OPTIMASI PARAMETER PADA KLASIFIKASI FUZZY ARTMAP BERBOBOT BERBASIS ALGORITMA GENETIKA
|
|
|
- Devi Jayadi
- 9 tahun lalu
- Tontonan:
Transkripsi
1 OPTIMASI PARAMETER PADA KLASIFIKASI FUZZY ARTMAP BERBOBOT BERBASIS ALGORITMA GENETIKA Bain Khusnul Khotimah *, Agus Zainal Arifin, Anny Yuniarti 3 Pascasarana Teknik Informatika, Fakultas Teknologi Informasi ITS, Surabaya Indonesia *, [email protected] Pascasarana Teknik Informatika, Fakultas Teknologi Informasi ITS, Surabaya, Indonesia, 3 ABSTRAK Klasifikasi menggunakan fuzzy ARTMAP berbobot adalah metode baru dalam klasifikasi yang diperoleh dengan mengkombinasikan simplified fuzzy ARTMAP dan symmetric fuzzy ART ditambah pembobotan feromon sesuai konsep koloni semut. Metode ini memiliki kelebihan dalam hal efisiensi dan toleran dalam mencari kedekatan kelas serta menyesuaikan node output dengan pola. Kelemahan metode ini sangat dipengaruhi estimasi parameter significant pada saat melakukan training sehingga mempengaruhi kinera classifier. Untuk mengatasi masalah tersebut perlu dilakukan pemilihan parameter yang signifikant yang sangat berpengaruh dalam meningkatkan nilai akurasi pada klasifikasi. Penelitian ini melakukan optimasi parameter pada klasifikasi fuzzy ARTMAP berbobot menggunakan algoritma genetika atau disebut GA-FAMB. Algoritma ini melakukan pencarian parameter dengan menentukan pembobotan pheromon, pembobotan likenessintensity dan nilai batas vigilance untuk mendapatkan hasil akurasi yang optimal. Pada algoritma genetika mampu mendapatkan nilai parameter optimal secara otomatis pada klasifikasi FAMB dengan tingkat akurasi yang lebih tinggi untuk set data uci repository menghasilkan ± 9%, sedangkan dengan menggunakan algoritma grid search yang digunakan sebagai algoritma pembanding menghasilkan nilai akurasi ± 88%. kata kunci : fuzzy ARTMAP, simplified fuzzy ARTMAP, symmetric fuzzy ART, fuzzy ARTMAP berbobot, algoritma genetika, algoritma grid search. Pendahuluan Klasifikasi adalah suatu kegiatan menggolongkan sebuah obyek ke kategori atau kelas tertentu. Proses klasifikasi dilakukan dengan menggunakan model klasifikasi. Sebuah obyek yang belum diketahui kelasnya diprediksi kelasnya berdasarkan model klasifikasi dengan menyesuaikan nilai attribut-attribut atau fiturfiturnya (Pang Ning Tang, 005).. Saat ini terdapat banyak algoritma pembelaaran untuk membangun model klasifikasi seperti Adaptive Resonance Theory (ART) merupakan enis klasifikasi baru dari neural network (Grossberg, 976). ART dikembangkan menadi ART- untuk mengkluster data biner (Grossberg, 987).. Selanutnya dilakukan ART- yang mempunyai kelemahan dalam proses searching dimana seluruh output neuron uncummited. Kelemahan ART dapat diperbaiki menggunakan fuzzy ARTMAP dengan cara mengkonversi searching problem menuu optimization problem (Baraldi, 00). Fuzzy ARTMAP diperoleh dengan mengkombinasikan antara simplified fuzzy ARTMAP dan symmetric fuzzy ART yang mempunyai fungsi aktifasi dan fungsi mach yang terpengaruh umlah data di dalam node, hal ini menimbulkan ketidakadilan terhadap node yang memiliki umlah pattern lebih banyak. Untuk mengatasi masalah tersebut dilakukan modifikasi pembobotan dengan menambahkan konsep algoritma koloni semut pada fuzzy ARTMAP sehingga disebut FAM berbobot atau fuzzy ARTMAP berbobot. Prinsip algoritma ini mirip dengan penyelesaian kasus terpendek dimana setiap semut akan mengikuti alan yang mengandung umlah pheromon lebih banyak dibanding lainnya. Semakin dekat alur yang dilalui semut maka semut yang lewat akan semakin banyak dan eak pheromon yang ditinggalkan uga semakin banyak, begitu uga sebaliknya. Sehingga cluster node yang dihasilkan akan menyesuaikan dengan umlah pattern dan dapat menampung pattern lebih banyak (Darlis, 009). Kelemahan metode fuzzy ARTMAP berbobot optimization problem sangat dipengaruhi oleh inisialisasi parameter pada saat training yang mempengaruhi hasil akurasi. Sehingga penelitian ini akan
2 melakukan estimasi parameter dengan menggunakan algoritma genetika yang tuuannya dapat meningkatkan kinera pada classifier. Algoritma genetika sangat baik untuk menyelesaikan permasalahan optimasi dan melakukan search point dengan mencari pola baru yang diharapkan memiliki nilai fitness yang lebih baik dari seluruh kromosom dan dapat meningkatkan kinera pada classifier (Limai, 009). Dalam melakukan estimasi parameter pada klasifikasi fuzzy ARTMAP berbobot menggunakan algoritma genetika atau disebut metode GA-FAMB dibandingkan dengan algoritma grid search yang disebut GS- FAMB. Algoritma grid search yaitu salah satu algoritma umum yang sering digunakan untuk estimasi parameter, dengan prinsip keranya dengan menentukan beberapa nilai parameter pada rentang tertentu, kemudian memilih parameter pada nilai terbaik pada rentang tersebut dan melakukan pencarian berulang pada grid (rentang nilai) yang lebih kecil, dst. Kelemahan algoritma ini pada pencarian grid yang terlalu kecil dapat mengakibatkan overfitting. Tinauan Pustaka. Simplified Fuzzy ARTMAP (SFAM) SFAM pada dasarnya merupakan sequential counterpart dari parallel fuzzy ARTMAP yaitu dengan menyederhanakan algoritma dengan hasil yang sama. Sebagai classifier, network training digunakan untuk mencari himpunan template yang berupa hiperrectangle yang mengelompokkan/mengklasifikasikan dari suatu pola sedemikan rupa sehingga mampu memberi Gambaran terbaik tentang data anggota yang ada didalamnya [3]. Misalkan himpunan template W = {w, w,, w C } dan umlah pola dari X yang sesuai dengan setiap template N ={N, N,, N C }. Yang perlu dicatat bahwa umlah output node, himpunan W dan N akan bertambah (growing) secara dinamis. Tiga fungsi utama Algoritma SFAM adalah fungsi T (), M () and U (). Sedangkan NEWNODE(new) dalam algoritma tersebut adalah sebuah macro routine yang mengalokasikan new node (template) untuk network, yaitu T (x, w) disebut sebagai choice function atau activation function, yang digunakan untuk mengukur deraat dari resemblance dari x dengan w. x w T( x, w ) (.) w Dimana a adalah choice parameter, a > 0 M( x, w ) disebut match function, yang digunakan untuk menentukan seberapa auh kesamaan w dengan x. x w M ( x, w ) (.) x Fungsi ini digunakan sebagai conunction untuk vigilance parameter 0,, dimana M x, yang berarti resonansi. w Vigilance merupakan parameter network terpenting untuk menentukan resolusinya : larger vigilance value normally yields larger number dari output nodes dan presisi yang bagus. U ( x, w) disebut update function, yang digunakan untuk mengupdate sebuah template setelah resonansi dengan sebuah pola: U x, w ) ( ) w ( x w ) (.3) ( dimana adalah learning rate, 0. Nilai yang lebih tinggi dari dihasilkan dalam faster learning. Disebut sebagai fast learning dalam ART ketika =. Operator dalam persamaan (.) hingga (.) adalah bitwise AND operator, yaitu a b = (a AND b, a AND b, a cc AND b c ), dan a adalah dirumuskan sebagai berikut, a D a i i (.4). Simmetric Fuzzy ART (S-Fuzzy ART) ART- menggunakan inherently nonsymmetrical architecture untuk menghitung intrinsically symmetric fuzzy ART (S-Fuzzy ART) yang mengadopsi symmetric activation dan match function, yaitu T(x,w )=T(w,x) dan T(x,w )=M(x,w ) (Baraldi, 00). Dua bentuk dari symmetric activation dan match function adalah: T ( x, w atau ) M ( x, w T ( x, w ) M ( x, w ) ) D d D x w min{ x, w } x d D d d d w d d (.5) (.6) S-Fuzzy ART dapat diimplementasikan menggunakan skema EART-. Hal ini menunukkan bahwa Sfuzzy ART lebih unggul
3 daripada fuzzy ART dalam hal akurasi klaterisasi dan robust terhadap perubahan dari urutan representasi data. Setelah S-Fuzzy ART menemukan tuuan awalnya, Andrew Baraldi dan Ethem Alpaydin mengusulkan group baru dari ART networks yang disebut simplified ART (SART), merupakan generalisasi dari S- Fuzzy ART dan dapat diimplementasikan menggunakan skema EART, GART dan S- Fuzzy ART adalah dua contoh dari SART.. 3 Fuzzy ARTMAP Berbobot Metode ini merupakan pengembangan dari SFAM dan fuzzy ARTMAP yang mana algoritma ini secara umum mengkombinasikan antara fuzzy ARTMAP dan synmetric fuzzy ART serta ditambah dengan pembobotan node cluster berdasarkan umlah pola dan size dari node cluster tersebut. Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam fuzzy ARTMAP sebagai berikut dimana nilai fungsi dari aktifasi T() dan match (M) pada suatu node output tidak terpengaruh terhadap umlah data yang ada dalam node terxebut, dengan kata lain ika ada dua node output yang memiliki bentuk dan ukuran yang sama, tetapi memiliki umlah pattern yang ada tidak sama, maka nilai T() maka menimbulkan ketidakadilan terhadap node yang memiliki umlah pattern yang lebih banyak. Sehingga ide dasar fuzzy ARTMAP berbobot adalah mencari bentuk formula baru dari T() dan M() yang merupakan hasil relaksasi fungsi pada SFAM dan S-fuzzy ART dengan mengalikan dengan parameter likenessintensity (Li). Serta diumlahkan dengan bobot pheromon dengan maksud memberi nilai lebih besar pada ukuran cluster node yang memiliki pattern lebih banyak. Proses pembobotan dalam algoritma ini mengadopsi sistem pheromon dan peluruhannya pada sistem koloni semut, dan penerapan eak pheromon pada metode ARTMAP terletak pada seberapa pertambahan size (pola baru sudah didalam cluster). Jika tidak teradi pertambahan size (pola baru sudah didalam cluster) maka tingkat kepekatan pheromon dalam node tersebut semakin besar walaupun teradi peluruhan karena waktu. Akan tetapi, ika pola baru menyebabkan ukuran cluster node bertambah besar, maka tingkat peluruhan/evaporasi kepekatan pheromon uga semakin besar karena harus disebar ke ruang baru sehingga tingkat kepekatan pheromon menadi berkurang []. Ilustrasi dari perubahan kepekatan pheromon seperti ditunukkan pada Gambar.. Gambar.. Size cluster node bertambah karena beresonansi dengan pola baru Dari ilustrasi Gambar., eak pheromon dapat ditulis dengan persamaan : r w ( t ) w ( t ) (.) ( t ) ( ( ( t) ( r ( t))) if ( t) w ( t) w ( t) else (.) Dimana : r =ratio pertambahan size cluster node baru dengan size cluster node lama. = constant pheromon yang ditinggalkan setiap teradi update cluster node. =constant evaporasi/peluruhan setiap teradi update cluster node. ( t ) = eak pheromon ika teradi resonansi antara pola dengan node output. Pengembangan lainnya dari algoritma SFAM ini dengan menggabung antara nilai yang dihasilkan dari T() dan M() pada persamaan dengan nilai dari symmetric fuzzy ARTMAP, dimana T() dan M() berbobot ditunukkan pada persamaan berikut ini: xw T( xi, w ) ( )* * (.7) n w xw xw M( x, w (.8) i ) ( )* * w xw Dimana nilai adalah bobot kesimetrisan yang ika nilainya berarti sama dengan persamaan fuzzy ARTMAP ditambah pembobotan dan ika nilai 0 maka prinsip keranya sama dengan ART.
4 3. Optimasi parameter menggunakan Algoritma Genetika Algoritma genetika atau GA (Genetic Algorithm) adalah enis nonpolynomial (NP) Secara khusus dapat di terapkan untuk memecahkan masalah optimasi yang kompleks, sehingga baik untuk aplikasi yang memerlukan startegi pemecahan masalah secara adaptif. Penggunaan algoritma ini secara inheren paralel, karena pencarian pemecahan yang terbaik dilakukan melalui struktur genetik yang menyatakan seumlah kemungkinan penyelesaian (Godberg, 989). Diagram alir optimasi parameter dengan menggunakan algoritma genetika ditunukkan pada Gambar 3. diantaranya RHO= vigilance untuk tingkat resonansi pada saat learning, PI = PheromonIntensity untuk pembobotan nilai bias, dan LI = LikenessIntensity untuk menentukan kisimetrisan yang menentukan umlah node cluster yang terbentuk. 3. Fitness Function Kromosom pada individu mewakili parameter fungsi fuzzy ARTMAP untuk menghasilkan nilai fitness. Nilai fitness dihitung pada setiap populasi kromosom dan diambil nilai fitness tertinggi pada setiap populasi [4]. Fitness yang digunakan untuk mengukur performansi klasifikasi. fitness = accuracy klasifikasi (3.) 3.3 Desain Kromosom Algoritma genetika digunakan untuk menentukan estimasi parameter yang tuuannya untuk meningkatkan akurasi klasifikasi. Pendekatan fitur diperoleh dari hasil ekstraksi fitur dan hasil analisa parameter fungsi fuzzy ARTMAP berbobot yang terdiri dari parameter =vigilance (Rho), Pi = pheromonintensity dan Li = likenessintensity. Nilai minimum dan maksimum pada parameter dibatasi oleh user. Kromosom gen diilustrasikan pada Gambar 3. dan dinyatakan dalam bit string dengan ghenotype yang disimbolkan g n ~ g menyatakan nilai parameter vigilance, parameter pi, li. nli li g li g ~ menyatakan nilai npi pi g pi g ~ menyatakan parameter Gambar 3. desain kromosom pada inisialisasi parameter Rho, Pi dan Li Gambar 3.. Optimasi parameter menggunakan algoritma genetika 3. Inisialisasi Parameter Sebelum menganalisa fitness, maka perlu menganalisa parameter yang berpengaruh terhadap classifier diantaranya analisa fungsi pada metode fuzzy ARTMAP berbobot Proses pengubahan ghenotype menadi phenotype dinyatakan sebagai berikut: max p min p p min p xd l (3.) dimana : p = phenotype pada bit string min p = nilai minimum pada parameter max p = nilai maksimum pada parameter d = nilai desimal pada bit string l = panang bit string
5 3.4. Pindah Silang (Crossover) Pindah silang bisa uga berakibat buruk ika ukuran populasinya sangat kecil. Dalam suatu populasi yang sangat kecil, suatu kromosom dengan gen-gen yang mengarah ke solusi akan sangat cepat menyebar ke kromosomkromosom lainnya. Untuk mengatasi masalah ini digunakan suatu aturan bahwa pindah silang hanya bisa dilakukan dengan suatu probabilitas tertentu Pc. Artinya pindah silang bisa dilakukan hanya ika suatu bilangan random (0,) yang dibangkitkan kurang dari Pc yang ditentukan. Peluang crossover yang digunakan adalah 0.9. Pindah silang bisa dilakukan dalam beberapa cara berbeda. Pindah silang yang digunakan adalah pindah silang satu titik potong (one-point crossover). Suatu titik potong dipilih secara random, kemudian bagian pertama dari orang tua digabungkan dengan bagian kedua dari orang tua (Utami, 008) Mutasi Mutasi digunakan untuk memperkenal-kan beberapa penyebaran tiruan dalam populasi untuk mencegah konvergensi dini pada titik optimum lokal. Prosedur mutasi sangatlah sederhana dan untuk semua gen yang ada ika bilangan random yang dibangkitkan kurang dari probabilitas mutasi Pmut yang ditentukan maka ubah gen tersebut menadi nilai kebalikannya (dalam binary encoding, 0 diubah, dan diubah 0). Besarnya Pmut diset sebagai /n, di mana n adalah umlah gen dalam kromosom. Dengan Pmut sebesar ini berarti mutasi hanya teradi sekitar satu gen saa (Utami, 008) Elitisme Karena seleksi dilakukan secara random, maka tidak ada aminan bahwa suatu individu bernilai fitness tertinggi akan selalu terpilih. Kalaupun individu bernilai fitness tertinggi terpilih, mungkin saa individu tersebut akan rusak (nilai fitnessnya menurun) karena proses pindah silang. Untuk menaga agar individu bernilai fitness tertinggi tersebut tidak hilang selama evolusi, maka perlu dibuat satu atau beberapa kopinya. Prosedur ini dikenal sebagai elitisme (Utami, 008). Tabel.Karakteristik data set UCI repository Set Data Wine Ionosphere Sonar WBCD Jumlah Sample Jumlah Attribut Jumlah Kelas 3 IV. Ui Coba dan Hasil Penelitian 4. Data Dan Skenario Ui Coba Tahapan klasifikasi dilakukan pelatihan (training) untuk mendapatkan pemodelan, sedangkan tahapan testing untuk mengukur pemodelan yang menghasilkan akurasi. Hasil akhir dari proses pengklasifikasian menggunakan metode fuzzy ARTMAP berbobot, dilakukan analisis terhadap hasil akurasi, serta dilakukan ui performansi k-folds cross-validation untuk membandingkan antara hasil yang dicapai oleh metode FAMB berbasis GA atau GA-FAMB dan FAMB berbasis Grid Search atau disebut GS-FAMB. Sedangkan diagram alur estimasi parameter ditunukkan pada Gambar 4.. Ui coba yang dilakukan pada penelitian ini menggunakan 4 dataset UCI repository yang terdiri data wine, sonar, WBCD, dan ionosphere. Ui coba dilakukan pada sebagian set data UCI machine learning repository pada Tabel. Data tersebut didapat di alamat Algoritma genetika digunakan untuk mendapatkan parameter terbaik yang digunakan untuk training menghasilkan pemodelan. Sedangkan algoritma grid search ditunukkan pada Gambar 4.. Prinsip GS yaitu memilih parameter terbaik dengan menentukan nilai parameter pada rentang tertentu untuk setiap parameter untuk menghitung performansi dengan k-fold cross validation, kemudian pilih nilai terbaik. Selanutnya lakukan pencarian ulang pada grid (rentang nilai) yang lebih kecil. Kelemahan dari metode ini melakukan pencarian pada grid yang terlalu kecil yang mengakibatkan overfitting. 4. Hasil Penelitian Hasil ui coba ditunukkan pada Tabel. menunukkan hasil ui coba pembelaaran data set WBCD, nilai fitness tertinggi maksimal sebanding nilai akurasi training yang diperoleh pada fold dan fold 5. Berdasarkan ui coba pada Gambar 4. maka nilai fitness diperoleh dari nilai akurasi training klasifikasi fuzzy ARTMAP berbobot pada fold. Ui coba dilakukan hingga mencapai n iterasi yang sama sampai memperoleh nilai fitness tertinggi dan nilai sama untuk setiap iterasi yaitu kondisi konvergen (Godberg, 989).
6 Gambar 4. Sistem arsitektur algoritma genetika pada optimasi parameter klasifikasi fuzzy berbobot Gambar 4. Estimasi parameter dengan algoritma Grid Search Tabel 4.. Hasil ui coba data set WBCD menggunakan algoritma genetika Ui ke- Sensitifitas Spesifisitas Akurasi Fitness rho P I Rata-rata
7 Tabel 4.3. Hasil ui coba data set WBCD menggunakan algoritma Grid Search Ui ke- Sensitifitas Spesifisitas Akurasi rho P I Rata-rata Pada Gambar 4.3 menunukkan nilai uicoba pada GA dari keempat data set. Pembelaaran dilakukan hingga konvergen dengan parameter yang berbeda untuk setiap data set menyesuaikan karakteristik data set yang digunakan. Pada wine maksimal generasi sebanyak 0, sonar sebanyak 50 generasi, WBCD dan ionosphere mencapai 00 generasi. Sedangkan perbandingan nilai iterasi ketika mencapai konvergen diperoleh pada data wine mulai iterasi sampai 0 nilai konvergen, sonar pada itersi ke-4, WBCD pada iterasi ke-78 dan ionosphere pada iterasi ke-4. semakin banyak atribut dari data set semakin banyak iterasi yang dibutuhkan untuk mencapai konvergen. Tabel 4.3 Rekapitulasi hasil ui coba ten fold cross validation Keterangan Wine Sonar WBCD Ionos phere Rata-rata selisih akurasi (GA- FAMB)-(GS- FAMB) Fold GA-FAMB menang Fold GA-FAMB seri 3 Fold GA-FAMB kalah 3 0 Significant pada tingkat Gambar 4.3 Perbandingan nilai fitness dengan generasi fold Dari rekapitulasi hasil ui coba yang ditunukkan pada Tabel 4.3 dapat diketahui bahwa metode GA-FAMB memiliki mean selisih akurasi positif untuk seluruh 4 dataset (wine, sonar, WBCD, dan ionosphere) mean selisih akurasinya sigifikan pada confidence level 95%. Dari 4 sisanya, pada dataset (ionosphere) signifikan pada confidence level 98%. Sedang pada dataset sonar mean selisihnya tidak signifikan secara statistic
8 00.0 Akurasi (%) Fold kewine WBCD Ionosphere Sonar Gambar 4.6. Grafik Perbandingan Nilai Akurasi metode GS-FAMB wine sonar WBCD Ionosphere GS GA Gambar 4.4 Grafik perbandingan Nilai Akurasi Klasifikasi GA-FAMB vs GSFAMB Akurasi (%) 00 Akurasi (%) ditunukkan pada Gambar 4.5 dan Gambar 4.6. Dari ui coba pembelaaran, dapat disimpulkan bahwa secara umum metode GA-FAMB memiliki akurasi yang lebih baik dari metode GS-FAMB pada parameter optimal. Pada Gambar 4.4 grafik menunukkan rata-rata nilai akurasi metode GA-FAMB lebih tinggi dibandingkan metode GS-FAMB. Nilai akurasi tertinggi diperoleh pada data set WBCD sedangkan terendah pada akurasi data sonar Fold kewine WBCD Ionosphere Sonar Gambar 4.5 Grafik Perbandingan Nilai Akurasi metode GA-FAMB 5. Kesimpulan. Algoritma genetika mampu mendapatkan nilai parameter optimal secara otomatis dengan hasil yang lebih tinggi untuk set data wine sebesar 93.88%, sonar sebesar 76.35%, WBCD sebesar 97.5%, ionosphere sebesar 93.74% dibandingkan algoritma grid search untuk set data wine sebesar 90.4%, sonar sebesar 7.86%, WBCD sebesar 95.03%, ionosphere sebesar 89.80%. Dari hasil ui t-test berpasangan, algoritma genetika menunukkan bahwa nilai akurasi, sensitifitas dan spesifisitas ratarata terbukti nilainya lebih besar dan ratarata selisih akurasinya signifikan pada tingkat kepercayaan 95% dibandingkan pada algoritma grid search. 3. Algoritma GA-FAMB mampu mencapai kondisi konvergen pada 0 kali ui coba dengan nilai akurasi yang lebih tinggi dari metode GS-FAMB pada data UCI repository kecuali data sonar dipengaruhi umlah fitur yang banyak. 4. Algoritma GA-FAMB mampu melakukan proses klasifikasi dengan baik dan menghasilkan nilai akurasi yang lebih baik dibandingkan metode GS-FAMB 7. Pustaka Baraldi and Ethem Alpaydm (998) Simplified ART-A new class of ART algorithm, International computer
9 Science Institute, Berkeley, CA, TR Herumurti, Darlis (009). Klasifikasi Individu Penderita Osteoporosis dengan Menggunakan Fuzzy ARTMAP Berbobot. Tesis, Jurusan Informatika, Pasca Sarana, Institut Teknologi Surabaya Kasuba, T. (993) Simplified Fuzzy ARTMAP AL Expert, 8, (), pp 8-5 Whitley, Darrell (993). A Genetic Algorithm Tutorial, Colorado State Univirsity. Goldberg, David E (989), Genetic Algorithms in Search, Optimization and Machine Learning, Kluwer Academic Publishers, Boston, MA. Huang, et al (006). A GA-based feature selection and parameters optimization for support vector machines. Elsevier, Expert Systems with Applications, pp Tan, P.N., Steinbach, M. dan Kumar, V., (006), Introduction to Data Mining, Pearson Education, Inc., Boston. Utami, N.D. (008). Analisis Teknik Crossover Pada Penyelesaian Penadwalan Praktikum Dengan Algoritma Genetika, Skripsi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Brawiaya, Malang. Whitley, Darrell (993). A Genetic Algorithm Tutorial, Colorado State University.
SELEKSI FITUR DAN PARAMETER OPTIMAL DENGAN MENGGUNAKAN ALGORITMA GENETIKA PADA KLASIFIKASI FUZZY ARTMAP BERBOBOT
Prosiding Seminar Nasional Manaemen Teknologi XVI SELEKSI FITUR DAN PARAMETER OPTIMAL DENGAN MENGGUNAKAN ALGORITMA GENETIKA PADA KLASIFIKASI FUZZY ARTMAP BERBOBOT Bain Khusnul Khotimah Universitas Trunooyo,
Pendekatan Algoritma Genetika pada Peminimalan Fungsi Ackley menggunakan Representasi Biner
Vol. 7, 2, 108-117, Januari 2011 Pendekatan Algoritma Genetika pada Peminimalan Fungsi Ackley menggunakan Representasi Biner Jusmawati Massalesse Abstrak Tulisan ini dimaksudkan untuk memperlihatkan proses
OPTIMASI PENJADWALAN CERDAS MENGGUNAKAN ALGORITMA MEMETIKA
OPTIMASI PENJADWALAN CERDAS MENGGUNAKAN ALGORITMA MEMETIKA Muhammad Arief Nugroho 1, Galih Hermawan, S.Kom., M.T. 2 1, 2 Universitas Komputer Indonesia Jl. Dipatiukur No. 112-116, Bandung 40132 E-mail
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Fuzzy Local Binary Pattern (FLBP) Fuzzifikasi pada pendekatan LBP meliputi transformasi variabel input menjadi variabel fuzzy, berdasarkan pada sekumpulan fuzzy rule. Dalam
Lingkup Metode Optimasi
Algoritma Genetika Lingkup Metode Optimasi Analitik Linier Non Linier Single Variabel Multi Variabel Dgn Kendala Tanpa Kendala Numerik Fibonacci Evolusi Complex Combinasi Intelijen/ Evolusi Fuzzy Logic
Bab II Konsep Algoritma Genetik
Bab II Konsep Algoritma Genetik II. Algoritma Genetik Metoda algoritma genetik adalah salah satu teknik optimasi global yang diinspirasikan oleh proses seleksi alam untuk menghasilkan individu atau solusi
Optimasi Fungsi Tanpa Kendala Menggunakan Algoritma Genetika Dengan Kromosom Biner dan Perbaikan Kromosom Hill-Climbing
Optimasi Fungsi Tanpa Kendala Menggunakan Algoritma Genetika Dengan Kromosom Biner dan Perbaikan Kromosom Hill-Climbing Wayan Firdaus Mahmudy, ([email protected]) Program Studi Ilmu Komputer, Universitas
Jaringan Syaraf Tiruan dengan Pembelajaran Algoritma Genetika dan Diversitas untuk Deteksi Kelas Penyakit
Jaringan Syaraf Tiruan dengan Pembelajaran Algoritma Genetika dan Diversitas untuk Deteksi Kelas Penyakit Abidatul Izzah 1), Ratih Kartika Dewi 2) 1)2) Jurusan Teknik Informatika ITS Surabaya Jl. Teknik
Optimasi Teknik Klasifikasi Modified k Nearest Neighbor Menggunakan Algoritma Genetika
Optimasi Teknik Klasifikasi Modified k Nearest Neighbor Menggunakan Algoritma Genetika Siti Mutrofin 1, Arrie Kurniawardhani 2, Abidatul Izzah 3, Mukhamad Masrur 4 Universitas Pesantren Tinggi Darul Ulum
PERBANDINGAN ALGORITMA EXHAUSTIVE, ALGORITMA GENETIKA DAN ALGORITMA JARINGAN SYARAF TIRUAN HOPFIELD UNTUK PENCARIAN RUTE TERPENDEK
PERBANDINGAN ALGORITMA EXHAUSTIVE, ALGORITMA GENETIKA DAN ALGORITMA JARINGAN SYARAF TIRUAN HOPFIELD UNTUK PENCARIAN RUTE TERPENDEK Rudy Adipranata 1) Felicia Soedjianto 2) Wahyudi Tjondro Teknik Informatika,
Perbandingan Algoritma Exhaustive, Algoritma Genetika Dan Algoritma Jaringan Syaraf Tiruan Hopfield Untuk Pencarian Rute Terpendek
Perbandingan Algoritma Exhaustive, Algoritma Genetika Dan Algoritma Jaringan Syaraf Tiruan Hopfield Untuk Pencarian Rute Terpendek Rudy Adipranata 1, Felicia Soedjianto 2, Wahyudi Tjondro Teknik Informatika,
PELATIHAN FEED FORWARD NEURAL NETWORK MENGGUNAKAN ALGORITMA GENETIKA DENGAN METODE SELEKSI TURNAMEN UNTUK DATA TIME SERIES
JURNAL GAUSSIAN, Volume 1, Nomor 1, Tahun 2012, Halaman 65-72 Online di: http://ejournal-s1.undip.ac.id/index.php/gaussian PELATIHAN FEED FORWARD NEURAL NETWORK MENGGUNAKAN ALGORITMA GENETIKA DENGAN METODE
BAB 2 LANDASAN TEORI
BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1 Travelling Salesman Problem (TSP) Travelling Salesmen Problem (TSP) termasuk ke dalam kelas NP hard yang pada umumnya menggunakan pendekatan heuristik untuk mencari solusinya.
8. Evaluasi Solusi dan Kriteria Berhenti Perumusan Masalah METODE PENELITIAN Studi Pustaka Pembentukan Data
Gambar 4 Proses Swap Mutation. 8. Evaluasi Solusi dan Kriteria Berhenti Proses evaluasi solusi ini akan mengevaluasi setiap populasi dengan menghitung nilai fitness setiap kromosom sampai terpenuhi kriteria
Keywords Algoritma, Genetika, Penjadwalan I. PENDAHULUAN
Optimasi Penjadwalan Mata Kuliah Dengan Algoritma Genetika Andysah Putera Utama Siahaan Universitas Pembangunan Pancabudi Jl. Gatot Subroto Km. 4,5, Medan, Sumatra Utara, Indonesia [email protected]
Genetic Algorithme. Perbedaan GA
Genetic Algorithme Algoritma ini bekerja dengan sebuah populasi yang terdiri atas individu-individu (kromosom). Individu dilambangkan dengan sebuah nilai kebugaran (fitness) yang akan digunakan untuk mencari
PENERAPAN ALGORITMA GENETIKA UNTUK TRAVELING SALESMAN PROBLEM DENGAN MENGGUNAKAN METODE ORDER CROSSOVER DAN INSERTION MUTATION
PENERAPAN ALGORITMA GENETIKA UNTUK TRAVELING SALESMAN PROBLEM DENGAN MENGGUNAKAN METODE ORDER CROSSOVER DAN INSERTION MUTATION Samuel Lukas 1, Toni Anwar 1, Willi Yuliani 2 1) Dosen Teknik Informatika,
Optimasi Multi Travelling Salesman Problem (M-TSP) Menggunakan Algoritma Genetika
Optimasi Multi Travelling Salesman Problem (M-TSP) Menggunakan Algoritma Genetika Wayan Firdaus Mahmudy ([email protected]) Program Studi Ilmu Komputer, Universitas Brawijaya, Malang, Indonesia Abstrak.
BAB II LANDASAN TEORI
27 BAB II LANDASAN TEORI 2.1. Penelitian Terkait Penelitian terkait yang menggunakan algoritma genetika untuk menemukan solusi dalam menyelesaikan permasalahan penjadwalan kuliah telah banyak dilakukan.
PERFORMANCE ALGORITMA GENETIKA (GA) PADA PENJADWALAN MATA PELAJARAN
PERFORMANCE ALGORITMA GENETIKA (GA) PADA PENJADWALAN MATA PELAJARAN Eva Desiana, M.Kom Pascasarjana Teknik Informatika Universitas Sumatera Utara, SMP Negeri 5 Pematangsianta Jl. Universitas Medan, Jl.
PENCOCOKAN KATA SECARA ACAK DENGAN METODE ALGORITMA GENETIKA MENGGUNAKAN PROGRAM PASCAL
Jurnal Matematika UNAND Vol. 2 No. 2 Hal. 1 9 ISSN : 2303 2910 c Jurusan Matematika FMIPA UNAND PENCOCOKAN KATA SECARA ACAK DENGAN METODE ALGORITMA GENETIKA MENGGUNAKAN PROGRAM PASCAL MULIA AFRIANI KARTIKA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Tinjauan Pustaka (Samuel, Toni & Willi 2005) dalam penelitian yang berjudul Penerapan Algoritma Genetika untuk Traveling Salesman Problem Dengan Menggunakan Metode Order Crossover
BAB III PEMBAHASAN. harga minyak mentah di Indonesia dari bulan Januari 2007 sampai Juni 2017.
BAB III PEMBAHASAN Data yang digunakan dalam bab ini diasumsikan sebagai data perkiraan harga minyak mentah di Indonesia dari bulan Januari 2007 sampai Juni 2017. Dengan demikian dapat disusun model Fuzzy
PENERAPAN ALGORITMA GENETIKA PADA PERENCANAAN LINTASAN KENDARAAN Achmad Hidayatno Darjat Hendry H L T
PENERAPAN ALGORITMA GENETIKA PADA PERENCANAAN LINTASAN KENDARAAN Achmad Hidayatno Darjat Hendry H L T Abstrak : Algoritma genetika adalah algoritma pencarian heuristik yang didasarkan atas mekanisme evolusi
2 TINJAUAN PUSTAKA. 2.1 Peringkasan Teks
4 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Peringkasan Teks Peringkasan teks adalah proses pemampatan teks sumber ke dalam versi lebih pendek namun tetap mempertahankan informasi yang terkandung didalamnya (Barzilay & Elhadad
DETEKSI MAHASISWA BERPRESTASI DAN BERMASALAH DENGAN METODE K- MEANS KLASTERING YANG DIOPTIMASI DENGAN ALGORITMA GENETIKA
DETEKSI MAHASISWA BERPRESTASI DAN BERMASALAH DENGAN METODE K- MEANS KLASTERING YANG DIOPTIMASI DENGAN ALGORITMA GENETIKA Akmal Hidayat 1) & Entin Martiana 2) 1) Teknik Elektro Politeknik Bengkalis Jl.
BAB III PEMBAHASAN. menggunakan model Fuzzy Mean Absolute Deviation (FMAD) dan penyelesaian
BAB III PEMBAHASAN Dalam bab ini akan dibahas mengenai pembentukan portofolio optimum menggunakan model Fuzzy Mean Absolute Deviation (FMAD) dan penyelesaian model Fuzzy Mean Absolute Deviation (FMAD)
PENGEMBANGAN APLIKASI PENJADWALAN KULIAH SEMESTER I MENGGUNAKAN ALGORITMA GENETIKA
PENGEMBANGAN APLIKASI PENJADWALAN KULIAH SEMESTER I MENGGUNAKAN ALGORITMA GENETIKA Bagus Priambodo Program Studi Sistem Informasi Fakultas Ilmu Komputer Universitas Mercu Buana e- mail : [email protected]
HASIL DAN PEMBAHASAN. Gambar 7 Diagram alur proses mutasi.
5 Mulai HASIL DAN PEMBAHASAN Kromosom P = rand [0,1] Ya P < Pm R = random Gen(r) dimutasi Selesai Tidak Gambar 7 Diagram alur proses mutasi. Hasil populasi baru yang terbentuk akan dievaluasi kembali dan
PENYELESAIAN KNAPSACK PROBLEM MENGGUNAKAN ALGORITMA GENETIKA
PENYELESAIAN KNAPSACK PROBLEM MENGGUNAKAN ALGORITMA GENETIKA Kartina Diah KW1), Mardhiah Fadhli2), Charly Sutanto3) 1,2) Jurusan Teknik Komputer Politeknik Caltex Riau Pekanbaru Jl. Umban Sari No.1 Rumbai-Pekanbaru-Riau
KNAPSACK PROBLEM DENGAN ALGORITMA GENETIKA
LAPORAN TUGAS BESAR ARTIFICIAL INTELLEGENCE KNAPSACK PROBLEM DENGAN ALGORITMA GENETIKA Disusun Oleh : Bayu Kusumo Hapsoro (113050220) Barkah Nur Anita (113050228) Radityo Basith (113050252) Ilmi Hayyu
BAB 3 ANALISIS DAN PERANCANGAN APLIKASI
27 BAB 3 ANALISIS DAN PERANCANGAN APLIKASI 3.1 Analisis Pada subbab ini akan diuraikan tentang analisis kebutuhan untuk menyelesaikan masalah jalur terpendek yang dirancang dengan menggunakan algoritma
Denny Hermawanto
Algoritma Genetika dan Contoh Aplikasinya Denny Hermawanto [email protected] http://dennyhermawanto.webhop.org Lisensi Dokumen: Seluruh dokumen di IlmuKomputer.Com dapat digunakan, dimodifikasi dan disebarkan
APLIKASI UNTUK PREDIKSI JUMLAH MAHASISWA PENGAMBIL MATAKULIAH DENGAN MENGGUNAKAN ALGORITMA GENETIKA, STUDI KASUS DI JURUSAN TEKNIK INFORMATIKA ITS
APLIKASI UNTUK PREDIKSI JUMLAH MAHASISWA PENGAMBIL MATAKULIAH DENGAN MENGGUNAKAN ALGORITMA GENETIKA, STUDI KASUS DI JURUSAN TEKNIK INFORMATIKA ITS Hafid Hazaki 1, Joko Lianto Buliali 2, Anny Yuniarti 2
APLIKASI ALGORITMA GENETIKA DALAM PENENTUAN DOSEN PEMBIMBING SEMINAR HASIL PENELITIAN DAN DOSEN PENGUJI SKRIPSI
Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Terapannya 2016 p-issn : 2550-0384; e-issn : 2550-0392 APLIKASI ALGORITMA GENETIKA DALAM PENENTUAN DOSEN PEMBIMBING SEMINAR HASIL PENELITIAN DAN DOSEN PENGUJI
Aplikasi Algoritma Genetika Untuk Menyelesaikan Travelling Salesman Problem (TSP)
JTRISTE, Vol.1, No.2, Oktober 2014, pp. 50~57 ISSN: 2355-3677 Aplikasi Algoritma Genetika Untuk Menyelesaikan Travelling Salesman Problem (TSP) STMIK Handayani Makassar [email protected] Abstrak
BAB I PENDAHULUAN. sejumlah aktivitas kuliah dan batasan mata kuliah ke dalam slot ruang dan waktu
18 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Penjadwalan merupakan kegiatan administrasi utama di berbagai institusi. Masalah penjadwalan merupakan masalah penugasan sejumlah kegiatan dalam periode
Algoritma Evolusi Dasar-Dasar Algoritma Genetika
Algoritma Evolusi Dasar-Dasar Algoritma Genetika Imam Cholissodin [email protected] Pokok Bahasan 1. Pengantar 2. Struktur Algoritma Genetika 3. Studi Kasus: Maksimasi Fungsi Sederhana 4. Studi
STUDI ANALISA PELATIHAN JARINGAN SYARAF TIRUAN DENGAN DAN TANPA ALGORITMA GENETIKA
STUDI ANALISA PELATIHAN JARINGAN SYARAF TIRUAN DENGAN DAN TANPA ALGORITMA GENETIKA (Agustinus N., et al. STUDI ANALISA PELATIHAN JARINGAN SYARAF TIRUAN DENGAN DAN TANPA ALGORITMA GENETIKA Agustinus Noertjahyana
PEMBELAJARAN BERTINGKAT PADA ARSITEKTUR JARINGAN SARAF FUNGSI RADIAL BASIS
PEMBELAJARAN BERTINGKAT PADA ARSITEKTUR JARINGAN SARAF FUNGSI RADIAL BASIS Diana Purwitasari 1, Glory Intani Pusposari 2, Rully Sulaiman 3 Jurusan Teknik Informatika, Fakultas Teknologi Informasi, Institut
BAB III PERANCANGAN. Gambar 3.1 di bawah ini mengilustrasikan jalur pada TSP kurva terbuka jika jumlah node ada 10:
BAB III PERANCANGAN Pada bagian perancangan ini akan dipaparkan mengenai bagaimana mencari solusi pada persoalan pencarian rute terpendek dari n buah node dengan menggunakan algoritma genetika (AG). Dari
BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN LANDASAN TEORI
BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN LANDASAN TEORI 2.1 Konsep Umum Optimasi Optimasi merupakan suatu cara untuk menghasilkan suatu bentuk struktur yang aman dalam segi perencanaan dan menghasilkan struktur yang
IMPLEMENTASI ALGORITMA GENETIKA UNTUK PENCARIAN RUTE PALING OPTIMUM
IMPLEMENTASI ALGORITMA GENETIKA UNTUK PENCARIAN RUTE PALING OPTIMUM Anies Hannawati, Thiang, Eleazar Fakultas Teknologi Industri, Jurusan Teknik Elektro, Universitas Kristen Petra Jl. Siwalankerto 121-131,
Tugas Mata Kuliah E-Bisnis REVIEW TESIS
Tugas Mata Kuliah E-Bisnis REVIEW TESIS Desain Algoritma Genetika Untuk Optimasi Penjadwalan Produksi Meuble Kayu Studi Kasus Pada PT. Sinar Bakti Utama (oleh Fransiska Sidharta dibawah bimbingan Prof.Kudang
PENENTUAN JARAK TERPENDEK PADA JALUR DISTRIBUSI BARANG DI PULAU JAWA DENGAN MENGGUNAKAN ALGORITMA GENETIKA. Abstraksi
PENENTUAN JARAK TERPENDEK PADA JALUR DISTRIBUSI BARANG DI PULAU JAWA DENGAN MENGGUNAKAN ALGORITMA GENETIKA I Dewa Made Adi Baskara Joni 1, Vivine Nurcahyawati 2 1 STMIK STIKOM Indonesia, 2 STMIK STIKOM
BAB 2 LANDASAN TEORI. 2.1 Algoritma Genetika
6 BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1 Algoritma Genetika Algoritma genetika merupakan metode pencarian yang disesuaikan dengan proses genetika dari organisme-organisme biologi yang berdasarkan pada teori evolusi
BAB IV ANALISIS MASALAH
BAB IV ANALISIS MASALAH 4.1 Tampilan Program Persoalan TSP yang dibahas pada tugas akhir ini memiliki kompleksitas atau ruang solusi yang jauh lebih besar dari TSP biasa yakni TSP asimetris dan simetris.
BAB 2 LANDASAN TEORI
7 BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1 Penjadwalan Perkuliahan Penjadwalan memiliki pengertian durasi dari waktu kerja yang dibutuhkan untuk melakukan serangkaian untuk melakukan aktivitas kerja[10]. Penjadwalan juga
SWARM GENETIC ALGORITHM, SUATU HIBRIDA DARI ALGORITMA GENETIKA DAN PARTICLE SWARM OPTIMIZATION. Taufan Mahardhika 1
SWARM GENETIC ALGORITHM, SUATU HIBRIDA DARI ALGORITMA GENETIKA DAN PARTICLE SWARM OPTIMIZATION Taufan Mahardhika 1 1 Prodi S1 Kimia, Sekolah Tinggi Analis Bakti Asih 1 [email protected] Abstrak Swarm
MEMBANGUN TOOLBOX ALGORITMA EVOLUSI FUZZY UNTUK MATLAB
MEMBANGUN TOOLBOX ALGORITMA EVOLUSI FUZZY UNTUK MATLAB Syafiul Muzid 1, Sri Kusumadewi 2 1 Sekolah Pascasarjana Magister Ilmu Komputer, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta e-mail: [email protected] 2 Jurusan
PERAMALAN JUMLAH KENDARAAN DI DKI JAKARTA DENGAN JARINGAN BACKPROPAGATION
PERAMALAN JUMLAH KENDARAAN DI DKI JAKARTA DENGAN JARINGAN BACKPROPAGATION (Forecast The Number of Vehicle in Jakarta Using Backpropagation Neural Net ) Zumrotus Sya diyah Universitas Darussalam Ambon,
PREDIKSI NILAI DENGAN METODE SPECTRAL CLUSTERING DAN CLUSTERWISE REGRESSION
PREDIKSI NILAI DENGAN METODE SPECTRAL CLUSTERING DAN CLUSTERWISE REGRESSION Ahmad Yusuf 1*), Handayani Tandrasa 1) 1) Teknik Informatika, Fakultas Teknologi Informasi Institut Teknologi Sepuluh Nopember
OPTIMASI PENJADWALAN KEGIATAN BELAJAR MENGAJAR DENGAN ALGORITMA GENETIK
OPTIMASI PENJADWALAN KEGIATAN BELAJAR MENGAJAR DENGAN ALGORITMA GENETIK Usulan Skripsi S-1 Jurusan Matematika Diajukan oleh 1. Novandry Widyastuti M0105013 2. Astika Ratnawati M0105025 3. Rahma Nur Cahyani
BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Clustering adalah proses di dalam mencari dan mengelompokkan data yang memiliki kemiripan karakteristik (similarity) antara satu data dengan data yang lain. Clustering
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Algoritma Genetika Algoritma genetika merupakan algoritma pencarian heuristik ysng didasarkan atas mekanisme seleksi alami dan genetika alami (Suyanto, 2014). Adapun konsep dasar
Pemaksimalan Papan Sirkuit Di Pandang Sebagai Masalah Planarisasi Graf 2-Layer Menggunakan Algoritma Genetika
Vol. 14, No. 1, 19-27, Juli 2017 Pemaksimalan Papan Sirkuit Di Pandang Sebagai Masalah Planarisasi Graf 2-Layer Menggunakan Algoritma Genetika Jusmawati Massalesse dan Muh. Ali Imran Abstrak Tulisan ini
BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN LANDASAN TEORI
BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN LANDASAN TEORI 2.1 Tinjauan Pustaka. Penelitian serupa mengenai penjadwalan matakuliah pernah dilakukan oleh penelliti yang sebelumnya dengan metode yang berbeda-neda. Berikut
Perancangan Sistem Penjadwalan Asisten Dosen Menggunakan Algoritma Genetika (Studi Kasus: STIKOM Bali)
Konferensi Nasional Sistem & Informatika 2017 STMIK STIKOM Bali, 10 Agustus 2017 Perancangan Sistem Penjadwalan Asisten Dosen Menggunakan Algoritma Genetika (Studi Kasus: STIKOM Bali) I Made Budi Adnyana
IMPLEMENTASI METODE ANT COLONY OPTIMIZATION UNTUK PEMILIHAN FITUR PADA KATEGORISASI DOKUMEN TEKS
IMPLEMENTASI METODE ANT COLONY OPTIMIZATION UNTUK PEMILIHAN FITUR PADA KATEGORISASI DOKUMEN TEKS Yudis Anggara Putra Chastine Fatichah Jurusan Teknik Informatika, Fakultas Teknologi Informasi, Institut
Optimasi Penjadwalan Ujian Menggunakan Algoritma Genetika
Optimasi Penjadwalan Ujian Menggunakan Algoritma Genetika Nia Kurnia Mawaddah Wayan Firdaus Mahmudy, ([email protected]) Jurusan Matematika, FMIPA Universitas Brawijaya, Malang 65145 Abstrak Penjadwalan
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Data Mining Data Mining adalah proses pencarian pengetahuan dari suatu data berukuran besar melalui metode statistik, machine learning, dan artificial algorithm. Hal yang paling
PEMAMPATAN MATRIKS JARANG DENGAN METODE ALGORITMA GENETIKA MENGGUNAKAN PROGRAM PASCAL
Jurnal Matematika UNAND Vol. 3 No. 1 Hal. 98 106 ISSN : 2303 2910 c Jurusan Matematika FMIPA UNAND PEMAMPATAN MATRIKS JARANG DENGAN METODE ALGORITMA GENETIKA MENGGUNAKAN PROGRAM PASCAL YOSI PUTRI, NARWEN
Algoritma Evolusi Real-Coded GA (RCGA)
Algoritma Evolusi Real-Coded GA (RCGA) Imam Cholissodin [email protected] Pokok Bahasan 1. Siklus RCGA 2. Alternatif Operator Reproduksi pada Pengkodean Real 3. Alternatif Operator Seleksi 4.
BAB 2 DASAR TEORI. 2.1 Teka-Teki Silang
BAB 2 DASAR TEORI 2.1 Teka-Teki Silang Teka-teki silang atau disingkat TTS adalah suatu permainan yang mengharuskan penggunanya untuk mengisi ruang-ruang kosong dengan huruf-huruf yang membentuk sebuah
Penerapan Adaptive Genetic Algorithm dengan Fuzzy Logic Controller pada Capacitated Vehicle Routing Problem
Penerapan Adaptive Genetic Algorithm dengan Fuzzy Logic Controller pada Capacitated Vehicle Routing Problem Tri Kusnandi Fazarudin 1, Rasyid Kurniawan 2, Mahmud Dwi Sulistiyo 3 1,2 Prodi S1 Teknik Informatika,
Analisis Operator Crossover pada Permasalahan Permainan Puzzle
Analisis Operator Crossover pada Permasalahan Permainan Puzzle Kun Siwi Trilestari [1], Ade Andri Hendriadi [2] Program Studi Teknik Informatika, Fakultas Ilmu Komputer, Universitas Singaperbanga Karawang
APLIKASI ALGORITMA GENETIKA UNTUK PENENTUAN TATA LETAK MESIN
APLIKASI ALGORITMA GENETIKA UNTUK PENENTUAN TATA LETAK MESIN Hari Purnomo, Sri Kusumadewi Teknik Industri, Teknik Informatika Universitas Islam Indonesia Jl. Kaliurang Km 4,5 Yogyakarta [email protected],
BAB II LANDASAN TEORI
BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Travelling Salesman Problem (TSP) Persoalan TSP merupakan salah satu persoalan optimasi kombinatorial (kombinasi permasalahan). Banyak permasalahan yang dapat direpresentasikan
BAB II KAJIAN PUSTAKA. Pada bab kajian pustaka berikut ini akan dibahas beberapa materi yang meliputi
BAB II KAJIAN PUSTAKA Pada bab kajian pustaka berikut ini akan dibahas beberapa materi yang meliputi graf, permasalahan optimasi, model matematika dari objek wisata di Yogyakarta, dan algoritma genetika
PERANCANGAN ALGORITMA GENETIKA UNTUK MENENTUKAN JALUR TERPENDEK. Kata kunci: Algoritma Genetika, Shortest Path Problem, Jalur Terpendek
PERANCANGAN ALGORITMA GENETIKA UNTUK MENENTUKAN JALUR TERPENDEK Fajar Saptono 1, Taufiq Hidayat 2 Laboratorium Pemrograman dan Informatika Teori Jurusan Teknik Informatika, Fakultas Teknologi Industri,
PEMANFAATAN ALGORITMA FUZZY EVOLUSI UNTUK PENYELESAIAN KASUS TRAVELLING SALESMAN PROBLEM
PEMANFAATAN ALGORITMA FUZZY EVOLUSI UNTUK PENYELESAIAN KASUS TRAVELLING SALESMAN PROBLEM Syafiul Muzid Jurusan Teknik Informatika, Fakultas Teknologi Industri, Universitas Islam Indonesia, Yogyakarta E-mail:
BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian dilakukan dilingkungan Jurusan Ilmu Komputer Fakultas Matematika
BAB III METODE PENELITIAN 3.1. Waktu dan Tempat Penelitian Penelitian dilakukan dilingkungan Jurusan Ilmu Komputer Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Lampung. Waktu penelitian dilaksanakan
OPTIMASI PUSAT KLASTER MENGGUNAKAN ALGORITMA FAST GENETIC KMEAN PADA DATA BERDISTRIBUSI NORMAL
OPTIMASI PUSAT KLASTER MENGGUNAKAN ALGORITMA FAST GENETIC KMEAN PADA DATA BERDISTRIBUSI NORMAL Budi Nur Iman, Entin Martiana K, Umi Sa adah Politeknik Elektronika Negeri Surabaya (PENS), ITS Surabaya,
OPTIMASI TEKNIK KLASIFIKASI MODIFIED K NEAREST NEIGHBOR MENGGUNAKAN ALGORITMA GENETIKA
OPTIMASI TEKNIK KLASIFIKASI MODIFIED K NEAREST NEIGHBOR MENGGUNAKAN ALGORITMA GENETIKA Optimization Techniques Modi ed k Nearest Neighbor Classi cation Using Genetic Algorithm Siti Mutro n 1, Abidatul
BAB 2 LANDASAN TEORI
18 BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1 Pengertian Optimasi Optimasi adalah salah satu ilmu dalam matematika yang fokus untuk mendapatkan nilai minimum atau maksimum secara sistematis dari suatu fungsi, peluang maupun
1. Pendahuluan 1.1. Latar Belakang
1. Pendahuluan 1.1. Latar Belakang Perkembangan teknologi informasi yang begitu pesat sekarang ini memberikan dampak yang besar terhadap kinerja manusia khususnya dalam bekerja. Segala sesuatu yang dahulu
BAB I PENDAHULUAN. wisata budaya, wisata belanja, hingga wisata Alam. Untuk menarik minat
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Objek pariwisata di Yogyakarta sudah semakin beragam mulai dari wisata budaya, wisata belanja, hingga wisata Alam. Untuk menarik minat wisatawan dapat dibuat
KLASIFIKASI DATA MENGGUNAKAN JST BACKPROPAGATION MOMENTUM DENGAN ADAPTIVE LEARNING RATE
KLASIFIKASI DATA MENGGUNAKAN JST BACKPROPAGATION MOMENTUM DENGAN ADAPTIVE LEARNING RATE KLASIFIKASI DATA MENGGUNAKAN JST BACKPROPAGATION MOMENTUM DENGAN ADAPTIVE LEARNING RATE Warih Maharani Fakultas
Prediksi Jumlah Pengangguran Terbuka di Indonesia menggunakan Metode Genetic-Based Backpropagation
Jurnal Pengembangan Teknologi Informasi dan Ilmu Komputer e-issn: 2548-964X Vol. 1, No. 4, April 2017, hlm. 341-351 http://j-ptiik.ub.ac.id Prediksi Jumlah Pengangguran Terbuka di Indonesia menggunakan
OPTIMALISASI ARSITEKTUR PROPAGASI BALIK PADA PELATIHAN JARINGAN SYARAF TIRUAN LAPIS BANYAK
OPTIMALISASI ARSITEKTUR PROPAGASI BALIK PADA PELATIHAN JARINGAN SYARAF TIRUAN LAPIS BANYAK ABSTRAK Jurusan Teknik Elektronika Fakultas Teknik Universitas Negeri Makassar Algoritma umum metode propagasi
ALGORITMA GENETIKA. Suatu Alternatif Penyelesaian Permasalahan Searching, Optimasi dan Machine Learning
ALGORITMA GENETIKA Suatu Alternatif Penyelesaian Permasalahan Searching, Optimasi dan Machine Learning Disusun oleh: Achmad Basuki Politeknik Elektronika Negeri Surabaya, PENS ITS Surabaya 2003 Algoritma
Zbigniew M., Genetic Alg. + Data Structures = Evolution Program, Springler-verlag.
Zbigniew M., Genetic Alg. + Data Structures = Evolution Program, Springler-verlag. 12/11/2009 1 Ditemukan oleh Holland pada tahun 1975. Didasari oleh fenomena evolusi darwin. 4 kondisi yg mempengaruhi
Simulasi Coverage Pada Wireless Sensor Network dengan Menggunakan Algoritma Genetika Pareto
Simulasi Coverage Pada Wireless Sensor Network dengan Menggunakan Algoritma Genetika Pareto Umi Fitria P, Tri Budi Santoso, Prima Kristalina Jurusan Telekomunikasi, Politeknik Elektronika Negeri Surabaya
PENERAPAN ALGORITMA GENETIKA PADA PERSOALAN PEDAGANG KELILING (TSP)
Abstrak PENERAPAN ALGORITMA GENETIKA PADA PERSOALAN PEDAGANG KELILING (TSP) Aulia Fitrah 1, Achmad Zaky 2, Fitrasani 3 Program Studi Informatika, Sekolah Teknik Elektro dan Informatika, Institut Teknologi
Penjadwalan Job Shop pada Empat Mesin Identik dengan Menggunakan Metode Shortest Processing Time dan Genetic Algorithm
Jurnal Telematika, vol.9 no.1, Institut Teknologi Harapan Bangsa, Bandung ISSN: 1858-251 Penjadwalan Job Shop pada Empat Mesin Identik dengan Menggunakan Metode Shortest Processing Time dan Genetic Algorithm
PENERAPAN ALGORITMA GENETIK UNTUK OPTIMASI TRANSFER DAYA PADA SISTEM SENSOR GAS. Muthmainnah
TESIS PENEAPAN ALGOITMA GENETIK UNTUK OPTIMASI TANSFE DAYA PADA SISTEM SENSO GAS Muthmainnah 1108201008 DOSEN PEMBIMBING Dr. Melania Suweni Muntini, MT PENDAHULUAN Sensor gas yang sering ditemui dipasaran
OPTIMASI PENDUGAAN PARAMETER DALAM ANALISIS STRESS DAN STRAIN TERHADAP MATERIAL MENGGUNAKAN ALGORITMA GENETIKA
OPTIMASI PENDUGAAN PARAMETER DALAM ANALISIS STRESS DAN STRAIN TERHADAP MATERIAL MENGGUNAKAN ALGORITMA GENETIKA Mike Susmikanti Pusat Pengembangan Informatika Nuklir, Badan Tenaga Nuklir Nasional Kawasan
BAB III. Metode Penelitian
BAB III Metode Penelitian 3.1 Diagram Alir Penelitian Secara umum diagram alir algoritma genetika dalam penelitian ini terlihat pada Gambar 3.1. pada Algoritma genetik memberikan suatu pilihan bagi penentuan
ERWIEN TJIPTA WIJAYA, ST.,M.KOM
ERWIEN TJIPTA WIJAYA, ST.,M.KOM DEFINISI ALGEN adalah algoritma yang memanfaatkan proses seleksi alamiah yang dikenal dengan evolusi Dalam evolusi, individu terus menerus mengalami perubahan gen untuk
PERANCANGAN PARAMETER TERBAIK UNTUK PREDIKSI PRODUKSI BAN GT3 MENGGUNAKAN JARINGAN SYARAF TIRUAN RESILIENT PROPAGATION
PERANCANGAN PARAMETER TERBAIK UNTUK PREDIKSI PRODUKSI BAN GT3 MENGGUNAKAN JARINGAN SYARAF TIRUAN RESILIENT PROPAGATION Fitrisia, Adiwijaya, dan Andrian Rakhmatsyah Program Studi S1 Teknik Informatika,
ISSN: JURNAL GAUSSIAN, Volume 3, Nomor 3, Tahun 2014, Halaman Online di:
ISSN: 2339-2541 JURNAL GAUSSIAN, Volume 3, Nomor 3, Tahun 2014, Halaman 441-450 Online di: http://ejournal-s1.undip.ac.id/index.php/gaussian PREDIKSI DATA HARGA SAHAM HARIAN MENGGUNAKAN FEED FORWARD NEURAL
Rancang Bangun Aplikasi Prediksi Jumlah Penumpang Kereta Api Menggunakan Algoritma Genetika
1 Rancang Bangun Aplikasi Prediksi Jumlah Penumpang Kereta Api Menggunakan Algoritma Genetika Annisti Nurul Fajriyah Politeknik Elektronika Negeri Surabaya Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya
Generator Jadwal Perkuliahan Menggunakan Algoritma Genetika
Generator Jadwal Perkuliahan Menggunakan Algoritma Genetika Zainal Akbar 1), Muh. Fajri Raharjo 2), Eddy Tungadi 3) CAIR, Politeknik Negeri Ujung Pandang Jl. Perintis Kemerdekaan km. 10, Tamalanrea Makassar,
ISSN: X 77 IMPUTASI MISSING DATA DENGAN K-NEAREST NEIGHBOR DANALGORITMA GENETIKA
ISSN: 2088-687X 77 IMPUTASI MISSING DATA DENGAN K-NEAREST NEIGHBOR DANALGORITMA GENETIKA Ucik Mawarsari Badan Pusat Statistik Jl. Dr. Sutomo 6-8 Jakarta, [email protected] ABSTRAK Permasalahan yang sering
ISSN VOL. 12, NO. 2, OKTOBER 2011
ANALISIS OPTIMASI PENJADWALAN JAGA DOKTER RESIDEN PENYAKIT DALAM PADA RUMAH SAKIT PENDIDIKAN Erlanie Sufarnap 1, Sudarto 2 STMIK Mikroskil Jl. Thamrin No. 112, 124, 140 Medan 20212 [email protected] 1,
ANALISIS FUNGSI AKTIVASI SIGMOID BINER DAN SIGMOID BIPOLAR DALAM ALGORITMA BACKPROPAGATION PADA PREDIKSI KEMAMPUAN SISWA
ANALISIS FUNGSI AKTIVASI SIGMOID BINER DAN SIGMOID BIPOLAR DALAM ALGORITMA BACKPROPAGATION PADA PREDIKSI KEMAMPUAN SISWA Julpan 1 *, Erna Budhiarti Nababan 1 & Muhammad Zarlis 1 1 Program S2 Teknik Informatika
KOMPARASI HASIL KLASIFIKASI PENYAKIT DIABETES MELLITUS MENGGUNAKAN JARINGAN SYARAF TIRUAN BACKPROPAGATION DAN LEARNING VECTOR QUANTIZATION
Prosiding Seminar Nasional Penelitian, Pendidikan dan Penerapan MIPA, Fakultas MIPA, Universitas Negeri Yogyakarta, 14 Mei 2011 KOMPARASI HASIL KLASIFIKASI PENYAKIT DIABETES MELLITUS MENGGUNAKAN JARINGAN
