BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA
|
|
|
- Benny Hartanto
- 9 tahun lalu
- Tontonan:
Transkripsi
1 5 BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Information Retrieval Definisi Information Retrieval System atau Sistem Temu Balik Informasi merupakan bagian dari computer science tentang pengambilan informasi dari dokumendokumen yang didasarkan pada isi dan konteks dari dokumen-dokumen itu sendiri. Menurut Gerald J. Kowalski di dalam bukunya Information Storage and Retrieval Systems Theory and Implementation, sistem temu balik informasi adalah suatu sistem yang mampu melakukan penyimpanan, pencarian, dan pemeliharaan informasi. Informasi dalam konteks ini dapat terdiri dari teks (termasuk data numerik dan tanggal), gambar, audio, video, dan objek multimedia lainnya. Tujuan dari sistem IR adalah memenuhi kebutuhan informasi pengguna dengan me-retrieve semua dokumen yang mungkin relevan, pada waktu yang sama me-retrieve sesedikit mungkin dokumen yang tidak relevan. Sistem IR yang baik memungkinkan pengguna menentukan secara cepat dan akurat apakah isi dari dokumen yang diterima memenuhi kebutuhannya. Agar representasi dokumen lebih baik, dokumen -dokumen dengan topik atau isi yang mirip dikelompokkan bersama-sama (Gerald J. Kowalski, 2000). Model Information Retrieval adalah model yang digunakan untuk melakukan pencocokan antara term-term dari query dengan term - term dalam document collection, Model yang terdapat dalam Information retrieval terbagi dalam 3 model besar, yaitu : 1. Set-theoritic models, model merepresentasikan dokumen sebagai himpunan kata atau frase. Contoh model ini ialah standard Boolean model dan extended Boolean model.
2 6 2. Algebratic model, model merepresentasikan dokumen dan query sebagai vektor atau matriks similarity antara vektor dokumen dan vektor query yang direpresentasikan sebagai sebuah nilai skalar. Contoh model ini ialah vektor space model (model ruang vektor) dan latent semantic indexing (LSI). 3. Probabilistic model, model memperlakukan proses pengambilan dokumen sebagai sebuah probabilistic inference. Contoh model ini ialah penerapan teorema bayes dalam model probabilistic (Hiemstra, 2009) Arsitektur Information Retrieval Ada dua pekerjaan yang ditangani oleh sistem ini, yaitu melakukan pre-processing terhadap database dan kemudian menerapkan metode tertentu untuk menghitung kedekatan (relevansi atau similarity) antara dokumen di dalam database yang telah di preprocess dengan query pengguna. Pada tahapan preprocessing, sistem yang berurusan dengan dokumen semi-structured biasanya memberikan tag tertentu pada term-term atau bagian dari dokumen, sedangkan pada dokumen tidak terstruktur proses ini dilewati dan membiarkan termt anpa imbuhan tag. Query yang dimasukkan pengguna dikonversi sesuai aturan tertentu untuk mengekstrak term-term penting yang sejalan dengan term-term yang sebelumnya telah diekstrak dari dokumen dan menghitung relevansi antara query dan dokumen berdasarkan pada term-term tersebut. Sebagai hasilnya, sistem mengembalikan suatu daftar dokumen terurut sesuai nilai kemiripannya dengan query pengguna. Setiap dokumen (termasuk query) direpresentasikan menggunakan model bag-of-words yang mengabaikan urutan dari kata kata di dalam dokumen, struktur sintaktis dari dokumen dan kalimat. Dokumen ditransformasi ke dalam suatu tas berisi kata-kata independen. Term disimpan dalam suatu database pencarian khusus yang ditata sebagai sebuah inverted index. Index ini merupakan konversi dari dokumen asli yang mengandung sekumpulan kata ke dalam daftar kata yang berasosiasi dengan dokumen terkait dimana kata-kata tersebut muncul. Proses dalam Information Retrieval dapat digambarkan sebagai sebuah proses
3 7 untuk mendapatkan retrieve document dari collection documents yang ada melalui pencarian query yang diinputkan user. Sistem temu-kembali teks (teks retrieval) adalah sistem penemuan kembali informasi dalam bentuk dokumen dengan mengukur kemiripan (similarity) antara informasi yang tersimpan dalam basis data dengan query yang dimasukkan oleh pengguna (Baeza & Ribeiro, 1998:19). Teknik pencarian informasi pada sistem Information Retrieval berbeda dengansistem pencarian pada sistem manajemen basisdata (DBMS). Dalam sistem temu kembali terdapat dua bagian utama yaitu bagian pengindeksan (indexing) dan pencarian (searching). Kedua bagian tersebut memiliki peran penting dalam proses temu kembali informasi seperti pada gambar dibawah ini: Gambar 2.1 Arsitektur Information Retrieval Sumber : (Baeza & Ribeiro, 1999) 2.2. Algoritma Genetika Algoritma genetika adalah salah satu cabang AI (Artificial Intelligence) yang merupakan model perhitungan yang diinspirasikan oleh teori evolusi. Algoritma tersebut mengkodekan solusi-solusi potensial untuk permasalahan yang ada pada struktur data berupa kromosom. Algoritma genetika umumnya dipandang sebagai
4 8 fungsi optimisasi, meskipun jangkauan permasalahan yang telah diaplikasikan oleh genetika algoritma sangat luas, yaitu : 1. Al Biles menggunakan algoritma genetika untuk memfilter bagian yang baik dan buruk untuk improvisasi jazz. 2. Militer menggunakan algoritma genetika untuk mengembangkan persamaan untuk mendapatkan perbedaan di antara perputaran radar. 3. Perusahaan-perusahaan menggunakan algoritma genetika untuk memprediksikan pasar bursa. Kebanyakan sistem AI simbolis adalah sangat statis. Biasanya digunakan hanya untuk memecahkan satu masalah khusus, dikarenakan arsitekturnya didesain sesuai dengan permasalahan yang ada. Jadi, jika permasalahan dirubah, maka sistem-sistem tersebut akan kesulitan untuk beradaptasi, dikarenakan solusi yang didapat tidak tepat atau kurang efisien. Algoritma genetika dibentuk untuk mengatasi permasalahan ini (Sastry, 2004). Sebuah algoritma genetika berfungsi mula-mula dengan menghasilkan himpunan dari solusi-solusi yang mungkin untuk masalah yang ada. Kemudian dilakukan evaluasi pada masing-masing solusi dan menentukan tingkat Fitness (ketahanan) untuk setiap himpunan solusi. Solusi-solusi tersebut kemudian menghasilkan solusi-solusi yang baru. Solusi-solusi parent yang lebih fit adalah yang memiliki kemungkinan besar untuk reproduksi, sedangkan yang kurang memiliki kemungkinan kecil untuk reproduksi. Pada intinya, solusi-solusi berevolusi dari waktu ke waktu. Dengan cara ini, dapat dikembangkan skop ruang pencarian pada suatu titik di mana bisa didapatkan solusi. Algoritma genetika bisa sangat efisien bila diprogram secara tepat Pengertian Dasar Metode Algoritma Genetika Algoritma genetika pertama kali dikembangkan oleh John Holland dari Universitas Michigan pada tahun John Holland menyatakan bahwa setiap masalah yang berbentuk adaptasi (alami maupun buatan) dapat diformulasikan kedalam terminologi genetika. Algoritma genetika adalah simulasi dari proses evolusi darwin dan operasi genetika atas kromosom (Kusumadewi, 2003).
5 9 Algoritma genetika mengikuti prosedur atau tahap-tahap yang menyerupai proses evolusi, yaitu adanya proses seleksi, crossover dan mutasi. Pada setiap generasi, himpunan baru dari deretan individu dibuat berdasarkan kecocokan pada generasi sebelumnya (Goldberg, 1989). Keberagaman pada evolusi biologis adalah variasi dari kromosom dalam individu organisme. Variasi kromosom ini akan mempengaruhi laju reproduksi dan tingkat kemampuan organisme untuk tetap hidup (Kristanto, 2004). Teknik pencarian yang dilakukan algoritma genetika dari himpunan solusi secara acak disebut dengan populasi. Sedangkan setiap individu dalam populasi disebut kromosom. Kromosom berevolusi dalam suatu proses iterasi yang berkelanjutan yang disebut generasi. Pada setiap generasi, kromosom akan dievaluasi berdasarkan fungsi fitness (Gen & Cheng, 1997). Setelah beberapa generasi, maka algoritma genetika akan konvergen pada kromosom terbaik yang diharapkan merupakan solusi optimal (Goldberg, 1989). Pendekatan yang diambil oleh algoritma genetika adalah dengan menggabungkan secara acak berbagai pilihan solusi terbaik didalam suatu populasi untuk mendapatkan individu baru (offspring) yaitu pada suatu kondisi yang memaksimalkan kecocokan yang disebut fitness. Algoritma genetika adalah algoritma pencarian heuristik yang didasarkan atas mekanisme evolusi biologis. Algoritma genetika merupakan algoritma pencarian yang berdasarkan pada seleksi alam dan genetika alam. Algoritma ini berguna untuk masalah yang memerlukan pencarian yang efektif dan efisien, dan dapat digunakan secara meluas untuk aplikasi bisnis, pengetahuan, dan dalam ruang lingkup teknik. Algoritma genetika ini dapat digunakan untuk mendapatkan solusi yang tepat untuk masalah satu atau banyak variabel. Algoritma genetika berbeda dengan teknik pencarian yang lain, karena pada algoritma genetika ini langkah pertama dimulai dengan membangkitkan secara random solusi-solusi yang sering dikenal dengan initial population. Setiap individu di dalam populasi dinamakan chromosome, dimana setiap
6 10 chromosome itu mewakili sebuah solusi untuk masalah yang akan dihadapi. Sebuah chromosome biasanya simbolnya string hal ini diperuntukkan bagi bilangan biner dan untuk floating point yang dipakai adalah bilangan real. Untuk masalah tiga variabel maka chromosome akan tersusun atas tiga gen demikian pula kalau permasalahannya melibatkan lima variabel, maka didalam satu chromosome juga akan terdapat lima gen. Chromosome terbentuk setiap generasi dan kemudian dievaluasi menggunakan beberapa ukuran fitness. Untuk generasi yang baru, chromosome baru terbentuk oleh proses yang dinamakan proses seleksi. Setelah proses seleksi itu berlangsung chromosome yang baru terbentuk itu akan mengalami proses reproduksi dimana didalam proses reproduksi ini chromosome tadi akan daproses dalam dua tahap yaitu crossover dan mutasi. Kadua tahap proses itu akan membuat offspring. Untuk proses crossover, offspring yang terbentuk merupakan penggabungan dari chromosome yang sebelumnya, sedangkan untuk mutasi offspring yang terbentuk merupakan hasil perubahan mutasi dari gen atau mutasi pada bit. Generasi baru terbentuk oleh seleksi menurut nilai fitness dari keseluruhan chromosome, beberapa parent dan offspring dipilih agar menjaga ukuran populasi tetap. Chromosome yang memiliki nilai fitness yang besar memiliki peluang yang lebih besar untuk terpilih. Setelah beberapa generasi, Algoritma Genetika ini akan mengumpulkan chromosome terbaik, yang membantu untuk mewakili solusi yang optimal untuk masalah itu. Ada 2 mekanisme yang menghubungkan Algoritma Genetika dengan masalah yang ingin diselesaikan yaitu cara pengkodean /encoding penyelesaian untuk masalah pada chromosome dan fungsi evaluasi yang mengembalikan ukuran harga dari setiap chromosome dalam konteks dari masalah itu. Teknik untuk mengkodekan penyelesaian bermacam-macam dari masalah ke masalah dan dari Algoritma Genetika ke Algoritma Genetika. Populasi disusun dari bermacam-macam individu, setiap individu berisi phenotype (parameter), genotype (chromosome buatan atau bit
7 11 string), dan fitness (fungsi obyektif). Fungsi evaluasi adalah penghubung antara Algoritma Genetika dan masalah yang akan diselesaikan. Fungsi evaluasi mengambil sebuah chromosome sebagai input dan mengembalikan nomor atau daftar dari nomor yang merupakan ukuran dari chromosome pada masalah yang akan diselesaikan. Fungsi evaluasi mempunyai aturan yang sama dalam Algoritma Genetika yang berkecimpung dalam evolusi alam (Suyanto, 2005). Inisialisasi dilakukan secara random atau acak. Rekombinasi termasuk di dalamnya crossover / kawin silang dan mutasi untuk munghasilkan offspring / keturunan. Kenyataannya ada dua operasi pada Algoritma Genetika - Operasi genetika yaitu crossover dan mutasi - Operasi evolusi yaitu seleksi Operasi genetika meniru proses turun menurun dari gen untuk membentuk offspring pada setiap generasi. Operasi evolusi meniru proses dari Darwinian evolution untuk membentuk populasi dari generasi ke generasi. Blok diagram untuk proses algoritma genetika diberikan pada Gambar 3.1 berikut ini:
8 12 Gambar 2.2 Proses Algoritma Genetika Sumber : (Mitchell, 1996). Pada algoritma genetika ini terdapat beberapa definisi penting yang harus dipahami sebelumnya, yaitu : a) Gen : merupakan nilai yang menyatakan satuan dasar yang membentuk suatu arti tertentu dalam satu kesatuan gen yang dinamakan kromosom. b) Kromosom/Individu : merupakan gabungan dari gen-gen yang membentuk nilai tertentu dan menyatakan solusi yang mungkin dari suatu permasalahan. c) Populasi : merupakan sekumpulan individu yang akan diproses bersama dalam satu satuan siklus evolusi. d) Fitness menyatakan seberapa baik nilai dari suatu individu yang didapatkan. e) Seleksi merupakan proses untuk mendapatkan calon induk yang baik. f) Crossover merupakan proses pertukaran atau kawin silang gen-gen dari dua induk tertentu.
9 13 g) Mutasi merupakan proses pergantian salah satu gen yang terpilih dengan nilai tertentu. h) Generasi merupakan urutan iterasi dimana beberapa kromosom tergabung. i) Offspring merupakan kromosom baru yang dihasilkan Gambar 2.3 Individu dalam Algoritma Genetika Sumber : (Mitchell, 1996) Operator Algoritma Genetika Sama seperti suatu penyelesaian umum lainnya, Algoritma Genetika mempunyai operator-operator yang secara berurutan dipakai untuk menyelesaikan suatu permasalahan. Operator tersebut dibahas berikut ini.
10 14 A. Seleksi Tiga dasar pokok yang tergabung di dalam fase seleksi dalam metode Algoritma Genetika yaitu: (a) Sampling space; (b). Sampling mechanism; (c). Selection probability a. Sampling Space Prosedur seleksi yang menghasilkan populasi baru untuk generasi selanjutnya berdasarkan pada baik semua parent atau offspring atau bagian dari mereka. Inilah yang memimpin masalah dari sampling space. Sebuah sampling space dikarakteristikkan oleh dua faktor yaitu size (ukuran) dan ingredient (bahan) yang menunjuk pada parent dan offspring. Pop_size menunjuk pada ukuran dari populasi dan off_size menunjuk pada ukuran dari offspring yang dihasilkan pada setiap generasi. Regular sampling space memiliki ukuran dari pop_size dan berisi semua offspring dengan sebagian dari parent. Enlarge sampling place memiliki okoran dari pop_size + off_size dan berisi semua parent dan offspring. - Regular sampling space: pada waktu terjadi crossover dan mutasi itulah maka akan dilahirkan offspring. Parent digantikan oleh offspring atau keturunannya segera setelah kelahirannya. Pergantian secara langsung ini dinamakan generational repacement. Karena operasi genetika buta dalam alam, offspring mungkin lebih buruk dibandingkan dengan parent. Strategi pergantian setiap parent dengan offspring secara langsung akan menyebabkan beberapa chromosome yang memiliki peluang yang besar akan hilang dari proses evolusi. Ada beberapa ide untuk mengatasi masalah ini. Holland mengusulkan ketika setiap offspring lahir, offspring itu akan menggantikan secara random chromosome yang dipilih dari populasi sekarang. Dalam model crowding, ketika offspring lahir, satu parent yang dipilih akan mati. Parent yang mati itu dipilih dengan ciri seperti parent yang mirip offspring yang baru, kemiripan ini diperoleh dengan menggunakan kesamaan bit per bit untuk menghitung ukuran kemiripannya. Pada reproductive plan, seleksi menunjuk pada
11 15 parent yang terpilih untuk rekombinasi, populasi yang baru terbentuk oleh pergantian parent dengan offspring yang terbentuk. Michalewics memberikan deskripsi pada Algoritma Genetika sederhana dimana offspring dalam setiap generasi akan menggantikan parent untuk generasi tersebut segera setelah kelahirannya, generasi yang baru dibentuk oleh roulette wheel selection. Gambar 2.1 berikut ini adalah merupakan seleksi yang dilakukan pada regular sampling space (Suyanto, 2005). Gambar 2.4 Seleksi berdasarkan pada Regular Sampling Space Sumber : ( Suyanto, 2005). - Enlarge sampling space: ketika seleksi dilakukan pada enlarge sampling space, baik parent dan offspring mempunyai kesempatan untuk berkompetisi dengan tujuan untuk bertahan. Untuk sebuah kasus khusus adalah seleksi (μ+λ). Stategi ini digunakan dalam srategi evolusi. Dengan stategi ini, μ parent dan λ offspring berkomperisi untuk kelangsungan hidupnya dan μ terbaik keluar dari offspring dan old parent dipilih sebagai parent pada generasi selanjutnya. Kasus lain dari strategi evolusi adalah seleksi (μ,λ), dimana memilih μ offspring terbaik sebagai parent pada generasi
12 16 B. Crossover Gambar 2.5. Seleksi Dilakukan Pada Enlarge Sampling Space Sumber : ( Suyanto, 2005). Pada crossover terjadi ketika parent bertukar bagian dari gen pembentuknya. Dalam Algoritma Genetika, crossover menggabungkan materi genetika dari kedua chromosome parent menjadi dua anak. Crossover yang dipakai untuk bilangan real adalah Arithmetic Crossover. Prosedur untuk memilih parent mana yang akan mengalami proses crossover : - Tentukan probabilitas crossover. - Bangkitkan bilangan random 0 sampai 1 sebanyak i (jumlah chromosome dalam satu populasi). - Bandingkan bilangan random itu dengan probabilitas crossover - Parent terpilih bila bilangan r yang ke-i kurang atau sama dengan probabilitas crossover (Pc). - Bila parent yang terpilih jumlahnya hanya satu maka proses ini diulang sampai jumlah parent lebih dari satu Arithmetic Chrossover Proses selanjutnya setelah melakukan pemilihan Chromosome adalah melakukan Arithmetic Crossover yang dikerjakan untuk kondisi bilangan real pada kedua parent tersebut.
13 17 Bangkitkan bilangan random antara 0 dan 1 Offspring1 = (parent1 x random) + (parent2 x (1-random)). Offspring2 = (parent1 x (1-random)) + (parent2 x random)). One-Point Crossover Sedangkan untuk bilangan biner, pada proses crossover ada perbedaan. Untuk bilangan biner prosedur pemilihan chromosome sama dengan proses pemilihan chromosome seperti pada bilangan real. Untuk biner prosesnya adalah: Total bit merupakan banyaknya bit dalam satu populasi. Bangkitkan bilangan random antara 1 sampai total bit-1. Ini merupakan titik crossover, misalnya ditemukan nilai randomnya m. Pertukarkan bit yang ke (m +1) sampai total bit dari parent dengan bit yang ke (m+1) sampai ke total bit dari parent 2. C. Mutasi Proses mutasi adalah proses yang bertujuan untuk mengubah salah satu atau lebih bagian dari chromosome. Untuk bilangan floating ini memakai Nonuniform Mutation atau yang dikenal sebagai Dynamic Mutation. Mutasi ini didesain untuk dapat mentuning dengan baik dengan tujuan mencapai tingkat ketelitian yang tinggi. Prosedur untuk menentukan gen mana yang akan dimutasi adalah : 1. Tentukan probabilitas mutasi. 2. Tentukan banyaknya random yang diperoleh dari banyaknya jumlah chromosome dalam satu populasi x banyaknya gen dalam satu chromosome (total_random). 3. Bangkitkan bilangan random antara 0 dan 1 sebanyak total_random. 4. Bandingkan hasil random yang didapat sebanyak total_random dengan probabilitas mutasi
14 18 5. Bila kurang dari probabilitas mutasi (Pm) maka gen tersebut yang akan dipilih untuk dimutasi. 6. Gen yang terpilih kemudian dihitung sehingga dapat diketahui gen tersebut berada pada chromosome nomor berapa dan pada gen yang nomor berapa. 2.3 Algoritma Umum pada Algoritma Genetika Berikut ini algoritma yang umum pada algoritma genetika yaitu dengan memberikan tahapan mulai dari pembentukan kromosom sampai pada solusi yang terbaik : Membentuk Model Kromosom. Kromosom pada algoritma genetika merupakan suatu solusi yang mungkin yang dibentuk oleh gen-gen. Atau dapat disebutkan bahwa kromsom merupakan string yang terbentuk oleh gen-gen yang merupakan bit (0 dan 1). Contoh kromosom : Model kromosom yang dibentuk tergantung dari kasus/permasalahan yang dihadapi. Sebagai contoh, diberikan persamaan : a + b * c - d * e = 100 Pada persamaan tersebut dicari nilai variabel a, b, c, d, dan e agar mendapatkan 100. Diandaikan nilai maksimum untuk setiap variabel adalah 15, berarti dalam representasi biner terdapat empat bit untuk setiap variabel. Karena terdapat lima variabel, maka panjang kromosom adalah 20 bit. Misalkan pada suatu solusi/kromosom nilai variabel a adalah 10( ), variabel b adalah 5( ), variabel c adalah 14( ), variabel d adalah 2( ), dan variabel e adalah 9( ), maka kromosom pada solusi tersebut adalah :
15 Membentuk Populasi Awal Secara Acak. Populasi merupakan kumpulan dari kromosom atau solusi. Agar dapat berevolusi dan menghasilkan solusi yang tepat pada suatu generasi, maka harus memiliki nenek moyang. Nenek moyang tersebutlah yang merupakan populasi awal yang dibentuk secara acak.jumlah populasi awal tersebut tidak memiliki patokan, sesuai dengan permasalahan yang ada dan kemampuan komputer. Contoh populasi awal untuk kasus di atas : (a=6, b=13, c=10, d=9, e=7) (a=5, b=10, c=13, d=6, e=10) (a=13, b=11, c=12, d=10, e=4) (a=5, b=10, c=2, d=10, e=6) (a=13, b=11, c=13, d=10, e=15) Mengevaluasi Fitness Untuk Setiap Kromosom. Tujuan dari tahap ini adalah untuk mendapatkan nilai fitness yang akan berguna dalam seleksi kromosom untuk generasi berikutnya. Sebagai contoh, dalam kehidupan di alam tertutup (gua, bawah tanah), makhluk yang mengandalkan penglihatan (contoh: singa, kuda, gajah, dll.) akan memiliki nilai ketahanan yang rendah, karena kesulitan navigasi dalam lingkungan yang gelap. Maka, akan kecil kemungkinan makhluk tersebut dapat bertahan dan memiliki generasi berikutnya. Akan tetapi, untuk makhluk lainnya seperti kelelawar akan memiliki nilai ketahanan yang tinggi karena kelelawar memiliki kemampuan pancaran supersonik sehingga dapat melakukan navigasi dalam lingkungan yang gelap. Evaluasi fitness tergantung pada kasus ataupun permasalahan yang dihadapi. Untuk contoh di atas, worst case scenario ataupun hasil yang paling melenceng jauh dari nilai yang diharapkan(100) adalah jika a=0, b=0, c=0, d=15, e=15 dengan hasil 325. Nilai fitness merupakan selisih dari 325 dengan jarak antara 100 (nilai yang diharapkan) dengan nilai yang didapatkan dengan mensubstitusikan nilai dari kromosom pada variabel pada persamaan tersebut. Maka, nilai fitness terburuk adalah (-225) = = 0. Sedangkan nilai fitness terbaik adalah = 325. Perhitungan nilai fitness untuk contoh populasi sebelumnya dapat dilihat pada tabel 2.1.berikut :
16 20 Tabel 2.1. Perhitungan nilai fitness Kromosom Nilai Variabel Hasil Persamaan Nilai Fitness (A) * 10 9 * 7 = a=6, b=13, c=10, d=9, e= = (B) * 13 6 * 10 = = a=5, b=10, c=13, d=6, e= (C) * * = a=13, b=11, c=12, d=10, e= = (D) * 2 10 * 6 = (-35) = a=5, b=10, c=2, d=10, e= (E) * * = a=13, b=11, c=13, d=10, e= = Penentuan Populasi Generasi Berikutnya. Penentuan populasi pada generasi berikutnya didasarkan pada nilai fitness/ketahanan. Kromosom yang memiliki nilai ketahanan yang lebih tinggi(dalam analogi biologis, yaitu lebih mampu bertahan dalam lingkungan) akan memiliki kemungkinan yang lebih tinggi untuk memiliki kopiannya pada generasi berikutnya, sedangkan yang memiliki nilai ketahanan yang lebih rendah (dalam analogi biologis, yaitu kurang mampu bertahan dalam lingkungan) akan memiliki kemungkinan yang lebih rendah untuk memiliki kopiannya pada generasi berikutnya. Penentuan tersebut biasanya dikenal dengan istilah seleksi. Biasanya, jumlah populasi pada generasi berikutnya adalah sama dengan jumlah populasi pada generasi sebelumnya, yaitu populasi dari sebelumnya telah hilang dan sepenuhnya digantikan dengan populasi yang baru. Dengan kata lain, jumlah populasi untuk setiap generasi adalah sama. Terdapat banyak cara seleksi, salah satunya adalah dengan metode roda rolet. Metode ini merupakan suatu cara seleksi kromosom yang proporsional pada nilai fitness tersebut. Cara ini tidak menjamin bahwa kromosom yang memiliki nilai fitness tertinggi dapat bertahan ke generasi berikutnya, melainkan memiliki kemungkinan yang tinggi. Pada cara ini, diandaikan nilai fitness total direpresentasikan oleh diagram lingkaran ataupun roda rolet. Kemudian, dipasangkan setiap potongan pada roda tersebut pada setiap anggota populasi/kromosom. Ukuran dari potongan tersebut
17 21 proporsional pada nilai fitness dari kromosom, yaitu semakin tinggi nilai fitness maka memiliki potongan yang semakin besar pada roda/lingkaran tersebut. Kemudian, untuk memilih kromosom pada generasi berikutnya dilakukan dengan melemparkan bola(atau mengambil nilai acak) pada lingkaran/rolet tersebut. Potongan lingkaran tempat bola tersebut berhenti(atau nilai acak yang didapat) diambil untuk generasi berikutnya. Hal ini dilakukan beberapa kali sebanyak jumlah populasi yang diharapkan. Pada contoh sebelumnya, nilai fitness total adalah : = Maka, besarnya potongan untuk masing-masing kromosom adalah : 298/1339 * 100 % = 22 % 300/1339 * 100 % = 22 % 320/1339 * 100 % = 25 % 190/1339 * 100 % = 14 % 231/1339 * 100 % = 17 % Jika diberikan penomoran pada lingkaran tersebut : 0 s/d 22 adalah untuk kromosom A, 22.1 s/d 44 (22+22) untuk kromosom B, 44.1 s/d 69 (44+25) untuk kromosom C, 69.1 s/d 83 (69+14) untuk kromosom D, 83.1 s/d 100 (83+17). Kemudian dilakukan pengambilan nilai acak dengan jangkauan 0 s/d 100 sebanyak 5 kali, maka : 42 : berada pada wilayah B 83 : berada pada wilayah D 33 : berada pada wilayah B 11 : berada pada wilayah A 60 : berada pada wilayah C Maka, populasi pada generasi berikutnya adalah : (kromosom B) (kromosom D) (kromosom B) (kromosom A) (kromosom C)
18 Melakukan Crossover dan Mutasi. Crossover berarti melakukan pertukaran gen-gen di antara kromosom.pada biologis, crossover adalah hibridasi antara jenis yang berbeda.mutasi adalah perubahan gen-gen pada kromosom, yaitu perubahan bit-bit dari 0 ke 1 ataupun sebaliknya dari 1 ke 0. Untuk melakukan crossover, perlu ditentukan konstanta p c, yaitu konstanta yang menyatakan besarnya peluang untuk melakukan crossover.nilai p c tersebut biasanya adalah sebesar 0.7.Iterasi dilakukan pada tiap kromosom dan dilakukan pengambilan nilai acak di antara 0 s/d 1 pada tiap kromosom. Jika nilai acak yang dihasilkan adalah <= p c, maka kromosom tersebut terpilih untuk dilakukan crossover, sedangkan jika > p c, maka tidak dilakukan crossover pada kromosom tersebut. Pada saat dilakukan crossover, dilakukan pengambilan nilai acak posisi gen pada kromosom untuk menentukan gen-gen mana saja yang ditukar.dalam hal ini, terdapat dua teknik, yaitu 1-point crossover dan 2-point crossover. Pada 1-point crossover, nilai acak posisi gen yang diambil(misalkan n) hanya satu saja. Kemudian dilakukan pertukaran gen dari kromosom pertama dengan kromosom kedua, yaitu dari gen ke-1 hingga gen ke-n. Sebagai contoh, jika terdapat dua kromosom : Kemudian nilai acak(n) yang dihasilkan adalah 7, maka kromsom-kromosom hasil crossover adalah sebagai berikut : Pada 2-pointcrossover, nilai acak posisi gen yang diambil adalah dua buah (m dan n). Pertukaran gen dari kedua buah kromosom adalah dengan menukarkan gen kem hingga gen ke-n pada kedua buah kromosom tersebut. Sebagai contoh, jika terdapat dua kromosom : Dan nilai acak yang dihasilkan adalah 6 dan 15, maka kromosom-kromosom hasil crossover adalah sebagai berikut :
19 Pada mutasi, dilakukan inversi nilai bit, yaitu bit 0 ke bit 1 ataupun bit 1 ke bit 0. Untuk melakukan mutasi, perlu ditentukan konstanta p m, yaitu konstanta yang menyatakan peluang terjadinya mutasi.nilai p m biasanya diset pada sangat rendah, misalnya 0.01, sesuai pada kehidupan biologis nyata di mana sangat kecil kemungkinan terjadinya mutasi pada keadaan standar.iterasi dilakukan pada setiap gen pada setiap kromosom dan mengambil nilai acak 0 s/d 1. Jika nilai acak yang dihasilkan adalah <= p m, maka pada gen/bit tersebut dilakukan inversi, dan sebaliknya jika > p m, tidak dilakukan apa-apa. Misalkan terdapat suatu kromosom : Dilakukan iterasi pada tiap bit dan dilakukan pengambilan nilai acak 0 s/d 1 : Bit ke-1 : Bit ke-2 : Bit ke-3 : Bit ke-4 : Bit ke-5 : Bit ke-6 : Bit ke-7 : Bit ke-8 : Bit ke-9 : Bit ke-10 : Bit ke-11 : Bit ke-12 : Bit ke-13 : Bit ke-14 : Bit ke-15 : Bit ke-16 : Bit ke-17 :
20 24 Bit ke-18 : o Bit ke-19 : o Bit ke-20 : Maka kromosom hasil mutasi adalah sebagai berikut : Evaluasi Generasi Berikutnya. Pada tahap ini, dilakukan evaluasi pada keseluruhan populasi generasi yang baru, apakah sudah mencapai solusi yang diharapkan atau belum. Jika belum, maka kembali ke langkah (c) dan dilakukan berulang-ulang hingga didapatkan solusi yang diharapkan.teknik evaluasi pada tahap ini tergantung pada kasus yang dihadapi. Untuk contoh yang diberikan sebelumnya, algoritma ini akan berhenti jika pada salah satu kromosom pada populasi yang baru dapat menghasilkan nilai 100 pada persamaan tersebut. Sebagai contoh, jika pada generasi yang baru salah satu kromosom adalah (a=8, b=10, c=12, d=4, e=7). Jika dimasukkan pada persaman tersebut : * 12 4 * 7 = 100. Maka kromosom ini adalah solusi yang diharapkan, dan algoritma genetika berhenti pada tahap ini. 2.4 Fungsi Cosine Similarity Cosine similarity adalah ukuran kesamaan antara duadari vektor n dimensi dengan mencari kosinus antar dimensi. Sebagai contoh diberikan dua vektor dari atribut X dan Y, dengan similaritas θ dilambangkan dengan menggunakan titik produk dan besarnya sebagai. Pada rumus 2.1 dibawah ini diperlihatkan rumus untuk mengukur nilai similaritas cosine coefficient antar 2 dokumen. Sedang untuk himpunan dapat digunakan rumus 2.2, dimana Y X adalah jumlah kata yang muncul di dokumen X dan dokumen Y, X adalah jumlah kata yang ada di dokumen X. (Basuki, 2003) Rumus 2.1 Rumus untuk menghitung cosine coefficient
21 25 ( ) Rumus 2.2 Rumus untuk menghitung cosine coefficient dalam format himpunan ( )..2.2 X Y adalah jumlah terms yang ada di X dan Y X adalah umlah term yang ada di X 2.5 POSI Formulation Jika dalam datu database dijumpai sejumlah j dokumen/paper dimana setiap dokumen/paper memiliki kata kunci (k) terhadap I dimana I,j adalah integer, maka perhitungan untuk kemiripan antara sejumlah kata kunci (keyword) tersebut dapat dihitung dengan POSI Formulation. Misalkan dokumen/paper 1 disebut sebagai dokumen 1, paper 2 disebut sebagai dokumen 2 sampai dengan dokumen j disebut dengan dokumen j. Kromosom (kata kunci) 1 disebut dengan k 1, kromosom 2 disebut dengan K 2 dengan kromosom i disebut dengan K i Untuk menguji persentasi kemiripan antara kata kunci (keyword) terhadap dokumen dapat dihitung dengan menggunakan perhitungan Percentage of Similarity (POSI) formulation. Proses yang dilakukan adalah bahwa proses GA telah menghasilkan kata kunci solusi. Kemudian kata kunci ini akan dibandingkan dengan data yang ada pada database pada kolom judul tulisan, kata kunci keseluruhan pada tiap record, abstrak dan pada referensi. (Sihombing, 2010)
22 26 Formula yang digunakan dapat dilihat seperti pada formula 2.3 berikut ini. n k i d j 1 Sim (k,d) = (2.3) K total Dimana Sim (k,d) = Nilai Kemiripan. k i d j = jumlah masing-mading nilai kata kunci (i dan j = 0, 1,2,3,,,n, n adalah integer) K total = jumlah total dari semua kata kunci solusi yang terdiri dari judul, abstrak dan kata kunci Teks Mining Pengertian Teks Mining Teks mining, yang juga disebut sebagai Text Data Mining (TDM) atau Knowledge Discovery in Text (KDT), secara umum mengacu pada proses ekstraksi informasi dari dokumen-dokumen teks tak terstruktur (unstructured). Teks mining dapat didefinisikan sebagai penemuan informasi baru dan tidak diketahui sebelumnya oleh komputer, dengan secara otomatis mengekstrak informasi dari sumbersumber teks tak terstruktur yang berbeda. Kunci dari proses ini adalah menggabungkan informasi yang berhasil diekstraksi dari berbagai sumber (Tan,1999). Tujuan utama teks mining adalah mendukung proses knowledge discovery pada koleksi dokumen yang besar. Pada prinsipnya, teks mining adalah bidang ilmu multidisipliner, melibatkan information retrieval (IR), text analysis, information extraction (IE), clustering, categorization, visual ization, database technology, natural language processing (NLP), machine learning, dan data mining. Dapat pula dikatakan bahwa teks mining merupakan salah satu bentuk aplikasi kecerdasan buatan (artificial intelligence/ai).
23 27 Teks mining mencoba memecahkan masalah information overload dengan menggunakan teknik-teknik dari bidang ilmu yang terkait. Teks mining dapat dipandang sebagai suatu perluasan dari data mining atau knowledgediscovery in database (KDD), yang mencoba untuk menemukan pola-pola menarik dari basis data berskala besar. Namun teks mining memiliki potensi komersil yang lebih tinggi dibandingkan dengan data mining, karena kebanyakan format alami dari penyimpanan informasi adalah berupa teks. Teks mining menggunakan informasi teks tak terstruktur dan mengujinya dalam upaya mengungka dalam teks. Perbedaan mendasar antara teks mining dan data mining terletak pada sumber data yang digunakan. Pada data mining, pola diekstrak dari basis data yang terstruktur, sedangkan di teks mining, pola diekstrak dari data tekstual (natural language). Secara umum, basis data didesain untuk program dengan tujuan melakukan pemrosesan secara otomatis, sedangkan teks ditulis untuk dibaca langsung oleh manusia (Hearst, 2003) Ruang Lingkup Teks Mining Teks mining merupakan suatu proses yang melibatkan beberapa area teknologi. Namun secara umum proses-proses pada teks mining mengadopsi proses data mining. Bahkan beberapa teknik dalam proses teks mining juga menggunakan teknik-teknik data mining. Ada empat tahap proses pokok dalam teks mining, yaitu pemrosesan awal terhadap teks (text preprocessing), transformasi teks (text transformation), pemilihan fitur (feature selection), dan penemuan pola (pattern discovery). (Even, 2002). a. Text Preprocessing Tahap ini melakukan analisis semantik (kebenaran arti) dan sintaktik (kebenaran susunan) terhadap teks. Tujuan dari pemrosesan awal adalah untuk mempersiapkan teks menjadi data yang akan mengalami pengolahan lebih lanjut. Operasi yang dapat dilakukan pada tahap ini meliputi part-of-speech (PoS) tagging, menghasilkan parse tree untuk tiap-tiap kalimat, dan pembersihan teks.
24 28 b. Text Transformation Transformasi teks atau pembentukan atribut mengacu pada proses untuk mendapatkan representasi dokumen yang diharapkan. Pendekatan representasi dokumen yang lazim bag of words (vector space model). Transformasi teks sekaligus juga melakukan pengubahan kata-kata ke bentuk dasarnya dan pengurangan dimensi kata di dalam dokumen. Tindakan ini diwujudkan dengan menerapkan stemming dan menghapus stopwords. c. Feature Selection Pemilihan fitur (kata) merupakan tahap lanjut dari pengurangan dimensi pada proses transformasi teks. Walaupun tahap sebelumnya sudah melakukan penghapusan kata-kata yang tidak deskriptif (stopwords), namun tidak semua kata-kata didalam dokumen memiliki arti penting. Oleh karena itu, untuk mengurangi dimensi, pemilihan hanya dilakukan terhadap katakata yang relevan yang benar-benar merepresentasikan isi dari suatu dokumen. Ide dasar dari pemilihan fitur adalah menghapus kata-kata yang kemunculannya di suatu dokumen terlalu sedikit atau terlalu banyak. Algoritma yang digunakan pada teks mining, biasanya tidak hanya melakukan perhitungan pada dokumen saja, tetapi juga pada feature. Empat macam feature yang sering digunakan: 1. Character, merupakan komponan individual, bisa huruf, angka, karakter spesial dan spasi, merupakan block pembangun pada level paling tinggi pembentuk semantik feature, seperti kata, term dan concept. Pada umumnya, representasi character-based ini jarang digunakan pada beberapa teknik pemrosesan teks. 2. Words, merupakan gabungan dari beberapa huruf atau gabungan huruf dan angka 3. Terms, merupakan single word dan multiword phrase yang terpilih secara langsung dari corpus. Representasi term-based dari dokumen tersusun dari subset term dalam dokumen. 4. Concept, merupakan feature yang digenerate dari sebuah dokumen secara manual, rule based, atau metodologi lain. (Triawati, 2009)
25 29 d. Pattern Discovery Pattern discovery merupakan tahap penting untuk menemukan pola atau pengetahuan (knowledge) dari keseluruhan teks. Tindakan yang lazim dilakukan pada tahap ini adalah operasi teks mining, dan biasanya menggunakan teknikteknik data mining. Dalam penemuan pola ini, proses teks mining dikombinasikan dengan proses-proses data mining. Masukan awal dari proses teks mining adalah suatu data teks dan menghasilkan keluaran berupa pola sebagai hasil interpretasi atau evaluasi. Apabila hasil keluaran dari penemuan pola belum sesuai untuk aplikasi, dilanjutkan evaluasi dengan melakukan iterasi ke satu atau beberapa tahap sebelumnya. Sebaliknya, hasil interpretasi merupakan tahap akhir dari proses teks mining dan akan disajikan ke pengguna dalam bentuk visual. (Even, 2002) Ekstraksi Dokumen Teks yang akan dilakukan proses teks mining, pada umumnya memiliki beberapa karakteristik diantaranya adalah memiliki dimensi yang tinggi, terdapat noise pada data, dan terdapat struktur teks yang tidak baik. Cara yang digunakan dalam mempelajari suatu data teks, adalah dengan terlebih dahulu menentukan fitur-fitur yang mewakili setiap kata untuk setiap fitur yang ada pada dokumen. Sebelum menentukan fitur-fitur yang mewakili, diperlukan tahap preprocessing yang dilakukan secara umum dalam teks mining pada dokumen, yaitu case folding, tokenizing, filtering, stemming, tagging dan analyzing. Gambar 2.6 adalah tahap dari preprocessing: (Triawati, 2009) Gambar 2.6 Tahap Preprocessing Sumber (Triawati, 2009)
26 Case folding dan Tokenizing Case folding adalah mengubah semua huruf dalam dokumen diterima. Karakter selain huruf dihilangkan dan dianggap delimiter. Tahap tokenizing / parsing adalah tahap pemotongan string input berdasarkan tiap kata yang menyusunnya. Gambar 2.7 adalah proses tokenizing: (Triawati, 2009) Manajemen Pengetahuan adalah sebuah konsep baru di dunia bisnis Teks Input Manajemen Pengetahuan adalah sebuah konsep baru di dunia bisnis Teks Output Gambar 2.7 Proses Tokenizing Sumber (Triawati, 2009) Filtering Filtering adalah tahap mengambil kata-kata penting dari hasil token. Bisa menggunakan algoritma stoplist (membuang kata yang kurang penting) atau wordlist (menyimpan kata penting). Stoplist / stopword adalah kata-kata yang tidak deskriptif yang dapat dibuang dalam pendekatan bag of words. Contoh stopwords seterusnya. Contoh dari tahapan ini dapat dilihat pada gambar 2.8 (Triawati, 2009)
27 31 Manajemen Pengetahuan adalah sebuah konsep baru di dunia bisnis Hasil Token Manajemen Pengetahuan konsep baru dunia bisnis Hasil Filter Gambar 2.8 Proses Filtering Sumber (Triawati, 2009) 2.7. String Matching (Pencocokan String/Kata) String matching atau pencocokan string adalah suatu metode yang digunakan untuk menemukan suatu keakuratan/hasil dari satu atau beberapa pola teks yang diberikan. String matching merupakan pokok bahasan yang penting dalam ilmu komputer karena teks merupakan adalah bentuk utama dari pertukaran informasi antar manusia, misalnya pada literatur, karya ilmiah, halaman web dsb. (Hulbert- Helger,2007). String matching digunakan dalam lingkup yang bermacammacam, misalnya pada pencarian dokumen, pencocokan DNA sequences yang direpresentasikan dalam bentuk string dan juga string matching dapat dimanfaatkan untk mendeteksi adanya plagiarisme dalam karya seseorang. String-matching fokus pada pencarian satu, atau lebih umum, semua kehadiran sebuah kata (lebih umum disebut pattern) dalam sebuah teks. Semua algoritma yang akan dibahas mengeluarkan semua kehadiran pola dalam teks. Pola dinotasikan sebagai x = x[0..m-1]; m adalah panjangnya. Teks dinotasikan sebagai y = y[0..n-1]; n adalah panjangnya. Kedua string dibentuk dari set karakter yang disebut alphabet.
28 Penelitian Terdahulu Adapun penelitian yang terdahulu terkait dengan penelitian yang dikerjakan terdiri dari penelitian bidang information retrieval dalam bidang pengujian kemiripan dokumen dengan berbagai metode lainnya antara lain Pengembangan Aplikasi Pendeteksi Plagiarisme Menggunakan Metode Latent Semantic Analysis (LSA), Studi Kasus Plagiarisme Karya Ilmiah Berbahasa Indonesia. Bertujuan untuk menguji dan mendeteksi plagiat dokumen oleh Ardiansyah, Adryan Tahun Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode LSA yaitu dengan menguji dengan melakukan analisys semantic. Kemudian pada tahun 2012 penelitian tentang kemiripan dokumen yang berjudul Deteksi Kemiripan Isi Dokumen Teks Menggunakan Algoritma Levenshtein Distance. Teknik Informartika, Fakultas Sains dan Teknologi, Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim, Malang. Oleh Hendri Winoto Tahun Algoritma yang digunakan adalah Levenshtein Distance. Untuk penelitian yang lain salah mengukur kesamaan paragraph dengan vector space model yang bertujuan untuk mendeteksi kesamaan dokumen yang diteliti oleh Taufiq M. Isa, Taufik Fuadi Abidin tahun 2013 dengan judul Mengukur Tingkat Kesamaan Paragraf Menggunakan Vector Space Model untuk Mendeteksi Plagiarisme, Seminar Nasional dan ExpoTeknik Elektro, Jurusan Matematika, FMIPA, Universitas Syiah Kuala. 2.9 Kontribusi Penelitian Adapun kontribusi penelitian yang dilakukan adalah: 1. Menambah salah satu cara untuk mengukur kemiripan dokumen berbasis teks dalam sebuah pusat data yang terdiri dari dokumen jurnal dan karya ilmiah lainnya. 2. Membuat clustering dalam database server untuk mempercepat proses pengukuran kemiripan menggunakan fungsi SQL. 3. Aplikasi yang dirancang berbasis GUI yang dapat dipergunakan secara multiuser dan menyediakan fasilitas search pada database dokumen.
29 33 4. Menggunakan referensi untuk menambah kata kunci dalam melakukan kompetisi kata kunci. 5. Dokumen yang akan diuji dapat berupa karya ilmiah lainnya yang memiliki format penulisan yang sama.
BAB 2 LANDASAN TEORI. 2.1 Algoritma Genetika
6 BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1 Algoritma Genetika Algoritma genetika merupakan metode pencarian yang disesuaikan dengan proses genetika dari organisme-organisme biologi yang berdasarkan pada teori evolusi
BAB 2 LANDASAN TEORI
7 BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1 Penjadwalan Perkuliahan Penjadwalan memiliki pengertian durasi dari waktu kerja yang dibutuhkan untuk melakukan serangkaian untuk melakukan aktivitas kerja[10]. Penjadwalan juga
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Data Mining Data mining adalah istilah yang digunakan untuk menemukan pengetahuan baru yang tersembunyi di dalam penyimpanan data yang berukuran besar. Data mining merupakan
Pengantar Kecerdasan Buatan (AK045218) Algoritma Genetika
Algoritma Genetika Pendahuluan Struktur Umum Komponen Utama Seleksi Rekombinasi Mutasi Algoritma Genetika Sederhana Referensi Sri Kusumadewi bab 9 Luger & Subblefield bab 12.8 Algoritma Genetika 1/35 Pendahuluan
ALGORITMA GENETIKA. Suatu Alternatif Penyelesaian Permasalahan Searching, Optimasi dan Machine Learning
ALGORITMA GENETIKA Suatu Alternatif Penyelesaian Permasalahan Searching, Optimasi dan Machine Learning Disusun oleh: Achmad Basuki Politeknik Elektronika Negeri Surabaya, PENS ITS Surabaya 2003 Algoritma
BAB 2 DASAR TEORI. 2.1 Teka-Teki Silang
BAB 2 DASAR TEORI 2.1 Teka-Teki Silang Teka-teki silang atau disingkat TTS adalah suatu permainan yang mengharuskan penggunanya untuk mengisi ruang-ruang kosong dengan huruf-huruf yang membentuk sebuah
Analisis Operator Crossover pada Permasalahan Permainan Puzzle
Analisis Operator Crossover pada Permasalahan Permainan Puzzle Kun Siwi Trilestari [1], Ade Andri Hendriadi [2] Program Studi Teknik Informatika, Fakultas Ilmu Komputer, Universitas Singaperbanga Karawang
Sistem Temu Kembali Informasi/ Information Retrieval IRS VS SI LAIN
Sistem Temu Kembali Informasi/ Information Retrieval IRS VS SI LAIN Dokumen Penyimpanan yang Terorganisasi Database Mahasiswa Database Buku ID Nama Buku Pengarang 001 Information Retrieval Ricardo baeza
BAB 2 LANDASAN TEORI
BAB 2 LANDASAN TEORI Pada bab ini akan membahas landasan atas teori-teori yang bersifat ilmiah untuk mendukung penulisan tugas akhir ini. Teori-teori yang dibahas mengenai pengertian penjadwalan, algoritma
BAB 2 LANDASAN TEORI
BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1 Travelling Salesman Problem (TSP) Travelling Salesmen Problem (TSP) termasuk ke dalam kelas NP hard yang pada umumnya menggunakan pendekatan heuristik untuk mencari solusinya.
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Tinjauan Pustaka (Samuel, Toni & Willi 2005) dalam penelitian yang berjudul Penerapan Algoritma Genetika untuk Traveling Salesman Problem Dengan Menggunakan Metode Order Crossover
2 TINJAUAN PUSTAKA. 2.1 Peringkasan Teks
4 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Peringkasan Teks Peringkasan teks adalah proses pemampatan teks sumber ke dalam versi lebih pendek namun tetap mempertahankan informasi yang terkandung didalamnya (Barzilay & Elhadad
Genetic Algorithme. Perbedaan GA
Genetic Algorithme Algoritma ini bekerja dengan sebuah populasi yang terdiri atas individu-individu (kromosom). Individu dilambangkan dengan sebuah nilai kebugaran (fitness) yang akan digunakan untuk mencari
ERWIEN TJIPTA WIJAYA, ST.,M.KOM
ERWIEN TJIPTA WIJAYA, ST.,M.KOM DEFINISI ALGEN adalah algoritma yang memanfaatkan proses seleksi alamiah yang dikenal dengan evolusi Dalam evolusi, individu terus menerus mengalami perubahan gen untuk
PENERAPAN ALGORITMA GENETIKA PADA PERENCANAAN LINTASAN KENDARAAN Achmad Hidayatno Darjat Hendry H L T
PENERAPAN ALGORITMA GENETIKA PADA PERENCANAAN LINTASAN KENDARAAN Achmad Hidayatno Darjat Hendry H L T Abstrak : Algoritma genetika adalah algoritma pencarian heuristik yang didasarkan atas mekanisme evolusi
BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN LANDASAN TEORI
BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN LANDASAN TEORI 2.1 Tinjauan Pustaka. Penelitian serupa mengenai penjadwalan matakuliah pernah dilakukan oleh penelliti yang sebelumnya dengan metode yang berbeda-neda. Berikut
Nur Indah Pratiwi, Widodo Universitas Negeri Jakarta ABSTRAK
Klasifikasi Dokumen Karya Akhir Mahasiswa Menggunakan Naïve Bayes Classifier (NBC) Berdasarkan Abstrak Karya Akhir Di Jurusan Teknik Elektro Universitas Negeri Jakarta Nur Indah Pratiwi, Widodo Universitas
BAB II LANDASAN TEORI
BAB II LANDASAN TEORI II.1 Text Mining Text Mining merupakan penerapan konsep dan teknik data mining untuk mencari pola dalam teks, proses penganalisaan teks guna menemukan informasi yang bermanfaat untuk
PEMAMPATAN MATRIKS JARANG DENGAN METODE ALGORITMA GENETIKA MENGGUNAKAN PROGRAM PASCAL
Jurnal Matematika UNAND Vol. 3 No. 1 Hal. 98 106 ISSN : 2303 2910 c Jurusan Matematika FMIPA UNAND PEMAMPATAN MATRIKS JARANG DENGAN METODE ALGORITMA GENETIKA MENGGUNAKAN PROGRAM PASCAL YOSI PUTRI, NARWEN
BAB 2 LANDASAN TEORI
18 BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1 Pengertian Optimasi Optimasi adalah salah satu ilmu dalam matematika yang fokus untuk mendapatkan nilai minimum atau maksimum secara sistematis dari suatu fungsi, peluang maupun
OPTIMASI PENJADWALAN KEGIATAN BELAJAR MENGAJAR DENGAN ALGORITMA GENETIK
OPTIMASI PENJADWALAN KEGIATAN BELAJAR MENGAJAR DENGAN ALGORITMA GENETIK Usulan Skripsi S-1 Jurusan Matematika Diajukan oleh 1. Novandry Widyastuti M0105013 2. Astika Ratnawati M0105025 3. Rahma Nur Cahyani
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Penjadwalan Penjadwalan kegiatan belajar mengajar pada suatu lembaga pendidikan biasanya merupakan salah satu pekerjaan yang tidak mudah dan menyita waktu. Pada lembaga pendidikan
BAB II DASAR TEORI Crawler Definisi Focused Crawler dengan Algoritma Genetik [2]
BAB II DASAR TEORI Pada bab ini dibahas teori mengenai focused crawler dengan algoritma genetik, text mining, vector space model, dan generalized vector space model. 2.1. Focused Crawler 2.1.1. Definisi
Penerapan Algoritma Genetika pada Peringkasan Teks Dokumen Bahasa Indonesia
Penerapan Algoritma Genetika pada Peringkasan Teks Dokumen Bahasa Indonesia Aristoteles Jurusan Ilmu Komputer FMIPA Universitas Lampung [email protected] Abstrak.Tujuan penelitian ini adalah meringkas
Tugas Mata Kuliah E-Bisnis REVIEW TESIS
Tugas Mata Kuliah E-Bisnis REVIEW TESIS Desain Algoritma Genetika Untuk Optimasi Penjadwalan Produksi Meuble Kayu Studi Kasus Pada PT. Sinar Bakti Utama (oleh Fransiska Sidharta dibawah bimbingan Prof.Kudang
BAB 2 LANDASAN TEORI. 2.1 Algoritma
13 BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1 Algoritma Dalam matematika dan komputasi, algoritma merupakan kumpulan perintah untuk menyelesaikan suatu masalah. Perintah-perintah ini dapat diterjemahkan secara bertahap
BAB II LANDASAN TEORI
BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Klasifikasi Klasifikasi merupakan suatu pekerjaan menilai objek data untuk memasukkannya ke dalam kelas tertentu dari sejumlah kelas yang tersedia. Dalam klasifikasi ada dua pekerjaan
Lingkup Metode Optimasi
Algoritma Genetika Lingkup Metode Optimasi Analitik Linier Non Linier Single Variabel Multi Variabel Dgn Kendala Tanpa Kendala Numerik Fibonacci Evolusi Complex Combinasi Intelijen/ Evolusi Fuzzy Logic
Information Retrieval
Information Retrieval Budi Susanto Information Retrieval Information items content Feature extraction Structured Structured Document Document representation representation Retrieval model: relevance Similarity?
Algoritma Genetika dan Penerapannya dalam Mencari Akar Persamaan Polinomial
Algoritma Genetika dan Penerapannya dalam Mencari Akar Persamaan Polinomial Muhammad Abdy* 1, Maya Sari Wahyuni* 2, Nur Ilmi* 3 1,2,3 Jurusan Matematika, Universitas Negeri Makassar e-mail: * 1 [email protected],
Denny Hermawanto
Algoritma Genetika dan Contoh Aplikasinya Denny Hermawanto [email protected] http://dennyhermawanto.webhop.org Lisensi Dokumen: Seluruh dokumen di IlmuKomputer.Com dapat digunakan, dimodifikasi dan disebarkan
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA Pada bab ini akan dibahas mengenai information retrieval, similarity (kemiripan), similarity measure (ukuran kemiripan), algoritma genetika kemudian dilanjutkan dengan teknik-teknik
ALGORITMA GENETIKA Suatu Alternatif Penyelesaian Permasalahan Searching, Optimasi dan Machine Learning
ALGORITMA GENETIKA Suatu Alternatif Penyelesaian Permasalahan Searching, Optimasi dan Machine Learning Achmad Basuki Politeknik Elektronika Negeri Surabaya PENS-ITS Surabaya 2003 Algoritma Genetika Algoritma
Algoritma Evolusi Dasar-Dasar Algoritma Genetika
Algoritma Evolusi Dasar-Dasar Algoritma Genetika Imam Cholissodin [email protected] Pokok Bahasan 1. Pengantar 2. Struktur Algoritma Genetika 3. Studi Kasus: Maksimasi Fungsi Sederhana 4. Studi
BAB 2 LANDASAN TEORI
36 BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1 Pengurutan Pekerjaan (Job Sequencing) 2.1.1 Deskripsi Umum Dalam industri manufaktur, tujuan penjadwalan ialah untuk meminimasikan waktu dan biaya produksi, dengan cara mengatur
OPTIMASI QUERY DATABASE MENGGUNAKAN ALGORITMA GENETIK
Seminar Nasional Aplikasi Teknologi Informasi 2008 (SNATI 2008) ISSN 1907-5022 OPTIMASI QUERY DATABASE MENGGUNAKAN ALGORITMA GENETIK Manahan Siallagan, Mira Kania Sabariah, Malanita Sontya Jurusan Teknik
BAB II LANDASAN TEORI
BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Klasifikasi Klasifikasi merupakan suatu pekerjaan menilai objek data untuk memasukkannya ke dalam kelas tertentu dari sejumlah kelas yang tersedia. Dalam klasifikasi ada dua pekerjaan
BAB II LANDASAN TEORI
BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Data Mining Data Mining adalah proses yang mempekerjakan satu atau lebih teknik pembelajaran komputer (machine learning) untuk menganalisis dan mengekstraksi pengetahuan (knowledge)
BAB II LANDASAN TEORI. Tahun 2001 pemilik CV. Tunas Jaya membuka usaha di bidang penjualan dan
BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Sejarah Perusahaan Tahun 2001 pemilik CV. Tunas Jaya membuka usaha di bidang penjualan dan pengadaan suku cadang computer. Dalam bidang tersebut diharuskan berbadan hukum PD,
Pendekatan Algoritma Genetika pada Peminimalan Fungsi Ackley menggunakan Representasi Biner
Vol. 7, 2, 108-117, Januari 2011 Pendekatan Algoritma Genetika pada Peminimalan Fungsi Ackley menggunakan Representasi Biner Jusmawati Massalesse Abstrak Tulisan ini dimaksudkan untuk memperlihatkan proses
BAB 3 ANALISIS DAN PERANCANGAN APLIKASI
27 BAB 3 ANALISIS DAN PERANCANGAN APLIKASI 3.1 Analisis Pada subbab ini akan diuraikan tentang analisis kebutuhan untuk menyelesaikan masalah jalur terpendek yang dirancang dengan menggunakan algoritma
BAB II LANDASAN TEORI
17 BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Algoritma Dalam matematika dan komputasi, algoritma merupakan kumpulan perintah untuk menyelesaikan suatu masalah. Perintah-perintah ini dapat diterjemahkan secara bertahap
BAB II LANDASAN TEORI. Suatu graph merupakan suatu pasangan { E(G), V(G) } dimana :
BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Defenisi Graph Suatu graph merupakan suatu pasangan { E(G), V(G) } dimana : V(G) adalah sebuah himpunan terhingga yang tidak kosong ( non empty finite set) yang elemennya disebut
Implementasi Algoritma Genetika dalam Pembuatan Jadwal Kuliah
Implementasi Algoritma Genetika dalam Pembuatan Jadwal Kuliah Leonard Tambunan AMIK Mitra Gama Jl. Kayangan No. 99, Duri-Riau e-mail : [email protected] Abstrak Pada saat ini proses penjadwalan kuliah
BAB 3 PERANCANGAN 3.1 GAMBARAN UMUM PROSES SEGMENTASI DOKUMEN
28 BAB 3 PERANCANGAN Pada bab ini akan dijelaskan mengenai rancangan percobaan pada penelitian segmentasi dokumen ini. Pembahasan akan dimulai dengan penjelasan mengenai gambaran umum proses segmentasi
BAB I PENDAHULUAN. kehidupan sehari-hari dan juga merupakan disiplin ilmu yang berdiri sendiri serta
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Matematika adalah cabang ilmu pengetahuan yang dapat digunakan dalam kehidupan sehari-hari dan juga merupakan disiplin ilmu yang berdiri sendiri serta tidak merupakan
PENENTUAN JARAK TERPENDEK PADA JALUR DISTRIBUSI BARANG DI PULAU JAWA DENGAN MENGGUNAKAN ALGORITMA GENETIKA. Abstraksi
PENENTUAN JARAK TERPENDEK PADA JALUR DISTRIBUSI BARANG DI PULAU JAWA DENGAN MENGGUNAKAN ALGORITMA GENETIKA I Dewa Made Adi Baskara Joni 1, Vivine Nurcahyawati 2 1 STMIK STIKOM Indonesia, 2 STMIK STIKOM
BAB III METODOLOGI PENELITIAN
BAB III METODOLOGI PENELITIAN Metodologi penelitian merupakan rangkaian dari langkah-langkah yang diterapkan dalam penelitian, secara umum dan khusus langkah-langkah tersebut tertera pada Gambar flowchart
PENGEMBANGAN APLIKASI PENJADWALAN KULIAH SEMESTER I MENGGUNAKAN ALGORITMA GENETIKA
PENGEMBANGAN APLIKASI PENJADWALAN KULIAH SEMESTER I MENGGUNAKAN ALGORITMA GENETIKA Bagus Priambodo Program Studi Sistem Informasi Fakultas Ilmu Komputer Universitas Mercu Buana e- mail : [email protected]
Text Pre-Processing. M. Ali Fauzi
Text Pre-Processing M. Ali Fauzi Latar Belakang Latar Belakang Dokumen-dokumen yang ada kebanyakan tidak memiliki struktur yang pasti sehingga informasi di dalamnya tidak bisa diekstrak secara langsung.
APLIKASI ALGORITMA GENETIKA UNTUK PENENTUAN TATA LETAK MESIN
APLIKASI ALGORITMA GENETIKA UNTUK PENENTUAN TATA LETAK MESIN Hari Purnomo, Sri Kusumadewi Teknik Industri, Teknik Informatika Universitas Islam Indonesia Jl. Kaliurang Km 4,5 Yogyakarta [email protected],
Bab II Konsep Algoritma Genetik
Bab II Konsep Algoritma Genetik II. Algoritma Genetik Metoda algoritma genetik adalah salah satu teknik optimasi global yang diinspirasikan oleh proses seleksi alam untuk menghasilkan individu atau solusi
BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Semakin canggihnya teknologi di bidang komputasi dan telekomunikasi pada masa kini, membuat informasi dapat dengan mudah didapatkan oleh banyak orang. Kemudahan ini
KNAPSACK PROBLEM DENGAN ALGORITMA GENETIKA
LAPORAN TUGAS BESAR ARTIFICIAL INTELLEGENCE KNAPSACK PROBLEM DENGAN ALGORITMA GENETIKA Disusun Oleh : Bayu Kusumo Hapsoro (113050220) Barkah Nur Anita (113050228) Radityo Basith (113050252) Ilmi Hayyu
Tugas Makalah. Sistem Temu Kembali Informasi (STKI) TI Implementasi Metode Generalized Vector Space Model Pada Information Retrieval System
Tugas Makalah Sistem Temu Kembali Informasi (STKI) TI029306 Implementasi Metode Generalized Vector Space Model Pada Information Retrieval System Oleh : I PUTU ANDREAS WARANU 1204505042 Dosen : I Putu Agus
BAB II LANDASAN TEORI
27 BAB II LANDASAN TEORI 2.1. Penelitian Terkait Penelitian terkait yang menggunakan algoritma genetika untuk menemukan solusi dalam menyelesaikan permasalahan penjadwalan kuliah telah banyak dilakukan.
TEKNIK VECTOR SPACE MODEL (VSM) DALAM PENENTUAN PENANGANAN DAMPAK GAME ONLINE PADA ANAK
F.13 TEKNIK VECTOR SPACE MODEL (VSM) DALAM PENENTUAN PENANGANAN DAMPAK GAME ONLINE PADA ANAK Bania Amburika 1*,Yulison Herry Chrisnanto 1, Wisnu Uriawan 2 1 Jurusan Informatika, Fakultas MIPA, Universitas
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Fuzzy Local Binary Pattern (FLBP) Fuzzifikasi pada pendekatan LBP meliputi transformasi variabel input menjadi variabel fuzzy, berdasarkan pada sekumpulan fuzzy rule. Dalam
PERANCANGAN ALGORITMA GENETIKA DALAM PENYUSUNAN TEKA-TEKI SILANG
PERANCANGAN ALGORITMA GENETIKA DALAM PENYUSUNAN TEKA-TEKI SILANG Afen Prana Utama 1, Edison Sinaga 1 D-3 Manajemen Informatika - STMIK Mikroskil Medan [email protected] Abstrak Teka-teki silang merupakan
PERFORMANCE ALGORITMA GENETIKA (GA) PADA PENJADWALAN MATA PELAJARAN
PERFORMANCE ALGORITMA GENETIKA (GA) PADA PENJADWALAN MATA PELAJARAN Eva Desiana, M.Kom Pascasarjana Teknik Informatika Universitas Sumatera Utara, SMP Negeri 5 Pematangsianta Jl. Universitas Medan, Jl.
Algoritma Evolusi Real-Coded GA (RCGA)
Algoritma Evolusi Real-Coded GA (RCGA) Imam Cholissodin [email protected] Pokok Bahasan 1. Siklus RCGA 2. Alternatif Operator Reproduksi pada Pengkodean Real 3. Alternatif Operator Seleksi 4.
BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pada awal diciptakan, komputer hanya difungsikan sebagai alat hitung saja. Namun seiring dengan perkembangan zaman, maka peran komputer semakin mendominasi kehidupan.
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Penelitian Terkait 2.1.1. Implementasi Opinion Mining Pernah dilakukan penelitian tentang opinion mining membahas tentang ekstraksi data opini publik pada perguruan tinggi.
Tugas Makalah. Sistem Temu Kembali Informasi (STKI) TI Implementasi Metode Generalized Vector Space Model Pada Information Retrieval System
Tugas Makalah Sistem Temu Kembali Informasi (STKI) TI029306 Implementasi Metode Generalized Vector Space Model Pada Information Retrieval System Oleh : I PUTU ANDREAS WARANU 1204505042 Dosen : I Putu Agus
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Sistem Rekomendasi Sistem rekomendasi adalah sebuah sistem yang dibangun untuk mengusulkan informasi dan menyediakan fasilitas yang diinginkan pengguna dalam membuat suatu keputusan
Sistem Temu Kembali Informasi pada Dokumen Teks Menggunakan Metode Term Frequency Inverse Document Frequency (TF-IDF)
Sistem Temu Kembali Informasi pada Dokumen Teks Menggunakan Metode Term Frequency Inverse Document Frequency (TF-IDF) 1 Dhony Syafe i Harjanto, 2 Sukmawati Nur Endah, dan 2 Nurdin Bahtiar 1 Jurusan Matematika,
DETEKSI MAHASISWA BERPRESTASI DAN BERMASALAH DENGAN METODE K- MEANS KLASTERING YANG DIOPTIMASI DENGAN ALGORITMA GENETIKA
DETEKSI MAHASISWA BERPRESTASI DAN BERMASALAH DENGAN METODE K- MEANS KLASTERING YANG DIOPTIMASI DENGAN ALGORITMA GENETIKA Akmal Hidayat 1) & Entin Martiana 2) 1) Teknik Elektro Politeknik Bengkalis Jl.
BAB II LANDASAN TEORI
BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Algoritma Genetika Algoritma Genetika merupakan suatu algoritma yang terinspirasi dari teori evolusi Darwin yang menyatakan bahwa kelangsungan hidup suatu makhluk dipengaruhi
BAB II LANDASAN TEORI
BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Penjadwalan Penjadwalan adalah penempatan sumber daya (resource) dalam satu waktu. Penjadwalan mata kuliah merupakan persoalan penjadwalan yang umum dan sulit dimana tujuannya
BAB III. Metode Penelitian
BAB III Metode Penelitian 3.1 Diagram Alir Penelitian Secara umum diagram alir algoritma genetika dalam penelitian ini terlihat pada Gambar 3.1. pada Algoritma genetik memberikan suatu pilihan bagi penentuan
PERBANDINGAN ALGORITMA EXHAUSTIVE, ALGORITMA GENETIKA DAN ALGORITMA JARINGAN SYARAF TIRUAN HOPFIELD UNTUK PENCARIAN RUTE TERPENDEK
PERBANDINGAN ALGORITMA EXHAUSTIVE, ALGORITMA GENETIKA DAN ALGORITMA JARINGAN SYARAF TIRUAN HOPFIELD UNTUK PENCARIAN RUTE TERPENDEK Rudy Adipranata 1) Felicia Soedjianto 2) Wahyudi Tjondro Teknik Informatika,
Perbandingan Algoritma Exhaustive, Algoritma Genetika Dan Algoritma Jaringan Syaraf Tiruan Hopfield Untuk Pencarian Rute Terpendek
Perbandingan Algoritma Exhaustive, Algoritma Genetika Dan Algoritma Jaringan Syaraf Tiruan Hopfield Untuk Pencarian Rute Terpendek Rudy Adipranata 1, Felicia Soedjianto 2, Wahyudi Tjondro Teknik Informatika,
PENGENALAN ALGORITMA GENETIK
PENGENALAN ALGORITMA GENETIK Aries Syamsuddin [email protected] Lisensi Dokumen: Seluruh dokumen di IlmuKomputer.Com dapat digunakan, dimodifikasi dan disebarkan secara bebas untuk tujuan bukan komersial
Aplikasi Algoritma Genetika Untuk Menyelesaikan Travelling Salesman Problem (TSP)
JTRISTE, Vol.1, No.2, Oktober 2014, pp. 50~57 ISSN: 2355-3677 Aplikasi Algoritma Genetika Untuk Menyelesaikan Travelling Salesman Problem (TSP) STMIK Handayani Makassar [email protected] Abstrak
PENDAHULUAN. Latar Belakang
Latar Belakang PENDAHULUAN Pada saat sekarang ini, setiap perusahaan yang ingin tetap bertahan dalam persaingan dengan perusahaan lainnya, harus bisa membuat semua lini proses bisnis perusahaan tersebut
BAB 2 LANDASAN TEORI
BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1 Text Mining Text mining, yang juga disebut sebagai Teks Data Mining (TDM) atau Knowledge Discovery in Text (KDT), secara umum mengacu pada proses ekstraksi informasi dari dokumen-dokumen
Zbigniew M., Genetic Alg. + Data Structures = Evolution Program, Springler-verlag.
Zbigniew M., Genetic Alg. + Data Structures = Evolution Program, Springler-verlag. 12/11/2009 1 Ditemukan oleh Holland pada tahun 1975. Didasari oleh fenomena evolusi darwin. 4 kondisi yg mempengaruhi
BAB 1 PENDAHULUAN. seluruh dunia menjadi sebuah fenomena yang sangat mengejutkan dalam satu abad
1 BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Perkembangan komputer di dalam lingkungan kehidupan masyarakat di seluruh dunia menjadi sebuah fenomena yang sangat mengejutkan dalam satu abad terakhir ini. Hal
PERANCANGAN ALGORITMA GENETIKA UNTUK MENENTUKAN JALUR TERPENDEK. Kata kunci: Algoritma Genetika, Shortest Path Problem, Jalur Terpendek
PERANCANGAN ALGORITMA GENETIKA UNTUK MENENTUKAN JALUR TERPENDEK Fajar Saptono 1, Taufiq Hidayat 2 Laboratorium Pemrograman dan Informatika Teori Jurusan Teknik Informatika, Fakultas Teknologi Industri,
Keywords Algoritma, Genetika, Penjadwalan I. PENDAHULUAN
Optimasi Penjadwalan Mata Kuliah Dengan Algoritma Genetika Andysah Putera Utama Siahaan Universitas Pembangunan Pancabudi Jl. Gatot Subroto Km. 4,5, Medan, Sumatra Utara, Indonesia [email protected]
Optimasi Metode Fuzzy Dengan Algoritma Genetika Pada Kontrol Motor Induksi
Optimasi Metode Fuzzy Dengan Algoritma Genetika Pada Kontrol Motor Induksi Rahman Aulia Universitas Sumatera Utara Pasca sarjana Fakultas Ilmu Komputer Medan, Indonesia [email protected] Abstract
BAB II LANDASAN TEORI
BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Travelling Salesman Problem (TSP) Persoalan TSP merupakan salah satu persoalan optimasi kombinatorial (kombinasi permasalahan). Banyak permasalahan yang dapat direpresentasikan
Optimasi Penjadwalan Ujian Menggunakan Algoritma Genetika
Optimasi Penjadwalan Ujian Menggunakan Algoritma Genetika Nia Kurnia Mawaddah Wayan Firdaus Mahmudy, ([email protected]) Jurusan Matematika, FMIPA Universitas Brawijaya, Malang 65145 Abstrak Penjadwalan
BAB II KAJIAN PUSTAKA. Pada bab kajian pustaka berikut ini akan dibahas beberapa materi yang meliputi
BAB II KAJIAN PUSTAKA Pada bab kajian pustaka berikut ini akan dibahas beberapa materi yang meliputi graf, permasalahan optimasi, model matematika dari objek wisata di Yogyakarta, dan algoritma genetika
APLIKASI ALGORITMA GENETIKA DALAM PENENTUAN DOSEN PEMBIMBING SEMINAR HASIL PENELITIAN DAN DOSEN PENGUJI SKRIPSI
Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Terapannya 2016 p-issn : 2550-0384; e-issn : 2550-0392 APLIKASI ALGORITMA GENETIKA DALAM PENENTUAN DOSEN PEMBIMBING SEMINAR HASIL PENELITIAN DAN DOSEN PENGUJI
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Konsep Dasar Sistem dan Informasi 2.1.1 Sistem Menurut Sutabri (2004), bahwa sistem adalah sekelompok unsur yang erat hubungannya satu dengan yang lainnya berfungsi untuk mencapai
PENERAPAN ALGORITMA GENETIKA UNTUK TRAVELING SALESMAN PROBLEM DENGAN MENGGUNAKAN METODE ORDER CROSSOVER DAN INSERTION MUTATION
PENERAPAN ALGORITMA GENETIKA UNTUK TRAVELING SALESMAN PROBLEM DENGAN MENGGUNAKAN METODE ORDER CROSSOVER DAN INSERTION MUTATION Samuel Lukas 1, Toni Anwar 1, Willi Yuliani 2 1) Dosen Teknik Informatika,
BAB II LANDASAN TEORI
BAB II LANDASAN TEORI 1 Klasifikasi Klasifikasi merupakan suatu pekerjaan menilai objek data untuk memasukkannya ke dalam kelas tertentu dari sejumlah kelas yang tersedia. Dalam klasifikasi ada dua pekerjaan
SISTEM PENCARIAN SKRIPSI BERBASIS INFORMATION RETRIEVAL DI FASTIKOM UNSIQ
SISTEM PENCARIAN SKRIPSI BERBASIS INFORMATION RETRIEVAL DI FASTIKOM UNSIQ Nur Hasanah a a Fakultas Teknik dan Ilmu Komputer Universtas Sains Al Qur an a E-mail: [email protected] INFO ARTIKEL Riwayat
PENCOCOKAN KATA SECARA ACAK DENGAN METODE ALGORITMA GENETIKA MENGGUNAKAN PROGRAM PASCAL
Jurnal Matematika UNAND Vol. 2 No. 2 Hal. 1 9 ISSN : 2303 2910 c Jurusan Matematika FMIPA UNAND PENCOCOKAN KATA SECARA ACAK DENGAN METODE ALGORITMA GENETIKA MENGGUNAKAN PROGRAM PASCAL MULIA AFRIANI KARTIKA
PENYELESAIAN MINIMUM SPANNING TREE (MST) PADA GRAF LENGKAP DENGAN ALGORITMA GENETIKA MENGGUNAKAN TEKNIK PRUFER SEQUENCES
J~ICON, Vol. 2 No. 2, Oktober 2014, pp. 84 ~ 91 84 PENYELESAIAN MINIMUM SPANNING TREE (MST) PADA GRAF LENGKAP DENGAN ALGORITMA GENETIKA MENGGUNAKAN TEKNIK PRUFER SEQUENCES Emsi M. Y. Monifani 1, Adriana
ANALISA KOMPETENSI DOSEN DALAM PENENTUAN MATAKULIAH YANG DIAMPU MENGGUNAKAN METODE CF-IDF A B S T R A K
ANALISA KOMPETENSI DOSEN DALAM PENENTUAN MATAKULIAH YANG DIAMPU MENGGUNAKAN METODE CF-IDF Oleh : Tacbir Hendro Pudjiantoro A B S T R A K Kompetensi dosen adalah salah satu bagian yang utama dalam penunjukan
Pendeteksi Kemiripan Dokumen (PKD) Menggunakan POSI (Percentage OF Similarity) Dengan Algoritma Genetika
Pendeteksi Kemiripan Dokumen (PKD) Menggunakan (Percentage OF Similarity) Poltak Sihombing Jurusan I l mu Ko mp ut er FMIP A USU, Medan email: [email protected] Abstrak Dalam paper ini, penulis mengembangkan
Implementasi Algoritma Term Frequency Inverse Document Frequency dan Vector Space Model untuk Klasifikasi Dokumen Naskah Dinas
Implementasi Algoritma Term Frequency Inverse Document Frequency dan Vector Space Model untuk Klasifikasi Dokumen Naskah Dinas A. Achmad 1, A. A. Ilham 2, Herman 3 1 Program Studi Teknik Elektro, Jurusan
BAB I PENDAHULUAN. wisata budaya, wisata belanja, hingga wisata Alam. Untuk menarik minat
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Objek pariwisata di Yogyakarta sudah semakin beragam mulai dari wisata budaya, wisata belanja, hingga wisata Alam. Untuk menarik minat wisatawan dapat dibuat
BAB I PENDAHULUAN. Informasi yang terdapat dalam Laporan Hasil Pemeriksaan (LHP) BPK RI
BAB I PENDAHULUAN I.1 Latar Belakang Informasi yang terdapat dalam Laporan Hasil Pemeriksaan (LHP) BPK RI saat ini belum di-manaje dengan baik secara digital. Informasi yang terdapat dalam LHP yang terdapat
BAB II KAJIAN TEORI. memindahkan barang dari pihak supplier kepada pihak pelanggan dalam suatu supply
BAB II KAJIAN TEORI Berikut diberikan beberapa teori pendukung untuk pembahasan selanjutnya. 2.1. Distribusi Menurut Chopra dan Meindl (2010:86), distribusi adalah suatu kegiatan untuk memindahkan barang
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Algoritma Genetika Algoritma genetika merupakan algoritma pencarian heuristik ysng didasarkan atas mekanisme seleksi alami dan genetika alami (Suyanto, 2014). Adapun konsep dasar
