BAB 3 LANDASAN TEORI
|
|
|
- Bambang Agusalim
- 9 tahun lalu
- Tontonan:
Transkripsi
1 BAB 3 LANDASAN TEORI 3.1. Pengertian Kualitas Pengertian kualitas telah didefinisikan dengan cara yang berbeda oleh penulis yang berbeda-beda pula. Quality Control sendiri sudah diaplikasikan oleh berbagai bangsa sejak zaman Mesir kuno saat mereka membangun piramida yang sedemikian presisi sampai zaman modern di mana kualitas diterapkan dan diperhitungkan secara luas hampir di setiap bidang kehidupan. Kualitas tidak hanya diterapkan pada bidang industri untuk menciptakan produk bernilai ekonomi namun juga menyentuh produk non profit yang menjamin kenyamanan dan keamanan pemakainya. Joseph M. Juran (1962) memberikan masukan cara berpikir universal mengenai kualitas yang dia sebut dengan Quality Trilogy yaitu Quality Planning, Quality Control, dan Quality Improvement. Kualitas didefinisikan sebagai Kesesuaian suatu produk dengan kegunaannya. Filosofi kualitas yang diterapkan W. Edwards Deming (Mitra, 1998) adalah kualitas yang berfokus dalam manajemen. Dalam pandangan Deming, pekerja, pihak manajemen, vendor, dan investor merupakan sebuah tim. Tanpa adanya komitmen manajemen yang kuat, penerapan maupun adopsi dari total quality systems tidak akan berhasil. Deming merumuskan 14 poin manajemen yang memberikan masukan yang penting terhadap sistem manajemen kualitas. Dengan kata lain, kualitas produk 15
2 menurut Deming adalah refleksi dari kualitas proses yang terjadi selama produk dibuat. Philip B. Crosby (1979) merumuskan: Kualitas adalah kesesuaian dengan permintaan. Permintaan di sini mengacu pada kebutuhan konsumen. Standar performasi Crosby yang mengacu pada zero defect menunjukkan bahwa kesesuaian terhadap permintaan harus dilakukan setiap saat. Feigenbaum (1991) mendefinisikan kualitas sebagai keseluruhan karakteristik produk dan jasa yang meliputi marketing, engineering, manufacturing, dan maintenance di mana produk tersebut dalam pemakaiannya akan sesuai dengan kebutuhan dan harapan pelanggan. Perpaduan filosofi kualitas ini percaya bahwa kualitas mengharapkan proses improvisasi yang terus menerus. Improvisasi dalam kualitas menuntut adanya sumber daya manusia yang mengerti dan berkompeten dalam aspek teknis kualitas (Mitra, 1998) Quality Improvement Pada saat ini banyak terdapat metode dan tools pendukung Quality Improvement. Berbagai hal tersebut digunakan sesuai dengan permasalahan. Quality Improvement tidak lepas dari Quality Control, sebagai acuan dalam melakukan perbaikan, yang berupa data-data atau perhitungan dan analisis mengenai suatu keadaan (cacat). Tindakan perbaikan pun setelahnya membutuhkan Quality Control untuk memastikan perbaikan mendapatkan hasil yang optimal. Continuous Improvement adalah usaha untuk melakukan perbaikan produk, servis, atau proses 16
3 produksi. Perbaikan tersebut dilakukan dengan dasar meningkatkan efektifitas dan efisiensi dalam suatu produksi. Langkah Continuous Improvement dilakukan terus-menerus atau berulang-ulang, sehingga sekecil apapun perbaikan yang dilakukan tidak boleh diabaikan Six Sigma DMAIC Sejarah Six Sigma Six sigma di mulai oleh Motorola ditahun 1980-an dimotori oleh salah seorang engineer disana bernama Bill Smith atas dukungan penuh CEO-nya Bob Galvin. Motorola menggunakan statistics tools diramu dengan ilmu manajemen menggunakan financial metrics (yaitu return on investment, ROI) sebagai salah satu alat ukur dari quality improvement process. Dalam perkembangannya, 6σ bukan hanya sebuah metric, namun telah berkembang menjadi sebuah metodologi dan bahkan strategi bisnis. Konsep ini kemudian dikembangkan lebih lanjut oleh Dr.Mike Harry dan Richard Schroeder yang lebih lanjut membuat metode ini mendapat sambutan luas dari petinggi Motorola dan perusahaan lain. Dalam perjalanan waktu, General Electric (GE) mempopulerkan Six Sigma sebagai suatu trend dan membuat perusahaan lain serta orang berlomba-lomba mencari tahu apa itu Six Sigma serta mencoba mengimplementasikannya di tempat kerja masing-masing. Dalam hal ini, peran CEO (waktu itu) Jack Welch boleh dibilang sangat penting menggingat dia orang yang menjadikan Six Sigma sebagai tulang punggung semua proses GE (Manggala, 2003). 17
4 3.3.2 Pengertian Six Sigma Six Sigma merupakan strategi bisnis yang berupaya mengidentifikasi dan menghilangkan penyebab-penyebab kesalahan atau produk cacat, atau kegagalankegagalan di dalam proses bisnis dengan berfokus pada keluaran yang kritis bagi pelanggan. Six Sigma juga merupakan suatu ukuran kualitas yang berupaya mengurangi cacat produk dengan menerapkan metode-metode statistik, dimana cacat di sini dimaksudkan sebagai hal apapun yang menyebabkan terjadinya ketidak-puasan pelanggan (Antony dan Snee, 2004, dalam Chodariyanti, 2009). Pada bagian lain, (Hensley dan Dobie, 2005, dalam Chodariyanti, 2009) menyatakan bahwa Six Sigma membantu memperbaiki proses bisnis dengan mengurangi pemborosan, dengan mengurangi biaya-biaya yang diakibatkan oleh rendahnya kualitas yang dihasilkan, dan dengan meningkatkan level efisiensi dan efektifitas dari proses tersebut. Fokus utama dari Six Sigma adalah upaya pengurangan potensi variabilitas dari proses dan produk yang ada dengan menggunakan metodologi perbaikan terus-menerus maupun pendekatan desain ulang yang dikenal sebagai design for six sigma (DFSS) (Banuelas dan Antony, 2004, dalam Chodariyanti, 2009). Six Sigma merupakan konsep statistik yang mengukur suatu proses yang berkaitan dengan cacat atau kerusakan. Mencapai 6 (enam) sigma berarti bahwa suatu proses menghasilkan hanya 3,4 cacat per sejuta peluang. Six Sigma juga diartikan sebagai sistem dari manajemen yang berfokus untuk menghapus cacat dengan cara menekankan pemahaman, pengukuran, dan perbaikan proses (Gupta, 2005). 18
5 Perusahaan Motorola mendefinisikan Six Sigma sebagai suatu metode atau teknik pengendalian dan perbaikan kualitas secara dramatik yang merupakan terobosan baru dalam bidang manajemen kualitas. (Gaspersz, 2001) Konsep Six Sigma Ide dasar dari prinsip-prinsip Six Sigma memang diambil dari 3 sigma statistical quality control, tetapi implementasinya berbeda sama sekali. Six Sigma lebih menekankan penggunaan DPMO (defect per million opportunity). DPMO lebih baik tidak diartikan sebagai angka yang menunjukkan berapa banyak cacat atau kegagalan yang terjadi tiap satu juta produksi, tetapi iinterpretasikan sebagai berikut: dalam satu unit produk tunggal terdapat kesempatan untuk gagal dari suatu karakteristik CTQ (critical to quality) adalah hanya 3,4 kegagalan per satu juta kesempatan. Pada dasarnya pelanggan akan puas apabila produk diproses pada tingkat kinerja kualitas six sigma, yaitu sebesar 3,4 kegagalan per sejuta kesempatan (DPMO) atau bahwa 99,99966 persen dari apa yang diharapkan terdapat dalam produk itu. Dengan demikian six sigma dapat dijadikan ukuran target kinerja proses produksi tentang bagaimana baiknya suatu proses transaksi produk antara industri dan pelanggan. Semakin tinggi target sigma yang dicapai, semakin baik kinerja proses industri. Pendekatan pengendalian proses six sigma mengizinkan adanya pergeseran nilai rata-rata (mean) setiap CTQ individual dari proses industri terhadap nilai spesifikasi target (T) sebesar ±1,5 sigma, 19
6 sehingga akan menghasilkan 3,4 DPMO. Nilai pergeseran 1,5 sigma ini diperoleh dari hasil penelitian Motorola atas proses dan sistem industri, dimana menurut hasil penelitian bahwa sebagus-bagusnya suatu proses industri (khususnya mass production) tidak akan 100 persen berada pada satu titik nilai target, tapi akan ada pergeseran rata-rata 1,5 sigma dari nilai tersebut. Adapun konsep dari six sigma dengan pergeseran 1,5 sigma disajikan pada gambar berikut ini. Gambar 3.1. Kurva Normal 6σ (Forrest, 2008) Ada banyak kontroversi di sekitar penurunan angka Six Sigma menjadi 3.4 DPMO (Defects Per Million Opportunities). Namun bagi kita, yang penting intinya adalah Six Sigma sebagai metrics merupakan sebuah referensi untuk mencapai suatu keadaan yang nyaris bebas cacat. Six Sigma menekankan penghilangan kesalahan, meminimalisir waste, dan meminimalisir pengerjaan kembali barang yang cacat (rework). Dengan demikian, biaya yang semula digunakan untuk hal-hal tersebut dapat dikurangi sehingga keuntungan yang diperoleh perusahaan akan meningkat. 20
7 Sigma merupakan simbol dari standar deviasi yang lazim kita temui dalam ilmu matematika dan statistika. Dengan demikian, konsep ini mengukur besar penyimpangan yang terjadi dari proses yang dilakukan. Makin tinggi nilai sigma (makin rendah nilai DPMO) yang diperoleh maka makin baik proses yang dilakukan perusahaan. Pada Tabel 3.1. berisi perbandingan antara nilai DPMO dengan level sigma yang sudah diperlakukan shift 1,5σ. Tabel 3.1. Pencapaian Tingkat Sigma (Gaspersz,2001) Sigma Level DPMO Keterangan 1σ sangat tidak kompetitif 2σ rata-rata industri di Indonesia 3σ σ rata-rata industri USA 5σ 233 rata-rata industri Jepang 6σ 3,4 industri kelas dunia Metodologi Six Sigma Secara umum Six Sigma memiliki metodologi yang sering digunakan, yaitu Define-Measure-Analyze-Improve- Control (Gupta, 2005). a. Define, yaitu langkah awal yang menjelaskan atau mendefinisikan permasalahan yang akan diteliti. Sumber permasalahan bisa berupa permintaan dari perusahaan (by request) atau berupa data-data yang ada atau yang dikumpulkan. Pada tahap ini menentukan jenis cacat (defect) yang paling berpengaruh. b. Measure, yaitu langkah pengukuran. Pengukuran dilakukan sebagai acuan untuk langkah analisis di tahap selanjutnya. Pengukuran dilakukan terhadap 21
8 data atas permasalahan yang dipilih pada tahap Define. Pengukuran yang dilakukan adalah kapabilitas proses (yield) dan level sigma. Langkah awal adalah menghitung DPU (total jumlah cacat yang dihasilkan selama proses dibagi jumlah total unit yang diproses). DPU digunakan untuk mencari DPMO dan Yield. dpu dpmo opportunity (1) Y (dpu) e (2) Nilai Yield tersebut digunakan untuk mencari nilai Z inv yang merupakan invers dari Yield. Perhitungan menggunakan bantuan Minitab. Z inv inv(y ) (3) Setelah mengetahui nilai Z inv lalu menghitung nilai sigma dengan rumus sebagai berikut. Z Z inv 1,5σ (4) c. Analyze, yaitu langkah analisis untuk mencari akar penyebab terjadinya cacat, dengan bantuan diagram sebab-akibat (Fishbone Diagram). Diagram tersebut dilakukan dengan cara brainstorming dengan pekerja, membangkitkan alternatif-alternatif penyebab, lalu kemudian menentukan akar penyebab yang dianggap paling berpengaruh atau yang dapat dilakukan perbaikan terlebih dahulu. d. Improve, adalah langkah melakukan tindakan atau usulan perbaikan terhadap permasalahan tersebut. Tujuan dari langkah ini adalah mengoptimalkan proses produksi, yang ditandai dengan menurunnya tingkat 22
9 terjadinya cacat produksi. Pada tahap ini tindakan perbaikan menggunakan tools yang sesuai. e. Control, yaitu tindakan untuk memastikan bahwa tindakan perbaikan yang dilakukan memperoleh hasil yang bagus atau tidak. Dengan Quality Control akan memberikan data-data baru, untuk kemudian dianalisis. Dengan demikian siklus DMAIC terus dilakukan dalam langkah continuous improvement Keunggulan Six Sigma Terdapat beberapa alasan bahwa Six Sigma dipandang lebih baik dari pada program perbaikan kualitas sebelumnya (Antony, 2004, dalam Chodariyanti, 2009): a. Strategi six sigma memiliki fokus yang jelas pada upaya pencapaian pada lini dasar suatu organisasi yang terukur dan dapat dikuantifikasikan. Tidak ada satupun proyek six sigma yang disetujui tanpa mengidentifikasi dan mendefinisikan lini dasar. b. Strategi six sigma menekankan nilai penting dari kepemimpinan yang kuat dan dukungan yang diperlukan untuk kesuksesan penjabarannya, jauh melebihi penekanan yang diberikan oleh upaya perbaikan kualitas yang lain sebelumnya. c. Metodologi pemecahan masalah dari six sigma mengintegrasikan elemen manusia (perubahan budaya, fokus pada pelanggan, sarana dan prasarana belt system, dan lain-lain) serta elemen proses (manajemen proses, analisis statistik tehadap data proses, analisis sistem pengukuran, dan lain-lain). d. Metodologi six sigma menggunakan tools atau teknik pemecahan masalah di dalam proses penelitian secara 23
10 berurutan dan teratur. Masing-masing tools di dalam metodologi six sigma memiliki suatu peranan yang harus dijalankan, maka ketepatan dari penggunaan tools membuat perbedaan sukses atau tidaknya proyek. e. Six sigma menciptakan suatu sarana dan prasarana dari champion, master black belt, black belt, green belt yang mengarahkan, menjabarkan, dan menerapkan pendekatan tersebut. f. Six sigma menekankan nilai penting data dan proses pengambilan keputusan yang pelaksanaanya lebih didasarkan pada fakta dan data dari pada asumsi dan dugaan. Six sigma mendorong setiap orang untuk menempatkan pengukuran pada tempat yang semestinya. g. Six sigma menggunakan konsep pemikiran statistik dan mendorong digunakanya tools dan teknik-teknik statistik untuk mengurangi cacat melalui metode pengurangan variabilitas proses, misalnya statistical process control (SPC) dan rancangan percobaan Istilah-Istilah Dalam Six Sigma Dalam membahas metode Six Sigma perlu dipahami beberapa istilah yang berkaitan dengan metode tersebut: a. Variation (Variasi) Variasi merupakan apa yang pelanggan lihat dan rasakan dalam proses transaksi antara pemasok dan pelanggan tersebut. Dapat juga disebutkan bahwa variasi adalah penyimpangan atau perbedaan antara keinginan atau ekspektasi pelanggan dengan produk yang ada. Semakin kecil variasi akan semakin diharapkan baik oleh pemasok (perusahaan) maupun 24
11 oleh pelanggan karena menunjukkan konsistensi dalam kualitas. Terdapat dua sumber atau penyebab timbulnya variasi, yaitu (Gaspersz, 2001): 1. Penyebab umum (common causes) adalah faktorfaktor di dalam sistem atau yang melekat pada proses operasi yang menyebabkan timbulnya variasi dalam sistem serta hasil-hasilnya. Penyebab umum menimbulkan variasi acak (random variation) dalam batas-batas yang dapat diperkirakan dan sering disebut juga sebagai penyebab acak (random causes) atau penyebab sistem (system causes). 2. Penyebab khusus (special causes) adalah kejadiankejadian di luar sistem yang mempengaruhi variasi dalam sistem. Penyebab khusus dapat bersumber dari faktor-faktor seperti: manusia, peralatan, material, lingkungan, metode kerja dan lain-lain. Penyebab khusus ini dapat diidentifikasi, sebab mereka tidak selalu aktif dalam proses tetapi memiliki pengaruh yang lebih kuat pada proses sehinga menimbulkan variasi. b. Defect (cacat) Ciri yang dapat diukur dari suatu proses atau ciri output yang tidak berada di dalam batas-batas yang dapat diterima pelanggan, yakni tidak sesuai dengan spesifikasinya (Gaspersz, 2001). c. Critical-to-Quality (CTQ) Atribut-atribut yang sangat penting untuk diperhatikan karena berkaitan langsung dengan kebutuhan dan kepuasan pelanggan. CTQ merupakan elemen dari suatu produk, proses, atau praktek- 25
12 praktek yang berdampak langsung pada kepuasan pelanggan (Gaspersz, 2001). d. Defects Per Million Opportunities (DPMO) Ukuran kegagalan dalam Six Sigma, yang menunjukkan kegagalan per sejuta kesempatan. Dari nilai DPMO ini bisa diketahui secara gambaran, atau dapat dikonversi kasar, dengan menggunakan tabel konversi Yield-DPMO-Sigma. Tabel 3.2. Konversi Yield-DPMO-Sigma (Gaspersz, 2001) Yield(%) 99, , ,997 99,987 99,977 99,94 99,87 99,7 99,38 98,78 97,73 95,99 93,32 DPMO (unit) 3,4 16, Sigma (σ) 6,00 5,75 5,50 5,25 5,00 4,75 4,50 4,25 4,00 3,75 3,50 3,25 3,00 Yield(%) 89,44 84,13 77,34 69,15 59, ,13 30,85 22,66 15,87 10,56 6,68 DPMO (unit) Sigma (σ) 2,75 2,50 2,25 2,00 1,75 1,50 1,25 1,00 0,75 0,50 0,25 0 Target dari Six Sigma adalah 3,4 DPMO, dan seharusnya tidak diinterpretesikan sebagai 3,4 unit output yang cacat dari sejuta unit output yang diproduksi, akan tetapi diinterpretasikan sebagai berikut: dalam satu unit produk tunggal terdapat rata-rata kesempatan untuk gagal dari suatu karakteristik CTQ (critical-to-quality) adalah hanya 3,4 bagian dari satu juta kesempatan (DPMO) (Gaspersz, 2001). 26
13 3.4. Six Sigma Tools Pemetaan Proses Peta proses merupakan gambaran grafik dari suatu proses, menunjukkan urutan tugas menggunakan versi yang dimodifikasi dari simbol bagan aliran (flowchart) standar. Peta proses pekerjaan adalah gambaran dari bagaimana orang melakukan pekerjaan mereka. Peta proses pekerjaan serupa dengan peta jalan, didalamnya ada banyak alternatif rute untuk mencapai tujuan. Langkahlangkah proses mapping adalah sebagai berikut: 1. Memilih satu proses yang akan dipetakan 2. Mendefinisikan proses 3. Memetakan proses utama 4. Memetakan jalur alternatif 5. Memetakan titik pemeriksaan 6. Menggunakan peta untuk meningkatkan proses Pemetaan proses tersebut dalam organisasi modern terbagi di antara banyak departemen yang berbeda. Suatu peta proses menyediakan gambaran terpadu dari proses alami (Pyzdek, 2002) Lembar Pemeriksaan Lembar pemeriksaan (check sheet) adalah alat yang terdiri dari daftar item dan beberapa indikator dari seberapa sering setiap item pada daftar tersebut terjadi. Dalam bentuk yang paling sederhana, daftar pemeriksaan adalah alat-alat yang membuat proses pengumpulan data lebih mudah dengan menyediakan penjelasan rinci dari kejadian yang mungkin terjadi. Walaupun sederhana, lembaran pemeriksaan adalah alat perbaikan proses dan alat pemecahan masalah yang 27
14 sangat berguna. Kekuatan mereka ditingkatkan dengan besar saat digunakan berhubungan dengan alat sederhana lainnya, seperti analisis histogram dan analisis Pareto (Pyzdek, 2002). Jenis-jenis lembar pemeriksaan adalah: 1. Process Check Sheet Digunakan untuk membuat lembar distribusi frekuensi dengan mendaftar beberapa kisaran (range) nilai pengukuran dan membuat tanda pada observasi aktual pada lembar khusus. 2. Defect Check Sheet Yang dicatat disini adalah jenis-jenis cacat, serupa dengan grafik batang. Pada check sheet ini hanya membuat daftar jenis cacat yang terjadi dengan cara pengamatan. 3. Stratified Check Sheet Mencatat cacat tertentu menurut kriteria logika, membantu bila defect check sheet gagal memberikan informasi mengenai akar penyebab suatu masalah. Pengelompokan juga dapat digunakan dalam menyusun check sheet berdasarkan mesin atau proses tertentu. 4. Defect Location Check Sheet Check sheet ini berupa gambar, foto, layout diagram atau peta yang menunjukkan masalah-masalah tertentu. Dengan ini mempermudah untuk identifikasi bagian mana yang menjadi pokok suatu permasalahan yang tidak bisa dijelaskan oleh check sheet lainnya. 5. Cause and Effect Diagram Check Sheet Juga bisa dibuat sebagai check sheet. Setelah diagram disiapkan, tandai bagian tertentu dan hubungkan dengan tanda panah bila sesuatu terjadi 28
15 pada bagian tersebut. Pendekatan ini bisa digunakan untuk data historis bila data tersedia Analisis Pareto Analisis pareto adalah proses dalam membuat peringkat kesempatan untuk menentukan yang mana dari kesempatan potensial yang banyak harus dikejar lebih dulu. Analisis pareto lebih baik digunakan pada berbagai tahap dalam suatu program peningkatan kualitas untuk menentukan langkah mana yang diambil berikutnya (Pyzdek, 2002). Tujuan diagram Pareto adalah membuat peringkat masalah-masalah yang potensial untuk diselesaikan. Diagram digunakan untuk menentukan langkah yang harus diambil sebagai upaya menyelesaikan masalah. Pada sumbu horizontal adalah variabel bersifat kualitatif yang menunjukkan jenis cacat, sedangkan pada sumbu vertikal adalah jumlah cacat dan persentase cacat. Dalam diagram Pareto, jumlah atau persentase jenis cacat diurutkan dari yang terbesar ke yang terkecil Diagram Sebab Akibat Tujuan secara keseluruhan dari suatu kegiatan pengendalian kualitas adalah untuk meningkatkan kualitas itu sendiri, ini berarti bahwa penyebab rendahnya kualitas tersebut harus segera diidentifikasi dan diperbaiki. Sebuah tool yang sangat berguna untuk dapat mengidentifikasi, memaparkan, dan memperbaiki penyebab kecacatan yang mungkin dari berbagai observasi yang dilakukan adalah diagram sebab akibat. 29
16 Tool ini juga sering disebut sebagai diagram Ishikawa, karena ditemukan oleh Dr. Kaoru Ishikawa dari Universitas Tokyo pada tahun Nama lain dari diagram ini adalah diagram tulang ikan yang merujuk pada bentuk struktur yang ditampilkan. Adapun secara umum, langkah-langkah yang diperlukan untuk membuat diagram sebab akibat, sebagai berikut: a. Mengidentifikasi karakteristik kualitas atau ukuran performansi untuk hubungan sebab dan akibat. b. Gunakan brainstorming yang terstruktur dan orangorang yang berpengalaman dan berpengetahuan luas untuk menentukan variabel kelas umum yang menyebabkan kasus tersebut terjadi (mengidentifikasi tulang besar). c. Cari lebih lanjut faktor yang lebih terperinci dari variabel kelas umum yang telah diidentifikasi tersebut (mengidentifikasi tulang kecil). Data di atas kemudian digambar menjadi diagram sebab akibat yang selanjutnya mencari penyebab-penyebab utama dari setiap tulang kecil yang sudah teridentifikasi. Contoh bentuk umum diagram sebab akibat ditunjukkan pada gambar berikut ini. 30
17 Gambar 3.2. Bentuk umum diagram sebab akibat 3.5. TRIZ TRIZ adalah sebuah akronim berbahasa Rusia yaitu Teoriya Resheniya Izobretatelskikh Zadach yang dalam bahasa inggris berarti Theory of Inventive Problem Solving atau dalam bahasa Indonesia berarti Teori pemecahan masalah berdaya cipta. Menurut Rantanen dan Domb (2002) TRIZ merupakan kombinasi dari beberapa disiplin ilmu pengetahuan yaitu ilmu pengetahuan yang mempelajari alam (biologi, fisika, kimia,dll), ilmu pengetahuan yang mempelajari kebiasaan dan kehidupan manusia dalam bermasyarakat (psikologi dan sosiologi), ilmu pengetahuan yang mempelajari objek buatan (teknik rekayasa, desain, root cause, dan sebagainya). TRIZ dapat juga diartikan pendekatan sistematik untuk memecahkan berbagai macam permasalahan secara kreatif. TRIZ merupakan tool yang membantu menyelesaikan permasalahan dengan dasar berbagai macam pengalaman terdahulu dalam hal menghilangkan kontradiksi. 31
18 Penemu TRIZ adalah Genrikh Altshuller pada tahun Beliau mempelajari database paten, mencari prinsip penemuan, dan dikembangkan dari dasar ke atas, perlakuan tahap demi tahap suatu pandangan baru dari teknologi dan sebuah metodologi untuk menyelesaikan permasalahan dalam bidang teknologi. Hasil penelitian tersebut dipetakan, dan didapatkan sebuah sistem matriks yag terdiri dari 39 parameter dan 40 prinsip. Prinsip-prinsip tersebut didapatkan setelah mengetahui parameter yang ingin dibandingkan, satu berupa parameter yang ingin diperbaiki dan satu parameter yang menjadi kendala. Ke-40 prinsip tersebut adalah sebagai berikut: 1. Segmentation (fragmentation) 2. Separation 3. Local quality 4. Symmetry change (asymmetry) 5. Merging (consolidation) 6. Multifunctionality (universality) 7. Nested doll (nesting) 8. Weight compensation (anti-weight, counterweight) 9. Preliminary counteraction (preliminary anti-action, prior counteraction) 10. Preliminary action (prior action, do it in advance) 11. Beforehand compensation (beforehand cushioning, cushion in advance) 12. Equipotentially (bring things to the same level) 13. The other way around (do it reverse, do it inversely) 14. Curvature increase (spheroidality, spheroidalitycurvature) 32
19 15. Dynamic parts (dynamicity, dynamization, dynamics) 16. Partial or excessive action (do a little less) 17. Dimensionality change (another dimension) 18. Mechanical vibration 19. Periodic action 20. Continuity of useful action 21. Hurrying (skipping, rushing through) 22. Blessing in disguise (convert harm into benefit) 23. Feedback 24. Intermediary (mediator) 25. Self-service 26. Copying 27. Cheap disposables 28. Mechanical interaction substitution (use of field) 29. Pneumatics and hydraulics 30. Flexible shells and thin films 31. Porous materials 32. Optical property changes (changing the color) 33. Homogeneity 34. Discarding and recovering 35. Parameter changing (transformation of properties) 36. Phase transitions 37. Thermal expansion 38. Strong oxidants (accelerated oxidation) 39. Inert atmosphere (inert environment) 40. Composite materials Berikut adalah 39 parameter standar yang telah ditetapkan oleh Altshuller dan tim: 1. Weight of moving object 2. Weight of stationary object 3. Length of moving object 33
20 4. Length of stationary object 5. Area moving object 6. Area stationary 7. Volume moving object 8. Volume stationary 9. Speed 10. Force 11. Stress or pressure 12. Shape 13. Stability of the objects composition 14. Strength 15. Duration of action by a moving object 16. Durationof action by a stationary object 17. Temperature 18. Illumination intensity 19. Use of energy by moving object 20. Use of energy by stationary object 21. Power 22. Loss of energy 23. Loss of substance 24. Loss of information 25. Loss of time 26. Quantity of substance/the matter 27. Reliability 28. Measurement accuracy 29. Manufacturing precision 30. External harm affects the object 31. Object-generated harmful factors 32. Ease of manufacture 33. Ease of operation 34. Ease of repair 34
21 35. Adaptability or versatility 36. Device complexity 37. Difficulty of detecting and measuring 38. Extent of automation 39. Productivity Parameter-parameter tersebut saling dibandingkan sehingga membentuk Matriks TRIZ. Cara menggunakan Matriks tersebut cukup mudah, yaitu dengan membandingkan parameter yang ingin diperbaiki (bagian kiri) dengan parameter yang menjadi kontradiksi (bagian atas). Persilangan antara kedua parameter tersebut terdapat angka-angka yang merupakan angka dari 40 prinsip yang telah dijelaskan. Angka dalam persilangan matriks tersebut diurutkan berdasarkan prioritas tertinggi dalam menentukan usulan. Dapat dilihat bahwa terdapat beberapa matriks yang tidak memiliki nilai, karena kedua parameter tersebut tidak memiliki hubungan kontradiksi. Tabel 3.3. Contoh Matriks TRIZ (Rantanen dan Domb,2002) Parameter ,8, 29, ,34 38,34 10,1 2 29,35 8,15 15, , , ,29 2,17 14, ,4 18,4 Model TRIZ menggunakan 5 konsep inventive, (Rantanen dan Domb, 2002): yaitu 35
22 1. Kontradiksi, menyelesaikan sebuah masalah berarti membuang kontradiksi. 2. Sumber daya, sumber daya tersedia yang tidak dipakai, energi, sifat atau benda lain dalam atau di dekat sistem dapat digunakan untuk menyelesaikan kontradiksi. 3. Hasil akhir ideal, dicapai pada saat kontradiksi diselesaikan. 4. Pola evolusi, dapat digunakan untuk mendapatkan ide baru dan memprediksi sistem. 5. Prinsip-prinsip inovatif, memberikan isyarat konkrit bagi solusi. Altshuller dan tim saat menyusun teori ini, menekankan prinsip bahwa permasalahan yang kita hadapi saat ini, telah ada yang menyelesaikannya terlebih dulu walau dalam bidang yang berbeda. 36
BAB III SIX SIGMA. Six Sigma pertama kali digunakan oleh perusahaan Motorola pada tahun
34 BAB III SIX SIGMA 3.1 Sejarah Six Sigma Six Sigma pertama kali digunakan oleh perusahaan Motorola pada tahun 1980-an oleh seorang engineer bernama Bill Smith. Hal ini dilatarbelakangi oleh hilangnya
Bandung, Jalan Ganesha no.10, Bandung 40132, Jawa Barat, Indonesia. Indonesia. Barat, Indonesia. MT 35
Desain Mekanisme Alternatif Penerus Daya dari Poros Turbin Propeler ke Poros Generator dengan Menggunakan TRIZ Indra Djodikusumo 1, a *, Fachri Koeshardono 2,b, Iwan Sanjaya Awaluddin 3,c Duddy Arisandi
Modul 5 Six Sigma MODUL 5 SIX SIGMA. Laboratorium OSI & K FT. UNTIRTA (Praktikum POSI 2011)
1 MODUL 5 SIX SIGMA 2 A. Tujuan Praktikum 1. Praktikan dapat memahami konsepsi tentang Six Sigma 2. Praktikan dapat memahami Six Sigma sebagai salah satu metode dalam perbaikan kualitas yang dramatis.
Sejarah Six Sigma Jepang ambil alih Motorola produksi TV dng jumlah kerusakan satu dibanding duapuluh Program Manajemen Partisipatif Motorola (Partici
Topik Khusus ~ Pengantar Six Sigma ~ [email protected] Sejarah Six Sigma Jepang ambil alih Motorola produksi TV dng jumlah kerusakan satu dibanding duapuluh Program Manajemen Partisipatif Motorola (Participative
BAB I PENDAHULUAN. Saat ini, persaingan antara perusahaan-perusahaan tidak hanya terjadi di
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Saat ini, persaingan antara perusahaan-perusahaan tidak hanya terjadi di wilayah lokal saja, akan tetapi sudah meluas sampai kawasan nasional bahkan internasional.
BAB 2 LANDASAN TEORI
BAB 2 LANDASAN TEORI Fase atau tahapan yang banyak menghasilkan produk yang cacat adalah di bagian proses stripping, terlihat dari diagram Pareto nya dari ketiga tahapan di area produksi Produk X. 2.1
BAB 6 KESIMPULAN DAN SARAN
`` BAB 6 KESIMPULAN DAN SARAN 6.1. Kesimpulan Melalui proses penelitian yang telah dilakukan diperoleh beberapa kesimpulan adalah sebagai berikut: 1. Masukan dari penelitian ini berasal dari keinginan
Bab 2 Landasan Teori
Bab 2 Landasan Teori 2.1. Pengertian Kualitas Kualitas memiliki pengertian yang luas, setiap sudut pandang yang mendefinisikannya pasti memiliki perbedaan. Sebagaian besar orang mempunyai konsep pemahaman
BAB III LANGKAH PEMECAHAN MASALAH
BAB III LANGKAH PEMECAHAN MASALAH 3.1 Penetapan Kriteria Optimasi Setelah mengevaluasi berbagai data-data kegiatan produksi, penulis mengusulkan dasar evaluasi untuk mengoptimalkan sistem produksi produk
Bab 2 Landasan Teori 2.1. Pengertian Mutu 2.2. Pengertian Pengendalian Mutu 2.3. Konsep dan Tujuan Pengendalian Mutu
Bab 2 Landasan Teori 2.1. Pengertian Mutu Definisi mutu atau kualitas menurut para ahli dikemukakan secara berbeda akan tetapi memiliki maksud yang sama yang berarti mutu atau kualitas adalah tingkat baik
BAB III METODOLOGI PENELITIAN. merupakan UKM yang bergerak dibidang produksi furniture.
BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Desain Penelitian Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui besarnya dan faktor penyebab banyaknya re-work dari proses produksi kursi pada PT. SUBUR MANDIRI, yang merupakan
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA DAN DASAR TEORI
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA DAN DASAR TEORI Pada bab ini akan dijelaskan mengenai tinjauan pustaka yang berisi perancangan solusi yang telah dilakukan oleh penelitian terdahulu di perusahaan jasa dan dasar
DAFTAR ISI. HALAMAN PENGAKUAN... ii. SURAT PENGAMBILAN DATA DARI PERUSAHAAN... iii. HALAMAN PENGESAHAN PEMBIMBING... iv. HALAMAN PERSEMBAHAN...
DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL... i HALAMAN PENGAKUAN... ii SURAT PENGAMBILAN DATA DARI PERUSAHAAN... iii HALAMAN PENGESAHAN PEMBIMBING... iv HALAMAN PENGESAHAN PENGUJI... v HALAMAN PERSEMBAHAN... vi HALAMAN
BAB II LANDASAN TEORI. ada lima pakar utama dalam manajemen mutu terpadu (Total Quality. penggunaan itu didasarkan pada lima ciri utama berikut:
BAB II LANDASAN TEORI 2.1. Pengertian Kualitas Kualitas merupakan salah satu indikator penting bagi perusahaan untuk dapat eksis di tengah ketatnya persaingan dalam industri. kualitas didefinisikan sebagai
BAB I PENDAHULUAN. Tidak ada yang menyangkal bahwa kualitas menjadi karakteristik utama
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Tidak ada yang menyangkal bahwa kualitas menjadi karakteristik utama dalam perusahaan agar tetap survive. Buruknya kualitas ataupun penurunan kualitas akan
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA Kualitas produk menjadi salah satu topik yang menjadi perhatian utama bagi setiap industri. Setiap industri baik yang berskala kecil maupun skala besar memiliki perhatian khusus
BAB 2 LANDASAN TEORI
BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1 Tinjauan Pustaka 2.1.1 Sejarah Pengendalian Kualitas Pada tahun 1924, W.A. Shewart dari Bell Telephone Laboratories mengembangkan diagram atau grafik statistik untuk mengendalikan
BAB III METODOLOGI PENELITIAN
BAB III METODOLOGI PENELITIAN Metodologi adalah suatu proses berpikir yang dilakukan dalam penulisan suatu laporan, mulai dari menentukan judul dan permasalahan, melakukan pengumpulan data yang akan digunakan
BAB 3 LANGKAH PEMECAHAN MASALAH
BAB 3 LANGKAH PEMECAHAN MASALAH 3.1 Penetapan kriteria optimasi Dasar evaluasi untuk mengoptimasi kualitas produksi pipa pada perusahaan ini yaitu dengan menggunakan metode DMAIC (Define, Measure, Analyze,
BAB II LANDASAN TEORI
BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Pengertian Manajemen Operasi Dalam mengelolah suatu perusahaan atau organisasi dibutuhkan sistem manajemen agar tujuan dari perusahaan atau organisasi dapat tercapai. Manajemen
BAB II LANDASAN TEORI. Persyaratan utama untuk mencapai kepuasan pelanggan (customer
BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Konsep SPC dan Pengendalian Kualitas Persyaratan utama untuk mencapai kepuasan pelanggan (customer satisfaction) dalam dunia industri manufaktur adalah kualitas dari produk maupun
BAB 2 LANDASAN TEORI
10 BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1 Tinjauan Pustaka 2.1.1 Definisi Konsep Kunci 2.1.1.1 Definisi Kualitas Kualitas adalah sebuah ukuran relatif dari kebaikan suatu produk atau jasa yang terdiri atas kualitas
BAB 2 LANDASAN TEORI
11 BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1 Definisi Kualitas Banyak pakar dari bidang kualitas yang mencoba untuk mendefinisikan kualitas berdasarkan sudut pandangnya masing-masing, seperti di bawah ini: Pengertian classic
BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Sigma bukan merupakan program kualitas yang berpegang pada zero defect (tanpa
BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Pendahuluan Six Sigma merupakan konsep yang relatif baru bagi banyak organisasi. Six Sigma bukan merupakan program kualitas yang berpegang pada zero defect (tanpa cacat), tetapi
BAB II KAJIAN LITERATUR
BAB II KAJIAN LITERATUR 2.1 PENGENDALIAN KUALITAS 2.1.1 Pengertian Kualitas Keistimewaan atau keunggulan suatu produk dapat diukur melalui tingkat kepuasan pelanggan. Salah satunya dapat dilihat dari sisi
BAB IV PERANCANGAN SISTEM TERINTEGRASI
BAB IV PERANCANGAN SISTEM TERINTEGRASI 4.1 Tahap Perancangan Sistem Terintegrasi Setelah dilakukan brainstorming dan studi pustaka, maka langkah selanjutnya adalah membuat sistem terintegrasi dari metode
Damper DB2B24SSC, diantaranya adalah:
BAB III. METODE PEMECAHAN MASALAH 3.1 Penetapan Kriteria Optimasi PT.Dulmison Indonesia merupakan sebuah perusahaan yang bergerak dibidang hardware energi yang memproduksi alat-alat berat dan aksesoris
BAB 2 LANDASAN TEORI
BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1 PENGERTIAN KUALITAS Kualitas merupakan faktor dasar yang mempengaruhi pilihan konsumen untuk berbagai jenis produk dan jasa yang berkembang pesat dewasa ini. Kualitas secara langsung
IDENTIFIKASI KUALITAS PRODUK GENTENG BETON DENGAN METODE DMAIC DI UD.PAYUNG SIDOARJO. Dedy Ermanto Jurusan Teknik Industri FTI UPN Veteran Jawa Timur
1 IDENTIFIKASI KUALITAS PRODUK GENTENG BETON DENGAN METODE DMAIC DI UD.PAYUNG SIDOARJO Dedy Ermanto Jurusan Teknik Industri FTI UPN Veteran Jawa Timur ABSTRAK Adanya persaingan antar produk yang semakin
BAB 6 KESIMPULAN DAN SARAN
BAB 6 KESIMPULAN DAN SARAN 6.. Kesimpulan Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan diperoleh hasil berupa sebuah alat Praktikum Fisika Listrik beserta dengan modul praktikumnya yang dapat digunakan
BAB III LANGKAH PEMECAHAN MASALAH. Gramedia Cikarang yaitu dengan menggunakan metode DMAIC (Define,
BAB III LANGKAH PEMECAHAN MASALAH 3.1 Penetapan Kriteria Optimasi Dasar evaluasi untuk mengoptimasi sistem produksi Percetakan Gramedia Cikarang yaitu dengan menggunakan metode DMAIC (Define, Measure,
BAB III METODOLOGI PENELITIAN
BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Deskripsi Tahapan Penelitian 3.1.1 Identifikasi Dan Perumusan Masalah Langkah ini merupakan langkah awal untuk melakukan penelitian dengan melakukan observasi ke unit
BAB 2 LANDASAN TEORI
8 BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1 Pengertian Dasar dari Kualitas Kata kualitas memiliki banyak definisi yang berbeda, dan bervariasi dari yang konvensional sampai yang lebih strategik. Definisi konvensional dari
BAB IV PENGUMPULAN DAN PENGOLAHAN DATA
BAB IV PENGUMPULAN DAN PENGOLAHAN DATA Bagian ini berisi tentang keseluruhan tahapan pengumpulan dan pengolahan data yang dilakukan dalam penelitian. Untuk lebih jelasnya akan diuraikan pada sub bab di
3.1 Persiapan Penelitian
BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Persiapan Penelitian Dalam mengerjakan Tugas Akhir ini dilakukan langkah-angkah perancangan yang jelas agar tujuan dari Tugas Akhir ini dapat tercapai. Pada bab ini akan
METODOLOGI PEMECAHAN MASALAH
BAB 3 METODOLOGI PEMECAHAN MASALAH 3.1 Diagram Alir Metodologi Penelitian Start Penelitian Pendahuluan Identifikasi Masalah Studi Pustaka Tujuan Penelitian Pengumpulan Data : -Data Data Pengolahan Data
Oleh Didik Samanhudi Teknik Industri FTI-UPV Veteran Jatim ABSTRAK
ANALISIS KAPABILITAS PROSES PRODUK KAWAT MENGGUNAKAN PENDEKATAN DEFINE, MEASURE, ANALYZE, IMPROVE, CONTROL DENGAN METODE TAGUCHI DI PT. UNIVERSAL METAL WORK SIDOARJO Oleh Didik Samanhudi Teknik Industri
BAB III METODOLOGI PENELITIAN
BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Alur Penelitian Untuk memperoleh hasil penelitian yang baik dan sesuai dengan tujuan yang diharapkan, diperlukan adanya desain atau skema langkah penelitian sebagai acuan
BAB V HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
BAB V HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 5.1 Hasil Penelitian Pendekatan Six Sigma yang digunakan dalam peningkatan produktivitas terdiri dari 5 (lima) fase yang disebut DMAIC (Define, Measure, Analize, Improve
Pertemuan 10 Manajemen Kualitas
Pertemuan 10 Manajemen Kualitas Tujuan Memahami manfaat manajemen kualitas. Memahami proses dalam manajemen kualitas. Mengenal alat yang yang dapat digunakan untuk melakukan manajemen kualitas. SE 3773
BAB 3 METODOLOGI PENELITIAN. research) yaitu penelitian yang melakukan pemecahan
BAB 3 METODOLOGI PENELITIAN 3.1. Jenis Penelitian Berdasarkan sifatnya, maka penelitian ini digolongkan sebagai penelitian deskriptif (descriptif research) yaitu penelitian yang melakukan pemecahan terhadap
BAB III METODOLOGI PENELITIAN
BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.1. Umum Pada penelitian ini dilakukan pengamatan langsung terhadap aliran proses produk dan pengumpulan data-data yang dibutuhkan di PT XYZ. Data-data tersebut kemudian
DAFTAR ISI. LEMBAR PENGESAHAN PENGUJI...iii. HALAMAN MOTTO.. v. DAFTAR ISI... viii. DAFTAR TABEL xiv. DAFTAR GAMBAR...xv. 1.1 Latar Belakang Masalah.
DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL...i LEMBAR PENGESAHAN PEMBIMBING...ii LEMBAR PENGESAHAN PENGUJI...iii HALAMAN PERSEMBAHAN...iv HALAMAN MOTTO.. v KATA PENGANTAR vi DAFTAR ISI..... viii DAFTAR TABEL xiv DAFTAR
Statistical Process Control
Statistical Process Control Sachbudi Abbas Ras [email protected] Lembar 1 Flow Chart (dengan Stratifikasi): Grafik dari tahapan proses yang membedakan data berdasarkan sumbernya. Lembar Pengumpulan Data:
BAB 3 LANGKAH PEMECAHAN MASALAH
BAB 3 LANGKAH PEMECAHAN MASALAH 3.1 Penetapan Kriteria Optimasi Dasar evaluasi untuk mengoptimasi sistem produksi percetakan koran Lampung Post pada PT. Masa Kini Mandiri yaitu dengan menggunakan metode
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Proses produksi merupakan kegiatan utama dalam perusahaan industri manufaktur. Tingkat efektifitas dan efisiensi berproduksi dituntut memiliki nilai yang tinggi.
BAB II LANDASAN TEORI
BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Pengertian Kualitas Kata kualitas memilki banyak definisi yang berbeda dan bervariasi dari yang konvensional sampai yang lebih strategis (Gasperz, 2001). Definisi konvensional
MANAJEMEN KUALITAS PROYEK REFERENSI : PMBOK
MANAJEMEN KUALITAS PROYEK REFERENSI : PMBOK Jaminan Kualitas Proyek Merupakan semua aktifitas yang dilakukan oleh organisasi proyek untuk memberikan jaminan tentang kebijakan kualitas, tujuan dan tanggung
BAB 3 METODOLOGI PENELITIAN
BAB 3 METODOLOGI PENELITIAN Metodologi penelitian merupakan tahapan yang dilalui, mulai dari identifikasi masalah sampai pada tahap penyelesaian masalah dalam penyelesaian tugas akhir. Metodologi bertujuan
BAB II LANDASAN TEORI. setiap ahli memiliki teori sendiri-sendiri mengenai hal ini. Menurut (Davis, 1994)
BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Pengertian kualitas Kualitas memiliki kaitan yang sangat erat dengan dunia perindustrian, baik industri barang maupun jasa. Definisi dari kualitas sendiri bermacam-macam, karena
BAB 3 METODOLOGI PEMECAHAN MASALAH
39 BAB 3 METODOLOGI PEMECAHAN MASALAH Metodologi pemecahan masalah merupakan gambaran dari langkahlangkah sistematis yang akan menjadi pedoman dalam penyelesaian masalah. Melalui pembuatan flowchart penelitian
BAB 2 LANDASAN TEORI
BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1 Statistic Quality Control (SQC) Statistik merupakan teknik pengambilan keputusan tentang suatu proses atau populasi berdasarkan pada suatu analisa informasi yang terkandung di
BAB II LANDASAN TEORI
BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Pengendalian Kualitas. Menurut (Douglas C. Montgomery, 2009:4) mutu atau kualitas sudah menjadi faktor paling penting didalam konsumen mengambil keputusan dalam memilih antara
Nama : Gema Mahardhika NIM : Kelas : A PDCA. a) Pengertian
PDCA a) Pengertian Dalam peningkatan mutu dalam kebidanan diperlukan manajemen yang baik agar dalam pelaksanaannya dapat tercapai secara efektif dan efisien. Didalam ilmu manajemen, ada konsep problem
PENDEKATAN METODE LEAN SIX SIGMA UNTUK MENGANALISIS PROSES PRODUKSI PADA PT. DULMISON INDONESIA
PENDEKATAN METODE LEAN SIX SIGMA UNTUK MENGANALISIS PROSES PRODUKSI PADA PT. DULMISON INDONESIA Titi Jayati 0800775012 ABSTRAK Operational excellent didasari oleh banyak perusahaan sebagai salah satu cara
BAB 4 PENGUMPULAN DAN ANALISA DATA
37 BAB 4 PENGUMPULAN DAN ANALISA DATA 4.1 Pengumpulan Data Data-data yang diperlukan dalam pembuatan skripsi ini terdiri dari data primer dan data sekunder. Data primer bertujuan untuk membuktikan adanya
BAB 3 METODOLOGI PEMECAHAN MASALAH
94 BAB 3 METODOLOGI PEMECAHAN MASALAH 3.1 Flow Chart Metodologi Penelitian Metodologi pemecahan masalah (flow diagram) merupakan diagram yang menggambarkan pola berpikir serta menjelaskan tahap-tahap penelitian
1.1 LATAR BELAKANG MASALAH
BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG MASALAH Dalam era industrialisasi yang semakin kompetitif sekarang ini, setiap pelaku bisnis yang ingin memenangkan kompetisi dalam dunia industri akan memberikan perhatian
BAB 2 LANDASAN TEORI. karena apabila diterapkan secara rinci antara produsen dan konsumen akan terjadi
8 BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1 Kualitas Kualitas merupakan ukuran yang tidak dapat didefinisikan secara umum, karena apabila diterapkan secara rinci antara produsen dan konsumen akan terjadi perspektif yang
7 Basic Quality Tools. 14 Oktober 2016
7 Basic Quality Tools 14 Oktober 2016 Dr. Kaoru Ishikawa (1915 1989) Adalah seorang ahli pengendalian kualitas statistik dari Jepang. As much as 95% of quality related problems in the factory can be solved
BAB 3 METODOLOGI PEMECAHAN MASALAH
61 BAB 3 METODOLOGI PEMECAHAN MASALAH Metodologi penelitian menggambarkan proses atau tahap tahap penelitian yang harus ditetapkan dahulu sebelum melakukan pemecahan masalah yang sedang dibahas sehingga
MENINGKATKAN KUALITAS PRODUK MELALUI KONSEP DMAIC PADA SIX SIGMA
MENINGKATKAN KUALITAS PRODUK MELALUI KONSEP DMAIC PADA SIX SIGMA Julianus Hutabarat 1, Ellysa Nursanti 2 Program Studi Teknik Industri, Fakultas Teknologi Industri Institut Teknologi Nasional Malang Kampus
ABSTRAK Kata Kunci: Six Sigma, Sigma Level, Kualitas Produk, DMAIC, Quality Control.
ABSTRAK Seiring dengan perkembangan teknologi yang semakin signifikan, membuat banyak bermunculan industri-industri baru yang sejenis dengan industri yang sudah ada sebelumnya. Hal ini tentunya merupakan
ANALISIS DEFECT RATE PENGELASAN DAN PENANGGULANGANNYA DENGAN METODE SIX SIGMA DAN FMEA DI PT PROFAB INDONESIA
ANALISIS DEFECT RATE PENGELASAN DAN PENANGGULANGANNYA DENGAN METODE SIX SIGMA DAN FMEA DI PT PROFAB INDONESIA Decky Antony Kifta Program Studi Teknik Industri Sekolah Tinggi Teknik Ibnu Sina Batam Email:
Analisis Pengendalian Kualitas Produksi Tepung Terigu dengan Pendekatan Six Sigma dan Cost of Poor Quality
Petunjuk Sitasi: Mudiastuti, R. D., & Hermawan, A. (2017). Analisis Pengendalian Kualitas Produksi Tepung Terigu dengan Pendekatan Six Sigma dan Cost of Poor Quality. Prosiding SNTI dan SATELIT 2017 (pp.
BAB 3 METODOLOGI PEMECAHAN MASALAH
55 BAB 3 METODOLOGI PEMECAHAN MASALAH 3.1 Diagram Alir Penelitian Gambar 3.1 Diagram Alir Penelitian 56 3.2 Langkah-langkah Penelitian Dalam melakukan penelitian, terdapat beberapa kegiatan untuk dapat
BAB III METODOLOGI PENELITIAN
BAB III METODOLOGI PENELITIAN Bab ini membahas mengenai metode yang digunakan dalam penelitian untuk pemecahan masalah dimana setiap pembahasan diuraikan dalam bentuk tahapan terstruktur. Tahapan penelitian
BAB 3 METODOLOGI PENELITIAN
69 BAB 3 METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Metode Penelitian Metode Penelitian dilakukan dengan mengadakan pengamatan/observasi secara langsung dengan mengunjungi PT.Delident Chemical Indonesia untuk melihat secara
BAB I PENDAHULUAN. perusahaan menerapkan berbagai macam cara agar produk-produk mereka dapat
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Dalam menghadapi persaingan pasar bebas yang semakin ketat, setiap perusahaan menerapkan berbagai macam cara agar produk-produk mereka dapat terus bertahan. Untuk
2.2 Six Sigma Pengertian Six Sigma Sasaran dalam meningkatkan kinerja Six Sigma Arti penting dari Six Sigma...
ABSTRAK Persaingan dunia industri semakin ketat, mendorong para pelaku industri untuk makin giat melakukan berbagai hal untuk tetap bertahan. Salah satu yang terpenting adalah kualitas produk yang merupakan
BAB III METODE PENELITIAN
BAB III METODE PENELITIAN A. Waktu dan Tempat Penelitian Penelitian ini dilakukan di PT SEI Bogor pada Bulan September 2016 sampai dengan Bulan Desember 2016. PT SEI Bogor merupakan perusahaan yang bergerak
METODOLOGI 3.1 Kerangka Pemikiran 3.2 Metode Pengumpulan Data
30 3 METODOLOGI 3.1 Kerangka Pemikiran Tunamerupakan komoditas komersial tinggi dalam perdagangan internasional. Salah satu bentuk olahan tuna adalah tuna loin, tuna steak, dan tuna saku. Tuna loin merupakan
BAB VI ANALISIS PEMECAHAN MASALAH
BAB VI ANALISIS PEMECAHAN MASALAH 6.1. AnalisisTahap Define Adapun persentase produk cacat terbesar periode September 2012 s/d Desember 2012 terdapat pada produk Polyester tipe T.402 yaitu dengan persentase
BAB III METODOLOGI PENELITIAN
BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Metodologi Penelitian Metodologi penelitian merupakan landasan agar proses penelitian berjalan secara sistematis, terstruktur, dan terarah. Metodologi penelitian merupakan
BAB III LANDASAN TEORI
BAB III LANDASAN TEORI 3.1 Pengertian Kualitas Dalam kehidupan sehari-hari seringkali kita mendengar orang membicarakan masalah kualitas, misalnya: mengenai kualitas sebagian besar produk buatan luar negeri
BAB 2 LANDASAN TEORI
6 BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1 Sejarah & Pengertian Kualitas Pada tahun 1924, W.A. Shewart dari Bell Telephone Laboratories mengembangkan diagram atau grafik statistik untuk mengendalikan variabel-variabel
Simposium Nasional Teknologi Terapan (SNTT) ISSN: X PENGENDALIAN KUALITAS PRODUK BENANG COTTON DENGAN METODE SIX SIGMA
Simposium Nasional Teknologi Terapan (SNTT)2 2014 ISSN: 2339-028X PENGENDALIAN KUALITAS PRODUK BENANG COTTON DENGAN METODE SIX SIGMA Much. Djunaidi 1*, Risti Mutiarahadi 2 1,2 Jurusan Teknik Industri,
BAB II LANDASAN TEORI
BAB II LANDASAN TEORI Pada bab ini akan disajikan kerangka toritis yang dipakai dalam menyelesaikan permasalahan yang dihadapi dalam penelitian ini. Landasan teori ini sangat penting sebagai acuan dasar
BAB 3 METODOLOGI PENELITIAN
BAB 3 METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Diagram Alir Penelitian di bawah ini: Langkah-langkah penelitian dapat dilihat pada diagram alir penelitian Mulai Studi Pendahuluan Identifikasi Masalah Tinjauan Pustaka
Statistical Process Control
Natasya Christy Mukuan 1701344251 LD21 Statistical Process Control Sejarah Statistical Process Control (SPC) Sebelum tahun 1900-an, industri AS umumnya memiliki karakteristik dengan banyaknya toko kecil
DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL... SURAT PERNYATAAN... LEMBAR PENGESAHAN PEMBIMBING... LEMBAR PENGESAHAN PENGUJI... HALAMAN PERSEMBAHAN... MOTTO...
DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL... SURAT PERNYATAAN... LEMBAR PENGESAHAN PEMBIMBING... LEMBAR PENGESAHAN PENGUJI... HALAMAN PERSEMBAHAN... MOTTO... KATA PENGANTAR..... ABSTRAK..... DAFTAR ISI... DAFTAR TABEL...
BAB II LANDASAN TEORI
BAB II LANDASAN TEORI 2.1. Six Sigma 2.1.1. Pengertian Six Sigma Six sigma terdiri dari dua kata yaitu Six yang berarti enam dan sigma yang berarti sebuah simbol atau lambang standar deviasi yang lebih
2. Pengawasan atas barang hasil yang telah diselesaikan. proses, tetapi hal ini tidak dapat menjamin bahwa tidak ada hasil yang
27 2. Pengawasan atas barang hasil yang telah diselesaikan Walaupun telah diadakan pengawasan kualitas dalam tingkat-tingkat proses, tetapi hal ini tidak dapat menjamin bahwa tidak ada hasil yang rusak
BAB I PENDAHULUAN. Persaingan industri perbankan di Indonesia saat ini sangat tinggi.
BAB I PENDAHULUAN I.1 Latar Belakang Persaingan industri perbankan di Indonesia saat ini sangat tinggi. Masyarakat sebagai konsumen perbankan dapat melihat persaingan tersebut secara nyata dalam kehidupan
BAB III METODOLOGI PENELITIAN
BAB III METODOLOGI PENELITIAN Metodologi penelitian menguraikan seluruh kegiatan yang dilaksanakan selama penelitian berlangsung dari awal proses penelitian sampai akhir penelitian. Metode ini digunakan
Jurusan Teknik Industri Itenas No.01 Vol.03 Jurnal Online Institut Teknologi Nasional Januari 2015
Reka Integra ISSN: 2338-5081 Jurusan Teknik Industri Itenas No.01 Vol.03 Jurnal Online Institut Teknologi Nasional Januari 2015 IMPLEMENTASI PERBAIKAN KUALITAS MENGGUNAKAN METODE SIX SIGMA UNTUK MENGURANGI
UNIVERSITAS BINA NUSANTARA. Jurusan Teknik Industri - Fakultas Teknik SKRIPSI Semester Ganjil 2005/2006
UNIVERSITAS BINA NUSANTARA Jurusan Teknik Industri - Fakultas Teknik SKRIPSI Semester Ganjil 2005/2006 PENGENDALIAN TINGKAT CACAT PADA WORK STATION PENJAHITAN KAIN SPRING BED DI PT. DINAMIKA INDONUSA PRIMA
PRINCIPLES OF SIX SIGMA for Improvement Bussiness & Management
PRINCIPLES OF SIX SIGMA for Improvement Bussiness & Management Seminar Improvement Management for Better Quality Performance UPN Jakarta, 1 Juni 2016 Fino Wahyudi A., S.T., M.T. Six Sigma Green Belt SEJARAH
BAB 2 LANDASAN TEORI
12 BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1 Tinjauan Pustaka 2.1.1 Sejarah Six sigma Sekitar tahun 1980 dan awal 1990, Motorola merupakan salah satu perusahaan Amerika Serikat dan Eropa yang bersaingan ketat dengan perusahaan
BAB III METODE PENELITIAN. Sampel merupakan sebagian anggota dari populasi yang dipilih dengan
26 BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Identifikasi Sampel Penelitian Sampel merupakan sebagian anggota dari populasi yang dipilih dengan suatu prosedur tertentu dan diharapkan dapat mewakili suatu populasi
METODOLOGI 3.1 Kerangka Pemikiran 3.2 Metode Pengumpulan Data
21 3 METODOLOGI 3.1 Kerangka Pemikiran Ikan Tuna (Thunnus sp.) merupakan salah satu komoditas perikanan Indonesia yang memiliki nilai ekonomis tinggi dan mampu menembus pasar internasional. Salah satu
Tabel 4.29 Cara Memperkirakan DPMO dan Kapabilitas Sigma Variabel L. Pergelangan.. 90 Tabel 5.1 Kapabilitas Proses produksi Sarung Tangan Golf...
DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL... i HALAMAN PERNYATAAN... ii SURAT KETERANGAN SELESAI... iii HALAMAN PENGESAHAN PEMBIMBING... iv HALAMAN PENGESAHAN PENGUJI... v HALAMAN PERSEMBAHAN... vi HALAMAN MOTTO... vii
BAB II TEORI DASAR. 2.1 Analisa Proses Bagan Alir Proses
BAB II TEORI DASAR 2.1 Analisa Proses Dalam dunia bisnis yang semakin ketat persaingannya, setiap perusahaan yang ada sudah harus memahami dan mempelajari proses kerja operasional yang dijalankannya agar
USULAN PERBAIKAN KUALITAS MENGGUNAKAN METODE SIX SIGMA UNTUK MENGURANGI JUMLAH CACAT PRODUK TAHU PADA PERUSAHAANPENGRAJIN TAHU BOGA RASA *
Reka Integra ISSN: 2338-5081 Jurusan Teknik Industri Itenas No.04 Vol.02 Jurnal Online Institut Teknologi Nasional Oktober 2014 USULAN PERBAIKAN KUALITAS MENGGUNAKAN METODE SIX SIGMA UNTUK MENGURANGI JUMLAH
BAB V ANALISA DAN INTEPRETASI
56 BAB V ANALISA DAN INTEPRETASI Pada Bab ini dibahas tahap Analyze (A), Improve (I), dan Control (C) dalam pengendalian kualitas terus menerus DMAIC sebagai langkah lanjutan dari kedua tahap sebelumnya.
PENINGKATAN KUALITAS PRODUK KERTAS DENGAN MENGGUNAKAN PENDEKATAN SIX SIGMA DI PABRIK KERTAS Y
PENINGKATAN KUALITAS PRODUK KERTAS DENGAN MENGGUNAKAN PENDEKATAN SIX SIGMA DI PABRIK KERTAS Y Moses L. Singgih dan Renanda Email: [email protected] Jurusan Teknik Industri FTI, Institut Teknologi Sepuluh
