritakan kenangan kebersamaan selama almarhum hidup, mengajarkan kita untuk tetap menghargai kehidupan dan kematian almarhum. 35
23 Fungsi keempat adalah mengembangkan identitas diri yang baru. Manusia adalah makhluk sosial yang hidupnya diberikan makna dalam kaitannya dengan kehidupan orang-orang di sekitarnya. Upacara pemakaman membantu kita memulai proses yang sulit dalam mengembangkan identitas diri yang baru yaitu peran baru yang sedang dijalani sebagai penduka. Misalnya peran baru sebagai janda, duda, yatim atau piatu. Bahwa kita hanya punya kenangan bersama dengan almarhum, kebersamaan fisik telah berakhir. Kehadiran pelayat adalah bukti kepedulian sesama atas peran baru tersebut. Kehadiran dan dukungan mereka, membantu sang penduka bahwa ia masih ada dan berada. Fungsi kelima adalah mencari makna. Ketika seseorang dicintai meninggal, kita tentu mempertanyakan makna kehidupan dan kematian. Mengapa orang ini mati? Kenapa sekarang? Mengapa cara ini? Mengapa harus bersedih? Apa yang terjadi setelah kematian? Untuk menyembuhkan kesedihan, kita harus mengeksplorasi berbagai pertanyaan tersebut untuk didamaikan dengan kesedihan kita. Kita harus terlebih dahulu bertanya "mengapa" untuk memutuskan mengapa kita harus terus hidup sebelum kita dapat bertanya pada diri sendiri bagaimana kita akan terus hidup. Ini tidak berarti kita harus menemukan jawaban yang pasti, hanya bahwa kita perlu kesempatan untuk berpikir tentang makna hidup itu sendiri. Pada tingkat yang lebih mendasar, pemakaman memperkuat satu fakta sentral dari keberadaan manusia bahwa suatu hari nanti kita pun akan mati. Seperti hidup, mati adalah suatu proses alami dan tidak dapat 36
24 dihindari. Demikian pemakaman membantu kita mencari makna dalam kehidupan dan kematian almarhum serta dalam kehidupan kita sendiri dan kematian yang akan datang. Kehadiran dalam upacara pemakaman berfungsi sebagai gladiresik untuk kita sendiri. Pemakaman adalah cara di mana kita sebagai individu dan sebagai sebuah komunitas menyampaikan keyakinan dan nilai-nilai tentang kehidupan dan kematian. Pemakaman menunjukkan bahwa kematian adalah penting. Fungsi keenam adalah untuk menerima dukungan terus-menerus dari orang lain. Upacara pemakaman adalah tempat untuk memberikan dukungan fisik sekaligus untuk mendapat dukungan fisik. Sebab kehadiran orang banyak adalah salah satu aspek yang paling penting dari penyembuhan sebagai makna upacara pemakaman. Kehadiran fisik adalah cara masyarakat untuk terus memberikan semangat hidup. Dengan menghadiri pemakaman, kita membiarkan orang lain tahu bahwa mereka tidak sendirian dalam kesedihan mereka. Sejalan dengan keenam fungsi berkabung di atas, Howard Clinebell menulis 5 tugas kerja kedukaan yaitu 25 : untuk mengalami guncangan, kematian rasa, penolakan dan penerimaan realitas kehilangan secara lambat laun; untuk mengalami, mengungkapkan dan mencerna perasaan yang menyakitkan; untuk menerima secara perlahan-lahan akan kehilangan dan memulihkan kehidupan tanpa yang hilang itu. Melepaskan hubungan dengan orang yang hilang itu dan menginvestasikan energi kehidupannya dalam hubungan yang lain (baru); untuk menempatkan 25 Howard Clinebel, Tipe-tipe Dasar Pendampingan dan Konseling Pastoral, (Yogyakarta: Kanisius, 2002),
25 kehilangannya dalam suatu konteks arti dan iman yang lebih luas, belajar dari kehilangan; untuk bisa mendampingi orang lain yang mengalami kehilangan yang sama untuk saling menolong secara timbal balik. Pada saat kehilangan terjadi, kebutuhan untuk dihibur sangat kuat sekali. Tindakan pelayanan gereja dalam ibadah penghiburan maupun upacara dapat memberi hiburan yang menenangkan batin bagi orang yang mengalami kehilangan. Baik sentuhan fisik maupun pemberian makanan adalah tindakan simbolik untuk mengkomunikasikan pendampingan kedukaan. Makan bersama sesudah penguburan meneguhkan berlangsungnya terus kehidupan meskipun terjadi kematian. Makan bersama menjadi semacam perjamuan persekutuan, yaitu suatu cara untuk mengatakan, Kita dapat dan harus terus maju, secara bersama-sama. 26 Clinebell berpendapat bahwa salah satu maksud dari penguburan adalah mempermudah pembebasan emosional dari perasaan kedukaan. Upacara penguburan adalah juga suatu kebaktian pengucapan syukur kepada Tuhan karena perbuatan-nya melalui orang yang meninggal itu. Sebuah penegasan tentang kepercayaan komunitas yang membantu orang yang kehilangan itu dalam konteks iman yang lebih luas, yang meneguhkan kehidupan. Upacara pemakaman adalah juga bentuk upacara partisipasi dari para pelayat yang berkumpul. Kebiasaan tradisional yaitu berjaga semalam suntuk di samping jenazah atau waktu melayat sebelum penguburan, dapat menjadi pengalaman yang meringankan kedukaan. 26 Ibid,
26 Lebih lanjut menurut Clinebell, sumber religius mempunyai makna yang jauh lebih banyak daripada fungsi menghibur dalam kehilangan. Kematian orang lain memperhadapkan kita dengan kefanaan kita sendiri. Kecemasan eksistensial tentang ketidakberadaan, dapat ditangani secara konstruktif hanya di dalam konteks iman yang hidup. Simbol dan pernyataan tradisi religius seseorang dapat menyentuh tingkat yang dalam dari kejiwaannya, dan secara lambat laun memperbaharui perasaan keyakinan yang mendasar, satu-satunya hal yang dapat memampukan orang untuk mengatasi kecemasan eksistensial secara kreatif. Viktor Turner berpendapat bahwa simbol berfungsi untuk mengatur kehidupan sosial. Sehingga ia berpandangan bahwa ritual tidak hanya kumpulan simbol-simbol yang saling terkait satu dengan yang lainnya tetapi juga sekaligus sebagai simbol perekat sosial bagi masyarakat tertentu. Kebersamaan terwujud karena ada krisis yang terjadi dalam masyarakat sehingga memungkinkan ritual dilaksanakan. Menurutnya ketika suatu peristiwa kritis terjadi, maka upacara-upacara simbolis dipahami sebagai petualangan masuk ke dalam dunia yang tidak diketahui. Upacara simbolis diperlukan untuk menjamin kepergian yang aman dan kedatangan kembali yang membahagiakan. 27 Dalam hal ini, ritual berfungsi liminalitas pembatas ruang dan waktu. Liminalitas adalah keadaan dimana seorang individu mengalami keadaan ambigu. Yakni, keadaan neither here nor there (tidak di sini dan juga tidak di 27 F.W. Dillistone, Daya Kekuatan Simbol, (Yogyakarta: Kanisius, 2002),
27 sana). Berarti, individu sedang masuk ke tahap betwixt (di tengah-tengah) dan between (antara). Pengalaman liminal ini akan membuat seseorang sadar diri, sadar akan eksistensinya. Pada tahap liminal itu, seorang individu yang tengah menjalani ritual inisiasi sedang melakukan refleksi diri. Mereka telah. atau sedang meninggalkan masa tertentu tetapi juga sedang masuk masa tertentu. Upacara pemakaman masuk sebagai bagian dari ritual inisiasi yang mengakibatkan terjadinya perubahan tahap hidup. Penerimaan kenyataan bahwa kematian telah memisahkan orang yang hidup dengan almarhum. Dari uraian di atas, menjadi jelas bahwa tradisi upacara pemakaman dalam budaya lokal adalah perwujudan dukungan kelompok yang bersolider dengan anggota kelompoknya yang sedang dalam kedukaan. Kehadiran anggota masyarakat sekitar tidaklah sekedar dipahami bahwa mereka hadir untuk mendampingi sang penduka namun komunitas ini adalah kumpulan umat yang menyembuhkan. 28 Kehadiran mereka menunjukkan kesadaran empati perlunya dukungan fisik, mental-emosional, spiritual dan sosial kepada sesama yang sedang berduka. Pelaksanaan upacara pemakaman merupakan tindakan simbolik yang mengekspresikan keyakinan, pikiran dan perasaan manusia tentang kematian seseorang yang dicintai. 29 Upacara pemakaman membantu kita mengakui realitas kematian, memberikan kesaksian hidup almarhum, 28 Granger E. Westberg, Dasar Teologis Perawatan Kesehatan Holistik diterjemahkan Oleh Totok Soemarta Wiryasaputra, (Yogyakarta: RS Bethesda dan Pelkesi, 1985), ix diunduh pada tanggal 23 September
28 mendorong ekspresi kesedihan dengan cara yang konsisten dengan nilainilai budaya lokal, memberikan dukungan kepada pelayat, memungkinkan untuk memeluk iman dan keyakinan tentang hidup dan mati, dan menawarkan kelanjutan dan harapan untuk hidup. 41
BAB V KESIMPULAN. Di dalam Alkitab, setidaknya terdapat tiga peristiwa duka dimana Yesus
BAB V KESIMPULAN 5.1. Refleksi Di dalam Alkitab, setidaknya terdapat tiga peristiwa duka dimana Yesus hadir dalam tiga kesempatan yang berbeda: (1) Yesus membangkitkan anak Yairus (Matius 9:18-26, Markus
BAB I PENDAHULUAN 1. Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1. Latar Belakang Manusia hidup tidak selamanya berada dalam kondisi dimana semuanya berjalan lancar sesuai dengan apa yang direncanakan dan diingininya. Ada saat dimana muncul ketegangan-ketegangan
BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang. Setiap budaya dari suatu kelompok masyarakat, pada dasarnya memiliki cara untuk
BAB I PENDAHULUAN 1. 1. Latar Belakang Setiap budaya dari suatu kelompok masyarakat, pada dasarnya memiliki cara untuk menghadapi siklus kehidupan, salah satunya kematian. Didalamnya terdapat nilai-nilai
BAB I P E N D A H U L U A N. menghargai orang yang menderita itu. Salah satunya dengan memanfaatkan metodemetode konseling dari ilmu psikologi.
BAB I P E N D A H U L U A N 1. LATAR BELAKANG Konseling pastoral adalah salah satu bentuk pertolongan dalam pendampingan pastoral yang hingga kini mengalami perkembangan. Munculnya golongan kapitalis baru
BAB IV REFLEKSI TEOLOGIS. perempuan atau pun jenis kelamin, semuanya pasti akan mengalaminya. Tidak hanya
BAB IV REFLEKSI TEOLOGIS Kematian merupakan sesuatu yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia. Siapa saja bisa mengalami hal itu, baik tua atau pun muda, miskin atau pun kaya, baik perempuan atau
BAB I PENDAHULUAN. bertemunya masyarakat yang beragama, yang disebut juga sebagai jemaat Allah. 1
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Persekutuan di dalam Yesus Kristus dipahami berada di tengah-tengah dunia untuk dapat memberikan kekuatan sendiri kepada orang-orang percaya untuk dapat lebih kuat
BAB 1 PENDAHULUAN. 1. Latar Belakang
BAB 1 PENDAHULUAN 1. Latar Belakang Kehidupan seseorang dalam perjalanannya akan selalu mengalami perubahan. Perubahan ini dapat dikarenakan perkembangan dan pertumbuhan normal sebagai pribadi, maupun
BAB II TEORI PENDAMPINGAN PASTORAL, KEDUKAAN, RITUAL KEAGAMAAN
BAB II TEORI PENDAMPINGAN PASTORAL, KEDUKAAN, RITUAL KEAGAMAAN Setiap manusia pasti mengalami kematian, hal ini karena kematian merupakan bagian dari hidup manusia yang tidak bisa dihindari. Walaupun setiap
BAB IV ANALISA FUNGSI KONSELING PASTORAL BAGI WARGA JEMAAT POLA TRIBUANA KALABAHI
BAB IV ANALISA FUNGSI KONSELING PASTORAL BAGI WARGA JEMAAT POLA TRIBUANA KALABAHI Permasalahan hidup yang dihadapi oleh warga jemaat Pola Tribuana Kalabahi meliputi beberapa aspek, yaitu aspek fisik, sosial,
BAB IV ANALISA PEMAHAMAN MENGENAI BENTUK-BENTUK PELAYANAN KOMISI DOA DI JEMAAT GPIB BETHESDA SIDOARJO SESUAI DENGAN
BAB IV ANALISA PEMAHAMAN MENGENAI BENTUK-BENTUK PELAYANAN KOMISI DOA DI JEMAAT GPIB BETHESDA SIDOARJO SESUAI DENGAN PRESPEKTIF KONSELING PASTORAL DAN REFLEKSI TEOLOGIS Dalam Bab ini akan dipaparkan analisa
BAB I PENDAHULUAN. 1 Totok S. Wiryasaputra, Pendampingan Pastoral Orang Sakit, Seri Pastoral 245, Pusat Pastoral Yogyakarta,
BAB I PENDAHULUAN 1. Latar Belakang Permasalahan Setiap orang tentunya pernah merasakan dan berada dalam keadaan sakit, baik itu sakit yang sifatnya hanya ringan-ringan saja seperti flu, batuk, pusing
BAB I PENDAHULUAN. kepada semua orang agar merasakan dan mengalami sukacita, karena itu pelayan-pelayan
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Gereja Kristen Sumba (GKS) Nggongi adalah salah satu dari sekian banyak gereja yang ada di Indonesia. Gereja hadir untuk membawa misi menyampaikan kabar baik
BAB II GEREJA DAN PASTORAL
BAB II GEREJA DAN PASTORAL 2.1. Pengertian Gereja Persekutuan di dalam Yesus Kristus dipahami berada ditengah-tengah dunia untuk dapat memberikan kekuatan sendiri kepada orang-orang percaya untuk dapat
UKDW BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Permasalahan
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Permasalahan Keluarga adalah institusi pertama yang dibangun, ditetapkan dan diberkati Allah. Di dalam institusi keluarga itulah ada suatu persekutuan yang hidup yang
BAB I PENDAHULUAN UKDW
BAB I PENDAHULUAN I. Latar Belakang Sakramen berasal dari bahasa Latin; Sacramentum yang memiliki arti perbuatan kudus 1. Dalam bidang hukum dan pengadilan Sacramentum biasanya diartikan sebagai barang
BAB IV PANDANGAN WARGA JEMAAT GBI BANDUNGAN TERHADAP PSK BANDUNGAN. A. Pandangan Warga Jemaat GBI Bandungan Terhadap PSK Bandungan
BAB IV PANDANGAN WARGA JEMAAT GBI BANDUNGAN TERHADAP PSK BANDUNGAN A. Pandangan Warga Jemaat GBI Bandungan Terhadap PSK Bandungan Pada Bab II telah dijelaskan bahwa cara pandang Jemaat Gereja terhadap
UKDW BAB I PENDAHULUAN. 1. Latar Belakang Permasalahan
BAB I PENDAHULUAN 1. Latar Belakang Permasalahan Pendampingan dan konseling pastoral adalah alat-alat berharga yang melaluinya gereja tetap relevan kepada kebutuhan manusia. 1 Keduanya, merupakan cara
Pdt. Dr. Retnowati, M. Si Pdt. Totok S. Wiryasaputra, Th.M
RAMBU SOLO SEBAGAI TINDAKAN PASTORAL TESIS Diajukan Kepada Program Pascasarjana Magister Sosiologi Agama Untuk Memperoleh Gelar Magister Sains (M.Si) OLEH: Yekhonya F.T. Timbang 75 2011 033 Pembimbing:
BAB IV RELEVANSI KITAB AYUB DENGAN PENDAMPINGAN PASTORAL KEDUKAAN. sampai kehilangan yang sangat menyesakkan.
BAB IV RELEVANSI KITAB AYUB DENGAN PENDAMPINGAN PASTORAL KEDUKAAN Pengertian kedukaan. Setiap manusia pernah mengalami kehilangan. Kehilangan dapat terjadi mulai dari yang dianggap remeh dan sederhana,
BAB I PENDAHULUAN. Dalam bab I ini, penulis menjelaskan latar belakang terjadinya penulisan Disiplin
BAB I PENDAHULUAN Dalam bab I ini, penulis menjelaskan latar belakang terjadinya penulisan Disiplin Gereja dengan Suatu Kajian Pastoral terhadap dampak Psikologis bagi orang-orang yang dikenakan Disiplin
UKDW BAB I PENDAHULUAN I.1 LATAR BELAKANG MASALAH
BAB I PENDAHULUAN I.1 LATAR BELAKANG MASALAH Kehidupan bergereja (berjemaat) tidak dapat dilepaskan dari realita persekutuan yang terjalin di dalamnya. Dalam relasi persekutuan tersebut, maka setiap anggota
UKDW BAB I PENDAHULUAN 1.1 PERMASALAHAN Latar Belakang Masalah
BAB I PENDAHULUAN 1.1 PERMASALAHAN 1.1.1 Latar Belakang Masalah Gereja Masehi Injili di Timor (GMIT) adalah Gereja mandiri bagian dari Gereja Protestan Indonesia (GPI) sekaligus anggota Persekutuan Gereja-Gereja
BAB I PENDAHULUAN UKDW
BAB I PENDAHULUAN 1. LATAR BELAKANG MASALAH Rasa sakit ternyata tidak hanya dipahami sebagai alarm bagi tubuh kita. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh mahasiswa teologi (frater) pada beberapa rumah
BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG
BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Kehidupan dan kematian merupakan dua hal yang harus dihadapi oleh setiap manusia termasuk orang Toraja, karena ini merupakan hukum kehidupan menurut adat Toraja. Sebagai
BAB V. Penutup. GKJW Magetan untuk mengungkapkan rasa syukur dan cinta kasih karena Yesus
BAB V Penutup 5.1 Kesimpulan dan Refleksi Upacara slametan sebagai salah satu tradisi yang dilaksanakan jemaat GKJW Magetan untuk mengungkapkan rasa syukur dan cinta kasih karena Yesus sebagai juruslamat
BAB I PENDAHULUAN UKDW
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Ibadah merupakan sebuah bentuk perjumpaan manusia dengan Allah, pun juga dengan corak masing-masing sesuai dengan pengalaman iman dari setiap individu atau
BAB I PENDAHULUAN 1. Permasalahan 1.1. Latar Belakang Masalah
BAB I PENDAHULUAN 1. Permasalahan 1.1. Latar Belakang Masalah Setiap manusia tentunya memiliki masalah dan pergumulannya masing-masing. Persoalan-persoalan ini mungkin berkaitan dengan masalah orang per
BAB IV REFLEKSI TEOLOGIS
BAB IV REFLEKSI TEOLOGIS Dalam gereja ditemukan berbagai kepentingan yang berbeda. Sebagai akibat, perbedaan itu dapat memunculkan konflik yang selanjutnya dinilai sebagai sesuatu yang wajar. 1 Ketika
UKDW BAB I. PENDAHULUAN 1. LATAR BELAKANG
BAB I. PENDAHULUAN 1. LATAR BELAKANG Teologi merupakan suatu usaha atau kegiatan untuk mencermati kehadiran Tuhan Allah di mana Allah menyatakan diri-nya di dalam kehidupan serta tanggapan manusia akan
BAB V PENUTUP. sebelumnya, maka pada bab terakhir ini penulis akan menyimpulkan Telaah
BAB V PENUTUP Dari penjelasan pembahasan yang telah dipaparkan pada bab-bab sebelumnya, maka pada bab terakhir ini penulis akan menyimpulkan Telaah Pendampingan Pastoral terhadap Pelayanan Kerohanian di
UKDW BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Kehidupan di perkotaan diperhadapkan dengan sebuah realita kehidupan yang kompleks. Pembangunan yang terus berlangsung membuat masyarakat berlomba-lomba untuk
PERAN PENDIDIKAN AGAMA KRISTEN DALAM MENGHADAPI PERUBAHAN SOSIAL
PERAN PENDIDIKAN AGAMA KRISTEN DALAM MENGHADAPI PERUBAHAN SOSIAL Lenda Dabora Sagala STT Simpson Ungaran Abstrak Menghadapi perubahan sosial, Pendidikan Agama Kristen berperan dengan meresponi perubahan
BAB I PENDAHULUAN UKDW
BAB I PENDAHULUAN 1. Latar Belakang Permasalahan Dalam menjalani proses kehidupan, peristiwa kematian tidak dapat dihindari oleh setiap manusia. Namun, peristiwa kematian sering menjadi tragedi bagi orang
1 Wawancara dengan bpk sumarsono dan remaja di panti asuhan Yakobus
BAGIAN IV TINJAUAN KRITIS ATAS UPAYA PELAKSANAAN PENDIDIKAN AGAMA KRISTEN BAGI REMAJA YANG BERAGAMA KRISTEN DAN NON KRISTEN DIPANTI ASUHAN YAKOBUS YANG SESUAI DENGAN PENDIDIKAN MULTIKULTURAL. 4.1 Pendidikan
UKDW. Bab 1 Pendahuluan. 1. Latar Belakang
Bab 1 Pendahuluan 1. Latar Belakang Masa remaja merupakan salah satu periode perkembangan yang dialami oleh setiap individu sebagai masa transisi dari masa kanak-kanak menuju masa dewasa. Menurut Erik
UKDW BAB I PENDAHULUAN
BAB I PENDAHULUAN 1 LATAR BELAKANG MASALAH Peristiwa kematian pada umumnya menimbulkan luka bagi kehidupan. Sebuah peristiwa kematian orang yang dikasihi biasanya diikuti oleh rasa kehilangan dan dukacita
BAB 1 Pendahuluan. 1 NN, Badan Geologi Pastikan Penyebab Gempa di Yogyakarta, ANTARA News,
1 BAB 1 Pendahuluan 1. 1. Latar Belakang Gempa bumi yang terjadi pada tanggal 27 Mei 2006 berkekuatan 5,9 Skala Richter pada kedalaman 17,1 km dengan lokasi pusat gempa terletak di dekat pantai pada koordinat
BAB I PENDAHULUAN. Khotbah merupakan salah satu bagian dari rangkaian liturgi dalam
BAB I PENDAHULUAN I. Latar Belakang Masalah Khotbah merupakan salah satu bagian dari rangkaian liturgi dalam kebaktian yang dilakukan oleh gereja. Setidaknya khotbah selalu ada dalam setiap kebaktian minggu.
BAB I PENDAHULUAN. sehingga ia tidak merasa sendirian dalam melintasi masa-masa sulit dan. kritis dalam perkembangan kehidupannya.
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Kematian dan kedukaan adalah bagian integral dari siklus perkembangan kehidupan manusia. Dalam menghadapi dukacita karena peristiwa kematian itu, setiap kelompok masyarakat
BAB I PENDAHULUAN. dan penderitaan, dan kebanyakan datang terlalu cepat". 1
BAB I PENDAHULUAN Pengantar Woody Allen menyatakan, hidup penuh dengan kesengsaraan,kesepian dan penderitaan, dan kebanyakan datang terlalu cepat". 1 Pernyataan ini sebenarnya juga merupakan pernyataan
KONSELING PASTORAL, MENGAPA TAKUT?
JTA 4/6 (Maret 2002) 15-24 KONSELING PASTORAL, MENGAPA TAKUT? Agung Gunawan D i pertengahan tahun 30an, ada beberapa pemimpin gereja mulai tertarik dalam bidang konseling untuk dipakai di dalam pelayanan
B A B V P E N U T U P. Fakta-fakta dan analisis dalam tulisan ini, menuntun pada kesimpulan
5.1. Kesimpulan B A B V P E N U T U P Fakta-fakta dan analisis dalam tulisan ini, menuntun pada kesimpulan umum bahwa integrasi sosial dalam masyarakat Sumba di Kampung Waiwunga, merupakan konstruksi makna
BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG MASALAH
1 BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG MASALAH Perkembangan teknologi dan komunikasi yang semakin pesat, memacu orang untuk semakin meningkatkan intensitas aktifitas dan kegiatannya. Tingginya intensitas
BAB IV ANALISA 4.1 Pelayanan holistik di Gereja Pentakosta di Indonesia Pondok Diakonia Yayasan Sosial Harapan Bawen
BAB IV ANALISA Pada Bab IV ini, penulis akan menganalisis bagaimana pelayanan holistik yang dilakukan oleh gereja terhadap anak autis dengan menggunakan teori yang ada bab II serta model yang ditemukan
UKDW BAB I. Pendahuluan. 1.1 Latar belakang permasalahan. 1) Gambaran umum tentang orang Tionghoa yang ada di Indonesia.
BAB I Pendahuluan 1.1 Latar belakang permasalahan 1) Gambaran umum tentang orang Tionghoa yang ada di Indonesia. Orang-orang Tionghoa asli sudah datang ke pulau Jawa jauh sebelum kedatangan orang Barat.
Filled Notes. 1. Wawancara dengan Bapak YB. Hari/tanggal : Selasa, 27 Maret : Rumah Bapak YB : WITA.
LAMPIRAN 90 Filled Notes 1. Wawancara dengan Bapak YB Hari/tanggal : Selasa, 27 Maret 2012 : Rumah Bapak YB : 16.30-18.35 WITA a) Arti kematian bagi orang Sabu. Made atau meninggal menurut kepercayaan
BAB V PENUTUP. diberikan saran penulis berupa usulan dan saran bagi GMIT serta pendeta weekend.
BAB V PENUTUP Setelah melalui tahap pembahasan dan analisis, maka selanjutnya pada bab ini akan dipaparkan mengenai kesimpulan yang dapat diambil berdasarkan analisis dan pembahasan yang telah dilakukan
BAB IV MAKNA PELAKSANAAN UPACARA ADAT ALAWAU AMANO BAGI KEHIDUPAN ORANG NOLLOTH. A. Mendiskripsikan Upacara Adat Kematian Alawau Amano
BAB IV MAKNA PELAKSANAAN UPACARA ADAT ALAWAU AMANO BAGI KEHIDUPAN ORANG NOLLOTH A. Mendiskripsikan Upacara Adat Kematian Alawau Amano Menurut Hertz, kematian selalu dipandang sebagai suatu proses peralihan
KELUARGA DAN PANGGILAN HIDUP BAKTI 1
1 KELUARGA DAN PANGGILAN HIDUP BAKTI 1 Pontianak, 16 Januari 2016 Paul Suparno, S.J 2. Abstrak Keluarga mempunyai peran penting dalam menumbuhkan bibit panggilan, mengembangkan, dan menyertai dalam perjalanan
MATERI 6 BENTUK DAN FUNGSI LEMBAGA SOSIAL
MATERI 6 BENTUK DAN FUNGSI LEMBAGA SOSIAL 1. Bentuk dan Fungsi Lembaga Sosial Pada dasarnya, fungsi lembaga sosial dalam masyarakat beraneka macam berdasarkan jenis-jenis lembaganya. Oleh karena itu, kita
BAB 1 PENDAHULUAN Kematian
BAB 1 PENDAHULUAN Menurut Vitruvius di dalam bukunya Ten Books of Architecture, arsitektur merupakan gabungan dari ketiga aspek ini: firmity (kekuatan, atau bisa dianggap sebagai struktur), venustas (keindahan
BABI PENDAHULUAN. Di negara maju, penyakit stroke pada umumnya merupakan penyebab
BAE~ I PENDAHULUAN BABI PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakaog Masalah Di negara maju, penyakit stroke pada umumnya merupakan penyebab kematian nomor tiga pada kelompok usia lanjut, setelah penyakit jantung dan
BAB I PENDAHULUAN. A. Permasahan. 1. Latar Belakang Masalah
1 BAB I PENDAHULUAN A. Permasahan 1. Latar Belakang Masalah Gereja sebagai suatu kehidupan bersama religius yang berpusat pada Yesus Kristus 1 hadir di dunia untuk menjalankan misi pelayanan yaitu melakukan
BAB I PENDAHULUAN. 1. Latar Belakang Masalah
1 BAB I PENDAHULUAN 1. Latar Belakang Masalah Perasaan khawatir pada umumnya dikenal sebagai perasaan takut atau cemas. Tetapi perasaan khawatir akan lebih tepat apabila dimaknai sebagai perasaan cemas
BAB I PENDAHULUAN. 1. Latar Belakang Masalah
BAB I PENDAHULUAN 1. Latar Belakang Masalah Dalam proses penyebarluasan firman Tuhan, pekabaran Injil selalu berlangsung dalam konteks adat-istiadat dan budaya tertentu, seperti halnya Gereja gereja di
BAB I PENDAHULUAN. vol.65, Jakarta: YPJ, 2010), hal. 17 1
BAB I PENDAHULUAN 1. Latar Belakang Masalah Pada dasarnya Tuhan menciptakan mahluk ciptaannya secara sempurna, termasuk manusia sebagai salah satu di antaranya, bahkan dikatakan sebagai mahluk segambar
Bab Empat. Penutup. 1. Kesimpulan. Salah satu pokok yang seharusnya diputuskan dalam SSA GTM adalah
Bab Empat Penutup 1. Kesimpulan Salah satu pokok yang seharusnya diputuskan dalam SSA GTM adalah peraturan/tata gereja definitif yang berisi uraian teologis-eklesiologis tentang identitas GTM secara menyeluruh
BAB V PENUTUP. penting yang menjadi pokok atau inti dari tulisan ini, yaitu sebagai berikut :
BAB V PENUTUP Pada bagian V ini, penulis akan memaparkan tentang kesimpulan dan saran. 5. 1. Kesimpulan Dari pemaparan pada bab-bab sebelumnya, penulis menyimpulkan beberapa hal penting yang menjadi pokok
BAB IV ANALISA DAN REFLEKSI TEOLOGI
BAB IV ANALISA DAN REFLEKSI TEOLOGI Dalam bab ini berisi tentang analisa penulis terhadap hasil penelitian pada bab III dengan dibantu oleh teori-teori yang ada pada bab II. Analisa yang dilakukan akan
BAB I PENDAHULUAN. Indonesia memiliki banyak suku, etnis dan budaya. Salah satunya adalah suku
BAB I PENDAHULUAN I.I Latar Belakang Masalah Indonesia memiliki banyak suku, etnis dan budaya. Salah satunya adalah suku X di Kabupaten Papua yang menganut tradisi potong jari ketika salah seorang anggota
Bab I Pendahuluan 1.1 Latar belakang
1 Bab I Pendahuluan 1.1 Latar belakang Bagi orang Asia, adat merupakan hal yang tidak terpisahkan dengan melekatnya identitas sebagai masyarakat suku. Hampir setiap suku mengenal adat sebagai bagian integral
UKDW BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Katekisasi merupakan salah satu bentuk pelayanan pendidikan kristiani yang dilakukan oleh gereja. Istilah katekisasi berasal dari kerja bahasa Yunani: katekhein yang
BAB IV PENTINGNYA KONSELING PASTORAL ANTARBUDAYA DI JEMAAT GMI WESLEY JAKARTA. A. Realitas Konseling Pastoral Antarbudaya di GMI Wesley
BAB IV PENTINGNYA KONSELING PASTORAL ANTARBUDAYA DI JEMAAT GMI WESLEY JAKARTA A. Realitas Konseling Pastoral Antarbudaya di GMI Wesley Jakarta Dalam kehidupan bergereja, keutuhan jemaat baik individu maupun
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Manusia adalah makhluk yang paling sulit untuk dipelajari dan dimengerti dari segala makhluk di bumi. Meskipun memiliki bentuk dan organ tubuh yang sama namun sifat
PEMAHAMAN MAKNA LITURGI (Studi Mengenai Makna Warna-warna Liturgis dalam Pemahaman Jemaat Gereja Kristen Protestan Bali/GKPB)
PEMAHAMAN MAKNA LITURGI (Studi Mengenai Makna Warna-warna Liturgis dalam Pemahaman Jemaat Gereja Kristen Protestan Bali/GKPB) Diajukan Kepada Fakultas Teologi Sebagai Salah Satu Persyaratan Uji Kelayakan
UKDW BAB I. Pendahuluan. 1. Latar Belakang Masalah. Secara umum dipahami bahwa orang Indonesia harus beragama. Ini salah
BAB I Pendahuluan 1. Latar Belakang Masalah Secara umum dipahami bahwa orang Indonesia harus beragama. Ini salah satunya karena Indonesia berdasar pada Pancasila, dan butir sila pertamanya adalah Ketuhanan
UKDW BAB I PENDAHULUAN
BAB I PENDAHULUAN 1. Latar Belakang Permasalahan Setiap manusia pasti menginginkan kebahagiaan dalam hidupnya. Namun dalam kenyataan kehidupan ini, manusia tidak bisa terhindar dari pergumulan hidup. Manusia
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. manusia, mitos dan ritual saling berkaitan. Penghadiran kembali pengalaman
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Ritual merupakan suatu proses pelaksanaan tradisi. Meskipun sudah ada ritual tanpa mitos-mitos dalam beberapa periode jaman kuno. Dalam tingkah laku manusia,
BAB IV TINJAUAN TEOLOGIS TERHADAP PENGHAYATAN ROH KUDUS JEMAAT KRISTEN INDONESIA INJIL KERAJAAN DI SEMARANG
BAB IV TINJAUAN TEOLOGIS TERHADAP PENGHAYATAN ROH KUDUS JEMAAT KRISTEN INDONESIA INJIL KERAJAAN DI SEMARANG Pada Bab ini, penulis akan menggunakan pemahaman-pemahaman Teologis yang telah dikemukakan pada
BAB I PENDAHULUAN. dengan keberadaannya. Dari ajaran resmi yang dituangkan di dalam Pokok-
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang 1.1.1. Identifikasi Permasalahan Sebagai salah satu penerus tradisi Gereja Reformasi, Gereja Kristen Jawa (GKJ) memiliki ajaran iman yang sangat mendasar sehubungan
10. Mata Pelajaran Pendidikan Agama Kristen untuk Sekolah Menengah Pertama Luar Biasa Tunalaras (SMPLB E)
10. Mata Pelajaran Pendidikan Agama Kristen untuk Sekolah Menengah Pertama Luar Biasa Tunalaras (SMPLB E) A. Latar Belakang Agama memiliki peran yang amat penting dalam kehidupan umat manusia. Agama menjadi
BAB I PENDAHULUAN 1. LATAR BELAKANG
BAB I PENDAHULUAN 1. LATAR BELAKANG Prinsip dasar bahwa untuk beriman kita membutuhkan semacam jemaat dalam bentuk atau wujud manapun juga. Kenyataan dasar dari ilmu-ilmu sosial ialah bahwa suatu ide atau
BAB IV RAMBU SOLO SEBAGAI TINDAKAN PASTORAL. Merujuk isi kerangka konseptual yang telah diuraikan pada Bab II tulisan
BAB IV RAMBU SOLO SEBAGAI TINDAKAN PASTORAL Merujuk isi kerangka konseptual yang telah diuraikan pada Bab II tulisan ini, penulis akan memberikan ulasan analis tentang tindakan pastoral yang terdapat dalam
lambang dan Citra citra Rakyat (PERSETIA. 1992), hlm.27 6 Scn 3, hlm
BAB I PENDAHULUAN 1. Permasalahan 1.1. Latar Belakang Masalah Manusia pada hakekatnya adalah makhluk berbudaya, karena itu manusia tidak dapat lepas dari budaya yang dianutnya. Suatu budaya memiliki nilai
BAB II KERANGKA KONSEPTUAL RITUAL KEMATIAN DAN PENGUBURAN JENAZAH. keagamaan dan ritual adalah berkenaan dengan ritus; dan hal ihwal ritus.
BAB II KERANGKA KONSEPTUAL RITUAL KEMATIAN DAN PENGUBURAN JENAZAH 2.1. Ritual Dalam kamus Besar Bahasa Indonesia, Ritual adalah tata cara dalam upacara keagamaan dan ritual adalah berkenaan dengan ritus;
Bab I Pendahuluan 1. Permasalahan
1 Bab I Pendahuluan 1. Permasalahan Tidak ada yang kekal dalam kehidupan ini selain perubahan. Artinya, manusia setiap hari diperhadapkan pada serangkaian perubahan baik itu perubahan di dalam maupun di
UKDW. BAB I Pendahuluan. A. Latar Belakang
BAB I Pendahuluan A. Latar Belakang Kehidupan umat beragama tidak bisa dipisahkan dari ibadah. Ibadah bukan hanya sebagai suatu ritus keagamaan tetapi juga merupakan wujud respon manusia sebagai ciptaan
BAB VI KESIMPULAN. Pada dasarnya Keraton Yogyakarta dibangun berdasarkan. kosmologi Jawa, yang meletakkan keseimbangan dan keselarasan
533 BAB VI KESIMPULAN A. Kesimpulan Pada dasarnya Keraton Yogyakarta dibangun berdasarkan kosmologi Jawa, yang meletakkan keseimbangan dan keselarasan sebagai landasan relasi manusia-tuhan-alam semesta.
BAB IV REFLEKSI TEOLOGIS. dalam keluarga dengan orang tua beda agama dapat dipahami lebih baik.
BAB IV REFLEKSI TEOLOGIS Dalam bab IV ini akan dipaparkan suatu refleksi teologis tentang PAK dalam keluarga dengan orang tua beda agama. Refleksi teologis ini terbagi menjadi dua bagian, yaitu PAK keluarga
BAB I PENDAHULUAN. 1 Majelis Agung GKJW, Tata dan Pranata GKJW, Pranata tentang jabatan-jabatan khusu, Bab II-V, Malang,
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Permasalahan Gereja adalah mitra kerja Tuhan Allah dalam mewujudkan rencana karya Tuhan Allah yaitu untuk menyelamatkan umat manusia. Dalam memenuhi panggilan-nya tersebut,
BAB I PENDAHULUAN. material sampai pada segi yang bersifat mental, sehingga tidak mudah untuk menemukan dan
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Kemiskinan merupakan masalah serius yang sedang diperhadapkan dalam kehidupan bermasyarakat. Kemiskinan mempunyai banyak segi dan dimensi mulai dari yang bersifat
1. LATAR BELAKANG MASALAH
BAB I PENDAHULUAN 1 1. LATAR BELAKANG MASALAH Manusia dalam kehidupannya memiliki banyak kebutuhan, antara lain : kebutuhan untuk diperhatikan, mendapatkan bimbingan, pemeliharaan, asuhan, penghiburan,
BAB I PENDAHULUAN. Anwar Sutoyo, Bimbingan dan Konseling Islami (Teori dan Praktik), Pustaka Pelajar, Yogjakarta, 2013, hal
BAB I PENDAHULUAN A. Latar belakang Masalah Manusia dalam menjalani kehidupan pasti akan dihadapkan dengan cobaan untuk mengetahui sebagaimana usaha lahir dan batin seseorang ketika dihadapkan pada ujian,
BAB V PENUTUP. terhadap permasalahan kekerasan pasangan suami isteri, yakni: 1. Peran Pendeta sebagai Motivator terhadap Permasalahan Ekonomi
BAB V PENUTUP 5.1 Kesimpulan Peran pendeta secara umum dapat dilihat dalam fungsi konseling pastoral, yakni menyembuhkan, menopang, membimbing, memperbaiki hubungan, dan mengasuh. Dari hasil penelitian,
11. Mata Pelajaran Pendidikan Agama Katolik untuk Sekolah Dasar (SD)
11. Mata Pelajaran Pendidikan Agama Katolik untuk Sekolah Dasar (SD) A. Latar Belakang Agama memiliki peran yang amat penting dalam kehidupan umat manusia. Agama menjadi pemandu dalam upaya mewujudkan
BAB I PENDAHULUAN UKDW
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Ibadah yang sejati seperti yang ditegaskan oleh Rasid Rachman 1 sebagai refleksinya atas Roma 12:1, adalah merupakan aksi dan selebrasi. Ibadah yang sejati tidak
Seri Kitab Wahyu Pasal 11, Pembahasan No. 1, oleh Chris McCann. Selamat malam dan selamat datang di Pemahaman Alkitab EBible
Seri Kitab Wahyu Pasal 11, Pembahasan No. 1, oleh Chris McCann Selamat malam dan selamat datang di Pemahaman Alkitab EBible Fellowship dalam Kitab Wahyu. Malam ini kita akan membicarakan Pembahasan No.
BAB I PENDAHULUAN. hidup dalam komunitas sebagai anggota gereja (Gereja sebagai Institusi). 1
BAB I PENDAHULUAN I. Latar Belakang Nabeel Jabbour menepis pemahaman tentang gereja hanya sebatas bangunan, gedung dan persekutuan yang institusional. Berangkat dari pengalaman hidup Nabeel Jabbour selama
BAB I PENDAHULUAN. Padjajaran, 1974, hlm. 8 4 S.d.a
BAB I PENDAHULUAN 1. Latar Belakang Permasalahan Kanker sebetulnya bukanlah nama penyakit atau rasa sakit. Kanker merupakan sebuah nama untuk sekelompok besar bermacam-macam perasaan tidak sehat dengan
BAB I PENDAHULUAN UKDW
BAB I PENDAHULUAN 1. Latar Belakang Bangsa Indonesia adalah bangsa yang khas dengan pluralitas agama dan budaya. Pluralitas sendiri dapat diterjemahkan sebagai kemajemukan yang lebih mengacu pada jumlah
BAB IV MEWARISKAN IMAN DENGAN TELADAN SUATU REFLEKSI TEOLOGIS TERHADAP TRADISI PIRING NAZAR
BAB IV MEWARISKAN IMAN DENGAN TELADAN SUATU REFLEKSI TEOLOGIS TERHADAP TRADISI PIRING NAZAR Keluarga adalah salah satu konteks atau setting Pendidikan Agama Kristen yang perlu diperhatikan dengan baik,
UKDW BAB I PENDAHULUAN
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Kehidupan manusia selalu diperhadapkan dengan berbagai keragaman, baik itu agama, sosial, ekonomi dan budaya. Jika diruntut maka banyak sekali keragaman yang
@UKDW BAB I PENDAHULUAN
BAB I PENDAHULUAN Manusia adalah mahluk sosial. Sebagai mahluk sosial manusia tidak sempurna dan ia tidak bisa hidup pada dirinya sendiri, ia memerlukan orang lain sebagai penolong bagi dirinya sendiri.
BAB V PENUTUP. Pada bagian ini akan di paparkan tentang kesimpulan dan saran dari hasil penelitian
BAB V PENUTUP Pada bagian ini akan di paparkan tentang kesimpulan dan saran dari hasil penelitian yang telah dilakukan oleh peneliti. 5.1 Kesimpulan 1. Tidak dapat dipungkiri persoalan dalam kehidupan
Menjadi Anggota Masyarakat Gereja
Menjadi Anggota Masyarakat Gereja Chee Kim adalah seorang anak yatim piatu. Meskipun ia baru berusia enam tahun, ia hidup sebagai gelandangan di kota Hong Kong. Ia tidak mempunyai keluarga. Pada suatu
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN A. KESIMPULAN 1. Dampak skizofrenia bagi keluarga sangatlah besar, ini menyebabkan seluruh keluarga ikut merasakan penderitaan tersebut. Jika keluarga tidak siap dengan hal ini,
Bab I Pendahuluan Bdk. Pranata Tentang Sakramen dalam Tata dan Pranata GKJW, (Malang: Majelis Agung GKJW, 1996), hlm.
Bab I Pendahuluan 1. 1 Latar Belakang Masalah Selama ini di Greja Kristen Jawi Wetan (GKJW) dilakukan Perjamuan Kudus sebanyak empat kali dalam satu tahun. Pelayanan sebanyak empat kali ini dihubungkan
BAB 1 PENDAHULUAN. Tahap anak-anak merupakan salah satu tahapan kehidupan yang pasti
1 BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Tahap anak-anak merupakan salah satu tahapan kehidupan yang pasti dilalui oleh seseorang. Anak-anak merupakan aset penting milik negara yang akan menjadi
UKDW. Bab I. Pendahuluan
Bab I Pendahuluan 1. Latar Belakang Permasalahan Tak dapat dipungkiri bahwa manusia diciptakan sebagai makhluk sosial, maka dari itu kehidupan seorang manusia yang dimulai dari kelahiran dan diakhiri dengan
BAB V KESIMPULAN DAN REKOMENDASI
BAB V KESIMPULAN DAN REKOMENDASI Berdasarkan semua kajian dalam bab-bab yang telah dipaparkan di atas, pada bab ini akan dikemukakan beberapa kesimpulan dan rekomendasi. Rekomendasi ini terutama bagi gereja
