BAB 4 PERANCANGAN ARSITEKTUR INVERSE-CABAC

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "BAB 4 PERANCANGAN ARSITEKTUR INVERSE-CABAC"

Transkripsi

1 BAB 4 PERANCANGAN ARSITEKTUR INVERSE-CABAC Bab ini membahas perancangan arsitektur Inverse-CABAC. Perancangan arsitektur CABAC meliputi perancangan datapath, unit kontrol, dan timing diagram. 4.1 Struktur Umum Inverse-CABAC Input untuk Inverse-CABAC adalah nilai bitstream, sedangkan outputnya adalah nilai bit yang telah di-decode. Input bitstream dimasukkan ke dalam sistem bila sinyal start_dec bernilai 1. Dengan demikian rancangan untuk modul Inverse- CABAC ini dapat direpresentasikan sebagai suatu black-box seperti terlihat pada gambar berikut. Gambar 4.1 Input dan Output Inverse-CABAC Dari hasil analisis fungsi Inverse-CABAC yang telah dilakukan pada perancangan awal, datapath Inverse-CABAC dapat dibangun dari modul init context, buffer stream, unit arithmetic decoding (Arcod dan Bypass), serta register untuk proses update nilai range dan offset. Saat input sinyal start_dec bernilai 1, maka sinyal ini akan mengaktifkan modul init context dan buffer stream untuk menulis nilai input bitstream ke RAM (initram pada buffer stream) dan memulai proses inisialisasi yang dibutuhkan sebelum proses decoding dapat dijalankan. Nilai inisialisasi yang dibutuhkan untuk memulai proses decoding kemudian akan 35

2 disimpan pada register range dan offset. Diagram blok untuk rancangan Inverse- CABAC ditunjukkan pada gambar 4.2. Updated context_model Updated offset and range Init Context context_model Arcod Decoded bit Offset Range Register input bitstream Buffer Stream Bypass Decoded bit bitstream Gambar 4.2 Diagram Blok Inverse CABAC 4.2 Perancangan Buffer Stream Proses pertama pada modul inverse CABAC adalah penyimpanan bitstream pada buffer. Bitstream yang disimpan akan digunakan untuk nilai awal offset dan proses update nilai offset pada proses binary decoding. Jumlah maksimum bitstream yang dibutuhkan untuk proses satu buah macroblock, pada perancangan ini, adalah 664 bit. Dari keseluruhan bitstream tersebut, 9 data pertama akan dijadikan nilai awal offset, sedangkan bitstream lainnya akan digunakan untuk proses decoding. Unit penyimpanan bitstream diimplementasikan dengan menggunakan RAM sedangkan bagian unit kontrol diimplementasikan dengan FSM. Diagram blok modul buffer stream ini dapat dilihat pada gambar

3 Gambar 4.3 Diagram Blok Buffer Stream Blok RAM Blok RAM yang digunakan untuk menyimpan nilai bitstream, pada perancangan ini berukuran 664x1 bit. Akses pada blok RAM ditentukan oleh sinyal kontrol RAM_we untuk akses penulisan, dan sinyal kontrol RAM_ce untuk akses pembacaan data. Penulisan data bitstream ke RAM dilakukan selama 664 clock cycle, secara berurutan sebagai proses inisialisasi, sedangkan pembacaan nilai bitstream dilakukan hanya saat ada request dari unit binary decoding. Data yang dibaca dari RAM digunakan untuk proses decoding pada blok arcod dan bypass. Penghitungan alamat untuk akses ke RAM dilakukan oleh address counter pada unit kontrol. Sinyal kontrol dan alamat untuk akses ke RAM ini dihasilkan oleh unit kontrol buffer stream Unit Kontrol Buffer Stream Unit kontrol buffer stream diimplementasikan dengan menggunakan FSM, dengan state seperti ditunjukkan gambar

4 Gambar 4.4 State Transition Unit Kontrol Buffer Stream Proses pertama pada unit buffer stream adalah penulisan data bitstream dari port input ke RAM. Tahap ini disebut state WRITE_STREAM. Penulisan bitstream dimulai setelah sinyal status start_buff bernilai 1. Penulisan bitstream berlangsung selama 664 clock cycle. Dengan demikian selama state WRITE_STREAM, kontrol RAM_we bernilai 1. Tahap berikutnya, setelah proses penulisan nilai bitstream ke RAM selesai, adalah READ_INIT. Pada tahap ini, 9 data pertama bitstream, dibaca secara berturutturut dari blok RAM untuk kemudian dibentuk menjadi sebuah data parallel. Data parallel ini akan digunakan sebagai nilai awal offset. Proses pembentukan data parallel dilakukan dengan menggunakan rangkaian shift-register 9-bit seperti yang terlihat pada gambar 4.5. Dengan demikian pada state READ_INIT, nilai sinyal kontrol RAM_ce akan bernilai 1. 38

5 Gambar 4.5 Arsitektur Shift Register untuk Pembentukan Nilai Awal Offset Timing diagram untuk proses shifting ditunjukkan gambar berikut: Gambar 4.6 Timing Diagram Proses Pembentukan Nilai Awal Offset Tahap terakhir pada blok buffer stream adalah pembacaan data dari RAM untuk proses decoding. Data yang dibaca dari RAM ini, digunakan oleh blok arcod untuk proses renormalisasi nilai offset, dan digunakan oleh blok bypass untuk update nilai range dan offset. Dengan demikian sinyal kontrol untuk pembacaan data dari RAM, RAM_ce, ditentukan berdasarkan request dari blok arcod dan bypass, yaitu sinyal renorm dan bypass_enable. Pembentukan sinyal RAM_ce pada state READ_STREAM dapat dilihat pada gambar

6 renorm D-FF RAM_ce bypass_enable D-FF Gambar 4.7 Pembentukan Sinyal RAM_ce Proses transisi state pada FSM ditentukan oleh sinyal status end_count, yang dihasilkan dari nilai maksimum counter. Nilai counter ini juga dijadikan sebagai alamat untuk akses ke blok RAM. Arsitektur counter untuk masing-masing state diimplementasikan oleh sebuah counter, berupa shared-hardware. Karena counter yang digunakan berupa shared-hardware untuk semua state, maka nilai awal dan nilai maksimum akan berbeda untuk masing-masing state. Nilai awal dan nilai maksimum counter untuk masing-masing state ditunjukkan tabel berikut : Tabel 4.1 Parameter Counter pada Unit Kontrol Buffer Stream State Nilai Awal Nilai Maksimum WRITE_STREAM READ_INIT 0 8 READ_STREAM Perancangan Init Context Bersamaan dengan proses penyimpanan bitstream, dilakukan juga proses penghitungan nilai state dan MPS awal untuk setiap context index. Proses penghitungan nilai awal state dan MPS ini dilakukan oleh blok Init Context. Blok Init Context, secara umum terdiri atas: unit ROM, yang digunakan untuk menyimpan context index; unit RAM context, untuk menyimpan nilai context 40

7 model, dan unit kontrol untuk pengaturan keseluruhan proses. Secara umum struktur bagian init context digambarkan dalam diagram blok unit seperti ditunjukkan gambar berikut : Gambar 4.8 Blok Diagram Init Context Proses pada blok Init Context dikontrol dengan menggunakan FSM, seperti ditunjukkan pada gambar 4.9. Gambar 4.9 State Unit Kontrol Blok Init Context 41

8 Proses pada blok Init Context diawali saat sinyal start_context = 1. Proses pertama pada blok Init Context, yaitu state WRITE_INIT, adalah proses penulisan nilai awal context model ke memory RAM Context. Nilai context model ini didapat dari perhitungan yang dilakukan oleh blok Init Context Core. Arsitektur blok Init Context Core tersebut dapat dilihat pada gambar berikut: qrom ROM_cntx_data FF mq4 mq4_reg MAX MIN Logic data_rom_en FF mqn MPS calculated ste_mps ROM_indx_data FF add_in_en FF ste FF ste_mps data_rom_en FF add_out_en ste_mps_en qp_indx_data add_in_en n12 Gambar 4.10 Arsitektur Blok Init Context Core Input untuk proses perhitungan nilai context model ini adalah nilai parameter kuantisasi dari ROM index, dan nilai m dan n dari ROM context. Nilai context model yang dihitung pada perancangan ini sebanyak 844 buah. Dengan memperhatikan kompleksitas blok Init Context Core, maka penghitungan setiap nilai context model dirancang dalam 5-stage pipeline. Dengan demikian diharapkan combinational delay dapat dikurangi, sehingga desain yang dihasilkan dapat bekerja pada frekuensi yang lebih tinggi. Tahapan pipeline pada blok Init Context Core adalah sebagai berikut: Tahap 1 Pada tahap ini, dilakukan pembacaan data dari ROM index dan ROM context. Keluaran dari ROM index dan ROM context digunakan sebagai input multiplier pada penghitungan context model tahap 2. Pembacaan data ROM index hanya dilakukan pada alamat pertama saja. Pembacaan data ROM context dilakukan secara berturut-turut sebanyak 844 kali untuk setiap penghitungan nilai context model. 42

9 Tahap 2 Pada tahap kedua dilakukan proses perkalian antara data ROM context dan data ROM index. Data ROM index yang digunakan untuk proses perkalian berukuran 8-bit, yang diambil dari ROM_index_data [15:8], sedangkan data ROM context yang digunakan diambil dari ROM_context_data [7:0]. Tahap 3 Pada tahap ketiga dilakukan penjumlahan antara hasil perkalian pada tahap 2 dengan nilai ROM_index_data [7:0]. Tahap 4 Pada tahap ini dilakukan operasi pembentukan nilai awal state dan MPS. Tahap 5 Pada tahap ini data context model sudah valid dan dapat ditulis ke RAM context. Proses penulisan dilakukan sebanyak data context model yang dihitung, yaitu 844 buah. Dengan demikian penulisan data ke RAM dilakukan setiap 5 clock cycle. Sehingga total proses untuk penghitungan inisialisasi context model adalah 4220 clock cycle. Setelah proses perhitungan nilai awal context model selesai, yang ditandai dengan aktifnya sinyal end_init, maka proses berikutnya adalah pembacaan memory RAM Context untuk proses arithmetic decoding. Tahap ini dinamakan state READ_MEM. Pembacaan memory RAM Context ini dilakukan berdasarkan alamat yang didapat dari nilai 9 bit terakhir dari keluaran ROM index. Setelah data dari RAM Context dibaca, maka proses decoding dapat dilakukan. Proses decoding dilakukan berdasarkan mode yang didapat dari 2 bit pertama keluaran ROM index, yaitu normal, bypass, dan terminate seperti terlihat pada tabel 4.2. Proses ini selesai setelah sinyal arcod_done atau bypass_done aktif. 43

10 Tabel 4.2 Mode Decoding ROM_index [9:8] Mode Decoding 00 Normal 01 Bypass 10 Terminate 11 Initial Jika yang aktif adalah sinyal arcod_done maka tahap berikutnya adalah penulisan nilai update context model ke RAM Context (state WRITE_MEM). Dengan demikian, pembacaan RAM Context berikutnya dapat dilakukan. Jika yang aktif adalah sinyal bypass_done maka nilai update context model tidak perlu ditulis dan pembacaan RAM Context berikutnya dapat dilakukan (state READ_MEM). Gambar 4.11 mengilustrasikan sinyal-sinyal yang mempengaruhi perpindahan state pada blok Init Context. reset clock start_cntx end_init arcod_done bypass_done arcode_psate IDLE WRITE_INIT READ_MEM DECODE WRITE_MEM READ_MEM DECODE READ_MEM DECODE RAM_ce RAM_we addr_count Gambar 4.11 Timing Diagram Proses Init Context 44

11 4.4 Perancangan Blok Arithmetic Decoding Proses binary decoding dikelompokkan menjadi mode Normal, Bypass, dan Terminate. Berdasarkan kesamaan pada pemrosesan data, perancangan unit binary decoding dipisahkan menjadi dua bagian, yaitu blok arcod dan bypass. Blok arcod digunakan untuk melakukan proses decoding untuk mode Normal dan Terminate, sedangkan blok bypass digunakan untuk melakukan proses decoding pada mode Bypass Arcod Proses binary decoding di blok arcod mencakup proses peng-update-an nilai range dan offset serta proses renormalisasi nilai range bila diperlukan. Proses decoding dilakukan selama sinyal arcod_enable aktif, yang dihasilkan dari blok init context. Blok diagram unit arcod ditunjukkan gambar arcod bitstream ste_mps_in range_in offset_in Arcod Core decout_bit ste_mps_new range_out offset_out arcod_enable normal_mode terminate_mode Arcod Control renorm arcod_done Gambar 4.12 Blok Diagram Arcod 45

12 Unit Update Nilai Range dan Offset Tahap pertama dari proses decoding adalah pembacaan nilai rlps dan nilai state berdasarkan masukan nilai range dan offset. Nilai range dan offset merupakan data 16-bit yang dibaca dari register offset range. Nilai masukan range dan state digunakan sebagai alamat untuk ROM_rLPS dan ROM_state. Alamat untuk ROM_rLPS dibentuk dari nilai range_in[7:6] dan nilai ste_mps_in[6:1], sedangkan alamat untuk ROM_state dibentuk langsung dari nilai ste_mps_in[6:1]. Gambar 4.13 mengilustrasikan pembentukan alamat untuk pembacaan ROM_rLPS dan ROM_state. Gambar 4.13 Struktur ROM rlps dan ROM state Data dari ROM rlps digunakan untuk update nilai range dan offset. Nilai update range diambil dari selisih nilai masukan range_in dan data rlps atau langsung berupa data rlps. Jika nilai sel_rng bernilai 1, nilai update range yang dipilih adalah data rlps. Sebaliknya, jika bernilai sel_rng 0 maka dipilih selisih nilai range_in dan data rlps. Pada proses decoding mode Terminate, nilai rlps selalu bernilai 2, sedangkan untuk mode normal nilai rlps merupakan keluaran ROM rlps. Arsitektur bagian proses update nilai range ditunjukkan oleh gambar

13 Gambar 4.14 Arsitektur Proses Update Nilai Range Untuk proses update nilai offset, nilai yang diambil dapat berupa selisih nilai masukan offset_in dan output substractor nilai masukan range_in dan data rlps, atau nilai masukan offset_in langsung. Nilai offset_in dipilih sebagai nilai update offset jika sel_offs bernilai 1. Sebaliknya, jika sel_offs bernilai 0 maka dipilih selisih nilai masukan offset_in dan output substractor nilai masukan range_in dan data rlps. Arsitektur untuk proses update nilai offset ditunjukkan oleh gambar Gambar 4.15 Arsitektur Proses Update Nilai Offset Proses update nilai offset dan range dilakukan bersama-sama, oleh karena itu, proses pengurangan nilai range_in dan data rlps dapat dilakukan oleh satu buah unit substractor. Dengan demikian arsitektur akhir untuk proses update range dan offset dapat dilihat pada gambar

14 offset_in[15:0] range_in[15:0] 0 1 offs_o[15:0] 16'd2 {8'd0, rlps_data[7:0]} 1 0 sel_offs sel_rlps 0 1 rng_o[15:0] sel_rng Gambar 4.16 Arsitektur Proses Update Nilai Offset dan Range Renormalisasi Nilai Range dan Offset Nilai update range sebelum ditulis ke register akan dicek dulu untuk menentukan apakah perlu dilakukan renormalisasi atau tidak. Secara struktural, arsitektur rangkaian untuk proses renormalisasi nilai range dan offset dapat dilihat pada gambar 4.17 dan gambar Gambar 4.17 Arsitektur Shift Register untuk Renormalisasi Nilai Range Gambar 4.18 Arsitektur Shift Register untuk Renormalisasi Nilai Offset 48

15 Unit Update Nilai State dan MPS Selain proses update nilai range dan offset, pada blok arcod juga dilakukan proses update ste_mps. Nilai update ste_mps terdiri dari dua bagian, yaitu nilai update state dan nilai update MPS. Nilai update state diambil dari keluaran ROM_state. Jika nilai sel_ste bernilai 1 nilai update state adalah ROM_state_data[5:0], sedangkan jika nilai sel_ste bernilai 1 nilai update state adalah ROM_state_data[11:6]. Nilai update MPS diperoleh dari nilai berdasarkan nilai masukan MPS atau inversi masukan MPS. Jika nilai sel_mps bernilai 1 nilai update MPS adalah inversi nilai masukan MPS, sedangkan jika nilai sel_mps bernilai 0 nilai update MPS sama dengan nilai masukan MPS. Arsitektur untuk proses update state dan MPS ditunjukkan gambar berikut: Gambar 4.19 Arsitektur Proses Update Nilai State dan MPS 49

16 Unit Decoding Bit Proses decoding pada blok arcod, ditentukan oleh nilai sel_decout_bit. Nilai output bit yang di-decode ditunjukkan dalam tabel berikut: Tabel 4.3 Pemilihan Hasil Decoding untuk Blok Arcod sel_decout_bit decout_bit 00 ste_mps_in [0] 01!ste_mps_in [0] 10 1 b b Unit Kontrol Arcod Bagian unit kontrol untuk blok arcod diimplementasikan dengan menggunakan FSM, seperti ditunjukkan gambar berikut. Gambar 4.20 State Transition Unit Kontrol Blok Arcod 50

17 Bagian unit kontrol serta untuk proses sinkronisasi pipeline blok arcod core dan menghasilkan sinyal-sinyal kontrol yang dibutuhkan untuk multiplexer pada bagian arcod core. Proses pipeline dilakukan untuk proses update nilai range dan nilai offset. ARCOD_STAGE1, merupakan tahap pembacaan data dari ROM_rLPS dan ROM_state. Pada state ARCOD_STAGE2 sampai ARCOD_STAGE4 dilakukan proses update nilai range dan offset. Dengan demikian setiap proses update nilai range dan offset dilakukan dalam 3 clock cycle. Dari proses update, dihasilkan nilai-nilai status untuk proses decoding. Sinyal status yang dihasilkan adalah : offs_high_valid Sinyal status offs_high_valid merupakan sinyal status yang menunjukkan nilai offset input lebih besar dari selisih nilai output substractor nilai masukan range_in dan data rlps. Dengan kata lain nilai status offs_high_valid dapat diperoleh dari inversi nilai MSB bit output pengurangan tahap kedua pada proses update nilai offset. range_low_valid Sinyal status range_low_valid merupakan sinyal status yang menunjukkan bahwa nilai range dari proses update masih lebih kecil dari 0x0100. Nilai ini akan digunakan untuk menentukan apakah proses renormalisasi diperlukan atau tidak. state_zero Sinyal status state_zero dihasilkan untuk meunjukkan bahwa data yang terbaca dari ROM state bernilai nol. Status state_zero diperlukan untuk pemilihan nilai update MPS. Sinyal-sinyal status yang dihasilkan oleh blok arcod core selama proses update ini, digunakan oleh unit kontrol arcod, untuk menghasilkan sinyal kontrol multiplexer 51

18 pada arcod core. Sinyal-sinyal kontrol multiplxer yang diperlukan oleh blok arcod core, sebagaimana telah disebutkan pada bagian sebelumnya, adalah sebagai berikut : sel_rlps sinyal kontrol sel_rlps merupakan sinyal kontrol yang digunakan untuk memilih data keluaran dari ROM rlps. Nilai sinyal sel_rlps ditentukan oleh mode decoding, yaitu bernilai 1 saat mode Terminate. Untuk sinkronisasi pipeline sinyal sel_rlps akan dihasilkan saat state FSM berada pada ARCOD_STAGE2. sel_offs Sinyal kontrol sel_offs digunakan untuk pemilihan nilai update offset. Nilai sel_offs akan bernilai 1 jika nilai offs_high_valid bernilai 1 dan mode decoding normal. sel_rng Sinyal kontrol sel_rng digunakan untuk pemilihan nilai update range. Nilai sel_offs akan bernilai 1 jika nilai offs_high_valid bernilai 1 dan mode decoding normal. sel_ste Sinyal kontrol sel_ste digunakan untuk pemilihan nilai update state. Nilai sel_ste akan bernilai 1 jika nilai offs_high_valid bernilai 1. sel_mps Sinyal kontrol sel_mps digunakan untuk pemilihan nilai update state. Nilai sel_ste akan bernilai 1 jika nilai offs_high_valid bernilai 1 dan nilai state_zero bernilai 1. sel_decout_bit Sinyal kontrol sel_decout_bit digunakan untuk menuntukan bit yang didecode, sebagai keluaran blok arcod. Nilai sel_decout_bit, merupakan sinyal kontrol 2-bit didapat dari gabungan nilai mode decoding dan nilai offset_high_valid. 52

19 Proses blok arcod secara timing dapat digambarkan sebagai berikut : Gambar 4.21 Timing Diagram Blok Arcod Bypass Pada proses decoding mode bypass hanya dilakukan proses update nilai offset. Proses update pada nilai range, state dan MPS tidak dilakukan. Diagram blok proses decoding pada mode bypass digambarkan sebagai berikut. Gambar 4.22 Blok Diagram Unit Bypass Proses update nilai offset pada mode bypass membutuhkan bitstream. Nilai update offset diambil dari selisih nilai masukan offset yang dikali dengan dua dan ditambah bitstream dengan nilai masukan range atau langsung dari nilai masukan offset yang dikali dengan dua dan ditambah bitstream. Proses update nilai range dan offset pada unit bypass dilakukan dengan arsitektur seperti yang diperlihatkan pada gambar

20 bitstream offset_in range_in offs_high_valid 0 1 offset_new range_new 1'b0 1'b1 0 1 decout_bit Gambar 4.23 Arsitektur Proses Update Nilai Offset Dari keluaran substractor dapat ditentukan nilai offs_high_valid untuk menentukan nilai update offset dan nilai output bit yang di-decode. Cara penentuan nilai offs_high_valid ini sama dengan cara penentuan nilai offs_high_valid pada blok arcod. Jika nilai offs_high_valid bernilai 1 maka nilai update offset, offset_new, adalah output substractor, dan bit yang di-decode bernilai 1. Sebaliknya, jika offs_high_valid bernilai 0 maka nilai update offset, offset_new, adalah nilai offset yang dikalikan dua dan ditambah bitstream, dan bit yang di-decode bernilai 0. Blok substractor juga akan mengeluarkan sinyal status bypass_done, untuk menunjukkan bahwa proses decoding selesai dilakukan. Nilai bypass_done ini digunakan untuk sinkronisasi dengan blok-blok lainnya seperti Init Context dan Offset Range Register. Sinyal-sinyal kontrol dari blok bypass dihasilkan berdasarkan kondisi state dari FSM, yaitu pada state BYPASS_OUTPUT. Bagian unit kontrol untuk blok bypass diimplementasikan dengan menggunakan FSM, seperti ditunjukkan pada gambar

21 Gambar 4.24 State Transiton Decoding Mode Bypass 4.5 Perancangan Offset dan Range Register Blok register ini digunakan untuk menyimpan nilai akhir offset dan range dari setiap proses decoding. Nilai offset dan range yang tersimpan di register ini akan digunakan sebagai nilai awal offset dan range proses decoding berikutnya. Gambar 4.25 Arsitektur Register Offset dan Range 55

22 Karena nilai offset dan range yang ditulis pada register ini dapat berasal dari blok arcod atau blok bypass, maka diperlukan multiplexer untuk pemilihan nilai offset dan range yang akan ditulis. Arsitektur untuk register offset dan range ini dapat dilihat pada gambar Pemilihan input multiplexer ditentukan oleh sinyal arcod_done. Jika nilai arcod_done 1, maka data offset dan range dari proses arcod yang akan dipilih. Penulisan nilai offset dan range dikontrol oleh sinyal kontrol offs_range_we, yang merupakan hasil operasi OR antara sinyal arcod_done dan bypass_done. 56

BAB 3 PERANCANGAN AWAL INVERSE-CABAC Proses Inisialisasi untuk Variabel Context

BAB 3 PERANCANGAN AWAL INVERSE-CABAC Proses Inisialisasi untuk Variabel Context BAB 3 PERANCANGAN AWAL INVERSE-CABAC Pada program JM 11.0 yang digunakan sebagai program acuan pada tugas akhir ini, algoritma binary arithmetic coding untuk modul Inverse-CABAC dimuat dalam file biaridecod.c.

Lebih terperinci

BAB 2 STANDARD H.264/MPEG-4 DAN ALGORITMA CABAC

BAB 2 STANDARD H.264/MPEG-4 DAN ALGORITMA CABAC BAB 2 STANDARD H.264/MPEG-4 DAN ALGORITMA CABAC Pada bab ini akan dibahas tentang standard H.264/MPEG-4 secara singkat. Selain itu, bab ini akan membahas pula tentang pemakaian algoritma CABAC pada standard

Lebih terperinci

BAB 4 PERANCANGAN ARSITEKTUR 2K FFT-IFFT CORE

BAB 4 PERANCANGAN ARSITEKTUR 2K FFT-IFFT CORE BAB 4 PERANCANGAN ARSITEKTUR 2K FFT-IFFT CORE Pada bab ini dibahas mengenai perancangan arsitektur 2k FFT-IFFT Core berdasarkan model Matlab yang telah dibuat sebelumnya. Terdapat dua pendekatan arsitektur

Lebih terperinci

adalah frekuensi detak masukan mula-mula, sehingga membentuk rangkaian

adalah frekuensi detak masukan mula-mula, sehingga membentuk rangkaian Pertemuan ke 2 1 BAB I Rangkaian Sekuensial (2) Deskripsi Pada bab ini akan dibahas tentang aplikasi elemen flip-flop pada counter dan register serta clock mode, pulse mode, dan level mode. Manfaat Memberikan

Lebih terperinci

Bab XI, State Diagram Hal: 226

Bab XI, State Diagram Hal: 226 Bab XI, State Diagram Hal: 226 BAB XI, STATE DIAGRAM State Diagram dan State Table Untuk menganalisa gerbang yang dihubungkan dengan flip-flop dikembangkan suatu diagram state dan tabel state. Ada beberapa

Lebih terperinci

BAB VIII REGISTER DAN COUNTER

BAB VIII REGISTER DAN COUNTER BAB VIII REGISTER DAN COUNTER 8.1 Register Register adalah kumpulan dari elemen-elemen memori yang bekerja bersama sebagai satu unit. Register yang paling sederhana tidak lebih dari sebuah penyimpan kata

Lebih terperinci

BAB III PERANCANGAN SISTEM

BAB III PERANCANGAN SISTEM BAB III PERANCANGAN SISTEM Perancangan sistem DOT Matrix ini terbagi menjadi tiga bagian, yakni: perancangan perangkat keras serta perancangan perangkat lunak. 3.1. Perancangan Perangkat Keras Sistem yang

Lebih terperinci

Antarmuka LCD pada DST-AVR

Antarmuka LCD pada DST-AVR Antarmuka LCD pada DST-AVR M1632 adalah merupakan modul LCD dengan tampilan 16 x 2 baris dengan konsumsi daya yang rendah. Modul ini dilengkapi dengan mikrokontroler yang didisain khusus untuk mengendalikan

Lebih terperinci

BAB III COUNTER. OBYEKTIF : - Memahami jenis-jenis counter - Mampu merancang rangkaian suatu counter

BAB III COUNTER. OBYEKTIF : - Memahami jenis-jenis counter - Mampu merancang rangkaian suatu counter B III COUNTER OBYEKTIF : - Memahami jenis-jenis counter - Mampu merancang rangkaian suatu counter 3.1 Counter secara umum Counter merupakan rangkaian logika pengurut, karena counter membutuhkan karakteristik

Lebih terperinci

BAB 3 ANALISIS DAN PERANCANGAN

BAB 3 ANALISIS DAN PERANCANGAN BAB 3 ANALISIS DAN PERANCANGAN 3.1 Analisis Perangkat Lunak Analisis perangkat lunak dapat didefinisikan sebagai penguraian dari suatu perangkat lunak yang utuh ke dalam bagian-bagian komponennya dengan

Lebih terperinci

Laboratorium Sistem Komputer dan Otomasi Departemen Teknik Elektro Otomasi Fakultas Vokasi Institut Teknologi Sepuluh November

Laboratorium Sistem Komputer dan Otomasi Departemen Teknik Elektro Otomasi Fakultas Vokasi Institut Teknologi Sepuluh November PRAKTIKUM 1 COUNTER (ASINKRON) A. OBJEKTIF 1. Dapat merangkai rangkaian pencacah n bit dengan JK Flip-Flop 2. Dapat mendemonstrasikan operasi pencacah 3. Dapat mendemonstrasikan bagaimana modulus dapat

Lebih terperinci

Mikroprosesor. Nuryono Satya Widodo, S.T.,M.Eng. Mikroprosesor 1

Mikroprosesor. Nuryono Satya Widodo, S.T.,M.Eng. Mikroprosesor 1 Mikroprosesor Nuryono Satya Widodo, S.T.,M.Eng. Mikroprosesor 1 Mikroprosesor Mikroprosesor(µP): suatu rangkaian digital yang terdiri atas 3 bagian utama, yaitu : ALU (Arithmetic and Logic Unit), Register

Lebih terperinci

1). Synchronous Counter

1). Synchronous Counter Counter juga disebut pencacah atau penghitung yaitu rangkaian logika sekuensial yang digunakan untuk menghitung jumlah pulsa yang diberikan pada bagian masukan. Counter digunakan untuk berbagai operasi

Lebih terperinci

BAB III PERANCANGAN ALAT

BAB III PERANCANGAN ALAT BAB III PERANCANGAN ALAT Pada bab tiga ini akan dijelaskan mengenai perancangan dari perangkat keras dan perangkat lunak yang digunakan pada alat ini. Dimulai dari uraian perangkat keras lalu uraian perancangan

Lebih terperinci

1). Synchronous Counter

1). Synchronous Counter Counter juga disebut pencacah atau penghitung yaitu rangkaian logika sekuensial yang digunakan untuk menghitung jumlah pulsa yang diberikan pada bagian masukan. Counterdigunakan untuk berbagai operasi

Lebih terperinci

8. TRANSFER DATA. I. Tujuan

8. TRANSFER DATA. I. Tujuan 8. TRANSFER DATA I. Tujuan 1. Membuat rangkaian transfer data seri dan transfer data secara paralel dengan menggunakan IC yang berisi JK-FF dan D-FF. 2. Mengamati operasi transfer data seri dan dan transfer

Lebih terperinci

PENGANTAR ORGANISASI DAN ARSITEKTUR KOMPUTER SISTEM INPUT OUTPUT

PENGANTAR ORGANISASI DAN ARSITEKTUR KOMPUTER SISTEM INPUT OUTPUT PENGANTAR ORGANISASI DAN ARSITEKTUR KOMPUTER SISTEM INPUT OUTPUT EXTERNAL DEVICE Pembacaan di sisi manusia (screen, printer, keyboard) Pembacaan disisi mesin (monitoring, control) Komunikasi (modem, NIC)

Lebih terperinci

TKC305 - Sistem Digital Lanjut. Eko Didik Widianto. Sistem Komputer - Universitas Diponegoro

TKC305 - Sistem Digital Lanjut. Eko Didik Widianto. Sistem Komputer - Universitas Diponegoro ,, TKC305 - Sistem Digital Lanjut Eko Didik Sistem Komputer - Universitas Diponegoro Bahasan Kuliah, Sebelumnya dibahas elemen rangkaian sekuensial berupa flip-flop dan latch yang mampu menyimpan informasi

Lebih terperinci

1 Tinjau Ulang Sistem Komputer

1 Tinjau Ulang Sistem Komputer 1 Tinjau Ulang Sistem Komputer Overview Sebelum memulai mempelajari sistem operasi penting bagi kita untuk mengetahui komponen-komponen yang menjadi bagian dari sebuah sistem komputer disertai cara kerjanya.

Lebih terperinci

SISTEM MIKROPROSESOR RIZAL SURYANA JURUSAN TEKNIK ELEKTRO - UNJANI

SISTEM MIKROPROSESOR RIZAL SURYANA JURUSAN TEKNIK ELEKTRO - UNJANI SISTEM MIKROPROSESOR RIZAL SURYANA JURUSAN TEKNIK ELEKTRO - UNJANI Sistem Mikroprosesor? Sistem Gabungan dari beberapa elemen atau komponen yang membentuk suatu fungsi tertentu Mikroprosesor Sebuah chip

Lebih terperinci

14.1. SYNCHRONOUS B US

14.1. SYNCHRONOUS B US 13. BUS Prosesor, memori utama, dan perangkat I/O dapat diinterkoneksikan dengan rnenggunakan bus bersama yang fungsi utamanya adalah menyediakan jalur komunikasi untuk transfer data. Bus tersebut menyertakan

Lebih terperinci

Hanif Fakhrurroja, MT

Hanif Fakhrurroja, MT Pertemuan 6 Organisasi Komputer CPU dan Sistem Bus Hanif Fakhrurroja, MT PIKSI GANESHA, 2013 Hanif Fakhrurroja @hanifoza [email protected] Agenda Pertemuan 6 1 CPU 2 Sistem Bus Pendahuluan Video CPU CPU

Lebih terperinci

Tabel 1. Karakteristik IC TTL dan CMOS

Tabel 1. Karakteristik IC TTL dan CMOS BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. IC Digital TTL dan CMOS Berdasarkan teknologi pembuatannya, IC digital dibedakan menjadi dua jenis, yaitu TTL (Transistor-Transistor Logic) dan CMOS (Complementary Metal Oxide

Lebih terperinci

Sistem Operasi. Struktur Sistem Komputer. Adhitya Nugraha. Fasilkom 10/6/2014

Sistem Operasi. Struktur Sistem Komputer. Adhitya Nugraha. Fasilkom 10/6/2014 Sistem Operasi Struktur Sistem Komputer Adhitya Nugraha 2014 [email protected] Fasilkom 10/6/2014 Objectives Mahasiswa mengetahui komponen-komponen yang membangun sebuah sistem komputer. Mahasiswa

Lebih terperinci

3. ALU. Tugas utama adalah melakukan semua perhitungan aritmatika dan melakukan keputusan dari suatu operasi logika.

3. ALU. Tugas utama adalah melakukan semua perhitungan aritmatika dan melakukan keputusan dari suatu operasi logika. SRI SUPATMI,S.KOM 3. ALU Tugas utama adalah melakukan semua perhitungan aritmatika dan melakukan keputusan dari suatu operasi logika. 4. I/O Interconection Input-Output (/O) Interconection merupakan sistem

Lebih terperinci

LAPORAN RESMI PRAKTIKUM SISTEM DIGITAL 2013 / 2014

LAPORAN RESMI PRAKTIKUM SISTEM DIGITAL 2013 / 2014 LAPORAN RESMI PRAKTIKUM SISTEM DIGITAL 23 / 24 MODUL 4 REGISTER, COUNTER DAN MEMORI OLEH KELOMPOK B ADE ILHAM FAJRI 5358 FRANKY SETIAWAN DALDIRI 5383 KELAS : B ASISTEN PEMBIMBING RISYANGGI AZMI FAIZIN

Lebih terperinci

BAB Arsitektur Komputer. Konsep Arsitektur Komputer. Rini Agustina, S.Kom, M.Pd RINI AGUSTINA - DARI BERBAGAI SUMBER

BAB Arsitektur Komputer. Konsep Arsitektur Komputer. Rini Agustina, S.Kom, M.Pd RINI AGUSTINA - DARI BERBAGAI SUMBER BAB - 01 Arsitektur Komputer Konsep Arsitektur Komputer Rini Agustina, S.Kom, M.Pd 1 Arsitektur Komputer Vs Organisasi Komputer Arsitektur Komputer adalah bagian yang lebih cenderung pada kajian atribut

Lebih terperinci

Pertemuan ke 5 BAB IV Sintesis Rangkaian Sekuensial (2) Deskripsi Manfaat Relevansi Learning Outcome Materi I. Rangkaian Memori Terbatas RAM dinamik

Pertemuan ke 5 BAB IV Sintesis Rangkaian Sekuensial (2) Deskripsi Manfaat Relevansi Learning Outcome Materi I. Rangkaian Memori Terbatas RAM dinamik Pertemuan ke 5 1 BAB IV Sintesis Rangkaian Sekuensial (2) Deskripsi Pada bab ini akan dibahas tentang proses Rangkaian memori terbatas, dan penentuan kelas yang berbeda Manfaat Memberikan kompetensi untuk

Lebih terperinci

Arsitektur Prosesor MIPS Multi Siklus (Pertemuan ke-27)

Arsitektur Prosesor MIPS Multi Siklus (Pertemuan ke-27) Arsitektur Prosesor MIPS Multi Siklus (Pertemuan ke-27) Diedit ulang oleh: Endro Ariyanto Prodi S1 Teknik Informatika Fakultas Informatika Universitas Telkom April 2016 Implementasi Multisiklus Organisasi

Lebih terperinci

STRUKTUR CPU. Arsitektur Komputer

STRUKTUR CPU. Arsitektur Komputer STRUKTUR CPU Arsitektur Komputer Tujuan Mengerti struktur dan fungsi CPU yaitu dapat melakukan Fetch instruksi, interpreter instruksi, Fetch data, eksekusi, dan menyimpan kembali. serta struktur dari register,

Lebih terperinci

Arsitektur Komputer. Rangkaian Logika Kombinasional & Sekuensial

Arsitektur Komputer. Rangkaian Logika Kombinasional & Sekuensial Arsitektur Komputer Rangkaian Logika Kombinasional & Sekuensial 1 Rangkaian Logika Rangkaian Logika secara garis besar dibagi menjadi dua, yaitu : Rangkaian Kombinasional adalah rangkaian yang kondisi

Lebih terperinci

Mikrokontroller Berbasiskan RISC 8 bits

Mikrokontroller Berbasiskan RISC 8 bits Mikrokontroller Berbasiskan RISC 8 bits Pokok Bahasan: 1. Perangkat Keras PIC Microcontroller ( 8bit RISC) Architecture Memory Organization Interrupts I/O Ports Timers Analog to Digital I/O Assembly Language

Lebih terperinci

JENIS-JENIS REGISTER (Tugas Sistem Digital)

JENIS-JENIS REGISTER (Tugas Sistem Digital) JENIS-JENIS REGISTER (Tugas Sistem Digital) Oleh: EKO SARIYANTO 0917041026 SITI KHOLIFAH 1017041042 JURUSAN FISIKA FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS LAMPUNG 2013 Register adalah

Lebih terperinci

Strategi Perancangan Hardware menggunakan 2 Metode Bersamaan dan Pengantar Arsitektur Mikroprosesor

Strategi Perancangan Hardware menggunakan 2 Metode Bersamaan dan Pengantar Arsitektur Mikroprosesor MODUL KE 6 Sistem Mikroprosesor (3 sks) 6 MATERI KULIAH : Strategi perancangan hardware sistem mikroprosesor menggunakan 2 (dua) metode secara bersamaan yaitu metode fully decoded addressing dan non fully

Lebih terperinci

8086/88 Device Specifications

8086/88 Device Specifications 8086/88 Device Specifications DIP (Dual In-Line Packages). 1. 8086: 16-bit microprocessor dengan 16-bit data bus 2. 8088: 16-bit microprocessor dengan 8-bit data bus. Level Tegangan 5V : 1. 8086: membutuhkan

Lebih terperinci

ANALOG TO DIGITAL CONVERTER

ANALOG TO DIGITAL CONVERTER PERCOBAAN 10 ANALOG TO DIGITAL CONVERTER 10.1. TUJUAN : Setelah melakukan percobaan ini mahasiswa diharapkan mampu Menjelaskan proses perubahan dari sistim analog ke digital Membuat rangkaian ADC dari

Lebih terperinci

Hanif Fakhrurroja, MT

Hanif Fakhrurroja, MT Pertemuan 2 Organisasi Komputer Organisasi dan Arsitektur Komputer Struktur dan Fungsi Komputer Hanif Fakhrurroja, MT PIKSI GANESHA, 2013 Hanif Fakhrurroja @hanifoza [email protected] Arsitektur & Organisasi

Lebih terperinci

BAB 3 ALGORITMA DAN MODEL 2K FFT-IFFT CORE

BAB 3 ALGORITMA DAN MODEL 2K FFT-IFFT CORE BAB 3 ALGORITMA DAN MODEL 2K FFT-IFFT CORE Pada Bab ini dibahas mengenai penentuan algoritma, menentukan deskripsi matematis dari algoritma, pembuatan model fixed point menggunakan Matlab, dan pengukuran

Lebih terperinci

=== PENCACAH dan REGISTER ===

=== PENCACAH dan REGISTER === === PENCACAH dan REGISTER === Pencacah Pencacah adalah sebuah register yang mampu menghitung jumlah pulsa detak yang masuk melalui masukan detaknya, karena itu pencacah membutuhkan karakteristik memori

Lebih terperinci

Mikrokontroler 89C51 Bagian II :

Mikrokontroler 89C51 Bagian II : Mikrokontroler 89C51 Bagian II : Mikrokontroler 89C51 Mikrokontroler 89C51 merupakan mikrokomputer CMOS 8 bit dengan 4 Kbytes Flash Programmable Memory. Arsitektur 89C51 ditunjukkan pada gambar 2. Accumulator

Lebih terperinci

Organisasi Komputer & Organisiasi Prosesor

Organisasi Komputer & Organisiasi Prosesor Organisasi Komputer & Organisiasi Prosesor Organisasi Sistem Komputer Priyanto E-mail : [email protected] Mobile: 0811282609 Program Studi Pendidikan Teknik Informatika Jurusan Pendidikan Teknik Elektronika

Lebih terperinci

BAB VIII REGISTER DAN COUNTER

BAB VIII REGISTER DAN COUNTER BAB VIII REGISTER DAN OUNTER 8.1 Register Dalam elektronika digital seringkali diperlukan penyimpan data sementara sebelum data diolah lebih lanjut. Elemen penyimpan dasar adalah flip-flop. Setiap flip-flop

Lebih terperinci

6. Rangkaian Logika Kombinasional dan Sequensial 6.1. Rangkaian Logika Kombinasional Enkoder

6. Rangkaian Logika Kombinasional dan Sequensial 6.1. Rangkaian Logika Kombinasional Enkoder 6. Rangkaian Logika Kombinasional dan Sequensial Rangkaian Logika secara garis besar dibagi menjadi dua, yaitu rangkaian logika Kombinasional dan rangkaian logika Sequensial. Rangkaian logika Kombinasional

Lebih terperinci

PERCOBAAN 6 COUNTER ASINKRON

PERCOBAAN 6 COUNTER ASINKRON PERCOBAAN 6 COUNTER ASINKRON 6.1. TUJUAN : Setelah melaksanakan percobaan ini mahasiswa diharapkan mampu : Membuat Rangkaian dasar 3-bit Membuat Timing Diagram Counter Membuat MOD-n Membuat Up-Down 6.2.

Lebih terperinci

2009/2010 Course Plan. SK-208 Arsitektur Komputer Ir. Syahrul, MT.

2009/2010 Course Plan. SK-208 Arsitektur Komputer Ir. Syahrul, MT. 2009/2010 Course Plan SK-208 Arsitektur Komputer Ir. Syahrul, MT. DEPARTEMEN TEKNIK INFORMATIKA INSTITUT TEKNOLOGI HARAPAN BANGSA 2010 INSTITUT TEKNOLOGI HARAPAN BANGSA SEMESTER GENAP 2009/2010 (SK-208)

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Teknologi komunikasi digital telah berkembang dengan sangat pesat. Telepon seluler yang pada awalnya hanya memberikan layanan komunikasi suara, sekarang sudah

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG

BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG Perkembangan teknologi dijital telah menunjukkan pengaruh yang luar biasa bagi kehidupan manusia. Dimulai sejak kurang lebih era tahun 60-an dimana suatu rangkaian

Lebih terperinci

MIKROKONTROLER Arsitektur Mikrokontroler AT89S51

MIKROKONTROLER Arsitektur Mikrokontroler AT89S51 MIKROKONTROLER Arsitektur Mikrokontroler AT89S51 Ringkasan Pendahuluan Mikrokontroler Mikrokontroler = µp + Memori (RAM & ROM) + I/O Port + Programmable IC Mikrokontroler digunakan sebagai komponen pengendali

Lebih terperinci

1. FLIP-FLOP. 1. RS Flip-Flop. 2. CRS Flip-Flop. 3. D Flip-Flop. 4. T Flip-Flop. 5. J-K Flip-Flop. ad 1. RS Flip-Flop

1. FLIP-FLOP. 1. RS Flip-Flop. 2. CRS Flip-Flop. 3. D Flip-Flop. 4. T Flip-Flop. 5. J-K Flip-Flop. ad 1. RS Flip-Flop 1. FLIP-FLOP Flip-flop adalah keluarga Multivibrator yang mempunyai dua keadaaan stabil atau disebut Bistobil Multivibrator. Rangkaian flip-flop mempunyai sifat sekuensial karena sistem kerjanya diatur

Lebih terperinci

Hal-hal yang perlu dilakukan CPU adalah : 1. Fetch Instruction = mengambil instruksi 2. Interpret Instruction = Menterjemahkan instruksi 3.

Hal-hal yang perlu dilakukan CPU adalah : 1. Fetch Instruction = mengambil instruksi 2. Interpret Instruction = Menterjemahkan instruksi 3. PERTEMUAN 1. Organisasi Processor #1 Hal-hal yang perlu dilakukan CPU adalah : 1. Fetch Instruction = mengambil instruksi 2. Interpret Instruction = Menterjemahkan instruksi 3. Fetch Data = mengambil data

Lebih terperinci

BAB II Sintesis Rangkaian Sekuensial Pulse Mode

BAB II Sintesis Rangkaian Sekuensial Pulse Mode Pertemuan ke 3 1 BAB II Sintesis Rangkaian Sekuensial Pulse Mode Deskripsi Pada bab ini akan dibahas tentang finite state machine, rangkaian mealy dan moore, prosedur perancangan dan translasi dari mealy

Lebih terperinci

Blok sistem mikrokontroler MCS-51 adalah sebagai berikut.

Blok sistem mikrokontroler MCS-51 adalah sebagai berikut. Arsitektur mikrokontroler MCS-51 diotaki oleh CPU 8 bit yang terhubung melalui satu jalur bus dengan memori penyimpanan berupa RAM dan ROM serta jalur I/O berupa port bit I/O dan port serial. Selain itu

Lebih terperinci

Diktat Kuliah Organisasi dan Interaksi

Diktat Kuliah Organisasi dan Interaksi Mikroprosesor dan Antarmuka Diktat Kuliah Organisasi dan Interaksi Nyoman Bogi Aditya Karna Sisfo IMelkom [email protected] http://bogi.blog.imtelkom.ac.id Institut Manajemen elkom http://www.imtelkom.ac.id

Lebih terperinci

BAB VII DASAR FLIP-FLOP

BAB VII DASAR FLIP-FLOP 89 BAB VII ASAR FLIP-FLOP 1. Pendahuluan Pada bagian sebelumnya telah dibahas tentang rangkaian kombinasional, yang merupakan rangkaian dengan keluaran yang dikendalikan oleh kondisi masukan yang ada.

Lebih terperinci

PENGANTAR ORGANISASI DAN ARSITEKTUR KOMPUTER CENTRAL PROCESSING UNIT

PENGANTAR ORGANISASI DAN ARSITEKTUR KOMPUTER CENTRAL PROCESSING UNIT PENGANTAR ORGANISASI DAN ARSITEKTUR KOMPUTER CENTRAL PROCESSING UNIT ARSITEKTUR VON NEUMANN DATA BUS DATA BUS INPUT OUTPUT (I/O) UNIT CENTRAL PROCESSING UNIT ADRESS BUS MAIN MEMORY UNIT CONTROL BUS CONTROL

Lebih terperinci

ADC ( Analog To Digital Converter Converter konversi analog ke digital ADC (Analog To Digital Convertion) Analog To Digital Converter (ADC)

ADC ( Analog To Digital Converter Converter konversi analog ke digital ADC (Analog To Digital Convertion) Analog To Digital Converter (ADC) ADC (Analog To Digital Converter) adalah perangkat elektronika yang berfungsi untuk mengubah sinyal analog (sinyal kontinyu) menjadi sinyal digital. Perangkat ADC (Analog To Digital Convertion) dapat berbentuk

Lebih terperinci

Latihan 19 Maret 2013

Latihan 19 Maret 2013 Arsitektur Komputer Latihan 19 Maret 2013 Nama : Neige Devi Samyono (55412277) Shekar Denanda (56412970) Kelas : 2IA15 Tahun : 2013/2014 Mata Kuliah : Arsitektur Komputer Dosen : Fauziah S.Kom JURUSAN

Lebih terperinci

MIKROKONTROLER AT89S52

MIKROKONTROLER AT89S52 MIKROKONTROLER AT89S52 Mikrokontroler adalah mikroprosessor yang dirancang khusus untuk aplikasi kontrol, dan dilengkapi dengan ROM, RAM dan fasilitas I/O pada satu chip. AT89S52 adalah salah satu anggota

Lebih terperinci

Gambar 1.1. Diagram blok mikrokontroller 8051

Gambar 1.1. Diagram blok mikrokontroller 8051 1.1. Organisasi Memori Semua divais 8051 mempunyai ruang alamat yang terpisah untuk memori program dan memori data, seperti yang ditunjukkan pada gambar1.1. dan gambar 1.2. Pemisahan secara logika dari

Lebih terperinci

BAB II. Decoder H.264/AVC

BAB II. Decoder H.264/AVC BAB II Decoder H.64/AVC Pada bab ini akan dibahas tentang teori dasar dari sistem H.64, modul dan algoritma dari Inverse Block Transform, Deblocking Filter dan Motion Compensator. II. Sistem H.64 H.64

Lebih terperinci

Struktur Sistem Komputer

Struktur Sistem Komputer Struktur Sistem Komputer ARSITEKTUR UMUM SISTEM KOMPUTER Sistem Komputer Sistem komputer terdiri atas CPU dan sejumlah perangkat pengendali yang terhubung melalui sebuah bus yang menyediakan akses ke memori

Lebih terperinci

PERTEMUAN. 1. Organisasi Processor. 2. Organisasi Register

PERTEMUAN. 1. Organisasi Processor. 2. Organisasi Register PERTEMUAN. Organisasi Processor Hal-hal yang perlu dilakukan CPU adalah ::.. Fetch Instruction = mengambil instruksi 2. 2. Interpret Instruction = Menterjemahkan instruksi 3. 3. Fetch Data = mengambil

Lebih terperinci

BAB III PERANCANGAN UIMEGA 8535

BAB III PERANCANGAN UIMEGA 8535 BAB III PERANCANGAN UIMEGA 8535 3.1 ARSITEKTUR UIMEGA 8535 Arsitektur UIMega 8535 secara umum diperlihatkan pada Gambar 3.1. UIMega 8535 terdiri dari lima modul utama, yaitu modul ROM, modul instruction

Lebih terperinci

BAB 3 PERANCANGAN SISTEM

BAB 3 PERANCANGAN SISTEM BAB 3 PERANCANGAN SISTEM 3.1. Gambaran Umum Sistem Sistem ini terdiri dari 2 bagian besar, yaitu, sistem untuk bagian dari panel surya ke baterai dan sistem untuk bagian dari baterai ke lampu jalan. Blok

Lebih terperinci

From M.R Zargham s book (Chapter 3.1)

From M.R Zargham s book (Chapter 3.1) PIPELINE HAZARD From M.R Zargham s book (Chapter 3.1) Pada Bab ini pembahasan akan meliputi: Struktur Pipeline Pengukuran Performance Jenis-jenis Pipeline Instruksi Pipeline Aritmatika Pipeline 1. Struktur

Lebih terperinci

Transfer Register. Andang, Elektronika Komputer Digital 1

Transfer Register. Andang, Elektronika Komputer Digital 1 Operasi yang berhubungan dengan data yang tersimpan di dalam register atau flip-flop dinamakan mikrooperasi (microoperation) seperti load, clear, shift, dan rotate. Load adalah operasi untuk memuati atau

Lebih terperinci

Model Mikroprosesor Ideal Konsep Data Bus Ruang Memori Konsep Address Bus Konsep Control Bus Pemetaan Memori

Model Mikroprosesor Ideal Konsep Data Bus Ruang Memori Konsep Address Bus Konsep Control Bus Pemetaan Memori Dasar-Dasar Mikroprosesor dan Mikrokontroler Dwi Sudarno Putra http://dwisudarnoputra.wordpress.com/ Topik Model Mikroprosesor Ideal Konsep Data Bus Ruang Memori Konsep Address Bus Konsep Control Bus e-mail:

Lebih terperinci

Jawaban Ujian Tengah Semester EL3096 Sistem Mikroprosesor & Lab

Jawaban Ujian Tengah Semester EL3096 Sistem Mikroprosesor & Lab Jawaban Ujian Tengah Semester EL3096 Sistem Mikroprosesor & Lab Selasa 18 Oktober 2011; 09:00 WIB ; Dosen: Waskita Adijarto, Pranoto Hidaya Rusmin 1 Sistem Mikroprosesor Diketahui sebuah sistem mikroprosesor

Lebih terperinci

Materi 3. Komponen Mikrokomputer SYSTEM HARDWARE DAN SOFTWARE DADANG MULYANA

Materi 3. Komponen Mikrokomputer SYSTEM HARDWARE DAN SOFTWARE DADANG MULYANA Materi 3 SYSTEM HARDWARE DAN SOFTWARE DADANG MULYANA dadang mulyana 2012 1 Komponen Mikrokomputer Video display (jenis dan resolusi) Keyboard Drive Disk Unit system Prosessor Pendukung dadang mulyana 2012

Lebih terperinci

ARSITEKTUR DAN ORGANISASI KOMPUTER

ARSITEKTUR DAN ORGANISASI KOMPUTER ARSITEKTUR DAN ORGANISASI KOMPUTER PART 3: THE CENTRAL PROCESSING UNIT CHAPTER 12: PROCESSOR STRUCTURE AND FUNCTION PRIO HANDOKO, S.KOM., M.T.I. CHAPTER 12: PROCESSOR STRUCTURE AND FUNCTION Kompetensi

Lebih terperinci

BAB III ANALISA DAN PERANCANGAN APLIKASI

BAB III ANALISA DAN PERANCANGAN APLIKASI BAB III ANALISA DAN PERANCANGAN APLIKASI Pada bab analisa dan perancangan aplikasi, penulis akan menjelaskan apa saja yang dibutuhkan untuk membuat aplikasi, menerangkan fungsi dari elemen-elemen yang

Lebih terperinci

Finite State Machine (FSM)

Finite State Machine (FSM) Finite State Machine (FSM) Disusun oleh: Tim dosen SLD Diedit ulang oleh: Endro Ariyanto Prodi S1 Teknik Informatika Fakultas Informatika Universitas Telkom November 2015 Pendahuluan Apa beda rangkaian

Lebih terperinci

Gambar 3.1 Blok Diagram Port Serial RXD (P3.0) D SHIFT REGISTER. Clk. SBUF Receive Buffer Register (read only)

Gambar 3.1 Blok Diagram Port Serial RXD (P3.0) D SHIFT REGISTER. Clk. SBUF Receive Buffer Register (read only) 1. Operasi Serial Port mempunyai On Chip Serial Port yang dapat digunakan untuk komunikasi data serial secara Full Duplex sehingga Port Serial ini masih dapat menerima data pada saat proses pengiriman

Lebih terperinci

Pertemuan Ke-3 Struktur Interkonesi (Bus System)

Pertemuan Ke-3 Struktur Interkonesi (Bus System) Pertemuan Ke-3 Struktur Interkonesi (Bus System) Sebuah komputer terdiri dari sekumpulan komponen komponen dasar seperti : CPU, memori dan I/O, yang saling berinteraksi satu dengan yang lainnya. Kumpulan

Lebih terperinci

DCH1B3 Konfigurasi Perangkat Keras Komputer

DCH1B3 Konfigurasi Perangkat Keras Komputer DCH1B3 Konfigurasi Perangkat Keras Komputer Register, Counter dan Memori 1 11/9/2016 1 Inti pembelajaran Memahami pengertian Register, Counter dan Memori. Mampu menjelaskan cara kerja Register, Counter

Lebih terperinci

Struktur Sistem Komputer

Struktur Sistem Komputer Struktur Sistem Komputer Pengampu Mata Kuliah Casi Setianingsih (CSI) Hp : 081320001220 (WA Only) Email Tugas : [email protected] Email Tel-U : [email protected] Komposisi Penilaian Quiz

Lebih terperinci

Organisasi & Arsitektur Komputer

Organisasi & Arsitektur Komputer Organisasi & Arsitektur Komputer 1 Unit Input - Output Eko Budi Setiawan, S.Kom., M.T. Eko Budi Setiawan [email protected] www.ekobudisetiawan.com Teknik Informatika - UNIKOM 2013 Flash Back 2 Pengertian

Lebih terperinci

Simple As Possible (SAP) - 1. Abdul Syukur

Simple As Possible (SAP) - 1. Abdul Syukur Simple As Possible (SAP) - 1 Abdul Syukur [email protected] http://skurlinux.blogspot.com 053740514 Perangkat Pembangun Pencacah Program (Program Counter) Register Masukan & Memory Address Register

Lebih terperinci

PERCOBAAN 2. FLIP-FLOP

PERCOBAAN 2. FLIP-FLOP PECOBAAN 2. FLIP-FLOP 2.. UUAN : Setelah melaksanakan percobaan ini mahasiswa diharapkan mampu : Membedakan sifat dasar S-FF dengan dan tanpa clock Membuat rangkaian Master Slave K-FF Menggunakan input-input

Lebih terperinci

BAB III PERANCANGAN SISTEM

BAB III PERANCANGAN SISTEM BAB III PERANCANGAN SISTEM Pada bab ini akan dibahas mengenai perancangan dan realisasi dari perangkat keras maupun perangkat lunak dari setiap modul yang dipakai pada skripsi ini. 3.1. Perancangan dan

Lebih terperinci

M1632 MODULE LCD 16 X 2 BARIS (M1632)

M1632 MODULE LCD 16 X 2 BARIS (M1632) M1632 MODULE LCD 16 X 2 BARIS (M1632) Deskripsi: M1632 adalah merupakan modul LCD dengan tampilan 16 x 2 baris dengan konsumsi daya yang rendah. Modul ini dilengkapi dengan mikrokontroler yang didisain

Lebih terperinci

Setelah Selesai pembelajaran diharapkan mahasiswa dapat membuktikan fungsi-fungsi khusus dalam pemrograman Programmable Logic Controller (PLC)

Setelah Selesai pembelajaran diharapkan mahasiswa dapat membuktikan fungsi-fungsi khusus dalam pemrograman Programmable Logic Controller (PLC) A. Tujuan FAKULTAS TEKNIK No. LST/EKA/PTE2013 Revisi : 00 Tgl : 17-02-2010 Hal 1 dari 9 Setelah Selesai pembelajaran diharapkan mahasiswa dapat membuktikan fungsi-fungsi khusus dalam pemrograman Programmable

Lebih terperinci

REGISTER. uart/reg8.html

REGISTER.  uart/reg8.html PERTEMUAN 11 REGISTER http://tams-www.informatik.uni-hamburg.de/applets/hades/webdemos/45-misc/30- uart/reg8.html Sasaran Pertemuan 11 Mahasiswa diharapkan mengerti tentang Register yang terdiri dari :

Lebih terperinci

R ANGKAIAN LOGIKA KOMBINASIONAL DAN SEQUENSIAL

R ANGKAIAN LOGIKA KOMBINASIONAL DAN SEQUENSIAL R ANGKAIAN LOGIKA KOMBINASIONAL DAN SEQUENSIAL Rangkaian Logika secara garis besar dibagi menjadi dua, yaitu Rangkaian logika Kombinasional dan rangkaian logika Sequensial. Rangkaian logika Kombinasional

Lebih terperinci

BAB I TUGAS MATA KULIAH SISTEM MIKROPROSESOR DOSEN PEMBERI TUGAS : FATAH YASIN, ST, MT.

BAB I TUGAS MATA KULIAH SISTEM MIKROPROSESOR DOSEN PEMBERI TUGAS : FATAH YASIN, ST, MT. 1 BAB I TUGAS MATA KULIAH SISTEM MIKROPROSESOR DOSEN PEMBERI TUGAS : FATAH YASIN, ST, MT. A. Deskripsi Tugas 1. Jelaskan perbedaan mikroprosesor dan mikrokontroler. 2. Jelaskan mode-mode pengalamatan yang

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN UJI COBA

BAB IV HASIL DAN UJI COBA BAB IV HASIL DAN UJI COBA IV.1. Tampilan Hasil Analisa berdasarkan penjelasan mengenai algoritma RC4 dan RC6, dapat diketahui beberapa perbedaan mendasar antara RC6 dengan RC4. RC6 menggunakan 4 register

Lebih terperinci

Sistem Mikroprosessor

Sistem Mikroprosessor Sistem Mikroprosessor Agung Prasetyo,ST. Jurusan Teknik Elektro Akademi Teknologi Warga Surakarta Sistem yang berbasis microprosessor: Juga biasa di sebut microcomputer adalah suatu rangkaian digital yang

Lebih terperinci

Oleh : Agus Priyanto, M.Kom

Oleh : Agus Priyanto, M.Kom Struktur CPU Oleh : Agus Priyanto, M.Kom Tujuan Pembelajaran Setelah mengikuti kuliah ini, mahasiswa dapat menjelaskan tentang struktur CPU Setelah mengikuti kuliah ini, mahasiswa dapat menjelaskan tentang

Lebih terperinci

$'&$QDORJWR'LJLWDO&RQYHUWLRQ

$'&$QDORJWR'LJLWDO&RQYHUWLRQ $'&$QDORJWR'LJLWDO&RQYHUWLRQ KONVERTER Alat bantu digital yang paling penting untuk teknologi kontrol proses adalah yang menerjemahkan informasi digital ke bentuk analog dan juga sebaliknya. Sebagian besar

Lebih terperinci

Unit Control (Hardwired and Micro-programmed)

Unit Control (Hardwired and Micro-programmed) Unit Control (Hardwired and Micro-programmed) Implementasi Unit Kontrol Implementasi Hardwired Implementasi Microprogrammed Implementasi Hardwired Pada implementasi hardwired, pada dasarnya unit kontrol

Lebih terperinci

Gambar 3. 1 Diagram blok system digital

Gambar 3. 1 Diagram blok system digital 3.1 Introduction Kebanyakan informasi yang ada di dunia nyata adalah besaran analog. Contohnya tegangan, arus listrik, massa, tekanan, suhu, intensitas cahaya dan lain sebagainya. Namun pada era masa kini

Lebih terperinci

COUNTER TIMER CIRCUIT (CTC) Z80

COUNTER TIMER CIRCUIT (CTC) Z80 COUNTER TIMER CIRCUIT (CTC) Z80 Yoyo somantri Dosen Jurusan Pendidikan Teknik Elektro FPTK Universitas Pendidikan Indonesia Counter Timer Circuit (CTC) Z80 adalah komponen LSI yang dapat diprogram dan

Lebih terperinci

Struktur Sistem Komputer. Abdullah Sistem Informasi Universitas Binadarma

Struktur Sistem Komputer. Abdullah Sistem Informasi Universitas Binadarma Struktur Sistem Komputer Abdullah Sistem Informasi Universitas Binadarma Pembahasan Operasi Sistem Komputer Struktur I/O Struktur Storage Hirarki Storage Proteksi Perangkat Keras Sistem Arsitektur Umum

Lebih terperinci

IMPLEMENTASI KONTROL PID UNTUK PENGENDALI MICROPUMP GUNA MENJAGA KONTINUITAS ALIRAN FLUIDA LAPORAN TUGAS AKHIR

IMPLEMENTASI KONTROL PID UNTUK PENGENDALI MICROPUMP GUNA MENJAGA KONTINUITAS ALIRAN FLUIDA LAPORAN TUGAS AKHIR IMPLEMENTASI KONTROL PID UNTUK PENGENDALI MICROPUMP GUNA MENJAGA KONTINUITAS ALIRAN FLUIDA LAPORAN TUGAS AKHIR Oleh: ANDIKA PERMADI 02.50.0079 PROGRAM STUDI TEKNIK ELEKTRO FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI UNIVERSITAS

Lebih terperinci

SERPIH-SERPIH (IC) INTERFACE DASAR PADA PC

SERPIH-SERPIH (IC) INTERFACE DASAR PADA PC SERPIH-SERPIH (IC) INTERFACE DASAR PADA PC PROGRAMMABLE PERIPHERAL INTERFACE (PPI) 8255 IC 8255 adalah sebuah antarmuka yang dapat menggerakkan piranti/peralatan/peripheral berbentuk Integrated Circuit

Lebih terperinci

Simple As Posible - 1

Simple As Posible - 1 Simple As Posible - 1 (Pertemuan ke-16) Prodi S1 Teknik Informatika Fakultas Informatika Universitas Telkom Endro Ariyanto Maret 2015 Organisasi dan Arsitektur Komputer CSG2G3/2015 #1 KOMPONEN SAP-1 PROGRAM

Lebih terperinci