Evaluasi Pelaksanaan Pajak Pertambahan Nilai di PT IO

Save this PDF as:
 WORD  PNG  TXT  JPG

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "Evaluasi Pelaksanaan Pajak Pertambahan Nilai di PT IO"

Transkripsi

1 Evaluasi Pelaksanaan Pajak Pertambahan Nilai di PT IO ABSTRAK Dari segi ekonomi, pajak merupakan pemindahan sumber daya dari sektor perusahaan ke sektor publik. Salah satu pajak yang sangat mempengaruhi sumber daya negara yaitu Pajak Pertambahan Nilai (PPN) yang adalah pajak atas konsumsi barang dan jasa di Daerah Pabean yang dikenakan secara bertingkat di setiap jalur produksi dan distribusi. Pengenaan Pajak Pertambahan Nilai sangat dipengaruhi oleh perkembangan transaksi bisnis serta pola konsumsi masyarakat yang merupakan objek dari Pajak Pertambahan Nilai. Dalam hal ini, penulis akan meneliti tentang pelaksanaan kewajiban perpajakan dari PT IO, khususnya terhadap Pajak Pertambahan Nilainya. PT IO telah mendaftarkan dirinya sebagai Pengusaha Kena Pajak (PKP), yang memiliki beberapa kewajiban yang harus dipenuhinya sebagai Pengusaha Kena Pajak. Hasil penelitian menunjukkan bahwa PT IO selaku Pengusaha Kena Pajak (PKP) telah menjalankan kewajibannya sesuai dengan peraturan yang berlaku, yaitu PT IO telah memungut, menghitung, menyetorkan dan melaporkan Pajak Pertambahan Nilainya secara benar, namun demikian ada pula ditemukan beberapa kelalaian yang terjadi atas penghitungan, penyetoran dan pelaporan yang dilakukan PT IO yaitu dilaksanakan tidak sesuai dengan peraturan yang berlaku. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah Studi Kepustakaan (Library Research) dan (Studi Lapangan). Studi Kepustakaan dilakukan dengan mempelajari literatur dan halaman web yang berhubungan erat dengan topik dalam skripsi ini. Studi Lapangan dilakukan dengan cara melakukan survei (observasi) serta melakukan wawancara dengan pihak perusahaan untuk mendapatkan data lengkap dan informasi terkait dengan skripsi. Keyword: PPN, PKP

2 1. Latar Belakang Dari segi ekonomi, pajak merupakan pemindahan sumber daya dari sektor perusahaan ke sektor publik. Pemindahan sumber daya tersebut akan mempengaruhi daya beli atau kemampuan belanja sektor perusahaan. Bagi negara, pajak adalah salah satu sumber penerimaan negara yang akan digunakan untuk membiayai pengeluaran negara. Untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat pada umumnya pemerintah akan meningkatkan pembangunan dalam negara tersebut, di mana salah satu sumber pembiayaan atas pembangunan negara yaitu berasal dari penerimaan pajak. Penerimaan pajak berasal dari Pajak Penghasilan (PPh), Pajak Pertambahan Nilai (PPN), Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM), Pajak Bumi dan Bangunan (PBB), Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan (BPHTB), dan pajak pajak lainnya. Sebaliknya bagi perusahaan, pajak merupakan kewajiban yang pada akhirnya akan mengurangi laba bersih. Dalam perusahaan, keputusan bisnis sebagian besar sangat dipengaruhi oleh pajak, baik secara langsung maupun tidak langsung. Keputusan bisnis yang baik jika berhubungan dengan pajak bisa menjadi keputusan bisnis yang kurang baik. Oleh sebab itu, perusahaan akan berusaha untuk membayar pajak sekecil mungkin karena dengan membayar pajak berarti mengurangi kemampuan ekonomis perusahaan. Pajak Pertambahan Nilai adalah pajak atas konsumsi barang dan jasa di Daerah Pabean yang dikenakan secara bertingkat di setiap jalur produksi dan distribusi. Pengenaan Pajak Pertambahan Nilai sangat dipengaruhi oleh perkembangan transaksi bisnis serta pola konsumsi masyarakat yang merupakan objek dari Pajak Pertambahan Nilai. Perkembangan ekonomi yang sangat dinamis baik di tingkat nasional, regional maupun internasional terus menciptakan jenis serta pola transaksi bisnis yang baru.

3 Dalam rangka menjawab perubahan yang sangat cepat tersebut, perlu dilakukan pembaruan dan penyempurnaan Undang Undang Pajak Pertambahan Nilai. Pembaruan sistem pajak konsumsi ini telah dilakukan pada tahun 1983 dengan diterbitkannya Undang Undang Nomor 8 Tahun 1983 tentang Pajak Pertambahan Nilai Barang dan Jasa dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah. Langkah pembaruan dan penyempurnaan terus dilakukan secara konsisten pada tahun 1994 dan terakhir tahun 2009 dengan diterbitkannya Undang Undang Nomor 42 Tahun Dengan adanya perubahan yang terjadi, maka perusahaan juga harus segera menerapkan peraturan yang terbaru tersebut. Dalam proses penerapan peraturan terbaru tersebut, akan ada beberapa masalah yang akan dihadapi oleh perusahaan dalam masa adaptasi tersebut, khususnya PT IO yang merupakan objek penelitian penulis. Oleh sebabnya, untuk membantu perusahaan dalam melakukan evaluasi atas Pajak Pertambahan Nilai yang telah dilaksanakan oleh PT IO, maka peneliti memilih judul Evaluasi Pelaksanaan Pajak Pertambahan Nilai di PT IO. 2. Ruang Lingkup Mengingat luasnya pembahasan yang terkait dengan pembahasan yang akan dilakukan, maka penelitian ini akan dilakukan dengan batasan batasan objek penelitian tertentu. Peneliti akan membatasi ruang lingkup penelitian yang akan dilakukannya dengan melakukan pembahasan atas pajak yang hanya sebatas pada Pajak Pertambahan Nilai. Untuk mendukung itu, maka peneliti akan melakukan penelitian atas Laporan Penjualan perusahaan untuk periode 2008, 2009 dan 2010, penelitian juga akan dilakukan atas Surat Setoran Pajak (SSP) dan Surat Pemberitahuan (SPT) Masa Pajak Pertambahan Nilai (PPN) untuk tahun pajak 2008, 2009 dan 2010.

4 2.1 Analisis Hak dan Kewajiban Pengusaha Kena Pajak PT IO merupakan perusahaan yang bergerak di bidang produksi kemasan. PT IO telah mendaftarkan diri sebagai Pengusaha Kena Pajak (PKP) sehingga PT IO telah memiliki Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP) dan Nomor Pokok Pengusaha Kena Pajak (NPPKP). Sebagai Pengusaha Kena Pajak (PKP), PT IO mempunyai kewajiban yang harus dijalankan di bidang perpajakannya. Berikut akan diuraikan beberapa kewajiban yang harus dijalankan oleh Pengusaha Kena Pajak (PKP), yaitu: 1. Melaporkan usahanya untuk dikukuhkan sebagai Pengusaha Kena Pajak; 2. Memungut Pajak Pertambahan Nilai (PPN) dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM) yang terutang; 3. Menyetorkan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM) yang terutang; serta 4. Melaporkan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM) yang terutang. Sesuai dengan kewajiban yang telah diuraikan di atas dan dihubungkan dengan hasil analisa yang telah dilakukan oleh peneliti, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa Pengusaha Kena Pajak yang bersangkutan, yaitu PT IO telah memenuhi kewajibannya sebagai seorang Pengusaha Kena Pajak (PKP). Di samping itu, karena semua transaksi penjualan PT IO bukan tergolong sebagai barang mewah, maka PT IO tidak memiliki kewajiban dalam hal memungut, menyetor dan melaporkan Pajak Penjaualan atas Barang Mewah (PPnBM).

5 2.2 Analisis Penjualan dan Penyerahan Barang Kena Pajak (Pajak Keluaran) Menjadi seorang Pengusaha Kena Pajak (PKP) menandakan bahwa PT IO telah melakukan transaksi penyerahan Barang Kena Pajak (BKP) dan/atau Jasa Kena Pajak (JKP). Sesuai analisa yang dilakukan oleh peneliti, PT IO hanya melakukan penyerahan Barang Kena Pajak (BKP) dalam setiap transaksi penjualannya. Atas dilakukannya penyerahan Barang Kena Pajak (BKP) tersebut, maka PT IO wajib melakukan pemungutan atas Pajak Pertambahan Nilai (PPN) sebesar 10% yang dikenakan atas Dasar Pengenaan Pajak (DPP) transaksi penyerahan Barang Kena Pajak (BKP) tersebut. Dalam hal ini, yang menjadi Dasar Pengenaan Pajak (DPP) pada PT IO adalah harga jual yang adalah nilai berupa uang, termasuk semua biaya yang diminta atau seharusnya diminta oleh penjual karena penyerahan Barang Kena Pajak (BKP), tidak termasuk Pajak Pertambahan Nilai (PPN) yang dipungut menurut Undang Undang ini dan potongan harga yang dicantumkan dalam Faktur Pajak. Sesuai dengan Undang Undang No. 8 Tahun 1983 sebagaimana telah diubah dengan Undang Undang Nomor 18 Tahun 2000, definisi dari Pajak Keluaran adalah Pajak Pertambahan Nilai (PPN) yang terutang yang wajib dipungut oleh Pengusaha Kena Pajak (PKP) yang melakukan penyerahan Barang Kena Pajak (BKP), penyerahan Jasa Kena Pajak (JKP) atau ekspor Barang Kena Pajak (BKP). Berikut akan dilampirkan rincian Pajak Keluaran Pajak Pertambahan Nilai (PPN) PT IO pada tahun 2008 dan 2009.

6 Tabel IV.1 PT IO Pajak Keluaran Periode Januari Desember 2008 Masa Pajak DPP Pajak Keluaran Total Penjualan Januari 1,186,104, ,610,479 1,304,715,272 Februari 910,354,524 91,035,452 1,001,389,977 Maret 1,587,971, ,797,184 1,746,769,028 April 1,301,495, ,149,557 1,431,645,126 Mei 1,553,878, ,387,803 1,709,265,833 Juni 1,191,484, ,148,486 1,310,633,349 Juli 1,406,410, ,641,022 1,547,051,238 Agustus 1,402,562, ,256,228 1,542,818,505 September 1,214,200, ,420,046 1,335,620,507 Oktober 890,539,071 89,053, ,592,978 November 1,187,348, ,734,839 1,306,083,227 Desember 1,237,390, ,739,097 1,361,130,069 Total 15,069,741,008 1,506,974,101 16,576,715,109 Sumber: Rincian Surat Pemberitahuan (SPT) Masa Pajak Pertambahan Nilai (PPN) Periode 2008 PT IO (dalam Rupiah) Berdasarkan hasil analisa peneliti, pada tabel IV.1 di atas dapat dilihat bahwa penjualan atau penyerahan Barang Kena Pajak (BKP) yang dilakukan oleh PT IO sebesar Rp. 15,069,741,008 yang mana Pajak Keluaran atas penjualan atau penyerahan Barang Kena Pajak (BKP) tersebut adalah sebesar Rp. 1,506,974,101, yaitu 10% dari penjualan yang dilakukan. Total pembayaran yang harus diterima oleh PT IO dari para pelanggannya adalah sebesar Rp. 16,576,715,109. PT IO melakukan perbaikan sebanyak 1 (satu) kali atas Pajak Pertambahan Nilai (PPN) yang telah pernah dilaporkan pada bulan Januari hingga bulan November 2008 dan juga pembetulan atas Pajak Pertambahan Nilai pada bulan Desember 2008 sebanyak 2 (dua) kali. Namun perbaikan tersebut tidak merubah penjualan yang pernah dilaporkan, oleh sebabnya penulis tidak menampilkan data pembetulan tersebut pada tabel terlampir di atas.

7 Berikut juga akan dilampirkan laporan penjualan PT IO yang diambil dari laporan laba rugi PT IO yang terlampir pada Surat Pemberitahuan (SPT) Tahunan Pajak Penghasilan (PPh) Badan PT IO tahun Penjualan Kotor Rp. 15,170,025,495 (-) Retur Penjualan Rp. (100,283,824) Penjualan Bersih Rp. 15,069,741,671 Berdasarkan laporan di atas, maka jika dilakukan perbandingan akan terdapat selisih antara penjualan yang dilaporkan pada Surat Pemberitahuan (SPT) Masa Pajak Pertambahan Nilai (PPN) PT IO tahun 2008 dengan penjualan yang dilaporkan pada Surat Pemberitahuan (SPT) Tahunan Pajak Penghasilan (PPh) PT IO tahun Berikut akan ditampilkan perbedaan tersebut. Penjualan SPT Masa PPN Rp. 15,169,741,008 Penjualan SPT Tahunan PPh Badan Rp. 15,169,741,671 Selisih Rp. 663 Dari perbandingan di atas, guna menguji kebenaran ekualisasi atas penjualan yang dilaporkan PT IO, terdapat perbedaan antara penjualan yang dilaporkan pada Surat Pemberitahuan (SPT) Tahunan Pajak Penghasilan (PPh) Badan dengan penjualan yang dilaporkan pada Surat Pemberitahuan (SPT) Masa Pajak Pertambahan Nilai (PPN) PT IO pada tahun 2008 yaitu sebesar Rp Selisih tersebut tidak diteliti lebih dalam oleh penulis, karena dianggap adalah sebagai selisih yang timbul karena adanya pembulatan.

8 Tabel IV.2 PT IO Pajak Keluaran Periode Januari Desember 2009 Masa Pajak DPP Pajak Keluaran Total Penjualan Januari 1,497,159, ,715,975 1,646,875,723 Februari 2,709,079, ,907,915 2,979,987,066 Maret 2,084,115, ,411,557 2,292,527,132 April 1,937,214, ,721,489 2,130,936,374 Mei 1,671,016, ,101,670 1,838,118,371 Juni 2,173,339, ,333,953 2,390,673,485 Juli 1,793,869, ,386,938 1,973,256,320 Agustus 2,067,260, ,726,044 2,273,986,482 September 1,780,616, ,061,645 1,958,678,090 Oktober 2,098,678, ,867,863 2,308,546,493 November 2,371,432, ,143,248 2,608,575,729 Desember 1,815,156, ,515,623 1,996,671,850 Total 23,998,939,197 2,399,893,920 26,398,833,117 Sumber: Rincian Surat Pemberitahuan (SPT) Masa Pajak Pertambahan Nilai (PPN) Periode 2009 PT IO (dalam Rupiah) Berdasarkan hasil analisa peneliti, pada tabel IV.2 di atas dapat dilihat bahwa penjualan atau penyerahan Barang Kena Pajak (BKP) yang dilakukan oleh PT IO sebesar Rp. 23,998,939,197 yang mana Pajak Keluaran atas penjualan atau penyerahan Barang Kena Pajak (BKP) tersebut adalah sebesar Rp. 2,399,893,920, yaitu 10% dari penjualan yang dilakukan. Total pembayaran yang harus diterima oleh PT IO dari para pelanggannya adalah sebesar Rp. 26,398,833,117. PT IO melakukan perbaikan sebanyak 1 (satu) kali atas Pajak Pertambahan Nilai (PPN) yang telah pernah dilaporkan pada bulan Januari, Maret, Juli, Agustus, September dan bulan Oktober 2009 dan juga pembetulan atas Pajak Pertambahan Nilai pada bulan Februari, April, Mei dan Juni 2009 dilakukan sebanyak 2 (dua) kali. Namun perbaikan tersebut tidak merubah penjualan yang pernah dilaporkan, oleh sebabnya penulis tidak menampilkan data pembetulan tersebut pada tabel terlampir di atas. Sedangkan atas bulan November dan Desember 2009 tidak dilakukan pembetulan.

9 Berikut juga akan dilampirkan laporan penjualan PT IO yang diambil dari laporan laba rugi PT IO yang terlampir pada Surat Pemberitahuan (SPT) Tahunan Pajak Penghasilan (PPh) Badan PT IO tahun Penjualan Kotor Rp. 24,157,384,993 (-) Retur Penjualan Rp. (158,445,536) Penjualan Bersih Rp. 23,998,939,457 Berdasarkan laporan di atas, maka jika dilakukan perbandingan akan terdapat selisih antara penjualan yang dilaporkan pada Surat Pemberitahuan (SPT) Masa Pajak Pertambahan Nilai (PPN) PT IO tahun 2009 dengan penjualan yang dilaporkan pada Surat Pemberitahuan (SPT) Tahunan Pajak Penghasilan (PPh) PT IO tahun Berikut akan ditampilkan perbedaan tersebut. Penjualan SPT Masa PPN Rp. 23,998,939,197 Penjualan SPT Tahunan PPh Badan Rp. 23,998,939,457 Selisih Rp. 260 Dari perbandingan di atas, guna menguji kebenaran ekualisasi atas penjualan yang dilaporkan PT IO, terdapat perbedaan antara penjualan yang dilaporkan pada Surat Pemberitahuan (SPT) Tahunan Pajak Penghasilan (PPh) Badan dengan penjualan yang dilaporkan pada Surat Pemberitahuan (SPT) Masa Pajak Pertambahan Nilai (PPN) PT IO pada tahun 2009 yaitu sebesar Rp Selisih tersebut tidak diteliti lebih dalam oleh penulis, karena dianggap adalah sebagai selisih yang timbul karena adanya pembulatan. Sesuai dengan Undang Undang Nomor 42 Tahun 2009, definisi dari Pajak Keluaran adalah Pajak Pertambahan Nilai (PPN) yang terutang yang wajib dipungut oleh Pengusaha Kena Pajak (PKP) yang melakukan penyerahan Barang Kena Pajak (BKP),

10 penyerahan Jasa Kena Pajak (JKP), ekspor Barang Kena Pajak (BKP) Berwujud, ekspor Barang Kena Pajak (BKP) Tidak Berwujud dan/atau ekspor Jasa Kena Pajak (JKP). Berikut akan dilampirkan rincian Pajak Keluaran Pajak Pertambahan Nilai (PPN) PT IO pada tahun Tabel IV.3 PT IO Pajak Keluaran Periode Januari Desember 2010 (dalam Rupiah) Masa Pajak DPP Pajak Keluaran Total Penjualan Januari 2,869,386, ,938,601 3,156,324,613 Februari 2,455,600, ,560,068 2,701,160,750 Maret 3,307,082, ,708,278 3,637,791,053 April 2,717,627, ,762,787 2,989,390,653 Mei 2,641,055, ,105,576 2,905,161,340 Juni 4,428,589, ,858,966 4,871,448,628 Juli 3,672,058, ,205,878 4,039,264,655 Agustus 4,050,887, ,088,721 4,455,975,933 Agustus P1 4,699,990, ,999,048 5,169,989,527 Agustus P2 4,921,438, ,143,854 5,413,582,398 September 1,842,719, ,271,945 2,026,991,392 Oktober 3,443,450, ,345,081 3,787,795,893 November 2,994,665, ,466,542 3,294,131,960 Desember 3,131,325, ,132,531 3,444,457,842 Total Sebelum Pembetulan 37,554,449,739 3,755,444,974 41,309,894,712 Total Setelah Pembetulan 38,425,001,071 3,842,500,107 42,267,501,178 Sumber: Rincian Surat Pemberitahuan (SPT) Masa Pajak Pertambahan Nilai (PPN) Periode 2010 PT IO Berdasarkan hasil analisa peneliti, pada tabel IV.3 di atas dapat dilihat bahwa penjualan atau penyerahan Barang Kena Pajak (BKP) yang dilakukan oleh PT IO sebesar Rp. 37,554,449,739 yang mana Pajak Keluaran atas penjualan atau penyerahan Barang Kena Pajak (BKP) tersebut adalah sebesar Rp. 3,755,444,974, yaitu 10% dari penjualan yang

11 dilakukan. Total pembayaran yang harus diterima oleh PT IO dari para pelanggannya adalah sebesar Rp. 41,309,894,712. PT IO melakukan perbaikan sebanyak 2 (dua) kali atas Pajak Pertambahan Nilai (PPN) yang telah dilaporkan pada bulan Agustus yang mana mengubah jumlah penjualan pada bulan tersebut. Pada pembetulan pertama, jumlah Pajak Keluaran PT IO menjadi Rp. 469,999,048 dan pada pembetulan kedua, jumlah Pajak Keluarannya menjadi Rp. 492,143,854. Sedangkan pada bulan September 2010 juga dilakukan pembetulan sebanyak 1 (satu) kali, namun perbaikan tersebut tidak merubah penjualan yang pernah dilaporkan, oleh sebabnya penulis tidak menampilkan data pembetulan tersebut pada tabel terlampir di atas. Setelah dilakukannya pembetulan pada bulan Agustus, maka penjualan yang terjadi sepanjang tahun 2010 adalah sebesar Rp. 38,425,001,071 yang mana atasnya dikenakan Pajak Pertambahan Nilai sebesar 10%, yaitu Rp. 3,842,500,107 dan total penjualan yang harus dibayarkan oleh para pelanggan kepada PT IO adalah sebesar Rp. 42,267,501,178. Berikut juga akan dilampirkan laporan penjualan PT IO yang diambil dari laporan laba rugi PT IO yang terlampir pada Surat Pemberitahuan (SPT) Tahunan Pajak Penghasilan (PPh) Badan PT IO tahun Penjualan Kotor Rp. 39,137,196,619 (-) Retur Penjualan Rp. (712,194,820) Penjualan Bersih Rp. 38,425,001,799 Berdasarkan laporan di atas, maka jika dilakukan perbandingan akan terdapat selisih antara penjualan yang dilaporkan pada Surat Pemberitahuan (SPT) Masa Pajak Pertambahan Nilai (PPN) PT IO tahun 2010 dengan penjualan yang dilaporkan pada Surat Pemberitahuan (SPT) Tahunan Pajak Penghasilan (PPh) PT IO tahun Berikut akan ditampilkan perbedaan tersebut. Penjualan SPT Masa PPN Rp. 38,425,001,071

12 Penjualan SPT Tahunan PPh Badan Rp. 38,425,001,799 Selisih Rp. 728 Dari perbandingan di atas, guna menguji kebenaran ekualisasi atas penjualan yang dilaporkan PT IO, terdapat perbedaan antara penjualan yang dilaporkan pada Surat Pemberitahuan (SPT) Tahunan Pajak Penghasilan (PPh) Badan dengan penjualan yang dilaporkan pada Surat Pemberitahuan (SPT) Masa Pajak Pertambahan Nilai (PPN) PT IO pada tahun 2010 yaitu sebesar Rp Selisih tersebut tidak diteliti lebih dalam oleh penulis, karena dianggap adalah sebagai selisih yang timbul karena adanya pembulatan. berikut: Berdasarkan ketiga tabel yang ada di atas, yang menunjukkan data perbandingan Penjualan tahun 2008 Rp. 15,069,741,008 Penjualan tahun 2009 Rp. 23,998,939,197 Penjualan tahun 2010 Rp. 38,425,001,071 maka dapat disimpulkan bahwa dari tahun 2008 sampai 2009, transaksi penjualan pada PT IO mengalami peningkatan sebesar 159,25% dan penjualan dari tahun 2009 hingga tahun 2010 mengalami peningkatan sebesar 160,11%. 2.3 Analisis Pembelian dan Penerimaan Barang Kena Pajak (Pajak Masukan) Dalam transaksi kesehariannya, PT IO tidak pernah lepas dari transaksi pembelian atau perolehan Barang Kena Pajak (BKP) maupun pemanfaatan Jasa Kena Pajak (JKP). PT IO juga melakukan impor atas beberapa bahan baku yang akan dipakainya untuk produksi. Berhubung adanya perubahan yang terjadi atas Undang Undang Pajak Pertambahan Nilai

13 (PPN) yang berdampak pada beberapa kriteria Pajak Masukan yang dapat atau tidak dapat dikreditkan, maka peneliti akan melakukan penelitian atas Pajak Masukan yang dapat atau yang tidak dapat dikreditkan oleh PT IO. Sesuai dengan Undang Undang Nomor 8 Tahun 1983 sebagaimana telah diubah dengan Undang Undang Nomor 18 Tahun 2000 dan terakhir diubah dengan Undang Undang Nomor 42 Tahun 2009, pengertian Pajak Masukan yaitu Pajak Pertambahan Nilai yang seharusnya sudah dibayar oleh Pengusaha Kena Pajak karena perolehan Barang Kena Pajak dan/atau perolehan Jasa Kena Pajak dan/atau pemanfaatan Barang Kena Pajak Tidak Berwujud dari luar Daerah Pabean dan/atau pemanfaatan Jasa Kena Pajak dari luar Daerah Pabean dan/atau impor Barang Kena Pajak dan Berikut akan dilampirkan tabel rincian Pajak Masukan PT IO pada tahun 2008, Tabel IV.4 PT IO Pajak Masukan Periode Januari Desember 2008 (dalam Rupiah) Masa Pajak PPN Impor PPN Pembelian Total PM Januari P1-53,024,549 53,024,549 Februari P1-101,485, ,485,908 Maret P1 39,351,301 61,327, ,678,706 April P1 14,788, ,559, ,348,402 Mei P1-115,631, ,631,481 Juni P1 46,686, ,643, ,329,335 Juli P1 33,480,393 48,439,120 81,919,513 Agustus P1-94,788,855 94,788,855 September P1 33,416,890 68,080, ,497,808 Oktober P1 312,294 31,307,129 31,619,423 November P1-52,979,046 52,979,046 Desember P2 22,337,900 75,131,150 97,469,050 Total 190,373, ,398,186 1,157,772,076 Sumber: Rincian Surat Pemberitahuan (SPT) Masa Pajak Pertambahan Nilai (PPN) Periode 2008 PT IO

14 Sesuai dengan data rincian pada tabel IV.4, maka dilihat bahwa pada tahun 2008, PT IO melakukan kegiatan impor yang mana atas transaksi impor tersebut dikenakan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) sebesar 10%, yaitu Rp. 190,373,890. PT IO juga melakukan transaksi pembelian dalam negeri yang juga dikenakan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) atas transaksi tersebut sebesar 10%, yaitu Rp. 967,398,186. Total Pajak Masukan yang dapat diperhitungkan oleh PT IO, yaitu dari total Pajak Pertambahan Nilai atas Impor dan pembelian dalam negeri adalah sebesar Rp. 1,157,772,076. Tabel IV.5 PT IO Pajak Masukan Periode Januari Desember 2009 (dalam Rupiah) Masa Pajak PPN Impor PPN Pembelian Total PM Januari P1 4,205,895 65,264,996 69,470,891 Februari P2 91,726, ,107, ,833,652 Maret P1 105,112, ,550, ,663,263 April P2 71,587, ,568, ,156,431 Mei P2 8,049,366 73,576,313 81,625,679 Juni P2-197,204, ,204,023 Juli P1 50,585, ,289, ,875,192 Agustus P1 445, ,888, ,333,772 September P1 165,835, ,903, ,738,455 Oktober P1 9,597, ,325, ,923,644 November 1,221,299 80,153,780 81,375,079 Desember - 248,772, ,772,891 Total 508,367,669 1,571,605,305 2,079,972,972 Sumber: Rincian Surat Pemberitahuan (SPT) Masa Pajak Pertambahan Nilai (PPN) Periode 2009 PT IO Sesuai dengan data rincian pada tabel IV.5, maka dilihat bahwa pada tahun 2009, PT IO melakukan kegiatan impor yang mana atas transaksi impor tersebut dikenakan pula Pajak Pertambahan Nilai (PPN) sebesar 10%, yaitu Rp. 508,367,669. PT IO juga melakukan transaksi pembelian dalam negeri yang juga dikenakan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) atas transaksi tersebut sebesar 10%, yaitu Rp. 1,571,605,305. Total Pajak Masukan yang dapat

15 diperhitungkan oleh PT IO, yaitu dari total Pajak Pertambahan Nilai atas Impor dan pembelian dalam negeri adalah sebesar Rp. 2,079,972,972. Tabel IV.6 PT IO Pajak Masukan Periode Januari Desember 2010 (dalam Rupiah) Masa Pajak PPN Impor PPN Pembelian Total PM Januari 45,381, ,338, ,867,894 Februari 74,148, ,719, ,867,894 Maret 84,955, ,763, ,719,493 April 101, ,899, ,001,387 Mei 65,681, ,126, ,808,549 Juni 218,744, ,802, ,546,579 Juli - 478,339, ,339,312 Agustus P2 56,141, ,528, ,669,900 September P1 68,213, ,758, ,971,558 Oktober 52,704, ,929, ,633,390 November 99,754, ,512, ,267,676 Desember - 245,659, ,659,295 Total 765,827,086 2,531,377,279 3,297,204,365 Sumber: Rincian Surat Pemberitahuan (SPT) Masa Pajak Pertambahan Nilai (PPN) Periode 2010 PT IO Sesuai dengan data rincian pada tabel IV.6, maka dilihat bahwa pada tahun 2010, PT IO melakukan kegiatan impor yang mana atas transaksi impor tersebut dikenakan pula Pajak Pertambahan Nilai (PPN) sebesar 10%, yaitu Rp. 765,827,086. PT IO juga melakukan transaksi pembelian dalam negeri yang juga dikenakan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) atas transaksi tersebut sebesar 10%, yaitu Rp. 2,531,377,279. Total Pajak Masukan yang dapat diperhitungkan oleh PT IO, yaitu dari total Pajak Pertambahan Nilai atas Impor dan pembelian dalam negeri adalah sebesar Rp. 3,297,204,365. Dari ketiga tabel yang ada di atas, yang menunjukkan data perbandingan pembelian impor dan pembelian dalam negeri berikut: Impor tahun 2008 Rp. 1,903,738,902

16 Impor tahun 2009 Rp. 5,083,676,688 Impor tahun 2010 Rp. 7,658,270,860 Pembelian tahun 2008 Rp. 9,673,981,860 Pembelian tahun 2009 Rp. 15,917,352,348 Pembelian tahun 2010 Rp. 25,313,772,795 maka dapat disimpulkan bahwa dari tahun 2008 hingga tahun 2009 pembelian impor yang dilakukan PT IO mengalami peningkatan sebesar 267,04% dan dari tahun 2009 hingga tahun 2010 juga mengalami peningkatan sebesar 150,64%. Begitu pula dengan transaksi pembelian dalam negeri yang dari tahun 2008 ke tahun 2009 mengalami peningkatan sebesar 164,54% dan dari tahun 2009 hingga tahun 2010 mengalami peningkatan sebesar 159,03%. 2.4 Analisis Kompensasi Pajak Lebih Bayar Masa Sebelumnya dan Pajak Pertambahan Nilai Kurang (Lebih) Bayar Selisih antara Pajak Keluaran dan Pajak Masukan akan menimbulkan kurang atau lebih bayar Pajak Pertambahan Nilai (PPN). Apabila jumlah Pajak Keluaran lebih besar daripada Pajak Masukan maka akan terjadi kurang bayar atas Pajak Pertambahan Nilai (PPN). Sebaliknya, apabila Pajak Masukan lebih besar daripada Pajak Keluaran, maka akan terjadi lebih bayar atas Pajak Pertambahan Nilai tersebut. Jika kurang bayar, maka Wajib Pajak harus membayarkan jumlah kurang bayar tersebut pada bank bank tertentu yang telah ditetapkan oleh Direktorat Jenderal Pajak. Namun jika terjadi lebih bayar, maka perusahaan dapat melakukan kompensasi atau restitusi. Dalam hal ini, PT IO yang sebagai objek penelitian penulis, selalu melakukan kompensasi ke Masa Pajak berikutnya apabila terjadi lebih bayar.

17 Berikut akan ditampilkan tabel yang berisi rincian perhitungan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) kurang atau lebih bayar pada tahun 2008, 2009 dan Dikarenakan menurut penulis bahwa perusahaan tidak melakukan kompensasi atas pajak lebih bayarnya sesuai dengan peraturan perpajakan yang berlaku, maka penulis juga akan menampilkan data tabel perhitungan atas kurang (lebih) bayar yang sesuai dengan peraturan perpajakan yang berlaku atas tahun 2008, 2009 dan Tabel IV.7 PT IO Perhitungan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) Kurang (Lebih) Bayar Periode Januari Desember 2008 (dalam Rupiah) Masa Pajak Pajak Keluaran Pajak Masukan Kompensasi Kurang (Lebih) Bayar Januari 118,610,479 53,024,549-65,585,930 Januari P1 118,610,479 53,024, (157,235,953) Februari 91,035, ,485,908 - (10,450,456) Februari P1 91,035, ,485, ,272,325 (243,722,780) Maret 158,797, ,678,706 10,450,448 47,668,030 Maret P1 158,797, ,678, ,272,323 (175,153,845) April 130,149, ,348,402 - (10,198,845) April P1 130,149, ,348, ,020,704 (243,219,549) Mei 155,387, ,631,481 10,198,831 29,557,491 Mei P1 155,387, ,631, ,020,710 (193,264,388) Juni 119,148, ,329,335 - (67,180,849) Juni P1 119,148, ,329, ,002,713 (357,183,562) Juli 140,641,022 81,919,513 67,180,837 (8,459,328) Juli P1 140,641,022 81,919, ,462,039 (239,740,531) Agustus 140,256,228 94,788,855 8,459,321 37,008,052 Agustus P1 140,256,228 94,788, ,281,197 (185,813,825) September 121,420, ,497,808-19,922,238 September P1 121,420, ,497, ,821,877 (202,899,638) Oktober 89,053,907 31,619,423-57,434,484 Oktober P1 89,053,907 31,619, ,134,176 (165,387,398) November 118,734,839 52,979,046-65,755,793 November P1 118,734,839 52,979, ,821,880 (157,066,087) Desember 123,739,097 97,469,050-26,270,047 Desember P1 123,739,097 97,469, ,367,304 (352,097,257) Desember P2 123,739,097 97,469, ,919,139 (548,649,092) Sumber: Rincian Surat Pemberitahuan (SPT) Masa Pajak Pertambahan Nilai (PPN) Periode 2008 PT IO

18 Dari data tabel di atas, menurut penulis PT IO tidak melakukan kompensasi atas masa pajak sebelumnya sesuai dengan peraturan perpajakan. Berikut penulis akan menampilkan tabel yang menunjukkan kompensasi pajak lebih bayar yang sesuai dengan peraturan perpajakan. Tabel IV.8 Perhitungan kurang (lebih) bayar seharusnya Tahun 2008 (dalam Rupiah) Masa Pajak Pajak Keluaran PPN Impor PPN Pembelian Total PM Kompensasi Kurang (Lebih) Bayar Januari P1 118,610,479-53,024,549 53,024, ,821,883 (157,235,953) Februari P1 91,035, ,485, ,485, ,235,953 (167,686,409) Maret P1 158,797,184 39,351,301 61,327, ,678, ,686,409 (109,567,931) April P1 130,149,557 14,788, ,559, ,348, ,567,931 (119,766,776) Mei P1 155,387, ,631, ,631, ,766,776 (80,010,454) Juni P1 119,148,486 46,686, ,643, ,329,335 80,010,454 (147,191,303) Juli P1 140,641,022 33,480,393 48,439,120 81,919, ,191,303 (88,469,794) Agustus P1 140,256,228-94,788,855 94,788,855 88,469,794 (43,002,421) September P1 121,420,046 33,416,890 68,080, ,497,808 43,002,421 (23,080,183) Oktober P1 89,053, ,294 31,307,129 31,619,423 23,080,183 34,354,301 November P1 118,734,839-52,979,046 52,979,046-65,755,793 Desember P2 123,739,097 22,337,900 75,131,150 97,469,050-26,270,047 Sesuai dengan data dari tabel yang dibuat penulis, maka pada bulan Oktober, November dan Desember perusahaan seharusnya mengalami kurang bayar, namun pada SPT Masa PPN dilaporkan bahwa pada Masa Pajak tersebut perusahaan adalah dalam keadaan lebih bayar. Dan dari bulan Februari hingga bulan Desember kompensasi pajak lebih bayar dari masa sebelumnya yang dilaporkan PT IO pada SPT Masa PPN nya sangat berbeda dan tidak sesuai dengan peraturan perpajakan yang berlaku.

19 Tabel IV.9 PT IO Perhitungan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) Kurang (Lebih) Bayar Periode Januari Desember 2009 (dalam Rupiah) Masa Pajak Pajak Keluaran Pajak Masukan Kompensasi Kurang (Lebih) Bayar Januari 149,715,975 69,470, ,367,314 (298,122,230) Januari P1 149,715,975 69,470, ,674,044 (414,428,960) Februari 270,907, ,107, ,122,220 (248,047,956) Februari P1 270,907, ,107, ,122,220 (248,047,956) Februari P2 270,907, ,107, ,354,672 (314,280,409) Maret 208,411, ,663, ,047,946 (283,299,651) Maret P1 208,411, ,663, ,532,090 (384,783,796) April 193,721, ,156, ,299,640 (285,734,582) April P1 193,721, ,156, ,218,725 (389,653,667) April P2 193,721, ,156, ,973,766 (519,408,708) Mei 167,101,670 81,625, ,734,575 (200,258,585) Mei P1 167,101,670 81,625, ,318,420 (218,842,429) Mei P2 167,101,670 81,625, ,667,843 (263,191,852) Juni 217,333, ,204, ,328,957 (180,199,027) Juni P1 217,333, ,204, ,712,509 (178,582,579) Juni P2 217,333, ,204, ,548,454 (204,418,524) Juli 179,386, ,875,192-27,511,746 Juli P1 179,386, ,875,192 25,835,935 1,675,812 Agustus 206,726, ,333,772-92,392,272 Agustus P1 206,726, ,333,772 25,835,933 66,556,339 September 178,061, ,738,455 - (155,676,811) September P1 178,061, ,738,455 25,835,937 (181,512,747) Oktober 209,867, ,923, ,676,805 (86,732,585) Oktober P1 209,867, ,923, ,512,741 (112,568,522) November 237,143,248 81,375, ,568,526 43,199,643 Desember 181,515, ,772,891 - (67,257,268) Sumber: Rincian Surat Pemberitahuan (SPT) Masa Pajak Pertambahan Nilai (PPN) Periode 2009 PT IO Dari data tabel di atas, menurut penulis PT IO tidak melakukan kompensasi atas masa pajak sebelumnya sesuai dengan peraturan perpajakan. Berikut penulis akan menampilkan tabel yang menunjukkan kompensasi pajak lebih bayar yang sesuai dengan peraturan perpajakan.

20 Tabel IV.10 Perhitungan kurang (lebih) bayar seharusnya Tahun 2009 (dalam Rupiah) Masa Pajak Pajak Keluaran PPN Impor PPN Pembelian Total PM Kompensasi Kurang (Lebih) Bayar Januari P1 149,715,975 4,205,895 65,264,996 69,470,891-80,245,084 Februari P2 270,907,915 91,726, ,107, ,833,652-50,074,264 Maret P1 208,411, ,112, ,550, ,663,263 - (35,251,706) April P2 193,721,489 71,587, ,568, ,156,431 35,251,706 (37,686,649) Mei P2 167,101,670 8,049,366 73,576,313 81,625,679 37,686,649 47,789,341 Juni P2 217,333, ,204, ,204,023-20,129,930 Juli P1 179,386,938 50,585, ,289, ,875,192-27,511,746 Agustus P1 206,726, , ,888, ,333,772-92,392,272 September P1 178,061, ,835, ,903, ,738,455 - (155,676,811) Oktober P1 209,867,863 9,597, ,325, ,923, ,676,805 (86,732,585) November 237,143,248 1,221,299 80,153,780 81,375,079 86,732,585 69,035,584 Desember 181,515, ,772, ,772,891 - (67,257,268) Sesuai dengan data dari tabel yang dibuat penulis, maka pada bulan Januari, Februari, Mei, Juni, Juli, Agustus dan November perusahaan seharusnya mengalami kurang bayar, namun pada SPT Masa PPN dilaporkan bahwa pada Masa Pajak tersebut perusahaan adalah dalam keadaan lebih bayar. Dan dari bulan Januari hingga bulan November kompensasi pajak lebih bayar dari masa sebelumnya yang dilaporkan PT IO pada SPT Masa PPN nya sangat berbeda dan tidak sesuai dengan peraturan perpajakan yang berlaku. Tabel IV.11 PT IO Perhitungan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) Kurang (Lebih) Bayar Periode Januari Desember 2010 (dalam Rupiah) Masa Pajak Pajak Keluaran Pajak Masukan Kompensasi Kurang (Lebih) Bayar Januari 286,938, ,867,894 67,257,271 11,961,998 Februari 245,560, ,867,894-28,692,173 Maret 330,708, ,719,493-27,988,785

21 Masa Pajak Pajak Keluaran Pajak Masukan Kompensasi Kurang (Lebih) Bayar April 271,762, ,001,387-99,761,400 Mei 264,105, ,808,549 - (13,702,973) Juni 442,858, ,546,579 21,157,859 (83,845,471) Juli 367,205, ,339,312 83,845,471 (194,978,904) Agustus 405,088, ,669, ,978,909 10,439,912 Agustus P1 389,394, ,669,900 - (40,310,923) Agustus P2 407,741, ,669,900 - (21,963,951) September 184,271, ,971,558 - (80,699,613) September P1 184,271, ,971,558 21,963,951 (102,663,551) Oktober 344,345, ,633, ,663,555 22,048,136 November 299,466, ,267,676-93,198,865 Desember 313,132, ,659,295-67,473,236 Sumber: Rincian Surat Pemberitahuan (SPT) Masa Pajak Pertambahan Nilai (PPN) Periode 2010 PT IO Dari data tabel di atas, menurut penulis PT IO tidak melakukan kompensasi atas masa pajak sebelumnya sesuai dengan peraturan perpajakan. Berikut penulis akan menampilkan tabel yang menunjukkan kompensasi pajak lebih bayar yang sesuai dengan peraturan perpajakan. Masa Pajak Pajak Keluaran Tabel IV.12 Perhitungan kurang (lebih) bayar seharusnya PPN Impor Tahun 2010 PPN Pembelian Total PM Kompensasi (dalam Rupiah) Kurang (Lebih) Bayar Januari 286,938,601 45,381, ,338, ,867,894 67,257,268 11,962,001 Februari 245,560,068 74,148, ,719, ,867,894-28,692,173 Maret 330,708,278 84,955, ,763, ,719,493-27,988,785 April 271,762, , ,899, ,001,387-99,761,400 Mei 264,105,576 65,681, ,126, ,808,549 - (13,702,973) Juni 442,858, ,744, ,802, ,546,579 13,702,973 (76,390,586) Juli 367,205, ,339, ,339,312 76,390,586 (187,524,020) Agustus P2 407,741,183 56,141, ,528, ,669, ,524,020 20,547,263 September P1 184,271,945 68,213, ,758, ,971,558 14,509,062 (95,208,675) Oktober 344,345,081 52,704, ,929, ,633,390 95,208,675 29,503,016 November 299,466,542 99,754, ,512, ,267,676-93,198,865 Desember 313,132, ,659, ,659,295-67,473,236 Sesuai dengan data dari tabel yang dibuat penulis, maka pada bulan Januari hingga April, Agustus, Oktober hingga Desember perusahaan seharusnya mengalami kurang bayar,

22 namun pada SPT Masa PPN dilaporkan bahwa pada Masa Pajak tersebut perusahaan adalah dalam keadaan lebih bayar. Dan pada bulan Juni hingga Oktober, kompensasi pajak lebih bayar dari masa sebelumnya yang dilaporkan PT IO pada SPT Masa PPN nya sangat berbeda dan tidak sesuai dengan peraturan perpajakan yang berlaku. 2.5 Analisis Penyetoran dan Pelaporan Pajak Pertambahan Nilai Sesuai dengan Undang Undang Nomor 8 Tahun 1983 sebagaimana telah diubah dengan Undang Undang Nomor 18 Tahun 2000, penyetoran Pajak Pertambahan Nilai (PPN) yang kurang bayar dilakukan paling lama pada tanggal 15 (lima belas) setelah berakhirnya Masa Pajak. Sedangkan untuk pelaporan Surat Pemberitahuan (SPT) Masa Pajak Pertambahan Nilai (PPN) dilakukan paling lama pada tanggal 20 (dua puluh) setelah berakhirnya Masa Pajak. Untuk denda atas keterlambatan penyetoran Pajak Pertambahan Nilai (PPN) kurang bayar dikenakan sanksi sebesar 2% X jumlah pajak terutang X jumlah bulan maksimal 24 bulan. Sedangkan untuk denda atas keterlambatan atas pelaporan Surat Pemberitahuan (SPT) Masa Pajak Pertambahan Nilai (PPN), akan dikenakan sanksi sebesar Rp Berikut akan ditampilkan tabel yang berisi rincian tanggal penyetoran dan pelaporan Pajak Pertambahan Nilai yang terutang pada PT IO pada tahun 2008 dan Tabel IV.13 PT IO Penyetoran dan Pelaporan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) Periode Januari Desember 2008 Masa Pajak Kurang/Lebih bayar Tanggal Setor Tanggal Lapor Januari Rp. 65,585, Feb Feb-08 Januari P1 Rp. (157,235,953) 31-Jul-09 Februari Rp. (10,450,456) 19-Mar-08

23 Masa Pajak Kurang/Lebih bayar Tanggal Setor Tanggal Lapor Februari P1 Rp. (243,722,780) 31-Jul-09 Maret Rp. 47,668, Apr Apr-08 Maret P1 Rp. (175,153,845) 31-Jul-09 April Rp. (10,198,845) 19-May-08 April P1 Rp. (243,219,549) 31-Jul-09 Mei Rp. 29,557, Jun Jun-08 Mei P1 Rp. (193,264,388) 31-Jul-09 Juni Rp. (67,180,849) 18-Jul-08 Juni P1 Rp. (357,183,562) 31-Jul-09 Juli Rp. (8,459,328) 20-Aug-08 Juli P1 Rp. (239,740,531) 31-Jul-09 Agustus Rp. 37,008, Sep Sep-08 Agustus P1 Rp. (185,813,825) 31-Jul-09 September Rp. 19,922, Oct Oct-08 September P1 Rp. (202,899,638) 31-Jul-09 Oktober Rp. 57,434, Nov Nov-08 Oktober P1 Rp. (165,387,398) 31-Jul-09 November Rp. 65,755, Dec Dec-08 November P1 Rp. (157,066,087) 31-Jul-09 Desember Rp. 26,270, Jan Jan-09 Desember P1 Rp. (352,097,257) 31-Jul-09 Desember P2 Rp. (548,649,092) 31-Jul-09 Sumber: Rincian Surat Pemberitahuan (SPT) Masa Pajak Pertambahan Nilai (PPN) Periode 2008 PT IO Dari data tabel di atas, dapat kita lihat bahwa pada bulan Desember 2008, PT IO terlambat dalam menyampaikan/melaporkan Surat Pemberitahuan (SPT) Masa Pajak Pertambahan Nilai (PPN) nya. Seharusnya PT IO melakukan pelaporan paling lama tanggal 20 Januari 2009, namun PT IO melakukan pelaporan pada tanggal 27 Januari Oleh karena itu, PT IO dikenakan sanksi atas keterlambatannya, yaitu sebesar Rp. 500,000. Tabel IV.14 PT IO Penyetoran dan Pelaporan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) Periode Januari Desember 2009 Masa Pajak Kurang/Lebih Bayar Tanggal Setor Tanggal Lapor Januari Rp. (298,122,230) 19-Feb-09 Januari P1 Rp. (414,428,960) 31-Jul-09 Februari Rp. (248,047,956) 20-Mar-09

24 Masa Pajak Kurang/Lebih Bayar Tanggal Setor Tanggal Lapor Februari P1 Rp. (248,047,956) 16-Apr-09 Februari P2 Rp. (314,280,409) 31-Jul-09 Maret Rp. (283,299,651) 20-Apr-09 Maret P1 Rp. (384,783,796) 31-Jul-09 April Rp. (285,734,582) 20-May-09 April P1 Rp. (389,653,667) 31-Jul-09 April P2 Rp. (519,408,708) 15-Dec-09 Mei Rp. (200,258,585) 19-Jun-09 Mei P1 Rp. (218,842,429) 31-Jul-09 Mei P2 Rp. (263,191,852) 15-Dec-09 Juni Rp. (180,199,027) 17-Jul-09 Juni P1 Rp. (178,582,579) 31-Jul-09 Juni P2 Rp. (204,418,524) 15-Dec-09 Juli Rp. 27,511, Aug Aug-09 Juli P1 Rp. 1,675, Dec-09 Agustus Rp. 92,392, Sep Sep-09 Agustus P1 Rp. 66,556, Dec-09 September Rp. (155,676,811) 19-Oct-09 September P1 Rp. (181,512,747) 15-Dec-09 Oktober Rp. (86,732,585) 20-Nov-09 Oktober P1 Rp. (112,568,522) 15-Dec-09 November Rp. 43,199, Dec Dec-09 Desember Rp. (67,257,268) 20-Jan-10 Sumber: Rincian Surat Pemberitahuan (SPT) Masa Pajak Pertambahan Nilai (PPN) Periode 2009 PT IO Dari data tabel di atas, dapat kita lihat bahwa pada bulanjuli dan Agustus, PT IO melakukan pembetulan atas Surat Pemberitahuan (SPT) Masa Pajak Pertambahan Nilai (PPN) nya dan melaporkannya pada tanggal 15 Desember Karena pembetulan tersebut menunjukkan kurang bayar, maka PT IO dikenakan sanksi atas keterlambatan penyetoran, yaitu sebesar 2% dikalikan dengan jumlah pajak terutang dikalikan 4(empat) bulan untuk keterlambatan di bulan Juli, sedangkan untuk bulan Agustus dikalikan 3(tiga) bulan. Sedangkan setelah diterapkannya Undang Undang Nomor 42 Tahun 2009, maka penyetoran dilakukan paling lama pada akhir bulan berikutnya setelah berakhirnya Masa Pajak dan sebelum Surat Pemberitahuan (SPT) Masa Pajak Pertambahan Nilai (PPN) disampaikan. Dan untuk pelaporan dapat dilakukan paling lama akhir bulan berikutnya setelah berakhirnya Masa Pajak.

25 Untuk denda atas keterlambatan penyetoran Pajak Pertambahan Nilai (PPN) kurang bayar dikenakan sanksi sebesar 2% X jumlah pajak terutang X jumlah bulan maksimal 24 bulan. Sedangkan untuk denda atas keterlambatan atas pelaporan Surat Pemberitahuan (SPT) Masa Pajak Pertambahan Nilai (PPN), akan dikenakan sanksi sebesar Rp Berikut akan ditampilkan tabel yang berisi rincian tanggal penyetoran dan pelaporan Pajak Pertambahan Nilai yang terutang pada PT IO pada tahun Tabel IV.15 PT IO Penyetoran dan Pelaporan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) Periode Januari Desember 2010 Masa Pajak Kurang/Lebih Bayar Tanggal Setor Tanggal Lapor Januari Rp. 11,961, Feb Feb-10 Februari Rp. 28,692, Mar Mar-10 Maret Rp. 27,988, Apr Apr-10 April Rp. 99,761, May May-10 Mei Rp. (13,702,973) 18-Jun-10 Juni Rp. (83,845,471) 20-Jul-10 Juli Rp. (194,978,904) 20-Aug-10 Agustus Rp. 10,439, Sep-10 Agustus P1 Rp. (40,310,923) 21-Oct-10 Agustus P2 Rp. (21,963,951) 24-Nov-10 September Rp. (80,699,613) 21-Oct-10 September P1 Rp. (102,663,551) 30-Nov-10 Oktober Rp. 22,048, Nov Nov-10 November Rp. 93,198,865 7-Jan Jan-11 Desember Rp. 67,473, Jan Jan-11 Sumber: Rincian Surat Pemberitahuan (SPT) Masa Pajak Pertambahan Nilai (PPN) Periode 2010 PT IO Dari data tabel di atas, dapat kita lihat bahwa pada bulan Desember 2010, PT IO terlambat dalam menyampaikan/melaporkan Surat Pemberitahuan (SPT) Masa Pajak Pertambahan Nilai (PPN) nya. Seharusnya PT IO melakukan pelaporan paling lama akhir bulan berikutnya setelah berakhirnya Masa Pajak, namun PT IO melakukan pelaporan pada

26 tanggal 10 Januari Oleh karena itu, PT IO dikenakan sanksi atas keterlambatannya, yaitu sebesar Rp. 500,000. PT IO juga terlambat dalam melakukan penyetoran pajak kurang bayarnya, yang seharusnya disetorkan paling lama akhir bulan berikutnya setelah berakhirnya Masa Pajak, namun PT IO melakukan penyetoran pada tanggal 7 Januari Untuk itu, PT IO dikenakan sanksi atas keterlambatannya, yaitu sebesar 2% dikalikan dengan jumlah Pajak Pertambahan Nilai (PPN) yang terutang. 3. Simpulan PT IO merupakan Pengusaha Kena Pajak (PKP) yang wajib menjalankan kewajiban perpajakannya, khususnya atas Pajak Pertambahan Nilai (PPN). Berdasarkan analisa dan penelitian yang telah dilakukan oleh penulis atas PT IO, maka penulis menarik beberapa kesimpulan berikut. 1. PT IO telah menjalankan kewajibannya sebagai Pengusaha Kena Pajak yaitu atas Pajak Pertambahan Nilai. Kewajiban yang dimaksudkan yaitu menghitung, memungut, menyetorkan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) yang terutang dan melaporkan Surat Pemberitahuan (SPT) Masa Pajak Pertambahan Nilai (PPN). 2. PT IO melakukan penjualan/penyerahan Barang Kena Pajak kepada para pelanggannya yang mana seluruh transaksi penjualan pada PT IO adalah transaksi penjualan yang wajib dikenakan Pajak Pertambahan Nilai. pengenaan PPN atas penjualan tersebut dicatat sebagai Pajak Keluaran oleh PT IO. 3. Perusahaan sering terlambat mengirimkan Faktur Pajak Penjualan kepada para pelanggannya sehingga ada beberapa pelanggan yang tidak mau membayarkan PPN terutang tersebut karena dianggap Faktur Pajak terlambat diterima dan tidak dapat dikreditkan lagi.

27 4. Perbandingan ekualisasi antara penjualan yang dilaporkan oleh PT IO pada SPT Masa PPN dengan penjualan yang dilaporkan oleh PT IO pada SPT Tahunan PPh Badan adalah sama. Adapun selisih yang terjadi antaranya adalah merupakan selisih dari hasil pembulatan. 5. PT IO melakukan transaksi impor, namun ada beberapa dokumentasi transaksi impor yang hilang, sehingga perusahaan tidak dapat mengkreditkan Pajak Masukan dari transaksi impor yang hilang dokumennya. 6. PT IO juga melakukan transaksi pembelian dalam negeri. Pajak Pertambahan Nilai yang dikenakan atas transaksi ini diakui sebagai Pajak Masukan oleh PT IO. Namun tidak semua pembelian yang dilakukan oleh PT IO dipungut PPN. Dan ada beberapa Pajak Masukan yang tidak dapat dikreditkan lagi akibat dari perusahaan terlambat menerima Faktur Pajak tersebut dari pemasok. 7. PT IO telah melakukan pengkreditan Pajak Masukan sesuai dengan kriteria yang telah ditentukan oleh Undang Undang yang berlaku. Menurut penulis, atas pajak lebih bayar yang dikompensasikan, PT IO menjalankannya tidak sesuai dengan peraturan yang berlaku. Penulis telah melakukan penelitian lebih dalam atas masalah tersebut, yang hasilnya adalah penulis menemukan bahwa kompensasi pajak lebih bayar yang dikreditkan oleh PT IO tidak sesuai dengan jumlah pajak lebih bayar masa sebelumnya. 8. PT IO selalu melakukan kompensasi atas pajak lebih bayar pada Masa Pajak sebelumnya. Namun ada beberapa pajak lebih bayar yang tidak dikompensasikan oleh perusahaan, sehingga perusahaan harus melakukan pembetulan SPT Masa PPN. 9. Untuk penyetoran dan pelaporan Pajak Pertambahan Nilai, PT IO telah melakukannya sesuai dengan peraturan perundang undangan yang berlaku.

28 Namun terjadi beberapa keterlambatan baik atas penyetoran Pajak Pertambahan Nilai (PPN) yang terutang maupun atas pelaporan Surat Pemberitahuan (SPT) Masa Pajak Pertambahan Nilai (PPN), sehingga perusahaan harus menanggung denda atas keterlambatan tersebut. 10. Perusahaan juga melakukan pembetulan Surat Pemberitahuan (SPT) untuk hampir setiap Masa Pajaknya. Untuk tahun 2008, pembetulan dilakukan dari bulan Januari hingga bulan Desember, yang mana atas bulan Desember dilakukan pembetulan sebanyak 2 (dua) kali. Untuk tahun 2009, pembetulan dilakukan dari bulan Januari hingga bulan Oktober, yang mana atas bulan Februari, April, Mei dan Juni dilakukan pembetulan sebanyak 2 (dua) kali. Dan untuk tahun 2010, pembetulan dilakukan atas bulan Agustus sebanyak 2 (dua) kali dan atas bulan September sebanyak 1 (satu) kali.

29 DAFTAR ACUAN Pokok pokok perubahan Undang Undang PPN dan PPnBM. Batas waktu penyetoran dan penyampaian SPT. Peraturan Perpajakan. Ilyas, W. & Burton, R. (2009). Hukum Pajak (Edisi 5). Jakarta: Penerbit: Salemba Empat. Manihuruk, W. (2009). Pajak Pertambahan Nilai Pokok Pokok Sesuai Undang Undang Nomor 42 Tahun Jakarta: Penerbit Kharisma. Mardiasmo (2011). Perpajakan (Edisi Revisi). Yogyakarta: Andi. Muljono D., Wicaksono B. (2009). Akuntansi Pajak Lanjutan (Edisi 1). Yogyakarta: Andi. Republik Indonesia. Undang undang Nomor 6 Tahun 1983 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan sebagaimana telah diubah terakhir dengan Undang Undang Nomor 16 Tahun Republik Indonesia. Undang undang Nomor 8 Tahun 1983 tentang Pajak Pertambahan Nilai dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah sebagaimana telah diubah terakhir dengan Undang Undang Nomor 42 Tahun Resmi, S. (2012). Perpajakan Teori dan Kasus (Edisi 6, Buku 2). Jakarta: Penerbit Salemba Empat. Suandy, E. (2011). Perencanaan Pajak (Edisi 5). Jakarta: Penerbit Salemba Empat. Waluyo (2011). Perpajakan Indonesia (Edisi Revisi 2012, buku 2). Jakarta: Salemba Empat.

BAB V SIMPULAN DAN SARAN. kewajiban perpajakannya, khususnya atas Pajak Pertambahan Nilai (PPN).

BAB V SIMPULAN DAN SARAN. kewajiban perpajakannya, khususnya atas Pajak Pertambahan Nilai (PPN). BAB V SIMPULAN DAN SARAN V.1 Simpulan PT IO merupakan Pengusaha Kena Pajak (PKP) yang wajib menjalankan kewajiban perpajakannya, khususnya atas Pajak Pertambahan Nilai (PPN). Berdasarkan analisa dan penelitian

Lebih terperinci

BAB IV PEMBAHASAN. Analisis Perhitungan Pajak Pertambahan Nilai. IV.1.1 Analisis Perolehan Barang Kena Pajak (Pajak Masukan)

BAB IV PEMBAHASAN. Analisis Perhitungan Pajak Pertambahan Nilai. IV.1.1 Analisis Perolehan Barang Kena Pajak (Pajak Masukan) BAB IV PEMBAHASAN IV.1 Analisis Perhitungan Pajak Pertambahan Nilai IV.1.1 Analisis Perolehan Barang Kena Pajak (Pajak Masukan) Pajak Masukan adalah pajak yang harus dibayarkan oleh Pengusaha Kena Pajak

Lebih terperinci

BAB IV PEMBAHASAN. IV. 1 Analisis Mekanisme Pajak Penghasilan Pasal 22 di PT. KAS

BAB IV PEMBAHASAN. IV. 1 Analisis Mekanisme Pajak Penghasilan Pasal 22 di PT. KAS BAB IV PEMBAHASAN IV. 1 Analisis Mekanisme Pajak Penghasilan Pasal 22 di PT. KAS Semua badan merupakan Wajib Pajak tanpa terkecuali, mulai saat didirikan atau saat melakukan kegiatan usaha atau memperoleh

Lebih terperinci

BAB IV PEMBAHASAN. bergerak di bidang teknologi Access Management yang dapat memudahkan konsumen

BAB IV PEMBAHASAN. bergerak di bidang teknologi Access Management yang dapat memudahkan konsumen BAB IV PEMBAHASAN IV.1 Analisis Mekanisme Pajak Pertambahan Nilai merupakan salah satu perusahaan di Jakarta yang bergerak di bidang teknologi Access Management yang dapat memudahkan konsumen dalam melakukan

Lebih terperinci

EVALUASI PEMENUHAN KEWAJIBAN PAJAK PERTAMBAHAN NILAI (PPN) PADA PT. IBH

EVALUASI PEMENUHAN KEWAJIBAN PAJAK PERTAMBAHAN NILAI (PPN) PADA PT. IBH EVALUASI PEMENUHAN KEWAJIBAN PAJAK PERTAMBAHAN NILAI (PPN) PADA PT. IBH Trehara Natayurisa Universitas Bina Nusantara Jalan. Kapuas 1 Blok H/5 Komp. BI Padang Harapan Bengkulu 38225 081298499762 taranatayurisa@yahoo.com

Lebih terperinci

BAB 4 ANALISIS DAN BAHASAN. 1.1 Analisis Mekanisme Pajak Pertambahan Nilai. menyediakan pembuatan alat untuk pembangunan beton di jalan tol.

BAB 4 ANALISIS DAN BAHASAN. 1.1 Analisis Mekanisme Pajak Pertambahan Nilai. menyediakan pembuatan alat untuk pembangunan beton di jalan tol. BAB 4 ANALISIS DAN BAHASAN 1.1 Analisis Mekanisme Pajak Pertambahan Nilai PT.DDT merupakan perusahaan yang bergerak dibidang alat berat yang menyediakan pembuatan alat untuk pembangunan beton di jalan

Lebih terperinci

BAB 4. Pembahasan Hasil Penelitian

BAB 4. Pembahasan Hasil Penelitian BAB 4 Pembahasan Hasil Penelitian 4.1 Analisis Mekanisme Pajak Pertambahan Nilai Sebagai pajak atas konsumsi dalam negeri maka PPN hanya dikenakan atas barang atau jasa yang dikomsumsi di dalam daerah

Lebih terperinci

BAB IV PEMBAHASAN. bergerak dibidang manufaktur yang kegiatan utamanya adalah memproduksi Polyester

BAB IV PEMBAHASAN. bergerak dibidang manufaktur yang kegiatan utamanya adalah memproduksi Polyester BAB IV PEMBAHASAN PT. TEIJIN INDONESIA FIBER, Tbk merupakan sebuah perusahaan PMA bergerak dibidang manufaktur yang kegiatan utamanya adalah memproduksi Polyester Chips, Filament Yarn dan Staple Fibre.

Lebih terperinci

BAB IV PEMBAHASAN. kedua atas Undang-Undang Nomor 8 tahun 1983, Pengusaha yang melakukan

BAB IV PEMBAHASAN. kedua atas Undang-Undang Nomor 8 tahun 1983, Pengusaha yang melakukan BAB IV PEMBAHASAN Menurut Undang-Undang Nomor 18 tahun 2000 yang merupakan perubahan kedua atas Undang-Undang Nomor 8 tahun 1983, Pengusaha yang melakukan penyerahan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4

Lebih terperinci

ANALISIS PENERAPAN FAKTUR PAJAK, PENYETORAN DAN PELAPORAN SURAT PEMBERITAHUAN MASA PAJAK PERTAMBAHAN NILAI PADA PT.FLS TAHUN

ANALISIS PENERAPAN FAKTUR PAJAK, PENYETORAN DAN PELAPORAN SURAT PEMBERITAHUAN MASA PAJAK PERTAMBAHAN NILAI PADA PT.FLS TAHUN ANALISIS PENERAPAN FAKTUR PAJAK, PENYETORAN DAN PELAPORAN SURAT PEMBERITAHUAN MASA PAJAK PERTAMBAHAN NILAI PADA TAHUN 2010-2012 Christa Suwandi, Gen Norman T Universitas Bina Nusantara Jl. Kebon Jeruk

Lebih terperinci

BAB 4 ANALISIS DAN BAHASAN. 4.1 Analisis Atas Prosedur Pajak Pertambahan Nilai. PT. IBH merupakan perusahaan yang bergerak dalam bidang perdagangan

BAB 4 ANALISIS DAN BAHASAN. 4.1 Analisis Atas Prosedur Pajak Pertambahan Nilai. PT. IBH merupakan perusahaan yang bergerak dalam bidang perdagangan BAB 4 ANALISIS DAN BAHASAN 4.1 Analisis Atas Prosedur Pajak Pertambahan Nilai PT. IBH merupakan perusahaan yang bergerak dalam bidang perdagangan gas. Perusahaan mempunyai hak dan kewajiban dalam bidang

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI. pajak berdasarkan Undang-Undang No.28 Tahun 2007 tentang. Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan, yaitu sebagai berikut:

BAB II LANDASAN TEORI. pajak berdasarkan Undang-Undang No.28 Tahun 2007 tentang. Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan, yaitu sebagai berikut: BAB II LANDASAN TEORI II.1 Pemahaman Pajak II.1.1 Definisi Pajak Definisi pajak berdasarkan Undang-Undang No.28 Tahun 2007 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan, yaitu sebagai berikut: Pajak

Lebih terperinci

BAB IV PEMBAHASAN. Analisis Terhadap Mekanisme Pajak Pertambahan Nilai. hewan) yang telah dikukuhkan menjadi Pengusaha Kena Pajak (PKP) pada

BAB IV PEMBAHASAN. Analisis Terhadap Mekanisme Pajak Pertambahan Nilai. hewan) yang telah dikukuhkan menjadi Pengusaha Kena Pajak (PKP) pada BAB IV PEMBAHASAN IV.1 Analisis Terhadap Mekanisme Pajak Pertambahan Nilai PT. Biotek Indonesia adalah perusahaan yang bergerak di bidang farmasi (obatobatan hewan) yang telah dikukuhkan menjadi Pengusaha

Lebih terperinci

BAB IV PEMBAHASAN. PT. TBU melakukan penyerahan BKP berupa copper slag, yang dilakukan

BAB IV PEMBAHASAN. PT. TBU melakukan penyerahan BKP berupa copper slag, yang dilakukan BAB IV PEMBAHASAN IV.1 Evaluasi Penyerahan BKP PT. TBU melakukan penyerahan BKP berupa copper slag, yang dilakukan sesuai dengan Undang-undang No. 18 Tahun 2000 Pasal 1A angka 1. Penyerahan BKP dilakukan

Lebih terperinci

BAB II KAJIAN PUSTAKA

BAB II KAJIAN PUSTAKA BAB II KAJIAN PUSTAKA 2.1 Landasan Teori 2.1.1 Pengertian Pajak Pajak merupakan salah satu wujud nyata secara partisipasi dalam rangka ikut membiayai pembangunan nasional. Adapun definisi pajak menurut

Lebih terperinci

BAB IV PEMBAHASAN. Analisis Terhadap Mekanisme Pajak Pertambahan Nilai. PT. HAJ adalah perusahaan yang bergerak dalam bidang perusahaan dagang

BAB IV PEMBAHASAN. Analisis Terhadap Mekanisme Pajak Pertambahan Nilai. PT. HAJ adalah perusahaan yang bergerak dalam bidang perusahaan dagang BAB IV PEMBAHASAN IV.1 Analisis Terhadap Mekanisme Pajak Pertambahan Nilai PT. HAJ adalah perusahaan yang bergerak dalam bidang perusahaan dagang yakni barang IT yang telah dikukuhkan menjadi Pengusaha

Lebih terperinci

BAB IV PEMBAHASAN. Dalam analisa penghitungan dan pelaporan Pajak Pertambahan Nilai, penulis

BAB IV PEMBAHASAN. Dalam analisa penghitungan dan pelaporan Pajak Pertambahan Nilai, penulis BAB IV PEMBAHASAN Dalam analisa penghitungan dan pelaporan Pajak Pertambahan Nilai, penulis melakukan pemeriksaan pajak dengan menguji dan memeriksa ketaatan perpajakan, serta kebenaran jumlah dalam SPT

Lebih terperinci

BAB IV PEMBAHASAN. IV.1. Analisis Mekanisme Pajak Pertambahan Nilai. PT. MRC adalah perusahaan swasta yang bergerak di bidang jasa konstruksi.

BAB IV PEMBAHASAN. IV.1. Analisis Mekanisme Pajak Pertambahan Nilai. PT. MRC adalah perusahaan swasta yang bergerak di bidang jasa konstruksi. BAB IV PEMBAHASAN IV.1. Analisis Mekanisme Pajak Pertambahan Nilai PT. MRC adalah perusahaan swasta yang bergerak di bidang jasa konstruksi. Perusahaan ini telah dikukuhkan sebagai Pengusaha Kena Pajak

Lebih terperinci

BAB IV ANALISIS HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV ANALISIS HASIL DAN PEMBAHASAN BAB IV ANALISIS HASIL DAN PEMBAHASAN A. Analisis Hasil 1. Penerapan Pajak Pertambahan Nilai pada PT. Perkebunan Nusantara III Medan dengan Surat Pengukuhan Pengusaha Kena Pajak (SPPKP) No: PEM- 00025/WPJ.19/KP.0303/2013

Lebih terperinci

BAB 4 ANALISIS DAN BAHASAN Evaluasi Terhadap Mekanisme Pajak Pertambahan Nilai. PT. Mejoi merupakan perusahaan distributor yang bergerak dalam

BAB 4 ANALISIS DAN BAHASAN Evaluasi Terhadap Mekanisme Pajak Pertambahan Nilai. PT. Mejoi merupakan perusahaan distributor yang bergerak dalam BAB 4 ANALISIS DAN BAHASAN 4.1. Evaluasi Terhadap Mekanisme Pajak Pertambahan Nilai PT. Mejoi merupakan perusahaan distributor yang bergerak dalam bidang nutrisi anak yang telah dikukuhkan pada tanggal

Lebih terperinci

ANALISIS PENERAPAN PEMENUHAN KEWAJIBAN PERPAJAKAN PADA PT SM ANUGRAH RAYA TAMA

ANALISIS PENERAPAN PEMENUHAN KEWAJIBAN PERPAJAKAN PADA PT SM ANUGRAH RAYA TAMA ANALISIS PENERAPAN PEMENUHAN KEWAJIBAN PERPAJAKAN PADA PT SM ANUGRAH RAYA TAMA Wilianto Taufik, Yunita Anwar Universitas Bina Nusantara Jl. K. H. Syahdan No.9 Kemanggisan/Palmerah Jakarta Barat 11480 Phone

Lebih terperinci

BAB IV PENYAJIAN DAN ANALISIS DATA. dan dry clean. CV. Xpress Clean Bersaudara berdiri pada tahun 1995 dengan akta

BAB IV PENYAJIAN DAN ANALISIS DATA. dan dry clean. CV. Xpress Clean Bersaudara berdiri pada tahun 1995 dengan akta BAB IV PENYAJIAN DAN ANALISIS DATA 4.1. Penyajian Data 4.1.1. Sejarah Singkat Perusahaan CV. Xpress Clean Bersaudara adalah sebuah perusahaan yang bergerak di bidang jasa pada umumnya. Jasa yang diberikan

Lebih terperinci

EVALUASI PELAKSANAAN PAJAK PERTAMBAHAN NILAI PADA PT REK DI TAHUN PAJAK 2011

EVALUASI PELAKSANAAN PAJAK PERTAMBAHAN NILAI PADA PT REK DI TAHUN PAJAK 2011 Jurnal Ilmiah Buletin Ekonomi ISSN: 1410-3842 Volume 17 No.2 September 2013 EVALUASI PELAKSANAAN PAJAK PERTAMBAHAN NILAI PADA PT REK DI TAHUN PAJAK 2011 Meta Evelin Samosir Rachmat Kurniawan Ganda Hutapea

Lebih terperinci

pemungutan pajak dimana wajib pajak menghitung sendiri pajak terutangnya serta secara mandiri menyetorkan ke bank atau kantor pos dan melaporkannya

pemungutan pajak dimana wajib pajak menghitung sendiri pajak terutangnya serta secara mandiri menyetorkan ke bank atau kantor pos dan melaporkannya BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Pajak adalah kontribusi wajib kepada negara yang terutang oleh orang pribadi atau badan yang bersifat memaksa berdasarkan Undang-Undang, dengan tidak mendapatkan imbalan

Lebih terperinci

ANALISIS PENERAPAN PAJAK PERTAMBAHAN NILAI DI PT. DDT

ANALISIS PENERAPAN PAJAK PERTAMBAHAN NILAI DI PT. DDT ANALISIS PENERAPAN PAJAK PERTAMBAHAN NILAI DI PT. DDT Meiga Purnama, Maya Safira Dewi Universitas Bina Nusantara Jl. Kebon Jeruk Raya No. 27 Kebon Jeruk Jakarta Barat 11530 Phone (+6221) 53696969 Mei_meyoneste@rocketmail.com

Lebih terperinci

BAB 4 PEMBAHASAN 4.1 Ketentuan Formal Pajak Pertambahan Nilai PT TRT 4.2 Analisis Faktur Pajak

BAB 4 PEMBAHASAN 4.1 Ketentuan Formal Pajak Pertambahan Nilai PT TRT 4.2 Analisis Faktur Pajak BAB 4 PEMBAHASAN 4.1 Ketentuan Formal Pajak Pertambahan Nilai PT TRT PT. TRT adalah sebuah perusahaan yang bergerak dibidang produsen bahan kimia yang telah dikukuhkan menjadi Pengusaha Kena Pajak (PKP)

Lebih terperinci

SURAT EDARAN DIREKTUR JENDERAL PAJAK NOMOR SE - 43/PJ/2010 TENTANG

SURAT EDARAN DIREKTUR JENDERAL PAJAK NOMOR SE - 43/PJ/2010 TENTANG SURAT EDARAN DIREKTUR JENDERAL PAJAK NOMOR SE - 43/PJ/2010 TENTANG 26 Maret 2010 PENYAMPAIAN PERATURAN DIREKTUR JENDERAL PAJAK NOMOR PER- 14/PJ/2010 TENTANG PERUBAHAN KEDUA ATAS PERATURAN DIREKTUR JENDERAL

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Dengan semakin meningkatnya pertumbuhan ekonomi saat ini di negara

BAB I PENDAHULUAN. Dengan semakin meningkatnya pertumbuhan ekonomi saat ini di negara BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Dengan semakin meningkatnya pertumbuhan ekonomi saat ini di negara Indonesia dan semakin bertambahnya jumlah penduduk bangsa Indonesia maka, harus diiringi dengan peningkatan

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Indonesia merupakan salah satu negara berkembang terbesar di dunia. Hal ini tentunya membuat Indonesia tidak lepas dari apa yang namanya permasalahan perekonomian.

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI. tentang pajak yang dikemukakan oleh para ahli di bidang perpajakan menurut Prof. Dr.

BAB II LANDASAN TEORI. tentang pajak yang dikemukakan oleh para ahli di bidang perpajakan menurut Prof. Dr. BAB II LANDASAN TEORI II.1 Dasar - dasar Perpajakan Indonesia II.1.1 Definisi dan Unsur Pajak Dibawah ini terdapat beberapa definisi-definisi dan unsur pajak yang terangkum tentang pajak yang dikemukakan

Lebih terperinci

BAB IV PENYAJIAN DAN ANALISIS DATA

BAB IV PENYAJIAN DAN ANALISIS DATA BAB IV PENYAJIAN DAN ANALISIS DATA 4.1 Penyajian Data 4.1.1 Sejarah Singkat Perusahaan CV. Mitra Sinergi merupakan salah satu bentuk perusahaan yang bergerak dalam bidang perdagangan pipa dan bahan bangunan

Lebih terperinci

PENERAPAN AKUNTANSI PAJAK PERTAMBAHAN NILAI (PPN) PADA PT. SINAR BHODI CIPTA TANJUNGPINANG

PENERAPAN AKUNTANSI PAJAK PERTAMBAHAN NILAI (PPN) PADA PT. SINAR BHODI CIPTA TANJUNGPINANG PENERAPAN AKUNTANSI PAJAK PERTAMBAHAN NILAI (PPN) PADA PT. SINAR BHODI CIPTA TANJUNGPINANG Feriyanti_Mahasiswa (poetri21_oce@yahoo.co.id Mahasiswa) Jurusan Akuntansi UMRAH Tanjungpinang Abstrak : PT. Sinar

Lebih terperinci

BAB IV PEMBAHASAN. dan sesudah perubahan Undang-undang No.42 Tahun 2009, penulis melakukan

BAB IV PEMBAHASAN. dan sesudah perubahan Undang-undang No.42 Tahun 2009, penulis melakukan BAB IV PEMBAHASAN Dalam evaluasi penerapan dan perbandingan Pajak Pertambahan Nilai sebelum dan sesudah perubahan Undang-undang No.42 Tahun 2009, penulis melakukan penelusuran atas laporan laba rugi, neraca,

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Indonesia merupakan salah satu negara berkembang terbesar di dunia. Hal ini tentunya membuat Indonesia melakukan beragam cara untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat,

Lebih terperinci

BAB II KAJIAN PUSTAKA. yang satu sama lain pada dasarnya memiliki tujuan yang sama yaitu

BAB II KAJIAN PUSTAKA. yang satu sama lain pada dasarnya memiliki tujuan yang sama yaitu 8 BAB II KAJIAN PUSTAKA A. Deskripsi Teori 1. Pajak a. Pengertian Pajak Banyak definisi atau batasan yang telah dikemukakan oleh pakar yang satu sama lain pada dasarnya memiliki tujuan yang sama yaitu

Lebih terperinci

BAB IV PEMBAHASAN. IV.1. Analisis terhadap Mekanisme Pajak Pertambahan Nilai

BAB IV PEMBAHASAN. IV.1. Analisis terhadap Mekanisme Pajak Pertambahan Nilai BAB IV PEMBAHASAN IV.1. Analisis terhadap Mekanisme Pajak Pertambahan Nilai PT Healthy World adalah perusahaan distributor berupa alat-alat kesehatan untuk keperluan tumah tangga berupa kursi pijat, pijat

Lebih terperinci

BAB 5 SIMPULAN, KETERBATASAN DAN SARAN

BAB 5 SIMPULAN, KETERBATASAN DAN SARAN BAB 5 SIMPULAN, KETERBATASAN DAN SARAN 5.1. Simpulan Berdasarkan analisis yang dilakukan mengenai perhitungan penyetoran dan pelaporan PPN sehubungan dengan kegiatan penjualan dan pembelian pada CV X selama

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Pajak merupakan kontribusi yang diberikan oleh Wajib Pajak (WP) kepada negara yang berdasarkan undang-undang bersifat wajib dan memaksa tanpa ada kontraprestasi (imbalan)

Lebih terperinci

BAB IV ANALISIS HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV ANALISIS HASIL DAN PEMBAHASAN BAB IV ANALISIS HASIL DAN PEMBAHASAN A. Analisis Perhitungan PPN Keluaran Dalam hal menghitung Pajak Pertambahan Nilai atau PPN khusunya Pajak Keluaran yang diterbitkan dan dipungut oleh perusahaan merupakan

Lebih terperinci

BAB II KAJIAN PUSTAKA. Menurut Prof. Dr. P.J.A. Adriani, Pajak adalah iuran rakyat kepada kas negara

BAB II KAJIAN PUSTAKA. Menurut Prof. Dr. P.J.A. Adriani, Pajak adalah iuran rakyat kepada kas negara BAB II KAJIAN PUSTAKA 2.1 Landasan Teoritis 2.1.1 Definisi Pajak Ada bermacam-macam definisi Pajak yang dikemukakan oleh beberapa ahli. Menurut Prof. Dr. P.J.A. Adriani, Pajak adalah iuran rakyat kepada

Lebih terperinci

BAB II. adalah iuran kepada negara (yang dapat dipaksakan) yang terutang oleh yang

BAB II. adalah iuran kepada negara (yang dapat dipaksakan) yang terutang oleh yang BAB II LANDASAN TEORI II.1 Pemahaman Perpajakan II.1.1 Definisi Pajak Adriani seperti dikutip Brotodihardjo (1998) mendefinisikan, Pajak adalah iuran kepada negara (yang dapat dipaksakan) yang terutang

Lebih terperinci

BAB I PENAHULUAN. Pajak merupakan kontribusi wajib kepada negara yang terutang oleh orang

BAB I PENAHULUAN. Pajak merupakan kontribusi wajib kepada negara yang terutang oleh orang BAB I PENAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pajak merupakan kontribusi wajib kepada negara yang terutang oleh orang pribadi atau badan yang bersifat memaksa berdasarkan Undang-Undang Perpajakan dengan tidak mendapatkan

Lebih terperinci

Pertemuan 2 FAKTUR PAJAK. Faktur Pajak

Pertemuan 2 FAKTUR PAJAK. Faktur Pajak Pertemuan 2 FAKTUR PAJAK P2.1 Teori Faktur Pajak A. Definisi Pasal 1 huruf t UU PPN 1984 yang dengan UU Nomor 42 Tahun 2009 menjadi Pasal 1 angka 23 merumuskan : Faktur pajak adalah bukti pungutan pajak

Lebih terperinci

Evaluasi Penerapan Pajak Pertambahan Nilai di Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Minyak dan Gas Bumi LEMIGAS Untuk Tahun 2009, 2010, dan 2011

Evaluasi Penerapan Pajak Pertambahan Nilai di Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Minyak dan Gas Bumi LEMIGAS Untuk Tahun 2009, 2010, dan 2011 Evaluasi Penerapan Pajak Pertambahan Nilai di Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Minyak dan Gas Bumi LEMIGAS Untuk Tahun 2009, 2010, dan 2011 Wuri Rostiani Peninggilan Utara RT 02 RW 07 Nomor

Lebih terperinci

BAB IV PENYAJIAN DAN ANALISIS DATA. oleh pelanggan untuk di jadikan sepatu atau sandal.

BAB IV PENYAJIAN DAN ANALISIS DATA. oleh pelanggan untuk di jadikan sepatu atau sandal. BAB IV PENYAJIAN DAN ANALISIS DATA 4.1. Penyajian Data 4.1.1. Sejarah singkat perusahaan PT Cahaya Terang Abadi didirikan pada tanggal 30 November 2009 sampai dengan sekarang perusahaan ini bergerak dibidang

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Beragam upaya untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat dilakukan

BAB I PENDAHULUAN. Beragam upaya untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat dilakukan BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Beragam upaya untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat dilakukan oleh negara melalui pembangunan nasional. Pembangunan nasional merupakan kegiatan yang

Lebih terperinci

PERATURAN DIREKTUR JENDERAL PAJAK NOMOR 15/PJ/2010 TENTANG

PERATURAN DIREKTUR JENDERAL PAJAK NOMOR 15/PJ/2010 TENTANG PERATURAN DIREKTUR JENDERAL PAJAK NOMOR 15/PJ/2010 TENTANG PERUBAHAN PERTAMA ATAS PERATURAN DIREKTUR JENDERAL PAJAK NOMOR 29/PJ/2008 TENTANG BENTUK, ISI, DAN TATA CARA PENYAMPAIAN SURAT PEMBERITAHUAN MASA

Lebih terperinci

Bab 4 PEMBAHASAN. PT. XYZ merupakan Perusahaan yang bergerak dalam bidang manufaktur

Bab 4 PEMBAHASAN. PT. XYZ merupakan Perusahaan yang bergerak dalam bidang manufaktur Bab 4 PEMBAHASAN merupakan Perusahaan yang bergerak dalam bidang manufaktur yang kegiatan utamanya sebagai distributor langsung untuk atap baja ringan. PT. XYZ menjual asesoris untuk pembuatan atap, dinding

Lebih terperinci

DEPARTEMEN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA DIREKTORAT JENDERAL PAJAK PERATURAN DIREKTUR JENDERAL PAJAK NOMOR 15 /PJ/2010 TENTANG

DEPARTEMEN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA DIREKTORAT JENDERAL PAJAK PERATURAN DIREKTUR JENDERAL PAJAK NOMOR 15 /PJ/2010 TENTANG DEPARTEMEN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA DIREKTORAT JENDERAL PAJAK PERATURAN DIREKTUR JENDERAL PAJAK NOMOR 15 /PJ/2010 TENTANG PERUBAHAN PERTAMA ATAS PERATURAN DIREKTUR JENDERAL PAJAK NOMOR 29/PJ/2008 TENTANG

Lebih terperinci

PAPER. Dibuat Oleh: Annisa Pradita FAKULTAS EKONOMI UNIVERSITAS PAKUAN BOGOR

PAPER. Dibuat Oleh: Annisa Pradita FAKULTAS EKONOMI UNIVERSITAS PAKUAN BOGOR ANALISIS PERLAKUAN AKUNTANSI ATAS PENERBITAN DAN PEROLEHAN FAKTUR PAJAK SERTA PENGAKUAN ATAS PENYERAHAN DAN PEROLEHAN BARANG KENA PAJAK PADA PT UNITEX TBK TAHUN 2014 PAPER Dibuat Oleh: Annisa Pradita 0221

Lebih terperinci

ABSTRAK. Universitas Kristen Maranatha

ABSTRAK. Universitas Kristen Maranatha ABSTRAK Faktur Pajak merupakan bukti pemungutan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) yang dibuat oleh Pengusaha Kena Pajak (PKP) karena penyerahan Barang Kena Pajak (BKP) atau penyerahan Jasa Kena Pajak (JKP)

Lebih terperinci

EVALUASI MEKANISME PPh PASAL 21 PADA PT AIN TAHUN PAJAK Iramaulina Damanik Rachmat Kurniawan Fharel Hutajulu

EVALUASI MEKANISME PPh PASAL 21 PADA PT AIN TAHUN PAJAK Iramaulina Damanik Rachmat Kurniawan Fharel Hutajulu EVALUASI MEKANISME PPh PASAL 21 PADA PT AIN TAHUN PAJAK 2011 Iramaulina Damanik Rachmat Kurniawan Fharel Hutajulu Fakultas Ekonomi, Universitas Kristen Indonesia, Jakarta, Indonesia Abstrak Penelitian

Lebih terperinci

BAB IV PEMBAHASAN. Analisis Mekanisme Pajak Pertambahan Nilai. Pengusaha Kena Pajak, maka PT. PP (Persero) Tbk mempunyai hak dan

BAB IV PEMBAHASAN. Analisis Mekanisme Pajak Pertambahan Nilai. Pengusaha Kena Pajak, maka PT. PP (Persero) Tbk mempunyai hak dan BAB IV PEMBAHASAN IV.1 Analisis Mekanisme Pajak Pertambahan Nilai PT. PP (Persero) Tbk merupakan perusahaan yang bergerak di bidang jasa konstruksi. PT. PP (Persero) Tbk menyediakan berbagai jasa dan solusi

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI. Menurut Undang-Undang Ketentuan Umum dan Tata CaraPerpajakan

BAB II LANDASAN TEORI. Menurut Undang-Undang Ketentuan Umum dan Tata CaraPerpajakan BAB II LANDASAN TEORI 2.1. Pengertian Pajak Menurut Undang-Undang Ketentuan Umum dan Tata CaraPerpajakan Nomor 28 tahun 2007 pasal 1 ayat 1: Pajak adalah kontribusi wajib kepada negara yang terutang oleh

Lebih terperinci

BAB II KAJIAN PUSTAKA. Menurut Mardiasmo (2001:118), Pajak adalah iuran rakyat kepada kas negara

BAB II KAJIAN PUSTAKA. Menurut Mardiasmo (2001:118), Pajak adalah iuran rakyat kepada kas negara BAB II KAJIAN PUSTAKA 2.1 Landasan Teori 2.1.1 Pengertian Pajak Menurut Mardiasmo (2001:118), Pajak adalah iuran rakyat kepada kas negara berdasarkan undang-undang (dapat di paksakan) yang langsung dapat

Lebih terperinci

BAB IV PEMBAHASAN. Dalam evaluasi penerapan dan pelaporan Pajak Pertambahan Nilai pada PT

BAB IV PEMBAHASAN. Dalam evaluasi penerapan dan pelaporan Pajak Pertambahan Nilai pada PT BAB IV PEMBAHASAN Dalam evaluasi penerapan dan pelaporan Pajak Pertambahan Nilai pada PT TELEKOMUNIKASI INDONESIA Tbk. Divre II, penulis melakukan pemeriksaan pajak dengan menguji dan memeriksa ketaatan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. mewujudkan kemandirian suatu bangsa atau negara dalam. kesadaran dan kepedulian untuk membayar pajak, salah satunya adalah Pajak

BAB I PENDAHULUAN. mewujudkan kemandirian suatu bangsa atau negara dalam. kesadaran dan kepedulian untuk membayar pajak, salah satunya adalah Pajak BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Dewasa ini pembangunan nasional adalah kegiatan yang berlangsung terus menerus dan berkesinambungan yang bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat baik material

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. a. Pengertian pajak berdasarkan Undang-undang Nomor 16 Tahun. atau badan yang bersifat memaksa berdasarkan Undang-undang

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. a. Pengertian pajak berdasarkan Undang-undang Nomor 16 Tahun. atau badan yang bersifat memaksa berdasarkan Undang-undang BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Pajak 1. Pengertian Pajak a. Pengertian pajak berdasarkan Undang-undang Nomor 16 Tahun 2009 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan adalah kontribusi wajib kepada Negara

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Pembangunan nasional saat ini adalah kegiatan yang berlangsung terus menerus dan berkesinambungan yang bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat baik

Lebih terperinci

ANALISIS PENERAPAN PENGENAAN PAJAK PERTAMBAHAN NILAI ATAS TRANSAKSI EKSPOR IMPOR JASA FREIGHT FORWARDING (Studi Kasus PT.Welgrow Indopersada)

ANALISIS PENERAPAN PENGENAAN PAJAK PERTAMBAHAN NILAI ATAS TRANSAKSI EKSPOR IMPOR JASA FREIGHT FORWARDING (Studi Kasus PT.Welgrow Indopersada) ANALISIS PENERAPAN PENGENAAN PAJAK PERTAMBAHAN NILAI ATAS TRANSAKSI EKSPOR IMPOR JASA FREIGHT FORWARDING (Studi Kasus PT.Welgrow Indopersada) Siti Bolivia Malvi, Drs.Sudarmo,MM Universitas Bina Nusantara

Lebih terperinci

TINJAUAN MATA KULIAH...

TINJAUAN MATA KULIAH... iii Daftar Isi TINJAUAN MATA KULIAH... ix MODUL 1: PEMANFAATAN ATAS BKP TIDAK BERWUJUD DAN JKP DARI LUAR DAERAH PABEAN DAN PPN ATAS OBJEK PASAL 16C DAN PASAL 16D 1.1 Pajak Pertambahan Nilai atas Pemanfaatan

Lebih terperinci

BAB IV ANALISIS HASIL DAN PEMBAHASAN. A. Analisis Perhitungan Pajak Masukan dan Pajak Keluaran

BAB IV ANALISIS HASIL DAN PEMBAHASAN. A. Analisis Perhitungan Pajak Masukan dan Pajak Keluaran BAB IV ANALISIS HASIL DAN PEMBAHASAN A. Analisis Perhitungan Pajak Masukan dan Pajak Keluaran PT. Citra Inti Garda Sentosa (CIGS) dalam melakukan transaksi penjualan ataupun pembelian yang dalam hal ini

Lebih terperinci

BAB 5 SIMPULAN DAN SARAN

BAB 5 SIMPULAN DAN SARAN BAB 5 SIMPULAN DAN SARAN 5.1. Simpulan Analisis mengenai penerapan e-faktur yang berkaitan dengan PPN dilakukan dengan memeriksa kesesuaian data sebelum melakukan penginputan di e-faktur serta menganalis

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pembangunan nasional adalah kegiatan berkesinambungan yang bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat. Untuk mewujudkan tujuan tersebut maka pemerintah perlu

Lebih terperinci

BAB IV PENYAJIAN DAN ANALISIS DATA. di bidang perdagangan eceran khusus untuk pelumas/oli industri.

BAB IV PENYAJIAN DAN ANALISIS DATA. di bidang perdagangan eceran khusus untuk pelumas/oli industri. BAB IV PENYAJIAN DAN ANALISIS DATA 4.1 Penyajian Data 4.1.1 Sejarah Singkat Perusahaan PT. Limanindo Kawan Sejati adalah perusahaan yang bergerak di bidang perdagangan eceran khusus untuk pelumas/oli industri.

Lebih terperinci

PERATURAN DIREKTUR JENDERAL PAJAK NOMOR - 14/PJ/2010 TENTANG

PERATURAN DIREKTUR JENDERAL PAJAK NOMOR - 14/PJ/2010 TENTANG PERATURAN DIREKTUR JENDERAL PAJAK NOMOR - 14/PJ/2010 TENTANG PERUBAHAN KEDUA ATAS PERATURAN DIREKTUR JENDERAL PAJAK NOMOR PER-146/PJ./2006 TENTANG BENTUK, ISI, DAN TATA CARA PENYAMPAIAN SURAT PEMBERITAHUAN

Lebih terperinci

DAFTAR PUSTAKA. Djoko Mulyono, Akuntansi Pajak, Andi, Yogjakarta.

DAFTAR PUSTAKA. Djoko Mulyono, Akuntansi Pajak, Andi, Yogjakarta. 74 DAFTAR PUSTAKA Djoko Mulyono, 2008. Akuntansi Pajak, Andi, Yogjakarta. Eko Haryanto Aritonang, 200 Evaluasi Akuntansi Pajak Pertambahan Nilai Dalam Kaitannya dengan Surat Pemberitahuan Masa Pajak Pertambahan

Lebih terperinci

Analisis Penerapan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) Pada CV. Kusuma Agung Mandiri Palembang

Analisis Penerapan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) Pada CV. Kusuma Agung Mandiri Palembang Analisis Penerapan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) Pada Palembang Selviana (selvi.lie93@gmail.com) Rika Lidyah (rika_msi@yahoo.com) Jurusan Akuntansi STIE MDP Abstrak : Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. yang tertuang dalam pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 alinea 4.

BAB I PENDAHULUAN. yang tertuang dalam pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 alinea 4. BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Indonesia saat ini sedang mengalami permasalahan di berbagai sektor, salah satunya adalah sektor ekonomi. Inflasi yang cenderung mengalami peningkatan, naiknya harga

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. baik material maupun spiritual. Untuk dapat merealisasi tujuan tersebut perlu

BAB I PENDAHULUAN. baik material maupun spiritual. Untuk dapat merealisasi tujuan tersebut perlu BAB I PENDAHULUAN F. Latar Belakang Masalah Pembangunan nasional adalah kegiatan yang berlangsung terus menerus dan berkesinambungan yang bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat baik material

Lebih terperinci

BAB IV ANALISIS HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV ANALISIS HASIL DAN PEMBAHASAN BAB IV ANALISIS HASIL DAN PEMBAHASAN A. Gambaran Umum Kebijakan Akuntansi Perusahaan. Dalam pelaksanaan kebijakan akuntansi yang mana diterapkan oleh perusahaan untuk mengetahui penentuan posisi keuangan

Lebih terperinci

BAB IV ANALISIS HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV ANALISIS HASIL DAN PEMBAHASAN BAB IV ANALISIS HASIL DAN PEMBAHASAN Bab ini akan membahas bagaimana ketaatan penerapan Undang-Undang No. 42 Tahun 2009 tentang Pajak Pertambahan Nilai Barang dan Jasa dan Peraturan Perpajakan yang berlaku

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. terbukti bahwa pada pendapatan negara sebesar Rp Triliun bersumber

BAB I PENDAHULUAN. terbukti bahwa pada pendapatan negara sebesar Rp Triliun bersumber digilib.uns.ac.id BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pajak merupakan pendapatan negara terbesar yang digunakan untuk pembangunan di dalam negara dan membiayai pengeluaran negara. Hal ini terbukti bahwa

Lebih terperinci

B A B I P E N D A H U L U A N. Pajak merupakan sumber penerimaan utama negara yang digunakan untuk

B A B I P E N D A H U L U A N. Pajak merupakan sumber penerimaan utama negara yang digunakan untuk B A B I P E N D A H U L U A N 1.1. Latar Belakang Masalah Pajak merupakan sumber penerimaan utama negara yang digunakan untuk membiayai pengeluaran pemerintah dan pembangunan. Hal ini tertuang dalam Anggaran

Lebih terperinci

MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA SALINAN PERATURAN MENTERI KEUANGAN NOMOR 45/PMK.03/2009 TENTANG

MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA SALINAN PERATURAN MENTERI KEUANGAN NOMOR 45/PMK.03/2009 TENTANG MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA SALINAN PERATURAN MENTERI KEUANGAN NOMOR 45/PMK.03/2009 TENTANG TATA CARA PENGAWASAN, PENGADMINISTRASIAN, PEMBAYARAN, SERTA PELUNASAN PAJAK PERTAMBAHAN NILAI DAN/ATAU

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Sebelum kita mengetahui pengertian with holding system kita harus

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Sebelum kita mengetahui pengertian with holding system kita harus BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Tinjauan Teoritis 1. With Holding System a. Pengertian With Holding System Sebelum kita mengetahui pengertian with holding system kita harus mengetahui bahwa with holding system

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI. rakyat kepada kas negara berdasarkan undang-undang (yang dapat

BAB II LANDASAN TEORI. rakyat kepada kas negara berdasarkan undang-undang (yang dapat BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Definisi Pajak dan Fungsi Pajak 2.1.1 Definisi Pajak Menurut Adriani dalam kutipan Soemarso (2007:2), Pajak adalah iuran rakyat kepada kas negara berdasarkan undang-undang (yang

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. merata baik dalam bidang ekonomi, kemakmuran, dan kesejahteraan rakyat.

BAB I PENDAHULUAN. merata baik dalam bidang ekonomi, kemakmuran, dan kesejahteraan rakyat. 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar belakang Penelitian Pada hakekatnya, pembangunan nasional yang sedang dilaksanakan oleh negara Indonesia sebagai negara yang berkembang, merupakan pembangunan nasional yang

Lebih terperinci

BAB V SIMPULAN DAN SARAN. Pajak Pertambahan Nilai-nya sebagai Pengusaha Kena Pajak dengan

BAB V SIMPULAN DAN SARAN. Pajak Pertambahan Nilai-nya sebagai Pengusaha Kena Pajak dengan BAB V SIMPULAN DAN SARAN V.1 Simpulan Berdasarkan hasil analisis atas pelaksanaan kewajiban Pajak Pertambahan Nilai Pada PT SCE, maka dapat disimpulkan PT SCE telah memenuhi kewajiban Pajak Pertambahan

Lebih terperinci

DAFTAR PUSTAKA Ilyas, Wirawan B. 2012. Perpajakan. Jakarta : Mitra Wacana Media. Priantara, Diaz. 2012. Perpajakan Indonesia. Jakarta : Mitra Wacana Media. Resmi,Siti. 2012. Perpajakan:Teori dan Kasus.

Lebih terperinci

14/PJ/2010 PERUBAHAN KEDUA ATAS PERATURAN DIREKTUR JENDERAL PAJAK NOMOR PER-146/PJ./2006 TENTANG BE

14/PJ/2010 PERUBAHAN KEDUA ATAS PERATURAN DIREKTUR JENDERAL PAJAK NOMOR PER-146/PJ./2006 TENTANG BE 14/PJ/2010 PERUBAHAN KEDUA ATAS PERATURAN DIREKTUR JENDERAL PAJAK NOMOR PER146/PJ./2006 TENTANG BE Contributed by Administrator Friday, 26 March 2010 Pusat Peraturan Pajak Online PERATURAN DIREKTUR JENDERAL

Lebih terperinci

15/PJ/2010 PERUBAHAN PERTAMA ATAS PERATURAN DIREKTUR JENDERAL PAJAK NOMOR 29/PJ/2008 TENTANG BENTUK,

15/PJ/2010 PERUBAHAN PERTAMA ATAS PERATURAN DIREKTUR JENDERAL PAJAK NOMOR 29/PJ/2008 TENTANG BENTUK, 15/PJ/2010 PERUBAHAN PERTAMA ATAS PERATURAN DIREKTUR JENDERAL PAJAK NOMOR 29/PJ/2008 TENTANG BENTUK, Contributed by Administrator Friday, 26 March 2010 Pusat Peraturan Pajak Online PERATURAN DIREKTUR JENDERAL

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. sumber utama penerimaan negara, sedangkan negara-negara miskin dan negara

BAB I PENDAHULUAN. sumber utama penerimaan negara, sedangkan negara-negara miskin dan negara BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pajak merupakan kewajiban yang harus dibayar oleh masyarakat, baik pribadi maupun badan dari pendapatan atau penghasilannya kepada Pemerintah yang ditujukan untuk kegiatan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. dan Tata Cara Perpajakan pada Pasal 1 ayat 1, pajak adalah kontribusi wajib

BAB I PENDAHULUAN. dan Tata Cara Perpajakan pada Pasal 1 ayat 1, pajak adalah kontribusi wajib BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Menurut Undang-Undang Nomor 16 tahun 2009 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan pada Pasal 1 ayat 1, pajak adalah kontribusi wajib kepada negara

Lebih terperinci

BAB II ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN

BAB II ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN digilib.uns.ac.id 9 BAB II ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN A. Tinjauan Pustaka 1. Pajak Pertambahan Nilai normal Pajak Pertambahan Nilai (PPN) adalah pajak atas konsumsi Barang atau jasa yang dikonsumsi di

Lebih terperinci

MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA SALINAN PERATURAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 136/PMK. 03/2012 TENTANG

MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA SALINAN PERATURAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 136/PMK. 03/2012 TENTANG MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA SALINAN PERATURAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 136/PMK. 03/2012 TENTANG PERUBAHAN ATAS PERATURAN MENTERI KEUANGAN NOMOR 85/PMK.03/2012 TENTANG PENUNJUKAN

Lebih terperinci

Kementerian Keuangan RI Direktorat Jenderal Pajak PJ.091/PL/S/006/

Kementerian Keuangan RI Direktorat Jenderal Pajak PJ.091/PL/S/006/ Kementerian Keuangan RI Direktorat Jenderal Pajak PJ.091/PL/S/006/2014-00 Apa yang dimaksud Emas Perhiasan? Emas perhiasan adalah perhiasan dalam bentuk apapun yang bahannya sebagian atau seluruhnya dari

Lebih terperinci

BAB IV EVALUASI PAJAK PERTAMBAHAN NILAI DI LEMIGAS. IV. 1 Objek Penelitian dan Evaluasi mekanisme PPN di LEMIGAS

BAB IV EVALUASI PAJAK PERTAMBAHAN NILAI DI LEMIGAS. IV. 1 Objek Penelitian dan Evaluasi mekanisme PPN di LEMIGAS BAB IV EVALUASI PAJAK PERTAMBAHAN NILAI DI LEMIGAS IV. 1 Objek Penelitian dan Evaluasi mekanisme PPN di LEMIGAS LEMIGAS merupakan Instansi Pemerintah yang tidak bertujuan untuk mencari keuntungan, LEMIGAS

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Pajak ialah iuran kepada kas negara berdasarkan undang-undang yang dapat

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Pajak ialah iuran kepada kas negara berdasarkan undang-undang yang dapat BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Pajak Pertambahan Nilai 1. Definisi Pajak Definisi pajak menurut Rachmat Soemitro (1990 : 5) menyatakan Pajak ialah iuran kepada kas negara berdasarkan undang-undang yang dapat

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI. Pengertian Pengusaha menurut Mardiasmo (2008:36), Pengusaha merupakan

BAB II LANDASAN TEORI. Pengertian Pengusaha menurut Mardiasmo (2008:36), Pengusaha merupakan BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Pengertian Pengusaha Pengertian Pengusaha menurut Mardiasmo (2008:36), Pengusaha merupakan Orang pribadi atau badan dalam bentuk apapun yang dalam kegiatan usaha atau pekerjaannya

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 187/PMK.03/2015 TENTANG

PERATURAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 187/PMK.03/2015 TENTANG PERATURAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 187/PMK.03/2015 TENTANG TATA CARA PENGEMBALIAN ATAS KELEBIHAN PEMBAYARAN PAJAK YANG SEHARUSNYA TIDAK TERUTANG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI

Lebih terperinci

AKUNTANSI PPN & PPnBM

AKUNTANSI PPN & PPnBM AKUNTANSI PPN & PPnBM Catatan PPN Sistem Kredit PPN Pasal 9 Ayat (2), (3), (4), (4a) UU PPN PPN Keluaran Merupakan PPN yang dipungut PKP Penjual atas penyerahan kepada PKP Pembeli. PPN Masukan Merupakan

Lebih terperinci

Pokok-Pokok Ketentuan UU PPN. Sesuai dengan Pemerintah Nomor 1 Tahun 2012

Pokok-Pokok Ketentuan UU PPN. Sesuai dengan Pemerintah Nomor 1 Tahun 2012 Pokok-Pokok Ketentuan UU PPN Sesuai dengan Pemerintah Nomor 1 Tahun 2012 1 Peraturan Pemerintah Nomor 1 Tahun 2012 Tanggal Diundangkan Pasal 19 UU PPN 4 Januari 2012 PP 143 Tahun 2000 Dasar Hukum Aturan

Lebih terperinci

SURAT PEMBERITAHUAN MASA PAJAK PERTAMBAHAN NILAI (SPT MASA PPN) BAGI PEMUNGUT PPN Bacalah terlebih dahulu Buku Petunjuk Pengisian SPT Masa PPN

SURAT PEMBERITAHUAN MASA PAJAK PERTAMBAHAN NILAI (SPT MASA PPN) BAGI PEMUNGUT PPN Bacalah terlebih dahulu Buku Petunjuk Pengisian SPT Masa PPN Perhatian Sesuai dengan ketentuan Pasal 3 ayat (7) UU Nomor 6 Tahun 1983 sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan UU Nomor 16 Tahun 2000, apabila SPTMasa yang Saudara sampaikan tidak ditandatangani

Lebih terperinci

BAB V SIMPULAN DAN SARAN

BAB V SIMPULAN DAN SARAN BAB V SIMPULAN DAN SARAN V.1 Simpulan Perencanaan pajak dilakukan sebagai usaha perusahaan didalam memenuhi peraturan yang berlaku atas Pajak Pertambahan Nilai. Setelah penulis melakukan evaluasi terhadap

Lebih terperinci

FAKULTAS EKONOMI UNIVERSITAS PAKUAN BOGOR

FAKULTAS EKONOMI UNIVERSITAS PAKUAN BOGOR ANALISIS PERHITUNGAN DAN PELAPORAN PAJAK PERTAMBAHAN NILAI (STUDI KASUS PADA PT. ANGGADA KARSA UTAMA) PERIODE TAHUN 2014 s/d 2015 E-Jurnal Dibuat Oleh: Muhamad Idrus 022112269 FAKULTAS EKONOMI UNIVERSITAS

Lebih terperinci

PENERAPAN AKUNTANSI PAJAK PERTAMBAHAN NILAI ATAS JASA IKLAN GUNA MENGHITUNG PAJAK YANG TERUTANG (Studi Kasus Pada PT. Kediri Intermedia Pers)

PENERAPAN AKUNTANSI PAJAK PERTAMBAHAN NILAI ATAS JASA IKLAN GUNA MENGHITUNG PAJAK YANG TERUTANG (Studi Kasus Pada PT. Kediri Intermedia Pers) PENERAPAN AKUNTANSI PAJAK PERTAMBAHAN NILAI ATAS JASA IKLAN GUNA MENGHITUNG PAJAK YANG TERUTANG (Studi Kasus Pada PT. Kediri Intermedia Pers) Oleh : Dewi Malydhasari Alumni Fakultas Ekonomi Universitas

Lebih terperinci

00BAB IV PEMBAHASAN. perusahaan memiliki banyak kesamaan seperti persamaan tarif dan sama-sama

00BAB IV PEMBAHASAN. perusahaan memiliki banyak kesamaan seperti persamaan tarif dan sama-sama 00BAB IV PEMBAHASAN IV. 1 Analisis Perbandingan Perlakuan Pajak Pertambahan Nilai Antara Perusahaan Milik Negara (Pemungut) dan Perusahaan Swasta. Pada dasarnya perlakuan untuk Pajak Pertambahan Nilai

Lebih terperinci

ANALISIS PENERAPAN RESTITUSI PAJAK PERTAMBAHAN NILAI (PPN) PT. PP (PERSERO) TBK

ANALISIS PENERAPAN RESTITUSI PAJAK PERTAMBAHAN NILAI (PPN) PT. PP (PERSERO) TBK ANALISIS PENERAPAN RESTITUSI PAJAK PERTAMBAHAN NILAI (PPN) PT. PP (PERSERO) TBK Yulia Chandra ABSTRAK Restitusi atau pengembalian kelebihan pembayaran Pajak Pertambahan Nilai merupakan Hak semua Wajib

Lebih terperinci

PENERAPAN E-FAKTUR DAN PERSEPSI PENGUSAHA KENA PAJAK (PKP) (STUDI PADA PENGUSAHA KENA PAJAK DI KABUPATEN BULELENG)

PENERAPAN E-FAKTUR DAN PERSEPSI PENGUSAHA KENA PAJAK (PKP) (STUDI PADA PENGUSAHA KENA PAJAK DI KABUPATEN BULELENG) PENERAPAN E-FAKTUR DAN PERSEPSI PENGUSAHA KENA PAJAK (PKP) I Nyoman Putra Yasa 1 (Universitas Pendidikan Ganesha, Singaraja) 1 Email : putrayasanyoman11@gmail.com ABSTRAK Penelitian ini dilakukan untuk

Lebih terperinci