ANALISIS DAYA SAING PENGUSAHAAN KOMODITI LADA PUTIH

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "ANALISIS DAYA SAING PENGUSAHAAN KOMODITI LADA PUTIH"

Transkripsi

1 ANALISIS DAYA SAING PENGUSAHAAN KOMODITI LADA PUTIH (Muntok White Pepper) (Kasus di Kecamatan Airgegas, Kabupaten Bangka Selatan, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung) Oleh: SUDARLIN A PROGRAM SARJANA EKSTENSI MANAJEMEN AGRIBISNIS FAKULTAS PERTANIAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2008

2 RINGKASAN SUDARLIN. Analisis Daya Saing Pengusahaan Komoditi Lada Putih (Muntok White Pepper) (Kasus di Kecamatan Airgegas, Kabupaten Bangka Selatan, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung). Di Bawah Bimbingan NETTI TINAPRILLA. Pengembangan usaha perkebunan merupakan bagian dari pembangunan pertanian, dikembangkan searah dengan sistem dan usaha agribisnis yang berdaya saing tinggi, berkerakyatan, berkeadilan, berkelanjutan dan terdesentralisasi. Salah satu pengembangan usaha agribisnis perkebunan di Indonesia adalah usaha agribisnis perkebunan lada. Lada (Piper nigrum L.) merupakan salah satu komoditi perkebunan yang mempunyai peranan penting dalam perekonomian disamping komoditas perkebunan lainnya, baik sebagai sumber devisa maupun sumber mata pencaharian rakyat. Volume dan nilai ekspor lada Indonesia setiap tahunnya mengalami fluktuasi, baik untuk lada hitam maupun lada putih. Khusus untuk ekspor lada putih dalam perkembangannya pada akhir-akhir ini ada tendensi terjadi penurunan volume dan nilai ekspor. Volume ekspor lada putih Indonesia selama kurun waktu lima tahun terakhir ( ) telah terjadi penurunan rata-rata sebesar 16,8 persen/tahun, sedangkan nilai ekspornya juga mengalami penurunan yaitu ratarata 3,6 persen/tahun. Provinsi Kepulauan Bangka Belitung merupakan penghasil dan pengekspor utama komoditi lada putih di Indonesia dengan potensi Rp 129 miliar /tahun. Kontribusi Bangka Belitung terhadap volume ekspor lada putih Indonesia sangat dominan sekali yakni sebesar 80 persen. Beberapa daerah yang menjadi pusat penyebaran tanaman lada di Bangka Belitung diantaranya Kabupaten Bangka Selatan. Kabupaten ini memiliki produksi tertinggi dibandingkan kabupaten lainnya dengan tingkat produksi sebesar 4.955,28 ton/tahun dan produktivitas sebesar 0,81 ton/tahun. Berdasarkan potensi pengembangan komoditi lada putih di Kabupaten Bangka Selatan, terdapat beberapa daerah yang menjadi sentra produksi antara lain Kecamatan Airgegas dengan luas areal sebesar hektar dan Kecamatan Payung yang memiliki luas areal hektar serta Kecamatan Toboali dengan luas areal hektar. Hambatan yang dihadapi petani lada putih di Bangka Belitung dalam mengusahakan komoditi ini adalah pengelolaan perkebunan lada yang masih diusahakan dalam bentuk perkebunan rakyat (bersifat tradisional), teknik budidaya yang belum intensif, terjadinya peralihan fungsi lahan perkebunan (konversi) dan kurangnya dukungan terhadap infrastruktur dan modal. Kecamatan Airgegas adalah sentra produksi lada putih terbesar di Kabupaten Bangka Selatan yang mempunyai potensi dan perlu mendapatkan perhatian dalam pengembangannya. Pengusahaan komoditi lada putih di kecamatan ini masih banyak dihadapkan pada berbagai permasalahan baik dari sisi pengelolaan maupun rendahnya mutu yang dihasilkan. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis 1) Daya saing (keunggulan komparatif dan kompetitif) terhadap pengusahaan komoditi lada putih di Kecamatan Airgegas, 2) Dampak kebijakan terhadap output dan input

3 pada pengusahaan komoditi lada putih dan 3) Sensitivitas hasil analisis daya saing pengusahaan komoditi lada putih terhadap perubahan output dan input. Penelitian dilakukan di Kecamatan Airgegas, Kabupaten Bangka Selatan, Provinsi Bangka Belitung. Pemilihan lokasi dilakukan secara sengaja (purposive) dengan pertimbangan bahwa lokasi tersebut merupakan sentra produksi lada putih di Bangka Belitung. Selain itu, sebagian besar masyarakatnya berprofesi sebagai petani lada yang diyakini mengetahui secara jelas teknik pengusahaannya. Penelitian dilaksanakan pada bulan September sampai Oktober Metode analisis yang digunakan adalah Policy Analysis Matrix (PAM) dan analisis sensitivitas, sedangkan data diolah dengan perangkat lunak (software) Microsoft Excel dan Kalkulator. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengusahaan komoditi lada putih di Kecamatan Airgegas baik secara finansial maupun ekonomi sangat menguntungkan dengan nilai keuntungan privat dan sosial masing-masing lebih besar dari nol (positif) untuk setiap tahun produksi. Selain itu, pengusahaan komoditi tersebut juga memiliki daya saing (keunggulan kompetitif dan komparatif yang ditunjukkan oleh nilai PCR dan DRCR kurang dari satu untuk masing-masing tahun produksi. Keunggulan kompetitif dan komparatif tertinggi tercapai pada tahun ke-4 dengan nilai PCR dan DRCR yaitu sebesar 0,22 dan 0,18. Hal ini menandakan bahwa pengusahaan komoditi lada putih di Kecamatan Airgegas layak untuk dijalankan dan dikembangkan baik tanpa atau dengan adanya kebijakan pemerintah. Dampak kebijakan terhadap output ditunjukkan oleh nilai Koefisien Proteksi Output Nominal (NPCO), dengan nilai NPCO untuk masing-masing tahun produksi sama yakni kurang dari satu (NPCO < 1) sebesar 0,96. Artinya petani menerima harga lebih murah dari harga dunia, dimana harga jual lada putih di tingkat petani 4 persen lebih murah dari harga output yang seharusnya di terima. Sementara dampak kebijakan terhadap input dapat diidentifikasi dari nilai Koefisien Proteksi Input Nominal (NPCI), dengan nilai NPCI untuk setiap tahun produksinya kurang dari satu (NPCI < 1) yakni antara 0,77 sampai 0,81. Hal ini berarti bahwa harga input produksi yang dibayar petani lada lebih rendah 19 sampai 23 persen dari harga dunia terutama pada input pupuk. Kebijakan terhadap output dan input tradable apakah bersifat menghambat atau melindungi produksi lada putih domestik dapat dijelaskan dari nilai EPC. Hasil analisis memperlihatkan nilai EPC kurang dari satu (EPC < 1) untuk setiap tahun produksinya yakni sebesar 0,96 sampai 0,98. Nilai tersebut menunjukkan bahwa petani lada cenderung membayar harga input tradable dan menjual harga output tidak sesuai dengan harga yang seharusnya (harga sosial). Kondisi ini membuktikan bahwa secara simultan kebijakan pemerintah terhadap output input tidak memberikan perlindungan yang efektif bagi petani lada untuk berproduksi. Berdasarkan analisis sensitivitas dengan perubahan tiga variabel yakni penurunan harga output sebesar 35 persen, peningkatan harga input pupuk dan harga sewa lahan masing-masing sebesar 15 persen dan 75 persen menunjukkan bahwa pengusahaan komoditi lada putih di Kecamatan Airgegas memiliki daya saing dan layak untuk diusahakan. Penurunan harga output sebesar 35 persen lebih sensitif terhadap melemahnya tingkat daya saing pengusahaan komoditi lada putih.

4 ANALISIS DAYA SAING PENGUSAHAAN KOMODITI LADA PUTIH (Muntok White Pepper) (Kasus di Kecamatan Airgegas, Kabupaten Bangka Selatan, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung) Skripsi Sebagai Salah Satu Syarat untuk Memperoleh Gelar Sarjana Pertanian Pada Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor Oleh: SUDARLIN A PROGRAM SARJANA EKSTENSI MANAJEMEN AGRIBISNIS FAKULTAS PERTANIAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2008

5 Judul Nama NRP : Analisis Daya Saing Pengusahaan Komoditi Lada Putih (Muntok White Pepper) (Kasus di Kecamatan Airgegas, Kabupaten Bangka Selatan, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung) : Sudarlin : A Menyetujui, Dosen Pembimbing Ir. Netti Tinaprilla, MM NIP Mengetahui, Dekan Fakultas Pertanian Prof. Dr. Ir. Didy Sopandie, M.Agr NIP Tanggal Lulus Ujian : 09 Mei 2008

6 PERNYATAAN DENGAN INI SAYA MENYATAKAN BAHWA SKRIPSI YANG BERJUDUL ANALISIS DAYA SAING PENGUSAHAAN KOMODITI LADA PUTIH (MUNTOK WHITE PEPPER) KASUS DI KECAMATAN AIRGEGAS, KABUPATEN BANGKA SELATAN, PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG ADALAH BENAR-BENAR HASIL KARYA SENDIRI DAN BELUM PERNAH DIAJUKAN PADA PERGURUAN TINGGI LAIN ATAU LEMBAGA MANAPUN. SAYA JUGA MENYATAKAN BAHWA SKRIPSI INI BENAR BENAR HASIL KARYA SENDIRI DAN TIDAK MENGANDUNG BAHAN BAHAN YANG PERNAH DITULIS ATAU DITERBITKAN OLEH PIHAK LAIN KECUALI SEBAGAI RUJUKAN YANG DINYATAKAN DALAM NASKAH. Bogor, Mei 2008 SUDARLIN A

7 RIWAYAT HIDUP Penulis dilahirkan di Desa Bencah, Kecamatan Airgegas, Kabupaten Bangka Selatan (Bangka Belitung) pada tanggal 20 Maret 1984 sebagai anak ke dua dari lima bersaudara yang berasal dari keluarga Bapak Munir dan Ibu Kartini. Penulis menyelesaikan pendidikan di SD Negeri 224 Bencah pada tahun 1996, SLTP Negeri 3 Toboali pada tahun 1999 dan SMU Negeri 1 Pangkalpinang pada tahun Sejak tahun 2002, penulis tercatat sebagai mahasiswa D3 Agribisnis Program Studi Manajemen Agribisnis, Fakultas Pertanian, Universitas Padjadjaran dan lulus pada tahun Pada akhir tahun 2005 diterima menjadi mahasiswa Program Sarjana Ekstensi Manajemen Agribisnis, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor.

8 KATA PENGANTAR Bismillaahirrahmaanirrahiim Alhamdulillahirabbill alamin, puji dan syukur penulis panjatkan ke hadirat Allah SWT, karena rahmat dan ridho-nya penulis dapat menyelesaikan skripsi ini tepat pada waktunya dengan judul Analisis Daya Saing Pengusahaan Komoditi Lada Putih (Muntok White Pepper) Kasus di Kecamatan Airgegas, Kabupaten Bangka Selatan, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Skripsi ini merupakan salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Pertanian pada Program Sarjana Ekstensi Manajemen Agribisnis, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor. Penulis menyadari bahwa dalam penulisan skripsi ini masih terdapat banyak kekurangan dan jauh dari sempurna, itu semua karena kealfaan dan kedloifan penulis, kebenaran datangnya hanya dari Allah SWT. Saran dan kritik yang membangun dari berbagai pihak sangat diharapkan. Semoga skripsi ini dapat bermanfaat dan berguna bagi para pembaca pada umumnya, Amin. Bogor, Mei 2008 Penulis

9 UCAPAN TERIMA KASIH Di antara sekian banyak orang yang begitu memberikan andil dalam penulisan skripsi ini, saya beruntung berjumpa dengan orang-orang baik yang bersedia membagi waktu dan pengetahuannya. Bagaimana mereka membimbing saya melewati hari-hari sebagai mahasiswa dan manusia biasa dalam liku-liku perpustakaan dan dalam arti kehidupan itu sendiri. Pada kesempatan ini penulis menyampaikan rasa terima kasih yang seyogianya ditujukan kepada: 1. Bapak dan Mak yang selalu memberiku dukungan, doa dan semangatnya baik moril maupun materi, juga ucapan terima kasih kepada Ayuk Ira, adik-adikku dan segenap keluarga di Bangka. 2. Dr. Ir. H. Sri Hartoyo, MS atas bimbingan dan masukan selama proses penyusunan skripsi. 3. Ir. Netti Tinaprilla, MM selaku dosen pembimbing yang telah membantu dan mengarahkan penulis dalam menyelesaikan skripsi ini. 4. Tanti Novianti, SP, MSi selaku dosen evaluator kolokium yang telah memberikan masukan terhadap proposal penelitian. 5. Muhammad Firdaus, SP, MSi, PhD selaku dosen penguji utama yang memberikan banyak masukan untuk perbaikan pada skripsi ini. 6. Ir. Popong Nurhayati, MM selaku dosen penguji komisi pendidikan (komdik) atas masukan dan saran-sarannya. 7. Muhammad Erfan, selaku pembahas pada seminar hasil penelitian yang telah memberikan masukan atas skripsi ini.

10 8. Tino, SP selaku Kepala Unit Pelaksana Teknis (KUPT) Pertanian Kecamatan Airgegas atas informasi, kerjasama dan arahannya dalam pengumpulan data primer. 9. M. Yusuf, SP selaku Kepala Bagian (KABAG) Produksi dan Hotrikultura Dinas Pertanian dan Kehutanan Kabupaten Bangka Selatan atas bantuan penyediaan datanya. 10. Seluruh staf dan pengajar Program Sarjana Ekstensi Manajemen Agribisnis atas pelayanan dan transfer ilmunya. 11. Tonies mantan Ketua Asosiasi Eksportir Lada Indonesia (AELI) Cabang Pangkalpinang atas bantuan informasinya. 12. Adek Lili dan Mamak atas doa dan motivasi (semangat) yang tiada hentinya. 13. Ikhwana di Keluarga Muslim (KAMUS) Ekstensi Rudi, Bona, Topan, Restu, Kiki, Ndah, Rohela dan Halimatus atas doa dan motivasinya. 14. Teman-teman dari MANAGRIS 2002 UNPAD Eko R. Priyadi, Nanang Nurhayudi, Nisa Sofiani, Ebrinedy dan Iwan Jumaidi atas dukungan dan semangatnya. 15. Teman-teman seperjuangan Baim, Pak Riki, Darsono, Fajar, Bang Denni, Dedi, Ubay, Jam an, Wawan dan lain-lainnnya yang pada kesempatan ini tidak memungkinkan untuk disebutkan satu persatu yang telah turut serta membantu demi selesainya skripsi ini. 16. Rekan-rekan mahasiswa/i Program Sarjana Ekstensi Manajemen Agribisnis khususnya angkatan 13 dan 14 tetap semangat dan terus berjuang.

11 DAFTAR ISI DAFTAR TABEL... DAFTAR GAMBAR... DAFTAR LAMPIRAN... Halaman I. PENDAHULUAN Latar Belakang Perumusan Masalah Tujuan Penelitian Manfaat Penelitian... 9 II. TINJAUAN PUSTAKA Sejarah dan Gambaran Umum Komoditi Lada Kebijakan Pemerintah Terhadap Perdagangan Lada Kebijakan Pemerintah Terhadap Input Tinjauan Penelitian Terdahulu Studi Tentang Komoditi Lada Studi Tentang Daya Saing III. KERANGKA PEMIKIRAN Kerangka Teoritis Keunggulan Komparatif Keunggulan Kompetitif Dampak Kebijakan Pemerintah Kebijakan Terhadap Output Kebijakan Terhadap Input Kebijakan Terhadap Input Tradable Kebijakan Terhadap Input Non Tradable Matrik Analisis Kebijakan (PAM) Analisis Sensitivitas Kerangka Pemikiran Operasional IV. METODE PENELITIAN Lokasi dan Waktu Penelitian Jenis dan Sumber Data Metode Pengumpulan Data Analisis Data Metode Pengalokasian Komponen Biaya Domestik dan Asing Alokasi Biaya Tataniaga Penentuan Harga Bayangan Input dan Output Harga Bayangan Output Harga Bayangan Input Analisis Sensitivitas iii iv v

12 V. GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN Letak dan Kondisi Geografis Kecamatan Airgegas Mekanisme Pemasaran Komoditi Lada Putih di Kecamatan Airgegas Karakteristik Petani Responden VI. HASIL DAN PEMBAHASAN Kondisi Usahatani Perkebunan Lada di Kecamatan Airgegas Komponen Biaya dan Penerimaan Pada Pengusahaan Komoditi Lada Putih Analisis Daya Saing Pengusahaan Komoditi Lada Putih Analisis Keuntungan Privat dan Sosial Analisis Keunggulan Kompetitif dan Komparatif Dampak Kebijakan Pemerintah Analisis Sensitivitas Terhadap Daya Saing Pengusahaan Komoditi Lada Putih VII. KESIMPULAN DAN REKOMENDASI Kesimpulan Rekomendasi DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN... 75

13 DAFTAR TABEL Nomor Teks Halaman 1. Neraca dan Jumlah Produksi Lada Dunia, Tahun (Ton) Perkembangan Ekspor Lada Putih Bangka Belitung dan Indonesia, Tahun Perkembangan Luas Areal dan Produksi Lada Bangka Belitung dan Indonesia, Tahun Tinjauan Hasil Penelitian Terdahulu Martik Analisis Kebijakan (PAM) Jumlah dan Luas Desa/Kelurahan di Kecamatan Airgegas, Tahun Karakteristik Petani Responden Pengusahaan Komoditi Lada Putih di Kecamatan Airgegas, Tahun Input-Output Lada Putih Menurut Umur Berdasarkan Harga Privat/ Finansial di Kecamatan Airgegas, Kabupaten Bangka Selatan, Tahun 2006/2007 (Rp/Ha) Input-Output Lada Putih Menurut Umur Berdasarkan Harga Sosial/ Ekonomi di Kecamatan Airgegas, Kabupaten Bangka Selatan, Tahun 2006/2007 (Rp/Ha) Hasil Matrik Analisis Kebijakan (PAM) pada Pengusahaan Komoditi Lada Putih Tahun ke-3, ke-4, ke-5, ke-6, dan ke-7 di Kecamatan Airgegas, Kabupaten Bangka Selatan, Tahun 2007 (Rp/Ha) Keunggulan Kompetitif dan Komparatif pada Pengusahaan Komoditi Lada Putih di Kecamatan Airgegas, Kabupaten Bangka Selatan, Tahun Dampak Kebijakan dan Kegagalan Pasar pada Pengusahaan Komoditi Lada Putih di Kecamatan Airgegas Kabupaten Bangka Selatan, Tahun Analisis Sensitivitas Terhadap Daya Saing Pengusahaan Komoditi Lada Putih Tahun ke-3, ke-4, ke-5, ke-6, dan ke-7 di Kecamatan Airgegas, Kabupaten Bangka Selatan, Tahun

14 DAFTAR GAMBAR Nomor Teks Halaman 1. Kurva Total Keuntungan Bersih Dampak Subsidi Negatif pada Produsen Barang Ekspor Pajak dan Subsidi pada Input Tradable Dampak Pajak dan Subsidi pada Input Non Tradable Kerangka Pemikiran Operasional Alur Pemasaran Lada Putih di Kecamatan Airgegas... 51

15 DAFTAR LAMPIRAN Nomor Teks Halaman 4. Tabel Neraca Ekspor Beberapa Komoditi Primer Perkebunan Indonesia, Tahun Diagram Alir Proses Pengolahan Lada Hitam dan Lada Putih Porsentase Alokasi Biaya Input dan Output dalam Komponen Domestik dan Asing Perhitungan Standard Convertion Factor dan Shadow Price Exchange Rate Tahun (Miliar Rupiah) Peta Daerah Kabupaten Bangka Selatan Tabel Biaya Analisis Finansial dan Analisis Ekonomi Usahatani Lada Putih pada Tahun ke-3 di Kecamatan Airgegas, Kabupaten Bangka Selatan, 2007 (Rp/Ha) Matrik Analisis Kebijakan (PAM) pada Pengusahaan Komoditi Lada Putih Tahun ke-3 di Kecamatan Airgegas, Kabupaten Bangka Selatan, 2007 (Rp/Ha) Tabel Biaya Analisis Finansial dan Analisis Ekonomi Usahatani Lada Putih pada Tahun ke-4 di Kecamatan Airgegas, Kabupaten Bangka Selatan, 2007 (Rp/Ha) Matrik Analisis Kebijakan (PAM) pada Pengusahaan Komoditi Lada Putih Tahun ke-4 di Kecamatan Airgegas, Kabupaten Bangka Selatan, 2007 (Rp/Ha) Tabel Biaya Analisis Finansial dan Analisis Ekonomi Usahatani Lada Putih pada Tahun ke-5 di Kecamatan Airgegas, Kabupaten Bangka Selatan, 2007 (Rp/Ha) Matrik Analisis Kebijakan (PAM) pada Pengusahaan Komoditi Lada Putih Tahun ke-5 di Kecamatan Airgegas, Kabupaten Bangka Selatan, 2007 (Rp/Ha) Tabel Biaya Analisis Finansial dan Analisis Ekonomi Usahatani Lada Putih pada Tahun ke-6 di Kecamatan Airgegas, Kabupaten Bangka Selatan, 2007 (Rp/Ha) Matrik Analisis Kebijakan (PAM) pada Pengusahaan Komoditi Lada Putih Tahun ke-6 di Kecamatan Airgegas, Kabupaten Bangka Selatan, 2007 (Rp/Ha) Tabel Biaya Analisis Finansial dan Analisis Ekonomi Usahatani Lada Putih pada Tahun ke-7 di Kecamatan Airgegas, Kabupaten Bangka Selatan, 2007 (Rp/Ha)... 84

16 15. Matrik Analisis Kebijakan (PAM) pada Pengusahaan Komoditi Lada Putih Tahun ke-7 di Kecamatan Airgegas, Kabupaten Bangka Selatan, 2007 (Rp/Ha) PAM Periode Banyak Bujet Privat Pengusahaan Komoditi Lada Putih di Kecamatan Airgegas (Rp/Ha) PAM Periode Banyak Bujet Sosial Pengusahaan Komoditi Lada Putih di Kecamatan Airgegas (Rp/Ha) PAM Periode Banyak Pengusahaan Komoditi Lada Putih Siklus Tanaman 7 Tahun di Kecamatan Airgegas (Rp/Ha) Tabel Biaya Analisis Finansial dan Analisis Ekonomi Usahatani Lada Putih pada Tahun ke-3 bila Harga Output Turun Sebesar 35 Persen di Kecamatan Airgegas, Kabupaten Bangka Selatan, 2007 (Rp/Ha) Matrik Analisis Kebijakan (PAM) pada Pengusahaan Komoditi Lada Putih Tahun ke-3 bila Harga Output Turun Sebesar 35 Persen di Kecamatan Airgegas, Kabupaten Bangka Selatan, 2007 (Rp/Ha) Tabel Biaya Analisis Finansial dan Analisis Ekonomi Usahatani Lada Putih pada Tahun ke-4 bila Harga Output Turun Sebesar 35 Persen di Kecamatan Airgegas, Kabupaten Bangka Selatan, 2007 (Rp/Ha) Matrik Analisis Kebijakan (PAM) pada Pengusahaan Komoditi Lada Putih Tahun ke-4 bila Harga Output Turun Sebesar 35 Persen di Kecamatan Airgegas, Kabupaten Bangka Selatan, 2007 (Rp/Ha) Tabel Biaya Analisis Finansial dan Analisis Ekonomi Usahatani lada Putih pada Tahun Ke-5 bila Harga Output Turun Sebesar 35 Persen di Kecamatan Airgegas, Kabupaten Bangka Selatan, 2007 (Rp/Ha) Matrik Analisis Kebijakan (PAM) pada Pengusahaan Komoditi Lada Putih Tahun ke-5 bila Harga Output Turun Sebesar 35 Persen di Kecamatan Airgegas, Kabupaten Bangka Selatan, 2007 (Rp/Ha) Tabel Biaya Analisis Finansial dan Analisis Ekonomi Usahatani Lada Putih pada Tahun ke-6 bila Harga Output Turun Sebesar 35 Persen di Kecamatan Airgegas, Kabupaten Bangka Selatan, 2007 (Rp/Ha) Matrik Analisis Kebijakan (PAM) pada Pengusahaan Komoditi Lada Putih Tahun ke-6 bila Harga Output Turun Sebesar 35 Persen di Kecamatan Airgegas, Kabupaten Bangka Selatan, 2007 (Rp/Ha) Tabel Biaya Analisis Finansial dan Analisis Ekonomi Usahatani Lada Putih pada Tahun ke-7 bila Harga Output Turun Sebesar 35 Persen di Kecamatan Airgegas, Kabupaten Bangka Selatan, 2007 (Rp/Ha) Matrik Analisis Kebijakan (PAM) pada Pengusahaan Komoditi Lada Putih Tahun ke-7 bila Harga Output Turun Sebesar 35 Persen di Kecamatan Airgegas, Kabupaten Bangka Selatan, 2007 (Rp/Ha)... 90

17 29. Tabel Biaya Analisis Finansial dan Analisis Ekonomi Usahatani Lada Putih pada Tahun ke-3 bila Harga Input Pupuk Naik Sebesar 15 Persen di Kecamatan Airgegas, Kabupaten Bangka Selatan, 2007 (Rp/Ha) Matrik Analisis Kebijakan (PAM) pada Pengusahaan Komoditi Lada Putih Tahun ke-3 bila Harga Input Naik Sebesar 15 Persen di Kecamatan Airgegas, Kabupaten Bangka Selatan, 2007 (Rp/Ha) Tabel Biaya Analisis Finansial dan Analisis Ekonomi Usahatani Lada Putih pada Tahun ke-4 bila Harga Input Pupuk Naik Sebesar 15 Persendi Kecamatan Airgegas, Kabupaten Bangka Selatan, 2007 (Rp/Ha) Matrik Analisis Kebijakan (PAM) pada Pengusahaan Komoditi Lada Putih Tahun ke-4 bila Harga Input Naik Sebesar 15 Persen di Kecamatan Airgegas, Kabupaten Bangka Selatan, 2007 (Rp/Ha) Tabel Biaya Analisis Finansial dan Analisis Ekonomi Usahatani Lada Putih pada Tahun ke-5 bila Harga Input Pupuk Naik Sebesar 15 Persendi Kecamatan Airgegas, Kabupaten Bangka Selatan, 2007 (Rp/Ha) Matrik Analisis Kebijakan (PAM) pada Pengusahaan Komoditi Lada Putih Tahun ke-5 bila Harga Input Naik Sebesar 15 Persen di Kecamatan Airgegas, Kabupaten Bangka Selatan, 2007 (Rp/Ha) Tabel Biaya Analisis Finansial dan Analisis Ekonomi Usahatani Lada Putih pada Tahun ke-6 bila Harga Input Pupuk Naik Sebesar 15 Persendi Kecamatan Airgegas, Kabupaten Bangka Selatan, 2007 (Rp/Ha) Matrik Analisis Kebijakan (PAM) pada Pengusahaan Komoditi Lada Putih Tahun ke-6 bila Harga Input Naik Sebesar 15 Persen di Kecamatan Airgegas, Kabupaten Bangka Selatan, 2007 (Rp/Ha) Tabel Biaya Analisis Finansial dan Analisis Ekonomi Usahatani Lada Putih pada Tahun ke-7 bila Harga Input Pupuk Naik Sebesar 15 Persendi Kecamatan Airgegas, Kabupaten Bangka Selatan, 2007 (Rp/Ha) Matrik Analisis Kebijakan (PAM) pada Pengusahaan Komoditi Lada Putih Tahun ke-7 bila Harga Input Naik Sebesar 15 Persen di Kecamatan Airgegas, Kabupaten Bangka Selatan, 2007 (Rp/Ha) Tabel Biaya Analisis Finansial dan Analisis Ekonomi Usahatani Lada Putih pada Tahun ke-3 bila Harga Sewa Lahan Naik Sebesar 75 Persendi Kecamatan Airgegas, Kabupaten Bangka Selatan, 2007 (Rp/Ha) Matrik Analisis Kebijakan (PAM) pada Pengusahaan Komoditi Lada Putih Tahun ke-3 bila Harga Sewa Lahan Naik Sebesar 75 Persen di Kecamatan Airgegas, Kabupaten Bangka Selatan, 2007 (Rp/Ha)... 96

18 41. Tabel Biaya Analisis Finansial dan Analisis Ekonomi Usahatani Lada Putih pada Tahun ke-4 bila Harga Sewa Lahan Naik Sebesar 75 Persendi Kecamatan Airgegas, Kabupaten Bangka Selatan, 2007 (Rp/Ha) Matrik Analisis Kebijakan (PAM) pada Pengusahaan Komoditi Lada Putih Tahun ke-4 bila Harga Sewa Lahan Naik Sebesar 75 Persen di Kecamatan Airgegas, Kabupaten Bangka Selatan, 2007 (Rp/Ha) Tabel Biaya Analisis Finansial dan Analisis Ekonomi Usahatani Lada Putih pada Tahun ke-5 bila Harga Sewa Lahan Naik Sebesar 75 Persendi Kecamatan Airgegas, Kabupaten Bangka Selatan, 2007 (Rp/Ha) Matrik Analisis Kebijakan (PAM) pada Pengusahaan Komoditi Lada Putih Tahun ke-5 bila Harga Sewa Lahan Naik Sebesar 75 Persen di Kecamatan Airgegas, Kabupaten Bangka Selatan, 2007 (Rp/Ha) Tabel Biaya Analisis Finansial dan Analisis Ekonomi Usahatani Lada Putih pada Tahun ke-6 bila Harga Sewa Lahan Naik Sebesar 75 Persendi Kecamatan Airgegas, Kabupaten Bangka Selatan, 2007 (Rp/Ha) Matrik Analisis Kebijakan (PAM) pada Pengusahaan Komoditi Lada Putih Tahun ke-6 bila Harga Sewa Lahan Naik Sebesar 75 Persen di Kecamatan Airgegas, Kabupaten Bangka Selatan, 2007 (Rp/Ha) Tabel Biaya Analisis Finansial dan Analisis Ekonomi Usahatani Lada Putih pada Tahun ke-7 bila Harga Sewa Lahan Naik Sebesar 75 Persendi Kecamatan Airgegas, Kabupaten Bangka Selatan, 2007 (Rp/Ha) Matrik Analisis Kebijakan (PAM) pada Pengusahaan Komoditi Lada Putih Tahun ke-7 bila Harga Sewa Lahan Naik Sebesar 75 Persen di Kecamatan Airgegas, Kabupaten Bangka Selatan, 2007 (Rp/Ha)

19 I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Pengembangan usaha perkebunan merupakan bagian dari pembangunan pertanian, dikembangkan searah dengan sistem dan usaha agribisnis yang berdaya saing tinggi, berkerakyatan, berkeadilan, berkelanjutan dan terdesentralisasi. 1 Salah satu pengembangan usaha agribisnis perkebunan di Indonesia adalah usaha agribisnis perkebunan lada. Lada (Piper nigrum L.) merupakan salah satu komoditi perkebunan yang mempunyai peranan penting dalam perekonomian disamping komoditas perkebunan lainnya, baik sebagai sumber devisa maupun sumber mata pencaharian rakyat. Disamping itu, pemanfaatan lada dewasa ini juga tidak terbatas hanya sebagai bumbu penyedap masakan dan penghangat tubuh, tetapi telah berkembang untuk berbagai kebutuhan industri, misalnya industri makanan, industri farmasi dan industri kosmetik (Soca, 2005). Dengan demikian, komoditi lada memiliki peluang yang strategis untuk tetap dikembangkan. Kontribusi ekspor komoditi lada terhadap total ekspor perkebunan memang tidak terlalu besar. Walaupun demikian, kontribusi tersebut sangat berarti bagi peningkatan pendapatan ekspor hasil perkebunan secara nasional. Kontibusi devisa yang diberikan oleh komoditi lada menduduki urutan ke delapan dalam sub sektor primer perkebunan yaitu setelah komoditi kelapa sawit, karet, kakao, kelapa, kopi, teh dan tembakau dengan nilai ekspor rata-rata selama tahun 2004 sampai 2006 adalah sebesar ribu dollar/tahun (Lampiran 1). 1 Direktorat Jenderal Bina Produksi Perkebunan. Departemen Pertanian,

20 2 Permintaan dunia terhadap komoditi lada setiap tahunnya berkisar antara ton (International Pepper Community, 2007). Produksi lada dunia berasal dari Negara Vietnam, Indonesia, Brazilia, India dan Malaysia. Tingkat produksi lada dunia yang dihasilkan oleh masing-masing negara penghasil utama dapat dilihat pada Tabel 1. Tabel 1. Negara dan Jumlah Produksi Lada Dunia, Tahun (Ton) Negara Tahun Rata-rata Vietnam Indonesia Brazilia India Malaysia Sumber: International Pepper Community, 2007 (diolah) Direktorat Jenderal Perkebunan RI, 2007 Apabila dilihat (Tabel 1) dari besaran produksi, negara pesaing utama Indonesia adalah Vietnam, India, dan Brazilia. Vietnam merupakan penghasil terbesar dengan produksi rata-rata ( ) sebesar ton/tahun dan terus mengalami kenaikan produksi yang besar setiap tahunnya. Indonesia yang menempati posisi kedua setelah Vietnam dengan tingkat produksi rata-rata selama tahun yakni sebesar ton/tahun cenderung berfluktuatif dalam produksinya dengan trend yang menurun. Sebaliknya pada kurun waktu tersebut, Brazilia dan India mengalami kenaikan produksi yang terus berlanjut secara konsisten dengan tingkat produksi rata-rata ton/tahun dan ton/tahun. Malaysia yang produksinya masih jauh di bawah Indonesia merupakan negara pendatang baru di percaturan lada dunia dan akan menjadi pesaing baru di masa-masa yang akan datang. Hal ini ditunjukkan oleh peningkatan produksinya sepanjang tahun yaitu rata-rata sebesar ton/tahun.

21 3 Tanaman lada adalah tanaman tropis dataran rendah yang dapat dikembangkan hampir di seluruh wilayah Indonesia. Menurut data dari Departemen Pertanian (2007), sentra produksi lada nasional meliputi Lampung, Bangka Belitung, Kalimantan Barat, Kalimantan Timur dan Sulawesi Selatan. Lada putih (muntok white pepper) sebagian besar dihasilkan di Bangka Belitung, sedangkan untuk lada hitam (lampong black pepper) sentra produksinya di Lampung. Volume dan nilai ekspor lada Indonesia setiap tahunnya mengalami fluktuasi, baik untuk lada hitam maupun lada putih. Khusus untuk ekspor lada putih dalam perkembangannya pada akhir-akhir ini ada tendensi terjadi penurunan volume dan nilai ekspor. Volume ekspor lada putih Indonesia selama kurun waktu lima tahun terakhir ( ) telah terjadi penurunan rata-rata sebesar 16,8 persen/tahun, sedangkan nilai ekspornya juga mengalami penurunan yaitu ratarata 3,6 persen/tahun. Lada putih Indonesia di pasar dunia yang lebih dikenal dengan muntok white pepper menghadapi persaingan dari Negara Malaysia, Vietnam dan Brazilia. 2 Ekspor lada putih Indonesia pada tahun 2006 sebagian besar ditujukan ke Negara Amerika Serikat (7%), Belanda (5%), Jepang (13%) dan Singapura (56%) (BPS, 2007). Sementara itu, kebutuhan dunia terhadap komoditi lada putih diperkirakan mencapai ribu ton/tahun (International Pepper Community, 2007). Provinsi Kepulauan Bangka Belitung merupakan penghasil dan pengekspor utama komoditi lada putih di Indonesia dengan potensi Rp 129 miliar 2 Sepinya Gaung Lada Bangka. Bangkapos, 09 Maret 2006

22 4 /tahun. 3 Disamping itu, kontribusi lada putih Bangka Belitung terhadap volume ekspor lada putih Indonesia sangat dominan sekali yakni sebesar 80 persen. Sebagai gambaran perkembangan ekspor lada putih dapat dilihat pada Tabel 2. Tabel 2. Perkembangan Ekspor Lada Putih Provinsi Kepulauan Bangka Belitung dan Indonesia, Tahun Ekspor Lada Putih Tahun Bangka Belitung Indonesia Volume Nilai Volume Nilai (Ton) (000 US$) (Ton) (000 US$) Rata-rata (%) (80) (78) Sumber: Badan Pusat Statistika (BPS), 2007 (diolah) (100) (100) Produksi lada putih Provinsi Kepulauan Bangka Belitung dihasilkan dari perkebunan rakyat yang umumnya diusahakan secara monokultur. Berdasarkan data dari Dirjen Perkebunan (2007), sampai saat ini Bangka Belitung merupakan provinsi yang memiliki areal lada terluas kedua di Indonesia setelah Provinsi Lampung. Tabel 3. Perkembangan Luas Areal dan Produksi Lada Provinsi Kepulauan Bangka Belitung dan Indonesia, Tahun Bangka Belitung Indonesia Tahun Luas Areal (Ha) Produksi (Ton) Luas Areal (Ha) Produksi (Ton) Sumber: Direktorat Jenderal Perkebunan RI, Kabupaten Bangka. Kompas, 30 Agustus 2002

23 5 Tabel 3 menunjukkan bahwa luas areal dan produksi lada yang ada di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung maupun Indonesia tidak mengalami perkembangan yang berarti. Bahkan untuk Provinsi Kepulauan Bangka Belitung telah terjadi penurunan luas areal dan produksi yang sangat signifikan. Pada tahun 2002 luas areal tanaman lada di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung adalah hektar dengan produksi sebanyak ton, tetapi pada tahun 2006 luas areal lada hanya hektar dengan produksi ton dan produktivitas dari 1,1 ton/ha menjadi 0,78 ton/ha. Hal ini menunjukkan bahwa ada persoalan bagi pengembangan komoditas tersebut walaupun masih tersedia lahan untuk pengembangannya. Didukung oleh kondisi daerah dan agroklimat yang cocok untuk tanaman lada menjadikan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung memiliki potensi dalam pengembangan komoditi lada putih. Daerah yang menjadi pusat penyebaran tanaman lada di Bangka Belitung diantaranya Kabupaten Bangka Selatan. Kabupaten ini memiliki produksi tertinggi dibandingkan kabupaten lainnya di Bangka Belitung dengan tingkat produksi sebesar 4.955,28 ton/tahun dan produktivitas sebesar 0,81 ton/tahun. Dalam pengusahaan komoditi lada putih, petani lada di Kabupaten Bangka Selatan tentunya tidak terlepas dari adanya hambatan-hambatan diantaranya adalah pengelolaan dan teknik budidaya perkebunan lada yang masih diusahakan dalam bentuk perkebunan rakyat (bersifat tradisional), sehingga berdampak pada rendahnya kuantitas dan produktivitas lada putih yang dihasilkan. Pengolahan hasil yang belum intensif menyebabkan sebagian besar lada putih yang dihasilkan masih memiliki mutu/kualitas yang rendah. Terjadinya pengalihan fungsi lahan

24 6 (konversi) sehingga menyebabkan terjadinya penurunan produksi. Selain itu, kurangnya dukungan terhadap infrastruktur dan modal telah menyebabkan pengembangan perkebunan lada berjalan sangat lambat, bahkan cenderung mengalami penurunan. Menghadapi perdagangan bebas yang semakin terbuka dan kompetitif, mengharuskan produk-produk hasil perkebunan memiliki keunggulan terutama pada kualitas produk dan efisiensi produksi. Oleh karena itu, pengembangan usaha perkebunan khususnya komoditi lada putih yang berbasis keunggulan komparatif dan kompetitif harus dilakukan, dengan tetap mengembangkan dan mempertahankan usaha yang ada, sehingga menghasilkan komoditi tersebut yang dapat bersaing di pasar internasional Perumusan Masalah Sentra pengembangan komoditi lada putih di Kabupaten Bangka Selatan terdapat di beberapa daerah antara lain di Kecamatan Airgegas, Kecamatan Payung dan Kecamatan Toboali. Masing-masing kecamatan tersebut secara berturut-turut memiliki luas areal sebesar hektar, hektar dan hektar dari luas areal total tanaman lada yang ada di Kabupaten Bangka Selatan. Pengusahaan komoditi lada putih di masing-masing kecamatan tersebut masih dikelola dalam bentuk perkebunan rakyat yang umumnya dicirikan oleh kualitas dan hasil/produktivitas yang rendah terutama karena kurangnya modal untuk memelihara tanaman dengan baik, rendahnya peggunaan bibit yang bermutu dan terjadinya pengalihan fungsi areal (konversi) yang sangat tinggi dari areal perkebunan menjadi areal pertambangan timah.

25 7 Kecamatan Airgegas adalah sentra produksi lada putih terbesar di Kabupaten Bangka Selatan yang mempunyai potensi dan perlu mendapatkan perhatian dalam pengembangannya. Hal ini penting mengingat lada putih merupakan komoditi andalan bagi kecamatan tersebut dan merupakan sumber pendapatan keluarga petani. Selain itu, kecamatan ini memiliki agroekosistem yang optimal untuk pengusahaan komoditi lada putih. Keadaan ini mengharuskan pengusahaan komoditi tersebut mengarah pada usaha peningkatan hasil dengan memanfaatkan sumberdaya yang ada secara optimal. Akan tetapi, hal yang perlu diketahui bahwa pengusahaan komoditi lada putih di kecamatan ini masih banyak dihadapkan pada berbagai permasalahan baik dari sisi pengelolaan, rendahnya mutu yang dihasilkan dan penurunan tingkat produksi. Pengelolaan dan teknik budidaya perkebunan lada putih di kecamatan Airgegas masih bersifat tradisional, sehingga memerlukan waktu yang cukup lama dan tenaga kerja yang besar dalam pengusahaannya. Rendahnya mutu yang dihasilkan di kecamatan tersebut merupakan dampak dari pengolahan hasil yang belum intensif, dimana buah lada dirontokkan dengan cara diinjak atau menggunakan tangan, kemudian direndam dengan menggunakan air kolong. Kualitas air yang kurang memadai menyebabkan aroma khas lada putih kurang tajam dan masih mengandung lada hitam. Penurunan tingkat produksi yang terjadi di Kecamatan Airgegas diakibatkan oleh alih profesi petani ke pertambangan dengan mengkonversi areal perkebunan yang dimiliki ke areal pertambangan timah (tambang inkonvensioanl), hal ini telah berdampak pada semakin menyempitnya areal untuk pengusahaan komoditi lada putih. Kondisi tersebut telah berpengaruh terhadap tingkat daya saing komoditi lada putih yang dimiliki

26 8 Kecamatan Airgegas, sehingga diperlukan upaya nyata untuk mengatasi permasalahan tersebut. Pemerintah melalui Departemen Pertanian telah mengupayakan pencapaian standar mutu hasil lada dengan menerbitkan standar mutu lada putih yaitu SNI Selain itu, Departemen Pertanian telah membuat kebijakan untuk mendukung pengembangan lada sampai tahun Kebijakan tersebut antara lain yaitu peningkatan produktivitas dan mutu, pemberdayaan petani, pemantapan kelembagaan, fasilitasi dukungan penyediaan dana dan pengembangan industri hilir dan peningkatan nilai tambah. Adanya kebijakan tersebut telah mendorong pemerintah daerah di Kabupaten Bangka Selatan melakukan perbaikan terhadap pengelolaan perkebunan lada, sebagai upaya untuk meningkatkan efisiensi produksi maupun kualitas lada putih. Berdasarkan uraian-uraian sebelumnya, maka dalam penelitian ini yang menjadi permasalahan adalah: 1. Bagaimana kondisi daya saing pengusahaan komoditi lada putih di Kecamatan Airgegas? 2. Bagaimana dampak kebijakan pemerintah selama ini terhadap output dan input dalam pengusahaan komoditi lada putih di Kecamatan Airgegas? 3. Bagaimana pengaruh perubahan output dan input berdasarkan analisis sensitivitas terhadap daya saing pengusahaan komoditi lada putih di Kecamatan Airgegas?

27 Tujuan Penelitian Berdasarkan permasalahan di atas, maka penelitian ini bertujuan untuk: 1. Menganalisis daya saing (keunggulan komparatif dan kompetitif) terhadap pengusahaan komoditi lada putih di Kecamatan Airgegas. 2. Menganalisis dampak kebijakan terhadap output dan input pada pengusahaan komoditi lada putih. 3. Menganalisis sensitivitas hasil analisis daya saing pengusahaan komoditi lada putih terhadap perubahan output dan input Manfaat Penelitian Penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi dan berguna untuk: 1. Bagi petani lada sebagai tambahan informasi tentang kondisi aktual pengelolaan lada dan mengetahui seberapa besar peran dari kebijakan pemerintah berpengaruh terhadap pengusahaan komoditi lada putih. 2. Bagi civitas akademika berguna untuk menambah pengetahuan ataupun sebagai bahan rujukan dalam melakukan penelitian selanjutnya. 3. Bagi pemerintah daerah dan instansi terkait bermanfaat sebagai bahan evaluasi dan masukkan terhadap kebijakan yang akan datang dalam upaya meningkatkan pengusahaan komoditi lada.

28 II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Sejarah dan Gambaran Umum Komoditi Lada Lada merupakan tanaman perkebunan yang telah lama dikembangkan oleh masyarakat Indonesia sejak sebelum merdeka. Tanaman ini berasal dari daerah Ghat Barat India, buktinya pada tahun SM, banyak koloni Hindu yang datang ke Indonesia dan mereka inilah yang membawa bibit lada kali pertama. Pada abad ke-16 lada dikembangkan dalam skala kecil di Pulau Jawa dan baru di awal abad ke-18 lada mulai diusahakan secara besar-besaran dengan daerah pengembangan perkebunan di Pulau Sumatera dan Kalimantan. Perkembangan dewasa ini menunjukkan bahwa tanaman lada dapat ditemukan di sebagian besar propinsi di Indonesia (Suwarto, 2002). Klasifikasi dari tanaman lada adalah sebagai berikut: Divisi Kelas : Spermatophyta : Angiospermae Sub kelas : Dicotyledoneae Ordo Famili Genus : Piperales : Piperceae : Piper Spesies : Piper nigrum L. Varietas lada yang tersebar di Indonesia sampai saat ini tidak kurang dari 50 jenis varietas, diantaranya adalah Varietas Cunuk, Jambi, Lampung Daun Lebar, Bangka, Kuching dan Lampung Daun Kecil. Varietas yang banyak ditanam oleh petani adalah Varietas Lampung Daun Lebar, karena varietas ini lebih banyak menghasilkan buah bila dibandingkan dengan varietas-varietas lainnya.

29 11 Berdasarkan hasil penelitian dari Balittro Bogor ternyata ada 4 varietas lada unggul, yaitu: a. Natar I Jenis ini mempunyai ketahanan yang tinggi terhadap penyakit busuk pangkal batang (BPB) dan penggerek batang (Lophobaris Piperis). Tanaman mulai berbunga pada umur 10 bulan dengan potensi hasil 3,7 ton/hektar, lebih cepat menghasilkan buah dan buahnya besar. b. Natar II Tanaman lada jenis ini memiliki akar yang kuat, mulai berbunga pada umur 12 bulan. Jenis ini hanya memerlukan sedikit perlindungan dari pohon pelindung, serta produksi yang diperoleh mencapai 3,52 ton/hektar. c. Petaling I Tanaman tahan terhadap penyakit kuning dan dapat ditanam di daerah yang kurang subur. Tanaman mulai berbunga pada usia 10 bulan dengan produksi yang dihasilkan sebesar 4,48 ton/hektar. d. Petaling II Tanaman mulai berbunga pada umur 12 bulan dengan hasil produksi sebesar 4,5 ton/hektar, jenis petaling II ini tidak tahan terhadap penyakit kuning. Lada merupakan tanaman tropis dataran rendah yang dapat dibudidayakan dengan baik pada ketinggian kurang dari 500 m di atas permukaan laut (dpl). Suhu optimal untuk tanaman lada berkisar antara o C dengan curah hujan yang dikehendaki mm/tahun dan kelembaban untuk pertumbuhan optimal persen. Tumbuh pada jenis tanah podzolik, andosol, latosol,

30 12 grumosol dan regosol yang memiliki tingkat kesuburan dan drainase yang baik seperti tanah liat berpasir dengan kisaran PH 5,5-5,8 (Suwarto, 2002). Perbanyakan tanaman lada dapat dilakukan secara generatif dan vegetatif. Perbanyakan secara generatif dilakukan dengan biji, sedangkan secara vegetatif dengan stek batang. Cara yang paling praktis dan efisien untuk perbanyakan bibit lada adalah stek batang. Hal ini karena bibit yang dihasilkan dari biji memiliki daya kecambah rendah, cepat menurun dan tidak dapat dipastikan sifatnya. Petani lebih menyukai bibit yang dihasilkan secara vegetatif karena lebih cepat berbuah dan mempunyai sifat seperti induknya. Berdasarkan perbedaan waktu pemetikan dan proses pengolahannya, produksi lada Indonesia dapat dikelompokkan ke dalam dua jenis yaitu lada putih dan lada hitam. Lada putih (white pepper) adalah buah lada yang dipetik saat matang penuh dan dikeringkan setelah melalui proses perendaman dan pengupasan, sedangkan lada hitam (black pepper) adalah buah lada yang dipetik saat matang petik (kulit masih hijau) dan dikeringkan bersama kulitnya tanpa proses perendaman terlebih dahulu (Lampiran 2). Lada merupakan produk tertua dan terpenting dari produk rempah-rempah yang diperdagangkan di dunia. Sebagian rempah-rempah yang diperdagangkan di dunia adalah lada, sehingga lada memperoleh julukan rajanya rempah-rempah atau king of spice. Lada dan hasil olahannya memberikan aroma harum yang khas dan rasanya yang pedas sebagai akibat adanya zat piperine, puiperamin dan chavichine.

31 Kebijakan Pemerintah Terhadap Perdagangan Lada Kebijakan terhadap perdagangan lada khususnya lada putih yang dilakukan oleh pemerintah sampai saat ini belum ada, meskipun hanya berupa dukungan harga seperti harga minimum (harga dasar). Belum adanya kebijakan tersebut diduga karena lingkup dari perdagangan komoditi lada putih cukup luas mulai dari pasar lokal, domestik sampai pasar internasional/global. Oleh karena itu, hingga saat ini harga komoditi lada putih sepenuhnya ditentukan oleh mekanisme pasar tersebut. Untuk mendorong ekspor, komoditas lada putih tidak dikenakan pajak ekspor seperti yang diberlakukan pada ekspor CPO (Crude Palm Oil). Dewasa ini, arah kebijakan yang ingin ditempuh adalah mencapai stabilisasi harga pada tingkat yang menguntungkan. Untuk mencapai tujuan tersebut, saat ini tengah dilakukan berbagai kajian mengenai aturan baku terhadap perdagangan/transaksi komoditi lada putih diantaranya pembatasan produksi dan dibentuknya kantor pemasaran bersama Kebijakan Pemerintah Terhadap Input Pupuk dalam pengusahaan komoditi lada putih merupakan salah satu input yang memiliki peran penting untuk mendorong peningkatan produksi tanaman lada. Sampai saat ini, pemerintah telah memberlakukan kebijakan terhadap input pupuk dengan memberikan subsidi pada harga input tersebut. Kebijakan pemerintah tersebut tertuang dalam SK. Menperindag No.70/MPP/Kep/2/2003 yang berisi pola pengadaan dan penyaluran pupuk bersubsidi untuk sektor pertanian dengan cara rayonisasi.

32 14 Memberikan kemudahan dalam memperoleh input pupuk dengan harga yang murah kepada petani adalah bentuk dari kebijakan pemerintah terhadap input tersebut. Pengusahaan tanaman lada yang ada di Kecamatan Airgegas mayoritas diusahakan oleh rakyat (perkebunan rakyat), sehingga dengan adanya subsidi terhadap input pupuk maka akan membantu petani dalam meringankan beban biaya untuk berproduksi Tinjauan Penelitian Terdahulu Penelitian terdahulu tentang komoditi lada dan analisis daya saing berdasarkan analisis keunggulan komparatif dan kompetitif dengan pendekatan Policy Analysis Matrix (PAM) sudah banyak dilakukan oleh peneliti sebelumnya. Pada penjelasan di bawah ini akan diuraikan hasil-hasil penelitian terdahulu Studi Tentang Komoditi Lada Penelitian yang berkaitan dengan komoditi lada diantaranya dilakukan oleh Tanjung (1996) mengenai analisis perkembangan ekspor dan faktor-faktor yang mempengaruhi lada Indonesia. Metode analisis pada penelitian ini menggunakan Ordinary Least Squares (OLS) atau metode kuadrat terkecil. Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa ekspor lada Indonesia dipengaruhi oleh volume produksi tahun sebelumnya, luas areal, harga ekspor saat ini dan harga ekspor tahun sebelumnya yang bersifat inelastis, nilai tukar rupiah terhadap dollar serta kebijakan pemerintah. Nilai tukar dollar berpengaruh negatif terhadap volume ekspor, hal ini ditunjukkan dengan menurunnya volume ekspor akibat adanya kebijakan devaluasi mata uang oleh pemerintah.

33 15 Hasil analisis kelayakan finansial usaha tani lada dan pemasaran komoditi lada di Desa Giri Mulya oleh Wuriyanto (2002), menyimpulkan bahwa usaha tani lada desa tersebut dikelola secara non intensif dan ditumpang sarikan dengan berbagai tanaman lain sehingga produktivitas lada menjadi rendah. Selain itu, juga disebabkan oleh kondisi tanaman lada yang rata-rata sudah berusia tua dan seharusnya mulai diremajakan. Berdasarkan analisis kelayakan finansial usaha tani layak diusahakan pada tingkat diskonto 16 persen dan 18 persen. Sementara itu, analisis keragaan pasar memperlihatkan pasar lada yang terbentuk berstruktur oligopsoni dengan keterpaduan pasar yang tinggi. Tingginya keterpaduan pasar ini dikarenakan adanya hubungan (kartel) antara pedagang dengan ekspotir. Elizabeth (2003) melakukan penelitian tentang keragaan komoditas lada Indonesia dengan pendekatan analisis diskriptif. Hasil penelitiannya memberikan informasi bahwa tanaman lada yang ada di Indonesia lebih banyak diusahakan oleh petani dibandingkan perusahaan besar. Hal ini disebabkan oleh harga yang tidak bisa diprediksi, baik di dalam negeri mapun di luar negeri sehingga tidak bisa memprediksi berapa keuntungan atau pendapatan yang ditargetkan. Hasil penelitiannya juga menyimpulkan bahwa tidak ada hubungan yang jelas antara volume produksi dengan harga dalam negeri Studi Tentang Daya Saing Penelitian mengenai daya saing dengan menggunakan alat analisis PAM dilakukan oleh Ariani et al, (2003) mengenai analisis daya saing usahatani tebu di Provinsi Jawa Timur. Hasil analisis Policy Analysis Matrix (PAM) menunjukkan bahwa usahatani tebu pada empat lokasi yaitu Malang, Jember, Kediri dan

34 16 Madiun di Provinsi Jawa Timur menguntungkan secara finansial dengan rata-rata keuntungan Rp 2,5 juta 8 juta/hektar dan mempunyai keunggulan kompetitif. Namun sebaliknya secara ekonomi, kerugian dialami oleh petani di Madiun dan Kediri sebesar Rp 2 juta Rp 4 juta/hektar dan tidak mempunyai keunggulan komparatif. Perbedaan tersebut terjadi disebabkan karena adanya distorsi pasar yang ditimbulkan oleh kebijakan pemerintah. Usahatani tebu di Madiun dan Kediri akan mempunyai keunggulan komparatif apabila produktivitas (rendemen) tebu meningkat sekitar 20 persen atau harga gula dunia menjadi 220 US$/ton. Malian et al, (2004) melakukan penelitian tentang permintaan ekspor dan analisis daya saing panili di Provinsi Sulawesi Utara. Penelitian ini menggunakan model analisis permintaan pasar ekspor, integrasi harga, marjin pemasaran, atribut mutu produk dan daya saing. Hasil penelitian menunjukkan bahwa komoditas ekspor panili Indonesia di pasar Amerika Serikat hanya bersifat substitusi, sedangkan integrasi harga panili di tingkat petani dan eksportir sangat lemah. Analisis marjin pemasaran memperlihatkan bagian yang diterima petani hanya sekitar 67 persen dari harga FOB. Sementara itu, atribut mutu yang mempengaruhi kualitas produk panili adalah diameter buah, panjang buah dan warna buah. Analisis daya saing menunjukkan bahwa secara umum petani panili di Provinsi Sulawesi Utara memiliki keunggulan kompetiti dan komparatif dengan nilai PCR dan DRCR yang kurang dari satu. Sunandar (2007) dalam penelitiannya mengenai analisis daya saing dan dampak kebijakan pemerintah terhadap pengusahaan komoditi karet alam di Kecamatan Cambai, menyimpulkan bahwa pengusahaan karet menguntungkan baik tanpa atau adanya kebijakan pemerintah. Hal ini terlihat dari nilai

35 17 Keuntungan Privat dan Keuntungan Sosial yang diperoleh lebih dari nol. Sementara nilai rasio biaya privat (PCR) dan rasio biaya sumberdaya domestik (DRCR) yang dihasilkan lebih kecil dari satu, artinya komoditi karet memiliki daya saing. Berdasarkan tinjauan penelitian terdahulu, dapat diketahui bahwa sampai saat ini belum ada yang melakukan penelitian tentang perhitungan tingkat daya saing komoditi lada putih dengan menggunakan alat analisis Policy Analysis Matrix (PAM) periode banyak. Penelitian lada terdahulu hanya terbatas pada perkembangan ekspor lada, keragaan komoditas lada ataupun mengenai analisis kelayakan finansial usahatani dan pemasaran lada, sehingga penelitian tentang analisis daya saing pengusahaan komoditi lada putih perlu dilakukan oleh penulis. Namun demikian, hasil penelitian terdahulu memiliki kaitan dengan penelitian ini terutama pada penelitian tentang komoditi lada. Hal ini dikarenakan indikator dari hasil peneltitian tersebut dijadikan variabel dalam mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat daya saing pada penelitian ini yakni luas areal, harga ekspor, nilai tukar rupiah, kebijakan pemerintah dan pengusahaan tanaman lada yang dikelola dalam bentuk perkebunan rakyat. Hasil tinjauan penelitian terdahulu dapat dilihat pada Tabel 4. Adapun kontribusi dari penelitian terdahulu terhadap penelitian ini tidak lain adalah: a) untuk mengetahui gambaran tentang kondisi pengembangan dan pengusahaan pada komoditi lada dan b) sebagai acuan di dalam penerapan/penggunaan alat analisis.

36 18 Tabel 4. Hasil Tinjauan Penelitian Terdahulu Nama Judul Alat Analisis Hasil Penelitian Studi Tentang Komoditi Lada Tanjung, (1996) Analisis Perkembangan Ekspor dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Lada Indonesia - Ordinary Least Squares (OLS) Ekspor lada Indonesia dipengaruhi oleh volume produksi tahun sebelumnya, luas areal, harga ekspor saat ini dan harga ekspor tahun sebelumnya yang bersifat inelastis, nilai tukar rupiah terhadap dollar serta kebijakan pemerintah. Wuriyanto, (2002) Elizabeth, (2003) Mewa Ariani, Andi Askin dan Juni Hestina, (2003) A. Husni Malian, Benny Rachman, Adimesra Djulin (2004) Sunandar (2007) Analisis Kelayakan Finansial Usahatani Tada dan Pemasaran Komoditi Lada di Desa Giri Mulya - Benefical Cost Ratio (B/C Ratio) - Net Present Value (NPV) - Nilai Internal Rate of Return (IRR) Keragaan Komoditas Lada Indonesia - Diskriptif Analisis Daya Saing Usahatani Tebu di Provinsi Jawa Timur Permintaan Ekspor dan Daya Saing Panili di Provinsi Sulawesi Utara. Analisis Daya Saing dan Dampak Kebijakan Pemerintah Terhadap Pengusahaan Komoditi Karet Alam di Kecamatan Cambai Analisis kelayakan finansial usahatani layak diusahakan pada tingkat diskonto 16 persen dan 18 persen. Analisis keragaan pasar memperlihatkan pasar lada yang terbentuk berstruktur oligopsoni dengan keterpaduan pasar yang tinggi. Tanaman lada yang ada di Indonesia lebih banyak diusahakan oleh petani dibandingkan perusahaan besar. Selain itu, tidak ada hubungan yang jelas antara volume produksi dengan harga dalam negeri. Studi Tentang Daya Saing - PAM Usahatani tebu menguntungkan secara finansial dan mempunyai keunggulan kompetitif. Namun sebaliknya secara ekonomi merugikan petani dan tidak mempunyai keunggulan komparatif - Regresi - Market Integration Index - Relative Marketing Margin - PAM - PAM - Sensitivitas Ekspor panili Indonesia di pasar Amerika Serikat hanya bersifat substitusi, sedangkan integrasi harga panili di tingkat petani dan eksportir sangat lemah. Harga yang diterima petani hanya sekitar 67 persen dari harga FOB. Sementara itu, atribut mutu yang mempengaruhi kualitas produk panili adalah diameter buah, panjang buah dan warna buah. Secara umum petani panili di Provinsi Sulawesi Utara memiliki keunggulan kompetiti dan komparatif dengan nilai PCR dan DRCR yang kurang dari satu. Pengusahaan karet alam memiliki daya saing, baik tanpa atau dengan adanya kebijakan pemrintah. Analisis sensitivitas menunjukkan bahwa pengusahaan karet alam memiliki daya saing serta layak untuk diusahakan.

37 III. KERANGKA PEMIKIRAN 3.1. Kerangka Teoritis Dalam menganalisis daya saing, baik dari sisi penawaran maupun permintaan sama-sama menentukan, karena perubahan keduanya atau salah satunya akan menentukan harga yang terjadi di kemudian hari. Harga yang terjadi tersebut akan mempangaruhi daya saing petani/produsen dalam mengusahakan komoditi tertentu. Pengkajian daya saing dalam penelitian ini merupakan pendekatan satu sisi yakni dari sisi petani/produsen (penawaran). Daya saing dari pendekatan tersebut diartikan sebagai kemampuan untuk menghasilkan komoditi dengan biaya yang relatif rendah sehingga pada harga-harga yang terjadi di pasar kegiatan usaha dan produksi tersebut menguntungkan. Pengusahaan tanaman perkebunan termasuk tanaman lada merupakan suatu usaha yang sifat produksinya terus menghasilkan selama umur produktif tanaman. Tingkat keuntungan yang diperoleh akan menurun seiring bertambahnya umur dan menurunnya produktivitas tanaman. Pola produksi tanaman lada mengikuti suatu kurva produksi tertentu yaitu pada saat pertama berproduksi, hasil yang diperoleh masih rendah kemudian semakin meningkat seiring dengan bertambahnya umur tanaman dan mencapai produksi maksimum lalu mulai menurun sampai kondisi terendah. Kondisi tersebut dapat dijelaskan oleh Gambar 1 yang memperlihatkan hubungan antara keuntungan yang diterima dengan waktu produksi. Pada titik produksi 2 menunjukkan keuntungan yang diperoleh mencapai tingkat maksimum, sedangkan pada titik produksi 1 dan 3 menunjukkan keuntungan sama dengan nol.

38 20 Biaya Penerimaan Biaya (TC) Penerimaan (TR) Waktu Produksi Keuntungan Bersih Waktu Produksi Keuntungan Bersih Gambar 1. Kurva Total Keuntungan Bersih Sumber: Nicholson, 2002 Daya saing dalam pengusahaan suatu komoditi dapat diketahui dari tingkat keuntungan yang diterima, baik berdasarkan harga privat maupun sosial. Keuntungan dari pengusahaan tanaman lada diperoleh melalui penjualan hasil produksi (penerimaan) yang dikurangi dengan biaya total selama berproduksi. Selain itu, daya saing juga dapat diukur dari tingkat efisiensi dalam pengusahaan komoditi tersebut dengan indikator yaitu keunggulan komparatif dan kompetitif Keunggulan Komparatif Prinsip keunggulan komparatif pertama kali dikemukakan oleh David Ricardo pada tahun Prinsip tersebut menyatakan bahwa meskipun sebuah negara kurang efisien atau memiliki kerugian absolut dibandingkan dengan negara

39 21 lain dalam memproduksi suatu komoditi, namun masih terdapat dasar untuk melakukan perdagangan yang saling menguntungkan kedua belah pihak. Negara yang memiliki kerugian absolut akan berspesialisasi dalam berproduksi dan mengekspor komoditi dengan kerugian absolut terkecil atau dengan kata lain komoditi yang memiliki keunggulan komparatif (Salvatore, 1997). Teori nilai tenaga kerja (Theory of Labour Value) yang menjadi asumsi dasar dari David Ricardo dalam menjelaskan hukum keunggulan komparatif menyebutkan bahwa tenaga kerja adalah satu-satunya faktor produksi dan bersifat homogen. Teori hukum keunggulan komparatif David Ricardo kemudian disempurnakan lebih modern oleh Hecksher-Ohlin (H-O). Hecksher-Ohlin berpendapat bahwa suatu negara akan mengekspor komoditi yang produksinya lebih banyak menyerap faktor produksi yang ketersediaannya di negara tersebut relatif melimpah dan murah, sedangkan di sisi lain akan mengimpor komoditi yang produksinya memerlukan faktor produksi yang di negaranya relatif langka dan mahal. Teorema tersebut memberikan penjelasan mengenai proses terbentuknya keunggulan komparatif pada suatu negara berdasarkan perbedaan dalam kelimpahan faktor atau kepemilikan faktor-faktor produksi yang dimiliki masing-masing negara (Salvatore, 1997). Keunggulan komparatif merupakan ukuran daya saing potensial yang akan dicapai apabila perekonomian tidak mengalami distorsi sama sekali (Simatupang dan Sudaryanto, 1990). Komoditi yang efisien secara ekonomi dalam pengusahaannya, menunjukkan bahwa komoditi tersebut memiliki keunggulan komparatif. Dengan demikian, keunggulan komparatif merupakan alat untuk

40 22 mengukur keuntungan sosial dan dihitung berdasarkan harga sosial serta harga bayangan nilai tukar uang Keunggulan Kompetitif Negara atau daerah yang memiliki keunggulan sumberdaya alam melimpah dan tenaga kerja yang banyak, belum tentu mempunyai keunggulan kompetitif dalam perdagangan internasional. Hal ini dikarenakan tidak terdapat korelasi positif antara keunggulan sumberdaya alam dan tenaga kerja yang dimiliki oleh sebuah negara dengan keunggulan kompetitif. Menurut Halwani (2002), keunggulan kompetitif suatu negara ditentukan oleh empat faktor, yaitu keadaan faktor-faktor produksi, permintaan dan tuntutan mutu, industri terkait dan pendukung yang kompetitif dan strategi, struktur serta sistem penguasaan antar perusahaan. Selain dari empat faktor penentu tersebut, keunggulan kompetitif juga ditentukan oleh faktor eksternal, yaitu sistem pemerintahan dan terdapatnya kesempatan. Faktor-faktor ini secara bersama-sama akan membentuk sistem dalam peningkatan keunggulan kompetitif suatu negara. Keunggulan kompetitif merupakan perluasan dari konsep keunggulan komparatif yang menggambarkan kondisi daya saing suatu aktivitas pada kondisi perekonomian aktual. Keunggulan kompetitif digunakan untuk mengukur kelayakan suatu aktivitas atau keuntungan privat yang dihitung berdasarkan harga pasar dan nilai uang yang berlaku (resmi) atau berdasarkan analisis finansial. Harga pasar adalah harga yang benar-benar di bayar produsen untuk faktor produksi dan harga yang benar-benar diterima dari hasil penjualan outputnya. Keunggulan komparatif dan kompetitif dapat dimiliki oleh suatu komoditi sekaligus, namun bisa saja suatu komoditi hanya memiliki salah satu keunggulan.

41 23 Komoditi yang memiliki keunggulan komparatif tetapi tidak memiliki keunggulan kompetitif terjadi disebabkan karena adanya distorsi pasar atau adanya hambatan yang bersifat disintesif, misalnya perpajakan atau prosedur administrasi yang menghambat aktivitas tersebut sehingga merugikan produsen. Sebaliknya suatu komoditi yang memiliki keunggulan kompetitif tapi tidak mempunyai keunggulan komparatif dapat terjadi bila pemerintah memberikan proteksi terhadap komoditi yang dihasilkan, misalnya jaminan harga, perijinan dan kemudahan fasilitas lainnya Dampak Kebijakan Pemerintah Kebijakan Terhadap Output Kebijakan terhadap output baik berupa subsidi maupun hambatan perdagangan diterapkan pada produsen yang menghasilkan komoditas yang merupakan produk berorientasi ekspor dan substitusi impor. Secara grafik dapat diketahui dampak dari subsidi negatif terhadap produsen untuk barang ekspor (Gambar 2). P S P w B D F H P D E G J K Q 1 Q 2 Q 3 Q 4 D Q Gambar 2. Dampak Subsidi Negatif pada Produsen Barang Ekspor Sumber: Monke and Pearson, 1989

42 24 Harga yang berlaku pada situasi perdagangan bebas adalah sebesar P w, di mana harga yang diterima produsen output dan konsumen domestik sama dengan harga internasional dengan tingkat output yang dihasilkan sebesar Q 1, sehingga terjadi kelebihan penawaraan (excess supply) di dalam negeri sebesar BHJ. Kelebihan penawaran tersebut mengharuskan output yang dihasilkan sebesar Q 4 - Q 1 diekspor ke luar negeri. Diterapkanya kebijakan subsidi negatif pada produsen output akan menyebabkan perubahan harga domestik yaitu harga yang diterima produsen dan konsumen (harga finansial) menjadi lebih rendah dari pada harga di pasar dunia (P D < P W ). Perubahan harga tersebut berdampak pada tingkat konsumsi domestik dari Q 1 Q 4 menjadi Q 2 Q 3. Selain itu, berimplikasi pada perubahan surplus produsen dari sebesar P w HK menjadi P w HGP D dan surplus konsumen sebesar P D EBP W. Besarnya transfer pajak kepada pemerintah sebesar DFGE. Efisiensi ekonomi yang hilang dari produsen tidak ditransfer baik kepada konsumen maupun pemerintah Kebijakan Terhadap Input Kebijakan terhadap input diterapkan baik pada input yang dapat diperdagangkan (tradable) maupun input yang tidak dapat diperdagangkan (non tradable). Untuk input non tradable hanya diproduksi dan dikonsumsi di dalam negeri, jadi intervensi pemerintah berupa hambatan perdagangan terhadap input ini tidak akan tampak.

43 Kebijakan Terhadap Input Tradable Pada input tradable dapat diterapkan kebijakan subsidi dan kebijakan hambatan perdagangan, karena input ini dapat diproduksi dan dikonsumsi di dalam maupun di luar negeri. Pengaruh kebijakan subsidi dan hambatan perdagangan pada input tradable dapat dilihat pada Gambar 3. P S * S P C S S * P W A B C D P W A B D Q 2 Q 1 Q Q 1 Q 2 Q (a) S II (b) S + II Gambar 3. Pajak dan Subsidi pada Input Tradable Sumber: Monke and Pearson, 1989 Keterangan: S II : Pajak untuk input tradable S + II : Subsidi untuk input tradable Gambar 3(a) menunjukan dampak pajak terhadap input tradable yang digunakan. Pajak menyebabkan biaya produksi meningkat sehingga pada tingkat harga output yang sama, output domestik turun dari Q 1 ke Q 2 dan kurva supply bergeser ke atas. Efisiensi ekonomi yang hilang adalah ABC, yang merupakan perbedaan antara nilai output yang hilang Q 1 CAQ 2 dengan biaya produksi output Q 2 BCQ 1. Gambar 3(b) memperlihatkan efek subsidi terhadap input tradable. Subsidi menyebabkan harga input lebih rendah dan biaya produksi lebih rendah sehingga kurva supply bergeser ke bawah dan produksi naik dari Q 1 ke Q 2. Efisiensi ekonomi yang hilang dari produksi adalah ABC, yang merupakan

44 26 pengaruh perbedaan antara biaya produksi setelah output meningkat yaitu Q 1 ACQ 2 dan nilai output meningkat yaitu Q 1 ABQ Kebijakan Terhadap Input Non Tradable Kebijakan terhadap input non tradable dapat dilakukan dalam bentuk kebijakan subsidi atau pajak. Pada Gambar 4 dapat dilihat dampak mengenai kebijakan pajak dan subsidi yang diterapkan pada input non tradable. P P c P d C B P p E S P P p C A A P d B P c E S D D Q 2 Q 1 Q Q 1 Q 2 Q (a) S N (b) S + N Gambar 4. Dampak Pajak dan Subsidi pada Input Non Tradable Sumber: Monke and Pearson, 1989 Keterangan: P d : Harga domestik sebelum diberlakukan pajak dan subsidi P c : Harga ditingkat konsumen setelah diberlakukan pajak dan subsidi P p : Harga ditingkat produsen setelah diberlakukan pajak dan subsidi S N : Pajak untuk input non tradable S + N : Subsidi untuk input non tradable Pada Gambar 4(a) terlihat bahwa sebelum diberlakukan pajak terhadap input, harga dan jumlah keseimbangan dari permintaan dan penawaran input non tradable berada pada P d dan Q 1. Adanya pajak sebesar P c -P p menyebabkan produksi yang dihasilkan turun menjadi Q 2. Harga di tingkat produsen turun menjadi P p dan harga yang diterima konsumen naik menjadi P c. Efisiensi ekonomi dari produsen yang hilang sebesar BEA dan dari konsumen yang hilang sebesar BCA.

45 27 Gambar 4(b) menunjukkan bahwa sebelum diberlakukan subsidi terhadap input, harga dan jumlah keseimbangan dari permintaan dan penawaran input non tradable berada pada P d dan Q 1. Subsidi terhadap input non tradable menyebabkan harga yang diterima produsen menjadi lebih tinggi (P p ), sedangkan harga yang dibayarkan konsumen menjadi lebih rendah (P c ). Efisiensi yang hilang dari produsen sebesar ACB dan dari konsumen sebesar ABE Matrik Analisis Kebijakan (PAM) Matriks Analisis Kebijakan atau Policy Analysis Matrix (PAM) dapat digunakan untuk menganalisis: analisis kelayakan usaha baik secara privat maupun secara sosial, keunggulan kompetitif (efisiensi finansial) dan keunggulan komparatif (efisiensi ekonomi), serta efek divergensi terhadap sistem komoditi. Sistem komoditas yang dapat dipengaruhi meliputi empat aktivitas yaitu tingkat usahatani, penyampaian dari usahatani ke pengolah, pengolahan dan pemasaran (Monke and Pearson, 1989). Metode PAM dapat melakukan perhitungan secara keseluruhan, sistematis dan dengan output yang sangat beragam. Analisis ini dapat digunakan pada sistem komoditas dengan berbagai daerah/wilayah, tipe usahatani dan teknologi. Selain itu, analisis PAM juga dapat digunakan untuk mengetahui apakah suatu kebijakan dapat memperbaiki daya saing terhadap pengusahaan suatu komoditi yang dihasilkan melalui penciptaan efisiensi usaha dan pertumbuhan pendapatan. Menurut Monke and Pearson (1989), ada beberapa asumsi mendasar yang digunakan dalam membangun matriks PAM yaitu:

46 28 1. Perhitungan berdasarkan harga privat (private cost) yaitu harga yang benarbenar terjadi dan diterima oleh produsen dan konsumen atau harga yang benarbenar terjadi setelah adanya kebijakan. 2. Perhitungan berdasarkan harga sosial (social cost) atau harga bayangan (shadow price) yaitu harga pada kondisi pasar persaingan sempurna atau harga yang terjadi apabila tidak ada kebijakan. Pada komoditas yang dapat diperdagangkan (tradable) harga bayangan adalah harga yang terjadi di pasar internasional. 3. Output bersifat tradable dan input dapat dipisahkan kedalam komponen asing (tradable) dan domestik (non tradable). 4. Eksternalitas positif dan negatif dianggap saling menghilangkan. Tabel 5. Matriks Analisis Kebijakan (PAM) Keterangan Penerimaan Output Tradable Biaya Input Non Tradable Keuntungan Harga privat A B C D 1 Harga sosial E F G H 2 Efek Divergensi I 3 J 4 K 5 L 6 1 Keuntungan Privat (D) = A-B-C 2 Keuntungan Sosial (H) = E-F-G 3 Transfer Output (I) = A-E Sumber: Monke and Pearson, 1989 Keterangan: A : Penerimaan Privat B : Biaya Input Tradable Privat C : Biaya Faktor Domestik Privat D : Keuntungan Privat E : Penerimaan Sosial F : Biaya Input Tradable Sosial 4 Transfer Input Tradable (J) = B-F 5 Transfer Faktor Domestik (K) = C-G 6 Transfer Bersih (L) = I-J-K G : Biaya Faktor Domestik Sosial H : Keuntungan Sosial I : Transfer Output J : Transfer Input Tradable K : Transfer Faktor Domestik L : Transfer Bersih Tabel 4 memperlihatkan bahwa Matriks PAM terdiri dari tiga baris dan empat kolom. Baris pertama mengestimasi keuntungan privat yaitu perhitungan penerimaan dan biaya berdasarkan harga yang berlaku, yang mencerminkan nilai-

47 29 nilai yang dipengaruhi oleh kebijakan pemerintah. Baris kedua mengestimasi keunggulan ekonomi dan daya saing (komparatif), yaitu perhitungan penerimaan dan biaya berdasarkan harga sosial (shadow price) atau nilai ekonomi yang sesungguhnya terjadi di pasar tanpa adanya kebijakan pemerintah. Pada baris ketiga merupakan selisih antara baris pertama dan kedua yang menggambarkan efek divergensi. Pengkajian daya saing pada komoditas pertanian dengan menggunakan analisis Policy Analysis Matrix (PAM) akan mempermudah analisis data, karena analisis ekonomi, finansial dan evaluasi dampak kebijakan pemerintah dilakukan secara simultan (Monke and Pearson, 1989). Kelebihan dari analisis PAM adalah mampu menunjukkan pengaruh individual maupun kolektif dari kebijakan harga dan kebijakan faktor domestik (Pearson et al, 2005). Adapun kelemahan dari analisis ini yaitu hasil analisisnya bersifat statis dan outputnya hanya berlaku pada saat aktual. Pada penelitian ini digunakan analisis PAM periode banyak (multiperiod PAM), karena komoditas yang menjadi objek penelitian merupakan tanaman tahunan yang siklus produksinya (panen) belangsung dalam waktu cukup panjang. Tidak terdapat perbedaan antara PAM untuk tanaman semusim dengan PAM tanaman tahunan (banyak periode), karena cara perhitungan dan penjelasan hasil analisisnya adalah sama. Namun demikian, pada perhitungan PAM periode banyak memerlukan tabel PAM untuk setiap periode dan menghitung Net Present Value (NPV) dari seluruh periode tersebut.

48 30 Beberapa indikator hasil analisis dari matriks PAM diantaranya adalah: 1. Analisis Keuntungan Privat dan Sosial a). Private Profitability (PP): D = A (B + C) Keuntungan privat merupakan indikator daya saing dari sistem komoditi berdasarkan teknologi, nilai output, biaya input dan transfer kebijakan yang ada. Apabila D > 0, berarti sistem komoditi itu memperoleh profit di atas normal. Hal ini memberikan implikasi bahwa komoditi itu mampu melakukan ekspansi, kecuali apabila sumberdaya terbatas atau adanya komoditi alternatif yang lebih menguntungkan. b). Social Profitability (SP): H = E (F + G) Keuntungan sosial merupakan indikator keunggulan komparatif (comparative advantage) atau efisiensi dari sistem komoditi pada kondisi tidak ada divergensi dan penerapan kebijakan yang efisien, apabila H > 0. Sebaliknya, bila H < 0, berarti komoditi itu tidak mampu bersaing tanpa bantuan atau intervensi dari pemerintah. 2. Analisis Keunggulan Kompetitif dan Komparatif a). Private Cost Ratio (PCR) = C / (A B) PCR merupakan indikator profitabilitas privat yang menunjukkan kemampuan sistem untuk membayar biaya domestik dan tetap kompetitif. Sistem bersifat kompetitif jika PCR < 1. Semakin kecil nilai PCR, berarti semakin kompetitif. b). Domestic Resource Cost Ratio (DRCR) = G / (E F) DRCR merupakan indikator keunggulan komparatif yang menunjukkan jumlah sumberdaya domestik yang dapat dihemat untuk menghasilkan satu

49 31 unit devisa. Sistem mempunyai keunggulan komparatif, jika DRCR < 1. Semakin kecil nilai DRCR, berarti semakin efisien dan keunggulan komparatif makin tinggi. 3. Dampak Kebijakan Pemerintah a). Kebijakan Terhadap Output Output Transfer (OT): I = A E Transfer output merupakan selisih antara penerimaan yang dihitung atas harga privat (finansial) dengan penerimaan yang dihitung berdasarkan harga sosial (bayangan). Jika nilai OT > 0 menunjukkan adanya transfer dari masyarakat (konsumen) terhadap produsen, demikian juga sebaliknya. Nominal Protection Coefficient on Output (NPCO) = A / E NPCO merupakan tingkat proteksi pemerintah terhadap output domestik. Kebijakan bersifat protektif terhadap output, jika nilai NPCO > 1. Semakin besar nilai NPCO, berarti semakin tinggi tingkat proteksi pemerintah terhadap output. b). Kebijakan Terhadap Input Input Transfer (IT): J = B F Transfer input adalah selisih antara biaya input yang dapat diperdagangkan pada harga privat dengan biaya yang dapat diperdagangkan pada harga sosial. Jika nilai IT > 0, menunjukkan adanya transfer dari petani produsen kepada produsen input tradable atau pemerintah.

50 32 Nominal Protection Coefficient on Tradable Input (NPCI) = B / F NPCI merupakan indikator yang menunjukkan tingkat proteksi pemerintah terhadap harga input domestik. Jika nilai NPCI < 1, berarti ada kebijakan yang bersifat protektif terhadap input tradable. Transfer Factor (TF): K = C G Transfer faktor merupakan nilai yang menunjukkan perbedaan harga privat dengan harga sosilanya yang diterima produsen untuk pembayaran faktorfaktor produksi yang tidak diperdagangkan (non tradable). Nilai FT > 0 mengandung arti bahwa ada transfer dari petani produsen kepada produsen input non tradable atau pemerintah, demikian juga sebaliknya. c). Kebijakan Terhadap Input Output Effective Protection Coefficient (EPC) = (A B) / (E F) EPC merupakan indikator yang menunjukkan tingkat proteksi simultan terhadap output dan input tradable. Kebijakan masih bersifat protektif, jika nilai EPC > 1. Semakin besar nilai EPC, berarti semakin tinggi tingkat proteksi pemerintah terhadap komoditas domestik. Net Transfer (NT): L = D H Transfer bersih merupakan selisih antara keuntungan bersih yang benar-benar diterima produsen dengan keuntungan bersih sosialnya. Nilai NT > 0, menunjukkan tambahan surplus produsen yang disebabkan oleh kebijakan pemerintah yang diterapkan pada input dan output, demikian juga sebaliknya. Profitability Coefficient (PC) = D / H Koefisien keuntungan adalah perbandingan antara keuntungan bersih yang benar-benar diterima produsen dengan keuntungan bersih sosialnya. Jika PC >

51 33 0, berarti secara keseluruhan kebijakan pemerintah memberikan insentif kepada konsumen, demikian juga sebaliknya. Subsidy Ratio to Producer (SRP) = L / E Rasio subsidi produsen (SRP) merupakan indikator yang menunjukkan proporsi penerimaan pada harga sosial yang diperlukan apabila subsidi atau pajak digunakan sebagai pengganti kebijakan. Nilai SRP yang negatif menunjukkan bahwa kebijakan pemerintah yang berlaku selama ini menyebabkan produsen mengeluarkan biaya produksi lebih besar dari biaya imbangan (opportunity cost) untuk berproduksi dan sebaliknya jika nilai SRP positif Analisis Sensitivitas Menurut Gittinger (1986) pada bidang pertanian, proyek-proyek sangat sensitif terhadap empat faktor perubahan yaitu harga, keterlambatan pelaksanaan, kenaikan biaya dan perubahan hasil. Untuk melihat dampak yang akan terjadi akibat perubahan faktor tersebut maka perlu dilakukan analisis sensitivitas. Analisis sensitivitas merupakan suatu teknik analisa untuk menguji perubahan kelayakan suatu kegiatan ekonomi (proyek) secara sistematis, bila terjadi kejadian-kejadian yang berbeda dengan perkiraan yang telah dibuat dalam perencanaan. Analisis ini bertujuan untuk melihat bagaimana perubahan hasil analisis suatu kegiatan ekonomi, bila ada suatu kesalahan dalam perhitungan biaya atau manfaat (Kadariah et al, 1978). Ada beberapa kelemahan yang terdapat pada analisis sensitivitas, yaitu:

52 34 1. Analisis sensitivitas tidak digunakan untuk pemilihan proyek, karena merupakan analisis parsial yang hanya mengubah satu parameter pada suatu saat tertentu. 2. Analisis sensitivitas hanya mencatatkan apa yang terjadi jika variabel berubahubah dan bukan untuk menentukan layak atau tidaknya suatu proyek Kerangka Pemikiran Operasional Perdagangan rempah-rempah dunia sampai sekarang ini masih didominasi oleh produk primer hasil perkebunan yakni komoditi lada khususnya lada putih. Permintaan komoditi lada putih dunia setiap tahunnya sangat stabil dengan tingkat pemanfaatan/kegunaan yang semakin beragam. Menghadapi pedagangan dunia yang semakin kompetitif, lada putih Indonesia harus mampu bersaing dengan negara-negara yang memproduksi komoditi sejenis seperti Vietnam, Malaysia dan Brazilia. Kekuatan daya saing lada putih Indonesia di pasar internasional sangat dipengaruhi oleh kualitas produk dan efisiensi produksi. Untuk menghasilkan lada putih yang memiliki keunggulan bersaing masih dihadapkan pada kendala pengelolaan dan teknik budidaya, pengolahan hasil yang masih tradisional, dan terjadinya pengalihan fungsi (konversi) areal sehingga diperoleh hasil dengan tingkat produksi dan kualitas/mutu yang rendah. Selanjutnya, Kurangnya dukungan terhadap infrastruktur dan modal telah berdampak pada menurunnya pengusahaan terhadap komoditi ini. Selain itu, pemberdayaan terhadap manajemen antar petani, pedagang pengumpul, eksportir dan pemerintah daerah belum terlaksana dengan maksimal terutama di Kecamatan Airgegas Kabupaten

53 35 Bangka Selatan. Hal ini telah berpengaruh pada tingkat daya saing pengusahaan komoditi lada putih yang dimiliki oleh daerah tersebut. Analisis finansial dan ekonomi dilakukan untuk mendukung perhitungan pada analisis PAM. Analisis finansial dapat menunjukkan besarnya biaya produksi yang dikeluarkan petani, sedangkan analisis ekonomi dilakukan untuk melihat jumlah biaya yang telah dikeluarkan petani pada harga sosial (bayangan). Penggunaan Policy Analysis Matrix (PAM) sebagai alat analisis untuk menganalisis tingkat daya saing pengusahaan lada putih di Kecamatan Airgegas. PAM akan menganalisis kelayakan usaha baik secara privat maupun sosial dan analisis daya saing (keunggulan komparatif dan keunggulan kompetitif) serta efek divergensi terhadap pengusahaan suatu komoditi. Hasil analisis PAM tersebut akan menggambarkan keunggulan komparatif maupun keunggulan kompetitif dari pengusahaan komoditi lada putih. Setelah analisis PAM, dilakukan analisis sensitivitas. Analisis sensitivitas digunakan untuk mengetahui perubahan analisa keunggulan komparatif dan kompetitif dari pengusahaan lada putih apabila ada perubahan pada input dan output. Analisis sensitivitas yang dilakukan hanya pada perubahan harga input dan output. Kemudian hasil yang diperoleh dari analisis ini direkomendasikan kepada pihak-pihak yang berkepentingan diantaranya para petani/pengolah dan pemerintah daerah. Alur kerangka pemikiran operasional pada penelitian ini dapat dilihat pada Gambar 5.

54 36 Pertumbuhan volume ekspor dan persaingan lada putih di pasar internasional Budidaya tanaman lada belum intensif Dampak kebijakan terhadap input dan output pada pengusahaan komoditi lada putih. Masalah pengusahaan komoditi lada putih di Kecamatan Airgegas: 1. Pengelolaan dan teknik budidaya lada putih yang masih tradisional. 2. Pengolahan hasil yang belum intensif berdampak pada rendahnya mutu yang dihasilkan. 3. Terjadinya konversi areal yang tinggi dari areal perkebunan ke areal pertambangan timah (tambang inkonvensional). 4. Kurangnya dukungan infrasruktur dan modal. 5. Pemberdayaan terhadap manajemen antar petani, pedagang pengumpul, eksportir dan pemerintah daerah belum terlaksana dengan maksimal. Analisis Finansial dan Ekonomi Analisis Daya Saing Keunggulan Komparatif : - Keuntungan Sosial (KS) - Biaya Sumberdaya Domestik (DRCR) Keunggulan Kompetitif : - Keuntungan Privat (KP) - Rasio Biaya Privat (PCR) Dampak Kebijakan : - Terhadap Input - Terhadap Output dan - Terhadap Input-Output Analisis Sensitivitas Daya Saing Lada Putih Rekomendasi (Petani/Pengolah dan Pemerintah Daerah) Gambar 5. Kerangka Pemikiran Operasional

55 IV. METODE PENELITIAN 4.1. Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian dilakukan di Kecamatan Airgegas, Kabupaten Bangka Selatan, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Pemilihan lokasi dilakukan secara sengaja (purposive) dengan pertimbangan bahwa lokasi tersebut merupakan sentra produksi lada putih di Bangka Belitung. Selain itu, sebagian besar masyarakatnya berprofesi sebagai petani lada yang diyakini mengetahui secara jelas teknik pengusahaannya. Pelaksanaan pengambilan data untuk keperluan penelitian dilaksanakan pada Bulan September sampai Oktober Jenis dan Sumber Data Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh melalui wawancara dan pengisian kuisioner yang diajukan kepada responden (petani lada), pedagang pengumpul dan eksportir serta pengamatan langsung dilapangan. Data sekunder dikumpulkan dari Dinas Pertanian dan Perkebunan, BPS (Badan Pusat Statistika), AELI (Asosiasi Eksportir Lada Indonesia), AMPLI (Asosiasi Masyarakat Petani Lada Indonesia), situs resmi departemen terkait dan instansi lainnya yang dapat membantu untuk ketersediaan data Metode Pengumpulan Data Pengambilan sampel dalam penelitian ini dilakukan pada petani lada, pedagang pengumpul tingkat desa dan eksportir. Pengambilan sampel dilakukan dengan menggunakan metode purposive yang didasarkan pada pertimbangan

56 38 bahwa kondisi/aktivitas usahatani yang dilakukan oleh petani lada di Kecamatan Airgegas relatif sama atau homogen. Jumlah responden yang dijadikan sampel sebanyak 25 orang yaitu 20 petani lada, 3 orang pedagang pengumpul tingkat desa dan 2 orang eksportir. Pada analisis PAM jumlah sampel yang diambil tidak begitu ditekankan tetapi lebih diutamakan pada kedalaman informasi Analisis Data Penelitian ini menggunakan analisis Policy Analysis Matrix Multiperiod (PAM Periode Banyak), dimana perhitungan dapat dilakukan secara menyeluruh dan sistematis dengan output yang keluar merupakan keuntungan privat dan sosial, efisiensi serta insentif intervensi pemerintah pada produsen/petani, konsumen dan pedagang perantara. Selain itu, analisis yang juga dilakukan dalam penelitian ini adalah analisis sensitivitas. Dalam penelitian ini, langkah awal yang dilakukan untuk membangun matriks PAM adalah menentukan output-input usaha tani lada putih. Langkah ke dua adalah mengklasifikasikan input ke dalam komponen tradable (obat-obatan, Pupuk Urea, TSP dan KCL) yaitu input yang diperdagangkan di pasar internasional baik diekspor maupun diimpor, dan input domestik atau non tradable (bibit lada, tenaga kerja, peralatan, pajak dan sewa lahan) yaitu input yang dihasilkan di pasar domestik dan tidak diperdagangkan secara internasional. Langkah selanjutnya adalah penentuan harga bayangan output dan input. Setelah harga bayangan diperoleh selanjutnya dilakukan analisis dengan menggunakan Policy Analysis Matrix (PAM Periode Banyak). Langkah terakhir adalah analisis

57 39 sensitivitas. Data yang diperoleh diolah menggunakan perangkat lunak Microsoft Excel dan Kalkulator. Dalam pelaksanaan penelitian ini ada beberapa asumsi yang digunakan yaitu sebagai berikut: 1. Penggunaan output dan input usahatani tanaman lada didasarkan pada usahatani tahun 2006/ Nilai tukar resmi yang digunakan adalah nilai tukar resmi rata-rata yang berlaku pada tahun Harga penjualan output dan pembelian input produksi adalah harga sebenarnya yang diterima oleh petani pada saat penelitian tahun Harga yang digunakan pada saat penjualan output dan pembelian input produksi adalah harga konstan. 5. Pada analisis sensitivitas harga jual input yang digunakan merupakan harga jual dugaan tertinggi, sedangkan untuk harga jual output digunakan harga jual dugaan terendah selama tahun Metode Pengalokasian Komponen Biaya Domestik dan Asing Pendekatan untuk mengalokasikan biaya ke dalam komponen biaya asing (tradable) dan domestik (non tradable) yaitu melalui pendekatan langsung dan pendekatan total (Monke and Pearson, 1989). Pendekatan langsung mengasumsikan bahwa seluruh biaya input tradable baik impor maupun yang diproduksi dalam negeri dinilai sebagai komponen biaya asing dan dapat dipergunakan apabila tambahan permintaan input tradable tersebut dapat dipenuhi dari perdagangan internasional.

58 40 Pendekatan total mengasumsikan setiap biaya input tradable dibagi ke dalam komponen biaya domestik dan asing, dan penambahan input tradable dapat dipenuhi dari produksi domestik jika input tersebut memiliki kemungkinan untuk diproduksi di dalam negeri (Monke and Pearson, 1989). Pendekatan yang dilakukan pada penelitian ini menggunakan pendekatan total dalam mengalokasikan biaya ke dalam komponen biaya input tradable dan non tradable. Pengalokasian terhadap biaya input tradable pada pupuk anorganik ditetapkan sebesar 71 persen domestik dan 29 persen faktor asing, sedangkan obat-obatan (herbisida) sebesar 100 persen untuk faktor asing. Biaya tataniaga ditetapkan masing-masing sebesar 90 persen domestik dan 10 persen asing (Lampiran 3) Alokasi Biaya Tataniaga Biaya tataniaga adalah biaya yang dikeluarkan untuk menambah nilai atau kegunaan suatu barang, yakni kegunaan tempat, bentuk dan waktu termasuk di dalamnya penanganan dan pengangkutan. Biaya tataniaga yang ada dalam penelitian ini yaitu biaya pengangkutan dan penanganan. Biaya pengangkutan merupakan biaya yang dikeluarkan untuk mengangkut barang dari produsen/petani sempai ke pengumpul maupun eksportir atau mengangkut barang dari produsen ke konsumen, sedangkan biaya penanganan terdiri dari biaya pengemasan. Besarnya biaya pengangkutan dari petani ke pedagang pengumpul desa sebesar Rp 200/kg, sedangkan untuk biaya pengemasan sebesar Rp 76,92/kg lada putih. Secara keseluruhan besar biaya tataniaga di Kecamatan Airgegas dari tingkat petani sampai siap ekspor adalah

59 41 sebesar Rp 926,92/kg lada putih dengan alokasi biaya pengangkutan sebesar Rp 345/kg dan biaya penanganan Rp 581,92/kg Penentuan Harga Bayangan Output dan Input Menurut Gittinger (1986) harga bayangan merupakan harga sebenarnya yang akan terjadi dalam suatu perekonomian jika pasar dalam keadaan persaingan sempurna dan pada kondisi keseimbangan. Alasan digunakannya harga bayangan dalam analisis ekonomi adalah: 1. Harga privat tidak selalu mencerminkan apa yang sebenarnya diperoleh masyarakat melalui produksi yang dihasilkan dari aktivitas tersebut. 2. Harga privat tidak selalu mencerminkan apa yang sebenarnya dikorbankan seandainya sejumlah sumberdaya yang dipilih digunakan dalam aktivitas lain yang masih memungkinkan di masyarakat. Input dalam hal ini dibedakan menjadi dua yaitu input tradable dan non tradable. Input tradable dinilai berdasarkan harga perbatasan (border price). Border price didefinisikan sebagai tingkat harga internasional yang berlaku di perbatasan negara yang bersangkutan terhadap luar negari (Kadariah et al, 1988). Input yang diimpor menggunakan harga cif sedangkan untuk input yang diekspor menggunakan harga fob. Harga bayangan output juga ditentukan dengan harga perbatasan yaitu harga fob bila output yang dihasilkan merupakan barang potensial untuk diekspor dan harga cif untuk output yang diimpor.

60 Harga Bayangan Output Lada putih merupakan output yang sebagian besar diekspor, sehingga penentuan harga bayangan output yang digunakan adalah fob. Rumus dari harga bayangan output tersebut adalah: Harga Bayangan Lada Putih = (fob x SER) - Biaya Tataniaga Nilai fob lada putih pada penelitian ini sebesar US$ 4,395/kg. Nilai tersebut dikalikan dengan nilai tukar bayangan uang (Shadow Exchange Rate/SER) sebesar Rp 9.120,32, kemudian dikurangi dengan biaya tataniaga sebesar Rp 926,92/kg. Hasil perhitungan diperoleh harga bayangan lada putih di lokasi penelitian sebesar Rp /kg Harga Bayangan Input a). Harga Bayangan Bibit Lada Bibit lada diperbanyak dengan cara stek batang yang dihasilkan melalui perbanyakan secara vegetatif. Produksi bibit lada dilakukan di sekitar daerah petani dengan harga Rp 3000/bibit. Bibit lada termasuk dalam komponen input non tradable, sehingga harga bayangannya sama dengan harga finansialnya. b). Harga Bayangan Pupuk dan Obat-Obatan Penggunaan pupuk pada pengusahaan tanaman lada memiliki harga bayangan yang berbeda-beda. Pupuk yang digunakan dalam budidaya tanaman tersebut adalah Pupuk Urea, TSP dan KCL. Harga bayangan untuk Pupuk Urea dapat ditentukan berdasarkan harga fob (free on board), karena telah diproduksi di

61 43 dalam negeri dan terkandung berbagai macam subsidi dari pemerintah. Rumus perhitungan harga bayangan input tersebut sebagai berikut: Harga Bayangan Input = (fob x SER) Biaya Tataniaga Nilai fob untuk Pupuk Urea adalah US$ 0,269/kg, kemudian dikalikan dengan nilai SER (Shadow Exchange Rate) sebesar Rp 9.120,32 dan dikurangi dengan biaya tataniaga (pengangkutan pupuk) sebesar Rp 200/kg, sehingga diperoleh harga bayangannya sebesar Rp 2.253,36/kg. Penentuan harga bayangan untuk Pupuk TSP dan KCL didasarkan pada harga cost insurance and freight (cif), karena sebagian besar dari bahan dasar dalam negeri masih diimpor. Rumus perhitungannya adalah sebagai berikut: Harga Bayangan Input = (cif x SER) + Biaya Tataniaga Nilai cif Pupuk TSP sebesar US$ 0,318/kg lalu dikalikan dengan nilai SER sebesar Rp 9.120,32 dan ditambah dengan biaya tataniaga, sehingga didapatkan harga bayangan sebesar Rp 3.100,26/kg. Untuk perhitungan harga bayangan Pupuk KCL sama dengan Pupuk TSP, namun nilai cif Pupuk KCL sebesar US$ 0,205/kg dan diperoleh harga bayangannya Rp 2.069,66/kg. Penggunaan obat-obatan yang dipakai oleh sebagaian besar petani di lokasi penelitian dalam mengendalikan gulma yang terdapat di areal perkebunan lada adalah herbisida jenis Gramoxone. Untuk penentuan harga bayangan obatobatan (herbisida jenis Gramoxone) tersebut didasarkan pada harga yang ada dipasaran. Karena pasar obat-obatan yang ada di Indonesia sudah mendekati

62 44 kondisi pasar persaingan sempurna, sehingga harga privat input obat-obatan sudah dapat mencerminkan harga bayangannya. c). Harga Bayangan Tenaga Kerja Menentukan harga bayangan tenaga kerja perlu dibedakan antara tenaga kerja terdidik dengan tenaga kerja tidak terdidik. Menurut Gittinger (1986), dalam pasar persaingan sempurna tingkat upah pasar mencerminkan nilai produktivitas marjinalnya Untuk tenaga terdidik, upah tenaga kerja bayangan sama dengan harga upah pasar (finansial), sedangkan tenaga kerja tidak terdidik dengan anggapan belum bekerja sesuai dengan tingkat produktivitasnya, maka harga bayangan upahnya disesuaikan terhadap harga upah finansialnya. Tenaga kerja yang digunakan dalam melakukan aktivitas pengusahaan tanaman lada sebagian besar adalah tenaga kerja tidak tetap dan berasal dari daerah di sekitar Kabupaten Bangka Selatan. Atas dasar pertimbangan tersebut, maka penentuan harga bayangan tenaga kerja pada penelitian ini menggunakan perhitungan Rusatra dan Yusdja (1982) dan Suryana (1980) dalam Novianti (2003) yaitu sebesar 80 persen dari tingkat upah yang berlaku di lokasi penelitian. Selain itu, untuk penentuan harga bayangan terhadap tenaga kerja juga dapat dilakukan dengan menggunakan perbandingan antara rasio jumlah penduduk yang bekerja dengan jumlah angkatan kerja yang dikalikan dengan upah yang berlaku di lokasi penelitian. d). Harga Bayangan Lahan Lahan merupakan faktor produksi utama dan termasuk input non tradable dalam usahatani. Pada penelitian ini harga bayangan lahan ditentukan berdasarkan

63 45 nilai sewa lahan yang berlaku. Hal ini diasumsikan pasar bekerja pada saat bersaing sempurna mengingat pasar penyewaan lahan sudah berjalan cukup baik. e). Harga Bayangan Bunga Modal Sumber modal yang digunakan oleh para petani untuk melakukan usahatani tanaman lada berasal dari modal petani sendiri. Harga bayangan bunga modal dapat di peroleh dari tingkat bunga riil, yang dihitung dengan menambahkan suku bunga nominal dengan tingkat inflasi yang terjadi. Pada penelitian ini digunakan suku bunga nominal aktual rata-rata tahun 2007 yang belaku di bank umum yakni sebesar 14 persen dengan tingkat inflasi pada tahun tersebut sebesar 6 persen, sehingga diperoleh harga bayangan modal sebesar 20 persen/tahun. f). Harga Bayangan Nilai Tukar Penetapan nilai tukar rupiah didasarkan atas perkembangan nilai tukar dollar. Penentuan harga bayangan nilai tukar digunakan formula yang telah dirumuskan oleh Squire dan Van Der Tak dalam Gittinger (1986) yaitu: OER SER T = SCF T T Keterangan: SER T : Shadow exchange rate (nilai tukar bayangan) Tahun ke-t OER T : Official exchange rate (nilai tukar resmi) Tahun ke-t SCF T : Standart conversion factor (faktor konversi standar) Tahun ke-t Nilai faktor konversi standar yang merupakan rasio dari nilai impor dan ekspor ditambah pajaknya dapat ditentukan sebagai berikut:

64 46 SCF T = M + X ( M + TM ) + ( X ) T T T T T TX T Keterangan: M T : Nilai impor Tahun ke-t (Rp) X T : Nilai ekspor Tahun ke-t (Rp) TM T : Penerimaan pemerintah melalui pajak impor Tahun ke-t (Rp) TX T : Penerimaan pemerintah melalui pajak ekspor Tahun ke-t (Rp) Perhitungan nilai tukar resmi dalam penelitian ini menggunakan nilai tukar rata-rata pada tahun 2006 yaitu sebesar Rp per dollar Amerika Serikat. Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistika (laporan realisasi APBN 2006) menunjukkan bahwa nilai ekspor Indonesia pada periode waktu tersebut sebesar Rp miliar, sedangkan untuk nilai impornya sebesar Rp miliar. Sementara penerimaan pemerintah dari pajak ekspor adalah sebesar Rp 377,7 miliar dan penerimaan dari pajak impor sebesar Rp ,7 miliar. Dari nilainilai tersebut diperoleh hasil perhitungan untuk nilai faktor konversi (SCF) sebesar 0,989, kemudian nilai tukar bayangan (SER) dapat ditentukan yakni sebesar Rp 9.120,32 dan untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Lampiran Analisis Sensitivitas Analisis sensitivitas dilakukan untuk melihat bagaimana hasil analisis suatu aktivitas ekonomi bila terjadi perubahan terhadap input dan output. Perubahan yang dimasukkan pada penelitian ini yaitu perubahan harga output dan input. Analisis sensitivitas yang dilakukan pada penelitian ini adalah sebagai berikut:

65 47 1. Penurunan harga lada putih sebesar 35 persen Perubahan harga lada putih yang signifikan disebabkan karena produsen/petani lada selama ini hanya menjadi penerima harga (price taker) dari setiap perubahan harga yang terjadi di pasar internasional. Fluktuatifnya harga lada putih menyebabkan petani kesulitan dalam memperkirakan besarnya penerimaan yang akan diperoleh. Dengan pertimbangan tersebut, maka penurunan harga terendah yang terjadi selama tahun 2007 adalah sebesar 35 persen. 2. Peningkatan harga pupuk di Kecamatan Airgegas sebesar 15 persen Perubahan harga pupuk diakibatkan karena situasi yang terduga yaitu terjadinya kelangkaan saat musim tanam tiba. Rata-rata peningkatan harga jual pupuk di Kecamatan Airgegas sebesar 15 persen. 3. Peningkatan harga sewa areal di Kecamatan Airgegas sebesar 75 persen Peningkatan harga sewa ini dikarenakan oleh tingginya pengalihan fungsi areal (konversi) dari areal perkebunan di ke areal pertambangan. Adanya kompetisi dalam penggunaan areal tersebut menyebabkan harga sewa areal menjadi faktor yang penting pada pengusahaan komoditi lada putih, sehingga berdampak terhadap peningkatan nilai sewa areal yakni sebesar 75 persen. Oleh karena itu, sangat penting untuk melihat dampak dari kenaikan harga tersebut terhadap daya saing pengusahaan komoditi lada putih.

66 V. GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN 5.1. Letak dan Kondisi Geografis Kecamatan Airgegas Kecamatan Airgegas merupakan bagian dari sub wilayah administrasi Kabupaten Bangka Selatan, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Kabupaten Bangka Selatan mempunyai luas wilayah sebesar Ha yang terdiri dari lima kecamatan yaitu Kecamatan Airgegas, Payung, Simpang Rimba, Lepar Pongok dan Toboali (Lampiran 5). Adapun batasan wilayah dari Kabupaten Bangka Selatan adalah: a. Sebelah utara berbatasan dengan Kecamatan Sungai Selan dan Kecamatan Koba Kabupaten Bangka Tengah. b. Sebelah timur berbatasan dengan Selat Gaspar. c. Sebelah selatan berbatasan dengan Laut Jawa dan Selat Bangka. d. Sebelah barat berbatasan dengan Selat Bangka. Kecamatan Airgegas memiliki luas daerah sebesar ,5 ha dengan tingkat kepadatan penduduk sekitar 42 km 2. Jarak antara Kecamatan Airgegas dengan pusat Kota Kabupaten Bangka Selatan kurang lebih 41 km, sedangkan jarak dari Ibu Kota Provinsi Kepulauan Bangka Belitung sekitar 89 km. Kecamatan Airgegas mempunyai batasan wilayah sebagai berikut : a. Sebelah utara berbatasan dengan Kecamatan Koba b. Sebelah selatan berbatasan dengan Kecamatan Toboali c. Sebelah timur berbatasan dengan Koba d. Sebelah barat berbatasan dengan Kecamatan Payung. Pusat pemerintahan Kecamatan Airgegas yaitu di Desa Airgegas. Jumlah desa/kelurahan yang masuk ke wilayah Kecamatan ini yaitu sebanyak sepuluh

67 49 desa seperti yang ditunjukkan pada Tabel 6. Jumlah penduduk yang terdata pada tahun 2006 sebesar jiwa dengan rincian laki-laki jiwa dan perempuan jiwa. Sekitar 57,3 persen penduduk yang ada di Kecamatan Airgegas berkerja sebagai petani, sedangkan yang lainnya bermata pencaharian di sektor pertambangan (31,5%), pedagang (2,2%), industri (0,45%), PNS (0,4%) dan sektor lainnya (8,15%). Tabel 6. Jumlah dan Luas Desa/Kelurahan di Kecamatan Airgegas, Tahun 2006 No. Desa / Kelurahan Luas (Ha) 1. Pergam Bencah Tepus Airgegas Delas ,5 6. Sidoharjo Nyelanding Nangka Ranggas Air Bara Total ,5 Sumber : BPS Kabupaten Bangka, 2006 Sebagian besar lahan yang ada di Kecamatan Airgegas dimanfaatkan untuk areal perkebunan terutama tanaman lada dan karet. Didukung dengan kondisi agroklimat dan topografi tanah yang baik, telah menjadikan kedua komoditi perkebunan tersebut sebagai sumber utama mata pencaharian bagi masyarakat setempat. Kecamatan Airgegas memiliki iklim tropis tipe A yakni setiap tahunnya mengalami bulan basah sebanyak tujuh bulan dan bulan kering selama empat bulan atau periode bulan basahnya relatif lebih panjang dari bulan kering, dengan suhu rata-rata antara 23,7 C sampai 31,18 C dan tingkat curah hujan 107,6 hingga 343,7 mm/bulan. Secara umum struktur topografi tanah di Kecamatan Airgegas

68 50 relatif datar hingga berombak dan bergelombang dengan ketinggian tempat kurang lebih 200 m di atas permukaan laut. Jenis tanah yang terdapat di kecamatan ini umumnya berpasir dengan ph tanah rata-rata di bawah 5. Kondisi alam tersebut sangat mempengaruhi proses budidaya tanaman perkebunan yang ada di daerah ini. Kondisi sarana dan prasarana yang terdapat di Kecamatan Airgegas terbilang cukup baik dengan prasarana transfortasi/jalan beraspal mulus dan didukung oleh sarana yang memadai. Kondisi tersebut sangat mempengaruhi kelacaran aktivitas agribisnis yang ada di daerah ini seperti biaya dan waktu transportasi pengangkutan hasil panen lada putih antar daerah menjadi lebih rendah dan singkat. Hal ini akan berdampak pada pendapatan petani karena harga di tingkat petani memiliki selisih yang rendah terhadap harga yang diterima para eksportir Mekanisme Pemasaran Komoditi Lada Putih di Kecamatan Airgegas Pada umumnya sistem pemasaran lada putih yang terjadi di Kecamatan Airgegas lebih mengarah kepada transaksi dengan alur baku pemasaran yang tetap. Sejak dari zaman dahulu sampai sekarang proses/rantai pemasaran lada putih di kecamatan ini tetap sama yakni hanya satu alur pemasaran yang sederhana dengan melibatkan banyak pihak untuk mendukung kelancaran proses tersebut. Sebagai gambaran rantai pemasaran lada putih dapat dilihat pada Gambar 6. Pola rantai pemasaran yang terjadi di Kecamatan Airgegas seperti yang ditunjukkan pada Gambar 6 memperlihatkan bahwa sebagian besar (85%) petani

69 51 menjual hasil usahanya kepada pedagang tingkat desa dan pedagang jalanan (15%), kemudian pedagang jalanan (toke) membeli lada putih (95%) dari pedagang tingkat desa. Pedagang jalanan (toke) menjual seluruh hasil pembeliannya ke pedagang besar/eksportir yang berlokasi di Kota Pangkalpinang. Sebagian besar (90%) lada putih ini dihasilkan untuk ekspor dan sisanya (10%) diserap oleh pasar dalam negeri untuk memenuhi kebutuhan domestik. Petani 85% 15% Pedagang Desa 95% Pedagang Jalanan 5% Pedagang Besar/Eksportir 100% 90% 10% Ekspor Antar Pulau (Jawa) Gambar 6. Alur Pemasaran Lada Putih di Kecamatan Airgegas Pedagang besar/eksportir memiliki peran yang cukup sentral dalam meningkatkan daya saing komoditi lada putih, karena setiap lada putih yang masuk ke gudang pengolahan diberikan perlakuan lanjutan seperti pengklasifikasian terhadap mutu, kadar air dan lain-lainnya. Dengan demikian, lada putih yang akan di ekspor dapat dibagi menjadi tiga kelompok yaitu: 1. Lada Putih FAQ Lada putih dengan kualitas standar 2. Lada Putih Asta Lada putih dengan kualitas Amerika 3. Lada Putih Campuran Lada putih dengan kualitas asalan

70 52 Lada putih FAQ secara umum mendominasi ekspor lada putih yakni sebesar 62 persen, disusul dengan lada putih campuran sebesar 24,5 persen dan kemudian lada putih Asta sebesar 13,5 persen Karakteristik Petani Responden Pada penelitian ini yang menjadi kriteria/kategori untuk identifikasi terhadap petani responden yaitu terdiri dari beberapa aspek diantaranya umur, tingkat pendidikan petani, pengalaman berusahatani dan luas areal usahatani. Karakteristik dari petani responden dapat dilihat pada Tabel 7. Tabel 7. Karakteristik Petani Responden Pengusahaan Komoditi Lada Putih di Kecamatan Airgegas, Tahun 2007 No. Uraian Minimum Maksimun 1. Umur (tahun) Pendidikan formal SD SMU 3. Pengalaman berusahatani lada (tahun) Luas areal (ha) 1 1,5 Tabel 7 memperlihatkan bahwa umur petani yang mengusahakan tanaman lada di Kecamatan Airgegas masih tergolong usia produkif yakni antara umur 29 sampai 50 tahun. Dari segi pendidikan formal, petani di kecamatan ini mempunyai tingkat pendidikan yang beragam mulai dari tamatan SD sampai SMU. Pengalaman berusahatani yang dimiliki petani di Kecamatan Airgegas berasal dari pengalaman orang tua terdahulu dengan tingkat pengalaman 10 sampai 25 tahun. Kebanyakan petani responden yang melakukan aktivitas budidaya tanaman lada memiliki luas areal antara 1 ha sampai 1,5 ha dengan jarak tanam 2 m x 2 m atau kalau dikonversikan dengan jumlah tanaman menjadi sekitar 2500 sampai 3750 tanaman lada.

71 53 Faktor umur, pendidikan dan pengalaman berusahatani memiliki peranan penting dalam mengembangkan usahatani tanaman lada. Karena dalam usia produktif, pendidikan dan pengalaman yang memadai bagi petani akan lebih rasional untuk memutuskan skala usaha dan melakukan aktivitas pengusahaan tanaman ini.

72 VI. HASIL DAN PEMBAHASAN 6.1. Kondisi Usahatani Perkebunan Lada Putih di Kecamatan Airgegas Perkebunan lada yang terdapat di Kecamatan Airgegas masih dikelola dalam bentuk perkebunan rakyat (bersifat tradisional). Keberlangsungan pengusahaan komoditi lada ini sangat ditentukan dari cara/sistem usahatani yang dilakukan oleh petani. Disamping itu, kegiatan pengusahaan komoditi tersebut juga memerlukan biaya perawatan yang cukup besar, karena merupakan usaha perkebunan. Selama ini, belum ditemukan bibit lada secara khusus diperjualbelikan oleh lembaga perbenihan, petani memperoleh bibit berasal dari hasil panen sendiri atau dari petani lain di sekitar kecamatan, sedangkan untuk tajar (ajir) tetap diperoleh melalui perambahan di hutan atau membeli langsung kepada penjual yang ada di daerah tersebut. Kegiatan pemupukkan dilakukan sebanyak dua kali dalam satu tahun yakni pada Bulan April dan Oktober. Sebagian besar petani yang terdapat di kecamatan ini melakukan kegiatan pemupukkan dengan menggunakan pupuk anorganik yaitu TSP/SP36, KCL dan Urea. Sementara itu, untuk aktivitas perawatan dilakukan hampir setiap bulan tergantung dari intensitas gangguan gulma dan hama terhadap tanaman lada. Tanaman lada mulai berproduksi pada tahun ke-3 dengan masa produktif berlangsung sampai tahun ke-7 dan hasil pada tahun selanjutnya sudah tidak memadai. Pemanenan lada dilakukan satu tahun sekali yaitu antara akhir Bulan Juli sampai awal September. Produktivitas lada selama umur produktif berkisar antara 0,157-1,314 ton/ha/tahun lada putih kering, dimana hasil produksi tertinggi dicapai pada tahun ke-4 dan terendah pada tahun ke-7. Harga rata-rata lada putih

73 55 di tingkat petani pada saat penelitian ini dilakukan (September-Oktober 2007) adalah Rp /kg. Sementara itu, berdasarkan pengakuan normatif petani, harga harapan yang layak mereka terima minimal Rp /kg. Hal ini lebih dikarenakan semakin tingginya resiko usahatani dan semakin pendeknya umur produktif tanaman, yang disebabkan oleh dua penyakit tanaman utama yakni Sakit Bujang (Penyakit Kuning/Yellow desease) dan Mati Mendadak (Sudden death) Komponen Biaya dan Penerimaan pada Pengusahaan Komoditi Lada Putih Besar kecil biaya yang dikeluarkan dalam melakukan aktivitas budidaya tanaman lada sangat ditentukan oleh skala usaha pengelolaannya. Komponen biaya yang digunakan pada pengusahaan tanaman ini cukup beragam mulai dari biaya pembukaan kebun, pengadaan bibit lada, pupuk, tenaga kerja, tajar/ajir dan lainnya. Berdasarkan Tabel 8 dapat diketahui bahwa biaya investasi usahatani lada putih pada tahun ke-1 yakni sebesar Rp /ha, terdiri atas biaya pengadaan sarana produksi (73,10%), upah tenaga kerja (19,49%), dan biaya lainnya (7,41%). Pada tahun ke-2, besar biaya investasi untuk usahatani komoditi ini adalah Rp /ha, mencakup biaya sarana produksi (88,77%), upah tenaga kerja (8,35%), dan biaya lainnya (2,88%). Biaya produksi kebun untuk tahun berikutnya sampai tahun ke-7 berkisar antara Rp 4,4 Rp 9,3 juta/ha/tahun. Tabel 8 juga menginformasikan bahwa pada tahun ke-3 merupakan awal tanaman berproduksi, namun penerimaan yang diperoleh belum mampu menutupi biaya investasi yang dikeluarkan selama tahun ke-1 dan ke-2. Tingkat penerimaan tertinggi pada pengusahaan komoditi lada putih dicapai pada produksi tahun ke-4

74

75 55

76 56 Tabel 7. Input-Output Usahatani Lada Putih Menurut Umur Berdasarkan Harga Privat/Finansial di Kecamatan Airgegas, Kabupaten Bangka Selatan, Tahun 2006/2007 (Rp/Ha) Harga Umur (Tahun) Ke Umur (Tahun) Ke No. Uraian Satuan Satuan (Rp) Volume (Ha/Tahun) Nilai (Rp/Ha/Tahun) A. Penerimaan Kg B. Pengeluaran: 1. Bibit Lada Stek Ajir Sementara Batang Ajr Tetap Batang Pupuk: - Urea - TSP/SP 36 - KCL Kg Obat-obatan: - Gramoxone Ltr Tenaga Kerja: - Pembukaan lahan - Pembuatan lobang tanam - Pengajiran - Penanaman dan penutupan - Pemeliharaan - Panen - Pasca Panen 7. Peralatan: - Cangkul - Parang/Golok - Arit - Sprayer merk solo HOK Buah Sewa Lahan Tahun Pajak Tahun Total Biaya (B) C. Pendapatan ( ) ( ) Sumber: Data Primer (Diolah) Keterangan: Penerimaan pada harga rata-rata lada putih Bulan Oktober 2007 Rp /kg

77 57 Tabel 8. Input-Output Usahatani Lada Putih Menurut Umur Berdasarkan Harga Sosial/Ekonomi di Kecamatan Airgegas, Kabupaten Bangka Selatan, Tahun 2006/2007 (Rp/Ha) Harga Umur (Tahun) Ke 0 Umur (Tahun) Ke No. Uraian Satuan Satuan (Rp) Volume (Ha/Tahun) Nilai (Rp/Ha/Tahun) A. Penerimaan Kg B. Pengeluaran: 1. Bibit Lada Stek Ajir Sementara Batang Ajr Tetap Batang Pupuk: - Urea - TSP/SP 36 - KCL Kg , , Obat-obatan: - Gramoxone Ltr Tenaga Kerja: - Pembukaan lahan - Pembuatan lobang tanam - Pengajiran - Penanaman dan penutupan - Pemeliharaan - Panen - Pasca Panen 7. Peralatan: - Cangkul - Parang/Golok - Arit - Sprayer merk solo HOK Buah Sewa Lahan Tahun Pajak Tahun Total Biaya (B) C. Pendapatan ( ) ( ) Sumber: Data Primer (Diolah)

78

79 55

80 56

81 57

82 58 dengan penerimaan output sebesar Rp /ha, sedangkan di tahun ke-7 penerimaan yang diterima sudah jauh menurun bahkan lebih rendah dari tahun pertama berproduksi yakni sebesar Rp /ha. Penerimaan output secara finansial dan ekonomi yang diperoleh petani dalam pengusahaan komoditi lada putih yang dicapai pada tahun ke-3, ke-4, ke-5, ke-6 dan ke-7 dapat dilihat pada Tabel 8 dan Tabel 9. Tingginya penerimaan output secara sosial/ekonomi bila dibandingkan dengan penerimaan secara privat/finansial lebih dikarenakan harga lada putih di pasar dunia yang cenderung mahal dibandingkan harga di pasar dalam negeri, sehingga membawa penerimaan yang tinggi pada tingkat harga sosial Analisis Daya Saing Pengusahaan Komoditi Lada Putih di Kecamatan Airgegas Alat analisis yang digunakan untuk mengukur tingkat daya saing pengusahaan komoditi lada putih di Kecamatan Airgegas seperti telah dijelaskan sebelumnya yaitu matriks analisis kebijakan periode banyak (PAM multiperiod). Pengukuran daya saing dengan menggunakan alat analisis PAM pada penelitian ini dibatasi sampai siklus tanaman 7 tahun, dimana tahun ke-3 merupakan tahap awal tanaman lada berproduksi, tahun ke-4 merupakan pucak produksi dan tahun ke-7 sebagai fase akhir berproduksi. Matriks PAM dibangun berdasarkan data penerimaan, biaya produksi/input dan biaya tataniaga dari pengusahaan komoditi lada putih. Perhitungan pada matriks PAM dilakukan dengan mengelompokkan biaya produksi ke dalam harga privat/pasar (harga yang sebenarnya diterima dan dibayarkan oleh produsen atau konsumen) dan harga sosial/bayangan (harga yang

83 59 menggambarkan nilai ekonomi bagi pelaku). Selisih antara harga privat dengan harga sosial merupakan komponen yang digunakan untuk menganalisis efek divergensi (kebijakan pemerintah dan kegagalan pasar) Analisis Keuntungan Privat dan Sosial Keuntungan privat adalah salah satu indikator daya saing dari sistem komoditas dan merupakan bentuk indikator keluaran dari alat analisis PAM. Keuntungan privat yaitu selisih antara penerimaan yang diperoleh dari hasil penjualan lada putih dengan biaya yang dikeluarkan untuk menghasilkan per satuan kilogram output yang dihitung berdasarkan harga privat. Harga tersebut sudah dipengaruhi oleh adanya kebijakan pemerintah baik berupa subsidi maupun kebijakan lainnya. Berdasarkan hasil dari analisis matrik kebijakan seperti yang tertera pada Tabel 9, diketahui bahwa secara privat/finansial pengusahaan komoditi lada putih di Kecamatan Airgegas baik pada produksi tahun ke-3, ke-4, ke-5, ke-6 dan ke-7 menguntungkan (KP = D > 0) yakni masing-masing Rp ,6/ha, Rp ,12/ha, Rp /ha, Rp ,9/ha dan Rp ,56/ha. Hal ini menunjukkan bahwa tingkat penerimaan petani berdasarkan nilai privatnya lebih besar dari pengeluarannya. Dengan demikian, usahatani lada di Kecamatan Airgegas layak untuk diusahakan, karena dapat memberikan keuntungan yang baik bagi petani. Keuntungan privat terbesar diperoleh petani lada pada tahun produksi ke-4 yaitu sebesar Rp ,12/ha, karena merupakan puncak produksi tertinggi dari pengusahaan komoditi lada putih ini. Keuntungan sosial/ekonomi merupakan indikator daya saing untuk mengetahui tingkat efisiensi dari pengusahaan komoditi lada putih yang dilakukan

84 60 oleh petani di Kecamatan Airgegas. Keuntungan sosial dihitung berdasarkan perbedaan penerimaan dan biaya dengan menggunakan harga bayangan yang terjadi di pasar persaingan sempurna dan tidak terdapat adanya kebijakan pemerintah maupun kegagalan pasar (market failures). Hasil analisis secara sosial/ekonomi (Tabel 10) menunjukkan bahwa pengusahaan komoditi lada putih di Kecamatan Airgegas mempunyai keuntungan sosial yang positif (KS = H > 0), yakni masing-masing Rp ,6/ha, Rp ,12/ha, Rp /ha, Rp ,9/ha dan Rp ,56/ha untuk setiap tahun produksinya. Keuntungan ekonomi terbesar juga diperoleh petani lada pada tahun produksi ke-4 yaitu sebesar Rp ,12/ha, sedangkan keuntungan ekonomi terkecil diperoleh di tahun produksi ke-7 yakni sebesar Rp ,56/ha. Kondisi tersebut menandakan bahwa sistem pengusahaan lada putih memperoleh keuntungan atas biaya normal pada harga sosial. Dengan kata lain, pengusahaan komoditi lada putih di Kecamatan Airgegas efisien secara ekonomi atau memiliki keunggulan komparatif. Berdasarkan hasil analisis perbandingan antara keuntungan yang diperoleh petani lada secara privat dengan keuntungan sosial, ternyata keuntungan sosial lebih besar dibandingkan keuntungan privat (KP < KS). Hal tersebut menginformasikan bahwa secara sosial atau pada kondisi dimana harga input dan output dihitung berdasarkan harga opportunity cost (biaya imbangan) dan tidak adanya kegagalan pasar, maka pengusahaan komoditi lada putih sangat menguntungkan untuk terus diusahakan.

85 61 Tabel 10. Hasil Matrik Analisis Kebijakan (PAM) pada Pengusahaan Komodit Lada Putih Tahun ke-3, ke-4, ke-5, ke-6, dan ke-7 di Kecamatan Airgegas, Kabupaten Bangka Selatan, Tahun 2007 (Rp/Ha) Keterangan Penerimaan Biaya Input Output Tradable Non Tradable Keuntungan l. Tahun ke-3 Harga Privat , ,6 Harga Sosial , , ,6 Efek Divergensi , , ll. Tahun ke-4 Harga Privat , ,12 Harga Sosial , ,12 Efek Divergensi lll. Tahun ke-5 Harga Privat , , Harga Sosial , , Efek Divergensi lv. Tahun ke-6 Harga Privat , ,9 Harga Sosial , ,9 Efek Divergensi V. Tahun ke-7 Harga Privat , , ,56 Harga Sosial , ,56 Efek Divergensi , , Tabel 10 juga menunjukkan bahwa efek divergensi (kebijakan pemerintah dan kegagalan pasar) secara keseluruhan telah menyebabkan keuntungan yang diterima petani lada putih pada setiap tahun produksinya menjadi berkurang yakni masing-masing Rp /ha, Rp /ha, Rp /ha, Rp /ha dan Rp /ha. Efek divergensi juga menyebabkan terjadinya transfer pendapatan dari petani lada ke konsumen lada atau pengguna input untuk setiap tahun produksinya yakni masing-masing Rp /ha, Rp /ha, Rp /ha, Rp /ha dan Rp /ha. Transfer pendapatan tersebut diperkirakan lebih diakibatkan oleh kegagalan pasar, karena selama ini pembeli yang mengusai harga di pasar baik tingkat domestik maupun dunia, sedangkan petani lada hanya berperan sebagai penerima harga (price

86 62 taker). Sementara kebijakan pemerintah pada pasar lada putih untuk saat ini belum ada. Pada pasar input tradable (Tabel 10), efek divergensi yang diakibatkan oleh kebijakan input menyebabkan terjadinya transfer input produksi dari pedagang input ke petani lada yakni masing-masing Rp ,5/ha, Rp /ha, Rp /ha, Rp /ha dan Rp ,5/ha untuk setiap tahun produksinya. Hal ini berdampak pada biaya yang dikeluarkan untuk input produksi menjadi rendah karena harga input yang diterima petani lada pada kondisi harga privat lebih rendah bila dibandingkan dengan harga sosialnya terutama pada harga input pupuk. Selain itu, efek divergensi yang terjadi akibat kebijakan input juga berdampak terhadap pasar input non tradable. Kebijakan input pada pasar input non tradable tidak berjalan efektif yang secara keseluruhan telah menyebabkan terjadinya transfer input dari petani lada ke pedagang input seperti yang ditunjukkan pada Tabel 10. Kondisi tersebut menandakan bahwa harga input non tradable yang dibayar petani lada untuk berproduksi lebih tinggi dari pada harga sesungguhnya Analisis Keunggulan Kompetitif dan Komparatif Keunggulan kompetitif diukur dengan PCR (Private Cost Ratio) yang mencerminkan daya saing lada putih dalam kondisi aktual (harga privat). Nilai PCR merupakan rasio antara biaya input non tradable dengan nilai tambah keluaran dari biaya input tradable yang dihitung pada harga privat. Tabel 11 memperlihatkan bahwa secara umum pengusahaan komoditi lada putih di Kecamatan Airgegas memiliki keunggulan kompetitif, hal ini didasarkan pada

87 63 hasil analisis dari nilai PCR yang kurang dari satu (PCR < 1) untuk masingmasing tahun produksi yakni berkisar antara 0,19 sampai 0,76. Tingkat keunggulan kompetitif tertinggi dicapai pada produksi tahun ke-4 dengan nilai PCR sebesar 0,22, sedangkan yang terendah terjadi pada produksi tahun ke-7 dengan nilai PCR sebesar 0,85 (Tabel 11). Sementara untuk tahun ke- 3, ke-5 dan ke-6 nilai PCR masing-masing sebesar 0,23, 0,26 dan 0,40. Artinya untuk meningkatkan nilai tambah output sebesar satu satuan pada harga privat di Kecamatan Airgegas, diperlukan tambahan biaya faktor domestik masing-masing sebesar 0,23 satuan (tahun ke-3), 0,22 satuan (tahun ke-4), 0,26 satuan (tahun ke- 5), 0,40 satuan (tahun ke-6) dan 0,85 satuan (tahun ke-7). Hal tersebut menunjukkan bahwa pengusahaan komoditi lada putih di Kecamatan Airgegas sangat layak untuk diusahakan. Keunggulan komparatif diukur dengan DRCR (Domestic Resource Cost Ratio) yang menggambarkan daya saing lada putih pada kondisi pasar tidak terdistorsi (harga sosial). DRCR merupakan rasio antara biaya input non tradable dengan nilai tambah keluaran dari biaya masukan yang diperdagangkan secara sosial. Hasil analisis menunjukkan bahwa Kecamatan Airgegas mempunyai keunggulan komparatif untuk memproduksi komoditi lada putih. Hal ini terlihat dari produksinya di setiap tahun yang memiliki nilai DRCR kurang dari satu (DRCR < 1) seperti yang ditunjukkan pada Tabel 11. Nilai DRCR terendah terjadi pada produksi tahun ke-4 dengan nilai sebesar 0,18 dan tertinggi terjadi pada produksi tahun ke-7 yakni sebesar 0,77 (Tabel 11). Nilai tersebut menandakan bahwa tingkat keunggulan komparatif tertinggi dicapai pada produksi tahun ke-4, sedangkan yang terendah terjadi pada

88 64 produksi tahun ke-7. Sementara itu, untuk nilai DRCR tahun produksi ke-3, ke-5, dan ke-6 dapat dilihat pada Tabel 11. Nilai DRCR tersebut mengandung arti bahwa untuk mengembangkan usahatani lada putih di Kecamatan Airgegas hanya membutuhkan korbanan sumberdaya domestik masing-masing sebesar 0,19 satuan (tahun ke-3), 0,18 satuan (tahun ke-4), 0,21 satuan (tahun ke-5), 0,34 satuan (tahun ke-6) dan 0,77 satuan (tahun ke-7). Dengan demikian, pengusahaan terhadap komoditi lada putih sangat ekonomis untuk terus dikembangkan mengingat hanya membutuhkan alokasi biaya domestik yang relatif rendah, sehingga dapat mendorong peningkatan produksi. Tabel 11. Keunggulan Kompetitif dan Komparatif pada Pengusahaan Komoditi Lada Putih di Kecamatan Airgegas Kabupaten Bangka Selatan, Tahun 2006 Keterangan PCR DRCR l. Tahun ke-3 ll. Tahun ke-4 lll. Tahun ke-5 lv.tahun ke-6 V. Tahun ke-7 0,23 0,22 0,26 0,40 0,85 0,19 0,18 0,21 0,34 0,77 Siklus 7 tahun 0,53 0,48 Hasil analisis (Tabel 11) juga menunjukkan bahwa pengusahaan lada putih dengan siklus tanaman 7 tahun yang didasarkan pada net present value (NPV) di Kecamatan Airgegas memiliki keunggulan kompetitif dan komparatif. Hal ini ditunjukkan oleh nilai PCR dan DRCR yang kurang dari satu yaitu sebesar 0,53 dan 0,48. Artinya, untuk meningkatkan nilai tambah output sebesar satu satuan pada harga privat di Kecamatan Airgegas, diperlukan tambahan biaya faktor domestik sebesar 0,53 satuan dan hanya dibutuhkan sumberdaya domestik sebesar 0,48 satuan untuk pengembangan pengusahaan lada putih di kecamatan tersebut. Dengan kata lain, komoditi lada putih jauh lebih efisien jika

89 65 diusahakan/diproduksi di dalam negeri bila dibandingkan dengan mengimpornya. Hal ini karena produksi lada putih di Kecamatan Airgegas sangat layak untuk diusahakan dan efisien dalam penggunaan sumberdaya domestik, sehingga berdampak pada penghematan devisa. Selanjutnya bila dibandingkan antara nilai PCR dengan DRCR (siklus 7 tahun) ternyata memiliki nilai yang besarannya tidak jauh berbeda, di mana nilai PCR relatif lebih besar dari nilai DRCR (PCR > DRCR). Hal tersebut menunjukkan bahwa pengusahaan komoditi lada putih yang ada di Kecamatan Airgegas saat ini layak untuk dikembangkan meskipun tanpa adanya dukungan proteksi input-output dari pemerintah Dampak Kebijakan Pemerintah Dampak kebijakan dan kegagalan pasar pada pengusahaan komoditi lada putih dapat diidentifikasi dari nilai NPCO (Nominal Protection Coefficient on Output), NPCI (Nominal Protection Coefficient on Tradable Input) dan EPC (Effective Protection Coefficient). Nilai NPCO dan NPCI mencerminkan dampak kebijakan pemerintah secara parsial, sementara dampak secara simultan dapat dilihat dari nilai EPC. Nilai NPCO menunjukkan dampak insentif pemerintah menyebabkan terjadinya perbedaan nilai output yang diukur dengan harga privat dan sosial. Namun, mengingat sampai saat ini belum ada kebijakan pemerintah untuk perdagangan lada putih, maka pada output lada putih ini diduga kegagalan pasar yang menyebabkan harga yang diterima petani lebih rendah dari seharusnya. Hasil analisis menunjukkan bahwa nilai NPCO untuk pengusahaan komoditi lada putih di Kecamatan Airgegas pada masing-masing tahun produksinya sama yakni

90 66 kurang dari satu (NPCO < 1) sebesar 0,96 seperti yang tertera pada Tabel 12. Artinya petani menerima harga lebih murah dari harga dunia, dimana harga jual lada putih di tingkat petani 4 persen lebih murah dari harga output yang seharusnya diterima. Dengan arti lain, telah terjadi pengalihan pendapatan dari petani lada ke konsumen lada (industri makanan, industri farmasi dan industri yang berbahan baku lada putih). Tabel 12. Dampak Kebijakan dan Kegagalan Pasar pada Pengusahaan Komoditi Lada Putih di Kecamatan Airgegas, Kabupaten Bangka Selatan, Tahun 2006 Keterangan NPCO NPCI EPC l. Tahun ke-3 ll. Tahun ke-4 lll. Tahun ke-5 lv.tahun ke-6 V. Tahun ke-7 0,96 0,96 0,96 0,96 0,96 0,81 0,80 0,77 0,79 0,80 0,96 0,96 0,96 0,97 0,98 Selanjutnya, untuk mengetahui seberapa besar insentif yang diberikan pemerintah terhadap input produksi tradable dapat diketahui dari nilai NPCI. NPCI merupakan rasio biaya input tradable berdasarkan harga privat dan harga sosial. Tabel 12 memperlihatkan bahwa nilai NPCI untuk pengusahaan komoditi lada putih pada setiap tahun produksinya kurang dari satu (NPCI < 1) yakni berkisar antara 0,77 sampai 0,81. Hal ini berarti bahwa harga input yang dibayar petani lebih rendah 19 sampai 23 persen dari harga dunia, maksudnya pemerintah melakukan kebijakan subsidi terhadap input produksi tradable dengan menetapkan harga domestik lebih rendah dari harga dunia. Kondisi tersebut berpengaruh pada tingkat pegusahaan lada putih, karena harga input produksi tradable yang rendah akan membantu meningkatkan pendapatan petani di Kecamatan Airgegas.

91 67 Indikator untuk mengetahui dampak kebijakan terhadap output dan input tradable apakah bersifat menghambat atau melindungi produksi lada putih domestik dapat dijelaskan dari nilai EPC. EPC merupakan rasio yang membandingkan antara nilai tambah input tradable pada tingkat harga privat dengan nilai tambah input tradable pada tingkat harga sosial. Hasil analisis memperlihatkan bahwa nilai EPC pada pengusahaan komoditi lada putih di Kecamatan Airgegas kurang dari satu (EPC < 1) untuk setiap tahun produksinya yaitu berkisar antara 0,96 sampai 0,98 (Tabel 12). Nilai tersebut menunjukkan bahwa petani lada cenderung membayar harga input tradable dan menjual harga output tidak sesuai dengan harga yang seharusnya (harga sosial). Kondisi ini membuktikan bahwa secara simultan kebijakan pemerintah terhadap output input tidak memberikan perlindungan yang efektif bagi petani lada untuk berproduksi Analisis Sensitivitas Terhadap Daya Saing Pengusahaan Komoditi Lada Putih Analisis sensitivitas atau analisis kepekaan pada penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk melihat seberapa besar tingkat perubahan dari hasil matriks analisis kebijakan (PAM) pengusahaan komoditi lada putih di Kecamatan Airgegas terhadap perubahan-perubahan yang terjadi pada harga output maupun input. Untuk menguji hasil analisis sebelumnya, analisis sensitivitas yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari tiga variabel yaitu penurunan harga output sebesar 35 persen, peningkatan harga input pupuk sebesar 15 persen dan peningkatan harga sewa lahan yakni sebesar 75 persen. Pada analisis perubahan

92 68 harga output dan harga input hanya melihat satu perubahan saja dengan faktor lainnya tetap (ceteris paribus). Berdasarkan hasil analisis sensitivitas (Tabel 13) memperlihatkan bahwa dengan terjadinya penurunan harga lada putih sebesar 35 persen telah menyebabkan melemahnya daya saing pengusahaan lada putih di Kecamatan Airgegas. Hal tersebut ditunjukkan oleh nilai PCR dan DRCR dari setiap tahun produksi yang lebih besar dari nilai PCR dan DRCR pada saat kondisi tidak ada perubahan. Bahkan pada produksi tahun ke-7 nilai PCR dan DRCR lebih dari satu yakni sebesar 2,92 dan 3,08. Hal ini mengindikasikan bahwa pengusahan lada putih di tahun produksi tersebut tidak memiliki keunggulan lagi baik secara kompetitif maupun komparatif. Namun demikian, pengusahaan lada putih di Kecamatan Airgegas masih tetap menguntungkan untuk produksi tahun ke-3 sampai ke-6, karena nilai PCR dan DRCR masih kurang satu. Artinya pada produksi tahun tersebut pengusahaan komoditi ini mempunyai keunggulan kompetitif dan komparatif. Tabel 13. Analisis Sensitivitas Terhadap Daya Saing Pengusahaan Komoditi Lada Putih Tahun ke-3, ke-4, ke-5, ke-6, dan ke-7 di Kecamatan Airgegas, Kabupaten Bangka Selatan, Tahun 2006 Keterangan l. Tahun ke-3 ll. Tahun ke-4 lll. Tahun ke-5 lv.tahun ke-6 V. Tahun ke-7 Harga Output Turun (35 Persen) Harga Input Pupuk Naik (15 Persen) Harga Sewa Lahan Naik (75 Persen) PCR DRCR PCR DRCR PCR DRCR 0,32 0,29 0,24 0,20 0,25 0,21 0,30 0,29 0,23 0,19 0,23 0,20 0,36 0,35 0,27 0,23 0,27 0,23 0,58 0,56 0,42 0,34 0,43 0,37 2,92 3,08 0,91 0,84 0,97 0,88 Naiknya harga input pupuk sebesar 15 persen juga berdampak pada melamahnya tingkat daya saing pengusahaan komoditi lada putih di Kecamatan Airgegas. Hal ini terlihat dari nilai PCR dan DRCR yang lebih besar dari kondisi

93 69 normalnya seperti yang terlihat pada Tabel 13. Akan tetapi pengusahaan komoditi lada putih di Kecamatan Airgegas masih layak untuk diusahakan dan menguntungkan, karena nilai PCR dan DRCR untuk setiap tahun produksinya masih kurang dari satu. Dengan kata lain, pengusahaan komoditi tersebut masih mempunyai daya saing (keunggulan kompetitif dan komparatif) untuk terus dikembangkan. Selanjutnya, hasil analisis sensitivitas menunjukkan bahwa peningkatan harga sewa lahan sebesar 75 persen menyebabkan daya saing terhadap pengusahaan komoditi lada putih melemah (Tabel 13). Hal ini ditunjukkan oleh nilai PCR dan DRCR yang lebih besar dari kondisi normalnya (eksisting). Walaupun demikian, pengusahaan komoditi lada putih di Kecamatan Airgegas tetap menguntungkan untuk terus diusahakan, karena secara kompetitif dan komparatif masih berdaya saing. Bila dianalisis lebih lanjut (Tabel 13) hasil dari analisis sensitivitas yang dilakukan pada dua variabel yakni penurunan harga output sebesar 35 persen dan peningkatan harga input pupuk sebesar 15 serta peningkatan harga sewa lahan sebesar 75 persen persen telah berdampak terhadap melemahnya tingkat daya saing yang dimiliki oleh Kecamatan Airgegas dalam pengusahaan komoditi lada putih. Penurunan harga output sebesar 35 persen lebih sensitif/peka terhadap melemahnya tingkat daya saing pengusahaan komoditi lada putih jika dibandingkan dengan peningkatan harga input pupuk sebesar 15 persen. Hal ini terindikasi dari perubahan nilai PCR dan DRCR akibat penurunan harga output sebesar 35 persen lebih besar dari pada peningkatan harga input pupuk sebesar 15 persen dan harga sewa lahan sebesar 75 persen.

94 VII. KESIMPULAN DAN REKOMENDASI 7.1. Kesimpulan Berdasarkan hasil dan pembahasan dari penelitian yang dilakukan, maka dapat ditarik suatu kesimpulan yakni sebagai berikut: 1. Pengusahaan lada putih di Kecamatan Airgegas berdasarkan siklus tanaman 7 tahun masih mempunyai daya saing (keunggulan kompetitif dan komparatif), yang ditunjukkan oleh nilai PCR dan DRCR kurang dari satu untuk setiap tahun produksi. Tingkat keunggulan kompetitif dan komparatif tertinggi tercapai pada tahun ke-4 dengan nilai PCR dan DRCR masing-masing sebesar 0,22 dan 0,18. Dengan demikian, pengusahaan terhadap komoditi lada putih sangat ekonomis untuk terus dikembangkan mengingat hanya membutuhkan alokasi biaya domestik yang relatif rendah, sehingga dapat mendorong peningkatan produksi. 2. Efek divergensi terhadap output yang diakibatkan oleh kinerja pasar tidak menguntungkan petani, karena harga lada yang diterima lebih rendah dari harga seharusnya. Harga jual lada yang diterima petani pada masing-masing tahun produksi lebih rendah 6 persen dibandingkan harga yang seharusnya, hal ini ditunjukkan oleh nilai NPCO < 1, yaitu 0,96. Sementara kebijakan input produksi tradable berjalan efektif khususnya pada pembayaran input pupuk yang lebih rendah dari harga seharusnya. Hal ini terlihat dari nilai NPCI < 1 untuk setiap tahun produksi yaitu sebesar 0,77 sampai 0,81. Namun, efek divergensi secara keseluruhan terhadap pengusahaan lada putih di Kecamatan Airgegas tidak efektif melindungi petani dan dapat menghambat dalam peningkatan produksi. Nilai EPC < 1 yaitu antara 0,96 sampai 0,98 untuk

95 71 masing-masing tahun produksi menjadi bukti bahwa petani lada cenderung membayar harga input tradable dan menjual harga output tidak sesuai dengan harga yang seharusnya (harga sosial). 3. Walaupun terjadi perubahan pada harga input dan output yaitu penuruna harga lada putih sebesar 35 persen, peningkatan harga input pupuk sebesar 15 persen dan peningkatan harga sewa lahan sebesar 75 persen, pengusahaan komoditi lada putih di Kecamatan Airgegas secara keseluruhan masih menguntungkan untuk diusahakan atau tetap memiliki daya saing (keunggulan kompetitif dan komparatif) pada masing-masing tahun produksinya dengan nilai PCR dan DRCR kurang dari satu Rekomendasi Pengusahaan terhadap komoditi perkebunan lada putih (muntok white pepper) yang dilakukan oleh petani di Kecamatan Airgegas tetap terus dijalankan dan dikembangkan, karena secara finansial dan ekonomi masih efisien/menguntungkan serta memiliki daya saing (keunggulan kompetitif dan komparatif). Walaupun dengan ataupun tanpa adanya kebijakan pemerintah pengusahaan komoditi lada putih di Kecamatan Airgegas tetap layak diusahakan. Namun demikian, jika didukung dengan adanya instrumen kebijaksanaan insentif baik terhadap harga output maupun input maka pengusahaan terhadap komoditi ini akan lebih baik dan dapat mendorong peningkatan produksi. Kebijakan terhadap output dapat dilakukan dengan membentuk kelompok atau kantor pemasaran bersama dalam proses pemasarannya dengan mengupayakan agar harga output yang diterima petani lada putih lebih tinggi. Sementara itu, untuk kebijakan terhadap input diperlukan adanya koordinasi dan

96 72 pengendalian yang lebih optimal terutama pada pengadaan input pupuk sehingga diharapkan saat musim tanam tiba tidak terjadi kelangkaan pada input tersebut. Perlunya kerjasama dengan instansi terkait diantaranya penyuluh pertanian lapangan dan lembaga-lembaga penelitian sebagai upaya peningkatan produksi maupun kualitas lada putih. Penerapan teknologi yang tepat dengan teknik budidaya intensif sangat diharapkan dapat membantu petani khususnya petani lada putih di Kecamatan Airgegas dalam peningkatan produktivitas pengusahaan komoditi lada putih.

97 DAFTAR PUSTAKA Badan Pusat Statistika Statistik Perdagangan Luar Negeri Ekspor-Impor Indonesia. Jakarta. BPS Provinsi Kepulauan Bangka Belitung Statistik Ekspor Lada Putih Bangka Belitung. Bangka Belitung. BPS Kabupaten Bangka Kecamatan Airgegas dalam Angka. Bangka Departemen Pertanian RI Produksi Lada Menurut Propinsi di Seluruh Indonesia Tahun Jakarta Perkembangan Ekspor Komoditi Perkebunan Indonesia Tahun Jakarta. Dinas Pertanian dan Kehutanan Data dan Statistik Pekebunan. Provinsi Kepulauan Bangka Belitung Analisa Ekonomi Produksi Tanaman Lada yang Disederhanakan. Kabupaten Bangka Selatan Direktorat Jenderal Perkebunan Luas Areal, Produksi, dan Produktivitas Lada di Seluruh Indonesia Tahun Jakarta Statistik Perkebunan Tahun Departemen Pertanian. Jakarta. Elizabeth, R Keragaan Komoditas Lada Indonesia (Studi Kasus di Kabupaten Bangka). Pusat Penelitian dan Pengembangan Sosial Ekonomi Pertanian. Badan Litbang Pertanian. Bogor. Gittinger, J. P Analisis Ekonomi Proyek-Proyek Pertanian. Edisi Kedua. Terjemahan Universitas Indonesia Press. Jakarta. Halwani, R.H Ekonomi Internasional dan Globalisasi Ekonomi. Penerbit Ghalia Indonesia. Jakarta. IPC Statistical Year Book Jakarta Juni, H dkk Analisis Daya Saing Usaha Tani Tebu di Provinsi Jawa Timur. Pusat Penelitian dan Pengembangan Sosial Ekonomi Pertanian. Badan Litbang Pertanian. Bogor. Jurnal Soca Keragaan Agribisnis Komoditas Lada. Edisi Februari. Fakultas Pertanian Universitas Udayana. Bali. Kadariah et al Evaluasi Proyek Analisis Ekonomi. Edisi I. Lembaga Penerbit Ekonomi Universitas Indonesia. Jakarta.

98 74 Malian et al. (2004). Permintaan Ekspor dan Daya Saing Panili di Provinsi Sulawesi Utara. Jurnal Agro Ekonomi. Volume 2 hal Pusat Penelitian dan Pengembangan Sosial Ekonomi. Bogor. Monke, E. A and S. R. Pearson The Policy Analysis Matrix For Agricultural Development. Cornell University Press: Itacha and London. Nazir, M Metode Penelitian. Cetakan Kelima. Penerbit Ghalia Indonesia. Jakarta. Nicholson, W Mikroekonomi Intermediete dan Aplikasinya. Edisi Kedelapan. Penerbit Erlangga. Jakarta. Pearson. S. Gotsch. C dan Sjaiful. B Aplikasi Policy Analysis Matrix Pada Pertanian Indonesia. Yayasan Obor Indonesia. Jakarta. Salvatore, D Ekonomi Internasional. Edisi Kelima. Penerbit Erlangga. Jakarta. Simatupang, P. dan P. Sudaryanto Pengembangan Agribisnis Suatu Catatan Kerangka Analisis dalam Proseding Perspektif Pengembangan Agribisnis Indonesia. Pusat Penelitian dan Pengembangan Sosial Ekonomi Pertanian. Bogor. Situs. bangkapos.com Sunandar, I Analisis Daya Saing Dan Dampak Kebijakan Pemerintah Terhadap Pengusahaan Komoditas Tanaman Karet Alam (Hevea braziliensis) (Kasus Di Kecamatan Cambai, Kota Prabumulih, Provinsi Sumatera Selatan). Skripsi. Program Sarjana Ekstensi Manajamen Agribisnis. Fakultas Pertanian. Institut Pertanian Bogor. Bogor. Suwarto Lada (Piper Nigrum Linn.). Jurusan Budidaya Pertanian. Fakultas Pertanian. Institut Pertanian Bogor. Bogor. Tanjung Ekspor Lada Indonesia dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhinya. Skripsi. Jurusan Ilmu-Ilmu Sosial Ekonomi Pertanian. Fakultas Pertanian. Institut Pertanian Bogor. Bogor. Wuriyanto, L Analisis Kelayakan Finansial Usaha Tani Lada dan Pemasaran Komoditi Lada (Studi Kasus di Desa Giri Mulya, Kecamatan Jabung, Lampung Timur). Skripsi. Jurusan Ilmu-Ilmu Sosial Ekonomi Pertanian. Fakultas Pertanian. Institut Pertanian Bogor. Bogor.

99 75 Lampiran 1. Tabel Neraca Ekspor Beberapa Komoditi Primer Perkebunan Indonesia, Tahun Komoditi Tahun Rata-rata * Nilai (000 Volume Nilai Volume Nilai Volume Nilai US$) (Ton) (000 US$) (Ton) (000 US$) (Ton) (000 US$) Kelapa Sawit Karet Kakao Kelapa Kopi Teh Tembakau Lada Pala Cengkeh * Data kumulatif sampai dengan bulan September Sumber: Departemen Pertanian RI, 2007

100 76 Lampiran 2. Diagram Alir Proses Pengolahan Lada Hitam dan Lada Putih Tanaman Lada Panen lada masak petik Panen lada masak penuh Penyimpanan dalam Karung selama 2 hari Pemasukan dalam karung Perontokan Perendaman dalam air mengalir ± 3 hari Pengeringan (3-7 hari) Perontokan Lada Hitam Pengelupasan kulit/disosoh dan pencucian secara manual Pengeringan (3-4 hari) Lada Putih Sumber: Suwarto (2002)

101 77 Lampiran 3. Porsentase Alokasi Biaya Input dan Output dalam Komponen Domestik dan Asing No Uraian Domestik Asing A Penerimaan 1. Lada Putih B Biaya Input/Produksi 1. Bibit Lada Tajar/Ajir Tetap Pupuk: - Urea - TSP/SP 36 - KCL Obat-obatan: - Gramoxone Tenaga Kerja Peralatan Pajak Sewa Lahan Biaya Tataniaga: - Pengangkutan - Penanganan Sumber: Badan Pusat Statistika, 2006 (diolah)

102 78 Lampiran 4. Perhitungan Standard Convertion Factor danshadow Price Exchange Rate Tahun (Miliar Rupiah) Tahun X T M T TX T TM T OER T SCF T SER T , , , , , , , , , , , , , , , ,1 317, , , , , , , ,32 Sumber: Statistik Indonesia (BPS), 2007

103 79 Lampiran 5. Peta Daerah Kabupaten Bangka Selatan PETA KABUPATEN BANGKA SELATAN KETERANGAN : : Batas Kabupaten : Batas Kecamatan

104 80 Lampiran 6. Tabel Biaya Analisis Finansial dan Analisis Ekonomi Usahatani Lada Putih pada Tahun ke-3 di Kecamatan Airgegas, Kabupaten Bangka Selatan, 2007 (Rp/Ha) No. Uraian Analisis Finansial Analisis Ekonomi Domestik Asing Total Domestik Asing Total A. Penerimaan Output Lada Putih B. Input Produksi 1. Pupuk: - Urea - TSP/SP 36 - KCL , , Obat-Obatan: - Gramoxone Tenaga Kerja: - Pemeliharaan - Panen - Pasca Panen Sewa Lahan Pajak C. Biaya Tataniaga: - Pengangkutan - Penanganan , , , ,4 D. Biaya Modal Total Biaya , , , , ,4 E. Keuntungan , ,6 Lampiran 7. Matriks Analisis Kebijakan (PAM) pada Pengusahaan Komoditi Lada Putih Tahun ke-3 di Kecamatan Airgegas, Kabupaten Bangka Selatan, 2007 (Rp/Ha) Keterangan Penerimaan Biaya Input Output Tradable Non Tradable Keuntungan Harga Privat , ,6 Harga Sosial , , ,6 Efek Divergensi , , Indikator Daya Saing: a. Keunggulan Kompetitif: - PP = ,6 - PCR = 0,23 b. Keunggulan Komparatif: - KS = ,6 - DRCR = 0,19 c. Dampak Kebijakan Pemerintah: 1. Dampak Terhadap Output - NPCO = 0,96 2. Dampak Terhadap Input - NPCI = 0,81 3. Dampak Terhadap Input-Output - EPC = 0,96

105 81 Lampiran 8. Tabel Biaya Analisis Finansial dan Analisis Ekonomi Usahatani Lada Putih pada Tahun ke-4 di Kecamatan Airgegas, Kabupaten Bangka Selatan, 2007 (Rp/Ha) No. Uraian Analisis Finansial Analisis Ekonomi Domestik Asing Total Domestik Asing Total A. Penerimaan Output Lada Putih B. Input Produksi 1. Pupuk: - Urea TSP/SP KCL Obat-Obatan: - Gramoxone Tenaga Kerja: - Pemeliharaan - Panen - Pasca Panen Sewa Lahan Pajak C. Biaya Tataniaga: - Pengangkutan - Penanganan , , , ,88 D. Biaya Modal Total Biaya , , , ,88 E. Keuntungan , ,12 Lampiran 9. Matriks Analisis Kebijakan (PAM) pada Pengusahaan Komoditi Lada Putih Tahun ke-4 di Kecamatan Airgegas, Kabupaten Bangka Selatan, 2007 (Rp/Ha) Keterangan Penerimaan Output Biaya Input Tradable Non Tradable Keuntungan Harga Privat , ,12 Harga Sosial , ,12 Efek Divergensi Indikator Daya Saing: a. Keunggulan Kompetitif: - PP = ,12 - PCR = 0,22 b. Keunggulan Komparatif: - KS = ,12 - DRCR = 0,18 c. Dampak Kebijakan Pemerintah: 1. Dampak Terhadap Output - NPCO = 0,96 2. Dampak Terhadap Input - NPCI = 0,80 3. Dampak Terhadap Input-Output - EPC = 0,96

106 82 Lampiran 10. Tabel Biaya Analisis Finansial dan Analisis Ekonomi Usahatani Lada Putih pada Tahun ke-5 di Kecamatan Airgegas, Kabupaten Bangka Selatan, 2007 (Rp/Ha) No. Uraian Analisis Finansial Analisis Ekonomi Domestik Asing Total Domestik Asing Total A. Penerimaan Output Lada Putih B. Input Produksi 1. Pupuk: - Urea TSP/SP KCL Obat-Obatan: - Gramoxone Tenaga Kerja: - Pemeliharaan - Panen - Pasca Panen Sewa Lahan Pajak C. Biaya Tataniaga: - Pengangkutan - Penanganan , , , , D. Biaya Modal Total Biaya , , , , E. Keuntungan Lampiran 11. Matriks Analisis Kebijakan (PAM) pada Pengusahaan Komoditi Lada Putih Tahun ke-5 di Kecamatan Airgegas, Kabupaten Bangka Selatan, 2007 (Rp/Ha) Keterangan Penerimaan Biaya Input Output Tradable Non Tradable Keuntungan Harga Privat , , Harga Sosial , , Efek Divergensi Indikator Daya Saing: a. Keunggulan Kompetitif: - PP = PCR = 0,26 b. Keunggulan Komparatif: - KS = DRCR = 0,21 c. Dampak Kebijakan Pemerintah: 1. Dampak Terhadap Output - NPCO = 0,96 2. Dampak Terhadap Input - NPCI = 0,77 3. Dampak Terhadap Input-Output - EPC = 0,96

107 83 Lampiran 12. Tabel Biaya Analisis Finansial dan Analisis Ekonomi Usahatani Lada Putih pada Tahun ke-6 di Kecamatan Airgegas, Kabupaten Bangka Selatan, 2007 (Rp/Ha) No. Uraian Analisis Finansial Analisis Ekonomi Domestik Asing Total Domestik Asing Total A. Penerimaan Output Lada Putih B. Input Produksi 1. Pupuk: - Urea TSP/SP KCL Obat-Obatan: - Gramoxone Tenaga Kerja: - Pemeliharaan - Panen - Pasca Panen Sewa Lahan Pajak C. Biaya Tataniaga: - Pengangkutan - Penanganan , , , ,1 D. Biaya Modal Total Biaya , , , ,1 E. Keuntungan , ,9 Lampiran 13. Matriks Analisis Kebijakan (PAM) pada Pengusahaan Komoditi Lada Putih Tahun ke-6 di Kecamatan Airgegas, Kabupaten Bangka Selatan, 2007 (Rp/Ha) Keterangan Penerimaan Output Biaya Input Tradable Non Tradable Keuntungan Harga Privat , ,9 Harga Sosial , ,9 Efek Divergensi Indikator Daya Saing: a. Keunggulan Kompetitif: - PP = ,9 - PCR = 0,40 b. Keunggulan Komparatif: - KS = ,9 - DRCR = 0,34 c. Dampak Kebijakan Pemerintah: 1. Dampak Terhadap Output - NPCO = 0,96 2. Dampak Terhadap Input - NPCI = 0,79 3. Dampak Terhadap Input-Output - EPC = 0,97

108 84 Lampiran 14. Tabel Biaya Analisis Finansial dan Analisis Ekonomi Usahatani Lada Putih pada Tahun ke-7 di Kecamatan Airgegas, Kabupaten Bangka Selatan, 2007 (Rp/Ha) No. Uraian Analisis Finansial Analisis Ekonomi Domestik Asing Total Domestik Asing Total A. Penerimaan Output Lada Putih B. Input Produksi 1. Pupuk: - Urea , , TSP/SP KCL Obat-Obatan: - Gramoxone Tenaga Kerja: - Pemeliharaan - Panen - Pasca Panen Sewa Lahan Pajak C. Biaya Tataniaga: - Pengangkutan - Penanganan , , , , , , , ,44 D. Modal Biaya Total Biaya , , , , ,44 E. Keuntungan , ,56 Lampiran 15. Matriks Analisis Kebijakan (PAM) pada Pengusahaan Komoditi Lada Putih Tahun ke-7 di Kecamatan Airgegas, Kabupaten Bangka Selatan, 2007 (Rp/Ha) Keterangan Penerimaan Output Biaya Input Tradable Non Tradable Keuntungan Harga Privat , , ,56 Harga Sosial , ,56 Efek Divergensi , , Indikator Daya Saing: a. Keunggulan Kompetitif: - PP = ,56 - PCR = 0,85 b. Keunggulan Komparatif: - KS = ,56 - DRCR = 0,77 c. Dampak Kebijakan Pemerintah: 1. Dampak Terhadap Output - NPCO = 0,96 2. Dampak Terhadap Input - NPCI = 0,80 3. Dampak Terhadap Input-Output - EPC = 0,98

109 85 Lampiran 16. PAM Periode Banyak Bujet Privat Pengusahaan Komoditi Lada Putih di Kecamatan Airgegas (Rp/Ha) Tahun Pendapatan Biaya Input Tradable Non Tradable Keuntungan Tingkat Bunga 14 % ( ) ( ) , , , , , , , , , , ,56 NPV , , , Lampiran 17. PAM Periode Banyak Bujet Sosial Pengusahaan Komoditi Lada Putih di Kecamatan Airgegas (Rp/Ha) Tahun Pendapatan Biaya Input Tradable Non Tradable Keuntungan Tingkat Bunga 20 % , ,95 ( ,96) , ,55 ( ) , , , , , , , , , , ,56 NPV , , , ,36 Lampiran 18. PAM Periode Banyak Pengusahaan Komoditi Lada Putih Siklus Tanaman 7 Tahun di Kecamatan Airgegas (Rp/Ha) Keterangan Penerimaan Biaya Input Output Tradable Non Tradable Keuntungan Harga Privat , , , Harga Sosial , , , ,36 Efek Divergensi , , , ,45 Indikator Daya Saing: a. Keunggulan Kompetitif: - PP = PCR = 0,53 b. Keunggulan Komparatif: - KS = ,36 - DRCR = 0,48

110 86 Lampiran 19. Tabel Biaya Analisis Finansial dan Analisis Ekonomi Usahatani Lada Putih pada Tahun ke-3 bila Harga Output Turun Sebesar 35 Persen di Kecamatan Airgegas, Kabupaten Bangka Selatan, 2007 (Rp/Ha) No. Uraian Analisis Finansial Analisis Ekonomi Domestik Asing Total Domestik Asing Total A. Penerimaan Output Lada Putih B. Input Produksi 1. Pupuk: - Urea - TSP/SP 36 - KCL , , Obat-Obatan: - Gramoxone Tenaga Kerja: - Pemeliharaan - Panen - Pasca Panen Sewa Lahan Pajak C. Biaya Tataniaga: - Pengangkutan - Penanganan , , , ,4 D. Biaya Modal Total Biaya , , , , ,4 E. Keuntungan , ,6 Lampiran 20. Matriks Analisis Kebijakan (PAM) pada Pengusahaan Komoditi Lada Putih Tahun ke-3 bila Harga Output Turun Sebesar 35 Persen di Kecamatan Airgegas, Kabupaten Bangka Selatan, 2007 (Rp/Ha) Keterangan Penerimaan Output Biaya Input Tradable Non Tradable Keuntungan Harga Privat ,6 Harga Sosial , ,6 Efek Divergensi , , Indikator Daya Saing: a. Keunggulan Kompetitif: - PP = ,6 - PCR = 0,32 b. Keunggulan Komparatif: - KS = ,6 - DRCR = 0,29

111 87 Lampiran 21. Tabel Biaya Analisis Finansial dan Analisis Ekonomi Usahatani Lada Putih pada Tahun ke-4 bila Harga Output Turun Sebesar 35 Persen di Kecamatan Airgegas, Kabupaten Bangka Selatan, 2007 (Rp/Ha) No. Uraian Analisis Finansial Analisis Ekonomi Domestik Asing Total Domestik Asing Total A. Penerimaan Output Lada Putih , ,7 B. Input Produksi 1. Pupuk: - Urea TSP/SP KCL Obat-Obatan: - Gramoxone Tenaga Kerja: - Pemeliharaan - Panen - Pasca Panen Sewa Lahan Pajak C. Biaya Tataniaga: - Pengangkutan - Penanganan , , , ,88 D. Biaya Modal Total Biaya , , , ,88 E. Keuntungan , Lampiran 22. Matriks Analisis Kebijakan (PAM) pada Pengusahaan Komoditi Lada Putih Tahun ke-4 bila Harga Output Turun Sebesar 35 Persen di Kecamatan Airgegas, Kabupaten Bangka Selatan, 2007 (Rp/Ha) Keterangan Penerimaan Output Biaya Input Tradable Non Tradable Keuntungan Harga Privat , , ,32 Harga Sosial , , Efek Divergensi ,5 Indikator Daya Saing: a. Keunggulan Kompetitif: - PP = ,32 - PCR = 0,30 b. Keunggulan Komparatif: - KS = DRCR = 0,29

112 88 Lampiran 23. Tabel Biaya Analisis Finansial dan Analisis Ekonomi Usahatani Lada Putih pada Tahun ke-5 bila Harga Output Turun Sebesar 35 Persen di Kecamatan Airgegas, Kabupaten Bangka Selatan, 2007 (Rp/Ha) No. Uraian Analisis Finansial Analisis Ekonomi Domestik Asing Total Domestik Asing Total A. Penerimaan Output Lada Putih , ,25 B. Input Produksi 1. Pupuk: - Urea TSP/SP KCL Obat-Obatan: - Gramoxone Tenaga Kerja: - Pemeliharaan - Panen - Pasca Panen Sewa Lahan Pajak C. Biaya Tataniaga: - Pengangkutan - Penanganan , , , , D. Biaya Modal Total Biaya , , , , E. Keuntungan , ,25 Lampiran 24. Matriks Analisis Kebijakan (PAM) pada Pengusahaan Komoditi Lada Putih Tahun ke-5 bila Harga Output Turun Sebesar 35 Persen di Kecamatan Airgegas, Kabupaten Bangka Selatan, 2006 (Rp/Ha) Keterangan Penerimaan Biaya Input Output Tradable Non Tradable Keuntungan Harga Privat , ,5 Harga Sosial , ,25 Efek Divergensi , ,75 Indikator Daya Saing: a. Keunggulan Kompetitif: - PP = ,5 - PCR = 0,36 b. Keunggulan Komparatif: - KS = ,25 - DRCR = 0,35

113 89 Lampiran 25. Tabel Biaya Analisis Finansial dan Analisis Ekonomi Usahatani Lada Putih pada Tahun ke-6 bila Harga Output Turun Sebesar 35 Persen di Kecamatan Airgegas, Kabupaten Bangka Selatan, 2007 (Rp/Ha) No. Uraian Analisis Finansial Analisis Ekonomi Domestik Asing Total Domestik Asing Total A. Penerimaan Output Lada Putih , ,3 B. Input Produksi 1. Pupuk: - Urea TSP/SP KCL Obat-Obatan: - Gramoxone Tenaga Kerja: - Pemeliharaan - Panen - Pasca Panen Sewa Lahan Pajak C. Biaya Tataniaga: - Pengangkutan - Penanganan , , , ,1 D. Biaya Modal Total Biaya , , , ,1 E. Keuntungan , ,9 Lampiran 26. Matriks Analisis Kebijakan (PAM) pada Pengusahaan Komoditi Lada Putih Tahun ke-6 bila Harga Output Turun Sebesar 35 Persen di Kecamatan Airgegas, Kabupaten Bangka Selatan, 2007 (Rp/Ha) Keterangan Penerimaan Output Biaya Input Tradable Non Tradable Keuntungan Harga Privat , , ,7 Harga Sosial , , ,9 Efek Divergensi , ,2 Indikator Daya Saing: a. Keunggulan Kompetitif: - PP = ,7 - PCR = 0,58 b. Keunggulan Komparatif: - KS = ,9 - DRCR = 0,56

114 90 Lampiran 27. Tabel Biaya Analisis Finansial dan Analisis Ekonomi Usahatani Lada Putih pada Tahun ke-7 bila Harga Output Turun Sebesar 35 Persen di Kecamatan Airgegas, Kabupaten Bangka Selatan, 2007 (Rp/Ha) No. Uraian Analisis Finansial Analisis Ekonomi Domestik Asing Total Domestik Asing Total A. Penerimaan Output Lada Putih , ,15 B. Input Produksi 1. Pupuk: - Urea - TSP/SP 36 - KCL , , Obat-Obatan: - Gramoxone Tenaga Kerja: - Pemeliharaan - Panen - Pasca Panen Sewa Lahan Pajak C. Biaya Tataniaga: - Pengangkutan - Penanganan , , , , , , , ,44 D. Modal Biaya Total Biaya , , , , ,44 E. Keuntungan , ,29 Lampiran 28. Matriks Analisis Kebijakan (PAM) pada Pengusahaan Komoditi Lada Putih Tahun ke-7 bila Harga Output Turun Sebesar 35 Persen di Kecamatan Airgegas, Kabupaten Bangka Selatan, 2007 (Rp/Ha) Keterangan Penerimaan Output Biaya Input Tradable Non Tradable Keuntungan Harga Privat , , ,54 Harga Sosial , , , ,29 Efek Divergensi , , , ,25 Indikator Daya Saing: a. Keunggulan Kompetitif: - PP = ,54 - PCR = 2.92 b. Keunggulan Komparatif: - KS = ,29 - DRCR = 3,08

115 91 Lampiran 29. Tabel Biaya Analisis Finansial dan Analisis Ekonomi Usahatani Lada Putih pada Tahun ke-3 bila Harga Input Pupuk Naik Sebesar 15 Persen di Kecamatan Airgegas, Kabupaten Bangka Selatan, 2007 (Rp/Ha) No. Uraian Analisis Finansial Analisis Ekonomi Domestik Asing Total Domestik Asing Total A. Penerimaan Output Lada Putih B. Input Produksi 1. Pupuk: - Urea , , , , ,5 - TSP/SP KCL Obat-Obatan: - Gramoxone Tenaga Kerja: - Pemeliharaan - Panen - Pasca Panen Sewa Lahan Pajak C. Biaya Tataniaga: - Pengangkutan - Penanganan , , , ,4 D. Biaya Modal Total Biaya , , , , , ,9 E. Keuntungan , ,1 Lampiran 30. Matriks Analisis Kebijakan (PAM) pada Pengusahaan Komoditi Lada Putih Tahun ke-3 bila Harga Input Naik Sebesar 15 Persen di Kecamatan Airgegas, Kabupaten Bangka Selatan, 2007 (Rp/Ha) Keterangan Penerimaan Output Biaya Input Tradable Non Tradable Keuntungan Harga Privat , , ,6 Harga Sosial , , ,1 Efek Divergensi , , ,5 Indikator Daya Saing: a. Keunggulan Kompetitif: - PP = ,6 - PCR = 0,24 b. Keunggulan Komparatif: - KS = ,1 - DRCR = 0,20

116 92 Lampiran 31. Tabel Biaya Analisis Finansial dan Analisis Ekonomi Usahatani Lada Putih pada Tahun ke-4 bila Harga Input Pupuk Naik Sebesar 15 Persen di Kecamatan Airgegas, Kabupaten Bangka Selatan, 2007 (Rp/Ha) No. Uraian Analisis Finansial Analisis Ekonomi Domestik Asing Total Domestik Asing Total A. Penerimaan Output Lada Putih B. Input Produksi 1. Pupuk: -Urea , , TSP/SP , , KCL , , Obat-Obatan: - Gramoxone Tenaga Kerja: - Pemeliharaan - Panen - Pasca Panen Sewa Lahan Pajak C. Biaya Tataniaga: - Pengangkutan - Penanganan , , , ,88 D. Biaya Modal Total Biaya , , , , ,88 E. Keuntungan , ,12 Lampiran 32. Matriks Analisis Kebijakan (PAM) pada Pengusahaan Komoditi Lada Putih Tahun ke-4 bila Harga Input Naik Sebesar 15 Persen di Kecamatan Airgegas, Kabupaten Bangka Selatan, 2007 (Rp/Ha) Keterangan Penerimaan Output Biaya Input Tradable Non Tradable Keuntungan Harga Privat , ,12 Harga Sosial , , ,12 Efek Divergensi , Indikator Daya Saing: a. Keunggulan Kompetitif: - PP = ,12 - PCR = 0,23 b. Keunggulan Komparatif: - KS = ,12 - DRCR = 0,19

117 93 Lampiran 33. Tabel Biaya Analisis Finansial dan Analisis Ekonomi Usahatani Lada Putih pada Tahun ke-5 bila Harga Input Pupuk Naik Sebesar 15 Persen di Kecamatan Airgegas, Kabupaten Bangka Selatan, 2007 (Rp/Ha) No. Uraian Analisis Finansial Analisis Ekonomi Domestik Asing Total Domestik Asing Total A. Penerimaan Output Lada Putih B. Input Produksi 1. Pupuk: - Urea , , TSP/SP , , KCL , , Obat-Obatan: - Gramoxone Tenaga Kerja: - Pemeliharaan - Panen - Pasca Panen Sewa Lahan Pajak C. Biaya Tataniaga: - Pengangkutan - Penanganan , , , , D. Modal Biaya Total Biaya , , , , E. Keuntungan Lampiran 34. Matriks Analisis Kebijakan (PAM) pada Pengusahaan Komoditi Lada Putih Tahun ke-5 bila Harga Input Naik Sebesar 15 Persen di Kecamatan Airgegas, Kabupaten Bangka Selatan, 2007 (Rp/Ha) Keterangan Penerimaan Output Biaya Input Tradable Non Tradable Keuntungan Harga Privat , , Harga Sosial , , Efek Divergensi , , Indikator Daya Saing: a. Keunggulan Kompetitif: - PP = PCR = 0,27 b. Keunggulan Komparatif: - KS = DRCR = 0,23

118 94 Lampiran 35. Tabel Biaya Analisis Finansial dan Analisis Ekonomi Usahatani Lada Putih pada Tahun ke-6 bila Harga Input Pupuk Naik Sebesar 15 Persen di Kecamatan Airgegas, Kabupaten Bangka Selatan, 2007 (Rp/Ha) No. Uraian Analisis Finansial Analisis Ekonomi Domestik Asing Total Domestik Asing Total A. Penerimaan Output Lada Putih B. Input Produksi 1. Pupuk: - Urea , , TSP/SP , , KCL , , Obat-Obatan: - Gramoxone Tenaga Kerja: - Pemeliharaan - Panen - Pasca Panen Sewa Lahan Pajak C. Biaya Tataniaga: - Pengangkutan - Penanganan , , , ,1 D. Biaya Modal Total Biaya , , , , ,1 E. Keuntungan , ,9 Lampiran 36. Matriks Analisis Kebijakan (PAM) pada Pengusahaan Komoditi Lada Putih Tahun ke-6 bila Harga Input Naik Sebesar 15 Persen di Kecamatan Airgegas, Kabupaten Bangka Selatan, 2007 (Rp/Ha) Keterangan Penerimaan Output Biaya Input Tradable Non Tradable Keuntungan Harga Privat , ,9 Harga Sosial , , ,9 Efek Divergensi , , Indikator Daya Saing: a. Keunggulan Kompetitif: - PP = ,9 - PCR = 0,42 b. Keunggulan Komparatif: - KS = ,9 - DRCR = 0,34

119 95 Lampiran 37. Tabel Biaya Analisis Finansial dan Analisis Ekonomi Usahatani Lada Putih pada Tahun ke-7 bila Harga Input Pupuk Naik Sebesar 15 Persen di Kecamatan Airgegas, Kabupaten Bangka Selatan, 2007 (Rp/Ha) No. Uraian Analisis Finansial Analisis Ekonomi Domestik Asing Total Domestik Asing Total A. Penerimaan Output Lada Putih B. Input Produksi Pupuk: 1. - Urea , , , , ,5 - TSP/SP , , KCL , , , , Obat-Obatan: - Gramoxone Tenaga Kerja: - Pemeliharaan - Panen - Pasca Panen Sewa Lahan Pajak C. Biaya Tataniaga: - Pengangkutan - Penanganan , , , , , , , ,44 D. Biaya Modal Total Biaya , , , , , ,94 E. Keuntungan , ,06 Lampiran 38. Matriks Analisis Kebijakan (PAM) pada Pengusahaan Komoditi Lada Putih Tahun ke-7 bila Harga Input Naik Sebesar 15 Persen di Kecamatan Airgegas, Kabupaten Bangka Selatan, 2007 (Rp/Ha) Keterangan Penerimaan Output Biaya Input Tradable Non Tradable Keuntungan Harga Privat , , ,56 Harga Sosial , , ,06 Efek Divergensi , , ,5 Indikator Daya Saing: a. Keunggulan Kompetitif: - PP = ,56 - PCR = 0,91 b. Keunggulan Komparatif: - KS = ,06 - DRCR = 0,84

120 96 Lampiran 39. Tabel Biaya Analisis Finansial dan Analisis Ekonomi Usahatani Lada Putih pada Tahun ke-3 bila Harga Sewa Lahan Naik Sebesar 75 Persen di Kecamatan Airgegas, Kabupaten Bangka Selatan, 2007 (Rp/Ha) No. Uraian Analisis Finansial Analisis Ekonomi Domestik Asing Total Domestik Asing Total A. Penerimaan Output Lada Putih B. Input Produksi 1. Pupuk: - Urea - TSP/SP 36 - KCL , , Obat-Obatan: - Gramoxone Tenaga Kerja: - Pemeliharaan - Panen - Pasca Panen Sewa Lahan Pajak C. Biaya Tataniaga: - Pengangkutan - Penanganan , , , ,4 D. Biaya Modal Total Biaya , , , , ,4 E. Keuntungan , ,6 Lampiran 40. Matriks Analisis Kebijakan (PAM) pada Pengusahaan Komoditi Lada Putih Tahun ke-3 bila Harga Sewa Lahan Naik Sebesar 75 Persen di Kecamatan Airgegas, Kabupaten Bangka Selatan, 2007 (Rp/Ha) Keterangan Penerimaan Biaya Input Output Tradable Non Tradable Keuntungan Harga Privat , ,6 Harga Sosial , , ,6 Efek Divergensi , , Indikator Daya Saing: a. Keunggulan Kompetitif: - PP = ,6 - PCR = 0,25 b. Keunggulan Komparatif: - KS = ,6 - DRCR = 0,21

121 97 Lampiran 41. Tabel Biaya Analisis Finansial dan Analisis Ekonomi Usahatani Lada Putih pada Tahun ke-4 bila Harga Sewa Lahan Naik Sebesar 75 Persen di Kecamatan Airgegas, Kabupaten Bangka Selatan, 2007 (Rp/Ha) No. Uraian Analisis Finansial Analisis Ekonomi Domestik Asing Total Domestik Asing Total A. Penerimaan Output Lada Putih B. Input Produksi 1. Pupuk: - Urea TSP/SP KCL Obat-Obatan: - Gramoxone Tenaga Kerja: - Pemeliharaan - Panen - Pasca Panen Sewa Lahan Pajak C. Biaya Tataniaga: - Pengangkutan - Penanganan , , , ,88 D. Biaya Modal Total Biaya , , , ,88 E. Keuntungan , ,12 Lampiran 42. Matriks Analisis Kebijakan (PAM) pada Pengusahaan Komoditi Lada Putih Tahun ke-4 bila Harga Sewa Lahan Naik Sebesar 75 Persen di Kecamatan Airgegas, Kabupaten Bangka Selatan, 2007 (Rp/Ha) Keterangan Penerimaan Biaya Input Output Tradable Non Tradable Keuntungan Harga Privat , ,12 Harga Sosial , ,12 Efek Divergensi , Indikator Daya Saing: a. Keunggulan Kompetitif: - PP = ,12 - PCR = 0,23 b. Keunggulan Komparatif: - KS = ,12 - DRCR = 0,20

122 98 Lampiran 43. Tabel Biaya Analisis Finansial dan Analisis Ekonomi Usahatani Lada Putih pada Tahun ke-5 bila Harga Sewa Lahan Naik Sebesar 75 Persen di Kecamatan Airgegas, Kabupaten Bangka Selatan, 2007 (Rp/Ha) No. Uraian Analisis Finansial Analisis Ekonomi Domestik Asing Total Domestik Asing Total A. Penerimaan Output Lada Putih B. Input Produksi 1. Pupuk: - Urea TSP/SP KCL Obat-Obatan: - Gramoxone Tenaga Kerja: - Pemeliharaan - Panen - Pasca Panen Sewa Lahan Pajak C. Biaya Tataniaga: - Pengangkutan - Penanganan , , , , D. Biaya Modal Total Biaya , , , , E. Keuntungan Lampiran 44. Matriks Analisis Kebijakan (PAM) pada Pengusahaan Komoditi Lada Putih Tahun ke-5 bila Harga Sewa Lahan Naik Sebesar 75 Persen di Kecamatan Airgegas, Kabupaten Bangka Selatan, 2007 (Rp/Ha) Keterangan Penerimaan Biaya Input Output Tradable Non Tradable Keuntungan Harga Privat , , Harga Sosial , , Efek Divergensi Indikator Daya Saing: a. Keunggulan Kompetitif: - PP = PCR = 0,27 b. Keunggulan Komparatif: - KS = DRCR = 0,23

123 99 Lampiran 45. Tabel Biaya Analisis Finansial dan Analisis Ekonomi Usahatani Lada Putih pada Tahun ke-6 bila Harga Sewa Lahan Naik Sebesar 75 Persen di Kecamatan Airgegas, Kabupaten Bangka Selatan, 2007 (Rp/Ha) No. Uraian Analisis Finansial Analisis Ekonomi Domestik Asing Total Domestik Asing Total A. Penerimaan Output Lada Putih B. Input Produksi 1. Pupuk: - Urea TSP/SP KCL Obat-Obatan: - Gramoxone Tenaga Kerja: - Pemeliharaan - Panen - Pasca Panen Sewa Lahan Pajak C. Biaya Tataniaga: - Pengangkutan - Penanganan , , , ,1 D. Biaya Modal Total Biaya , , , ,1 E. Keuntungan , ,9 Lampiran 46. Matriks Analisis Kebijakan (PAM) pada Pengusahaan Komoditi Lada Putih Tahun ke-6 bila Harga Sewa Lahan Naik Sebesar 75 Persen di Kecamatan Airgegas, Kabupaten Bangka Selatan, 2007 (Rp/Ha) Keterangan Penerimaan Output Biaya Input Tradable Non Tradable Keuntungan Harga Privat , ,9 Harga Sosial , ,9 Efek Divergensi Indikator Daya Saing: a. Keunggulan Kompetitif: - PP = ,9 - PCR = 0,43 b. Keunggulan Komparatif: - KS = ,9 - DRCR = 0,37

124 100 Lampiran 47. Tabel Biaya Analisis Finansial dan Analisis Ekonomi Usahatani Lada Putih pada Tahun ke-7 bila Harga Sewa Lahan Naik Sebesar 75 Persen di Kecamatan Airgegas, Kabupaten Bangka Selatan, 2007 (Rp/Ha) No. Uraian Analisis Finansial Analisis Ekonomi Domestik Asing Total Domestik Asing Total A. Penerimaan Output Lada Putih B. Input Produksi 1. Pupuk: - Urea - TSP/SP 36 - KCL , , Obat-Obatan: - Gramoxone Tenaga Kerja: - Pemeliharaan - Panen - Pasca Panen Sewa Lahan Pajak C. Biaya Tataniaga: - Pengangkutan - Penanganan , , , , , , , ,44 D. Modal Biaya Total Biaya , , , , ,44 E. Keuntungan , ,56 Lampiran 48. Matriks Analisis Kebijakan (PAM) pada Pengusahaan Komoditi Lada Putih Tahun ke-7 bila Harga Sewa Lahan Naik Sebesar 75 Persen di Kecamatan Airgegas, Kabupaten Bangka Selatan, 2007 (Rp/Ha) Keterangan Penerimaan Output Biaya Input Tradable Non Tradable Keuntungan Harga Privat , , ,56 Harga Sosial , ,56 Efek Divergensi , , Indikator Daya Saing: a. Keunggulan Kompetitif: - PP = ,56 - PCR = 0,97 b. Keunggulan Komparatif: - KS = ,56 - DRCR = 0,88

ANALISIS DAYA SAING PENGUSAHAAN KOMODITI LADA PUTIH

ANALISIS DAYA SAING PENGUSAHAAN KOMODITI LADA PUTIH ANALISIS DAYA SAING PENGUSAHAAN KOMODITI LADA PUTIH (Muntok White Pepper) (Kasus di Kecamatan Airgegas, Kabupaten Bangka Selatan, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung) Oleh: SUDARLIN A14105609 PROGRAM SARJANA

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Indonesia merupakan negara yang memiliki kekayaan alam yang. melimpah dan dikenal dengan sebutan negara agraris, sehingga pertanian

I. PENDAHULUAN. Indonesia merupakan negara yang memiliki kekayaan alam yang. melimpah dan dikenal dengan sebutan negara agraris, sehingga pertanian 1 I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Indonesia merupakan negara yang memiliki kekayaan alam yang melimpah dan dikenal dengan sebutan negara agraris, sehingga pertanian merupakan sektor yang penting dalam

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. penyediaan lapangan kerja, pemenuhan kebutuhan konsumsi dalam negeri, bahan

I. PENDAHULUAN. penyediaan lapangan kerja, pemenuhan kebutuhan konsumsi dalam negeri, bahan I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Indonesia merupakan negara yang memiliki kekayaan sumberdaya alam yang melimpah, terutama pada sektor pertanian. Sektor pertanian sangat berpengaruh bagi perkembangan

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. menjadi pemasok hasil pertanian yang beranekaragam yaitu rempah-rempah

I. PENDAHULUAN. menjadi pemasok hasil pertanian yang beranekaragam yaitu rempah-rempah I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Indonesia merupakan negara agraris yang cukup besar di dunia. Pada masa zaman pemerintahan Hindia-Belanda, Indonesia merupakan negara terkenal yang menjadi pemasok hasil

Lebih terperinci

3.5 Teknik Pengumpulan data Pembatasan Masalah Definisi Operasional Metode Analisis Data

3.5 Teknik Pengumpulan data Pembatasan Masalah Definisi Operasional Metode Analisis Data DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL... i HALAMAN PENGESAHAN... ii HALAMAN PERNYATAAN... iii KATA PENGANTAR... iv DAFTAR ISI... vi DAFTAR TABEL... ix DAFTAR GAMBAR... xi DAFTAR LAMPIRAN... xii ABSTRAK... xiii ABSTRACT...

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Indonesia sebagai negara agraris mempunyai peluang yang cukup besar dalam

I. PENDAHULUAN. Indonesia sebagai negara agraris mempunyai peluang yang cukup besar dalam I. PENDAHULUAN A. Latar belakang Indonesia sebagai negara agraris mempunyai peluang yang cukup besar dalam mengembangkan ekspor produk pertanian, khususnya komoditas dari subsektor perkebunan. Besarnya

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. jenis tanaman yang banyak dimanfaatkan sebagai bumbu dapur atau juga diolah

BAB I PENDAHULUAN. jenis tanaman yang banyak dimanfaatkan sebagai bumbu dapur atau juga diolah BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian Lada atau pepper (Piper nigrum L) disebut juga dengan merica, merupakan jenis tanaman yang banyak dimanfaatkan sebagai bumbu dapur atau juga diolah menjadi

Lebih terperinci

ANALISIS PENGARUH PAJAK EKSPOR TERHADAP KINERJA INDUSTRI KELAPA SAWIT OLEH: MARIA IRENE HUTABARAT A

ANALISIS PENGARUH PAJAK EKSPOR TERHADAP KINERJA INDUSTRI KELAPA SAWIT OLEH: MARIA IRENE HUTABARAT A ANALISIS PENGARUH PAJAK EKSPOR TERHADAP KINERJA INDUSTRI KELAPA SAWIT OLEH: MARIA IRENE HUTABARAT A14105570 PROGRAM SARJANA EKSTENSI MANAJEMENAGRIBISNIS FAKULTAS PERTANIAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2008

Lebih terperinci

IV METODE PENELITIAN

IV METODE PENELITIAN IV METODE PENELITIAN 4.1 Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan di Desa Cilembu (Kecamatan Tanjungsari) dan Desa Nagarawangi (Kecamatan Rancakalong) Kabupaten Sumedang, Propinsi Jawa Barat.

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Studi Empiris Tentang Jeruk

TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Studi Empiris Tentang Jeruk II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Studi Empiris Tentang Jeruk Studi mengenai jeruk telah dilakukan oleh banyak pihak, salah satunya oleh Sinuhaji (2001) yang melakukan penelitian mengenai Pengembangan Usahatani

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Peran ekspor non migas sebagai penggerak roda perekonomian. komoditas perkebunan yang mempunyai peran cukup besar dalam

I. PENDAHULUAN. Peran ekspor non migas sebagai penggerak roda perekonomian. komoditas perkebunan yang mempunyai peran cukup besar dalam I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Peran ekspor non migas sebagai penggerak roda perekonomian dari waktu ke waktu semakin meningkat. Lada merupakan salah satu komoditas perkebunan yang mempunyai peran cukup

Lebih terperinci

ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PENAWARAN EKSPOR KARET ALAM INDONESIA. Oleh : AYU LESTARI A

ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PENAWARAN EKSPOR KARET ALAM INDONESIA. Oleh : AYU LESTARI A ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PENAWARAN EKSPOR KARET ALAM INDONESIA Oleh : AYU LESTARI A14102659 PROGRAM STUDI EKSTENSI MANAJEMEN AGRIBISNIS FAKULTAS PERTANIAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2010

Lebih terperinci

PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Indonesia merupakan negara yang mayoritas penduduknya sebagian besar adalah petani. Sektor pertanian adalah salah satu pilar dalam pembangunan nasional Indonesia. Dengan

Lebih terperinci

III. METODE PENELITIAN. untuk mendapatkan data yang akan dianalisis sehubungan dengan tujuan

III. METODE PENELITIAN. untuk mendapatkan data yang akan dianalisis sehubungan dengan tujuan 33 III. METODE PENELITIAN A. Definisi Operasional dan Konsep Dasar Konsep dasar dan batasan operasional ini mencakup pengertian yang digunakan untuk mendapatkan data yang akan dianalisis sehubungan dengan

Lebih terperinci

ANALISIS DAYA SAING DAN DAMPAK KEBIJAKAN PEMERINTAH TERHADAP JERUK SIAM

ANALISIS DAYA SAING DAN DAMPAK KEBIJAKAN PEMERINTAH TERHADAP JERUK SIAM VI ANALISIS DAYA SAING DAN DAMPAK KEBIJAKAN PEMERINTAH TERHADAP JERUK SIAM 6.1. Analisis Daya Saing Analisis keunggulan kompetitif dan komparatif digunakan untuk mempelajari kelayakan dan kemampuan jeruk

Lebih terperinci

VI. HASIL DAN PEMBAHASAN

VI. HASIL DAN PEMBAHASAN VI. HASIL DAN PEMBAHASAN 6.1. Analisis Daya Saing Analisis keunggulan komparatif dan keunggulan kompetitif digunakan untuk mempelajari kelayakan dan prospek serta kemampuan komoditi gula lokal yang dihasilkan

Lebih terperinci

KERANGKA PENDEKATAN TEORI

KERANGKA PENDEKATAN TEORI II. KERANGKA PENDEKATAN TEORI A. Tinjauan Pustaka 1. Lada Menurut Sarpian (Lilik Wuriyanto, 2012) tanaman lada merupakan salah satu tanaman perkebunan yang telah lama dibudidayakan oleh masyarakat Indonesia

Lebih terperinci

VI. ANALISIS DAYA SAING DAN DAMPAK KEBIJAKAN PEMERINTAH PADA USAHATANI JAMBU BIJI

VI. ANALISIS DAYA SAING DAN DAMPAK KEBIJAKAN PEMERINTAH PADA USAHATANI JAMBU BIJI VI. ANALISIS DAYA SAING DAN DAMPAK KEBIJAKAN PEMERINTAH PADA USAHATANI JAMBU BIJI Daya saing usahatani jambu biji diukur melalui analisis keunggulan komparatif dan kompetitif dengan menggunakan Policy

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Dalam rangka peningkatan produksi pertanian Indonesia pada periode lima

I. PENDAHULUAN. Dalam rangka peningkatan produksi pertanian Indonesia pada periode lima 1 I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang dan Perumusan Masalah Dalam rangka peningkatan produksi pertanian Indonesia pada periode lima tahun ke depan (2010-2014), Kementerian Pertanian akan lebih fokus pada

Lebih terperinci

: NUSRAT NADHWATUNNAJA A

: NUSRAT NADHWATUNNAJA A ANALISIS PENDAPATAN USAHATANI DAN FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PRODUKSI PAPRIKA HIDROPONIK DI DESA PASIR LANGU, KECAMATAN CISARUA, KABUPATEN BANDUNG Oleh : NUSRAT NADHWATUNNAJA A14105586 PROGRAM SARJANA

Lebih terperinci

DAFTAR TABEL. 1. Produksi manggis di Pulau Sumatera tahun Produksi manggis kabupaten di Provinsi Lampung tahun

DAFTAR TABEL. 1. Produksi manggis di Pulau Sumatera tahun Produksi manggis kabupaten di Provinsi Lampung tahun DAFTAR TABEL Tabel Halaman 1. Produksi manggis di Pulau Sumatera tahun 2012... 5 2. Produksi manggis kabupaten di Provinsi Lampung tahun 2010-2012... 6 3. Luas panen, produktivitas, dan produksi manggis

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Perekonomian merupakan salah satu indikator kestabilan suatu negara. Indonesia

I. PENDAHULUAN. Perekonomian merupakan salah satu indikator kestabilan suatu negara. Indonesia I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Perekonomian merupakan salah satu indikator kestabilan suatu negara. Indonesia sebagai salah satu negara berkembang, menganut sistem perekonomian terbuka, di mana lalu

Lebih terperinci

VIII. DAMPAK KEBIJAKAN PEMERINTAH TERHADAP KEUNTUNGAN DAN DAYA SAING RUMPUT LAUT

VIII. DAMPAK KEBIJAKAN PEMERINTAH TERHADAP KEUNTUNGAN DAN DAYA SAING RUMPUT LAUT 83 VIII. DAMPAK KEBIJAKAN PEMERINTAH TERHADAP KEUNTUNGAN DAN DAYA SAING RUMPUT LAUT 8.1. Struktur Biaya, Penerimaan Privat dan Penerimaan Sosial Tingkat efesiensi dan kemampuan daya saing rumput laut di

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Penelitian Terdahulu Menurut penelitian Fery (2013) tentang analisis daya saing usahatani kopi Robusta di kabupaten Rejang Lebong dengan menggunakan metode Policy Analiysis

Lebih terperinci

ANALISIS USAHATANI PADI RAMAH LINGKUNGAN DAN PADI ANORGANIK (Kasus: Kelurahan Situgede, Kecamatan Bogor Barat, Kota Bogor) Oleh: RIDWAN A

ANALISIS USAHATANI PADI RAMAH LINGKUNGAN DAN PADI ANORGANIK (Kasus: Kelurahan Situgede, Kecamatan Bogor Barat, Kota Bogor) Oleh: RIDWAN A ANALISIS USAHATANI PADI RAMAH LINGKUNGAN DAN PADI ANORGANIK (Kasus: Kelurahan Situgede, Kecamatan Bogor Barat, Kota Bogor) Oleh: RIDWAN A14104684 PROGRAM SARJANA EKSTENSI MANAJEMEN AGRIBISNIS FAKULTAS

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Krisis ekonomi yang pernah melanda Indonesia pada pertengahan tahun 1997 telah menimbulkan berbagai dampak yang serius. Dampak yang timbul akibat krisis ekonomi di Indonesia

Lebih terperinci

IV. METODE PENELITIAN

IV. METODE PENELITIAN 45 IV. METODE PENELITIAN 4.1. Waktu dan Lokasi Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di Kepulauan Tanakeke, Kabupaten Takalar, Provinsi Sulawesi Selatan. Pemilihan daerah tersebut dilakukan secara purposive

Lebih terperinci

ANALISIS DAYASAING DAN DAMPAK KEBIJAKAN PEMERINTAH TERHADAP KOMODITAS KENTANG

ANALISIS DAYASAING DAN DAMPAK KEBIJAKAN PEMERINTAH TERHADAP KOMODITAS KENTANG ANALISIS DAYASAING DAN DAMPAK KEBIJAKAN PEMERINTAH TERHADAP KOMODITAS KENTANG VI. 6.1 Analisis Dayasaing Hasil empiris dari penelitian ini mengukur dayasaing apakah kedua sistem usahatani memiliki keunggulan

Lebih terperinci

ANALISIS ALIRAN PERDAGANGAN TEH INDONESIA SEBELUM DAN SETELAH KRISIS MONETER. Oleh : ERWIN FAHRI A

ANALISIS ALIRAN PERDAGANGAN TEH INDONESIA SEBELUM DAN SETELAH KRISIS MONETER. Oleh : ERWIN FAHRI A ANALISIS ALIRAN PERDAGANGAN TEH INDONESIA SEBELUM DAN SETELAH KRISIS MONETER Oleh : ERWIN FAHRI A 14105542 PROGRAM SARJANA EKSTENSI MANAJEMEN AGRIBISNIS FAKULTAS PERTANIAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2008

Lebih terperinci

JURUSAN ILMU-ILMU SOSIAL EKONOMI PERTANIAN FAKULTAS PERTANIAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR FANNYTA YUDHISTIRA A

JURUSAN ILMU-ILMU SOSIAL EKONOMI PERTANIAN FAKULTAS PERTANIAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR FANNYTA YUDHISTIRA A !. KEUNGGULAN KOMPARATIF DAN DAMPAK KEBIJAKSANAAN PEMERINTAH TERHADAP KOMODITI KAKAO (Kasus di Perkebunan Rajamandala, P1P X1~ Kabupaten 8andung, Jawa Barat) FANNYTA YUDHISTIRA A 29.1599 JURUSAN ILMU-ILMU

Lebih terperinci

III. METODE PENELITIAN

III. METODE PENELITIAN 26 III. METODE PENELITIAN A. Konsep Dasar dan Definisi Operasional Konsep dasar dan batasan operasional merupakan pengertian dan petunjuk mengenai variabel yang akan diteliti untuk memperoleh dan menganalisis

Lebih terperinci

Oleh : Apollonaris Ratu Daton A

Oleh : Apollonaris Ratu Daton A ANALISIS PENDAPATAN USAHATANI JAMBU MENTE (Anacardium Occidentale L.) (Kasus di Desa Ratulodong, Kecamatan Tanjung Bunga, Kabupaten Flores Timur, Propinsi Nusa Tenggara Timur ) Oleh : Apollonaris Ratu

Lebih terperinci

BAB IV METODE PENELITIAN

BAB IV METODE PENELITIAN BAB IV METODE PENELITIAN 4.1 Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan di Kabupaten Karangasem dengan lokasi sampel penelitian, di Desa Dukuh, Kecamatan Kubu. Penentuan lokasi penelitian dilakukan

Lebih terperinci

I PENDAHULUAN. tersebut antara lain menyediakan pangan bagi seluruh penduduk, menyumbang

I PENDAHULUAN. tersebut antara lain menyediakan pangan bagi seluruh penduduk, menyumbang I PENDAHULUAN A. Latar Belakang dan Masalah Sektor pertanian memegang peranan penting dalam pembangunan nasional. Peranan tersebut antara lain menyediakan pangan bagi seluruh penduduk, menyumbang devisa,

Lebih terperinci

II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Harga Gula Domestik

II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Harga Gula Domestik II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Harga Gula Domestik Menurut Susila (2005), Indonesia merupakan negara kecil dalam perdagangan dunia dengan pangsa impor sebesar 3,57 persen dari impor gula dunia sehingga Indonesia

Lebih terperinci

VI. ANALISIS DAYASAING DAN DAMPAK KEBIJAKAN PEMERINTAH TERHADAP KOMODITAS BELIMBING DEWA DI KOTA DEPOK

VI. ANALISIS DAYASAING DAN DAMPAK KEBIJAKAN PEMERINTAH TERHADAP KOMODITAS BELIMBING DEWA DI KOTA DEPOK VI. ANALISIS DAYASAING DAN DAMPAK KEBIJAKAN PEMERINTAH TERHADAP KOMODITAS BELIMBING DEWA DI KOTA DEPOK 6.1 Analisis Keuntungan Sistem Komoditas Belimbing Dewa di Kota Depok Analisis keunggulan komparatif

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. penting di antara rempah-rempah lainnya (king of spices), baik ditinjau dari segi

I. PENDAHULUAN. penting di antara rempah-rempah lainnya (king of spices), baik ditinjau dari segi I. PENDAHULUAN A. Latar belakang Lada (Piper nigrum L.) merupakan salah satu jenis rempah yang paling penting di antara rempah-rempah lainnya (king of spices), baik ditinjau dari segi perannya dalam menyumbangkan

Lebih terperinci

ANALISIS PENDAPATAN DAN PRODUKSI CABANG USAHATANI CABAI MERAH. Oleh : EKO HENDRAWANTO A

ANALISIS PENDAPATAN DAN PRODUKSI CABANG USAHATANI CABAI MERAH. Oleh : EKO HENDRAWANTO A ANALISIS PENDAPATAN DAN PRODUKSI CABANG USAHATANI CABAI MERAH Oleh : EKO HENDRAWANTO A14105535 PROGRAM SARJANA EKSTENSI MANAJEMEN AGRIBISNIS FAKULTAS PERTANIAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2008 RINGKASAN EKO

Lebih terperinci

USAHATANI DAN TATANIAGA KACANG KAPRI DI KECAMATAN WARUNGKONDANG, CIANJUR, PROVINSI JAWA BARAT. Oleh: DAVID ERICK HASIAN A

USAHATANI DAN TATANIAGA KACANG KAPRI DI KECAMATAN WARUNGKONDANG, CIANJUR, PROVINSI JAWA BARAT. Oleh: DAVID ERICK HASIAN A USAHATANI DAN TATANIAGA KACANG KAPRI DI KECAMATAN WARUNGKONDANG, CIANJUR, PROVINSI JAWA BARAT Oleh: DAVID ERICK HASIAN A 14105524 PROGRAM SARJANA EKSTENSI MANAJEMEN AGRIBISNIS FAKULTAS PERTANIAN INSTITUT

Lebih terperinci

ISSN OUTLOOK LADA 2015 OUTLOOK LADA

ISSN OUTLOOK LADA 2015 OUTLOOK LADA ISSN 1907-1507 OUTLOOK LADA 2015 OUTLOOK LADA Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian Sekretariat Jenderal - Kementerian Pertanian 2015 Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian i 2015 OUTLOOK LADA ii

Lebih terperinci

ANALISIS USAHATANI DAN TATANIAGA KEDELAI DI KECAMATAN CIRANJANG, KABUPATEN CIANJUR, JAWA BARAT. Oleh NORA MERYANI A

ANALISIS USAHATANI DAN TATANIAGA KEDELAI DI KECAMATAN CIRANJANG, KABUPATEN CIANJUR, JAWA BARAT. Oleh NORA MERYANI A ANALISIS USAHATANI DAN TATANIAGA KEDELAI DI KECAMATAN CIRANJANG, KABUPATEN CIANJUR, JAWA BARAT Oleh NORA MERYANI A 14105693 PROGRAM SARJANA EKSTENSI MANAJEMEN AGRIBISNIS FAKULTAS PERTANIAN INSTITUT PERTANIAN

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Untuk tingkat produktivitas rata-rata kopi Indonesia saat ini sebesar 792 kg/ha

I. PENDAHULUAN. Untuk tingkat produktivitas rata-rata kopi Indonesia saat ini sebesar 792 kg/ha I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kopi merupakan salah satu komoditas perkebunan tradisional yang mempunyai peran penting dalam perekonomian Indonesia. Peran tersebut antara lain adalah sebagai sumber

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah. Pertumbuhan perekonomian suatu negara tentunya tidak terlepas dari

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah. Pertumbuhan perekonomian suatu negara tentunya tidak terlepas dari 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Pertumbuhan perekonomian suatu negara tentunya tidak terlepas dari aktivitas perdagangan international yaitu ekspor dan impor. Di Indonesia sendiri saat

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Pada dasarnya manusia tidak dapat hidup sendiri, demikian halnya dengan

BAB I PENDAHULUAN. Pada dasarnya manusia tidak dapat hidup sendiri, demikian halnya dengan BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Pada dasarnya manusia tidak dapat hidup sendiri, demikian halnya dengan negara karena setiap negara membutuhkan negara lain untuk memenuhi kebutuhan rakyatnya

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA. Budidaya tebu adalah proses pengelolaan lingkungan tumbuh tanaman

TINJAUAN PUSTAKA. Budidaya tebu adalah proses pengelolaan lingkungan tumbuh tanaman 24 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Usahatani Tebu 2.1.1 Budidaya Tebu Budidaya tebu adalah proses pengelolaan lingkungan tumbuh tanaman sehingga tanaman dapat tumbuh dengan optimum dan dicapai hasil yang diharapkan.

Lebih terperinci

I PENDAHULUAN Latar Belakang

I PENDAHULUAN Latar Belakang 1.1. Latar Belakang I PENDAHULUAN Indonesia sebagai negara agraris memiliki hasil pertanian yang sangat berlimpah. Pertanian merupakan sektor ekonomi yang memiliki posisi penting di Indonesia. Data Product

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. masyarakat secara ekonomi dengan ditunjang oleh faktor-faktor non ekonomi

BAB I PENDAHULUAN. masyarakat secara ekonomi dengan ditunjang oleh faktor-faktor non ekonomi 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Pertumbuhan ekonomi merupakan suatu proses perubahan yang dilakukan melalui upaya-upaya terencana untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara ekonomi dengan

Lebih terperinci

Tabel 1.1. Konsumsi Beras di Tingkat Rumah Tangga Tahun Tahun Konsumsi Beras*) (Kg/kap/thn)

Tabel 1.1. Konsumsi Beras di Tingkat Rumah Tangga Tahun Tahun Konsumsi Beras*) (Kg/kap/thn) I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Sektor pertanian merupakan sektor penting dalam pembangunan ekonomi nasional. Peran strategis sektor pertanian digambarkan dalam kontribusi sektor pertanian dalam

Lebih terperinci

V. GAMBARAN UMUM KERAGAAN BAWANG MERAH Perkembangan Produksi Bawang Merah di Indonesia

V. GAMBARAN UMUM KERAGAAN BAWANG MERAH Perkembangan Produksi Bawang Merah di Indonesia 58 V. GAMBARAN UMUM KERAGAAN BAWANG MERAH 5.1. Perkembangan Produksi Bawang Merah di Indonesia Bawang merah sebagai sayuran dataran rendah telah banyak diusahakan hampir di sebagian besar wilayah Indonesia.

Lebih terperinci

IV METODOLOGI PENELITIAN

IV METODOLOGI PENELITIAN IV METODOLOGI PENELITIAN 4.1. Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan pada petani tebu di wilayah kerja Pabrik Gula Sindang Laut Kabupaten Cirebon Propinsi Jawa Barat. Pemilihan lokasi penelitian

Lebih terperinci

ANALISIS KEUNGGULAN KOMPARATIF DAN KOMPETITIF BERAS SOLOK ORGANIK Mardianto 1, Edi Firnando 2

ANALISIS KEUNGGULAN KOMPARATIF DAN KOMPETITIF BERAS SOLOK ORGANIK Mardianto 1, Edi Firnando 2 ANALISIS KEUNGGULAN KOMPARATIF DAN KOMPETITIF BERAS SOLOK ORGANIK Mardianto 1, Edi Firnando 2 email: [email protected] ABSTRAK 9 Penelitian tentang Analisis Keunggulan Komparatif dan Kompetitif

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Karet di Indonesia merupakan salah satu komoditas penting perkebunan. selain kelapa sawit, kopi dan kakao. Karet ikut berperan dalam

I. PENDAHULUAN. Karet di Indonesia merupakan salah satu komoditas penting perkebunan. selain kelapa sawit, kopi dan kakao. Karet ikut berperan dalam 1 I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang dan Masalah Karet di Indonesia merupakan salah satu komoditas penting perkebunan selain kelapa sawit, kopi dan kakao. Karet ikut berperan dalam menyumbangkan pendapatan

Lebih terperinci

DAMPAK PELAKSANAAN PROGRAM KREDIT KEPADA KOPERASI PRIMER UNTUK ANGGOTANYA (KKPA) TERHADAP PENDAPATAN USAHATANI KELAPA SAWIT

DAMPAK PELAKSANAAN PROGRAM KREDIT KEPADA KOPERASI PRIMER UNTUK ANGGOTANYA (KKPA) TERHADAP PENDAPATAN USAHATANI KELAPA SAWIT DAMPAK PELAKSANAAN PROGRAM KREDIT KEPADA KOPERASI PRIMER UNTUK ANGGOTANYA (KKPA) TERHADAP PENDAPATAN USAHATANI KELAPA SAWIT ( Studi : PT Sinar Kencana Inti Perkasa, Kabupaten Kotabaru, Kalimantan Selatan

Lebih terperinci

ANALISIS DAYA SAING APEL JAWA TIMUR (Studi Kasus Apel Batu, Nongkojajar dan Poncokusumo)

ANALISIS DAYA SAING APEL JAWA TIMUR (Studi Kasus Apel Batu, Nongkojajar dan Poncokusumo) ANALISIS DAYA SAING APEL JAWA TIMUR (Studi Kasus Apel Batu, Nongkojajar dan Poncokusumo) Novi Itsna Hidayati 1), Teguh Sarwo Aji 2) Dosen Fakultas Pertanian Universitas Yudharta Pasuruan ABSTRAK Apel yang

Lebih terperinci

ANALISIS DAYA SAING INDUSTRI PENGOLAHAN DAN HASIL OLAHAN KAKAO INDONESIA OLEH : RIZA RAHMANU H

ANALISIS DAYA SAING INDUSTRI PENGOLAHAN DAN HASIL OLAHAN KAKAO INDONESIA OLEH : RIZA RAHMANU H ANALISIS DAYA SAING INDUSTRI PENGOLAHAN DAN HASIL OLAHAN KAKAO INDONESIA OLEH : RIZA RAHMANU H14052235 DEPARTEMEN ILMU EKONOMI FAKULTAS EKONOMI DAN MANAJEMEN INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2009 RINGKASAN RIZA

Lebih terperinci

IV. METODE PENELITIAN

IV. METODE PENELITIAN 51 IV. METODE PENELITIAN 4.1. Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian dilakukan di tiga tempat di Provinsi Bangka Belitung yaitu Kabupaten Bangka Selatan, Kabupaten Bangka Barat, dan Kabupaten Belitung.

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. hambatan lain, yang di masa lalu membatasi perdagangan internasional, akan

I. PENDAHULUAN. hambatan lain, yang di masa lalu membatasi perdagangan internasional, akan I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Pada era globalisasi saat ini, di mana perekonomian dunia semakin terintegrasi. Kebijakan proteksi, seperi tarif, subsidi, kuota dan bentuk-bentuk hambatan lain, yang

Lebih terperinci

ANALISIS EFISIENSI PEMASARAN TALAS (Kasus di Desa Taman Sari, Kecamatan Taman Sari, Kabupaten Bogor, Jawa Barat) Oleh SRI WIDIYANTI A

ANALISIS EFISIENSI PEMASARAN TALAS (Kasus di Desa Taman Sari, Kecamatan Taman Sari, Kabupaten Bogor, Jawa Barat) Oleh SRI WIDIYANTI A ANALISIS EFISIENSI PEMASARAN TALAS (Kasus di Desa Taman Sari, Kecamatan Taman Sari, Kabupaten Bogor, Jawa Barat) Oleh SRI WIDIYANTI A14105608 PROGRAM SARJANA EKSTENSI MANAJEMEN AGRIBISNIS FAKULTAS PERTANIAN

Lebih terperinci

III KERANGKA PEMIKIRAN

III KERANGKA PEMIKIRAN III KERANGKA PEMIKIRAN 3.1. Kerangka Pemikiran Teoritis 3.1.1. Konsep Daya Saing Perdagangan Internasional pada dasarnya merupakan perdagangan yang terjadi antara suatu negara tertentu dengan negara yang

Lebih terperinci

ANALISIS DAYA SAING KOMODITAS KOPI ARABIKA DI KABUPATEN TAPANULI UTARA ( Studi Kasus : Desa Bahal Batu III, Kecamatan Siborong-Borong) SKRIPSI

ANALISIS DAYA SAING KOMODITAS KOPI ARABIKA DI KABUPATEN TAPANULI UTARA ( Studi Kasus : Desa Bahal Batu III, Kecamatan Siborong-Borong) SKRIPSI ANALISIS DAYA SAING KOMODITAS KOPI ARABIKA DI KABUPATEN TAPANULI UTARA ( Studi Kasus : Desa Bahal Batu III, Kecamatan Siborong-Borong) SKRIPSI Oleh : AYUNDA PRATIWI 090304107 AGRIBISNIS PROGRAM STUDI AGRIBISNIS

Lebih terperinci

V. GAMBARAN UMUM. 5.1 Luas Areal Perkebunan Kopi Robusta Indonesia. hektar dengan luas lahan tanaman menghasilkan (TM) seluas 878.

V. GAMBARAN UMUM. 5.1 Luas Areal Perkebunan Kopi Robusta Indonesia. hektar dengan luas lahan tanaman menghasilkan (TM) seluas 878. V. GAMBARAN UMUM 5.1 Luas Areal Perkebunan Kopi Robusta Indonesia Luas lahan robusta sampai tahun 2006 (data sementara) sekitar 1.161.739 hektar dengan luas lahan tanaman menghasilkan (TM) seluas 878.874

Lebih terperinci

Posisi Pertanian yang Tetap Strategis Masa Kini dan Masa Depan Jumat, 22 Agustus 2014

Posisi Pertanian yang Tetap Strategis Masa Kini dan Masa Depan Jumat, 22 Agustus 2014 Posisi Pertanian yang Tetap Strategis Masa Kini dan Masa Depan Jumat, 22 Agustus 2014 Sektor pertanian sampai sekarang masih tetap memegang peran penting dan strategis dalam perekonomian nasional. Peran

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. pertanian berperan besar dalam menjaga laju pertumbuhan ekonomi nasional. Di

I. PENDAHULUAN. pertanian berperan besar dalam menjaga laju pertumbuhan ekonomi nasional. Di I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Sektor pertanian merupakan salah satu sektor yang tangguh dalam perekonomian dan memiliki peran sebagai penyangga pembangunan nasional. Hal ini terbukti pada saat Indonesia

Lebih terperinci

III. METODOLOGI PENELITIAN. Konsep dasar dan definisi operasional ini mencakup pengertian yang. jagung per musim tanam yang, diukur dalam satuan ton.

III. METODOLOGI PENELITIAN. Konsep dasar dan definisi operasional ini mencakup pengertian yang. jagung per musim tanam yang, diukur dalam satuan ton. III. METODOLOGI PENELITIAN A. Konsep Dasar dan Definisi Operasional Konsep dasar dan definisi operasional ini mencakup pengertian yang digunakan untuk mendapatkan data dan melakukan analisis terhadap tujuan

Lebih terperinci

ANALISIS SENSITIVITAS

ANALISIS SENSITIVITAS VII ANALISIS SENSITIVITAS 7.1. Analisis Sensitivitas Analisis sensitivitas dilakukan untuk mengetahui bagaimana pengaruh dari perubahan kurs mata uang rupiah, harga jeruk siam dan harga pupuk bersubsidi

Lebih terperinci

PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Indonesia merupakan salah satu negara agraris yang memiliki kekayaan alam dan keanekaragaman hayati yang sangat berpotensi untuk dikembangkan. Pertanian merupakan salah

Lebih terperinci

ANALISIS TINGKAT KEPUASAN DEBITUR TERHADAP PELAYANAN KREDIT SISTEM REFERRAL BANK CIMB NIAGA CABANG CIBINONG KABUPATEN BOGOR

ANALISIS TINGKAT KEPUASAN DEBITUR TERHADAP PELAYANAN KREDIT SISTEM REFERRAL BANK CIMB NIAGA CABANG CIBINONG KABUPATEN BOGOR ANALISIS TINGKAT KEPUASAN DEBITUR TERHADAP PELAYANAN KREDIT SISTEM REFERRAL BANK CIMB NIAGA CABANG CIBINONG KABUPATEN BOGOR Oleh : DIKUD JATUALRIYANTI A14105531 PROGRAM STUDI EKSTENSI MANAJEMEN AGRIBISNIS

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Sektor pertanian mempunyai peranan yang cukup penting dalam kegiatan

BAB I PENDAHULUAN. Sektor pertanian mempunyai peranan yang cukup penting dalam kegiatan BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Sektor pertanian mempunyai peranan yang cukup penting dalam kegiatan perekonomian di Indonesia, hal ini dapat dilihat dari kontribusinya terhadap Produk Domestik Bruto

Lebih terperinci

ANALISIS KELAYAKAN FINANSIAL KONVERSI TANAMAN KAYU MANIS MENJADI KAKAO DI KECAMATAN GUNUNG RAYA KABUPATEN KERINCI PROVINSI JAMBI

ANALISIS KELAYAKAN FINANSIAL KONVERSI TANAMAN KAYU MANIS MENJADI KAKAO DI KECAMATAN GUNUNG RAYA KABUPATEN KERINCI PROVINSI JAMBI ANALISIS KELAYAKAN FINANSIAL KONVERSI TANAMAN KAYU MANIS MENJADI KAKAO DI KECAMATAN GUNUNG RAYA KABUPATEN KERINCI PROVINSI JAMBI OLEH SUCI NOLA ASHARI A14302009 PROGRAM STUDI EKONOMI PERTANIAN DAN SUMBERDAYA

Lebih terperinci

LAPORAN AKHIR REVITALISASI SISTEM DAN USAHA AGRIBISNIS GULA

LAPORAN AKHIR REVITALISASI SISTEM DAN USAHA AGRIBISNIS GULA LAPORAN AKHIR REVITALISASI SISTEM DAN USAHA AGRIBISNIS GULA Oleh: A. Husni Malian Erna Maria Lokollo Mewa Ariani Kurnia Suci Indraningsih Andi Askin Amar K. Zakaria Juni Hestina PUSAT PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN

Lebih terperinci

BAB I. PENDAHULUAN. Sektor pertanian memegang peran strategis dalam pembangunan

BAB I. PENDAHULUAN. Sektor pertanian memegang peran strategis dalam pembangunan BAB I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Sektor pertanian memegang peran strategis dalam pembangunan perekonomian nasional dan menjadi sektor andalan serta mesin penggerak pertumbuhan ekonomi. Hal ini dikarenakan

Lebih terperinci

Teknologi Pertanian Sehat Kunci Sukses Revitalisasi Lada di Bangka Belitung

Teknologi Pertanian Sehat Kunci Sukses Revitalisasi Lada di Bangka Belitung Teknologi Pertanian Sehat Kunci Sukses Revitalisasi Lada di Bangka Belitung Oleh: Agus Wahyudi (naskah ini disalin sesuai aslinya untuk kemudahan navigasi) (Sumber : SINAR TANI Edisi 17 23 November 2010)

Lebih terperinci

I PENDAHULUAN * Keterangan : *Angka ramalan PDB berdasarkan harga berlaku Sumber : Direktorat Jenderal Hortikultura (2010) 1

I PENDAHULUAN * Keterangan : *Angka ramalan PDB berdasarkan harga berlaku Sumber : Direktorat Jenderal Hortikultura (2010) 1 1.1 Latar Belakang I PENDAHULUAN Sektor pertanian terdiri dari beberapa sub sektor, yaitu tanaman pangan, hortikultura, perkebunan, dan peternakan, dimana keempat sub sektor tersebut mempunyai peranan

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Salah satu sasaran pembangunan nasional adalah pertumbuhan ekonomi dengan

I. PENDAHULUAN. Salah satu sasaran pembangunan nasional adalah pertumbuhan ekonomi dengan I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Salah satu sasaran pembangunan nasional adalah pertumbuhan ekonomi dengan menitikberatkan pada sektor pertanian. Sektor pertanian merupakan salah satu sektor yang mempunyai

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. penting diantara rempah-rempah lainnya; sehingga seringkali disebut sebagai

BAB I PENDAHULUAN. penting diantara rempah-rempah lainnya; sehingga seringkali disebut sebagai BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Indonesia sebagai negara agraris mempunyai peluang yang cukup besar dalam mengembangkan ekspor produk pertanian, khususnya komoditas dari subsektor perkebunan. Besarnya

Lebih terperinci

ANALISIS DAYA SAING KOMODITI TANAMAN HIAS DAN ALIRAN PERDAGANGAN ANGGREK INDONESIA DI PASAR INTERNASIONAL

ANALISIS DAYA SAING KOMODITI TANAMAN HIAS DAN ALIRAN PERDAGANGAN ANGGREK INDONESIA DI PASAR INTERNASIONAL ANALISIS DAYA SAING KOMODITI TANAMAN HIAS DAN ALIRAN PERDAGANGAN ANGGREK INDONESIA DI PASAR INTERNASIONAL Oleh : MAYA ANDINI KARTIKASARI NRP. A14105684 PROGRAM SARJANA EKSTENSI MANAJEMEN AGRIBISNIS FAKULTAS

Lebih terperinci

ANALISIS KELAYAKAN USAHA PENGEMBANGAN PEMBIBITAN (BREEDING)SAPI POTONG PADA PT LEMBU JANTAN PERKAS (LJP), SERANG, PROPINSI BANTEN

ANALISIS KELAYAKAN USAHA PENGEMBANGAN PEMBIBITAN (BREEDING)SAPI POTONG PADA PT LEMBU JANTAN PERKAS (LJP), SERANG, PROPINSI BANTEN ANALISIS KELAYAKAN USAHA PENGEMBANGAN PEMBIBITAN (BREEDING)SAPI POTONG PADA PT LEMBU JANTAN PERKAS (LJP), SERANG, PROPINSI BANTEN Oleh: RONA PUTRIA A 14104687 PROGRAM SARJANA EKSTENSI MANAJEMEN AGRIBISNIS

Lebih terperinci

ANALISIS KELAYAKAN FINANSIAL DAN EKONOMI AGRIBISNIS NANAS

ANALISIS KELAYAKAN FINANSIAL DAN EKONOMI AGRIBISNIS NANAS ANALISIS KELAYAKAN FINANSIAL DAN EKONOMI AGRIBISNIS NANAS (Kasus : Kecamatan Sipahutar, Kababupaten Tapanuli Utara, Sumatera Utara) Oleh : IRWAN PURMONO A14303081 PROGRAM STUDI EKONOMI PERTANIAN DAN SUMBERDAYA

Lebih terperinci

VII. ANALISIS DAYA SAING USAHATANI JAGUNG

VII. ANALISIS DAYA SAING USAHATANI JAGUNG VII. ANALISIS DAYA SAING USAHATANI JAGUNG 7.1. Profitabilitas Privat dan Sosial Analisis finansial dan ekonomi usahatani jagung memberikan gambaran umum dan sederhana mengenai tingkat kelayakan usahatani

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Sektor pertanian merupakan salah satu sektor andalan dalam mengembangkan

I. PENDAHULUAN. Sektor pertanian merupakan salah satu sektor andalan dalam mengembangkan I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Sektor pertanian merupakan salah satu sektor andalan dalam mengembangkan kegiatan ekonomi pedesaan melalui pengembangan usaha berbasis pertanian. Pertumbuhan sektor pertanian

Lebih terperinci

PENDAHULUAN A. Latar Belakang

PENDAHULUAN A. Latar Belakang digilib.uns.ac.id 1 I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Indonesia adalah negara agraris dimana mata pencaharian mayoritas penduduknya dengan bercocok tanam. Secara geografis Indonesia yang juga merupakan

Lebih terperinci

I PENDAHULUAN. Tabel 1. Nilai PDB Hortikultura Berdasarkan Harga Berlaku Pada Tahun Kelompok

I PENDAHULUAN. Tabel 1. Nilai PDB Hortikultura Berdasarkan Harga Berlaku Pada Tahun Kelompok I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Hortikultura merupakan salah satu komoditas pertanian yang berpotensi untuk dikembangkan. Pengembangan hortikuktura diharapkan mampu menambah pangsa pasar serta berdaya

Lebih terperinci

DAMPAK PROGRAM PENINGKATAN PRODUKSI BERAS NASIONAL (P2BN) TERHADAP PENDAPATAN PETANI. Oleh : ROHELA A

DAMPAK PROGRAM PENINGKATAN PRODUKSI BERAS NASIONAL (P2BN) TERHADAP PENDAPATAN PETANI. Oleh : ROHELA A DAMPAK PROGRAM PENINGKATAN PRODUKSI BERAS NASIONAL (P2BN) TERHADAP PENDAPATAN PETANI Oleh : ROHELA A14105699 PROGRAM SARJANA EKSTENSI MANAJEMEN AGRIBISNIS DEPARTEMEN AGRIBISNIS FAKULTAS PERTANIAN INSTITUT

Lebih terperinci

ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI EKSPOR RAMBUTAN INDONESIA. Oleh : OTIK IRWAN MARGONO A

ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI EKSPOR RAMBUTAN INDONESIA. Oleh : OTIK IRWAN MARGONO A ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI EKSPOR RAMBUTAN INDONESIA Oleh : OTIK IRWAN MARGONO A07400606 PROGRAM SARJANA EKSTENSI MANAJEMEN AGRIBISNIS FAKULTAS PERTANIAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2009 RINGKASAN

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. sektor yang mempunyai peranan yang cukup strategis dalam perekonomian

I. PENDAHULUAN. sektor yang mempunyai peranan yang cukup strategis dalam perekonomian 1 I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Salah satu sasaran pembangunan nasional adalah pertumbuhan ekonomi dengan menitikberatkan pada sektor pertanian. Sektor pertanian merupakan salah satu sektor

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Tabel 1. Nilai Ekspor Sepuluh Komoditas Rempah Unggulan Indonesia

I. PENDAHULUAN. Tabel 1. Nilai Ekspor Sepuluh Komoditas Rempah Unggulan Indonesia I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Indonesia merupakan negara penghasil rempah utama di dunia. Rempah yang dihasilkan di Indonesia diantaranya adalah lada, pala, kayu manis, vanili, dan cengkeh. Rempah-rempah

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Indonesia terkenal dengan sebutan negara agraris, yang ditunjukkan oleh luas

I. PENDAHULUAN. Indonesia terkenal dengan sebutan negara agraris, yang ditunjukkan oleh luas 1 I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Indonesia terkenal dengan sebutan negara agraris, yang ditunjukkan oleh luas lahan yang digunakan untuk pertanian. Dari seluruh luas lahan yang ada di Indonesia, 82,71

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. memiliki potensi sangat besar dalam menyerap tenaga kerja di Indonesia.

BAB I PENDAHULUAN. memiliki potensi sangat besar dalam menyerap tenaga kerja di Indonesia. BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Indonesia sebagai negara agraris memiliki potensi pertanian yang cukup besar dan dapat berkontribusi terhadap pembangunan dan ekonomi nasional. Penduduk di Indonesia

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN VI HASIL DAN PEMBAHASAN 6.1 Analisis Daya Saing Analisis keunggulan komparatif dan keunggulan kompetitif digunakan untuk mempelajari kelayakan dan prospek serta kemampuan komoditi susu sapi lokal dalam

Lebih terperinci

DAYA SAING KEDELAI DI KECAMATAN GANDING KABUPATEN SUMENEP

DAYA SAING KEDELAI DI KECAMATAN GANDING KABUPATEN SUMENEP DAYA SAING KEDELAI DI KECAMATAN GANDING KABUPATEN SUMENEP PURWATI RATNA W, RIBUT SANTOSA, DIDIK WAHYUDI Fakultas Pertanian, Universitas Wiraraja Sumenep ABSTRAK Tujuan penelitian ini adalah (1) menganalisis

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Indonesia merupakan negara agraris yang memiliki sumber daya alam yang beraneka ragam dan memiliki wilayah yang cukup luas. Hal ini yang membuat Indonesia menjadi

Lebih terperinci

IV. GAMBARAN UMUM 4.1 Perkebunan Dunia

IV. GAMBARAN UMUM 4.1 Perkebunan Dunia IV. GAMBARAN UMUM 4.1 Perkebunan Dunia Komoditi perkebunan Indonesia rata-rata masuk kedalam lima besar sebagai produsen dengan produksi tertinggi di dunia menurut Food and agriculture organization (FAO)

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN 1. Latar Belakang Indonesia merupakan negara agraris dengan keanekaragaman sumberdaya hayati yang tinggi. Sektor pertanian merupakan

I. PENDAHULUAN 1. Latar Belakang Indonesia merupakan negara agraris dengan keanekaragaman sumberdaya hayati yang tinggi. Sektor pertanian merupakan I. PENDAHULUAN 1. Latar Belakang Indonesia merupakan negara agraris dengan keanekaragaman sumberdaya hayati yang tinggi. Sektor pertanian merupakan salah satu sektor yang menyumbang devisa negara yang

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang

I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Sektor pertanian memegang peranan penting dalam perekonomian Indonesia karena merupakan tumpuan hidup sebagian besar penduduk Indonesia. Lebih dari setengah angkatan kerja

Lebih terperinci

III. METODE PENELITIAN

III. METODE PENELITIAN III. METODE PENELITIAN 3.1 Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di Kecamatan Pasir Penyu dan Kecamatan Rengat, Kabupaten Indragiri Hulu, Provinsi Riau. Kabupaten Indragiri Hulu terdiri

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. pertanian. Indonesia memiliki beragam jenis tanah yang mampu. menyuburkan tanaman, sinar matahari yang konsisten sepanjang tahun,

I. PENDAHULUAN. pertanian. Indonesia memiliki beragam jenis tanah yang mampu. menyuburkan tanaman, sinar matahari yang konsisten sepanjang tahun, I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Indonesia yang dikenal sebagai negara agraris didukung oleh sumber daya alamnya yang melimpah memiliki kemampuan untuk mengembangkan sektor pertanian. Indonesia memiliki

Lebih terperinci

FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PEMBELIAN KONSUMEN KOPI BUBUK INSTAN (KASUS DI GIANT BOTANI SQUARE, BOGOR) Oleh: NURRAYYAN ARMADA A

FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PEMBELIAN KONSUMEN KOPI BUBUK INSTAN (KASUS DI GIANT BOTANI SQUARE, BOGOR) Oleh: NURRAYYAN ARMADA A FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PEMBELIAN KONSUMEN KOPI BUBUK INSTAN (KASUS DI GIANT BOTANI SQUARE, BOGOR) Oleh: NURRAYYAN ARMADA A14105695 PROGRAM SARJANA EKSTENSI MANAJEMEN AGRIBISNIS FAKULTAS PERTANIAN INSTITUT

Lebih terperinci