BAB V KONSEP DAN RANCANGAN RUANG PUBLIK (RUANG TERBUKA)

Save this PDF as:
 WORD  PNG  TXT  JPG

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "BAB V KONSEP DAN RANCANGAN RUANG PUBLIK (RUANG TERBUKA)"

Transkripsi

1 BAB V KONSEP DAN RANCANGAN RUANG PUBLIK (RUANG TERBUKA) 5.1 Sirkulasi Kendaraan Pribadi Pembuatan akses baru menuju jalan yang selama ini belum berfungsi secara optimal, bertujuan untuk mengurangi kepadatan yang terpusat di penggalan jalan Kebon Jati. Berdasarkan pengamatan, jalan yang masih sepi dan jarang dilalui kendaraan adalah jalan Statsion Barat dan Timur yang merupakan akses menuju pintu masuk stasiun bagian Selatan. Faktor yang menyebabkan kurang optimalnya penggunaan jalan Statsion Barat dan Timur adalah minimnya akses bagi kendaraan bermotor menuju tempat tersebut. Akses yang tersedia hanya melalui jalan Pasir Kaliki di sebelah Barat dan jalan Otto Iskandardinata yang berada di sebelah Timur. Jarak tempuh keduanya berjauhan dan harus berputar melalui jalan Kebon Jati untuk mencapai kedua jalan tersebut. Keberadaan akses ini selain mengurangi kepadatan di jalan Kebon Jati, juga memberikan kontribusi positif bagi area yang selama ini terbengkalai. Dengan adanya pergerakan yang melalui jalan Statsion Barat dan Timur, diharapkan mampu memancing munculnya aktivitasaktivitas baru yang pada akhirnya dapat menghidupkan dan meningkatkan kualitas area tersebut. Salah satu cara membuat akses baru tersebut adalah dengan memanfaatkan jalan yang telah ada namun belum dimanfaatkan dengan baik, yaitu jalan yang melalui fasilitas komersial BTC (Bandung Textile Centre). Pemanfaatan jalan BTC sebagai jalan umum juga akan memberikan kontribusi positif bagi area komersial tersebut. Jumlah konsumen di area komersial sangat mungkin meningkat akibat penggunaan jalan BTC sebagai jalan umum. Selain itu, ruko-ruko yang berada di pinggiran jalan dapat dimanfaatkan sebagai fasilitas window shopping. 114

2 Gambar simulasi rancangan 5.1 : Jalan yang melalui area komersial Bandung Textile Centre. Selain memanfaatkan jalan yang ada di BTC, akses baru juga dibuat dengan memanfaatkan kembali area boulevard dari stasiun bagian Selatan sebagai jalan umum. Hal ini memberikan beberapa keuntungan, seperti tersedianya akses langsung menuju pintu masuk stasiun bagian Selatan. sehingga pengguna kendaraan tertarik untuk menggunakannya sebagai pilihan utama jika hendak menuju stasiun. Keuntungan lainnya adalah kembalinya orientasi bagi pejalan kaki maupun pengendara dari arah jalan Kebon Jati menuju bangunan stasiun bagian Selatan. Akibatnya, keberadaan stasiun bagian Selatan sebagai pintu masuk stasiun menjadi penting kembali dan citranya menjadi lebih baik di mata masyarakat Bandung. Kehadiran akses kendaraan ini juga dapat mengembalikan area boulevard menjadi ruang publik yang penting dan mewadahi segala kebutuhan pengguna kawasan tersebut. Gambar simulasi rancangan 5.2 : Jalan kendaraan menuju pintu masuk stasiun bagian Selatan di area boulevard stasiun kereta api Bandung. Perancangan simpul-simpul pemberhentian yang dapat memicu timbulnya aktivitas baru bertujuan untuk meningkatkan jumlah kendaraan 115

3 pribadi yang melalui jalan Statsion Barat dan Timur serta area boulevard stasiun. Simpul pertama adalah area parkir bagi pemukiman penduduk (1), ke-dua area parkir bagi aktivitas pasar (2), ke-tiga area parkir bagi fasilitas komersial dan calon penumpang kereta api (3), ke-empat area drop off pintu masuk stasiun bagian Selatan (4), dan terakhir area drop off bagi fasilitas kantor, area komersial, dan plasa (5). Peta 5.1 : Konsep sirkulasi kendaraan pribadi yang melewati kawasan stasiun kereta api Bandung bagian Selatan 5.2 Sirkulasi Kendaraan Umum Melalui pembagian sirkulasi kendaraan umum ke jalur baru yang melewati area komersial BTC (Bandung Textile Centre) dan terhubung dengan jalan Statsion Barat maupun Timur, maka kepadatan akibat kendaraan umum di jalan Kebon Jati dapat dikurangi. Sedangkan jalan baru yang melalui area boulevard, hanya diperuntukkan bagi kendaraan umum seperti taksi atau travel. Hal ini bertujuan agar kendaraan umum yang mengangkut calon pengguna potensial melalui jalan Statsion Barat dan Timur. Sehingga area-area yang sebelumnya terbengkalai dapat dimanfaatkan untuk beragam fasilitas yang dapat menarik pengguna agar beraktivitas di dalamnya. Terminal angkutan kota yang berada di area boulevard dihilangkan karena memberikan dampak buruk bagi stasiun bagian Selatan, berupa hilangnya orientasi dan akses bagi kendaraan menuju stasiun dari jalan Kebon Jati. Karena kehadiran terminal juga penting dalam menciptakan keramaian dan kehidupan di kawasan stasiun bagian Selatan, maka terminal angkutan kota tetap dipertahankan tetapi lokasinya dipindah. 116

4 Lokasi terminal yang melayani perpindahan penumpang dalam kota di sebelah Timur (jalan Statsion Timur) dan terminal yang melayani perpindahan penumpang antar kota di sebelah Barat (jalan Statsion Barat). Hal ini bertujuan agar tidak terjadi kepadatan di satu tempat dan dapat menciptakan dua simpul keramaian baru di tempat terpisah yang sebelumnya merupakan area terbengkalai. Gambar simulasi rancangan 5.3 : Area terminal yang melayani perpindahan penumpang antar kota di penggalan jalan Statsion Barat. Gambar simulasi rancangan 5.4 : Area terminal yang melayani perpindahan penumpang dalam kota di penggalan jalan Statsion Timur. Selain itu, pada kawasan stasiun bagian Selatan juga dirancang simpul-simpul pemberhentian baru yang menjadi pusat berlangsungnya beragam aktivitas dan dapat menimbulkan terjadinya pergerakan dari satu simpul ke simpul lainnya. Pertama, drop off fasilitas komersial BTC dan tempat menunggu penumpang bagi angkutan yang melayani perpindahan antar kota (1). Ke-dua, terminal yang melayani perpindahan antar kota dan drop off pasar (2). Ke-tiga, drop off pintu masuk stasiun bagian Selatan (4). Ke-empat, drop off fasilitas perkantoran, komersial, 117

5 dan plasa (5). Ke-lima, drop off fasilitas komersial dan jalur pedestrian (6). Terakhir, terminal angkutan yang melayani perpindahan dalam kota (7). Peta 5.2 : Konsep sirkulasi kendaraan umum yang melewati kawasan stasiun kereta api Bandung bagian Selatan. 5.3 Sirkulasi Pejalan Kaki Manusia memiliki batas toleransi maksimal dalam jarak berjalan, yaitu 500 meter. Ketika jarak yang harus ditempuh melebihi batasan tersebut, orang merasa enggan untuk berjalan menuju tempat tujuannya. Pada kasus kawasan stasiun bagian Selatan, jarak tempuh dari titik terjauh menuju fasilitas stasiun sebagai pusat kawasan masih dalam batasan tersebut. Namun, agar minat pengguna kawasan untuk berjalan dari satu titik ke titik lainnya meningkat, diperlukan penyelesaian desain jalur pedestrian yang baik. Manusia yang bergerak memiliki perasaan lelah dan bosan, terutama bila tempat yang dituju terlihat ketika ia bergerak serta jarak yang harus ditempuh cukup jauh. Pengalih perhatian sangat diperlukan untuk menghilangkan perasaan lelah dan bosan tersebut. Pengalih perhatian ini dapat berupa plasa atau aktivitas yang berlangsung di suatu area. Kehadiran plasa dan perubahan aktivitas yang ditemui selama bergerak, mampu mengaburkan jarak sebenarnya yang telah ditempuh seseorang sehingga perjalanan panjang terasa sesaat dan menarik. Konsep ini diterapkan dalam perancangan jalur pedestrian pada ruang publik di kawasan stasiun bagian Selatan. 118

6 Peta 5.3 : Konsep sirkulasi pejalan kaki yang melewati kawasan stasiun kereta api Bandung bagian Selatan. Detail konsep sirkulasi pejalan kaki : Gambar simulasi rancangan 5.5 : Jalur pedestrian melalui area terminal yang ramai oleh kegiatan seperti menaikkan dan menurunkan penumpang, menunggu kendaraan atau penumpang, serta berbelanja kebutuhan sehari-hari di mini market terminal, dan lain-lain (1). Gambar simulasi rancangan 5.6 : Jalur pedestrian melalui area pasar yang menjual berbagai macam barang jadi. Kegiatan yang terjadi beragam seperti berjualan, berbelanja, berjalan-jalan sambil melihat barang, dan lain-lain (2). Gambar simulasi rancangan 5.7 : Jalur pedestrian melalui halte dan drop off fasilitas komersial Bandung Textile Centre. Kegiatan yang terjadi seperti menaikkan dan menurunkan penumpang, menunggu penumpang atau angkutan, berbelanja, berjalan-jalan sambil melihat barang, dan lain-lain (3). 119

7 Gambar simulasi rancangan 5.8 : Jalur pedestrian melalui taman dan tempat makan. Kegiatan yang diwadahi seperti berbelanja, makan dan minum, beristirahat, berjalan-jalan sambil melihat barang, berjualan barang atau makanan, dan lain-lain (5). Gambar simulasi rancangan 5.9 : Jalur pedestrian melalui area bermain dan taman yang bersebelahan dengan pemukiman penduduk. Kegiatan yang berlangsung berupa bermain, menonton permainan, mengobrol, berjalan-jalan, beristirahat, dan lain-lain (6). Gambar simulasi rancangan 5.10 : Jalur pedestrian melalui selasar bangunan serba guna dan tempat memajang benda seni. Kegiatan yang berlangsung berupa mengamati karya seni, berfoto, melihat pertunjukan yang berlangsung di gedung serba guna, dan lain-lain (7). Gambar simulasi rancangan 5.11 : Jalur pedestrian melalui bangunan stasiun kereta api Bandung bagian Selatan. Kegiatan yang berlangsung antara lain mengamati vista bangunan atau landscape, berfoto, menunggu kendaraan umum, dan lain-lain (8). 120

8 Gambar simulasi rancangan 5.12 : Jalur pedesrian melalui tempat makan yang berada di depan bangunan komersial restoran. Kegiatan yang berlangsung antara lain makan dan minum, beristirahat, mengobrol, mengamati lingkungan sekitar, dan lainlain (9). Gambar simulasi rancangan 5.13 : Jalur pedestrian melalui plasa utama yang berada di depan pintu masuk stasiun bagian Selatan. Kegiatan yang berlangsung antara lain bermain, beristirahat, berinteraksi, mengamati landscape, dan lain-lain (10). Gambar simulasi rancangan 5.14 : Jalur pedestrian melalui area bangunan komersial (belanja dan makanan) serta tempat berjualan pedagang kaki lima. Kegiatan yang ditemui antara lain berbelanja, makan dan minum, beristirahat, berjalan-jalan sambil mengamati lingkungan sekitar, berinteraksi, dan lain-lain (11). Gambar simulasi rancangan 5.15 : Jalur pedestrian melalui plasa penerima yang berhubungan dengan jalan Kebon Jati. Kegiatan yang berlangsung antara lain bermain, berjalan-jalan, berkumpul sambil berinteraksi, berfoto, menunggu kendaraan umum, menaikkan atau menurunkan penumpang, dan lain-lain (12). 121

9 Gambar simulasi rancangan 5.16 : Jalur pedestrian melalui area terminal. Kegiatan yang berlangsung seperti menaikkan dan menurunkan penumpang, menunggu kendaraan atau penumpang, dan berbelanja kebutuhan sehari-hari di mini market terminal (13). Gambar simulasi rancangan 5.17 : Jalur pedestrian melalui deretan rumah tinggal dan kantor PT. KAI. Kegiatan yang berlangsung antara lain bermain, berinteraksi, beristirahat, mengobrol, berjalan-jalan sambil mengamati lingkungan sekitar, dan lain-lain (14). Kondisi fisik jalur pedestrian dirancang agar aman dan nyaman untuk dilalui. Perasaan nyaman diciptakan dengan menempatkan pohon penenduh di sepanjang jalur pedestrian, penggunaan bahan penutup jalan yang sesuai untuk jalur pedestrian, dan tersedianya tempat duduk untuk beristirahat. Sedangkan perasaan aman diperoleh melalui pemisahan antara jalur pedestrian dengan jalan kendaraan oleh pagar tanaman serta kemudahan akses visual ke berbagai arah sehingga segala aktivitas di jalur pedestrian dapat terlihat. Selain itu, penggunaan ramp pada jalur pedestrian yang memiliki perbedaan ketinggian memberikan kemudahan bergerak (perasaan nyaman) bagi pejalan kaki yang memiliki keterbatasan fisik. Kemudahan dalam melintasi jalan kendaraan juga diperhatikan dalam konsep perancangan jalur pedestrian melalui penggunaan material yang sesuai bagi pejalan kaki sebagai penutup jalan. Penggunaan material yang cocok bagi pejalan kaki pada jalan kendaraan, dapat mengurangi kecepatan kendaraan yang melewatinya sehingga memberikan perasaan aman bagi penyeberang jalan. 122

10 Gambar simulasi rancangan 5.18 : Penggunaan ramp pada jalur pedestrian bertujuan untuk memberi kemudahan bagi pejalan kaki yang memiliki keterbatasan fisik, membawa roda, dan orang tua. Selain itu, penggunaan elemen penutup jalan yang sesuai bagi pejalan kaki memberi keamanan serta kenyamanan bagi pejalan kaki yang melintasi jalan kendaraan. Gambar simulasi rancangan 5.19 : Penggunaan elemen penutup jalan yang sesuai bagi pejalan kaki pada jalur pedestrian dan tersedianya area resapan air memberi kenyamanan serta keamanan bagi pejalan (tidak licin dan basah) ketika melaluinya. Gambar simulasi rancangan 5.20 : Jalur pedestrian menggunakan pembatas (pagar dan tanaman) yang memisahkannya dengan sirkulasi kendaraan, namun tidak menghalangi kemudahan akses visual ke segala arah sehingga memberikan perasaan aman dan nyaman bagi pejalan kaki. 5.4 Zoning Penzoningan kawasan stasiun kereta api Bandung bagian Selatan bertujuan untuk membuat titik keramaian baru (pusat aktivitas) sehingga terjadi pergerakan dari kendaraan maupun pejalan kaki. Pembagian zoning fungsi berdasar pada pola perilaku pengguna di setiap bagian kawasan. Fungsi ruang terbuka maupun fasilitas bangunan yang dirancang juga diupayakan sejalan dengan pola perilaku pengguna kawasan sehingga dapat terjadi hubungan saling menguntungkan. Keuntungan bagi pengguna adalah pola perilakunya terwadahi dengan 123

11 baik sedangkan bagi fasilitas baru berupa kehadiran pengguna yang dapat menciptakan keramaian. Pada beberapa area, pola perilaku pengguna yang tidak membawa dampak positif bagi perkembangan kawasan, tidak dipertimbangkan sebagai dasar penzoningan fungsi. Sebagai gantinya, keberadaan fungsi-fungsi potensial yang belum berfungsi optimal dan telah ada sebelumnya dijadikan sebagai dasar untuk menentukan penzoningan fungsi. Peta 5.4 : Konsep zoning kawasan stasiun kereta api Bandung bagian Selatan. Pada area yang berdekatan dengan fasilitas komersial BTC (1 dan 2) dirancang fasilitas terminal transit antar kota, halte, serta jalur pedestrian yang menyatu dengan ruko-ruko BTC sehingga dapat dijadikan area window shopping. Sedangkan area yang berada di antara BTC dan rumah sakit (3) diperuntukkan sebagai taman, tempat makan, berjualan, dan jalur pedestrian. Untuk menunjang kehadiran fungsi-fungsi baru tersebut, maka dirancang fasilitas pasar dan area parkir (5). Kehadiran pemukiman penduduk memunculkan perilaku warga seperti berkumpul, bermain, beristirahat, mengasuh anak, dan berinteraksi pada ruang terbuka. Hal ini menjadi dasar pertimbangan dirancangnya ruang terbuka yang diperuntukkan sebagai area bermain dan bersosialisasi. Ruang terbuka ini berwujud area bermain yang dapat dimanfaatkan untuk area parkir dan taman yang juga berfungsi sebagai jalur pedestrian (4). 124

12 Adanya fasilitas stasiun, pemukiman penduduk, warung (makanan dan kebutuhan harian), serta pedagang kaki lima, menghadirkan beberapa pola perilaku seperti menunggu, makan atau minum, berjalan, bermain, berkumpul, dan beristirahat sambil mengamati kegiatan sekitar. Berdasarkan perilaku tersebut, maka dirancang fasilitas komersial (makanan dan belanja) dan ruang serbaguna (7, 9, dan 10), serta plasa (8). Untuk mendukung keberadaan area komersial, kantor PT. KAI, serta fasilitas publik berupa mesjid, dibuat area parkir dan jalur pedestrian yang juga diperuntukkan sebagai taman untuk berinteraksi warga pemukiman sekitar (6). Perilaku pengguna di area sekitar jalan Statsion Timur berupa menunggu kendaraan umum, berjalan, serta makan atau minum ketika menunggu, diwadahi oleh fasilitas terminal yang dilengkapi tempat makan di lantai satu bangunan (11) dan jalur pedestrian yang juga berfungsi sebagai tempat bersosialisasi warga, mengingat letaknya berdekatan dengan pemukiman penduduk dan perkantoran (12). 125

13 Gambar simulasi rancangan 5.21 : Zoning kawasan stasiun kereta api Bandung bagian Selatan. Keterangan : 1 Plasa penerima area boulevard 2 Bangunan komersial (tempat makan) 3 Bangunan komersial (tempat belanja dan makan) 4 Bangunan komersial (tempat belanja dan pelayanan jasa) 5 Plasa utama area boulevard 6 Bangunan stasiun bagian Selatan 7 Bangunan kantor PT. KAI dan mesjid 8 Bangunan serba guna 9 Bangunan komersial (tempat belanja) 10 Area parkir dan taman 11 Area parkir 12 Jalan pemukiman, area bermain, parkir, dan taman 13 Pasar 14 Taman dan tempat rekreasi (belanja dan makan) 15 Halte 16 Terminal angkutan antar kota 17 Terminal angkutan dalam kota 18 Jalur pedestrian yang juga berfungsi sebagai area sosialisasi warga 126

14 5.5 Bentuk Massa Bangunan Bentuk massa bangunan yang berada di area boulevard dibuat memanjang mengikuti bentuk site dan membentuk sebuah koridor yang pada ujungnya diakhiri oleh kehadiran plasa. Bangunan yang memanjang ini mampu memberikan kemudahan orientasi dari arah jalan Kebon Jati menuju pintu masuk stasiun bagian Selatan yang selama ini hilang sehingga area tersebut menjadi terbengkalai. Gambar simulasi rancangan 5.22 : Konsep massa bangunan Sedangkan massa bangunan lain (terminal dan bangunan komersial yang dilengkapi ruang serbaguna) yang berhubungan langsung dengan jalan kendaraan juga dibuat memanjang mengikuti pola jalan. Kehadiran bangunan yang memanjang mengikuti pola jalan memberikan keuntungan berupa adanya obyek yang diamati ketika berjalan dan dapat memancing timbulnya interaksi serta aktivitas. Gambar simulasi rancangan 5.23 : Konsep massa bangunan 127

15 Selain bentuknya yang memanjang mengikuti site, massa bangunan dibuat se-transparan mungkin dengan beberapa tujuan. Pertama, kehadiran elemen penutup bangunan (dinding) tidak menghalangi akses visual dari dalam bangunan maupun sebaliknya ke area-area tertentu yang diinginkan. Ke-dua, massa bangunan yang berada di tengah site tidak menjadi penghalang akses visual menuju jalur pedestrian utama atau sebaliknya menuju bangunan eksisting (hotel dan perkantoran) yang berada di sebelah Timur. Ke-tiga, hubungan visual yang terbentuk antara bangunan dan ruang luar memberikan tingkat kontrol terhadap aktivitas yang dapat terjadi. Gambar simulasi rancangan 5.24 : Konsep massa bangunan Bangunan yang dirancang berorientasi ke arah jalur pedestrian, plasa, dan jalan kendaraan. Bukaan (jendela) dan pintu masuk mengarah ke area-area tersebut. Hal ini bertujuan untuk memudahkan orang yang melalui jalur pedestrian, plasa, dan jalan kendaraan melihat aktivitas yang terjadi di dalam bangunan, sebaliknya orang yang berada di dalam bangunan dapat mengamati aktivitas di luar. Rancangan ini akan mampu menimbulkan perasaan aman dan nyaman bagi pengguna karena terjadi interkasi antara ruang luar dan dalam sehingga timbul tingkat kontrol terhadap aktivitas yang terjadi. Fasade bangunan yang berada di sekitar plasa dan jalur pedestrian utama dirancang agar memiliki bukaan yang besar (balkon) serta sebagian besar menggunakan elemen penutup yang transparan (kaca). 128

16 Ketinggian bangunan yang mengelilingi jalur pedestrian dan plasa didesain agar tidak melebihi jangkauan sudut pandang manusia (skala manusia) sehingga orang yang melaluinya dapat melihat keseluruhan bangunan serta tidak merasa sesak/terhimpit oleh bangunan (perasaan bebas) secara psikologis. Gambar rancangan simulasi 5.25 : Konsep massa bangunan Sedangkan bangunan yang bersebelahan dengan bangunan konservasi yaitu kantor PT. KAI (DAOPS II), didesain agar serasi (kontekstual) dengan cara menggunakan elemen fasade bangunan, bentuk bangunan, serta irama transparan-masif yang serupa. Gambar 5.1 : Bangunan kantor PT. KAI Gambar simulasi rancangan 5.26 : Bangunan komersial dan ruang serba 129

17 5.6 Perancangan Ruang Terbuka Area Gerbang Masuk Boulevard Area masuk boulevard stasiun kereta api Bandung bagian Selatan dirancang dengan menggunakan elemen gerbang sebagai tanda bahwa tempat tersebut milik publik namun tetap memiliki tingkat kontrol tertentu, sehingga tidak semua aktivitas dapat berlangsung di area tersebut. Sedangkan kehadiran tugu di plasa penerima berfungsi menginformasikan kepada calon pengguna kawasan bahwa tempat tersebut merupakan bagian dari stasiun kereta api Bandung. Penggunaan elemen desain berupa pohon pada area masuk boulevard bertujuan untuk memperhalus peralihan dari jalan menuju ke dalam site dan menghilangkan kesan bahwa tempat tersebut milik privat, sehingga calon pengguna dari berbagai macam kelompok merasa nyaman dan tertarik untuk masuk ke dalam site. Area Gerbang Masuk Boulevard (1) Gambar simulasi rancangan 5.27 : Area gerbang masuk boulevard stasiun kereta api Bandung bagian Selatan di jalan Kebon Jati 130

18 Elemen desain gerbang selain berfungsi simbolis, juga dirancang sebagai ruang untuk memenuhi perilaku pengguna. Gerbang didesain agar dapat digunakan sebagai tempat duduk yang memiliki orientasi baik ke arah boulevard maupun jalur pedestrian dan jalan kendaraan di Kebon Jati sehingga pengguna dapat duduk-duduk sambil bersantai, berkumpul, berinteraksi, mengamati kegiatan atau landscape sekitar, serta menunggu kendaraan umum. Gerbang juga berfungsi sebagai selasar yang menghubungkan bagian Barat dan Timur site untuk mewadahi perilaku berjalan-jalan sambil mengamati kegiatan atau landscape sekitar. Penggunaan pagar yang memisahkan jalur pedestrian disebelah jalan kendaraan dengan area boulevard selain berfungsi simbolis (kontrol bagi kelompok pengguna dan aktivitas), juga dimanfaatkan sebagai tempat duduk informal bagi kelompok remaja untuk beristirahat, berkumpul, berinteraksi, dan mengamati kegiatan atau landscape sekitar. Plasa penerima karena letaknya bersebelahan dengan jalan Kebon Jati yang ramai oleh beragam aktivitas, berfungsi untuk mewadahi perilaku bermain, berkumpul, berinteraksi kelompok remaja, tempat berfoto, dan menunggu orang atau kendaraan baik umum maupun pribadi. 131

19 Area Gerbang Masuk Boulevard (1) Gambar simulasi rancangan 5.28 : Area gerbang masuk boulevard stasiun kereta api Bandung bagian Selatan di jalan Kebon Jati Fasilitas Komersial (Area Makan) Area makan terbuka yang menghadap jalur pedestrian dan tendatenda tempat berjualan pedagang kaki lima, berfungsi sebagai wadah perilaku pengguna yaitu makan sambil mengamati kegiatan atau aktivitas sekitar dan berinteraksi dengan keramaian. Jalur pedestrian yang berada di antara area makan dan tempat berjualan pedagang kaki lima berfungsi mewadahi perilaku pengguna berupa berjalan-jalan sambil meilhat barang, berbelanja, mengamati kegiatan atau landscape sekitar, dan berinteraksi dengan keramaian. 132

20 Tempat berjualan pedagang kaki lima berupa tenda yang dapat dilepas (tidak permanen) sehingga tempat tersebut dapat dimanfaatkan untuk beragam kebutuhan dan aktivitas (fleksibel). Fasilitas Komersial (Area Makan) (2) Gambar simulasi rancangan 5.29 : Area makan dari bangunan komersial di boulevard stasiun kereta api Bandung bagian Selatan Area makan di lantai satu bangunan komersial yang terbuka ke arah jalur pedestrian pada area boulevard, berfungsi mewadahi perilaku pengguna berupa mengamati landscape dan aktivitas sekitar tanpa terjadi kontak fisik atau visual dengan obyek pengamatan sambil beristirahat, berkumpul, mengobrol, serta makan dan minum. 133

Fasilitas Komersial (Area Makan Lantai 1) (2)

Fasilitas Komersial (Area Makan Lantai 1) (2) Fasilitas Komersial (Area Makan Lantai 1) (2) Gambar simulasi rancangan 5.30 : Area makan lantai satu bangunan komersial di boulevard stasiun kereta api Bandung bagian Selatan 5.6.3 Jalur Pedestrian Jalur

Lebih terperinci

BAB IV PENGAMATAN PERILAKU

BAB IV PENGAMATAN PERILAKU BAB IV PENGAMATAN PERILAKU 3.1 Studi Banding Pola Perilaku Pengguna Ruang Publik Berupa Ruang Terbuka Pengamatan terhadap pola perilaku di ruang publik berupa ruang terbuka yang dianggap berhasil dan mewakili

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kawasan stasiun kereta api Bandung bagian Selatan yang terletak di pusat kota berfungsi sebagai pendukung dan penghubung fasilitasfasilitas di sekitarnya, seperti perkantoran,

Lebih terperinci

BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN

BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN 6.1 Kesimpulan Perancangan ruang publik di kawasan stasiun kereta api Bandung bagian Selatan meliputi luasan sebesar 34.240,73 m 2. Koefisien dasar bangunan (KDB) yang diterapkan

Lebih terperinci

DATA PEAK HOUR PENUMPANG KA. Grafik 3.3 : Hasil survai jumlah penumpang kereta tiap jam Sumber : Sanny Poerwa & Hendriek Hanie, 2005

DATA PEAK HOUR PENUMPANG KA. Grafik 3.3 : Hasil survai jumlah penumpang kereta tiap jam Sumber : Sanny Poerwa & Hendriek Hanie, 2005 Berdasarkan hasil survai, penumpang kereta api memiliki berbagai tujuan dalam menggunakan fasilitas transportasi ini. Tujuan tersebut antara lain untuk bekerja, berdagang, berlibur, dan mengunjungi sanak

Lebih terperinci

BAB 5 KONSEP PERANCANGAN

BAB 5 KONSEP PERANCANGAN BAB 5 KONSEP PERANCANGAN PENGEMBANGAN STASIUN KERETA API PASAR SENEN 5.1. Ide Awal Ide awal dari stasiun ini adalah Intermoda-Commercial Bridge. Konsep tersebut digunakan berdasarkan pertimbangan bahwa

Lebih terperinci

BAB IV: KONSEP Konsep Bangunan Terhadap Tema.

BAB IV: KONSEP Konsep Bangunan Terhadap Tema. BAB IV: KONSEP 4.1. Konsep Bangunan Terhadap Tema Kawasan Manggarai, menurut rencana pemprov DKI Jakarta akan dijadikan sebagai kawasan perekonomian terpadu dengan berbagai kelengkapan fasilitas. Fasilitas

Lebih terperinci

BAB 5 KONSEP PERANCANGAN 5.1 Konsep Dasar Perancangan Dalam perancangan desain Transportasi Antarmoda ini saya menggunakan konsep dimana bangunan ini memfokuskan pada kemudahan bagi penderita cacat. Bangunan

Lebih terperinci

PERANCANGAN RUANG PUBLIK DENGAN DASAR PENDEKATAN PERILAKU Studi Kasus : Kawasan Stasiun Kereta Api Bandung bagian Selatan

PERANCANGAN RUANG PUBLIK DENGAN DASAR PENDEKATAN PERILAKU Studi Kasus : Kawasan Stasiun Kereta Api Bandung bagian Selatan PERANCANGAN RUANG PUBLIK DENGAN DASAR PENDEKATAN PERILAKU Studi Kasus : Kawasan Stasiun Kereta Api Bandung bagian Selatan Tesis Desain Diajukan sebagai salah satu syarat untuk menyelesaikan pendidikan

Lebih terperinci

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN BAB V KESIMPULAN DAN SARAN 5.1 KESIMPULAN Berdasarkan analisis data dan pembahasan pada Bab IV didapatkan temuan-temuan mengenai interaksi antara bentuk spasial dan aktivitas yang membentuk karakter urban

Lebih terperinci

BAB IV ANALISA PERENCANAAN

BAB IV ANALISA PERENCANAAN BAB IV ANALISA PERENCANAAN 4.1. Analisa Non Fisik Adalah kegiatan yang mewadahi pelaku pengguna dengan tujuan dan kegiatannya sehingga menghasilkan besaran ruang yang dibutuhkan untuk mewadahi kegiatannya.

Lebih terperinci

BAB VI KONSEP PERENCANAAN

BAB VI KONSEP PERENCANAAN BAB VI KONSEP PERENCANAAN VI.1 KONSEP BANGUNAN VI.1.1 Konsep Massa Bangunan Pada konsep terminal dan stasiun kereta api senen ditetapkan memakai masa gubahan tunggal memanjang atau linier. Hal ini dengan

Lebih terperinci

BAB V KONSEP. V.1 Konsep Perencanaan dan Perancangan. Konsep desain untuk fungsi M al dan Apartemen ini mencoba menampung kegiatankegiatan

BAB V KONSEP. V.1 Konsep Perencanaan dan Perancangan. Konsep desain untuk fungsi M al dan Apartemen ini mencoba menampung kegiatankegiatan BAB V KONSEP V.1 Konsep Perencanaan dan Perancangan Konsep desain untuk fungsi M al dan Apartemen ini mencoba menampung kegiatankegiatan yang terjadi di sekitar tapak, khusunya jalur pejalan kaki dan kegiatan

Lebih terperinci

BAB IV KONSEP. 4.1 Ide Awal

BAB IV KONSEP. 4.1 Ide Awal BAB IV KONSEP 4.1 Ide Awal Kawasan Manggarai, menurut rencana pemprov DKI Jakarta akan dijadikan sebagai kawasan perekonomian yang baru dengan kelengkapan berbagai fasilitas. Fasilitas utama pada kawasan

Lebih terperinci

BAB III TINJAUAN KAWASAN Tinjauan Kawasan Kebon Kacang Raya dan Kebon Kacang 30 3.1 Gambaran Kawasan Proyek Nama : Kawasan Kebon Kacang dan sekitarnya. Lokasi : Jl. Kebon Kacang Raya dan Jl.Kebon Kacang

Lebih terperinci

BAB IV KONSEP PERANCANGAN

BAB IV KONSEP PERANCANGAN BAB IV KONSEP PERANCANGAN 4. 1 Ide awal (conceptual idea) Ide awal dari perancangan stasiun ini muncul dari prinsip-prinsip perancangan yang pada umumnya diterapkan pada desain bangunan-bangunan transportasi.

Lebih terperinci

BAB VII KESIMPULAN DAN SARAN Bab ini akan menjawab sasaran yang ada pada bab pendahuluan. Makam merupakan salah satu elemen penting pembentuk sebuah

BAB VII KESIMPULAN DAN SARAN Bab ini akan menjawab sasaran yang ada pada bab pendahuluan. Makam merupakan salah satu elemen penting pembentuk sebuah BAB VII KESIMPULAN DAN SARAN Bab ini akan menjawab sasaran yang ada pada bab pendahuluan. Makam merupakan salah satu elemen penting pembentuk sebuah kota, sebagai untuk mengebumikan jenazah makam juga

Lebih terperinci

- BAB. V - RUANG DAN BENTUK KONSEP PERANCANGAN. 5.1 Konsep Perancangan Tapak Konsep Penzoningan Tapak TAMAN/ PUBLIK

- BAB. V - RUANG DAN BENTUK KONSEP PERANCANGAN. 5.1 Konsep Perancangan Tapak Konsep Penzoningan Tapak TAMAN/ PUBLIK - BAB. V - KONEP PERANCANGAN 5.1 Konsep Perancangan Tapak Konsep Penzoningan Tapak TAMAN/ PUBLIK PARKIR / PUBLIK GEDUNG D/ EMIPRIVAT PERPUTAKAAN / EMIPUBLIK GEDUNG TK/ EMIPRIVAT PARKIR/ PUBLIK YAYAAN/

Lebih terperinci

PENGEMBANGAN STASIUN KERETA API PEMALANG DI KABUPATEN PEMALANG

PENGEMBANGAN STASIUN KERETA API PEMALANG DI KABUPATEN PEMALANG KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN PENGEMBANGAN STASIUN KERETA API PEMALANG DI KABUPATEN PEMALANG TUGAS AKHIR Diajukan sebagai Syarat untuk Mencapai Gelar Sarjana Teknik Arsitektur Universitas Sebelas

Lebih terperinci

BAB V HASIL RANCANGAN

BAB V HASIL RANCANGAN BAB V HASIL RANCANGAN 5.1 Perancangan Tapak 5.1.1 Pemintakatan Secara umum bangunan dibagi menjadi beberapa area, yaitu : Area Pertunjukkan, merupakan area dapat diakses oleh penonton, artis, maupun pegawai.

Lebih terperinci

BAB III: DATA DAN ANALISA

BAB III: DATA DAN ANALISA BAB III: DATA DAN ANALISA 3.1. Data Fisik dan Non Fisik 2.1.1. Data Fisik Lokasi Luas Lahan Kategori Proyek Pemilik RTH Sifat Proyek KLB KDB RTH Ketinggian Maks Fasilitas : Jl. Stasiun Lama No. 1 Kelurahan

Lebih terperinci

BAB V KONSEP PERANCANGAN

BAB V KONSEP PERANCANGAN BAB V KONSEP PERANCANGAN V.1. KONSEP DASAR PERANCANGAN Dalam konsep dasar pada perancangan Fashion Design & Modeling Center di Jakarta ini, yang digunakan sebagai konsep dasar adalah EKSPRESI BENTUK dengan

Lebih terperinci

BAB II MENEMUKENALI SPESIFIKASI TIRTA UJUNG DI KARANGASEM

BAB II MENEMUKENALI SPESIFIKASI TIRTA UJUNG DI KARANGASEM BAB II MENEMUKENALI SPESIFIKASI TIRTA UJUNG DI KARANGASEM Tirta Ujung merupakan mata air alami di Desa Ujung yang dibendung menjadi kolam, yang kemudian digunakan warga setempat untuk melakukan ritual

Lebih terperinci

BAB II TRUTHS. bukunya yang berjudul Experiencing Architecture, mengatakan bahwa arsitektur

BAB II TRUTHS. bukunya yang berjudul Experiencing Architecture, mengatakan bahwa arsitektur BAB II TRUTHS Setelah menemukan adanya potensi pada kawasan perancangan, proses menemukan fakta tentang kawasan pun dilakukan. Ramussen (1964) dalam bukunya yang berjudul Experiencing Architecture, mengatakan

Lebih terperinci

BAB VI HASIL PERANCANGAN

BAB VI HASIL PERANCANGAN 1 BAB VI HASIL PERANCANGAN 6.1 Site Plan Akses masuk ke site ini melalui jalan utama. Jalan utama tersebut berasal dari arah Cicaheum Bandung. Jalur mobil/ kendaraan di dalam bangunan dibuat satu arah

Lebih terperinci

BAB IV KONDISI UMUM. Gambar Peta Dasar TPU Tanah Kusir (Sumber: Dinas Pertamanan dan Pemakaman DKI Jakarta, 2011) Perumahan Warga

BAB IV KONDISI UMUM. Gambar Peta Dasar TPU Tanah Kusir (Sumber: Dinas Pertamanan dan Pemakaman DKI Jakarta, 2011) Perumahan Warga 19 BAB IV KONDISI UMUM 4.1. Letak, Batas, dan Luas Tapak TPU Tanah Kusir merupakan pemakaman umum yang dikelola oleh Suku Dinas Pemakaman Jakarta Selatan di bawah Dinas Pertamanan dan Pemakaman DKI Jakarta.

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Judul Perancangan SKYWALK PARKING AND SHOPPING TRIP Penataan Kawasan Komersial dan Ruang Hijau Sepanjang Jalan Kaliurang Km.

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Judul Perancangan SKYWALK PARKING AND SHOPPING TRIP Penataan Kawasan Komersial dan Ruang Hijau Sepanjang Jalan Kaliurang Km. BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Judul Perancangan SKYWALK PARKING AND SHOPPING TRIP Penataan Kawasan Komersial dan Ruang Hijau Sepanjang Jalan Kaliurang Km.5-6 1.2 Deskripsi Judul 1.2.1 Skywalk Parking Skywalk merupakan

Lebih terperinci

BAB II FIRST LINE. ditinggalkan dan diabaikan oleh masyarakatnya sendiri. pada tahun yang berisi pengembangan Transit Oriented Development

BAB II FIRST LINE. ditinggalkan dan diabaikan oleh masyarakatnya sendiri. pada tahun yang berisi pengembangan Transit Oriented Development BAB II FIRST LINE Sesuai dengan proses perancangan, pengetahuan dan pengalaman ruang sangat dibutuhkan untuk melengkapi dan mendapatkan data-data yang berkaitan dengan kasus yang ditangani. Karena itu

Lebih terperinci

BAB III DESKRIPSI PROYEK. : Relokasi Pasar Astana Anyar Pasar Festival. : PD Pasar Bermartabat Kota Bandung. : Jl. Astana Anyar

BAB III DESKRIPSI PROYEK. : Relokasi Pasar Astana Anyar Pasar Festival. : PD Pasar Bermartabat Kota Bandung. : Jl. Astana Anyar BAB III DESKRIPSI PROYEK 3.1. Gambaran Umum Nama Proyek Astana Anyar Sifat Proyek Pemilik Lokasi Luas Lahan : Relokasi Pasar Astana Anyar Pasar Festival : Fiktif : PD Pasar Bermartabat Kota Bandung : Jl.

Lebih terperinci

BAB V ARAHAN DAN REKOMENDASI

BAB V ARAHAN DAN REKOMENDASI BAB V ARAHAN DAN REKOMENDASI Bab ini memberikan arahan dan rekomendasi berdasarkan hasil analisis yang telah dilakukan pada kawasan studi, dengan membawa visi peningkatan citra Kawasan Tugu Khatulistiwa

Lebih terperinci

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN. keberadaan elemen-elemen fisik atau yang disebut juga setting fisik seiring

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN. keberadaan elemen-elemen fisik atau yang disebut juga setting fisik seiring BAB V KESIMPULAN DAN SARAN 5.1 Kesimpulan Seperti yang telah diuraikan pada bab sebelumnya, diketahui bahwa keberadaan elemen-elemen fisik atau yang disebut juga setting fisik seiring dengan pergantian

Lebih terperinci

BAB 5 KONSEP PERANCANGAN

BAB 5 KONSEP PERANCANGAN BAB 5 KONEP PERANCANGAN 5.1. Konsep Tapak dan Tata Ruang Luar Konsep tapak dan tata ruang luar bertolak dari pengoptimalisasian ruangruang publik dalam dan luar tapak, sekaligus respon terhadap kondisi

Lebih terperinci

PENATAAN KORIDOR JALAN PASAR BARU JAKARTA

PENATAAN KORIDOR JALAN PASAR BARU JAKARTA LANDASAN PROGRAM PERENCANAAN DAN PERANCANGAN ARSITEKTUR Diajukan Untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan Guna Memperoleh Gelar Sarjana Teknik PENATAAN KORIDOR JALAN PASAR BARU JAKARTA Diajukan oleh : ARDHANA

Lebih terperinci

BAB II WHO? Gambar 2.1. Pasar liar menempati jalan (Sumber Koleksi Pribadi)

BAB II WHO? Gambar 2.1. Pasar liar menempati jalan (Sumber Koleksi Pribadi) 8 BAB II WHO? Berdasarkan pengetahuan kondisi site dan potensi yang terdapat pada site dan mendasari perencanaan fungsi, perancang melakukan survey pada lokasi site dan sekitaran site. Pada survey tersebut

Lebih terperinci

BAB III ANALISIS KAWASAN

BAB III ANALISIS KAWASAN BAB III ANALISIS KAWASAN 3.1 Analisis Makro 3.1.1 Tinjauan Perkembangan Kawasan Stasiun Kawasan stasiun Bandung sejak akhir abad ke-19 telah berkembangan sebagai kawasan komersial. Semenjak dibukanya jalur

Lebih terperinci

Rancangan Sirkulasi Pada Terminal Intermoda Bekasi Timur

Rancangan Sirkulasi Pada Terminal Intermoda Bekasi Timur JURNAL SAINS DAN SENI POMITS Vol. 6, No.2, (2017) 2337-3520 (2301-928X Print) G 368 Rancangan Sirkulasi Pada Terminal Intermoda Bekasi Timur Fahrani Widya Iswara dan Hari Purnomo Departemen Arsitektur,

Lebih terperinci

BAB II RUANG BAGI KEHIDUPAN

BAB II RUANG BAGI KEHIDUPAN BAB II RUANG BAGI KEHIDUPAN Untuk memperoleh hasil pemrograman yang maksimal, proses analisa yang dilakukan sebaiknya bersumber pada data yang tersusun dengan sempurna. Data yang sudah terkumpul kemudian

Lebih terperinci

VI. PERENCANAAN LANSKAP PEDESTRIAN SHOPPING STREET

VI. PERENCANAAN LANSKAP PEDESTRIAN SHOPPING STREET 42 VI. PERENCANAAN LANSKAP PEDESTRIAN SHOPPING STREET Pengembangan konsep dalam studi perencanaan kawasan ini akan terbagi ke dalam empat sub konsep, yaitu perencanaan lanskap pedestrian shopping street,

Lebih terperinci

BAB IV DESKRIPSI LOKASI PENELITIAN

BAB IV DESKRIPSI LOKASI PENELITIAN BAB IV DESKRIPSI LOKASI PENELITIAN Dalam bab ini akan dipaparkan data-data kawasan ruang publik Bundaran HI guna mendukung penelitian yang dilakukan serta memberi pengetahuan pada pembaca. Data-data yang

Lebih terperinci

BAB V. KONSEP PERANCANGAN

BAB V. KONSEP PERANCANGAN BAB V. KONSEP PERANCANGAN A. KONSEP MAKRO 1. Youth Community Center as a Place for Socialization and Self-Improvement Yogyakarta sebagai kota pelajar dan kota pendidikan tentunya tercermin dari banyaknya

Lebih terperinci

BAGIAN 3 HASIL RANCANGAN DAN PEMBUKTIANNYA 3.1 NARASI DAN ILUSTRASI SKEMATIK HASIL RANCANGAN

BAGIAN 3 HASIL RANCANGAN DAN PEMBUKTIANNYA 3.1 NARASI DAN ILUSTRASI SKEMATIK HASIL RANCANGAN BAGIAN 3 HASIL RANCANGAN DAN PEMBUKTIANNYA 3.1 NARASI DAN ILUSTRASI SKEMATIK HASIL RANCANGAN 3.1.1 RANCANGAN SKEMATIK RUMAH SUSUN 3.1.1.1 Rancangan Skematik Kawasan Tapak (SITE PLAN) Gambar 3.1 Tapak Eksisting

Lebih terperinci

BAB 5 HASIL RANCANGAN

BAB 5 HASIL RANCANGAN BAB 5 HASIL RANCANGAN 6. Desain Bangunan Desain bangunan pertunjukan seni ini memiliki bentuk kotak masif untuk efisiensi bentuk bangunan dan ruang bangunan. Bentuk bangunan yang berbentuk kotak masif

Lebih terperinci

BAB VI KESIMPULAN DAN REKOMENDASI

BAB VI KESIMPULAN DAN REKOMENDASI BAB VI KESIMPULAN DAN REKOMENDASI Pada bagian ini akan dijabarkan kesimpulan dan rekomendasi. Kesimpulan berisi rangkuman dari hasil penelitian dan pembahasan sekaligus menjawab tujuan penelitian di bab

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Re-Desain Stasiun Besar Lempuyangan Dengan Penekanan Konsep pada Sirkulasi, Tata ruang dan Pengaturan Fasilitas Komersial,

BAB I PENDAHULUAN. Re-Desain Stasiun Besar Lempuyangan Dengan Penekanan Konsep pada Sirkulasi, Tata ruang dan Pengaturan Fasilitas Komersial, BAB I PENDAHULUAN 1.1 Definisi Judul Re-Desain Stasiun Besar Lempuyangan Dengan Penekanan Konsep pada Sirkulasi, Tata ruang dan Pengaturan Fasilitas Komersial, pengertian Judul : Re-Desain Redesain berasal

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar belakang Pedestrian berasal dari bahasa Yunani, dimana berasal dari kata pedos yang berarti kaki, sehingga pedestrian dapat diartikan sebagai pejalan kaki atau orang yang berjalan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Salah satu bentuk keberhasilan pembangunan sebuah ruang kota adalah tersedianya

BAB I PENDAHULUAN. Salah satu bentuk keberhasilan pembangunan sebuah ruang kota adalah tersedianya BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Salah satu bentuk keberhasilan pembangunan sebuah ruang kota adalah tersedianya sarana dan prasarana berupa jalur yang baik bagi pejalan kaki di kawasan tersebut. Selain

Lebih terperinci

BAB V KONSEP PERANCANGAN. Dalegan di Gresik ini adalah difraksi (kelenturan). Konsep tersebut berawal dari

BAB V KONSEP PERANCANGAN. Dalegan di Gresik ini adalah difraksi (kelenturan). Konsep tersebut berawal dari BAB V KONSEP PERANCANGAN 5.1 Konsep Dasar Perancangan Konsep dasar yang digunakan dalam perancangan kawasan wisata Pantai Dalegan di Gresik ini adalah difraksi (kelenturan). Konsep tersebut berawal dari

Lebih terperinci

2015 STASIUN TRANSIT MONORELBERBASIS SISTEMTRANSIT ORIENTED DEVELOPMENT

2015 STASIUN TRANSIT MONORELBERBASIS SISTEMTRANSIT ORIENTED DEVELOPMENT 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Perancangan Sebagai Ibu Kota Provinsi Jawa Barat, Kota Bandung telah mengalami perkembangan pesat sebagai kota dengan berbagai aktivitas yang dapat menunjang pertumbuhan

Lebih terperinci

BAB VI HASIL PERANCANGAN. terdapat pada konsep perancangan Bab V yaitu, sesuai dengan tema Behaviour

BAB VI HASIL PERANCANGAN. terdapat pada konsep perancangan Bab V yaitu, sesuai dengan tema Behaviour BAB VI HASIL PERANCANGAN 6.1 Dasar Perancangan Hasil perancangan Sekolah Dasar Islam Khusus Anak Cacat Fisik di Malang memiliki dasar konsep dari beberapa penggambaran atau abstraksi yang terdapat pada

Lebih terperinci

BAB V KONSEP PERANCANGAN. konsep dasar yang digunakan dalam Pengembangan Kawasan Wisata Pantai Boom Di

BAB V KONSEP PERANCANGAN. konsep dasar yang digunakan dalam Pengembangan Kawasan Wisata Pantai Boom Di BAB V KONSEP PERANCANGAN 5.1. Konsep Dasar konsep dasar yang digunakan dalam Pengembangan Kawasan Wisata Pantai Boom Di Kabupaten Tuban ini adalah Sequence (pergerakan dari satu tempat ketempat lain sepanjang

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. :Pengembangan adalah suatu usaha untuk meningkatkan kemampuan teknis, teoritis, dan konseptual. -pengembangan.

BAB I PENDAHULUAN. :Pengembangan adalah suatu usaha untuk meningkatkan kemampuan teknis, teoritis, dan konseptual. -pengembangan. BAB I PENDAHULUAN 1.1 Pengertian Judul Pengembangan Kawasan Shopping Street Pertokoan Jl. Yos Sudarso :Pengembangan adalah suatu usaha untuk meningkatkan kemampuan teknis, teoritis, dan konseptual. (http://developmentcountry.blogspot.com/2009/12/definisi

Lebih terperinci

BAB IV KONSEP PERANCANGAN

BAB IV KONSEP PERANCANGAN BAB IV KONSEP PERANCANGAN 4.1 IDE AWAL / CONSEPTUAL IDEAS Pertimbangan awal saat hendak mendesain kasus ini adalah : bahwa ini adalah sebuah proyek urban, proyek ini merupakan proyek bangunan publik, serta

Lebih terperinci

PERANCANGAN KOTA. Lokasi Alun - Alun BAB III

PERANCANGAN KOTA. Lokasi Alun - Alun BAB III BAB III DATA ALUN-ALUN KABUPATEN WONOGIRI Kabupaten Wonogiri, dengan luas wilayah 182.236,02 Ha secara geografis terletak pada garis lintang 7 0 32' sampai 8 0 15' dan garis bujur 110 0 41' sampai 111

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latarbelakang Permasalahan

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latarbelakang Permasalahan BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latarbelakang Permasalahan Seiring dengan tumbuh dan berkembangnya Kota Surakarta sebagai kota budaya dan pariwisata, diikuti dengan kemajuan pesat khususnya bidang perekonomian membuat

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Pasar Palmerah merupakan salah satu pasar tradisional di Jakarta Pusat yang terletak di kawasan ramai dengan fungsi sebagai titik transit moda angkutan umum dari sarana

Lebih terperinci

BAB VI KONSEP RANCANGAN

BAB VI KONSEP RANCANGAN BAB VI KONSEP RANCANGAN Lingkup perancangan: Batasan yang diambil pada kasus ini berupa perancangan arsitektur komplek Pusat Rehabilitasi Penyandang Cacat Tubuh meliputi fasilitas terapi, rawat inap, fasilitas

Lebih terperinci

BAB III: DATA DAN ANALISA

BAB III: DATA DAN ANALISA Perancangan Kawasan Stasiun Terpadu Manggarai BAB III: DATA DAN ANALISA 3.1. Data Fisik dan Non Fisik Gambar 29 Stasiun Manggarai Sumber : Google Image, diunduh 20 Februari 2015 3.1.1. Data Kawasan 1.

Lebih terperinci

BAB IV KONSEP PERANCANGAN

BAB IV KONSEP PERANCANGAN BAB IV KONSEP PERANCANGAN IV.1. Konsep Dasar Konsep dasar perancangan Pusat Seni Pertunjukan ini adalah mendesain suatu bangunan dengan fasilitas pertunjukan yang dapat berfungsi dengan baik secara sistem

Lebih terperinci

BAB IV KONSEP PERANCANGAN

BAB IV KONSEP PERANCANGAN BAB IV KONSEP PERANCANGAN IV.1. Konsep Dasar Konsep dasar yang melatarbelakangi perancangan stasiun tv TPI didasarkan pada empat isu utama, yaitu : Pembagian sirkulasi yang sederhana, jelas, dan efisien

Lebih terperinci

BAB V KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN

BAB V KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN BAB V KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN V.1 Konsep Dasar Perancangan Konsep dasar perancangan meliputi pembahasan mengenai pemanfaatan penghawaan dan pencahayaan alami pada City Hotel yang bertujuan untuk

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. 2010). Aksesibilitas adalah konsep yang luas dan fleksibel. Kevin Lynch

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. 2010). Aksesibilitas adalah konsep yang luas dan fleksibel. Kevin Lynch BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Aksesibilitas 2.1.1. Pengertian Aksesibilitas Jhon Black mengatakan bahwa aksesibilitas merupakan suatu ukuran kenyamanan atau kemudahan pencapaian lokasi dan hubungannya satu

Lebih terperinci

BAB V KONSEP PERANCANGAN PASAR. event FESTIVAL. dll. seni pertunjukan

BAB V KONSEP PERANCANGAN PASAR. event FESTIVAL. dll. seni pertunjukan BAB V KONSEP PERANCANGAN 5.1. Konsep Dasar Konsep dasar pada perancangan Pasar Astana Anyar ini merupakan konsep yang menjadi acuan dalam mengembangkan konsep-konsep pada setiap elemen perancangan arsitektur

Lebih terperinci

Penerapan Konsep Persepsi dan Batas dalam Redesain Rumah Potong Hewan Surya

Penerapan Konsep Persepsi dan Batas dalam Redesain Rumah Potong Hewan Surya G153 Penerapan Konsep Persepsi dan Batas dalam Redesain Rumah Potong Hewan Surya Faliq Urfansyah dan Angger Sukma Mahendra Departemen Arsitektur, Fakultas Arsitektur, Desain dan Perancangan, Institut Teknologi

Lebih terperinci

BAB 5 KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN. dengan lingkungannya yang baru.

BAB 5 KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN. dengan lingkungannya yang baru. BAB 5 KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN 5.1 Dasar Perencanaan dan Perancangan Beberapa hal yang menjadi dasar perencanaan dan perancangan Asrama Mahasiwa Bina Nusantara: a. Mahasiswa yang berasal dari

Lebih terperinci

BAB 2 LANDASAN TEORI. merupakan Upaya penataan kembali suatu kawasan kota dengan terlebih dulu

BAB 2 LANDASAN TEORI. merupakan Upaya penataan kembali suatu kawasan kota dengan terlebih dulu 15 BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1 Pengertian Redevelopment Salah satu pengertian redevelopment menurut Prof. Danisworo merupakan Upaya penataan kembali suatu kawasan kota dengan terlebih dulu melakukan pembongkaran

Lebih terperinci

BAB IV PENGEMBANGAN STASIUN KERETA API PEMALANG DI KABUPATEN PEMALANG

BAB IV PENGEMBANGAN STASIUN KERETA API PEMALANG DI KABUPATEN PEMALANG BAB IV PENGEMBANGAN STASIUN KERETA API PEMALANG DI KABUPATEN PEMALANG A. PEMAHAMAN PENGEMBANGAN STASIUN KERETA API PEMALANG DI KABUPATEN PEMALANG Pengembangan Stasiun Pemalang merupakan suatu proses atau

Lebih terperinci

BAB V KONSEP RANCANGAN

BAB V KONSEP RANCANGAN BAB V KONSEP RANCANGAN 5.1 Ide Awal Pertimbangan awal saat hendak merancang proyek ini adalah : Bangunan ini mewadahi keegiatan/aktivitas anak yang bias merangsang sensorik dan motorik anak sehingga direpresentasikan

Lebih terperinci

BAB II DESKRIPSI PROYEK

BAB II DESKRIPSI PROYEK BAB II DESKRIPSI PROYEK 2.1 PENGERTIAN PUSAT PERBELANJAAN Pusat perbelanjaan pada awalnya adalah suatu tempat yang berfungsi sebagai tempat perdagangan (tempat bertemunya calon pembeli dan penjual dan

Lebih terperinci

S K R I P S I & T U G A S A K H I R 6 6

S K R I P S I & T U G A S A K H I R 6 6 BAB IV ANALISA PERANCANGAN 4. Analisa Tapak Luas Tapak : ± 7.840 m² KDB : 60 % ( 60 % x 7.840 m² = 4.704 m² ) KLB :.5 (.5 x 7.840 m² =.760 m² ) GSB : 5 meter Peruntukan : Fasilitas Transportasi 4.. Analisa

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. kendaraan itu harus berhenti, baik itu bersifat sementara maupun bersifat lama atau

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. kendaraan itu harus berhenti, baik itu bersifat sementara maupun bersifat lama atau 6 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Pengertian Parkir Kendaraan tidak mungkin bergerak terus-menerus, akan ada waktunya kendaraan itu harus berhenti, baik itu bersifat sementara maupun bersifat lama atau biasa

Lebih terperinci

Gejala arsitektur sekolah..., Rossa Turpuk Gabe, FT UI, 2008 LAMPIRAN

Gejala arsitektur sekolah..., Rossa Turpuk Gabe, FT UI, 2008 LAMPIRAN LAMPIRAN sekolah impianku Ibu Dian telah mengajar selama 18 tahun ` Yang paling mencolok dari sekolah impian dari Ibu Dian adalah pagar batas sekolah. Pagar batas ini yang lebih dulu digambarkan, disusul

Lebih terperinci

BAB V ANALISIS SINTESIS

BAB V ANALISIS SINTESIS BAB V ANALISIS SINTESIS 5.1 Aspek Fisik dan Biofisik 5.1.1 Letak, Luas, dan Batas Tapak Tapak terletak di bagian Timur kompleks sekolah dan berdekatan dengan pintu keluar sekolah, bangunan kolam renang,

Lebih terperinci

BAB 5 KONSEP PERANCANGAN

BAB 5 KONSEP PERANCANGAN BAB 5 KONSEP PERANCANGAN 5.1. KONSEP LINGKUNGAN SEKITAR DAN DALAM TAPAK 5.1.1. Konsep Ruang Luar Jalan bulungan adalah daerah yang selalu ramai karena adanya area komersil seperti Blok M Plaza, maka dari

Lebih terperinci

BAB V KESIMPULAN 5.1 Kondisi Sistem Setting dan Livabilitas Ruang Terbuka Publik di Lapangan Puputan

BAB V KESIMPULAN 5.1 Kondisi Sistem Setting dan Livabilitas Ruang Terbuka Publik di Lapangan Puputan BAB V KESIMPULAN Dari hasil analisis, peneliti menjawab pertanyaan penelitian yaitu bagaimana kondisi sistem setting dan livabilitas di ruang terbuka publik di Lapangan Puputan dan bagaimana bentuk persepsi

Lebih terperinci

BAB III DESKRIPSI PROYEK

BAB III DESKRIPSI PROYEK 38 3.1 Gambaran Umum BAB III DESKRIPSI PROYEK Gambar 3. 1 Potongan Koridor Utara-Selatan Jalur Monorel (Sumber : Studi Pra Kelayakan Koridor 1 Dinas Perhubungan Kota Bandung Tahun 2014) Pemilihan lokasi

Lebih terperinci

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN BAB V KESIMPULAN DAN SARAN 5.1 Kesimpulan Penyusunan konsep simbiosis mutualistik untuk penataan PKL Samanhudi erat kaitannya dengan karakter masing-masing pelaku dan konflik kepentingan serta konflik

Lebih terperinci

BAB IV KONSEP PERANCANGAN

BAB IV KONSEP PERANCANGAN BAB IV KONSEP PERANCANGAN 4.1. Letak Geografis Site Site yang akan dibangun berlokasi di sebelah timur Jalan Taman Siswa dengan koordinat 07 o 48 41.8 LS 110 o 22 36.8 LB. Bentuk site adalah persegi panjang

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Pengertian Judul

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Pengertian Judul BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Pengertian Judul Agar dapat memberikan kejelasan mengenai maksud dari judul yang diangkat, maka tiap-tiap kata dari judul tersebut perlu dijabarkan pengertiannya, yaitu sebagai berikut

Lebih terperinci

BAB V KONSEP PERANCANGAN

BAB V KONSEP PERANCANGAN BAB V KONSEP PERANCANGAN 5.1. KONSEP DASAR PERANCANGAN Dalam Konsep Perancangan Concert Hall ini, Dengan Tema Arsitektur Simbolik Maka Masa bangunan harus sesuai dengan Tema yang diambil dan menjadi suatu

Lebih terperinci

BAB 5 SIMPULAN DAN SARAN

BAB 5 SIMPULAN DAN SARAN BAB 5 SIMPULAN DAN SARAN 5.1 Simpulan Simpulan dalam laporan ini berupa konsep perencanaan dan perancangan yang merupakan hasil analisa pada bab sebelumnya. Pemikiran yang melandasi proyek kawasan transit

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. : Merupakan kabupaten di Provinsi Jawa Tengah. Pusat pemerintahan. Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta di selatan dan barat¹.

BAB I PENDAHULUAN. : Merupakan kabupaten di Provinsi Jawa Tengah. Pusat pemerintahan. Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta di selatan dan barat¹. BAB I PENDAHULUAN 1.1 Pengertian Judul Untuk mengetahui maksud dari judul diatas, maka perlu diuraikan arti masing masing kata : Klaten : Merupakan kabupaten di Provinsi Jawa Tengah. Pusat pemerintahan

Lebih terperinci

SEKOLAH TINGGI SENI TEATER JAKARTA

SEKOLAH TINGGI SENI TEATER JAKARTA BAB V KONSEP 5.1 KONSEP DASAR PERANCANGAN Dalam konsep perancangan Sekolah Tinggi Seni Teater ini, yang digunakan sebagai konsep dasar adalah INTERAKSI. Interaksi dapat diartikan sebuah bangunan yang dirancang

Lebih terperinci

BAB 2 TINJAUAN UMUM 2.1. Gambaran Umum Proyek Nama Proyek Kategori Proyek Sifat Proyek Pemilik Luas Lahan : Transportasi Antar Moda : Fasilitas Transportasi : Fiktif : Negri : ± 4 Ha KDB (%) : 60 % KLB

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. mempengaruhi bertambah banyaknya kebutuhan akan sarana dan prasarana

BAB I PENDAHULUAN. mempengaruhi bertambah banyaknya kebutuhan akan sarana dan prasarana BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Selama ini kita mengenal bahwa Yogyakarta adalah daerah yang terkenal sebagai kota pelajar, dari tahun ke tahun semakin bertambah jumlah penduduknya, terutama

Lebih terperinci

BAB V KONSEP PERANCANGAN. Konsep dasar perancangan beranjak dari hasil analisis bab sebelumnya yang

BAB V KONSEP PERANCANGAN. Konsep dasar perancangan beranjak dari hasil analisis bab sebelumnya yang BAB V KONSEP PERANCANGAN 5.1 Konsep Dasar Konsep dasar perancangan beranjak dari hasil analisis bab sebelumnya yang kemudian disintesis. Sintesis diperoleh berdasarkan kesesuaian tema rancangan yaitu metafora

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA. suatu keadaan tidak bergerak dari suatu kendaraan yang tidak bersifat

II. TINJAUAN PUSTAKA. suatu keadaan tidak bergerak dari suatu kendaraan yang tidak bersifat II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Pengertian Parkir dan Pedestrian Menurut Pedoman Teknis Penyelenggaraan Fasilitas Parkir, Direktorat Jenderal Perhubungan Darat (1996) yang menyatakan bahwa parkir adalah suatu

Lebih terperinci

DAFTAR ISI LAPORAN TUGAS AKHIR

DAFTAR ISI LAPORAN TUGAS AKHIR DAFTAR ISI KATA PENGANTAR... i UCAPAN TERIMA KASIH... ii DAFTAR ISI... iii DAFTAR TABEL... vi DAFTAR GAMBAR... ix DAFTAR ISTILAH... xiii DAFTAR LAMPIRAN... xvi BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang... I-1

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. 2.1 Persepsi sebagai salah satu pendekatan arsitektur perilaku

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. 2.1 Persepsi sebagai salah satu pendekatan arsitektur perilaku BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Persepsi sebagai salah satu pendekatan arsitektur perilaku 2.1.1 Pengertian persepsi Dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia (Surayin,2001:433), Persepsi adalah tanggapan atau penerimaan

Lebih terperinci

Pengembangan Stasiun Kereta Api Pemalang di Kabupaten Pemalang BAB I PENDAHULUAN. commit to user

Pengembangan Stasiun Kereta Api Pemalang di Kabupaten Pemalang BAB I PENDAHULUAN. commit to user BAB I PENDAHULUAN Dalam bab pendahuluan ini, akan dibahas mengenai, pengertian dan esensi judul, latar belakang munculnya gagasan atau ide dan judul, tujuan dan sasaran perencanaan dan perancangan, permasalahan

Lebih terperinci

5. HASIL RANCANGAN. Gambar 47 Perspektif Mata Burung

5. HASIL RANCANGAN. Gambar 47 Perspektif Mata Burung 5. HASIL RANCANGAN 5.1 Hasil Rancangan pada Tapak Perletakan massa bangunan pada tapak dipengaruhi oleh massa eksisting yang sudah ada pada lahan tersebut. Di lahan tersebut telah terdapat 3 (tiga) gedung

Lebih terperinci

BAB I: PENDAHULUAN Latarbelakang.

BAB I: PENDAHULUAN Latarbelakang. BAB I: PENDAHULUAN 1.1. Latarbelakang Seiring dengan perkembangan Kota DKI Jakarta di mana keterbatasan lahan dan mahalnya harga tanah menjadi masalah dalam penyediaan hunian layak bagi masyarakat terutama

Lebih terperinci

BAB V KONSEP PERANCANGAN

BAB V KONSEP PERANCANGAN 50 BAB V KONSEP PERANCANGAN 5.1 Konsep Dasar Pada perancangan ini memiliki konsep bagaimana membuat desain yang dapat menarik minat para anak muda muslim maupun non-muslim untuk datang dan mengenal Islam

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA. desain taman dengan menggunakan tanaman hias sebagai komponennya

II. TINJAUAN PUSTAKA. desain taman dengan menggunakan tanaman hias sebagai komponennya 9 II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Ruang Lingkup Arsitektur Lansekap Lansekap sebagai gabungan antara seni dan ilmu yang berhubungan dengan desain taman dengan menggunakan tanaman hias sebagai komponennya merupakan

Lebih terperinci

BAB 5 KONSEP PERANCANGAN. merupakan salah satu pendekatan dalam perancangan arsitektur yang

BAB 5 KONSEP PERANCANGAN. merupakan salah satu pendekatan dalam perancangan arsitektur yang BAB 5 KONSEP PERANCANGAN Konsep perancangan pada redesain kawasan wisata Gua Lowo di Kabupaten Trenggalek menggunakan tema Organik yang merupakan salah satu pendekatan dalam perancangan arsitektur yang

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Trotoar adalah jalur bagi pejalan kaki yang terletak di daerah manfaat jalan, diberi lapis permukaan, diberi elevasi lebih tinggi dari permukaan perkerasan jalan,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Universitas Sumatera Utara

BAB I PENDAHULUAN. Universitas Sumatera Utara BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kegiatan perekonomian dan pembangunan di Indonesia yang didukung kegiatan di sektor industri sebagian besar terkonsentrasi di daerah perkotaan yang struktur dan infrastrukturnya

Lebih terperinci

BAB 5 SIMPULAN DAN SARAN

BAB 5 SIMPULAN DAN SARAN BAB 5 SIMPULAN DAN SARAN 5.1. Simpulan Simpulan dalam laporan ini berupa konsep perencanaan dan perancangan yang merupakan hasil analisa pada bab sebelumnya. Pemikiran yang melandasi proyek peremajaan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1. 1 Latar belakang

BAB I PENDAHULUAN 1. 1 Latar belakang BAB I PENDAHULUAN 1. 1 Latar belakang Indonesia merupakan sebuah negara dengan penduduk terpadat keempat di dunia yaitu 215,8 juta jiwa(tahun 2003). Sebuah negara yang memiliki penduduk padat tersebut

Lebih terperinci

BAB III PENELUSURAN KONSEP DESAIN & SKEMATIK RUMAH PERALIHAN TAPAK KE HORIZONTAL

BAB III PENELUSURAN KONSEP DESAIN & SKEMATIK RUMAH PERALIHAN TAPAK KE HORIZONTAL BAB III PENELUSURAN KONSEP DESAIN & SKEMATIK RUMAH PERALIHAN TAPAK KE HORIZONTAL 3.1. Konsep Makro Site 3.1.1. Konsep Spesifikasi dan Fungsi Bangunan Bangunan yang akan didesain merupakan Rumah Susun Sederhana

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Kota Semarang yang merupakan Ibukota Jawa Tengah adalah salah satu

BAB I PENDAHULUAN. Kota Semarang yang merupakan Ibukota Jawa Tengah adalah salah satu BAB I PENDAHULUAN I.1. LATAR BELAKANG Kota Semarang yang merupakan Ibukota Jawa Tengah adalah salah satu kota besar di Indonesia yang sedang berkembang. Secara geografis kota ini terletak di sebelah utara

Lebih terperinci