PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE JIGSAW

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE JIGSAW"

Transkripsi

1 PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE JIGSAWTERHADAP HASIL BELAJAR BIOLOGI KELAS XI SMA NEGERI I TARUSAN KABUPATEN PESISIR SELATAN TAHUN PELAJARAN 2016/2017 Fadli Vitriadi 1, Gustina Indriati 2, Ade Dewi Maharani 2 1 Mahasiswa Program Studi Pendidikan Biologi STKIP PGRI Sumatera Barat 2 Dosen Progran Studi Pendidikan Biologi STKIP PGRI Sumatera Barat ABSTRACT The students biology learning result is low on the material of the human and animal excretion system because the learning process is still centered on the teacher (teacher center), the lack of students understanding of the material of human and animal excretation system studied, has not seen cooperation between students, and the students is still not implemented. One of the learning models that can be used to improve the biology learning outcomes is a jigsaw type cooperative learning model. The purpose of this study is to determine the effect of the application of cooperative learning model type jigsaw to the results of biology students learning grade XI SMA N I Tarusan.This research type is experiment with randomized control-gruop posttest only desing. Population in this research is all student of class XI SMA N I Tarusan whichenrolled at learning year 2016/2017. Sampling with purposive random sampling technigue so that in getting sample that is class XI IPAI as experimental class and XI IPA2 as control class. The research instrument used is the final test and attitude observation sheet. Data is analysed by using t test.the average value of the eksperemental class is 62,18 while the control class has an average value of 47,81 t test results obtained t hitung >t tabel, ie t hitung =2,39 with t tabel =1,67, hence the hypothesis H I accepted. The affective domain of the experimental class obtained an average experimental value of 84,09 and the control class of 74,48. Results of data analysis with hypothesis test by using t tests obtained t hitung =6,09 and t table =1,66. Where t hitung >t tabel, H I hypothesis is accepted. So it can be concluded that cooperative learning model of jigsaw type can improve biology learning results in cognitive and afeective aspect of students of XI SMA N I Tarusan. Keywords : Model, Cooperative Learning, Jigsaw PENDAHULUAN Hasil wawancara penulis dengan guru mata pelajaran biologi di SMA N I Tarusan dapat disimpulkan bahwa siswa kurang aktif dalam proses pembelajaran, kurangnya pemahaman siswa terhadap materi sistem ekskresi manusia dan hewan yang dipelajari, belum terlihat kerja sama antar siswa, dan keterampilan siswa dalam berkomunikasi masih belum

2 terlaksana dan guru mengungkapkan masih menggunakan pembelajaran langsung dengan metode ceramah dan tanya jawab. Bukan berarti metode ceramah tidak baik, akan tetapi tidak semua fakta, konsep dan prinsip dalam biologi dapat disampaikan melalui metode ceramah. Hal tersebut mengakibatkan hasil belajar siswa rendah tidak mencapai Kriteria Ketuntasan Minimum (KKM) yang telah ditetapkan oleh sekolah. Hal ini yang penulis temukan adalah rendahnya hasil belajar yang diperoleh siswa masih rendah di bawah kriteria ketuntasan minimal (KKM) yang sudah ditentukan yaitu 80 pada Materi sistem ekskresi manusia dan hewan. Hal ini dapat dilihat dari hasil belajar biologi siswa dari nilai rata-rata ulangan harian pada materi sistem eksresi manusia dan hewan di SMAN 1 Koto XI Tarusan Kabupaten Pesisir Selatan bahwa nilai rata-rata di bawah KKM. Presentase nilai siswa yang tidak tuntas dari ke enam kelas adalah 58,22 %. Hal ini dikarenakan materi tersebut tergolong sulit karena banyak memuat konsep dari setiap materi, siswa harus mengetahui dan dapat memahami setiap proses yang di pelajari pada materi sistem ekskresi manusia dan hewan. Dapat disimpukan bahwa penguasaan siswa pada materi Sistem Eksresi manusia dan hewan masih rendah dan siswa sulit memahami materi tentang sistem ekskresi manusia (ginjal, hati, paruparu, kulit), sistem ekskresi invertebrata dan sistem ekskresi vertebrata. Materi atau bahan ajar pelajaran biologi pada dasarnya berupa fakta, konsep, prinsip dan teori. Dalam pelajaran biologi, anak didik harus diperkenalkan kepada alam nyata atau dimulai dari kehidupan. Materi pelajaran harus dirancang menarik dan mudah dipahami anak didik atau dikomunikasikan dengan bahasa yang sederahana (Lufri, 2007:18) Salah satu cara dan usaha untuk mengatasi masalah di atas dengan menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw, karena model pembelajaran ini bertujuan untuk meningkatkan kerja sama antar siswa dan meningkatkan keterampilan siswa dalam

3 Nilai berkomunikasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw terhadap hasil belajar biologi siswa pada ranah afektif dan ranah kognitif kelas XI IPA SMAN 1 Tarusan Kabupaten Pesisir Selatan. METODE PENELITIAN Penelitian ini telah dilaksanakan pada bulan maret tahun pelajaran 2016/2017 di SMAN1 Koto XI Tarusan. Jenis penelitian yang dilakukan adalah penelitian eksperimen.penelitian ini dilakukan terhadap dua kelas sampel yaitu satu kelas eksperimen dan satu kelas kontrol. Dengan desain penelitianmenggunakan rancangan randomized control group posttest only design.pengambilan sampel dilakukan dengan menggunakan teknik purposive sampling dan menentukan kelas sampel secara acak. Instrumen yang digunakan untuk mengumpulkan data dalam penelitian ini adalah instrumen yang mencakup pada dua ranah yaitu afektif dengan obsever (Bekerja Sama, Bertanggung Jawab, Saling Menghargai), kognitif dari hasil tes akhir berbentuk objektif yang telah di validasi. HASIL DAN PEMBAHASAN Berdasarkan penelitian tentang penerapan model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw terhadap hasil belajar biologi kelas XISMA N I tarusan kabupaten pesisir selatan tahun pelajaran 2016/2017.Diperoleh hasil uji normalitas dan uji homogenitas.data berdistribusi normal dan memiliki varians yang homogen, sehingga untuk pengujian hipotesis digunakan ujit.berdasarkan hasil penelitian dapat dilihat dari 2 ranah yang dinilai yaitu kognitif dan afektif pada kelas eksperimen dan kelas kontrol ,18 47,81 Kelas Kelas Eksperimen Kelas Sampel Kontrol Kelas Eksperimen Kelas Kontrol Gambar 1.Nilai Rata-Rata Kognitif Kelas sampel

4 Berdasarkan gambar 1 di atas dilihat bahwa hasil belajar siswa pada ranah afektif kelas eksperimen memiliki nilia rata-rata kriteria baik dengan presentase ketuntasan 66,67% sedangkan pada kelas kontrol memiliki nilai rata-rata kriteria baik dengan persentase ketuntasan 22,22 %. Setelah dilakukan uji hipotesis pada kedua kelas sampel, maka didapatkan bahwa kedua kelas sampel berdistribusi normal berarti F hitung < F tabel, dengan demikian kedua sampel memiliki varians yang homogen, sehingga di lanjutkan dengan uji hipotesis. Dari hasil uji hipotesis di dapatkan t hitung =6.08 dan t tabel =1.66. Dengan demikian t hitung > t tabel, makahipotesish 1 diterima. Pada ranah kognitif hasil belajar siswa pada kelas eksperimen memiliki nilai rata-rata kriteria baik dengan persentase ketuntasan 41,67% dan pada kelas kontrol memiliki nilai rata-rata kriteria kurang dengan presentase ketuntasanya 11,11%. Setelah dilakukan uji hipotesis pada kedua kelas sampel, maka didapatkan bahwa kedua kelas sampel normal berarti F hitung < F tabel, dengan demikian kedua kelas sampel memiliki varians yang homogen. Pada uji hipotesis didapatkan harga t hitung =2,39 pada taraf nyata 0.05 didapatkan harga t tabel =1,67, dengan demikian t hitung >t tabel maka hipotesis H 1 diterima dan dapat dinyatakan penggunaan model kooperatif tipe jigsaw ini dapat meningkatkan hasil belajar biologi siswa. Penilaian Afektif dilakukan pada tiga aspek yang diamati, yaitu: Bekerja Sama, Bertanggung Jawab, Saling Menghargai. Berdasarkan Gambar 2 diketahui bahwa rata-rata nilai afektif antara kelas eksperimen dan kelas kontrol terlihat perbedaan dari aspek bekerja sama dalam belajar. Bekerja sama dalam kelompok pada kelas eksperimen lebih tinggi dari pada kelas kontrol.

5 Nilai Gambar 2.Nilai Rata-Rata Afektif Kelas Sampel Kognitif 84,38 84,29 85,18 74,25 73,25 74,13 Bekerja Sama Bertangungg Saling Jawab Menghargai Berdasarkan hasil penelitian yang diperoleh rata-rata hasil belajar kognitif pada kelas eksperimen nilai rata-rata kriteria baik dengan persentase 41,67% pada kelas kontrol nilai rata-rata kriteria kurang dengan persentase 11,11%. Dari nilai rata-rata, dimana uji hipotesis didapatkan harga t hitung =2,39 pada taraf nyata 0,05 didapatkan harga t tabel =1,67, dengan dimikian t hitung >t tabel maka hipotesis H 1 diterima. Penerapan model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw terhadap hasil belajar biologi kelas XI SMA N I Tarusan dapat menunjukkan peningkatan. Kelas Eksperi men Kelas Kontrol Pada kelas eksperimen dengan menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw di SMA I Tarusan berpengaruh terhadap hasil belajar siswa. Setelah dilakukan tes akhir didapatkan hasil yang mencapai KKM 15 orang siswa dengan persentase 41.66% dan siswa yang tidak mencapai KKM sebanyak 21 orang dengan persentase 58.33%. Hasil belajar biologi siswa pada kelas eksperimen lebik baik dari pada kelas kontrol disebabkan karena pada kelas eksperimen menggunakan model pembelajaran kooperatif learning tipe jigsaw. Menurut Subari (2006) dalam Rusman (2014:219) kooperatif model jigsaw yang hasilnya menunjukan bahwa interaksi kooperatif memiliki berbagai penggaruh posistif terhadap perkembangan anak pengaruh positif tersebut adalah: meningkatkan hasil belajar, meningkatkan daya ingat, dapat digunakan untuk mencapai taraf penalaran tingkat tinggi, mendorong tumbuhnya motivasi intrinsik (kesadaran individu), meningkatkan hubunggan manusia yang heterogen, meningkatkan sikap anak yang positif terhadap sekolah,

6 meningkatkan sikap positif terhadap guru, meningkatkan harga diri anak dan meningkatkan prilaku penyesuaian sosial yang positif. Model pembelajaran jigsaw ini adalah siswa bekerja dengan sesama siswa dalam suasana gotong royong dan mempunyai kesempatan untuk mengolah informasi dan meningkatkan berkomunikasi Menurut Lie (2002:68).Dengan adanya diskusi seperti ini, mampu membuat siswa lebih berpartisipasi dan aktif dalam kegiatan pembelajaran, karena dalam model pembelajaran tipe jigsaw siswa dituntut belajar aktif dan bertanggung jawab dalam menyelesaikan suatu persoalan mencapai tujuan pembelajaran. Proses pembelajaran pada kelas eksperimen dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw dapat meningkatkan minat dan motivasi siswa dalam proses pembelajaran. Saat proses pembelajaran siswa ikut berperan aktif dalam proses pembelajaran, siswa berani mengeluarkan pendapatnya, selain itu siswa berani mengemukakan hasil ide yang mereka temukan. Pada model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw ini setiap kelompok memiliki subtopik, melalui subtopik tersebut dapat memotivasi siswa untuk menemukan suatu permasalahan, dan memecahkan permasalahan tersebut sehingga dapat meningkatkan kemampuan belajar dan dapat membuat siswa berfikir aktif. Selain itu, dengam model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw dapat meningkatkan pemahaman siswa terhadap materi pelajaran karena siswa akan lebih mudah mengingat materi pembelajaran berdasarkan informasi sendiri dan teman sekelompoknya. Diakhir pembelajaran, mulai dari tanggapan kelompok dan persentasi kelompok guru memberikan penguatan terhadap materi pembelajaran.pemahaman yang diperoleh siswapun lebih maksimal dan dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Pernyataan ini didukung oleh Lufri, (2007:33) bahwa diskusi dapat menemukan solusi masalah yang ditemukan dalam materi pembelajaran, dan dapat melibatkan anak didik secara langsung dalam

7 pembelajaran serta dapat membiasakan anak didik untuk mendengarkan pendapat orang lain sekalipun berbeda dengan pendapatnya sendiri dan membiasakan bersikap toleran. Berdasarkan nilai hasil belajar pada Tabel 1, hanya beberapa siswa yang memperoleh nilai diatas KKM. Hal ini menunjukan bahwa proses pembelajaran masih kurang berjalan maksimal, namun hal tersebut bukan berarti model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw tidak baik digunakan dalam proses pembelajaran, hanya saja susah mencocokan materi dengan model. Menurut Lufri (2007:10) keberhasilan belajar diukur dari seberapa jauh hasil belajar yang dicapai, disamping diukur dari segi prosesnya. Pada kelas kontrol dengan menerapkan metode ceramah, diskusi dan tanya jawab lebih rendah jika di bandingkan pada kelas eksperimen. Rendahnya hasil belajar siswa disebabkan karena pada kelas kontrol proses pembelajaran menggunakan metode ceramah, diskusi dan tanya jawab saja, kondisi ini tidak jauh beda dengan kelas eksperimen dimana tidak semua siswa yang ikut serta berperan aktif dalam proses pembelajaran. Hal ini terlihat dalam proses pembelajarannya hanya menggunakan metode ceramah, diskusi dan tanya jawab disertai dengan Lembar Kerja Siswa (LKS). Pada pembelajarannya guru memberikan LKS berupa soal-soal yang didiskusikan siswa dengan kelompoknya. Guru menyampaikan materi dengan menggunakan metode ceramah, diskusi dan tanya jawab dan disertai dengan memberikan LKS untuk didiskusikan siswa. Siswa diminta untuk mendiskusikan LKS yang telah diberikan dengan teman-teman kelompoknya dan menjawab soal-soal yang telah diberikan dalam proses pembelajaran. Hal ini terlihat karena hanya beberapa siswa yang aktif dalam belajar. Dalam pelaksanaan proses pembelajaran, hanya didominasi oleh beberapa siswa yang memilki kemampuan tinggi, sedangkan siswa lainnya hanya duduk-duduk saja bahkan ada yang berbicara dengan teman-temannya bahkan ada yang menganggu teman-

8 temannya lainnya yang sedang berdiskusi. Menurut Istarani (2014:90) kurang terciptanya interaksi antara siswa dalam proses belajar mengajar dan kurangnya menciptakan daya nalar siswa sebab ia lebih bersifat memahami apa yang ada didalam. Kendala yang penulis rasakan selama penelitian adalah masih kurangnya dalam pengelolaan kelas, apalagi pada mendekati jam istirahat siswa kurang konsentrasi dan hanya ingin cepat keluar kelas. Dalam proses pembelajaran waktunya masih kurang karena pada saat pergantian jam pelajaran terkadang guru masih berada di kelas, sehingga proses pembelajaran berikutnya dalam menyimpulkan dan pemberian kuis waktu tidak cukup. Menurut Lufri (2007:106) mengatakan bahwa keterampilan mengelola kelas adalah keterampilan guru untuk menciptakan dan memilihara kondisi belajar secara optimal.keterampilan mengelola kelas termasuk diantara tindakan mendisiplinkan kelas. Afektif Berdasarkan hasil penelitian yang diperoleh rata-rata hasil belajar afektif pada kelas eksperimen kriteria baik dengan persentase 66,67% pada kelas kontrol kriteria baik dengan persentase 22,22%. Dari nilai ratarata, dimana uji hipotesis dengan uji t diperoleh t hitung =2,39 sedangkan t tabel =1,67 ini berarti t hitung >t tabel dengan demikian hipotesis H 1 diterima. Penerapan model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw dapat meningkatkan hasil belajar biologi pada ranah sikap siswa kelas XI SMA N I Tarusan.Meskipun terdapat pengaruh namun hal ini menunjukan bahwa keberhasilan belajar ranah afektif belum optimal.sebagaimana yang dinyatakan kunandar (2013:100) bahwa sikap menentukan keberhasilan belajar seseorang.orang yang tidak memiliki minat pada pelajaran tertentu sulit untuk mencapai keberhasilan secara optimal. Bekerja sama Pembelajaran jigsaw pada pelaksanaannya dilakukan secara berkelompok.siswa telah dibagi menjadi beberapa kelompok secara heterogen. Dengan demikian, pembelajaran jigsaw menuntut siswa

9 harus belajar secara berkelompok sehingga terciptanya kerja sama masing-masing kelompok untuk mendapatkan hasil belajar yang lebih baik. Berdasarkan hasil analisis observasi diperoleh data pada aspek bekerja sama dalam kelompok yaitu pada kelas eksperimen 84.38, sedangkan pada kelas kontrol Dengan demikian, pada aspek kerja sama dalam kelompok eksperimen lebih baik dibandingkan pada kelas kontrol. Hal ini sesuai dengan pendapat Djamarah (2013:87) mengatakan bahwa didalam diskusi proses belajar mengajar terjadi interaksi antara dua atau lebih individu yang terlibat, saling ditukur menukar pengalaman, informasi, memecahkan masalah dan dapat mengembangkan sikap menghargai pendapat orang lain. Pada kelas kontrol indikator bekerja sama lebih rendah dibandingkan kelas eksperimen. Pada kelas kontrol pada saat guru memberikan LKS kepada masing-masing anggota kelompok untuk mengerjakan sesara bersama dalam kelompok, hanya sebagian anggota kelompok yang bekerja sama saat diskusi berlangsung untuk mengerjakan LKS. Bertanggung jawab Berdasarkan aspek yang diamati pada kelas eksperimen dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw memberikan setiap siswa tanggung jawab yang sama karena telah memiliki tugasnya masing-masing. Setiap siswa bekerja berdasarkan pembagian tanggung jawab, maka pembelajaran dengan jigsaw dapat melatih siswa untuk lebih bertanggung jawab akan tugas yang telah dimiliki. Berdasarkan hasil analisis dari observasi diperoleh bahwa data rata-rata dalam bertanggung jawab juga terkihat diatas Kriteria Ketuntasan Minimum(KKM) dimana KKM nya adalah 80. Ini disebabkan karena setiap siswa harus bertanggung jawab yang didapat dari kelompok ahli yang akan disampaikan kelompok asal secara bergantian. Begitupun saat mengerjakan tugas semua peserta didik menyelesaikan tugas dengan tepat waktu.asma (2012:10)

10 mengatakan setiap anggota kelompok bertanggung jawab untuk menguasai materi pelajaran karena keberhasilan kelompok ditentukan dari seberapa besar sumbangan hasil perorangan. Pada kelas kontrol anggota yang bertanggung jawab dalam diskusi mengerjakan LKS berlangsung hanya sebagian yang bertangggung jawab terhadap kelompoknya. Anggota kelompok lainnya hanya sibuk dengan aktifitas sendiri-sendiri. Saling Menghargai Pelaksanaanjigsaw dilaksanakan secara berkelompok sehingga diperlukan saling menghargai antara siswa sesama kelompok.kelompok dengan kelompok, serta kelompok dengan guru. Dengan penerapan pembelajaran jigsaw, siswa dituntut untuk selalu saling menghargai baik dengan teman sesama kelompok, dengan kelompok lain dan dengan guru. Pemebelajaran jigsaw dapat melatih dan membiasakan siswa untuk saling menghargai kelompok. Berdasarkan analisis hasil observasi, diperoleh data aktivitas siswa pada aspek saling menghargai yaitu pada kelas eksperimen sedangkan kelas kontrol Dengan demikian, pada aspek saling menghargai pada kelas eksperimen lebih baik dibandingkan pada kelas kontrol.hal ini sesuai dengan pendapat Djamarah dan Zein (2013:126) Peserta didik memperolok-olokkan temannya, sehingga kelasmenjadi gaduh tidak karuan.sementara kelas kontrol saat diskusi berlangsung hanya sebagian yang saling menghargai kelompoknya sedang berdiskusi.saling menghargai kelompok saat diskusi pada kelas kontrol sangat rendah. KESIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian dan analisis data yang telah dilakukan, maka dapat disimpulkan bahwa penerapan model pembelajaran kooperatif tipe jigsawdapat meningkatkan hasil belajar biologi siswa pada ranah kognitif dan afektif kelas XI SMA Negeri 1 Tarusan Kabupaten Pesisir Selatan pada materi Sistem Ekskresi

11 Manusia Dan Hewan Tahun pelajaran 2016/2017. DAFTAR PUSTAKA Asma Model Pembelajaran Kooperatif. UNP:Press Padang. Lufri Strategi Pembelajaran Biologi. Padang:UNP Press. Rusman Model-Model Pembelajaran Mengembangkan Profesional Guru.Jakarta: Rajawali press. Djamarah, S. Bahri&Zain Aswan (2013). Strategi Belajar Mengajar. Revded.Jakarta: Rineka Cipta. Istarani Model Pembelajaran Inofatif. Medan:Media