BAB V ANALISA PERENCANAAN DAN PERANCANGAN PENGEMBANGAN STASIUN KERETA API PEMALANG

Save this PDF as:
 WORD  PNG  TXT  JPG

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "BAB V ANALISA PERENCANAAN DAN PERANCANGAN PENGEMBANGAN STASIUN KERETA API PEMALANG"

Transkripsi

1 BAB V ANALISA PERENCANAAN DAN PERANCANGAN PENGEMBANGAN STASIUN KERETA API PEMALANG Dalam bab analisa ini akan dibahas tentang analisa kegiatan pada Stasiun Pemalang, tata ruang berdasarkan kebutuhan ruang dan besaran ruang, pengolahan tapak/site, sirkulasi, lanskap, pola gubahan dan tata massa bangunan, tampilan bangunan, struktur bangunan, dan utilitas bangunan. A. ANALISA KEGIATAN Analisa kegiatan dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui apa saja jenis kegiatan yang terjadi pada stasiun melalui analisa terhadap pelaku-pelaku kegiatan dan apa saja kebutuhannya. 1. Analisa Pelaku Kegiatan Pelaku kegiatan pada stasiun yaitu : a. Pengelola / Petugas Operasional Stasiun Petugas operasional stasiun yang dimaksud adalah karyawan atau staf stasiun kereta api sebagai penyelenggara pelayanan jasa kereta api. Pengelola atau petugas operasional stasiun terdiri dari : 1) Kepala Stasiun Kepala stasiun adalah individu yang memiliki tugas untuk mengkoordinasikan serta mengendalikan pelaksanaan angkutan penumpang dan barang serta pengamanan kegiatan angkutan kereta api di stasiun serta memiliki tanggung jawab terhadap pengaturan wilayah yang dikelolanya (manajemen), yaitu dalam bidang kebersihan, keindahan, ketertiban, kerapian dan keamanan wilayahnya. 2) Wakil Kepala Stasiun Wakil Kepala Stasiun merupakan individu yang mempunyai tugas mewakili atau membantu kepala stasiun besar dalam melaksanakan tugas mengkoordinasikan serta mengendalikan pelaksanaan angkutan DEA KARINA PUTRI I

2 penumpang dan barang serta pengamanan kegiatan angkutan kereta api di stasiun, bertanggung jawab kepada kepala stasiun. 3) Petugas Pemimpin Perjalanan Kereta Api (PPKA) Pemimpin Perjalanan Kereta Api (PPKA) merupakan petugas di dalam stasiun yang mempunyai tugas dalam pengaturan penyiapan pemberangkatan perjalanan kereta api berdasarkan peraturan (reglement yang terkait) yang berlaku serta dijamin keamanannya, dalam wilayah operasinya agar berjalan sesuai dengan jadwal. 4) Kepala Sub Urusan Pelayanan Mempunyai tugas untuk memberikan pelayanan yang sebaik-baiknya kepada para konsumen ataupun calon konsumen baik sebelum naik kereta api maupun sesudah turun dari kereta api dan bertanggung jawab kepada Kepala Stasiun. Dalam melaksanakan tugasnya dibantu oleh petugas pelayanan stasiun sebagai berikut : a) Koordinator Penjualan Tiket Mempunyai tugas untuk mengkoordinasikan petugas penjualan karcis serta bertanggung jawab baik fisik karcis maupun keuangannya yang disetorkan kepada bendahara stasiun. b) Petugas Loket Selain melayani penjualan dan pemesanan tiket juga mempunyai wewenang untuk menginput data penumpang ke komputer. Bila ada pembatalan dari penumpang maka petugas berwenang untuk menghapus data sesuai dengan tiket yang bersangkutan. c) Operator Komputer Dokumen Dasar Bagian ini bertugas membuat rekap hasil penjualan dan jumlah penumpang yang berangkat serta pembatalan pemesanan tiket. d) Petugas Informasi Bertugas untuk memberikan informasi baik kepada penumpang yang akan berangkat maupun penumpang yang tiba stasiun. DEA KARINA PUTRI I

3 e) Petugas Kebersihan Stasiun Bertugas untuk melaksanakan kegiatan kebersihan dan keindahan di stasiun. f) Portir Bertugas melaksanakan pengawasan dan pengamanan dan ketertiban pintu masuk ke stasiun. g) Pengelola Gudang Mempunyai tugas menerima dan mengirim barang dinas ataupun barang hantaran. h) Mandor Bertugas untuk mengawasi kegiatan pelaksanaan kegiatan kebersihan dan keindahan di stasiun. i) Petugas Keamanan Bertugas untuk menjaga keamanan di area stasiun baik melalui pengawasan langsung maupun pengawasan melalui CCTV. j) Petugas Parkir Bertugas untuk mengatur ketertiban dan kerapian area parkir stasiun dan juga melayani untuk karcis parkir. 5) Kepala Sub Urusan Perbendaharaan Stasiun Mempunyai tugas penguasaan semua keuangan stasiun, akuntansi pendapatan, biaya dan pelaporan mengenai pendapatan stasiun dengan alat komputer dan bertanggung jawab kepada Kepala Stasiun. Dalam melaksanakan tugasnya dibantu oleh petugas sebagai berikut : a) Pemegang Buku Kas Mempunyai tugas mencatat pengeluaran dan pemasukan uang di lingkungan stasiun yang bersangkutan. b) Kasir Mempunyai tugas menerima dan mengeluarkan uang secara Intern dan Ekstern di lingkungan stasiun terkait. DEA KARINA PUTRI I

4 c) Pelaksana Akuntansi Perbendaharaan Mempunyai tugas melaksanakan kegiatan akuntansi pembendaharaan dan berkoordinasi dengan urusan akuntansi daerah operasi. 6) Kepala Sub Bagian Tata Usaha Mempunyai tugas melaksanakan kegiatan tata usaha stasiun mencatat surat-surat yang masuk dan keluar, administrasi kepegawaian dan umum. Dalam melaksanakan tugasnya Kepala Sub Urusan Tata Usaha Stasiun dibantu oleh : a) Pelaksana Administrasi Kepegawaian Mempunyai tugas untuk melaksanakan kegiatan yang berhubungan dengan masalah kepegawaian stasiun. b) Pelaksana Administrasi Keuangan Bertugas untuk melaksanakan kegiatan yang berkaitan dengan hakhak keuangan bagi pegawai di stasiun. c) Pelaksana Administrasi Umum dan Kerumahtanggaan Bertugas untuk melaksanakan kegiatan yang berkaitan dengan kerumahtanggaan stasiun. b. Pengunjung Stasiun Terdapat beberapa macam jenis pengunjung yang datang ke stasiun, di antaranya yaitu : 1) Penumpang kereta api Merupakan individu atau kelompok yang datang ke stasiun untuk menunggu kedatangan kereta api dimana pada saat sampai di stasiun dalam keadaan telah memiliki tiket atau kode booking yang digunakan untuk mencetak tiket di stasiun. 2) Calon penumpang kereta api Merupakan individu atau kelompok dalam keadaan tanpa memiliki tiket yang datang ke stasiun commit untuk membeli to user tiket untuk keberangkatan hari DEA KARINA PUTRI I

5 itu juga atau untuk keberangkatan hari selanjutnya. 3) Pengantar penumpang/calon penumpang kereta api Merupakan individu atau kelompok yang mengunjungi stasiun dengan tujuan untuk mengantarkan (drop off) penumpang atau calon penumpang. 4) Pengunjung umum c. Pekerja Kantin/Food Court Pekerja kantin/food Court merupakan sekelompok orang yang bekerja di kantin/food Court dan memiliki tanggung jawab terhadap tugas masingmasing. Pekerja kantin/food Court ini terdiri dari koki, pelayan dan kasir. d. Pekerja Pertokoan Merupakan sekelompok orang yang bekerja di pertokoan yang memiliki tugas untuk menjaga toko tersebut dan melayani apabila terdapat pembeli yang datang. Pekerja pertokoan pada stasiun biasanya hanya terdiri dari beberapa penjaga kasir yang bekerja sesuai dengan pembagian waktu kerja (shift) masing-masing. 2. Analisa Jenis Kegiatan Pada stasiun, macam-macam kegiatan dibagi menjadi tiga yaitu kegiatan pokok, kegiatan penunjang dan kegiatan jasa pelayanan khusus. Kegiatan di stasiun kereta api meliputi : a. Kegiatan pokok Kegiatan pokok stasiun berupa kegiatan operasional dan pelayanan yang dilakukan oleh petugas dan staf stasiun serta kegiatan yang berhubungan dengan keberangkatan dan kedatangan kereta api yang dilakukan oleh penumpang dan kru kereta api. Secara garis besar kegiatan pokok yang terjadi di stasiun kereta api yaitu sebagai berikut : 1) Kegiatan Operasional, terdiri dari : a) Melakukan pengaturan perjalanan kereta api b) Memberikan pelayanan kepada pengguna jasa kereta api DEA KARINA PUTRI I

6 c) Menjaga keamanan dan ketertiban d) Menjaga kebersihan lingkungan 2) Kegiatan Penumpang, kaitannya dengan : a) Keberangkatan kereta api b) Kedatangan kereta api b. Kegiatan usaha penunjang Kegiatan usaha penunjang dilakukan untuk mendukung penyelenggaraan perkeretaapian dan dapat dilakukan oleh pihak lain dengan persetujuan penyelenggara prasarana perkeretaapian, yaitu : 1) Tidak mengganggu pergerakan kereta api 2) Tidak mengganggu pergerakan penumpang dan/atau barang 3) Menjaga ketertiban dan keamanan 4) Menjaga kebersihan lingkungan Penyelenggara prasarana perkeretaapian dalam melaksanakan kegiatan usaha penunjang harus mengutamakan pemanfaatan ruang untuk keperluan kegiatan pokok stasiun. Jenis-jenis kegiatan penunjang yaitu : 1) Kantin / Food Court 2) Pertokoan (minimarket/souvenir) c. Kegiatan jasa pelayanan khusus Kegiatan jasa pelayanan khusus di stasiun dapat dilakukan oleh pihak lain dengan persetujuan penyelenggara prasarana perkeretaapian yang berupa jasa pelayanan yaitu : 1) Ruang tunggu penumpang 2) Bongkar muat penumpang 3) Pergudangan 4) Parkir kendaraan 5) Penitipan barang Persetujuan dapat diberikan oleh penyelenggara prasarana perkeretaapian apabila fasilitas dasar stasiun telah terpenuhi. Penyelenggara prasarana perkeretaapian dapat mengenakan tarif pengguna jasa pelayanan khusus. DEA KARINA PUTRI I

7 3. Analisa Pola Kegiatan a. Kegiatan Pokok Analisa pola kegiatan pokok dilakukan dengan tujuan untuk menentukan alur kegiatan pokok yang akan terjadi di dalam stasiun. Dasar pertimbangan yang digunakan dalam analisa kegiatan pokok adalah pelaku dan jenis kegiatan disesuaikan dengan kebutuhan dari kegiatan berdasarkan data-data yang dilakukan melalui pengamatan langsung ke lapangan. 1) Kepala Stasiun Datang Parkir Ruang Kepala Stasiun Memberikan arahan kaitannya dengan pelayanan jasa kereta api Menandatangani dokumen Diskusi / Rapat Menerima Tamu Pulang 2) Wakil Kepala Stasiun Skema 5. 1 Pola Kegiatan Kepala Stasiun Datang Parkir Ruang Wakil Kepala Stasiun Membantu Pekerjaan Kepala Stasiun Menandatangani dokumen Diskusi / Rapat Menerima Tamu Pulang Skema 5. 2 Pola Kegiatan Wakil Kepala Stasiun DEA KARINA PUTRI I

8 3) Pemimpin Perjalanan Kereta Api Datang Parkir Ruang PPKA Mengatur persiapan setiap pemberangkatan Kereta Api Mengawasi setiap kegiatan Perjalanan KA Diskusi / Rapat Pulang 4) Sub Urusan Pelayanan Skema 5. 3 Pola Kegiatan PPKA Datang Parkir Ruang Pelayanan (Kantor) Melayani penjualan dan pemesanan tiket Menginput data penumpang ke komputer Membuat reka hasil penjualan dan jumlah penumpang Memberikan informasi tentang stasiun dan kereta api Diskusi / Rapat Pulang Skema 5. 4 Pola Kegiatan Sub Urusan Pelayanan 5) Sub Urusan Perbendaharaan Datang Parkir Ruang Perbendaharaan (Kantor) Mencatat pengeluaran dan pemasukan uang Menerima dan mengeluarkan uang (Kasir) Melaksanakan kegiatan akuntansi perbendaharaan Berkoordinasi dengan urusan akuntansi daop Diskusi / Rapat Pulang Skema 5. 5 Pola Kegiatan Sub Urusan Perbendaharaan DEA KARINA PUTRI I

9 6) Sub Bagian Tata Usaha Datang Parkir Ruang Tata Usaha (Kantor) Mencatat surat masuk dan keluar Mencatat semua kegiatan administrasi stasiun Diskusi / Rapat Pulang 7) Kru Kereta Api Skema 5. 6 Pola Kegiatan Sub Bagian Tata Usaha Turun dari KA Ruang UPT Kru KA Ruang Istirahat Kru KA Mempersiapkan Perjalanan KA berikutnya Pulang 8) Petugas Kebersihan Berangkat (Perjalanan dengan KA) Skema 5. 7 Pola Kegiatan Kru KA Parkir Datang Ruang Peralatan Membersihkan setiap ruang di stasiun Menjaga kebersihan stasiun Pulang Skema 5. 8 Pola Kegiatan Petugas Kebersihan Sumber commit : Analisa to oleh user Dea Karina Putri, 2016 DEA KARINA PUTRI I

10 9) Petugas Keamanan Datang Parkir Ruang Polsuska Pos Jaga Menjaga keamanan stasiun Mengawasi kondisi stasiun melalui CCTV Patroli keamanan Diskusi/Rapat Pulang 10) Pengunjung Stasiun Skema 5. 9 Pola Kegiatan Petugas Keamanan Pola kegiatan pengunjung yang datang yaitu : Aktivitas lainnya (Restoran/Toko) Parkir Loket Tiket Pulang Datang Masuk Stasiun Membeli Tiket Mesin Cetak Ruang Pemeriksaan Tiket Ruang Tunggu Mencetak Tiket yang dibeli dari agen di luar Stasiun Masuk Kereta Peron Skema Pola Kegiatan Pola Kegiatan Pengunjung Datang Pola kegiatan pengunjung yang turun dari kereta api yaitu : Turun dari Kereta Pintu Keluar Pulang Masuk ke Stasiun Membeli tiket untuk pulang/pergi selanjutnya Aktivitas lainnya (Restoran/Toko) Pulang Skema commit Pola Kegiatan to user Pengunjung Turun dari KA DEA KARINA PUTRI I

11 b. Kegiatan Penunjang 1) Petugas Parkir Parkir Datang Ruang Peralatan Area Parkir Mengatur area Menjaga pos untuk pelayanan tiket parkir masuk dan Pulang Skema Pola Kegiatan Petugas Parkir 2) Pekerja Kantin / Food Court Datang Parkir Kantin / Food Court (masing-masing) Melayani pembeli Mengecek stok bahan makanan Menyetok bahan makanan keperluan restoran Mencatat pemasukan & pengeluaran restoran Pulang 3) Pekerja Pertokoan Skema Pola Kegiatan Pekerja Restoran Datang Parkir Toko (masing-masing) Melayani pembeli Mengecek stok dagangan Menyetok bahan dagangan keperluan toko Mencatat pemasukan & pengeluaran toko Pulang Skema Pola Kegiatan Pekerja Pertokoan DEA KARINA PUTRI I

12 B. ANALISA PERUANGAN 1. Analisa Kebutuhan Ruang Analisa kebutuhan ruang dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui apa saja ruang yang dibutuhkan di dalam stasiun yang direncanakan berdasarkan kegiatan-kegiatan yang terjadi di dalamnya yang diperoleh dari analisa pelaku kegiatan, analisa jenis kegiatan dan analisa pola kegiatan. Tabel 5. 1 Kebutuhan Ruang Stasiun Pemalang Pelaku Kegiatan Jenis Kegiatan Kebutuhan Ruang Kegiatan Pengelola 1. Kepala Stasiun Parkir kendaraan Area parkir Memberikan arahan Area terbuka kepada staf stasiun kaitannya dengan pelayanan jasa KA Menandatangani Ruang Kepala Stasiun dokumen Diskusi/rapat Ruang serbaguna Menerima tamu Ruang Kepala Stasiun Mushola Kantin Metabolisme KM/WC 2. Wakil Kepala Stasiun Parkir kendaraan Area parkir Membantu pekerjaan kepala stasiun Ruang Wakil Kepala Stasiun Menandatangani dokumen Ruang Wakil Kepala Stasiun Diskusi/rapat Ruang serbaguna Menerima tamu Ruang Wakil Kepala Stasiun Mushola Kantin 3. Pemimpin Perjalanan KA Metabolisme Parkir kendaraan Mengatur persiapan setiap pemberangkatan KA Mengawasi setiap kegiatan perjalanan KA Diskusi/rapat commit to user KM/WC Area parkir Ruang PPKA Peron Ruang serbaguna Mushola DEA KARINA PUTRI I

13 Kantin Metabolisme KM/WC 4. Sub Urusan Pelayanan a. Kepala sub Parkir kendaraan Area parkir urusan pelayanan Mengarahkan stafnya Ruang sub urusan pelayanan Mengawasi semua bentuk Meja kerja kepala sub pelayanan yang diberikan urusan pelayanan di stasiun (ruang kantor) Diskusi/rapat Ruang serbaguna Mushola Kantin Metabolisme KM/WC b. Koordinator Parkir kendaraan Area parkir penjualan tiket Mengkoordinasi petugas Ruang sub urusan penjualan tiket pelayanan Menyetorkan pendapatan Meja kerja ke bendahara stasiun koordinator penjualan tiket (ruang kantor) Diskusi/rapat Ruang serbaguna Mushola Kantin Metabolisme KM/WC c. Petugas loket Parkir kendaraan Area parkir Melayani penjualan dan Ruang loket tiket pemesanan tiket Melayani pembatalan Ruang loket tiket tiket Menginput dan atau Ruang loket tiket menghapus data penumpang ke komputer Mushola Kantin Metabolisme KM/WC d. Operator Parkir kendaraan Area parkir komputer Membuat rekap hasil Meja kerja petugas dokumen dasar penjualan dan jumlah operator komputer penumpang yang dokumen dasar (ruang berangkat serta kantor) pembatalan pemesanan tiket Mushola Kantin DEA KARINA PUTRI I

14 e. Petugas informasi f. Petugas Pemeriksa Tiket Metabolisme Parkir kendaraan Memberikan informasi kepada penumpang dan calon penumpang Metabolisme Parkir kendaraan Memeriksa tiket calon penumpang Metabolisme 5. Sub Urusan Perbendaharaan a. Kepala sub Parkir kendaraan urusan Mengecek laporan perbendaharaan pendapatan stasiun Metabolisme Parkir kendaraan Melaksanakan kegiatan commit akuntansi to perbendaharaan user KM/WC Area parkir Ruang pelayanan informasi (Customer Service) Mushola Kantin KM/WC Area parkir Ruang pemeriksaan tiket Mushola Kantin KM/WC Area parkir Meja kerja kepala sub urusan perbendaharaan (ruang kantor) Diskusi/rapat Ruang serbaguna Mushola Kantin Metabolisme KM/WC b. Pemegang buku Parkir kendaraan Area parkir kas Mencatat pengeluaran Meja kerja petugas dan pemasukan uang di pemegang buku kas stasiun (ruang kantor) Mushola Kantin Metabolisme KM/WC c. Kasir Parkir kendaraan Area parkir Menerima dan Meja kerja kasir/loket mengeluarkan uang (ruang kantor) secara intern dan ekstern di stasiun d. Pelaksana akuntansi perbendaharaan Mushola Kantin KM/WC Area parkir Meja kerja petugas pelaksana akuntansi DEA KARINA PUTRI I

15 6. Sub Bagian Tata Usaha a. Kepala sub bagian TU b. Pelaksana administrasi kepegawaian c. Pelaksana administrasi keuangan d. Pelaksana administrasi umum dan kerumahtanggaan Metabolisme Parkir kendaraan Melaksanakan kegiatan TU stasiun Mencatat surat yang masuk dan keluar Diskusi/rapat Metabolisme Parkir kendaraan Melaksanakan kegiatan kepegawaian stasiun Metabolisme Parkir kendaraan Melaksanakan kegiatan yang berkaitan dengan hak keuangan bagi pegawai stasiun Metabolisme Parkir kendaraan Melaksanakan kegiatan kerumahtanggaan stasiun perbendaharaan (ruang kantor) Mushola Kantin KM/WC Area parkir Meja kerja kepala sub bagian TU (ruang kantor) Meja kerja kepala sub bagian TU (ruang kantor) Ruang serbaguna Mushola Kantin KM/WC Area parkir Meja kerja petugas pelaksana administrasi kepegawaian (ruang kantor) Mushola Kantin KM/WC Area parkir Meja kerja petugas pelaksana administrasi keuangan (ruang kantor) Mushola Kantin KM/WC Area parkir Meja kerja petugas pelaksana administrasi umum dan kerumahtanggaan (ruang kantor) Mushola Kantin DEA KARINA PUTRI I

16 Metabolisme KM/WC 8. Polsuska Parkir kendaraan Area parkir Menjaga keamanan Pos jaga stasiun Mengawasi kondisi di Ruang CCTV lingkungan stasiun melalui CCTV Patroli keamanan Mobile Diskusi/rapat Ruang serbaguna Mushola Kantin Metabolisme KM/WC 9. Petugas Kebersihan Parkir kendaraan Area parkir Meletakkan barang Ruang loker bawaan Mempersiapkan alat-alat Ruang peralatan kebersihan Membersihkan setiap Seluruh ruangan di ruang di stasiun stasiun Menjaga kebersihan Mobile stasiun Mushola Kantin Metabolisme KM/WC 10. Petugas Parkir Parkir kendaraan Area parkir Meletakkan barang Ruang loker bawaan Menjaga pos tiket parkir Pos loket tiket parkir Mangatur area parkir Area parkir Mushola Kantin Metabolisme KM/WC Kegiatan Pengunjung stasiun 1. Pengunjung Datang Parkir kendaraan Area parkir Menuju Stasiun Jembatan penyeberangan Masuk stasiun Hall Membeli tiket Ruang loket tiket Mencetak tiket/boarding Mesin pencetak pas tiket/boarding pas commit Menunggu to user antrian loket Ruang tunggu umum tiket DEA KARINA PUTRI I

17 2. Pengunjung yang Turun dari KA Menunggu kedatangan kereta api Membeli Makan/minum Membeli bekal untuk perjalanan Membeli souvenir Metabolisme Masuk stasiun Menuju area parkir Menunggu kendaraan umum Membeli tiket untuk perjalanan berikutnya Membeli makan/minum Metabolisme Ruang tunggu khusus penumpang Restoran Minimarket Toko souvenir Mushola Kantin KM/WC Hall Jembatan penyeberangan Area pemberhentian untuk angkutan umum Ruang loket Restoran Mushola Kantin KM/WC Kegiatan Penunjang 1. Kantin / Food Court a. Pengelola Kantin Parkir kendaraan Area parkir / Food Court Melayani pembeli Ruang pemesanan / kasir Membuat pesanan Dapur pembeli Menyimpan bahan Gudang bahan makanan keperluan makanan restoran Mencatat pemasukan & Kasir pengeluaran restoran Mushola Kantin Metabolisme KM/WC b. Pembeli Memesan Ruang pemesanan / makanan/minuman kasir Makan/minum Meja + kursi makan Membayar pesanan Kasir 2. Pertokoan (toko suvenir dan minimarket) a. Pengelola toko commit Parkir kendaraan to user Area parkir Melayani pembeli Kasir DEA KARINA PUTRI I

18 Menyimpan stok dagangan toko Mencatat pemasukan & pengeluaran toko Metabolisme b. Pembeli Berbelanja (memilih barang) Membayar 2. Analisa Besaran Ruang Gudang bahan dagangan Kasir Mushola Kantin KM/WC Ruang toko Kasir Analisa besaran ruang bertujuan untuk mengetahui besaran ruang yang dibutuhkan pada bangunan Stasiun KA Pemalang, sehingga dapat diperoleh total luas keseluruhan bangunan yang akan direncanakan dalam pengembangan Stasiun Pemalang. Besaran ruang ditentukan berdasarkan persyaratan kegiatan, jumlah pelaku kegiatan serta kenyamanan sirkulasi bagi pelaku kegiatan. Besaran untuk ruang-ruang minimum di stasiun diperoleh dari buku pedoman standarisasi stasiun oleh Unit Station Maintenance, Preservation and Architecture PT. KAI (Persero), Tahun Sedangkan untuk ruang-ruang tambahan bagi kegiatan penunjang diperoleh dari : a. Architect s Data, Ernst Neufert (NAD) b. Perhitungan ukuran dasar manusia berdasarkan jumlah pengguna untuk sirkulasi kegiatan. Tabel 5. 2 Standar Minimum Kebutuhan & Besaran Ruang untuk Stasiun Kelas Sedang No. Kebutuhan Ruang Luasan Minimum Jumlah Total 1 Ruang Kepala Stasiun ± 24 m 2 1 ± 24 m 2 2 Ruang Wakil Kepala Stasiun ± 15 m 2 1 ± 15 m 2 3 Ruang PPKA ± 18 m 2 1 ± 18 m 2 4 Ruang Serbaguna ± 50 m 2 1 ± 50 m 2 5 Ruang Peralatan ± 12 m 2 1 ± 12 m 2 6 Ruang UPT Kru KA ± 24 m 2 1 ± 24 m 2 7 Ruang Istirahat Kru KA ± 25 m 2 1 ± 25 m 2 8 Ruang Petugas Keamanan ± 12 m 2 1 ± 12 m 2 DEA KARINA PUTRI I

19 9 Ruang Petugas Kebersihan ± 9 m 2 1 ± 9 m 2 10 Ruang Hall ± 150 m 2 1 ± 150 m 2 11 Ruang Loket ± 12 m 2 2 ± 24 m 2 12 Ruang Pelayanan Informasi ± 12 m 2 1 ± 12 m 2 13 Ruang Tunggu Eksekutif ± 60 m 2 1 ± 60 m 2 14 Ruang Tunggu Umum ± 160 m 2 2 ± 320 m 2 15 Ruang Layanan Kesehatan ± 15 m 2 2 ± 30 m 2 16 Toilet ± 45 m 2 4 ± 180 m 2 17 Ruang Mushola ± 30 m 2 2 ± 60 m 2 18 Ruang Ibu Menyusui ± 10 m 2 2 ± 20 m 2 Total Keseluruhan = ± m 2 Sumber : Unit Station Maintenance, Preservation and Architecture PT. KAI (Persero), Buku Pedoman Standardisasi Stasiun Tahun 2011 Tabel 5. 3 Besaran Ruang Tambahan untuk Pengembangan Stasiun Pemalang Ruang Kapasitas Jml Standar perhitungan Perhitungan (m 2 ) 12 orang, 12 meja, 20 kursi, 10 rak, 4 lemari Ruang perkantoran Parkir stasiun Parkir pengunjung petugas Jumlah seluruh petugas stasiun = 32 orang. Mobil 40%, jadi 12 mobil Motor 60%, jadi 20 motor (Standar PT. KAI) Mobil = ± 50 buah Motor = ± 100 buah 1 Modul manusia = 0,32 m 2 Modul meja = 0,48 Modul kursi = 0,225 m 2 Modul rak = 0,5m 2 Modul lemari = 0,72 m 2 1 Sumber : NAD Mobil = 5 x 3,5 m = 17,5 m 2 Motor = 1 x 2 m = 2 m 2 1 Sumber : NAD Mobil = 5 x 3,5 m = 17,5 m 2 Motor = 1 x 2 m = 2 m 2 Manusia = 12 x 0,32 = 3,84 m 2 Meja = 12 x 0,48 = 5,76 m 2 Kursi = 20 x 0,225 = 4,5 m 2 Rak = 10 x 0,5 = 5 m 2 Lemari = 4 x 0,72 = 2,88 m 2 Total = 22 m 2 Flow = 40% x 22 = 8,8 m 2 Total keseluruhan = 30,8 m 2 Mobil = 17,5 x 12 = 210 m 2 Motor = 2 x 20 = 40 m 2 Total = 250 m 2 Flow = 70% x 250 m 2 = 175 m 2 Total keseluruhan = = 425 m 2 Mobil = 17,5 x 50 = 875 m 2 Motor = 2 x 100 = 200 m 2 Total = 1075 m 2 Luas ± 31 m 2 ± 425 m 2 ± m 2 DEA KARINA PUTRI I

20 Kantin / Food Court Pertokoan (minimarket) 10 dapur, 40 mejakursi makan 1 meja kasa, 2 rak double, 8 rak single 2 Modul dapur = 12 m 2 Meja-kursi makan = 3,315 m 2 12 Modul meja kasa = 3,5 m 2 Modul rak double = 1,625 m 2 Modul rak single = 0,875 m 2 Flow = 70% x 1075 m 2 = 752,5 m 2 Total keseluruhan = ,5 = 1827,5 m 2 Dapur = 10 x 12 = 120 m 2 Meja-kursi makan = 40 x 3,315 = 132,6 m 2 Total = 253 m 2 Flow = 40% x 253 = 101 m 2 Total keseluruhan = 354 m 2 Meja kasa = 1 x 3,5 = 3,5 m 2 Rak double = 2 x 1,625 = 3,25 m 2 Rak single = 8 x 0,875 = 7 m 2 Total = 13,75 m 2 Flow = 40% x 13,75 = 5,5 m 2 Total keseluruhan = 19,25 m 2 ± 708 m 2 ± 231 m 2 Ruang loker Asumsi 1 Asumsi 15 m 2 Asumsi 15 m 2 ± 25 m 2 ATM Centre Asumsi 1 Asumsi 12 m 2 Asumsi 12 m 2 ± 12 m 2 Ruang CCTV Asumsi 1 Asumsi 15 m 2 Asumsi 15 m 2 ± 25 m 2 Peron 4 peron tepi, 3 peron tengah, 6 jalur rel kereta api Area pemberhentian kendaraan umum 1 Modul peron = peron tepi = 320 m 2 Peron tengah = 400 m 2 Jalur rel KA = lebar 3,2 m Peron tepi = 2 x 320 = 640 m 2 Peron tengah = 3 x 400 = 1200 m 2 Jalur rel kereta api = 6 x 3,2 x 200 (p. tapak) = 3840 m 2 Total = m 2 ± m 2 Asumsi 2 Asumsi 50 m 2 Asumsi 50 m 2 ± 100 m 2 Total Keseluruhan = ± m 2 DEA KARINA PUTRI I

21 Tabel 5. 4 Luas Keseluruhan Ruang untuk Pengembangan Stasiun Pemalang No. Kelompok Ruang Luas 1 Ruang minimum untuk stasiun kelas sedang ± m 2 2 Ruang tambahan (penunjang) ± m 2 3. Analisa Persyaratan Ruang b) Penghawaan alami (++) c) Penghawaan buatan commit (+) to user Luas Keseluruhan : ± m 2 Analisa persyaratan ruang bertujuan untuk menentukan identitas ruang sehingga didapatkan penataan ruang yang sesuai dengan kebutuhan. a. Dasar Pertimbangan Dasar pertimbangan yang digunakan adalah : 1) Kriteria ruang sebagai tolak ukur sasaran kenyamanan ruang. 2) Sebagai faktor penting dalam menciptakan ruang yang mendukung b. Analisa keberlangsungan kegiatan di dalam stasiun. Berikut ini merupakan kriteria dalam analisa identitas ruang yang dibutuhkan yaitu sebagai berikut : 1) Tingkat Privasi a) Publik, merupakan area ruang yang terbuka dan dapat dicapai oleh siapa saja pada waktu kapan saja. b) Semi publik, bersifat sedikit lebih privat daripada ruang publik, yang dapat diakses oleh hampir semua pengguna. c) Privat, merupakan area yang aksesnya hanya untuk seseorang atau sekelompok orang. 2) Pencahayaan a) Pencahayaan alami dan buatan (+++) b) Pencahayaan alami (++) c) Pencahayaan buatan (+) 3) Penghawaan a) Penghawaan alami dan buatan (+++) DEA KARINA PUTRI I

22 Tabel 5. 5 Persyaratan Ruang Stasiun Ruang Persyaratan Ruang Tingkat Privasi Pencahayaan Penghawaan Ruang Kepala Stasiun Privat Ruang Wakil Kepala Stasiun Privat Ruang PPKA Privat Ruang Serbaguna Semi publik Ruang Peralatan Privat Ruang UPT Kru KA Privat Ruang Istirahat Kru KA Privat Ruang Petugas Keamanan Privat Ruang Petugas Kebersihan Privat Ruang Hall Publik Ruang Loket Publik Ruang Pelayanan Informasi Publik Ruang Tunggu Eksekutif Semi publik Ruang Tunggu Umum Publik Ruang Layanan Kesehatan Semi publik Ruang Toilet Umum Publik Ruang Mushola Publik Ruang Ibu Menyusui Semi publik Ruang perkantoran Privat Parkir petugas stasiun Semi publik Parkir pengunjung Publik Kantin / Food Court Publik Pertokoan (minimarket) Publik ATM Centre Publik Ruang loker Privat Ruang CCTV Privat Peron Semi publik Area pemberhentian kendaraan umum Publik Analisa Pola Hubungan Ruang Analisa pola hubungan ruang bertujuan untuk mengetahui peletakan ruang yang dibutuhkan pada Stasiun Kereta Api Pemalang dan hubungannya antara ruang yang satu dengan yang lainnya. DEA KARINA PUTRI I

23 a. Dasar Pertimbangan Pertimbangan-pertimbangan yang digunakan pada analisa pola hubungan ruang adalah sebagai berikut : 1) Kegiatan yang diwadahi, sifat kegiatan dan hubungan antar kegiatan 2) Keterkaitan hubungan antar fungsi ruang 3) Keterkaitan hubungan antar fungsi kegiatan dan pencapaian b. Analisa Berikut ini merupakan pola hubungan ruang berdasarkan kelompok kegiatan pada Stasiun Pemalang, 1) Kegiatan Makro Kegiatan Penerimaan Kegiatan Publik Kegiatan Servis Kegiatan Pengelola Kegiatan Penunjang 2) Kegiatan Penerimaan Berhubungan langsung Berhubungan tidak langsung Skema Pola Hubungan Ruang Kegiatan Makro Parkir pengelola Area pemberhentian angkutan umum Drop Off Entrance in/out Parkir Pengunjung Hall Skema Pola Hubungan Ruang Kegiatan Penerimaan Berhubungan Berhubungan tidak langsung Tidak Berhubungan DEA KARINA PUTRI I

24 3) Kegiatan Publik Area Loket Ruang Pelayanan Informasi Minimarket Ruang Tunggu Umum Peron Ruang Tunggu Eksekutif Toko Souvenir ATM Center Kantin/ Food Court Skema Pola Hubungan Ruang Kegiatan Publik 4) Kegiatan Pengelola Ruang Kepala Stasiun Ruang Perkantoran Ruang UPT Kru KA Ruang Wakil KS Ruang PPKA Ruang Istirahat Kru KA Ruang Serbaguna n Ruang Loker Petugas Ruang CCTV Ruang Peralatan Pos Keamanan Skema Pola Hubungan Ruang Kegiatan Pengelola DEA KARINA PUTRI I

25 5) Kegiatan Servis Ruang Layanan Kesehatan Ruang Ibu Menyusui Tempat Wudhu Mushola Toilet Berhubungan Berhubungan tidak langsung Tidak Berhubungan Skema Pola Hubungan Ruang Kegiatan Servis 5. Analisa Program Ruang Stasiun Pemalang merupakan bangunan cagar budaya yang harus dilestarikan kehadirannya, sehingga program pengembangan Stasiun Pemalang ini mengarah kepada pengelolaan dan pengoptimalan fungsi ruang pada bangunan lama yaitu fungsi ruang tetap ataupun alih fungsi ruang serta penambahan bangunan baru untuk memenuhi kebutuhan ruang Stasiun Pemalang. Tabel 5. 6 Program Pengembangan Ruang Stasiun KA Pemalang Standar untuk Stasiun Kelas Sedang Luasan Eksisting Tindakan yang Luasan Stasiun Pemalang Macam Ruang (m 2 dilakukan (m 2 ) ) Fasilitas Pokok Ruang Kepala Stasiun (KS) Dipindah ke bangunan baru Ruang Wakil KS 15 Belum ada Ditempatkan pada bangunan baru Tetap, namun mengalami penambahan Ruang PPKA pada bangunan baru untuk mengatur perjalanan KA pada rel baru DEA KARINA PUTRI I

26 Ruang Serbaguna 50 Belum ada Ditempatkan pada bangunan baru Dialih fungsikan sebagai ruang tunggu untuk ruang loket reservasi tiket. Ruang Peralatan 12 11,75 Sedangkan ruang peralatan baru akan ditempatkan di dekat WC sebagai ruang janitor. Ruang UPT Kru KA Dipindah ke bangunan baru Ditempatkan pada Ruang Istirahat Kru KA 25 Belum ada sebelah ruang UPT KA (sebagai pengembangan ke arah utara) Ruang Petugas Keamanan 12 9 Tetap Ruang Petugas Kebersihan 9 Satu ruangan dengan Ditempatkan pada ruang peralatan Tetap, namun diperluas dengan Ruang Hall memanfaatkan ruang tunggu dan menata ulang area loket tiket Tetap, namun hanya berfungsi untuk ruang loket tiket langsung, Ruang Loket sementara untuk reservasi tiket ditempatkan pada ruang baru. Ditempatkan pada Ruang Pelayanan Informasi 12 Satu ruangan dengan ruang baru, berdekatan ruang loket dengan ruang loket reservasi. Dialih fungsikan sebagai area untuk mengantre tiket Ruang Tunggu Eksekutif langsung, dan ruang tunggu eksekutif akan ditempatkan pada bangunan baru DEA KARINA PUTRI I

27 Ruang Tunggu Umum ,5 Ruang Layanan Kesehatan 15 Belum ada Ruang Toilet Umum Ruang Mushola Ruang Ibu Menyusui 10 Belum ada Perkantoran - - Parkir Kendaraan Mobil : 100 Motor : 150 Mobil = maksimal 5-7 mobil Motor = ± motor Kantin/Food Court Ada Belum Ada Pertokoan Ada I Kios (Roti O ) ATM Center Ada 1 Mesin ATM BRI Ditempatkan di bangunan baru Ditempatkan di bangunan baru Tetap, namun terdapat penambahan pada bangunan baru Tetap, namun terdapat penambahan pada bangunan baru Ditempatkan pada bangunan baru Ditempatkan pada bangunan baru Dipindah ke site bagian depan, menjadi satu dengan pertokoan yang akan ditata kembali Diletakkan pada bangunan baru - Dipindah ke bangunan baru, ruang sebelumnya akan dimanfaatkan untuk perluasan ruang tunggu dan hall - Direncanakan akan diadakan pada bangunan baru stasiun dan juga pada area parkir (penataan kembali site bagian depan yang sebelumnya merupakan pertokoan dan warung makan) Direncanakan akan ditempatkan pada bangunan baru dengan ruang khusus sebagai DEA KARINA PUTRI I

28 Penitipan & Pengantar Barang Ada Ada tapi bukan fasilitas dari stasiun ATM Center yang disediakan berbagai macam mesin ATM dari berbagai bank. Disediakan pada area parkir Sumber : Unit Station Maintenance, Preservation and Architecture PT. KAI (Persero), Buku Pedoman Standardisasi Stasiun Tahun 2011, Analisis oleh Dea Karina Putri 2016 C. ANALISA PENGOLAHAN TAPAK Analisa tapak dilakukan dengan tujuan untuk menentukan pengolahan site pengembangan (arah pengembangan Stasiun Pemalang), pencapaian ke Stasiun Pemalang baik oleh kendaraan pribadi, pejalan kaki maupun pengguna angkutan umum dan sirkulasinya agar tidak saling berbenturan. 1. Analisa Pencapaian Analisa pencapaian dilakukan dengan tujuan untuk mendapatkan pola pencapaian yaitu berupa main entrance (in and out) dan side entrance dari luar site menuju ke dalam site berdasarkan kriteria-kriteria pencapaian. Lebar Jalan Jalan Veteran = 8 m Gambar 5. 1 Akses Jalan menuju Stasiun KA Pemalang Jalan Kenanga & Jalan Melati = 6 m Jalan Gotong Royong & Jalan Lingkungan = 5 m DEA KARINA PUTRI I

29 a. Kriteria 1) Sirkulasi main entrance (in and out) dan side entrance tidak menyebabkan kemaceten lalu lintas. 2) Kemudahan pencapaian bagi kendaraan pribadi dari jalan utama maupun kemudahan pencapaian bagi kendaraan umum dan pejalan kaki untuk mencapai site. 3) Menyesuaikan dengan arah pergerakan lalu lintas kendaraan pada jalan yang mengelilingi site. 4) Pertimbangan keamanan akses ke dalam maupun ke luar site. b. Hasil Analisa Gambar 5. 2 Penempatan ME dan SE pada site ME IN/OUT Pengguna ME IN/OUT Pengelola ME OUT Penumpang Jalur masuk parkir kendaraan (mobil & motor) Jalur keluar parkir mobil Jalur keluar parkir motor Main Entrance (in/out) ditempatkan pada bagian selatan site yaitu di Jalan Veteran yang digunakan bagi pejalan kaki dan drop off, sedangkan pada sisi seberangnya digunakan sebagai Main Entrance (in/out) untuk area parkir. DEA KARINA PUTRI I

30 c. Hasil Zonning Zona Publik Zona Penerima Zona Pengelola Zona Servis Zona Penunjang Gambar 5. 3 Hasil Penzonningan kaitannya dengan Pencapaian Tapak 2. Analisa Klimatologi Analisa klimatologi bertujuan untuk menunjukkan pengaruh arah gerak angin dan cahaya matahari dalam penentuan bukaan-bukaan yang digunakan sebagai sarana pengoptimalan penghawaan dan pencahayaan alami dalam bangunan stasiun. a. Analisa Pergerakan Angin Analisa arah angin bertujuan untuk menentukan bukaan-bukaan sebagai pengoptimalan penghawaan alami pada bangunan maupun tapak. Angin bergerak dari arah utara ke selatan. 1) Dasar Pertimbangan a) Kesesuaian pencahayaan dengan fungsi dan tuntutan ruang b) Waktu operasional kegiatan c) Estetika 2) Hasil Analisa Pergerakan angin berasal dari arah utara menuju ke selatan, sehingga pada tapak pengembangan Stasiun Pemalang angin bergerak dari arah belakang site menuju depan site karena site Stasiun Pemalang menghadap ke arah selatan. DEA KARINA PUTRI I

31 b. Analisa Cahaya Matahari Gambar 5. 4 Arah Pergerakan Angin Analisa pencahayaan bertujuan untuk menentukan pencahayaan yang akan digunakan pada bangunan, baik di dalam maupun luar bangunan. Pencahayaan ini dapat memanfaatkan sinar matahari ataupun cahaya buatan yang berasal dari lampu. 1) Dasar Pertimbangan a) Kesesuaian pencahayaan dengan fungsi dan tuntutan ruang b) Waktu operasional kegiatan c) Estetika 2) Analisa Gambar 5. 5 Arah Pergerakan Matahari Prinsip pemanfaatan cahaya alam seoptimal mungkin diharapkan dapat menekan penggunaan listrik secara signifikan. Pencahayaan buatan yang berasal dari listrik dan lampu diupayakan hanya digunakan untuk kebutuhan mekanika dan penerangan pada pagi dan sore/malam hari dimana sinar matahari belum maksimal. DEA KARINA PUTRI I

32 c. Hasil 1) Arah angin Gambar 5. 6 Prinsip Pemantulan Cahaya Sumber : Ernst Neufert, 1996 hlm. 153 a) Meletakkan bukaan-bukaan pada orientasi yang tepat, yang memungkinkan adanya ventilasi silang untuk penghawaan alami pada bangunan. b) Pemanfaatan vegetasi yang berfungsi sebagai penyaring udara kotor. 2) Pengelolaan cahaya alami dilakukan dengan : a) Penggunaan bukaan pada dinding untuk memanfaatkan cahaya dari samping bangunan. b) Penggunaan atap skylight yang mampu meneruskan sebagian intensitas cahaya matahari. c) Pengelolaan luasan void yang lebar untuk meneruskan cahaya ke lantai bawah. Zona Publik Zona Penerima Zona Pengelola Zona Servis Zona Penunjang Gambar 5. 7 Hasil Penzonningan Kaitannya dengan Faktor Klimatologi DEA KARINA PUTRI I

33 3. Analisa Penzonningan Analisa penzonningan bertujuan untuk menentukan zonning pada tapak pengembangan Stasiun Pemalang yang diperoleh berdasarkan kesimpulan dari hasil penzonningan pada analisa pencapaian dan analisa faktor klimatologi. a. Dasar Pertimbangan Dasar pertimbangan pada analisis penzoningan akhir adalah berdasarkan hasil zoning pada analisis sebelumnya, yang mana akan memberikan kemudahan akses bagi pengguna dalam masing-masing kegiatannya. b. Analisa Zona dikelompokkan berdasarkan kelompok kegiatan, yaitu sebagai berikut : a. Kegiatan Penerima b. Kegiatan Publik c. Kegiatan Penunjang d. Kegiatan Pengelola e. Kegiatan Servis Zona Publik Zona Penerima Zona Pengelola Zona Servis Zona Penunjang Gambar 5. 8 Penzonningan Akhir pada Pengembangan Stasiun Pemalang DEA KARINA PUTRI I

34 D. ANALISA AKSESIBILITAS Analisa aksesibilitas dilakukan dengan tujuan untuk menentukan jenisjenis pencapaian antar bangunan dan antara site yang terpisah yang akan digunakan pada Stasiun Pemalang. Aksesibilitas adalah derajat kemudahan yang dicapai oleh orang, terhadap suatu objek, pelayanan ataupun lingkungan. Kemudahan akses tersebut diimplementasikan pada bangunan gedung, lingkungan dan fasilitas umum lainnya. Aksesibilitas juga difokuskan pada kemudahan bagi penyandang cacat untuk menggunakan fasilitas seperti pengguna kursi roda harus bisa berjalan dengan mudah di pedestrian/trotoar ataupun di dalam bangunan. Stasiun Pemalang sebagai bangunan fasilitas publik harus menyediakan akses-akses yang akan mempermudah pengguna, bukan hanya pengguna normal tapi juga bagi penyandang difabilitas. Dasar Pertimbangan : 1. Jumlah pengguna bangunan 2. Luasan bangunan 3. Karakter pengguna Analisa : 1. Sirkulasi Analisa sirkulasi dilakukan dengan tujuan untuk menentukan alur pengguna dari luar site sampai ke dalam site, dari jalan menuju main entrance sampai mencapai tujuannya di dalam stasiun sehingga tidak akan menimbulkan cross antara kegiatan yang satu dengan yang lainnya dengan cara menata pola kegiatan yang sudah ada maupun yang akan direncanakan dengan optimal baik, melalui fasilitas, relokasi maupun peniadaan kegiatan yang tidak mendukung fungsi bangunan. a. Dasar Pertimbangan Hal-hal yang menjadi dasar pertimbangan dalam analisa sirkulasi yaitu sebagai berikut : DEA KARINA PUTRI I

35 1) Kemudahan pencapaian untuk setiap ruang kegiatan dan keamanan serta kelancaran bagi pejalan kaki terutama untuk akses menuju bangunan. 2) Keamanan dan kenyamanan bagi pengunjung stasiun yang melalui berbagai moda transportasi. 3) Kelancaran sirkulasi kendaraan dalam mencapai site yang melalui akses jalan di sekitar site. 4) Kelancaran lalu lintas di sekitar site. 5) Kebutuhan lahan parkir yang memadai 6) Kenyamanan dan keamanan dalam beraktivitas 7) Lintasan pedestrian bagi pejalan kaki yang berhubungan langsung dengan titik-titik kegiatan. 8) Menghindari konflik tara kegiatan yang satu dengan yang lainnya. b. Analisa 1) Kondisi Sirkulasi di luar Bangunan Stasiun Pemalang a) Pencapaian Bangunan Pencapaian menuju bangunan stasiun yang menggunakan kendaraan baik kendaraan pribadi maupun kendaraan umum dan juga pejalan kaki melalui jalan yang sama yaitu awalnya melalui jalan utama kota, jalan Jenderal Soedirman kemudian melewati jalan kenanga jika melaluinya pada sisi barat dan jalan melati jika melaluinya pada sisi timur yang langsung berhubungan dengan jalan veteran dimana bangunan Stasiun Pemalang berada. b) Kegiatan di luar Bangunan - Parkir dan Pemberhentian Kondisi parkir dan pemberhentian yang terdapat di Stasiun Pemalang belum memiliki lahan parkir yang memadai baik lahan parkir yang diperuntukkan untuk kendaraan roda dua maupun untuk angkutan umum seperti becak dan ojek. Selain itu, pada site bangunan Stasiun commit Pemalang to user juga belum disediakan area DEA KARINA PUTRI I

36 pemberhentian yang jelas bagi bus atau angkutan umum sehingga mengganggu lalu lintas kendaraan yang lain. - Pedestrian Pada Stasiun Pemalang belum tersedia pedestrian yang dapat digunakan untuk akses keluar masuk bangunan. Kondisi ini menyebabkan pejalan kaki khususnya penyandang difabilitas mengalami kesulitan untuk mencapai bangunan. 2) Alternatif Penyelesaian Beberapa alternatif penyelesaian untuk masalah-masalah hasil analisa di atas antara lain yaitu : a) Pencapaian - Memisahkan sirkulasi kendaraan dengan sirkulasi pejalan kaki Sirkulasi pada site yang akan diterapkan dalam perencanaan, dibagi menjadi dua yaitu sirkulasi kendaraan dan pejalan kaki. Pola Sirkulasi Kendaraan Pola Sirkulasi Pejalan Kaki - Menyediakan sirkulasi yang langsung menuju ke titik-titik kegiatan - Melengkapi jalur sirkulasi dengan elemen desain yang mendukung aktivitas. b) Pejalan Kaki - Menyediakan jalur pedestrian untuk pejalan kaki yang terpisah dengan sirkulasi kendaraan. - Menyediakan fasilitas pendukung pada area pejalan kaki baik dari utilitas atau elemen desainnya. DEA KARINA PUTRI I

37 Sirkulasi kendaraan masuk Sirkulasi kendaraan keluar Sirkulasi pejalan kaki masuk (melalui pedestrian) Sirkulasi pejalan kaki keluar (melalui pedestrian) U Gambar 5. 9 Sirkulasi Kendaraan dan Pejalan Kaki c) Parkir dan Pemberhentian - Menyediakan area parkir yang aksesnya mudah ke setiap titiktitik kegiatan. - Penggunaan lahan-lahan yang masih tersedia dengan optimal sebagai area parkir yang dapat mewadahi kebutuhan. - Memperbaiki sistem sirkulasi parkir yang dapat menunjang kelancaran beraktivitas. - Menyediakan tempat pemberhentian bagi kendaraan umum yang memadai dan terjangkau oleh pengguna. Sirkulasi Pengguna Angkutan Umum Sirkulasi Angkutan Umum U Gambar Sirkulasi Angkutan Umum DEA KARINA PUTRI I

38 2. Tangga Tangga merupakan fasilitas bagi pergerakan vertikal yang dirancang dengan mempertimbangkan ukuran dan kemiringan pijakan dan tanjakan dengan lebar yang memadai. Persyaratan persyaratan : a. Dimensi pijakan dan tanjakan harus berukuran seragam. b. Kemiringan maksimum 30. c. Tidak terdapat tanjakan yang berlubang yang dapat membahayakan pengguna tangga. d. Tangga harus dilengkapi dengan pegangan rambat (handrail) sekurangkurangnya pada salah satu sisi tangga. e. Pegangan rambat harus mudah dipegang dengan ketinggian cm dari lantai, bebas dari elemen konstruksi yang mengganggu, dan bagian ujungnya harus bulat atau dibelokan dengan baik ke arah lantai, dinding atau tiang. f. Pegangan rambat harus ditambah panjangnya pada bagian ujungnyaujungnya (puncak dan bagian bawah) dengan panjang minimal 30 cm. g. Tangga yang ditempatkan di luar bangunan harus didesain sedemikian rupa sehingga tidak menyebabkan air tergenang pada lantai tangga. h. Disediakan bordes pada setiapa tangga per lantai. Gambar Ukuran Standar Tangga dan Handrail Sumber : Unit Station Maintenance, Preservation and Architecture PT. KAI (Persero), Buku Pedoman Standardisasi Stasiun Tahun 2011 DEA KARINA PUTRI I

39 3. Ramp Ramp adalah jalur sirkulasi yang memiliki bidang dangan kemiringan tertentu, sebagai alternatif bagi orang yang tidak dapat menggunakan tangga. Persyaratan - persyaratan : a. Kemiringan suatu ramp di dalam bangunan tidak boleh melebihi 7 0, perhitungan kemiringan tersebut tidak termasuk awalan atau akhiran ramp (curb ramps/landing). Sedangkan kemiringan suatu ramp yang ada di luar bangunan maksimum 6 0. b. Panjang mendatar dari satu ramp (dengan kemiringan 7 0 ) tidak boleh lebih dari 900 cm. panjang ramp dengan kemiringan yang lebih rendah dapat lebih panjang. c. Lebar minimum dari ramp adalah 95 cm tanpa tepi pengaman, dan 120 cm dengan tepi pengaman. Untuk ramp yang juga digunakan sekaligus untuk pejalan kaki dan pelayanan angkutan barang harus dipertimbangkan secara seksama lebarnya, sehingga bisa dipakai untuk kedua fungsi tersebut, atau dilakukan pemisahan ramp dengan fungsi sendiri sendiri. d. Bordes pada awalan atau akhiran dari suatu ramp harus bebas dan datar sehingga memungkinkan sekurang kurangnya untuk memutar kursi roda dengan ukuran minimum 160 cm. e. Permukaan datar awalan atau akhiran suatu ramp harus memiliki tekstur sehingga tidak licin diwaktu hujan. f. Lebar tepi pengaman ramp 10 cm, dirancang untuk menghalangi kursi roda agar tidak terperosok atau keluar dari jalur ramp. Apabila berbatasan langsung dengan lalu - lintas jalan umum atau persimpangan harus dibuat sedemikian rupa agar tidak mengganggu jalan umum. g. Ramp harus diterangi dengan pencahayaan yang cukup sehingga membantu penggunaan ramp untuk malam hari. Pencahayaan disediakan pada bagian bagian ramp yang memiliki ketinggian terhadap muka tanah sekitarnya dan bagian bagian yang membahayakan. h. Ramp harus dilengkapi dangan pegangan rambatan (handrail) yang dijamin kekuatannya dengan commit ketinggian to user yang sesuai. DEA KARINA PUTRI I

40 Gambar Ukuran Standar Ramp Sumber : Unit Station Maintenance, Preservation and Architecture PT. KAI (Persero), Buku Pedoman Standardisasi Stasiun Tahun Jalur Layang Jalur layang yaitu jembatan penyeberangan orang yang menghubungkan antara area parkir dengan bangunan utama stasiun yang dipisahkan oleh Jalan Veteran. Jembatan penyeberangan digunakan oleh pengguna area parkir dan pejalan kaki. 5. Jalur Underpass Gambar Jembatan Penyeberangan Jalur underpass diadakan bagi area-area yang berseberangan dan secara fungsional memiliki keterkaitan yang erat serta memiliki fungsi yang sama DEA KARINA PUTRI I

41 dengan jalur layang yaitu untuk menghindari adanya persilangan (crossing) antara jalur kereta api dengan pejalan kaki. Secara fisik jalur ini diupayakan menerus dan tidak terputus. REL KERETA API Jalur Underpass E. ANALISA LANDSCAPE Gambar Jalur Underpass Tujuan dari analisa landscape pada site adalah untuk menentukan jenis vegetasi, ruang terbuka maupun perkerasan pada pedestrian yang akan digunakan pada tata landscape site Stasiun Pemalang. 1. Vegetasi Dasar pertimbangan : a. Fungsi landscape dalam lingkup kawasan dan bangunan b. Pemilihan vegetasi yang sesuai c. Penataan landscape harus memperhatikan faktor keamanan dan sirkulasi kendaraan maupun sirkulasi manusianya Faktor keamanan pada tata landscape dicapai dengan menyesuaikan antara jenis tanaman dengan tata letak fungsinya sehingga tidak mengganggu kelancaran operasional kendaraan (angkutan) yang terdapat di sekitar site. Adanya vegetasi atau tata hijau pada site kaitannya dengan tata landscape, berfungsi sebagai view (pengontrol pemandangan), menambah nilai estetika, resapan air, pengarah sirkulasi dan juga berfungsi sebagai area transisi antara lingkungan luar dengan bagian dalam bangunan. Adapun jenis DEA KARINA PUTRI I

42 vegetasi yang akan dimanfaatkan untuk tata hijau landscape adalah sebagai berikut : a. Tanaman dasar, berupa rumput-rumputan untuk area dengan tanah terbuka. Gambar Tanaman Rumput sebagai Tanaman Dasar Sumber : Google Search, 2016 b. Tanaman pembatas atau pagar, merupakan jenis tanaman yang berfungsi sebagai pembatas (border) dan juga sebagai pagar (barriers) dengan tinggi tanaman disesuaikan dengan kebutuhan. Beberapa contoh tanaman pembatas/pagar yaitu antara lain aerva atau bayam-bayaman, teh-tehan dan heliconia. (a) (a) (b) (c) (b) Gambar Tanaman aerva (a), Tanaman teh-tehan (b), Tanaman heliconia (c) Sumber : Google Search, 2016 c. Tanaman pengarah, merupakan jenis tanaman yang jika ditanam dengan jarak dan pola tertentu dapat berfungsi sebagai pengarah terutama dalam mengarahkan sirkulasi dari luar sampai ke dalam site. Beberapa contoh jenis tanaman pengarah yaitu kayu manis dan palem. (a) (b) Gambar Pohon Kayu Manis (a) & Pohon Palem (b) Sumber : Google Search, 2016 DEA KARINA PUTRI I

43 d. Tanaman pelindung atau peneduh, merupakan jenis tanaman berbentuk pohon dengan percabangan yang memiliki ketinggian lebih dari 2 meter yang dapat keteduhan dan dapat menghalau sinar matahari dengan tujuan untuk memberikan kenyamanan bagi pejalan kaki. Beberapa contoh tanaman peneduh yaitu pohon mangga, pohon angsana, pohon mahoni, pohon tanjung dan Ketapang kencana. (a) (b) (c) (d) (e) Gambar Pohon Mangga (a), Pohon Angsana (b), Pohon Mahoni (c), Pohon Tanjung (d), Pohon Ketapang (e) Sumber : Google Search, Pedestrian a. Dasar pertimbangan : 1) Keamanan dan keselamatan dalam operasional bangunan 2) Stasiun sebagai media transisi antar moda transportasi b. Analisa Pedestrian yang direncanakan akan diadakan pada tapak, berfungsi untuk penghubung antara shelter kendaraan umum dan bangunan. Pedestrian ini akan digunakan oleh para pengguna kendaraan umum untuk menuju bangunan stasiun. DEA KARINA PUTRI I

44 Shelter Pedestrian Gambar Letak Pedestrian pada Tapak G. ANALISA BENTUK RUANG DAN BANGUNAN Analisa bentuk bangunan dilakukan dengan tujuan untuk menentukan bentuk bangunan baru yang akan dirancang yang sesuai dengan konsep bangunan lama Stasiun Pemalang sebagai bangunan konservasi. Pengolahan bentuk massa bangunan yang akan dirancang dapat diperoleh diantaranya dengan penentuan bentuk dasar dan skala ruang yang akan digunakan dalam perancangan. 1. Bentuk Dasar a. Dasar Pertimbangan 1) Stasiun Pemalang sebagai bangunan cagar budaya yang harus dikonservasi 2) Bentuk yang sesuai dengan masing-masing kegiatan dan fungsinya 3) Bentuk yang dapat menciptakan ruang sosialisasi antar sesama pengguna bangunan 4) Kemudahan sirkulasi antar ruang dan bangunan serta keefektifan ruang. 5) Kesesuaian dengan bentuk-bentuk yang sudah ada DEA KARINA PUTRI I

45 b. Analisa Dalam pertimbangannya untuk aspek konservasi yang akan diterapkan pada pengembangan Stasiun Pemalang, bentuk bangunan akan menerapkan aspek kontekstual selaras yang erat kaitannya dengan kegiatan konservasi. Konservasi Kontekstualisme Kontras Selaras Skema Kontekstualisme dalam Aspek Konservasi Kondisi eksisting Stasiun Pemalang memiliki bentuk ruang dan bangunan yang didominasi oleh bentuk persegi dan persegi panjang, sehingga untuk bangunan baru yang menjadi bagian dari pengembangan akan disesuaikan dengan bangunan lama. Berdasarkan karakteristik bentuk dasar tersebut di atas, maka pemilihan bentuk untuk ruang-ruang yang terdapat di stasiun, yaitu : Tabel 5. 7 Bentuk Ruang masing-masing Zona Kegiatan Zona Kegiatan Karakteristik Bentuk Ruang Pengelola Publik Menampilkan kesan ruang yang formal, kokoh dan kuat Menampilkan kesan ruang yang luas, terbuka, dinamis dan informal Pada bangunan baru = Persegi / Persegi Panjang Terdapat beberapa ruang yang masih memanfaatkan ruang sebelumnya dengan dominasi bentuk segi empat Pada bangunan baru = Persegi / Persegi Panjang Terdapat beberapa ruang yang masih memanfaatkan ruang sebelumnya dengan dominasi bentuk segi empat DEA KARINA PUTRI I

46 Penunjang Menampilkan kesan ruang yang berbeda-beda dan dinamis, disesuaikan dengan fungsi penunjang masing-masing Persegi / Persegi Panjang (semua kegiatan penunjang ditempatkan pada bangunan baru) Servis Menampilkan kesan ruang yang berbeda-beda dan dinamis, disesuaikan dengan fungsi ruang servis masing-masing Sumber : Analisis oleh Dea Karina Putri, 2016 Pada bangunan baru = Persegi / Persegi Panjang Terdapat beberapa ruang yang masih memanfaatkan ruang sebelumnya dengan dominasi bentuk segi empat Hasil pemilihan bentuk dasar untuk masing-masing zona kegiatan yang terdapat pada Stasiun Pemalang diperoleh dengan sebagian besar ruang tiap zona kegiatannya berbentuk persegi atau persegi panjang, karena bentuk yang dikehendaki disesuaikan dengan bentuk bangunan lama. Selain itu, bentuk yang dibutuhkan merupakan bentuk yang stabil, mudah diolah dalam penataan maupun formasinya, dinamis dan juga formal karena bangunan stasiun merupakan bangunan fasilitas publik. Di samping itu juga, bentuk persegi atau persegi panjang dapat mengoptimalkan penggunaan ruang sehingga tidak akan banyak ruang yang terbuang dan juga dapat mengoptimalkan luasan site. 2. Skala Ruang a. Karakteristik Dalam menentukan bentuk bangunan, skala ruang juga mempengaruhi dalam bagaimana akhirnya suatu bentuk bangunan akan dirancang. Skala ruang menunjukkan perbandingan antara suatu elemen dengan elemen dalam ruang yang sama dengan acuan yang menyesuaikan ukuran tubuh manusia, pengguna ruang tersebut. Skala ruang dibagi menjadi beberapa jenis menurut sifat ruang terebut, yaitu : 1) Ruang Publik Pada ruang publik, skala yang dimiliki adalah skala yang monumental karena pada ruang publik commit dibutuhkan to user kesan ruang yang luas dan DEA KARINA PUTRI I

47 terbuka. 2) Ruang Semi Publik Ruang semi publik memiliki skala yang monumental karena pada ruang semi ruang dibutuhkan kesan ruang yang luas. 3) Ruang Privat Pada ruang privat, skala yang dianjurkan adalah skala yang normal, karena ruang privat memiliki kesan ruang yang tertutup dan kuat. 4) Ruang Servis Pada ruang servis, skala yang dianjurkan adalah skala yang normal. b. Analisa Dalam pertimbangannya untuk aspek konservasi yang akan diterapkan pada pengembangan Stasiun Pemalang, bentuk bangunan akan menerapkan aspek kontekstual selaras yang erat kaitannya dengan kegiatan konservasi. Konservasi Kontekstualisme Kontras Selaras Skema Kontekstualisme dalam Aspek Konservasi Sumber : Analisis oleh Dea Karina Putri, 2016 Kondisi eksisting Stasiun Pemalang memiliki skala ruang dan bangunan yang didominasi oleh skala normal, sehingga untuk bangunan baru yang menjadi bagian dari pengembangan akan disesuaikan dengan bangunan lama. Berdasarkan karakteristik skala ruang di atas, maka pemilihan skala ruang untuk setiap zona kegiatan yang terdapat di Stasiun Pemalang yaitu sebagai berikut : Tabel 5. 8 Skala Ruang pada masing-masing Zona Kegiatan Zona Kegiatan Karakteristik Skala Ruang Pengelola Menampilkan kesan ruang yang formal, kokoh dan kuat Pada bangunan baru = Skala normal DEA KARINA PUTRI I

48 Terdapat beberapa ruang yang masih memanfaatkan ruang sebelumnya (Skala normal) Publik Penunjang Menampilkan kesan ruang yang luas, terbuka, dinamis dan informal Menampilkan kesan ruang yang berbeda-beda dan dinamis, disesuaikan dengan fungsi penunjang masing-masing Pada bangunan baru = Skala monumental Terdapat beberapa ruang yang masih memanfaatkan ruang sebelumnya (Skala normal namun masih terdapat kesan luasnya) Skala normal (semua kegiatan penunjang ditempatkan pada bangunan baru) Servis Menampilkan kesan ruang yang berbeda-beda dan dinamis, disesuaikan dengan fungsi ruang servis masing-masing Sumber : Analisis oleh Dea Karina Putri, 2016 Pada bangunan baru = Skala normal Terdapat beberapa ruang yang masih memanfaatkan ruang sebelumnya (Skala normal) H. ANALISA GUBAHAN DAN TATA MASSA BANGUNAN Analisa gubahan dan tata massa bangunan dilakukan dengan tujuan untuk menentukan bentuk dan penataan massa bangunan yang sesuai dengan pengembangan Stasiun Pemalang. 1. Dasar Pertimbangan Berikut ini merupakan dasar pertimbangan dari analisis gubahan massa, yaitu sebagai berikut. a. Stasiun Pemalang sebagai bangunan cagar budaya/konservasi b. Dimensi ruang yang dibutuhkan. c. Penzoningan kelompok kegiatan pada analisis site. d. Keefektifan sirkulasi. e. Kenyamanan dan keamanan commit dari to pengguna. user DEA KARINA PUTRI I

49 f. Kesesuaian dengan bentuk massa bangunan lama. 2. Analisa Bangunan eksisting Stasiun Pemalang memiliki bentuk berupa persegi panjang yang mengalami penambahan massa pada bagian depan yang digunakan sebagai kanopi. Untuk bangunan baru, gubahan massa yang digunakan disesuaikan dengan bangunan lama yaitu berbentuk segi empat dengan penambahan ataupun pengurangan sesuai kebutuhan. Gambar Bentuk dan Tata Massa Pengembangan Stasiun Pemalang Sumber : Analisis oleh Dea Karina Putri, 2016 I. ANALISA TAMPILAN BANGUNAN Analisa tampilan bangunan dilakukan dengan tujuan untuk menentukan bagaimana tampilan bangunan baru yang akan direncanakan dengan mempertimbangkan tampilan bangunan lama Stasiun Pemalang yang merupakan bangunan konservasi dan juga lingkungannya. 1. Fasade Bangunan a. Dasar Pertimbangan Dasar pertimbangan yang digunakan untuk menganalisa fasade bangunan yang akan diterapkan adalah keharmonisan dengan tampilan bangunan lama DEA KARINA PUTRI I

50 b. Analisa Fasad bangunan baru Stasiun Pemalang direncanakan dengan menggunakan konsep kontekstualisme yang erat kaitannya dengan kegiatan konservasi, karena berusaha mempertahankan bangunan lama khususnya yang bernilai historis dan membuat koneksi dengan bangunan baru atau menciptakan hubungan yang simpatik, sehingga menghasilkan sebuah kontinuitas visual. Arsitektur kontekstual dalam kaitannya dengan perancangan pengembangan suatu bangunan bersejarah dibagi menjadi dua kelompok, yaitu : 1) Kontras (Berbeda) Kontras dapat menciptakan lingkungan urban yang hidup dan menarik namun dalam pengaplikasiannya diperlukan kehati-hatian sehingga tidak menimbulkan kekacauan. Kontras bangunan modern dan kuno bisa menjadi sebuah harmoni, namun apabila terlalu banyak juga dapat mengakibatkan shock effect sehingga efektivitas yang dikehendaki akan menurun dan yang muncul adalah chaos. 16 2) Selaras Ada kalanya suatu lingkungan menuntut keserasian / keselarasan, hal tersebut dilakukan dalam rangka menjaga keselarasan dengan lingkungan yang sudah ada. Bangunan baru lebih menghargai dan memperhatikan konteks / lingkungan dimana bangunan itu berada. Sehingga kehadiran satu atau sekelompok bangunan baru lebih menunjang daripada menyaingi karakter bangunan yang sudah ada walaupun terlihat dominan (secara Kuantitatif). 16 Brent C. Brolin, Architecture in Context Fitting New Building With Old, Van Nostrand Reinhold Company, New York, 1980 DEA KARINA PUTRI I

51 Gambar Fasad Bangunan Eksisting Stasiun Pemalang Sumber : Dokumentasi oleh Dea Karina Putri, 2016 Hasil analisa berdasarkan alternatif penyelesaian untuk tampilan bangunan tambahan Stasiun Pemalang adalah dengan menggunakan konsep kontekstual selaras dimana bangunan baru yang akan dirancang memiliki kesesuaian dengan bangunan lama Stasiun Pemalang baik dari bentuk, aksen maupun warna bangunan. 2. Warna Bangunan a. Kriteria Secara umum, warna bangunan stasiun ditentukan oleh warna dasar dinding bangunan, sedangkan warna elemen bangunan lainnya seperti kusen, pintu dan lisplang disesuaikan sebagai kombinasi dan komposisi warna. 1) Warna Eksterior Bangunan Standar warna dinding eksterior bangunan stasiun dibedakan antara standar warna untuk bangunan stasiun heritage dan non heritage. Tabel 5. 9 Standar Warna Dinding Eksterior Bangunan Stasiun Jenis Warna Warna Dasar Bangunan Non Heritage Putih Krem mengindikasikan identitas stasiun. Bangunan Heritage Putih Kombinasi Warna Gradasi Warna Abu Tua Gradasi Warna Abu Tua Aksen Warna (bila diperlukan) Oranye Abu Tua Oranye Sumber : Unit Station Maintenance, Preservation and Architecture PT. KAI (Persero), Buku Pedoman Standardisasi Stasiun Tahun 2011 Khusus stasiun komuter yang bukan merupakan bangunan heritage, warna dinding bangunan disesuaikan dengan tema tertentu yang DEA KARINA PUTRI I

52 2) Warna Interior Bangunan Warna dasar yang digunakan untuk dinding interior bangunan adalah warna terang dengan spesifikasi yang disesuaikan dengan kebutuhan desain. Kombinasi warna untuk dinding dan elemen interior lainnya juga disesuaikan dengan kebutuhan desain. 3) Warna Bangunan Overkaping Bentuk bangunan overkaping disesuaikan dengan keperluan desain arsitekturnya. Atap overkaping menggunakan material dengan warna abu-abu. Tiang dan rangka overkaping menggunakan cat dengan kombinasi warna abu-abu tua. b. Analisa Bangunan Stasiun Pemalang yang sekarang merupakan bangunan cagar budaya (heritage) sehingga harus dilestarikan keberadaannya. Pada perencanaan dan perancangan pengembangan Stasiun Pemalang ini, terdapat beberapa penambahan bangunan yang tujuannya adalah agar bangunan lama tetap dipertahankan. Dengan konsep kontekstualisme selaras yang diterapkan pada fasad bangunan, warna bangunan juga akan disesuaikan dengan tampilan bangunan. Gambar Warna Bangunan Eksisting Stasiun Pemalang Sumber : Dokumentasi oleh Dea Karina Putri, 2016 Warna bangunan yang akan digunakan pada bangunan baru yaitu : 1) Warna Eksterior Pada bangunan lama Stasiun Pemalang, warna eksterior bangunan didominasi oleh warna putih dengan kombinasi abu-abu, sehingga untuk warna eksterior bangunan baru yang direncanakan akan digunakan warna dominan putih dengan kombinasi warna abu-abu dan aksen warna oranye. DEA KARINA PUTRI I

53 2) Warna Interior Untuk warna interior disesuaikan dengan kebutuhan desain. 3) Warna Bangunan Overkaping Pada bangunan overkaping digunakan warna abu-abu baik untuk atap, tiang ataupun rangkanya. J. ANALISA SISTEM STRUKTUR BANGUNAN 1. Upper Struktur Dasar pertimbangan pemilihan struktur atap adalah: a. Kebutuhan yang hendak dicapai pada peruangan dilihat dari bentangnya dan juga variasinya. b. Kesesuaiannya dengan estetika bangunan. Beberapa alternatif struktur atap: a. Struktur rangka baja Bentangan relative besar, kemungkinan variasi bentuk atap lebih luas. b. Struktur kabel Dapat menahan atap dengan bentangan besar. c. Struktur beton bertulang Bentangan besar dan kemungkinan variasi bentuk atap cukup luas. d. Struktur frame Bentangan relative besar, kemungkinan variasi bentuk atap lebih luas. e. Struktur rangka kayu Bentangan relative kecil dan variasi bentuk terbatas. Untuk bangunan stasiun, bagian peron cenderung memiliki bentang yang lebar. Untuk rangka atap peron memiliki dua alternatif yaitu: Struktur Rangka 1) Struktur rangka batang bidang. Rangka batang dengan batang vertikal tertekan dan batang diagonal tertarik. DEA KARINA PUTRI I

54 Gambar Struktur Rangka Batang Bidang Sumber : Bahan Ajar Rekayasa Struktur Bangunan Gedung 3, Arsitektur UNS 2) Struktur rangka batang melengkung. Merupakan kombinasi dari struktur rangka batang rata yang membentuk lengkungan. Gambar Struktur Rangka Batang Melengkung Sumber : Bahan Ajar Rekayasa Struktur Bangunan Gedung 3, Arsitektur UNS Dari hasil analisa di atas, struktur atap yang paling sesuai untuk bangunan stasiun, khususnya pada bagian peron yang memerlukan bentang sangat luas adalah dengan menggunakan struktur rangka batang bidang. Selain untuk menyesuaikan dengan bentuk bangunan yang persegi, juga untuk memberikan kesan kuat dan memiliki kesatuan. Sedangkan untuk bangunan stasiun, rangka atap menggunakan struktur baja ringan. 2. Super Structure Dasar pemilihan super structure adalah: a. Kekuatan struktur untuk menahan beban yang ditimbulkan oleh aktivitas pengguna. b. Keindahan bentuk yang dihasilkan oleh struktur kaitannya dengan ekspresi bangunan sport yang ingin ditampilkan. Sistem super structure yang digunakan pada Stasiun Kereta Api Pemalang ini akan menggunakan struktur rigid frame sehingga akan menampilkan bangunan yang kokoh dan bernilai commit estetika. to user DEA KARINA PUTRI I

55 3. Sub Structure Pemilihan struktur pondasi didasarkan pada: a. Beban yang harus didukung. b. Bentuk dan dimensi vertikal bangunan. c. Karakter bangunan. d. Daya dukung tanah pada site. Beberapa alternatif pondasi: a. Footplat Mampu mendukung bangunan berlantai banyak, cocok untuk jenis tanah yang tidak terlalu keras, tidak perlu dilakukan penggalian tanah yang terlalu dalam. b. Sumuran Mendukung bangunan berlantai banyak, dapat digunakan pada berbagai jenis tanah, dimensi fondasi besar dan banyak membuang tanah galian. c. Tiang Pancang Mendukung bangunan berlantai banyak dengan beban yang berat, cocok untuk tanah yang cukup keras, penggalian tanah untuk pondasi cukup dalam. Dari hasil analisa di atas, pondasi yang digunakan adalah pondasi sumuran dan footplat, karena bangunan stasiun yang akan dirancang hanya memiliki maksimal dua lantai yang cukup menggunakan pondasi sumuran dan footplat.. K. ANALISA SISTEM UTILITAS BANGUNAN Analisa sistem utilitas bangunan dilakukan dengan tujuan untuk menentukan jenis utilitas yang akan digunakan pada bangunan baru dalam pengembangan Stasiun Pemalang. Utilitas merupakan komponen bangunan yang harus dipertimbangkan dengan menyeluruh secara sistem dalam perancangan suatu bangunan. Utilitas menjadi penentu kenyamanan, keamanan dan keberhasilan suatu bangunan dalam mengakomodasi kegiatan commit pengguna. to user DEA KARINA PUTRI I

56 1. Sistem Air Bersih Sistem air bersih mencakup perolehan dan pendistribusian air bersih pada bangunan. Pemilihan sistem air bersih yang akan digunakan berkaitan dengan desain yang akan dibuat. a. Dasar Pertimbangan Dasar pertimbangan dari penentuan sistem air bersih adalah: 1) Ketersediaan sumber air bersih di lingkungan site. 2) Efisiensi sistem dan efektifitas plumbing. 3) Kebutuhan air bersih untuk menunjang fungsi bangunan. b. Analisa Alternatif sistem distribusi air bersih: 1) Up feed distribution Up feed distribution adalah distribusi air bersih dimana air didistribusikan ke dalam bangunan menggunakan bantuan tenaga pompa. Up feed distribution cenderung memerlukan energi listrik yang besar karena harus memompa air tiap kali akan mengalirkan air ke dalam bangunan. Kelebihan up feed distribution adalah air dapat tersalurkan dengan merata ke seluruh bangunan. Namun jika aliran listrik terputus, distribusi air tidak dapat dilakukan. 2) Down feed distribution Down feed distribution adalah distribusi air bersih dimana air didistribusikan ke dalam bangunan dengan menggunakan bantuan tenaga gravitasi. Sistem ini lebih hemat energi karena air dipompa menuju rooftank dengan menggunakan pompa dan didistribusikan tanpa pompa. Sistem ini bisa tetap bekerja walau aliran listrik terputus. Kelemahannya adalah bagian gedung lantai bawah cenderung mendapat debit air rendah karena air biasa tersedot lebih banyak pada bagian lantai atas. Lokasi site yang berada di tengah kota, memungkinkan bangunan stasiun menggunakan sistem distribusi air bersih yang bersumber dari PDAM, karena air sumur dinilai sudah semakin jarang dan kondisi airnya DEA KARINA PUTRI I

57 yang tidak stabil selalu akan bersih, sehingga untuk pasokan air dari sumur hanya akan digunakan untuk keperluan flush toilet. 2. Sistem Air Kotor Sistem air kotor perlu direncanakan dengan baik supaya air kotor tidak mengganggu bangunan dan daerah sekitar bangunan. Sistem air kotor harus aman dan ramah lingkungan terutama sistem plumbing, sehingga air kotor tidak mengalir secara tak terkendali dan mengganggu fungsi bangunan. a. Dasar Pertimbangan Dasar pertimbangan penentuan sistem air kotor: 1) Kelancaran saluran pembuangan sampai ke riol kota. 2) Keamanan air pada lingkungan. 3) Spesifikasi air kotor. b. Analisa Sistem air kotor dibedakan menjadi empat, yaitu: 1) Air Tinja Air tinja merupakan air buangan manusia. Air tinja harus diuraikan dalam septictank sebelum diresapkan ke dalam sumur resapan. Air tinja cenderung padat sehingga biasa menggunakan pipa dengan diameter cukup besar. 2) Air Hujan Air hujan merupakan air dari tetesan hujan yang jatuh pada bangunan maupun pada site. Air hujan yang jatuh pada atap bangunan harus dibuatkan saluran tersendiri yang langsung menuju selokan atau saluran air. Kandungan air hujan tidak berbahaya namun juka tidak diolah dapat membanjiri site, bahkan lingkungan. 3) Air Kotor Air kotor adalah air sisa mencuci piring, mencuci baju, mencuci peralatan, wudlu dll. Air kotor kadang tercampur dengan sabun atau makanan, sehingga harus di-treatment terlebih dahulu supaya tidak mencemari lingkungan. Pengolahan sederhananya adalah dengan bak penangkap lemak. DEA KARINA PUTRI I

58 4) Air Buangan Air buangan seperti air bekas pakai kamar mandi. Sama sepeti air kotor, air buangan juga kadang mengandung sabun dan lemah, karena itu air buangan juga harus melalui proses treatment sebelum dibuang ke riol kota atau pun diresapkan di bak peresapan. Sebelum dialirkan ke riol kota, air kotor harus ditreatment supaya tidak mencemari lingkungan. Untuk air tinja, air kotor, air buangan dan air hujan diolah sesuai skema berikut: Air Hujan Kotoran Cair (Tempat Wudhu) Water Treatment Water Treatment Dapur Kotoran Air (Lavatory) Penangkap Lemak Bak Kontr Riol Kota Kotoran Padat (Lavatory) Septic Tank Resapan 3. Sistem Listrik Skema Alur Pembuangan dan Pengelolaan Air Kotor Sumber : Analisis oleh Dea Karina Putri, 2016 Listrik merupakan penggerak suatu bangunan. Sistem listrik harus dirancang dengan baik supaya bangunan tetap dapat mengakomodasi kegiatan pengguna serta perawatan bangunan itu sendiri. a. Dasar Pertimbangan Dasar pertimbangan pemilihan: 1) Jumlah kebutuhan listrik. 2) Jaminan ketersediaan listrik. b. Analisa Beberapa sumber listrik: 1) PLN Sumber utama bangunan umumnya berasal dari PLN. Listrik yang berasal dari PLN cenderng commit stabil. to user Biaya pengadaan listrik bisa menjadi DEA KARINA PUTRI I

59 sangat mahal jika pemakaian listrik berlebihan dan sumber listrik hanya berasal dari PLN. 2) Genset Genset pada bangunan yang sudah memakai PLN sebagai sumber listrik utama biasanya menggunakan sistem Standy Emergency Power (SEB). Genset digunakan saat terjadi kerusakan pada sistem pendistribusian PLN. 3) Solar panel Solar panel bisa digunakan untuk kebutuhan listrik yang tidak terlalu besar seperti lampu taman. Solar panel cenderung tidak stabil dalam menyediakan listrik. Panel Sekunder Distribusi PLN Meteran Panel Utama Panel Sekunder Distribusi Genset Skema Distribusi Listrik PLN Sumber : Analisis oleh Dea Karina Putri, 2016 Instalasi distribusi listrik umumnya dibagi menjadi dua, yaitu: 1) Instalasi untuk penerangan Instalasi yang mendistribusikan energi listrik untuk seluruh jaringan peralatan penerangan baik di dalam maupun di luar bangunan. 2) Instalasi untuk power Instalasi yang mendistribusikan listrik untuk alat-alat elektronik lainnya seperti lift, AC, pompa dan sebagainya. Sumber energi pada kompleks Stasiun Pemalang menggunakan perpaduan yaitu genset dan PLN. Sistem jaringan listrik yang dipakai utamanya dipasok PLN, sedangkan listrik dari genset yang dilengkapi ATS (Automatic Transfer Switch). Instalasi dibagi menjadi dua yaitu instalasi listrik untuk penerangan dan commit instalasi to listrik user untuk power (pompa dll) DEA KARINA PUTRI I

60 Baterai Disimpan untuk digunakan pada malam hari atau saat cuaca dalam kondisi buruk. Panel Sekundar (penerangan) Distribusi Genset ATS Panel Distribusi Utama PLN Meteran Panel Sekundar (power) Distribusi 4. Sistem Penghawaan Skema Distribusi Listrik dari PLN dan Genset Sumber : Analisis oleh Dea Karina Putri, 2016 Sistem penghawaan merupakan sistem yang berfungsi untuk menciptakan kondisi udara (penghawaan) yang ideal pada bangunan/ruangan. Sistem penghawaan pada daerah beriklim tropis lebih cenderung pada sistem pengkondisian udara mencegah terjadinya panas berlebih. Panas berlebih akan mengganggu kenyamanan pengguna bangunan dalam melakukan kegiatan. Terlebih pada bangunan dengan fungsi olah raga, pelaku olah raga cenderung memilik panas tubuh yang lebih tinggi daripada pelaku kegiatan lain, sehingga sistem penghawaan harus dianalisis sebelum dirancang. a. Dasar Pertimbangan Dasar pertimbangan dalam menentukan sistem penghawaan: 1) Pemanfaatan penghawaan alami. 2) Penggunaan sistem penghawaan buatan. 3) Efisiensi penggunaan penghawaan buatan sesuai volume ruang. 4) Ruang yang membutuhkan penghawaan buatan. Penghawaan Penghawaan alami Penghawaan buatan Cross Ventilation Fan AC Skema Jenis Sumber Penghawaan Ruangan Sumber : Analisis oleh Dea Karina Putri, 2016 DEA KARINA PUTRI I

61 b. Analisa Ada banyak tipe mesin AC, menurut buku Fisika Bangunan karya Prasasto Satwiko, AC dapat dibagi menjadi beberapa tipe umum sebagai berikut: 1) Tipe paket tunggal Dikenal dengan tipe jendela. Seluruh bagian AC berada dalam satu wadah. Dipasang dengan meletakkan mesin langsung menembus dinding (dinding dilubangi sebesar AC). Sedikit bising. 2) Tipe paket terpisah Dikenal dengan tipe split. AC ini memiliki dua unit terpisah, unit indoor dan unit outdoor. Unit dalam dan luar dihubungkan dengan pipa, sehingga pelubangan pada dinding cukup kecil saja. Tidak terlalu berisik karena kipas, kompresor dan kondensor berada di unit outdoor, bukan unit indoor. AC split dibagi lagi menjadi 3 macam: a) Tipe langit-langit / dinding (ceiling / wall type), indoor unit dipasang di idnding bagian atas. b) Tipe lantai (floor type), indoor unit diletakkan di lantai. Tipe ini ada yang berbentuk seperti almari, ada yang berbentuk seperti tipe langit-langit namun diletakkan di lantai. c) Tipe kaset (cassette type), indoor unit dipasang di langit-langit menghadap ke bawah. 3) AC terpusat (control AC) AC tipe besar yang dikendalikan secara terppusat untuk melayani satu gedung besar. Sistem ini melibatkan sistem jaringan distribusi udara (ducting) untuk mencatu udara sejuk ke dalam ruang dan mengambil kembali untuk diolah. Lubang tempat udara dari sistem AC masuk ke dalam ruangan disebut diffuser, sedangkan lubang tempat udara kembali dari dalam ruangan ke jaringan disebut gril. DEA KARINA PUTRI I

62 Gambar AC split dinding (kanan) dan AC split di lantai (kiri) Sumber : Google Search, 2016 Dari hasil analisa, ditentukan penghawaan melibatkan penghawaan alami dan buatan. Penghawaan buatan menggunakan AC terpusat dan AC split. Tabel Penghawaan yang digunakan Zona Penghawaan yang digunakan Kegiatan Pokok - Penghawaan alami dari bukaan-bukaan. - Penghawaan buatan menggunakan AC split. Kegiatan Penunjang - Penghawaan alami dari bukaan-bukaan. - Penghawaan buatan dengan AC split. Kegiatan Pelayanan - Penghawaan alami dari bukana-bukaan. Khusus - Penghawaan buatan menggunakan AC terpusat. Sumber : Analisis oleh Dea Karina Putri, Sistem Keamanan Sistem keamanan berfungsi mengamankan bangunan beserta isi bangunan, serta mengamankan pengguna saat sedang berkegiatan di dalam bangunan. Sistem keamanan menjamin keamanan pengguna dan keselamatan kerja pengguna dalam bangunan. a. Dasar Pertimbangan Dasar pertimbangan adalah: 1) Efektivitas dan efisiensi alat. 2) Biaya pengadaan dan perawatan. 3) Karakter dan kebutuhan ruang. b. Analisa Sistem deteksi keamanan atau CCTV (Closed Circuit Television) adalah sistem keamanan yang memonitor serta mendeteksi adanya bahaya atau untuk menghindari commit hal-hal to yang user tidak diinginkan sehingga dapat DEA KARINA PUTRI I

63 dengan cepat mengantisipasi. Sistem CCTV berfungsi untuk membantu pengawasan dengan mengamati kegiatan operasional dalam bangunan kampus melalui video pada tempat yang perlu di deteksi kemungkinan bahaya gangguan keamanannya. Jenis kamera CCTV 1) Berdasarkan jenis output: a) Camera CCTV Analog, kamera yang mengirimkan continuous streaming video melalui Kabel Coaxial b) Camera CCTV Digital, kamera yang mengirimkan discrete streaming video melalui Kabel UTP. 2) Berdasarkan lokasi penempatan: a) Indoor Camera, kamera yang ditempatkan di dalam bangunan, umumnya berupa Dome (Ceiling) Camera, Standard Box Camera. b) Outdoor Camera, kamera yang ditempatkan di luar bangunan dan memiliki casing yang dapat melindungi kamera terhadap hujan, debu, maupun temperatur yang extreme. Umumnya berupa Bullets camera yang telah dilengkapi dengan Infra Red Led (Infra Red Kamera). 3) Berdasarkan mekanisme kontrol a) Motorized Camera CCTV, kamera yang dilengkapi dengan motor untuk menggerakan sudut pandang ataupun focus secara remote. Motorized kamera meliputi beberapa jenis kamera seperti: zoom camera dan speed dome camera b) Fixed Camera CCTV, kamera yang sudut pandang dan fokusnya harus disetting secara manual pada saat instalasi. Melalui pendekatan dan analisa yang telah dilakukan, maka sistem deteksi keamanan yang digunakan pada bangunan kampus merupakan gabungan dari kamera CCTV digital, indoor dan outdoor camera, serta motorized camera CCTV. DEA KARINA PUTRI I

64 6. Sistem Pemadam Kebakaran Sistem keamanan kebakaran adalah sistem pencegahan kebakaran dan sistem penyelamatan pengguna jika terjadi bencana kebakaran. Sistem keamanan kebakaran adalah sistem penting guna menjamin keselamatan pengguna. a. Dasar Pertimbangan Dasar pertimbangan pemilihan sistem keamanan kebakaran adalah: 1) Efektivitas dan efisiensi kerja sistem / alat. 2) Kecepatan dan ketepatan kerja sistem / alat. 3) Luasan ruang atau bangunan serta fungsi ruang. 4) Ketersediaan sumber daya yang dibutuhkan. b. Analisa Alat pencegahan dan penanggulangan bahaya kebakaran debagi menjadi dua jenis, aktif dan pasif dengan komponen sebagai berikut: 1) Pencegahan dan penanggulangan bahaya kebakaran pasif, meliputi: a) Konstruksi tahan api b) Pintu keluar c) Koridor dan jalan keluar d) Kompartemen e) Jalur evakuasi darurat (tangga darurat) f) Pengendalian asap. 2) Pencegahan dan penanggulangan bahaya kebakaran aktif, meliputi: a) Alat penginderaan/peringatan dini (detektor) b) Hidran dan selang kebakaran c) Springkler d) Pasokan air Sistem yang dapat digunakan antara lain : 1) Sistem fire alarm. Berfungsi untuk mengetahui dan memperingatkan terjadinya bahaya kebakaran. Menggunakan dua sistem yaitu sistem otomatis menggunakan smoke and heat detector dan push button system. Di DEA KARINA PUTRI I

65 setiap detector dan button dilengkapi sensor untuk mengetahui bahaya akan terjadinya kebakaran. Di setiap lantai jaringan detector, button dan sensor ini dipusatkan pada sebuah junction box yang kemudian diteruskan ke kontrol panel. Kontrol panel ini akan memberikan isyarat dalam bentuk indikasi yang dapat dilihat (lampu) dan didengar (alarm) serta mengaktifkan sprinkler. 2) Sistem sprinkler gas. Digunakan pada seluruh ruangan pada kelompok ruang operasional dan ruang-ruang publik 3) Sistem sprinkler air. Berfungsi untuk mencegah terjadinya kebakaran pada radius tertentu untuk melokalisir kebakaran. Sprinkler yang berfungsi dipicu dari heat and smoke detector yang memberikan pesan ke junction box. Setiap sprinkler juga dilengkapi dengan sensor untuk mengetahui lokasi kebakaran. Sprinkler ini dipasang pada ruang-ruang selain ruang gudang, seperti pada zone makan dan hall. 4) Fire extinguisher Berupa tabung karbondioksida portable untuk memadamkan api secara manual oleh manusia. Ditempatkan di tempat-tempat strategis yang mudah dijangkau dan dikenali serta ditempat yang memiliki resiko kebakaran yang tinggi seperti ruang chiller dan ruang pompa. 5) Hose rack dan indoor hydrant. Berupa gulungan selang dan hydrant sebagai sumber airnya untuk memadamkan api yang cukup besar. Diletakkan di tempat-tempat strategis yang mudah dijangkau dan dikenali. Sumber air hydrant diambil dari ground tank untuk kebutuhan air sehari-hari. 6) Outdoor hydrant. Dihubungkan dengan pipa PDAM untuk mendapatkan kepastian sumber air serta tekanan air yang memadai. DEA KARINA PUTRI I

66 Dari analisa diatas, sistem keamanan kebakaran bangunan adalah sebagai berikut: Sistem Pengaman Kebakaran Pasif Aktif Jalur evakuasi Alarm Detektor Skema Jaringan Pemadam Kebakaran Sumber : Analisis oleh Dea Karina Putri, 2016 Tangga Darurat Portable Jaringan Springkle Hydrant 7. Sistem Telekomunikasi a. Tujuan : Mengetahui sistem telekomunikasi yang sesuai dengan kebutuhan ORB b. Dasar pertimbangan : 1) Keamanan dan kenyamnan dalam penggunaan. 2) Mendukung kinerja dalam ORB. c. Analisa Sistem komunikasi pada tapak menggunakan sistem komunikasi intern yang direncanakan : 1) Telepon Sistem PABX untuk komunikasi di dalam site. Sistem PABX untuk komunikasi keluar & masuk site. 2) Faxsimile, sebagai alat penerima dan pengirim dokumen Audio system, sistem pendistribusian suara ke seluruh bangunan, untuk memberikan informasi atau pengumuman. Audio sistem terdiri dari: microphon dan speaker (pengeras suara). 3) HT (Handy Talky) merupakan alat komunikasi dengan menggunakan sinyal frekuensi tertentu sebagai pemancar untuk menghubungkan HT satu dengan HT lainnya. Digunakan untuk keperluan staff dan pengelola yang berada di ruang staff dan pelayanan. d. Hasil: DEA KARINA PUTRI I

67 1) Mudah dalam pengadaan dan penggunaanya serta aman 2) Keefektifan kegunaan Skema Sistem Telekomunikasi Sumber : Analisis oleh Dea Karina Putri, 2016 DEA KARINA PUTRI I

PENGEMBANGAN STASIUN KERETA API PEMALANG DI KABUPATEN PEMALANG

PENGEMBANGAN STASIUN KERETA API PEMALANG DI KABUPATEN PEMALANG KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN PENGEMBANGAN STASIUN KERETA API PEMALANG DI KABUPATEN PEMALANG TUGAS AKHIR Diajukan sebagai Syarat untuk Mencapai Gelar Sarjana Teknik Arsitektur Universitas Sebelas

Lebih terperinci

BAB IV PENGEMBANGAN STASIUN KERETA API PEMALANG DI KABUPATEN PEMALANG

BAB IV PENGEMBANGAN STASIUN KERETA API PEMALANG DI KABUPATEN PEMALANG BAB IV PENGEMBANGAN STASIUN KERETA API PEMALANG DI KABUPATEN PEMALANG A. PEMAHAMAN PENGEMBANGAN STASIUN KERETA API PEMALANG DI KABUPATEN PEMALANG Pengembangan Stasiun Pemalang merupakan suatu proses atau

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN OBJEK

BAB II TINJAUAN OBJEK 18 BAB II TINJAUAN OBJEK 2.1. Tinjauan Umum Stasiun Kereta Api Menurut Peraturan Menteri Perhubungan Nomor 9 dan 43 Tahun 2011, perkeretaapian terdiri dari sarana dan prasarana, sumber daya manusia, norma,

Lebih terperinci

BAB 5 KONSEP PERANCANGAN 5.1 Konsep Dasar Perancangan Dalam perancangan desain Transportasi Antarmoda ini saya menggunakan konsep dimana bangunan ini memfokuskan pada kemudahan bagi penderita cacat. Bangunan

Lebih terperinci

BAB III LANDASAN TEORI. diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor 74 Tahun 2014 Tentang Angkutan

BAB III LANDASAN TEORI. diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor 74 Tahun 2014 Tentang Angkutan BAB III LANDASAN TEORI 3.1. Sistem Angkutan Umum Sarana angkutan umum mengenai lalu lintas dan angkutan jalan di Indonesia diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor 74 Tahun 2014 Tentang Angkutan Jalan.

Lebih terperinci

BAB III TINJAUAN DATA

BAB III TINJAUAN DATA BAB III TINJAUAN DATA Dalam bab ini berisi tentang pemaparan lokasi yaitu Kabupaten Pemalang dan pemaparan mengenai kondisi eksisting Stasiun Pemalang serta evaluasi terhadap Stasiun Pemalang sebagai objek

Lebih terperinci

BAB V PROGRAM PERENCANAAN DAN PERANCANGAN ARSITEKTUR

BAB V PROGRAM PERENCANAAN DAN PERANCANGAN ARSITEKTUR BAB V PROGRAM PERENCANAAN DAN PERANCANGAN ARSITEKTUR 5.1 Program Dasar Perencanaan 5.1.1 Pelaku Kegiatan Pengguna bangunan terminal adalah mereka yang secara langsung melakukan ativitas di dalam terminal

Lebih terperinci

BAB VI HASIL RANCANGAN. terdapat pada Bab IV dan Bab V yaitu, manusia sebagai pelaku, Stadion Raya

BAB VI HASIL RANCANGAN. terdapat pada Bab IV dan Bab V yaitu, manusia sebagai pelaku, Stadion Raya 165 BAB VI HASIL RANCANGAN 6.1. Dasar Rancangan Hasil perancangan diambil dari dasar penggambaran konsep dan analisa yang terdapat pada Bab IV dan Bab V yaitu, manusia sebagai pelaku, Stadion Raya sebagai

Lebih terperinci

Terminal Antarmoda Monorel Busway di Jakarta PROGRAM PERENCANAAN DAN PERANCANGAN TERMINAL ANTARMODA

Terminal Antarmoda Monorel Busway di Jakarta PROGRAM PERENCANAAN DAN PERANCANGAN TERMINAL ANTARMODA BAB V PROGRAM PERENCANAAN DAN PERANCANGAN TERMINAL ANTARMODA 5.1 Program Dasar Perencanaan 5.1.1 Program a. Kelompok Kegiatan Utama Terminal Antarmoda Tabel 5.1 Program Kegiatan Utama Fasilitas Utama Terminal

Lebih terperinci

Pengembangan Stasiun Kereta Api Pemalang di Kabupaten Pemalang BAB I PENDAHULUAN. commit to user

Pengembangan Stasiun Kereta Api Pemalang di Kabupaten Pemalang BAB I PENDAHULUAN. commit to user BAB I PENDAHULUAN Dalam bab pendahuluan ini, akan dibahas mengenai, pengertian dan esensi judul, latar belakang munculnya gagasan atau ide dan judul, tujuan dan sasaran perencanaan dan perancangan, permasalahan

Lebih terperinci

BAB IV KONSEP PERANCANGAN

BAB IV KONSEP PERANCANGAN BAB IV KONSEP PERANCANGAN 4. 1 Ide awal (conceptual idea) Ide awal dari perancangan stasiun ini muncul dari prinsip-prinsip perancangan yang pada umumnya diterapkan pada desain bangunan-bangunan transportasi.

Lebih terperinci

BAB V PROGRAM PERENCANAAN DAN PERANCANGAN

BAB V PROGRAM PERENCANAAN DAN PERANCANGAN BAB V PROGRAM PERENCANAAN DAN PERANCANGAN 5.1. Program Dasar Perencanaan 5.1.1. Program Ruang KELOMPOK RUANG UTAMA No. Jenis Ruang Standart Jumlah Luas Kapasitas Besaran Unit (m 2 ) Sumber 1 hall 0.75

Lebih terperinci

BAB V KONSEP DAN RANCANGAN RUANG PUBLIK (RUANG TERBUKA)

BAB V KONSEP DAN RANCANGAN RUANG PUBLIK (RUANG TERBUKA) BAB V KONSEP DAN RANCANGAN RUANG PUBLIK (RUANG TERBUKA) 5.1 Sirkulasi Kendaraan Pribadi Pembuatan akses baru menuju jalan yang selama ini belum berfungsi secara optimal, bertujuan untuk mengurangi kepadatan

Lebih terperinci

BAB 5 KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN. dengan lingkungannya yang baru.

BAB 5 KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN. dengan lingkungannya yang baru. BAB 5 KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN 5.1 Dasar Perencanaan dan Perancangan Beberapa hal yang menjadi dasar perencanaan dan perancangan Asrama Mahasiwa Bina Nusantara: a. Mahasiswa yang berasal dari

Lebih terperinci

BAB III ANALISIS. Gambar 15. Peta lokasi stasiun Gedebage. Sumber : BAPPEDA

BAB III ANALISIS. Gambar 15. Peta lokasi stasiun Gedebage. Sumber : BAPPEDA BAB III ANALISIS 3.1 Analisis tapak Stasiun Gedebage terletak di Bandung Timur, di daerah pengembangan pusat primer baru Gedebage. Lahan ini terletak diantara terminal bis antar kota (terminal terpadu),

Lebih terperinci

BAB V KONSEP. Gambar 5.1: Kesimpulan Analisa Pencapaian Pejalan Kaki

BAB V KONSEP. Gambar 5.1: Kesimpulan Analisa Pencapaian Pejalan Kaki BAB V KONSEP 5.1 Konsep Perancangan Tapak 5.1.1 Pencapaian Pejalan Kaki Gambar 5.1: Kesimpulan Analisa Pencapaian Pejalan Kaki Sisi timur dan selatan tapak terdapat jalan utama dan sekunder, untuk memudahkan

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI. 2.2 Kategori Stasiun Utomo (2013), stasiun dapat dikategorikan menurut fungsi, ukuran, bentuk dan letaknya.

BAB II LANDASAN TEORI. 2.2 Kategori Stasiun Utomo (2013), stasiun dapat dikategorikan menurut fungsi, ukuran, bentuk dan letaknya. BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Stasiun Kereta Api Berdasarkan Peraturan Menteri Perhubungan Republik Indonesia Nomor 48 Tahun 2015 Pasal 1 Ayat 6, Stasiun Kereta Api adalah tempat pemberangkatan dan pemberhentian

Lebih terperinci

BAB III ANALISA. Gambar 20 Fungsi bangunan sekitar lahan

BAB III ANALISA. Gambar 20 Fungsi bangunan sekitar lahan BAB III ANALISA 3.1 Analisa Tapak 3.1.1 Batas Tapak Gambar 20 Fungsi bangunan sekitar lahan Batas-batas tapak antara lain sebelah barat merupakan JL.Jend.Sudirman dengan kondisi berupa perbedaan level

Lebih terperinci

BAB V SIMPULAN DAN SARAN

BAB V SIMPULAN DAN SARAN BAB V SIMPULAN DAN SARAN 5.1 Simpulan Berdasarkan hasil dari uraian bab-bab sebelumnya dapat disimpulkan bahwa Pasar Gembrong Cipinang Besar perlu diremajakan. Hal ini dikarenakan kualitas fisik dan aktivitas

Lebih terperinci

BAB V KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN V. KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN. pertimbangan-pertimbangan sebagai berikut:

BAB V KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN V. KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN. pertimbangan-pertimbangan sebagai berikut: BAB V KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN V. KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN V.1. Building form Bentuk dasar yang akan digunakan dalam Kostel ini adalah bentuk persegi yang akan dikembangkan lebih lanjut.

Lebih terperinci

BAB 6 HASIL RANCANGAN. Perubahan Konsep Tapak pada Hasil Rancangan. bab sebelumnya didasarkan pada sebuah tema arsitektur organik yang menerapkan

BAB 6 HASIL RANCANGAN. Perubahan Konsep Tapak pada Hasil Rancangan. bab sebelumnya didasarkan pada sebuah tema arsitektur organik yang menerapkan BAB 6 HASIL RANCANGAN 6.1 Perubahan Konsep Tapak pada Hasil Rancangan 6.1.1 Bentuk Tata Massa Konsep perancangan pada redesain kawasan wisata Gua Lowo pada uraian bab sebelumnya didasarkan pada sebuah

Lebih terperinci

BAB V KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN

BAB V KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN BAB V KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN V.1 Dasar Perencanaan dan Perancangan Yang menjadi dasar dari perencanaan dan perancangan Mesjid di Kebon Jeruk adalah : Jumlah kapasitas seluruh mesjid pada wilayah

Lebih terperinci

S K R I P S I & T U G A S A K H I R 6 6

S K R I P S I & T U G A S A K H I R 6 6 BAB IV ANALISA PERANCANGAN 4. Analisa Tapak Luas Tapak : ± 7.840 m² KDB : 60 % ( 60 % x 7.840 m² = 4.704 m² ) KLB :.5 (.5 x 7.840 m² =.760 m² ) GSB : 5 meter Peruntukan : Fasilitas Transportasi 4.. Analisa

Lebih terperinci

6.1 Program Dasar Perencanaan

6.1 Program Dasar Perencanaan BAB VI PROGRAM PERENCANAAN DAN PERANCANGAN REDESAIN TERMINAL TIDAR DI KOTA MAGELANG 6.1 Program Dasar Perencanaan 6.1.1 Kelompok Ruang Luar ruangan (m 2 ) A. Kelompok Ruang Luar 1 - Area Penurunan Penumpang

Lebih terperinci

Pelabuhan Teluk Bayur

Pelabuhan Teluk Bayur dfe Jb MWmw BAB IV KONSEP DASAR PERENCANAAN DAN PERANCANGAN 4.1. Konsep Dasar Aksesibilitas A. Pencapaian pengelola 1. Pencapaian langsung dan bersifat linier dari jalan primer ke bangunan. 2. Pencapaian

Lebih terperinci

BAB V KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN

BAB V KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN BAB V KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN A. KONSEP PERUANGAN 1. Konsep Kebutuhan Ruang Berdasarkan analisa pola kegiatan dari pelaku pusat tari modern, mak konsep kebutuhanruang pada area tersebut adalah

Lebih terperinci

BAB V KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN

BAB V KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN BAB V KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN V.1 Konsep Perencanaan dan Perancangan Topik dan Tema Proyek wisma atlet ini menggunakan pendekatan behavior/perilaku sebagai dasar perencanaan dan perancangan.

Lebih terperinci

BAB VI HASIL PERANCANGAN. terdapat pada konsep perancangan Bab V yaitu, sesuai dengan tema Behaviour

BAB VI HASIL PERANCANGAN. terdapat pada konsep perancangan Bab V yaitu, sesuai dengan tema Behaviour BAB VI HASIL PERANCANGAN 6.1 Dasar Perancangan Hasil perancangan Sekolah Dasar Islam Khusus Anak Cacat Fisik di Malang memiliki dasar konsep dari beberapa penggambaran atau abstraksi yang terdapat pada

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA Dalam bab ini akan dipaparkan mengenai tinjauan-tinjauan teori yang berkaitan dengan judul perencanaan dan perancangan yang dipilih, yaitu tinjauan tentang perkeretaapian secara

Lebih terperinci

BAB VI KONSEP PERENCANAAN

BAB VI KONSEP PERENCANAAN BAB VI KONSEP PERENCANAAN VI.1 KONSEP BANGUNAN VI.1.1 Konsep Massa Bangunan Pada konsep terminal dan stasiun kereta api senen ditetapkan memakai masa gubahan tunggal memanjang atau linier. Hal ini dengan

Lebih terperinci

BAB IV PENGAMATAN PERILAKU

BAB IV PENGAMATAN PERILAKU BAB IV PENGAMATAN PERILAKU 3.1 Studi Banding Pola Perilaku Pengguna Ruang Publik Berupa Ruang Terbuka Pengamatan terhadap pola perilaku di ruang publik berupa ruang terbuka yang dianggap berhasil dan mewakili

Lebih terperinci

Fasilitas Komersial (Area Makan Lantai 1) (2)

Fasilitas Komersial (Area Makan Lantai 1) (2) Fasilitas Komersial (Area Makan Lantai 1) (2) Gambar simulasi rancangan 5.30 : Area makan lantai satu bangunan komersial di boulevard stasiun kereta api Bandung bagian Selatan 5.6.3 Jalur Pedestrian Jalur

Lebih terperinci

BAB VI PROGRAM PERENCANAAN DAN PERANCANGAN REDESAIN TERMINAL TERBOYO

BAB VI PROGRAM PERENCANAAN DAN PERANCANGAN REDESAIN TERMINAL TERBOYO BAB VI PROGRAM PERENCANAAN DAN PERANCANGAN REDESAIN TERMINAL TERBOYO 6.1 Program Dasar Perencanaan 6.1.1 Program Tabel 6.1 Program Redesain Terminal Terboyo KELOMPOK RUANG LUASAN Zona Parkir Bus AKDP-AKAP

Lebih terperinci

BAB V KONSEP PERANCANGAN. Perencanaan dasar pengunaan lahan pada tapak memiliki aturanaturan dan kriteria sebagai berikut :

BAB V KONSEP PERANCANGAN. Perencanaan dasar pengunaan lahan pada tapak memiliki aturanaturan dan kriteria sebagai berikut : BAB V KONSEP PERANCANGAN 5.1 Konsep Dasar Bangunan Untuk mendukung tema maka konsep dasar perancangan yang digunakan pada Pasar Modern adalah mengutamakan konsep ruang dan sirkulasi dalam bangunannya,

Lebih terperinci

BAB VI KONSEP RANCANGAN

BAB VI KONSEP RANCANGAN BAB VI KONSEP RANCANGAN Lingkup perancangan: Batasan yang diambil pada kasus ini berupa perancangan arsitektur komplek Pusat Rehabilitasi Penyandang Cacat Tubuh meliputi fasilitas terapi, rawat inap, fasilitas

Lebih terperinci

BAB IV: KONSEP Konsep Bangunan Terhadap Tema.

BAB IV: KONSEP Konsep Bangunan Terhadap Tema. BAB IV: KONSEP 4.1. Konsep Bangunan Terhadap Tema Kawasan Manggarai, menurut rencana pemprov DKI Jakarta akan dijadikan sebagai kawasan perekonomian terpadu dengan berbagai kelengkapan fasilitas. Fasilitas

Lebih terperinci

BAB 5 KONSEP PERANCANGAN. merupakan salah satu pendekatan dalam perancangan arsitektur yang

BAB 5 KONSEP PERANCANGAN. merupakan salah satu pendekatan dalam perancangan arsitektur yang BAB 5 KONSEP PERANCANGAN Konsep perancangan pada redesain kawasan wisata Gua Lowo di Kabupaten Trenggalek menggunakan tema Organik yang merupakan salah satu pendekatan dalam perancangan arsitektur yang

Lebih terperinci

BAB IV KONSEP. 4.1 Ide Awal

BAB IV KONSEP. 4.1 Ide Awal BAB IV KONSEP 4.1 Ide Awal Kawasan Manggarai, menurut rencana pemprov DKI Jakarta akan dijadikan sebagai kawasan perekonomian yang baru dengan kelengkapan berbagai fasilitas. Fasilitas utama pada kawasan

Lebih terperinci

BAB IV KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN

BAB IV KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN BAB IV KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN Rumusan konsep ini merupakan dasar yang digunakan sebagai acuan pada desain studio akhir. Konsep ini disusun dari hasil analisis penulis dari tinjauan pustaka

Lebih terperinci

BAB V PROGRAM PERENCANAAN DAN PERANCANGAN ARSITEKTUR

BAB V PROGRAM PERENCANAAN DAN PERANCANGAN ARSITEKTUR BAB V PROGRAM PERENCANAAN DAN PERANCANGAN ARSITEKTUR 5.1. Program Perencanaan dan Perancangan Arsitektur 5.1.1. Pelaku dan Kebutuhan Ruang Dengan mengacu pada identifikasi pelaku, kegiatan, dan alur kegiatannya,

Lebih terperinci

BAB VI HASIL PERANCANGAN

BAB VI HASIL PERANCANGAN BAB VI HASIL PERANCANGAN 6.1 Konsep Dasar Perancangan Konsep dasar perancangan Pusat Studi dan Budidaya Tanaman Hidroponik ini adalah Arsitektur Ekologis. Adapun beberapa nilai-nilai Arsitektur Ekologis

Lebih terperinci

BAB 5 KONSEP PERANCANGAN

BAB 5 KONSEP PERANCANGAN BAB 5 KONSEP PERANCANGAN PENGEMBANGAN STASIUN KERETA API PASAR SENEN 5.1. Ide Awal Ide awal dari stasiun ini adalah Intermoda-Commercial Bridge. Konsep tersebut digunakan berdasarkan pertimbangan bahwa

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA Peranan Lalu Lintas dan Angkutan Jalan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA Peranan Lalu Lintas dan Angkutan Jalan BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Peranan Lalu Lintas dan Angkutan Jalan Menurut Munawar, A. (2004), angkutan dapat didefinikan sebagai pemindahan orang dan atau barang dari suatu tempat ke tempat lain dengan

Lebih terperinci

BAB VI PROGRAM DASAR PERENCANAAN DAN PERANCANGAN

BAB VI PROGRAM DASAR PERENCANAAN DAN PERANCANGAN BAB VI PROGRAM DASAR PERENCANAAN DAN PERANCANGAN 6.1 Program Perencanaan Di lihat dari kenyataan yang sudah ada beberapa permasalahan yang ada pada terminal bus Terminal Kabupaten Tegal Slawi sekarang

Lebih terperinci

BAB VI HASIL RANCANGAN. Hasil rancangan adalah output dari semua proses dalam bab sebelumnya

BAB VI HASIL RANCANGAN. Hasil rancangan adalah output dari semua proses dalam bab sebelumnya BAB VI HASIL RANCANGAN 6.1 Hasil Rancangan Hasil rancangan adalah output dari semua proses dalam bab sebelumnya yang telah dijelaskan, sebuah hasil yang menjawab permasalahan dalam suatu perancangan melalui

Lebih terperinci

BAGIAN HASIL RANCANGAN Narasi dan Ilustrasi Skematik

BAGIAN HASIL RANCANGAN Narasi dan Ilustrasi Skematik a. Rancangan Skematik Kawasan Tapak Konsep awal kawasan tapak adalah memfokuskan kegiatan yang berhubungan dengan penelitian pada satu area, yaitu area yang paling dekat dengan bukit karst (area warna

Lebih terperinci

BAB V KONSEP. V. 1. Konsep Dasar. Dalam merancang Gelanggang Olahraga di Kemanggisan ini bertitik

BAB V KONSEP. V. 1. Konsep Dasar. Dalam merancang Gelanggang Olahraga di Kemanggisan ini bertitik BAB V KONSEP V. 1. Konsep Dasar Dalam merancang Gelanggang Olahraga di Kemanggisan ini bertitik tolak pada konsep perancangan yang berkaitan dengan tujuan dan fungsi proyek, persyaratan bangunan dan ruang

Lebih terperinci

Evaluasi Kinerja Stasiun Kereta Api Berdasarkan Standar Pelayanan Minimum. Risna Rismiana Sari

Evaluasi Kinerja Stasiun Kereta Api Berdasarkan Standar Pelayanan Minimum. Risna Rismiana Sari Evaluasi Kinerja Stasiun Kereta Api Berdasarkan Standar Pelayanan Minimum Risna Rismiana Sari Jurusan Teknik Sipil, Politeknik Negeri Bandung, Bandung 40012 E-mail : risnars@polban.ac.id ABSTRAK Stasiun

Lebih terperinci

Sampit. Desain Shopping Arcade ini juga merespon akan natural setting, Dalam aktivitas urban, desain Shopping Arcade dapat menjadi

Sampit. Desain Shopping Arcade ini juga merespon akan natural setting, Dalam aktivitas urban, desain Shopping Arcade dapat menjadi ZDhoppinq Arcade Mahendrata - 015 12131 X BAB IV LAPORAN PERANCANGAN 4.1 Perkembangan desain 4.1.1 Kriteria Desain Shopping Arcade Desain Shopping Arcade yang dirancang di kota Sampit ini merupakan suatu

Lebih terperinci

BAB VI LANDASAN PROGRAM PERENCANAAN DAN PERANCANGAN

BAB VI LANDASAN PROGRAM PERENCANAAN DAN PERANCANGAN BAB VI LANDASAN PROGRAM PERENCANAAN DAN PERANCANGAN 6.1 Program Perancangan 6.1.1 Program 1. Kelompok Kendaraan Tabel 6.1 Kelompok Kendaraan Emplasement kedatangan Bus AKAP Bus AKDP Angkuta Angkudes Emplasement

Lebih terperinci

LP3A REDESAIN TERMINAL BUS BAHUREKSO KENDAL TIPE B BAB V KONSEP DAN PROGRAM PERENCANAAN DAN PERANCANGAN TERMINAL BUS BAHUREKSO KENDAL

LP3A REDESAIN TERMINAL BUS BAHUREKSO KENDAL TIPE B BAB V KONSEP DAN PROGRAM PERENCANAAN DAN PERANCANGAN TERMINAL BUS BAHUREKSO KENDAL BAB V KONSEP DAN PROGRAM PERENCANAAN DAN PERANCANGAN TERMINAL BUS BAHUREKSO KENDAL 5.1. Pendekatan Perancangan 5.1.1. Kelompok Pelaku Kegiatan Pelaku yang ada di Terminal Bus Bahurekso yaitu: a) Pemimmpin

Lebih terperinci

BAB VI HASIL PERANCANGAN. apartemen sewa untuk keluarga baru yang merupakan output dari proses analisis

BAB VI HASIL PERANCANGAN. apartemen sewa untuk keluarga baru yang merupakan output dari proses analisis 185 BAB VI HASIL PERANCANGAN Bab enam ini akan menjelaskan tentang desain akhir perancangan apartemen sewa untuk keluarga baru yang merupakan output dari proses analisis tapak dan objek. 6.1 Tata Massa

Lebih terperinci

BAB V KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN

BAB V KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN BAB V KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN 5.1 Konsep Dasar Perencanaan dan Perancangan 5.1.1 Program Ruang Topik dari proyek ini adalah perilaku atlet, dengan tema penerapan pola perilaku istirahat atlet

Lebih terperinci

BAB VI HASIL RANCANGAN. Perancangan Pusat Rekreasi Peragaan IPTEK ini terletak di Batu,karena

BAB VI HASIL RANCANGAN. Perancangan Pusat Rekreasi Peragaan IPTEK ini terletak di Batu,karena BAB VI HASIL RANCANGAN 6.1 Desain Kawasan 6.1.1 Rancangan Obyek Dalam Tapak Perancangan Pusat Rekreasi Peragaan IPTEK ini terletak di Batu,karena kesesuian dengan fungsi dan kriteria obyek perancangan

Lebih terperinci

BAB VI HASIL RANCANGAN. Perancangan Kembali Citra Muslim Fashion Center di Kota Malang ini

BAB VI HASIL RANCANGAN. Perancangan Kembali Citra Muslim Fashion Center di Kota Malang ini BAB VI HASIL RANCANGAN Perancangan Kembali Citra Muslim Fashion Center di Kota Malang ini memiliki sebuah konsep berasal dari obyek yang dihubungkan dengan baju muslim yaitu Libasuttaqwa (pakaian taqwa)

Lebih terperinci

BAB III TINJAUAN KAWASAN STASIUN KERETA API PASAR SENEN, JAKARTA PUSAT

BAB III TINJAUAN KAWASAN STASIUN KERETA API PASAR SENEN, JAKARTA PUSAT BAB III TINJAUAN KAWASAN STASIUN KERETA API PASAR SENEN, JAKARTA PUSAT 3.1. Tinjauan Umum Kota Administrasi Jakarta Pusat 3.1.1. Kondisi Administrasi Potensi Jakarta Pusat secara administratif terdiri

Lebih terperinci

BAB V KONSEP DAN PROGRAM DASAR PERENCANAAN DAN PERANCANGAN

BAB V KONSEP DAN PROGRAM DASAR PERENCANAAN DAN PERANCANGAN BAB V KONSEP DAN PROGRAM DASAR PERENCANAAN DAN PERANCANGAN 5.1 Tujuan Perencanaan dan Perancangan Perencanaan dan perancangan Penataan PKL Sebagai Pasar Loak di Sempadan Sungai Kali Gelis Kabupaten Kudus

Lebih terperinci

BAB III: DATA DAN ANALISA

BAB III: DATA DAN ANALISA Perancangan Kawasan Stasiun Terpadu Manggarai BAB III: DATA DAN ANALISA 3.1. Data Fisik dan Non Fisik Gambar 29 Stasiun Manggarai Sumber : Google Image, diunduh 20 Februari 2015 3.1.1. Data Kawasan 1.

Lebih terperinci

BAB V KONSEP. Gambar 5. 1 Konsep Dasar. Sumber: dokumentasi pribadi, 2015

BAB V KONSEP. Gambar 5. 1 Konsep Dasar. Sumber: dokumentasi pribadi, 2015 87 BAB V KONSEP A. Konsep Dasar Gambar 5. 1 Konsep Dasar Sumber: dokumentasi pribadi, 2015 Pada umumnya terminal bus memiliki 3 permasalahan utama yaitu sirkulasi silang, tindak kriminalitas dan polusi.

Lebih terperinci

BAB V KONSEP PERANCANGAN. Konsep dasar yang digunakan dalam Perancangan Kembali Terminal Bus. Tamanan Kota Kediri mencangkup tiga aspek yaitu:

BAB V KONSEP PERANCANGAN. Konsep dasar yang digunakan dalam Perancangan Kembali Terminal Bus. Tamanan Kota Kediri mencangkup tiga aspek yaitu: BAB V KONSEP PERANCANGAN 5.1. Konsep Perancangan Konsep dasar yang digunakan dalam Perancangan Kembali Terminal Bus Tamanan Kota Kediri mencangkup tiga aspek yaitu: Standar Perancangan Objek Prinsip-prinsip

Lebih terperinci

SUDIMARA STATION INTERCHANGE DENGAN PENEKANAN DESAIN ARSITEKTUR MODERN

SUDIMARA STATION INTERCHANGE DENGAN PENEKANAN DESAIN ARSITEKTUR MODERN SUDIMARA STATION INTERCHANGE DENGAN PENEKANAN DESAIN ARSITEKTUR MODERN Oleh : Puti Laras Kinanti Hadita, Indriastjario,Agung Dwiyanto Stasiun Sudimara (SDM) adalah stasiun kereta api kelas III yang terletak

Lebih terperinci

BAB V KONSEP PERANCANGAN. Dalegan di Gresik ini adalah difraksi (kelenturan). Konsep tersebut berawal dari

BAB V KONSEP PERANCANGAN. Dalegan di Gresik ini adalah difraksi (kelenturan). Konsep tersebut berawal dari BAB V KONSEP PERANCANGAN 5.1 Konsep Dasar Perancangan Konsep dasar yang digunakan dalam perancangan kawasan wisata Pantai Dalegan di Gresik ini adalah difraksi (kelenturan). Konsep tersebut berawal dari

Lebih terperinci

BAB VI HASIL RANCANGAN. perancangan tapak dan bangunan. Dalam penerapannya, terjadi ketidaksesuaian

BAB VI HASIL RANCANGAN. perancangan tapak dan bangunan. Dalam penerapannya, terjadi ketidaksesuaian BAB VI HASIL RANCANGAN Hasil perancangan yang menggunakan konsep dasar dari prinsip teritorial yaitu privasi, kebutuhan, kepemilikan, pertahanan, dan identitas diaplikasikan dalam perancangan tapak dan

Lebih terperinci

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN. keberadaan elemen-elemen fisik atau yang disebut juga setting fisik seiring

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN. keberadaan elemen-elemen fisik atau yang disebut juga setting fisik seiring BAB V KESIMPULAN DAN SARAN 5.1 Kesimpulan Seperti yang telah diuraikan pada bab sebelumnya, diketahui bahwa keberadaan elemen-elemen fisik atau yang disebut juga setting fisik seiring dengan pergantian

Lebih terperinci

BAB 6 HASIL PERANCANGAN. konsep Hibridisasi arsitektur candi zaman Isana sampai Rajasa, adalah candi jawa

BAB 6 HASIL PERANCANGAN. konsep Hibridisasi arsitektur candi zaman Isana sampai Rajasa, adalah candi jawa BAB 6 HASIL PERANCANGAN 6.1. Hasil Perancangan Hasil perancangan Pusat Seni dan Kerajinan Arek di Kota Batu adalah penerapan konsep Hibridisasi arsitektur candi zaman Isana sampai Rajasa, adalah candi

Lebih terperinci

b. Kebutuhan ruang Rumah Pengrajin Alat Tenun

b. Kebutuhan ruang Rumah Pengrajin Alat Tenun BAB V PROGRAM DASAR PERENCANAAN DAN PERANCANGAN Konsep program dasar perencanaan dan perancangan yang merupakan hasil dari pendekatan perencanaan dan perancangan, yang berupa segala sesuatu mengenai kebutuhan

Lebih terperinci

BAGIAN 4 DESKRIPSI HASI RANCANGAN

BAGIAN 4 DESKRIPSI HASI RANCANGAN BAGIAN 4 DESKRIPSI HASI RANCANGAN 4.1 HASIL RANCANGAN RUMAH SUSUN 4.1.1 PROPERTY SIZE, KDB, KLB Berdasarkan ketentuan intensitas pemanfaatan ruang dan tata bangunan yang telah dijelaskan, tipe bangunan

Lebih terperinci

BAB V KONSEP PERANCANGAN

BAB V KONSEP PERANCANGAN BAB V KONSEP PERANCANGAN V.1. Konsep Perancangan Makro V.1.1. Konsep Manusia Pelaku kegiatan di dalam apartemen adalah: 1. Penyewa meliputi : o Kelompok orang yang menyewa unit hunian pada apartemen yang

Lebih terperinci

BAB VI PENERAPAN KONSEP PADA RANCANGAN. memproduksi, memamerkan dan mengadakan kegiatan atau pelayanan yang

BAB VI PENERAPAN KONSEP PADA RANCANGAN. memproduksi, memamerkan dan mengadakan kegiatan atau pelayanan yang BAB VI PENERAPAN KONSEP PADA RANCANGAN 6.1 Dasar Perancangan Kabupaten Pamekasan paling berpotensi untuk membangun sentra batik di Madura. Sentra batik di pamekasan ini merupakan kawasan yang berfungsi

Lebih terperinci

BAB VI PROGRAM PERENCANAAN DAN PERANCANGAN FASILITAS TRANSPORTASI INTERMODA BSD

BAB VI PROGRAM PERENCANAAN DAN PERANCANGAN FASILITAS TRANSPORTASI INTERMODA BSD BAB VI PROGRAM PERENCANAAN DAN PERANCANGAN FASILITAS TRANSPORTASI INTERMODA BSD BSD INTERMODAL TRANSPORT FACILITY 3.1 Program Dasar Perencanaan Program Dasar Perencanaan mengenai Fasilitas Transportasi

Lebih terperinci

BAB IV KONSEP PERANCANGAN

BAB IV KONSEP PERANCANGAN BAB IV KONSEP PERANCANGAN IV.1 KONSEP TAPAK DAN RUANG LUAR IV.1.1 Pengolahan Tapak dan Ruang Luar Mempertahankan daerah tapak sebagai daerah resapan air. Mempertahankan pohon-pohon besar yang ada disekitar

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA. desain taman dengan menggunakan tanaman hias sebagai komponennya

II. TINJAUAN PUSTAKA. desain taman dengan menggunakan tanaman hias sebagai komponennya 9 II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Ruang Lingkup Arsitektur Lansekap Lansekap sebagai gabungan antara seni dan ilmu yang berhubungan dengan desain taman dengan menggunakan tanaman hias sebagai komponennya merupakan

Lebih terperinci

BAB V. KONSEP PERANCANGAN

BAB V. KONSEP PERANCANGAN BAB V. KONSEP PERANCANGAN A. KONSEP MAKRO 1. Youth Community Center as a Place for Socialization and Self-Improvement Yogyakarta sebagai kota pelajar dan kota pendidikan tentunya tercermin dari banyaknya

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1. 1 Latar belakang

BAB I PENDAHULUAN 1. 1 Latar belakang BAB I PENDAHULUAN 1. 1 Latar belakang Indonesia merupakan sebuah negara dengan penduduk terpadat keempat di dunia yaitu 215,8 juta jiwa(tahun 2003). Sebuah negara yang memiliki penduduk padat tersebut

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Terminal dibangun sebagai salah satu prasarana yang. sangat penting dalam sistem transportasi.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Terminal dibangun sebagai salah satu prasarana yang. sangat penting dalam sistem transportasi. BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Terminal Terminal dibangun sebagai salah satu prasarana yang sangat penting dalam sistem transportasi. Morlok (1991) menjelaskan terminal dapat dilihat sebagai alat untuk proses

Lebih terperinci

BAB VI KLASIFIKASI KONSEP DAN APLIKASI RANCANGAN. dirancang berangkat dari permasalahan kualitas ruang pendidikan yang semakin

BAB VI KLASIFIKASI KONSEP DAN APLIKASI RANCANGAN. dirancang berangkat dari permasalahan kualitas ruang pendidikan yang semakin BAB VI KLASIFIKASI KONSEP DAN APLIKASI RANCANGAN Pusat Pendidikan dan Pelatihan Bagi Anak Putus Sekolah Di Sidoarjo dirancang berangkat dari permasalahan kualitas ruang pendidikan yang semakin menurun.

Lebih terperinci

BAB IV PROGRAM DASAR PERENCANAAN DAN PERANCANGAN Program Perencanaan Berdasarkan beberapa permasalahan yang ada pada terminal bus Kabupaten

BAB IV PROGRAM DASAR PERENCANAAN DAN PERANCANGAN Program Perencanaan Berdasarkan beberapa permasalahan yang ada pada terminal bus Kabupaten BAB IV PROGRAM DASAR PERENCANAAN DAN PERANCANGAN 4.. Program Perencanaan Berdasarkan beberapa permasalahan yang ada pada terminal bus Kabupaten Wonosobo sekarang ini, maka dibutuhkan suatu rencana pengembangan

Lebih terperinci

BAB V LANDASAN PROGRAM PERENCANAAN DAN PERANCANGAN ARSITEKTUR STASIUN KERETA API TAMBUN BEKASI

BAB V LANDASAN PROGRAM PERENCANAAN DAN PERANCANGAN ARSITEKTUR STASIUN KERETA API TAMBUN BEKASI BAB V LANDASAN PROGRAM PERENCANAAN DAN PERANCANGAN ARSITEKTUR STASIUN KERETA API TAMBUN BEKASI 5.1 Konsep Dasar Perencanaan Berdasarkan dari uraian bab sebelumnya tentang analisis maka ditarik kesimpulan

Lebih terperinci

BAB VI HASIL PERANCANGAN. Hasil perancangan dari kawasan wisata Pantai Dalegan di Kabupaten Gresik

BAB VI HASIL PERANCANGAN. Hasil perancangan dari kawasan wisata Pantai Dalegan di Kabupaten Gresik BAB VI HASIL PERANCANGAN Hasil perancangan dari kawasan wisata Pantai Dalegan di Kabupaten Gresik mengaplikasikan konsep metafora gelombang yang dicapai dengan cara mengambil karakteristik dari gelombang

Lebih terperinci

BAB 5 KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN. Pemikiran yang melandasi perancangan dari proyek Mixed-use Building

BAB 5 KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN. Pemikiran yang melandasi perancangan dari proyek Mixed-use Building BAB 5 KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN V.1. Dasar Perencanaan dan Perancangan Pemikiran yang melandasi perancangan dari proyek Mixed-use Building Rumah Susun dan Pasar ini adalah adanya kebutuhan hunian

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN OBJEK GEDUNG KESENIAN GDE MANIK SINGARAJA

BAB II TINJAUAN OBJEK GEDUNG KESENIAN GDE MANIK SINGARAJA BAB II TINJAUAN OBJEK GEDUNG KESENIAN GDE MANIK SINGARAJA Pada bab ini akan dilakukan evaluasi mengenai Gedung Kesenian Gde Manik (GKGM) dari aspek kondisi fisik, non-fisik, dan spesifikasi khusus GKGM

Lebih terperinci

Kondisi eksisting bangunan lama Pasar Tanjung, sudah banyak mengalami. kerusakan. Tatanan ruang pada pasar juga kurang tertata rapi dan tidak teratur

Kondisi eksisting bangunan lama Pasar Tanjung, sudah banyak mengalami. kerusakan. Tatanan ruang pada pasar juga kurang tertata rapi dan tidak teratur BAB VI HASIL PERANCANGAN 6.1. Hasil Rancangan Tapak Kondisi eksisting bangunan lama Pasar Tanjung, sudah banyak mengalami kerusakan. Tatanan ruang pada pasar juga kurang tertata rapi dan tidak teratur

Lebih terperinci

Dinas Penataan dan Pengawasan Bangunan BANGUNAN NON RUMAH TINGGAL

Dinas Penataan dan Pengawasan Bangunan BANGUNAN NON RUMAH TINGGAL 1. Peraturan Teknis a. Jarak bebas Bangunan Gedung / Industri KDB KLB 3 3 Dinas Penataan dan Pengawasan Bangunan BANGUNAN NON RUMAH TINGGAL GSB GSJ GSJ Intensitas bangunan (KDB/KLB), dimaksudkan agar menjaga

Lebih terperinci

BAB III: DATA DAN ANALISA

BAB III: DATA DAN ANALISA BAB III: DATA DAN ANALISA 3.1. Data Fisik dan Non Fisik 2.1.1. Data Fisik Lokasi Luas Lahan Kategori Proyek Pemilik RTH Sifat Proyek KLB KDB RTH Ketinggian Maks Fasilitas : Jl. Stasiun Lama No. 1 Kelurahan

Lebih terperinci

BAB VI PROGRAM PERENCANAAN DAN PERANCANGAN

BAB VI PROGRAM PERENCANAAN DAN PERANCANGAN BAB VI PROGRAM PERENCANAAN DAN PERANCANGAN 6.1 Dasar Pendekatan Metode pendekatan ditujukan sebagai acuan dalam penyusunan landasan perencanaan dan perancangan arsitektur. Dengan metode pendekatan diharapkan

Lebih terperinci

Bab V Konsep Perancangan

Bab V Konsep Perancangan Bab V Konsep Perancangan A. Konsep Makro Konsep makro adalah konsep dasar perancangan kawasan secara makro yang di tujukan untuk mendefinisikan wujud sebuah Rest Area, Plasa, dan Halte yang akan dirancang.

Lebih terperinci

Tabel 5.1. Kapasitas Kelompok Kegiatan Utama. Standar Sumber Luas Total Perpustakaan m 2 /org, DA dan AS 50 m 2

Tabel 5.1. Kapasitas Kelompok Kegiatan Utama. Standar Sumber Luas Total Perpustakaan m 2 /org, DA dan AS 50 m 2 BAB V PROGRAM PERENCANAAN DAN PERANCANGAN RUMAH AKULTURASI BUDAYA KAMPUNG LAYUR 5.1 Program Dasar Perencanaan 5.1.1. Program Berdasarkan analisa mengenai kebutuhan dan besaran ruang pada Rumah Akulturasi

Lebih terperinci

BAB VI PROGRAM PERENCANAAN DAN PERANCANGAN ARSITEKTUR

BAB VI PROGRAM PERENCANAAN DAN PERANCANGAN ARSITEKTUR BAB VI PROGRAM PERENCANAAN DAN PERANCANGAN ARSITEKTUR 6.1. KONSEP DASAR Konsep yang diaplikasikan pada Rekreasi Air di Situ Cikaret, Cibinong, Bogor yaitu area wisata publik di area danau Situ Cikaret

Lebih terperinci

BAB VI KONSEP PERANCANGAN

BAB VI KONSEP PERANCANGAN BAB VI KONSEP PERANCANGAN 6.1 Konsep Utama Perancanaan Youth Center Kota Yogyakarta ini ditujukan untuk merancang sebuah fasilitas pendidikan non formal untuk menghasilkan konsep tata ruang dalam dan luar

Lebih terperinci

REDESAIN TERMINAL BUS INDUK MADURESO TIPE B DI KABUPATEN TEMANGGUNG DENGAN PENEKANAN DESAIN EKSPRESI STRUKTUR

REDESAIN TERMINAL BUS INDUK MADURESO TIPE B DI KABUPATEN TEMANGGUNG DENGAN PENEKANAN DESAIN EKSPRESI STRUKTUR REDESAIN TERMINAL BUS INDUK MADURESO TIPE B DI KABUPATEN TEMANGGUNG DENGAN PENEKANAN DESAIN EKSPRESI STRUKTUR Oleh : Khoirunnisa D. Ayu, Septana Bagus Pribadi, Sukawi Sistem transportasi menjadi bagian

Lebih terperinci

4.1. Konsep Dasar Perencanaan

4.1. Konsep Dasar Perencanaan \ halaman 101 BAB - IV KONSEP DASAR PERENCANAAN DAN PERANCANGAN 4.1. Konsep Dasar Perencanaan 4.1.1. Konsep Dasar Penentuan Lokasi Lokasi untuk terminal bis tipe Adi Kota Yogyakarta menempati wilayah bagian

Lebih terperinci

STASIUN INTERCHANGE MASS RAPID TRANSIT BLOK M DENGAN PENDEKATAN ARSITEKTUR BIOKLIMATIK DI JAKARTA

STASIUN INTERCHANGE MASS RAPID TRANSIT BLOK M DENGAN PENDEKATAN ARSITEKTUR BIOKLIMATIK DI JAKARTA KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN STASIUN INTERCHANGE MASS RAPID TRANSIT BLOK M DENGAN PENDEKATAN ARSITEKTUR BIOKLIMATIK DI JAKARTA Tugas Akhir Diajukan sebagai syarat untuk mencapai Gelar Sarjana teknik

Lebih terperinci

4 BAB IV KONSEP PERANCANGAN

4 BAB IV KONSEP PERANCANGAN 4 BAB IV KONSEP PERANCANGAN 4.1 Konsep Fungsi Dalam merancang sebuah bangunan, hal yang utama yang harus diketahui adalah fungsi bangunan yang akan dirancang, sehingga terciptalah bangunan dengan desain

Lebih terperinci

BAB III ANALISA. Lokasi masjid

BAB III ANALISA. Lokasi masjid BAB III ANALISA 3.1. Analisa Tapak 3.1.1. Lokasi Lokasi : Berada dalam kawasan sivitas akademika Universitas Padjadjaran, Jatinangor, Sumedang KDB : 20% KLB : 0.8 GSB : 10 m Tinggi Bangunan : 3 lantai

Lebih terperinci

BAB V HASIL RANCANGAN

BAB V HASIL RANCANGAN BAB V HASIL RANCANGAN 5.1 Perancangan Denah 5.1.1. Perancangan Denah Lantai Satu Berdasarkan konsep pola-pola ruangan, perancangan denah ini merupakan pengembangan hubungan ruang yang telah dirancang.

Lebih terperinci

BAB V KONSEP PERANCANGAN. Konsep dasar perancangan beranjak dari hasil analisis bab sebelumnya yang

BAB V KONSEP PERANCANGAN. Konsep dasar perancangan beranjak dari hasil analisis bab sebelumnya yang BAB V KONSEP PERANCANGAN 5.1 Konsep Dasar Konsep dasar perancangan beranjak dari hasil analisis bab sebelumnya yang kemudian disintesis. Sintesis diperoleh berdasarkan kesesuaian tema rancangan yaitu metafora

Lebih terperinci

BAB 4 DESKRIPSI HASIL RANCANGAN

BAB 4 DESKRIPSI HASIL RANCANGAN BAB 4 DESKRIPSI HASIL RANCANGAN Konsep perancangan arsitektur didasarkan atas isu global kriminalitas yang bisa diatasi dengan penggunaan campuran, tapi mengakibatkan kriminalitas dalam kasus mikro. Oleh

Lebih terperinci

BAB V KONSEP. V. 1. Konsep Dasar. Dalam merancang Gelanggang Olahraga ini berdasarkan dari konsep

BAB V KONSEP. V. 1. Konsep Dasar. Dalam merancang Gelanggang Olahraga ini berdasarkan dari konsep BAB V KONSEP V. 1. Konsep Dasar Dalam merancang Gelanggang Olahraga ini berdasarkan dari konsep perancangan yang berkaitan dengan tujuan dan fungsi proyek, persyaratan bangunan dan ruang serta proses penerapan

Lebih terperinci

Skema 4.1 skema kajian konsep dan fungsi yang diajukan Sumber : penulis, 2016

Skema 4.1 skema kajian konsep dan fungsi yang diajukan Sumber : penulis, 2016 BAB IV PEMECAHAN PERSOALAN DAN DESKRIPSI HASIL PERANCANGAN 4.1 Kajian Konsep dan Fungsi Bangunan yang diajukan Skema 4.1 skema kajian konsep dan fungsi yang diajukan Sumber : penulis, 2016 49 4.2 Re-defining

Lebih terperinci

BAB V KONSEP PERANCANGAN

BAB V KONSEP PERANCANGAN BAB V KONSEP PERANCANGAN V.1. KONSEP DASAR PERANCANGAN Dalam konsep dasar pada perancangan Fashion Design & Modeling Center di Jakarta ini, yang digunakan sebagai konsep dasar adalah EKSPRESI BENTUK dengan

Lebih terperinci