Tata BUSANA. untuk Sekolah Menengah Kejuruan. Ernawati Izwerni Weni N. TATA BUSANA untuk SMK

Save this PDF as:
 WORD  PNG  TXT  JPG

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "Tata BUSANA. untuk Sekolah Menengah Kejuruan. Ernawati Izwerni Weni N. TATA BUSANA untuk SMK"

Transkripsi

1 Ernawati Izwerni Weni N. TATA BUSANA untuk SMK untuk Sekolah Menengah Kejuruan Tata BUSANA Ernawati Izwerni Weni Nelmira Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah Departemen Pendidikan Nasional

2 Ernawati, dkk TATA BUSANA SMK Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan Departemen Pendidikan Nasional

3 Hak Cipta pada Departemen Pendidikan Nasional Dilindungi Undang-undang TATA BUSANA Untuk SMK Penulis : Ernawati, dkk Ukuran Buku : x cm ENW Ernawati, dkk. Tata Busana: SMK oleh Ernawati, dkk Jakarta:Pusat Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan, Direktorat Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah, Departemen Pendidikan Nasional, vi. 414 hlm. ISBN Tata Busana Diterbitkan oleh Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan Departemen Pendidikan Nasional Tahun 2008 Diperbanyak oleh.

4 KATA SAMBUTAN Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT, berkat rahmat dan karunia Nya, Pemerintah, dalam hal ini, Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah Departemen Pendidikan Nasional, pada tahun 2008, telah melaksanakan penulisan pembelian hak cipta buku teks pelajaran ini dari penulis untuk disebarluaskan kepada masyarakat melalui website bagi siswa SMK. Buku teks pelajaran ini telah melalui proses penilaian oleh Badan Standar Nasional Pendidikan sebagai buku teks pelajaran untuk SMK yang memenuhi syarat kelayakan untuk digunakan dalam proses pembelajaran melalui Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 12 tahun Kami menyampaikan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada seluruh penulis yang telah berkenan mengalihkan hak cipta karyanya kepada Departemen Pendidikan Nasional untuk digunakan secara luas oleh para pendidik dan peserta didik SMK di seluruh Indonesia. Buku teks pelajaran yang telah dialihkan hak ciptanya kepada Departemen Pendidikan Nasional tersebut, dapat diunduh (download), digandakan, dicetak, dialihmediakan, atau difotokopi oleh masyarakat. Namun untuk penggandaan yang bersifat komersial harga penjualannya harus memenuhi ketentuan yang ditetapkan oleh Pemerintah. Dengan ditayangkannya soft copy ini akan lebih memudahkan bagi masyarakat untuk mengaksesnya sehingga peserta didik dan pendidik di seluruh Indonesia maupun sekolah Indonesia yang berada di luar negeri dapat memanfaatkan sumber belajar ini. Kami berharap, semua pihak dapat mendukung kebijakan ini. Selanjutnya, kepada para peserta didik kami ucapkan selamat belajar dan semoga dapat memanfaatkan buku ini sebaik-baiknya. Kami menyadari bahwa buku ini masih perlu ditingkatkan mutunya. Oleh karena itu, saran dan kritik sangat kami harapkan. Jakarta, Direktur Pembinaan SMK

5 KATA PENGANTAR Segala puji dan syukur kami ucapkan kehadirat Allah SWT, karena atas izin-nya jugalah kami dapat menyelesaikan buku yang berjudul TATA BUSANA. Buku Tata Busana ini disusun berdasarkan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) tahun 2006 dan berdasarkan SKKNI yang terdiri dari X BAB, mencakup standar kompetensi baik kompetensi dasar, kompetensi kelompok inti, dan kelompok kompetensi spesialisasi. Kelompok unit kompetensi inti/utama terdiri dari menggambar busana, mengukur tubuh pelanggan sesuai dengan desain, membuat pola busana dengan teknik konstruksi, membuat pola busana dengan teknik konstruksi diatas kain, membuat pola busana dengan teknik drapping, membuat pola busana dengan teknik kombinasi, memilih bahan baku busana sesuai dengan desain, melakukan pengepresan, menjahit dengan tangan dan menjahit dengan mesin (Sewing), memotong (Cutting) dan penyelesaian busana (Finishing) menyiapkan tempat kerja yang ergonomik serta mampu menerapkan kesehatan dan keselamatan kerja ditempat kerja. Buku ini disusun untuk memenuhi tuntutan KTSP dan SKKNI dibidang keahlian Tata Busana. Penulis telah berusaha agar buku ini dapat memenuhi tuntutan tersebut di atas, juga dapat menambah pengetahuan dan keterampilan siswa SMK secara umum dan masyarakat pencinta busana secara khusus. Buku ini ditulis dengan bahasa yang jelas dan keterangan yang rinci sehingga mudah dimengerti baik oleh guru maupun oleh siswa Dengan terbitnya buku Tata Busana ini, semoga dapat menambah rujukan pengetahuan tentang tata busana dan juga dapat memberikan arti yang positif bagi kita semua. Kami berharap semoga semua yang telah kita lakukan mendapatkan ridho dari Allah, dan semoga beliau senantiasa melimpahkan taufik dan hidayah-nya, agar penulis, editor dan penilai melalui tulisan ini dapat meningkatkan mutu pendidikan SMK secara khusus. Akhir kata dengan segala kerendahan hati penulis, bila ada kritik dan saran dari pembaca akan kami terima dengan senang hati. Tak lupa penulis mengucapkan terimakasih kepada orang tua, suami, dan anak-anak tercinta atas dukungannya, seterusnya terimakasih untuk semua pihak yang telah memberikan dukungan baik berupa moril maupun materil agar terwujudnya buku ini. Semoga apa yang telah kami terima dari semua pihak, mudah-mudahan mendapat imbalan dari Allah Subhanahuwataala dan menjadi amal baik bagi kita semua, amin yarobbil alamin. Padang, Juli 2008 Ttd Tim Penulis i

6 DAFTAR ISI KATA PENGANTAR... i DAFTAR ISI... ii DAFTAR TABEL... v DAFTAR GAMBAR... vi DAFTAR ISTILAH (GLOSARI)... xii PETA STANDAR KOMPETENSI... xiv BAB I. PENDAHULUAN A. Asal usul busana... 3 B. Pengertian Busana C. Fungsi busana D. Pengelompokan busana E. Pemilihan busana BAB II. PELAYANAN PRIMA A. Melakukan komunikasi di tempat kerja B. Bantuan untuk pelanggan internal dan eksternal C. Menjaga Standar persentasi personal D. Melakukan pekerjaan secara tim E. Menangani kesalah-pahaman antar budaya BAB III. KESEHATAN, KESELAMATAN dan KEAMANAN KERJA A. Dasar-dasar K-3 dan keamanan kerja B. Standar operasional prosedur k C. Hukum K-3 yang berlaku secara internasional D. Prosedur K-3 di tempat kerja (custum made) E. Menangani situasi darurat F. Jenis - jenis kecelakaan kerja G. Menerapkan praktek K H. Merapikan area dan tempat kerja BAB IV. TEKNIK MENJAHIT BUSANA A. Tusuk dasar menjahit B. Kampuh dasar (menggabungkan) C. Teknik menjahit bagian-bagian busana D. Belahan busana E. Menyelesaikan busana dengan alat jahit tangan F. Menyiapkan tempat kerja G. Mengerjakan pengepresan H. Menerapkan praktek K3 dalam mengepres ii

7 BAB V. PEMILIHAN DAN PEMELIHARAAN BAHAN TEKSTIL A. Klasifikasi serat tekstil B. Pemilihan bahan tekstil C. Pemeliharaan Bahan Tekstil D. Pemeliharan busana (mencuci busana) BAB VI. DESAIN BUSANA A. Pengertian desain B. Jenis-jenis desain C. Unsur-unsur desain D. Prinsip-prinsip desain E. Penerapan unsur dan prinsip desain pada busana 210 F. Alat dan bahan untuk mendesain G. Anatomi tubuh untuk desain H. Menggambar bagian-bagian busana I. Pewarnaan dan penyelesaian gambar BAB VII. MEMBUAT POLA BUSANA A. Pengertian pola busana B. Konsep dasar membuat pola busana C. Membuat pola busana dengan teknik draping D. Membuat pola busana dengan teknik konstruksi E. Membuat pola busana dengan teknik konstruksi di atas kain F. Membuat pola busana dengan teknik kombinasi G. Menyimpan pola BAB VIII. PECAH POLA BUSANA SESUAI DENGAN DESAIN A. Konsep dasar pecah pola busana wanita B. Pecah pola rok sesuai dengan desain C. Pecah pola blus sesuai dengan desain D. Pecah pola celana sesuai dengan desain BAB IX. MEMOTONG, MENJAHIT, PENYELESAIAN (Cutting, Sewing, Finishing) A. Menyiapkan tempat kerja B. Menyiapkan bahan C. Meletakkan pola di atas bahan D. Memotong bahan sesuai pola pakaian E. Memindahkan tanda-tanda pola F. Menjahit G. Gangguan dan perbaikan mesin jahit H. Pelaksanaan menjahit BAB X. MENGHIAS BUSANA A. Menyiapkan tempat kerja, alat dan bahan iii

8 B. Konsep dasar menghias busana C. Membuat desain hiasan untuk busana D. Memindahkan desain hiasan pada kain atau busana E. Membuat hiasan pada kain atau busana F. Menyimpan kain/busana yang telah dihias G. Merapikan area dan alat kerja DAFTAR PUSTAKA CURICULUM VITAE PENULIS iv

9 DAFTAR TABEL Tabel Halaman 1. Perbandingan letak bagian-bagian tubuh menurut desain busana Ukuran pola standar Penyesuaian pola standar v

10 DAFTAR GAMBAR Gambar Halaman 1. Macam-macam Tunik Kandis Kalasiris Bentuk Pakaian Bungkus Himation Chlamys Mantel/Shawl Toga Palla Paludamentum, Sagum dan Abolla Chiton Peplos Cape/Cope Poncho Beberapa contoh poncho bahu Beberapa contoh poncho panggul Bentuk dasar celana Macam-macam bentuk celana Kaftan Hidung berdarah Pendarahan hebat Membalut luka dengan kain kassa tebal Tusuk Jelujur Tusuk Flanel Tusuk Feston Tusuk Balut Tusuk Batang/Tusuk tangkai Tusuk Rantai Tusuk Silang Tusuk Piguar Kampuh Terbuka Kampuh Balik Kampuh Pipih Kampuh Perancis Kampuh Sarung Mengelim Kelim Sungsang Kelim Tusuk Flanel Kelim yang di rompok Kelim Palsu Kelim Rol vi

11 42. Kelim Som Mesin Pemasangan Depun Serip Menjahit Rompok Tusuk Pemasangan Lengan Licin Lengan Poff Lengan Reglan Lengan Setali Kerah Rebah Kerah Shiler, Kerah Setali, Kerah Jas Belahan Langsung Belahan Dua Lajur Sama Belahan Dua Lajur Tidak Sama Belahan Dengan Kumai Serong Belahan dilapis menurut bentuk Macam-macam tutup tarik (Resleting) Tutup Tarik Simetris Tutup Tarik A Simetris Perlengkapan Pemasangan Tutup Tarik Penyelesaian Klep Penyelesaian Golbi Penyelesaian Klep Proses menoreh rumah kancing dengan mesin Rumah Kancing Passpoille Membalikkan Sengkelit Rumah Kancing Sengkelit Pemasangan Rumah Kancing Dua dan Empat Lobang Pemasangan Kancing Bertangkai Pemasangan Kancing Jepret Pemasangan Kancing Kait Alat Pemotong Alat-alat Ukur Alat Memberi Tanda Pada Bahan Tempat Menyimpan Jarum Teknik Mempres dengan Seterika Contoh desain dengan siluet A Contoh desain dengan siluet Y Contoh desain dengan siluet I Contoh desain dengan siluet S Contoh desain dengan siluet T Value warna putih ke hitam Value beberapa warna ke warna putih dan hitam Lingkaran warna Warna primer Warna sekunder Mata terlihat dari depan vii

12 88. Mata menunduk Mata terlihat dari samping Hidung tampak depan, tampak ¾, tampak samping dan hidung Pada wajah menunduk Bibir dilihat dari beberapa arah Telinga tampak depan, samping dan tiga perempat Batas rambut Beberapa pergerakan tangan Beberapa gerakan telapak tangan dan jari Kaki dengan beberapa gaya berdiri Kaki dengan alas kaki dari beberapa arah Teknik merobah gaya dan gerak tubuh dengan rangka balok Hasil gerak dan gaya dengan teknik rangka balok Gerak tubuh dengan rangka elips Beberapa desain kerah Beberapa model desain lengan Beberapa desain blus Beberapa model rok Pola lengan Pola standar badan Pola standar rok Lingkar badan pola muka dan pola belakang yang telah dibesarkan Lingkar pinggang pola muka dan pola belakang yang telah dikecilkan Lebar muka dan lebar punggung yang telah dibesarkan Lingkar panggul pola rok muka dan belakang yang telah dibesarkan Panjang muka dan panjang punggung yang telah ditambah Lingkar kerung lengan yang telah ditambah Pita Ukuran Roldresmaker Garis-garis pola pada dressform/boneta jahit Arah serat Bahan blaco Blaco pada posisi tengah muka Membentuk lipit kup pada pinggang Blaco pada posisi garis bahu dan leer Memberi kampuh Blaco pada posisi tengah belakang Membentuk garis punggung dan lebar punggung Membentuk lipit kup pada pinggang Blaco pada posisi garis bahu dan leher Posisi blaco pada pinggang dan panggul Membuat lipit kup dan sisi rok Cara mengambil ukuran sistem dressmaking Pola dasar badan Pola lengan Pola rok muka dan belakang viii

13 133. Cara mengambil ukuran sistem Soen Pola dasar badan Pola dasar lengan Pola rok muka dan belakang Pola dasar pria Pola dasar Badan Pola dasar lengan anak Pola dasar rok anak Desain busana wanita Pola badan Pola lengan Pola kerah Pola celana wanita Desain busana pria Pola kemeja Pola lengan Pola kerah kemeja Pola manset dan klep manset Pola celana pria Desain busana anak Pola busana anak Pola lengan anak Pola kerah Desain busana pesta Pecah pola Pengembangan pecah pola Gabungan pola muka kiri dan kanan Menyampirkan kain pada dressform Mementulkan bahan pada bagian belakang Membentuk lipit pada bagian sisi Membentuk hiasan pada bagian dada Hasil teknik drapping pada bagian muka Pecah pola rok span Pecah pola rok semi span Pecah pola rok lipit hadap Pecah pola rok pias 2 dikembangkan Pecah pola rok pias enam Pecah pola rok lipit sungkup Pecah pola rok kerut Pecah pola blus Pecah pola kerah dan pola lengan Pecah pola blus belahan asimetris Pecah pola lengan Pecah pola blus yang dimasukkan ke dalam Pecah pola celana model jodh pure Pecah pola celana model bell botton ix

14 179. Pecah pola celana knikers Pecah pola celana bermuda Contoh rancangan bahan Mesin potong bulat Mesin potong pita Mesin potong lupus Alat-alat pemberi tanda pada bahan Pemakaian rader Superimpased seams Lap seam Lap felled seam Bound seam Flat seams Decorative seams Edge neatening Shirt buttonhole band Seam kelas Mesin jahit dan bagian-bagiannya Macam-macam jahitan Mesin jahit yang digerakkan dengan tangan Mesin jahit yang digerakkan dengan kaki Dinamo mesin jahit Alat pemotong Alat-alat ukur Tempat menyimpan jarum Boneka jahit (dressform) Cara mengeluarkan benang bawah Pengatur panjang tusukan Menggulung benang sekoci Cara memasang sekoci ke kumparan Pemasangan benang atas Ketegangan benang hasil jahitan Mengatur ketegangan benang Keseimbangan simetris pada desain hiasan Keseimbangan asimetris pada desain hiasan Bentuk ragam hias naturales Bentuk ragam hias geometris Bentuk ragam hias dekoratif Contoh stilasi Contoh pola serak/pola tabur Contoh pola pinggiran berdiri Contoh pola pinggiran bergantung Contoh pola pinggiran simetris Contoh pola pinggiran berjalan Contoh pola pinggiran memanjat Contoh pola mengisi bidang segi empat x

15 225. Contoh mengisi bidang segi empat Contoh pola mengisi bidang sama sisi Contoh pola mengisi bidang segi tiga siku Contoh pola mengisi bidang lingkaran/oval Contoh pola hias bebas Contoh pola hias bebas Desain sulaman fantasi Desain sulaman fantasi dengan pola hias mengisi bidang lingkaran Desain sulaman hongkong Desain sulaman aplikasi Desain sulaman melekatkan benang Desain terawang hardanger Desain terawang inggris xi

16 DAFTAR ISTILAH 1. Cellulose : Serabut yang berasal dari tumbuh-tumbuhan 2. Center of interest : Pusat perhatian yang terdapat pada desain busana. 3. Custom-made : busana yang dibuat dengan sistem tailor maupun couture untuk perorangan sesuai dengan desain yang (couturis) exclusive. 4. Customer care : Pelayanan prima. Pelayanan yang terbaik untuk pelanggan. 5. Depun : Penyelesaian dengan lapisan menurut bentuk yang dijahit kebagian dalam. 6. Desain : Kerangka bentuk, rancangan, motif, model. 7. Drapping :Teknik pembuatan pola dengan cara memulir/drapping. 8. Dress making : Pembuatan pakaian wanita. 9. Dressform : Boneka jahit 10. Dresssmaker : Penjahit busana wanita 11. Garis Empire : Garis hias yang melebar terdapat dibawah dada 12. Garis Princess : Garis dari bahu atau tengah ketiak sampai panjang baju 13. Haute couture : Pembuatan busana tingkat tinggi. 14. Kampuh kostum : Kampuh yang diselesaikan dengan mesin pada bagian buruk, kemudian tirasnya diselesaikan dengan tangan. 15. Keterampilan-berlipat (multi-skilling). :Proses dimana individu memperoleh tambahan keterampilan yang luas dan spesifik. 16. Lipit kup : Garis lipatan untuk membentuk tubuh wanita 17. Management Contingency Skill : Keterampilan mengelola kemungkinan/ketidak aturan (solusi dalam menemukan masalah). 18. Measurement : Ukuran 19. Mesin jahit kabinet :Mesin jahit yang tertutup menyerupai meja/kotak. 20. Memarker : Membuat rancangan bahan sesuai ukuran sebenarnya 21. Model : Peragawati/pemesan/pelanggan 22. OH&S : Occupational health dan safety 23. Pattern making : Pembuatan pola. 24. Pelanggan : Pemesan/konsumen/kolega. 25. Penilaian berdasarkan kompetensi : Dalam sistem penilaian berdasarkan kompetensi, penilaian didefinisikan sebagai proses xii

17 pengumpulan bukti dan pembuatan pertimbangan untuk mengetahui apakah kompetensi telah dicapai, yang mencakup elemen kopetensi 26. Quality Control : Pengawasan mutu. 27. Serabut sintetis : Serabut buatan 28. SOP : Standar Operasional Prosedur. 29. Standar : Level/tingkat yang digunakan untuk mengukur unjuk kerja yang dapat diterima. 30. Sillhoutte : Bayangan atau garis luar dari pakaian 31. Tailored : Jahitan, penjahit atau busana untuk pria. Jahitan busana pria (tailor-made lebih banyak digunakan untuk pria dan dress making untuk wanita) 32. Unit kompetensi : Unit kompetensi merupakan komponen berbed dalam standar kompetensi. 33. Tusuk Piqneer : Tusuk tulang ikan yang dibuat pada river atau kerah mantel wanita 34. Kampuh kostum : Kampuh yang diselesaikan dengan mesin pada bagian buruk, kemudian tirasnya diselesaikan dengan tangan 35. Rompok : Hiasan tepi dengan kumai serong yang terlihat dari luar dan dalam dengan ukuran yang sama. 36. Serip : Hiasan dengan lapisan menurut bentuk yang dijahit kearah luar 37. Tunik : Pakaian yang panjang blusnya sampai diatas lutut 38. Trubenys : Kain pengeras untuk kerah 39. W H O : World Health Organization xiii

18 PETA STANDAR KOMPETENSI BIDANG KEAHLIAN BUSANA Custom-made CLOTHING STANDARD COMPETENCY Custom-made KELOMPOK DASAR A. PELAYANAN PRIMA/CUSTOMER CARE 1. Memberikan pelayanan secara prima kepada pelanggan 2. Melakukan pekerjaan dalam lingkungan sosial dan beragama B. KESEHATAN DAN KESELAMATAN KERJA/ OCCUPATIONAL HEALTH & SAFETY 1. Mengikuti prosedur kesehatan keselamatan dan keamanan dalam bekerja KELOMPOK INTI C. GAMBAR/DRAWING 1. Menggambar busana D. POLA/PATTERN MAKING 1. Mengukur tubuh pelanggan dengan cermat dan tepat sesuai dengan kebutuhan desain. 2. Membuat pola busana dengan teknik konstruksi 3. Membuat pola busana dengan teknik konstruksi di atas kain 4. Membuat pola busana dengan teknik draping 5. Membuat pola busana dengan teknik kombinasi E. BAHAN BAKU / MATERIAL 1. Pemilihan/pembelian bahan baku busan sesuai desain F. POTONG / CUTTING 1. Memotong bahan G. PENJAHITAN/SEWING 1. Menjahit dengan mesin 2. Menyelesaikan busana dengan jahitan tangan 3. Membuat hiasan pada busana H. PEMELIHARAAN / MAINTENANCE & REPAIR 1. Memelihara alat jahit I. PENYETRIKAAN / PRESSING 1. Melakukan pengepresan xiv

19 J. PENYELESAIAN / FINISHING 1. Melakukan penyempurnaan akhir busana KELOMPOK PENUNJANG K. DESAIN / FASHION DESIGN 1. Membuat desain busana L. STANDAR MUTU / QUALITY CONTROL 1. Mangawasi mutu pekerjaan busana M. PEMASARAN / MARKETING 1. Menghitung harga jual hasil produk KELOMPOK UNIT KOMPETENSI DASAR/UMUM Bus. C-m. CC. 01.A : Memberikan pelayanan secara prima kepada pelanggan Bus. C-m. CC. 02. A : Melakukan pekerjaan dalam lingkungan sosial yang beragama Bus. C-m. OH&S. 03.A : Mengikuti prosedur kesehatan, keselamatan dan keamanan dalam bekerja KELOMPOK UNIT KOMPETENSI INTI/UTAMA Bus. C-m. FDR. 04. A : Menggambar busana Bus. C-m. PAT. 06. A : Mengukur tubuh pelanggan sesuai dengan desain Bus. C-m. PAT. 07. A : Membuat pola busana dengan teknik konstruksi Bus. C-m. PAT. 08. A : Memuat pola busana dengan teknik konstruksi diatas kain Bus. C-m. PAT. 09. A : Membuat pola busana dengan teknik draping Bus. C-m. PAT. 10. A : Membuat pola busana dengan teknik kombinasi Bus. C-m MAT. 11. A : Memilih/membeli bahan baku busana sesuai busana Bus. C-m. CUT. 12. A : Memotong bahan xv

20 Bus. C-m. PRES. 13. A : Melakukan pengepresan Bus. C-m. SEW. 14. A : Menjahit dengan mesin Bus. C-m. SEW. 15. A : Menyelesaikan busana dengan jahitan tangan Bus. C-m. SEW. 16. A : Membuat hiasan pada busana Bus. C-m. FNS. 17. A : Melakukan penyelesaian akhir busana Bus. C-m. MR. 18. A : Memelihara alat jahit KELOMPOK UNIT KOMPETENSI SPESIALISASI/PILIHAN Bus. C-m. FDS. 05. A : Membuat desain busana Bus. C-m. QC. 19. A : Mengawasi mutu pekerjaan dibidang lingkungan busana Bus. C-m. MK. 20. A : Menghitung harga jual hasil produksi xvi

21 BAB I PENDAHULUAN Kata busana diambil dari bahasa Sansekerta bhusana. Namun dalam bahasa Indonesia terjadi penggeseran arti busana menjadi padanan pakaian. Meskipun demikian pengertian busana dan pakaian merupakan dua hal yang berbeda. Busana merupakan segala sesuatu yang kita pakai mulai dari ujung rambut sampai ke ujung kaki. Busana ini mencakup busana pokok, pelengkap (milineris dan aksesories) dan tata riasnya. Sedangkan pakaian merupakan bagian dari busana yang tergolong pada busana pokok. Jadi pakaian merupakan busana pokok yang digunakan untuk menutupi bagian-bagian tubuh. Busana yang dipakai dapat mencerminkan kepribadian dan status sosial sipemakai. Selain itu busana yang dipakai juga dapat menyampaikan pesan atau image kepada orang yang melihat. Untuk itu dalam berbusana banyak hal yang perlu diperhatikan dan pertimbangkan sehingga diperoleh busana yang serasi, indah dan menarik. Ilmu tata busana adalah suatu ilmu yang mempelajari bagaimana cara memilih, mengatur dan memperbaiki, dalam hal ini adalah busana sehingga diperoleh busana yang lebih serasi dan indah. Seiring dengan pengertian tata busana di atas, dalam buku ini akan dibahas secara rinci ilmu yang menyangkut tata busana terutama yang tercantum pada standar kompetensi dan kompetensi dasar bidang keahlian Tata Busana untuk SMK. Diharapkan pengetahuan ini dapat membantu siswa maupun semua pihak yang terlibat pada bidang busana untuk lebih memahami ilmu busana secara umum. Pada Bab pendahuluan buku tata busana dibahas tentang asal usul busana, pengertian busana, fungsi busana, pengelompokan busana serta pemilihan busana. Semua ini tidak termasuk kepada tuntutan kompetensi tetapi sangat diperlukan sebagai pengantar sebelum membahas tentang tata busana yang diharapkan berdasarkan standar kompetensi dan kompetensi dasar. dalam buku ini disebar pada beberapa bab yang komprehensif dan diharapkan mudah dipahami. Pelayanan prima (customer care), membicarakan tentang pengertian pelayanan prima, jenis-jenis pelayanan, karakter pelanggan, jenis-jenis kebutuhan pelanggan dan penanganan kebutuhan pelanggan. Selain itu juga dibahas tentang melakukan komunikasi ditempat kerja, memberikan bantuan untuk pelanggan internal dan eksternal, standar persentasi personal, melakukan pekerjaan dalam lingkungan sosial yang beragam yang meliputi komunikasi dengan pelanggan dan kolega dari latar belakang yang berbeda dan menangani kesalahpahaman antar budaya. Hal yang tidak kalah pentingnya adalah kesehatan, keselamatan dan keamanan kerja (K3). Ini penting sekali diperhatikan pada saat bekerja terutama pekerjaan yang beresiko baik terhadap diri sendiri, 1

22 tempat kerja maupun produk yang dikerjakan. K3 yang dibahas mencakup dasar-dasar K3, standar operasional prosedur K3, hukum dan prosedur K3 serta menangani situasi darurat. Hukum K3 yang berlaku secara international, prosedur K3 ditempat kerja (custum made), Jenisjenis kecelakaan kerja, menerapkan praktek kesehatan dan keselaman kerja serta merapikan area dan tempat kerja. Pengetahuan alat jahit dan pemeliharaannya menyiapkan tempat kerja dan alat menjahit dengan tangan. Menyelesaikan busana dengan teknik jahit tangan, serta merapikan area dan tempat kerja. Bab V adalah teknik menjahit busana membahas tentang teknik dasar menjahit, kampuh dasar, teknik menjahit bagian-bagian busana, belahan busana, menyiapkan tempat dan alat press, mengerjakan pengepresan dan menerapkan praktek K3 dalam mengepres. Pemilihan dan pemeliharaan bahan tekstil membahas tentang klasifikasi serat tekstil, pemeliharaan bahan tekstil, bahan utama busana, bahan pelapis dan bahan pelengkap serta pemeliharaan busana. Desain busana mencakup pengertian desain, jenis-jenis desain, unsur-unsur desain, prinsip-prinsip desain, penerapan unsur dan prinsip desain pada busana, alat dan bahan untuk mendesain, anatomi tubuh untuk desain, menggambar bagian-bagian busana, serta pewarnaan dan penyelesaian gambar. Membuat pola busana mencakup pengertian pola busana, konsep dasar membuat pola busana, membuat pola busana dengan teknik draping, membuat pola busana dengan teknik konstruksi, membuat pola busana dengan teknik konstruksi di atas kain dan menggambar pola dengan teknik kombinasi. Dalam buku ini juga dibahas beberapa teknik pecah pola busana sesuai dengan desain, terdiri dari konsep dasar pecah pola busana, pecah pola rok sesuai desain, pecah pola blus sesuai desain dan pecah pola celana sesuai dengan desain. Bab IX Memotong bahan, menjahit dan penyelesaian (cutting, sewing, finishing) membahas tentang tempat kerja, menyiapkan bahan, meletakkan pola diatas bahan, memotong bahan sesuai pola pakaian, serta mengemas pola dan potongan bahan bagian-bagian busana (bundeling). Membuat hiasan pada busana membahas tentang tempat kerja dan alat, konsep dasar menghias busana, membuat desain hiasan untuk busana, memindahkan desain hiasan pada kain atau busana, membuat hiasan pada kain atau busana, menyimpan busana atau kain yang telah dihias serta merapikan area dan alat kerja. Materi yang diuraikan di atas, terkelompok pada standar kompetensi yang terdiri dari standar kompetensi kejuruan dan kompetensi kejuruan yang tersebar kepada beberapa kompetensi dasar. Agar dapat mengikuti perkembangan zaman terutama perkembangan IPTEKS diharapkan siswa selalu mengupdate ilmunya dengan perkembangan yang ada dilingkungannya sehingga kompetensi yang diperoleh, baik kognitif, 2

23 afektif maupun psikomotor sesuai dengan yang dibutuhkan stakeholders atau pengguna. Berikut ini akan dijelaskan secara singkat tentang pengetahuan dasar tata busana yang meliputi asal-usul busana, pengertian busana, fungsi busana, pengelompokan busana dan pemilihan busana. A. Asal Usul Busana Busana merupakan salah satu kebutuhan pokok manusia disamping kebutuhan makanan dan tempat tinggal. Hal inipun sudah dirasakan manusia sejak zaman dahulu dan berkembang seiring dengan perkembangan kebudayaan dan peradaban manusia. Dilihat dari sejarah perkembangan kebudayaan manusia, dapat kita pelajari hal-hal yang ada hubungannya dengan busana. Pada dasarnya busana yang berkembang dimasyarakat dewasa ini merupakan pengembangan dari bentuk dasar busana pada peradaban Barat. Namun busana baratpun hadir atas sumbangan yang tumbuh dari tiga akar budaya yaitu Yunani Kuno, Romawi dan Nasrani. Seiring dengan perkembangan zaman, busana mengalami perubahan sesuai dengan perkembangan Ilmu, pengetahuan, teknologi dan seni (IPTEKS). Pada zaman prasejarah manusia belum mengenal busana seperti yang ada sekarang. Manusia hidup dengan cara berburu, bercocok tanam dan hidup berpindah-pindah dari suatu tempat ke tempat lain dengan memanfaatkan apa yang mereka peroleh di alam sekitarnya. Ketika mereka berburu binatang liar, mereka mendapatkan dua hal yang sangat penting dalam hidupnya yaitu daging untuk dimakan dan kulit binatang untuk menutupi tubuh. Pada saat itu manusia baru berfikir untuk melindungi badan dari pengaruh alam sekitar seperti gigitan serangga, pengaruh udara, cuaca atau iklim dan benda-benda lain yang berbahaya. Cara yang dilakukan manusia untuk melindungi tubuhnya pada saat itu berbeda-beda sesuai dengan alam sekitarnya. Di daerah yang berhawa dingin, manusia menutup tubuhnya dengan kulit binatang, khususnya binatang-binatang buruan yang berbulu tebal seperti domba. Kulit binatang tersebut dibersihkan terlebih dahulu dari daging dan lemak yang menempel lalu dikeringkan. Hal ini biasanya dilakukan oleh kaum wanita. Begitu juga dengan daerah yang panas, mereka memanfaatkan kulit kayu yang direndam terlebih dahulu lalu dipukul-pukul dan dikeringkan. Ada juga yang menggunakan daundaun kering dan rerumputan. Selain itu ada yang memakai rantai dari kerang atau biji-bijian yang disusun sedemikian rupa dan untaian gigi dan taring binatang. Untaian gigi dan taring binatang ini dipakai di bagian leher, pergelangan tangan, pergelangan kaki dan pada panggul sebagai penutup bagian-bagian tertentu pada tubuh. Pemakaian untaian gigi, taring dan tulang, selain berfungsi untuk penampilan dan keindahan juga berhubungan dengan 3

24 kepercayaan atau tahayul. Menurut kepercayaan mereka, dengan memakai benda-benda tersebut dapat menunjukkan kekuatan atau keberanian dalam melindungi diri dari roh-roh jahat dan agar selalu dihormati. Cara lain adalah dengan menoreh tubuh dan wajah dan diberi bahan pewarna yang lebih dikenal men tattoo. Namun mentatto menurut Roosmy M Sood dalam Dra. Arifah A Rianto, M.Pd (2003:44) bahwa semua yang dilakukan oleh masyarakat primitif belum dapat dikatakan berbusana karena seni berbusana baru muncul setelah masyarakat mengenakan penutup tubuh dari kulit binatang, kulit kayu atau bahan-bahan tenunan. Bersamaan dengan penemuan bahan busana baik dari kulit binatang maupun kulit kayu dan cara pemakaiannya maka lahirlah bentuk dasar busana. Bentuk dasar busana yang terdapat di Indonesia, yaitu kutang, pakaian bungkus, poncho, kaftan dan celana. Untuk lebih jelasnya, bentuk dasar busana akan diuraikan satu persatu. 1. Kutang. Bentuk dasar kutang merupakan bentuk pakaian yang tertua, bahkan sebelum orang mengenal adanya kain lembaran yang berupa tenunan, orang sudah mengenal bentuk pakaian ini. Bentuk kutang menyerupai silinder atau pipa tabung yang berasal dari kulit kayu yang dipukul-pukul sedemikian rupa sehingga kulit tersebut terlepas dari batangnya dan dipakai untuk menutupi tubuh dari bawah ketiak sampai panjang yang diinginkan. Pada zaman dahulu penduduk asli Amerika yaitu suku Indian sudah mengenal pohon kutang yang kulitnya dipakai sebagai penutup tubuh. Negeri asal kutang yaitu Asia, lalu dibawa ke Iran, Asia kecil, Mesir dan Roma di Eropa. Di Asia dan Afrika bentuk pakaian ini menjadi bentuk utama pakaian walaupun berbeda ukuran panjang dan bentuknya. Ada beberapa jenis pakaian kutang yang dikenal yaitu : a. Tunik Tunik atau disebut juga tunika merupakan salah satu bentuk busana kutang yang dikenal pada zaman prasejarah. Pemakaiannya dari bawah buah dada sampai mata kaki yang diberi dua buah tali / ban ke bahu. Bentuk pakaian ini sering dipakai oleh wanita dan pria Mesir zaman purbakala. Pada perkembangannya bentuk tunik dan cara pemakaiannya disesuaikan dengan tingkat dan golongan pemakai; seperti tunik talaris dipakai oleh para consul, tunik dengan ukuran pendek(sebatas lutut), longgar dan memakai lengan panjang hanya boleh dipakai oleh orang-orang istana. Tunik yang sederhana dengan hiasan kancing pada leher dan pinggang dipakai oleh golongan menengah pada abad ke 6 s.d ke 5 SM di Bizentium. Abad ke 5 SM s.d abad ke 1 sesudah masehi di Roma 4

25 ada tunik permata. Perkembangannya sampai abad ke 5 sesudah masehi panjangnya sampai pertengahan betis. Dengan masuknya agama islam di Aceh maka terbawa pulalah setelan celana dengan tunik yang datang dari Pakistan yang selanjutnya disebut dengan baju kurung. Gambar 1. Macam-macam tunik 5

26 b. Kandys Kandys merupakan busana yang berasal dari bentuk kutang yang dipakai oleh pria Hebren di Asia Kecil pada zaman prasejarah. Busana ini longgar dengan lipit-lipit pada sisi sebelah kanan dan lengannya berbentuk sayap. Gambar. 2 Kandys 6

27 c. Kalasiris Kalasiris yaitu busana wanita Mesir zaman prasejarah. Kalasiris berbentuk dasar kutang, panjangnya sampai mata kaki, longgar dan lurus, adakalanya memakai ikat pinggang dan lengan setali. Kalasiris kadang-kadang dipakai bersama mantel dan cape yang berbentuk syaal sebagai tambahan. Gambar.3 Kalasiris 7

28 2. Pakaian bungkus Bentuk pakaian bungkus merupakan pakaian yang berbentuk segi empat panjang yang dipakai dengan cara dililitkan atau dibungkus ke badan mulai dari dada, atau dari pinggang sampai panjang yang diinginkan seperti celemek panggul. Pakaian bungkus ini tidak dijahit, walaupun pada saat pakaian bungkus ini muncul jarum jahit sudah ada. Pemakaian pakaian bungkus ini dengan cara dililitkan ke tubuh seperti yang ada di India yang dinamakan sari, toga dan palla di Roma, chiton dan peplos di zaman Yunani kuno, kain panjang dan selendang di Indonesia. Gambar 4. Bentuk pakaian bungkus Pada perkembangannya, pakaian bungkus berbeda-beda dalam cara pemakaiannya untuk tiap daerah, sehingga muncul pakaian bungkus yang namanya berbeda-beda diantaranya : a. Himation, yaitu bentuk busana bungkus yang biasa di pakai oleh ahli filosof atau orang terkemuka di Yunani Kuno. Himation ini panjangnya 12 atau 15 kaki yang terbuat dari bahan wol atau lenan putih yang seluruh bidangnya di sulam. Busana ini dapat dipakai diatas chiton atau dengan mantel. Bentuk busana yang hampir menyerupai himation ini yaitu pallium yang biasa dipakai diatas toga oleh kaum pria di Roma pada abad kedua. 8

29 Gambar 5. Himation 9

30 b. Chlamys, yaitu busana yang menyerupai himation, yang berbentuk longgar. Biasanya dipakai oleh kaum pria Yunani Kuno. Gambar.6 Chlamy 10

31 c. Mantel/shawl, yaitu busana yang berbentuk segi empat panjang yang dalam pemakaiannya disampirkan pada satu bahu atau kedua bahu. Pada bagian dada diberi peniti sehingga muncul lipit-lipit dan pada kedua ujungnya diberi jumbai-jumbai. Gambar.7 Mantel/shawl d. Toga, merupakan bentuk pakaian resmi yang dipakai sebagai tanda kehormatan dizaman republik dan kerajaan di Roma. Ada beberapa jenis toga diantaranya yaitu, toga palla yaitu toga yang dipakai saat berkabung dan toga trabea yang dibuat menyerupai cape bayi. 11

32 Gambar.8 Toga e. Palla, yaitu busana wanita Roma dizaman republik dan kerajaan, dipakai di atas tunika atau stola. Pemakaiannya hampir sama dengan shawl yang disemat dengan peniti. Warna palla pada umumnya warna biru, hijau dan warna keemasan. 12

33 Gambar.9 Palla 13

34 f. Paludamentum, sagum dan abolla, yaitu sejenis pakaian jas militer dizaman prasejarah. Gambar. 10 Paludamentum, sagum dan abolla 14

35 g. Chiton, yaitu busana pria Yunani Kuno yang mirip dengan tunik di Asia. Bahan chiton biasanya terbuat dari bahan wol, lenan dan rami yang diberi sulaman dengan benang berwarna dan benang emas sebagai pengaruh tenunan Persia. Gambar. 11 Chiton 15

36 h. Peplos dan haenos, yaitu busana wanita Yunani Kuno yang bentuk dasarnya sama dengan chiton, ada yang dibuat panjang dan ada yang pendek. Pada bagian bahu ada lipit-lipit yang ditahan dengan peniti dan ada kalanya pada pinggang juga dibuat lipit-lipit sehingga terlihat seperti blus. Peplos dari Athena memakai ikat pinggang yang diikat di atas lipit-lipit di pinggang. Gambar. 12 Peplos 16

37 i. Cape atau cope, yaitu busana paling luar pada pakaian pria di Byzantium yang berbentuk mantel yang diikat pada bahu atau leher dan diberi hiasan bros. Gambar.13. Cape atau cope 17

38 3. Poncho Poncho terbuat dari kulit binatang, kulit pohon kayu dan daun-daunan yang diberi lubang pada bagian tengahnya agar kepala bisa masuk, sedangkan bagian sisi dibiarkan tidak dijahit. Poncho yang dimaksud disini adalah suatu bentuk dasar pakaian yang berasal dari penduduk asli Amerika, yaitu bangsa Mexico dan Peru-Indian, yang pada waktu sekarang sudah hampir hilang di negeri asalnya. Bentuk aslinya dipergunakan sebagai penutup badan bagian atas, terdiri dari selembar kain yang dilipat melebar ditengah-tengahnya. Pada lipatan ini dicari tengah-tengahnya, dibuatkan lubang untuk lubang leher. Ciri khas bentuk dasar ini bahwa tengah muka tidak mempunyai belahan seperti gambar berikut. Gambar 14. Poncho Perkembangan bentuk poncho terlihat pada bentuk busana yang dimasukkan dari kepala. Perkembangan celemek panggul terlihat pada bentuk busana yang dibungkus atau dililitkan ke badan mulai dari pinggang ke panggul. Berdasarkan bentuknya, poncho dapat dibedakan : a. Poncho bahu Poncho bahu yaitu poncho yang menutup bahu dan badan bagian atas. Panjang poncho bahu ada yang sampai batas lutut dan ada yang sampai betis. Poncho bahu biasanya dipakai oleh suku Indian penduduk asli Amerika, Peru, Mexico dan Tiongkok. Disamping itu juga dipakai sebagai mantel oleh suku Teutonic, Trank dan Sexon. Poncho bahu diberi lobang sehingga kepala bisa masuk. Poncho bahu ada yang hanya menutupi bahu saja 18

39 seperti poncho bahu di Tiongkok, sementara poncho dari Mexico dibuat dari bulu binatang yang panjangnya sampai lutut dan ada juga yang sampai betis. Gambar 15. Beberapa contoh poncho bahu 19

40 b. Poncho panggul Poncho panggul ditemukan pada gambar seorang laki-laki di istana raja zaman Yunani Kuno. Poncho panggul yaitu poncho yang menutupi bagian panggul sampai panjang yang diinginkan dan pada badan bagian atas terbuka. Poncho panggul ada yang hanya menutupi panggul saja dan ada juga yang dibuat sampai menutupi mata kaki. Gambar 16. Beberapa contoh poncho panggul 20

41 Perkembangan bentuk poncho terlihat pada bentuk busana yang dimasukkan dari kepala. Perkembangan celemek panggul terlihat pada bentuk busana yang dibungkus atau dililitkan ke badan mulai dari pinggang ke panggul. 4. Celana Celana merupakan bagian busana yang berfungsi untuk menutupi tubuh bagian bawah, mulai dari pinggang, pinggul dan kedua kaki. Bentuk dasar celana dibuat dari bahan berbentuk segi empat yang dilipat dua mengikuti panjang kain dan bagian lipatan tersebut digunting dan dijahit pada kedua sisinya. Untuk lobang kaki sampai paha dibuat guntingan pada bagian tengahnya yang kemudian dijahit, sehingga ada lobang untuk kaki. Pada bagian pinggang dibuat lajur untuk memasukkan tali sebagai penahan celana pada pinggang. Celana seperti ini masih banyak ditemui dan dipakai oleh wanita di Aceh. Gambar 17. Bentuk dasar celana Bentuk ini muncul untuk melengkapi pakaian kaftan yang biasanya dibuat menutupi seluruh tubuh, sehingga timbul ide untuk memisahkan busana bawah dan atas. Busana atas disebut tunik dan bawah dikenal dengan rok. Dari rok inilah dirubah menjadi bentuk celana yang diberi lobang untuk memasukkan kaki. Celana biasa dipakai oleh wanita dan laki-laki seperti di Albania, Persia, Tiongkok, Tunisia, dan Arab Saudi. Bentuk celana bermacam-macam, ada yang longgar seperti celana perempuan Turki dan ada yang sempit seperti celana kuli di Jepang. Pada abad ke 18 muncul celana yang panjangnya sampai lutut yang dikenal dengan culotte. Pada akhir abad ke 18 perkembangan bentuk celana dipengaruhi oleh budaya barat 21

42 sehingga muncul celana pantaloons, yaitu celana panjang yang sampai mata kaki. Gambar 18. Macam-macam bentuk celana 22

43 Berdasarkan bentuk dasar busana di atas maka berkembanglah bentuk-bentuk busana yang kita kenal sekarang, yang sudah disesuaikan dengan perkembangan zaman. 5. Bentuk kaftan Bentuk kaftan merupakan perkembangan dari bentuk dasar kutang atau tunika yang dipotong bagian tengah muka sehingga terdapat belahan pada bagian depan pakaian. Orang-orang Babylonia telah lama menggunakanya sebagai penutup badan bagian atas. Bentuk kaftan yang asli masih dipakai oleh petani di Mesir. Di Indonesia dikenal dengan nama kebaya, di Jepang dikenal dengan kimono dan di Negara-negara Timur Tengah dikenal dengan jubah. Busana kaftan berbentuk baju panjang yang longgar, sisi lurus, berlengan panjang dan ada belahan pada tengah muka. Dengan kata lain bentuk kaftan memiliki ciri khas, mempunyai belahan disepanjang tengah muka dan memakai lengan. Belahan ini ada kalanya disemat dengan peniti dan ada juga yang dibiarkan lepas (tidak disemat) seperti gambar berikut. Gambar 19. Kaftan B. Pengertian Busana Istilah busana merupakan istilah yang sudah tidak asing lagi bagi kita semua. Istilah busana berasal dari bahasa sanskerta yaitu bhusana dan istilah yang popular dalam bahasa Indonesia yaitu busana yang dapat diartikan pakaian. Namun demikian pengertian busana dan pakaian terdapat sedikit perbedaan, dimana busana mempunyai konotasi pakaian yang bagus atau indah yaitu pakaian yang serasi, harmonis, selaras, enak di pandang, nyaman melihatnya, cocok dengan pemakai serta sesuai dengan kesempatan. Sedangkan pakaian adalah bagian dari busana itu sendiri. 23

44 Busana dalam pengertian luas adalah segala sesuatu yang dipakai mulai dari kepala sampai ujung kaki yang memberi kenyamanan dan menampilkan keindahan bagi sipemakai. Secara garis besar busana meliputi : 1. Busana mutlak yaitu busana yang tergolong busana pokok seperti baju, rok, kebaya, blus, bebe dan lain-lain, termasuk pakaian dalam seperti singlet, bra, celana dalam dan lain sebagainya. 2. Milineris yaitu pelengkap busana yang sifatnya melengkapi busana mutlak, serta mempunyai nilai guna disamping juga untuk keindahan seperti sepatu, tas, topi, kaus kaki, kaca mata, selendang, scraf, shawl, jam tangan dan lain-lain. 3. Aksesoris yaitu pelengkap busana yang sifatnya hanya untuk menambah keindahan sipemakai seperti cincin, kalung, leontin, bross dan lain sebagainya. Dari uraian di atas jelaslah bahwa busana tidak hanya terbatas pada pakaian seperti rok, blus atau celana saja, tetapi merupakan kesatuan dari keseluruhan yang kita pakai mulai dari kepala sampai ke ujung kaki, baik yang sifatnya pokok maupun sebagai pelengkap yang bernilai guna atau untuk perhiasan. Pemahaman hal di atas sangat penting sekali bagi seseorang yang akan berkecimpung di bidang tata busana. Pemakaian istilah busana dalam Bahasa Inggris sangat beragam, tergantung pada konteks yang dikemukakan, seperti : a. Fashion lebih difokuskan pada mode yang umumnya ditampilkan seperti istilah-istilah mode yang sedang digemari masyarakat yaitu in fashion, mode yang dipamerkan atau diperagakan disebut fashion show, sedangkan pencipta mode dikatakan fashion designer, dan buku mode disebut fashion book. b. Costume. Istilah ini berkaitan dengan jenis busana seperti busana nasional yaitu national costume, busana muslim disebut moslem costume, busana daerah disebut traditional costume. c. Clothing, dapat diartikan sandang yaitu busana yang berkaitan dengan kondisi atau situasi seperti busana untuk musim dingin disebut winter clothing, busana musim panas yaitu summer clothing dan busana untuk musim semi disebut spring cloth. d. Dress, dapat diartikan gaun, rok, blus yaitu busana yang menunjukkan kesempatan tertentu, misalnya busana untuk kesempatan resmi disebut dress suit, busana seragam dikatakan dress uniform dan busana untuk pesta disebut dress 24

45 party. Dress juga menunjukkan model pakaian tertentu seperti long dress, sack dress dan Malaysian dress. e. Wear, istilah ini dipakai untuk menunjukkan jenis busana itu sendiri, contoh busana anak disebut children s wear, busana pria disebut men s wear dan busana wanita disebut women s wear. C. Fungsi Busana Pada awalnya busana berfungsi hanya untuk melindungi tubuh baik dari sinar matahari, cuaca ataupun dari gigitan serangga. Seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi maka hal tersebut juga mempengaruhi fungsi dari busana itu sendiri. Fungsi busana dapat ditinjau dari beberapa aspek antara lain aspek biologis, psikologis dan sosial. Untuk lebih jelasnya dapat diuraikan sebagai berikut : 1. Ditinjau dari aspek biologis, busana berfungsi : a. Untuk melindungi tubuh dari cuaca, sinar matahari, debu serta gangguan binatang, dan melindungi tubuh dari benda-benda lain yang membahayakan kulit. Seperti orang yang berada di daerah kutup memerlukan busana untuk melindungi tubuhnya dari udara dingin. Begitu juga orang yang tinggal di daerah yang beriklim panas, busana digunakan untuk melindungi tubuh dari udara panas yang mungkin dapat merusak kulit. b. Untuk menutupi atau menyamarkan kekurangan dari sipemakai. Manusia tidak ada yang sempurna, setiap manusia memiliki kelebihan dan kekurangan. Untuk menutupi kekurangan dan menonjolkan kelebihannya juga dapat di lakukan dengan memakai busana yang tepat. Seperti seseorang yang bertubuh kurus pendek, hindari memakai kerah dengan ukuran lebar, memakai rok yang terlalu pendek (rok mini), dan rok span karena hal ini akan memberikan kesan lebih kurus dan lebih pendek. Pilihlah model rok pias, model kerah yang dapat menutup tulang leher. Dapat menggunakan sepatu yang berhak tinggi dan memakai perhiasan yang berukuran kecil atau sedang, serta memakai pakaian yang tidak menonjolkan bentuk tubuh yang kurus dan pendek tersebut, begitu juga sebaliknya. 2. Ditinjau dari aspek psikologis a. Dapat menambah keyakinan dan rasa percaya diri. Dengan busana yang serasi memberikan keyakinan atau rasa percaya diri yang tinggi bagi sipemakai, sehingga menimbulkan sikap dan tingkah laku yang wajar. Seperti seseorang yang pakaiannya tidak sesuai dengan acara yang sedang dihadirinya, akan membuat dia risih atau salah tingkah. 25

46 b. Dapat memberi rasa nyaman. Sebagai contoh pakaian yang tidak terlalu sempit atau terlalu longgar dapat memberi rasa nyaman saat memakainya. Begitu juga dengan pakaian yang modelnya sesuai dengan sipemakai akan membuat dia nyaman dalam melaksanakan segala aktifitas yang di lakukannya. 3. Ditinjau dari aspek sosial Dalam kehidupan bermasyarakat terdapat norma-norma yang mengatur pola perilaku di masyarakat. Norma-norma tersebut antara lain norma kesopanan, norma agama, norma adat dan norma hukum. Sebagai masyarakat Timur, norma-norma ini harus dipatuhi oleh masyarakat. Tatanan tersebut diantaranya juga mengatur tentang bagaimana berpakaian. Dilihat dari aspek sosial busana berfungsi : a. Untuk menutupi aurat atau memenuhi syarat kesusilaan. Seperti terlihat pada masyarakat yang beragama Islam, diwajibkan menutupi auratnya, dimana wanita harus menutupi seluruh tubuh kecuali telapak tangan dan muka. Ditempat umum hendaklah memakai pakaian yang sopan. b. Untuk menggambarkan adat atau budaya suatu daerah. Misalnya pakaian adat Minang menggambarkan tentang budaya Minangkabau, pakaian adat Betawi menggambarkan tentang budaya masyarakat Betawi, pakaian adat Bali, Batak, Sulawesi dan lain sebagainya. c. Untuk media informasi bagi suatu instansi atau lembaga. Seperti seseorang yang berasal dari korps kepolisian menggunakan seragam tertentu yang berbeda dengan yang lain, seorang siswa atau pelajar menggunakan seragam sekolah mereka dan lain sebagainya. d. Media komunikasi non verbal. Busana yang kita kenakan dapat menyampaikan misi atau pesan kepada orang lain, pesan itu akan terpancar dari kepribadian kita, dari mana anda berasal, berapa usia yang akan anda tampilkan, jenis kelamin apa yang ingin anda akui, jabatan atau sebagai apa keberadaan anda dimasyarakat, dan sebagainya, inilah yang ingin digarisbawahi melalui penampilan busana kita. Ini semua contohnya bisa dilihat dari penampilan seorang artis, peran apa dan kesan serta misi apa yang akan disampaikan. D. Pengelompokan Busana Dalam berbusana kita perlu memperhatikan norma-norma yang berlaku dalam masyarakat, seperti norma agama, norma susila, norma sopan santun dan sebagainya, dan juga memahami tentang kondisi lingkungan, budaya dan waktu pemakaian. Dengan demikian baik jenis, model, warna atau corak busana perlu disesuaikan dengan hal tersebut di 26

47 atas. Sehubungan dengan hal tersebut di atas, secara garis besar busana dapat dikelompokkan menjadi dua, yaitu : 1. Busana Dalam Busana dalam dapat dikelompokkan menjadi dua yaitu : a. Busana yang langsung menutup kulit, seperti : BH/Kutang, celana dalam, singlet, rok dalam, bebe dalam, corset, longtorso. Busana ini berfungsi untuk melindungi bagianbagian tubuh tertentu, dan membantu membentuk/ memperindah bentuk tubuh serta dapat menutupi kekurangankekurangan tubuh, dan juga menjadi fundamen pakaian luar. Jenis busana ini tidak cocok dipakai ke luar kamar atau keluar rumah tanpa baju luar. b. Busana yang tidak langsung menutupi kulit, yang temasuk kelompok ini adalah busana rumah, seperti : daster, house coat, house dress, dan busana kerja di dapur seperti : celemek dan kerpusnya. Busana kerja perawat dan dokter, seperti celemek perawat dan snal jas dokter. Busana tidur wanita, seperti baby doll, nahyapon dan busana tidur pria, antara lain, piyama dan jas kamar. Jenis pakaian tersebut di atas tidak etis jika dipakai ketika menerima tamu. 2. Busana Luar Busana luar ialah busana yang dipakai di atas busana dalam. Pemakaian busana luar disesuaikan pula dengan kesempatanya, antara lain busana untuk kesempatan sekolah, busana untuk bekerja, busana untuk kepesta, busana untuk olah raga, busana untuk santai dan lain sebagainya. E. Pemilihan Busana Dalam berbusana kita perlu menyesuaikan busana dengan bentuk tubuh, warna kulit, kepribadian, jenis kelamin dan lain sebagainya. Kesalahan dalam memilih busana akan berakibat fatal bagi sipemakai, karena busana yang semula diharapkan dapat mempercantik diri dan dapat menutupi kekurangan tidak terwujud, bahkan kadang-kadang kekurangan tersebut terlihat semakin menonjol. Untuk mengatasi permasalahan-permasalahan di atas, dalam memilih busana ada beberapa faktor yang harus diperhatikan, baik faktor individu maupun faktor lingkungan. Adapun yang menyangkut faktor individu seperti : bentuk tubuh, umur, warna kulit, jenis kelamin dan kepribadian. Sedangkan yang menyangkut faktor lingkungan adalah : waktu, kesempatan dan perkembangan mode. Untuk lebih jelasnya akan diuraikan sebagai berikut : 27

48 1. Faktor individu Jika kita perhatikan secara teliti, khususnya tentang busana yang dipakai oleh masing-masing individu dapat disimpulkan bahwa setiap manusia mengenakan pakaian yang berbeda antara satu dengan yang lainnya. Perbedaan ini tidak hanya terdapat pada model pakaian saja, tetapi juga terdapat perbedaan dalam pemilihan bahan busana seperti perbedaan warna, motif, tekstur dan lain-lain sebagainya. Ada beberapa faktor yang menyebabkan perbedaan tersebut antara lain: a. Bentuk tubuh Bentuk tubuh manusia tidaklah sama satu dengan lainnya, perbedaan tersebut disebabkan oleh perkembangan biologis serta perbedaan tingkat umur. Setiap manusia mengalami irama pertumbuhan yang berbeda-beda, ada yang gemuk pendek, kurus tinggi, gemuk tinggi dan kurus pendek. Maka dari itu, sewajarnyalah kita di dalam membuat atau memilih busana harus mengenali terlebih dahulu bentuk tubuh masing-masing. Karena tidak semua busana dapat dipakai oleh semua orang, dengan kata lain model busana untuk orang gemuk jelas tidak cocok untuk orang yang bertubuh kurus, begitu juga sebaliknya. Maka, di dalam memilih busana mengenali bentuk tubuh sangatlah penting. Bentuk tubuh ideal sangatlah didambakan oleh semua orang, karena hampir semua desain busana dapat dipakainya, sehingga bentuk tubuh ideal merupakan dambaan semua orang. Adapun yang dimaksud dengan tubuh ideal untuk seorang wanita, menurut Enna Tamimi (1982:41) bentuk badan yang ideal mempunyai ukuran lingkar dada dan pinggul yang sama besar. Ukuran pinggang sekurang-kurangnya 10 cm lebih kecil dari ukuran dada atau pinggul, serta letak garis pinggang pada batas ¾ tinggi badan yang diukur dari kepala. Dengan kata lain jika letak garis pinggang di bawah atau di atas ¾ tinggi badan serta lingkar pinggang yang hampir sama besar dengan lingkar badan dan lingkar pinggul, maka ukuran yang begini termasuk ukuran yang kurang ideal. Bentuk tubuh yang kurang ideal ini banyak pula macamnya, ada yang gemuk pendek, kurus tinggi, kurus pendek, bahkan ada yang bungkuk, panggul terlalu kecil, bidang bahu terlalu lebar atau terlalu sempit. Semua bentuk tubuh ini termasuk bentuk tubuh yang tidak ideal, karena masing-masingnya memiliki kelemahan atau kelainan. Kelemahan-kelemahan ini dapat disembunyikan dengan memilih desain pakaian yang sesuai dengan bentuk tubuh masing-masing, setiap kekurangan tersebut dapat ditutupi dengan busana yang dipakai. Untuk seseorang yang bertubuh gemuk pilihlah desain yang memberi kesan melangsingkan, dan yang bertubuh kurus 28

49 memilih desain yang memberikan kesan menggemukkan. Desain busana untuk seseorang yang bidang bahunya sempit pilihlah desain yang memberikan kesan melebarkan, untuk seseorang yang memiliki buah dada terlalu kecil atau terlalu besar, semua ini perlu mendapat perhatian yang serius sebelum membuat busana agar busana yang serasi dengan bentuk tubuh dapat diwujudkan. b. Umur Umur seseorang sangat menentukan dalam pemilihan busana, karena tidak seluruh busana cocok untuk semua umur. Perbedaan tersebut tidak saja terletak pada model, tetapi juga pada bahan busana, warna, serta corak bahan. Busana anakanak jauh sekali bedanya dengan busana remaja dan busana orang dewasa. Untuk itu di dalam pemilihan busana yang serasi usia pemakai merupakan kriteria yang tidak dapat diabaikan. c. Warna Kulit Warna kulit adalah suatu hal yang harus dipertimbangkan dalam memilih busana. Walaupun warna kulit orang Indonesia disebut sawo matang, namun selalu ada perbedaan antara satu dengan yang lainnya. Maka, hal ini hendaknya mendapat perhatian supaya busana yang dipakai betul-betul sesuai dengan sipemakai d. Kepribadian Kepribadian merupakan suatu hal yang perlu diperhatikan dalam memilih busana. Ada beberapa tipe kepribadian yang sangat mempengaruhi dalam pemilihan busana tersebut, antara lain : 1) Tipe Feminim Orang yang bertipe feminim memiliki sifat, lemah lembut, pemalu, suka menjauhkan diri dari perhatian umum, perasaannya halus. Untuk orang yang bertipe feminim ini sangat cocok desain busana yang memakai garis lengkung, seperti; rok pias, rok kembang dan lain-lain. Warna busana yang cocok adalah warna yang telah dicampur dengan warna abu-abu, setiap warna yang di campur dengan warna abu-abu maka hasilnya akan menjadi warna yang buram. Misalnya warna merah dicampur dengan warna abu-abu, maka warna merahnya menjadi merah redup. Warna kuning dicampur dengan warna abu-abu, maka warna kuningnya menjadi redup. Warna biru dicampur dengan warna abu-abu, maka warna birunya menjadi redup. Semua warna yang dicampur dengan warna abu-abu, cocok untuk orang yang bertipe feminim. Tekstur yang cocok untuk tipe feminim ialah tekstur 29

50 yang lembut, halus dan ringan. Motif yang dipakai sebaiknya motif yang kecil-kecil. 2) Tipe Maskulin Tipe maskulin adalah orang yang memiliki sifat terbuka, agresif, tenang, dan percaya diri. Untuk orang yang bertipe ini desain busana yang cocok adalah model yang tidak terlalu banyak variasi dan memakai garis yang tegas; seperti : memakai kerah minamora, kerah kemeja dan lain-lain. Warnawarna cerah sangat cocok untuk kepribadian maskulin. Tekstur sebaiknya dipilih yang tebal, berat dan bermotif. Motif geometris lebih cocok dipakai dari pada motif bunga-bunga. 3) Tipe Intermediet Tipe intermediet, umumnya mempunyai kepribadian diantara kedua tipe di atas. Desain busana yang cocok untuk oarang yang bertipe intermediet adalah model yang memakai garis vertikal, garis horizontal dan garis diagonal. Pemilihan warna busana untuk orang yang berkepribadian seperti ini sebaiknya disesuaikan dengan warna kulit. Apabila warna kulitnya cerah, pilihlah warna panas. Untuk orang yang tenang hindari warna yang kontras dan sebaiknya memilih warnawarna dingin. Hindari memakai tekstur yang mengkilat dan tekstur yang terlalu halus. 2. Faktor Lingkungan Dalam memilih busana, perlu dipertimbangkan keserasian dengan lingkungan, baik lingkungan masyarakat tempat tinggal, maupun lingkungan tempat bekerja. Faktor lingkungan ini sangat besar sekali pengaruhnya dengan kehidupan kita sehari-hari, untuk itu kita senantiasa berusaha agar selalu diterima oleh lingkungan, antara lain dengan memakai busana yang serasi. Untuk menciptakan busana yang serasi banyak faktor yang harus diperhatikan, tetapi keserasian berbusana yang berkaitan dengan lingkungan adalah sebagai berikut : a. Waktu Berbusana mengingat waktu berarti memperhitungkan pengaruh sinar mata hari. Keadaan pada waktu-waktu tertentu membawakan suasana yang berbeda-beda. Di pagi hari udara sejuk suasana tenang, di siang hari udara panas suasana sibuk, di malam hari udara dingin suasana tenang. Suasana inilah yang mungkin harus dijadikan dasar pertimbangan dalam pemilihan busana. Misalnya busana untuk siang hari, warna-warna yang panas atau menyolok haruslah dihindari, agar tidak mengganggu orang yang melihatnya. 30

51 Dengan kata lain tidak semua busana dapat dipakai untuk setiap waktu dan semua kesempatan, karena kesempatan yang berbeda menuntut pula jenis busana yang berlainan. Jadi setiap individu tidak hanya dapat memiliki satu atau dua jenis busana saja, tetapi harus disesuaikan dengan aktifitas masing-masing mereka. Semakin banyak kegiatan seseorang, maka beraneka ragam pulalah busana yang dibutuhkan, karena keadaan pada waktu tertentu membawakan suasana yang berbeda-beda sesuai dengan waktu dan kesempatan masing-masing, baik di rumah, dikantor, disekolah, dilapangan olah raga, berpesta dan lain sebagainya. b. Kesempatan Berbusana menurut kesempatan berarti kita harus menyesuaikan busana yang dipakai dengan tempat ke mana busana tersebut akan kita bawa, karena setiap kesempatan menuntut jenis busana yang berbeda, baik dari segidesain, bahan maupun warna dari busana tersebut. Berbusana menurut kesempatan berarti kita harus menyesuaikan busana yang dipakai dengan tempat kemana busana tersebut akan kita pakai, karena setiap kesempatan menuntut jenis busana yang berbeda, baik dari segidesain, bahan, maupun warna dari busana tersebut. Berikut ini dapat kita lihat pengelompokan busana menurut kesempatan antara lain : 1). Busana Sekolah Desain busana sekolah untuk tingkat Sekolah Dasar (SD), Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama (SLTP), dan Sekolah Lanjutan Tingkat Atas (SLTA), ditentukan oleh Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia. Untuk pria terdiri dari celana dan blus dengan kerah kemeja, untuk wanita rok lipit searah untuk SD, rok dengan dua lipit hadap pada bagian muka, rok dengan satu lipit hadap pada tengah muka untuk SLTA. Warna merah tua untuk SD, warna biru untuk SLTP, dan warna abu-abu untuk SLTA. Ada kalanya model dan warna busana sekolah ditentukan sendiri oleh pihak sekolah masing-masing. 2). Busana Kuliah Desain busana untuk mahasiswa/si adalah bebas. Namun kebanyakan dari mereka memilih rok dan blus atau kemeja dan celana. Hal ini disebabkan karena rok, blus dan kemeja, celana dalam pemakaiannya dapat diselang-selingi, maksudnya: dengan memiliki dua lembar rok atau celana pemakaiannya dapat divariasikan dengan tetap memperhatikan keserasiannya. 31

52 3). Busana Kerja Busana kerja adalah busana yang dipakai untuk melakukan suatu pekerjaan dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Busana kerja banyak macamnya, sesuai dengan jenis pekerjaan yang dilakukan. Jenis pekerjaan yang berbeda menuntut pula perbedaan model, bahan dan warna yang diperlukan. Untuk busana kerja dibengkel pilihlah desain yang mempunyai banyak kantong, karena model yang begini dapat menghemat waktu dan tenaga, sebab alat-alat yang dibutuhkan dapat disimpan di dalam kantong tersebut yang bila diperlukan dapat diambil dengan cepat. Busana untuk bekerja dikantor, sering dibuat seragam dengan model klasik, yang biasanya terdiri dari rok dan blus untuk wanita, celana dan kemeja untuk pria. Jika memilih model sendiri, pilihlah desain yang sederhana, praktis, tetapi tetap menarik serta memberikan kesan anggun dan berwibawa. Hindarilah pakaian yang ketat, serta garis leher yang rendah atau terbuka, karena desain yang seperti ini kurang sopan dan mengganggu dalam beraktifitas. Untuk memilih busana kerja ada beberapa hal yang harus di perhatikan antara lain : a) Modelnya sopan dan pantas untuk bekerja serta dapat menimbulkan kesan yang menyenangkan bagi sipemakai dan bagi orang yang melihatnya. b) Praktis dan memberikan keluwesan dalam bergerak. c) Bahan yang mengisap keringat. 4). Busana Pesta Busana pesta adalah busana yang dipakai untuk menghadiri suatu pesta. Dalam memilih busana pesta hendaklah dipertimbangkan kapan pesta itu diadakan, apakah pestanya pagi, siang, sore ataupun malam, karena perbedaan waktu juga mempengaruhi model, bahan dan warna yang akan ditampilkan. Selain itu juga perlu diperhatikan jenis pestanya, apakah pesta perkawinan, pesta dansa, pesta perpisahan atau pesta lainnya. Hai ini juga menuntut kita untuk memakai busana sesuai dengan jenis pesta tersebut. Misalnya pesta adat, maka busana yang kita pakai adalah busana adat yang telah ditentukan masyarakat setempat. Jika pestanya bukan pesta adat, kita boleh bebas memilih busana yang dipakai. Walaupun demikian ada beberapa hal yang harus diperhatikan antara lain : a) Pilihlah desain yang menarik dan mewah supaya mencerminkan suasana pesta. b) Pilihlah bahan busana yang memberikan kesan mewah dan pantas untuk dipakai kepesta, misalnya : sutra, taf, 32

53 beludru dan sejenisnya. Tetapi kita harus menyesuaikan dengan jenis pestanya, apakah pesta ulang tahun, pesta perkawinan dan sebagainya. Disamping itu juga disesuaikan dengan tempat pesta dan waktu pestanya. 5). Busana Olah Raga Busana olahraga adalah busana yang dipakai untuk melakukan olahraga. Desain busana olahraga disesuaikan dengan jenis olahraganya. Setiap cabang olahraga mempunyai jenis busana khusus dengan model yang berbeda pula. Untuk olahraga volly dan bola kaki biasanya terdiri dari blus kaus dan celana pendek dengan model tertentu, begitu juga untuk busana renang didisain dengan model yang melekat dibadan dan garis leher yang lebih terbuka. Busana renang biasanya dilengkapi dengan kimono yang berfungsi untuk menutupi tubuh jika berada di luar kolam renang. Begitu juga untuk olahraga sepak takrau, tenis meja dan lain sebagainya, masing-masing menuntut pula suatu bentuk busana yang khusus. Ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam memilih busana olahraga antara lain : a). Pilihlah bahan busana yang elastis b). Pilihlah bahan yang mengisap keringat c) Pilihlah model busana yang sesuai dengan jenis olahraga yang dilakukan. 6). Busana Santai Busana santai adalah busana yang dipakai pada waktu santai atau rekreasi. Busana santai banyak jenisnya, hal ini disesuaikan dengan tempat dimana kita melakukan kegiatan santai atau rekreasi tersebut. Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam memilih busana santai diantaranya yaitu : a). Pilihlah desain yang praktis dan sesuaikan dengan tempat bersantai. Jika santai di rumah pilihlah model yang agak longgar, bila santai kepantai pilih model leher yang agak terbuka agar tidak panas, jika santai kegunung pilihlah model yang agak tertutup agar udara dingin dapat diatasi. b) Pilihlah bahan yang kuat dan mengisap keringat. c. Perkembangan Mode Seiring dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, mode busana juga berkembang dengan pesat, walaupun kadang kala mode tersebut tidak sesuai dengan tata cara berbusana yang baik, namun mode tetap bergulir dari waktu ke waktu. 33

54 Perkembangan mode sangat besar pengaruhnya pada kepribadian seseorang, sehingga setiap mode yang muncul selalu saja ada yang pro dan ada yang kontra, apalagi Indonesia yang terdiri dari bermacam-macam suku yang masing-masingnya mempunyai busana yang beraneka ragam. Bagi masyarakat yang terlalu kaku dan fanatik dengan tata cara aturan berbusana tentu akan sulit mengikuti perkembangan mode. Hal ini masih diannggab wajar, karena tanpa disadari mode tersebut pada umumnya dipengaruhi oleh mode yang datang dari manca negara yang mungkin akan besar pengaruhnya terhadap kepribadian seseorang, namun semua ini terpulang kepada pribadi kita masing-masing dalam memilih mode yang sedang berkembang. 34

55 35

56 BAB II PELAYANAN PRIMA A. Melakukan Komunikasi Ditempat Kerja 1. Pengertian Komunikasi Komunikasi adalah proses penyampaian pesan dari komunikator kepada komunikan dengan melalui suatu sarana atau lambang atau penjelasan melalui saluran mekanisme bertujuan untuk mendapatkan saling pengertian antara kedua belah pihak. Komunikasi menurut Benny Kaluku, adalah proses penyampaian pengertian dan mengandung semua unsur prosedur yang dapat mempertemukan suatu pemikiran dengan pemikiran lain. Komunikasi menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah pengiriman dan penerimaan pesan atau berita antara dua orang atau lebih dengan cara yang tepat sehingga pesan yang dimaksud dapat dipahami. Komunikasi menurut Keith Davis, adalah proses jalur informasi dan pengertian dari seseorang keorang lain. Komunikasi menurut Dr.Phil. Astrid Susanto adalah pengoperan lambang-lambang yang mengandung arti. Pengertian Komunikasi yang dikemukakan oleh Communicative Skil (Air University USA) adalah sebagai suatu proses yang mempunyai tiga komponen, yaitu: 1). Komunikasi, yaitu seorang yang memindahkan arti. 2). Simbol untuk memindahkan arti. 3). Penerima, yaitu seorang yang menerima simbol dan menterjemahkan artinya. Rumusan komunikasi menurut beberapa ahli di atas dapat disimpulkan, yaitu: a). Bahwa dalam komunikasi terjadi penyampaian pengertian dari seseorang kepada orang lain. b). Bahwa penyampaian pesan merupakan suatu proses untuk mencapai suatu tujuan. c). Dalam penyampaian pesan menggunakan lambang. d). Dalam berkomunikasi terjadi hubungan atau kontak. Dengan demikian komunikasi adalah suatu proses yang mencakup penyampaian dan penjalinan yang cermat dari ide-ide dengan maksud untuk menimbulkan tindakan-tindakan yang akan mencapai tujuan secara efektif atau tukar menukar informasi antara seseorang dengan orang lain, dengan tujuan untuk memperoleh saling pengertian. 2. Dasar-dasar Komunikasi Kita berkomunikasi terutama untuk menyatakan dan mendukung identitas diri, untuk membangun kontak sosial dengan orang disekitar kita, dan untuk mempengaruhi orang lain, untuk merasa, berfikir, atau berperilaku seperti yang kita inginkan. Namun tujuan dasar kita berkomunikasi adalah untuk mengendalikan lingkungan fisik dan fisikologis kita. Komunikasi melibatkan dua orang atau lebih, bersikap sopan dan ramah dengan menggunakan bahasa yang saling 35

57 dimengerti oleh komunikator dan komunikan dengan kondisi fisik sehat akan menunjang keberhasilan dalam berkomunikasi. Sukses tidaknya suatu pelayanan sangat tergantung dari tepat tidaknya komunikasi antara customer dengan petugas customer. Perlu diperhatikan juga agar kelihatan ramah dan sopan, perlu diperhatikan hal-hal berikut : a). Dengan siapa kita berkomunikasi, apakah dengan customer, atasan, orang yang lebih tua atau lawan jenis; b). Volume suara dalam berkomunikasi perlu diperhatikan sehingga tidak terlalu keras atau terlalu pelan; c). Sikap badan pada waktu berbicara kepada seseorang maupun terhadap orang banyak sebaiknya dengan melihat dagu lawan bicara dan hanya sekali-sekali melihat matanya dengan tersenyum ramah; d). Mimik wajah perlu diperhatikan, jangan terlalu serius/tegang dan jangan terlalu santai; e). Memusatkan perhatian/pikiran pada pokok pembicaraan; f). Menghindari gerakan-gerakan yang merishkan, misalnya memegang-megang rambut, menggoyang-goyangkan kaki, melipat kedua tangan kedepan, memasukkan kedua tangan kedalam saku, mengunyah-ngunyah sesuatu, atau sikap lain yang kurang sopan; g). Pada waktu berbicara didepan orang banyak, usahakan sikap badan tidak terlalu santai atau tegang dan jangan gugup atau gemetar. 3. Melakukan Komunikasi Ditempat Kerja Komunikasi dengan pelanggan dan rekan sekerja dilakukan dengan cara yang ramah, profesional dan terbuka. Bahasa yang digunakan adalah bahasa yang dimengerti oleh lingkungan tempat bekerja. Mendengar dan bertanya dengan aktif digunakan untuk memastikan adanya komunikasi dua arah yang efektif. Berkomunikasi secara efektif dengan tamu dan kolega merupakan keterampilan yang seharusnya dimiliki karena hal ini mampu mengatasi keluhan/konflik. Komunikasi dalam dunia usaha dapat dilakukan dimana saja, baik diperusahaan maupun diluar perusahaan (ditempat kerja). Dimanapun kita bekerja/ ditempat kerja komunikasi perlu dibina dengan baik antara sesama, misalnya; antara atasan dengan bawahan atau antara produsen dan konsumen. Komunikasi dalam lingkungan dunia usaha yaitu proses komunikasi yang dilakukan antara pembeli dan penjual atau antara produsen (pengusaha) dan konsumen (masyarakat). Bagi pihak produsen, proses komunikasi harus sudah dilakukan pada saat perencanaan produksi, yang didahului oleh riset pasar untuk mengetahui kebutuhan konsumen kemudian melakukan produksi produk, sampai mengetahui tanggapan konsumen terhadap produk perusahaan yang telah dipakainya. Apabila telah tercipta produk yang tepat sasaran, tepat waktu dan sesuai dengan kebutuhan konsumen, maka komunikasi tersebut sudah dianggap berhasil. 36

58 Komunikasi ini dimaksud agar dapat menyalurkan keinginan konsumen sesuai dengan keinginannya terhadap produk yang dihasilkan oleh perusahaan. Apabila karyawan yakin akan produk yang dihasilkan oleh perusahaan dan mengenal secara lengkap produk tersebut, sehingga karyawan lebih mudah mengkomunkasikan produk yang dihasilkan itu kepada orang lain diluar perusahaan. Selain mengenal secara lengkap produk yang dihasilkan perusahaan bagi seorang pramuniaga, tenaga pemasaran, perantara jual beli, tenaga pendemonstrasi, tenaga penyuluh, perlu ditumbuhkan sikap-sikap sebagai berikut. 1) Rasa Percaya Diri Sikap rasa percaya diri bagi seseorang adalah merupakan modal besar yang harus dimiliki untuk dapat melakukan suatu tugas dengan baik. Rasa percaya diri tumbuh dan berkembang dengan baik pada diri seseorang, apabila orang tersebut yakin apa yang dilaksanakannya. Kekuatan atau rasa percaya diri datang dari tindakan-tindakan kita sendiri, dan bukan dari tindakan orang lain. Meskipun resiko kegagalan selalu ada dalam setiap tindakan untuk memutuskan sesuatu, harus diterima sebagai tanggung jawab atau tindakan sendiri. Kegagalan harus diterima sebagai pengalaman belajar. Belajar dari pengalaman lampau akan membantu kita menyalurkan kegiatan-kegiatan untuk mencapai hasil yang lebih positif, dan keberhasilan merupakan buah dari usaha-usaha yang tidak mengenal lelah. Untuk lebih mengembangkan rasa percaya diri, kita harus menerima diri kita sebagaimana adanya untuk lebih mengembangkan kekuatan-kekuatan yang ada pada diri kita dan mencoba mengurangi kelemahan-kelemahan. Berorientasi kepada tujuan akan mendorong munculnya sifatsifat yang baik/percaya diri yang tinggi pada diri kita untuk melakukan atau mengerjakan hal-hal yang paling penting dan baik. Kebanyakan orang tidak menyadari pada saat kapan dan menentukan tindakan-tindakan apa yang harus dikerjakan. Berusaha mencapai satu tujuan dalam waktu yang terlampau lama akan menghambat perkembangan dan pertumbuhan pribadi seseorang. Anda harus bersedia belajar dari pengalaman dan selalu berusaha untuk melakukan perubahan-perubahan dari waktu ke waktu. Anda haruslah selalu sadar akan cara-cara baru untuk meningkatkan produktivitas kerja anda sendiri. Salah satu kunci utama bagi keberhasilan adalah keterlibatan anda dalam pertumbuhan pribadi secara terus menurus. 37

59 2) Berbicara Efektif Seseorang yang pekerjaannya selalu berkaitan dengan dunia bisnis, haruslah mampu menyampaikan pikirannya kepada orang lain secara efektif dan benar, agar apa yang disampaikan itu dapat diterima oleh orang lain dengan baik serta mencapai sasaran yang diinginkan. Apalagi bagi mereka yang memang tugasnya selalu berhadapan dengan pelanggan. Bagaimana seseorang dapat berbicara efektif, ia harus memahami prinsipprinsip dan teknik berbicara. Sebelum memulai pembicaraan, hendaklah harus mempunyai persiapan yaitu dengan cara mengemas pesan/mengemas apa yang akan dibicarakan. Persiapan ini akan mempermudah penyampaian pesan. Persiapan dimaksud sangat berguna, untuk menghindari penyampaian pesan yang tidak sesuai/sempurna, serta dapat mempertinggi keyakinan pada diri pembicara, karena kadang-kadang diantara para komunikan/pendengar biasanya ada juga yang menguasai materi yang disampaikan. 3) Cara Berfikir Positif Cara berfikir positif adalah menanggapi segala kejadian dengan menyadari bahwa dalam kehidupan ini terkandung segi baik dan segi buruknya. Penuh perhatian pada saat berkomunikasi dengan tamu dan kolega adalah sikap yang terpuji. Akan tetapi adalah lebih baik apabila kita menaruh perhatian terhadap segi-segi yang positif dari cara berfikir, sehingga konflik yang ada maupun yang potensial diidentifikasi dan dicarikan penyelesaiannya dengan bantuan rekan lain bila diperlukan. Kebanyakan orang membiarkan lingkungan mengendalikan cara berfikir mereka, sedangkan bagi seseorang yang menggeluti dunia usaha lebih baik menggunakan pikirannya untuk mengendalikan keadaan. Sikap berfikir positif memudahkan seseorang untuk memfokuskan kegiatan-kegiatan atau pekerjaanpekerjannya untuk mencapai hasil yang ingin dicapai. Kita harus selalu berfikir positif terhadap semua peristiwa dan mencari hikmah dari setiap pengalaman. Sikap berfikir positif memang tidak mudah untuk dikembangkan, karena memerlukan waktu dan kerja keras. a) Ada beberapa faktor yang dapat digunakan untuk mengembangkan sikap berfikir positif diantaranya: Pusatkanlah perhatian sedemikian rupa dan gunakan pikiran kita secara produktif b) Pilih secara positif yang akan dicapai dalam suatu pekerjaan yang sedang dilakoni c) Jauhilah pikiran-pikiran atau ide-ide yang negatif 38

60 d) Kita harus sadar dalam menggunakan pikiran-pikiran kita sendiri, agar tidak mudah dikendalikan oleh pikiran orang lain e) Berusahalah selalu untuk mencari peluang-peluang yang mungkin dapat diraih untuk meningkatkan karir, baik dalam kehidupan pribadi, kehidupan kerja, dan dalam kehidupan bermasyarakat f) Jika ide yang kita kemukakan tidak menghasilkan sesuatu yang lebih baik, berusahalah untuk meninggalkan ide tersebut g) Jangan bebani fikiran anda dengan sesuatu yang merusak mental, akan lebih baik anda pusatkan pikiran pada suatu pekerjaan yang sedang berlangsung. 4) Mengembangkan Potensi Diri Manusia sebagai pribadi mempunyai potensi yang bisa dikembangkan agar menjadi pribadi-pribadi yang menyenangkan bagi orang lain/pelanggan, oleh karena itu diperlukan: a) Mengenal diri sendiri. Suatu analisis yang benar terhadap diri sendiri akan dapat membawa keuntungan dan faedah dalam hal : (1). Tidak menjadi manusia yang egois (2). Meningkatkan kemampuan dan inisiatif dalam berbagai hal (3). Memiliki hubungan secara pribadi denga orang lain (4). Mengembangkan pribadi kearah yang lebih baik (5). Membentuk pribadi yang loyal dan saling membutuhkan. b) Mengetahui Potensi Pribadi. Sebagai manusia kita mempunyai potensi, dengan potensi ini orang selalu dinamis dan bersemangat, yaitu mempunyai motivasi dan dorongan yang kuat untuk bekerja keras serta melakukan tugas yang berkesinambungan. Potensi manusia akan luntur bila tidak diaktifkan dan digerakkan. Orang yang mengenal dirinya dan mengetahui potensi dirinya adalah orang-orang yang memiliki : (1). Jiwa pengabdian, orang seperti ini tidak pernah menolak tugas yang dibebankan kepadanya. Sebagian besar waktu dan pikirannya dicurahkan untuk meningkatkan usaha dibidang pekerjaannya, serta jarang sekali mengenal lelah (2). Andal dalam kejujuran, kejujuran dapat diukur melalui tindakan, perbuatan dan tingkah laku, tidak 39

61 dinilai dari ucapan. Ucapan dengan perbuatan harus sesuai (3). Nalar kesadaran yang baik, orang memiliki kesadara yang tinggi adalah orang yang memiliki pangdangan dan penilaian yang baik terhadap kekurangan dan kelemhnnya, sehingga dia mempunyai kepercayaan diri dan selalu melaksanakan tugas-tugasnya serta dapat mengendalikan diri (4). Gemar menghargai orang lain, setiap gerak seseorang harus mempunyai tujuan. Tujuan yang serasi menimbulkan motivasi kegairahan dalam melaksanakan tugas. Dalam mencapai setiap tujuan mka setiap orang wajib memiliki rasa menghargai yaitu saling menopang dan saling menghargai agar segala gerak langkah penuh gairah dan menyenangkan (5) Niat untuk memupuk rasa percaya diri, yaitu orang yang tidak terpengaruh oleh segala gosip tau hasutan/fitnahan orang lain, orang ini akan mudah melihat dan mengenal pikiran dan ide-ide orang lain yang berharga (6). Refleksi kesabaran yang tinggi; kesabaran merupakan sumber keberhasilan dan dengan kesabaran seseorang dapat memberikan kesempatan kepada orang lain untuk memberikan pertimbangan atas masalah yang dihadapi dan memberikan kesempatan pada diri sendiri mengolah masalah yang dihadapi (7). Antusias dengan kepribadian yang utuh, orang yang dapat mengendalikan pribadi dan energinya yang mantap dan berhasil bagi dirinya, tidak peduli pekerjaan apa yang dilakukan dalam kehidupan ini (8). Gigih dalam prinsip, kepribadian menjadi dewasa adalah perasaan hati yang kuat dalam suatu prinsip (9). Utama dalam disiplin, disiplin mengajarkan setiap individu untuk tunduk dan bersedia mengikuti aturan-aturan tertentu dan menjauhi segala larangan yang ada. Disiplin diri sendiri hanya akan tumbuh dalam suatu suasana dimana antara individu akan terjalin sikap persahabatan yang berakar dengan dasar saling hormat menghormati dan saling percaya mempercayai. 40

62 5) Karakteristik Budaya dan Sosial Manusia merupakan makhluk yang terus menerus memiliki keinginan-keinginan, segera apabila kebutuhan tertentu dipenuhi maka kebutuhan lain akan muncul. Proses tersebut tidak berhenti, ia berkelanjutan dari kelahiran hingga kematian. Manusia secara kontinyu melakukan usaha-usaha untuk memuaskan kebutuhan-kebutuhannya. Hal inilah yang menyebabkan manusia didalam hidupnya mesti bermasyarakat. Manusia adalah makhluk sosial yang tidak dapat hidup sendiri, tetapi selalu membutuhkan orang lain, baik di rumah atau di tempat kerja, manusia dituntut untuk bersosialisai, berhubungan dengan orang lain, dan saling melayani dan dilayani orang lain. Demikian pula hubungan antara pembeli dengan penjual adalah sama seperti hubungan antara sesama manusia dalam kehidupan sehari-hari. Karakteristik budaya dan sosial dalam kehidupan bermasyarakat, masing-masingnya memiliki ciri-ciri masingmasing. Budaya adalah seperangkat keyakinan sikap dan cara-cara melakukan sesuatu yang berlaku dalam sekelompok orang yang cukup homogen. Karena itu budaya penentu keinginan dan perilaku seseorang yang paling mendasar. Keinginan dan perilaku seseorang diperoleh melalui pengalaman yang dipelajari dari masyarakat dimana dia dibesarkan. Orang Indonesia akan memilih nasi untuk memenuhi keinginannya melepaskan rasa lapar, orang Amerika akan memilih hamburger untuk melepaskan rasa laparnya. Akan tetapi orang Mentawai (salah satu pulau di Sumatra Barat), menginginkan Sagu untuk melepaskan rasa laparnya. Dengan demikian kita melihat keragaman budaya, berarti dalam suatu budaya terdapat sub-sub budaya. Kebudayaan adalah seluruh sistem gagasan dan rasa, tindakan serta karya yang dihasilkan manusia dalam kehidupan bermasyarakat, dijadikan miliknya dengan cara belajar. Ciri khas kebudayaan yang biasanya dimiliki oleh sekelompok manusia, suku dan sebagainya yang menempati suatu daerah geografis turun-temurun, biasanya tampak pada, cara makan, berpakaian, rumah, bahasa, bentuk fisik, warna kulit dan lain sebagainya. Budaya mempengaruhi cara orang berkomunikasi, bersikap/berperilaku serta mengambil tindakan. Bahasa sebagai alat untuk berkomunikasi adalah bahasa Inggris, bagaimana dengan bahasa daerah. Agama dan kepercayaan lainnya, merupakan dasar bagaimana kita bersikap, apa yang dilakukan dari cara berpakaian baik secara pergaulan maupun 41

63 ditempat kerja. Sikap ditempat kerja, sikap terhadap atasan disesuaikan berdasarkan budaya yang dianut. Kelas sosial adalah sebuah kelompok yang relatif homogen dan bertahan lama dalam sebuah masyarakat yang tersusun dalam sebuah urutan sedang dan para anggota dalam setiap jenjang itu memelihara tingkah laku yang sama dengan ciri-ciri sebagai berikut : a) Orang yang berada dalam setiap kelas sosial cenderung berperilaku sama b) Seseorang dikatakan mempunyai pekerjaan rendah, hingga sesuai dengan kelas sosialnya c) Kelas sosial seseorang dinyatakan dengan beberapa variabel antara lain : jabatan, pendapatan, kekayaan, pendidikan, dan orientasi terhadap nilai d) Seseorang mampu berpindah dari satu kelas sosial yang satu ke yang lain. e) Kelas sosial menunjukkan perbedaan pilihan produk dan merek dalam suatu bidang tertentu seperti: pakaian, perabot rumah tangga, aktivitas senggang dan kendaraan. B. Bantuan untuk Pelanggan Internal dan External 1. Pengertian Pelayanan Prima Layanan prima adalah upaya maksimal yang mampu diberikan oleh petugas pelayanan dari suatu perusahaan industri jasa pelayanan untuk memenuhi harapan dan kebutuhn pelanggan sehingga tercapai suatu kepuasan. Hakikat pelayanan prima itu sendiri adalah kemampuan maksimum seseorang melalui sentuhan kemanusiaannya dalam melayani atau berhubungan dengan orang lain. Persoalannya adalah bagaimana dapat menyenangkan, memberikan pelayanan dan memberikan kepuasan kepada pelanggan sesuai dengan harapan-harapannya. Memberikan pelayanan secara prima kepada pelanggan mempunyai tujuan untuk memenangkan persaingan. Pada jaman globalisasi seperti sekarang, memamerkan fasilitas yang disediakan oleh perusahaan tidak menjamin perusahaan tersebut memenangkan persaingan dan menjamin bahwa pelanggan akan memilihnya. Sepanjang ada dana untuk menyediakan fasilitas fisik, suatu perusahaan mampu bersaing karena benda-benda fasilitas bisa disediakan dan diadakan, misalnya perusahaan penerbangan bisa menyediakan pesawat mutakhir untuk para pelanggan. Tetapi bendabenda mati tersebut tak berarti apa-apa jika sentuhan manusia tidak dapat menghidupkan suasana kemewahan yang disajikan. Kepuasan pelanggan merupakan tujuan utama pelayanan prima. Oleh karena itu, sebagai aparatur pelayan tidak mempunyai sedikitpun alasan untuk tidak berupaya memuaskan pelanggannya. 42

64 Kepeasan pelanggan dapat dicapai, apabila aparatur pelayan mengetahui siapa yang menjadi pelanggannya. Dengan mengetahui siapa pelanggan, berarti pelayan lebih mudah memahami keinginan pelanggan. Kepuasan pelanggan dapat tercapai apabila kebutuhan, keinginan, dan harapan pelanggan terpenuhi. Hal-hal yang terkait dengan pelayanan prima adalah sebagai berikut : a) Mampu melakukan komunikasi dengan menerapkan prinsip-prinsip dasar komunikasi : bahwa komunikasi merupakan kegiatan dasar manusia dan cara memahami komunikasi dipandang sebagai suatu proses berkomunikasi, yang meliputi attending (kehadiran orang yang diajak berkomunikasi), listening (kemampuan mendengarkan dan menganalisis dengan cepat apa yang dibicarakan lawan bicara), observing ( mampu meneliti pembicaraan), clarifying (mampu mengklarifikasikan komunikasi), dan responding (mampu memberikan tanggapan terhadap komunikasi); b) Mampu berkomunikasi dalam konsep verbal maupun nonverbal; c) Mampu bekerja dalam pelayanan secara individu maupun dalam kelompok; d). Mampu berkomunikasi dalam konsep A3, yaitu attitude (sikap dalam berkomunikasi), attention (mampu memberikan perhatian pada saat berkomunikasi), dan action (melakukan tindakan dalam komunikasi). a. Jenis-jenis Pelayanan 1) Pelayanan prima Bangsa Indonesia Bangsa Indonesia akan keragaman dan kehangatan yang tulus dalam bernegosiasi, selain memiliki keuletan, kepribadian, dan kesabaran yang tinggi dalam berusaha. Ini merupakan ketangguhan bangsa Indonesia yang perlu ditumbuh kembangkan secara sistematis, profesional, dan berkesinambungan dalam praktek bisnis. Semua ini dapat disinergikan dalam mutiara Pelayanan Prima untuk menjawab tantangan globalisasi ekonomi. Pada hakekatnya pelanggan itu tidak membeli produk, tapi mereka membeli pelayanan. Ini merupakan falsafah bisnis dalam upaya memberikan pelayanan yang prima. Pelayanan disini adalah pelayanan dalam segala bentuk kreasi dan manifestasinya. Untuk itu, mari kita belajar lebih banyak tentang para pelanggan kita agar kita dapat memberi pelayanan kepada mereka secara lebih baik di masa mendatang. Dalam membantu pelanggan untuk mendapatkan pelayanan prima, sipemberi pelayanan harus dapat memenuhi harpn dan keinginan customer yang satu dan yang linnya berbeda. Untuk dpat memberikan pelayanan yang prima anda perlu mengetahui keinginan-keinginan mereka, pada sat berhubungan dengan anda. 43

65 Keinginan dan kebutuhan pelanggan secara rinci sebagai berikut : a) Senyum yang hangat Setiap orang, kapan dan dimana dia berada, begitu melihat seseorang yang pertama dilihatnya adalah wajah. Oleh sebab itu berhati-hatilah degan ekspresi wajah anda. Untuk mendukung penampilan latihlah diri sendiri agar terbiasa menampilkan ekspresi wajah yang mampu menumbuhkan kesan menyenangkan. Suatu senyum dapat merupakan alat yang ampuh untuk meraih simpati dari pelanggan, disamping menciptakan suasana keakraban dapat juga sebagai alat promosi yang efektif. Gerak bibir saat tersenyum harus benar-benar tulus, tidak dibuat-buat. Latihlah tersenyum didepan kaca, agar anda dapat melihat senyum yang termanis, hindari senyum yang menampakkan gigi karena ini tidak baik. b) Sikap Bersahabat. Menciptakan hubungan baik dengan pelanggan dengan cara: (1). Greting, selalu memberi salam sebelum memulai pembicaraan. (2). Wel Gome, selalu mengucapkan selamat datang kepada pelanggan. (3). Help, selalu menawarkan bantuan kepada pelanggan, karena dengan demikian pelanggan merasa dihargai. (4). Bersikap ramah dan sopan dalam berbicara. (5). Jangan memotong pembicaraan pelanggan. (6). Selalu mengingat dan menyebut nama pelanggan pada saat berbicara. (7). Memberikan pelayanan terbaik dengan menunjukkan kesungguhan anda dalam membantu mereka. (8). Selalu menyempatkan diri untuk mengantar pelanggn sampai kepintu. c) Pelayanan yang cepat dan memuaskan. Memberikan pelyanan kepada pelanggan perlu menerapkan cara yang tepat dan cepat sehingga pelanggan merasa puas. (1). Bersikap dalam kadaan siap menerima pelanggan, muka ceria, tempat kerja yang rapi dan bersih, seperti peralatan dan bahan siap untuk dipakai. 44

66 (2). Sapalah pelanggan dan beri salam sesuai waktunya. d) Informasi yang tepat, jelas dan akurat. (1). Pada saat memberi informasi, hindarilah pertanyaan yang terlalu banyak. Beri kesempatan agar pelanggan dapat menyatakan keinginannya dengan bebas dan jangan memotong pembicaraan pelanggan, sehingga anda mempunyai kesempatan mengopservasi apa yang diinginkan pelanggan. (2). Bila anda kurang menguasai suatu masalah yang dihadapi, sebaiknya serahkan pada atasan atau rekan lain yang lebih menguasai, agar pelanggan yakin dan tidak kehilangan kepercayaan. (3). Hindari pilih kasih dalam memberikan pelayanan. (4). Berikan saran-saran atau petunjuk tentang keputusan dalam memilih jasa pelayanan yang diinginkan. (5). Berikan informasi yang akurat tentang fasilitas dan produk yang ada. 2) Budaya Layanan Prima Budaya layanan prima adalah sebuah budaya yang kuat yang mewarnai sifat hubungan antara suatu industri jasa pelayanan dan pelanggan dan dapat menjadi sarana yang sangat baik untuk memperoleh dan memenangkan perhatian pelanggan pengguna industri jasa pelayanan tersebut. Budaya layanan prima ini dibentuk oleh sikap karyawan dan manajemen perusahaan industri jasa pelayanan. Budaya layanan prima mengutamakan kepuasan pelanggan. 3) Sikap Layanan Prima Sikap layanan prima berarti pengabdian yang tulus terhadap bidang kerja dan yang paling utama adalah kebanggaan atas pekerjaan. Sikap layanan prima adalah kita tetap menjaga martabat dan nama baik perusahaan tempat kita bekerja. 2. Karakter Pelanggan Layanan prima sangat memperhatikan individu sebagai pribadi yang unik dan menarik. Setiap pelanggan memiliki sifat yang dapat membuat para petugas bahagia atau kecewa. Sentuhan pribadi mengarahkan para petugas pelayanan untuk berfikir bahwa memperlakukan orang lain sebagai mana kita memperlakukan diri kita sendiri perlu selalu dipraktekkan. 45

67 Yang diutamakan dalam layanan prima bukanlah sloganslogan untuk memberikan pelayanan terbaik bagi pelanggan, melainkan bentuk nyata pelayanan yang sebelumnya sudah diberikan dalam pelatihan-pelatihan dan dapat diterapkan pada saat praktek di lapangan, ketika berhubungan langsung dengan pelanggan. Karena layanan prima merupakan budaya, identitas, sarana kompetisi, pelanggan merasa penting, rekan sekerjanya merasa nyaman bersama kita, dan kita dapat melayani pelanggan dengan cepat, tepat dan ramah, mengutamakan kepuasan pelanggan, menepati janji, bahasa yang baik dalam bertelepon, menunjukkan etik dan sopan santun. Bagi pengusaha jasa pelayanan, mengenal karakter pelanggan adalah penting, karena dengan mengenal karakternya, kita akan lebih mengenal pula tipe-tipe, sifat, ciri-ciri dan kebiasaannya. Dengan demikian, diharapkan perusahaan akan lebih mudah memasarkan produk barang dan jasa yang dihasilkan. Secara garis besar ada beberapa tipe pelanggan yang sering dianut oleh para penyedia jasa ; a. Pelanggan Pria 1). Tidak bertele-tele dalam mencari barang yang diinginkan 2). Sering tertipu karena kurang sabar dalam memilih barang yang diinginkan 3). Mudah dipengaruhi bujukan petugas pelayanan (pada bujukan tertentu) 4). Mudah terpengaruhi oleh penjelasan dan argumentasi yang objektif. 5). Merasa kurang enak tanpa membeli jika memasuki toko. Cara terbaik memperlakukan pelanggan pria adalah : (a) Segera membujuknya atau mempengaruhinya, bahwa barang yang diminati adalah tepat sesuai dengan selera; (b) Petugas jangan banyak bertanya, layani saja apa yang diinginkan; 3) Jawab dan jelaskan semua pertanyaannya, jangan bertele-tele, langsung pada inti permasalahan. b. Pelanggan Wanita 1). Sangat bertele-tele memilih barang. 2). Lebih tertarik pada mode yang lagi trendy. 3). Mengutamakan status sosial. 4). Tidak mudah terpengaruh penjelasan/bujukan petugas pelayanan. 5). Dalam memilih barang, biasanya lebih tertarik pada motif, bentuk atau warna, bukan pada manfaat barang 46

68 tersebut, karena wanita cenderung menggunakan perasaan. 6). Lebih menyukai sesuatu yang bersifat modis terutama dalam memilih produk pakaian, tas, sepatu, dan asesoris sosial dirinya. 7). Mudah meminta pandangan dan pendapat orang lain. 8). Menyukai hal-hal yang bersifat romantis. 9). Kurang menyukai hal-hal yang bersifat teknik. Cara terbaik menghadapi pelanggan wanita adalah; (a) Sediakan waktu yang cukup luang/lama, agar dia bisa memilih barang yang diinginkannya; (b) Petugas pelayanan harus lebih sabar menghadapi pelanggan wanita, karena wanita lebih cerewet dalam menentukan pilihan; (c) Berikanlah pelayanan yang lebih khusus. Misal: (1) diskon untuk produk tetentu. (2) obral untuk beberapa produk bermerek yang modelnya sudah agak telat. c. Pelanggan Remaja 1) Mudah terpengaruh bujukan petugas. 2) Tidak berfikir hemat 3) Mudah terpengaruh tayangan iklan yang menarik. 4) Seleranya sangat modis dalam memilih barang. 5) Agak boros dalam berbelanja. d. Pelanggan Usia Lanjut 1) Tidak bisa mengikuti perkembangan zaman 2) Sangat sulit terpengaruh bujuk rayu petugas 3) Sudah mantap dalam memilih barang yang diinginkan 4) Acapkali menanyakan barang-barang yang sudah ketinggalan jaman 5) Biasanya bersikap ramah dan ngomong pada petugas yang masih muda-muda 6) Penjual sering dianggap seperti anak kecil yang tidak tau apa-apa. 7) Cenderung ingin berlama-lama. Cara terbaik memperlakukan pelanggan usia lanjut adalah; (a) Sabar dan penuh pengertian dalam melayaninya; (b) Dengarkanlah dengan baik nasehatnasehat mereka tanpa membantah atau berdiskusi; (c) Apabila kesulitan dalam melayaninya, sebaiknya segera alihkan ke petugas yang lebih tua atau lebih dewasa. 47

69 e. Pelanggan anak-anak 1) Keinginannya tidak konsisten, tetapi suka berubahrubah 2) Sulit untuk diam, karena masih suka bermain-main 3) Mudah dipengaruhi dengan bujuk rayu Cara terbaik untuk memperlakukan pelanggan anakanak adalah; (a) Tidak memperlakukan mereka sebagai anak kecil yang tidak berdaya, karena mereka juga butuh penghargaan dan perlakuan layaknya orang dewasa; (b) Petugas harus sabar dalam melayani pelanggan anakanak, karena keinginan anak terkadang suka berobah; (c) Petugas perlu memberikan pujian, misalnya dengan kata-kata wah pasti adik cantik deh kalau pakai baju ini. f. Pelanggan pendiam 1) Sulit menyatakan pendapat dengan jelas. 2) Pemalu 3) Segan berbicaa karena mungkin memikirkan untung ruginya. 4) Tidak bisa memusatkan perhatian pada satu barang. 3. Motif Dan Karakter Pelanggan a) Motif membeli Motif dapat diartikan sebagai suatu daya pendorong yang menggerakkan seseorang untuk melakukan sesuatu. Jadi motif pembeli adalah sesuatu yang menggerakkan seseorang untuk membeli suatu produk atau jasa. Untuk megetahui motivasi seseorang membeli suatu prodak sangatlah sulit, karena setiap orang memiliki motif yang tidak sama, komplek dan bisa berubah setip waktu. Secara garis besar motif pembeli dapat digolongkan menjadi dua yaitu: 1). Motif emosional, meliputi rasa lapar, rasa haus, keinginan-keinginan, kesenangan, kemauan dan jaminan akan cinta, status, prestise, kebanggaan dansebagainya. 2). Motif rasional, meliputi motif berdasarkan harga dan pertimbangan, kegunaannya, kekuatannya, efisiensi dan sebagainya. Berdasarkan motif diatas maka pembeli dapat dikelompokkan : (a). Kelompok profesi : dokter, ahli komputer, ahli hukum, bisnis dan sebagainya. 48

70 (b). Kelompok industri : Perusahaan, industri dan sebagainya. (c). Perorangan seperti kelas sosial, golongan kelas atas yaitu pengusaha kaya, pejabat tinggi. Golongan menengah, karyawan dan pengusaha menengah. Golongan bawah/rendah seperti, buruh pabrik, pegawai rendah, tukang becak dan pedagang kecil. Maksud pengenalan motif-motif mengapa seseorang membeli sesuatu adalah agar penjual mempersiapkan diri dengan pengetahuan-pengetahuan yang dijualnya dan motif calon pembeli, sehingga pembeli tertarik terhadap promosi yang dilakukan. b) Karakter pelanggan Tipe dan karakter pelanggan sangat menentukan dalam memberikan pelayanan, karena mengetahui tipe dan karakter pelanggan, maka seseorang ataupemberi pelayanan dapat memberikan pelayanan sesuai dengan orang yang dihadapinya. Karakter manusia dipengaruhi oleh: (1). Wilayah geografis, orang yang berasal dari daerah geografis yang berbeda akan mempunyai karakter yang berbeda pula, misalnya orang yang tinggal dipinggir pantai dengan orang yang tinggal di pergunungan. (2). Kebudayaan, yang merupakan hasil karya manusia akan mempengaruhi karakter manusia itu sendiri, misalnya cara saaman orang indonesia beda dengan orang Amerika. (3). Bangsa/suku bangsa, bangsa negro akan berbeda sifat dan perilakunya dengan bangsa kulit putih atau bewarna lainnya. (4). Bahasa, Orang Inggris berbeda sifat dan karakternya dengan orng Spanyol dan Jepang. Inggris yang mempunyai kerajaan, mempergunakan bahasa yang sopan, sedangkan orang Amerika mempunyai bahasa yang agak bebs, demikian pula sikapnya dalam menghadapi orang lain. (5). Adat istiadat, kebiasaan-kebiasaan dan strata sosial yang merupakan rekayasa manusia itu sendiri tentu mempengaruhi sifat dan perilakunya. Demikian bahwaantara manusia yang satu dengan manusia yang lainnya akan berbeda. Dengan memahami sifat 49

71 dan karakter berbagai macam tipe manusia, maka anda akan dapat berkomunikasi dan bersikap yang sesuai dengan siapa dan dimana dimana asal pelanggan, sehingga kesalah pahaman dapat dihindarkan. Disamping itu situasinya dan kondisi tertentu amat mempengaruhi karakter pelanggan, misalnya dalam situasi yang panas dan kondisi perut lapar, seseorang yang sebenarnya sabar, bisa menjadi emosional/marah dalam situasi dilanda kesedihan, seseorang yang tadinya periang, bisa berubah jadi murung. c) Tipe-tipe Karakter Pelanggan 1) Pemarah dan tidak sopan Customer bisa menjadi marah dan kurang sopan, hanya disebabkan pelayanan yang tidak memuaskan, ia mungkin akan menjadi emosi akibat dari penanganan yang kurang baik. Cara yang paling tepat menghadapinya adalah: Jangan biarkan cusumer tersebut berbicara terus, dan jangan menanganinya sendiri. 2). Customer yang ragu-ragu tersebut Sebagian customer yng datang masih ragu, sehingga tidak mempunyai keputusn. Mereka akan mendenganrkan anda, menanyakan info tambahan, tidak dapat memusatkan perhatian pada apa yang dikehendakiya. Dalam hal ini anda perlu membuat keputusan buat mereka, anda harus memotifasi customer untuk dapat mengambil keputusan, sehingga mereka merasa puas sebab anda dapat berinisiatif. 3). Customer yang mencurigai Customer semacam ini biasanya tiak mempercayai informasi anda, mereka akan mengecek kebenarannya yang anda berikan. Terkadang mereka menjebak. Customer seperti ini menuntut keberhasilan untuk mengatasinya secara profesional. apabila anda tidak bisa menjawab, jangan pernah menerka, cara terbaik untuk menangani orang-orang tersebut adalah membuat periapan berhati-hati dan tenang dalam kata-kata dan tindakan anda. 4). Customer yang pendiam Mereka tidak dapat suatu pembicaraan, hanya menginginkan informasi. 5). Customer yang suka mencela 50

72 Ada customer yang dala membeli suatu produk suka mencela dan selalu mengatakan ada saja kelemahan dari produk yang ditawarkan kepadanya. 6). Customer yang tahu segalanya Customer ini perlu ditangani dengan hati-hati, hal-hal perlu diperhatikan adalah: (a). Tempatkan diri anda pada posisi kedua dan pusatkan perhatian pada merek. (b). Jangan menentang (c). Jangan merasa lebih pntar dari customer (d). Jangan bersikap seolah-olah merendahkan customer (e). Customer ini mudah terbujuk / dipengaruhi (f). Memuji pengetahuan customer (g). Memuji kekuasaan mereka dan mengangkat mereka (h). Ketegasan dalam memberi petunjuk (i). Berikan beberapa penjelasan dan mengambil sikap 4. Jenis-jenis Kebutuhan Pelanggan Seperti tercermin pada falsafah bisnis jasa pelayanan yaitu pelanggan membeli pelayanan, bukan membeli produk Pelanggan itu tidak membeli produk yang kita tawarkan, tetapi membeli pelayanan yang kita berikan. Kalau pelayanan kita baik, ramah, penuh perhatian dan dapat memenuhi kebutuhan pelanggan pada saat mereka datang dan melihat, maka dari melihat kemudian mereka mencoba, meneliti sampai akhirnya memutuskan untuk membeli. Setiap pelanggan mengharapkan pelayanan yang baik. Pelanggan mempunyai hak akan informasi yang jujur dan benar tentang produk yang akan dibelinya, disamping itu pelanggan juga mengharapkan pelayanan purna jual (after sales service) atau pelayanan setelah penjualan, misalnya; ada garansi perawatan, apa bila barang rusak/cacat, boleh dikembalikan atau ditukar. Pelanggan juga mengharapkan kelayakan harga atas barang yang dibelinya, juga mengharapkan potongan harga atas barang yang di belinya. Pada dasarnya harapan pelanggan yang paling utama adalah kepuasan. Kepuasan pelanggan berarti memberikan kepada pelanggan apa yang disukainya. Pelayan harus memberikan apa yang pelanggan inginkan, kapan dan bagaimana cara pelanggan memperolehnya. Cara yang bisa dilakukan untuk memenuhi harapanharapan pelanggan antara lain : a) Menemukan kebutuhan pokok pelanggan 51

73 b) Mencari tahu apa sebenarnya yang menjadi harapan pelanggan, sehingga mereka mau kembali datang kepada perusahaan kita c) Selalu memperhatikan apa yang menjadi harapan pelanggan, lakukan melebihi dari yang diharapkan, sehingga pelanggan merasa senang. Cara diatas dilakukan agar pelanggan merasa puas, kepuasan pelanggan banyak ditentukan oleh kualitas pelayanan para petugas dilapangan. Jika pelayanan tidak sesuai dengan harapan pelanggan, maka pelanggan langsung menilai pelayanan yang diberikan mengecewakan. Oleh karena itu, tahapan-tahapan yang tiga di atas harus benar-benar diperhatikan oleh para petugas pelayanan dilapangan. 5. Penanganan Keluhan Pelanggan Menangani keluhan pelanggan secara lebih dini adalah suatu sikap yang bijaksana dan tepat karena perusahaan akan lebih mampu mengantisipasi hal-hal yang dapat merugikan. Sekecil apapun kekecewaan pelanggan adalah merupakan keluhan yang harus segera ditangani. Para petugas pelayanan harus mampu mengatasi keluhan tersebut agar tidak semakin membesar dan berdampak kurang baik bagi perusahaan. Ada beberapa kiat dalam menangani keluhan pelanggan : a) Hadapilah keluhan pelanggan dengan bijaksana, jangan terbawa emosi, jangan mudah marah mendengarkan omelan pelanggan b) Dengarkan keluhan pelanggan dengan penuh perhatian, sedapat mungkin hidupkan suasana penuh keakrapan c) Petugas pelayanan tidak boleh membuat janji-janji jika hanya untuk menyenangkan pelanggan d) Berikanlah rasa simpatik dan ikut merasakan keluhahan/kesulitan yang menimpa pelanggan e) Tanggapi keluhan pelanggan dengan baik, sertakan ucapan maaf yang tulus dan berjanji akan memperbaiki kekurangan atas pelayanan yang diberikan. Keluhan pelanggan karena sikap petugas yang kurang baik yang sering dirasakan/dialami pelanggan antara lain; 1) Cara bicara yang ketus, terkesan judes; 2) Memperlihatkan wajah yang masam atau cemberut; 3) Bersifat pasif/malas-malasan melayani pelanggan; 4) Menganggap rendah terhadap pelanggan. Berbahaya lagi bila petugas pelayanan memposisikan dirinya menjadi pusat perhatian, dengan memakai pakaian dan aksesoris yang menjolok, serta memakai make up yang berlebihan. 52

74 Biasanya petugas yang seperti tersebut di atas, kebanyakan bertugas di public relations atau customer service. Banyak pelanggan merasa rendah diri bila berhadapan dengan petugas pelayanan seperti ini, akhirnya tentu pelanggan akan meninggalkannya. 6. Pelayanan Prima Pelayanan prima adalah suatu konsep pelayanan dalam rangka meyakinkan pelanggan. Pelayanan prima dapat dicapai melalui tindakan, yaitu bagaimana cara mempengaruhi, cara merayu, meyakinkan dan memberikan suatu jaminan kepada calon pelanggan atau pelanggan, sehingga mereka tertarik dan akhirnya membeli atau menggunakan barang dan jasa yang kita tawarkan. Beberapa konsep tindakan yang bisa dilakukan meliputi antara lain : a) Melakukan promosi oleh para salesmen b) Memasang iklan di media massa (surat kabar, majalah, televisi dan radio c) Menyebarkan brosus, spanduk, pamflet, katalog d) Menyelenggarakan demo gratis dengan memberikan hadiah cuma-cuma e) Mengikuti pameran yang diselenggarakan secara bersama-sama dengan perusahaan lain f) Mengirim penawaran harga kepada pelanggan atau calon pelanggan yang dilampiri dengan surat order/pesanan barang. Memenangkan strategi persaingan dalam usaha jasa pelayanan melalui kiat pelayanan prima tidaklah cukup hanya melakukan suatu proses administrasi saja, tetapi harus didukung pula oleh tindakan para personalia perusahaan terutama para petugas pelayanan sebagai jajaran terdepan yang berhadapan langsung dengan pelanggan. Misalnya bagaimana cara merespon keinginan-keinginan pelanggan, agar pelanggan merasa terpuaskan. Bagi perusahaan yang bergerak dibidang jasa pelayanan, keramah-tamahan, sopan santun dan senyum yang selalu muncul dari para karyawannya adalah aset yang sangat berharga. Para petugas pelayanan merupakan ujung tombak perusahaan jasa pelayanan yang akan berhadapan langsung dengan pihak konsumen/pelanggan. Petugas pelayanan tidak hanya mampu bertindak sebagai komunikator atau mediator, tetapi sekaligus harus mampu menanamkan citra yang positif bagi perusahaan dan juga harus memiliki kemampuan membantu perusahaan 53

75 memahami bahwa pelanggan adalah aset penting yang harus dipelihara dan dipertahankan keberadaannya. Oleh karena itu apapun permintaan pelanggan, bagimana sikap dan tingkah laku pelanggan layanilah dengan selalu berpikir positif. Usahakan selalu bersikap ramah, timbulkanlah sikap awal yang baik karena kesan awal adalah penting untuk mempengaruhi hubungan selanjutnya. Seorang pimpinan perusahaan jasa pelayanan harus selalu mengingatkan karyawannya (petugas pelayanan) agar menanamkan sikap menghargai orang lain, supaya orang lainpun juga menghargai kita. Salah satu kunci keberhasilan dalam mengelola usaha jasa pelayanan terletak pada cara perusahaan tersebut memperlakukan pelanggannya. Melayani pelanggan dengan sikap hormat, ramah dan dengan tutur bahasa yang baik disertai senyum merupakan penghargaan yang tak ternilai bagi pelanggan dan akan mendatangkan manfaat yang besar bagi perusahaan. Dengan demikian pelanggan akan selalu terkesan dan tergerak hatinya untuk mengingat dan tidak mustahil akan datang kembali untuk melakukan pembelian ulang keperusahaan kita. Pelanggan adalah pihak yang harus kita hargai dan hormati, karena dari pelangganlah kelangsungan usaha akan terjamin. Sikap menghargai pelanggan antara lain dengan melakukan halhal sebagai berikut : a) Bersikap hormat dan ramah b) Pergunakanlah tutur kata yang baik dan sopan c) Berikan senyuman agar tercipta suasana nyaman d) Berbicaralh jujur dan jagalah perasaan pelanggan e) Tunjukkanlah bahwa pelayan/ anda siap membantu f) Hindarkanlah pelanggan menunggu terlalu lama g) Sabarlah dalam memberikan informasi. C. Menjaga Standar Presentasi Personal 1. Pengertian dan Tujuan Penampilan Diri Dalam menangani pelayanan prima yang dapat disumbangkan oleh jajaran petugas terhadap para pelanggan adalah hasil berbagai proses yang saling mendukung. Antara lain manajemen pengelolaan yang baik, sumberdaya manusia yang cekatan dan jalinan hubungan yang saling menguntungkan antara perusanhaan dengan pihak lain yang terkait. Pelayanan prima adalah usaha maksimum dari jajaran petugas pelayanan sebagai ujung tombak perusahaan industri jasa pelayanan untuk memenuhi harapan dan kebutuhan pelanggan dalam melakukan kegiatan pembeliannya. Ada beberapa hal yang yang terkait dalam rangka melaksanakan pelayanan prima berdasarkan konsep sikap, yaitu pelayanan pelanggan berdasarkan penampilan diri. Penampilan adalah suatu 54

76 bentuk citra diri yang terpancar pada diri seseorang dan merupakan sarana komunikasi diri kita dengan orang lain. Berpenampilan menarik adalah salah satu bagian dari kunci sukses dalam bekerja, terutama pekerjaan yang berhubungan dengan orang lain. Penampilan diri yang baik adalah perpaduan dari keserasian penampilan luar (fisik) dan penampilan yang timbul dari diri kita (rohani). Agar dapat tampil serasi didepan pelanggan kita harus dapat memenuhi beberapa persyaratan, seperti: a) Kesehatan tubuh berkaitan dengan makanan yang dikonsumsi harus bergizi, dan selalu berolah raga b) Perawatan anggota tubuh, seperti ; perawatan kulit, perawatan wajah, perawatan tangan dan kaki, perawatan rambut serta menghilangkan bau badan dan nafas tidak sedap. Cara berbusana biasanya memancarkan kepribadian orang yang memakainya. Dari cara berbusana seseorang dapat dilihat kepribadiannya, tingkat pendidikannya, lingkungan pergaulannya, dan seleranya. Untuk dapat tampil dengan busana yang serasi harus memiliki pengetahuan tentang tentang pilihan yang berhubungan dengan kepribadian dan pembawaan sipemakai, mampu menyesuaikan dengan kebutuhan, adat istiadat dann lingkungan/suasana dan kesempatan. 2. Bekerja dengan aman Aman berarti, tidak merasa takut atau lepas dari bahaya, tenteram, sentosa (W.J.S Poerwadarminta). Keamanan berarti, keadaan aman tidak merasa takut atau lepas dari bahaya, ketenteraman, sentosa. Keamanan, sangat diperlukan dalam bekerja, dalam mengemukakan pendapat, dalam menjalankan aktifits seharihari, dalam berkendaraan dan dalam bersosialisasi. Kesadaran adalah bagian terpenting yang harus diingat oleh karyawan agar dapat memberikan kontribusi terhadap keamanan para tamu/pelanggan, serta karyawan lain. Jangan pernah menempatkan diri anda atau diri orang lain dalam keadaan bahaya dengan cara, mempergunakan peralatan yang masih asing bagi anda. Jangan bersikap seolah-olah ahli dan memberikan penjelasan, ketika teman tidak bisa memakai peralatan. Berusahalah untuk selalu menjaga keamanan dilingkungan kerja masing-masing. Untuk setiap bahaya, upayakan agar keamanan selalu menjadi prioritas utama. Jika anda menemui hal-hal yang dapat membahayakan kerja, untuk sementara tinggalkan pekerjaan yang sedang anda kerjakan. 55

77 D. Melakukan Pekerjaan Secara Tim Tim adalah sekumpulan orang berakal yang terdiri atas dua, lima, hingga dua puluh orang dan memenuhi syarat terpenuhinya kesepahaman hingga membentuk sinergi antarpelbagai aktivitas yang dilakukan anggotanya. Jadi perilaku anggota tim harus mencerminkan keserasian yang menunjukkan bahwa setiap anggota bertindak dalam bingkai dan sesuai dengan sekumpulan prinsip atau tujuan bersama. Menurut Zuhair Al Kaid, tim adalah sebuah gambaran dari pelbagai bentuk kolektivitas yang dibentuk untuk mengikuti dorongan semangat untuk memiliki keterikatan pada kelompok tertentu. Demikian pula dorongan untuk pengakuan sosial serta membawa misi keterikatan secara materi dan maknawi Tidak ada orang dalam tim yang bisa persis dengan anda. Anggota tim tidak berpikir dengan cara yang sama dan memegang nilai yang sama dengan anda. Memang tim yang semua anggotanya sama persis akan bebas dari konflik, tetapi akan kekurangan keragaman yang bisa melahirkan gagasan baru. Meskipun demikian, tim yang terdiri dari individu-individu berbeda memiliki banyak tantangan. Jika tim anda tidak menunjukkan rasa saling percaya, saling menghargai dan keterbukaan, tim tersebut akan terpecah atau terjerat dalam ketidakmanfaatan. Kepribadian Jenis Kelamin Budaya Tantangan Tujuan Tim adalah media agar setiap individu dapat bekerja secara kolektif dengan penuh sinergi sebagai satu kesatuan yang senyawa. Pekerjaan atau aktivitas yang dilakukan dalam sebuah tim memiliki nilai lebih karena tersedianya pelbahai jalinan relasi manusia secara langsung tanpa adanya rintangan-rintangan formal antara individu. Kondisi ini tentunya berdampak positif, yaitu dapat memompa semangat anggota tim untuk bekerja secara produktif. Dalam tataran manusiawi, bermain sendiri sangat membosankan dan lebih cenderung mengantarkan pada kegagalan. Tidak mungkin manusia dapat hidup dengan menyendiri semata, tim kerja merupakan sumber penting bagi proses pemutakhiran pengetahuan. Di sana individu-individu berbeda bersatu dalam satu ikatan dengan cara yang berbeda-beda pula yang pada akhirnya, karena interaksi yang tidak dapat dihindarkan, terciptalah sifat-sifat bersama yang membentuk kepribadian setiap individu dalam tim. Sebuah potensi dapat diinvestasikan untuk 56

78 menghasilkan laba semaksimal mungkin melalui terciptanya suasana kondusif bagi terciptanya sebuah proses yang interaktif yang memproduksi pengetahuan baru atau mengembangkan pengetahuan yang telah ada. Berikut ini adalah ciri-ciri tim yang memiliki komitmen untuk bekerja bersama. Sebuah tim yang memiliki model semacam ini menerima semua anggota dan menggunakan kekuatannya untuk menghasilkan manfaat bagi tim. Karakteristik tim yang dinamis dan memiliki anggota beragam sebagai berikut: 1. Berorientasi pada opini a) Berlawanan dengan orang yang bersifat dogmatis, sifat berorientasi pada opini akan mengarahkan orang untuk tidak mengutuk orang lain. b) Anggota yang berorientasi pada opini memperkenalkan gagasannya tanpa mengusulkan atau bahkan mengisyaratkan agar orang lain memberi posisi istimewa pada gagasannya. c) Anggota tim mengatakan gagasannya dan meminta gagasan orang lain, bukan menunjukkan bahwa gagasannyalah yang memberi jawaban terhadap permasalahannya. d) Mereka tidak hanya memfokuskan pada idenya sendiri, tetapi menginvestigasi pendapat orang lain. 2. Berorientasi pada persamaan a) Dalam kelompok yang beragam, rasa persamaan merupakan titik awal dari komunikasi yang efektif b) Anggota tim yang berorientasi pada persamaan melihat keragaman sebagai suatu keunggulan perbedaan yang kita miliki memungkinkan kita untuk mengecek setiap sisi, sudut, puncak dan dasar suatu permasalahan. c) Sebuah tim yang berorientasi pada persamaan mengandalkan pada semua anggota. d) Kepercayaan terhadap anggota tim meningkatkan produktifitas. 3. Berfokus pada tujuan a) Anggota tim yang memfokuskan pada tujuan kelompok, kecil kemungkinannya akan bercekcok dikarenakan keunikan masing-masing anggota. b) Keseluruhan anggota tim memiliki tujuan yang sama. c) Bagi anggota tim yang berfokus pada tujuan, keunikan masing-masing anggota bukanlah masalah. d) Anggota tim mengakui bahwa individu juga memiliki tujuan dan mungkin tujuan tersebut bisa bertentangan dengan tujuan tim. 57

79 e) Keunikan anggota tim yang muncul kepermukaan segera diatasi, tidak dibiarkan sampai melahirkan masalah. Tim yang menunjukkan ciri-ciri di atas akan membentuk iklim saling percaya dan saling peduli. Anggota tim memiliki sikap yang memungkinkan adanya keterbukaan komunikasi. Apabila setiap tim menjadikan karakteristik ini sebagai model, perbedaan tidak menjadi masalah. Meskipun demikian, dalam kenyataan kita menemukan komunikasi sering terputus apabila orang tidak memahami atau menerima keunikan. Cara anggota tim memahami dan bekerja dengan keunikan individu secara langsung mempengaruhi kinerja tim. Perhatikan gambar berikut : Usia Jenis kelamin Ras Sifat Agama Budaya Semua jenis keunikan bisa mendorong tim menuju tujuannya. Sebagai contoh, anggota tim yang pendiam seproduktif anggota tim yang tegas. Anda mungkin berasumsi bahwa anggota tim yang tidak tegas dan bersemangat tidak akan memiliki gagasan yang baik untuk berkontribusi. Sebenarnya yang terjadi adalah dia memproses informasi dengan sangat hati-hati dan mungkin memiliki gagasan yang luar biasa jika diberi kesempatan untuk mengemukakannya. E. Menangani kesalah pahaman antar budaya Tidak disangsikan lagi, setiap anggota tim memiliki latar belakang dan kemampuan yang berbeda. Perbedaan dalam kepribadian, budaya, jenis kelamin dan lain sebagainya bisa mendatangkan kesalahpahaman. Kesalahpahaman sering juga disebabkan oleh penggunaan bahasa. 58

80 Bahasa terikat oleh konteks budaya, dengan kata lain bahasa dapat dipandang sebagai perluasan budaya. Para ilmuwan sosial mengakui bahwa budaya dan komunikasi mempunyai hubungan timbal balik, seperti dua sisi dari satu mata uang. Budaya menjadi bagian dari perilaku komunikasi, dan pada gilirannya komunikasi pun turut menentukan, memelihara, mengembangkan atau mewariskan budaya. Edwar T. Hall mengatakan budaya adalah komunikasi dan komunikasi adalah budaya. Pada satu sisi, komunikasi merupakan suatu mekanisme untuk mensosialisasikan norma-norma budaya masyarakat baik secara horizontal, dari suatu masyarakat kepada masyarakat lainnya, ataupun secara vertikal, dari suatu generasi ke generasi berikutnya. Pada sisi lain, budaya menetapkan norma-norma (komunikasi) yang dianggap sesuai untuk suatu kelompok tertentu, misalnya anak perempuan tidak main pistol-pistolan, pedang-pedangan atau mobil-mobilan. Anak laki-laki tidak gampang menangis, tidak main boneka. Kelompok-kelompok budaya atau subkultur-subkultur yang ada dalam suatu budaya mempunyai perangkat norma yang berlainan. Misalnya terdapat perbedaan norma-norma komunikasi antara kaum militer dengan kaum sipil, kaum konservatif dengan kaum radikal, penduduk kota berbeda dengan penduduk desa, berkomunikasi dengan orang Amerika berbeda dengan orang Jerman (perbedaan antar negara). Oleh karena fakta yang sama atau ransangan komunikasi yang sama mungkin dipersepsikan secara berbeda oleh kelompok-kelompok yang berbeda kultur atau subkultur tersebut, kesalahpahaman hampir tidak dapat dihindarkan. Akan tetapi ini tidak berarti bahwa berbeda itu buruk. Kematangan dalam budaya ditandai dengan toleransi atas perbedaan. Mengutuk orang lain karena mereka berbeda adalah tanda kebebalan atau kecongkakan. Tetapi kesalah pahaman antar budaya perlu diatasi dengan cara mengenal latar belakang mereka baik dari segi budaya, bahasa, norma sehari-hari dan lain-lain. Selain itu bisa juga dengan cara berlatih tentang cara berkomunikasi atau melayani mereka yang berasal dari latar belakang yang beragam. Dengan memahami dan mengerti latar belakang masing-masing pelanggan, anda diharapkan kompeten untuk mengadakan komunikasi dengan para pelanggan dari manapun mereka berasal, namun semua itu harus didukung dengan kemampuan berbahasa, baik bahasa daerah maupun bahasa inggris yang memadai. Pada kesempatan ini dicontohkan perbedaan pelanggan dari Amerika dengan pelanggan dari Jerman. 1. Berkomunikasi dengan pelanggan dari Amerika. Masyarakat bisnis Amerika memiliki reputasi yang terkuat di dunia, tetapi dalam berbagai hal, mereka adalah bangsa yang paling mudah untuk diajak berhubungan. Hal ini dsebabkan oleh filosofi bisnis mereka yang tidak rumit. Tujuan mereka adalah mendapatkan 59

81 uang sebanyak-banyaknya dan secepat-cepatnya, dengan bekerja keras dan menggunakan kecepatan, kesempatan, kekuatan (juga kekuatan uang itu sendiri) sebagai alat untuk mencapai tujuan ini. Keputusan bisnis mereka biasanya tidak dipengaruhi oleh perasaan; dan dolar, bila tidak di-tuhan-kan, setidaknya dianggap sebagai penguasa. Pengejaran keuntungan yang semata-mata ini sering mengakibatkan mereka diangggap sebagai bangsa yang kejam. Bangsa Eropa Utara dikenal dapat berhubungan dengan Amerika dengan sukses. Reputasi mereka sebagai manajer yang berterus terang disambut baik oleh bangsa Amerika yang terbuka dan berterus terang, yang sering merasa jengkel dengan apa yang mereka anggap sebagai tatakrama orang-orang timur yang berliku-liku. Pada pertemuan, orang Amerika menunjukkan kecenderungan sebagai berikut : a. Mereka individualistik, senang melakukan segala sesuatu sendiri tanpa mengeceknya ke kantor pusat. Segala sesuatu berjalan kecuali jika dibatasi. b. Mereka memperkenalkan informalitas dengan segera; mereka melepaskan jas, menggunakan nama depan, membahas rincian pribadi, misalnya keluarga. c. Mereka memberi kesan naif dengan tidak menggunakan bahsa apa pun selain bahasa Inggris, dan dengan tidak menggunakan bahasa apa pun selain bahasa Inggris, dan dengan menunjukkan rasa percaya yang segera melalui keramahtamahan yang berlebihan. d. Mereka menggunakan humor kapan pun mereka bisa, sekali pun lawan bicara mereka gagal memahaminya atau menganggapnya sebagai hal yang salah penempatan. e. Mereka bersifat terbuka sejak awal, kemudian melakukan proses atas dasar penawaran dan penawaran balik. Mereka sering menghadapi kesulitan apabila pihak lain tidak menyatakan apa yang mereka inginkan. f. Mereka mengambili risiko, tetapi membuat rencana (keuangan) yang pasti, yang harus ditaati. g. Mereka mempertimbangkan sebagian besar usulan atas dasar investasi / keuntungan atau investasi / skala waktu. h. Waktu adalah selalu uang. ayo kita bicarakan inti persoalannya. i. Mereka mencoba mendengarkan persetujuan lisan pada pertemuan pertama. apakah kita sudah mencapai persetujuan?. mereka ingin berjabatan tangan. Pihak lainnya sering merasakan hal tersebut terlalu kompleks untuk disetujui pada saat itu juga. j. Mereka menginginkan prinsip ya dan akan menyusun rinciannya kemudian. Tapi mereka mungkin merasa sulit untuk menyusun rincian tersebut dan memeriksa segala sesuatunya 60

82 walaupun terdapat kepercayaan yang nyata. Orang Jerman, orang Perancis, dan yang lainnya lebih suka menyelesaikan rincian terlebih dahulu. k. Mereka tidak menyukai ketenangan atau kesunyian selama negosiasi. Mereka terbiasa menyusun pikiran dengan cepat (sangat cepat berpikir). l. Mereka oportunis dan penanggungan risiko sering mengakibatkan orang Amerika memperoleh bagian bisnis yang terbesar, seratus persen jika memungkinkan. m. Seringkali mereka kurang sabar, dan akan mengatakan sesuatu yang menyebalkan atau menjengkelkan (lihat tawaran kami yang berlimpah) untuk menyelesaikan persoalan. n. Mereka teguh. Selalu ada pemecahan. Mereka akan menjelajahi semua pilihan bila menghadapi jalan buntu. o. Mereka konsisten. Ketika mereka berkata anda setuju mereka jarang mengubah pikiran mereka. p. Mereka mengungkapkan segalanya melalui kata-kata. Tetapi bila mereka menggunakan kata-kata seperti adil, demokratik, jujur, setuju, nilai, menerima, mereka berpikir pihak lain menyetujuinya. Hal ini terjadi karena subbudaya Amerika, seperti orang-orang Czech, Jerman, dan Polandia, memang memahaminya. q. Mereka berterus terang. Mereka akan tidak setuju dan menyatakan apa adanya. Hal ini menyebabkan keadaan yang memalukan bagi orang-orang Jepang, Arab, Italia, dan Latin lainnya. r. Mereka sering mengungkapkan kekuatan yang kasar sebagai argumen; misalnya kekuatan keuangan mereka dan posisi yang tidak dapat dibantah. Mereka akan menggunakan suara mayoritas tanpa ragu-ragu jika mereka mendapatkannya dan tidak akan membuang banyak waktu untuk berjuang mencapai mufakat. Mereka dengan senang hati memecat orang yang menghalangi persetujuan. s. Mereka menganggap semua negosiator memiliki kecakapan teknis dan berharap menang atas pengetahuan teknis mereka sendiri. Mereka lupa bahwa pihak lain mungkin melihatnya sebagai masalah status negosiator utama. Bagaimana seorang kepala perusahaan Meksiko dikalahkan seorang insyinyur Amerika? t. Mereka menganggap bernegosiasi sebagai pemecahan masalah melalui tindakan memberi dan menerima atas dasar kekuatan masing-masing. Mereka tidak menghargai bahwa pihak lain mungkin hanya memiliki satu posisi. u. Paman Sam adalah yang terbaik. Akan tetapi, negosiasi yang berhasil harus memasuki dunia budaya pihak lain. Banyak orang Amerika menganggap Amerika sebagai kekuatan 61

83 ekonomi dan demokrasi yang paling berhasil, karena itu menganggap bahwa norma-norma Amerika adalah normanorma yang benar. v. Ini mengakibatkan kurangnya minat atau pengetahuan mengenai budaya asing. Bangsa Amerika seringkali hanya sedikit mengetahui masalah-masalah seperti menghindari rasa malu, pakaian yang layak, penggunaan kartu bisnis, hal yang menyenangkan dalam kemasyarakatan dan formalitas yang penting bagi orang-orang Arab, Yunani, Spanyol, dan sebagainya. w. Di Amerika Serikat, dolar adalah yang berkuasa dan akan memenangkan sebagian besar argumen. Orang-orang Amerika tidak selalu menyadari bahwa orang-orang Meksiko, Arab, Jepang, dan yang lainnya jarang sekali mengorbankan kehormatan status, protokol, atau nasional untuk keuangan. Orang-orang utara yang pragmatik dan tenang dapat hidup dengan sebagian besar karakteristik ini. Juga, mereka terbiasa dengan informalitas, nama depan, humor, keteguhan, kekasaran, kemampuan teknis, tawar-menawar, memberi dan menerima, dan konsistensi dalam berpegang pada yang telah disetujui. Mereka juga berharap menandatangani perjanjian tanpa pembuangan waktu yang tidak perlu atau prosedur yang membingungkan. Namun, kehati-hatian harus dijalankan. Orang-orang Amerika berbicara dengan cepat dan jika mereka menggunakan bahasa Inggris mungkin terdapat jebakan-jebakan tertentu. Menghadapi orang Amerika, seseorang harus dapat membaca catatan yang baik, karena keterbukaan dan kepercayaan yang nyata terhadap pihak lain biasanya dikosongkan oleh pengawasan legal yang ketat dalam perjanjian mereka, dan mereka tidak akan ragu-ragu menurut anda di kemudian hari jika anda tidak memenuhi setiap ketentuan yang telah anda setujui. Hukum Amerika juga sangat berbeda dengan berbagai sistem legal lainnya. Anda harus selalu berusaha untuk tampak berterus terang, jujur, tetapi tegas dalam mengadakan persetujuan dengan orang-orang Amerika yang akan menghormati kegembiraan, ketidaksetujuan yang terbuka, kewaspadaan dan rencana yang kuat. Anda tidak boleh berbasa-basi seperti bila anda berbicara dengan orang-orang Jepang atau Italia, ya, tapi apa yang terjadi bila...? adalah pernyataan yang baik terhadap orang Amerika. 2. Berkomunikasi dengan pelanggan dari Jerman Karakteristik budaya bisnis Jerman adalah sikap monokronik terhadap penggunaan waktu, misalnya hasrat menyelesaikan serangkaian tindakan sebelum memulai tindakan lain; keyakinan yang kuat bahwa mereka adalah negosiator yang jujur dan terus terang; 62

84 dan cenderung bersikap lugas dan menyampaikan ketidaksetujuan secara terbuka dari pada menunjukkan kesopanan atau berdiplomasi. Perusahaan Jerman adalah entitas tradisional yang bergerak lambat, yang dibebani oleh petunjuk-petunjuk, sistem dan jalur hierarkis yang oleh orang-orang Eropa dan Amerika dianggap terlalu kaku dan ketinggalan zaman. Hierarki bersifat perintah yang seringkali mengakibatkan rasa hormat yang berlebihan kepada seorang atasan langsung dan CEO (Chief Executive Officer). Bos Jerman adalah orang yang punya privasi tinggi, yang biasanya duduk terpisah di kantor yang besar di balik pintu yang tertutup. Para eksekutif Amerika dan skandinavia lebih menyukai kebijakan pintu terbuka dan mengelilingi kantor dan berbincangbincang dengan rekan sekerja. Komunikasi horizontal ini sangat berbeda dengan sistem vertikel Jerman, dimana instruksi hanya disampaikan kepada bawahan langsung, dan disimpan dengan kaku pada bagian (departemen) seseorang. Di banyak negara terdapat persaingan bagian, tetapi ketika berhubungan dengan orang Jerman kita harus ingat bahwa orang Jerman bisa sangat sensitif dengan hal ini. Berusahalah selalu menemukan orang yang tepat untuk memperoleh setiap pesan. Jika anda menghina orang Jerman, ia akan mengingatnya untuk waktu yang panjang. Orang Jerman sangat menghormati harta milik dan kekayaan. Bangunan kokoh, mobil dan pakaian yang bagus adalah penting bagi mereka dan akan membuat anda terkesan dengan semua ini. Anda harus mengakui kehebatan harta milik orang Jerman dan merasa enggan untuk memamerkan kekuatan, fasilitas anda, dan lain-lain. Orang Jerman berharap percaya bahwa anda sekuat mereka. Ketika mengiklankan produk perusahaan mereka, sebaiknya anda memasukkan rincian sebanyak mungkin. Orang Jerman tidak terkesan dengan iklan televisi yang mencolok, slogan yang cerdik, atau ilustrasi yang artistik. Surat kabar mereka penuh dengan iklan yang faktual dan padat, yang memberikan informasi yang sebanyakbanyaknya dalam ruang yang tersedia. Brosur yang ditujukan untuk pasar Jerman dapat dibenarkan sepenuhnya dikemudian hari. Tidak peduli seberapa panjang dan membosankan brosur itu, orang Jerman akan membacanya. Mereka juga mengharapkan produk anda benarbenar sesuai dengan gambaran yang diberikan. Orang Jerman mempunyai gaya yang tersendiri dalam mengadakan pertemuan dan negosiasi. Anda mungkin terlihat bahwa prosedur yang diadakan perusahaan besar Jerman jauh lebih formal dibandingkan dengan prosedur di negara yang anda. Biasanya disarankan agar anda melakukan pendekatan yang agak lebih formal dengan orang Jerman pada pertemuan, juga memperhatikan karakteristik-karakteristik orang Jerman sebagai berikut ini, agar anda dapat memberikan reaksi secara tepat : 63

85 a. Orang Jerman akan hadir pada pertemuan dengan pakaian rapi dan dengan penampilan berdisiplin. Anda harus menyesuaikan diri dengan hal ini. b. Mereka akan memperhatikan susunan tempat duduk secara hierarkis dan urutan bicara. c. Mereka akan hadir dengan persiapan yang baik mengenai urusan yang dibicarakan, dan mengharapkan anda melakukan hal yang sama. d. Mereka akan mengajukan argumen yang logis dan penting untuk mendukung masalah mereka. e. Mereka sering memikirkan kemungkinan serangan balasan anda dan siap dengan lini serangan yang kedua. f. Mereka tidak mengakui kasus atau argumen mereka dengan mudah, tetapi cenderung mencari persamaan pendapat. Ini sering merupakan pendekatan anda yang terbaik untuk mencapai kemajuan. Bentrokan dengan perusahaan jerman yang cukup besar jarang membuahkan hasil. g. Mereka yakin bahwa mereka lebih efisien (Grundlich) dari pada orang lain dan tidak mudah mengubah pendapat. h. Mereka menggolong-golongkan argumen mereka. Setiap anggota membicarakan kekhususan mereka. Mereka berharap pihak anda melakukan hal yang sama. i. Mereka tidak mencampuri ucapan seorang kolega dan biasanya menunjukkan kerjasama yang baik. Akan tetapi, mereka saling membantah secara pribadi diantara sesi-sesi. Karena wajah mereka tidak menyembunyikan perasaan, anda dapat dengan mudah mengetahui perbedaan pendapat diantara mereka melalui ekspresi wajah dan bahasa tubuh mereka. j. Seperti orang Jepang, mereka suka membicarakan kembali rincian berulang-ulang. Mereka ingin menghindarkan kesalahpahaman di kemudian hari. Anda harus sabar. k. Mereka tidak suka terburu-buru. l. Mereka suka membuat keputusan dalam pertemuan (tidak seperti orang Jepang atau orang Perancis), tapi mereka selalu berhati-hati. m. Mereka biasanya patuh pada apa yang telah mereka setujui secara lisan. n. Jika anda mengadakan penjualan kepada mereka, mereka akan bertanya pada anda dengan agresif mengenai hal-hal yang dianggap sangat penting oleh orang Jerman, seperti kualitas barang, tanggal pengiriman, dan harga yang bersaing. Bersiaplah. o. Pada akhirnya, mereka mengharapkan untuk mendapatkan harga terbaik (yang paling murah). Mereka mungkin hanya memberi anda bisnis kecil percobaan. Ambillah hal itu akan 64

86 menghasilkan bisnis yang lebih besar pada waktu mendatang jika mereka merasa puas. p. Mereka akan bersungguh-sungguh mencari kekurangan dalam produk atau pelayanan anda, dan akan mengkritik anda secara terbuka (bahkan secara energik) jika klaim anda tidak sesuai. Sampaikanlah permohonan maaf bila anda gagal dalam hal ini. Mereka senang menerima permohonan maaf karena hal ini membuat mereka merasa lebih baik. Juga, anda harus mengimbangi. q. Mereka bisa sangat sensitif untuk mengkritik diri mereka sendiri. Oleh karena itu anda harus berusaha menghindari tindakan yang membuat mereka malu, bahkan tindakan yang mengkin dilakukan tanpa disadari. r. Gunakan nama keluarga saja dan tunjukkan penghormatan atas gelar mereka. Banyak sekali Doktor di Jerman. s. Jangan memperkenalkan humor atau lelucon selama pertemuan bisnis. Mereka bukan orang Amerika, mereka tidak suka bercanda. Bisnis adalah serius. Ceritakanlah kisah-kisah lucu setelah pertemuan, pada saat minum bir. Anda akan menemukan banyak cerita mereka yang lucu dan kasar. Tertawalah dengan cara yang terbaik. t. Mereka akan membuat catatan dan kembali dengan persiapan yang matang pada hari berikutnya. Akan menguntungkan bagi anda untuk melakukan hal yang sama. u. Orang Jerman biasanya mempunyai kecakapan bahasa yang baik (terutama bahasa Inggris dan bahasa Perancis) tetapi mereka sering kurang pengetahuan mengenai budaya asing (mereka mungkin lebih sedikit mengetahui hal-hal tentang negara anda dibandingkan dengan yang anda kira). Mereka senang menggunakan bahasa Jerman kapan pun mereka dapat. v. Mereka biasanya yakin bahwa mereka adalah bangsa yang paling jujur, dapat dipercaya, dan tulus hati di seluruh dunia, juga dalam negosiasi bisnis. Tunjukkan pada mereka bahwa dalam hal ini anda sederajat dengan mereka. Orang Jerman memang tulus dan mereka menganggap bahwa orang lain juga demikian. Mereka sering kecewa karena orang lain yang lebih menyukai pendekatan yang asal-asalan atau sembrono terhadap kehidupan yang tidak selalu memberikan jawaban yang serius terhadap pertanyaan yang serius. Orang Jerman cenderung melakukan pencarian yang lama akan arti kehidupan yang sebenarnya dan suka menghabiskan waktu mereka untuk hal-hal yang menguntungkan, baik untuk memperkaya simpanan kekayaan atau jiwa mereka. 65

87 Dalam keseriusan mereka, mereka berusaha keras untuk menjadi warga yang patuh dan yang tidak membuat masalah. Di negara yang ramai ini, tekanan untuk menyesuaikan diri dengan masyarakat umum memang sangat kuat. Orang jerman tidak ingin dipandang sebagai orang yang tidak konvensional atau tidak lazim. Mereka tidak berhasrat untuk menjadi eksentrik (seperti orang-orang Inggris, Perancis, atau Amerika). Orang Jerman berusaha untuk tidak membuat kesalahan dan biasanya berhasil. Jika anda membuat kesalahan, mereka akan mengatakannya kepada anda. Mereka tidak kasar ini adalah hasrat mereka yang tidak dapat dihentikan akan keteraturan dan kesesuaian. Orang Jerman suak keadilan dan mereka sering melakukan sesuatu untuk menunjukkan betapa adilnya mereka. Orang Jerman sering tampil sebagai orang yang hebat dan tanpa humor bagi orang Anglo-Saxon yang suka bersikap sembrono dalam percakapan. Orang Jerman tidak memiliki kecanduan seperti orang Inggris dan orang Amerika terhadap cerita lucu atau lelucon. Mereka menginginkan jalinan persahabatan yang kuat dan tertarik pada masalah-masalah kehidupan dan misteri yang membingungkan. Orang Anglo-saxon tidak selalu mengetahui cara menjalin persahabatan yang cepat dengan mereka. Akan tetapi, ketika mereka berhasil memasuki struktur persahabatan Jerman yang agak rumit, mereka menemukan banyak ganjaran. Orang Jerman pada umumnya adalah teman yang sejati dan setia, yang luar biasa bertahan. Dari luar mereka tampak berwajah masam dan berhati-hati. Padahal sebenarnya mereka menginginkan kasih sayang dan popularitas. Seperti kita, mereka ingin dihormati ketika mereka menemukan bahwa orang-orang Inggris, Amerika atau Perancis yang tampaknya acuh tak acuh (easy going) dan lucu juga dapat sesetia orang Jerman memang merupakan investasi yang sangat berharga. Rangkuman Fungsi komunikasi sebagai komunkasi sosial setidaknya mengisyaratkan bahwa komunikasi itu penting untuk membangun konsep diri manusia, aktualisasi diri, untuk kelangsungan hidup, untuk memperoleh kebahagiaan, terhindar dari tekanan dan ketegangan, antara lain lewat komuniksi yang bersifat menghibur, dan memupuk hubungan dengan orang lain. Melalui komunikasi kita bekerja sama dengan anggota masyarakat (keluarga, kelompok belajar, pelanggan, teman sejawat, atasan dan bawahan, RT, RW,, desa, kota dan negara secara keseluruhan) untuk mencapai tujuan bersama. Orang yang tidak pernah berkomunikasi dengan manusia, bisa dipastikan akan tersesat, karena ia tidak berkesempatan menata dirinya dalam suatu lingkungan sosial. Komunikasilah yang memungkinkan individu 66

88 membangun suatu kerangka rujukan dan menggunakannya sebagai panduan untuk menafsirkan situasi apapun yang ia hadapi. Komunikasi pula yang memungkinkannya mempelajari dan menerapkan strategistrategi adaptif untuk mengatasi situasi-situasi problematik yang ia masuki. Tanpa melibatkan diri dalam komunikasi, seseorang tidak akan tahu bagaimana makan, minum, berbicara sebagai manusia dan memperlakukan manusia lain secara beradab, karena cara-cara berperilaku tersebut harus dipelajari lewat pengasuhan keluarga dan pergaulan dengan orang lain yang intinya adalah komuniksi. Kompetensi. yang diharapkan dari materi pada bab ini adalah : Melakukan komunikasi ditempat kerja, Memberikan pelayanan secara prima kepada pelanggan, Memberikan bantuan untuk pelanggan internal dan eksternal, Standar persentasi personal, Melakukan pekerjaan secara tim, mampu melakukan pekerjaan dalam lingkungan sosial yang beragam, serta mampu menangani kesalah-pahaman antar budaya. Evaluasi: 1. Jelaskan pengertian komunikasi dan pengertian pelayanan prima. 2. Jelaskan hubungan pelayanan dengan karakter pelanggan. 3. Jelaskan bagaimana cara mengatasi kesalah pahaman antar budaya. 4. Seorang pelajar mempunyai hak dan kewajiban disekolah, bagaimana kegiatanmu dalam melakukan kewajiban sebagai makhluk sosial terhadap guru dan teman-temanmu, hasil jawaban diskusikan dengan teman sekelas 67

89 BAB III KESEHATAN, KESELAMATAN DAN KEAMANAN KERJA A. Dasar-dasar Kesehatan, Keselamatan dan Keamanan Kerja Mengapa sebahagian besar orang khawatir dengan kesehatan, keselamatan dan keamanan kerja. Kesehatan barasal dari kata sehat. Sehat menurut World Health Organization (WHO) Health is state of complete physical, mental and social wellbeing and not merely the absence of disease and infirmity. Sehat menurut Hanlon mencakup keadaan pada diri seseorang secara menyeluruh untuk tetap mempunyai kemampuan melakukan tugas fisiologis maupun psikologis penuh. UU no 9 tahun 1960, tentang pokok-pokok kesehatan, pasal 2, disebutkan bahwa yang dimaksud dengan kesehatan ialah: meliputi kesehatan badan, rohaniah (mental) dan sosial, dan bukan hanya keadaan yang bebas dari penyakit, cacat dan kelemahan-kelemahan lainnya. Melalui upaya kesehatan yaitu: upaya peningkatan, pencegahan, penyembuhan dan pemulihan kesehatan serta upaya penunjang yang diperlukan. Dari pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa sehat tersebut mencakup: 1. Sehat secara jasmani 2. Sehat secara mental/rohani 3. Sehat secara sosial Sehat secara jasmani dapat dilihat secara physical (penampilan), yaitu : a) Dapat melakukan aktifitasnya dengan baik, misalnya: makan, minum, berjalan dan bekerja; b) Penampilannya baik, misalnya: cara berpakaian, cara berbicara, atau cara berdandan; c) Dapat menggunakan sarana dan prasarana kerja dengan baik (sesuai aturan). Sehat secara mental/rohani dapat dilihat dari bagaimana seseorang : a) Menentukan prioritas dengan memilah-milah apa saja yang benarbenar berguna dalam hidupnya; b) Menghargai dan memberi hadiah diri sendiri atas tindakan, sikap dan pikiran yang positif; c) Menjalankan hidup kerohanian secara teratur; d) Mengasihi sesama dengan memberi bantuan baik dalam bentuk nasehat/moril atau materil; e) Berpikir kedepan dan mencoba mengantisipasi bagaimana cara menghadapi kesulitan; f) Berbagi pengalaman dan masalah dengan keluarga atau teman; g) Mengembangkan jaringan sosial atau kekeluargaan. Sehat secara sosial dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor : Antara lain, a) Urbanisasi; b) Pengaruh kelas sosial; c) Perbedaan ras; d) Latar belakang etnik; e) Kekuatan politis; dan f) faktor ekonomi. Keselamatan berasal dari kata dasar selamat. Selamat: terhindar dari bahaya, tidak mendapat gangguan, sehat tidak kurang suatu apapun 68

90 (W.J.S Poerwadarminta) Keselamatan : Keadaan perihal terhindar dari bahaya, tidak mendapat gangguan, sehat tidak kurang suatu apapun. Pekerja terkadang tidak merasa bahwa keselamatan dan kecelakaan itu saling bersinggungan, di dalam bekerja harus selalu berfikir bagaimana kita mengantisipasi agar dapat mengurangi resiko kecelakaan. Lakukanlah sesuatu dengan mengharapkan keselamatan dalam melaksanakan pekerjaan sesuai dengan Standar Operasional Prosedur (SOP). Keselamatan dalam menangani bahaya atau resiko sesuai dengan S O P. Keselamatan dalam menggunakan peralatan dan melakukan sesuatu pekerjaan dengan keadaan yang sehat dan sesuai dengan S O P. Jadi yang dimaksud dengan keselamatan kerja adalah keselamatan yang berhubungan dengan peralatan, tempat kerja dan lingkungan, serta cara-cara melakukan pekerjaan. Tempat kerja meliputi darat, laut, dalam tanah dan air, serta di udara. Keselamatan kerja menjadi salah satu aspek yang sangat penting, mengingat resiko bahayanya dalam penerapan teknologi. Keselamatan kerja merupakan tugas semua orang yang bekerja, setiap tenaga kerja dan juga masyarakat pada umumnya. Setiap orang dituntut untuk dapat melakukan pekerjaan sesuai dengan keahlian masing-masing. Siswa merupakan aset yang paling berharga bagi sekolah. Oleh karena itu agar siswa dapat melaksanakan pekerjaan dengan baik, maka setiap siswa harus waspada dan berusaha agar selalu dalam kondisi kesehatan yang baik pula. Tujuan kesehatan, keselamatan dan keamanan kerja adalah: 1. Melindungi para pekerja dari kemungkinan-kemungkinan buruk yang mungkin terjadi akibat kecerobohan pekerja/siswa. 2. Memelihara kesehatan para pekerja/siswa untuk memperoleh hasil pekerjaan yang optimal. 3. Mengurangi angka sakit atau angka kematian diantara pekerja. 4. Mencegah timbulnya penyakit menular dan penyakit-penyakit lain yang diakibatkan oleh sesama kerja. 5. Membina dan meningkatkan kesehatan fisik maupun mental. 6. Menjamin keselamatan setiap orang yang berada ditempat kerja. 7. Sumber produksi dipelihara dan dipergunakan secara aman dan efisien. Petugas laboratorium/workshop banyak dihadapkan pada bahaya, secara garis besar bahaya yang dihadapi dalam laboratorium/workshop dapat digolongkan antara lain: 1. Bahaya kebakaran atau ledakan dari zat atau bahan yang mudah terbakar atau meledak. Bahaya kebakaran disini dapat timbul karena beberapa faktor diantaranya: 69

91 a. Faktor manusia : 1). Tidak mau tau atau kurang mengetahui prinsip dasar pencegahan kebakaran 2). Menyimpan atau menyusun bahan yang mudah terbakar didekat pipa uap atau pipa pembuangan yang panas 3). Pemakaian tenaga listrik yang berlebihan dan melebihi kapasitas yang telah ditentukan 4). Kurang memiliki tanggung jawab dan disiplin 5). Adanya unsur kesengajaan 6). Kegagalan pengolahan dalam menerapkan pencegahan dan pengendalian kebakaran sebagai suatu kesatuan prosedur perencanaan dan prosedur operasional atau pelaksanaan. b. Faktor teknis : Melalui faktor fisik atau mekanis dimana dua faktor penting yang menjadi peranan dalam proses ini yaitu timbulnya panas akibat pengetesan benda atau adanya kabel yang terbuka. c. Faktor alam: 1). Petir adalah salah satu penyebab adanya kebakaran dan peledakan 2). Gunung meletus yaitu yang bisa menyebabkan kebakaran hutan yang luas juga perumahan-perumahan yang dilalui oleh lahar panas. Dengan meniadakan salah satu faktor di atas api akan padam, hal ini dapat ditempuh dengan cara mematikan, yaitu menjauhkan bahan bakar atau bahan-bahan yang mudah terbakar. Menutupi yaitu mengurangi oksigen diudara sekitar kebakaran, caranya adalah dengan menyemprotkan busa, pasir atau tanah pada permukaan bahan bakar. Bisa juga dengan car pendinginan yaitu menurunkan suhu benda-benda yang terbakar dibawah suhu nyalanya, caranya adalah dengan menyemprotkan air. Ada beberapa contoh bahan yang mudah terbakar dan meledak, yaitu ; kertas, kayu, kain, bahan karet, cairan gas, dan bahan padat yang dapat larut dan menyala (minyak, cat) peralatan listrik, magnesium, titanium, zirkonium, sodium, lithium dan potassium. 2. Bahan beracun dan kaustik. Hal ini terjadi karena penggunaan bahan yang berbhaya, seperti racun atau bahan lainnya yang merusak organ tubuh atau penggunaan peralatan yang tidak berpengalaman secara sempurna. Bahaya-bahaya ini umpamanya bahaya kimia tidak hanya berupa korosif, oksidasi tetapi juga karsigonesitus, ledakan dan lain-lain. Bahaya biologi seperti oleh virus, jamur, bakteri atau sesak nafas akibat kebocoran gas, uap kabut dan lain-lain yang masuk kedalam 70

92 tubuh. Gangguan kesehatan akibat keracunan tidak hanya terjadi dengan cepat tetapi setelah beberapa tahun. Zat-zat yang berbahaya tersebut harus digunakan dalam kadar konsentrasi yang rendah serta pengangkutan dan penyimpanannya harus dalam tangki atau ketel tertutup. Jika dilabor atau diruang kerja harus ada instalasi isapan udara yang sempurna dan diimbangi dengan pemasukan udara segar. Untuk menghindari keracunan harus mengikuti hal-hal berikut : a). Menjaga kebersihan dan ketertiban; 2). Meningkatkan pengetahuan tentang kesehatan dan bahaya keracunan; c). Disiplin dalam bekerja; d). Dilarang membawa dan menyimpan makana/rokok dalam ruang kerja /labor; e). Mencuci tangan secara teratur; f). Mengganti pakaian ketika akan memasuki labor atau memakai pakaian pengaman yang disaratkan; g). Bekerja dengan menggunakan masker hidung (respirator) sehingga terhindar dari gangguan pernafasan terhadap kotoran/debu atau bahan kimia; h). Menggunakan pelindung tangan sehingga terbebas dari temperatur yang ekstrim, baik terlalu panas atau terlalu dingin serta zat kimia kaustik dan benda-benda tajam. Pelindung tangan tersebut dapat berupa sarung tangan, gloves, mitten/holder, pads dan lain-lain. 3. Bahaya Radiasi Bahaya radiasi merupakan bahaya ergonomi dari segi tata letak,pekarangan yang tidak memadai dan lain-lain termasuk bahaya fisik berupa temperatur dll. 4. Luka Bakar, luka bakar yang disebabkan terkena zat-zat yang berbahaya benda tajam di tempat kerja. 5. Syok akibat aliran listrik Penggunaan peralatan listrik yang tidak tepat dan hubungan listrik yang salah dapat mengakibatkan terjadinya kecelakaan, misalnya kabel stop kontak, kontak sring dan lain-lain. Akibat adanya hubungan pendek sehingga menimbulkan panas atau bunga api yang dapat menyalakan atau membakar komponen lain, tindakan ceroboh serta penyimpanan peralatan yang tidak pada tempatnya. 6. Luka sayat akibat alas gelas yang pecah dan benda tajam. 7. Bahaya infeksi dari kuman, virus atau parasit, bahaya ini maerupakan bahaya biologi yang disebabkan oleh virus,bakteri, jamur,dll. Pada umum nya bahaya tersebut dapat dihindari dengan usaha-usaha pengamanan, antara lain dengan penjelasan peraturan seta penarapan disiplin kerja. 71

93 Manejemen kesalamatan dan kesehatan kerja adalah pencapaian tuuan yangsudah di tentukan sebelumnya dengan menggunakan batuan orang lain (G.Terry). Untuk mencapai tujuan tersebut G.Terry membagi kegiatan atau fungsi manajemen menjadi 4 yaitu: 1. Perencanaan. Fungsi perencanaan adalah suatu usaha menentukan kegiatan yang akan di lakukan dimasa mendatang guna mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Dalam hal ini adalah keselamatan dan kesehatan kerja di laboraturium. Dalam perencanaan kegiatan yang ditentukan meliputi a). apa yang dikerjakan; b). bagai mana mengerjakannya; c).mengapa mengerjakan; e).kapan harus dikerjakan; f).dimana kegiatan itu harus dikerjakan ( Laboratorium ) Kegiatan laboratorium sekarang tidak lagi hanya dibidang pelayanan tetapi sudah mencakup kegiatan-kegiatan di bidang pendidikan dan penelitian, juga metoda-metoda yang dipakai makin banyak ragamnya ; semuanya menyebabkan resiko bahaya yang dapat terjadi dalam laboratorium makin besar. Oleh karena itu usahausaha pengamanan kerja di laboratorium harus ditanggani secara serius oleh organisasi keselamatan kerja laboratorium. 2. Organisasi. Organisasi keselamatan kerja laboratorium dapat dibentuk dalam beberapa jenjang, mulai dari tingkat laboratorium daerah (wilayah) sampai ketingkat pusat (nasional). Keterlibatan pemerintah dalam dalam organisasi ini baik secara langsung atau tidak langsung sangat diperlukan. Pemerintah dapat menempatkan pejabat yang terkait dalam organisasi ini ditingkat pusat dan tingkat daerah, disamping memberlakukan undang-undang keselamatan kerja ditingkat daerah. Untuk itu perlu dibentuk komisi keamanan kerja laboratorium yang tugas dan wewenangnya dapat berupa : a). Menyusun garis besar pedoman keamanan kerja laboratorium; b). Memberikan bimbingan, penyuluhan, pelatihan pelaksanaan keamanan kerja laboratorium; c). Memantau pelaksanaan pedoman keamanan kerja laboratorium; d). Memberikan rekomendasi untuk bahan pertimbangan penerbitan izin laboratorium; e). Mengatasi dan mencegah meluasnya bahaya yang timbul dari suatu laboratorium. 3. Pelaksanaan. Fungsi pelaksanaan adalah kegiatan mendorong semangat kerja para pekerja/siswa, mengerahkan aktivitas pekerja/siswa, mengkoordinasikan berbagai aktivitas pekerja/siswa sesuai dengan rencana yang telah ditetapkan sebelumnya. Pelaksanaan program kesehtan dan keselmtan kerja laboratorium sasarannya ialah tempat kerja yang aman dan sehat. Untuk itu setiap individu yang bekerja dalam laboratorium wajib mengetahui dan 72

94 memahami semua hal yang diperkirakan akan dapat menjadi sumber kecelakaan kerja dalam laboratorium, serta memiliki kemampuan dan pengetahuan yang cukup untuk melaksanakan pencegahan dan penanggulangan kecelakaan kerja tersebut. Disamping itu juga mematuhi berbagai peraturan atau ketentuan dalam menangani berbagai spesimen reagensia dan alat-alat. 4. Pengawasan Fungsi pengawasan adalah aktivitas yang mengusahakan agar pekerjaan-pekerjaan terlaksana sesuai dengan rencana yang ditetapkan atau hasil yang dikehendaki. Untuk dapat menjalankan pengawasan perlu diperhatikan dua prinsip pokok yaitu : a) adanya rencana; b). Adanya instruksi-instruksi dan pemberian wewenang kepada pekerja/siswa. Dalam fungsi pengawasan tidak kalah pentingnya adalah sosialisasi tentang perlunya disiplin, mematuhi segala peraturan demi keselamatan kerja bersama di laboratorium. Sosialisasi perlu dilakukan terus menerus karena usaha pencegahan bahaya yang bagaimanapun juga baiknya akan sia-sia bila peraturan diabaikan. Untuk sebuah laboratorium perlu dibentuk pengawasan yang tugasnya antara lain : a). Memantau dan mengarahkan secara berkala praktek-praktek laboratorium yang baik, benar dan aman; b). Memastikan semua petugas laboratorium memahami cara-cara menghindari resiko bahaya dalam laboratorium; c). Melakukan penyelidikan/pengusutan segala peristiwa berbahaya. Ruang lingkup kesehatan, keselamatan dan keamanan kerja pada prinsipnya mencakup tiga aspek, yakni aspek pekerja, pekerjaan dan tempat bekerja, untuk lebih jelasnya akan diuraikan satu persatu : a) Pekerja/siswa Para pekerja/siswa di suatu perusahaan/sekolah kesehatannya harus dijaga dengan baik. Hal tersebut sangat penting untuk peningkatan kinerja sehingga memperoleh tenaga-tenaga yang produktif dan profesional, sehingga pada gilirannya akan membantu perusahaan/sekolah dalam mencapai tujuannya. Tugas dan tanggung jawab pekerja/siswa adalah ; 1). mempelajari dan melaksanakan aturan dan instruksi keselamatan kerja; 2). Memberikan contoh cara kerja yang aman kepada pekerja baru/ siswa yang kurang berpengalaman; 3). Menunjukkan kesiapan dan minat untuk mempelajari dan melatih diri terhadap kerja yang aman; 4). Melakukan secara sungguh-sungguh terhadap keselamatan kerja pada setiap tugas pekerjaan. 73

95 b) Pekerjaan. Pekerjaan dapat diselesaikan jika ada pekerja. Namun para pekerja/siswa juga tidak banyak berarti apabila pekerjaan yang dilaksanakan tidak diperlakukan sesuai dengan aturan atau prosedur yang telah ditetapkan. Upaya mengurangi resiko dalam melakukan suatu pekerjaan antara lain : 1). Mengadakan perubahan dalam pekerjaan yang salah. Misalnya pemakaian alat kerja yang tidak sesuai harus diganti secepatnya; 2). Mencegah terjadinya penularan; 3). Diberlakukannya tindakan atau aturan yang ketat untuk melindungi para pekerja terhadap penggunaan alat-alat yang membahayakan. Misalnya: Menggunakan pakaian sesuai dengan pekerjaan yang dilakukan dan juga melarang seseorang melakukan pekerjaan yang bukan menjadi keahliannya; 4). Pencahayaan/penerangan yang sesuai dengan jenis pekerjaan yang dilakukan. Pekerjaan yang membutuhkan ketelitian dan cenderung rumit harus diberikan penerangan yang lebih. Hal ini dimaksudkan: a) Untuk mencegah dan menghindarkan terjadinya kecelakaan: b) Untuk menjaga mutu pekerjaan: c) Untuk tidak menurunkan produksi: d) Untuk tidak merusak mata; 5) Mengadakan latihan-latihan terhadap para pekerja/siswa di dalam bidang khusus. Setiap jenis pekerjaan mempunyai sifat-sifat dan cara-cara sendiri. Sifat dan cara-cara ini harus dikenal serta dipelajari oleh para pekerja/siswa. Hal ini bertujuan: a) Untuk mencegah timbulnya kecelakaan-kecelakaan sebagai akibat kurang mengetahui sifat dan cara bekerja; b) Menambah pengetahuan para pekerja, sesuai bidangnya masing-masing; 6) Tindakan untuk mencegah kecelakaan harus bisa dibedakan antara usaha-usaha tentang keselamatan kerja dengan usaha pencegahan atas penyakit akibat kerja yaitu bahwa keselamatan kerja menitikberatkan pada peralatan dari perusahaan, sedangkan pencegahan penyakit akibat kerja ditujukan kepada orang-orang yang bekerja dalam perusahaan. Di samping kecelakaan-kecelakaan itu disebabkan karena persoalan teknis, sebagian besar kecelakaan disebabkan karena kelelahan. Makin lama seseorang melakukan pekerjaan makin berkurang prestasi kerjanya, dan semakin banyak bekerja maka akan makin cepat dan hebat tingkat kelelahannya. Kelelahan dapat menimbulkan efek buruk terhadap jasmani maupun rohani. Efek buruk terhadap jasmani sering disebut Exhaustion sedangkan efek buruk terhadap rohani disebut Neurastheni. Usaha untuk mencegah/memperkecil kecelakaan, dapat dilakukan dengan cara: 74

96 1). Mengadakan pengaturan tata cara kerja, antara lain dengan melakukan penjadwalan yang baik dan jam kerja rasional serta adanya istirahat berkala di antara jam kerja. 2). Menerapkan dan mematuhi peraturan sekolah atau perundang-undangan lamanya jam kerja. 3). Menerapkapkan rolling kerja (shift/jam kerja) dengan jenis pekerjaan yang akan dilakukan. Hasil ini perlu dilakukan untuk menghindari pekerjaan dari kajenuhan atau kebosanan yang berakibat terjadinya kecelakaan. Semakin teliti dan halus suatu pekerjaan, makin harus diperpendek lamanya bekerja dan harus diselang dengan istirahat. c) Tempat bekerja Tempat bekerja merupakan bagian yang penting begi suatu industri/perusahaan atau sekolah, secara tidak langsung tempat bekerja akan berpengaruh pada kesenangan, kenyamanan dan keselamatan dari para pekerja/siswa. Keadaan atau suasana yang menyenangkan (comfortable) dan aman (safe) akan menimbulkan gairah produktifitas kerja. Usaha-usaha kesehatan yang perlu dilakukan terhadap tempat kerja secara umum adalah dengan menerapkan hygiene dan sanitasi tempat kerja secara khusus. Hal-hal yang berkaitan dengan hygiene dan sanitasi tempat kerja antara lain: 1). Penerangan atau pencahayaan dalam ruangan kerja/workshop harus disesuaikan/diatur dengan jenis pekerjaan yang dilakukan. 2). Pengontrolan udara dalam ruangan kerja. 3). Suhu udara dalam ruangan kerja. 4). Tekanan udara dalam ruangan kerja. 5). Pencahayaan Pencahayaan yang baik adalah pencahayaan yang memungkinkan tenaga kerja/siswa dapat melihat objek-objek yang dikerjakan secara jelas, tepat dan tanpa gangguan. Pencahayaan yang cukup dan diatur secara baik akan membantu menciptakan lingkungan kerja yang nyaman dan menyenangkan. Intensitas pencahayaan yang kurang baik dapat menyebabkan gangguan visibilitas dan eyestrain. Sebaliknya intensitas pencahayaan yang berlebih juga dapat menyebabkan glare, reflection, excessive, shadows, visibility dan eyestrain. Tenaga kerja/siswa harus dengan jelas dapat melihat objekobjek yang ssedang dikerjakan, benda atau alat dan tempat disekitarnya yang mungkin mengakibatkan kecelekaan perlu disingkirkan, karena akan memberi pengaruh terhadap para pekerja/siswa, hal ini dapat dilihat sbb: 75

97 1). Pengaruh pencahayaan di tempat kerja. Secara umum jenis pencahayaan ditempat kerja dibedakan menjadi dua yaitu; a) pencahayaan buatan (pencahayaan yang dihasilkan oleh cahaya lampu), b) pencahayaan alamiah (pencahayaan yang dihasilkan oleh cahaya matahari). Tingkat pencahayaan pada tiap-tiap pekerjaan berbeda tergantung pada sifat dan jenis pekerjaannya. Pekerjaan yang tingkat ketelitiannya tiggi otomatis intensitas cahaya yang dibutuhkan juga tinggi begitu sebaliknya. Pencahayaan yang kurang memenuhi syarat akan mengakibatkan; kelelahan mata sehingga berkurangnya daya daneffisiensi kerja, kelelahan mental, keluhan / pegal didaerah mata dan sakit di sekitar mata, kerusakan indra mata, meningkatkan kecelakaan, pekerja kehilangan produktifitas, kualitas kerja rendah, banyak terjadi kesalahan. Upaya yang dilakukan untuk mengatasi masalah pencahayaan; pemilihan lampu secara tepat, penetapan sumber-sumber cahaya terhadap alat-alat produksi dan pekerja, perhitungan letak jendela, penggunaan alat pelapis yang tidak mengkilat penyaringan sinar matahari langsung, merubah posisi kerja untuk menghindari bayang-banyang pantulan sumber kesilauan dan kerusakan. 2). Sistem aplikasi pencahayaan ditempat kerja Tempat kerja perlu didesain untuk menghindari pencahayaan yang merusak mata. Kebutuhan intensitas pencahayaan bagi pekerja/siswa harus dipertimbangkan saat mendesain bangunan pemasangan mesin-mesin, alat dan sarana kerja. Desain ventilasi / pencahayaan harus mampu mengontrol cahaya kesilauan, pemantulan, dan bayangbayang serta untuk kesehatan dan keselamatan kerja. Identifikasi penilaian problem dan kesulitan pencahayaan. Agar masalah pencahayaan yang muncul dapat ditangani dengan baik, faktor yang perlu diperhitungkan; a). sumber pencahayaan; b). posisi pekerjaan dalam bekerja; c). jenis pekerjaan yang dilakukan; d). lingkungan pekerjaan secara keseluruhan. Teknik dan metode yang dapat digunakan untuk mengidetifikasi dan menilai masalah pencahayaan ditempat kerja; konsultasi atau wawancara dengan pekerja/siswa dan supervisor di tempat kerja, mempelajari laporan kecelakaan kerja sebagai bahan investigasi dapat dilakukan dengan cara: a). mengukur intensitas pencahayaan; b) kesilauan; c). pantulan dan bayang-bayang yang ada ditempat kerja; 76

98 d). mempertimbangkan faktor sikap bekerja; e). lama bekerja; f). jenis pekerjaan, dan lain sebagainya. Pengaruh penggunaan warna terhadap penerangan. Warna pencahayaan dan komposisi spektrumnya sangat penting dalam memperbandingkan dan mengkombinasikan warna-warna. Warna-warna dalam lingkungan sebagai akibat pencahayaan memantulkan rupa daripada lingkungan. Lingkungan tempat kerja tergantung dari dekorasi dan pencahayaan, adapun faktor-faktor penentu adalah; a) pembagian luminensi, jika mungkin tersebar setengah lapangan penglihatan, permukaan-permukaan berwarna menengah, b)pencegahan kesilauan, sumber-sumber cahaya yang terpilih, pengaturan meja dan mesin, c) warna-warni dari tempat kerja tergantung dari pencahayaan yang dipakai. Standar pencahayaan ditempat kerja, identitas pencahayaan yang dibutuhkan dari masing-masing tempat kerja ditentukan dari jenis dan sifat pekerjaan yang dilakukan. Standar pencahayaan di Indonesia telah ditetapkan seperti tersebut dalam Peraturan Mentri Perhubungan (PMP) No. 7 Tahun 1964, tentang syarat-syarat kesehatan, kebersihan dan pencahayaan yang dimaksud dapat dijelaskan sebagai berikut; 1). Pencahayaan untuk halaman dan jalan dilingkungan perusahaan harus mempunyai intensitas pencahayaan paling sedikit 20 luks. 2). Pencahayaan untuk pekerjaan yang hanya membedakan barang kasar dan besar paling sedikit mempunyai intensitas pencahayaan 50 luks. 3). Pencahayaan yang cukup untuk pekerjaan yang membedakan barang kecil secara sepintas lalu paling sedikit mempunyai intensitas pencahayaan 100 luks. 4). Pencahayaan untuk pekerjaan yang membedakan dengan teliti dari barang kecil agak teliti paling sedikit mempunyai intensitas pencahayaan 200 luks. 5). Pencahayaan untuk pekerjaan yang membedakan dengan teliti dari barang-barang yang kecil dan halus, paling sedikit memilih intensitas pencahayaan 300 luks. 6). Pencahayaan yang cukup untuk pekerjaan yang membeda-bedakan barang halus dengan kontras yang sedang dalam waktu yang lama, harus mempunyai intensitas pencahayaan paling sedikit luks. 7). Pencahayaan yang cukup untuk pekerjaan yang membedakan barang yang sangat halus dengan kontras yang kurang dan dalam waktu yang lama, harus mempunyai intensitas pencahayaan paling sedikit 2000 luks. 77

99 d) Kecelakaan Akibat Kerja Kecelakan tidak terjadi kebetulan melainkan ada sebabnya. Maka kecelakaan itu dapat dicegah asal kita ada kemauan untuk mencegahnya. Sebab-sebab kecelakaan akibat kerja ada 2 golongan sebagai berikut; 1). Faktor mekanis dan lingkungan, meliputi segala sesuatu selain manusia. Faktor ini dapat pula dibagi-bagi menurut keperluan untuk tujuan apa. Misalnya; sebuah perusahaan sebab-sebab kecelakaan dapat disusun menurut pengelolaan bahan, pemakaian alat-alat atau perkakas yang dipegang oleh tangan, jatuh dilantai dan tertimpa benda jatuh, menginjak atau terbentur barang, luka bakar oleh benda pijar atau pengangkutan. 2). Faktor manusia itu sendiri. Misalnya seorang pekerja pabrik tekstil mengalami kecelakaan tertimpa gunting jatuh tepat mengenai punggung kakinya. Jika ia mengikuti petunjuk kesehatan dan keselamatan kerja dan tidak meletakkan gunting sembarangan maka gunting tersebut tidak akan tersenggol dan tidak akan jatuh. 1). Klasifikasi kecelakaan akibat kerja Klasifikasi kecelakaan akibat kerja menurut Organisasi Perburuhan International tahun 1962 adalah: (a). Klasifikasi menurut jenis kecelakaan antara lain; terjatuh, tertimpa benda jatuh, tertumbuk atau terkena benda-benda, terjepit, gerakan-gerakan melebihi kemampuan, pengaruh suhu tinggi, terkena arus listrik, kontak dengan bahan-bahan berbahaya atau radiasi, serta jenis-jenis lainnya termasuk kecelakaan-kecelakaan yang data-datanya tidak cukup. (b). Klasifikasi menurut penyebab, seseorang menjadi celaka bisa disebabkan oleh: mesin, alat pengangkut dan alat angkat, peralatan lain, bahan-bahan kimia (zat-zat dan radiasi), lingkungan kerja, penyebabpenyebab yang belum termasuk golongan-golongan tersebut atau data tidak memadai. (c). Klasifiksi menurut sifat seperti luka atau kelainan yaitu; patah tulang, disloksi/keseleo, regang otot/urat, memar dan luka dalam, amputsi, luka bakar, keracunan-keracunan mendadak, akibat cuaca, mati lemas, pengaruh aruh listrik, luka-luka yang banyak dan berlainan sifatnya, dan lain-lain. (d). Klasifikasi menurut letak kelainan atau luka ditubuh yaitu; kepala, leher, badan, kelainan umum, dan lainlain. Dalam suatu penelitian 85% sebab-sebab dari kecelakaan kecil bersumber dari manusia, persoalannya 78

100 sangat rumit, misalnya kecelakaan akibat keadaan emosi para pekerja/siswa seperti ketidak adilan, perkelahian dengan teman sekerja/sekelas atau peristiwa-peristiwa percintaan. Tanpa diduga-duga manusia kadang-kadang sengaja membuat kecelakaan, sehingga kata kecelakaan sudah tidak tepat lagi, hal ini terjadi misalnya akibat sebagai kejemuan, kebencian, ataupun putus asa. 2). Kerugian-kerugian oleh karena kecelakaan Kecelakaan adalah kerugian yang terlihat dari adanya dan besarnya biaya kecelakaan. Biaya ini menjadi beban bagi negara dan rakyat seluruhnya. Kecelakaam menyebabkan lima kerugian yaitu; kerusakan, kekacauan organisasi, keluhan atau kesedihan, kelainan atau cacat, kematian. Biaya ini dapat dibagi dua yaitu; (a). Biaya langsung adalah biaya atas P3K, pengobatan dan perawatan, biaya rumah sakit, biaya angkutan, upah selama pekerja tidak mampu bekerja, biaya atas kerusakan bahan-bahan dan lain-lain. (b). Biaya tersembunyi meliputi; segala sesuatu yang terllihat pada waktu dan beberapa waktu sesudah kecelakaan terjadi. Dalam penelitian diluar negeri perbandingan biaya langsung dan biaya tersembunyi adalah 1:4, selain itu menunjukkan bahwa besarnya tingkat dan biaya kecelakaan kecil dari pada kecelakaan besar, dimana kecelakaan kecil adalah kecelakaan yang menyebabkan pekerja tidak masuk kerja atau siswa tidak masuk sekolah sebagai akibat kecelakaan tersebut. Biasanya pekerja/siswa yang terkena kecelakaan kecil dan badannya sehat tapi karena salah satu organ tubuhnya terluka maka pekerja/siswa tersebut tidak bisa bekerja/mengikuti praktek, misalnya luka pada jari telunjuk, telapak tangan,pada mata dan lain sebagainya. Besarnya angka kecelakaan diperusahaan AS dari penderita korban pada perang dunia ke-2 sebanyak 22,088 (luka dan meninggal) korban kecelakaan perusahaan adalah 1219 jiwa meninggal dan jiwa luka-luka. Sedangkan di Inggris korban perang 8126 jiwa, dan korban kecelakaan diperusahaan adalah 107 kematian dan lukaluka. Diduga seluruh dunia terjadi kecelakaan sebanyak 15 juta setahunnya. 79

101 3). Pencegahan kecelakaan Kecelakaan dapat dicegah asal ada kemauan untuk mencegahnya. Kecelakaan-kecelakaan akibat kerja dapat dicegah dengan: (a). Peraturan-peraturan, yaitu ketentuan-ketentuan yang diwajibkan mengenai kondisi-kondisi kerja pada umumnya. (b). Standarisasi, yaitu penetapan standar-standar resmi, misalnya kontruksi tempat kerja yang memenuhi syarat-syarat keselamatan jenis-jenis peralatan industri/peralatan sekolah tertentu dan alat-alat perlindungan diri. (c). Pengawasan, yaitu tentang dipatuhinya ketentuanketentuan perundang-undangan yang diwajibkan. (d). Penelitian yang bersifat teknik, yang meliputi sifat dan ciri-ciri bahan-bahan yang berbahaya. (e). Riset media, yang meliputi terutama penelitian tentang efek-efek fisiologis patologis faktor-faktor lingkungan dan teknologi, dan keadaan-keadaan fisik (f). yang mengakibatkan kecelakaan. Penelitian psikologis, yaitu menyelidiki tentang polapola kejiwaan yang mengakibatkan terjadinya kecelakaan. (g). Penelitian secara statistik, untuk menetapkan jenisjenis kecelakaan yang terjadi. (h). Pendidikan, yang menyangkut pendidikan keselamatan. (i). Latihan-latihan, yaitu latihan praktek bagi tenaga kerja/siswa. (j). Penggairahan, yaitu penggunaan aneka cara penyuluhan atau pendekatan lain untuk meimbulkan sikap untuk selamat. (k). Asuransi, yaitu insentif financial untuk meningkatkan pencegahan kecelakaan. (l). Usaha keselamatan pada tingkat perusahaan/sekolah, yang merupakan ukuran utama efektif tidaknya penerapan keselamatan kerja yang terkait dengan tataletak alat-alat keperluan siswa dalam melakukan praktek. (m). Sangat diperlukan bahwa untuk pencegahan kecelakaan akibat kerja diperlukan kerja sama dengan aneka keahlian. 80

102 5. Kecelakaan menurut jenis pekerjaan Kecelakaan kecelakaan diperusahaan berbeda dengan kecelakaan disekolah kejuruan, diperkebunan, kehutanan, pertambangan atau perkapalan. Jenis-jenis kecelakaan menurut pekerjaan antara lain: a). Dipertambangan, misalnya akibat ledakan, rubuhnya dinding dan atap tambang, jatuh ketika menganalisa atau menuruni tangga dan lain-lain; b). Diperkapalan, misalnya tenggelam, ditelan ikan, luka oleh barangbarang atau binatang laut berbisa; c). Diperkebunan atau kehutanan, antara lain, ketiban kayu atau luka oleh perkakas tangan; d). Pekerjaan yang berhubungan dengan arus listrik terutama yang bervoltage tinggi yang kadang-kadang mendatangkan bahaya, terutama bagi mereka yang tidak tahu seluk beluk listrik, terjadi arus pendek, kebakaran; e). Industriindustri kimia yang menggunakan bahan-bahan yang mudah terbakar, maka sebaiknya bahan kimia disimpan ditempat yang aman dan setiap perusahaan/sekolah kejuruan menyediakan alat-alat pemadam kebakaran. a). Alat- alat pelindung diri Perlindungan tenaga kerja melalui usaha-usaha teknis pengamanan temapat, peralatan dan lingkungan kerja adalah sangat perlu diutamakan. Alat-alat demikian harus memenuhi persyaratan; enak dipakai, tidak mengganggu kerja, memberi perlindungan yang efektif terhadap jenis bahaya. Pakaian kerja harus dianggap sebagai suatu alat yang dapat memperkecil ancaman terhadap bahaya kecelakaan. Pakaian kerja untuk tenaga kerja pria yang bekerja melayani mesin sebaiknya menggunakan pakaian berlengan pendek, pas (tidak longgar) pada dada atau punggung, tidak berdasi dan tidak ada lipatan-lipatan yang mendatangkan bahaya. Sedangkan pakaian kerja untuk tenaga kerja wanita memakai celana panjang, ikat rambut, baju yang pas dan tidak memakai perhiasan. Jenis alat-alat proteksi diri beraneka ragam macamnya, antara lain sebagai berikut; 1) Untuk kepala; pengikat dan penutup rambut, topi dari berbagai bahan 2) Untuk mata;kaca mata dari berbagai bahan 3) Untuk muka; perisai muka 4) Untuk tangan dan jari; sarung tangan, bidal jari 5) Untuk kaki; sepatu dan sendal 6) Untuk alat pernapasan; respirator atau masker khusus 7) Untuk telinga; sumbat telinga atau tutup telinga. 8) Untuk tubuh; pakaian kerja yang memenuhi persyaratan sesuaikan dengan jenis pekerjaan. 81

103 B. Standar Operasional Prosedur Kesehatan, Keselamatan dan Keamanan Kerja Standar Operasional Prosedur (SOP) sangat penting bagi kesehatan, keselamatan dan keamanan kerja dalam menjalani pekerjaan. SOP sangat besar manfaatnya dalam melaksanakan pekerjaan, dalam menangani bahaya atau resiko, dalam menggunakan peralatan dan melakukan sesuatu pekerjaan dengan keadaan yang sehat dan selamat. Kesehatan, keselamatan dan keamanan kerja di sekolah mestinya telah menjadi isu penting, karena Indonesia telah memiliki undangundang akan hal ini, namun pelaksanaannya sering diabaikan oleh perusahaan/sekolah maupun pakerja/siswa. Dengan menerapkan standar kesehatan, keselamatan dan keamanan kerja, diharapkan para pekerja/siswa akan terlindung dari kemungkinan resiko kerja yang selalu mengancamnya, baik yang disebabkan oleh lingkungan kerja maupun kesalahan pekerja/siswa itu sendiri (human error). Pihak perusahaan/sekolah harus menjamin bahwa lingkungan kerja dan peralatan yang digunakan aman. Oleh karena itu menjadi kewajiban bagi setiap perusahaan/sekolah untuk mengadakan pelatihan kepada para calon karyawannya sebelum beroperasi. Untuk itu dibutuhkan suatu standar yang berlaku untuk perusahaan/sekolah tersebut. Kurangnya pengalaman kerja dapat menyebabkan kecelakaan dalam bekerja. Supaya kecelakaan kerja lebih kecil diperlukan perhatian dan kewaspadaan secara terus menerus. Satu upaya penyelamatan juga tergantung pada unjuk kerja setiap karyawan/siswa. Kecelakaan itu sangat mudah terjadi. Para praktisi berpendapat bahwa hanya memerlukan satu orang untuk menimbulkan suatu kecelakaan, sedangkan untuk mencegah kecelakaan diperlukan kerja sama tim yang baik dari setiap anggota tim itu sendiri. C. Hukum Kesehatan, Keselamatan dan Keamanan Kerja yang Berlaku Secara International Perlindungan tenaga kerja dibidang keselamatan kerja di indonesia telah mengarungi sejarah yang panjang, dimulai lebih dari satu abad yang lalu. Usaha penanganan keselamatan kerja di Negeri ini dimulai sejalan dengan pemakaian mesin uap untuk keperluan pemerintah Hindia Belanda, yang semula pengawasannya ditujukan untuk mencegah kebakaran. Perusahaan/sekolah kejuruan secara hukum berkewajiban untuk menghilangkan atau mengurangi resiko/kecelakaan kerja sekecil mungkin. Ketika pekerja/sekolah dalam keadaan penuh tekanan, atau bekerja dalam suasana yang sangat sibuk tidaklah mudah untuk menerapkan keamanan kerja. Namun demikian, dalam keadaan apapun pekerja/siswa harus tetap memperhatikan dan menerapkan keamanan dan keselamatan kerja. Jadikan keamanan kerja sebagai prioritas utama. Untuk melaksanakan tujuan tersebut perusahaan/sekolah kejuruan harus menyediakan atau membuat panduan keselamatan kerja. Tugas 82

104 pekerja/siswa adalah menggunakan peralatan dan mengaplikasikan keselamatan dan keamanan kerja yang telah ditetapkan oleh pihak perusahaan/sekolah. Perusahaan/sekolah menyediakan alat-alat perlindungan keselamatan kerja, seperti: sandal jepit karet, masker, sarung tangan, helm, kaca mata, bidal, celemek, alat kerja yang bukan penghantar listrik, tangga dsbnya. Alat-alat pemadam kebakaran harus ditempatkan ditempat yang mudah terlihat dan terjangkau serta diberi cat bewarna merah. Benda-benda yang mudah terbakar harus diperhatikan keamanannya, serta dilakukan tindakan pencegahan terhadap bahaya kebakaran. Semua pekerja/siswa wajib mengetahui tempat alat-alat pemadam kebakaran dan mengetahui cara penggunaannya. Untuk mencegah kecelakaan kerja, semua pekerja/siswa harus mentaati seluruh peraturan dan tata cara pemakaian alat kerja serta ketentuan kerja yang dikeluarkan perusahaan dengan berpedoman pada undang-undang yang berlaku. Perlu selalu diingat bahwa akibat yang ditimbulkan dari kelalaian dapat menyebabkan pekerja/siswa diberhentikan dari pekerjaan/sekolah. Terlebih lagi jika pekerja/siswa diketahui menyalahi prosedur yang telah ditetapkan oleh perusahaan. Oleh karena itu sebaiknya pekerja/siswa selalu berhati-hati dalam mengerjakan tugas masing-masing. Bila terjadi kebakaran, pluit/tanda bahaya atau tanda khusus lainnya harus segera dibunyikan, dan para pekerja/siswa yang ada ditempat kejadian tersebut, terutama kaum pria dan petugas pemadam/penanggulangan kebakaran harus berusaha memadamkan api, dan para pekerja/siswa lain supaya turut membantu bila mana diperlukan, serta secara periodik akan dilaksanakan latihan pemadam kebakaran dan pembinaan-pembinaan terhadap regu pemadam kebakaran yang telah dibentuk. Setiap pekerja/siswa harus mematuhi dan melaksanakan instruksiinstruksi tentang pemakaian alat-alat perlindungan kesehatan dan keamanan kerja yang disediakan perusahaan/sekolah. Tempat kerja dipelihara kebersihan serta kerapihannya, dan untuk kesehatan bersama dilarang meludah dilantai, dilarang membuang sampah di sembarang tempat. Setiap pekerja/siswa yang mengetahui pekerja lain menderita penyakit menular, seperti : lepra, syphilis, kolera, TBC, demam berdarah, muntah ber dan sebagainya, harus melapor kepada pimpinan perusahaan atau kepala sekolah dan guru tentang penyakit tersebut untuk diambil langkah-langkah pencegahan dan pengobatan. Hubungan keselamatan kerja dengan perlindungan tenaga kerja meliputi aspek-aspek yang sangat luas, antara lain perlindungan keselamatan kerja dan kesehatan. Maksud perlindungan ini ialah agar tenaga kerja/siswa secara umum melaksanakan pekerjaannya sehari-hari untuk meningkatkan produksi/menerapkan tuntutan kurikulum. Karena itu, keselamatan kerja merupakan segi penting dari perlindungan tenaga kerja/siswa disekolah kejuruan. 83

105 D. Prosedur Kesehatan, Keselamatan dan Keamanan Ditempat Kerja (Custum Made) Perusahaan adalah tempat berhadapannya dua golongan yang kadang-kadang berbeda atau bertentangan kepentingannya, yaitu pengusaha dan pekerja. Terutama hal ini berlaku untuk perusahaanperusahaan swasta yang mana pekerja-pekerja memperjuangkan kesejahteraan dan kesehatan, sedangkan pengusaha memperjuangkan keuntungan yang sebesar-besarnya. Antara kesejahteraan pekerja dan keuntungan pengusaha terdapat pertentangan kepentingan. Walaupun demikian dapat diatasi dengan menjunjung tinggi keselamatan bersama, antara pengusaha dengan pekerja saling merasa membutuhkan. Untuk itu ditempat kerja diharapkan memiliki prosedur kesehatan dan keselamatan kerja. Ditempat kerja/workshop jangan membahayakan kesehatan orang lain dan diri sendiri. Hindari kontak langsung dengan darah atau cairan tubuh lain yang tertinggal ditempat kerja, cairan tubuh tersebut mungkin membawa virus, bakteri dan jenis mikroorganisme lain yang berpotensi menularkan AIDS, hepatitis dan gangguan kesehatan lain. Laporkan segera jika anda terjangkit atau terinfeksi suatu penyakit. Pengawas ditempat kerja akan mempertimbangkan apakah pekerja/siswa tetap melanjutkan pekerjaannya atau tidak. Laboratorium yag diguakan siswa sebagai wadah pengembangan keterampilan mengamati, megukur dan meneliti berbagai fenomena yang terkait dengan materi ajar, perlu dilengkapi dengan peraturan keselamatan kerja. Karena pemahaman dan pengalaman tentang keselamatan kerja, adalah modal dasar dalam mencegah dan melindungi siswa, peralatan dan bahan dari resiko kecelakaan/kerusakan dalam bekerja. Untuk menciptakan lingkungan kerja yang sehat, maka setiap pekerja/siswa mesti menjaga kebersihan dan kesegaran pribadi masingmasing. Pekerja/siswa akan mengeluarkan banyak keringat ketika dalam kondisi ruangan hangat. Keringat tidak menimbulkan bau karena akan menguap dengan cepat, tetapi bakteri yang tertinggal di peluh dapat menimbulkan bau, terutama pada bagian ketiak, karena keringat tidak dapat menguap dengan bebas. Mandi setiap hari dan menggunakan pewangi dan anti-perspiran dapat melindungi diri dari bau badan. Disamping higiene personal diatas, penampilan pekerja/siswa seperti rambut panjang dan terurai tidak tepat bagi yang bekerja di industri garment dan perhotelan. Karena dapat mengganggu proses kerja, rambut panjang juga sangat potensial untuk tertinggal pada permukaan benda yang dikerjakan. Pekerja wanita yang berambut panjang harus diikat dan ditata dengan baik sehingga tidak mengganggu dalam bekerja. Pakaian kerja harus nyaman dan memberikan kesan yang baik kepada semua orang yang melihatnya. Hindari asesoris dan milineris yang dapat mengganggu pekerjaan 84

106 E. Menangani Situasi Darurat Kecelakaan ditempat kerja/disekolah sebagian besar disebabkan oleh kurangnya perhatian, kelalaian dan kebiasaan buruk. Kecelakaan terjadinya tiba-tiba, tanpa direncanakan sehingga dapat menimbulkan korban, baik berupa benda maupun nyawa. Ada kalanya akibat yang ditimbulkan mungkin tidak begitu serius. Tetapi rangkaian kejadian atau gabungan peristiwa akibat dari beberapa kesalahan dapat berakibat fatal. Dengan demikian kebiasaan untuk bekerja aman dan hati-hati hendaklah dibiasakan. Perlu selalu diingat bahwa akibat yang ditimbulkan dari kelalaian dapat menyebabkan diri sendiri atau diri orang lain dalam bahaya. Beberapa bahaya tidak dapat dihindari. Beberapa bahaya ditempat kerja/disekolah terjadi pada situasi normal dan pada situasi sibuk. Orang lain jatuh atau terpeleset karena peralatan atau benda yang tidak diletakkan pada tempatnya, pekerja/siswa terluka ketika merapikan barang-barang yang pecah, kulit anda terbakar ketika menggunakan bahan pembersih, atau terjadi kecelakaan diworkshop, seperti tangan tertusuk jarum ketika menjahit, kena sengatan listrik ketika mengoperasikan mesin atau menyeterika, tangan terkena gunting dan lain sebagainya. Kecelakaan yang terjadi jelas memerlukan bantuan. Bantuan yang diberikan pada korban secara sementara, sebelum ia sempat memperoleh perawatan/bantuan medis dari seorang ahli yang berwewenang, digolongkan sebagai pertolongan pertama atau sering juga disebut menangani situasi darurat. Pertolongan demikian tidak boleh menggantikan penanganan korban oleh dokter, kecuali pada kecelakaankecelakaan ringan yang tidak membawa akibat serius. Selain untuk menenangkan sang korban, mengurangi rasa takut dan kegelisahan, pertolongan pertama bertujuan untuk mengurangi kemungkinan terjadinya bahaya yang lebih fatal. Ketepatan tindakan pertolongan pertama amat mempengaruhi penyembuhan, cepatnya penyembuhan, bahkan kadang-kadang dapat menyelamatkan jiwa sang korban. Penanggulangan bahaya kebakaran secara darurat, apabila timbul kebakaran, maka bertindaklah secara cepat dan tepat, jangan panik atau gegabah. Langkah-langkah tindakan yang dapat dilakukan adalah : 1) bunyikan tanda bahaya / alarm sebagai tanda telah terjadi sesuatu, semakin cepat para penghuni lokasi kebakaran diingatkan, semakin banyak waktu mereka untuk menyelamatkan diri; 2). Hubungi regu pemadam kebakaran (fire fighters), karena memiliki pengalaman dan keterampilan untuk menyelamatkan siapa saja yang terjebak dalam asap, panas dan api; 3). Padamkan api dengan perlengkapan yang tersedia, setiap ruangan sebaiknya tersedia pengingat yang memberitahukan apa yang harus dilakukan jika terjadi kebakaran; 4). Apa bila tidak berhasil memadamkan, maka segera tinggalkan lokasi tersebut; 5). Beri tahu orang lain agar segera menghindar dan jangan memasuki ruangan yang telah terbakar; 6). Apabila asap telah mulai memasuki ruangan, maka 85

107 anda harus keluar ruangan dengan cara merayap; 7). Jika ada kecelakaan, korban perlu mendapat pertolongan pertama. Tindakan-tindakan pertolongan pertama yang penting ialah yang menyelamatkan jiwa antara lain : penyadaran, menghentikan perdarahan, serta pertolongan terhadap luka-luka kecil. Peraturan pertolongan pertama pada kecelakaan, terpenting adalah : 1). Pahami benar apa yang tidak boleh anda lakukan, karena tidak diobati adalah lebih baik dari pada pengobatan yang salah; 2). Pahami benar-benar apa yang harus anda kerjakan, untuk itu bertindaklah cepat bila jiwa korban terancam; serta 3). Minta segera pertolongan ahli dan dokter pada semua kecelakaan berat. F. Jenis-jenis Kecelakaan Kerja 1. Tangan Tertusuk Jarum Ketika menjahit jika tidak berhati-hati siswa/pekerja diancam oleh tusukan jarum, baik jarum tangan ataupun jarum mesin. Tusukan jarum mesin lebih berbahaya, apalagi mesin yang dioperasikan dengan dinamo listrik. Sangatlah penting jika hal ini terjadi, sikorban mesti diselamatkan dengan cara : a. Matikan sumber aliran listrik kemesin jahit. b. Laporkan kepada guru pembimbing praktek di workshop c. Buka jarum mesin dari mesin jahit d. Cabut jarum mesin dari jari/tangan yang tertusuk e. Lakukan penekanan pada bekas tusukan jarum, biarkan darah keluar beberapa menit untuk membersihkan bekas tusukan dari penyebab infeksi f. Bersihkan darah/bekas tusukan jarum dengan bahan yang bersih g. Bila masih berdarah balut bekas tusukan dengan menggunakan kain kasa h. Bila korban mengeluh kesakitan dan darah masih banyak keluar, mintalah pertolongan dokter 2. Luka Terkena Gunting Kegiatan jahit menjahit tidak terlepas dari pemakaian guntuing. Jika siswa/pekerja kurang berhati-hati dalam pemakaiannya maka kemungkinan gunting tersebut akan membuat siswa/pekerja jadi terluka dibuatnya. Jika luka karena gunting/benda tajam lainnya lakukan pertolongan sebagai berikut: a. Pastikan lukanya kecil atau besar b. Biarkan luka kecil atau besar berdarah bebas beberapa menit untuk membersihkannya dari penyebab infeksi c. Bersihkan luka dengan bahan yang bersih d. Jika lukanya kecil tempelkan kasa steril anti septik dan balut dengan kain kasa e. Jika lukanya besar atau dalam, mintalah pertolongan dokter 86

108 3. Kecelakaan Listrik Kecelakaan listrik dapat mengakibatkan terbakar, jatuh dan kejutan listrik. Salah satu dari padanya dapat menimbulkan bermacam-macam gejala pada korban yang tertimpa salah satu atau campuran dari akibat tersebut. Sangatlah penting untuk dapat mengenal macam-macam gejala itu. Hal-hal yang terpenting yang harus diperhatikan pada kecelakaan sengatan listrik ialah apakah korban masih bernafas dan jantungnya masih berdenyut atau keduanya berhenti (tidak bernafas dan jantung tidak berdenyut) ataupun bekerja secara lemah. Kedua hal terpenting inilah yang harus segera dipulihkan kembali. Bila menghadapi tugas harus menolong korban kecelakaan listrik, bertindaklah cepat dan menurut urutan berikut: a. Matikan sumber aliran listrik ke alat yang rusak, atau bila tidak mungkin, hindarkan korban dari aliran listrik. b. Lakukan pertolongan (pertama) kecelakaan berdasarkan gejala si korban. c. Segera setelah anda melihat seseorang dapat kejutan listrik, cepat perhatikan kedaan umum. Tetapkan cara terbaik untuk membebaskan dari hubungan listrik, tanpa menyebabkan tambahan cidera akibat jatuh. d. Bila mungkin matikan aliran listrik yang bersangkutan. Pada arus listrik bertegang rendah, periksa apakah korban bermuatan listrik dengan cara menyentuhnya cepat-cepat dengan punggung telapak tangan. e. Bila anda merasakan kejutan kecil, ini menunjukkan masih ada arus listrik, dorong atau tarik dan berusahalah untuk melepaskan si korban. f. Pindahkan korban hanya bila dia dalam bahaya dari kebakaran, listrik, benda jatuh atau sumber bahaya lain. Bila korban harus dipindahkan, mintalah bantun tiga atau empat orang. g. Cegahlah membungkukkan atau membongkokkan leher atau punggungnya, jaga dia agar tetap lurus. h. Topanglah anggota badan yang terluka. i. Kemungkinan besar penyadaran akan berhasil bila dimulai dari semenit sesudah korban berhenti bernafas. Jadi jangan tangguhkan menerapkan penyadaran j. Bila korban bernafas dan jantungnya berdenyut, dia tidak memerlukan penyadaran. Bila dia pingsan, berdarah, muntahan, gigi lepas atau gigi palsu patah ada kemungkinan tertelan dan menyumbat jalan pernafasan, atau kalau korban telentang, lidah kebelakang dan menghalangi jalan nafas. Pembekokkan leher akut kedepan pada korban yang pingsan mungkin pula menghalangi jalan pernafasan. 87

109 4. Cidera Mata a. Dilarang menggosok mata yang di dalamnya terdapat benda asing. b. Suruhlah korban menahan matanya tenang-tenang agar matanya jangan sampai bergerk. c. Jangan sentuh permukaan mata dengan apapun. d. Aturlah pertolongan pengobatan. e. Balutlah kedua mata longar-longgar. f. Bimbinglah korban ke tempat pos pengobatan 5. Lecet/Luka Kecil dan Memar a. Laporkan selalu dan obatilah semua luka tanpa kecuali, betapapun kecil tampaknya, karena setiap luka dapat terkena infeksi dan meradang jika tidak seger diobati. b. Biarkan luka sedang atau kecil berdarah bebas beberapa menit untuk membersihkannya dari penyebab infeksi. c. Dilarang menutup luka dengan kain tua, saputangan atau jari kotor. d. Bersihkan luka dengan bahan bersih. e. Tempelkan kasa steril anti-septik dan balutlah, plester/balutlah luka kecil. f. Mintalah pertolongan dokter untuk semua luka yang dalam. 6. Luka Bakar dan Air Panas a. Mintalah segera untuk pertolongan medis/dokter, tergantung pada beratnya luka. b. Luka bakar terbaik diobati dengan menyiramnya di bawah aliran air dingin yang bersih. c. Jangan merobek atau menarik pakaian yang melekat pada luka bakar. d. Jangan mencoba membuang teh panas, atau zat yang serupa dari kulit. g. Jaga korban jangan sampai shock. h. Bila mungkin lakukan balutan kering steril, atau tutupi luka bakar dengan kain atau handuk bersih atau kertas biasa. Jangan menyentuh bagian terbakar yang kulitnya melepuh atau yang jelas terlihat dagingnya hangus 7. Kejutan (shock) Hampir setiap kecelakaan atau luka diikuti oleh kejutan. Korban mungkin pucat dan kulitnya mengerut, denyut lemah dan cepat, dan mungkin dia pingsan. a. Istirahatkan penderita b. Jaga penderita tenang dan hangat c. Longgarkan pakaian yang ketat 88

110 d. Jaga penderita agar tetap tenang dan yakinkan pertolongan akan cepat datang. 8. Keracunan Pada semua kejadian keracunan mintalah segera pertolongan dokter. Bila seseorang terisap asap beracun: a. Pindahkan korban ke udara segar b. Jaga korban jangan sampai shock c. Bantulah pernafasan bila pernafasan terhenti (jangan dengan cara pernafasan buatan dari mulut ke mulut) 9. Perdarahan dan Cara menghentikannya Menghentikan perdarahan secara umum ialah dengan jalan memberikan tekanan pada luka. Pada perdarahan hebat atau perdarahan yang sukar dihentikan usahakan dengan segera untuk memanggil dokter. a. Hidung berdarah : 1). Suruh korban duduk tenang dengan kepala menunduk. 2). Jangan biarkan dia bersin 3). Jepit atau suruh jepit sendiri kuat-kuat hidung pada sambungan tulang rawan. 4). Bila perdarahan tidak berhenti dalam 5 sampai 10 menit, mintalah pertolongan dokter. Gambar 20. Hidung Berdarah b. Pergelangan tangan luka sehingga terjadi perdarahan hebat. 1). Tekan luka dengan tangan anda, atau pencet kedua tepi luka anda secara serentak. Bila sempat, mula- 89

111 mula tutup luka dengan sapu tangan bersih atau kain pembalit sebelum memberi tekanan. Gambar 21. Perdarahan hebat: naikkan tangan yang luka, tekan kedua tepi luka secara serentak Gambar 22. Membalut luka dengan kasa tebal 2). Tahan tekanan pada luka dengan perantaraan kasa tebal dan balut erat-erat pada tempatnya. Kasa harus cukup besar untuk menutupi seluruh luka dan seluruh kasa harus tertutup kain pembalut. 3). Bila korban mengeluh kaku, gatal atau nyeri pada jari atau jari kaki yang dibalut ini berarti balutan terlalu erat, kendorkan sedikit. 4). Bila masih berdarah, tambahkan kasa lagi dan balut tanpa membuang kasa pertama. 90

112 5). Kadang-kadang sepotong benda asing menancap pada luka (kaca, logam, kayu). Dalam hal demikian, berikan tekanan pada tepi luka dengan memasang kasa sekitar luka dan memblutnya ditempatnya. Gunakan pula cara ini bila ada potongan tulang menonjol keluar. G. Menerapkan Praktek Kesehatan dan Keselamatan Kerja Bagi peserta didik/pekerja dimanapun berada menerapkan K 3 adalah hal yang sangat penting, untu itu semua pihak hendaklah menerapkan hal sbb: 1. Pengusaha menyediakan alat-alat perlindungan keselamatan kerja, seperti : sandal jepit, masker, sarung tangan, helm, kaca mata, alat kerja yang bukan penghantar listrik, tangga, dsb. 2. Untuk mencegah terjadinya kecelakaan kerja, semua pekerja harus mentaati seluruh peraturan dan tata cara pemakaian alat kerja serta ketentuan kerja yang dikeluarkan perusahaan dengan berpedoman pada UU no 1 th Alat-alat pemadaman kebakaran harus ditempatkan ditempat yang mudah terlihat dan terjangkau, serta diberi cat berwarna merah. 4. Semua pekerja wajib mengetahui tempat alat-alat pemadam kebakaran dan mengetahui cara penggunaannya. 5. Benda-benda yang mudah terbakar harus diperhatikan keamanannya, serta dilakukan tindakan pencegahan terhadap bahaya kebakaran. 6. Bila terjadi kebakaran, pluit/tanda bahaya atau tanda khusus lainnya harus segera dibunyikan, dan para pekerja yang ada ditempat kejadian tersebut, terutama pria dan petugas pemadam/penanggulangan kebakaran harus berusaha memadamkan, dan para pekerja lain harus turut membantu bilamana diperlukan. 7. Secara periodik akan dilaksanakan latihan pemadam kebakaran dan pembinaan-pembinaan terhadap regu pemadam kebakaran yang telah dibentuk dengan tujuan sbb: a. Mencegah dan Mengurangi Kecelakaan 1) Seluruh peralatan yang pengoperasiannya menggunakan arus listrik, kompor/api, ataupun peralatan lainnya yang mudah pecah/rusak, harus dilengkapi dengan petunjuk pemakaian dan keselamatan kerja. 2) Pengoperasian peralatan seperti pada ayat 1 di atas, harus tetap dibawah pengawasan instruktur. 3) Praktikan yang akan menggunakan peralatan seperti pada ayat a) diatas, terlebih dahulu harus memahami petunjuk pemakaian dan keselamatan kerja. 91

113 4) Setiap praktikan diwajibkan memakai alat pengaman sesuai dengan perlatan yang digunakannya. b. Mencegah, Mengurangi dan Memadamkan Kebakaran 1). Penempatan Racun Api harus pada tempat yang mudah dijangkau. 2). Pemeriksaan Racun Api harus dilakukan secara berkala oleh ahlinya. 3). Bahan yang mudah terbakar (minyak, bensin, alkohol dan lainnya) harus dijauhkan dari peralatan yang mudah menularkan api. 4). Sebelum menutup laboratorium (setiap hari), teknisi diwajibkan untuk memeriksa kompor dan peralatan lainnya yang dapat menimbulkan bahaya kebakaran. c. Memberi Pertolongan pada Kecelakaan 1). Kelengkapan alat P3K harus tetap diperiksa dan dilengkapi 2). Pertolongan pada setiap kecelakaan harus diberikan sesuai dengan tata cara yang semestinya. d. Memperoleh Penerangan yang Cukup 1). Kuat penerangan minimum untuk laboratorium adalah 200 Lux. 2). Untuk mencapai kuat penerangan seperti pada ayat a) diatas, maka lobang cahaya (pintu dan jendela) harus tetap dalam keadaan terbuka. 3). Apabila melalui cahaya seperti pada ayat b) di atas, kuat penerangan belum memadai, maka diupayakan dengan penerangan buatan. 4). Sebelum meninggalkan laboratorium, periksa dan matikan semua instalasi. H. Merapikan area dan tempat kerja Menjaga/memelihara area dan tempat kerja membutuhkan perhatian dan kewaspadaan yang terus menerus. Satu upaya penyelamatan juga tergantung pada unjuk kerja setiap pekerja/siswa yang bekerja ditempat tersebut. Kecelakaan sangat mudah terjadi, untuk itu setiap bekerja dan selesai bekerja, tempat kerja perlu dirapikan. Untuk merapikan area tempat kerja disekolah bisa dilakukan bersama-sama atau bertugas sesuai dengan uraian tugas masing-masing. Komitmen untuk merapikan area tempat kerja harus dilaksanakan bersama-sama seperti uraian tugas berikut. 92

114 1. Kesehatan kerja a. Tempat kerja pekerja dipelihara kebersihan dan kerapihannya, dan untuk kesehatan bersama, dilarang : meludah di lantai, membuang sampah di sembarang tempat. b. Setiap pekerja harus mematuhi dan melaksanakan instruksiinstruksi tentang pemakaian alat-alat perlindungan K-3 yang disediakan perusahaan. c. Setiap pekerja yang mengetahui pekerja lain menderita penyakit menular, seperti : lepra, syphilis, kolera, TBC, demam berdarah muntaber, dsbnya, harus melapor kepada pimpinan perusahaan atau atasannya tentang penyakit tsb untuk diambil langkah-langkah pencegahan. 2. Tugas dan tanggung jawab a. Kepala laboratorium 1). Melakukan pengawasan terhadap pelaksanaan peraturan umum keselamatan kerja. 2). Bersama-sama dengan instruktur, membuat petunjuk pemakaian peralatan serta menjabarkan aturan keselamatan kerjanya. 3). Menjatuhkan sanksi bagi mahasiswa yang tidak mengindahkan peraturan keselamatan kerja. b. Instruktur 1). Memberikan petunjuk dan penjelasan kepada pratikan tentang: a). Kondisi bahaya yang dapat timbul dalam tempat kerja b). Semua pengaman dan alat-alat perlindungan diri bagi pratikan. c). Cara-cara dan sikap yang aman dalam mengoperasikan peralatan 2). Bersama-sama dengan kepala labor, membuat petunjuk pemakaian peralatan serta menjabarkan aturan keselamatan kerjanya. 3). Memberikan pertolongan pada setiap kecelakaan dan melaporkannya kepada kepala laboratorium. c. Teknisi 1). Memasang pada tempat kerja (pada tempat-tempat yang mudah terlihat dan terbaca) 2). Membantu instruktur dalam hal penyedian alat perlindungan diri bagi praktikan atau pengguna jasa laboratorium (khusus yang berada di labor) 3). Memeriksa dan melengkapi obat-obatan P3K 93

115 d. Praktikan 1). Mematuhi dan mentaati semua syarat-syarat keselamatan dan kesehatan kerja. 2). Memakai alat-alat perlindungan diri yang diwajibkan. 3). Memberikan keterangan yang jujur dan benar, apabila terjadi kecelakaan. 3. Menyelenggarakan Penyegaran Udara yang Cukup Agar sirkulasi udara tetap berjalan dengan baik, maka pintu dan jendela harus dalam keadaan terbuka (selama ada praktikum). 4. Memelihara Kebersihan, Kesehatan, dan Ketertiban a. Laboratorium harus tetap dalam keadaan bersih, baik sesudah maupun sebelum praktikum, untuk itu instruktur perlu mengatur grup/piket kebersihan yang bertanggung jawab atas kebersihan laboratorium. b. Laboratorium harus menyiapkan tempat penampungan sementara bahan-bahan sisa praktikum, sebelum dipindahkan ke tempat pembuangannya. c. Air buangan/ sisa bahan pencuci lainnya, harus ditampung pada tempat tertentu yang sengaja dibuat untuk itu. d. Air buangan sisa bahan pencuci lainnya yang mengandung zat kimia tidak boleh dibuang langsung ke saluran atau sungai tanpa dinetralisir terlebih dahulu. e. Setiap orang yang berada di laboratorium harus mentaati tata tertib yang berlaku. 5. Mengamankan Pengangkutan Bahan dan Peralatan a. Pemasukan dan pengeluaran bahan dan peralatan ke dan dari laboratorium harus mendapat persetujuan kepala laboratorium dan dilakukan dengan penuh kecermatan dan ketelitian. b. Untuk kelancaran dan keselamatan bahan dan peralatan yang keluar masuk laboratorium, maka laboratorium diwajibkan untuk menyiapkan cara/prosedur/alat pengangkut dan jalan khusus. 6. Mengamankan dan Memelihara Laboratorium Seluruh pratikan/ pengguna jasa laboratorium, diwajibkan untuk mengamankan dan memelihara laboratorium termasuk alat dan peralatan serta perabotannya. 7. Pencegahan Bahaya Aliran Listrik a. Pemeriksaan dan perawatan sekring, fitting,saklar, sistem pertanaha, dan kabel sambung aliran listrik harus dilakukan secara berkala. b. Bahan-bahan yang mudah menularkan aliran listrik (air, dan lain-lain) harus dijauhkan dari instalasi 94

116 c. Periksa apakah tegangan listrik yang ditunjukkan pada pelat sesuia dengan tegangan listrik setempat sebelum anda menghubungkan alat ini. d. Jangan sekali-kali meningkalkan seterika ini tanpa ditunggui ketika sedang dihubungkan dengan listrik e. Jangan sekali-kali menyelupkan setirika ke dalam air f. Jauhkan alat dari jangkauan anak-anak g. Pelat tapak seterika dapat menjadi panas sekali dan dapat menyebabkan luka bakar kalau disentuh. Jangan biarkan kabel bersinggungan dengan pelat tapak seterika ketika sedang panas h. Jangan memasukkan farfum, cuka, kanji, zat pembersih kerak, cairan buat menyeterika atau bahan kimia lainnya kedalam tangki air i. Bila anda sudah selesai menyeterika, ketika membersihkan alat seterika mengisi atau menggosongkan tempat airnya dan juga ketika anda meninggalkan seterika sekalipun hanya sebentar saja: aturlah pengendali uapnya pada posisi O, taruhlah seterika dengan posisi berdiri pada tumitnya dan cabut steker listrik dari stopkontak diding. j. Jika kabel listrik rusak, maka harus diganti oleh philips, authorized servis Philips atau orang yang mempunya keahlian sejenis agar tehindar dari bahaya. k. Jangan sekali-kali memakai alat seterika ini jika terdapat kerusakan apapun. l. Alat ini dimaksudkan untuk digunakan hanya dalam rumah tangga. 8. Sebelum pertama kali digunakan a. Bacalah petunjuk ini secara seksama sebelum menggunakan alat dan simpan untuk rujukan di kemudian hari b Periksa apakah tegangan listrik yang ditunjukkan pada pelat sesuai dengan tegangan listrik setempat sebelum anda menghubungkan alat ini c. lepaskan stiker atau foil pelindung dari pelat tapak seterika d. panaskan seterika sampai suhu maksimum dan seterikakan pada sehelai kain lembab selama beberapa menit untuk menghilangkan sisa-sisa kotoran apa saja dari pelat tapaknya. Seterika ini mungkin akan mengeluarkan asap ketika pertama kali digunakan. Ini akan berhenti dengan sendirinya setelah beberapa saat. 9. Persiapan menggunakan seterika. a. Mengisi tangki air. 1). Cabut steker penghubung listrik dari stopkontak. 2). Setel pengedali uap pada posisi O (=tanpa uap) 95

117 3). Buka tutup pengisi (hanya tipe-tipe GC2225, GC2220, GC2215, GC2130, GC2125 dan GC2120) 5). Miringkan seterika 6). Gunakan gelas ukur untuk mengisi tangki air sampai level maksimum. 7). Pasang kembali tutup pengisian (klik!) Jika air keran di sekolah/daerah anda memiliki kesadahan yang sangat tinggi, di sarankan agar anda menggunakan air yang didistilasi. Jangan menggunakan cuka, kanji, atau cairan yang mengandung bahan kimia, dan jangan mengisi tangki air melewati tanda batas MAX. b. Menyetel suhu 1. Taruhlah seterika pada posisi berdiri pada tumitnya. 2. Setel pengatur suhu ke suhu penyeterikaan yang diinginkan dengan memutarnya keposisi yang sesuai. 3. Periksa label pakaian unutk mengetahui suhu seterika yang diperlukan 4. Jika anda tidak tahu terbuat dari bahan apa pakaian yang akan anda seterika, tentukan suhu penyetrikaan yang benar dengan menyeterika bagian pakaian yang tidak akan terlihat bila sedang anda pakai. 5. Bahan sutra, wol dan simtetis: seterika sisi belakang kain untuk mencegah timbulnya bagian yang mengkilat. Hindari penggunaan fungsi penyemprot untuk mencegah noda. 6. Pasang steker pada stopkontak yang ada ardenya 7. Setelah lampu petunjuk suhu berwarna kuning mati, tunggu sebentar sebelum mulai menyeterika. Lampu pilot warna kuning akan menyala dari waktu kewaktu selama penyeterikaan. Apabila fungsi pemutus panas otomatis aktif (lampu pilaot merah berkedip) gerakan seterika sedikit untuk me non aktifkan fungsi ini (lampu pilot merah berhenti berkedip) c. Menggunakan seterika 1. Menyeterika dengan uap a. Pastikan bahwa ada cukup air dalam tangki air. b. Setel pengatur suhu sesuai dengan posisi yang disarankan lihat Menyetel suhu. c. Setel pengendali uap sesuai dengan pasisi uap yang di inginkan. d. Penguapan akan mulai begitu suhu yang disetel tercapai 2. Menyeterika tanpa uap a. Setel pengendali uap pada posisi 0 (=tanpa uap). 96

118 b. Setel pengatur suhu sesuai dengan posisi yang disarankan. 3. Menyemprot Untuk menghilangka kusut atau lipatan yang membandel pada suhu berapa saja a. Pastikan bahwa ada cukup air didalam tangki air. b. Tekan tombol penyemprot beberapa kali untuk melembabkan pakaian yang akan diseterika. c. Semburan uap yang kuat dapat membantu menghilangkan lipatan yang sangat membandel. d. Fungsi semburan uap dapat pula digunakan ketika anda memegang seterika pada posisi vertikal. Ini berguna untuk menghilangkan lipatan pada pakaian, gorden dll. Yang tergantung. e. Jangan sekali-kali mengarahkan uap pada orang. f. Seterika akan berhenti mengeluarkan uap secara otomatis bila suhunya terlalu rendah untuk mencegah agar air tidak menetes keluar dari pelat tapak kaki seterika. Bila ini terjadi, anda akan mendengar bunyi klik. g. Sebuah alat pengaman elektronik akan secara otomatis mematikan elemen panas jika seterika tidak digerakan selama beberapa saat. h. Untuk menunjukan bahwa elemen panasnya telah dimatikan, lampu pilot berwarna merah petunjuk pemutus panas otomatis mulai berkedip. 4. Untuk memanaskan seterika kembali: a. Angkat seterika atau gerakan sedikit b. lampu pilot pemutus panas otomatis warna merah akan mati. Lampu pilot penunjuk suhu warna kuning akan menyala, tergantung pada suhu pelat telapak seterika. c. Bila lampu pilot bewarna kuning menyala setelah seterika digerakan, tunggu sampai lampu pilot tersebut mati sebelum mati sebelum anda mulai menyeterika. d. Bila lampu pilot bewarna kuning tidak menyala setelah seterika digerakkan, seterika tersebut siap untuk digunakan. 5. Membersihkan dan memelihara seterika a. Calc-Clean Fungsi calc-clean menghilangkan kerak dan kotoran. Gunakan fungsi Calc-Clean dua minggu sekali. Jika air didaerah anda sangat sadah (yaitu bila serpihan-serpihan kotoran keluar dari pelat tapak seterika selama 97

119 penyeterikaan berlangsung), fungsi Calc-Clean harus digunakan lebih sering, caranya adalah sebagai berikut. 1. Setel pengendali uap pada posisi O. 2. Isi tangki air sampai tingkat maksimum. Jangan menuangkan cuka atau zat pembersih kerak lainnya ke dalam tangki air. 3. Setel tombol suhu sampai MAX 4. Masukan steker ke dalam stopkontak dinding. 5. Cabut steker listrik seterika jika lampu pilot berwarna kuning mati 6. Pegang seterika di atas tempat mencuci piring dan setel pengendali uap ke posisi (Calc-Clean). Tombol pengendali uap akan terdorong keluar sedikit. 7. Tarik kenop pengendali uap ke atas untuk melepaskan jarum pengendali uap. 8. Gerakan seterika maju mundur. 9. Uap dan air yang mendidih akan keluar dari tapak alat. Kotoran dan kerak air (kalau ada) akan mengalir keluar. 10. Gunakan cuka untuk membersihkan kerak, bila ada jarum. Jangan membengkokkan atau merusakkan jarum pengendali uap tersebut. 11. Panaskan kembali jarum pengendali uap dengan menyipkan ujung jarum tersebut tepat di tengah lubang dan dengan memposisikan secara tepat tonjolan kecil pada sisi jarum ke dalam selot. Setel kenop pengendali uap ke posisi O. 12. Ulangi proses Calc-Clean tersebut jika seterika masih mengandung banyak kotoran.. Rangkuman Kesehatan dan keselamatan kerja merupakan suatu masalah penting dalam setiap proses operasional, baik disektor tradisional maupun sektor modern. Khususnya dalam masyarakat yang sedang beralih dari suatu kebiasaan kepada kebiasaan lain, perubahanperubahan pada umumnya menimbulkan beberapa permasalahan yang jika tidak ditanggulangi secara cermat dapat membawa berbagai akibat buruk bahkan berakibat fatal. Keselamatan dan kesehatan kerja harus lahir dari doktrin yang menyatakan bahwa untuk mencegah terjadinya kecelakaan kerja, semua pekerja harus mentaati semua peraturan dan tata cara pemakaian alat kerja serta ketentuan kerja yang dikeluarkan perusahaan/sekolah dengan berpedoman pada UU No 1 Tahun

120 Kecelakaan kerja semakin hari semakin mahal. Kemungkinan terjadinya kecelakaan sejalan dengan semakin canggihnya peralatan, perlengkapan dan proses produksi. Itulah sebabnya doktrin kesehatan dan keselamatan kerja harus bertumpu pada pengendalian kerugian menyeluruh dan bukan hanya pada penanggulangan. Kecelakaan kerja tidak dapat dielakkan secara menyeluruh.namun demikian setiap perencanaan, keputusan dan organisasi harus memperhitungkan aspek keselamatan dan kesehatan kerja dalam perusahaan atau sekolah, efisiensi, kemampuan karyawan/siswa, keadaan peralatan harus selaras dan seimbang agar proses produksi yang obtimal, aman dan selamat dapat dicapai. Kompetensi yang diharapkan dari materi di atas adalah : Mengikuti prosedur tempat kerja, menangani situasi darurat, Menjaga standar penampilan diri yang aman. Pelayan, karyawan atau pekerja/siswa mampu mengikuti prosedur kesehatan, keselamatan dan keamanan dalam bekerja baik disekolah kejuruan maupun diindustri busana. Evaluasi: 1. Jelaskan pengertian dari kesehatan, keselamatan dan keamanan kerja. 2. Apa yang harus diperhatikan dalam bekerja agar pekerjaan yang dilakukan sesuai dengan prosedur kesehatan, keselamatan dan keamanan kerja. 3. Jelaskan cara mengatasi kecelakaan kerja bagi siswa sbb: a. Siswa yang tertusuk jarum mesin b. Siswa yang tangannya luka terkena gunting c. Siswa yang terkena sengatan listrik sewaktu menyeterika d. Siswa yang hidungnya berdarah 4. Jelaskan manfaat menerapkan K3 ditempat kerja 99

121 BAB IV TEKNIK MENJAHIT BUSANA Teknik menjahit yang benar dapat mempengaruhi kualitas dari hasil (produk) busana, disamping pola yang baik dan ukuran yang tepat serta desain yang bagus semua merupakan suatu kesatuan dari proses pembuatan busana, salah satu diantaranya tidak benar maka tidak akan tercapai produk yang berkualitas baik. Untuk membuat suatu busana agar mendapatkan hasil yang optimal, teknik yang dipakai harus di sesuaikan dengan desain busana dan juga disesuaikan dengan bahan dasar (pabrik) yang dipakai. Berikutnya marilah kita lihat teknik menjahit busana yang perlu disesuaikan dengan desain agar kita dapat memilih dan menerapkan teknik yang tepat dan sesuai dengan busana yang akan dibuat. A. Tusuk Dasar Menjahit Tusuk dasar yaitu tusuk dengan menggunakan alat jarum tangan. Ada beberapa tusuk dasar yang biasa digunakan dalam menjahit busana, antara lain adalah sbb: 1. Tusuk Jelujur Teknik membuat tusuk jelujur, yaitu dimulai dari kanan ke kiri, guna tusuk jelujur adalah untuk membuat jahitan menjadi sempurna. Tusuk jelujur dapat dibedakan menjadi 3 bentuk. a. Tusuk jelujur biasa yaitu tusukan yang menggunakan jarak tidak sama. b. Tusuk jelujur dengan jarak tertentu yaitu tusukan dengan jarak yang sama (konsisten) berguna untuk tusuk sementara pada smook. c. Tusuk jelujur renggang yaitu tusukan dengan menggunakan sengkelik dengan spasi satu, tusukan jelujur renggang ini digunakan untuk tanda, dengan menggunakan benang rangkap yang nantinya digunting diantara tusukan tersebut sehingga meninggalkan jarak benang yang biasa dijadikan tanda dalam menjahit busana. Gambar 23. Teknik jelujur 100

122 2. Tusuk Tikam Jejak Tusuk tikam jejak yaitu tusuk jahitan dengan bentuk jika dilihat dari bagian atas tusuknya kelihatan seperti jahitan mesin dan bila dilihat dari bagian bawah tusukannya seperti jahitan rangkap. Jarak tusukan bagian bawah dua kali jarak tusukan bagian atas, teknik menjahitnya adalah dengan langkah maju sebelum melangkah mundur ke belakang dengan jarak yang sama, tusuk tikam jejak berguna untuk pengganti jahit mesin. 3. Tusuk Flanel Tusuk flanel biasa digunakan untuk mengelim pinggiran busana yang diobras. Tusuk flannel sering digunakan, terutama untuk busana yang dibuat dari bahan yang harganya mahal, disamping itu tusuk flannel juga dapat digunakan sebagai hiasan, sebagai tusuk dasar dan sulaman bayangan, untuk sulaman bayangan dengan jarak yang lebih rapat (dirapatkan) dan dapat juga mengikuti motif dekonasi. Caranya, jelujur kain yang sudah diobras 3-4 cm langkah tusukannya mundur 0,75 cm turun kebawah, tusuk jarum kekanan selanjutnya mundur lagi 0,5 cm tusuk lagi ke atas seperti tusukan pertama demikian selterusnya sampai selesai. Untuk mendapatkan hasil tusukan yang halus pada bagian bawah busana (pada rok) atau dimanapun tusuk flannel digunakan, lakukan dengan halus/tipis waktu menusukkan jarum kebahan busana, dengan demikian hasil yang didapatkan juga halus dan tipis bila dilihat dari bagian balik (bagian buruk busana). Gambar 24. Tusuk flanel 4. Tusuk Feston Tusuk feston berfungsi untuk penyelesaian tiras seperti tiras lingkar kerung lengan atau pada pinggiran pakaian bayi. Tusuk feston juga dapat berfungsi sebagai hiasan bila benang yang 101

123 digunakan adalah benang hias atau benang sulam dengan kombinasi warna yang serasi. Gambar 25. Tusuk feston 5. Tusuk Balut Tusuk balut berfungsi untuk menyelesaikan tiras pada kampuh untuk klim rol. Tusuk balut juga dapat digunakan untuk penyelesaian pinggir teknik aplikasi. Teknik menjahitnya dimulai dari kiri ke kanan atau sebaliknya kanan kekiri kesan benang dari tusukan agak miring. Gambar 26. Tusuk Balut 6. Tusuk Batang/tangkai Tusuk batang dibuat untuk hiasan, teknik menjahitnya dengan langkah mundur ± 0,5 cm dan mengaitkan 5 atau 6 benang pada bahan, jarum ditarik keluar akan menghasilkan tusuk tangkai dan seterusnya tusuk mundur lagi seperti yang pertama begitu seterusnya sampai selesai. Untuk membuat tangkai yang lebih besar maka jarak tusukan dirapatkan dan mengaitkan kain lebih banyak (besar). Gambar 27..Tusuk batang/tusuk tangkai 102

124 7. Tusuk Rantai Tusuk rantai fungsinya untuk membuat hiasan tekniknya dengan langkah maju, dengan memasukkan jarum dari bawah ke atas, kemudian tusukan kembali pada lubang tempat jarum dilingkarkan pada jarum, ditarik sehingga benang yang melingkar berada di lobang kedua selanjutnya jarum kembali menusuk lobang tempat jarum keluar dan ekor benang melingkar pada jarum seperti semula, begitu seterusnya sampai selesai dengan mengikuti motif hiasannya. Gambar 28. Tusuk rantai 8. Tusuk Silang Tusuk ini berfungsi untuk membuat hiasan. Teknik pengerjaannya dengan langkah sebagai berikut: dimulai dari kanan atas ke kiri bawah, terus kekanan bawah (tusukan pertama). Kemudian tusuk ke dua di mulai dari kanan bawah terus kekiri atas, letak tusukan sejajar baik tusukan bagian atas maupun tusukan bagian bawah, (tusukan yang terlihat menyilang diatas kain) dan seterusnya sampai selesai. Gambar 29. Tusuk silang 103

125 9. Tusuk Piquar Tusuk piguar biasanya berfungsi untuk memasangkan bulu kuda pada jas atau mantel. Disamping itu tusuk piquar dapat juga digunakan sebagai tusuk hias pada busana atau lenan rumah tangga. Gambar 30. Tusuk piquar B. Kampuh Dasar (Menggabungkan) Untuk menyatukan bagian-bagian dari potongan kain pada pembuatan busana seperti menyatukan bahu muka dengan bahu belakang, sisi kiri muka dengan sisi kanan belakang dsb, sisa sambungan disebut dengan kampuh. Teknik menjahit sambungan supaya hasilnya kuat, maka setiap penyambungan baik diawal ataupun diakhir tusukan harus dimatikan, agar tidak mudah lepas yaitu dengan cara menjahit mundur maju atau dengan cara mengikatkan ke dua ujung benang. Pemakaian kampuh disesuaikan dengan kegunaan yang lebih tepat. Kampuh (teknik menggabungkan) ada bermacammacam antara lain: 1. Kampuh Terbuka Kampuh terbuka yaitu kampuh yang tiras sambungannya terbuka/di buka, teknik peyelesaian tiras ini ada beberapa cara: a. Kampuh terbuka dengan penyelesaian setikan mesin, penyelesaian tiras dengan cara melipat kecil pinggiran tiras dan disetik dengan mesin sepanjang pinggiran tersebut. b. Kampuh terbuka dengan penyelesaian tusuk balut, yaitu penyelesaian tiras di sepanjang pinggiran tiras diselesaikan dengan tusuk balut. c. Kampuh terbuka yang diselesaikan dengan obras, yaitu penyelesaian di sepanjang pinggiran tiras diselesaikan 104

126 dengan diobras. Cara ini pada saat sekarang banyak di pakai terutama untuk busana wanita dan busana pria (celana pria). d. Kampuh terbuka diselesaikan dengan rombak (dijahit dengan kain serong tipis, dilipat dan disetik) ini hanya dipakai untuk busana yang dibuat dari bahan/kain tebal. Kegunaannya untuk menyambungkan (menjahit) bagianbagian bahu, sisi badan, sisi rok, sisi lengan, sisi jas, sisi mantel, sisi celana, dan belakang celana. Gambar 31. Kampuh terbuka 2. Kampuh Balik Kampuh balik yaitu kampuh yang dikerjakan dengan teknik membalikkan dengan dua kali jahit dan dibalikkan dengan cara, pertama dengan menjahit bagian buruk menghadap bagian buruk (bagian baik) yang bertiras dengan lebar tiras dengan ukuran 3 mm, jika memungkinkan dibuat lebih halus/kecil, kemudian dibalikan dan di jahit dari bagian buruk menghadap bagian baik dengan pinggir tirasnya masuk kedalam, hasil kampuh ini paling besar 0,5 cm. Kegunaan kampuh balik untuk: a. Menjahit kebaya yang dibuat dari bahan tipis b. Menjahit kemeja c. Pakaian tidur dsb. 105

127 Gambar 32. Kampuh balik 3. Kampuh Pipih Kampuh pipih yaitu kampuh yang mempunyai bekas jahitan pada satu sisi sebanyak dua setikan, dan sisi yang sebelahnya satu setikan, kampuh ini bisa dipakai untuk dua sisi (untuk bagian luar atau bagian dalam yang mana keduanya sama-sama bersih). Teknik menjahit kampuh pipih, lipatkan kain yang pinggirannya bertiras selebar 1,5 cm menjadi 0,5 cm, tutup tirasnya dengan lipatan yang satu lagi. Kampuh ini dipakai untuk menjahit kain sarung, kemeja, celana, jaket, pakaian bayi, dsb. Gambar 33. Kampuh pipih 4. Kampuh Perancis Kampuh perancis adalah kampuh yang hanya terdiri dari satu jahitan yang didapatkan dengan cara menyatukan dua lembar kain. Kain bagian baik berhadapan sesama baik, tetapi tidak sama lebar/ pinggirnya, lipatkan pinggir kain yang satu (kain yang lebih lebar) dengan kain yang lain, lalu jahit tiras dengan lebar 0,6 mm. Kampuh perancis ini cocok dipakai untuk menjahit bahan yang tipis. Gambar 34. Kampuh perancis 106

128 5. Kampuh Sarung Kampuh sarung adalah kampuh yang tampak dari kedua sisinya. Cara melakukan setikan kampuh sarung adalah sebagai berikut: pinggiran (a) dan (b) sama-sama besar, kampuh semula 1 cm lalu keduanya di kumpul berpadu, tiras dilipat dengan posisi saling berhadapan dan dapat dibantu dengan jelujuran. Tirasnya sama-sama di lipat menjadi 0,5 cm lalu dijahit pinggirannya dari bagian buruk. Kegunaan kampuh sarung ini adalah untuk menjahit kain sarung pelakat (kain sarung bercorak/kotak-kotak) ketika menjahit corak/kotaknya harus sama juga untuk menjahit kemeja, jas, dan jaket. Gambar 35. Kampuh sarung C. Teknik Menjahit Bagian-bagian Busana 1. Menjahit Tepi Pakaian Menjahit tepi pakaian yang terdapat pada garis leher, kerung lengan, tepi kelim (bawah rok, blus, ujung lengan) dan sebagainya. Penyelesaian ini dapat berupa depun, serip, rombak dan lainlain.untuk lebih jelasnya dapat dilihat satu-persatu. a. Teknik mengelim Mengelim/lebar kelim bervariasi sesuai dengan model serta jenis bagian busana yang akan di kelim. Untuk bagian bawah busana lebar kelim berkisar dari 1 s.d 5 cm. Untuk gorden agar lebih seimbang lebar kelim 5 s.d 7 cm dan ada juga yang lebih lebar dari itu, yang penting ada keseimbangan antara lebar,panjang/tinggi gortden tersebut. Kelim dapat dilakukan dengan tangan dan dengan mesin, supaya hasil yang didapatkan lebih indah dan bagus kelim dapat dikerjakan dengan tangan. 1) Mengelim Mengelim dipakai untuk bawah rok, blus, kebaya, ujung lengan dsb. 107

129 Untuk mengelim bagian-bagian busana tesebut di atas, lebar kelim berkisar antara 3 s.d 5 cm,caranya: a) Lipatkan pinggir rok sesuai lebar yang kita inginkan b) Tirasnya dilipatkan kedalam lebih kurang 1 cm dan dibantu dengan jelujuran c) Kemudian di sum dengan jarum, upayakan dalam lipatan betul-betul rata dan dijahit dengan jarum tangan. Mengelim/menusukkan benang kebahan pada bagian bawah lebih kurang 3 helai benang, sehingga tidak kelihatan bekas tusukannya, cara ini dilakukan terus-menerus sampai selesai. Supaya hasilnya kuat dan hasil tusukan tidak gampang lepas lebih kurang setiap 6 langkah tusukan dimatikan agar tidak lepas. Gambar 36. Mengelim 2) Kelim sumsang Teknik mengerjakan/caranya sama dengan mengelim, tapi beda kerjanya pada cara memasukkan jarumnya yaitu dua kali dalam satu lubang sehingga benangnya mati dan tidak mudah lepas. Jika ada yang putus kegunaan sama dengan mengelim. Gambar 37. Kelim sungsang 3) Kelim tusuk flanel Kelim tusuk flanel yaitu kelim yang bahan pinggirnya di obras, tanpa melipatnya kedalam. Terutama dipakai untuk teknik pengerjaan yang kelimnya lebih rapi dan lebih 108

130 berkualitas dan juga untuk bahan yang tebal, untuk rok, blus, ujung lengan dan sebagainya. Caranya : a). Dilipitkan pinggir rok, selebar yang dinginkan dan di bantu dengan jelujur; b). Dijahit dengan tusuk flanel yang satu diatas keliman tidak tembus sampai keluar dan yang satunya dibawah kelim dekat pinggir lipatan dengan langkah mundur; 3). Hasil dari bagian baik hanya tampak satu baris dengan jarak 0.5 CM Gambar 38. Kelim tusuk flannel 4) Kelim yang dirompok Kelim yang di rompok terutama untuk bahan yang tebal seperti jas, mantel, teknik pengerjaannya sama dengan disum, cuma tiras pinggirnya tidak dilipatkan tapi dirompok dengan bahan yang tipis agar tidak terlalu tebal, kemudian baru di sum. Gambar 39. Kelim yang dirompok 5) Kelim palsu Kelim palsu yaitu kelim untuk mengatasi masalah bila panjang kain tidak cukup untuk dibuat keliman, atau bahan yang terlalu tebal untuk dikelimkan, maka dibuat kelim palsu. Membuat kelim palsu yaitu dengan cara menyambungkan kain untuk kelim, kain yang digunakan bisa bahan yang sama atau bahan lain yang lebih tipis(jika 109

131 bahan yang akan disambung terlalu tebal) tetapi warna kain penyambungnya sama dengan bahan pakaian. Cara penggabungannya adalah: Gunting kain sesuai dengan bentuk yang akan disambung, lalu disatukan dan dikelim dengan som. Lebar hasil setikan penyambungan tidak lebih dari 0.5 cm. Untuk kelim, kelim som, kelim sumsang, tusuk flanel dan kelim rompak di kerjakan dengan jarum tangan, tapi untuk merompok biasa dikerjakan dengan jahit mesin dan untuk mensom keduanya tetap dengan tangan. Gambar 40. Kelim palsu 6) Kelim tindas Kelim tindas yaitu kelim yang dijahit dengan mesin. Cara mengerjakan kelim tindas adalah, kelim dilipitkan sesuai dengan keinginan dan dilipatkan kurang lebih 1 cm, kemudian ditindas dengan mesin, hasil tindasan hanya satu jahitan yaitu pada pinggir kelim. Ini biasanya dipakai untuk pinggiran kemeja, ujung kaki piyama, kaki celana, bawah rok, blus, dsb. 7) Kelim konveksi Kelim konveksi yaitu kelim yang sering dipakai untuk menjahit pakaian konveksi, yaitu untuk keliman rok, blus, kemeja, ataupun kaki celanan. Caranya sama dengan kelim tindas tapi perbedaannya terletak pada tusukannya. Tusukan kelim konveksi terdiri dari 2 baris yaitu di atas dan dibawah (double) dan lebarnya kurang lebih 1 cm. 8) Kelim rol. Dapat dibuat dengan dua cara : a) Kelim yang dibuat dengan mesin serbaguna dengan memakai sepatu rol serta setikan zig-zag. b) Kelim juga dapat dibuat dengan cara manual, dengan memakai jarum tangan dengan cara menggulung kecil tiras, kemudian dijahit dengan tusuk balut. Kegunaan adalah kelim rol untuk mengelim pinggiran kain yang tipis, pinggiran baju kerut/rimpel, ujung lengan pof, dsb. 110

132 Gambar 41. Kelim rol 9) Kelim som mesin Kelim som mesin ini adalah kelim yang bekasnya di bagian baik seperti som tangan tetapi dengan menggunakan mesin, caranya : a) Pinggir kain dikelim dengan jelujur sesuai dengan yang diinginkan b) Kemudian kelim dilipatkan dengan bagian keliman kebawah sebesar keliman yang disisakan biasanya 0.2 cm c) Dijahit pada sisa keliman dengan cara sepatu mesin sedikit di angkat d) Kemudian turunkan sepatu mesin dan jahit terus berulang-ulang sampai selesai e) Kelim som dapat dijahit dengan memakai mesin serbaguna f) Kelim som dapat juga dibuat dengan memakai mesin khusus untuk garmen. g) Mensom bahan-bahan yang tebal dan untuk konveksi (garmen) agar pekerjaan lebih efektif dan efisien. Gambar 42. Kelim som mesin 111

133 b. Teknik menjahit depun, serip dan rompok Menjahit depun, serip dan rompok pada umumnya dipakai untuk penyelesaian leher, kerung lengan, dan sebagainya, antara lain: 1) Depun Depun yaitu lapisan menurut bentuk yang letaknya kedalam kelim depun dapat diartikan melapis/mengelim pinggiran kain dengan menggunakan kain lain yang sama bentuknya atau (sama sebangun), jika yang akan dilapisi bundar maka depaunya bundar juga, dan bila segi empat depunnya segi empat juga. Dengan lebar keliman 3 atau 4 cm atau sesuai keinginan tapi harus diseimbangkan. Caranya sbb : a) Gunting depun sesuai dengan bentuk yang akan didepun (leher). b) Letakan baik depun berhadapan dengan baik busana kemudian dijahitkan tepat pada garis pola dengan bantuan jarum pentul atau jelujuran c). Rapikan tiras dan diretak-retak sampai batas jahitan dengan jarak 1 s.d 2 cm. d). Tindih dari atas depun dan arahkan tiras ke depun. e). Pinggir depun di som dengan mengobras terlebih dahulu atau melipatkan kedalam 2 cm Gambar 43. Pemasangan depun 112

134 2) Serip Serip yaitu lapisan menurut bentuk/kain serong yang hasil lapisannya menghadap keluar. Serip berfungsi untuk penyelesaian pinggiran busana, disamping itu serip juga berfungsi untuk hiasan atau fariasi bagian busana. Serip sering dipakai pada garis leher, kerung lengan, ujung lengan, ataupun pinggir/bawah rok. Warna kain yang digunakan untuk serip, bisa kombinasi atau kain yang warnanya sepadan (serasi). Cara menjahitnya: a) Tehnik menjahit serip sama dengan menjahit depun, tapi serip hasilnya menghadapnya keluar dan kalau depun hasilnya menghadap kedalam. Teknik meletakan bahan, waktu pemasangan serip kain bagian baik menghadap ke bagian buruk busana kemudian dijahit pada garis pola. b) Tiras jahitan dirapikan dan digunting-gunting kecil/halus dengan menggunakan ujung gunting. c) Kampuh dijahit dengan posisi tiras diarahkan ke luar (kampuh terjahit). d) Dibalikan (diarahkan keluar) dan di pres dengan seterika agar rapi e) Penyelesaian serip setelah dilipatkan kedalam lebih kurang 0.5 cm dijahit pada pinggir. Gambar 44. Serip 3) Rompok Rompok adalah penyelesain pinggir pakaian dengan menggunakan kumai serong atau bisban. Rompok sering digunakan untuk menyelesaikan lingkar kerung lengan, garis leher dan sebagainya. Besarnya hasil rompok untuk lingkar kerung lengan adalah 0.5 s.d 0.7 cm yang tampak dari bagian baik dan bagian buruk. 113

135 Kumai serong didapat dengan menggunting bahan (kain) dengan arah serong (diagonal) dengan cara melipat bahan/kain dengan sudut 45 derjat dengan lebar lebih kurang 2.5 cm. Sedangkan bisban dapat dibeli di pasaran. Bisban tersedia dengan bermacammacam warna. a) Cara membuat kumai serong, kain dilipat dengan sudut 45 derajat, diukur sesuai dengan lebar yang diinginkan, lalu digunting sesuai dengan tanda. b) Cara menyambung kain serong berbeda dengan kain lurus. Menyambung kain serong harus sesuai dengan arah benang. c) Kegunaan rompok, selain untuk penyelesaian pinggiran pakaian, juga dipakai sebagai variasi atau hiasan pakaian yang biasa dipakai pada bagian leher, kerung lengan, ujung lengan, pada garis princes, garis empire atau pada kerah. d) Cara menjahitkan rompok pada garis leher sbb: Tempat memasangkan rompok pas pada tanda pola (gambar a) 1) Jahitkan kain serong pada pinggir yang akan dirompok lebih kurang 0.6 cm dari bagian baik, bagian baik bahan berhadapan, dan rapikan bis sesuai lebar yang diinginkan (gambar b) 2) Dilipatkan kedalam dengan lebar yang diinginkan dan dibagian dalam tiras kain serong dilipatkan melebihi batas rompok sebesar 1 mm (gambar c) Gambar 45. Menjahit rompok 114

136 2. Pemasangan Lengan Desain lengan ada bermacam-macam seperti lengan licin, lengan kop, lengan poff, lengan kop poff, lengan reglan dan sebagainya. Teknik pemasangan setiap jenis lengan ini juga berbeda disesuaikan dengan model dan bentuknya, secara prinsip ada 3 bentuk lengan: 1). lengan yang dijahitkan pada lingkar kerung lengan, 2) lengan reglan yaitu lengan yang dijahitkan dari garis leher menuju ketiak, 3). Lengan setali adalah lengan yang menyatu dengan badan. a) Lengan licin yaitu lengan yang bentuk lingkar kerung lengannya licin, yang ada hanya kerutan semu pada lengan yang tujuannya agar pemasangan lengan tidak kaku dan enak dipakai, terutama pada puncak lengan. Cara pemasangannya adalah sebagai berikut: 1) Siapkan badan yang sudah dijahit garis bahu dan garis sisi. 2) Jahit puncak kerung lengan dengan setikan jarang dua lajur, garis pola terletak diantara setikan, dengan jarak antara setikan 0,5 cm. 3) Jahit sisi lengan 4) Ukur lingkar kerung lengan badan dan samakan dengan ukuran lingkar kerung lengan pada lengan. 5) Pasangkan lengan, dengan posisi bagian baik badan menghadap bagian baik lengan dengan bantuan jarum pentul atau jelujuran dan posisikan garis bahu tepat pada titik puncak lengan. Jahit sekeliling lingkar kerung lengan pada garis kampuh. Gambar 46. Teknik pemasangan lengan licin 115

137 b) Lengan poff Lengan poff yaitu lengan yang mempunyai kerutan pada puncak lengan, lengan ini banyak dipakai oleh wanita dan anak-anak. Cara pemasangannya adalah sebagai berikut : 1) Siapkan badan yang sudah dijahit garis bahu dan garis sisi. 2) Jahit puncak kerung lengan dengan setikan jarang dua lajur, garis pola terletak diantara setikan, dengan jarak antara setikan 0,5 cm. Lalu dikerut sesuai kebutuhan/desain 3) Jahit sisi lengan 4) Ukur lingkar kerung lengan badan dan samakan dengan ukuran lingkar kerung lengan pada lengan. 5) Pasangkan lengan, dengan posisi bagian baik badan menghadap bagian baik lengan dengan bantuan jarum pentul atau jelujuran dan posisikan garis bahu tepat pada titik puncak lengan. Jahit sekeliling lingkar kerung lengan pada garis kampuh. Gambar 47. Lengan poff c) Lengan reglan adalah lengan yang tidak mempunyai lingkar kerung lengan tetapi mempunyai garis serong dari leher sampai ketiak (sisi badan) baik bentuk bagian muka maupun bagian belakang. Cara menjahitnya adalah : 1) Satukan badan muka dengan lengan muka 2) Satukan badan belakang dengan lengan belakang 3) Satukan sisi dari ujung lengan sampai batas bawah busana kiri dan kanan. 116

138 Gambar 48. Lengan raglan d) Lengan setali adalah lengan yang tidak mempunyai lingkar kerung lengan. Lengan setali dibuat menyatu dengan badan, ada yang mempunyai garis bahu dari leher sampai panjang lengan atau tidak mempunyai garis bahu (garis bahu dibuat pada lipatan kain) Cara menjahitnya : 1) Satukan garis lengan bagian muka dengan bagian belakang baik sebelah kiri ataupun sebelah kanan kanan (untuk yang ada jahitan di bahu). 2) Jahit sisi lengan terus ke sisi badan dengan demikian lengan sudah dibentuk Gambar 49. Lengan setali 117

139 3. Pemasangan Kerah Kerah merupakan salah satu penyelesaian pinggir pakaian yang dipasangkan pada leher. Kerah mempunyai bermacammacam bentuk, desain dan ukuran. Dari berbagai bentuk desain kerah akan memberikan kesan atau nilai tersendiri bagi si pemakai. Berikut ini akan dijelaskan beberapa teknik pemasangan kerah. a. Pemasangan Kerah Memakai Lajur atau Serip Pemilihan bentuk kerah haruslah disesuaikan dengan bentuk muka, bentuk leher, dan bentuk tubuh seseorang seperti, seorang mempunyai leher pendek dan gemuk tidak cocok memakai kerah berdiri, akan tetapi orang ini akan kelihatan menarik dan cantik dengan style kerah yang dilipatkan keluar, dan pada lehernya diturunkan, seperti kemeja yang kancingnya tidak dipasangkan pada penegak kerah. Setiap jenis kerah mempunyai bagian-bagian seperti bagian kerah atas dan bagian kerah bawah juga memakai pelapis kerah. Pelapis kerah sekarang ini banyak pula jenis dan macamnya. Dalam pemilihan pelapis yang harus diperhatikan adalah bentuk (jenis) kerah, asal bahan seperti untuk kerah jas, pelapis yang baik dipakai adalah pelapis yang tebal seperti pelapis bulu kuda, dan jika untuk kerah rebah (kerah baby) cukup dengan pelapis resin (staflek). Dengan kemajuan teknologi sekarang ini, pelapis kerah pada umumnya sudah memakai lem yaitu salah satu permukaannya memakai resin thermo plastik, yang dapat menempel pada bahan busana dengan cara memberi pemanasan dan tekanan beberapa waktu seperti dengan sterika prees atau mesin prees yang disebut juga fusing. Teknik memotong pelapis kerah adalah sebatas pola (sama dengan ukuran pola kerah) berarti tidak termasuk tiras, dan dijahit dibatas pelapis dan ada juga yang sama dengan lembaran kerah dan pelapis. Pemasangan pelapis dengan cara menempelkan pelapis yang memakai lem pada bagian buruk bahan kerah dengan tepat kemudian di press dengan mesin press atau seterika press. Kerah yang dipasang dengan memakai lajur atau serip adalah kerah rebah, kerah mandarin, kerah matros (kelasi). 1) Kerah rebah ( kerah terletak) Kerah rebah disebut juga kerah baby karena kerah ini banyak dipakai untuk busana bayi, busana anak-anak, dan busana wanita. Teknik menjahit kerah rebah adalah sama untuk semua jenis, tetapi bentuknya saja yang berbeda antara kerah rebah, kerah palerin dan kerah matros. Teknik menjahitnya sama yaitu: 118

140 a) Kerah digunting sesuai pola ditambah kampuh 1 cm b) Agar bentuknya bagus diberi pelapis vislin dengan ukuran sama dengan pola. c) Dijahit dengan setikan mesin selebar kampuh kecuali pada bagian leher d) Tirasnya digunting kecil-kecil sampai pada batas setikan dengan jarak 1 s.d 2 cm, tujuannya agar bentuk kerah tidak kaku (menurut bentuk) lalu di press ( ketika menggunting tiras jangan sampai tergunting benang setikan ) e) Pasangkan pada leher dengan depun (kumai serong) dengan posisi badan atau (leher) bagian baik, kerah dan depun. f) Lalu dijahit dengan mesin pada sekeliling lingkar leher sesuai dengan tanda pola. g) Gunting kecil-kecil sekeliling leher dan ditindas seperti memasang depun h) Depun atau kumai serong di somkan ke badan Gambar 49. Kerah rebah 2) Pemasangan kerah dengan sesama kerah Teknik menjahit kerah sesama kerah antara lain adalah kerah kemeja, dan kerah bord (kerah sanghai). Untuk kerah ini selalu menggunakan pelapis kerah untuk menguatkan dan membantu memperindah bentuk kerah. Kerah kemeja adalah kombinasi dua kerah yaitu kerah bediri dan kerah setengah berdiri. Kerah kemeja dengan penegak biasa ditemukan pada kemeja pria dan dapat pula digunakan pada jacket dan pakaian wanita. Jenis kerah ini mempunyai dua bahagian yaitu bahagian kerah dan bahagian penegak. Penegak bisa digunting terpisah atau 119

141 bisa sejalan dengan kerah. Penegak terpisah, pemasangan kerah pada pakaian sama seperti kerah berdiri lainnya. Pelapis kerah di pasangkan pada kerah bahagian bawah, tetapi apabila bahan pakaian tembus terang atau sangat tipis pelapis kerah dapat di pasangkan pada kerah bahagian atas, untuk mencegah agar kampuh tidak kelihatan setelah kerah selesai di jahit. Bahagian atas kerah dan penegak boleh distik dengan mesin. Cara menjahit kerah kemeja : a) Gunting bahagian kerah dan penegak rangkap dua dengan garis tengah belakang pada lipatan kain. Beri tanda pola pada masing-masing bahagian kerah. b) Gunting pelapis satu rangkap, kemudian beri tanda pola. Pasangkan pelapis pada bagian buruk kerah bagian bawah atau kerah bagian atas atas (sesuaikan dengan jenis bahan). c) Dempetkan bagian baik kerah dan juga pada bagian penegak atas dan kerah bawah, dengan posisi bagian baik bahan berhadapan,semat dengan jarum pentul, kemudian dijahit. Pada sudut-sudut kerah selipkan beberapa helai benang yang berguna untuk membalikkan kerah. Tiras di gunting-gunting halus (agar menurut bentuk) sebelum dibalikan. d) Balikkan kerah kearah bagian baik kerah, kemudian tarik lambat-lambat benang yang diselipkan pada sudut setelah ujung kerah rata dan bentuk ujung kerah sudah sama, sebaiknya di pres untuk mendapatkan hasil yang rapi dan bagus. e) Jika diinginkan stik mesin garis pinngiran luar kerah. f) Dempetkan bagian baik kerah bawah pada penegak bahagian bawah. Dempetkan penegak bagian atas pada kerah bagian atas kerah terletak antara penegak kemudian jelujur g) Jahit mesin sepanjang garis kampuh penegaknya. Gunting-gunting kampuhnya seperti bentuk segitiga. Bukakan kampuh dan press pada papan kerah. h) Lipatkan penegak kearah bawah kerah sehingga kampuh berada pada bagian dalam kerah. i) Pentulkan pinggir penegak atas pada garis leher kemudian jelujur. j) Jahit dengan mesin bagian penegak yang dimulai dari garis tengah belakang, terus ke bahagian atas penegak, terus pada garis leher dan kembali ketengah belakang. 120

142 3) Pemasangan kerah dengan lapisan Kerah yang pemasangannya dilapisi adalah kerah shiller, kerah jas dan kerah setali (Shal collor). Kerah shiller (minamora) adalah kerah yang mana lapisan tengah muka dilipatkan tanpa sambungan, bagian atasnya menjadi bagian bawah dari kerah setelah dibalik, sama dengan kerah jas, yang membedakannya adalah : kerah jas lapisan tengah mukanya disambungkan pada tengah muka karena ada pembentukan sesuai model pada river bagian kerahnya. Kerah setali (shal collor) yaitu yang dikontruksi sejalan dengan pola bagian depan, garis luar kerah umumnya dibuat melengkung, tetapi ada juga yang dibentuk seperti kerah jas atau seperti kerah baju pramuka, bagian belakang pada tengah muka memakai lapisan sampai kebagian kerah dan yang tampak sebagai kerah itu adalah lapisannya. Gambar 50. Kerah shiler, kerah setali, kerah jas 4) Pemasangan kerah Shiller Kerah shiller yaitu kerah yang bagian atas dan kerah bagian bawah terdiri dari satu potongan. Garis luar kerah pada lipatan kain dan tidak ada kampuh, tetapi mempunyai rever dan garis patahan kerah. Cara mengerjakan: a) Gunting kerah dengan meletakkan pinggiran luar pola kerah pada lipatan arah panjang kain (menurut serat kain) ditambah kampuh lebih kurang 1,5 cm. Pelapis kerah sama dengan kerah bagian bawah. b) Pasangkan pelapis kerah pada bagian buruk kerah dengan cara di pres atau dijahit dengan mesin. 121

143 c) Lipat dua lebar kerah dengan bagian yang dilapis berada sebelah atas kemudian jahit mesin kampuh kedua ujung kerah. d) Gunting miring kampuh sudut ujung kerah e) Balikkan kerah kebagian luar dan rapikan bentuknya, kemudian dipress f) Pentulkan kedua bahagian kerah mulai dari garis tengah belakang, bahu kiri dan bahu kanan sampai batas tengah muka g) Balikkan lapisan belahan pada bagian baik pakaian sehingga menutup bagian kerah sampai garis bahu, kemudian pentul dan jelujur. h) Gunting kampuh kerah atas pada garis bahu kiri dan kanan kemudian lipatkan kearah kerah. i) Jahit mesin mulai dari ujung lidah belahan kiri sampai ujung lidah belahan kanan. Untuk mendapatkan hasil yang sesuai dengan bentuk kerah, maka gunting-gunting kampuh dengan ujung gunting, tetapi jangan sampai kena setikan. j) Balikkan lapisan belahan kearah dalam pakaian dan rapikan bentuk sudut lidah belahan. k) Lipatkan garis kampuh kerah atas kearah dalam kerah mulai dari garis bahu kiri sampai garis bahu kanan, pentul dan jelujur. l) Jahitkan kerah bagian atas pada kampuh kerah bagian bawah dengan tusuk sum atau jahit mesin. Jahitkan ujung lapisan belahan pada garis kampuh. 5) Pemasangan kerah setali (shall collor) Cara mengerjakan: a) Siapkan pola badan depan yang pada garis tengah muka sudah berbentuk/pakai kerah b) Gunting lapisan kerah sepanjang tengah muka. c) Gunting pelapis (interlining) sesuai bentuk kerah dan tengah muka badan kemudian interlining di press. d) Pentulkan garis leher kerah bagian bawah pada garis leher belakang e) Sambungkan garis tengah belakang kerah bagian bawah kemudian bukakan kampuhnya f) Jelujur garis leher kerah bahagian bawah pada garis leher belakang dari garis bahu kiri sampai garis bahu kanan, kemudian jahit mesin g) Gunting kedua sudut kampuh garis leher belakang 122

144 h) Sambungkan garis bahu lapisan leher belakang dengan garis bahu kerah bagian atas terus kegaris leher i) Lipatkan pinggir dalam pelapis belahan kearah bagian buruk kain dari pinggir bawah bagian kiri sampai kanan blus j) Pentulkan bagian baik kerah atas dengan bagian baik kerah bagian bawah, jelujur, kemudian jahit mesin sepanjang garis luar kerah sampai pinggir bawah blus dan gunting-gunting kecil/halus tirasnya k) Arahkan kampuh leher belakang pada kerah bawah kemudian jahitkan kampuh pada kerah bawah lebih kurang 1 mm dari sambungan garis leher l) Balikkan kerah bagian atas kearah bagian dalam pakaian kemudian jelujur miring garis luar kerah sampai garis belahan m) Lipatkan garis patahan kerah dan pentul mengikuti garis lipatan n) Lipatkan garis leher belakang kearah dalam kerah, kemudian pentulkan garis leher belakang pada kerah bagian bawah o) Jahitkan pinggir luar lapisan belahan pada pakaian dengan tusuk sum. D. Belahan Busana Belahan busana adalah guntingan pada pakaian yang berfungsi untuk memudahkan membuka dan menutup pakaian. Disamping itu juga berfungsi untuk hiasan atau variasi pada pakaian, karena pada belahan nantinya akan dilengkapi dengan kancing/penutup belahan. Belahan pada umumnya terdapat pada tengah muka, tengah belakang, ujung lengan ataupun di tempat-tempat lain pada bagian-bagian pakaian. Pemakaian belahan busana disesuaikan dengan model busana atau desain. Namun demikian teknik penyelesaian belahan ini berbeda-beda sesuai dengan jenis serta letak dari belahan itu sendiri. Jenis-jenis atau macam-macam belahan secara garis besarnya adalah belahan langsung, belahan memakai lapisan, belahan kumai serong dan belahan tutup tarik. 1. Belahan Langsung Belahan langsung yaitu belahan dan lapisan belahan dibuat sejalan dengan pola bagian badan. Pola belahan ini umumnya dipakai untuk blus, kemeja, gaun ditengah muka atau ditengah belakang. Tekniknya sebagai berikut: 123

145 a. Menggunting belahan dilebihkan ± 2 cm dari tengah muka dan langsung ditambahkan untuk lapisan belahan 5 cm, dengan cara dilipatkan supaya bayangan cerminnya tepat dan pas. Untuk melipatkannya ada yang kedalam ada yang keluar. b. Lipatkan lapisan belahan kearah dalam (bagian buruk), belahan ini biasa dipakai untuk blus, gaun dan kemeja. c. Lipatkan lapisan belahan ke arah luar (bagian baik), pakaian kemudian dijahit dengan mesin sisi kiri dan sisi kanan dengan hasil jadi 3 s.d 4 cm. Ini biasa dipakai untuk belahan kemeja. Gambar 51. a, b, c. Belahan langsung 2. Belahan berlapis Belahan berlapis yaitu belahan yang dilapisi dengan kain. Belahan yang dilapisi ini ada beberapa macam yaitu belahan satu lajur belahan, dan belahan dua lajur, belahan kumai serong dan belahan dilapis menurut bentuk. Belahan yang dilapisi dengan lajur ada 2 bentuk yaitu dua lajur sama dan satu lajur. a. Belahan dua lajur Belahan ini banyak dipakai untuk belahan blus, baju kaos laki-laki, ujung lengan kemeja. Belahan dua lajur ini juga ada yang sama bentuk dan ada pula yang tidak sama bentuk. Maksudnya adalah, belahan dua lajur yang sama bentuk bagian atas dan bagian bawah dan lebarnya juga sama. Untuk yang tidak sama bentuk, antara bagian atas dan bawah tidak sama lebarnya, umumnya digunakan untuk ujung lengan kemeja. b. Belahan dua lajur sama Sediakan 2 lembar lajur dengan ukuran sama dengan panjang belahan, ditambah 3,5 cm, untuk lajur belahan lebarnya 2 kali lebar belahan ditambah kampuh 2 cm. 124

146 Cara menjahitnya : 1) Tentukan tempat belahan seperti gambar (a), panjang belahan 10 cm, lebar belahan setelah dijahit 2 cm 2) Berilah tanda kampuh pada sekeliling lajur, ujung lajur ditipiskan, seperti gambar (b) 3) Letak lajur kanan pada sisi kanan dan lajur kiri pada sisi kiri. Sematkan 1 cm ke kiri dan ke kanan dari tempat yang akan digunting kemudian disetik dari a ke b 4) Gunting belahan 1 cm sebelum ujung belahan, buat guntingan menyudut atau segitiga, seperti gambar (c) 5) Lipat lajur bagian buruk menurut tanda yang telah ditentukan. Tepi lajur yang bertiras dibuat lipat kedalam. Semat dengan jahit kelim atau dijahit dengan mesin, seperti gambar (d) 6) Setik ujung belahan dengan mesin dari bagian baik, selesaikan ujung belahan bagian buruk dengan tusuk kelim. Gambar 52. Belahan dua lajur sama 125

147 c. Belahan dua lajur tidak sama untuk manset kemeja. Lajur luar lebarnya 2 cm dan lajur dalam 1 cm. belahan dibuat ditengah pola ujung lengan bagian belakang ± 8 cm. Cara menjahitnya: 1) Guntinglah tempat belahan sepanjang belahan, 1 cm sebelum ujung belahan digunting menyudut (a) 2) Letakkan lajur yang jatuh dalam bagian baik berhadapan dengan bagian buruk lengan, setiklah sepanjang belahan. 3) Goreslah lajur yang letaknya di dalam, balik lajur ke bagian baik. Sisi yang masih bertiras diberi lipatan dalam ½ cm, lalu setiklah kedua kalinya tepat pada jahitan pertama (b). 4) Letakkan lajur yang ukuran lebar pada bagian baik berhadapan dengan bagian buruk lengan. Lalu setik sepanjang belahan dengan kampuh ½ cm (c) 5) Balik lajur kebagian baik. Pada sisi yang masih bertiras dibuat lipat dalam selebar ½ cm, lalu setik tepat pada jahitan pertama (d). 6) Penyelesaian pada ujung belahan yang berbentuk runcing disetik terakhir dan diteruskan dengan garis batas panjang belahan. 7) Perhatikan guntingan segi tiga dan ujung lajur kecil turut dijahit. 8) Jahit ujung belahan dua kali dengan posisi melintang, jahitan ini berfungsi sebagai penguat. Gambar 53. Belahan dua lajur tidak sama 126

148 d. Belahan dengan Kumai Serong Belahan dengan memakai kumai serong pada umumnya terdapat pada tengah muka pakaian. Cara menjahitnya: 1) Sediakan kumai serong 2 lembar yang panjangnya sama dengan panjang belahan ditambah 2 cm untuk kampuh. 2) Tentukan tempat belahan (a) 3) Lebar lajur dilipat dua dan digores, letakkan lipatan tersebut tepat pada tempat belahan, dengan posisi bagian baik berhadapan dengan bagian baik. Sematkan 1/2 cm bagian kiri dan bagian kanan dari tempat belahan, kemudian disetik dengan mesin. Gunting tepat pada belahan, 1 cm sebelum ujung belahan digunting menyerong. 4) Lipatkan lajur kebagian buruk, aturlah rompoknya selebar ½ cm sehingga belahan tadi tertutup. Sisi lajur yang bertiras dibuat lipatan dalam dan dijelujur tepat pada jahitan pertama. Kemudian disetik dari bagian baik. 5) Lipat kecil pada ujung belahan, lalu dijahit dengan tusuk balut. 6) Segi tiga pada ujung belahan disetik bersama dengan lajur. 7) Ujung lajur yang bertiras diselesaikan dengan tusuk feston supaya kelihatan rapi pada bagian buruk, tepat pada ujung belahan dibuat kuku belalang atau trens sebagai penguat. Gambar 54. Belahan dengan kumai serong e. Belahan dilapis menurut bentuk Belahan dilapis menurut bentuk yaitu belahan dilapis dengan kain lain yang sama bentuknya. Belahan ini banyak digunakan pada tengah muka pakaian, tengah belakang 127

149 atau pun ujung lengan. Ada belahan yang dilapisi sepanjang tengah muka, dan ada juga yang sebagian dari tengah muka. Belahan yang sepanjang tengah muka yaitu untuk belahan jas yang memakai kerah river, kemudian belahan blus atau kebaya yang memakai kancing sengkelit. Belahan yang panjangnya beberapa cm saja seperti, ditengah muka, diujung lengan, atau bagian ditengah belakang. Gambar 55. Belahan dilapisi menurut bentuk Ada beberapa teknik menjahit belahan antara lain adalah sebagai berikut: 1. Teknik menjahit belahan tengah muka yang dilapisi, caranya adalah : a) Sediakan lapisan yang sesuai dengan tambahan kampuh, dengan ukuran lebih kurang 1 cm. b) Bagian baik lapisan menghadap bagian baik pakaian lalu dijahit tepat pada garis pola dan kampuh digunting-gunting halus dengan jarak 1 s.d 2 cm. c) Pastikan lapisan pada bagian bawah berhimpit pada kain, kemudian ditindih dan dipres agar hasilnya rapi. 2. Teknik menjahit belahan tengah muka yang memakai kancing sengkelit, seperti pada kebaya (blus), teknik menjahit pelapisnya sama dengan diatas (belahan tengah muka yang dilapisi), cuma tepi kain diantara pelapis dan pakaian diletakkan sengkelit dengan ukuran teratur dan jumlanya disesuaikan dengan desain.l 3. Teknik menjahit belahan yang tidak sepanjang tengah muka (seperti belahan baju kurung). Cara pemasangan belahannya sama dengan pemasangan depun. Perbedaannya terletak pada pola belahan, dengan 128

150 adanya belahan lapisan juga dilebihkan mengikuti belahan kemudian dijahit mengikuti belahan lansung pada sekeliling leher. Setelah itu tiras digunting-gunting halus dan ditindis/dijahit pelapis lebih kurang 1mm dan tiras kain diarahkan kepelapis 4. Belahan tutup tarik Belahan tutup tarik adalah belahan yang dipasangkan tutup tarik (retsleiting). belahan ini pada umumnya dipakai untuk tengah belakang rok, gaun, baju kurung, celana, dan sebagainya. Banyak bentuk (model) dari tutup tarik dan banyak pula cara (teknik) pemasangannya yang disesuaikan dengan fungsinya. Fungsi utama dari tutup tarik adalah untuk memudahkan membuka dan memakai pakaian, disamping itu tutup tarik juga berfungsi untuk menambah keindahan pakaian tersebut Alat utama untuk pemasangan tutup tarik agar lebih mudah adalah dengan memakai sepatu khusus yaitu sepatu tutup tarik. Ada beberapa macam belahan tutup tarik, yaitu: a. Belahan tutup tarik simetris b. Belahan tutup tarik asimetris c. Belahan tutup tarik tersembunyi d. Belahan tutup tarik terpisah e. belahan tutup tarik memakai golbi. Bentuk (model) dari tutup tarik (retsleiting) ini juga bermacam-macam, tetapi dalam pemakaiannya perlu disesuaikan dengan teknik pemasangannya dan disesuaikan pula dengan desain busana, bahan pakaian serta fungsinya. Selanjutnya dibahas masing-masing teknik pemasanganya. Gambar 56. Macam-macam tutup tarik (retsleiting) 129

151 a) Tutup tarik simetris Tutup tarik simetris biasanya dipasangkan pada belahan yang memakai kampuh seperti tengah belakang rok, blus, gaun, dan ada juga yang ditengah muka atau sisi. Tutup tarik/retsleiting yang dipakai adalah retsleiting biasa. Teknik pemasangannya: (1) Beri tanda panjang tutup tarik pada bagian dalam pakaian (2) Jahit kampuh pakaian sampai pada batas tutup tarik (3) Bukakan kampuh dan pres (4) Letakan tutup tarik pada bagian dalam pakaian, dan jelujur dari bagian luar pakaian dengan jarak lebih kurang 0.75 cm dari garis tengah belahan (5) Jahit dengan mesin sisi pita tutup tarik pada kampuh kiri dan kanan dari bagian dalam pakaian (6) Jahit dengan mesin tutup tarik dari bagian luar pakaian mulai dari sisi kiri terus kesisi kanan belahan sehingga terdapat dua lidah yang sama besar. Gambar 57. Tutup tarik simetris b) Tutup tarik asimetris Tempat pemasangan sama dengan tutup tarik simetris, sama pada belahan yang pakai kampuh dan teknik pemasangannya adalah sama dari langkah satu sampai langkah ketiga dan pada langkah keempat. (1) Tutup tarik di setik menelengkup pada bagian kiri lebih kurang 2 mm dari tanda kampuh. (2) Kembangkan kampuh dan rapikan (tekan dengan sterika), kemudian setik bagian kanan lebih kurang ¾ s.d 1 cm dengan posisi tutup tarik bagian luar menghadap keatas. 130

152 Gambar 58. Tutup tarik asimetris c) Tutup tarik tersembunyi (tertutup) Tutup tarik ini pada umumnya dipakai pada belahan belakang baju kurung, gaun, rok, blus, dsb. Pemakaian tutup tarik ini pada prinsipnya harus pada tempat belahan yang memakai kampuh. Jenis tutup tarik untuk ini adalah tutup tarik yang khusus, yang sering disebut dalam istilah restleting jepang (restleiting hilang) alat (sepatu mesin) yang dipakai adalah sepatu khusus untuk tutup tarik jepang yang mempunyai dua lekukan (terowong) gigi restleiting. Kenapa dikatakan restleiting hilang karena kalau dilihat dari luar tampaknya hanya seolah-olah sambungan kampuh saja, ini banyak di pakai pada pakaian-pakaian yang berkualitas, karena terkesan pemasangannya juga halus. Teknik pemasangan sebagai berikut: (1) Beri tanda panjang restleiting 3 cm dari titik bukaan, lalu dijahit kampuh sisa (2) Letakan tutup tarik pada bagian dalam pakaian dan dijelujur bagian kiri dan bagian kanan tepat pada pinggir gigi (3) Lalu di jahit dengan memakai sepatu khusus dan gigi restleiting tepat (masuk) ke tempat lekukan sepatu mesin kiri, sampai ujung restleiting (3 cm) melewati titik bukaan (4) Jahitkan lagi yang bagian kanan seperti menjahitkan yang bagian kiri. d) Belahan tutup tarik celana Teknik pemasangan tutup tarik celana berbeda dengan teknik pemasangan tutup tarik lain nya. Untuk celana dengan gulby dan klep yang terletak di tengah muka celana. Untuk celana panjang pria gulbinya sebelah kiri dan klep nya sebelah kanan (bagian kiri di atas, bagian kanan di bawah). Sedangkan 131

153 untuk celana panjang wanita gulbinya sebelah kanan dan klepnya sebelah kiri (bagian kanan diatas dan bagian kiri dibawah) atau kebalikan dari celana pria. Teknik pemasangannya (1) Sediakan bahan untuk celana dan belahan (2) Celana bagian depan yang telah digunting (3) Klep (4) golbi Gambar 59. Perlengkapan pemasangan tutup tarik Penyelesaian klep (a) Beri tanda panjang retsleiting, 1 cm dari pinggang pada celana (b) Dempetkan dengan bagian baik celana, kain menghadap keatas dengan urutan; celana bahagian kanan, restleting tertelungkup (menghadap celana) celana dan klep bagian yang baiknya berhadapan (c) Jahitlah 2 mm diluar garis. Hati-hati jarak retsleting dengan setikan yang sama (d) Klep dikembangakan kekanan dan dilipatkan sampai batas, dan jahitlah dari bagian baik sebagai tindihan ( tindihan dari klep ). c d Gambar 60. Penyelesaian klep 132

154 Penyelesaian golbi (a) Jahitlah golbi rangkap dua pada bagian yang melengkung retak-retaklah pada bagian yang melengkung dengan ujung gunting yang tajam kemudian balikkan. Jahit tindas dari bagian baik, kemudian buatlah jahitan sepenuh gulbi dengan jarak ½ s.d ¾ cm (b) Jahitlah gulbi pada celana kiri, dari pinggang 1 mm diluar garis pola sampai keujungnya. Golbi diarahkan kekiri dan ditindih. Gambar 61. Penyelesaian golbi Penyelesaian akhir (a) Hubungan badan kiri dan kanan jahit pada bagian buruk mulai dari pesak sampai retsleiting (b) Jahitlah retsleiting yang sebelahnya lagi pada golbi dengan mengatur jarak, supaya retsleiting terjahit dengan rapi (c) Lipatlah golbi pada celana dan dijahit dari bagian luar selebar 4 cm dengan bentuk yang baik (lihat gambar). Ingat jangan terjahit klepnya. (d) Pada bagian pesak dijahitkan sisa klep dengan dilipit kecil sebesar 1 c, sebagai penguat pesak. (e) Hasil akhir c d e Gambar 62. Penyelesaian klep 133

155 3. Membuat rumah Kancing dan Pemasangan Kancing Kancing dan rumah kancing dipakai untuk menutup belahan yang terdiri atas 2 lapis yang bertumpukan yaitu pada bagian kiri dan bagian kanan busana. Pemasangan kancing pada umumnya di bagian tengah muka, tengah belakang dan ada juga yang disisi ataupun pada bahu, letaknya tersebut disesuaikan dengan desain. Untuk busana wanita letak belahan yang bagian kanan diatas dan bagian kiri dibawah atau rumah kancing terletak sebelah kanan dan kancing baju terletah disebelah kiri. Sedangkan untuk pria belahan bagian kiri diatas dan belahan bagian kanan dibawah (kebalikan dari letak belahan pakaian wanita). Posisi rumah kancing ada yang memanjang dan ada melebar/membujur, tergantung jenis belahannya. Belahan yang pelapisnya mengarah kedalam, rumah kancingnya dibuat melebar, sedangkan belahan yang pelapisnya mengarah keluar, atau belahan yang memakai serip, letak lobang kancing membujur. Teknik membuatnya: a. Jelujur garis tengah muka dan tentukan jarak atau tempat lobang kancing. b. Memberi tanda pada tempat yang akan dilobangi, ukurannya dilebihkan 0,5 mm dari garis tengah kancing, agar kancing leluasa keluar masuk. Kemudian tanda tadi dilobangi dengan gunting yang tajam dengan pendedel, lalu dijelujur rapat disekeliling lobang kancing untuk penahan. c. Kemudian lobang kancing dijahit dengan tusuk rumah kancing Rumah kancing ini ada 3 macam yaitu rumah kancing biasa, rumah kancing possepoile dan rumah kancing sengkelit. rumah kancing biasa dapat dibuat dengan tangan yaitu dengan menggunakan teknik rumah kancing atau dengan tusuk festoon, biasanya digunakan untuk blus wanita, kemeja, atau busana anak-anak. 1) Rumah kancing biasa Rumah kancing biasa, dibuat dengan mesin caranya sbb: a). Menggunakan mesin biasa dengan tusukan lurus, caranya dengan memasangkan alat pada mesin yang membuat tusuk zig-zag adalah gerakan alat yang 134

156 bergerak kearah kiri dan kanan. Sementara tusukan mesin tetap lurus sehingga hasilnya menjadi zig-zag. b). Menggunakan mesin jahit khusus, lobang kancing ini banyak dipergunakan untuk membuat rumah kancing pada industri pakaian jadi (garmen). c). Menggunakan mesin serbaguna, bila memakai mesin serbaguna dengan cara menyetel setikan pada setikan zig-zag atau memasangkan alat (suku cadang khusus) atau mengikuti teknik dari mesin tersebut, karena mesin serbaguna banyak sekali merek dan spesifikasinya. Untuk melobanginya dengan bantuan tusukan jarum pentul pada kedua ujung lobang kancing, lalu digunting dengan ujung gunting atau pendedel sampai batas ukuran lobang kancing. Fungsi jarum pentul disini agar tidak robek melebihi ukuran lobang kancing. Gambar 63. Proses menoreh rumah kancing dengan mesin 2) Rumah kancing passpoille (kumai serong). Rumah kancing pass poile biasanya dipakai untuk belahan busana kerja wanita dan pria, atau untuk busana yang 135

157 terbuat dari bahan-bahan yang agak tebal seperti polyester, wool atau bahan campuran. Lebar bis lobang kancing berkisar antara 0,4-0,5 cm, bis dibuat dari bahan yang sama dengan memakai bahan serong. Teknik menjahit nya: a). Beri tanda rumah kancing dan dempetkan kumai serong tepat di atas tanda dengan posisi bagian baik pakaian keatas, dempetkan kumai serong bagian baik menghadap bagian baik busana sesuai dengan ukuran panjang lobang kancing (garis tengah kancing) dan ditambah 3cm. b). Pindahkan tanda panjang dan lebar lobang kancing kebahan busana. c). Jelujur dan jahit mesin sisi sebelah atas dan sisi sebelah bawah belahan. d). Gunting garis tengah belahan dengan cara menggunting garis-garis tengah mulai dari tengah sampai 0,8 cm sebelum ujung sampai kedua ujung dan dari sini di gunting arah diagonal menuju sudut. e). Balikkan bis kebahagian dalam pakaian dan rapikan lebar bis, lalu rapatkan belahan dengan tusuk balut. f). Jahitkan guntingan sudut segitiga pada bahagian dalam pakaian lalu di stik mesin garis lebar bis pada kedua sisinya dari bahagian luar pakaian. g). Gunting celahan pada lapisan belahan bahagian dalam pakaian sama lebar dengan lebar lobang kancing, kemudian jahit dengan tusuk balut Gambar 64. Rumah kancing passpoille 3) Rumah kancing sengkelit Rumah kancing sengkelit yaitu rumah kancing yang di buat dari kain serong berbentuk pipa. Rumah kancing ini di buat untuk pakaian kebaya terbuat dari bahan renda seperti bahan brokad dan pada belahan yang dilapisi menurut bentuk yang digunakan pada tengah muka atau tengah belakang blus atau 136

158 gaun dan pada ujung lengan. Kancing yang digunakan paling baik adalah kancing bulat atau kancing bola (ball buttons). Rumah kancing sengkelit juga dapat di gunakan sebagai variasi atau hiasan, baik diujung lengan, kerah saku, maupun tengah muka seperti yang sering terdapat pada pakaian orang cina. Rumah kancing ini dibuat sebelum belahan pakaian diselesaikan karena pipa dipasangkan di antara lapisan belahan. Langkah kerja adalah sebagai berikut: a). Gunting kain serong dengan ukuran lebar 1,5 cm dan panjang sesuai dengan keinginan. b). Lipat dua lebar kain serong dengan bagian buruk kain berada sebelah atas dan jahit mesin lebar pipa 0,3 s.d 0,5 cm. c). Pasangkan benang yang besar pada jarum tangan. d). Tusukkan jarum pada salah satu ujung pipa sampai ujung terakhir (untuk membalikkan pipa). e). Tarik jarum dan benang sehingga seluruh pipa dibalikan pada bahagian baik kain. Membentuk sengkelit pipa memakai tali. Cara mengerjakan: (1). Gunting kain serong dengan ukuran lebar diameter tali ditambah 2,5 cm. (2). Potong tali dengan ukuran panjang dua kali panjang kain serong. 3. Lipat dua lebar kain serong dengan bahagian buruk kain berada sebelah atas. (4). Masukkan tali diantara kain serong dan jahit mesin dengan menggunakan sepatu jahit khusus untuk menjahit tutup tarik (5). Rapikan dan kecilkan tiras. (6). Tarik ujung tali sehingga semua pipa dibalikkan pada bahagian baik kain Gambar 65. Membalikkan sengkelit 137

159 Memasangkan sengkelit pipa pada belahan. Cara mengerjakan: 1) Buat dua buah garis paralel pada kertas pertama 0,6 cm dari pinggir dan kedua sama dengan ukuran diameter kancing. 2) Buat dua buah garis melintang dengan ukuran sama dengan diameter kancing. 3) Letakkan pipa pada garis parallel, kemudian pentul pada kedua garis melintang untuk menentukan panjang pipa dan beri tanda. 4) Potong pipa sesuai dengan tanda panjang yang sudah ditentukan, dan sejumlah yang dibutuhkan. 5) Buat tanda tempat pemasangan pipa pada belahan pakaian. Pemasangan pipa ada yang rapat atau tidak berjarak antara pipa yang pertama dengan pipa yang lainnya dan ada yang diberi jarak. 6) Letakkan pipa pada tempat yang sudah diberi tanda dan jahit dengan mesin pada tanda garis tengah belahan. 7) Dempetkan bagian baik lapisan belahan diatas pipa dan jahit dengan mesin pada tanda garis tengah belahan. 8) Bukakan kampuhnya dan pres. 9) Balikkan lapisan kearah bagian dalam pakaian, dan jahit mesin garis sambungannya. 10) Jahitkan pinggiran dalam lapisan dengan tusuk sum pada pakaian. Gambar 66. Rumah kancing sengkelit E. Menyelesaikan Busana Dengan Alat Jahit Tangan 1. Memasang Kancing Posisi pemasangan kancing hendaklah tepat digaris tengah muka atau tengah belakang, maka dari itu untuk belahan biasa yang sudah dilebihkan lidah belahannya 2 atau 1,5 cm maka jelujur terlebih dahulu tepat pada garis tengah muka atau tengah belakang, agar tepat. 138

160 Kancing berfungsi untuk mengancingkan belahan (penutup belahan) atau juga untuk hiasan atau variasi busana. Bermacammacam bentuk dan model kancing, yaitu kancing lobang dua, dan kancing lobang empat, kancing bertangkai, kancing hias, kancing jepret dan kancing kait. a. Teknik memasang kancing lobang dua dan empat Teknik pemasangannya yaitu membuat tusuk awal dengan menyisipkan ujung benang diantara dua belahan dan membuat satu atau dua tusukan kecil sebagai penguat kemudian memasukkan jarum dari bawah pada lobang pertama dan keluar pada lobang kedua, ulangi dengan cara yang sama sampai 4 atau 5 kali dan putar kancing dengan pakaian dililitkan agar berkaki. Kalau untuk lobang empat dapat dibuat dengan dua garis sejajar atau garis silang diatas kancing dengan cara mengeluarkan dan memasukkan jarum pada sudut yang berhadapan tiga sampai empat kali, kemudian dibalut antara kancing 1,2 dan 3 kali putar.benang yang merentang dekat jarum pentul, setelah pentul tadi dicabut benang tersebut dibalut untuk dijadikan kaki kancing. Gambar 67. Pemasangan rumah kancing dua dan empat lobang b. Teknik menjahit kancing bertangkai Cara memasangnya yaitu dengan membuat tusuk pada tanda tempat kancing, kemudian membuat 4 samapi 5 tusukan, dan terakhir berikan tusukan penguat. Gambar 68. Pemasangan kancing bertangkai 139

161 c. Teknik menjahit kancing jepret Cara memasangnya yaitu kancing jepret dijahitkan dengan tusuk balut atau dengan tusuk festoon. Setiap rumah kancing dibuat 4 sampai 5 kali tusukan, dan usahakan tusukan tidak tembus ke luar. Untuk jenis busana yang berkualitas tinggi, biasanya kancing jepret dibungkus dengan bahan yang tipis dan sewarna dengan bahan busananya. Cara membungkus kancing jepret dapat dilihat pada gambar berikut Gambar 69. Pemasangan kancing jepret d. Teknik menjahit kancing kait. Biasanya kancing kait terdiri dari dua bagian, yaitu kaitan dan matanya. Memasang kancing kait ini diselesaikan dengan tusuk feston atau tusuk balut. Gambar 70. Pemasangan kancing kait F. Menyiapkan Tempat Kerja Mengatur tempat kerja menjahit dengan tangan berbeda dengan tempat kerja menjahit dengan mesin. Bekerja di sekolah berbeda dengan tempat kerja di sebuah usaha busana, juga berbeda dengan tempat kerja menjahit untuk ibu rumah tangga. Suatu tempat kerja yang diatur teliti dengan mengingat tertib kerja dan rasa keindahan, akan menyebabkan siswa yang sedang 140

162 mengikuti praktek busana atau karyawan sebuah usaha busana dan seorang ibu rumah tangga yang sedang menjahit, tentu akan bisa bekerja dengan senang. Ruang kerja dan alat yang diperlukan yaitu yang ergonomik dengan kata lain alat yang sesuai dengan kebutuhan. Menjahit dengan tangan adalah segala kegiatan yang pengerjaannya semata-mata dengan tangan, seperti memasang kancing berlobang, kancing jepret, kancing kait dll. Untuk itu di ruang menjahit dengan tangan, sebaiknya disiapkan tempat kerja se asri mungkin, serta alat yang dibutuhkan disusun sesuai dengan tertib kerja sehingga dapat menambah keindahan dan dayaguna praktek menjahit. Dalam kegiatan menjahit dengan tangan bagi siswa disekolah sebaiknya disiapkan kotak jahitan yang isinya: gunting, jarum tangan, jarum pentul, benang, cincin jari, pendedel, centimeter dan alat-alat yang diperlukan untuk menjahit tangan lainnya yang sesuai dengan kebutuhan. Untuk lebih jelasnya dibawah ini akan diuraikan masing-masing alat tersebut: 1. Alat Menjahit Dengan Tangan. a. Macam-macam gunting dan alat pemotong Alat potong dalam jahit menjahit ada bermacam-macam dengan fungsi yang berbeda-beda pula seperti: gunting kain yaitu gunting yang digunakan untuk menggunting kain, gunting zig zag, gunting rumah kancing, gunting bordir, gunting tiras, gunting listrik, gunting benang jelujur, alat pembuka jahitan atau pendedel. Gunting kain paling banyak digunakan sedangkan yang lainnya hanya sesuai dengan keperluan, gunting harus tajam, untuk menguji ketajaman gunting dengan cara menggunting perca pada bahagian seluruh mata gunting jika bekas guntingan pada perca tidak berbulu berarti gunting itu cukup tajam untuk kain. Gambar 71. Alat pemotong 141

163 b. Alat ukur Untuk proses pembuatan pakaian mulai dari persiapan pola sampai penyelesaian diperlukan beberapa alat ukur, yang penggunaan alat ini berbeda sesuai fungsinya. Ketelitian dalam mengukur sangat memberikan sumbangan untuk memperoleh hasil yang berkualitas,. Saat mengukur haruslah diusahakan setepat mungkin. Pita ukuran dalam perdagangan ada yang terbuat dari plastik, kain, dan kertas, pita ukuran yang terbuat dari kertas mudah robek. Garis-garis dan angka-angka pita ukuran harus dicetak terang pada kedua sisinya, logam yang menjepit ujung pita harus rapi. Mistar dapat terbuat dari kayu, aluminium dan plastik, alat pengukur panjang rok dapat distel dan alat ini lengkap dengan alat penyemprot, sebelumnya juga dapat dilakukan dengan centi meter (pita ukuran) kemudian ditandai dengan jarum pentul ini sekarang masih banyak dipakai karena masih praktis terutama bagi orang-orang yang sudah terampil. Gambar 72. Alat-alat ukur c. Alat pemberi tanda pada bahan Alat-alat yang digunakan untuk memberi tanda pada bahan adalah rader, karbon jahit, pensil kapur, Rader biasanya digunakan berpasangan dengan karbon jahit, rader ada yang memakai gigi dan ada yang licin. Waktu pemakaian rader 142

164 rodanya dapat dipergunakan dengan lancar dan tidak oleng dan hasilnya dapat memberikan bekas yang rapi, karbon jahit yang dipakai yaitu karbon jahit yang khusus untuk kain. Warna karbon bermacam-macam ada berwarna putih, kuning, hijau, merah. Jangan memakai karbon mesin tik karena karbon mesin tik tidak dapat hilang walaupun sudah dicuci. Kapur jahit, berbentuk segitiga dengan warna putih, merah, kuning, biru, pensil jahit juga mempunyai isi kapur yang mempunyai warna yang beraneka ragam memilih warna kapur atau pensil kapur yang berbeda dengan warna kain. Gambar 73. Alat pemberi tanda pada bahan d. Jarum Jarum-jarum mempunyai nomor menurut besarnya. Pemilihan nomor jarum harus disesuaikan dengan bahan yang akan dijahit. Pada umumnya syarat macam-macam jarum adalah ujungnya cukup tajam bentuknya ramping dan tidak berkarat. Dalam jahit menjahit perlengkapan menyemat dan jarum terdiri atas jarum jahit mesin jarum tangan, jarum pentul, pengait benang dan tempat penyimpan jarum. Jarum mesin yang baik terbuat dari baja ujung tajam agar bahan yang dijahit tidak rusak. Jarum tangan sama yaitu terbuat dari baja mempunyai tingkatan nomor, jarum tangan yang baik panjang dan ramping. Jarum jahit tangan digunakan untuk menghias 143

165 menyisip dan menjelujur. Jarum pentul yang baik juga terbuat dari baja panjang 2,5 cm sampai 3 cm. jarum pentul yang berkepala dengan warna bermacam-macam itulah yang tajam. Pengait benang digunakan untuk pengait benang kelubang jarum. Alat ini sangat berguna bagi mengalami kesulitan dalam memasukkan benang ke lubang jarum karma penglihatan yang kuran tajam. e. Tempat menyimpan jarum Tempat menyimpan jarum-jarum digunakan kotak atau bantalan jarum, jarum pentul atau jarum mesin disematkan pada bantalan jarum. Gambar 74. Tempat menyimpan jarum 2. Perlengkapan memampat Perlengkapan memampat atau mempres diperlukan untuk memampat kampuh lengan, kampuh bahu dan kampuh bagian busana lainya. Pekerjaan memampan sangat diperlukan ketika menjahit pakaian agar hasil jahitan lebih rapi. Sebenarnya keberhasilan dalam menjahit sangat tergantung dengan proses 144

166 kerja waktu menjahit. Perlakuan yang cermat dan hati-hati selama tahapan pembuatan busana akan menghasilkan busana yang tampak indah dan hanya membutuhkan sentuhan ringan sewaktu penyelesaian anda akan temukan bahwa lebih cepat dan lebih mudah ditemukan pada unit-unit begitu anda menjahitnya misalnya tekanlah semua bentuk-bentuk atau penutup kantong dan lainnya. a. Menyiapkan Tempat dan Alat Press (Pressing) Pressing memberikan pengaruh yang besar pada tampilan hasil pakaian, sehingga akan meningkatkan kwalitas dan harga jual pakaian tersebut. Proses pressing dapat dibagi dua kelompok yaitu: 1). Pengepressan selama pembuatan pakaian yang disebut under pressing. 2). Pengepressan setelah pembuatan busana selesai disebut top pressing. Tujuan dari pressing adalah untuk menghilangkan kerutan atau menghaluskan bekas-bekas lipatan yang tidak diinginkan untuk membuat lipatan-lipatan yang dinginkan. Untuk membentuk mencetak busana sesuai dengan lekuk tubuh, untuk mempersiapkan busana ke proses berikutnya dan untuk memberikan penyelesaian akhir pada busana setelah proses pembuatan. a). Alat-alat Pressing yang Dibutuhkan 1) Setrika uap 2) Alas plastic yang dilapisi busa tebal 3) Mesin leger, yang berfungsi untuk mengepres busana dari paha ke atas (biasa digunakan di garmen) 4) Mesin topper, yang berfungsi untuk mengepres busana dari paha ke bawah (biasa digunakan di garment) 5) Sterika press yang dapat distel suhunya dan mempunyai semprotan airnya. 6) Meja sterika (papan sterika) 7) Papan lengan yang khusus untuk lengan dengan ukuran papan, dimana lengan dapat dimasukkan pada papan lengan. 8) Bantalan press yang berfungsi untuk membantu menekan dan sebagai alas untuk mempress puncak lengan. 9) Mesin press yang umum dipakai perusahaanperusahaan garment (konveksi) 145

167 10) Mesin press juga banyak model atau tipenya, dan fungsi utamanya untuk mempress. G. Mengerjakan Pengepresan. Pressing yaitu melakukan proses penekanan agar bahan lebih rapi dan berkualitas tinggi, dengan cara kerjanya: 1). Memeriksa busana yang akan dipres agar jelas yang akan dilakukan 2). Mempres bagian atas dan bawah 3). Mempres setikan kelim bawah 4). Mempres ban pinggang, saku atau bagian-bagian busana lainnya. Pengaturan suhu sewaktu pengepresan disesuai-kan dengan bahan yang akan di press. (a). Pengepresan dengan strika press Pada alat tersebut sudah ada tombol pengatur suhu. Suhu maksimal 1100 watt. Tombol yang nomor 6 dengan panas maksimal 1100 watt. Tombol nomor 1, 2 dan 3 pressnya sama dengan memakai strika biasa tanpa uap air. Untuk tombol 4, 5 dan 6 dapat mempress dengan uap air. Untuk pakaian sintetis dan silk panas maksimal sampai nomor 4, tapi harus memakai uap air. Dan untuk katun dan lenan bisa lebih. (b). Pengepressan dengan mesin press Harus disesuaikan dengan tanda-tanda suhu mesin. Nomor 1 untuk nilon, nomor 2 untuk silk, nomor 3 untuk wool, nomor 4 untuk katun dan nomor 5 untuk linen. Untuk nomor 1 tanpa uap air, untuk silk, wool, katun dan linen sudah memakai uap air. Untuk lebih jelasnya lihat buku pedoman petunjuk pemakaian mesin press, karena setiap tipe mesin press pengaturannya sesuai dengan spesifikasinya masing-masing. (c). Memakai Sterika Biasa Bila memakai seterika biasa panasnya juga disesuaikan dengan bahan yang akan dipress, kemudian dapat dipakai bahan katun yang dibasahkan untuk alas pengepresaan agar hasilnya rapi dan dapat mengatasi gosong pada pakaian. Pengaturan suhunya nomor 2 untuk silk dan nilon, nomor 3 untuk poliester dan rayon, nomor 4 untuk wool nomor 5 untuk katun dan nomor 6. untuk linen dengan strika yang panas maksimal 450 watt. Seandainya memakai seterika yang panasnya 300 watt bisa dengan panas maksimal untuk mengepres polyester dan rayon dan dengan mengalas dengan kain katun basah. 146

168 Gambar 75. Teknik mempress dengan sterika 1. Teknik Pengepresan (Pressing) Untuk mendapat kwalitas produk pakaian yang baik dengan proses yang baik pula. Salah satunya teknik mempress atau pressing ada dua tahap pengepressan a. Pengepressan antara Pengepressa antara yaitu pada saat proses penjahit dilakukan pressing pada bagian-bagian pakaian yaitu setiaplangkah menjahit di press seperti: 1) Pengepressan kampuh yaitu kampuh bahu dan kampuh sisi, setelah bahu dan sisi disambungkan. 2) Pengepressan lipit seperti lipit pantas dan lipit-lipit lainya bila ada. 3) Pengepressan lapisan (Interlining) pada tengah muka, depun, krah dan sebagainya. 4) Pengepressan komponen-komponen seperti tutup kantong sebelum dipasangkan dan persiapan bagianbagian lainnya. b. Pengepressan akhir Pengepressan akhir yaitu pengepressan yang dilakukan pada saat pakaian sudah siap (sudah jadi). Ini dapat dikerjakan dengan sterika press dan untuk di garmen dengan produksi yang besar dengan Stream Doily atau stream tunnel 147

169 2. Penyetrikaan atau pengepresan Penyeterikaan dan prengepresan pakaian jadi dengan tujuan menambah kerapian dan keindahan. Langkah kerja hendaklah disesuaikan dengan desain busana, seperti contoh berikut: a. Penyetrikaan kemeja terlebih dahulu di setrika bagian kerah kemudian lengan dan sebagainya. Untuk kemeja lengan pendek dapat disetrika dengan melanjutkan garis bahu kelengan, tetapi untuk kemeja lengan panjang dengan menyetrika mengikuti garis belahan manset lengan. b. Untuk penyetrikaan celana dengan cara mendempetkan kampuh sisi luar dengan sisi dalam lalu dipress berarti patahannya ditengah muka dan tengah belakang pipa celana. (cara ini dilakukan untuk celana yang kampuhnya terbuka) c. Pakaian wanita seperti rok pada saat proses menjahit, kampuh dan lipit-lipitnya sudah dilakukan pengepresan, sedangkan untuk penyetrikaan akhir, cara pertama adalah menyetrika secara keseluruhan, kemudian bagian pinggang, bagian kelim, khusus untuk pakaian kerja, baju kurung dan blus yang mempunyai lengan licin (lengan suai) penyetrikaan lengan tanpa patahan dari puncak lengan tetapi patahannya sama dengan lengan kemeja lengan panjang. d. Pakaian anak-anak seperti gaun, atau rok yang kembang/berkerut, di seterika dengan mengembangkan dan jangan didempetkan kerutannya. 3. Pengemasan busana Kemasan merupakan tampilan terakhir dari busana untuk diserahkan pada konsumen bila ini merupakan pesanan. Sebelum dikemas terlebih dahulu diberi label yang merupakan keterangan atau isyarat untuk perawatan busana tersebut. Bentuk kemasan yang baik mestinya sudah dirancang sebelumnya. Rancangan kemasan harus disesuaikan dengan bentuk produk dan tampilan yang diinginkan seperti untuk kemasan pakaian jadi dengan produksi massal memakai kemasan plastik transparan atau kotak plastik seperti kemasan untuk kemeja. Untuk kemasan jas atau pakaian pengantin lainnya kemasan dengan gantungan yang dilengkapi dengan sarung/plastiknya. Fungsi kemasan disini adalah untuk keamanan, untuk keindahan penampilan, dan untuk promosi. Dalam perancangan kemasan ketiga unsur di atas perlu dipertimbangkan. Makin tinggi kwalitas produk makin mewah pada kemasannya. 148

170 4. Penyimpanan busana Penyimpanan busana sangat diperlukan agar busana tidak rusak oleh ngengat, tempat penyimpanan diberi kamper. Busana yang disimpan dalam lemari ada yang dilipat, ada yang digantung seperti jas, pakaian kerja dan sebagainya. Khusus untuk pakaianpakaian mewah seperti kebaya wanita yang terbuat dari tile (yang lemas) dan dihiasi dengan payet-payet jangan digantung karena akan mengakibatkan pakaian berubah ukuran menjadi lebih panjang. Tetepi sebaliknya penyimpanan selendang yang berjambul harus digantung, supaya jambulnya tidak berobah bentuk. Penyimpanan kain songket tidak digantung dan tidak dilipat, tetapi digulung dan dibalut dengan kertas koran/kertas pola lalu dimasukan kedalam plastik yang diberi kamper. Pengemasan pakaian dalam lemari hendaklah sejenis pada tiap bagian lemari agar kelihatan rapi dan lebih mudah mencarinya. Dianjurkan sekali seminggu lemari dibuka atau di anginkan agar tidak pengap dan tidak lembab. 5. Merapikan Area dan Alat Kerja Kerapian area kerja disaat bekerja/melakukan kegiatan menjahit akan memberikan dorongan dalam bekerja sehingga bekerja dapat lebih efektif dan efesien. Disamping itu juga akan membantu keselamatan dalam bekerja. Apa yang perlu dibudayakan dalam menata dan merapkan area kerja adalah sebagai berikut, sesuai dengan budaya kerja 5 S yang dikembangkan di Jepang. Konsep 5 S menitik beratkan akan pentingnya penataan dan kebersihan di tempat kerja secara berkesinambungan (kaizen) guna meningkatkan efesiensi proses kerja. Istilah 5 S berasal dari huruf pertama istilah dalam bahasa Jepang yaitu seiri, seiton, seiso, seiketsu, dan shitsuke. Pengertian masing-masing elemen tersebut adalah sebagai berikut : a. Seiri yaitu ringkas. Jadi menyusun barang-barang atau alat-alat dapat mengelompokkan berdasarkan urutan tingkat kepentingannya sehingga bekerja lebih ringkas. b. Seiton yaitu rapi. Menyimpan barang ditempat yang tepat yang telah ditentukan sehingga dapat cepat ditemukan pada waktu yang dibutuhkan. c. Seiso yaitu resik. Barang-barang, peralatan dan lokasi kerja ataupun lingkungan kerja selalu dalam keadaan bersih. d. Seiketsu yaitu rawat. 149

171 Melakukan pengulangan kegiatan ringkas, rapi dan resik sebagai kebiasaan. e. Shitsuke yaitu rajin. Kegiatan ringkas, rapi, resik, rawat dilaksanakan secara disiplin dan menjadi kebiasaan hidup atau menetap dalam diri kita. Manfaat dari bekerja dengan budaya kerja seperti di atas adalah membuat tempat kerja menjadi lebih teratur dan efesien sehingga melakukan pekerjaan lebih mudah dan memberikan rasa senang. Untuk menjahit tangan seperti menjelujur, mensum atau memasang kancing, siapkanlah alat-alat yang sesuai dengan keperluan seperti jarum, kancing, benang, dan sebagainya. Semua alat dan bahan ini ditempatkan pada satu kotak, dan diletakan pada tempat tertentu. Bekerjalah pada tempat yang rapi dan bersih sehingga tidak ada kemungkinan pakaian ternoda. Bila akan mengepres pakaian, siapkanlah meja setrika dan letakkan dekat dengan colokan listrik/stop kontak. Disamping itu perlu juga disiapkan bantalan setrika dan spray n alat-alat lain yang dirasa perlu. H. Menerapkan Praktek K-3 Kesehatan, keselamatan dan keamanan kerja di sekolah perlu mendapatkan perhatian dari semua pihak, baik guru, instruktur ataupun siswa itu sendiri. Dengan menerapkan praktek kesehatan, keselamatan dan keamanan kerja, diharapkan para pekerja/siswa akan terlindung dari kemungkinan resiko kerja yang selalu mengancamnya, baik yang disebabkan oleh lingkungan kerja maupun yang disebabkan oleh pekerja/siswa itu sendiri. Pihak sekolah kejuruan secara hukum berkewajiban untuk mengurangi resiko/kecelakaan kerja sekecil mungkin. Jadikan keamanan kerja sebagai prioritas utama. Untuk mencapai tujuan tersebut, siswa harus mematuhi panduan keselamatan kerja, sehingga tidak membahayakan diri sendiri maupun diri orang lain. Ketika menjahit jika tidak berhati-hati siswa diancam oleh tusukan jarum, gunting dan lain sebagainya. Untuk menghindari hal tersebut di atas maka setiap bekerja harus diterapkan/dipraktekkan apa yang dituntut oleh aturan-aturan K3. Hal tersebut sangat penting untuk karena dapat meningkatkan kinerja sehingga siswa akan lebih produktif dan professional dalam melakukan setiap pekerjaan menjahit atau mempres. Setiap siswa hendaklah selalu membiasakan diri untuk: 1). Mempelajari dan melaksanakan aturan dan instruksi keselamatan kerja 2). Memberikan contoh cara kerja yang aman kepada siswa baru yang kurang berpengalaman 150

172 3). Menunjukkan kesiapan dan minat untuk mempelajari dan melatih diri terhadap kerja yang aman 4). Melakukan secara sungguh-sungguh tentang keselamatan kerja pada setiap tugas pekerjaan. Menerapkan praktek K3 dapat membantu kesuksesan dalam bekerja, dan perlu juga disadari bahwa. kecelakaan-kecelakaan yang terjadi ditempat kerja disebabkan karena persoalan teknis, atau meletakkan alat disembarangan tempat. Usaha untuk mencegah/memperkecil kecelakaan ditempat kerja, dapat dilakukan dengan cara: 1). Mengadakan pengaturan tata cara kerja, menyediakan tempat alatalat yang diperlukan 2). Menerapkan dan mematuhi peraturan sekolah dan disesuaikan dengan jenis pekerjaan yang dilakukan, karena tempat bekerja merupakan bagian yang penting begi siswa di sekolah, secara tidak langsung tempat bekerja akan berpengaruh pada kesenangan, kenyamanan dan keselamatan dari para siswa. Keadaan atau suasana yang menyenangkan (comfortable) dan aman (safe) akan menimbulkan gairah produktifitas kerja. Rangkuman Pengetahuan teknik menjahit busana sangat perlu bagi semua siswa khususnya siswa SMK Jurusan Tata Busana. Teknik menjahit yang benar akan menghasilkan busana yang berkualitas. Sehelai busana dikatakan berkualitas apabila dikerjakan sesuai dengan teknik jahit yang sesuai dengan desain, jenis bahan yang dipakai, dan lain sebagainya. Sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi serta perkembangan zaman, maka desain busana berkembang dengan pesat sekali. Perkembangan desain busana harus diimbangi dengan teknik menjahit busana itu sendiri. Perkembangan desain seperti berfariasinya desain kerah, desain lengan, desain rok, desain blus dan lain sebagainya, mesti diiringi dengan teknik jahit yang sesuai dengan desain masing-masing. Untuk menerapkan teknik jahit yang benar dan sesuai dengan desain busana, diperlukan pengetahuan tentang teknik dasar menjahit, kampuh dasar (menggabungkan), teknik menjahit bagian-bagian busana, teknik menjahit belahan busana. Didalam kegiatan menjahit, siswa tata busana juga harus mampu menyiapkan/menata tempat kerja yang sesuai dengan kegiatan yang dilakukan, antara lain menyiapkan tempat untuk kegiatan menjahit dengan mesin, mejahit dengan tangan, melakukan pengepresan, dan merapikan area tempat kerja serta menerapkan kesehatan dan keselamatan kerja 151

173 Kompetensi yang diharapkan dari materi diatas adalah : 1. Teknik dasar menjahit, kampuh dasar (menggabungkan), Teknik menjahit bagian-bagian busana, terampil membuat bermacam-macam belahan busana. 2. Mampu menyiapkan tempat dan alat pres, melakukan pengepresan (pressing), mencakup kemampuan yang dibutuhkan untuk pekerjaan pengepresan antara didalam membuat busana. 3. Mampu menerapkan praktek Kesehatan dan keselamatan kerja dalam mengepres. Evaluasi : 1. Jelaskan pengertian dari teknik dasar menjahit busana. 2. Jelaskan langkah kerja menjahit belahan dua lajur 3. Apa saja yang diperlukan didalam pekerjaan mempres dan dimana tempat yang efektif diletakkan untuk mempres antara. 4. Kapan dilakukan pengepresan antara didalam proses pembuatan busana. 5. Jelaskan manfaat melakukan pressing. 6. Jelaskan penerapan K3 dalam kegiatan mempres busana. 152

174 BAB V PEMILIHAN DAN PEMELIHARAAN BAHAN TEKSTIL A. Klasifikasi Serat Tekstil Bahan dasar busana disebut juga dengan kain. Kain ini terbentuk dari serat tekstil yang diolah sedemikian rupa sehingga tercipta kain yang kita lihat dipasaran. Serat tekstil secara garis besar dapat dikelompokkan atas dua yaitu serat alam dan serat buatan. Jadi kain yang kita pakai untuk busana ada yang berasal dari serat alam dan ada juga yang berasal dari serat buatan. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada skema berikut : SERAT TEKSTIL SERAT ALAM SERAT BUATAN Serat alam dapat dikelompokkan lagi menjadi beberapa bagian seperti yang terlihat pada skema berikut : SERAT ALAM Serat Tumbuhtumbuhan (Selulosa) Serat binatang (protein) Serat barang galian (Mineral) Serat biji Serat batang Serat daun Wol Bulu-bulu Sutera Asbes 153

175 Berikut ini pengelompokan dari serat buatan atau disebut juga dengan serat kimia : SERAT KIMIA (SERAT BUATAN) Serat yang diolah kembali Rayon Polynosic Serat setengah sintetis Asetat Serat sintetis Polyamide...Nylon Polyacrylo-nitrile...Acrylic Polyester Polyvinyl-alkohol Polyvinylidenechloride Polyvinylchloride Polyethylene Polypropylene Polyurethane Sesuai dengan asal serat tekstil sebagaimana yang dijelaskan di atas, maka sifat-sifat, kegunaan dan cara pemeliharaan bahan tekstilpun berbeda sesuai dengan asal serat tersebut. 1. Serat Alam a. Serat Tumbuh-tumbuhan (Selulosa) Serat tumbuh-tumbuhan yaitu serat tekstil yang bahan pokoknya berasal dari tumbuh tumbuhan. Serat sellulosa mengandung zat arang (C), air (H) dan zat asam (O). Serat selulosa terbagi menjadi serat biji, serat batang, serat daun dan serat buah. Pada umumnya mempunyai sifat yang hampir sama yaitu kuat, padat, mudah kusut, tahan setrika dan tahan chlor 1) Serat Biji Serat biji terdiri atas serat kapas dan kapuk. Namun dalam pembuatan busana lebih banyak digunakan serat kapas. Serat kapuk banyak dipakai untuk keperluan bahan pengisi a) Serat kapas Kapas merupakan serat sellulosa yang berasal dari serat biji-bijian. Menurut sejarahnya kapas sudah dikenal kirakira 5000 tahun SM. Menurut para ahli, India adalah negara tertua yang menggunakan kapas. Sifat-sifat serat kapas adalah sebagai berikut : Serat kapas pendek-pendek antara mm. Serat kapas sangat kuat. Dalam keadaan basah kekuatannya bertambah lebih kurang 25%. Hal ini 154

176 perlu diketahui untuk mencuci dan menyetrika bahan dari serat kapas. Makin kuat serat makin mudah memeliharanya. Kekuatan kapas dapat dipertinggi dengan jalan merendam dalam coustic soda. Hal ini juga akan menambah kilau dan daya isap pada waktu dicelup. Kapas sangat higroskopis atau menghisap air. Kapas kurang kenyal yang menyebabkan kapas mudah kusut. Untuk memperbaiki sifat ini kain kapas perlu dikanji dan menyempurnakan dengan damar buatan. Kapas tahan uji, tahan panas setrika yang tinggi. Tahan sabun yang kuat atau mengandung banyak lindi untuk melarutkan kotoran dan tahan obat-obat kelantang. Jadi bahan kapas dapat dikelantang. Kapas tidak tahan terhadap asam mineral dan asam organik. Walaupun demikian asam organik digunakan juga untuk memperindah tenunan dari kapas, dengan kadar tertentu kapas dapat menjadi tembus terang. Proses ini disebut dengan memperkamen. Kain kapas tahan ngengat tetapi tidak tahan cendawan. Harus disimpan dalam keadaan kering. Disamping sifat-sifat yang menguntungkan di atas ada sifatsifat yang kurang menguntungkan, namun masih terus dilakukan penyelidikan untuk mengatasinya diantaranya bahan kapas susut saat dicuci. Jadi jika menggunakan bahan kapas hendaklah direndam terlebih dahulu sebelum digunting agar setelah dibuat pakaian tidak berubah ukurannya. Teknik pemeliharaan kain dari serat kapas yaitu : Kain dari serat kapas dapat dicuci dengan sabun cuci biasa, sabun cream dan sabun yang banyak lindi. Bahan putih dapat dikelantang dengan sabun biasa dan obat-obat kelantang. Dapat di jemur dengan bagian buruk bahan keluar, dan dijemur pada tempat yang teduh dan kena angin. Disetrika dengan setrika yang panas supaya kusutnya hilang Disimpan di lemari pakaian dan bila bahan tersebut tidak sering di pakai, hendaklah sekali dalam sebulan dijemur di panas matahari untuk menghilangkan bau apeknya. 155

177 Bahan dari serat kapas digunakan antara lain untuk : Untuk lenan rumah tangga seperti alas kasur, sarung bantal, alas meja, lover, serbet dan lain-lain. Untuk bahan pakaian seperti pakaian anak, pakaian sekolah, pakaian kerja dan lain-lain. Sebagai bahan dasar kosmetik seperti kapas pembersih, spon bedak dan lain-lain. Untuk keperluan kedokteran seperti perban. Bahan dari serat kapas yang diperdagangkan di pasar antara lain popline, blacu, berkoline, kain putih, drill, voal dan rubia. b) Kapuk Kapuk sudah lama dipergunakan di Indonesia (Jawa) sebagai bahan pengisi kasur, bantal, tempat duduk dan lainnya. Sifat-sifat serat kapuk yaitu : Warna serat kapuk coklat kekuning-kuningan dan mengkilap. Serat kapuk sangat tipis, lembut, licin dan tidak elastis sehingga sulit untuk dipintal. Serat kapuk mudah mengembang dan berat jenis seratnya sangat kecil. Menyerap suara, mudah terbakar, sifat melenting yang baik, transparan, tidak higroskopis dan menahan panas. Seratnya pendek dan tidak mempunyai pilinan asli Kegunaan kapuk yaitu : Serat kapuk tidak dapat dijadikan bahan pakaian karena kapuk tidak dapat dipintal, namun dapat digunakan sebagai bahan campuran serat lain. Kapuk sangat baik digunakan untuk mengisi pelampung penyelamat karena kapuk mempunyai sifat mengembang yang baik. Serat sangat baik untuk mengisi kasur dan bantal karena kapuk mempunyai sifat melenting yang baik. Serat kapuk sangat baik dipakai untuk isolasi panas dan suara. Biji kapuk yang sudah dipisahkan dapat diambil minyaknya untuk pembuatan sabun sedangkan ampasnya untuk pupuk. Kayu pohon kapuk dapat dipergunakan sebagai bahan kertas. 156

178 2) Serat Batang a) Serat lenen Serat lenen diambil dari serat batang pohon flax atau vlas yang disambung-sambung sehingga menjadi benang. Karena itu tenunan lenan tidak rata. Bahan ini baik digunakan untuk kebutuhan lenan rumah tangga seperti taplak meja. Sifat sifat serat lenen adalah: Serat lenen kurang tahan terhadap asam dan basa. Proses pengelantangan yang kuat menyebabkan berkurangnya berat serat lenen. Lenen lebih kuat dari serat-serat alam lainnya, tetapi kurang elastis dan kurang lemas. Kekuatannya kira-kira 2-3 kali kekuatan serat kapas. Kandungan air dalam serat lenen mencapai 7 8% pada kondisi standar tetapi menyerap dan melepaskan uap air lebih cepat. Terasa dingin karena sifat penghantar panas yang baik. Mempunyai permukaan yang halus sehingga mudah dicuci dan disetrika. Sukar dicelup dibandingkan dengan serat kapas. Dapat dikelantang dengan baik. Kegunaan serat lenen yaitu : Digunakan untuk bahan pakaian dan tekstil kebutuhan rumah tangga atau lenan rumah tangga yang bermutu baik. Sebagai benang jahit, jala dan pipa pemadam kebakaran. Teknik pemeliharaan bahan dari serat lenen yaitu : Dapat dicuci dengan semua sabun. Hindari pengelantangan dengan chloor. Dijemur pada tempat yang teduh atau dianginkan. Disetrika dengan panas tinggi supaya kusutnya hilang. b) Serat henep Serat henep merupakan serat yang di ambil dari kulit pohon henep yang dilepaskan dari batangnya seperti lenen. 157

179 Sifat-sifat serat henep yaitu : Serat lebih kuat dari flax (25%), tetapi lebih kasar dan lebih tua warnanya. Karena kasar, maka henep tidak bisa dipintal atau menjadi benang yang halus. Tahan pengaruh udara dan lembab Kegunaan serat henep yaitu : Henep umumnya digunakan untuk tali temali, kanvas dan karung. Tenunan campuran antara serat henep dan lenan Tenunan campuran antara serat henep dan kapas, tenunan ini seperti sutera asli. c) Serat Goni Serat goni berasal dari serat kulit pohon goni. Serat goni tidak digunakan untuk bahan pakaian karena seratnya yang kasar. Umumnya serat ini banyak dipakai untuk kebutuhan rumah tangga, seperti tenunan untuk permadani. Sifat-sifat serat goni : Serat goni tidak kuat, tidak tahan udara lembab dan cahaya matahari. Serat goni tidak rata, berdebu dan kaku. Panjang serat goni 3-4 m terdiri atas serat tunggal sangat pendek 1-5 mm yang direkat oleh perekat tumbuh-tumbuhan. Jenis yang baik berwarna putih kekuning-kuningan dan yang kurang hitam kemerah-merahan yang digunakan untuk karung. Sangat hidroskopis. Dalam keadan basah goni menjadi busuk Agak tahan Chloor, bila akan dicuci/dicelup, dikelantang terlebih dahulu. Serat goni sukar mengisap ketika dicelup Kegunaan serat goni yaitu : Untuk kain kasur, kain kursi dan tirai. Tenunan dasar pada permadani atau linoleum Karung goni untuk kwalitas goni yang buruk. d) Serat Rosella Serat Rosella adalah serat yang diambil dari tanaman Hibiscus Sabdariffa. Ditanam di Indonesia (Jawa Tengah 158

180 dan Jawa Timur), India, Bangladesh, Thailand, Philiphina dan Hindia Barat. Sifat-sifat serat Rosella yaitu : Batang dan daun tanaman rosella berwarna hijau tua sampai kemerah-merahan. Bunganya berwarna putih, cream sampai kuning. Warna serat yang baik adalah cream sampai putih perah, berkilau dan kekuatan cukup. Dalam keadan basah kekuatan serat rosella tetap Kekuatan serat rosella sedikit lebih rendah dari pada serat yute. Kegunaan serat rosella yaitu terutama untuk karung pembungkus gula dan beras. 3) Serat daun Serat daun adalah serat yang terdapat pada pelepah daun atau daunnya. Serat daun terdiri atas serat abaka dan serat sisal. a) Serat Abaka (henep manila) Serat abaka sering juga disebut henep manila. Henep manila adalah serat daun dari batang semu sebuah pohon yang menyerupai pohon pisang. Seratnya terdapat pada pelapak daun tanaman abaka. Banyak di tanam di Philiphina, India, Indonesia dan Amerika Tengah. Sifat-sifat serat abaka yaitu : Warna serat yang baik bervariasi dari putih sampai kuning gading, cream, coklat muda, coklat tua sampai hampir hitam tergantung pada letak pelepah daun pada batang. Tahan terhadap air laut. Mempunyai sifat mengambang yang baik. Kuat dan tahan tekukan. Serat abaka digunakan antara lain untuk untuk bahan pakaian, untuk tali temali dan kadang-kadang serat abaka dicampur dengan serat nilon dan ditenun menjadi tenunan tembus terang. b) Serat Sisal Sisal adalah serat yang berasal dari daun tumbuhtumbuhan agave sisalana. 159

181 Sifat-sifat serat sisal yaitu : Warna serat sisal putih dan berkilau. Seratnya kaku. Kekuatannya sangat baik dan tahan terhadap air laut Kegunaan serat sisal terutama untuk keperluan tali temali. b. Serat Binatang (Protein) Serat hewan adalah serat yang berasal dari binatang seperti bulu biri-biri, unta, kambing, dan kepompong sutera. Wol dan sutera adalah bahan yang berasal dari serat protein. Pada umumnya serat dari protein lebih mudah dipengaruhi bahanbahan kimia dari pada serat sellulosa. 1) Wol Wol berasal dari bulu biri-biri, kelinci angora, rambut kuda atau domba. Wol selain mengandung protein juga mengandung belerang. Wol telah mulai dipakai lebih kurang 4000 tahun sebelum Masehi di Mesir. Serat wol dapat dibagi atas wol halus, wol sedang dan wol kasar atau wol permadani. Wol halus. Wol ini seratnya halus, lembut, kuat, elastis dan keriting Wol sedang.sebagian besar wol sedang dihasilkan oleh biri-biri dari Inggris. Serat wol ini lebih kasar, lebih panjang dan lebih berkilau dari wol halus. Wol Kasar.Wol kasar dihasilkan dari biri-biri yang berekor gemuk dan berekor lebar. Warna serat ini bervariasi dari putih sampai hitam panjang dan serat bagian dalam halus. Sifat-sifat serat wol yaitu : Sifat fisika : Serat wol dapat menyerap uap air yang tinggi dari udara. Besar kecilnya kadar uap air yang diserap bergantung pada kelembaban udara. Berat jenis wol kering 1,304. Kilau serat berbeda-beda tergantung dari susunan permukaan serat, ukuran serat, serat gelombang atau keriting. Kilau wol tidak tampak pada satu serat, tetapi tampak pada sekelompok benang atau kain. Kekuatan serat dalam keadaan basah berkisar antara 1,2 1,7 gram per denier dengan mulur %. 160

182 Di dalam air dingin wol mempunyai elastis sempurna. Daya pegasnya besar sehingga kain wol tidak dapat kusut, kalau kain diremas dan dilepaskan maka akan kembali pada bentuk semula. Panjang serat wol Wol tidak tahan ngengat. Sifat kimia : Di dalam air serat wol mengelembung, tetapi setelah kering akan kembali ke bentuk semula. Wol dapat bereaksi dengan asam kuat atau lemah, tetapi tidak larut. Wol mudah rusak dalam alkali. Wol tahan terhadap jamur dan bakteri, tetapi bila wol telah dirusak oleh zat kimia, terutama alkali maka wol mudah diserang serangga dan jamur, yaitu kekuatan menurun, warna berubah dan serat dimakan serangga. Finished wol dengan formaldehida bertujuan melindungi serat terhadap alkali, kaustik soda dan sterilisasi. Wol dapat dicelup dengan zat warna asam, direk dan krom. a) Macam-Macam Wol Wol terdiri atas beberapa jenis yaitu : Wol guru, dibuat dari serat yang pendek dan sangat keriting. Wol sisir, dibuat dari serat yang panjang dan sedikit ikalnya. Reprocessed wool. Diperoleh dari sisa-sisa dan percaperca kain wol baru yang ditenun atau dikempa, dengan jalan diuraikan dalam mesin maka dihasilkan serat-serat wol kembali dan dipintal serta ditenun kembali menjadi kain. Sifat wol ini diantaranya serabutnya pendek, kurang kenyal, kurang kuat, dan susah dikempa karena sisik-sisik banyak hilang. Re-used wool disebut juga shoddy, diperoleh dengan jalan menguraikan kain-kain tua dari wol yang telah dipakai. Sebelum diuraikan kain-kain itu dibersihkan dan dipilih dahulu. Sifatnya sama sekali tidak kuat, karena itu waktu memintal dicampur dengan wol baru atau serat kapas. 161

183 b) Teknik pemeliharaan bahan dari serat wol yaitu : Pakaian dari wol hendaklah disikat setelah dipakai untuk membuang debu dan kotoran-kotoran yang menempel. Gunakan sikat yang lemas tetapi kuat supaya bulu-bulu wol berdiri dan sifat pegasnya kembali. Gantung pakaian beberapa lama supaya kusutnya hilang dan bentuk kembali seperti semula. Dengan menggantungkan pakaian di atas uap air panas dapat mempercepat hilangnya kusut-kusut. Simpan kain wol dalam keadaan bersih dan kering. Mencuci wol harus dilakukan dengan hati-hati meskipun kain wol itu telah dibuat tahan kusut. Pakaian cukup diremas-remas untuk mengeluarkan kotoran. Membilasnya harus bersih. c) Serat wol digunakan antara lain untuk : Wol dipergunakan untuk bahan pakaian pria dan wanita serta pakaian anak-anak. Untuk keperluan alat-alat rumah tangga seperti karpet, kursi, tirai, selimut dan lain-lain. Untuk keperluan-keperluan industri seperti untuk piano, isolasi, sumbu lampu dan lain-lain. 2) Bulu-bulu Serat binatang selain bulu biri-biri yang dapat dipergunakan untuk pembuatan kain adalah bulu kambing dan sejenisnya, misalnya mohair dan cashmere, bulu unta dan sejenisnya misalnya unta, alpaca, vicuna dan llama dan binatang berbulu terutama kelinci angora. Serat-serat tersebut biasanya dicampur dengan wol untuk mendapatkan efek khusus, misalnya untuk menambah keindahan, kadang juga dipakai untuk keperluan khusus, seperti bulu kambing untuk sikat. a) Serat Mohair Mohair adalah serat bulu kambing angora yang berasal dari Asia Kecil. Warna serat mohair kecoklat-coklatan karena tercampur kotoran, tetapi setelah dimasak putih berkilau seperti sutera sehingga mudah dicelup dengan warna cerah. Bentuk serat hampir sama dengan wol, hanya sisiknya lebih runcing. Lebih sukar dipintal dari pada wol karena permukaan serat licin. Sifat-sifat serat mohair hampir sama dengan wol. Kegunan serat mohair diantaranya yaitu untuk kain berbulu (selimut), untuk 162

184 pakaian musim panas, untuk kain rajut dan untuk kain penutup kursi dan permadani. b) Serat Kasmer Serat kasmer diperoleh dari bulu kambing kasmer yang lebih besar dari angora dan mempunyai rambut atau bulu yang lurus. c) Serat Unta Serat unta diperoleh dari bulu unta. Kehalusan dan kekuatannya hampir sama dengan wol dan mohair. Penggunaan terutama untuk pakaian pria yang bermutu tinggi. d) Serat llama atau lama glama-glama Serat ilama diperoleh dari binatang yang termasuk sejenis unta di daerah pegunungan Andes antara Peru dan Bolivia. Sisik tidak terlihat jelas. Sebagian besar mempunyai medula meskipun seratnya halus. Warna bervariasi dari putih sampai hitam, tetapi umumnya coklat. e) Serat Alpaka Alpaka hampir sama dengan ilama, hanya lebih kecil dan mempunyai bulu lebih seragam. Warna bervariasi dari putih, coklat kekuning-kuningan, dan berkilau. Kekuatan hampir sama dengan wol. f) Serat Vikuna Serat vikuna diperoleh dari jenis ilama yang paling kecil. Kekuatan hampir sama dengan kasmer. g) Serat Kelinci Angora Serat atau bulu kelinci angora sudah lama dipergunakan industri tekstil. Penggunaan terutama untuk pembuatan topi, kain rajut dan sebagai campuran serat wol atau nylon. 3) Serat Sutera Sutera adalah serat berbentuk filamen yang diperoleh dari sejenis serangga yang disebut Lepidoptera. Serat tersebut dihasilkan oleh larva ulat sutera sewaktu membentuk kepompong yaitu bentuk ulat sebelum menjadi kupu-kupu. Sifat-sifat serat sutera adalah : Benang sutera adalah yang terhalus dari bahan-bahan tekstil asli dan yang terkuat jika dibandingkan dengan bahan lain yang sama halusnya. Dalam keadaan basah kekuatan susut 15 %. Terdiri atas benang filamen yang panjangnya 300 sampai 1600 meter. Penampangnya berbentuk segi tiga dengan sudut-sudut membulat yang menyebabkan kilau pada sutera. 163

185 Licin, berkilau, lembut, kenyal, kuat dan dapat menyesuaikan diri dengan temperatur udara. Sutera bukan pengantar panas yang baik, tetapi karena seratnya licin menyebabkan rasa dingin kalau dipakai. Sangat hygroscopis atau menghisap keringat, baik untuk pakaian musin panas maupun musim dingin. Tahan ngengat. Sutera dapat rusak oleh sinar matahari, menyebabkan warnanya menjadi kuning. Oleh karena ini waktu menjemur jangan kena sinar matahari. Sutera dapat rusak oleh obat kelantang yang mengandung chloor dan dapat rusak dengan pemakaian sterika dengan panas 110 o C. Oleh karena itu setrikalah sutera dengan panas rendah. Lebih tahan lindi dibandingkan dengan wol. Waktu mencuci harus memakai sabun lunak supaya jangan mengurangi kilaunya. Sutera tidak tahan asam. Pemakaian asam cair waktu mencuci dapat merusak warna dan kilau Kegunaan serat sutera antara lain untuk bahan pakaian yang bermutu tinggi seperti bahan pakaian wanita, kaos kaki wanita, dasi, sapu tangan, untuk keperluan alatalat rumah tangga seperti kain gorden, seprei, untuk benang jahit, benang sulam, isolasi listrik, kain parasut, senar alat-alat musik dan lain-lain. Untuk mengenal serat dari protein dapat dilakukan dengan membakar serat. Serat protein jika dibakar akan berbau rambut atau tanduk terbakar dan meninggalkan noda hitam. c. Serat Barang Galian Serabut galian merupakan serabut yang berasal dari dalam tanah seperti asbes dan logam. Serat ini umumnya tahan api, tidak kusut dan tidak mengisap bau. Serat dari bahan galian yang tidak dilapis mudah berubah warnanya karena pengaruh suhu, seperti benang logam, benang emas atau perak. Benang atau pakaian yang terbuat dari logam biasanya dilapisi dengan plastik agar tidak cepat rusak. Serabut galian buatan disebut juga dengan fiberglass. Fiberglass ini tahan api, licin dan tembus terang, kuat dan tahan asam, tahan cendawan dan bahan kimia. Serat Asbes Serat asbes adalah serat yang diperoleh dari batu karang yang terletak jauh dibawah permukaan tanah. Batu karang 164

186 tersebut dinamakan peridotite tersusun dari besi, magnesium dan siliket. Karena pengaruh tekanan tinggi dan air panas yang mengandung garam-garam dan karbondioksida menjadikan kristal-kristal dengan berbagai bentuk. Kristalkristal itulah yang disebut asbes. Sifat beberapa jenis asbes berbeda satu sama lain. Perbedaan itu bukan hanya antara golongan tetapi juga dalam satu golongan asbes itu sendiri. Perbedaan tersebut karena asbes dibentuk oleh alam dengan kondisi yang berlainan sehingga menghasilkan asbes yang tidak rata susunannya. Sifat-sifat asbes yaitu : Kekuatan dan mulur asbes bervariasi, tergantung dari jenis, cara penambangan dan pengambilan serat batunya. Mulur serat asbes sangat rendah yaitu 1 3%. Serat asbes hanya sedikit menyerap air. Serat asbes bersifat sangat tahan terhadap panas dan api. Asbes tahan terhadap asam. Penghantar listrik dan panas yang jelek. Tahan terhadap gesekan dan cuaca. Menyerap suara, terutama untuk frekuensi tinggi. Serat asbes digunakan antara lain untuk benang sehingga dapat dibuat jadi kain, untuk bahan pencampur atap, bahan pembungkus, bahan penahan panas dan api dan bahan pelapis rem dan kopling 2. Serat Buatan Serat buatan terbentuk dari polimer-polimer yang berasal dari alam maupun polimer-polimer buatan yang dibuat dengan cara kepolimeran senyawa-senyawa kimia yang relatif sederhana. Semua proses pembuatan serat dilakukan dengan menyemprotkan polimer yang berbentuk cairan melalui lubang-lubang kecil (spinneter). Serat buatan (serat termoplastik) disebut juga man-made fibres terdiri dari merk nylon, perlon, decron, teriline, trivera, terlenka, tetoron, prinsip, bellini, laceri, larici, orlon, cashmilon, silk, caterina dan lain-lain. Sifat-sifat umum dari serat buatan adalah: Sangat kuat dan tahan gesekan. Dalam keadaan kering atau basah kekuatannya tetap sama kecuali asetat. Kenyal, pegas (elastis dan tahan regangan) Kurang menghisap air. Peka terhadap panas. Tahan alkali, tahan ngengat, jemur, serangga, dan lain-lain. Dapat diawetkan dengan panas. 165

187 Sifat-sifat lain yang perlu diketahui antara lain : Bahan awet. Mudah dalam pemeliharaan. Mudah menghilangkan noda yang menempel. Sukar mengisap air karena memberi rasa lembab. Terasa panas bila dipakai. Melunak dan meleleh kena strika panas. Cepat menimbulkan statis electricity. Selain sifat-sifat di atas kain dari serat buatan dapat dibuat macam-macam effek timbul, dapat dibuat lipatan, ukuran baju dapat stabil tak berubah dan kain-kain yang berupa kain rajutan tak perlu dikelim. Keburukannya antara lain lipatan-lipatan yang terjadi sukar dihilangkan. Walaupun kelompok serat di atas berbeda dalam komposisi kimia dan struktur namun mempunyai sifat-sifat yang hampir sama. Serat ini sering disebut serat sintetis, termoplastik atau serat kimia. Serat sintetis disebut heat sensitive, karena mempunyai sifat mengerut, melembek atau meleleh kalau dipanaskan. Tekstil yang dibuat dari serat heat sensitive sukar dijahit seperti kain wol memerlukan penyelesaian yang cukup banyak, misalnya: menguapkan, memproses dan membentuk. Hal-hal yang harus diperhatikan dalam perawatan serat sintetis antara lain : 1. Gunakan suhu yang rendah untuk menyetrika. 2. Gunakan lap basah atau setrika uap untuk mengontrol suhu. 3. Tekanan pada kelim jangan terlalu banyak untuk menghindari lipitlipit permanen dan sifat mengkilap. 4. Jangan menggunakan kapur berlemak karena jika disetrika akan meninggalkan bekas yang berminyak pada kain. a. Rayon 1) Rayon Viskosa Rayon viskosa digunakan untuk pakaian dan tekstil keperluan rumah tangga seperti kain tirai, kain penutup kursi, taplak meja, seprai, kain renda. Kain-kain yang halus digunakan untuk pakaian dan pakaian dalam. Rayon viskosa baik untuk kain lapis karena tahan gesekan, berkilau dan licin. Campuran rayon viskosa dan polyester banyak digunakan sebagai bahan pakaian Sifat-sifat rayon viskosa antara lain : Kekuatan serat rayon viskosa kira-kira 2,6 gram per denier dalam keadaan kering dan kekuatan basahnya kira-kira 15% dalam keadaan kering dan kira-kira 25% dalam keadaan basah. 166

188 Kurang elastis. Apabila benangnya mendapat suatu tarikan mendadak, kemungkinan benangnya tetap mulur dan tidak mudah kembali lagi, jadi jika dicelup akan menghasilkan celupan yang tidak rata dan kelihatan seperti garis-garis yang berkilau. Berat jenis rayon viskosa adalah 1,52. Dalam keadaan kering rayon viskosa merupakan isolator listrik yang baik, tetapi uap air yang diserap oleh rayon akan mengurangi daya isolasinya. Penyinaran dapat menyebabkan kekuatannya berkurang. Rayon viskosa tahan terhadap setrika panas tetapi berubah menjadi kuning jika terlalu lama disetrika. Rayon viskosa lebih cepat rusak oleh asam dibandingkan dengan kapas, terutama dalam keadaan panas. Rayon viskosa tahan terhadap pelarut-pelarut untuk pencucian kering. 2) Rayon Kupramonium Larutan kupramonium adalah selulosa yang diregenerasi, maka sifatnya dalam banyak hal sama dengan rayon viskosa. Perbedaan sifat-sifatnya antara rayon kupramonium sangat halus, rata-rata 1,2 lenier per filamen, kekuatan rayon kupramonium berkurang dalam keadaan basah, lebih mulur diwaktu basah dari pada waktu kering, dan rayon kupramonium dapat terbakar, pada suhu C rusak, dan kekuatannya berkurang oleh sinar matahari. Dalam pembakaran akan meninggalkan abu yang mengandung sedikit sekali tembaga. Sifat kimia rayon kupramonium sama dengan rayon viskosa. Rusak oleh alkali, kuat, tetapi tahan alkali lemah dan zat-zat oksidator. Pemutihan dapat dilakukan dengan larutan hipoklorit dalam suasana sedikit basah atau dengan hydrogen peroksida. Pencelupan rayon kupramonium sama dengan pencelupan rayon viskosa. Rayon kupramonium terutama digunakan untuk pakaian, kaos kaki wanita, pakaian dalam dan kebanyakan untuk kain-kain dengan mutu baik. Kehalusan filamennya memberikan sifat lemas dan drape yang baik (sifat gelombang yang baik). 3) Rayon Asetat Tenunan Asetat menyerupai tenunan sutera karena kilaunya dan sifat lembutnya, benangnya mudah dilewat sering, baik untuk tenunan crepe. Tanda-tanda jika asetat dibakar adalah cepat terbakar dan mencair, meninggalkan bundaran keras dan berbau asam. Serat asetat banyak dipergunakan untuk pakaian wanita dan untuk tekstil keperluan rumah tangga, untuk lapisan pengeras 167

189 kain, misalnya untuk leher kemeja, untuk isolasi listrik dan untuk penyaring pada rokok. Sifat-sifat rayon asetat antara lain : Daya mulurnya lebih besar dari daya mulur rayon. Kurang kuat dari rayon, terlebih dalam keadaan basah, kekuatan susutnya sampai 65%, rayon 50%. Daya menghisap air kurang dari pada rayon. Daya menghisap cat kurang, karena itu perlu dipergunakan cat istimewa untuk asetat. Rayon asetat kurang mengantarkan panas. Tidak tahan panas. Pada temperatur tinggi mencair dan setelah dingin membeku dan menjadi kaku. Karena sifat-sifat ini serat asetat digunakan untuk mengakukan kerah pada pakaian laki-laki atau wanita yang disebut trubenais (tenunan kapas yang dilapisi asetat). Caranya kerah dilapisi dengan trubenya, kemudian disetrika hingga asetat mencair dan tenunan menjadi kaku setelah menjadi dingin. Tidak tahan alkali dan zat pemutih yang mengandung chloor. Asetat larut dalam aseton. Teknik pemeliharaan rayon asetat yaitu : Mencuci harus dilakukan dengan cepat karena kekuatannya berkurang dalam keadaan basah. Gunakan sabun yang tidak mengandug lindi. Dibilas dalam air suam-suam kuku. Disetrika setelah kering dan tidak perlu dibasahi. Jika disetrika sewaktu basah akan terjadi kilau. Disetrika dengan temperatur paling tinggi C. Panas yang lebih tinggi menyebabkan bahan mencair, melekat pada setrika dan akan menyebabkan kain berlubang. 4) Polinosik Serat polinosik mempunyai kekuatan lebih tinggi, mulur lebih rendah, perbandingan kekuatan basah dengan kering jauh lebih tinggi, dan penggelembungan dalam air lebih kecil. Polinosik digunakan terutama untuk bahan pakaian dan juga untuk kain tirai vince atau moynel. Vince adalah salah satu serat polinosik, di Amerika dikenal dengan nama moynel. b. Polimer Alam Dari Protein Pembuatan serat polimer alam dari protein dilakukan untuk mengetahui sifat-sifat serat yang dimiliki oleh serat wol. Beberapa percobaan yang telah dilakukan antara lain serat dari protein susu, 168

190 serat dari protein jagung, serat dari kacang kedele dan serat dari kacang tanah. 1) Serat dari protein susu Serat dari protein susu menyerupai wol marino yang digaru. Serat ini menyekat panas yang baik, lembut dan licin, pegas dan lenting seperti rambut kuda, daya mulur dan kuatnya kurang dari pada wol asli, tidak dapat di kempa karena tak bersisik dan jika di bakar seratnya cepat terbakar dan berbau tanduk atau rambut terbakar. Kegunaanya antara lain untuk pakaian dalam di negeri yang beriklim dingin, ditenun untuk meniru tenunan rambut kuda dan sebagai serat pengisi kasur. 2) Serat dari protein jagung Serat yang dibuat dari protein jagung disebut vicara. Serat ini dibuat berupa benang filamen dan serat yang dibuat khusus untuk campuran dengan serat lain misalnya : a) Vicara dengan wol, hasilnya mendekati wol cashmir. b) Vicara dengan kapas dapat lebih mengembang. c) Vicara dengan nylon lebih mudah mengisap dan lembut. d) Vicara dengan asetat lebih lembut, rasa kaku berkurang. Sifat-sifat serat dari protein jagung antara lain : Kilau keras tetapi dapat diredamkan Pegas dan kuat Tahan cendawan dan ngengat Lebih tahan alkali dari pada wol Murah 3) Serat dari kacang kedele Serat kacang kedele dibuat dari tepung kacang kedele yang telah diambil minyaknya. Protein dan tepung dipisahkan, dilarutkan, disemprotkan melalui alat pemintal seperti pembuatan serat sintetis yang lain. Benang filamen ditarik dan dikeraskan secara kimia, akhirnya dipotong-potong menjadi serat. Sifat-sifat serat dari kacang kedele antara lain yaitu serat kacang kedele berkilau, mengerut, ringan dan berwarna coklat, memberi rasa panas seperti serat wol, kenyal tetapi kurang kuat lebih-lebih dalam keadaan basah dan baik dipakai sebagai bahan campuran untuk kapas dan rayon. Hasil dari serat ini masih belum diperdagangkan 4) Serat dari kacang tanah Serat dari kacang tanah ini disebut ardil, menyerupai wol, tetapi tidak mengerut dan tahan ngengat. Warna serat creme dan 169

191 lembut, jika disentuh terasa panas dan daya mengisap lengas sama seperti wol. Serat ini digunakan sebagai campuran pada serat kapas dan wol. Campuran dari 50% ardil dan 50% wol memberikan bahan seperti terdiri dari 100% wol. Jika dicampur dengan serat selulosa memberikan rasa panas dan tahan kusut seperti wol. c. Polimer Kondensasi Polimer kondensasi terbagi menjadi Poliamida (Nylon) dan Poliester 1) Poliamida (Nylon) Poliamida (Nylon) merupakan serat yang kuat. Nylon yang cukup mahal ialah supernilon yang dapat ditenun menjadi kainkain yang indah, baik yang menyerupai tweed maupun yang menyerupai brokat emas atau sutera. Sifat-sifat nylon adalah sebagai berikut: Kuat dan tahan gesekan Daya mulurnya besar, kalau diregang sampai 8%, benang akan kembali pada panjang semula, tetapi kalau terlalu regang, bentuk akan berubah. Kenyal, tidak mengisap lengas atau air sehingga mudah kering., Baik digunakan untuk pakaian bepergian terutama pakaian dalam karena ringan dan cepat kering. Pada umumnya tidak tahan panas, kalau bahan di setrika harus dicoba terlebih dahulu dengan temperatur yang rendah. Larut dalam phenol, tetapi kalau dipakai phenol cair akan mengerit dan dapat digunakan untuk membuat hiasan-hiasan. Tahan lindi/ alkali dan tidak tahan chloor. Tahan air garam (baik untuk tali dan jala ikan) Tahan ngengat/ cendawan Jika dibakar terlihat meleleh, tidak menyala dan membentuk tepi berwarna coklat. Untuk memperbaiki kualitas nylon dapat dibuat kain renda (lece), dibuat lubang-lubang dan diselesaikan tepinya dengan cat nylon dan disempurnakan melalui proses nylonizing hingga dapat lebih mengisap, lembut dan lemas. Mengingat kekuatan nylon yang sangat tinggi maka nylon sangat baik untuk dibuat kain parasut, tali temali yang memerlukan kekuatan tinggi, benang ban terpal, jala dan untuk tekstil industri lainnya. Selain untuk keperluan industri, nylon juga dapat dipakai untuk bahan pakaian, terutama untuk pakaian wanita, kaos kaki dan tekstil rumah tangga seperti gorden jendela 170

192 atau pintu. Selain itu nylon juga digunakan untuk kain kursi, permadani dan kain penyaring. Teknik pemeliharaan kain nylon adalah sebagai berikut : Nylon putih setelah dipakai hendaknya segera dicuci karena bisa menjadi kuning. Bahan tidak perlu direndam lama karena kotoran hanya menempel. Cuci dengan cara diremas-remas dalam air sabun suam-suam kuku dan bilas dalam air suam-suam kuku juga. Gantung basah-basah sampai kering dan tidak perlu diperas. Setrika dengan panas rendah jika diperlukan. 2) Poliester Kain-kain yang dibuat dari poliester mempunyai sifat cepat kering, kuat dan dapat berbentuk seperti serat alam. Serat-serat poliester bisa dicampur dengan serat-serat katun, wol, rayon dan sutera. Poliester berwarna kuning gading, sehingga kadangkadang perlu diputihkan. Untuk pemutihan dipergunakan natrium klorit pada suhu mendidih dengan penambahan asam nitrat. Serat poliester dapat menghasilkan kain yang tipis atau tebal dengan cara menenun atau merajut sesuai dengan kebutuhan, Jika menghendaki kain yang terasa sejuk atau hangat, dapat dibuat kain yang menyerupai katun atau wol. Poliester menghasilkan filamen-filamen poliester yang licin, serat-serat profil dan benang-benang tekstur yang elastis, yang biasanya dirajut menjadi jersey seperti Trivera 2000, Crimplene dan Diolenlect. Sifat-sifat serat poliester adalah sebagai berikut: Tahan kusut, baik untuk pakaian wanita maupun pria. Tahan cuci dan tidak kusut kalau dicuci. Tahan obat kelantang. Lebih tahan sinar matahari dari pada nylon. Dapat ditekan dengan setrika panas (150 o C), hingga terjadi lipatan tetapi dapat dihilangkan dengan panas yang sama. Untuk membuat lipatan yang permanen diperlukan panas 210 o C. Mempunyai sifat elastis yang baik. Poliester berbentuk selinder dengan penampang lintang bulat. Poliester tahan asam lemah meskipun pada suhu mendidih. Poliester meleleh di udara pada suhu 205 o C dan tidak menguning pada suhu tinggi. Poliester tahan serangga, jamur dan bakteri. 171

193 Dimenesi kain poliester dapat distabilkan dengan cara pemantapan panas yang diatur pada suhu tertentu. Bahan dari serat poliester hendaklah dicuci dengan air sabun dan dibilas. Tidak perlu diperas dan gantungkan hingga kering. Bahan ini tidak perlu disetrika kalau sudah digantungkan dengan baik. Sifat poliester yang sangat baik, terutama tahan kusut dan dimensinya yang stabil maka poliester banyak dipakai untuk bahan pakaian dan dasi. Untuk pakaian tipis poliester sangat baik dicampur dengan kapas dengan perbandingan 2 ; 1. Selain itu poliester juga banyak digunakan untuk kain tirai, karena ketahanannya terhadap sinar dibalik kaca. Poliester juga digunakan sebagai pipa pemadam kebakaran, tali temali, jala, kain layar dan terpal. Sebagai tali temali kapal, poliester lebih tahan lama dibanding nylon atau sisal. Sifat poliester yang tahan asam, membuat poliester baik digunakan sebagai pakaian pelindung dalam pabrik yang banyak memakai asam-asam. Akhir-akhir ini poliester mulai digunakan sebagai benang ban. d. Anorganik Serat buatan an organic terdiri dari serat gelas dan serat logam. 1) Serat Gelas Ada dua macam serat gelas yaitu filamen dan staple dengan panjang rata-rata 9 inci. Filament gelas terbentuk dari pencampuran secara teliti bahan-bahan pasir silikat, batu kapur dan paduan mineral untuk pembuatan gelasnya. Staple glass terutama benang stafel gelas terbuat dari gelas yang tahan zat kimia. Sifat-sifat serat gelas yaitu : Serat gelas yang telah dicuci dengan bersih dari sari minyak, kelihatan licin dan halus dibawah mikroskop dan susunan permukaannya tidak kelihatan. Dalam keadaan panas, gelas tidak terbakar hanya menjadi lembek dan meleleh dan tidak mengeluarkan asap atau gas yang mengganggu. Serat gelas tahan panas sampai C tanpa rusak. Kekuatan serat gelas bertambah jika diameter makin kecil. Daya serap gelas terhadap air sangat rendah, ini menguntungkan untuk pemakaian pada teknik listrik. Serat gelas bersifat sangat elastis. Ketahanan listrik dari serat gelas sangat tinggi. Serat gelas mempunyai sifat rapuh Pada umumnya serat gelas tahan terhadap semua asam kecuali asam fluoride dan cukup tahan terhadap alkali. 172

194 Pencelupan serat gelas sukar dilakukan karena tidak menyerap zat air. Pemberian warna serat gelas dapat dilakukan dengan cara-cara khusus. Serat gelas terutama digunakan untuk tirai jendela dan isolasi listrik. Serat gelas sudah pernah dibuat untuk pakaian penganten tetapi belum pernah dibuat untuk pakaian sehari-hari. Hal ini disebabkan karena kain dari serat gelas tidak tahan gosok, dan jika dilipat, fiamen-filamennya dapat putus dan kain menjadi berbulu. Sebagai bahan campuran dengan serat-serat alam, kainnya dapat digunakan untuk kap lampu, saringan, kain kursi, taplak meja, kain gorden dan lain-lain. Kain-kain dari serat gelas tahan api, bahkan jika rokok yang menyala jatuh di atas kain, kain tersebut tidak terbakar. Serat gelas yang ditenun jadi kain dapat digunakan untuk saringan karena tahan terhadap zat kimia. Juga banyak digunakan sebagai kap lampu. Benang gelas dapat digunakan sebagai pembungkus kawat tembaga. Sedang pita kain gelas digunakan untuk pembungkus kabel listrik tegangan tinggi. 2) Serat Logam Serat logam adalah serat buatan yang dibuat dari logam. Serat logam sudah lama digunakan. Serat logam menghasilkan benang logam yang digunakan sebagai bahan penghias tekstil, baik tekstil untuk keperluan rumah tangga maupun pakaian. Mengingat banyaknya jenis bahan yang beredar dipasar, sebagaimana yang sudah dijelaskan di atas ada beberapa cara yang dapat dilakukan untuk membedakan bahan asli dan bahan tiruan yaitu: a) Dengan mikroskop Bila dilihat dengan mikroskop maka struktur beberapa serat tekstil adalah sebagai berikut : Serat kapas seperti pita pipih yang berpilin Serat lenan seperti pita yang beruas-ruas Serat wol seperti pita yang bersisik Serat sutera seperti pita ang bergaris Serat sintetis seperti pita dengan tepi yang lurus b) Tes Pembakaran Bila dilakukan tes pembakaran maka diketahui bahwa: Jika dibakar serat kapas dan lenan akan berbau kertas terbakar karena berasal dari selulosa. Setelah nyala api padam terlihat baranya merambat sepanjang benang yang tidak terbakar dan yang terbakar akan menjadi abu. Serat wol nyala apinya kecil, berbau tanduk atau rambut terbakar. Meninggalkan gumpalan yang berbentuk arang dan membulat. 173

195 Serat sutera, nyala apinya kecil dan baunya seperti bau wol terbakar. Abunya seperti pada pembakaran wol dan berwarna hitam, mengkilat dan mempunyai gumpalan dan arang. Serat sintetis, karena cara pembuatan serat sintetis bermacam-macam maka setelah dibakar maka hasilnya juga berlainan. Beberapa diantaranya ada yang apinya bernyala besar dan ada pula yang tidak ada sama sekali. Beberapa diantaranya ada yang berbau seperti wol, kapas dan sutera. Kadang-kadang meninggalkan abu yang besar dan berwarna hitam dan ada juga yang berbentuk arang yang keras atau sukar dipecah. c) Tes Kimia Pemeriksaan dengan tes kimia dapat dilakukan dengan beberapa cara yaitu : Dengan soda api Serat yang berasal dari serat binatang seperti wol dan sutera akan larut dalam soda api sedangkan serat yang lain tidak. Dengan asam garam (asam klorida) Sutera akan larut dalam asam klorida sedangkan wol tidak, tetapi mengembang dalam larutan tersebut. Serat sintetis akan menimbulkan bermacam-macam reaksi tergantung proses pembuatannya. Kapas dan lenan tidak larut dalam larutan ini. Dengan asam sulfat Serat yang berasal dari serat binatang tidak larut dalam larutan asam sulfat sebaliknya serat tumbuhan larut dalam asam sulfat. Dengan tinta Sebelum diuji dengan tinta bahan kapas dan lenen di cuci dan dikeringkan terlebih dahulu. Pada bahan lenen tinta akan cepat meresap dan membentuk bekas berupa lingkaran sedangkan kapas meresap secara perlahan-lahan dan membentuk bekas gambar yang tidak beraturan. Dengan minyak zaitun Pada bahan kapas akan terlihat transparan bila ditetesi dengan minyak zaitun sedangkan pada bahan lenan tidak kelihatan. Agar tidak tertipu atau salah dalam membeli bahan, ada beberapa hal harus diketahui konsumen dalam pemilihan tekstil diantaranya adalah : 1. Kegunaan dari bahan tekstil Dalam memilih bahan tekstil perlu disesuaikan dengan kegunaannya misalnya untuk pakaian anak, pakaian rumah, pakaian pesta, pakaian sekolah, pakaian olah raga dan lenan 174

196 rumah tangga. Untuk pakaian anak pilih bahan yang kuat, menghisap keringat serta tidak mengantar panas. 2. Asal serat tekstil Serat tekstil dapat dipilih serat alami atau serat buatan. Serat alami akan lebih sejuk dipakai dibandingkan dengan serat sintetis. 3. Sifat sifat serat tekstil Sifat sifat serat tekstil diantaranya menghisap air atau keringat, kuat, tahan ngengat, tahan obat obat kelantang, berkilau, elastis dan lain lain. Sifat sifat ini perlu disesuaikan dengan pakaian yan akan dibuat. 4. Pemeliharaan serat tekstil Beberapa serat tekstil atau bahan tekstil tidak tahan terhadap sabun, jamur, obat kelantang, panas yang tinggi dan lain lain. Oleh sebab itu kita harus mengetahui pemeliharaan serat tekstil yang digunakan. Pada umumnya di industri pakaian pakain jadi atau garmen, cara memelihara pakaian sudah diterakan berupa simbolsimbol tertentu pada label atau merk yang dipasang pada pakaian. Pada dasarnya kain atau bahan berasal dari tiga unsur utama, yaitu serat yang berasal dari alam (tumbuh-tumbuhan dan hewan), serat buatan(sintetis) dan galian (asbes, logam). a. Serat yang berasal dari tumbuh-tumbuhan antara lain: kapas, lenan, rayon, nenas, pisang. Serat yang berasal dari hewan yakni: dari bulu beri-beri, adapun bahan yang berasal dari serat tersebut adalah bahan wol.sedangkan serat dari ulat sutera menghasilkan bahan tekstil sutera b. Serat buatan (termoplastik) bahan tekstil yang berasal dari serat buatan ini adalah berupa Dacron, polyester, nylon. c. Serat galian adalah yang berasal dari dalam tanah, contoh asbes dan logam, benang logam, bahan asbes banyak digunakan untuk sumbu kompor minyak tanah, untuk mengisi aneka bunga yang berasal dari bermacam-macam bahan tekstil seperti: stoking, nylon, tula dan bahan rajutan. Serat logam lebih banyak digunakan untuk membuat bermacam-macam jenis benang seperti, benang emas, benang perak, tembaga, aluminium, selain itu ada pula benang logam yang dilapisi dengan plastik. Apabila benang logam tersebut akan di tenun, sebaiknya di gabung dengan benang dari bahan lain. Hal ini disebabkan benang logam tersebut memiliki sifat kaku dan sukar dipelihara. Benang logam ini banyak ditemukan pada bahan tekstil seperti:borkat, lame, tenunan songket yang ditemukan diseluruh daerah Indonesia antara lain: songket pandai sikek, songket silungkang, songket kubang, songket palembang, songket Kalimantan, songket jambi dll. 175

197 B. Pemilihan Bahan Tekstil Kain yang beredar di pasaran banyak jenis dan kualitasnya. Sebagai orang yang berkecimpung di bidang busana, kita harus dapat memilih bahan tekstil sesuai dengan yang dibutuhkan. Agar tidak keliru dalam memilih bahan maka kita harus mempunyai pengetahuan tentang bahan tekstil. Adapun tujuan mempelajari pengetahuan bahan tekstil ini adalah : 1) untuk mengetahui asal bahan, 2) untuk mengetahui sifat-sifat bahan dan pemeliharaannya, 3) supaya dapat membedakan bahan tiruan dengan bahan yang asli, dan 4) agar dapat menyesuaikan atau memilih bahan sesuai dengan waktu, tempat, kegunaan dan kesempatan pemakaiannya. Pengetahuan tentang tekstil yang akan dijelaskan dalam bab ini meliputi pengetahuan tentang bahan utama busana, bahan pelapis dan bahan pelengkap busana. Pengetahuan ini merupakan pengetahuan dasar dalam pembuatan busana. 1. Bahan Utama Busana Pakaian yang baik ditentukan oleh pemilihan dan pemakaian bahan tekstil yang tepat. Terkadang kita kecewa terhadap hasil pakaian yang dibuat karena menggunakan bahan yang tidak atau kurang sesuai dengan model yang ditentukan. Desain pakaian yang berbeda tentunya menuntut pemakaian bahan yang berbeda pula. Untuk itu bahan yang akan digunakan hendaklah dipilih dengan pertimbangan yang matang sesuai dengan model yang diharapkan. a. Teknik memilih bahan tekstil Bahan utama busana yang dimaksud disini adalah bahan tekstil berupa kain yang menjadi bahan pokok pembuatan busana. Bahan atau kain yang diperdagangkan beragam jenis dan kualitasnya, ada yang tipis, sedang dan ada yang tebal. Agar dapat memilih dan membeli bahan yang tepat sesuai dengan yang diharapkan ada beberapa faktor yang perlu diperhatikan diantaranya yaitu : 1). Memilih bahan yang sesuai dengan desain. Desain pakaian bisa berupa foto atau sketsa. Untuk menentukan bahan yang cocok digunakan untuk model tersebut dapat dilakukan dengan menganalisa model secara cermat. Analisa ini meliputi jenis pakaian yang akan dibuat, kesempatan pemakaiannya, siapa yang akan memakai, bagaimana bentuk tubuh pemakai, bagaimana jatuh pakaian pada tubuh, dan lain-lain. Hal-hal di atas merupakan pedoman dalam menentukan bahan yang cocok dipilih dan dibeli. 176

198 Letak jatuh bahan yang melangsai pada tubuh atau mengikuti bentuk tubuh dapat diketahui kalau bahan yang digunakan bertekstur lembut atau melangsai. Untuk bahan yang jatuhnya kaku pada tubuh, dapat diperkirakan kalau bahan yang digunakan agak tebal atau tebal. Begitu juga dengan bahan yang berkilau. Bahan yang berkilau terlihat lebih bercahaya pada desain. Bahan yang tipis dan lembut baik digunakan untuk model pakaian yang mempunyai lipit-lipit kecil, lipit jarum dan lajur yang dikerut. Contoh bahannya seperti kain chiffon, sutera, saten, dan lain sebagainya. Bahan tipis ada yang transparan atau tembus pandang dan bersifat agak kaku. Contohnya seperti gelas-gelas kaca, organdi dan kain serat nenas. Bahan ini cocok digunakan untuk pakaian yang kerutannya sedikit dan modelnya tidak longgar. Jika pakaian yang dibuat longgar maka letak jatuh bahan pada tubuh terlihat kaku sehingga kesannya kurang bagus. Bahan yang tipis sebaiknya digunakan untuk pakaian yang tidak terlalu sering dipakai seperti pakaian pesta. Bahan yang tipis biasanya mudah rusak dan lebih rumit dalam pemeliharaannya. Bahan yang lembut dan ringan baik digunakan untuk model pakaian yang dikerut atau model pakaian yang agak longgar karena jatuh bahan agak melangsai pada tubuh. Seperti untuk pakaian rumah, pakaian sehari-hari dan pakaian santai. Bahan yang agak tebal baik digunakan untuk pakaian berupa mantel, jas, mantel pak dan pantalon terutama untuk jenis pakaian kerja dan pakaian pria. Sesuai dengan sifat bahan yang tebal dan cukup kuat, maka dapat dibuat untuk pakaian yang sering digunakan. Bahan tebal juga ada yang jatuhnya melangsai dan kaku. Untuk bahan yang agak melangsai dapat digunakan untuk pakaian kerja pria dan wanita berupa jas atau blazer dan pantalon seperti kain bellini, wol, dan lain-lain. Sedangkan bahan yang agak kaku sering digunakan untuk pakaian seragam sekolah seperti rok dan celana sekolah. Bahan yang berbulu seperti beledru dapat digunakan untuk model pakaian adat daerah tertentu, pakaian pesta, dan lain-lain. Bahan beledru ini biasanya agak tebal, ada yang lembut dan ada juga yang kaku. Bahan beledru yang berkualitas bagus dapat digunakan untuk pakaian pesta malam. Bahan ini tidak cocok untuk desain pakaian yang memiliki kerutan atau lipit. Bahan crepe yaitu bahan yang ada lipatan-lipatan halus, bisa digunakan untuk beberapa model pakaian 177

199 pesta siang atau malam, tergantung warna yang dipilih. Bahan ini juga cocok untuk desain yang memiliki kerutankerutan asalkan arah kerut disesuaikan dengan lipit bahan. Bahan rajutan, cocok digunakan untuk pakaian santai, kaos kaki, sweater, pakaian bayi terutama untuk baju dingin, dan lain-lain. Biasanya bahan rajutan diolah menggunakan mesin khusus dan sudah berdasarkan pola pakaian tertentu. 2). Memilih bahan yang sesuai dengan pemakai Desain pakaian tertentu adakalanya bagus terlihat pada sketsa atau desain, namun setelah pakaian dipakai seseorang bisa saja kecewa karena terlihat aneh memakai pakaian tersebut. Hal ini bisa saja terjadi karena bahan yang digunakan kurang cocok dengan pemakai. Agar tidak keliru dalam memilih bahan sebaiknya bahan yang dipilih di sesuaikan dengan pemakai, seperti jenis bahan, warna bahan, tekstur bahan, corak bahan, dan lain-lain. Bahan yang tebal dan kaku membuat pemakainya terlihat lebih gemuk karena jatuh bahan pada badan juga kaku. Bahan yang lembut dan melangsai membuat pemakainya kelihatan lebih langsing karena jatuh pakaian pada badan mengikuti bentuk tubuh. Bahan yang mengkilap atau berkilau juga dapat memberi efek pemakai terlihat lebih gemuk, maka bahan ini cocok dipakai oleh orang yang bertubuh sedang atau kurus. Begitu juga dengan corak bahan. Corak bahan yang besar-besar sebaiknya dihindari untuk orang yang bertubuh gemuk. Untuk orang yang bertubuh gemuk sebaiknya memilih bahan yang bercorak tidak terlalu besar dan warna-warna yang tidak terlalu cerah. Sesuai dengan psikologi warna, warna yang terang bersifat melebarkan dan warna yang gelap dapat mengecilkan. Sebaliknya corak yang kecil-kecil, hindari pemakaiannya bagi orang yang kurus. Pemakai yang bertubuh kurus dapat menggunakan bahan yang bercorak tidak terlalu kecil atau sedang dan memakai warna yang lebih cerah. Untuk menutupi kekurangan bentuk tubuh seseorang, juga dapat dilakukan dengan pemilihan bahan yang tepat. Contohnya orang yang mempunyai pinggul kecil dapat menggunakan bahan dengan corak garis diagonal dan sebaliknya orang yang sudah memiliki pinggul besar hindari pemakaian bahan ini. Sedangkan untuk memberi kesan lebih tinggi, dapat dipilih corak bahan dengan arah garis vertikal, dan untuk memberi kesan pendek dapat dipilih bahan dengan corak garis horizontal. Bahan ini terutama digunakan bagi orang yang bertubuh gemuk pendek dan kurus tinggi. 178

200 Warna bahan merupakan hal yang sangat penting diperhatikan. Warna gelap atau redup hendaknya dihindari bagi orang yang berkulit gelap karena dapat memberi kesan pemakainya bertambah hitam/gelap. Pemakaian warna yang agak lembut dan terang seperti warna-warna pastel sangat cocok karena dapat memberikan efek lebih terang pada wajah dan kulit. Sedangkan bagi pemakai yang berkulit kuning langsat atau putih, hindari pemakaian bahan dengan warnawarna yang lembut dan terlalu terang karena efeknya wajah terlihat lebih pucat. 3). Memilih bahan yang sesuai dengan kesempatan Untuk pakaian-pakaian yang sering digunakan seperti pakaian kerja, pakaian rumah, pakaian santai, pakaian sekolah dan pakaian olah raga sebaiknya menggunakan bahan yang menghisap keringat dan umumnya dibuat dari serat alam atau campuran serat alam. Untuk pakaian sekolah, pakaian kerja dan pakaian santai bahan dari kapas atau campuran kapas dan poliester seperti katun, tetoron, batik cocok digunakan. Bahan ini dapat mengisap keringat, kuat dan mudah dalam pemeliharaannya. Sangat cocok untuk pakaian sekolah atau pakaian kerja karena sering digunakan. Untuk pakaian pesta, seperti pesta siang, pesta malam, dapat dipilih bahan seperti sutera, brokat, saten, chiffon, beledru dan lain-lain. Untuk pesta siang atau pesta malam, bahan yang digunakan tidak sama. Begitu juga dengan jenis pesta yang dihadiri seperti pesta perkawinan, pesta ulang tahun, pesta selamatan, dan lain-lain. Setiap kesempatan pesta, menuntut penampilan yang berbeda pula. Pakaian untuk pesta siang hendaklah dipilih bahan yang sedikit mewah tetapi tidak berkilau. Sebaliknya untuk menghadiri pesta malam, dapat dipilih pakaian dari bahan yang mewah, berkilau dan berwarna cerah. Untuk pakaian rumah dan pakaian tidur dapat dipilih bahan yang lembut dan nyaman dipakai, seperti katun, lenen, rayon dengan warna yang lembut atau netral. Ini dapat membuat kita nyaman karena aktifitas di rumah banyak dan juga sebagai tempat beristirahat setelah capek bekerja. Untuk pakaian olahraga sebaiknya memilih bahan yang menghisap keringat dan elastis agar tidak mengganggu pergerakan. Beberapa jenis olah raga menuntut pakaian yang elastis seperti pakaian renang, senam, lari dan lain-lain. Tetapi untuk pakaian karate, taekwondo, pencak silat dapat dipilih bahan yang menghisap keringat seperti kain katun yang agak tebal. 179

201 2. Bahan Pelapis (lining dan interlining) Bahan pelapis secara garis besar dapat dibagi atas 2 kelompok yaitu lining dan interlining. a. Lining Lining merupakan bahan pelapis berupa kain yang melapisi bahan utama sebahagian maupun seluruhnya. Bahan lining sering juga disebut dengan furing. Bahan lining yang sering dipakai diantaranya yaitu kain hero, kain hvl, kain abutai, kain saten, kain yasanta, kain dormeuil england dan lain-lain. Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam memilih bahan lining yaitu : 1) Jenis bahan utama Jika bahan utama busana bersifat agak kaku seperti bahan untuk pakaian kerja, berupa jas atau semi jas, blazer dan lainlain, hendaklah menggunakan bahan lining yang bertekstur hampir sama, seperti kain hero dan kain abutai agar dapat mengimbangi bahan luarnya. Begitu juga dengan bahan luar yang tipis dan melangsai. Untuk bahan yang melangsai sebaiknya juga menggunakan bahan lining yang lembut dan melangsai seperti kain yasanta, hvl, dll. Bahan yang melangsai dan lembut seperti sutera, terutama bahan yang harganya mahal, lining yang digunakan hendaklah yang sebanding, dengan kata lain lining yang digunakan dapat mempertinggi mutu busana yang dibuat. Untuk bahan yang tipis atau tembus pandang seperti tile atau chiffon dapat menggunakan bahan yang mengkilat seperti saten, tetapi jika pemakai tidak menyukai bahan yang mengkilat dapat juga digunakan bahan yang lembut dan melangsai atau tidak kaku. 2) Warna bahan Warna bahan untuk lining disesuaikan dengan warna bahan utamanya. Tetapi untuk efek warna tertentu terutama untuk bahan yang tipis dan tembus pandang dapat digunakan warna yang diinginkan, tentunya yang serasi dengan bahan. Bahan lining dapat dipilih bahan dengan warna yang sedikit lebih tua atau sedikit lebih muda dari bahan utamanya. 3) Sifat luntur dan susut kain. Bahan lining adakalanya luntur dan susut setelah dicuci, terutama lining yang berasal dari bahan katun. Agar lining yang digunakan tidak luntur atau susut setelah dibuatkan busana, hendaklah sebelum digunting terlebih dahulu dicuci dan dikeringkan lalu disetrika. Untuk bahan lining yang luntur setelah dicuci sebaiknya ditukar dengan bahan yang tidak 180

202 luntur. Bahan yang luntur dapat merusak warna busana yang dibuat. 4) Kesempatan pemakaian busana. Pemilihan bahan untuk lining juga perlu memperhatikan kesempatan pemakaian busana. Seperti sweater atau baju dingin atau jaket hendaklah menggunakan lining yang dapat menghangatkan tubuh karena sweater atau jaket ini sering digunakan pada saat udara dingin atau untuk berkendaraan roda dua. Lining yang dapat digunakan diantaranya kain abutai atau sejenisnya. Begitu juga dengan pakaian kerja, hendaklah dipilih bahan lining yang dapat menghisap keringat dan dapat memberi kenyamanan pada saat bekerja, seperti kain hero dan sejenisnya. b. Interlining Interlining merupakan pelapis antara, yang membantu membentuk siluet pakaian. Interlining sering digunakan pada bagian-bagian pakaian seperti lingkar leher, kerah, belahan tengah muka, ujung bawah pakaian, bagian pundak pada jas, pinggang dan lain-lain. Interlining banyak jenisnya, diantaranya ada yang mempunyai lem atau perekat dan ada yang tidak berperekat. Interlining yang mempunyai lem atau perekat biasanya ditempelkan dengan jalan disetrika pada bahan yang akan dilapisi. Begitu juga dengan ketebalannya. Interlining ini ada yang tebal seperti untuk pengeras kerah dan pengeras pinggang. Interlining yang relatif tipis dapat digunakan untuk melapisi belahan tengah muka, saku, deppun leher, kerah dan lain-lain. Jenis-jenis interlining antara lain : Trubenais yaitu kain pelapis yang tebal dan kaku, baik digunakan untuk melapisi kerah kemeja dan kerah board atau krah yang letaknya tegak atau kaku dan ban pinggang. Trubenais ini ada yang dlapisi plastik dan ada juga yang tidak dilapisi. Trubenais yang dilapisi lebih praktis dalam pemakaiannya karena hanya perlu disetrikakan pada bahan yang hendak dilapisi. Sedangkan trubenais yang tidak dilapisi plastik terlebih dahulu perlu dijahitkan pada bahan yang akan dilapisi. Trubenais jenis ini biasanya dipakai untuk melapisi ban pinggang rok atau celana. Fisilin yaitu pelapis yang relatif tipis dan mempunyai perekat/lem yang mencair jika disetrika. Jenis ini ada yang sangat tipis, sedang dan agak tebal. Yang baik kualitasnya biasanya yang sangat tipis. Jenis ini berbentuk serabut yang berupa lembaran dan mudah robek. Fisilint sering 181

203 digunakan untuk melapisi kerah pakaian wanita, lapisan belahan, lapisan rumah kancing vasfoal, dan lain-lain. Bulu kuda, yaitu pelapis yang biasanya digunakan untuk melapisi bagian dada jas atau mantel. Berupa lembaran kain tipis yang berwarna agak kecoklatan dan mempunyai lem. Lem ini juga mencair jika disetrika pada bahaan yang akan dilapisi. Pelapis gula merupakan pelapis yang sangat cocok digunakan untuk melapisi bagian dada dan punggung pakaian resmi pria seperti semi jas. Pelapis ini berupa lembaran kain tipis berwarna putih yang dilapisi dengan lem berbentuk gula. Untuk melapisi bagian busana dapat ditempelkan dengan cara disetrika pada bahan. Agar pakaian yang dihasilkan lebih bagus siluetnya hendaklah digunakan lining dan interlining yang tepat sehingga dapat mempertinggi mutu busana yang dihasilkan. 3. Bahan Pelengkap Bahan pelengkap merupakan bagian yang tidak terpisahkan dengan busana yang akan di buat. Bahan pelengkap dapat berupa benang jahit dan benang hias, zipper atau ritsluiting, kancing, pita, renda, hak atau kancing kait dan lain-lain. a. Benang Benang yang digunakan untuk pekerjaan menjahit ada beberapa macam, ini disesuaikan dengan kebutuhan. Sebagai pedoman dalam pemakaian benang jahit, secara umum dapat dipedomani nomor yang ada pada bungkus benang tersebut sebagaimana dikemukakan oleh Wancik (1992:62) antara lain : Benang no 50 artinya panjang benang 50 meter dan berat 1 gram. Digunakan untuk menjahit bahan yang tidak terlalu tebal / tipis. Benang no 60 artinya panjang benang 60 meter berat 1 gram. Digunakan untuk menjahit kain yang sangat tipis. Benang no 8 artinya panjang benang 8 meter beratnya 1 gram. Digunakan untuk menjahit bahan jok mobil, terpal, bahan tas atau kulit. Benang ini lebih kasar dan kuat. Selain itu benang yang digunakan hendaklah disesuaikan dengan serat bahan, ketebalan bahan serta jenis setikan yang diinginkan. Benang yang digunakan sebaiknya mempunyai asal serat yang sama dengan bahan yang akan dijahit. Misalnya benang dari serat alam hendaklah digunakan untuk menjahit bahan yang dari serat alam pula, begitu juga dengan benang dari serat sintetis digunakan untuk menjahit bahan dari serat sintetis pula. Untuk setikan hias sering digunakan benang yang relatif 182

204 kasar seperti setikan hias pada celana jeans, karena sesuai dengan fungsinya yang mana benang ini berfungsi untuk hiasan. Beberapa jenis benang yang digunakan untuk menjahit dan menghias busana di antaranya yaitu : 1) Benang Jahit Benang jahit ialah benang yang digunakan untuk menjahit. Halus kasar benang ditentukan menurut nomor benang. Makin tinggi nomor benang makin halus benang tersebut. Misalnya benang jahit no 60 lebih halus dari benang no 50 dan no 40. 2) Benang mouline yaitu benang yang berlainan warna di sering/ dipilin jadi satu sehingga benang mouline disebut juga benang pelangi. Benang ini digunakan untuk menghias pakaian atau kain. 3) Benang melange (benang serabut campur) yaitu benang yang mempunyai warna beraneka ragam yang dibuat dengan cara dipintal. Digunakan untuk menghias pakaian. 4) Benang yaspis yaitu benang yang dipilin dari dua benang yang belum dipilin sehingga bentuknya berupa satu benang bulat. Digunakan untuk menghias pakaian. 5) Benang logam yaitu benang yang terbuat dari logam berlapis plastik atau plastik berlapis logam. Bentuk benang berkilau, ada yang warna perak dan ada yang warna emas. Digunakan untuk menghias pakaian atau lenan rumah tangga dan juga digunakan sebagai bahan untuk tenunan seperti tenun songket. 6) Benang karet yaitu benang yang terbuat dari karet yang telah divulkanisasi. Benang ini bersifat elastis sehingga banyak digunakan untuk mengerutkan bagian-bagian pakaian. 7) Benang sulam/suji yaitu benang yang digunakan untuk menyulam/menghias pakaian. Benang suji tersedia dalam aneka warna. Ada yang hanya satu warna dan ada juga yang palang atau warna bertingkat. 8) Benang bordir yaitu benang yang digunakan untuk membordir atau menyulam dengan mesin. Benang ini mengkilat dan tersedia dalam aneka warna. 9) Benang jagung yaitu benang yang terbuat dari serat selulosa berwarna krem/broken white. Digunakan untuk membuat renda, menjahit kasur dan lain-lain. 10) Benang tetoron yaitu benang sintetis yang kuat digunakan sebagai bahan kaitan untuk membuat pelengkap busana berupa tas, ikat pinggang, dan lain-lain. 11) Benang wol yaitu benang yang agak berbulu dan pilinannya longgar. Digunakan untuk bahan menghias 183

205 lenan rumah tangga berupa taplak meja, hiasan dinding dan lain-lain. 12) Dan lain sebagainya. b. Pita dan renda Pita tersedia dalam beberapa ukuran dan warna. Ada yang lebarnya ¼ cm, ½ cm, 1 cm, 2 cm dan 3 cm. Pita ini juga terbuat dari bahan yang berbeda dengan warna yang beraneka, mulai dari warna perak, emas, dan warna-warna pada umumnya. Pita digunakan sebagai bahan untuk menghias busana, baik busana anak maupun busana orang dewasa. Pada busana anak, pita umumnya dibuatkan bunga atau bahan untuk ikat pinggang, sedangkan pada busana wanita dewasa atau busana remaja pita bisa dibuatkan sulaman dengan teknik sulaman pita. Renda tersedia dalam aneka bahan dan model. Renda dari bahan katun digunakan untuk menghias busana dari bahan katun pula dan sebaliknya. Renda yang terbuat dari bahan sintetis seperti renda organdi lebih cocok digunakan untuk busana yang berbahan sama dengan renda sehingga terlihat kesatuannya dengan bahan pakaian. c. Kancing Kancing mempunyai model dan ukuran yang bervariasi. Selain berfungsi sebagai penutup belahan, kancing juga bisa berfungsi sebagai hiasan busana. Ukuran dan model kancing yang beraneka ragam memungkinkan kita dapat memilih kancing yang sesuai dengan pakaian yang dibuat. Kancing ada beberapa macam, antara lain : 1) Kancing jepret. Kancing ini berukuran agak kecil yang terdiri atas dua bagian. Satu bagian mempunyai tombol dan tipis dan yang satu lagi mempunyai lobang tetapi tidak tembus sampai kebelakangnya. Kancing jenis ini ada yang terbuat dari bahan besi atau stainlesteel dan ada juga yang terbuat dari plastik. Kualitas dari kancing inipun beragam. Untuk membuat busana yang berkualitas baik hendaklah dipilih kancing jepret yang berkualitas bagus. Kancing jepret yang berkualitas rendah adakalanya berkarat jika sudah dipakai dalam waktu yang lama. 2) Kancing bermata. Kancing ini sering digunakan untuk pakaian laki-laki dan sering juga disebut kancing kemeja. Bentuk kancing ini bulat dan memiliki lobang tempat memasukkan benang. Ukuran kancing inipun beragam, mulai dari yang kecil, menengah dan besar. 3) Kancing berkaki, biasanya digunakan untuk pakaian wanita, baik sebagai hiasan maupun sebagai penutup 184

206 belahan. Kancing ini banyak jenisnya, ada yang terbuat dari logam dan ada juga yang dibuat dari plastik. Bentuknya mempunyai kaki atau tempat memasukkan benang pada bagian bawah kancing. Warna dan modelnyapun beragam, berubah sejalan dengan perkembangan mode. 4) Hak.Hak terdiri atas dua bagian yaitu bagian penyangkut dan bagian penahan sangkutan. Hak ini ada dua macam. Ada hak yang ukurannya kecil dan ada yang ukurannya agak besar. Hak yang kecil sering juga disebut kancing kait. Biasanya digunakan sebagai pengancing bra, longtorso dan untuk penahan belahan yang dipasangkan pada akhir pemasangan zipper. Hak yang ukuran besar biasanya dipasangkan pada ban pinggang rok atau celana. Hal ini ada yang pemasangannya dilakukan dengan cara dijahitkan dan ada juga dengan jalan ditekan. Hak yang ditekan ini banyak ditemui pada ban pinggang celana pria. d. Zipper Zipper lazim disebut dengan ritsluiting, digunakan untuk membuat bukaan pada pakaian agar pakaian tersebut mudah dipasang atau dibuka. Zipper ini bermacam-macam model dan ukurannya tergantung kegunaannya. 1) Zipper model biasa, biasanya dipasangkan dengan jahitannya terlihat pada bagian luar. Sering digunakan untuk bukaan pada rok wanita, blus pada bagian tengah belakang, celana pria dan pakaian anak-anak. Ukurannya ada yang pendek berukuran panjang 17 dan 20 cm dan ada yang panjang, yang ukurannya 35, 45 dan 50 cm. Jenis zipper ini tersedia dalam beberapa merk. Agar tahan lama dalam pemakaiannya, sebaiknya zipper dipilih yang berkualitas bagus. 2) Zipper jepang, dijahitkan dari bagian dalam pakaian dan zipper ini tidak terlihat dari bagian luar. Untuk menjahit zipper ini biasanya dibantu dengan sepatu mesin khusus, agar pemasangannya bagus 3) Zipper untuk mantel atau jacket, ukurannya lebih besar dari zipper biasa dan lebih kuat sesuai juga dengan fungsinya. C. Pemeliharaan Bahan Tekstil Berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi saat ini, maka perkembangan bahan tekstilpun semakin pesat sesuai dengan 185

207 kebutuhan para konsumen. Bahan tekstil untuk busana tersebut berasal dari bermacam-macam serat. 1. Jenis-jenis serat Pada dasarnya serat tekstil berasal dari tiga unsur utama, yaitu serat yang berasal dari alam(tumbuh-tumbuhan dan hewan), serat buatan(sintetis) dan galian (asbes, logam). a. Serat alam yang berasal dari tumbuh-tumbuhan antara lain: kapas, lenan, rayon, nenas, pisang. Serat alam yang berasal dari hewan yakni: dari bulu beri-beri, adapun bahan yang berasal dari serat tersebut adalah bahan wol.sedangkan serat dari ulat sutra menghasilkan bahan tekstil sutra b. Serat buatan (termoplastik) bahan tekstil yang berasal dari serat buatan ini adalah berupa Dacron, polyester, nylon. c. Serat galian serat galian adalah yang berasal dari dalam tanah.contoh asbes dan logam, benang logam.bahan asbes banyak digunakan untuk sumbu kompor minyak tanah, untuk mengisi aneka bunga yang berasal dari bermacam-macam bahan tekstil seperti: stoking, nylon, tula dan bahan rajutan. Serat logam lebih banyak digunakan untuk membuat bermacammacam jenis benang, seperti, benang emas, benang perak, tembaga, aluminium, selain itu ada pula benang logam yang dilapisi dengan plastik. Apabila benang logam tersebut akan di tenun, sebaiknya di gabung dengan benang dari bahan lain. Hal ini disebabkan benang logam tersebut memiliki sifat kaku dan sukar dipelihara. Benang logam ini banyak ditemukan pada bahan tekstil seperti:borkat, lame, tenunan songket yang ditemukan diseluruh daerah Indonesia antara lain: songket pandai sikek, songket silungkang, songket kubang, songket palembang, songket Kalimantan, songket jambi dll. 2. Sifat bahan tekstil Untuk dapat melakukan pemeliharan bahan tekstil (bahan busana) dengan tepat dan benar, terlebih dahulu harus diketahui sifat-sifat dari bahan tersebut: a. Katun Sifat-sifat bahan katun adalah bersifat hidroskopis atau menyerap air, mudah kusut, kenyal, dalam keadaan basah kekutannya bertambah lebih kurang 25%, dapat disetrika dalam temperatur panas yang tinggi, katun lenan tersebut mengandung lilin, oleh sebab itu tidak perlu dikanji. Katun lenan ini tidak tahan chloor. Sementara rayon lebih licin dan mengkilap, tidak menghisap debu dan kotoran, karna kotoran 186

208 itu melekat hanya pada permukaan bahan saja. Sedangkan sintetis sifatnya tidak jauh berbeda dengan katun lainnya b. wol Bahan wol memiliki sifat sangat kenyal hingga tidak mudah kusut, bila wol dipanaskan ia akan menjadi lunak karena kenyalnya berkurang. Wol mengikat, panas, karena serabut wol keriting. Udara dalam pori-pori wol bertahan, bila dipakai dapat mengantarkan panas, wol tidak tahan akan nyengat. c. Sutera Bahan sutera memiliki sifat lembut, licin dan berkilap, kenyal dan kuat. Dalam keadaan basah sutera berkurang kekuatannya 15%. Bahan sutera tahan ngenyat, banyak menghisap air dan bila dipergunakan memberi rasa sejuk. d. Dacron, polyester dan nylon Bahan tekstil ini apabila dicuci cepat menjadi kering, tidak kusut jadi tidak perlu di setrika, kuat dan tahan lama dipergunakan, lebih tahan panas. e. Brokat, lame dan songket Bahan tekstil / busana yang berasal dari brokat, lame dan songket ini mudah berubah warna, tidak mudah kusut, kurang menyerap air, tidak tahan temperatur setrika yang tinggi. D. Pemeliharaan busana Seiring dengan perkembangnya ilmu pengetahuan, teknologi dan seni (IPTEKS) saat ini, maka perkembangan bahan busanapun semakin pesat sesuai dengan kebutuhan para konsumen. Kain atau tekstil untuk busana ini berasal dari bermacam-macam serat dan bahan. Masing-masing bahan menuntut perlakuan atau teknik pemeliharaan yang berbeda pula untuk masing-masingnya. Agar busana dapat ditampilkan dengan baik perlu adanya pemeliharaan yang tepat. Namun kebanyakan orang berpendapat bahwa memelihara busana adalah pekerjaan yang mudah, siapapun dapat melakukannya. Pendapat ini ada benarnya,hampir setiap orang mampu mencuci busana, akan tetapi tidak semuanya benar. Oleh karena itu untuk mencuci atau nmemelihara busana sebagaimana mestinya tidak semudah yang difikirkan. Busana perlu dipelihara agar selalu bersih, awet/tahan lama dan selalu terlihat indah. Umumnya busana yang dipelihara, dicuci, distrika dan disimpan dengan rapi akan awet dan tahan lama baik dari segi serat bahan itu sendiri maupun dari warnanya. Sementara itu dalam pelaksanaannya tidak semua busana yang kotor dapat dicuci. 187

209 Apabila busana kena noda, dan sebagainya perlu dipisahkan, karena memerlukan pemeliharaan atau teknik mencuci yang khusus. Noda pada busana bermacam-macam, setiap noda memerlukan bahan penghilang noda yang berbeda. Sedangkan busana yang robek/rusak, seperti kancing baju yang lepas, kelim atau jahitan yang lepas, perlu diperbaiki terlebih dahulu. Pemeliharaan dan perbaikan busana yang dapat dilakukan antara lain: pencucian, penyisipan, penambalan, menghilangkan noda dan menyeterika pakaian. Pencucian dengan tangan dan pencucian dengan mesin. Pencucian tersebut harus disesuaikan dengan sifat-sifat bahan. 1. Mencuci secara manual Sebelum mencuci lakukan pemisahan busana yang berwarna dengan yang putih. Setelah itu rendam dengan menggunakan sabun/deterjen selama lebih kurang 20 menit. Lalu dikucek-kucek dan dibilas sampai bersih. Teruskan dengan menjemur sesuai sifat dan asal bahan. 2. Mencuci dengan mesin cuci Mesin cuci dipergunakan untuk mencuci kain, kecuali bahan dari wol dan sutera asli. Kapasitas mesin cuci yang ada bermacam-macam. Untuk rumah tangga kapasitas 4 kg, 6 kg dan 10 kg. Untuk industri kapasitasnya lebih besar misalnya 25 kg, 30 kg dan 35 kg. Kebanyakan cucian atau kain dalam keadaan kering. Mesin ini dilengkapi dengan alat pengukur air dan alat pengukur suhu panas (thermometer). Biasanya setiap pabrik yang membuat mesin cuci selalu dilengkapi dengan buku petunjuk. Cara mempergunakan pada umumnya adalah: 1) cucian dipilih dan ditimbang dalam keadaan kering; 2) cucian dimasukkan ke dalam mesin dan diberi air (kocok kira-kira 10 menit) dengan menekan tombol; 3) air kocokan dibuang; 4) diberi air baru dengan suhu derjat celcius dan deterjen (kira-kira 350 gram) untuk mesin yang berkapasitas 35 kg dan 200 liter air (kirakira 15 menit); 5) air deterjen yang kotor dibuang; 6) dibilas sampai bersih (kira-kira 15menit); 7) bila perlu diberi deterjen kedua (untuk cucian yang sangat kotor (kira-kira 15 menit); 8) lama mencuci (kira-kira 1 jam); 9) mesin setelah dipergunakan dibersihkan dengan lap basah kemudian dikeringkan. 1. Mesin pemeras Mesin pemeras dipergunakan untuk memeras air dari cucian yang tebal seperti handuk dan selimut. Kapasitas mesin misalnya tergantung pada muatan mesin. Mesin ini memakai 5000 watt dengan voltage setempat. 188

210 Cara mempergunakan : a) Masukan cucian dari mesin cuci kedalam mesin pemeras, permukaan cucian harus rata supaya mengimbangi putaran jalannya mesin b) Tombol ditekan, lampu menyala (10-15menit) c) Setelah lampu mati pintu dibuka dan cucian diangkat d) Setelah selesai dipergunakan, di bersihkan seperti mesin cuci. 2. Mesin pengering Mesin pengering dipergunakan untuk mengeringkan cucian, dilengkapi dengan regulator/timer. Kapasitas mesin bermacammacam seperti 25 kg, 30 kg, 35 kg, mesin ini memakai 2000 watt dengan voltage setempat. Cara mempergunakan : a) Cucian dari mesin cuci/pemeras dimasukkan ke dalam mesin pengering selama 5-10 menit dengan menekan tombol (bila terlalu lama cucian yang berwarna putih akan menjadi kuning) b) Setelah selesai digunakan mesin hendaklah dibersihkan seperti mesin cuci dan mesin pemeras di atas. 3. Mesin cuci tanpa air (dry cleaning) Mesin ini digunakan untuk memelihara pakaian dari bahan wol, sutera asli dan dari bahan yang halus. Mesin ini berfungsi sebagai alat pembersih, pemeras dan pengering. Pencucian dengan mesin dry cleaning ini sebagai bahan pembersih tidak dipergunakan air dan sabun, tetapi solvent (solvent alam yang berasal dari minyak bumi/solvent buatan yang disebut chlorinated hidrocharbons). Yang sering dipergunakan yaitu perchlorothylene solvent, sifatnya tidak dapat terbakar dan tidak berbau. solvent sebelum dipakai perlu dibersihkan dahulu oleh karena itu mesin cuci dry cleaning selalu dilengkapi dengan sebuah saringan, pompa dan alat penyuling. Pompa ini berguna untuk menyedot solvent bekas dari tangki, kemudian ditekan sampai masuk melalui saringan, sehingga solvent jernih kembali kemudian dipakai lagi. Cara mencuci mesin dry cleaning: a) Solvent ditimbang sesuai dengan tangki yang telah ditentukan muatannya dari pabrik b) Pompa dijalankan supaya solvent terus menerus mengalir dari tangki ke filter (penyaring) dan dari filter ke mesin cuci c) Setelah solvent jernih (dilihat dari pipa kaca) cucian dimasukkan dan ditekan tombol. Waktu pencucian misalnya 3 menit, 8 menit dan 15 menit 189

211 d) Sebuah tanda akan berbunyi atau lampu menyala yang menandakan bahwa cucian telah selesai e) Kemudian diperas dan dikeringkan pada mesin itu juga, lamanya umpama 2 menit, 4 menit dan 6 menit f) Bau solvent dihilangkan dengan deodorizer. Cucian dari bahan yang halus dan banyak perhiasan tidak boleh dimasukkan kedalam mesin dry cleaning. Tetapi harus dikerjakan dengan tangan. Buruknya akan kehilangan solvent karena penguapan, tangan menjadi gatal dan bau solvent akan menjalar kemana mana. Mesin setrika pada dry cleaning prinsipnya sama dengan mesin setrika laundry, tetapi ada berbeda yaitu form finisher, dipergunakan untuk melicinkan dan menghilangkan kekusutan pada jas atau busana wanita yang telah distrika. Cara mempergunakannya itu: jas/busana wanita dimasukkan kedalam kerangka besi dan tombol ditekan, maka uap keluar melalui lobang-lobang sehingga melicinkan dan menghilangkan kekusutan secara otomatis. Kompetensi yang diharapkan dari materi di atas adalah : 1. Siswa dapat mengidentifikasi jenis bahan utama (fashion fabric) 2. Siswa dapat mengidentifikasi jenis bahan pelapis, menentukan bahan pelengkap serta menyediakan bahan utama dan bahan pelengkap. 3. Siswa dapat memilih bahan sesuai dengan desain yang meliputi bahan utama busana, bahan pelapis (lining dan interlining) dan bahan pelengkap busana. 4. Siswa dapat mengelompokkan serat sesuai dengan jenisnya. 5. Siswa dapat memilih bahan tektil yang sesuai dengan kebutuhan serta mampu memelihara bahan tekstil tersebut. 6. Siswa mampu memelihara bermacam-macam jenis busana Evaluasi : 1. Jelaskanlah hal-hal yang perlu diperhatikan dalam memilih dan membeli bahan tekstil! 2. Jelaskanlah beberapa cara yang dapat dilakukan untuk mengetahui bahan asli dan bahan tiruan 3. Jelaskanlah sifat-sifat dari bahan yang berasal dari serat alam 190

212 4. Untuk membuat pakaian pesta yang memiliki banyak kerutan, bahan apakah yang cocok digunakan? Berikan alasanmu kenapa memilih bahan tersebut 5. Untuk membuat pakaian kerja tentukanlah bahan utama, bahan lining dan interlining yang cocok digunakan! Jelaskan 6. Bahan pelengkap busana salah satunya adalah benang. Jelaskanlah beberapa jenis benang yang digunakan untuk menjahit dan menghias busana! 7. Jelaskan manfaat melakukan pencucian pada pakaian yang telah diproduksi. 8. Sebutkan jenis busana yang harus dicuci dengan manual (tanpa menggunakan mesin cuci). 191

213 BAB VI DESAIN BUSANA Busana dan pelengkap (milineris dan asesoris) yang kita pakai setiap hari dibuat tidak asal jadi, tetapi berdasarkan pola atau rancangan tetentu yang disebut dengan desain. Semakin maju tingkat kehidupan masyarakat, semakin banyak memerlukan peran desain, semakin tinggi selera masyarakat semakin tinggi pula tuntutan kecermatan desainnya. Hal ini disebab karena dalam berbusana manusia selalu menuntut dua nilai sekaligus yaitu nilai jasmaniah berupa enak dan nyaman dipakai, dan nilai rohaniah berupa keindahan dan keanggunan. Desain busana merupakan pengetahuan dasar bagi seorang calon desainer. Pada desain busana ini akan di jelaskan tentang pengertian desain busana, jenis-jenis desain, unsur-unsur desain, prinsip-prinsip desain, alat dan bahan yang dibutuhkan untuk mendesain, desain anatomi tubuh, teknik menggambar bagian-bagian busana dan teknik pewarnaan dan penyelesaian desain. Sebuah desain tidak mungkin tercipta tanpa ada unsur-unsur pembentuknya, dan tidak akan indah atau menarik dilihat tanpa mempertimbangkan prinsip-prinsip desain. Apa saja yang tergolong pada unsur dan prinsip desain ini akan dibahas secara mendalam pada Bab ini. Dengan pengetahuan tentang desain ini, diharapkan seorang calon desainer dapat membuat desain busana dengan baik dan benar. Desain tidak hanya sekedar gambar saja tetapi dengan desain seseorang dapat membuat pakaian mulai dari mengambil ukuran, membuat pola, pecah pola, menggunting sampai menjahit pakaian dengan kata lain desain merupakan pedoman seseorang dalam mewujudkan pakaian ke bentuk sebenarnya. Jadi jelaslah bahwa desain memegang peranan penting dalam pembuatan suatu pakaian. A. Pengertian Desain Desain berasal dari Bahasa Inggris (design) yang berarti rancangan, rencana atau reka rupa. Dari kata design muncullah kata desain yang berarti mencipta, memikir atau merancang. Dilihat dari kata benda, desain dapat diartikan sebagai rancangan yang merupakan susunan dari garis, bentuk, ukuran, warna, tekstur dan value dari suatu benda yang dibuat berdasarkan prinsip-prinsip desain. Selanjutnya dilihat dari kata kerja, desain dapat diartikan sebagai proses perencanaan bentuk dengan tujuan supaya benda yang dirancang mempunyai fungsi atau berguna serta mempunyai nilai keindahan. Desain merupakan pola rancangan yang menjadi dasar pembuatan suatu benda seperti busana. Desain dihasilkan melalui pemikiran, pertimbangan, perhitungan, cita, rasa, seni serta 192

214 kegemaran orang banyak yang dituangkan di atas kertas berwujud gambar. Desain ini mudah dibaca atau di pahami maksud dan pengertiannya oleh orang lain sehingga mudah diwujudkan ke bentuk benda yang sebenarnya. Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa desain merupakan bentuk rumusan dari suatu proses pemikiran, pertimbangan dan perhitungan dari desainer yang dituangkan dalam wujud gambar. Gambar tersebut merupakan pengalihan gagasan atau pola pikir konkret dari perancang kepada orang lain. Setiap busana adalah hasil pengungkapan dari sebuah proses desain. B. Jenis-jenis Desain Secara umum desain dapat dibagi 2 yaitu desain struktur (structural design) dan desain hiasan (decorative design). 1. Desain Struktur (Struktural Design) Desain struktur pada busana disebut juga dengan siluet busana (silhoutte). Siluet adalah garis luar dari suatu pakaian, tampa bagian-bagian atau detail seperti lipit, kerut, kelim, kup dan lain-lain. Namun jika detail ini ditemukan pada desain struktur fungsinya hanyalah sebagai pelengkap. Berdasarkan garis-garis yang dipergunakan, siluet dapat dibedakan atas beberapa bagian yang ditunjukkan dalam bentuk huruf. Dalam bidang busana dikenal beberapa siluet yaitu : a. Siluet A Merupakan pakaian yang mempunyai model bagian atas kecil, dan bagian bawah besar. Bisa juga tidak mempunyai lengan. Perhatikan gambar 77 di bawah ini : b. Siluet Y Merupakan model pakaian dengan model bagian atas lebar tetapi bagian bawah atau rok mengecil. Perhatikan gambar 78 di bawah ini : 193

215 Gambar 77. Contoh desain dengan siluet A Gambar 78. Contoh desain dengan siluet Y 194

216 c. Siluet I Merupakan pakaian yang mempunyai model bagian atas besar atau lebar, bagian badan atau tengah lurus dan bagian bawah atau rok besar. Gambar 79. Contoh desain dengan siluet I 195

217 d. Siluet S Merupakan pakaian yang mempunyai model dengan bagian atas besar, bagian pinggang kecil dan bagian bawah atau rok besar. Gambar 80. Contoh desain dengan siluet S 196

218 e. Siluet T Merupakan pakaian yang mempunyai desain garis leher kecil, ukuran lengan panjang dan bagian bawah atau rok kecil. Gambar 81. Contoh desain dengan siluet T 197

219 f. Siluet L Merupakan bentuk pakaian variasi dari berbagai siluet, dapat diberikan tambahan dibagian belakang dengan bentuk yang panjang/drapery. Bentuk ini biasanya terlihat pada pakaian pengantin barat. 2. Desain Hiasan (Decorative Design) Desain hiasan pada busana mempunyai tujuan untuk menambah keindahan desain struktur atau siluet. Desain hiasan dapat berupa krah, saku, renda, sulaman, kancing hias, bis dan lain-lain. Desain hiasan harus memenuhi syarat-syarat sebagai berikut yaitu : a. Hiasan harus dipergunakan secara terbatas atau tidak berlebihan. b. Letak hiasan harus disesuaikan dengan bentuk strukturnya. c. Cukup ruang untuk latar belakang, yang memberikan efek kesederhanaan dan keindahan terhadap desain tersebut. d. Bentuk latar belakang harus dipelajari secara teliti dan sama indahnya dengan penempatan pola-pola pada benda tersebut. e. Hiasan harus cocok dengan bahan desain strukturnya dan sesuai dengan cara pemeliharaannya. C. Unsur-unsur Desain Seorang desainer adalah seorang seniman yang mengekspresikan ide dan kreatifitasnya dalam bentuk rancangan busana. Suatu rancangan tercipta melalui suatu proses totalitas berfikir dengan memadukan ilmu seni rupa dengan unsur-unsur lain yang mendukung. Unsur desain merupakan unsur-unsur yang digunakan untuk mewujudkan desain sehingga orang lain dapat membaca desain tersebut. Maksud unsur disini adalah unsur-unsur yang dapat dilihat atau sering disebut dengan unsur visual. Unsurunsur desain ini terdiri atas garis, arah, bentuk, tekstur, ukuran, value dan warna. Melalui unsur-unsur visual inilah seorang perancang dapat mewujudkan rancangannya. 1. Garis Garis merupakan unsur yang paling tua yang digunakan manusia dalam mengungkapkan perasaan atau emosi. Yang dimaksud dengan unsur garis ialah hasil goresan dengan benda keras di atas permukaan benda alam (tanah, pasir, daun, batang, pohon dan sebagainya) dan benda-benda buatan (kertas, dinding, papan dan sebagainya). Melalui goresan-goresan berupa unsur garis tersebut seseorang dapat berkomunikasi dan mengemukakan pola 198

220 rancangannya kepada orang lain. Ada 2 jenis garis sebagai dasar dalam pembuatan bermacam-macam garis yaitu : a. Garis lurus Garis lurus adalah garis yang jarak antara ujung dan pangkalnya mengambil jarak yang paling pendek. Garis lurus merupakan dasar untuk membuat garis patah dan bentuk-bentuik bersudut. Apabila diperhatikan dengan baik, akan terasa bahwa macam-macam garis ini memberikan kesan yang berbeda pula. Kesan yang ditimbulkan garis ini disebut watak garis. b. Garis lengkung Garis lengkung adalah jarak terpanjang yang menghubungkan dua titik atau lebih. Garis lengkung ini berwatak lebih dinamis dan luwes. Contoh-contoh garis : Vertikal Horizontal Garis diagonal Garis lengkung Garis kusut Setiap garis memberi kesan tertentu yang dinamakan sifat / watak garis. Adapun sifat-sifat dari garis yaitu : a. Sifat garis lurus Garis lurus mempunyai sifat kaku dan memberi kesan kokoh, sungguh-sungguh dan keras, namun dengan adanya arah sifat garis dapat berubah seperti : 1) Garis lurus tegak memberikan kesan keluhuran 2) Garis lurus mendatar memberikan kesan tenang 3) Garis lurus miring/diagonal merupakan kombinasi dari sifat garis vertikal dan horizontal yang mempunyai sifat lebih hidup (dinamis). 199

221 b. Sifat garis lengkung Garis lengkung memberi kesan luwes, kadang-kadang bersifat riang dan gembira. Dalam bidang busana garis mempunyai fungsi : 1) Membatasi bentuk struktur atau siluet. 2) Membagi bentuk struktur ke dalam bagian-bagian pakaian untuk menentukan model pakaian. 3) Memberikan arah dan pergerakan model untuk menutupi kekurangan bentuk tubuh, seperti garis princes, garis empire dan lain-lain. 2. Arah Pada benda apapun dapat kita rasakan adanya arah tertentu, misalnya mendatar, tegak lurus, miring dan sebagainya. Arah ini dapat dilihat dan dirasakan keberadaannya. Hal ini sering dimanfaatkan dalam merancang benda dengan tujuan tertentu. Misalnya dalam rancangan busana, unsur arah pada motif bahannya dapat digunakan untuk mengubah penampilan dan bentuk tubuh sipemakai. Pada bentuk tubuh gemuk, sebaiknya menghindari arah mendatar karena dapat menimbulkan kesan melebarkan. Begitu juga dalam pemilihan model pakaian, garis hias yang digunakan dapat berupa garis princes atau garis tegak lurus yang dapat memberi kesan meninggikan atau mengecilkan orang yang bertubuh gemuk tersebut. 3. Bentuk Setiap benda mempunyai bentuk. Bentuk adalah hasill hubungan dari beberapa garis yang mempunyai area atau bidang dua dimensi (shape). Apabila bidang tersebut disusun dalam suatu ruang maka terjadilah bentuk tiga dimensi atau form. Jadi bentuk dua dimensi adalah bentuk perencanaan secara lengkap untuk benda atau barang datar (dipakai untuk benda yang memiliki ukuran panjang dan lebar) sedangkan tiga dimensi adalah yang memiliki panjang, lebar dan tinggi. Berdasarkan jenisnya bentuk terdiri atas bentuk naturalis atau bentuk organik, bentuk geometris, bentuk dekoratif dan bentuk abstrak. Bentuk naturalis adalah bentuk yang berasal dari bentukbentuk alam seperti tumbuh-tumbuhan, hewan, dan bentuk-bentuk alam lainnya. Bentuk geometris adalah bentuk yang dapat diukur dengan alat pegukur dan mempunyai bentuk yang teratur, contohnya bentuk segi empat, segi tiga, bujur sangkar, kerucut, lingkaran dan lain sebagainya. Sedangkan bentuk dekoratif merupakan bentuk yang sudah dirobah dari bentuk asli melalui proses stilasi atau stilir yang masih ada ciri khas bentuk aslinya. Bentuk-bentuk ini dapat berupa ragam hias pada sulaman atau hiasan lainnya yang mana bentuknya sudah tidak seperti bentuk sebenarnya. Bentuk ini lebih banyak di 200

222 pakai untuk menghias bidang atau benda tertentu. Bentuk abstak merupakan bentuk yang tidak terikat pada bentuk apapun tetapi tetap mempertimbangkan prinsip-prinsip desain. 4. Ukuran Ukuran merupakan salah satu unsur yang mempengaruhi desain pakaian ataupun benda lainnya. Unsur-unsur yang dipergunakan dalam suatu desain hendaklah diatur ukurannya dengan baik agar desain tersebut memperlihatkan keseimbangan. Apabila ukurannya tidak seimbang maka desain yang dihasilkannya akan kelihatan kurang baik. Misalnya dalam menata busana untuk seseorang, orang yang bertubuh kecil mungil sebaiknya tidak menggunakan tas atau aksesories yang terlalu besar karena terlihat tidak seimbang. 5. Tekstur Setiap benda mempunyai permukaan yang berbeda-beda, ada yang halus dan ada yang kasar. Tekstur merupakan keadaan permukaan suatu benda atau kesan yang timbul dari apa yang terlihat pada permukaan benda. Tekstur ini dapat diketahui dengan cara melihat atau meraba. Dengan melihat akan tampak pemukaan suatu benda misalnya berkilau, bercahaya, kusam tembus terang, kaku, lemas, dan lain-lain. Sedangkan dengan meraba akan diketahui apakah permukaan suatu benda kasar, halus, tipis, tebal ataupun licin. Tekstur yang bercahaya atau berkilau dapat membuat seseorang kelihatan lebih besar (gemuk), maka bahan tekstil yang bercahaya lebih cocok dipakai oleh orang yang bertubuh kurus sehingga terlihat lebih gemuk. Tekstur bahan yang tembus terang seperti siffon, brokat dan lain-lain kurang cocok dipakai oleh orang yang berbadan gemuk karena memberi kesan bertambah gemuk. 6. Value (Nada Gelap dan Terang) Benda hanya dapat terlihat karena adanya cahaya, baik cahaya alam maupun cahaya buatan. Jika diamati pada suatu benda terlihat bahwa bagian-bagian permukaan benda tidak diterpa oleh cahaya secara merata, ada bagian yang terang dan ada bagian yang gelap. Hal ini menimbulkan adanya nada gelap terang pada permukaan benda. Nada gelap terang ini disebut dengan istilah value. 201

223 Gambar 82. Value warna putih ke hitam Gambar 83. Value beberapa warna ke warna putih dan hitam 7. Warna Warna merupakan unsur desain yang paling menonjol. Dengan adanya warna menjadikan suatu benda dapat dilihat. Selain itu warna juga dapat mengungkapkan suasana perasaan atau watak benda yang dirancang. Warna dapat menunjukkan sifat dan watak yang berbeda-beda, bahkan mempunyai variasi yang sangat banyak yaitu warna muda, warna tua, warna terang, warna gelap, warna redup, dan warna cemerlang. Sedangkan dilihat dari sumbernya, ada warna merah, biru, kuning, hijau, orange dan lain sebagainya. Tetapi jika disebut warna panas, warna dingin, warna lembut, warna ringan, warna sedih, warna gembira dan sebagainya maka ini disebut juga dengan watak warna. Warna-warna tua atau warna hitam dapat memberi kesan berat dan menyusutkan bentuk. Oleh karena itu apabila kita menata busana 202

224 untuk seseorang hendaklah disesuaikan dengan orang tersebut. Misalnya orang yang bertubuh gemuk hendaklah dipilih warna yang tidak terlalu cerah atau warna-warna redup karena warna ini dapat menyusutkan bentuk tubuh yang gemuk tersebut. a. Pengelompokan warna Ada bermacam-macam teori yang berkembang mengenai warna, diantaranya teori Oswolk, Mussel, Prang, buwster dan lainlain. Dari bermacam-macam teori ini yang lazim dipergunakan dalam desain busana dan mudah dalam proses pencampurannya adalah teori warna Prang karena kesederhanaannya. Prang mengelompokkan warna menjadi lima bagian yakni warna primer, sekunder, intermedier, tertier dan kuarter. KO K KH O H M O BH M B MU U BU Gambar 84. Lingkaran Warna 203

225 1) Warna primer, warna ini disebut juga dengan warna dasar atau pokok, karena warna ini tidak dapat diperoleh dengan pencampuran hue lain. Warna primer ini terdiri dari merah, kuning dan biru. K M B Gambar 85. Warna Primer 2) Warna Sekunder. Warna ini merupakan hasil pencampuran dari dua warna primer, warna sekunder terdiri terdiri dari orange, hijau dan ungu. a) Warna orange merupakan hasil dari pencampuran warna merah dan warna kuning. b) Warna hijau merupakan pencampuran dari warna kuning dan biru. c) Warna ungu adalah hasil pencampuran merah dan biru. O H U Gambar 86. Warna sekunder 3) Warna intermediet, warna ini dapat diperoleh dengan dua cara yaitu dengan mencampurkan warna primer dengan warna sekunder yang berdekatan dalam lingkaran warna atau dengan cara mencampurkan dua warna primer 204

226 dengan perbandingan 1 : 2. Ada enam macam warna intermedier yaitu : a) Kuning hijau (KH) adalah hasil pencampuran dari kuning ditambah hijau atau dua bagian kuning ditambah satu bagian biru (K+K+B) KH b) Biru hijau (BH) adalah hasil pencampuran biru ditambah hijau atau dua bagian biru di tambah satu bagian kuning (B+B+K) BH c) Biru ungu (BU) adalah hasil pencampuran biru dengan ungu atau pencampuran dua bagian biru dengan satu bagian merah (B+B+M). BU d) Merah ungu (MU) adalah hasil pencampuran merah dengan ungu atau pencampuran dua bagian merah dan satu bagian biru (M+M+B) MU e) Merah orange (MO) adalah hasil pencampuran merah dengan orange atau pencampuran dua bagian merah dan satu bagian kuning (M+M+K) MO f) Kuning orange (KO) adalah hasil pencampuran kuning dengan orange atau pencampuran dua bagian kuning dan satu bagian merah (K+K+M) 205

227 KO 4) Warna tertier. Warna tertier adalah warna yang terjadi apabila dua warna sekunder dicampur. Warna tertier ada tiga yaitu tertier biru, tertier merah dan tertier kuning. a) Tertier biru adalah hasil pencampuran ungu dengan hijau. b) Tertier merah adalah hasil pencampuran orange dengan ungu c) Tertier kuning adalah hasil pencampuran hijau dengan orange. 5) Warna kwarter. Warna kwarter adalah warna yang dihasilkan oleh pencampuran dua warna tertier. Warna kwarter ada tiga yaitu kwarter hijau, kwarter orange dan kwarter ungu. a) Kwarter hijau terjadi karena percampuran tertier biru dengan tertier kuning. b) Kwarter orange terjadi karena percampuran tertier merah dengan tertier kuning. c) Kwarter ungu terjadi karena percampuran tertier merah dengan tertier biru b. Pembagian Warna Menurut Sifatnya Warna menurut sifatnya dapat dibagi atas 3 bagian yaitu sifat panas dan dingin atau hue dari suatu warna, sifat terang dan gelap atau value warna serta sifat terang dan kusam atau intensitas dari warna. 1) Sifat panas dan dingin Sifat panas dan dingin suatu warna sangat dipengaruhi oleh huenya. Hue merupakan suatu istilah yang dipakai untuk membedakan suatu warna dengan warna yang lainnya, seperti merah, kuning, biru dan lainnya. Perbedaan antara merah dan kuning ini adalah perbedaan huenya. Hue dari suatu warna mempunyai sifat panas dan dingin. Warna-warna panas adalah warna yang berada pada bagian kiri dalam lingkaran warna, yang termasuk dalam warna panas ini yaitu warna yang mengandung unsur merah, kuning dan jingga. Warna panas ini memberi kesan berarti, agresif, menyerang, membangkitkan, gembira, semangat dan menonjol. Sedangkan warna yang mengandung unsur hijau, biru, ungu 206

228 disebut warna dingin. Warna dingin lebih bersifat tenang, fasif, tenggelam, melankolis serta kurang menarik perhatian. 2) Sifat terang dan gelap Sifat terang dan gelap suatu warna disebut dengan value warna. Value warna ini terdiri atas beberapa tingkat. Untuk mendapatkan value ke arah yang lebih tua dari warna aslinya disebut dengan shade, dilakukan dengan penambahan warna hitam. Sedangkan untuk warna yang lebih muda disebut dengan tint, dilakukan dengan penambahan warna putih. 3) Sifat terang dan kusam Sifat erang dan kusam suatu warna dipengaruhi oleh kekuatan warna atau intensitasnya. Warna-warna yang mempunyai intensitas kuat akan kelihatan lebih terang sedangkan warna yang mempunyai intensitas lemah akan terlihat kusam. c. Kombinasi Warna Dari berbagai warna yang sudah ada, besar kemungkinan belum ditemui warna yang diinginkan. Oleh sebab itu warna ini perlu dikombinasikan. Mengkombinasikan warna berarti meletakkan dua warna atau lebih secara berjejer atau bersebelahan. Jenis-jenis kombinasi warna dapat dikelompokkan atas : 1) Kombinasi monokromatis atau kombinasi satu warna yaitu kombinasi satu warna dengan value yang berbeda. Misalnya merah muda dengan merah, hijau muda dengan hijau tua, dll, seperti di bawah ini : 2) Kombinasi analogus yaitu kombinasi warna yang berdekatan letaknya dalam lingkaran warna. Seperti merah dengan merah keorenan, hijau dengan biru kehijauan, dll K O U B KH MO MU BU 207

229 3) Kombinasi warna komplementer yaitu kombinasi warna yang bertentangan letaknya dalam lingkaran warna, seperti merah dengan hijau, biru dengan orange dan kuning dengan ungu. K U M H B O 4) Kombinasi warna split komplementer yaitu kombinasi warna yang terletak pada semua titik yang membentuk huruf Y pada lingkaran warna. Misalnya kuning dengan merah keunguan dan biru keunguan, Biru dengan merah keorenan dan kuning keorenan, dan lain-lain. 5) Kombinasi warna double komplementer yaitu kombinasi sepasang warna yang berdampingan dengan sepasang komplementernya. Misalnya kuning orange dan biru ungu. 6) Kombinasi warna segitiga yaitu kombinasi warna yang membentuk segitiga dalam lingkaran warna. Misalnya merah, kuning dan biru, orange. Hijau damn ungu. Kombinasi warna monokromatis dan kombinasi warna analogus di atas disebut kombinasi warna harmonis, sedangkan kombinasi warna komplementer, split komplementer, double komplementer dan segitiga disebut juga kombinasi warna kontras. D. Prinsip-prinsip Desain Untuk dapat menciptakan desain yang lebih baik dan menarik perlu diketahui tentang prinsip-prinsip desain. Adapun prinsip-prinsip desain yaitu : 1. Harmoni Harmoni adalah prinsip desain yang menimbulkan kesan adanya kesatuan melalui pemilihan dan susunan objek atau ide atau adanya keselarasan dan kesan kesesuaian antara bagian yang satu dengan bagian yang lain dalam suatu benda, atau antara benda yang satu dengan benda lain yang dipadukan. Dalam suatu bentuk, harmoni dapat dicapai melalui kesesuaian setiap unsur yang membentuknya. 2. Proporsi Proporsi adalah perbandingan antara bagian yang satu dengan bagian yang lain yang dipadukan. Untuk mendapatkan suatu susunan 208

230 yang menarik perlu diketahui bagaimana cara menciptakan hubungan jarak yang tepat atau membandingkan ukuran objek yang satu dengan objek yang dipadukan secara proporsional. 3. Balance Balance atau keseimbangan adalah hubungan yang menyenangkan antar bagian-bagian dalam suatu desain sehingga menghasilkan susunanyang menarik. Keseimbangan ada 2 yaitu : a. Keseimbangan simetris atau formal maksudnya yaitu sama antara bagian kiri dan kanan serta mempunyai daya tarik yang sama. Keseimbangan ini dapat memberikan rasa tenang, rapi, agung dan abadi. b. Keseimbangan asimetris atau informal yaitu keseimbangan yang diciptakan dengan cara menyusun beberapa objek yang tidak serupa tapi mempunyai jumlah perhatian yang sama. Objek ini dapat diletakkan pada jarak yang berbeda dari pusat perhatian. Keseimbangan ini lebih halus dan lembut serta menghasilkan variasi yang lebih banyak dalam susunannya. 4. Irama Irama dalam desain dapat dirasakan melalui mata. Irama dapat menimbulkan kesan gerak gemulai yang menyambung dari bagian yang satu ke bagian yang lain pada suatu benda, sehingga akan membawa pandangan mata berpindah-pindah dari suatu bagian ke bagian lainnya. Akan tetapi tidak semua pergerakan akan menimbulkan irama. Irama dapat diciptakan melalui : a. Pengulangan bentuk secara teratur b. Perubahan atau peralihan ukuran c. Melalui pancaran atau radiasi 5. Aksen/center of interest Aksen merupakan pusat perhatian yang pertama kali membawa mata pada sesuatu yang penting dalam suatu rancangan. Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam menempatkan aksen : a. Apa yang akan di jadikan aksen b. Bagaimana menciptakan aksen c. Berapa banyak aksen yang dibutuhkan d. Dimana aksen ditempatkan 6. Unity Unity atau kesatuan merupakan sesuatu yang memberikan kesan adanya keterpaduan tiap unsurnya. Hal ini tergantung pada bagiamana suatu bagian menunjang bagian yang lain secara selaras sehingga terlihat seperti sebuah benda yang utuh tidak terpisah- 209

231 pisah. Misalnya leher berbentuk bulat diberi krah yang berbentuk bulat pula dan begitu juga sebaliknya. E. Penerapan Unsur dan Prinsip Desain Dalam mendesain busana unsur-unsur dan prinsip-prinsip desain hendaklah diperhatikan. Kedua elemen tersebut sangat menentukan bagaimana hasil desain busana yang kita buat. Dengan adanya unsur desain kita dapat melihat wujud dari desain yang kita buat dan dengan memperhatikan prinsip-prinsip desain, sebuah desain yang kita ciptakan dapat lebih indah dan sempurna. Pada desain busana setiap unsur atau karya yang kita tuangkan hendaklah mudah dibaca atau dipahami desainnya oleh orang lain dan sesuai dengan siapa orang yang akan memakainya. Hal ini penting karena setiap orang mempunyai bentuk tubuh yang tidak sama sehingga untuk menutupi kekurangan atau menonjolkan kelebihan sipemakai dapat kita gunakan unsur-unsur dan prinsip-prinsip desain di atas. a. Penerapan unsur-unsur desain pada busana Garis merupakan unsur yang pertama yang sangat penting dalam desain karena dengan garis kita dapat menghasilkan sebuah rancangan busana yang menarik selain unsur-unsur desain lainnya. Garis busana yang perlu diperhatikan yaitu berupa siluet pakaian atau garis luar pakaian dan garis bagian-bagian busana seperti kerah, lengan, garis hias (garis princes, garis empire, dll) dan lain-lain. Siluet pakaian dibuat hendaklah disesuaikan dengan bentuk tubuh sipemakai dan sesuai dengan trend mode saat itu. Seperti untuk orang yang bertubuh kurus hendaknya jangan menggunakan siluet I karena memberi kesan lebih kurus, begitu juga sebaliknya orang yang bertubuh gemuk hendaklah menghindari pakaian dengan siluet S karena gelombang-gelombang pada pakaian memberi kesan tambah menggemukkan. Begitu juga dengan warna dan tekstur serta unsur-unsur lainnya. Warna dan tekstur ini perlu disesuaikan dengan banyak faktor seperti warna kulit, kesempatan pemakaian, bentuk tubuh dan lain-lain. Jadi setiap sifat atau watak dari masing-masing unsur dapat dimanfaatkan untuk menutupi kekurangan dan menonjolkan kelebihan yang dimiliki sipemakai. Seorang perancang atau desainer juga harus mempunyai pengetahuan tentang menjahit agar dapat menuangkan idenya dengan lebih kreatif dan rancangan ini dapat dibuat menjadi sebuah pakaian, dengan kata lain setiap garis-garis busana yang dibuat benar-benar dapat diwujudkan menjadi benda yang sesungguhnya. Jadi setiap garis atau bentuk yang dirancang tidak hanya indah di atas kertas saja tetapi orang lain juga dapat memahami desainnya untuk diwujudkan ke bentuk yang sebenarnya. b. Penerapan prinsip-prinsip desain pada busana 210

232 Setiap unsur-unsur desain disusun sedemikian rupa sehingga menghasilkan sebuah rancangan yang indah. Namun ini bukanlah pekerjaan yang mudah. Agar susunan setiap unsur ini indah maka diperlukan cara-cara tertentu yang dikenal dengan prinsip-prinsip desain sebagaimana sudah dijelaskan terdahulu. Setiap prinsip ini tidak digunakan secara terpisah-pisah melainkan satu kesatuan dalam suatu desain. Prinsip-prinsip ini yaitu harmoni, proporsi, balance, irama, aksen dan unity. Sebuah desain yang dirancang tentunya ada ide-ide yang ditonjolkan. Misalnya ide busana wanita dengan lipit-lipit. Maka agar busana tersebut terlihat harmoni (serasi) maka bagian busana hendaklah juga menggunakan lipit yang bila dilihat tidak terlalu berlebihan. Janganlah menggunakan lipit pada rok kemudian kerut pada lengan, tentunya akan terlihat tidak harmoni. Begitu juga garis hias. Apabila kita menggunakan garis yang melengkung, sebaiknya juga disesuaikan dengan garis leher atau bentuk kerah dan juga ujung bawah pakaian. Pilihlah kerah atau ujung bawah baju yang bagian ujungnya juga melengkung sehingga terlihat serasi. Begitu juga dengan prinsip proporsi. Agar setiap bagian terlihat proporsional, susunlah setiap bagian tersebut dengan baik. Misalnya orang yang bertubuh kurus, jangan gunakan motif yang membuatnya tambah kurus atau motif garis vertikal dan lain-lain. Penempatan setiap bagian juga perlu diperhatikan keseimbangannya (balance), misalnya keseimbangan simetris atau asimetris. Irama pada desain juga perlu diperhatikan. Ada beberapa cara yang dapat digunakan untuk menentukan irama pada desain sebagaimana sudah dijelaskan terdahulu. Kita bisa memilih salah satu irama pada pakaian yang diinginkan misalnya ada pengulangan bentuk seperti ada rimpel kecil yang dibuat pada garis leher maka diberi pengulanganya dengan membuat rimpel kecil juga pada ujung lengan. Kita bisa memilih salah satu irama yang diinginkan. Hal yang tidak kalah pentingnya adalah adanya kesatuan pada setiap unsur yang ada dalam desain. F. Alat dan Bahan untuk Mendesain Untuk menghasilkan suatu rancangan yang baik perlu ditunjang dengan pengadaan alat dan bahan yang menunjang. Peralatan gambar adalah bagian penting yang harus disediakan untuk kelancaran kerja. Peralatan yang bermutu baik juga akan meningkatkan mutu desain yang dihasilkan, karena akan memberikan kemudahan dalam bekerja sehingga mencapai hasil yang maksimal. Pengetahuan dan keterampilan tentang alat gambar sangatlah pemting. Kadang kala tidak semua pekerja seni/desainer cocok dan mampu mempergunakan alat tertentu atau alat yang sama dalam mewujudkan desainnya seperti menggunakan cat air/aquarel, pensil 211

233 warna, cat minyak, tinta, spidol dan lainnya. Pada dasarnya setiap jenis peralatan tersebut mempunyai kebaikan dan keburukan, dan setiap alatalat tersebut juga mempunyai efek yang berbeda pada hasil desain. Khusus bagi fashion designer dianjurkan untuk berlatih cara memakai semua alat-alat menggambar termasuk komputer khusus desain bila perlu karena masing-masing alat tersebut penting dan membutuhkan skill tertentu. Adapun alat dan bahan yang digunakan untuk mendesain yaitu : 1. Pensil Pensil yang digunakan adalah lead pensil yang terbuat dari graphite. Pensil ini sangat baik untuk digunakan dan tersedia dalam beberapa ukuran yang berbeda. Untuk goresan yang agak keras dengan kode H/HB, untuk menggambar sketsa busana sebaiknya menggunakan pensil B. Pensil B mempunyai ukuran dari 1 B sampai 8 B. Makin tinggi nomornya maka makin lunak pensilnya. Pensil yang lunak berguna untuk mengarsir atau memberikan bayangan pada desain. 2. Pensil warna (colored pencil) Pensil warna digunakan untuk menyempurnakan desain agar terlihat lebih menarik. Pensil ini juga dapat diruncingkan sehingga bisa menyempurnakan bagian-bagian yang rumit dan kecil seperti kantong, krah motif tekstil dan lain-lain. 3. Penghapus (eraser) Penghapus perlu disediakan sewaktu mendesain karena goresan awal belum tentu langsung bagus dan memuaskan, terutama bagi pemula. 4. Rol/penggaris Rol berguna untuk memberi bingkai dari kertas gambar atau membuat bidang-bidang bergaris lurus. 5. Kuas (brushes) Kuas berbentuk bulu-bulu halus yang terbuat dari bahan sintetis.kuas mempunyai variasi bentuk dan ukuran yang banyak. Pilihlah kuas yang bermutu baik dan ukuran yang cocok untuk mendesain. Apabila kuas sudah selesai digunakan harus disimpan dalam keadaan bersih dan bulunya dihadapkan ke atas sehingga bulunya tidak mudah lepas atau patah 6. Cat air (water colour) Cat air tersedia dalam bentuk cake dan tube. Pilihlan cat yang bagus dan berkualitas baik. Apabila memilih bentuk tube tersedia 212

234 warna yang bervariasi, jika memilih bentuk cake/botol maka biasanya kita yang mencampur sendiri sesuai dengan yang diinginkan. 7. Kertas Kertas tersedia dalam bermacam-macam bentuk dan ukuran. Pakailah kertas yang sesuai dengan kebutuhan. Jenis-jenis kertas ini antara lain kertas photocopy, kertas transparan, dan kertas gambar/buku gambar. 8. File/amplop File atau amplop berguna untuk menyimpan kliping-kliping mode, potongan-potongan bahan tekstil dan untuk penyimpanan desain yang sudah selesai. Kliping berguna untuk meningkatkan inspirasi dari desainer dalam mengembangkan idenya. G. Anatomi Tubuh untuk Desain Pengetahuan dan keterampilan menggambar anatomi tubuh sangat penting bagi seorang fashion designer terutama bagi pemula karena ilmu ini merupakan landasan atau keterampilan basic yang perlu dipelajari dan dilatihkan agar menghasilkan desain yang baik. Perbandingan tubuh merupakan ketentuan yang dipakai untuk menggambar ukuran tubuh manusia. Perbandingan ini diperoleh dari gambar dua dimensi/foto orang yang sesungguhnya dalam keadaaan berdiri lurus dan menghadap ke depan. 1. Pengertian Anatomi Tubuh Anatomi adalah ilmu yang mempelajari susunan tubuh manusia secara keseluruhan mulai dari kepala sampai ujung kaki. Dalam bidang desain busana, anatomi dipelajari terbatas pada bentuk dan gerakan tubuh dengan bagian-bagiannya seperti persendian, otot dan syaraf. Dengan adanya persendian, otot dan syaraf pada tubuh, arah gambar tangan, kaki, leher dan wajah harus diperhatikan agar jangan salah arah dan gambar ini harus sesuai dengan gerakan tubuh yang sebenarnya. Untuk menggambar anatomi tubuh dengan ukuran yang ideal ada beberapa hal yang perlu diperhatikan : a. Perbandingan tinggi dan lebar tubuh b. Letak bagian-bagian tubuh c. Sikap, gaya dan gerak tubuh d. Jatuhnya pakaian pada tubuh. Untuk memperoleh gambar anatomi tubuh yang sesuai dengan perbandingan dan letak bagian-bagian tubuh, pada saat menggambar harus dibantu dengan pertolongan garis-garis dengan perbandingan tertentu. Perbandingan ini harus dibuat untuk seluruh bagian-bagian tubuh mulai dari ubun-ubun sampai ujung kaki. 213

235 2. Tujuan Mempelajari Anatomi Tubuh Anatomi tubuh sangat penting sekali terutama bagi seorang desainer dalam menuangkan ide dan gagasannya kepada orang lain. Desain busana pada anatomi tubuh sangat besar pengaruhnya pada model pakaian yang disajikan. Desain yang dituangkan pada anatomi tubuh akan terlihat semakin jelas dan menarik dibandingkan tampa anatomi tubuh. Selain itu perbandingan masing-masing ukuran model pakaian pada anatomi tubuh lebih mudah dibaca orang yang melihatnya seperti : a. Ukuran garis leher dan krah b. Bentuk lengan dan panjang lengan c. Bagian badan, pinggang dan panggul d. Garis hias, saku dan hiasan pada pakaian e. Siluet blus atau model secara keseluruhan f. Pemilihan bahan dan perlengkapan pakaian Berdasarkan penjelasan di atas, anatomi tubuh mempunyai tujuan di antaranya : a. Dapat membawa pesan dan citra dari penciptanya b. Sebagai media perwujudan bentuk dan model pakaian c. Dapat menentukan perbandingan makna dari model pakaian d. Membantu penyajian gambar dari beberapa arah e. Sebagai alat komunikasi kepada orang lain. 3. Jenis jenis Perbandingan Tubuh Salah satu hal yang penting diperhatikan dalam menggambar anatomi tubuh untuk desain adalah memahami konsep untuk menentukan ukuran perbandingan tubuh seperti ukuran kepala, ukuran badan, ukuran tangan dan kaki. Dalam menggambar perbandingan tubuh untuk desain pakaian kita dapat memilih beberapa jenis perbandingan yang biasa dipakai yaitu : a. Perbandingan menurut anatomi sesungguhnya yaitu tinggi tubuh 7½ kali tinggi kepala b. Perbandingan menurut desain busana ialah tinggi tubuh 8 kali tinggi kepala dan ada pula yang memakai 8 ½ tinggi kepala, ini biasanya disebut dengan anatomi model. c. Perbadingan tubuh secara ilustrasi yang biasanya digunakan untuk desain yang dipublikasikan atau gaya tertentu yaitu perbandingan 9 kali tinggi kepala bahkan mencapai 12 kali tinggi kepala atau disebut juga perbandingan secara ilustrasi. Perbandingan tubuh ini mengacu pada bentuk tubuh yang ideal, sehat jasmani dan rohani, dengan kata lain ukuran yang ideal haruslah memenuhi ketentuan dan syarat sebagai berikut : 214

236 a. Tubuh yang sehat tidak mempunyai cacat fisik dan mengidap suatu penyakit seperti penyakit beri-beri yang dapat menyebabkan badan gemuk atau berat tidak seimbang. b. Lengan dan kaki padat, tidak terlalu besar dan tidak pula terlalu kurus atau kecil c. Perbandingan ukuran bagian-bagian tubuh normal seperti besar mata, hidung dan telinga. 4. Menggambar Perbandingan Tubuh Perbandingan tubuh menurut desain busana dibuat dengan ukuran tinggi tubuh 8 kali tinggi kepala atau 8 ½ tinggi kepala, ini biasanya disebut dengan anatomi model. Namun untuk keperluan desain ilustrasi proporsi tubuh dibuat lebih tinggi, 10 x tinggi kepala dan bahkan ada yang membuat 11 x tinggi kepala. Perbandingan tubuh menurut desain busana ini dapat di lihat pada tabel berikut : Tabel 1. Perbandingan letak bagian-bagian tubuh menurut desain busana No Letak tubuh menurut tinggi dan lebar Anatomi model TINGGI TUBUH 8 ½ TK Letak menurut tinggi tubuh Kepala Bahu Dada Pinggang dan siku Batas pinggul dan pergelangan tangan Ujung jari tangan Lutut Betis Pergelangan kaki Tumit dari bagian belakang Ujung jari kaki ½ ¾ 5 ¾ /6 8 ½ Letak menurut lebar tubuh Lebar kepala Lebar leher Lebar bahu Lebar pinggang Lebar panggul Jaraklutut Jarak tumit atau pergelangan kaki Jarak ujung jari kaki Letak bagian-bagian tubuh pada kepala Ubun-ubun Batas dahi Letak mata Latak hidung Letak telinga antara angka Letak bibir di atas angka Dagu 2/3 x TK ½ LK 2 x LK =LK 2 x LK = LK LK = LK 0 ¼ ½ ¾ ½ - 3/4 7/

237 Perbandingan tinggi dan lebar tubuh biasanya diukur berdasarkan tinggi kepala, misalnya tinggi tubuh 8 ½ kali tinggi kepala. Jika tinggi kepala 3 cm maka tinggi tubuh adalah 8 ½ x 3 cm = 25 ½ cm. Ukuran tersebut merupakan ukuran yang digunakan untuk menggambar bagianbagian tubuh mulai dari ubun-ubun sampai ujung kaki. Untuk menggambar anatomi tubuh untuk desain busana ini, ukuran dan perbandingan yang dipakai ialah tinggi kepala 3 cm, namun bisa juga kita ambil ukuran lain seperti 2 ½ cm atau 2 cm dan dapat pula lebih dari 3 cm tergantung pada gambar yang kita inginkan. Ikuti langkah-langkah berikut ini : 1. Buat garis pertolongan tegak lurus dan beri nama titik O dan X. Titik O terletak pada bagian ubun-ubun dan X terletak pada ujung kaki. Panjang garis O-X adalah tinggi tubuh berdasarkan tinggi kepala. Misalnya tinggi kepala yang diinginkan 3 cm maka panjang O-X = 8 ½ x 3 cm = 25 ½ cm. Jadi panjang O-X = 25 ½ cm dan jarak 0 1 = 3 cm. Bagi titik O-X menjadi 8 ½ bagian. 2. Tandai titik 0, 1, 1 ½, 2, 3, 4, 4 ¾, 5 3 / 4, 7, 8, 8 1 / 6, 8 ½ seperti letakletak bagian tubuh pada tabel 2 di atas. Hubungkan garis-garis tersebut menggunakan garis lurus untuk garis pertolongan seperti gambar di bawah, sehingga terbentuk sketsa tubuh yang belum sempurna atau belum berdaging. 0-1 = tinggi kepala dan lebar kepala adalah 2 / 3 x tinggi kepala = 2 cm 1-1 ½ = tinggi leher dan lebar leher = ½ lebar kepala lebar bahu = 2 x lebar kepala 2 = batas ketiak / dada 3 = batas pinggang dan siku, lebar pinggang = lebar kepala 4 = batas pinggul dan pergelangan tangan, lebar panggul = 2 x lebar kepala 4 ¾ = Ujung jari tangan 5 3 / 4 = lutut dan jarak lutut = lebar kepala 7 = betis 8 = pergelangan kaki 8 1/6 = tumit dan jarak tumit = lebar kepala 8 ½ = ujung jari kaki dan jarak ujung jari kaki = lebar kepala 216

238 Perhatikan gambar di bawah ini : 3. Bentuk bagian tubuh sehingga terlihat seperti sudah ada dagingnya dengan bantuan garis di atas. 217

239 4. Hapus garis bantu dan rapikan gambar anatomi yang dibuat sehingga diperoleh sebuah anatomi tubuh yang utuh yang dapat divariasikan gerak dan gayanya. 218

240 219

241 5. Sempurnakan gambar dengan melengkapi bagian-bagian pada wajah dan menyempurnakan bentuk bagian-bagian tubuh seperti bentuk badan, pinggang, panggul, paha, betis, tangan dan kaki seperti pada gambar di bawah ini : Letak bagian-bagian wajah yaitu : 0 = ubun-ubun ¼ = batas dahi ½ = letak mata ¾ = letak hidung ½ - ¾ = letak telinga 7/8 = letak bibir 1 = dagu 220

242 6. Anatomi ini dapat dirubah gerak dan gayanya dengan cara membuat rangka benang atau rangka balok. Anatomi tubuh sudah dapat digunakan sebagai pedoman dalam menggambar bermacam-macam busana. Lihat gambar dibawah ini : 221

243 5. Menggambar Bagian-bagian Tubuh a. Wajah Pada umumnya wajah digambar dengan bentuk oval karena bentuk ini dianggap lebih menarik dibandingkan wajah dengan bentuk bulat, persegi empat, segi tiga dan lainnya. Wajah terdiri atas bagian-bagian yaitu mata, hidung, mulut, telinga, alis dan dilengkapi dengan rambut pada kepala. Dalam menggambarkan wajah dapat disesuaikan dengan trend yang sedang berkembang. Selain itu dalam menggambarkan wajah juga perlu memahami tentang ekspresi wajah karena ekspresi wajah juga mempengaruhi penampilan desain secara menyeluruh. Ekspresi wajah biasanya disesuaikan dengan tema desain misalnya desain pakaian remaja ditampilkan dengan ekspresi wajah yang ceria, untuk pakaian pesta ditampilkan dengan ekspresi yang anggun seperti tersenyum. Berikut ini akan dibahas dan digambarkan bagian-bagian wajah yang meliputi mata dan alis, hidung, Bibir, telinga dan rambut. 1) Mata dan alis Mata diperkirakan letaknya di tengah antara puncak kepala/ubun-ubun dan dagu. Bentuk mata seperti buah kenari, lebar mata diperkirakan lebih kurang 1/5 bagian jarak antara telinga kanan dan kiri. Mata yang dilihat dari arah depan terlihat seluruhnya dan alis dibuat di atas mata dengan ujung alis runcing. Berikut digambarkan bentuk mata dilihat dari beberapa arah : Gambar 87. Mata terlihat dari depan 222

244 Gambar 88. Mata menunduk Gambar 89. Mata terlihat dari samping 223

245 2) Hidung Hidung terletak antara mata dan bibir. Bentuk hidung disesuaikan dengan arah wajah. Berikut gambar hidung jika dilihat dari beberapa arah : Gambar 90. Hidung tampak depan, tampak tiga perempat, tampak samping dan hidung pada wajah menunduk 3) Bibir Bibir terletak dibawah hidung atau antara hidung dan dagu. Bentuk bibir digambarkan sesuai ekspresi yang diinginkan seperti sedang tersenyum dan lain-lain. Berikut ini gambar bibir jika dilihat dari beberapa arah : 224

246 Gambar 91. Bibir dilihat dari beberapa arah 4) Telinga Posisi telinga adakalanya tertutup oleh gaya rambut, namun ada juga yang menggambarkannya terlihat seluruhnya. Berikut beberapa gambar telinga pada wajah yang dilihat dari beberapa arah : Gambar 92. Telinga tampak depan, samping dan tiga per empat 225

247 5) Rambut Batas rambut adalah pertengahan antara puncak kepala dan alis mata. Gaya atau model rambut dapat digambar sesuai gaya atau mode yang sedang berkembang. Gambar 93. Batas rambut b. Tangan Tangan terdiri atas lengan, siku, pergelangan tangan, telapak tangan dan jari-jari tangan. Dalam menggambar lengan kita perlu memperhatikan arah lengan yang digambar, tentunya disesuaikan dengan posisi tubuh/gaya berdiri. Gambar bahu atau pangkal lengan dibuat agak membulat, gambar lengan dari siku ke ujung tangan dibuat agak melengkung, pergelangan tangan dibuat ramping atau mengecil dan gambar telapak tangan dan jari disesuaikan dengan arah telapak tangan. Gambar beberapa pergerakan tangan dan gerakan telapak tangan dan jari dapat dilihat pada gambar berikut: 226

248 Gambar 94. Beberapa pergerakan tangan Gambar 84. Beberapa gerakan telapak tangan dan jari 227

249 c. Kaki dan telapak kaki Kaki merupakan bagian penopang tubuh yang terdiri atas paha, lutut, betis dan telapak kaki. Besar kaki tergantung pada perbandingan tubuh yang akan dibuat. Besar kaki ukuran anatomi sesungguhnya berbeda dengan anatomi untuk model atau ilustrasi. Secara umum ukuran kaki dapat diperkirakan sebagai berikut : 1) Paha terbesar terletak pada bagian atas, ukurannya lebih kurang setengah lebar panggul, paha akan mengecil ke bawah sampai mendekati lutut. 2) Lutut agak kecil dibanding paha 3) Betis digambar agak melengkung dan sedikit lebih besar dari lutut dan akan mengecil akan mengecil pertengahan antara lutut dan mata kaki. Pada gambar berikut terlihat sketsa kaki dengan beberapa gaya berdiri dan telapak kaki dilihat dari beberapa arah. Menggambar telapak kaki disesuaikan dengan alas kaki atau sepatu yang dipakai. Untuk desain adakalanya menggunakan sepatu yang memakai hak tinggi seperti sepatu untuk pesta, untuk kerja dan sebagainya serta sepatu hak rendah untuk pakaian santai, pakaian rumah, dll. Gambar 96. Kaki dengan beberapa gaya berdiri 228

250 Gambar 97. Kaki dengan alas kaki dari beberapa arah 6. Gerakan Tubuh pada Desain Busana Gerakan tubuh pada desain busana disebut juga dengan gesture atau movement. Gerakan tubuh ini perlu dipelajari dan dilatihkan karena tidak mungkin seorang desainer menuangkan idenya hanya pada proporsi tubuh yang menghadap kedepan saja karena ini bisa mengakibatkan desainnya terlihat kaku atau tidak menarik dan tidak dapat memperlihatkan hasil rancangan secara menyeluruh seperti arah samping kiri atau samping kanan, maupun dari arah belakang. Untuk memudahkan mempelajari gerak tubuh dapat diamati dari majalah mode dan foto-foto dari rancangan busana. Beberapa hal yang perlu dipahami dalam gerak tubuh adalah dengan memperhatikan titik tumpu tubuh apakah pada kaki kiri, kaki kanan atau kedua kaki. Selanjutnya perhatikan arah garis bahu, garis pinggang dan garis panggul, biasanya garis tersebut mengikuti arah garis tulang punggung sebagai action lines/gerak garis tubuh, lalu perhatikan arah arah gerak tangan dan keseimbangan tubuh secara menyeluruh. Ada beberapa metode yang dapat dipedomani dalam menggambar gaya dan gerak anatomi tubuh yaitu : 1. Rangka benang 2. Rangka balok 3. Rangka elips 229

251 Rangka benang dan rangka balok dapat membantu kita memperlihatkan rancangan busana khusus menghadap kedepan, sedangkat rangka elips untuk memperlihatkan rancangan busana dari arah samping. Berikut ini beberapa gerak dan gaya berdiri dengan rangka balok dan rangka elips Gambar 98. Teknik merobah gaya dan gerak tubuh dengan rangka balok 230

252 Gambar 99. Hasil gerak dan gaya dengan teknik rangka balok 231

253 Gambar 100. Gerak tubuh dengan rangka elips 232

254 H. Menggambar Bagian-bagian Busana Desain pakaian hendaklah digambar dengan baik sesuai dengan ide atau gagasan yang dituangkan pada desain tersebut. Desain yang dibuat hendaknya mudah dibaca dan dapat menjadi pedoman dalam pembuatan suatu pakaian. Untuk itu sebuah desain busana dan bagian-bagian busana harus digambar secara jelas seperti garis leher, bentuk atau siluet pakaian, bentuk rok dan bentuk celana. 1. Garis Leher (Neck Lines) Garis leher merupakan bagian pakaian yang terletak paling atas. Bentuk garis leher banyak variasinya, yang umum di pakai yaitu bentuk leher bulat. Selain bentuk bulat, ada juga bentuk perahu, bentuk hati, bentuk segitiga bentuk U, V dan lain-lain. Bentuk leher ini dapat divariasikan sesuai dengan yang diinginkan. Faktor-faktor yang penting diperhatikan dalam menggambar garis leher adalah menentukan garis tengah muka pakaian, garis pangkal leher muka dan belakang, dan batas antara bahu dan leher. Menggambar garis leher disesuaikan dengan arah anatomi, misalnya arah lurus menghadap ke depan, menyamping atau miring ¾. Arah berdiri ini menentukan letak garis leher yang akan digambar. Untuk desain yang menonjolkan garis leher hendaklah dibuat menghadap ke depan atau miring ¾. 2. Kerah Kerah adalah bagian dari sebuah desain pakaian, yang terletak pada bagian atas pakaian. Dalam menggambar busana perlu mempertimbangkan bentuk wajah dan leher. Bentuk leher tinggi sebaiknya menggunakan kerah tinggi atau menutupi sebagian leher seperti krah kemeja, kerah mandarin dan lain-lain. Sebaliknya leher yang pendek/rendah, pilih kerah yang agak rebah seperti kerah rebah, ½ berdiri, cape/palerin, dan variasi kerah-kerah yang terletak. Selain berfungsi untuk memperindah, kerah juga berfungsi memberi kenyamanan pada pemakai seperti mempertimbangkan iklim pada suatu daerah. Kerah terdiri atas beberapa ukuran mulai dari yang kecil seperti kerah rebah sampai yang lebar seperti kerah cape. Kerah juga bermacam-macam bentuknya yaitu kerah yang terletak, ½ berdiri, berdiri. Berikut ini digambarkan beberapa macam kerah. 233

255 Gambar 101. Beberapa desain kerah 234

256 3. Lengan Lengan adalah bagian pakaian yang menutupi puncak lengan bahkan sampai ke ujung lengan sesuai dengan keinginan. Hal yang perlu diperhatikan dalam menggambar lengan adalah garis batas lingkar kerung lengan. Ini akan memudahkan dalam menggambarkan desain lengan sesuai dengan model yang diinginkan. Lengan ada yang modelnya suai, berkerut dan ada juga lengan setali. Berikut dapat dilihat beberapa model lengan. Gambar 102. Beberapa model desain lengan 4. Blus Blus merupakan bagian pakaian yang menutupi badan bagian atas. Blus ada yang mempunyai belahan di depan dan ada juga yang tampa belahan. Model blus setiap tahun mengalami perubahan 235

257 sesuai dengan perkembangan selera masyarakat yang disebut dengan trend mode. Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam menggambar blus yaitu : a. Garis bahu dan lingkar kerung lengan b. Blus dipakai diluar atau di dalam rok atau celana c. Detail-detail blus seperti krah, kantong atau hiasan. d. Model lengan secara keseluruhan e. Siluet blus, pas atau longgar (oversize) Gambar detail blus dapat dilihat pada bahasan sebelumnya(krah, lengan, garis leher, dll) beberapa model blus dapat dilihat pada gambar berikut : Gambar 103. Beberapa desain blus 236

258 5. Rok Rok adalah bagian pakaian yang berada pada bagian bawah badan. Umumnya rok dibuat mulai dari pinggang sampai ke bawah sesuai dengan model yang diinginkan. Berdasarkan ukuran rok, rok dapat dikelompokkan atas rok mini, rok kini. rok midi, rok maksi dan longdress. Berdasarkan desain rok, rok juga dapat dikelompokkan atas rok suai/lurus (straight), rok kerut (gathered), rok lipit (pleated), rok lingkaran atau setengah lingkaran (flared), rok bias (seam) dan rok drapery. Selain model-model yang disebutkan di atas masih ada model rok lain yang merupakan kombinasi model-model di atas yang ditambahkan detail-detailnya seperti godet, rimpel, kantong dan lain sebagainya. Dalam menggambar rok ini perlu diperhatikan jatuh rok pada badan Untuk menggambarkannya butuh latihan yang banyak. Gambar 104. Beberapa model rok 237

259 6. Celana Celana hampir sama dengan rok, tetapi celana mempunyai pipa yang membungkus kedua kaki. Panjang celana biasanya bervariasi mulai dari yang pendek (short) sampai yang panjang. Celana juga bisa dibuat pas pada tubuh (fit) atau longgar (oversize). Celana yang pas biasanya dibuat dari bahan yang elastis (stretch). biasanya dipakai untuk busana olah raga seperti senam atau renang, dll. Untuk celana yang longgar seperti pantalon pria, perlu diperhatikan detail celana seperti garis patahan celana, kantong dan detail lainnya. Selain itu juga perlu diperhatikan model celana yang diinginkan. Saat ini banyak bermunculan model celana dengan detil yang rumit seperti kantong yang banyak dan model yang unik. I. Pewarnaan dan Penyelesaian Gambar Desain yang sudah dibuat dilakukan penyempurnaan yang disebut dengan finishing. Mewarnai merupakan salah satu teknik penyempurnaan desain, sehingga desain terlihat lebih menarik. Dalam mewarnai sebuah desain kita perlu memahami cara-cara mengarsir. Mewarnai desain atau gambar dapat dilakukan dengan pensil warna atau pensil biasa dengan kode 2B atau 3B. Selain itu desain juga dapat diwarnai dengan cat air atau cat minyak. Tentunya mewarnai dengan cat air atau cat minyak berbeda dengan mewarnai dengan pensil biasa. 1. Penyelesaian dengan pensil biasa Mewarnai dengan pensil biasa disebut dengan teknik mengarsir. Dalam mengarsir kita perlu memperhatikan daerah gelap atau terang dari gambar atau area yang banyak terkena cahaya dengan yang kurang terkena cahaya. Daerah yang banyak terkena cahaya terlihat lebih terang dan arsirannya lebih lembut sedangkan yang kurang terkena cahaya akan diarsir lebih tebal. Agar diperoleh gambar dengan arsiran yang bagus perlu juga diperhatikan jenis pensil yang digunakan. Pensil untuk mengarsir berbeda dengan pensil yang digunakan untuk membuat sketsa. Untuk mengarsir gunakan pensil yang lebih lunak atau khusus untuk arsiran seperti 2B, 3B, dll. 2. Penyelesaian dengan pensil warna Teknik mewarnai dengan pensil warna tidak jauh berbeda dengan mewarnai dengan pensil biasa. Dalam mewarnai dengan pensil warna, kita perlu memahami warna-warna dan kombinasi warna yang akan digunakan. Apabila desain pakaian dibuat dengan corak bahan tertentu kita juga perlu menyesuaikan motif dan warnanya dengan letak jatuh pakaian pada badan. Hal ini perlu dilatihkan secara berulang-ulang agar diperoleh sebuah desain dengan teknik mewarnai yang baik dan benar. 238

260 3. Penyelesaian dengan cat air dan cat minyak Mewarnai dengan cat minyak atau cat air butuh keterampillan khusus. Warna-warna yang digunakan terlebih dahulu dicampur atau di aduk untuk mendapat warna yang diinginkan. Dalam mewarnai desain kita juga perlu memperhatikan gelap terang dari desain busana yang diwarnai. Kertas gambar yang sudah diwarnai dengan cat minyak atau cat air terlebih dahulu dikeringkan agar warna tidak rusak. Rangkuman : Berdasarkan materi yang di uraikan di atas dapat disimpulkan bahwa desain sangat besar peranannya dalam pembuatan suatu busana. Untuk menghasilkan desain yang baik kita terlebih dahulu perlu memahami konsep dasar desain yang meliputi unsur-unsur desain, prinsip-prinsip desain, bagian-bagian busana dan proporsi tubuh. Dengan desain yang baik dan dibuat di atas proporsi tubuh yang seimbang kita dapat menghasilkan sebuah desain yang dapat menjadi pedoman dalam pembuatan busana mulai dari mengambil ukuran, membuat pola dasar dan pecah pola sampai menjahit dan penyelesaian busana. Untuk mendesain dibutuhkan alat dan bahan menggambar. Alat dan bahan mendesain ini dapat berupa pensil dengan bebagai jenis ukuran, pensil warna, spidol, cat air, kuas, rol, penghapus, kertas gambar, file atau amplop dan lain-lain. Agar desain yang dihasilkan terlihat sempurna perlu dilakukan teknik pewarnaan dan teknik penyelesaian yang tepat. Teknik penyelesaian gambar dapat dilakukan dengan pensil biasa, pensil warna, spidol dan cat air. Agar hasilnya bagus perlu juga di pahami teknik penyelesaian gambar. Supaya terampil dalam mendesain dibutuhkan latihan secara kontinue dan terus belajar. Kompetensi yang diharapkan dari materi di atas adalah siswa dapat mengetahui, memahami dan mengaplikasikan materi ini yang meliputi : 1. Konsep dasar desain (unsur-unsur dan prinsip-prinsip desain, bagian-bagian busana dan proporsi tubuh atau desain anatomi tubuh) 2. Alat dan bahan menggambar 3. Teknik pewarnaan dan penyelesaian gambar 239

261 Evaluasi : Petunjuk : Jawablah pertanyaan di bawah ini dengan singkat dan jelas. 1. Jelaskan apa yang dimaksud dengan desain busana! 2. Sebutkanlah unsur-unsur desain busana dan jelaskan masingmasingnya! 3. Jelaskan apa saja yang termasuk prinsip-prinsip desain busana! 4. Untuk mendesain ada beberapa alat dan bahan yang dibutuhkan. Jelaskanlah alat dan bahan yang dibutuhkan untuk mendesain! 5. Buatlah anatomi tubuh wanita dengan perbandingan 8 ½ x tinggi kepala! 6. Jelaskanlah beberapa teknik penyelesaian gambar atau desain! *** Selamat Belajar *** 240

262 BAB VII MEMBUAT POLA BUSANA A. Pengertian P0la Busana Pola sangat penting artinya dalam membuat busana. Baik tidaknya busana yang dikenakan dibadan seseorang (kup) sangat dipengaruhi oleh kebenaran pola itu sendiri. Tanpa pola, memang suatu pakaian dapat dibuat, tetapi hasilnya tidaklah sebagus yang diharapkan. Dapat pula diartikan bahwa pola-pola pakaian yang berkualitas akan menghasilkan busana yang enak dipakai, indah dipandang dan bernilai tinggi, sehingga akan tercipta suatu kepuasan bagi sipemakai. Kualitas pola pakaian akan ditentukan oleh beberapa hal, diantaranya adalah: 1). Ketepatan dalam mengambil ukuran tubuh sipemakai, hal ini mesti didukug oleh kecermatan dan ketelitian dalam menentukan posisi titik dan garis tubuh serta menganalisa posisi titik dan garis tubuh sipemakai; 2) kemampuan dalam menentukan kebenaran garis-garis pola, seperti garis lingkar kerung lengan, garis lekuk leher, bahu, sisi badan, sisi rok, bentuk lengan, kerah dan lain sebagainya, untuk mendapatkan garis pola yang luwes mesti memiliki sikap cermat dan teliti dalam melakukan pengecekan ukuran; 3) Ketepatan memilih kertas untuk pola, seperti kertas dorslag, kertas karton manila atau kertas koran; 4) kemampuan dan ketelitian memberi tanda dan keterangan setiap bagianbagian pola, misalnya tanda pola bagian muka dan belakang, tanda arah benang/serat kain, tanda kerutan atau lipit, tanda kampuh dan tiras, tanda kelim dan lain sebagainya; 5) kemampuan dan ketelitian dalam menyimpan dan mengarsipkan pola. Agar pola tahan lama sebaiknya disimpan pada tempat-tempat khusus seperti rak dan dalam kantongkantong plastik, diarsipkan dengan memberi nomor, nama dan tanggal serta dilengkapi dengan buku katalog. Dengan adanya pola yang sesuai dengan ukuran, kita dengan mudah dapat membuat busana yang dikehendaki. Menurut Porrie Muliawan (1990:2) pengertian pola dalam bidang jahit menjahit maksudnya adalah potongan kain atau kertas yang dipakai sebagai contoh untuk membuat pakaian. Selanjutnya Tamimi (1982:133) mengemukakan pola merupakan ciplakan bentuk badan yang biasa dibuat dari kertas, yang nanti dipakai sebagai contoh untuk menggunting pakaian seseorang, ciplakan bentuk badan ini disebut pola dasar. Tanpa pola pembuatan busana tidak akan terujut dengan baik, maka dari itu jelaslah bahwa pola memegang peranan penting di dalam membuat busana. Bagaimanapun baiknya desain pakaian, jika dibuat berdasarkan pola yang tidak benar dan garis-garis pola yang tidak luwes seperti lekukan kerung lengan, lingkar leher, maka busana tersebut tidak akan enak dipakai. Pendapat ini didukung oleh Sri Rudiati Sunato (1993:6) fungsi pola ini sangat penting bagi seseorang yang ingin membuat busana dengan bentuk serasi mengikuti lekuk-lekuk tubuh, serta membuat 241

263 potongan-potongan lain dengan bermacam-macam model yang dikehendaki. Maka dari itu jelaslah bahwa di dalam membuat busana sangat diperlukan suatu pola, karena dengan adanya pola, akan dapat mempermudah para pencinta busana untuk mempraktekkan kegiatan jahit menjahit secara tepat dan benar. Sebaliknya jika dalam membuat busana tidak menggunakan pola, hasilnya akan mengecewakan. Hal ini didukung oleh pendapat Porrie Muliawan (1985:1) tanpa pola, pembuatan busana dapat dilaksanakan tetapi kup dari busana tersebut tidak akan memperlihatkan bentuk feminim dari seseorang. Dengan demikian pola busana merupakan suatu sistem dalam membuat busana. Sebagai suatu sistem tentu pola busana juga terkait dengan sistem lainnya. Jika pola busana digambar dengan benar berdasarkan ukuran badan seseorang yang diukur secara cermat, maka busana tersebut mestinya sesuai dengan bentuk tubuh sipemakai. Begitu pula sebaliknya, jika ukuran yang diambil tidak tepat, menggambar pola juga tidak benar, maka hasil yang didapatkan akan mengecewakan. Dengan demikian untuk mendapatkan busana yang baik dan sesuai dengan desain, maka setiap sub sistem di atas haruslah mendapat perhatian yang sangat penting dan serius. Ada beberapa macam pola yang dapat digunakan dalam membuat busana, diantaranya ialah pola konstruksi dan pola standar. Masingmasing pola ini digambar dengan cara yang berbeda, memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing, untuk lebih jelasnya akan diuraikan satu persatu: 1. Pola Konstruksi Pola konstruksi adalah pola dasar yang dibuat berdasarkan ukuran badan sipemakai, dan digambar dengan perhitungan secara matematika sesuai dengan sistem pola konstruksi masing-masing. Pembuatan pola konstruksi lebih rumit dari pada pola standar disamping itu juga memerlukan waktu yang lebih lama, tetapi hasilnya lebih baik dan sesuai dengan bentuk tubuh sipemakai. Ada beberapa macam pola konstruksi antara lain : pola sistem Dressmaking, pola sistem So-en, pola sistem Charmant, pola sistem Aldrich, pola sistem Meyneke dan lain-lain sebagainya. 2. Pola standar Pola standar adalah pola yang dibuat berdasarkan daftar ukuran umum atau ukuran yang telah distandarkan, seperti ukuran Small (S), Medium (M), Large (L), dan Extra Large (XL). Pola standar di dalam pemakaiannya kadang diperlukan penyesuaian menurut ukuran sipemakai. Jika sipemakai bertubuh gemuk atau kurus, harus menyesuaikan besar pola, jika sipemakai tinggi atau pendek diperlukan penyesuaian panjang pola. Menyesuaikan pola standar tidak dapat dilakukan dengan hanya mengecilkan pada sisi badan atau pada sisi rok, atau menggunting 242

264 pada bagian bawah pola, pada pinggang atau bagian bawah rok, karena hal tersebut akan membuat bentuk pola tidak seimbang atau akan menyebabkan bentuk pola tidak sesuai dengan proporsinya masing-masing. Cara yang paling mudah dan cepat untuk menyesuaikan pola standar, adalah dengan cara mengetahui ukuran badan sendiri dan memilih pola standar yang ukurannya hampir mendekati dengan ukuran badan dengan mempedomani ukuran lingkar badan, kemudian membuat daftar ukuran badan seseorang dan ukuran pola standar dalam bentuk tabel. Daftar ukuran tersebut ialah sejumlah ukuran yang diambil dari badan seseorang (ukuran sebenarnya). Bagi seseorang yang baru belajar menyesuaikan pola standar, cukup menggunakan ukuran yang penting, misalnya ukuran lingkar badan, lingkar pinggang, panjang muka dan panjang punggung. Disamping hal di atas seseorang yang ingin menyesuaikan pola standar dengan ukurannya, mesti dapat memilih pola yang ukurannya mendekati dengan ukuran badannya. Untuk memudahkan pekerjaan penyesuaian pola standar, berikut dapat dilihat pola standar dengan ukuran S,M dan L baik pola badan, pola lengan dan pola rok dengan ukuran sbb; No ukuran Lingkar badan Tabel 2. Ukuran Pola Standar Lingkar ping Lebar muka Lebar pung Pjg pung Ling pang Pjg lengan 1 Large Medium Small a. Pola Lengan Gambar 105. Pola lengan 243

265 b. Pola Badan Gambar 106. Pola standar badan c. Pola rok Gambar 107. Pola standar rok 244

266 Tabel 3. Penyesuaian pola standar N0 Nama Ukuran Ukuran Sipemakai Ukuran pola standar Selisih 1 Lingkar badan :4 = + 1/2 cm 2 Lingkar pinggang :4 = - 1/2 cm 3 Lebar muka 33,5 33 +½ :2=+¼ cm 4 Panjang punggung 37, ½ cm 5 Panjang Muka cm 6 Lebar punggung :2= + ½ cm 7 Lingkar Panggul :4=+1 cm 8 Ling Ker Lengan cm Di dalam menyesuaikan pola standar, selisih yang terdapat pada ukuran lingkaran dibagi empat, hal ini disebakan karena pola badan atau pola rok umumnya dibuat setengah dari badan bagian muka dan setengah dari badan belakang, atau sama dengan seperempat dari ukuran lingkaran dan jumlah sisi yang ditambah atau dikurangi ada empat, oleh sebab itu untuk ukuran melingkar selisih ukuran dibagi empat. Untuk ukuran lebar selisih dibagi dua, sebab pada pola ukuran melebar dipakai setengahnya., misalnya : lebar muka dan lebar punggung. Untuk ukuran panjang, selisih ukuran tidak dibagi, sebab pola dibuat dengan ukuran penuh sepanjang ukuran yang diambil, misalnya ukuran panjang punggung, panjang lengan dan panjang rok, dengan demikian untuk ukuran panjang ditambah atau dikurangi sebanyak selisih. Daftar ukuran di atas perlu diperhatikan dalam menyesuaikan pola standar agar mudah mengetahui pada lajur selisih, apakah ukuran pola ditambah atau dikurangi dengan melihat tanda plus atau minus. Berapa cm ditambah atau dikurangi perlu diperhitungkan betul, dengan pengertian bahwa untuk ukuran melingkar selisih dibagi empat, untuk ukuran melebar selisih dibagi dua dan untuk ukuran panjang selisih tidak dibagi. Berikut ini dapat dilihat beberapa contoh cara menyesuaikan pola standar. Didalam menyesuaikan pola standar perhatikan tanda pada kolom selisih. Pada pola yang disesuaikan tanda plus / membesarkan pola di arsir dengan tanda ///////////, sedangkan tanda minus / mengecilkan di tandai dengan xxxxxxx. 245

267 1) Cara menambah ukuran lingkar badan Muka Belakang Gambar 108. Lingkar badan pola muka dan pola belakang yang telah dibesarkan 2) Cara mengurangi ukuran lingkar pinggang Muka Belakang Gambar 109. Lingkar pinggang pola muka dan pola belakang yang telah dikecilkan 246

268 3) Cara menambah ukuran lebar muka dan lebar punggung Lebar Muka Lebar Punggung Gambar 110. Lebar muka dan lebar punggung yang telah dibesarkan. 4) Cara menambah ukuran lingkar panggul Gambar 111. Lingkar panggul pola rok muka dan belakang yang telah dibesarkan 247

269 5) Cara menambah ukuran panjang muka dan panjang punggung Gambar 112. Panjang muka dan panjang punggung yang telah ditambah 6) Cara membesarkan lingkar kerung lengan Gambar 113. Lingkar Kerung lengan yang telah ditambah B. Konsep Dasar Membuat Pola Busana Pekerjaan menggambar pola busana memerlukan peralatan tertentu, spesifikasi dan berkualitas. Alat yang diperlukan untuk menggambar pola busana banyak jenisnya antara lain. 248

270 1. Pita ukuran (cm) Pita ukuran (cm), digunakan untuk mengambil ukuran badan seseorang yang akan membuat busana atau ukuran model, disamping itu pita ukuran juga dipakai untuk menggambar pola pakaian dan juga digunakan pada waktu penyesuaian pola. Pita ukuran (cm) ada beberapa macam yakni ada yang menggunakan ukuran centimeter dan ada yang ukuran inchi bahkan ada yang menggunakan kedua ukuran tersebut. Pita ukuran (cm) yang baik terbuat dari serbuk kaca atau terbuat dari bahan yang lemas seperti plastik, tepinya tidak bertiras, tidak boleh meregang, garis-garis dan angka kedua permukaan memiliki ukuran yang dicetak dengan jelas, dan letak garis ukuran tepat pada tepi pita ukuran. Gambar 114. Pita ukuran 2. Penggaris Untuk menggambar pola busana diperlukan penggaris/rol dressmaker dengan bentuk yang berbeda-beda. Penggaris lurus, digunakan untuk membuat garis lurus. Penggaris lengkung digunakan untuk membuat garis-garis melengkung seperti garis lingkar leher, lingkar kerung lengan, krah dan garis sisi rok. Sedangkan penggaris segi tiga siku-siku digunakan untuk membentuk garis sudut, seperti garis badan dan tengah muka, garis badan dan tengah belakang serta garis lebar muka dan garis lebar punggung. Gambar 115. Rol dressmaker 249

271 3. Kertas Pola (buku pola atau buku kostum) Kertas pola (buku pola atau buku kostum) merupakan tempat menggambar pola. Kertas pola merupakan alat penting untuk menggambar pola. Kertas yang biasa digunakan untuk menggambar pola dengan ukuran centimeter adalah kertas dorslag, kertas karton manila atau kertas koran. Buku pola digunakan untuk menggambar pola busana dengan ukuran skala. Buku pola yang baik berukuran folio kertasnya bewarna putih, tebal dan halaman terdiri dari kertas bergaris dan kertas polos dengan letak yang berselang-seling. Lembar halaman bergaris diperlukan untuk mencatat ukuran dan mencatat keterangan pola yang dibuat. Lembaran halaman tidak bergaris (polos) digunakan untuk menggambar pola dengan ukuran skala. 4. Skala Skala atau ukuran perbandingan, adalah alat ukur yang digunakan untuk menggambar pola di buku pola. Skala ada beberapa macam yakni ada yang menggunakan ukuran satu berbanding dua, satu berbanding empat, satu berbanding enam dan satu berbanding delapan. Skala yang baik terbuat dari kertas yang agak tebal seperti kertas karton dan berbentuk segi panjang, dan letak garis ukuran tepat pada tepi skala. Tepinya tidak bertiras, kedua permukaan memiliki ukuran skala yang berbeda salah satu diantaranya ukuran skala satu berbanding empat, karena skala ukuran ini sering digunakan didalam menggambar pola busana. 5. Pensil dan bool point Pensil digunakan untuk menggambar pola di buku pola atau di kertas pola. Pensil yang baik digunakan untuk menggambar pola ada beberapa macam yakni pensil terbuat dari graphite, pensil ini bagus digunakan dan mempunyai ukuran yang berbeda. Untuk yang agak keras dengan kode H / HB pensil ini tulisannya jelas dan mudah dihapus jika terjadi kesalahan. Pensil ini digunakan untuk menggambar garis-garis pola, setelah polanya selesai dibuat, garis dengan pensil ini dipertajam dengan pensil bewarna. Pensil bewarna merah untuk garis pola bagian muka dan pensil bewarna biru untuk garis pola bagian belakang. Garis bantu pola di pertajam dengan bollpoin warna hitam. 6. Penghapus (Eraser) Penghapus perlu disediakan sewaktu menggambar pola, penghapus digunakan untuk membersihkan goresan pola yang salah. Penghapus yang baik adalah yang bewarna hitam terbuat dari karet yang lemas, dengan menggunakan penghabus ini goresan-goresan yang salah akan menjadi hilang dan tidak meninggalkan bekas sampai mendapatkan hasil yang memuaskan. 250

272 7. Jarum Jarum pentul yang baik terbuat dari baja dan berukuran panjang 3 s.d 4 cm. Bentuk jarum pentul / jarum penyemat yang dipergunakan pada pembuatan pola adalah jarum pentul yang baik yaitu ujungnya runcing dan terdapat pegangan mutiara dipangkalnya, sehingga mudah dalam menggunakannya. C. Membuat Pola Busana Dengan Teknik Drapping Menggambar pola dasar dengan teknik drapping adalah membuat pola sesuai dengan ukuran dan bentuk badan seorang model. Untuk mempermudah prosedur pembutan pola, model dapat diganti dengan dressform atau boneka jahit yang ukurannya sama atau mendekati ukuran model. Sebelum membuat pola dengan teknik drapping, terlebih dahulu dipersiapkan alat dan bahan yang diperlukan seperti : 1. Dressform / boneka jahit 2. Pita ukur / centimeter 3. Jarum pentul 4. Jarum tangan 5. Penggaris 6. Pensil dan kapur jahit 7. Gunting kain 8. Karbon jahit dan rader 9. Tali kord 10. Blaco / bahan dasar yang dipakai untuk mendrapping. Didalam membuat pola perlu diperhatikan kesehatan dan keselamatan dalam bekerja. Duduklah ketika mengerjakan drapping untuk bagian yang terjangkau, jika mengerjakan drapping pada bagian yang tinggi lakukan dengan posisi berdiri. Perhitungkan kebutuhan bahan blaco yang dibutuhkan secara teliti, dengan menghitung secara matematik sederhana, yaitu dengan menggunakan panjang dan lingkaran dressform dan ditambah kampuh. Sediakan kotak khusus untuk tempat alat dan bahan yang diperlukan. Sematan ujung jarum pentul harus terpasang dengan baik atau dimasukkan ke dalam. Sediakan keranjang sampah untuk membuang sisa-sisa bahan yang tidak terpakai. Tali kord dipasangkan pada dressform/boneka jahit sebagai garisgaris pola. Pemasangan tali kord pada dressform/boneka jahit dibantu dengan jarum pentul. Garis-garis pola ditentukan dengan menggunakan garis vertikal, garis horizontal dan garis melingkar. Garis vertikal (garis tegak) untuk garis tengah muka/panjang muka, garis tengah belakang/panjang punggung, garis sisi / panjang sisi dan panjang rok. Garis horizontal (garis mendatar) untuk garis bahu, garis dada, garis lebar punggung dan garis lebar muka. Garis melingkar, untuk garis lingkar leher, lingkar badan, lingkar pinggang dan lingkar panggul. 251

273 Gambar 116. Garis-garis pola pada dressform/boneka jahit. 1. Membuat Pola Badan Atas. Ada tiga macam arah serat kain yang digunakan dalam pembuatan pola dengan teknik drapping. 1) Arah serat memanjang (Length Wise grain), arah serat memanjang selalu sejajar dengan tepi kain; 2) Arah serat melabar (Cross Wise Grain), arah serat melebar selalu tegak lurus dengan arah serat memanjang; 3) Arah serat serong (true Bias), untuk membuat arah serat serong dengan mudah lipit arah serat dengan sudut 45 derajat. Masing-masing arah serat seperti gambar berikut. Gambar 117. Arah serat 252

274 a. Pola Bagian Muka (dibuat keterangan satu persatu) Sebelum membuat pola badan atas, siapkan bahan blaco, buat garis tengah muka dari tepi kain 4 s.d 5 cm. Lipatkan agar lebih tebal sehingga tidak mudah bertiras. Buat garis dada, tegak lurus dengan tengah muka. Terlebih dahulu ukur dressform dengan centimeter, panjang dari bahu ke dada ditambah 7 cm. Sehingga terbentuk gambar sebagai berikut. Gambar 118. Bahan blaco Letakkan garis tengah muka blaco pada tengah muka dressform / boneka jahit, semat dengan rata sepanjang tengah muka, dengan arah sematan jarum pentul mendatar, ujung jarum dimasukkan kebadan boneka. Tarik garis blaco dada ke sisi, semat pada batas garis sisi pola. Gambar 119. Blaco pada posisi tengah muka 253

275 Tarik blaco bagian sisi tegak lurus pada bagian pinggang, ratakan lalu disemat. Selisih antara dada dan pinggang dijadikan lipit kup. Letak lipit kup 1/10 lingkar pinggang ditambah 1 cm diukur dari tengah muka, arah lipit kup / ujung lipit kup berpusat pada titik dada. Gambar 120. Membentuk lipit kup pada pinggang Buat guntingan-guntingan kecil di sekeliling lingkar pinggang, kain belaco diratakan membentuk pinggang dan semat pada garis pinggang menggunakan jarum pentul degan rapi. Ratakan kain belaco pada bagian atas pinggang, dengan membentuk lipit kup pada garis bahu, letak lipit kup setengah dari ukuran panjang bahu dikurang satu cm diukur dari leher dari garis bahu tertinggi. Arah lipit kup atau ujung lipit kup berpusat pada titik dada, semat dengan jarum pentul pada garis badan terbesar dimulai dari tengah muka terus kebatas garis lingkar kerung lengan. Ratakan bagian leher dan buat guntingan-guntingan kecil sekeliling leher, lalu disemat pada garis leher mulai dari bahu tertinggi sampai batas lekuk leher. Sehingga terbentuk garis leher, garis pinggang dan garis bahu, sesuai dengan bentuk masing-masing. 254

276 Gambar 121. Blaco pada posisi garis bahu dan leher Rapikan bagian kerung lengan, buat guntingan-guntingan kecil. Beri kampuh pada garis leher 1 cm, pada garis bahu, bagian sisi dan kerung lengan masing-masing 2 cm. Bagian kelim 3 s.d 4 cm. Gambar 122. Memberi kampuh 255

277 b. Pola Bagian Belakang Membuat pola badan bagian belakang sama dengan pola bagian muka. Siapkan bahan blaco, buat garis tengah belakang dari tepi kain selebar 4 cm lipatkan agar lebih kuat dan tidak berobah bentuk Gambar 123.Blaco pada posisi tengah belakang Letakkan garis tengah belakang blaco pada garis tengah belakang dan garis lebar punggung dressform / boneka jahit, ratakan dan semat. Ratakan garis pinggang ke sisi, semat pada batas garis pola. Gambar 124. Membentuk garis punggung dan lebar punggung 256

278 Tarik blaco bagian sisi ke pinggang, ratakan dan semat. Selisih antara punggung dan pinggang dibuat lipit kup, letak lipit kup 1 / 10 lingkar pinggang dikurang 1 cm, diukur dari tengah belakang, arah lipit kup tegak lurus dengan garis pinggang. Gambar 125. Membentuk lipit kup pada pinggang Buat guntingan-guntingan kecil di sekitar pinggang, ratakan dan semat. Ratakan bagian atas, semat pada garis pinggang dan bahu. Jika ada kelebihan / selisih buat lipit kup. Letak lipit kup segaris dengan lipit kup bahu badan muka dan segaris dengan lipit kup pinggang badan belakang. Ratakan bagian leher, buat guntingan- guntingan kecil. Gambar 126. Blaco pada posisi garis bahu dan leher 257

279 Rapikan bagian kerung lengan, buat guntingan - guntingan kecil. Gunting bagian tepi pola, beri kampuh, bagian sisi, kerung lengan, bahu masing-masing 2 cm, bagian leher 1 cm, bagian kelim 3 s.d 4 cm. Pindahkan garis-garis pola pada bahan blaco, tandai bagian lipit kup, sisi dan bahu. 2. Membuat Pola Badan Bagian Bawah / Rok a. Pola Bagian Muka Sebelum membuat pola badan bagian bawah / pola rok siapkan bahan blaco, buat garis tengah muka dari tepi kain 4 s.d 5 cm, lipatkan agar tengah belakang jadi tebal. Sebelumnya dressform diukur dari pinggang sampai panjang rok. Letakkan garis tengah muka blaco pada tengah muka dressform / boneka jahit dari pinggang ke bawah, ratakan dan semat. Letakkan garis panggul blaco pada garis panggul boneka jahit, ratakan, semat pada garis panggul. Gambar 127. Posisi blaco pada pinggang dan panggul Tarik tegak lurus bahan blaco bagian panggul ke atas sampai garis pinggang, ratakan sisi panggul, semat pada garis pinggang. Selisih garis panggul dan pinggang di buat lipit kup. Letak lipit kup 1 / 10 lingkar pinggang ditambah 1 cm dari tengah muka. Lipit kup miring ke arah garis panggul. Ratakan bagian pinggang. Buat guntingan-guntingan kecil sekitar pinggang, untuk memberi bentuk yang bagus pada pinggang. Rapikan bagian sisi dan bawah rok. Tambahkan kampuh untuk sisi rok dan pinggang selebar 2 cm. Tambahkan kelim pada bagian bawah rok 3 s.d 4 cm. Pindahkan garis-garis pola boneka, jahit pada blaco, tandai bagian lipit kup. 258

280 Gambar 128. Membuat lipit kup dan sisi rok b. Pola Bagian Belakang. Letakkan garis tengah belakang blaco pada tengah belakang dressform / boneka jahit. Letakkan garis panggul blaco pada garis panggul boneka jahit. Ratakan dari tengah muka pinggang sampai panjang rok dan di semat. Ratakan garis panggul ke samping pas garis pola, semat. Tarik tegak lurus bahan blaco garis panggul ke pinggang, ratakan, semat. Selisih garis panggul dari pinggang, dibuat lipit kup, letak lipit kup 1 / 10 lingkar pnggng dikurang 1 cm dari tengah belakang, lipit kup mengarah ke garis panggul. Ratakan bagian pinggang. Buat guntingan-guntingan kecil pada garis pinggang untuk memberi bentuk yang bagus pada pinggang. Rapikan bagian sisi dan bawah rok. Tambahkan kampuh pada bagian sisi dan pinggang masing-masing 2 cm, tambahkan kelim 3 s.d 4 cm pada bagian bawah rok. Pindahkan / tandai garis-garis pola boneka jahit pada bahan blaco, dengan pensil lunak, posisi garis tengah belakang dari blus / badan, rok, dan kerah, posisi garis bahu, posisi kampuh sisi, semua lipatan, kelim, lipatan lipit kup. Posisi garis dada, posisi garis punggung, poisi leher, posisi garis pinggang, posisi garis panggul, pola bagian muka ditandai dengan satu titik, pola bagian belakang ditandai dengan dua titik. D. Membuat Pola Busana Dengan Teknik Konstruksi Menggambar pola busana dengan teknik konstruksi yang baik mempunyai lipit kup untuk ruang bentuk buah dada. Bentuk lipit kup ada yang dipinggang, dibahu, disisi, dan ada pula yang terletak dipinggang dan disisi. Pola konstruksi untuk wanita banyak 259

281 macamnya, (sudah dijelaskan pada BAB terdahulu) tetapi semua jenis sistem pola konstruksi memiliki lipit kup. Untuk menggambar pola sesuai dengan masing-masing sistem pola konstruksi di perlukan ukuran tubuh sipemakai yang diambil yang diukur dengan cermat menurut cara mengambil ukuran masingmasing. Ukuran tersebut disesuaikan dengan masing-masing sistem pola konstruksi yang akan digambar, walaupun demikian ukuran yang diperlukan dalam menggambar pola konstruksi secara umum adalah sbb: a. Lingkar Badan (L.B) b. Lingkar Pinggang (L.Pi) c. Lingkar Panggul (L.Pa) d. Lingkar Leher (L.L) e. Panjang Punggung ( P.Pu) f. Lebar Punggung (L.Pu) g. Panjang Muka (P.M) h. Lebar Muka (L.M) i. Panjang Bahu P. B) j. Panjang Sisi (P. S) k. Panjang rok (P.Rok) l. Panjang Lengan (P.L) m. Tinggi Dada (T.D) n. Tinggi Panggul (T.Pa) Berdasarkan jenis ukuran tersebut di atas dapat digambar pola menurut sistem pola konstruksi yang diinginkan. Jenis ukuran yang diperlukan, serta cara menggambar pola untuk setiap sistem konstruksi berbeda-beda. Cara menggambar pola sistem Dressmaking dimulai dari pola bagian belakang sedangkan pola sistem So-en dimulai dari pola bagian muka. Untuk sistem Dressmaking jumlah ukuran yang diperlukan lebih banyak di bandingkan dengan ukuran yang digunakan untuk menggambar pola sistem So-en. Di dalam menggambar pola untuk kedua sistem pola konstruksi ini sama-sama menggunakan perhitungan secara matematika. Menggambar pola sistem Dressmaking perhitungan matematiknya sangat sederhana, karena jumlah ukurannya banyak/ukuran yang diperlukan dalam menggambar pola telah ada, ketika menggambar bagian pola cukup dengan cara memindahkan ukuran yang telah ada tersebut, sebagai contoh ukuran panjang bahu pada pola diambil ukuran panjang bahu yang telah ada, lebar muka dan lebar punggung jika kita memerlukannya ketika menggambar pola tinggal melihat ukuran yang telah ada lalu dipindahkan ke pola sesuai dengan tempatnya masing-masing. Tetapi untuk menggambar pola sistem So-en perhitungan matematikanya lebih rumit dibandingkan denga sistem dressmaking, karena ukurannya sedikit. Untuk menentukan garis lebar punggung, di 260

282 dapatkan dari ukuran lingkar badan dibagi enam ditambah 4,5 centimeter. Untuk mendapatkan garis lingkar leher, didapatkan dari ukuran lingkar badan dibagi dua puluh. Untuk mendapatkan ukuran panjang bahu, lebar muka, dicari dari ukuran lingkar badan, lingkar pinggang dan ukuran panjang punggung yang di perhitungkan secara matematika. Untuk lebih jelasnya berikut ini dapat dilihat cara menggambar pola konstruksi sistem Dressmaking dan sistem So-en untuk wanita dewasa berdasarkan jumlah ukuran masing-masing dan berdasarkan perhitungan matematika yang telah ditentukan. Disamping menggambar pola untuk wanita dewasa, pada bab ini juga dijelaskan bagaimana mengambil ukuran untuk pria dan anakanak, apa saja ukuran yang diperlukan untuk pria dan anak-anak, serta bagaimana cara menggambar pola untuk pria dan anak-anak. Berikut ini dapat dilihat ukuran yang dibutuhkan, bagaimana cara mengambil ukuran, dan bagaimana cara menggambar pola untuk pria dan untuk anak-anak. 1. Pola dasar wanita dewasa a. Sistem Dressmaking 1). Ukuran yang diperlukan dan cara mengambil ukuran Gambar 129. Cara mengambil ukuran sistem Dressmaking 261

283 Keterangan gambar : a) Lingkar leher : diukur sekeliling leher tidak terlalu ketat dan tidak terlalu longgar b) Lebar muka: diukur 6 atau 7 cm dari lekuk leher ke bawah, kemudian diukur datar dari batas lingkar kerung lengan kiri sampai batas lingkar kerung lengan kanan c) Lingkar badan: diukur sekeliling badan terbesar dengan posisi cm tidak terlalu kencang dan ditambah 4 cm. d) Tinggi dada : diukur dari lekuk leher tengah muka sampai batas diantara dua titik payudara kiri dan kanan. e) Lingkar pinggang: diukur pas sekeliling pinggang f) Lingkar panggul ; diukur melingkar pada pinggul yang paling tebal secara horizontal dengan tidak terlalu ketat g) Tinggi panggul : diukur dari pinggang sampai batas panggul terbesar pada bagian belakang h) Lebar punggung : diukur 9 cm ke bawah dari tulang leher belakang kemudian diukur mendatar dari batas lingkar kerung lengan kiri ke lingkar kerung lengan kanan i) Panjang punggung : diukur dari tulang belakang lurus sampai batas pinggang j) Panjang rok : diukur dari pinggang sampai panjang rok yang diinginkan k) Panjang bahu : diukur dari batas lingkar leher sampai batas bahu terendah l) Panjang lengan : diukur dari bahu terendah sampai panjang yang diinginkan m) Tinggi puncak lengan :diukur dari bahu terendah sampai batas lengan terbesar/otot lengan atau sama dengan panjang bahu 2). Ukuran yang dibutuhkan untuk pola sistem Dressmaking a) Lingkar leher : 38 cm b) Lebar muka : 33 cm c) Lingkar badan : 88 cm d) Tinggi dada : 15 cm e) Lingkar pinggang : 66 cm f) Lingkar panggul : 96 cm g) Tinggi panggul : 16 cm h) Lebar punggung : 34 cm i) Panjang punggung : 37 cm j) Panjang rok : 50 cm k) Panjang bahu : 12 cm l) Panjang lengan : 24 cm m) Tinggi puncak lengan : 12 cm 262

284 3). Cara menggambar pola dasar sistem Dressmaking (skala 1:6) a). Pola Dasar Badan Gambar 130. Pola dasar badan Keterangan Pola Menggambar pola sistem Dressmaking dimulai dari pola belakang, tetapi sebelumnya ditentukan pedomam umumnya yaitu ukuran ½ lingkar badan yang dimulai dengan sebuah titik. A - B = ½ ukuran lingkar badan. A - C = ¼ lingkar badan ditambah 1 cm. B - B1 = 1,5 cm. B1 - D = ukuran panjang punggung, buat garis horizontal ketitik E. B - B2 = 1 / 6 lingkar leher ditambah 1 cm. Hubungkan titik B1 dengan B2 seperti gambar (leher belakang). C - C1 = 5cm, hubungkan ke titik B2 dengan garis putus-putus (garis bantu). B2 dipindahkan ukuran panjang bahu melalui garis bantu diberi nama titik B3 B3 - B4 = 1 cm, samakan ukuran B2 ke B4 dan dihubungkan dengan garis tegas. B1 - G = ½ panjang punggung ditambah 1 cm, buat garis horizontal kekiri dan beri nama titik H. B1 - G1 = 9 cm. G1 - F1 = ½ lebar punggung (buat garis batas lebar punggung). Bentuk garis lingkar kerung lengan belakang mulai dari titik B4 menuju F1 terus ke F seperti gambar. 263

285 D - D1 = ¼ ukuran lingkar pinggang ditambah 3 cm (besar lipit kup) dikurang 1 cm. D - D2 = 1 / 10 lingkar pinggang. D2 - D3 = 3 cm (besar lipit kup). Dari D2 dan D3 dibagi 2, dibuat garis putus-putus sampai kegaris badan (G dan H) diukur 3 cm kebawah, dihubungkan dengan titik D2 dan D3 menjadi lipit kup. D - D1 = ¼ ukuran lingkar pinggang ditambah 3 cm. D1 dihubungkan dengan F, menjadi garis sisi badan bagian belakang. Keterangan pola bagian muka A - A1 = 1 / 6 lingkar leher ditambah 1 cm. A - A2 = 1 / 6 lingkar leher ditambah 1,5 cm. Hubungkan titik A1 dengan A2 seperti gambar (garis leher pola muka). A1 - C2 = ukuran panjang bahu. A2 - A3 = 5 cm. A3 - F2 = ½ lebar muka. Hubungka titik C2 ke F2 terus ke F seperti gambar (lingkar kerung lengan bagian muka). E - E1 = 2 cm (sama besarnya dengan ukuran kup sisi). E1 - E4 = ¼ lingkar pinggang ditambah 4 cm (3 cm besar lipit kup dan 1 cm untuk membedakan pola muka dengan belakang). E1 - E2 = 1 / 10 lingkar pinggang. E2 - E3 = 3 cm (besar lipit kup). E2 dan E3 dibagi dua dibuat garis putus-putus sampai kegaris tengah bahu. A2 - J = ukuran tinggi dada. Dari J dibuat garis sampai ke J1. J1 - J2 = 2 cm, lalu dihubungkan dengan titik E2 dan E3 membentuk lipit kup. F - I = 9 cm, lalu dihubungkan dengan garis putus-putus ke titik J1. J1 - K = 2 cm. Dari I ke I1 dan I2 diukur masing-masing 1 cm, lalu hubungkan dengan titik K. I1 - K = I2 - K, yang dijadikan patokan panjang adalah ukuran I1 ke K. E4 dihubungkan dengan I2 dan titik I1 dengan F, menjadi garis sisi badan bagian muka. b). Pola Lengan Ukuran Yang Diperlukan 1). Lingkar kerung lengan = 40cm (diukur dari pola badan) 2). Tinggi puncak lengan = 12 cm 3). Panjang lengan = 24 cm 264

286 Gambar 131. Pola lengan Keterangan pola lengan Menggambar pola lengan dimulai dai titik A yang merupakan puncak lengan. A - B = panjang lengan. A - C = ukuran tinggi puncak lengan, buat garis sampai ke titik D dan E, setelah diukur dari titik A ½ lingkar kerung lengan yang ukurannya bertemu dengan garis dari tititk C. Buat garis putus-putus (garis bantu) dari A ke D dan dari A ke E. Garis bantu dari A ke D dan A ke E dibagi tiga. 1/3 dari A ke D diberi titik A1 dan dari A ke E dinamakan titik A2. A1 - A4 = A2 - A3 = 1,5 cm. Titik D1 = 1 / 3 D - A D ke D1 dibagi dua dinamakan titik D2. D2 - D3 = 0,5 cm. Hubungkan A dengan A4 dengan D1, D3 dan D seperti gambar (lingkar kerung lengan bagian muka). Hubungkan A dengan A3 dan E seperti gambar (lingkar kerung lengan bagian belakang). G - G1 = E1 - E2 = 1,5 cm. Hubungkan E dengan E2 (sisi lengan bagian belakang), dan D dengan G seperti gambar (sisi lengan bagian muka) c). Pola rok Ukuran yang diperlukan 1). Lingkar pinggang = 66 cm 2). Tinggi panggul = 16 cm 3). Lingkar Panggul = 96 cm 4). Panjang Rok = 50 cm 265

287 Gambar 132. Pola rok muka dan belakang Keterangan pola rok muka Menggambar pola rok dimulai dari titik A. A - B = panjang rok. A - C = tinggi panggul. A - A1 = ¼ lingkar pinggang ditambah 4 cm ( 3 cm untuk besar lipit kup, 1 cm untuk membedakan ukuran pola muka degan pola belakang). A1 - A2 = 1,5 cm. Hubungkan A dengan A1 seperti gambar (garis pinggang). A - D = 1 / 10 lingkar pinggang. D - D1 = 3 cm. Pada garis tengah antara D dan D1 dibuat garis lurus sampai batas garis C dengan C1(garis panggul). D - D1 = 12 cm. C - C1 = ¼ lingkar panggul ditambah 1 cm. B - B1 = C - C1. B1 - B2 = 3 cm. B2 - B3 = 1,5 cm. Hubungkan A1 dengan C1 membentuk garis pinggul dan dari C1 ke B3. Hubungkan B dengan B3 seperti gambar (garis bawah rok). Keterangan pola rok belakang Menggambar pola rok bagian belakang sama dengan cara meggambar pola rok bagian muka. Bedanya hanya terletak pada ukuran lingkar pinggang dan lingkar panggul. Ukuran lingkar 266

288 pinggang dan ukuran lingkar panggul pola bagian muka lebih besar 2 cm dari pada pola bagian belakang. Tetapi bentuk garis sisi, garis pinggang dan garis bawah rok sama dengan pola rok bagian muka. Untuk itu maka pola rok bagian belakang dibuat dari pola rok bagian muka. Untuk membedakannya cukup dengan memindahkan garis tengah muka sebesar 2 cm dengan cara mengukur dari A ke E sama dengan dari B ke F yaitu 2 cm, hubungkan titik E dengan F dengan garis lurus (garis tengah belakang). Jika ingin memiliki pola bagian muka dan pola bagian belakang pada kertas yang berbeda, sebaiknya salah satu dari pola rok dipindahkan. Sebaiknya pola yang dipindahkan itu adalah pola bagian belakang, dengan demikian pada pola rok bagian muka juga terdapat pola bagian belakang. Didalam memindahkan pola perlu diperhatikan garis tengah belakang pola mesti dalam posisi lurus, garis pinggang dan garis sisi rok bentuknya mesti sama dengan yang asli. b. Pola sistem So-En 1). Cara mengambil ukuran Gambar 133. Cara mengambil ukuran sistem So-en 267

289 a) Lingkar Badan : diukur sekeliling badan terbesar dengan posisi cm tidak terlalu kencang dan tidak terlalu longgar. b) Lingkar Pinggang : diukur pas sekeliling pinggang c) Panjang Punggung : diukur dari tulang belakang lurus sampai batas pinggang d) Panjang Lengan : diukur dari bahu terendah sampai panjang yang diinginkan e) Tinggi Panggul : diukur dari pinggang sampai batas panggul terbesar pada bagian belakang f) Lingkar Panggul ; diukur melingkar pada pinggul yang paling tebal secara horizontal dengan tidak terlalu ketat g) Panjang Rok : diukur dari pinggang sampai panjang rok yang diinginkan 2). Ukuran yang dibutuhkan untuk menggambar pola dasar sistem So-en a) Lingkar Badan : 88 cm b) Lingkar Pinggang : 66 cm c) Panjang Punggung : 37 cm d) Panjang Lengan : 24 cm e) Tinggi Panggul : 16 cm f) Lingkar Panggul : 96 cm g) Panjang Rok : 50 cm 3). Cara menggambar pola dasar sistem So-en ( skala 1:6) a) Pola dasar badan Gambar 134. Pola dasar badan 268

290 Menggambar pola konstruksi sistem So-en, dimulai dengan ukuran badan. Cara mengkonstruksi pola badan yaitu : A - B = ½ ukuran lingkar badan ditambah 5 cm. A dan B dihubungkan dengan garis putus-putus. A - C = 1 / 6 lingkar badan ditambah 7 cm. A - D = ukuran panjang punggung. Buat garis empat persegi dari A ke B, A ke D, D ke D1 dan B ke D1 dan C ke E dihubungkan dengan garis putus-putus. Garis C dengan E dibagi dua dengan nama E1. E1 - E2 = 0,5 cm. E2 dibuat garis bantu sampai ke garis pinggang diberi nama titik d. Dengan demikian selisih pola badan bagian muka dengan pola badan bagian belakang adalah 1 cm. C - F = 1 / 6 lingkar badan ditambah 4,5 cm (buat garis vertikal). A - A1 = 1 / 20 lingkar badan ditambah 2,7 cm. A dengan A1 dibagi tiga, sepertiga bagian dipindahkan dari A1 ke A2, lalu dibuat garis leher belakang seperti gambar. a - a1 = A1 - A2. a1 - a2 = 2 cm. Hubungkan titik A2 dengan a2, ukuran panjang bahu dibagi dua dinamai titik H. H - H1 = 6 cm(panjang kup), dengan lebar kup 2 cm, lalu buat kup seperti gambar. Buat garis lingkar kerung lengan belakang mulai dari a2 terus ke E2 dengan besar lekukan pada ketiak berpedoman kepada ½ jarak dari F dengan E2 dan ditambah 0,5 cm. d - d1 = 2 cm, lalu dihubungkan dengan E2 (garis sisi pola belakang). D - d3 = 1 / 10 lingkar pinggang. Hubungkan d3 dengan H. D - d3 ditambah d1 - d2 = ¼ lingkar pinggang. d2 - d3 = besar kup. B - B1 = A - A1. B - B2 = B - B1. B1 - X = 0,5 cm. B1 dengan B2 dibuat garis persegi, pada sudutnya dinamakan titik O. Titik O dan B2 dibagi dua, setengah bagian dipindahkan ke garis O dan B diberi nama titik O1. Hubungkan X dengan O1 terus ke B2 seperti gambar (garis leher pola bagian muka) E - F1 = 1 / 6 ukuran lingkar badan ditambah 3 cm. Buat garis vertikal sampai kegaris A dengan B, dinamakan titik b b - b1 = 2 kali ukuran a - a1 Ukur panjang bahu dari X ke X1, melalui titik b1 F1 - f1 = ½ F - E2 269

291 Bentuk lingkar kerung lengan pola bagian muka mulai dari X1 melalui f1 menuju E2 seperti gambar D1 - G = O - O1 d - g = 2 cm G - G1 = 1 / 10 lingkar pinggang, hubungkan g dengan E2 G - G1 ditambah G2 - g = ¼ lingkar pinggang G1 - G2 = besar kup, pada garis tengah antara G1 dengan G2 dibuat garis bantu sampai ke garis badan, diturunkan 4 cm, lalu dihubungkan dengan G1 dan G2 Besar kup pola so-en ditentukan oleh perbandingan ukuran lingkar badan dengan lingkar pinggang, jika perbedaan ukurannya banyak maka kupnya menjadi besar, karena pada sisi jaraknya hanya 2cm. Jika ditemukan ukuran kup lebih dari 4 cm, sebaiknya kup dipecah menjadi dua dengan ukuran yang sama besar, antara kup yang satu dengan yang lainnya diberi jarak dua cm, dan panjang kup yang kedua dikurangi 2 cm dari kup utama. b) Pola lengan Ukuran yang diperlukan - Lingkar kerung lengan : 40 cm (diukur dari pola badan muka dan belakang) - Panjang lengan : 24 cm - Tinggi puncak lengan : 12 cm Gambar 135. Pola lengan 270

292 Keterangan pola lengan A - B = panjang lengan. A - C = ¼ ukuran lingkar kerung lengan ditambah 3 cm (tinggi puncak lengan). A - E = ½ ukuran lingkar kerung lengan. A - F = ½ ukuran lingkar kerung lengan ditambah 1,5 cm. A - A1 = 1 / 3 A F. A - A3 = 1 / 3 A - E E1 = 1 / 3 dari E - A. A1 - A2 = 1,5 cm. A3 - A4 = 1,8 cm. E1 - E2 = 1,3 cm. Hubungkan F dengan A2 terus ke A (lingkar kerung lengan bagian belakang), hubungkan A dengan A4 terus ke E2 dan E seperti gambar (lingkar kerung lengan bagian muka) Untuk membentuk sisi lengan pola dasar sitem So-en, tergantung pada ukuran panjang lengan. Untuk lengan panjang ujung lengan dibentuk pada bagian muka dan belakang, sedangkan untuk lengan pendek ujung lengan tidak dibentuk. Untuk lebih jelasnya akan digambar kedua ukuran yaitu lengan pendek dan lengan panjang. Untuk menentukan lengan panjang, dibuat garis vertikal dari titik E dan F sampai panjang lengan. Garis B dan B1 dibagi dua. B1 - B2 = 1 cm lalu bentuk seperti gambar (pola bagian muka). J - j1 = 1 cm, lalu bentuk seperti gambar (pola bagian belakang). Untuk menentukan lengan pendek, diukur dari titik A ke O panjang lengan, buat garis horizontal dari O ke H dan dari O ke G. H - H1 = 2 cm, hubungkan H1 dengan E seperti gambar (sisi lengan bagian muka). G - G1 = 2 cm, hubungkan F dengan G1 seperti gambar (sisi lengan bagian belakang). c) Pola rok Ukuran yang diperlukan - Lingkar pinggang = 66 cm - Tinggi panggul = 16 cm - Lingkar Panggul = 96 cm - Panjang Rok = 50 cm 271

293 Gambar 136. Pola rok muka dan belakang Keterangan pola rok A - A1 = 1 cm A1 - B = ¼ lingkar pinggang dikurang 1 cm ditambah 2 cm (lipit kup). B - B1 = 0,7 cm. Hubungkan A1 dengan B1 seperti gambar (garis pinggang pola belakang). A1 - A2 = 1 / 10 lingkar pinggang. A2 - A3 = 2 cm (lipit Kup). Untuk membentuk lipit kup, besar lipit kup dibagi dua dinamakan titik A4. A4 - A5 = panjang kup, dibuat garis putus-putus. A5 - A6 = 0,5 cm. Hubungkan titik A2 dengan A6 dan A3 dengan A6. A1 - C = tinggi panggul. C - D = ½ lingkar panggul ditambah 2 cm, dihubungkan dengan garis putus-putus. C - E = ¼ lingkar panggul (setengah C dengan D). A - F = ukuran panjang rok. F - I = C - D F - F1 = C - E. Hubungkan B1 dengan E, membentuk garis sisi panggul, terus ke F1. I - G = panjang rok. 272

294 G - H = ¼ lingkar pinggang ditambah 3 cm ( 2 cm untuk besar kup, dan 1 cm untuk membedakan pola rok muka dengan belakang). H - H1 = 0,7 cm. Hubungkan G dengan H1 seperti gambar (garis pinggang pola bagian muka). G - G1 = 1 / 10 lingkar pinggang. G1 - G2 = 2 cm. G3 = besar lipit kup dibagi dua G3 - G4 = panjang kup, dibuat garis putus-putus. G4 - G5 = 0,5 cm Hubungkan titik G1 dengan G5 dan G2 dengan G5. Hubungkan H1 dengan E, membentuk garis sisi panggul terus ke F1. 2. Pola dasar pria dewasa Sebelum menggambar pola dasar badan untuk pria terlebih dahulu diambil ukuran. Ukuran yang diperlukan untuk menggambar pola dasar untuk pria, hanya membutuhkan empat jenis ukuran, yaitu lingkar badan, lingkar leher, panjang bahu dan panjang punggung. Dibawah ini dapat dilihat cara mengambil ukuran satu persatu. 1). Lingkar badan, diukur sekeliling badan terbesar ditambah 4 cm 2). Panjang bahu, diukur dari bahu tertinggi pada leher sampai bahu terendah 273

295 3). Lingkar leher, diukur sekeliling pangkal leher 4). Panjang punggung, diukur dari tulang leher Belakang dalam posisi lurus sampai batas pinggang. Ukuran yang di butuhkan : Lingkar badan = 86 cm Lingkar leher = 40 cm Panjang bahu = 17 cm Panjang Punggung = 46 cm Gambar 137. Pola dasar pria Keterangan pola dasar pria A - B = adalah ½ lingkar badan. B - B1 = 3 cm B1 - D = panjang punggung. Buat garis empat persegi A B D C 274

296 A - E = ½ A - B, C - F = ½ C - D. Hubungkan E dan F dengan garis putus-putus. B - G = 1 / 6 lingkar leher ditambah 1 cm, hubungkan B1 dengan G seperti gambar. B1 - H = ½ ukuran panjang punggung, buat garis horizontal dari H ke J. E - E1 = 3 cm, dibuat garis datar kekiri dan kanan. G - I = ukur panjang bahu H - H1 = ½ lebar punggung, dibuat garis vertikal sampai garis bahu. Hubungkan I dengan K seperti gambar (lingkar kerung lengan pola belakang) A - A1 = 1 / 6 lingkar leher ditambah 1 cm. A - A2 = 1 / 6 lingkar leher ditambah 1,5 cm. Hubungkan A1 dengan A2 seperti gambar (leher bagian muka). A1 - d = panjang bahu. J - J1 = ½ lebar muka, dibuat garis vertikal sampai garis bahu di namakan titik d1. Hubungkan d dengan K seperti gambar (lingkar kerung lengan pola bagian muka) 3. Pola dasar anak-anak Mengambil ukuran anak harus dipelajari dan dilakukan dengan penuh perhatian. Karena ukuran merupakan dasar dalam menggambar pola busana, jika ukuran salah maka hasil pola tidak akan sesuai dengan bentuk tubuh sipemakai. Untuk memperkecil kesalahan ambillah ukuran dengan tepat dan benar dengan urutan sebagai berikut : a). Ukuran yang diperlukan dan cara mengambil ukuran 1). Lingkar badan, diukur sekeliling Badan melalui ketiak ditambah 4 centimeter 2). Lingkar pinggang, diukur sekeliling Pinggang ditambah dua centimeter. 3). Panjang punggung, diukur dari ruas Tulang leher belakang yang paling Menonjol, sampai kebatas pinggang 4). Lebar punggung, diukur melebar di Punggung, dari batas lingkar kerung Lengan kiri sampai batas lingkar kerung Lengan kanan. 275

297 5). Lebar muka, diukur melebar didada dari batas lingkar kerung kiri sampai batas lingkar kerung lengan kanan. 6). Panjang muka, diukur dari lekuk leher sampai batas pinggang. 7). Panjang bahu, diukur dari batas leher Sampai ujung bahu. 8). Lingkar Kerung lengan, diukur sekeliling lubang lengan datambah satu centimeter 9). Lingkar leher, diukur sekeliling leher Ukuran : Lingkar badan Lingkar pinggang Panjang punggung Lebar punggung Lebar muka Panjang bahu Lingkar Kerung lengan Lingkar leher = 72 cm = 64 cm = 29 cm = 30 cm = 28 cm = 10 cm = 30 cm = 30 cm b). Cara menggambar pola dasar anak Gambar 138. Pola dasar badan 276

298 Keterangan pola bagian muka A - B = ½ lingkar badan. B - B1 = 1,5 cm. B1 - D = ukuran panjang punggung, Buat garis empat persegi dari A ke B, B ke D dan dari A ke C, terus dari B ke C dan dari D ke C dengan garis bantu. A - E = D - F = ¼ lingkar badan, hubungkan E dan F dengan garis bantu (garis putus-putus). A - A2 = 1 / 6 lingkar leher ditambah 0,5 cm, A - A1 = 1 / 6 lingkar leher ditambah 1 cm, Hubungkan A1 dengan A2 seperti gambar (garis leher bagian muka). E - E1 = 1 / 3 panjang bahu, buat garis mendatar pada titik E1. a2 - A3 = panjang bahu, garis bahu harus menyentuh garis E1. A - e1 = ½ panjang punggung. C1 - C2 = ½ lebar muka, buat garis vertikal sampai garis bahu. Hubungkan A3 dengan K seperti gambar. C - C1 = 1 / 10 lingkar pinggang, C1 ke C2 dibagi dua, hubungkan dengan garis bahu titik A4, Bentuk lipit kup dari C1 dan C2 seperti gambar. B - B2 = 1,5 cm. B - b2 = 1 / 6 lingkar leher ditambah 0,5 cm, Hubungkan B1 dengan B2 seperti gambar. B2 - B3 = panjang bahu, garis bahu harus menyentuh garis E1. B - D1 = ½ panjang punggung, D1 - D2 = ½ lebar punggung, buat garis vertikal sampai garis bahu. Hubungkan titik B3 dengan K seperti gambar (lingkar kerung lengan bagian belakang). D - D1 = 1 / 10 lingkar pinggang, D1 ke D2 dibagi dua, hubungkan dengan titik B4. Hubungkan D1 dengan D2 membentuk lipit kup seperti gambar. Pola dasar lengan Ukuran yang diperlukan : 1. lingkar kerung lengan = 30 cm 2. Tinggi puncak lengan = 9 cm 3. Panjang lengan = 14 cm Gambar 139. Pola dasar lengan anak 277

299 Keterangan pola lengan A - B = panjang lengan. A - E = ukuran panjang bahu. A - C = A - D = ½ lingkar kerung lengan (titik C dan D menyentuh garis bantu). Buat garis vertikal dari titik A ke B. D - D1 = C - C1. D - A dan A - C dibagi tiga. C2 = ⅓ C - A A1 = ⅓ A D C dengan C2 diturunkan 0,5 cm. A1 - A2 = 1,5 cm, hubungkan titik A dengan C dan A dengan D seperti gambar (lingkar kerung lengan bagian muka dan lingkar kerung lengan belakang) C - F = D - G = 1 cm. Hubungkan titik C dengan E (sisi lengan bagian muka), dan titik D dengan G seperti gambar (sisi lengan bagian belakang) Pola dasar rok anak Ukuran yang diperlukan 1). Lingkar pinggang = 60 cm 2). Tinggi panggul = 14 cm 3). Lingkar panggul = 68 cm 4). Panjang rok = 30 cm Gambar 140. Pola dasar rok anak 278

300 Keterangan pola rok A - A1 = 1 cm. A1 - B = ¼ lingkar pinggang ditambah 2 cm (besar kup), Hubungkan A1 dengan B seperti gambar (garis pinggang pola bagian muka). A1 - A2 = 1 / 10 lingkar pinggang, A2 - A3 = 2 cm (besar kup). A2 - A4 = 8 cm (panjang kup), Hubungkan titik A2 dengan A4 dan A3 dengan A4 seperti gambar (lipit kup). A1 - C = tinggi panggul. C - D = ¼ lingkar panggul ditambah 2 cm, dihubungkan dengan garis putus-putus. A1 - F = panjang rok, buat garis horizontal ke titik D sama dengan ukuran C dengan D. F - F1 = C - D. Hubungkan B dengan D membentuk garis sisi panggul, terus ke F1. F1 - F2 = 1 cm, hubungkan E dengan F2 seperti gambar. Pola rok bagian belakang untuk anak-anak sama dengan pola rok bagian muka. Oleh karena itu pola rok bagian belakang tidak perlu digambar lagi. Dengan demikian pola rok untuk anak-anak cukup satu pola saja, dh muka dan tengah belakang dibuat garis pola dengan warna merah dan warna biru, hal ini merupakan pertanda bahwa pola rok bagian muka sama dengan pola rok bagian belakang. E. Menggambar Pola Busana Dengan Teknik Konstruksi Di Atas Kain Menggambar pola dengan teknik konstruksi di atas kain berarti menggambar pola tidak menggunakan pola yang digambar di atas kertas, tetapi pola digambar langsung di atas kain yang merupakan bahan dasar dari pakaian yang akan dibuat pakaian. Pola digambar sesuai dengan desain yang telah ditentukan, dan berpedoman pada ukuran model/ukuran sipemakai. Langkah kerja yang dilakukan hampir sama dengan menggambar pola di atas kertas, tetapi pola yang digambar langsung mengikuti desain dan tidak berdasarkan pola dasar. Dengan demikian, desainnya jangan yang rumit, tetapi desain yang sederhana. Untuk desain yang rumit sebaiknya menggambar pola berdasarkan pola dasar. Alat dan bahan yang diperlukan untuk menggambar pola di atas kain adalah : 1) desain pakaian; 2) ukuran sipemakai; 3) bahan pakaian sesuai dengan desain; 4) centimeter; 5) rol pola; 6) kapur jahit (sebaiknya yang berbentuk pensil); 7) jarum pentul; 8) gunting kain. Sebelum menggambar pola, tentu telah memiliki desain pakaian dan ukuran sipemakai, karena menggambar pola di atas kain akan berpedoman kepada kedua hal tersebut. Menggambar pola busana 279

301 dengan teknik konstruksi langsung di atas kain, sebaiknya dilakukan untuk desain pakaian yang sederhana, baik untuk wanita, pria maupun untuk anak-anak. Untuk desain pakaian yang sulit atau rumit sebaiknya dikonstruksi berdasarkan pola dasar, baik pola dasar badan, rok dan lengan. Disarankan juga untuk desain yang sulit sebaiknya diuji cobakan terlebih dahulu. Menguji cobakan pola dapat dibuat dalam ukuran kecil (fragmen) terlebih dahulu. Membuat fragmen berarti kita membuat pakaian dengan ukuran yang lebih kecil. Fragmen yang dibuat sebaiknya dari bahan yang sama dengan bahan pakaian yang sebenarnya. Jika harga bahan pakaian terlalu mahal, untuk bahan fragmen dapat diganti dengan bahan yang memiliki sifat yang sama atau mendekati dengan sifat bahan utama. Tujuan membuat fragmen adalah untuk melihat apakah desainnya sudah sesuai dengan yang diinginkan konsumen. Garis-garis polanya sudah sesuai dengan desain pakaian, kupnya sudah tepat atau belum. Untuk lebih jelasnya berikut ini dapat dilihat bagaimana cara menggambar pola dengan teknik konstruksi di atas kain, untuk wanita, pria dan anak-anak : 1. Menggambar pola busana dengan teknik konstruksi di atas kain untuk wanita dewasa. Desainnya terdiri dari blus dan celana panjang. Blus memiliki belahan didepan, memiliki rumah kancing dan kancing sebanyak enam buah. Lengan licin/lengan suai, panjang lengan sampai batas pergelangan dan pada ujung lengan ada belahan dan dihiasi dengan tiga buah kancing. Pada badan bagian muka memiliki garis princes dengan bentuk simetris, yang dimulai dari pertengahan garis lingkar kerung lengan menuju puncak dada terus ke garis kupnat sampai panjang blus. Pada badan bagian belakang memiliki dua buah kup. Kerah setengah berdiri. Panjang blus lebih kurang tiga puluh cm dibawah garis pinggang. Celana panjang sampai mata kaki, pada tengah muka ada ritsluiting atau tutup tarik sepanjang lebih kurang 17 cm yang diselesaikan dengan menggunakan gulbi. Pakai kantong sisi dengan model simetris. Pinggang diselesaikan dengan menggunakan ban selebar 4 cm. 280

302 Desain Gambar 141. Desain busana wanita 281

303 a. Cara mengambil ukuran Ukuran dan cara mengambil ukuran yang diperlukan untuk menggambar pola konstruksi di atas kain, sesuai dengan model di atas adalah sebagai berikut : 1) Lingkar Leher, diukur sekeliling leher terbesar. 2) Lingkar Badan, diukur sekeliling badan terbesar dengan posisi cm tidak terlalu kencang dan tidak terlalu longgar dan ditambah 6 cm. 3) Lebar Muka, diukur enam atau tujuh cm dari lekuk leher kebawah, kemudian diukur datar dari batas lingkar kerung lengan kiri sampai batas lingkar kerung lengan kanan 4) Lingkar Pinggang, diukur pas sekeliling pinggang ditambah 6 cm 5) Tinggi Dada, diukur dari pinggang dibawah payu dara, keatas menuju puncak dada, dikurangi 4 cm. 6) Lebar Dada, diukur jarak antara payudara kiri dan kanan (untuk menentukan garis princes) 7) Panjang Punggung, diukur dari tulang belakang lurus sampai batas pinggang 8) Lebar Punggung, diukur 9 cm dari tulang leher belakang, pada garis tersebut diukur mendatar dari batas lingkar kerung lengan kiri sampai batas lingkar kerung lengan kanan. 9) Panjang Bahu, diukur dari bahu tertinggi/batas lingkar leher sampai ujung bahu/ batas bahu terendah ditambah 1 cm 10) Panjang Lengan, diukur dari bahu terendah sampai pergelangan tangan 11) Lingkar ujung lengan, diukur sekeliling ujung lengan 12) Tinggi duduk, diukur dari pinggang sampai batas panggul terbesar pada bagian belakang (dalam posisi duduk) 13) Lingkar Panggul, diukur melingkar pada pinggul yang paling tebal secara horizontal ditambah 4 cm. 14) Panjang celana, diukur dari pinggang sampai batas mata kaki (sesuai dengan model) 15) Lingkar ujung kaki, Diukur sekeliling ujung kaki celana sesuai dengan ukuran yang diinginkan 16) Lingkar paha, diukur sekeliling paha terbesar Ukuran blus 1) Lingkar leher : 38 cm 2) Lingkar badan : 90 cm 3) Panjang muka : 33 cm 4) Lebar muka : 34 cm 5) Lingkar pinggang : 70 cm 6) Tinggi dada : 14 cm 282

304 7) Lebar dada : 23 cm 8) Panjang punggung : 37 cm 9) Lebar punggung : 35 cm 10) Panjang bahu : 13 cm 11) Panjang lengan : 54 cm 12) Lingkar ujung lengan : 22 cm 13) Tinggi duduk : 23 cm 14) Lingkar panggul : 96 cm 15) Panjang celana : 94 cm 16) Lingkar kaki celana : 42 cm 17) Panjang lutut : 54 cm Keterangan pola bagian belakang Bahan blus dilipat dua, pada bagian tepi kain digambar pola blus bagian muka, dan pada lipatan kain digambar pola blus bagian belakang, untuk langkah berikutnya ikuti keterangan berikut : Ukur tiga cm dari ujung kain, beri nama titik A, buat garis dari A ke F. A - A1 = 1,5 cm, A - A2 = 7 cm, hubungkan A2 dengan A1 membentuk garis leher belakang. F - F1 = 4 cm, buat garis mendatar. A2 - A3 = panjang bahu, ujung bahu menyentuh garis datar F1. A1 - B = 9 cm G - B1 = ½ lebar punggung A1 - G = ½ panjang punggung ditambah 1 cm G - G1 = ¼ lingkar badan ditambah 1 cm. Hubungkan titk A3 dengan B1 terus ke G1 (lingkar kerung lengan belakang). A1 - C = panjang punggung. C - C1 = ¼ lingkar pinggang ditambah 3 cm (untuk kup dan dikurangi 1 cm). C - C2 = 1 / 10 lingkar pinggang C2 - C3 = 3 cm. Besar kup di bagi dua dibuat garis bantu sampai ketitik C4 dan C5 (panjang kup) hubungkan C2 dan C3 ke C4 dan C5 seperti gambar. C - D = ukuran tinggi panggul. D - D1 = ¼ lingkar panggul dikurangi 1 cm. C - E = ukuran panjang blus, E - E1 = D - D1. E1 - E2 = 1 cm. Bentuk garis sisi blus dengan menghubungkan titik G1 dengan C1, dan C1 ke D1 membentuk garis panggul, terus ke E2 seperti gambar. 283

305 b. Menggambar pola blus Gambar 142. Pola badan Keterangan pola bagian muka Kain dilipat dua, lalu disemat dengan jarum pentul, ukur dari tepi kain sebesar 7 cm (2 cm untuk lidah belahan dan 5 cm untuk lipatan) sepanjang tengah muka atau sepanjang ukuran blus. Samakan garis bantu pola belakang, seperti garis badan, pinggang, panggul dan panjang rok. Beri kode yang sama, seperti titik G pada badan, titik C pada pinggang, titik D pada panggul dan titik E pada panjang rok. G - G1 = ¼ lingkar badan ditambah 1 cm. C - C1 = ¼ lingkar pinggang ditambah 4 cm (3 cm untuk kup, dan 1 cm untuk kebesaran pola bagian muka dari pola belakang) D - D1 = ¼ lingkar panggul ditambah 1 cm. E - E1 = D - D1, E1 - E2 = 1 cm, dan dibentuk seperti gambar. C - A1 = ukuran panjang muka. 284

306 A1 - A = 1 / 6 lingkar leher ditambah 2 cm, A - A2 = 1 / 6 lingkar leher ditambah 1,5 cm. A2 - F = panjang bahu, F - F1 = 5 cm, buat garis mendatar, A2 - F1 = panjang bahu. A1 - G = 5 cm, G - G1 = ½ lebar muka. Hubungkan titik F1 ke G1 terus ke B1 seperti gambar (lingkar kerung lengan bagian muka). C - C2 = 1 / 10 lingkar pinggang, C2 - C3 = 3 cm (besar lipit kup). E2 diukur 1,5 cm, dibuat garis putus-putus sampai ke C4 dan C5 (panjang kup) Hubungkan C2 dan C3 ke C4 dan C5 seperti gambar. Hubungkan titik B1 dengan C1, terus ke D1 dengan membentuk sisi panggul, terus ke E2 seperti gambar. Keterangan pola lengan Menggambar pola lengan diatas kain yang terdiri dari dua lapis, dengan posisi bagian baik bahan berhadapan, dengan kata lain bahagian buruk bahan terletak pada bagian atas lalu digambar pola lengan sebagai berikut : ambil satu titik diberi nama titik A. A - B = panjang lengan. A - E = tinggi puncak lengan. Dari titik E buat garis vertikal lebih kurang 20 cm kekiri dan kanan. Dari titik A ukur ke C dan D ½ lingkar kerung lengan, letak titik C dan D harus menyentuh garis datar B. Buat garis putus-putus (garis bantu) dari A ke C dan dari A ke D. Garis bantu dari A ke C dan A ke E dibagi tiga. A1 = 1 / 3 A - C A2 = 1 / 3 A - E A1 - A3 = A2 - A4 = 1,5 cm. B3 = 1 / 3 C1 - A C1 ke C2 turunkan 1 cm. Hubungkan A dengan A4 dan D1 seperti gambar (lingkar kerung lengan bagian muka). Hubungkan A dengan A4 dan B2 seperti gambar (lingkar kerung lengan bagian belakang). B - B1 = ½ lingkar ujung lengan, B - B2 = ½ ukuran lingkar ujung lengan B2 - B3 = 1,5 cm Hubungkan B dengan B3 (sisi lengan bagian belakang), dan B dengan B1 seperti gambar (sisi lengan bagian muka) 285

307 Pola lengan Ukuran yang diperlukan 1). Lingkar kerung lengan : 40 cm ( diukur dari pola badan) 2). Tinggi puncak lengan : 12 cm 3). Panjang lengan : 54 cm Gambar 143. Pola lengan Gambar 144. Pola kerah Menggambar pola kerah dilakukan di atas kain yang berlipat dua. A - C = lipatan kain. A - B = ½ lingkar leher, A - A1 = 3 cm, A1 - C = 5 cm (lebar kerah). B - D = 7 cm, D - D1 = 4 cm. Hubungkan A1 dengan B dengan garis melengkung (garis leher), B ke D1 (ujung kerah) dan dari C ke D1 melalui titik D. 286

308 c. Menggambar pola celana Ukuran Celana a). Lingkar Pinggang b). Tinggi duduk c). Lingkar Panggul d). Panjang Celana : 66 cm : 23 cm : 96 cm : 90 cm Pola bagian muka Pola bagian belakang Gambar 145. Pola celana wanita 287

309 Keterangan menggambar pola celana wanita Pola celana bagian muka A - B = panjang celana. A - C = 1 / 3 lingkar pesak dibagi 3 ditambah 4 cm. C - D = C - E - ¼ lingkar pinggang ditambah 4 cm. E - D1 = 4 cm tarik garis lurus sampai garis pinggang namakan titik H. H - G = lingkar pinggang dibagi 4 ditambah 2 cm. A - F = panjang lutut. F - F1 = F - F2 = ½ lingkar lutut. B - B1 = B - B2 = ½ lingkar kaki celana. G - I = 3 cm. G - j = 12 cm. Hubungkan I dengan j seperti gambar saku sisi celana. Hubungkan H dengan E seperti gambar ( pesak celana bagian muka ). Hubungkan E dengan F2 terus ke titik B2, seperti gambar (garis sisi celana). Hubungkan G dengan D membentuk garis panggul, terus ke titik B1 melalui titik F1 seperti gambar (sisi celana). Pola celana bagian belakang Pola celana bagian belakang digambar berdasarkan pola celana bagian muka, untuk itu pindahkan pola celana bagian muka dengan cara menjiblak sekaligus memindahkan tanda-tanda pola seperti titik E, F2 dan B2. E - E1 = 8 cm. F2 - F3 = 4 cm. B2 - B3 = 4 cm. Hubungkan titik E1 dengan F3 terus ketitik B3 seperti gambar (garis sisi celana bagian belakang). G - G1 = 4 cm. H - H1 = 3 cm. G1 - H1 = 1 / 4 lingkar pinggang dibagi ditambah 4 cm. E1 - E2 = 1 cm, Hubungkan H1 dengan E1 seperti gambar (pesak celana bagian belakang). D - J = 5 cm. J - J1 ditambah J - J2 = ½ ukuran lingkar panggul. d. Memeriksa Pola Memeriksa pola merupakan salah satu langkah dalam pembuatan busana. Pemeriksaan pola mencakup tentang kesuaian pola dengan desain yang telah dirancang. Dalam hal ini perlu diperhatikan apakah desain mengunakan garis princess, model saku, kerah, desain lengan, panjang baju, dan lain-lain. Selain itu juga perlu diperhatikan kesesuaian ukuran dengan pola yang telah dibuat. Untuk 288

310 itu, pola yang telah selesai dibuat sebaiknya dicek atau diperiksa terlebih dahulu sebelum dilakukan pemotongan atau menggunting. 2. Menggambar pola busana dengan teknik konstruksi di atas kain untuk pria dewasa. Desain terdiri dari kemeja dan celana panjang. Desain Gambar 146. Desain busana pria 289

311 Cara mengambil ukuran kemeja dan celana pria. 1) Panjang kemeja, diukur dari bahu tertinggi sampai panjang yang sesuai dengan model. 2) Lingkar badan, diukur sekeliling badan terbesar ditambah 4 cm 3) Rendah bahu, diukur dari tulang leher belakang sampai batas pertengahan garis bahu pada punggung. 4) Rendah Punggung, diukur dari tulang leher belakang sampai batas pertengahan garis lingkar badan (untuk menentukan batas kerung lengan pada ketiak) 5) Lebar punggung, diukur dari pertengahan lingkar kerung lengan kiri sampai batas lingkar kerung lengan sebelah kanan. 6) Panjang punggung, diukur dari tulang leher belakang dalam posis lurus sampai bapas pinggang. 7) Lingkar leher, diukur sekeliling pangkal leher 8) Panjang lengan, diukur dari bahu terendah sampai panjang lengan pada model. 9) Lingkar lengan, diukur sekeliling garis siku selebar ukuran lengan pada model. 10) Lingkar manset, diukur lingkar ujung lengan ditambah 3 cm 11) Lebar manset, ukurannya disesuaikan dengan model 12) Panjang celana, diukur dari pinggang sampai panjang yang diinginkan. 13) Lingkar pinggang, diukur sekeliling pinggang. 14) Lingkar pesak, diukur dari batas pinggang belakang, melalui selangkangan menuju garis pinggang bagian muka. 15) Lingkar paha, diukur sekeliling paha terbesar 16) Lingkar panggul, diukur sekeliling panggul terbesar. 17) Lingkar ujung kaki celana, diukur sekeliling kaki celana sesuai dengan model. 18) Panjang lutut, diukur dari pinggang sampai batas lutut. 19) Lingkar Lutut, diukur sekeliling lutut sesuai dengan keinginan. Ukuran : 1) Panjang kemeja : 75 cm 2) Lingkar badan : 100 cm 3) Rendah bahu : 4 cm 4) Rendah Punggung : 22 cm 5) Lebar punggung : 42 cm 6) Panjang punggung : 41 cm 7) Lingkar leher : 40 cm 8) Panjang lengan : 60 cm 9) Lingkar lengan : 30 cm 10) Lingkar manset : 20 cm 11) Lebar manset : 3 cm 12) Panjang celana : 103 cm 13) Lingkar pinggang : 74 cm 290

312 14) Lingkar pesak : 70 cm 15) Lingkar paha : 64 cm 16) Lingkar panggul : 94 cm 17) Lingkar kaki celana : 44 cm 18) Panjang lutut : 52 cm 19) Lingkar Lutut : 50 cm Menggambar pola kemeja pria Pola badan bagian muka Pola badan bagian belakang Skala 1;4 Skala 1;4 Gambar 147. Pola kemeja Keterangan pola kemeja bagian muka Bahan kemeja dilipat dua, pada bagian tepi kain digambar pola kemeja dengan urutan sbb. Ukur dari tepi kain kedalam sebesar 5 cm 291

313 sepanjang tengah muka/sepanjang ukuran panjang kemeja dan ditambah dengan kampuh. Ambil satu titik pada garis tersebut yang diberi nama titik A, untuk langkah berikutnya ikuti keterangan berikut : A - B = 2 cm, A - C = ukuran rendah bahu, B - D = ukuran rendah punggung, B - E = ukuran panjang punggung, A - F = panjang kemeja, setiap titik buat garis bantu ( garis putusputus). A - a1 = 1 / 6 lingkar leher ditambah 1 cm, A - a = 1 / 6 lingkar leher ditambah 2 cm. Hubungkan a dengan a 1 dengan garis bantu, a - a 1 dibagi dua dinamakan titik g g - g1 = 1,5 cm, hubungkan a dengan a1 melalui titik g1 seperti gambar. C - I = ½ lebar punggung ditambah 1 cm. Hubungkan titik a ke I menjadi garis bahu. I - x = C - D, Buat garis vertikal dari x ke I, Garis I dan x dibagi tiga, sepertiga bagian dari x dinamakan titik i, i - i 2 = 1 s.d 2 cm. D - L = ¼ lingkar badan ditambah 1 cm. E - K = ¼ lingkar badan dikurangi 1 cm. F - O = D - L yaitu ¼ lingkar badan ditambah 1 cm. Hubungkan titik I dengan L melalui titik i2 seperti gambar (lingkar kerung lengan pola bagian muka). O - O1 = 1 cm, Hubungkan L dengan K dan dengan O1 seperti gambar (sisi badan). Hubungkan a1 ke F dengan garis strip dan titik berselang seling (tanda tengah muka), Hubungkan dari F terus ke O1 seperti gambar (bawah baju) a1 - n = F - F1 yaitu 1,5 cm, Hubungkan titik n dengan F1 dengan garis lurus. Jarak rumah kancing lebih kurang 8 cm. Keterangan pola kemeja bagian belakang Untuk menggambar pola kemeja bagian belakang yang dipedomani adalah pola kemeja bagian muka. Letakkan pola badan bagian muka diatas kain yang sudah dilipat untuk tengah belakang kemeja, dengan posisi tengah muka pola bagian muka dikurangi 1 cm, hal ini disebabkan karena pola kemeja bagian belakang lebih kecil dua centimeter dari pada pola bagian muka. Karena pola bagian muka dibuat setengah dari badan bagian muka, maka sepanjang garis tengah muka dikurangi satu centimeter, pada gambar dapat dilihat pengurangan pola bagian muka dengan keterangan sbb : Titik 292

314 a1, D, E dan F adalah pindahan dari pola bagian muka. Dari titik a ke m diukur sama dengan titik F ke u yaitu 1 cm. Sisi badan pola bagian belakang disamakan dengan pola bagian muka. Garis bahu pola bagian belakang dibuat berdasarkan pola bagian muka sbb: I - H = 7 cm, a1 - Q = 6 cm. Sambungkan garis dari titik m keatas sampai sejajar dengan titik H, beri nama titik S. S - H1 = ½ lebar punggung ditambah 1 cm. Q1 - Q = 1 / 10 lebar punggung. Hubungkan S ke Q dengan garis bantu. S - Q dibagi dua diberi nama titik t. t - t1 = 1,5 cm, Hubungkan S dengan Q melalui titik t1, seperti gambar (lingkar lrher pola bagian belakang), Q - H1 = garis bahu. Hubungkan titik H1 dengan L seperti gambar (lingkar kerung lengan bagian belakang). F - U = 1 cm, bentuk garis dari titik U ke garis sisi badan. Hubungkan titik U dengan titik S dengan garis strip dan titik berselang seling ini adalah tanda garis tengah belakang pola badan. Gambar 148. Pola lengan Menggambar pola lengan di atas kain berlipat dua. Kain diukur menurut arah serat kain, sepanjang lebih kurang 50 cm dari tepi kain, 293

315 lalu dilipat dua. Garis lipatan dijadikan garis tengah pola lengan. Kemudian diikuti langkah kerja sbb : Pada lipatan kain paling atas diambil satu titik dinamakan titik A. A - B = panjang lengan. A - C = B - D yaitu ukuran rendah punggung, Buat garis empat persegi dengan menghubungkan titik A dengan B, A dengan C, B dengan D dan C dengan D. C - F = ½ ukuran A - C, Hubungkan A ke F dengan garis bantu. A - L = ½ A - F. L - L1 = 1,5 cm. Hubungkan titik A dengan F, melalui L (kerung lengan bagian muka), Hubungkan A dengan F, melalui L1 (kerung lengan bagian belakang). F - E = ½ F - D dikurangi 2 cm, Buat garis horizontal kegaris A dan B, diberi nama titik K. K - H = ½ ukuran lingkar lengan. B - D1 = ½ ukuran lingkar ujung lengan dikurangi 2 cm. Hubungkan F dengan D1, melalui titih H (sisi lengan muka dan belakang). B - B1 = 6 cm. B1 - B2 = 9 cm (belahan ujung lengan kemeja). Keterangan pola board dan kerah Pola board dan kerah dibuat menurut lebar kain, caranya diukur kain sepanjang lingkar leher yang ada pada pola bagian muka dan belakang ditambah dengan kampuh, kain dilipat dua dan digambar dengan urutan sbb : A - B = 3 cm (lebar board pada lipatan kain). A - C = ½ lingkar leher. C - D = 1,5 cm D - E = 2,5 cm. Hubungkan B dengan D melewati titik E dan hubungkan A dengan C, B dan D seperti gambar. Pola kerah dibuat menyatu dengan boar. B - F = 3,5 cm (lebar kerah). E - G = B - F. G - G1 = 1,5 cm, G1 - G2 = 1,5 cm. Hubungkan B dengan F, F dengan G2 dan E dengan G2 seperti gambar. 294

316 Pola kerah Gambar 149. Pola kerah kemeja Keterangan pola saku kemeja Saku kemeja digambar menurut arah panjang kain, dengan ukuran sebagai berikut: A - B = 11 cm, A - C = 12 cm. C - D = A - B ( lebar saku), A - C = B - D (dalam saku). Titik E = ½ C - D. E - F = 1,5 cm. Hubungkan A dengan B, A dengan C, B dengan D, C dengan F terus ke D. Keterangan pola manset: A-B = Lingkar Menset A-C = 2 X Lebar Manset C-D = A-B A-C = B-D A-E = ½ A-C C E A D B Keterangan pola klep manset: A-B = 11 cm A Lebarnya Lebih kurang 1,75 cm B Lebarnya Lebih Kurang 2 cm A B Gambar 150. Pola manset dan klep manset 295

317 Pola celana pria Pola bagian muka Pola bagian belakang Gambar 151. Pola celana pria 296

318 Keterangan menggambar celana pria Pola bagian muka Ambil titik A, buat garis mendatar dan garis tegak lurus. A - C = panjang celana. A - B = 1/3 lingkar pesak ditambah 5 cm Buat garis datar kekiri dan kekanan. B - D = B - E yaitu ¼ lingkar paha dikurangi 4 cm (ukuran E ke D adalah ½ lingkar paha dikurang 4 cm). D - F = F - G yaitu 3 cm, Buat garis vertikal dinamakan titik H (buat garis antu). H - I = 1 cm, Hubungkan titik I - G dengan garis lurus terus ke D dengan garis melengkung. I - N = ¼ lingkar pinggang ditambah 4 cm untuk kup. I - Y = 1/10 lingkar pinggang. Y - K = L - M yaitu 2 cm. K - L = 3 cm. N - O = 3 cm. O - P = 13 cm, Hubungkan O ke P dengan garis lurus (untuk saku samping). A - Q = ukuran panjang lutut. Q - R = Q - S yaitu 1/4 lingkar lutut dikurang 2 cm (R ke S adalah ½ lingkar lutut). C - C1 = C - C2 yaitu ¼ lingkar kaki dikurang 2 cm (C1 ke C2 adalah ½ lingkar ujung kaki celana). H - H1 = 4 cm. I - I1 = 18 cm. Hubungkan H1 dengan I1 seperti gambar. Hubungkan N dengan C2 melewati titik E dan S seperti gambar, dan hubungkan D dengan C1 melewati titik R. Pola bagian belakang. Pola celana bahagian belakang di buat berdasarkan pola bagian muka, caranya sebagai berikut : Pindahkan pola celana bahagian muka bersamaan dengan tanda-tanda pola. Garis sisi celana bahagian pinggang diberi nama titik A. A - C = ¼ lingkar pinggang ditambah 2 cm untuk kup nat. Hubungkan A dengan C, dengan membentuk sudut siku pada garis A ke C dan A ke E. Titik B = ½ A - B. B - B1 = 2 cm. D - E = 5 cm, Buat garis datar kekanan melewati pola bagian muka. E - F ditambah E - H = ½ lingkar panggul. I - Y = 8 cm, 297

319 Hubungkan titik C ke H dengan garis lurus, terus ke Y dengan garis melengkung. K - M = L - N yaitu 4 cm. Hubungkan titik Y ke M dengan garis melengkung, terus ke titik N dengan garis lurus seperti gambar. 3. Menggambar pola busana dengan teknik kontruksi di atas kain untuk anak-anak. Desain busana anak-anak berikut ini adalah baju setali atau bebe, panjang baju setengah paha. Memiliki garis prinses dari pertengahan garis bahu melalui dada sampai panjang baju dengan model simetris. Lengan kop pendek. Pakai kerah polo. Pada bagian belakang pakai risleting panjang 30 cm. Bagian bawah baju agak sedikit kembang. Cara Mengambil Ukuran a. Lingkar badan, diukur sekeliling badan melalui ketiak ditambah empat centimeter. b. Lingkar pinggang, diukur sekeliling pinggang ditambah dua centimeter. c. Panjang punggung, diukur dari ruas tulang leher belakang yang paling menonjol, sampai kebatas pinggang d. Lebar punggung, diukur melebar di punggung, dari batas lingkar kerung lengan kiri sampai batas lingkar kerung lengan kanan. e. Lebar muka, diukur melebar didada dari batas lingkar kerung kiri sampai batas lingkar kerung lengan kanan. f. Panjang bahu, diukur dari batas leher sampai ujung bahu. g. Lingkar Kerung lengan, diukur sekeliling lubang lengan datambah satu centimeter h. Lingkar leher, diukur sekeliling leher i. Panjang muka, diukur dari lekuk leher sampai batas pinggang. j. Panjang lengan, diukur dari bahu terendah sampai panjang lengan sesuai dengan model. k. Panjang baju, diukur dari lekuk leher sampai panjang baju sesuai dengann model. 298

320 Desain Gambar 152. Desain busana anak Ukuran : Lingkar badan Lingkar pinggang Panjang punggung Lebar punggung Lebar muka Panjang bahu Lingkar Kerung lengan Lingkar leher Panjang muka Panjang lengan Panjang baju = 64 cm = 60 cm = 27 cm = 26 cm = 25 cm = 8 cm = 30 cm = 27 cm = 23 cm = 13 cm = 50 cm 299

321 Menggambar pola anak Gambar 153. Pola busana anak Keterangan pola bagian muka Agar pola yang dibuat diatas bahan tidak bergeser, serta pola yang dibuat sesuai dengan desain model, perlu diperhatikan bentuk pola dan bahan dasar yang akan digunakan, untuk itu perhatikanlah cara membuat pola diatas bahan berikut ini : Ambil bahan dasar untuk busana anak yang lebarnya 115 cm, lipat dua dengan arah panjang benang (lungsin). Buat pola bagian muka dengan cara; A - A1 = 6 cm; A - A2 = 8 cm. A2 - C1 = panjang punggung. 300

322 A2 - B = panjang baju bagian muka. A - C = ½ panjang punggung ditambah 1 cm. C - G = ¼ lingkar badan ditambah 1 cm. C1 - C2 = ¼ lingkar pinggang ditambah 1 cm. Titik A3 = ½ panjang bahu. B - B2 = 1/10 lingkar pinggang, Hubungkan dengan A3, untuk garis prinses. A2 - A4 = 9 cm (panjang bahu) A3 - A4 = 3 cm (keluwesan garis bahu). Hubungkan A3 dengan G (lingkar kerung lengan muka). Ukur dari titik A sebanyak 3 cm. Berikutnya adalah mengembangkan dari D1 kesisi kanan sebanyak 3 cm dari garis sisi pola muka beri titik D ke D2, dari D2 naikan 1 cm, bentuk garis tersebut dengan luwes seperti gambar (garis bawah baju). Keterangan pola bagian belakang C - C1 = A - A1 C - C2 = 1,5 cm. C1 - C3 = A1 - C1 D - D3 = B - B1 ditambah 3 cm. D1 - H = ½ lingkar badan. C3 - C4 = ¼ lingkar pinggang. Hubungkan H ke D3 (sisi badan belakang). Hubungkan C1 ke H (kerung lengan belakang). Hubungkan D ke D3 seperti gambar ( garis bawah baju) Pola Lengan Ukuran Lingkar kerung lengan Tinggi puncak lengan Lingkar ujung lengan : 38 cm : 10 cm : 18 cm Gambar 154. Pola Lengan Anak 301

323 Keterangan Pola lengan A - B = panjang lengan, A - C = tinggi puncak lengan, A - D = A - E adalah ½ lingkar kerung lengan. Puncak lengan digunting, dikembangkan kekiri dan kanan masingmasing 3 cm. Bentuk ujung Gambar 155. Pola kerah Keterangan pola kerah. A - B = ½ lingkar leher. A - C = 7 cm ( lebar kerah). B - B1 = 1,5 cm. B1 - B2 = 5 cm. B2 - B3 = 1 cm. Hubungkan A ke B1 terus ke B3 dan C seperti gambar. F. Membuat Pola Busana Dengan Teknik Kombinasi Membuat pola busana dengan teknik kombinasi merupakan salah satu cara pembuatan pola dengan mengombinasikan teknik konstruksi A dengan teknik konstruksi B, teknik dressmaking dengan teknik konstruksi atau teknik konstruksi dengan teknik drapping. Pada BAB ini dijelaskan cara membuat pola busana dengan kombinasi teknik konstruksi dengan teknik drapping. Tujuan dari teknik kombinasi adalah untuk membuat busana dengan desain-desain yang sulit seperti desain busana pesta. Untuk menggambar pola kombinasi sama halnya dengan membuat pola lainnya yang membutuhkan ukuran tubuh sipemakai. Ukuran yang diperlukan secara umum adalah: lingkar badan; lingkar pinggang; lingkar panggul; lingkar leher; panjang punggung; lebar punggung; panjang muka; lebar muka; panjang bahu; panjang sisi; panjang rok; panjang lengan; tinggi dada dan tinggi panggul. Karena desain yang akan dibuat sangat sulit atau rumit, sebaiknya dikonstruksi berdasarkan pola dasar, baik pola dasar badan, rok dan lengan. Sebelum dibuat sebaiknya diuji cobakan terlebih dahulu. Menguji cobakan pola dapat dibuat dalam ukuran kecil (fragmen). Fragmen yang dibuat sebaiknya dari bahan yang sama dengan bahan pakaian yang sebenarnya. Jika harga bahan pakaian terlalu mahal, untuk bahan fragmen dapat diganti dengan bahan yang memiliki sifat yang sama atau mendekati dengan sifat bahan utama. 302

324 Desain Gambar 156. Desain busana pesta Dari desain di atas dapat kita analisa bahwa busana tersebut terdiri atas 2 bagian yaitu bagian dalam yang menggunakan bahan yang tidak transparan dan bagian luar yang di drapir pada pinggang menggunakan bahan transparan dan melangsai. Busana bagian dalam dapat kita buat menggunakan teknik konstruksi yang mana di buat berdasarkan pola dasar yang dikembangkan. Sedangkan busana bagian luar dapat dilakukan dengan 2 cara yaitu dengan teknik konstruksi atau dengan metode potong dan dapat juga menggunakan teknik drapping. Namun dari dua cara tersebut, teknik drapping dapat menghasilkan bentuk yang lebih bagus karena pola diperoleh dengan teknik langsung mengatur kain 303

325 yang akan dijadikan busana pada dressform yang ukurannya sama dengan sipemakai. Jadi dalam pembuatan busana ini kita menggunakan teknik kombinasi antara teknik konstruksi dengan teknik drapping. 1. Teknik konstruksi busana bagian dalam (Furing) Cara membuat pola busana bagian dalam (furing) adalah : Langkah pertama: Gambar 157. Pecah pola 304

326 Keterangan : 1. Ciplak pola dasar badan muka dan belakang dan kup sisi dipindahkan ke bahu dengan cara membuka kup bahu dan menutup kup sisi. 2. Sambungkan pola dasar badan dengan pola dasar rok 3. Bagi pola rok menjadi empat bagian untuk pengembangan bawah gaun. 4. Bagian sisi rok diluruskan karena model gaun lebar ke bawah. Langkah kedua: Gambar 158. Pengembangan pecah pola 305

327 Keterangan : 1. Gunting dan kembangkan pola rok masing-masing 6-9 cm. 2. Bentuk garis dada sesuai dengan desain. Caranya yaitu: a. Tengah muka turun dari garis leher muka 8-11cm b. Bagian sisi tetap 3. Besar kup bahu ditambah 1-2 cm agar jatuh gaun pada bagian dada bagus atau tidak menganga (menggelembung). Langkah ketiga: Gambar 159. Gabungan pola muka kiri dan kanan 306

328 Keterangan : Setelah dilakukan pecah pola pada rok seperti yang dilakukan pada langkah kedua maka pola tersebut sudah dapat digunakan untuk memotong pakaian yang bagian dalam (furing). 2. Teknik drapping untuk bahan bagian luar (bahan transparan dan melangsai) Untuk pakaian bagian luar dilakukan dengan teknik drapping, yaitu dengan mengatur kain langsung pada dressform. Caranya adalah pertama-tama kita sampirkan kain ke dresform yang ukurannya sama dengan sipemakai. Perhatikan gambar berikut : Gambar 160. Menyampirkan kain pada dressform Langkah kedua yaitu bahan di pentul pada bagian belakang seperti gambar di bawah ini. Pada bahagian atas perlu di perhitungkan letak jatuh pakaian pada bagian dada, jadi dalam menyampirkan kain kita perhitungkan letak jatuhnya pakaian pada badan secara keseluruhan. Setelah itu baru dipentul pada bahagian belakang agar kita mudah membentuk pada bagian dada dan drapir pada sisi. Perhatikan gambar berikut : 307

329 Gambar 161. Mementul bahan pada bagian belakang Langkah ketiga adalah membentuk drapir pada bagian sisi kanan. Buatlah lipatan-lipatan pada bagian sisi dan atur jarak serta besar lipit. Kemudian tandai batas sisi kiri dan kanan menggunakan kapur jahit. Tanda yang dibuat menggunakan kapur jahit merupakan batas jahitan pada bagian sisi. Jadi untuk mendapatkan polanya perlu kita tambahkan kampuh. Perhatikan gambar berikut : Gambar 162. Membentuk lipit pada bagian sisi 308

330 Langkah keempat adalah membentuk hiasan pada bagian dada. Motif dapat disesuaikan dengan hiasan yang diinginkan. Aturlah jarak motif dengan tetap berpedoman dengan desain yang direncanakan. Perhatikan gambar berikut : Gambar 163. Membentuk hiasan pada bagian dada Langkah kelima adalah menggunting bahan hasil dari teknik draping sesuai dengan tanda yang di buat. Sebagai kontrol hasil draping dapat disesuaikan dengan ukuran pada pola yang ada atau dengan ukuran badan sipemakai. Untuk bagian bawah rok perlu disesuaikan dengan lebar rok yang dikonstruksi. Sementara untuk pola belakang dapat digunakan pola yang dikonstruksi. Setelah itu, barulah dijahit dengan teknik yang tepat. Gambar 164. Hasil teknik drapping pola bagian muka 309

331 G. Menyimpan Pola Pola pakaian ada yang berbentuk pola dasar dan ada juga yang dalam bentuk pola pakaian yaitu pola yang sudah dibuat atau dirobah sesuai desain. Penyimpanan pola dapat dilakukan dengan beberapa cara yaitu: 1. Digulung pada tempat yang bersih dan aman seperti dalam lemari khusus atau pada tempat khusus yang terletak di ruangan potong disediakan box tempat penggantungan pola. 2. Di dalam kantong plastik atau amplop yaitu dengan menyusun secara rapi dan pada amplop diberi keterangan desain, nama pemilik atau diberi ukuran pola itu sendiri kemudian disusun pada lemari atau rak atau box. 3. Digulung dan dibungkus dengan plastik atau diikat dengan perca dari bahan yang terakhir digunting dan kemudian disimpan pada keranjang atau dus khusus yang dipakai untuk penyimpanan pola, tali pengikat pola juga berfungsi untuk tanda pemilik dari pola. 4. Seiring dengan kemajuan teknologi sekarang ini pola juga dapat disimpan pada komputer, flashdisk, atau CD. Tujuan penyimpanan pola yaitu: 1. Supaya pola dapat dipakai lebih dari satu kali (berulang kali). 2. Kalau akan mengulangi pemakaian pola dapat dengan mudah mencarinya dan selalu dalam keadaan baik (layak pakai). 3. Bila ada permintaan pakaian dengan desain yang sama untuk seanjutnya dapat diproduksi persis seperti desain sebelumnya. 4. Dari semua tujuan penyimpanan pola dengan baik ini akan dapat menghemat waktu, tenaga ataupun keuangan. Rangkuman Membuat pola busana merupakan langkah yang paling penting dalam membuat busana. Pola yang baik akan menghasilkan busana yang baik pula, namun untuk mendapatkan pola yang baik tersebut ditentukan oleh beberapa hal, diantaranya adalah: 1). Ketepatan dalam mengambil ukuran tubuh sipemakai; 2) kemampuan dalam menentukan kebenaran garis-garis pola; 3) Ketepatan memilih kertas untuk pola; 4) kemampuan dan ketelitian memberi tanda dan keterangan setiap bagian-bagian pola; 5) kemampuan dan ketelitian dalam menyimpan dan mengarsipkan pola. Ada beberapa macam pola yang dapat digunakan dalam membuat busana, diantaranya ialah pola konstruksi dan pola standar. Pola konstruksi adalah pola dasar yang dibuat berdasarkan ukuran badan sipemakai, dan digambar dengan perhitungan secara matematika sesuai dengan sistem pola konstruksi masing-masing. Ada beberapa macam pola konstruksi antara lain : pola sistem Dressmaking, pola sistem So-en, pola sistem Charmant, pola sistem Aldrich, pola sistem Meyneke dan lainlain. 310

332 Sedangkan pola standar adalah pola yang dibuat berdasarkan daftar ukuran umum atau ukuran yang telah distandarkan, seperti ukuran Small (S), Medium (M), Large (L), dan Extra Large (XL). Pola standar di dalam pemakaiannya kadang diperlukan penyesuaian menurut ukuran sipemakai. Jika sipemakai bertubuh gemuk atau kurus, harus menyesuaikan besar pola, jika sipemakai tinggi atau pendek diperlukan penyesuaian panjang pola. Alat yang diperlukan untuk menggambar pola busana banyak jenisnya antara lain pita ukuran (cm), penggaris, kertas pola (buku pola atau buku kostum), skala, pensil dan bool point, penghapus (eraser), dan jarum. Menggambar pola dasar dengan teknik drapping adalah membuat pola sesuai dengan ukuran dan bentuk badan seorang model. Menggambar pola busana dengan teknik konstruksi yang baik mempunyai lipit kup untuk ruang bentuk buah dada. Bentuk lipit kup ada yang dipinggang, dibahu, dipinggang dan disisi. Pola konstruksi untuk wanita banyak jenisnya, tetapi semua jenis sistem pola konstruksi memiliki lipit kup. Menggambar pola dengan teknik konstruksi di atas kain berarti menggambar pola tidak menggunakan pola yang digambar di atas kertas, tetapi pola digambar langsung di atas kain yang merupakan bahan dasar dari pakaian yang akan dibuat pakaian. Membuat pola busana dengan teknik kombinasi merupakan salah satu cara pembuatan pola dengan mengkombinasikan teknik konstruksi A dengan teknik konstruksi B, teknik dressmaking dengan teknik konstruksi lain atau teknik konstruksi dengan teknik drapping. Pola yang sudah dibuat perlu disimpan dengan baik. Penyimpanan pola dapat dilakukan dengan beberapa cara yaitu digulung pada tempat yang bersih dan aman seperti dalam lemari khusus, di dalam kantong plastik atau amplop, digulung dan dibungkus dengan plastik atau diikat dengan perca dari bahan yang terakhir digunting, serta pola juga dapat disimpan pada komputer, flashdisk, atau CD. Kompetensi yang diharapkan dari materi di atas adalah : Mengukur tubuh pelanggan sesuai dengan desain, menyesuaikan pola standar sesuai dengan tubuh pelanggan, menggambar pola busana dengan teknik drapping, menggambar pola busana dengan teknik konstruksi di atas kain untuk wanita, pria dan anak-anak, menggambar pola busana dengan teknik kombinasi 311

333 Evaluasi : 1. Kualitas pola busana ditentukan oleh banyak hal, jelaskan satu persatu. 2. Jelaskan perbedaan pola konstruksi dengan pola standar 3. Sebutkan alat yang diperlukan untuk menggambar pola dengan teknik drapping. 4. Buatlah pola busana dengan teknik kombinasi 5. Jelaskan pentingnya memeriksa pola busana 6. Jelaskan manfaat menyimpan pola busana *** Selamat Bekerja*** 312

334 BAB VIII PECAH POLA BUSANA SESUAI DESAIN Busana wanita mempunyai desain yang beraneka ragam. Karena beranekaragamnya desain pakaian wanita ini, sering kali kita kesulitan dalam melakukan pecah pola busananya. Dalam bab ini akan dibahas tentang konsep dasar pecah pola serta beberapa contoh pecah pola rok, blus dan celana untuk beberapa desain dan kesempatan pemakaian. A. Konsep Dasar Pecah Pola Busana Wanita Busana wanita memerlukan teknik pecah pola yang lebih cermat dibandingkan pakaian pria dan anak-anak. Pakaian wanita yang dibuat hendaklah dapat menonjolkan sisi feminim dari wanita dan dapat menonjolkan kelebihan yang dimilikinya sehingga dalam berpenampilan terlihat cantik, rapi dan menarik. Untuk itu dalam pembuatan pakaian perlu dilakukan pecah pola yang benar sesuai dengan desain dan bentuk tubuh sipemakai. Agar pola yang dihasilkan sesuai dengan desain dan bentuk tubuh maka terlebih dahulu perlu dilakukan analisa bentuk tubuh dan analisa desain. Bentuk tubuh wanita secara umum ada 5 macam yaitu ideal, kurus tinggi, gemuk tinggi, kurus pendek dan gemuk pendek. Bentuk tubuh wanita yang baik tentunya adalah bentuk tubuh yang ideal dimana terdapat keseimbangan antara berat badan dan tinggi badan dan mempunyai proporsi tubuh yang seimbang. Desain pakaian yang dibuat adakalanya terlihat indah karena dibuat pada proporsi tubuh yang seimbang atau bentuk tubuh yang ideal. Namun belum tentu desain yang sama cocok di pakai oleh orang yang bertubuh kurus atau gemuk. Jadi dari analisa bentuk tubuh ini kita dapat menyesuaikan pola dengan bentuk tubuh sipemakai, dengan kata lain kekurangan bentuk tubuh dapat tertutupi dengan teknik pengembangan pola yang tepat. Misalnya untuk bentuk tubuh yang gemuk hendaklah hindari pakaian yang mengembang atau yang berkerut banyak seperti rok kerut atau rok kembang dan model lengan balon atau lonceng. Jika menggunakan lengan balon atau lengan yang lebar pada ujung lengan hendaklah pengembangannya disesuaikan dengan bentuk tubuh gemuk tersebut artinya pengembangannya tidak terlalu lebar. Selain analisa bentuk tubuh di atas dilakukan analisa desain. Analisa desain pakaian dilakukan dengan cara sebagai berikut: 1. Memperhatikan desain secara keseluruhan. Lihat gaya berdiri dari model. Umumnya desain digambarkan dengan gaya berdiri menghadap kedepan atau miring tiga per empat. Perbandingan letak bagian-bagian busana pada sikap berdiri model akan lebih memudahkan kita memahami desain pakaian yang akan dibuat. 322

335 2. Pahami gambar bagian-bagian busana pada desain. Gambar bagian-bagian busana yang dimaksud merupakan garis-garis pakaian pada desain, misalnya garis leher, garis lingkar badan, garis pinggang, garis panggul, garis tengah muka dan tengah belakang, garis lingkar kerung lengan, garis besar lengan dan garis batas kup atau tinggi dada. Garis-garis ini akan memudahkan kita untuk menganalisa bagianbagian busana yang ada pada desain. a. Desain pakaian pada badan bagian atas. Desain pakaian pada badan bagian atas meliputi bentuk garis leher atau kerah, lengan, kantong, garis hias, kup dan belahan pakaian. Letak garis leher dapat dilihat dengan membandingkan garis leher dasar dengan garis leher pada desain. Perkiraan ukuran inilah yang menjadi pedoman dalam merobah garis leher pada pakaian. Begitu juga dengan lengan dan badan. Desain lengan apakah berbentuk lengan kop, lengan poff, lengan balon dan lain sebagainya. Khusus untuk bagian badan, kita harus memperhatikan letak kup apakah kup berada pada tempat biasa atau disalurkan ke tempat lain atau dihilangkan menjadi garis hias. Hal ini penting karena kup merupakan bagian yang dapat menonjolkan sisi feminim wanita. Perhatikan juga garis belahan pakaian untuk menghindari kesalahan dalam memberi tanda pola dan menggunting kain. b. Desain pakaian bagian bawah Pakaian bagian bawah dapat berupa rok atau celana. Namun celana ataupun rok mempunyai desain yang bervariasi. Terlebih dahulu pahami desain rok yang ada pada desain seperti desain rok, ukuran panjang rok, lebar rok, kembang rok (jika rok kembang) dan kerutan rok (jika rok dikerut). Begitu juga dengan desain celana, pahami desain celana, ukuran celana, lebar celana atau besar celana dan lain sebagainya. 3. Pahami letak jatuh pakaian pada badan. Bahan atau kain yang cocok untuk sebuah desain dapat dilihat dari letak jatuh pakaian pada badan. Hal ini dapat diamati pada bagian sisi atau bagian bawah pakaian. Jika dilihat pada bagian sisi, bahan yang jatuhnya lurus ke bawah atau agak kaku dapat diperkirakan bahannya tebal dan kaku. Sebaliknya jika jatuh bahan mengikuti bentuk tubuh berarti bahan yang digunakan bahan yang tipis atau melangsai. Begitu juga jika dilihat pada bagian bawah rok/pakaian. Bagian bawah rok yang terlihat agak bergelombang, maka bahan yang digunakan tipis atau melangsai sebaliknya bagian bawah yang lurus dan terlihat agak kaku, berarti menggunakan bahan yang agak tebal dan kaku. Agar dapat menganalisa bentuk tubuh dan model pakaian dengan baik dan benar diperlukan latihan yang banyak sehingga memudahkan 323

336 kita dalam membuat pecah pola busana yang sesuai dengan desain. Berikut ini dapat dilihat pecah pola beberapa model rok, blus dan celana. B. Pecah Pola Rok Sesuai Desain Rok merupakan bagian pakaian yang dipakai mulai dari pinggang melewati panggul sampai ke bawah sesuai dengan keinginan. Biasanya rok dipakai sebagai pasangan blus. Desain rok cukup bervariasi baik dilihat dari ukuran panjang rok maupun dari siluet rok. Berdasarkan ukuran panjangnya, rok dapat dibagi atas : 1. Rok micro yaitu rok yang panjangnya sampai batas pangkal paha. 2. Rok mini yaitu rok yang panjangnya sampai pertengahan paha atau 10 cm di atas lutut. 3. Rok kini yaitu rok yang panjangnya sampai batas lutut. 4. Rok midi yaitu rok yang panjangnya sampai pertengahan betis. 5. Rok maxi yaitu rok yang panjangnya sampai mata kaki. 6. Rok floor yaitu rok yang panjangnya sampai menyentuh lantai. Berdasarkan siluet/bentuk rok, desain rok dapat dibedakan atas : 1. Rok dari pola dasar, merupakan rok yang modelnya seperti pada pola dasar tampa ada lipit atau kerut. Rok biasanya menggunakan ritsluiting pada bagian tengah muka atau tengah belakang. 2. Rok span dan semi span, rok span merupakan rok yang bagian sisi bawahnya dimasukkan 2 sampai 5 cm ke dalam sehingga terlihat kecil ke bawah, sedangkan rok semi span merupakan rok yang bagian sisinya lurus ke bawah atau bagian bawah sama besarnya dengan bagian panggul. 3. Rok pias, nama dari rok pias tergantung jumlah pias atau potongan yang dibuat, misalnya rok pias 3, rok pias 4, rok pias 6 dan seterusnya. 4. Rok kerut yaitu rok yang dibuat dengan model ada kerutan mulai dari batas pinggang atau panggul sehingga bagian bawah lebar. 5. Rok kembang atau rok klok, yaitu rok yang bagian bawahnya lebar. Rok ini dikenal dengan rok kembang, rok lingkaran dan rok ½ lingkaran. 6. Rok lipit, rok lipit ada 3 yaitu rok lipit pipih, rok lipit hadap dan rok lipit sungkup. Rok lipit pipih yaitu rok yang lipitannya dibuat searah seperti rok sekolah murid SD. Rok lipit hadap yaitu rok yang lipitnya dibuat berhadapan, baik pada bagian tengah muka, tengah belakang atau diatur beberapa lipitan pada sekeliling rok. Sedangkan rok lipit sungkup yaitu rok yang lipitnya dibuat berlawanan arah. Misalnya lipit yang satu dibuat kekanan dan yang satu lagi dibuat arah ke kiri. Lipit ini juga sama dengan lipit pada bagian dalam atau bagian buruk bahan pada lipit hadap. 7. Rok bertingkat yaitu rok yang dibuat beberapa tingkat. Rok ini ada yang dibuat 2 atau 3 tingkat yang diatur panjangnya. Umumnya bentuk rok ini sering dijumpai pada busana anak-anak. 324

337 Berikut ini dapat dilihat beberapa pecah pola rok sesuai dengan desain dan kesempatan pemakaiannya. Desain 1. Rok span Rok span sering dipakai untuk pasangan blus atau jas dan blazer yang dipakai untuk busana kerja. Gambar 165. Pecah pola rok span Keterangan : Tarik garis lurus dari panggul ke bawah, pada bagian bawah rok masukkan 2 sampai 5 cm ke dalam dari batas garis tersebut lalu hubungkan ke garis panggul. Bagian bawah rok akan terlihat lebih kecil dari pada garis lingkar panggul. Desain 2. Rok semi span Sama dengan rok span, rok semi span juga sering dipakai untuk pasangan blus atau jas dan blazer yang dipakai untuk busana kerja. Panjang rok bervariasi mulai dari selutut, sampai betis atau sampai mata kaki. 325

338 Gambar 166. Pecah Pola Rok Semi Span Keterangan : Tarik garis lurus dari panggul ke bawah lalu hubungkan ke garis panggul. Bagian bawah rok akan terlihat sama besar dengan garis lingkar panggul. Desain 3. Rok dengan lipit hadap Rok dengan lipit hadap biasanya dibuat untuk busana sekolah bagi siswa SLTP atau SLTA. Model rok ini juga sering dibuat untuk rok pasangan baju kurung. a a Gambar 167. Pecah Pola Rok Lipit Hadap 326

339 Keterangan : a = besar lipit sesuai dengan yang kita inginkan. Biasanya sekitar 5-10 cm. Jika besar lipit yang diinginkan 8 cm maka untuk seluruh lipit dibutuhkan kain 8 cm x 4 bh = 32 cm. Jadi lipit kanan membutuhkan 16 cm dan lipit kiri membutuhkan 16 cm juga. Lipit disusun berhadapan. Tengah muka diletakkan pada lipatan kain dan tengah belakang pada tepi kain. Rok pias Rok pias dapat dipakai untuk busana sehari-hari baik untuk kesempatan santai di rumah maupun santai di taman. Desain 4. Rok pias dua yang dikembangkan Gambar 168. Pecah pola rok pias dua dikembangkan 327

340 Keterangan : Rok pias 2 ini sama dengan rok model A yang mana bagian yang dipecah tidak diputus tetapi hanya dikembangkan. Besar pengembangan disesuaikan dengan model yang diinginkan, biasanya 3 5 cm. Jika kup tidak digunakan maka pada bagian sisi pinggang dikurangi sebesar kup yang dihilangkan tersebut. Desain 5. Rok pias enam Gambar 169. Pecah pola rok pias enam 328

341 Keterangan : Rok pias enam merupakan rok yang jumlah piasnya 6 buah terdiri atas 3 buah pias di bagian muka dan 3 buah pias pada bagian belakang. Untuk mengembangkan pola terlebih dahulu tandai bagian yang akan digunting atau dipecah. Pola depan di bagi menjadi 2 bagian, bagian sisi merupakan 1/3 lebar rok depan. Kemudian gunting bagian pola yang di tandai tersebut dan dikembangkan. Besar pengembangannya atau (tanda a pada gambar di atas) disesuaikan dengan desain, bisa 3-7 cm. Begitu juga dengan pola belakang, caranya sama dengan pecah pola bagian depan rok. Desain 6. Rok dengan lipit sungkup a a Gambar 170. Pecah pola rok lipit sungkup Keterangan : Lipit sungkup merupakan kebalikan dari lipit hadap, arah lipit dibuat berlawanan sehingga pada bagian baik bahan terlihat lipitannya. Lipit ini biasanya dijahit kecil pada bagian tepi lipitan. Jika lipit sungkup dibuat pada bagian depan atau pada garis kup depan maka pada bagian kup tersebut digunting lurus ke bawah, kemudian dilebarkan sebesar lipit yang diinginkan. Jika besar lipit 6 cm, maka besar tanda a pada gambar = 2 x 6 = 12 cm. Jadi untuk lipit sungkup ini dilebarkan 2 x 12 cm atau 24 cm. 329

342 Desain 7. Rok kerut a a a a Gambar 171. Pecah pola rok kerut Keterangan : Rok kerut sering dibuat untuk pakaian pesta anak dan remaja, pakaian sehari-hari dan pakaian santai. Untuk membuat rok kerut terlebih dahulu pola dibagi menjadi beberapa bagian. Untuk pedoman mengembangkan pola jangan lupa pindahkan tanda garis lingkar panggul sebagai pedoman. Besar pengembangan pola (tanda a pada gambar) disesuaikan dengan model dan lebar kain yang digunakan. Pola dikembangkan dengan tetap menjaga garis pedoman (garis lingkar panggul) tetap lurus. Kemudian hubungkan masing-masing pecah pola tersebut. Adakalanya bagian sisi tidak diputus, maka dapat disatukan dengan bagian sisi belakang dan bagian sisi ini diluruskan. C. Pecah Pola Blus Sesuai Desain Blus merupakan pakaian yang dikenakan pada badan atas sampai batas pinggang atau ke bawah hingga panggul sesuai dengan yang diinginkan. Blus dapat dipasangkan dengan rok atau celana. Secara garis besar blus dibedakan menjadi 2 yaitu : 1. Blus luar yaitu blus yang dipakai diluar rok atau celana. 2. Blus dalam yaitu blus yang pemakaiannya dimasukkan kedalam rok atau celana. Biasanya blus seperti ini mempunyai model lurus sampai batas panggul dan adakalanya juga lebih longgar dibanding blus luar. Berikut ini beberapa model blus dan pecah polanya : Desain 1 330

343 Blus luar dengan kerah ½ rebah, memakai garis princes dari bahu melewati kup dan lengan suai pendek. Panjang blus ± 10 cm dari garis panggul. Panjang lengan ± 25 cm dan krah pas pada garis leher dasar. Pakaian ini dapat dipakai untuk kesempatan resmi seperti ke kantor. Pola blus Gambar 172. Pecah pola blus Keterangan : Pertama-tama pola dasar rok dan badan disatukan. Untuk membuat garis princes pada pola depan terlebih dahulu tutup kup sisi dan bentuk garis princes dari pertengahan bahu melewati puncak dada dan kup pinggang dan luruskan dari kup ke bawah. Tambahkan tengah muka 2 cm untuk lidah belahan dan 4 cm untuk lapisan ke bagian dalamnya. Turunkan bagian sisi ketiak 1 cm dan keluarkan 1 cm, bentuk sampai batas panggul. Pada sisi bawah blus dikeluarkan 2 cm untuk melebarkan bagian bawah blus. Untuk pola belakang sama dengan pola depan yang mana bagian sisi pada ketiak diturunkan 1 cm dan dikeluarkan 1 cm. Bagian pinggang dikeluarkan 1 cm dan bagian sisi bawah blus dikeluarkan 2 cm kemudiian hubungkan garis tersebut. 331

344 Pola lengan dan kerah Pola kerah ½ rebah Pola lengan Lingkar leher -1 ½ Gambar 173. Pecah pola kerah dan pola lengan Keterangan : Untuk membuat pola kerah lihat gambar di atas. Ukuran lingkar leher diperoleh dari ukuran leher depan sampai batas tengah muka ditambah ukuran leher belakang. Buat pola dengan ukuran seperti pada gambar. Pola lengan dibuat sama dengan cara membuat pola dasar lengan tetapi ukuran lingkar kerung lengan disesuaikan dengan lingkar lengan yang sudah dirobah. Desain 2 Blus luar dengan belahan asimetris ± 7 atau 8 cm dari garis tengah muka, panjang blus ± 25 cm dari garis pinggang atau 10 cm dari garis panggul. Memakai kerah board dan lengan kop poff dengan panjang ¾ lengan. Pada ujung lengan ada bis yang ujungnya diikat. Mempunyai kup pinggang dan kup sisi. Gambar 174. Pecah pola blus belahan asimetris 332

345 Keterangan : Hubungkan pola dasar rok dengan pola dasar badan. Tambahkan bagian tengah muka 2 cm untuk lidah belahan. Untuk belahan asimetris atau overslah, dibentuk dari garis leher ke arah tengah muka. Besar overslah ini disesuaikan dengan model atau lebih kurang 7 atau 8 cm. Bentuk garis tersebut sampai ke batas pinggang seperti terlihat pada gambar. Untuk lapisan tengah muka di buat 4 5 cm. Pada bagian sisi atas blus atau bagian ketiak, diturunkan 1 cm dan dikeluarkan 1 cm. Pada pinggang dikeluarkan 1 cm, panggul 1 cm dan bagian bawah baju 1 ½ - 2 cm, kemudian dibentuk. Pola bagian belakang sama halnya dengan pola depan. Pada bagian sisi dilonggarkan sama dengan pola depan. Gambar 175. Pecah pola lengan Keterangan Gunting pola lengan pada garis tengah lengan lalu lebarkan 5 cm dan naikkan 3 cm. Kemudian bentuk pada bagian puncak lengan. Semakin tinggi dinaikkan pada puncak lengan maka kerutan pada puncak lengan akan semakin tinggi pula dan semakin lebar dilebarkan pola maka semakin banyak kerutan pada puncak lengan. Untuk pembuatan pola kerah dapat dilihat pada gambar Panjang kerah = ½ lingkar leher pada pola badan. Desain 3 Blus dalam atau blus yang dimasukkan ke dalam rok, menggunakan kerah setali model runcing, lengan kop pendek ± 30 cm dan belahan memakai kancing. Garis leher turun ± 8 cm. Panjang blus ± 25 cm karena dilebihkan untuk gelembung pada pinggang. 333

346 Gambar 176. Pecah pola blus yang dimasukkan ke dalam 334

347 Keterangan : Untuk kelonggaran blus pada sisi baju atau pada ketiak diturunkan 2 cm dan dikeluarkan 3 cm sama dengan pada bagian panggul. Untuk membuat kerah setali pada tengah muka dikeluarkan 2 cm untuk lidah belahan. Untuk membentuk kerah pertama-tama dibuat garis patahan kerah dengan cara turunkan dari garis leher dasar ke bawah 8 cm pada garis TM. Panjang kerah belakang = ½ lingkar leher belakang. Lebar kerah ± 7 cm. Bentuklah kerah seperti pada gambar. Lapisan kerah dan tengah muka dibuat dari garis bahu sampai bawah blus mengikuti bentuk kerah dengan lebar 3 cm pada garis bahu dan 8 cm pada bagian bawah blus. Bentuklah seperti terlihat pada gambar. D. Pecah Pola Celana Sesuai Desain Celana adalah pakaian bagian bawah yang dipakai mulai dari pinggang melewati panggul sampai ke bawah sesuai yang diinginkan dan berbentuk pipa yang berguna untuk memasukkan kaki. Celana untuk wanita biasa disebut dengan slack sedangkan celana untuk pria disebut dengan pantalon. Berdasarkan siluet dan panjangnya celana dapat dibedakan menjadi 8 macam yaitu : 1. Celana short atau hot pant yaitu celana pendek atau yang panjangnya sampai pertengahan paha. 2. Celana bermuda yaitu celana yang panjangnya lebih kurang 10 cm di atas lutut. 3. Cullotte yaitu celana rok dengan bentuk agak melebar ke bawah 4. Knikers yaitu celana yang menggelembung dengan kerut dibagian pinggang dan bagian bawah celana diberi manset. Panjangnya lebih kurang 10 cm dibawah lutut. 5. Jodh pure adalah celana dengan siluet Y, menggelembung pada bagian atas dan menyempit ke bawah dan panjangnya sampai batas lutut. Jika panjangnya sampai mata kaki disebut dengan celana baggy. 6. Legging yaitu celana pas kaki yang biasanya dibuat dari bahan yang stretch atau lentur dan panjangnya sampai mata kaki. 7. Capri yaitu celana yang panjangnya di atas mata kaki dan bagian bawah diberi belahan lebih kurang 20 cm. 8. Bell botton yaitu celana dengan panjang sampai mata kaki atau menutup mata kaki dan melebar dari lutut ke bawah. Celana ini biasanya disebut dengan cutbray. Berikut ini dapat dilihat beberapa teknik pecah pola celana sesuai dengan model di atas. Model 1. Celana model jodh pure Celana bersiluet Y, menggelembung pada bagian atas dan menyempit ke bawah dan panjangnya sampai batas lutut. Jika panjangnya sampai mata kaki disebut dengan celana baggy. 335

348 Gambar 177. Pecah pola model jodh pure Keterangan : Celana digunting pada garis panggul dan garis tengah celana sampai batas lutut. Tarik ke luar bagian pola yang sudah digunting. Besar pelebaran celana pada garis tengah celana 5 cm. Bentuklah bagian sisi celana mengikuti pola yang sudah dilebarkan tersebut. Pecah pola celana 336

349 bagian belakang sama dengan bagian depan. Celana model ini cocok digunakan untuk pakaian santai. Desain 2. Celana model bell botton Celana ini panjangnya sampai mata kaki atau menutup mata kaki dan melebar dari lutut ke bawah. Celana ini biasa disebut dengan cut bray. Gambar 178. Pecah pola calana bell bolton 337

350 Keterangan : Teknik pecah pola depan dan pola belakang sama. Pertama-tama guntinglah bagian ujung celana sampai batas lutut menjadi 3 bagian. Masing-masing bagian tersebut dilebarkan ± 5 cm sehingga bagian ujung celana menjadi lebar. Bentuklah pola mengikuti pola yang sudah dilebarkan. Model 3. Celana model knikers Celana model ini menggelembung dengan kerut dibagian pinggang dan bagian bawah celana, pada ujung bawah celana diberi manset. Panjang celana ± 10 cm dibawah lutut. Gambar 179. Pecah pola calana krikers 338

351 Keterangan : Pertama-tama tandai batas panjang celana, kemudian gunting celana mengikuti garis tengah celana. Masing-masing bagian yang digunting, dilebarkan 10 cm agar celana lebih longgar dan untuk mendapatkan kerutan pada ujung celana. Bentuklah pola mengikuti bagian yang dilebarkan tersebut. Pecah pola muka sama dengan pecah pola belakang. Model 3. Celana bermuda Celana model ini panjangnya lebih kurang 10 cm diatas lutut. Gambar 180. Pecah pola celana Bermuda Keterangan : Untuk celana model di atas, cukup dipendekkan saja sesuai dengan desain yang mana celana ini panjangnya 10 cm di atas lutut. Celana model ini biasanya di pakai untuk kesempatan santai. Dengan memakai 339

352 bahan tertentu seperti bahan stretch atau elastis dapat dipakai untuk kesempatan olah raga. Kompetensi yang diharapkan dari materi di atas adalah : siswa dapat membuat pecah pola busana wanita sesuai dengan desain dan kesempatan pemakaian, baik berupa rok, blus dan celana Evaluasi : Petunjuk : Jawablah pertanyaan di bawah ini dengan singkat dan jelas. 1. Sebelum merobah pola sesuai dengan model atau desain ada beberapa hal yang perlu dilakukan! 2. Sebutkan dan jelaskanlah beberapa model rok berdasarkan ukuran panjangnya! 3. Buatlah analisa desain dan pecah pola pada gambar gambar berikut ini : Gambar (a) Gambar (b) Gambar (c) *** Selamat Belajar *** 340

353 BAB IX MEMOTONG, MENJAHIT, PENYELESAIAN (CUTTING, SEWING, FINISHING) A. Menyiapkan Tempat Kerja Tempat kerja merupakan bagian yang penting dalam suatu usaha, secara tidak langsung tempat kerja akan berpengaruh pada kesenangan, kenyamanan dan keselamatan dari para siswa/pekerja. Keadaan atau suasana yang menyenangkan (comfortable) dan aman (safe) akan menimbulkan gairah produktivitas kerja. Menyiapkan tempat kerja untuk memotong bahan berbeda dengan tempat kerja menjahit dengan tangan ataupun dengan mesin. Suatu tempat kerja yang diatur teliti dengan mengingat tertib kerja dan rasa keindahan, akan menyebabkan siswa/pekerja yang sedang melakukan kegiatan memotong bahan akan bekerja dengan perasaan senang. Tempat kerja yang dimaksud adalah yang ergonomik dengan kata lain tempat kerja yang sesuai dengan kebutuhan. Alat seperti meja potong, bahan/kain yang akan dipotong dan alat-alat potong lainnya yang diperlukan disusun sesuai dengan urutan proses kerja dalam menyelesaikan suatu potongan. Fasilitas yang harus disediakan adalah : Ruang kerja untuk memotong bahan, almari tempat bahan dan tempat alat potong serta tempat khusus untuk menyimpan bahan yang telah dipotong dan yang tidak kalah pentingnya adalah tempat sampah/tempat sisa-sisa potongan. Memotong bahan dengan menggunakan mesin potong membutuhkan tempat kerja yang berbeda dengan memotong bahan menggunakan gunting biasa yang dilakukan secara manual. Memotong bahan dengan gunting biasa tempat yang dibutuhkan cukup dengan menggunakan meja potong yang sederhana. Sedangkan untuk memotong bahan dengan mesin potong tempatnya disesuaikan dengan jenis dan besarnya mesin potong yang dipakai. Biasanya meja yang digunakan untuk memotong bahan pada produksi massal adalah: 1. Meja dengan ukuran yang lebih besar. Lebarnya minimal 1,5 m dan panjangya minimal 3 m sesuai dengan besar kecilnya kapasitas produksi. 2. Gunting khusus untuk konveksi (round knife, band knife, double knife, straight knife). Tempat potong untuk perorangan lebih sederhana dari pada untuk memotong secara massal. Meja potong untuk perorangan cukup dengan meja berukuran 2 m x 0,8 m. Di sekolah/workshop tempat bekerja untuk memotong bahan, lay outnya disesuaikan dengan jumlah siswa dan besar ruangan. Jumlah siswa setiap kelas praktek berkisar antara 16 s.d 20 orang. Ukuran yang ideal untuk setiap siswa membutuhkan tempat seluas 4 s.d 5 meter bujur sangkar, karena setiap siswa membutuhkan satu meja dan satu mesin jahit serta satu loker untuk menyimpan alat-alat 332

354 jahit dan alat lainnya. Semua alat haruslah tertata dengan rapi dan efisien begitu pula dengan alat-alat kecil harus tersedia dalam sebuah kotak. Ruang kerja yang perlu diperhatikan adalah ruang kerja yang sesuai dengan kebutuhan, rapi dan menyenangkan sehingga tidak menimbulkan kebosanan. Untuk sebuah perusahaan konveksi yang mempunyai karyawan dalam jumlah banyak sangat diajurkan agar disediakan tempat istirahat atau tempat olahraga ringan di ruangan kerja tersebut. Tempat berbaring disebuah ruangan terpisah untuk pekerja yang ingin melemaskan otot punggung, selain dari itu juga kamar kecil dan kamar ganti atau kamar rias sekedarnya harus pula disediakan. Perlu juga disediakan sebuah kantin, mushala, dan tempat berobat. Dan yang sangat penting diperhatikan adalah kebersihan seluruh tempat kerja dan juga tempat lainnya sehingga karyawan merasa betah dan nyaman dalam melakukan aktifitas sehari-hari. Beberapa manfaat yang dapat diambil dari penerapan tempat kerja yang sesuai dengan konsep budaya kerja, diantaranya: 1. Tempat kerja menjadi lebih teratur dan efisien, sehingga bila ingin melakukan diversifikasi produk lebih mudah. 2. Tempat kerja, mesin-mesin dan peralatan yang teratur dan bersih siswa/pekerja akan termotivasi untuk datang ketempat kerja, sehingga ketidak hadiran dapat dikurangi. 3. Tempat kerja yang terorganisir dan bersih akan lebih meningkatkan semangat kerja siswa untuk menghasilkan produk yang baik. 4. Tempat kerja yang teratur secara rapih dan bersih akan mengurangi resiko terjadinya kecelakaan di tempat kerja, dapat menghasilkan proses pemotongan bahan yang tepat waktu. B. Menyiapkan Bahan 1. Memilih bahan Bahan atau tekstil mempunyai aneka ragam jenis dan sifatnya. Akibat proses pembuatan yang berlainan dan bahan mentah (asal bahan) serta zat pelarutnya yang berbeda, menyebabkan ciri-ciri dan sifat bahan bebeda pula, ada yang kaku, ada yang melansai, yang lembut, lemas, berat, ringan, tebal, tipis, transparan dan sebagainya. Untuk itu pembelian bahan atau tekstil harus dilakukan oleh seorang yang ahli dibidang tekstil. Pembelian kain yang sesuai dengan kebutuhan akan menghindarkan dari kelambatan dalam pemotongan. Pada waktu pembelian kain, spesifikasi mutu kain harus dinyatakan dengan jelas. Spesifikasi mutu kain tersebut antara lain adalah : a) Dimensi, meliputi ukuran panjang, lebar, berat dan mungkin tebal kain, termasuk toleransinya. b) Jumlah dan jenis cacat yang diperbolehkan tiap unit, termasuk cara penilaiannya dan lembaga penilai yang ditunjuk jika terjadi perbedaan pendapat. 333

355 c) Rincian konstruksi dan sifat kain yang diminta, didasarkan pada laporan uji. Di samping hal di atas, keserasian antara bahan dengan desain busana sangat perlu diperhatikan. Siluet pakaian menjadi pertimbangan sebelum kita memilih bahan, apakah sesuai untuk desain pakaian berkerut, berlipit atau mengembang. Caranya, bahan digantungkan memanjang dengan dilipit-lipit untuk memperhatikan jatuhnya, begitu pula untuk memperhatikan kasar halusnya kita raba dan beratnya kita timang apakah syarat-syarat pada desain telah terpenuhi. Permukaan bahan (tekstur) ada empat karakter: 1) Bila dilihat dari efek pantulan cahaya dari bahan misalnya berkilau atau kusam; 2) Jika diraba terasa kasar atau halus; 3) Kalau dipegang terasa berat, ringan, tipis dan kaku; 4) Kesan pada penglihatan adalah mewah atau sederhana. Setiap tekstur mempunyai pengaruh terhadap penampilan suatu busana dan bentuk badan sipemakai, bahan yang berat atau tebal akan menambah bentuk. Bahan yang berkilau akan menambah besar dari pada bahan tenunan yang permukaan kusam, seperti bahan satin akan memperbesar bentuk badan dari pada bahan Cape. Maka dari itu kita perlu memilih bahan yang tepat. Jika suatu desain memerlukan efek mengembang, pilihlah bahan busana yang dapat membentuk gelembung dengan wajar. Sebaliknya bila suatu desain memperlihatkan kelembutan perhatikanlah jangan memakai bahan yang kaku. Bahan tekstil yang bercorak atau bermotif juga akan ikut berperan membentuk kesan tertentu pada busana atau sipemakainya. Penyesuaian karakter motif seperti garis-garis atau kotak kotak akan memberikan kesan kaku. Maka dari itu desain mengarah kepada kesan sportif, begitu pula dengan bulatan maka lebih mengarah pada lengkung. Untuk itu dalam menyiapkan bahan perlu disesuaikan dengan desain, bentuk tubuh, usia, jenis pakaian serta kesempatan sipemakai. 2. Memeriksa bahan Memeriksa bahan sebelum dibeli sangat perlu dilakukan. Biasanya untuk memastikan sifat kain perlu dilakukan pengujian. Ujiuji yang dilakukan disesuaikan dengan tujuan pemakainya, beberapa pengujian kain yang umum dan biasa dilakukan antara lain adalah : a. Warna, kesesuaian warna dan tahan luntur warna terhadap pencucian, keringat, gosokan, sinar matahari, terhadap penyetrikaan, gas tertentu dan air laut. b. Kestabilan dimensi kain dalam pencucian c. Ketahanan kusut dan sifat langsai (drape) termasuk sifat kain yang tidak memerlukan penyetrikaan setelah pencucian (sifat durable press). 334

356 d. Kekuatan tarik, sobek dan jebol. e. Tahan gesekan dan pilling, terutama untuk serat sintetik f. Sifat nyala api, sebelum atau sesudah beberapa kali pencucian. g. Lengkungan dan kemiringan benang pada kain. h. Penyerapan atau tolak air kain sesuai penggunaan. Disamping memeriksa bahan sebelum membeli, juga diperlukan memeriksa bahan sebelum dipotong, terlebih terhadap kain yang dibeli dalam bentuk kayu/gulung. Disamping itu juga sangat diperlukan memeriksa bahan dengan mempertimbangkan segi ekonomis dan psikologisnya, hal-hal yang perlu diperhatikan adalah : a. Kesesuaian bahan dengan desain. b. Berapa ukuran bahan agar bisa dibuat rancangan bahan atau marker, sesuai dengan ukuran bahan. c. Pemeriksaan cacat kain, baik cacat bahan, cacat warna atau pun cacat printing, maka yang cacat supaya ditandai dan dihindari waktu menyusun pola perseorangan. d. Apakah bahannya menyusut, kalau menyusut direndam terlebih dahulu agar nanti setelah dipakai dan dicuci ukuran tidak berubah atau bajunya tidak sempit. e. Apakah bahan yang ada sesuai dengan kesempatan sipemakai, sesuai dengan usia, jenis kelamin, bentuk tubuh, warna kulit dan lain sebagainya. f. Produksi massal supaya ditandai atau bila perlu dipotong agar tidak masuk kedalam penggelaran bahan. g. Penggelaran bahan bahan dilakukan panjangnya berdasarkan marker. Pernyataan di atas mengingatkan kepada kita semua bahwa, sebelum membuat busana terlebih dahulu kita hendaklah membuat perencanan, dengan perencanaan yang baik diharapkan hasil akan baik. Perencanaan busana dituangkan dalam bentuk desain atau model busana. Hal-hal yang perlu dipertimbangkan dalam mendesain busana adalah: 1. Bentuk tubuh si pemakai, seperti langsing, gemuk pendek, tinggi langsing dan sebagainya. Dalam mendesain busana untuk model dengan tipe tersebut hendaklah dapat mengatasi masalah-masalah tubuh, seperti bagian yang kurang sesuai dapat disembunyikan sehingga tertutupi kelemahannya. 2. Kesempatan Kesempatan yang dimaksud disini adalah busana untuk kesempatan kerja, busana pesta, busana sehari-hari, dan sebagainya. Mendesain busana untuk pesta hendaklah desainnya kelihatan memberi kesan lebih mewah dan untuk busana kerja diharapkan dapat memberi kesan resmi dan nyaman. 335

357 a. Desain Busana Kalau akan membuat busana terlebih dahulu tentukanlah desain busana itu sendiri. Desain dapat dirancang sendiri ataupun dengan mengambil/memilih desain dari majalah. Sebagai seorang penata atau pengelola busana harus dapat memahami atau membaca desain busana itu sendiri, untuk itu diperlukan pengetahuan dasar dan latihan-latihan menyimak model dan mengkonstruksi pola sesuai dengandesain. Masalah yang sering terjadi dilapangan adalah tidak tepatnya hasil pakaian dengan desain yang diharapkan. Ini disebabkan tidak benarnya cara merubah pola dasar sesuai dengan desain. Kesalahan teknis mengubah pola akan mengakibatkan pakaian tidak sesuai dengan desain, hasilnya bisa lebih buruk dan juga bisa lebih baik, tetapi yang jelas sudah tidak sesuai dengan yang diminta, inilah yang sering membuat konsumen merasa kecewa. Untuk itu marilah dipahami terlebih dahulu analisa desain dan konstruksi pola serta dapat mengenal ciri-ciri desain. b. Analisa Desain Dalam menganalisa desain kita bisa mengamati dari gejala-gejala atau ciri-ciri dari desain itu sendiri seperti : 1) Gejala perspektif Desain apakah berupa sketsa atau foto, ada yang lurus kedepan, sikap dengan gaya menyamping ataupun sikap membelakangi lensa, dengan gaya tersebut satu desain pakaian ada kala dapat dilihat dengan jelas dan ada kalanya meragukan terutama pada saat menoleh ke kiri atau ke kekanan, jika desain seperti ini jika diperhatikan maka bagian kiri atau kanannya tidak sama, bagian yang dekat dengan mata lebih besar dari pada yang letaknya agak jauh, semakin jauh jarak semakin kecil letaknya. Hal ini disebabkan gejala perspektif dalam pandangan mata, sedangkan bila dilihat lurus kedepan bagian kiri dan kanan sama. Jadi dalam menganalisa model hal-hal tersebut di atas perlu diperhatikan agar tidak salah dalam memahami desain. 2) Siluet Dengan melihat dan mengamati siluet dari busana kita dapat menaksir dan menentukan wujud bahan dari busana itu sendiri. Siluet yang tegang dan mengembang dengan garis sisi yang lurus, menandakan bahannya tebal dan kaku, bila sisinya lengkung atau bawah baju/rok agak bergelombang maka bahan yang digunakan adalah lembut. Siluet yang melangsai kebawah selain menandakan bahannya lembut juga dapat dilihat arah benangnya yang memanjang 336

358 kebawah dan bila lebih bergelombang pinggirnya berarti arah benang diagonal dan sebagainya. 3) Teknik penyelesaian busana. Teknik penyelesaian suatu busana sangat menentukan kualitas dari busana itu sendiri, kesalahan dalam menganalisa desain akan menjadi kesalahan dalam teknik penyelesaiannya. Seperti ada desain dengan kantong klep, kemudian dibuat dengan klep palsu (tanpa kantong), dilihat dari bentuk sama tapi kualitas dari busana itu sendiri akan turun dari yang semestinya. 4) Warna dan corak bahan Gambar desain pada majalah mode tidak selalu memakai warna sehingga penyimak mode perlu menaksir warna dan corak untuk suatu desain. Sebaiknya kita mencari suatu desain yang cocok untuk bahan yang telah kita beli. Misalnya desain busana yang ramai kita kombinasikan dengan warna yang lembut sehingga lebih serasi dengan corak dan warna yang menyolok. 5) Ciri-ciri desain Ciri-ciri khusus pada busana dapat kita amati untuk menentukan desain yang benar karena terlihat sama atau serupa tapi sebenarnya konstruksinya berbeda, seperti desain berikut: 1). Kerah setali dengan kerah river, perbedaannya terletak pada garis sambungan pada kerah bagian muka dan kalau dilihat dari belakang yaitu pada kerah tengah belakang mempunyai sambungan untuk kerah setali, sedangkan kerah river tidak mempunyai sambungan.2) Ciri-ciri blus yang mempunyai kampuh pinggang dan yang tidak berkampuh pinggang. Ciri ciri blus yang berkampuh pinggang dibawah ikat pinggang terdapat lipit kup atau kerutan, diatasnya polos. Untuk yang tidak memakai kampuh pinggang di atas ataupun dibawah ikat pinggang sama, pakai kerutan atau tanpa kerutan dan pakai lipit atau tidak pakai lipit. 6) Analisa desain dan konstruksi. Merobah pola dasar menjadi pola busana sesuai dengan desain tertentu terdapat pada cara memindahkan lipit pantas (lipit kup) pola dasar wanita dewasa, karena lipit pantas ini merupakan aset dalam pecah pola atau merobah pola. Begitu pula mengkonstruksi pola pakaian sesuai dengan desain dapat dengan memindahkan lipit pantas sehingga menjadi desain yang baru atau menjadi garis hias seperti garis princes, garis empire serta garis hias lainnya. Memecah lipit pantas pada rok dan mengembangkannya menjadi rok model A. Begitu pula dengan bentuk kerah, bentuk lengan dan sebagainya. 337

359 Amatilah desain di bawah ini, lalu dianalisa dan kita coba bagaimana membuat konstruksinya. Desain 338

360 7) Analisa desain Gaun ini mempunyai garis pas empire, lipit kup dijadikan kerutan dibawah buste (buah dada). Konstruksinya, lebih kurang 9 cm dari garis pinggang (½ panjang sisi) untuk pas pinggang kupnya dihilangkan. Memakai lengan kop, konstruksinya adalah; puncak lengan dipecah (digunting) dan dikembangkan. Kerah sanghai (kerah board). Rok model A, konstruksinya; lipit kup (lipit pantas) dilipatkan dan pada ujung kup digunting dan secara otomatis akan menjadi kembang ( terbuka ) setelah lipit kup ditutup. c. Pola Busana Pola busana adalah pola yang telah dirubah berdasarkan desain dari busana tersebut. Untuk membuat pola busana dapat dengan pengembangan, pecah pola, ataupun mengkostruksi pola berdasarkan model dan analisis model seperti pola blus yang terdiri dari pola blus muka, belakang, lengan, kerah dan perlengkapan lainnya seperti saku kalau ada sesuai dengan model, semua sudah lengkap dengan tanda-tanda pola seperti tanda arah benang, tanda lipatan, tanda kampuh dan sebagainya. Contoh lain pola celana yaitu: pola celana bagian muka, pola celana bagian belakang, saku, pola ban pinggang dan sebagainya. Begitu juga dengan model-model busana lainnya. C. Meletakkan Pola Di Atas Bahan 1. Rancangan bahan. Merancang bahan adalah memperkirakan banyaknya bahan yang dibutuhkan pada proses pemotongan. Rancangan bahan diperlukan sebagai pedoman ketika memotong bahan. Cara membuat rancangan bahan yaitu: a) Buat semua bagian-bagian pola yang telah dirobah menurut desain serta bagian-bagian yang digunakan sebagai lapisan dalam ukuran tertentu seperti ukuran skala 1:4. b) Sediakan kertas yang lebarnya sama dengan lebar kain yang akan digunakan dalam pembuatan pakaian tersebut dalam ukuran skala yang sama dengan skala pola yaitu 1:4. c) Kertas pengganti kain dilipat dua menurut arah panjang kain dan bagian-bagian pola disusun di atas kertas tersebut. Terlebih dahulu susunlah bagian-bagian pola yang besar baru kemudian pola-pola yang kecil agar lebih efektif dan efisien. d) Hitung berapa banyak kain yang terpakai setelah pola diberi tanda-tanda pola dan kampuh. Rancangan bahan diperlukan sebagai pedoman ketika memotong bahan. Bila rancangan bahan berbentuk marker yang dipakai untuk memotong bahan dalam jumlah banyak maka, sebelum 339

361 diletakkan di atas bahan, panjang marker dijadikan ukuran untuk menggelar bahan sebanyak jumlah yang akan diproduksi, atau disesuaikan dengan kemampuan alat potong yang digunakan. Metoda didalam perencanaan marker ini dapat dibedakan sebagai berikut: 1) Menggunakan pola dengan ukuran sebenarnya langsung diatas marker dengan jalan mengatur letak pola-pola agar didapat efisiensi marker yang terbaik. 2) Menggunakan pola yang diperkecil. Untuk memperkecil pola ini, digunakan peralatan antara lain, pantograph, meja skala dan kamera. 3) Menggunakan computer yang terintegrasi, yang terdiri dari: a) Digitizer, keyboard, mouse sebagai pemasok data. b) CPU sebagai pengolah data dan media penyimpanan. c) Monitor sebagai media pemantau d) Printer, plotter sebagai media pencetak. Metoda dalam penggambaran dan penggandaan marker dibedakan menjadi: 1) Digambar dengan tangan, mengikuti pola pada kertas. Pembuat marker meletakkan pola di atas kertas, lalu menggambar dengan mengitari pola untuk setiap pola dan masing-masing ukuran diberi kode. 2) Dengan perantara komputer. Pembuat marker tinggal memberi instruksi ke komputer untuk menggambarkan marker keatas kertas. Perintah ini diteruskan sampai marker digambar oleh plotter. Proses penggambaran dan penggandaan membutuhkan sedikit perhatian dari pembuat marker. 3) Digambar langsung ke kain/bahan, caranya dengan mengitari pola dan dengan spray marking. Merancang Bahan dan Harga Merancang bahan dan harga artinya memperkirakan banyaknya keperluan bahan serta biaya yang dibutuhkan untuk selembar pakaian. Merancang bahan dan harga ada dua cara : a) Dengan menghitung jumlah bahan secara global, kita dapat memperkirakan jumlah bahan yang terpakai atau yang akan digunakan untuk satu desain pakaian. Caranya dapat dilakukan dengan mengukur panjang bagian-bagian pola pakaian seperti, panjang blus/gaun, panjang lengan, panjang rok atau panjang celana dan ditambah kampuh setiap bagian pakaian. Disamping itu kita juga mempertimbangkan lebar kain yang digunakan dan membandingkannya dengan bagian pola yang terlebar dan letak masing-masing pola. Namun perhitungan secara global ini dapat 340

362 diaplikasikan untuk desain pakaian yang tidak terlalu rumit seperti rok, celana atau blus dengan desain yang sederhana. b) Membuat rancangan bahan dengan ukuran skala yaitu pola pakaian dibuat dengan ukuran skala, apakah skala 1;4, 1:2, 1:6 atau 1:8 atau dengan pola ukuran asli/ukuran sebenarnya dan kertas juga dipakai ukuran sebenarnya. Sesuaikan lebar bahan yang akan dipotong dengan lebar kertas yang dijadikan untuk rancangan bahan/kertas pengganti kain. Susun pola pakaian di atas kertas pengganti kain seefektif dan seefisien mungkin. 2. Tujuan membuat rancangan bahan dan harga a) Untuk mengetahui banyak bahan yang dibutuhkan sesuai desain busana yang akan dibuat. b) Untuk menghindari kekurangan dan kelebihan bahan. c) Sebagai pedoman waktu menggunting agar tidak terjadi kesalahan. d) Untuk mengetahui jumlah biaya yang diperlukan. 3. Cara membuat rancangan bahan dan harga; a) Buatlah semua bagian bagian pola yang telah dirobah b) menurut desain dalam ukuran tertentu seperti ukuran skala 1:4. Setiap pola dilengkapi dengan tanda tanda pola yaitu arah serat, tanda lipatan bahan, kampuh dan sebagai nya, dan juga siapkan bagian-bagian pola yang kecil seperti kerah, lapisan lapisan pakaian termasuk depun atau serip dan sebagainya; c) Sediakan kertas yang lebarnya sama dengan lebar kain yang akan digunakan dalam pembuatan pakaian tersebut seperti : kain dengan lebar 90 cm, 115 cm, atau kain dengan lebar 150 cm dalam ukuran skala yang sama dengan skala pola d) Kertas pengganti kain dilipat dua menurut arah panjang serat, susun dan tempelkan pola-pola tersebut di atas kertas pengganti kain sesuai dengan tanda tanda pola seperti tanda arah benang, tanda lipatan kain dan sebagainya, selain itu yang juga perlu diingat yaitu susunlah pola yang ukurannya paling besar, setelah itu baru menyusun bagian bagian pola yang lebih kecil dan terakhir menyusun pola yang kecil kecil, cara ini bisa membuat kita bekerja lebih efisien dan lebih efektif. Jika pola yang disusun belum memakai kampuh, ketika menyusun pola harus dipertimbangkan jarak antara masing-masing pola lalu diberi tanda kampuh pada setiap bagian pola tersebut. e) Jika semua pola telah diletakkan dan telah diberi tanda, ukurlah panjang bahan yang terpakai, sehingga dapat ukuran kain yang dibutuhkan/berapa banyak kain yang terpakai. 341

363 f) Hitung juga pelengkap yang dibutuhkan, seperti kain furing, ritsleting, pita/renda, benang, kancing baju, kancing hak dan lain sebagainya (sesuai desain) g) Hitunglah berapa banyak uang yang diperlukan untuk membeli bahan dan perlengkapan lainnya dalam pembuatan pakaian tersebut. Berikut ini dapat dilihat contoh rancangan bahan. Rancangan bahan dibawah ini kainnya dilipat, pola bagian belakang terletak pada lipatan kain, dan pola bagian depan terletak pada tengah muka yang dilipat selebar lebih kurang 5 cm, yang berguna untuk lidah belahan. Lengan panjang dan licin/lengan suai, kerah setengah berdiri. Desain ini memiliki garis prinses dari pertengahan lingkar lengan bagian muka, menuju garis kupnat dan terus sepanjang baju/blus. Pada bagian bawah adalah celana yang memiliki 2 buah kupnat pada bagian belakang dan 1 kupnat pada bagian depan. Untuk lebih jelasnya desain busana ini dapat dilihat pada BAB VII halaman x 2x 2x 1x 1x 2x 2x 1 1x Gambar 181. Contoh rancangan bahan 342

364 Untuk produksi massal bahan tidak dilipat dua tetapi dikembangkan, polanya juga dibuat lengkap (utuh) bukan sebelah, pola tersebut itulah yang disusun untuk membuat marker, dan marker ini selain untuk menghitung jumlah bahan, juga dipakai sebagai pedoman untuk ukuran penggelaran bahan (spreading). Setelah siap marker ditempelkan diatas spreading yang akan digunting. Persyaratan proses spreading yang baik adalah: a) Kerataan sisi tumpukan kain. b) Penanggulangan cacat kain c) Arah lapisan kain d) Tegangan lapisan kain e) Kemudahan dalam memisahkan antar lapisan hasil pemotongan f) Penghindari distorsikain pada saat penggelaran g) Penghindaran pelelahan pada saat pemotongan. Metoda penggelaran kain yang digunakan di industri pakaian jadi dapat dibagi dalam : 1). Penggelaran kain dengan tangan diatas meja datar; 2). Penggelaran kain dengan tangan dengan bantuan jarum kait; 3). Penggelaran kain dengan menggunakan mesin penggelar. D. Memotong Bahan Sesuai Pola Pakaian 1. Memotong (cutting) Memotong (cutting) bahan yang akan dijahit akan memberi pengaruh yang besar kepada pembuatan busana, jika salah potong akan menimbulkan kerugian baik dari segi biaya maupun waktu. Resiko ini berlaku untuk memotong busana perorangan atau pun untuk produksi massal. Bagian pemotongan mempunyai pengaruh yang besar pada biaya pembuatan garmen, karena di bagian pemotongan ini apabila terjadi kesalahan potong akan mengakibatkan potongan kain tersebut tidak bisa diperbaiki. Pada dasarnya, semua perusahaan garmen mempunyai alur proses produksi yang sama dalam menghasilkan potongan kain yang siap jahit, baik perusahaan kecil atau besar, hanya tingkat operasi teknologi saja yang berbeda. Tujuan pemotongan kain adalah untuk memisahkan bagianbagian lapisan kain sesuai dengan pola pada rancangan bahan/marker. Hasil potongan kain yang baik adalah yang hasil potongannya bersih, pinggiran kain hasil potongan tidak saling menempel, tetapi terputus satu dengan yang lainnya. Proses dalam memotong (cutting) adalah sebagai berikut: a) Menyiapkan tempat dan alat-alat yang diperlukan Alat-alat yang diperlukan yaitu berupa meja potong dengan ukuruan sekitar 2m x 0,8m; gunting / alat potong; alat untuk 343

365 memberi tanda seperti kapur jahit, rader, karbon jahit, pensil merah biru; dan alat bantu jarum pentul. b) Menyiapkan bahan 1) Memilih bahan Keserasian antara bahan dengan desain perlu diperhatikan sebelum memilih bahan serta perlu diuji daya lansainya, apakah sesuai untuk model pakaian berkerut, lipit atau mengembang. Caranya, bahan digantungkan memanjang dengan dilipit-lipit untuk memperhatikan jatuhnya bahan, serta untuk memperhatikan kasar halusnya bahan bisa dengan diraba apakah syarat-syarat pada desain terpenuhi. Jika desain memerlukan efek mengembang sebaiknya pilih bahan yang dapat membentuk gelembung dengan wajar. Sebaliknya jika desain memperlihatkan tekstur lembut maka jangan memakai bahan yang kaku. 2) Memeriksa bahan Sebelum bahan dipotong atau digunting perlu dilakukan pemeriksaan bahan. Hal-hal yang perlu diperhatikan adalah: Kesesuaian bahan dengan desain. Ukuran lebar kain agar bisa dibuat rancangan bahan. Pemeriksaan cacat kain seperti cacat bahan, cacat warna, ataupun cacat printing sehingga bisa ditandai dan dihindari saat menyusun pola Apakah bahannya menyusut. Jika menyusut sebaiknya bahan direndam agar setelah dipakai dan dicuci ukuran baju tidak mengalami perubahan. 3) Teknik menggunting Bahan dilipat dua di atas meja potong. Pola-pola disusun dengan pedoman rancangan bahan dengan bantuan jarum pentul. Menggunting bahan. Jika menggunting dengan tangan kanan maka tangan kiri diletakkan di atas kain yang akan digunting. Bahan tidak boleh diangkat pada saat menggunting. Pola yang terlebih dahulu digunting adalah pola-pola yang besar seperti pola badan dan pola lengan. Setelah itu baru menggunting pola-pola yang kecil seperti kerah dan lapisan leher. Sebelum pola dilepaskan dari bahan, beri tanda-tanda pola dan batas-batas kampuh terlebih dahulu. Caranya dengan menggunakan kapur jahit, rader dan karbon jahit, pensil kapur dan sebagainya. Cara pemakaian rader yaitu jika bahan baik keluar maka karbon dilipat dua dan bagian yang memberikan efek bekas dibagian luar diletakkan diantara dua bahan atau 344

366 bagian buruk bahan. Lalu dirader pada batas kampuh atau garis kupnat. Setelah itu baru pola dilepaskan dari kain. Alat potong yang digunakan ada beberapa jenis yaitu : pisau potong lurus (straight knife), mesin potong pisau bundar (round knife) atau menggunakan gunting biasa. Hasil pemotongan yang baik, adalah pemotongan yang tepat pada tanda-tanda pola dan tidak terjadi perobahan bentuk. Hal ini akan memudahkan dalam menjahit dan menghasilkan jahitan yang sesuai dengan kebutuhan/ukuran. Alat potong/gunting yang digunakan adalah gunting yang tajam dan jangan dipakai gunting yang tumpul. Jangan dibiasakan menggunakan gunting kain untuk menggunting kertas atau pun yang lainnya, juga perlu dijaga gunting jangan sampai jatuh karena akan mengakibatkan pergeseran mata gunting sehingga terasa tumpul atau tidak dapat berfungsi lagi. Alat potong untuk produksi massal, ada beberapa jenis yaitu: 1. Pisau potong lurus (straight knife) yang mempunyai 2 mata pisau, ukuran panjang mata pisau berfariasi 10 s.d 33 cm dengan gerakan naik dan turunnya 2,5 s.d 4,5 cm, makin besar gerakan pisau pemotong maka semakin cepat proses pemotongan dan lebih memudahkan operator dalam mendorong pisau tersebut dan bisa memotong kain lebih banyak. Pisau ini banyak digunakan oleh industri pakaian jadi. 2. Mesin potong pisau bundar (round knife) pisau ini hanya bisa memotong dalam jumlah sedikit/terbatas dan untuk pemotongan yang lurus. Bila digunakan untuk memotong jumlah yang banyak dan bentuk lengkungan akan menghasilkan potongan yang tidak sama dengan bentuk pola, dengan kata lain hasil potongan kain lapisan bawah berbeda ukuran dengan kain lapisan atas, diameter pisau bervariasi mulai dari 6 cm sampai dengan 30 cm. 3. Mesin potong pita (Band Knife), hasil potong pisau ini sangat akurat, terutama dipakai untuk pemotongan pola-pola kecil atau yang berbentuk aneh. Caranya: lapisan kain digerakkan kearah pisau yang berputar, sedangkan pisau sendiri diam. Berikut ini dapat dilihat contoh mesin potong tersebut: 345

367 Gambar 182. Mesin potong bulat Gambar 183. Mesin potong pita 346

368 Gambar 184. Mesin potong lurus 4. Alat potong cetak (Dil Cutting), bentuk alatnya sama dengan pola dan bila tumpul tidak bisa dipakai lagi. Pemakaian bahan agak boros dan biasanya untuk memotong kerah, kaos, manset dan sebagainya. 5. Alat pemotong yang dikendalikan dengan komputer. Cara ini lebih akurat dan cepat. Disini tidak perlu marker karena susunan pola telah tertata di dalam komputer. Ketika proses pemotongan diperlukan alat bantu seperti alat untuk memberi tanda seperti tanda kampuh. Jika kampuh pakaian yang dipotong sudah standar sesuai dengan produk yang akan dibuat, hal ini sudah diketahui operator penjahitan sehingga tidak memerlukan tanda, dan kalau ada tanda-tanda yang khusus seperti kupnat hanya dengan memberi titik pada ujung atau sudutnya dengan lubang halus dan tanda lainnya yang sudah dipahami bersama. Teknik/strategi memotong juga perlu diperhatikan, misalnya sebelum memotong sudah disiapkan semua pola sampai pada komponen komponen yang kecil-kecil. Bahan sudah diperiksa dan bila tidak lurus diluruskan bila susah meluruskannya dapat dengan cara menarik satu benang kemudian dipotong pada bekas tarikan benang tersebut. Jika bahannya tidak rata maka ditarik dua sudut dengan arah diagonal sehingga hasilnya rata dengan sudut 90 0 langkahnya sebagai berikut. 1. Bahan dilipat dua di atas meja potong dengan posisi bagian baik bahan keluar atau sebaliknya. 347

369 2. Pola pola disusun dengan pedoman rancangan bahan dengan bantuan jarum pentul. 3. Setelah semua diletakkan baru dipotong, jika memotong dengan tangan/menggunakan gunting biasa, gunting dipegang dengan tangan kanan dan tangan kiri diletakkan rata di atas kain dekat bahan yang digunting atau sebaliknya. 4. Bahan tidak boleh diangkat pada saat menggunting karena hal ini akan menyebabkan hasil guntingan tidak sesuai dengan bentuk pola. Guntinglah bagian bagian yang besar terlebih dahulu seperti pola bagian muka dan pola bagian belakang, pola lengan, setelah itu bagian yang kecil kecil, seperti kerah, lapisan leher dan sebagainya. Hasil guntingan harus rata dan rapi. Sisa sisa guntingan atau perca disisihkan sehingga meja dan ruangan tetap bersih. Usahakan pola atau perca tidak berantakan/berserakan baik di atas meja maupun di bawah meja. 5. Sebelum pola di lepaskan tanda tanda pola dan batas batas kampuh dipindahkan, cara memindahkannya bermacam macam antara lain menggunakan kapur jahit, rader dan karbon jahit, pensil kapur dan sebagainya.. Kalau memotong bahan untuk produksi massal seperti konveksi, caranya adalah : 1). Bahan digelar tak perlu dilipat sesuai ukuran panjang marker dan ditumpuk sesuai dengan rencana jumlah produksi. Yang perlu diperhatikan sewaktu penggelaran bahan adalah : sisi tumpukan kain harus rata ketegangan lapisan kain sama, dan bahan bahan bersih dari yang cacat. Penggelaran dapat dilakuklan secara manual dan dapat juga dengan mesin penggelaran. Bila sudah cocok jumlahnya lalu marker diletakkan diatas bahan, digunting dengan gunting listrik bila jumlahnya tidak terlalu banyak cukup dengan gunting listrik atau pisau bundar. 2). Pada saat pemotongan, bahan pembantu (pelapis) juga ikut dipotong. Hasil pemotongan harus rapi dan bersih, pinggir kain potongan tidak saling menempel. Pemotongan harus konsisten setelah selesai pemotongan dibundel dan di beri nomor kode sesuai dengan desain, ukuran dan warna juga disesuaikan dengan urutan proses penjahitan sehingga pekerjaan lebih cepat dan lancar. 2. Mengemas Pola dan Potongan Bagian-Bagian Busana (Bundeling) Bundeling yaitu pemisahan dan penggulungan bagian-bagian pola yang sudah diberi tiket yang kemudian jumlah penggulungan disesuaikan dengan jumlah yang tertera pada tiket tersebut. Pekerjaan bundeling bisa juga : 1. Menghitung bahan yang sudah dipotong (bagian-bagiannya) 2. Menulis order 348

370 3. Pemberian tiket 4. Jumlah 5. Size/ukuran 6. Stamfing Komponen-komponen busana yang sudah dipotong di bundle, maksudnya komponen disiapkan berdasarkan ukuran, warna dan jumlahnya sesuai dengan komposisi yang diperlukan di bagian penjahitan/sewing. Mengemas pola dan mengemas potongan-potongan bagian busana sangatr penting dalam persiapan penjahitan. membuat bundle serta mempersiapkannya sesuai dengan kebutuhan dibagian penjahitan. Bundle adalah komponen yang sudah dipotong, disiapkan berdasarkan ukuran, warna dan jumlah yang dibutuhkan sesuai dengan komposisi yang diperlukan dibagian sewing. Penjahitan merupakan bagian yang paling penting dalam membuat busana, tanpa penjahitan maka bagian-bagian pakaian yang sudah dipotong tidak akan ada artinya sama sekali. Pada perusahaan pakaian jadi/garmen, bagian mengemas pola dan bagian-bagian busana (bundeling) dipimpin oleh seorang menager (menager bundeling). Maneger bundeling bertanggung jawab kepada operator devisi terhadap bahan-bahan dan perlengkapannya. Ketepatan mengemas bagian-bagian busana (bundeling) dapat memperlancar proses produksi, dan sebaliknya kelalaian/kesalahan mengemas bagian-bagian busana (bundeling) menyebabkan proses penjahitan menjadi terganggu, lambat dan tidak tepat waktu. Manager bundeling juga bertugas : 1. Membagi bundle bahan-bahan dan perlengkapannya kepada operator dan mengambil bahan-bahan yang yang telah selesai dikerjakan, selanjutnya memberi tanda periksa pada tiap-tiap operasi. 2. Bekerja sama dengan section chief/assistant chief mecari penambahan material dari line lain untuk dikerjakan oleh operator yang kekurangan material. 3. Bekerja sama dengan supervisor bila terdapat ketidak lengkapan, kerusakan bundle untuk mendapat penyelesaian, agar bundle tersebut dapat segera diproduksi. 4. Membuat bon permohonan pengambilan material untuk penambahan atau penggantian dan melengkapi kekurangan dengan persetujuan assistant production maneger. Jika suatu pekerjaan tidak bisa diselesaikan tepat waktu, maka biaya produksi akan menjadi besar. Setiap jenis busana yang diproduksi dijahit pada devisi masing-masing. Setiap devisi membutuhkan proses bundeling, setiap bundeling terdiri dari bagian- 349

371 bagian busana, hal ini sangat tergantung dari desain busana yang sedang diproduksi. Untuk membundel busana perorangan, juga berpedoman kepada desain yang dibuat. Pastikan ketika menggunting bahwa bagianbagian busana telah sesuai dengan desain. Pada proses bundeling baik untuk perorangan ataupun untuk produksi masal disamping membundel bagian-bagian busana juga disertai dengan bagian yang lain, misalnya lapisan garis leher, tengah muka, kantong dan lain sebagainya. E. Memindahkan Tanda-Tanda Pola Setelah bahan digunting, bentuk pola dipindahkan pada bahan dan tanda-tanda pola yang lainnya kadang-kadang juga perlu dipindahkan. Berikut ini adalah tanda-tanda pola yang akan dipindahkan pada bahan adalah 1. Garis pinggir (tepi) pola 2. Garis bahu muka dan belakang 3. Garis sisi badan muka dan belakang 4. Garis lingkar kerung lengan 5. Garis lipit pantas (kupnat) 6. Garis tengah muka dan tengah belakang 7. Garis lipatan bawah baju/blus, bawah rok, ujung lengan 8. Tanda puncak lengan 9. Batas pinggang, garis empire, garis princes kalau ada. 10. Batas kerutan kalau ada 11. Dan tanda-tanda khusus lainnya sesuai desain Alat-alat yang digunakan untuk memberi tanda pada bahan adalah rader, karbon jahit, pensil kapur, Rader biasanya digunakan berpasangan dengan karbon jahit, rader ada yang memakai gigi dan ada yang licin. Waktu pemakaian rader rodanya dapat dipergunakan dengan lancar dan tidak oleng dan hasilnya dapat memberikan bekas yang rapi, karbon jahit yang dipakai yaitu karbon jahit yang khusus untuk kain. Warna karbon bermacam-macam ada berwarna putih, kuning, hijau, merah. Jangan memakai karbon mesin tik karena karbon mesin tik tidak dapat hilang walaupun sudah dicuci. Kapur jahit, berbentuk segitiga dengan warna putih, merah, kuning, biru, pensil jahit juga mempunyai isi kapur yang mempunyai warna yang beraneka ragam memilih warna kapur atau pensil kapur yang berbeda dengan warna kain. 350

372 Gambar 185. Alat pemberi tanda pada bahan Pemilihan alat pemberi tanda ini disesuaikan dengan jenis bahan yang akan diberi tanda (dipotong) seperti tenunan berat, tebal, tenunan tipis ataupun ringan serta tembus pandang dan sebagainya. Berikut ini akan dijelaskan penggunaan dari masing-masing alat pemberi tanda serta cara pemindahan tanda-tanda pola : 1. Memindahkan tanda dengan rader dan karbon jahit. Rader bergigi digunakan untuk kain yang berat dan tebal serta sedang dan rader yang licin (tanpa gigi) untuk bahan dengan tenunan tipis (ringan) sampai sedang. Sebaiknya sewaktu penggunaan rader meja kerja dialas dengan karton agar meja tidak rusak oleh tekanan rader. Pemakaian rader dikombinasikan dengan karbon jahit yang mana cara pemakaiannya adalah, bila bahan bagian baik keluar, karbon dilipat dua bagian yang memberi efek bekasnya diluar diletakkan diantara dua bahan atau bagian buruk bahan, dan jika bagian baik kedalam karbon dilipat kedalam kemudian diapitkan pada bahan, lalu dirader pada batas kampuh atau garis kupnat dan sebagainya, jangan ditekan terlalu keras, cukup asal memberi bekas, bila sudah selesai dirader barulah pola dilepas dari kain. 351

373 bagian buruk bahan berhadapan dan karbon jahit diletakkan diantaranya, sehingga setelah ditekan dengan rader akan meninggalkan bekas rader pada kedua bagian buruk bahan. Jika melipat bahan yang bagian buruk di dalam atau bagian baik bahan berhadapan, maka karbon diletakkan masing-masing pada bagian buruk bahan (karban dilipatkan). Warna karbon dipilih yang dekat atau bertingkat dengan warna bahan agar tidak memberi bekas yang tajam. Janganlah memakai karbon tik, karena tidak hilang bila dicuci, tetapi gunakanlah karbon khusus untuk memberi tanda bahan pakaian(karbon jahit) Kalau dengan rader yang dipakai adalah karbon jahit. Gambar 186. Pemakaian rader 2. Menggunakan kapur jahit dan pensil kapur Penggunaan kapur jahit sebagai pemindahan tanda-tanda pola apabila tidak dapat diberi tanda dengan karbon, misalnya bahan tebal seperti wool, atau bila pembuatan pola langsung di atas bahan. Pemakaian pensil kapur sama dengan kapur jahit dan hasilnya penggunaan pensil kapur garisnya lebih halus dan lebih rapi, bekas kapur jahit atau pun pensil kapur dapat hilang bila dicuci. 3. Memakai lilin jahit Memberi tanda-tanda dengan lilin pada bagian dalam bahan pakaian, lilin jahit tidak hilang waktu dicuci dan atau diseterika, jadi usahakanlah dipakai bila perlu saja, lilin jahit dapat diganti dengan sisa sabun mandi. Lilin jahit juga ada yang putih dan ada juga berwarna. 4. Memakai tusuk jelujur. Tusuk jelujur digunakan untuk memberi tanda pada bahan yang halus, seperti sutra. Hal ini dilakukan agan bahan tetap bersih. Caranya adalah, pada garis pola dijahit dengan teknik jelujur, ketika menjahit dengan mesin, jahit jelujur inilah yang dipedomani. 352

374 Dari semua cara di atas yang banyak dipakai untuk memberi tanda adalah menggunakan rader dengan karbon jahit dan kapur jahit, karena ini lebih praktis dan tidak terlalu banyak noda asal sesuai dengan cara pemakaian yang benar. Jika menggunakan kapur jahit terlalu kuat atau kasar, apalagi warnanya kontras dengan warna bahan pakaian hasilnya akan mengecewakan. Untuk itu berhati-hatilah didalam memberi tanda, supaya hasilnya lebih rapi. F. Menjahit (sewing) Menjahit merupakan proses dalam menyatukan bagian-bagian kain yang telah digunting berdasarkan pola. Teknik jahit yang digunakan harus sesuai dengan desain dan bahan karena jika tekniknya tidak tepat maka hasil yang diperoleh pun tidak akan berkualitas. Langkah-langkah yang dilakukan dalam proses menjahit adalah sebagai berikut: 1. Menyiapkan alat-alat jahit yang diperlukan seperti mesin jahit yang siap pakai yang telah diatur jarak setikannya, jarum tangan, jarum pentul, pendedel, seterika dan sebagainya, serta bahan yang telah dipotong beserta bahan penunjang/pelengkap yang sesuai dengan desain. 2. Pelaksanaan menjahit Dalam pelaksanaan menjahit untuk mendapatkan hasil yang berkualitas hendaklah mengikuti prosedur kerja yang benar dan tepat disesuaikan dengan desain. Secara umum langkah langkah pelaksanaan menjahit sebagai berikut. Langkah-langkah yang dilakukan dalam menjahit desain busana halaman 381adalah: a. Menyambungkan bagian bahu yaitu bagian muka dan belakang, untuk busana wanita dijahit dengan teknik kampuh terbuka sedangkan untuk busana anak-anak dijahit dengan teknik kampuh balik. Kemudian dilanjutkan dengan menjahit bagian sisi muka dan belakang. b. Memasang kerung lengan. Saat memasang lengan harus diperhatikan bahwa titik puncak lengan harus tepat agar jatuhnya lengan bagus. c. Penyelesaian belahan sesuai dengan jenis belahannya. d. Penyelesaian leher harus sesuai dengan desain, apakah memakai kerah atau lapisan leher. e. Penyelesaian kelim dengan cara sum atau dengan setikan mesin, disesuaikan dengan desain busana itu sendiri. Kalau untuk busana wanita setelah pas pertama atau fitting setelah itu baru dijahit dengan mesin. 353

375 Penjahitan merupakan proses yang sangat penting dalam suatu usaha busana. Menjahit yaitu menyatukan bagian bagian kain yang telah dipotong berdasarkan pola dan sesuai dengan desain. Tujuan penjahitan adalah untuk membentuk sambungan jahitan (seam) dengan mengkombinasikan antara penampilan yang memenuhi standar proses produksi yang ekonomis. Teknik jahit yang dipakai hendaklah disesuaikan dengan desain serta bahan busana itu sendiri. Suatu seam dikatakan memenuhi standar apabila hasil sambungan rapi dan halus tanpa cacat, baik hasil jahitan ataupun kenampakan kain yang telah dijahit terlihat rapi. Ada kalanya kita menemukan kain yang telah dijahit tidak rapi, hal ini dapat disebabkan karena jarum mesin yang digunakan tidak tajam. Bagaimanapun baiknya pola, bila teknik jahit tidak tepat tentunya kualitas busana tidak akan baik. Maka dari itu kita harus dapat menguasai dan memilih teknik jahit/jenis seam yang digunakan. Pemilihan jenis seam ini juga berdasarkan estetika, kekuatan, ketahanan, kenyamanan, ketersediaan mesin dan biaya. Tempat duduk untuk menjahit pilihlah kursi dengan sandaran yang lurus dan tanpa tangan agar siswa dapat duduk dengan sempurna dan tidak cepat lelah. Ruangan ini juga dilengkapi dengan alat untuk mempres atau memampat dan juga tersedia ruang pas/fiting. Untuk kelancaran proses manjahit terlebih dahulu dilakukan persiapan yang matang antara lain adalah : Siapkan alat jahit yang diperlukan seperti : 1. Mesin jahit lengkap dengan komponen komponen siap pakai, sudah diberi minyak mesin dan dibersihkan dengan lap agar tidak menumpuk minyaknya 2. Periksa jarak antara setikan sudah sesuai dengan yang diinginkan 3. Alat alat jahit tangan dan alat penunjang seperti: jarum tangan, jarum pentul, pendedel, setrika dan sebagainya 4. Bahan yang sudah dipotong beserta bahan pelengkap sesuai dengan desain/sesuai dengan kebutuhan. Menjahit busana untuk produksi massal, proses menjahit sebaiknya dilakukan dengan ban berjalan, maksudnya untuk selembar pakaian dikerjakan oleh sederet operator menjahit. Setiap bagian menggunakan mesin jahit yang khusus, sesuai dengan teknik jahitnya, dan operatornya disesuaikan dengan keahliannya. Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan di dalam menjahit untuk produksi masal antara lain : 1. Persiapan penjahitan, tujuannya adalah untuk memberi tanda, membuat bundle serta mempersiapkannya sesuai dengan kebutuhan dibagian penjahitan. 2. Shade marking, proses ini memastikan komponen-komponen yang dipotong tidak tercampur pada waktu penggabungan, terutama untuk warna yang sama. 354

376 3. Ticketing, setiap komponen untuk satu garment, diberi nomor spesifik, biasanya memakai kertas kecil. 4. Bundle, bundle komponen yang sudah dipotong, disiapkan berdasarkan ukuran, warna dan jumlahnya sesuai dengan komposisi yang diperlukan dibagian sewing. Berdasarkan British Standard BS 3870: Part 2: 1983, jenis seam dibedakan dalam 8 kelas menurut type dan jumlah komponen pembentukannya. Komponen pembentuk dapat berupa bahan utamanya atau bahan tambahan yang mempunyai lebar terbatas maupun tidak terbatas. Dikatakan komponen terbatas pada satu sisinya, maka sisi tersebut merupakan sisi guntingan yang akan dijadikan seam. Komponen yang terbatas pada kedua sisinya seperti renda, pita atau elastic yang lebarnya kecil. Sedangkan komponen dikatakan tidak terbatas pada satu sisinya, maka sisi tersebut merupakan sisi yang berlawanan dengan sisi terbatas. Adapun 8 kelas dari seam adalah sebagai berikut: Kelas 1 (superimposed seams), seam ini dibentuk oleh minimum dua buah komponen, yang mana letak sisi terbatasnya sama. Gambar 187. Superimposed seams Kelas 2 (lapped seam) seam ini dibrentuk oleh minimum dua buah komponen, yang mana letak sisi terbatasnya berlawanan dan saling menumpang. Gambar 188. Lap seam 355

377 Gambar 189. Lap felled seam Kelas 3 (bound seam), seam ini dibentuk minimum oleh dua buah komponen, komponen pertama terbatas pada salah satu sisinya sedangkan komponen kedua terbatas pada kedua sisinya dan letaknya membungkus ujung terbatas pada komponen pertama. Gambar 190. Bound seam Kelas 4 (flat seam), seam ini dibentuk oleh hinimum dua buah komponen, yang mana letak sisi terbatasnya berlawanan dan kedudukannya sejajar. Gambar 191. Flat seams 356

378 Kelas 5 (decorative stitching), seam ini dibentuk oleh minimum satu buah komponen yang tidak terbatas pada kedua sisinya. Gambar 192. Decorative seams Kelas 6 (edge neatening), seam ini hanya dibentuk oleh sebuah komponen yang terbatas pada salah satu sisinya. Gambar 193. Edge neatening. Kelas 7 (shirt buttonhole band, seam ini dibentuk oleh minimum dua buah komponen, yang mana komponen pertamanya terbatas pada salah satu sisinya dan komponen yang lain terbatas pada kedua sisinya. Gambar 194. Shirt buttonhole band 357

379 Kelas 8, seam ini hanya dibentuk oleh satu komponen yang terbatas pada kedua sisinya. Gambar 195. Seam kelas 8 1. Alat-alat untuk menjahit. Pengetahuan tentang macam-macam alat menjahit serta menggunakannya dengan terampil, dimulai dengan alat pokok yaitu mesin jahit biasa. Yang dimaksud dengan mesin jahit biasa ialah mesin yang jalannya sederhana, yaitu hanya dapat menjahit lurus saja. Bentuk mesin dapat berupa mesin duduk, standar, atau kabinet. Mesin duduk sudah jarang di pakai baik oleh ibu rumah tangga apalagi di tempat usaha, yang ada hanya mesin dengan injakan kaki, atau mesin yang dioperasikan dengan tenaga listrik (dinamo). Pelajaran pertama ialah mengenal bagian-bagian mesin dan cara menggerakkannya. Bagian-bagian mesin tersebut dapat dilihat pada gambar berikut Gambar 196. Mesin jahit dan bagian-bagiannya 358

380 Latihan menjahit untuk melatih keterampilan dapat dengan membuat macam-macam contoh jahitan, berupa sebuah lap jahitan atau fragmen-fragmen, dengan bermacam-macam jahitan seperti jahitan garis lurus, jahitan melengkung (lingkaran), dan jahitan empat persegi. Gambar 197. Macam-macam jahitan Secara umum alat jahit terbagi atas dua bagian yaitu alat menjahit pokok dan alat menjahit tambahan. Alat menjahit pokok terdiri dari: mesin jahit ditambah alat-alat jahit lain yang dipergunakan untuk menjahit sederhana, sedangkan alat menjahit tambahan adalah alat yang dipergunakan untuk mempermudah dan mempercepat pekerjaan. Jadi penyediaan alat ini selain dari mesin jahit tergantung dari kebutuhan apakah untuk siswa disekolah atau untuk pengusaha disebuah usaha busana, dan juga disesuaikan dengan kemampuan dalam hal keuangan untuk memenuhi kebutuhan alat-alat tersebut, serta keterampilan siswa/karyawan dan besar kecilnya usaha. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat perbedaan alat jahit pokok dengan alat jahit tambahan pada keterangan berikut: a) Alat menjahit pokok Dalam membuat pakaian perlu dipersiapkan paling sedikit alat dan perlengkapan menjahit seperti mesin jahit, meja kerja, cermin, strika, papan strika, kotak jahit yang diisi dengan pita ukuran (cm) tali pengikat, gunting, rader, karbon jahit, jarum jahit, jarum pentul alat-alat tulis, karbon jahit dan lain sebagainya. b) Alat-alat menjahit tambahan Alat-alat menjahit tambahan yang kita perlukan tergantung pada macam dan banyaknya jahitan yang akan dikerjakan. Alat tambahan ini selain dapat menghemat waktu juga dapat memberikan hasil yang lebih baik seperti: alat tambahan untuk hiasan-hiasan pakaian dengan mesin serbaguna. Kita dapat menggunakan alat tersebut untuk menghiasi pakaian luar maupun pakaian dalam, pakaian anak dan pakaian bayi maupun lenan rumah tangga. 359

381 Alat menjahit tambahan yang terkelompok kepada mesin, alat potong dan alat mengukur, sepatu-sepatu mesin dan alat lain yang dapat dimasukkan sebagai alat menjahit tambahan adalah sebagai berikut: 1) Macam-macam mesin jahit: yaitu mesin jahit khusus dan mesin jahit serba guna, mesin jahit lurus dan zik zak. 2) Macam-macam gunting seperti gunting rumah kancing, gunting bordir, gunting zik-zak, gunting tiras, gunting listrik, gunting jelujur dan gunting benang 3) Macam-macam pengukur yaitu: pengukur lebar klim, pengukur panjang rok. 4) Macam-macam mistar atau rol, mistar lengkung pendek, lengkung panjang, siku-siku 5) Macam-macam sepatu mesin: sepatu pengelim, sepatu tutup tarik, sepatu kancing dsb. 6) Macam-macam alat pres dan :alat pembuat gesper dan kancing bungkus. 7) Cemin diperlukan untuk dapat melihat pakaian yang sedang di pas tingginya hendaklah setinggi dari ujung kepala sampai ujung kaki dan lebarnya minimal 50 cm. 2. Alat Jahit dan Penggunaannya a. Mesin jahit Peralatan pokok yang paling penting diruangan jahit adalah mesin jahit yang terletak ditempat datar dan cukup cahaya matahari atau lampu sehingga mesin dapat dioperasikan dengan lancar Sewaktu akan mengoperasikan mesin jahit hendaknya dicoba dahulu apakah jalannya sudah sesuai dengan keinginan kita. Kita coba jahitan dengan bahan yang berbeda. Mesin yang baik jalannya lancar ketika melalui bahan yang lebih tebal karena ada lipatan atau sambungan dan tusuknya tidak melompat. Cara menggerakkan mesin jahit ada empat: 1) Dengan tangan yaitu memakai engkol pada roda mesin lalu diputar dengan tangan, ini adalah mesin yang tertua, sekarang sudah jarang digunakan kecuali untuk orang orang yang bermasalah dengan kaki (cacat kaki). 2) Dengan kaki yaitu diputar dengan injakan kaki, mesin ini banyak dipakai dirumah tangga dan disekolah 3) Dengan tenaga listrik, mesin yang diputar dengan listrik lebih cepat putarannya yaitu dengan memasangkan dinamo pada mesin, mesin tangan atau mesin kaki juga dapat diputar dengan dinamo listrik yaitu dengan menambahkan dinamo, dinamo ini ada yang besar dan ada yang kecil. Mesin dengan listrik ini biasanya dipakai ditempat-tempat usaha busana namun mesin dirumah tangga dan sekolah sudah banyak digerakkan dengan listrik agar lebih praktis dan efisien. 360

382 4) Mesin high speed, yaitu mesin dengan kecepatan tinggi, biasa dipakai pada industri pakaian jadi. Gambar 198. Mesin yang digerakkan dengan tangan Gambar 199. Mesin yang digerakkan dengan kaki 361

383 Gambar 200. Dinamo mesin jahit b. Macam-macam gunting dan alat pemotong Alat potong dalam jahit menjahit ada bermacam-macam dengan fungsi yang berbeda-beda pula seperti: gunting kain yaitu gunting yang digunakan untuk menggunting kain, gunting zig zag, gunting rumah kancing, gunting bordir, gunting tiras, gunting listrik, gunting benang jelujur, alat pembuka jahitan atau pendedel. Gunting kain paling banyak digunakan sedangkan yang lainnya hanya sesuai dengan keperluan, gunting harus tajam, untuk menguji ketajaman gunting dengan cara menggunting perca pada bahagian seluruh mata gunting jika bekas guntingan pada perca tidak berbulu berarti gunting itu cukup tajam untuk kain. Gambar 201. Alat pemotong 362

384 c. Alat ukur Untuk proses pembuatan pakaian mulai dari persiapan pola sampai penyelesaian diperlukan beberapa alat ukur, yang penggunaan alat ini berbeda sesuai fungsinya. Ketelitian dalam mengukur sangat memberikan sumbangan untuk memperoleh hasil yang berkualitas,. Saat mengukur haruslah diusahakan setepat mungkin. Pita ukuran dalam perdagangan ada yang terbuat dari plastik, kain, dan kertas, pita ukuran yang terbuat dari kertas mudah robek. Garis-garis dan angka-angka pita ukuran harus dicetak terang pada kedua sisinya, logam yang menjepit ujung pita harus rapi. Mistar dapat terbuat dari kayu, aluminium dan plastik, alat pengukur panjang rok dapat distel dan alat ini lengkap dengan alat penyemprot, sebelumnya juga dapat dilakukan dengan centi meter (pita ukuran) kemudian ditandai dengan jarum pentul ini sekarang masih banyak dipakai karena masih praktis terutama bagi orang-orang yang sudah terampil. Gambar 202. Alat-alat ukur d. Meja kerja dan alat tulis Meja kerja dan alat tulis terutama diperlukan pada waktu menyiapkan pola dan memotong bahan. Meja kerja terbuat dari kayu dengan ukuran tinggi 75 cm lebar minimal 75 cm serta panjang minimal 120 cm Adapun syarat meja kerja untuk jahit menjahit adalah: kokoh dan kuat, permukaan daun meja harus datar dan licin, tidak miring, rata dan rapi, agar tidak merusak bahan. Alat tulis menulis terdiri dari pensil, pensil merah biru, buku catatan ukuran untuk menerima pesanan bisa juga diganti dengan kartu ukuran yang terdapat didalam buku, yang terdiri dari: 363

385 1) daftar ukuran 2) gambar model 3) contoh bahan 4) catatan perlengkapan tambahan 5) nama pemesan dan nomor telpon 6) tanggal dibuat dan tanggal siap 7) dsb e. Jarum Jarum-jarum mempunyai nomor menurut besarnya. Pemilihan nomor jarum harus disesuaikan dengan bahan yang akan dijahit. Pada umumnya syarat macam-macam jarum adalah ujungnya cukup tajam bentuknya ramping dan tidak berkarat. Dalam jahit menjahit perlengkapan menyemat dan jarum terdiri atas jarum jahit mesin jarum tangan, jarum pentul, pengait benang dan tempat penyimpan jarum. Jarum mesin yang baik terbuat dari baja ujung tajam agar bahan yang dijahit tidak rusak. Jarum tangan sama yaitu terbuat dari baja mempunyai tingkatan nomor, jarum tangan yang baik panjang dan ramping. Jarum jahit tangan digunakan untuk menghias menyisip dan menjelujur. Jarum pentul yang baik juga terbuat dari baja panjang 2,5 cm sampai 3 cm. jarum pentul yang berkepala dengan warna bermacam-macam itulah yang tajam. Pengait benang digunakan untuk pengait benang kelubang jarum. Alat ini sangat berguna bagi mengalami kesulitan dalam memasukkan benang ke lubang jarum karma penglihatan yang kuran tajam. f. Tempat menyimpan jarum Tempat menyimpan jarum-jarum digunakan kotak atau bantalan jarum, jarum pentul atau jarum mesin disematkan pada bantalan jarum. Gambar 203. Tempat menyimpan jarum 364

386 g. Perlengkapan memampat Perlengkapan memampat atau mempress diperlukan untuk memampat kampuh kampuh lengan dan bagian lainya ketika menjahit pakaian agar hasil jahitan lebih rapi. Sebenarnya keberhasilan dalam menjahit adalah menekan disaat proses menjahit. Perlakuan yang cermat dan hati-hati selama tahapan pembuatan akan menghasilkan busana yang tampak indah dan hanya membutuhkan sentuhan ringan sewaktu penyelesaian anda akan temukan bahwa lebih cepat dan lebih mudah ditemukan pada unit-unit begitu anda menjahitnya misalnya tekanlah semua bentuk-bentuk atau penutup kantong dan lainnya. h. Boneka jahit (dressform) Boneka jahit memakai standar dan dapat distel tingginya dan besarnya. Boneka jahit hendaklah disemat dengan jarum pentul memudahkan memulir jadi sebaiknya bagian luar boneka bahan katun atau kaos yang polos. Didalamnya dilapisi dengan spoons sebagai dasar bahan polos. Boneka jahit mempunyai bermacam-macam ukuran S, M, L dan XL juga tersedia boneka untuk wanita, pria dan anak-anak, ada juga boneka jahit tersedia dalam ukuran skala 1:2 atau 3:4. Gambar 204. Boneka jahit (Dressform) 365

387 3. Cara Pemakaian Mesin Jahit a. Badan mesin. Badan mesin jahit yang sering kita jumpai pada umumnya berbentuk huruf G. Bagian bawah mesin berbentuk plat yang bertugas sebagai landasan jahit. Bagian atas badan mesin berongga, disinilah tempat bagian-bagian mesin mengubah dan meneruskan gerakan putar menjadi gerakan bagian-bagian yang lain. Pada badan mesin ini juga terdapat beberapa lubang yang digunakan untuk meneteskan minyak pelumas ke bagian mesin yang memerlukan, agar gerakan bagian mesin yang bersangkutan menjadi licin dan lancar. Pada pelat mesin tersebut dipasang engsel, sehingga bagian mesin yang terletak di bawah pelat badan dapat dibersihkan dan diperbaiki bila rusak. Pada mesin yang memakai kaki, badan mesin jahit tersebut dapat dilipat ke bawah di bawah meja dari daun meja dan dapat ditutupkan dengan lipatan daun meja. b. Kepala mesin. Kepala mesin jahit terbuat dari baja tuang. Kepala mesin tersebut terpasang dibagian kanan atas dari badan mesin jahit. Ia menerima gaya putar dari alat pemutar mesin jahit dan meneruskan gerak putar tersebut ke semua bagian mesin lain yang harus bergerak. Jadi kepala mesin bertugas sebagai roda penerus tenaga penggerak mesin jahit. Pada mesin jahit yang digerakkan dengan injakan kaki atau motor listrik, kepalanya dibuat lebih kecil, agar berputar secara ringan. Gerak putar dari kepala mesin itu diubah menjadi bentuk gerakan bolak balik atau naik turun dari jarum jahit, tangan penarik benang, gigi penarik, sekoci dan lain-lain. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat gambar a. adalah kepala mesin yang berfungsi untuk menggerakkan turun naiknya jarum untuk mengangkat benang bawah dari sekoci. 366

388 Gambar 205. Cara mengeluarkan benang bawah c. Alat-alat penggerak mesin jahit Semua jenis mesin tersebut dapat digerakan dengan motor listrik tapi yang lebih banyak digerakan dengan motor listrik adalah mesin khusus dan mesin serbaguna. d. Kopleng Kopleng adalah alat yang menghubungkan antara kepala mesin dengan poros utama mesin jahit. Kopleng terbuat dari pelat baja setebal 1,5 milimeter berbentuk bulat dan mempunyai tonjolan keluar serta kedalam yang berfungsi untuk membantu roda berputar, bila dikencangkan putaran roda menekan kopleng dan bila roda penekan dikendurkan maka pelat kopleng tidak tertekan akibatnya kepala mesin tidak dapat mengerakan bagian mesin yang lain. e. Poros utama. Poros utama pada mesin jahit terpasang dalam rongga badan mesin jahit pada bagian atasnya. Panjang poros utama ini dari pelat kopleng sampai kaki pemegang jarum jahit. Poros utama ini secara lansung mengerakan tangkai penarik benang dan kaki pemegang jarum. f. Sepatu jahit (sepatu mesin) Dinamakan sepatu jahit karena bentuknya menyerupai sepatu. Kaki yang dipasang sepatu ini dapat diatur tekanannya terhadap gigi penarik kain. Pengaturan tekanan dengan menyetel mur penekan pegas di atas kaki tempat sepatu tersebut. Tekanan sepatu ini dapat dibebaskan dengan cara menaikan sepatu. Ini dilakukan saat 367

389 memasang dan melepaskan kain yang dijahit, maka injakan sepatu haruslah dilepaskan dahulu. g. Kaki pemegang jarum Jarum untuk menjahit dipasangkan pada kaki pemegang jarum. Kaki ini digerakan oleh poros utama. Untuk memegang jarum pada ujung kaki dipasangkan dengan alat pencekamjarum yang disebut sekrup jarum. Pemasangan jarum harus kuat agar tidak mudah lepas sewaktu menjahit. h. Sekoci Sekoci adalah alat yang berfungsi untuk mengatur pengeluaran benang bawah dan pengatur ketegangan benang bawah, sedangkan jarum pembawa benang atas pada kain jahitan. Maka terjadilah sengkelit benang atas dengan benang bawah pada kain yang ditekan oleh sepatu jahit. 4. Pengatur Panjang setikan Tusuk atau setikan jahitan dapat diatur panjangnya. Pengaturan itu dilakukan dengan mengatur tombol atau tangkai penyetel panjang setikan sehingga sesuai dengan panjang setikan yang diinginkan. Misalnya disetel pada angka 15 itu berarti 15 tusuk setiap inci, dengan demikian berarti makin kecil angkanya makin besar jarak setikan dan sebaliknya makin besar angkanya makin kecil jarak setikannya. Penyetelan panjang setikan sebenarnya adalah penyetelan panjang langkah penarik kain. Alat penyetel jarak tusuk itu ada yang berbentuk tombol putar ada pula yang berbentuk tangkai. Posisinya pada bagian tegak sebelah kanan. Gambar 206. Pengatur panjang tusukan 368

390 5. Alat-alat Pelengkap Alat pelengkap adalah alat digunakanuntuk membantusuatu pekerjaan dalam menggunakan mesin jahi agarlebih mudah, cepat dan hasilnya lebih rapi. alat pelengkap ini dapat dibeli tersendari seperti: bermacam-macam sepatu mesin alat pembuat rumah kancing, dan sebagainya. Alat pelengkap ini ada yang dipasangkan untuk mesin biasa dan ada juga yang untuk mesin seba guna, untuk mesin serba guna lebih banyak alat pelengkap yang cocok, dan dapat dimanfaatkan. Pengoperasian mesin jahit dimulai dengan langkah sebagai berikut: a. Bukalah mesin jahit dan dipasangkan tali mesin dari pada kepala mesin, pasangkan jarum mesin ysng sesusai yang sesuai dengan bahan dan benang mesin bila yang dijahit kasar atau tebal seperti bahan blu jeans jarumnya yang besar No 15 dan benangnya juga yang kasar sehingga ada kesesuaian jarum atau benang begitu pula sebaliknya. b. Pasangkan jarum untuk mesin biasa yang di sebelah kiri dan yang pipih menempel ke batang, kalau untuk mesin serba guna, dari depan dan yang pipih ke btang tau belakang. c. Gulungkan benang ke kumparan sekoci dengan memakai alat penggulung yang ada dekat kepala mesin. Dan dimasukkan pada sekoci Gambar 207. Menggulung benang kesekoci 369

391 d. Pasangkan sekoci ke rumah kumparan pada mesin Gambar 208. Cara pemasangan sekoci ke kumparan e. Mengangkat sepatu mesin dengan mengangkat tiang yang dibelakang. f. Menaikkan benang dari kumparan sekoci. g. Cara mengoperasikan mesin Kalau semua sudah siap terpasang mulailah menjahit dengan cara: a. Pasangkan benang atas mulai dari tiang benang klos pada tiang benang tarik ujung benang mengikuti saluran benang terus ke regulator dan kembali ke pengungkit dan selanjutnya melalui lobang (sengkelit) dan turunkan benang sampai masuk kelobang jarum. Gambar 209. Pemasangan benang atas 370

392 b. Keluarkan benang bawah dengan cara memegang ujung benang lalu diturunkan jarum sampai kebawah dan bila jarum keluar ujung benang bawah akan terangkat keluar melalui lobang jarum. Ketegangan dan kekuatan benang bawah c. Cobakanlah menjahit ke pada kain untuk melihat hasilnya dan akan didapatkan hasil seperti berikut. Ada tiga kemungkinan. 1) Tegangan benang atas sama denan benang bawah ini hasil yang benar 2) Tegangan benang atas lebih kuat dari benang bawah artinya benang merentang di bagian atas. 3) Tegangan benang atas lebih lemah dari benang bawah artinya benang merentang dibawah. Gambar 210. Ketegangan benang hasil jaitan a,b,c Bila benang atas lemah dan banang bawah tegang maka distel pengatur benang atas atau regulator diputar untuk mengencangkan, bila benang atas tegang regulator dilemahkan bila ini tidak membuahkan hasil yang baik, periksa sekoci kemungkinan benang sekoci tidak masuk pada jepitan sekoci atau jepitan sekoci agak longgar perlu dikencangkan Gambar 211. Mengatur ketegangan benang 371

393 Seandainya akan menjahit dengan menggunakan benang karet atau benang yang lebih kasar pasangkanlah di bawah (sekoci), kemudian longgarkanlah sedikit sekrup sekocinya selanjutnya aturlah setikan mesin yang agak lebih jarak sesuai dengan model yang akan dijahit. G. Gangguan dan Perbaikan Mesin Jahit Mengatasi ganguan pada mesin jahit, berbagai macam jenis gangguan yang dijumpai pada pemakaian mesin jahit harus di cari penyababnya dan diusahakan perbaikan-parbaikan agar hasilnya memuaskan. Berikut beberapa pentunjuk untuk mengatasi gangguan mesin jahit. 1. Mesin tidak lancar dan berisik. Penyebab dari gangguan ini terjadi karena kurang minyak pelumas pada mesin jahit, selain itu pelumas yang digunakan tidak bermutu baik. Adanya benang-benang yang lepas menyangkut pada mesin dan juga penumpukan debu dan sisa serat kain pada gigi mesin. Perbaikan pada gangguan tersebut di mulai dari membersihkan mesin dari serat-serat kain dan benang yang tertinggal dengan kuas atau sikat. Memberikan minyak pelumas pada throat plate (penutup gigi) dengan pelumas yang berkualitas baik. 2. Benang jahitan atas sering putus. Penyebab gangguan antara lain benang jahit menyangkut karena menjahit dengan arah yang salah. Memasang jarum tidak tepat pada tempatnya yang menyebabkan jarum cepat tumpul atau bengkok sehingga ketegangan benang menjadi terlalu besar. Benang terlalu kasar atau terlalu halus yang tidak sesuai dengan jenis kain yang digunakan. Perbaikan pada gangguan tersebut dapat dilakukan dengan cara: 1) menganti jarum dengan jenis yang baik, 2) menyesuaikan nomor benang dengan nomor jarum yang akan digunakan, 3) setel kembali rumah sekoci dan kendurkan tegangan dengan memperhatikan keseimbangan dengan benang jahit bawah, 4) tarik kain kearah belakang mesin jahit. 3. Benang jahit bawah sering putus Penyebab gangguan antara lain: benang jahit tidak rapi digulung pada spul/kumparan, tegangan benang pada sekoci (bob bin case) terlalu besar, benang tidak sempurna lewat rumah sekoci, dan banyak debu terdapat pada mekanisme mesin. Perbaikan pada gangguan tersebut dapat dilakukan dengan cara: 1) bersihkan bagian mekanisme mesin, 2) garis tengah sekoci harus rata secara keseluruhan sehingga benang lewat pada arah yang 372

394 seharusnya, 3) kurangi ketegangan dan benang dan sesuaikan dengan tegangan benang atas. 4. Benang sering putus. Gangguan terjadi karena jarum tidak pada tempatnya sehingga sering mengenai hook dan menyebabkan jarum tumpul. Jenis jarum tidak sesuai dengan kain yang digunakan. Setelah selesai menjahit kain ditarik kearah yang salah. Perbaikan dapat dilakukan dengan cara: 1) Ganti jarum, sesuikan antara benang jahit, jarum dan kain, 2) Pasanglah jarum pada tempat yang tepat, 3) kendurkan tegangan dengan memperhatikan keseimbangan antara benang atas dan benang bawah jahitan. Penyabab gangguan yang lain: jarum tidak tepat pada tempatnya, jarum tumpul, ukuran benang tidak sesuai dengan jarum yang digunakan, benang atas tidak melewati jalan yang benar. Perbaikan pada gangguan tersebut dilakukan dengan cara: 1) ganti jarum dengan yang tajam dan pasang pada tempat yang tepat, 2) Sesuaikan bengan dengan nomor jarum, 3) Pasang benang melewati jalur yang seharusnya. 5. Jerat benang mengerut Penyebab gangguan antara lain: tegangan benang terlalu kuat, benang tidak melewati jalan yang benar, jarum terlalu besar untuk jenis kain yang digunakan, dan benang bagian bawah tidak digulung dengan rapi. Perbaikan dapat dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut: 1) kendurkan tegangan dengan memperhatikan keseimbangan dengan benang jahitan bawah, 2) sesuaikan jarum sehingga benang atas melewati jalan yang benar, 3) sesuaikan nomor jarum dengan bahan yang digunakan. 6. Jerat benang kendur. Penyebab gangguan antara lain: tegangan benang atas terlalu kendur atau terlalu kencang, pegas pengatur tegangan pada rumah sekoci terlalu besar, dan ukuran jarum tidak sesuai dengan jenis kain. Perbaikan dapat dilakukan dengan: 1) kendurkan tegangan dengan memperhatikan keseimbangan dengan benang jahitan bawah, 2) sesuaikan tegangan benang atas dengan benang bawah, 3) sesuaikan antara benang jahit, jarum dan kain yang akan digunakan. 7. Jalannya kain tidak lancar. Penyebab gangguan antara lain: banyaknya serat berkumpul di sekitar gigi penyuap dan tinggi rendahnya gigi penyuap tidak sasuai. 373

395 Perbaikan dapat dilakukan dengan cara: 1) bersihkan bagian gigi penyuap kemudian beri pelumas kemudian tutup kembali dengan cepat, 2) atur mekanisme dan knop gigi penyuap. H. Penyelesaian (Finishing) Finishing adalah kegiatan penyelesaian akhir yang meliputi pemeriksaan (inspection), pembersihan (triming), penyetrikaan (pressing) serta melipat dan mengemas. Tujuannya adalah agar pakaian yang dibuat terlihat rapi dan bersih. Kegiatan ini dilakukan setelah proses menjahit dengan mesin. Pemeriksaan atau inpection merupakan kegiatan yang menentukan kualitas dari hasil jahitan. Pada kegiatan pemeriksaan ini dilakukan pembuangan sisa-sisa benang dan pemeriksaan bagian-bagian busana apakah terdapat kesalahan dalam menjahit atau ketidakrapian dari hasil jahitan seperti ada bagian yang berkerut, ada bagian yang tidak terjahit atau ada bagian-bagian busana yang tidak rapi. Setelah dilakukan pemeriksaan ini, dilakukan pemisahan pakaian yang hasilnya baik dan yang tidak baik. Kualitas pakaian yang tidak baik biasanya dikembalikan ke bagian produksi untuk diperbaiki. Langkah selanjutnya adalah pembersihan (trimming). Kegiatan ini dilakukan khusus di bagian quality control yang mana sisa-sisa benang dibuang dan pelengkap pakaian seperti kancing dan perlengkapan lainnya dipasangkan. Pakaian yang sudah dibersihkan dilanjutkan ke bagian penyetrikaan (pressing). Penyetrikaan yang dimaksud merupakan penyetrikaan akhir sebelum pakaian dipasang label dan dikemas. Pressing ini bertujuan untuk menghilangkan kerutan-kerutan dan menghaluskan bekas-bekas lipatan yang tidak diinginkan, membuat lipatan-lipatan yang diinginkan, menambah kerapian dan keindahan pada pakaian serta untuk memberikan finis akhir pada pakaian setelah proses pembuatan. Penyetrikaan ini ada yang menggunakan setrika uap dan ada juga yang menggunakan mesin khusus pressing. Menyetrika merupakan pekerjaan yang harus dilakukan dengan sangat hati-hati karena beresiko tinggi. Untuk itu, suhu perlu diatur sesuai dengan jenis bahan seperti linen, katun, wol, sutera, dan lain-lain. Disaat melakukan pressing perlu dilakukan pengontrolan seperti tingkat kerataan bahan dan lapisan serta hasil pressing jangan sampai berkerut atau tidak rata. Pakaian yang sudah selesai di press barulah dipasang label dan dikemas. Pekerjaan lain dalam penyelesaian atau finishing yaitu memasang kancing; membersihkan sisa benang; memeriksa jahitan, apakah sudah tepat pada garis pola, jahitan tidak berkerut, serta jarak setikan sudah tepat; pemeriksaan cacat, apakah kotor atau ternoda minyak mesin, atau mengalami kerusakan selama proses menjahit. Setelah itu dilakukan 374

396 pengemasan busana sebelum diserahkan kepada konsumen atau pemesan. Penyempurnaan pakaian setelah pengepresan sangat diperlukan untuk mendapatkan kualitas yang diinginkan adapun langkah-langkahnya sebagai berikut. a. Membersihkan sisa-sisa benang, sisa benang dan dibersihkan (dipotong), bekas jelujuran dibuka dan diperiksa apakah masih ada tiras-tiras yang tidak dirapikan atau diobras dan belum rapi. b. Memeriksa jahitan apakah jahitannya sudah tepat pada garisnya, sudah datar, tidak berkerut atau jarak setikan sudah sesuai dan apakah setiap ujung jahitan sudah dimatikan. Bila ada yang belum memenuhi standar perlu diperbaiki. c. Pemeriksaan cacat apakah ada kotor atau ternoda minyak mesin, kalau ada perlukah diadakan pencucian dan kalau dicuci dengan apa dicuci apakah cukup dengan sabun atau perlu dengan obat-obat pembersih. Bila ternoda oleh minyak mesin dapat dihilangkan dengan menaburkan bedak pouder tepat pada noda dan dibiarkan beberapa jam, nanti minyak akan diserap oleh bedak, untuk menghilangkan noda bedak perlu dicuci. Apakah dicuci dengan sabun saja atau memakai obat. Jika memakai obat perlu disesuaikan dengan asal bahan seperti katun putih dapat dipakai pemutih dan bila katun bewarna atau batik dilarang memakai pemutih karena akan mengakibatkan warnanya tidak rata lagi. Rangkuman Tempat kerja masing-masing siswa hendaklan selalu tertata dengan teratur, mengingat tempat ini selalu digunakan setiap harinya dalam melaksanakan proses suatu pekerjaan. Pada prinsipnya perencanaan marker ini ditujukan untuk mendapatkan efisiensi marker yang besar. Rumus efisiensi marker adalah, jumlah luas seluruh pola pada marker dibagi dengan luas keseluruhan marker dikalikan 100 %. Tujuan pemotongan kain adalah untuk memisahkan bagian-bagian busana sesuai dengan desain busana yang dibuat. Hasil pemotongan yang baik, adalah pemotongan yang tepat dan tidak terjadi perubahan bentuk (hasil pemotongan sesuai dengan bentuk pola). Proses pemotongan kain menjadi bagian-bagian busana yang sesuai dengan bentuk pola, adalah hasil dari pemotongan dengan menggunakan alat potong yang tajam dan alat yang digunakan disesuaikan dengan ketebalan bahan. Ketebalan tumpukan kain yang akan dipotong disesuaikan dengan kapasitas mesin potong. Setelah bahan dipotong lalu diberi tanda. Alat memberi tanda yang digunakan disesuaikan dengan jenis bahan. Lalu dilakukan penjahitan, alat jahit yang digunakan adalah alat yang baik dan siap pakai. Jika 375

397 menggunakan alat jahit yang tidak baik, maka hasilnya juga mengecewakan. Masalah yang sering timbul dari hasil jahitan adalah, yang kenampakan jahitan yang kurang rapih, ada kerutan yang kelihatan disepanjang garis jahitan pada kain yang rata. Ada beberapa factor yang menimbulkan adanya kerutan antara lain: 1. Struktur kain 2. Konstruksi seam (sambungan jahitan) 3. Ukuran jarum 4. Tegangan benang yang tidak baik 5. Ukuran benang yang tidak sesuai Kerusakan jahitan merupakan masalah yang serius didalam produksi garmen, karena akan menyebabkan kenampakan dan unjuk kerja seam buruk, dan juga pada kasus tertentu seam tersebut rusak atau putus. Kerusakan kain sepanjang garis jahitan dapat dibagi dalam: 1. Kerusakan mekanik 2. Kerusakan akibat panas yang ditimbulkan oleh jarum jahit. Untuk memperkecil kesalahan dalam membuat busana, sangat diperlukan pengetahuan tentang bahan tekstil. Salah satu factor yang menentukan mutu kain adalah banyaknya baris dan deret jeratan persatuan panjang (jumlah inchi/cm). Makin banyak baris dan deret jeratan/cm makin rapat kainnya. Kompetensi yang diharapkan dari materi di atas adalah : 1. Menyiapkan tempat kerja yang sesuai dengan kegiatan yang akan dilakukan oleh siswa/pekerja. 2. Menyiapkan bahan, meletakkan pola di atas bahan sesuai dengan rancangan bahan yang dibuat berdasarkan desain busana. 3. Memotong bahan sesuai dengan pola/rancangan bahan, dengan menggunakan gunting listrik atau gunting biasa. 4. Memindahkan tanda-tanda pola pada bahan serta mengemas pola dan potongan bahan bagian-bagian busana. Evaluasi : 1. Jelaskan tempat kerja yang ergonomik. 2. Hal apa yang perlu diperhatikan dalam menggunting bahan sehigga hasilnya tidak mengecewakan. 3. Jelaskan prinsi-prinsip meletakkan pola di atas bahan. 4. Jelaskan cara memindahkan tanda-tanda pola pada bahan yang tembus terang. 376

398 5. Jelaskan apa yang dimaksud dengan mengemas pola. 6. Jelaskan beda rancangan bahan secara global dengan rancangan bahan menggunakan pola. 7. Jelaskan manfaat rancangan bahan 8. Bagaimana cara mengatasi masalah-masalah bila terjadi benang mesin yang sering putus dalam proses manjahit. 9. Jelaskan alat utama dan alat Bantu dalam proses menjahit. 377

399 BAB X MENGHIAS BUSANA A. Menyiapkan Tempat Kerja, Alat dan Bahan Sebelum kita membuat hiasan atau melakukan pekerjaan menghias baik itu menghias lenan rumah tangga ataupun menghias busana terlebih dahulu perlu disiapkan tempat kerja, alat serta bahan yang dibutuhkan untuk menghias. Agar pekerjaan dapat berjalan efektif dan efesien maka tempat atau ruang kerja hendaklah ditata sebaik mungkin. Ruang kerja hendaknya tidak sempit atau dapat memberi keleluasaan dalam bekerja. Di sekolah umumnya kegiatan ini dilakukan di workshop atau bengkel. Bengkel atau workshop hendaklah bersih dan memberi kenyamanan untuk bekerja. Semua alat dan bahan yang dibutuhkan untuk menghias ditata sesuai dengan kegunaannya. Bahan-bahan yang dibutuhkan untuk menghias sebaiknya disediakan seluruhnya sebelum pekerjaan menghias dilakukan. Ini bertujuan untuk menghemat waktu dan untuk kelancaran dalam bekerja. Karena pekerjaan menghias kain atau menghias busana ini membutuhkan ketelitian dan kesabaran maka dalam bekerja tidak salahnya distel musik yang dapat membangkitkan gairah dalam bekerja sehingga bekerja menjadi tidak membosankan. Untuk menghias busana dibutuhkan alat dan bahan. Adapun alat dan bahan yang dibutuhkan di antaranya yaitu : 1. Jarum tangan dengan berbagai ukuran 2. Jarum pentul 3. Gunting besar dan gnting kecil 4. Tudung jari 5. Pandedel 6. Rader 7. Karbon jahit 8. Ram atau pemidangan 9. dll Adapun bahan yang dibutuhkan untuk menghias busana disesuaikan dengan jenis hiasan yang di gunakan. Secara umum bahan yang dibutuhkan untuk menghias busana adalah bahan utama dan bahan penunjang. Bahan utama yaitu kain yang akan di hias. Sedangkan bahan penunjang merupakan bahan yang digunakan untuk membuat hiasan itu sendiri. Bahan ini dapat berupa aneka jenis benang, aneka jenis pita, aneka jenis tali, manik, payet, batu-batuan dan lain-lain. Aneka jenis benang di antaranya seperti benang bordir, benang sulam, benang wol dan lain-lain. Jenis benang ini biasanya di jual dengan aneka rupa sesuai dengan yang diproduksi pada waktu itu, karena perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, perkembangan bahan tekstilpun juga makin berkembang pesat. 378

400 B. Konsep Dasar Menghias Busana Menghias dalam Bahasa Inggris berasal dari kata to decorate yang berarti menghias atau memperindah. Dalam busana menghias berarti menghias atau memperindah segala sesuatu yang dipakai oleh manusia baik untuk dirinya sendiri maupun untuk keperluan rumah tangga. Benda yang dipakai untuk diri sendiri antara lain blus, rok, celana, tas, topi dan lain-lain, sedangkan untuk keperluan rumah tangga diantaranya yaitu taplak meja, bed cover, bantal kursi, gorden dan lain-lain. Ditinjau dari tekniknya, menghias kain dibedakan atas 2 macam yaitu 1) menghias permukaan bahan yang sudah ada dengan bermacammacam tusuk hias baik yang menggunakan tangan maupun dengan menggunakan mesin dan 2) dengan cara membuat bahan baru yang berfungsi untuk hiasan benda. Menghias permukaan kain atau bahan yaitu berupa aneka teknik hias seperti sulaman, lekapan, mengubah corak, smock, kruisteek, terawang dan metelase. Sedangkan membuat bahan baru yaitu berupa membuat kaitan, rajutan, frivolite, macrame dan sambungan perca. Yang akan dibahas pada bab ini hanyalah menghias busana dengan cara menghias permukaan bahan atau busana dengan beberapa teknik hias. Sebelum kita membuat hiasan pada suatu benda atau busana baik dengan cara menghias kain maupun dengan membuat bahan baru, terlebih dahulu kita perlu membuat suatu rencana tentang hiasan yang akan dibuat yang disebut dengan desain hiasan busana. 1. DESAIN HIASAN BUSANA Desain hiasan merupakan desain yang dibuat untuk meningkatkan mutu dari desain struktur suatu benda. Desain hiasan ini terbentuk dari susunan berbagai unsur seperti garis, arah, bentuk, ukuran, tekstur, value dan warna. Bentuk dan warna merupakan unsur yang sangat mempengaruhi tampilan sebuah desain hiasan. Agar indah dan menarik dilihat dalam mendesain hiasan ini juga harus memperhatikan prinsip-prinsip desain sebagaimana sudah dijelaskan pada bab VII desain busana. Prinsip-prinsip desain ini pada dasarnya sama, hanya saja penerapannya berbeda. Keselarasan, keseimbangan dan kesatuan desain hiasan dengan benda yang akan dihias merupakan hal utama yang perlu dipertimbangkan dalam merancang desain hiasan suatu benda. Keselarasan merupakan kesesuaian antara bagian yang satu dengan bagian yang lainnya baik antara benda yang dihias dengan hiasannya maupun antara hiasan yang digunakan itu sendiri. Agar hiasan yang digunakan sesuai dan dapat memperindah bidang yang dihias maka perlu diperhatikan beberapa hal yaitu : a. Hiasan yang digunakan hendaklah tidak berlebihan. Hiasan yang terlalu berlebihan membuat pakaian terlihat norak atau terlalu ramai. Oleh sebab itu penggunaan hiasan hendaklah dibatasi 379

401 sehingga fungsinya untuk meningkatkan mutu produk tersebut dapat tercapai. b. Hiasan yang digunakan disesuaikan dengan desain struktur benda yang dihias. Contohnya pada bidang benda yang berbentuk segi empat dapat digunakan motif yang mengikuti bidang segi empat tersebut, atau hanya membuat hiasan berbentuk siku pada setiap sudutnya. Janganlah menggunakan hiasan yang merubah desain struktur seperti bidang segi empat dibuat hiasan berbentuk lingkaran pada bagian tengah bidang benda. Ini artinya sudah merubah bentuk struktur benda tersebut. c. Penempatan desain hiasan disesuaikan dengan luasnya background dari benda yang dihias. Bidang yang kecil sebaiknya juga menggunakan hiasan yang kecil dan sebaliknya bidang yang luas dapat menggunakan hiasan yang sedikit lebih besar. Keseimbangan dari hiasan juga perlu diperhatikan. Keseimbangan ini secara garis besar dapat dikelompokkan atas 2 yaitu keseimbangan simetris dan keseimbangan asimetris. a. Keseimbangan simetris merupakan keseimbangan yang tercipta dimana bagian yang satu sama dengan bagian yang lain. Contohnya bagian kiri sama besar dengan bagian kanan atau bagian atas sama dengan bagian bawah. Gambar 212. Keseimbangan simetris pada desain hiasan b. Keseimbangan asimetri (keseimbangan informal) merupakan keseimbangan yang dibuat dimana bagian yang satu tidak sama dengan bagian yang lain tetapi tetap menimbulkan kesan seimbang. 380

402 Gambar 213. Keseimbangan asimetris pada desain hiasan Untuk menciptakan irama pada desain hiasan dapat dilakukan dengan cara pengulangan bentuk secara teratur, radiasi atau pancaran dan perubahan atau peralihan ukuran. Pengulangan bentuk secara teratur dibuat dengan mengulang bentuk yang sama yang 381

403 disusun berjejer mengikuti garis lurus atau garis lengkung. Dengan teknik radiasi atau pancaran dilakukan dengan menyusun ragam hias pada bidang lingkaran dari tengah menyebar ke seluruh sisi atau dari sisi ke tengah bidang. Kesatuan pada desain merupakan terdapatnya kesatuan pada keseluruhan komponen desain baik bentuk desain, warna desain, ukuran desain, dan lain-lain sehingga tercipta sebuah desain hiasan yang baik atau sesuai dengan bidang yang akan kita hias. 2. JENIS-JENIS RAGAM HIAS Desain hiasan dapat dibuat dari berbagai bentuk ragam hias. Adapun jenis-jenis ragam hias yang dapat digunakan untuk menghias bidang atau benda yaitu : a. Bentuk naturalis Bentuk naturalis yaitu bentuk yang dibuat berdasarkan bentukbentuk yang ada di alam sekitar seperti bentuk tumbuh-tumbuhan, bentuk hewan atau binatang, bentuk batu-batuan, bentuk awan, matahari, bintang, bentuk pemandangan alam dan lain-lain. Berikut ini dapat dilihat beberapa contoh ragam hias naturalis : Gambar 214. Bentuk ragam hias naturalis b. Bentuk geometris Bentuk geometris yaitu bentuk-bentuk yang mempunyai bentuk teratur dan dapat diukur menggunakan alat ukur. Contohnya bentuk segi empat, segi tiga, lingkaran, kerucut, 382

404 silinder dan lain-lain. Berikut ini beberapa bentuk-bentuk geometris : Gambar 215. Bentuk ragam hias geometris c. Bentuk dekoratif Bentuk dekoratif merupakan bentuk yang berasal dari bentuk naturalis dan bentuk geometris yang sudah distilasi atau direngga 383

405 sehingga muncul bentuk baru tetapi ciri khas bentuk tersebut masih terlihat. Bentuk-bentuk ini sering digunakan untuk membuat hiasan pada benda baik pada benda-benda keperluan rumah tangga maupun untuk hiasan pada busana. Gambar 216. Bentuk ragam hias dekoratif 3. STILASI Ragam hias yang digunakan untuk menghias benda umumnya ragam hias yang sudah di stilasi. Stilasi yaitu mengubah dan menyederhanakan bentuk asli sehingga terdapat bentuk gambar lain yang kita kehendaki. Stilasi ini dapat dilakukan dengan cara menggubah bentuk atau dengan melihat objek dari berbagai arah misalnya dilihat dari depan, belakang, dari atas dan lain-lain sehingga dapat menghasilkan ragam hias baru yang diinginkan. Ragam hias ini dapat dibuat menjadi bermacam-macam ragam hias dengan gaya yang berbeda namun ciri khas bentuk aslinya masih kelihatan. Stilasi ini dapat dilakukan untuk bentuk-bentuk geometris dan bentuk-bentuk 384

406 naturalis seperti stilasi bentuk segitiga, bentuk segi empat, bentuk lingkaran dan sebagainya. Stilasi bentuk-bentuk alam seperti stilasi buah-buahan, stilasi daun, stilasi bunga, stilasi manusia, sitilasi binatang, dan stilasi bentuk-bentuk alam lainnya. Selain itu stilasi juga dapat dilakukan pada berbagai ragam hias yang sudah ada baik ragam hias naturalis, geometris maupun ragam hias dekoratif. Contoh beberapa stilasi bentuk naturalis dan bentuk geometris : Gambar 217. Contoh stilasi 385

407 C. Membuat Desain Hiasan Untuk Busana Agar ragam hias di atas dapat digunakan untuk menghias suatu benda maka perlu dirancang bentuk susunan ragam hiasnya yang disebut dengan pola hias. Pola hias merupakan susunan ragam hias yang disusun jarak dan ukurannya berdasarkan aturan-aturan tertentu. Pola hiasan juga harus menerapkan prinsip-prinsip desain seperti keseimbangan, irama, aksentuasi, dan kesatuan sehingga terdapat motif hias atau desain ragam hias yang kita inginkan. Desain ragam hias yang sudah berbentuk pola hias sudah dapat kita gunakan untuk menghias sesuatu benda. Pola hias ini ada 4 macam yaitu: pola serak, pola pinggiran, pola mengisi bidang dan pola bebas. 1. Pola serak atau pola tabur yaitu ragam hias kecil-kecil yang diatur jarak dan susunannya mengisi seluruh permukaan atau sebahagian bidang yang dihias. Ragam hias dapat diatur jarak dan susunannya apakah ke satu arah, dua arah, dua arah (bolak balik) atau ke semua arah. Contoh pola serak/pola tabur yaitu : Gambar 218. Contoh pola serak/pola tabur 386

408 2. Pola pinggiran yaitu ragam hias disusun berjajar mengikuti garis lurus atau garis lengkung yang saling berhubungan satu dengan yang lainnya. Pola pinggiran ini ada lima macam yaitu pola pinggiran berdiri, pola pinggiran bergantung, pola pinggiran simetris, pola pinggiran berjalan, dan pola pinggiran memanjat. a. Pola pinggiran berdiri yaitu ragam hias disusun berjajar berat ke bawah atau disusun makin ke atas makin kecil. Pola pinggiran ini sering digunakan untuk menghias pinggiran bawah rok, pinggiran bawah blus, ujung lengan dan lain-lain. Contoh pola pinggiran berdiri : Gambar 219. Contoh pola pinggiran berdiri 387

409 b. Pola pinggiran bergantung yaitu kebalikan dari pola pinggiran berdiri yang mana ragam hias disusun berjajar dengan susunan berat ke atas atau makin ke bawah makin kecil sehingga terlihat seperti menggantung. Pola pinggiran ini digunakan untuk menghias garis leher pakaian, garis hias horizontal yang mana ujung motif menghadap ke bawah. Contoh pola pinggiran bergantung : Gambar 220. Contoh pola pinggiran bergantung c. Pola pinggiran simetris yaitu ragam hias di susun berjajar dimana bagian atas dan bagian bawah sama besar. Pinggiran ini digunakan untuk menghias pinggiran rok, pinggiran ujung lengan, tengah muka blus, gaun ataupun rok. Contoh pola pinggiran simetris yaitu : 388

410 Gambar 221. Contoh pola pinggiran simetris 389

411 d. Pola pinggiran berjalan yaitu susunan ragam hias yang disusun berjajar pada garis horizontal dan dihubungkan dengan garis lengkung sehingga motif seolah-olah bergerak ke satu arah. Pola pinggiran berjalan ini digunakan untuk menghias bagian bawah rok, bawah blus, ujung lengan, dan garis hias yang horizontal. Contoh pola pinggiran berjalan yaitu : Gambar 222. Contoh pola pinggiran berjalan e. Pola pinggiran memanjat yaitu susunan ragam hias yang disusun berjajar pada garis tegak lurus sehingga seolah-olah motif bergerak ke atas/memanjat. Pola hiasan seperti ini digunakan untuk menghias bagian yang tegak lurus seperti tengah muka blus, tengah muka rok, garis princes dan lain-lain. Contoh pola pinggiran memanjat yaitu : 390

412 Gambar 223. Contoh pola pinggiran memanjat 391

413 3. Pola mengisi bidang Pola mengisi bidang yaitu ragam hias disusun mengikuti bentuk bidang yang akan dihias. Contohnya bidang segi empat, bidang segi tiga, bidang lingkaran dan lain-lain. a. Mengisi bidang segi empat, ragam hias bisa disusun di pinggir atau di tengah atau pada sudutnya saja sehingga memberi kesan bentuk segi empat. Pola mengisi bidang segi empat ini bisa digunakan untuk menghias benda yang berbentuk bidang segi empat seperti alas meja, blus dengan belahan di tengah muka seperti kebaya. Gambar 224. Contoh pola mengisi bidang segi empat 392

414 Gambar 225. Contoh pola mengisi bidang segi empat 393

415 b. Mengisi bidang segi tiga, ragam hias disusun memenuhi bidang segi tiga atau di hias pada setiap sudut segitiga. Pola seperti ini digunakan untuk menghias taplak meja, saku, puncak lengan, dan lain-lain. Gambar 226. Contoh pola mengisi bidang segitiga sama sisi 394

416 Gambar 227. Contoh pola mengisi bidang segi tiga siku c. Pola mengisi bidang lingkaran/setengah lingkaran, ragam hias dapat disusun mengikuti pinggir lingkaran, di tengah atau memenuhi semua bidang lingkaran. Pola mengisi bidang lingkaran ini dapat digunakan untuk menghias garis leher yang berbentuk bulat atau leher Sabrina, taplak meja yang berbentuk lingkaran, dan lain-lain. Contoh pola mengisi bidang lingkaran yaitu : 395

417 Gambar 228. Contoh pola mengisi bidang lingkaran / oval 4. Pola bebas Pola bebas yaitu susunan ragam hias yang tidak terikat susunannya apakah arah horizontal atau vertikal, makin ke atas susunannya makin kecil atau sebaliknya, dll. Yang perlu diperhatikan adalah susunannya tetap sesuai dengan prinsip-prinsip desain dan penempatan hiasan pada 396

418 benda tidak mengganggu jahitan atau desain struktur benda. Beberapa contoh pola bebas yaitu : Gambar 229. Contoh pola hias bebas 397

419 Gambar 230. Contoh pola hias bebas 398

420 D. Memindahkan Desain Hiasan Pada Kain Atau Busana Pola hias yang sudah di rancang untuk busana atau untuk keperluan lenan rumah tangga dipindahkan terlebih dahulu pada bahan yang akan dihias. Cara memindahkan desain hiasan ini tergantung pada kain yang digunakan. Untuk kain yang tebal atau tidak transparan dapat menggunakan karbon jahit. Karbon jahit diletakkan di atas kain atau antara bagian baik kain dengan kertas desain motif, kemudian motif ditekan menggunakan pensil sehingga motif pindah ke atas kain. Dalam menjiplak motif pada kain ini sebaiknya kertas motif dipentulkan terlebih dahulu ke kain sehingga kertas motif tidak bergeser. Tekanan pensil pada saat menjiplak motif juga perlu diperhatikan. Tekanan pensil ini sebaiknya jangan terlalu keras sehingga berkas karbon di atas kain tidak mengotori permukaan kain. Sedangkan untuk kain yang tipis atau transparan dapat langsung dijiplak menggunakan pensil, yang mana kertas motif diletakkan di bawah bahan. Bekas motif yang terlihat pada bagian baik bahan bisa langsung dijiplak menggunakan pensil. Selain cara yang dikemukakan di atas ada juga yang menjiplak motif dengan cara mengkasarkan motif yang ada di kertas kemudian di tekan ke atas bahan sehingga bekas pensil yang kasar ini pindah ke bahan. Namun cara ini kurang efektif karena adakalanya ada bagian motif yang tidak terlalu kasar sehingga motif tersebut tidak pindah ke kain. Hal yang perlu diingat dalam menjiplak motif ini yaitu motif hendaknya ditempatkan secara tepat pada bagian busana yang akan dhias. Jika kita salah dalam memindahkan motif pada bahan maka sudah barang tentu hiasan yang dibuat tidak sesuai dengan desain busana yang direncanakan. E. Membuat Hiasan Pada Kain Atau Busana Untuk membuat hiasan pada permukaan kain digunakan tusuk hias. Kegiatan ini disebut juga dengan teknik sulaman yaitu teknik membuat ragam hias pada permukaan kain dengan benang. Benang tersebut diatur secara dekoratif pada permukaan kain dengan jalan menusukkan benang dengan bermacam-macam cara. Macammacam tusuk ini dinamakan dengan tusuk hias. Tusuk hias terdiri atas dua kelompok yaitu tusuk hias dasar dan tusuk hias variasi. Tusuk hias dasar yaitu tusuk-tusuk yang merupakan dasar untuk membuat tusuk hias variasi. Tusuk variasi yaitu tusuk yang berasal dari variasi tusuk hias dasar baik dengan memvariasikan arah, jarak dan sebagainya sehingga menghasilkan bermacam-macam tusuk dengan gaya yang berbeda. 399

421 1. TUSUK HIAS a. Tusuk hias dasar Tusuk hias dasar ada tiga belas macam yatu : 1) Tusuk jelujur yaitu tusuk yang mempunyai arah horizontal ukuran dan jarak turun naik tusuk diatur sama panjang. 2) Tusuk veston yaitu tusuk yang mempunyai dua arah yaitu arah vertikal dan arah horizontal, kaki tusuk arah vertikal dan arah horizontal mempunyai pilinan 3) Tusuk flanel yaitu tusuk yang mempunyai arah diagonal dan pada bagian atas dan bagian bawah tusuk bersilang 4) Tusuk batang yaitu tusuk yang mempunyai arah diagonal dan setengah dari ukuran tusuk masing-masing saling bersentuhan 5) Tusuk pipih yaitu tusuk yang dibuat turun naik sama panjang dan menutup seluruh permukaan ragam hias. 6) Tusuk rantai yaitu tusuk mempunyai arah horizontal atau vertikal dimana masing-masing tusuk saling tindih menindih sehingga membentuk rantai-rantai yang sambung menyambung. 400

422 7) Tusuk silang yaitu tusuk yang mempunyai arah diagonal dan pada garis tengahnya ada persilangan antara tusuk bagian atas dan tusuk bagian bawah. 8) Tusuk biku yaitu tusuk yang mempunyai arah diagonal ke kiri dan ke kanan 9) Tusuk palestrina yaitu tusuk mempunyai arah horizontal dan setiap tusukan mempunyai tonjolan atau buhulan 10) Tusuk kepala peniti yaitu tusuk yang mempunyai pilihanpilihan pada permukaan kain dan menutup semua permukaan ragam hias. 11) Tusuk tikam jejak yaitu tusuk yang mempunyai arah horizontal dan setengah dari ukuran tusuk saling bersentuhan sehingga pada permukaan kelihatan seperti setikan mesin. 401

423 12) Tusuk balut yaitu tusuk yang mempunyai arah diagonal yang dilakukan di atas benang lain atau pada pinggir ragam hias yang dilobangi. 13) Tusuk Holben yaitu tusuk yang mempunyai arah horizontal dan vertikal dan jarak turun naik tusuk diatur sama panjang sehingga berbentuk jajaran. b. Tusuk hias variasi yaitu tusuk yang merupakan variasi dari tusuk-tusuk dasar, variasi tusuk-tusuk dasar tersebut dapat dilakukan dengan merubah arah, ukuran, jarak tusuk atau mengkombinasikan satu tusuk dengan tusuk yang lain sehingga dari satu tusuk dasar dapat menghasilkan bermacam-macam tusuk variasi yang mempunyai nama tersendiri misalnya variasi dari tusuk silang disebut tusuk silang ganda, variasi dari tusuk rantai tusuk rantai terbuka atau tusuk tulang ikan, variasi tusuk pipih disebut long and short stich, variasi tusuk flanel disebut tusuk chevron dan lainnya. Berikut beberapa contoh tusuk hias variasi : Variasi tusuk flanel Variasi tusuk holben 402

424 2. JENIS SULAMAN Ada berbagai jenis sulaman yang dapat digunakan untuk menghias busana, baik sulaman yang dibuat menggunakan bantuan mesin maupun menggunakan tangan. Apalagi jika kita amati perkembangan mesin sulam saat ini. Dengan bantuan mesin sulam, komputer dan satu orang operator dapat dihasilkan kain yang disulam dalam jumlah banyak. Namun masih banyak jenis sulaman yang harus dikerjakan dengan tangan dan jenis sulaman ini dihargai dengan harga yang relatif tinggi. Ada banyak sulaman yang dibuat menggunakan tangan yang dijelaskan dalam banyak literatur. Beberapa jenis sulaman yang dapat digunakan untuk menghias kain atau busana di antaranya yaitu: a. Sulaman Fantasi Sulaman fantasi sering juga disebut sulaman bebas karena sulaman ini di desain dengan memvariasikan tusuk hias dan warna benang pada bahan tenunan polos. Ragam hias yang digunakan untuk sulaman fantasi sering menggunakan ragam hias naturalis seperti bentuk bunga-bunga, binatang, buah-buahan dan lain-lain. Warna yang digunakan untuk sulaman fantasi lebih dari dua warna. Kombinasi warna dapat memakai kombinasi warna kontras atau komplement dan kombinasi warna harmonis seperti kombinasi warna analog dan kombinasi warna monolog. Untuk menghasilkan aksentuasi dapat dilakukan dengan teknik kontras baik kontras warna, kontras tusuk, atau kontras ukuran ragam hias. Penggunaan tusuk juga divariasikan lebih dari dua macam tusuk seperti tusuk pipih, tusuk tangkai, tusuk veston, dan tusuk kepala peniti. Untuk menghasilkan aksentuasi atau pusat perhatian seperti kontras tusuk, maka pilih tusuk hias yang kesannya menonjol dari tusuk yang lain seperti misalnya tusuk pipih karena semua permukaan ragam tertutup oleh tusuk atau tusuk palestrin karena permukaan tusuknya menonjol. Pola hias yang digunakan untuk sulaman fantasi ini disesuaikan dengan penempatan sulaman pada desain strukturnya. Berikut ini contoh desain sulaman fantasi : 403

425 Gambar 231. Desain sulaman fantasi Gambar 232. Desain sulaman fantasi dengan pola hias mengisi bidang lingkaran 404

426 Adapun alat yang dibutuhkan adalah ram, gunting dan jarum tangan. Bahan yang digunakan adalah kain dengan tenunan rapat dan polos seperti tetoron, berkolin, poplin dan lain-lain. Benda yang dapat dihias antara lain blus, rok, gaun dan aneka lenan rumah tangga. Cara mengerjakannya yaitu motif yang sudah di desain dipindahkan ke bahan. Motif dapat berupa bunga-bungaan atau bentuk-bentuk naturalis. Setelah itu ram di pasang di atas bahan yang akan di hias. Mulailah membuat bermacam-macam tusuk di atas bahan sesuai dengan motif yang direncanakan. Warna benang yang digunakan boleh dikombinasikan dan tidak lebih dari 3 warna karena akan membuat desain terlalu ramai atau tidak menarik, disamping itu kita juga dapat menggunakan beraneka tusuk hias. Dalam mengkombinasikan warna dan mengkombinasikan tusuk hias hendaklah diperhatikan kesatuan dari desain yang dibuat sehingga sulaman yang dihasilkan benar-benar dapat meningkatkan mutu dari kain yang kita hias. b. Sulaman Hongkong Sulaman hongkong yaitu sulaman yang dijahit dengan variasi tusuk pipih yang dijahitkan mengisi seluruh permukaan motif. Jahitan dibuat beberapa jajaran dengan menggunakan warna bertingkat. Tusuk pipih dijahitkan bolak balik dengan ukuran yang tidak sama panjang atau disebut tusuk long and short stitch Setiap jajaran tusuk menggunakan kombinasi warna bertingkat. Warna bertingkat dapat dipilih warna value, warna shade, atau warna tint. Warna value yaitu tingkatan warna yang terjadi dari campuran warna hitam dan putih. Warna shade yaitu tingkatan warna yang terjadi karena campuran warna dengan warna hitam. Warna tint yaitu tingkatan warna yang terjadi karena pencampuran warna dengan warna putih. Ragam hias yang digunakan untuk sulaman hongkong yaitu ragam hias naturalis atau ragam dekoratif berupa bunga-bunga dan daun-daun, atau hewan seperti burung-burung atau kupu-kupu dan sebagainya. Pola hiasan dapat menggunakan semua pola hias tergantung jenis ragam hias yang digunakan. Aksentuasi dapat dihasilkan dengan teknik kontras warna dan ukuran. Adapun alat yang dibutuhkan adalah ram dan jarum tangan. Bahan yang dibutuhkan yaitu kain dengan tenunan polos dan benang sulam. Cara mengerjakannya yaitu : desain motif di pindahkan ke atas kain. Ram dipasang di atas kain yang bermotif. Mulailah menyulam dengan menggunakan tusuk long and short sticth. Tusuk ini dijahitkan dari bagian luar motif, tusuk rata pada bagian luar dan tidak sama panjang (panjang pendek) pada bagian dalam motif, dengan menggunakan warna bertingkat. Jika warna pada bagian luar motif warna yang lebih muda maka warna benang yang digunakan makin ke dalam motif makin tua. Lakukan sampai seluruh motif selesai 405

427 dijahit. Rapikan sisa-sisa benang. Untuk bagian batang dapat digunakan tusuk lain seperti tusuk batang, tusuk tikam jejak dan lainlain. Berikut ini contoh desain sulaman hongkong : Gambar 233. Desain sulaman hongkong 406

428 c. Sulaman Aplikasi Sulaman aplikasi merupakan salah satu sulaman dengan teknik lekapan. Sulaman dengan teknik lekapan yaitu sulaman yang ragam hiasnya dibentuk dari bahan lain kemudian ditempelkan pada permukaan kain. Bahan tempelan untuk membentuk ragam hias dapat berupa kain, benang yang kasar, pita atau tali dan payet. Lekapan ini bermacam-macam sesuai dengan bahan tempelan yang digunakan. Jenis sulaman ini yaitu sulaman aplikasi, sulaman inkrustasi, sulaman melekatkan benang atau tali, melekatkan payet dan quilting. Aplikasi yaitu satu metode menghias kain dengan menjahitkan sepotong kain yang digunting pada permukaan kain. Ragam hias dibentuk dari kain lain atau pita dan ditempelkan dengan tusuk hias pada permukaan benda yang akan dihias. Bahan tempelan dapat digunakan bahan yang tidak bercorak atau dapat pula digunakan bahan yang bercorak atau bermotif. Tempelan dari bahan yang tidak bercorak disebut aplikasi Cina sedangkan tempelan dari bahan bercorak disebut aplikasi Persia. Pada aplikasi persia kita tidak perlu mendesain ragam hiasnya karena kita hanya mengambil ragam hias yang sudah ada pada kain tersebut, kemudian disusun di atas permukaan kain dan ditempelkan dengan tusuk. Sedangkan pada aplikasi Cina ragam hias dibentuk dari kain yang tidak bercorak. Ragam hias dibentuk dari bahan polos yang digunting sesuai desain. Bahan tempelan sebaiknya diberi pengeras seperti fliselin agar tiras kain tidak mudah lepas. Warna kain tempelan dapat dikombinasikan sesuai dengan keinginan. Ragam hias untuk aplikasi ini umumnya menggunakan ragam hias dekoratif yang distilasi dari ragam naturalis seperti bentuk bunga-bunga, pohon, pemandangan, bentuk binatang dan lain sebagainya. Ragam hias yang didesain diusahakan tidak mempunyai lengkungan yang terlalu tajam atau bentuk-bentuk yang terlalu lancip, karena akan menyulitkan dalam pekerjaan menyulam dan akan mempengaruhi hasil sulaman tersebut. Warna ragam hias untuk aplikasi dapat menggunakan warna tunggal atau warna yang dikombinasikan. Untuk penggunaan warna tunggal dapat memilih warna yang senada atau warna bertingkat dengan warna benda yang akan dihias atau dapat pula menggunakan warna kontras dengan warna benda yang akan dihias. Sedangkan untuk ragam hias yang menggunakan kombinasi dua atau tiga warna juga dapat memakai kombinasi warna harmonis atau kombinasi warna kontras. Tusuk hias yang dipakai untuk menempelkan ragam hias pada permukaan kain dapat dipakai tusuk veston atau tusuk klim tergantung pada ketebalan bahan tempelan. Untuk bahan yang tipis digunakan tusuk klim sedangkan untuk bahan yang tebal digunakan 407

429 tusuk veston. Untuk menambahkan hiasan pada tempelan dapat digunakan tusuk pipih atau tusuk batang. Pola hiasan untuk aplikasi tergantung pada ragam yang digunakan misalnya ragam hias pemandangan alam akan menggunakan pola hiasan bebas, apabila menggunakan ragam bunga-bunga dan lainnya dapat menggunakan semua pola hiasan yang disesuaikan dengan penempatannya pada desain struktur. Adapun alat yang dibutuhkan untuk sulaman aplikasi adalah ram dan jarum tangan. Bahan yang digunakan yaitu kain yang akan di hias berupa tenunan polos, bahan tempelan sesuai dengan jenis aplikasi yang diinginkan apakah aplikasi cina atau aplikasi persia, benang jahit dan benang sulam. Cara mengerjakannya yaitu motif yang sudah ada dipindahkan ke kain yang akan di hias. Kemudian bahan tempelan di tempel ke bahan dan dijelujur agar tidak bergeser. Pasanglah ram di atas bahan yang sudah ditempel tersebut kemudian mulailah membuat tusuk feston pada bagian pinggir tempelan sehingga bahan lekapan ini menyatu dengan kain. Contoh desain sulaman aplikasi : Gambar 234. Desain sulaman aplikasi 408

430 d. Sulaman Melekatkan Benang Melekatkan benang yaitu sulaman yang ragam hiasnya dibentuk dari benang sulam yang kasar yang ditempelkan secara kontinue atau terus menerus tidak terputus-putus pada permukaan kain dengan tusuk hias. Benang dibentuk menjadi ragam hias pada permukaan kain dan dijahitkan dengan tusuk balut atau silang. Desain melekatkan benang ini ada dua jenis yaitu pertama desain pinggiran yaitu benang hanya ditempelkan pada pinggiran luar ragam hias dan yang kedua benang ditempelkan pada seluruh permukaan ragam hias. Ragam hias melekatkan benang hanya menggunakan ragam hias geometris berbentuk garis-garis lengkung. Desain ragam hias hendaklah tidak mempunyai lengkungan yang terlalu kecil atau terlalu lancip karena akan menyulitkan dalam pekerjaan menyulam dan akan mempengaruhi hasil sulaman tersebut. Warna benang untuk tempelan atau ragam hias menggunakan warna tunggal yang harmonis atau kontras dengan kain yang akan dihias. Tetapi warna benang untuk tusuk balut atau tusuk silang sebaiknya menggunakan warna kontras dengan warna benang tempelan. Untuk menghasilkan aksentuasi ragam hias dapat dilakukan dengan teknik kontras ukuran dimana pada bagian yang merupakan aksentuasi ukuran ragamnya dibuat lebih besar dari ukuran ragam yang lain. Sulaman ini dapat menggunakan seluruh pola hias kecuali pola serak. Karena untuk sulaman ini benang diatur tidak terputusputus. Adapun alat yang digunakan untuk membuat sulaman melekatkan benang ini yaitu ram, gunting dan jarum tangan. Bahan yang digunakan yaitu bahan yang akan di hias, benang kasar yang akan menjadi lekapan dan benang sulam untuk tusuk hiasnya. Cara membuat sulaman melekatkan benang ini yaitu terlebih dahulu motif dipindahkan ke atas bahan dan pasang ram. Benang lekapan di tempelkan ke atas bahan menggunakan tusuk hias. Tusuk hias yang di gunakan dapat di pilih salah satu apakah tusuk balut atau tusuk silang. Jarak tusuk ini sebaiknya tidak terlalu jarang atau tidak lebih dari 0,5 cm. Aturlah benang yang dilekapkan sampai seluruh motif selesai. Rapikan sisa-sisa benang. 409

431 Contoh desain sulaman melekatkan benang yaitu : Gambar 235. Desain sulaman melekatkan benang 410

432 e. Terawang Hardanger Terawang yaitu ragam hias yang dibentuk dari ragam yang mempunyai lobang-lobang berbentuk geometris. Terawang ini ada macam-macam yaitu terawang hardanger, terawang inggris, terawang richeliu, terawang putih, terawang fillet dan terawang persia. Terawang hardanger adalah terawang dengan ragam hias geometris berbentuk empat persegi dan bentuk lobang-kobangnya juga berbentuk empat persegi. Pada bagian lobang dihiasi dengan trens atau rentangan benang dan dapat juga dihias dengan teknik sisipan atau pada rentangan benang disisip dengan benang. Tusuk yang digunakan untuk terawang hardanger ini ada dua macam yaitu tusuk pipih dan tusuk jelujur yang dijahit bolak-balik pada pinggira lobang. Warna ragam hias untuk terawang hardanger ini menggunakan warna tunggal yaitu warna yang senada atau warna yang harmonis dengan warna kain yang akan dihias. Untuk menghasilkan aksentuasi pada ragam hias dapat dilakukan dengan teknik kontras ukuran ragam hias atau kontras ukuran lobang ragam hias. Pola hias untuk terawang hardanger dapat menggunakan pola hias pinggiran berdiri atau pinggiran bergantung dan pola hiasan mengisi bidang-bidang segi empat, bidang segi tiga dan bidang belah ketupat karena untuk pola-pola lain sukar membentuknya. Alat yang digunakan untuk membuat terawang hardanger ini yaitu ram, jarum tangan, gunting dan pisau silet. Adapun bahan yang digunakan yaitu bahan dengan tenunan polos, benang sulam yang sewarna atau setingkat lebih tua atau lebih muda dengan bahan. Cara mengerjakan terawang hardanger ini yaitu terlebih dahulu pindahkan motif pada bahan. Hal yang perlu diingat dalam mengerjakan terawang ini adalah arah motif mengikuti serat benang pada bahan atau kain. Buangkah bagian bahan yang akan dilobangi menggunakan pisau silet. Bagian pinggir lobang hendaknya di jelujur terlebih dahulu sebelum di lobangi sehingga pinggir lobang tidak bertiras. Setelah selesai melobangi barulah dilakukan menjahitkan tusuk pipih pada motif atau pada sekeliling tepi lobang. Setelah selesai menjahitkan tusuk pipih atau tusuk balut ini baru dilakukan membuat rentangan benang (trens) pada bagian tengah lobang dengan cara menyilangkan benang pada bagian lobang. Lakukan hingga seluruh motif selesai dihias. Rapikan sisa-sisa benang. 411

433 Contoh desain terawang hardanger : Gambar 236. Desain terawang hardanger f. Terawang Inggris Terawang Inggris yaitu ragam hias yang dibentuk dari ragam yang mempunyai lobang-lobang berbentuk geometris bundaran-bundaran atau bentuk oval yang terjadi karena kainnya ditoreh atau digunting. Tusuk yang digunakan untuk terawang inggris ini yaitu tusuk balut sehingga kain guntingnya tergulung dan lobang-lobang yang terjadi tidak berbulu. Warna ragam hias untuk terawang Inggris ini menggunakan warna tunggal yaitu warna yang senada atau warna yang harmonis dengan warna kain yang akan dihias. Untuk menghasilkan aksentuasi ragam hias dapat dilakukan dengan teknik kontras ukuran dari ragam hias atau kontras ukuran dari lobanglobang ragam hias. Pola hiasan untuk terawang inggris dapat menggunakan semua pola hias mulai dari pola hias tabur, pola hias pinggiran, pola hias mengisi bidang atau pola hias bebas, karena ragamnya kecil-kecil dan dapat diatur sesuai keinginan para perancang. Alat yang digunakan untuk membuat terawang Inggris adalah ram, jarum jahit, gunting dan pisau silet. Bahan yang digunakan dapat menggunakan kain dengan tenunan polos, benang sulam dan benang jahit. Cara mengerjakannya yaitu terlebih dahulu motif dipindahkan ke kain sesuai dengan penempatannya pada busana. Jelujur sekeliling motif yang akan dilobangi kemudian toreh atau lobangi. Jelujur ini berfungsi untuk tusuk penahan agar lobang tidak bertiras. Setelah selesai dilobangi barulah dilanjutkan dengan membuat tusuk balut 412

434 pada sekeliling lobang. Selesaikan bagian batang dengan menggunakan tusuk batang atau tusuk tikam jejak. Rapikan sisa-sisa benang. Contoh desain terawang inggris yaitu : Gambar 237. Desain terawang inggris 413

TATA BUSANA SMK JILID 1. Ernawati Izwerni Weni Nelmira

TATA BUSANA SMK JILID 1. Ernawati Izwerni Weni Nelmira Ernawati Izwerni Weni Nelmira TATA BUSANA SMK JILID 1 Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah Departemen Pendidikan Nasional Hak Cipta

Lebih terperinci

USANA SMK JILID 1. Ernawati Izwerni Weni Nelmira

USANA SMK JILID 1. Ernawati Izwerni Weni Nelmira Ernawati Izwerni Weni Nelmira TATA A BUSAN USANA SMK JILID 1 TUT WURI HANDAYANI Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah Departemen Pendidikan

Lebih terperinci

Gambar 3.1 Busana Thailand Berbentuk Celemek Panggul, Kaftan atau Tunika

Gambar 3.1 Busana Thailand Berbentuk Celemek Panggul, Kaftan atau Tunika BAHAN AJAR BAGIAN III SEJARAH MODE PERKEMBANGAN BENTUK DASAR BUSANA DI NEGARA TIMUR A. Thailand Thailand adalah salah satu negara tetangga Indonesia sehingga busan antara kedua negara tersebut terdapat

Lebih terperinci

BAHAN AJAR PERKULIAHAN

BAHAN AJAR PERKULIAHAN BAHAN AJAR PERKULIAHAN SEJARAH MODE (BU 152) Dr Mally Maeliah, M.Pd NIP. 19950929 198303 2 002 PROGRAM STUDI PENDIDIKAN TATA BUSANA JURUSAN PENDIDIKAN KESEJAHTERAAN KELUARGA FAKULTAS PENDIDIKAN TEKNOLOGI

Lebih terperinci

Penyusun: ANTI ASTA VIANI. Editor TIM KONSULTAN FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS NEGERI MALANG

Penyusun: ANTI ASTA VIANI. Editor TIM KONSULTAN FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS NEGERI MALANG Penyusun: ANTI ASTA VIANI Editor TIM KONSULTAN FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS NEGERI MALANG BAGIAN PROYEK PENGEMBANGAN KURIKULUM DIREKTORAT PENDIDIKAN MENENGAH KEJURUAN DIREKTORAT JENDERAL PENDIDIKAN DASAR

Lebih terperinci

TATA BUSANA SMK JILID 3. Ernawati Izwerni Weni Nelmira

TATA BUSANA SMK JILID 3. Ernawati Izwerni Weni Nelmira Ernawati Izwerni Weni Nelmira TATA BUSANA SMK JILID 3 Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah Departemen Pendidikan Nasional Hak Cipta

Lebih terperinci

Penyusun SRI EKO PUJI RAHAYU. Editor TIM KONSULTAN FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS NEGERI MALANG

Penyusun SRI EKO PUJI RAHAYU. Editor TIM KONSULTAN FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS NEGERI MALANG Penyusun SRI EKO PUJI RAHAYU Editor TIM KONSULTAN FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS NEGERI MALANG BAGIAN PROYEK PENGEMBANGAN KURIKULUM DIREKTORAT PENDIDIKAN MENENGAH KEJURUAN DIREKTORAT JENDERAL PENDIDIKAN DASAR

Lebih terperinci

JILID 3. Tata Busana

JILID 3. Tata Busana 3 Tata Busana JILID 3 Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah Departemen Pendidikan Nasional Ernawati Izwerni Weni Nelmira TATA BUSANA

Lebih terperinci

ULANGAN HARIAN MAN YOGYAKARTA III TAHUN PELAJARAN 2014/2015. : Prakarya dan Kewirausahaan Kerajinan Tekstil

ULANGAN HARIAN MAN YOGYAKARTA III TAHUN PELAJARAN 2014/2015. : Prakarya dan Kewirausahaan Kerajinan Tekstil ULANGAN HARIAN MAN YOGYAKARTA III TAHUN PELAJARAN 2014/2015 Mata Pelajaran Kelas/Semester Waktu : Prakarya dan Kewirausahaan Kerajinan Tekstil : XII/I : 45 menit A. Pilihlahlah jawaban di bawah ini yang

Lebih terperinci

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN 01

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN 01 RPP menjahit RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN 01 PELAJARAN : MULOK MENJAHIT KELAS /SEMESTER : VII / I MATERI : PENGERTIAN MENJAHIT SUB MATERI : DASAR DASAR MENJAHIT ALOKASI WAKTU : 2 x PERTEMUAN I. KOMPETENSI

Lebih terperinci

JILID 3. Tata Busana

JILID 3. Tata Busana 3 Tata Busana JILID 3 Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah Departemen Pendidikan Nasional Ernawati Izwerni Weni Nelmira TATA BUSANA

Lebih terperinci

UJIAN SEKOLAH SMP/MTs TAHUN PELAJARAN Hari/Tanggal (60 menit) P - 01

UJIAN SEKOLAH SMP/MTs TAHUN PELAJARAN Hari/Tanggal (60 menit) P - 01 DOKUMEN SEKOLAH SANGAT RAHASIA UJIAN SEKOLAH SMP/MTs TAHUN PELAJARAN 2014-2015 Mata Pelajaran Tata Busana/Ketrampilan Paket 01/Utama Hari/Tanggal... Waktu 08.30 09.30 (60 menit) P - 01 PETUNJUK UMUM :

Lebih terperinci

Keindahan Desain Kalung Padu Padan Busana. Yulia Ardiani (Staff Teknologi Komunikasi dan Informasi Institut Seni Indonesia Denpasar) Abstrak

Keindahan Desain Kalung Padu Padan Busana. Yulia Ardiani (Staff Teknologi Komunikasi dan Informasi Institut Seni Indonesia Denpasar) Abstrak Keindahan Desain Kalung Padu Padan Busana Yulia Ardiani (Staff Teknologi Komunikasi dan Informasi Institut Seni Indonesia Denpasar) Abstrak Pemakaian busana kini telah menjadi trend di dunia remaja, dengan

Lebih terperinci

JOB-SHEET. A. Kompetensi: diharapkan mahasiswa dapat membuat bebe anak perempuan sesuai dengan disain

JOB-SHEET. A. Kompetensi: diharapkan mahasiswa dapat membuat bebe anak perempuan sesuai dengan disain JOB-SHEET MATA KULIAH : BUSANA ANAK TOPIK : BEBE ANAK PEREMPUAN PROGRAM STUDI : PT BUSANA / TEKNIK BUSANA SEMESTER : II JUMLAH SKS : 2 SKS (Praktek) PENGAMPU : EMY BUDIASTUTI, M.Pd A. Kompetensi: diharapkan

Lebih terperinci

KRIYA TEKSTIL SMK. Budiyono dkk

KRIYA TEKSTIL SMK. Budiyono dkk Budiyono dkk KRIYA TEKSTIL SMK JILID 1 Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah Departemen Pendidikan Nasional Hak Cipta pada Departemen

Lebih terperinci

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN. Kesimpulan, dan saran disusun berdasarkan seluruh kegiatan penelitian

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN. Kesimpulan, dan saran disusun berdasarkan seluruh kegiatan penelitian BAB V KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan, dan saran disusun berdasarkan seluruh kegiatan penelitian Manfaat Hasil Belajar Membuat Pola Busana Pesta Wanita Dengan Sistem Kombinasi Sebagai Kesiapan Praktek

Lebih terperinci

Disampaikan pada Acara PKK Ibu-ibu Desa Trihanggo Sleman Yogyakarta Tahun 2004

Disampaikan pada Acara PKK Ibu-ibu Desa Trihanggo Sleman Yogyakarta Tahun 2004 MEMILIH BUSANA YANG TEPAT DAN BERETIKA UNTUK BERBAGAI MACAM KESEMPATAN Oleh : Widihastuti Staf Pengajar Program Studi Teknik Busana FT UNY widihastuti@uny.ac.id PENDAHULUAN Yang dimaksud dengan busana

Lebih terperinci

MODUL KURSUS MENJAHIT TINGKAT DASAR

MODUL KURSUS MENJAHIT TINGKAT DASAR i MODUL KURSUS MENJAHIT TINGKAT DASAR Cara Mengambil Ukuran, Pembuatan Pola Dasar, Merubah Model, Perencanaan Bahan Oleh Zulfaturochmah, S. Pd Pamong Belajar SKB Kab. Pekalongan DINAS PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN

Lebih terperinci

KAJIAN KOMPARATIF DESAIN BUSANA NASIONAL WANITA INDONESIA KARYA BARON DAN BIYAN DENGAN KARYA ADJIE NOTONEGORO

KAJIAN KOMPARATIF DESAIN BUSANA NASIONAL WANITA INDONESIA KARYA BARON DAN BIYAN DENGAN KARYA ADJIE NOTONEGORO KAJIAN KOMPARATIF DESAIN BUSANA NASIONAL WANITA INDONESIA KARYA BARON DAN BIYAN DENGAN KARYA ADJIE NOTONEGORO Oleh Suciati, S.Pd, M.Ds Prodi Pendidikan Tata Busana JPKK FPTK UPI I. PRINSIP DASAR BUSANA

Lebih terperinci

MODUL VI BU 461*) Adibusana

MODUL VI BU 461*) Adibusana MODUL VI 1. Mata Kuliah : BU 461*) Adibusana 2. Pertemuan ke : 11 dan 12 3. Pokok Materi : Busana Fantasi dan Kreasi Busana 1. Busana Fantasi 2. Busana Kreasi 4. Materi Perkuliahan : Busana fantasi adalah

Lebih terperinci

MEMBUAT POLA BUSANA TINGKAT DASAR

MEMBUAT POLA BUSANA TINGKAT DASAR MEMBUAT POLA BUSANA TINGKAT DASAR Busana mempunyai hubungan yang erat dengan manusia, karena menjadi salah satu kebutuhan utamanya. Sejak jaman dahulu, dalam kehidupan sehari hari manusia tidak bisa dipisahkan

Lebih terperinci

Kata Pengantar. Penulis

Kata Pengantar. Penulis Kata Pengantar P uji Tuhan, dengan penuh rasa syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa yang telah melimpahkan karunia-nya, sehingga dapat menyelesaikan modul dengan judul Busana Pria ini

Lebih terperinci

Cara Menjahit Gamis Resleting Depan

Cara Menjahit Gamis Resleting Depan Cara Menjahit Gamis Resleting Depan Dilarang Keras Memproduksi, Memperbanyak dan mendistribusikan baik keseluruhan maupun sedikit dari isi ebook ini dalam bentuk Apapun tanpa seizin penulis. Untuk menghemat

Lebih terperinci

BAB V TEKNIK PENATAAN DISPLAY INOVASI BUSANA ETNIK

BAB V TEKNIK PENATAAN DISPLAY INOVASI BUSANA ETNIK BAB V TEKNIK PENATAAN DISPLAY INOVASI BUSANA ETNIK A. Teknik Dasar Penataan Display Menata display yang baik selain harus memperhatikan prinsip-prinsip yang berhubungan dengan desain dan keserasian warna,

Lebih terperinci

BAB II KAJIAN TEORI. untuk mencapai kinerja akademik yang memuaskan. Namun dari. kenyataan sehari-hari tampak jelas bahwa siswa itu memiliki perbedaan

BAB II KAJIAN TEORI. untuk mencapai kinerja akademik yang memuaskan. Namun dari. kenyataan sehari-hari tampak jelas bahwa siswa itu memiliki perbedaan BAB II KAJIAN TEORI A. Deskripsi Teori 1. Kesulitan Belajar Membuat Blus a. Kesulitan Belajar Setiap siswa pada prinsipnya tentu berhak memperoleh peluang untuk mencapai kinerja akademik yang memuaskan.

Lebih terperinci

BAHAN PERKULIAHAN KONTRUKSI POLA BUSANA (Prodi Pendidikan Tata Busana) Disusun Oleh : Dra. Marlina, M.Si Mila Karmila, S.Pd, M.Ds

BAHAN PERKULIAHAN KONTRUKSI POLA BUSANA (Prodi Pendidikan Tata Busana) Disusun Oleh : Dra. Marlina, M.Si Mila Karmila, S.Pd, M.Ds BAHAN PERKULIAHAN KONTRUKSI POLA BUSANA (Prodi Pendidikan Tata Busana) Disusun Oleh : Dra. Marlina, M.Si Mila Karmila, S.Pd, M.Ds PRODI PENDIDIKAN TATA BUSANA JURUSAN PENDIDIKAN KESEJAHTERAAN KELUARGA

Lebih terperinci

BAB V KESIMPULAN, IMPLIKASI DAN REKOMENDASI. rekomendasi yang disusun berdasarkan seluruh kegiatan penelitian mengenai

BAB V KESIMPULAN, IMPLIKASI DAN REKOMENDASI. rekomendasi yang disusun berdasarkan seluruh kegiatan penelitian mengenai BAB V KESIMPULAN, IMPLIKASI DAN REKOMENDASI Pada bab ini penulis mengemukakan kesimpulan, implikasi, dan rekomendasi yang disusun berdasarkan seluruh kegiatan penelitian mengenai Pendapat Peserta Didik

Lebih terperinci

LINSERI (BUSANA DALAM) Oleh : As-as Setiawati

LINSERI (BUSANA DALAM) Oleh : As-as Setiawati LINSERI (BUSANA DALAM) Oleh : As-as Setiawati Arti Linseri - Lingerie berasal dari bahasa latin Lingerie berasal dari kata Ineus, made of linen, from Inum, flax yang berarti linen artinya pakaian yang

Lebih terperinci

BAHAN AJAR BAGIAN II SEJARAH MODE HUBUNGAN BENTUK DASAR BUSANA ASLI DENGAN BUSANA TRADISIONAL INDONESIA

BAHAN AJAR BAGIAN II SEJARAH MODE HUBUNGAN BENTUK DASAR BUSANA ASLI DENGAN BUSANA TRADISIONAL INDONESIA BAHAN AJAR BAGIAN II SEJARAH MODE HUBUNGAN BENTUK DASAR BUSANA ASLI DENGAN BUSANA TRADISIONAL INDONESIA A. Busana Tradisional Indonesia Ditinjau dari Bentuk Dasar Busana Asli Indonesia sudah dikenal sebagai

Lebih terperinci

BAB II KARAKTERISTIK BUSANA ETNIK

BAB II KARAKTERISTIK BUSANA ETNIK BAB II KARAKTERISTIK BUSANA ETNIK Karakteristik busana etnik setiap daerah berbeda-beda. Karakterstik tersebut ditinjau dari model busananya, jenis dan corak kain yang dipergunakan, warna busana dan perlengkapan

Lebih terperinci

KRITERIA PENILAIAN MEMBUAT BEBE ANAK. Pencapaian Kompetensi. Sangat Baik (4) Baik (3) Kurang Baik (2) Tidak Baik (1) Sangat Baik (4) Baik (3)

KRITERIA PENILAIAN MEMBUAT BEBE ANAK. Pencapaian Kompetensi. Sangat Baik (4) Baik (3) Kurang Baik (2) Tidak Baik (1) Sangat Baik (4) Baik (3) KRITERIA PENILAIAN MEMBUAT BEBE ANAK No Komponen Penilaian Kompetensi 1. PERSIAPAN Menyiapkan alat jahit dan bahan 2. PROSES a. Meletakkan pola di atas bahan b. Memberi tanda pola Pencapaian Kompetensi

Lebih terperinci

Kain Sebagai Kebutuhan Manusia

Kain Sebagai Kebutuhan Manusia KAIN SEBAGAI KEBUTUHAN MANUSIA 1 Kain Sebagai Kebutuhan Manusia A. RINGKASAN Pada bab ini kita akan mempelajari kain sebagai kebutuhan manusia. Manusia sebagai salah satu makhluk penghuni alam semesta

Lebih terperinci

MODUL DASAR BUSANA. Oleh Prof.Dr.Arifah A. Riyanto,M.Pd. Dra.Liunir Zulbahri,M.Pd.

MODUL DASAR BUSANA. Oleh Prof.Dr.Arifah A. Riyanto,M.Pd. Dra.Liunir Zulbahri,M.Pd. MODUL DASAR BUSANA Oleh Prof.Dr.Arifah A. Riyanto,M.Pd. Dra.Liunir Zulbahri,M.Pd. PROGRAM STUDI PENDIDIKAN TATA BUSANA JURUSAN PENDIDIKAN KESEJAHTERAAN KELUARGA FAKULTAS PENDIDIKAN TEKNOLOGI DAN KEJURUAN

Lebih terperinci

FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA JOB SHEET BUSANA PRIA

FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA JOB SHEET BUSANA PRIA BAGIAN URAIAN JUMLAH HALAMAN JOB.O1 Kemeja Lengan Panjang 10 halaman JOB.02 Celana Panjang 7 halaman JOB.03 Jaket 9 halaman Jumlah Halaman 26 halaman 1. Kompetensi Mampu membuat Kemeja Lengan Panjang 2.

Lebih terperinci

LABORATORIUM TATA BUSANA JURUSAN PKK FPTK UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA JL Dr Setiabudhi no 27 Telp BANDUNG 40154

LABORATORIUM TATA BUSANA JURUSAN PKK FPTK UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA JL Dr Setiabudhi no 27 Telp BANDUNG 40154 LABORATORIUM TATA BUSANA JURUSAN PKK FPTK UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA JL Dr Setiabudhi no 27 Telp. 022-2013163 BANDUNG 015 MODUL No : 05 / KPB /S1 / 2010 Jurusan : Pendidikan Kesejahteraan Keluarga

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang A. Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN SMK Negeri adalah salah satu lembaga pendidikan menengah kejuruan kelompok pariwisata yang memiliki 5 program keahlian yaitu Jasa Boga, Kecantikan, Tata Busana, Kimia

Lebih terperinci

DASAR TEKNOLOGI MENJAHIT II

DASAR TEKNOLOGI MENJAHIT II HALAMAN SAMPUL DASAR TEKNOLOGI MENJAHIT II Kontributor Naskah Penelaah : Dra. Dwijanti M.Pd : Dra. Eri Novida, M.Pd Dra. Hestiworo, MM HALAMAN FRANCIS Hak Cipta 2013 pada Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan

Lebih terperinci

Penyusun: ANTI ASTA VIANI. Editor TIM KONSULTAN FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS NEGERI MALANG

Penyusun: ANTI ASTA VIANI. Editor TIM KONSULTAN FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS NEGERI MALANG Teknik Pembuatan Sampel Penyusun: ANTI ASTA VIANI Editor TIM KONSULTAN FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS NEGERI MALANG BAGIAN PROYEK PENGEMBANGAN KURIKULUM DIREKTORAT PENDIDIKAN MENENGAH KEJURUAN DIREKTORAT

Lebih terperinci

TEKNIK MENJAHIT MENGHITUNG HARGA JUAL

TEKNIK MENJAHIT MENGHITUNG HARGA JUAL BUSANA WANITA KLASIFIKASI BUSANA WANITA MEMOTONG BAHAN TEKNIK MENJAHIT MENGHITUNG HARGA JUAL KLASIFIKASI BUSANA WANITA 1. Under clothes (daster, baby doll) 2. Casual wear (blouse, pants, skirt) 3. Formal

Lebih terperinci

BAB II HASIL BELAJAR MEMOTONG BAHAN DAN MANFAATNYA SEBAGAI KESIAPAN PRAKTEK KERJA INDUSTRI

BAB II HASIL BELAJAR MEMOTONG BAHAN DAN MANFAATNYA SEBAGAI KESIAPAN PRAKTEK KERJA INDUSTRI 15 BAB II HASIL BELAJAR MEMOTONG BAHAN DAN MANFAATNYA SEBAGAI KESIAPAN PRAKTEK KERJA INDUSTRI A. Gambaran Umum Memotong Bahan (Cutting) Kompetensi memotong bahan merupakan mata pelajaran standar kompetensi

Lebih terperinci

PANDUAN MENJAHIT MODEL-012

PANDUAN MENJAHIT MODEL-012 1 PANDUAN MENJAHIT MODEL-012 MODEL Model-012 adalah model busana dress Lengan panjang dengan kerah dan lengan yang dirapikan dengan bisban. Detail model ada di http://fitinline.com/product/catalog_item_detail/4/24

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 44 TAHUN 2017 TENTANG PAKAIAN DINAS PEGAWAI NEGERI SIPIL DI LINGKUNGAN KANTOR KESEHATAN PELABUHAN

PERATURAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 44 TAHUN 2017 TENTANG PAKAIAN DINAS PEGAWAI NEGERI SIPIL DI LINGKUNGAN KANTOR KESEHATAN PELABUHAN PERATURAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 44 TAHUN 2017 TENTANG PAKAIAN DINAS PEGAWAI NEGERI SIPIL DI LINGKUNGAN KANTOR KESEHATAN PELABUHAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI KESEHATAN

Lebih terperinci

2015 MANFAAT HASIL BELAJAR PEMBUATAN BUSANA IND USTRI SEBAGAI KESIAPAN MELAKSANAKAN PRAKTEK KERJA IND USTRI (PRAKERIN)

2015 MANFAAT HASIL BELAJAR PEMBUATAN BUSANA IND USTRI SEBAGAI KESIAPAN MELAKSANAKAN PRAKTEK KERJA IND USTRI (PRAKERIN) DAFTAR ISI Halaman KATA PENGANTAR...i UCAPAN TERIMAKASIH... ii ABSTRAK... iii DAFTAR ISI...v DAFTAR TABEL... vi DAFTAR GRAFIK... ix DAFTAR GAMBAR...x DAFTAR LAMPIRAN... xi BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

Lebih terperinci

JURNAL STIE SEMARANG, VOL 6, NO 1, Edisi Februari 2014 (ISSN : ) BUSANA MENCERMINKAN KEPRIBADIAN. V. Naniek Risnawati

JURNAL STIE SEMARANG, VOL 6, NO 1, Edisi Februari 2014 (ISSN : ) BUSANA MENCERMINKAN KEPRIBADIAN. V. Naniek Risnawati BUSANA MENCERMINKAN KEPRIBADIAN V. Naniek Risnawati Dosen Tetap ASM Semarang Abstraksi Busana sebagai salah satu unsur penampilan sangat mempengaruhi kepribadian seseorang, busana yang tepat, rapi, memberi

Lebih terperinci

Semua upaya yang telah dilakukan guna mewujudkan Kurikulum Keterampilan pada Madrasah Aliyah, dilandasi oleh rasa tanggung

Semua upaya yang telah dilakukan guna mewujudkan Kurikulum Keterampilan pada Madrasah Aliyah, dilandasi oleh rasa tanggung Kurikulum Madrasah Aliyah Program Keterampilan ini, diharapkan memberi peluang tumbuhnya potensi untuk mandiri dan bertanggung jawab dalam mengembangkan program pembelajaran yang lebih sesuai dengan kondisi

Lebih terperinci

2014, No PAKAIAN DINAS PEGAWAI NEGERI SIPIL KANTOR KESEHATAN PELABUHAN DI LINGKUNGAN KEMENTERIAN KESEHATAN

2014, No PAKAIAN DINAS PEGAWAI NEGERI SIPIL KANTOR KESEHATAN PELABUHAN DI LINGKUNGAN KEMENTERIAN KESEHATAN 2014, No.313 6 LAMPIRAN PERATURAN MENTERI KESEHATAN NOMOR 77 TAHUN 2013 TENTANG PERUBAHAN ATAS PERATURAN MENTERI KESEHATAN NOMOR 743/MENKES/PER/VI/2010 TENTANG PAKAIAN DINAS PEGAWAI NEGERI SIPIL KANTOR

Lebih terperinci

Membuat Hiasan PadaBusana Dengan Teknik Sulaman Oleh : Dra.Enny Zuhni Khayati,M.Kes. Edit ulang oleh : Yandriana F.M

Membuat Hiasan PadaBusana Dengan Teknik Sulaman Oleh : Dra.Enny Zuhni Khayati,M.Kes. Edit ulang oleh : Yandriana F.M Membuat Hiasan PadaBusana Dengan Teknik Sulaman Oleh : Dra.Enny Zuhni Khayati,M.Kes. Edit ulang oleh : Yandriana F.M Pengertian Tusuk Hias Sebelum membuat hiasan busana dengan teknik sulaman terlebih dahulu

Lebih terperinci

MENJAHIT CELANA OLEH: TIM FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS NEGERI SURABAYA DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL

MENJAHIT CELANA OLEH: TIM FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS NEGERI SURABAYA DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL MENJAHIT CELANA OLEH: TIM FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS NEGERI SURABAYA DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL PROYEK PENGEMBANGAN SISTEM DAN STANDAR PENGELOLAAN SMK DIREKTORAT PENDIDIKAN MENENGAH KEJURUAN JAKARTA

Lebih terperinci

DAFTAR ISI ABSTRAK... KATA PENGANTAR... UCAPAN TERIMAKASIH... DAFTAR ISI... DAFTAR TABEL... DAFTAR BAGAN... DAFTAR GAMBAR...

DAFTAR ISI ABSTRAK... KATA PENGANTAR... UCAPAN TERIMAKASIH... DAFTAR ISI... DAFTAR TABEL... DAFTAR BAGAN... DAFTAR GAMBAR... DAFTAR ISI ABSTRAK... KATA PENGANTAR... UCAPAN TERIMAKASIH... DAFTAR ISI... DAFTAR TABEL... DAFTAR BAGAN... DAFTAR GAMBAR... i ii iii iv vi viii ix BAB I PENDAHULUAN... A. Latar Belakang Penelitian...

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Nako terdiri dari 7 orang pengrajin kemudian kelompok ketiga diketuai oleh Ibu

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Nako terdiri dari 7 orang pengrajin kemudian kelompok ketiga diketuai oleh Ibu 37 BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Jenis Kain Karawo Di Desa Tabongo Barat Kecamatan Tabongo Kabupaten Gorontalo terdapat empat kelompok pengrajin, kelompok pertama diketuai oleh Ibu Sarta Talib terdiri

Lebih terperinci

BAB IV KONSEP PENATAAN DISPLAY INOVASI BUSANA ETNIK

BAB IV KONSEP PENATAAN DISPLAY INOVASI BUSANA ETNIK BAB IV KONSEP PENATAAN DISPLAY INOVASI BUSANA ETNIK A. Konsep Dasar Penataan Display Penataan berasal dari kata bahasa Inggris display yang artinya mempertunjukkan, memamerkan, atau memperagakan sesuatu

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. aspek kehidupan manusia dan memiliki peran yang besar didalam kegiatan bisnis,

BAB I PENDAHULUAN. aspek kehidupan manusia dan memiliki peran yang besar didalam kegiatan bisnis, BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Perkembangan teknologi informasi saat ini telah memasuki setiap dimensi aspek kehidupan manusia dan memiliki peran yang besar didalam kegiatan bisnis, organisasi,

Lebih terperinci

JURUSAN PENDIDIKAN KESEJAHTERAAN KELUARGA FAKULTAS PENDIDIKAN TEKNOLOGI DAN KEJURUAN UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA. Bahan Ajar

JURUSAN PENDIDIKAN KESEJAHTERAAN KELUARGA FAKULTAS PENDIDIKAN TEKNOLOGI DAN KEJURUAN UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA. Bahan Ajar JURUSAN PENDIDIKAN KESEJAHTERAAN KELUARGA FAKULTAS PENDIDIKAN TEKNOLOGI DAN KEJURUAN UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA Bahan Ajar Mata Kuliah/ Kode MK : Dasar Busana / KB 112 Pokok bahasan : Perkembangan

Lebih terperinci

FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA JOB SHEET BUSANA PRIA. 1. Kompetensi Mampu membuat Jaket

FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA JOB SHEET BUSANA PRIA. 1. Kompetensi Mampu membuat Jaket 1. Kompetensi Mampu membuat Jaket 2. Sub Kompetensi Menguasai dan mampu membuat : a. Pola Jaket ukuran kecil dan ukuran besar b. Merancang bahan dan harga untuk Jaket c. Memotong bahan Jaket d. Menjahit

Lebih terperinci

BAB III DATA DAN ANALISA PERANCANGAN

BAB III DATA DAN ANALISA PERANCANGAN BAB III DATA DAN ANALISA PERANCANGAN A. KELOMPOK DATA BERKAITAN DENGAN ASPEK FUNGSI PRODUK RANCANGAN Dalam perancangan produk clothing ini penulis melakukan analisa pada masing-masing produk yang akan

Lebih terperinci

KRIYA KULIT JILID 2 SMK. I Wayan Suardana, dkk.

KRIYA KULIT JILID 2 SMK. I Wayan Suardana, dkk. I Wayan Suardana, dkk. KRIYA KULIT JILID 2 SMK Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah Departemen Pendidikan Nasional Hak Cipta pada Departemen

Lebih terperinci

MEMBUAT POLA DASAR SISTEM DRAPING

MEMBUAT POLA DASAR SISTEM DRAPING MEMBUAT POLA DASAR SISTEM DRAPING Oleh TIM FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS NEGERI SURABAYA DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL PROYEK PENGEMBANGAN SISTEM DAN STANDAR PENGELOLAAN SMK DIREKTORAT PENDIDIKAN MENENGAH

Lebih terperinci

Berbagai Model Lengan Dan cara Membuat Polanya. Oleh : As-as Setiawati

Berbagai Model Lengan Dan cara Membuat Polanya. Oleh : As-as Setiawati Berbagai Model Lengan Dan cara Membuat Polanya Oleh : As-as Setiawati LENGAN BUSANA Lengan pada busana merupakan salah satu bagian yang akan memperindah busana dan melindungi tangan pemakainya, sehingga

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 77 TAHUN 2013 TENTANG

PERATURAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 77 TAHUN 2013 TENTANG PERATURAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 77 TAHUN 2013 TENTANG PERUBAHAN ATAS PERATURAN MENTERI KESEHATAN NOMOR 743/MENKES/PER/VI/2010 TENTANG PAKAIAN DINAS PEGAWAI NEGERI SIPIL KANTOR KESEHATAN

Lebih terperinci

Universitas Sumatera Utara

Universitas Sumatera Utara BAB II GAMBARAN UMUM PAKAIAN TRADISIONAL DAERAH BANDUNG 2.1 Pengertian Pakaian Tradisional Pakaian tradisional adalah busana yang dipakai untuk menutup tubuh manusia dan dikenakan secara turun-temurun.

Lebih terperinci

ANALISIS POLA BUSANA Oleh: As-as Setiawati

ANALISIS POLA BUSANA Oleh: As-as Setiawati ANALISIS POLA BUSANA Oleh: As-as Setiawati CARA MENGUKUR BADAN Ketepatan suatu pola dasar ditentukan oleh cara mengukur badan yang tepat. Pola dasar yang baik berarti cara mengambil ukurannya tepat dan

Lebih terperinci

GUBERNUR BALI PERATURAN GUBERNUR BALI NOMOR 8 TAHUN 2011 TENTANG PAKAIAN DINAS PEGAWAI NEGERI SIPIL DI LINGKUNGAN PEMERINTAH PROVINSI BALI

GUBERNUR BALI PERATURAN GUBERNUR BALI NOMOR 8 TAHUN 2011 TENTANG PAKAIAN DINAS PEGAWAI NEGERI SIPIL DI LINGKUNGAN PEMERINTAH PROVINSI BALI GUBERNUR BALI PERATURAN GUBERNUR BALI NOMOR 8 TAHUN 2011 TENTANG PAKAIAN DINAS PEGAWAI NEGERI SIPIL DI LINGKUNGAN PEMERINTAH PROVINSI BALI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR BALI, Menimbang : Mengingat

Lebih terperinci

SATUAN ACARA PERKULIAHAN ANALISIS MODEL BUSANA

SATUAN ACARA PERKULIAHAN ANALISIS MODEL BUSANA ANALISIS MODEL BUSANA Oleh : Dra. As-as Setiawati, M.Si PROGRAM STUDI PENDIDIKAN TATA BUSANA JURUSAN PENDIDIKAN KESEJAHTERAAN KELUARGA FAKULTAS PENDIDIKAN TEKNOLOGI DAN KEJURUAN UNIVERSITAS PENDIDIKAN

Lebih terperinci

KURIKULUM BERBASIS KOMPETENSI MENJAHIT PAKAIAN

KURIKULUM BERBASIS KOMPETENSI MENJAHIT PAKAIAN KURIKULUM BERBASIS KOMPETENSI MENJAHIT PAKAIAN KEMENTERIAN PENDIDIKAN NASIONAL DIREKTORAT JENDERAL PENDIDIKAN NON FORMAL DAN INFORMAL DIREKTORAT PEMBINAAN KURSUS DAN KELEMBAGAAN 2009 BAB II STRUKTUR KURIKULUM

Lebih terperinci

LEMBARAN TUGAS, JOBSHEET DAN PANDUAN EVALUASI BELAJAR PRAKTIK KONSTRUKSI POLA BUSANA. Oleh: Dra. Haswita Syafri, M.Pd

LEMBARAN TUGAS, JOBSHEET DAN PANDUAN EVALUASI BELAJAR PRAKTIK KONSTRUKSI POLA BUSANA. Oleh: Dra. Haswita Syafri, M.Pd LEMBARAN TUGAS, JOBSHEET DAN PANDUAN EVALUASI BELAJAR PRAKTIK KONSTRUKSI POLA BUSANA Oleh: Dra. Haswita Syafri, M.Pd JlhJRUSAN KESEJAHTERAAN KELUARGA FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS NEGERI PADANG Oktober,

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Etika Profesi 2.1.1 Definisi Etika Etika menurut Rini dan Intan (2015:3), berasal dari kata Yunani Ethos (Ta Etha) berarti adat istiadat atau kebiasaan. Dalam pengertian ini

Lebih terperinci

BAB III DATA DAN ANALISA PERANCANGAN

BAB III DATA DAN ANALISA PERANCANGAN BAB III DATA DAN ANALISA PERANCANGAN A. Kelompok Data Berkaitan Dengan Aspek Fungsi Produk Rancangan Gbr 3.A.1 Hijab Pengguna Motor Busana memiliki nilai fungsi dan kegunaan maka ada beberapa hal yang

Lebih terperinci

KEPUTUSAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN NOMOR : KEP.16/MEN/2004 TENTANG

KEPUTUSAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN NOMOR : KEP.16/MEN/2004 TENTANG KEPUTUSAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN NOMOR : KEP.16/MEN/2004 TENTANG PAKAIAN SERAGAM KERJA, TANDA PENGENAL DAN ATRIBUT BAGI PEGAWAI DI LINGKUNGAN PUSAT KARANTINA IKAN DEPARTEMEN KELAUTAN DAN PERIKANAN

Lebih terperinci

TATA KECANTIKAN RAMBUT JILID 2

TATA KECANTIKAN RAMBUT JILID 2 Rostamailis, dkk. TATA KECANTIKAN RAMBUT JILID 2 SMK Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah Departemen Pendidikan Nasional Hak Cipta

Lebih terperinci

KODE MODUL: BUS-208C. Penyusun: TIM KONSULTAN FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS NEGERI MALANG

KODE MODUL: BUS-208C. Penyusun: TIM KONSULTAN FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS NEGERI MALANG KODE MODUL: -208C Penyusun: TIM KONSULTAN FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS NEGERI MALANG DIREKTORAT PENDIDIKAN MENENGAH KEJURUAN DIREKTORAT JENDERAL PENDIDIKAN DASAR DAN MENENGAH DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL

Lebih terperinci

GUBERNUR JAMBI PERATURAN GUBERNUR JAMBI NOMOR 7 TAHUN 2014

GUBERNUR JAMBI PERATURAN GUBERNUR JAMBI NOMOR 7 TAHUN 2014 GUBERNUR JAMBI PERATURAN GUBERNUR JAMBI NOMOR 7 TAHUN 2014 T E N T A N G STANDARISASI PAKAIAN DINAS PEGAWAI NEGERI SIPIL Dl LINGKUP PEMERINTAH PROVINSI JAMBI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR

Lebih terperinci

Teknik Draping KATA PENGANTAR

Teknik Draping KATA PENGANTAR i KATA PENGANTAR P uji Tuhan, dengan penuh rasa syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa yang telah melimpahkan karunia-nya, sehingga dapat menyelesaikan modul dengan judul Teknik Draping

Lebih terperinci

TEKNIK PERKAYUAN JILID 1

TEKNIK PERKAYUAN JILID 1 Budi Martono dkk TEKNIK PERKAYUAN JILID 1 SMK Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah Departemen Pendidikan Nasional Hak Cipta pada Departemen

Lebih terperinci

MODUL III BU 461*) Adibusana

MODUL III BU 461*) Adibusana MODUL III 1. Mata Kuliah : BU 461*) Adibusana 2. Pertemuan ke : 5 dan 6 3. Pokok Materi : Busana Eksklusif Model Draperi 1. Pengertian Model Draperi 2. Karakteristik Busana Model Draperi 3. Jenis Kain

Lebih terperinci

PANDUAN MENJAHIT MODEL-001

PANDUAN MENJAHIT MODEL-001 1 PANDUAN MENJAHIT MODEL-001 MODEL adalah model busana dress Lengan panjang dengan leher setengah berdiri yang dihiasi ruffle, belahan kancing di bagian depan dan cuff lengan tanpa kancing. Rok yang tersambung

Lebih terperinci

Ebook 1. Dewasa (Model 1)

Ebook 1. Dewasa (Model 1) Ebook 1 Ebook Cara Menjahit Blouse Dasar Cara Membuat Pola Dasar Gaun Wanita Dewasa (Model 1) Sebuah PAnduan Lengkap yang Membahas Tentang Cara Membuat Pola Dasar Gaun Wanita Dewasa Oleh: Khasanah El Zahra

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA REPUBLIK INDONESIA,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA REPUBLIK INDONESIA, PERATURAN MENTERI HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA REPUBLIK INDONESIA NOMOR M.HH-02.KP.07.02 TAHUN 2011 TENTANG PAKAIAN DINAS DAN ATRIBUT BAGI PEGAWAI DI LINGKUNGAN KEMENTERIAN HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA DENGAN

Lebih terperinci

PENGEMBANGAN MEDIA PEMBELAJARAN KETERAMPILAN BAGI GURU SEKOLAH MENENGAH PERTAMA

PENGEMBANGAN MEDIA PEMBELAJARAN KETERAMPILAN BAGI GURU SEKOLAH MENENGAH PERTAMA KARYA ILMIAH ULASAN ILMIAH HASIL GAGASAN SENDIRI PENGEMBANGAN MEDIA PEMBELAJARAN KETERAMPILAN BAGI GURU SEKOLAH MENENGAH PERTAMA Oleh: Dra. Aisyah Jafar M.M Widyaiswara LPMP Sulawesi Selatan LEMBAGA PENJAMIN

Lebih terperinci

PANDUAN MENJAHIT MODEL-004

PANDUAN MENJAHIT MODEL-004 1 PANDUAN MENJAHIT MODEL-004 MODEL adalah model busana dress Lengan panjang dengan obi dan kerah berdiri. Detail model ada di http://fitinline.com/product/catalog_item_detail/4/16 BAGIAN KETERANGAN GAMBAR

Lebih terperinci

BAB III DATA DAN ANALISA PERANCANGAN

BAB III DATA DAN ANALISA PERANCANGAN BAB III DATA DAN ANALISA PERANCANGAN A. KELOMPOK DATA BERKAITAN DENGAN ASPEK FUNGSI PRODUK RANCANGAN Ambor Baju Pesta Balita Perempuan merupakan baju pesta untuk usia 1-5 tahun. Faktor yang mempengaruhi

Lebih terperinci

DAFTAR ISI...i TUJUAN PROGRAM KEAHLIAN...1 STANDAR KOMPETENSI KEAHLIAN...2 PROFIL KOMPETENSI LULUSAN...5 RUANG LINGKUP PEKERJAAN...

DAFTAR ISI...i TUJUAN PROGRAM KEAHLIAN...1 STANDAR KOMPETENSI KEAHLIAN...2 PROFIL KOMPETENSI LULUSAN...5 RUANG LINGKUP PEKERJAAN... DAFTAR ISI DAFTAR ISI...i TUJUAN PROGRAM KEAHLIAN...1 STANDAR KOMPETENSI KEAHLIAN...2 PROFIL KOMPETENSI LULUSAN...5 1. KOMPETENSI UMUM...5 2. KOMPETENSI KEJURUAN...6 RUANG LINGKUP PEKERJAAN...8 SUBSTANSI

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. penutup atau pelindung anggota tubuh. Pakaian digunakan sebagai pelindung

BAB I PENDAHULUAN. penutup atau pelindung anggota tubuh. Pakaian digunakan sebagai pelindung BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Dalam pengertiannya yang paling umum, pakaian dapat diartikan sebagai penutup atau pelindung anggota tubuh. Pakaian digunakan sebagai pelindung tubuh terhadap hal-hal

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA KEPALA BADAN PERTANAHAN NASIONAL REPUBLIK INDONESIA,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA KEPALA BADAN PERTANAHAN NASIONAL REPUBLIK INDONESIA, PERATURAN KEPALA BADAN PERTANAHAN NASIONAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR 4 TAHUN 2012 TENTANG PAKAIAN DINAS DAN ATRIBUT PEGAWAI NEGERI SIPIL DI LINGKUNGAN BADAN PERTANAHAN NASIONAL REPUBLIK INDONESIA DENGAN

Lebih terperinci

BAB II KAJIAN PUSTAKA

BAB II KAJIAN PUSTAKA BAB II KAJIAN PUSTAKA A. Tinjauan Umum Kursus Menjahit Level 1 LKP Dress Making Kursus adalah satuan pendidikan luar sekolah atau pendidikan non formal yang diselenggarakan bagi warga belajar yang memerlukan

Lebih terperinci

MEMILIH POLA BUSANA TIM FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS NEGERI SURABAYA DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL

MEMILIH POLA BUSANA TIM FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS NEGERI SURABAYA DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL MEMILIH POLA BUSANA TIM FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS NEGERI SURABAYA DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL PROYEK PENGEMBANGAN SISTEM DAN STANDAR PENGELOLAAN SMK DIREKTORAT PENDIDIKAN MENENGAH KEJURUAN JAKARTA

Lebih terperinci

KODE MODUL: BUS-207C. Penyusun: TIM KONSULTAN FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS NEGERI MALANG

KODE MODUL: BUS-207C. Penyusun: TIM KONSULTAN FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS NEGERI MALANG KODE MODUL: -207C Penyusun: TIM KONSULTAN FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS NEGERI MALANG DIREKTORAT PENDIDIKAN MENENGAH KEJURUAN DIREKTORAT JENDERAL PENDIDIKAN DASAR DAN MENENGAH DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL

Lebih terperinci

BAB II GAMBARAN UMUM TENTANG KUMIHIMO

BAB II GAMBARAN UMUM TENTANG KUMIHIMO BAB II GAMBARAN UMUM TENTANG KUMIHIMO 2.1 Sejarah Kumihimo Kumihimo dikenal mulai sejak zaman Edo. Kumihimo pertama kali diciptakan oleh suatu bentuk jari loop mengepang. Kemudian alat takaida seperti

Lebih terperinci

PERSYARATAN PAKAIAN STUDENT DAY 2016 UNIVERSITAS UDAYANA

PERSYARATAN PAKAIAN STUDENT DAY 2016 UNIVERSITAS UDAYANA PERSYARATAN PAKAIAN STUDENT DAY 2016 UNIVERSITAS UDAYANA A. HARI PERTAMA WANITA TAMPAK DEPAN WANITA TAMPAK SAMPING 13 1 6 11 & 12 7 5 3 10 2 8 4 9 1. Menggunakan baju batik berkerah, warna cerah dominan

Lebih terperinci

PERATURAN BUPATI BERAU NOMOR 67 TAHUN 2009 TENTANG PAKAIAN DINAS PEGAWAI NEGERI SIPIL DILINGKUNGAN PEMERINTAH KABUPATEN BERAU BUPATI BERAU,

PERATURAN BUPATI BERAU NOMOR 67 TAHUN 2009 TENTANG PAKAIAN DINAS PEGAWAI NEGERI SIPIL DILINGKUNGAN PEMERINTAH KABUPATEN BERAU BUPATI BERAU, PERATURAN BUPATI BERAU NOMOR 67 TAHUN 2009 TENTANG PAKAIAN DINAS PEGAWAI NEGERI SIPIL DILINGKUNGAN PEMERINTAH KABUPATEN BERAU BUPATI BERAU, Menimbang : a. bahwa sebagai pelaksanaan Peraturan Menteri Dalam

Lebih terperinci

FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA JOB SHEET BUSANA PRIA

FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA JOB SHEET BUSANA PRIA 1. Kompetensi Mampu membuat celana panjang 2. Sub Kompetensi Mampu dan menguasai membuat : a. Pola celana panjang ukuran kecil dan ukuran besar b. Merancang bahan dan harga untuk celana panjang c. Memotong

Lebih terperinci

TATA KECANTIKAN KULIT

TATA KECANTIKAN KULIT Herni Kusantati Pipin Tresna Prihatin Winwin Wiana TATA KECANTIKAN KULIT SMK JILID 1 Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah Departemen

Lebih terperinci

PERANCANGAN SISTEM KERJA DAN ERGONOMI INDUSTRI

PERANCANGAN SISTEM KERJA DAN ERGONOMI INDUSTRI Bambang Suhardi PERANCANGAN SISTEM KERJA DAN ERGONOMI INDUSTRI JILID 1 SMK Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah Departemen Pendidikan

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Pengertian Menurut Keraf (1998:14) etika berasal dari kata Yunani ethos, yang dalam bentuk jamaknya berarti adat istiadat atau kebiasaan. Dalam pengertian ini etika berkaitan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Busana merupakan salah satu kebutuhan pokok manusia. Busana dalam arti umum seperti yang diungkapkan oleh Arifah A. Riyanto (2003:2) bahwa Busana adalah bahan tekstil

Lebih terperinci

2016, No Nomor 6, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5494); 3. Peraturan Pemerintah Nomor 53 Tahun 2010 tentang Disiplin Pe

2016, No Nomor 6, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5494); 3. Peraturan Pemerintah Nomor 53 Tahun 2010 tentang Disiplin Pe No.894, 2016 BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA BMKG. ASN. Pakaian Dinas Harian. PERATURAN KEPALA BADAN METEOROLOGI, KLIMATOLOGI, DAN GEOFISIKA NOMOR 5 TAHUN 2016 TENTANG PAKAIAN DINAS HARIAN APARATUR SIPIL

Lebih terperinci

WALIKOTA BATU PROVINSI JAWA TIMUR PERATURAN WALIKOTA BATU

WALIKOTA BATU PROVINSI JAWA TIMUR PERATURAN WALIKOTA BATU SALINAN WALIKOTA BATU PROVINSI JAWA TIMUR PERATURAN WALIKOTA BATU NOMOR 23 TAHUN 2015 TENTANG PAKAIAN DINAS PEGAWAI DI LINGKUNGAN PEMERINTAH KOTA BATU DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA BATU, Menimbang

Lebih terperinci

TEKNIK BORDIR SASAK. Oleh: Emy Budiastuti PT. Busana FT UNY

TEKNIK BORDIR SASAK. Oleh: Emy Budiastuti PT. Busana FT UNY TEKNIK BORDIR SASAK Oleh: Emy Budiastuti PT. Busana FT UNY Pendahuluan Membordir merupakan salah satu teknik menghias kain yang dikerjakan menggunakan mesin jahit atau mesin bordir. Namun seiring dengan

Lebih terperinci

DAFTAR ISI. PERNYATAAN... i ABSTRAK... ii KATA PENGANTAR... iii UCAPAN TERIMA KASIH... iv DAFTAR ISI... v DAFTAR TABEL... vii DAFTAR GAMBAR...

DAFTAR ISI. PERNYATAAN... i ABSTRAK... ii KATA PENGANTAR... iii UCAPAN TERIMA KASIH... iv DAFTAR ISI... v DAFTAR TABEL... vii DAFTAR GAMBAR... DAFTAR ISI PERNYATAAN... i ABSTRAK... ii KATA PENGANTAR... iii UCAPAN TERIMA KASIH... iv DAFTAR ISI... v DAFTAR TABEL... vii DAFTAR GAMBAR... ix BAB I PENDAHULUAN... 1 A Latar Belakang Penelitian... 1

Lebih terperinci

- 2 - Geofisika Nomor 17 Tahun 2014 tentang Organisasi dan

- 2 - Geofisika Nomor 17 Tahun 2014 tentang Organisasi dan - 2-2. Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2014 tentang Aparatur Sipil Negara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2014 Nomor 6, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5494); 3. Peraturan Pemerintah

Lebih terperinci

BAB III PAKAIAN ADAT TRADISIONAL DAERAH BUKIT HULU BANYU KALIMANTAN SELATAN

BAB III PAKAIAN ADAT TRADISIONAL DAERAH BUKIT HULU BANYU KALIMANTAN SELATAN BAB III PAKAIAN ADAT TRADISIONAL DAERAH BUKIT HULU BANYU KALIMANTAN SELATAN 3.1 Pengertian Pakaian Adat Pakaian adat yaitu semua kelengkapan yang dipakai oleh seseorang yang menunjukkan kebudayaan suatu

Lebih terperinci