UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG"

Transkripsi

1 PERENCANAAN PEMBANGUNAN GEDUNG KULIAH DAN LABORATURIUM 3 LANTAI JURUSAN BAHASA DAN SASTRA INGGRIS DAN JURUSAN BAHASA INDONESIA DAN SASTRA INDONESIA FBS UNNES Kampus UNNES Sekaran Gunung Pati Kota Semarang TUGAS AKHIR Disusun sebagai Syarat Ujian Tahap Akhir Program Diploma III Teknik Sipil Disusun oleh : 1. Danang Agustian A. NIM: Abie Surya F. NIM: TEKNIK SIPIL FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG 007

2 LEMBAR PENGESAHAN Proyek Tugas Akhir dengan judul Perencanaan Pembangunan Gedung Kuliah Dan Laboraturium 3 Lantai Jurusan Bahasa Dan Sastra Inggris Dan Jurusan Bahasa Indonesia Dan Sastra Indonesia FBS UNNES ini telah disetujui dan disahkan pada : Hari : Tanggal : Pembimbing, Drs. Henry Appriyatno, M.T NIP Penguji I : Penguji II : Drs. H. Bambang Dewasa Drs. Henry Appriyatno, M.T NIP NIP Ketua Jurusan, Ketua Program Studi, Drs. Lashari, M.T. Drs. Tugino, M.T. NIP NIP Mengetahui, Dekan Fakultas Teknik Prof. Dr. Soesanto NIP ii

3 KATA PENGANTAR Assalamu alaikum warohmatullahi wabarokatuh Puji syukur kehadirat Allah atas limpahan rahmat dan karunia-nya kepada kita semua. Tiada Illah yang benar-benar hak untuk disembah melainkan Allah. Dialah pencipta seluruh langit dan bumi yang dalam semua ciptaan-nya itu selalu ada tanda-tanda kekuasaan-nya bagi orang-orang yang berpikir. Penyusunan Proyek Akhir ini dimaksudkan untuk memenuhi persyaratan menyelesaikan pendidikan jenjang Diploma III Teknik Sipil Program Studi Diploma III Jurusan Teknik Sipil Universitas Negeri Semarang. Selama proses penyusunan ini, penulis menyadari banyak sekali hambatan yang dihadapi, akan tetapi berkat bantuan dan bimbingan dari semua pihak yang berkompeten, akhirnya Proyek Akhir ini dapat diselesaikan dengan baik. Oleh karena itu pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada : 1. Bapak Prof.Dr.Soesanto, selaku Dekan Fakultas Teknik UNNES.. Bapak Drs. Lashari, M.T. selaku Ketua Jurusan Teknik Sipil UNNES. 3. Bapak Drs.Tugino, M.T, selaku Ketua Program Studi Diploma III Teknik Sipil Fakultas Teknik UNNES. 4. Bapak Drs. Henry Appriyatno, M.T. yang telah memberikan bimbingan dalam menyelesaikan laporan ini. 5. Bapak Subari, selaku Pelaksana Proyek sekaligus pembimbing lapangan. 6. Bapak dan ibu yang telah memberi motivasi pada Penyusun. 7. Semua pihak yang telah membantu terlaksananya penyusunan Proyek Ahir ini. Penuyusun menyadari banyak kekurangan dalam penyusunan Proyek Akhir ini. Kritik, saran dan pemanfaatan laporan ini sangat penulis harapkan, Semoga Proyek Akhir ini dapat bermanfaat bagi semua pihak. Terima kasih. Wassalamu alaikum warohmatullahi wabarokatuh Semarang, Agustus 007 iii Penyusun

4 MOTTO DAN PERSEMBAHAN MOTTO: 1. Tidakah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya ( menjulang ) kelangit, pohon itu memberikan buahnya pada setiap musim dengan seizin Tuhannya, Allah membuat perumpamaan perumpamaan itu untuk manusia supaya mereka selalu berdzikir ( Ibrahim : 4 5 ).. Adakah orang yang sampai kedudukan terpuji, atau akhir yang utama. Kecuali setelah ia melewati jembatan ujian. Demikianlah kedudukanmu jika engkau ingin mencapainya. Naiklah kesana dengan melewati jembatan kelelahan ( Ibnul Qoyim Al Jauzi ). PERSEMBAHAN: Kupersembahkan tugas akhir ini pada : 1. Allah SWT yang telah memberi kekuatan dalam menyelesaikan proyek akhir ini.. Ayah dan ibu, serta Keluargaku tercinta yang terus mendukung dalam penyelesain proyek akhir ini. 3. Bapak Drs. Henry Appriyatno M.T. yang telah mengarahkan serta membimbing sampai selesainya proyek akhir ini. 4. Teman-teman Teknik Sipil 04 yang terus memberikan semangat dalam menyelesaikan proyek akhir ini. 5. Ikhwah fillah di pesma Qolbun Salim sukron atas semua bantuan dan doanya. 6. D' ita ku sayank makacih suportnya iv

5 DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL. i LEMBAR PENGESAHAN.. ii MOTTO DAN PERSEMBAHAN... iii KATA PENGANTAR. iv DAFTAR ISI.... vi DAFTAR TABEL. x DAFTAR GAMBAR... ix DAFTAR LAMPIRAN xii BAB I. BAGIAN PENDAHULUAN 1.1 Judul Proyek Akhir Latar Belakang Proyek Lokasi Proyek. 1.4 Maksud dan Tujuan Proyek Akhir Ruang Lingkup Penulisan Metodologi Penelitian Sistematika Penulisan... 4 BAB II. DASAR DASAR PERENCANAAN.1 Uraian Umum Kriteria dan Azas-asas Perencanaan Dasar dasar Perencanaan Dasar Dasar Perhitungan Klasifikasi Pembebanan Rencana Metode Perhitungan... BAB III. PERHITUNGAN ELEMEN STRUKTUR PENDUKUNG 3.1 Perencanaan Atap BAB IV. PERHITUNGAN STRUKTUR UTAMA 4.1 Perencanaan Plat Lantai Perencanaan Tangga Dasar-dasar Perencanaan.. 80 v

6 4.4 Perhitungan Gaya-gaya Geser yang Bekerja Pada Struktur Perencanaan Balok Perencanaan Sloof Perencanaan Kolom BAB V. PERHITUNGAN PONDASI 5.1 Uraian Umum Alternatif Pemilihan Pondasi Analisa Daya Dukung Tanah Perencanaan Pondasi Penulangan Pondasi BAB VI. RENCANA KERJA DAN SYARAT BAB VII. RENCANA ANGGARAN BIAYA 7.1 Perhitungan Volume Pekerjaan Daftar Harga Bahan dan Upah Rekapitulasi Awal Persentase Bobot Pekerjaan Rekapitulasi Akhir 35 BAB VIII. PENUTUP 8.1 Kesimpulan Saran DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN vi

7 DAFTAR GAMBAR Gambar 1. Rangka Kuda - Kuda Gambar. Koefisien Gempa Dasar C vii

8 DAFTAR TABEL Tabel 1. Dimensi Balok Tabel. Dimensi Kolom Tabel 3. Gaya-gaya pada Kuda-kuda Tabel 4. Distribusi gaya geser dasar horizontal akibat total gempa kesepanjang panjang gedung dalam arah X dan Y untuk tiap portal Tabel 5. Daftar harga bahan dan upah Tabel 6. Daftar satuan pekerjaan Tabel 7. Time Schedule. viii

9 DAFTAR LAMPIRAN 1. Gambar Grafik Kuda-Kuda Baja (SAP 000). Input Kuda-Kuda Baja (SAP 000) 3. Output Kuda-Kuda Baja (SAP 000) 4. Gambar Grafik Portal (SAP 000) 5. Input Portal (SAP 000) 6. Output Portal (SAP 000) 7. Uji Tarik dan Bengkok Baja 8. Laporan Hasil Penyelidikan Tanah 9. Gambar Bestek ix

10 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Nama Proyek Nama proyek ini adalah Proyek Pembangunan Gedung Kuliah dan Laboratorium Jurusan Bahasa dan Sastra Inggris dan Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia UNNES 1. Latar belakang Proyek Proyek Pembangunan Gedung Kuliah dan Laboratorium Jurusan Bahasa dan Sastra Inggris dan Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia UNNES ini dilatarbelakangi banyaknya kekurangan sarana dan prasarna gedung dengan kapasitas yang memadai. Pemilihan Proyek Pembangunan Gedung Kuliah dan Laboratorium Jurusan Bahasa dan Sastra Inggris dan Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia UNNES sebagai Tugas Akhir dikarenakan struktur gedung yang memiliki 3 (tiga) lantai dan sebagai pertimbangan lain untuk memudahkan dalam penyusunan tugas ahir. Pembangunan gedung ini nantinya akan di gunakan untuk kegiatan yang membutuhkan ruang luas. Pembangunan Gedung Kuliah dan Laboratorium Jurusan Bahasa dan Sastra Inggris dan Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia UNNES mempunyai maksud dan tujuan antara lain : 1. Meningkatkan sarana dan prasarana di UNNES. 1

11 . Meningkatkan kenyamanan dan efektifitas kegiatan di Jurusan Bahasa dan Sastra Inggris dan Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia UNNES. 1.3 Lokasi Proyek Lokasi Proyek Pembangunan Gedung Kuliah dan Laboratorium Jurusan Bahasa dan Sastra Inggris dan Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia UNNES ini terletak di Kampus UNNES Sekaran, Gunungpati, Semarang 1.4 Maksud dan Tujuan Proyek Tujuan dari Proyek Akhir ini adalah untuk menerapkan materi perkuliahan yang telah diperoleh ke dalam bentuk penerapan secara utuh. Penerapan materi perkuliahan yang telah diperoleh diaplikasikan dengan merencanakan suatu bangunan gedung bertingkat banyak, minimal tiga lantai. Dengan merencanakan suatu bangunan bertingkat ini diharapkan mahasiswa dapat memperoleh ilmu pengetahuan yang diaplikasikan dan mampu merencanakan suatu struktur yang cukup kompleks. 1.5 Ruang Lingkup Penulisan Dalam Penyusunan Proyek Akhir ini, Penulis hanya menentukan pada permasalahan dari sudut pandang ilmu teknik sipil yaitu pada bidang perencanaan struktur meliputi:perencanaan atap,perencanaan plat lantai,perencanaan tangga,perencanaan balok,perencanaan kolom,perencanaan pondasi,rencana kerja dan syarat - syarat (RKS), dan Rencana anggaran biaya

12 3 1.6 Metodologi Data yang akan digunakan sebagai dasar dalam penyusunan laporan Proyek Akhir ini dapat di kelompokkan dalam dua jenis yaitu: 1. Data Primer Data Primer adalah data yang didapat melalui peninjauan dan pengamatan langsung di lapangan terdari dari: a. Lokasi Proyek : Kampus UNNES Sekaran, Gunungpati, Semarang b. Topografi : Tanah datar c. Elevasi bangunan : o Lantai 1 : + 00,00 m o Lantai : + 04,60 m o Lantai 3 : + 08,80 m. Data Sekunder Data sekunder merupakan data pendukung yang dipakai dalam proses pembuatan dan penyusunan laporan Proyek Akhir. Yang termasuk dalam klasifikasi data sekunder ini antara lain: a. Literatur panjang b. Grafik grafik penunjang c. Tabel tabel penunjang Adapun metode pengumpulan data yang dilakukan adalah : 1) Observasi Observasi dilakukan untuk mengumpulkan data primer melalui peninjauan dan pengamatan langsung di lapangan sejak melaksanakan

13 4 Kerja Praktek, yang telah dilaksanakan pada proyek yang sama pada tanggal 1 September sampai dengan 1 November 006. ) Studi pustaka Studi pustaka dilakukan untuk pengumpulan data sekunder dan landasan teori dengan mengambil data literatur yang relevan maupun standar yang diperlukan dalam perencanaan bangunan. Pengumpulan dilakukan melalui perpustakaan atau pun instansi instansi pemerintah yang terkait. 1.7 Sistematika Penulisan Proyek Akhir ini garis besarnya disusun dalam 8 (delapan) bab yang terdiri dari : BAB I : PENDAHULUAN Berisi nama proyek, latar belakang, lokasi proyek, maksud dan tujuan, pembahasan masalah, dan sistematika penulisan. BAB II : PERENCANAAN Berisi uraian, kriteria, dan azas azas perencanaan, dasar dasar perencanaan, metode perencanaan, dasar perhitungan, dan klasifikasi pembebanan rencana. BAB III : PERHITUNGAN ELEMEN STRUKTUR PENDUKUNG Berisi perhitungan pembebanan, perencanaan atap, tulangan plat, tulangan balok, tulangan kolom, tulangan tangga, dan pondasi

14 5 BAB IV : PERHITUNGAN STRUKTUR Berisi perhitungan pembebanan, tulangan plat, tulangan balok, tulangan kolom, tulangan tangga. BAB V : PERHITUNGAN PONDASI Berisi perhitungan perencanaan pondasi BAB VI : RENCANA KERJA DAN SYARAT - SYARAT Berisi tentang rencana kerja dan syarat syarat (RKS), terdiri dari syarat umum, syarat administrasi, dan syarat teknis BAB VII : RENCANA ANGGARAN BIAYA Berisi tentang volume pekerjaan dan rencana anggaran biaya. BAB VIII: PENUTUP Berisi simpulan dan saran Daftar pustaka Lampiran

15 BAB II PERENCANAAN.1 Uraian Umum Pada tahap perencanaan Struktur Proyek Pembangunan Gedung Kuliah dan Laboratorium Jurusan Bahasa dan Sastra Inggris dan Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia UNNES ini perlu dilakukan study literatur untuk menghubungkan satuan fungsional gedung dengan sistem struktur yang akan digunakan, disamping untuk mengetahui dasar-dasar teorinya. Pada jenis gedung tertentu, perencanaan sering kali diharuskan menggunakan suatu pola akibat syarat- syarat fungsional maupun strukturnya. Hal ini merupakan salah satu faktor yang menentukan, misal pada situasi yang mengharuskan bentang ruang yang besar serta harus bebas kolom, sehingga akan menghasilkan beban besar dan berdampak pada balok. Study literatur dimaksudkan untuk dapat memperoleh hasil perencanaan yang optimal dan aktual. Dalam bab ini akan dibahas konsep pemilihan sistem struktur dan konsep perencanaan struktur bangunannya, seperti denah, pembebanan struktur atas dan struktur bawah serta dasar-dasar perhitungan.. Kriteria dan Azaz azaz Perencanaan Perencanaan pembangunan Gedung Kuliah dan Laboratorium Jurusan Bahasa dan Sastra Inggris dan Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia UNNES ini 6

16 7 diharuskan memenuhi beberapa kriteria perencanaan, sehingga konstruksi bangunan tersebut sesuai yang diharapkan, dan tidak terjadi kesimpang- siuran dalam bentuk fisiknya. Adapun kriteria-kriteria perencanaan tersebut adalah : 1. Harus memenuhi persyaratan teknis Dalam setiap pembangunan harus memperhatikan persyaratan teknis yaitu bangunan yang didirikan harus kuat untuk menerima beban yang dipikulnya baik itu beban sendiri gedung maupun beban yang berasal dari luar seperti beban hidup, beban angin dan beban gempa. Bila persyaratan teknis tersebut tidak diperhitungkan maka akan membahayakan orang yang berada di dalam bangunan dan juga bisa merusak bangunan itu sendiri. Jadi dalam perencanaan harus berpedoman pada peraturan- peraturan yang berlaku dan harus memenuhi persyaratan teknis yang ada.. Harus memenuhi persyaratan ekonomis Dalam setiap pembangunan, persyaratan ekonomis juga harus diperhitungkan agar tidak ada aktivitas-aktivitas yang mengakibatkan membengkaknya biaya pembangunan sehingga akan menimbulkan kerugian bagi pihak kontraktor. Persyaratan ekonomis ini bisa dicapai dengan adanya penyusunan time schedule yang tepat, pemilihan bahan-bahan bangunan yang digunakan dan pengaturan serta pengerahan tenaga kerja yang profesional. Dengan pengaturan biaya dan waktu pekerjaan secara tepat diharapkan bisa menghasilkan bangunan yang berkualitas tanpa menimbulkan pemborosan.

17 8 3. Harus memenuhi persyaratan aspek fungsional Hal ini berkaitan dengan penggunaan ruang. Biasanya hal tersebut akan mempengaruhi penggunaan bentang elemen struktur yang digunakan. 4. Harus memenuhi persyaratan estetika Agar bangunan terkesan menarik dan indah maka bangunan harus direncanakan dengan memperhatikan kaidah-kaidah estetika. Namun persyaratan estetika ini harus dikoordinasikan dengan persyaratan teknis yang ada untuk menghasilkan bangunan yang kuat, indah dan menarik. Jadi dalam sebuah perencanaan bangunan harus diperhatikan pula segi artistik bangunan tersebut. 5. Harus memenuhi persyaratan aspek lingkungan Setiap proses pembangunan harus memperhatikan aspek lingkungan karena hal ini sangat berpengaruh dalam kelancaran dan kelangsungan bangunan baik dalam jangka pendek (waktu selama proses pembangunan) maupun jangka panjang (pasca pembangunan). Persyaratan aspek lingkungan ini dilakukan dengan mengadakan analisis terhadap dampak lingkungan di sekitar bangunan tersebut berdiri. Diharapkan dengan terpenuhinya aspek lingkungan ini dapat ditekan seminimal mungkin dampak negatif dan kerugian bagi lingkungan dengan berdirinya Gedung Kuliah dan Laboratorium Jurusan Bahasa dan Sastra Inggris dan Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia UNNES ini.

18 9 6. Harus memenuhi aspek ketersediaan bahan di pasaran Untuk memudahkan dalam mendapatkan bahan-bahan yang dibutuhkan maka harus diperhatikan pula tentang aspek ketersediaan bahan di pasaran. Dengan kata lain sedapat mungkin bahan-bahan yang direncanakan akan dipakai dalam proyek tersebut ada dan lazim di pasaran sehingga mudah didapat. Selain kriteria-kriteria perencanaan juga harus diperhatikan juga adanya azas-azas perencanaan yaitu antara lain: 1. Pengendalian biaya Pengendalian biaya dalam suatu pekerjaan konstruksi dimaksudkan untuk mencegah adanya pengeluaran yang berlebihan sehingga sesuai dengan perhitungan Rencana Anggaran Biaya (RAB) yang telah ditetapkan. Biaya pelaksanaan harus dapat ditekan sekecil mungkin tanpa mengurangi kualitas dan kuantitas pekerjaan. Dalam hal ini erat kaitannya dengan pemenuhan persyaratan ekonomis. a. Pengendalian mutu Pengendalian mutu dimaksudkan agar pekerjaan yang dihasilkan sesuai dengan persyaratan yang telah ditetapkan dalam RKS. Kegiatan pengendalian mutu tersebut dimulai dari pengawasan pengukuran lahan, pengujian tanah di lapangan menggunakan alat sondir dan boring serta uji tekan beton. Mutu bahan-bahan pekerjaan yang digunakan dalam pembangunan sudah dikendalikan oleh pabrik pembuatnya. Selain itu juga diperlukan pengawasan pada saat

19 10 bangunan tersebut sudah mulai digunakan, apakah telah sesuai dengan yang diharapkan atau belum. b. Pengendalian waktu Pengendalian waktu pelaksanaan pekerjaan dalam suatu proyek bertujuan agar proyek tersebut dapat diselesaikan sesuai dengan time schedule yang telah ditetapkan. Untuk itu dalam perencanaan pekerjaan harus dilakukan penjadwalan pekerjaan dengan teliti agar tidak terjadi keterlambatan waktu penyelesaian proyek.. Pengendalian tenaga kerja Pengendalian tenaga kerja sangat diperlukan untuk mendapatkan hasil pekerjaan yang baik sesuai jadwal. Pengendalian dilakukan oleh Pengawas (mandor) secara terus menerus maupun berkala. Dari pengawasan tersebut dapat diketahui kemajuan dan keterlambatan pekerjaan yang diakibatkan kurangnya tenaga kerja maupun menurunnya efisiensi kerja yang berlebihan. Jumlah tenaga kerja juga harus dikendalikan untuk menghindari terjadinya penumpukan pekerjaan yang menyebabkan tidak efisiensinya pekerjaan tersebut serta dapat menyebabkan terjadinya pemborosan materil dan biaya..3 Dasar dasar Perencanaan Dalam perhitungan perencanaan bangunan ini digunakan standar yang berlaku di Indonesia, antara lain:

20 11 1. Plat Lantai Perencanaan plat didasarkan pada peraturan SK SNI T dan Pedoman Beton Untuk merencanakan plat beton bertulang yang perlu dipertimbangkan tidak hanya pembebanan namun juga ukuran dan syarat syarat tumpuan. Pada proyek pembangunan Gedung Kuliah dan Laboratorium Jurusan Bahasa dan Sastra Inggris dan Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia UNNES ini tebal plat lantai adalah 1 cm.. Balok Perencanaan balok didasarkan pada persyaratan SK SNI T yaitu: a. Syarat - syarat tumpuan yang dipertimbangkan adalah: 1) Tumpuan jepit penuh ) Tumpuan jepit sebagian b. Ukuran balok Dalam pra desain, tinggi balok menurut SK SNI T merupakan fungsi dari bentang dan mutu baja yang dipergunakan. Adapun balok dan sloof yang digunakan pada proyek pembangunan Gedung Kuliah dan Laboratorium Jurusan Bahasa dan Sastra Inggris dan Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia UNNES ini adalah sebagai berikut :

21 1 Tabel 1. Dimensi balok No Balok Dimensi balok (cm) A1=T=A VT1=T1=VT P3=P4 AP=P AP1=P1 C1 CP SLOOF 0 x 35 0 x x x x x x x Kolom Menurut SK SNI T untuk merencanakan kolom yang diberi beban lentur dan beban aksial ditetapkan koefisien reduksi bahan (φ) = 0,65. Pada proyek pembangunan Gedung Kuliah dan Laboratorium Jurusan Bahasa dan Sastra Inggris dan Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia UNNES ini, kolom yang digunakan berukuran : Tabel. Dimensi kolom No Kolom Dimensi kolom (cm) Kolom type K1 Kolom type K Kolom type K3 Kolom type K4 Kolom type K5 Kolom type K6 60 x x x x 60 0 x 0 30 x 30

22 13 4. Pondasi Pondasi yang dipergunakan pada konstruksi ini adalah pondasi foot plat dan pondasi Sumuran.4 Metode Perhitungan Dalam perencanaan pembangunan Gedung Kuliah dan Laboratorium Jurusan Bahasa dan Sastra Inggris dan Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia UNNES ini, perhitungan mekanika struktur menggunakan Program Analsis Struktur SAP 000V7.40 ( di Lab. Komputer Teknik Sipil, UNNES ) Perhitungan ini digunakan untuk memudahkan menghitung tulangan. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam perhitungan struktur ini adalah : 1. Plat dianggap sebagai membran dan semua beban yang ada pada plat dianggap sebagai beban merata.. Balok hanya menumpu beban dinding yang ada di atasnya dan beban hidup balok dianggap nol, karena telah ditumpu oleh plat. Sebelum melakukan perhitungan mekanika, terlebih dahulu harus menghitung beban-beban yang bekerja pada eleman struktur antara lain: 1. Beban Gempa Statik Beban gempa yang hanya memperhitungkan beban dari gedung itu sendiri.. Beban Mati Beban yang diambil dari elemen struktur beserta beban yang ada di atasnya.

23 14 3. Beban Hidup Diambil dari Pedoman Perencanaan Pembebanan untuk Rumah dan Gedung (PPIUG) 1987 untuk bangunan gedung..5 Klasifikasi Pembebanan Rencana Pembebanan rencana diperhitungkan berdasarkan Pedoman Perencanaan Pembebanan untuk Rumah dan Gedung Pembebanan diperhitungkan sesuai dengan fungsi ruangan yang direncanakan pada gambar rencana. Besarnya muatan muatan tersebut adalah sebagai berikut : 1. Massa jenis beton bertulang : 400 kg/m 3. Berat plafon dan penggantung (g pf ) : 18 kg/m 3. Tembok batu bata (1/) batu : 50 kg/m 4. Beban hidup untuk tangga : 300 kg/m 5. Beban hidup untuk gedung fasilitas umum : 50 kg/m 6. Adukan dari semen, per cm tebal : 1 kg/m 7. Penutup lantai, per cm tebal : 4 kg/m Kombinasi beban gempa diperhitungkan untuk zone 4 yang berlaku di Kota Semarang. Kombinasi pembebanan digunakan dengan beberapa alternatif, yaitu: 1. Comb 1 = 1,4 DL. Comb = 1, DL + 1,6 LL 3. Comb 3 = 1, DL + 1 LL + 1,6 W 4. Comb 4 = 1, DL + 1 LL 1,6 W

24 15 5. Comb 5 = 1, DL + 1 LL + 1 Q 6. Comb 6 = 1, DL + 1 LL - 1 Q Combo (comb) = beban total untuk menahan beban yang telah dikalikan dengan faktor beban atau momen dan gaya dalam yang berhubungan dengannya. DL (dead load) = beban mati atau momen dan gaya dalam yang berhubungan dengan beban mati. LL (live load) = beban hidup atau momen dan gaya dalam yang berhubungan dengan beban hidup. Q (quake) = beban gempa atau momen dan gaya-gaya yang berhubungan dengan beban gempa..6 Dasar Perhitungan Dalam perhitungan perencanaan pembangunan Gedung Dekranasda Disperindag Propinsi Jawa Tengah ini digunakan standar perhitungan yang didasarkan pada ketentuan yang berlaku di Indonesia antara lain: 1. Pedoman Beton Tata Cara Perhitungan Struktur Beton untuk Bangunan Gedung, SK SNI T Pedoman Perencanaan Pembebanan untuk Rumah dan Gedung Pedoman Perencanaan Ketahanan Gempa untuk Rumah dan Gedung Data perhitungan Program Analsis Struktur SAP 000V7.40 ( di Lab. Komputer Teknik Sipil, UNNES )

25 BAB III PERHITUNGAN ELEMEN STRUKTUR PENDUKUNG 3.1 PERENCANAAN ATAP 1. Data-data Perencanaan beban atap didasarkan pada Peraturan Pembebanan Indonesia Untuk Gedung Data-datanya antara lain : Bentuk kuda-kuda : Joglo Bentang kuda-kuda (L) : 15 m Jarak antar kuda-kuda ( l ) : 3,60 m Kemiringan atap bagian atas ( α1 ) : 60 Bagian bawah ( α ) : 30 Penutup atap : genteng (50 kg/m²) Sambungan konstruksi : baut (BJ 37) Mutu baja profil siku : BJH 37 Tegangan dasar baja (σd) : 1600 kg/cm² Jenis kayu (reng dan usuk) Bengkirai : Kelas kuat II Koefisien angin gunung : 5 kg/m² Tegangan lentur kayu ( σlt ) : 100 kg/cm² Modulus Lentur Kayu (E) : kg/ cm². Perencanaan reng 1. Perencanaan reng pada bagian atas sudut = 60 16

26 17 a. Pembebanan Reng Berat genting (gt) Jarak reng (Jr) Jarak usuk (Ju) = 50 kg/m² = 0,5 m = 0,5 m Beban pada reng (qr) Berat genting. Jarak reng = gt. Jr = 50. 0,5 = 1,5 kg/m b. Momen yang terjadi 1. Momen yang terjadi pada sudut 60 Mx = 1/8. qr. cos 60. (Ju)² = 1/8. 1,5. 0,50. (0,5)² = 0,195 kg m My = 1/8. qr. sin 60 (Ju)² c. Dimensi Reng = 1/8. 1,5. 0,866. (0,5)² = 0,338 kg m Dimensi reng dimisalkan b =. h 3 Wx = 1/6. b. (h) = 1/6. h. h 3 1 = h 3 cm 3 9 Wy = 1/6. b. h

27 18 = 1/6. h. h 3 = 7 h 3 cm 3 σ ltr = = 100 kg/cm = Mx My + Wx Wy Mx 1 h ,5 + 33,8 h 3 My 7 h kg/cm 87,8 = 3 h h 3 = 87,8 100 h 3 =,878 h = 3, 878 h = 1,4 cm dipakai kayu ukuran 3 cm, maka : b = 3 h b = 3. 3 cm b = cm Jadi dipakai reng dengan dimensi /3 cm d. Kontrol Lendutan 1 f ijin = 00. Ju

28 19 1 = = 0,5 cm Ix = 1 1. b. (h) 3 = (3) 3 = 4,5 cm 4 Iy = 1 1. b 3. h = 1 1. () 3. 3 = cm 4 fx = = 5. qr.cosα. Ju 384. E. Ix 5.1,5.cos 60.(50) ,5 4 = 0,011 cm fy = = 5. qr.sinα. Ju 384. E. Iy 5.1,5.sin 60.(50) = 0,019 cm f maks = = ( fx ) + ( fy ( 0,011) + ) (0,019) = 0,0 cm 0,5 cm (f ijin ) Ok!

29 0 e. Kontrol Tegangan σ ytb = Mx My + Wx Wy 19,5 1/ 6.3.() 33,8 + 1/ 6..(3) = 3 = 1,017 kg/cm 100 kg/cm (σ ltr ) Jadi, reng kayu dengan dimensi /3 cm aman dipakai. Perencanaan reng pada bagian bawah sudut = 30 a. Pembebanan Reng Berat genting (gt) Jarak reng (Jr) Jarak usuk (Ju) = 50 kg/m² = 0,5 m = 0,5 m Beban pada reng (qr) Berat genting. Jarak reng = gt. Jr = 50. 0,5 = 1,5 kg/m b. Momen yang terjadi 1. Momen yang terjadi pada sudut 30 Mx = 1/8. qr. cos 30. (Ju)² = 1/8. 1,5. 0,866. (0,5)² = 0,338 kg m My = 1/8. qr. sin 30 (Ju)² c. Dimensi Reng = 1/8. 1,5. 0,5. (0,5)² = 0,195 kg m

30 1 Dimensi reng dimisalkan b =. h 3 Wx = 1/6. b. (h) = 1/6. h. h 3 1 = h 3 cm 3 9 Wy = 1/6. b. h = 1/6. h. h 3 = 7 h 3 cm 3 σ ltr = = 100 kg/cm = Mx My + Wx Wy Mx 1 h ,5 + 33,8 5 7 h 3 My 7 h kg/cm 87,8 = 3 h h 3 = 87,8 100 h 3 =,878 h = 3, 878 h = 1,4 cm dipakai kayu ukuran 3 cm, maka :

31 b = 3 h b = 3. 3 cm b = cm Jadi dipakai reng dengan dimensi /3 cm Jadi dipakai reng dengan dimensi /3 cm d. Kontrol Lendutan 1 f ijin = 00. Ju 1 = = 0,5 cm Ix = 1 1. b. (h) 3 = (3) 3 = 4,5 cm 4 Iy = 1 1. b 3. h = 1 1. () 3. 3 = cm 4 fx = = 5. qr.cosα. Ju 384. E. Ix 5.1,5.cos 30.(50) ,5 4 = 0,0159 cm

32 3 fy = = 5. qr.sin α. Ju 384. E. Iy 5.1,5.sin 30.(50) = 0,0159 cm f maks = = ( fx ) + ( fy ) ( 0,0159) + (0,0159) e. Kontrol Tegangan = 0,0 cm 0,5 cm (f ijin ) Ok! σ ytb = Mx My + Wx Wy 33,8 1/ 6.3.() 19,5 + 1/ 6..(3) = 3 = 1,017 kg/cm 100 kg/cm (σ ltr ) Jadi, reng kayu dengan dimensi /3 cm aman dipakai 3. Perencanaan usuk a. Perencanaan usuk pada bagian bawah sudut = 30º 1. Pembebanan Usuk Berat genting (g t ) = 50 kg/m 3 Jarak gording (J gd ) Jarak usuk (Ju) = 1,5 m = 0,5 m Beban pada usuk (qu) Beban genting, reng dan usuk = g gt. Ju = 50. 0,5 qu = 5 kg/m q x = qu. cos 30º

33 4 = 5. cos 30º = 1.651kg/m q y = qu. sin 30º = 5. sin 30º = 1.5 kg/m Momen yang terjad Mx = 1/8. qu. cos α. (Jgd) = 1/8. 5. cos 30º. (1, 5) = 6,089 kgm My = 1/8. qu. sin α. (Jgd) = 1/8. 5. sin 30º. (1, 5) = 3,516 kgm. Karena Berat Pekerja Beban Pekerja (P) = 100 kg = 1 kn P x = 100. cos α = 100. cos 30º = kg P y = 100. sin α = 100.sin 30º = 50 kg Mx = 1/4. P. cos α. Jgd = 1/ cos 30º. 1,5 = 3,476 kg m My = 1/4. P. sin α. Jgd

34 5 = 1/ sin 30º. 1,5 = kg m 3. Karena Beban Angin W diambil 5 kg/m Angin tekan = 0.0 x α x (-0.4) dimana α = 30 0 = 0.0 x 30 x (-0.4)x 5 x 0.5 =,5 kg/m Momen yang timbul Mx = = 1 8. Wx.( jgd ) 1 8.5x 1.5 = kgm Angin hisap Koefisien angin hisab = -0.4 Tekanan angin hisab pada usuk : Wx = -0.4 x 5 x 0.5 = -5 kg/m Momen yang timbul Mx = = 1 8. W.( jgd ) 1 8 x 5 x 1.5 = kgm

35 6 Kombinasi Pembebanan M B. Mati B. Hidup A. Tekan A. Hisab P. Tetap P. Sementara ( a ) ( b ) ( c ) ( d ) ( a + b) ( a + b ) + c Mx 6,089 3, ,565 39,68 My 3, ,66,66 4. Dimensi usuk Dimensi usuk dimisalkan b = h 3 Wx = 1 bh 6 = 1 h 9 3 Wy = 1 hb 6 = h 7 3 σ ltr 100 = Mx My = + Wx Wy 396,8 1 3 h 9 + 6,6 3 h 7 h 3 = 654,003 h = 8,68 dibulatkan = 10 cm b = h 3 b = 5,787 dibulatkan = 6 cm

36 7 Jadi dipakai ukuran usuk 6/10 cm 5. Kontrol Lendutan 1 F ijin = 00. Jgd 1 = = 0,75 cm Ix = 1 1. b. (h) 3 = (10) 3 = 500 cm 4 Iy = 1 1. h. (b) 3 = (6) 3 = 180 cm 4 5 qx.cosα.. Jg fx =. 384 E. Ix 4 1 px.cosα. Jg E. Ix cos 30.(150) = cos 30.(150) = 0,151 cm 5 qx.sinα.. Jg fy =. 384 E. Iy 4 1 px.sinα. Jg E. Iy sin 30.(150) = sin 30.(150) = 0,41 cm

37 8 f max = = ( fx ) + ( fy ( 0,151) + ) (0,41) = 0,85 cm 0,75 cm OK! 6. Kontrol tegangan Mx My σ ytb = + 1/ 6bh 1/6hb 396,8 1/ ,6 1/ = + = 76,378 kg/cm = 76,378 kg/cm 100 kg/cm ( = σ ltr ) OK! Jadi, usuk kayu dengan dimensi 6/10 cm aman dipakai b. Perencanaan usuk pada bagian bawah sudut = 60º 1 Pembebanan Usuk Berat genting (g t ) = 50 kg/m Jarak gording (J gd ) Jarak usuk (Ju) = 1,5 m = 0,5 m Beban pada usuk (qu) Beban genting, reng dan usuk = g gt. Ju = 50. 0,5 qu = 5 kgm q x = qu. cos 60º = 5. cos 60º = 1,5 kg/m q y = qu. sin 60º = 5. sin 60º = 1,651 kg/m

38 9 Momen yang terjad Mx = 1/8. qu. cos α. (Jgd) = 1/8. 5. cos 60º. (1, 5) = 3,516 kgm My = 1/8. qu. sin α. (Jgd) = 1/8. 5. sin 60º. (1, 5) = 6,089 kgm. Karena Berat Pekerja Beban Pekerja (P) = 100 kg = 1 kn P x = 100. cos α = 100. cos 60º = 50 kg P y = 100. sin α = 100.sin 60º = kg Mx = 1/4. P. cos α. Jgd = 1/ cos 60º. 1,5 = kg m My = 1/4. P. sin α. Jgd = 1/ sin 60º. 1,5 = 3,476 kg m 3. Karena Beban Angin W diambil 5 kn/m Angin tekan = 0.0 x α x (-0.4) dimana α = 60º

39 30 = 0.0 x 60 x (-0.4)x 5 x 0.5 = 10 kg/m Momen yang timbul Mx = = 1 8. Wx.( jgd ) 1 8 x 10 x 1.5 =.813 kgm Angin hisap Koefisien angin hisab = -0.4 Tekanan angin hisab pada usuk : Wx = -0.4 x 5 x 0.5 = -5 kn/m Momen yang timbul Mx = = 1 8. W.( jgd ) 1 8 x 5 x 1.5 = kgm Kombinasi Pembebanan M B. Mati B. Hidup A. Tekan A. Hisab P. Tetap P. Sementara ( a ) ( b ) ( c ) ( d ) ( a + b) ( a + b ) + c Mx My

40 31 4. Dimensi usuk Dimensi usuk dimisalkan b = h 3 Wx = 1 bh 6 = 1 h 9 3 Wy = 1 hb 6 = h 7 3 σ ltr 100 = Mx My = + Wx Wy h h 7 h 3 = h = dibulatkan = 10cm b = h 3 b = dibulatkan = 6 cm Jadi dipakai ukuran usuk 6/10 cm 5. Kontrol Lendutan 1 F ijin = 00. Jgd 1 = 00. 1,5 = 0,75 cm

41 3 Ix = 1 1. b. (h) 3 = (10) 3 = 500 cm 4 Iy = 1 1. h. (b) 3 = (6) 3 = 180 cm 4 5 qx.cosα.. Jg fx =. 384 E. Ix 4 1 px.cosα. Jg E. Ix cos 60º.(150) = cos 60º.(150) = qxsinα.. Jg fy =. 384 E. Iy 4 1 px.sinα. Jg E. Iy sin 60º.(150) = sin 60º.(150) = 0,417 f max = = ( fx ) + ( fy ) ( 0,086) + (0,0417) = 0,46 cm 0,75 cm OK! 6. Kontrol tegangan Mx My σ ytb = + 1/ 6bh 1/6hb

42 / / = + = kg/cm = kg/cm 100 kg/cm ( = σ ltr ) OK! Jadi, usuk kayu dengan dimensi 5/7 cm aman dipakai Gambar 1. Rangka Kuda - Kuda 4. Mencari Panjang Batang Tabel 3. Gaya-gaya pada Kuda-kuda No Batang Panjang Batang (cm) No Batang Panjang Batang (cm) a1 = a1 140 d1 = d a = a d = d9 10 a3 = a d3 = d8 54 a4 = a9 150 d4 = d7 49 a5 = a8 104 d5 = d6 77 a6 = a7 104 d11 = d1 306 b1= b1 156 v1 = v11 6 b = b v = v10 98 b3 = b v3 = v9 134 b4 = b9 167 v4 = v8 170 b5 = b8 00 v5 = v7 196

43 34 b6 = b7 00 v6 31 b13 = b v1 = v14 98 b14 = b v Perencanaan Gording Jarak gording = 1.5 m Jarak kuda-kuda = 3.6 m a. Pembebanan Beban mati - berat sendiri gording (taksiran) = 3.6 x 1.5 = 5.4 kg/m - berat sendiri genteng = 50 x 1.5 = 75 kg/m - berat penggantung + plafond = 18 x 1.5 = 7 kg/m = kg/m - berat lain-lain 10 % = 10 % x = kg/m q = kg/m Momen akibat beban mati q x = q x cos 30 = x = kg/m qy = q x sin 30 = x 0.5 = kg/m Mx = 1/8 x x 3.6 = kgm

44 35 My = 1/8 x x 3.6 Beban Hidup ( P = 100 kg ) Py = P x sin 30 = 100 x 0.5 = 50 kg Px = P x cos 30 = 100 x = 86.6 kg My = ¼ x Py x l = ¼ x 50 x 3.6 = 45 kgm Mx = ¼ x Px x l = ¼ x 86.6 x 3.6 = kgm Beban angin Koefisien angin tekan = 0.0 x 30 (-0.4) = 0. w = 0. x 1.5 x 5 M = 1/8 x 7.5 x 3.6 = 7.5 kg/m = 1.15 kgm Koefisien angin hisap = -0.4 w = -0.4 x 1.5 x 5 = -15 kg/m M = 1/8 x (-15) x 3.6 = -4.3 kgm Momen kombinasi a. Beban mati + beban hidup

45 36 Mx = My = = kgm = kgm b. Beban mati + beban hidup + beban angin Mx = = kgm My = = kgm b. Pendimensian Gording Direncanakan memakai profil C tipis, atap yang didunakan adalah atap genteng jadi merupakan struktur yang tegar sehingga diambil momen arah x yang terbesar Mx = kgm Mx 5584kgcm Wx = = = cm σ 1600kg / cm 3 Dicoba profil C 150x50x0x4.5 dari tabel Profil Baja didapatkan : W x = 49.0 cm 3 W y = 10.5 cm 3 Ix = 368 cm 4 Iy = 35.7 cm 4 Weight = 9.0 kg/m Kontrol tegangan σ ytsb = M x /W x = 5584/49.0 cm 3 = 5.1 kg/cm < σ = 1600 kg/cm Kontrol lendutan f ijin = l / 50 x 1 = 360 / 50 = 1.44 cm

46 37 fx = = 4 3 5xqxxl Pxxl + 384xExlx 48xExlx 4 3 5x1.031x x x.1x10 x368 48x.1x10 x368 = = 0.4 cm fy = 5xqyx( l / ) 384xExIy 4 Pyx( l / ) + 48xExIy 3 = 5x0.5907x(360 / ) 6 384x.1x10 x x(360 / ) x.1x10 x35.7 = = 0.19 cm f = fx + fy = ( 0.4) + ( 0.19) = 0.44 cm < 1.44 cm oke! 6. Menghitung Pembebanan Kuda-kuda Analisa pembebanan atap pada titik letak gording sebagai analisa data input pada perhitungan dengan SAP 000. A. Analisa Pembebanan Berat gording (dari profil) = 9.0 kg/m Berat atap = 1.5 m x 40 kg/m = 60 kg/m Berat plafond + penggantung = 18 kg/m x 1.11 m = kg/m + q = kg/m Trekstang = 10% x kg/m = kg/m + qt = 98.1 kg/m Beban atap terpusat/beban tiap titik pada gording

47 38 PDL = qt x l = 98.1 kg/m x 3.6 m = kg = KN B. Analisa Beban Angin Angin tekan pada gording = 0.0α 0.4 x 5 kg/m x 1.5 m x 3.6 m = 7 kg = 0.7 KN Angin hisap pada gording = -0.4 x 5 kg/m x 1.5 m x 3.6 m = 54 kg = 0.54 KN Beban hidup 100 kg PLL = 100 kg/10 = 10 kg = 0.1 KN 7. Pendimensian Batang a. Perencanan Batang Horisontal (Batang Tarik ) Batang a 1 s/d a 1 Diketahui : P maksimum (Pk) : KN = Kg (dari hasil perhitungan dengan SAP 000) Panjang maksimum (Lk) : 1,5 m = 150 cm Tegangan dasar (σ) : 1600 kg/cm Tegangan lentur (σlt) : 400 kg/cm Tebal plat buhul (δ) : 1 cm Menentukan tegangan tarik karena lubang :

48 39 σtr = 0,75 x σ = 0,75 x 1600 = 100 kg/cm Menghitung luas profil yang diperlukan : P A netto profil = σtr kg = = cm 100kg / cm A bruto profil = Anetto profil 0, cm = 0,85 = 1.54cm A bruto 1 profil = Abruto profil 1.54cm = = 6.7cm Dipakai profil siku sama kaki JL Dari tabel profil diperoleh : A = 1,3 cm e =, cm Ix = Iy = 7,3 cm 4 A profil = x 1,3 cm = 4,6 cm Jarak sumbu elemen-elemen batang tersusun (a) : a = e + δ = ( x, cm) + 1 cm = 5,4 cm Momen kelembaman terhadap sumbu y-y : Iy gabungan = {Iy + A (0,5 x a) } = {7,3 cm 4 + 1,3 (0,5 x 5,4) } = 33,93 cm 4 Jari-jari kelembaman terhadap sumbu y-y :

49 40 iy gabungan = = Iygabungan A 33,93 x1,3 = 3,63 cm Momen kelembaman terhadap sumbu x-x : Ix gabungan = x Ix = x 7,3 = 144,6 cm 4 Jari-jari kelembaman terhadap sumbu x-x : ix gabungan = = Ixgabungan A 144,6 x1,3 =,4 cm Lk 150 λx = = = < 40 ( oke ) ixgabungan,4 Digunakan i min =,4 cm Kontrol tegangan : σ ytb = P Aprofil σ ytb = 4,6 = kg/cm < σtr = 100 kg/cm ( oke )

50 41 b. Perencanan Batang Vertikal (Batang Tarik ) Batang v 1 s/d v 14 Diketahui : P maksimum (Pk) : KN = Kg (dari hasil perhitungan dengan SAP 000) Panjang maksimum (Lk) :.31 m = 31 cm Tegangan dasar (σ) : 1600 kg/cm Tegangan lentur (σlt) : 400 kg/cm Tebal plat buhul (δ) : 1 cm Menentukan tegangan tarik karena lubang : σtr = 0,75 x σ = 0,75 x 1600 = 100 kg/cm Menghitung luas profil yang diperlukan : P A netto profil = σtr kg = = 3. 4cm 100kg / cm A bruto profil = Anetto profil 0,85 3.4cm = 0,85 = 3,81cm A bruto 1 profil = Abruto profil 3,81cm = = 1,9cm Dipakai profil siku sama kaki JL Dari tabel profil diperoleh : A = 9,40 cm e = 1,97 cm Ix = Iy = 4,4 cm 4

51 4 A profil = x 9,40 cm = 18,80 cm Jarak sumbu elemen-elemen batang tersusun (a) : a = e + δ = ( x 1,97 cm) + 1 cm = 4,94 cm Momen kelembaman terhadap sumbu y-y : Iy gabungan = {Iy + A (0,5 x a) } = {4,4 cm 4 + 9,40 (0,5 x 4,94) } = 199,50 cm 4 Jari-jari kelembaman terhadap sumbu y-y : iy gabungan = Iygabungan A = 199,50 x9,40 = 3,6 cm Momen kelembaman terhadap sumbu x-x : Ix gabungan = x Ix = x 4,4 = 84,8 cm 4 Jari-jari kelembaman terhadap sumbu x-x : ix gabungan = Ixgabungan A = 84,8 x9,40 =,1 cm

52 43 Lk 31 λx = = = 108, 96 < 40 ( oke ) ixgabungan,1 Digunakan i min =,1 cm Kontrol tegangan : σ ytb = P Aprofil σ ytb = 18,80 = 06,54 kg/cm < σtr = 100 kg/cm ( oke ) c. Perencanan Batang Miring ( Batang Tekan ) Batang b 1 s/d b 16 Diketahui : P maksimum (Pk) : 143,01 KN = 14578,44 Kg (dari hasil perhitungan dengan SAP 000) Panjang maksimum (Lk) : m = 00 cm Tegangan dasar (σ) : 1600 kg/cm Tegangan lentur (σlt) : 400 kg/cm Tebal plat buhul (δ) : 1 cm Penentuan dimensi : Imin (perlu) = n. Pk. Lk π. E 3,5x14578,44x(00) = 6 (3,14) x,1x10 = 98,57cm 4 n : faktor keamanan ditentukan = 3,5 E : Modulus elastisitas Dipakai profil siku samakaki JL

53 44 Dari Tabel Profil Diperoleh : A = 15,50 e =,54 cm Ix=Iy = 116 ix=iy =,74 cm Lk 00cm λ = = = 7,99 α = 0, 58 i min,74cm σtk = σ x α = 1600 x 0,58 = 844,9 kg/cm Ix profil =.Ix = x 116 = 3 A profil =.A = x 15,50 = 31 ix gabungan =. Ix =. A x116 = 7,48 cm x15,5 Jarak sumbu elemen-elemen batang tersusun ( a ) : a =.e + δ = ( x,54) + 1 = 6,08 cm Iy gab = { Iy + A (0,5 x a) } = { ,5 (0,5 x 6,08) } = 518,49 iy gab = = Iygab A 518,49 x15,5 = 4,09 cm Pemeriksaan Tekuk Terhadap Sumbu Bahan x-x :

54 45 Lk λx = ix = 00,74 = 7,99 λg = π E 0,7.400 = 3,14 6,1x 10 0,7x400 = 111,0 λs = λx λg 7,99 = = 0, ,0 Karena 0,183 < λs < 1 maka : 1, 41 ω = 1, 593 λs 1,41 = = 1, 51 1,593 0,66 Kontrol tegangan P σ ytb = ω A = 1,51 = 710,11kg / cm < σ tk = 844,9kg / cm ( OK) 31 Pemeriksaan Tekuk Terhadap Sumbu Bahan y-y : Lk λy = iygab

55 46 = 00 4,09 = 48,9 λg = π E 0,7.400 = 3,14 6,1x 10 0,7x400 = 111,0 λs = λy λg 48,9 = = 0, ,0 Karena 0,183 < λs < 1 maka : 1, 41 ω = 1, 593 λs 1,41 = = 1, 1,593 0,44 Kontrol tegangan P σ ytb = ω A = 1, = kg / cm < σ tk = 844,9kg / cm ( OK) 31 d. Perencanan Batang Diagonal ( Batang Tekan ) Batang d 1 s/d d 1 Diketahui : P maksimum (Pk) : KN = 3173,39 Kg (dari hasil perhitungan dengan SAP 000)

56 47 Panjang maksimum (Lk) : 3.06 m = 306 cm Tegangan dasar (σ) : 1600 kg/cm Tegangan lentur (σlt) : 400 kg/cm Tebal plat buhul (δ) : 1 cm Penentuan dimensi : Imin (perlu) = n. Pk. Lk π. E 3,5x3173,39x(306) = 6 (3,14) x,1x 10 = 50,3cm 4 n : faktor keamanan ditentukan = 3,5 E : Modulus elastisitas Dipakai profil siku samakaki JL Dari Tabel Profil Diperoleh : A = 9,4 e = 1,97 cm Ix=Iy = 4,4 ix=iy =,1 cm Lk 306cm λ = = = 144,34 α = 0, 114 i min,1cm σtk = σ x α = 1600 x 0,114 =18,34 Ix profil =.Ix = x 4,4 = 84,8 A profil =.A = x 9,4 = 18,8 ix gabungan =. Ix =. A x4,4 = 4,51 cm x9,4 Jarak sumbu elemen-elemen batang tersusun ( a ) : a =.e + δ

57 48 = ( x 1,97) + 1 = 4,94 cm Iy gab = { Iy + A (0,5 x a) } = {4,4 + 9,4 (0,5 x 4,94) } = 199,5 iy gab = = Iygab A 199,5 x9,4 = 3,6 cm Pemeriksaan Tekuk Terhadap Sumbu Bahan x-x : Lk λx = ix = 306,1 = 144,34 λg = π E 0,7.400 = 3,14 6,1x 10 0,7x400 = 111,0 λs = λx λg = = 1, 3 111,0 Karena λs > 1 maka :

58 49 ω =,381x( λs) = 4,0 Kontrol tegangan P σ ytb = ω A 3173,39 = 4,0 = 678,57kg / cm < σ tk = 98kg / cm ( OK) 18,8 Pemeriksaan Tekuk Terhadap Sumbu Bahan y-y : Lk λy = iygab = 306 3,6 = 93,87 λg = π E 0,7.400 = 3,14 6,1x 10 0,7x400 = 111,0 λs = λy λg 93,87 = = 0, ,0 Karena 0,183 < λs < 1 maka : 1, 41 ω = 1, 593 λs

59 50 1,41 = = 1, 89 1,593 0,85 Kontrol tegangan P σ ytb = ω A 3173,39 = 1,89 = 318,39kg / cm < σ tk = 98kg / cm ( OK) 18,8 8. Pehitungan Sambungan a. Kekuatan satu baut Diameter baut ½ = 1.7 cm Jenis sambungan = irisan dua Tebal profil JL = x 9 mm = 18 mm Tebal profil JL = x 8 mm = 16 mm Tebal profil JL = x 7 mm = 14 mm Tegangan geser ijin (σ ) = 0,6 x 1600 = 960 kg/cm Tegangan tumpuan ijin (σ tp) = 1,5 x σ dsr = 1,5 x 1600 = 400 kg/cm Daya pikul satu baut terhadap geser : N gs = x π / 4 x d x σ ijin = x 3.14 / 4 x (1.7 ) x 960 = 430,96 kg Daya pikul satu baut terhadap tumpu : N tp profil = tf x d x σ tp

60 51 = 1.8 x 1.7 x 400 = kg N tp profil = tf x d x σ tp = 1.6 x 1.7 x 400 = kg N tp profil = tf x d x σ tp = 1.4 x 1.7 x 400 = kg Maka dapat ditentukan kekuatan 1 baut = 430,96 kg karena Ngs < Ntp. b. Penempatan baut.5 d < s < 7 d.5 x 1.7 cm < s < 7 x 1.7 cm cm < s < 8.89 cm 1.5 d < s 1 < d 1.5 x 1.7 cm < s 1 < x 1.7 cm cm < s 1 <.54 cm.5 d < u < 7 d.5 x 1.7 cm < u < 7 x 1.7 cm cm < u < 8.89 cm

61 5 c Perhitungan jumlah baut a. Titik buhul A Batang S9 Besar gaya batang = KN = kg Kekuatan 1 baut = 430,96 kg Jumlah baut = Batang S ,43 = 5,6 6baut 430,96 Besar gaya batang = 14,8 KN = 14557,03 kg Kekuatan 1 baut = 430,96 kg Jumlah baut = 1 430,96 =,84 3baut. Titik buhul B Batang S9 Besar gaya batang = 15,48 KN = 1791,43 kg

62 53 Kekuatan 1 baut = 430,96 kg Jumlah baut = Batang S ,43 = 5,6 6baut 430,96 Besar gaya batang = 1,09 KN = 1445,86 kg Kekuatan 1 baut = 430,96 kg Jumlah baut = Batang S ,86 = 5,1 6baut 430,96 Besar gaya batang = 4,37 KN = 445,48 kg Kekuatan 1 baut = 430,96 kg Jumlah baut = 445,48 430,96 = 0,18 baut Batang S39 Besar gaya batang = 6,79 KN = 69,17 kg Kekuatan 1 baut = 430,96 kg Jumlah baut = 69,17 430,96 = 0,8 baut 3. Titik buhul C

63 54 Batang S18 Besar gaya batang = 143,01 KN = 14578,44 kg Kekuatan 1 baut = 430,96 kg Jumlah baut = Batang S ,44 = 5,9 6baut 430,96 Besar gaya batang = 136,81 KN = 13946,41 kg Kekuatan 1 baut = 430,96 kg Jumlah baut = Batang S ,41 = 5,74 6baut 430,96 Besar gaya batang = 6,79 KN = 69,17 kg Kekuatan 1 baut = 430,96 kg Jumlah baut = 69,17 430,96 = 0,8 baut Batang S340 Besar gaya batang = 7,67KN = 781,88 kg Kekuatan 1 baut = 430,96 kg Jumlah baut = 781,88 430,96 = 0,3 baut 4. Titik buhul D

64 55 Batang S0 Besar gaya batang = 14,78 KN = 170,07 kg Kekuatan 1 baut = 430,96 kg Jumlah baut = Batang S9 170,07 = 5,3 6baut 430,96 Besar gaya batang = 98,37 KN = 1007,84 kg Kekuatan 1 baut = 430,96 kg Jumlah baut = Batang S ,84 = 4,13 5baut 430,96 Besar gaya batang = 19,61 KN = 1999,04 kg Kekuatan 1 baut = 430,96 kg Jumlah baut = Batang S ,04 430,96 = 0,8 baut Besar gaya batang = 15,57KN = 1587,1 kg Kekuatan 1 baut = 430,96 kg Jumlah baut = Batang S ,1 = 0,65 baut 430,96 Besar gaya batang = 15,64 KN = 1594,34 kg Kekuatan 1 baut = 430,96 kg Jumlah baut = 1594,34 = 0,66 baut 430,96

65 56 5. Titik buhul E Batang S6 Besar gaya batang = 74,08KN = 7551,7 kg Kekuatan 1 baut = 430,96 kg Jumlah baut = Batang S7 7551,7 430,96 = 3,11 4baut Besar gaya batang = 74,08KN = 7551,7 kg Kekuatan 1 baut = 430,96 kg Jumlah baut = Batang S ,7 430,96 = 3,11 4baut Besar gaya batang = 38,09 KN = 388,9 kg Kekuatan 1 baut = 430,96 kg Jumlah baut = 388,9 = 1,6 baut 430,96

66 57 6. Titik buhul F Batang S30 Besar gaya batang = 87,73 KN = 8943, kg Kekuatan 1 baut = 430,96 kg Jumlah baut = 8943, 430,96 = 3,7 4baut Batang S31 Besar gaya batang = 87,73 KN = 8943, kg Kekuatan 1 baut = 430,96 kg Jumlah baut = 8943, 430,96 = 3,7 4baut Batang S47 Besar gaya batang = 4,15 KN = 461,85 kg Kekuatan 1 baut = 430,96 kg Jumlah baut = 461,85 430,96 = 1,01 baut Batang S48 Besar gaya batang = 38,09 KN = 388,9 kg

67 58 Kekuatan 1 baut = 430,96 kg Jumlah baut = 388,9 430,96 = 1,6 baut Batang S49 Besar gaya batang = 4,15 KN = 461,85 kg Kekuatan 1 baut = 430,96 kg Jumlah baut = 461,85 430,96 = 1,01 baut 7. Titik buhul G Batang S34 Besar gaya batang = 10,77 KN = 1097,89 kg Kekuatan 1 baut = 430,96 kg Jumlah baut = Batang S ,89 430,96 = 0,45 baut Besar gaya batang = 87,73 KN = 8943, kg Kekuatan 1 baut = 430,96 kg

68 59 Jumlah baut = 8943, 430,96 = 3,7 4baut Batang S35 Besar gaya batang =,37 KN = 41,6 kg Kekuatan 1 baut = 430,96 kg Jumlah baut = 41,6 430,96 = 0,1 baut Batang S34 Besar gaya batang = 10,77 KN = 1097,89 kg Kekuatan 1 baut = 430,96 kg Jumlah baut = Batang S ,89 430,96 = 0,45 baut Besar gaya batang = 14,43 KN = 1469,98 kg Kekuatan 1 baut = 430,96 kg Jumlah baut = Batang S6 1469,98 430,96 = 0,61 baut Besar gaya batang = 14,43 KN = 1469,98 kg Kekuatan 1 baut = 430,96 kg Jumlah baut = 1469,98 = 0,61 baut 430,96

69 BAB IV PERHITUNGAN STRUKTUR UTAMA PERENCANAAN PLAT LANTAI 1. Data Teknis : - Mutu beton (fc) = 5 MPa - Mutu baja (fy) = 40 MPa - Beban beton bertulang (PPIUG, 1983) = 400 kg/m 3 - Beban keramik (PMI, 1979) = 4 kg/m - Beban spesi cm (PMI, 1979) = 1 kg/m - Beban rangka plafond (PMI, 1979) = 7 kg/m² - Beban plafond (eternit) diasumsikan dari berat semen asbes dengan tebal 5mm (PMI, 1979) = 11 kg/m² = 0,11 kn/m² - Beban hidup untuk lantai (PPIUG, 1983) = 50 kg/m² =,5 kn/m² - q lantai = 3 kn/m - Tebal spesi / adukan = cm - Tebal keramik max = 1 cm. Tebal Plat : Menurut buku-buku dasar perencanaan beton bertulang (CUR) table 10, tebal plat untuk fy = 40 Mpa adalah 1/3 L. Dipilih Ly/Lx terbesar a. h min, arah x = 1/3 x 300 = cm b. h min, arah y = 1/3 x 360 = cm 60

70 61 Dipakai tebal plat 1 cm 3. Perhitungan Beban Plat : Analisa Pembebanan Plat Plat lantai Beban Mati ( qd) Berat sendiri plat = 0,1 m x 4 kn/m 3 =,88 kn/m Berat keramik = 1 x 0,4 kn/m = 0,4 kn/m Berat spesi = x 1 kn/m = 0,4 kn/m Berat plafond + penggantung = 0,18 kn/m + Total berat mati (qd) = 3,7 kn/m Beban Hidup (ql) =,5 kn/m Beban Berfaktor (qu) = 1, qd + 1,6 ql = 1,. 3,7 kn/m + 1,6.,5 kn/m = 8,464 kn/m Plat tangga Beban Mati ( qd) Berat sendiri plat = 0,1 x 4 kn/m 3 =,88 kn/m Berat keramik = 1 x 0,4 kn/m = 0,4 kn/m Berat spesi = x 0,1 kn/m = 0,4 kn/m + Total berat mati (qd) = 3,54 kn/m Beban Hidup (ql) = 3 kn/m Plat bordes

71 6 Beban Mati ( qd) Berat sendiri plat = 0,1 x 4 kn/m 3 =,88 kn/m Berat keramik = 1 x 0,4 kn/m = 0,4 kn/m Berat spesi = x 0,1 kn/m = 0,4 kn/m + Total berat mati (qd) = 3,54 kn/m Beban Hidup (ql) = 3 kn/m 4. Plat Lantai Momen Rancang Plat 3600 β = = 1. dipakai β = cx+ = 34 cx- = 63 cy+ = 5 cy- = 57 Mtx = -cx Wu. Lx Mtx = ,001. 8,464. 3,0 Mtx = -4,799 knm Mlx = +cx. 0,001. Wu. Lx Mlx = ,001. 8,464. 3,0 Mlx =,59 knm Mty = -cy. 0,001. Wu. Lx

72 63 Mty = ,001. 8,464. 3,0 Mty = -4,34 knm Mly = +cy. 0,001. Wu. Lx Mly = 5. 0,001. 8,464. 3,0 Mly = 1,904 knm Penulangan Plat Tebal Plat = 10 mm Selimut Beton = p = 0 mm Direncanakan Diameter tulangan utama arah x = φ10 mm Diameter tulangan utama arah y = φ10 mm Tinggi efektif - Arah x = dx = h p Dx/ = / = 95 mm - Arah y = dy = h p Dx Dy/ = / = 85 mm

73 64 Penulangan tepi arah x Mtx = 4,799kNm Mu k = φ. b. d = 0.8x1000x95 = 0,665 Dari Tabel Beton Apendiks pada bagian tabel A-10 maka ρ = 0,0058 As tx 1 = ρ.b. d = 0,0058x 1000 x 95 = 551 mm Direncanakan tulangan φ 10 mm As = ¼. π. D = ¼. 3, = 78,5 mm Jumlah tulangan n = Astx 1 As n = 551 = 7,0 dibulatkan 8 batang 78.5 Spasi = b 1000mm = = 14,86 mm n 1 7 Dipaka tulangan φ mm As tx = As x n = 78,5 mm x 8 = 68 mm > As tx 1 = 551 mm (Tulangan memenuhi syarat) Penulangan lapangan arah x Mlx =,59 knm

74 65 Mu k = φ. b. d ,8x1000x95 = = 0,359 As lx 1 = ρ.b. d = 0,0058 x 1000 x 95 = 551 mm Direncanakan tulangan φ 10 mm As = ¼. π. D = ¼. 3, = 78,5 mm Jumlah tulangan n = Aslx 1 As n = 551 = 7,0 dibulatkan 8 batang 78,5 Spasi = b 1000mm = = 14,8 mm n 1 7 Dipaka tulangan φ mm As lx = As x n = 78,5 mm x 8 = 68 mm > As lx 1 = 551 mm (Tulangan memenuhi syarat) Penulangan tepi arah y Ditinjau 1000 mm Mty = 4,34 knm Mu k = φ. b. d = 0.8x1000x85 = Dari Tabel Beton Apendiks pada bagian tabel A-10 maka ρ = 0,0058

75 66 As tx 1 = ρ.b. d = 0,0058x 1000 x 85 = 493 mm Direncanakan tulangan φ 10 mm As = ¼. π. D = ¼. 3, = 78,5 mm Jumlah tulangan n = Astx 1 As n = 493 = 6,8 dibulatkan 7 batang 78.5 Spasi = b 1000mm = = 166,67 mm n 1 6 Dipakai tulangan φ mm As tx = As x n = 78,5 mm x 7 = 549,5 mm > As tx 1 = 493 mm (Tulangan memenuhi syarat) Penulangan lapangan arah y Mly = 1,904 knm Mu k = φ. b. d ,8x1000x85 = = 0,189 As lx 1 = ρ.b. d = 0,0058 x 1000 x 85 = 493 mm Direncanakan tulangan φ 10 mm As = ¼. π. D

76 67 = ¼. 3, = 78,5 mm Jumlah tulangan n = Aslx 1 As n = 493 = 6,8 dibulatkan 7 batang 78,5 Spasi = b 1000mm = = 166,67 mm n 1 6 Dipakai tulangan φ mm As lx = As x n = 78,5 mm x 7 = 549,5 mm > As lx 1 = 493 mm (Tulangan memenuhi syarat) 3. PERENCANAAN TANGGA Ketentuan Dan Dimensi Tangga - Skema tangga

77 68 - Tinggi lokal ruangan = 4.60 m - Ruangan tersedia = 3.6 x 5.1 m - Tinggi dasar sampai bordes =.3 m - Anak tangga Tinggi optride (t) = 17 s/d 19 Diambil 18 cm 460 Jumlah anak tangga = = 5,56 buah dibulatkan 6 buah 18 Lebar antride a + o = 0.60 s/d 0.66 (dipakai lebar antrede = 0.60) a = 60 x 18 = 4 cm - Kemiringan tangga (α) = arc tg - Penulangan plat bordes Momen Rancang Plat = 3,57 0,3 3,6

78 69 β = 3.6 = cx+ = 4,1 cx- = 7,4 cy+ = 17,8 cy- = 54,9 Mtx = -cx Wu. Lx Mtx = -7,4. 0,001. 9,048. 3,6 Mtx = -8,49 knm Mlx = +cx. 0,001. Wu. Lx Mlx = +4,1. 0,001. 9,048. 3,6 Mlx = 4,94 knm Mty = -cy. 0,001. Wu. Lx Mty = -54,9. 0,001. 9,048. 3,6 Mty = -6,44 knm Mly = +cy. 0,001. Wu. Lx Mly = +17,8. 0,001. 9,048. 3,6 Mly =,09 knm Penulangan Plat Tebal Plat = 10 mm Selimut Beton = p = 0 mm

79 70 Direncanakan Diameter tulangan utama arah x = φ10 mm Diameter tulangan utama arah y = φ10 mm Tinggi efektif - Arah x = dx = h p Dx/ = / = 95 mm - Arah y = dy = h p Dx Dy/ = / = 85 mm Penulangan tepi arah x Mtx = 8,49 knm Mu k = φ. b. d ,8x1000x95 = = 1,18 Dari Tabel Beton Apendiks pada bagian tabel A-10 maka ρ =0,0058 As tx 1 = ρ.b. d = 0,0058x 1000 x 95 = 551 mm

80 71 Direncanakan tulangan φ 10 mm As = ¼. π. D = ¼. 3, = 78,5 mm Jumlah tulangan n = Astx 1 As n = 551 = 7,0 dibulatkan 8 batang 78,5 Spasi = b 1000mm = = 14,86 mm dibulatkan 150 mm n 1 7 Dipakai tulangan φ mm As tx = As x n = 78,5 mm x 8 = 68 mm > As tx 1 = 551 mm (Tulangan memenuhi syarat) Penulangan lapangan arah x Mlx = 4,94 knm Mu k = φ. b. d ,8x1000x95 = = 0,684 Dari Tabel Beton Apendiks pada bagian tabel A-10 maka ρ =0,0058 As tx 1 = ρ.b. d = 0,0058x 1000 x 95 = 551 mm Direncanakan tulangan φ 10 mm As = ¼. π. D

81 7 = ¼. 3, = 78,5 mm Jumlah tulangan n = Astx 1 As n = 551 = 7,0 dibulatkan 8 batang 78,5 Spasi = b 1000mm = = 14,86 mm dibulatkan 150 mm n 1 7 Dipakai tulangan φ mm As tx = As x n = 78,5 mm x 8 = 68 mm > As tx 1 = 551 mm (Tulangan memenuhi syarat) Penulangan tepi arah y Mty = 6,44 knm Mu k = φ. b. d ,8x1000x85 = = 1,114 Dari Tabel Beton Apendiks pada bagian tabel A-10 maka ρ =0,0058 As tx 1 = ρ.b. d = 0,0058x 1000 x 85 = 493 mm Direncanakan tulangan φ 10 mm As = ¼. π. D = ¼. 3, = 78,5 mm

82 73 Jumlah tulangan n = Astx 1 As n = 493 = 6,8 dibulatkan 7 batang 78,5 Spasi = b 1000mm = = 166,67 mm dibulatkan 150 mm n 1 6 Dipakai tulangan φ mm As tx = As x n = 78,5 mm x 7 = 549,5 mm > As tx 1 = 493 mm (Tulangan memenuhi syarat) Penulangan lapangan arah y Mly =,09 knm Mu k = φ. b. d ,8x1000x85 = = 0,36 Dari Tabel Beton Apendiks pada bagian tabel A-10 maka ρ =0,0058 As tx 1 = ρ.b. d = 0,0058x 1000 x 85 = 493 mm Direncanakan tulangan φ 10 mm As = ¼. π. D = ¼. 3, = 78,5 mm Jumlah tulangan n = Astx 1 As

83 74 n = 493 = 6,8 dibulatkan 7 batang 78,5 Spasi = b 1000mm = = 166,67 mm dibulatkan 150 mm n 1 6 Dipakai tulangan φ mm As tx = As x n = 78,5 mm x 7 = 549,5 mm > As tx 1 = 493 mm (Tulangan memenuhi syarat) - Penulangan plat tangga Momen Rancang Plat 470 β = = cx+ = 63,5 cx- = 83 cy+ = 14 cy- = 50 Mtx = -cx Wu. Lx Mtx = ,001. 9,048. 1,5 Mtx = -1,69 knm Mlx = +cx. 0,001. Wu. Lx Mlx = +63,5. 0,001. 9,048. 1,5 Mlx = 1,93 knm Mty = -cy. 0,001. Wu. Lx

84 75 Mty = ,001. 9,048. 1,5 Mty = -1,018 knm Mly = +cy. 0,001. Wu. Lx Mly = ,001. 9,048. 1,5 Mly = 0,85 knm Penulangan Plat Tebal Plat = 10 mm Selimut Beton = p = 0 mm Direncanakan Diameter tulangan utama arah x = φ10 mm Diameter tulangan utama arah y = φ10 mm Tinggi efektif - Arah x = dx = h p Dx/ = / = 95 mm - Arah y = dy = h p Dx Dy/ = / = 85 mm

85 76 Penulangan tepi arah x Mtx =1,69 knm Mu k = φ. b. d ,8x1000x95 = = 0,34 Dari Tabel Beton Apendiks pada bagian tabel A-10 maka ρ =0,0058 As tx 1 = ρ.b. d = 0,0058x 1000 x 95 = 551 mm Direncanakan tulangan φ 10 mm As = ¼. π. D = ¼. 3, = 78,5 mm Jumlah tulangan n = Astx 1 As n = 551 = 7,0 dibulatkan 8 batang 78,5 Spasi = b 1000mm = = 14,86 mm dibulatkan 150 mm n 1 7 Dipakai tulangan φ mm As tx = As x n = 78,5 mm x 8 = 68 mm > As tx 1 = 570 mm (Tulangan memenuhi syarat) Penulangan lapangan arah x Mlx = 1,93 knm

86 77 Mu k = φ. b. d ,8x1000x95 = = 0,179 Dari Tabel Beton Apendiks pada bagian tabel A-10 maka ρ =0,0058 As tx 1 = ρ.b. d = 0,0058x 1000 x 95 = 551 mm Direncanakan tulangan φ 10 mm As = ¼. π. D = ¼. 3, = 78,5 mm Jumlah tulangan n = Astx 1 As n = 551 = 7,0 dibulatkan 8 batang 78,5 Spasi = b 1000mm = = 14,86 mm dibulatkan 150 mm n 1 7 Dipakai tulangan φ mm As tx = As x n = 78,5 mm x 8 = 68 mm > As tx 1 = 551 mm (Tulangan memenuhi syarat) Penulangan tepi arah y Mty = 1,018 knm Mu k = φ. b. d ,8x1000x85 = = 0,176 Dari Tabel Beton Apendiks pada bagian tabel A-10

87 78 maka ρ =0,0058 As tx 1 = ρ.b. d = 0,0058x 1000 x 85 = 493 mm Direncanakan tulangan φ 10 mm As = ¼. π. D = ¼. 3, = 78,5 mm Jumlah tulangan n = Astx 1 As n = 493 = 6,8 dibulatkan 7 batang 78,5 Spasi = b 1000mm = = 166,67 mm dibulatkan 150 mm n 1 6 Dipakai tulangan φ mm As tx = As x n = 78,5 mm x 7 = 549,5 mm > As tx 1 = 493 mm (Tulangan memenuhi syarat) Penulangan lapangan arah y Mly = 0,85 knm Mu k = φ. b. d ,8x1000x85 = = 0,049 Dari Tabel Beton Apendiks pada bagian tabel A-10 maka ρ =0,0058 As tx 1 = ρ.b. d

88 79 = 0,0058x 1000 x 85 = 493 mm Direncanakan tulangan φ 10 mm As = ¼. π. D = ¼. 3, = 78,5 mm Jumlah tulangan n = Astx 1 As n = 493 = 6,8 dibulatkan 7 batang 78,5 Spasi = b 1000mm = = 166,67 mm dibulatkan 150 mm n 1 6 Dipakai tulangan φ mm As tx = As x n = 78,5 mm x 7 = 549,5 mm > As tx 1 = 493 mm (Tulangan memenuhi syarat) DASAR PERENCANAAN 6. Perencanaan struktur portal utama menggunakan beton bertulang dengan mutu beton fc = 5 MPa, fy = 40 MPa. Struktur dihitung dengan program SAP 000V7.40 ( di Lab. Komputer Teknik Sipil, UNNES ) untuk menghindari kesalahan perhitungan dengan cara manual. Perhitungan struktur portal meliputi : 1. Estimasi Pembebanan

89 80 Perhitungan pembebanan struktur portal berdasarkan Pedoman Perencanaan Pembebanan untuk Rumah dan Gedung Analisa Statik Perhitungan denga menggunakan SAP 000V7.40 ( di Lab. Komputer Teknik Sipil, UNNES ) menghasilkan gaya gaya dan momen-momen yang nantinya digunakan untuk menghitung penulangan 3. Perhitungan Penulangan Momen atau gaya yang dihasilkan dari output SAP 000V7.40 ( di Lab. Komputer Teknik Sipil, UNNES ) diambil yang terbesar kemudian digunakan untuk menghitung penulangan balok, sloof, ringbalk, kolom, dan pondasi.. PERHITUNGAN GAYA-GAYA GESER YANG BEKERJA PADA STRUKTUR Berat Bangunan Total (W Tot) Untuk Bangunan Gedung Lantai 1 A. BEBAN MATI Berat plat = 15 x 54 x 400 x 0.1 = 3380 Balok induk P3=P4 (30x60) = 30 x ( ) x 0.3 x 400 = AP=P (30x80) = 114 x ( )x 0.3 x 400 = AP1=P1(30x60) = 96 x 0.6 x ( ) x 400 =

90 81 CP (40x100) = 34.4 x 1 x (1 0.1)x 400 = Balok anak A1=A=T (0x35) = 9. x ( )x 0. x 400 = C1 (40x40) = 1.6 x ( )x 0.4 x 400 = Kolom K1 (40x60) = 16 x (4.6 x 0.4 x 0.6) x 400 = 4393 K (40x50) = 16 x (4.6 x 0.4 x 0.5) x 400 = 3538 K3 (40x40) = x (4.6 x 0.4 x 0.4) x 400 = K4 (60x60) = 10 x (4.6 x 0.6 x 0.6) x 400 = K5 (0x0) = 6 x (4.6 x 0. x 0.) x 400 = K6 (30x30) = x (4.6 x 0.3 x 0.3) x 400 = Dinding = (x14.85 ) + (x53.85) x 4.6 x 50 = Plafon+ penggantung = x x (11+7) = Spesi = x x 4 = Tegel = x x 4 = Jumlah = B. BEBAN HIDUP qh lantai = 50 kg/m koef reduksi = 0.3 Wh = 0.3 x (15 x 54 x 50) = kg Beban total = Wm + Wh =

91 8 = kg Lantai A. BEBAN MATI Berat plat = 15 x 54 x 400 x 0.1 = 3380 Balok induk P3=P4 (30x60) = 30 x ( ) x 0.3 x 400 = AP=P (30x80) = 114 x ( )x 0.3 x 400 = AP1=P1(30x60) = 96 x 0.6 x ( ) x 400 = CP (40x100) = 34.4 x 1 x (1 0.1)x 400 = Balok anak A1=A=T (0x35) = 9. x 0.35 x 0. x 400 = C1 (40x40) = 1.6 x 0.4 x 0.4 x 400 = Kolom K1 (40x60) = 16 x (4. x 0.4 x 0.6) x 400 = K (40x50) = 16 x (4. x 0.4 x 0.5) x 400 = 356 K3 (40x40) = x (4. x 0.4 x 0.4) x 400 = 35.6 K4 (60x60) = 10 x (4. x 0.6 x 0.6) x 400 = 3688 K6 (30x30) = x (4. x 0.3 x 0.3) x 400 = Dinding = (x14.85 ) + (x53.85) x 4. x 50 = Plafon + penggantung = x x (11+7) = Spesi = x x 4 = Tegel = x x 4 = Jumlah =

92 83 B. BEBAN HIDUP a. qh lantai = 50 kg/m b.koef reduksi = 0.3 Wh = 0.3 x (15 x 54 x 50) = kg c. Beban total = Wm + Wh = = kg Lantai 3 A. BEBAN MATI Balok A1=A=T (0x35) = 138 x 0.35 x 0. x 400 = 3184 Kolom K1 (40x60) = 16 x (4. x 0.4 x 0.6) x 400 = K (40x50) = 16 x (4. x 0.4 x 0.5) x 400 = 356 K3 (40x40) = x (4. x 0.4 x 0.4) x 400 = 35.6 K4 (60x60) = 4 x (4. x 0.6 x 0.6) x 400 = K6 (30x30) = x (4. x 0.3 x 0.3) x 400 = Berat ring balk (0/15) = (x69.5)+(x16.5)x0.15x0.x400 = 515 Berat atap (berdasarkan SAP 000) = 9.4 x 15 x 54 = 3814 Dinding = (x14)+(x69.5)x4.5x50 = Plafon + penggantung = 14x69.5x(11+7) = Spesi = 14x69.5x1 = 0433

93 84 Tegel = 14x69.5x4 = Jumlah = kg B. BEBAN HIDUP a. qh lantai = 50 kg/m b. koef reduksi = 0.3 Wh = 0.3x(15 x 54 x 50) = kg c. Beban total = Wm + Wh = = kg D. Beban bangunan total = beban lantai 1 + beban lantai + beban lantai 3 = = kg = Ton Waktu Getar Bangunan (T) Rumus empiris untuk portal beton Tx = Ty = 0,06 Dengan : H = Ketinggian sampai puncak dari bangunan utama struktur gedung diukur dari tingkat penjepit lateral ( dalam m ). H = h1 + h + h3 = = 13 m Tx = Ty = 0.06 x H (3/4) = 0.06 x 13 (3/4)

94 85 = detik Koefisien Gempa Dasar ( C ) Grafik koefisien gempa dasar untuk wilayah Semarang ( Zone 4 ) dengan struktur bangunan di atas tanah lunak diperoleh C = 0.05 Gambar. Koefisien Gempa Dasar C Untuk Tx = Ty = detik, zone 4 dan jenis tanah lunak diperoleh C = 0.05 (Lihat Gambar 1.1) Faktor keutamaan (I) dan faktor jenis struktur (K) I = 1.5 K = 1 Gaya Geser Horizontal Total Akibat Gempa Vx = Vy = C x I x K x Wt = 0.05 x 1.5 x 1 x = ton Distribusi Gaya Geser Akibat Gempa ke Sepanjang Tinggi Gedung a. Arah x H A = = 0.4 < 3 (OKE)

95 86 b. Arah y Fix = Qixhi Qixhi xvx H A 13 = = 0.87 < 3 15 (OKE) Dengan Fiy = Qixhi Qixhi xvy Fi hi = gaya geser horizontal akibat gempa pada lantai ke-1 = tinggi lantai ke-1 terhadap lantai dasar Vx, y = gaya geser horizontal total akibat gempa untuk arah x atau y A, B = panjang sisi bangunan dalam arah x dan y Tabel 4 Distribusi gaya geser dasar horizontal akibat total gempa kesepanjang panjang gedung dalam arah X dan Y untuk tiap portal tingkat Hi Qi Hi x Qi Fix,y Untuk tiap portal (m) (t) (tm) Total (t) ½ Fix(t) 1/9 Fiy(t) Perencanaan Balok Balok P3=P4 L = 6 m 6000 H min = = 34.3mm ~ 60 cm 18.5

96 87 h B = = s / d = 30s / d 45 ~ 30 cm s / d Dipakai ukuran balok 60 x 30 Balok AP1=P1 L = 6 m H min = 6000 = 34.3mm ~ 60 cm 18.5 h B = = s / d = 30s / d 45 ~ 30 cm s / d Dipakai ukuran balok 60 x 30 Balok AP=P L = 9 m H min = 9000 = mm ~ 80 cm 18.5 h B = = s / d = 40s / d53 ~ 40 cm s / d Dipakai ukuran balok 80 x 40 Balok A1=A=T L = 3.6 m H min = 3600 = mm ~ 35 cm 18.5 h B = = s / d = 17.5s / d 3. 3 ~ 0 cm s / d

97 88 Dipakai ukuran balok 35 x 0 Balok CP L = 10.8 m H min = 1080 = mm ~ 100 cm 18.5 h B = = s / d = 50s / d ~ 40 cm s / d Dipakai ukuran balok 100 x 40 Balok C1 L = 3.6 m H min = 3600 = 194.6mm ~ 40 cm 18.5 h B = = s / d = 0s / d ~ 0 cm s / d Dipakai ukuran balok 40 x 0 PERENCANAAN BALOK Balok 30 x 60 Data-data balok Tinggi balok (h) : 600 mm Lebar balok (b) : 300 mm Selimut beton (p) : 0 mm Diameter tul. utama : 0 mm Diameter tul. sengkang : 10 mm Mutu tulangan (fy) : 40 MPa Mutu beton (fc) : 5 MPa

98 89 Gaya rencana dipakai adalah gaya maksimum pada batang : P = N Vu = N Tu = Nmm Mu = Nmm Penulangan longitudinal d = / = 559 mm Penulangan pada momen Mu k = ϑ. b. d = 0, =.98 ρ min = 0,0058 ρ perlu = 0,0135 ρ maks = 0,0403 ρ min < ρ perlu < ρ maks 0,0058 < 0,0135 < 0,0403 As = ρ. b. d = 0, = 63,95 mm Akibat gaya tekan aksial A = P θ. fy = 0,65.40 = 571,47 mm Ast = As + A = 63, ,47 = 835,4 mm

99 90 Dipakai 6 Ø 5 = 945, mm kontrol spasi = (6.5) = 65 mm Penulangan geser Tu Vu = Nmm = N Σx y = (300-40). (600-40) = mm Φ.1/4. fc.σx y = 0,6. 1/ = Nmm Tu Φ.1/4. fc. Σx y Nmm Nmm Vc = 1/6. fc. b. d = 1/ = N Perlu tulangan geser Vu Vs = Vc θ = ,6 = N /3. b. d. fc = / = N Vs /3. b. d. fc N N Dimensi sudah memenuhi syarat Smaks = d/

100 91 = 559 / = 79,5 mm, dipakai 150 m Penulangan geser Av = Vs. S fy. d = = 41,98 mm Jadi dipakai Ø Balok lantai 40 x 100 Data-data balok Tinggi balok (h) Lebar balok (b) : 1000 mm : 400 mm Selimut beton (p) : 0 mm Diameter tul. utama Diameter tul. sengkang Mutu tulangan (fy) Mutu beton (fc) : mm : 1 mm : 40 MPa : 5 MPa Gaya rencana yang dipakai adalah gaya maksimum pada batang : P Vu Tu Mu =160 N = N = Nmm = Nmm Penulangan longitudinal d = / = 957 mm Penulangan pada momen Mu k = d. bθ.

101 = 0, =,637 MPa ρ min = 0,0058 ρ perlu = 0,0118 ρ maks = 0,0403 ρ min < ρ perlu <ρ maks 0,0058 < 0,0118 < 0,0403 As = ρ. b. d = 0, = 4517,04 mm Akibat gaya tekan aksial A= P θ. fy = Ast 160 0,65.40 = As + A = 786,03 mm Dipakai 9 Ø 8 = 4517, ,03 = 5303,07mm kontrol spasi = (9.8) = 64 mm Penulangan geser Tu Vu = Nmm = N Σx y = (400-40). ( ) = mm Φ.1/4. fc. Σx y = 0,6. 1/

102 93 = Nmm Tu Φ. 1/4. fc. Σx y Nmm Nmm Vc = 1/6. fc. b. d = 1/ = N Perlu tulangan geser Vu Vs = Vc θ = ,6 = ,67 N /3. b. d. fc = / = N Vs /3. b. d. fc ,67 N N Dimensi sudah memenuhi syarat Smaks = d/ = 957 / = 478,5 mm, dipakai 150 mm Penulangan geser Av = Vs. S fy. d , = = 67,3 mm Jadi dipakai Ø 1 150

103 94 Balok 0 x 35 Data-data balok Tinggi balok (h) Lebar balok (b) : 350 mm : 00 mm Selimut beton (p) : 0 mm Diameter tul. utama Diameter tul. sengkang Mutu baja (fy) Mutu beton (fc) : 1 mm : 8 mm : 40 MPa : 5 MPa Gaya rencana dipakai adalah gaya maksimum pada batang : P = 0050 N Vu = 0950 N Tu = Nmm Mu = Nmm Penulangan longitudinal d = / = 316 mm Penulangan pada momen k = Mu d. bθ = 0, =,4 MPa ρ min = 0,0058 ρ perlu = 0,0098 ρ maks = 0,0403 ρ min < ρ perlu < ρ maks 0,0058 < 0,0098 < 0,0403 As = ρ. b. d = 0,

104 95 = 619,36 mm Akibat gaya tekan aksial A = P θ. fy = ,65.40 = 18,5 mm Ast = As + A = 619, ,5 = 747,88 mm Dipakai 5 Ø 14 kontrol spasi = (5.14) = 45 mm Penulangan geser Tu Vu = Nmm = 0950 N Σx y = (00-40). (350-40) = mm Φ.1/4. fc.σx y = 0,6. 1/ = Nmm Tu Φ.1/4. fc. Σx y Nmm Nmm Vc = 1/6. fc. b. d = 1/ = 5666,67 N Perlu tulangan geser

105 96 Vu Vs = Vc θ 0950 = 5666, 67 0,6 = N /3. b. d. fc = / = 10666,67 N Vs /3. b. d. fc N 10666,67 N Dimensi sudah memenuhi syarat Smaks = d/ =316 / = 158 mm, dipakai 150 mm Penulangan geser Av = Vs. S fy. d = = -35,1 mm Jadi dipakai Ø PERENCANAAN SLOOF 1. Data-Data Balok 0 x 50 Tinggi balok = 500 mm Lebar balok = 00 mm Selimut beton = 0 mm Diameter tulangan utama = 19 mm Diameter tulangan sengkang = 10 mm

106 97 Mutu baja (fy) = 40 MPa Mutu beton (fc) = 5 MPa Tinggi efektif d = h p - φ tul sengkang ½ φ tul. utama = ½ x 19 = mm 7. Dari hasil analisa dengan menggunakan program SAP 000V7.40 ( di Lab. Komputer Teknik Sipil, UNNES ) diperoleh data-data sebagai berikut : M tumpuan M lapangan V tumpuan V lapangan = Nmm = Nmm = N = 1450 N. Penulangan sloof a. Penulangan sloof tumpuan M tumpuan = Nmm Mu K perlu = = = 1, 76 θxbxd 0,8x00x460.5 Menurut tebel perhitungan beton bertulang A.10 diperoleh ρ = 0,0076 As = ρ x b x d = 0,0076 x 00 x = mm... dipakai 5 D 14 (As = 770 mm ) As = 0,5 x As

107 98 = 0,5 x = 349,98 mm... dipakai 3 D 13 (As = 398, mm ) b. Penulangan sloof lapangan M lapangan = Nmm Mu K perlu = = = 0, 06 θxbxd 0.8x00x460,5 Menurut buku tebel perhitungan beton bertulang A10 diperoleh ρ = 0,0058 As = ρ x b x d = 0,0058 x 00 x 460,5 = 534,18 mm... dipakai 5 D 1 (As = 565,5 mm ) As = 0,5 As = 0.5 x 534,18 = 67,09 mm... dipakai 6 D 8 (As = 301 mm ) c. Perhitungan tulangan geser Tulangan geser tumpuan V tumpuan = N Gaya Geser Nominal Pada Beton: Vc = 1/6 x fc x b x d = 1/6 x 5 x 00 x = N Vs = Vc Vu φ

108 = ,6 = 933,33 N > 0 ( perlu tulangan geser) VsxS 933,3x150 Av = = = 44,3mm fyxd 40x460.5 Ø x 1/0 x fc x Σ x y = Nmm Tu = Nmm ( tidak perlu tulangan puntir ) Av tot. =44,3 mm Av min = bxs 3xfy 00x150 = 3x40 = 41,67mm Av = ½ x Av tot.= 7,1 mm D = Ax4 π = 7,1x4 3,14 = 91,87mm D =9,59 mm Jadi dipakai φ mm Tulangan geser lapangan V lapangan = 1450 N Vc = 1/6 x fc x b x d = 1/6 x 5 x 00 x 460,5 = N Vs = Vu Vc φ 1450 =

109 100 = ,39 N < 0 ( perlu tulangan geser) VsxS Av = fyxd = 74333,39x150 40x460,5 = mm Ø x 1/0 x fc x Σ x y = Nmm Tu = Nmm ( tidak perlu tulangan puntir ) Av tot. = mm Av min = bxs 3xfy 00x150 = 3x40 = 41,67mm Av = ½ x Av tot.= 50,45 mm D = Ax4 π 50,45x4 = = 79,03mm 3,14 D =8,0 mm Jadi dipakai φ mm PERENCANAAN KOLOM Kolom lantai 1 Data kolom : Ukuran kolom Diameter tulangan pokok Selimut beton (p) = ( 600 x 600 ) mm = mm = 40 mm Diameter sengkang = 10 mm fy =40 MPa

110 101 Gaya rencana dipakai adalah gaya maksimum pada batang P = N Vu = N Tu = Nmm Mu = Nmm Lebar efektif ( d) = / = 539 mm 600 Cb = d fy. 600 = = 385 mm ab = β. Cb = 0, = 37,5 mm Dengan mengabaikan displacement concrete Ccb = ab. b. 0,85. fc = 37, ,85. 5 = ,5 N Tsb = Csb Karena kolom simetris Pnb = Ccb + Csb Tsb = ,5 N Prb = 0,65. Pnb = 0, ,5 = 71084,37 N P Prb N 71084,37 N kontrol keluluhan baja εy = 0,000

111 10 d' = = 61 cb d' εs = 0, 003 cb = 0, = 0,059 vy = 0,000 h ab h h Mnb = Ccb ( - ) + Tsb ( - d ) + Csb ( - d ) ,5 600 = ,5 ( ) + Tsb ( 40) = , Tsb = , Tsb Tsb = ,38 N As = Tsb fy ,38 = 40 = 437,53 mm As = As =. 437,53 = 875,06 mm Dipakai tulangan 8 Ø (3.1) Spasi = 3 = 161 mm Penulangan geser Tu = Nmm Vu = Nmm Σx y = (600-80). (600-80) = mm Φ. 1/4. fc. Σx y

112 103 = 0,6. 1/ = Nmm Tu Φ. 1/4. fc. Σx y Nmm Nmm Vc = 1/6.b. d. fc = 1/ = N Perlu tulangan geser Vs = Vu Vc θ = ,6 = ,3 N /3. b. d. fc = / = N Vs /3. b. d. fc ,3 N N Dimensi memenuhi syarat Smaks = d/ = 539 / = 69.5 mm, dipakai 150 mm Penulangan geser Av = Vs. s fy. d = = 16,64 mm Dipakai Ø

113 104 Kolom lantai Data kolom : Ukuran kolom Diameter tulangan pokok Selimut beton (p) Diameter sengkang fy = ( 400 x 600 ) mm = mm = 40 mm = 10 mm = 400 MPa Gaya rencana di pakai adalah gaya maksimum pada batang : P = N Vu = N Tu = Nmm Mu = Nmm d = / = 339 mm 600 Cb = d fy. 600 = = 4,14 mm ab = β. Cb = 0,85. 4,14 = 05,8 mm Dengan mengabaikan displacement concrete Ccb = ab. b. 0,85. fc = 05, ,85. 5 = N Tsb = Csb Karena kolom simetri Pnb = Ccb + Csb Tsb = N

114 105 Prb P Prb = 0,65. Pnb = 0, = ,5 N N ,5 N kontrol keluluhan baja εy = 0,000 d' = = 61 cb d' εs = 0, 003 cb 4,14 61 = 0, 003 4,14 = vy = 0,000 h ab h h Mnb = Ccb ( - ) + Tsb ( - d ) + Csb ( - d ) ,8 600 = ( ) + Tsb ( 40) = , Tsb = , Tsb Tsb As = = 50801,84 N Tsb fy 50801,84 = 40 = 11,67 mm As = As =. 11,67 = 43,35 m Dipakai tulangan 4 Ø (4.1) Spasi = 3

115 106 = 90,67 mm Penulangan geser Tu = Nmm Vu = Nmm Σx y = (400-80). (600-80) = mm Φ. 1/4. fc. Σx y = 0,6. 1/ = Nmm Tu Φ. 1/4. fc. Σx y Nmm Nmm Vc = 1/6.b. d. fc = 1/ = N Perlu tulangan geser Vu Vs = Vc θ = ,6 = ,3 N /3. b. d. fc = / = 99333,33 N Vs /3. b. d. fc 308,33 N 99333,33 N Dimensi memenuhi syarat Smaks = d/ = 149 / = 74,5 mm, dipakai 150 mm Penulangan geser

116 107 Av = Vs. s fy. d 308, = = 7,61 mm Dipakai Ø Kolom lantai 3 Data kolom : Ukuran kolom Diameter tulangan pokok Selimut beton (p) Diameter sengkang fy = ( 400 x 400 ) mm = mm = 40 mm = 10mm = 40 MPa Gaya rencana di pakai gaya maksimum pada batang 1753 (frame 1753 ) P = N Vu = N Tu = Nmm Mu = Nmm d = / = 339 mm 600 Cb = d fy. 600 = = 4,14 mm ab = β. Cb = 0,85. 4,14

117 108 = 05,8 mm Dengan mengabaikan displacement concrete Ccb = ab. b. 0,85. fc = 05, ,85. 5 = N Tsb = Csb Karena kolom simetri Pnb = Ccb + Csb Tsb = N Prb = 0,65. Pnb = 0, = ,5 N P Prb N ,5 N kontrol keluluhan baja εy = 0,000 d' = = 61 cb d' εs = 0, 003 cb 4,14 61 = 0, 003 4,14 = 0,004 vy = 0,000 h ab h h Mnb = Ccb ( - ) + Tsb ( - d ) + Csb ( - d ) ,8 400 = ( ) + Tsb ( 40) = , Tsb = , Tsb Tsb = 5043,6 N

118 109 As = Tsb fy 5043,6 = 40 = 16,85 mm As = As =. 47,0 = 433,69 mm Dipakai tulangan 4 Ø1 Spasi = (4.1) 3 = 90,6 mm Penulangan geser Tu Vu = Nmm = Nmm ΣX y = (400-80). (400-80) = mm Φ. 1/4. fc. Σx y = 0,6. 1/ = Nmm Tu Φ. 1/4. fc. Σx y Nmm Nmm Vc = 1/6.b. d. fc = 1/ = N Perlu tulangan geser Vs = Vc Vu θ

119 = ,6 = 40753,3 N /3. b. d. fc = / = N Vs /3. b. d. fc 40753,3 N N Dimensi memenuhi syarat Smaks = d/ = 339 / = 169,5 mm, dipakai 150 mm Penulangan geser Av = Vs. s fy. d 40753,3.150 = = 751,33 mm Dipakai Ø10-150

120 BAB V PERHITUNGAN PONDASI 5.1 Uraian Umum Pondasi bangunan merupakan struktur yang berfungsi untuk meneruskan beban ke dalam tanah pendukung yang ada di bawahnya. Pelimpahan beban struktur harus terjadi sedemikian sehingga keseimbangan struktur dapat terjamin dengan baik dan ekonomis. Seluruh beban struktur harus dapat ditahan oleh lapisan tanah yang kuat agar tidak terjadi setlement yang menyebabkan kehancuran struktur, perhitungan pondasi harus menghasilkan konstruksi pondasi yang kuat dan kokoh. Pondasi adalah suatu struktur bangunan yang berada di samping atau di bawah bangunan yang dapat menahan secara kuat bangunan tersebut dan dapat di tahan oleh tanah yang ada di sampingnya ataupun di bawahnya. 5. Alternatif Pemilihan Pondasi Dalam perencanaan pondasi untuk bangunan harus diperhatikan beberapa hal penting sebagai berikut : 1. Fungsi dari bangunan yang dipikul oleh pondasi.. Data tentang tanah dasar. 3. Besarnya beban dan berat bangunan yang ada di atasnya. 4. Waktu dan biaya pondasi. 111

121 11 Menurut bentuknya pondasi foot plat setempat dibagi menjadi : 1. Pondasi plat bujur sangkar.. Pondasi plat persegi. 3. Pondasi plat lingkaran. Dari ketiga bentuk pondasi foot plat tersebut dipilih pondasi foot plat bentuk persegi karena mempunyai keuntungan diantaranya : 1. Pondasi tapak persegi efektif digunakan bila ruangan yang tersisa terbatas, sehingga tidak memungkinkan menggunakan pondasi tapak bujur sangkar.. Pondasi tapak persegi lebih efektif bila sisi panjang diperuntukkan menahan momen lentur. 5.3 Analisa Daya Dukung Tanah Dari hasil pengujian boring di laboratorium mekanika tanah Universitas Negeri Semarang diperoleh data-data tanah sebagai berikut : Df (kedalaman) =.60 m Sf (Safety Factor/Angka Keamanan) = 3.00 C (Kohesi) = 0.18 kg/cm = 0.18 kn/m Bγ (Berat Tanah) = 18 kn/m 3 φ (Sudut geser) = 4 Dari tabel nilai-nilai faktor daya dukung terzaghi : Nc (Faktor Daya Dukung) =.51 Nq (Faktor Daya Dukung) = 1.7

122 113 Nγ (Faktor Daya Dukung) = 9.7 Tebal plat pondasi = 0.8 m qc = 135 kg/m q = Df x Bγ =.60 m x 18 kn/m 3 = 46.8 kn/m Dari rumus terzaghi didapat : Q ultimit = c. Nc + Df. Bγ. Nq + 0,5. Bγ. Nγ = qc/0. Nc + Df. Bγ. Nq + 0,5. Bγ.Nγ = 135/0.,51 +,6.18.1,7 + 0, ,7 = kn/m Kapasitas daya dukung tanah Q netto = 659,6 / Sf = kn/m / 3 = kn/m 5.4 Perencanaan Pondasi Dalam mengatur letak pondasi foot plat hendaknya diperhitungkan jarak antar tiang sehingga masing-masing foot plat akan menerima beban yang sama. Walaupun foot plat menumpu pada lapisan tanah yang cukup baik, namun dasar pembagian yang sama untuk setiap pondasi foot plat harus tetap dipegang, agar dapat dihindari hal-hal yang tidak dapat diperkirakan sebelumnya sebagai akibat penurunan yang tidak sama.

123 114 Pondasi foot plat ini menggunakan mutu beton (fc) =.5 MPa dan mutu baja (fy) = 40 MPa. 5.5 Penulangan Pondasi Dari analisa dengan program SAP 000 diperoleh : Pu = N = kn Mx = Nmm = knm My = Nmm = knm a. Pembebanan Beban tanah timbunan =.6 m x 18 kn/m 3 = 46.8 kn/m Beban telapak = 0.6 m x 4 kn/m = 14.4 kn/m + = 61. kn/m b. Perhitungan tegangan ijin netto akibat beban yang bekerja Tegangan ijin tanah = kn/m Berat Pondasi = 61. kn/m + σ netto = kn/m c. Perhitungan dimensi bidang datar pondasi A perlu = = Pu σ. netto = m Lebar pondasi diambil (B) = m

124 115 Panjang pondasi (L) Eksentrisitas (e) = 3.5 m My = Pu = = m d. Perhitungan akibat tegangan netto akibat beban berfaktor Pu = N = kn Mx = Nmm = knm My = Nmm = knm Tegangan netto berfaktor Q netto = Pu A ± Mx Wx ± My Wy = ± ±. Q maks = kn/m Q min = kn/m Q netto = Qmaks + Q min = = kn/m e. Kontrol kekuatan Geser Pons Tinggi efektif o Tebal pondasi o Penutup beton = 800 mm = 0 mm

125 116 o Diameter tulangan (D) o dp = mm = h p D ½.D = = 697 mm o dl = h p ½ D = = 719 mm Perhitungan akibat tegangan netto berfaktor Gaya geser berfaktor Vu = Q netto maks x luas beban geser = kn/m x {(B.L) (a1 + d). (a + d)} = x {(.) ( ,697). ( ,697)} = 1046,671 kn Gaya geser nominal φ Vc = φ. bo. d. f ' c bo =. (a1 + d) +. (a + d) =. ( ) +. ( ) = 5388 mm φ Vc = 0.6 x 5388 x x 5 = 1166 kn Vu = 1046,671 kn < φ Vc = 1166 kn Tebal plat mencukupi untuk memikul gaya geser tanpa memerlukan tulangan geser.

126 117 f. Perhitungan momen lentur Mu = ½. Q netto maks. L a. B = ½ x kn/m 0.45 x x = 75,94 knm g. Perhitungan tulangan lentur Wu maks = Q1 = kn/m Mu = ½. Wu. L a1.b 0,45 = ½ = 8, knm = 8467,451 knmm Momen nominal (Mn) = φ Mu = 8467, Perhitungan luas tulangan lentur = 353,0843 knmm Mu K perlu = φ. b. d 6 8, , = = 0,363 Di dapat ρ = 0,0035 As perlu = ρ. b.d = 0, = 4879 mm

127 118 Luas tulangan permeter lebar As = Asperlu B = 4879 = 439,5mm Dipakai tulangan D- 150 mm (As = 534, mm ) Perhitungan Pondasi Sumuran Dari perhitungan SAP didapat : P = 1843,9 KN Mx My = -14,9 KNm =,55 KNm Dari data sondir diperolah : qc = 170 Kg/cm Tf = 740 Kg/cm Diameter sumuran (D) = 160 cm, kedalaman = 4.6 m Luas (A) = 1/4. 3,14. D = 157,57 cm Keliling (O) = 3,14. D = 50.4 cm Qijin = (qc. A/ 3) + (Tf. O) / 10 = ( ,57 / 3) + ( / 10 ) = 055,91 KN Jumlah sumuran = P/ Qu = 1843,9 / 055,91 = 0,89 1 bh y 0 x 160 Tebal pile cap (d) = 50 cm P = 1843, ,5 = 1891,79 KN

128 119 Cek Terhadap Geser Pons : Mutu beton K5 fc =.5 MPa, mutu baja fy = 40 MPa Besar tinggi efektif (d) = 50 cm Kolom = 50 x 50 cm Vu pons = 1891,79 KN bo =. ( ) + ( ) = 4000 mm ФVc = 0,6. 1/3. fc. bo. d = 0,6. 1/ = 000 KN > Vu = 1891,79 KN Cek Terhadap Geser Lentur Pengecekan geser lentur pada kasus ini tidak dilakukan karena d = 50 cm, sumuran berada di dalam bidang geser yang terbentuk. Tebal pile cap (th) = d+ selimut beton + 1/ tulangan = ,5 / = 56,5 55 cm Jika pengecekan akan dilakukan langkah perhitungannya : Vu geser lentur = 0 KN ФVc geser lentur = 0,6. 1/6. fc. b. d = 0,6. 1/ = 500 KN Maka Vu geser lentur < ФVc geser lentur 0 KN < 500 KN Perhitungan Tulangan Pile cap : pmin = , tabel.9

129 10 Asmin = ρmin. b.d = 0, = 5800 mm AD5 = 490,9 mm n = 5800 / 490,9 = 1D5 55 1D5 1D5 Panjang 4,6m Pondasi sumuran ø 160 cm Perhitungan tulangan sumuran : 460 Tulangan tegak : pmin = 0,0058 tabel.9 Asmin = 0,0058. (1/4. π /4. π ) = 19,31 mm n = 19,31 / AD1 = 11D1

130 11 Tulangan Melingkar D10 5 cm 11D1 Beton Siklop D10 5 cm

131 BAB VI RENCANA KERJA DAN SYARAT-SYARAT 4.1. SYARAT SYARAT UMUM Pasal I. 01 PERATURAN UMUM Tatkala dalam penyelenggaraan bangunan ini dilaksanaakan berdasarkan peraturan-peraturan sebagai berikut : 1. Sepanjang tidak ada ketentuan lain untuk melaksanakan pekerjaan borongan bangunan di Indonesi, maka sah dan mengikat adalah syarat-syarat umum (disingkat SU) untuk melaksanakan pekerjaan borongan bangunan Indonesia (AV) yang disyahkan dengan surat keputusan Pemerintah No.9 tanggal : 8 Mei 1941 dan tambahan Lembaran Negara No Surat Keputusan Presiden Republik Indonesia No. 4 tahun 00 tentang pedoman Pedoman Pelaksanaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara. 3. Keputusan Presiden Republik Indonesia No. 80 Tahun 003,tentang Pedoman Pelaksanaan Pengadaan Barang/ Jasa Pemerintah. 4. keputusan Menteri Pemukiman dan Prasarana Wilayah RI No. 339/KPTS/M/003 tgl 1 Agustus 00,tentang Pedoman Teknis Pembangunan Bangunan Negara. 5. keputusan Menteri Pemukiman dan Prasarana Wilayah RI No. 339/KPTS/M/003 tgl 31 Desember 003,tentang Petunjuk Pelaksanaan Pengadaan Jasa Konstruksi Oleh Instansi Pemerintah. 6. Peraturan- peraturan lain yang berhubungan dengan Pembangunan ini. 1

132 13 Pasal I.0 PEMBERIAN TUGAS PEKERJAAN Pemberi Tugas Pekerjaan adalah : Pejabat Pembuat Komitmen Komitmen Kegiatan PNPB & Administrasi UmumDIPA UNNES Tahun Anggaran 006. Pasal I.03 PENGELOLAAN KEGIATAN PEKERJAAN Pengelolaan Kegiatan Pekerjaan terdiri atas : 1. Pengelolaan Pekerjaan dari Unsur Pemegang Mata Anggaran.. Pengelolaan Teknis Proyek ( PTP ) adalah personil yang ditunjuk Pejabat Pembuat Komitmen Kegiatan PNBP & Administrasi Umum DIPA UNNES Tahun Anggaran 006. Pasal I.04 PERENCANA / ARSITEK 1. Perencana Teknik Pembangunan adalah CV.NIRMANA, Jalan Palebon Raya No 39A, SEMARANG. Tlpn (04) Fax (04) Perencana berkewajiban pula mengadakan pengawasan berkala dalam bidang arsitektur dan struktur. 3. Perencana tidak dibenarkan merubah ketentuan- ketentuan pelaksanaan pekerjaan sebelum mendapt ijin secara tertulis dari Pejabat Pembuat Komitmen Kegiatan PNPB & Administrasi Umum DIPA UNNES Tahun Anggaran 006. Bilamana Perencana menjumpai kejanggalan kejanggalan dalam pelaksanaan atau menyimpang dari Bestek/RKS supaya memberi

133 14 tahukan secara tertulis kepada penanggung jawab kegiatan dan Usaha Perguruan Tinggi Universitas Negeri Semarang ( UNNES ). Pasal I.05 PENGAWASAN LAPANGAN/DIREKSI LAPANGAN 1. Konsultan Pengawas Teknis Pembangunan akan ditentukan kemudian olehpenanggung Jawab Kegiatan Penyelenggara Kegiatan dan Usaha Perguruan Tinggi Universitas Negeri Semarang ( UNNES ).. Tugas Konsultan Pengawas adalah mengawasi Pekerjaan sesuai gambar Bestek/RKS dan perubahan- perubahan dalam berita acara Aanwijzing selama pelaksanaan sampai dengan serah terima pekerjaan ke I dan masa pemeliharaan sampai serah terima pekerjaan ke II. 3. Pengawasan lapangan tidak dibenarkan merubah ketentuan-ketentuan pelaksanaan pekerjaan sebelum mendapat ijin tertulis dari Pejabat Pembuat Komitmen Kegiatan PNPB & Administrasi Umum DIPA UNNES Tahun Anggaran Bilamana Pengawas lapangan menjumpai kejanggalan-kejanggalan dalam pelaksanaan atau menyimpan dari bestek, supaya segera memberitahukan secara tertulis kepada Pejabat Pembuat Komitmen Kegiatan PNPB & Administrasi Umum DIPA UNNES Tahun Anggaran Konsultan Pengawas diwajibkan menyusun rekaman pengawasan selama pelaksanaan berlangsung 0% sampai dengan serah terima pekerjaan ke II dan disampaikan kepada Pejabat Pembuat Komitmen Kegiatan PNPB & Administrasi Umum DIPA UNNES Tahun Anggaran 006.

134 15 Pasal I. 06 PENGUMUMAN PENDAFTARAN PESERTA LELANG 1. Metoda pemilihan penyedia jasa borongan pekerjaan ini dilakukan melalui Pelelangan Umum dengan pasaca kualifikasi... Pelelangan Pekerjaan ini diumumkan sacara luas melalui media cetak, elektronika dan papan pengumuman resmi. 3. Tempat, tanggal, hari dan waktu untuk pendaftaran serta pengambilan Dokumen lelang tercantum jelas pengumuman lelang. Pasal I.07 PEMBERIAN PENJELASAN (AANWIJZING) 1. Pemberian penjelasan (Aanwijzing) akan diadakan pada : 1. Hari :. Tanggal : 3. Waktu : 4. Tempat :. Berita acara pemberian penjelasan (Aanwijzing) dapat diambil pada : 1. Hari :. Tanggal : 3. Waktu : 4. Tempat :

135 16 Pasal I. 08 PELELANGAN 1. Pelelangan akan dilaksanakan melalui system satu sampul.. Pemasukan surat penawaran paling lambat pada : 1. Hari :. Tanggal : 3. Waktu : 4. Tempat : 3. Pembukaan surat-surat penawaran akan dilakukan oleh Panitia lelang dihadapan Rekanan, pada : 1. Hari :. Tanggal : 3. Waktu : 4. Tempat : 4. Wakil Rekanan yang mengikuti/ menghadiri pelelangan harus membawa syrat kuasa bermeterai Rp.6.000,-- dari Direksi Rekanan dan bertanggung jawab penuh. Pasal I.09 SAMPUL SURAT PENAWARAN 1. Sampul surat penawaran berukuran A4 sesuai dokumen ± 5 x 40 cm berwarna putih dan tidak tembus baca.

136 17. Sampul surat penawaran yang sudah terisi surat penawaran lengkap dengan lampiran-lampirannya supaya ditutup, dan diberi lak 5 (lima) tempat dan tidak boleh diberi kode cap cincin atau cap perusahaan dan kode lain. 3. Sampul penawaran di sebelah kiri atas dan di sebelah kanan bawah supaya ditulis (periksa contoh surat penawaran). 4. Alamat sampul seperti tertulis digambar dibawah bisa ditempel huruf besar langsung pada kertas sampulnya. 5. Sampul surat penawaran dibuat sendiri oleh pemborong, ukuran sesuai contoh. Pasal I. 10 SAMPUL SURAT PENAWARAN YANG TIDAK SAH Sampul surat penawaran yang tidak sah dan dinyatakan gugur bilamana : 1. Sampul surat penawaran dibuat menyimpang dari atau tidak sesuai dengan syarat syarat.. Sampul surat penawaran terdapat nama atau terdapat hasil penawarannya atau terdapat juga tanda-tanda lain di luar syarat-syarat yang telah ditentukan. Pasal I. 11 PERSYARATAN PENAWARAN 1. Penawaran yang diminta adalah penawaran sama sekali lengkap menurut gambar, ketentuan-ketentuan RKS serta berita acara aanwijzing. Surat penawaran, surat Pernyataan, daftar RAB, Daftar harga satuan Bahan dan Upah kerja, Daftar Analisa Pekerjaan dan daftar harga Satuan Pekerjaan halaman supaya dibuat di atas kertas kop nama perusahaan (pemborong) dan

137 18 harus ditanda tangani oleh Direktur Rekanan yang bersangkuatan dan di bawah tanda tangan supaya disebutkan nama terang dan cap perusahaan. 3. Bilamana surat penawaran tidak ditandatangani oleh Direktur Pemborong sendiri harus dilampiri : a. Surat kuasa dari Direktur Pemborong yang bersangkutan bermaterai Rp. 6000,- diberi tanggal dan cap perusahaan terkena pada meterai tersebut. b. Foto copy akte pendirian berbadan hukum. 4. Surat penawaran supaya dibuat rangkap 3 (tiga) lengkap dengan lampiranlampirannya dan surat penawaran yang asli diberi materai Rp. 6000,- dan materai supaya diberi tanggal terkena tanda tangan dan cap perusahaan. 5. Surat penawaran termasuk lampiran-lampiran supaya dimasukkan ke dalam satu amplop sampul surat penawaran yang tertutup. 6. Dokumen Penawaran berisi : 1. Starat Administrasi. a. Fotocopy Surat Undangan. b. Surat Penawaran c. Jaminan Penawaran ( 1%-3% ) berbentuk fotocopy (asli diserahkan panitia dari bank pemerintah/lembaga keuangan yang ditunjuk olrh menteri keuangan. d. Surat kesanggupan bermaterai Rp. 6000,- yang berisi Mengasuransikan tenaga kerja ke perum Jamsostek. Membayar IMB. Menyerahkan jaminan pelaksanaan sebesar 5% dari nilai kontrak.

138 19 Tunduk pada peraturan daerah setempat.. Syarat Teknis a. Metoda Pelaksanaan Pekerjaan. b. Jadwal Waktu Pelaksanaan Pekerjaan. c. Daftar Peralatan. d. Daftar Personil inti yang ditempatkan secara penuh. 3. Perhitungan Biaya/Harga. a. RAB b. Harga satuan c. Analisa d. Harga Upah dan Bahan 7. Bagi Pemborong yang sudah memasukkan surat penawaran, tidak dapat mengundurkan diri dan terikat untuk melaksanakan dan menyelesaikan pekerjaan tersebut, bilamana pekerjaan diberikan kepadanya menurut penawaran yang diajukan. Pasal I.1 SURAT PENAWARAN YANG TIDAK SAH Surat yang tidak sah dan dinyatakan gugur bilamana ; 1. Surat penawaran yang tidak dimasukkan dalam sampul tertutup.. Surat penawaran, surat pernyataan dan daftar RAB tidak dibuat di atas kertas kop Rekanan yang bersangkutan. 3. Surat penawaran tidak ditanda tangani si penawar.

139 Harga penawaran yang tertulis dengan angka tidak sesuai dengan yang tertulis dengan huruf. 5. Surat penawaran asli tidak bermeterai Rp.6000,- tidak diberi tanggal dan tidak terkena tanda tangan penawar/tidak ada cap perusahaan. 6. Tidak jelas besarnya jumlah penawaran baik yang tertulis dengan angka maupun huruf. 7. Terdapat salah satu lampiran yang tidak ditanda tangani oleh penawar dan tidak diberi cap dari Rekanan. 8. Surat penawaran dari Rekanan yang tidak diundang. 9. Surat penawaran yang tidak lengkap lampiran-lampirannya. 10. Penawaran yang disampaikan dilihat batas waktu yang ditentukan Pasal I. 13 CALON PEMENANG 1. Apabila harga dalam penawaran telah dianggap wajar dan dalam batas ketentuan mengenai harga satuan (harga standard) yang telah ditetapkan serta telah sesuai dengan ketentuan yang ada, maka panitia menetapkan 3 (tiga) peserta yang telah memasukkan penawaran yang paling menguntungkan Negara dalam arti : a. Penawaran harga yang ditawarkan secara teknis dapat dipertanggungjawabkan. b. Perhitungan harga yang ditawarkan dapat dipertanggungjawabkan. c. Penawaran tersebut adalah yang terendah diantara penawaran yang memenuhi syarat seperti tersebut diatas.

140 131. Jika dua peserta atau lebih mengajukan harga mempunyai kemampuan dan kecakapan yang terbesar. Jika bahan-bahan untuk menentukan pilihan tersebut tidak ada maka penilaiannya dilakukan dengan penilaian kembali, hal mana harus dicatat dalam berita acara. 3. Panitia membuat laporan kepada pejabat yang berwenang mengambil keputusan mengenai penetapan calon pemenang laporan tersebut disertai usulan serta penjelasan tambahan dan keterangan lain yang dianggap perlu sebagai bahan pertimbangan untuk mengambil keputusan. 4. Aspek teknis, administrasi dan harga. Pasal I. 14 PENETAPAN PEMENANG 1. Panitia/Pejabat Pengadaan menetapkan calon pemenang lelang yangmenguntungkan bagi Negara, yakni : a. Penawaran memenuhi Syarat Administrasi dan Teknis. b. Penawaran Haraga/biaya terendah dan responsive. c. Lulus evaluasi Kualifikasi dalam pasca kualifikasi.. Berdasarkan laporan disertai usulan penetapan calon pemenang, penjelasan dan keterangan lain yang disampaikan oleh panitia/pejabat pengadaan, Pejabat yang berwenangan mengambil keputusan menetapkan pemenang Lelang dengan menerbitkan Surat Penetapan Penyedia Barang/Jasa (SPPBJ) selambat-lambatnya 5 (lima) hari sejak usulan penetapan calon pemenang. Pasal I. 15 PENGUMUMAN PEMENANG LELANG

141 13 Pemenang lelang diumumkan oleh panitia/pejabat Pengadan selambat-lambatnya (dua) hari sejak surat Penetapan Barang/Jasa. Pasal I. 16 PELELANGAN ULANG Lelang dibatalkan bilamana : 1. Diantara rekanan yang diundang dan mengikuti Aanwijzing dan mengajukan penawaran yang sah kurang dari 3 (tiga).. Penawaran melampaui anggaran yang tersedia. 3. Harga-harga yang ditawarkan dianggap tidak wajar. 4. Sanggahan dari rekanan ternyata benar 5. Berhubungan dengan pelbagai hal tidak mungkin mengadakan penetapan. 6. Dalam pelelangan dinyatakan gagal atau pemenangnya yang ditunjuk mengundurkan diri atau urutan pemenang kedua tidak bersedia ditunjuk, maka panitia pelangan atas permintaan kepala kantor satuan kerja, atau pemimpin kegiatan akan mengadakan pelelangan ulang. Pasal I. 17 PEMBERIAN ATAU PELULUSAN PEKERJAAN 1. Pengguna Anggaran akan memberikan pekerjaan kepada rekanan yang penawarannya pantas, wajar dan menguntungkan Negara serta dapat dipertanggungjawabkan.

142 133. SPK akan diberikan kepada rekanan yang telah ditunjuk dalam waktu paling lambat 10 hari kerja setelah pemberitahuan pengumuman penetapan pemenang pelelangan. 3. Rekanan diperkenankan mulai bekerja setelah diterbitkannya SPK sekaligus memberikan jaminan pelaksanaan. Pasal I. 18 PELAKSANA PEMBORONG 1. Bilamana akan dimulai di lapangan, pihak Pemborong supaya memberitahukan secara tertulis kepada Pemberi Tugas.. Pemborong supaya menempatkan seorang kepala pelaksana yang ahli dan diberi kuasa oleh Direktur Pemborong untuk bertindak atas namanya. 3. Kepada Pelaksana yang diberi kuasa penuh harus selalu ditempat pekerjaan agar pekerjaan dapat berjalan dengan lancar sesuai dengan apa yang telah ditugaskan oleh direksi. 4. Kepala Pelaksana supaya yang berpengalaman dalam pekerjaan gedung bertingkat dan pembantu-pembantunya minimal memahami bestek dan mengerti gambar. Pasal I. 19 SYARAT SYARAT PELAKSANAAN Pekerjaan harus dikerjakan menurut : 1. RKS dan gambar-gambar kerja/gambar detail secara menyeluruh untuk kegiatan ini.

143 134. RKS dengan segala perubahan perubahan dalam Aanwijzing (Berita Acara Aanwijzing). 3. Petunjuk-petunjuk lisan maupun tertulis dari Pengguna Anggaran/Pengelola Kegiatan. 4. Lapangan/lahan yang tersedia. Pasal I. 0 PENETAPAN UKURAN DAN PERUBAHAN-PERUBAHAN 1. Pemborong harus bertanggung jawab atas tepatnya pekerjaan menurut ukuranukuran yang tercantum dalam gambar dan bestek.. Pemborong berkewajiban mencocokkan ukuran satu sama lain dan apabila ada perbedaan ukuran dalam gambar dan RKS segera dilaporkan kepada Pejabat Pembuat Komitmen Kegiatan PNPB & Administrasi Umum DIPA UNNES Tahun Anggaran Bilamana ternyata terdapat selisih atau perbedaan ukuran dalam gambar dan RKS, maka petunjuk pemberi tugas yang dijadikan pedoman berdasar pembentukan dari Pejabat Pembuat Komitmen Kegiatan PNPB & Administrasi Umum DIPA UNNES Tahun Anggaran Bilamana dalam pelaksanaan pekerjaan terdapat perubahan-perubahan, maka pemborong tidak berhak minta ongkos kerugian kecuali bilaman pihak pemborong dapat membuktikan bahwa dengan adanya perubahan-perubahan tersebut pemborong menderita kerugian.

144 Bilamana dalam pelaksanaan pekerjaan diadakan perubahan-perubaha, maka perencana harus membuat gambar perubaha (refisi) dengan tanda garis berwarna di atas gambar aslinya. Kesemuanya atas biaya perencana. 6. Di dalam pelaksanaan., Pemborong tidak boleh menyimpang dari ketentuan RKS dan ukuran-ukuran gambar, kecuali seizin dan sepengetahuan Pejabat Pembuat Komitmen Kegiatan PNPB & Administrasi Umum DIPA UNNES Tahun Anggaran 006. Pasal I. 1 PENJAGAAN DAN PENERANGAN 1. Pemborong harus mengurus penjagaan di luar jam kerja (siang dan malam) dalam kompleks pekerjaan termasuk bangunan yang sedang dikerjakan, gudang dan lain-lain.. Untuk kepentingan keamanan dan penjagaan perlu diadakan penerangan/lampu pada tempat tertentu, satu sama hal lain tersebut atas kehendak Direksi. 3. Pemborong bertanggung jawab sepenuhnya atas bahan dan alat-alat lainnya yang disimpan dalam gudang dan halaman pekerjaan, apabila terjadi kebakaran dan pencurian, maka harus segera mendatangkan gantinya untuk kelancaran pekerjaan. 4. Pemborong harus menjaga jangan sampai terjadi kebakaran sabotase di tempat pekerjaan, alat-alat kebakaran atau alat-alat bantu lain untuk keperluan yang sama harus selalu berada di tempat pekerjaan.

145 Segala resiko dan kemungkinan kebakaran yang menimbulkan kerugian dalam pelaksanaan pekerjaan dan bahan-bahan materi juga gudang dan lain-lain sepenuhnya. Pasal I. KESEJAHTERAAN DAN KESEHATAN KERJA 1. Bilamana terjadi kecelakaan, Pemborong harus segera mengambil tindakan penyelamatan dan segera memberitahukan kepada pemberi tugas.. Pemborong harus memenuhi atau mentaati peraturan-peraturan tentang perawatan korban dan keluarganya. 3. Pemborong harus menyediakan obat-obatan yang tersusun menurut syaratsyarat palang merah. 4. Pemborong selain memberikan pertolongan kepada pekerjanya, juga selalu memberikan bantuan pertolongan kepada pihak ketiga dan menyediakan air minum yang memenuhi syarat kesehatan. 5. Pemborong harus mengasuransikan tenaga kerjanya yang bekerja diproyek ini ke PT.JAMSOSTEK. Pasal I. 3 PENGGUNAAN BAHAN-BAHAN BANGUNAN 1. Bahan-bahan bangunan yang dipakai diutamakan hasil produksi dalam negeri kwalitas baik.. Harus diperhatikan syarat-syarat dan mutu barang dan jasa yang bersangkutan. Semua bahan-bahan bangunan untuk pekerjaan ini sebelum dipergunakan

146 137 harus mendapat persetujuan dari Pejabat Pembuat Komitmen Kegiatan PNPB & Administrasi Umum DIPA UNNES Tahun Anggaran Semua bahan-bahan bangunan untuk pekerjaan ini sebelum dipergunakan harus mendapat persetujuan dari pengguna Anggaran/pengawas terlebih dahulu dan harus berkwalitas baik. 4. Semua bahan-bahan bangunan yang telah dinyatakan oleh Pejabat Pembuat Komitmen Kegiatan PNPB & Administrasi Umum DIPA UNNES Tahun Anggaran 006 tidak dapat dipakai (afkir) harus segera disingkirkan jauh-jauh dari tempat pekerjaan dalam tempo 4 jam dan hal ini menjadi tanggung jawab pemborong. 5. Bilamana pemborong melanjutkan pekerjaan dengan bahan-bahan bangunan yang telah diafkir, maka Penanggung Jawab Kegiatan Penyelenggara Kegiatan dan Usaha Perguruan Tinggi Universitas Negeri Semarang ( UNNES ) berhak untuk memerintah membongkar dan harus mengganti dengan bahan-bahan yang memenuhi syarat-syarat atas resiko/tanggung jawab pemborong. 6. Bilamana Pejabat Pembuat Komitmen Kegiatan PNPB & Administrasi Umum DIPA UNNES Tahun Anggaran 006 sangsi akan mutu bahan/ kwalitas bahan bangunan yang akan digunakan, pemimpin kegiatan/ pengelola kegiatan berhak meminta kepada pemborong untuk memeriksakan bahan bahan bangunan tersebut pada laboratorium bahan-bahan bangunan. Pasal I. 4 KENAIKAN HARGA DAN FORCE MAJEURE

147 Semua kenaikan harga akibat kebijaksanaan pemerintah Republik Indonesia dibidang moneter yang bersifat nasional dapat mengajukan klaim sesuai dengan keputusan pemerintah dan pedoman resmi dari pemerintah Republik Indonesia.. Semua kenaikan harga yang bersifat biasa tidak dapat mengajukan klaim. 3. Semua kerugian akibat force majeure berupa bencana alam antara lain; gempa bumi, angin topan, hujan lebat, pemberontakan, perang dan lain-lain, kejadian tersebut dapat dibenarkan oleh pemerintah, bukan menjadi tanggungan Pemborong. 4. Apabila terjadi force majeure, pihak rekanan harus memberitahukan kepada pemimpin kegiatan/pengelola kegiatan secara tertulis paling lambat 4 jam demikian pula bila force majeure. Pasal I. 5 ASURANSI Pemborong harus mengasuransikan semua tenaga kerja yang bekerja di kegiatan ini ke PT. Jamsostek, ternasuk tenaga dari team Teknis, Konsulatan Perencana dan Konsultan Pengawas yang namanya tercamtum dalam Struktur Organisasi ini. Pasal I. 6 PENYELESAIAN PERSELISIHAN Perselisihan akan diselesaikan menurut aturan/ketentuan yang lazim berlaku, sedangkan tata caranya diatur kemudian dalam kontrak. Pasal I. 7 URAIAN MENGENAI RKS DAN GAMBAR

148 Disamping peraturan-peraturan umumyang disebut dalam pasal I Rencana Kerja dan Syarat-syarat (RKS) beserta gambar-gambarnya berlaku sebagai dasar pedoman/ketentuan untuk melaksanakan pekerjaan ini. 3. Gambar-ganbar yang ikut disertakan akan juga merupakan bagian yang tak terpisahkan dari RKS ini. 4. Kontraktor wajib untuk mengadakan perhitungan kembali atas segala ukuranukuran dimensi konstruksi apabila ukuran-ukuran yang ditentukan dalam spesifikasi/gambar meragukan kontraktor. Dalam hal ini Kontraktor diijinkan membetulkan kesalahan gambar dan melaksanakannya setelah ada persetujuan tertulis dari Penawas dengan persetujuan Pemberi Tugas. 5. Bila terdapat perbedaan : a. Antara gambar dan ketentuan RKS, Surat/Surat Penawaran maka Pemberi Tugas dapat memutuskan pekerjaan dengan volume pekerjaan harga pekerjaan/kwalitas bahan material yang tinggi. b. Surat perjanjian Pemborong didahulukan atas RKS. c. RKS didahulukan atas gambar serta perubahan sebagaimana Berita Acara Aanwijzing, Berita Acara Aanwijzing didahukan atas RKS dan Gambar. d. Gambar beserta detail dan tambahan atau perubahan yang tercantum dalam Berita Acara Aanwijzing didahulukan atas Surat Penawaran. e. Jika pekerjaan tidak terdapat dalam RKS, tetapi terdapat dalam gambar maka yang terakhir ini berlaku penuh demikian pula sebaliknya. 6. Perbedaan antara gambar dan RKS maupun perubahan yang ditentukan pada waktu pelaksanaan berlangsung. Kontraktor diwajibkan menaati keputusan

149 140 Konsultan Pengawas yang diberikan secara tertulis di mana dijelaskan juga kemungkinan adanya pekerjaan tambah/kurang. 7. Apabila ada perbedaan gambar dalam yang satu dengan yang lain, maka Pemberi Tugas dapat menetapkan yang lebih besar volume/harga kwalitas/ukuran. 8. Kontraktor wajib membuat gambar kerja, sebelum memulai sesuatu pekerjaan yang khusus dan harus dimintakan persetujuan Konsultan Pengawas. 9. Dalam hal kontraktor meragukan ketentuan-ketentuan yang tercamtum dalam dokuman pelaksanaan, maka kontraktor wajib berkonsultasi dengan konsultan Perencana atau Pengawas. 10. Untuk menghindari kesalahan dalam memedomani gambar-gambar pelaksanaan, maka kontraktor untuk keperluan pelaksanaan pekerjaan di lapangan sama sekali tidak diperkenankan memperbanyak gambar dengan cara apapun: seperti menyalin kembali gambar pada kalkir atau kertas lainnya, mengopy dengan cara apapun. Jika Pelaksana Kontraktor memerlukan copy gambar maka copy tersebut hanya dapat dikeluarkan melalui Konsultan. Seluruh akibat terhadap pelanggaran yang tersebut di atas, akan menjadi tanggung jawab Kontraktor sepenuhnya. Pasal I. 8 LAIN-LAIN 1. Hal-hal yang belum tercantum dalam RKS ini akan dijelaskan di dalam Aanwijzing. Sarat penawaran / RAB supaya dibuat seperti contoh terlampir.

150 Bilamana jenis pekerjaan yang telah tercantum di dalam contoh daftar RAB ternyata terdapat kekurangannya tersebut dapat ditambahkan menurut posposnya dengan cara menambah huruf alphabet pada nomor terakhir dari pos yang bersangkutan, misalnya pos persiapan nomor terakhir 4, maka perubahannya tidak nomor 5, tetapi nomor 4a, 4b dan seterusnya. 4. Surat permohonan IMB (jika diperlukan) dari Pemberi Tugas, sedang pengurusan dan pembiayaannya kepada Pemborong dan dilaksanakan segera setelah dilakukan penandatanganan. 5. Segala kerusakan yang timbul akibat pelaksanaan menjadi tanggung jawab Kontraktor. 6. BQ tidak mengikat dan kontraktor wajib menghitung kembali. 7. Apakah ada saat pengajuan penawaran ada ketidak benaran data / informasi sejak dimulainya proses pelelangan ini, maka Pejabat Pembuat Komitmen Kegiatan PNPB & Administrasi Umum DIPA UNNES Tahun Anggaran 006 akan menjatuhkan sanksi. 8. Bentuk dan jenis sanksi akan ditentukan oleh Penitia Lelang / Pimpinan Kegiatan. 9. Ketentuan atau ketetapan lain di dalam pelaksanaan proses pelelangan ini merupakan hak dan wewenang Pejabat Pembuat Komitmen Kegiatan PNPB & Administrasi Umum DIPA UNNES Tahun Anggaran 006. SYARAT-SYARAT ADMINISTRASI Pasal II. 01

151 14 JAMINAN LELANG 1. Jaminan Penawaran (tender garansi) berupa surat jaminan Bank milik pemerintah atau Bank Umum lain yang ditetapkan oleh Menteri Keuangan, 4 Februari Nomor : 05 / KMK / 013 / 1988 sebesar 1 3 % dari harga penawarn.. Bagi Pemborong yang mendapat pekerjaan, tender Garansi diberikan kembali pada saat jaminan pelaksanaan diterima oleh Pejabat Pembuat Komitmen Kegiatan PNPB & Administrasi Umum DIPA UNNES Tahun Anggaran Bagi pemborong yang tidak mendapatkan pekerjaan, tender garansi dapat diambil setelah adanya Penetapan Pemenang, yang mendapatkan pekerjaan, tender garansi dapat diambil setelah dikeluarkannya SPMK, dan telah memberikan jaminan pelaksanaan. Jaminan penawaran dapat diambil setelah ditanda tangani kontrak. Pasal II. 0 JAMINAN PELAKSANAAN 1. Jaminan Pelaksanaan ditetapkan sebesar 5 % (lima persen) dari nilai kontrak.. Jaminan Pelaksanaan diterima oleh Pejabat Pembuat Komitmen Kegiatan PNPB & Administrasi Umum DIPA UNNES Tahun Anggaran 006 bersama dengan penandatanganan surat perjanjian Pemborongan. 3. Masa berlaku jaminan pelaksanaan setelah tanggal SKPBJ sampai dengan 14 (empat belas) hari setelah masa pemeliharaan berakhir. Pasal II. 03 PERMULAAN PEKERJAAN DAN RENCANA KERJA

152 143 (TIME SCHEDULE) 1. Setelah penandatanganan kontrak, pengguna dan penyedia barang/jasa bersama-sama mengadakan pemeriksaan lapangan dan membuat berita acara penyerahan.. SPMK diterbitkan segera mungkin dan paling lambat 14 ( empat belas ) hari setelah penandatanganan kontrak. 3. pemborong harus membuat rencana kerja pelaksanaan pekerjaan untuk disetujui oleh Pejabat Pembuat Komitmen Kegiatan PNPB & Administrasi Umum DIPA UNNES Tahun Anggaran 006. dan segera melaksanakan pekerjaan paling lambat 7 ( tujuh ) hari setelah diterbitkannya SPMK 4. pemborong wajib membertahukan direksi, bila mana akan memulai pekerjaan. 5. Pemborong diwajibkan melaksanakan pekerjaan menurut Rencana Kerja yang telah disetujui. 6. Rekanan tetap bertanggungjawab atas penyelesaian pekerjaan tepat pada waktunya. Pasal II.04 LAPORAN HARIAN DAN MINGGUAN 1. Konsultan Pengawas tiap minggu diwajibkan membuat dan mengirimkan laporan kepada Pemberi Tugas mengenai prestasi pekerjaan yang dilegalisir oleh yang berwenang.

153 144. Penilaian prestasi kerja atas dasar pekerjaan yang sudah dikerjakan, tidak termasuk adanya bahan-bahan pekerjaan dan tidak atas dasar besarnya pengeluaran uang oleh Pemborong. Pasal II. 05 PEMBAYARAN 1. Pembayaran akan dilaksanakan dan atau akan diatur kemudian dalam kontrak.. Tiap pengajuan pembayaran angsuran harus disertai berita acara pemeriksaan pekerjaan dan dilampiri dafatr hasil opname pekerjaan foto-foto dokumentasi dalam album. Pasal II.06 MASA PEMELIHARAAN (ONDERHOUD TERMINJN) 1. Jangka waktu pemeliharaan adaalah 180 ( seratus delapan puluh ) hari kalender sehabis penyerahan pertama.. Bila mana masa pemeliharaan terjadi kerusakan-kerusakan akibat kurang sempurnanya didalam pelaksanaan ataukarena mutu bahan. Maka pemborong harus memperbaiki setelah mendapat peringatan pertama tertulis dari Pejabat Pembuat Komitmen Kegiatan PNPB & Administrasi Umum DIPA UNNES Tahun Anggaran 006. Pasal II.07 PERMULAAN PEKERJAAN 1. Selambat-lambatnya dalam waktu satu minggu terhitung dari SMPK (Gunning) dikeluarkan dari Pemberi Tugas, pekerjaan harus sudah dimulai.

154 145. Bilamana ketentuan seperti diatas tidak dipenuhi, maka jaminan pelaksanaan dinyatakan hilang dan menjadi milik Pemerintah. 3. Apabila akan memulai pekerjaan, Pemborong wajib memberitahukan secara tertulis kepada Pemberi Tugas. 4. Pemborong wajib melakukan pemotretan dari 0 % sampai 100 % dan dicetak menurut petunjuk dari Konsultan Pengawas. Pasal II. 08 PENYERAHAN PEKERJAAN 1. Jangka waktu pelaksanaan pekerjaan selama 160 (seratus enam puluh) hari kalender termasuk hari minggu, hari besar dan hari raya.. Pekerjaan dapat diserahkan pertama kalinya bilamana pekerjaan sudah selesai 100 % dan dapat diterima denagn baik oleh Penanggung Jawab Kegiatan dan Usaha Perguruan Tinggi Universitas Negeri Semarang (UNNES) dengan disertai Berita Acara dan dilampiri daftar kemajuan pekerjaan, pada penyerahan pertama untuk pekerjaan ini, keadaan bangunan serta halaman harus dalam keadaan rapi dan bersih. 3. Dalam memudahkan suatu penelitian sewaktu diadakan suatu pemeriksaan teknis dalam penyerahan ke 1 (pertama) maka surat permohonan pemeriksaan teknis yang diajukan kepada Direksi supaya dilampiri : a. Daftar kemajuan pekerjaan 100% ditanda tangani pengawas lapangan dan diketahui oleh Pemborong. b. Satu (1) album berisi foto berwarna yang menyatakan prestasi kerja 100%. c. Khusus untuk ukuran foto yang 10 R supaya diambil yang baik.

155 Surat permohonan pemeriksaan teknis dikirim kepada Pejabat Pembuat Komitmen Kegiatan PNPB & Administrasi Umum DIPA UNNES Tahun Anggaran 006. harus sudah dikirimkan selambat-lambatnya 15 (lima belas) hari sebelum batas waktu penyerahan pertama kalinya berakhir. 5. Dalam penyerahan pekerjaan pertama kalinya bilamana terdapat pekerjaan instalasi listrik, maka pihak pemborong harus menunjukkan kepada Pejabat Pembuat Komitmen Kegiatan PNPB & Administrasi Umum DIPA UNNES Tahun Anggaran 006. surat pernyataan bahwa instalasi listrik tersebut telah terdaftar di PLN dengan meterai Rp. 6000,- Pasal II.09 MASA PEMELIHARAAN (ONDERHOUD TERMIJN) 1. Jangka waktu pemeliharaan adalah 6 bulan (180) hari kalender terhitung sejak penyerahan pertama.. Bilamana dalam masa pemeliharaan (Onderhoud terjmin) terjadi kerusakan akibat kurang sempurnanya dalam pelaksanaan atau kurang baiknya mutu bahan-bahan yang digunakan, maka pemborong harus segara memperbaiki dan menyempurnakannya kembali setelah pihak pemborong diperingatkan atau diberitahukan yang pertama kalinya secara tertulis oleh Pengghuna Anggaran dan Pengendali Kegiatan. Pasal II.10 PERPANJANGAN WAKTU PENYERAHAN 1. Surat permohonan waktu penyerahan pertama yang diajukan kepada Pejabat Pembuat Komitmen Kegiatan PNPB & Administrasi Umum DIPA UNNES

156 147 Tahun Anggaran 006. harus sudah diterima selambat-lambatnya 15 (lima belas) hari sebelum batas waktu penyerahan pertama kalinya berakhir dan surat tersebut supaya dilampiri : a. Data yang lengkap. b. Time Schedule baru yang sudah disesuaikan dengan sisa pekerjaan.. Surat Permohonan Perpanjangan Waktu Penyerahan tanpa data yang lengkap tidak akan dipertimbangkan. 3. Permintaan Perpanjangan Waktu Penyerahan pekerjaan yang mana dapat diterima oleh Pejabat Pembuat Komitmen Kegiatan PNPB & Administrasi Umum DIPA UNNES Tahun Anggaran 006. bilamana : a. Adanya pekerjaan tambahan atau pengurangan (meer of minderwerk) yang tidak dapat dielakkan lagi setelah atau sebelum kontrak ditandatangani oleh kedua belah pihak yang dinyatakan dalam Berita Acara. b. Adanya Surat Perintah tertulis oleh Pejabat Pembuat Komitmen Kegiatan PNPB & Administrasi Umum DIPA UNNES Tahun Anggaran 006. tentang pekerjaan tambahan. c. Adanya perintah tertulis dari Pejabat Pembuat Komitmen Kegiatan PNPB & Administrasi Umum DIPA UNNES Tahun Anggaran 006., pekerjaan untuk sementara waktu dihentikan. d. Adanya force majeure (bencana alam, gangguan keamanan, pemogokan, perang) kejadian mana ditangguhkan oleh yang berwenang.

157 148 e. Adanya gangguan curah hujan yang terus menerus di tempat pekerjaan secara langsung mengganggu pekerjaan yang dilaporkan oleh Konsultan Pengawas. f. Pekerjaan tidak dapat dimulai tepat pada waktu yang telah ditentukan karena lahan yang akan dipakai untuk bangunan masih ada masalah. Pasal II.11 SANKSI / DENDA (PASAL 49 AV) 1. Bilamana batas waktu penyerahan pekerjaan pertama kalinya dilampaui/tidak dipenuhi, maka pemborong dikenakan denda/diwajibkan membayar denda sebesar 1 0 / 00 (satu permil) tiap hari, dengan denda maksimal 5 % dari nilai kontrak. Uang denda harus dilunaskan padawaktu pembayaran angsuran (termijn) penyerahan kesatu (I).. Menyimpang dari Pasal 49A V terhadap segala kelainan mengenai peraturan atau tugas yang tercantum dalam ketetapan ini, maka sepanjang bestek ini tidak ada ketetapan denda lainnya, pemborong dapat dikenakan denda sebesar 1 0 / 00 (satu permil) tiap terjadi kelainan dengan tidak diperlukan suatu pengecualian. 3. Bilamana terjadi perintah untuk mengerjakan pekerjaan tambahan dan tidak disebutkan jangka waktu pelaksanaannya, maka jangka waktu pelaksanaan tidak akan diperpanjang.

158 149 Pasal II.1 PEKERJAAN TAMBAHAN DAN PENGURANGAN 1. Harga pekerjaan tambahan yang diperintahkan secara tertulis oleh Pejabat Pembuat Komitmen Kegiatan PNPB & Administrasi Umum DIPA UNNES Tahun Anggaran 006., pemborong dapat mengajukan pembayaran tambahan.. Sebelum pekerjaan tambahan dikerjakan, pemborong supaya mengajukan kepada Pemimpin proyek/pengelola proyek daftar RAB agar Pejabat Pembuat Komitmen Kegiatan PNPB & Administrasi Umum DIPA UNNES Tahun Anggaran 006. agar diperhitungkan pembayarannya. 3. Untuk memperhitungkan pekerjaan tambah kurang harga satuan yang telah dimasukkan dalam daftar penawaran/kontrak. 4. Bilamana harga satuan belum tercantum dalam surat penawaran yang diajukan, maka akan diselesaikan secara musyawarah. Pasal II.13 DOKUMENTASI 1. Sebelum pekerjaan dimulai, keadaan lapangan atau tempat pekerjaan masih 0 % supaya diadakan pemotretan di tempat yang dianggap penting menurut pertimbangan Direksidengan ukuran 9 x 14 cm sebanyak 4 set berwarna.. Setiap permintaan pembayaran termijn (angsuran) dan penyerahan pertama harus diadakan pemotretan yang menunjukkan prestasi pekerjaan (minimum dari 5 jurusan) masing-masing menurut pengajuan termijn dengan ukuran 9 x 14 cm sebanyak 3 set berwarna. (pembidikan dari titik tetap), pada penyerahan

159 150 pertama, pemborong harus mendak dan foto 10 R sejumlah 5 buah dan sudah dipigur. Pasal II.14 PENDAFTARAN GEDUNG PEMERINTAH Konsultan pengawas di wajibkan membantu pengelola proyek menyelesaikan pendaftaran gedung-gedung disesuaikan dengan persyaratan yang ditetapkan. Pasal II.15 PENCABUTAN PEKERJAAN 1. Pejabat Pembuat Komitmen Kegiatan PNPB & Administrasi Umum DIPA UNNES Tahun Anggaran 006. berhak membatalkan atau mencabut pekerjaan dari tangan pemborong apabila ternyata pihak pemborong telah menyerahkan pekerjaan seluruhnya atau sebagian kepada pemborong lain semata-mata hanya mencari keuntungan saja dari pekerjaan tersebut.. Pada pengabutan pekerjaan tersebut, pemborong hanya dapat dibayar untuk pekerjaan yang telah selesai dan telah diperiksa serta disetujui oleh Pejabat Pembuat Komitmen Kegiatan PNPB & Administrasi Umum DIPA UNNES Tahun Anggaran 006. sedangkan harga bahan bangunan yang berada di tempat menjadi resiko pemborong sendiri. 3. Penyerahan bagian-bagian seluruh pekerjaan kepada pemborong lain (onder eanemer) tanpa izin tertulis dari pihak Pejabat Pembuat Komitmen Kegiatan PNPB & Administrasi Umum DIPA UNNES Tahun Anggaran 006. tidak diizinkan.

160 151 Pasal II.16 TANGGUNG JAWAB KONTRAKTOR, CONTOH SURAT PENAWARAN 1. Tanggung jawab Kontraktor : Rekanan/Kontraktor bertanggung jawab atas bangunan tersebut selama sepuluh tahun sesuai dengan pasal 1609 KUHP Perdata.. Mengurus IMB dengan biaya dari pemborong / Kontraktor, sedang proyek membantu dengan pengurusan kelengkapan dokumen yang diperlukan.

161 15 CONTOH SURAT PENAWARAN : KERTAS KOP NAMA PERUSAHAAN Nomor : Lamp : Perihal : Surat Penawaran Pekerjaan Kepada.. Jl.. SEMARANG Untuk mengikuti penunjukan langsung terbatas yang di adakan pada hari.tanggal bulan.tahun. dengan mengambil tempat di.yang bertanda tangan di bawah ini: Nama Jabatan Alamat :. :. :. Berkedudukan :. Dengan ini menyatakan : 1. Akan tunduk pada pedoman penunjukan langsung untuk pelaksanaan pekerjaan bangunan-bangunan negara.. Mengindahkan syarat-syarat dan keterangan-keterangan di dalam dokumen lelang dan perubahan-perubahan atau tambahan-tambahan yang tercantum dalam berita acara aanwijzing, pada tanggal.. 3. Memperhitungkan pekerjaan pengurangan atau penambahan yang mungkin ada atas dasar bestek.

162 Penawaran tersebut mengikat sampai pekerjaan selesai sesuai kontrak. 5. Telah menyerahkan surat jaminan penawaran berupa surat jaminan Bank sebesar Rp 6. Penawaran tersebut mengikat sampai pekerjaan selesai sesuai dengan kontrak. 7. Sanggup dan bersedia melaksanakan, menandatangani bahan-bahan bangunan dan peralatan yang diperlukan untuk : a. Pekerjaan : b. Lokasi : c. Denagn harga borongan : Rp (terbilang) d. Jangka waktu pelaksanaan : ( ) hari kalender e. Jangka waktu pemeliharaan : selama : ( ) hari kalender Semarang, 004 Hormat Kami, CV/ PT. Materai Rp. 6000,- Cap perusahaan Nama Terang Direktur

163 154 SYARAT-SYARAT TEKNIS UMUM Pasal III.01. URAIAN PEKERJAAN 1. Lingkup Pekerjaan : Pekerjaan yang akan dilaksanakan adalah : Pembangunan gedung kuliah dan Laboratorium 3 lantai Jurusan Bahasa Inggris dan Bahasa Indonesia FBS UNNES di SEMARANG Didesa Sekaran Kecamatan Gunung Pati Kodya Semarang Uraian Jenis Pekerjaan, Konstruksi dan Bahan. - Konstruksi pondasi dari beton bertulang dan pasangan batu kali - Konstruksi kerangka (kolom, balok, & konsol) dari beton bertulang. - Konstruksi dinding dari pasangan batu bata. - Kusen kayu Bangkirai. - Usuk kayu kruing, Reng, dan lisplank kayu bangkiray. a. Sparing-sparing Instalasi listrik b. Sparing-sparing Instalasi air kotor dan kotoran WC.. Sarana Pekerjaan : Untuk kelancaran Pekerjaan pelaksanaan dilapangan Kontraktor harus menyediakan : a. Tenaga Pelaksana yang slalu ada dilapangan, tenaga kerja yang terampil dan cukup jumlahnya.

164 155 b. Penyediaan alatg-alat Bantu : Beton molen, vibrator, pompa air, mesin las, alat angkut, mesin giling serta peralatan lainya yang digunakan harus selalu tersedia dilapangan sesuai kebutuhan. c. Bahan-bahan bangunan harus tersedia dilapangan dengan jumlah yang cukup. d. Melaksanakan tepat dengan scedhule. 3. Cara Pelaksanaan. Pekerjaan harus dilaksanakan dengan penuh keahlian, sesuai dengan syaratsyarat ( RKS ) Gambar Rencana, Berita Acara Penjelasan serta mengikuti petunjuk Konsultan Pengawas. Pasal III.0 JENIS MUTU BAHAN Jenis mutu bahan yang dipakai diutamakanproduksi dalam negeri Sesuai dengan keputusan bersama Menteri Perdagangan dan Koperasi, Menteri Perindustrian dan Menteri Penerangan. No : 47/Kop/XII/80. No : 813/Menpen/1980. No : 64/Menpen/1980 Tanggal 3 Desember 1980.

165 156 Pasal III.03 GAMBAR GAMBAR RKS ini dilampiri : A. Gambar Perencanaan 1. Gambar Rencana Site Plan. Gambar Rencana Denah Layout 1,,&3 3. Gambr Tampak dan Potongan B. Gambar Pelaksanaan 1. Gambar Denah, Tampak, Potongan LT1. Denah dan Detail Konstruksi. Pasal III.04 PERATURAN TEKNIS PEMBANGUNAN YANG DIGUNAKAN 1. Dalam melaksanakan pekerjaan, kecuali bila ditentukan laindalm Rencana Kerja dan Syarat-syarat ( RKS ) ini, berlaku dan mengikat ketentuanketentuan dibawah ini termasuk segala perubahan dan tambahannya : a. Kepers 16 tahun 1994 beserta segala perubahan dan penyempurnaannya. b. Peraturan umum tentang pelaksanaan pembangunan diindonesia atau Algemene Voowaarden voor de Uitvouring bijaaneming van openbare warken ( AV )1941. c. Keputusan-keputusan darimajelis Indonesia untuk Arbitrasi Teknik dari Dewan Teknik Pembangunan Indonesia ( DTPI ). d. Peraturan Beton Bertulang Indonesia 1989 ( PBI 1989 ).

166 157 e. Peraturan Umum dari Dinas Keselamatan Kerja Departemen Tenaga Kerja. f. Peraturan umum tentang pelaksanaan Instalasi Air minum sertainstalasi Pembuangan dan Perusahaan Air Minum. g. Peraturan umum tentang pelaksanaan Instalasi Listrik (PUIL) 1979 dan PLN setempat. h. Peraturan sambungan telepon yang berlaku diindonesia. i. Pertuan Konstruksi Kayu Indonesia ( PPKI 1961 ) j. Peraturan Semen Portland Indonesia NI. No : 08 k. Perturan Batu Merah sebagai bahan bangunan. l. Pertauran Muatan Indonesia. m. Peraturan dan ketentuan lain yang di keluarkan oleh jawatan/instansi pemerintah setempat, yang bersangkutan dengan permasalahan bangunan.. Untuk melaksanakan npekerjaan dalam pasal 1 ayat tersebut berlaku dan mengikat pula: a. Gambar bestek yang dibuat konsultan perencana yang sudah disahkan b. Rencana Kerja dan Syarat-syarat ( RKS ). c. Berita Acara Penjelasan Pekerjaan. d. Berita Acara Penunjukan. e. Surat Keputusan Pemimpin Proyek Tentang Penunjukan Kontraktor.

167 158 f. Surat Perintah Kerja ( S.P.K ) g. Surat Penawaran dan lampiran-lampirannya. h. Jadwal pelaksanaan yang tekah disetujui pemimpin proyek. Pasal III.05 PENJELASAN RKS DAN GAMBAR 1. Kontraktor wajib meneliti semua gambar dan Rencana Kerja dan Syarat-syarat ( RKS )termasuk tambahan dan perubahannya dalam berita Acara Penjelasan Pekerjaan.. Bila gambar tidak sesuai dengan Rencana Kerja dan Syarat-syarat ( RKS ), maka yang mengikat adalah RKS. Bila suatu gambar tidak cocok dengan gambar yang lain maka gambar dengan sekala besar yang berlaku. 3. Bila perbedaan-perbedaan ini menimbulkan keraguan-keraguan sehingga dalam pelaksanaan menimbulkan kesalahan, kontraktor wajib menanyakan kepada konsultan dan mengikuti keputusannya. 4. Dalam penelitian tersebut diuraikan juga terhadap volume pekerjaan. Pasal III.06 PERSIAPAN DILAPANGAN 1. Kontraktor harus membuat kantor direksi dan gudang prnyimpanan bahan seluas 4 meter persegi dengan tiang kayu kruing dan dinding papan triplex lantai beton tumbuk dan atap asbes/seng bergelombang.. Kontraktor harus membuat bangsal pekerja untuk para pekerja dan gudang penyimpanan barang yang dapat dikunci.

168 Pembongkaran bangsal kerja menjadi tanggung jawab kontraktor. Pasal III.07 JADWAL PELAKSANAAN 1. Sebelum mulai pekerjaan nyata dilapangan pekerjaan kontraktor wajib membuat Rencana Kerja Pelaksanaan dan bagian-bagian pekerjaan berupa Bar-chart dan curve bahan/tenaga.. Rencana Kerja tersebut harus sudah mendapat persetujuan terlebih dahulu dari konsultan Pengawas, paling lambat 15 hari setelah surat penunjukan diterima kontraktor. 3. Rencana kerja yang telah disetujui oleh konsultan pengawas, akan disahkan oleh pemberi tugas. 4. Kontraktor wjib memberi salinan rangkap 4 kepada konsultan pengawas. Rencana Kerja ditempel didinding bangsal diikuti grafik prestasi kerja. Pasal III.08 KUASA KONTRAKTOR DI LAPANGAN 1. Dilapangan pekerjaan, kontraktor wajib menunjuk seseorang kuasa kontraktor disebut sebagai pelaksana yang cakap untuk memimpin pekerjaan.. Dengan adanya pelaksana bukan berarti kontraktor lepas tanggung jawab. 3. Kontraktor wajib memberi tahu secara tertulis kepada tim teknik wilayah dan konsultan pengawas, nama dan jabatan pelaksana untuk mendapat persetujuan.

169 Bila di kemudian hari menurut Tim teknik wilayah dan konsultan pengawas, pelaksana itu tidak cakap memimpin, kontraktor akan diberitahu secara tertulis. 5. dalam 7 hari setelah mendapat peringatan tersebut kontraktor harus mencari pengganti pelaksana. Pasal III.09 TEMPAT TINGGAL ( DOMISILI ) KONTRAKTOR DAN PELAKSANA 1. Untuk menjaga kemungkinan diperlukannya kerja diluar jam kerja apabila terjadi hal-hal mendesak, Kontraktor dan Pelaksana wajib memberikan secara tertulis, alamat dan nomor telepon dilokasi kepada Tim teknik wilayah dan konsultan pengawas.. Alamat kontraktor dan Pelaksana diharapkan tidak sering berubah-ubh. Apabila ada parubahan, agar segera memberi tahu. Pasal III.10 PENJAGA KEAMANAN LAPANGAN PEKERJAAN 1. Kontraktor wajib menjaga keamanan lapangan terhadap barang-barang milik proyek, Konsultan Pengawasdan milik pihak ketiga yang ada dilapangan.. Bila terjadi kehilangan bahan-bahan bangunan yang telah disetujui konsultan pengawas, baik yang telah dipasang maupun yang belum, menjadi tanggung jawab kontraktor dan tidak akan diperhittungkan dalam biaya tambahan. 3. Apabila terjadi kebakaran kontraktor bertanggung jawab atas akibatnya baik yang berupa barang-barang maupun keselammatan jiwa. Untuk itu kontraktor

170 161 diwajibkan menyediakan alat-alat pemadam kebakaran yang siap dipakai yang ditempatkan ditempat-tempat yang telah ditetapkan. Pasal III.11 JAMINAN KESELAMATAN KERJA 1. Kontraktor diwajibkan menyediakan obat-obatan menurut syarat-syarat Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan (PPPK) yang slalu siap pakai.. Kontraktor wajib menyediakan air minum yang cukup bersih dan memenuhi syarat-syarat kesehatan bagi semua petugas dan pekerja. 3. Kontraktor wajib menyediakan air bersih, kamar mandi dan WC yang layak pakai. 4. Membuat tempat penginapan didalam lapangan pekerjaan untuk penjaga keamanan. 5. Segala hal yang menyangkut jaminan social dan keselamatan sesuai dengan peraturan perundingan yang brlaku. Pasal III.1 ALAT-ALAT PELAKSANAAN Semua alat-alat untuk pelaksanaan pekerjaan harus disediakan oleh kontraktor, sebelum pekerjaan secara fisik dimulai dalam keadaan baik dan siap pakai, antara lain : 1. Beton molen yang jumlahnya akan ditentukan kemudian oleh pengawas.. Theodolit dan water pass ( ijin konsultan pengawas ). 3. Perlengkapan penerangan untuk kerja lembur. 4. Pompa air untuk system pengeringan, jika diperlukan.

171 16 5. Mesin pemadat. 6. Alat megger, alat test instalasi listrik dan test instalasi air, sesuai kebutuhan. Pasal III.13 SITUASI DAN UKURAN 1. Situasi a. Pekerjaan tersebut dalam pasal 1 adalah pekerjaan baru, sesuai dengan gambar situasi. b. Ukuran dalam gambar ataupun Uraian dalam RKS merupakan garis besar pelaksanaan. c. Kontraktor wajib meneliti situasi tapak, terutama keadaan tanah bangunan, sifat dan uas pekerjaan, dan hal-hal yang dapat mempengaruhi harga penawaran. d. Kelalaian atau kekurang tliti kontraktor dalam hal ini tidak dijadikan alas an untuk menggagalkan tuntutan.. Ukuran a. Ukuran yang dipakai disini semuanya dinyatakan dalam cm kecuali ukuran baja dinyatakan dalam mm. b. Duga lantai ( permukaan atas lantai ) ditetapkan dilapangan. c. Dibawah pengawasan konsultan pengawas, kontraktor diwajibkan menempatkan satu titik duga dan lima titik Bantu, dengan tiang beton yang panjangnya 1,0cm berpenampang 10 x 10 cm. Titik ini di jaga kedudukannya dan tidak boleh dibongkar sebelum dapat ijin dari konsultan pengawas.

172 163 d. Memasang papan pengawas (Bowplank). Ketetapn letak bangunan diukur dibaeah pengamatan konsultan pengawas dengan siket/patok yang dipasang kuat-kuat dan papan terentang dengan ketebalan cm diketam rata pada sisi bagian atas. Kontraktor harus menyediakan pembantu yang ahli dalam cara-cara mengukur, alat-alat penyipat datar (theodolit, water pass) prisma silang pengukuran menurut situasi dan kondisi tanah bangunan, yang selalu berada dilapangan. Pasal III.14 SYARAT-SYARAT PEMERIKSAAN BAHAN BANGUNAN 1. Semua bahan bangunan didatangkan harus memenuhi syarat-syarat yang ditentukan pasal.. Konsultan pengawas berhak memeriksa asal bahan dan kontraktor wajib memberitahukan. 3. Semua bahan bangunan yang digunakan wajib diperiksakan dahulu kepada konsultan pengawas untuk mendapat persetujuan. 4. Bahan bangunan yang telah didatangkan kontraktor dilapangan pekerjaan dan ditolak pengawas, harus segera dikeluarkan dari lapangan ppekerjaan selambat-lambatnya x4 jam dari penolakan. 5. Apabila konsultan pengawas merasa perlu meneliti bahan lebih lanjut, konsultan berhak mengirim ke Balai penelitian bahan-bahan (Laboratorium) untuk diteliti, Biaya pengiriman dan penelitian menjadi tanggungan kontraktor.

173 Pekerjaan atau bagian pekerjaan yang telah dilakukankontraktor tetapi ternyata ditolak konsultan pengawas, harus segera dihentikan dan dibongkar dengan biaya kontraktor dalam waktu yang telah ditetapkan oleh konsultan pengawas. Pasal III.15 PEMERIKSAAAN PEKERJAAN 1. Sebelum memulai pekerjaan lanjutan yang apabila bagian pekerjaan ini telah selesai, akan tetapi belum diperiksa oleh Konsultan Pengawas, Kontraktor diwajibkan memintakan persetujuan kepada konsultan pengawas. Baru apabila telah disetujui kontraktor dapat meneruskan pekerjaannya.. Bila permohonan pemeriksaan itu dalam x4 jam tidak dipenuhi oleh Konsultan Pengawas, Kontraktor dapat meneruskan pekerjaannya dan bagian yang diperiksa dianggap telah disetujui oleh Konsultan Pengawas. Hal ini dikecualikan bila Konsul;tan Pengawa minta perpanjangan waktu. 3. Bila kontraktor melanggar ayat 1 pasal ini, Konsultan Pengawas berhak menyuruh membongkar bagian pekerjaan sebagian atau seluruhnya untuk memperbaiki, biaya pembongkaran dan pemasangan kembali menjadi tanggungan kontraktor.

174 165 Pasal III.16 PEKERJAAN TAMBAH / KURANG 1. Tugas mengerjakan pekerjaan tambah/kurang diberitahukan tertulis dalam buku harian oleh Konsultan Pengawas serta persetujuan pemberi tugas.. pekerjaan tambah/kurang hanya berlaku bilamana nyata-nyata ada perintah tertulis dari Konsultan Pengawas serta persetujuan dari pemberi tugas. 3. Biaya pekerjaan tambah/kurang akan diperhitungkan menurut harga satuan pekerjaan, yang dimaksudkan oleh kontraktor sesuai AV artikel 50 dan 51 yang pembayarannya diperhitungikan bersama-sama angsuran terakhir. 4. Untuk pekerjaan tambah yang harganya tidak tercantum diharga satuan yang dimasukkan dalam penawaran, harga satuan akan ditentukan lebih lanjut oleh Konsultan Pengawas bersama-sama kontraktor dengan persetujuan pemberi tugas. 5. Adanya pekerjaan tambah tidak dapat dijadikan alas an sebagai penyebab kelambatan penyerahan pekerjaan, tetapi Konsultan Pengawas / Tim Pengelola Teknis dapat mempertimbangkan perpanjangan waktu, karena adanya pekerjaan tambahan tersebut. Pasal III.17 PEKERJAAN PERSIAPAN 1. Kontraktor harus membersihkan lapangan dari segala hal yang bisa menggangu pelaksanaan pekerjaan, serta mengadakan pengukuran untuk membuat tanda tetap sebagai dasar ukuran ketinggian lantai dan bagian-bagian bangunan yang lain.

175 166. Jalan masuk dan Konstruksi jalan sementara. Untuk mencapai jenis pengangkutan kendaraan material dilokasi proyek ini melalui jalan desa dan rencana jalan umum/kampus, untuk itu kontraktor harus menjaga keutuhan jalan dan jembatan dan sebagainya. Kerusakan akibat pelaksanaan proyek tersebut diatas maka kontraktor wajib memperbaikinya. 3. Selamanya berlangsungnya pekerjaan kontraktor harus dapat menjaga lingkungan yang terganggu oleh jalannya proyek. 4. Kontraktor tidak dibenarkan memasang papan Reklame dalam bentuk apapun dalam lingkungfan halaman tanah disamping yang berbatasan langsung dengan hgalaman komplek kampus UNNES desa sekaran. 5. Kontraktor harus memasang nama proyek 1 (satu) unit dari papan/tiang kayu. Redaksi papan nama proyek tersebut akan ditentukan kemudian, dengan papan ukuran minimal 1,50 x 0,80 m. Pasal III.18 PEKERJAAN TANAH 1. Pekerjaan Galian a. Waktu Pelaksanaan Penggalian Pekerjaan penggalian tanah terutama galian pada dasar pondasi sebaiknya dilaksanakan pada musim kering. b. Batas dan Ketinggian Galian Dalam melaksanakan pekerjaan penggalian tanah, rekanan harus memperhatikan batas-batas ketinggian setiap galian sesuai dengan kebutuhan seperti yang tercantum didalam gambar rencana.

176 167 c. Alat-alat Alat-alat yang dipakai untuk pekerjaan penggalian tanah, baik jenis maupun kebutuhannya harus sesuai dengan kebutuhan, untuk itu rekanan harus menyerahkan daftar alat-alat yang dipakai dalam pekerjaan ini sebelum memulai pekerjaan tanah. d. Pencegahab Kelongsoran Dinding Galian Rekanan wajib melaksanakan pengamanan dinding galian dari kemungkinan terjadinya longsor, terutama pada galian-galian yang dalam. ( untuk pondasi sumuran ) antara lain dengan cara-cara sebagai berikut : Membuat talut yag landai atau system bertangga dengan memperhatikan tanah asli sebenarnya. Mengangkat tanah-tanah/batu-batu lepas yang terdapat pada diding galian. Memasang turap-turap pengaman atau casing pengaman. Dilarang menempatkan bahan bangunan atau alat-alat berat didekat tepi galian. Memasang Konstruksi pengaman lainnya yang dianggap perlu. Dalm hal ini rekanan harus sudah memperhitungkan harga biaya dalam penawaran. e. Galaian konstruksi Galian Konstruksi adalah galian tanah ataupun batuan yang dimaksudkan untuk pemasangan pondasi bangunan, tembok penahan tanah dan lain-lain seperti yang dimaksudkan dalam gambar rencana atau ditentukan dalanm

177 168 ketentuan ini. Galian-galian ini harus memenuhi persyaratan sehingga posisi dan ketinggian serta ukuran struktur sesuai dengan ketentuan dalam gambar rencana. Sebelum memulai penggalian rekanan harus memberitahukan Direksi terlebih dahulu. f. Pemakaian Kembali Material Bangunan Material galian yang memenuhi syarat bisa dipakai kembali sebagaimaterial urugan atas persetujuan Direksi, yang tidak memenuhi syarat harus dibuang. g. Pembuangan Material Bangunan Material galian yang tidak dapat dipakai urugan atau material kelebihan harus dibuang ketempat-tempat yang telah ditentukan. Pembuangan ini tidak boleh merusak lingkungan, menghalangi arus aor atau merugikan pihak lain. h. Tes Kepadatan Setelah tanah urugan selesai dipadatkan, dilakukan tes kepadatan dilapangan (disaksikan oleh Direksi/pengawas) maupun laboratorium. Untuk tes dilapangan dapat digunakan sand cone method atau cara lain yang disetujui oleh Direksi/ pengawas. Lokasi dan jumlah titik yang dites ditentukan oleh Direksi/Pengawas. Hasil tertulis harus diserahkan kepada d\direksi/pengawas untuk memperoleh persetujuan. i. Tingkat Kepadatan

178 169 Tingkat kepadatan lapangan disyaratkan 95% dari kepadatan kering maksimum yang berlaku untuk semua urugan umum. j. Urugan khusus untuk Perbaikan Tanah Apabila terjadi perbaikan tanah dengan maksud memperbaiki daya dukung tanah maka sebagian tanh semula akan digali sedemikian hingga tebalnya tanah pengganti memenuhi syarat dalam Gambar Rencana dan mengusahakan seminimum mungkin etrjadinya gangguan terhadap tanah asli yang diakibatkan oleh penggalian tersebut. Tanah ini dipadatkan dengan baik sesuai dengan ketentuan-ketentuan tentang pemadatan tanah urugan seperti yang disebutkan dalam (sub) pasal-pasal terdahulu. Pasal III.19 PEKERJAAN BETON (Pondasi, kolom, Ringbalok, dan Konsol) 1. Bahan a. Semen Portland / PC Semen Portland yang dipakai harus dari jenis I menurut peraturan semen Portland Indonesia 197 (NI-8) atau British Standart No. 1/1965. semen harus sampai di tempat kerja dalam kondisi baik serta dalam kantongkantong asli dari pabrik. Merk PC dianjurkan dalam negeri seperti Nusantara, Tiga Roda, atau sekualitas, satu macam dan dengan persetujuan konsultan pengawas. Semen harus di simpan dalam gudang yang kedap air berventilasi baik, di atas lantai setinggi 30 cm.

179 170 Kantong-kantong semen tidak boleh ditumpuk lebih dari sepuluh lapis. Penyimpanan selalu terpisah untuk setiap pengiriman. b. Agregrat halus dan kasar dapat dipakai agregrat alami atau buatan asal memenuhi syarat menurut PBI untuk pasir beton dipakai pasir Muntilan, sedang batu pecah dipakai batu pecah ukuran dan kwalitas dari hasil pemecah mesin split. Agregrat tidak boleh mengandung bahan yang dapat merusak beton dan ketahanan tulangan terhadap karatan. Untuk itu kontraktor harus mengajukan contoh-contoh yang memenuhi syarat dari berbagai sumber (tempat pengambilan) antara laintidak boleh menggunakan pasir laut. Agregrat-agregrat harus disimpan ditempat yang saling terpisah dalam tumpukan yang tidak lebih dari 1m berpermukaan yang bersih, padat serta kering dan harus dicegah terhadap pengkotoran. c. Air Untuk campuran dan untuk pemeliharaan beton harus dai air bersih dan tidak mengandung zat-zat yang dapat merusak beton. Air tersebut harus memenuhi syarat-syarat manurut PBI d. Bahan campuran tambahan (Additives) Pemakaian bahan tambahan kimiawi (concrete admixture) kecuali yang tersebut tegas dalam gambar atau persyaratan harus seijin tertulis dari Konsultan Pengawas, untuk itu Kontraktor harus mengajukan permohonan tertulis. Kontraktor harus mengajukan analisa kimiawinya serta bukti penggunaan selama 5 tahun di Indonesia.

180 171 Bahan tambahan yang mempercepat pengerasan permulaan (intial set) tidak boleh dipakai, sedangkan untuk beton kedap air dibawah tanah (hydrostatic preasure) tidak boleh waterproofer yang mengandung garam stearate. ]bahan campuran tambahan beton harus sesuai dengan iklim tropis dan memenuhi persyaratan AS dan ASTM C.494 dan type B dan type D sekaligus sebagai pengurangan air adukan dan penunda pengerasan awal. Penggunaannya harus sesuai dengan petunjuk teknis dari pabrik dan dimasukkan kedalam mesin pengaduk bersamaan dengan air adukan yang terakhir dituangkan kedalam mesin pengaduk. Pemakaian additive tidak boleh menyebabkan dikuranginya volume semen dalam adukan. e. Lapisan pelindung beton Untuk lapisan pelindung plat lantai beton harus mendapat persetujuan Konsultan Pengawas. f. Semua bahan yang dipergunakan harus mendapat persetujuan Konsultan Pengawas.dalam keadaan maka Konsultan Pengawas berhak minta pemeriksaan atas biaya Kontraktor.. Macam pekerjaan Konstruksi beton untuk pekerjaan : - Kolom - Plat - Balok/ Rib

181 17 - Pondasi 3. Syarat-syarat pelaksanaan a. Rencana adukan beton (Mix Design) Test Laboratorium 1. Contoh split, pasir dan PC yang akan dipergunakan harus dikirim olejh rekanan dan dikirim ke laratorium yang telah disetujui oleh Direksi Lapangan untuk dianalisis dan hasil test contoh tersebut, laboratorium akan merencanakan suatau campuran beton untuk ememnuhi setiap kekuatan yang dikehendaki dan memenuhi slump yang disyaratkan.. Laboratorium juga akan menyediakan (dua) kubus percobaan dari setiap adukan yang direncanakan dari contoh split dan pasir yang telah diperiksa, 1 (satu) kubus ditest pada umur 7 hari dan sebuah lagi pada umur 8 hari. 3. Rekanan harus menyerahkan 3 (tiga) rangkap hasil test dan rencana adukan kepada Direksi Lapangan untuk disetujui sebelum pengecoran beton dilakukan. 4. Seluruh biaya pembuatan contoh, renewa adukan dan test laboratorium ditanggung oleh Rekanan. Ukuran campuran PC dan bahan adukan lain termasuk air Jumlah PC dan bahan adukan sebelum diadduk harius ditetapkan langsung dengan alat pengukur yang disediakan oleh rekanan dan di setujui oleh Direksi Lapangan.

182 173 b. Test Kekuatan Beton Rekanan harus melakukan test kekuatan beton, test bisa dilakukan di labortorium yang independent yang ditentukan atau disetujui oleh Direksi/ Pengawas. Pembuatan beton uji dan jumlah harus memenuhi ketentuan dalam SKSNI T tahun 1990 dan 1991 atau PBI 71 1 (satu) lembar asli dan (dua) lembar copy laporan hasil test diserahkan kepada Direksi/ Pengawas. Bila beton yang berumur 7 hari kekuatannya kurang dari 70% kekuatan beto umur 8 hari, maka Direksi berhak dengan segera memerintahkan Rekanan untuk menambah jumlah PC kedalam campuran beton atau merubah perbandingan campuran beton (bila dianggap perlu). Biaya tambahan akibat perubahan campuran tadi dan biya kekuatan beton, sepenuhnya menjadi tanggung jawab Rekanan. c. Persiapan Pengecoran Beton Pemeriksaan dan Persetujuan Direksi Beton tidak diperbolehkan dicor bila seluruh pekerjaan pembesian, pekerjaan bekisting dan pekerjaan instalasi tiap bagian yang telah dipasang serta persiapan seluruh permukaan tempat pengecoran belum diperiksa dan disetujui oleh Direksi Lapangan. 1. Seluruh permukaan bekisting, besi tulang dan instalasi-instalasi (bila ada) yang tertanam dalam beton harus dibersihkan terlebih

183 174 dahulu dari segala macam kotoran termasuk kerak beton sisa pekerjaan pengecoran sebelumnya.. Permukaan bekisting, lantai kerja atau tanah dibagian yang akan dicor harus berada dalam kedaan lembab pada saat pencoran beton yang dilakukn, untuk itu, permukaan tersebut harus dibasahi dengan air terlebih dahulu. Tetapi permukaan-permukaan tersebut tidak boleh tergenang air. Setiap genangan air di bagian yang akan dicor harus disingkirkan terlebih dahulu sebelum dilaksanakan pencoran. Persiapan Permukaan yang akan dicor beton Persiapan Instalasi-instalasi yang ditanam dalam beton Instalasi-instalasi yang ditanam dalam beton (bila ada) seperti pipa instalasi mekanikal elektrikal, plumbing sanitasi dan sebagainya harus telah terpasang dengan kokoh dalam bekisting. Lantai kerja Semua pekerjaan beton, terutama pekerjana pondasi, yang berhubungan dengan tanah sebagai dasarnya, harus diberi pasir dan lantai kerja dari beton tumbuk (1:3:5). d. Pembuatan Adukan Beton Alat Pembuatan Adukan Beton 1. Bila tidak ditentukan lain, adukan beton harus dibuat dengan menggunakan mesin pengaduk beton atau beton molen. Penentuan jenis dan ukuran beton molen harus ada sepengetahuan Direksi.

184 175. Permukaan bagain dalam molen harus selalu bersih, tidak diperbolehkan ada kerak-kerak beton sisa adukan yang dibuat sebelumnya. Campuran Adukan Beton Campuran adukan beton harus dibuat sesuai dengan Rencana Campuran Beton yang disetujui Direksi sebelumnya, kecuali bila Direksi menetapkan lain. Sehubungan dengan hal itu, jumlah PC, bahan-bahan adukan dan air untuk membuat adukan beton harus ditakar dengan alat-alat penakar yang disediakan oleh Rekanan dan disetujui oleh Direksi. Waktu Pengadukan 1. Lamanya waktu yang digunakan untuk mengaduk semua campuran betonadalah paling sedikit 1 ½ menit untuk 1 m3 beton dihitung dari saat sesudah semua bahan, kecuali air, dimasukkan ke dalam molen.. Lamanya waktu pengadukan harus ditambah bila kapasitas mesin mengaduk lebih besar dari 1 m3. Contoh : untuk m3, waktu pengadukan adalah : 1 ½ menit + 1 menit = ½ menit dan seterusnya. Kekentalan Adukan Beton 1. Kekentalan adukan beton harus diperiksa, sesuai dengan (SKSNI T ).

185 176. Pemeriksaan kekentalan ini harus disaksikan oleh Direksi/ Pengawas. 3. untuk memenuhi persyaratan kekentalan adukan beton ini, jumlah air yang digunakan dapat dirubah, disesuaikan perubahan keadaan cuaca atau kelembapan bahan-bahan adukan. e. Pengecoran Beton Pelaksanaan pengecoran beton harus disaksikan oleh Direksi/ Pengawas. Pengecoran beton tidakboleh dilaksanakan bila cuaca buruk dan bila pada lokasi yang sama sedang dilaksanakan pekerjaan pemancangan tiang pancang. Adukan beton yang tidsak memenuhi syarat tidak boleh dijatuhkan dengan tinggi jatuh lebih dari 1.5 m. bila tinggi jatuh adukan beton lebih dari1,5 m maka kerikil akan terpisah dari adukan dan akan membentuk sarang-sarang kerikil yang berongga. Untuk pengecoran dalam/ tinggi, dapat menggunakan saluran vertical dan/ atau corong yang licin agar adukan beton yang melaluinya tetap homogen. Pengecoran harus dilakukan dengan merata, adukan beton yang telah dicorkan, tidak boleh didorong atau dipindahkan lebih dari (dua) meter dalam arah datar. Bagian strujtru yang pengecorannya harus dilakukan lapis demi lapis, tiap lapis harus mempunyai tinggi yang merata/ seragam dan berbentuk

186 177 miring. Pengecoran la[pisan yang berikutnya harus dilakukan pada waktu lapisan sebelumnya masih lunak. Pemakaian conveyor belt untuk mengangkut adukan beton harus seijin Direksi. Dalam cuaca panas, Rekanan harus melakukan langkah-langkah pengamanan agar adukan beton tidak terlalu cepat mongering, misalnya dengan cara melindunginya dari panas matahari secara langsung. f. Pemadatan Adukan Beton Adukan beton yang telah dicor ke dalam bekisting atau galian pondasi, harus digetarkan dengan alat penggetar (vibrator) type Immersion agar diperoleh beton yang padat dan homogen serta tidak terjadi sarangsarang kerikil. Pada waktu digunakan, jarum penggetar tidak boleh menyentuh bekisting atau tulangan. Pencelupan jarum penggetar ke dalam adukan beton tidak boleh terlalu lama sebab bisa mengakibatkan pemisahan unsure-unsur adukan beton. Ukuran diameter jarum penggetar yang digunakan harus disesuaikan dengan keadaan/ dimensi bagian yang harus dicor. g. Perawatan Selama Proses Pengerasan Beton Beton yang telah dicor harus dijaga tetap basah sekurang-kurangnya selama 14 (empat belas) hari setelah dicor, dengan cara disirami air,

187 178 atau ditutup dengan karung goni yang dibasahi atau dengan cara lain yang dapat dibenarkan. Air tidak diperbolehkan mengalir melalui permukaan beton yang baru dicor dengan kecepatan aliran yang bisa merusak permukaan beton tersebut. Sama sekali tidak diijinkan menaburkan semen kering dan pasir dipermukaan beton yang masih basah. h. Pekerjaan Pembesian Persyaratan Besi Tulangan Beton Besi yang digunakan untuk penulangan beton adalah : - U-4 polos untuk tulangan berdiameter 1 mm. (fy = 40 MPa) - U-3 ulir untuk tulangan berdiameter > 1 mm. (fy = 30 MPa) Ukuran yang dicantumkan dalam gambar-gambar adalah ukuran Metric. Secara umum, besi penulangan beton harus memenuhi ketentuan-ketentuan dalam SKSNI T atau PBI 71. Daftar dan Gambar Detail penulangan Rekananharus membuat sendiri dan oleh karenanya bertanggung jawab penuh atas daftar dan gambar detail penulangan konstruksi beton yang diperlukan, yang dalam proses penyusunannya telah memperhitungkan cara-cara pelaksanaannya. Pemsangan Besi Penulangan Sebelum dipasang, besi penulangan beton harus bebas dari kotorankotoran tanah/ Lumpur ; minyak dan bahan-bahan lian yang bisa

188 179 mengandung atau mengurangi daya ikat besi penulangan dengan adukan beton. Persyaratan-persyaratan pemasangan seperti pembengkokanpembengkokan, tebal betondecking, kursi-kursi penumpu, toleransi pemasangan, sambungan overlap dan lain-lain harus mengikuti ketentuan-ketentuan dalam SKSNI T Persetujuan Direksi/ Pengawas terhadap Besi Penulangan Pemasangan besi penulangan harus diperiksa oleh Direksi/ pengawas terlebih dahulu untuk memperoleh persetujuan sebelum pengecoran. Rekanan harus memberitahu Direksi/ Pengawas bila pemasangan besi penulkangan telah siap untuk diperiksa. i. Pekerjaan Bekisting Pesrsyaratan Konstruksi Bekisting 1. Bekisting harus terbuat dari multiplex 18 mm dan rangka yang kokoh terbuat dari kayu keras, sama sekali tidsak diijinkan memakai bambu sebagai rangka bekisting.. bekisting harus rapat dan kedap air, terutama pada sambungansambungan. Pada saat pengecoran beton, tidak boleh ada cairan atau adukan beton yang mengalir keluar krena bocor. 3. untuk permukaan luar beton yang tidak akan di plester (semi exposed), permukaan dalam bekisting/ multiplex sebaiknya dilapisi bahan sejenis minyak yang disetujuioleh Direksi/ Pengawas untuk

189 180 memudahkan pembongkaran bekisting itu kelak. Penggunaan oli bekas tidak bisa dibenarkan dibenarkan. 4. penggunaan ulang dari (bahan) bekisting yang sudah pernah dipakai harus atas seijin Direksi/ Pengawas. Persetujuan Direksi/ Pengawas Terhadap Bekisting Bekisting yang sudah dipasang, harus diperiksa oleh Direksi/ Pengawas terlebih dahulu sebelum pengecoran. Direksi berhak menolak dan memerintahkan pembongkaran atau perbaikan terhadap ekisting yang dianggapnya tidak memenuhi syarat baik kekuatan maupun ukuran-ukurannya. Pembukaan Bekisting Bila tidak ditentukan lain oleh Direksi/ Pengawas, dalam keadaan normal bekisting pelat dan balok hanya boleh dibongkar setelah beton berumur 8 hari, kecuali sisi vertical balok, kolom dan dinding atas sudah dibongkar setelah beton berumur lebih dari 4 hari. Pembongkaran bekisting harus dilakukan dengan tenaga statis tanpa getaran, goncangan atau pukulan ynag bisa merusak beton. Pasal III.0 PEKERJAAN PONDASI 1. PONDASI SUMURAN a. Pelaksanaan pekerjaan pondasi sumuran harus dipimpin oleh tenaga ahli yang berpengalaman.

190 181 b. Rekanan harus menyerahkan rencana kerja/ metode pelaksanaan termasuk data elevasi sumuran kepada Direksi/ Pengawas. c. Galian tanah Posisi galian pondasi sumuran dan ukuran diameter harus sesuai gambar rencana dan atau Berita Acara Uitzet Lapangan, penentuan titik-titik pondasi sumuran ini harus diketahui dan disetujui oleh Konsultan Pengawas/ Direksi Lapangan. Galian tanah dilakukan dengan menggunakan tenaga mesin atau tenaga manusi yang tidak mengganggu bangunan sekitarnya dengan kedalaman sesuai rencana, dan disetujui oleh Konsultan Pengawas/ Direksi Lapangan. Jika kedalaman sesuai rencana masih terdapat tanah lunak, maka penggalian dilakukan sampai diperoleh tanah keras, dan jika tanah lunak terlalu dalam maka perlu di konsultasikan ke Direksi Lapangan/ Konsultan Pengawas untuk penanganan lebih lanjut bersama Konsultan Perencana. Kekerasan tanah harus dilakukan dengan menggunakan uji SPT dengan N minimal = 50, pengujian ini harus disetujui oleh Konsultan Pengawas/ Direksi Lapangan. Tanah bekas galian harus diatur sedemikian hingga agar efek samping terhadap pekerjaan dan linglkungan dapat di tekan seminim mungkin. Jika tanah yang digali mudah longsor maka Kontraktor wajib menggunakan Casing untuk mencegah kelongsoran tanah tersebut.

191 18 Jika terjadi galian terlalu dalam dari rencana, maka untuk menyesuaikan dengan peil rencana tidak boleh dilakukan pengurulkan dengan tanah bekas galian, dan harus diisi dengan bahan yang sesuai dengan pondasi sumurannya. Besarnya biaya akibat hal ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab Kontraktor. d. Pemasangan tulangan Pemasangan tulangan harus sesuai dengan gambar rencana baik mengenai mutu, diameter dan jarak tulangnya. Mutu yang digunakan adalah sebagai berikut : Penggantian diameter diperbolehkan asal luas tampang total dari tulangan minimal sama dengan gambar rancangan, penggantian diameter tulangamn harus disetujui oleh Konsultan Pengawas/ Direksi Lapangan. 1. tulangan utama fy = 30 MPa,. tulangan geser fy = 40 MPa. 3. mutu beton cycloope f c = 15 MPa (K-175 = 175kg/cm) 4. mutu poer / pile cap f c =,5 MPa (K-50 = 50kg/cm) Pemasangan tulangan harus hati-hati agar tidak menyantuh tanah disekitarnya, untuk itu di bagian luar rangkaian tulangan perlu diberi beton Decikng dengan tebl minimal 5 cm. Hubungan tulangamn pondasi sumuran, dengan peil cap dan kolom harus sesuai dengan gambr kerja, dan harus disetujui oleh Direksi Lapangan/ Konsultan Pengawas.

192 183 e. Pengecoran Mutu beton cycloope f c = 15 MPa (K-175 = 175kg/cm) mutu poer/ pile cap f c =,5 MPa (K-50 = 50kg/cm) Sebelum dilakukan pengecoran, maka kesiapan harus diketahui dan disetujui Konsultan Pengawas/ Direksi lapangan mengenai hal-hal sbb: 1. dimensi sumuran dan tulangan yang terpasang.. posisi/ as pondasi dan posisi tulang. 3. kebersihan lhn cord an tulangan. 4. kesiapan material, peralatan dan tenaga. 5. kondisi cuaca dan perlengkapan pengamanan jika terjadi hujan. Pengecoran cycloope borepile harus didahului dengan adukan beton, kemudian disusul batu belah. Tinggi adukan beton diperkirakan dapat membenamkan batu belah yang diisikan. Pengisian dilakukan seperti tersebut diatas hingga dicapai tinggi yang diingingkan. Ukuran batu belah sisi terpanjang, maksimum 15 cm dan diisikan dengan penyebaran yang merata, sela-sela batu belah harus mip terisi oleh adukan betonnya. Pengisian beton pada lubang sumuran tinggi jatuh tidak boleh lebih dari 1 meter, untuk itu diperlukan selang beton dengan pompa yang ujungnya dapat diikat mengikuti ketinggian cor yang sudah ada. Peralihan type cycloope dengan perubahan prosentase batu belahnya harus dikerjakan sesuai gambar rencana dan diketahui dengan pasti oleh konsultan pengawas/ Direksi Lapangan.

193 184 Batas akhir pengecoran bore pile diberi tanda agar tidak melampaui posisi dasr pell capnya. Ujung akhir pengecoran harus dijaga dari kotoran yang mengganggu (tanah, potongan kayu, kertas semen dll).. PONDASI PLAT LAJUR a. Pelaksanaan pekerjaan pondasi plat lajur harus dipimpin oleh tenaga ahli yang berpengalaman. b. Rekanan harus menyerahkan rencana kerja/ metoda pelaksanaan kepada Direksi/ Pengawas. c. Galian tanah Posisi galian borepile dan uuran diameter harus sesuai Gambar Rencana dan atau berita acara Uitzet Lapangan, penentuan titik-titik bore pile ini harus diketahui dan disetujui oleh konsultan pengawas/ direksi Lapangan. Galian tanah dilakukan dengan menggunakan tenaga menusia atau mesin yang tidak mengganggu bangunan sekitarnya dsengan kedalaman sesuai rencana, dan setujui oleh Konsultan Pengawas/ Direksi Lapangan. Jika kedalaman sesuai rencana masih terdapat tanah lunak, maka penggalian dilakukan sampai diperoleh tanah kersa, dan jika tanah lunak terlalu dalam maka perlu dikonsultasikan ke Direksi Lapangan/ Konsultan Pengawas untuk penanganan lebih lanjut bersama Konsultan perencana.

194 185 Tanah bekas galian harus diataur sedemikian hingga, agar efek samping terhadap pekerjaan dan lingkungan dapat ditekan seminimum mungking. Jika tanah yang digali mudah longsor, maka kontraktro wajib menggunakan casing untuk mencegah kelongsoran tanah tersebut. Jika terjadi galian terlalu dalam dari rencana, maka untuk menyesuaikan dengan peil rencana tidak boleh dilakukan penguranagn dengan tanah bekas galian, dan harus diisi dengan sirtu yang dipadatkan atau tanpa diurug. Besarnya biaya akibat hal ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab Kontraktor. d. Lantai kerja Lantai kerja dilakukan setelah permukaan galian rata dan telah mencapai tanah keras/ yang disetujui Direksi. Ketebalan lntai kerja minimal sesuai gambr rencana. Bahan linati kerja dari beton mutu f c = 15 MPa (K-175). Dengan perbandingan 1 PC: 3 Psr : 5 Kr. e. Pemasangan tulangan Sebelum pemasangan tulangan, lantai kerja harus sudah cukup keras sehingga tidak rusak akibat pelaksanaan pemasangan tulangan. Pemasangan tulangan harus sesuai dengan Gambar Rencana baik mengnai mutu, diameter dan jarak tulangannya. Mutu yang digunakan adalah sebagai berikut: 1. tulangan utama fy = 30 MPa.

195 186. tulangan geser fy = 40 MPa. Penggantian diameter diperbolehkan asal luas tampang total tulangan minimal sama dengan Gambar Rencana, penggantian diameter tulangan harus diesetujui oleh konsultan Pengawas/direksiLapangan. Pemasangan tulangan harus hati-hati agar tidak menyentuh tanah di sekitarnya,untuk itu di bagian luar rangkaian tulangan perlu diberi beton decking dengan tebal minimal 3 cm. Hubungan tulangan pondasi Plat lajur (palt dan rib) dengan kolom harus sesuaidengan Gambar Kerja,dan harus disetujui oleh Direksi Lapangan/Konsultan Pengawas. f. Pengecoran Mutu lantai kerja K-175 (f c = 15 MPa) dengan perbandingan adukan 1Pc : 3 Psr :3 Kr/split, dan mutu beton pondasi plat lajur f c =,5 MPa (K-50 = 50 kg/cm) dengan perbandingan adukan 1Pc : Psr : 3 Kr/split. Sebelum dilakukan pengecoran, maka kesiapan akhir harus diketahui dan disetujui konsultan pengawas/ Direksi Lapangan mengenai hal-hal sbb: 1. dimensi sumuran dan tulangan yang terpasang.. posisi/as pondasi dan posisi tulang. 3. kebersihan lahan cord an tulangan. 4. kesiapan material, peralatan dan tenaga. 5. kondisi cuaca dan perlengkapan pengamanan jika terjadi hujan

196 187 Pasal III. PEKERJAAN KAYU 1. Bahan a. Kayu dipakai harus menggunakan kayu berkualitas baik, tua, kering dan tidak bercacat pecah-pecah serta tidak terdapat kayu mudanya (spint). b. Kelembapan kayu yang dipakai untuk pekerjaan kayu hlus harus kurang dari 16 % dan kayu yang dikirim ketempat pekerjaan dan harus konstan sampai bangunan selesai. c. Selama pelaksanaan, mutu dan kekeringan kayu harus dijaga dengan penyimpanannya ditempat kering, terlindung dari hujan dan panas.. Macam Pekerjaan Konstruksi dan macam-macam pekerjaan lainnya menggunakan jenis-jenis seperti dibawah ini : Kayu kamfer diawetkan Semua kusen, kecuali pintu km/wc, BV. 3. Syarat-syarat pekerjaan a. Semua pekerjaan kayu yang tampak harus diserut rata, khususnya bidangbidang tampak kayu harus benar-benar rata, licin dan diselesaikan sedemikian rupa. b. Semua sambungan kayu memanjang, lubang dan pen harus di meni.

197 188 Pasal III.3 PEKERJAAN BATU DAN PLESTERAN 1. Bahan a. Semen Portland/PC Semen untuk pekerjaan batu dan plesteran sama dengan yang digunakan untuk pekerjaan beton. (lihat pasal 11). Semen Portland yang dipakai sekualitas semen Nusantara atau Tiga Roda. b. Kapur Kapur yang dipakai adalah kapur pamotan dan sekualitas. c. Pasir Pasir yang digunakan harus pasir Muntilan yang berbutir.kadar Lumpur yang terkandung dalam pasir tidak boleh lebih besar 5 %. Pasir harus memenuhi persyaratan PUBB 1970 atau NI-3. d. Air Air yang digunakan untuk adukan dan plesteran sama dengan yang dikerjakan beton (lihat pasal 11). e. Batu bata (Bata Merah) Bata merah harus mempunyai rusuk-rusuk yang tajam, tidak menunjukkan retak-retak. Batu merah tersebut ukurannya harus sama perunitnya dan harus memenuhi persyaratan NI-10 dan PUBB 1970 (NI-3), dipakai Ex Penggaron atau sekualitas. f. Batu Gunung / Batu Belah

198 189 Batu gunung untuk pondasi harus bersih dari kotoran, keras dan memenuhi persyaratan yang ada di PUBB 1970 (NI-3), dipakai Ex pudak Payung. g. Krawang beton harus mempunyai rusuk-rusuk yang tajam dan siku, bidang sisi dasarnya tidak menunjukkan retak-retak dan perubahan bentuk. Ukuran beton krawang harus sama satu sama lain, krawang beton harus melalui pengujian Konsultan Pengawas. h. Kricak/ split Kerikil yang dipergunakan harus memenuhi persyaratan PUBB 1970 dan PBI 1970 dan PBI krikil harus cukup keras, bersih serta susunan butirnya gradasinya menurut kebutuhan. Krikil harus melalui yakan (saringan) berlubang persegi 76 mm dan tinggal diatas saringan berlubang 50 mm. batu split menggunakan ex Pudak Payung dan sekualitas dari hasil pemecah mesin harus mempunyai ukuran yang hampir sama max /3.. Macam pekerjaan a. Adukan untuk pasangan dan plesteran dibuat dengan macam-macam perbandingan campuram seperti tersebut dibawah ini : Macam Perbandingan Penggunaan M1 1 Pc : Ps - Adukan dan plesteran dinding batu bata dan beton krawang yang kedap air. - Untuk plesteran trasram dan plesteran beton yang kedp air M 1 Pc : 3 Ps - Untuk plesteran beton

199 190 bertulang yang tidak kedap air. - Untuk rollag pasangan batu bata. - Sponengan. M3 1 Pc : 6 Ps - Untuk pasangan pondasi batu belah dan pasangan batu bata dan plesteran tembok. b. Pasangan batu kosong (aanstamping) dengan bahan batu gunung dipasang dibawah pondasi batu belah dan diisi dengan pasir. c. Pasangan dinding krawang dengan perekat dari pasta semen (campuran air dengan semen). d. Semua tembok kamar mandi, wc, setinggi 1,50 m diatas lantai dengan adukan macam M1. e. Pasangan tembok setinggi 0 cm diatas lantai dengan campuran spesi 1 Pc : 3 Ps. 3. Syarat-syarat pekerjaan a. Plesteran dinding dan sponing/ plesteran sudut semua dinding yang di plester harus bersih dari kotoran dan disiram dengan air. Sebelum dibuat kepala plesteran paling sedikit 1,50 cm dan paling tebal cm, plesteran yang baru saja selesai tidak boleh langsung difiniksh/ diselesaikan. Penyelesaian plesteran menggunakan pasta semen yang sejenis. Selama proses pengeringan plesteran harus disiram dengan air

200 191 agar tidak terjadi retak rambut akibat proses pengeringan yang terlalu cepat. Pencampuran adukan hanya boleh menggunakan mesin pengaduk dan campuran dengan tangan hanya boleh dilaksanakan seijin Konsultan Pengawas. Pengadukan harus diatas alas papan atau yang lainnya. Plesteran untuk dinding yang akan di cat tembok atau di kapur, penyelesaian terakhir harus digosok dengan amplas bekas pakai atau kertas sak semen, semua beton yang di plester harus dibuat kasar dulu agar plesteran dapat melekat. Untuk semua sponingan harus menggunakan campuran M (pada daftar), rata, siku dan tajam pada sudutnya. Pasal III.7 PEKERJAAN LAIN-LAIN a. Segala sesuatu yang belum tercantum dalam RKS ini masih termasuk lingkup dalam pelaksanaan ini kontraktor harus menyelesaikan, sesuai dengan petunjuk, Perintah Direksi, baik sesudah atau selama berjalannya pekerjaan, serta perubahan-perubahan di dalam berita acara Aanwijzing. b. Hal-hal yang timbul dalam pelaksanaan dan diperlukan penyelesaian dilapangan akan dibicarakan dan diatur oleh Konsultan Pengawas. Dengan dibuat berita acara yang disyahkan oleh Pengelola Proyek/ Direksi.

201 19 I. Pekerjaan Persiapan a. Luas yang dibersihkan 0 m Panjang Lebar = 60 m = 0 m 60 m Luas = 60 x 0 = 100 m b. Pemasangan Bowplank 0 m L = x (0 + 60) = 160 m 60 m c. Pekerjaan Direksi Keet 5 m Panjang Lebar = 10 m = 5 m 6 m 4 m Luas = 10 x 5 = 50 m II. Pekerjaan Tanah a. Galian Tanah Pondai Plat Menerus Tipe PL1 Luas penempang = 1.7 x.5 = 3.83 m Panjang pondasi = 55 m Volume galian tanah = 3.83 x 55 = m 3

202 193 Sirtu padat bawah pondasi tebal 0 cm Volume = 0. x 55 x 1.7 = 18.7 m 3 Tipe PL Luas penempang = 1.4 x.5 = 3.15 m Panjang pondasi = 60 m Volume galian tanah = 3.15 x 60 = 189 m 3 Sirtu padat bawah pondasi tebal 0 cm Volume = 0. x 60 x 1.4 = 16.8 m 3 Tipe PL3 Luas penempang = x.5 = 4.5 m Panjang pondasi = 4 m Volume galian tanah = 4.5 x 4 = 108 m 3 Sirtu padat bawah pondasi tebal 0 cm Volume = 0. x 4 x = 9.6 m 3 b. Galian Tanah Pondai Batu Kali Luas penempang = 1 x 0.8

203 194 = 0.8 m Panjang pondasi = 50 m Volume galian tanah = 0.8 x 50 = 40 m 3 Urugan pasir bawah pondasi tebal 10 cm Volume = 0.1 x 50 x 0.8 = 4 m 3 c. Galian Tanah Pondai Sumuran Luas penempang = 3.14 x 1.6 = 8.04 m Kedalaman pondasi Jumlah pandasi = 4 m = buah Volume galian tanah = x 4 x 8.04 = 64.3 m 3 Total volume galian tanah pondasi Volume = = m 3 Total volume sirtu padat bawah pondasi Volume = =45.1 m 3 III. Pekerjaan Pondasi a. Volume Pondai Plat Menerus Tipe PL1

204 195 Panjang pondasi = 55 m Luas penampang = 0.45 m Volume pondasi = 55 x 0.6 = 4.75 m 3 Tipe PL Panjang pondasi = 60 m Luas penampang = 0.34 m Volume pondasi = 60 x 0.34 = 0.5 m 3 Tipe PL3 Panjang pondasi = 4 m Luas penampang = 0.6 m Volume pondasi = 4 x 0.6 = 14.4 m 3 b. Volume Pondai Sumuran Luas penempang = 3.14 x 1.6 = 8.04 m Kedalaman pondasi Jumlah pandasi = 4 m = buah c. Volume Pondai Batu Kali Volume pondasi sumuran = x 4 x 8.04 = 64.3 m 3 Panjang pondasi = 4 m

205 196 Luas penampang = 0.6 m Volume pondasi = 4 x 0.6 = 14.4 m 3 Volume total pondasi= = m 3 Urugan Tanah Kembali Volume = V galian tanah (V sirtu padat + vv pasir urug bawah pondasi + V pondasi) = ( ) = m 3 IV. Pekerjaan Beton a. Beton Kolom Struktur Volume kolom K1 (40x60) Lantai I = 16 x (4.6 x 0.4 x 0.6) =17.66 m 3 Lantai II = 16 x (4. x 0.4 x 0.6) = m 3 Lantai III = 16 x (4. x 0.4 x 0.6) = 16.13m 3 Volume kolom K (40x50) Lantai I = 16 x (4.6 x 0.4 x 0.5) = 14.7 m 3 Lantai II = 16 x (4. x 0.4 x 0.5)

206 197 = m 3 Lantai III = 16 x (4. x 0.4 x 0.5) = m 3 Volume kolom K3 (40x40) Lantai I = x (4.6 x 0.4 x 0.4) = 1.47 m 3 Lantai II = x (4. x 0.4 x 0.4) = 1.34 m 3 Lantai III = x (4. x 0.4 x 0.4) = 1.34 m 3 Volume kolom K4 (60x60) Lantai I = 10 x (4.6 x 0.6 x 0.6) = m 3 Lantai II = 10 x (4. x 0.6 x 0.6) = 15.1 m 3 Lantai III = 4 x (4. x 0.6 x 0.6) = 6.05 m 3 Volume kolom K5 (0x0) Lantai I = 6 x (4.6 x 0. x 0.) = 1.10 m 3

207 198 Volume kolom K6 (30x30) Lantai I = x (4.6 x 0.3 x 0.3) = 0.8 m 3 Lantai II = x (4. x 0.3 x 0.3) = 0.75 m 3 Lantai III = x (4. x 0.3 x 0.3) = 0.75 m 3 Volume total beton kolom struktur= m 3 b. Beton Balok Struktur Balok P3=P4 (30x60) Volume = 30 x ( ) x 0.3 = 4.3 m 3 Balok AP=P (30x80) Volume = 114 x ( ) x 0.3 = 3.6 m 3 Balok AP1=P1(30x60) Volume = 96 x 0.6 x ( ) = 7.65 m 3 Balok CP (40x100) Volume = 34.4 x 1 x (1 0.1) = 30.7 m 3

208 199 Balok A1=A=T (0x35) Volume = 9. x ( )x 0. = m 3 Balok C1 (40x40) Volume = 1.6 x ( )x 0.4 =.4m 3 Volume total balok struktur = m 3 c. Beton Plat Lantai Lantai Volume = 0.1 x {(69.5 x 16.5 )- (6 x 6)-( 6 x 3 )-(6 x 3 ) = m 3 Lantai 3 Volume = 0.1 x {(69.5 x 16.5 )- (6 x 6)-( 6 x 3 )-(6 x 3 ) = m 3 d. Beton Tangga Plat tangga 4 m BORDES Vol. Tangga 1 = 1.58 x 3.84 x 0.16 = 1.1 m 3 Vol. Tangga = 1.58 x 3.84 x 0.16 = 1.1 m 3 Vol. Tangga 3 = 1.64 x 4.00 x 0.16 = 1.05 m m Total Volume = x 1.1 m 3 =.4 m 3

209 00 Total Volume tangga = x.4 = 4.48 m 3 Plat bordes Tebal bordes =16 cm 3.6 m 1,5 m Volume = 3.6 x 1.5 x 0.15 = 0.81 m 3 Total volume bordes = x 0.81 = 0.81 x ( buah ) = 1.6 m 3 Balok Bordes (30 x 0) Volume = 0.3 x 0. x 4 = 0.4 m 3 Total volume bordes = 0.4 x = 0.48 m 3 V. Pekerjaan Penulangan Balok Balok P3=P4 (30/60) Tul. Pokok : 9D (.98 kg/m) : 9 x.98 = 6.8 kg Tul. Begel : D8-75 (0.395 kg/m) Banyaknya tul. begel yang dibutuhkan per m : 100 : 7.5 = 13 buah

210 01 Panjang begel : (pj. Balok- selimut) + (l. balok-selimut) +.pjg tekukan : (30-4) + (60-4) + (8 x 1) : cm = m Berat dalam 1m : x x 13 = 8.56 kg *Sehingga per m membutuhkan : Berat.Tulangan pokok + Berat. Begel : = kg Volume per m balok 30/60 : 0.6 x 0.30x 1 = 0.18 m 3 Dalam 1m 3 : = 5.55(pot. Balok m 30/60) **Jadi, dalam 1m 3 beton membutuhkan tulangan = 5.55 x = kg Balok AP=P (30/80) Tul. Pokok : 1D (.98 kg/m) : 1 x.98 = kg Tul. Begel : D8-150 (0.395 kg/m) Banyaknya tul. begel yang dibutuhkan per m : 100 : 15 = 7 buah Panjang begel : (pj. Balok- selimut) + (l. balok-selimut) +.pjg tekukan : (80-4) + (30-4) + (8 x 1) : 0 cm =. m Berat dalam 1m :. x x 7 = 6.08 kg *Sehingga per m membutuhkan : Berat.Tulangan pokok + Berat. Begel : = kg

211 0 Volume per m balok 30/80 : 0.80 x 0.30 x 1 = 0.4 m 3 Dalam 1m 3 : = 4.17 (pot. Balok m 30/80) **Jadi, dalam 1m 3 beton membutuhkan tulangan = 4.17 x Balok AP1 = P1 (30/60) = kg Tul. Pokok : 6D (.98 kg/m) : 6 x.98 = kg Tul. Begel : D10-75 (0.617 kg/m) Banyaknya tul. begel yang dibutuhkan per m : 100 : 7.5 = 13 buah Panjang begel : (pj. Balok- selimut) + (l. balok-selimut) +.pjg tekukan : (60-4) + (30-4) + (10 x 1) : 184 cm = 1.84 m Berat dalam 1m : 1.84 x x 13 = kg *Sehingga per m membutuhkan : Berat.Tulangan pokok + Berat. Begel : = 3.63 kg Volume per m balok 30/60 : 0.60 x 0.30x 1 = 0.18 m 3 Dalam 1m 3 : = 5.55 (pot. Balok m 30/60) **Jadi, dalam 1m 3 beton membutuhkan tulangan = 5.55 x 3.63 Balok CP (40/100) = kg Tul. Pokok : 16D (.98 kg/m)

212 03 : 16 x.98 = kg Tul. Begel : D1-50 (0.888 kg/m) Banyaknya tul. begel yang dibutuhkan per m : 100 : 5 = 0 buah Panjang begel : (pj. Balok- selimut) + (l. balok-selimut) +.pjg tekukan : (100-4) + (40-4) + (1 x 1) : 88 cm =.88 m Berat dalam 1m :.88 x x 0 = kg *Sehingga per m membutuhkan : Berat.Tulangan pokok + Berat. Begel : = kg Volume per m balok 30/10 : 1.00 x 0.30x 1 = 0.3 m 3 Dalam 1m 3 : 1 = 3.33 (pot. Balok m 40/100) 0.3 **Jadi, dalam 1m 3 beton membutuhkan tulangan = 3.33 x Balok A1=A=T (0/35) = kg Tul. Pokok : 5D16 ( kg/m) : 5 x = 7.9 kg Tul. Begel : D8-150 (0.395 kg/m) Banyaknya tul. begel yang dibutuhkan per m : 100 : 15 = 7 buah Panjang begel : (pj. Balok- selimut) + (l. balok-selimut) +.pjg tekukan : (35-4) + (0-4) + (7 x 1) : 108 cm = 1.08 m

213 04 Berat dalam 1m : 1.08 x x 7 =.99 kg *Sehingga per m membutuhkan : Berat.Tulangan pokok + Berat. Begel : = kg Volume per m balok 0/35 : 0.35 x 0.0x 1 = 0.07 m 3 Dalam 1m 3 : = 14.8 (pot. Balok m 0/35) **Jadi, dalam 1m 3 beton membutuhkan tulangan = 14.8 x Balok C1 (40/40) = kg Tul. Pokok : 6D16 ( kg/m) : 6 x 1.58 = 9.48 kg Tul. Begel : D8-150 (0.395 kg/m) Banyaknya tul. begel yang dibutuhkan per m : 100 : 15 = 7 buah Panjang begel : (pj. Balok- selimut) + (l. balok-selimut) +.pjg tekukan : (40-4) + (40-4) + (7 x 1) : 158 cm = 1.58 m Berat dalam 1m : 1.58 x x 7 = 4.37 kg *Sehingga per m membutuhkan : Berat.Tulangan pokok + Berat. Begel : = kg Volume per m balok 40/40 : 0.40 x 0.40x 1 = 0.16 m 3 Dalam 1m 3 : = 6.5 (pot. Balok m 40/40) **Jadi, dalam 1m 3 beton membutuhkan tulangan = 6.5 x 13.85

214 05 = kg Kolom Kolom K1 (40/60) Tul. Pokok : 10D (.98 kg/m) : 10 x.98 = 9.8 kg Tul. Begel : D (0.617 kg/m) Banyaknya tul. begel yang dibutuhkan per m : 100 : 15 = 7 buah Panjang begel : (pj. Balok- selimut) + (l. balok-selimut) +.pjg tekukan : (40-8) + (60-8) + (7 x 1) : 18 cm = 1.8 m Berat dalam 1m : 1.8x x 7 = 7.86 kg *Sehingga per m membutuhkan : Berat.Tulangan pokok + Berat. Begel : = kg Volume per m kolom 40/60 : 0.40x 0.60x 1 = 0.4 m 3 Dalam 1m 3 : 1 = 4.17 (pot. kolom m 40/60) 0.4 **Jadi, dalam 1m 3 beton membutuhkan tulangan = 4.17 x Kolom K (40/50) = kg Tul. Pokok : 8D (.98 kg/m) : 8 x.98 = 3.84 kg Tul. Begel : D8-150 (0.395 kg/m) Banyaknya tul. begel yang dibutuhkan per m :

215 : 15 = 7 buah Panjang begel : (pj. Balok- selimut) + (l. balok-selimut) +.pjg tekukan : (50-8) + (40-8) + (7 x 1) : 16 cm = 1.6 m Berat dalam 1m : 1.6 x x 7 = 4.48 kg *Sehingga per m membutuhkan : Berat.Tulangan pokok + Berat. Begel : = 8.3 kg Volume per m kolom 45/85 : 0.40x 0.50x 1 = 0. m 3 Dalam 1m 3 : 1 = 5 (pot. kolom m 40/50) 0. **Jadi, dalam 1m 3 beton membutuhkan tulangan = 5 x 8.3 Kolom K3 (40/40) = kg Tul. Pokok : 8D16 ( 1.58 kg/m) : 8 x 1.58 = 1.64 kg Tul. Begel : D8-150 (0.395 kg/m) Banyaknya tul. begel yang dibutuhkan per m : 100 : 15 = 7 buah Panjang begel : (pj. Balok- selimut) + (l. balok-selimut) +.pjg tekukan : (40-8) + (40-8) + (7 x 1) : 14 cm = 1.4 m Berat dalam 1m : 1.4 x x 7 = 3.93 kg *Sehingga per m membutuhkan : Berat.Tulangan pokok + Berat. Begel : = kg

216 07 Volume per m kolom 45/85 : 0.40x 0.40x 1 = 0.16 m 3 Dalam 1m 3 : 1 = 6.5 (pot. kolom m 40/40) 0.16 **Jadi, dalam 1m 3 beton membutuhkan tulangan = 6.5 x Kolom K4 (60/60) = kg Tul. Pokok : 16D (.98 kg/m) : 16 x.98 = kg Tul. Begel : D10-00 (0.617 kg/m) Banyaknya tul. begel yang dibutuhkan per m : 100 : 0 = 5 buah Panjang begel : (pj. Balok- selimut) + (l. balok-selimut) +.pjg tekukan : (60-8) + (60-8) + (5 x 1) : 18 cm =.18 m Berat dalam 1m :.18 x x 5 = 6.73 kg *Sehingga per m membutuhkan : Berat.Tulangan pokok + Berat. Begel : = kg Volume per m kolom 60/60 : 0.60x 0.60x 1 = 0.36 m 3 Dalam 1m 3 : 1 =.78 (pot. kolom m 60/60) 0.36 **Jadi, dalam 1m 3 beton membutuhkan tulangan =.78 x Kolom K5 (0/0) = kg Tul. Pokok : 4D16 ( 1.58 kg/m)

217 08 : 4 x 1.58 = 6.3 kg Tul. Begel : D8-150 (0.395 kg/m) Banyaknya tul. begel yang dibutuhkan per m : 100 : 15 = 7 buah Panjang begel : (pj. Balok- selimut) + (l. balok-selimut) +.pjg tekukan : (0-8) + (0-8) + (7 x 1) : 6 cm = 0.6 m Berat dalam 1m : 0.6 x x 7 = 1.71 kg *Sehingga per m membutuhkan : Berat.Tulangan pokok + Berat. Begel : = 8.03 kg Volume per m kolom 0/0 : 0.0x 0.0x 1 = m 3 Dalam 1m 3 : 1 = 5 (pot. kolom m 0/0) 0.04 **Jadi, dalam 1m 3 beton membutuhkan tulangan = 5 x 8.03 Kolom K6 (30/30) = kg Tul. Pokok : 4D16 ( 1.58 kg/m) : 4 x 1.58 = 6.3 kg Tul. Begel : D8-150 (0.395 kg/m) Banyaknya tul. begel yang dibutuhkan per m : 100 : 15 = 7 buah Panjang begel : (pj. Balok- selimut) + (l. balok-selimut) +.pjg tekukan : (30-8) + (30-8) + (7 x 1) : 10 cm = 1.0 m

218 09 Berat dalam 1m : 1.0 x x 7 =.8 kg *Sehingga per m membutuhkan : Berat.Tulangan pokok + Berat. Begel : = 9.14 kg Volume per m kolom 30/30 : 0.30x 0.30x 1 = 0.09 m 3 Dalam 1m 3 : 1 = (pot. kolom m 45/85) 0.09 **Jadi, dalam 1m 3 beton membutuhkan tulangan = x 9.14 = kg Sloof Sloof S1 (30/10) Tul. Pokok : 10D0 (.46 kg/m) : 10 x.46 = 4.6 kg Tul. Begel : D (0.617 kg/m) Banyaknya tul. begel yang dibutuhkan per m : 100 : 15 = 7 buah Panjang begel : (pj. Balok- selimut) + (l. balok-selimut) +.pjg tekukan : (85-8) + (45-8) + (7 x 1) : 4 cm =.4 m Berat dalam 1m :.4 x x 7 = kg *Sehingga per m membutuhkan : Berat.Tulangan pokok + Berat. Begel : = kg Volume per m kolom 45/85 : 0.45x 0.85x 1 = m 3

219 10 Dalam 1m 3 : 1 =.614 (pot. kolom m 45/85) 0.38 **Jadi, dalam 1m 3 beton membutuhkan tulangan =.614 x = 91.6 kg Sloof S (30/10) Tul. Pokok : 10D0 (.46 kg/m) : 10 x.46 = 4.6 kg Tul. Begel : D (0.617 kg/m) Banyaknya tul. begel yang dibutuhkan per m : 100 : 15 = 7 buah Panjang begel : (pj. Balok- selimut) + (l. balok-selimut) +.pjg tekukan : (85-8) + (45-8) + (7 x 1) : 4 cm =.4 m Berat dalam 1m :.4 x x 7 = kg *Sehingga per m membutuhkan : Berat.Tulangan pokok + Berat. Begel : = kg Volume per m kolom 45/85 : 0.45x 0.85x 1 = m 3 Dalam 1m 3 : 1 =.614 (pot. kolom m 45/85) 0.38 **Jadi, dalam 1m 3 beton membutuhkan tulangan =.614 x Sloof S3 (30/10) = 91.6 kg Tul. Pokok : 10D0 (.46 kg/m)

220 11 : 10 x.46 = 4.6 kg Tul. Begel : D (0.617 kg/m) Banyaknya tul. begel yang dibutuhkan per m : 100 : 15 = 7 buah Panjang begel : (pj. Balok- selimut) + (l. balok-selimut) +.pjg tekukan : (85-8) + (45-8) + (7 x 1) : 4 cm =.4 m Berat dalam 1m :.4 x x 7 = kg *Sehingga per m membutuhkan : Berat.Tulangan pokok + Berat. Begel : = kg Volume per m kolom 45/85 : 0.45x 0.85x 1 = m 3 Dalam 1m 3 : 1 =.614 (pot. kolom m 45/85) 0.38 **Jadi, dalam 1m 3 beton membutuhkan tulangan =.614 x = 91.6 kg Sloof S4 (30/10) Tul. Pokok : 10D0 (.46 kg/m) : 10 x.46 = 4.6 kg Tul. Begel : D (0.617 kg/m) Banyaknya tul. begel yang dibutuhkan per m : 100 : 15 = 7 buah Panjang begel : (pj. Balok- selimut) + (l. balok-selimut) +.pjg tekukan : (85-8) + (45-8) + (7 x 1) : 4 cm =.4 m

221 1 Berat dalam 1m :.4 x x 7 = kg *Sehingga per m membutuhkan : Berat.Tulangan pokok + Berat. Begel : = kg Volume per m kolom 45/85 : 0.45x 0.85x 1 = m 3 Dalam 1m 3 : 1 =.614 (pot. kolom m 45/85) 0.38 **Jadi, dalam 1m 3 beton membutuhkan tulangan =.614 x = 91.6 kg Ringbalk Sloof S1 (30/10) Tul. Pokok : 10D0 (.46 kg/m) : 10 x.46 = 4.6 kg Tul. Begel : D (0.617 kg/m) Banyaknya tul. begel yang dibutuhkan per m : 100 : 15 = 7 buah Panjang begel : (pj. Balok- selimut) + (l. balok-selimut) +.pjg tekukan : (85-8) + (45-8) + (7 x 1) : 4 cm =.4 m Berat dalam 1m :.4 x x 7 = kg *Sehingga per m membutuhkan : Berat.Tulangan pokok + Berat. Begel : = kg Volume per m kolom 45/85 : 0.45x 0.85x 1 = m 3 Dalam 1m 3 : 1 =.614 (pot. kolom m 45/85) 0.38

222 13 **Jadi, dalam 1m 3 beton membutuhkan tulangan =.614 x = 91.6 kg Plat lantai Tul. Yang digunakan : 10D10 (0.6 kg/m) : 10 x 0.6 = 6. kg Panjang tulangan per 1m : 100 (tebal selimut) + (pj. Tekukan) : (100.) + (.6.1) = 108 cm = 1.08 m Berat dalam 1m : 1.08 x 6. = kg Volume per m plat : 0.1 x 1x 1 = 0.1 m 3 Dalam 1m 3 : 1 = 8.37 (pot. plat m ) 0.1 **Jadi, dalam 1m 3 beton plat membutuhkan tulangan = 8.37 x = kg Pekerjaan Dinding Lantai 1 Uraian Dinding a) Luas Dinding B : Luas = 44.8 x 4. = m Luas Kusen = 36.5 m Luas dinding = m b) Luas Dinding D : Luas = 16 x 4. = 67. m

223 14 Luas Kusen = 5.54 m Luas dinding = m c) Luas Dinding E : Luas = 1.6 x 4. = 90.7 m Luas Kusen = 6.7 m Luas dinding = 84 m d) Luas Dinding F : Luas = 4. x 6.8 =8.56 m e) Luas Dinding G: Luas = 4. x 44.8 = m Luas Kusen = 46.9 m Luas dinding = m f) Luas Dinding H: Luas = 4. x 3.6 = 15.1 m Luas Kusen = 6.7 m Luas dinding = 8.4 m g) Luas Dinding 1: Luas = 4. x 13 = 54.6 m Luas Kusen = 9.56 m Luas dinding = m h) Luas Dinding 5: Luas = 4. x 11. = m

224 15 Luas Kusen =.5 m Luas dinding = 44.5 m i) Luas Dinding 7: Luas = 4. x 11. = m j) Luas Dinding 7.5: Luas = 4. x.6 = 10.9 m Luas Kusen = 3.36 m Luas dinding = 7.56 m k) Luas Dinding 8: Luas = 4. x 1.5 = 6.3 m l) Luas Dinding 8.5: Luas = 4. x 3 =1.6 m m) Luas Dinding 9: Luas = 4. x 1.5 =6.3 m n) Luas Dinding 9.5: Luas = 4. x.6 = 10.9 m Luas Kusen = 1.68 m Luas dinding = 9.4 m o) Luas Dinding 10: Luas = 4. x 11. = m p) Luas Dinding 1: Luas = 4. x 5.6 = 3.5 m q) Luas Dinding 13:

225 16 Luas = 4. x 11. = m Luas Kusen =.5 m Luas dinding = 37.8 m r) Luas Dinding 16: Luas = 4. x 13 = 54.6 m Luas Kusen = 9.56 m Luas dinding = m Jumlah luas dinding lantai 1 yaitu m Lantai Uraian Dinding a) Luas Dinding B : Luas = 3.8 x 44.8 = m Luas Kusen = m Luas dinding = m b) Luas Dinding D : Luas = 3.8 x 19. = 7.96 m Luas Kusen = 5.04 m Luas dinding = 67.9 m c) Luas Dinding E : Luas = 3.8 x 5. = m Luas Kusen = 7.56 m Luas dinding = 88. m

226 17 d) Luas Dinding F : Luas = 3.8 x 9.6 = m e) Luas Dinding G: Luas = 3.8 x 44.8 = m Luas Kusen = 33.5 m Luas dinding = m f) Luas Dinding H: Luas = 3.8 x 9.6 = m Luas Kusen = m Luas dinding = 6.4 m g) Luas Dinding 1: Luas = 3.8 x 13 = 49.4 m Luas Kusen = 6. m Luas dinding = 43. m h) Luas Dinding 4: Luas = 3.8 x 10.4 = 39.5 m Luas Kusen =.5 m Luas dinding = 37 m i) Luas Dinding 7: Luas = 3.8 x 10.4 = 39.5 m j) Luas Dinding 7.5: Luas = 3.8 x 3 = 11.4 m Luas Kusen = 3.36 m

227 18 Luas dinding = 8.04 m k) Luas Dinding 8: Luas = 3.8 x 1.5 = 5.7 m l) Luas Dinding 8.5: Luas = 3.8 x 3 = 11.4 m m) Luas Dinding 9: Luas = 3.8 x 1.5 = 5.7 m n) Luas Dinding 9.5: Luas = 3.8 x 3 = 11.4 m Luas Kusen = 3.36 m Luas dinding = 8.04 m o) Luas Dinding 10: Luas = 3.8 x 10.4 = 39.5 m p) Luas Dinding 11: Luas = 3.8 x 6 =.8 m q) Luas Dinding 13: Luas = 3.8 x 10.4 = 39.5 m Luas Kusen =.5 m Luas dinding = 37 m r) Luas Dinding 16: Luas = 3.8 x 13 = 49.4 m Luas Kusen = 6. m Luas dinding = 43. m

228 19 Jumlah luas dinding lantai yaitu m Lantai 3 Uraian Dinding a) Luas Dinding B : Luas = 3.5 x 44.8 = m Luas Kusen = m Luas dinding = m b) Luas Dinding D : Luas = 3.5 x 4.4 = m Luas Kusen = 15.1 m Luas dinding = m c) Luas Dinding E : Luas = 3.5 x 43. = 151. m Luas Kusen = 15.1 m Luas dinding = m d) Luas Dinding F : Luas = 3.5 x 10 = 35 m e) Luas Dinding G: Luas = 3.5 x 44.8 = m Luas Kusen = 38. m Luas dinding = m f) Luas Dinding H: Luas = 3.5 x 10 = 35 m

229 0 Luas Kusen = m Luas dinding = 4.9 m g) Luas Dinding 1: Luas = 3.5 x 13 = 45.5 m Luas Kusen = 3.4 m Luas dinding = 4.1 m h) Luas Dinding 3: Luas = 3.5 x 14 = 49 m i) Luas Dinding 5: Luas = 3.5 x 14 = 49 m j) Luas Dinding 7: Luas = 3.5 x 13.8 = 48.3 m k) Luas Dinding 7.5: Luas = 3.5 x 1.5 = 5.5 m Luas Kusen = 1.68 m Luas dinding = 3.57 m l) Luas Dinding 8: Luas = 3.5 x 1.5 = 5.5 m m) Luas Dinding 8.5: Luas = 3.5 x 3 = 10.5 m n) Luas Dinding 9: Luas = 3.5 x 1.5 = 5.5 m o) Luas Dinding 9.5:

230 1 Luas = 3.5 x 1.5 = 5.5 m Luas Kusen = 1.68 m Luas dinding = 3.57 m p) Luas Dinding 10: Luas = 3.5 x 13.8 = 48.3 m q) Luas Dinding 1: Luas = 3.5 x 14 = 49 m r) Luas Dinding 14: Luas = 3.5 x 14 = 49 m s) Luas Dinding 16: Luas = 3.5 x 13 = 45.5 m Luas Kusen = 3.4 m Luas dinding = 4.1 m Jumlah luas dinding lantai 3 yaitu m Pekerjaan Kusen a. Kusen Pintu Dan Jendela 1. Tipe P1 = 4 buah Panjang = {(.10 x ) } x 4 = 3. m. Tipe P = 1 buah Panjang = (.5 x ) = 6.9 m 3. Tipe P3 = 5 buah Panjang = {(.10 x ) + 1. } x 5 = 135 m 4. Tipe P4 = 4 buah

231 Panjang = {(.10 x ) } x 4 = 10 m 5. Tipe J1 = 58 buah Panjang = {( 1. x 4 )+ ( x )} x 58 = m 6. Tipe J = buah Panjang = {( 1.5 x 5 ) + ( x 3 )} x = 7 m 7. Tipe J3 = 58 buah Panjang = {( 0.5 x 4 ) + ( x )} x 58 = 348 m 8. Tipe J4 = buah Panjang = {( 0.5 x 3 ) + ( 1.4 x )} x = 8.6 m 9. Tipe J5 = 70 buah Panjang = {( 0.5 x ) + ( 0.7 x )} x 70 = 168 m + Panjang kayu kusen = m Telinga kusen = ( 54 x x 0.15) + ( 190 x 4 x 0.15) = 130. m Panjang Kayu total = = m 10 % kayu yang hilang = 10 % x = m Total = = m Volume = x 0.08 x 0.16 = 0.8 m3 b. Memeni Kayu yang menyentuh Pasangan Luas kayu yang menyentuh pasangan : 1. 4 Buah Tipe P1= {(.10 x ) } x 4 = 3. m

232 3. 1 Buah Tipe P = {(.5 x ) } = 6.9 m 3. 5 Buah Tipe P3= {(.10 x ) + 1. } x 5 = 135 m 4. 4 Buah Tipe P4= {(.10 x ) } x 4 = 10 m Buah Tipe J1= { x ( + 1. )} x 58 = 371. m 6. Buah Tipe J= { x ( )} x = 14 m Buah Tipe J3= { x ( )} x 58 = 90 m 3. Buah Tipe J4= { x ( )} x = 7.6 m Buah Tipe J4= { x ( )} x 70 = 168 m + Luas telinga kusen : 1. Tipe P1 = 4 x ( x ) = m. Tipe P =1x ( x ) = 0.08 m 3. Tipe P3 = 5 x ( x ) =.055 m 4. Tipe P4 = 4 x ( x ) = m 5. Tipe J1 = 58 x ( x ) = m 6. Tipe J = x ( x ) = m 7. Tipe J3 = 58 x ( x ) = m 8. Tipe J4 = x ( x ) = m 9. Tipe J5 = 70 x ( x ) = m + TOTAL

233 4 c. Baut / Angkur Berdasarkan perletakan baut dan angkur dibutuhkan 1088 buah angker. Berdasarkan daftar baja ø 16 mm, beratnya 1.58 kg/m. Panjang baut angkur 0.35 m, jdadi beratnya ± kg. Volume baut / angkur kesluruhan 1088 x = kg VI. Pekerjaan Atap a. Rangka kuda-kuda = kg b.gording = 8796 kg c. Reng, kaso = m d.papan Reuter, kerpus = 86 m e. Atap genteng = m f. Papan Listplank = m VII. Pekerjaan Plafon Balok Plafon Rangka Plafon Lantai 1 : 6/1 = m 5/7 = m Lantai : 6/1 = m 5/7 = m Lantai 3 : 6/1 = m 5/7 = m +

234 5 Total = m m Lantai 1 luar : 6/1 = 490 m 5/7 = m + Total panjang rangka = m m Volume 6/1 = x 0.06 x 0.1 = m 3 5/7 = x 0.05 x 0.07 = 9.49 m 3 + = m 3 10 % kayu hilang = 10 % x = m 3 + Volume balok plafon = m 3 Memasang Plafon a. Plafon dalam Lantai 1 : Luas ruangan keseluruhan = 78.1 m Lantai : Luas ruangan keseluruhan = m Lantai 3 : Luas ruangan keseluruhan = m + Total jumlah luas semua ruangan = m Volume = m b. Plafon Luar Teras lantai 1 = m Volume = m

235 6 VIII. Pekerjaan Plesteran Plesteran Dinding Berdasarkan pekerjaan dinding : Lantai 1 dengan Luas = m Lantai dengan Luas = m Lantai 3 dengan Luas = m + Total = m Jumlah Luas pleseteran = x m = m IX. Pekerjaan Lantai Urugan Dibawah Lantai a. Urugan tanah dibawah lantai 1 Luas ruangan keseluruhan Lantai 1 = 78.1 m Luas teras = 68. m + Total = m Tebal urugan = 0.6 m Volume Urugan = 0.6 x = m 3 b. Urugan pasir dibawah lantai Luas Ruangan Lantai 1= m Luas Ruangan Lantai = m Luas Ruangan Lantai 3= m Luas teras = 68. m + Total = m

236 7 Tebal pasir = 0.10 m Volume = 0.10 x = m 3 Pasangan Lantai Campuran 1 : 3 : 10 a. Volume keramik 40 x 40 Luas ruangan keseluruhan = m Volume = m b. Pasangan Ubin keramik 0 x 0 Luas pasangan pada kamar mandi = m Jumlah kamar mandi = 16 buah Volume = 16 x = m X. Pekerjaan Pintu dan jendela Pintu / Jendela a. Pintu Panil 1. Tipe P1 = 4 buah Luas = ( 1.60 x.10 ) x 4 = m. Tipe P = 1 buah Luas = ( 1.90 x.50 ) = 4.75 m 3. Tipe P3 = 5 buah Luas = ( 1. x.1 ) x 5 = 63 m 4. Tipe P4 = 4 buah

237 8 Luas = ( 0.8 x.1 ) x 4 = 4 Volume panil pintu kayu jati (X a) = m b. Jendela Kaca 1. Tipe J1 = 58 buah Luas = {(1.0 x.60) x } x 58 = 83.5 m. Tipe J = buah Luas = {( 1.0 x 0.60 ) x 3 } x = 4.3 m 3. Tipe J3 = 58 buah Luas = {( 0.40 x 0.60 ) x 3 } x 58 = m 4. Tipe J4 = buah Luas = {( 0.4 x 0.6 ) x } x = 0.96 m 5. Tipe J5 = 70 buah Luas = ( 0.40 x 0.60 ) x 70 = 16.8 m + Volume jendela kaca (X b) = m Penggantung / Kunci a. Engsel Jumlah kesluruhan Engsel untuk pasangan pintu dan jendela dibutuhkan 99 buah engsel. b. Kunci Tanam Jumlah keseluruhan Pintu = 54 buah Jumlah Kunci Tanam= 54 buah c. Grendel

238 9 Grendel kunci untuk pintu dengan daun pintu = 30 buah Grendel kunci untuk daun jendela = 370 buah XI. Pekerjaan Cat a. Mencat Dinding Berdasarkan pekerjaan plesteran = m Volume (XI a) = m b. Mencat kusen + pintu Panjang kusen yang menyentuh pasangan = m Keliling = ( x 0.06 ) = 0.4 m Luas = x 0.4 = m Mencat pintu Luas daun pintu = m Luas cat = x = 43.0 m Volume (XI b) = m XII. Pekerjaan Perlengkapan Dalam Listrik a. Pasangan instalasi dalam : Lampu Pijar Lampu TL : 49 buah : 11 buah b. Sekering group 3 buah c. Stop kontak

239 30 59 buah d. Saklar seri 3 buah e. Saklar Paralel 5 buah Sanitasi air a. Kloset Porselen Jumlah kamar mandi 16, jadi kloset yang dipasang sebanyak 16 buah kloset jongkok. b. Pemasangan Instalasi Bersih Pipa d = ½, panjang = 80 m c. Pemasangan Instalasi Air Kotor Pipa d =, panjang = 61 m d. Kran Dipasang pada kamar mandi dan lavatory sebanyak 36 buah. XIII. Pekerjaan Perlengkapan Luar a. Saluran keliling bangunan Saluran terbuka penampung air hujan dengan panjang =168 m b. Septick tank Penampungan kotoran digunakan septicktank sebanyak 4 buah

240 31 DAFTAR HARGA BAHAN DAN UPAH PEKERJAAN : PEMBANGUNAN GEDUNG KULIAH DAN LABORATURIUM 3 LANTAI TAHAP JURUSAN BAHASA INGGRIS DAN BAHASA INDONESIA FBS UNNES SEMARANG LOKASI : GUNUNG PATI SEKARAN TH. ANGG. : 006 Tabel 5. Daftar harga bahan dan upah No. URAIAN BAHAN/UPAH SATUAN HARGA A. DAFTAR BAHAN 1 Batu belah Batu pecah mesin 3 Batu bata 4 Kerikil beton 5 Pasir urug 6 Pasir pasang 7 Pasir beton 8 Kapur pasang 9 Sirtu 10 PC (40 kg/zak) 11 Besi beton polos/ulir 1 Kawat bendrat 13 Paku biasa 14 Kayu cetakan 15 Papan cetakan 16 Bambu 17 Tali ijuk m 3 m 3 buah 00,00 m 3 m 3 m 3 m 3 m 3 m 3 zak kg kg kg m 3 m 3 batang kg , , , , , , , , , , , , , , , ,00

241 3 B. DAFTAR UPAH 1 Mandor Hari ,00 Kepala tukang kayu Hari ,00 3 Kepala tukang batu Hari ,00 4 Kepala tukang besi Hari ,00 5 Tukang kayu Hari ,00 6 Tukang batu Hari 3.500,00 7 Tukang besi Hari ,00 8 Pekerja Hari.000,00

242 33 Tabel 6. Daftar satuan pekerjaan DAFTAR SATUAN PEKERJAAN No URAIAN PEKERJAAN SATUAN JUMLAH HARGA Pekerjaan galian tanah Urugan tanah Urugan pasir Urugan Sirtu Pas. Bato kosong/aanstamping Pas. Batu belah 1 pc : 5 ps Pekerjaan beton cor 1 pc:3 ps:5 kr(bow) Pekerjaan beton cor 1 pc: ps:3 kr(bow) Pek. Tulangan besi untuk tulangan beton Tulangan 100 Tulangan 110 Pek. Cetakan beton untuk 1 m 3 beton Bongkar begisting Untuk 1 m 3 beton bertulang Pas. Pondasi siklop 30% batu belah Pas. Pondasi siklop 60% batu belah Pasangan batu bata 1 pc : 3 ps m 3 m 3 m 3 m 3 m 3 m 3 m 3 m 3 kg kg 10 m m 10 m ,00 m 3 m 3 m , , , , , , , , , , , , , , , ,00

243 34 PRESENTASE BOBOT PEKERJAAN I. PEKEJAAN PERSIAPAN Harga =,617,00.00 Persentase ,00 = ,89 x 100 % = 0,059 % II. PEKERJAAN TANAH Harga = 3,103,30.63 Persentase 3,103,30.63 = ,89 x 100 % = 0,51 % III. PEKERJAAN PONDASI Harga = 67,06,15.9 Persentase 67,06,15.9 = ,89 x 100 % = 6,04 % IV. PEKERJAAN BETON Harga =,717,086,84.84 Persentase,717,086,84.84 = ,89 x 100 % = 61,95 % V. PEKERJAAN ATAP Harga = 601,906, Persentase 601,906, = x 100 % = 13,578 % ,89 VI. PEKERJAAN PLAFON Harga = 3,169,683.0 Persentase 3,169,683.0 = x 100 % = 5,034 % ,89 VII. PEKERJAAN PLESTERAN Harga = 15,96, Persentase 15,96, = x 100 % =,84 % ,89

244 35 VIII. PEKERJAAN LANTAI Harga = 8,109,30.4 Persentase 8,109,30.4 = x 100 % = 5,146 % ,89 IX. PEKERJAAN PINTU DAN JENDELA Harga = 111,00, Persentase 111,00, = x 100 % =,504 % ,89 X. PEKERJAAN CAT Harga = 85,43,0.41 Persentase 85,43,0.41 = x 100 % = 1,93 % ,89 XI. PEKERJAAN PERLENGKAPAN DALAM Harga = 36,36, persentase 36,36, = x 100 % = 0,819 % ,89 XII. PEKERJAAN PERLENGKAPAN LUAR Harga = 11,, Persentase 11,, = x 100 % = 0,53 % ,89

245 BAB XIII PENUTUP Dalam penyusunan Proyek Akhir Perencanaan Struktur Gedung Kuliah dan Laboratorium Jurusan Bahasa dan Sastra Inggris dan Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia UNNES ini banyak sekali dijumpai hambatan. Hal tersebut karena keterbatasan pengetahuan dan pengalaman penulis dalam hal perencanaan dan pelaksanaan suatu proyek. Meskipun demikian, penulis mencoba mengatasi dengan teori yang telah diterima di bangku kuliah dan berbagai literatur tentang pelaksanaan suatu proyek, dengan upaya tersebut, hambatan hambatan di atas dapat diatasi. 8.1 Kesimpulan 1. Dalam perencanaan suatu stuktur bangunan diperlukan ketelitian dan kecermatan yang tinggi sehingga perhitungan yang dihasilkan benar benar akurat dan sesuai dengan yang diharapkan.. Dengan rencana kerja yang baik akan membantu pelaksanaan dan penghematan dalam hal penggunaan sumber tenaga, material, peralatan, dan keuangan yang diperlukan. 3. Gambar kerja merupakan pedoman yang sangat menetukan dalam hal pelaksanaan dan perhitungan anggaran biaya pelaksanaan pekerjaaan disamping rencana kerja dan syarat syarat (RKS). 36

246 37 8. Saran 1. Pelaksanaan poyek harus disesuaikan dengan rencana kerja dan syarat syarat yang telah ditentukan agar dapat menghasilkan stuktur bangunan yang sesuai dengan yang diharapkan maupun persyaratan.. Pelaksanaan pembangunan proyek harus diusahakan cepat dan tepat dalam segala pelaksanaanya sesuai dengan time schedule yang telah dibuat dengan tetap memperhatikan mutu dan kualitas bangunan. 3. Untuk memperlancar kegiatan proyek agar selesai tepat pada waktunya diperlukan kerjasama yang baik antara pihak pihak yang terkait dalam pembangunan proyek tersebut. 4. Dalam pelaksanaan pembangunan proyek harus dilakukan pengawasan sebaik mungkin untuk menghindari kesalahan yang dapat berakibat fatal, baik pada keamanan saat pelaksanaan maupun tingkat kenyamanan selama bangunan yang telah berdiri digunakan.

247 DAFTAR PUSTAKA Apriyatno, Henry Diktat Kuliah Strukur Beton. Jurusan Teknik Sipil FT UNNES Semarang. DPU Pedoman Perencanaan Kayu Indonesia Bandung: Yayasan Normalisasi Indonesia. DPU Pedoman Perencanaan Ketahanan Gempa Untuk Rumah Dan Gedung. Jakarta: Yayasan Badan Penerbit PU. DPU SK SNI T , Tata Cara Perhitungan Struktur Beton Untuk Bangunan Gedung. Bandung: Yayasan LPMB. DPU Pedoman Beton. Bandung: Yayasan Penerbit PU. Tri Cahyo, H Diktat Kuliah Teknik Fondasi I. Jurusan Teknik Sipil FT UNNES Semarang. 38

248 PERNYATAAN SELESAI BIMBINGAN Yang bertanda tangan di bawah ini pembimbing Tugas Akhir dari mahasiswa : Nama : Abie Surya Fuadi NIM : Program Studi : Teknik Sipil D3 menyatakan bahwa mahasiswa tersebut telah SELESAI bimbingan tugas akhirnya yang berjudul : PROYEK PEMBANGUNAN GEDUNG KULIAH DAN LABORATORIUM JURUSAN BAHASA DAN SASTRA INGGRIS DAN JURUSAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA UNNES dan tugas akhir tersebut siap untuk DIUJIKAN. Mengetahui, Semarang, Agustus 007 Ketua Program Studi, Pembimbing, Drs.Tugino, M.T Drs. Henry Apriyanto, M.T NIP NIP

249 40 PERNYATAAN SELESAI BIMBINGAN Yang bertanda tangan di bawah ini pembimbing Tugas Akhir dari mahasiswa : Nama : Danang Agustian A NIM : Program Studi : Teknik Sipil D3 menyatakan bahwa mahasiswa tersebut telah SELESAI bimbingan tugas akhirnya yang berjudul : PROYEK PEMBANGUNAN GEDUNG KULIAH DAN LABORATORIUM JURUSAN BAHASA DAN SASTRA INGGRIS DAN JURUSAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA UNNES dan tugas akhir tersebut siap untuk DIUJIKAN. Mengetahui, Semarang, Agustus 007 Ketua Program Studi, Pembimbing, Drs.Tugino, M.T Drs. Henry Apriyanto, M.T NIP NIP

250 41 PERNYATAAN SELESAI BIMBINGAN Yang bertanda tangan di bawah ini pembimbing Tugas Akhir dari mahasiswa : Nama : Abie Surya Fuadi NIM : Program Studi : Teknik Sipil D3 menyatakan bahwa mahasiswa tersebut telah SELESAI bimbingan tugas akhirnya yang berjudul : PROYEK PEMBANGUNAN GEDUNG KULIAH DAN LABORATORIUM JURUSAN BAHASA DAN SASTRA INGGRIS DAN JURUSAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA UNNES dan tugas akhir tersebut siap untuk DIUJIKAN. Semarang, Agustus 007 Pembimbing, Drs. Henry Apriyanto, M.T NIP

251 4 PERNYATAAN SELESAI BIMBINGAN Yang bertanda tangan di bawah ini pembimbing Tugas Akhir dari mahasiswa : Nama : Danang Agustian A NIM : Program Studi : Teknik Sipil D3 menyatakan bahwa mahasiswa tersebut telah SELESAI bimbingan tugas akhirnya yang berjudul : PROYEK PEMBANGUNAN GEDUNG KULIAH DAN LABORATORIUM JURUSAN BAHASA DAN SASTRA INGGRIS DAN JURUSAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA UNNES dan tugas akhir tersebut siap untuk DIUJIKAN. Semarang, Agustus 007 Pembimbing, Drs. Henry Apriyanto, M.T NIP

UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG

UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG PERENCANAAN PEMBANGUNAN GEDUNG KULIAHFAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG Tugas Akhir disajikan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar ahli madya jurusan teknik sipil Oleh Yuli Adhaningtyas

Lebih terperinci

BAB I. Perencanaan Atap

BAB I. Perencanaan Atap BAB I Perencanaan Atap 1. Rencana Gording Data perencanaan atap : Penutup atap Kemiringan Rangka Tipe profil gording : Genteng metal : 40 o : Rangka Batang : Kanal C Mutu baja untuk Profil Siku L : BJ

Lebih terperinci

PROYEK PEMBANGUNAN GEDUNG PENDIDIKAN POLITEKNIK KESEHATAN SURAKARTA

PROYEK PEMBANGUNAN GEDUNG PENDIDIKAN POLITEKNIK KESEHATAN SURAKARTA PROYEK PEMBANGUNAN GEDUNG PENDIDIKAN POLITEKNIK KESEHATAN SURAKARTA TUGAS AKHIR Disusun Sebagai Persyaratan Untuk Menyelesaikan Pendidikan Jenjang Diploma III Teknik Sipil Oleh M. Baharudin Zamri 5150304004

Lebih terperinci

BAB III ESTIMASI DIMENSI ELEMEN STRUKTUR

BAB III ESTIMASI DIMENSI ELEMEN STRUKTUR BAB III ESTIMASI DIMENSI ELEMEN STRUKTUR 3.. Denah Bangunan Dalam tugas akhir ini penulis merancang suatu struktur bangunan dengan denah seperti berikut : Gambar 3.. Denah bangunan 33 34 Dilihat dari bentuk

Lebih terperinci

ANALISA DIMENSI DAN STRUKTUR ATAP MENGGUNAKAN METODE DAKTILITAS TERBATAS

ANALISA DIMENSI DAN STRUKTUR ATAP MENGGUNAKAN METODE DAKTILITAS TERBATAS Analisa Dimensi dan Struktur Atap Menggunakan Metode Daktilitas Terbatas 1 - ANALISA DIMENSI DAN STRUKTUR ATAP MENGGUNAKAN METODE DAKTILITAS TERBATAS M. Ikhsan Setiawan ABSTRAK Sttruktur gedung Akademi

Lebih terperinci

PERENCANAAN STRUKTUR GEDUNG BANK MANDIRI JL. NGESREP TIMUR V / 98 SEMARANG

PERENCANAAN STRUKTUR GEDUNG BANK MANDIRI JL. NGESREP TIMUR V / 98 SEMARANG HALAMAN JUDUL TUGAS AKHIR PERENCANAAN STRUKTUR GEDUNG BANK MANDIRI JL. NGESREP TIMUR V / 98 SEMARANG Diajukan Sebagai Syarat Untuk Menyelesaikan Pendidikan Tingkat Sarjana Strata 1 (S-1) Pada Fakultas

Lebih terperinci

fc ' = 2, MPa 2. Baja Tulangan diameter < 12 mm menggunakan BJTP (polos) fy = 240 MPa diameter > 12 mm menggunakan BJTD (deform) fy = 400 Mpa

fc ' = 2, MPa 2. Baja Tulangan diameter < 12 mm menggunakan BJTP (polos) fy = 240 MPa diameter > 12 mm menggunakan BJTD (deform) fy = 400 Mpa Peraturan dan Standar Perencanaan 1. Peraturan Perencanaan Tahan Gempa untuk Gedung SNI - PPTGIUG 2000 2. Tata Cara Perhitungan Struktur Beton Untuk Gedung SKSNI 02-2847-2002 3. Tata Cara Perencanaan Struktur

Lebih terperinci

PERENCANAAN BANGUNAN GEDUNG KULIAH DIPLOMA III FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS DIPONEGORO SEMARANG

PERENCANAAN BANGUNAN GEDUNG KULIAH DIPLOMA III FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS DIPONEGORO SEMARANG TUGAS AKHIR PERENCANAAN BANGUNAN GEDUNG KULIAH DIPLOMA III FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS DIPONEGORO SEMARANG Diajukan sebagai syarat untuk menempuh ujian akhir Jurusan Sipil Program Studi Diploma III Fakultas

Lebih terperinci

PERENCANAAN LANTAI KENDARAAN, SANDARAN DAN TROTOAR

PERENCANAAN LANTAI KENDARAAN, SANDARAN DAN TROTOAR PERENCANAAN LANTAI KENDARAAN, SANDARAN DAN TROTOAR 1. Perhitungan Lantai Kendaraan Direncanakan : Lebar lantai 7 m Tebal lapisan aspal 10 cm Tebal plat beton 20 cm > 16,8 cm (AASTHO LRFD) Jarak gelagar

Lebih terperinci

PERENCANAAN PROYEK PEMBANGUNAN GEDUNG REKTORAT UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAGELANG

PERENCANAAN PROYEK PEMBANGUNAN GEDUNG REKTORAT UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAGELANG PERENCANAAN PROYEK PEMBANGUNAN GEDUNG REKTORAT UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAGELANG Diajukan Untuk Melengkapi Persyaratan Akhir Program Studi Diploma III Teknik Sipil Oleh : Mohamad Amar Faiz NIM : 5150308003

Lebih terperinci

TUGAS AKHIR PERENCANAAN STRUKTUR GEDUNG SEKOLAH SMP SMU MARINA SEMARANG

TUGAS AKHIR PERENCANAAN STRUKTUR GEDUNG SEKOLAH SMP SMU MARINA SEMARANG TUGAS AKHIR PERENCANAAN STRUKTUR GEDUNG SEKOLAH SMP SMU MARINA SEMARANG Diajukan Sebagai Syarat Untuk Menyelesaikan Pendidikan Tingkat Sarjana Strata 1 (S-1) Pada Fakultas Teknik Program Studi Teknik Sipil

Lebih terperinci

BAB 2 DASAR TEORI. Bab 2 Dasar Teori. TUGAS AKHIR Perencanaan Struktur Show Room 2 Lantai Dasar Perencanaan

BAB 2 DASAR TEORI. Bab 2 Dasar Teori. TUGAS AKHIR Perencanaan Struktur Show Room 2 Lantai Dasar Perencanaan 3 BAB DASAR TEORI.1. Dasar Perencanaan.1.1. Jenis Pembebanan Dalam merencanakan struktur suatu bangunan bertingkat, digunakan struktur yang mampu mendukung berat sendiri, gaya angin, beban hidup maupun

Lebih terperinci

PERENCANAAN STRUKTUR GEDUNG PERPUSTAKAAN 2 LANTAI

PERENCANAAN STRUKTUR GEDUNG PERPUSTAKAAN 2 LANTAI PERENCANAAN STRUKTUR GEDUNG PERPUSTAKAAN LANTAI Oleh: Fredy Fidya Saputra I.8505014 FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS SEBELAS MARET PROGRAM D III JURUSAN TEKNIK SIPIL SURAKARTA 009 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar

Lebih terperinci

PERHITUNGAN PANJANG BATANG

PERHITUNGAN PANJANG BATANG PERHITUNGAN PANJANG BATANG E 3 4 D 1 F 2 14 15 5 20 A 1 7 C H 17 13 8 I J 10 K 16 11 L G 21 12 6 B 200 200 200 200 200 200 1200 13&16 0.605 14&15 2.27 Penutup atap : genteng Kemiringan atap : 50 Bahan

Lebih terperinci

Tugas Akhir Perencanaan Struktur Salon, fitness & Spa 2 lantai TUGAS AKHIR. Disusun Oleh : Enny Nurul Fitriyati I

Tugas Akhir Perencanaan Struktur Salon, fitness & Spa 2 lantai TUGAS AKHIR. Disusun Oleh : Enny Nurul Fitriyati I Tugas Akhir Perencanaan Struktur Salon, fitness & Spa lantai A- TUGAS AKHIR PERENCANAAN STRUKTUR SALON FITNES DAN SPA LANTAI Disusun Oleh : Enny Nurul Fitriyati I.85060 PROGRAM DIPLOMA III TEKNIK SIPIL

Lebih terperinci

Beban yang diterima gording : - Berat atap = 7,5 x 1.04 x 6 = kg - Berat gording = 4,51 x 6 =

Beban yang diterima gording : - Berat atap = 7,5 x 1.04 x 6 = kg - Berat gording = 4,51 x 6 = PERENCANAAN STRUKTUR BAJA Proyek : PT INDONESIA TRI SEMBILAN Pekerjaan : KANTOR PABRIK Lokasi : NGORO - MOJOKERTO PT TATA BUMI RAYA PERENCANAAN KOLOM WF Profil kolom WF-250.125.5.8 Jarak antar kuda-kuda

Lebih terperinci

TUGAS AKHIR PERENCANAAN STRUKTUR GEDUNG DEWAN KERAJINAN NASIONAL DAERAH (DEKRANASDA) JL. KOLONEL SUGIONO JEPARA

TUGAS AKHIR PERENCANAAN STRUKTUR GEDUNG DEWAN KERAJINAN NASIONAL DAERAH (DEKRANASDA) JL. KOLONEL SUGIONO JEPARA TUGAS AKHIR PERENCANAAN STRUKTUR GEDUNG DEWAN KERAJINAN NASIONAL DAERAH (DEKRANASDA) JL. KOLONEL SUGIONO JEPARA Merupakan Syarat Untuk Menyelesaikan Pendidikan Tingkat Sarjana Strata 1 (S-1) Pada Jurusan

Lebih terperinci

TUGAS AKHIR PERENCANAAN STRUKTUR GEDUNG PERPUSTAKAAN PUSAT YSKI SEMARANG

TUGAS AKHIR PERENCANAAN STRUKTUR GEDUNG PERPUSTAKAAN PUSAT YSKI SEMARANG TUGAS AKHIR PERENCANAAN STRUKTUR GEDUNG PERPUSTAKAAN PUSAT YSKI SEMARANG Diajukan Sebagai Syarat Untuk Menyelesaikan Pendidikan Tingkat Sarjana Strata 1 (S-1) Pada Program Studi Teknik Sipil Fakultas Teknik

Lebih terperinci

PERENCANAAN GEDUNG SEKOLAH MENENGAH ATAS EMPAT LANTAI DAN SATU BASEMENT DI SURAKARTA DENGAN PRINSIP DAKTAIL PARSIAL

PERENCANAAN GEDUNG SEKOLAH MENENGAH ATAS EMPAT LANTAI DAN SATU BASEMENT DI SURAKARTA DENGAN PRINSIP DAKTAIL PARSIAL PERENCANAAN GEDUNG SEKOLAH MENENGAH ATAS EMPAT LANTAI DAN SATU BASEMENT DI SURAKARTA DENGAN PRINSIP DAKTAIL PARSIAL Naskah Publikasi Ilmiah untuk memenuhi sebagian persyaratan mencapai derajat Sarjana-1

Lebih terperinci

PERENCANAAN STRUKTUR GEDUNG ASRAMA MAHASISWA UNIVERSITAS DIPONEGORO SEMARANG

PERENCANAAN STRUKTUR GEDUNG ASRAMA MAHASISWA UNIVERSITAS DIPONEGORO SEMARANG PERENCANAAN STRUKTUR GEDUNG ASRAMA MAHASISWA UNIVERSITAS DIPONEGORO SEMARANG TUGAS AKHIR Diajukan Sebagai Syarat Untuk Menyelesaikan Pendidikan Tingkat Sarjana Strata 1 (S-1) Pada Program Studi Teknik

Lebih terperinci

PERENCANAAN JEMBATAN KALI TUNTANG DESA PILANGWETAN KABUPATEN GROBOGAN

PERENCANAAN JEMBATAN KALI TUNTANG DESA PILANGWETAN KABUPATEN GROBOGAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN JEMBATAN KALI TUNTANG DESA PILANGWETAN KABUPATEN GROBOGAN Merupakan Syarat Untuk Menyelesaikan Pendidikan Tingkat Sarjana Strata 1 (S-1) Pada Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik

Lebih terperinci

PERENCANAAN STRUKTUR GEDUNG RUSUNAWA UNIMUS

PERENCANAAN STRUKTUR GEDUNG RUSUNAWA UNIMUS TUGAS AKHIR PERENCANAAN STRUKTUR GEDUNG RUSUNAWA UNIMUS Diajukan Sebagai Syarat Untuk Menyelesaikan Pendidikan Tingkat Sarjana Strata (S-1) Pada Program Studi Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Katolik

Lebih terperinci

TUGAS AKHIR PERENCANAAN STRUKTUR GEDUNG KANTOR PERPAJAKAN PUSAT KOTA SEMARANG

TUGAS AKHIR PERENCANAAN STRUKTUR GEDUNG KANTOR PERPAJAKAN PUSAT KOTA SEMARANG TUGAS AKHIR PERENCANAAN STRUKTUR GEDUNG KANTOR PERPAJAKAN PUSAT KOTA SEMARANG Diajukan Sebagai Syarat Untuk Menyelesaikan Pendidikan Tingkat Sarjana Strata 1 (S-1) Pada Program Studi Teknik Sipil Fakultas

Lebih terperinci

LEMBAR PENGESAHAN Tugas Akhir Sarjana Strata Satu (S-1)

LEMBAR PENGESAHAN Tugas Akhir Sarjana Strata Satu (S-1) LEMBAR PENGESAHAN Tugas Akhir Sarjana Strata Satu (S-1) PERENCANAAN STRUKTUR GEDUNG B POLITEKNIK KESEHATAN SEMARANG Oleh: Sonny Sucipto (04.12.0008) Robertus Karistama (04.12.0049) Telah diperiksa dan

Lebih terperinci

BAB 2 DASAR TEORI Dasar Perencanaan Jenis Pembebanan

BAB 2 DASAR TEORI Dasar Perencanaan Jenis Pembebanan BAB 2 DASAR TEORI 2.1. Dasar Perencanaan 2.1.1 Jenis Pembebanan Dalam merencanakan struktur suatu bangunan bertingkat, digunakan struktur yang mampu mendukung berat sendiri, gaya angin, beban hidup maupun

Lebih terperinci

BAB IV POKOK PEMBAHASAN DESAIN. Perhitungan prarencana bertujuan untuk menghitung dimensi-dimensi

BAB IV POKOK PEMBAHASAN DESAIN. Perhitungan prarencana bertujuan untuk menghitung dimensi-dimensi BAB IV POKOK PEMBAHASAN DESAIN 4.1 Perencanaan Awal (Preliminary Design) Perhitungan prarencana bertujuan untuk menghitung dimensi-dimensi rencana struktur, yaitu pelat, balok dan kolom agar diperoleh

Lebih terperinci

PERENCANAAN STRUKTUR UNIT GEDUNG A UNIVERSITAS IKIP VETERAN SEMARANG

PERENCANAAN STRUKTUR UNIT GEDUNG A UNIVERSITAS IKIP VETERAN SEMARANG PERENCANAAN STRUKTUR UNIT GEDUNG A UNIVERSITAS IKIP VETERAN SEMARANG TUGAS AKHIR Diajukan Sebagai Syarat Untuk Menyelesaikan Pendidikan Tingkat Sarjana Strata 1 (S-1) Pada Program Studi Teknik Sipil Fakultas

Lebih terperinci

PERENCANAAN GEDUNG PERPUSTAKAAN KOTA 4 LANTAI DENGAN PRINSIP DAKTAIL PARSIAL DI SURAKARTA (+BASEMENT 1 LANTAI)

PERENCANAAN GEDUNG PERPUSTAKAAN KOTA 4 LANTAI DENGAN PRINSIP DAKTAIL PARSIAL DI SURAKARTA (+BASEMENT 1 LANTAI) 1 PERENCANAAN GEDUNG PERPUSTAKAAN KOTA 4 LANTAI DENGAN PRINSIP DAKTAIL PARSIAL DI SURAKARTA (+BASEMENT 1 LANTAI) Naskah Publikasi untuk memenuhi sebagian persyaratan mencapai S-1 Teknik Sipil diajukan

Lebih terperinci

PRESENTASI TUGAS AKHIR PROGRAM STUDI D III TEKNIK SIPIL FAKULTAS TEKNIK SIPIL DAN PERENCANAAN INSTITUT TEKNOLOGI SEPULUH NOPEMBER SURABAYA 2010

PRESENTASI TUGAS AKHIR PROGRAM STUDI D III TEKNIK SIPIL FAKULTAS TEKNIK SIPIL DAN PERENCANAAN INSTITUT TEKNOLOGI SEPULUH NOPEMBER SURABAYA 2010 PRESENTASI TUGAS AKHIR oleh : PROGRAM STUDI D III TEKNIK SIPIL FAKULTAS TEKNIK SIPIL DAN PERENCANAAN INSTITUT TEKNOLOGI SEPULUH NOPEMBER SURABAYA 2010 LATAR BELAKANG SMA Negeri 17 Surabaya merupakan salah

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN Latar Belakang BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Dunia konstruksi saat ini semakin berkembang pesat, meningkatnya berbagai kebutuhan manusia akan pekerjaan konstruksi menuntut untuk terciptanya inovasi dan kreasi

Lebih terperinci

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id commit to user

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id commit to user 1 BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Pesatnya perkembangan dunia teknik sipil menuntut bangsa Indonesia untuk dapat menghadapi segala kemajuan dan tantangan. Hal itu dapat terpenuhi apabila sumber daya

Lebih terperinci

GEDUNG ASRAMA DUA LANTAI

GEDUNG ASRAMA DUA LANTAI digilib.uns.ac.id PERENCANAAN STRUKTUR DAN RENCANA ANGGARAN BIAYA (RAB) GEDUNG ASRAMA DUA LANTAI TUGAS AKHIR Diajukan sebagai Salah Satu Syarat untuk Memperoleh Gelar Ahli Madya pada Program D-III Teknik

Lebih terperinci

LEMBAR PENGESAHAN PERENCANAAN GEDUNG PERUM PERHUTANI UNIT I JAWA TENGAH, SEMARANG

LEMBAR PENGESAHAN PERENCANAAN GEDUNG PERUM PERHUTANI UNIT I JAWA TENGAH, SEMARANG LEMBAR PENGESAHAN PERENCANAAN GEDUNG PERUM PERHUTANI UNIT I JAWA TENGAH, SEMARANG (Design of Perum Perhutani Unit I Central Java Building, Semarang ) Disusun Oleh : ADE IBNU MALIK L2A3 02 095 SHINTA WENING

Lebih terperinci

PERENCANAAN GEDUNG PERHOTELAN EMPAT LANTAI DAN SATU BASEMENT DI PACITAN DENGAN PRINSIP DAKTAIL PARSIAL

PERENCANAAN GEDUNG PERHOTELAN EMPAT LANTAI DAN SATU BASEMENT DI PACITAN DENGAN PRINSIP DAKTAIL PARSIAL PERENANAAN GEDUNG PERHOTELAN EMPAT LANTAI DAN SATU BASEMENT DI PAITAN DENGAN PRINSIP DAKTAIL PARSIAL Naskah Publikasi untuk memenuhi sebagian persyaratan mencapai derajat S1 Teknik Sipil diajukan oleh

Lebih terperinci

PERENCANAAN JEMBATAN RANGKA BAJA SUNGAI AMPEL KABUPATEN PEKALONGAN

PERENCANAAN JEMBATAN RANGKA BAJA SUNGAI AMPEL KABUPATEN PEKALONGAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN JEMBATAN RANGKA BAJA SUNGAI AMPEL KABUPATEN PEKALONGAN Diajukan Sebagai Syarat Untuk Menyelesaikan Pendidikan Tingkat Strata Satu (S-1) Pada Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik

Lebih terperinci

BAB 2 DASAR TEORI Dasar Perencanaan Jenis Pembebanan

BAB 2 DASAR TEORI Dasar Perencanaan Jenis Pembebanan BAB DASAR TEORI.1. Dasar Perencanaan.1.1. Jenis Pembebanan Dalam merencanakan struktur suatu bangunan bertingkat, digunakan struktur yang mampu mendukung berat sendiri, gaya angin, beban hidup maupun beban

Lebih terperinci

BAB V PEMBAHASAN. terjadinya distribusi gaya. Biasanya untuk alasan efisiensi waktu dan efektifitas

BAB V PEMBAHASAN. terjadinya distribusi gaya. Biasanya untuk alasan efisiensi waktu dan efektifitas BAB V PEMBAHASAN 5.1 Umum Pada gedung bertingkat perlakuan stmktur akibat beban menyebabkan terjadinya distribusi gaya. Biasanya untuk alasan efisiensi waktu dan efektifitas pekerjaan dilapangan, perencana

Lebih terperinci

BAB III ANALISA STRKTUR

BAB III ANALISA STRKTUR III- 1 BAB III ANALISA STRKTUR 3.1. DATA YANG DIPERLUKAN Data-data yang digunakan dalam pembuatan dan penyusunan Tugas Akhir secara garis besar dapat diklasifikasikan menjadi 2 jenis, yaitu data primer

Lebih terperinci

PERENCANAAN STRUKTUR GEDUNG BANK OCBC NISP JALAN PEMUDA SEMARANG

PERENCANAAN STRUKTUR GEDUNG BANK OCBC NISP JALAN PEMUDA SEMARANG TUGAS AKHIR PERENCANAAN STRUKTUR GEDUNG BANK OCBC NISP JALAN PEMUDA SEMARANG Merupakan Syarat Untuk Menyelesaikan Pendidikan Tingkat Sarjana Strata 1 (S-1) Pada Program Studi Teknik Sipil Fakultas Teknik

Lebih terperinci

PERBANDINGAN STRUKTUR BETON BERTULANG DENGAN STRUKTUR BAJA DARI ELEMEN BALOK KOLOM DITINJAU DARI SEGI BIAYA PADA BANGUNAN RUMAH TOKO 3 LANTAI

PERBANDINGAN STRUKTUR BETON BERTULANG DENGAN STRUKTUR BAJA DARI ELEMEN BALOK KOLOM DITINJAU DARI SEGI BIAYA PADA BANGUNAN RUMAH TOKO 3 LANTAI PERBANDINGAN STRUKTUR BETON BERTULANG DENGAN STRUKTUR BAJA DARI ELEMEN BALOK KOLOM DITINJAU DARI SEGI BIAYA PADA BANGUNAN RUMAH TOKO 3 LANTAI Wildiyanto NRP : 9921013 Pembimbing : Ir. Maksum Tanubrata,

Lebih terperinci

PERENCANAAN STRUKTUR DAN RENCANA ANGGARAN BIAYA BANGUNAN GEDUNG TOKO BUKU 2 LANTAI

PERENCANAAN STRUKTUR DAN RENCANA ANGGARAN BIAYA BANGUNAN GEDUNG TOKO BUKU 2 LANTAI PERENCANAAN STRUKTUR DAN RENCANA ANGGARAN BIAYA BANGUNAN GEDUNG TOKO BUKU 2 LANTAI TUGAS AKHIR Diajukan sebagai Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Ahli Madya (A.Md.) pada Program Studi Diploma III Teknik

Lebih terperinci

1 HALAMAN JUDUL TUGAS AKHIR PERENCANAAN STRUKTUR GEDUNG SEKOLAH MENENGAH PERTAMA TRI TUNGGAL SEMARANG

1 HALAMAN JUDUL TUGAS AKHIR PERENCANAAN STRUKTUR GEDUNG SEKOLAH MENENGAH PERTAMA TRI TUNGGAL SEMARANG TUGAS AKHIR 1 HALAMAN JUDUL PERENCANAAN STRUKTUR GEDUNG SEKOLAH MENENGAH PERTAMA TRI TUNGGAL Diajukan Sebagai Syarat Untuk Menyelesaikan Pendidikan Tingkat Sarjana Strata 1 (S-1) Pada Fakultas Teknik Program

Lebih terperinci

PERENCANAAN SHOWROOM DAN BENGKEL NISSAN

PERENCANAAN SHOWROOM DAN BENGKEL NISSAN PERENCANAAN SHOWROOM DAN BENGKEL NISSAN TUGAS AKHIR Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Ahli Madya Pada Program DIII Teknik Sipil Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Sebelas

Lebih terperinci

PERENCANAAN STRUKTUR PROYEK PEMBANGUNAN BANK DANAMON JL PEMUDA-JEPARA

PERENCANAAN STRUKTUR PROYEK PEMBANGUNAN BANK DANAMON JL PEMUDA-JEPARA TUGAS AKHIR PERENCANAAN STRUKTUR PROYEK PEMBANGUNAN BANK DANAMON JL PEMUDA-JEPARA Diajukan Sebagai Syarat Untuk Menyelesaikan Pendidikan Tingkat Sarjana Strata1 (S-1) Pada Jurusan Teknik Sipil Fakultas

Lebih terperinci

TAMPAK DEPAN RANGKA ATAP MODEL 3

TAMPAK DEPAN RANGKA ATAP MODEL 3 TUGAS STRUKTUR BAJA 11 Bangunan gedung dengan struktur atap dibuat dengan struktur rangka baja. Bentang struktur bangunan, beban gravitasi, beban angin dan mutu bahan, dijelaskan pada data teknis berikut.

Lebih terperinci

PERENCANAAN STRUKTUR GEDUNG PUSAT GROSIR BARANG SENI DI JALAN Dr. CIPTO SEMARANG

PERENCANAAN STRUKTUR GEDUNG PUSAT GROSIR BARANG SENI DI JALAN Dr. CIPTO SEMARANG TUGAS AKHIR PERENCANAAN STRUKTUR GEDUNG PUSAT GROSIR BARANG SENI DI JALAN Dr. CIPTO SEMARANG Diajukan Sebagai Syarat Untuk Menyelesaikan Pendidikan Tingkat Sarjana Strata 1 (S-1) Pada Program Studi Teknik

Lebih terperinci

BAB V DESAIN TULANGAN STRUKTUR

BAB V DESAIN TULANGAN STRUKTUR BAB V DESAIN TULANGAN STRUKTUR 5.1 Output Penulangan Kolom Dari Program Etabs ( gedung A ) Setelah syarat syarat dalam pemodelan struktur sudah memenuhi syarat yang di tentukan dalam peraturan SNI, maka

Lebih terperinci

PERENCANAAN PEMBANGUNAN GEDUNG PARKIR UNISMA BEKASI DENGAN MENGGUNAKAN STRUKTUR BAJA

PERENCANAAN PEMBANGUNAN GEDUNG PARKIR UNISMA BEKASI DENGAN MENGGUNAKAN STRUKTUR BAJA 25 PERENCANAAN PEMBANGUNAN GEDUNG PARKIR UNISMA BEKASI DENGAN MENGGUNAKAN STRUKTUR BAJA Nana Suryana 1), Eko Darma 2), Fajar Prihesnanto 3) 1,2,3) Teknik Sipil Universitas Islam 45 Bekasi Jl. Cut Mutia

Lebih terperinci

V. PENDIMENSIAN BATANG

V. PENDIMENSIAN BATANG V. PENDIMENSIAN BATANG A. Batang Tarik Batang yang mendukung gaya aksial tarik perlu diperhitungkan terhadap perlemahan (pengurangan luas penampang batang akibat alat sambung yang digunakan). Luas penampang

Lebih terperinci

PERENCANAAN STRUKTUR PUSKESMAS PEMBANTU DUA LANTAI

PERENCANAAN STRUKTUR PUSKESMAS PEMBANTU DUA LANTAI PERENCANAAN STRUKTUR PUSKESMAS PEMBANTU DUA LANTAI TUGAS AKHIR Telah disetujui untuk dipertahankan di depan tim penguji sebagai persyaratan memperoleh gelar Ahli Madya pada jurusan Teknik Sipil Dikerjakan

Lebih terperinci

PERENCANAAN STRUKTUR GEDUNG KANTOR PEMERINTAH DAERAH KABUPATEN PAMEKASAN DENGAN METODE LOAD RESISTANCE AND FACTOR DESIGN

PERENCANAAN STRUKTUR GEDUNG KANTOR PEMERINTAH DAERAH KABUPATEN PAMEKASAN DENGAN METODE LOAD RESISTANCE AND FACTOR DESIGN PERENCANAAN STRUKTUR GEDUNG KANTOR PEMERINTAH DAERAH KABUPATEN PAMEKASAN DENGAN METODE LOAD RESISTANCE AND FACTOR DESIGN Oleh : 1. AGUNG HADI SUPRAPTO 3111 030 114 2.RINTIH PRASTIANING ATAS KASIH 3111

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Perhitungan Struktur Perhitungan struktur meliputi perencanaan atap, pelat, balok, kolom dan pondasi. Perhitungan gaya dalam menggunakan bantuan program SAP 2000 versi 14.

Lebih terperinci

BAB IV METODOLOGI PENELITIAN START. Pengumpulan data. Analisis beban. Standar rencana tahan gempa SNI SNI

BAB IV METODOLOGI PENELITIAN START. Pengumpulan data. Analisis beban. Standar rencana tahan gempa SNI SNI 6 BAB IV METODOLOGI PENELITIAN 4.1 Tahapan Penelitian 1. Langkah-langkah Penelitian Secara Umum Langkah-langkah yang dilaksanakan dalam penelitian analisis komparasi antara SNI 03-176-00 dan SNI 03-176-01

Lebih terperinci

A. IDEALISASI STRUKTUR RANGKA ATAP (TRUSS)

A. IDEALISASI STRUKTUR RANGKA ATAP (TRUSS) A. IDEALISASI STRUKTUR RAGKA ATAP (TRUSS) Perencanaan kuda kuda dalam bangunan sederhana dengan panjang bentang 0 m. jarak antara kuda kuda adalah 3 m dan m, jarak mendatar antara kedua gording adalah

Lebih terperinci

ANALISA PELAT LANTAI DUA ARAH METODE KOEFISIEN MOMEN TABEL PBI-1971

ANALISA PELAT LANTAI DUA ARAH METODE KOEFISIEN MOMEN TABEL PBI-1971 ANALISA PELAT LANTAI DUA ARAH METODE KOEFISIEN MOMEN TABEL PBI-97 Modul-3 Sistem lantai yang memiliki perbandingan bentang panjang terhadap bentang pendek berkisar antara,0 s.d. 2,0 sering ditemui. Ada

Lebih terperinci

BAB III METODOLOGI PERENCANAAN

BAB III METODOLOGI PERENCANAAN BAB III METODOLOGI PERENCANAAN 3.1. Diagram Alir Perencanaan Struktur Atas Baja PENGUMPULAN DATA AWAL PENENTUAN SPESIFIKASI MATERIAL PERHITUNGAN PEMBEBANAN DESAIN PROFIL RENCANA PERMODELAN STRUKTUR DAN

Lebih terperinci

PERENCANAAN STRUKTUR GEDUNG SUPERMARKET DAN FASHION DUA LANTAI

PERENCANAAN STRUKTUR GEDUNG SUPERMARKET DAN FASHION DUA LANTAI PERENCANAAN STRUKTUR GEDUNG SUPERMARKET DAN FASHION DUA LANTAI TUGAS AKHIR Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Ahli Madya Pada Program DIII Teknik Sipil Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik

Lebih terperinci

Tugas Besar Struktur Bangunan Baja 1. PERENCANAAN ATAP. 1.1 Perhitungan Dimensi Gording

Tugas Besar Struktur Bangunan Baja 1. PERENCANAAN ATAP. 1.1 Perhitungan Dimensi Gording 1.1 Perhitungan Dimensi Gording 1. PERENCANAAN ATAP 140 135,84 cm 1,36 m. Direncanakan gording profil WF ukuran 100x50x5x7 A = 11,85 cm 2 tf = 7 mm Zx = 42 cm 2 W = 9,3 kg/m Ix = 187 cm 4 Zy = 4,375 cm

Lebih terperinci

BAB 1 PERHITUNGAN PANJANG BATANG

BAB 1 PERHITUNGAN PANJANG BATANG BAB 1 PERHITUNGAN PANJANG BATANG A4 A5 A3 A6 T4 A1 T1 A2 D1 T2 D2 T3 D3 D4 T5 D5 T6 A7 D6 T7 A8 A 45 B1 B2 B3 B4 B5 B6 B7 B8 B 30 1.1 Perhitungan Secara Matematis Panjang Batang Bawah B 1 B 2 B 3 B 4 B

Lebih terperinci

A. IDEALISASI STRUKTUR RANGKA ATAP (TRUSS)

A. IDEALISASI STRUKTUR RANGKA ATAP (TRUSS) A. IDEALISASI STRUKTUR RAGKA ATAP (TRUSS) Perencanaan kuda kuda dalam bangunan sederhana dengan panjang bentang 0 m. jarak antara kuda kuda adalah 3 m dan m, jarak mendatar antara kedua gording adalah

Lebih terperinci

BAB IV ANALISA STRUKTUR

BAB IV ANALISA STRUKTUR BAB IV ANALISA STRUKTUR 4.1 Data-data Struktur Pada bab ini akan membahas tentang analisa struktur dari struktur bangunan yang direncanakan serta spesifikasi dan material yang digunakan. 1. Bangunan direncanakan

Lebih terperinci

PERHITUNGAN STRUKTUR STRUKTUR BANGUNAN 2 LANTAI

PERHITUNGAN STRUKTUR STRUKTUR BANGUNAN 2 LANTAI PERHITUNGAN STRUKTUR STRUKTUR BANGUNAN 2 LANTAI A. KRITERIA DESIGN 1. PENDAHULUAN 1.1. Gambaran konstruksi Gedung bangunan ruko yang terdiri dari 2 lantai. Bentuk struktur adalah persegi panjang dengan

Lebih terperinci

PERENCANAAN STRUKTUR GEDUNG UKM DUA LANTAI

PERENCANAAN STRUKTUR GEDUNG UKM DUA LANTAI PERENCANAAN STRUKTUR GEDUNG UKM DUA LANTAI TUGAS AKHIR Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Ahli Madya Pada Program DIII Teknik Sipil Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Sebelas

Lebih terperinci

PERANCANGAN STRUKTUR GEDUNG FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI UNIVERSITAS GADJAH MADA YOGYAKARTA

PERANCANGAN STRUKTUR GEDUNG FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI UNIVERSITAS GADJAH MADA YOGYAKARTA PERANCANGAN STRUKTUR GEDUNG FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI UNIVERSITAS GADJAH MADA YOGYAKARTA TUGAS AKHIR SARJANA STRATA SATU Oleh : DANY HERDIANA NPM : 02 02 11149 UNIVERSITAS ATMA JAYA YOGYAKARTA Fakultas

Lebih terperinci

PERENCANAAN STRUKTUR GEDUNG PUSAT KEGIATAN MAHASISWA POLITEKNIK NEGERI MALANG DENGAN SISTEM RANGKA PEMIKUL MOMEN MENENGAH (SRPMM)

PERENCANAAN STRUKTUR GEDUNG PUSAT KEGIATAN MAHASISWA POLITEKNIK NEGERI MALANG DENGAN SISTEM RANGKA PEMIKUL MOMEN MENENGAH (SRPMM) PERENCANAAN STRUKTUR GEDUNG PUSAT KEGIATAN MAHASISWA POLITEKNIK NEGERI MALANG DENGAN SISTEM RANGKA PEMIKUL MOMEN MENENGAH (SRPMM) Oleh : TRIA CIPTADI 3111 030 013 M. CHARIESH FAWAID 3111 030 032 Dosen

Lebih terperinci

BAB V PERHITUNGAN KONSTRUKSI

BAB V PERHITUNGAN KONSTRUKSI V - 1 BAB V PERHITUNGAN KONSTRUKSI 5.1 Data Perencanaan Jembatan h 5 m 45 m Gambar 5.1 Skema Rangka Baja Data-Data Bangunan 1. Bentang total : 45,00 m. Lebar jembatan : 9,00 m 3. Lebar lantai kendaraan

Lebih terperinci

PERENCANAAN STRUKTUR DAN RENCANA ANGGARAN BIAYA RUMAH TINGGAL 2 LANTAI

PERENCANAAN STRUKTUR DAN RENCANA ANGGARAN BIAYA RUMAH TINGGAL 2 LANTAI PERENCANAAN STRUKTUR DAN RENCANA ANGGARAN BIAYA RUMAH TINGGAL 2 LANTAI TUGAS AKHIR Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat untuk Memperoleh Gelar Ahli Madya pada Program D-III Teknik Sipil Jurusan Teknik Sipil

Lebih terperinci

BAB V PERHITUNGAN STRUKTUR

BAB V PERHITUNGAN STRUKTUR PERHITUNGAN STRUKTUR V-1 BAB V PERHITUNGAN STRUKTUR Berdasarkan Manual For Assembly And Erection of Permanent Standart Truss Spans Volume /A Bridges, Direktorat Jenderal Bina Marga, tebal pelat lantai

Lebih terperinci

BAB IV METODOLOGI PENELITIAN A. Langkah Langkah Perancangan. Langkah langkah yang akan dilakasanakan dapat dilihat pada bagan alir di bawah ini :

BAB IV METODOLOGI PENELITIAN A. Langkah Langkah Perancangan. Langkah langkah yang akan dilakasanakan dapat dilihat pada bagan alir di bawah ini : BAB IV METODOLOGI PENELITIAN A. Langkah Langkah Perancangan Langkah langkah yang akan dilakasanakan dapat dilihat pada bagan alir di bawah ini : Mulai Rumusan Masalah Topik Pengumpulan data sekunder :

Lebih terperinci

BAB III METODOLOGI. Berikut adalah bagan flowchart metodologi yang digunakan dalam penyelesaian Tugas Akhir ini. . Gambar 3.1. Flowchart Metodologi

BAB III METODOLOGI. Berikut adalah bagan flowchart metodologi yang digunakan dalam penyelesaian Tugas Akhir ini. . Gambar 3.1. Flowchart Metodologi III-1 BAB III METODOLOGI Berikut adalah bagan flowchart metodologi yang digunakan dalam penyelesaian Tugas Akhir ini.. Gambar 3.1. Flowchart Metodologi III-2 Data-data yang akan dipergunakan sebagai dasar

Lebih terperinci

BAB IV ESTIMASI DIMENSI KOMPONEN STRUKTUR

BAB IV ESTIMASI DIMENSI KOMPONEN STRUKTUR BAB IV ESTIMASI DIMENSI KOMPONEN STRUKTUR 4.1. Estimasi Dimensi Estimasi dimensi komponen struktur merupakan tahap awal untuk melakukan analisis struktur dan merancang suatu bangunan gedung. Estimasi yang

Lebih terperinci

BAB IV METODOLOGI PENELITIAN A. Tata Langkah Penelitian. Tata langkah yang akan dilakasanakan dapat dilihat pada bagan alir di bawah ini : Mulai

BAB IV METODOLOGI PENELITIAN A. Tata Langkah Penelitian. Tata langkah yang akan dilakasanakan dapat dilihat pada bagan alir di bawah ini : Mulai 53 BAB IV METODOLOGI PENELITIAN A. Tata Langkah Penelitian Tata langkah yang akan dilakasanakan dapat dilihat pada bagan alir di bawah ini : Mulai Rumusan Masalah Topik Pengumpulan data sekunder : 1. Mutu

Lebih terperinci

CAHYA PUTRI KHINANTI Page 3

CAHYA PUTRI KHINANTI Page 3 BAB II PERHITUNGAN KAP A. Perhitungan Gording Gambar 2.1 Rencana Kap 1. Data Perhitungan Bentang kuda kuda = 10 m Jarak antar kuda-kuda = 4 m Kemiringan atap = 20 Berat penutup atap = 10 kg/m² (Seng Gelombang)

Lebih terperinci

PERENCANAAN STRUKTUR DAN RENCANA ANGGARAN BIAYA GEDUNG SERBAGUNA 2 LANTAI

PERENCANAAN STRUKTUR DAN RENCANA ANGGARAN BIAYA GEDUNG SERBAGUNA 2 LANTAI PERENCANAAN STRUKTUR DAN RENCANA ANGGARAN BIAYA GEDUNG SERBAGUNA 2 LANTAI TUGAS AKHIR Disusun Sebagai Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Ahli Madya (A.Md.) pada Program Studi DIII Teknik Sipil Jurusan

Lebih terperinci

PERBANDINGAN BERAT KUDA-KUDA (RANGKA) BAJA JENIS RANGKA HOWE DENGAN RANGKA PRATT

PERBANDINGAN BERAT KUDA-KUDA (RANGKA) BAJA JENIS RANGKA HOWE DENGAN RANGKA PRATT PERBANDINGAN BERAT KUDA-KUDA (RANGKA) BAJA JENIS RANGKA HOWE DENGAN RANGKA PRATT Azhari 1, dan Alfian 2, 1,2 Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Riau [email protected] ABSTRAK Batang-batang

Lebih terperinci

d b = Diameter nominal batang tulangan, kawat atau strand prategang D = Beban mati atau momen dan gaya dalam yang berhubungan dengan beban mati e = Ek

d b = Diameter nominal batang tulangan, kawat atau strand prategang D = Beban mati atau momen dan gaya dalam yang berhubungan dengan beban mati e = Ek DAFTAR NOTASI A g = Luas bruto penampang (mm 2 ) A n = Luas bersih penampang (mm 2 ) A tp = Luas penampang tiang pancang (mm 2 ) A l =Luas total tulangan longitudinal yang menahan torsi (mm 2 ) A s = Luas

Lebih terperinci

DAFTAR PUSTAKA. Analisis Harga Satuan Pekerjaan Kota Bandung. Dinas Tata Kota Propinsi Jawa Barat

DAFTAR PUSTAKA. Analisis Harga Satuan Pekerjaan Kota Bandung. Dinas Tata Kota Propinsi Jawa Barat DAFTAR PUSTAKA Analisis Harga Satuan Pekerjaan Kota Bandung. Dinas Tata Kota Propinsi Jawa Barat. 2004. Catatan Kuliah Konstruksi Kayu Dr. Ir Saptahari Soegiri, MP. Catatan Kuliah Manajemen Konstruksi

Lebih terperinci

BAB V ANALISIS KAPASITAS DUKUNG FONDASI TIANG BOR

BAB V ANALISIS KAPASITAS DUKUNG FONDASI TIANG BOR 31 BAB V ANALISIS KAPASITAS DUKUNG FONDASI TIANG BOR 5.1 DATA STRUKTUR Apartemen Vivo terletak di seturan, Yogyakarta. Gedung ini direncanakan terdiri dari 9 lantai. Lokasi proyek lebih jelas dapat dilihat

Lebih terperinci

BAB III METODOLOGI PERENCANAAN

BAB III METODOLOGI PERENCANAAN BAB III METODOLOGI PERENCANAAN 3.1 Diagram Alir Mulai Data Eksisting Struktur Atas As Built Drawing Studi Literatur Penentuan Beban Rencana Perencanaan Gording Preliminary Desain & Penentuan Pembebanan

Lebih terperinci

MODIFIKASI PERENCANAAN STRUKTUR BAJA KOMPOSIT PADA GEDUNG PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS NEGERI JEMBER

MODIFIKASI PERENCANAAN STRUKTUR BAJA KOMPOSIT PADA GEDUNG PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS NEGERI JEMBER MAKALAH TUGAS AKHIR PS 1380 MODIFIKASI PERENCANAAN STRUKTUR BAJA KOMPOSIT PADA GEDUNG PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS NEGERI JEMBER FERRY INDRAHARJA NRP 3108 100 612 Dosen Pembimbing Ir. SOEWARDOYO, M.Sc. Ir.

Lebih terperinci

APLIKASI KOMPUTER DALAM KONSTRUKSI

APLIKASI KOMPUTER DALAM KONSTRUKSI Tugas 4 APLIKASI KOMPUTER DALAM KONSTRUKSI Analisis Struktur Akibat Beban Gravitasi Dan Beban Gempa Menggunakan SAP2000 Disusun Oleh : MHD. FAISAL 09310019 Dosen Pengasuh : TRIO PAHLAWAN, ST. MT JURUSAN

Lebih terperinci

BAB IV ANALISIS PERENCANAAN STRUKTUR GEDUNG

BAB IV ANALISIS PERENCANAAN STRUKTUR GEDUNG BAB IV ANALISIS PERENCANAAN STRUKTUR GEDUNG Bab IV Analisis Perencanaan Struktur Gedung 4.1 Pembebanann Struktur Berdasarkan SNI-03-1729-2002 tentang Tata Cara Perencanaan Struktur Bajaa untuk Bangunan

Lebih terperinci

PERANCANGAN STRUKTUR ATAS GEDUNG CONDOTEL MATARAM CITY YOGYAKARTA. Oleh : KEVIN IMMANUEL KUSUMA NPM. :

PERANCANGAN STRUKTUR ATAS GEDUNG CONDOTEL MATARAM CITY YOGYAKARTA. Oleh : KEVIN IMMANUEL KUSUMA NPM. : PERANCANGAN STRUKTUR ATAS GEDUNG CONDOTEL MATARAM CITY YOGYAKARTA Laporan Tugas Akhir sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana dari Universitas Atma Jaya Yogyakarta Oleh : KEVIN IMMANUEL

Lebih terperinci

BAB III METODOLOGI Tinjauan Umum

BAB III METODOLOGI Tinjauan Umum BAB III METODOLOGI 3.1. Tinjauan Umum Data yang dijadikan bahan acuan dalam pelaksanaan dan penyusunan laporan Tugas Akhir ini adalah data sekunder yang dapat diklasifikasikan dalam dua jenis data, yaitu

Lebih terperinci

BAB V PENULANGAN STRUKTUR

BAB V PENULANGAN STRUKTUR BAB V PENULANGAN STRUKTUR 5.1. PENULANGAN PELAT 5.1.. Penulangan Pelat Lantai 1-9 Untuk mendesain penulangan pelat, terlebih dahulu perlu diketahui data pembebanan yang bekerja pada pelat. Data Pembebanan

Lebih terperinci

PERENCANAAN GEDUNG PASAR TIGA LANTAI DENGAN SATU BASEMENT DI WILAYAH BOYOLALI (DENGAN SISTEM DAKTAIL PARSIAL)

PERENCANAAN GEDUNG PASAR TIGA LANTAI DENGAN SATU BASEMENT DI WILAYAH BOYOLALI (DENGAN SISTEM DAKTAIL PARSIAL) PERENCANAAN GEDUNG PASAR TIGA LANTAI DENGAN SATU BASEMENT DI WILAYAH BOYOLALI (DENGAN SISTEM DAKTAIL PARSIAL) Tugas Akhir untuk memenuhi sebagian persyaratan mencapai derajat Sarjana S 1 Teknik Sipil diajukan

Lebih terperinci

PERENCANAAN GEDUNG DINAS KESEHATAN KOTA SEMARANG. (Structure Design of DKK Semarang Building)

PERENCANAAN GEDUNG DINAS KESEHATAN KOTA SEMARANG. (Structure Design of DKK Semarang Building) LEMBAR PENGESAHAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN GEDUNG DINAS KESEHATAN KOTA SEMARANG (Structure Design of DKK Semarang Building) Diajukan untuk memenuhi persyaratan dalam menyelesaikan pendidikan Strata 1 pada

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN BAB III METODE PENELITIAN 3.1. Bagan Alir Mulai PENGUMPULAN DATA STUDI LITERATUR Tahap Desain Data: Perhitungan Beban Mati Perhitungan Beban Hidup Perhitungan Beban Angin Perhitungan Beban Gempa Pengolahan

Lebih terperinci

PERENCANAAN STRUKTUR DAN RENCANA ANGGARAN BIAYA GEDUNG KULIAH 2 LANTAI

PERENCANAAN STRUKTUR DAN RENCANA ANGGARAN BIAYA GEDUNG KULIAH 2 LANTAI PERENCANAAN STRUKTUR DAN RENCANA ANGGARAN BIAYA GEDUNG KULIAH LANTAI Agus Supriyanto I.850033 D3 TEKNIK SIPIL GEDUNG FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS SEBELAS MARET 011 iv v MOTTO Demi masa, sesungguhnya manusia

Lebih terperinci

BAB V PENULANGAN STRUKTUR

BAB V PENULANGAN STRUKTUR BAB V PENULANGAN STRUKTUR 5.1 Penulangan Pelat Gambar 5.1 : Denah type pelat lantai Ket : S 2 : Jalur Pelat Area yang diarsir : Jalur Kolom Data- data struktur pelat S2 : a. Tebal pelat lantai : 25 cm

Lebih terperinci

E. PERENCANAAN STRUKTUR SEKUNDER 3. PERENCANAAN TRAP TRIBUN DIMENSI

E. PERENCANAAN STRUKTUR SEKUNDER 3. PERENCANAAN TRAP TRIBUN DIMENSI 1.20 0.90 0.90 1.20 0.90 0.45 0. E. PERENCANAAN STRUKTUR SEKUNDER. PERENCANAAN TRAP TRIUN DIMENSI 0.0 1.20 0.90 0.12 TRAP TRIUN PRACETAK alok L : balok 0cm x 45cm pelat sayap 90cm x 12cm. Panjang bentang

Lebih terperinci

LEMBAR PENGESAHAN TUGAS AKHIR

LEMBAR PENGESAHAN TUGAS AKHIR LEMBAR PENGESAHAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN PEMBANGUNAN STRUKTUR GEDUNG PERPUSTAKAAN DAN LAB. TERPADU FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK (FISIP) UNIVERSITAS SEBELAS MARET SURAKARTA (Planning Laboratory

Lebih terperinci

PERENCANAAN STRUKTUR DAN RENCANA ANGGARAN BIAYA DISTRO & CAFE 2 LANTAI

PERENCANAAN STRUKTUR DAN RENCANA ANGGARAN BIAYA DISTRO & CAFE 2 LANTAI PERENCANAAN STRUKTUR DAN RENCANA ANGGARAN BIAYA DISTRO & CAFE 2 LANTAI TUGAS AKHIR Disusun sebagai Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Ahli Madya (A.Md.) pada Program DIII Teknik Sipil Jurusan Teknik Sipil

Lebih terperinci

Jl. Banyumas Wonosobo

Jl. Banyumas Wonosobo Perhitungan Struktur Plat dan Pondasi Gorong-Gorong Jl. Banyumas Wonosobo Oleh : Nasyiin Faqih, ST. MT. Engineering CIVIL Design Juli 2016 Juli 2016 Perhitungan Struktur Plat dan Pondasi Gorong-gorong

Lebih terperinci

PERENCANAAN STRUKTUR GEDUNG RESTORAN DAN KARAOKE 2 LANTAI TUGAS AKHIR

PERENCANAAN STRUKTUR GEDUNG RESTORAN DAN KARAOKE 2 LANTAI TUGAS AKHIR PERENCANAAN STRUKTUR GEDUNG RESTORAN DAN KARAOKE 2 LANTAI TUGAS AKHIR Diajukan sebagai Salah Satu Syarat untuk Memperoleh Gelar Ahli Madya pada Program D-III Teknik Sipil Jurusan Teknik Sipil Fakultas

Lebih terperinci

TUGAS AKHIR PERENCANAAN STRUKTUR GEDUNG SEKOLAH BINA BANGSA JALAN JANGLI BOULEVARD SEMARANG

TUGAS AKHIR PERENCANAAN STRUKTUR GEDUNG SEKOLAH BINA BANGSA JALAN JANGLI BOULEVARD SEMARANG TUGAS AKHIR PERENCANAAN STRUKTUR GEDUNG SEKOLAH BINA BANGSA JALAN JANGLI BOULEVARD SEMARANG Diajukan Sebagai Syarat Menyelesaikan Pendidikan Tingkat Sarjana Strata 1 (S-1) Pada Program Studi Teknik Sipil

Lebih terperinci

PERENCANAAN STRUKTUR GEDUNG KAMPUS 7 LANTAI DAN 1 BASEMENT DENGAN METODE DAKTAIL PARSIAL DI WILAYAH GEMPA 3. Naskah Publikasi

PERENCANAAN STRUKTUR GEDUNG KAMPUS 7 LANTAI DAN 1 BASEMENT DENGAN METODE DAKTAIL PARSIAL DI WILAYAH GEMPA 3. Naskah Publikasi PERENCANAAN STRUKTUR GEDUNG KAMPUS 7 LANTAI DAN 1 BASEMENT DENGAN METODE DAKTAIL PARSIAL DI WILAYAH GEMPA 3 Naskah Publikasi untuk memenuhi sebagian persyaratan mencapai derajat S-1 Teknik Sipil diajukan

Lebih terperinci

PERANCANGAN ULANG STRUKTUR GEDUNG BANK MODERN SOLO

PERANCANGAN ULANG STRUKTUR GEDUNG BANK MODERN SOLO PERANCANGAN ULANG STRUKTUR GEDUNG BANK MODERN SOLO Laporan Tugas Akhir Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana dari Universitas Atma Jaya Yogyakarta Oleh : Heroni Wibowo Prasetyo NPM :

Lebih terperinci

PERENCANAAN GEDUNG SMA EMPAT LANTAI DENGAN SISTEM PERENCANAAN DAKTAIL PARSIAL DI SURAKARTA

PERENCANAAN GEDUNG SMA EMPAT LANTAI DENGAN SISTEM PERENCANAAN DAKTAIL PARSIAL DI SURAKARTA PERENCANAAN GEDUNG SMA EMPAT LANTAI DENGAN SISTEM PERENCANAAN DAKTAIL PARSIAL DI SURAKARTA Tugas Akhir untuk memenuhi sebagian persyaratan mencapai derajat Sarjana S-1 Teknik Sipil diajukan oleh : BAYU

Lebih terperinci

ANALISIS KUDA-KUDA BAJA DENGAN SAP (Structure Analysis Program) 2000 V.11. Ninik Paryati

ANALISIS KUDA-KUDA BAJA DENGAN SAP (Structure Analysis Program) 2000 V.11. Ninik Paryati ANALISIS KUDA-KUDA BAJA DENGAN SAP (Structure Analysis Program) 2000 V.11 Ninik Paryati Teknik Sipil Universitas Islam 45 Bekasi Jl. Cut Meutia No. 83 Bekasi Telp. 021-88344436 Email: [email protected]

Lebih terperinci