BAB IV Hasil dan Pembahasan

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "BAB IV Hasil dan Pembahasan"

Transkripsi

1 BAB IV Hasil dan Pembahasan Dalam bab ini akan dipaparkan hasil tiap tahap penelitian beserta analisis dan pembahasannya yang terdiri atas analisis 584 sampel berupa urutan nukleotida lengkap mtdna manusia dari berbagai suku bangsa di dunia yang diwakili oleh tiga suku bangsa yaitu suku bangsa Asia, Eropa dan Afrika dengan program Mito Mutation Analyzer (MMA) dan analisis urutan nukleotida lengkap menggunakan empat belas enzim restriksi endonuklease. IV.1 Analisis Urutan Nukleotida Lengkap dengan Metode MMA Pada penelitian ini pertama kali dilakukan pengeditan sampel, sebanyak 584 sampel yang diterima penulis berformat.seq, selanjutnya sampel-sampel tersebut diedit untuk mendapatkan urutan nukleotidanya saja. Tujuan pengeditan sampel adalah untuk mencegah pengkaburan informasi mutasi yang dikeluarkan oleh program MMA. Contoh salah satu file sampel file sampel urutan nukleotida lengkap yang belum diedit dapat di lihat pada Gambar IV.1, Sedangkan sisanya sebanyak 584 sampel dapat dilihat di lampiran dan di Compact Disc (CD) di dalam tesis ini. Gambar IV.1 Contoh salah satu file sampel urutan nukleotida lengkap yang belum di edit. Ditampilkan sebagian urutan nukleotida lengkap mtdna manusia dari sampel AB yang terdiri atas pb.

2 Setelah semua sampel selesai diedit, tahap selanjutnya adalah penulisan nama file-file ke dalam file leogane. txt. File yang akan dianalisis harus dituliskan tepat pada setiap baris dalam file leogane.txt. Contoh salah satu file sampel yang telah diedit dapat dilihat pada Gambar IV.2. Hal ini bertujuan untuk menghindari berhentinya program MMA sehingga file-file sampel yang tertulis setelah kesalahan akan dianalisis oleh program MMA, sedangkan sisa file sampel dapat dilihat di lampiran dan di Compact Disc (CD) yang terdapat di dalam tesis ini. Gambar IV.2 Contoh salah satu file sampel urutan nukleotida lengkap yang telah selesai diedit. Ditampilkan sebagian urutan nukleotida lengkap mtdna manusia dari sampel AF yang terdiri atas pb. Semua file sampel yang akan dianalisis, file leogane. txt, program MMA harus ditempatkan pada folder yang sama. Jika tidak ditempatkan pada folder yang sama, maka program MMA tidak dapat dijalankan. Setelah semuanya ditempatkan pada folder yang sama, maka program MMA dapat dijalankan. Analisis urutan nukleotida keseluruhan dengan program MMA menghasilkan luaran berupa jenis, posisi dan jumlah mutasi, insersi serta delesi, yang salah satu contoh ilustrasinya dapat dilihat

3 pada Gambar IV.3. Sisa sampel yang telah di analisis dengan program MMA sebanyak 584 dapat di lihat di lampiran dan sebagian lagi di simpan di Compact Disc (CD) yang terdapat di dalam tesis ini. Gambar IV.3 Contoh salah satu File sampel urutan nukleotida lengkap yang telah dianalisis dengan program MMA. Ditampilkan sebagian urutan nukleotia lengkap mtdna manusia dari sampel AY yang terdiri atas pb yang dianalisis dengan program MMA Jenis, posisi dan jumlah mutasi, insersi serta delesi yang dihasilkan dari analisis dengan program MMA sangat bervariasi. Jumlah mutasi tertinggi terdapat pada kode sampel AF34699 sebanyak 129 mutasi, yang diwakili oleh suku bangsa Afrika. Sedangkan mutasi terendah terdapat pada kode sampel AY dan AY sebanyak 12 mutasi yang diwakili oleh suku Bangsa Asia. Jenis dan posisi mutasi selanjutnya akan digunakan untuk menentukan haplogroup mtdna manusia menggunakan empat belas enzim restriksi endonuklease. IV.2 Penentuan Haplogroup dengan Enzim Restriksi Endonuklease Hasil analisis dengan program MMA berupa jenis dan posisi mutasi dari urutan nukleotida lengkap mtdna manusia dipindahkan ke program Excel, tujuan pemindahan ke program Excel adalah untuk memudahkan penentuan haplogorup menggunakan empat belas enzim restriksi endonuklease. Haplogroup, enzim restriksi, sisi pemotongan (recognition site), jenis dan posisi mutasi urutan

4 nukleotida yang digunakan untuk menentukan haplogroup dapat dilihat pada Tabel IV.1 Tabel IV.1 Haplogroup, enzim restriksi, sisi pemotongan dan jenis dan posisi mutasi urutan nukleotida. Terdapat 16 haplogroup dan masingmasing haplogroup diwakili oleh enzim-enzim tertentu, dimana enzim tersebut memiliki jenis dan posisi urutan nukleotida No Haplogroup Enzim Posisi basa Sisi pemotongan CRS Posisi dan jenis mutasi 1 A HaeIII 663 GGCC AGCC 663G 2 B HaeIII GGCC GGTC 9bp Delesi 3 C AluI AGCT AACT 13263G HincII GTYRAC GTCAAC 13263G 4 D Alu I AGCT AGCT 5178C-A 5 E AluI AGCT AACT 10400T 6 G HhaI 4831 GCGC GCAC 4833G HaeII 4830 RGCGCY GGCACC 4833G 7 F RSaI GTAC GTAC 16304C 8 H AluI AGCT AGCC 7028C 9 I MboI GATC GGTC 16391A AvaII GGRCC GTACA 16390A BamHI GGATCC GGGTCC 16391A AluI AGCT AGTT 10034C 10 J NIaIII 4216 CATG TATG 4216C HinfI GANTC GA A/G C/T TC GACTCC 16069T 11 K RSaI GTAC GTAC 16311T 12 L RSaI GTAC GTAC C HinfI GANTC GGGTCC A GA A/G C/T TC GAACTC AvaII GGRCC GGTCC 16390A GGG/ACC GGGCC HpaI GTTAAC GTCAAC 3594 T/C 13 U TaqI TCGA TCAA 14070G MboI GATC AATC 13104G HinfI GANTC 13104G GA A/G C/T TC AluI AGCT 11332T RSaI 4643 GTAC GTAT 4646C 14 T NIaIII 4216 CATG TATG 4216C BamHI GGATCC GGGTCC 13368A AluI AGCT AACT 15607G AvaII GGRCC GGTCC 13368A MboI GATC GGTC 13368A 15 V NIaIII CATG CATG 4580A 16 X AccI GTVWAC GT A/C G/T AC GTATAT 14470C Enzim-enzim yang digunakan dalam penentuan haplogroup yaitu enzim HaeIII, AluI, HincII, HhaI, HaeII, HpaI, RsaI, MboI, AvaII, BamHI, NIaIII, HinfI, TaqI dan AccI. Selanjutnya dilihat satu persatu jenis dan posisi mutasi dari urutan nukleotida yang

5 diwakili oleh enzim tertentu, contohnya enzim HaeIII, jenis mutasi urutan nukleotida dari enzim tersebut adalah A menjadi G, pada posisi 663 (A663G), jika terdapat mutasi urutan nukleotida dari A menjadi G pada posisi 663 (A663G), maka individu tersebut dikelompokkan ke haplogroup A. Hal yang sama dilakukan pada keseluruhan sampel yaitu 584 sampel dengan melihat jenis dan posisi mutasi basa pada urutan nukleotida dari enzim yang digunakan. Contoh salah satu hasil analisis menggunakan empat belas enzim restriksi diperlihatkan pada Gambar IV.4, sedangkan sisanya terdapat pada lampiran dan sebagian disimpan di Compact Disc (CD) di dalam tesis ini. Gambar IV.4 Contoh salah satu hasil analisis urutan nukleotida lengkap yang dengan empat belas enzim restriksi. Individu dengan kode AY255152, jumlah basa 16567pb setelah dianalisis dengan enzim restriksi menghasilkan empat haplogroup yaitu H, F, I dan L secara berturut-turut yang ditandai dengan adanya enzim AluI pada posisi c7028t, RsaI pada posisi t16304c, untuk haplogroup I dan L ditandai dengan enzim AvaII di posisi g16390a.

6 Penentuan haplogroup mtdna manusia menggunakan empat belas enzim restriksi memberikan hasil berupa haplogroup yang sangat variatif untuk sejumlah individu. Sebanyak 584 individu yang dianalisis, individu yang memiliki satu haplogroup berjumlah 133 individu, terdiri atas haplogroup H dan F, haplogroup H sebanyak 120 individu dan haplogroup F, 13 individu. Ilustrasi salah satu hasil analisis urutan nukleotida lengkap mtdna manusia dengan empat belas enzim restriksi pada individu yang memiliki satu haplogroup dapat dilihat pada Gambar IV.5, sebagian sampel hasil analisis dengan empat belas enzin restriksi terdapat pada lampiran, sedangkan sisanya terdapat di dalam Compact Disc (CD) dalam tesis ini. Gambar IV.5 Contoh salah satu hasil analisis dengan enzim restriksi untuk satu haplogroup. Individu dengan kode sampel AY memilki satu haplogroup yaitu haplogroup H yang ditandai dengan adanya enzim AluI pada posisi C7028T.

7 Pada haplogroup satu, jumlah haplogroup yang sama dengan metode RFLP adalah 83 individu yaitu haplogroup H dan 12 individu untuk haplogroup F. Haplogroup yang tidak sesuai dengan metode RFLP berjumlah 38 individu, untuk haplogroup H 37 individu dan satu individu untuk haplogroup F. Contoh sebagian kode sampel dan haplogroup yang diperoleh dari hasil analisis dengan enzim restriksi untuk individu yang memiliki satu haplogroup dapat dilihat pada Tabel IV.2, sedangkan sisanya terdapat pada lampiran. Tabel IV.2 Individu yang memiliki satu haplogroup. Terdapat delapan belas individu yang termasuk ke dalam haplogroup H dan tiga belas individu termasuk ke dalam haplogroup F Haplogroup No Sampel A B C D E G F H I J K L U T V W X AY H 2 AY H 3 AY H 4 AY H 5 AY H 6 AY H 7 AY H 8 AY H 9 AY H 10 AY H 11 AY H 12 AY H 13 AY H 14 AY H 15 AY H 16 AY H 17 AY H 18 AY H 1 AY F 2 AY F 3 AY F 4 AF F 5 AF F 6 AF F 7 AF F 8 AY F 9 AY F 10 AY F 11 AY F 12 AY F 13 AY F

8 Kelompok yang memiliki dua haplogroup berjumlah 129 individu. Individu yang termasuk ke dalam dua haplogroup yaitu EH, HL, HV, HI, HU, HX, FH, AH dan DE, masing-masing secara berturut-turut berjumlah 48, 46, 21, 5, 2, 2, 2, 2 dan 1. Untuk haplogroup EH yang sesuai dengan metode RFLP sebanyak 45 individu, 28 individu untuk haplogroup E dan 17 individu untuk haplogroup H, yang tidak sama dengan haplogroup RFLP berjumlah tiga individu. Untuk HL yang sesuai dengan metode RFLP berjumlah 33 individu, terdiri dari haplogroup L 11 individu dan 22 individu untuk H dan sisanya tidak sesuai dengan metode RFLP. Contoh salah satu hasil analisis dengan enzim restriksi untuk individu yang memiliki dua haplogroup dapat dilihat pada Gambar IV.6. Sebagian dapat dilihat di lampiran, sedangkan sisanya disimpan di Compact Disc (CD) di dalam tesis ini. Gambar IV.6 Hasil analisis dengan enzim restriksi untuk individu yang memiliki dua haplogroup. Individu dengan kode AF yang memiliki dua haplogroup yaitu haplogroup HV, yang ditandai dengan adanya enzim NIaIII di posisi G4580A dan enzim AluI di posisi C7028T. Individu yang memiliki haplogroup HV berjumlah 21 individu, sembilan belas individu sesuai dengan RFLP, hanya 2 individu yang tidak sesuai. Untuk haplogroup HI, HU, FH, DE semuanya sama dengan haplogroup RFLP, sedangkan AH hanya satu yang sama dengan RFLP dan HX tidak terdapat kesamaan dengan haplogroup

9 RFLP. Contoh untuk sejumlah individu yang memiliki dua haplogroup dapat dilihat pada Tabel IV.3, sedangkan sisanya dapat dilihat di lampiran. Tabel IV.3 Contoh individu yang memiliki dua haplogroup. Terdapat dua puluh dua individu yang termasuk ke dalam haplogroup HV, enam individu termasuk ke dalam haplogroup HL dan lima individu termasuk ke haplogroup EH Haplogroup No Sampel A B C D E G F H I J K L U T V W X AY H V 2 AY H V 3 AY H V 4 AY H V 5 AY H V 6 AY H V 7 AY H V 8 AY H V 9 AY H V 10 AY H V 11 AY H V 12 AY H V 13 AY H V 14 AY H V 15 AY H V 16 AY H V 17 AY H V 18 AY H V 19 AF H V 20 AF H V 21 AY H V 22 AY H V 1 AF H L 2 AF H L/L 3 AY H L 4 AY H L 5 AY H L 6 AY H L 7 AY H L 8 AY H L 1 AF E H 2 AF E H 3 AF E H 4 AY E H 5 AY E H 6 AY E H 7 AY E H

10 Individu yang termasuk kedalam tiga haplogroup berjumlah 119 individu yaitu HJT, HIL, EHL, DEH, CEH dan FHI, masing-masing berjumlah 80, 16, 15, 5, 2 dan 1. Untuk haplogroup HJT dari 80 individu, yang sama dengan haplogroup RFLP 78 individu, hanya 2 individu yang haplogroupnya tidak sama dengan RFLP. Untuk haplogroup HIL semuanya sama dengan metode RFLP, sebanyak 5 individu termasuk kedalam haplogroup L, dan enam individu tergolong ke haplogroup HI, serta 5 individu masuk ke dalam haplogroup IL. Terdapat 15 individu yang tergolong ke dalam haplogroup EHL, yang sama dengan metode RFLP sebanyak 14 individu, sedangkan sisanya tidak sama. Contoh salah satu hasil analisis dengan enzim restriksi untuk individu yang memiliki tiga haplogroup dapat dilihat pada Gambar IV.7 dan sebagian terdapat di lampiran serta sisanya di simpan di dalam Compact Disc (CD) di dalam tesis ini. Gambar IV.7 Contoh salah satu hasil analisis dengan enzim restriksi untuk tiga haplogroup. Individu dengan kode AF yang memiliki tiga haplogroup yaitu haplogroup HJT, yang ditandai dengan adanya enzim NIaIII di posisi T4216C untuk haplogroup T, AluI di posisi C7028T untuk haplogroup H dan HinfI di posisi C16069T untuk haplogroup J

11 Untuk individu yang memiliki haplogroup DEH, yang sama dengan metode RFLP sebanyak 3 individu dan sisanya tidak sama. Haplogroup CEH berjumlah 2 individu, hanya satu individu yang sama dan sisanya tidak sama, untuk FHI haplogroupnya sesuai dengan metode RFLP. Sejumlah individu yang memiliki tiga haplogroup beserta kode sampelnya dapat dilihat pada Tabel IV.4 dan sisanya terdapat di lampiran. Tabel IV.4 Contoh kode sampel untuk individu yang memiliki tiga haplogroup. Terdapat sebelas individu yang termasuk ke dalam haplogroup EHL, sebelas individu termasuk ke dalam haplogroup HIL, tiga individu termasuk ke haplogroup DEH dan dua individu termasuk ke dalam haplogroup CEH. Haplogroup No Sampel A B C D E G F H I J K L U T V W X AY E H L 2 AY E H L 3 AF E H L 4 AY E H L 5 AY E H L 6 AY E H L 7 AF E H L 8 AF E H L 9 AF E H L 10 AY E H L 11 AY E H L 1 AY H I L / L 2 AF H I L/L 3 AY H I L / L 4 AF H I L/L/L 5 AF H I L/L/L 6 AY H I/I L 7 AY H I/I L 8 AY H I/I L 9 AY H I/I L 10 AY H I/I L 11 AY H I/I L 1 AF D E H 2 AF D E H 3 AF D E H 1 AF C E H 2 AF C E H

12 Kelompok individu yang memiliki empat haplogroup berjumlah 32 individu, terdiri atas haplogroup FHJT, HJLT, EHIL masing-masing berjumlah 21, 4, 3, sedangkan EHJT, AEHL, HIJT dan FHIL masing-masing berjumlah 1. Contoh salah satu hasil analisis dengan enzim restriksi untuk individu yang termasuk ke dalam empat haplogroup diperlihatkan pada Gambar IV.8. Sebagian terdapat di lampiran dan sisanya terdapat di Compact Disc (CD) di dalam tesis ini. Gambar IV.8 Hasil analisis dengan enzim restriksi untuk individu yang memiliki empat haplogroup. Individu dengan kode AY255172, jumlah basa pb yang memiliki empat haplogroup yaitu haplogroup AHEL, yang ditandai dengan adanya enzim HaeIII di posisi a663g untuk haplogroup A, AluI di posisi C7028T untuk haplogroup H, AluI di posisi C10400T untuk haplogroup E dan RsaI di posisi t16311c untuk haplogroup L.

13 Untuk haplogroup FHJT, semuanya sesuai dengan haplogroup RFLP, kecuali F. Individu yang memiliki haplogroup HJLT juga sama dengan haplogroup RFLP, kecuali haplogroup L, sedangkan untuk haplogroup EHJT, yang sama dengan RFLP hanya E, haplogroup AEHL hanya AE yang sama dengan RFLP dan untuk FHIL yang sama dengan RFLP adalah F. Sejumlah individu yang memiliki empat haplogroup beserta kode sampelnya dapat dilihat pada Tabel IV.5 dan sisanya terdapat di lampiran. Tabel IV.5 Individu yang memiliki empat haplogroup. Terdapat dua puluh satu individu yang termasuk ke dalam haplogroup FHJT, empat individu termasuk ke dalam haplogroup HJLT, tiga individu termasuk ke haplogroup EHIL. EHJT, HIJT, AEHL dan FHIL masing-masing satu individu Haplogroup No Sampel A B C D E G F H I J K L U T V W X AY F H J T/T 2 AY F H J T/T 3 AY F H J T/T 4 AY F H J T/T 5 AY F H J T/T 6 AY F H J T/T 7 AY F H J T/T 8 AY F H J T/T 9 AY F H J T/T 10 AY F H J T/T 11 AY F H J T/T 12 AY F H J T/T 13 AY F H J T/T 14 AY F H J T/T 15 AY F H J T/T 16 AY F H J T/T 17 AY F H J T/T 18 AY F H J T/T 19 AY F H J T/T 20 AY F H J T 21 AY F H J T 1 AY H J/J L T 2 AY H J L T 3 AY H J/J L T 4 AY H J/J L T 1 AF E H I L/L 2 AY E H I L/L 3 AY E H I L/L

14 Terdapat 97 individu yang tidak termasuk ke dalam haplogroup manapun, sedangkan sisanya 74 individu belum diketahui suku bangsanya. Hasil analisis berdasarkan posisi mutasi urutan nukleotida lengkap secara in silico, ternyata metode RFLP hanya berlaku untuk 133 individu yaitu satu individu memiliki satu haplogroup, individu tersebut adalah yang termasuk ke haplogroup H, 95 individu dan F, 38 individu, sedangkan sisanya sebanyak 541 individu tidak mempunyai sesuatu yang spesifik untuk dapat digolongkan ke dalam group tertentu. Contoh 48 individu dapat digolongkan baik sebagai haplogroup E maupun haplogroup H. Jumlah haplogroup yang sesuai dan tidak sesuai dengan haplogroup RFLP dapat dilihat pada Table IV.6 Tabel IV.6 Jumlah haplogroup yang sesuai dan tidak sesuai dengan haplogroup RFLP. Jumlah Individu yang termasuk ke dalam satu halogroup 133 individu yang sesuai dengan haplogroup RFLP 95 individu, yang tidak sesuai 38 individu. Individu yang memiliki dua haplogroup berjumlah 129 individu, yang sesuai dengan Haplogroup RFLP 107 individu dan yang tidak sesuai 22 individu. Individu yang termasuk ke dalam 3 haplogroup berjumlah 119 individu, yang sesuai dengan haplogroup RFLP 113 individu, 6 individu tidak sesuai. Untuk individu yang memiliki empat haplogroup berjumlah 32 individu, semuanya sesuai dengan haplogroup RFLP Jumlah Haplogroup Jenis haplogroup Jumlah individu Sama dengan RFLP Tidak sama dengan RFLP Satu haplogroup H dan F Dua haplogroup EH, HL, HV, HI, HU, HX, FH, DE Tiga haplogroup HJT, HIL, EHL, DEH, CEH FHI, Empat haplogroup FHJT, HJLT, EHIL

15 Ketidaksesuaian jumlah haplogroup RFLP dengan haplogroup yang ditentukan atas dasar urutan nukleotida lengkap dikarenakan metode RFLP tidak menggunakan urutan nukleotida lengkap dalam menentukan haplogroup suku-suku bangsa di dunia tetapi hanya menggunakan daerah-daerah tertentu saja dari mtdna manusia. Metode RFLP juga menggunakan enzim restriksi endonuklease untuk menentukan haplogroup sehingga hanya bagian-bagian tertentu saja yang dapat dianalisis dari urutan nukleotida sesuai dengan sisi pengenalan (recognition site) dari enzim yang digunakan. Untuk individu yang tidak termasuk ke haplogroup manapun, kemungkinan dapat dibuat haplogroup baru berdasarkan sisi pemotongan dari enzim restriksi atau berdasarkan posisi mutasi yang spesifik dari urutan nukleotida tersebut. Untuk individu yang tidak termasuk ke haplogroup manapun, kemungkinan diperoleh sisi restriksi baru yaitu sisi restriksi dari enzim HaeIII, dengan sisi pemotongan 16517, setelah dibandingkan dengan CRS terdapat mutasi pada posisi T16519C, dan posisi ini terdapat pada kelompok individu yang tidak termasuk ke haplogroup manapun.

BAB II Tinjauan Pustaka

BAB II Tinjauan Pustaka BAB II Tinjauan Pustaka Pada Bab II diberikan penjelasan mengenai beberapa hal yang berkaitan dengan penelitian ini, yaitu mengenai mitokondria, fungsi mitokondria, genom DNA mitokondria manusia, sifat

Lebih terperinci

BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN Pada bab ini akan disajikan hasil dan pembahasan berdasarkan langkah-langkah penelitian yang telah diuraikan dalam bab sebelumnya dalam empat bagian yang meliputi; sampel mtdna,

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. telah banyak dilakukan sebelumnya menunjukkan bahwa fenomena munculnya

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. telah banyak dilakukan sebelumnya menunjukkan bahwa fenomena munculnya BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN Penelitian terhadap urutan nukleotida daerah HVI mtdna manusia yang telah banyak dilakukan sebelumnya menunjukkan bahwa fenomena munculnya rangkaian poli-c merupakan fenomena

Lebih terperinci

BAB II Tinjauan Pustaka

BAB II Tinjauan Pustaka BAB II Tinjauan Pustaka Pada bab ini dipaparkan penjelasan singkat mengenai beberapa hal yang berkaitan dengan penelitian ini, yaitu mengenai DNA mitokondria manusia, basis data GenBank, basis data MITOMAP,

Lebih terperinci

Bioteknologi Tanaman Enzim Restriksi. Dr. Jamsari, Prog. Studi Pemuliaan Tanaman Jurusan BDP-FPUA

Bioteknologi Tanaman Enzim Restriksi. Dr. Jamsari, Prog. Studi Pemuliaan Tanaman Jurusan BDP-FPUA 2.3. Enzim Restriksi Copyright Statement: Dengan ini dinyatakan, bahwa seluruh material (teks, gambar, grafik dan seluruh alat bantu penjelas lainnya) bahan kuliah dalam format.ppt sebagaimana tercantum

Lebih terperinci

Enzim-enzim Yang Terlibat Dalam Bioteknologi ( Kuliah S2)

Enzim-enzim Yang Terlibat Dalam Bioteknologi ( Kuliah S2) Enzim-enzim Yang Terlibat Dalam Bioteknologi ( Kuliah S2) Enzim : merupakan suatu protein yang berperan sebagai katalis dalam reaksi yang terjadi di dalam makhluk hidup (Biokatalis) 1. Struktur Enzim Holoenzim:

Lebih terperinci

Abstrak Thesis Mochamad Syaiful Rijal Hasan G

Abstrak Thesis Mochamad Syaiful Rijal Hasan G Abstrak Thesis Mochamad Syaiful Rijal Hasan G352090161 Mochamad Syaiful Rijal Hasan. Achmad Farajallah, dan Dyah Perwitasari. 2011. Polymorphism of fecundities genes (BMPR1B and BMP15) on Kacang, Samosir

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN HASIL DAN PEMBAHASAN Virus Hepatitis B Gibbon Regio Pre-S1 Amplifikasi Virus Hepatitis B Regio Pre-S1 Hasil amplifikasi dari 9 sampel DNA owa jawa yang telah berstatus serologis positif terhadap antigen

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA. daging merupakan makanan berbentuk bulatan atau lain yang diperoleh dari

II. TINJAUAN PUSTAKA. daging merupakan makanan berbentuk bulatan atau lain yang diperoleh dari II. TINJAUAN PUSTAKA A. Bakso Sapi Definisi dari Standar Nasional Indonesia menyebutkan bahwa bakso daging merupakan makanan berbentuk bulatan atau lain yang diperoleh dari campuran daging ternak (kadar

Lebih terperinci

KERAGAMAN GENETIK AYAM KAMPUNG BERDASARKAN ANALISIS PENANDA DAERAH D-LOOP MITOKONDRIA DNA

KERAGAMAN GENETIK AYAM KAMPUNG BERDASARKAN ANALISIS PENANDA DAERAH D-LOOP MITOKONDRIA DNA KERAGAMAN GENETIK AYAM KAMPUNG BERDASARKAN ANALISIS PENANDA DAERAH D-LOOP MITOKONDRIA DNA TIKE SARTIKA 1, D. DURYADI 2, S.S. MANSJOER 2, DAN B. GUNAWAN 1 1 Balai Penelitian Ternak P.O. Box 221, Bogar 16002,

Lebih terperinci

Materi W9b GEOMETRI RUANG. Kelas X, Semester 2. B. Menggambar dan Menghitung jarak.

Materi W9b GEOMETRI RUANG. Kelas X, Semester 2. B. Menggambar dan Menghitung jarak. Materi W9b GEOMETRI RUANG Kelas X, Semester 2 B. Menggambar dan Menghitung jarak www.yudarwi.com B. Menggambar dan Menghitung Jarak Jarak dua objek dalam dimensi tiga adalah jarak terpendek yang ditarik

Lebih terperinci

Soal Babak Penyisihan 7 th OMITS SOAL PILIHAN GANDA

Soal Babak Penyisihan 7 th OMITS SOAL PILIHAN GANDA Soal Babak Penyisihan 7 th OMITS SOAL PILIHAN GANDA 1) Sebuah barisan baru diperoleh dari barisan bilangan bulat positif 1, 2, 3, 4, dengan menghilangkan bilangan kuadrat yang ada di dalam barisan tersebut.

Lebih terperinci

K13 Revisi Antiremed Kelas 12 Matematika

K13 Revisi Antiremed Kelas 12 Matematika K Revisi Antiremed Kelas Matematika Geometri Bidang Ruang - Latihan Soal Doc. Name: RKARMATWJB00 Version : 0-0 halaman 0. Diketahui kubus ABCD,EFGH dengan panjang rusuk. Jika P titik HG,Q titik tengah

Lebih terperinci

HASIL Amplifikasi Ruas Target Pemotongan dengan enzim restriksi PCR-RFLP Sekuensing Produk PCR ruas target Analisis Nukleotida

HASIL Amplifikasi Ruas Target Pemotongan dengan enzim restriksi PCR-RFLP Sekuensing Produk PCR ruas target Analisis Nukleotida 2 sampai ke bagian awal gen trna Phe. Komposisi reaksi amplifikasi bervolume 25 µl adalah sampel DNA sebagai cetakan 2 µl (10-100 ng), 2,5nM Primer 2 µl; Taq polimerase (New England Biolabs) 1 unit beserta

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN. Gambar 4. Hasil Amplifikasi Gen FSHR Alu-1pada gel agarose 1,5%.

HASIL DAN PEMBAHASAN. Gambar 4. Hasil Amplifikasi Gen FSHR Alu-1pada gel agarose 1,5%. HASIL DAN PEMBAHASAN Amplifikasi Gen FSHR Alu-1 Amplifikasi fragmen gen FSHR Alu-1 dengan metode Polymerase Chain Reaction (PCR) dilakukan dengan kondisi annealing 60 C selama 45 detik dan diperoleh produk

Lebih terperinci

Antiremed Kelas 12 Matematika

Antiremed Kelas 12 Matematika Antiremed Kelas Matematika 04- Diagonal Ruang, Diagonal Bidang, Bidang Diagonal. Doc. Name: KARMATWJB040 Version : 0-09 halaman 0. Diketahui kubus ABCD,EFGH dengan panjang rusuk. Jika P titik HG,Q titik

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN. Amplifikasi Gen Pituitary-Specific Positive Transcription Factor 1 (Pit1) Exon 3

HASIL DAN PEMBAHASAN. Amplifikasi Gen Pituitary-Specific Positive Transcription Factor 1 (Pit1) Exon 3 HASIL DAN PEMBAHASAN Amplifikasi Gen Pituitary-Specific Positive Transcription Factor 1 (Pit1) Exon 3 Amplifikasi gen Pit1 exon 3 pada sapi FH yang berasal dari BIB Lembang, BBIB Singosari, BPPT Cikole,

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN HASIL DAN PEMBAHASAN Amplifikasi Gen Calpastatin (CAST MspI) Amplifikasi fragmen gen calpastatin (CAST MspI) pada setiap bangsa sapi dilakukan dengan menggunakan mesin thermal cycler (AB Bio System) pada

Lebih terperinci

DASAR REKAYASA GENETIKA

DASAR REKAYASA GENETIKA DASAR REKAYASA GENETIKA Rekayasa = manipulasi = modifikasi= perubahan bahan genetik (perubahan & pemindahan gen) Cara: 1. Persilangan seksual (perkawinan) 2. Hibridisasi somatik 3. Mutasi 4. Teknologi

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN HASIL DAN PEMBAHASAN Isolasi DNA Total Tumbuhan Isolasi DNA total merupakan tahap awal dari pembuatan pustaka genom. DNA dipisahkan dari bahan-bahan lain yang ada dalam sel. DNA total yang diperlukan untuk

Lebih terperinci

Bab 3 KONSTRUKSI GEOMETRIS 3.1. KONSTRUKSI-KONSTRUKSI DASAR.

Bab 3 KONSTRUKSI GEOMETRIS 3.1. KONSTRUKSI-KONSTRUKSI DASAR. Bab 3 KONSTRUKSI GEOMETRIS Materi : Konstruksi-konstruksi dasar. Garis-garis lengkung. Gambar proyeksi. Gambar pandangan tunggal. Proyeksi ortogonal (gambar pandangan majemuk). 3.1. KONSTRUKSI-KONSTRUKSI

Lebih terperinci

Gambar 5. Hasil Amplifikasi Gen Calpastatin pada Gel Agarose 1,5%.

Gambar 5. Hasil Amplifikasi Gen Calpastatin pada Gel Agarose 1,5%. HASIL DAN PEMBAHASAN Amplifikasi Gen Calpastatin (CAST AluI) Amplifikasi fragmen gen CAST AluI dilakukan dengan menggunakan mesin PCR dengan kondisi annealing 60 0 C selama 45 detik, dan diperoleh produk

Lebih terperinci

Pembahasan Soal Olimpiade Matematika SMP Babak 1 Persiapan Olimpiade Sains Provinsi dan Nasional

Pembahasan Soal Olimpiade Matematika SMP Babak 1 Persiapan Olimpiade Sains Provinsi dan Nasional Pembahasan Soal Olimpiade Matematika SMP Babak Persiapan Olimpiade Sains Provinsi dan Nasional. Diketahui dan y merupakan bilangan real positif yang memenuhi sistim persamaan berikut y y a b Jika, maka

Lebih terperinci

PEMBAHASAN Variasi Gen COI dan Gen COII S. incertulas di Jawa dan Bali

PEMBAHASAN Variasi Gen COI dan Gen COII S. incertulas di Jawa dan Bali 41 PEMBAHASAN Variasi Gen COI dan Gen COII S. incertulas di Jawa dan Bali Sekuen individu S. incertulas untuk masing-masing gen COI dan gen COII dapat dikelompokkan menjadi haplotipe umum dan haplotipe-haplotipe

Lebih terperinci

BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN 21 BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN Pada penelitian sebelumnya diperoleh kerangka baca terbuka gen IFNα2b yang mengandung tiga mutasi dengan lokasi mutasi yang letaknya berjauhan, sehingga mutagenesis terarah

Lebih terperinci

Prestasi itu diraih bukan didapat!!! SOLUSI SOAL

Prestasi itu diraih bukan didapat!!! SOLUSI SOAL SELEKSI OLIMPIADE TINGKAT KABUPATEN/KOTA 015 CALON TIM OLIMPIADE MATEMATIKA INDONESIA 016 Prestasi itu diraih bukan didapat!!! SOLUSI SOAL Bidang Matematika Disusun oleh : 1. 015 = 5 13 31 Banyaknya faktor

Lebih terperinci

PEMBUATAN DNA REKOMBINAN

PEMBUATAN DNA REKOMBINAN PEMBUATAN DNA REKOMBINAN 1 Nama enzim restriksi o Berdasarkan nama organisme dari mana enzim diisolasi, mis.: n Eco dari Escherichia coli n Hin dari Haemophilus influenzae n Hae dari Haemophilus aegyptius

Lebih terperinci

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Langkah-langkah yang dilakukan pada penelitian ini adalah :

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Langkah-langkah yang dilakukan pada penelitian ini adalah : BAB III METODOLOGI PENELITIAN Langkah-langkah yang dilakukan pada penelitian ini adalah : pengumpulan sampel data urutan nukleotida daerah Hipervariabel II (HVII) DNA mitokondria (mtdna) pada penderita

Lebih terperinci

BAB IV Hasil dan Pembahasan

BAB IV Hasil dan Pembahasan BAB IV Hasil dan Pembahasan Pada bab ini ditampilkan hasil dan pembahasan dari penyusunan basis data variasi nukleotida mtdna manusia serta sejumlah analisa variasi nukleotida pada mtdna manusia berdasarkan

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN HASIL DAN PEMBAHASAN Amplifikasi Gen Hormon Pertumbuhan (GH) Amplifikasi gen hormon pertumbuhan pada sapi FH yang berasal dari BIB Lembang, BBIB Singosari, dan BET Cipelang; serta sapi pedaging (sebagai

Lebih terperinci

Jumlah Koloni Lombok AcLb11 Kampus lama Univ Mataram, Kec. Selaparang, Mataram. AcLb12 Kelayu, Lombok Timur

Jumlah Koloni Lombok AcLb11 Kampus lama Univ Mataram, Kec. Selaparang, Mataram. AcLb12 Kelayu, Lombok Timur 4 HASIL Koleksi Lebah Lebah madu A. c. indica yang berhasil dikoleksi berjumlah 29 koloni. Koloni diambil dari tujuh kecamatan di Lombok yaitu Kec. Selaparang (satu koloni), Kec. Pamenang (dua koloni),

Lebih terperinci

Pembahasan Olimpiade Matematika SMA Tingkat Kabupaten Tahun Oleh Tutur Widodo. (n 1)(n 3)(n 5)(n 2013) = n(n + 2)(n + 4)(n )

Pembahasan Olimpiade Matematika SMA Tingkat Kabupaten Tahun Oleh Tutur Widodo. (n 1)(n 3)(n 5)(n 2013) = n(n + 2)(n + 4)(n ) Pembahasan Olimpiade Matematika SMA Tingkat Kabupaten Tahun 01 Oleh Tutur Widodo 1. Banyaknya bilangan bulat n yang memenuhi adalah... (n 1)(n 3)(n 5)(n 013) = n(n + )(n + )(n + 01) Jawaban : 0 ( tidak

Lebih terperinci

4 Hasil dan Pembahasan

4 Hasil dan Pembahasan 4 Hasil dan Pembahasan Dalam bab ini akan dipaparkan hasil dari tahap-tahap penelitian yang telah dilakukan. Melalui tahapan tersebut diperoleh urutan nukleotida sampel yang positif diabetes dan sampel

Lebih terperinci

Pembahasan Olimpiade Matematika SMA Tingkat Kabupaten Tahun 2012

Pembahasan Olimpiade Matematika SMA Tingkat Kabupaten Tahun 2012 Tutur Widodo Pembahasan OSK Matematika SMA 01 Pembahasan Olimpiade Matematika SMA Tingkat Kabupaten Tahun 01 Oleh Tutur Widodo 1. Banyaknya bilangan bulat n yang memenuhi (n 1(n 3(n 5(n 013 = n(n + (n

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA. Gambar 1. Sapi Friesian Holstein (FH) Sumber: Pusat Penelitian dan Pengembangan Peternakan (2009)

TINJAUAN PUSTAKA. Gambar 1. Sapi Friesian Holstein (FH) Sumber: Pusat Penelitian dan Pengembangan Peternakan (2009) TINJAUAN PUSTAKA Sapi Friesian Holstein Sapi Friesian Holstein (FH) menduduki populasi terbesar hampir di seluruh dunia. Sapi FH berasal dari nenek moyang sapi liar Bos taurus, Typicus primigenius yang

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA Sapi Perah Friesian Holstein

TINJAUAN PUSTAKA Sapi Perah Friesian Holstein TINJAUAN PUSTAKA Sapi Perah Friesian Holstein Sapi Friesian Holstein (FH) merupakan bangsa sapi yang paling banyak terdapat di Amerika Serikat, sekitar 80-90% dari seluruh sapi perah yang berada di sana.

Lebih terperinci

Pembahasan OSN SMP Tingkat Nasional Tahun 2012 Bidang Matematika

Pembahasan OSN SMP Tingkat Nasional Tahun 2012 Bidang Matematika Tutur Widodo Pembahasan OSN SMP Tahun 01 Pembahasan OSN SMP Tingkat Nasional Tahun 01 Bidang Matematika Hari Kedua Pontianak, 1 Juli 01 1. Pada suatu hari, seorang peneliti menempatkan dua kelompok spesies

Lebih terperinci

LEMBAR AKTIVITAS SISWA DIMENSI TIGA (WAJIB)

LEMBAR AKTIVITAS SISWA DIMENSI TIGA (WAJIB) Nama Siswa Kelas LEMBAR AKTIVITAS SISWA DIMENSI TIGA (WAJIB) 5. Diagonal Ruang adalah Ruas garis yang menghubungkan dua titik : sudut yang saling berhadapan dalam satu ruang. : Kompetensi Dasar (KURIKULUM

Lebih terperinci

SOAL DAN PEMBAHASAN UJIAN NASIONAL SMA/MA IPA TAHUN PELAJARAN 2009/2010

SOAL DAN PEMBAHASAN UJIAN NASIONAL SMA/MA IPA TAHUN PELAJARAN 2009/2010 SOAL DAN PEMBAHASAN UJIAN NASIONAL SMA/MA IPA TAHUN PELAJARAN 9/. Diberikan premis sebagai berikut : Premis : Jika harga BBM naik, maka harga bahan pokok naik. Premis : Jika harga bahan pokok naik maka

Lebih terperinci

MODUL MATEMATIKA KELAS 8 APRIL 2018

MODUL MATEMATIKA KELAS 8 APRIL 2018 MODUL MATEMATIKA KELAS 8 APRIL 2018 1. KUBUS BANGUN RUANG SISI DATAR Kubus merupakan bangun ruang beraturan yang dibentuk oleh enam buah persegi yang bentuk dan ukurannya sama. Unsur-unsur Kubus 1. Sisi

Lebih terperinci

Gambar 7 Hasil elektroforesis gen sitokrom b pada kuda Indonesia

Gambar 7 Hasil elektroforesis gen sitokrom b pada kuda Indonesia HASIL DAN PEMBAHASAN Analisis DNA Analisis Gen Sitokrom b Analisis dengan menggunakan primer sitokrom b untuk mengamplifikasi bagian DNA mitokondria dilakukan pada kuda lokal Indonesia (Sumbawa). Produk

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN. divisualisasikan padaa gel agarose seperti terlihat pada Gambar 4.1. Ukuran pita

HASIL DAN PEMBAHASAN. divisualisasikan padaa gel agarose seperti terlihat pada Gambar 4.1. Ukuran pita IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Amplifikasi Gen Mx Amplifikasi gen Mx telah berhasil dilakukan. Hasil amplifikasi gen Mx divisualisasikan padaa gel agarose seperti terlihat pada Gambar 4.1. Ukuran pita yang

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN. Amplifikasi Daerah D-loop M B1 B2 B3 M1 M2 P1 P2 (-)

HASIL DAN PEMBAHASAN. Amplifikasi Daerah D-loop M B1 B2 B3 M1 M2 P1 P2 (-) HASIL DAN PEMBAHASAN Amplifikasi Daerah D-loop Amplifikasi daerah D-loop DNA mitokondria (mtdna) pada sampel DNA sapi Bali, Madura, Pesisir, Aceh, dan PO dilakukan dengan menggunakan mesin PCR Applied

Lebih terperinci

DAFTAR ISI HALAMAN SAMPUL...

DAFTAR ISI HALAMAN SAMPUL... DAFTAR ISI HALAMAN SAMPUL... HALAMAN JUDUL... HALAMAN PERSETUJUAN... LEMBAR PERSETUJUAN PENGESAHAN HALAMAN PERNYATAAN KEASLIAN.. PRAKATA.. ABSTRAK.. DAFTAR ISI... DAFTAR TABEL... DAFTAR GAMBAR.. DAFTAR

Lebih terperinci

Rasio. atau 20 : 10. Contoh: Tiga sudut memiliki rasio 4 : 3 : 2. tentukan sudut-sudutnya jika:

Rasio. atau 20 : 10. Contoh: Tiga sudut memiliki rasio 4 : 3 : 2. tentukan sudut-sudutnya jika: Rasio Rasio adalah perbandingan ukuran. Rasio digunakan untuk membandingkan besaran dengan pembagian. Misal dua segitiga memiliki bentuk yang sama tetapi ukurannya berbeda. Salah satu sisinya yang seletak

Lebih terperinci

METODE PENELITIAN. Tabel 1 Sampel yang digunakan dalam penelitian

METODE PENELITIAN. Tabel 1 Sampel yang digunakan dalam penelitian 12 METODE PEELITIA Waktu dan Tempat Penelitian dilaksanakan pada bulan Mei sampai dengan April 2010, bertempat di Bagian Fungsi Hayati dan Perilaku Hewan, Departemen Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu

Lebih terperinci

Materi W9a GEOMETRI RUANG. Kelas X, Semester 2. A. Kedudukan Titik, Garis dan Bidang dalam Ruang.

Materi W9a GEOMETRI RUANG. Kelas X, Semester 2. A. Kedudukan Titik, Garis dan Bidang dalam Ruang. Materi W9a GEOMETRI RUANG Kelas X, Semester 2 A. Kedudukan Titik, Garis dan Bidang dalam Ruang www.yudarwi.com A. Kedudukan Titik, Garis dan bidang dalam Ruang (1) Kedudukan Titik dan titik Titik berimpit

Lebih terperinci

Panduan Penggunaan File Microsoft Office Excell Pemberian Tambahan Penghasilan Pegawai Negeri Sipil

Panduan Penggunaan File Microsoft Office Excell Pemberian Tambahan Penghasilan Pegawai Negeri Sipil Panduan Penggunaan File Microsoft Office Excell Pemberian Tambahan Penghasilan Pegawai Negeri Sipil 1. Copy file TPP Sleman v.4.b.3.2007.xlsx (Microsoft Office Excel 2007 Workbook) atau TPP Sleman v.4.b.3.mso.2003.xls

Lebih terperinci

1. AB = 16 cm, CE = 8 cm, BD = 5 cm, CD = 3 cm. Tentukan panjang EF! 20 PEMBAHASAN : BCD : Lihat ABE : Lihat AFE : Lihat

1. AB = 16 cm, CE = 8 cm, BD = 5 cm, CD = 3 cm. Tentukan panjang EF! 20 PEMBAHASAN : BCD : Lihat ABE : Lihat AFE : Lihat 1. AB = 1, CE = 8, BD =, CD =. Tentukan panjang EF! 0 BCD : ABE : BC BC BC CD BC 4 BD 9 1 AB 1 BE 144 AE 4 8 AE 0 AE AE EF EF 0 AFE : AE AF 0 0 EF EF 400 400 800 . Keliling ABC = 4, Luas ABC = 4. Tentukan

Lebih terperinci

BAB IV PEMBAHASAN HASIL PENELITIAN

BAB IV PEMBAHASAN HASIL PENELITIAN 61 BAB IV PEMBAHASAN HASIL PENELITIAN 1. Analisis Data Pertama tentang keberagamaan siswa. Analisis data pertama adalah untuk mengetahui tingkat keberagamaan siswa dalam dimensi ritualistik (praktik ibadah)

Lebih terperinci

BAB 4 HASIL PERCOBAAN DAN BAHASAN. Oligonukleotida sintetis daerah pengkode IFNα2b sintetis dirancang menggunakan

BAB 4 HASIL PERCOBAAN DAN BAHASAN. Oligonukleotida sintetis daerah pengkode IFNα2b sintetis dirancang menggunakan BAB 4 HASIL PERCOBAAN DAN BAHASAN Oligonukleotida sintetis daerah pengkode IFNα2b sintetis dirancang menggunakan program komputer berdasarkan metode sintesis dua arah TBIO, dimana proses sintesis daerah

Lebih terperinci

POLINOM (SUKU BANYAK) Menggunakan aturan suku banyak dalam penyelesaian masalah.

POLINOM (SUKU BANYAK) Menggunakan aturan suku banyak dalam penyelesaian masalah. POLINOM (SUKU BANYAK) Standar Kompetensi: Menggunakan aturan suku banyak dalam penyelesaian masalah. Kompetensi Dasar: 1. Menggunakan algoritma pembagian suku banyak untuk menentukan hasil bagi dan sisa

Lebih terperinci

PERCOBAAN 2 TRANSFER DATA. Oleh : Sumarna, Jurdik Fisika, FMIPA, UNY

PERCOBAAN 2 TRANSFER DATA. Oleh : Sumarna, Jurdik Fisika, FMIPA, UNY PERCOBAAN 2 TRANSFER DATA Oleh : Sumarna, Jurdik Fisika, FMIPA, UNY E-mail : [email protected] Percobaan ini akan memperkenalkan dan membiasakan diri dengan konsep dasar serta fungsi suatu instruksi transfer

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 25 TAHUN 1964 TENTANG PERUBAHAN DAN TAMBAHAN ATURAN BEA MATERAI 1921 PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 25 TAHUN 1964 TENTANG PERUBAHAN DAN TAMBAHAN ATURAN BEA MATERAI 1921 PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 25 TAHUN 1964 TENTANG PERUBAHAN DAN TAMBAHAN ATURAN BEA MATERAI 1921 PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: bahwa tarip-tarip dalam Aturan Bea Materai 1921, yang

Lebih terperinci

LAPORAN PRAKTIKUM SISTEM MIKROPROSESOR PENGATURAN LAMPU LALU LINTAS DENGAN SENSOR HARI DAN JAM

LAPORAN PRAKTIKUM SISTEM MIKROPROSESOR PENGATURAN LAMPU LALU LINTAS DENGAN SENSOR HARI DAN JAM LAPORAN PRAKTIKUM SISTEM MIKROPROSESOR PENGATURAN LAMPU LALU LINTAS DENGAN SENSOR HARI DAN JAM Disusun Oleh : Nama : Yudi Irwanto NIM : 021500456 Prodi : Elektronika Instrumentasi Nuklir Tanggal Praktikum

Lebih terperinci

BAB 4 HASIL PERCOBAAN DAN PEMBAHASAN

BAB 4 HASIL PERCOBAAN DAN PEMBAHASAN BAB 4 HASIL PERCOBAAN DAN PEMBAHASAN Sebelum melakukan PCR, terlebih dahulu dilakukan perancangan primer menggunakan program DNA Star. Pemilihan primer dilakukan dengan mempertimbangkan parameter spesifisitas,

Lebih terperinci

PEMBUATAN LAPORAN PEMBUKUAN SIMPAN PINJAM

PEMBUATAN LAPORAN PEMBUKUAN SIMPAN PINJAM PEMBUATAN LAPORAN PEMBUKUAN SIMPAN PINJAM oleh: Drs. Wihandaru Sotya P, M.Si Pendahuluan Pembukuan merupakan pekerjaan yang tidak sulit namun memerlukan ketelitian, khususnya yang berkaitan dengan simpan

Lebih terperinci

SELEKSI OLIMPIADE TINGKAT PROVINSI 2014 TIM OLIMPIADE MATEMATIKA INDONESIA Waktu : 210 Menit

SELEKSI OLIMPIADE TINGKAT PROVINSI 2014 TIM OLIMPIADE MATEMATIKA INDONESIA Waktu : 210 Menit SELEKSI OLIMPIADE TINGKAT PROVINSI 2014 TIM OLIMPIADE MATEMATIKA INDONESIA 2015 Waktu : 210 Menit KEMENTERIAN PENDIDIKAN NASIONAL DIREKTORAT JENDERAL MANAJEMEN PENDIDIKAN DASAR DAN MENENGAH DIREKTORAT

Lebih terperinci

SOAL DAN PEMBAHASAN UJIAN NASIONAL SMA/MA IPA TAHUN PELAJARAN 2009/2010

SOAL DAN PEMBAHASAN UJIAN NASIONAL SMA/MA IPA TAHUN PELAJARAN 2009/2010 SOAL DAN PEMBAHASAN UJIAN NASIONAL SMA/MA IPA TAHUN PELAJARAN 9/. Diberikan premis sebagai berikut : Premis : Jika harga BBM naik, maka harga bahan pokok naik. Premis : Jika harga bahan pokok naik maka

Lebih terperinci

Gambar 4.1 Jawaban Soal Nomor 1 Subjek S 1. Gambar 4.2

Gambar 4.1 Jawaban Soal Nomor 1 Subjek S 1. Gambar 4.2 BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN PENELITIAN A. Deskripsi dan Analisis Data Hasil Penelitian 1. Subjek S dengan inisial AP yang berasal dari SD a. Soal nomor 1 Gambar 4.1 Jawaban Soal Nomor 1 Subjek S 1 Gambar

Lebih terperinci

Profil Genetik Daerah Hipervariabel I (HVI) DNA Mitokondria pada Populasi Dataran Tinggi. Gun Gun Gumilar, Ridha Indah Lestari, Heli Siti HM.

Profil Genetik Daerah Hipervariabel I (HVI) DNA Mitokondria pada Populasi Dataran Tinggi. Gun Gun Gumilar, Ridha Indah Lestari, Heli Siti HM. Gun Gun Gumilar, Ridha Indah Lestari, Heli Siti HM. J.Si. Tek. Kim Profil Genetik Daerah Hipervariabel I (HVI) DNA Mitokondria pada Populasi Dataran Tinggi Gun Gun Gumilar, Ridha Indah Lestari, Heli Siti

Lebih terperinci

BAB 3 KERAGAMAN GENETIK BAKTERI ANTAGONIS PSEUDOMONAS sp. CRB

BAB 3 KERAGAMAN GENETIK BAKTERI ANTAGONIS PSEUDOMONAS sp. CRB 23 BAB 3 KERAGAMAN GENETIK BAKTERI ANTAGONIS PSEUDOMONAS sp. CRB Pendahuluan Keragaman genetik adalah tingkat keragaman yang mengacu kepada total jumlah karakter genetik yang menyusun genetik suatu spesies.

Lebih terperinci

8/4/2011. Microprocessor & Microcontroller Programming. Sistem Bilangan. Sistem Bilangan. Sistem Bilangan. Sistem Bilangan

8/4/2011. Microprocessor & Microcontroller Programming. Sistem Bilangan. Sistem Bilangan. Sistem Bilangan. Sistem Bilangan Microprocessor & Microcontroller Programming FORMAT BILANGAN DALAM MIKROPROSESOR FORMAT BILANGAN DALAM MIKROPROSESOR Mikroprosesor sebagai bagian dari sistem digital bekerja dalam format biner. Di dalam

Lebih terperinci

ANALISIS KERAGAMAN D-LOOP DNA MITOKONDRIA MENCIT RUMAH (Mus musculus castaneus) DI DAERAH JAKARTA, BANDUNG DAN SURABAYA DENGAN PCR-RFLP.

ANALISIS KERAGAMAN D-LOOP DNA MITOKONDRIA MENCIT RUMAH (Mus musculus castaneus) DI DAERAH JAKARTA, BANDUNG DAN SURABAYA DENGAN PCR-RFLP. ANALISIS KERAGAMAN D-LOOP DNA MITOKONDRIA MENCIT RUMAH (Mus musculus castaneus) DI DAERAH JAKARTA, BANDUNG DAN SURABAYA DENGAN PCR-RFLP Oleh : Diana Yulianti G04499071 DEPARTEMEN BIOLOGI FAKULTAS MATEMATIKA

Lebih terperinci

Pemetaan DNA Plasmid I. Tujuan Memahami pemetaan DNA plasmid dengan pemotongan/restriksi menggunakan beberapa enzim restriksi.

Pemetaan DNA Plasmid I. Tujuan Memahami pemetaan DNA plasmid dengan pemotongan/restriksi menggunakan beberapa enzim restriksi. Pemetaan DNA Plasmid I. Tujuan Memahami pemetaan DNA plasmid dengan pemotongan/restriksi menggunakan beberapa enzim restriksi. II. Prinsip DNA yang telah dipurifikasi di inkubasi pada suhu 37 o C dengan

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. banteng liar. Para ahli meyakini bahwa penjinakan tersebut telah dilakukan sejak

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. banteng liar. Para ahli meyakini bahwa penjinakan tersebut telah dilakukan sejak BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Gambaran Umum Sapi Bali Sapi bali (Bos Sondaicus) adalah sapi asli Indonesia hasil domestikasi banteng liar. Para ahli meyakini bahwa penjinakan tersebut telah dilakukan sejak

Lebih terperinci

( ) 2. Nilai x yang memenuhi log 9. Jadi 4x 12 = 3 atau x = 3,75

( ) 2. Nilai x yang memenuhi log 9. Jadi 4x 12 = 3 atau x = 3,75 Here is the Problem and the Answer. Diketahui premis premis berikut! a. Jika sebuah segitiga siku siku maka salah satu sudutnya 9 b. Jika salah satu sudutnya 9 maka berlaku teorema Phytagoras Ingkaran

Lebih terperinci

ANALISIS KERAGAMAN GENETIK KERBAU LOKAL (Bubalus bubalis) BERDASARKAN HAPLOTIPE DNA MITOKONDRIA

ANALISIS KERAGAMAN GENETIK KERBAU LOKAL (Bubalus bubalis) BERDASARKAN HAPLOTIPE DNA MITOKONDRIA ANALISIS KERAGAMAN GENETIK KERBAU LOKAL (Bubalus bubalis) BERDASARKAN HAPLOTIPE DNA MITOKONDRIA (Analysis of Genetic Diversity of Local Buffaloes (Bubalus bubalis) Based on Mitochondrial DNA Haplotypes)

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Segara Anakan merupakan ekosistem mangrove dengan laguna yang unik dan

BAB I PENDAHULUAN. Segara Anakan merupakan ekosistem mangrove dengan laguna yang unik dan BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Segara Anakan merupakan ekosistem mangrove dengan laguna yang unik dan langka yang terletak di antara Pantai Selatan Kabupaten Cilacap dan Pulau Nusakambangan (Saputra,2005).

Lebih terperinci

12. BARISAN DAN DERET

12. BARISAN DAN DERET . BARISAN DAN DERET A. BARISAN ARITMETIKA DAN GEOMETRI U, U, U 3,,U n adalah barisan suatu bilangan yang memiliki ciri khusus sebagai berikut Barisan Ciri utama Rumus suku ke-n Suku tengah Sisipan k bilangan

Lebih terperinci

ANALISIS SIDIK DNA (DNA Fingerprinting) RFLP (Restriction Fragmen Length Polymorphism)

ANALISIS SIDIK DNA (DNA Fingerprinting) RFLP (Restriction Fragmen Length Polymorphism) ANALISIS SIDIK DNA (DNA Fingerprinting) RFLP (Restriction Fragmen Length Polymorphism) Laurencius Sihotang I. Tujuan Mempelajari cara teknik RFLP(Restriction Fragmen Length Polymorphism) Menganalisis pola

Lebih terperinci

LEMBAR PERAGA DENGAN CD FORMAT JOINT PHOTOGRAPHIC EXPERT GROUP (JPEG) A. Latar Belakang Hasil rekayasa dalam bidang teknologi informasi dan teknologi

LEMBAR PERAGA DENGAN CD FORMAT JOINT PHOTOGRAPHIC EXPERT GROUP (JPEG) A. Latar Belakang Hasil rekayasa dalam bidang teknologi informasi dan teknologi LEMBAR PERAGA DENGAN CD FORMAT JOINT PHOTOGRAPHIC EXPERT GROUP (JPEG) A. Latar Belakang Hasil rekayasa dalam bidang teknologi informasi dan teknologi komunikasi dimaksudkan agar manusia lebih mudah dalam

Lebih terperinci

KUMPULAN MATERI PEMBINAAN DAN PENGAYAAN MATEMATIKA

KUMPULAN MATERI PEMBINAAN DAN PENGAYAAN MATEMATIKA KUMPULAN MATERI PEMBINAAN DAN PENGAYAAN MATEMATIKA ANDI SYAMSUDDIN Guru Mata Pelajaran Matematika Pada SMP Negeri 8 Kota Sukabumi SMP NEGERI 8 KOTA SUKABUMI DINAS PENDIDIKAN KOTA SUKABUMI 009 Yang bertanda

Lebih terperinci

SOAL DAN PEMBAHASAN UJIAN NASIONAL SMA/MA IPA TAHUN PELAJARAN 2008/2009

SOAL DAN PEMBAHASAN UJIAN NASIONAL SMA/MA IPA TAHUN PELAJARAN 2008/2009 SOAL DAN PEMBAHASAN UJIAN NASIONAL SMA/MA IPA TAHUN PELAJARAN 008/009. Perhatikan premis premis berikut! - Jika saya giat belajar maka saya bisa meraih juara - Jika saya bisa meraih juara maka saya boleh

Lebih terperinci

BUPATI CIAMIS PROVINSI JAWA BARAT PERATURAN BUPATI CIAMIS NOMOR 20 TAHUN 2016

BUPATI CIAMIS PROVINSI JAWA BARAT PERATURAN BUPATI CIAMIS NOMOR 20 TAHUN 2016 BUPATI CIAMIS PROVINSI JAWA BARAT PERATURAN BUPATI CIAMIS NOMOR 20 TAHUN 2016 TENTANG KRITERIA PEMBERIAN PENGHARGAAN ATAS KEBERHASILAN KECAMATAN, KELURAHAN DAN DESA DALAM INTENSIFIKASI PAJAK BUMI DAN BANGUNAN

Lebih terperinci

Solusi Olimpiade Sains Tingkat Kabupaten/Kota 2015 Bidang Matematika

Solusi Olimpiade Sains Tingkat Kabupaten/Kota 2015 Bidang Matematika Solusi Olimpiade Sains Tingkat Kabupaten/Kota 01 Bidang Matematika Oleh : Tutur Widodo 1. Karena 01 = 13 31 maka banyaknya faktor positif dari 01 adalah (1 + 1) (1 + 1) (1 + 1) = 8. Untuk mencari banyak

Lebih terperinci

MODUL MASTER ALASAN. Menu ini digunakan untuk menginput alasan yang akan dipakai pada saat pembuatan surat izin

MODUL MASTER ALASAN. Menu ini digunakan untuk menginput alasan yang akan dipakai pada saat pembuatan surat izin MODUL MASTER ALASAN Menu ini digunakan untuk menginput alasan yang akan dipakai pada saat pembuatan surat izin apabila karyawan tidak masuk atau telat masuk, cuti dll. Master Alasan ini juga terkait dengan

Lebih terperinci

XV. RAN AN KAIAN KAIAN SEKUEN EKU EN IAL ASINKR A. PENDAHULUAN R n a gk g aia i n sekuen e sia si l a in i kron

XV. RAN AN KAIAN KAIAN SEKUEN EKU EN IAL ASINKR A. PENDAHULUAN R n a gk g aia i n sekuen e sia si l a in i kron XV. RANGKAIAN SEKUENSIAL ASINKRON A. PENDAHULUAN Rangkaian tergantung untuk pada melakukan sekuensial signal input pengubahan ditentukan oleh variabel state. Setiap signal tidak asinkron eksternal disinkronkan

Lebih terperinci

Lampiran 1 RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN ( RPP ) SIKLUS I

Lampiran 1 RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN ( RPP ) SIKLUS I 54 Lampiran 1 RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN ( RPP ) SIKLUS I Sekolah : SD Negeri Cokro Mata Pelajaran : Ilmu Pengetahuan Alam ( IPA ) Kelas/Semester : IV / 1 Tahun Pelajaran : 2013/2014 Materi Pokok

Lebih terperinci

Kontes Terbuka Olimpiade Matematika

Kontes Terbuka Olimpiade Matematika Kontes Terbuka Olimpiade Matematika Kontes Bulanan Januari 2017 20 23 Januari 2017 Berkas Soal Definisi dan Notasi Berikut ini adalah daftar definisi yang digunakan di dokumen soal ini. 1. Notasi N menyatakan

Lebih terperinci

Pembahasan OSN Matematika SMA Tahun 2013 Seleksi Tingkat Provinsi. Tutur Widodo. Bagian Pertama : Soal Isian Singkat

Pembahasan OSN Matematika SMA Tahun 2013 Seleksi Tingkat Provinsi. Tutur Widodo. Bagian Pertama : Soal Isian Singkat Pembahasan OSN Matematika SMA Tahun 013 Seleksi Tingkat Provinsi Tutur Widodo Bagian Pertama : Soal Isian Singkat 1. Diberikan tiga lingkaran dengan radius r =, yang saling bersinggungan. Total luas dari

Lebih terperinci

PENGGUNAAN GENETIK MARKER MITOKONDRIA DNA DAN HUBUNGANNYA DENGAN SIFAT MENGERAM PADA AYAM LOKAL

PENGGUNAAN GENETIK MARKER MITOKONDRIA DNA DAN HUBUNGANNYA DENGAN SIFAT MENGERAM PADA AYAM LOKAL Seminar Nasional Peternakan dan Peteriner 2000 PENGGUNAAN GENETIK MARKER MITOKONDRIA DNA DAN HUBUNGANNYA DENGAN SIFAT MENGERAM PADA AYAM LOKAL Kats kunci : Ayani lokal, sifat mengeram, mtdna TixE SARTncA

Lebih terperinci

BAB II KAJIAN PUSTAKA. Tanaman mentimun berasal dari benua Asia, tepatnya dari Himalaya Asia

BAB II KAJIAN PUSTAKA. Tanaman mentimun berasal dari benua Asia, tepatnya dari Himalaya Asia 5 BAB II KAJIAN PUSTAKA 2.1 Tanaman Mentimun Tanaman mentimun berasal dari benua Asia, tepatnya dari Himalaya Asia Utara (Rukmana, 1994). Saat ini, budidaya mentimum sudah meluas ke seluruh dunia, baik

Lebih terperinci

BAB V HASIL. Studi ini melibatkan 46 sampel yang terbagi dalam dua kelompok, kelompok

BAB V HASIL. Studi ini melibatkan 46 sampel yang terbagi dalam dua kelompok, kelompok 34 BAB V HASIL Studi ini melibatkan 46 sampel yang terbagi dalam dua kelompok, kelompok sampel hipospadia isolated (n=23) dan kelompok laki-laki normal (n=23). Karakteristik pasien hipospadia di Indonesia

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN Amplifikasi DNA Mikrosatelit

HASIL DAN PEMBAHASAN Amplifikasi DNA Mikrosatelit HASIL DAN PEMBAHASAN Amplifikasi DNA Mikrosatelit Amplifikasi DNA dilakukan dengan tiga macam primer yaitu ILSTS028, ILSTS052 dan ILSTS056 serta masing-masing lokus menganalisis 70 sampel DNA. Hasil amplifikasi

Lebih terperinci

Materi W9c GEOMETRI RUANG. Kelas X, Semester 2. C. Menggambar dan Menghitung Sudut.

Materi W9c GEOMETRI RUANG. Kelas X, Semester 2. C. Menggambar dan Menghitung Sudut. Materi W9c GEOMETRI RUANG Kelas X, Semester C. Menggambar dan Menghitung Sudut www.yudarwi.com C. Menggambar dan Menghitung Sudut Sudut dalam dimensi tiga adalah sudut antara garis dan garis, garis dan

Lebih terperinci

SKRIPSI DETEKSI KEMURNIAN DAGING SAPI PADA BAKSO DI KOTA YOGYAKARTA DENGAN TEKNIK PCR-RFLP

SKRIPSI DETEKSI KEMURNIAN DAGING SAPI PADA BAKSO DI KOTA YOGYAKARTA DENGAN TEKNIK PCR-RFLP SKRIPSI DETEKSI KEMURNIAN DAGING SAPI PADA BAKSO DI KOTA YOGYAKARTA DENGAN TEKNIK PCR-RFLP Disusun oleh: Bening Wiji NPM : 060800997 UNIVERSITAS ATMA JAYA YOGYAKARTA FAKULTAS TEKNOBIOLOGI PROGRAM STUDI

Lebih terperinci

Varian Molekular Defisiensi Glukosa-6-Fosfat Dehidrogenase

Varian Molekular Defisiensi Glukosa-6-Fosfat Dehidrogenase Varian Molekular Defisiensi Glukosa-6-Fosfat Dehidrogenase Teresa Liliana Wargasetia Bagian Biologi Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Maranatha Pendahuluan Defisiensi Glukosa-6-Fosfat Dehidrogenase

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA

II. TINJAUAN PUSTAKA II. TINJAUAN PUSTAKA A. Makanan Olahan Daging Seiring dengan meningkatnya kesejahteraan, tingkat pendapatan dan tingkat pendidikan di masyarakat saat ini, keamanan pangan menjadi penting artinya untuk

Lebih terperinci