4 KONDISI PERIKANAN TANGKAP CAKALANG DI KAWASAN TELUK BONE

Save this PDF as:
 WORD  PNG  TXT  JPG

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "4 KONDISI PERIKANAN TANGKAP CAKALANG DI KAWASAN TELUK BONE"

Transkripsi

1 4 KONDISI PERIKANAN TANGKAP CAKALANG DI KAWASAN TELUK BONE 4.1 Pendahuluan Salah satu perairan yang sumber ikannya perlu dikelola secara optimum adalah perairan teluk. Teluk adalah laut yang menjorok ke daratan. Indonesia sebagai negara yang memiliki pulau tentunya mempunyai banyak teluk dan yang baru dapat diidentifikasi 631 teluk. Salah satu teluk yang dipilih dalam penelitian ini adalah Teluk Bone. Teluk ini masuk dalam WPPI 713 yaitu wilayah pengelolaan Selat Makassar, Laut Flores dan Laut Bali. Ekosistem Teluk Bone merupakan ekosistem yang mempunyai kekhasan tersendiri. Perairannya semi tertutup dibandingkan dengan perairan Selat Makassar dan Laut Flores karena secara geografis terletak di sebelah Timur daratan Sulawesi Selatan dan di sebelah Barat daratan Sulawesi Tenggara. Wilayah Teluk Bone memiliki luas sekitar ,077 km 2 dengan panjang garis pantai 1.126,84 km memiliki potensi sumberdaya perikanan yang cukup besar, khususnya perikanan cakalang karena 59 % (13,616 ton) produksi ikan cakalang Sulawesi Selatan berasal dari kawasan Teluk Bone (Dinas Kelautan dan Perikanan Sulawesi Selatan 2006). Di sekitar wilayah tersebut terdapat 9 (sembilan) kabupaten yaitu 7 kabupaten di wilayah Sulawesi Selatan serta 2 (dua) kabupaten di wilayah Sulawesi Tenggara yang merupakan satu kesatuan kawasan pengelolaan perikanan Teluk Bone. Perikanan tangkap di kawasan Teluk Bone merupakan kegiatan yang dilakukan dengan tujuan memanfaatkan sumberdaya ikan yang mempunyai nilai ekonomi dengan menggunakan teknologi, baik yang sederhana maupun yang lebih modern. Oleh karena itu perikanan tangkap di kawasan Teluk Bone adalah suatu proses produksi yang memiliki nilai ekonomi yang melibatkan berbagai komponen yang saling berinteraksi, di mana komponen utama adalah manusia (nelayan), kapal, alat tangkap, dan ketersediaan ikan yang menjadi tujuan utama penangkapan. Interaksi komponen utama dalam perikanan tangkap menyebabkan adanya perbedaan karakteristik perikanan tangkap di suatu wilayah perairan. Perikanan cakalang sangat potensil untuk dikembangkan karena selain nilainya yang cukup tinggi, juga mampu menyerap tenaga kerja yang cukup banyak. Sumberdaya cakalang di Teluk Bone mempunyai kesamaan sifat dalam hal daerah penangkapan, area bermain dengan sumberdaya tuna khususnya dari jenis madidihang (yellowfin tuna). Pemanfaatan cakalang yang dilakukan

2 40 selama ini menggunakan berbagai jenis upaya penangkapan ikan dengan karakteristik dan deskripsi yang berbeda-beda. Karakteristik perikanan cakalang di Teluk Bone akan dideskripsikan melalui kegiatan usaha penangkapan dan tingkat pemanfaaatan sumberdaya perikanan cakalang. 4.2 Tujuan Spesifik 1 Mendeskripsikan kegiatan usaha penangkapan cakalang di kawan Teluk Bone yang meliputi spesifikasi alat tangkap pole and line, operasi dan daerah penangkapan serta produksi hasil tangkapan cakalang di kawasan Teluk Bone. 2 Menentukan tingkat produksi sumberdaya perikanan cakalang dan catch per unit effort (CPUE) yang dapat dimanfaatkan secara bersama (shared stok) untuk keperluan pengelolaan di kawasan Teluk Bone. 4.3 Metode Deskripsi kegiatan usaha Metode yang digunakan pada Bab 4 ini adalah gabungan antara penelitian deskriptif dan survey langsung ke lapangan. Untuk deskripsi kegiatan usaha penangkapan (alat tangkap pole and line dan metode penangkapannya) dilakukan pengumpulan data lapangan khususnya tentang deskripsi alat tangkap pole and line dan metode penangkapannya sebagai salah satu alat dominan dalam penangkapan cakalang melalui survei langsung ke fishing base nelayan. Responden dipilih berdasarkan tempat pusat kegiatan penangkapan ikan cakalang pada setiap kabupaten di kawasan Teluk Bone yaitu Kabupaten Luwu di pusatkan di TPI Murante Kecamatan Suli, Kabupaten Bone di TPI Bajoe Kecamatan Tanete Riattang Timur dan Kabupaten Sinjai di TPI Lappa Kecamatan Sinjai Utara. Daerah penangkapan cakalang dan alat tangkap pole and line yang digunakan nelayan di Teluk Bone diidentifikasi berdasarkan hasil wawancara langsung dengan nelayan atau dengan keikutsertaan enumerator data secara langsung dalam aktivitas penangkapan yang dilakukan oleh nelayan. Penentuan posisi geografi menggunakan global positioning system (GPS). Produksi hasil tangkapan cakalang diperoleh dari data hasil tangkapan nelayan per trip dalam satuan kg. Waktu yang digunakan nelayan untuk melakukan penangkapan dengan alat tangkap pole and line adalah sehari semalam (one day fishing trip).

3 41 Untuk mendeskripsikan kondisi SPL, klorofil-a dan saliniitas kawasan Teluk Bone, data hasil olahan citra SPL, klorofil-a dan salinitas hasil pengukuran in situ dianalisis dengan menggunakan sofware Surfer Versi Tingkat pemanfaatan cakalang Data tentang jumlah produksi hasil tangkapan, jumlah unit dan trip alat tangkap pole and line, purse seine, jaring insang hanyut dan pancing tonda diperoleh dari statistik perikanan propinsi Sulawesi Selatan pada 7 Kabupaten/Kota yang berada disepanjang pesisir kawasan Teluk Bone yaitu : Kabupaten Luwu, Kabupaten Bone, Kabupaten Sinjai, Kabupaten Wajo, Kabupaten Luwu Utara, Kabupaten Luwu Timur dan Kota Palopo.dari tahun Untuk keperluan analisis selanjutnya data dari 7 kabupaten dikelompokkan menjadi 3 zona yaitu zona Utara mencakup kabupaten Luwu, Wajo, Luwu Utara, Luwu Timur dan kota Palopo ; zona Tengah yaitu kabupaten Bone dan zona Selatan yaitu kabupaten Sinjai. Selain ditentukan berdasarkan zona, tingkat pemanfaatan cakalang dihitung juga dalam satu kawasan Teluk Bone. Produksi hasil tangkapan dan upaya penangkapan (trip) dijumlahkan dari keseluruhan zona yang ada dalam kawasan Teluk Bone. Produksi hasil tangkapan dihitung berdasarkan proporsi produksi hasil tangkapan ikan cakalang yang dilakukan dalam 3 tahap, yaitu: 1. Menghitung proporsi berdasarkan produksi total masing-masing alat tangkap dalam kawasan teluk, sebagai berikut: Pk C k = 4 P 1 k di mana, C : proporsi produksi k : unit penangkapan P : produksi berdasarkan data statistik; 2. Menghitung produksi cakalang dari masing-masing unit penangkapan dalam kawasan sebagai berikut : I k Ck x IS di mana, I : produksi proporsi cakalang C : proporsi produksi

4 42 I S : produksi ikan cakalang berdasarkan data statistik. 3. Produksi tahunan (P) setiap unit penangkapan cakalang pada masingmasing zona dalam kawasan Teluk Bone dihitung dengan persamaan sebagai berikut : P k = 4 i 1 I k Jumlah alat tangkap yang dianalisis untuk zona Utara dan Selatan ada 4 jenis yaitu pole and line, purse seine, jaring insang hanyut dan pancing tonda, sedangkan untuk Zona Tengah hanya 3 jenis yaitu pole and line, jaring insang hanyut dan pancing tonda. Selanjutnya dilakukan standarisasi terhadap alat tangkap dengan tujuan untuk menyeragamkan satuan-satuan upaya yang berbeda sehingga dapat dianggap upaya penangkapan suatu jenis alat tangkap diasumsikan menghasilkan tangkapan yang sama dengan alat tangkap standar. Untuk melakukan standarisasi upaya penangkapan terlebih dahulu mengestimasi nilai Fishing Power Index (FPI). Alat tangkap yang ditetapkan sebagai alat tangkap standar mempunyai FPI = 1 sedangkan jenis alat tangkap lainnya dapat dihitung nilai FPI dengan membagi nilai CPUE dengan CPUE alat standar. Tahapan standarisasi adalah sebagai berikut : (1) menghitung CPUE masing-masing alat tangkap yang akan distandarisasi, CPUE i = di mana, HTi FEi HT i : Jumlah hasil tangkapan setiap jenis unit penangkapan ikan yang akan distandarisasi pada tahun ke-i FE i : Jumlah upaya penangkapan ikan setiap jenis unit alat penagkapan ikan yang akan distandarisasi pada tahun ke-i (2) Menentukan alat standar, kemudian menghitung FPI dengan cara sebagai berikut : FPI = CPUE CPUE i s di mana : CPUE i : Catch per unit effort atau jumlah hasil tangkapan per satuan upaya jenis penangkapan yang akan distandarisasi pada tahun ke-i

5 43 CPUE s : Catch per unit effort atau jumlah hasil tangkapan per satuan upaya jenis penangkapan standar (3) Upaya penangkapan standar diperoleh dengan menggunakan persamaan (Gulland 1983) yaitu : SEi FPI x FEi SE i : Upaya penangkapan (effort) hasil standarisasi pada tahun ke-i FPI : Fishing power index atau daya tangkap jenis unit penangkapan yang akan distandarisasi pada tahun ke-i FE i : Jumlah upaya penangkapan (effort) jenis unit penangkapan ikan yang akan distandarisasi pada tahun ke-i (4) Menghitung ulang CPUE dengan membagi jumlah hasil tangkapan dengan upaya standar CPUE i = di mana, HTi FEs HT i : Jumlah hasil tangkapan total setiap jenis unit penangkapan ikan pada tahun ke-i FE s : Jumlah upaya penangkapan ikan setiap jenis unit alat penangkapan ikan yang telah distandar (5) Untuk menghitung nilai MSY digunakan metode surplus produksi. Pada metode ini digunakan data hasil tangkapan per satuan upaya (CPUE) dan jumlah upaya sebagai masukan. Dalam metode ini, digunakan analisis regresi linier dengan 2 (dua) variabel, yaitu variabel bebas (independent variable) dan variabel tak bebas (dependent variable). Menurut Sudjana (1998), variabel tak bebas merupakan variabel yang terjadi karena adanya variabel bebas. Variabel bebas (variabel x) yang digunakan yaitu upaya penangkapan (effort = E),sedangkan variabel tak bebasnya (variabel y) adalah hasil tangkap per unit alat tangkap (Catch Per Unit Effort = CPUE). Untuk memudahkan perhitungan digunakan software SPSS 16. Analisis dilakukan dengan menggunakan perhitungan catch per unit effort (CPUE) yaitu hasil tangkapan (catch) per upaya penangkapan (effort), untuk memperkirakan jumlah effort optimum penangkapan yang diperbolehkan sesuai dengan potensi sumberdaya cakalang yang ada di masing-masing zona dalam kawasan Teluk Bone.

6 44 Menurut Model Schaefer (Pauly 1983) persamaan yang menyatakan hubungan antara hasil tangkapan persatuan upaya (CPUE) sebagai fungsi dari upaya (f) dalam satuan trip, adalah sebagai berikut : CPUE = a + bf Hubungan antara effort (f) dengan catch (C) maka : C = af bf 2 kemudian effort optimum (fopt) dapat diperoleh dengan menyamakan turunan pertama catch terhadap effort = 0, sehingga C = af - bf 2 C = a 2 bf = 0 Fopt = - a 2b Untuk mendapatkan nilai maksimum lestari adalah sebagai berikut : MSY = a (a/2b) - b (a 2 /4b 2 ) MSY = di mana : a 2 4b b : slope (kemiringan garis regresi) a : intersep (titik perpotongan garis regresi dengan sumbu y) Dalam penggunaan metode ini, maka beberapa asumsi dasar yang harus diperhatikan : 1) Stok ikan dianggap sebagai unit tunggal dan sama sekali tidak berpedoman atas struktur populasinya. 2) Stok ikan selalu dalam keadaan yang cenderung menuju situasi steady state (setelah mengalami penangkapan ikan pulih kembali) sesuai dengan model pertumbuhan biomas seperti kurva logistic. 3) Hasil tangkapan dan upaya penangkapan merupakan data yang bersifat random 4) Hasil tangkapan yang di daratkan berasal dari perairan di kawasan Teluk Bone dan tidak ada hasil tangkapan yang di daratkan di luar kawasan. Pengujian terhadap koefisien regresi dan garis trend dilakukan dengan hipotesis sebagai berikut : H 0 : b = 0 H 1 : b 0

7 45 Jika b = 0, variabel bebas [upaya tangkap (trip)] tidak berpengaruh terhadap variabel terikat (produksi dan CPUE). Jika b 0, variabel bebas berpengaruh terhadap variabel terikat. Keputusan menerima H 0 apabila P>0,05, menolak H 0 apabila P<0,05. Analisis uji hipotesis menggunakan software SPSS ver.16. Untuk menentukan pengelolaan bersama stok cakalang (shared stock) dalam kawasan Teluk Bone (Gambar 9), maka dilakukan perhitungan dengan cara sebagai berikut : Menghitung MSY dan Fopt pada masing-masing zona (Utara, Tengah dan Selatan), dengan menggunakan upaya penangkapan yang telah distandariasi. Menghtiung proporsi masing-masing zona dengan cara sebgai berikut : P zi = MSYzi 3 MSYzi i 1 untuk Fopt adalah F zi = Foptzi 3 Foptzi i 1 di mana : P zi : proporsi MSY pada zona ke i MSY zi : nilai MSY pada zona ke i F zi : proporsi Fopt pada zona ke-i Fopt zi : nilai Fopt pada zona kei Menghitung MSY pada seluruh kawasan Teluk Bone. Menghitung MSY shared stock untuk masing-masing zona dan Fopt dengan cara sebagai berikut : MSY zi = P zi x MSY sk Fopt zi = F zi x Fopt sk di mana : MSY sk : Nilai MSY shared stock untuk seluruh kawasan Teluk Bone. Fopt sk : Fopt dalam MSY shared stock untuk seluruh kawasan Teluk Bone MSY zi : Nilai MSY shared stock untuk zona ke-i Fopt zi : Nilai Fopt dalam MSY shared stock untuk zona ke-i

8 46 PZu PZt MSYsk (shared stock) PZs Gambar 9 Pendekatan untuk memperoleh MSY per zona dan MSY shared stock. 4.4 Hasil Penelitian Alat tangkap (pole and line) Alat tangkap pole and line adalah alat tangkap yang terdiri atas tangkai atau joran (pole), tali pancing (line) dan mata pancing (hook) (Gambar 10). Tangkai pancing terbuat dari bambu yang cukup tua berukuran panjang 2 m, diameter pangkal 3 cm dan ujungnya berukuran 0,5 cm. Tali pancing terbuat dari bahan nylon monofilament berwarna putih/bening berukuran panjang 1,5-2 m berdiameter 3 mm. Ujung bagian atas dihubungkan dengan lilitan tali dan ujung bagian bawah dihubungkan dengan tali pancing yang terbuat dari bahan yang sama dengan tali pancing utama dan berukuran cm. Mata pancing yang umum digunakan bernomor 8 dan terbuat dari baja yang tidak berkait balik, pembungkus terbuat dari kulit dan diujung mata pancing dipasang bulu ayam berwarna putih atau merah sebagai umpan buatan.

9 47 Gambar 10 Joran, tali dan mata pancing yang dipakai oleh nelayan pole and line di kawasan Teluk Bone lain : Alat-alat yang digunakan dalam unit penangkapan pole and line antara 1. Ember besar Digunakan untuk menampung umpan yang diambil dari bak umpan sebelum dilemparkan ke laut. Alat ini terbuat dari plastik dan mempunyai ukuran diameter 50 hingga 60 cm. 2. Alat pembuang umpan dipakai dengan beberapa tujuan tergantung ukurannya, yang besar berdiameter 40 cm berfungsi untuk memindahkan umpan hidup dari palkah umpan ke ember, sedangkan yang berukuran kecil (diameter 25 cm) dipakai untuk proses menebar umpan ke laut Kapal Kapal dalam armada penangkapan pole and line berfungsi untuk mengangkut nelayan dan alat tangkap dari fishing base ke fishing ground serta kembali ke fishing base atau tempat pendaratan lainnya. Selain itu kapal juga berfungsi membawa hasil tangkapan, umpan hidup dan mengejar gerombolan ikan. Kapal pole and line yang digunakan terbuat dari kayu biti dan jati dan menggunakan mesin dalam (inboard engine). Motor dalam yang digunakan

10 48 mempunyai kekuatan mesin antara HP dengan bahan bakar solar. Panjang kapal berukuran antara 15-22,5 m, lebar 3,5-5,20 m dan dalam 1, cm serta bertonage GT. Kapal pole and line memiliki tempat pemancingan, palkah ikan, bak umpan hidup, pipa penyemprot, sayap dan peralatan navigasi. Konstruksi kapal pole and line disajikan pada Gambar 11 dan 12. Tempat pemancingan (flying deck) pada kapal pole and line terdapat di bagian haluan kapal. Daerah pemancingan ini berbentuk jajaran genjang dan dilengkapi tempat duduk pemancing dengan kapasitas 10 orang bagian depan, 2 orang pada sisi kanan dan sisi kiri. Palkah ikan berfungsi selain untuk menyimpan hasil tangkapan juga berfungsi membawa perbekalan es balok selama operasi penangkapan. Palkah ikan berukuran panjang 250 cm, lebar 150 cm dan tinggi 150 cm. Jumlah palkah ikan setiap kapal dua unit yang terletak di atas dek kapal bagian tengah. Bak umpan hidup sebanyak 2 unit, dengan ukuran panjang 250 cm, lebar 135 cm dan tinggi 230 cm. Pada setiap bak terdapat lubang dengan diameter 10 cm. Sistem sirkulasi dalam bak umpan diatur dengan menggunakan belahan bambu yang dimasukkan ke dalam salah satu lubang. Keterangan : A. Anjungan F. Palkah Ikan B. Kamar Mesin G. Bak Umpan Hidup C. Kamar Tidur H. Tempat Pemancingan D. WC I. Pele-pele E. Dapur J. Platform Gambar 11 Contoh konstruksi kapal pole and line di kawasan Teluk Bone.

11 49 Gambar 12 Kapal pole and line di kawasan Teluk Bone. Pipa penyemprot (water sprayer) berada di dekat tempat pemancingan. Pipa-pipa yang digunakan diameter 1,5 cm terbuat dari besi disambung dengan slang plastik. Air yang digunakan untuk menyemprot berasal dari air laut dengan menggunakan tenaga mesin. Sayap (platform) merupakan tempat yang dilebihkan disekeliling badan kapal. Daerah ini mempunyai lebar 60 cm yang berfungsi sebagai tempat boy-boy melemparkan umpan Tenaga kerja/nelayan Nelayan pada umumnya hanyalah mengandalkan kemampuan fisik saja, sedangkan tingkat pendidikan bukan merupakan keharusan bagi nelayan namun yang lebih penting adalah keterampilan dan semangat kerja. Pada dasarnya jumlah tenaga kerja/nelayan dalam pengoperasian kapal pole and line tergantung ukuran kapal dan teknologi yang digunakan. Jumlah nelayan di atas kapal berjumlah orang. Pembagian kerjanya terdiri atas satu orang kapten kapal (nahkoda) sebagai fishing master bertugas dan bertanggung jawab terhadap keberhasilan penangkapan dan keselamatan anak buah kapal selama pelayaran, satu orang kepala kamar mesin bertugas menjaga kestabilan dan kelancaran kerja mesin, satu orang boy-boy (penebar umpan), satu orang palolang (yang mengambil umpan dari bak besar ke bak kecil) dan pemancing. Pemancing inti harus berpengalaman dan umumnya berada di bagian depan haluan kapal berjumlah 10 orang dengan posisi merapat dan sisanya dua orang pada bagian samping kiri dan dua orang pada bagian kanan.

12 Operasi dan daerah penangkapan Sebelum operasi penangkapan ikan persiapan yang harus dilakukan adalah persiapan sebelum kapal berangkat meliputi pengisisan bahan bakar, air tawar, es, perbekalan makanan dan surat-surat kapal. Bahan bakar yang digunakan untuk mesin kapal dan generator adalah solar. Dalam satu trip (satu hari operasi penangkapan) membutuhkan 1 drum bahan bakar atau kurang lebih 200 liter. Air tawar yang dibawa sepenuhnya digunakan untuk keperluan memasak dan minum selama kapal beroperasi. Untuk ransum atau perbekalan makanan meliputi beras, gula, kopi, teh, mie instan, lauk pauk dan lain-lain. Hasil tangkapan yang diperoleh agar tidak mudah rusak (busuk) menggunakan es balok dengan berat 10 kg/balok. Persiapan terakhir sebelum berangkat adalah surat-surat kapal seperti surai izin perikanan dan lain-lain. Sesudah persiapan dilaksanakan kapal menuju daerah pencarian umpan. Kapal meninggalkan fishing base sekitar pukul Wita. Kapal bergerak terus menerus sambil mencari umpan hidup dari nelayan bagan, komunikasi antara nelayan pole and line dan nelayan bagan dilakukan dengan menggunakan alat komunikasi HP. Setelah memperoleh informasi dari nelayan bagan, maka kapal pole and line menuju ke bagan. Ikan umpan dipindahkan dari bagan ke palkah kapal pole and line secara hati-hati agar ikan umpan tidak mengalami stres. Untuk mendapatkan umpan hidup nelayan membeli dari bagan yang dioperasikan sepanjang malam dengan menggunakan cahaya lampu. Satu trip penangkapan umpan yang digunakan berkisar ember. Tiap palkah berkapasitas sekitar 50 ember umpan (setiap ember kira-kira setara dengan 2 kg umpan). Adapun fungsi dari palkah umpan hidup ini adalah untuk menyimpan umpan hidup agar dapat bertahan hidup sampai operasi penangkapan selesai. Pada bak umpan tersebut terdapat lubang yang berfungsi sebagai tempat sirkulasi air sehingga kualitas air tetap terjamin. Kekuatan sirkulasi air perlu diatur untuk mencegah umpan terlalu cepat bergerak dan mati sebagai akibat dari sirkulasi air yang terlalu cepat. Jika umpan tidak mencukupi dari alat bagan atau alat bagan tidak beroperasi maka nelayan pole and line mengambil umpan dari nelayan payang yang dalam bahasa daerah setempat disebut papanja. Nelayan panja ini hanya ditemukan di Kabupaten Bone. Daerah penangkapan untuk umpan hidup umumnya adalah pada perairan teluk yang dangkal dan perairan yang terlindung dari gelombang dan arus kuat. Ikan yang umumnya digunakan sebagai umpan

13 51 hidup untuk pole and line adalah jenis teri dari genera Stolephorus, seperti Stolephorus indicus. Jika Stolephorus tidak tersedia maka nelayan biasa menggunakan jenis umpan yang lain seperti ikan layang (Decapterus sp) yang berukuran kecil atau dari jenis tembang (sardinella) sp. Pengambilan umpan pada nelayan bagan dilakukan dengan sistem langganan, namun ada pula yang dibeli secara langsung. Untuk keberhasilan penangkapan dengan pole and line, ketersediaan umpan hidup sangatlah penting, karena umpan hidup berfungsi sebagai atraktan untuk menarik kawanan ikan cakalang mendekat ke kapal. Penggunaan jenis umpan ini sangat tergantung dari hasil tangkapan nelayan bagan. Sesudah jumlah umpan diperkirakan mencukupi kapal pole and line menuju daerah fishing ground. Pemancingan ikan umumnya dilakukan pada pagi hingga siang hari, kadang pula dilakukan pada sore hari jika persediaan umpan hidup masih ada. Sebagian besar alat pole and line dioperasikan disekitar rumpon (Gambar 13). Gambar 13 Konstruksi rumpon sebagai alat untuk mengumpulkan cakalang. Namun ada pula yang mencari lokasi penangkapan dengan melakukan pengamatan di sekitar perairan tersebut. Pengamatan di sekitar perairan misalnya dengan melihat kawanan burung laut yang beterbangan di atas permukaan air dan kawanan ikan lumba-lumba yang meloncat di permukaan air (Gambar 14 dan 15). Keterangan : 1. Tanda Pengenal 2. Rakit Bambu 3. Pelepah kelapa 4. Batu pemberat pelepah 5. Anyaman rotan 6. Batu pemberat pada rumpon

14 52 Gambar 14 Burung-burung yang beterbangan di atas permukaan laut. Gambar 15 Kawanan lumba-lumba yang meloncat di atas permukaan laut. Proses kegiatan penangkapan cakalang di Teluk Bone dalam satu trip disajikan pada Gambar 16.

15 53 Mulai Persiapan operasi penangkapan tidak Layak ya Menuju Fishing ground bagan Pelayaran Tidak mancing Persiapan umpan tidak Kualitas, kuantitas cukup ya Pelayaran fishing ground cakalang One day fishing Kegiatan memancing Tinggalkan fishing ground Penanganan ikan Pencatatan hasil tangkapan Selesai Gambar 16 Skema proses penangkapan cakalang dengan pole and line di kawasan Teluk Bone.

16 Kondisi oseanografi Perairan laut kawasan Teluk Bone merupakan perairan yang semi tertutup dibandingkan dengan perairan Selat Makassar dan Laut Flores, karena secara geografis terletak di sebelah Timur daratan Sulawesi Selatan dan sebelah Barat daratan Sulawesi Tenggara. Berdasarkan letak geografis tersebut maka kondisi kawasan perairan Teluk Bone relatif berbeda dengan kondisi perairan Selat Makassar dan Laut Flores. Kondisi oseanografi kawasan perairan Teluk Bone yang diperoleh dari Ocean Color Time-Series Online Visualization hasil citra satelit MODIS-Terra yang dikeluarkan oleh NASA (National Aeronautics and Space Administration) untuk data SPL dan data klorofil-a menggunakan citra satelit MODIS (Moderate Resolution Imaging Spectroradiometer) hasil citra satelit Aqua. Data citra satelit yang digunakan telah dianalisis berdasarkan GES-DISC Interactive Online Visualization and Analysis Infrastructure (GIOVANNI) dalam kurun waktu 2 tahun ( ). Data salinitas diperoleh dari hasil pengukuran langsung (in situ) selama 6 bulan dengan menggunakan alat conductivity meter. 1) Suhu permukaan laut (SPL) Untuk melihat hubungan antara SPL citra dan SPL insitu dilakukan analisis regresi. Hasil analisis hubungan SPL citra dan SPL insitu pada lokasi penelitian (Zona Utara) (Gambar 17) diperoleh model persamaan : SPL citra = 12, ,5924 SPL insitu dengan koefisien korelasinya (r) 0,63. Hasil analisis hubungan SPL citra dan SPL insitu pada lokasi penelitian (Zona Tengah) (Gambar 17) diperoleh model persamaan : SPL citra = 6, ,801 SPL insitu dengan koefisien korelasinya (r) 0,70. Hasil analisis hubungan SPL citra dan SPL insitu pada lokasi penelitian (Zona Selatan) (Gambar 17) diperoleh model persamaan : SPL citra = 2, ,9177 SPL insitu dengan koefisien korelasinya (r) 0,77. Berdasarkan nilai koefisien korelasi (r) dari ketiga persamaan tersebut, terlihat ada korelasi antara data citra dan insitu, terlihat ada hubungan satu sama lain. Dengan kata lain citra MODIS yang digunakan baik untuk merepresentasikan kondisi SPL di lokasi penelitian. Kisaran rataan SPL bulanan dalam kurun waktu 2 tahun di Zona Utara adalah 28,8-31,7 0 C, Zona Tengah pada kisaran 27,9-31,5 0 C, Zona Selatan pada kisaran 27,0-31,1 0 C. Kecenderungan perubahan SPL bulanan dalam kurun

17 SPL citra SST citra SST citra 55 waktu 2 tahun di setiap zona menunjukkan SPL cenderung tinggi pada bulan Maret, April, Nopember dan Desember di Zona Utara, April dan Desember di Zona Tengah dan Zona Selatan (Gambar 18 ). 32,00 31,60 y = 0,592x + 12,87 R² = 0,401 31,20 30,80 Utara 30,40 30,00 30,40 30,80 31,20 31,60 SST Insitu 31,40 31,00 y = 0,801x + 6,107 R² = 0,484 30,60 30,20 Tengah 29,80 30,00 30,20 30,40 30,60 30,80 31,00 31,20 SST insitu 31,20 30,80 y = 0,917x + 2,057 R² = 0,589 30,40 30,00 29,60 29,20 Selatan 28,80 29,60 30,00 30,40 30,80 31,20 31,60 SST insitu Gambar 17 Hubungan antara : SPL insitu dan SPL citra (Utara, Tengah dan Selatan)

18 56 SPL pada bulan Agustus dan September cenderung rendah di Zona Utara yang juga menunjukkan perubahan yang sama di zona lain. Kisaran rataan terendah SPL di Zona Utara adalah 28,8-28,9 0 C, Zona Tengah pada kisaran 27,9-28,2 0 C, dan Zona Selatan 27-27,3 0 C. Kisaran rata-rata SPL bulanan tertinggi dalam kurun waktu 2 tahun di Zona Utara adalah 31,6-31,7 0 C, di Zona Tengah pada kisaran 31,3-31,5 0 C, dan di Zona Selatan pada kisaran 30,8-31,1 0 C. SPL pada bulan Agustus 2007 terjadi perubahan terendah dalam kurun waktu 2 tahun di semua zona, di mana Zona Utara mencapai 28,9 0 C, Zona Tengah mencapai 28,0 0 C, dan Zona Selatan mencapai 27,3 0 C. Gambar 18 Rataan SPL ( 0 C) di Zona Utara, Tengah dan Selatan Pola sebaran SPL secara mendatar pada masing-masing zona pada musim Barat (Desember 2006-Februari 2007) dapat dilihat pada Gambar 19. Dari gambar tersebut terlihat bahwa SPL di Zona Utara berkisar antara 31, C, di Zona Tengah berkisar antara 30,2-31,8 0 C dan di Zona Selatan berkisar antara 29,9-30,7 0 C. Meskipun pada musim yang sama namun di Zona Utara memiliki sebaran SPL yang besar dibandingkan pada Zona Tengah dan Zona Selatan. Pola sebaran SPL musim Barat dan Timur pada Zona Selatan dapat dilihat pada Gambar 20. Dari gambar tersebut terlihat bahwa SPL di Zona Selatan pada musim Barat berkisar antara 29,9-30,7 0 C dan pada musim Timur berkisar antara 27,8-28,6 0 C dan nilai sebaran SPL pada musim Barat pada zona yang sama (Zona Selatan) lebih tinggi dibandingkan pada musim Timur.

19 57 Utara Tengah Selatan Gambar 19 Sebaran mendatar SPL pada musim Barat di Zona Utara, Tengah dan Selatan

20 58 Musim Barat Musim Timur Gambar 20 Sebaran mendatar SPL pada musim Barat dan Timur di Zona Selatan 2) Salinitas Kisaran rataan salinitas insitu bulanan berfluktuatif pada setiap zona selama pengukuran. Pada Zona Utara kisaran salinitas adalah 32,4-33,8 o / oo, Zona Tengah kisaran salinitas adalah 32,6-33,9 o / oo, dan Zona Selatan kisaran salinitas adalah 32,5-33,8 o / oo. Kecenderungan perubahan salinitas bulanan dalam kurun waktu 6 bulan di setiap zona menunjukkan salinitas cenderung tinggi pada bulan Mei di Zona Utara, April di Zona Tengah dan bulan Maret dan Mei di Zona Selatan dan salinitas rendah pada bulan Januari di Zona Utara, Februari di Zona Tengah dan Selatan (Gambar 21 ).

21 Salinitas (0/00) 59 34,0 33,6 33,2 32,8 32,4 32,0 Jan Peb Mar Apr Mei Jun Bulan Utara Tengah Selatan Gambar 21 Rataan salinitas ( o / oo ) di Zona Utara, Tengah dan Selatan Pola sebaran mendatar salinitas di Zona Utara pada musim Barat dan Tiimur dapat diihat pada Gambar 22. Musim Barat Musim Timur Gambar 22 Sebaran mendatar salinitas pada musim Timur dan Barat di Zona Utara

22 60 Berdasarkan gambar di atas terlihat bahwa nilai salinitas pada musim Barat berkisar antara 31,7-33,1 o / oo dan pada musim Timur berkisar antara 32,4-33,3 o / oo dan selanjutnya nilai salinitas yang rendah berada disekitar dekat pantai baik pada musim Barat maupun Timur. Hal ini disebabkan karena pengaruh air sungai yang bermuara disepanjang pantai Teluk Bone. 3) Klorofil-a Kisaran rataan klorofil-a bulanan dalam kurun waktu 2 tahun di kawasan perairan Teluk Bone menunjukkan di Zona Utara pada kisaran 0,26-0,78 mg/m 3, Zona Tengah pada kisaran 0,14-0,38 mg/m 3, Zona Selatan 0,17-0,31 mg/m 3 (Gambar 23). Kecenderungan perubahan bulanan klorofil-a dalam kurun waktu 2 tahun menunjukkan di Zona Utara konsentrasi klorofil-a lebih tinggi dibandingkan zona lainnya, walaupun terdapat kecenderungan berbeda secara bulanan di setiap zona. Kecenderungan perubahan rataan bulanan dalam kurun waktu 2 tahun di Zona Utara relatif tidak berfluktuatif, kecuali pada bulan April. Kisaran rataan bulanan klorofil-a dengan konsentrasi yang rendah di Zona Utara pada kisaran 0,26-0,28 mg/m 3, Zona Tengah pada kisaran 0,14-0,18 mg/m 3, Zona Selatan pada kisaran 0,18-0,20 mg/m 3. Konsentrasi rataan klorofila tertinggi dalam kurun waktu 2 tahun di Zona Utara sebesar 0,78 mg/m 3 di bulan April Konsentrasi rataan tertinggi dalam kurun waktu 2 tahun di Zona Tengah 0,38 mg/m 3 di bulan Juli Konsentrasi rataan klorofil-a dalam kurun waktu 2 tahun di Zona.Selatan sebesar 0,31 mg/m 3 di bulan Oktober Gambar 23 Rataan klorofil-a (mg/m 3 ) di Zona Utara, Tengah dan Selatan

23 61 Pola sebaran klorofil-a secara mendatar pada masing-masing zona pada musim Timur (Juni-Agustus 2007) dapat dilihat pada Gambar 24. Dari gambar tersebut terlihat bahwa klorofil-a di Zona Utara berkisar antara 0,3-3,1 mg/m 3, di Zona Tengah berkisar antara 0,2-1,0 mg/m 3 dan di Zona Selatan berkisar antara 0,2-0,8 mg/ m 3 Utara Tengah Selatan Gambar 24 Sebaran mendatar klorofil-a pada musim Timur di Zona Utara, Tengah dan Selatan Pola sebaran klorofill-a musim Barat dan Timur pada Zona Selatan dapat dilihat pada Gambar 25. Dari gambar tersebut terlihat bahwa klorofil-a di Zona

24 62 Selatan pada musim Barat berkisar antara 0,18-0,30 mg/m 3 dan pada musim Timur berkisar antara 0,2-0,8 mg/m 3 dan nilai sebaran klorofil-a pada musim Barat pada zona yang sama (Zona Selatan) lebih tinggi dibandingkan pada musim Timur Musim Barat Musim Timur Gambar 25 Sebaran mendatar klorofil-a pada musim Timur dan Barat di Zona Selatan Perkembangan produksi Sebagaimana dijelaskan sebelumnya bahwa produksi cakalang dihitung dari proporsi produksi hasil tangkapan cakalang dari alat pole and line, purse seine, jaring insang hanyut dan pancing tonda yang dioperasikan oleh nelayan pada 7 kabupaten/kota yang berada di sepanjang pesisir kawasan Teluk Bone yaitu : Kabupaten Luwu, Kabupaten Bone, Kabupaten Sinjai, Kabupaten Wajo, Kabupaten Luwu Utara, Kabupaten Luwu Timur dan Kota Palopo. Hasil perhitungan produksi (ton) cakalang dari data statistik Dinas Perikanan dan Kelautan Sulawesi Selatan selama tahun yang telah diolah pada Zona Utara, Zona Tengah dan Zona Selatan disajikan pada Tabel 5, 6 dan 7.

25 63 Tabel 5 Produksi (ton) cakalang dari 4 jenis alat tangkap di Zona Utara dalam kawasan Teluk Bone Jenis alat tangkap Tahun Pole and line Purse seine Jaring insang Pancing tonda hanyut ,2 106,3 324,8 35, ,5 98,2 519,4 34, ,4 98,5 505,0 10, , ,7 77, ,7 101,3 574,7 58, ,0 121,1 311,4 61, ,0 95,0 287,0 28, ,9 142,0 429,0 36, ,3 96,0 395,0 31, ,0 69,8 264,4 86, ,0 76,3 204,1 166,0 Total 8.783, , ,5 625,2 Sumber : Dinas Perikanan dan Kelautan Sul-Sel ( ) yang sudah diolah Tabel 6 Produksi (ton) cakalang dari 3 jenis alat tangkap di Zona Tengah dalam kawasan Teluk Bone Tahun Jenis alat tangkap Pole and line Jaring insang hanyut Pancing tonda , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,26 Total , , ,92 Sumber : Dinas Perikanan dan Kelautan Sul-Sel ( ) yang sudah diolah

26 64 Tabel 7 Produksi (ton) cakalang dari 4 jenis alat tangkap di Zona Selatan dalam kawasan Teluk Bone Jenis alat tangkap Tahun Pole and line Purse seine Jaring insang Pancing tonda hanyut ,3 540, ,0 158, ,1 261, ,0 323, ,4 452,0 952,4 215, ,0 762, ,0 98, ,7 395, ,0 582, ,3 126, ,5 98, ,7 255,0 950,0 395, ,9 665,0 952,0 303, ,1 972,0 702, , , ,8 880,0 929, ,3 847,9 972,0 589,0 Total , , , ,3 Sumber : Dinas Perikanan dan Kelautan Sul-Sel ( ) yang sudah diolah Berdasarkan tabel tersebut di atas pada Zona Utara produksi tertinggi pole and line dicapai pada tahun 2003 sebesar 1.050,9 ton dan terendah pada tahun 2000 sebesar 613,7 ton. Produksi tertinggi alat tangkap purse seine dicapai pada tahun 2003 sebesar 142 ton dan terendah pada tahun 2005 sebesar 69,8 ton. Produksi tertinggi jaring insang hanyut dicapai pada tahun 2000 sebesar 574,7 ton dan terendah pada tahun 2006 sebesar 204,1 ton. Selanjutnya produksi tertinggi pancing tonda dicapai pada tahun 2006 sebanyak 166 ton dan terendah dicapai pada tahun 1998 sebanyak 10,6 ton. Produksi total tertinggi dihasilkan oleh alat pole and line sebanyak 8.783,9 ton dan yang terendah dihasilkan oleh alat pancing tonda sebanyak 625,2 ton. Selanjutnya pada Zona Tengah produksi tertinggi pole and line dicapai pada tahun 1996 sebesar 4,883,10 ton dan terendah pada tahun 1998 sebesar 3.342,39 ton. Produksi tertinggi jaring insang hanyut dicapai pada tahun 1996 sebesar 3.188,96 ton dan terendah pada tahun 1997 sebesar 1.786,11 ton. Selanjutnya produksi tertinggi pancing tonda dicapai pada tahun 1996 sebanyak 1.893,45 ton dan terendah dicapai pada tahun 1997 sebanyak 1060,50 ton. Produksi total tertinggi dihasilkan oleh alat pole and line sebanyak ,8 ton dan yang terendah dihasilkan oleh alat pancing tonda sebanyak ,92 ton. Sedangkan pada Zona Selatan produksi tertinggi pole and line dicapai pada tahun 2006 sebesar 2.128,3 ton dan terendah pada tahun 1997 sebesar 914,1 ton. Produksi tertinggi alat tangkap purse seine dicapai pada tahun 2005

27 65 sebesar 1.199,8 ton dan terendah pada tahun 2001 sebesar 126,1 ton. Produksi tertinggi jaring insang hanyut dicapai pada tahun 1996 sebesar ton dan terendah pada tahun 2002 sebesar 950 ton. Selanjutnya produksi tertinggi pancing tonda dicapai pada tahun 2004 sebanyak 1.365,1 ton dan terendah dicapai pada tahun 1996 sebanyak 158 ton. Produksi total tertinggi dihasilkan oleh alat pole and line sebanyak ,5 ton dan yang terendah dihasilkan oleh alat pancing tonda sebanyak 5.056,3 ton. Besarnya upaya penangkapan untuk mengeksploitasi sumberdaya perikanan cakalang pada Zona Utara, Zona Tengah dan Zona Selatan disajikan pada tabel 8, 9 dan 10. Tabel 8 Upaya penangkapan ikan (trip) dari armada penangkapan ikan yang mengoperasikan 4 jenis alat tangkap untuk menangkap cakalang di Zona Utara dalam kawasan Teluk Bone Jenis alat tangkap Tahun Pole and line Purse seine Jaring insang Pancing tonda hanyut Sumber : Dinas Perikanan dan Kelautan Sul-Sel ( ) yang sudah diolah

28 66 Tabel 9 Upaya penangkapan ikan (trip) dari armada penangkapan ikan yang mengoperasikan 3 jenis alat tangkap untuk menangkap cakalang di Zona Tengah dalam kawasan Teluk Bone Jenis alat tangkap Tahun Pole and line Jaring insang Pancing tonda hanyut Sumber : Dinas Perikanan dan Kelautan Sul-Sel ( ) yang sudah diolah Tabel 10 Upaya penangkapan ikan (trip) dari armada penangkapan ikan yang mengoperasikan 4 jenis alat tangkap untuk menangkap cakalang di Zona Selatan dalam kawasan Teluk Bone Jenis alat tangkap Tahun Pole and line Purse seine Jaring insang Pancing tonda hanyut Sumber : Dinas Perikanan dan Kelautan Sul-Sel ( ) yang sudah diolah Untuk menyeragamkan besarnya nilai upaya penangkapan dilakukan standarisasi upaya penangkapan yaitu dengan mengalikan nilai fishing power index (FPI) dengan upaya penangkapan (trip). Alat yang dijadikan standar adalah jaring insang hanyut karena nilai CPUE dari alat tersebut memiliki nilai yang terbesar dibanding alat tangkap lainnya, sehingga nilai FPI jaring insang

29 67 hanyut adalah 1. Hasil perhitungan nilai upaya penangkapan standar pada masing-masing zona yaitu Zona Utara, Tengah dan Selatan disajikan pada Tabel 11, 12 dan 13. Tabel 11 Upaya penangkapan standar (trip) dari armada penangkapan ikan yang mengoperasikan alat tangkap untuk menangkap cakalang di Zona Utara dalam kawasan Teluk Bone.Tahun Pole and line Jenis alat tangkap Purse Jaring seine insang hanyut Pancing tonda Jumlah upaya (standar) Tabel 12 Upaya penangkapan standar (trip) dari armada penangkapan ikan yang mengoperasikan alat tangkap untuk menangkap cakalang di Zona Tengah dalam kawasan Teluk Bone Tahun Pole and line Jenis alat tangkap Jaring insang hanyut Pancing tonda Jumlah upaya (standar)

30 68 Tabel 13 Upaya penangkapan standar (trip) dari armada penangkapan ikan yang mengoperasikan alat tangkap untuk menangkap cakalang di Zona Selatan dalam kawasan Teluk Bone Tahun Pole and line Jenis alat tangkap Purse Jaring seine insang hanyut Pancing tonda Jumlah upaya (standar) Hasil tangkapan per trip (CPUE) pada masing-masing zona mengalami fluktuatif. Untuk perairan pada Zona Utara CPUE terendah diperoleh pada tahun 1996 sebesar (ton/trip). Namun dalam kurun waktu nilai CPUE mengalami penurunan dari 1,474 ton/trip menjadi 1,245 ton/trip, dan tidak ada peningkatan jumlah trip. Untuk perairan pada Zona Tengah, CPUE terendah diperoleh pada tahun 1997 sebesar ton/trip. Namun dalam kurun waktu nilai CPUE mengalami penurunan dari 3,059 ton/trip menjadi 0,876 ton/trip, meskipun terjadi peningkatan jumlah trip. Sedangkan pada Zona Selatan CPUE terendah diperoleh pada tahun 2004 sebesar ton/trip. Namun dalam kurun waktu nilai CPUE mengalami penurunan dari 2,040 ton/trip menjadi 1,320 ton/trip, meskipun terjadi peningkatan jumlah trip (Tabel 14, 15 dan 16).

31 69 Tabel 14 Nilai CPUE (ton/trip) setiap perikanan cakalang di Zona Utara dalam kawasan Teluk Bone Tahun Total Produksi (ton) Total Upaya (trip) CPUE (ton/trip) , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,245 Tabel 15 Nilai CPUE (ton/trip) setiap perikanan cakalang di Zona Tengah dalam kawasan Teluk Bone Tahun Total Produksi (ton) Total Upaya (trip) CPUE (ton/trip) , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,876

32 70 Tabel 16 Nilai CPUE (ton/trip) setiap perikanan cakalang di Zona Selatan dalam kawasan Teluk Bone Tahun Total Produksi (ton) Total Upaya (trip) CPUE (ton/trip) , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,320 Berdasarkan hasil ANOVA (Lampiran 1) untuk Zona Utara diperoleh nilai Fhitung = 7,44 (P<0,05), maka hal ini menunjukkan adanya pengaruh antara jumlah upaya (trip) terhadap produksi dan keduanya mempunyai hubungan linier. Nilai koefesien regresi b = 0,405 sedangkan nilai konstanta a = 890,3, koefisien korelasi (r) = 0,67,sehingga model persamaan regresinya adalah y = 890,3 + 0,405 x (Gambar 26). Nilai r positif artinya bahwa peningkatan upaya meningkatkan pula produksi (ton), namun pertambahan produksi per unit alat semakin menurun, hal ini terlihat dari nilai hasil regresi antara CPUE dengan upaya penangkapan (trip). Gambar 26 Garis regresi linier jumlah upaya (trip) terhadap produksi (ton) di Zona Utara dalam kawasan Teluk Bone.

33 CPUE 71 Selanjutnya berdasarkan hasil ANOVA (Lampiran 2) untuk Zona Utara diperoleh nilai Fhitung = 18,19 (P<0,05), maka hal ini menunjukkan adanya pengaruh antara jumlah upaya (trip) terhadap CPUE dan keduanya mempunyai hubungan linier. Nilai koefesien regresi b = 0,0011 sedangkan nilai konstanta a = 2,47, koefisien korelasi (r) = 0,82,sehingga model persamaan regresinya adalah CPUE = 2,47 0,0011 upaya (Gambar 27). Dari persamaan di atas menunjukkan bahwa terjadi kecenderungan produktivitas alat tangkap menurun dengan penambahan upaya (trip). 2,50 2,00 98 y = 2,47-0,0011x R² = 0,67 1,50 1, ,50 0, Upaya (trip) Gambar 27 Garis regresi linier jumlah upaya (trip) terhadap CPUE di Zona Utara dalam kawasan Teluk Bone. Berdasarkan Gambar 27 menunjukkan bahwa korelasi negatif antara upaya dan CPUE menunjukkan bahwa semakin tinggi upaya semakin rendah nilai CPUE. Korelasi negatif antara upaya dan CPUE mengindikasikan bahwa produktivitas alat tangkap akan menurun bila upaya ditambah. Hubungan antara upaya dan CPUE berbentuk linier (R 2 =0,67). Berdasarkan hasil ANOVA (Lampiran 3) untuk Zona Tengah diperoleh nilai Fhitung = 0,003 (P>0,05), maka hal ini menunjukkan tidak adanya pengaruh antara jumlah upaya (trip) terhadap produksi. Nilai koefesien regresi b = 0,004 sedangkan nilai konstanta a = 8330,8, koefisien korelasi (r) = 0,02,sehingga model persamaan regresinya adalah y = 8330,8 + 0,004 x (Gambar 28).

34 CPUE Produksi (ton) y = 8330,8 + 0,004x R 2 = 0, Upaya (trip) Gambar 28 Garis regresi linier jumlah upaya (trip) terhadap produksi (ton) di Zona Tengah dalam kawasan Teluk Bone. Selanjutnya berdasarkan hasil ANOVA (Lampiran 4) untuk Zona Tengah diperoleh nilai Fhitung = 19,29 (P<0,05), maka hal ini menunjukkan adanya pengaruh antara jumlah upaya (trip) terhadap CPUE dan keduanya mempunyai hubungan linier. Nilai koefesien regresi b = 0,00014 sedangkan nilai konstanta a = 2,58, koefisien korelasi (r) = 0,83,sehingga model persamaan regresinya adalah CPUE = 2,58 0,00014 upaya (Gambar 29). Dari persamaan di atas menunjukkan bahwa terjadi kecenderungan produktivitas alat tangkap menurun dengan penambahan upaya (trip). 3,50 3,00 2,50 2, y = 2,58-0,00014x R² = 0,68 1,50 1,00 0,50 0, Upaya (trip) Gambar 29 Garis regresi linier jumlah upaya (trip) terhadap CPUE di Zona Tengah dalam kawasan Teluk Bone. Berdasarkan gambar 29 menunjukkan bahwa korelasi negatif antara upaya dan CPUE menunjukkan bahwa semakin tinggi upaya semakin rendah nilai CPUE. Korelasi negatif antara upaya dan CPUE mengindikasikan bahwa

35 Produksi (ton) 73 produktivitas alat tangkap akan menurun bila upaya ditambah. Hubungan antara upaya dan CPUE berbentuk linier (R 2 =0,68). Berdasarkan hasil ANOVA (Lampiran 5) untuk Zona Selatan diperoleh nilai Fhitung = 31,05 (P<0,05), maka hal ini menunjukkan adanya pengaruh antara jumlah upaya (trip) terhadap produksi dan keduanya mempunyai hubungan linier. Nilai koefesien regresi b = 0,799 sedangkan nilai konstanta a = 1493,47, koefisien korelasi (r) = 0,88,sehingga model persamaan regresinya adalah y = 1493,47 + 0,799 x (Gambar 30). Nilai r positif artinya bahwa peningkatan upaya meningkatkan pula produksi (ton), namun pertambahan produksi per unit alat semakin menurun, hal ini terlihat dari nilai hasil regresi antara CPUE dengan upaya penangkapan (trip) y = 1493, ,799x R 2 = 0, Upaya (trip) Gambar 30 Garis regresi linier jumlah upaya (trip) terhadap produksi (ton) di Zona Selatan dalam kawasan Teluk Bone. Selanjutnya berdasarkan hasil ANOVA (Lampiran 6) untuk Zona Selatan diperoleh nilai Fhitung = 18,19 (P<0,05), maka hal ini menunjukkan adanya pengaruh antara jumlah upaya (trip) terhadap CPUE dan keduanya mempunyai hubungan linier. Nilai koefesien regresi b = 0,0003 sedangkan nilai konstanta a = 2,12, koefisien korelasi (r) = 0,76,sehingga model persamaan regresinya adalah CPUE = 2,12 0,0003 upaya (Gambar 31). Dari persamaan di atas menunjukkan bahwa terjadi kecenderungan produktivitas alat tangkap menurun dengan penambahan upaya (trip)

36 Hasil tangkapan (ton) CPUE 74 2,50 2,00 1,50 1, y = x R 2 = ,50 0, Upaya (trip) Gambar 31 Garis Regresi Linier jumlah upaya (trip) terhadap CPUE di Zona Selatan dalam kawasan Teluk Bone. Hasil analisis potensi sumberdaya cakalang di Zona Utara dengan menggunakan metode Surplus Produksi dengan analisis model Schaefer memperlihatkan nilai dugaan potensi maksimum lestari (Maksimum Sustainable Yield) perikanan cakalang penangkapan optimum sebesar trip ( Gambar 32) sebanyak ton/tahun dengan upaya MSY = ton Y = 2,47x - 0,0011x 2 Fopt = trip Upaya tangkap (trip) Gambar 32 Nilai MSY dan Fopt untuk stok cakalang (Katsuwonus pelamis) di Zona Utara dalam kawasan Teluk Bone. Hasil analisis potensi sumberdaya cakalang di Zona Tengah dengan menggunakan metode Surplus Produksi dengan analisis model Schaefer memperlihatkan nilai dugaan potensi maksimum lestari (Maksimum Sustainable

37 Hasil tangkapan (ton) 75 Yield) perikanan cakalang sebanyak ton/tahun dengan upaya penangkapan optimum sebesar trip ( Gambar 33) MSY = ton Y = 2,58x - 0,00014x 2 Fopt = trip Upaya Tangkap (trip). Gambar 33 Nilai MSY dan Fopt untuk stok cakalang (Katsuwonus pelamis) di Zona Tengah dalam kawasan Teluk Bone Hasil analisis potensi sumberdaya cakalang di Zona Selatan dengan menggunakan metode Surplus Produksi dengan analisis model Schaefer memperlihatkan nilai dugaan potensi maksimum lestari (Maksimum Sustainable Yield) perikanan cakalang sebanyak ton/tahun dengan upaya penangkapan optimum sebesar trip ( Gambar 34)

38 Hasil Tangkapan (ton) MSY = ton Y = 2,11x - 0,003x 2 Fopt = trip Upaya Tangkap (trip) Gambar 34 Nilai MSY dan Fopt untuk stok cakalang (Katsuwonus pelamis) di Zona Selatan dalam kawasan Teluk Bone. Hasil perhitungan CPUE cakalang dalam seluruh kawasan Teluk Bone disajikan Tabel 17. Tabel 17 Nilai CPUE (ton/trip) seluruh perikanan cakalang dalam seluruh kawasan Teluk Bone Tahun Total Produksi (ton) Total Upaya (trip) CPUE (ton/trip) , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,001 Berdasarkan hasil ANOVA (Lampiran 7) untuk seluruh kawasan Teluk Bone diperoleh nilai Fhitung = 0,06 (P>0,05), maka hal ini menunjukkan tidak adanya pengaruh antara jumlah upaya (trip). Nilai koefesien regresi b = 0,023 sedangkan nilai konstanta a = 12674,56, koefisien korelasi (r) = 0,08, sehingga model persamaan regresinya adalah y = 12674,56 + 0,023 x (Gambar 35).

39 CPUE Produksi (ton) , y = ,02x R 2 = 0, Upaya (trip) Gambar 35 Garis regresi linier jumlah upaya (trip) terhadap produksi (ton) dalam seluruh kawasan Teluk Bone. Selanjutnya berdasarkan hasil ANOVA (Lampiran 8) untuk seluruh kawasan diperoleh nilai Fhitung = 35,49 (P<0,05), maka hal ini menunjukkan adanya pengaruh antara jumlah upaya (trip) terhadap CPUE dan keduanya mempunyai hubungan linier. Nilai koefesien regresi b = 0,00011 sedangkan nilai konstanta a = 2,633, koefisien korelasi (r) = 0,76, sehingga model persamaan regresinya adalah CPUE = 2,633 0,00011 upaya (Gambar 36). Dari persamaan di atas menunjukkan bahwa terjadi kecenderungan produktivitas alat tangkap menurun dengan penambahan upaya (trip). 3,000 2,500 2, y = -0,00011x + 2,633 R 2 = 0,798 1,500 1,000 0, , Upaya (trip) Gambar 36 Garis regresi linier jumlah upaya (trip) terhadap CPUE dalam seluruh kawasan Teluk Bone.

4 HASIL. Gambar 4 Produksi tahunan hasil tangkapan ikan lemuru tahun

4 HASIL. Gambar 4 Produksi tahunan hasil tangkapan ikan lemuru tahun Cacth (ton) 46 4 HASIL 4.1 Hasil Tangkapan (Catch) Ikan Lemuru Jumlah dan nilai produksi tahunan hasil tangkapan ikan lemuru yang didaratkan di PPP Muncar dari tahun 24 28 dapat dilihat pada Gambar 4 dan

Lebih terperinci

TEKNIK PENANGKAPAN IKAN PELAGIS BESAR MEMAKAI ALAT TANGKAP FUNAI (MINI POLE AND LINE) DI KWANDANG, KABUPATEN GORONTALO

TEKNIK PENANGKAPAN IKAN PELAGIS BESAR MEMAKAI ALAT TANGKAP FUNAI (MINI POLE AND LINE) DI KWANDANG, KABUPATEN GORONTALO Teknik Penangkapan Ikan Pelagis Besar... di Kwandang, Kabupaten Gorontalo (Rahmat, E.) TEKNIK PENANGKAPAN IKAN PELAGIS BESAR MEMAKAI ALAT TANGKAP FUNAI (MINI POLE AND LINE) DI KWANDANG, KABUPATEN GORONTALO

Lebih terperinci

VII. POTENSI LESTARI SUMBERDAYA PERIKANAN TANGKAP. Fokus utama estimasi potensi sumberdaya perikanan tangkap di perairan

VII. POTENSI LESTARI SUMBERDAYA PERIKANAN TANGKAP. Fokus utama estimasi potensi sumberdaya perikanan tangkap di perairan VII. POTENSI LESTARI SUMBERDAYA PERIKANAN TANGKAP Fokus utama estimasi potensi sumberdaya perikanan tangkap di perairan Kabupaten Morowali didasarkan atas kelompok ikan Pelagis Kecil, Pelagis Besar, Demersal

Lebih terperinci

V. GAMBARAN UMUM PERAIRAN SELAT BALI

V. GAMBARAN UMUM PERAIRAN SELAT BALI V. GAMBARAN UMUM PERAIRAN SELAT BALI Perairan Selat Bali merupakan perairan yang menghubungkan Laut Flores dan Selat Madura di Utara dan Samudera Hindia di Selatan. Mulut selat sebelah Utara sangat sempit

Lebih terperinci

Penangkapan Tuna dan Cakalang... Pondokdadap Sendang Biru, Malang (Nurdin, E. & Budi N.)

Penangkapan Tuna dan Cakalang... Pondokdadap Sendang Biru, Malang (Nurdin, E. & Budi N.) Penangkapan Tuna dan... Pondokdadap Sendang Biru, Malang (Nurdin, E. & Budi N.) PENANGKAPAN TUNA DAN CAKALANG DENGAN MENGGUNAKAN ALAT TANGKAP PANCING ULUR (HAND LINE) YANG BERBASIS DI PANGKALAN PENDARATAN

Lebih terperinci

5 EVALUASI UPAYA PENANGKAPAN DAN PRODUKSI IKAN PELAGIS KECIL DI PERAIRAN PANTAI BARAT SULAWESI SELATAN

5 EVALUASI UPAYA PENANGKAPAN DAN PRODUKSI IKAN PELAGIS KECIL DI PERAIRAN PANTAI BARAT SULAWESI SELATAN 5 EVALUASI UPAYA PENANGKAPAN DAN PRODUKSI IKAN PELAGIS KECIL DI PERAIRAN PANTAI BARAT SULAWESI SELATAN 5.1 Pendahuluan Armada penangkapan yang dioperasikan nelayan terdiri dari berbagai jenis alat tangkap,

Lebih terperinci

4. HASIL DAN PEMBAHASAN

4. HASIL DAN PEMBAHASAN 4. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Pemetaan Partisipatif Daerah Penangkapan Ikan kurisi dapat ditangkap dengan menggunakan alat tangkap cantrang dan jaring rampus. Kapal dengan alat tangkap cantrang memiliki

Lebih terperinci

C E =... 8 FPI =... 9 P

C E =... 8 FPI =... 9 P 3 METODE PENELITIAN 3.1 Waktu dan Tempat Penelitian Penelitian ini dilakukan selama 6 (enam) bulan yang meliputi studi literatur, pembuatan proposal, pengumpulan data dan penyusunan laporan. Penelitian

Lebih terperinci

PENDUGAAN STOK IKAN TONGKOL DI SELAT MAKASSAR SULAWESI SELATAN

PENDUGAAN STOK IKAN TONGKOL DI SELAT MAKASSAR SULAWESI SELATAN PENDUGAAN STOK IKAN TONGKOL DI SELAT MAKASSAR SULAWESI SELATAN Edy H.P. Melmambessy Staf Pengajar Univ. Musamus-Merauke, e-mail : edymelmambessy@yahoo.co.id ABSTRAK Ikan tongkol termasuk dalam golongan

Lebih terperinci

PENENTUAN DAERAH POTENSIAL PENANGKAPAN IKAN CAKALANG(Katsuwonus pelamis) BERDASARKAN SEBARAN SPL DAN KLOROFIL DI LAUT FLORES SKRIPSI

PENENTUAN DAERAH POTENSIAL PENANGKAPAN IKAN CAKALANG(Katsuwonus pelamis) BERDASARKAN SEBARAN SPL DAN KLOROFIL DI LAUT FLORES SKRIPSI PENENTUAN DAERAH POTENSIAL PENANGKAPAN IKAN CAKALANG(Katsuwonus pelamis) BERDASARKAN SEBARAN SPL DAN KLOROFIL DI LAUT FLORES SKRIPSI ADRIANI GUHAR L231 07 032 PROGRAM STUDI PEMANFAATAN SUMBERDAYA PERIKANAN

Lebih terperinci

1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang.

1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang. 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang. Kajian tentang konsep kapasitas penangkapan ikan berikut metoda pengukurannya sudah menjadi isu penting pada upaya pengelolaan perikanan yang berkelanjutan. The Code of

Lebih terperinci

3. METODE. penelitian dilakukan dengan beberapa tahap : pertama, pada bulan Februari. posisi koordinat LS dan BT.

3. METODE. penelitian dilakukan dengan beberapa tahap : pertama, pada bulan Februari. posisi koordinat LS dan BT. 3. METODE 3.1. Waktu dan Lokasi Penelitian Penelitian ini dilakukan dari Februari hingga Agustus 2011. Proses penelitian dilakukan dengan beberapa tahap : pertama, pada bulan Februari dilakukan pengumpulan

Lebih terperinci

Produksi (Ton) Trip Produksi (Ton) Pukat Cincin ,

Produksi (Ton) Trip Produksi (Ton) Pukat Cincin , Lampiran 1. Produksi per alat tangkap per tahun Tabel 11. Produksi ikan tembang per upaya penangkapan tahun 2008-2012 Jenis Alat 2008 2009 2010 2011 2012 Tangkap Upaya Penangkapan Produksi (Ton) Upaya

Lebih terperinci

4. HASIL DAN PEMBAHASAN

4. HASIL DAN PEMBAHASAN 4. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Distribusi SPL Dari pengamatan pola sebaran suhu permukaan laut di sepanjang perairan Selat Sunda yang di analisis dari data penginderaan jauh satelit modis terlihat ada pembagian

Lebih terperinci

3 METODOLOGI. Gambar 2 Peta Selat Bali dan daerah penangkapan ikan lemuru.

3 METODOLOGI. Gambar 2 Peta Selat Bali dan daerah penangkapan ikan lemuru. 3 3 METODOLOGI 3.1 Waktu dan Tempat Penelitian dilaksanakan selama bulan Juli 009 di Pelabuhan Perikanan Pantai Muncar - Perairan Selat Bali, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur. Perairan Selat Bali terletak

Lebih terperinci

PENGGUNAAN PANCING ULUR (HAND LINE) UNTUK MENANGKAP IKAN PELAGIS BESAR DI PERAIRAN BACAN, HALMAHERA SELATAN

PENGGUNAAN PANCING ULUR (HAND LINE) UNTUK MENANGKAP IKAN PELAGIS BESAR DI PERAIRAN BACAN, HALMAHERA SELATAN PENGGUNAAN PANCING ULUR (HAND LINE) UNTUK MENANGKAP IKAN PELAGIS BESAR DI PERAIRAN BACAN, HALMAHERA SELATAN Enjah Rahmat ) ) Teknisi Litkayasa pada Balai Riset Perikanan Laut, Muara Baru-Jakarta Teregristasi

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA. dimana pada daerah ini terjadi pergerakan massa air ke atas

TINJAUAN PUSTAKA. dimana pada daerah ini terjadi pergerakan massa air ke atas TINJAUAN PUSTAKA Tinjauan Pustaka Wilayah laut Indonesia kaya akan ikan, lagi pula sebagian besar merupakan dangkalan. Daerah dangkalan merupakan daerah yang kaya akan ikan sebab di daerah dangkalan sinar

Lebih terperinci

5 HASIL DAN PEMBAHASAN

5 HASIL DAN PEMBAHASAN 36 5 HASIL DAN PEMBAHASAN 5.1 Analisis Teknik Unit penangkapan pancing rumpon merupakan unit penangkapan ikan yang sedang berkembang pesat di PPN Palabuhanratu. Berikut adalah penjelasan lebih rinci tentang

Lebih terperinci

3. METODE PENELITIAN

3. METODE PENELITIAN 6 0'0"S 6 0'0"S 6 0'0"S 5 55'0"S 5 50'0"S 28 3. METODE PENELITIAN 3.1. Waktu dan Lokasi Penelitian Penelitian dilakukan pada Maret 2011. Penelitian dilakukan di Pelabuhan Perikanan Nusantara Karangantu

Lebih terperinci

METODE PENELITIAN STOCK. Analisis Bio-ekonomi Model Gordon Schaefer

METODE PENELITIAN STOCK. Analisis Bio-ekonomi Model Gordon Schaefer METODE PENELITIAN 108 Kerangka Pemikiran Agar pengelolaan sumber daya udang jerbung bisa dikelola secara berkelanjutan, dalam penelitian ini dilakukan beberapa langkah perhitungan untuk mengetahui: 1.

Lebih terperinci

BAB III BAHAN DAN METODE

BAB III BAHAN DAN METODE BAB III BAHAN DAN METODE 3.1 Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian penangkapan ikan dengan menggunakan jaring arad yang telah dilakukan di perairan pantai Cirebon, daerah Kecamatan Gebang, Jawa Barat

Lebih terperinci

4 HASIL PENELITIAN. 4.1 Statistik Produksi Ikan dan Telur Ikan Terbang Produksi tahunan ikan dan telur ikan terbang

4 HASIL PENELITIAN. 4.1 Statistik Produksi Ikan dan Telur Ikan Terbang Produksi tahunan ikan dan telur ikan terbang 4 HASIL PENELITIAN 4.1 Statistik Produksi Ikan dan Telur Ikan Terbang 4.1.1 Produksi tahunan ikan dan telur ikan terbang Produksi ikan terbang (IT) di daerah ini dihasilkan dari beberapa kabupaten yang

Lebih terperinci

seine yang digunakan sebagai sampel, ada 29 (97%) unit kapal yang tidak

seine yang digunakan sebagai sampel, ada 29 (97%) unit kapal yang tidak 5 PEMBAHASAN Hasil penghitungan pemanfaatan kapasitas penangkapan dengan menggunakan single output (total tangkapan) berdasarkan bulan ( Agustus 2007 Juli 2008) menunjukkan bahwa hanya ada 1 2 unit kapal

Lebih terperinci

3 METODOLOGI PENELITIAN

3 METODOLOGI PENELITIAN 27 3 METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Waktu dan Tempat Penelitian Pengumpulan data dilaksanakan bulan Juli-September 2007 yaitu di Polewali, Kabupaten Polewali Mandar, Sulawesi Barat. Pemilihan lokasi penelitian

Lebih terperinci

3.1. Waktu dan Tempat

3.1. Waktu dan Tempat 3. METODE PENELITIAN 3.1. Waktu dan Tempat Penelitian dilaksanakan dari bulan Juni - Oktober 2008, Adapun lingkup wilayah penelitian di Bengkalis dengan mengambil beberapa desa sampel yaitu : Meskom, Pambang,

Lebih terperinci

4 HASIL. Gambar 18 Grafik kurva lestari ikan selar. Produksi (ton) Effort (trip) MSY = 5.839,47 R 2 = 0,8993. f opt = ,00 6,000 5,000 4,000

4 HASIL. Gambar 18 Grafik kurva lestari ikan selar. Produksi (ton) Effort (trip) MSY = 5.839,47 R 2 = 0,8993. f opt = ,00 6,000 5,000 4,000 126 4 HASIL 4.1 Status Pemanfaatan Sumberdaya Ikan 4.1.1 Produksi ikan pelagis kecil Produksi ikan pelagis kecil selama 5 tahun terakhir (Tahun 2001-2005) cenderung bervariasi, hal ini disebabkan karena

Lebih terperinci

PENDAHULUAN. Pantai Timur Sumatera Utara merupakan bagian dari Perairan Selat

PENDAHULUAN. Pantai Timur Sumatera Utara merupakan bagian dari Perairan Selat 1 PENDAHULUAN Latar Belakang Pantai Timur Sumatera Utara merupakan bagian dari Perairan Selat Malaka yang menjadi daerah penangkapan ikan dengan tingkat eksploitasi yang cukup tinggi. Salah satu komoditi

Lebih terperinci

6 PEMBAHASAN 6.1 Unit Penangkapan Bagan Perahu 6.2 Analisis Faktor Teknis Produksi

6 PEMBAHASAN 6.1 Unit Penangkapan Bagan Perahu 6.2 Analisis Faktor Teknis Produksi 93 6 PEMBAHASAN 6.1 Unit Penangkapan Bagan Perahu Unit penangkapan bagan yang dioperasikan nelayan di Polewali, Kabupaten Polewali Mandar berukuran panjang lebar tinggi adalah 21 2,10 1,8 m, jika dibandingkan

Lebih terperinci

4 KEADAAN UMUM. 4.1 Letak dan Kondisi Geografis

4 KEADAAN UMUM. 4.1 Letak dan Kondisi Geografis 29 4 KEADAAN UMUM 4.1 Letak dan Kondisi Geografis Keadaan geografi Kabupaten Aceh Besar merupakan salah satu kabupaten yang memiliki luas laut yang cukup besar. Secara geografis Kabupaten Aceh Besar berada

Lebih terperinci

4. HASIL DAN PEMBAHASAN

4. HASIL DAN PEMBAHASAN 4. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Distribusi SPL secara Spasial dan Temporal Pola distribusi SPL sangat erat kaitannya dengan pola angin yang bertiup pada suatu daerah. Wilayah Indonesia sendiri dipengaruhi

Lebih terperinci

2 GAMBARAN UMUM UNIT PERIKANAN TONDA DENGAN RUMPON DI PPP PONDOKDADAP

2 GAMBARAN UMUM UNIT PERIKANAN TONDA DENGAN RUMPON DI PPP PONDOKDADAP 6 2 GAMBARAN UMUM UNIT PERIKANAN TONDA DENGAN RUMPON DI PPP PONDOKDADAP Unit Penangkapan Ikan Kapal Pengoperasian kapal tonda atau yang dikenal dengan kapal sekoci oleh nelayan Sendang Biru dilakukan sejak

Lebih terperinci

4 HASIL DAN PEMBAHASAN

4 HASIL DAN PEMBAHASAN 23 4 HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Pola Sebaran Suhu Permukaan Laut (SPL) Hasil olahan citra Modis Level 1 yang merupakan data harian dengan tingkat resolusi spasial yang lebih baik yaitu 1 km dapat menggambarkan

Lebih terperinci

PENGARUH SUHU PERMUKAAN LAUT TERHADAP HASIL TAGKAPAN IKAN CAKALANG DI PERAIRAN KOTA BENGKULU

PENGARUH SUHU PERMUKAAN LAUT TERHADAP HASIL TAGKAPAN IKAN CAKALANG DI PERAIRAN KOTA BENGKULU PENGARUH SUHU PERMUKAAN LAUT TERHADAP HASIL TAGKAPAN IKAN CAKALANG DI PERAIRAN KOTA BENGKULU Zulkhasyni Fakultas Pertanian Universitas Prof. Dr. Hazairin, SH Bengkulu ABSTRAK Perairan Laut Bengkulu merupakan

Lebih terperinci

4. KEADAAN UMUM 4.1 Kedaan Umum Kabupaten Banyuwangi Kedaan geografis, topografi daerah dan penduduk 1) Letak dan luas

4. KEADAAN UMUM 4.1 Kedaan Umum Kabupaten Banyuwangi Kedaan geografis, topografi daerah dan penduduk 1) Letak dan luas 26 4. KEADAAN UMUM 4.1 Kedaan Umum Kabupaten Banyuwangi 4.1.1 Kedaan geografis, topografi daerah dan penduduk 1) Letak dan luas Menurut DKP Kabupaten Banyuwangi (2010) luas wilayah Kabupaten Banyuwangi

Lebih terperinci

4 KEADAAN UMUM LOKASI PENELITIAN

4 KEADAAN UMUM LOKASI PENELITIAN 27 4 KEADAAN UMUM LOKASI PENELITIAN 4.1 Keadaan Geografis, Topografis dan Luas Wilayah Kabupaten Ciamis merupakan salah satu kota yang berada di selatan pulau Jawa Barat, yang jaraknya dari ibu kota Propinsi

Lebih terperinci

4. HASIL DAN PEMBAHASAN. 4.1 Distribusi Klorofil-a secara Temporal dan Spasial. Secara keseluruhan konsentrasi klorofil-a cenderung menurun dan

4. HASIL DAN PEMBAHASAN. 4.1 Distribusi Klorofil-a secara Temporal dan Spasial. Secara keseluruhan konsentrasi klorofil-a cenderung menurun dan 28 4. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Distribusi Klorofil-a secara Temporal dan Spasial Secara keseluruhan konsentrasi klorofil-a cenderung menurun dan bervariasi dari tahun 2006 hingga tahun 2010. Nilai rata-rata

Lebih terperinci

3 METODE PENELITIAN. Gambar 2 Peta lokasi penelitian PETA LOKASI PENELITIAN

3 METODE PENELITIAN. Gambar 2 Peta lokasi penelitian PETA LOKASI PENELITIAN 3 METODE PENELITIAN Waktu dan Tempat Penelitian Pelaksanaan penelitian dibagi dalam 2 tahapan berdasarkan waktu kegiatan, yaitu : (1) Pelaksanaan penelitian lapangan selama 2 bulan (September- Oktober

Lebih terperinci

1.PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

1.PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang 1.PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Wilayah laut Indonesia terdiri dari perairan teritorial seluas 0,3 juta km 2, perairan laut Nusantara seluas 2,8 juta km 2 dan perairan Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) seluas

Lebih terperinci

Sumber : Wiryawan (2009) Gambar 9 Peta Teluk Jakarta

Sumber : Wiryawan (2009) Gambar 9 Peta Teluk Jakarta 4 HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Keadaan Umum Teluk Jakarta Secara geografis Teluk Jakarta (Gambar 9) terletak pada 5 o 55 30-6 o 07 00 Lintang Selatan dan 106 o 42 30-106 o 59 30 Bujur Timur. Batasan di sebelah

Lebih terperinci

OPERASI PENANGKAPAN IKAN PADA USAHA PERIKANAN POLE AND LINE DI PT. PERIKANAN PERKEN UTAMA KENDARI SULAWESI TENGGARA

OPERASI PENANGKAPAN IKAN PADA USAHA PERIKANAN POLE AND LINE DI PT. PERIKANAN PERKEN UTAMA KENDARI SULAWESI TENGGARA OPERASI PENANGKAPAN IKAN PADA USAHA PERIKANAN POLE AND LINE DI PT. PERIKANAN PERKEN UTAMA KENDARI SULAWESI TENGGARA LAPORAN PRAKTEK KERJA LAPANG Oleh : H. SUHARTONO N. PRORAM STUDI PEMANFAATAN SUMBERDAYA

Lebih terperinci

4. GAMBARAN UMUM WILAYAH

4. GAMBARAN UMUM WILAYAH 4. GAMBARAN UMUM WILAYAH 4.1. Letak Geografis Kabupaten Sukabumi yang beribukota Palabuhanratu termasuk kedalam wilayah administrasi propinsi Jawa Barat. Wilayah yang seluas 4.128 Km 2, berbatasan dengan

Lebih terperinci

PERIKANAN TUNA SKALA RAKYAT (SMALL SCALE) DI PRIGI, TRENGGALEK-JAWA TIMUR

PERIKANAN TUNA SKALA RAKYAT (SMALL SCALE) DI PRIGI, TRENGGALEK-JAWA TIMUR ABSTRAK PERIKANAN TUNA SKALA RAKYAT (SMALL SCALE) DI PRIGI, TRENGGALEK-JAWA TIMUR Erfind Nurdin Peneliti pada Balai Riset Perikanan Laut, Muara Baru-Jakarta Teregristrasi I tanggal: 18 September 2007;

Lebih terperinci

3 METODOLOGI. Gambar 3 Peta lokasi penelitian.

3 METODOLOGI. Gambar 3 Peta lokasi penelitian. 31 3 METODOLOGI 3.1 Waktu dan Tempat Penelitian Pengambilan data untuk kebutuhan penelitian ini dilakukan pada bulan Maret 2011 hingga Mei 2011 bertempat di Sibolga Propinsi Sumatera Utara (Gambar 3).

Lebih terperinci

1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pemerintah Indonesia dalam amanat Undang-Undang No 31/2004 diberikan tanggungjawab menetapkan pengelolaan sumberdaya alam Indonesia untuk kepentingan seluruh masyarakat

Lebih terperinci

5 HASIL 5.1 Kandungan Klorofil-a di Perairan Sibolga

5 HASIL 5.1 Kandungan Klorofil-a di Perairan Sibolga 29 5 HASIL 5.1 Kandungan Klorofil-a di Perairan Sibolga Kandungan klorofil-a setiap bulannya pada tahun 2006-2010 dapat dilihat pada Lampiran 3, konsentrasi klorofil-a di perairan berkisar 0,26 sampai

Lebih terperinci

PENDUGAAN STOK IKAN LAYUR

PENDUGAAN STOK IKAN LAYUR 1 PENDUGAAN STOK IKAN LAYUR (Trichiurus sp.) DI PERAIRAN TELUK PALABUHANRATU, KABUPATEN SUKABUMI, PROPINSI JAWA BARAT Adnan Sharif, Silfia Syakila, Widya Dharma Lubayasari Departemen Manajemen Sumberdaya

Lebih terperinci

3. METODOLOGI 3.1 Waktu dan Tempat Penelitian 3.2 Peralatan 3.3 Metode Penelitian

3. METODOLOGI 3.1 Waktu dan Tempat Penelitian 3.2 Peralatan 3.3 Metode Penelitian 21 3. METODOLOGI 3.1 Waktu dan Tempat Penelitian Pengambilan dan pengumpulan data di lapangan dilakukan pada Bulan Maret sampai dengan April 2009. Penelitian dilakukan di Pulau Pramuka, Kepulauan Seribu,

Lebih terperinci

Lokasi penelitian di UPPPP Muncar dan PPN Pengambengan Selat Bali (Bakosurtanal, 2010)

Lokasi penelitian di UPPPP Muncar dan PPN Pengambengan Selat Bali (Bakosurtanal, 2010) 37 3 METODOLOGI UMUM Penjelasan dalam metodologi umum, menggambarkan secara umum tentang waktu, tempat penelitian, metode yang digunakan. Secara spesifik sesuai dengan masing-masing kriteria yang akan

Lebih terperinci

3. METODOLOGI PENELITIAN

3. METODOLOGI PENELITIAN 14 3. METODOLOGI PENELITIAN 3.1. Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan pada bulan Januari sampai bulan April tahun 2012. Pengambilan data primer dilakukan pada bulan April tahun 2012 sedangkan

Lebih terperinci

6 PEMBAHASAN 6.1 Produksi Hasil Tangkapan Yellowfin Tuna

6 PEMBAHASAN 6.1 Produksi Hasil Tangkapan Yellowfin Tuna 38 6 PEMBAHASAN 6.1 Produksi Hasil Tangkapan Yellowfin Tuna Berdasarkan data statistik Palabuhanratu tahun 1997-2011, hasil tangkapan Yellowfin Tuna mengalami fluktuasi. Jika dilihat berdasarkan data hasil

Lebih terperinci

5 HASIL PENELITIAN. Tahun. Gambar 8. Perkembangan jumlah alat tangkap purse seine di kota Sibolga tahun

5 HASIL PENELITIAN. Tahun. Gambar 8. Perkembangan jumlah alat tangkap purse seine di kota Sibolga tahun 37 5 HASIL PENELITIAN 5.1 Aspek Teknis Perikanan Purse seine Aspek teknis merupakan aspek yang menjelaskan kegiatan-kegiatan yang berhubungan dengan usaha penangkapan ikan, yaitu upaya penangkapan, alat

Lebih terperinci

1 PENDAHULUAN 1. 1 Latar Belakang

1 PENDAHULUAN 1. 1 Latar Belakang 1 PENDAHULUAN 1. 1 Latar Belakang Kabupaten Buton diperkirakan memiliki luas sekitar 2.509,76 km 2, dimana 89% dari luas wilayah tersebut merupakan perairan laut. Secara geografis Kabupaten Buton terletak

Lebih terperinci

7 KONSEP PENGELOLAAN PERIKANAN TANGKAP DI KAWASAN TELUK BONE

7 KONSEP PENGELOLAAN PERIKANAN TANGKAP DI KAWASAN TELUK BONE 7 KONSEP PENGELOLAAN PERIKANAN TANGKAP DI KAWASAN TELUK BONE 7.1 Pendahuluan Menurut Undang-Undang No 31 Tahun 2004 tentang perikanan bahwa pengelolaan perikanan adalah semua upaya, termasuk proses yang

Lebih terperinci

FISHING GEAR PERFORMANCE ON SKIPJACK TUNA IN BONE BAY DISTRICT LUWU

FISHING GEAR PERFORMANCE ON SKIPJACK TUNA IN BONE BAY DISTRICT LUWU FISHING GEAR PERFORMANCE ON SKIPJACK TUNA IN BONE BAY DISTRICT LUWU Akmaluddin 1, Najamuddin 2 dan Musbir 3 1 Universitas Muhammdiyah Makassar 2,3 Universitas Hasanuddin e-mail : akmalsaleh01@gmail.com

Lebih terperinci

8 SELEKSI ALAT TANGKAP DAN TEKNOLOGI YANG TEPAT DALAM PEMANFAATAN SUMBERDAYA LEMURU (Sardinella lemuru Bleeker 1853) DI SELAT BALI

8 SELEKSI ALAT TANGKAP DAN TEKNOLOGI YANG TEPAT DALAM PEMANFAATAN SUMBERDAYA LEMURU (Sardinella lemuru Bleeker 1853) DI SELAT BALI 131 8 SELEKSI ALAT TANGKAP DAN TEKNOLOGI YANG TEPAT DALAM PEMANFAATAN SUMBERDAYA LEMURU (Sardinella lemuru Bleeker 1853) DI SELAT BALI 8.1 Pendahuluan Mewujudkan sosok perikanan tangkap yang mampu mempertahankan

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Keadaan Umum Tempat Penelitian Palabuhnratu merupakan daerah pesisir di selatan Kabupaten Sukabumi yang sekaligus menjadi ibukota Kabupaten Sukabumi. Palabuhanratu terkenal

Lebih terperinci

PENDAHULUAN. Sumberdaya ikan merupakan salah satu jenis sumberdaya alam yang

PENDAHULUAN. Sumberdaya ikan merupakan salah satu jenis sumberdaya alam yang PENDAHULUAN Latar Belakang Sumberdaya ikan merupakan salah satu jenis sumberdaya alam yang bersifat terbarukan (renewable). Disamping itu sifat open access atau common property yang artinya pemanfaatan

Lebih terperinci

VIII. PEMANFAATAN SUMBERDAYA PERIKANAN TANGKAP YANG BERKELANJUTAN. perikanan tangkap di perairan Kabupaten Morowali memperlihatkan jumlah alokasi

VIII. PEMANFAATAN SUMBERDAYA PERIKANAN TANGKAP YANG BERKELANJUTAN. perikanan tangkap di perairan Kabupaten Morowali memperlihatkan jumlah alokasi VIII. PEMANFAATAN SUMBERDAYA PERIKANAN TANGKAP YANG BERKELANJUTAN Hasil analisis LGP sebagai solusi permasalahan pemanfaatan sumberdaya perikanan tangkap di perairan Kabupaten Morowali memperlihatkan jumlah

Lebih terperinci

4 KEADAAN UMUM LOKASI PENELITIAN

4 KEADAAN UMUM LOKASI PENELITIAN 21 4 KEADAAN UMUM LOKASI PENELITIAN 4.1 Keadaan Umum Daerah Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN) Palabuhanratu Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN) Palabuhanratu terletak di Kecamatan Palabuhanratu yang

Lebih terperinci

6 PEMBAHASAN 6.1 Daerah Penangkapan Ikan berdasarkan Jalur Jalur Penangkapan Ikan

6 PEMBAHASAN 6.1 Daerah Penangkapan Ikan berdasarkan Jalur Jalur Penangkapan Ikan 6 PEMBAHASAN 6.1 Daerah Penangkapan Ikan berdasarkan Jalur Jalur Penangkapan Ikan Daerah penangkapan ikan kakap (Lutjanus sp.) oleh nelayan di Kabupaten Kupang tersebar diberbagai lokasi jalur penangkapan.

Lebih terperinci

Pendugaan Stok Ikan dengan Metode Surplus Production

Pendugaan Stok Ikan dengan Metode Surplus Production Praktikum m.k. Daerah Penangkapan Ikan Pendugaan Stok Ikan dengan Metode Surplus Production Julia E. Astarini Dept. PSP FPIK IPB 2010 Stok ikan : angka yang menggambarkan suatu nilai dugaan besarnya biomas

Lebih terperinci

Gambar 6 Sebaran daerah penangkapan ikan kuniran secara partisipatif.

Gambar 6 Sebaran daerah penangkapan ikan kuniran secara partisipatif. 4 HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Wilayah Sebaran Penangkapan Nelayan Labuan termasuk nelayan kecil yang masih melakukan penangkapan ikan khususnya ikan kuniran dengan cara tradisional dan sangat tergantung pada

Lebih terperinci

POTENSI PERIKANAN TANGKAP DI KAWASAN KONSERVASI PERAIRAN DAERAH (KKPD) KABUPATEN NATUNA PROVINSI KEPULAUAN RIAU, INDONESIA

POTENSI PERIKANAN TANGKAP DI KAWASAN KONSERVASI PERAIRAN DAERAH (KKPD) KABUPATEN NATUNA PROVINSI KEPULAUAN RIAU, INDONESIA Prosiding Seminar Antarabangsa Ke 8: Ekologi, Habitat Manusia dan Perubahan Persekitaran 2015 7 POTENSI PERIKANAN TANGKAP DI KAWASAN KONSERVASI PERAIRAN DAERAH (KKPD) KABUPATEN NATUNA PROVINSI KEPULAUAN

Lebih terperinci

4 KONDISI UMUM DAERAH PENELITIAN

4 KONDISI UMUM DAERAH PENELITIAN 4 KONDISI UMUM DAERAH PENELITIAN 4.1 Letak Geografis dan Batas Administrasi Secara geografis Kabupaten Halmahera Utara terletak antara 127 O 17 BT - 129 O 08 BT dan antara 1 O 57 LU - 3 O 00 LS. Kabupaten

Lebih terperinci

4 KONDISI UMUM DAERAH PENELITIAN

4 KONDISI UMUM DAERAH PENELITIAN 26 4 KONDISI UMUM DAERAH PENELITIAN 4.1 Kondisi Geografis Lamongan merupakan salah satu Kabupaten di Propinsi Jawa Timur. Secara astronomis Kabupaten Lamongan terletak pada posisi 6 51 54 sampai dengan

Lebih terperinci

1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang 1 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Indonesia memiliki wilayah perairan laut yang sangat luas, terdiri dari wilayah perairan teritorial dengan luas sekitar 3,1 juta km 2 dan zona ekonomi ekslusif (ZEE)

Lebih terperinci

ANALISIS PERIKANAN CAKALANG (Katsuwonus pelamis) DI TELUK BONE : HUBUNGAN ASPEK BIOLOGI DAN FAKTOR LINGKUNGAN MUHAMMAD JAMAL

ANALISIS PERIKANAN CAKALANG (Katsuwonus pelamis) DI TELUK BONE : HUBUNGAN ASPEK BIOLOGI DAN FAKTOR LINGKUNGAN MUHAMMAD JAMAL ANALISIS PERIKANAN CAKALANG (Katsuwonus pelamis) DI TELUK BONE : HUBUNGAN ASPEK BIOLOGI DAN FAKTOR LINGKUNGAN MUHAMMAD JAMAL SEKOLAH PASCASARJANA INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR 2011 PERNYATAAN MENGENAI

Lebih terperinci

Agriekonomika, ISSN e ISSN Volume 4, Nomor 1

Agriekonomika, ISSN e ISSN Volume 4, Nomor 1 CPUE DAN TINGKAT PEMANFAATAN PERIKANAN CAKALANG (Katsuwonus pelamis) DI SEKITAR TELUK PALABUHANRATU, KABUPATEN SUKABUMI, JAWA BARAT Dian Budiasih dan Dian A.N. Nurmala Dewi Program Studi Pemanfaatan Sumberdaya

Lebih terperinci

4 KONDISI UMUM LOKASI PENELITIAN

4 KONDISI UMUM LOKASI PENELITIAN 4 KONDISI UMUM LOKASI PENELITIAN 4.1 Keadaan Umum Lokasi Penelitian Perairan Palabuhanratu terletak di sebelah selatan Jawa Barat, daerah ini merupakan salah satu daerah perikanan yang potensial di Jawa

Lebih terperinci

POTENSI LESTARI IKAN LAYANG (Decapterus spp) BERDASARKAN HASIL TANGKAPAN PUKAT CINCIN DI PERAIRAN TIMUR SULAWESI TENGGARA

POTENSI LESTARI IKAN LAYANG (Decapterus spp) BERDASARKAN HASIL TANGKAPAN PUKAT CINCIN DI PERAIRAN TIMUR SULAWESI TENGGARA Jurnal Teknologi Perikanan dan Kelautan Vol. 6 No. 2 November 2015: 159-168 ISSN 2087-4871 POTENSI LESTARI IKAN LAYANG (Decapterus spp) BERDASARKAN HASIL TANGKAPAN PUKAT CINCIN DI PERAIRAN TIMUR SULAWESI

Lebih terperinci

TEKNIK PENGOPERASIAN HUHATE (POLE AND LINE) DAN KOMPOSISI HASIL TANGKAPANNYA DI LAUT SULAWESI

TEKNIK PENGOPERASIAN HUHATE (POLE AND LINE) DAN KOMPOSISI HASIL TANGKAPANNYA DI LAUT SULAWESI TEKNIK PENGOPERASIAN HUHATE (POLE AND LINE) DAN KOMPOSISI HASIL TANGKAPANNYA DI LAUT SULAWESI Enjah Rahmat dan M. Fadli Yahya Teknisi Litkayasa Balai Penelitian Perikanan Laut Teregistrasi I tanggal: 29

Lebih terperinci

Gambar 1. Diagram TS

Gambar 1. Diagram TS BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.1 Karakteristik Massa Air 4.1.1 Diagram TS Massa Air di Selat Lombok diketahui berasal dari Samudra Pasifik. Hal ini dibuktikan dengan diagram TS di 5 titik stasiun

Lebih terperinci

6 PEMBAHASAN. 6.1 Kondisi Selat Madura dan Perairan Sekitarnya

6 PEMBAHASAN. 6.1 Kondisi Selat Madura dan Perairan Sekitarnya 99 6 PEMBAHASAN 6.1 Kondisi Selat Madura dan Perairan Sekitarnya Faktor kondisi perairan yang menjadi perhatian utama dalam penelitian tentang penentuan ZPPI dan kegiatan penangkapan ikan ini adalah SPL,

Lebih terperinci

5 POTENSI DAN TINGKAT PEMANFAATAN SUMBER DAYA PERIKANAN DEMERSAL

5 POTENSI DAN TINGKAT PEMANFAATAN SUMBER DAYA PERIKANAN DEMERSAL 5 POTENSI DAN TINGKAT PEMANFAATAN SUMBER DAYA PERIKANAN DEMERSAL 5.1 Pendahuluan Pemanfaatan yang lestari adalah pemanfaatan sumberdaya perikanan pada kondisi yang berimbang, yaitu tingkat pemanfaatannya

Lebih terperinci

4. HASIL DAN PEMBAHASAN

4. HASIL DAN PEMBAHASAN 25 4. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Hasil 4.1.1. Kondisi umum perairan Teluk Banten Perairan Karangantu berada di sekitar Teluk Banten yang secara geografis terletak pada 5 0 49 45 LS sampai dengan 6 0 02

Lebih terperinci

1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Seiring dengan meningkatnya jumlah penduduk dan kebutuhan akan bahan pangan dan gizi yang lebih baik, permintaan ikan terus meningkat dari tahun ke tahun. Permintaan ikan

Lebih terperinci

VI. HASIL DAN PEMBAHASAN. 6.1 Karakteristik Nelayan Tangkap Kelurahan Untung Jawa. Pulau Untung Jawa yang berbasis sumberdaya perikanan menyebabkan

VI. HASIL DAN PEMBAHASAN. 6.1 Karakteristik Nelayan Tangkap Kelurahan Untung Jawa. Pulau Untung Jawa yang berbasis sumberdaya perikanan menyebabkan VI. HASIL DAN PEMBAHASAN 6.1 Karakteristik Nelayan Tangkap Kelurahan Untung Jawa Pulau Untung Jawa yang berbasis sumberdaya perikanan menyebabkan mayoritas penduduknya berprofesi sebagai nelayan. Sekitar

Lebih terperinci

4 KERAGAAN PERIKANAN DAN STOK SUMBER DAYA IKAN

4 KERAGAAN PERIKANAN DAN STOK SUMBER DAYA IKAN 4 KERAGAAN PERIKANAN DAN STOK SUMBER DAYA IKAN 4.1 Kondisi Alat Tangkap dan Armada Penangkapan Ikan merupakan komoditas penting bagi sebagian besar penduduk Asia, termasuk Indonesia karena alasan budaya

Lebih terperinci

3.2.1 Spesifikasi alat tangkap Bagian-bagian dari alat tangkap yaitu: 1) Tali ris atas, tali pelampung, tali selambar

3.2.1 Spesifikasi alat tangkap Bagian-bagian dari alat tangkap yaitu: 1) Tali ris atas, tali pelampung, tali selambar 21 3METODOLOGI 3.1 Waktu dan Tempat Penelitian dilakukan pada tanggal 15 September 11 Desember 2010 ini bertempat di TPI Palabuhanratu. Sukabumi Jawa Barat. Kegiatan penelitian meliputi eksperimen langsung

Lebih terperinci

3 METODOLOGI PENELITIAN

3 METODOLOGI PENELITIAN 14 3 METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Tempat dan Waktu Penelitian Pengamatan tingkah laku ikan pada proses penangkapan ikan dengan alat bantu cahaya dilakukan di perairan Kabupaten Barru Selat Makassar, Sulawesi

Lebih terperinci

V. DESKRIPSI DAERAH PENELITIAN. Kabupaten Morowali merupakan salah satu daerah otonom yang baru

V. DESKRIPSI DAERAH PENELITIAN. Kabupaten Morowali merupakan salah satu daerah otonom yang baru V. DESKRIPSI DAERAH PENELITIAN Geografis dan Administratif Kabupaten Morowali merupakan salah satu daerah otonom yang baru terbentuk di Provinsi Sulawesi Tengah berdasarkan Undang-Undang Nomor 51 tahun

Lebih terperinci

1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kegiatan penangkapan ikan merupakan aktivitas yang dilakukan untuk mendapatkan sejumlah hasil tangkapan, yaitu berbagai jenis ikan untuk memenuhi permintaan sebagai sumber

Lebih terperinci

Lampiran 1 Layout PPN Prigi

Lampiran 1 Layout PPN Prigi LAMPIRAN 93 Lampiran 1 Layout PPN Prigi TPI Barat BW 01 BW 02 Kolam Pelabuhan Barat BW 03 Kantor Syahbandar Cold Storage Kantor PPN TPI Timur BW 04 Kolam Pelabuhan Timur Sumber: www.maps.google.co.id diolah

Lebih terperinci

TEKNIK PENGOPERASIAN PANCING TENGGIRI DENGAN MENGGUNAKAN ALAT BANTU CAHAYA

TEKNIK PENGOPERASIAN PANCING TENGGIRI DENGAN MENGGUNAKAN ALAT BANTU CAHAYA TEKNIK PENGOPERASIAN PANCING TENGGIRI DENGAN MENGGUNAKAN ALAT BANTU CAHAYA Agus Salim Teknisi Litkayasa pada Balai Riset Perikanan Laut, Muara Baru-Jakarta Teregistrasi I tanggal: 29 Mei 2008; Diterima

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Potensi perikanan laut meliputi perikanan tangkap, budidaya laut dan

I. PENDAHULUAN. Potensi perikanan laut meliputi perikanan tangkap, budidaya laut dan I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Potensi perikanan laut meliputi perikanan tangkap, budidaya laut dan industri bioteknologi kelautan merupakan asset yang sangat besar bagi pertumbuhan ekonomi Indonesia,

Lebih terperinci

5 HASIL DAN PEMBAHASAN

5 HASIL DAN PEMBAHASAN 30 5 HASIL DAN PEMBAHASAN 5.1 HASIL 5.1.1 Unit penangkapan Pancing rumpon merupakan unit penangkapan yang terdiri dari beberapa alat tangkap pancing yang melakukan pengoperasian dengan alat bantu rumpon.

Lebih terperinci

Analisis Penentuan Musim Penangkapan Ikan Cakalang (Katsuwonus Pelamis L.) di Perairan Sangihe Sulawesi Utara

Analisis Penentuan Musim Penangkapan Ikan Cakalang (Katsuwonus Pelamis L.) di Perairan Sangihe Sulawesi Utara Analisis Penentuan Musim Penangkapan Ikan Cakalang (Katsuwonus Pelamis L.) di Perairan Sangihe Sulawesi tara 1 Marline S. Paendong, 2 John Socrates Kekenusa, 3 Winsy Ch. D. Weku 1 Jurusan Matematika, FMIPA,

Lebih terperinci

KONSEP PENGELOLAAN PERIKANAN TANGKAP CAKALANG (Katsuwonus pelamis)di KAWASAN TELUK BONE DALAM PERSPEKTIF KEBERLANJUTAN

KONSEP PENGELOLAAN PERIKANAN TANGKAP CAKALANG (Katsuwonus pelamis)di KAWASAN TELUK BONE DALAM PERSPEKTIF KEBERLANJUTAN KONSEP PENGELOLAAN PERIKANAN TANGKAP CAKALANG (Katsuwonus pelamis)di KAWASAN TELUK BONE DALAM PERSPEKTIF KEBERLANJUTAN Management Concept of Skipjack Tuna (Katsuwonus pelamis) Fisheries Within Bone Bay

Lebih terperinci

POTENSI DAN TINGKAT PEMANFAATAN IKAN SEBAGAI DASAR PENGEMBANGAN SEKTOR PERIKANAN DI SELATAN JAWA TIMUR

POTENSI DAN TINGKAT PEMANFAATAN IKAN SEBAGAI DASAR PENGEMBANGAN SEKTOR PERIKANAN DI SELATAN JAWA TIMUR POTENSI DAN TINGKAT PEMANFAATAN IKAN SEBAGAI DASAR PENGEMBANGAN SEKTOR PERIKANAN DI SELATAN JAWA TIMUR Nurul Rosana, Viv Djanat Prasita Jurusan Perikanan Fakultas Teknik dan Ilmu Kelautan Universitas Hang

Lebih terperinci

BAB III BAHAN DAN METODE

BAB III BAHAN DAN METODE 3 BAB III BAHAN DAN METODE 3.1 Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di Teluk Palabuhanratu, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat dari tanggal 17 April sampai 7 Mei 013. Peta lokasi penelitian

Lebih terperinci

5 PEMBAHASAN 5.1 Sebaran SPL Secara Temporal dan Spasial

5 PEMBAHASAN 5.1 Sebaran SPL Secara Temporal dan Spasial 5 PEMBAHASAN 5.1 Sebaran SPL Secara Temporal dan Spasial Hasil pengamatan terhadap citra SPL diperoleh bahwa secara umum SPL yang terendah terjadi pada bulan September 2007 dan tertinggi pada bulan Mei

Lebih terperinci

4 HASIL TANGKAPAN IKAN PELAGIS KECIL DI PERAIRAN PANTAI BARAT SULAWESI SELATAN

4 HASIL TANGKAPAN IKAN PELAGIS KECIL DI PERAIRAN PANTAI BARAT SULAWESI SELATAN 4 HASIL TANGKAPAN IKAN PELAGIS KECIL DI PERAIRAN PANTAI BARAT SULAWESI SELATAN 4.1 Pendahuluan Perikanan tangkap merupakan kegiatan yang dilakukan dengan tujuan memanfaatkan sumberdaya ikan yang mempunyai

Lebih terperinci

4 KEADAAN UMUM LOKASI PENELITIAN

4 KEADAAN UMUM LOKASI PENELITIAN 4 KEADAAN UMUM LOKASI PENELITIAN 4.1 Keadaan Umum Perikanan Tangkap 4.1.1 Armada Kapal Perikanan Kapal penangkapan ikan merupakan salah satu faktor pendukung utama dalam melakukan kegiatan penangkapan

Lebih terperinci

VI. ANALISIS BIOEKONOMI

VI. ANALISIS BIOEKONOMI 111 VI. ANALISIS BIOEKONOMI 6.1 Sumberdaya Perikanan Pelagis 6.1.1 Produksi dan Upaya Penangkapan Data produksi yang digunakan dalam perhitungan analisis bioekonomi adalah seluruh produksi ikan yang ditangkap

Lebih terperinci

5 HASIL PENELITIAN 5.1 Jumlah Produksi YellowfinTuna

5 HASIL PENELITIAN 5.1 Jumlah Produksi YellowfinTuna 24 5 HASIL PENELITIAN 5.1 Jumlah Produksi YellowfinTuna Pendataan produksi tuna di PPN Palabuhanratu pada tahun 1993-2001 mengalami perbedaan dengan data produksi tuna pada tahun 2002-2011. Perbedaan ini

Lebih terperinci

PENDAHULUAN. Sumberdaya tersebut diolah dan digunakan sepuasnya. Tidak satupun pihak yang

PENDAHULUAN. Sumberdaya tersebut diolah dan digunakan sepuasnya. Tidak satupun pihak yang 1 PENDAHULUAN Latar Belakang Sumberdaya perikanan laut memiliki sifat spesifik, yakni akses terbuka (open access). Sumberdaya perikanan juga bersifat kepemilikan bersama (common property). Semua individu

Lebih terperinci

4 HASIL. Gambar 8 Kapal saat meninggalkan fishing base.

4 HASIL. Gambar 8 Kapal saat meninggalkan fishing base. 31 4 HASIL 4.1 Unit Penangkapan Ikan 4.1.1 Kapal Jumlah perahu/kapal yang beroperasi di Kecamatan Mempawah Hilir terdiri dari 124 perahu/kapal tanpa motor, 376 motor tempel, 60 kapal motor 0-5 GT dan 39

Lebih terperinci

3 METODE PENELITIAN. 3.1 Tempat dan Waktu Penelitian

3 METODE PENELITIAN. 3.1 Tempat dan Waktu Penelitian 3 METODE PENELITIAN 3.1 Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan pada bulan Juli sampai September 2010. Pengambilan data lapangan dilakukan di wilayah Kabupaten Maluku Tenggara, sejak 21 Juli

Lebih terperinci

4. HASIL DAN PEMBAHASAN

4. HASIL DAN PEMBAHASAN 4. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Pembuatan algoritma empiris klorofil-a Tabel 8, Tabel 9, dan Tabel 10 dibawah ini adalah percobaan pembuatan algoritma empiris dibuat dari data stasiun nomor ganjil, sedangkan

Lebih terperinci

5.5 Status dan Tingkat Keseimbangan Upaya Penangkapan Udang

5.5 Status dan Tingkat Keseimbangan Upaya Penangkapan Udang 5.5 Status dan Tingkat Keseimbangan Upaya Penangkapan Udang Pemanfaatan sumberdaya perikanan secara lestari perlu dilakukan, guna sustainability spesies tertentu, stok yang ada harus lestari walaupun rekrutmen

Lebih terperinci