Simulasi Coverage Pada Wireless Sensor Network dengan Menggunakan Algoritma Genetika Pareto
|
|
|
- Lanny Setiabudi
- 9 tahun lalu
- Tontonan:
Transkripsi
1 Simulasi Coverage Pada Wireless Sensor Network dengan Menggunakan Algoritma Genetika Pareto Umi Fitria P, Tri Budi Santoso, Prima Kristalina Jurusan Telekomunikasi, Politeknik Elektronika Negeri Surabaya Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya Abstrak Wireless Sensor Network (WSN) adalah suatu jaringan wireless yang tediri dari beberapa sensor node yang saling berkomunikasi dan bekerja sama untuk mengumpulkan data- data dari lingkungan sekitar. Salah satu masalah yang dihadapi dalam merancang suatu sistem WSN ini adalah masalah coverage area. Pada penelitian ini akan disajikan suatu simulasi coverage area suatu WSN dengan menggunakan metode algoritma genetika yang dikombinasikan dengan pareto. Dengan menggunakan metode ini, akan diobservasi bagaimana kinerja coverage area suatu WSN pada suatu service area, dengan jumlah sensor yang terbatas harus dapat mengcover area secara optimum dan tentunya dengan biaya yang minimal. Hasil dari proyek akhir ini adalah bahwa suatu algoritma genetika sudah mampu menunjukkan kinerja pencapaian coverage terbaik dari keempat individu sebesar % dengan biaya sebesar $ Kata kunci : Wireless sensor network, algoritma genetika, coverage area I. Pendahuluan Salah satu masalah yang banyak dihadapi berkaitan dengan aplikasi WSN adalah masalah coverage area, karena tingkat QoS (Quality of Service) dari suatu jaringan sensor ditentukan oleh coverage area, dan hal ini berhubungan dengan kualitas sensor device, dimana semakin bagus daya coverage sensor maka semakin mahal pula harganya. Tak terkecuali pada WSN, dimana selalu dilakukan penelitian dan pengembangan algoritma unuk mengoptimalkan coverage area pada suatu cluster jaringan sensor. Banyak studi atau penelitian yang membahas masalah coverage ini, salah satunya paper karya Sami J. Habib yang meneliti tentang optimalisasi coverage area suatu wireless sensor dengan menggunakan metode algoritma genetika agar didapat suatu coverage area yang maksimal dengan jumlah sensor dan biaya yang dibuat seminimal mungkin [1], selain itu paper karangan Sudip Misra, dkk banyak membahas mengenai solusi coverage area dengan cara meminimalisir jumlah sensor node yang aktif, sehingga akan mengurangi overlap coverage yang bersamaan (menumpuk) pada node yang berdekatan [2]. Sebagaimana sistem sistem lain dalam masa perkembangannya, WSN juga tidak luput dari banyaknya kekurangan, seperti keterbatasan energi, keterbatasan kemampuan processor, kemampuan penyimpanan (storage) dan sensitivitas yang belum sempurna. Mengacu pada paper karya Sami J. Habib, maka pada paper ini dibangun suatu simulasi coverage area dengan menggunakan algoritma genetika pareto, sehingga diharapkan hasil penelitian ini akan dapat membuat suatu simulasi metode coverage area yang optimal dengan biaya yang minimal, dan karena pareto, maka akan ada banyak solusi untuk permasalahan ini. Penyusunan paper ini meliputi beberapa tahap sebagai berikut, bagian pertama diawali dengan deskripsi fisik suatu WSN beserta penjelasannya, bagian kedua berisi penjelasan mengenai algoritma genetika, bagian ketiga berisi tentang perancangan sistem untuk mendapatkan coverage yang lebih baik dengan algoritma genetika, bagian keempat berisi hasil data dan analisanya dan bagian kelima berisi kesimpulan dari hasil data pada bab sebelumnya. 2. Wireless Sensor Network 2.1. Gambaran WSN Wireless sensor network adalah sebuah jaringan nirkabel yang terdiri dari perangkat sensor yang disebar pada suatu daerah (region) dengan jarak tertentu antar perangkatnya untuk memonitor kondisi suatu lingkungan. Sifat dari suatu jaringan sensor adalah independent satu sama lain antar device (node) sensornya, dimana suatu sensor device dapat berperan sebagai tranmsmitter dan receiver data antar sensor. Contoh suatu jaringan wireless sensor terdapat pada Gambar 1. Gambar 1. Wireless Sensor Network 1
2 Coverage sensor adalah jangkauan maksimum sebuah sensor dalam mendeteksi suatu fenomena alam yang terjadi. Kemampuan suatu sensor node untuk mendeteksi radius tertentu pada suatu WSN ditentukan oleh kualitas sensor node (sensor device). Coverage area pada WSN dapat dilakukan dengan berbagai metode atau algoritma. Gambar 1 berikut ini menunjukkan analogi coverage sensor node dari suatu jaringan wireless sensor. Operasi evolusi yang melibatkan proses seleksi (selection) di dalamnya. Operasi genetika yang melibatkan operator pindah silang (cross over) dan mutasi (mutation). Seleksi digunakan untuk memilih individu individu mana saja yang akan dipilih untuk proses kawin silang dan mutasi. Langkah pertama yang dlakukan dalam seleksi ini adalah pencarian nilai fitness. Nilai fitness ini yang nantinya akan digunakan pada tahap tahap seleksi berikutnya. Cross over adalah operator dari algoritma genetika yang melibatkan dua induk untuk membentuk kromosom baru. Operasi ini tidak selalu dilakukan pada semua individu yang ada, individu dipilih secara acak. Gambar 3 di bawah ini menunjukkan contoh atau ilustrasi cross over pada suatu kromosom biner. Gambar 2. Analogi coverage sensor node Sensor node adalah sensor device yang saling berkomunikasi dan bekerja sama untuk mengumpulkan data-data dari lingkungan sekitar, misalnya suhu, tekanan udara, kelembapan udara dan beberapa parameter lingkungan lainnya. Untuk keperluan ini suatu node diperlengkapi dengan peralatan sensor yang digunakan untuk mendeteksi lingkungan sekitar dan perlatan komunikasi yang digunakan untuk berkomunikasi dengan sensor node yang lain. Dalam aplikasi WSN, sensor node harus mempunyai dimensi yang sangat kecil, sehingga sensor node mempunyai keterbatasan baik dalam processor, memory atau wireless. Sensor node secara otomatis membentuk suatu grup yang disebut cluster, dan pada tiap tiap cluster terdapat satu cluster head sebagai tempat berkumpulnya data dari sensor sensor node di dalamnya. Proses clustering diaplikasikan secara recursive untuk membentuk suatu tingkatan cluster. Sink atau Base Station adalah sebuah data gathering, processing entity dan communication link menuju jaringan yang lebih besar, sehingga sifatnya seperti data server yang menyimpan semua informasi dari setiap sensor node pada cluster-cluster dalam suatu service area Algoritma Genetika Algoritma genetika adalah suatu optimisasi dan teknik pencarian yang berdasarkan pada prinsip genetika dan seleksi alam. Metode ini dikembangkan oleh John Holland (1975) sejak tahun 1960an dan 1970an dan akhirnya dipopulerkan oleh salah satu muridnya, David Goldberg (1989). Algoritma genetika bekerja dengan sebuah populasi yang terdiri dari individu-individu yang mempresentasikan solusi yang mungkin bagi persoalan yang ada. Individu dilambangkan dengan sebuah nilai fitness yang akan digunakan untuk mencari solusi terbaik dari persoalan yang ada. Di dalam penerapan algoritma genetika akan melibatkan beberapa operator, yaitu : Gambar 3. Cross over pada kromosom biner Mutasi berperan untuk menggantikan gen yang hilang dari populasi akibat proses seleksi yang memungkinkan munculnya kembali gen yang tidak muncul pada inisialisasi populasi. Mutasi yang digunakan pada algoritma genetika sederhana dengan kromosom biner, pada dasarnya akan mengubah secara acak nilai suatu bit pada posisi tertentu. Contoh mutasi dapat dilihat pada Gambar 4 yang merupakan contoh ilustrasi mutasi pada kromosom biner. Gambar 4. Mutasi pada kromosom biner 2.3. Algoritma Genetika Pareto untuk MOO (Multiple Objective Optimization) Salah satu pengembangan dari metode algoritma genetika adalah untuk untuk mencapai suatu Multiple Objective Optimization (MOO) yakni object yang ingin dicapai lebih dari satu [3]. Dalam MOO biasanya terdapat lebih dari satu solusi yang optimum untuk semua objek, konsekuensinya terdapat beberapa solusi yang optimal yang dikenal dengan solusi optimal pareto. Algoritma genetika pareto diawali dengan suatu populasi dengan jumlah member yang banyak dalam suatu pareto front (grafik pareto). Algoritma genetika pareto di sini bekerja dengan dua cost function atau bahkan bisa lebih. Algoritma genetika pareto membutuhkan ukuran populasi yang besar untuk dapat bekerja dengan baik dalam dalam usahanya untuk membentuk atau define suatu pareto front [3]. Pareto optimal set adalah sebuah kumpulan solusi non dominan yang berhubungan satu sama lain ketika 2
3 berpindah dari solusi pareto satu ke solusi lain [4]. Kumpulan solusi optimal pareto seringkali mengacu kepada solusi tunggal karena dapat diaplikasikan berdasarkan pada masalah yang terdapat dalam kehidupan nyata. Pareto optimal set mempunyai ukuran yang bervariasi, namun ukuran dari Pareto set biasanya bertambah seiring dengan bertambahnya jumlah dari objevtives (obyek), pada sebagian besar kasus, jumlah solusi optimal pareto sangat banyak [4]. Tujuan akhir dari multi-objective optimization adalah untuk mengidentifikasi solusi solusi dari Pareto optimal set. untuk mengidentifikasi keseluruhan Pareto optimal set untuk kebanyakan kasus multi-objective sangat tidak mungkin dikarenakan ukurannya [4]. 3. Perancangan Sistem 3.1. Algoritma Genetika Untuk Mencari Coverage Terbaik Flowchart pada Gambar 5 di bawah merupakan blok diagram perancangan dan alur dari proses algoritma genetika yang digunakan untuk memperoleh nilai coverage yang semakin baik pada tiap proses generasi / genetikanya. Gambar 5. Blok diagram perancangan Parameter dan batasan masalah pada pengerjaan proyek ini meliputi: Inisialisasi area berupa persegi dengan panjang dan lebar sebesar 100 m x 100 m. Jumlah sensor yang digunakan sebanyak 4 sensor (menyesuaikan dengan luasan areanya). Jenis radius sensor yang digunakan berdasarkan pada Tabel 1 berikut ini : Tabel 1. Daftar jenis sensor [1] Sensor Radius (m) Harga ($) Proses genetika diawali dengan membangkitkan 4 individu, dimana masing masing individu terdii dari 4 pasang atau 8 kromosom yang mengindikasikan koordinat posisi sensor. Pembangkitan tiap tiap individu dilakukan dengan membangkitkan posisi kromosom secara random (acak), lalu dilanjutkan dengan pemilihan sensor (radius sensor) yang juga dilakukan secara acak. Setelah itu proses berlanjut dengan melakukan perhitungan coverage awal (coverage induk). Proses genetika dimulai dengan melakukan mutasi terhadap salah satu nilai kromosom sehingga akan didapatkan susunan kromosom yang baru (dengan satu nilai yang berubah / berbeda dari susunan sebelumnya), posisi kromosom yang baru ini dinamakan generasi anak (offspring) yang selanjutnya akan dihitung coveragenya. Hasil coverage anak ini akan dibandingkan dengan coverage induk, bila lebih baik, maka susunan kromosom anak ini yang akan dipakai untuk proses mutasi selanjutnya dalam rangka memperoleh nilai coverage yang lebih baik, bila tidak maka kromosom induk yang nantinya akan dimutasi lagi dengan tujuan yang sama. Proses mutasi ini dilakukan pada tiap individu. Setelah didapatkan nilai coverage akhir hasil mutasi pada tiap tiap individu, selanjutnya dilakukan proses cross over antara dua individu yang mempunyai nilai coverage terjelek dari hasil perhitungan coverage proses mutasi (dimana sebelumnya dilakukan proses perangkingan), proses cross over ini sebagai salah satu operator dalam algoritma genetika untuk memeberikan option apakah nantinya coverage hasil cross over lebih baik atau tidak dibandingkan dengan hasil mutasi, bila lebih baik maka akan digunakan, bila tidak maka digunakan coverage akhir hasil mutasi. Selanjutnya, di akhir proses akan dipilih satu individu dengan coverage terbaik, dan individu itulah yang akan digunakan sebagai acuan untuk proses genetika pada generasi selanjutnya MOO untuk Mendapatkan Alternatif Solusi MOO (Multiple Objective Optimization) di sini bertujuan untuk mendapatkan solusi dari dua parameter atau variabel yang berbeda, dimana idealnya diinginkan coverage yang semakin bagus dan harga yang semakin turun, namun kondisi seperti itu mungkin sulit untuk 3
4 didapat, sehingga MOO di sini bertujuan untuk memberikan banyak solusi yang diharapkan akan mampu mendekati kondisi ideal tersebut. Solusi yang dimaksud adalah mengenai coverage dan harga yang beragam untuk tiap tiap generasinya, sehingga perlu dilakukan sedikit modifikasi, yakni pada tiap generasi akan dilakukan pemilihan jenis sensor secara acak pada setiap individu, sehingga dengan jenis sensor yang berubah tiap generasi akan menawarkan harga yang juga beragam, karena besarnya harga dipengaruhi oleh pemilihan jenis sensornya. Pengacakan jenis sensor untuk tiap generasinya ini harus tetap membuat nilai coverage semakin baik, sehingga bila pemilihan acak sensor ini menghasilkan coverage yang jelek dibanding generasi sebelumnya. Hasil ini akan digunakan sebagai jenis sensor pada generasi sebelumnya, karena prioritasnya adalah coverage area. Dari modifikasi tersebut, akan didapat hasil rekap data mengenai coverage, jenis sensor dan harga dan juga posisi sensor yang terbaik dari tiap generasi, sehingga bila dibuat grafik pareto, kita akan dapat melihat di posisi manakah solusi-solusi pada setiap generasi tersebut akan mengumpul atau berada pada area tertentu ditinjau dari posisi solusi ideal. 4. Hasil Simulasi dan Analisa Pada bab ini akan ditunjukkan sample hasil data dan pengujian dari algoritma genetika dengan mengambil beberapa sample data yang didapatkan dari 20 generasi dari keempat individu yang dibangkitkan. Selanjutnya hasil data yang didapat dari hasil running program kita tabelkan seperti pada Tabel 2, untuk memudahkan dalam melakukan analisa selanjutnya kita ubah pembacaan datanya ke dalam bentuk grafik, di mana di sini terdapat dua macam grafik, yakni grafik genetika dan grafik pareto. Grafik genetika menunjukkan nilai coverage dan harga pada tiap-tiap generasi, dimana data yang diambil untuk di grafikkan adalah data nilai coverage terbaik dari keempat individu pada tiap generasinya. Sedangkan untuk grafik pareto, di sini parameter yang dimasukkan ke dalam grafik adalah parameter harga dan prosentase area yang tidak tercover, sehingga dari hasil plot grafik dapat diketahui berada pada daerah manakah solusi yang didapatkan, dan bagaimanakah kecenderungannya, apakah mendekati daerah ideal ataukah menjauhi. Hasil data running sistem ditunjukkan pada Tabel 2 yang menunjukkan nilai prosentase coverage dan biaya untuk tiap-tiap generasi terbangkit. Proses pembangkitan generasi dimulai dengan melakukan pemilihan sensor secara acak untuk tiap-tiap individu, dilanjutkan dengan perhitungan coverage induk (coverage dari posisi awal terbangkit), selanjutnya dilakukan proses mutasi untuk menghasilkan anak (offspring) dengan susunan posisi sensor yang baru untuk dibandingkan hasil coveragenya dengan induk. Selanjutnya dilakukan cross over antar individu untuk mencari peluang nilai coverage terbaik dibandingkan dengan proses mutasi, hasil yang terbaik yang akan dipilih, sedangkan variabel biaya akan dihitung di akhir proses generasi. Proses ini berlangsung dimana tiap generasi akan mengacak jenis sensor dan posisi yang baru dengan catatan harus lebih baik atau sama dengan generasi sebelumnya. Tabel 2. Hasil pengujian Individu 1 Individu 2 Individu 3 Individu 4 Gene Cov Harga Cov Harga Cov Harga Cov Harga rasi (%) ($) (%) ($) (%) ($) (%) ($) Dari tabel hasil pengujian, diambil contoh 20 generasi mulai dari generasi 0-19, didapatkan hasil bahwa nilai coverage untuk tiap-tiap generasi mengalami kenaikan, karena antara parameter coverage dan biaya, yang menjadi prioritas adalah masalah coverage area, sehingga nilai coverage untuk generasi selanjutnya harus lebih baik dari generasi sebelumnya, atau bila tidak lebih baik, maka dipilih nilai coverage sebelumnya. Hasil algoritma genetika untuk generasi pertama (generasi ke- 0), diambil dari individu terbaik, yakni individu 3 menghasilkan coverage sebesar % dan biaya sebesar $ 1985 seperti yang ditunjukkan pada visualisasi Gambar 6, dimana coverage dengan warna merah menunjukkan sensor 1, biru untuk sensor 2, kuning untuk sensor 3 dan hijau untuk sensor 4. Pada gambar tersebut terlihat bahwa generasi pertama memiliki coverage yang belum maksimal karena masih terlihat banyak area kosong yang belum tercover oleh sensor. Gambar 6. Visualisasi generasi ke-0 4
5 Pada tiap looping generasi, terdapat proses acak jenis radius sensor untuk tiap individu, dimana hasil radius yang terpilih tidak membuat coverage yang dihasilkan lebih baik atau sama dengan coverage generasi sebelumnya, sehingga digunakan jenis radius sensor generasi sebelumnya untuk menjaga nilai coverage tidak mengalami penurunan, sehingga untuk proses mutasi atau cross over posisi sensor akan tetap berpeluang untuk menghasilkan posisi dengan coverage lebih baik dari generasi sebelumnya. Grafik individu terbaik yang dipilih pada tiap proses regenerasinya ditunjukkan pada Gambar 6. Coverage & Normalisasi harga (%) Grafik coverage & biaya tiap generasi Generasi Gambar 6. Grafik proses regenerasi Hasil perhitungan harga tiap generasi pada Tabel 2 beragam, hal ini dikarenakan harga mengikuti jenis radius sensor yang terpilih secara acak, sehingga variabel harga ini berkaitan dan tergantung pada jenis radius yang terpilih, dan karena sifatnya random, maka nilainya juga akan berubah-ubah untuk tiap-tiap pengujian. Dari hasil data, untuk ke-20 generasi didapatkan nilai coverage terbaik dari keempat individu adalah sebesar % diperoleh dari individu 1 dengan biaya $3175 seperti yang ditunjukkan pada visualisasi Gambar 7, dimana pada visualisasi tersebut terlihat bahwa area yang tercover oleh sensor jauh lebih baik daripada generasi ke-0 : Gambar 7. Visualisasi generasi ke-19 akibat pemilihan sensir secara acak. Pada grafik genetika tersebut, sumbu x menjelaskan parameter iterasi (generasi) sedangkan sumbu y menjelaskan nilai normalisasi kedua fitness coverage dan biaya, dimana untuk coverage nilai optimalnya berada pada normalisasi 100 %, sedangkan untuk biaya berada pada normalisasi 0 %, sehingga kondisi ideal untuk grafik genetika adalah bila jarak antara kedua parameter makin menjauh. Dari hasil grafik genetika (proses regenerasi), bila di plot pada diagram scatter, maka akan menghasilkan grafik pareto seperti pada Gambar 7, dimana akan tampak solusi-solusi masalah coverage dan biaya untuk tiap-tiap generasi diwakili dengan tanda atau simbol seperti yang tertera pada grafik, sehingga dari hasil grafik ini, dapat dilihat bahwa solusi-solusi berkumpul atau berada pada suatu daerah tertentu, dimana pada hasil data, simbol tersebut berkumpul dan berada pada daerah yang tidak tercover di bawah 60 % dan biaya di atas 40 % untuk data atau solusi solusi yang paling mendekati kondisi yang diinginkan. Normalisasi biaya (%) Grafik coverage & biaya tiap generasi Area tak tercover (%) Gambar 7. Grafik pareto Grafik sebaran solusi pada Gambar 7 di atas, akan tampak membentuk suatu line atau garis terluar dari kumpulan solusi yang biasa disebut pareto front, namun solusi terluar pada gambar di atas tidak berderet membentuk garis yang tampak, karena solusi yang dihasilkan terkadang tidak lebih baik dari generasi sebelumnya sehingga dipakai data sebelumnya yang lebih baik, maka akan terlihat solusi atau titik yang menumpuk, karena nilai coverage dan biayanya sama. Pada grafik Gambar 8, garis ini menunjukkan solusi maksimal, karena posisinya yang berada di daerah paling luar dari kumpulan solusi dan yang mendekati daerah ideal, yakni pada area (0,0). Gambaran garis penghubung (front) dapat dilihat pada Gambar 8, dimana solusi solusi yang dilewati oleh garis tersebut merupakan solusi optimal, yang diambil dari data nilai coverage yang paling baik diantara sekian pilihan hasil coverage dari 20 generasi yang terbangkit. Hasil grafik pada Gambar 6 menunjukkan bahwa parameter coverage selalu mengalami kenaikan sedangkan untuk parameter harga kondisinya fluktuatif 5
6 100 Grafik coverage & biaya tiap generasi Normalisasi biaya (%) Area tak tercover (%) Gambar 8. Pareto line (front) 5. Kesimpulan Berdasarkan pada hasil data dan analisa dapat disimpulkan bahwa: - Untuk hasil pembangkitan selama 20 generasi, didapatkan nilai coverage yang semakin baik untuk tiap generasinya. - Nilai coverage terbaik didapatkan pada generasi terakhir (generasi ke-19) dengan prosentase coverage sebesar % dan biaya $ 3175 yang diperoleh dari individu DAFTAR PUSTAKA [1] J. Habib Sami. Modeling and simulating coverage in sensor network. Computer Communication, Vol.30, No.5, pp , doi: /j.comcom , [2] Misra Sudip, Pavan Kumar, Obaidat Mohammad S. Connectivity preserving localized coverage algorithm for area monitoring using wireless sensor network. Computer Communication, doi: /j.comcom , [3] Haupt, Randy L, Sue Ellen Haupt, Practical Genetic Algorithms, A John Willey & Sons Inc, Pennsylvania, [4] Konak Abdullah, David W. Coit, Alice E. Smith. Multi-objective optimization using genetic algorithms: A tutorial. Reliability Engineering and System Safety, Vol.19, pp , doi:10/1016/j.ress ,
Analisa Kinerja dan Simulasi Coverage Wireless Sensor Network dengan Sum of Weighted Cost Function Genetic Algorithm
Analisa Kinerja dan Simulasi Coverage Wireless Sensor Network dengan Sum of Weighted Cost Function Genetic Algorithm Bina Rahayu S, Tri Budi, Prima Kristalina Jurusan Telekomunikasi, Politeknik Elektronika
ALGORITMA GENETIKA. Suatu Alternatif Penyelesaian Permasalahan Searching, Optimasi dan Machine Learning
ALGORITMA GENETIKA Suatu Alternatif Penyelesaian Permasalahan Searching, Optimasi dan Machine Learning Disusun oleh: Achmad Basuki Politeknik Elektronika Negeri Surabaya, PENS ITS Surabaya 2003 Algoritma
DETEKSI MAHASISWA BERPRESTASI DAN BERMASALAH DENGAN METODE K- MEANS KLASTERING YANG DIOPTIMASI DENGAN ALGORITMA GENETIKA
DETEKSI MAHASISWA BERPRESTASI DAN BERMASALAH DENGAN METODE K- MEANS KLASTERING YANG DIOPTIMASI DENGAN ALGORITMA GENETIKA Akmal Hidayat 1) & Entin Martiana 2) 1) Teknik Elektro Politeknik Bengkalis Jl.
Kampus ITS, Surabaya
Pemodelan Jaringan Sensor untuk Mengukur keadaan Lingkungan di PENS ITS Yenni Aniati, Tri Budi Santoso, Taufiqurrahman Laboratorium Digital signal Processing, Politeknik Elektronika Negeri Surabaya Politeknik
Rancang Bangun Robot PANTILT: Pendeteksian Posisi Kepala Manusia Menggunakan Algoritma Genetika
Rancang Bangun Robot PANTILT: Pendeteksian Posisi Kepala Manusia Menggunakan Algoritma Genetika Ferman Hakiki 1, Indra Adji Sulistijono 2 1 Jurusan Teknik Elektornika, Politeknik Elekronika Negeri Surabaya
Analisis Operator Crossover pada Permasalahan Permainan Puzzle
Analisis Operator Crossover pada Permasalahan Permainan Puzzle Kun Siwi Trilestari [1], Ade Andri Hendriadi [2] Program Studi Teknik Informatika, Fakultas Ilmu Komputer, Universitas Singaperbanga Karawang
BAB 3 ANALISIS DAN PERANCANGAN APLIKASI
27 BAB 3 ANALISIS DAN PERANCANGAN APLIKASI 3.1 Analisis Pada subbab ini akan diuraikan tentang analisis kebutuhan untuk menyelesaikan masalah jalur terpendek yang dirancang dengan menggunakan algoritma
PENCOCOKAN KATA SECARA ACAK DENGAN METODE ALGORITMA GENETIKA MENGGUNAKAN PROGRAM PASCAL
Jurnal Matematika UNAND Vol. 2 No. 2 Hal. 1 9 ISSN : 2303 2910 c Jurusan Matematika FMIPA UNAND PENCOCOKAN KATA SECARA ACAK DENGAN METODE ALGORITMA GENETIKA MENGGUNAKAN PROGRAM PASCAL MULIA AFRIANI KARTIKA
PEMAMPATAN MATRIKS JARANG DENGAN METODE ALGORITMA GENETIKA MENGGUNAKAN PROGRAM PASCAL
Jurnal Matematika UNAND Vol. 3 No. 1 Hal. 98 106 ISSN : 2303 2910 c Jurusan Matematika FMIPA UNAND PEMAMPATAN MATRIKS JARANG DENGAN METODE ALGORITMA GENETIKA MENGGUNAKAN PROGRAM PASCAL YOSI PUTRI, NARWEN
ALGORITMA GENETIKA Suatu Alternatif Penyelesaian Permasalahan Searching, Optimasi dan Machine Learning
ALGORITMA GENETIKA Suatu Alternatif Penyelesaian Permasalahan Searching, Optimasi dan Machine Learning Achmad Basuki Politeknik Elektronika Negeri Surabaya PENS-ITS Surabaya 2003 Algoritma Genetika Algoritma
OPTIMALISASI SOLUSI TERBAIK DENGAN PENERAPAN NON-DOMINATED SORTING II ALGORITHM
OPTIMALISASI SOLUSI TERBAIK DENGAN PENERAPAN NON-DOMINATED SORTING II ALGORITHM Poetri Lestari Lokapitasari Belluano [email protected] Universitas Muslim Indonesia Abstrak Non Dominated Sorting pada
Aplikasi Algoritma Genetika Untuk Menyelesaikan Travelling Salesman Problem (TSP)
JTRISTE, Vol.1, No.2, Oktober 2014, pp. 50~57 ISSN: 2355-3677 Aplikasi Algoritma Genetika Untuk Menyelesaikan Travelling Salesman Problem (TSP) STMIK Handayani Makassar [email protected] Abstrak
Bab II Konsep Algoritma Genetik
Bab II Konsep Algoritma Genetik II. Algoritma Genetik Metoda algoritma genetik adalah salah satu teknik optimasi global yang diinspirasikan oleh proses seleksi alam untuk menghasilkan individu atau solusi
BAB 2 LANDASAN TEORI. 2.1 Algoritma Genetika
6 BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1 Algoritma Genetika Algoritma genetika merupakan metode pencarian yang disesuaikan dengan proses genetika dari organisme-organisme biologi yang berdasarkan pada teori evolusi
Pendekatan Algoritma Genetika pada Peminimalan Fungsi Ackley menggunakan Representasi Biner
Vol. 7, 2, 108-117, Januari 2011 Pendekatan Algoritma Genetika pada Peminimalan Fungsi Ackley menggunakan Representasi Biner Jusmawati Massalesse Abstrak Tulisan ini dimaksudkan untuk memperlihatkan proses
PENYELESAIAN KNAPSACK PROBLEM MENGGUNAKAN ALGORITMA GENETIKA
PENYELESAIAN KNAPSACK PROBLEM MENGGUNAKAN ALGORITMA GENETIKA Kartina Diah KW1), Mardhiah Fadhli2), Charly Sutanto3) 1,2) Jurusan Teknik Komputer Politeknik Caltex Riau Pekanbaru Jl. Umban Sari No.1 Rumbai-Pekanbaru-Riau
BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN LANDASAN TEORI
BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN LANDASAN TEORI 2.1 Tinjauan Pustaka. Penelitian serupa mengenai penjadwalan matakuliah pernah dilakukan oleh penelliti yang sebelumnya dengan metode yang berbeda-neda. Berikut
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Tinjauan Pustaka (Samuel, Toni & Willi 2005) dalam penelitian yang berjudul Penerapan Algoritma Genetika untuk Traveling Salesman Problem Dengan Menggunakan Metode Order Crossover
PERANCANGAN KONFIGURASI JARINGAN DISTRIBUSI PRODUK BISKUIT MENGGUNAKAN METODE ALGORITMA GENETIKA (Studi Kasus: PT. EP)
PERANCANGAN KONFIGURASI JARINGAN DISTRIBUSI PRODUK BISKUIT MENGGUNAKAN METODE ALGORITMA GENETIKA (Studi Kasus: PT. EP) Rezki Susan Ardyati dan Dida D. Damayanti Program Studi Teknik Industri Institut Teknologi
ISSN VOL. 12, NO. 2, OKTOBER 2011
ANALISIS OPTIMASI PENJADWALAN JAGA DOKTER RESIDEN PENYAKIT DALAM PADA RUMAH SAKIT PENDIDIKAN Erlanie Sufarnap 1, Sudarto 2 STMIK Mikroskil Jl. Thamrin No. 112, 124, 140 Medan 20212 [email protected] 1,
PENERAPAN ALGORITMA GENETIKA PADA PERENCANAAN LINTASAN KENDARAAN Achmad Hidayatno Darjat Hendry H L T
PENERAPAN ALGORITMA GENETIKA PADA PERENCANAAN LINTASAN KENDARAAN Achmad Hidayatno Darjat Hendry H L T Abstrak : Algoritma genetika adalah algoritma pencarian heuristik yang didasarkan atas mekanisme evolusi
A. ADHA. Program Studi Teknik Sipil, Fakultas Teknik,Universitas Islam Riau, Pekanbaru, Indonesia Corresponding author:
Institut Teknologi Padang, 27 Juli 217 ISBN: 978-62-757-6-7 http://eproceeding.itp.ac.id/index.php/spi217 Optimasi Bentuk Struktur dan Penampang pada Struktur Rangka Baja Terhadap Kendala Kehandalan Material
2 TINJAUAN PUSTAKA. 2.1 Peringkasan Teks
4 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Peringkasan Teks Peringkasan teks adalah proses pemampatan teks sumber ke dalam versi lebih pendek namun tetap mempertahankan informasi yang terkandung didalamnya (Barzilay & Elhadad
Keywords Algoritma, Genetika, Penjadwalan I. PENDAHULUAN
Optimasi Penjadwalan Mata Kuliah Dengan Algoritma Genetika Andysah Putera Utama Siahaan Universitas Pembangunan Pancabudi Jl. Gatot Subroto Km. 4,5, Medan, Sumatra Utara, Indonesia [email protected]
Denny Hermawanto
Algoritma Genetika dan Contoh Aplikasinya Denny Hermawanto [email protected] http://dennyhermawanto.webhop.org Lisensi Dokumen: Seluruh dokumen di IlmuKomputer.Com dapat digunakan, dimodifikasi dan disebarkan
PENERAPAN ALGORITMA GENETIKA PADA PERSOALAN PEDAGANG KELILING (TSP)
Abstrak PENERAPAN ALGORITMA GENETIKA PADA PERSOALAN PEDAGANG KELILING (TSP) Aulia Fitrah 1, Achmad Zaky 2, Fitrasani 3 Program Studi Informatika, Sekolah Teknik Elektro dan Informatika, Institut Teknologi
BAB III. Metode Penelitian
BAB III Metode Penelitian 3.1 Diagram Alir Penelitian Secara umum diagram alir algoritma genetika dalam penelitian ini terlihat pada Gambar 3.1. pada Algoritma genetik memberikan suatu pilihan bagi penentuan
OPTIMALISASI LAHAN TANAH UNTUK AREA RUMAH DAN JALAN MENGGUNAKAN ALGORITMA GENETIKA
Optimalisasi Lahan Tanah untuk Area Rumah dan Jalan... (Fadhil dkk.) OPTIMALISASI LAHAN TANAH UNTUK AREA RUMAH DAN JALAN MENGGUNAKAN ALGORITMA GENETIKA Luthfi Ahmad Fadhil *, Esmeralda C Djamal, Ridwan
Pengantar Kecerdasan Buatan (AK045218) Algoritma Genetika
Algoritma Genetika Pendahuluan Struktur Umum Komponen Utama Seleksi Rekombinasi Mutasi Algoritma Genetika Sederhana Referensi Sri Kusumadewi bab 9 Luger & Subblefield bab 12.8 Algoritma Genetika 1/35 Pendahuluan
OPTIMASI PENJADWALAN CERDAS MENGGUNAKAN ALGORITMA MEMETIKA
OPTIMASI PENJADWALAN CERDAS MENGGUNAKAN ALGORITMA MEMETIKA Muhammad Arief Nugroho 1, Galih Hermawan, S.Kom., M.T. 2 1, 2 Universitas Komputer Indonesia Jl. Dipatiukur No. 112-116, Bandung 40132 E-mail
PENDAHULUAN. Latar Belakang
Latar Belakang PENDAHULUAN Pada saat sekarang ini, setiap perusahaan yang ingin tetap bertahan dalam persaingan dengan perusahaan lainnya, harus bisa membuat semua lini proses bisnis perusahaan tersebut
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Penjadwalan Penjadwalan kegiatan belajar mengajar pada suatu lembaga pendidikan biasanya merupakan salah satu pekerjaan yang tidak mudah dan menyita waktu. Pada lembaga pendidikan
BAB I PENDAHULUAN. telah diadopsi untuk mengurangi getaran pada gedung-gedung tinggi dan struktur
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Tuned mass damper (TMD) telah banyak digunakan untuk mengendalikan getaran dalam sistem teknik mesin. Dalam beberapa tahun terakhir teori TMD telah diadopsi untuk mengurangi
OPTIMASI PENATAAN SILINDER DALAM KONTAINER DENGAN ALGORITMA GENETIKA
OPTIMASI PENATAAN SILINDER DALAM KONTAINER DENGAN ALGORITMA GENETIKA Novita Wulan Sari 1, Yuliana Setyowati 2, S.Kom, M.Kom, Ira Prasetyaningrum 2, S. Si, M.T 1 Mahasiswa, 2 Dosen Pembimbing Politeknik
Perancangan Dan Pembuatan Aplikasi Rekomendasi Jadwal Perkuliahan Pada Institut Informatika Indonesia Memanfaatkan Algoritma Genetika
Perancangan Dan Pembuatan Aplikasi Rekomendasi Jadwal Perkuliahan Pada Institut Informatika Indonesia Memanfaatkan Algoritma Genetika Hermawan Andika, S.Kom., M.Kom. Jurusan Teknik Informatika Institut
Genetic Algorithme. Perbedaan GA
Genetic Algorithme Algoritma ini bekerja dengan sebuah populasi yang terdiri atas individu-individu (kromosom). Individu dilambangkan dengan sebuah nilai kebugaran (fitness) yang akan digunakan untuk mencari
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Algoritma Genetika Algoritma genetika merupakan algoritma pencarian heuristik ysng didasarkan atas mekanisme seleksi alami dan genetika alami (Suyanto, 2014). Adapun konsep dasar
RANCANG BANGUN ROBOT PANTILT : PENDETEKSIAN POSISI TANGAN BERBASIS ALGORITMA GENETIKA
RANCANG BANGUN ROBOT PANTILT : PENDETEKSIAN POSISI TANGAN BERBASIS ALGORITMA GENETIKA Ingot Samuel S Siagian #1, Indra Adji Sulistijono #2 Jurusan Teknik Elektronika, Politeknik Elektronika Negeri Surabaya
BAB I PENDAHULUAN. sejumlah aktivitas kuliah dan batasan mata kuliah ke dalam slot ruang dan waktu
18 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Penjadwalan merupakan kegiatan administrasi utama di berbagai institusi. Masalah penjadwalan merupakan masalah penugasan sejumlah kegiatan dalam periode
OPTIMASI POLA PENYUSUNAN BARANG DALAM RUANG TIGA DIMENSI MENGGUNAKAN METODE GENETIC ALGORITHMS
OPTIMASI POLA PENYUSUNAN BARANG DALAM RUANG TIGA DIMENSI MENGGUNAKAN METODE GENETIC ALGORITHMS Kartika Gunadi, Irwan Kristanto Julistiono Fakultas Teknologi Industri, Jurusan Teknik Informatika, Universitas
BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN LANDASAN TEORI
BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN LANDASAN TEORI 2.1 Konsep Umum Optimasi Optimasi merupakan suatu cara untuk menghasilkan suatu bentuk struktur yang aman dalam segi perencanaan dan menghasilkan struktur yang
KONSEP ALGORITMA GENETIK BINER UNTUK OPTIMASI PERENCANAAN JADWAL KEGIATAN PERKULIAHAN
Jurnal Teknik dan Ilmu Komputer KONSEP ALGORITMA GENETIK BINER UNTUK OPTIMASI PERENCANAAN JADWAL KEGIATAN PERKULIAHAN (Binary Genetic Algorithm Concept to Optimize Course Timetabling) Iwan Aang Soenandi
Penerapan Algoritma Genetika pada Permainan Rubik s Cube
Penerapan Algoritma Genetika pada Permainan Rubik s Cube Abigael Angela Pardede 1, Shanny Avelina Halim 2, Denny Nugrahadi 3 Laboratorium Ilmu dan Rekayasa Komputasi Departemen Teknik Informatika, Institut
PERFORMANCE ALGORITMA GENETIKA (GA) PADA PENJADWALAN MATA PELAJARAN
PERFORMANCE ALGORITMA GENETIKA (GA) PADA PENJADWALAN MATA PELAJARAN Eva Desiana, M.Kom Pascasarjana Teknik Informatika Universitas Sumatera Utara, SMP Negeri 5 Pematangsianta Jl. Universitas Medan, Jl.
KNAPSACK PROBLEM DENGAN ALGORITMA GENETIKA
LAPORAN TUGAS BESAR ARTIFICIAL INTELLEGENCE KNAPSACK PROBLEM DENGAN ALGORITMA GENETIKA Disusun Oleh : Bayu Kusumo Hapsoro (113050220) Barkah Nur Anita (113050228) Radityo Basith (113050252) Ilmi Hayyu
Tip & Trik: Algoritma Genetika. Achmad Basuki Politeknik Elektronika Negeri Surabaya PENS-ITS 2006
Tip & Trik: Algoritma Genetika Achmad Basuki Politeknik Elektronika Negeri Surabaya PENS-ITS 2006 Dibalik Model Adopsi Alamiah dalam Algoritma Genetika Bagaimana membuat model adopsi alamiah di dalam algoritma
BAB 1 PENDAHULUAN. disebut Univesitas Timetabling Problems (UTP). Permasalahan ini dilihat dari sisi
1 BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penjadwalan perkuliahan merupakan suatu masalah yang sangat kompleks yang sering disebut Univesitas Timetabling Problems (UTP). Permasalahan ini dilihat dari sisi
Pemaksimalan Papan Sirkuit Di Pandang Sebagai Masalah Planarisasi Graf 2-Layer Menggunakan Algoritma Genetika
Vol. 14, No. 1, 19-27, Juli 2017 Pemaksimalan Papan Sirkuit Di Pandang Sebagai Masalah Planarisasi Graf 2-Layer Menggunakan Algoritma Genetika Jusmawati Massalesse dan Muh. Ali Imran Abstrak Tulisan ini
GENETIKA UNTUK MENENTUKAN RUTE LOPER KORAN DI AGEN SURAT KABAR
MULTI TRAVELING SALESMAN PROBLEM (MTSP) DENGAN ALGORITMA Abstrak GENETIKA UNTUK MENENTUKAN RUTE LOPER KORAN DI AGEN SURAT KABAR Oleh : Fitriana Yuli Saptaningtyas,M.Si. Jurusan Pendidikan Matematika FMIPA
PENERAPAN ALGORITMA GENETIKA PADA PENYELESAIAN TRAVELLING SALESMAN PROBLEM (TSP)
PENERAPAN ALGORITMA GENETIKA PADA PENYELESAIAN TRAVELLING SALESMAN PROBLEM (TSP) Mohamad Subchan STMIK Muhammadiyah Banten e-mail: [email protected] ABSTRAK: Permasalahan pencarian rute terpendek dapat
Perbandingan Algoritma Exhaustive, Algoritma Genetika Dan Algoritma Jaringan Syaraf Tiruan Hopfield Untuk Pencarian Rute Terpendek
Perbandingan Algoritma Exhaustive, Algoritma Genetika Dan Algoritma Jaringan Syaraf Tiruan Hopfield Untuk Pencarian Rute Terpendek Rudy Adipranata 1, Felicia Soedjianto 2, Wahyudi Tjondro Teknik Informatika,
PENGEMBANGAN APLIKASI PENJADWALAN KULIAH SEMESTER I MENGGUNAKAN ALGORITMA GENETIKA
PENGEMBANGAN APLIKASI PENJADWALAN KULIAH SEMESTER I MENGGUNAKAN ALGORITMA GENETIKA Bagus Priambodo Program Studi Sistem Informasi Fakultas Ilmu Komputer Universitas Mercu Buana e- mail : [email protected]
Penjadwalan Mata Kuliah Menggunakan Algoritma Genetika di Jurusan Sistem Informasi ITS
JURNAL TEKNIK POMITS Vol. 2, No. 1, (2013) ISSN: 2337-3539 (2301-9271 Print) A-127 Mata Kuliah Menggunakan Algoritma Genetika di Jurusan Sistem Informasi ITS Wiga Ayu Puspaningrum, Arif Djunaidy, dan Retno
TEKNIK PENJADWALAN KULIAH MENGGUNAKAN METODE ALGORITMA GENETIKA. Oleh Dian Sari Reski 1, Asrul Sani 2, Norma Muhtar 3 ABSTRACT
TEKNIK PENJADWALAN KULIAH MENGGUNAKAN METODE ALGORITMA GENETIKA Oleh Dian Sari Reski, Asrul Sani 2, Norma Muhtar 3 ABSTRACT Scheduling problem is one type of allocating resources problem that exist to
Optimasi Penjadwalan Ujian Menggunakan Algoritma Genetika
Optimasi Penjadwalan Ujian Menggunakan Algoritma Genetika Nia Kurnia Mawaddah Wayan Firdaus Mahmudy, ([email protected]) Jurusan Matematika, FMIPA Universitas Brawijaya, Malang 65145 Abstrak Penjadwalan
Penjadwalan Job Shop pada Empat Mesin Identik dengan Menggunakan Metode Shortest Processing Time dan Genetic Algorithm
Jurnal Telematika, vol.9 no.1, Institut Teknologi Harapan Bangsa, Bandung ISSN: 1858-251 Penjadwalan Job Shop pada Empat Mesin Identik dengan Menggunakan Metode Shortest Processing Time dan Genetic Algorithm
APLIKASI ALGORITMA GENETIKA UNTUK MENGOPTIMALKAN POLA RADIASI SUSUNAN ANTENA
APLIKASI ALGORITMA GENETIKA UNTUK MENGOPTIMALKAN POLA RADIASI SUSUNAN ANTENA Eston Damanus Lingga/0222180 Jurusan Teknik Elektro, Fakultas Teknik, Jl.Prof.Drg.Suria Sumantri 65, Bandung 40164, Indonesia
Implementasi Algoritma Genetika dalam Pembuatan Jadwal Kuliah
Implementasi Algoritma Genetika dalam Pembuatan Jadwal Kuliah Leonard Tambunan AMIK Mitra Gama Jl. Kayangan No. 99, Duri-Riau e-mail : [email protected] Abstrak Pada saat ini proses penjadwalan kuliah
PENERAPAN ALGORITMA GENETIK UNTUK OPTIMASI POLA PENYUSUNAN BARANG DALAM RUANG TIGA DIMENSI ABSTRAK
PENERAPAN ALGORITMA GENETIK UNTUK OPTIMASI POLA PENYUSUNAN BARANG DALAM RUANG TIGA DIMENSI Eddy Triswanto Setyoadi, ST., M.Kom. ABSTRAK Melakukan optimasi dalam pola penyusunan barang di dalam ruang tiga
Optimasi Fungsi Tanpa Kendala Menggunakan Algoritma Genetika Dengan Kromosom Biner dan Perbaikan Kromosom Hill-Climbing
Optimasi Fungsi Tanpa Kendala Menggunakan Algoritma Genetika Dengan Kromosom Biner dan Perbaikan Kromosom Hill-Climbing Wayan Firdaus Mahmudy, ([email protected]) Program Studi Ilmu Komputer, Universitas
PERBANDINGAN ALGORITMA EXHAUSTIVE, ALGORITMA GENETIKA DAN ALGORITMA JARINGAN SYARAF TIRUAN HOPFIELD UNTUK PENCARIAN RUTE TERPENDEK
PERBANDINGAN ALGORITMA EXHAUSTIVE, ALGORITMA GENETIKA DAN ALGORITMA JARINGAN SYARAF TIRUAN HOPFIELD UNTUK PENCARIAN RUTE TERPENDEK Rudy Adipranata 1) Felicia Soedjianto 2) Wahyudi Tjondro Teknik Informatika,
BAB 2 LANDASAN TEORI
BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1 Travelling Salesman Problem (TSP) Travelling Salesmen Problem (TSP) termasuk ke dalam kelas NP hard yang pada umumnya menggunakan pendekatan heuristik untuk mencari solusinya.
OPTIMASI PENJADWALAN KEGIATAN BELAJAR MENGAJAR DENGAN ALGORITMA GENETIK
OPTIMASI PENJADWALAN KEGIATAN BELAJAR MENGAJAR DENGAN ALGORITMA GENETIK Usulan Skripsi S-1 Jurusan Matematika Diajukan oleh 1. Novandry Widyastuti M0105013 2. Astika Ratnawati M0105025 3. Rahma Nur Cahyani
IMPLEMENTASI ALGORITMA GENETIKA UNTUK PENCARIAN RUTE PALING OPTIMUM
IMPLEMENTASI ALGORITMA GENETIKA UNTUK PENCARIAN RUTE PALING OPTIMUM Anies Hannawati, Thiang, Eleazar Fakultas Teknologi Industri, Jurusan Teknik Elektro, Universitas Kristen Petra Jl. Siwalankerto 121-131,
ALGORITMA GENETIKA PADA PEMROGRAMAN LINEAR DAN NONLINEAR
Buletin Ilmiah Mat. Stat. dan Terapannya (Bimaster) Volume 5, No. 03(2016), hal 265 274. ALGORITMA GENETIKA PADA PEMROGRAMAN LINEAR DAN NONLINEAR Abdul Azis, Bayu Prihandono, Ilhamsyah INTISARI Optimasi
OPTIMASI PENDUGAAN PARAMETER DALAM ANALISIS STRESS DAN STRAIN TERHADAP MATERIAL MENGGUNAKAN ALGORITMA GENETIKA
OPTIMASI PENDUGAAN PARAMETER DALAM ANALISIS STRESS DAN STRAIN TERHADAP MATERIAL MENGGUNAKAN ALGORITMA GENETIKA Mike Susmikanti Pusat Pengembangan Informatika Nuklir, Badan Tenaga Nuklir Nasional Kawasan
BAB II LANDASAN TEORI
27 BAB II LANDASAN TEORI 2.1. Penelitian Terkait Penelitian terkait yang menggunakan algoritma genetika untuk menemukan solusi dalam menyelesaikan permasalahan penjadwalan kuliah telah banyak dilakukan.
BAB 2 LANDASAN TEORI
7 BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1 Penjadwalan Perkuliahan Penjadwalan memiliki pengertian durasi dari waktu kerja yang dibutuhkan untuk melakukan serangkaian untuk melakukan aktivitas kerja[10]. Penjadwalan juga
BAB 2 DASAR TEORI. 2.1 Teka-Teki Silang
BAB 2 DASAR TEORI 2.1 Teka-Teki Silang Teka-teki silang atau disingkat TTS adalah suatu permainan yang mengharuskan penggunanya untuk mengisi ruang-ruang kosong dengan huruf-huruf yang membentuk sebuah
Optimasi Multi Travelling Salesman Problem (M-TSP) Menggunakan Algoritma Genetika
Optimasi Multi Travelling Salesman Problem (M-TSP) Menggunakan Algoritma Genetika Wayan Firdaus Mahmudy ([email protected]) Program Studi Ilmu Komputer, Universitas Brawijaya, Malang, Indonesia Abstrak.
Lingkup Metode Optimasi
Algoritma Genetika Lingkup Metode Optimasi Analitik Linier Non Linier Single Variabel Multi Variabel Dgn Kendala Tanpa Kendala Numerik Fibonacci Evolusi Complex Combinasi Intelijen/ Evolusi Fuzzy Logic
BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pada awal diciptakan, komputer hanya difungsikan sebagai alat hitung saja. Namun seiring dengan perkembangan zaman, maka peran komputer semakin mendominasi kehidupan.
ALGORITMA GENETIKA DENGAN PENDEKATAN MODEL PULAU PADA PERMASALAHAN TRAVELLING SALESMAN
ALGORITMA GENETIKA DENGAN PENDEKATAN MODEL PULAU PADA PERMASALAHAN TRAVELLING SALESMAN Hardy STMIK Mikroskil Jl. Thamrin No. 112, 124, 140 Medan 20212 [email protected] Abstrak Algoritma genetika telah
T I N J A U A N P U S T A K A Algoritma Genetika [5]
Algoritma Genetika [5] Fitness adalah nilai yang menyatakan baik-tidaknya suatu jalur penyelesaian dalam permasalahan TSP,sehingga dijadikan nilai acuan dalam mencari jalur penyelesaian optimal dalam algoritma
SWARM GENETIC ALGORITHM, SUATU HIBRIDA DARI ALGORITMA GENETIKA DAN PARTICLE SWARM OPTIMIZATION. Taufan Mahardhika 1
SWARM GENETIC ALGORITHM, SUATU HIBRIDA DARI ALGORITMA GENETIKA DAN PARTICLE SWARM OPTIMIZATION Taufan Mahardhika 1 1 Prodi S1 Kimia, Sekolah Tinggi Analis Bakti Asih 1 [email protected] Abstrak Swarm
PENERAPAN ALGORITMA GENETIKA UNTUK PERMASALAHAN OPTIMASI DISTRIBUSI BARANG DUA TAHAP
PENERAPAN ALGORITMA GENETIKA UNTUK PERMASALAHAN OPTIMASI DISTRIBUSI BARANG DUA TAHAP Riska Sulistiyorini ), Wayan Firdaus Mahmudy ), Program Studi Teknik Informatika Program Teknologi Informasi dan Ilmu
PERANCANGAN APLIKASI PENJADWALAN TRAVELING SALESMAN PROBLEM DENGAN ALGORITMA GENETIKA
PERANCANGAN APLIKASI PENJADWALAN TRAVELING SALESMAN PROBLEM DENGAN ALGORITMA GENETIKA Hendy Tannady; Andrew Verrayo Limas Industrial Engineering Department, Faculty of Engineering, Binus University Jl.
METODA GENETIC ALGORITMA SEBAGAI PERENCANAAN LINTASAN ROBOT UNTUK APLIKASI PENGEBORAN PADA PCB ABSTRAK
METODA GENETIC ALGORITMA SEBAGAI PERENCANAAN LINTASAN ROBOT UNTUK APLIKASI PENGEBORAN PADA PCB 1)Adam Ridiantho M, 2 Djoko Purwanto 1,2) Program Studi Teknik Elektro, Program Pasca Sarjana, ITS Ruang B205,
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA Bab ini membahas tentang teori penunjang serta penelitian sebelumnya yang berhubungan dengan penerapan metode tournament selection pada metode seleksi parent dalam algoritma genetika
APLIKASI ALGORITMA GENETIKA DALAM MENENTUKAN SPESIFIKASI PC BERDASARKAN KEMAMPUAN FINANSIAL KONSUMEN
APLIKASI ALGORITMA GENETIKA DALAM MENENTUKAN SPESIFIKASI PC BERDASARKAN KEMAMPUAN FINANSIAL KONSUMEN Eva Haryanty, S.Kom. ABSTRAK Komputer adalah salah satu peralatan yang pada saat ini banyak pula digunakan
BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah. Pencemaran udara dapat mempengaruhi kesejahteraan manusia, baik secara
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Pencemaran udara dapat mempengaruhi kesejahteraan manusia, baik secara langsung ataupun secara tidak langsung. Pengaruh pencemaran udara secara langsung dapat
Perancangan Sistem Penjadwalan Asisten Dosen Menggunakan Algoritma Genetika (Studi Kasus: STIKOM Bali)
Konferensi Nasional Sistem & Informatika 2017 STMIK STIKOM Bali, 10 Agustus 2017 Perancangan Sistem Penjadwalan Asisten Dosen Menggunakan Algoritma Genetika (Studi Kasus: STIKOM Bali) I Made Budi Adnyana
dan c C sehingga c=e K dan d K D sedemikian sehingga d K
2. Landasan Teori Kriptografi Kriptografi berasal dari kata Yunani kripto (tersembunyi) dan grafia (tulisan). Secara harfiah, kriptografi dapat diartikan sebagai tulisan yang tersembunyi atau tulisan yang
DAFTAR ISI. Tim Redaksi... i Kata Pengantar... ii Daftar Isi... iii
DAFTAR ISI Tim Redaksi... i Kata Pengantar... ii Daftar Isi... iii Faiz Rafdh Ch SISTEM INFORMASI ZAKAT BERBASIS WEB MENGGUNAKAN PHP DAN MYSQL PADA RUMAH ZAKATINDONESIA 1-7 Abdul Jamil Syamsul Bachtiar
IMPLEMENTASI BINARY GENETIC ALGORITHM (BGA) UNTUK OPTIMASI PENUGASAN KAPAL PATROLI TNI - AL DALAM RANGKA KEAMANAN WILAYAH LAUT INDONESIA
IMPLEMENTASI BINARY GENETIC ALGORITHM (BGA) UNTUK OPTIMASI PENUGASAN KAPAL PATROLI TNI - AL DALAM RANGKA KEAMANAN WILAYAH LAUT INDONESIA Pudji Santoso 1, Ketut Buda Artana 2, AA Masroeri 2, AAB Dinariyana
Pembimbing I : Wiwik Anggraeni, S.Si, M.Kom Pembimbing II : Amalia Utamima, S.Kom, MBA KHAIRIL JUHDI SIREGAR
Pembimbing I : Wiwik Anggraeni, S.Si, M.Kom Pembimbing II : Amalia Utamima, S.Kom, MBA KHAIRIL JUHDI SIREGAR 5209100710 Optimasi Penjadwalan Proyek Menggunakan Metode Algoritma Genetika Abstrak Penjadwalan
Zbigniew M., Genetic Alg. + Data Structures = Evolution Program, Springler-verlag.
Zbigniew M., Genetic Alg. + Data Structures = Evolution Program, Springler-verlag. 12/11/2009 1 Ditemukan oleh Holland pada tahun 1975. Didasari oleh fenomena evolusi darwin. 4 kondisi yg mempengaruhi
BABI PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
BABI PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Wireless Sensor Network (WSN) merupakan teknologi yang digunakan untuk pemantauan dan pengumpulan data secara langsung [1]. WSN mengalami perkembangan yang sangat pesat
BAB 3 PENANGANAN JARINGAN KOMUNIKASI MULTIHOP TERKONFIGURASI SENDIRI UNTUK PAIRFORM-COMMUNICATION
BAB 3 PENANGANAN JARINGAN KOMUNIKASI MULTIHOP TERKONFIGURASI SENDIRI UNTUK PAIRFORM-COMMUNICATION Bab ini akan menjelaskan tentang penanganan jaringan untuk komunikasi antara dua sumber yang berpasangan.
BAB 2 LANDASAN TEORI
18 BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1 Pengertian Optimasi Optimasi adalah salah satu ilmu dalam matematika yang fokus untuk mendapatkan nilai minimum atau maksimum secara sistematis dari suatu fungsi, peluang maupun
PENENTUAN KOMBINASI OPTIMUM JUMLAH, BERAT, DAN WAKTU TAMBAT KAPAL DI PT (PERSERO) PELABUHAN INDONESIA III GRESIK MENGGUNAKAN ALGORITMA GENETIKA
LOGO PENENTUAN KOMBINASI OPTIMUM JUMLAH, BERAT, DAN WAKTU TAMBAT KAPAL DI PT (PERSERO) PELABUHAN INDONESIA III GRESIK MENGGUNAKAN ALGORITMA GENETIKA Oleh : Aris Saputro 1206100714 Pembimbing : Dr. M. Isa
Tugas Mata Kuliah E-Bisnis REVIEW TESIS
Tugas Mata Kuliah E-Bisnis REVIEW TESIS Desain Algoritma Genetika Untuk Optimasi Penjadwalan Produksi Meuble Kayu Studi Kasus Pada PT. Sinar Bakti Utama (oleh Fransiska Sidharta dibawah bimbingan Prof.Kudang
Analisis Aplikasi Algoritma Genetika Untuk Pencarian Nilai Fungsi Maksimum Djunaedi Kosasih 1) Rinaldo 2)
Analisis Aplikasi Algoritma Genetika Untuk Pencarian Nilai Fungsi Maksimum Djunaedi Kosasih 1) Rinaldo 2) Abstrak Algoritma genetika yang pertama kali diperkenalkan secara terpisah oleh Holland dan De
APLIKASI ALGORITMA GENETIK UNTUK OPTIMASI PENJADWALAN KEGIATAN BELAJAR MENGAJAR
APLIKASI ALGORITMA GENETIK UNTUK OPTIMASI PENJADWALAN KEGIATAN BELAJAR MENGAJAR Ivan Nugraha - 13506073 Program Studi Teknik Informatika Sekolah Teknik Elektro dan Informatika Institut Teknologi Bandung
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Fuzzy Local Binary Pattern (FLBP) Fuzzifikasi pada pendekatan LBP meliputi transformasi variabel input menjadi variabel fuzzy, berdasarkan pada sekumpulan fuzzy rule. Dalam
OPTIMISASI PENEMPATAN TURBIN ANGIN DI AREA LAHAN ANGIN
OPTIMISASI PENEMPATAN TURBIN ANGIN DI AREA LAHAN ANGIN MENGGUNAKAN ALGORITMA GENETIKA Azimatul Khulaifah 2209 105 040 Bidang Studi Sistem Tenaga Jurusan Teknik Elektro FTI ITS Dosen Pembimbing : Dosen
